LaraMag

collapse
...
Home / Nasib Akhwat Itu Berubah Setelah Pulang Kampung

Nasib Akhwat Itu Berubah Setelah Pulang Kampung

Jan 27, 2026  Miss Antonette Pouros V  2 views

Part 1 - PULANG KAMPUNG

 

Teti

Setelah memastikan tidak ada barang barang yang tertinggal, Teti menutup resleting tas ranselnya yang dipenuhi oleh pakaian dan segala macam perlengkapan dan kebutuhan sebagai perempuan. Mulai dari sikat gigi hingga skincare telah ia masukkan kedalam tas ransel berwarna coklat muda itu. Teti melihat jam yang tertera di layar hp nya, "ah beberapa menit lagi seharusnya sudah sampai". Teti lalu menghadap ke cermin lalu memakai cadar bandana untuk menutupi kecantikan wajahnya. Sepasang kacamata yang ia kenakan menambah kesan cantik pada wajah akhwat bercadar tersebut walaupun hanya sepasang mata yang terlihat. Satu bulan yang lalu ia mendapatkan kabar bahwa kakak perempuannya akan melaksanakan pernikahan sehingga ia sudah mempersiapkan segalanya untuk pulang kampung saat ini, kebetulan juga sekolah tempat ia mengajar sedang libur sehingga ia tidak harus mengajukan cuti untuk pulang kampung.


Suara deru mesin mobil mulai terdengar, Teti menengok kearah jendela untuk memastikan sesuatu. Ternyata benar, yang dia tunggu telah tiba, sebuah mobil minibus berwarna coklat tua kini berhenti didepan pintu kontrakan nya. Teti segera membuka pintu, keluar dari kontrakan nya dengan mengenakan jilbab lebar berwarna hitam yang menutupi tubuhnya hingga ke setengah paha nya, disertai gamis yang menjuntai berwarna senada.

Pintu disamping tempat duduk sopir terbuka dan laki laki yang berusia sekitar 45 tahun itu keluar dengan mengenakan kaos hitam yang memperlihatkan sebuah kalung perak yang ia kenakan di lehernya serta celana jins yang sedikit lusuh. Tubuhnya kurus seakan akan tidak ada otot sedikitpun pada tubuhnya.

Setelah memasukkan tas ransel Teti kedalam bagasi, pria itu kembali menempati tempat duduknya dibelakang setir mobil. Begitupun juga Teti, ia membuka pintu penumpang dan mendapati ada lima seorang laki laki yang usianya sekitar 30 tahunan yang duduk di kursi bagian tengah. Perawakan nya agak seram, badan nya pun besar. Lalu dikursi paling belakang, seorang bapak bapak tua yang usia nya sekitar 60 tahunan, yang sedang fokus melihat layar hp nya, disamping bapak tersebut, dua orang lagi yang usia nya mungkin lebih muda daripada Teti yang pandangan matanya tertuju pada Teti seakan akan menembus kedalam pakaian syar'i serba hitam yang ia kenakan. Teti menoleh kearah kursi disebelah sopir, seorang laki laki berkalung stainless sedang duduk sambil menghisap rokoknya. Menyadari bahwa dia adalah satu satunya penumpang perempuan di dalam mobil travel ini, membuat Teti hanya bisa menarik nafas dalam dalam dan pasrah. Teti masuk kedalam mobil dan duduk dikursi bagian tengah, namun ia duduk hampir merapat dengan pintu penumpang disebelah kiri sopir. Teti pasrah dan berusaha tetap berfikir positif, lagipula tidak ada salahnya mereka berada di sini, resiko menggunakan mobil travel ya pasti seperti ini. Kita tidak tahu siapa siapa yang akan ada didalam mobil bersama kita, toh mereka juga tidak akan berbuat macam macam bukan?


Mobil yang digunakan sebagai angkutan travel itu pun mulai berjalan, menjauhi kontrakan Teti dan iringan musk house pun mulai terdengar. Teti yang tak terbiasa mendengar suara musik mulai merasa pusing ditambah lagi asap rokok dari penumpang di kursi depan yang berhembus kebelakang mengenai wajahnya, walaupun tertutup cadar.

Teti memfokuskan tatapan nya pada apa saja yang ia bisa lihat disebelah kiri jalanan, mulai dari warung warung kecil, rumah makan Padang, tambal ban ataupun rumah rumah penduduk.

Setelah beberapa kilometer perjalanan, mobil yang ditumpangi Teti berhenti didepan sebuah rumah yang kanan kirinya adalah area pesawahan. Terlihat seorang pria berkaos putih yang sedang menenteng beberapa kardus yang diikat ke tali mendekat. Bapak sopir segera turun dan membukakan pintu bagasi lalu meletakkan kardus yang dibawa oleh pria tersebut.

"Aku benar benar perempuan sendirian" gumam Teti.

Pintu disamping Teti terbuka, lalu Teti duduk menyamping mempersilahkan laki laki berusia sekitar 30 tahun itu duduk dibagian tengah diantara dia dan laki laki satunya itu.

"Maaf mbak, saya mau duduk didekat kaca. Soalnya saya suka mabuk kalo duduk ditengah" kata laki laki itu.

Teti menoleh kearah laki laki satunya, berharap dia lah yang mengalah dan memberikan tempat duduknya kepada penumpang terakhir ini. Tapi dia terlihat tidak peduli, tatapan nya terlihat cuek dan ia hanya menatap ke layar hp nya. Mau tak mau, Teti harus menggeser pantat nya dan duduk diantara dua pria yang tidak ia kenal.


Selama diperjalanan, Teti berusaha menahan agar ia tidak tertidur. Sangat tidak nyaman jika ia tertidur sedangkan dikanan dan kirinya adalah laki laki yang asing baginya. Namun karena rasa lelah yang luar biasa, terkadang mata Teti terpejam dan terbangun kembali oleh mobil yang menghantam lubang jalan. Sesekali lengan atasnya pun bergesekan dengan lengan laki laki dikanan dan kirinya sehingga Teti kembali teringat pada cerita sex yang pernah ia baca saat nafsu sedang menguasai nya. Cerita tentang seorang perempuan bercadar yang dilecehkan dan diperkosa didalam bis yang sesak. Walaupun saat ini Teti sedang tidak berada didalam bis namun suasana ini tetap mengingatkannya pada cerita tersebut. Cerita yang membuat nya melakukan masturbasi karena membayangkan bahwa dirinya lah yang ada didalam cerita tersebut, dan bahwa dirinya lah yang tubuhnya di gerayangi oleh beberapa laki laki didalam bis hingga tubuhnya ditelanjangi dan diperkosa oleh semua penumpang bis yang ternyata laki laki.

Vagina Teti berkedut, akhwat berusia 24 tahun itu mulai merasakan sensasi aneh yang pernah ia rasakan namun ia tak percaya.

"Ahh apakah aku terangsang karena kondisi seperti ini?" Gumam Teti.

Semakin jauh perjalanan, hasrat seksual nya semakin menjadi jadi. Teti berusaha mengalihkan pikiran nya kepada hal yang lain namun ia tetap gagal. Nafsunya lebih kuat dan lebih menguasai dirinya didalam kondisi yang tak seharusnya ia merasa terangsang. Nafas Teti makin berat, walaupun ia adalah seorang akhwat bercadar yang aktif dalam pengajian, namun ia juga memiliki gairah seks yang besar yang membuat ia sering melakukan masturbasi didalam kamar kontrakan nya. Secara naluriah, Teti menemukan ide yang membuat dia merasa penasaran hal yang menurut dia gila namun rasanya seperti ia benar benar ingin melakukannya. Perlahan, Teti memasukkan tangan nya kedalam jilbab lebarnya, lalu ia menurunkan resleting gamisnya dan memasukkan tangan nya kedalam gamisnya. Dengan hati hati, Teti mengangkat cup bra nya sehingga ia bisa merasakan puting payudara nya mengeras ditangannya. Perlahan, Teti meremas payudara kirinya namun laki laki yang duduk dikursi sebelah sopir menoleh kebelakang dan dengan cepat Teti menarik tangan nya. Rasa panik membuat jantungnya berdebar sangat kencang, namun ia merasa sangat bergairah dengan rasa panik yang ia alami. Bagaimana jika ia ketahuan baru saja meremas payudara nya sendiri, apakah semua penumpang di mobil ini dan termasuk sopir akan ikut meremas payudara nya juga? Ataukah malah memperkosanya beramai ramai? Vagina Teti makin basah bayangan tentang dirinya di perkosa beramai ramai oleh semua orang di mobil ini terlintas dipikirannya. Tanpa diduga, laki laki disebelah kanan Teti memajukan posisi punggungnya sehingga tanpa disengaja, siku kiri laki laki itu menyentuh payudara kanan Teti.


Dua jam perjalanan telah dilewati, mobil travel tersebut masuk kearea SPBU. Teti yang sedari tadi dilanda nafsu terpaksa harus ke kamar mandi, karena ada rasa ingin buang air kecil selama dia merangsang tubuhnya sendiri tadi, juga untuk memperbaiki posisi bra yang kaitannya terlepas.

"Permisi pak, saya mau turun" kata Teti, kepada laki laki disamping kirinya.

Alih alih turun, dia hanya menggeser sedikit tempat duduknya sehingga dengan sebal Teti terpaksa menungging untuk bisa keluar dari mobil tersebut. Ia pun sedikit kewalahan untuk menjaga jilbabnya agar siapapun disana tidak menyadari bahwa resleting gamisnya masih diturunkan sebatas perut.


Dengan langkah cepat, Teti menuju kamar mandi perempuan yang sialnya sebuah kardus dengan tulisan RUSAK dipasang di kedua pintu toilet perempuan. Teti berpikir masa dia harus buang air kecil di toilet laki laki. Tapi sepertinya itu satu satunya hal yang bisa ia lakukan untuk menuntaskan rasa ingin buang air kecilnya.

Teti kembali menoleh kearah mobil travel yang ia tumpangi yang masih mengantre. Lalu berjalan kearah kamar mandi laki laki disebelah nya. Teti berjalan pelan, dia melihat ada tiga bilik WC dengan pintu aluminium berwarna merah. Dua dari tiga bilik tersebut tertutup dan Teti masuk ke bilik ujung yang tidak tertutup dengan kloset jongkok didalamnya.

"Eh kok gak bisa terkunci?" Dengan susah payah Teti mencoba mengunci pintu toilet namun selalu gagal dan pintu selalu terbuka sedikit walaupun tak memperlihatkan dirinya didalam sana.

Karena sudah tidak tahan, Teti segera mengangkat rok gamisnya namun sayangnya, air kencingnya mengucur lebih dulu sehingga membuat celana panjang yang ia kenakan dibalik gamis dan harus basah terkena air kencing nya. Untung saja air kencing nya tidak mengenai gamis, jilbab ataupun kaos kakinya bahkan sandalnya.

'aduh bagaimana ini? Masa aku harus tetap pakai celana yang kena air kencing? Pasti bau nantinya" guman Teti.

Teti kebingungan, apa mungkin dia harus minta dibukakan bagasi dan mengambil pakaian ganti didalam tas nya. Ya mungkin seperti itu. Lalu dengan yakin, Teti melepas celana panjang dan celana dalamnya. Celana dalamnya sudah benar benar basah semua sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan celana dalamya didalam tempat sampah didalam toilet tersebut. Kemudian Teti berusaha membenarkan kaitan bra yang lepas namun ternyata bukan kaitan nya yang lepas tetapi kaitan nya yang patah sehingga bra tersebut tidak bisa terkait sama sekali.

"Aku harus benar benar ambil pakaian ganti nih." Gumam Teti.

Lalu dia melepas gamisnya dengan meloloskan gamisnya kebawah hingga gamis tersebut hinggap dipinggangnya dan membiarkan jilbab nya tetap di kepalanya dan cadar tetap di wajahnya. Kemudian ia melepas bra nya dan menggulung gulung bra nya kedalam celana panjang nya. Kemudian ia meletakan celana panjang nya tersebut keatas bagian sandaran toilet duduk. Saat ia hendak memakai kembali gamisnya, Teti kembali teringat pada syahwat yang sebelumnya ia rasakan dan kini kembali hadir. Ini pertama kalinya ia melepas pakaian nya di toilet umum bahkan toilet yang hanya khusus pria. Nafasnya pun mulai memburu, dadanya sesak dan vagina nya kembali basah. Bahkan disaat ia mendengar suara beberapa orang laki laki dari luar toilet tempat ia kini berada. Seakan dituntun oleh syahwat, Teti meraba payudara nya dan meremasnya pelan. Ia mengigit bibirnya pelan agar ia tidak mengeluarkan suara desahan. Tangan kirinya mulai meraba perut dan merambat hingga ke vagina nya. Teti mulai mengejang saat jari jarinya lentiknya menyentuh klitorisnya. Ah sungguh pemandangan yang menggairahkan dimana seorang perempuan yang hanya memakai jilbab, cadar dan kaos kaki tengah bermasturbasi didalam toilet pria. Teti makin intens merangsang klitorisnya dan mencubit pelan kedua putingnya bergantian. Ia berdiri bersandar di dinding toilet dengan kedua kaki yang mengangkang seakan menantikan penis yang akan memasuki vagina nya. Desahan desahan kecil mulai terdengar, Teti seperti nya tak mampu menahan untuk tidak mengekspresikan kenikmatan syahwatnya lewat desahan binal nya. Ia mulai merasa hampir orgasme dan tangan nya makin cepat menekan nekan klitorisnya dan tangan nya mulai kuat meremas payudara nya. Teti hampir orgasme, ia makin kuat mengigit bibirnya. Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertama untuk masturbasi di tempat umum yang memberikan ia sensasi yang luar biasa. Orgasme sudah terasa seperti akan meledak, dan saat akhwat bercadar itu makin mempercepat gerakan jarinya untuk mencapai orgasme, tiba tiba pintu toilet nya terbuka. Teti kaget dan segera menjulurkan jilbab nya lagi sehingga menutupi tubuhnya hingga bagian paha. Dengan cepat ia pun menutup pintu toilet tersebut. Panik, cemas, itulah yang dirasakan Teti saat ini. Ia pun segera memperbaiki keadaan gamisnya yang hanya menutupi pinggangnya dan dengan cepat mengenakan nya lagi dengan baik. Karena terburu buru, dengan cerobohnya Teti merusak resleting gamis yang berada dibagian dadanya.

"Aduh gimana ini? Terpaksa memang harus ganti baju" ujar Teti dengan kondisi masih panik.

Kemudian Teti berlari kecil bergegas menuju mobil travel nya yang sedang menunggunya. Namun saat ia masuk, sopir mobil dan penumpang yang duduk disamping sopir tidak ada. Teti memutuskan untuk menunggu diluar mobil namun sayangnya hujan mulai turun sehingga membuat Teti terpaksa naik kedalam mobil dan menjaga agar jilbabnya tidak tersingkap sehingga memperlihatkan resleting gamisnya yang rusak.

Hujan pun turun dengan semakin lebat. Disusul sopir mobil dan penumpang satunya datang berlarian dan segera masuk kedalam mobil. Paniknya, Teti menyadari bahwa mereka baru saja keluar dari toilet. Teti berpikir pikir dan mencoba membayangkan kembali siapa yang ia lihat membuka pintu toilet. Apakah salah satu diantara mereka berdua, atau orang lain? Mobil pun kembali berjalan dan Teti baru sadar bahwa celana panjang dan bra nya masih tertinggal di dalam toilet. Bahkan ia tak sempat berganti pakaian karena hujan turun dengan lebat.


Share:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy