Search

CHAPTER 1​ - DI BAWAH NAUNGAN LANGIT PESANTREN

CHAPTER 1​ - DI BAWAH NAUNGAN LANGIT PESANTREN

Pagi hari, seseorang tengah duduk menanti kehadiran teman yang telah berjanji untuk menjemputnya di sebuah warung makan dekat terminal metromini. Perjalanan panjang yang harus dilalui dari rumahnya yang berada di kampung hingga kesini membuat kaki orang itu pegal karena harus duduk selama seharian, wajahnya pun mendadak pucat karena merasa mual akibat mengalami mabok darat. Sebenarnya, sejak dari awal ketika hendak menaiki bus dari kampungnya, ia sudah mendapatkan firasat buruk mulai dari aroma mobil yang tercium ketika dirinya berada di dekat bus itu.

Ia tidak bisa menyalahkan ibunya yang memiliki masalah yang sama ketika hendak menaiki kendaraan darat beroda empat lainnya. Ini memang murni keturunan, tetapi tidak seharusnya dirinya marah kepada ibunya yang telah menurunkan kekurangan ini padanya.

Tangan kirinya memegangi hape, tangan kanannya memegangi sendok, mulutnya mengunyah - ngunyah nasi pecel ditambah gorengan yang sedang disantapnya pagi ini. Sambil menunggu makanan yang ada di piringnya habis, lelaki itu memandangi berita terkini yang muncul di layar hapenya.

“Seorang direktur perusahaan tewas diracun oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai ‘Pembunuh Bunga’. Pembunuh Bunga ? (Baca : Epilog Hackers Story) Ada - ada aja orang ini... Bunga itu sesuatu yang dikaitkan dengan keindahan kenapa harus dikaitkan dengan pembunuhan ? Merusak estetika bunga aja !” katanya dalam hati.

Tak berselang lama, seorang pengendara motor mendekat sambil mengarahkan pandangannya ke arah sekitar untuk mencari seseorang. Kaca helmnya ia naikan, kedua matanya pun memicing mencari seseorang yang meminta dijemput olehnya.

“Heyyyy Fikri !” sapa pengendara motor itu pada seseorang yang tengah duduk di warung makan.

“Ehhhh Aaa... Addit !” kata Fikri menjawabnya.

Pengendara motor bernama Adit itu turun dari motornya setelah memarkirkannya di depan warung. Bagai seorang kawan yang sudah lama tak berjumpa mereka berdua pun berdiri berpelukan untuk melepas rasa rindu yang sudah lama menggebu. Adit pun duduk di sebuah bangku yang ada di warung itu disamping Fikri.

“Ma... Maau pesan apa Dit ? Bi.. Biarr kutraktir sebentar ?” kata Fikri baik hati.

“Ahhh apa yah ? Es teh aja lah” jawabnya.

“Bbbb... Bu es tehnya tambah satu yah bu !” kata Fikri pada ibu penjaga warteg tersebut.

“Iya tunggu sebentar” kata ibu itu.

“Ehmm sssuuu... Suddah berapa lama yah kita tidak bertemu ? Tttii...Ttiga tahun ? Emm... Emppat tahun ?” tanya Fikri sambil buru - buru menghabiskan nasi pecelnya karena jemputannya sudah datang.

“Terima kasih” kata Adit pada ibu penjaga warteg atas es tehnya.

“Ya mungkin lebih Fik... Lima tahun kali yah !” kata Adit menjawab pertanyaan kawan lamanya.

“Wah... Jjaa... Jjaa... Jjaddi sudah selama itu yah ? Ggaa... Ggakk nyangka... Pppeee... Perasaan dulu waktu kita masih kecil, kkiii... Kitaa masih sering banget main bareng” kata Fikri.

“Ssrrllpppp begitulah... Dulu kita sering banget main karena kita punya banyak waktu luang yang bisa kita habiskan... Tapi sekarang berbeda... Kita sudah sama - sama dewasa... Kita tidak memiliki banyak waktu luang lagi untuk bersantai - santai... Kehidupan kita di masa sekarang sudah dikelilingi oleh rasa tanggung jawab yang harus kita emban.... Oh iyah, ngomong - ngomong sudah yakin nih ? Untuk jadi pengajar di pesantren ?” kata Adit setelah menyeruput minumannya.

“Ya... Pppaaa... Passtilah... Bbbaaa... Baaru aja aku menyelesaikan studi S1 ku... Aaa... Akku ingin bekerja, Dddaa... Daripada di rumah terus dan menjadi beban keluarga... Llleee... Lebih baik aku keluar untuk merantau mencari rezeki yang tersebar di seluruh negeri... Kkkeee... Kebetulan aku keingat kamu Dit... Kkkaaa... Kamu jadi pengajar di pondok itu kan ? Bbbiii... Bisalah kita bareng - bareng disana... Lllaaa... Lagipula kayaknya bakal seru kalau aku punya kenalan di tempat kerja baru nanti... Tttaa... Tau kan sifat asliku gimana ?” kata Fikri pada kawannya.

“Hahahha pemalu, gak banyak omong lagi. Bakal sulit kalau kamu memulai kerja dengan sifat seperti itu” kata Adit yang mengenal baik kawan dekatnya.

“Lllaaa... Lagipula kok bisa pas banget kalau pesantrenmu sedang membutuhkan satu ustadz baru untuk mengisi lowongan disana... Akkk... Akku yang mendengarnya waktu itu jelas tertarik... Akk.. Akku pun langsung memintamu untuk membokingkannya untukku... Hahahha... Gggiii... Giimana udah ngomong ke kiyainya belum ?” tanya Fikri.

“Sudah kok apalagi kamu juga pernah nyantri kan ? Kiyai ku bukan orang yang ribet... Selama kamu punya keinginan dan tekad kuat untuk mengajar, kamu pasti akan diterima disana” kata Adit.

“Bbbaaa... Baguslah... Yyyaaa... Yaaudah langsung berangkat aja sekarang... Ddda... Dah habis kan tehnya ?” tanya Fikri yang juga sudah menghabiskan makanannya.

“Oke ayok berangkat” katanya.

Saat mereka berdua hendak pergi tuk menuju motor yang diparkir di depan warung itu, tiba - tiba ibu penjaga warteg itu memanggil.

“Ehhh mas... mass.... Jangan asal kabur... Bayar dulu !” kata Ibu itu.

“Ehhhh iyyy... Iyaa yah” kata Fikri langsung mendekat karena malu.

“Fikkk.... Fikkkk !” kata Adit dengan wajahnya memerah.

“Llllaa.. Lagian tadi langsung ngajak pergi sih” kata Fikri beralasan.

"Lah siapa yang tadi ngajak ?" Kata Adit. Mereka berdua tertawa kemudian berangkat menaiki motor yang dikendarai Adit menuju pesantren yang akan menjadi tempat petualangan baru mereka disana.

Fikri Hazami merupakan nama lengkap pemberian dari ayahnya. Ia merupakan anak sulung dari dua bersaudara yang telah dilahirkan oleh ibunya. Usianya sudah menginjak 25 tahun, posturnya tinggi kurus tapi tidak kurus - kurus amat. Bisa dikatakan posturnya jangkung lah yah. Wajahnya tampan tapi memiliki sifat pemalu dan terkesan kurang percaya diri. Ia juga seringkali gugup membuat mulutnya selalu gagap dalam berbicara. Setidaknya itulah yang tadi ditunjukan oleh Fikri pada kawan lamanya yakni Adit.

Sementara Adit sendiri memiliki nama lengkap Aditya Nur Rahman. Ia sebaya dengan Fikri dan memiliki wajah yang lumayan. Baru - baru ini dirinya sudah melamar seorang wanita yang juga merupakan ustadzah pondok disana yakni Ustadzah Rachel. Ustadzah Rachel merupakan Ustadzah yang berada di bagian penggerak bahasa. Ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga santri untuk berbicara menggunakan bahasa arab dan menegur beberapa santri yang kedapatan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah.

Pengalaman baru ini membuat Fikri merasa tertantang, apalagi ia akan ditempatkan di bagian pengasuhan santri. Bagian pengasuhan santri merupakan bagian yang paling ditakuti oleh seluruh santri karena tugas mereka adalah menjaga ketertiban dan kedisiplinan pesantren. Apabila ada santri yang ketahuan melanggar maka para Ustadz/Ustadzah yang memergokinya tidak akan segan untuk menghukumnya dengan tegas.

Setelah cukup lama berkendara menuju pinggiran ibu kota, akhirnya mereka berdua tiba di wilayah pesantren. Sebuah gerbang dengan tulisan Pondok Pesantren Modern al-Insan berdiri megah disana. Terlihat beberapa santri senior yang bertugas sebagai piket gerbang mengawasi lingkungan sekitar untuk mengawasi para santri agar tidak kabur keluar.

Setelah memarkirkan motornya, Adit langsung mengantarkan Fikri untuk menuju rumah kiyainya untuk bertemu. Fikri memandangi keadaan sekitar melihat aktifitas santri yang sedang menikmati waktu istirahatnya.

Tenggggg Tenggggggg Teeenngggg !!!

Tiba - tiba suara lonceng berbunyi yang mengagetkan diri Fikri.

“Ehh... Tttaa... Taadi itu suara apa ?” tanya Fikri.

“Hahaha itu suara lonceng yang menandakan waktu istirahat sudah berakhir, mereka semua harus kembali ke kelas masing - masing karena kalau tidak.... Lihat ustadz yang berjaga disana ?”

“Iyyy... Iyaa”

“Mereka ustadz yang bertugas di bagian pengajaran... Mereka yang menertibkan proses jalannya belajar mengajar disini... Apabila ada yang terlambat maka santri itu akan langsung dihukum... Bisa disuruh push up atau mungkin dijemur selama beberapa menit dulu, setelah itu mereka baru boleh diizinkan memasuki kelas" kata Adit menjelaskan.

“Ohh... Bbee.. Begitu yah... Ttee.. Tega juga yah dijemur" kata Fikri mengomentari.

“Oh iya... Jjjaa... Jadi disini cuma ada santri putra aja yah ?” lanjut Fikri penasaran.

“Ngapain nanya ?” tanya Adit becanda mencurigai temannya itu.

“Gak... Pppeee... Penasaran aja kok”

“Ada kok santri putrinya... Cuma itu jauh didalam sana... Kita harus masuk lebih jauh lagi... Disana juga ada tembok yang memisahkan wilayah santri putra dan santri putri.... Karena pesantren ini masih tergolong baru jadi kami belum memiliki waktu, biaya dan tenaga untuk membangun pesantren baru lagi agar nantinya santri putra dan santriwati putri bisa dipisahkan melalui pesantren yang berbeda” kata Adit.

“Ohhh... Bbbeee... Begitu ?” kata Fikri manggut - manggut.

Tak beselang lama setelah berjalan bersama sambil mengenalkan pondok kepada Fikri. Mereka berdua pun tiba di depan rumah kiyai.

“Jadi ini rumah kiyainya... Yang sopan yah.... Jangan nyeletuk kalau pak kiyai lagi ngomong” kata Adit menasehati yang dijawab oleh Fikri dengan anggukan.

Tokkk tokkk tokk !

“Assalamualaikum” kata Adit menyapa.

“Tunggu sebentar... Kalau masih belum terdengar adanya jawaban dari dalam kita bisa salam lagi” lirih Adit memberitahu etika di pondok.

“Asssalamualaikum” kata Adit kembali mengetuk pintu.

“Nah kalau masih belum dijawab juga... Kamu boleh mengetuk sekali lagi tapi ini yang terakhir... Karena kalau tiga kali diketuk gak ada jawaban... Tandanya memang tidak ada orang didalam” kata Adit menjelaskan.

“Iyya... Tttaaa... Tau kok... Ddduuu... Dulu aku di pesantren juga diajarin gitu” kata Fikri kesal yang membuat Adit tertawa.

“Walaikumsalam” terdengar jawaban dari dalam yang membuat Fikri dan Adit tegang seketika.

Man ?” kata Pak Kiyai Jamal yang sudah berusia 55 tahun.

Ana Adit, Ustadz” kata Adit menjawab setelah kiyainya menanyakan siapa yang merupakan terjemahan dari man.

Pintu pun terbuka, Adit segera mengecup punggung tangan kiyainya. Kemudian disusul langsung oleh Fikri yang mengikuti langkah kawannya.

Afwan ustadz... Ini ustadz Fikri yang kemarin ana bicarakan” kata Adit memperkenalkan kawannya. Fikri hanya tersenyum memandang ke arah kiyainya.

“Ohh begitu... Mari duduk dulu” kata Kiyai Jamal pada calon ustadz barunya.

Setelah mereka berdua duduk, Mereka saling mengobrol mengakrabkan diri sekaligus agar kiyai Jamal dapat mengetahui siapa dan bagaimana sifat Fikri itu.

“Hmmm begitu jadi kamu yang bernama Fikri yah... Bagus kok... Saya senang mendengarnya karena kamu telah lama di pondok juga... Semoga kamu bisa beradaptasi dengan cepat disini... Saya hanya meminta satu darimu selama menjadi pengajar disini.... Tolong luangkan waktu, jiwa dan ragamu hanya untuk pondok... Selelah - lelahnya dirimu setelah mengajar, harus segera bangkit ketika pondok memanggilmu... Ketika ada acara - acara pondok juga harus aktif dalam berpartisipasi dalam hal apapun... Dan juga tolong dijaga etika pergaulannya terutama kepada sesama pengajar disini” kata kiyai Jamal ketika menekankan kalimat terakhir yang ia bicarakan.

“Kalian boleh berbicara, mengobrol antara ustadz dan ustadzah selama ada hal yang perlu kalian bicarakan... Selama tidak ada keperluan lebih baik tidak usah mengobrol karena kita harus menjaga sikap terutama di depan para santri yang setiap hari memperhatikan sikap kalian” kata Kiyai Jamal.

Tak berselang lama, seorang wanita muda yang mengenakan pakaian lebar juga hijab panjang yang menutupi dadanya keluar dari dalam rumah menghidangkan secangkir teh untuk mereka bertiga. Wajahnya manis dengan kulit cerah yang menyilaukan pandangan Fikri. Beruntung Adit segera menyadari perbuatan Fikri dan menegurnya dengan mencengkram kuat paha Fikri.

“Dijaga pandangannya !” Bisik Adit pada Fikri.

Syukron” kata Kiyai Jamal tersenyum pada wanita itu.

Wanita itupun membalas senyumannya. Dengan segera bidadari berhijab itu bergegas kembali memasuki rumahnya untuk menyembunyikan kecantikannya yang hanya untuk suaminya seorang.

Afwan tadi itu istriku... Silahkan diminum dulu tehnya... Mumpung masih hangat” kata Kiyai Jamal.

Fikri dan Adit hanya tersenyum malu - malu sambil meminum teh pemberian dari wanita yang misterius itu. Fikri dalam hati bertanya - tanya.

Siapa nama dari pemilik raga indah disana ?

“Ya mungkin seperti itu saja untuk wejangannya hari ini... Untuk kedepannya kalau masih bingung bisa tanyakan langsung ke saya... Atau mungkin bisa ke ustadz Adit aja kalau saya sedang tidak berada di rumah” kata Kiyai Jamal.

Naam ustadz.... Syukron” kata Adit yang bertugas menjadi jubir Fikri hari ini.

Mereka berdua pun pamit undur diri, mereka berdua pun keluar dari rumah untuk melanjutkan perjalanan mereka selama di pondok.

“Hehhh kamu tuh... Ada istri kiyai lewat malah bengong sampai mulut kebuka gitu lagi !” tegur Adit sambil tertawa.

“Ya... Ya... Gimana yah ! Oooo... Orang tiba - tiba muncul gitu... Gggiii... Gimana gak bengong coba” kata Fikri beralasan.

“Mmmee... Memang siapa namanya ?” lanjut Fikri memanfaatkan timing yang pas untuk bertanya.

“Ustadzah Rania... Beliau merupakan istri kedua kiyai Jamal yang menggantikan Ustadzah Sri yang sudah lama tiada... Usianya baru 31 tahun loh... Masih muda” kata Adit.

“31 tahun ? Jjjjaaa... Jadi selisihnya dengan Pak Kiyai jauh banget dong ?” tanya Fikri kaget.

“Begitulah mungkin sekitar 24 tahun.... Hahahahhaa” kata Adit tertawa.

Tak berselang lama, terdengar suara dari pintu rumah Pak Kiyai yang kembali terbuka menampakan ustadzah Rania yang hendak membawa kembali nampan beserta cangkir teh yang tadi dihidangkan. Adit dan Fikri berbalik menengok ke asal suara tersebut. Mereka berdua sama - sama menggeleng - gelengkan kepala menatap keindahan bidadari disana.

“Jadi setelah ini mau ke kamar dulu ? Atau langsung tur keliling pondok ?” tanya Adit.

“Kkkeee... Ke kamar dulu aja Dit... Mmmaaa... Mau naruh barang aja dulu” kata Fikri.

“Okelah... Untuk masalah jadwal mengajar serahkan saja padaku... Aku juga bagian dari Ustadz Pengajaran kok hahahaha” kata Adit membanggakan diri.

“Ohh... Jjjaa... Jadi yang tugasmu kaya tadi yah berdiri nungguin santri ke kelas ?”

“Yee bukan itu aja yah... Berat loh tugasnya... Tiap awal tahun pengajaran sudah harus membuat jadwal pelajaran, jadwal mengajar dan beberapa jadwal lainnya demi berjalannya proses belajar - mengajar disini... Berat lah pokoknya... Biar aku aja... Kamu jangan” kata Adit yang membuat Fikri tertawa.


*-*-*-*


Sesampainya di kamar, Adit langsung memperkenalkan Fikri pada teman sekamarnya yang kebetulan semuanya berada disini. Karenanya, tugas Adit pun menjadi semakin mudah untuk dilakukan.

"Loh kalian kok di kamar ? Bukannya di kantor sih ?" Tanya Adit terkejut melihat teman sekamarnya sedang berada di kamar asrama pengajar putra.

"Ehhh Adit... Iya nih kita kebetulan lagi mau ngambil sesuatu disini... Oh yah itu siapa yah ?" Tanya salah satu dari keduanya.

“Oh iya... Perkenalkan ini teman baru kita... Fikri namanya !” kata Adit.

Ahlan Fik ! Selamat datang !” kata Wildan yang memiliki tubuh kurus dan gaya rambut yang keren ala oppa - oppa korea. Wildan ini merupakan penggemar drama korea. Dikala waktu senggang seperti ketika sedang tidak ada jam mengajar, ia pasti membuka laptopnya guna menonton episode demi episode yang sudah ia download ketika sedang berada di luar pondok.

“Wah ada teman baru nih... Bisa bahasa arab kan ?” kata Fauzan yang memiliki janggut tebal , berkacamata dan rambut yang agak ikal.

“Hahaha bisa tapi bawa santai aja lah selama kita di kamar... Yang penting kalau kita ngobrol kita bisa sama - sama nyambung dengan obrolan yang kita bicarakan... Oh yah Wildan ini ustadz di bagian fotocopy... Kalau kamu membutuhkan buku kamu bisa mendatanginya dan memintanya untuk memfotokopi buku yang kamu inginkan... Sedangkan Fauzan ini merupakan ustadz di bagian penggerak bahasa” kata Adit.

“Peng... Pengggerak bahasa ? Bbbeee... Berarti sama dengan . . . . “ kata Fikri menjawab lirih.

“Iya... Calon istrinya cantik loh... Di kantor aja sering kita godain biar bisa ngelihat senyumnya” kata Fauzan yang langsung membuat Adit melirik tajam.

‘Hahahahha canda aja” kata Fauzan.

“Tappp... Tappii.... bukannya kita gak boleh saling mengobrol yah selama tidak ada kepentingan ? Bbbuuu... Bukan begitu kan yang Pak Kiyai Jamal bicarakan ?” Tanya Fikri penasaran.

“Ya memang seperti itu... Tapi kita ini kan manusia bukannya robot... Gak mungkin juga kita bisa menuruti semua aturan begitu saja... Lagipula gak enak juga kalau ada seseorang disekitar kita tapi kita biarkan begitu saja tanpa mengajaknya berbicara” kata Wildan.

“Ya seperti itu... Intinya silahkan lakukan semaumu selama itu gak ketahuan ya gapapa” kata Adit.

“Yeee orang baru jangan diajarin nakal lah Dit” kata Fauzan.

“Hahaha itu fakta bukan ngajarin nakal loh yah” kata Adit yang membuat seluruh penghuni ruangan tertawa termasuk Fikri yang agak canggung untuk mengikutinya. Adit yang melihatnya pun langsung menyadari.

“Oh yah satu lagi... Fikri ini orangnya pemalu... Jadi sering - sering diajak ngobrol yah kalau kalian saling bertemu” kata Adit merangkul bahu Fikri untuk membuatnya nyaman.

“Hahaha itu gampang... Gak usah malu - malu lah yah dengan kita disini... Bawa asyik aja... Ngomong - ngomong kamu ditempatkan di bagian mana ?” tanya Wildan ikut merangkul bahu Fikri.

“Aku... Akuu di pengasuhan... iya kan ?” Jawab Fikri agak gagap sambil melihat Adit.

“Wahhh pengasuhan ? Bakal sering ketemu sama Ustadzah Haura dan Ustadzah Hanna dong” kata Fauzan terkejut.

“Ustadzah Haura ? Hanna... Me... Mereka siapa ?” tanya Fikri tak tahu.

“Hahahha oh yah kamu belum tau yah... Mereka berdua itu ustadzah tercantik di pondok ini... Ustadzah pengasuhan memang biasanya cantik - cantik... Sebelum mereka berdua ada juga Ustadzah Nayla yang sekarang sudah nikah dan hidup bahagia bersama suaminya diluar sana... Beruntung banget lah kamu” kata Wildan.

“Tapi gak usah ngarep yah ! Mereka berdua sudah ada yang punya ! Ustadzah Haura merupakan istri dari Ustadz Hendra yang bertugas di bagian pembangunan.... Tiap ada pembangunan gedung baru pasti beliaulah yang bertanggung jawab untuk semuanya... Mulai dari biaya, gaji untuk pekerja dan segala macam lainnya beliau yang mengatur. Beliau juga merupakan kerabat pondok yang berarti punya jalur saudara dengan kiyai Jamal disini... Sedangkan ustadzah Hanna sebentar lagi akan dilamar oleh Ustadz Angga yang notabene merupakan anak dari Kiyai Jamal loh... Jadi jangan ngarep yah... Fokus aja dengan jadwal mengajarmu nanti" kata Adit buru - buru mewanti - wanti temannya.

“Ohh bbeee... Begitu.... ” kata Fikri berusaha mengingat semua.

“Jadi bisa kita mulai turnya sekarang ?” kata Adit.

“Bbbooo.. Boleh ayok” kata Fikri tak sabar.

“Kami pergi dulu yah” kata Adit pada Fauzan dan Wildan yang sedang menikmati waktu kosongnya.

“Ya hati - hati” kata mereka berdua.

Mereka berdua pun keluar dari kamar sambil menghirup udara segar.

“Baru juga jam sepuluh pagi” kata Adit menatap jam tangannya.

“Ehhh Dit... Kok... Kok kayaknya santai banget yah waktu kita ngobrol tadi... Ku... Kukira dulu sebelum kemari kita akan berbicara dengan bahasa yang formal gitu” kata Fikri.

“Yah begitulah... Itu kalau kita berada di luar kamar... Karena kita kan memberikan contoh pada santri... Tapi kalau kita sedang di dalam kamar selama hanya ada kita para pengajar... Ya kita bicara dengan bahasa sesantai mungkin... Kita juga manusia kok apalagi kita semua kan seumuran” kata Adit mengacu pada Wildan dan Fauzan.

“Ohh kiii... Kita semua di usia duapuluhlimaan yah ?” tanya Fikri.

“Ya kita semua sebaya” kata Adit.

"Oh yah... Ssseee... Sewaktu kita masuk tadi kenapa kamu kaget melihat mereka disini ? Bbbuu... Bukannya ini kamar mereka ? Kamar kita semua ?" Tanya Fikri penasaran.

"Iya kita sekarang memang berada di gedung asrama untuk pengajar putra... Tapi coba lihat sekeliling ! Sepi kan ?" Tanya Adit.

"Iyyy... Iya sepi" Jawabnya.

"Itu karena sekarang kita berada di jam kantor pondok... Pokoknya mulai dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore nanti setiap pengajar yang mengemban amanat di kantor bagian harus stay di kantornya masing - masing... Baru setelah itu mereka dibolehkan pulang ke asrama" Kata Adit menjelaskan.

"Kok... Kok gitu memang kenapa ?" Tanya Fikri penasaran.

Itu karena Kiyai Jamal bener - bener menjaga wibawa para pengajar... Setiap santri yang mempunyai keperluan dengan pengajar yang bersangkutan bisa langsung menemuinya di kantor bukan di asrama... Misalnya ada santri A belum bayar Spp bulanan... Ya masa iya, ia harus datang ke asrama untuk membayarnya... Begitupula dengan kasus lainnya pun sama" Kata Adit.

"Ohh bbbeee... Begitu yah... Ttee... Terus kenapa setiap pengajar gak tinggal di kantor masing - masing aja ? Mmaaa... Maksudnya daripada bolak - balik ke asrama mending kan setiap kantor dibangun sebuah kamar aja biar para pengajar bisa tinggal dan tidur disana" Kata Fikri mengusulkan ide.

"Eh Fik... Tadi inget gak Fauzan bilang apa ?"

"Faaa.... Fauzan ? Yang brewokan itu kan ? Enggak inget" Jawab Fikri.

"Bagian pengasuhan yah ? Bakal sering ketemu ustadzah Haura dan Hanna dong" Kata Adit menirukan suara Fauzan.

"Ohh iya inget... Kkee... Kenapa emang ?" Tanya Fikri.

"Loh masih nanya... Kan setiap kantor biasanya dihuni oleh ustadz dan ustadzah... Ya masa dibangun kamar disana" Kata Adit yang baru dipahami oleh Fikri.

"Ohh iyyy.... Iya juga yah baru ngeh hehehe" Kata Fikri tertawa malu.

Setelah lama mengobrol, Mereka berdua mulai berjalan untuk berkeliling pondok guna memperkenalkan wilayah pondok ini pada Fikri.


*-*-*-*


"Kita sekalian pergi ke kantor pengasuhan santri aja yah... Gimana ?" Kata Adit bersiap memandu.

"Okkk... Oke aku manut aja Dit" Jawab Fikri.

"Yaudah... Sebenarnya kamar kita ini gak terlalu jauh dari Qismul Idaroh loh" Kata Adit.

"Idddd... Idaroh ? Addd... Administrasi maksudnya ?" Tanya Fikri.

"Nah itu dia... Disana merupakan tempat dimana para santri biasa membayar spp atau ketika ada orang tua yang kangen pada putra - putrinya disini... Mereka bisa mengirim surat, paket bahkan uang jajan melalui kantor bagian administrasi disini" Kata Adit menjelaskan fungsinya.

"Ohh iyya ya" Jawab Fikri manggut - manggut.

"Lihat gak seseorang disana ?" Kata Adit.

"Mmaa... Mana ? Oh yyaa... Yang berkacamata itu ? Waahhhh" Kata Fikri terpana seketika.

"Itu ustadzah Nada... Dia istrinya ustadz Rendy... Usianya masih muda loh baru juga nikah mungkin setahun atau sebentar lagi setahun... Entahlah yang jelas baru beberapa bulan yang lalu mereka berdua menikah" Kata Adit.

Fikri melihat sejenak, bidadari cantik yang mengenakan hijab berwarna biru itu tengah sibuk menghitung beberapa kotak paket yang diturunkan melalui mobil berwarna putih bertuliskan J dan E. Parasnya yang sempurna, senyumnya yang menyapa juga posturnya yang tinggi jenjang menjulang mengademkan hati Fikri seketika. Ia terpukau hingga tak sadar senyum keluar dari wajah polosnya yang lugu.

"Woy sadar" Kata Adit membangunkan lamunan Fikri.

"Wahhh... Iiiinnn... Ini diimana ?" Kata Fikri.

"Gak usah lebay... Itu udah jadi istri orang jangan kegenitan makanya" Kata Adit menegur.

"Hehe ggaa... Gak biasa liat yang adem - adem soalnya Dit" Kata Fikri malu. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya.

Dalam perjalanannya menuju kantor pengasuhan, Adit bercerita panjang lebar mengenai sejarah pondok pesantren ini. Fikri pun mulai tahu sedikit demi sedikit mengenai informasi tentang pesantren ini.

Dari perkataannya, Fikri menyadari kalau pondok pesantren bernama al - Insan ini menggunakan metode modern dimana sistem kelas sebagai media pembelajarannya. Tidak seperti pondok salaf yang mengaji kitab gundul. Disini para pengajar mengajarkan beberapa pelajaran menggunakan buku materi yang berlandaskan bahasa Arab. Setiap santri akhir yang berprestasi khususnya yang memiliki nilai akademisi tinggi akan diberikan kesempatan untuk mengabdi di pondok ini sebagai seorang pengajar selama satu tahun penuh. Mereka akan diberikan makanan dan minuman gratis serta pengalaman dan kesempatan mengajar yang akan berguna setelah diri mereka keluar dari pondok ini. Apabila setelah satu tahun mereka masih bingung dalam memutuskan masa depannya mau kemana, mereka masih bisa tetap mengajar disini tentunya dengan tambahan gaji.

Disini ada 6 tingkat kelas yang digunakan mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Masing - masing tingkatan akan dibagi menjadi beberapa kelas tergantung dari jumlah santri yang ada. Kelas satu menjadi tingkatan dengan jumlah kelas terbanyak dimana ada 4 kelas mulai dari 1A - 1D.

Setelah mengobrol panjang lebar dengan Adit. Tiba - tiba Adit meminta Fikri untuk bersembunyi sejenak setelah mereka berdua mulai mendekati gedung kantor dari bagian penggerak bahasa.

"Addd... Ada apa Dit kok ngumpet ?" Tanya Fikri.

"Liat... Itu calon istriku lewat... Cantik bukan ?" Kata Adit membanggakan calon istrinya yang baru saja pulang setelah mengajar dari kelasnya.

Fikri kembali mengangguk menyetujui penampilan bidadari yang baru saja lewat didepannya. Dari balik tempat wudhu yang dipergunakan untuk asrama santri putra ini, mereka berdua melihat bidadari berkulit putih yang sedang mengenakan hijab berwarna gelap. Wajahnya imut, tubuhnya pun berisi. Ia sedang mengenakan seragam mengajar dengan tampilan warna yang selaras mulai dari atas sampai ke bawah. Ia terlihat terburu - buru sambil berjalan cepat sambil sesekali melihat ke arah sekitar. Adit yang memperhatikan pun heran melihat sikapnya yang seperti itu.

"Sammm... Samperin dong Dit... Ka... Kasih sapaan biar dia semangat" Kata Fikri.

"Dah biarin, kita ngumpet aja... Rasanya canggung tau kalau ada orang lain ketika kami lagi berduaan" Kata Adit tampak kurang berani.

"Heleh... Pa... Payah" Kata Fikri.

"Biarin sih... Dah yuk cabut dari sini" Kata Adit bergegas lari.

Namun pandangannya sesekali kerap menoleh ke arah calon istrinya yang sudah memasuki gedung kantornya. Ia curiga melihat sikapnya yang menurutnya cukup mencurigakan.

“Nah akhirnya kita sampai di gedung pengajaran... Coba Fik kita temui Ustadzah Syifa terlebih dahulu” kata Adit.

“Us... Ustadzah Syifa ? Siapa ? Mau apa ?” tanya Fikri penasaran.

“Minta beliau buat bikinin jadwal ngajar untukmu lah” kata Adit.

“Loh kok... Kok dia ? Kat... Katanya kamu yang mau buat !” kata Fikri.

“Hehehe... Kalau orang lain bisa kenapa harus aku ?” kata Adit yang membuat Fikri tersenyum kecut.

“Dddaaa... Dasar !”

Setelah berjalan sebentar, mereka akhirnya memasuki kantor bagian pengajaran. Didalam, terdapat beberapa pengajar yang sedang sibuk membolak - balikan halaman buku. Beberapa ada yang sedang menyiapkan materi untuk mengajar beberapa ada yang iseng membaca mengisi waktu luang. Adit pun mengenalkan satu persatu pengajar yang ada disana tapi Fikri kesulitan untuk mengingat semuanya kecuali satu orang yakni Ustadzah Syifa yang sedang tersenyum ketika berbicara dengan Adit.

Wajahnya yang manis, parasnya yang cantik menawan, kulitnya yang putih bersinar membuat jantung Fikri sekali lagi berdebar karena terpana menatap kecantikan para bidadari yang ada di dalam pondok ini. Baru pertama kali dalam seumur hidupnya ia langsung terpukau pada beberapa wanita yang berbeda di hari yang sama. Fikri menarik nafasnya, berusaha membuang muka kemudian bersikap sebiasa mungkin agar dirinya tidak ditegur kembali oleh Adit kawannya.

“Jadi antum ini ustadz baru disini yah ?” tanya Ustadzah Syifa.

“I..iiyyaaa us” kata Fikri gugup.

“Nama antum siapa ?” tanya Ustadzah Syifa.

Ana... Fikri us...” jawab Fikri.

“Hihihihi ana Syifa... orang - orang disini kebanyakan memanggil ana dengan sebutan ustadzah Syifa.... Kalau antum butuh sesuatu untuk kepentingan mengajar bisa temui ana disini yah” kata Ustadzah Syifa dengan sopan.

Naam us” kata Fikri berusaha berbicara dengan bahasa arab juga.

Adit kemudian berbicara pada ustadzah Syifa, sepertinya cukup serius karena tak berselang lama ustadzah Syifa langsung membuka buku untuk mengecek jadwal pelajaran yang ada di pondok ini. Kemudian mereka berdua tertawa barulah setelah itu pembicaraan mereka berakhir.

“Tenang semuanya udah aku urus untuk jadwal mengajarmu... Mungkin besok atau beberapa hari lagi kamu udah dapet kebagian jadwal mengajar” kata Adit.

“Heh ? Kkkaa... Kamu yang urus ?” tanya Fikri heran.

“Hahahaha iya lah daritadi aku yang berbicara kan ? Bukannya kamu ?” jawab Adit yang tak bisa dibantah oleh Fikri.

Tepat setelah diri mereka keluar, Fikri melihat adanya sebuah gedung yang sedang dalam tahap pembangunan. Gedung itu masih belum jadi dimana para pekerja yang ada tengah sibuk mengaduk - ngaduk semen untuk mengecor tiap dinding disekitarnya.

“Ittt... Itu gedung mau dibuat apa Dit ?” tanya Fikri.

“Mana ? Ohhhh itu gedung rencananya mau dibuat asrama baru... Maklum tiap tahunnya para pendaftar yang ingin mondok disini semakin meningkat... Tahun ini aja kami menolak banyak pendaftar dengan alasan kurangnya tempat tinggal yang tersedia... Rencananya setelah gedung asrama ini jadi... Kami langsung ingin membuat gedung kelas baru agar nantinya para siswa bisa belajar dengan nyaman dengan mengurangi kuantitas santri di setiap kelasnya”

“Ohhh oke - oke”

“Lihat ustadz yang berjanggut itu gak ?” kata Adit sambil menunjuk ke arah seseorang.

“Ohhh... Yyya... Yang agak gendutan itu yah ?” kata Fikri yang membuat Adit tertawa.

“Jangan bilang kaya gitulah... Kurang sopan namanya... tapi iya yang itu... ” kata Adit menegurnya.

“Mmeee.... Memangnya kenapa Dit ?” tanya Fikri.

“Itu suaminya ustadzah Haura yang aku ceritain tadi loh” kata Adit.

“Ohhh... Yyya... Yang kata Wildan salah satu dari dua ustadzah tercantik di sini ?” tanya Fikri.

“Nah tumben langsung inget kalau soal yang beginian... Nah ustadz itu tuh suaminya... Udah setahun lebih menikah tapi sampai sekarang belum dikaruniai anak” kata Adit.

“Denger - denger suaminya lemah syahwat loh” bisik Adit menggosip.

“Hah... Bbbeee... Beneran ? Kasiannya” kata Fikri.

“Gak tau juga sih namanya juga rumor... Dah yok daripada menggosip mending kita langsung pergi ke gedung pengasuhan... Deket kok jaraknya” kata Adit kembali melanjutkan perjalanannya.

Tepat saat itu, seorang wanita tengah tersenyum sambil melemparkan beberapa pakan burung ke arah kawanan merpati yang berkumpul di sebuah taman dekat gedung pengasuhan berada. Dikala ia tersenyum, kedua pipinya mengembang bak seorang anak kecil yang sedang tersenyum polos dikala diberi hadiah. Penampilannya sangat menarik, Tubuhnya mantap berisi, Kulitnya putih, parasnya anggun, wajahnya jelita, bibirnya tipis berwarna merah merona. Ia pun tertawa sambil memberikan senyuman termanisnya membuat orang - orang yang melihatnya ikut tersenyum melihat kebahagiaannya.

“Nah itu dia... Assalamualaikum ustadzah Hanna” kata Adit menyapa.

“Walaikumsalam... Ehhh ustadz Adit” jawab Hanna dengan ramah. Untuk pertama kalinya, Fikri melihat senyumnya yang ramah mengembang membuat Fikri kembali terpesona oleh kecantikan bidadari disana.

“Udah denger kabar kalau ada ustadz baru yang akan mengisi di gedung pengasuhan kan ? Ini teman ana Ustadz Fikri namanya yang akan menjadi partner antum kedepannya” kata Adit.

“Wahh jadi antum yah... Mohon kerja samanya yah” kata Ustadzah Hanna menundukan wajahnya hormat membuat Fikri ikut melakukan hal yang sama sepertinya.

“Boleh minta antarkan ke gedung pengasuhan... Mungkin antum bisa juga menceritakan gambaran besar tugas dari ustadz bagian pengasuhan agar Ustadz Fikri dapat memahaminya sedikit demi sedikit” kata Adit.

“Tentu... Boleh kok” kata Hanna tersenyum.

Hanna berbicara, Fikri menatapnya memperhatikan. Bukan penjelasannya yang membuat Fikri betah mendengarkan tapi karena kecantikan wajahnya lah yang membuat Fikri tak dapat memalingkan pandangannya. Dari samping Fikri dapat melihat dengan jelas dada ustadzah yang ranum itu menonjol maju. Begitu juga dengan keramahan wajahnya dikala berbicara. Setelah mengenalkan sedikit pondok. Ustadzah Hanna mulai memperkenalkan dirinya pada Fikri.

“Nama ana Hanna Hanifah... Ana sudah di amanati di bagian pengasuhan sudah semenjak tiga tahun yang lalu... dan baru sepekan yang lalu usia ana bertambah jadi 25 tahun... Mohon kerjasamanya yah” kata Hanna tersenyum ramah.

“Kurang satu... Siapa nama calon suaminya ?” kata Adit becanda yang membuat Hanna malu kemudian memukul bahu Adit pelan.

“Gak usah diberi tahu kayaknya semua orang juga sudah tahu deh Us” kata Hanna dengan wajah memerah.

Imutnya !

“Ka... Kalau ana Fikri Hazami... Ana du.. dua puluh lima tahun... Moh.. Mohhon bimbingannya yah us” kata Fikri menaruh hormat pada seniornya meski lebih tua darinya walau hanya berbeda beberapa bulan saja.

“Hihihih jangan gitu ah... Gak enak tau... Kita sama - sama bekerja di bagian yang sama... Jangan terlalu hormat ke ana... Lagian ana kan lebih muda dikit... Kita bawa santai aja yah biar nanti saat bercengkrama bisa lebih nyaman” kata Hanna.

“Ohh hehehe... Si.. Siap us” kata Fikri kembali diam.

Sesampainya di dalam gedung pengasuhan. Seorang wanita tampak serius menatap layar komputernya sambil menekan beberapa tombol keyboard yang ada di depannya. Sesekali tangannya mengangkat cangkir berisi kopi dingin kemudian meminumnya untuk merefreskan pikirannya. Ia begitu fokus hingga tak menyadari kalau ada orang lain yang datang memasuki kantor bagian ini.

“Assalamualaikum” sapa Hanna yang barulah disadari oleh wanita cantik disana.

‘Walaikumsalam... Ehh antum” jawab Haura menoleh sambil memberikan senyuman termanis yang dimilikinya.

Wajahnya manis, posturnya ideal, tubuhnya ramping dan samar - samar payudaranya yang besar tercetak walau dirinya sudah berusaha mengenakan pakaian yang longgar. Kulitnya yang putih, glowing dan terawat seolah memberi tahukan orang - orang yang melihatnya bahwa ia memiliki kulit yang halus, mulus dan terurus.

Tubuhnya yang mantap itu berdiri dari kursi duduknya untuk mendekat menyambut tamu yang berkunjung ke kantornya. Ia memeluk rekan kerjanya terlebih dahulu sebelum melemparkan senyum ke arah Adit dan Fikri yang sedang bertamu kemari.

Fikri terdiam, ia tak banyak berbicara. Tidak seperti sebelumnya yang terpukau dan terpesona. Fikri justru mematung tampak shock dengan pemandangan bidadari yang berdiri di hadapannya. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya, bibirnya pun sampai bergetar ketika melihat keindahan wajah bidadari disana.

Fiitt... Fittriii !

“Walaikumsalam ustadz... Ada keperluan apa yah ?” jawab Haura dengan ramah.

“Begini us... Anu....” Kata Adit kesulitan Menyusun kata - katanya karena adanya Haura dihadapannya.

“Beliau Ustadz Fikri Ra... Beliau yang akan mengisi satu tempat kosong disini loh” kata Hanna yang menjawabnya.

“Hushhh Hanna... Gak boleh gitu.... Biarin ustadz Adit yang menjelaskannya” kata Haura menegurnya.

“Heheh maaf Ra” kata Hanna merasa malu.

“Iya seperti yang ustadzah Hanna katakan... Dia teman ana... Mulai hari ini dia yang akan menemani kalian dalam mengurusi beberapa santri yang ada disini” kata Adit melengkapi penjelasan Hanna.

“Hmmm begitu baguslah... Oh yah nama panggilan antum siapa ?” kata Haura menatap ke arah Fikri yang membuatnya semakin gugup.

Ana... “ kata Fikri terbata - bata sambil menatap Adit kawannya. Adit hanya mengangguk memintanya untuk meneruskan kata - katanya.

“Nama ana... Fiii.. Fiiii” kata Fikri tergagap. Tiba - tiba pandangannya buram, kepalanya pun nyeri terasa sakit membuatnya menggelengkan kepalanya sejenak dengan harapan kondisinya akan membaik, matanya pun sesekali memejam akibat menahan perih yang ia derita. Tak cuma kepala, perutnya juga demikian. Beruntung orang disekitarnya tidak begitu memperhatikan sikapnya.

“Antum mau dipanggil Fi ? Boleh juga... Salam kenal yah ustadz Fi... Nama ana Khansa Haura Dzakiyya Putri... Antum juga bisa memanggil ana dengan panggilan ustadzah Hau... Hihihihihi” kata Haura bercanda mengikuti gaya bicara Fikri.

“I... Iyyy... Iyyaa” kata Fikri sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.

“Oh iya, ustadz Rafi mana kok cuma kalian berdua disini ?” tanya Adit mengalihkan perhatian para bidadari tersebut dari Fikri.

“Beliau masih mengajar kayaknya... Dari pagi belum balik kesini” kata Haura tersenyum sambil menatap Hanna yang ada di sampingnya.

“Hmmm begitu yah... Yaudah ana pamit dulu yah... Mungkin kalian bertiga bisa mengakrabkan diri dulu... Ana ada pekerjaan soalnya...” kata Adit. Fikri tiba - tiba menahan tangan Adit sambil menggelengkan kepalanya. Terlihat mata Fikri memerah sambil memohon untuk menemaninya disini.

“Fikri kamu gapapa ?” Kata Adit terkejut melihat wajah Fikri.

“Ehhh antum kenapa ?” tanya Hanna yang baru menyadari keadaan Fikri yang tak biasa.

“Ga... Gapapa kok hehehe... Mmmuu... Mungkin penyakit ana kambuh” kata Fikri sambil meraih obat disakunya dan menenggak pil itu segera.

Antum beneran gapapa ? Apa mau istirahat dulu ?” tanya Haura agak khawatir dengan kondisi rekan kerja barunya.

“Iya gapapa kok” kata Fikri tersenyum merasa baikan.

“Beneran ? Aku tinggal gapapa nih ?” tanya Adit ragu.

“Iya silahkan gapapa” kata Fikri dengan begitu percaya diri.

“Yaudah kalau gitu... Ana mau pamit ke kantor dulu yah... Tolong titip Fikri... Wassalamualaikum” kata Adit pergi ke bagian pengajaran untuk melanjutkan pekerjaannya.

“Iyya ustadz walaikumsalam” jawab Hanna dan Haura nyaris bersamaan.

“Hmmm apa mungkin ? Semoga ia baik - baik saja disana !” kata Adit khawatir mengenai kondisi kawan baiknya.

Keheningan pun menyapa setelah Adit pulang ke kantor bagiannya. Haura dan Hanna saling menatap merasa canggung untuk mulai berbicara pada rekan baru mereka. Mereka saling sikut untuk meminta mereka berbicara terlebih dahulu setidaknya sepatah dua kata untuk mencairkan suasana.

“Ehmmm anuu....” Kata Haura mulai berkata.

“Iyya” kata Fikri.

“Ahahaha kok jadi kaku gini sih... Gini aja deh... Langkah pertama supaya kita gak tegang kita bisa memanggil nama langsung satu sama lain kok... Antum gak perlu memanggil kita pakai sebutan ustadzah selama hanya ada kita para pengajar yah hehehe... Kalau ada santri baru antum wajib manggil kita pake tambahan ustadzah di depan nama kita... Teruss..... hehehe” kata Haura malu - malu sambil menyikut pinggang Hanna guna memintanya berbicara.

“Ehmmm mungkin untuk sekarang gimana kalau kita saling mengenalkan diri kita lagi ?” kata Hanna mengusulkan ide.

‘Wahhh ide bagus tuh... Ana Haura... Ana disini sebagai ketua karena ana yang paling senior disini... Tapi ana masih muda yah... Masih 25 tahun ahahahaha” kata Haura tertawa.

“Kalau ana Hanna... Ana bertugas sebagai bendahara disini... Sedangkan ustadz Rafi yang tidak ada disini merupakan wakil dari bagian pengasuhan” kata Hanna mengenalkan.

Ana V... Usia ana dua puluh lima tahun... Ana masih baru disini jadi mohon bantuannya” kata Fikri tiba - tiba berubah membuat Haura dan Hanna terkejut seketika. Tidak ada kegugupan tidak ada pula kegagapan saat berbicara. Senyum yang Fikri layangkan ketika berbicara juga membuat mata Haura dan Hanna reflek menunduk mengalihkan pandangannya. Mendadak mereka tersipu sambil tersenyum malu yang membuat diri mereka gugup.

“Jadi antum mau dipanggil Fi aja nih ? Fi kaya huruf V gitu yah ? Oke deh heheheh... Tapi karena kita semua seumuran kita boleh manggil antum langsung dengan sebutan V kan ?" Kata Haura.

"Iya... Kalian boleh kok langsung memanggil ana dengan nama V... Sekalian biar memudahkan kita untuk akrab" Kata Fikri dengan penuh percaya diri.

"Hmmm yaudah deh... Oh yah, Karena disini ada satu bagian yang kosong maka antum mengambil bagian itu aja yah” kata Haura tersenyum canggung sambil menahan diri untuk menjaga pandangannya untuk tidak menatap wajah Fikri.

“Ohh oke memang bagian apa yah Ra ?” tanya V.

“Oh iya aduh sampai lupa... Bagian sekretaris yang kosong hehehe” kata Haura merasa malu.

“Mau langsung ana contohin apa gimana nih untuk pekerjaan bagian antum ini ?” kata Hanna malu - malu.

“Ohh boleh... Iya silahkan !” kata V dengan tenang.

“Kalau gitu ayo ikut ana ke meja antum” kata Hanna menuntun V ke mejanya.

Dalam perjalanannya itu, V berjalan bersebelahan dengan Haura yang ada disampingnya, Sesekali V menatap wajah cantik itu. V tersenyum kemudian kembali menatap ke arah depan agar tidak dicurigai olehnya apabila terlalu lama menatapnya.

Senang bisa melihatmu lagi... Fitri ! Batin V tersenyum.

“Ini kursi antum disini” kata Hanna.

“Nah antum liat beberapa dokumen tebal ini kan ? Mohon maaf yah hehehe... Karena kami cukup lama tidak memiliki sekretaris jadi banyak bagian yang akan antum kerjakan nanti” kata Haura merasa tidak enak.

“Gapapa... Bukan masalah kok” kata V yang membuat Haura bergegas mengalihkan pandangan saat ditatap oleh nya.

“Ini V... ada beberapa dokumen berisi data para santri beserta nama wali muridnya... Untuk hari ini... Bisa gak antum mulai mengerjakan ini terlebih dahulu ?” pinta Hanna.

“Tentu... Apapun untuk kepentingan bagian pasti akan kulakukan” kata V.

“Oke deh mulai sekarang kita langsung bekerja yah... Sebentar lagi juga mau dhuhur biar gak berbenturan nanti... Gapapa kan V ?” tanya Haura menatap V.

“Tentu” kata V tersenyum.

Haura mengalihkan pandangannya kembali.

“Biar gak bosan... Ana pergi beli jajanan di kantin yah ? antum mau apa V ? Gorengan aja gimana ?” kata Haura bertanya.

“Aduh ana gak doyan gorengan loh Han... Apa aja deh selain gorengan gimana ?” kata Fikri tersenyum ramah.

“Gak doyan gorengan ?” kata Hanna lirih.

“Kalau anti Ra ? Mau dibeliin apa ?” tanya Hanna pada Haura.

“Yang biasa aja Han... Tau kan ?” kata Haura tersenyum.

“Ohhh okedeh... Ana pergi dulu yahhh daahhhhh !!!” kata Hanna bergegas pergi ke kantin guna membeli jajanan untuk menemani jadwal nugas mereka selama di kantor.

Kini tinggal ada Haura dan V saja yang tinggal di kantor mengerjakan tugas bulanannya. Tiap bulan, setiap kantor bagian yang ada di pondok ini wajib melaporkan tugas bulanannya mulai dari proker, hasil yang dikerjakan sekaligus pengeluaran yang digunakan kepada Pak Kiyai Jamal selaku pemimpin pondok pesantren ini. Hal ini dimaksudkan agar Kiyai Jamal dapat mengontrol pondok secara maksimal di usianya yang sudah tak lagi muda.

Terdengar suara ketikan di meja Haura, begitupula terdengar suara ketikan di meja V. Mata mereka terkunci pada monitor PC yang ada dihadapannya, mulut mereka tertutup tak dapat berbicara. Suara hening yang mengisi ruangan membuat V merasa bosan. Sesekali ia menatap Haura yang berada tepat disamping kanannya. Bedanya meja V menghadap ke arah utara sedangkan meja Haura menghadap ke arah timur. Mungkin untuk memudahkan denah posisi duduk mereka seperti huruf 'L' ini.

V melirik, wajah ayu yang dimiliki oleh bidadari berhijab itu membuatnya tersenyum lega. Ia tak menduga di tempat seperti ini ia bisa bertemu lagi dengan seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Lama ia melirik sebelum dirinya kembali fokus menatap layar dikala Haura melirik ke arahnya. V tersenyum kemudian kembali melirik Haura yang rupanya juga sedang tersenyum menatapnya.

“Ketahuan kan dari tadi lirak - lirik !” kata Haura yang membuat V malu.

“Ahhh enggak bukan begitu Ra... Hahaha” kata V malu.

“Terus ? Dikira ana gak tau yah kalau ada yang ngeliatin dari tadi ?” kata Haura tersenyum.

“Hahahha bukan Ra... Bener deh... Cuma bosan aja daritadi kita cuma diam menatap layar komputer... Ana mau mengajak antum ngobrol tapi ragu untuk memulainya makanya ana tadi sempet menatap antum sejenak” kata V beralasan.

“Sejenak yah ? Ohh ya ya jadi selama itu tuh sejenak yah ?” kata Haura.

“Hahahha bukan Ra aduh gimana yah ngejelasinnya ?” kata V merasa bingung menyusun kata - katanya.

“Iya iya tau kok ustadz yang suka lirak - lirik” kata Haura tersenyum kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Jadi... “ kata V ragu.

“Jadi ? Jadi apa ?” kata Haura.

“Boleh gak kita mengobrol ditengah pekerjaan kita ?” tanya V penuh harap.

“Iya boleh dong... Ini juga pertemuan awal kita... Kita harus banyak mengobrol supaya kita bisa semakin akrab kedepannya” kata Haura melirik V sesaat sebelum kembali melirik ke layar komputernya.

“Tapi mohon maaf kalau nanti aku cuma bisa menjawab tanpa melihat ke arahmu... Gapapa kan ? aku mau buru - buru menyelesaikan tugas ini soalnya... Harap jangan tersinggung yah” kata Haura tersenyum menatap V.

“Jadi sekarang pakai ‘aku - kamu’ nih ? Gapapa, selama suaramu bisa kudengar itu sudah cukup kok buatku” kata V tersenyum.

Haura ikut tersenyum sambil memanyunkan bibirnya maju.

Kata - kata terucap saling tertukar, Tawa pun terdengar mengakrabkan hati diantara keduanya, kecanggungan yang tadi mereka rasakan telah hilang berganti kenyamanan. Mereka berdua bagai kawan lama yang sudah tak bertemu setelah sekian lama. Banyak obrolan yang mereka bicarakan. Banyak tema pembicaraan yang membuat mereka tak bisa berhenti untuk berbicara satu sama lain.

Haura tersenyum, V juga tersenyum. Mereka kembali fokus bekerja saat melihat waktu Dhuhur sudah semakin dekat.

“Oh iya Haura... Untuk bagian ini maksudnya gimana yah ?” tanya V.

“Yang mana yah ?” kata Haura bangkit berdiri mendekat ke arah V.

Namun kejadian tak terduga terjadi. Entah karena sepatu pantofel yang ia kenakan licin atau memang dasar lantainya yang licin. Haura membuka mulut, mengeluarkan suara ketika kakinya menginjak sesuatu yang licin. Haura terpeleset membuat kaki kanannya terlempar ke depan, sedangkan kepalanya terdorong ke belakang terjatuh.

“Happpp” kata V. Tangan kanan V sigap menarik tangan kiri Haura sedangkan tangan kiri V dengan cepat mendekap punggung belakang Haura. Secara reflek Haura merangkul leher V agar tidak terjatuh. Mereka berdua melakukan kontak mata, mulut mereka terdiam tak menyangka dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Ma... Maaafff” kata V melepaskan tangannya secara perlahan dari tubuh Haura.

“Ahhh engga... Iya gapapa kok” kata Haura wajahnya memerah.

Tak berselang lama Hanna kembali sambil membawakan jajanan yang mereka pesan.

“Assalamualaikum... Ana kembali” kata Hanna ceria. Beruntung Haura refleks menjauhkan diri dari dekapan V hingga Hanna tak menyadari perbuatan yang baru saja terjadi.

“Ehhh Hanna walaikumsalam... Ditungguin juga dari tadi heehehe... Mana pesanan ana ?” kata Haura bergegas pergi menjauhi V untuk mendekat ke arah Hanna guna menutupi rasa malunya. Hanna yang tidak tahu apa - apa mendekat menuju ke arah meja mereka berdua. Haura tak berani menatap V saat menemani Hanna berjalan ke mejanya.

“Ini V jajanannya diambil" kata Hanna.

“I... Iyy... Iyya sebentar.. Innn.. Ini mau selesai hehe” kata V merasa canggung.

Hanna dan Haura mengambil jajanan itu dan memakannya sambil mengobrol. Dikala Hanna berbicara pikiran Haura terbayang akan kejadian memalukan tadi. Haura merinding ketika teringat perlakukan V padanya tadi.

“Ra... Haura.... Kok ngelamun” kata Hanna.

“Ehh ada apa Han ? Enggak ini lagi ngerasain rasanya kok” kata Haura merasa malu.

“Hufffttt dasar... Eh ini V jajanannya nanti lupa loh” kata Hanna memanggil V untuk kedua kalinya.

V akhirnya berdiri mendekat menuju ke arah mereka berdua. Tangannya bergetar saat mengambil jajanan itu. Kemudian ia kembali ke mejanya sambil memakan makanan yang ia ambil dengan lahap.

Hanna melirik ke arah V cukup lama. Kemudian ia kembali mengambil jajanannya barulah setelah itu dirinya memulai kembali pekerjaannya.

Katanya gak suka gorengan ? Kok malah ngambil jajanan gorengan ? Mana nyeplis cabe juga !

Batin Hanna merasa heran.


*-*-*-*


Detik demi detik berlalu, malam pun tiba yang ditandai dengan adanya cahaya rembulan yang bersinar di tengah gelapnya langit pesantren. V masih berada di kamarnya bersiap - siap dengan kemeja rapih juga celana kain yang melengkapi penampilan kerennya malam ini. Tiap malam ada kegiatan rutin yang dijalankan di pondok pesantren ini. Mereka menyebutnya dengan istilah ‘Muwajjah malam’. Muwajjah secara harfiah memiliki makna bertatap wajah. Seiring berjalannya waktu istilah ini pun dipergunakan bagi para santri yang ingin belajar dengan gurunya dengan cara bertatap wajah.

Face to face.

Karena V merupakan pengajar baru dan dia juga bukan seorang wali kelas maka ia tidak memiliki kewajiban untuk menemani para santri untuk ber-muwajjah tiap malam. Sebaliknya ia ditugaskan oleh bagian pengajaran untuk berkeliling tiap asrama guna mengecek apakah ada santri yang tidak menghadiri muwajjah entah karena malas atau karena ketiduran.

V hanya ditugaskan untuk memeriksa asrama putra, sedangkan untuk asrama putri ada ustadzah lain yang memiliki tugas yang sama dengannya yang tentunya bukan bagian dari wali kelas para santriwati.

Kamar demi kamar telah ia masuki. Terlihat Kasur - Kasur tertata rapih di sebelah pojok kamar. Beberapa lemari juga telah terkunci sempurna guna melindungi beberapa barang yang tersimpan di dalamnya.

“Bagus semuanya hadir pada muwajjah malam ini” kata V bergegas pergi setelah memeriksa seisi asrama secara menyeluruh.

Saat V pergi, diam - diam ada seseorang yang melirik dari tempat yang tak diduga - duga oleh siapapun. Ia memegangi hape, wajahnya tersenyum dan ia merasa lega karena dirinya tidak ketahuan selama pemeriksaan tadi.

"Muwehehehe" Tawa orang misterius itu.

Setelah memeriksa asrama, V pergi menuju tempat muwajjah untuk menertibkan beberapa santri yang mungkin tertidur karena kurangnya pengawasan dari para wali kelas.

Beberapa wali kelas ada yang mengadakan muwajjah di tempat yang semestinya yakni di dalam kelas, sementara beberapa ada yang mengadakan muwajjah di tempat lain untuk mencerahkan suasana para santri agar tidak bosan ketika harus belajar di dalam ruangan secara melulu. V mengangguk - ngangguk saat melihat para santri mengelompok membentuk setengah lingkaran bersama wali kelasnya di bawah pohon tinggi yang rindang. Beberapa juga ada yang mengelompok di sebuah taman berisi bunga - bunga yang menarik perhatian V.

V mendekat menuju taman tersebut. Ia menatap betapa indahnya bunga - bunga yang tumbuh dan terawat di dalam lingkungan pesantren ini. Seketika ia teringat akan suasana yang ia alami di rumah dimana dulu ketika dirinya masih kecil, ia sering sekali membantu ibunya berjualan bunga bersama sepupunya.

V pun mendengar suara lembut yang berasal dari arah dalam taman. V melangkahkan kakinya mendekat untuk mencari tahu siapa pemilik suara itu. V melirik, hatinya merasa nyaman dan wajahnya tersenyum saat melihat adanya bidadari yang duduk di bangku taman tengah berbicara menjelaskan beberapa materi kepada anak didiknya yang duduk dihadapannya.

“Fitri ?” lirihnya tersenyum.

Lampu - lampu taman yang bersinar semakin mencerahkan wajahnya ditengah kegelapan ini. Suaranya yang lembut serta penjelasannya yang jelas dan menarik, membuat beberapa santriwatinya fokus memperhatikan ke arah wali kelasnya yang dikenal akan kecantikannya.

Tiba - tiba terdengar suara lonceng berbunyi yang menandakan waktu untuk ber-muwajjah malam telah berakhir. V diam - diam terus memperhatikannya ketika bidadari berwajah manis itu memberikan wejangan untuk menutup pertemuannya dengan anak didiknya malam ini. Setelah usai, beberapa santriwati pun berdiri mencium punggung tangan wali kelasnya sebelum masing - masing dari mereka pulang ke asramanya untuk beristirahat.

“Hati - hati yah... Jaga Kesehatan ! Jangan sampai sakit !” katanya dengan penuh perhatian.

“Iya ustadzah Haura... Kami akan jaga Kesehatan... Ustadzah juga yah !” jawab beberapa santriwatinya.

Ia tersenyum sebelum dirinya kembali duduk ditengah bangku taman sambil membaca - baca buku sejenak menikmati waktu sendiri di tengah keheningan yang mengitari.

V terus memperhatikannya sejenak sebelum dirinya memberanikan diri untuk mendekat ke arah rekan kerjanya yang ia temui di kantornya siang tadi.

“Assalamualaikum” sapa V.

“Walaikumsalam... Hahhhhh V ! Ngagetin aja !” kata Haura tersenyum sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang.

“Hahaha maaf... Tadi lagi berkeliling soalnya... Tiba - tiba kedengeran suara dari arah sini... Makanya ana kemari tuk melihat” kata V berbasa - basi.

“Ahahaha ana memang biasa disini tiap kali melakukan muwajjah malam & pagi... Aku suka suasanya... Nyaman, tenang, membuat pikiranku lebih mudah masuk menerima beberapa materi yang akan kusiapkan untuk santriwatiku” jawab Haura menatap V.

Ana atau aku nih ? kok ganti - ganti” kata V menyadarinya.

“Ehhh ? Ahahahhaa ... Maaf aku kalau udah ngerasa akrab sama orang kadang suka gitu hehehe” kata Haura malu.

“Begitu yah... Mulai sekarang kita kalau ngobrol pakai bahasa aku - kamu aja gimana ?” tanya V.

“Boleh” jawab Haura tersenyum dengan lembut.

“Ehhhmm aku boleh duduk disini sebentar ?” kata V.

“Ohh iya boleh V” kata Haura buru - buru mengambil beberapa buku yang berserakan di bangku itu kemudian ia menggeserkan posisi duduknya ke arah tepi. V duduk disamping Haura membuat bidadari berhijab itu semakin menjauhkan posisi duduknya untuk menjaga jarak. V melihat ke arah sekitar sejenak. Angin malam yang berhembus meniupkan beberapa pohon dan tanaman yang ada di area taman ini. Gemerlap bintang yang ada di langit - langit sana memantulkan cahayanya kepada rembulan sepanjang malam. V merasa damai, tenang juga tentunya karena ada seseorang yang tengah duduk disampingnya. V melirik Haura, Haura tengah menundukan pandangannya karena malu, ia seperti menanti kata - kata yang ingin diucapkan oleh V disini.

“Kamu suka ketenangan juga yah ? Aku juga suka suasana seperti ini” kata V memulai pembicaraan.

“Kamu juga ? Iya aku sangat suka suasana yang tenang seperti ini... Rasanya nyaman bisa menikmati waktu sendiri sambil membaca buku disini” kata Haura.

“Begitu ? Buku apa yah yang sedang kamu baca ? Novel ?” tanya V.

“Ahahaha bukan lah... Cuma materi yang akan kusiapkan besok kok” kata Haura tertawa.

V tersenyum melihatnya.

“Kamu suka bunga gak ?” kata V tiba - tiba.

“Bunga ? Kenapa memang ?” tanya Haura yang terkejut saat V menanyakan hal itu padanya.

“Nanya aja kok... Lihat bunga yang berwarna putih disana gak ?” kata V menunjuk ke suatu arah yang membuat Haura berpaling mengikuti arah yang sedang ditunjuk oleh V.

“Itu namanya bunga Lily yang memiliki arti kesucian sementara yang ada di sebelahnya itu bunga Magnolia yang memiliki arti kecantikan yang natural" kata V tersenyum.

“Wahhh kok gitu ? Aku baru tahu kalau setiap bunga memiliki artinya masing - masing” kata Haura terpukau.

“Tentu ada... Bunga juga memiliki perasaan dan sifatnya sepertinya manusia... Mungkin mayoritas orang akan berkata bunga hanya mengisyaratkan arti dari keindahan dirinya... Padahal ada beberapa bunga yang bermakna kesedihan juga loh... Kamu tahu gak contohnya ? ” kata V menatap Haura.

“Oh yah ? Hmmm apa yah ? Bunga Rafflesia Arnoldi bukan ?” kata Haura asal menebak.

“Hahaha bukan lah itu terlalu jauh... Maksudnya bunga yang terlihat indah tapi sebenarnya memiliki arti kesedihan” kata V tertawa mendengar penjelasan Haura.

“Ohhh bukan yah ? Ahahahah... Hmmm apa yahhhh ?” kata Haura berfikir.

V menatapnya saat Haura sedang berfikir. Ekspresinya yang menggemaskan, nada bicaranya yang manis juga dengan suasana yang ia alami disampingnya membuat V merasakan kenyamanan darinya. Kenyamanan yang dulu sempat pernah ia rasakan.

“Fitri... Aku semakin yakin dengan kehadiranmu ini” kata V tiba - tiba.

“Ehhhh ada apa V ? Kamu memanggil seseorang yah ?” kata Haura melirik ke sekitar.

“Ahh enggak kok....” Kata V menatap Haura dengan penuh keberanian.

“V kamu kenapa kok jadi . . . .” kata Haura bergegas memalingkan wajahnya karena malu.

“Ahh maaf hahahha... Aku cuma terpana tadi saat melihat kecantikan wajahmu” kata V memujinya.

Haura tersenyum sambil menundukan wajahnya karena malu.

“Pasti beruntung yah suamimu bisa mempunyai wanita yang memiliki keindahan wajah sepertimu” kata V.

“Ihhh V hentikan ahh... Jangan memuji aku seperti itu... Aneh tau rasanya” kata Haura yang wajahnya memerah.

“Hahahaha iya maaf... Boleh kita mengobrol sebentar lagi kan ?

“Hehehe iya gapapa kok” kata Haura menenangkan dirinya untuk menghilangkan warna merah yang mewarnai wajahnya.

"Tau gak Ra ? Biasanya aku gak mudah akrab loh ketika bertemu dengan seseorang yang baru kukenal... Tapi entah kenapa denganmu aku merasa seperti kita sudah lama saling mengenal” kata V.

“Beneran ? Kok bisa sih ? Apa yang membuatmu sulit untuk mengakrabkan diri dengan orang baru ?” tanya Haura penasaran.

“Entahlah... Aku juga bingung... Sejak dulu aku selalu kesulitan untuk menggunakan lisanku untuk berbicara... Mungkin karena aku jarang sekali mengobrol kali yah...” kata V.

“Ehmmm pantes tadi siang gaya bicaramu begitu” kata Haura menyadari.

“Maksudnya ?” tanya V belum paham.

“Inget gak saat pertama kali kita bertemu di kantor siang tadi ? Waktu itu kan kamu gagap saat berbicara ahahahha” kata Haura tertawa mengingatnya.

“Ehhh emang aku begitu yah ?” tanya V heran.

“Yeeee sok gak ngaku lagi dasar ustadz satu ini” kata Haura .

“Tapi untungnya sekarang kamu sudah berubah... Sepertinya kamu udah terbiasa kan V ? Gak gagap lagi ? Ahahahaha... Asyik sih sewaktu ngobrol bareng kamu walau kadang suka MODUS juga !!!” lanjut Haura menyindir.

“Hahahha maaf itu gak sengaja kok... Beneran deh” kata V tertawa.

“Iyya - iya sekali lagi modus aku laporin ke suami aku yah” kata Haura becanda.

"Okehhh silahkan aja" Jawab V tersenyum yang lagi - lagi membuat Haura refleks menundukan pandangannya.

Suasana menjadi hening saat itu ketika masing - masing dari mereka mulai kehabisan bahan obrolan. Haura merasa gelisah terutama saat melihat jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ia ingin pulang khawatir karena suaminya pasti akan mencarinya, tapi ia merasa tidak enak ketika harus meminta izin dari V.

“Ehhm V... Maaf ini sudah larut malam... Aku mau pulang dulu yah” kata Haura memberanikan diri.

“Lohh udah mau pulang ?” kata V.

“Hehehhe ini udah malam V... Gak enak juga kalau ada orang lain yang lihat kita berdua disini... Aku khawatir mereka akan mencurigai perbuatan kita” kata Haura khawatir.

“Yaudah kalau gitu... Selamat malam yah !” kata V menatap wajah Haura dengan hangat.

“Iyya... Malam” jawab Haura malu - malu ketika tak sengaja melakukan kontak mata dengan V.

Haura buru - buru pergi setelah memasukan beberapa buku ke dalam kantung plastik yang tadi ia bawa.

V tersenyum dengan perasaannya malam itu. Ia merasa bahagia ketika bertemu dengan bidadari cantik bertubuh ramping yang telah menggetarkan hatinya. Tepat setelah Haura beranjak dari bangku tamannya untuk pergi pulang ke rumah, V menahan tangan kirinya yang tertinggal.

“Tunggu Fitri !” kata V memegangi tangan Haura kemudian menariknya mendekat.

“Ada apphhhhh . . . . . . .” Mata Haura terbelalak ketika tiba - tiba V mendekap tubuhnya kemudian memberikannya sebuah ciuman tepat menuju bibirnya.

V mencumbu bibir Haura dengan lembut. Ia menempelkan bibirnya cukup lama untuk menjelaskan perasaannya yang ada di hatinya padanya.

Haura pun sadar bahwa V sedang memberikan cinta padanya. Ia faham bahwa cumbuan yang telah V berikan padanya bukan dilandaskan oleh hawa nafsu semata melainkan karena rasa cinta yang telah menggebu - gebu di dalam hatinya.

Seketika Haura pun luluh. Ia mulai hanyut dalam menikmati cumbuan V di bibirnya. Bibirnya pun terbuka membiarkan bibir V memagut bibir bawah miliknya. Suara kecapan terdengar dari mulut mereka berdua. Tangan kanan V semakin erat mendekap punggung Haura. Entah bagaimana ceritanya, Haura merasa nyaman ketika ada seorang lelaki lain yang menyalurkan seluruh cintanya padanya.

Astaga ! Mas Hendra !

Seketika Haura tersadar kalau dirinya sudah resmi menjadi milik seseorang. Haura reflek mendorong tubuh V menjauh kemudian melayangkan tangannya guna menampar pipi V dengan keras.

Plakkkkk !!!!!

V tak merespon ketika ditampar oleh Haura. Seketika ia melihat mata Haura berkaca - kaca dipenuhi oleh penyesalan. Tanpa adanya ucapan perpisahan, Haura berjalan pergi sambil menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipinya. V hanya diam tak mengejar sambil memegangi pipinya yang panas. Kemudian ia tersenyum sambil menatap langit - langit yang semakin gelap diatas sana.

Fitri . . . . .

Senang bisa melihatmu lagi . . . . .

Kemudian V pun pulang menuju kamarnya setelah mendapatkan pengalaman yang tak terduga di hari pertamanya bekerja. Namun tanpa sepengetahuan mereka berdua terdapat seseorang yang terkekeh - kekeh menatap layar ponselnya. Sebuah foto terlihat disana. Foto dari dua pengajar pondok pesantren yang sedang berciuman dibawah gelapnya nuansa malam.

“Kekekekeke” Orang itu tertawa menggunakan nada tawanya yang khas.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy