BEBERAPA JAM KEMUDIAN
“Udah jam sepuluh yah ? Jadi gak yah ke rumahnya ?” Ucap Syifa mendadak bimbang.
Padahal ia sudah berencana untuk menemui ustadz Angga agar dirinya bisa segera mengungkapkan permasalahan yang dialaminya. Ia sudah muak menjadi pemuas nafsu jongos tua itu. Ia butuh keadilan. Setidaknya ia ingin membicarakannya baik-baik dengan Angga kalau ada seseorang yang telah menganggunya dengan alasan dirinya yang telah merenggut Angga dari ustadzah Hanna.
“Tapi kok aku ragu yah ?” Lanjutnya karena takut Angga justru menjauhinya setelah menceritakan masalahnya.
Ia tak mau menjauh sejauh-jauhnya dari anak dari pak kiyai itu. Tapi ia juga tak mau menjadi korban kesalahpahaman dari jongos tua itu. Ia juga sebenarnya tak mau membenci ustadzah yang diamanati di kantor bagian pengasuhan santri itu. Ia pun kesal. Ia kesal karena kesalahpahaman yang sudah merusak hubungannya dengan orang-orang disekitarnya.
Ia pun menatap cermin yang ada di kamar asramanya. Ia pun merenungi perbuatan yang sudah dilakukannya.
“Apa emang aku yang salah yah ? Atau jangan-jangan aku ini emang gak cocok sama laki-laki yah ?” ucap Syifa jadi teringat laki-laki kurus yang telah memperkosanya bahkan menyebar video rekamannya ke internet di masa lalu.
Ia pun jujur pada diri sendiri. Sepertinya selama ia berhubungan sesama jenis dengan perempuan yang ada di pondok pesantren ini. Tak pernah sekalipun dirinya mengalami masalah yang rumit seperti ini. Hanya saja, tiap kali dirinya berhubungan dengan salah seorang laki-laki. Pasti ada aja lelaki seperti pak Prapto atau pak Udin yang seenaknya dalam menodai dirinya. Seketika ia terpikirkan untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis lagi. Tapi seketika fitrohnya menolak karena merasa ada yang salah disana.
“Astaghfirullah... Astaghfirullah” Ucapnya sampai menyebut sambil memegangi kepalanya.
“Ustaddzz Anggaaa... Gimana ini ? Tolonggg” Ucap Syifa yang ingin sembuh namun terhalang oleh kebejatan tukang-tukang sapu itu.
“Sepertinya memang tidak ada cara lain selain berbicara dengannya... Oke deh... Aku harus ke rumahnya... Aku harus membicarakan masalah ini dengannya” Ucap Syifa bersiap-siap untuk menemui seorang ustadz yang sebentar lagi akan menjadi suami orang itu.
Syifa yang sudah mandi dan berpakaian rapih mulai berjalan keluar dari dalam kamar asramanya. Tampak kemeja longgar berwarna putih menutupi tubuhnya yang seksi. Roknya yang berwarna gelap serta berbahan plisket menutupi kaki jenjangnya yang ramping. Hijabnya yang berwarna abu-abu menutupi rambut panjangnya yang ia ikat ke belakang. Sebuah kacamata melengkapi penampilannya. Ustadzah berusia matang yang sudah memasuki usia pernikahan itu berjalan sambil menunduk dimana kedua tangannya ia taruh di depan.
Untuk mengobati hatinya yang tengah terluka. Ia mencoba mengingat masa-masa indah saat bersama ustadz Angga. Ia pun terpikirkan sebuah momen saat dirinya belanja berdua bersamanya untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasak oleh bagian konsumtor disaat ujian santri berlangsung. Rasanya sangat bahagia bisa berduaan bersamanya. Rasanya sudah cukup ketika menatap wajahnya yang tengah tersenyum. Hanya itu yang ia butuhkan sekarang. Kehadirannya. Ia ingin mengeluh kesahkan semuanya kepadanya. Ia ingin menjadikan Angga sandaran empuknya untuk menceritakan semua masalah yang menimpanya sekarang.
“Ehh ustadzah, Assalamualaikum” Ucap seseorang yang mengejutkan Syifa.
“Ehh Walaikum . . . Sallaamm” jawab Syifa terpotong saat menatap wajahnya.
“Antum mau kemana ? Rapih amat ustadzah” Ucapnya dengan ramah.
“Ana... Ana mau jalan-jalan aja... Bosen di kamar terus hehe” Ucap Syifa jadi tidak enak saat melihat Hanna tiba-tiba menyapanya.
“Ohh gitu... Antum gak pulang ustadzah ? Apa masih ada urusan yang belum antum selesaikan ?” Tanya Hanna lagi dengan ramah.
“Udah selesai semua kok... Cuma ya emang tiketnya itu satu hari sebelum bulan puasa di mulai... Jadi ya masih ada seminggu lebih lah yah disini hehe” Ucap Syifa mendadak tidak nyaman saat berada di dekatnya.
“Ohhh gitu yaudah deh... Ana duluan yah... Ana mau istirahat dulu, capek... Tadi abis olahraga sama yang lain hihihih” Tawanya.
“Ohhh iya silahkan”
“Wasssalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Hanna pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar asramanya. Tubuhnya yang berkeringat itu membuat Syifa risih. Syifa pun melanjutkan perjalanannya sambil memandangnya sinis.
“Siapa juga yang nanya kalau antum abis olahraga apa enggak... Dihh sok akrab banget” Ucapnya jadi semakin membencinya.
“Duhh astaghfirullah... Kenapa aku jadi kesel ke dia yah ? Padahal dia kan gak salah apa-apa... Udah ah... Aku kudu cepet-cepet ke rumahnya” Ucap Syifa mempercepat langkah kakinya.
Sesampainya ia di depan rumah pak Kiyai. Ia pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumahnya. Tapi seketika ia khawatir kalau yang nanti membukanya malahan pak Kiyai.
“Pak Kiyai ada di rumah gak yah ? Kalau nanti yang buka beliau, apa yang harus aku ucapkan kepadanya ?” Ucap Syifa kebingungan.
Tapi langit yang semakin panas menandakan kalau hari sudah semakin siang membuatnya segera memberanikan diri dengan mendekati pintu masuk rumahnya. Ia sudah berdiri di depan. Ia pun bersiap untuk mengetuk pintu rumahnya.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
“Assalamualaikum” Ucap Syifa dengan ramah.
Syifa terdiam menanti. Cukup lama ia menunggu tapi ia tak mendengar adanya jawaban dari dalam. Karena penasaran ia kembali mengetuk pintu untuk mencari tahu adakah seseorang yang berada di dalam rumah.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
“Assalamualaikum” Ucapnya lagi.
Syifa mendadak resah. Ia khawatir kalau tidak ada satupun orang yang berada di dalam.
“Eh apa jangan-jangan penghuni rumah lagi istirahat kali yah ?” Ucapnya kepikiran.
Tapi seketika terdengar suara langkah kaki dari dalam. Syifa pun mundur selangkah untuk bersiap-siap. Ia lega karena akhirnya salamnya bisa didengar oleh penghuni rumah ini.
Saat pintu terbuka. Syifa segera mengangkat wajahnya untuk menatap orang yang membukakan pintu untuknya. Tapi mendadak ia terkejut saat melihat wajah dari seseorang yang membukakan pintu untuknya.
“Lohh ustadzah, antum ? Kok disini ?” Tanya Syifa terkejut.
“Hihihii ustadzah Syifa... Apa kabar ?” Ucapnya yang membuat Syifa kebingungan.
“Ustadzah Diah ? Kok ?” Ucap Syifa yang tak habis pikir.
“Kenapa ? Ini kan rumah tante ana ustadzah... Masa iya ana gak boleh main kesini ?” Ucap Diah yang membuat Syifa mengangguk-ngangguk saja.
“Iyya sihh tapi kann” Ucap Syifa yang merasa tak biasa melihat Diah di rumah pak Kiyai.
“Oh yah kebetulan ustadzah... Masuk yuk... Udah ditunggu ustadzah Rania lohhh” Ucap Diah tiba-tiba menarik lengan Syifa.
“Ehhhh ada apa ? Kenapa ana tiba-tiba ditunggu ?” Ucap Syifa heran.
“Ada deh ustadzahh hihihihi” tawa Diah yang membuat Syifa curiga.
Syifa pun menatap penampilan Diah di hari ini. Padahal ini hari libur. Tapi pakaian Diah sangat rapih sekali. Dengan kemeja berwarna putih yang membalut tubuh mungilnya. Dengan hijab lebar berwarna coklat yang membungkus kepalanya. Serta dengan rok panjang yang juga berwarna coklat yang menyembunyikan kaki jenjangnya. Perawakannya membuatnya teringat pada Salwa. Apalagi usia mereka hanya terpaut satu tahun saja. Diah lebih tua dari Salwa. Tapi perawakan tubuhnya tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama terlihat seperti anak-anak yang membuat mereka terlihat imut menggemaskan. Seketika wajah Syifa mendadak malu saat membayangkan hal yang tidak-tidak pada ustadzah yang pernah menggenjotnya menggunakan dildo mainan di dalam gedung kelas waktu itu.
Sesampainya ia dalam kamar ustadzah Rania. Mereka berdua langsung disambut senyuman oleh istri dari pak Kiyai itu. Rania menyambut mereka dengan ramah. Senyuman manis yang Rania berikan membuat wajah mereka berdua mendadak tersipu.
“Ustadzah Syifa ? Kebetulan antum dateng... Hihihih” Tawa Rania saat duduk diatas ranjang pribadinya.
Syifa memperhatikan penampilan Rania. Penampilannya jauh lebih santai dibandingkan dengan Diah. Rania hanya mengenakan daster santai bermotif dedaunan yang dipadukan dengan cardigan berwarna coklat yang membungkus tubuh rampingnya. Senyumnya begitu merekah. Wajahnya begitu ayu yang membuat Syifa spontan tersipu. Hijab berwarna cerah yang menutupi kepalanya melengkapi penampilannya yang memukau. Ustadzah yang wajahnya mirip orang korea itu membuat jantung Syifa berdebar kencang yang membuatnya bingung entah kenapa.
“Kebetulan ? Memangnya ada apa ustadzah ?” tanya Syifa penasaran.
“Tau kan ustadzah... Pak Kiyai sekarang lagi pergi... Katanya sih ada acara di kota sebelah... Sedangkan ustadz Angga lagi ada rapat untuk penentuan kamar beserta kantor bagian baru untuk tahun ajaran setelahnya... Jadi cuma ada kita doang disini... Tahu kan maksudnya ?” Ucap Rania sambil membelai perut Syifa lalu berdiri di sisi kirinya.
“Iyya ustadzahhh... Cuma ada bertiga doang loh... Udah lama banget kan kita gak kumpul-kumpul barenng ?” Ucap Diah yang sudah berdiri di sisi kanannya lalu mendekap punggungnya yang membuat Syifa bergidik merinding.
“Ehh maksudnya... Kita ?” Ucap Syifa mempunyai firasat buruk. Dirinya yang sedang tidak ingin berhubungan sesama jenis lagi tiba-tiba dihadapkan dengan situasi ini.
“Hihihihi it’s a girls time... Ustadzah” Ucap Rania tersenyum sambil usapannya ia naikkan menuju payudara bulat Syifa.
“Hihihihi waktunya buat kita bersenang-senang... Hanya ada kita bertiga lohhh di rumah ini” Ucap Diah sambil mendekatkan wajahnya ke arah pipi Syifa lalu usapannya ia turunkan menuju bokong padatnya.
“Ustadzahhh... Taappiiiiii” Ucap Syifa merinding hingga mengangkat kedua bahunya karena tak sanggup menghadapi situasi ini. Namun cumbuan Diah di pipinya juga jilatan Rania yang menjalar ke bibirnya membuatnya tak bisa menghindari situasi ini. Ia tahu betul kalau mereka berdua sedang mengajaknya untuk kembali ke jalan yang salah. Syifa ingin menolak tapi merasa tak enak. Apalagi remasan di dada dan bokongnya terasa semakin enak. Ia pun hanya bisa pasrah.
“Mmmpphhhh” Desah mereka berdua saat bercumbu.
Rania yang tengah bernafsu mengarahkan wajah Syifa agar menoleh ke arahnya. Akibatnya ia jadi semakin mudah untuk menjilati rongga mulut Syifa. Lidahnya pun bergerak menyusuri seisi mulutnya. Lidahnya itu menjilati lidah Syifa. Syifa pasrah. Wajahnya hanya bisa memejam saat lidahnya di ajak bermain oleh lidah Rania.
“Hihihih curang ana gak diajak” Ucap Diah merasa iri. Tapi ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk meremasi dan mencengkrami bokong padatnya yang membuat Syifa merintih keenakan. Terkadang Diah juga menamparnya. Terkadang ia juga memasukan jemarinya ke dalam lubang anus Syifa dari luar roknya yang membuat Syifa kegelian merasakan sensasinya.
Syifa dan Rania terus bercumbu. Ustadzah yang sama-sama cantik itu saling jilat. Saling berciuman. Saling bertukar ludah untuk meluapkan nafsunya. Syifa yang awalnya tidak mau lama kelamaan jadi hanyut dalam buaian nafsu itu. Dikala lidah Rania berada di mulutnya maka lidahnya ia julurkan untuk memasuki rongga mulut Rania. Mereka pun saling menghisap lidah. Mereka juga saling menelan ludah yang dikirimkan oleh pasangannya. Terkadang lidah mereka sama-sama keluar untuk saling menjilat. Lidah mereka seperti sedang pedang-pedangan. Kadang lidah Rania menjilati sisi bawah lidah Syifa. Terkadang lidah Syifa yang menjilati sisi atas lidah Rania. Kadang lidah Rania dikulum oleh Syifa. Kadang lidah Syifa yang dikulum oleh Rania. Lidah mereka saling beradu. Bibir mereka terus bercumbu. Mereka sama-sama telah bernafsu. Mereka sama-sama memuaskan rindu akibat terlalu lama tidak bertemu.
Hampir berhari-hari mereka tidak bertemu. Sekalinya bertemu mereka langsung bernafsu dan melampiaskannya pada pasangan sejenisnya itu.
Diah tersenyum melihat ustadzah-ustadzah seniornya saling cumbu. Diah iri. Ia ingin bergabung. Ia juga ingin mengabadikan momen yang menurutnya sangat menggairahkan itu.
“Ustadzahhh gantiaannn” rengek Diah dengan merebut wajah Syifa untuk dicumbu olehnya.
“Hihihih dasar... Ana belum puasss tauuuu” rengek Rania yang masih ingin menikmati mulut Syifa.
“Mmpphhh... biarinnn... Antum udah lama banget tauuu” Desah Diah saat mencumbu bibir ustadzahnya itu.
Syifa tanpa mengucapkan kata-kata langsung membalas cumbuan ustadzah muda itu. Bibir mereka saling dorong. Bibir mereka saling sepong. Bibir mereka saling membuka untuk menjepit bibir lawannya. Dikala Diah menjepit bibir bagian bawah Syifa maka Syifa menjepit bibir bagian atas Diah. Mulut mereka saling hisap. Mulut mereka saling mengecap. Terasa rasa manis disana. Liur mereka sampai jatuh akibat semakin bernafsunya mereka.
Rania tak tinggal diam. Tangannya sedari tadi terus meremas dada Syifa sambil wajahnya teralihkan pada percumbuan mereka yang semakin panas. Jemari Rania pun mencubit puting Syifa. Jemarinya juga terkadang menekan-nekan puting susunya. Lalu terkadang tangannya mencengkram kuat yang membuat Syifa merintih disela-sela cumbuannya. Rania tersenyum. Ia sangat puas pada ekspresi wajah Syifa yang begitu bernafsu.
“Hihihihi ana buka yah sekaranggg” Ucap Rania yang ingin membuka kancing kemeja Syifa.
“Hihihihi ana bantu yah ustadzah” Ucap Diah ikut menelenjangi tubuh Syifa yang membuat wajah Syifa memerah.
“Eehhh jangannn... Jangann dibukaaa” Ucap Syifa mendadak malu setelah dicumbui secara bergantian oleh mereka berdua.
“Emangnya kenapa ustadzah ? Kita-kita kangen susu gede antum loh hihihihi... Iya gak ustadzah ?” Tanya Rania pada Diah.
“Iyya betul hihihi... Ana jadi iri loh sama keindahan tubuh antum... Andai ana punya tubuh seindah antum” Puji Diah yang membuat wajah Syifa memerah.
Satu demi satu kancing kemeja Syifa telah dibuka. Kulit beningnya yang begitu mulus terhidang didepan mata mereka berdua. Syifa hanya bisa pasrah sambil mendekap pinggang mereka berdua. Ia jadi malu saat dadanya mulai terlihat. Saat keseluruhan kancing kemejanya terbuka. Rania dan Diah sama-sama menurunkan cup branya hingga membuat kedua payudara Syifa meloncat keluar.
“Hihihih indah banget” Puji Rania yang membuat Syifa malu.
“Duhh gede banget sih susu antum ustadzah... Apa rahasianya ?” Ucap Diah kembali mendekat ingin mencumbu bibir Syifa lagi.
“Mmpphhh gak tau ustadzah... Mungkin keturunan” Jawab Syifa malu-malu saat dicumbu oleh Diah.
Rania yang iri pun memilih ikut bergabung. Dikala Syifa dan Diah saling cumbu. Bibir Rania ikut mendekat yang membuat nafasnya terhirup oleh mereka berdua. Syifa dan Diah pun tersenyum. Akhirnya mereka mengalah dengan membiarkan Rania ikut bergabung.
Dikala Syifa menjulurkan lidahnya. Diah dan Rania sama-sama menjilati lidah Syifa tanpa ampun. Lidah mereka menggesek lidah Syifa. Syifa hanya bisa memejam menikmati semuanya. Ia pun merasa nikmat saat bersama kedua pasangan lesbinya. Apalagi saat Diah tiba-tiba mengulum lidah bagian kirinya sedangkan Rania mengulum lidah bagian kanannya. Wajah mereka berdua digerakan ke kiri dan ke kanan. Lidah Syifa jadi terjilat maju mundur oleh mereka. Nafsu yang semakin menjadi membuat mereka tak bisa mengendalikannya lagi. Liur mereka berjatuhan. Liur mereka jatuh membasahi payudara Syifa yang sudah terbuka. Syifa pun tak tahan. Ia jadi ingin mencumbu seseorang lagi.
“Mmpphhhhhh” Desah Syifa tiba-tiba mencumbu bibir Rania. Diah yang tidak terpilih merasa iri. Tapi ia tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian Syifa. Ia pun mengincar payudaranya untuk menyusu disana.
“Mmpphhh ustadzaahhh... Mmpphhh” desah Syifa sambil mencumbu Rania dikala payudaranya dicumbu oleh ustadzah Diah.
Bibir Syifa mendorong bibir Rania. Lidahnya juga ia julurkan ke dalam mulut Rania. Syifa seperti lebih bernafsu pada Rania karena menurutnya Rania jauh lebih cantik dan jauh lebih dewasa daripada Diah. Syifa pun tak peduli lagi dengan siapa ia bermain sekarang. Ia ingin melampiaskannya. Ia pun mencumbu bibir Rania sepuasnya. Mereka saling cumbu. Mereka melampiaskan nafsu. Lidah mereka saling masuk. Lidah mereka saling menggeliat.
“Mpphhh gede banget ustadzahhh... Gede banget susu antum” Ucap Diah di bawah sana.
Bibir Diah dengan nafsu menjepit puting susu Syifa. Terkadang lidahnya juga keluar untuk menjilati areolanya. Tangannya pun ikut bergabung dengan meremas dadanya untuk merasakan kekenyalannya disana. Erangan yang Syfia keluarkan membuat Diah semakin bernafsu. Diah mencengkram payudaranya lalu putingnya ia jilat yang membuat Syifa merinding yang membuatnya langsung melepas cumbuannya untuk menghukum Diah dengan cara mencumbunya.
“Aaahhhh ustadzaaahhhh... Mmpphhhh” Ucap Syifa berpindah untuk mencumbui Diah.
Rania yang menganggur langsung mengincar payudara satunya yang tidak disusui oleh Diah. Rania juga langsung menjilatnya. Kadang mulutnya membuka lebar untuk menelan payudara Syifa semampunya. Ketika seperempat dari payudara itu masuk. Rania langsung mengenyotnya. Rania semakin bernafsu begitupula Syifa yang sedang menyusui istri dari pak Kiyai itu.
“Aaaahhhh kaliiaannnn” desah Syifa malu saat Diah melepaskan cumbuannya untuk ikut menyusu di payudara satunya.
Syifa seperti sedang menyusui dua bayinya saja. Syifa pun hanya bisa memejam dan mulutnya membuka lebar ketika Rania dan Diah sama-sama menyusu di payudaranya. Puting Syifa sama-sama dijilat. Buah dadanya sama-sama diremas. Lidah mereka berdua sama-sama merangsang birahi Syifa yang membuat ustadzah berkulit bening itu memejam keenakan.
“Aaaaaaaahhhhhhhh” desah Syifa merinding keenakan.
Syifa yang mendadak lemas kemudian dibaringkan oleh mereka berdua diatas ranjang tidur Rania. Syifa yang kini dalam keadaan kemeja terbuka berbaring dalam posisi terlentang diatas kasur empuk Rania. Saat wajahnya ia tolehkan ke arah mereka berdua. Rupanya Rania dan Diah sedang berciuman. Mereka berciuman dengan penuh nafsu. Saat bibir mereka bertemu. Jemari mereka sama-sama bergerak untuk menelanjangi tubuh pasangannya. Rania membuka kancing kemeja Diah. Diah melepaskan cardigan yang menyangkut di tubuh ustadzahnya. Saat liur mereka menetes satu persatu. Tubuh bagian atas mereka sudah terbuka menampakkan belahan payudara mereka yang masih tertutupi beha masing-masing. Diah pun menuntaskannya dengan menurunkan daster yang Rania kenakan hingga ibu tiri dari ustadz Angga itu tinggal mengenakan hijab serta bikininya saja. Rania juga ikut membuka kemeja Diah lalu menurunkan rok panjang yang ia kenakan. Dalam sekejap Diah juga tinggal mengenakan hijab beserta bikininya saja.
Bibir mereka terus beradu. Bibir mereka saling dorong dengan penuh nafsu. Jemari tangan mereka bergerak ke punggung pasangannya untuk melepas tali ikat behanya. Beha mereka jatuh bersamaan. Mereka sama-sama bertelanjang dada memamerkan bentuk buah dada mereka yang begitu indah.
Syifa terpana melihat keindahan tubuh mereka berdua. Nafsu yang sudah berkuasa membuatnya menikmati hubungan sejenis yang sempat ia benci ini. Tanpa sadar Syifa meremasi payudaranya sendiri sambil melihat mereka yang begtu erotis. Mungkin tidak ada yang membayangkan kalau pasangan tante-keponakan ini terbiasa berciuman dengan begitu panas seperti ini.
“Mmphhh ustadzaaahhh” desah Diah saat Rania melepaskan cumbuannya.
“Telanjang yukkk... Hihihih” Ucap Rania yang membuat Diah tersenyum malu.
“Yuk”
Diah dan Rania sama-sama memelorotkan celana dalamnya. Dalam sekejap mereka sudah bertelanjang bulat memamerkan tubuh indahnya. Seketika mata mereka melirik ke arah Syifa. Syifa yang sedang meremasi buah dadanya sendiri pun ketahuan. Syifa mendadak takut saat mata mereka begitu bernafsu menatap setengah ketelanjangan dirinya.
“Ustadzah... Kok antum masih berpakaian sih... Ana buka yah” ucap Diah sambil memelorotkan rok yang Syifa kenakan. Belum sempat Syifa menjawabnya. Rania sudah datang yang langsung menduduki wajah Syifa meminta untuk dijilati vaginanya.
“Ayo jilat ustadzah... Kayak biasa hihihi” Ucap Rania sambil menduduki mulut Syifa yang membuat lidahnya langsung merengsek masuk ke dalam.
"Mmphhh... Sllrrppp... Iyaahhh"
“Ouuhhhhhhh nikmatnyaaaa” Desah Rania kegirangan.
Diah yang sudah memelorotkan rok Syifa segera memelorotkan celana dalamnya juga. Dalam sekejap Syifa tinggal mengenakan kemeja yang terbuka beserta hijabnya saja. Diah pun melebarkan kedua kaki Syifa lalu menjulurkan lidahnya untuk menjilati vaginanya.
“Mmmphhhh ustadzaahh... Sllrrpp... Slllrrpppp” desah Syifa merasakan jilatan di vaginanya. Lidahnya yang sedang bekerja merangsang vagina Rania jadi semakin bersemangat. Lidahnya itu bergerak menggelitiki dinding vagina Rania. Lidahnya mengepak-ngepak ke atas dan ke bawah lalu menjilati dinding vaginanya yang terasa asin. Bibirnya juga mengecup bibir vagina Rania. Bibir bagian atasnya bahkan mendorong klitorisnya yang membuat Rania blingsatan tak karuan.
“Aaahhhh terusss... Terusss ustadzaahh... Aaahhhh” desah Rania sambil meremasi payudaranya yang sudah terbuka.
Sedangkan Diah juga sama. Ia tampak sibuk untuk menjilati vagina Syifa yang rupanya sudah basah sedari tadi. Lidahnya dengan telaten menjilati bibir vaginanya. Sapuan lidahnya membuat Syifa merinding keenakan. Lidahnya pun mulai membelah liang senggamanya. Lidah itu bergerak naik turun. Lidah itu menggeliat merangsang vagina Syifa tanpa ampun. Kedua tangan Diah terpaksa memegangi kaki Syifa dengan kuat akibat tak tahan merasakan jilatannya di vaginanya. Diah tersenyum. Ia pun membuka lubang vagina itu lalu meludahinya hingga penuh. Diah kembali menjilatinya lalu meludahinya lagi hingga semakin licin.
“Hihihihi sekarang deh saatnya” Ucap Diah tersenyum malu-malu.
Tanpa memperdulikan Syifa yang masih sibuk menjilati vagina Rania. Ia mulai mendekatkan vaginanya ke arah vagina Syifa. Saat vagina mereka bertemu. Terasa setruman listrik kecil yang membuatnya terkejut. Pelan-pelan ia menundukkan tubuhnya untuk meremasi payudara Syifa yang menganggur. Saat pinggul Diah bergerak untuk menggesek vaginanya yang licin. Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya yang membuat Diah mengerang keenakan.
“Aaahhh... Aahhhh... Nikmat bangett... Nikmat banget memek antum ustadzaahhh” desah Diah blingsatan.
Syifa pun merem melek merasakan vaginanya digesek. Mulutnya mengatup. Bibirnya mencium vagina Rania dengan penuh cinta. Lidahnya kembali keluar tuk menjilati rongga vaginanya. Matanya pun mencoba menatap keadaan Rania diatas sana. Rania jadi semakin binal diatas sana. Syifa terkejut saat pinggul Rania bergerak. Rupanya pinggul Rania bergerak maju mundur agar vaginanya bisa terjilat oleh lidah Syifa yang berada di dalam. Syifa pun tak berdaya sekarang. Mulutnya dipaksa untuk menjilati vagina Rania sedangkan vaginanya digesek oleh vagina ustadzah Diah.
“Mmpphhh... Mmphhh... Ustadzaahhh... Mmpmphh” Desah Syifa keenakan.
Kenapa rasanya enak banget ? Kenapa aku mulai menikmati perbuatan ini lagi ? Mungkinkah aku seharusnya berhubungan dengan wanita saja ? Sehingga aku tak perlu merasakan sakit yang biasa diberikan oleh seorang pria ?
Batin Syifa kepikiran.
Diah semakin bernafsu dalam meremasi dada Syifa kemudian menggeseki vaginanya. Jujur, vaginanya jadi semakin licin setelah dibanjiiri oleh cairan cintanya sendiri. Rasa nikmat yang ia dapatkan dari vagina Syifa. Juga nafsunya yang ia lampiaskan dengan meremasi buah dada Syifa. Diah semakin keenakan sehingga semakin cepat dalam menggeseki vaginanya. Jemarinya pun memelintir puting Syifa. Jemarinya pun mencubit puting Syifa. Jemarinya juga menekan puting Syifa yang membuat Syifa semakin lemas tak berdaya.
“Ouuhhh indah banget tubuh antum ustadzah... Ana jadi gak bisa berhenti untuk memuasi tubuh antum” Ucap Diah bernafsu.
“Aaahhh... Aahhhh betul itu ustadzah... Ana juga... Ana gak bisa berhenti bergoyang diatas wajah antum” Ucap Rania sambil meremasi kedua payudaranya sendiri.
Syifa yang tak bisa berkata-kata selain mendesah hanya bisa pasrah. Kedua tangannya pun mengusapi paha Rania yang membuat istri dari pak Kiyai itu merinding keenakan. Mereka hampir tiba. Mereka hampir sampai di puncak kenikmatan sebelum mereka menghentikannya karena ingin menikmati momen ini lebih lama lagi.
“Aaahhhhhh cukuppp” Ucap Rania yang langsung berdiri tepat waktu sehingga tak jadi berorgasme yang hampir ia dapatkan tadi. Ia pun melangkah mundur menuju almarinya meninggalkan Syifa yang akhirnya bisa melihat wajah cantik Diah lagi.
“Ustadzahhh... Aahhhh... Aaahhhh” Ucap Diah bernafsu sambil terus menggeseki vaginanya.
“Ustadzaahhh... Antuummm.... Mmppphhh” Ucap Syifa mengajaknya bercumbu yang langsung dituruti oleh Diah.
“Diah menjatuhkan tubuhnya. Bibirnya mengapit bibir Syifa dikala pinggulnya terus bergerak menggesek bibir vaginanya. Kedua payudara mereka berhimpitan. Kedua puting mereka saling bersentuhan. Gesekan yang semakin nikmat membuat mereka semakin bernafsu dalam melakukan persetubuhan sejenis itu. Diah pun tiba-tiba menyudahi perbuatannya setelah puas mencumbui bibir Syifa.
“Mmphhh puas banget ana ustadzahh... Hihihiih... Berdiri yuk... Kita punya sesuatu untuk memuasi antum loh” Ucap Diah yang segera bangkit lalu mengajak Syifa berdiri di samping ranjang tidur yang tadi mereka tempati.
“Eh apaan ustadzah ?” Tanya Syifa penasaran. Tapi Diah tidak mau memberi tahu. Mereka malah kembali bercumbu dalam posisi berdiri saling berhadapan.
Ketika sedang asyik-asyiknya berciuman. Syifa pun merasa ada sesuatu yang menusuk vaginanya dari belakang. Syifa bergegas melepas cumbuannya dan menemukan Rania disana sudah mengenakan dildo mainan yang bisa diikatkan di pinggang. Belum juga Syifa membuka mulutnya untuk berbicara. Rania sudah melesatkan dildonya hingga masuk menembus rahim hangat Syifa.
“Uuuhhhhhh ustadzaaaahhhh” Desah Syifa sampai menggeliat.
Terasa dildo yang berwarna pink itu melesat begitu tajam hingga menyundul dinding rahimnya. Syifa yang sedang kelojotan tak diberi waktu untuk menyesuaikan diri oleh Rania. Rania langsung mendekap pinggul Syifa lalu memaju mundurkan pinggulnya sendiri.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhh” Desah Syifa dalam posisi berdiri membelakangi.
“Hihihihi enak kan ustadzahhh... Beruntung banget loh antum bisa disodok sama ana” Ucap Rania sambil mengelusi pinggang Syifa yang menambah sensasi nikmat yang ia rasakan.
“Iyyaahhhh... Iyyahhh ustadzaahhh... Aahhhh nikmat bangettt” Desah Syifa sambil memegangi tangan Rania agar dirinya tidak terjatuh saat menahan sodokan penis mainan itu.
Tak berselang lama Diah kembali datang dengan mengenakan dildo yang sama. Diah tersenyum melihat Syifa begitu bernafsu saat disetubuhi oleh istri dari pak Kiyai itu. Wajah Syifa begitu sangek. Diah pun mengajak Syifa untuk menunduk agar bisa mengulum dildo yang dikenakannya itu.
“Mmpphhh... Mmpphhhh” Desah Syifa saat mulutnya dipenuhi oleh dildo mainan milik Diah.
“Hihihihi nikmat banget pasti antum, ustadzah” Ucap Diah yang tiba-tiba juga menggerakan pinggulnya.
Sontak mata Syifa membuka lebar. Dirinya begitu kesulitan ketika disetubuhi dari depan dan juga belakang. Ketika pinggul Rania menyodok vaginanya maju. Otomatis Mulut Syifa semakin tersodok oleh penis dildo milik Diah. Namun saat Diah menyodok pinggulnya maju. Otomatis tubuh Syifa terdorong ke belakang sehingga penis dildo mainan Rania semakin terbenam di dalam vaginanya.
Syifa yang masih mengenakan hijab beserta kemejanya yang terbuka dipaksa memuasi dildo mereka berdua. Kedua payudaranya yang menggantung itu bergondal-gandul. Syifa memejam. Ia agak kesulitan. Diah hanya tersenyum melihat kebinalan Syifa. Ia pun memegangi kepala Syifa agar memudahkan pinggulnya untuk menodai mulutnya. Mulut Syifa yang penuh membuat liurnya sampai jatuh membasahi lantai. Kedua tangannya pun mencoba memegangi paha Diah agar tidak terjatuh. Sedangkan Rania terus menggenjotnya sambil mengusapi bokong mulusnya. Terkadang usapannya naik untuk mengelusi punggungnya yang masih tertutupi kemejanya. Terkadang usapannya sebatas ada di pinggang mulusnya. Rania mempercepat hujamannya. Ia juga menampar bokongnya karena terlampau gemas.
“Aaahhhh... Aaahhh... Iyyaahhh... Teruussss” Desah Rania yang juga keenakan karena tiap kali pinggulnya menyodok maju, ia merasakan getaran yang ia rasakan di bibir vaginanya. Dildo yang mereka berdua gunakan merupakan dildo yang bisa bergetar. Maka tak heran mereka terkadang mempercepat hujamannya untuk merasakan getaran di bibir vaginanya.
“Ustadzaahh... Tukeran yuk” Ucap Diah mengkode pada Rania.
“Yukkk” Ucap Rania yang langsung menancapkan dildonya hingga mentok ke dalam.
“Uhhhhhhhhhhh” Ucap Syifa sampai terdorong maju ke depan karena tak tahan.
“Ayo tukeran ustadzah... Ana yang genjot memek antum... Terus antum yang nyepong dildo ustadzah Rania” Ucap Diah ke Syifa.
Syifa yang notabene jauh lebih senior dari Diah hanya menuruti. Nafsunya yang semakin menjadi membuatnya ingin disetubuhi lagi. Ia pun pasrah ketika dildo mainan Diah kembali masuk ke dalam vaginanya. Wajahnya yang kelelahan hanya menatap Rania dengan penuh nafsu. Kedua tangannya pun bertumpu pada bahunya. Rania tersenyum. Ia pun memajukan bibirnya yang segera dibalas oleh Syifa.
“Mmmpppphhhh” desah Syifa saat mencumbu Rania.
Disaat pinggul Diah bergerak maju mundur. Maka Syifa bertahan dengan menciumi bibir Rania. Tangan kananya pun bergerak turun dengan mengocoki dildo mainannya. Mereka bercumbu dengan penuh nafsu. Mereka menikmati perzinahan mereka ketika hanya ada mereka bertiga di rumah pak Kiyai.
"Mmpphh... Mmpphh... Bibir antum kenapa manis banget ustadzah... Ana jadi pengen nyiumin antum terus" Ucap Syifa di sela-sela cumbuannya.
"Hihihi bibir antum juga ustadzah... Terus cium ana... Ana seneng deh bisa ciuman lagi sama antum" Ucap Rania sambil menatap Syifa dengan penuh cinta.
Tatapan mesra yang Rania tunjukkan membuat Syifa tersipu. Syifa pun terus mengocok dildo Rania dengan malu-malu. Kedua payudaranya bergetar seiring hujaman Diah yang semakin kasar. Nampaknya Diah jadi semakin bernafsu saat dapat menggenjoti rahim Syifa yang begitu sempit.
Diah mengusapi bokong Syifa. Diah juga mengelusi pinggang Syifa. Terkadang ia juga meremasi payudara Syifa seiring nafsunya yang membesar padanya. Diah yang sangat mengagumi kecantikan Syifa membuatnya jadi lebih bersemangat saat menyetubuhi vaginanya.
Berulang kali dinding vagina Syifa tergesek oleh dildo yang Diah kenakan. Berulang kali dinding rahim Syifa tersundul oleh dildo yang Diah kenakan. Berulang kali klitoris Syifa tertekan oleh hujaman pinggul Diah saat dildo itu terbenam seluruhnya di dalam rahimnya.
"Uuuhhhhh... Uuuuhhhh... Puas banget sih rasanya ustadzah bisa menggenjot tubuh antum.... Uhhhhh mana susu antum gede juga lagi... Antum sempurna banget ustadzah... Ana jadi makin bernafsu tiap kali menggenjot tubuh antum" Ucap Diah melampiaskan nafsunya.
"Mmmpphhh... Mmpphh... Aaaahhhh... Makasih ustadzah... Ana juga... Rasanya nikmat banget kalau antum yang nyodok memek ana" Ucap Syifa setelah melepaskan cumbuannya lalu menoleh ke belakang.
Wajah Syifa yang begitu sangek membuat Diah jadi semakin bernafsu untuk menghujami vaginanya. Hujamannya dipercepat. Tubuh Syifa melonjak-lonjak dengan cepat. Kedua payudaranya bergerak seirama dengan cepat. Erangan-erangan yang keluar dari mulutnya juga kuat.
"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh ustadzaahhh" Desah Syifa yang membuat Rania tertawa.
Rania yang berada di depan hanya tersenyum melihat kebinalan Syifa. Wajahnya yang indah itu, serta tubuhnya yang mulus itu, ditambah dengan payudaranya yang besar itu. Rania jadi bernafsu. Sudah sejak dulu dirinya mencintai ustadzah berkulit bening itu. Bahkan ia sampai rela membujuk putra tirinya agar mau menikahi Syifa ketimbang Hanna. Ia mempunyai maksud terselubung yakni agar dirinya bisa bercinta dengan Syifa sekaligus putra tirinya setelah menikah nanti.
"Uuuuhhhhh ustadzaaahhh" Desah Syifa saat vaginanya disundul oleh dildo mainan Diah.
"Hihihi sekarang giliran ana lagi ustadzah" Ucap Rania sambil menarik lengan Syifa ke atas ranjangnya.
Rania dengan bersemangat berbaring diatas ranjang tidurnya. Syifa yang lemas tak berdaya langsung berbaring diatas tubuh Rania. Rania dengan penuh semangat memasukan dildonya lagi ke dalam vagina Syifa. Rania tersenyum menatap wajah Syifa yang kelelahan. Rania pun menekan kepala Syifa ke arahnya. Syifa dengan malu-malu menuruti kemauan Rania saat bibirnya itu kembali maju.
"Mmmpphhh" Desah mereka saat kembali bercumbu.
Rania tak pernah bosan saat bercumbu dengan ustadzah yang dulu sempat menjadi teman satu kantornya itu. Sudah sejak dulu, bahkan ia lah yang menanamkan bibit-bibit lesbi kepadanya. Ia yang menanamkan ke otaknya kalau bercinta dengan laki-laki hanya akan memberinya luka saja. Tapi itu dulu, saat dirinya belum menikah dengan pak Kiyai. Meski terkadang ia kini mulai menasehati Syifa agar bisa segera menikah karena usianya hampir kepala tiga. Ia masih tetap ingin bercinta dengannya. Ia masih ingin memadu kasih dengannya. Ia masih ingin mendapatkan kenikmatan saat bersenggama dengannya.
"Mmmpphhh ustadzaaahhh" Desah Syifa terkejut hingga ia melepaskan cumbuannya untuk menengok ke belakang.
Rupanya Diah tak tahan dan ingin bergabung dengan mereka. Lubang dubur Syifa kembali tertembus. Syifa pun terkejut bahkan membuatnya teringat saat dikeroyok oleh pak Udin dan pak Prapto waktu itu.
Getaran yang dirasakan Diah melalui dildonya membuat ia segera memaju mundurkan pinggulnya tuk memborbardir lubang kotoran Syifa. Ustadzah muda itu kembali menyetubuhi Syifa. Ia mengaduk-ngaduk lubang kotoran Syifa dengan cepat. Kedua tangannya hinggap di punggung Syifa hingga dadanya yang bulat semakin terhimpit ke dada Rania yang empuk. Rania tersenyum merasakan keempukan dada Syifa. Desahan Syifa saat dianal oleh Diah membuat Rania semakin terangsang sehingga menolehkan wajah Syifa ke arahnya untuk ia cumbui lagi.
"Mmpphh... Mmpphh... Ustadzah, Satu-satuu tollonggg... Jangan barengan kayak gini" Ucap Syifa agak menolak karena masih trauma dengan kenangan buruknya.
"Gak usah khawatir ustadzah... Mmpphh... Antum udah lama gak disandwich ya ? Nanti juga enak kok" Ucap Rania menenangkan.
"Aaahhh... Aahhhh... Bukann gittuuu... Pokoknyaaa jangann ustadzaahhh" Desah Syifa memohon.
"Hihihi tenang... Mending antum fokus ke cumbuan kita aja... Gak usah dipikirin yahh... Mmpphh" Ucap Rania sambil mendorong kepala Syifa ke arah bibirnya.
"Taappiii ustadzaahhh... Mmmpphhh" Desah Syifa yang akhirnya harus mengalah.
Diah hanya tersenyum melihat Syifa kembali dicium oleh istri dari pak kiyai itu. Diah, walaupun yang termuda diantara ketiganya. Tapi dialah yang paling berpengalaman soal urusan main dari belakang. Sambil terus menyodoknya, ia mengingat momen disaat ujian santri beberapa hari yang lalu. Momen disaat duburnya disodok oleh salah satu santrinya sebagai balasan karena sudah menyodok dubur santrinya menggunakan mainan dildonya. Membayangkan momen itu membuat Diah jadi semakin bernafsu. Ia pun mempercepat sodokannya tuk melebarkan dubur Syifa selebar-lebarnya.
Menyadari Diah semakin bernafsu dalam menyenggamai dubur Syifa membuat Rania akhirnya ikut bergabung dengan menggerakan pinggulnya juga. Tangan kirinya mendekap punggung mulusnya yang masih tertutupi kemejanya. Tangan kanannya menahan sisi bagian belakang kepalanya. Syifa tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan mereka berdua bertindak semaunya. Dikala pinggul Rania bergerak maka dildo mainannya menembus hingga menyundul dinding rahim Syifa hingga mentok. Disaat itulah Diah menarik pinggulnya hingga dildonya ikut tertarik keluar dari dalam dubur Syifa. Saat giliran Diah yang mementokkan dildonya hingga mengenai titik terdalam dubur Syifa. Giliran Rania yang menarik keluar penis mainannya. Mereka berdua terus melakukan itu secara bergantian hingga Syifa sendiri tak bisa beristirahat dalam melayani nafsu mereka berdua.
"Uuuhhh.... Uuhhhh.... Nikmat bangettt ustadzaahh... Uuhhh" Desah Diah semakin bersemangat saat getaran di dildonya semakin terasa.
"Mmmpphhh... Mmmpphhh mulai kerasa enak kan ustadzaahhh ? Mulai terbiasa kan ?" Ucap Rania di sela-sela cumbuannya setelah menduga Syifa belum terbiasa di sandwich.
"Mmmpphhh... Mmpphh taappiiii... " Ucap Syifa terpotong karena Rania terus mencumbunya dengan rakus.
Ketika dua dildo itu bersatu untuk mengotori lubang kenikmatannya. Dirinya semakin mengingat perbuatan tukang sapu itu yang dengan tega menodai dirinya. Alih-alih keenakan. Syifa malah semakin kesal. Rasa trauma itu benar-benar menghantuinya. Namun sodokan demi sodokan yang mereka lakukan juga pelan-pelan mulai merangsang dirinya. Syifa pun bingung harus bagaimana ? Apakah menikmati semuanya atau malah berontak agar dirinya tidak mengingat perbuatan bejat kedua tukang sapu itu ?
Diah terus melaju. Tak peduli dengan keadaan Syifa yang semakin hancur. Ia hanya kepikiran getaran di dildonya yang semakin kuat. Akhirnya ia menggerakan pinggulnya semakin cepat. Semakin cepat ia menggerakannya maka getaran di dildonya jadi semakin kuat. Berulang kali dubur Syifa disodok hingga mentok. Berulang kali vaginanya juga di genjot sampai mau moncrot. Sepertinya Syifa sudah tidak kuat lagi. Rasa kenikmatan itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Sudah waktunya baginya untuk mendapatkan orgasmenya.
Rania merasakannya. Tubuh Syifa semakin mengejang. Rania pun melepaskan cumbuannya untuk menatap wajahnya.
"Aahhhh... Aaahhh... Udah mau dapet yahhh ?" Tanya Rania yang hanya dijawab anggukan saja oleh Syifa.
Rania pun tersenyum. Ia memegangi kedua pinggul Syifa lalu memperkuat hujamannya hingga membuat Syifa mendapatkan kenikmatan tak terkira.
"Aaaahhhhh... Aaahhh... Aaahhh ustadzaahhh..." Desah Syifa dengan keras yang membuat mereka berdua semakin bersemangat.
Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!
Lagi, dikala dildo Rania merengsek masuk vaginanya. Maka dildo Diah lah yang keluar meninggalkan ujung gundulnya saja. Dikala dildo Diah yang menerjang lubang duburnya maka giliran dildo Rania lah yang keluar meninggalkan ujung gundulnya saja. Terus menerus mereka melakukan gerakan itu hingga Syifa sendiri semakin merasakan denyutan di dekat lubang kencingnya.
"Aahhhh... Aahhhh... Tunggu ustadzaahh... Ana mau kelluaarrr... Annaa mauu kelluaarrr" Jerit Syifa yang membuat kedua ustadzah lainnya bersemangat.
"Akhirnyaaa... Akhirnyaaa... Hihihih" Tawa Diah bersemangat.
"Hihihi tuhhh kaannn... Akhirnya mau keluar jugaaa... Sini ana bantu yah ustadzaahh... Uuuhhhhh" Desah Rania mempercepat hujamannya yang membuatnya dapat melihat pergerakan payudara Syifa yang semakin cepat.
Maju mundur maju mundur maju mundur. Mereka berdua terus mempercepat sodokannya tanpa pernah kendur. Syifa semakin kewalahan. Dadanya terasa sesak. Pandangannya sempoyongan. Vaginanya bergetar saat sesuatu yang besar akan mengalir keluar dari dalam lubang kencingnya.
"Aaahhh... Aahhhh.... Ustadzaahhh... Tungguuu... Anaaaa.... Aaahhh kelluuaaarrrrr" Jerit Syifa yang membuat Diah dan Rania kompak membenamkan dildonya hingga membantu Syifa mendapatkan orgasme ternikmatnya.
Ccrrtt.... Ccrrtt... Ccrrtt !!!
Syifa ambruk menindihi tubuh ustadzah Rania. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya kelojotan bahkan sampai melonjak-lonjak setelah disetubuhi oleh kedua ustadzah cantik itu secara bersamaan.
"Hah... Hah... Hah... Capek bangettt" Ucap Syifa setelah dipuasi oleh mereka berdua.
"Hihihi selamat udah dapet orgasme dari kita" Ucap Rania menghadiahi Syifa dengan cumbuan.
"Hihihi beruntung banget antum, ustadzah... Bisa main bareng kita berdua sekaligus" Ucap Diah sambil mengedip ke arah Syifa.
Syifa yang kelelahan tak bisa berkata-kata. Bahkan setelah kedua dildo itu tercabut dari lubang-lubang kenikmatannya. Ia masih tak bisa berkata-kata karena saking lelahnya. Ia pun dibaringkan oleh Rania diatas ranjang tidurnya. Syifa pun termenung. Ia merenungi perbuatannya sambil menatap langit-langit ruangan.
Hah... Hah... Hah... Capek banget... Tapiii kokkk... Kenapa rasanya ada yang kurang yahhh ?
Batin Syifa merasa heran sambil menolehkan wajahnya ke arah mereka berdua.
Syifa melihat Rania dan Diah sedang duduk berhadapan dengan posisi kedua kaki melebar untuk menggesek bibir kemaluan mereka. Mereka berdua tengah mendesah disaat kemaluan mereka tergesek untuk melampiaskan nafsu birahi mereka.
"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh nikmat bangettt" Desah mereka nyaris berbarengan.
Sementara itu Syifa memejam. Tak sengaja ia terbayang persetubuhannya dengan pak Prapto di kemarin sore.
Kenapa ? Kenapa rasanya lebih nikmat dengan pak Prapto yah ? Padahal aku udah secapek ini sekarang... Tapi ada sesuatu yang kurang yang membuatku belum benar-benar puas...
Batin Syifa kembali membuka matanya.
Tangan Syifa memegangi bibir vaginanya. Vaginanya memang basah tapi tidak ada cairan kental yang mengalir keluar dari dalam.
Apakah gara-gara itu ? Apakah karena tidak adanya sperma yang keluar dari dalam vaginaku ?
Batin Syifa merasa telah menemukan jawabannya.
Benar... Sepertinya yang aslii terasa lebih nikmat daripada yang palsu... Aku jadi lebih menyukai yang asli daripada mainan itu... Aku butuh sensasi itu, sensasi ketika disemprot oleh sperma laki-laki... Aku ingin dipejuhi menggunakan kontol yang asli...
Batin Syifa jadi ingin bersetubuh lagi karena belum mendapatkan kepuasan yang ia cari. Sepertinya setelah berulang kali bercinta dengan Angga dan juga kedua tukang sapu itu. Ia mulai mendapatkan kenyamanan saat vaginanya dimasuki oleh penis-penis yang asli.
"Aaaahhhhh kelluaaaarrrrr" Jerit mereka berdua secara bersamaan yang mengejutkan Syifa.
Rupanya Diah dan Rania baru saja mendapatkan orgasmenya. Mereka bertiga pun tumbang kelelahan dalam keadaan telanjang bulat tanpa pakaian sama sekali. Kecuali Syifa, mereka berdua sudah bertelanjang bulat. Bahkan mereka sama-sama sudah melepaskan hijabnya akibat terlalu gerah karena berkeringat.
Syifa yang mulai mendapatkan kekuatannya kembali berkata kepada Rania.
"Ustadzah... Afwan... Ana mau pulang dulu yahhh... Ana ada kesibukan" Ucap Syifa meminta izin.
"Ohh naam ustadzah... Makasih yah udah mampir" Jawab Rania yang sedang ditindihi oleh Diah ketika bibir mereka bercumbu untuk melampiaskan nafsu.
Syifa langsung mengambil pakaiannya lalu membersihkan diri dengan mandi di kamar mandi. Setelah semuanya bersih ia kembali berpakaian seperti biasa seolah dirinya tidak melakukan apa-apa.
Syifa telah keluar dari dalam rumah terlaknat itu. Dalam perjalanannya pulang, ia pun merenungi perbuatan yang baru saja dilakukannya.
"Hah... Jadi, apa solusi yang kamu dapatkan Syifa ?" Tanya Syifa pada diri sendiri.
Niat hati ingin bertanya pada Angga tapi yang ada malah mendapatkan kepuasan dari ibu dan juga sepupunya Angga. Ia juga mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelum kedatanganya ke rumah itu. Ia heran, kenapa rasanya bercinta dengan mereka berdua tidak senikmat bercinta dengan Angga, pak Prapto ataupun pak Udin yah ? Padahal, ia sama-sama berhasil mendapatkan orgasme dari mereka semua. Tapi, ada sensasi yang hilang ketika bercinta dengan ustadzah Rania dan juga Diah. Kenapa ? Ditengah kebingungannya, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju asramanya.
Ada apa yah ? Kenapa bercinta dengan laki-laki bisa lebih memuasiku yah ? Apalagi kemarin ketika pak Prapto memperkosaku... Ihhh astaghfirullah... Kenapa aku jadi kayak gini yah ?
Batin Syifa kebingungan.
Ia pun membandingkan pengeroyokannya tadi dengan pengeroyokan yang dilakukan oleh pak Udin dan juga pak Prapto waktu itu. Ia pun jujur pada diri sendiri, perbuatan barbar mereka berdua saat menyetubuhinya telah meninggalkan kesan berarti baginya. Apalagi saat kedua lubangnya dipejuhi oleh mereka bedua. Sensasi saat di *************************************************************** itu benar-benar membuatnya ketagihan. Meski ia mendapatkan orgasme dari kedua ustadzah itu, ia masih belum terlalu puas dibandingkan pemerkosaan yang dilakukan Pak Prapto & pak Udin waktu itu.
Ini aneh... Kenapa yah rasanya kok lebih puas saat bersetubuh dengan laki-laki... Entah kenapa aku jadi ingin bersetubuh lagi... Tapi tolong, jangan dengan mereka lagi ! Aku masih membenci mereka karena menuduhku seenaknya !
Batin Syifa mulai menyukai persetubuhan dengan laki-laki asalkan bukan dengan kedua tukang sapu itu..
Tapi ngomong-ngomong... Apa ini sesuatu yang baik buatku ? Ini baik kan ? Setidaknya, aku bisa menjadi wanita normal lagi kan ?
Syifa terus membatin selama perjalanan pulang ke asrama. Hatinya terus berbicara seolah masih ada yang dibutuhkan oleh tubuhnya sekarang.
Dilema itu pasti, hatinya terus berkonflik gara-gara kepuasan yang tidak didapatkan dari mereka berdua. Laki-laki, ada apa dengan laki-laki ? Kenapa penis laki-laki terasa lebih manis daripada tiruan penis yang dipunyai oleh kedua ustadzah itu ? Ia terus saja bingung. Ia terus saja bimbang. Ia butuh pencerahan dari permasalahan yang ia dapatkan sekarang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dari depan. Tidak cuma satu, tapi ada dua orang sekaligus yang tiba-tiba berjalan dari arah depannya. Syifa pun menaikan wajahnya. Dahinya mengernyit saat melihat dua orang laki-laki yang tiba-tiba tersenyum di depannya.
"Assalamu'alaikum, ustadzah... Muwehehehe"
"Selamat pagi menjelang siang, ustadzah... Kekekekek"
"Walaikumsalam, Lutfi... Dan bapak siapa ?" Jawab Syifa agak merasa risih saat dua orang yang tidak terlihat baik itu mendekat. Lutfi sambil cengengesan berdiri disamping Syifa sedangkan kuli kekar itu dengan gagah berdiri di hadapan Syifa.
"Ada yang ingin ana bicarakan ke antum ustadzah" Ucap Lutfi yang tiba-tiba membelai pinggang Syifa dari samping.
"Ternyata ustadzah cantik juga yah kalau dilihat secara langsung" Ucap Karjo sambil mendekap dagu Syifa kemudian menaikannya agar wajahnya bisa melihat langsung wajah cantiknya.
"Apa yang kalian inginkan ?" Ucap Syifa yang sebenarnya risih namun tidak melakukan perlawanan.
"Benerkan kataku pak... Ustadzah Syifa ini cantik banget loh, sayang kalau secantik ini mainnya cuma sama ustadzah doang" Ucap Lutfi sambil membelai vagina Syifa yang membuat Syifa terkejut kepada perlakuannya.
"Aaahhh Lutffiii" Ucap Syifa langsung menjauhkan tangan Lutfi dari vaginanya.
"Kekekekek... Cantik-cantik tapi galak juga yah" Ucap Karjo sambil membelai pipi Syifa tapi kemudian Syifa menjauhkan tangannya dari pipinya.
"Apa yang kalian inginkan ?" Ucap Syifa jadi merinding gara-gara perlakuan mereka berdua tadi.
"Nak, tunjukkan" Ucap Karjo sambil memberikan hapenya ke Lutfi.
"Muweheheh liat deh ustadzah" Ucap Lutfi menunjukkan video rekaman Syifa saat di sandwich oleh ustadzah Diah dan Salwa di dalam rumah Diah.
Mata Syifa membuka lebar. Ia terkejut saat mereka mempunyai rekaman aibnya.
"Muweheheh... Cantik-cantik tapi kok sukanya sama yang cantik juga... Padahal ada kita-kita yang lebih sanggup memuasi antum daripada menggunakan kontol mainan itu loh" Ucap Lutfi sambil meremas penisnya sendiri yang sudah menegang yang membuat mata Syifa teralihkan ke benda lonjong itu.
Lutfi pun mengembalikan hape Karjo ke pemiliknya. Ia langsung mendekati Syifa. Kemudian mendekap pinggangnya yang membuat ustadzah cantik itu tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ana pengen ngentot sama antum ustadzah... Ana pengen antum memuasi kita berdua tapi kalau antum menolak, kami akan menyebarkan video yang ana tunjukkan tadi" Lanjut Lutfi yang membuat Syifa terlihat kesal.
Belum usai masalah dengan pak Prapto dan pak Udin. Kini datang lagi masalah dari mereka berdua. Syifa mengernyitkan dahinya. Ia tidak suka dengan cara mereka yang mengajaknya bercinta menggunakan ancaman. Tapi seketika ide mendatangi dirinya ketika teringat akan sosok Pak Prapto.
"Oke, tapi ustadzah punya syarat" Ucap Syifa mengejutkan Lutfi dan pak Karjo karena ustadzah berkacamata itu cepat menyetujui.
"Kekekekek syarat ? Syarat apa ustadzah ? Wong ustadzah aja dalam posisi tersudut kok malah minta syarat" Ucap Karjo menertawainya.
"Mau terima syaratnya gak ? Kalau gak mending gak usah !" Ucap Syifa tegas yang membuat Karjo tertegun.
"Muweheheh emangnya apa ustadzah ?" Ucap Lutfi penasaran dengan apa yang membuat Syifa begitu percaya diri.
"Tolong, singkirkan ustadzah Hanna dari pesantren ini... Setelah ia dikeluarkan, kalian bebas melakukan apa saja ke aku... Gak cuma aku, aku juga akan mengajak dua orang lain untuk bergabung denganku" Ucap Syifa yang membuat Lutfi dan Karjo tertarik.
"Dua orang lagi ? Emangnya siapa ustadzah ?" Tanya Lutfi penasaran.
"Ustadzah Rania dan ustadzah Diah" Ucap Syifa hingga membuat Lutfi terkejut.
"Siapa mereka ?" Lirih Karjo penasaran. Lalu kemudian Lutfi mendekat untuk berbicara pada pak Karjo.
"Gimana pak ? Ini penawaran yang menarik loh... Mereka itu istri dan keponakannya pak Kiyai loh pak... Mereka semua cantik-cantik" Ucap Lutfi yang membuat Karjo tertarik.
"Kekekekek beneran ?" Ucap Karjo setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Syifa pun masih terdiam menunggu jawaban dari mereka berdua. Lalu tak lama kemudian Karjo mendekat ke arah Syifa sambil mendekap dagunya lagi.
"Kekekekek tapi untuk melakukan itu kami juga punya syaratnya loh ustadzah... Ada syarat kalau ustadzah mau menyuruh kami menyingkirkan ustadzah Hanna" Ucap Karjo yang membuat syarat di atas syarat.
"Apa syaratnya ? Aku akan lakukan apa aja selama kalian bisa menyingkirkan ustadzah Hanna" Ucap Syifa yang terlanjur kesal yang membuat Karjo tersenyum.
"Ibarat tinta diatas kertas saya ingin menumpahkan tinta saya diatas wajah indahmu ini, ustadzah" Ucap Karjo yang membuat Syifa mengernyitkan dahinya.
"Bapak mau mejuhin muka aku ?" Tanya Syifa yang membuat Karjo tertawa geregetan.
"Kekekekek betul sekali ustadzah... Deal ?" Tanya Karjo sambil menjulurkan tangannya.
“Deal” Ucap Syifa tanpa ragu langsung menjabat tangan kuli kekar itu.
Kekekekek mulusnya tangannya ini ! Mana kulitnya bening banget lagi... Duh mukanya pas pake kacamata itu juga imut banget... Pasti bakal puas banget kalau bisa mejuhin wajah seimut ini...
Batin pak Karjo mupeng saat menjabat tangan Syifa.
"Lakukan silahkan" Ucap Syifa tiba-tiba sambil berlutut lalu mengarahkan wajahnya seolah siap untuk menerima semprotan pejuh dari kuli tua itu. Pak Karjo tertawa puas. Ia langsung meminta Lutfi untuk melakukannya.
"Kekekekek... Nak, silahkan... Saya sudah mengeluarkannya pagi ini dan saya harus menyimpan beberapa lagi untuk sore nanti" Ucap Karjo yang membuat Lutfi mendekat.
“Muweheheheh ? Ana nih ? Sebuah kehormatan dong bisa mejuhin wajah secantik antum, ustadzah” Ucap Lutfi mendekat sambil mengeluarkan penisnya yang langsung ia kocok-kocokan di depan wajah ustadzahnya.
Syifa hanya diam saja saat melihat Lutfi mendekat. Ia agak bergidik saat melihat ukuran penis santrinya yang luar biasa besar. Tapi Syifa tetap diam. Ia berusaha menjaga harga dirinya di depan santri mesumnya yang sedang coli di hadapan wajahnya.
“Aaaahhhh... Aaahhh... Aaaahhhhh” desah Lutfi sambil memaju mundurkan batang penisnya di depan wajah ustadzahnya.
Lutfi menatap wajah Syifa dengan tatapan penuh nafsu. Syifa pun memejamkan mata dengan posisi wajah yang dimajukan ke arah penisnya seolah pasrah dengan segala hal yang akan Lutfi lakukan saat itu. Lutfi jadi semakin kuat saat membetotnya. Ia pun mengarahkan ujung gundulnya tepat ke bibir dari ustadzah cantik itu.
“Ouuhhhh gilaa... Ouuhhhh nikmat banget rasanya bisa ngocok di depan wajah antum ustadzah” Ucap Lutfi puas sehingga membuatnya lebih bersemangat
Syifa begitu penasaran kenapa Lutfi terus saja mendesah. Ia yang tidak tahu apakah Lutfi sudah mulai mengocoknya apa belum karena sedari tadi ia hanya memejamkan mata mulai membuka mata. Ia terkejut saat penis santrinya itu begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan andai ia bergerak sedikit saja. Hidungnya yang mancung itu sudah menyundul ujung gundulnya. Syifa pun menaikan wajahnya tuk menatap wajah santrinya. Lutfi jadi semakin bernafsu. Tatapan mata ustadzahnya itu membuat Lutfi jadi semakin bernafsu.
“Ouhhhh... Ouhhhh... Ustadzaahhhh... Ustadzaaaahhhh” desah Lutfi semakin bersemangat.
Lutfi yang tidak tahan lagi memajukan penisnya hingga ujung gundulnya menempel pipi mulus ustadzahnya. Lutfi terkejut karena pipi Syifa begitu mulus. Kemulusannya membuat Lutfi semakin bergairah. Cairan precum-nya mulai tumpah. Ia seperti dihidangkan oleh sajian mewah.
“Mmmppphhh... Mmpphh” desah Syifa jadi jijik saat pipinya kembali basah terkena cairan cinta penis Lutfi.
“Aaaahhh yahh... Aahhh enaknyaa... Sebentar lagi ustadzaahh... Ana mau keluaar... Ana mau kelluaaarr” ucap Lutfi saking enaknya.
Kekekekek... Gilaaa... Sayang banget saya gak bisa ikut karena harus memuasi ustadzah Haura di sore nanti... Silahkan lampiaskan semuanya nak... Nodai wajah ustadzahmu itu !
Batin pak Karjo sambil merekam perbuatan mereka.
“Mmpphhh... Mmpphhh Lutffiii... Mmpphhhh” Syifa mendadak khawatir karena ia mulai merasakan denyutan di penis Lutfi. Ia mulai mencium aroma sperma dari lubang kencingnya. Syifa gugup. Ia sebentar lagi akan merasakan sensasi di pejuhi lagi.
“Aahhhh... Aahhh... Aahhhh ustadzaahh... Aahhhh terima iniiii !!!” Desah Lutfi dengan puas sambil mengarahkan penisnya ke wajah Syifa.
“Mmmppphhhh” desah Syifa terkejut saat cairan sperma Lutfi mulai keluar membasahi wajahnya.
Ccrroott... Ccrroott... Ccrroottt !!!
Satu demi satu lelehan sperma itu tumpah memenuhi wajah sang ustadzah. Pipinya, bibirnya, dahinya, bahkan kacamata serta sebagian hijabnya terkena oleh lelehan sperma Lutfi yang begitu banyak. Rasanya sudah seperti di bukkake oleh beberapa orang saja. Padahal semua itu cuma dari Lutfi. Lutfi yang begitu bernafsu sampai kelojotan dan matanya merem melek keenakan. Tubuhnya sempoyongan bahkan kaki-kakinya nyaris tidak sanggup untuk menahan kenikmatan yang sedang ia rasakan.
“Ouhhh gilaaa... Ouhhh puasnyaaa” desah Lutfi kegirangan.
“Mmpphhh Lutffiiiii” Desah Syifa tak menduga kalau santrinya akan keluar sebanyak ini. Entah kenapa Syifa tersenyum di dalam hati. Rasanya puas sekali. Rasanya sangat puas saat dipejuhi oleh sperma lagi.
Saat sperma Lutfi mulai habis. Lutfi langsung meminta Syifa untuk membersihkan lubang kencingnya yang langsung dipahami oleh ustadzahnya.
“Mmpphhh... Mmpphh... Maahhhh”
Plopppp !!
Bunyi ketika Syifa melepas penis Lutfi dari mulutnya terdengar cukup keras. Syifa puas. Lutfi puas dan Karjo tertawa keras.
“Kekekekek oke ustadzah... Deal... Kami akan menyingkirkan ustadzah itu dari pondok pesantren ini... Tapi setelah itu ustadzah siap untuk memuasi kami berdua ? Ustadzah gak lupa untuk mengajak mereka juga kan ?” Tanya Karjo puas setelah mendapatkan rekaman terpanasnya.
“Lakukan dulu... Aku akan membuktikannya nanti” Ucap Syifa yang masih menjaga ketegasannya meski wajahnya sudah tertutupi oleh sperma.
“Kekekekek tunggu sampai saya membuatmu berteriak-teriak ustadzah !” ucap Karjo bernafsu namun berusaha untuk menahannya.
“Muwehehehe... Gak pernah ana sepuas ini ustadzah... Padahal cuma coli... Tapi rasanya udah sepuas ini... Jadi gak sabar nanti pas ana menggenjoti memek antum ustadzah” Ucap Lutfi saat memasukan penisnya kembali ke dalam resletingnya.
Setelah puas Lutfi dan Karjo melangkah pergi menjauhi Syifa. Lutfi dan Karjo tertawa keras meninggalkan Syifa yang sudah seperti barang bekas. Habis manis sepah dibuang. Begitulah nasibnya. Setelah dinodai wajahnya tak ada satupun orang yang berniat membersihkannya. Wajah Syifa dibiarkan dipenuhi pejuh yang membuatnya sendiri bingung harus membersihkannya dengan cara apa.
“Maaaf” hanya itu yang terucap dari mulut Syifa setelah meminta kedua orang itu untuk menyingkirkannya.
“Kalau mau menyalahkan, salahkan jongos tua itu yah ustadzah” Ucap Syifa yang langsung berdiri untuk mencari air untuk membersihkan wajahnya yang ternodai pejuh.
*-*-*-*
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
Di suatu tempat, tepatnya di dalam gedung kantor bagian penggerak bahasa. Terdapat seorang ustadzah yang tengah merenung memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya. Berulang kali dirinya memegangi kancing kemejanya. Ia pun menoleh ke arah luar jendela kantornya.
Mumpung pesantren lagi sepi... Buka aja gak yah ?
Batinnya bimbang.
Ya ustadzah cantik berbadan montok itu tengah bimbang karena belakangan dirinya kembali ingin bertelanjang. Ia jadi teringat momen di gubuk sawah waktu itu. Ia geleng-geleng kepala tak mempercayai kejadian yang sudah lewat beberapa hari itu. Bagaimana bisa ? Dirinya yang sebentar lagi akan menikah justru dipakai ramai-ramai oleh petani-petani tua dengan berbagai macam bentuk dan rupanya. Ia bergidik namun juga penasaran. Entah kenapa ia masih ingat betul rasanya saat penis-penis mereka secara bergantian menggesek bibir vaginanya.
“Astaghfirullah... Sampai merinding gini coba” Lirih ustadzah bernama Rachel itu.
Ustadzah yang saat itu tengah mengenakan kemeja abu-abu bermotif garis-garis dengan blazer hitam yang membalut tubuh montoknya jadi berkeinginan untuk merasakannya lagi. Jujur walau dirinya bergidik ngeri tiap kali membayangkan momen itu lagi. Tapi ia juga ingin merasakan sensasi liar di alam liar lagi. Ia ingin bertelanjang bulat merasakan kebebasannya di luar sana. Ia ingin memamerkan tubuh montoknya. Ia ingin merasakan angin berhembus saat menerpa tubuh montoknya. Ia juga ingin merasakan momen berdebar membayangkan andai ada seseorang yang memergokinya telanjang bulat di ruangan terbuka.
“Mmmppphhh buka aja apa yah ?” Lirih ustadzah montok yang mengenakan hijab berwarna hitam itu.
Entah kenapa tangannya jadi gatal sehingga melepaskan blazer gelapnya. Lalu tak lama kemudian dirinya melepas satu demi satu kancing kemejanya hingga terbuka seluruhnya. Tak lupa ia juga melepas behanya hingga payudara yang bentuknya seperti pepaya yang menggantung itu keluar memamerkan pesonanya. Rachel merinding, telanjang di kantor bagiannya saja sudah memberikan sensasi tersendiri. Ia pun dengan buru-buru menurunkan rok panjangnya. Ia juga menurunkan celana dalamnya hingga membuatnya bertelanjang bulat dalam sekejap.
Ustadzah bertubuh montok itu tinggal menyisakan hijab beserta sepatu dan kaus kakinya saja. Ia pun mengambil satu demi satu pakaian yang ditanggalkannya lalu melipatnya dengan rapih yang kemudian ia taruh diatas meja kerjanya.
“Haruskah aku keluar ?” Ucap Rachel sambil melihat dari jendela kantornya.
Jantungnya berdebar ketika kedua kakinya melangkah dengan sendirinya menuju pintu keluar kantornya. Saat pintunya ia buka, wajahnya ia keluarkan terlebih dahulu untuk melihat keadaan sekitar. Saat ia yakin kalau keadaan benar-benar sepi, ia pun mengeluarkan tubuh polosnya kemudian berjalan-jalan dengan malu-malu ke ruangan terbuka.
“Mmmpphhh ada orang gak yah ?” Ucap Haura sambil menutupi dada bulatnya dan juga bibir kemaluannya.
Ngapain ditutupi Rachel ! Kan gak ada orang ! Buka semuanya... Mumpung lagi sepi... Ayo tunjukkan tubuh indahmu itu sekarang !
Batin Rachel memotivasi diri sendiri.
“Haruskah ?” Ucap Rachel masih ragu-ragu.
Namun perlahan ia memberanikan diri untuk menunjukkan susu montoknya. Rachel terenyum malu-malu. Wajahnya ia tolehkan ke kanan juga ke kiri. Jantungnya berdebar cepat. Ia benar-benar ketakutan tapi juga terangsang andai ada seseorang yang melihatnya.
“Ngapain takut... Ayo tunjukkan Rachel... Mumpung lagi sepi” Ucap Rachel memberanikan diri berjalan-jalan di dalam area pesantren.
Rachel tersenyum. Rasanya begitu puas ketika berjalan-jalan sambil bertelanjang bulat. Kedua payudaranya yang montok itu bergetar tiap kali kaki-kakinya melangkah maju. Hembusan angin yang bertiup kencang menerpa lubang vaginanya yang membuat dirinya merinding keenakan.
“Dasar angin mesum... Masa memek aku ditiup sih... Hihihihi” Lirih Rachel tertawa.
Rachel berputar. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajahnya ia dongakkan ke atas menatap langit cerah diatas sana. Bahkan awan pun menolongnya dengan menghalangi sinar mentari yang membuatnya tidak perlu takut andai kulitnya jadi hitam karena terbakar sinar matahari. Ustadzah berkulit bening itu kembali berjalan. Terkadang ia meremas susunya akibat mulai bernafsu saat dapat melampiaskan seluruh fantasinya di pondok pesantren ini.
Seketika ia berhenti saat melihat seorang santri yang duduk di taman dekat bunga-bunga. Ia meliriknya dari kejauhan dan mengamati keadaan disekitarnya.
“Cuma seorang diri yah ? Deketin gak yah ?” Ucap Rachel yang entah kenapa jadi ingin mendekati santri itu untuk menggodanya.
Rachel dengan liar menggigit bibir bawahnya. Ia bahkan mengusap bibir vaginanya yang mulai basah lalu menjilati jemarinya tuk merasakan cairan cintanya.
“Mmmpphhh... Jadi pengen godain dia deh hihihihi” Ucap Rachel yang kemudian meremas buah dadanya lagi sebelum datang mendekat ke arah santri yang beruntung itu.
Selangkah demi selangkah ia semakin mendekati santri berkulit gelap itu. Saat wajahnya ia lirik nampak kalau santri itu sedang bersedih. Rachel tersenyum. Ia pun mendekati santri berambut ikal dengan gigi yang agak maju itu.
“Pas kebetulan lagi sedih... Sebagai seorang ustadzah, aku harus bisa menghiburnya dong... Hihihihi” Tawa Rachel semakin tidak sabar untuk melihat reaksi santrinya saat melihat tubuh polosnya.
“Assalamualaikum akhy” Rachel dengan ramah mengucapkan salam kepada santri itu.
“Walaikumsalam ustadzaa....zaahhh” Ucap santri itu melongo karena saat wajahnya ia tolehkan, ia melihat dada montok yang dimiliki oleh ustadzahnya itu.
“Antum kenapa ? Kok keliatan sedih ?” Tanya Rachel tersenyum sambil menundukkan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di paha montoknya. Nampak kedua payudaranya jadi menggantung indah. Santri itu terpana. Bahkan santri itu membutuhkan waktu lama untuk menjawab pertanyaan yang mudah dari ustadzahnya.
“Eehh anuu... Hehe gapapa ustadzah” Jawab santri itu tanpa sanggup memalingkan wajahnya dari bulatan yang menggantung indah di dada ustadzahnya.
“Hihihihi... Ustadzah boleh duduk disamping antum ?” Tanya Rachel dengan sopan.
“Disini ? Bbooo... Boolehh kok... Silahkan ustadzah” Ucap santri itu semakin gugup. Ia bahkan sampai menundukkan wajahnya namun karena penasaran ia kembali menolehkan wajahnya. Ia lagi-lagi terkejut melihat payudara seindah itu dengan jarak sedekat ini. Saat pandangannya ia turunkan, ia melihat bulu-bulu jembut ustadzahnya yang sudah dipotong tipis-tipis. Saat wajahnya ia angkat, ia melihat senyum yang begitu indah dari bibir ustadzahnya. Santri itu termangu. Ia senang tapi heran kenapa ustadzah cantiknya bisa bertelanjang bulat di ruangan terbuka seperti ini.
Rachel sudah duduk di kursi panjang yang berada di taman bunga itu. Ia dengan lembut kembali bertanya kepada santrinya.
“Antum kenapa tadi keliatan sedih ? Boleh ceritain semuanya ke ustadzah ? Ustadzah akan siap mendengarkan kok” Ucap Rachel sambil mengelus punggung santrinya yang membuat santri itu merinding.
“Annaa... Annaa... Jadi, Boleh deh ustadzah... Iyya ana akan cerita aja” Ucap santri itu yang lagi-lagi sambil melirik dada ustadzahnya. Bahkan santri itu mulai terang-terangan menjilati bibirnya akibat terlalu ngiler pada dada ustadzahnya.
“Nama antum siapa yah ? Antum kelas berapa ?” tanya Rachel penasaran.
“Ana Rayhan ustadzah... Ana sebenarnya santri kelas enam kemarin ustadzah... Ana udah 19 tahun” Ucap santri itu malu-malu.
“Hihihih Rayhan... Jadi antum udah jadi ustadz yah ? Masa baru lulus dari pesantren malah sedih sih” Ucap Rachel yang membuat santri itu heran.
Ustadzah Rachel kenapa yah ? Kenapa ia bersikap biasa aja ? Apa dirinya gak sadar kalau lagi gak pake baju ?
Batin Rayhan heran.
“Ehh tapi kan belum ada pengumumannya ustadzah... Jadi itungannya ya ana masih kelas enam... Itu juga ana gak bakalan jadi ustadz disini... Nilai ana gak mencukupi ustadzah” Ucap Santri itu menjelaskan.
“Pasti antum lulus kok... Yakin deh... Setiap santri yang lulus dari sini pasti bakalan jadi ustadz/ustadzah... Seorang ustadz gak mesti ngajar di pesantren kok... Di rumah antum juga bisa jadi ustadz dengan mengajarkan adek-adek antum mengaji disana” Ucap Rachel menghiburnya sambil menggerakan tangannya. Hasilnya payudaranya jadi bergoyang-goyang yang membuat mata Rayhan terhibur atas pergerakannya.
“Hehe iyya ustadzah... Makasih, nanti ana akan ajarin adek ana mengaji” Ucap Rayhan tersenyum.
“Nah gitu dong baru santrinya ustadzah... Ngomong-ngomong, antum sedih kenapa nih ?” tanya Rachel lagi.
“Anuuu... Ana sedih ustadzah... Karena gak bisa pulang... Ana jadi gak bisa lebaran bareng keluarga... Ana gak punya uang untuk membeli tiket ke rumah” Ucap Rayhan yang membuat Rachel bersimpati.
“Ohhh gitu... Emang rumah antum dimana Rayhan ?” Tanya Rachel sambil tersenyum kepadanya.
“Ana dari Manokwari ustadzah... Ana dari pulau Papua” Ucap Rayhan mengejutkan Rachel.
“Waahh jauh banget... Udah gapapa, liburan disini juga asyik kok... Dulu ustadzah juga merasakannya... Antum tahun lalu juga pasti merasakannya kan ?” Tanya Rachel sambil mengenang liburannya di pesantren beberapa tahun yang lalu.
“Justru itu ustadzah... Masa dua tahun gak lebaran di rumah... Ana kan kangen keluarga ustadzah” Ucap Rayhan sambil menjilati bibirnya ketika matanya menatap dada yang bergantung itu.
“Udah gapapa jangan dipikirin... Sini biar ustadzah peluk” Ucap Rachel mengejutkan Rayhan.
“Eh ustadzah mau meluk ?” tanya Rayhan gugup.
“Iyya, sini mendekat” Ucap Rachel yang langsung memeluknya erat hingga wajah Rayhan terbenam di dada empuknya.
Sontak Rayhan bahagia merasakan keempukan dada ustadzahnya. Berulang kali ia menarik nafasnya tuk menghirup aroma dada ustadzahnya. Aromanya begitu wangi yang membuat Rayhan sampai pusing sendiri akibat terlalu banyak menghirup aromanya yang seksi.
“Jangan sedih yah... Ada ustadzah disini... Kalau antum sedih nanti ustadzah juga ikut sedih” Ucap Rachel sambil mengusap kepala bagian belakang Rayhan sambil terus membenamkan wajah santrinya ke dada empuknya.
Gilaaaa segerr bangettt... Gak nyangka bisa ngerasain empuknya dada seorang ustadzah secara langsung...
Batin santri berkulit gelap dan berambut ikal itu karena begitu sumringah.
“Hihihihi” Tawa Rachel saat berhenti memeluknya kemudian menatap wajahnya dengan begitu dekat. Sontak wajah Rayhan memerah. Ia begitu malu saat menatap wajah ustadzahnya dengan jarak sedekat itu.
Rayhan pun kembali duduk di sebelah Rachel setelah puas dipeluk oleh ustadzahnya. Pikirannya yang telah kotor membuat penisnya seketika mengeras hingga membuatnya tak tahan ingin mengocoknya sambil menatap tubuh telanjang ustadzahnya.
Kebetulan mata Rachel teralihkan pada tonjolan yang ada di celana santrinya. Rachel tersenyum, ia pun berbicara pada santrinya itu.
“Keluarin aja akhy biar gak pusing” Ucap Rachel sambil melirik tonjolan di celana Rayhan.
“Ehhh emangnya boleh ustadzah ?” Tanya Rayhan ragu-ragu.
“Boleh kok silahkan... Jangan malu hihihih” tawa Rachel yang membuat jantung Rayhan berdebar kencang.
Tanpa ragu, Rayhan langsung mengeluarkan pentungannya yang sangat hitam itu. Rachel terpana ternyata santrinya juga mempunyai penis yang besar juga.
“Waaahh gede banget kontol antum, Rayhan” Puji Rachel yang membuat Rayhan merinding saat mendengar ustadzahnya mengucapan kata “kontol”.
“Hehehe makasih ustadzah... Toket antum juga gede” Puji Rayhan mulai berani yang membuat Rachel tersenyum.
“Hihihihi syukron akhy... Antum mau megang ?” Goda Rachel yang langsung membuat Rayhan menyetujuinya.
“Mau banget ustadzah” Ucap Rayhan penuh nafsu.
“Tapi sebagai gantinya... Ustadzah boleh ngocok kontol antum kan ?” Tanya Rachel yang membuat Rayhan tersenyum sumringah.
“Pasti boleh ustadzah” Ucap Rayhan bersemangat.
“Makasih hihihihi” Ucap Rachel yang langsung mendekap penis santrinya menggunakan tangan kanannya.
“Uuuhhhhhh enakkk bangett ustadzaah... Susu antum juga kenyal banget” Ucap Rayhan saat meremas dada ustadzahnya menggunakan tangan kirinya.
“Mmmpphhh remasan antum juga... Jangan ragu kalau antum mau ngeremes yang keras” Ucap Rachel sambil menaik turunkan tangannya mengocok penis santrinya.
“Baik ustadzah... Ana gak akan ragu lagi” Ucap Rayhan penuh semangat hingga meremas dada ustadzahnya sekuat-kuatnya.
“Uuuuhhhhhh Rayhaannn... Enakkk bangettt” desah Rachel sambil menatap wajah santrinya.
“Uuhhhh kocokan antum juga ustadzah... Rasanya enak bangettt” Desah Rayhan sambil menatap wajah ustadzahnya.
Mereka terus membelai tubuh pasangannya sambil menatap wajah pasangannya. Rachel tersenyum yang membuat Rayhan tersipu malu.
Tangan Rachel bergerak naik turun. Ketika semua jemarinya selain ibu jarinya membetot batang penis santrinya maka jempolnya ia gunakan untuk menekan lubang kencing santrinya. Alhasil Rayhan blingsatan tak karuan merasakan sensasinya. Rayhan merem melek keenakan yang membuat Rachel tersenyum puas melihat reaksi santrinya. Rayhan pun membalasnya dengan mencubit puting ustadzahnya juga menekan-nekannya. Alhasil Rachel merem melek yang membuat Rayhan jadi semakin bernafsu.
Jemari Rachel meremas-remas penis santrinya. Ia seperti sedang memijat-mijat batang penisnya untuk meningkatkan vitalitas santrinya. Alhasil Rayhan mendesah-desah keenakan. Ia jadi ngos-ngosan ketika pertama kali dikocoki oleh ustadzahnya.
“Hihihi udah berdenyut-denyut aja nih... Udah mau keluar yah ?” tanya Rachel tersenyum.
“Aaahhh... Aahhh... Iyyahhh ustadzahhh... Maaf ana kecepetan yah ?” Tanya Rayhan yang masih newbie itu.
“Hihihihi gapapa... Antum baru pertama kali dicoliin yah ?” tanya Rachel penasaran.
“Aaahhh... Aahhh... Sebetulnya ini pertama kalinya ana onani ustadzah... Antum yang pertama kali megang kontol ana selain diri ana” Ucap Rayhan yang membuat Rachel takjub.
“Waahhh antum sholeh banget Rayhan... Beneran antum gak pernah beronani sebelumnya ?” tanya Rachel tak percaya.
“Aaahhh... Aahhhh... Beneran ustadzah... Ouhhhh ana mau keluuaarrr” Ucap Rayhan dengan polosnya yang membuat Rachel jadi ingin memberi hadiah lebih.
“Sini antum berdiri didepan ustadzah... Antum boleh kok ngeluarin pejuh di memek ustadzah” Ucap Rachel yang membuat Rayhan merinding.
“Beneran ustadzah ? Ana boleh ngeluarin di dalem memek ustadzah ?” tanya Rayhan bersemangat.
“Heh bukan di dalem tapi di bibir kemaluan ustadzah... Ayo silahkan kocok sendiri sepuasnya” Ucap Rachel yang langsung mengangkang menampakan tempiknya yang begitu pink.
“Baik ustadzahh... Baikkk “Ucap Rayhan yang masih berpakaian lengkap namun mengeluarkan penisnya dari dalam resletingnya. Ia dengan penuh semangat mengocok penisnya sambil menatap kemaluan ustadzahnya yang terbuka. Rachel sengaja membuka kakinya selebar-lebarnya sambil melihat reaksi wajah santrinya.
Rachel jadi semakin bergairah saat bertelanjang bulat dimana ada santrinya yang mengocok penisnya sambil melihat bibir kemaluannya. Ia pun menggigit bibir bawahnya. Ia jadi semakin bernafsu memikirkan kebinalannya.
“Ayooo Rayhannn... Keluarin yang banyak... Kocok kontol antum sepuasnya” Ucap Rachel menyemangati.
“Aaahhhh iyahhh... Iyahhh ustadzahhh... Aaahhhhh” desah Rayhan penuh semangat.
Penisnya ia betot. Ia mengocoknya untuk mendapatkan crot. Matanya dengan binar menatap bibir kemaluan ustadzahnya itu. Tubuhnya mulai berkeringat. Penisnya yang ia kocok mulai terasa hangat. Terasa denyutan disana. Terasa gelombang besar akan keluar dari dalam sana. Tubuh Rayhan merinding. Ia merasa tak kuat menahan kenikmatan ini lagi.
“Aaahhh... Aaahhhh... Ustadzaahhh... Ana mauu keluuaar... Ana mau kelluuaarrr” desah Rayhan tak sanggup lagi.
“Ayo Rayhan keluarinnn... Liat memek ustadzah... Tumpahin pejuh antum ke memek ustadzah... Bayangin suatu hari nanti kontol antum bisa masuk ke memek ustadzah... Bayangin suatu hari nanti kontol antum bisa keluar pejuh di memek ustadzah... Bayangin suatu hari nanti antum bisa menghamili ustadzah... Bayangin dulu... Bayangin dulu terus lampiaskan semuanya dengan mengocok kontol antum sepuas-puasnya” Ucap Rachel yang juga mulai bernafsu hingga mengeluarkan kata-kata kotor untuk merangsang birahi santrinya.
“Aaahhhhh iyaahhh... Aaahhhh ana pasti bakal menghamili ustadzah suatu hari nanti... Aaahhh nikmat bangettt... Terima ini ustadzaahh... Terima ini... Hennkgghhhh !!!” Desah Rayhan sambil mengeluarkan cadangan sperma yang dimilikinya.
“Aaaahhh Rayhaaannn” Ucap Rachel terkejut saat melihat cairan kental berwarna bening itu keluar dari dalam lubang kencing santrinya.
“Kellluuuaaarrrrr !!!”
Crroott... Crroott... Crroottt !!!
Sperma Rayhan dengan deras membanjiri pintu masuk liang senggama ustadzahnya. Bahkan beberapa ada yang terkena perutnya dan juga paha bagian dalamnya. Rayhan merem melek. Tubuhnya sampai kelojotan merasakan orgasme untuk pertama kalinya.
“Uuuhhhhh nikmat banget ustadzaaahhh” Desahnya sampai tubuhnya melonjak-lonjak.
“Hihihihihi awas hati-hati jangan sampai jatuh” Ucap Rachel kagum melihat betapa banyaknya sperma yang membanjiri area sekitar vaginanya.
Setelah tetes terakhinya berhenti. Rayhan mendadak linglung saat berdiri didepan ustadzahnya. Saat kesadarannya mulai kembali. Ia terkagum pada banyaknya sperma yang sudah ditumpahinya.
“Liat deh, banyak banget tauuuu... Makasih yah... Jangan sedih lagi” Ucap Rachel sambil tersenyum.
“Naam ustadzah... Justru ana yang harusnya berterima kasih... Ana janji gak akan sedih lagi setelah ini” Ucap Rayhan tersenyum.
“Hihihihi nanti kalau antum merasa sedih lagi... Antum bisa datengin kamar ustadzah deh... Nanti antum ustadzah bolehin deh masukin kontol antum ke dalam dubur ustadzah” Ucap Rachel membuat Rayhan merinding.
“Serius ? ana bisa genjot anus antum ?” Tanya Rayhan bersemangat.
“Serius Rayhan... Liat aja nanti hihihi” Ucap Rachel malu-malu.
“Yaudah kalau gitu... Makasih banyak yah... Ana mau pulang dulu... Mau persiapan asharan soalnya” Ucap Rayhan sambil memasukan penisnya lagi.
“Hihihi silahkan hati-hati di jalan yah” Ucap Rachel perhatian.
“Naam ustadzah... Wassalamualaikum” Ucap Rayhan berpamitan.
“Walaikumsalam” Jawab Rachel dengan ramah.
Santri itu pun pergi meninggalkan ustadzahnya sendiri. Saat Rachel tengah sendiri ia pun menatap bibir kemaluannya yang dipenuhi sperma santrinya. Ia yang sedang bernafsu malahan memasukan sperma-sperma itu ke dalam vaginanya. Ia sampai memejam lalu menggesek-gesek bibir vaginanya untuk mendapatkan kepuasan yang belum ia dapatkan.
“Ouuhh nikmat bangett... Mmphhhh enak banget bisa bermasturbasi saat di tempat seperti ini” desah Rachel puas.
“Apalagi ada pejuh Rayhan di dalem sini... Ouhhhh kenapa yahhh... Aku kok jadi pengen disetubuhi... Aku jadi penasaran rasanya disetubuhi” Desahnya sambil terus menggesek-gesek bibir vaginanya.
Nafsunya membuatnya memasukan jemarinya ke dalam vaginanya secara berhati-hati. Ia takut merusak selaput daranya yang menjadi bukti keperawanannya. Tangan satunya pun meremas dadanya. Tangan satunya lagi merangsang vaginanya. Ia terus bermasturbasi sambil membayangkan Rayhan tengah menggenjotnya tadi.
“Uuuhhh Rayhannn... Uuhhhhhh” desah Rachel membayangkan penis hitam raksasa yang dimiliki khas oleh warga Indonesia timur itu.
Rachel blingsatan. Gelombang orgasme nyaris ia dapatkan. Akhirnya tak lama kemudian ia pun mendapatkan orgasmenya yang membuat tubuhnya melonjak-lonjak keenakan.
“Uuhhhh kelluaaarrrr” desah Rachel tak lama kemudian.
Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya mengejang. Ia pun menatap vaginanya yang semakin basah terkena cairan cintanya.
“Hah... Hah... Hah... Rasanya puas banget... Tapi kok...” Ucap Rachel merasa ada yang kurang.
“Kapan yah aku menikah ? Aku gak sabar deh pengen dijebol sam kontol yang gede... Duhhh kenapa aku jadi nafsu gini sih ?” Lirihnya mendadak gelisah karena ingin menjadi wanita dewasa.
Ditengah ketelanjangan dirinya ditaman bunga-bunga. Ia pun membayangkan andai penis Rayhan beneran memasuki vaginanya. Ia juga membayangkan andai penis-penis petani tua itu masuk secara bergantian menggempur vaginanya. Ia tersenyum. Ia jadi semakin menginginkan rasanya disodok oleh penis seorang laki-laki.
“Kapan yah ? Dengan siapa yah ?” ucapnya begitu menginginkannya.
Seketika ia terpikirkan seseorang yang menurutnya pantas untuk membantunya melepas keperawanannya. Ia tersenyum. Ia merasa yakin kalau sosoknya merupakan sosok yang pantas untuk membantunya menuju wanita dewasa.
“Gara-gara digubuk itu aku jadi senafsu ini deh... Ya moga aja aku bisa jadi wanita dewasa secepatnya hihihih” Tawa Rachel sambil bangkit untuk kembali ke kantor bagiannya.
Namun seketika ia melihat beberapa santri yang berjalan menuju masjid untuk persiapan shalat Ashar. Ia pun berdebar. Dengan sekuat tenaga ia berlari hingga buah dadanya yang menggantung itu bergondal-gandul dengan begitu indah.
Moga aja gak ada yang liat !
Batin Rachel pasrah.
Namun tanpa sepengetahuannya, ada seorang santri yang melihat pergerakan cepat dari ustadzah berbadan montok itu.
“Eh itu siapa yang telanjang ? Ustadzah Rachel yah ?”
*-*-*-*
Sore harinya di dalam gedung baru yang hampir jadi.
"Akhirnya selesai juga" Ucap seorang kuli sambil mengelap keringatnya yang ada di dahi.
Kuli tua yang saat itu tinggal mengenakan celana pendeknya saja dengan memamerkan tubuh kekarnya langsung mengambil kausnya yang tergantung untuk ia gunakan tuk mengelap keringat di tubuhnya. Ia juga mengambil botol air mineral yang ia taruh di sebelah kirinya. Ia kemudian meminumnya untuk melegakan kerongkongannya yang kekeringan.
"Hahh... Segarnya... Oh yah, pak Karjo mana yah ? Katanya mau ngasih hadiah ?" Tanya kuli tua bernama Syamsul itu sambil menoleh ke kanan juga ke kiri.
Kebetulan, dalam hitungan detik saja. Seorang kuli tua lainnya dengan tubuh kekar dan wajah seram datang mendekat ke arah pak Syamsul. Kuli tua itu tersenyum. Saat pak Syamsul menolehnya. Ia mendadak gugup karena melihat sosoknya yang menurutnya berkharisma. Maklum kuli bernama Karjo itu merupakan ketua dalam pembangunan gedung baru ini. Karjo cukup sering mengaturnya dan memerintahnya dalam menyelesaikan pekerjaannya. Maka tak heran kalau pak Syamsul sangat menghormati sosoknya.
"Selamat sore pak Syamsul, kekekekek" Tawa pak Karjo.
"Selamat sore pak" Jawab pak Syamsul sambil tersenyum.
"Gimana ? Udah selesai semua pekerjaannya ? Pekerja yang lainnya juga udah pada pulang kan ?" Tanya pak Karjo sambil melihat sekitar.
"Iya pak, sudah... Tadi saya sengaja menunggu karena katanya bapak mau ngasih hadiah yah ? Yahahaha" Tawa pak Syamsul malu-malu.
"Kekekeke sudah siap emang pak ? Jangan kaget yah nanti" Ucap Pak Karjo yang membuat pak Syamsul semakin penasaran.
"Eh emangnya apa pak ? Bapak gak ngerjain saya yah ?" Ucap pak Syamsul berpikiran yang tidak-tidak.
"Kekekekek ya enggak lah... Saya serius kok mau ngasih hadiah... Gimana ? Mau diambil sekarang ?" Tanya pak Karjo mulai bersemangat.
"Boleh pak boleh... Ngomong-ngomong bapak dari mana yah, tumben seharian ini gak keliatan" Ucap pak Syamsul bersemangat ketika akan menerima hadiahnya.
"Biasa pak, kekekekek... Saya dari rumah ustadzah Haura... Ini pakai dulu, tolong tutupi matanya biar makin surprise" Ucapnya sambil memberikan kain berwarna putih ke pak Syamsul.
"Weehhh beruntung banget yah bapak... Bisa bebas ketemu ustadzah Haura... Saya jadi iri deh... Eh, ini buat nutupin mata yah" Ucap pak Syamsul sambil mengikatnya ke kepala.
"Kekekekek biasa lah pak, rejeki anak sholeh... Emangnya iri kenapa pak ? Kalau bapak yang dapet kesempatan ketemu ustadzah Haura... Bapak bakal ngapain ?" Tanya pak Karjo memancing.
"Hehe, ya ajak ngobrol, liat senyumnya" Ucap pak Syamsul malu-malu.
"Kekekekek gitu doang pak ?... Gak sekalian bikin anak bareng ?... Ustadzah Haura kan belum punya anak" Ucap pak Karjo kembali memancing.
"Yahahahah... Kalau boleh si ya mau banget... Udah dari dulu pak saya mengidolakan tubuhnya... Gila udah cantik, tubuhnya juga seksi lagi" Ucap pak Syamsul terpancing hingga tak sadar penisnya mulai mengeras hingga tercetak di balik celananya.
"Kekekekek... Sama pak... Saya juga, pasti enak banget yah bisa bikin anak dengannya setiap hari... Apalagi pas suaminya pergi" Ucap Karjo terus memancing. Saat melihat pak Syamsul sudah mengenakan kain penutup matanya dengan benar. Pak Karjo langsung menoleh ke belakang, tepatnya ke arah luar gedung untuk memanggil seseorang.
"Emangnya bapak pernah pak bikin anak dengannya ? Bapak kan sering ketemu dengannya, pasti pernah lah yah icip-icip sekali" Ucap pak Syamsul mulai mesum karena membicarakan Haura.
"Loh saya gak cuma sekali loh... Sudah berkali-kali saya icip tubuhnya pak... Kulitnya mulus banget... Susunya juga gede banget... Ternyata gak cuma wajahnya yang indah... Tubuhnya juga... Bahkan susunya juga indah apalagi lubang tempiknya" Ucap Karjo merangsang nafsu pak Syamsul.
"Yahahaha bapak ini kalau bercanda suka kelewatan dah... Masa lubang tempiknya juga... Lagian tadi saya cuma bercanda kok, mana mungkin bapak pernah bercinta dengannya kan ?" Ucap pak Syamsul tak percaya.
"Loh dibilangin gak percaya... Saya pernah pak, pejuh saya sudah berkali-kali mampir di rahimnya kekekekek" Tawa pak Karjo mengangguk saat menoleh ke belakang.
"Yahahaha bapak ini bikin saya mupeng aja... Mana mungkin ustadzah alim sepertinya pernah bercinta dengan bapak" Ucap pak Syamsul masih tak percaya.
"Kekekekek bapak ini gak percayaan yah ? Apa perlu saya kasih bukti ?" Ucap pak Karjo bernafsu saat melihat seorang bidadari mendekat dari arah belakang.
"Yahaha mana coba buktinya ?" Ucap pak Syamsul yang masih menganggapnya lelucon.
"Kekekek awas yah kalau masih gak percaya, ustadzah ayo sini" Ucap pak Karjo memanggilnya.
"Heyyy ayolah... Mana mungkin bapak sekarang lagi manggil ustadzah Hauu..."
"Iyyah pakk" Ucap seorang ustadzah dengan nada yang agak mendesah yang membuat perkataan pak Syamsul terputus.
"Ehh itu ?" Ucap pak Syamsul sangat mengenali suaranya.
"Ehhh jangan dibuka... Kalau kainnya bapak buka... Semuanya batal" Ucap pak Karjo saat melihat pak Syamsul nyaris membuka kain penutup matanya.
"Tapi pak... Itu beneran ?" Ucap pak Syamsul yang samar-samar memang melihat bayangan seorang ustadzah berhijab mendekat. Nampak bayangan itu begitu indah. Bentuk tubuhnya, lekuk pinggulnya, bahkan suaranya tadi yang agak mendesah. Ia sangat yakin. Itu pasti suaranya Haura. Tapi, masa iya Haura rela kesini ketika pak Karjo memanggil namanya.
"Ustadzaahhh... Gak usah malu-malu... Ayo sini, itu hadiah untukmu... Silahkan ustadzah bisa menelanjanginya sesukamu" Ucap pak Karjo yang membuat pak Syamsul terkejut.
"Saya ? Mau ditelanjangi oleh ustadzah ini ?" Ucap pak Syamsul hingga membuat penisnya semakin mengeras.
"Hihihi iyya pak... Makasih" Ucap Haura sambil tersenyum malu-malu.
Haura dengan perlahan berjalan mendekat. Senyumnya yang begitu indah terus melekat. Wajahnya dengan fokus menatap tonjolan di celana kuli tuanya. Ia ingin melampiaskan nafsunya pada kuli tua di hadapannya. Ia ingin menjadikan kuli kekar itu bonekanya yang bisa dipakainya kapan saja hingga dirinya mendapatkan kepuasan.
"Hihihi ternyata pak Syamsul yah... Aku suka banget deh sama badannya yang kekar dan berkeringat gini... Duhhh jadi penasaran sama bentuk kontolnya, gede gak yah" Lirih Haura yang sudah sangat bernafsu.
Nampak hijab berwarna merah muda membungkus wajah indahnya. Nampak gamis ketat berwarna biru dongker membungkus tubuh seksinya. Senyumnya yang malu-malu membuat siapapun menjadi bernafsu. Termasuk pak Karjo yang diam-diam merekam perbuatan Haura untuk dijadikannya kenang-kenangan. Haura pun berlutut menggunakan sepatu hak tingginya. Jemarinya telah memegangi celana kuli tua itu. Ia tersenyum. Ia mulai memelorotkan celana pak Syamsul dengan perasaan berdebar karena sebentar lagi dirinya bisa melihat bentuk penisnya.
Hihihi... Tolong dong yang gede...
Lirih Haura penuh harap.
"Ehhh ustadzaahh... Ustadzaahh... Saya beneran mau ditelanjangin nih ?... Ustadzaahh" Ucap Pak Syamsul gugup saat celananya dipelorotkan.
Dalam sekejap penisnya yang besar meloncat keluar hingga mengejutkan bidadari berhijab itu. Ukurannya yang luar biasa ditambah dengan warnanya yang begitu pekat. Ditambah dengan urat-urat syarafnya yang mengitari sekelilingnya membuat Haura terpana. Memang ukurannya tak sebesar milik Karjo. Tapi ukurannya itu sudah cukup besar. Penis itu begitu menggodanya bahkan lebih menggoda dibandingkan penis V.
"Gedee bangett pakkk" Puji Haura yang langsung mendekapnya.
"Uuuhhh ustadzaaahhh" Pak Syamsul merinding. Tak pernah sebelumnya penisnya dipegang oleh tangan selembut ini. Pak Syamsul pun menurunkan wajahnya. Meski terlihat samar-samar dari balik kain penutup yang menghalangi pandangannya. Ia dapat mengetahui kalau bidadari itu sangat cantik dari siluetnya. Meski ia belum begitu yakin kalau bidadari itu adalah Haura. Kesempatan langka ini telah membuatnya bahagia. Ia jadi terfokus pada belaian lembut bidadari berhijab itu dalam merangsang penisnya. Penisnya yang besar mulai dikocoknya. Penisnya itu dibelai menggunakan kedua tangannya. Pak Syamsul berulang kali menahan nafasnya. Ia kesulitan dalam menahan belaian lembut dari ustadzah binal itu.
"Aaahhh... Aaahhh... Ustadzaaahh... Aaahhhh enakk bangettt... Ayoo teruss ustadzaahh... Ouhhhh" Desah Pak Syamsul keenakan.
"Hihihih" Haura hanya tertawa. Sebenarnya ia diminta oleh pak Karjo agar tidak terlalu sering berbicara. Sesuai perjanjiannya, ia seharusnya diminta melayani pak Syamsul secara diam-diam agar nanti ketika Haura tidak merasa puas, Haura bisa merahasiakan perbuatannya karena pak Syamsul tidak tahu kalau dirinya dilayani olehnya.
Tapi Haura sepertinya tidak peduli semenjak pertama kali melihat penampakan pak Syamsul. Baru dari kejauhan saja ia sudah bernafsu. Tubuh kekar seperti pak Syamsul dan pak Karjo lah yang hanya bisa membuatnya bernafsu. Entah kenapa Haura jadi mudah bernafsu tiap kali melihat kuli kekar yang sedang bertelanjang dada. Seketika ia jadi kepikiran sesuatu. Apakah di masa depan dirinya beneran akan menjadi pemuas nafsu tukang kuli bangunan ?
Hihihi semoga saja...
Batin Haura tertawa.
Tangan kanannya membetot batang penis pak Syamsul. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas biji salaknya yang membuat pemiliknya terbelalak. Kuli tua itu langsung terengah-engah sambil mengusapi kepala Haura. Haura hanya tersenyum saat mendengar nafasnya yang berat. Haura jadi semakin bersemangat. Ia pun mempercepat kocokannya. Kulit penis itu jadi terdorong maju dan mundur. Mata Haura terfokus pada ujung gundul. Ujung gundulnya mulai mengeluarkan cairan. Haura pun paham kalau kuli tuanya sudah semakin terangsang. Haura jadi terpikirkan ide. Ia pun menjulurkan lidahnya kemudian ia sentuhkan lidahnya ke ujung gundulnya.
"Aaaaahhhh ustadzaaahhhh" Desah Pak Syamsul blingsatan.
"Hihihihi... Asin" Ucap Haura setelah mencicipinya. Ia jadi ketagihan. Ia pun mendekatkan bibirnya untuk mengecup ujung gundulnya lalu mulai menjilati permukaan penisnya karena sebenarnya ia juga semakin terangsang.
Lidah Haura menjilati ujung gundulnya. Jilatannya berganti ke arah sisi samping penisnya. Haura pun mengangkat penisnya lalu menjilati sisi bawahnya. Ia memulainya dari pangkalnya hingga tiba di ujung gundulnya. Ia kembali menjilati dari pangkalnya sampai ke ujung gundulnya. Haura kembali menjilati ujung gundulnya sambil mengocoki batang penisnya. Terasa penis itu semakin keras. Terasa penis itu semakin besar. Nafsu Haura juga membesar. Ia tak sabar untuk merasakan tusukan dari kuli kekar yang sudah bertelanjang bulat dihadapannya.
Hihihi makin gak sabar deh ngerasain tusukannya... Bapakkk ohhh bapakkk... Beruntung banget bapak sore ini... Pas banget aku lagi nafsu-nafsunya...
Batin Haura tersenyum.
"Aku mulai sepong yah kontol bapakkk" Ucap Haura dengan manja yang lagi-lagi mengabaikan perjanjiannya untuk tidak berbicara.
"Aahhh.. Aahhh silahkan ustadzaaahh... Tapi ustadzaahhh" Ucap pak Syamsul yang membuat Haura menunda mengulumnya.
"Iyyahh pakk kenapaaa ?" Tanya Haura dengan manja.
"Ustadzaahhh beneran ustadzahh Haura ?" Tanya pak Syamsul penasaran.
Haura seketika menoleh ke arah Karjo tapi Karjo tak memberikan jawaban seolah menyerahkan semuanya pada Haura. Haura pun tersenyum sambil memasukan ujung gundul penis itu ke mulutnya.
"Itu rahasia paakk... Mmpphh" Desah Haura saat mengulumnya.
"Aaahhhh gilaaa... Nikmat banget" Desah pak Syamsul puas.
Dengan segera Haura langsung memaju mundurkan kepalanya. Bibirnya menjepit ujung gundulnya. Mulutnya itu hanya mengulum ujung gundulnya. Ustadzah binal itu dengan bernafsu langsung menghisapnya. Ustadzah binal itu dengan bernafsu langsung menyedotnya. Ustadzah binal itu dengan bernafsu langsung mengenyotnya.
Bagaikan penyedot debu. Mulut Haura begitu bernafsu saat menyepong penis besar itu. Lidahnya bahkan ikutan dengan menjilati ujung gundulnya. Pak Syamsul langsung blingsatan. Tubuhnya merinding hebat. Ditambah dengan kocokan di batangnya yang begitu kuat. Dikala ujung gundulnya disepong maka batangnya di kocok-kocok dengan begitu cepat. Sepertinya Haura telah bertekad untuk menuntaskan nafsunya dengan cara merangsangnya dengan hebat.
"Mmmpphhh... Mmmpphhh... Kontol bapak keras bangett... Mmpphh aku suka deh sama yang gede dan keras kayak gini" Desah Haura semakin menikmatinya.
"Aaahhh... Aaahhh... Luar biasaaa... Aaahhh beruntung banget saya bisa disepong seenak ini... Aaahhh iyaahhh ustadzaahh" Desah pak Syamsul keenakan.
Haura tiba-tiba melepaskan kulumannya sambil terus mengocoknya. Ditatapnya ujung gundul yang semakin basah itu. Haura tersenyum. Ia pun menaikan wajahnya tuk menatap tubuh kekarnya.
"Hihihi bapak sexy banget deh" Lirih Haura memujinya. Ia pun seketika menoleh menatap Karjo sambil memberikan senyum termanis kepadanya. Ia sepertinya sangat berterima kasih karena sudah dipilihkan seorang kuli yang sangat sesuai dengan seleranya.
"Aaahhh... Aaahhh... Aahhh... Ayoo di kulum lagi ustadzaahh... Sepong kontol saya lagi" Desah pak Syamsul protes ketika penisnya hanya dikocok saja.
"Hihihi iyya pak maaf... Mmmpphhh" Desah Haura kembali menyepongnya.
Kali ini Haura melepaskan genggamannya dari penis pak Syamsul. Kedua tangannya ia tumpukan pada paha pak Syamsul. Dengan penuh nafsu ia mencoba menelan penis itu hingga setengah dari penis kuli tua itu masuk ke dalam mulutnya.
"Aaahhh ustadzaahh" Desah pak Syamsul puas.
Namun Haura belum merasa puas. Ia memaksa mulutnya untuk menelan penis besar itu. Meski pangkal kerongkongannya tersodok. Ia terus mencoba hingga mentok. Kedua tangannya terus bertahan ketika mulutnya terus maju kedepan. Usahanya membuahkan hasil. Tiga perempat dari penis pak Syamsul masuk ke dalam mulutnya. Haura puas. Ia terus mencoba namun karena kehabisan nafas ia pun terpaksa mundur untuk meletehkannya.
"Aaaahhhh ustadzaahhh" Desah pak Syamsul ngap-ngapan.
"Hihihi puas banget deh bisa mainin kontol segede ini" Ucap Haura kembali mengocoknya yang membuat pak Syamsul lagi-lagi mendesah.
"Aaaahhhh... Aaahhh... Ustadzah emang doyan banget sama kontol yah ?" Desah pak Syamsul sambil berusaha menatap wajahnya tuk mengenali identitasnya.
"Hihihi tergantung pakkk" Ucap Haura tertawa sambil terus mengocok penis pejantannya yang semakin basah.
"Aaahhh... Aahh... Maksudnya ?" Tanya Pak Syamsul keenakan.
"Kalau kontolnya kayak punya bapak yang gede dan kekar kayak gini... Aku sih suka... Tapi kalau kontolnya kecil ya mana aku suka hihihi" Tawa Haura yang membuat pak Syamsul tak percaya.
"Aaahhh... Aaahhh emang ustadzah udah pernah mainin kontolnya siapa aja ? Siapa kontol favorit ustadzah ?" Tanya Pak Syamsul kesulitan ditengah kocokan maut Haura.
"Hihihi ya jelas punyanya pak Karjo donggg" Jawab Haura yang membuat pak Karjo bangga.
"Hah ? Beneran ? Jadi ustadzah sering di genjot pak Karjo ?" Tanya Pak Syamsul terkejut.
"Mmpphh... Sering pakk.. Pake banget malah... Hampir tiap hari pak Karjo nyetor kontolnya ke memek aku... Hihihi" Jawab Haura malu-malu.
"Kekekek masih gak percaya pak ?" Ucap pak Karjo ikut nimbrung.
"Aaahhh... Aaahhh... Beruntung banget yah bapakk... Aaahhh" Ucap Pak Syamsul merasa iri.
"Kekekek saya bukan orang yang pelit kok pak... Makanya saya bagi-bagi... Silahkan nikmati hadiah dari saya... Silahkan lampiaskan nafsumu ke ustadzah yang ingin Bapak hamili itu" Ucap pak Karjo yang membuat pak Syamsul semakin bernafsu.
"Aaahhh... Aahhhh... Pastiii... Pasti akan saya hamili dirimu ustadzaahhh... Boleh kan ? Boleh kan saya menghamilimu ?" Tanya pak Syamsul geregetan.
"Hihihi yang penting bapak harus sanggup mengimbangi nafsu aku dulu pak... Emang bapak sanggup ?" Ucap Haura semakin tersenyum melihat perkembangan penis kuli tua itu yang semakin menggodanya.
"Aaahhh... Aaahhh... Pasti sanggup ustadzaahh... Lihat saja... Saya akan membuatmu hamil tujuh turunan" Ucap pak Syamsul saking nafsunya yang membuat Haura tertawa.
"Hihihi dasar... Aku tunggu" Jawab Haura menggodanya yang membuat pak Syamsul semakin geregetan.
Kebetulan Haura saat itu kembali mengulumnya. Mulutnya dengan binal kembali menelan ujung gundulnya. Bahkan ia juga memasukan batang penisnya ke dalam mulutnya. Mulut Haura bergerak maju mundur. Bibirnya juga bergerak dengan menyedot-nyedotnya tanpa ampun. Jemarinya dengan liar meremas-remas biji salaknya. Lidahnya dengan lihai menggelitiki sisi bagian bawah penisnya.
Haura benar-benar melampiaskan nafsunya pada penis hitam itu. Bahkan terkadang ia sengaja meletehkannya hanya untuk mencium ujung gundulnya. Ia sangat menyayangi penis yang bisa melampiaskan nafsunya. Ia sangat menyayangi penis-penis para kuli. Apalagi kalau penis itu bisa tahan lama seperti ini. Haura jadi semakin menyukainya. Ia pun kembali memasukan penis itu untuk mengulurmnya dengan penuh nafsu.
"Mmmpphhh" Desah Haura terkejut ketika tiba-tiba pak Syamsul memegangi kepalanya dengan kuat. Bahkan pinggulnya juga bergerak. Pak Syamsul yang daritadi geregetan akhirnya tidak tahan lagi. Pak Syamsul menggerakan pinggulnya tanpa henti. Pak Syamsul melampiaskannya dengan menyodok-nyodok mulut Haura tanpa pernah berhenti.
"Aahhh... Aaaahhhh... Aahhhh... Ini baruuu... Ini baruuu nikmat" Ucap pak Syamsul puas.
"Mmpphh... Mmpphh.. Mmpphh paakkk" Desah Haura bertahan dengan menumpu kedua tangannya pada paha pak Syamsul.
Namun usaha Haura percuma karena pak Syamsul sudah kelewat nafsu untuk menyetubuhi mulut ustadzah tercantik itu. Meski kuli tua itu tidak tahu dengan siapa ia disepong saat itu. Kenikmatan yang menjalar tubuhnya membuat ia melampiaskannya dengan cara mempercepat hujamannya.
"Ouhhhhh nikmat bangettt... Nikmat bangettt... Gak pernah saya sepuas ini saat menyetubuhi mulut seseorang ustadzah... Siapa dirimu sebenarnya, ustadzah... Apa benar dirimu ustadzah Haura ? Saya jadi pengen menggenjotmu selamanyaaa, ustadzah" Ucap pak Syamsul penuh nafsu.
"Mmpphh... Mmpphh... Mmpphh bapaaakkk... Mmpphh" Desah Haura sambil menepuk-nepuk paha pak Syamsul untuk memintanya berhenti.
Namun pak Syamsul tak peduli, ia malah memperdalam hujamannya hingga ujung gundulnya menyundul pangkal kerongkongan Haura. Kadang ia menarik penisnya hingga menyisakan ujung gundulnya saja. Namun setelah itu ia mendorong pinggulnya dengan kuat hingga menyodok kerongkongannya lagi. Terus ia melakukannya seperti itu hingga mulut Haura semakin penuh. Liurnya pun terjatuh mengenai gamisnya yang berwarna biru.
Tapi untungnya lama-lama pak Syamsul memperlambat hujamannya. Haura agak lega karena ia setidaknya bisa bernafas sesaat. Namun sesuatu yang tak ia duga terjadi.
"Mmmpphhh"
"Rasakannn iniiiii" Ucap pak Syamsul sambil menusuk kerongkongan ustadzah tercantik itu dengan penuh nafsu.
Tiga perempat dari penis itu langsung ambles ke dalam mulut bidadari tercantik itu. Haura kelolodan. Ia benar-benar tersiksa saat mulutnya dipaksa menelan keseluruhan penis itu. Tapi pak Syamsul terus memaksa, sambil memegangi kepala bagian belakangnya. Pak Syamsul mendorong kepala Haura ke arah selangkangannya dan juga mendorong pinggulnya hingga semakin masuk ke dalam mulut kecilnya.
"Heennkgghhh !!!" Desah pak Syamsul sambil terus memasukan penisnya itu.
"Mmpphhh" Jeritan Haura tertahan saat kerongkongannya kesakitan. Bahkan ia langsung berlutut di hadapan kuli tua itu. Matanya memejam saat seluruh penis dari kuli tua itu terpendam di dalam mulutnya. Hidungnya pun sampai terkena bulu jembutnya. Aroma selangkangan pak Syamsul yang busuk tercium oleh hidung ustadzah tercantik itu. Pak Syamsul merasa puas, ia pun segera menarik keluar penisnya dengan segera menyisakan liur-liur ustadzah tercantik itu yang melekat diantara penisnya dan mulut bidadarinya.
"Mmpphhh uuhhh... Uhhhuukkk... Uhhuukkk... Uuhhuukkk" Haura sampai terbatuk-batuk. Ia benar-benar kewalahan saat meladeni nafsu kuli tua itu.
Kekekekek boleh juga nih nafsunya pak Syamsul... Bakal seru nih nanti pas kita bisa make ustadzah Haura bareng-bareng...
Batin pak Karjo puas saat melihat Haura tersiksa oleh birahi rekan kerjanya.
"Hah... Hah... Hah... Ustadzah gapapa ? Maaf saya kelewat nafsu" Ucap pak Syamsul sambil mengocok penisnya.
"Uhuukk... Gapapa pak... Aku gapapa hehe" Ucap Haura tersenyum sambil kagum pada nafsu birahi kuli tuanya. Ia justru malah tertantang untuk menaklukan kuli tua yang berdiri tegak dihadapannya.
Hah... Hah... Hah... Bapak jadi gagah banget sih pas lagi berdiri kayak gini...
Batin Haura sambil melihat ketelanjangan pak Syamsul dengan penis tegak menantang yang sudah basah terkena liurnya.
Haura dengan sisa tenaganya mencoba untuk berdiri. Ia pun menatap gamisnya yang basah terkena liurnya. Ia merasa tidak nyaman. Ia pun berbicara kepada pejantan dihadapannya.
“Aku buka baju dulu yah pak” Ucap Haura meminta izin terlebih dahulu.
“Ustadzah mau telanjang juga ? Boleh banget ustadzah... Boleh banget” Ucap Pak Syamsul bersemangat meskipun dirinya tidak bisa melihat. Namun samar-samar ia dapat melihat siluet seorang ustadzah yang tengah menurunkan resleting gamis di belakang punggungnya.
“Paakkk... Tolonnggg” Ucap Haura dengan manja kepada pak Karjo yang tengah menganggur.
“Kekekek siap sayanggg” Ucap Karjo berjalan mendekat yang malah memeluk tubuhnya dari belakang.
Sontak pak Syamsul terkejut dengan panggilan pak Karjo kepada ustadzah yang baru menyepongnya itu.
Sayanggg ? Sedekat apa sebenarnya hubungan mereka ? Apakah diam-diam ustadzah Haura berselingkuh dibelakang suaminya ? Eh itu ustadzah Haura bukan sih ?
Batin Pak Syamsul penasaran.
“Kekekekek tadi saya puas banget pas melihat seponganmu sayang... Saya bangga akan aksimu tadi” Lirih pak Karjo sambil mendekap perut ustadzah tercantik itu dari belakang.
“Hihihi itu semua gara-gara bapak karena tidak memuasiku pagi tadi... Jadinya aku melampiaskan semuanya ke pak Syamsul deh” Ucap Haura malu-malu yang membuat pak Karjo semakin bernafsu.
“Kekekekek maaf soal pagi tadi... Maaf juga karena saya gak bisa bergabung saat ini” Ucap Karjo yang langsung menghadiahi Haura dengan cumbuan di bibirnya sekitar lima detik saja.
“Mmpphhh... Gapapa pak... Aku paham kok... Makasih yah” ucap Haura setelah melepas cumbuannya.
Karjo setelah itu langsung menurunkan resleting gamis Haura. Dalam sekejap tubuh polosnya yang indah terhidang di hadapan mereka berdua. Yang mengejutkan adalah, Payudaranya beserta liang kenikmatan duniawinya langsung terlihat disana. Pak Karjo tersenyum, ia pun mendekap dagu Haura dengan penuh nafsu.
“Udah nakal yah sekarang... Udah berani yah gak pake daleman” Puji Karjo bangga.
“Hihihih buat apa pake daleman kalau nanti juga telanjang” Ucap Haura sambil mengedipkan mata yang membuat Karjo tersenyum gemas.
“Dasar lonte berhijab” puji Karjo sambil menampar bokong Haura saat berjalan ke arah pak Syamsul.
“Hihihih aaawwww... Makasih yah pak atas pujiannya” Ucap Haura yang membuat Karjo geleng-geleng kepala saja.
Haura sambil bertelanjang bulat dengan menyisakan hijabnya saja mendekat ke arah pak Syamsul. Pak Syamsul samar-samar melihat siluetnya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat lekukannya yang aduhai.
Gilaaaa... Ini bidadari surga kenapa turun kesini ? Seksi banget bodynya... Pasti bakal mulus banget nih kalau dipegang...
Lirih pak Syamsul semakin bernafsu.
“Maaf yah pak, lama... Habis kangen-kangenan sama pangeranku soalnya hihihi” Ucap Haura sambil menaruh telapak tangannya di bahu pak Syamsul. Dadanya yang bulat sempurna itu juga melekat di dada bidang pak Syamsul. Pahanya yang mulus itu juga tergesek oleh penis pak Syamsul.
Terhirup aroma nafas Haura yang membuat pak Syamsul bernafsu. Pak Syamsul memberanikan diri tuk mendekap pinggangnya. Pak Syamsul pun takjub akan kemulusannya. Ditengah kekagumannya pada tubuh Haura. Bidadari tercantik itu berbicara yang membuat pak Syamsul merinding ketika mendengarnya.
“Aku tahu kalau bapak selama ini nafsu kepadaku kan ? Apa bapak mau membelai tubuhku sekarang ? Bapak boleh kok melakukan apa saja ke tubuhku sekarang” Ucap Haura yang membuat pak Syamsul tertawa.
“Beneran ustadzah ? Saya boleh melakukan apa saja ? Saya boleh ngeremes susu ustadzah ? Dari dulu saya pengen ngeremes susumu ustadzah !” Ucap Pak Syamsul bernafsu.
“Hihihi boleh banget pak” Ucap Haura sambil membimbing tangan pak Syamsul ke dadanya. Sontak pak Syamsul panas dingin keenakan. Akhirnya jemarinya dapat mendekap buah dada bulat milik sang ustadzah. Saat jemarinya bergerak untuk meremasnya. Terasa kekenyalan disana. Haura pun mulai mendesah. Suaranya benar-benar menyemangati kuli tua itu.
“Aaaahhh... Aahhh bapaakkk... Mmpphhh geliii tau kalau bapak gituin hihihi” Ucap Haura saat putingnya diraba-raba oleh pak Syamsul.
“Ouuhhh ini beneran susumu ustadzah ? Susumu ori ?” tanya Pak Syamsul tak percaya kalau ini adalah buah dada naturalnya.
“Hihihihi asli kok pak... Kalau gak percaya tanya aja pak Karjo yang sering meremasi buah dadaku” Ucap Haura yang kemudian melirik ke arah pak Karjo. Pak Karjo hanya mengangguk menyetujui. Haura pun tersenyum senang saat melihatnya.
“Aahhh luar biasa sekaliii... Luar biasa sekali tubuhmu ini ustadzah... Ustadzah beruntung sekali karena dianugerahi dengan tubuh seindah ini” Ucap Pak Syamsul yang terus saja meremasnya karena kagum.
“Hihihi makasih pak... Bapak juga... Bapak beruntung karena dianugerahi dengan tubuh sekekar ini” Ucap Haura sambil meraba-raba dada Pak Syamsul yang membuat kuli tua itu merinding keenakan.
“Hah... Hah... Hah... Beruntung darimana ustadzah... Dengan tubuh seperti ini saya cuma bisa menarik hati wanita peyot yang berada di rumah saya sekarang” Ucap pak Syamsul yang tak bahagia dengan istrinya yang semakin menua.
“Hihihi gak boleh gitu... Setidaknya dengan tubuh seindah ini... Bapak bisa menarik minatku untuk memuasi tubuh bapak sekarang” Ucap Haura yang membuat pak Syamsul tersenyum.
“Yahaahaha betul juga ustadzah... Terima kasih sudah memilih saya” Ucap Pak Syamsul yang membuat Haura tersenyum.
“Sama-sama pak” Ucap Haura yang saking gemasnya hingga mengecup bibir pak Syamsul dengan penuh nafsu.
Haura pun setelah itu berbalik badan agar pak Syamsul bisa lebih bebas dalam memuasinya.
“Yahahah manis banget bibirmu ustadzah... Saya kuatin remesannya boleh ?” Ucap pak Syamsul meminta izin.
“Silahkan pak... Lakukan sepuas bapak” Ucap Haura pasrah.
Akhirnya setelah diberi izin, pak Syamsul langsung meremas buah dada Haura sekuat-kuatnya. Haura sendiri sampai memejam dengan penuh kenikmatan. Kedua tangan pak Syamsul dengan penuh tenaga mencengkram kuat buah dada sang ustadzah. Jemarinya juga menggelitiki putingnya. Jemarinya juga menekan putingnya ke dalam. Lalu tangannya turun untuk mengusapi perut rata Haura. Tangannya bergerak menyamping untuk mengelusi pinggangnya yang ramping. Pak Syamsul terkagum. Kedua tangannya kembali naik tuk meremasi payudaranya. Kekenyalan yang ia rasakan membuatnya kembali memperkuat cengkramannya. Haura mendesah. Ia benar-benar keenakan merasakan rangsangan yang begitu bertenaga dari kuli kekar dibelakangnya.
“Aaaaahhhh... Aaahhh yahhh... Aaahhhh bapaaakkkk... Uuuuhhhhhh” desah Haura merem melek.
“Yahahaha merdu sekali desahanmu ustadzah... Mmpphhh... Tubuhmu juga harum... Mmpphhh... Nikmatnyaaa saya... Mimpi apa coba saya semalam bisa dapet hadiah sebesar ini” Ucap pak Syamsul sambil mencumbui bahu Haura.
“Aaahhhh... Aaahhhh teruss pakk... Nikmati tubuhku ini... Cumbu aku dengan penuh nafsu... Rangsang aku dengan bibirmu itu... Ouhhhh yahhh... Mmpphhhhhh” Desah Haura sambil merapatkan bibirnya saat cumbuan pak Syamsul semakin bernafsu.
Tangan kiri Haura yang gemas pun mencari penis pak Syamsul kemudian mengocoknya. Tangan kanannya bergerak untuk memegangi tangan pak Syamsul karena tak kuat dalam menahan remasannya. Wajahnya pun ia tolehkan ke belakang. Nampak wajah pak Syamsul yang masih tertutupi kain berwarna putihnya. Haura tersenyum. Ia pun mendekatkan bibirnya ke kuli kekar itu.
“Mmmpphhhhh” desah mereka dengan penuh nafsu.
Haura mencumbu bibir pak Syamsul. Cumbuannya begitu buas bagaikan macan tutul. Terkadang bibirnya membuka untuk menerkam bibir kuli itu tanpa ampun. Terkadang bibirnya menjepit bibir kuli itu dengan begitu nafsu. Ustadzah tercantik yang sudah bertelanjang itu benar-benar bernafsu. Tak peduli dengan kuli tua berwajah jelek yang berada di belakangnya. Ia hanya memikirkan nafsunya yang sudah menggelora menguasai dirinya.
Dikala bibir Haura aktif mencumbu. Tubuhnya yang begitu indah itu terus diraba-raba oleh kuli tua itu. Pak Syamsul mencengkram dada bulatnya. Cengkramannya begitu kuat hingga menimbulkan erangan manja yang dikeluarkan oleh mulut sang ustadzah. Penisnya terus dibetot oleh sang ustadzah. Nampaknya ustadzah itu sudah ingin ngentot namun masih mendambakan bibirnya yang begitu hot.
Haura mengapit bibir atas sang kuli. Lidahnya ia gerakan untuk membasahi bibir sang kuli. Liurnya sampai tumpah hingga jatuh membasahi bahunya yang seksi. Tangan kanannya ia naikan untuk mendekap sisi belakang kepala sang kuli. Haura kembali berganti posisi. Ia menghadap ke arah tubuh kekar sang kuli. Kedua tangannya kini bergantung dengan manja di leher sang kuli. Haura pun menekan bibirnya. Ia ingin menumpahkan seluruh nafsunya padanya. Akibatnya pak Syamsul juga memeluk tubuhnya. Pak Syamsul menekan tubuh Haura hingga ia dapat merasakan keempukan dadanya. Penisnya juga terjepit diantara kedua pahanya. Kedua tangannya turun. Kedua tangannya meremas bokong montoknya yang begitu berharga bagaikan harta karun. Pak Syamsul menepuknya. Pak Syamsul mencengkramnya lalu menamparnya tanpa ampun. Nampak bokong Haura memerah. Pak Syamsul pun bangga bisa bercengkrama dengan seorang ustadzah.
“Mmpphhhhh aaahhhh” desah Haura saat melepas cumbuannya.
Ditatapnya wajah pak Syamsul olehnya. Nampak bibirnya basah akibat cumbuannya. Haura tersenyum. Ia begitu puas bisa berduaan dengan kuli tua sepertinya.
“Bapak puas ?” Tanya Haura dengan manja yang masih bergantung di lehernya.
“Puas banget ustadzah... Apalagi saat mainin bokongmu ini” Ucap pak Syamsul yang masih meremasi bokongnya.
“Hihihih sama pak aku juga... Rasanya puas banget bisa ciuman sama bapak” Ucap Haura sambil terus memandangi wajah sang kuli yang tidak ada tampan-tampannya sama sekali. Namun bagi Haura wajahnya cukup menarik. Apalagi dengan penampakan tubuhnya yang seksi. Haura sangat bernafsu padanya. Ia sangat bernafsu pada pria kekar yang begitu bertenaga sepertinya.
“Aahhhh... Aahhhh... Ustadzaahh... Saya boleh nyium ustadzah lagi ? Saya masih ingin merasakan bibirmu ustadzah” ucap pak Syamsul ingin menerkam bibir tipisnya lagi.
“Boleh banget pakk... Bapak boleh melakukan apapun ke akuummmpphhh” Desah Haura yang langsung dicumbu. Kedua tangan pak Syamsul memegangi kepala Haura agar tidak terlepas dari cumbuannya. Haura hanya bisa memejam. Ia hanya bisa pasrah saat bibirnya diterkam. Pak Syamsul menciumnya. Ia juga memasukan lidahnya ke dalam mulut sang ustadzah. Lidahnya berkeliaran tanpa lelah di dalam. Lidah pak Syamsul berkelana dalam menjilati rongga mulutnya yang begitu gelap dan lembap.
“Kekekekek gila nafsu banget mereka... Mana saya jadi pengen lagi” Ucap Pak Karjo yang akhirnya tak tahan lagi hingga mengeluarkan penisnya.
“Emang gak ada obatnya ustadzah satu ini... Padahal tadi pagi saya sudah crot maksimal... Tapi sekarang kok masih menginginkan tubuhnya yang begitu binal... Ingin sekali rasanya menggenjot memeknya... Ingin sekali membuatnya berteriak menggunakan kontol kebanggaan” Ucap pak Karjo yang akhrinya hanya bisa beronani agar tidak mengganggu percumbuan mereka berdua.
Pak Syamsul terus menjilati mulut Haura. Lidahnya pun bertemu dengan lidah Haura di dalam. Lidah mereka saling temu. Lidah mereka saling sikat. Lidah mereka saling menggeliat untuk menggesek lidah lawannya di dalam. Lidah mereka bertubrukan. Lidah mereka bertabrakan. Lidah mereka saling lilit. Lidah mereka saling jepit.
Saat pak Syamsul melepaskan cumbuannya. Liur mereka masih melekat seolah tidak mau mereka menghentikan cumbuannya. Haura hanya bisa tersenyum. Samar-samar pak Syamsul dapat melihat penampakan wajahnya yang ayu. Pak Syamsul tersenyum. Sepertinya ia memang sedang bercumbu dengan ustadzah Haura. Tak pernah dibayangkan dirinya bisa melakukan hal ini dengannya. Ia pun terpikirkan ide untuk melampiaskan seluruh nafsunya kepadanya.
“Buka mulutnya ustadzah” Ucap Pak Syamsul yang langsung dituruti olehnya.
“Aaaaaaa”
“Cuuiihhhhhh” Pak Syamsul langsung meludahi mulutnya yang samar-samar dapat dilihatnya melalui balik kain penutup yang cukup tipis.
Gleeegggg !!
“Laggiiii” Ucap Haura setelah menelannya hingga membuat pak Syamsul terkejut.
“Yahahaha... Ini ustadzah... Cuihhhhh” Ucap pak Syamsul meludahi mulutnya
Gleeegggg !
Tapi lagi-lagi. Haura tanpa ragu langsung menelannya lagi. Pak Syamsul yang dapat melihatnya secara samar-samar takjub. Sepertinya ia baru saja bertemu dengan ustadzah terbinal yang pernah ia kenal. Ia tak menyangka kalau ustadzah tercantik yang ada di pondok pesantren ini merupakan ustadzah bispak yang bisa dipakai oleh siapa saja.
“Paakkk lagiii... Aku haus” Ucap Haura menyadarkan pak Syamsul dari lamunannya.
“Hehe ini ustadzah.... Cccuuuiiihhh” Pak Syamsul kembali meludahinya yang membuat kuli tua itu puas setelah menodai dirinya.
“Mmpphh makasih” Ucap Haura tersenyum yang langsung menoleh ke pak Karjo. Namun kemudian ia terkejut saat melihat pak Karjo malah tengah mengocok sambil melihat kebinalan dirinya. Ia dengan gemas pun memanggilnya untuk mendekat kearahnya.
“Sini pakk”
Pak Karjo tanpa ragu langsung mendekat hingga penisnya langsung didekap oleh ustadzah binal itu.
“Aahhhh... Aaaahhhh... Binal sekali dirimu ustadzah” Ucap Karjo saat penisnya dikocok.
“Aaahhh... Aahhh... Pak Karjo ikutan yahh... Aahhhh” desah pak Syamsul ketika penisnya juga dikocok.
“Hihiihi maaf yah pak kalau ada yang ganggu kemesuman kita... Habis aku gak tega liat pangeranku beronani sendirian... Mending aku bantu aja... Gapapa kan ?” Tanya Haura meminta izin.
“Aahhhh... Aahhh... Gapapa ustadzahh... Saya gak berhak menentukan karena saya yang harusnya berterima kasih ke pak Karjo karena sudah diberikan hadiah ternikmat berupa kebinalan ustadzah” Ucap pak Syamsul yang membuat Haura tersipu.
“Hihihi makasih udah nyebut aku binal” Ucap ustadzah yang sudah bertelanjang itu.
Dengan segera Haura langsung berjongkok dihadapan dua kuli itu. Dikala tangan kanannya mendekap penis Karjo maka tangan kirinya mendekap penis pak Syamsul. Kedua tangannya sibuk mengocoki penis mereka berdua. Penis mereka itu secara bersaman dipuasi oleh betinanya. Terkadang Haura juga mengulum penis mereka secara bergantian. Awalnya penis pak Syamsul lalu berpindah dengan mengulumi penis pak Karjo. Kadang ia menjilati penis pak Syamsul kadang juga menjilati penis pak Karjo. Kadang ia meludahinya kadang ia juga mencium ujung gundulnya.
Haura yang semakin bernafsu pun ingin segera ditusuk oleh penis kulit tua itu. Dengan segera ia berdiri lalu berpindah menghadap pak Karjo terlebih dahulu. Kedua tangannya dengan manja bergantung di lehernya. Pak Karjo pun membalas dengan pelukan erat di tubuh seksinya.
“Makasih yah pak udah ngenalin aku ke pak Syamsul... Sekarang aku mau ngentot dulu sama pak Syamsul... Bapak sabar dulu yah hihihi” Ucap Haura sambil tersenyum menatapnya.
“Kekekekek silahkan ustadzah... Tolong tunjukkan kebinalanmu yah” Ucap Karjo tersenyum kepada pemaus nafsunya.
“Siapp pak” Ucap Haura mengecup bibirnya yang kemudian berpindah dengan menarik lengan pak Syamsul menuju suatu tempat.
“Ehhh kita mau kemana ustadzah ?” Ucap Pak Syamsul yang tidak bisa melihat.
“Hihihi kita cari alas pak biar aku bisa tiduran... Nah ini dia” Ucap Haura yang kebetulan menemukan kain panjang sehingga dirinya bisa tiduran diatas lantai yang sudah berkeramik.
“Ayo pak... Bapak berlutut yah” Ucap Haura sambil tiduran diatas kain yang sudah ia jembreng itu.
“Iyya ustadzah ini sudah” Ucap Pak Syamsul menuruti.
“Hihihih sini biar aku bantu... Bapak bisa merasakannya kan ?” Ucap Haura sambil membantu pak Syamsul dalam mengarahkan penisnya ke arah bibir vaginanya.
“Aahhhh iyyahh... Aahhh ini memek ustadzah yah ?” Ucap pak Syamsul yang tidak begitu jelas saat melihatnya.
“Iyya pak ini memek aku... Ini lubang memek aku yang bisa bikin bapak menjerit nikmat hihihihi... Tolong masukin pak... Tolong masukin agar aku bisa menjepit kontol bapak menggunakan memek sempitku” Ucap Haura menggodanya yang membuat pak Syamsul terangsang.
“Baik ustadzah... Akan saya lakukan” Ucap Pak Syamsul sambil memegangi penisnya kemudian hendak mengarahkannya ke liang senggama Haura.
Haura yang sudah bernafsu dan ingin segera ditusuk mengangkat kedua pahanya lalu melebarkannya ke samping. Bibir bawahnya ia gigit. Ia begitu menantikan bagaimana rasa dari penis kekarnya yang begitu hitam. Apakah dapat menyaingi rasanya penis pak Karjo ? Haura tanpa sengaja menatap pak Karjo. Senyuman pak Karjo yang penuh arti itu membuat Haura jadi tersipu saat mengangkang dihadapan kuli kekarnya itu.
Pak Syamsul mulai beraksi. Alih-alih langsung menusuknya. Ia malah mencoba untuk menikmati momen ini lebih lama lagi. Sambil mendekap penisnya. Ia pun menggesek-gesek penisnya ke arah bibir vagina Haura yang begitu basah. Ujung gundulnya nyaris masuk. Namun tak jadi karena ia hanya ingin menggesek bibir vaginanya saja. Ia bahkan menepuk-nepuk penis kekarnya ke arah serabi lempitnya yang membuat Haura mengerang keenakan.
“Mmpphh... Mmpphh... Ayoo masukinn pakkk” pinta Haura tak sabar.
“Aahhh... Aahh... Iyya ustadzahh... Maaf, saya gak pernah ngerasain memeknya seorang ustadzah sih... Jadi saya ingin melakukannya lebih lama lagi... Sekarang saya mulai yah ? Saya akan menusuknya sekarang... Hennkggghhh !” Ucap pak Syamsul yang langsung menekan penisnya hingga masuk menembus rahim terdalam dari bidadari itu.
“Uuuhhhhhhh bapaaakkkk” desah Haura terkejut karena penis sebesar itu langsung ambles seluruhnya akibat liang senggamanya yang sudah basah.
Kedua tangan pak Syamsul langsung mendekap pinggulnya. Jepitan nikmat yang begitu terasa membuatnya ingin segera memaju mundurkan pinggulnya saja.
“Uuuhhhhh... Uhhhhhh... Uhhhh bapaakkk daleemm bangettt” Desah Haura merasakan gerakan pinggul pak Syamsul yang mulai muncul.
“Aaahhhh... Aahhhh... Memang seharusnya seperti itu kan ustadzah ? Uuhhhh mantapnyaaa... Ternyata nikmat banget yah rasanya memek seorang ustadzah” Ucap pak Syamsul menikmati.
“Iyaahhh tapi kan kontol bapak gedee bangett... Aahhhh... Jangan didorong lagii... Aaaaaahhhh” desah Haura hingga manyun-manyun saat dinding rahimnya terus disundul oleh kuli kekar itu.
“Aahhh maaf ustadzah... Saya gak bisa menahan diri lagi... Rasanya ingin menjebol memek ustadzah tanpa henti” Ucap pak Syamsul yang berulang kali menusuk-nusuk rahim Haura secara perlahan.
Awalnya ia menarik penisnya keluar secara perlahan lalu menusuknya dengan sekuat tenaga, Ia kembali menariknya sebelum menusuknya lagi dengan penuh tenaga. Tiap kali ia menusukkan penisnya maka payudara Haura bergetar merasakan sensasinya. Tiap kali ia menusuknya lagi. Payudara Haura bergoyang maju mundur yang samar-samar dapat ia lihat dari balik kain penutup matanya. Pak Syamsul pun semakin bernafsu hingga membuatnya mulai menggerakan pinggulnya secara teratur.
“Aaahhh... Aaahhhh... Aaaahhhh... Manteppp bangettt... Manteppp banget rasanya memek seorang ustadzah !” Racau pak Syamsul menikmatinya.
Sedangkan Haura yang berbaring mengangkang terus menatap ketelanjangan tubuh kuli itu. Rasanya sangat puas ketika vaginanya ditusuk sambil menatap tubuh kekarnya serta dada bidangnya. Rasanya jadi semakin nikmat. Yang membuat Haura semakin menikmati perzinahannya.
“Aaaahhh iyaahhh pakkk... Terusss... Teruss tusuk aku... Tusuk aku yang kencang paakk... Aaaahhhh” Rangsang Haura menggunakan suara manjanya.
Pak Syamsul jadi bersemangat. Didekapnya pinggul ramping ustadzah binal itu dengan erat. Gerakan pinggulnya pun diperkuat. Gerakan maju mundurnya juga dipercepat. Mulutnya terus membuka mengeluarkan desahan-desahan yang amat sangat nikmat.
“Aaahhhhh... Aaahhhh... Iyyahhh ustadzaahhh... Uuuhhh puasnyaaa... Nikmat sekali jepitan memekmu ini” Ucap pak Syamsul bernafsu.
“Aaahhh... Aahhhh terusss... Lebihh kencang laggiii...Tusuk kontol bapak lebih dalem lagi... Ini belum cukuppp... Aku butuh lebih pak.... Uuuuhhhhhhhh” desah Haura mendapatkan apa yang dimintanya.
Pak Syamsul menusukkan penisnya sedalam-dalamnya. Berulang kali ujung gundulnya menghantam dinding rahim ustadzah tercantik itu. Samar-samar matanya dapat melihat pergerakan payudaranya. Ia pun menjilati bibirnya yang kering. Gerakannya payudaranya sungguh indah sekali. Tak pernah ia sepuas ini dalam bersenggama. Tak pernah ia sebergairah ini dalam bercinta. Tangan pak Syamsul pun berpindah untuk mendekap kedua payudara itu. Rasa kenyal itu. Rasa yang tak bisa dijelaskan itu. Ia jadi mempercepat gerakan pinggulnya. Gerakannya terlampau kuat. Gerakannya terlampau hebat. Berulang kali penis besarnya menggesek dinding vaginanya. Berulang kali pinggulnya menghantam bokong montoknya.
“Aaaahhhh... Aaahhhhh... Aaahhhhhhh... Ini kan yang kamu mau ustadzah ? Bercinta seperti ini ? Dengan kecepatan seperti ini ?” Tanya pak Syamsul bersemangat.
“Aaaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh iyyahhh pakk... Terusss... Terussss... Buat aku menggelinjang... Buat aku gak bisa berjalan paaaaakkk” Ucap Haura saking nafsunya.
“Aaahhh... Aahhh... Baiklah kalau itu maumu ustadzah... Jangan menyesal yahhh... Hennkgghhh !!!” Desah pak Syamsul sambil memperkuat hujamannya dengan sepenuh tenaga.
“Aaaahhhhhh... Aaahhhhh... Mantapp sekaliii pakk... Aahhh iyaahhh... Seperti ini... Seperti ini... Ouhhhhhh puasi aku dengan kontolmu paakkk... Kontol bapak enak sekalii... Aaaaahhhh” desah Haura dengan begitu binalnya.
Tubuh Haura sampai terangkat merasakan hujamanya yang begitu kuat. Matanya sampai memejam tuk menahan hujamannya yang begitu kejam. Mulutnya selalu membuka tuk mengekpsresikan kenikmatannya yang diluar ekspetasinya. Ini sih sangat nikmat. Bercinta dengan seorang kuli bangunan memang sangat nikmat. Haura tersenyum di dalam hati. Ia jadi ingin menikmati persenggamaan ini lebih lama lagi.
“Aaahhhhh gilaaaaa... Empuk banget nih susu” Ucap pak Syamsul menampar susunya yang membuat Haura menjerit nikmat.
“Aaahhhh iyaaahhh... Aahhhh sakittt” Desah Haura dengan manja.
“Yahahahah oohhhh... Ouuhhhh... Mmmpphhhhh” Desah pak Syamsul sambil membelai tubuh indah Haura tuk menikmati kemulusannya. Kedua tangannya pun tiba di lehernya untuk mencekiknya dengan pelan. Ia sangat puas sekali. Ia sangat menikmati tubuh ustadzah ini.
“Ooouuhhh pakkk... Ouhhhhhh... Uuhhhh... Uhhhhh” desah Haura sampai manyun-manyun dalam menikmat kelezatannya ini. Hujamannya yang begitu kuat membuat vaginanya berdenyut nikmat.
“Paaakkk... Paaakkkkkk” Ucap Haura memanggil pak Syamsul.
“Ada apa ustadzahhh ? Oouuhhh... Ouhhhhh” desah pak Syamsul yang masih mencekiknya pelan sambil terus menggempur vaginanya.
“Aku pengen goyang pak... Boleh ganti gaya ?” Ucap Haura yang menyadari kalau ia akan mendapatkan orgasmenya sebentar lagi. Ia ingin bergoyang menungganginya agar ia sendiri yang bisa mengatur orgasmenya.
“Aaahhh... Aaahhh... Ustadzah mau seperti itu ? Baiklaahh... Hennkgghhh !!!” Desah pak Syamsul mementokkan penisnya baru setelah itu mencabutnya.
“Uuuuhhhhhhh bapaaakkk” desah Haura tak sanggup menahan kenikmatannya lagi. Vaginanya telah banjir setelah digempur habis-habisan oleh pejantan tuanya. Mereka pun berganti posisi. Pak Syamsul yang berbaring diatas kain sedangkan Haura mulai menaikinya untuk memasukan penis itu lagi ke dalam vaginanya.
“Ustadzah jago goyang kan ?” Tanya pak Syamsul penasaran.
“Hihihihi kenapa gak bapak buktikan aja nanti ?” Jawab Haura menantangnya yang membuat pak Syamsul senyum-senyum saja.
Kekekekek gilaaa binal banget bahasanya... Pasti bakal puas banget nih pas giliran saya nanti... Batin pak Karjo diam-diam saat teringat ucapan Haura saat digenjot oleh pak Syamsul tadi.
“Uuuuuuhhhhhhhh” Desah Haura merinding saat vaginanya kembali dipenuhi oleh penis hitam nan kekar itu lagi.
Haura yang tak tahan mulai menaikan tubuhnya lalu menurunkannya lagi. Ia menaikannya lagi lalu menurunkannya lagi. Tiap kali tubuhnya bergerak naik turun maka kedua payudaranya ikut bergoyang naik turun. Suara desahannya menggelora. Ia benar-benar menikmati penis pejantannya yang telah memuaskannya.
“Aaahhhh... Aaahhhh... Bapaaakkk bisa liat akuu paakkkk” desah Haura saat bergoyang diatas tubuhnya.
“Ouhhh iyahhh ustadzaahhh... Sedikit... Saya bisa melihatnya sedikit” Ucap Pak Syamsul sambil mendekap pinggul ramping Haura agar tidak terjatuh.
“Aaaahhhh... Aaahhhh... Kalau gitu apa yang sedang aku lakukan sekarang ?” tanya Haura penasaran.
“Aaaahhh... Aahhhhhh... Ustadzah lagi ngeremes susu ustadzah sendiri kan ? Saya masih dapat melihat siluet ustadzah kok” Ucap pak Syamsul yang membuat Haura tersenyum.
“Aaahhhh... Aaahhh kalau gitu nikmati aksiku yah pak... Aku akan bergoyang sepuasku sekarang” Ucap Haura sambil memperkuat remasannya lalu bergoyang naik turun secepatnya.
“Aaahhh.... Aahhh... Iyyahh ustadzaahh... Ouuhhh nikmat bangetttt... Nikmat banget rasanya ustadzaaahh !!” Ucap pak Syamsul keenakan.
Haura menatap wajah pak Syamsul dengan tatapan penuh nafsu. Tubuhnya terus diangkatnya lalu diturunkannya dengan segera. Ia mengangkatnya lagi lalu membenamkannya lagi. Tiap kali ia membenamkan tubuhnya terasa rahimnya tertusuk oleh ujung gundulnya yang begitu keras. Tiap kali ia bergerak dengan cepat terasa gesekannya yang begitu dahsyat. Haura membelai kepalanya dari luar hijabnya lalu belaiannya turun hingga ke pinggangnya lalu turun lagi hingga ke pahanya. Rasanya sangat-sangat nikmat hingga ia terus melakukan tugasnya sebagai ustadzah pemuas.
“Aaahhh... Aaahhh... Panas banget pakkk rasanyaaa” Ucap Haura yang akhirnya tak tahan dengan melepas hijabnya.
Ustadzah tercantik itu akhirnya benar-benar bertelanjang bulat dihadapan kuli tuanya. Tak ada satupun pakaian yang menghalangi tubuhnya selain kaus kaki serta sepatu hak tinggi yang masih dikenakannya. Rambut pendek sebahunya terlihat. Ia jadi semakin bebas saat memamerkan tubuhnya dihadapan kuli tua kekar sepertinya. Kedua tangannya pun menggenggam jemari pak Syamsul lalu mengaitkan jemari mereka. Haura mengubah arah goyangannya. Ia kini bergoyang maju mundur untuk merangsang penisnya.
“Aaahhhhh... Aaahhhh enakk bangett ustadzaahh... Ouhhhh yaahhhh... Uuuhhhhh” Desah pak Syamsul sampai merem melek.
“Aaaahhhh... Aahhhh... Bapaakkk puaasss ? Bapakk puas dengan goyanganku pak ?” tanya Haura tersenyum.
“Aaahhhhh... Aahhh... Pastii ustadzaahh... Saya puas bangettt... Saya puas banget dengan goyangan ustadzah” jawab pak Syamsul yang membuat Haura tertawa.
“Hihihih kalau gitu aku akhiri yah... Aku udah mau keluar sejak tadi” Ucap Haura malu-malu yang membuat pak Syamsul tersenyum bangga.
“Aaahhh... Aahhh silahkan ustadzah... Goyang saya sepuasnyaaa !!!” Ucap pak Syamsul menyemangati.
“Iyyahhh pakkk... Uuuhhhhhh” Desah Haura melepaskan dekapannya hanya untuk mengangkat tubuhnya hingga menyisakan ujung gundulnya saja yang berada di dalam vaginanya.
“Bapppaaaaakkkk” Desah Haura saat ia kembali membenamkan tubuhnya hingga penis kuli tua itu menembus vaginanya.
Lagi, ia mengangkat tubuhnya setinggi-tingginya hanya untuk membenamkannya sedalam-dalamnya.
Jleeeebbbbb !!!
“Ouuhhh nikmatnyaaaa” Desah Haura keenakan.
Selepas itu, Ia mulai menggoyang penis pak Syamsul lagi secara teratur. Kedua payudaranya bergondal-gandul. Tubuhnya mulai lepas kendali hingga membuatnya terus bergoyang sesukanya. Kadang Haura bergoyang maju mundur. Kadang ia bergoyang naik turun. Kadang goyangannya memutar hingga membuat penis pak Syamsul seperti persneling mobil yang diputar-putar. Ia terus melakukannya sambil menatap tubuh kekar pejantannya. Ia jadi semakin bergairah. Ia benar-benar menanggalkan harga dirinya hanya demi kepuasan yang bisa ia terima.
“Aaahhhh... Aahhhhhh... Aaahhhh ustadzaaaah” Desah pak Syamsul yang hanya bisa pasrah.
Kenikmatan itu membuat Haura tak bisa menahannya lagi. Ia ingin mengeluarkannya segera. Ia ingin menuntaskan birahinya yang sudah ia tahan sejak tadi pagi. Sambil bergoyang ia menatap pak Karjo dengan tatapan binal. Haura tersenyum menggodanya. Haura seperti sedang melakukan cukcold kepadanya.
“Kekekekek... Binalnya dirimu ustadzah” Ucap pak Karjo sambil terus mengocok penisnya sambil menatap pemuas nafsunya.
“Aaaahhhh... Aahhh... Aahhhh... Aku gak kuat lagi... Akuu mau keluaarr pakk... Akuu mau kelluaarrr” Desah Haura tak tahan.
“Aaahhhh... Aahhhh silahkan ustadzahhh... Keluarkan semuanyaaa... Jangan ada yang ditahan !” Ucap pak Syamsul menyemangatinya.
“Aahhhhh... Aahhhh... Aahhh iyyahh pakk... Aaahhh enakk bangett... Enakk bangett pakkk !”
Ucapan pak Syamsul membuat Haura memaksimalkan sisa tenaga yang dimilikinya. Goyangannya jadi semakin binal serta desahan suaranya jadi semakin menggairahkan. Rasa gatal yang ia rasakan di vaginanya membuatnya jadi mempercepat gerakan pinggulnya hingga membuat dirinya meloncat-loncat diatas tubuh pejantannya.
Haura seperti sedang mengendarai kuda saja. Haura seperti sedang menjinakkan kuda liar saja. Ia bahkan tak peduli apabila dirinya sampai terjatuh karena ia sudah mempercayakan pegangan pak Syamsul di pinggulnya.
Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!
“Aahhhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!!” Haura meraung-raung. Tubuhnya melonjak-lonjak. Desahannya semakin keras saat vaginanya semakin becek dipenuhi oleh cairan cintanya sendiri.
Payudara Haura bergerak semakin indah. Ia jadi menggoyang tubuh pak Syamsul dengan penuh gairah. Ia menjerit meluapkan kenikmatannya dengan begitu keras. Butir-butir keringat pun bermunculan ditengah situasinya yang begitu panas. Nafsu yang ia tahan akhirnya tidak mampu untuk ia bendung lagi. Haura melampiaskan seluruh nafsunya. Ia melampiaskannya dengan mempercepat goyangannya hingga penis pak Syamsul nyaris patah andai tidak kokoh dalam menahan goyangan ustadzah binal itu.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh” desah Haura penuh nafsu.
Nampak tubuh Haura mengejang. Kedua payudaranya jadi begitu kencang. Ia jadi semakin indah saat sedang bertelanjang bulat memamerkan tubuh polosnya. Ia pun menatap pak Syamsul dengan tatapan nafsu. Ditatapnya wajah yang buruk rupa itu. Lalu tatapannya turun menuju tubuh kekarnya itu. Ia tersenyum. Keperkasaan tubuh pejanntanya membuatnya tak mampu menahannya lagi. Akhirnya dengan satu dorongan yang kuat, ia membenamkan pinggulnya sedalam-dalamnya hingga dinding rahimnya tertusuk oleh ujung gundul penis yang luar biasa nikmat itu.
Jleeeebbb !!!!
“Aahhhhhhhh baappakkkkkkk” desah Haura hingga kepalanya ia tegakkan menatap langit-langit ruangan.
“Aakkuuu keluuaarrrr !!!” lanjut Haura hingga tubuhnya kelojotan saat mendapatkan orgasmenya.
Ccrrtttt.... Crrttt... Ccrrttttt !!!
“Aaahhh ustadzaahhhh” Pak Syamsul pun memegangi tubuh Haura sekuat tenaga ketika mendapatkan orgasmenya. Nampak siluet bidadari itu saat tubuhnya melonjak-lonjak keenakan. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya juga blingsatan tak karuan. Ia pun merasa kalau penisnya semakin basah saat tersirami oleh cairan cinta sang ustadzah. Pak Syamsul tersenyum bangga. Ia tidak mengira bisa membuat seorang ustadzah kelojotan menggunakan penis kekarnya.
“Uuuhhhh paaakkk” desah Haura langsung ambruk setelah mendapatkan orgasme ternikmatnya. Sungguh, rasanya luar biasa. Rasanya jauh berbeda ketika bercinta dengan seseorang yang tidak tahu identitasnya. Orang itu jadi semakin bernafsu ketika tidak begitu yakin saat bercinta dengan dirinya atau bukan. Ia merasakannya saat pak Syamsul menyetubuhinya tanpa ampun melalui siluet yang ia lihat dari penutup matanya. Haura tersenyum malu. Ia merasa lega bisa meluapkan birahinya dengan segera.
“Mmmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura saat dicumbu olehnya.
“Mmpphhh... Ustadzah lega ?” Tanya pak Syamsul sambil memeluknya hingga ia dapat merasakan empuknya dada Haura yang terhimpit ke arah dada bidangnya.
“Lega banget pak... Makasih yah pak udah muasin aku” Ucap Haura malu-malu.
Ia pun jadi malu sendiri. Padahal pagi tadi ia penasaran apakah orang itu bisa mengimbangi nafsunya. Nyatanya sekarang, justru ia yang keluar duluan dibandingkan pejantannya. Sekarang, ketika dirinya sudah lemas tak berdaya, ia harus menahan gempuran pak Syamsul yang masih belum keluar hingga sekarang. Padahal ia ingin beristirahat. Tapi sebagai wanita pemuas, ia harus menuntaskan kewajibannya.
“Sekarang giliran saya yah ustadzah... Saya juga mau keluar kok” Ucap pak Syamsul meminta izin.
“Mmpphhh silahkan pak... Aku harus gimana ?” Tanya Haura setelah melepas cumbuannya.
“Nungging ustadzah” Ucap Pak Syamsul yang ingin bermain dengan gaya doggystyle.
“Siapp pak... Sudah” Ucap Haura yang sudah menungging dengan lutut dan telapak tangan menyentuh kain yang tadi ia tiduri.
“Oke ustadzah... Siap yahhh... Hennkgghhh !!!” Ucap pak Syamsul yang langsung membenamkan penisnya sedalam-dalamnya.
“Uuuuhhhh paaakkkk” desah Haura dengan manja.
Kemaluan mereka kembali bertemu. Pak Syamsul tersenyum setelah tubuh mereka kembali menjadi satu. Ia mengelap keringat di dahinya lalu melampiaskan seluruh nafsu yang dimilikinya. Kini, tertinggal satu hal yang harus ia tuntaskan dengan segera. Yakni memejuhi rahimnya.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh” desah pak Syamsul saat pinggulnya kembali ia gerakan.
“Ouuhhh yahh.... Ouuhhh pakk... Mmpphhhh” desah Haura memejam menahan hujamannya. Nampak kedua payudaranya menggantung indah. Payudaranya itu bak buah papaya yang siap untuk dipetik dengan segera. Pak Karjo yang berada di sampingnya mendekat. Ia ingin melihat keindahan Haura lagi dengan lebih dekat.
Luar biasaaa... Mimpi apa saya bisa ngentot dengan tubuh seindah ini... Terlepas ini ustadzah Haura atau bukan... Ini harus saya syukuri... Saya harus meninggalkan bekas kenang-kenangan untuknya agar ia selalu mengingat persetubuhannya dengan saya yang tak akan terlupakan... Saya harus menghamilinya agar bisa memberikan kado terindah untuknya... Yahahaha...
Batin pak Syamsul sambil menatap punggung mulusnya meski tidak terlalu jelas.
Seiring berjalannya waktu. Pak Syamsul mempercepat hujamannya hingga membuat tubuh Haura bergerak maju mundur dengan cepat. Kedua tangannya sudah berada di pinggul kanan kirinya. Ia mendekap pinggul Haura dengan kuat. Ia juga memaksimalkan energi yang ia punya untuk menghujami vaginanya dengan nikmat.
“Aaahhhh... Aahhhh.... Aaahhhh” desah Haura dengan manja.
“Ouhhhh... Ouuhhh mantapnyaaa... Ouuhhh nikmat sekali rasanya bisa menggenjot tubuhmu terus ustadzah” Desah pak Syamsul disela-sela persetubuhannya. Ia pun mempercepatnya. Gerakannya membuat Haura tak berdaya disaat tubuhnya kehilangan energinya setelah mendapatkan orgasmenya.
“Aaahhh iyaahhh... Aahhhh pakkk... Aaahhhhh” desah Haura dengan lemas.
“Aaahhh mantapp... Aahhhh... Aahhh” desah Pak Syamsul semakin puas.
Meski ia tak begitu yakin. Namun suara yang tak begitu asing membuatnya menganggap kalau ia sedang menyetubuhi ustadzah Haura beneran. Impiannya yang menjadi kenyataan membuatnya jadi kesulitan untuk menahan birahinya. Ia jadi kelepasan saat melampiaskan seluruh nafsunya. Akibatnya ia mulai merasakan tanda-tanda kalau dirinya akan segera keluar. Membayangkan kalau ia akan memejuhi kemaluan seorang ustadzah membuatnya semakin mempercepat sodokannya. Pak Syamsul tak tahan. Kekuatannya dalam menyodok rahim Haura membuat tubuh ustadzah binal itu terlonjak-lonjak menahan luapan nafsunya.
“Paaakkk... Paaakkk... Paaaakkkk” desah Haura kewalahan.
“Aaahhh... Aahhhh ustadzaaaahhhh... Terimalah hadiah dari saya... Terima ini... Terima pejuh saya ini” desah pak Syamsul merasakan tanda itu semakin dekat.
“Aaahhh... Aahhh pakk... Keluarkaannn... Keluarkan semuanyaa pakkk... Penuhi rahimku dengan pejuh bapaakkk” ucap Haura pasrah.
“Aaahhh iyyahh... Iyyahhh ustadzaahhh... Ouuhhh nikmatnyaaa... Ouhh akhirnyaa... Terima ini... Akan saya hamili dirimu ustadzahhhh... Hennkkgghhh !!!” desah pak Syamsul sambil menghujamkan batang penisnya menembus rahim kehangatannya.
“Aaaahhhh bapaaaaakkkkk”
“Sayyaa keluuaaarrr !!!”
Crroott... Ccrroottt... Ccrroottt...
Pak Syamsul akhirnya keluar. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik merasakan kenikmatan yang luar biasa sekali. Berulang kali ia menampar-nampar bokongnya sambil meremas bokong bohay itu sambil memenuhi rahim hangatnya menggunakan sperma kentalnya.
“Gilaaa... Gillaaa... Puass bangett... Puass banget rasanya ustadzaaahhhh” ucap pak Syamsul sambil geleng-geleng kepala.
“Hah... Hah... Hah...” Haura hanya terengah-engah karena kehabisan tenaga. Tubuhnya yang begitu lelah membuatnya ambruk jatuh ke atas kain yang menjadi alas mereka bersetubuh.
Pak Syamsul pun menarik lepas penisnya hingga berbunyi plop.
“Uuuhhhh” Desah Haura sambil memejam saat sperma yang kuli tua itu tumpahkan keluar semua dari dalam vaginanya.
Sperma kental itu begitu banyak. Haura sendiri sampai bergidik. Tapi ia hanya bisa tersenyum membayangkan kebinalannya tadi.
Saat pak Syamsul hendak membuka penutup matanya. Lagi-lagi pak Karjo mendekat untuk menahannya.
“Eh bentar pak... Kekekekekek” tawa Pak Karjo mencegah pak Syamsul.
“Ehh kenapa pak ? Kan saya sudah menuntaskan birahinya” Ucap pak Syamsul yang begitu penasaran ingin melihat siapa yang baru ia setubuhi tadi.
“Ustadzah” Ucap pak Karjo memintanya bersembunyi. Haura hanya mengangguk. Sambil bertelanjang bulat, ia ngeluyur pergi memasuki sebuah kamar di dalam gedung ini.
“Nah sekarang bapak boleh lepas penutup matanya... Kekekkeke” Ucap pak Karjo.
Saat pak Syamsul membuka penutup matanya. Ia kecewa karena tak bisa menemukan wanita pemuas nafsunya.
“Ustadzah tadi kemana pak ? Saya ingin bertemu dengannya ? Saya ingin berterima kasih kepadanya ?” Tanya pak Syamsul tak sabar ingin menatap wajahnya.
“Kekekek dia ada disini... Tapi dia lagi istirahat yah pak... Nah, sekarang bapak boleh pulang ke rumah” Ucap pak Karjo tersenyum.
“Yaahhhh padahal saya ingin bertemu dengannya pak... Tapi tadi ustadzah Haura kan ?” tanya pak Syamsul ingin memastikan.
“Kekekekek menurut bapak ?” tanya balik pak Karjo.
“Sepertinya iya kalau dari suaranya... Sepertinya iya kalau dari lekuk tubuhnya... Tapi wajahnya masih samar-samar pak... Saya jadi ingin memastikan saja” Ucap pak Syamsul gelisah karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Kekekekek... Ini pakaian yang tadi dikenakan oleh ustadzah itu... Menurutmu, ini punya siapa ?” tanya pak Karjo saat memberikan gamis, pakaian dalam serta hijab yang tadi Haura kenakan ke pak Syamsul.
“Iniii... Kayak punyanya ustadzah Haura... Saya seperti pernah melihatnya” Ucap pak Syamsul sumringah.
“Kekekekek bapak boleh membawanya pulang... Buat kenang-kenangan” Ucap pak Karjo tertawa yang membuat pak Syamsul bersemangat.
“Yahahahah beneran ? Makasih yah pak... Kalau gitu saya mau pulang dulu... Udah mau maghrib soalnya” Ucap Pak Syamsul saat melihat langit hampir gelap.
“Kekekekek silahkan... Tulus yahhh !” Ucap pak Karjo tersenyum.
“Eh maksudnya ?”
“Eh kekekekke... Hati-hati di jalan maksudnya... Tulus mah penyanyinya” tawa pak Karjo yang membuat pak Syamsul ikut tertawa saat mendengar lelucon bapak-bapaknya
Pak Syamsul pun pergi setelah mengenakan pakaiannya lagi. Ia juga membawa pakaian yang Haura kenakan. Ia pun menaiki motornya lalu pergi jauh menuju rumahnya.
“Kekekekekek sekarang giliran saya untuk memuasinya” Ucap pak Karjo mupeng ingin menyetubuhinya.
Ia pun berjalan menuju ruang yang tadi Haura masuki. Saat pintu terbuka, ia menatap Haura sedang duduk bersandar pada dinding dalam keadaan yang lemas tak berdaya.
“Hah... Hah... Hah... Bappaakkk” Ucap Haura tersenyum.
“Kekekekek ustadzah puaas ?” tanya pak Karjo sambil menutup rapat pintunya.
“Puas banget pak... Aku capek banget... Hah... Hah... Hah... “ Ucap Haura kelelahan.
“Kekekekek saya juga puas melihat kebinalanmu tadi” Ucap Pak Karjo mendekat lalu berjongkok di sampingnya.
“Oh yah pak... Baju aku mana ? Aku mau pulang... Aku capek banget mau istirahat” Ucap Haura.
“Baju ustadzah ? Udah dibawa pergi sama pak Syamsul” jawab pak Karjo sambil tersenyum.
“Eehhh beneran ? Terus aku pulangnya gimana ? Aku gak punya apa-apa loh pak... Bahkan aku lagi pake hijab sekarang” Ucap Haura panik.
“Kekekekekek”
Namun jawaban pak Karjo hanya tertawa sambil menunjukkan penisnya yang telah mengeras. Mata Haura pun membuka lebar. Seketika perasaannya menjadi tidak enak.
“Tenang... Saya akan mengantarmu pulang, ustadzah sayangggg” Ucap pak Karjo sambil mengocok penisnya yang sudah menegak maksimal.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *