Search

CHAPTER 51​ - WANITA ITU BERNAMA SALWA

CHAPTER 51​ - WANITA ITU BERNAMA SALWA

Tak terasa, mereka berdua sudah tiba di depan rumah kontrakan pak Heri. Nada semakin gugup. Ia tahu kalau ia harus membayar keputusan yang sudah dibuatnya itu. Ia harus membayarnya dengan tubuh indahnya. Ia harus merelakan kemaluannya ditusuk kembali oleh penis tak bersunat milik kurir pengantar paket itu. Siapkah ? Siap tak siap, Nada harus menerimanya. Nada harus menerimanya dengan suka rela atau terpaksa.

“Puji tuhan, sudah sampai nih kita ustadzah” ucap pak Heri tepat setelah menghentikan mobilnya.

Dengan terburu-buru ia keluar dari pintu kemudian berlari ke arah seberang untuk membukakan pintu untuk tamu istimewanya.

“Terima kasih pak” ucap Nada setelah dibukakan pintu oleh pejantan tambunnya.

“Ustadzah mau minum apa ? Biar nanti saya buatkan” ucap Pak Heri dengan ramah yang membuat Nada merasa heran.

“Apa aja pak... Aku gak neko-neko kok” jawab Nada malu-malu sambil memperhatikan sikap pria tambun itu.

“Baiklah kalau ustadzah maunya seperti itu... Mari masuk, ustadzah bisa duduk sebentar di ruang tamu yah” ucap Pak Heri sambil merangkul pinggang Nada kemudian berjalan disampingnya untuk mengantarnya menuju ruang tamunya.

Nada agak risih saat pinggulnya disentuh oleh pria tambun itu. Tapi jujur, ia terpesona oleh caranya dalam melayani dirinya. Ia juga heran pada sikapnya, padahal pagi tadi pak Heri terlihat bernafsu. Tapi sekarang setelah tiba di rumahnya. Pak Heri malah terlihat seperti pria jantan dalam menyambut kehadiran dirinya. Jujur Nada agak tersentuh oleh sikapnya itu. Ia pun membiarkan tangan nakal pria tambun itu untuk berada tetap di pinggang rampingnya.

“Silahkan duduk dulu ustadzah... Sebentar yah, saya siapkan dulu tehnya” ucap Pak Heri yang langsung ngeluyur ke arah dapur.

“Iyya pak, makasih” jawab Nada sambil tersenyum manis.

Nada mendudukan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruang tamu rumah pak Heri. Wajahnya ia angkat untuk melihat-lihat pemandangan disekitar. Nada tersenyum, rasanya tidak ada yang berubah di rumah pejantannya itu. Ia pun melihat ke arah kiri ke tempat dimana pak Heri pergi.

Nada pun bangkit berdiri kemudian matanya teralihkan pada sebuah pintu yang agak sedikit terbuka.

“Kalau gak salah disini kamarnya yah ? Kalau gak salah, aku pernah dipijit olehnya di ruangan ini deh” ucap Nada tersenyum malu saat teringat masa lalu.

Ia kembali berjalan-jalan di ruang tamu itu. Jemarinya ia seret pada dinding rumah pejantannya itu. Matanya memejam, ia mencoba mengingat kenangan yang sudah ia buat bersama pejantannya di rumah kontrakan ini.

“Kalau gak salah, disini awal aku marahan lagi dengan pak Heri” ucap Nada menghentikan langkah kakinya.

Ia ingat saat dirinya disetubuhi oleh pak Heri padahal dirinya sedang tidak ingin. Ia ingat saat menyadari kalau pak Heri berencana merebut hatinya alih-alih membantunya menyadarkan suaminya. Ia ingat betul posisinya saat itu, ia sedang menungging sambil bertumpu pada dinding. Ia disetubuhi dari belakang secara paksa yang berujung pada kemarahan padanya.

“Hah” Nada mendesah. Ia pun kembali duduk sambil menunggu kedatangan pak Heri.

“Hidupku kenapa yah ? Kenapa aku gak bisa lepas dari yang namanya bercinta dengan seseorang yah ? Ketika aku menjauh dari pak Heri, aku justru diperkosa oleh pak Karjo dan juga Lutfi... Ketika aku menjauh dari mereka, aku justru merelakan diriku pada pak Heri... Kenapa hidupku seperti ini-ini terus ? Apa jangan-jangan aku memang diciptakan hanya untuk menjadi pemuas nafsu mereka yah ?” lirih Nada yang seketika teringat ucapan Lutfi kemarin sore.

Muwehehehe... Untuk apa ustadzah masih melawan ? Antum itu diciptakan untuk menjadi pemuas ana ! Wanita itu diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu laki-laki ! Jangan pernah menyalahi kodrat antum ustadzah... Mau kemanapun antum pergi, antum pasti akan menjadi pemuas nafsu laki-laki.... Aaahhhh... Aaahhhh....

Enggakk... Enggakk... Janngann Lutfiii... Lepaskann... Lepaskaannn...

Aahhhh mantapnyaaa... Aahhh mantapnyaaa... Rasakan ini ustadzah ! Terima nasib antum... Terima nasib antum untuk menjadi pemuas nafsu ana !

Nada merinding saat teringat persetubuhan penuh gairahnya bersama Lutfi.

“Apa mungkin ini yang dirasakan oleh ustadzah Haura yah ? Ia sudah sadar kalau dirinya diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu para kuli ? Makanya ia begitu menikmati takdirnya saat kuli bejat itu menyetubuhi keindahannya... Lalu, kalau ustadzah Haura diciptakan untuk para kuli maka untuk siapa aku ini diciptakan ? Apakah santri nakal seperti Lutfi ? Atau justru membantu ustadzah Haura untuk memuasi para kuli ?” lirih Nada bergidik saat membayangkan dirinya berdua bersama Haura memuasi para kuli.

Astaghfirullah” ucap Nada sambil memegangi kepalanya menggunakan kedua kepalanya. Ia menunduk. Ia merasa tidak mau melakukan itu.

“Ustadzah... Ustadzah kenapa ? Ini minumannya” ucap pak Heri yang untungnya datang disaat yang tepat.

“Eh, enggak pak” jawab Nada tersenyum sambil menerima teh hangat buatan pejantannya.

“Makasih” ucap Nada yang langsung meminumnya dengan rakus sehingga tersisa setengahnya saja.

"Gimana rasanya, enak kan ?" Tanya pak Heri sambil memperhatikan gerak-gerik Nada yang terlihat gelisah.

"Hehe iyya pak... Rasanya pas, gak kemanisan dan seger juga" Jawab Nada yang membuat pak Heri tersenyum menatapnya.

"Puji tuhan... Oh yah ustadzah, tadi kenapa ? Kok tadi tiba-tiba meminta saya untuk membawa ustadzah ke rumah ? Terus kenapa tadi ustadzah sampai memegangi kepala ?" Ucap pak Heri yang begitu penasaran.

"Hehe gapapa pak" Jawab Nada sambil menyeruput lagi teh buatan pejantannya.

"Gapapa ? Bukannya gapapa itu berarti ada apa-apa ?" Tanya pak Heri seolah memahami kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh Nada.

Nada tidak menjawab. Nada hanya tersenyum sambil menundukan wajahnya. Berulang kali ia menatap teh yang sudah mau habis itu. Ia pun kembali menyeruputnya hingga habis tanpa menjawab satupun pertanyaan dari pejantan tambunnya.

"Apa jangan-jangan mereka kembali datang untuk mengganggumu yah, ustadzah ?" Tanya pak Heri lagi yang kini membuat Nada reflek menaikan kepalanya. Tapi Nada tidak menjawab. Nada hanya tersenyum sambil menundukan wajahnya lagi.

"Mereka melakukannya lagi yah ? Apa mereka kembali memperkosamu, ustadzah ?" Tanya pak Heri merasa tidak enak. Nada pun menaikan wajahnya. Lalu matanya menatap kurir pengantar paket itu dengan tatapan iba.

"Iyyaahh... Begitulah pak... Tapi hanya salah satu dari mereka, bukan keduanya" Jawab Nada dengan lirih yang membuat pak Heri mengernyitkan dahinya tidak terima.

"Siapa dia ? Si kuli sialan itu ? Atau justru santri bejat itu ?" Tanya pak Heri dengan kesal.

"Yang santri pak" Jawab Nada yang membuat pak Heri reflek mengepalkan tinjunya.

"Maafkan saya ustadzah, saya tidak ada disana waktu itu" Ucap pak Heri kembali melemaskan tinjunya ketika berbicara dengan wanitanya.

"Gapapa pak... Bukan salah bapak kok... Oh yah pak, aku mau nanya sesuatu boleh ?" Tanya Nada yang membuat pak Heri penasaran.

"Nanya apa yah ?"

"Sebenarnya, aku ini diciptakan untuk apa ? Apa benar seorang wanita diciptakan hanya untuk menjadi pemuas nafsu lelaki ?" Tanya Nada sambil berkaca-kaca.

"Kenapa ustadzah berbicara seperti itu ? Jelas jawabannya bukan lah ustadzah" Jawab pak Heri dengan tegas.

Kurir pengantar paket yang masih mengenakan seragamnya itu memperhatikan raut wajah sang ustadzah. Kendati Nada terlihat sedih, kendati Nada terlihat memelas saat sedang curhat kepadanya. Nada masihlah terlihat cantik.

Dengan hijab berwarna pink yang dikenakannya. Dengan kaus ketat berlengan panjang yang membuat dada besarnya terasa sesak. Serta celana jeans panjang berwarna biru yang menutupi kaki jenjangnya. Nada terlihat sempurna. Nada terlihat bukan seperti seorang ustadzah saja. Melainkan seperti model kecantikan yang tidak ada duanya. Kecantikannya membuat pak Heri terpesona. Lekuknya aduhai, ditambah dengan bentuk tubuhnya yang bohay, ditambah juga dengan bentuk bokongnya yang semlohay. Serasa pak Heri ingin berlari mendekatinya sekencang Osvaldo Hay. Ingin sekali tangannya membelai. Ingin sekali memeluk tubuhnya yang gemulai. Ingin sekali menjamah tubuhnya yang jablay.

Pak Heri merasa yakin kalau tubuh seindah ini pasti jarang dibelai oleh suaminya. Ia merasa yakin kalau ustadzah secantik ini jarang mendapatkan perhatian dari suaminya. Pak Heri geleng-geleng kepala membayangkan ada lelaki yang menyia-nyiakan seorang wanita secantik Nada.

"Gak tau pak... Aku cuma ngerasa aja, hampir tiap hari diriku pasti disetubuhi oleh lelaki... Bukan cuma dari bapak tapi juga dari mereka berdua... Aku capek pak begini terus... Aku ngerasa udah kaya boneka yang bisa dimainkan oleh siapa saja... Suamiku yang seharusnya menjagaku malah membiarkanku dipakai oleh mereka... Aku ini sebenarnya apa pak ? Pemuas nafsu yah ?" Tanya Nada sambil menitikan air mata.

Pak Heri semakin iba saat melihat air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Ia merasa menyesal telah membuat Nada harus menjalani kehidupan yang berat seperti ini. Pak Heri pun diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari betinanya.

"Jelas bukan lah ustadzah... Ustadzah bukan seorang pemuas nafsu" Jawab pak Heri yang membuat Nada kembali mengangkat wajahnya tuk menatap pejantannya.

"Bukan ? Terus aku ini apa pak... Kenapa aku selalu diperkosa oleh para lelaki yang tidak bertanggung jawab termasuk dari bapak dulu ?" Ucap Nada agak sedikit mengangkat nada bicaranya.

"Begini... Jujur, bercinta memang sesuatu yang paling membuat lelaki bahagia... Maaf kalau dulu saya tidak memikirkan akibat dari apa yang mungkin akan ustadzah terima... Saya mengedepankan ego saya... Saya malah mengedepankan nafsu saya... Ya, mungkin dulu saya bernafsu padamu, ustadzah... Tapi sekarang, saya mencintaimu ustadzah " Ucap Pak Heri yang malah membuat Nada bingung.

"Maksudnya ? Aku gak paham... Jawaban bapak sama sekali gak nyambung dengan pertanyaan aku tadi" Ucap Nada sambil mengeluarkan sapu tangan pemberian suaminya lagi untuk mengelap air matanya.

"Wanita itu diciptakan bukan untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki tapi wanita itu diciptakan untuk membahagiakan para lelaki" Ucap pak Heri yang masih belum di pahami Nada.

"Jadi, maksudnya gini loh... Setiap lelaki pasti akan mencari kebahagiaan dengan menemui wanitanya... Umumnya, kebanyakan para lelaki pasti merasa bahagia, merasa puas setelah menyetubuhi wanitanya... Oke, saya paham kenapa ustadzah sering diperkosa oleh lelaki-lelaki gak bertanggung jawab seperti mereka... Mereka itu cuma mencari kebahagiaan yang kebetulan hanya bisa mereka dapatkan dari diri ustadzah saja... Cuma cara mereka itu salah... Mereka tidak tahu kalau kebahagiaan tidak hanya didapatkan dari bercinta saja" Ucap pak Heri yang membuat Nada pelan-pelan mulai tertarik saat mendengarnya.

"Gak cuma dari bercinta ?" Tanya Nada penasaran.

"Ya, saya akui... Saya sangat bahagia setelah bercinta dengan ustadzah... Tapi hidup itu bukan melulu soal bercinta, ustadzah... Ada hal lain yang bisa membuat lelaki bahagia... Contohnya dengan senyuman... Jujur, saya sudah bahagia saat bisa melihat senyumanmu ustadzah... Tapi sih saya akan lebih bahagia lagi kalau bisa bercinta dengan ustadzah... Wakakakak" Tawa pak Heri yang membuat Nada tersenyum kecil.

"Nah liat kan... Saya merasa bahagia... Makasih sudah memberikan senyummu itu ustadzah... Saya bahagia bisa melihat senyum manismu lagi... Saya bahagia bisa melihat senyum indahmu lagi" Ucap pak Heri yang membuat Nada semakin tersenyum ditengah isak tangisnya.

"Hmm jadi begitu yah, iyah pak... Iyya aku paham... Makasih udah mau dengerin keluh kesahku... Maaf udah ngerepotin bapak... Bahkan bapak sampai rela gak kerja demi nemenin aku disini" Ucap Nada jadi gak enak karena sudah mengganggu jam kerja pak Heri.

"Wakakakak gak usah dipikirkan ustadzah... Laki-laki itu harus tahu prioritas... Saya tahu kalau ustadzah lebih membutuhkan saya makanya saya rela mengorbankan pekerjaan demi menemani ustadzah" Ucap pak Heri sambil tersenyum yang membuat Nada ikut tersenyum.

"Terus kalau nanti bapak dicariin atasan gimana ? Bapak bakal jawab apa ?" Tanya Nada khawatir.

"Tinggal bilang aja... Macet di jalan... Ban bocor... Mesin mati bla bla bla" Ucap pak Heri yang membuat Nada tertawa.

"Hihihi dasar bapak nakal... Ditanyain atasan malah berbohong" Ucap Nada yang akhirnya bisa kembali tertawa lepas.

"Ya saya harus jawab apa lagi ustadzah ? Masa saya harus jujur kalau saya habis membawa istri orang ke rumah saya ? Bakal dimarahin dong saya sama atasan" Ucap pak Heri yang membuat Nada tertawa.

“Hihihihi bapakkk... Jangan laahhh !” tawa Nada sampai terpingkal-pingkal.

"Oh yah, Terus kalau misal ditanya sama atasan bapak gimana ? Apa hubungan bapak dengan wanita itu ?" Lanjut Nada.

"Ya saya bilang aja... Saya itu selingkuhannya wanita itu" Jawab pak Heri yang membuat Nada tertawa ngakak.

"Hihihi enak aja... Mana ada aku punya selingkuhan pak" Tawa Nada kembali menangis tapi bukan menangis sedih melainkan menangis bahagia akibat terlalu banyak tertawa.

"Ada, buktinya saya sampai diculik sama ustadzah sampai gak boleh kerja" Ucap pak Heri bahagia saat meladeni ucapan betinanya.

"Hihihi enak aja... Siapa yang ngelarang bapak kerja... Orang bapak sendiri yang males-malesan kerja... Oh yah pak... Satu lagi, Aku mau nanya lagi boleh ?" Tanya Nada kali ini sambil malu-malu.

"Silahkan ustadzah... Tanyakan saja... Apa aja" Tanya pak Heri semakin bersemangat setelah semakin akrab dengan ustadzah berbadan body goals itu.

"Aku heran... Tadi pagi kok sewaktu aku masih di pesantren, bapak keliatan kayak nafsu banget ke aku... Sampe minta aku buat nyerahin tubuh aku lagi... Tapi sekarang, pas kita sampai di rumah... Bapak malah keliatan jantan menurut aku... Aku ngerasa kayak dijamu dengan baik oleh bapak" Ucap Nada malu-malu yang membuat pak Heri tertawa.

"Wakakakak jawabannya simpel ustadzah... Karena selama ini saya itu cinta ke ustadzah bukan cuma nafsu... Cinta gak melulu soal nafsu dan nafsu gak ada hubungannya dengan cinta... Semua orang bisa nafsu ke ustadzah tapi gak semua orang bisa jatuh cinta ke ustadzah... Mungkin mereka bilang kalau mereka itu jatuh cinta ke ustadzah tapi sebenarnya mereka itu cuma nafsu aja... Mereka nafsu pada tubuh indahmu... Yang mereka inginkan hanya tubuh indahmu bukan hati bersihmu... Mungkin, setelah nafsu mereka terpuaskan mereka akan meninggalkan tubuh ustadzah begitu saja... Tapi kalau udah cinta, mereka tidak hanya melampiaskan nafsunya saja... Setelah itu akan ada pembicaraan yang membuat benih-benih cinta diantara mereka semakin tumbuh dan berkembang... Itu yang membuat pasangan saling mencintai... Itu lah yang saya lakukan tiap kali bercinta denganmu... Jujur saya mencintaimu... Saya ingin menjagamu... Saya ingin membahagiakanmu setelah memuasi tubuh indahmu" Ucap pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu-malu. Ia merasa dicintai. Ia begitu terpana oleh jawaban yang kurir tua itu berikan.

"Makasih yah pak sudah mencintai diriku... Maaf kalau aku sudah menikah terlebih dahulu" Ucap Nada menunduk malu.

"Wakakaka... Gapapa ustadzah... Menikah itu bukan sebuah dosa kok" Jawab pak Heri tertawa.

"Tapi jujur pak... Rasa-rasanya aku menyesal sudah lebih dulu menikah dengan mas Rendy... Jujur, aku gak merasa dicintai lagi oleh mas Rendy... Sepertinya mas Rendy cuma nafsu aja kepadaku... Bapak tadi bilang kalau orang yang nafsu ke aku, setelah nafsu terpuaskan maka aku ditinggal begitu aja kan ? Rasanya mas Rendy bertindak seperti itu padaku pak... Beda dengan bapak... Bahkan mengobrol seperti ini saja sudah membuat aku merasakan cinta bapak... Aku merasa dicintai oleh bapak... Makasih sudah mengajarkan arti cinta dan nafsu kepadaku, pak" Ucap Nada dengan tulus yang membuat pak Heri tersenyum malu.

"Bukan masalah ustadzah... Itu lah yang akan dilakukan oleh seorang lelaki yang mencintaimu... Ia akan menjagamu, ia akan melindungimu, ia akan melakukan apa saja demi membahagiakan dirimu... Salah satunya dengan tidak membiarkan air matamu menetes lebih lama... Itu yang saya coba lakukan saat ini, ustadzah” ucap pak Heri sambil menatap mata Nada. Nada tersenyum membalas tatapannya. Entah kenapa ia benar-benar merasa dicintai saat ini.

“Makasih” jawab Nada dengan singkat namun terasa padat bagi ustadzah pesantren itu. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membalas kata-kata yang sangat berkesan baginya. Ia tersentuh oleh kata-kata itu. Ia seperti disihir oleh kata-kata yang berbobot itu. Pelan-pelan bibirnya membuka, ia pun teringat oleh kata-kata yang diucapkan oleh kurir pengantar paket itu di pagi tadi.

“Aku gak tahu harus gimana untuk membalas kata-kata bapak tadi... Makasih banget yah... Makasih udah hadir di hidupku untuk mencintaiku... Aku bersyukur banget udah bertemu bapak di kehidupanku yang berat ini” ucap Nada yang membuat pak Heri senang.

“Sama-sama ustadzah... Ustadzah gak perlu membalas apapun... Saya udah bahagia selama ustadzah juga bahagia... Saya gak butuh apapun kok” ucap pak Heri sambil ngelirik dada Nada.

Tapi kalau dikasih tubuh ustadzah sih, saya mau pake banget wakakakak...

Batin pak Heri mupeng.

“Oh yah pak... Jadi gak ?” tanya Nada membangunkan pak Heri dari lamunannya.

“Eh jadi ? Jadi apa yah ?” tanya pak Heri bingung.

“Jadi itu... Katanya bapak...” ucap Nada sambil bersikap malu-malu. Wajahnya ia tundukan dan kedua kakinya ia rapatkan. Ia jadi ragu untuk melanjutkan kalimat itu. Padahal kalimat itu sudah berada di ujung lidahnya. Tapi ia terlalu malu untuk mengucapkan semua itu.

“Ada apa sih ustadzahh ?” tanya pak Heri seolah paham sehingga berdiri mendekat kemudian menarik lengan Nada ke arahnya.

“Anu itu pak... Hihihi... Gak jadi deh aku malu” ucap Nada saat bokongnya ia jatuhkan diatas pangkuan pak Heri dalam posisi menyamping. Dekapan erat tangan pak Heri di pinggangnya membuat tangan kanannya ia beranikan untuk ia taruh di belakang kepala pak Heri. Sementara tangan kirinya ia taruh di dada pak Heri. Pak Heri pun tersenyum mesum pada keindahan yang ada di hadapannya itu. Pak Heri tertawa. Ia pun membuka mulutnya untuk berbicara kepada bidadarinya.

“Ustadzah pengen ngentot sama saya yah ?” tanya pak Heri sambil membelai paha Nada yang ada tepat dihadapannya.

“Heem pak... Khusus bapak... Aku mau ngentot sama bapak” ucap Nada yang membuat tubuh pak Heri bergidik nikmat.

“Wakakakak... Gak nyangka di pagi ini saya mendengar ada ustadzah yang pengen ngentot sama saya” tawa pak Heri puas yang membuat Nada semakin tersipu malu.

“Hihihihi aku cuma mau membalas budi pak... Aku juga mau menunjukkan sesuatu ke bapak” ucap Nada sambil malu-malu yang membuat pak Heri penasaran.

“Wahhh sesuatu apa nih ustadzah ?” tanya pak Heri mupeng.

“Aku mau nunjukkin ke bapak kalau tubuh aku hanya bisa dipuasi oleh orang yang mencintaiku... Aku akan menunjukkan buktinya ke bapak... Aku akan membalas kebaikan bapak karena sudah mencintai diriku” ucap Nada malu-malu sambil memejamkan matanya.

Seolah paham dengan apa yang akan terjadi setelahnya, Pak Heri ikut memejam. Bibir tebalnya ia majukan untuk menerima cumbuan yang akan diberikan oleh ustadzah yang sudah menjadi istri orang.

“Mmmpphhhh” desah mereka berdua saat bibir mereka bertemu.

Pak Heri tersenyum. Pria tua itu tersenyum saat bibir tebalnya di dorong oleh bibir ustadzah cantik itu. Tak pernah ia terpikirkan sebelumnya dirinya bisa mendapatkan kenikmatan ini. Pak Heri pun menikmatinya. Ia menikmati apa yang sudah ia perjuangkan selama ini.

“Mmpphhh manis sekali bibirmu ustadzaahh... Ayo kemari, ayo sini lebih dekat lagi... Agar saya semakin menikmati apa yang sedang kau berikan pada diriku ini ustadzah” ucap pak Heri sambil menekan tubuh Nada agar semakin menempel kepadanya.

“Iyyaahhh pakkk... Mmpphhhh... Mmpphhhh” desah Nada pasrah saat tubuhnya semakin menempel pada tubuh pria tambun itu.

Nada mencumbu pak Heri. Ia mencumbunya dengan menggunakan bibirnya yang seksi. Tak peduli dengan dirinya yang sudah bersuami. Ia terus mencumbunya untuk memberikan yang terbaik pada lelaki yang ia cintai. Lengan Nada mendekap semakin erat. Pak Heri pun terasa sesak. Akan tetapi ia malah tersenyum dengan nikmat. Tangan kanannya pun bergerak untuk mendekap payudara Nada yang padat. Terasa keempukan disana. Terasa kekenyalan disana. Terasa kemegahan yang membuatnya tak bisa berhenti meremas-remas dadanya yang bulat sempurna.

“Mmpphhh... Mmphhh pakkk... Mmpphhhh” desah Nada kegelian saat merasakan remasan pak Heri. Pak Heri tak menjawab. Ia hanya tersenyum saat merasakan cumbuan Nada jadi semakin bernafsu.

Dikala tangan kirinya mendekap pinggang Nada agar tidak terjatuh saat ia pangku. Dikala tangan kanannya mencengkram payudara bulat Nada hingga membuatnya jadi semakin bernafsu. Ia merasakan bibir Nada jadi semakin agresif saat bibir ustadzah cantik itu membuka tuk mengapit bibir bagian bawahnya yang tebal.

Bibir pak Heri dikulum. Bibir pak Heri dihisap. Bibir pak Heri disedot-sedot oleh ustadzah cantik itu yang membuat kurir tua itu jadi semakin senang. Saat bibir bawahnya dijepit, bibirnya semakin basah saat dijilati oleh lidah Nada dengan penuh gairah. Pak Heri pun membalasnya dengan menjepit bibir bagian atas Nada. Pak Heri menghisap bibirnya. Pak Heri membetot bibirnya. Pak Heri merasakan rasa manis di bibirnya dengan cara menyedotnya sekuat-kuatnya.

Liur mereka sampai menetes jatuh. Liur mereka sampai terdorong keluar karena nafsu mereka yang semakin liar.

“Paakkkkk... Mmmphhhh” Nada yang semakin bergairah mengajak pak Heri untuk berdiri. Pak Heri pun mengikuti. Kini mereka berdua sudah berdiri dalam posisi saling berhadap-hadapan. Dengan mata yang memejam, bibir mereka terus menghujam dengan begitu kejam. Bibir mereka terus melesat maju dengan begitu tajam. Lidah mereka juga keluar yang langsung diterkam oleh mulut mangsanya.

Pak Heri pun mendekap pinggang ramping Nada. Nada merangkulkan lengannya pada leher pria tuanya. Mereka sangat menikmati waktu berduanya hingga tak sadar 10 menit waktu telah berlalu hanya untuk berciuman saja.

“Mmmpphhh... Liar sekali yah dirimu ustadzaahh... Saya gak nyangka bibirmu gak bisa berhenti untuk mencumbui saya... Wakakakka” tawa Pak Heri setelah melepas cumbuannya sejenak.

“Hihihihi habis aku sebel pak... Aku sebel sama nasibku ini... Makanya aku sampai melampiaskannya ke bapak... Aku melampiaskanya pada seseorang yang mencintaiku sepenuhnya... Bapak mencintaiku kan ?” tanya Nada dengan serius.

Pak Heri tidak langsung menjawabnya. Sebaliknya ia malah membuka satu demi satu kancing seragamnya di depan ustadzah yang mencintainya.

“Laki-laki itu berbicara dengan aksi bukan ? Biarkan waktu dan kontol saya yang menjawabnya... Wakakakakka” tawa pak Heri setelah melepas seragamnya hingga perut tambunnya terlihat.

“Hihihi dasar bapak” ucap Nada dengan tanggap yang langsung membantu pak Heri dengan melepas celana kain yang dikenakan olehnya.

Nada berlutut. Dengan telaten ia melepas ikat pinggang yang berada di celana kurir tua itu. Saat ikatannya terlepas, ia buru-buru menurunkan resleting celananya kemudian memelorotkannya hingga membuat pak Heri tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Pak Heri jadi semakin bernafsu. Ia tak menduga dirinya bisa sebebas ini ketika berduaan bersama ustadzah yang ia cinta.

“Lagi dong ustadzaahh... Telanjangi saya sekalian” rengek Pak Heri dengan manja.

“Sabar dong paakk... Iyaah... Iya aku bakal telanjangi bapak kok hihihihi” tawa Nada malu-malu saat tangannya mulai mendekap sisi bagian atas celana dalam pak Heri. Ia telah bersiap untuk memelorotkannya. Sebelum ia memulai untuk memelorotkannya, ia sempat berfikir sejenak untuk merenungi perbuatannya.

Sudah benarkah apa yang aku lakukan sekarang ? Sudah pastikah pilihan yang telah aku buat sekarang ? Walau sepertinya sama tapi rasanya berbeda... Ya aku yakin, aku akan menyerahkan tubuhku pada pak Heri saja... Lebih baik menyerahkan tubuhku pada laki-laki yang mencintaiku daripada kepada laki-laki yang bernafsu padaku... Ini juga sekaligus pembalasan untukmu mas... Ini balasan dariku karena mas enggak memberikan rasa cinta kepadaku !

Batin Nada yang kemudian langsung menarik turun celana dalam pak Heri.

“Waaaaahhhhh” ucap Nada takjub saat penis tak bersunat berukuran besar itu kembali nampak dihadapan bidadari pemilik body goals itu.

“Sudah berapa lama ustadzah tidak memainkan punya saya ? Wakakkaka” tawa pak Heri sambil menaik turunkan penisnya tanpa memeganginya menggunakan tangannya.

“Lama banget pakk... Aku boleh ? Aku boleh megang pak ?” tanya Nada meminta izin terlebih dahulu.

“Silahkan sayang... Kontol saya milikmu” ucap pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.

Dengan gemulai tangannya mulai mendekap batang penis raksasa itu. Tangan Nada sampai gemetar, sebagai ustadzah sholehah yang sehari-harinya mengajar di pondok pesantren. Dirinya malah sedang mendekap penis raksasa yang tak disunat yang dimiliki oleh kurir pengantar paket yang merupakan laki-laki yang berbeda keyakinan dengannya. Apalagi ia sudah mantap untuk menyerahkan dirinya sekarang. Saat jemarinya telah menyentuh penis itu, terasa keperkasaannya yang membuat Nada sampai takjub dibuatnya. Penis itu sungguh besar. Penis itu sungguh kekar. Meski ujung gundulnya tertutupi oleh kulup tapi hal itu yang malah membuat Nada jadi semakin bernafsu.

Pelan-pelan ia memaju mundurkan genggamannya. Ya, Nada mulai mengocoknya. Ustadzah yang masih berpakaiaan lengkap itu pun mengocok pria tua berperut tambun yang sudah tidak mengenakan pakaian sama sekali itu.

“Aaahhh sayanggg... Aaahhh nikmatnyaaa... Aaahhhhh terusss... Ouuhhh yahhhh” desah pak Heri merem melek.

Nada tidak berkata apa-apa karena matanya terpaku pada keperkasaan penis itu. Apalagi saat kocokannya ia tarik ke belakang sehingga memunculkan ujung gundulnya. Lidah Nada jadi gatal ingin menjilatinya. Saat kocokannya ia majukan ke depan hingga kulup itu kembali menutupi ujung gundulnya. Nada jadi ingin mendekat untuk mencumbu kulup itu menggunakan bibirnya. Nada jadi gemas dan ingin memberikan rasa cintanya dengan cara mencumbu penis gemuk itu. Nada pun menaikan pandangannya sambil terus mengocoknya. Pak Heri hanya menganggukan kepala yang membuat Nada tersenyum bahagia.

Akhirnya ia mulai mendekatkan wajahnya. Ia memajukan bibirnya untuk mencumbu kulup tebal itu dikala kedua tangannya mengocoki batang penis pak Heri secara bergantian.

“Ouuhhhh luarr biasa ustadzaahh... Aaahhhhh... Aaaahhhh yahhhhh... Aaayooo ustadzaaahh lagii... Aaaahhhh yahh” desah pak Heri jadi semakin menyayanginya saat Nada terus mencumbui penisnya disaat tangannya sibuk mengocoknya.

Pak Heri sampai memberikan usapan di kepala Nada. Pak Heri kemudian kembali duduk di sofa agar Nada jadi semakin mudah untuk memainkan penis hitamnya.

Nada yang sedang berlutut dihadapan pak Heri terus mengocoknya sambil menatap penis yang semakin membesar itu. Nada takjub kenapa ukurannya masih bisa membesar padahal sebelumnya juga sudah besar ? Nada sampai geleng-geleng kepala kemudian kembali mendekatkan mulutnya untuk memberikan servis terbaiknya kepada lelaki yang mencintainya.

“Sssllrrpp... Ssllrrpppp” jilat Nada sambil mendekap batang penisnya.

“Ouuhh ustadzaahh... Ouhhh... Ooouhhh mmpphhhh” desah Pak Heri blingsatan merasakan jilatannya.

Lidah Nada dengan telaten menjilati sisi bagian bawah penis pak Heri. Awalnya ia menjilati pangkal penisnya lalu naik hingga sampai di ujung kulupnya. Terkadang jilatannya hanya berada di seputar kulupnya saja. Terkadang jilatannya hanya berada di sekitar kandung kemihnya saja. Bahkan entah belajar dari mana Nada sampai menjilati daerah sekitar lubang anusnya. Pak Heri sampai gemetaran. Pak Heri sangat takjub pada kepiawaian Nada dalam melampiaskan birahinya itu.

“Hihihihi maaf” ucap Nada setelah puas menjilati area sekitar anus pak Heri.

“Huhhh dasar... Nyaris saja saya kejengkang gara-gara ustadzah pengen jilati anus saya” ucap pak Heri yang bikin Nada malu.

“Hhihihih maaf pak, aku kelewat nafsu... Abis kontol bapak gemesin sih” ucap Nada yang hanya membuat pak Heri tersenyum saja.

Nada pun kembali melanjutkan servisnya kali ini dengan memasukan batang penis itu ke dalam mulutnya.

“Mmmpphhhhh besar bangett pakkk” desah Nada saat memasukan setengah dari penis itu ke dalam mulutnya.

“Uwaaaahhhhh gilaaaaa... Masukin yang dalam ustadzaahh... Lebih dalam lagi... Lebih dalam lagiiii !!” pinta pak Heri yang segera dituruti oleh Nada.

“Mmmpphh iyaahhh pakk... Mmpphhhh” ucap Nada mencoba meski tahu ia tidak akan bisa. Mau bagaimanapun ia memaksanya, ia hanya bisa memasukan maksimum setengahnya saja. Ujung kulup itu sudah mentok di kerongkongannya. Nada pun buru-buru memuntahkannya sambil kembali mengocoknya.

Nampak sisa liurnya melekat seolah tidak mau mulutnya itu terlepas dari penis tak bersunatnya. Nada kembali mengocoknya. Kali ini kocokannya sampai membuat ujung gundul pak Heri terlihat. Nada pun menjilatnya yang membuat pemiliknya blingsatan tak karuan.

“Ouuhh yahhh ustadzaaahh... Ouhhhh... Ouhhhh manteepp bangettt” desah pak Heri sampai kelojotan. Tubuhnya gemetaran. Nafasnya ngos-ngosan setelah diservis oleh mulut manis sang ustadzah.

“Mmmpphhhh... Mmpphhh... Mmmpphhh”

Ditengah keadaan pak Heri yang blingsatan, Nada justru kembali mengulumnya. Ia mengulum ujung gundulnya yang keluar. Kali ini ia mengulumnya dengan begitu cepat. Ia menaik turunkan wajahnya dengan begitu sigap. Ia melakukannya sambil mengocok batang penisnya yang berada di luar mulutnya.

“Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhh ustadzaaahhh” desah pak Heri merem melek tak kuat.

Tapi Nada tak peduli. Ia terus mengulum ujung gundulnya bahkan juga memberikan jilatan ternikmat yang membuat penis pak Heri mulai cenat-cenut merasakan nikmatnya.

“Aaahhhh cukuuppp... Cukuppp ustadzaaahhh... Aaahhhh... Aaahhhhhhhh” desah Pak Heri saat tiba-tiba Nada menghisap ujung gundulnya sekuat-kuatnya.

“Ssslllrrppp mmppphhhhhhh” desah Nada menghisapnya sambil menarik batang penis pak Heri kebawah.

Pak Heri serasa terbang melayang. Rasanya sungguh nikmat. Ia sampai kelojotan sebelum Nada melepaskannya disaat yang tepat.

“Aaahhh cukuupp... Cukuuupp ustadzaahh... Aaahhhhhh” desah Pak Heri dengan keras yang membuat Nada senyum-senyum saja.

Untungnya Nada mengeluarkannaya disaat yang tepat sehingga pak Heri tidak duluan keluar saat diservis oleh mulut manisnya.

“Hihihihih gimana pak ? Lega ?” tanya Nada tanpa tahu malu.

“Hah... Hah.... Hah... Lega gimana ? Yang ada malah tambah penasaran ustadzah !” ucap pak Heri kesal yang hanya membuat Nada cekikikan saja.

“Waahhh liat deh pak... Basah banget kontol bapak... Kontol bapak jadi keliatan gede bangettt” ucap Nada takjub.

“Hah... Hah... Hah... Ini belum seberapa ustadzahh... Ustadzaah penasaran kan ? Kenapa gak kita langsung aja ?” ucap pak Heri yang tak tahan ingin segera menikmati serabi lempit Nada.

“Hihihihi bapak udah mau ngentot yah ?” Tanya Nada sambil berdiri menatap wajah kurir tua itu.

“Iyya sayaanngg... Saya udah gak kuat ingin ngerasain goyangan nikmatmu lagi !” ucap pak Heri dengan penuh nafsu saat menatap wajah cantik Nada.

“Hihihihi sama pak... Aku juga” ucap Nada yang perlahan mulai menurunkan celana jeansnya yang sengaja ia pakai agar tidak ada orang yang tahu kalau dirinya merupakan seorang ustadzah yang menginap di rumah selingkuhan tuanya.

Pak Heri tersenyum saat pelan-pelan celana jeans itu mulai jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Tubuh Nada yang begitu semampai membuat pak Heri semakin tak tahan ingin segera mengeksekusinya. Ia ingin sekali menancapkan penisnya sedalam-dalamnya. Ia ingin sekali membuat ustadzah seksi itu berteriak-teriak saat merasakan hujaman mautnya.

Saat celana Nada sudah jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Nada sambil malu-malu melangkah mendekat tuk menaiki pangkuan kurir tua itu lagi. Kedua kakinya ia renggangkan. Celana dalamnya ia lebarkan untuk membiarkan penis tak bersunat itu masuk membelah liang senggamanya.

“Bapak siaapp ?” tanya Nada dengan manja saat merasakan ujung kulup itu sudah mengenai bibir vaginanya.

“Siapp sayanggg” ucap pak Heri dengan yakin yang membuat Nada segera menurunkan tubuhnya secara perlahan.

“Uuuuuhhhh bappaaaaakkkkk” desah Nada dengan manja sambil memejam nikmat. Kedua tangannya ia taruh di kedua pundak pak Heri. Tubuhnya yang jangkung itu ia turunkan. Namun penetrasi penis pak Heri saat membelah vaginanya benar-benar membuatnya kelojotan tak karuan. Rasanya sungguh nikmat. Sensasi gesekan ujung kulup itu saat mengenai dinding vaginanya membuatnya tak bisa berkata-kata. Rasanya seperti tersengat arus listrik yang begitu kecil. Nada tak bisa membuka matanya. Nada juga tak bisa menutup mulutnya.

“Ouuuhhh mantaappp sekaliii ustadzaaahhhh” desah pak Heri merem melek sambil memeriksa reaksi wajah Nada yang begitu sangek.

Pak Heri puas saat ustadzah seksi yang tinggal mengenakan hijab serta kaus panjang ketat yang mencetak bentuk tubuhnya itu sedang berusaha menguasai penis tak bersunatnya. Nada terus menurunkan tubuhnya secara perlahan-lahan. Ia pun terus menurunkannya hingga penis itu akhirnya mentok mengenai dinding rahimnya.

“UUuuhhh paakkkkk... Aaahhhhh... Aaahhhhh” desah Nada hingga tubuhnya kelojotan. Mata Nada merem melek tak karuan. Setelah dirinya kembali menguasai dirinya, rasa malu pun memenuhi tubuhnya.

“Hihihi maaf” ucap Nada malu-malu.

“Wakakakak itu normal ustadzah... Jangan malu... Wajar kalau ustadzah sampai kelojotan kayak gitu... Lagian hebat juga ustadzah bisa mentokin kontol saya yang gede ini” puji pak Heri yang membuat Nada merasa malu.

“Hihihihi iya donggg... Sayang soalnya kalau gak sampai dimentokin... Aku ingin menghadiahi orang-orang yang mencintaiku seperti bapak soalnya... Tolong puasi aku yah pak... Tolong puasi aku hingga aku tidak pernah menyesal karena sudah dicintai oleh bapak” ucap Nada sambil menatap wajah pak Heri saat kemaluan mereka telah bersatu.

“Iyya sayanggg... Saya mencintaimu... Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan dirimu !” ucap pak Heri bertekad.

“Makasih yah pak... Hmmm boleh minta tolong katakan itu sekali lagi pak” pinta Nada.

“Ehh yang mana ?”

“Yang itu, kalau bapak mencintai aku... Aku suka pas bapak mengatakan itu ke aku pak” Ucap Nada yang membuat pak Heri tersenyum.

“Saya mencintaimu sayang... Saya mencintai dirimu tidak hanya karena keindahan rupamu tapi juga keindahan hatimu... Saya akan membuatmu bahagia... Saya akan membuatmu jatuh cinta sejatuh-jatuhnya kepada diri saya” ucap pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.

“Aku sayang bapak... Aku juga mencintaimu pak” ucap Nada dengan manja yang langsung menghadiahi pak Heri dengan cumbuan penuh kasihnya.

“Saya juga ustadzaahhh... Saya akan mencintaimu... Saya akan memberikan segalanya untukmu... Mmppphhhh” desah pak Heri membalas cumbuan Nada.

“Makasihh pakk... Sekarang aku mulai yah” ucap Nada yang sepertinya sudah yakin dengan keputusan yang dibuatnya. Ia telah jatuh cinta. Ia telah jatuh cinta pada lelaki tua yang sedang berada di hadapannya.

“Silahkan sayanggg... Saya akan menikmati servismu” ucap pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.

Diangkatnya tubuh indah itu oleh pemiliknya. Terasa gesekan nikmat yang diterima olehnya. Nada memejam. Nada mengeluarkan suara desahan yang menggairahkan. Namun ia mencoba membuka matanya untuk menatap wajah pejantannya. Tatapan penuh nafsu yang diberikan oleh pak Heri membuat Nada semakin malu-malu. Nada tersenyum. Ia tidak mau kehilangan momen ketika berduaan bersama pejantan tuanya.

“Mmmpphhhh... Mmmpphhhh” desah Nada yang membuat pak Heri tersenyum puas.

“Aaaahhhhh... Aaahhhh sayaannggg... Aayyoo laggiii... Ayyoo uuhhhhhh” desah pak Heri sambil mendekap pinggang rampingnya.

Mata mereka bertatapan. Mata mereka saling pandang dengan penuh kemesraan. Tiap kali tubuh Nada bergerak naik, pak Heri memejam merasakan gesekan yang ia terima di penis besarnya. Tiap kali Nada bergerak turun, pak Heri juga memejam merasakan ujung kulupnya sampai mentok di dalam rahim hangatnya. Kedua tangan pak Heri pun mengusap mesra pinggang rampingnya yang masih tertutupi kaus panjangnya. Pak Heri menikmatinya. Ia menikmati momen berduanya kendati Nada masih menggerakan tubuhnya secara perlahan.

“Aku mencintaimu pak... Aku mencintai bapak... Tolong terima persembahan dariku pak... Aku akan memuaskan bapak... Aku akan menghadiahi bapak karena sudah mencintaiku dengan tulus” ucap Nada yang sudah dimabuk kepayang.

“Wakakakaka... Saya lebih mencintaimu ustadzah... Silahkan, silahkan berikan apa yang ustadzah inginkan... Saya akan menerimanya dengan lapang dada” ucap pak Heri tertawa yang membuat Nada tersenyum malu.

Lengan Nada mendekap leher bagian belakang pejantannya. Nada menggantungkan lengannya sambil memandang wajah pejantannya dengan mesra. Sementara itu, pergerakan tubuhnya lama-lama semakin cepat. Tubuhnya ia naik turunkan dengan cepat. Dikala Nada menaikan tubuhnya, ia hanya menyisakan ujung kulupnya saja yang menyangkut di lubang vaginanya. Saat ia turunkan, ia benamkan tubuhnya sedalam-dalamnya hingga Nada sendiri merasakan dorongan yang menyundul rahimnya. Nada merasakan nikmat disana. Ia mengigit gigi bagian bawahnya tuk menahan nikmat yang ia rasakan. Nada tersenyum mesra. Nada tanpa sadar memajukan wajahnya untuk mencumbui laki-laki yang sudah mencintainya dengan penuh kemesraan.

“Bapaaakkk mmphhhh” desah Nada dengan manja.

“Wakakakaka iyya sayanngg” ucap pak Heri sambil menerima cumbuan yang Nada berikan.

Mereka bercumbu. Mereka melampiaskan nafsu yang sudah lama terkumpul sejak dulu. Bibir mereka bersentuhan. Bibir mereka bertabrakan. Nada mendorong bibirnya sekuat tenaga untuk melampiaskan cinta yang ia berikan. Pak Heri pun bertahan sambil memeluk pinggang Nada yang begitu elok dan menakjubkan. Tubuh pria tambun yang sudah bertelanjang bulat itu dipeluk mesra oleh ustadzah cantik bertubuh sempurna yang sudah dimabuk oleh cinta. Nada terus mencumbunya. Nada melampiaskan nafsunya sambil terus bergerak naik turun untuk menggoyang penis pejantannya.

“Mmppphhh bapaakkk... Mmmpphhh kenapaaa sihhh bapak bisa mencintai diriku ? Kenapa bapak bisa mencintai wanita yang sudah ternodai oleh orang-orang dibelakang bapak ?” ucap Nada sambil mencumbunya.

“Mmpphhh ustadzaaahh... Mmpphh jangan bilang gituuu... Ustadzah seperti itu bukan karena keinginan ustadzaahh kan... Itu cuma kecelakaan semata kan ?... Lagipula saya tidak peduli dengan latar belakangmu... Karena saya sudah mencintaimu sejak lama... Bahkan sejak pertama kali bertemu denganmu... Saya jatuh cinta karena kecantikan wajahmu... Saya jatuh cinta karena keelokan tubuhmu, ustadzah” ucap pak Heri sambil melepaskan cumbuannya untuk menatap tubuh indah Nada dari atas ke bawah.

Nampak Pak Heri tersenyum puas melihat Nada bergoyang dengan binal. Nada jadi tersipu. Tapi ia jadi ingin membalas tatapan mesum pria tua itu dengan kepuasan yang akan ia berikan melalui goyangan penuh nafsu yang akan ia lakukan diatas tubuh pria tua itu.

“Aku juga mencintai bapak karena sikap baik bapak ke aku... Ini terima goyanganku pak... Ini hadiah dari aku karena bapak sudah mencintaiku dengan tulus” ucap Nada sambil bergoyang memutar mengaduk-ngaduk penis pejantannya didalam rahimnya.

“Aaahhh... Aahhhh... Aahhhhh ustadzaaahhh” desah pak Heri gelagapan meladeni goyangan penuh nafsu dari ustadzah cantik itu.

Nada tidak lagi mendekap tubuh tambun itu. Ia hanya menaruh kedua lengannya di sisi kanan kiri tubuhnya. Sedangkan matanya menatap tajam ke arah wajah pejantannya. Pinggulnya terus bergerak memutar. Awalnya dari kanan lalu ke belakang lalu ke kiri lalu ke depan. Ia melakukan gerakan memutar dan kadang melakukan gerakan yang berlawanan ke arah sebaliknya. Penis pak Heri sudah seperti persneling mobil yang diputar-putar oleh seseorang saja. Penis pak Heri seperti sedang diganti giginya saja. Pak Heri hanya bisa geleng-geleng kepala saja apalagi yang melakukannya adalah seorang ustadzah paling seksi yang memiliki body goals terbaik.

“Aahhhh... Aahhhh... Aaahhh bappaakkk... Aahhh enakk bangett... Aaahhhh” desah Nada yang mulai keenakan akibat vaginanya sudah sangat basah dipenuhi cairan cintanya.

“Wakakakak.... Kalau keenakan dipercepat dong... Goyang yang cepat dong ustadzaahh... Puaskan nafsumu... Lampiaskan semuanya ke saya” ucap pak Heri menyemangatinya yang membuat Nada menuruti kata-katanya.

“Aahhhh... Aahhh... iyyahh pakk... Iyyaahh... Ouuhhhhh” desah Nada dengan menunjukan wajah binalnya.

Kali ini Nada melakukan gerakan maju mundur diatas pangkuan kurir pengantar paket itu. Gerakan tubuhnya yang gemulai membuat goyangannya jadi semakin indah andai ada yang melihatnya dari sisi samping. Dikala Nada menurunkan tubuhnya. Ia terus menekan pinggulnya agar ujung kulup kurir tua itu bisa menekan rahimnya hingga dirinya mendapatkan kenikmatan maksimal. Nada semakin bernafsu. Ustadzah cantik itu sudah merelakan tubuhnya untuk pria tua itu.

“Mmmpphhh... Mmpphhhhh... Paakkk... Paaakkkkk” desah Nada sambil menatap wajah pria tuanya.

“Ada apa sayanggg ?” tanya pak Heri sambil tersenyum.

Nada jadi merasa malu. Ia pun tidak jadi untuk bertanya pada kurir tua itu.

“Waakakaka... Kalau malu-malu gitu bikin saya makin gemes aja ustadzahh... Ayoo oustadzahh... Yang cepattt... Gerakan pinggulnya yang cepatt... Aahhh iyahh begituu... Teruss... Aahhh... Aaahhhhh” desah pak Heri kewalahan dalam meladeni nafsu besar ustadzahnya.

“Aaahhh iyaaahhh... Iyyaahhh pakk... Ouhhh... Ouuhhhh” desah Nada bergoyang sambil meremas dadanya dari luar kaus yang masih dikenakannya.

Nada merasa gemas. Tubuhnya terasa panas. Nada jadi ingin bertelanjang untuk menunjukan dadanya yang sedang tegang.

“Wuiiddiihh” ucap pak Heri kagum saat Nada menaikan kausnya hingga buah dada Nada yang masih terbungkus branya terlihat.

“Aaahhh... Aaahhhhh... Rasanya panas bangett pakk... Akuuu ingin lebihhh... Aku juga ingin telanjang kayak bapak” ucap Nada sambil melepas behanya hingga puting susunya terlihat.

“Wakakakakak... Betul ustadzah... Bercinta akan lebih nikmat kalau sudah bertelanjang bulat... Ayo remes susumu ustadzah... Tunjukkan ke saya kalau susumu itu memang diciptakan untuk diremas-remas oleh seseorang” ucap pak Heri yang membuat Nada menurutinya dengan segera.

“Aaahhhh iyahh... Iyyahhh... Aaahhh nikmat banget... Nikmat banget rasanya pakkk” desah Nada sambil meremas-remas dadanya yang semakin kencang.

Dikala Tubuh Nada naik turun. Kedua jemarinya memainkan puting susunya dengan penuh nafsu. Kadang Nada memelintirnya. Kadang Nada menariknya. Kadang Nada menekannya hanya untuk menunjukkan pada pria tua di hadapannya kalau putingnya itu diciptakan untuk dimainkan seperti ini. Pak Heri semakin bernafsu. Pak Heri pun mendekatkan wajahnya ke arah dada Nada untuk mencumbu.

“Aaahhhh... Aaahhhh paakk... Aaahhh jangann digigit” desah Nada saat merasakan gigitan pak Heri di putingnya.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Maaaf ustadzahh... Saya bernafsu wakakakaka” tawa pak Heri saat menikmati keindahan tubuh Nada.

“Aaahhh... Aahhhh iyyahh gapapaa... Tapi jangan digigittt juga paakkk” desah Nada yang semakin kehilangan akal sehatnya saat menikmati persenggamaannya. Nada pun mempercepat hujamannya bahkan mementokan penis pejantannya sedalam-dalamnya di dinding rahimnya.

“Mmpphh bentar pakk... Aku mau lepas baju dulu yahhh” ucap Nada saat menghentikan laju goyangannya untuk meminta izin kepada pejantannya.

“Silahkan sayang... Tunjukkan keindahan tubuhmu pada saya” ucap pak Heri tersenyum saat Nada mulai berdiri di hadapannya lalu mengangkat kausnya hingga bulatan dada itu terhidang seluruhnya di hadapan matanya. Nada pun menurunkan celana dalamnya. Bahkan ia juga melepas hijabnya hingga rambut panjangnya yang tergurai indah di punggungnya terlihat di hadapan pejantannya. Nada jadi malu-malu saat telanjang bulat dihadapan pria tua itu. Tangannya bahkan sampai menutupi payudaranya saat tatapan pak Heri jadi semakin bernafsu saat melihatnya.

“Gimana pak ? Tubuh aku ?” tanya Nada sambil malu-malu.

“Luar biasa sekali ustadzah... Saya suka... Tubuh ustadzah itu kesukaan saya banget” puji pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.

“Hihihi syukur deh kalau bapak suka... Hmmm, bapak tiduran yah... Supaya aku bisa goyang bapak secara maksimal” ucap Nada meminta Pak Heri untuk menidurkan tubuhnya.

“Wakakakak... Masih ingin goyang saya yah ? Oke lah... Saya tiduran diatas tiker aja yah” ucap pak Heri sambil membaringkan tubuhnya diatas tiker yang berada di sebelah meja ruang tamunya. Saat kurir tua itu sudah berbaring, nampak perut tambunnya bak sebuah bukit yang membuat Nada tersenyum saat melihatnya.

Dasar bapak gendut !

Batin Nada senyum-senyum sendiri.

Nada yang sudah bertelanjang bulat kembali menaiki penis tak bersunat itu. Saat penis itu kembali ambles membelah liang senggamanya, Bidadari binal itu langsung memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Saat tubuhnya semakin ia turunkan terasa tusukannya yang ia terima semakin dalam. Saat tubuhnya semakin ia benamkan terasa penis itu menusuk hingga menyentuh rahim kehangatannya.

“Aaaahhhhhhhhh paaakkk” desah Nada menikmati tusukannya.

Nada lalu terdiam sambil menatap pak Heri. Pak Heri tersenyum, tangannya meraba-raba pinggul Nada yang sudah tak tertutupi apa-apa. Ia mendekapnya, merabanya, merasakan kehalusan yang dimiliki oleh kulit mulusnya.

“Ayo lanjut ustadzah... Tunjukkan keindahanmu pada diri saya” ucap pak Heri sumringah.

“Mmpphh iyaahh pakk... Siap laksanakan” ucap Nada yang membuat pak Heri senyum-senyum saja.

Sedikit demi sedikit tanpa merasa malu lagi. Bidadari cantik itu bergoyang membuat penis yang dimiliki oleh kurir tua itu semakin senang. Nada memejam sambil bertumpu pada perut buncit pak Heri. Rasanya sungguh nikmat membuat pinggulnya terus bergoyang secara horizontal. Ia memulai lagi dari kanan ke depan terus ke kiri lalu ke belakang. Ia berputar tiga ratus enam puluh derajat tuk merangsang penis tak bersunat itu.

“Ouhhh... Ouhhhh... Nah seperti itu, Ayo ustadzahh... Ayoo goyang terus... Goyang terusss ahhhhhh” desah pak Heri puas.

Desahan yang terucap dari mulut pak Heri membuat Nada semakin bersemangat saja. Nada pun tak terpikirkan apa-apa lagi selain tuk memuaskan nafsu birahinya. Ia terus bergoyang menikmati penis tak bersunat milik pak Heri di dalam.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Nada.

Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang sudah tidak mengenakan apa-apa itu menatap wajah pria tua yang sedang berbaring ditunggangi olehnya dengan tatapan tak percaya. Ia terus menggenjot tubuh pak Heri sambil memberikan tatapan tak percaya. Payudaranya yang besar itu sudah mengencang. Payudaranya yang sedang membusung seolah menantang wajah pria tua itu yang sedang terpana.

Aahhh... Aahhhh... Inikah takdirku ? Untuk memuaskan laki-laki yang sudah mencintaiku ?

Batin Nada sambil menatap matanya.

Sepertinya ya, aku diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu lelaki yang mencintaiku... Aku harus menunjukkan segalanya... Aku harus tunjukkan kebinalanku pada pak Heri, laki-laki yang mencintaiku sepenuhnya.

Batin Nada sambil tersenyum manis menatapnya.

“Aaahhhh.. Aahhh... Aahhhh... Enakkk pakk... Rasanya enakk bangett... Ouuhhh kontol bapak enak banget pakkk” desah ustadzah itu dengan binal. Ia mendesah sambil menaik turunkan tubuhnya dengan mantap. Ia kadang juga meremasi payudaranya karena tak tahan sambil memejam menatap langit-langit ruangan.

“Wakakakakaka... Ahhhh... Ahhhh... Sudah jelas kan ustadzah... Kontol saya dari dulu emang nikmat... Apalagi dengan bentuknya yang unik beda dengan yang lain... Terus goyang kontol saya ustadzah... Lampiaskan semuanya ke saya” kata pria tua bertubuh tambun yang tengah menikmati goyangan ustadzah yang sudah bertelanjang bulat itu.

“Aaaahhhh iyyahh pakk... Rasanya beda... Kontol bapak paling bedaaa... Aku suka kontol bapak yang ada kulupnya pakk... Aahhh tahan yah pak... Aku mau mempercepatnya... Tolong jangan keluar duluan” ucap Nada semakin binal.

“Wakakakak... Gak akan ustadzah... Kontol saya itu panjang, kuat, berurat dan tahan lama.... Gak mungkin saya buru-buru keluar... Saya akan menikmati keindahan tubuhmu lebih lama lagi” desah pak Heri bernafsu.

Nada sebagai ustadzah sholehah sampai merinding mendengar ucapannya itu. Ia tersenyum. Ia pun puas dengan ucapan pak Heri yang berkata kalau penis yang ditungganginya bisa tahan lama. Tubuhnya tanpa sadar bergerak naik turun dengan cepat. Ia terus menekan pinggulnya hingga dapat merasakan titik terdalam dari penis yang tidak disunat itu. Tubuh Nada merasa panas. Ia merasa semakin bergairah. Ia meremas dadanya sambil mengangkat tubuhnya hingga kulup dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.

“Uhhhhhhhhhh” desahnya sambil memanyunkan bibirnya.

Jleeebbbbbbb !

“Paakkkkkkkkk.... Aahhhhhhhhh”

Nada mendesah ketika ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu langsung menyundul rahim kehangatannya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Nada merasa ketagihan. Ustadzah itu terus mengaduk penis tak disunat yang dimiliki oleh pria tua itu. Kedua payudaranya yang ia remas-remas merangsang birahi pak Heri yang membuat pria tua itu tertawa senang.

“Wakakakakak... Terus ustadzah... Goyangkan pinggulmu... Nikmati keperkasaan kontol saya yang sedang mengaduk-ngaduk memekmu, ustadzah !” kata Pak Heri menertawakannya.

“Aahhhhh... Iyyahhh.., pakkk... Ouhhhh nikmat banget... Nikmat banget rasanya kontol bapak !” desah Nada dengan begitu puas.

“Wakakakka adukk terusss.... Remasss susu bulatmu... Tatap mata saya... Puaskan nafsumu ke saya... Lampiaskan semuanya... Lampiaskan semua kekecewaanmu dan cintamu ke saya !” ucap pak Heri yang membuat Nada semakin binal dalam menggoyang penis pejantannya.

“Aahhhhh... Aahhhh... Aahhh iyyahh pakk... Aaahhh enakk bangett... Enakk bangett pakkk !”

Goyangan Nada yang semakin binal serta desahan suaranya yang semakin menggairahkan membuat pak Heri tidak tahan lagi untuk melihatnya saja. Pinggulnya jadi semakin gatal. Kedua tangannya langsung mendekap pinggul rampingnya lalu pinggulnya ia gerakkan naik hingga Nada sampai meloncat ke atas lalu turun dengan cepat ke bawah.

“Aaaahhh paaakkk” desah Nada khawatir terjatuh.

“Aaahhhhh... Aaahhhh ayoo goyang lagi ustadzaahh... Goyangg lagi yang cepaatt... !” desah pak Heri dengan penuh nafsu sambil menggerakkan pinggulnya naik dan turun.

“Aaahhh iyaahhh... Aahhh pakkkk.... Paakkk... Paaaakkkk aaaahhhhh” desah Nada dengan suara bergetar saat tusukan pak Heri semakin kuat. Ia pun mendekap tangan pak Heri di pinggulnya. Matanya memejam karena tak sanggup menahan hujaman yang begitu kuat.

Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!!” Nada meronta-ronta. Tubuhnya melonjak-lonjak. Desahannya meraung-raung saat tusukan pak Heri melaju dengan kecepatan penuh.

Pergerakan payudara Nada yang begitu indah menjadi kekuatan tersendiri bagi pak Heri untuk memompa pinggulnya lebih. Ia menusuk kemaluan Nada dengan penuh gairah. Desahan-desahan yang terucap jadi semakin keras. Nafsu yang mereka tahan pun tidak mampu mereka bendung lagi. Pak Heri melampiaskan seluruh nafsunya. Ia melampiaskannya dengan mempercepat hujamannya hingga tubuh Nada melonjak-lonjak naik tak karuan.

“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh” desah mereka bersamaan.

Nafsu sudah tak mampu mereka tahan lagi. Keduanya sudah mendekati batas maksimal. Kenikmatan yang mereka rasakan tidak dapat mereka tahan lebih lama lagi. Pak Heri mempercepat gerakannya. Nafasnya sudah berat. Dirinya sudah terengah-engah begitupula Nada yang mulai kelelahan.

Nampak tubuh Nada mengejang. Kedua payudaranya jadi begitu kencang. Ia jadi semakin indah saat sedang bertelanjang. Nada pun menatap pak Heri dengan tatapan sayuk. Pak Heri membalasnya dengan tatapan penuh nafsu. Pria tambun itu tidak kuat lagi. Akhirnya dengan satu tusukan yang mantap, ia menghentakan pinggulnya naik sedalam-dalamnya sambil menarik tubuh Nada turun ke arah selangkangannya.

Jleeeebbb !!!!

“Aahhhhhhhh baappakkkkkkk” desah Nada hingga kepalanya ia tegakkan menatap langit-langit ruangan.

“Manntaaappppp... Saya keluuaarrrr !!!”

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

Pak Heri mendesah begitupula Nada. Semprotan spermanya yang begtu kuat membuat birahi Nada terpanggil hingga menyusul tak lama kemudian. Kaki pak Heri sampai melemah dan nafasnya pun terengah-engah. Nada yang lemas akhirnya ambruk menindihi lelakinya. Nada pun pasrah saat tubuh telanjangnya dipeluk olehnya dan bibirnya dicumbu dengan penuh mesra olehnya.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh” desah mereka saat bercumbu untuk menikmati sisa-sisa orgasme yang mereka dapatkan di pagi hari ini.

Nada benar-benar puas. Matanya sampai merem melek keenakan. Dadanya yang besar terhimpit oleh dada tambun pria tua itu. Pak Heri juga puas. Ia berulang kali mengusap punggung mulusnya sambil menekan-nekan bokongnya agar penisnya yang berada di dalam semakin terbenam di dalam liang senggamanya.

“Saya puas banget, ustadzah... Saya bahagia... Saya mencintaimu, ustadzah” ucap pak Heri sambil menatap wajah Nada.

“Aku juga pak... Aku puas banget... Makasih sudah mencintai diriku sepenuhnya” ucap Nada sambil memeluk erat tubuh pejantannya yang berkeringat.

Saat sedang asyik-asyiknya berpelukan, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Nada terkejut begitupula pak Heri. Mereka berdua lekas berbalik ke arah pintu masuk. Rupanya ada seorang lelaki yang berdiri termenung saat tak percaya dengan apa yang ia lihat dihadapannya.

“Eehhhh” ucap Nada kaget.

Nada buru-buru bangkit dalam posisi duduk dengan kaki melipat menyamping. Kedua tangannya menutupi dadanya sebisanya. Wajahnya terlihat malu saat lelaki yang wajahnya tak asing itu melihatnya tak percaya. Pak Heri juga demikian. Ia lekas berdiri sambil mengambil celananya untuk menutupi ketelanjangannya.

“Pakk Heriii ? Mbakk Nada ? Kaliaann... Anu, maap” kata mamang penjual bakso yang merupakan teman dekat pak Heri.

“Wakakka dasar ganggu aja ! Ada apaan emangnya ?” tanya pak Heri sambil mendekat setelah mengenakan celananya.

“Anuuu kaliaann... Kaliannn abis . . . . . ?” tanya lelaki itu tak percaya. Ia pun mengintip ke arah selangkangan Nada yang agak sedikit terbuka. Nampak sperma pak Heri keluar dari sela-sela vaginanya.

“Apa ? Wakakaka... Wajar dong, dia kan pacar saya... Oh yah sayang, silahkan masuk dulu... Ada temen laknat yang udah ganggu waktu kita” ucap pak Heri pada temannya lalu ke Nada.

“Iyya pak” jawab Nada malu-malu. Sambil menutupi dadanya, ia mengambil pakaian yang berserakan di ruang tamu. Ia pun pergi menuju kamar pak Heri setelah memungut semua pakaiannya.

“Ada apa ?” tanya pak Heri.

“Gapapa... Tadi cuma mau nagih utang aja pak... Tapi gak nyangka pak Heri malah lagi asyik-asyik sama pacarnya” tanya mamang penjual bakso itu mupeng.

“Wakakakakak dasar ! Berapa sih ?” tanya pak Heri.

“Sepuluh ribu” ucap mamang itu sambil melirik ke arah kamar pak Heri.

“Nih dah sana pergi... Lain kali kalau mau masuk ketok dulu yah mang” ucap Pak Heri sambil tertawa.

“Iyya pak maaf” ucap mamang itu langsung pergi. Namun pikirannya masih kemana-mana apalagi saat membayangkan tubuh indahnya.

Gila pak Heri... Bisa-bisanya dia dapet spek bidadari !

Batin mamang penjual bakso itu sambil meremas penisnya yang mulai tegang.


*-*-*-*


Sementara itu di pesantren.

"Lastri... Kalau nanti ana dicariin ustadzah Aini, bilangin ana mau jalan-jalan sebentar yah" Ucap seorang santriwati berwajah cantik yang tengah mengenakan kaus panjang berwarna putih serta celana longgar berwarna biru yang tidak membentuk kaki jenjangnya. Kendati pakaian yang dikenakannya terlihat santai, namun pesona wajah serta aura yang terpancar yang dimilikinya membuat penampilannya di pagi hari itu terlihat begitu mempesona. Ia terlihat sangat ahli dalam mencocokan tiap pakaian serta warna yang menjadi tema penampilannya. Penampilan santainya pun berubah menjadi penampilan yang memanjakan mata. Tak jarang penampilannya itu menyedot perhatian santri lain juga ustadz-ustadz yang berada di sekitarnya.

Nampak cardigan berwarna pink melingkar di bahunya. Nampak senyum indahnya terhias di wajahnya. Nampak aura kecantikannya begitu memancar pada dirinya. Santriwati yang disebut sebagai the next ustadzah Haura itu pun pamit pada sahabatnya untuk meninggalkan markaz konsulat untuk berjalan-jalan mencari angin segar.

"Eh Salwa mau kemana ? Nanti kalau ana ditanyain ustadzah Aini gimana ? Bentar lagi bisnya dateng loh" Ucap Lastri pada sahabatnya.

"Hihihi tenang... Bisnya berangkat abis dzuhur kan yah ? Sekarang juga baru jam 9... Masih ada 3 jam lebih loh... Ana bosen tau disini terus" Ucap Salwa kekeh ingin pergi.

"Ihhh tapi kan, kita diminta buat gak pergi jauh-jauh dari markaz" Ucap Lastri mengingatkan Salwa.

"Iyya iya... Tenang, ana mau ke asrama sebentar kok... Sekalian ngecek kayaknya ada barang yang ketinggalan disana" Ucap Salwa yang akhirnya membuat Lastri luluh.

"Huuuuu... Awas aja yah kalau sebelum dzuhur belum kesini... Ana gak mau dimarahin ustadzah Aini loh gara-gara anti" Ucap Lastri yang membuat Salwa tertawa.

"Hihihi tenang, anti gak akan dimarahin kok... Ana bakal dateng sebelum bisnya dateng" Ucap Salwa sambil mengedipkan mata yang membuat Lastri hanya tersenyum saja.

Dasar... Nyebelin banget sih anti ini !

Batin Lastri pada sahabat dekatnya.

Sebagai santriwati tercantik, terpintar dan paling termasyhur se-pondok pesantren ini. Kehadiran Salwa tampak mencolok dengan penampilan indahnya di pagi hari ini. Tiap kali Salwa melangkah, banyak santri yang mencuri-curi pandang untuk dapat melihat kehadirannya. Sebagian mereka hanya penasaran untuk mencari tahu mana sih yang namanya Salwa itu ? Sebagian yang sudah mengetahui Salwa tetap ingin melihatnya hanya karena ingin dimanjakan oleh kecantikan wajahnya. Sebagian yang melihatnya hanya karena ingin mengumpulkan fantasi sebanyak-banyak yang kemudian mereka lampiaskan ketika berada di kamar mandi.

Bukan suatu rahasia lagi kalau sosok Salwa sering dijadikan objek onani oleh para santri. Sikapnya yang tidak mudah didekati juga ekspresi wajahnya yang terkesan dingin membuat para santri semakin penasaran untuk dapat mengenal sosoknya. Padahal Salwa bersikap seperti itu untuk menjaga dirinya. Ia juga sudah mendengar berita soal dirinya yang dijadikan objek fantasi. Maka tak heran dirinya akan berusaha untuk menutup diri kendati hal itu malah membuat orang-orang jadi semakin penasaran kepadanya.

"Hah"

Salwa mendesah. Salwa masih kepikiran soal hadiah yang belum ia serahkan kepada ustadz yang dicintainya. Padahal sudah berhari-hari ia merencanakan penyerahan hadiah ini. Padahal sudah berkali-kali ia berusaha untuk menyiapkan diri. Padahal ia sudah merasa yakin tapi ia masih belum bertemu dengan ustadz tampan yang telah mencuri hatinya.

"Ustadz V kemana sih ?" Lirih Salwa sambil melihat sekitar.

Salwa tak memperdulikan tatapan para santri yang berada di sekitarnya. Salwa acuh, karena ia tak peduli dengan tatapan penuh nafsu yang mereka layangkan saat itu. Meski penampilan Salwa terkesan berbeda dengan apa yang biasa ia kenakan sehari-hari selama menjadi santriwati. Penampilan Salwa sudah seperti gadis remaja yang tumbuh besar di pusat kota. Penampilannya seperti gadis sampul yang sebentar lagi akan melakukan aksi pemotretan. Penampilannya yang ketje badai itu lah yang membuat mata-mata santri semakin dimanjakan oleh kecantikan Salwa. Maka tak heran kalau banyak dari santri atau para ustadz yang menyamakan sosok Salwa ini dengan sosok Haura dikala masih muda, dikala belum dinikahi oleh suaminya.

"Padahal sebentar lagi aku mau liburan, kenapa aku makin sulit untuk bertemu dengannya yah ? Apa jangan-jangan karena kami bukan jodoh, kami sengaja dipisahkan dengan cara seperti ini ? Jangan deh... Tolong dongg... Aku maunya cuma sama ustadz V aja... Aku gak rela kalau nikah sama ustadz yang lain" Ucap Salwa yang begitu mendambakan sosok V.

Ia masih ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan lelaki yang sangat dicintainya itu. Ia yang saat itu berada di titik terendah setelah berulang kali dilecehkan oleh ustadzah Syifa tiba-tiba dipertemukan dengan ustadz V. Ia langsung terpesona saat itu. Apalagi saat ustadz V dengan perhatian menasehatinya lalu menghiburnya yang membuat Salwa semakin yakin kalau ustadz V adalah jodohnya, jodoh yang akan menyelamatkan dirinya dari dosa persetubuhan sejenis yang dulu sering ia jalani.

Ya, ustadz V memang tampan. Tapi bukan itu alasan utama kenapa Salwa sampai tergila-gila padanya. Salwa menyukainya karena ia merasa yakin kalau V adalah lelaki yang mampu menyelamatkannya dari hubungan sesama jenis yang belakangan sudah tak ia jalani lagi. Terbukti setelah dipertemukan dengan V, ia tak pernah lagi melakukan hubungan sejenis. Bahkan ia tak menyukainya lagi. Tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk melakukan perbuatan dosa yang terlaknat itu lagi.

"Hah" Desah Salwa sambil menatap pemandangan yang berada di depan asramanya. Kebetulan disana ada taman kecil yang ditumbuhi bunga-bunga. Memang bunga itu tak sebanyak yang ada di taman utama dimana dirinya pertama kali bertemu dengan V. Tapi bunga-bunga yang ada di depan gedung asramanya sudah cukup untuk menenangkan dirinya.

Hampir tiap hari, ketika dirinya dilanda oleh masalah yang menghantui. Salwa selalu datang kesini untuk menenangkan diri. Ia pun berdiri. Wajahnya menghadap ke depan menuju arah bunga yang berduri. Tangan kanannya memegangi sisi bawah hijabnya yang berada di tepi. Salwa merenung seorang diri. Salwa tersenyum di dalam hati.

"Loh Salwa... Kok belum pulang ?" Ucap seseorang dari arah samping yang membuat santriwati cantik itu lekas menoleh.

"Eh, Ustadz ?" Ucap Salwa tersenyum saat bertemu dengannya lagi.

Salwa merasa bahagia karena bisa bertemu dengan lelaki yang dicintainya lagi. Ia kira, ia tidak bisa bertemu dengannya lagi sebelum perpulangannya di hari ini. Jujur, ia sangat senang. Harapannya semenjak menunggu di markaz hingga berjalan secara asal kesini akhirnya membuahkan hasil. Salwa bisa bertemu dengan V. Salwa pun tersenyum saat menatap penampilan V.

"Waahhh" Ucap Salwa tanpa sadar saat menatap penampilannya.

Dengan kemeja berwarna putih bersih yang membalut tubuhnya. Dengan celana kain panjang berwarna hitam yang menutupi kakinya. V terlihat sangat rapih saat kemejanya itu dimasukan ke dalam celana panjangnya. Rambut V yang tebal disisir rapih ke arah samping. Senyum V terhias di wajahnya yang bening. Salwa jadi malu-malu. Namun senyumnya gagal disembunyikan oleh santriwati cantik itu.

"Kok masih disini sih ? Kirain antum udah pulang" Ucap V saat sudah didekat Salwa.

"Hehe iyya ustadz.. Bis konsulat ana baru berangkat habis dzuhur nanti... Ustadz juga kok bisa ada disini ? Ada keperluan apa ?" Tanya Salwa malu-malu.

"Haha gak tau kenapa pengen jalan-jalan aja... Pas liat dari kejauhan, ana langsung penasaran... Wuih siapa itu cantik amat... Pas mendekat eh rupanya antum... Pantes gak heran, dari jauh aja udah cantik apalagi dari dekat" Ucap V yang membuat Salwa tersenyum malu.

"Bisa aja ah ustadz ini... Ana kan jadi gak bisa nahan diri buat tersenyum tau" Ucap Salwa geregetan ingin mencubit V namun tidak berani.

"Hahaha jadi gemes deh... Jangan senyum-senyum gitu dong... Nanti kalau ana pengen nyubit gimana ? Ana gak tahan tau" Ucap V saat menatap wajah imut Salwa.

"Ihhh gak boleh... Ana udah gede, gak boleh main cubit-cubitan" Ucap Salwa sambil menjulurkan lidahnya yang membuat V semakin geregetan.

"Wahhh iyya yah... Salwa udah gede... Tinggi kita aja hampir sama... Itunya aja juga udah gede" Ucap V sambil melirik tonjolan indah yang ada di dada Salwa.

"Hihihi iyya dong... Ihhh jangan ngelirik-ngelirik... Ini cuma punya suami ana tau" Ucap Salwa sambil menutupi dadanya yang membuat V semakin gemes ingin meremasnya.

"Oh yah ? Wah siapa itu ? Beruntung banget deh yang bakal jadi suami antum nanti... Bisa menikmati wajah secantik antum, tubuh seindah antum, sama buah dada antum yang masih ranum" Ucap V yang membuat wajah Salwa memerah.

"Hihihi iyya dong... Makanya, ustadz tertarik gak ngelamar lowongan jadi suami ana ?" Ucap Salwa mengkode V yang membuat V hanya tersenyum mendengarnya.

"Pasti tertarik banget Salwa" Jawab V sambil mencubit pipi Salwa karena tidak tahan lagi.

"Ihhhh dasar... Hihi makasih... Buruan ke rumah makanya... Ana tunggu" Ucap Salwa tak sabaran karena ingin segera berumah tangga dengan V.

"Oh yah emang rumah Salwa ada dimana ?" Tanya V semakin mendekat dengan berdiri di sebelah Salwa.

"Rumah ana ada di kebumen, ustadz" Ucap Salwa sambil sesekali melirik wajah V.

"Oh yah ? Oalah ana baru tau" Ucap V yang membuat Salwa tertawa.

"Hihihi emang antum sendiri darimana ? Ana malah gak tau loh" Ucap Salwa malu-malu.

"Ana mah dari kampung Wa... Dari kampung yang ada di daerah Bekasi" Jawab V sambil melirik menatap wajah Salwa.

"Hihihi antum alien dong ? Bukannya Bekasi itu nama planet ?" Tanya Salwa teringat lelucon yang sering dibicarakan bersama teman sebayanya.

"Hahaha iyya... Makanya ana ganteng kan ? Gantengnya melebihi gantengnya orang-orang yang ada di bumi" Ucap V dengan pedenya yang membuat Salwa tertawa.

"Hihihihi preeeetttt" Ejek Salwa sambil menjulurkan lidah yang membuat V ikut tertawa.

"Oh yah duduk dulu yuk capek" Ucap V kebetulan melihat kursi duduk yang berada di sekitaran meja bundar yang berada di taman kecil itu.

"Iya ustadz... Ana juga daritadi capek jalan terus" Ucap Salwa menyetujui.

Mereka berdua pun berjalan menuju kursi lalu menjatuhkan bokong masing-masing diatas kursi duduk itu. Kini mereka duduk saling berhadapan. Jemari mereka saling mengikat jari masing-masing. Mata mereka saling pandang kendati ada rasa malu saat menatap keindahan wajah yang ada di seberang.

"Senang bertemu dengan antum, Salwa" Ucap V yang membuat Salwa tersenyum.

"Ana juga ustadz... Ana seneng banget bisa bertemu antum lagi" Jawab Salwa yang membuat V tersenyum.

"Antum apa kabar ?" Tanya V berbasa-basi terlebih dahulu.

"Ana baik ustadz... Baik banget gara-gara abis ketemu antum disini" Ucap Salwa saat menunjukan kebahagiaan yang dirasakan di hatinya.

"Alhamdulillah... Habis ini mau lanjut kemana Wa ?" Tanya V sambil menatap mata Salwa.

"Iya ustadz... Alhamdulillah, semalem setelah pertemuan di auditorium berakhir... Nama ana kan dipanggil sama ketiga nama lain tuh ? Ana diminta lanjut untuk jadi ustadzah disini... Ana langsung setuju, jadi kemungkinan besar ana bakal lanjut jadi ustadzah disini" Ucap Salwa malu-malu.

"Oh yah ? Wahhh tahun ajaran depan bakal lebih seru dong dengan adanya antum sebagai ustadzah... Antum pengennya jadi bagian apa nih nanti ?" Ucap V yang membuat Salwa kembali tersenyum.

"Iyya ustadz... Kalau bisa sih, ana dimana aja selama bisa satu kantor bareng antum" Ucap Salwa malu-malu yang membuat V tersenyum sampai-sampai giginya terlihat.

"Hahaha pengennya yah... Biar apa coba ? Biar bisa manja-manja bareng ana yah ?" Ucap V yang membuat Salwa tertawa malu.

"Hihihi tuh tau" Ucap Salwa mengakui yang membuat V tertawa mendengar ucapan calon ustadzah yang masih muda itu.

"Oh yah ustadz" Ucap Salwa yang membuat V tersenyum mendengar ucapan ustadzah muda itu.

"Iya Salwa, ada apa ?" Tanya V sambil memperhatikan sikap malu-malu Salwa.

Salwa tampak gelisah hingga tak berani mengangkat wajahnya. Kedua tangannya berulang kali meremas-remas jemarinya sendiri. Senyumnya selalu keluar tanpa bisa ia sembunyikan lagi. V pun setia menanti, menunggu hingga Salwa mengucapkannya sendiri.

"Kemarin, setelah selesai ujian... Kok antum gak dateng ke kelas yang ana pinta sih ?" Ucap Salwa yang baru membuat V teringat.

"Eh astaghfirullah... Oh iya... Maaf Salwa... Ana lupa" Ucap V yang hanya membuat Salwa tersenyum lemah.

"Ana nungguin antum loh disana... Bahkan sampai adzan Dzuhur berkumandang... Ana masih ada disana menanti kehadiran antum" Ucap Salwa yang membuat V semakin menyesal.

"Ehh maaf... Ana bener-bener lupa Wa... Ana ada kesibukan lain soalnya... Makanya ana gak sempet nepatin janji ana untuk menemui antum di kelas itu" Ucap V meminta maaf dengan tulus.

"Iyya ustadz... Gapapa... Ana juga tau kok kalau antum tuh, sibuk" Ucap Salwa yang masih menunduk.

"Maafin ana yah Wa... Ana beneran lupa... Ana bukan sengaja menghindar... Tapi emang beneran lupa sehingga gak bisa hadir waktu itu" Ucap V terus meminta maaf hingga perlahan rasa kekecewaan yang Salwa alami sejak kemarin terobati.

Apalagi saat tangan V mendekat untuk mendekap kedua tangannya. Salwa seketika tersenyum lalu mengangkat wajahnya tuk menatap wajah tampan itu.

"Padahal ana mau ngasih hadiah loh ke antum... Hadiah spesial dari ana sebelum perpulangan di hari ini" Ucap Salwa sambil cemberut yang membuatnya malah terlihat imut.

"Maaf ana gak tau... Ana gak tau kalau antum mau ngasih hadiah ke ana, ana juga sampai lupa loh... Maaf yah" Ucap V yang masih meminta maaf kendati Salwa sudah memaafkannya. Sikap V yang pemaaf itu lah membuat Salwa jadi semakin sayang padanya.

"Hihihi dasar... Makasih yah ustadz... Antum hebat banget deh, rasa kecewa ana langsung ilang gara-gara sikap antum... Oh yah, mumpung ana belum pulang... Mau diambil hadiahnya sekarang gak ?" Ucap Salwa malu-malu.

"Sekarang ? Boleh, emang hadiah apa ? Dimana ?" Tanya V sambil melihat sekitar untuk mencari hadiah yang akan Salwa berikan.

"Hihihihi ada kok ustadz" Ucap Salwa ikut melihat sekitar. Seketika wajahnya menatap ke arah gedung asramanya. Salwa pun terpikirkan ide.

"Hadiahnya ana simpan di dalam gedung asrama ana... Kesana yuk, biar bisa ana kasih ke antum" Ucap Salwa berdiri sambil menarik tangan V.

"Ehh di asrama antum ? Di kamar antum yah ?" Tanya V balik yang segera disetujui oleh Salwa.

"Naam ustadz... Shohih... Antum pasti gak akan kecewa deh" Ucap Salwa dengan sangat yakin yang membuat V semakin penasaran.

"Makin gak sabar deh dengan hadiah antum" Ucap V yang membuat Salwa tersenyum senang.

Salwa pun terus-terusan tersenyum malu. Ia tak menyangka kalau waktunya sebentar lagi akan tiba. Waktu untuk merubah dirinya menjadi seorang wanita. Bukan lagi gadis remaja seperti dulu kala.

Tunggu ustadz... Ana jamin, antum pasti akan bahagia setelah mendapatkan hadiah dari ana...

Batin Salwa saat tiba di depan kamar asramanya.

Beruntung, asrama sudah sepi. Tidak ada satu pun santri atau santriwati sama sekali. Setiap santri sudah berkumpul bersama konsulatnya masing-masing di markaz yang sudah ditentukan kemarin.

Konsulat merupakan istilah yang biasa digunakan untuk mengelompokkan setiap santri berdasarkan daerahnya masing-masing agar memudahkan santri itu sendiri untuk pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan markaz merupakan basecamp atau tempat tinggal sementara bagi setiap santri yang sudah berkumpul bersama konsulatnya masing-masing. Tujuannya agar memudahkan setiap panitia dari setiap konsulat agar santri itu tidak menyebar sembari menunggu jadwal perpulangan masing-masing.

Begitu pula yang dilakukan oleh konsulatnya Salwa. Mereka semua sedang berkumpul menanti perpulangan yang akan dilakukan selepas dzuhur nanti. Makanya Salwa sampai izin agar tidak dicari ketika diabsen oleh panitia yang diketuai ustadzah Aini.

"Mana Salwa hadiahnya ? Wah agak berantakan disini" Ucap V yang penasaran sekaligus heran pada hadiah yang akan didapatkannya.

"Hihihi maaf ustadz... Tapi kamar ini yang paling rapih diantara kamar yang ada di lantai satu asrama ini... Antum tunggu sebentar yah" Ucap Salwa yang membuat V tersenyum mesra.

"Iyya... Ana akan tunggu kok, Wa" Ucap V tersenyum sambil menatap wajah Salwa.

Senyum yang tadi mengembang di wajah V perlahan hilang ketika tubuh Salwa mendekat. Ia tidak lagi tersenyum melainkan keheranan dengan apa yang akan Salwa lakukan. Seketika jemari-jemari mungil Salwa tiba di kancing kemejanya. Mata V pun membuka lebar saat jemari mungil santriwati itu mulai melepas satu demi satu kancing kemejanya dari tempatnya.

"Ehhh Salwaaa... Apa yang antum lakukan ?" Ucap V kaget dengan apa yang sedang Salwa lakukan.

Namun Salwa tidak menjawab. Santriwati tercantik itu hanya tersenyum sambil menatap dada bening V yang mulai terbuka. V pun membeku di tempat. Ia berdiam saja hingga seluruh kancing kemejanya terlepas dari tempatnya.

"Ana taruh di sini yah, kemeja antum" Ucap Salwa sambil melepaskan kemeja V hingga membuat ustadz tampan itu bertelanjang dada di hadapan Salwa.

"Iyya... Tapi, Salwa... Ana..." Ucap V terbata-bata saat merasa malu didepan santriwatinya itu.

"Tenang ustadz" Ucap Salwa dengan singkat saat melepas ikatan pinggang di pinggul V kemudian menurunkan resleting celananya.

Salwa berjongkok. Pelan-pelan kedua tangannya itu menurunkan celana kain yang V kenakan. Wajah V memerah. Ia tak menduga kalau santriwati tercantik itu hendak membugilinya saat akan menyerahkan hadiah untuknya. V pun semakin penasaran mengenai hadiah apa yang sebenarnya telah Salwa siapkan.

"Ana juga buka celana dalam antum yah ?" Ucap Salwa malu-malu.

Nampak wajah santriwati cantik itu memerah. Celana dalam V pun diturunkan hingga pentungannya yang besar keluar dari dalam sarangnya. Salwa tersipu malu. V semakin bergairah saat sudah bertelanjang bulat dihadapan santriwati cantik itu. Awalnya, dirinya yang biasa-biasa saja saat menemui Salwa malah menjadi bernafsu saat ditelanjangi oleh santriwatinya itu. Apalagi saat batang penisnya mulai dibelai oleh jemarinya yang gemulai. V merinding. V pun menatap wajah Salwa dengan tatapan penuh nafsu saat itu.

"Enak ustadz ?" Tanya Salwa sambil terus mengocoknya pelan yang membuat V mengangguk menyetujui.

"Aaaahhhh... Aaahhhh.... Banget, Wa... Aaahhhh" Desah V sambil membelai kepala Salwa untuk berterima kasih karena sudah diberikan kenikmatan selezat ini di pagi hari.

"Hihihi bagus deh ustadz... Ini pemanasan dari ana, Kira-kira antum tau gak apa hadiah yang bakal ana berikan ke antum ?" Tanya Salwa sambil terus membetotnya kemudian mengocok penis yang semakin mengeras itu maju dan mundur.

"Aaahhhh... Aaahhhh... Apa yahhh ? Mmpphh ngentot kah ?" Desah V menebak yang membuat Salwa tersenyum.

Sambil terus membelainya dengan menggunakan kedua tangannya. Salwa pelan-pelan bangkit berdiri sambil memberanikan diri menatap wajah V. Tangannya tidak lagi membelai penisnya. Tangannya berpindah dengan mengusapi dada polosnya. Kedua puting V digesek-gesek. Kedua puting V di tekan-tekan. Kadang kedua puting V juga ditarik-tarik yang membuat pemiliknya merinding merasakan rangsangan santriwati mesum itu.

"Enak ustadz ?" Tanya Salwa lagi.

"Aaaah.... Enakkk... Enakk banget Wa" Ucap V saat merasakan belaian tangan Salwa di dadanya. Akibatnya V mengocok penisnya sendiri setelah ditinggal pergi oleh tangan Salwa.

"Itu belum seberapa dibandingkan hadiah yang akan ana berikan" Ucap Salwa kembali memindahkan tangannya kali ini sambil merangkulkannya di leher bagian belakang V.

Salwa dengan manja bergantung pada leher V. Matanya menatap wajah V untuk menikmati keindahannya. Senyum Salwa tak bisa disembunyikan begitupula senyum di wajah V saat memperhatikan wajah santriwati yang masih mengenakan pakaian lengkap itu.

"Salwaaa" Ucap V masih tak percaya dirinya bisa bermanja-manja seperti ini dengan santriwati tercantik yang menjadi idaman para santri juga ustadz yang berada disini.

"Iyya ustaaaddzz" Jawab Salwa yang masih bergantung tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Mereka hanya menikmati keindahan wajah masing-masing terutama Salwa yang sedang menikmati tubuh telanjang V.

"Antum yakin ? Mau ngentot dengan ana... Itu kah hadiah yang ingin antum berikan ?" Tanya V semakin tak sabar apabila itu hadiah yang Salwa maksudkan.

"Benar tapi kurang tepat ustadz hihihi" Ucap Salwa yang membuat V bingung.

"Terus maksudnya apa ? Apa hadiah yang akan antum berikan sebenarnya ?" Tanya V geregetan karena tak kunjung diberi hadiah setelah dibugili oleh Salwa.

"Keperawanan ana ustadz... Ana akan memberikannya ke antum... Antum yang akan membantu ana tuk melepas keperawanan ana" Ucap Salwa sambil tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah V.

"Perawan ? Ana ? Mmpphh" Desah V tertahan saat bibirnya dicumbu oleh Salwa.

"Mmpphh iyaahhh Ustaaaddzz... Selamat, antum udah terpilih untuk menjadi orang yang akan melepas keperawanan ana" Desah Salwa sambil menciumi bibir V.

"Mmpphh... Jadi nanti, kontol ana bisa masuk memek antum dong ?" Desah V yang masih tak percaya.

Salwa pun melepas cumbuannya sejenak kemudian wajahnya menatap wajah V. Salwa mengangguk malu untuk menjawab pertanyaan ustadznya itu. Tangan kirinya yang tadi bergantung berpindah untuk membelai penis raksasanya itu. Tangan kanannya juga berpindah untuk membelai dadanya itu. Salwa tersenyum malu-malu. Ia tak mengira akan melakukan aksi senakal ini untuk menyerahkan keperawanannya pada V. Bibirnya pun kembali mendekat lalu menciumi bibir ustadznya dengan penuh nafsu.

"Mmpphhh" Desah mereka berdua bercumbu

Salwa mencium bibir V. Salwa menjilati bibir V. Dikala bibirnya menjepit bibir bagian atasnya. Lidahnya di dalam mulai keluar untuk membasahi bibir ustadznya menggunakan air liurnya. Salwa melakukannya sambil memejam untuk menikmati keindahan yang dimiliki oleh ustadznya. Tangan kanannya terus mengocoknya. Tangan kirinya terus merangsang puting ustadznya. Salwa tersenyum malu. Ia kembali menjepit bibir V lalu menghisapnya kuat-kuat untuk melampiaskan nafsu birahinya.

“Mmmpphhh... Mmpphhh... Mmmpphhhh” desah V terengah-engah dalam menahan kocokan tangan Salwa juga cumbuan yang ia terima di bibirnya.

“Mmmpphhhh kontol antum makin keras aja ustadz... Padahal baru aja sebentar ana ngocoknya” desah Salwa sambil membuka matanya lalu menurunkan pandangannya untuk menatap penis tercintanya.

“Aahhhh... Aaahhhh... Abis kocokan antum hebat banget sih Wa... Ana jadi gak kuat... Enak banget rasanya dikocok sama ustadzah secantik antum” ucap V menyebutnya ustadzah yang membuat Salwa merasa malu.

“Hihihi makasih ustadz... Tolong nikmati yah... Ana akan berusaha untuk melayani antum semampu ana” ucap Salwa sambil mengocoknya lalu menundukan tubuhnya.

Salwa pun berjongkok dihadapan ustadz yang sudah telanjang bulat itu. Matanya terpaku pada penis raksasa yang sedang ia kocok. Salwa tersenyum melihat bentuknya. Ia tak percaya kalau penis ini lah yang nantinya akan membantunya dalam memecahkan keperawanannya. Lama-lama wajahnya pun mendekat. Dikala tangannya mengocok batang penisnya maka bibirnya mendekat untuk mencumbu ujung gundulnya.

“Mmmuuaahhh” desah Salwa saat mencium ujung gundul penis ustadznya. Salwa pun menaikan wajahnya untuk memeriksa reaksi ustadznya. Rupanya V tengah tersenyum yang membuat Salwa jadi malu karena sudah melakukan perbuatan itu.

Ana mulai yah ustadz” ucap Salwa yang perlahan mulai membuka mulutnya untuk melahap penis besar itu.

“Aaaahhhhhh Salwwaaaaa” desah V sampai merinding saat merasakan hisapan dari santriwati cantik itu.

Salwa merapatkan bibirnya saat mulutnya dipenuhi oleh ujung gundul penis raksasa itu. Lidahnya yang berada di dalam pun berkeliaran dalam membasahi ujung gundulnya. Dikala bibirnya menjepit ujung gundulnya maka lidahnya menjilati lubang kencingnya. V sampai geli-geli nikmat merasakan sensasinya. V sampai bergidik. Matanya terus menerus merem melek merasakan kenikmatan yang luar biasa itu.

“Mmpphhh... Mmpphh... Kontol antum gede banget ustadz... Mulut ana sampai gak muat” ucap Salwa sambil mengulumnya dan juga mengocoknya.

“Aaahhhh... Aahhh... Aahhhh iyya Salwaaa... Itu untuk antum... Sengaja kontol ana gede untuk muasin antum” ucap V keenakan merasakan servis Salwa.

“Hihihihi beruntungnya ana jadi yang pertama bisa ngerasain kontol antum” ucap Salwa yang mengira dirinya yang bisa merasakan perjaka V.

V hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Salwa. Ia tidak mau mengecewakannya kalau tau ada wanita cantik lain selain dirinya yang pernah merasakan kelezatan penisnya.

Salwa semakin dalam saat mengulum penisnya. Kini, tidak hanya ujung gundulnya saja yang masuk di dalam mulutnya. Tapi Salwa juga memaksa diri untuk memasukkan setengah dari penis itu ke dalam mulutnya. Mulut Salwa sampai penuh. Salwa sampai kesulitan untuk mengendalikan penis itu. Tapi tangannya tak tinggal diam dengan menggelitiki kandung kemihnya. Ia meremas-remas biji salaknya. V jadi geregetan. Ia tak kuasa menahan rangsangan yang sedang Salwa berikan.

Calon ustadzah yang masih malu-malu itu kemudian meletehkan penisnya. Penis V yang sudah sangat basah kembali ia kocokkan. Salwa menatap penis yang sudah sangat basah itu. Ia tersenyum. Ia terus mengocoknya menggunakan kedua tangannya.

“Aaahhh... Aahhh... Luar biasa sekali dirimu Salwa.... Ouhhh nikmat sekali kocokanmu ini” ucap V keenakan merasakan servisnya.

“Hihihih makasih ustadz” jawab Salwa malu-malu yang membuatnya jadi semakin bersemangat untuk merangsang penis raksasa itu.

Salwa kemudian memegangi kedua paha V menggunakan telapak tangannya. Mulutnya kembali mendekat untuk memasukan penis itu lagi ke dalam mulutnya. Saat ujung gundulnya ia lahap. Ia langsung meletehkannya lagi. Ia kembali melahapnya lalu meletehkannya lagi. Kadang ia menjilatinya bagai menjilati permen lollipop tanpa ia pegang sama sekali. Saat lidahnya itu menjilati ujung gundulnya. V langsung bergidik keenakan. V merem melek penuh kepuasan. Salwa hanya tertawa sebelum ia masukkan lagi penis itu ke dalam mulutnya.

“Mmmppphhhh” desah Salwa tertahan.

Nampak seperempat dari penis itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Tapi Salwa masih belum puas, ia pun memaksa maju hingga setengah dari penis itu masuk ke dalam mulutnya. Salwa terlihat berusaha dengan memejamkan matanya dan terus memaksa maju kendati ia tahu kalau ujung kerongkongannya sudah mentok terkena ujung gundul penis raksasa itu.

V tersenyum. Ia mengakui usaha Salwa yang ingin memuasinya. Ia pun membelai kepala Salwa lalu membantunya dengan cara memegangi kepalanya lalu mendorong pinggulnya maju.

“Heenkkgghhh !” desah V saat mendorong penisnya.

“Mmmpphhh ustaaadzzz” desah Salwa saat kerongkongannya ditusuk oleh V. Salwa bertahan tapi ia merasa kesakitan. Apalagi saat V terus berusaha menekannya hingga membuat air mata Salwa menetes jatuh melalui pelupuk matanya. Mendadak perutnya jadi mual. Untungnya V segera menarik lepas penisnya yang membuat Salwa terbatuk-batuk saat menunduk ke lantai.

“Uhhukk... Uhhukk... Uhhuukk”

“Salwa, antum gapapa ?” tanya V mengkhawatirkannya.

Ana gapapa ustadz... Uhhuukk” ucap Salwa berbohong.

“Hehe maaf yah Wa... Ana tadi bernafsu... Oh yah, ini mau minum dulu ?” Ucap V yang untungnya menemukan sebuah galon yang masih tersisa di luar kamar yang ia tempati. Ia pun mengambil gelas yang ia temukan. Ia mengocakinya lalu mengisinya dengan air yang kemudian ia serahkan kepada Salwa.

“Makasih ustadz” ucap Salwa yang langsung meminumnya dengan rakus.

“Gimana ? Seger ?” tanya V tersenyum.

“Seger banget ustadz... Maaf yah kalau ana belum ahli... Ana masih belajar” ucap Salwa merasa kecewa karena tidak sanggup menahan tusukan V tadi.

“Hahaha gapapa... Itu wajar... Justru aneh kalau antum udah langsung ahli” Ucap V yang membuat Salwa tersenyum mendengarnya.

“Hihihih kalau gitu, antum mau ajarin ana ? Apa yang harus ana lakuin supaya bisa memuaskan antum ?” tanya Salwa yang jujur bingung harus melakukan apalagi untuk memuaskan seorang lelaki. Pengalamannya saat ini hanya sebatas memuaskan para wanita saja. Ia pun penasaran. Ia penasaran dengan apa yang harus ia lakukan untuk menyenangkan lelakinya.

“Hahaha apa yah ?” Pertama bisa lepas celana antum Wa ? Ana mau jilatin memek antum dulu” ucap V yang membuat Salwa teringat.

“Oh iya... Maaf yah ustadz ana malah masih pake baju sendiri” ucap Salwa sambil malu-malu melepaskan celananya.

“Hahah gapapa... Itu juga bagian dari yang ana suka kok... Kalau langsung telanjang ya apa asyiknya... Perlahan Wa... Pertama buka celanamu dulu lalu lebarkan kakimu selebar-lebarnya dihadapan ana” Ucap V yang segera dituruti Salwa setelah melepas celananya.

“Seperti ini usatdz ?” tanya Salwa yang sudah bottomless lalu memamerkan vaginanya dihadapan ustadznya. Wajah Salwa sampai memerah saat melakukan ini. Ia merasa malu sekali. Tapi ia merasa senang saat melihat wajah V yang begitu girang.

“Iyya Salwa seperti ini... Ana suka deh sama memek antum... Keliatan banget kalau masih rapet” ucap V mendekat lalu berjongkok dihadapan Salwa.

“Hihihi iya dong stadz... Ana kan masih perawan” ucap Salwa yang berdiri mengangkang dihadapan ustadznya.

“Hahahaha... Kalau gitu ana mulai yah... Ana mau melakukan pemanasan dulu sebelum nanti ana bantu untuk melepaskan keperawanan antum itu” ucap V sambil tersenyum yang membuat Salwa mendadak malu-malu.

“Mmmpphhh ustadzzzz” desah Salwa saat vaginanya dijilat.

Salwa merinding saat merasakan sapuan lidah V di bibir vaginanya. Lidah itu menyapu bibir vaginanya terkadang lidah itu juga berusaha untuk memasuki pintu masuk vaginanya. Tiap kali lidah V merangsangnya, Salwa selalu bergidik merasakan kenikmatan itu. Saat lidah V memaksa masuk ke dalam lembah kenikmatan duniawi itu. Tubuh Salwa langsung bergetar merasakan nikmatnya yang begitu memabukkan.

V tersenyum merasakan manisnya dari vagina seorang perawan. Jemarinya pun beraksi dengan membuka liang senggama itu lebih lebar lagi. Lidahnya dengan segera langsung merengsek masuk ke dalam. Lidahnya langsung mengepak-ngepak ke atas juga ke bawah. Kadang lidahnya ia gerakan menyamping ke kiri dan ke kanan. V menjilatinya dengan rakus. V menikmati vagina seorang perawan itu dengan serius.

"Mmpphh ustaaaddzzz... Mmpphhh... Jangannn dalemmm daleemnn... Mmmpphh" Desah Salwa jadi kesulitan berdiri tegak, karena jilatan nakal V di vaginanya.

Tapi V tak peduli. Ia bahkan meludahi isi vagina Salwa sebelum lidahnya bergerak untuk menjilati dalamnya lagi. V begitu ketagihan karena aroma vaginanya berbeda dengan aroma vagina wanita lain yang pernah ia senggamai. Aroma vagina Salwa lebih wangi dan tentunya lebih mengundang nafsu birahi.

"Aaaahhhh ustaaaddzzz" Desah Salwa sampai merapatkan kedua kakinya hingga wajah V terjepit di selangkangan Salwa.

Salwa terus menjepit kepala V karena jilatan ustadznya terlampau nikmat. Akibatnya V sampai mabuk kepayang akibat terlalu banyak menghirup aroma memek santriwati tercantik itu.

"Woaaahhh mantaappp Wa... Mantap sekali aromanya tadi... Hah... Hah... Hah" Ucap V sampai terengah-engah setelah lepas dari jepitan kaki Salwa.

"Dasar antum ihhh... Bikin maluuu... Masa memek ana dihirup gitu" Ucap Salwa gelisah karena vaginanya semakin basah setelah dijilati oleh ustadz tampannya.

"Hahahah... Habis nikmat banget sih Wa... Gimana ? Dah siap untuk inti acaranya ?" Tanya V yang membuat Salwa tersenyum.

"Siapp ustaaaddzz... Ana harus gimana ?" Tanya Salwa yang bingung harus bagaimana.

"Antum tiduran aja disini" Ucap V mengambil kasur baring yang ditinggalkan oleh santri. Ia menarik kasur itu dan membawanya di dekat Salwa. Salwa pun diminta berbaring disana. Lalu V mendekat sambil melebarkan kedua kakinya.

Nampak kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu tersenyum. Salwa jadi malu. V pun menatapnya dengan penuh nafsu.

"Gak nyangka sebentar lagi ana bisa menggenjotmu Wa" Ucap V sambil menatap wajah indah Salwa.

"Hihihi ana juga gak nyangka bentar lagi bisa lepas perawan bareng antum" Ucap Salwa yang tak sabar untuk berproses menjadi wanita dewasa.

"Kalau gitu siap yah ? Maaf awalnya mungkin agak sakit, jadi tahan sebentar yah" Ucap V sambil tersenyum.

"Iyya ustadz... Ana akan coba tahan" Ucap Salwa berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit itu.

V yang sudah bertelanjang bulat mulai mengarahkan penisnya mendekati bibir vaginanya. Saat ujung gundulnya menyentuh bibir vagina Salwa. Salwa langsung bergidik merasakan sensasinya. Saat penis itu mulai membelah masuk terasa rasa sakit disana. Salwa agak merintih. V pun khawatir padanya.

"Sakit yah Wa ?" Tanya V.

"Enggak kok ustadz... Lanjut aja" Jawab Salwa memaksa senyum.

"Tahan bentar yahhh" Ucap V sekali lagi sambil tersenyum.

Salwa hanya mengangguk meski ia tahu rasanya bakalan sakit sekali. Tadi saja saat ujung gundulnya yang baru masuk ke dalam, ia sudah tak sanggup menahan perih. Apalagi nanti saat keseluruhan penis raksasa itu masuk ke dalam vaginanya ?

Untungnya V mempunyai pengalaman dalam bercinta dengan seorang wanita. Alih-alih langsung menusuknya, V memilih untuk menggesek bibir vagina itu secara perlahan menggunakan penis besarnya. Salwa pun merinding menahan geli. Tubuhnya sampai menggelinjang hingga mengeluarkan erangan-erangan yang membangkitkan gairah birahi V.

"Ennakkk kan Salwaaa ?" Tanya V sambil tersenyum.

"Mmpphh iyyahh ustaaaddzz... Iyyaahhh" Desah santriwati cantik itu sambil memberikan ekspresi wajah keenakan.

V hanya tersenyum sambil memegangi penis besarnya untuk mengelusi bibir vaginanya. Saat merasa vagina itu semakin basah. V mulai melangkah dengan memasukan ujung gundulnya saja. Seketika Salwa merintih menahan perih. Tapi V tetap mendorongnya hingga ujung gundulnya mengenai selaput dara yang menjadi bukti keperawanannya.

"Aaahhh Usttaaddzz sakittt... Udaaaahhhh... Udahannn duluuu ustaaaddzz... Sakitttt" Jerit Salwa tak sanggup menahannya lagi.

Salwa sampai mengejang saat terbaring diatas kasur di dalam asramanya. Ujung gundul dari penis besar itu telah masuk. V ikut mengerang merasakan kepuasannya. Ia tak pernah menyadari kalau vagina seorang perawan bisa senikmat ini. Rasanya begitu sempit. Penis besarnya pun begitu terjepit.

"Ussttaaaddzzz tarrriikkk... Tarrikkk duluuu... Ana gak kuat ustaaaddzz" Rintih Salwa menangis merasakan rasa sakit itu.

"Sabar Salwaaa.... Tahan bentar yahhhh... Dikit lagi kok" Ucap V tersenyum sambil menatap wajahnya.

Tapi Salwa hanya geleng-geleng kepala. Ia tak sanggup menahan rasa perih itu kendati selaput daranya belum tersobek oleh penis besar V.

"Dasar antum" Ucap V sambil tersenyum yang langsung menindihinya sambil mencumbui bibirnya.

"Mmmpphhh" Rintih Salwa sambil menangis saat penis V memaksa masuk untuk menjebol selaput daranya. Tak peduli dengan rintihan yang Salwa keluarkan. V terus mendorong pusakanya sambil terus mencumbui bibirnya. Terkadang ia juga memundurkannya terlebih dahulu baru menerjang maju kemudian. V menarik penisnya lagi sebelum melesatkannya lagi dengan kuat. Akhirnya dengan satu tusukan yang mantap. V pun berhasil memasukan keseluruhan penisnya tuk mengoyak selaput dara yang dimiliki oleh santriwatinya.

"Hheennkkghh !!!"

"Mmmpphhh ustaaaddzz" Desah Salwa sambil menangis sejadi-jadinya.

Salwa begitu kesakitan merasakan perih di vaginanya. V dengan tenang pun menenangkan. Ia berulang kali juga mengusap punggungnya sambil mengecupi wajahnya untuk menenangkannya.

"Sabar Wa... Cuma sebentar kok... Selamat yahhh antum udah jadi seorang wanita sekarang" Ucap V sambil tersenyum yang hanya dijawab anggukan dengan tangisan oleh santriwatinya.

"Tappiii ustaaaddzz... Sakittt" Ucap Salwa merengek.

"Hahaha iyya sabarrr... Semuanya bakal hilang kok... Nanti malah enak lohhh" Ucap V meyakinkan yang membuat Salwa lekas percaya.

V pun bangkit untuk melihat keadaan Salwa sekarang. Wajah Salwa begitu sembap setelah menangis menahan perih di vaginanya. Saat pandanganya ia mundurkan ke arah penisnya. Ia melihat adanya darah segar yang mengalir keluar membasahi kasur yang Salwa tempati itu.

"Hahaha Salwa udah gede sekarang... Selamat yah ustadzah Salwa" Ucap V sambil melirik Salwa yang masih cemberut karena menahan perih di vaginanya.

"Tapiii ustaaaddzz... Periihhh" Rengek Salwa protes.

"Hahaha iyya... Sabar dulu donggg... Ana jamin, nanti bakal enak kok" Ucap V yang langsung membuktikannya dengan menggerakan pinggulnya.

"Uuhhhh ustaaaddzz" Desah Salwa dengan sangat kuat.

Tak peduli dengan rasa sakit yang Salwa terima, V yang sudah sangat bernafsu langsung menyodok rahim kehangatannya tanpa ampun. Tak pernah ia merasakan vagina sesempit ini. Tak pernah juga ia merasakan vagina dari akhwat semuda ini. V menggoyangkan pinggulnya. Awalnya memang perlahan lalu lama-lami makin cepat dan kuat. Salwa sampai terkejut mengetahui nafsu V yang sebesar ini. Rasanya memang sakit saat penis V masuk menyundul rahim kehangatannya. Tapi ada sensasi aneh berupa geli-geli nikmat yang mulai dirasakan olehnya.

"Uuuhhh... Uhhhh... Uhhhh enak banget Waa.... Enak banget memek antum" Ucap V dengan penuh nafsu.

"Aahhhh ustaaaddzz... Pelaannn... Pellaannn" Rintih Salwa saat tubuhnya terguncang maju mundur diatas kasur itu.

Gerakan cepat yang V lakukan membuat buah dada Salwa yang masih terbungkus baju dan behanya itu mulai bergoyang nikmat. Pandangan V pun teralihkan pada goyangan payudara itu. V langsung menaikan kaus yang Salwa kenakan lalu menurunkan bra yang masih ia kenakan.

"Aaahhhh ustaadzz... Ustaaaddzz" Desah Salwa dengan manja saat kenikmatan itu mulai ia rasakan.

V yang menyadarinya saat melihat reaksi wajah Salwa yang mulai tenang akhirnya tersenyum.

"Aaahhh... Aaahhh... Gimana ? Udah enak kan ?" Tanya V tersenyum.

"Aaahhh... Ahhhh iyahhh ustaaaddzz... Iyaahhh" Desah Salwa yang membuat V tertawa.

V tersenyum puas saat merasakan jepitan vaginanya yang begitu terasa. Jepitan yang ia terima dari memeknya juga sempitnya liang senggamanya serta pijatan yang ia terima di dalam sana telah memberikan kesan yang berarti bagi diri V. Kedua tangannya pun bergerak naik untuk mengusapi payudaranya yang tak begitu besar namun sangat pas di genggamannya. Ditatapnya wajah Salwa dengan penuh nafsu. Diremasnya dada bulatnya dengan nafsu. Buah dada Salwa begitu kenyal. Remasan di dadanya membuat tangan Salwa sendiri mengepal.

Hawa nafsu yang menyerangnya membuat tubuh santriwati tercantik itu mengejang, payudaranya pun mengencang serta puting susunya berdiri tegak menjulang. Salwa sampai memejam merasakan kenikmatan yang melanda di tubuhnya. Tak sengaja mulutnya pun terbuka mengeluarkan suara desahan-desahan yang membuat V tertawa puas melihatnya.

"Aaaaahhh... Aahhhh ustaaaddzz lagiii... Laagiiii... Aaahhhh yangg kuaattt" Desah Salwa malu-malu saat merasakan kenikmatan itu.

"Hahaha siapp Salwa... Siaappp... Heenngkkh !!!" Desah V saat memperkuat hujamannya.

"Aaaahhhh ustaaaddzz" Desah Salwa sampai tubuhnya terdorong gara-gara kuatnya sodokan yang ia terima.

Genjotan demi genjotan yang telah Salwa terima benar-benar memberikan kenikmatan yang tak dilupakan olehnya. Rasa nikmat itu benar-benar menguasi diri Salwa. Salwa sampai merem melek tiap kali merasakan sodokan dari V. Tubuhnya bahkan sampai terangkat naik akibat sodokan dari V yang begitu kuat dan dalam.

"Aaahhhh usttaddzzz enakk bangettt" Desah Salwa yang mulai merasakan tanda-tanda orgasme semakin dekat.

"Hahaha tuh kan apa ana bilang... Pasti bakalan enak kok... Makanya lain kali nurut yah kalau dibilangin" Ucap V menasehati.

"Aaahhh iyyahh... Iyahhh ustadz... Iyaahhh... Maafin ana tadi udah merengek duluann... Aaahhh... Aaahhhh" Desah Salwa yang terus terdorong maju mundur.

"Hahaha ana maafin gak yahhh ?" Ucap V yang malah memainkan birahi Salwa dengan cara menusuknya kuat lalu tiba-tiba mencabutnya. Saat Salwa gelisah karena vaginanya tak diisi oleh penisnya. V langsung membenamkan penisnya lagi hingga tubuh Salwa kelojotan karena tidak siap. Saat lagi enak-enaknya, V tiba-tiba mencabut penisnya lagi yang membuat Salwa gelisah lagi. Lalu tiba-tiba V mengambleskan penisnya hingga membuat bidadari cantik itu terpuaskan oleh tusukan kuatnya.

"Aaahhh ustaddzzz... Jangann dimaininnn... Tolonggg tusukk aja yang kuat ustaaddzz... Jangan dicabut-cabut lagiiii" Rengek Salwa yang membuat V tertawa.

"Hahahah begini maksudnya ? Heennkgghhh !!!" Desah V memperkuat hujamannya.

Jleeeebbbbbh !!!

"Aahhhh iyaahhh iyaahhh... Iyaahhh ustaaddzz" Desah Salwa keenakan menahan hujamannya.

Penis itu dengan cepat masuk menerobos liang senggama Salwa. Penis itu langsung ambles hingga menyundul dinding rahim santriwati tercantik itu. Penis itu begitu mudah memasuki liang senggamanya akibat cairan pelicin yang sudah membasahi liang senggamanya. Tanpa adanya hambatan, tanpa adanya rintangan. Penis itu langsung menerobos masuk hingga membuat Salwa merinding merasakan sensasi nikmatnya ditusuk menggunakan penis sebesar itu.

"Ouuhhh nikmatnyaaa... Nikmat sekali memek rapet antum ini, Salwa" Desah V dengan penuh nafsu merasakan jepitan vagina santriwati itu.

"Ouuhhh iyyahhh... Iyyaahhh... Kontol antum juga ustadz... Uuhhh" Desah Salwa blingsatan merasakan sensasinya.

Salwa merem melek tanpa sadar atas kenikmatan yang sedang melanda liang senggamanya. V tersenyum puas mendengar desahan manja dari santriwatinya. Ia terus menggerakan pinggulnya tuk merasakan jepitan yang sangat menggairahkan.

"Ouuhhh ustaddzz... Ouyhhhh ustaddzzz" Salwa terus saja mengerang menahan tusukan ustadz tampan itu. Suaranya terdengar menggoda. Suaranya sangat menggairahkan. Erangannya yang sangat manja membuat V semakin dilanda birahi dalam menikmati jepitan bidadari satu ini.

Payudaranya yang indah bergerak seirama. Tubuh polosnya terdorong maju mundur saat terbaring dihadapannya. Tangan V sampai gemas hingga memengangi payudaranya. Kekenyalan yang ia rasakan membuatnya jadi semakin bernafsu saat menyetubuhinya.

Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Penis itu tanpa ampun menghukum rahim kehangatan Salwa karena sudah membuatnya ketagihan.

"Ustaaddzzz ahhhh... Ustaadzzz ahhhh... Kennceennngg bangett" Desah Salwa semakin keras.

Salwa tidak bisa lagi berkata apa-apa akibat tusukan birahi ustadznya yang telah menggetarkan dinding rahimnya. Ia hanya bisa pasrah mendesah membiarkan ustadz kurus itu bertindak sepuasnya dalam melayani nafsu birahinya. Tak tahan, V kembali menjatuhkan dirinya untuk menikmati keindahan dadanya. Kedua tangannya jadi semakin kuat dalam meremasi payudaranya. Bibirnya juga ikut andil dalam merangsang birahinya dengan mencumbui tengkuk lehernya. Pinggulnya jadi semakin aktif. Hujamannya jadi semakin kuat dan cepat yang membuat santriwati itu terkapar tak berdaya saat ditindihi olehnya.

Plokkk... Plokkkk... Plokkk !!!

Bunyi benturan antar pinggul itu saat V memperkuat hujamannya.

"Ahhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhhh" Desah Salwa semakin keras.

"Aaahhhh nikmat bangeettt Waaa.... Ana sampai gak kuat lagiii... Ana hampir keluar sebentar lagi" Ucap V ditengah hujamannya.

Hujaman kuat yang V berikan membuat Salwa tidak mampu membalas perkataan V. Sedari tadi matanya hanya bisa memejam dan kedua tangannya hanya bisa memegangi sprei kasur empuk yang menjadi alas tidurnya. Tubuhnya yang tinggal menyisakan hijab beserta kaus yang terangkat dan juga cardigan yang masih membalut tubuhnya itu semakin lemas. V pun tersenyum puas.

Ia mulai merasa kalau penisnya kini seperti sedang disedot-sedot oleh lubang kemaluan bidadari cantik itu. Ujung gundulnya pun berdenyut pelan. Terasa nafasnya semakin sesak membuat dirinya tidak kuat lagi untuk menahan sensasi kenikmatan ini.. Ia pun mempercepat genjotannya agar ia bisa semakin puas saat mendapatkan orgasme melalui jepitan dinding rahim bidadari tercantik yang sudah tidak perawan lagi.

"Ahhh... Ahhh... Salwaaa... Ana gak kuat lagi... Ana mau keluarr... Anaa mau keluarrrrr" Desah V semakin bernafsu.

"Aaahhh iyaahhh ustadzzz... Ana jugaaa... Ana rasanya kayak mau pipissss" Desah Salwa yang semakin keenakan.

Kenikmatan yang tak mampu ditahan lagi membuatnya segera mendorong penisnya jauh lebih dalam lagi. V menusuk rahimnya sedalam-dalamnya. Ia pun melampiaskan syahwatnya pada santriwati yang baru ia perawani itu.

"Aaahhhh Salwaaa... Anaaaa kellluuaarrr" Desah V mantap.

"Aaahhh ustaaddzzz ana jugaaaa" Desah Salwa menyusul kemudian.

Crroott... Crroott... Crroott !!!

V menegakkan tubuhnya. Wajahnya ia dongakkan saat spermanya dengan deras menyembur rahim santriwatinya. V sampai ngos-ngosan dibuatnya. Saat pandangannya ia turunkan untuk menatap Salwa yang terkapar dihadapannya. Ia tersenyum puas. Nampak Salwa kelelahan dengan keringat yang membasahi tubuh seksinya. Salwa tersenyum malu. V pun tertawa puas sambil menatap santriwatinya itu.

"Hah.... Hah... Hah... Terima kasih atas hadiahnya yah Wa... Ana suka banget sama hadiah yang antum berikan itu" Puji V yang membuat Salwa tersipu.

"Hihihi sama-sama ustadz... Ana juga, hah... Hah... Hah... Akhirnya lega bisa menjadi wanita dewasa" Ucap Salwa malu-malu yang membuat V tersenyum. V pun menghadiahi santriwatinya dengan cumbuan penuh nikmat yang membuat santriwati itu nyaris kehabisan nafas. Setelah puas, V pun menarik lepas penisnya dan melihat spermanya dengan deras keluar dari dalam rahimnya. V tersenyum saat melihat lelehan spermanya yang berwarna agak kemerahan.

"Dasar antum... Nakal banget sih udah ngasih hadiah begini ke ana" Ucap V sambil menarik tangan Salwa untuk membantunya berdiri.

"Habis gimana lagi ? Ana rela ngelakuin ini demi kebahagiaan antum ustadz... Ustadz janji kan bakal menikahi ana setelah ini ?" Ucap Salwa yang membuat V terkejut saat mendengarnya.

"Ehh iyya dong... Iyya pasti... Tapi jangan sekarang yah... Antum gak buru-buru kan ?" Tanya V gugup.

"Hihihi ya masa sekarang... Sekarang aja ana mau pulang ke rumah... Santai ustadz, ana siap kapanpun kok, tolong temui orang tua ana segera yah" Ucap Salwa sambil memeluk V untuk melepaskan rasa rindunya.

"Iyya Salwa... Sekarang mandi dulu yuk... Malu nanti kalau ditanya temennya kok keringetan gini" Ucap V menatap Salwa.

"Hihihi antum juga yah... Tolong sabunin ana nanti" Ucap Salwa dengan manja yang membuat V tertawa.

"Naam ukhty... Tapi pertama buka dulu yah bajunya" Ucap V sambil melepas kaus beserta cardigan yang masih Salwa kenakan. Tak berselang lama giliran hijabnya yang V lepas dari kepalanya. Nampak rambut panjang Salwa yang terikat ekor kuda ke belakang terlihat. V tersenyum. Rupanya tanpa hijab pun Salwa masih cantik juga.

"Gimana ustadz ? Antum suka ?" Tanya Salwa yang bentuk tubuhnya mirip Riri Nanatsumori itu.

"Suka banget... Antum tipe ideal ana banget" Ucap V spontan yang membuat Salwa senang.

“Hihihih antum suka cewek yang berambut pendek apa panjang nih ?” tanya Salwa malu-malu sambil memuntir-muntir rambutnya itu.

“Sebenarnya ana lebih suka rambut pendek sih hehe” ucap V yang agak membuat Salwa kecewa.

“Yahhh kalau gitu nanti ana bakal potong rambut deh” ucap Salwa memaksa senyum.

“Eh gak usah Wa... Jadi dirimu sendiri aja... Siapapun itu, jodohmu nanti pasti tidak akan mempermasalahkan fisikmu itu” ucap V yang membuat Salwa tertawa.

“Makasih yah... Mas V, hihihihi” tawa Salwa malu-malu.

Dengan segera, mereka berdua pun bergegas menuju kamar mandi yang berada di belakang asrama ini. Untungnya mereka menemukan handuk yang ditinggali oleh salah satu santri. Mereka mandi bersama kemudian bergegas-gegas untuk pergi dari tempat ini agar tidak ketahuan oleh orang lain.

BEBERAPA SAAT KEMUDIAN

"Eh Salwa... Anti lama banget sih... Dari mana aja ?" Tanya Lastri saat melihat Salwa yang berjalan mendekat.

"Hehe maaf... Ana tadi bersantai-santai dulu di asrama... Ana tepat waktu kan ?" Tanya Salwa sambil berjalan dengan agak kesulitan.

"Eh anti kenapa ? Kok jalannya gitu ?" Tanya Lastri seketika mengkhawatirkan keadaan temannya itu.

"Ahh gapapa kok... Gapapa" Tanya Salwa malu-malu karena habis di perawani itu.

"Huhhh dasar malah gak dijawab" Tanya Lastri kesal.

"Hihihi habisnya antum duluan yang gak ngejawab pertanyaan ana" Ucap Salwa tersenyum yang membuat Lastri kesal.

"Ihhh nyebelin dasar" Ucap Lastri yang membuat Salwa tertawa.

Kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 12 tepat. Salwa dan teman-teman satu daerahnya diminta untuk menaiki bus dengan segera. Saat Salwa sudah duduk di dalam, ia tanpa sengaja menatap ke arah jendela luar. Ia seketika teringat waktu 3 jam yang sudah ia habiskan bersama ustadz yang ia cinta.

"Ustaaddzzs" Lirih Salwa yang tentunya akan sangat merindukannya.

Satu bulan lebih tanpa sosoknya. Pasti Salwa akan rindu berat kepadanya. Untungnya tadi ia sudah menghabiskan waktu 3 jam untuk bercinta dan bertatap muka. Ia ingat betul kalau tadi setelah mandi pun ia sempat melakukan ronde kedua bersamanya. Lalu setelah itu ia diajak makan berdua bersamanya. Ia pun mengobrol panjang lebar yang membuatnya akan selalu mengenang proses menuju kedewasaannya ini.

Kebetulan bis yang Salwa naiki telah jalan. Saat Bis itu melewati kantor bagian pengasuhan santri. Salwa melihat sosok yang tadi telah memerawaninya tengah lewat di hadapan matanya. Kebetulan V juga menoleh. Mata mereka bertemu dan senyum mereka saling tukar. V pun melambaikan tangan tanpa sadar. Salwa juga membalas lambaian tangannya itu. Salwa jadi semakin bahagia. Ia pun tersenyum tanpa sadar yang membuat Lastri yang duduk disebelahnya curiga.

"Eh anti kenapa ? Ada siapa sih ?" Tanya Lastri heran sehingga ingin melihat ke arah jendela.

"Ehhh gak ada siapa-siapa kok" Ucap Salwa sambil menghalangi jendela.

"Ihhh anti kenapa sih ? Daritadi aneh banget deh... Udah jalannya gitu terus sekarang senyum-senyum sendiri lagi... Anti gila yakkk" Ejek Lastri yang hanya dijawab Salwa dengan tertawa.

"Iyya hihihihi" Jawab Salwa yang membuat Lastri ketakutan. Lastri pun langsung diam sambil menggelengkan kepalanya.

Iyya, aku udah gila... Tapi lebih tepatnya aku tergila-gila kepadanya...

Batin Salwa yang sudah merindukan sosoknya.


*-*-*-*


Sore harinya.

“Waahhh gila panas banget... Padahal belum masuk bulan puasa... Tapi rasanya udah secapek ini, gimana nanti pas bulan puasa yah ? Batalin aja kali yak ? Yahaha” ucap seorang kuli yang sedang bekerja di teras gedung yang hampir jadi.

Tak terasa gedung yang sudah dikerjakan hampir berbulan-bulan itu sebentar lagi akan segera jadi. Ia bersama rekan kerjanya pun tampak bangga. Gedung yang rencananya akan dijadikan asrama itu tinggal dilakukan finishing saja berupa pemasangan keramik juga pengecetan di bagian sisi luar gedung tersebut.

“Eh, bapak ? Semangat banget pak kerjanya” ucap seseorang sambil menepuk bahu kuli tua itu dari belakang.

“Eh pak Karjo... Iya nih pak... Soalnya sebentar lagi pekerjaan kita udah mau selesai... Wajar dong kalau saya semakin bersemangat, yahahaha” ucap kuli itu tertawa saat berbicara dengan bosnya.

“Kekekekek... Betul sekali pak... Gak nyangka pekerjaan kita udah mau rampung... Oh yah, gara-gara ngeliat bapak yang bersemangat, saya jadi ingin memberikan hadiah untuk bapak” ucap pak Karjo sambil tersenyum mesum.

“Wah hadiah ? Hadiah buat apa pak ? Gak usah pak... Saya mah gak pantes untuk diberi hadiah” Ucap kuli itu menolak.

“Kekekek Enggak... Bapak pantes kok, besok sore bapak jangan dulu pulang yah... Ada hadiah gak terduga yang akan saya berikan... Dijamin, bapak bakalan nyesel kalau pulang duluan” ucap pak Karjo yang membuat kuli itu penasaran.

“Ehhh aduh... Jadi seneng saya yahahah... Emang hadiahnya apa pak ?” ucap kuli itu yang malah membuat pak Karjo tertawa.

“Lihat saja besok... Saya yakin, bapak akan sangat bersyukur ke saya !” ucap pak Karjo sambil pergi meninggalkan kuli tua itu.

“Yahh bapak... Bikin penasaran aja” ucap kuli tua itu saat diberi kabar nanggung oleh bosnya. Tapi kalau dipikir-pikir, bosnya ini memang jarang memberikan hadiah kepada anak buahnya. Kuli tua itu pun jadi bersemangat. Kira-kira, hadiah besar apa yah yang akan menantinya di sore esok yah ?

Sementara itu dari kejauhan.

“Kekekek... Beruntung sekali dirimu pak Syamsul... Selamat karena sudah dipilih oleh ustadzah Haura untuk dapat menikmati tubuhnya... Simpan tenagamu sekarang, luapkan nafsumu besok... Saya tunggu aksi buas bapak untuk membinalkan ustadzah Haura besok !” lirih pak Karjo sambil menoleh ke belakang untuk menatap kuli tua berkepala botak yang hanya mempunyai rambut di pinggir kepalanya saja.

“Tapi sayang rambutnya bapak sudah mulai tumbuh, jadi berkurang gantengnya tapi gapapa... Kekekekek... Bapak bakalan tetep menjadi kesukaannya dia kok... Gak sabar saya melihat goyanganmu pada kuli pilihanmu itu, ustadzah” lirih pak Karjo sambil memandangi foto Haura yang ia temukan di hapenya.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy