Search

CHAPTER 52​ - RASA YANG BERBEDA

CHAPTER 52​ - RASA YANG BERBEDA

Sore hari di salah satu kantor bagian bergengsi di pondok pesantren ini, tepatnya di dalam kantor bagian pengajaran.

"Ihhhh kenapa sih ? Kenapa juga harus aku yang disalahin ?" Ucapnya kesal.

Daritadi, ia hanya bisa mondar mandir karena terpikirkan masalah ini. Ia heran, ia merasa kesal. Karena kalau dipikir-pikir. Ia tidak sepenuhnya salah atas perbuatannya yang diduga telah merebut ustadz Angga dari ustadzah Hanna.

"Terus kenapa aku yang salah ? Kenapa aku sampai dihukum dengan melayani dua jongos itu ?" Ucapnya saking kesalnya.

"Hahh... Astaghfirullah... Kenapa lagi aku kayak gini ? Padahal aku udah mulai mempercayai laki-laki tapi ada aja laki-laki lain yang seenaknya melakukan hal itu ke tubuhku ! Emang aku ini apa ? Boneka mereka yah ?" Ucap Syifa merasa kesal tiap kali dirinya kepikiran ketika disetubuhi oleh pak Udin dan juga pak Prapto di belakang gedung kelas disaat ujian berlangsung beberapa hari yang lalu.

Ia masih ingat betul bagaimana dua lubang kotorannya diisi penuh oleh penis-penis nista mereka berdua yang seenaknya membuang sperma mereka di dalam. Ia sampai merinding. Ia terus saja merinding tiap kali terbayang lubang-lubang kenikmatannya dibanjiri oleh sperma-sperma mereka berdua.

Tapi ada satu hal yang paling membuatnya kesal, yakni ia tidak sepatutnya menanggung akibat yang ditujukan padanya. Maksudnya, ia tak sepenuhnya salah. Bahkan ia bertindak seperti ini akibat dari Angga-nya yang sudah menarik minat kepadanya.

"Lalu, kenapa cuma aku yang disalahkan ?" Ujarnya dengan kesal.

Kebetulan jam sudah hampir menunjukkan pukul empat saat itu. Ia jadi kepikiran sesuatu untuk mengatasi permasalahan yang dialaminya itu.

"Apa lebih baik aku bicarakan hal ini ke ustadz Angganya aja yah ? Aku gak sanggup kayak gini terus... Aku benci kalau harus jadi pelampiasan nafsu jongos tua itu lagi" Ucap Syifa yang bertekad untuk berbicara ke ustadz Angga.

Ustadzah yang saat itu mengenakan gamis panjang berwarna gelap dengan hijab coklat yang menutupi sekujur tubuhnya memilih pergi dari dalam kantornya. Kacamata berlensa bening yang dikenakan olehnya melengkapi penampilannya. Sore itu, ia terlihat seperti ibu-ibu pengajian yang entah bagaimana membuatnya terlihat dewasa. Penampilannya begitu memukau. Penampilannya begitu mempesona. Mungkin tidak ada yang mengira kalau ustadzah secantik dirinya pernah di double penetration oleh dua tukang sapu bejat yang tidak ada tampan-tampannya sama sekali.

Meski dirinya sedang tidak tersenyum saat itu, kecantikan wajahnya masih membekas disana. Ia terlihat bertekad. Ia tidak mau mempunyai kenangan buruk lagi dengan seorang laki-laki. Cukuplah masa lalu itu yang membuatnya merasa illfeel dengan laki-laki. Jangan lagi, apalagi kalau dirinya sampai berhubungan dengan wanita lagi.

"Gara-gara antum ustadz, ana jadi pengen sembuh dengan membuka diri lagi dengan seorang laki-laki... Tolong jangan pergi... Tolong jangan tinggalkan aku sendiri... Tapi, gimana yah ? Gimana kalau nanti pas aku berbicara seperti ini yang ada aku malah membuatnya pergi ? Ihhh jangan dehhh... Tolongg jangan pergi ustadz" Ucap Syifa dilema. Ia sampai berhenti melangkah. Kebetulan dirinya baru saja melewati gedung yang belum jadi.

"Eh siapa disana ? Oalah rupanya cuma kuli" Ucap Syifa saat melihat ke dalam dan menemukan ada dua kuli kekar yang tengah berbincang.

Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya. Hingga saat dirinya tiba di depan gedung kelas ia melihat seseorang yang ia cari-cari tengah berada disini membuatnya segera datang menghampiri.

"Ustaaaddzz... Ustaaddzzzz" Panggil Syifa saat mendekati Angga.

"Ehhh siapa ? Ohh antum... Ada apa ustadzah ?" Tanya Angga sambil tersenyum.

"Hah... Hah... Hah... Gapapa ustadz... Ana cuma pengen ngobrol aja... Antum sibuk ? Yahhhhh, sibuk yah ?" Tanya Syifa saat melihat tangan kanan Angga yang memegangi bola.

"Hehe iyya ustadzah... Ana mau olahraga bareng ustadz yang lain ? Emang mau ngobrolin apa ?" Tanya Angga penasaran.

"Ehh enggak kok... Gak penting sebenarnya... Yaudah deh antum mending lanjut aja" Ucap Syifa merasa tidak enak.

"Beneran ? Entar ada yang kepikiran lagi" Ucap Angga menggodanya dengan senyuman.

"Iihhh ngapain juga kepikiran.... Dah ah sana pergi... Ditungguin temennya tuh" Ucap Syifa yang hanya membuat Angga tertawa. Ustadz yang juga merupakan anak dari pak kiyai yang sudah mengenakan pakaian olahraganya itu pun tersenyum. Tiba-tiba ia malah mengusap pipi mulus Syifa yang membuat matanya terbuka lebar. Apalagi saat Angga menatap wajah Syifa menggunakan tatapannya yang hangat. Jantung Syifa mendadak berdebar kencang. Syifa pun gugup hingga lidahnya tak bisa mengucapkan apapun.

"Maaf yah... Ana gak bisa kalau sekarang... Kapan-kapan kalau mau ngobrol lagi tinggal datang ke rumah aja yah... Pasti ana akan nyempetin waktu kok tuk mendengarkan keluh kesah antum" Ucap Angga yang membuat Syifa tersenyum malu.

"Dasarrr... Yaudah sana... Pergi... Ditungguin sama temennya tuuhh... Nanti kalau dimarahin jangan salahin aannnn..." Syifa berhenti berbicara saat tiba-tiba pipinya dikecup oleh anak pak kiyai itu. Ia pun benar-benar terkejut. Bahkan wajahnya terlihat jelas kalau ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang Angga lakukan.

"Iyya... Ana pamit dulu yah... Hati-hati di jalan... Wassalamualaikum" Ucap Angga dengan sopan meninggalkan Syifa yang kebingungan.

"Walaikumsalam" Jawab Syifa sambil menatap Angga yang pergi meninggalkan.

Anak dari pak kiyai itu langsung berlari untuk melakukan pemanasan sebelum berolahraga dengan teman-temannya. Syifa pun masih terdiam di tempat. Tangan kanannya pun mendekap pipinya yang baru saja dikecup oleh ustadz tampan itu.

"Ustaaddzzz" Ucap Syifa tersipu. Tak sadar wajahnya tersenyum. Ia pun berbicara dengan lirih setelah itu.

"Antum ini bikin ana bingung aja ustadz... Kenapa sih ustadz sebaik antum harus melamar ustadzah Hanna duluan ? Bisa gak kalau antum nikahnya sama ana aja ?" Ucap Syifa yang semakin kebingungan untuk mengatasi persoalan ini. Ia jadi semakin tidak ingin membiarkan Angga pergi. Tapi ia juga kebingungan dengan nasib Hanna selanjutnya. Ia pun terpikirkan soal pak Prapto lagi. Bagaimana nanti kalau ia kembali dihukum akibat masih memendam rasa kepada ustadz Angga lagi ?

"Entahlah... Semoga bisa dapet titik terangnya" Ucap Syifa yang berniat kembali ke kantor bagiannya.

Namun tanpa sepengetahuannya terdapat sepasang mata yang sudah memperhatikannya sejak tadi. Seseorang itu tampak kesal. Ia sambil memegangi sapunya berbicara sambil menatap Syifa.

"Kurang ajar ustadzah itu... Masih belum kapok juga yah rupanya ? Berani sekali dia menggoda ustadz Angga sehingga mendapatkan ciuman darinya... Mesti gak dibiarin ini !" Ucapnya sambil membuntuti Syifa secara diam-diam.

Beberapa saat kemudian saat Syifa tiba di depan kantor bagiannya.

"Hah... Gimana ini yah ? Kok aku jadi semakin bingung sih ?" Lirihnya saat berdiri di depan pintu masuk kantor bagiannya.

"Ustadz Angga ?" Panggilnya dengan penuh kebingungan. Entah kenapa rasanya ia jadi tergila-gila padanya. Baru kali ini ia merasa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan seorang laki-laki. Ia tak ingin melepaskan tapi terdesak dengan keadaan. Semuanya bagai ujian yang membuatnya tak bisa tenang.

Saat tangan kanannya membuka pintu masuk kantor bagiannya. Tiba-tiba dari belakang ia merasakan adanya dorongan yang membuatnya secara paksa memasuki kantor bagiannya.

"Ehhhh siapaa yangg... ?" Ucap Syifa yang kemudian terjatuh dalam keadaan berlutut ke depan. Saat wajahnya ia tolehkan ke belakang. Betapa terkejutnya ia karena disana ada sosok laki-laki kurus berkulit keriput yang tengah mengenakan kacamata juga sapu yang digenggam oleh tangannya. Syifa mengenalnya. Ia pun ketakutan saat melihat sosoknya.

"Paakkk Praptooo ?"

"Masih belum kapok juga yah ustadzah ?"

"Apa maksud bapak ? Aku gak melakukan apa-apa pak ?" Ucap Syifa sambil melangkah mundur menjauhi pak Prapto dengan cara menyeret bokongnya.

"Gak melakukan apa-apa ? Bukannya ustadzah baru saja menggodanya sehingga ustadz Angga sampai menciummu ?" Ucap Pak Prapto mengejutkan Syifa. Pak Prapto pun berjalan mendekat ke arah Syifa.

"Bapak melihatnya ?" Ucap Syifa yang membuat pak Prapto semakin yakin.

"Tuh kan apa saya bilang ? Masih belum kapok juga yah ?" Ucap Pak Prapto dengan kesal sehingga langsung menjatuhkan badan untuk memegangi tangan Syifa yang membuat ustadzah berkulit bening itu ketakutan.

"Itu bukan salahku pak ! Aku gak melakukan apapun ? Ustadz Angga sendiri lah yang tiba-tiba menciumku pakk... Lepaskannn... Lepaskan aku pakkk" Ucap Syifa ketakutan saat melihat wajah Pak Prapto yang begitu bernafsu.

"Tiba-tiba ? Memangnya saya buta yah ? Saya melihatnya sendiri kalau ustadzah sempat berbicara dahulu baru setelah itu ustadz Angga menciummu... Dah gak usah banyak berbicara... Terima nasibmu ustadzah... Terima nasibmu karena sudah membuat ustadzah Hanna terluka" Ucap Pak Prapto berniat menghukumnya.

"Apaaa... Enggakk !!!... Enggakk pakk... Aku gak salahhh... Jangan hukummm akuu... Ummpphhh" Desah Syifa saat tiba-tiba tukang sapu itu mendekatkan wajahnya lalu mencumbunya dengan cara menindihi tubuhnya.

Kedua tangan Syifa dilebarkan oleh pak Prapto. Bibirnya terus ditekan oleh bibir pak Prapto. Tubuh rampingnya pun tak berdaya saat ditindihi oleh tubuh kurus pak Prapto. Syifa pun menangis. Air matanya jatuh tanpa disadari saat bibirnya kembali dinodai oleh jongos tua itu lagi.

"Mmpphh... Mmpphh" Desah Syifa berusaha menolak dengan menggelengkan kepalanya.

Namun nafsu pak Prapto telah berada di ubun-ubun. Nafsunya untuk membalas dendam ditambah dengan nafsunya untuk menikmati ustadzah berkulit bening itu telah berkumpul menjadi satu. Kesepuluh jemarinya mengait jemari-jemari Syifa. Bibirnya yang tebal itu pun membuka. Bibirnya dengan rakus langsung mencaplok bibir tipis Syifa. Bibirnya itu menjepit bibir bagian bawahnya. Lidahnya juga ikutan dengan memasuki rongga mulutnya. Syifa terus bertahan dengan merapatkan bibirnya. Namun nafsu Prapto lebih besar. Lidahnya pun berhasil merengsek masuk yang kemudian langsung berkelana di dalam rongga mulutnya. Lidah pak Prapto menggesek langit-langit mulutnya. Lidahnya juga menjilati lidah pemilik rongga mulut itu. Saat lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling jilat. lidah mereka saling sikut. Lidah mereka saling tempur dan lidah mereka saling menekan. Awalnya lidah Syifa ditekan oleh lidah pak Prapto ke bawah. Tapi tiba-tiba secara tak sengaja lidah pak Prapto yang ditekan oleh lidah Syifa ke bawah. Nafsu yang semakin berkumpul membuat liur mereka semakin membanjiri rongga mulutnya. Liur mereka pun keluar melalui sela-sela rongga mulut Syifa. Syifa kesal. Ia ingin melawan tapi dirinya tak berdaya.

"Mmpphh lepaskannn... Lepaskkaannn" Ucap Syifa berusaha melawan dengan menghentak-hentakkan kakinya.

"Enak ajaa... Ustadzah mesti bertanggung jawab... Lagipula kemarin masih belum cukup yah ? Atau saya kudu memanggil teman-teman saya yang lain biar ustadzah bisa melawan 4 orang sekaligus ?" Ucap pak Prapto yang membuat Syifa ketakutan.

"Enggakkk... Enggaakk pakk... Tolongg ini bukan salahku pak... Ustadz Angga sendiri yang melakukan ini kepadakuu... Jangan cuma salahkan akuu pakkk" Ucap Syifa berusaha menjelaskan.

"Omong kosong... Ustadzah mesti bertanggung jawab... Ustadzah harus membayar semuanya dengan menggunakan tubuh indahmu ini" Ucap pak Prapto bernafsu sehingga langsung menaikan rok gamis yang dikenakannya itu.

"Aaaaahhh jangannn... Jangaannn paakkk" Ucap Syifa saat roknya diangkat sehingga pahanya terlihat.

Pak Prapto tanpa ampun langsung menarik celana dalam Syifa hingga melewati kedua lututnya. Tukang sapu yang sangat bernafsu itu langsung membuka resletingnya. Penisnya yang sudah mengeras langsung diarahkannya ke dalam vaginanya.

"Paakkk jangaannn... Jangaannn... Tolongg jangann paakkk" Ucap Syifa ketakutan melihat penis itu semakin mendekati vaginanya.

Pak Prapto yang kesal karena Syifa terlalu berisik pun membekap mulutnya menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk meremas payudara kanan Syifa sekeras-kerasnya. Sontak Syifa menjerit tapi jeritannya tidak terdengar karena tertahan oleh bekapan tangan pak Prapto.

"Mmmpphhh... Mmmpphhh" Desah Syifa tertahan sambil menggelengkan wajah. Ia merasa kalau bibir vaginanya sudah terantuk oleh batang tumpul yang sangat keras itu. Syifa menangis. Ia tahu kalau kesempatannya untuk bisa bebas sangatlah kecil.

"Terima ini karena sudah melewati batas ustadzah... Terima ini sebagai pembalasan dari ustadzah Hanna... Hennkgfhhh !!!" Desah pak Prapto sambil memasukan penisnya ke dalam vaginanya.

"Mmmpphhh paaakkkk" Jerit Syifa merasakan sakit di vaginanya.

Vaginanya yang belum terlalu basah itu langsung dijejali penis besar yang juga masih kering. Ukurannya yang besar membuat penis itu terhambat untuk masuk ke dalam. Meski kesulitan, pak Prapto tidak menyerah. Sambil sedikit menunggingkan tubuhnya. Ia menarik penisnya perlahan baru setelah itu menusuknya dengan sangat kuat.

“Mmpphh pakkkk sakitttt”

Pak Prapto kembali melakukannya. Emosi yang telah menguasai membuatnya tidak peduli dengan ustadzah cantik itu lagi. Ia kembali menarik pinggulnya hingga menyisakan ujung gundulnya saja di dalam. Kemudian dengan sekuat tenaga dirinya menghentakkan pinggulnya sekuat-kuatnya hingga keseluruhan penisnya langsung ambles ke dalam rahim bidadari itu.

“Rasakaannn ini... Hennkgghhh !!!” desah pak Prapto penuh nafsu.

“Aaaahhhh bapaaakkkk” jerit Syifa kesakitan.

Syifa merasa kalau rahimnya telah tersundul oleh ujung gundul penis tukang sapu itu lagi. Syifa menangis. Ia merasa sedih. Dirinya yang lemas setelah dimasuki oleh penis tukang sapu itu hanya bisa tergeletak tak berdaya.

Tangan pak Prapto pun pindah dengan memegangi pinggul ramping Syifa yang masih tertutupi gamisnya.

“Dasarrr... Cantik-cantik tapi pelakor... Rasakan hukuman ini dari saya !” ucap pak Prapto setelah mengamati penampilan Syifa sejenak.

“Pakkk jangannn... Jangaannn... Aaahhhhhh” desah Syifa saat pinggul pak Prapto mulai bergerak.

Pinggul pak Prapto bergerak maju tak peduli dengan teriakan Syifa yang terdengar merdu. Syifa pun menjerit saat liang senggamanya tertusuk oleh penis yang rasanya seperti batang besi yang begitu kuat dan keras. Hujamannya juga begitu ganas. Tanpa ampun, pak Prapto terus menghujaminya hingga ujung gundulnya selalu mengenai titik terdalam dari lubang kemaluan ustadzah tercantik itu.

“Aahhh paakk... Aahhhh sakittt... Sakkittt pakkk” jerit Syifa kesakitan.

“Rasakan itu... Itu namanya hukuman ustadzah... Kalau keenakan mana bisa dikatakan hukuman !” Ucap pak Prapto dengan tegas.

Syifa pun menangis sambil tangannya mendorong tubuh pak Prapto menjauh darinya. Karena kesal pak Prapto kembali memegangi kedua tangan Syifa. Ia lekas merentangkannya kembali ke kiri dan ke kanan. Lalu pinggulnya kembali bergerak maju mundur. Ia mendorongnya dengan kuat lalu menariknya secara perlahan. Ia tampak menikmati detik-detik gesekan nikmat yang dirasakan oleh batang penisnya. Sodokan itu membuat Syifa hanya bisa pasrah karena tak bisa berbuat apa-apa. Vagina Syifa pun terhempas. Payudaranya yang masih tertutupi gamisnya bergoyang seirama. Pak Prapto tampak menikmati pemerkosaannya kali ini. Sebaliknya Syifa, ia sangat tersiksa dengan hukumannya kali ini.

“Aahhhh... Aahhh... Aahhh pakkkk... Hentikaannn... Hentikann semuanya paakkk” desah Syifa penuh harap.

Setelah tangan Syifa dirasa tenang, Tangan pak Prapto berpindah untuk meremasi kedua payudaranya yang masih bersembunyi. Remasannya yang begitu kuat membuat tangan Syifa memegangi tangan pak Prapto. Syifa berusaha menahannya. Namun yang ada malah membuat cengkramannya semakin kuat. Syifa pun menjerit. Rasanya begitu menyiksa saat payudaranya diremas dan vaginanya ditusuk oleh penis besarnya yang begitu keras.

Pak Prapto tersenyum melihat Syifa tersiksa akibat hujaman penisnya. Ditatapnya mata Syifa yang sayuk. Syifa tak percaya ketika pria tua itu begitu kejam saat menghujami vaginanya. Ia tak menduga kalau pak Prapto bisa sejahat ini. Padahal dulu saat pertama kali pak Prapto memperkosanya. Ia melihat pak Prapto sebagai pria tua yang mudah menyesal. Ia seperti tidak tega setelah memperkosanya untuk pertama kali itu. Tapi kenapa sekarang ia jadi semakin bernafsu. Bahkan tatapan matanya terlihat mengerikan sekali. Syifa ketakutan. Ia sangat ketakutan pada hujamannya yang begitu kejam.

Plokkk... Plokkk... Plokkk... !!!

“Aaahhh paakkkkk jangaannnnn” Jerit Syifa saat pak Prapto kembali meremas payudaranya dengan kuat.

Pak Prapto puas saat melihat keadaan Syifa yang tak berdaya dari atas. Entah kenapa ia jadi menyukai gaya missionaris ini. Dari sini ia dapat melihat sisi bagian depan yang begitu indah. Tapi sayang karena Syifa masih berpakaian. Andai saja Syifa sudah telanjang pasti akan membuatnya lebih indah lagi. Pak Prapto pun tersenyum setelah kepikiran gaya lain.

“Uuuhhhh paaakkkkkk” Jerit Syifa saat pak Prapto tiba-tiba mementokkan penisnya hingga ujung gundulnya mengenai dinding rahimnya.

“Ayo bangun ustadzahh... Kita ganti gaya” ucap pak Prapto dengan segera setelah mencabut penisnya keluar. Ia pun menarik lengan Syifa yang kelelahan hingga membuatnya terduduk di depannya. Pak Prapto tanpa izin menurunkan resleting gamisnya. Syifa tak bisa menolak karena tubuhnya tidak bisa bergerak. Dengan paksa, Pak Prapto pun menurunkan gamisnya hingga tubuh beningnya mulai terlihat di depan matanya.

“Pakkk jangann pakk tollonnggg... Jangan lakukan ini pakkk... Aku gak bersalah... Ini bukan sepenuhnya salahku pakkk” Ucap Syifa sambil menatap pejantan tua itu.

“Saya gak peduli... Sikapmu tadi membuat hati saya sakit... Saya gak mau ustadzah Hanna terluka andai melihat apa yang saya lihat tadi” Ucap pak Prapto sambil menarik lepas kait bra Syifa secara paksa.

“Aaaahhhhhhh” jerit Syifa saat tali bra itu menjepret kulitnya.

Akhirnya buah dada Syifa yang ranum itu terlihat. Pak Prapto yang sudah seperti kesurupan itu menjilati bibirnya yang kering. Ia semakin ngiler. Ia jadi ingin menghukum bidadari cantik itu lagi menggunakan penisnya.

“Ayo ustadzah... Naiki saya sekarang !” Perintah pak Prapto dengan kasar yang membuat Syifa ketakutan.

Pak Prapto pun berbaring di lantai. Syifa yang tidak memiliki pilihan akhirnya menaiki penis liar itu secara terpaksa. Ketika tubuhnya ia turunkan secara perlahan, penis kekar itu pelan-pelan mulai membelah masuk liang senggamanya. Syifa tak sadar memejam. Terasa gesekannya yang membuatnya menjerit kenikmatan tanpa sadar.

“Uuuuhhhhhhhh” desah Syifa merasakan nikmatnya.

Saat Syifa membuka kembali matanya. Mata mereka langsung bertemu. Syifa tampak membenci pria tua yang selalu menuduhnya itu. Ia sangat kesal. Rasanya ia ingin menamparnya untuk membalas semua perbuatan yang sudah pria tua itu lakukan padanya. Namun teriakan pak Prapto kemudian menyadarkannya. Ia pun diminta bergoyang diatasnya. Syifa pun lagi-lagi menurutinya meski ia tak mau melakukannya.

“Ayo cepat bergoyang ustadzah !” Pinta pak Prapto.

“Iyyahh pakk... Mmpphhhh”

Dengan terpaksa, Syifa mulai naik turun diatas pangkuan pria tua itu. Wajah Syifa dengan penuh kebencian menatap wajah pria tua itu. Namun pak Prapto seolah tak peduli karena sebenarnya dirinya sangat menikmati pergerakan payudara Syifa yang bergondal-gandul dihadpan matanya.

“Ayooo ustadzaahhh... Goyangg teruss... Goyang yang cepatttt... Lakukan hukumanmu dengan segera” Ucapnya sambil memegangi pinggul Syifa agar tidak terjatuh.

Ustadzah berkacamata yang tinggal mengenakan hijab beserta gamisnya yang itupun sudah jatuh di perut ratanya tampak tak peduli. Tapi ia tetap menuruti dengan mempercepat goyangannya. Meski ia melakukannya secara terpaksa, ia diam-diam menikmati penisnya yang begitu menggesek dinding vaginanya. Ia pun heran kenapa dirinya bisa keenakan ketika sedang diperkosa olehnya. Untuk menutupi rasa nikmatnya, ia pun memejam dan mempercayakan pegangan pak Prapto agar dirinya tidak terjatuh saat naik turun diatas tubuhnya itu.

“Aaahhh... Aahhhh... Aaahhhhh” desah Syifa tanpa sadar akibat menikmati penisnya.

“Aaahhhhh... Aahhhh... Nikmat sekali ustadzah goyanganmu... Ayo yang kencang... Goyang lebih kencang lagiiii” Ucap pak Prapto keenakan.

“Aahhhh diammm... Diammm pakk... Jangan menyuruhku menuruti perkataan bapak !” Ucap Syifa terlihat kesal yang hanya dibalas tawa saja oleh pak Prapto.

“Hehehe coba akui... Ustadzah menikmatinya bukan ? Daripada dengan ustadz Angga, lebih baik ustadzah dengan saya saja agar ustadzah tidak mengganggu hubungan mereka berdua” Ucap pak Prapto tersenyum menikmati goyangan Syifa.

“Aku ? Menikmati ? Gak usah bercanda yah pak... Mana mungkin akuuu... Aaahhhhh... Aaahhhhh” desah Syifa terkejut saat pinggul pak Prapto ikut bergerak hingga membuatnya meloncat-loncat diatas pak Prapto.

“Hehehe dasar munafik ! Percuma berhijab tapi munafik... Akui saja... Itu tidak akan menurunkan statusmu sebagai ustadzah kok !” Ucap pak Prapto jadi semakin bernafsu saat menggerakan pinggulnya itu.

“Aaahhhh enggaakk... Enggakk paakk... Aahhh pellannn... Pellaannn” desah Syifa jadi kesulitan saat pinggul pak Prapto bergerak liar.

“Ouuhhh nikmatnyaaa... Ouhhh nikmat sekaliii memekmu ustadzah” Ucap pak Prapto bernafsu.

Pergerakan pinggulnya yang kuat membuat tubuh Syifa meloncat-loncat. Payudara Syifa yang terbuka juga ikut meloncat-loncat. Pak Prapto kagum pada kemulusan kulit ustadzahnya itu. Ia terpukau oleh pertunjukan buah dadanya. Ia pun mempercepat hujamannya. Terasa gesekannya yang membuat matanya tak sanggup untuk membuka. Mulutnya pun membuka. Desahan demi desahan ia keluarkan untuk menikmati keindahan di hadapannya.

Syifa yang terdiam hanya bisa pasrah saat pergerakan pinggul pak Prapto semakin cepat. Kedua tangannya sampai mengepal. Kedua tangannya ia taruh di sisi kanan kiri tubuhnya. Matanya memejam. Kepalanya ia tegakkan ke arah langit-langit kantor bagiannya. Sungguh, hujaman pak Prapto benar-benar menggetarkan birahinya. Syifa terpuaskan. Diam-diam dirinya sangat menikmati sodokannya.

“Uuuhhhhhhhh... Ayo ustadzah... Gerak sendiri... Gerak seperti tadi” Ucap pak Prapto yang tiba-tiba menghentikan hujamannya yang membuat Syifa mau tak mau menggerakan pinggulnya sendiri.

“Mmpphhh... Mmpphhh...” Ucap Syifa yang masih tak mau mengakui kenikmatan itu menggunakan lisannya.

Meski pinggulnya telah bergoyang. Meski kedua tangannya telah ia taruh di perut keriput pria tua itu. Syifa tak mau mengakui kenikmatan yang ia dapatkan. Wajahnya bahkan ia palingkan agar tidak menatap wajah jelek jongos tua itu. Alih-alih menatap wajah tua itu. Ia malah membayangkan wajah Angga. Ia membayangkan kalau dirinya tengah menunggangi penis Angga. Akibatnya ia semain menikmati tusukannya. Tanpa sadar ia bergoyang semakin nikmat yang membuat pak Prapto tertawa puas.

Ouhhh ustaaadzz... Uhhhh gede banget kontol antum... Uuhhhh rasanya enak banget ngegoyang kontol segede ini ustaaadzzz....

Batin Syifa membayangkan penis Angga.

“Aahhhhhh nikmatnyaaa... Nikmat sekali ustadzaahhh... Goyanganmu hebat sekali... Ayoo goyangg lagiii... Goyang lebih kuat lagi” Ucap pak Prapto yang seketika mengacaukan bayangan Syifa.

Aaahhhh ustaadzzz... Jangan bersuara ustaadzz... Antum cukup diam aja... Aahhhh iyahh seperti ini... Ouhhh nikmat banget ustaadzz... Nikmat banget kontol antum...

Batin Syifa bergoyang nikmat.

“Aaahhhh... Aaahhhh... Aaaahhhhh” Desah Syifa tanpa sadar yang membuat pak Prapto tersenyum puas.

Lama kelamaan desahan yang Syifa keluarkan semakin terdengar keras saja. Bidadari cantik yang sudah setengah telanjang itu semakin menikmati goyangannya. Ia tanpa sadar tengah menikmati pemerkosaannya. Seketika tanpa disadari olehnya, ia menggunakan seluruh energinya untuk bergoyang diatas tubuh pemerkosanya.

“Aaaahhh... Aaahhhhhhh paakkkk” Desah Syifa tanpa disadarinya.

“Hehehhehe ayoo goyangg terusss... Goyang yang asyik ustadzaaahhh” ucap pak Prapto menyemangatinya.

Dikala tubuh Syifa memanas. Dikala tubuhnya semakin bergairah. Ia pun mengangkat tubuhnya hingga nyaris membuat ujung gundul itu terlepas dari bibir vaginanya. Saat ujung gundul itu menggelitiki dinding vaginanya. Syifa menjerit nikmat merasakan kegelian disana.

“Uuuuhhhhhhh”

Lalu tanpa disadarinya, ia membenamkan tubuhnya sedalam-dalamnya hingga dinding rahimnya tersundul oleh ujung gundul tukang sapu itu.

Jleeebbbbbb !!!

“Aaaahhhhhhhhh” Jerit Syifa dengan manja.

Ia mendesah sepuas-puasnya hingga membuatnya ketagihan. Ia kembali mengangkat tubuhnya lalu membenamkannya lagi. Bahkan terkadang ketika tubuhnya sudah ia turunkan, pinggulnya malah bergoyang memutar yang membuat pria tua dibawahnya merem melek keenakan.

“Aaahhh nikmat sekaalliii... Nikmat sekali rasanyaaa ustadzaaahhh” Ucap pak Prapto dengan puas.

Syifa tak memperdulikan ucapan tukang sapu itu. Rasa nikmat yang telah menjalar seluruh tubuhnya membuatnya tak peduli lagi dengan siapa ia bercinta asalkan bisa mendapatkan kepuasan darinya. Saat matanya ia buka, ia melihat wajah tua itu tertawa menatapnya. Ia pun kembali memejam sambil merasa kesal pada diri sendiri.

Aaahhhh... Aahhhh... Kenapa aku malah menikmati semua ini ? Kurang ajar kamu pak... Kurang ajar bapak sudah menodai tubuhku seperti ini...

Batin Syifa kesal.

Hampir tujuh menit Syifa bergoyang diatas pangkuan pak Prapto. Ia pun tak kuat lagi. Ia merasakan tanda-tanda kalau dirinya akan segera keluar sebentar lagi. Akibatnya ia bergoyang semakin liar. Goyangannya itu membuat pak Prapto harus mendekap pinggulnya agar tidak terjatuh saat bergoyang diatasnya.

“Aaahhh... Aahhh... Aahhhh... Akuuu kelluuaarrr” desah Syifa sambil membenamkan tubuhnya ke selangkangan pak Prapto hingga penis tua itu semakin menyundul rahim kehangatannya.

“Ouhhh yaahhhh... Keluarkan ustadzaaahhh !!!”

Ccrrtt... Ccrrtt... Ccrrtt...

Tubuh Syifa seketika ambruk menindihi tubuh pemerkosanya. Bahkan Syifa sampai kelojotan. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat merasakan orgasmenya bersama pemerkosa yang sudah menodai tubuhnya.

“Hehehehe keenakan rupanya... Ayo bangun... Gak ada waktu buatmu untuk beristirahat, ustadzah... Ingat, dirimu sedang dihukum... Kurang baik apa coba saya ? Mana ada orang yang dihukum malah dapet enaknya kayak gini” Ucap pak Prapto sambil memberdirikan tubuh Syifa setelah menarik lepas penisnya keluar.

“Pakk tungguu pakk... Aku capeekk... Hah... Hah... Hah” Ucap Syifa ngos-ngosan.

“Capek ? Itu urusanmu... Cepat berdiri” Ucap Pak Prapto yang mau tak mau harus dituruti oleh Syifa.

Dengan kaki sempoyongan ia mencoba berdiri. Syifa terlihat berantakan hingga pak Prapto membantu memperbaiki penampilannya dengan melepas gamis yang masih menyangkut di tubuhnya. Dalam sekejap Syifa pun sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab syar’i nya beserta kacamatanya.

Syifa yang kelelahan dibawa oleh pak Prapto ke depan meja kerjanya. Syifa pun ambruk diatas meja kerjanya itu dalam posisi dada terhimpit mejanya. Kedua kakinya masih menginjak lantai. Bokongnya yang mencuat itu membuat pak Prapto terpikirkan ide lain.

Hehehehe kemarin pas saya menggenjoti ustadzah Hanna, ada yang belum bisa saya lakukan kepadanya... Duhhh kalau ngeliat kayak gini jadi pengen jebolin itunya lagi deh... Oke deh... Masukin ke anusnya gapapa kali yah... Anggap aja itu hukuman dari saya !

Batin pak Prapto yang langsung mengarahkan penisnya ke arah anus sempitnya.

“Paakkkkkk” Ucap Syifa yang langsung bangkit menoleh ke belakang.

“Ada apa ustadzah ? Ustadzah istirahat aja... Saya mau jebol anusmu lagi” Ucap pak Prapto terang-terangan yang membuat Syifa ketakutan.

“Paakkk toloonggg jangan disana... Jangannn masuk ke situ lagi paakkk...” Pinta Syifa penuh harap.

“Lohhh kok nawar ? Ingat ! Ini hukuman dari saya ustadzah... Ustadzah harus menerimanya entah itu suka atau terpaksa... Hennkgghhh !!!” Ucap pak Prapto yang langsung menghentakkan pinggulnya hingga penis itu langsung ambles membelah dubur ustadzah cantik itu.

“Aaaaahhh pakkk sempittt... Gak muatt pakk... Jangann lagiii” Jerit Syifa saat tangannya bertumpu pada meja kerjanya. Kedua payudaranya yang besar itu menggantung indah. Kedua kakinya jadi merenggang terbuka merasakan perih di lubang kotorannya. Kedua tangan Syifa sampai meremas berkas yang ada di meja kerjanya karena tak kuat.

Namun pak Prapto tak peduli. Ia malah terus mendorong pinggulnya hingga penisnya itu semakin masuk ke dalam lubang duburnya.

“Paaakkk gakk muaatt... Jangann dipaksa paakk... Aaahhhhh” Jerit Syifa kesakitan.

“Omong kosong ustadzaahh... Dulu aja sama pak Udin juga muat... Ustadzah lupa yah ?” Ucap pak Prapto yang membuat Syifa tanpa sadar teringat momen itu lagi. Syifa jadi sedih. Ia tidak mau anusnya ternodai oleh sperma lagi. Ia masih ingat betul gara-gara itu ia jadi kesulitan untuk buang air besar. Ia pun menoleh ke belakang dengan tatapan memelas. Ia berharap agar pak Prapto mengampuninya. Tapi sayangnya perbuatannya itu malah membuat pak Prapto jadi semakin bernafsu.

“Diikkittt lagiii.... Iyyyaaahhhhhh !!!” Desah pak Prapto saat menancapkan keseluruhan penisnya di dalam dubur ustadzahnya.

“Aaaahhhh bapaaaakkkkk” desah Syifa hingga payudaranya bergetar merasakan tusukan penuh tenaga dari pria tua itu.

Dalam posisi berdiri membelakangi. Tubuh Syifa terdorong maju mundur saat pinggul pak Prapto bergerak mengoyak dubur ustadzah berkulit bening itu. Syifa kesakitan hingga membuatnya harus menggigit bibir bawahnya. Gesekan yang ia terima di dinding duburnya benar-benar terasa. Meski penis pak Prapto sudah basah gara-gara tersirami cairan cinta Syifa. Penis itu masih kesulitan hingga membuat gesekannya itu terasa seret-seret nikmat. Terkadang kulit bagian dalamnya sampai terbawa keluar saat pak Prapto menarik pinggulnya. Saat pinggulnya ia dorongkan terasa ujung gundulnya hangat mengenai titik terdalam dari dubur ustadzah cantik itu. Pak Prapto benar-benar puas. Ia tersenyum sambil memegangi pinggulnya menikmati kemulusan yang dimiliki oleh kulitnya.

“Ouuhhhh seret banget anusmu ustadzaahh... Uhhhhhh sempitnya anusmu ini... Memang gak salah pak Udin nih ngajarin saya main belakang... Ternyata main di belakang rasanya lebih nikmat hehehe” tawa pak Prapto puas.

“Aaahhh pakk... Aahhhh cukuuppp... Cukkuuppp pakk... Aahhhh” desah Syifa memohon.

“Ennak aja cukup... Mentang-mentang dah dapet enaknya malah minta udahan... Giliran saya dong sekarang untuk dapat enaknya” Ucap pak Prapto protes.

“Taappiii pakkk... Inii... Iniiiiiiiiiiii... Aaahhhhhh” desah Syifa terus bergoyang maju mundur hingga membuat payudaranya bergondal-gandul.

Syifa terhentak maju mundur dengan cepat. Tubuh polosnya sudah terhidang seluruhnya dihadapan pemerkosanya. Ditatapnya punggung mulus Syifa oleh tukang sapu itu. Tangannya yang tadi mendekap pinggulnya bergerak naik untuk mengusapi kemulusannya itu.

Pak Prapto takjub saat merasakan betapa mulusnya kulit bening itu. Ia tak percaya dirinya bisa menikmati keindahan seluarbiasa ini. Pak Prapto tersenyum. Ia jadi mempercepat hujamannya itu. Terkadang ia menancapkan penisnya sedalam-dalamnya. Terkadang ia hanya membiarkan ujung gundulnya saja yang berada di dalam. Yang jelas tangannya jadi ingin berkeliaran bebas. Terutama untuk mengusapi kemulusan kulitnya. Tangannya berulang kali naik mengusapi punggung bagian atasnya hingga sampai ke lehernya. Lalu usapannya turun hingga sampai dipinggulnya. Saat tiba di bokongnya, ia langsung menamparnya karena saking gemasnya. Syifa sampai mendesah manja. Pak Prapto jadi semakin gemas hingga mencengkramnya dengan kuat.

“Aaahhh paaakkkkk”

Usapannya pun berpindah ke arah depan untuk membelai perut ratanya. Usapannya semakin naik untuk membelai payudaranya yang begitu bulat sempurna. Memang bentuk payudara seorang ustadzah gak ada duanya. Gak Hanna gak Syifa dua-duanya mempunyai bentuk yang memanjakan mata. Belum lagi dengan ukurannya yang luar biasa. Belum lagi dengan kekenyalannya yang tidak ada duanya. Pak Prapto jadi gemas ingin meremasnya. Ia meremasnya dengan penuh tenaga yang membuat pemiliknya mendesah keenakan.

“Aaaaaahhhhhhhhh”

Maju mundur maju mundur maju mundur. Pak Prapto terus menggenjotnya hingga membuat ustadzah berkulit bening itu tak kuasa menahannya saat digempur. Rasa sempit yang dirasakan penisnya. Jepitan manja yang dirasakan oleh penisnya. Juga kemulusan yang dirasakan oleh tangannya. Pak Prapto jadi tidak kuat lagi. Ia ingin menyudahi hukumannya. Penisnya di dalam semakin berdenyut cepat. Pak Prapto tersenyum merasakan kenikmatan yang luar biasa ini.

“Aaahhhh... Aahhhh... Akhirnyaa... Akhirnyaaa” desah pak Prapto tak kuat lagi.

“Paakkk... Paakkk jangann di dalemm tolongg... Jangann dikeluarin di dalemmm” Pinta Syifa.

“Lohhh terserah saya... Lagian bukan di memekmu kok !” Ucap pak Prapto tak peduli.

“Tapii pakkk... Tapiiii... Aahhhh... Aahhhhh... Aaaahhhh” desah Syifa merasakan keperkasaan pejantannya.

“Aahhhh... Aahhhh... Iyyahhh... Nikmat bangettt... Rassaakann iniiii... Rasakaannn keperkasaan saya ini... Heennkgghhhh !!!” desah pak Prapto saat menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di anus ustadzah berkacamata itu.

Crrootttt... Crroottt... Crrooottt....

Pak Prapto memejamkan mata saat meluapkan seluruh fantasinya setelah memperkosa ustadzah berkulit bening itu. Tubuhnya sampai mengejang hingga terlonjak-lonjak merasakan sisa orgasmenya.

“Uuuuhhhh bapaaakkkkk” desah Syifa merasakan anusnya dipenuhi oleh sperma tukang sapu itu.

Syifa yang lemas akhirnya ambruk diatas meja kerjanya itu. Tubuhnya telah dipenuhi oleh keringat. Nafasnya pun sungguh berat. Kedua kakinya melemah setelah diperkosa habis-habisan oleh tukang sapu berwajah jelek itu.

“Uuuhhhh legaaanyaaaa” desah pak Prapto saat menarik lepas penisnya dan melihat anus ustadzah itu dipenuhi oleh spermanya. Bahkan spermanya sampai mengalir keluar melewati bibir vagina Syifa kemudian mengalir jatuh melewati paha bagian dalamnya.

Pak Prapto terengah-engah. Meski ia merasa puas. Ia merasa keheranan kenapa dirinya bisa senafsu ini.

Maaf ustadzaahh... Saya melakukan semua ini demi ustadzah Hanna... Harap ustadzah mengerti jadi jangan dekati ustadz Angga lagi !

Batin pak Prapto sambil memandangi tubuh polos Syifa yang sudah ternoda.

Syifa yang sedang kelelahan dalam posisi menungging diatas meja kerjanya hanya bisa merem melek tak percaya. Lagi dirinya kembali dinodai oleh tukang sapu itu lagi. Lagi ia dihukum gara-gara kesalahpahaman lagi. Padahal ini semua bukan salahnya. Ia ingat betul kalau ustadz Angga lah yang tiba-tiba mengecupnya. Tapi kenapa dirinya yang harus menanggung akibatnya sendirian ?

Plaaaakkkkk...

“Aaahhhhh” Jerit Syifa saat bokongnya ditampar.

“Ingat baik-baik ustadzah... Jangan kecewakan ustadzah Hanna lagi !” Ucap pak Prapto yang langsung bergegas pergi meninggalkan Syifa sendiri.

Syifa hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya. Kenapa bisa ada orang setega ini padanya ? Seketika ia terpikirkan ustadzah Hanna. Ia merasa kalau Hanna lah yang telah membuat tukang sapu itu salah paham kepadanya.

Entah kenapa ia jadi membencinya. Tanpa sadar tukang sapu itu telah menuang api kebencian kepada ustadzah yang sangat diidolakannya itu. Syifa membayangkan Hanna. Ia jadi ingin membalas dendam kepadanya.


*-*-*-*


Keesokan harinya ketika mentari baru saja muncul menerangi bumi.

Suasananya masih agak gelap saat itu. Hawa dingin juga masih menguasai pesantren saat itu. Kesunyian juga, apalagi setelah pesantren semakin sepi setelah ditinggali oleh para santri. Tidak seperti biasanya ketika hari biasanya. Disaat pesantren belum libur dimana masih banyak santri yang memenuhi pondok pesantren ini. Tapi saat ini, pesantren semakin sepi hanya ditinggali oleh beberapa ustadzah serta beberapa santri kelas lima yang dipaksa untuk bermukim demi menjaga pondok pesantren ini.

Begitulah keadaan yang terjadi di masa liburan. Terlihat beberapa santri kelas lima yang sebentar lagi akan naik kelas menjadi santri tingkat akhir tengah bekerja membersihkan pesantren dari daun-daun yang jatuh berguguran. Beberapa ada yang memegangi sapu lidi, beberapa ada yang memegangi cikrak dan beberapa ada yang langsung menggunakan tangan untuk mengambil sampah-sampah yang berserakan di jalanan.

Seketika terdengar suara pintu terbuka dari arah kanan. Santri-santri itu langsung menoleh untuk melihat ke arah sumber suara tersebut.

“Akhy... Sini” Ucap suara lembut yang memanggil mereka.

Naam ustadzah” ucap santri-santri itu langsung bergegas ke arahnya.

“Ini ada sedikit rezeki untuk kalian... Silahkan, mumpung masih anget” Ucap ustadzah cantik itu sambil tersenyum saat memberikan gorengan yang baru dimasaknya untuk mereka.

“Wahhh beneran ustadzah ? Syukron” jawab santri-santri itu berebutan untuk mengambil gorengan bakwan serta tempe yang dimasak olehnya.

“Ehhh satu-satu akhy... Semua bakal dapet kok” ucap ustadzah cantik itu tersenyum melihat semangat mereka.

Naam ustadzah” ucap santri-santri itu tersenyum saat mengambil gorengan darinya.

Ustadzah cantik itu tersenyum melihat wajah-wajah mereka yang kelaparan. Ia tertawa. Ia pun membuka mulutnya untuk berbicara kepada mereka.

“Hihihihihi kalian ini pada kelaperan yah ? Makannya kok rakus banget sih ?” Ucapnya sambil duduk di teras rumahnya.

“Hehe naam ustadzah... Ana laper banget... Maklum masih pagi, jadi perut belum ada yang ngisi” ucap salah seorang santri menjawabnya.

Naam ustadzah... Sama kayak hati, belum juga ada yang ngisi” ucap santri lainnya yang membuat mereka semua tertawa termasuk ustadzahnya.

“Hihihhi dasar... Masih santri gak boleh mikirin isi hati dulu... Belajar yang rajin yah biar nanti bisa jadi suami yang baik” Ucap ustadzah cantik itu memotivasi.

“Aduhh ustadzaahh... Dengerin antum ngomongin suami, ana malah jadi kebayang kalau ana yang jadi suami antum” ucap salah seorang santri itu mupeng. Sontak santri itu langsung disoraki oleh santri lainnya yang hanya membuat ustadzahnya tertawa.

“Heehhh dasar... Gak sopan tau ngomong begituan... Maafin dia yah ustadzah” ucap salah seorang santri mewakili.

“Hihihih dasar... Iyya gapapa kok... Gapapa” jawabnya tersenyum.

“Ehhh gapapa nih ? Gapapa kalau nanti ana jadi suami antum” ucap santri lainnya yang kembali membuat ustadzahnya tertawa.

“Enak aja ya enggak lah yah... Yyeeee” ucap ustadzah itu bercanda sambil menjulurkan lidah.

Sontak santri-santri lainnya tertawa sambil mengagumi kecantikannya juga keramahannya. Ustadzah tercantik yang sudah dikenal oleh seluruh warga pondok pesantren itu sudah membuat hati santri-santrinya berbunga-bunga. Bagaimana tidak ? Padahal keadaan masih pagi. Tapi ia masih menyempatkan diri untuk membuat gorengan serta menemani santri-santrinya ditengah waktu sibuknya. Tak jarang ustadzah itu juga bercerita yang membuat semua santrinya termotivasi untuk menjadi laki-laki yang baik. Tapi tak jarang juga ada beberapa santri yang malah terfokus pada wajahnya sehingga tidak mendengarkan ceritanya. Beberapa malah ada yang terfokus pada dadanya yang kebetulan agak menonjol di pagi hari ini.

“Duhhh makasih banget yah ustadzah... Udah dikasih motivasi pagi nih sama antum” ucap salah seorang santri.

Naam akhy... Sama-sama” jawabnya dengan ramah.

“Gara-gara dengerin cerita antum... Ana jadi bersemangat deh buat bisa jadi laki-laki yang baik... Syukron yah ustadzah” ucap santri lainnya yang membuat ustadzahnya tersenyum.

Naam... Silahkan dilanjut lagi pekerjaannya... Perut udah kenyang kan ? Harusnya jadi lebih bersemangat dong buat bersih-bersihnya” Ucapnya tersenyum yang membuat hati santri-santrinya luluh.

Satu demi satu santrinya pun pergi setelah mengucapkan salam kepadanya. Namun ada salah satu santri yang tiba-tiba menghampiri untuk menjulurkan tangan kepadanya. Sontak ustadzah tercantik itu kebingungan. Untungnya ada santri lainnya yang datang untuk menegur temannya.

“Enak aja mau salaman... Bukan muhrim, gak boleh” ucap santri itu yang membuat ustadzahnya tertawa.

“Ya gapapa kali... Kan cuma salaman, iya gak ustadzah ?” Ucap santri itu kekeh ingin menyalami ustadzahnya.

“Hihhihi dasar... Yaudah sekali-kali gapapa deh” Ucapnya sambil menjabat tangan santrinya yang membuat santri itu mupeng langsung mencium punggung tangannya. Sontak ia merinding saat punggung tangannya dicium oleh santrinya.

“Ehhh liat deh... Liat deh... Si Adi bisa salim ke ustadzah Haura... Ayo ikut salim yuk” ucap santri lainnya yang langsung membuat barisan ke belakang.

“Hihihihi dasar kalian... Baris yang rapih yah... Jangan berebut” ucap Haura yang akhirnya mau tak mau membiarkan santri-santrinya menyalami tangannya juga mencium punggung tangannya.

Haura dengan ramah melayani kemauan mereka. Berulang kali ia juga melempar senyum kepada setiap santri yang tersenyum saat menatapnya. Saat semua santri itu menyalami tangannya, mereka semua pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

“Hihihi dasar... Pada semangat banget sih salim ke ustadzahnya” Ucap Haura sambil mengambil kembali piring beserta nampan yang ia bawa ke dalam rumahnya.

Begitulah salah satu kesibukan yang ia alami selama masa liburan. Ia merasa senang setelah bisa bercerita sekaligus menyenangkan hati santri-santrinya. Ia yang saat itu mengenakan gamis santai bermotif bunga serta hijab berwarna coklat yang menutupi dadanya tengah berjalan menuju wastafel rumahnya untuk menaruh piring yang sedang dibawanya. Namun, baru saja ia menaruh piring di wastafel rumahnya. Ia mendengar suara ketukan pintu dari depan rumahnya.

“Iyya sebentar” Ucapnya buru-buru sambil membenarkan hijabnya yang agak berantakan.

Sesampainya di pintu masuk, ia buru-buru membukanya untuk mencari tahu siapa tamu yang pagi-pagi sudah datang ke rumahnya. Saat pintu terbuka, ia terkejut. Ia tak menduga kalau tamu yang datang ke rumahnya adalah pria tua kekar yang saat itu cuma mengenakan celana kolor serta kaus oblong saja.

“Eh pak Karjo... Ada apa pak kok pagi-pagi udah kesini ?” tanya Haura dengan ramah.

“Kekekekek selamat pagi ustadzah” Jawabnya sambil menjulurkan tangannya yang membuat Haura tersenyum paham.

Dengan sopan Haura menjabat tangan kekarnya lalu mencium punggung tangannya dengan penuh mesra. Pak Karjo pun tersenyum melihatnya. Rasanya sudah seperti seorang suami yang baru pulang kerja saja lalu disambut istri cantik yang menghiburnya dengan memberikan salim kepadanya.

“Kekekekek gitu dong... Baru ustadzah yang sholehot” Puji pak Karjo yang membuat Haura tersenyum malu.

“Apa sih pak sholehot, sholehot... Sholehah kali” ucap Haura malu-malu yang membuat Karjo semakin gemas.

“Kekekekek sholehah itu apa ? Saya taunya sholehot ustadzah... Sholehot itu ustadzah alim yang setia mengangkang untuk memuasi pejantannya... Mirip ustadzah banget kan ?” Puji pak Karjo sambil menatap wajah Haura yang menurutnya sangat bernafsu sekali.

“Hihihihi ada-ada aja... Lagian kan itu ajaran bapak... Sebagai seorang ustadzah pemuas... Aku harus nurut dong ke bapak” Ucap Haura malu-malu yang membuat Karjo tertawa puas.

“Kekekekekek betul sekali ustadzah... Oh yah... Suamimu lagi di rumah ?” tanya Karjo langsung masuk kemudian telingak-telinguk ke dalam.

“Enggak pak... Suami aku lagi pergi... Lagi lari pagi aja sih” ucap Haura terkejut ketika tiba-tiba pinggangnya sudah didekap oleh pria kekar yang ada di hadapannya.

“Kebetulan... Saya jadi bisa berduaan lagi denganmu sayang” Ucap Karjo sambil menatap mata indahnya yang membuat ustadzah tercantik itu tersipu.

“Hihihi dasar... Masih pagi pak... Jangan nakal” ucap Haura membiarkan tubuhnya yang sudah menempel pada dada pejantannya itu di dekap oleh tangan kekarnya.

“Nakal ? Apakah perbuatan saya selama ini termasuk nakal menurut ustadzah ?” Tanyanya sambil memandangi kecantikan wajahnya.

“Nakal dong... Masa iya tiap hari bapak selalu menggenjot aku ?” Ucap Haura memberanikan diri menatap wajah pejantannya.

“Kekekekek bukannya itu tugas saya ? Untuk memuasimu ? Kenapa itu masih tergolong nakal menurut ustadzah ?” Ucap Karjo yang membuat Haura tersenyum malu-malu.

“Habis bapak melakukannya dibelakang suamiku sih... Tanpa sepengetahuan suamiku... Jelas dong bapak itu nakal menurut aku” Ucap Haura berdebar ketika wajahnya sudah sedekat ini dengan wajah pejantannya.

“Ooohh begitu... Kalau saya melakukannya di depan suamimu gimana ? Itu gak termasuk nakal lagi kan ?” Tanya Karjo yang membuat Haura tertawa.

“Hihihihi jangan lah pak... Nanti aku dimarahin... Mending sembunyi-sembunyi aja... Asalkan bisa sama-sama puas” ucap Haura yang kali ini membuat Karjo tertawa bangga.

“Kekekekekek betul itu sayanggg... Pinter ah sekarang yah... Udah paham apa yang selama ini saya ajarkan ke ustadzah” ucap Karjo sambil menaikan belaiannya menuju dada ranumnya.

“Mmppphhh... Siapa dulu dong ? Pemuasnya siapa duluuu ?” ucap Haura agak sedikit mendesah saat merasakan remasan tangan Karjo di dadanya.

“Kekekekek pemuas saya pastinya... Karjo sang penakluk” Ucap Karjo dengan gemas yang langsung mengulum bibirnya.

“Mmpphhh... Mmpphhh betul pakk... Hihihihi” tawa Haura malu-malu saat dicumbu oleh pejantannya.

“Bagaimana kabarmu pagi ini ustadzah ? Apa ustadzah butuh bantuan saya ? Mmmpphhh” tanya Karjo terus mencumbu.

“Mmpphhh pasti pakkk... Aku selalu butuh bantuan bapaakk... Mmmpphhh... Bapak tiap hari harus menemuiku untuk membantuku melepaskan gairah birahiku pak... Mmpphhh” desah Haura yang membuat Karjo tertawa.

“Kekekekek harus tiap hari kah ? Jadi ustadzah sendiri sekarang yang minta untuk dipuasi setiap hari yah ?” tanya Karjo sambil melepas cumbuannya.

Haura yang malu-malu hanya menatap wajahnya kemudian menganggukkan kepalanya setuju. Ia pun dengan menja menggantungkan lengannya di sisi belakang leher kuli tuanya. Ia ingin bermanja-manja padanya. Ia ingin menikmati keperkasaan pejantannya yang tak bisa ia dapatkan dari suaminya.

“Kekekekekekek pilihan yang bijak sayanggg... Ayo duduk dulu... Ada yang ingin saya bicarakan denganmu ustadzah” ucap Karjo yang membuat Haura malu-malu melepaskan dekapannya pada leher pria tua itu.

“Iyya pak... Hihihih” ucap Haura sambil mengelap bibirnya yang basah terkena liur Karjo menggunakan sapu tangan yang ia ambil di sakunya.

Saat Haura berjalan di depan menuju ruang tamu yang berada di dalam rumahnya, Karjo berkali-kali memperhatikan lekuk indahnya dari belakang. Nampak keseksian tubuhnya. Nampak lekukannya yang membuat Karjo geleng-geleng kepala.

Beruntungnya saya bisa jadi pemuas nafsumu ustadzah... Kekekekek... Bodohnya suamimu tidak bisa memaksimalkan keindahanmu sehingga ustadzah selalu gagal untuk dipuasi oleh suamimu...

Batin Karjo tertawa puas karena dirinya bisa menikmati ustadzah tercantik sekaligus yang mempunyai lekukan terbaik.

Ah sepertinya lebih nafsuin ustadzah Haura deh daripada ustadzah Nada... Kekekekek ustadzah Haura emang gak ada duanya... Keindahan seperti ini yang mesti dibagi-bagi nih... Gak sabar saya untuk melihat kebinalanmu nanti....

Batinnya lagi sebelum mereka sampai di ruang tamu rumahnya.

“Jadi ada apa yah pak ? Oh yah, bapak mau minum apa ?” Tanya Haura ingin menyiapkan sesuatu untuk tamu istimewanya.

“Kekekekek tidak perlu... Saya hanya ingin mengobrol saja kok” jawab Karjo yang membuat Haura penasaran. Sepenting apa sih hingga membuat pak Karjo rela jauh-jauh datang dari rumahnya untuk memberi tahu kabar ini di waktu sepagi ini. Saat Haura melihat ke arah jam dindingnya. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul enam tepat. Langit juga sudah terang. Hawa dingin yang tadi menerjang perlahan mulai menghilang.

“Jadi, gimana pak ?” tanya Haura bersiap untuk mendengarkan.

“Kekekekek begini ustadzah, ingat gak apa yang kita bicarakan sewaktu di sore itu ?” Tanya Karjo.

“Sore itu ? Pas kapan yah ?” tanya Haura agak lupa.

“Kekekek sore itu... Pas ustadzah lagi puasa tapi malah ngentot sama saya” tawa Karjo yang membuat wajah Haura memerah malu.

“Ohhh iya hehe... Ada apa emangnya pak ?” tanya Haura lagi.

“Ustadzah kan menyebutkan kalau ustadzah pengen bercinta dengan kuli-kuli bangunan yang lainnya kan ?” tanya Karjo yang membuat Haura ingat.

“Eh iya pak... Hehehe terus ?” tanya Haura gugup.

“Saya sudah bertemu salah satu dari lima orang yang ustadzah sebutkan... Sore ini, silahkan datang ke gedung baru itu... Silahkan dia di test drive... Silahkan ustadzah coba mesinnya” Ucap Karjo yang membuat Haura terkejut.

“Ehhh bapak... Ini beneran ? Bapak beneran bilang ke salah satu dari mereka kalau aku mau bercinta dengan mereka ?” Tanya Haura gugup.

“Kekekekek tenang... Saya gak nyebut merek kok ustadzah... Saya cuma bilang kalau sore nanti saya meminta orang itu untuk tinggal sebentar karena saya akan memberikannya hadiah... Nah silahkan ustadzah datang untuk mengejutkannya... Saya sudah mengaturnya kok... Saya juga sudah menyesuaikannya... Kalau memang ustadzah kurang puas, ustadzah gak perlu khawatir karena identitas ustadzah tidak akan diketahui olehnya” Ucap Karjo yang membuat Haura penasaran.

“Ehh maksudnya ? Gimana caranya kalau nanti aku coba terus aku belum puas dan dia gak tau identitas aku ?” Tanya Haura penasaran.

“Kekekekek liat saja nanti ustadzah... Saya tunggu kebinalanmu sore ini” Ucap Karjo yang langsung berdiri hendak pergi.

“Ehhh bapak mau pergi ?” tanya Haura ikut berdiri

“Kekekek mau apa lagi ? Ustadzah mau pemanasan dulu sama saya ?” Tanya Karjo yang membuat jantung Haura berdebar.

“Eh bukan gitu pak... Emang dia pak siapa ? Aku penasaran ?” Tanya Haura.

“Itu rahasia sayang... Nanti ustadzah juga tau sendiri kok... Kekekekek yang penting siapkan dirimu yah... Siapkan nafsumu juga agar ustadzah bisa maksimal saat bercinta dengannya !” kata Karjo mewanti-wanti yang membuat Haura deg-degan membayangkannya.

Saat Karjo melangkah mendekati pintu keluar. Tiba-tiba ia terpikirkan ide yang membuatnya tersenyum.

“Oh yah ustadzah ? Ustadzah mau maksimal gak saat bercinta dengannya di sore ini ?” tanya Karjo yang membuat Haura penasaran.

“Emangnya gimana pak ?” Tanya Haura jadi terdiam di tempat saat Karjo kembali berbalik untuk mendekat ke arahnya.

“Kita pemanasan dulu... Kita panaskan mesin dulu agar di sore nanti dirimu bisa melesat jauh saat bermain dengannya... Gimana ?” tanya Karjo sambil mencengkram pipi mulusnya.

“Sekarang ? Disini ? Bapak mau ngentot ? Tapi kalau nanti suami aku pulang gimana ?” Tanya Haura khawatir.

“Tenang sayang... Kita akan melakukannya dengan segera... Saya janji... Saya akan ngecrot sebelum suamimu tiba di rumah” Ucap Karjo sambil membuka bajunya karena kepanasan. Dengan sekejap itu juga memelorotkan celananya hingga membuatnya bertelanjang bulat di rumah pemuas nafsunya.

Haura pun menenggak ludah saat kembali menatap tubuh telanjangnya. Tubuh kekar berwarna hitam itu membuat jantung Haura berdebar. Ia mengaguminya. Ia mengagumi tubuh kekar pejantannya.

“Ayo sayang... Sini....” Ucap Karjo sambil menarik lengan Haura mendekat.

“Iyyah pak” jawab Haura yang langsung mendekap pinggang kekar pak Karjo. Matanya pun melihat dari atas ke bawah. Matanya terpaku pada dada bidangnya juga perut kotak-kotaknya. Apalagi saat pandangannya teralihkan pada penis hitamnya. Haura terpana. Nafsunya pun perlahan bangkit akibat keindahan yang dimiliki oleh kuli tua itu.

“Ustadzah suka ?” Tanya Pak Karjo sambil menuntun tangan Haura ke arah penisnya.

“Suka banget pak... Aku suka banget tubuh indah bapak” pujinya yang langsung membelai penis hitam itu dengan lembut.

“Kekekekek beruntung sekali ustadzah... Saya suka rela menyerahkan tubuh saya untuk dirimu... Silahkan puasi dulu tubuh saya... Baru setelah itu saya akan menggenjotmu sekuat tenaga” Ucap Karjo yang membuat Haura bergidik ngeri.

“Mmpphhh iyyahhh pakk... Akan kulakukan” Ucap Haura yang langsung mendekatkan bibirnya untuk mengulum puting susunya. Tak lupa tangan kanannya juga membelai penis kekar itu dengan lembut. Sedangkan tangan kirinya mengusap perut kotak-kotaknya. Sungguh, ia tak bisa membiarkan keindahan itu dibiarkan begitu saja. Haura jadi bernafsu. Ia pun melayani tubuh kuli tua itu menggunakan seluruh nafsunya.

“Aaahhhh... Aaahhhh... Ayooo sayanggg... Kocok lebih kuat lagi... Kalau dielus-elus doang mana bisa kencang” Ucap Karjo yang membuat Haura menuruti.

“Mmmphhh iyaahh pakk... Maaff... Mmpphhhh” jawabnya disela-sela menyusunya di tubuh kuli tua itu.

Bibir Haura mencumbu puting susu itu. Bibirnya mengapitnya. Bibirnya menjepitnya. Terkadang lidahnya di dalam ikut beraksi dengan menggelitiki putingnya menggunakan sapuan lidahnya. Tangannya pun tak tinggal diam dengan mengocoki batang penisnya. Meski diameternya terlampau besar hingga membuatnya tak mampu untuk menggenggamnya secara maksimal. Ia berusaha terus untuk mengocoknya.

Batangnya yang berurat itu dikocoknya. Batangnya yang keras itu gerakannya maju mundur. Pemiliknya sampai memejam keenakan. Mulutnya sampai membuka saat dilayani oleh bidadari secantik Haura.

“Mmpphhh... Mmmpphhh” desah Haura saat berpindah ke puting satunya. Haura menjadi rakus saat membayangkan kalau yang ia cumbu itu merupakan puting yang dimiliki oleh kuli tua berbadan kekar berkulit hitam yang telah merangsang nafsunya. Akibatnya tangannya jadi semakin bersemangat. Ia bahkan membetotnya lalu mencengkramnya kuat-kuat yang membuat pemiliknya tertawa puas. Haura bahkan mempercepat kocokannya yang membuat pemiliknya merem melek keenakan. Saat puas menjilati keseluruhan putingnya. Haura langsung menjilati dada bidangnya menggunakan lidahnya. Tubuh kekarnya itu ia jilat. Perut kotak-kotaknya juga ia jilat. Bahkan jilatannya terus naik hingga ke leher gelapnya. Haura bahkan sampai berjinjit untuk dapat menjilati keseluruhan leher kuli tuanya. Karjo sampai bergidik. Tapi ia sangat puas pada pelayanan yang dilakukan oleh pemuas nafsunya.

“Kekekekek sampai merinding saya ustadzah” Ucap Karjo yang membuat Haura tertawa malu.

“Hihihih maaf” Ucap Haura malu-malu yang membuat Karjo tertawa gemas.

“Ayo ustadzah... Buka gamismu... Saya ingin melihat tubuh telanjangmu sebelum menggenjot dirimu sepuas-puasnya” Ucap Karjo bernafsu sambil mengocok penisnya yang semakin mengeras.

“Iyya pak... Ini” Ucap Haura sambil memelorotkan resleting gamisnya hingga gamisnya itu jatuh ke lantai. Ia juga sambil malu-malu melepas tali beha yang melingkar di dadanya. Lalu tak berselang lama kemudian. Ia menurunkan celana dalamnya hingga membuatnya bertelanjang bulat menyisakan hijab coklatnya saja.

Prrookk... Prrookk... Prrookkk !!!

Karjo sampai bertepuk tangan karena tidak tahu lagi kalimat apa yang harus ia ucapkan untuk memuji keindahannya. Haura hanya tersenyum malu. Ia hanya bisa berdiri diam hingga membuat pejantannya mendekat untuk memuasi dirinya.

“Ayo kita nikmati pagi yang indah ini, sayangg” ucap Karjo yang langsung mencumbui bibirnya sebagai hadiah karena memiliki tubuh indah yang bisa ia nikmati kapan saja.

“Iyya pakk... Mmpphhhh”

Karjo mengecupnya. Kedua tangannya memeluk tubuhnya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya. Dada Haura terhimpit. Penis kekar Karjo juga terjepit. Tubuh mereka mengapit untuk merasakan kehangatan mereka di ruang tamu yang sempit.

Bibir Karjo mendorong bibir Haura dengan penuh nafsu. Mata mereka sama-sama memejam untuk menikmati setiap momen yang mereka lakukan disini. Tangan Karjo bergerak untuk meremas bokong Haura yang bohay. Terasa kekenyalan disana. Terasa keempukan disana. Karjo jadi ingin terus mencumbunya. Bibirnya pun menghisap bibirnya untuk merasakan kepuasan disana.

“Mmppphhhhhhhh” desah mereka dengan penuh nafsu.

Setelah Karjo melepaskan cumbuannya. Ia langsung terengah-engah sambil menatap wajah indah pemuas nafsunya. Deru nafasnya yang hangat menerpa wajah sang kekasih. Haura tersenyum. Meski aroma nafasnya begitu busuk. Ia sangat nyaman saat berada di pelukannya. Ia pun membiarkan tubuhnya dipeluk oleh kuli tua itu. Tangannya bahkan bergerak ke bawah untuk membelai penis kekarnya.

Wajah mereka saling pandang tanpa mengucapkan apa-apa. Senyuman mereka saling tukar tanpa bisa berucap kata-kata. Karjo semakin menikmati keindahan yang ada pada wajah betinanya. Haura juga semakin menikmati kenyamanan yang diberikan oleh kuli tuanya. Haura tertawa. Ia tak sanggup menahan diri lagi karena terlalu bahagia. Ia pun heran, kenapa ia bisa sebahagia ini padahal dulunya laki-laki ini merupakan pemerkosanya yang selalu membuatnya lemas tak berdaya. Ia heran tapi juga senang. Ia merasa tenang selama bisa berada di dekat pejantannya yang memiliki tubuh kekar meski berwajah pas-pasan atau malah berwajah dibawah rata-rata.

“Bappaakkk” Ucap Haura karena ingin menyebut namanya.

“Ada apa sayangg ? Kekekekek” ucap Karjo yang membuat Haura tersipu malu.

“Gapapa pak hihihih” tawa Haura yang membuat Karjo gemas ingin segera menyetubuhinya.

“Kekekek ayo sayang... Nungging... Saya ingin menggenjotmu sekarang” ucap Karjo yang segera dituruti oleh Haura.

“Hmmm seperti ini pak ?” tanya Haura sambil menungging bertumpu pada dinding. Kedua kakinya direnggangkan hingga membuat vaginanya terlihat didepan pejantannya.

“Sempurna... Ini posisi yang paling saya suka” Ucap Karjo mendekat dengan penis tegaknya yang menjulang tinggi.

Haura jadi berdebar. Sebentar lagi dirinya akan disetubuhi olehnya. Haura menenggak ludah. Ia harus bersiap. Karena ia tahu, penis sebesar itu tidak akan bisa langsung masuk ke dalam lubang vaginanya yang sempit

“Mmmppphhhh” desah Haura saat pinggulnya didekap olehnya.

“Kekekekek... Terima lah tusukan maut saya ustadzah... Hennkgghhh !” Ucap Karjo yang langsung membenamkan penisnya ke dalam vagina Haura.

Jleeebbbb !!!

“Baaappaaaakkkkk !” Haura menjerit keras karena vaginanya yang masih sempit itu langsung dimasuki oleh penis Karjo dengan sekuat tenaga. Haura tak mengira kalau Karjo akan langsung membenamkannya. Nampak ¾ dari penis itu sudah ambles di dalam vaginanya. Haura langsung ngos-ngosan tapi seketika Karjo menariknya lagi yang membuat Haura merasakan ruang kosong di dalam vaginanya.

“Kekekekekek nikmatnya... Rasakan lagi ini ustadzah !!! Hennkgghhh !!!” Ucap Karjo yang langsung membenamkan penisnya lagi hingga ujung gundulnya menyundul rahim kehangatannya.

“Uuuhhhhh paaaakkkkkkk” Kali ini tubuh Haura sampai terdorong maju. Kekuatannya benar-benar luar biasa. Padahal baru dua tusukan saja tapi sudah membuat Haura lemas tak berdaya.

“Kekekekek masih belum ustadzaahhh” Ucap Karjo yang menarik penisnya keluar lagi. Haura yang kelelahan hanya bisa kesal karena Karjo sedari tadi tidak serius untuk menyetubuhi dirinya. Kuli tua itu malah memainkan nafsu birahinya. Alhasil Haura semakin terangsang. Ia pun melirik ke belakang untuk menatap tubuh kekarnya yang sudah telanjang.

“Cepat pakkk... Jangan dikeluarin lagii... Akuu mauuu digenjot pakk... Jangan dimainin gitu lagi ahhh” desah Haura dengan kesal.

“Kekekekekek kok protes ? Nikmati dulu ustadzah... Saya tau kok mana yang terbaik untuk memuaskan birahimu” Ucap Karjo yang kali ini malah menggesek-gesek ujung gundulnya di pintu masuk vaginanya. Karjo hanya menggeseknya tanpa memasukannya. Haura jadi geli. Ia jadi semakin kesal karena nafsunya semakin tidak tahan ingin ditusuk oleh penis sebesar itu.

“Paakkk... Paakkk... Aayyoo masukiinnn... Jangan dielus-elus aja paakkkk” Ucap Haura protes.

“Kekekekekek enak bukan rasanya ? Enak banget kan kontol saya ?” Tanya Karjo sambil terus menggeseknya sambil menatap wajah betinanya yang menurutnya begitu bernafsu.

“Aahhh bangett pakkk... Bangetttt... Makanya ayo masukin sekarangg... Aku mau digenjott pakkk” Pinta Haura saking tidak sabarnya. Bahkan tangan kanannya sampai bergerak ke bawah untuk memasukan penis pejantannya ke arah vaginanya. Untungnya Karjo lihai. Ketika tangan Haura hampir mendekati penisnya. Karjo langsung membenamkan penisnya lagi walau cuma ujung gundulnya saja.

“Aaahhh paaakkkkk... Lagiiii... Yang dalemm pakk... Yang daleemmm” ucap Haura meminta.

“Kekekekekek” tapi Karjo malah tertawa bahkan malah menarik keluar penisnya yang membuat Haura semakin kesal.

Ditengah kekesalan yang dialaminya. Karjo pun mendekatkan bibirnya untuk mencumbu punggung Haura. Sontak Haura langsung menaikan wajahnya ke arah langit-langit ruangan. Kedua tangan Karjo juga beraksi dengan memelintir pentil susunya. Kadang Karjo menariknya. Kadang Karjo mencubitnya. Kadang Karjo menekannya yang membuat tubuh Haura semakin blingsatan tak karuan.

“Aaahhhh... Aahhhh... Pakkk terusss... Aahhh enakkk pakk... Aahhh iyyaahhh” desah Haura yang semakin hanyut dalam buaian nafsu birahi. Ia telah kehilangan akal sehatnya. Ia hanya bernafsu dan butuh pelampiasan untuk mengatasi permasalahannya itu.

Pinggul Karjo kembali bergerak. Kali ini ia sengaja menggerakan penisnya untuk menggesek bibir vaginanya. Haura yang kesal pun merapatkan kakinya. Karjo tersenyum hingga menaikan pinggulnya hingga punggung penisnya tergesek oleh bibir vaginanya. Karjo tersenyum melihat ekspresi Haura yang semakin keenakan. Ia memaju mundurkan pinggulnya. Ia seperti sedang menggenjotnya padahal cuma melakukan petting saja.

“Aaahhh pakkkk... Masukiinnn... Masukkinnn paakkk” Desah Haura yang ingin ditusuk dengan segera.

“Kekekekek sabar sayanggg... Nikmati prosesnya” Ucap Karjo yang membuat Haura semakin kesal. Apalagi saat tangan Karjo membelai puting susunya. Haura kegelian. Bahkan ia mulai merasakan remasan di dadanya yang membuat dirinya semakin terangsang.

“Aaahhh pakkk... Aahhhh laggiiii... Lebih kuat lagii pakk remasannya” ucap Haura hingga kedua tangannya memegangi tangan Karjo terus memintanya untuk meremasnya sekuat-kuatnya.

“Kekekek pegangan ustadzah... Jangan salahkan saya nanti kalau tubuh ustadzah kebentur dinding” ucap Karjo mewanti-wanti yang membuat tangan Haura kembali bertumpu pada dinding lagi.

“Habis pakk... Masukinn makanyaaa... Tolonggg genjot aku pakkk... Aku geregetan pengen ditusuk lagi” Pinta Haura dengan putus asa yang membuat Karjo tertawa.

“Kekekekek baiklah... Baiklah” ucap Karjo sambil menarik pinggulnya mundur lalu mengarahkan ujung gundulnya di pintu masuk vaginanya. Bahkan kedua tangannya sudah berada di kedua payudaranya yang semakin kencang. Karjo bersiap. Ia pun menatap wajah betinanya yang terlihat putus asa.

“Ini hadiah dari saya... Sayanggg” ucap Karjo yang langsung menghentakkan pinggulnya lalu mencengkram payudaranya dengan sekuat tenaga.

“Heennkgghhh !!!!”

“Aaahhhhh bapppaaaakkkkkk” desah Haura dengan penuh kepuasan saat dinding rahimnya tersundul dan payudara besarnya teremas dengan sekuat tenaga. Tubuh Haura sampai merinding. Tubuhnya sampai kelojotan bahkan kedua kakinya sampai lemas hingga nyaris terjatuh karena saking puasnya. Hampir saja ia mendapatkan orgasmenya akibat saking nikmatnya. Untungnya Karjo menepati janjinya. Ia langsung menggerakan pinggulnya maju mundur. Akhirnya ia mulai menggenjotnya yang membuat Haura akhirnya dapat merasakan nikmatnya persetubuhan lagi.

“Aaahhh... Aahhh... Aahhh... Seperti itu... Ayoo pakk... Yang kerass... Yangg kuaattt” desah Haura yang sudah sangat bernafsu.

“Kekekekek siap ustadzahhh... Ouhhh nikmat sekali memekmu ini ustadzaahh... Puas sekali rasanya bisa menggenjotmu lagi” ucap kuli tua itu bernafsu bisa menyetubuhi ustadzah tercantik itu lagi.

Penis kekar berwarna hitam itu langsung melesat dengan begitu tajam saat pemiliknya mendorong pinggulnya ke depan. Akibatnya ujung gundulnya langsung mengenai rahimnya yang membuat tubuh bidadari itu bergetar merasakan sensasinya. Saat penis itu ditarik oleh pemiliknya hingga nyaris keluar. Terasa gesekannya yang membuat pemiliknya mendesah kegirangan. Gesekan maju mundur yang terus dilakukan oleh penis itu membuat cairan cinta mulai berdatangan membanjiri rahim bidadari cantik berkulit mulus itu.

Haura geleng-geleng kepala. Kedua tangannya kadang membuka kadang mengepal tuk menahan rangsangan yang begitu luar biasa dari kuli kekarnya. Berulang kali ia bertahan. Berulang kali tangannya bertahan dengan mendorong dinding di depannya agar tubuhnya tidak terdorong ke depan.

Namun ia kesulitan. Dorongan pinggul Karjo yang sangat bertenaga membuatnya nyaris pingsan. Belum juga dengan remasan di dada yang membuatnya benar-benar lemas tak berdaya.

"Kekekekek... Ouhhh gilaaa... Ouhhhh puasss sekaliii rasanya bisa menggenjoti dirimu sayanggg" Desah Karjo dengan begitu girang.

"Aaahhhh... Aaaahhh... Aahhh bapaakkk... Aahhhh terusss... Terusss yang kencaanggg" Desah Haura yang sudah kelewat nafsu.

Tubuh Haura mulai berkeringat. Keringatnya itu membuat tubuhnya menjadi berkilauan. Berulang kali tangan Karjo sampai gemas untuk mengusapi perut ratanya. Saat tangan kekar berwarna hitam itu mengusapi perutnya. Nampak dadanya yang terbebas meloncat-loncat kegirangan. Terlihat ukurannya membesar. Terlihat ukurannya semakin tegak menantang. Saat remasannya itu bergerak naik untuk meremasinya lagi. Karjo langsung terkejut karena bentuknya yang sudah sangat kenyal menandakan bidadari tercantik itu sudah sangat bernafsu.

"Kekekekek udah sangek banget kayaknya nih ustadzah... Ustadzah mau goyang sendiri apa saya aja ?" Tanya Karjo sambil mengusapi pinggang mulusnya.

"Aahhh.. Aaahhh... Aahhh bapak aja yang goyang... Tolong tusuk aku sepuasnya... Tusuk aku yang kencang paaakkk" Desah Haura yang membuat Karjo tertawa.

"Kekekekek siap sayangg... Siaaappp" Desah Karjo yang malahan memperkuat hujamannya.

"Ouhhhh ouhhhh.... Ouhhhh paaakkkk" Desah Haura dengan manja.

Plokkk... Plokkkk... Plokkkk !

Haura pun memejam dalam menikmati tusukan yang terlampau nikmat itu. Ia yang sudah telanjang bulat menyisakan hijabnya saja seolah pasrah membiarkan pria tua berbadan kejar dan berwajah jelek itu bertindak semaunya pada tubuh indahnya. Nampak Karjo mulai melakukan variasi dengan mengusapi punggungnya. Terkadang tangannya juga menampari bokongnya yang hanya membuat bidadari indah itu mendesah keenakan.

"Aahhhh... Aaahhh... Aawwww paaakkk" Jerit Haura dengan manja.

Karjo pun menarik tubuh Haura hingga berdiri tegak membelakanginya. Kedua tangannya mencengkram kuat buah dada bulat yang bentuknya mirip buah melon itu. Genggaman tangan Karjo sampai penuh. Bahkan genggamannya masih tak cukup untuk meremas keseluruhan buah dadanya itu. Kebetulan wajah Haura menoleh ke belakang. Kesempatan itu pun tak disia-siakan oleh kuli kekar itu untuk mencumbunya. Haura pasrah. Haura pun rela dicumbu olehnya demi memuaskan nafsunya yang sudah diluar kendalinya.

"Mmphh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura sambil memejam.

Tak pernah Haura sepuas ini saat bercinta. Tak pernah Haura senafsu ini saat bercinta. Bahkan rasanya kenikmatan persetubuhannya ini melebih persetubuhannya di sore hari saat dirinya sedang berpuasa. Apa gerangan ? Apa yang membuatnya jadi senikmat ini ? Haura begitu penasaran hingga matanya membuka tuk menatap wajah jelek dihadapannya.

Nampak Karjo memejam saat sedang mencumbu bibirnya. Haura bernafsu. Anehnya ia malah bernafsu saat menatap wajah jeleknya itu. Tusukannya yang semakin terasa ditambah dengan hujamannya yang begitu mengena membuatnya kembali memejam tuk merasakan kenikmatan itu.

"Mmmpphhh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura sambil merenungi kenikmatannya.

Enakk bangettt... Enakk bangettt... Gak nyangka aku bisa merasakan kenikmatan sebesarr inii... Ouhhh makasihh pakk... Makasihhh sudah memberikan kepuasan seperti ini padakuu... Tolonggg puasin akuu... Bapak bebas berbuat apa saja asalkan bisa memuasi diriku pakk... Ouhhhhh...

Batin Haura sehingga semakin bernafsu saat mencumbui pria tua itu.

Haura membuka mulutnya. Bibirnya mengapit bibir tua itu dengan suka rela. Bahkan lidahnya juga ikutan untuk merangsang pria tua yang sudah memberikannya kepuasan yang tidak terkira. Hijabnya mulai berantakan. Bahkan kalungnya mulai terlihat menghiasi tubuh indahnya. Sedangkan dadanya dibiarkan bergoyang mengikuti irama yang berdendang. Saat pinggul Karjo bergerak maju maka dada bulatnya langsung meloncat. Saat pinggul Karjo bergerak mundur maka dada bulatnya dibiarkan jatuh. Terus dada bulat itu bergerak maju mundur mengikuti pergerakan pinggul pejantannya itu.

Nafas Karjo semakin berat. Hembusan nafasnya terasa hangat. Tangan kanannya terus mendekap perut mulus sang dewi sedangkan tangan kirinya meraba klitoris sang bidadari. Sentuhan di klitorisnya membuat Haura jadi semakin terangsang. Kenikmatannya begitu menendang-nendang. Semuanya jadi semakin nikmat saat melakukannya dalam keadaan telanjang. Tubuh Haura menggelinjang. Begitu pula tubuh Karjo yang terus menerjang.

"Mmpphh... Mmpphh... Mmpphh"

Rasanya Haura ingin mendesah lebih keras lagi. Mulutnya tak tahan untuk menahan tiap tusukan yang pak Karjo berikan di vaginanya. Namun cumbuan maut kuli kekar itu membuatnya tidak bisa bersuara selain mengeluarkan desahannya saja. Tangan Karjo kembali naik tuk meremas dada bulatnya. Kemudian usapannya turun hingga tiba di pinggang rampingnya. Kini, kedua tangannya tengah mencengkram pinggang rampingnya lalu pinggul Karjo pun bergerak dengan begitu kejam.

Plokkk plokkkk plokkkk !!!!

"Ahhh.... Ahhhhh... Ahhhh" Desah Haura tak tahan lagi hingga melepas cumbuannya.

"Kekekekek puas banget yah sayangg... Rasanya nikmat bangett kannn ?" Tawa Karjo sambil menatap wajahnya yang masih menoleh ke belakang.

"Iyyahhh paakkk... Bangettt... Rasanyaaa nikmat bangetttt" Desah Haura dengan penuh nafsu yang membuat pejantannya semakin bernafsu.

"Kekekekek waktunya mengakhiri semuanya sayanggg" Ucap Karjo yang sudah tidak tahan lagi.

Dikala Karjo mempercepat hujamannya maka tubuh indah Haura semakin terdorong maju dan mundur. Haura juga tidak kuat lagi. Ia ingin memuntahkan seluruh cairan cintanya dengan segera. Berulang kali Haura mendesah manja. Berulang kali tubuhnya tergerak tak berdaya. Matanya sampai merem melek dan nafasnya semakin terasa sesek.

Plokkk plokkk plokkk plokkkk !!!

Suara benturan antar pinggul itu terdengar keras. Bahkan saking kerasnya mungkin orang-orang yang lewat di depan rumahnya bisa mendengar suaranya. Sepertinya Karjo sedang pol-polan dalam menyetubuhi betinanya. Ia hanya mencari kepuasan. Ia hanya ingin mendapatkan orgasme ternikmatnya.

"Aaahhh paakk... Aaahhh... Aahhhh pelannn.... Pelllaaannn" Desah Haura sampai tidak kuat dalam mengimbangi nafsu besar sang kuli.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh ustadzah... Saya gak kuattt lagiii !!!"

Karjo sudah diambang batas. Ia mencengkram pinggul Haura dengan kuat. Sodokannya pun semakin terasa nikmat. Ia menggempur lubang kemaluan Haura dengan dahsyat. Berulang kali ia memaju mundurkan pinggulnya tanpa ampun. Penis kekar itu terdorong semakin dalam. Penis kekar itu berulang kali menyundul rahim kenikmatan sang dewi. Penis kekar itu semakin licin saat dibanjiri oleh cairan cinta sang bidadari.

"Ouhhhh... Ouhhhhh... Ouhhhhh ustadzahhh !!!" Desah Karjo tak sanggup lagi.

"Ahhhh.... Ahhhhhhh.... Iyaaahh pakkk... Akuu mauu keluaarr... Akuu juga mauu keluaarrr" Desah Haura yang juga tak sanggup lagi.

Akhirnya dengan sekali tusukan yang mantap. Pak Karjo menancapkan penisnya hingga mentok menusuk rahim kenikmatan Haura. Haura sampai melek. Haura membuka mulutnya merasakan tusukan yang begitu bertenaga dari pejantan tuanya.

"Sayaaa kelluaarrrrrr" Desah pak Karjo seketika menarik penisnya keluar kemudian meminta Haura tuk berjongkok di hadapan dirinya.

Crroottttt crrootttt crrooottt !!!!

"Mmpphhh" Desah Haura dengan manja saat sperma kental yang beraroma menyengat itu mulai membasahi wajah ayunya.

"Ouhhh nikmatnyaaa... Ouhhhh nikmatnyaaa... Puas sekali rasanya bisa memejuhi wajahmu, sayanggg... Kekekekek" Tawa Karjo sambil mengocok penisnya tuk memenuhi wajah Haura dengan spermanya.

Nampak wajah Haura sampai penuh oleh pejuh yang dikeluarkan oleh kuli tua itu. Tak sedikit ruang disana selain hidungnya yang mancung. Pipinya, dahinya, dagunya bahkan sebagian mulutnya juga hijabnya terkena oleh sperma kuli tua itu yang begitu kental. Karjo pun puas. Ia mengakhiri aksinya dengan memasukan penis itu ke dalam mulutnya.

"Mmmpphh.... Maaahhhh... Hah... Hah... Hah" Desah Haura ngos-ngosan setelah membersihkan sisa sperma di ujung gundulnya.

"Kekekek puas sekali rasanya ustadzah... Makasih yah" Ucap Karjo tersenyum lalu berbalik badan untuk mengambil pakaiannya. Haura yang belum mendapatkan kepuasan pun memegangi kakinya. Karjo pun menoleh sambil tersenyum kepadanya.

"Paakkk tungguuu... Aku belum dapet pakkk... Tolonggg lagi... Setubuhi akuu paakkk" Pinta Haura dengan wajah bersimpuh sperma.

"Kekekekek... Ustadzah, jadi gini" Ucap Karjo sambil berjongkok menatap Haura.

"Simpan nafsumu dan lampiaskan semuanya di sore nanti... Saya sengaja membuat ustadzah sangek agar ustadzah bisa melampiaskannya pada orang itu... Sekarang tahan dulu yahhh... Sabar dulu sampai sore datang nanti" Ucap Karjo sambil berbalik untuk meninggalkan Haura yang masih sangek.

"Tappii paakkk... Puasi aku dulu kan bisaaa... Tollongg jangann pergiii... Puasi aku duluu paakkk" Pinta Haura dengan putus asa. Namun Karjo mengabaikan. Karjo yang sudah mengenakan celananya langsung pergi meninggalkan Haura seorang diri.

"Kekekekek kelak kau akan tahu ustadzah... Mungkin ini agak kejam, tapi saya melakukannya agar ustadzah bisa maksimal saat bercinta dengannya di sore nanti" Lirih Karjo sambil berjalan menjauhi rumah Haura.

Haura yang masih belum mendapatkan kepuasan jadi kesal. Ia langsung mengangkangkan kakinya sambil mengocok vaginanya dengan putus asa. Tapi berulang kali ia melakukannya, rasanya begitu percuma. Rasanya berbeda. Tidak senikmat saat bercinta dengan pejantannya.

"Paakkk... Kenapa bapak tega bangett paakkk... Aku butuh kontol bapaakkk... Tolong puasi akuu paakkk" Pinta Haura merengek.

Ustadzah yang sudah bertelanjang bulat dengan wajah bersimpuh sperma itu pun terpikirkan sesuatu. Ia ingat kalau dirinya punya alat yang ukurannya mirip dengan ukuran penis pak Karjo.

"Oh yah... Dildo itu" Ucap Haura yang langsung berlari ke kamar untuk meraih dildonya.

Ia langsung membuka almari lalu mengambil dildo berwarna hitam itu yang kemudian ia masukan ke dalam vaginanya. Namun lagi-lagi. Rasanya sangat berbeda. Tidak senikmat dengan penis pejantannya.

"Bapaakk... Bapaakkk.... Kenapa bapak meninggalkanku paakk... Aku butuh bapaakk... Aku butuh kontol bapaakk" Ucap Haura dengan putus asa.

Seketika ia melihat ke arah jam dindingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia langsung tersenyum. Sepertinya memang tidak ada cara lain selain cara itu. Haura pun mengalah. Ia mencoba menuruti kata-kata pejantannya untuk bersabar lalu melampiaskannya di sore nanti.

"Beruntung banget bapak... Meski aku gak tahu siapa bapak... Bapak bakalan jadi pelampiasan nafsuku di sore nanti... Lihat saja, aku akan melampiaskan semuanya ke bapak... Bapak kuat kan tuk mengimbangi nafsuku ?" Lirih Haura sambil membayangkan kelima wajah sang kuli yang ia bicarakan kepada pak Karjo.

"Hah... Hah... Hah... Kira-kira siapa yah yang bakalan beruntung di sore nanti ?" Ucap Haura dengan binal saat membayangkan kenakalannya di sore nanti.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy