“Astaghfirullah, dekkk” ucap Hendra dengan keras yang membuat pak Karjo serta Haura reflek menengok ke belakang, tepatnya ke arah pintu masuk kamarnya.
“Dekkk, kok bajunya berantakan gini sih ?” ucap Hendra yang rupanya masih berada di ruang tamu saat menemukan pakaian Haura yang berserakan disana.
“Pakkk awass pakk... Awasss sebelum suamiku masuk” lirih Haura sambil mendorong tubuh pak Karjo agar menjauh darinya.
“Kekekek sebentar lagi ustadzah... Nanggung, sllrrppp... Sllrrrppp” desah Karjo sambil menjilati pipi Haura.
“Eenggakkk... Jangannn sekaraanggg ihhh... Nanti aja !” ucap Haura yang akhirnya membuat pak Karjo mengalah.
Seketika dari luar pintu kamar yang agak sedikit terbuka, nampak sebuah bayangan mendekat yang membuat pak Karjo dan Haura panik seketika saat melihatnya.
“Buruan pak, ngumpet dibawah kolong” ucap Haura sambil membenahi mukenanya agar tubuh polosnya tidak terlihat oleh suaminya.
Untungnya Karjo patuh, ia pun segera pergi ke bawah ranjang tidur pemuas nafsunya untuk menyembunyikan tubuh kekarnya.
“Deekkk... Kok itu bajunya berantakan sihhh” ucap Hendra saat memasuki kamarnya.
“Hehehe anu mas... Tadi adek abis olahraga... Terus gerah deh... Jadinya buka baju disana” ucap Haura yang malah teringat olahraganya bersama pak Karjo.
“Olahraga ? Bukannya adek puasa ?” tanya Hendra heran.
“Ehhh iya mas... Makanya adek olahraga biar pas buka lebih terasa” ucap Haura gugup saat menyembunyikan kebohongannya.
“Huhh dasar ? Udah shalat ?” tanya Hendra sambil mendekat ke arah istri cantiknya.
“Heheh udah kok mas” jawab Haura sambil menatap wajah suaminya.
“Sama siapa ? Kok itu ada sajadah dua ?” tanya Hendra yang membuat Haura panik.
“Ehhh anu... Tadi niatnya adek mau nunggu mas... Tapi masnya gak pulang-pulang, jadinya adek shalat sendiri deh” jawab Haura sambil matanya melirik ke arah belakang suaminya saat melihat seseorang bertubuh kekar yang sudah telanjang mengendap-ngendap ke arah pintu masuk kamarnya.
“Eh adek liatin apa ? Ada apa di belakang ?” tanya Hendra hendak melihat ke belakang.
“Eehhh gak ada apa-apa mas... Mmppphhhh” reflek Haura menarik wajah suaminya kemudian memajukan bibirnya untuk mencumbunya dengan mesra. Tepat saat itu wajah Haura melirik ke belakang meminta agar pak Karjo mempercepat lajunya sehingga bisa segera pergi dari kamarnya ini.
“Mmpphh dekkk... Kok malah ngajakin ciuman sih” ucap Hendra senang saat istrinya itu melepas cumbuannya.
“Hehehe abis adek gak nahan dari pagi nahan puasa mas... Makanya adek nafsu pengen nyium mas” ucap Haura berbohong karena sebenarnya nafsunya sudah terpuaskan oleh pak Karjo.
“Hahaha dasar... Jangan sekarang yah dek, nanggung udah mau isya... Mas juga belum shalat nih” jawab Hendra.
“Iiihhhh belum shalat ? Dasar ! Buruan ihhhh” ucap Haura meminta suaminya untuk segera beribadah tapi seketika menahannya saat mengetahui pak Karjo masih berada di ruang tamunya.
“Tadi katanya buruan tapi tangan mas ditahan” ucap Hendra tersenyum mupeng.
“Hehehe bentar-bentar” ucap Haura segera beranjak dari ranjangnya kemudian menengok ke arah luar kamarnya.
Pak Karjo udah pergi yah ? Syukurlah !
Batin Haura merasa lega.
“Dah mas... Buruan !” ucap Haura yang hanya ditanggapi oleh senyuman dan anggukan oleh suaminya.
“Siap sayang” ucap Hendra beranjak pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu.
“Huffttt nyaris aja tadi ketahuan... Kenapa aku tiba-tiba sebinallll... Eehhh...” ucap Haura terpotong saat payudaranya tiba-tiba diremas dari belakang.
“Kekekekekek saya belum puas ustadzah... Saya belum puas” ucap Karjo yang rupanya sedang meremas payudara Haura dari luar mukena yang dikenakannya.
“Paaakkk... Aahhhhh... Aahhhhh... Jangannn... Ada suami aku lagi di kamar mandi” ucap Haura panik.
“Kekekekek sebentar aja ustadzah !” ucap Karjo memaksa meski sudah mengeluarkan spermanya dua kali di tubuh bidadarinya.
Dengan tega ia menarik lepas mukena ustadzah tercantik itu sehingga membuatnya bertelanjang bulat di depan kamar pribadinya. Penisnya yang sudah mengeras ditancapkan lagi ke dalam vaginanya. Haura terkejut karena penis hitam itu sudah kembali tegang meski sudah memuntahkan lahar hangatnya dua kali, satu di mulutnya dan satu di rahimnya.
“Kekekekek... Siap-siap yahhh.... Hennkgghhh !!!” desah Karjo yang langsung menghentakkan pinggulnya.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh” desah Haura dengan keras karena tak sanggup menahan hujaman kuli tua itu.
Dalam posisi berdiri membelakangi. Tubuh Haura disetubuhi lagi oleh pejantannya saat suaminya sedang berwudhu di dalam kamar mandi rumahnya. Tubuh Haura bergerak maju mundur. Kedua payudaranya bergondal-gandul. Nampak perut ratanya dibelai oleh tangan kekar pejantannya. Nampak payudara sebelah kirinya juga dibelai oleh tangan hitam pejantannya. Mulut Haura membuka lebar. Matanya pun memejam karena tak sanggup menahan hujaman penuh tenaga dari pejantan tuanya.
“Aaaahhh... Aaahhhh... Hadap sini ustadzah” pinta Karjo yang segera dituruti oleh bidadarinya.
“Mmmppphhhhh”
Mereka bercumbu. Bibir mereka saling menempel. Kedua insan yang sama-sama sudah bertelanjang bulat tanpa menyisakan satu helai kain pun itu semakin menikmati persetubuhan terpanasnya. Bibir mereka saling dorong. Bibir mereka saling sepong. Tak peduli dengan kehadiran suami dari pemuas nafsunya yang berada di kamar mandi, pak Karjo terus menggempur vaginanya dengan begitu keji. Keji ? Mungkin terlalu brutal. Sodokannya itu lebih ke beringas selayaknya hewan buas yang tak pernah merasa puas.
Memang, siapa yang bisa puas menyetubuhi akhwat cantik yang sudah bertelanjang bulat menampakkan tubuh telanjangnya. Apalagi saat kedua payudaranya bergoyang semakin kencang. Jepitan vaginanya juga terasa menendang-nendang. Pak Karjo begitu puas. Kuli tua bertubuh kekar yang mempunyai wajah jelek itu mempercepat hujamannya dikala bibirnya terus menghisap bibir pemuas nafsunya.
“Mmmpphhh pakkk... Mmpphhhhh” desah Haura panik andai suaminya keluar dari kamar mandi kemudian melihat dirinya tengah disetubuhi oleh kuli tua yang sangat dipercayai oleh sang suami. Anehnya membayangkan hal itu membuat dirinya bernafsu. Ia pun teringat persetubuhannya di gedung baru itu saat hampir kepergok oleh pak Dino. Ia ingat betul saat dirinya digenjot dalam posisi yang sama seperti sekarang kemudian wajahnya terdorong maju mundur ke arah kain pembatas yang memisahkan ruangan persetubuhannya dengan ruangan para kuli yang sedang bekerja. Rasa itu kembali ia rasakan sekarang. Rasanya sama. Rasa yang membuatnya semakin bergairah karena nyaris ketahuan oleh seseorang dikala bercinta.
“Mmpphhh... Mmphhh... Saya mau keluar ustadzahh... Saya mau keluar lagi... Kekekekek” tawa Karjo setelah melepas cumbuannya.
“Aaahhh... Aaahhhh... Iyaahhh, buruan pakk... Keluarkan sekarang !” ucap Haura semakin bergairah karena melihat sekilas suaminya hendak keluar dari dalam kamar mandi yang sedikit terbuka.
“Kekekekek siappp ustadzahhh... Siapp” ucap Karjo mempercepat genjotannya.
“Aaahhh... Mmpphhh... Mmmpphhh” desah Haura merapatkan bibirnya kemudian matanya ia pejam sambil menghadap ke depan.
Plokkkk... Plokkk... Plokkk...
Maju mundur maju mundur maju mundur. Suaranya terdengar keras saat dua kelamin itu terus bertempur. Kedua tangan pak Karjo berpindah memegangi tangan Haura yang kemudian ia tarik ke belakang. Haura pun pasrah saat tubuhnya condong ke depan sambil dipegangi tangannya oleh pak Karjo ke belakang. Payudaranya bergoyang semakin kencang. Payudaranya terlihat semakin menggairahkan.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aahhhh akhirnya ustadzahhh... Rasakan ini lagii !!!” ucap Karjo menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di rahim Haura.
“Mmmpphhhhh” desah Haura memejam saat rahimnya kembali terisi oleh sperma pejantannya.
Crroott... Crroott... Crrooottt !!!
Seketika pintu kamar mandi terbuka. Reflek pak Karjo melepaskan dekapan tangannya sehingga Haura langsung terjatuh dalam posisi berlutut diatas keramik rumahnya. Sedangkan kuli tua yang tidak bertanggung jawab itu langsung kabur keluar rumah sambil membawa celana pendeknya yang jatuh berserakan di ruang tamu rumah betinanya.
“Astaghfirullah, adek” ucap Hendra terkejut melihat istrinya sudah telanjang bulat tengah jatuh menungging seolah sedang sujud kepadanya.
Seketika Haura menaikan wajahnya. Wajahnya benar-benar menggairahkan. Hendra sampai lupa kalau dirinya sudah wudhu, ia langsung memegangi penisnya tanpa sadar.
“Hehe mas... Uuuhhhhh” desah Haura tersipu saat merasakan sperma pak Karjo mengalir keluar membasahi keramik rumahnya. Ia pun bangkit dalam posisi berlutut untuk menyembunyikan noda kental dari kuli tua itu.
“Dekkk... Tahan bentar dong... Mas baru aja wudhu” ucap Hendra saat melihat wajah sangek istrinya.
Seketika tak lama kemudian terdengar suara adzan. Hendra seketika panik.
“Loh udah isya ?”
*-*-*-*
Sementara itu di luar rumah.
“Kekekek puasnya bisa keluar tiga kali” ucap Karjo berjalan sambil bertelanjang dada tanpa rasa malu. Padahal ada banyak ustadz & ustadzah yang melihatnya keheranan. Mereka semua pada heran saat melihat kehadiran orang asing yang jarang-jarang mereka lihat disekitar sini.
“Pak... Muwehehehe” ucap seorang santri berjalan mendekatinya.
“Gimana ? Sudah kamu buat binal ?” tanya kuli tua itu mengenalinya.
“Muwehehe ustadzah Nada masih belum binal... Tapi benih-benihnya sudah saya tanamkan di otaknya” ucap santri mesum bernama Lutfi itu.
“Kekekek kerja bagus... Sepertinya rencana kita berjalan lancar sejauh ini” kata pak Karjo tertawa.
“Jelas... Sesuai target kita... Kita harus membinalkan semua ustadzah yang berada di pesantren ini” ucap santri mesum itu bangga setelah berhasil memejuhi ustadzahnya yang memiliki body sempurna.
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
Nampak seorang ustadzah berjalan pulang dari kantor bagiannya. Wajahnya terlihat kebingungan. Wajahnya juga terlihat resah. Sejak pagi, ia berada di kantor bagiannya demi menemui seseorang. Tapi sayangnya, orang itu tidak datang menemuinya. Ia pun ketakutan. Ia jadi kalut setelah melihat kejadian di hari kemarin. Kejadian yang berada tepat di sebelah rumahnya. Tepatnya di rumah ustadzah Haura.
“Astaghfirullah... Kenapa ustadzah Haura jadi seperti itu ? Kenapa wajahnya terlihat berbeda ? Kenapa sikapnya terlihat berbeda ? Itu ustadzah Haura kan ? Kenapa ia rela menyerahkan tubuhnya untuk disetubuhi pak Karjo ?” ucap Nada sambil menggaruki kepalanya.
Selepas menjadi pengawas ujian, ia langsung pergi menuju kantor bagiannya berharap dirinya bisa bertemu dengan penyelamat jiwanya. Namun, cukup lama ia menunggu disana. Ia tak bertemu dengannya. Padahal ia sangat ingin berbicara dengan pak Heri, sesosok pria tambun yang berulang kali telah menikmati keindahan tubuhnya itu. Ia ingin diculik olehnya. Ia ingin dibawa pergi agar tidak bertemu dengan pak Karjo lagi.
Ustadzah berwajah cantik yang memiliki tubuh body goals itu tengah berjalan sambil mengenakan kaus berlengan panjang berwarna abu-abu serta celana training panjang berwarna biru. Hijab berwarna hitam membalut kepalanya. Bahkan ia sudah mengenakan topi demi menutupi identitasnya saat dibawa pergi oleh pak Heri nanti.
Meski penampilannya seolah biasa saja. Tubuhnya yang begitu sempurna membuat pandangan para santri yang melihatnya jadi tidak fokus. Lihat saja tonjolan indah di dadanya. Tonjolan itu tampak maju bahkan mengalahkan kaus longgar yang sudah Nada kenakan. Celana trainingnya juga agak ketat sehingga membentuk lekuk kaki jenjangnya. Penampilan Nada secara keseluruhan sangat indah dan tentunya sangat merangsang gairah.
“Hah... Padahal tadi sebelum dzuhur aku sempet ngeliat pak Heri... Tapi kenapa pas aku sempetin pulang ke rumah buat ganti baju terus pas aku kesana lagi aku malah gak ketemu pak Heri ?” lirih Nada tampak kecewa.
Ia dengan lemah pun berjalan pulang menuju rumahnya. Seketika ia melewati rumah Haura. Nampak ia melihat sendal asing yang terparkir di depan rumahnya lagi.
“Astaghfirullah ? Ini gak mungkin kan ?” tanya Nada seketika perasaannya tidak enak.
Diam-diam ia berjalan mendekat ke arah rumah Haura yang pintunya agak sedikit terbuka. Semakin ia mendekatinya, ia semakin mendengar suara aneh yang membuatnya merinding. Nada menenggak ludahnya. Nada pun mencoba mengintip ke dalam rumah milik ustadzah tercantik itu.
“Kekekek ustadzah nakal... Ustadzah binal... Ustadzah macam apa yang katanya puasa tapi sudah bikin kontol saya ketagihan tuk menikmati jepitan manja memekmu itu, ustadzah... Kekekkeke” tawa seorang pria tua berkulit hitam yang sedang memaju mundurkan pinggulnya.
“Aaahhhh itu aku pak... Ituu akuu... Ustadzah yang akan memuasimu pak... Ustadzah yang akan memuasi para kuli... Aahhhh... Aahhhh” desah seorang ustadzah yang sudah bertelanjang bulat saat menungging bertumpu pada dinding. Nampak tubuh mulusnya terdorong maju mundur. Kedua payudaranya meloncat-loncat kegirangan. Ekspresi wajahnya begitu binal. Mata Nada sampai membelalak. Ia pelan-pelan melangkah mundur lalu berlari pergi menjauhi rumah terlaknat itu.
“Ustadzah Haura ? Apa ustadzah sudah gila yah ?” katanya saat mendengar Haura ingin dipuasi para kuli.
Nada merinding ketakutan. Ia pun berlari secepat mungkin menuju rumahnya.
“Hah... Hah... Hah...” desah Nada ngap-ngapan saat menundukan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya. Ia sudah berada di teras rumahnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.
“Kenapa ustadzah Haura sepertiii... Aaahhhh” desah Nada terkejut saat tiba-tiba bokongnya ditabok dari belakang.
Ketika Nada menolehkan wajahnya ke belakang. Matanya langsung membelalak saat melihat seorang santri yang sudah berdiri di belakangnya.
“Muweheheh... Assalamualaikum ustadzah” ucap santri mesum bertubuh kurus dan berkepala botak itu.
Luuttt... Luttffii ?
Batin Nada tak percaya.
Nada ingin lari, tapi tubuhnya didorong oleh Lutfi kemudian membawanya masuk menuju ke dalam rumahnya.
Cekleeekkk !
Lutfi menutup pintu itu dengan rapat. Santri mesum itu lekas berbalik tuk menatap wajah ustadzahnya. Lutfi tersenyum mesum. Dipandanginya tubuh jangkung ustadzah yang pernah ia setubuhi itu. Lutfi menjilati tepi bibirnya. Lutfi menggosok-gosok telapak tangannya. Perlahan ia mulai mendekat yang membuat Nada reflek mundur menjauhi santrinya.
“Lutfiii !!! Mau apa lagi ? Jangan lakukan ini lagi ke ustadzah, Lutfi !” ucap Nada saat merasakan firasat buruk dari santri mesum itu.
“Muwehehhe maaf ustadzah... Ana punya misi yang harus ana jalankan sendiri” ucap Lutfi yang membuat Nada keheranan.
“Misi ?” ucap Nada yang masih berjalan mundur.
“Naam ustazah... Misi untuk membinalkan antum !” ucap Lutfi bergegas maju yang membuat Nada merinding mendengarnya.
“Aaaahhh Lutfiiiii” desah Nada saat tubuh jangkungnya dipeluk kemudian bokong sekelnya diremes dengan penuh nafsu.
“Muwehehehe kenyal banget sih bokong antum, ustadzah” ucap Lutfi sambil menatap wajah Nada yang begitu menggairahkan.
Lutfi jadi tidak tahan. Wajahnya ia dekatkan untuk mencumbui bibir ustadzahnya.
“Mmpphh” desah mereka berciuman.
Dikala bibir Lutfi mendorong maka kedua tangannya menekan bokong montok ustadzahnya ke arahnya. Terasa penisnya yang sudah menegak menyundul selangkangan ustadzahnya. Kedua tangannya itu terus meremas-remas. Ia meremasnya dengan begitu gemas. Tak terasa hawa sekitar menjadi panas. Ciuman mereka juga semakin memanas.
Bibir Lutfi membuka. Bibirnya mencaplok keseluruhan bibir ustadzahnya hingga liurnya memenuhi bibir tipis itu. Lidahnya kemudian merengsek masuk menembus pertahanan mulut ustadzahnya. Kendati Nada berusaha bertahan agar mulutnya tidak dimasuki lidah nista santrinya. Remasan kuat yang ia terima di bokongnya membuat ia tak tahan untuk mendesah sehingga mulutnya membuka.
“Aaaahhhhhh”
Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Lutfi. Lidahnya merayap masuk. Lidahnya menjilati setiap sisi rongga mulut ustadzahnya. Nada tak nyaman, tangannya berusaha mendorong tubuh santrinya menjauh. Tapi nafsu Lutfi lebih besar sehingga tubuhnya tidak bergeming saat Nada berusaha mendorongnya.
“Mmpphhh lepaskannn Lutfiii... Lepaskaannn” desah Nada terus bertahan dengan menutup rapat mulutnya. Sialnya hal itu justru membuat Lutfi semakin terangsang karena lidahnya terjepit oleh bibir ustadzahnya. Lutfi tersenyum puas. Kedua tangannya mulai berpindah membelai sisi pinggang ustadzahnya. Nada jadi merinding. Cumbuan serta rabaan di tubuhnya membuat ia merasakan kenikmatan yang tiada tanding. Nada tak sadar memejam. Nada tak sadar membuka mulutnya. Ia malah hanyut dalam belaian santrinya ditengah pemerkosaan yang dialaminya. Tanpa sadar lidahnya terbawa oleh permainan lidah santrinya. Lidahnya pun menjulur keluar, Lutfi dengan sigap langsung mengulum bibir ustadzahnya itu.
“Mmpphh... Mmpphhh manis banget lidah antum ustadzahh... Mmpphhh” desah Lutfi saat memaju mundurkan mulutnya saat mengulum lidah ustadzahnya. Lutfi seperti sedang menyepong lidah ustadzahnya. Tak jarang lidahnya yang bermain sehingga lidah mereka saling bersentuhan di luar. Lidah mereka seperti saling mejilat. Lidah mereka seperti saling menampar. Lidah mereka seperti sedang bersalaman yang membuat nafsu birahi mereka semakin bangkit meski Nada sebenarnya tidak ingin mendapatkannya.
Seketika, Nada merasakan remasan kuat di dada yang membuat gairah birahinya semakin naik menguasai dirinya. Lutfi tersenyum saat menatap wajah sangek ustadzahnya. Lutfi terus memainkan dada ustadzahnya. Kedua tangannya pun mencengkram kuat sehingga membuat ustadzahnya mendesah nikmat.
“Uuuuuhhhh Lutffiiii” desah Nada memejam yang membuat Lutfi merinding mendengar desahannya.
“Muweheheh nafsuin banget sih wajah antum ustadzah” ejek Lutfi saat menatap wajah sangek ustadzahnya.
“Aaahhhh jangan kerasss keras... Aahhh sakittt” desah Nada saat dadanya terus diremas oleh Lutfi.
“Muweheheh justru ana harus ngeremesnya kuat-kuat biar antum semakin merasakan kenikmatan dari ana, ustadzah” ucap Lutfi meremasnya lagi.
“Aaahhhhhhhh tapiii... Aaahhh sakittt Lutfiii” desah Nada sambil memegangi kedua tangan Lutfi yang terus mencengkramnya.
Lutfi tertawa ketika ustadzahnya nyaris menangis merasakan perih di dadanya. Lutfi tak tahan lagi, ia pun menurunkan tubuh ustadzahnya hingga berjongkok didepan selangkangannya. Dalam sekejap, ia menurunkan celana trainingnya. Penis Lutfi yang sungguh hitam dan keras itu pun terhidang didepan wajah ustadzahnya.
“Astaghfirullah” ucap Nada sampai menyebut karena kaget.
“Muweheheh... Gede kan ustadzah ? Ustadzah gak usah malu lagi yah... Udah dua kali loh kontol ana masuk menembus memek antum” ucap Lutfi mengejek Nada dengan membetot penisnya kemudian mengarahkannya ke wajah ustadzahnya.
“Aaahhhh hentikan” ucap Nada terlecehkan.
Wajah Nada jadi digosok-gosok oleh ujung gundul penis santrinya. Lutfi tersenyum, ia merasa sudah seperti seniman saja yang tengah memegangi kuas kemudian melukiskan karyanya pada secarik kanvas berupa wajah ustadzahnya. Nada kesal, ia merasa dilecehkan oleh santrinya yang bertubuh kurus. Apalagi saat menghirup aroma busuk yang berasal dari selangkangannya. Ia tahu pasti Lutfi belum mandi. Ia tahu pasti Lutfi belum mengganti sempaknya semenjak kemarin.
“Muwehehehe puas banget bisa melecehkan muka cantik antum, ustadzah... Gak nyangka ana bisa sebebas ini pas menggosok kontol ana ke muka sangek antum” ucap Lutfi tertawa saat merasakan sensasi liar ini.
“Lutfiii hentikaannn... Jangann lagi Lutfiii... Jannnggg... Mmpphhh” desah Nada terkejut saat mulutnya tiba-tiba dijejali penis santrinya.
Lutfi cerdas, ia sengaja menunggu ustadzahnya membuka mulut baru ia menjejalkan penisnya untuk dikulum oleh ustadzah pemilik body goals terbaik itu. Ia pun membuka kaosnya karena kepanasan. Ia kini sudah bertelanjang dada menyisakan celananya saja yang itupun sudah melorot hingga ke lutut serta topi berwarna putih yang menutupi rambut botaknya.
“Muweheheh bisa samaan gini ustadzah... Kita sama-sama pake topi... Topi ana warnanya putih sedangkan topi ustadzah warnanya hitam... Kayaknya ini menggambarkan kesukaan kita deh... Ana suka ustadzah yang punya kulit bening sedangkan ustadzah pasti suka kontol ana yang warnanya hitam legam” ucap Lutfi sambil memajukan pinggulnya hingga Nada tersedak oleh penis santrinya.
“Aarrkkllhh Lutfiiii” ucap Nada kaget saat penis itu terus memaksa masuk kendati sudah mentok di pangkal kerongkongannya.
“Aaahhhh puasnyaaa... Muwehehehe” ucap Lutfi sambil menarik penisnya lagi lalu langsung menyodoknya lagi.
Jleebbbb !!!
“Mmmpphhhh” desah Nada tak kuat hingga menitikan air mata.
Lutfi kembali menarik penisnya lalu menancapkannya kuat-kuat hingga mentok lagi ke dalam. Lagi, Lutfi menariknya lalu mementokannya lagi. Lagi, untuk kesekian kalinya. Lutfi menarik penisnya lalu mendorongnya dengan kuat hingga Nada hanya bisa pasrah diperlakukan serendah itu oleh santri mesumnya.
Jleebbbb !
“Mmpphhh Lutfiiiii”
Jleeebbbb !
“Mmmpphhh” desah Nada hingga air matanya jatuh menetes membasahi wajah ayunya.
“Muwehehehe... Nikmat sekali sepongan antum ustadzah” ucap Lutfi yang mulai bergerak pelan dalam merasakan kelembapan mulut ustadzahnya.
Lutfi sudah seperti menggenjot mulut Nada dengan pelan. Tak peduli dengan rintihan yang Nada keluarkan. Santri bejat itu terus melampiaskan nafsunya untuk menodai mulut ustadzahnya. Lutfi terpuaskan. Lutfi benar-benar puas saat melecehkan mulut ustadzah sholehahnya.
Mulut yang biasa digunakan oleh Nada untuk mengucapkan kata-kata sopan itu sedang dinodai oleh penis Lutfi. Nada pasrah. Mulutnya hanya bisa bertahan saat pinggul Lutfi terus bergerak maju mundur. Lidahnya di dalam juga hanya bisa pasrah saat digunakan sebagai alas untuk membasahi sisi bagian bawah penis santri mesum itu.
Lutfi terus bergerak maju mundur. Kedua tangannya memegangi kepala ustadzahnya agar tidak kabur. Rasa lembap yang dirasakan penisnya juga rasa mantap yang dirasakan ujung gundulnya membuat Lutfi tak bisa berhenti melecehi mulut ustadzahnya. Namun ia mempunyai ide lain untuk menikmati keindahan ustadzahnya ini. Ia pun mencabut penisnya membuat Nada merasa lega karena bisa kembali bernafas setelah tertahan oleh penis besar santrinya itu.
“Mmpphh... Mmpphh... Aaahhhhh” desah Nada setelah berhasil melepaskan diri dari sepongan santrinya.
“Muwehehehe... Gimana rasanya kontol ana ustadzah ? Manis bukan ?” tanya Lutfi sambil berjongkok dihadapan ustadzahnya itu.
“Lutfiii... Sudah ! Jangan lagi Lutfi... Ini ustadzah ! Kenapa antum tega ngelakuin ini ke ustadzah ?” Ucap Nada berharap Lutfi memiliki belah kasih kepadanya.
“Kenapa ? Muwehehehe... Ustadzah pasti sudah tau jawabannya kan ? Karena ustadzah itu masuk kriteria ana dalam project untuk membinalkan ustadzah-ustadzah cantik di pesantren ini” kata Lutfi sambil tertawa yang membuat Nada heran.
“Projek... Seperti ustadzah Haura ?” ucap Nada keceplosan yang langsung menutupi mulutnya.
“Muwehehe kok tau ? Ustadzah Haura itu bagiannya pak Karjo... Tau kan kalau pak Karjo berencana untuk mencuci otak ustadzah Haura agar mau dinikmati oleh para kuli ? Sedangkan antum, ustadzah... Antum itu ada di bagian ana... Ana akan berusaha untuk membinalkan antum... Entah untuk siapa tubuh antum ini... Pasti mereka akan sangat beruntung kalau dikasih tubuh seindah antum” ucap Lutfi yang membuat Nada merinding.
Tanpa menunggu aba-aba lagi. Lutfi yang sudah semakin bernafsu langsung memposisikan tubuh Nada menungging ke lantai. Ia membalikan tubuh Nada. Ia dengan tega menarik lepas celana training berwarna biru yang dikenakan oleh Nada. Nampak bokong semoknya terlihat. Nampak bokong sekelnya terlihat. Lutfi bernafsu. Ia pun menampar bokong Nada yang membuat ustadzah tercantik itu menjerit kesakitan.
Plaakkk... Plaakkk... Plaakkk
“Aaahhhh Lutffii... Aahhh... Aaahhhh” Jerit Nada saat bokongnya ditampar berkali-kali.
“Muwehehe suka banget ana ustadzah dengan jeritan antum... Jadi makin gak nahan buat ngerasain genjotan antum... Ana lepas yah celana dalamnya” ucap Lutfi semakin tidak sabar.
“Jangann... Jangannn Lutfiii... Jangaannn” ucap Nada panik saat menolehkan wajahnya ke belakang. Tangan kanannya berusaha menahan tangan Lutfi. Tapi semua sudah terlambat. Celana dalamnya sudah menurun membuat santri yang sudah telanjang itu tersenyum penuh kemenangan.
“Muwehehehe... Indahnya memek antum ustadzah... Sllrrppp” ucap Lutfi langsung menyeruputnya.
“Aaahhh Luttfiii... Aahhhh jangaannnn” jerit Nada kembali menoleh ke depan sambil memejamkan mata saat bibir vaginanya dijilati oleh santrinya.
Lidah Lutfi merengsek masuk. Lidahnya berusaha untuk membelah bibir vagina ustadzahnya itu. Namun lidahnya kesulitan. Lubang vagina Nada terlalu rapat sehingga lidahnya memilih untuk bermain-main dulu di bibir vaginanya. Lutfi menjilati bibir vagina Nada yang berwarna kemerahmudaan. Lidahnya menyapu dari bawah ke atas. Lidahnya membuat ustadzah pemilik body goals terbaik itu merinding merasakan kenikmatannya. Tanpa sadar Nada mengepalkan tinjunya. Ia mengepal bukan karena ingin meninju santrinya, melainkan untuk menahan birahi yang semakin menguasai diri.
“Sssllrppp... Mmpphh... Ssllrppp manisnyaa.... Ssllrpp” desah Lutfi bernafsu.
“Aaahhhh sudah Lutfiiii... Sudahhh.... Aahhhh... Aaahhhhh” desah Nada sambil menaikan wajahnya untuk menatap langit-langit ruangan. Nada benar-benar merinding merasakan jilatannya itu. Lutfi sangat ahli dalam menjilati bibir ustadzahnya. Pengalamannya dalam menonton bokep membuatnya jadi semakin ahli dalam mencari titik tersensitif ustadzahnya itu.
“Muweheheheh” tawa Lutfi saat kedua tangannya memegangi bibir vagina ustadzahnya. Pelan-pelan jemari-jemarinya membuka bibir vagina Nada. Nada menoleh ke belakang karena malu saat mengetahui Lutfi sedang memandangi isi dari vaginanya itu. Wajah Nada pun memerah. Ia berusaha untuk mencegah Lutfi agar tidak melakukannya lagi.
“Lutffiiiii... Antum mau apa ? Jangan gitu Lutfiii !” ucap Nada sambil menggerakkan tangannya ke belakang untuk menjauhkan wajah Lutfi dari bibir vaginanya.
“Ana ?... Mmmpphhhh nikmatnyaaa” ucap Lutfi yang malah mendekatkan hidungnya untuk menghirup aroma kewanitaan yang ada pada kemaluan ustadzahnya. Sontak Nada merasa malu sekali. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Lutfi yang tengah ngefly seperti baru menghirup aroma lem aibon.
“Luttffiiii !!!” tegur Nada untuk menghentikan aksi Lutfi.
Tapi usahanya percuma karena lidahnya justru kembali mendekat saat bibir kemaluan ustadzahnya dibuka menggunakan kesepuluh jemarinya.
“Aaaaaahhhhhhhh” desah Nada meriding merasakan jilatan Lutfi yang masuk ke dalam vaginanya.
“Sllrrpp... Sllrrppp... Sllrrpp”
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Lutfi terus menjilati setiap dinding vagina Nada menggunakan lidahnya. Lutfi dengan rakus memasuk keluarkan lidahnya itu. Tak peduli dengan rasa asin yang dirasakan lidahnya. Tak peduli dengan aroma amis yang menusuk hidungnya. Justru kedua rasa itu yang membuat Lutfi jadi semakin bernafsu. Lidahnya semakin ia masukan ke dalam. Lidahnya ia paksa untuk menyentuh ujung dari vagina ustadzahnya meski ia tahu, tak mungkin bagi lidahnya untuk melakukan itu.
“Luttfiiii hentikannn... Aahhh... Aaahhhh” desah Nada merinding merasakan jilatan santrinya itu.
“Muweheheh... Sudah waktunya bagi kontol ana untuk masuk” ucap Lutfi sambil memegangi penisnya kemudian mengarahkannya ke bibir goa yang sudah sangat lembap itu.
Sontak Nada menolehkan wajahnya lagi ke belakang. Ia panik. Ia tak mau kemaluannya kembali dimasuki oleh penis santri nakalnya itu. Nada berusaha mencegahnya. Tangan kananya digerakan ke belakang untuk menahan tubuh Lutfi agar tidak kembali mendekat. Namun ujung gundul penis santrinya sudah menubruk bibir rapat vaginanya. Nada reflek memejam. Mulutnya reflek membuka. Kedua tangannya pun melemas padahal baru disentuh oleh ujung gundul penis santrinya itu.
“Uuuuhhhh rapatnyaaa” desah Lutfi merinding saat mencoba memasukan penis hitamnya itu.
“Aaaahhhh Lutfiii jangaannnn.... Jangannn... Oouuhhhhh” desah Nada memejam merasakan penetrasi penis Lutfi yang mulai memasukan ujung gundulnya.
“Ouuhh nikmat banget ustadzaahhh... Lagiiii... Mmmpphhhh” desah Lutfi berusaha terus mendorongnya hingga penisnya yang besar itu terjepit oleh rapatnya dinding vagina ustadzahnya itu.
“Aaahhhhh Lutffiiii hentikaannn... Jangan didorong lagi Lutfiii... Aaahhhhh... Ustadzahhh gak muaaatttt” desah Nada merinding merasakan tusukan penis Lutfi yang begitu kuat.
“Muwehehehe...” Tawa Lutfi saat menarik penisnya keluar sejenak menyisakan ujung gundulnya saja di dalam.
“Uuuuuhhhhhh” desah Nada lemas hingga tangannya ambruk membuat kepalanya jatuh ke atas lantai rumahnya.
“Muweheheh lemes yah ustadzah ? Bentar dong, baru juga ditusuk.... Hennkggghh !” desah Lutfi yang langsung menghentakkan pinggulnya lagi yang membuat Nada reflek mengangkat kepalanya naik menahan tusukan penuh kenikmatan yang Lutfi berikan.
“Aaaahhhhhhhh Lutfffiiii” desah Nada merinding keenakan.
“Muwehehehe” Tawa Lutfi saat menarik penisnya lagi.
Nada kembali ambruk menjatuhkan kepalanya ke lantai. Nafasnya terengah-engah. Ia sungguh lelah. Ia tak kuat saat menerima hentakan yang begitu kuat dari santri mesumnya itu.
Jleeebbbb !!!
Tiba-tiba Lutfi kembali menusuk penisnya. Lutfi tidak hanya menusuknya tapi juga mendorongnya. Dorongannya sangat kuat hingga tubuh Nada tergerak maju ke depan. Seketika Nada ambruk. Perutnya sampai menempel di atas lantai rumahnya itu. Kedua kakinya terjatuh lurus ke belakang. Lututnya menyentuh lantai. Pahanya juga menyentuh lantai. Nada sudah terbaring tengkurap saat menahan tusukan yang begitu kuat dari santri mesumnya itu.
“Muwehehehe... Ana gak tahan lagi ustadzah... Ana mulai genjot yah !” Ucap Lutfi sambil berjongkok memegangi bongkahan pantat ustadzahnya itu.
“Tunggu Lutfiii... Mmpphhh... Tungguu mmmppphhh” desah Nada saat tubuhnya terdorong maju mundur.
Pinggul Lutfi mulai bergerak maju lalu menariknya mundur. Kecepatannya cenderung lambat tapi hentakannya cukup kuat untuk melebarkan dinding vagina Nada yang begitu rapat. Lutfi menundukan pandangannya. Ditatapnya bokong mulus ustadzahnya itu. Lutfi gemas, ia terus meremas-remasnya sambil memaju mundurkan pinggulnya.
“Aaahhhh... Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Nada memejam sambil mengepalkan kedua tinjunya.
Nada tak kuat saat menahan tusukan dari santrinya itu. Tusukannya begitu kuat. Tusukannya membuat tubuhnya merinding hebat. Entah kenapa ia merasa nikmat. Padahal dirinya sedang diperkosa oleh santrinya yang sungguh bejat. Nada ingin menangis tapi air matanya tak mampu turun lagi akibat banyak yang keluar saat dipaksa menyepongnya tadi. Nada pasrah. Nada tak kuasa saat menahan tusukan santrinya.
“Oouuhhhh... Ouhhh yahhhh... Ouhhh yahhhh” desah Lutfi sambil memejam saat menikmati tusukannya.
Entah kenapa ia merasa persetubuhan ketiganya bersama Nada adalah yang paling nikmat. Tak pernah ia semerinding ini saat dijepit oleh vagina ustadzahnya. Ia pun teringat dengan persetubuhan pertamanya saat memerawani vagina ustadzah Hanna. Menurutnya, ia lebih menikmati persetubuhannya sekarang. Vagina Nada begitu menjepit. Penampakan tubuh Nada yang begitu ramping laksana seorang model memberikan fantasi tersendiri baginya. Ya, ia jadi teringat akan tubuh bintang bokep favoritnya yakni Stacy Cruz. Tubuh Nada yang jangkung sangat mirip dengan tubuh bintang bokep favoritnya itu. Lutfi jadi mempercepat sodokannya. Lutfi juga mengangkat tubuh ustadzahnya sehingga Nada kembali menungging menahan tusukan santrinya dari belakang.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh... Lutfiiii pelaann.... Aaaahh” desah Nada saat merasakan tusukan Lutfi semakin kuat dan cepat.
“Ouhhhh gilaaa.... Ouhhh mantap banget sih memek antum ustadzahh... Ouhhhh... Ouhhhh” desah Lutfi sambil memegangi pinggul ramping ustadzahnya.
Ia pun mengangkat kaus berlengan panjang yang Nada kenakan hingga punggungnya terlihat. Lutfi terus menaikannya hingga tiba di tengkuk lehernya. Punggungnya yang begitu mulus itu di elus. Lutfi terus mengelusnya membuat pemiliknya merinding keenakan. Sodokannya yang semakin cepat membuat kedua payudara Nada yang sudah terlihat bergerak semakin cepat. Meski kedua payudaranya masih tertutupi beha berukuran 34C-nya. Pergerakannya tidak serta merta mengurangi keindahannya. Justru pergerakan payudaranya semakin indah. Lutfi jadi penasaran, ia ingin melihat pergerakan kedua payudaranya itu.
“Ayoo naikkk ustadzahhh” ucap Lutfi sambil memegangi kedua tangan Nada lalu menariknya ke belakang.
“Aaahhhhhhhh” desah Nada saat tubuhnya condong ke depan dan kausnya kembali turun menutupi keindahan tubuhnya itu.
“Ciihhhh ngalangin aja” ucap Lutfi kesal yang membuatnya segera mengangkat kaus yang Nada kenakan itu melewati kepalanya.
Setelah kaus itu terlepas dari tubuh indahnya. Lutfi segera membuangnya ke samping. Topi Nada yang tadi sempat terjatuh diletakannya lagi oleh Lutfi ke kepala Nada. Lutfi juga menarik lepas kait bra yang menghalangi pergerakan dada ustadzahnya itu. dalam sekejap Nada sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya serta topi berwarna hitamnya.
“Muwehehehe kalau gini kan mantep... Akhirnya bisa ngeliat tubuh telanjang antum lagi, ustadzah” ucap Lutfi mupeng saat menatap punggung mulus Nada dari belakang.
“Lutffiii... Sudahhh... Ustadzah mohon.... Tolong jangan dilanjut lagi Lutfiii !!!” ucap Nada yang sudah lemas sehingga tubuhnya hanya bisa pasrah saat diapa-apakan oleh santrinya.
“Muwehehehe... Ini belum seberapa ustadzah... Baru juga dimulai !” ucap Lutfi yang kembali menghentakkan pinggulnya membuat Nada menjerit merasakan tusukan itu lagi.
“Aaaahhhhh.... Lutffiii cukkupp... Aahhhh... Aaaaahhhhhhhh” desah Nada kewalahan menahan tusukan demi tusukan yang Lutfi berikan.
Mata Nada memejam. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat dinding vaginanya di hujam. Hujaman Lutfi begitu tajam. Tubuhnya sampai terdorong maju mundur dengan begitu kejam. Nampak buah dada Nada bergerak gondal-gandul dengan begitu bebas. Lutfi jadi semakin puas. Ia menikmati tusukannya sambil mendengar jeritan ustadzahnya yang begitu keras. Sepertinya Nada sudah lemas. Ia tak bisa berbuat apa-apa saat santrinya menyetubuhinya dengan begitu beringas.
Tangan Lutfi berpindah dengan memegangi pinggul rampingnya. Rabaannya naik hingga mengusapi kedua payudaranya. Terasa kekenyalan disana. Terasa ukurannya yang luar biasa disana. Payudara Nada sungguh besar. Pasti akan sangat puas untuk menyetubuhinya hingga tepar. Lutfi memperkuat hujamannya. Kedua tangannya memperkuat remasannya disana. Lutfi tersenyum mesum. Nada hanya bisa menjerit manja menahan siksaan birahi yang sedang dialaminya.
“Aaahhhh... Aahhhhh... Aahhhh Lutfiii... Aahhh jangannn... Aaahhhh... Hentikaann !!!” desah Nada sambil geleng-geleng kepala menahan tusukan Lutfi yang semakin nikmat. Nada heran. Nada penasaran. Kenapa makin kesini dirinya malah seperti menikmati persetubuhannya ini ? Ia tidak lagi melawan. Ia tidak lagi menolak tusukan Lutfi yang begitu nikmat. Ia seperti menuruti keinginan hawa nafsu yang semakin menguasai tubuhnya. Ditengah kebingungan yang melanda jiwanya itu, ia dikejutkan oleh ucapan Lutfi yang seolah menjawab kebingungannya tadi.
“Muwehehehe... Untuk apa ustadzah masih melawan ? Antum itu diciptakan untuk menjadi pemuas ana ! Wanita itu diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu laki-laki ! Jangan pernah menyalahi kodrat antum ustadzah... Mau kemanapun antum pergi, antum pasti akan menjadi pemuas nafsu laki-laki.... Aaahhhh... Aaahhhh” desah Lutfi ditengah-tengah persetubuhannya.
“Enggakk... Enggakk... Janngann Lutfiii... Lepaskann... Lepaskaannn” desah Nada sambil berusaha bertahan tapi juga kepikiran kata-kata yang Lutfi sebutkan.
“Aahhhh mantapnyaaa... Aahhh mantapnyaaa... Rasakan ini ustadzah ! Gak usah sok-sokan... Ana tau antum menikmatinya kan ? Terima aja nasib antum... Terima nasib antum untuk menjadi pemuas nafsu ana !” desah Lutfi yang semakin menghujami vagina ustadzahnya.
“Aaahhhhhh... Aahahhhh enggakk... Aahhhhhhhh” desah Nada menahan tusukan Lutfi.
Jadi pemuas nafsu ? Ana ditakdirkan untuk menjadi pemuas nafsu ?
Batin Nada terpikirkan ucapan santrinya.
Nada merenung sejenak ditengah genjotan Lutfi yang semakin hebat. Sepertinya ucapan Lutfi ada benarnya juga. Mau kemana pun ia pergi, pasti ia dihadapkan pada persetubuhan yang dialami olehnya. Entah itu dari suaminya, pak Karjo, Lutfi sendiri atau malah pak Heri. Ia merasa hampir tiada hari tanpa persetubuhan dari lelaki-lelaki bejat itu. Apa benar dirinya diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki ? Apa benar dirinya diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu santrinya ini ? Nada memejam. Ia mencoba merasakan tusukan yang Lutfi berikan. Rasanya sungguh nikmat. Semakin ia tidak melawan, ia justru menikmati sodokan yang Lutfi berikan.
Nada dilema, haruskan ia menurut saja perkataan Lutfi ? Haruskah ia tidak melawan tiap kali Lutfi menggenjot tubuhnya.
Tungguu duluu ! Apa jangan-jangan ini yang ada di pikiran ustadzah Haura saat disetubuhi oleh pak Karjo tadi ? Ia merasakan kenikmatan seperti apa yang aku rasakan saat tidak melawan... Apa jangan-jangan ucapan Lutfi tadi benar ? Apa aku harus pasrah saja agar aku dapat menikmati genjotannya ?
Batin Nada yang perlahan mulai tercuci otaknya oleh ucapan santrinya.
“Ouuuhhh gilaaa... Ouhhhhhhh yahhh... Ouuhhhhhh mmppphhhhhh” desah Lutfi sambil menghentakkan pinggulnya sekuat-kuatnya hingga mentok ke dalam.
“Uuuuhhhhh Lutfiii dalemmm bangettttt” desah Nada saat santrinya tiba-tiba menghentikan genjotannya.
“Ayo ganti gaya ustadzah.... Muwehehehe” ucap Lutfi saat berbisik di telinga Nada. Tangan kanannya pun menolehkan pipi Nada ke arahnya sehingga bibirnya dapat ia kecup untuk merasakan nikmatnya.
“Mmpphh” desah mereka berdua saat bercumbu sesaat.
Lutfi tersenyum puas setelah mencumbu bibir ustadzahnya. Nampak wajah sangek Nada terhidang dihadapannya. Lutfi sambil menjilati bibirnya sendiri melepaskan celana yang masih menyangkut di kakinya. Lutfi akhirnya bisa bertelanjang bulat di rumah ustadzahnya.
“Ayo ustadzah, berdiri” ucap Lutfi sambil menjulurkan tangan kepada Nada yang masih kebingungan. Nada tanpa sadar pun menerima uluran tangan dari santrinya itu. Nada pun dibawa duduk di sofa panjang yang berada di rumahnya itu.
Nada yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab dan topinya duduk di sebelah kiri Lutfi. Lutfi pun duduk tepat di sebelah kanan Nada. Lutfi tersenyum sambil membalikan topinya ke belakang. Tangan kirinya pun merayap ke arah vagina Nada yang sudah sangat basah. Nada tanpa sadar malah melebarkan kakinya. Ia yang sedang dilanda nafsu birahi masih keheranan dengan ucapan yang baru saja Lutfi sebutkan.
“Gitu dong ustadzah... Kalau ustadzah gak ngelawan kan enak ? Coba ustadzah jujur deh, antum suka kan dengan apa yang ana lakukan sekarang ?” ucap Lutfi sambil mengusap-ngusap bibir vagina Nada menggunakan tangan kirinya.
“Heem” jawab Nada singkat sambil menganggukan kepalanya.
“Muwehehehe... Memang harusnya seperti itu ustadzah... Bercinta rasanya akan selalu senikmat ini ? Cuma kadang ustadzah suka ngeyel dengan sok-sokan menolak... Lihat sekarang ! Ketika ustadzah memilih mengalah maka ustadzah akan mendapatkan kenikmatan yang ana berikan... Itu lah takdir antum ustadzah... Terimalah... Ustadzah itu diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki... Tiap kali ustadzah menolak pasti ustadzah akan dipertemukan dengan sebuah persetubuhan untuk menyadarkan antum... Ingat, antum itu diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu... Ingat itu baik-baik” ucap Lutfi terus mencuci otak Nada sambil meraba-raba vaginanya. Bahkan jemarinya mulai dimasukan yang membuat Nada menjerit kecil. Nada kagum, omongan Lutfi benar-benar tepat. Semakin ia mengalah ia semakin menikmati persetubuhannya ini. Benarkah ia diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki ?
“Benarkah ? Ustadzahh mmpphhh... Diciptakan untuk menjadi pemuas nafsu antum ?” ucap Nada mulai tergiring oleh opini Lutfi.
“Naam ustadzah... Bukan cuma ana... Tapi seluruh lelaki yang ada di dunia ini... Khususnya pak Karjo dan ana” ucap Lutfi tersenyum yang membuat Nada tersipu malu.
“Bee... Beneran ?” ucap Nada masih ragu karena ucapan Lutfi terasa berbanding terbalik dengan fitrahnya itu.
“Lihat saja ustadzah Haura, ustadzah... Dia jadi menikmati persetubuhannya bukan ? Beliau cerdas karena sudah memilik takdirnya untuk menjadi pemuas nafsu para lelaki... Bahkan katanya ia ingin mencoba sendiri untuk memuasi para kuli bangunan yang ada di mari... Bayangkan ustadzah... Ustadzah secantik Haura ingin dipuasi oleh kuli bangunan rendahan yang kulitnya hitam dan badannya kekar-kekar... Muwehehehe, pasti mantap kan ustadzah ? Ustadzah mau gak seperti ustadzah Haura ?” ucap Lutfi sambil mendekatkan wajahnya ketika tangannya terus mengusap-ngusap vagina ustadzahnya.
Entah kenapa ucapan Lutfi membuatnya tertarik. Ia pun heran kenapa bisa demikian ? Kenapa ia jadi menginginkan ucapan yang Lutfi omongkan ? Seketika ia membayangkan tubuhnya yang sangat indah tengah dikelilingi oleh para kuli bangunan yang mempunyai tubuh kekar dan berkulit hitam. Nada merinding. Apalagi saat merasakan usapan jemari nakal Lutfi di vaginanya. Nada jadi semakin terangsang. Ia jadi ingin menuruti keinginan liar hawa nafsunya itu.
Nada tanpa sadar mengangguk sambil menatap Lutfi dengan tatapan nafsu. Kedua tangannya bertumpu pada sofa di belakang. Kedua dadanya yang sudah terbebas itu jadi semakin menonjol maju. Lutfi tersenyum. Ia merasa menang karena sudah membuat Nada jatuh senafsu-nafsunya. Jemari di tangan satunya menyentuh dagu ustadzahnya. Lutfi tersenyum. Nada tersipu. Lutfi menatap Nada dengan tatapan penuh nafsu. Nada jadi tertunduk karena malu.
“Buang jauh-jauh harga diri antum ustadzah... Sebuah persetubuhan akan semakin nikmat setelah ustadzah membuang jauh-jauh harga diri antum... Tak peduli dengan siapa ustadzah bercinta... Entah itu dengan kuli bangunan, santri nakal kayak ana, bahkan dengan pengemis kekar pun akan terasa nikmat kalau ustadzah mau membuang jauh-jauh harga diri antum... Ingat itu baik-baik ustadzah... Terima nasib antum untuk menjadi pemuas nafsu” ucap Lutfi yang kemudian memajukan bibirnya untuk mendorong bibir ustadzahnya.
“Mmpphhh iyaahhhh” jawab Nada patuh untuk pertama kalinya saat dikuasai oleh hawa nafsunya itu.
Bibir mereka bercumbu. Bibir mereka saling dorong dengan penuh nafsu. Bibir mereka bertubrukan. Bibir mereka saling serang saat merasakan nafsu yang semakin tak tertahankan. Memang benar apa yang diucapkan oleh Lutfi. Ketika ia membuang harga dirinya. Ia malah menikmati percumbuannya sekarang dengan santrinya. Padahal tubuhnya yang sangat indah lebih layak untuk dinikmati oleh seorang ustadz sholeh yang mempunyai wajah tampan dan bertubuh kekar. Tapi di sore hari ini, ada santri beruntung berkepala botak dan bertubuh kurus yang tengah mencumbu bibir ustadzahnya itu. Kedua kakinya semakin melebar. Ia semakin menikmati cumbuan serta usapan jemari nakal Lutfi di vaginanya.
“Mmmpphh iyahh seperti itu ustadzahhh... Buka mulut antum nikmati lidah ana yang akan masuk ke mulut antum” ucap Lutfi memanfaatkan situasi Nada yang tengah terangsang hebat.
“Mmmpphhh iyahhhh” desah Nada yang langsung mengapit lidah Lutfi.
Nada menjepit lidahnya. Nada menghisap lidahnya dengan kuat. Lidahnya masih berada di dalam mendorong-dorong lidah Lutfi mengajaknya bermain. Kepala Nada bergerak maju lalu bergerak mundur. Lalu maju lagi lalu mundur lagi. Nada menikmati sepongannya dalam mengulum lidah santrinya. Semakin ia menerima pergumulan itu. Semakin nikmat pulalah apa yang ia rasakan saat ini.
“Mmmpphhhh” desah Nada tanpa sadar hingga tangannya menyentuh penis Lutfi.
“Muwehehe bagus ustadzah... Lanjuttt... Lanjuttt mmpphhhh” desah Lutfi sambil mendorong maju wajahnya sehingga bibir mereka kembali bersentuhan.
Tangan Nada bergerak naik turun merangsang penis hitam Lutfi. Ustadzah yang masih mengenakan topi itu menggerakan jemarinya yang gemulai. Penis hitam Lutfi dibelai. Akibatnya Lutfi semakin terangsang oleh belaian jemari ustadzahnya itu. Nampak cairan precumnya mulai keluar. Petanda dirinya semakin bergairah dalam menikmati waktu berduanya bersama ustadzahnya.
“Ayo kulum, ustadzah” ucap Lutfi yang segera dituruti oleh Nada.
“Mmpphhh... Iyyahhh” desah Nada patuh saat melepas cumbuannya itu.
Lutfi pun membalikan topi Nada sepertinya. Nada langsung menunduk, penis hitam Lutfi yang sangat besar membuatnya harus menggunakan kedua tangannya untuk mengocok penisnya. Perlahan mulut Nada semakin dekat. Perlahan mulut Nada membuka untuk mencaplok ukurannya yang luar biasa.
“Mmpphh” desah Nada menikmati pentungan santrinya.
“Ouuhhhh luar biasa sekali ustadzah” ucap Lutfi merinding merasakan sepongannya.
Nada semakin jatuh ke dalam jurang kemaksiatan. Ia tak peduli lagi dengan siapa ia bercinta selama bisa melampiaskan hawa nafsunya sekarang. Bibir Nada menjepit ujung gundulnya. Kedua tangannya mengocok-ngocok penisnya naik turun secara teratur. Lidahnya didalam menggelitiki lubang kencingnya. Lutfi mulai blingsatan merasakan efeknya hingga pandangannya terasa kabur.
Lutfi terkagum oleh cara ustadzahnya dalam memuasi penisnya. Lutfi merasa bangga karena sudah menaklukannya. Ia pun mengusap-ngusap kepala Nada untuk menunjukan kasih sayangnya. Ia jadi jatuh cinta pada ustadzahnya karena bisa memberikannya kenikmatan meski baru lewat mulutnya saja.
Nada melepas kulumannya. Lidahnya keluar untuk menjilati penis hitam itu. Lidahnya bergerak dari bawah ke atas. Awalnya ia menjilati kantung kemihnya. Lalu jilatannya naik hingga ke ujung gundulnya. Lagi, ia menjilati kantung kemihnya. Ia bahkan mengulumnya. Ia mengulum kedua biji salak yang dimiliki oleh santrinya. Lalu ia meletehkannya kemudian melanjutkan jilatannya naik hingga sampai di ujung gundulnya.
“Mmmpphhhhh”
Nada kembali mengulumnya. Mulutnya sangat penuh oleh ukuran penis hitam santrinya itu. Bahkan pipinya sampai menggelembung saat dipenuhi oleh ujung gundul penis santrinya itu. Kepala Nada bergerak naik turun. Nada menyepongnya tanpa ampun. Tak peduli dengan erangan Lutfi yang semakin keras. Ia tampak kesulitan dalam mengendalikan nafsunya yang semakin buas. Ustadzah pemilik body goals terbaik itu jadi semakin liar saat diminta melepaskan harga dirinya demi menuruti takdirnya untuk menjadi pemuas nafsu santrinya.
“Mmpphhh... Sudahhh” ucap Nada setelah puas mengulum penis santrinya.
“Kerja bagus ustadzah... Ustadzah mulai sangek lagi kan ? Lanjut ngentot yuk” ucap Lutfi sambil memberikannya cumbuan sebagai hadiah karena sudah memuasi nafsunya.
“Mmmpphhh... Iyaahhhh” jawab Nada patuh.
Nada pun dibawa oleh Lutfi menuju kamar tidurnya. Dalam perjalanan ia sempat berfikir. Benarkah apa yang sudah dilakukannya ini ?
Sesampainya didalam, Nada digeletakkan diatas ranjang tidur yang biasa ia tempati bersama suaminya. Lutfi tertawa puas. Ia pun melebarkan kedua kaki ustadzahnya agar penisnya yang besar bisa masuk menembus rahim kehangatannya itu.
“Uuuuhhhhhhh” desah Nada sampai manyun-manyun saat merasakan tusukan penuh nafsu dari santrinya itu.
“Muwehehehe ana suka banget sama desahan antum ustazah” Puji Lutfi yang membuat Nada tersipu.
Nafsu yang sudah tak dapat ia bendung membuat Lutfi segera menggerakan pinggulnya secara cepat. Ia juga menusukkan penisnya sedalam-dalamnya dengan tepat. Tubuh mereka berkeringat. Tubuh mereka mengejang hebat. Kenikmatan yang semakin mendera membuat Lutfi semakin menusuk penisnya dengan kuat.
"Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh" Nada berteriak keras. Lutfi habis-habisan dalam meluapkan hawa nafsunya. Kedua tangannya memegangi pinggul rampingnya. Matanya menatap pergerakan kedua payudaranya yang bergoyang cepat.
"Ouhhhh.... Ouhhhh gilaa... Puasnyaaa... Puasnyaaaa" Desah Lutfi kesulitan dalam mengatur napasnya.
Nafas Lutfi berhembus cepat. Kedua tangannya berpindah untuk mengusapi perut ratanya. Terasa perutnya begitu mulus. Kulitnya terasa halus. Lutfi jadi semakin rakus. Ia jadi ingin melampiaskan seluruh nafsunya pada tubuh indah ustadzahnya.
Matanya menatap tajam wajah sang ustadzah. Kedua tangannya kembali mencengkram lekuk tubuhnya yang indah. Nafsunya jadi semakin bergairah. Sedangkan ustadzahnya hanya bisa pasrah.
"Beruntungnyaaa... Beruntungnyaaa.... Aaahhhh beruntung sekali ana bisa menyetubuhi tubuh antum ustadzah... Muwehehehe..." Tawa Lutfi puas dalam menikmati tubuh ustadzahnya.
"Aaahhhh Lutfiii... Aahhhhhh.... Aaahhhh... Pelaann... Tolongg pelaaannn" Desah Nada kewalahan dalam meladeni nafsu santrinya.
Saking buasnya Lutfi dalam menyetubuhinya. Tubuh Nada sampai terangkat naik. Kemaluannya yang sempit juga mulai berdenyut. Dada Nada terasa sesak. Sepertinya ia akan mendapatkan orgasmenya cepat atau lambat.
"Muwehehehe... Nikmat kan ustadzaaahh ? Nikmat kan rasanya kontol ana ?" Tanya Lutfi sambil terus menyetubuhinya.
"Aaahhhh... Aaahhhh... Iyyahhh Lutfiii... Terusss... Terussss... Ustadzaahh mau dapettt" Ucap Nada merasa tidak kuat lagi.
"Muweheheh siapp ustadzah... Laksanakan... Henkgghh !" Desah Lutfi semakin menancapkan penisnya hingga mentok ke dalam. Baru setelah itu ia kembali menghujaminya dengan kecepatan maksimal.
Plokkk... Plokkk... Plokkk...
"Aaahhhh iyaaahhh... Iyyaahhh.... Iyyaaahhhh" Desah Nada yang hampir mencapai batas maksimal.
Nada tidak kuat lagi. Luapan nafsu Lutfi dalam menyetubuhinya telah mengantarkannya menuju puncak kenikmatannya. Nafas Nada terasa berat. Dinding vaginanya berdenyut cepat. Dengan satu tusukan terakhir yang Lutfi lesatkan dengan kuat. Nada akhirnya mendapatkan orgasme ternikmatnya.
"Rasakan ini ustadzah !!!!"
Jleeebbbb !
Lutfi membenamkan penisnya hingga dinding rahim ustadzahnya tertusuk dengan kuat. Mata Nada memejam. Mulutnya terbuka dengan sangat lebar.
"Aaaa aaahhhh Lutffiiii... Ustadzahhh kelluaarrrr !"
Ccrrtt... Ccrrtt... Ccrrtt...
Lutfi segera mencabut penisnya kemudian menungging untuk menyantap cairan cinta yang Nada keluarkan. Lutfi menghisapnya dengan rakus. Lutfi menelan semuanya hingga tidak ada satu tetespun yang tertinggal. Bahkan setelah semprotan Nada telah keluar semua. Lidah Lutfi langsung bergerak maju untuk menjilati bibir vaginanya. Lutfi menyeruput semuanya. Lutfi begitu rakus dalam menikmati kemaluan ustadzahnya.
"Aaahhhh Lutfiii... Aaahhhh... Aahhh hentikaann... Aaahhhh" Desah Nada kegelian hingga kedua kakinya mengatup rapat menjepit kepalanya.
"Muwehehe nikmat sekali ustadzah.... Slrrpp... Sllrrppp" Lutfi terus menyeruputnya. Ia tak memperdulikan perkataan ustadzahnya yang perlahan mulai mendapatkan kesadarannya.
Ya, perlahan Nada mulai sadar atas apa yang sudah ia lakukan. Ditengah hembusan nafasnya yang terengah-engah. Ia mulai merenung memikirkan apa yang baru saja dilakukannya itu.
"Mas Rendyy" Lirih Nada dengan sangat pelan saat teringat sosoknya.
Tak sengaja pandangannya teralihkan pada sebuah foto yang tergantung di dinding kamarnya. Ia melihat foto mengenai pernikahannya. Foto dikala keduanya sedang tersenyum bahagia. Foto disaat suaminya belum terpengaruh oleh ucapan pak Heri.
"Masss Renddyyy" Entah kenapa Nada jadi menangis menyesali perbuatannya yang begitu rendah. Ia menyesal karena sudah terpengaruh ucapan santrinya di tengah hawa nafsunya yang menguasai tubuhnya. Matanya berkaca-kaca. Pipinya kembali basah oleh air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Maaafff mass... Astaghfirullah, kenapa aku ini ? Astaghfirullah, aku gak mau kayak gini lagi... Astaghfirullah, maafin aku mas Rendy... Astaghfirullah...
Batin Nada saat berlinangan air mata.
Akuu bukan pemuas nafsu mereka... Aku ini istri dari kamu mas... Aku gak mau melakukan perbuatan serendah ini masss... Tolonggg, selamatkan aku masss !!!
Batin Nada yang ingin melawan tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bertindak.
"Muwehehe... Sekarang giliran ana ustadzah buat memejuhi antum" Ucap Lutfi yang menarik tubuh Nada kemudian memposisikannya menungging menghadap ke arah pintu masuk kamarnya.
"Jangannn Lutfiii... Ustadzahhh mohonnn... Jangaannnn" Lirih Nada saking lemahnya.
"Muwehehhe kenapa lagi ustadzah ? Inget takdir antum yang akan menjadi pemuas nafsu ana... Jangan lupakan itu !" Ucap Lutfi sambil menampar bokong Nada karena saking nafsunya.
Plaaaakkkk !!!
"Aaahhhh... Bukaaannn... Ustadzah bukan pemuas nafsu antuumm... Lepaskan ustadzahhh, Lutfiii... Lepaskaann... Aaahhhh... Hentikan perbuatan salah ini !!!" Jerit Nada saat bokongnya ditampar-tampar dari belakang.
"Muweheheh kenapa lagi antum, ustadzah ? Mentang-mentang udah dapet enaknya malah minta udahan... Muweheheh tega yah antum, ustadzah" Ucap Lutfi tak memperdulikan erangan Nada dan berniat untuk kembali memasukan penisnya.
"Lutfiii... Tolonnggg.. Jangannn Lutfi... Jangaannnn.... Uhhhhhh" Desah Nada merinding saat rahimnya kembali dimasuki oleh penis santrinya.
"Muweheheh mungkin terlalu cepat bagi antum untuk memahaminya ustadzah... Suatu saat nanti pasti antum akan paham... Kalau antum itu ditakdirkan untuk menjadi pemuas nafsu lelaki" Ucap Lutfi sambil memegangi bongkahan pantatnya kemudian memaju mundurkan pinggulnya tuk merasakan kelezatan jepitan vagina ustadzahnya.
"Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh... Enggaakkk... Engakkkk... Ustadzah bukan pemuas nafsu, Lutfiii... Tolonggg lepakan ustadzah" Pinta Nada yang tergolong sia-sia.
Lutfi jelas mengabaikannya. Ia malah mempercepat hujamannya tuk melampiaskan sisa nafsunya.
Dikala cengkramannya diperkuat. Gerakan pinggulnya juga ia percepat. Dikala matanya menatap tajam punggungnya yang mulus. Nafsunya jadi semakin memuncak sehingga membuatnya jadi ingin menyetubuhinya terus. Pinggulnya bergerak maju mundur. Nampaknya tubuh Lutfi telah siap tempur. Berulang kali gerakannya tidak pernah melambat. Malahan gerakannya semakin lama semakin cepat.
Kemaluan Nada yang basah membuat penis Lutfi bergerak semakin cepat. Terdengar bunyi percikan air dari dalam. Terdengar bunyi tubrukan antar pinggul yang semakin keras. Lutfi mengoplok rahim ustadzahnya. Lutfi menyodok rahim ustadzahnya hingga mentok. Tak pernah ia sepuas ini dalam bersetubuh. Tak pernah ia sebergairah ini dalam bersetubuh.
"Aaahhhh.... Aaahhhhh... Lutfiii... Lutfiii" Desah Nada kesulitan untuk menahan gempuran Lutfi.
"Ouhhh yahhh... Ouhhh yahh... Ouhhhh yahhh... Mantap sekali jepitan memek antum ustadzah... Puas sekali rasanya bisa melampiaskan nafsu ana ke memek antum" Ucap Lutfi dengan puas.
Tolonggg.... Tolonggg... Siapapun itu tolonggg !
Batin Nada ingin ditolong seseorang.
Ia menyesal telah membuang harga dirinya tadi. Ia menyesal telah merendahkan dirinya tadi. Padahal dirinya adalah seorang istri. Padahal dirinya adalah seorang ustadzah yang sudah bersuami. Nada sangat menyesal. Berulang kali ia hanya bisa menangis sambil mencengkram erat sprei ranjangnya dengan kuat.
Seketika terdengar bunyi pintu terbuka. Nada terkejut. Lutfi juga terkejut saat sedang menyetubuhinya. Seketika terdengar suara yang akrab di telinga Nada. Nada tersenyum. Nada tersenyum saat mendengar suaranya.
"Dekkk... Baju siapa itu di luu..." Ucap Rendy terhenti saat memasuki kamarnya.
"Maasss.... Maass... Aaaahhh... Aaahhhh tolongg masss... Tolonggg" Desah Nada saat Lutfi terus menggempurnya.
Lutfi kaget. Ia takut kalau Rendy akan memarahinya karena sudah menyetubuhi istrinya tanpa izin. Tapi rasa kenikmatan yang terkesan nanggung membuat Lutfi terus melanjutkan genjotannya. Ia malah mempercepatnya. Akibatnya gerakan payudara Nada jadi semakin indah dipandangan suaminya.
"Deekkk apaaa yaangg ?" Ucap Rendy tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Maasss... Masss.... Adekk... Adeekkk... Aaahhhh... Ttolloonngg" Ucap Nada dengan nada bergetar saat meminta tolong dari genjotan Lutfi.
Nada menatap suaminya dengan tatapan memelas. Ia begitu mengharapkan bantuan suaminya agar terbebas dari genjotan Lutfi. Tapi seketika tatapan Nada berubah seiring pergerakan tangan suaminya.
"Muweheheh" Lutfi tersenyum saat melihat ustadznya malah memelorotkan celananya.
"Akhy... Ustadz boleh gabung ? Ustadz gak tau kalau kalian sedang bersenang-senang" Ucap Rendy sambil mengocok penisnya.
"Muweheheh silahkan ustadz... Silahkan nikmati pertunjukan dari istri antum" Ucap Lutfi yang semakin bersemangat untuk menyetubuhi ustadzahnya.
Hati Nada remuk. Perasaannya hancur setelah melihat suaminya justru memilih membiarkan Lutfi untuk menyetubuhi dirinya. Bahkan suaminya malah mengeluarkan penisnya sambil menikmati pemandangan dirinya ketika diperkosa oleh santri bejatnya. Nada menangis. Ia pasrah mengetahui dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain membiarkan Lutfi menyetubuhi dirinya.
Ditengah tangisan Nada yang semakin deras. Lutfi menghentakkan pinggulnya semakin keras. Tangannya pun menarik tubuh Nada hingga berdiri menggunakan lututnya. Kedua tangannya memegangi lengan Nada. Kemudian bibirnya bergerak ke arah bibir Nada. Lutfi mencumbunya. Lutfi membiarkan ustadznya melihat pergerakan dada Nada yang bergoyang semakin kencang saat digenjot olehnya.
"Mmpphhh... Mmpphhh baik sekali suami antum ustadzah... Ana berterima kasih karena sudah diizinkan menyetubuhi diri antum sampai detik ini" Ucap Lutfi di sela-sela cumbuannya.
"Mmpphhh diammm... Diaamm antum... Mmpphhh" Ucap Nada dengan tegas karena tidak ingin diajak ngobrol oleh santrinya.
"Muwehehehe.... Mmpphhh.... Mmpphhh... Kok antum jadi galak amat yak" Ucap Lutfi menertawakan Nada yang tidak dapat bantuan dari suaminya. Nada tak menjawab. Nada hanya menangis saat dicumbui oleh Lutfi.
Puas, Lutfi pun melepas cumbuannya. Ia membiarkan Nada menghadap ke depan ke arah suaminya. Lutfi tertawa melihat sikap ngenes ustadznya karena hanya bisa coli ketika dirinya bisa menyetubuhi.
"Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh" Desah Nada saat menahan sodokan santrinya sambil menatap sikap suaminya dengan prihatin.
Ada apa kamu massss... Kenapa mas bisa kayak gini ? Kenapa mas lebih suka beronani daripada menyetubuhi aku secara langsung mas ?
Batin Nada saat terus digempur oleh Lutfi dengan begitu nafsunya.
Nada kembali menungging. Kedua tangannya kembali hinggap diatas ranjang tidurnya. Hentakan Lutfi yang begitu kuat membuat kedua payudaranya bergoyang hebat. Wajah Nada terlihat semakin menggairahkan. Rendy jadi semakin bersemangat saat beronani sambil melihat istrinya disetubuhi.
Lutfi tertawa. Lutfi tertawa puas saat merasakan adanya tanda-tanda orgasme dari tubuhnya.
"Aaahhh... Aaaaahhh... Sebentar lagi ustadzaaahh... Sebentar lagi ana mau keluaarr" Desah Lutfi sambil mengusap-ngusap bokong ustadzahnya.
"Hahaha... Antum mau keluar yahhh... Tolong percepat akhy... Ustadz mau liat istri ustadz dipejuhi antum" Ucap Rendy tertawa yang membuat Nada heran.
"Muwehehe... Ana boleh keluar dimana nih ustadz ?" Tanya Lutfi.
"Aaaahhh... Aaahhhh terserah akhy... Di dalem juga boleh kok" Jawab Rendy seenaknya yang membuat Nada marah.
"Maaassss.... Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh" Desah Nada sambil menatap Rendy dengan kesal. Namun Rendy dengan berani malah menatapnya balik. Rendy malah tersenyum kepadanya. Nada pun geleng-geleng kepala. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyadarkan suaminya.
"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh... Dikit lagii... Dikit lagiiii" Desah Lutfi yang mulai pol-polan dalam menyetubuhi ustadzahnya.
Lutfi menggempur vagina Nada. Penisnya melesat tajam ke dalam hingga menyundul rahim kehangatannya. Lalu penisnya ditariknya keluar dengan cepat hingga menyisakan ujung gundulnya saja. Ia kemudian memasukannya lagi. Lalu menarik keluarnya lagi. Ia memasukannya lagi lalu mengeluarkannya lagi. Gerakannya yang terlampau cepat membuat Nada hanya bisa mendesah menahan hujamannya.
"Ouuhhhh ini diaaa... Ini diaa.... Uhhhhh" Desah Lutfi yang semakin merasakan tanda orgasmenya.
"Aaahhh... Aaahhh... Lutfiii... Lutfiii"
"Sungguh indah sekali tubuh antum ustadzah... Indah sekali suara desahan antum... Muwehehe... Ngidam apa yak ibu ana dulu kok bisa-bisanya ana dapet kesempatan tiga kali untuk menyetubuhi memek antum" Ucap Lutfi tertawa puas sambil terus menggenjotnya.
Tiga kali ?
Batin Rendy heran karena seingatnya Lutfi baru dua kali menyetubuhi istrinya. Namun Rendy mengabaikan karena sejatinya dirinya juga hampir mendapatkan orgasmenya.
Kedua tangannya mengusapi punggung mulusnya. Usapannya berawal dari pantatnya lalu bergerak naik ke punggungnya lalu bergerak menyamping ke pinggangnya. Diusapinya tubuh mulusnya itu. Lutfi tak kuat lagi. Lutfi pun menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh ustadzahnya. Lutfi melumat punggung mulusnya. Lutfi meninggalkan bekas memerah di punggung mulus ustadzahnya. Bahkan cumbuannya semakin naik hingga ke tengkuk lehernya yang mulai sedikit terbuka. Nada hanya bisa pasrah. Dirinya yang sudah tengkurap tak bisa berbuat apa-apa saat ditindihi oleh santrinya.
“Mmpphhh... Mmmpphh... Mmpphhhhh !!!” Lutfi semakin tak kuat saat mencumbui punggung ustadzahnya. Lutfi mempercepatnya. Kecepatannya semakin cepat hingga membuat tubuh Nada tertekan ke arah ranjang pribadinya.
"Aaaahhhh... Aaahhh.... Aaahhh" Desah Nada dengan manja.
Lutfi mempercepat hujamannya. Pinggulnya menghantam pinggul Nada dengan keras. Terdengar bunyi koplokan disana. Lutfi semakin diambang klimaks. Lutfi semakin cepat menyodok liang senggama ustadzahnya saat merasa klimaksnya semakin dekat.
“Mmpphhh... Iyahhh... Iyaahhh... Rasakannn inniii !!!!” desah Lutfi sambil membenamkan pinggulnya sedalam-dalamnya saat mendapatkan orgasme ternikmatnya.
Crrrroootttt crrrootttt crrooooottt !!!
"Aaaahhhhh Lutfiiii" Desah Nada saat rahimnya dipenuhi oleh sperma santrinya.
Lutfi sampai merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat. Rasanya puas sekali bisa memejuhi rahim ustadzahnya di depan suaminya yang hanya bisa beronani dihadapannya. Lutfi pun menghadiahi Nada cumbuan di punggungnya. Ia sangat puas. Ia pun mulai bangkit setelah energinya terkumpul kembali.
"Hah puas nyaaa" Ucap Lutfi tersenyum.
"Hah... Hah... Hah" Nada hanya ngos-ngosan. Wajahnya sembap karena banyak menangis di sore hari ini. Saat pandangannya ia arahkan ke depan. Ia melihat sperma yang berceceran di lantai yang dikeluarkan oleh suaminya. Ia heran melihat suaminya hanya bisa beronani sedangkan santrinya malah bisa menyetubuhi dirinya.
Maaasss... Mas sakit apa sih ? Obat apa yang bisa membuat mas sadar lagi ? Ini aku mas, istrimu...
Batin Nada heran pada kelainan seksual suaminya.
"Muwehehe makasih yah ustadz... Ana puas banget bisa genjot istri antum... Ana pulang dulu yah... Udah maghrib kayaknya" Ucap Lutfi setelah mendekati ustadznya.
"Hehh... Harusnya ustadz yang berterima kasih ke antum... Iya silahkan... Kapan-kapan datang lagi yah" Ucap Rendy yang hanya dijawab dengan tawa oleh santrinya. Lutfi pun pergi setelah puas melampiaskan nafsunya. Nada yang masih terbaring dalam posisi tengkurap masih tak percaya. Tiap kali ia melihat suaminya membiarkan dirinya disetubuhi oleh orang lain, semakin berkurang lah rasa cinta yang ia punya padanya. Nada sedih. Ia merasa sedih sudah dijadikan alat oleh suaminya untuk melampiaskan kelainan seksualnya. Nada memejam, ia pun membalikan tubuhnya sehingga suaminya dapat melihat lelehan sperma santrinya yang keluar dari dalam rahimnya.
"Terima kasih yah dek... Mas puas banget liat adek digenjot Lutfi" Ucap Rendy setelah mendekat ke arah Nada.
Untuk kali ini, Nada tak sanggup menahan diri lagi. Tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya. Nada langsung bangkit menjauhi suaminya karena muak untuk mendengar ucapannya. Nada berjalan pergi menuju kamar mandi sambil mengelap air matanya yang kembali menetes. Nada kecewa. Ia merasa cukup setelah disakiti berkali-kali oleh suaminya sendiri.
Seketika ia teringat wajah seseorang. Seseorang yang ia rasa lebih mencintainya dibandingkan suaminya. Ia jadi merindukan sosoknya. Ia menyebut namanya didalam hatinya.
Pakkk Herii... Kapan bapak bisa kesini lagi ? Tolong bawa aku pergi pak... Aku capek harus kayak gini terus...
Batin Nada teringat sosoknya bahkan rela untuk tinggal di rumah kontrakannya lagi.
SEMENTARA ITU DI LUAR RUMAH
"Muwehehe... Puas banget rasanya bisa mejuhin memeknya lagi... Tapi sayang banget deh belum bisa binalin ustadzah Nada sekarang... Ya gapapa deh... Pak Karjo aja butuh waktu lama buat binalin ustadzah Haura... Lagian, ini ustadzah loh... Pasti butuh waktu untuk membinalkan bidadari seperti mereka" Ucap Lutfi yang semakin termotivasi untuk membinalkan Nada meski tadi ia gagal dalam menjalankan tugasnya.
"Eh, itu pak Karjo yak ? Kayaknya dia udah selesai memuasi ustadzah Haura deh" Ucap Lutfi yang kemudian mendekat ke arahnya.
MASA SEKARANG
"Kekekek betul itu nak, kita harus ubah pesantren ini menjadi surga kenikmatan seperti apa yang kita inginkan... Kita harus memulainya dari duo bidadari ini... Yakin deh, kalau dua bidadari secantik mereka sudah binal, kita pasti akan lebih mudah untuk membinalkan sisanya" Ucap pak Karjo tersenyum puas membayangkan cita-citanya.
"Muwehehe gak kebayang tiap hari ada yang datengin kita meminta untuk dipuasin... Ngomong-ngomong bagi tipsnya dong pak, biar ustadzah Nada bisa sebinal ustadzah Haura" Ucap Lutfi tertawa.
"Kekekek yang penting konsisten aja nak... Lakukan apa yang tadi kamu lakukan minimal sehari sekali... Buat ustadzah Nada merasakan nikmatnya bercinta... Buat ustadzah Nada merasa yakin kalau dia adalah pemuas nafsu bukannya ustadzah pesantren... Apa perlu saya bantu ?" Ucap Pak Karjo yang mupeng juga tiap kali kebayang tubuh indah Nada.
"Muwehehe terus saya gimana ? Bisa make ustadzah Haura juga gak ?" Tanya Lutfi mupeng.
"Kekekek untuk baru-baru ini sepertinya belum... Ustadzah Haura masih bernafsu sama kuli bangunan aja... Tapi moga aja nanti mau dipake sama siapa aja kekekeke... Oh yah, target lain lagi siapa nih selain mereka berdua ?" Tanya pak Karjo jadi semakin rakus ingin cepat-cepat membinalkan semua ustadzah yang ada disini.
"Ustadzah Syifa boleh pak, inget kan ustadzah yang threesome lesbi di rekaman hape saya ? Kalau gak ustadzah Hanna juga boleh pak... Apalagi makin hari tubuhnya makin montok aja" Ucap Lutfi mupeng membayangkan tubuh montok Hanna juga kebinalan Syifa.
“Kekekek boleh juga ? Kayaknya rekaman ustadzah Syifa masih ada di hape saya... Dulu saya sempet menyalinnya... Ustadzah Hanna juga boleh tuh, secara dia kan rekan ustadzah Haura... Bisa lah kita nikmati mereka berdua sekaligus siapa tau mau lesbi saat digenjot oleh kita berdua... Kekekekke” tawa Pak Karjo mupeng.
“Muweheheh jadi gak sabar deh untuk membinalkan mereka semua” tawa Lutfi membayangkan cita-citanya itu terwujud.
*-*-*-*
Beberapa jam kemudian tepatnya pada pukul sembilan malam.
Pondok pesantren telah sepi. Semua pengajar dan para santri tengah berkumpul di gedung auditorium untuk mendengarkan pidato pak Kiyai demi menasehati para santri agar tidak bertindak bebas selama waktu liburan di rumah masing-masing.
Nampak para santri terlihat seksama dalam mendengarkan pidato dari pak Kiyai yang sudah berlangsung selama satu jam penuh. Meski para santri merasa jenuh. Mereka mencoba bertahan karena sebentar lagi diri mereka akan terbebas dari aturan ketat yang selama ini mereka rasakan di pondok pesantren ini.
Tak hanya santri, para ustadz dan ustadzah juga demikian. Mereka semua juga akan mengalami liburan tak terkecuali bagi para pengajar yang tinggal di perumahan ustadz senior, perumahan yang dihuni oleh para pengajar yang sudah menikah. Meski liburan mereka tak selama liburannya para santri dan rekan-rekan pengajar lain yang belum menikah karena sudah harus berada disini lagi lima hari sebelum upacara pembukaan dimulai. Mereka tetap menantikan liburan itu, apalagi mereka merindukan keluarga mereka yang pastinya sudah menunggu kehadiran mereka di rumah.
Namun dari sekian wajah para ustadzah yang sedang mendengarkan pidato pak Kiyai. Ada satu ustadzah yang terlihat tidak bahagia meski liburan akan tiba sebentar lagi. Dikala ustadzah yang lain tampak bersemangat, ustadzah satu ini justru menundukan wajah sambil memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia memikirkan kejadian di sore tadi. Kejadian ketika dirinya diperkosa oleh Lutfi.
“Pak Heriii... Bapak ada dimana ? Kenapa belakangan ini bapak justru gak ada ?” Lirih Nada merindukan sosoknya.
Rupanya benar dugaan Nada. Dirinya merasa tak aman tanpa perlindungan pria tambun yang sudah berulang kali menodai rahimnya itu. Tidak hanya pak Karjo rupanya yang sudah mengincar keindahan dirinya. Santri mesum bernama Lutfi pun juga berniat untuk membinalkannya. Ia ingat betul perkataan santri kurus itu sewatku memperkosa dirinya di sore tadi. Santri itu ingin membinalkannya. Santri itu ingin membuat dirinya binal seperti apa yang terjadi pada diri Haura sekarang.
Nada menggelengkan kepala. Ia tak mau menjadi binal. Ia tak mau menjadi seorang ustadzah rendahan yang bisa dinikmati oleh siapa saja. Ia berulang kali menegaskan kalau ia hanya milik sang suami. Tapi, setelah ia memikirkannya lagi. Ia malah menjadi semakin sedih.
“Suami macam apa kamu mas... Kenapa mas tega melakukan ini ke aku ? Kenapa mas justru membiarkan aku dilecehkan oleh Lutfi, Mas ?” lirih Nada kembali saat teringat ekspresi wajah suaminya yang malah bernafsu saat melihatnya disetubuhi oleh Lutfi.
Nada kembali menunduk, air matanya menetes tanpa sadar. Ia buru-buru mengelapnya menggunakan sapu tangan pemberian suaminya yang selalu ia bawa kemana-mana. Nada menatap sapu tangan itu. Nada kembali sedih. Nada pun melihat ke sekitar untuk memeriksa kalau tidak ada satu ustadzah pun yang tahu kalau dirinya tengah menangis.
Tak sengaja Nada malah menatap Haura. Ustadzah yang sore tadi juga disetubuhi oleh kuli tua itu malah terlihat bahagia. Senyumnya begitu lepas, Nada pun merasa heran.
Kenapa ustadzah Haura tidak terlihat sedih sama sekali ? Bukannya tadi ia habis disetubuhi oleh pak Karjo ?
Batin Nada heran.
Mungkinkah, jangan-jangan apa yang dikatakan Lutfi itu benar sehingga ustadzah Haura tidak lagi kepikiran mengenai adegan persetubuhan yang sering ia lakukan... Mungkinkah, karena jalan hidup ustadzah Haura yang memilih untuk menjadi pemuas nafsu membuatnya tidak terbebani oleh pemerkosaan yang ia alami ? Haruskah ? Haruskah aku menyerah saja dengan membiarkan mereka membinalkanku agar aku bisa terlihat bahagia seperti ustadzah Haura ? Aku udah capek kayak gini terus...
Batin Nada tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
GAK ! Gak boleh... Aku gak boleh seperti itu... Aku harus menjaga diriku... Aku harus pergi menjauh dari pondok pesantren ini !
Batin Nada bertekad untuk kabur dari bahaya pembinalan yang akan dilakukan oleh kedua orang bejat itu.
Aku harus pergi ke rumah pak Heri besok ! Tapi bukankah itu berbahaya ? Maksudnya, pak Heri pasti akan mencuri kesempatan untuk menyetubuhiku juga ? Tapi sepertinya tak mengapa, gapapa deh... Itu lebih baik daripada harus dibinalkan oleh mereka berdua... Setidaknya dengan pak Heri, aku masih bisa mengendalikan diriku tanpa harus lepas kendali seperti tadi... Tapi kenapa yah aku sampai lepas kendali di sore tadi ?
Batin Nada kepikiran.
Astaghfirullah... Astaghfirullah... Gak boleh... Gak boleh... Aku gak boleh disentuh lagi oleh mereka... Aku gak mau menjadi binal seperti apa yang terjadi pada ustadzah Haura !
Batin Nada sambil menatap ustadzah Haura lagi.
Semakin lama Nada menatap wajah ustadzah Haura. Ia malah merasa kasihan padanya, ia merasa kasihan kalau ustadzah tercantik seperti Haura justru harus menjadi binal sehingga rela di pakai oleh kuli-kuli rendahan seperti pak Karjo dan teman-temannya. Apalagi ia mendengar kalau Haura ingin dipakai oleh kuli-kuli lain.
“Tapi kok...” Lirih Nada terpotong.
Nada juga kepikiran, pasti kuli-kuli itu akan merasa sangat beruntung bisa bersetubuh dengan ustadzah secantik Haura yang menjadi primadona di pondok pesantren ini.
Seketika Haura tersenyum sambil menatap ke arahnya. Reflek Nada membuang muka kemudian berpura-pura memperhatikan pidato pak Kiyai lagi. Wajah Nada seketika memerah karena terbayang tubuh polos Haura saat disetubuhi oleh pak Karjo tadi.
*-*-*-*
Sementara itu di sisi tempat duduk para santriwati.
Salwa terlihat gelisah saat mendengarkan pidato dari pak Kiyai. Lagi, siang tadi ia tidak bertemu dengan ustadz idolanya. Padahal di sore sebelumnya ia telah berkata kepada ustadz tampan itu untuk menemuinya selepas ujian pesantren terakhir berakhir. Tapi, meski ia telah menunggu hingga adzan Dzuhur tiba. Ia tetap tidak bertemu dengan ustadz idolanya.
Padahal aku udah pasrah merelakan diriku... Kenapa ustadz V gak dateng juga yah ?
Batin Salwa terlihat gelisah.
Padahal ia ingin menyerahkan harta yang paling berharga menurutnya demi menyenangkan seorang ustadz yang ia cinta. Padahal ia sudah memintanya untuk datang menemuinya di ruang kelas. Tapi lagi-lagi ia kembali kecewa. Ia tidak dapat bertemu V. Ia merasa sedih dan membuatnya kembali kepikiran sesuatu yang sebetulnya tidak penting.
Apa ustadz V jangan-jangan gak mencintaiku yah ? Apa jangan-jangan selama ini cintaku gak terbalas untuknya ? Kenapa ia memilih cuek, kenapa belakangan ini aku justru jarang bertemu dengannya ? Apa jangan-jangan ustadz V selalu menghindari pertemuan denganku yah ?
Batin Salwa menjadi suudzon tiap kali tidak mampu bertemu dengan V.
Hmmmm mungkin sibuk... Ya ustadz V pasti sibuk... Beliau kan ustadz di bagian paling penting... Pasti kesibukannya melebihi keinginannya untuk menemui diriku... Ya pasti begitu...
Batin Salwa mencoba untuk terus berpikiran positif.
Tak sengaja pandangannya teralihkan pada tempat duduk yang ditempati oleh para ustadz. Salwa tiba-tiba tersenyum. Matanya tak dapat berpindah dari sosok tampan yang duduk di barisan paling depan.
“Ustaaaddzzz” lirih Salwa saat menatap wajahnya yang tengah tersenyum. Ustadz yang ia cintai itu tengah tersenyum saat mengobrol dengan teman duduknya.
Diam-diam Salwa terus mencuri-curi pandang ke arahnya. Matanya seolah dimanjakan oleh ketampanan wajahnya. Salwa pun memperhatikan bentuk tubuhnya. Salwa tersenyum. Ia jadi ingin menemuinya besok sebelum kepulangannya menuju rumahnya. Ia menginginkan sesuatu darinya. Ia ingin menyerahkan tubuhnya untuk dipuasi oleh ustadz tampan itu.
Ustaaadzzz... Tolong jadikan ana seorang wanita yang dewasa yah !
Batin Salwa sambil memegangi bibir vaginanya yang berdenyut saat menatap ketampanan wajahnya.
*-*-*-*
KEESOKAN PAGINYA
Sekitar pukul delapan tepat. Bis-bis yang telah disewa oleh setiap rombongan konsulat santri telah pergi mengangkut jumlah anggotanya masing-masing. Ya, terhitung sejak pukul tengah malam tepat. Santri dan para pengajar yang sudah terdaftar boleh pergi pulang menuju rumah masing-masing. Nampak para bis berbaris dalam mengangkut anggotanya. Pondok pesantren mulai sepi ditinggali oleh para santri dan para pengajar yang pergi berlibur ke daerahnya masing-masing.
“Udah pada liburan yah... Enak ya jadi mereka bisa keluar dari pondok pesantren ini” ucap seorang ustadzah yang tengah terduduk di depan kantor bagian administrasi memandangi setiap bis yang lewat didepannya.
“Loh ustadzah Nada... Gak ikut pulang” Ucap seorang ustadz yang lewat ketika sedang menarik kopernya.
“Eh ustadz Adit... Iya ustadz nanti aja... Antum pulang sekarang yah ?” tanya Nada dengan ramah.
“Hehe iya... Sekalian mau nyiapin sesuatu buat nanti” ucap Adit yang membuat Nada tersenyum.
“Ciyyeee yang mau nikah... Ustadzah Rachelnya mana ? Gak ikut pulang juga ?” tanya Nada menanyakan sahabat karibnya itu.
“Hahaha doakan biar lancar... Gak tau tuh... Katanya masih ada urusan, nanti katanya pulang sendiri naik bis” Ucap Adit tersenyum.
“Hihihi yaudah... Lancar yah ustadz... Sampai halal” Ucap Nada mendoakan.
“Aamminnn yah ustadzah... Ana pulang dulu yah... Wassalamualaikum” Pamit Adit.
“Walaikumsalam ustadz” jawab Nada menatapi kepergian calon suami dari sahabatnya itu.
“Haahhh... Apa sebaiknya aku cepet-cepet pulang aja yah ?” ucap Nada seketika rindu keluarganya di rumah. Tapi ia masih mempunyai kesibukan di pesantren. Ia mengambil shift pertama sehingga tidak bisa pulang sampai pertengahan Ramadhan tiba. Ia harus menjaga kantor bagiannya karena bisa jadi ada wali santri yang mengirimkan paket atau sejumlah uang pada anaknya yang memilih bermukim di pondok pesantren ini.
Padahal ustadzah cantik pemilik body goals terbaik itu juga ingin pergi berlibur. Tapi masih ada sepuluh hari lagi menjelang Ramadhan datang dan masih ada dua puluh lima hari lagi menjelang waktu liburannya datang. Ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari pondok pesantren ini. Ia pun terus menunggu di depan kantor bagiannya demi menantikan kehadiran seseorang yang ia harap-harapkan datang.
“Eh itu ?” ucap Nada saat melihat mobil pengantar paket mendekat.
Saat matanya ia sipitkan demi mendapatkan fokus dari apa yang ia lihat di depan. Ia langsung tersenyum. Sebelum mobil itu sampai di depan kantor bagiannya. Ia sudah nyelonong pergi menyambut kehadiran sosok pria tua berperut tambun itu.
“Pakkk... Paaaakkkk” ucap Nada tampak terburu-buru sambil menggedor-gedor pintu mobil itu.
“Iya ustadzah... Ada apa ?” tanya pria tambun itu heran.
“Tolong bawa aku pak... Tolong bawa aku pergi dari sini...” ucap Nada mengejutkan pria tambun itu.
“Ehh maksudnya ?” tanyanya heran.
“Tolong bawa aku kemana aja pak... Ke rumah bapak lagi juga boleh... Aku gak mau tinggal disini pak” ucap Nada yang membuat pria tambun itu tersenyum.
“Ustadzah mau nginep di rumah saya ?” tanya pak Heri terlihat senang.
“Iyya pakk... Tolonggg” ucap Nada tampak memohon.
“Ustadzah juga mau tidur disebelah saya ?” tanya pak Heri lagi tersenyum.
“Terserah pak... Yang penting bawa aku pergi dulu dari sini” ucap Nada tampak putus asa sambil terus menggedor pintu karena pak Heri urung membukakan untuknya.
“Tapi ustadzah harus menuruti aturan saya yah... Wakakakaka” ucap Pak Heri yang entah kenapa jadi kepikiran mesum saat melihat Nada yang ingin menginap di rumahnya.
“Gampang pak... Bisa kita bicarakan nanti... Ayo pak buka pintunya... Buka pintunya cepet sebelum keliatan orang lain” ucap Nada tampak frustasi karena pak Heri urung membukakan pintu untuknya.
“Kalau saya ingin menggenjot ustadzah lagi gapapa nanti ?” ucap pak Heri mupeng.
“Pakkkk buka pintunya duluuu” ucap Nada tak menjawabnya.
“Wakakakak... Jawab dulu ustadzah... Kalau saya ingin menggenjotmu seharian boleh ?” tanya pak Heri semakin mupeng saat melihat keindahan tubuh Nada.
“Terserah bapak aja... Yang penting bawa aku pergi dari sini” jawab Nada yang membuat pak Heri semakin bernafsu membayangkan kejadian itu beneran terjadi.
“Wakakakak silahkan masuk ustadzah” ucap Pak Heri membukakan pintu untuknya.
“Makasih pak” jawab Nada setelah memasuki mobil pengantar paket itu.
“Tapi sebentar yah ustadzah... Saya mau mengantar paket dulu... Ustadzah tunggu sini yah” ucap Pak Heri yang hanya dijawab anggukan oleh Nada.
Pak Heri beneran keluar dari dalam mobil. Nampak pria tambun itu bergerak sendiri dalam memindahkan satu demi satu kotak paket dari dalam bagasi mobil menuju ke depan kantor bagian administrasi. Nada pun memperhatikannya dari luar. Ia terpikirkan kata-kata pak Heri yang ingin menyetubuhinya seharian.
“Apa pilihanku sudah tepat ?” lirih Nada.
“Aku kan menjauh dari pak Karjo dan Lutfi agar tidak disetubuhi oleh mereka... Tapi ketika aku mendekat ke pak Heri, pak Heri juga meminta bersetubuh denganku... Bukannya itu sama saja ?” lirih Nada mencoba berfikir.
“Ahhh enggak... Enggak... Jelas beda, setidaknya pak Heri tidak berniat untuk membinalkan diriku... Tapi, kalau disetubuhi seharian juga bisa bikin binal kan yah ?” lirih Nada ketakutan.
“Astaghfirullah... Kenapa hidupku belakangan ini selalu diganggu oleh hubungan sex dan sex terus ? Apakah aku hidup di dunia hanya untuk bercinta saja ? Enggak kan ? Tapi kenapa hampir setiap hari aku harus bercinta dengan mereka bertiga terus ?” ucap Nada heran karena hampir tiap hari ia harus bercinta dengan pak Heri atau Lutfi atau malah pak Karjo.
Seketika ia teringat lagi perkatannya Lutfi. Ia merenung. Apa jangan-jangan yang Lutfi ucapkan itu benar yah ?
Ia pun mengkhawatirkan pola pikirnya. Jujur, membayangkan penis seseorang yang sedang masuk ke dalam rahimnya saja sudah membuatnya mudah terangsang. Ia pun menatap pak Heri tanpa sadar. Ia terbayang ketika pak Heri sedang telanjang menampakkan perut tambunnya dan penis tak disunatnya.
Ia terbayang penampakan penis berhoodie itu. Entah kenapa ia ingin mengulumnya sambil menikmati kerasnya batang penis yang berwarna hitam itu.
Gleeegggg !!
Nada menenggak ludah. Apalagi saat pria tambun itu mendekat untuk kembali duduk di kursi kemudinya.
“Ini ustadzah tolong tanda tangani... Semuanya sudah saya kirimkan” ucap Pak Heri yang membuat Nada terbangun dari lamunannya.
“Ehhh iya pak” jawab Nada meraih pena di saku kemejanya lalu menandatangani secarik kertas yang pak Heri berikan.
“Wakakakak makasih sayang... Oh yah, beneran ustadzah mau menginap di rumah saya ?” tanya pak Heri sambil menyalakan mesinnya lagi.
“Heem pak” jawab Nada mendadak malu-malu karena sudah berada di sisi pria tambun itu.
“Wakakaka kalau gitu saya ingin mencumbu bibirmu dulu... Boleh kan, ustadzah ?” tanya pak Heri yang langsung mendekatkan wajahnya kemudian memajukan bibir tuanya.
Nada agak risih awalnya. Namun godaan yang menimpanya membuatnya ikut mendekatkan wajahnya ke bibir pria tua itu. Nada memejam. Nada pun mendorong bibirnya untuk menyentuh bibir pria tambun itu.
“Mmmpphhh” desah mereka berdua terutama saat tangan pak Heri menahan sisi belakang kepala Nada sedangkan bibirnya ia dorongkan untuk menumpas habis bibir yang menurutnya memiliki rasa manis.
“Mmpphhh... Makasih sudah mau mampir ke rumah saya ustadzah... Rumah saya akan selalu terbuka untuk ustadzah... Mmpphhh... Gak usah khawatir, saya akan memperlakukan ustadzah selayaknya seorang ratu” ucap Pak Heri disela-sela cumbuannya.
“Mmmpphhh gak perlu pakk... Mmpphhh... Jangan berlebihan dalam menyambutku... Aku cuma tamu biasa kok” ucap Nada merendah.
“Wakakakak... Mmpphhh, enggak ustadzah... Ustadzah bukan tamu biasa... Ustadzah adalah tamu istimewa saya” ucap pak Heri setelah melepas cumbuannya.
Mereka berdua pun saling pandang saat itu. Nada menatap pak Heri dengan tatapan sayuk sedangkan pak Heri menatap Nada dengan tatapan penuh nafsu.
“Saya akan menyambutmu dengan memberikan tusukan ternikmat yang membuatmu menjerit keenakan ustadzah” ucap pak Heri yang membuat mata Nada membuka lebar.
“Tttaa... Ttaappii pak” ucap Nada mendadak ketakutan kalau harus bercinta lagi dengan seseorang. Nada jadi bimbang antara harus menyerahkan tubuhnya lagi atau tidak. Ia dilema. Ia ingin terlepas dari lingkaran sex ini.
“Ayo kita pulang ustadzah... Ranjang kita sudah menanti untuk digoyang” ucap pak Heri yang tampak bersemangat untuk mengantarkan bidadarinya menuju ranjang kenikmatan.
Nada tak bisa menjawab apapun. Sepertinya ia harus siap untuk menghadapi konsekuensi pilihannya.
Apa iya aku ini diciptakan untuk menjadi pelampiasan para lelaki ? Apa iya aku ini diciptakan untuk menjadi pemus nafsu ?
Batin Nada yang lagi-lagi teringat ucapan Lutfi di sore kemarin. Mobil pun telah berangkat. Nada hanya bisa pasrah menanti apa yang akan ia terima di rumah pejantan tak bersunatnya.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *