Search

CHAPTER 2 - BISIKAN SYAHWAT

CHAPTER 2 - BISIKAN SYAHWAT

"Astaghfirullah, aku gak boleh gini. Kenapa aku kayak gini lagi?" Lirih Nayla mencoba tuk menahan diri.

Meski vaginanya terasa gatal akibat mimpi basah yang baru saja dialaminya. Ia mencoba bertahan. Ia mencoba melawan bisikan syahwat yang kali ini kembali menggodanya.

"Tapi... Tapi... Mmpphh Pak Dikinn. Mmpphh." Tanpa sadar jemarinya kembali menyelinap ke dalam lubang vaginanya. Jemarinya menggeliat. Jemarinya bergerak-gerak mengorek setiap senti dinding vagina yang menjepit jemarinya.

Setiap jemarinya bergerak. Terasa lubang vaginanya menyempit, menjepit jemari nakalnya. Yang bergerak berlawanan dengan yang diinginkan oleh hati nuraninya.

Terbayang penis super pak Dikin masuk menembus vaginanya. Terbayang penis itu keluar masuk menyodok-nyodok vaginanya. Nayla kian geregetan. Jemari satunya meremas-remas payudara bulatnya. Matanya memejam. Ia sungguh menikmati kemaksiatan yang sedang ia lakukan ketika memikirkan lelaki lain yang bukan suaminya tengah berzina dengannya.

"Bapaakkk. Oouhhh. Paakk Dikinn. Mmpphhh." Nayla semakin tak terkendali. Birahinya semakin liar sehingga ingin menguasai diri. Nayla yang sudah bertelanjang bulat merasa kesulitan. Ia ingin melampiaskannya. Ia ingin mengakhiri siksaan yang sangat mengganggunya saat ini.

"Aahhhhh. Aaahhhhh. Aaaahhhhhh."

Jemari Nayla bergerak semakin cepat. Pergerakannya seperti mesin dinamo yang mengobok-ngobok sumur cintanya yang sudah dibanjiri oleh cairan syahwatnya. Kaki Nayla semakin mengangkang. Dalam posisi berdiri ia memandangi keindahan tubuhnya di depan cermin.

"Teruss paakk. Sodok aku. Sodok rahimku. Aku milikmu paakk. Terus, yang kencaangg. Aahhhh. Aaahh yaahh. Aaahhh paaakk."

Tubuh Nayla merinding. Kenikmatannya semakin terasa tiada tanding. Lututnya gemetar. Terasa cairan cintanya mulai berkumpul lalu bergejolak ingin meledak akibat pompaan dari jemarinya.

"Aaahhh yaahhh. Aaahhhh. Aaahhhhh. Dasar lontee munafiikk. Ini kan maumu. Ini kan yang kamu inginkan Nay? Berzina dengan lelaki tua. Menikmati kejantanan kontol-kontol mereka?" Desah Nayla merendahkan diri sendiri.

Jemari Nayla semakin cepat mengobok-ngobok vaginanya. Terdengar bunyi cipratan air dari dalam lubang kenikmatan duniawinya.

"Yaaahhhh. Yaaahhh. Ini yang aku maauuuu. Ouhhh nikmatnyaa. Nikmat sekali kontolmu paakk. Aaahhh terusss. Uhhhh aku gak tahhaan lagiii." Jerit Nayla semakin keras.

Mulut Nayla membuka mengeluarkan lenguhan-lenguhan nikmat beserta nafas hangat yang diakibatkan oleh syahwat. Terasa darah yang mengalir ke seluruh tubuhnya berdesir. Terasa lubang vaginanya semakin membanjir.Ia tak tahan lagi. Ia ingin mengeluarkannya. Ia tak ingin menahan diri lagi.

"Aahhh aakuuu. Akuu. Kelluuu . . ."

"Oweekkk. Oweekkk. Oweeekkk."

Nayla berhenti seketika. Ia langsung menengok ke belakang saat mendengar suara tangisan dari putra sematawayangnya.

"Astaghfirullah. Dek Dani."

Sebagai seorang ibu, nalurinya langsung menggerakkannya untuk menghentikan tangisannya. Ia lekas menggendongnya lalu menimang-nimangnya. Dalam keadaan bertelanjang bulat, ibu muda yang sehari-harinya mengenakan cadar itu berusaha tuk menghentikan tangisan putranya.

"Dedeekk kenapa? Kok bangun? Oh mau mimi? Sini mimi cucu dulu." Ucap Nayla yang langsung menyodorkan susu bulatnya ke putra tercintanya.

"Mmpphh" Tubuh Nayla bergetar saat merasakan seruputan putranya saat meminum asi darinya. Rasanya, seperti ada seseorang yang bernafsu ketika sedang mencicipi payudara sentosanya. Nayla sampai merem melek. Nafsunya yang tadi tertahan membuatnya kesulitan untuk memposisikan dirinya sekarang.

"Maafin umi yah nak, umi gak pake baju didepan kamu. Maafin umi juga yah sayaang. Karena umi belum bisa jadi ibu yang terbaik buat kamu." Lirih Nayla menyadari segala kekurangan yang dimilikinya.

Jelas putranya tak bisa menjawabnya. Nayla hanya memandangi putra lucunya itu. Terkadang ia merasa malu. Bagaimana bisa ia colmek dalam keadaan telanjang bulat disamping putranya yang sedang tertidur lelap.

"Umi sedang berusaha nak. Umi sedang berusaha berhijrah. Tolong pahami umi. Umi berjanji untuk bisa mengontrol nafsu umi lebih." Lirih Nayla sambil menatap putra sematawayangnya.

Tak disangka, Putranya itu tersenyum setelah puas menyusu kepadanya. Hati ibu mana yang tidak meleleh saat meliat senyuman manisnya. Dengan segera Nayla mencium pipinya. Ia pun bertekad untuk menjadikan putranya alasan agar dirinya bisa berhenti melakukan kemaksiatan. Khususnya kemaksiatan yang berasal dari lubang vaginanya.

Inget Nay, kamu ini bukan lonte. Kamu ini bukan wanita murahan. Kamu adalah ibu dari malaikat kecil ini. Jaga dirinya. Jaga dirimu dari hawa nafsumu. Jangan sampai lubang vaginamu menjadi tempat pelampiasan bapak-bapak tua lagi!

Batin Nayla bertekad.



*-*-*-*

Beberapa menit kemudian.

Pintu telah ditutup. Terlihat wanita cantik keluar dari sebuah rumah dengan pakaian yang begitu mencolok. Gamis bermotif loreng merah cream dikenakan olehnya. Gamis itu begitu lebar hingga menyembunyikan keindahan bentuk badan yang dianugerahkan kepadanya. Sedangkan kepala mungilnya tertutupi oleh hijab putih yang menutup hingga ke dadanya. Dada bulat sentosanya jadi tidak terlihat. Tonjolannya berhasil ia sembunyikan dengan baik. Namun, yang membuat penampilannya semakin mencolok adalah cadar berwarna putih yang dikenakannya. Sekilas orang-orang yang tak sengaja lewat di depan rumahnya langsung menatapnya. Mereka terkesima. Mereka terpesona. Mereka terpukau oleh keindahan mata yang dimiliki olehnya.

Ya, jarang-jarang di desa tempat dimana ia tinggal terdapat seorang wanita yang menyembunyikan sebagian wajahnya dengan menggunakan cadar. Apalagi kalau wanita itu adalah wanita muda yang memiliki body ramping serta paras cantik yang menyerupai bidadari.

Sudah beberapa bulan Nayla tinggal di pemukiman ini. Dirinya pun sudah sering menjadi perbincangan para lelaki baik itu yang tua maupun yang muda. Bahkan ibu-ibu pun sampai membicarakan dirinya. Mayoritas membicarakan kecantikan yang dimilikinya.

Dulu di kotanya saja, Nayla sudah menjadi primadona. Apalagi di desa tempat dimana ia tinggal sekarang? Sudah pasti dirinya lebih menjadi primadona lagi. Andai dirinya tidak menghapus akun instagramnya. Sudah pasti, dirinya akan mendapatkan lonjakkkan followers dari warga desa tempat dimana ia tinggal sekarang.

"Astaghfirullah. Aku harus bisa menghapus pikiran kotorku sekarang." Lirih Nayla yang akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan mencari angin segar sekaligus menikmati pemandangan asri disekitar rumahnya.

Nayla berjalan sambil merenungi dosa-dosa yang sudah diperbuatnya. Wajahnya menunduk. Ia merasa malu menyadari betapa rendah dirinya yang rela menjadi tempat pelampiasan nafsu para lelaki tua di tempat tinggalnya dahulu.

"Astaghfirullah." Nayla kembali menyebut tatkala ingatannya kembali membawanya pada persetubuhannya dengan pak Dikin di alam mimpinya.

Juga dengan perbuatan colmeknya tadi. Rasanya ia ingin kembali berzina meski hanya satu kali saja.

"Ingat anakmu, Nay. Tolong jangan jadi Nayla yang dulu lagi. Kamu itu Nayla, ibu dari anakmu juga istri dari suamimu, Nay." Lirih Nayla mencoba untuk mengembaikan akal sehatnya lagi.

Ia terus berjalan. Menyusuri tepian sawah sambil menikmati sinar matahari sore.

"Udah jam empat aja yah sekarang. Tahan, Nay. 2 jam lagi suamimu pulang. Tolong jaga pikiranmu dari pemikiran-pemikiran kotormu itu." Lirih Nayla sambil berhenti sejenak.

Ia menghadap ke arah matahari. Ia merasa damai saat melihat langit sore dimana awan-awan berjalan dengan anggunnya. Nayla menarik nafasnya. Lalu menghembuskannya. Ia lalu memejam. Mencoba bersemedi untuk menjernihkan pikirannya kembali.

Terima kasih yah dek, berkat kamu. Umi gak jadi merendahkan diri umi lagi.

Batin Nayla saat teringat kejadian tadi, setelah ia mendapati mimpi basahnya siang tadi.

Setelah dihentikan oleh tangisan putranya. Ia langsung tersadar. Setelah menidurkan putranya lagi. Ia pun lekas mandi lalu mengenakan pakaian untuk berjalan-jalan keluar dengan tujuan untuk menjernihkan pikirannya.

Ia kembali membuka matanya. Ia tersenyum. Rasanya mendingan. Ia lega bisa tinggal di pinggiran desa yang mempunyai pemandangan indah yang dapat menjernihkan pikirannya kembali.

"Eh Bu Nayla lagi apa disini? Tumben." Ucap seseorang yang mengejutkan Nayla.

"Astaghfirullah. Bapak, bikin aku kaget aja." Ucap Nayla yang lekas berbalik badan lalu tersenyum sambil memegangi dadanya yang hampir jantungan.

"Eh maaf kalau saya malah bikin bu Nayla kaget. Saya gak bermaksud ngagetin loh tadi." Ucap seorang pria tua itu sambil tersenyum menatap paras indah Nayla.

"Iya gapapa pak. Aku aja tadi lagi menikmati waktu sendiri aja. Pak Taryono sendiri lagi apa disini?" Kata Nayla dengan lembut sambil tersenyum menatap pria tua yang sudah bertelanjang dada memamerkan tubuh perkasanya.

Nayla agak terkejut karena beru pertama kali ini ia melihat tubuh polos bagian atas Pak Taryono secara langsung. Rupanya pak Taryono memiliki dada yang cukup bidang. Perutnya pun terlihat keras. Meski lengannya tidak membentuk otot selayaknya binaragawan. Nayla dapat memahami kalau keseharian pak Taryono dilalui dengan cukup berat.

"Biasa bu, abis nyari rumput liar aja buat makan ternak saya. Hehe." Jawab pak Taryono sambil tersenyum menatap mata indah Nayla.

Sontak Nayla langsung tersipu saat keduanya matanya bertemu. Entah kenapa tatapannya yang hangat dan dipenuhi oleh aura kebapakan itu membuat jantung Nayla berdebar-debar. Nayla pun mencoba biasa saja. Ia kembali mencoba mengangkat pandangannya untuk menatap wajah pak Taryono yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu.

"Oh ternak? Ternak apa yah pak?" Tanya Nayla mencoba nyambung dengan obrolan pria berkacamata itu.

"Loh Bu Nayla gak pernah ke rumah saya yah? Saya kan punya beberapa kambing yang akan saya jual menjelang idul adha nanti." Kata Pak Taryono kembali tersenyum yang membuat jantung Nayla berpacu semakin cepat.

Astaghfirullah, kenapa aku deg-degan banget. Kenapa tatapannya bikin aku grogi banget.

Batin Nayla terheran-heran.

"Hehe iya pak, aku jarang ke rumah orang-orang. Aku lebih sering di rumah ngerawat anak aku." Tanpa sadar Nayla bersikap malu-malu dihadapannya yang membuat pak Taryono diam-diam tersenyum gemas kepadanya.

Duh gemesnya. Udah punya anak 1 aja tapi masih gemesin gini. Tangan saya jadi geregetan pengen buka cadarmu itu, Nayla.

Batin Pak Taryono.

"Oh kalau gitu, bu Nayla mau ke rumah saya bentar gak? Bu Nayla ada waktu kan?" Ajak pak Taryono penuh harap. Sekilas matanya pun melihat keindahan tubuh Nayla dari bawah ke atas. Matanya bagai mesin scanner yang ingin memeriksa keindahan Nayla secara menyeluruh.

Gilaaa!!! Cantik banget. Gak ada cacatnya ini mah. Mana susunya juga gede. Pasti polosannya sempurna banget ini.

Batin Pak Taryono sambil menenggak ludah.

"Eh tapi aku, aku. Anak aku sendirian di rumah pak. Gak ada yang jagain. Ini juga mau langsung pulang setelah ini, hehe." Jawab Nayla canggung. Khawatir penolakannya membuat pak Taryono merasa kecewa.

"Bentar aja, seenggaknya minum teh buatan saya dulu lah bu. Saya juga ingin membalas kebaikan suami ibu yang sudah memajukan desa kita ini." Ucap pak Taryono penuh harap. Ia pun agak sedikit memaksa agar Nayla mau bertamu ke rumahnya sebentar.

"Hehe anu, itu." Jawab Nayla ragu.

Ayo dong bu, mau dong bu. Saya ingin ngobrol bentar sama ibu. Sekalian menikmati kecantikan ibu. wikwikwik.

Batin pak Taryono yang semakin terpesona pada kecantikan Nayla. Matanya menatap wajah Nayla dengan seksama. Sontak Nayla tersipu. Nayla menundukkan wajah karena malu. Telapak tangan kanannya pun mengelus-ngelus lengan tangan kirinya. Pak Taryono tertawa. Tanpa sadar ia menyentuh dagu Nayla lalu mengangkatnya tuk membawa tatapan matanya ke arahnya. Entah kenapa sikap berani pak Taryono seolah menghipnotis Nayla. Apalagi ditambah dengan senyuman penuh kebapakannya.

"Gimana?" Tanya pak Taryono.

Sekejap, Nayla menganggukkan wajah. Pak Taryono tersenyum riang. Ia dengan suka cita pun mengungkapkan kata-kata yang membuat Nayla sampai salah tingkah dibuatnya.

"Terima kasih ya, ibu cantik banget deh hari ini." Puji pak Taryono setelah melepas pegangannya pada dagu Nayla.

Nayla tersenyum malu. Matanya menyipit karena saking bahagianya. Matanya melirik ke sekitar bahkan menoleh ke belakang sejenak karena saking malunya.

Sikap salting Nayla membuat paK Taryono gemas. Tanpa sadar, penisnya yang selama ini tersembunyi dibalik celana kolornya langsung mengeras gara-gara tingkah laku menggemaskan akhwat bercadar itu.

"Yuk bu, biar gak kelamaan." ajak pak Taryono yang disambut Nayla dengan senyuman.

"Iya pak." Ucap Nayla patuh.

Pak Taryono pun berjalan menuntun sepedanya yang dipenuhi oleh rumput liar di kedua sisi keranjang yang terbuat dari bambu. Sementara Nayla berjalan di sisi sampingnya sambil sesekali melirik menatap pria jantan itu.

Bukan bermaksud untuk tidak menjaga pandangan. Hanya saja, ada kata yang ingin ia ucapkan namun tertahan oleh rasa malu yang dimilikinya. Namun semakin ia menahannya, rasanya dadanya menjadi terasa berat. Ia pun memberanikan diri. Ia pun memulainya dengan memanggilnya terlebih dahulu.

"Baapaakkk" Sapa Nayla dengan suara lembutnya.

"Iyya, Bu?" Jawab pak Taryono dengan suara beratnya sambil menoleh tuk menatap wajah ayunya.

Nayla tersipu. Senyumannya melebar. Ia hampir terkena serangan jantung gara-gara perbuatan pria tua itu.

"Anu, makasih tadi. Hehe. Udah bilang aku, cantik." kata Nayla malu-malu yang membuat pak Taryono heran sejenak.

Pak Taryono berhenti mendorong sepedanya. Ia menatap wajah ayu Nayla dengan seksama. Nayla ikut terhenti. Jantungnya berdebar-debar dikala ditatap seperti itu oleh pria tua itu.

"Apa maksud ibu? Saya bilang ibu cantik karena ibu memang cantik.” Ucap pak Taryono yang membuat Nayla tak sadar tersenyum seketika setelah mendengar kalimat pujian itu.

Nayla menundukkan wajah karena malu. Sikapnya itu membuat pak Taryono geregetan ingin menculiknya lalu menghadiahinya seorang bayi karena tingkah laku lucunya itu.

Bu Nayla, Bu Nayla. Ibu ini bikin saya nafsu aja.

Batin pak Taryono sambil mendorong sepedanya kembali.

SESAMPAINYA DI DEPAN RUMAH

“Ini rumah saya bu. Maaf kalau rumah saya terlampau sederhana.” Kata Pak Taryono setelah memarkirkan sepedanya.

“Eh gapapa kok pak. Gapapa. Oh jadi ini ternak yang bapak bicarakan tadi ya?” Kata Nayla setelah mendapati beberapa ekor kambing yang sedanng dikandangi itu. Seketika Nayla menutupi hidungnya yang sudah tertutupi cadar. Baunya sungguh kuat. Aromanya sungguh menyengat.

“Iya bu betul. Hehe bau yah bu? Ayo masuk dulu. Kayaknya di dalem gak sebau disini deh.” Kata pak Taryono mempersilahkan tamu istimewanya masuk.

Nayla hanya tersenyum. Ia mengangguk tatkala pemilik rumah itu menyuruhnya masuk.

“Silahkan duduk dulu di kursi.” Kata pria tua yang sudah bertelanjang dada itu.

“Iya pak. Terima kasih.” Jawab Nayla sambil melihat sekitar.

Oh jadi ini rumahnya pak Taryono ya? Sederhana banget yah?

Batin Nayla dalam hati.

Dari luar, sekilas rumah pak Taryono memang terlihat sangat sederhana. Dinding rumahnya terbuat dari gubuk. Atap gentengnya beberapa ada yang melorot jatuh. Halamannya kotor dipenuhi oleh kotoran-kotoran kambing. Sedangkan didalamnya? Rupanya tak jauh berbeda dengan apa yang Nayla lihat di luar.

Lantainya masih terbuat dari tanah. Tidak ada sofa empuk. Sofa rumah itu sudah bolong-bolong dengan busanya yang robek hingga sobekannya terbang mengganggu saluran pernafasan. Di meja ruang tamu ada beberapa toples yang sepertinya berasal dari lebaran kemarin.

Nayla mencoba memahami keadaan pak Taryono. Nayla jadi kasihan juga. Apalagi dari cerita-cerita yang sudah mereka ceritakan selama perjalanan kesini. Nayla jadi tahu kalau istri pak Taryono baru saja meninggal sekitar 2 minggu yang lalu. Nayla merasa iba. Tapi kemudian dirinya merasa lega setelah pak Taryono memberi tahunya kalau menatap wajahnya saja sudah cukup untuk mengobati rasa kepedihan akibat ditinggal sang wanita pujaan.

“Tapi kok, pak Taryono bisa bilang gitu ke aku ya? Padahal mukaku kan ketutupan. Ngobrol aja baru-baru sekarang.” Lirih Nayla heran.

Sambil berfikir, wajah Nayla menoleh ke arah dapur dimana ia melihat pak Taryono sedang membuatkan minuman untuknya. Pak Taryono masih bertelanjang dada menyisakan celana kolornya saja. Tanpa sadar wajah Nayla teralihkan pada dada bidang pak Taryono. Matanya pun terfokus pada kedua puting hitam yang membuat Nayla merasa gemas. Entah kenapa pikirannya mendadak kotor kembali. Penampilan pak Taryono yang cukup memerkan aurat membuat pikiran Nayla kemana-mana.

Sudah lama ia tidak menatap tubuh seorang pria asing selain suaminya secara langsung. Apalagi tubuh itu memiliki bahu yang lebar. Dada yang kekar. Serta perut yang membuat Nayla gemas ingin membelainya. Saat ia menaikkan pandangannya, wajah tua pak Taryono yang penuh kebapakan memberikan sensasi tersendiri bagi Nayla. Fetishnya perlahan kembali bangkit. Gairah birahi meningkat drastis. Apalagi nafsunya yang belum tersalurkan dengan baik tadi membuat pikiran kotor Nayla sekejap menguasai otaknya.

“Astaghfirullah, kenapa aku . . . “ Lirih Nayla sambil menggelengkan kepala. Seketika omongannya terhenti saat pandangannya teralihkan pada tonjolan yang cukup menarik perhatiannya dari balik celana yang pria tua itu kenakan.

“Loh? Itunya pak Taryono, lagi berdiri?” Lirih Nayla terkejut bukan main.

Apa jangan-jangan, pak Taryono nafsu ke aku?

Batin Nayla. Entah kenapa membayangkan hal itu malah membuat nafsunya meningkat pesat. Dirinya yang masih dalam proses hijrah terancam kembali jatuh ke dalam lubang kemaksiatan gara-gara pikiran kotornya.

Tangannya pun diam-diam meremasi dadanya. Nafasnya mendadak berat. Ia tak kuasa membayangkan hal yang tidak-tidak saat sesuatu di balik tonjolan itu keluar lalu berdiri menantang dirinya.

Pasti udah aku emut tuh, udah aku kulum, udah aku telen, ihh gemes banget pasti bentuknya.

Batin Nayla yang sudah keruh pikirannya.

“Bu Nayla ini minumannya sudah siap.” Ucap Pak Taryono dari dapur yang membuat Nayla buru-buru mengalihkan pandangannya.

Selama perjalanan pak Taryono dari dapur ke ruang tamunya, Nayla tak henti-hentinya melirik ke arah tonjolan celana yang membuat mata Nayla terbuka lebar. Ia tak habis mengira. Kenapa tonjolan itu begitu besar? Apakah ukurannya bakal menandingi ukuran penisnya pak Urip?

Pak Taryono sendiri hanya senyum-senyum saja mendapati bidadari bercadar itu menatap ke arah celananya. Namun ia berpura-pura tidak tahu. Ia tak ingin menganggu bidadari itu yang sedang memperhatikan kejantanannya.

Kena kau, Bu. Ibu ternyata doyan kontol saya ya? Matanya sampe gitu banget. Wikwikwik.

Batin pak Taryono merasa bahagia.

Pak Taryono lekas duduk yang membuat Nayla buru-buru mengalihkan pandangannya lagi.

“Ini satu buat ibu, satu buat saya. Ibu doyan teh manis kan?” Tanya Pria tua itu yang membuat Nayla menjawab gugup.

“Eh iya, oh teh. Hm iya aku doyan kok pak. Doyan, hehehe.” Kata Nayla yang langsung menggenggam gelas yang baru saja diberikannya. Seketika ia terkejut karena gelasnya terasa panas. “Duh panas.”

“Eh ibu gapapa?” Kata Pak Taryono yang langsung menggenggam tangan Nayla yang membuat bidadari bercadari itu terkejut lalu menatap wajah pria tua itu.

“Hati-hati makanya. Ini masih panas. Tangan ibu bisa terluka loh.” Kata pak Taryono sambil meniup telapak tangan Nayla sambil sesekali mengelus-ngelusnya.

Entah kenapa sikap pak Taryono membuat Nayla sampai terkagum-kagum. Pak Taryono begitu baik dan perhatian kepadanya. Belum lagi wajah kebapakannya yang membuat jantung Nayla semakin berdegup kencang. Jantung Nayla semakin berdegup kencang. Rasanya ia seperti sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya kepada seseorang selain suaminya.

Astaghfirullah, aku kenapa?

Batin Nayla yang buru-buru menarik tangannya.

“Hehe, iya gapapa kok pak. Aku gapapa.” Kata Nayla yang membuat pak Taryono tersenyum lepas.

Dasar, udah ngelirik-ngelirik ke kontol saya. Sekarang mau mencoba alim di depan saya? Gak boleh saya pegang lagi tangannya, yah? Dasar munafik. Saya kasih kontol langsung berubah jadi lonte pasti ibu!

“Oh iya maaf, saya juga reflek tadi. Tapi setelah saya elus-elus tadi. Tangan ibu lembut banget yah. Saya suka.” Kata pak Taryono yang membuat senyum canggung Nayla berubah menjadi datar.

Suka? Ke aku?

Entah kenapa denyut jantung Nayla semaki tak beraturan. Ia kesulitan tuk menjelaskan perasaan yang sedang ia alami sekarang.

Seketika pikirannya beradu. Antara baik dan jahat. Ia mencoba berfikir jernih, tapi tiap kali mencoba. Pandangannya malah teralihkan pada tonjolan yang bersembunyi dibalik celananya.

Ihhh itu kontol nantangin banget sih. Aku jadi gak bisa fokus.

Batin Nayla.

Diam-diam tanpa Nayla sadari, pak Taryono memperhatikan wajah cantik bidadari ayu tersebut.

Emang bener ya. Beberapa wanita cuma menjadikan hijab dan cadarnya sebagai kedok aja. Aslinya, mereka sama-sama binal. Saya berani taruhan kalau Bu Nayla ini pasti sudah pernah dicicipi banyak lelaki selain suaminya.

Batin Pak Taryono merasa yakin.

Pak Taryono yang gemas merasa tak tahan lagi. Ia tak ingin berlama-lama membiarkan rasa penasaran tamunya yang ingin melihatnya penisnya. Seketika ia mengelus-ngelus tonjolan penis itu yang membuat Nayla terkejut.

“Astaghfirullah.” Sebut Nayla yang membuat pak Taryono tertawa.

“Wikwikwik. Dari tadi saya perhatikan, bu Nayla penasaran sama kontol saya yah?” Kata pak Taryono yang membuat Nayla terkejut bukan main.

“Eh bapak saru. Aku gak gitu kok. Engga.” Kata Nayla tak mau ngaku.

“Gak usah bohong sayaangg. Saya tahu, ibu aslinya pengen liat kontol saya langsung kan?” Tanya pak Taryono kali ini sambil berdiri lalu berjalan mendekati posisi duduk akhwat bercadar itu.

“Anu, anu, enggak ya. Enggak kok pak.” Kata Nayla gugup.

Gawaat. Kenapa aku ketahuan? Kenapa aku juga gak bisa jaga pandangan?!

Batin Nayla menyesal.

“Wikwikwikwik. Liat sini deh bu.” Kata pak Taryono yang tiba-tiba memelorotkan celananya berikut celana dalamnya sehingga penis besarnya itu langsung meloncar keluar menantang birahi Nayla.

Astaghfirullah, bapak!” Lirih Nayla campur aduk.

Nayla terdiam. Matanya melebar. Mulutnya menganga dari balik cadar yang menutupinya. Bagaimana bisa ada penis yang ukurannya sebesar ini? Bagaimana bisa penis itu langsung berdiri seolah menantangnya?

Warna batangnya agak gelap dengan ujung gundulnya yang berwarna sangat pink. Ukurannya itu hampir menyerupai lengan kurusnya. Bulu jembutnya yang sudah berubah menjadi uban sebagian semakin menambah nafsu birahi Nayla.

Nafasnya mendadak terengah-engah. Tubuhnya gelisah. Berulang kali ia membenari posisi duduknya. Jemarinya gemas ingin menggenggamnya. Ia benar-benar tergoda oleh keperkasaan penis yang ada dihadapannya.

“Ibu suka kan?” Tanyanya kali ini sambil mengocok-ngocok penisnya.

Kali ini Nayla terdiam. Godaan dari pak Taryono sungguh luar biasa. Ia tak bisa berhenti menatap penis itu yang lama-lama semakin membesar.

Pak Taryono bahagia. Ia semakin yakin kalau Nayla bukanlah wanita yang semenjaga itu. Buktinya, bukannya menutupi pandangannya langsung, Nayla malah terus menatap penisnya.

Beruntungnya saya yang sebentar lagi bisa menikmati tubuh indahnya. Wikwikwik.

Batin pak Taryono merasa yakin.

Bu Nayla, oh bu Nayla. Asal ibu tau ya? Ibu itu sudah menjadi buah bibir setiap laki-laki yang ada di desa ini. Kecantikan ibu, keindahan tubuh ibu, kealiman ibu. Saya sangat kagum ketika pertama kali melihat ibu beberapa bulan yang lalu. Apalagi sewaktu ibu tiap kali hadir di pengajian. Gamis ibu yang lebar membuat kecantikan ibu semakin sempurna. Meski ibu sudah menikah, meski ibu sudah mempunyai anak. Saya sudah berulang kali menjadikan ibu bahan fantasi saya untuk bersenang-senang. Ibu gak tau kan berapa liter pejuh yang sudah saya buang sambil membayangkan ibu? Aaahhhhh. Aaaahhhhhh.

Batin Pak Taryono sambil mengocok penisnya. Ia tersenyum puas. Ia bangga bisa mengocok penisnya di hadapan orangnya langsung.

Aaahhhh. Aaahhhh. Aaahhhhhh. Nikmatnya bisa ngocok langsung di depan ibu. Tau gak bu? Ada banyak lelaki disini yang ingin berada di posisi saya. Aaahhhhh. Aaahhh. Saya gak akan menyia-nyiakannya. Saya akan menodaimu. Saya akan menikmati tubuh indahmu.

Batin pak Taryono bergerak mendekat.

Menyadari pak Taryono mendekat. Nayla pun tersadar dari lamunannya yang membuat akhwat itu bergegas menutupi pandangannya dengan tangan seadanya.

“Aaahhh bapaakk. Astaghfirullah. Maafin aku pak. Aku gak bermaksud. Tolong jangan mendekat!” Ucap Nayla yang membuat pak Taryono tertawa tebahak-bahak.

“Ngapain matanya ditutupin bu? Itu matanya masih ngelirik-ngelirik ke kontol saya loh.” Kata Pak Taryono yang membuat Nayla merasa malu bukan main.

“Eh anu, itu pak. Anu.” Wajah Nayla memerah. Ia benar-benar ketahuan setelah kepergok oleh pria tua itu.

“Dah tenang aja bu. Saya paham kok dengan kondisi ibu. Saya janji gak bilang ke siapa-siapa. Ibu mau mainin kontol saya kan? Nih pegang!” Kata pak Taryono dengan pedenya sambil mendekatkan penisnya ke wajah akhwat bercadar itu.

“Akuuu. Akuuuu.” Nayla dilema. Entah kenapa kata-kata pak Taryono ingin ia “Iya” kan segera.

Namun ia teringat dengan janji yang sudah ia ucapkan. Ia tidak ingin kembali jatuh ke lubang kemaksiatan. Pokoknya jangan. Jangan sampai.

“Bapak janji jangan bilang ke siapa-siapa?” Lirih Nayla yang membuat pak Taryono tersenyum.

“Janji.” Jawab pak Taryono dengan suara besarnya sambil tersenyum lebar.

Tangan Nayla perlahan terangkat. Ia sangat ingin menggenggam penis raksasa itu. Apalagi pak Taryono sengaja memainkannya dengan menaik turunkan penis itu. Nayla jadi gemas. Ia ingin meremasnya. Ia ingin mengocok penis yang sudah berkeriput itu dengan menggunakan tangan mulusnya.

“Janji bapak gak bilang kan?” Tanya Nayla sekali lagi memastikan.

“Kan saya sudah bilang tadi, ayo buruan. Kontol saya kedinginan nih. Butuh ada yang ngangetin.” Kata pak Taryono terus saja menggodanya kali ini dengan menempelkan ujung gundulnya ke cadar yang Nayla kenakan.

“Aaahhhh nikmatnyaaa cadarmu ini. Gak nyangka sebentar lagi saya bisa ngentot sama akhwat bercadar!” Seru pak Taryono yang membuat Nayla merinding.

Ngentot? Dengan bapak? Aku maauuu.

Batin Nayla yang sebenarnya tak tahan lagi.

Nalurinya sebagai wanita biasa yang sedang digoda oleh keindahan penis seorang lelaki tua membuat nafsunya tak tahan lagi. Ia tak kuat. Nafasnya semakin berat. Tiap kali ujung gundul penis itu mengenai cadar. Mulutnya langsung membuka ingin melahapnya.

“Paaakkk.” Lirih Nayla yang membuat pak Taryono segera menatapnya dengan hangat.

“Apa sayaangg?” Tanya pak Taryono dengan lembut.

Nayla tiba-tiba tersenyum. Ia lekas berdiri lalu mendekati pria tua itu.

Jelas pak Taryono terkejut saat melihat Nayla tiba-tiba berubah menjadi agresif. Dikala Nayla kian mendekat. Terasa penisnya terasa nikmat saat merasakan genggaman yang dilakukan oleh akhwat bercadar itu.

“Diem-diem aja yah pak. Ini rahasia di antara kita berdua. Hihihihi.” Bisik Nayla ditelinga pria tua itu yang membuatnya merinding gila.

“Aaahhhh. Aahhhh yaahh. Aaahhh pasti itu bu. Pastiiiii.” Desah pak Taryono saat penisnya langsung dikocok oleh tangan lembut Nayla.

“Hihihih makasih paak. Aku suka banget sama kontol bapaak.” Bisik Nayla sekali lagi di telinga pria tua itu. Setelah itu, mata akhwat bercadar itu dengan binal menatap wajah kadaluarsa pejantannya. Ekspresi wajah pak Taryono yang keenakan hingga matanya merem melek membuat Nayla merasa puas. Entah kenapa rasanya ia plong. Ia merasa seperti menjadi diri sendiri lagi. Nayla is back. Ia dengan penuh nafsu terus mengocok-ngocok penis pejantannya.

“Aaahhhhh buuuu. Aaahhhhh ibuuu ini nakal sekali yaaahhh. Aaahhhhh. Aaaahhhhh.” Desah pak Taryono sambil menggelengkan kepala.

“Hihihihi ini belum seberapa loh pak.” Kata Nayla sambil menoel-noel puting pak Taryono dengan tangan satunya.

Pria tua itu merinding. Rangsangan dari akhwat bercadar itu benar-benar memuaskannya. Dikala batang penisnya dikocoknya secara maju mundur. Toelan tangan Nayla di putingnya memberikan sensasi tersendiri yang membuat birahinya bergetar.

Belaian lembut dari sang bidadari bercadar, perlahan merambat naik dalam meraba dada bidang sang pejantan. Sedangkan tangan satunya, digunakan dengan baik dalam mengusap pentungan sakti milik sang pemuas nafsu birahi.

Nayla sungguh menikmatinya. Tak peduli dengan identitasnya sebagai akhwat bercadar. Tak peduli statusnya yang sudah menjadi istri sekaligus ibu dari anak tunggalnya. Syahwatnya yang telah menggelora membutakan matanya tuk memuaskan pria tua yang telah memanjakan pikiran kotornya.

“Aaahhhh mbaakkk. Aaahhhh. Aaahhhh nikmat sekali kocokanmu in, Bu. Ibu sudah berpengalaman yah?” Tanya pak Taryono sambil merem melek.

“Hihihihi enaakk paak? Yang beneerr? Menurut bapak? Aku udah berpengalaman belum?” Tanya balik Nayla dengan menggunakan suara manjanya.

“Aaahhhh. Aaahhhhhh. Ittuuuu. Ituuuu. Ouuuhhhhhhhh.” Pak Taryono memejam nikmat. Lenguhannya panjang tatkala penisnya dikocok semakin cepat.

“Jaawaabbb dongg paakkk. Kok malah itu itu doang sihhh?” Tanya Nayla sambil membetot keras ular kadut itu.

“Aaaahhhh jangaann diremasss mmppphhhh.” Desah Pak Taryono sambil memundurkan pinggulnya ke belakang sebentar.

“Hihihihi maaf yah pak. Abis aku gemes banget sih. Kontol bapak gemesin.” Jawab Nayla yang membuat pak Taryono terkejut.

Bagaimana bisa ada seorang akhwat bercadar yang berkata sekotor itu dengan menggunakan wajah polosnya?

“Hah. Hah. Hah. Ibu pasti sering mainin kontol orang yah. Saya yakin itu.” Ucap pak Taryono yang membuat Nayla tersenyum malu.

“Yap bapak betul. Kontol yang gede kayak punya bapak itu mainan kesukaanku loh.” Ucap Nayla yang kembali mengocok penis sang pejantan tua.

“Aaahhh ibuuuu. Aaahhhhh. Aaaaahhhh.” Desah pak Taryono sampai menggelinjang dibuatnya.

“Hihihihi keenakan banget yah?” Tanya Nayla sambil menoel-noel kembali puting hitam pejantannya.

“Iyaaahhh. Iyaahhhhh. Sudah berapa kontol yang ibu mainin selama ini? Berapa kontol yang udah pernah masuk ke memek ibu?” Tanya pak Taryono menjadi penasaran. Sambil merem melek keenakan. Ia berusaha tuk menatap wajah ayu yang ada di hadapannya itu.

“Aku? Maksud bapak, aku udah dientot berapa laki-laki gitu? Hihihihi.” Ucap Nayla malu-malu yang membuat pak Taryono gemas.

“Aaahhhh yahhhh. Itu maksud sayaa. Berapa bu? Berapaa?” Tanya pak Taryono tak sabar.

Seketika wajah Nayla mendekat. Jantung pak Taryono mendadak berdebar semakin cepat. Terlihat mata Nayla menatap wajah pejantannya itu dengan penuh nafsu. Kocokan yang dirasakannya pun semakin terasa nikmat. Apalagi saat bidadari bercadar itu tiba-tiba tersenyum tepat di depan wajahnya.

Seketika wajah Nayla berbelok ke samping, ia pun membisikkan kata-kata tepat di telinga pria tua itu.

“Termasuk bapak, kira-kira udah lebih dari 10 lah pak. Hihihihi.” Jawab Nayla yang membuat mata pak Taryono terbuka lebar.

Lebih dari 10? Termasuk saya? Gak nyangka ternyata dirimu sebinal ini yah bu? Tau gitu sudah saya entot memekmu dari dulu!

Batin pak Taryono saking terkejutnya.

Namun, selang beberapa detik kemudian. Rasa terkejutnya bertambah dikala bidadari cantik itu menurunkan tubuhnya untuk berjongkok dihadapannya. Pak Taryono menunduk. Penisnya yang sudah tegang maksimal itu berada tepat dihadapan wajah sang bidadari yang sudah menjadi idola oleh seluruh laki-laki yang ada di desanya itu.

“Buuuu. . . .” Kata pak Taryono yang membuat Nayla menaikkan wajahnya sejenak.

“Iyaaa paak?” Jawab Nayla sambil menaikkan pandangannya lalu mengangkat cadarnya sejenak.

“Apa yang mau ibu lakukan?” Tanya Pak Taryono tak menduganya.

“Aku? Sesuatu yang paling bapak inginkan dari dulu.” Jawab Nayla yang langsung mencaplok ujung gundul dari penis itu.

“Uuuhhhh ibbuuuuuuuu.” Desah Pak Taryono kejang-kejang saat ujung gundulnya terasa hangat akibat dari emutan yang akhwat bercadar itu lakukan.

“Mmppphhhh. Mmmppphhhh. Mmpphhh.” Nayla tak bersuara selain mendesah. Kepala mungilnya pun ia maju mundurkan secara perlahan.

Tiap kali wajah Nayla dimajukan. Pria tua itu kian memejam merasakan usapan dari bibir seksi itu dikala membelai lembut kulit keriput penis tuanya.

Dikala wajah Nayla dimundurkan. Pria tua itu juga memejam merasakan usapan lembut dari bibir tipis itu dikala membersihkan penis tuanya.

Pria tua itu juga menggelengkan kepala dikala lubang kencingnya dijilati oleh lidah nakal Nayla yang menggeliat lalu melilit penis tua itu dengan kencang.

Otomatis kedua tangannya memegangi kepala Nayla. Pinggulnya yang tak tahan dimaju mundurkan. Nayla agak sedikit terkejut ketika pak Taryono berubah menjadi agresif.

“Ouhhhh nikmat sekalii buuuu. Ouhhhhh. Ouuhh nikmat sekali sepongan ibuuu.” Puji pak Taryono yang membuat Nayla tersenyum puas.

“Mmpppphhhh. Mmppphhh. Mmppphhh.” Namun Nayla agak sedikit kewalahan, dikala gerakan pinggul pak Taryono lama-lama semakin kencang.

Aaaahhh mantapnyaaa. Aaahhhh gilaaa. Aaahhhh enak banget rasanya mulut akhwat bercadaar sepertimu, buuuu.” Desah pak Taryono sambil geleng-geleng kepala.

“Mmmpphh paakkk. Mmmmppphhh. Mmmpphhh.” Tangan Nayla menepuk-nepuk paha pak Taryono. Pria tua itu kian bernafsu. Ia tak peduli lagi kalau lubang yang sedang ia jejali itu adalah mulut seseorang.

“Aaahhhh nikmattnyaaa. Aaahhh hangaattnyaaa. Aaahhh rasakaan iniii buuuu. Rasaakkaaannn. Rasaakaannn.” Ucap pak Taryono semakin mempercepat gerakan pinggulnya.

Nayla memejam. Penis pak Taryono sudah basah terbalut oleh liur bidadari cantik itu. Bahkan liurnya sampai ada yang jatuh ke tanah yang sedang ia pijak sekarang. Ia tersiksa. Ujung gundul penis itu sampai menyentuh tepi tenggorokkan yang membuatnya hampir tersedak.

“Paaakkk. Paaakkkk.” Untungnya Nayla berhasil mendorong tubuh pak Taryono hingga jatuh terduduk diatas meja lonjong yang ada di ruang tamu rumahnya.

Terlihat wajah Nayla kelelahan. Hijabnya juga agak berantakan akibat genggaman tangan pak Taryono saat menahan kepala mungilnya ketika dijejali penis tuanya.

“Anu maaf bu. Tadi saya kebawa naf . . . .”

Pak Taryono yang segera tersadar dari hawa nafsunya hendak meminta maaf. Namun kata-katanya terhenti ketika melihat bidadari bercadar itu berdiri lalu menurunkan celana dalamnya tepat didepan kedua matanya.

“Ibuuuu . . . .” Kata pak Taryono. Ia terhipnotis. Ia tak mampu berbuat apa-apa dikala akhwat lonte itu tiba-tiba duduk di sofa ruang tamunya lalu menaikkan roknya hingga kedua apem empuk itu nampak dihadapan matanya.

“Bapaak mau ini kan? Ayo sini. Bapak bebas melakukan apa aja kalau masuk lewat sini.” Goda Nayla sambil mengusap-ngusap bibir vaginanya yang sudah basah.

“Saya? Benarkah?” Tanya Pak Taryono tak mempercayai apa yang dilihatnya. Ia memang bernafsu, namun Tindakan Nayla yang jauh berbeda dari apa yang dilihatnya sehari-hari benar-benar mengejutkannya.

Pria tua itu pun lekas bangkit dari posisi duduknya lalu mengocok-ngocok penisnya sambil matanya terpaku pada tempik basah yang sedang dielus-elus oleh pemiliknya.

“Ayo sini paakk. Kemaariii. Puasii akuuu. Genjot memekku pake kontol gedemu itu paakk. Mmpphhhh. Mmppphhh.” Desah Nayla yang sesekali sambil membuka lubang vaginanya lalu memasukkan dua jemarinya untuk melebarkan sedikit vaginanya yang sudah lama tak dimasuki oleh penis seorang lelaki tua.

“Tungguu aku ibuuuu. Bersiaaplaahh. Iniiiii. Aaahhhhh.” Desah pak Taryono saat ujung gundulnya sudah berada di tepi pintu masuk vagina akhwat pemuas itu.

“Mmpphhh masukkan paakkk. Cepaaatt. Memekku gataaalll.” Kata Nayla dengan kotornya sambil membuka pintu vaginanya lebar-lebar.

“Iyyaaa. Iyaaaa buuuu. Sandarkan tubuh ibu dulu. Nah seperti itu. Sekarang lebarkan paha ibu. Aahh seksi sekali tubuh ibu.” Kata pak Taryono setelah melihat pose terkini Nayla.

“Begini? Ayoooo. Paakk. Akuuuu . . . . “

Jleeebbbb!!!

“Mmpppphhhhh.” Desah Nayla terhenti saat penis pak Taryono tiba-tiba masuk, ambles menembus lahang senggama Nayla.

“Mantaappnyaaaaaa.” Jerit pak Taryono dengan penuh kenikmatan. Matanya memejam. Tubuhnya bergetar. Jiwanya merinding tatkala penisnya dilahap oleh lubang kenikmatan itu.

"Hah. Hah. Hah. Hah" pak Taryono ngos-ngosan. Dikala mulutnya terbuka sedikit. Ia menatap ke depan menuju ke arah tubuh Nayla yang duduk bersandar di sofa rumahnya.

Sambil memegangi pinggang rampingnya, pak Taryono terdiam sejenak menatap keindahan binor yang ada di hadapannya. Meski binor bercadar itu masih berpakaian lengkap dengan roknya yang terangkat naik saja. Ia masih tak habis pikir karena berhasil mewujudkan cita-citanya.

Bagaimana bisa dirinya yang sudah tua renta dengan rumah yang sangat sederhana berhasil melesatkan penisnya menembus liang kehangatan sang bidadari bercadar yang menjadi buah bibir seluruh desa.

Ia kemudian menatap wajah ayu Nayla dengan seksama. Mata indah itu, tatapannya yang sayuk serta mengundang hawa nafsu. Cadar yang digunakannya semakin menambah keindahan yang dimiliki oleh parasnya. Rasanya, ia jadi ingin sekali memejuhi wajahnya dengan sperma yang akan dibuangnya nanti.

Setelah itu, pandangannya turun menuju gunung kembar yang menonjol dari balik gamis longgar yang Nayla kenakan. Ia tak menyangka, rupanya Nayla memiliki dada yang begitu besar yang tersembunyi dibalik pakaian syar'inya. Tangannya mendadak gemas ingin meremas-remas susu bulatnya dengan perlahan. Ia ingin menyentuhnya. Ia ingin mencengkramnya selama mungkin sambil menatap keindahan wajah yang ada di hadapannya.

Pandangannya perlahan semakin turun menuju penisnya yang sebagiannya sudah menancap di dalam lubang vaginanya. Cukup lama pak Taryono menatapnya. Ia masih tak percaya. Terkadang ia merasa bahwa ini hanyalah mimpi belaka. Apalagi tiap detiknya ia merasakan kalau lubang itu seperti meremas-remas penisnya. Rasanya sungguh nikmat sekali. Tak pernah ia merasa sebahagia ini di seumur hidupnya.

"Paakkk kok diem? Goyang dong." Pinta Nayla yang membangunkan pak Taryono dari lamunannya.

"Hah. Hah. Hah. Maaf bu. Saya masih belum percaya kalau ini nyata. Saya masih gak nyangka kalau kontol saya bisa masuk menembus memek alimmu itu bu." Jawab pak Taryono yang membuat Nayla tersenyum malu.

"Hihihi dasar bapak. Baru juga dimasukin, belum juga digoyangin." Jawab Nayla dengan nada menggodanya yang membuat fantasi pak Taryono kemana-mana.

"Loh ibu ini bikin saya nafsu aja. Ibu nantangin saya yah?" Tanya pak Taryono terpancing.

"Nantangin? Aku cuma ngajak bapak kok, biar sama-sama melampiaskan birahi surga. Hihihi" Tawa Nayla malu-malu.

Pak Taryono jelas tertantang. Akhwat alim yang sedang dicoblosnya benar-benar mengajak syahwatnya untuk bergelut agar bisa dilampiaskan pada bidadari bercadar itu.

Ia kemudian mulai mengambil posisi. Pinggulnya ia mundurkan ke belakang lalu mencoblosnya sekuat-kuatnya.

"Oke, nih rasakan yah bu. Heennkkgghhh!!!!"

"Uuhhhh bapaaakkk"

Seketika pak Taryono menarik pinggulnya lagi sebelum menghempaskannya ke rahim akhwat yang sedang melewati ujian hijrahnya itu.

Jleeeebbbb!!!

"Uhhhhh paaakkkk!"

"Hehehe enak kan bu? Lagi! Heennkkgghhhh!!!"

"Aaaahhhh iyaaahhhhh!"

"Laagiii"

"Paaaakkkk aaaahhhhh"

Baru setelah itu pak Taryono mulai menggerakkan pinggulnya secara teratur. Sesekali tangannya mengelus-ngelus paha mulus Nayla yang mengangkang lebar di kanan kirinya. Matanya pun terpaku pada tatapan penuh nafsu Nayla yang terlihat menikmati sodokannya.

Pria tua itu kian bersemangat. Akibatnya sodokannya pun makin lama makin kuat.

"Aahhh bapaaakkk. Aahhh. Aahhhh. Terusss. Terusss ouhhhh"

"Ahhhh iyaahhh. Iyaahh bu. Aaahh nikmat sekali. Nikmat sekali memek rapetmu ini buuu!"

Pak Taryono sampai menggelengkan kepala. Bagaimana bisa rasanya bercinta bisa seenak ini. Padahal saat almarhumah istrinya masih ada. Rasanya bercinta hanya biasa-biasa saja. Tapi persetubuhannya kali ini? Rasanya sungguh luar biasa.

Dikala pria tua itu terus memacu penis tuanya. Rasanya penisnya seperti sedang dijepit, diremas, dicengkram oleh sesuatu yang hangat dan kuat di dalam lubang kenikmatan itu.

Lendir Nayla yang kian banyak membanjiri rahimnya membuat penis pak Taryono semakin mudah dalam membombardir liang kesenggamaannya. Tangannya pun merambat naik menuju dada bulatnya. Susu kenyal Nayla yang bergerak-gerak seiring hentakan pinggul pak Taryono yang menyentak-nyentakkan tubuh indahnya berhasil dipegang oleh pejantannya.

Dada itu tak lagi bergerak. Dada itu berhasil dipegangnya sambil sesekali dielus, diraba, ditekan-tekan hingga membuat pemiliknya mendesah-desah keenakan.

"Aaahh bapaakkk. Aaahh yaahh. Aahhhh. Mmmpphhh" Tubuh Nayla tersentak. Kepalanya ia sandarkan pada sandaran sofa di belakang. Matanya sesekali membuka menatap langit-langit rumah sederhana itu lalu sesekali menutup menikmati tusukan yang begitu bertenaga dan begitu dalam dari pemilik tombak sakti itu.

"Aahhhh. Aaahhhh. Gimana rasanya bu? Ibu suka kontol saya? Ibu menikmati tusukan saya?" Tanya pak Taryono sambil terus berpacu mengobok-ngobok rahim kehangatan itu.

"Aaahhh iyaaahhh. Aku suka paaakkk. Akuu sukaaa. Tolongg lebih kerasss. Lebih dalem lagiiii" Pinta Nayla yang ingin merasakan kenikmatan lebih.

"Aaahhhh. Aaahhh. Aaahhh. Agak susah emang kalau nyodoknya kayak gini. Coba kita ganti posisi dulu yah bu. Ayo ibu berdiri." Pinta pak Taryono yang terpaksa menghentikan sodokannya sementara.

"Hah. Hah. Hah. Iyaah pak. Terus?" Tanya Nayla ngos-ngosan.

"Ayo nungging, saya mau genjot kamu pake gaya anjing kawin!" Perintah pak tua itu yang sudah tidak sabaran ingin menikmati lubang tempiknya lagi.

"Gaya anjing kawin?" Tanya Nayla yang langsung paham.

Seketika ia jadi teringat pak Urip yang sangat suka sekali menyetubuhinya dengan gaya anjing kawin. Ia pun berharap tusukan pak Taryono bisa seenak tusukan pak Urip. Ia berekspetasi tinggi. Karena vaginanya sudah haus oleh kenikmatan yang hanya bisa didapatkan dari pria-pria tua.

"Sudah pak, ayo!" Kata Nayla yang sudah menungging dimana tangannya bertumpu pada sandaran sofa yang tadi di sandarnya. Pandangan Nayla pun ditundukkan ke bawah bekas posisi duduknya di sofa tadi. Karena tak kunjung ada pergerakan, Nayla lekas menoleh ke belakang tuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh pria tua beruntung itu.

Jleeeebbbb!!!

"Mmpphhhh!!!" Nayla memejam. Lenguhannya merangsang birahi Pak Taryono yang sedang menggebu-gebu.

"Cantiknyaaa ibuuu. Ouuhhh Ouhhhh ouhhhhh" Pujinya yang kemudian langsung memacu pinggulnya tuk mengaduk-ngaduk liang senggama itu dengan cepat.

Pak Taryono tersenyum puas. Rupanya daritadi ia sengaja menunggu hingga bidadari sholehah itu menoleh ke belakang agar saat ia menancapkan pusaka saktinya, ia dapat melihat ekspresi kenikmatannya akibat tusukan mesumnya.

"Aahhh bapaakkk. Aahhh iyaahh ouhhh dalem sekali paakk. Aaahh. Aaaahhhh" Desah Nayla takjub merasakan dinding rahimnya terbentur-bentur oleh ujung gundul yang dimiliki oleh pria tua itu.

“Aaahhhh. Aahhhhh. Tadi ibu minta dikerasin lagi kan? Kayak gini? Hennkgghhh!!” Ujar pria tua itu dikala mempercepat genjotannya.

“Aaaahhhhh paakkk. Laggiiii. Laagiiiii!” Pinta Nayla mengejutkan pak Taryono.

“Apa? Lagi? Dasar lonte bercadar. Terima ini!” Balas pak Taryono mengikuti omongan pemuasnya.

“Aaaahhh iyaahhhh. Iyaahhhh. Terusss paakkk. Terrruussss.” Jerit Nayla dengan begitu nyaringnya.

Plokk. Plokk. Plokk.

Benturan suara antar pinggul mereka terdengar sangat kencang. Nafsu pak Taryono yang sudah mencapai puncak dilampiaskan sebesar-besarnya saat menyetubuhi akhwat yang sedang dilanda nafsu birahi itu.

Tiap kali pak Taryono menyodok rahimnya. Tubuh Nayla terdorong maju dengan sangat kencang. Gerakan maju mundur secara beraturan yang pria tua itu lakukan benar-benar memuaskan syahwat yang akhwat cantik itu inginkan.

Nayla selalu memejam seiring sodokan yang diberikan oleh pria tua itu. Mulutnya pun menganga daribalik cadarnya. Ia benar-benar menikmati tiap gesekan yang diberikan oleh penis itu pada dinding vaginanya.

“Aaahhhhh. Aaahhhh. Aaahhhhhh. Gak pernah saya merasakan kenikmatan sepuas ini buuuu. Aaahhhh. Aaahhhh.” Desah pak Taryono bertahan sambil meremas gamis yang dikenakannya hingga lecek. Gamis di sisi kiri kanannya selalu dipegangi olehnya. Pemandangan indah dari sisi belakang tubuh Nayla menjadi penyemangatnya dalam melajukan pinggulnya secepat-cepatnya.

Andai ia bisa melihat pemandangan indah ini dari samping. Terlihat payudara Nayla bergerak maju mundur dari balik gamis yang masih dikenakannya. Nayla terlihat menggairahkan. Keindahan gamis yang dikenakannya tak mampu menutupi keindahan tubuh yang dimilikinya.

“Aaaahhhh paakkk. Aaahhh samaaa. Aaahhhh udah lama aku gak digenjot seenak ini paakk. Aaaahh yaahh. Terusss. Mmppphhh.” Desah Nayla yang kian menyemangati nafsu pak Taryono.

“Oh begitu. Ayo angkat tubuhmu sedikit bu.” Kata pak Taryono menaikkan tubuh Nayla hingga berdiri tegak lalu tangannya segera mencengkram payudara Nayla sekuat-kuatnya.

“Aaaahhhh paaakkk. Aaahhhhh. Aaahhhh.”

Nayla pasrah. Dirinya hanya bisa mendesah tatkala mendapat serangat kuat yang diarahkan ke susu bulatnya juga tempik basahnya. Kedua tangan Nayla dibiarkan menggantung begitu saja di kanan kiri tubuhnya. Susunya yang sedaritadi bergoyang dicengkramnya yang membuat darahnya berdesir hingga tubuhnya merinding nikmat.

“Aaaahhh ini diaaa. Aahhhh nikmat sekaliii. Sudah lama saya membayangkan bisa menggenjot memekmu sambil memegangi susumu ini mbaakk. Aaahhhh. Aaahhh.” Desah pak Taryono sambil terus menyenggamainya lalu tangannya mulai menekan-nekan puting berwarna pink yang dimiliki olehnya.

“Aaahhh geliii paakkkk. Geeeliiiii. Ouhhhhh. Ouhhh.” Tubuh Nayla menggeliat. Rasa geli bercampur nikmat yang diberikan oleh pria tua itu benar-benar menaikkan nafsu birahinya.

“Ouhhh. Ouhhhh dasar ibu lonteeee. Aahhh. Aaahhhh. Bisa-bisanya ibu bikin saya selemas ini.” Kata pak Taryono saking puasnya hingga kakinya lemas setelah energinya tersedot semua oleh rahim yang dimiliki oleh Nayla.

“Aaahhhhh. Aaahhhhh. Bapak capek? Mau aku goyang?” Tanya Nayla yang membuat pak Taryono tergoda.

“Ibu mau ngegoyang kontol saya?” Tanya pria tua itu sambil mulai menurunkan tenagannya.

“Mau bangettt paakkk.” Jawab Nayla yang membuat pak Taryono merinding mendengar jawaban itu dari seorang akhwat bercadar.

Pak Taryono pelan-pelan mulai melepas penisnya. Terlihat penis itu masih berdiri tegak dengan lendir yang menyelimuti keseluruhan batangnya.

“Hah. Hah. Hah.” Desah pak Taryono ngos-ngosan.

“Hihihihi capek banget yah pak. Terima kasih karena bapak bisa bertahan gak keluar duluan ya.” Ucap Nayla bersyukur karena memiliki pejantan yang sanggup bermain lama-lama dengannya.

Seketika matanya turun menatap penis raksasa itu. Nayla gemas. Ia tersenyum sambil menggenggam penis itu lalu menariknya.

“Ayo sini pak, Bapak duduk di sofa.” Kata Nayla sambil menarik penis raksasanya.

“Ehhh buuu. Mau kemanaa? Ehhhh.” Ujar Pak Taryono merem melek.

“Ayo duduk sini pak.” Kata Nayla yang lekas mendorong pak Taryono hingga jatuh terduduk di sofa yang tadi ia duduki.

“Aaahh buuu. Apa ini beneran ibu? Kok ibu keliatan agresif sekali?” Tanya Pak Taryono yang masih terkejut melihat perubahan kepribadian Nayla.

“Hihihihi. Pertama, tolong ini rahasia kita. Kedua, jangan panggil aku ibu lagi yah pak. Cukup panggil aku Nayla aja. Aku lebih suka dipanggil seperti itu oleh bapak.” Jawab Nayla yang tiba-tiba berjalan naik menuju ke pangkuan pria tua itu.

“Ba-baik bu. Eh Nay.” Jawab Pak Taryono gugup. Ia sangat gugup menyadari dirinya akan digoyang oleh akhwat sholehah secantik Nayla.

“Hihihi nah gitu dong. Aku kan suka dengernya. Mmppphhhh.” Desah Nayla merinding merasakan tusukan penis itu lagi.

“Ouuhhhhh mantappnyaaaa.” Desah Pak Taryono puas.

Tak hanya Pak Taryono yang merasakan kepuasan yang tak terkira. Tapi Nayla pun juga. Dirinya yang masih berpakaian lengkap itu merasa gerah ingin memamerkan tubuhnya dihadapan pejantan yang benar-benar dapat membangkitkan syahwatnya.

Seketika Nayla menatap ke arah depan. Ia menatap wajah pria tua itu dengan seksama.

Tiba-tiba Nayla tersenyum lalu menurunkan resleting gamis yang ada di bagian belakang punggungnya.

“Ayo pak sini, nikmati susu aku.” Ujar Nayla setelah mengeluarkan susunya dari gamisnya yang mulai melorot.

Mata pria tua itu melotot. Ia benar-benar terhipnotis sehingga dirinya langsung menuruti omongan wanita cantik itu.

“Mmmppphhhhh.” Nayla memejam lalu merinding tatkala puting pinknya dihisap begitu kuat oleh pria tua itu.

“Sssllrppp mpphhhh. Ssllrrpppp. Ssllrrpppp. Mmppphhhh.” Bagaikan bayi tua yang kehausan. Pak Taryono langsung memeluk tubuh Nayla dengan erat lalu bibirnya menyeruput putingnya indah itu dengan nikmat. Tak cuma menyeruput, lidahnya juga menoel-noel lalu menjilat-jilat area disekitar putingnya dengan lembut.

“Aaahhhh paakkkk. Mmppphhhhhh. Mmpppphhhhhh.” Desah Nayla menikmati semuanya.

Dengan rakusnya, Pak Taryono berpindah dari satu payudara ke payudara lainnya. Ia kembali menyeruput payudara satunya. Bahkan menggigitnya pelan yang mengakibatkan birahi Nayla kembali bergejolak hingga wajahnya terangkat menatap langit-langit ruangan.

“Aaaahhhh iyaahhh. Aahhhh jangan digigit paakk.”

Pak Taryono tak menghiraukan. Ia dengan gemasnya kembali menggigit payudara satunya. Tubuh Nayla terus menggelinjang. Bahkan vaginanya yang sudah tertancap penis tuanya semakin gatal.

“Slllrrpppp. Sssllrrppppp. Mmppphhhh.” Lagi-lagi, pak Taryono tak menghiraukan. Rasa gemasnya pada payudara yang sangat sentosa itu membuatnya tuli pada suara-suara yang ada disekitarnya.

Nayla pun pasrah. Ia tahu kalau dirinya hanya bisa membiarkan payudaranya dimainkan oleh pria tua itu. Ia tak mengira kalau dirinya akan kembali menyusui seorang bayi tua seperti pria tua kekar itu.

“Sssslllrrpppp mmpphhh puasnyaaaa.” Ucap pak Taryono setelah puas menyusu pada payudara bulat itu. Ia melepas cumbuannya, lalu wajahnya ia angkat menatap wajah indah yang dimiliki oleh malaikat tak bersayap itu.

“Aaaahhh paakk. Hah. Hah. Hah.” Wajah Nayla terlihat lemas. Ia membalas tatapan penuh arti dari pria tua itu.

“Wikwikwik. Maafkan saya Nay. Saya terlalu nafsu setelah disuguhin susu kenyalmu.” Jawab Pak Taryono yang membuat Nayla tersenyum lemah.

“Dasar. Untung aku lagi baik. Siap-siap yah pak.” Kata Nayla membingungkan pak Taryono.

“Siap-siap?” Tanya pak Taryono belum paham. Namun seketika ia mulai memahami apa yang dimaksud oleh akhwat cantik itu ketika tubuh Nayla terangkat naik.

Jleeeebbbbb!

“Aaaaaaahhhhhhhhhh..” Desah kedua insan itu secara bersamaan.

Tiba-tiba Nayla kembali menaikkan tubuhnya lalu menurunkannya lagi.

Jjleeebbbbb!

“Aaaaahhhhhhhh” Lagi-lagi keduanya mendesah seiring menikmati pergerakan tubuh Nayla.

Mereka berdua terdiam sejenak. Pak Taryono kemudian tersenyum menatap wajah ayu Nayla. Nayla tersipu. Tiba-tiba ia ikut tersenyum lalu menaikkan cadarnya untuk mencumbu pria tua itu.

“Mmmppppphhhh.”

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling dorong dengan penuh nafsu. Nayla dengan liarnya menjepit bibir bawah pak Taryono. Lalu lidahnya menggeliat membasahi bibir bagian bawah yang dimiliki oleh pejantan tua itu.

Sama halnya dengan Nayla. Pak Taryono lekas membalas. Ia juga melakukan hal yang sama ke bibir atas Nayla. Lalu lidahnya yang gemas memaksa masuk ke dalam mulut manis Nayla. Lidahnya bergerak bagaikan seekor ular yang bergerak ke seluruh penjuru rongga mulut Nayla.

Menyadari lidah pak Taryono bergerak sembarangan di dalam mulutnya. Lidah Nayla ikut beraksi. Lidahnya lekas mendorong lidah keriput pak Taryono. Lidah mereka beradu. Lidah mereka saling menggeliat. Saling melilit. Saling menindih. Pergelutannya bagaikan atlet smackdown yang sedang bertarung diatas ring.

Bahkan saking sengitnya, sampai ada tetesan air liur yang tumpah dari sela-sela mulut Nayla.

Jujur, pergelutan antar bibir ini benar-benar membangkitkan syahwat Nayla. Nayla pun mulai menaikkan tubuhnya lagi. Pinggulnya kembali bergoyang sambil mencumbu pria tua itu.

Pinggulnya bergerak naik turun. Pinggulnya yang awalnya bergerak pelan lama-lama bergerak semakin cepat. Kedua tangan Nayla ditaruhnya di kedua pundak pak Taryono. Kedua bongkahan pantat mulusnya itu kemudian dipegangi oleh tangan kasar pak Taryono. Rasanya semakin nikmat dikala bokongnya dipegangi oleh pria tua itu. Bahkan bokongnya juga diremas-remas yang membuat akhwat bercadar itu semakin puas.

“Mmpphhhh. Mmppphhh paaakk Mmppphhh.” Desah Nayla yang terus menikmati cumbuannya.

“Mmpphhhh iyaa Naayyy. Mmpphhhh. Terus goyang kontol sayaa. Mmppphhhh. Nikmati kontol saya sepuasmu Nay.”

“Mmmppphhh iyaahh paakkk. Akan aku lakukan. Mmppphhh.” Desah Nayla yang mulai melakukan variasi dalam goyangannya.

Tak hanya bergoyang naik turun. Tapi akhwat bercadar itu juga mulai melakukan gerakan memutar. Awalnya ia menggerakkan pinggulnya maju, lalu ia goyangkan ke kanan, ke belakang lalu ke kiri dan kembali ke depan lagi. Ia tarus melakukan gerakan memutar yang membuat penis pak Taryono seperti sedang diaduk-aduk didalam liang senggamanya.

Tak hanya bergoyang memutar. Ia kini bergoyang maju mundur. Ia menggoyangnya dengan frekuensi yang amat cepat. Kini, rasanya penis pria tua itu seperti persneling mobil yang digerakkan maju mundur oleh seorang sopir.

Hampir saja penis itu patah. Beruntung pak Taryono dengan kejantanannya sanggup bertahan disela-sela serangan birahi Nayla.

“Aaahhhh Naay. Aaahhhhh saya gak kuat. Saya mauu kelluaar” desah pak Taryono tak sanggup lagi. Ia bahkan sampai melepas cumbuannya demi mengucapkan kata-kata tersebut.

“Mmpphhhh jangan keluar dulu paakkk. Aku juga mau keluaar. Tungguu bentar.” Desah Nayla yang kembali ke mode gerakkan naik turun.

Nayla yang sudah dibutakan oleh hawa nafsunya kembali menggoyang tubuh pria tua itu dengan liar. Ia seperti kesurupan. Orang-orang desa yang mengenal diri Nayla pasti akan terkejut melihat perubahan kepribadiannya yang sangat drastis.

Tapi itulah Nayla. Inilah jati diri Nayla. Inilah sifat asli Nayla yang sudah dibentuk oleh pak Urip, pembantu tuanya yang berhasil merubah kepribadiannya yang dari awal adalah akhwat solehah menjadi akhwat sholehot yang paling suka ngentot.

“Aaaahhhhh bapaaakkk. Aaahhh akuu mauu kelluaarr. Aakuuu mauu kelluaarrr.” Jerit Nayla tak kuat.

“Aaahhh saya jugaa Naayyy. Sayaaa jugaaa.” Jerit pak Taryono yang sudah diambang batas.

Nafas mereka berpacu. Mereka sama-sama sudah berada di ambang batas kenikmatan. Peluh sudah membasahi tubuh mereka. Pejuh sudah berancang-ancang keluar melalui lubang kencingnya. Sedangkan Nayla sudah merasakan adanya gelombang dahsyat yang akan menyembur keluar melalui lubang kencingnya.

“Aaahhhh. Aahhhhh. Aaaahhhh bapaaaakkk. Aku udah gak kuat lagi. Aku udah gak kuat lagi.”

“Aaahhh iyahhh sama saya juga Naayyy. Saya mau keluaar. Saya mauu kelluaarrr.”

Plookkk. Plokkk. Plokkkk.

Benturan tubuh yang diakibatkan oleh Nayla semakin kencang. Mereka sudah tak kuat. Kemaluan mereka sudah sama-sama mau muntah.

“Aaahhhhhh. Aaahhhh. Aaahhh bapaaaakkkkk.” Seketika Nayla membenamkan tubuhnya sedalam-dalamnya ke atas pangkuan pria tua itu. Akibatnya, penis gagah itu menancap semakin dalam. Dinding rahimnya semakin terdorong oleh ujung gundul penis tua pejantannya.

“Naaayyyylaaaaaa.” Sama, ketika Nayla membenamkan tubuhnya. Rasanya batang penisnya seperti dilumat habis oleh dinding vagina Nayla. Lubang Nayla menyempit. Penis tuanya rasanya seperti sedang dicekik.

Tak lama kemudian, mereka pun mengeluarkan jeritan yang sama setelah sama-sama mendapatkan rasa puas yang sama.

“Keellluuuaaaaarrrrr!”

Ccrroottt. Crroottt. Crrootttt!!!

Tubuh mereka sama-sama mengejang. Tubuh mereka sama-sama menggelinjang. Nafas mereka tertahan. Saat syahwat mereka sama-sama terlampiaskan.

“Aaaaaahhhhh.” Pak Taryono mendesah disaat semprotan spermanya dengan deras membanjiri liang senggama bidadari pemuasnya. Matanya sampai merem melek keenakan. Tubuhnya langsung lemas. Lututnya juga ikut lemas yang membuat tubuhnya langsung bersandar pada sandaran sofa yang ada dibelakang.

“Uuuhhhhhhhhh.” Begitu juga Nayla yang mendesah saat semburan cairan cintanya menemani pejuh hangat yang sudah lebih dulu bersemayam didalam rahim kehangatannya. Tubuhnya yang juga melemas seketika ambruk ke dalam pelukan pejantan tuanya. Ia terengah-engah. Matanya memejam karena saking lelahnya.

“Hah. Hah. Hah.” Baik keduanya ngos-ngosan setelah sama-sama melampiaskan syahwatnya. Rasanya puas sekali. Tak ada kata yang dapat mendeskripsikan kepuasan yang sudah mereka berdua rasakan. Sesekali, pak Taryono mendorong pinggulnya agar penisnya kembali mendorong dinding rahim Nayla.

“Aaahhh paakkk. Aaahh. Hah. Hah.”

Nayla terdiam. Setelah syahwatnya terlampiaskan. Ia lekas bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

Lagi? Aku melakukannya lagi? Disini? Di desa yang seharusnya menjadi tempatku tuk berhijrah?

Nayla yang kembali mendapatkan akal sehatnya mulai menyesal. Bagaimana bisa dirinya yang sudah berbulan-bulan bertahan agar tidak bermaksiat tiba-tiba kalah oleh godaan yang berawal dari mimpi basah yang tadi siang dialaminya.

Ia benar-benar merasa sudah melampaui batas. Ia merasa malu. Apalagi saat dirinya teringat betapa binalnya ia saat menggoda pejantan yang baru saja memuntahkan lahar hangatnya dikemaluan sempitnya itu.

Bodoh! Kamu bodoh Nay! Kenapa kamu kembali memilih jalan kemaksiatan? Kenapa kamu gak bertahan saat godaan sedang menyerang?

Rasanya Nayla ingin menangis. Air matanya pun mulai menetes namun buru-buru ia hapus agar tidak terlihat oleh pejantan tuanya itu.

“Hah. Hah. Hah. Terima kasih yah Nay. Sudah membuat saya puaa . . . .” Belum sempat pak Taryono menyelesaikan kalimatnya. Ia terkejut saat melihat Nayla tiba-tiba berdiri lalu merapihkan pakaiannya kembali.

“Kamu mau kemana Nay? Kok buru-buru amat? Kamu mau langsung pergi?” Tanya pak Taryono heran.

Namun tak sekalipun Nayla membalasnya. Ia benar-benar tak ingin membahas kemaksiatan yang baru saja dilakukannya tadi. Ia ingin segera melupakannya. Ia ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini.

“Naaayyy?” Ucap pak Taryono yang langsung berdiri lalu hendak mendekat tuk memeluk tubuh ramping akhwat cantik itu.

“Maaf pak, aku mau pulang!” Kata Nayla terlihat buru-buru.

Setelah gamisnya rapih kembali. Setelah ia menaikkan resleting gamis yang ada dipunggungnya lagi. Setelah ia menurunkan roknya hingga rapih kembali. Ia langsung pergi menuju pintu keluar tanpa mengucapkan apa-apa lagi ke pria tua itu.

Terlihat pak Taryono hanya menatapnya heran. Ia kebingungan kenapa Nayla begitu buru-buru pergi dari rumahnya setelah memberinya kepuasan. Namun seketika, saat ia hendak berjalan tuk memungut pakaiannya yang tertinggal. Ia tiba-tiba tersenyum saat kakinya menyentuh sesuatu.

Sementara itu Nayla,

Selama perjalanan pulangnya. Ia kembali menangis sesenggukkan menyadari dirinya kembali ternoda akibat tak kuat menahan hawa nafsunya yang tiba-tiba bangkit. Padahal ia sudah berniat berhijrah. Ia ingin meninggalkan segala bentuk kemaksiatan yang dulu pernah dilakukannya. Ia tidak ingin berzina lagi. Ia tak mau menodai tubuhnya yang kini sudah menjadi ibu dari seorang anak yang berasal dari suami sahnya.

Tapi kenapa? Hanya karena mimpinya saat disetubuhi oleh pak Dikin. Nafsunya langsung bangkit yang membuatnya segera mencari seseorang tuk melampiaskan syahwatnya?

Apa karena ini salah satu ujian hijrahnya? Tapi kenapa ia gagal dalam ujiannya? Selemah itukah dirinya dalam menahan hawa nafsu? Atau dirinya lengah sehingga membiarkan setan membisikkan kata-kata yang membuatnya mudah terangsang?

“Maafin aku mas. Maafin umi nak. Umi lagi-lagi ternoda.” Lirih Nayla sesenggukkan.

Ia sedari tadi menunduk lalu menutupi wajahnya agar tak terlihat menangis oleh orang-orang yang dilewatinya.

“Mmmppphhh.” Seketika Nayla berhenti melangkah saat tetes sperma pak Taryono kembali tumpah melewati kedua bibir vaginanya.

Seketika Nayla ketakutan. Bagaimana kalau nanti, dirinya tiba-tiba memiliki janin, hasil akibat dari kebinalannya dengan pak Taryono tadi.

Beruntung, tak lama kemudian ia sudah sampai di rumahnya. Ia pun buru-buru menuju kamarnya tuk melihat keadaan putranya. Putranya masih terlelap. Matanya kembali basah saat air matanya menetes akibat rasa penyesalannya karena sudah mengkhianati keluarganya lagi.

“Maafin umi yah naak. Maafin umiiii.” Lirih Nayla sambil memeluk putra sematawayangnya.

Ia benar-benar menyesal. Ia pun kemudian bertekad untuk tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.

Seketika ia mencium aroma sperma yang begitu kuat dari tubuhnya. Apalagi saat sperma pria tua itu kembali menetes membasahi lantai rumahnya.

“Aku harus mandi. Aku harus membersihkan diri sebelum suamiku pulang sebentar lagi.” Lirih Nayla bertekad.

Ia lekas menuju cermin yang berada di pintu almari pakaiannya. Ia awalnya melepas cadarnya, lalu hijabnya. Nampak wajah ayu itu terpampang indah dari pantulan cermin dihadapannya. Lalu ia menurunkan resleting gamisnya. Berikut rok yang menutupi kaki jenjangnya. Dalam sejenak ia sudah bertelanjang bulat tanpa mengenakan sehelai pakaian lagi.

Ia menyangkan nafsunya yang kembali bangkit. Bagaimana bisa tubuh seindah ini ia berikan kepada pria-pria tua yang pernah menyetubuhinya? Bukankah tubuh seindah ini harusnya hanya bisa dinikmati oleh suaminya saja?

“Udahlah, jangan diinget-inget lagi. Bikin kesel aja!” Lirih Nayla menyesali perbuatannya.

Ia kemudian mengambil handuknya lalu melilitkannya tuk menutupi tubuh indahnya. Saat dirinya hendak keluar kamar sambil membawa pakaian kotor yang tadi dikenakannya. Seketika hapenya berdering petanda ada pesan masuk melalui aplikasi whatsappnya.

“Eh siapa ini? Aku belum ngesave nomornya? Kok tau nomorku sih?”

Saat Nayla membuka pesan tersebut. Ia terkejut saat melihat sebuah kiriman foto dari seseorang yang ia rasa tahu siapa orangnya.

“Astaghfirullah. Bukannya itu celana dalamku! Berarti itu!”

Ia terkejut melihat celana dalamnya sudah belepotan pejuh yang dikirimkan oleh penis seseorang yang terpampang pada foto tersebut.

Terima kasih yah Nay. Gara-gara liat sempakmu tadi. Saya jadi pengen coli dan akhirnya keluar dua kali deh. Hehe.

Nayla merinding saat membaca pesan tersebut.

Dengan segera, tangannya reflek menekan foto tersebut untuk menghapusnya. Namun tiba-tiba ia mengurungkannya setelah lama melihat foto tersebut.

Ia membiarkannya. Ia segera mematikan hapenya lalu buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy