Pagi hari di Pondok Pesantren al-Insan. Hanna baru saja pulang dari rumah calon suaminya untuk menemui Angga. Namun naas ia tidak bisa bertemu dengannya karena calon suaminya itu tidak berada di rumah. Hanna agak sedikit kecewa. Akan tetapi kekecewaannya itu terobati setelah mendengar kisah yang didendangkan oleh sang calon mertua yang bernama Ustadzah Rania. Ustadzah Rania bercerita mengenai pengalamannya dulu sesaat sebelum dilamar oleh sang kiyai. Hanna juga mendapatkan petuah dan nasehat dari sang calon mertua yang membuat dara cantik itu lebih percaya diri tuk menghadapi pernikahannya yang akan berlangsung sebentar lagi.
Terik mulai tinggi, hingga panas mulai terasa menghangatkan tubuhnya. Cuaca memang sedang panas - panasnya sekarang. Para ustadzah sampai menanggalkan kebiasaan mengenakan pakaian double demi mengurangi hawa panas yang menyengat. Termasuk diri Hanna saat ini. Di balik seragam mengajarnya, ia langsung mengenakan dalaman tanpa perlu mengenakan tanktop terlebih dahulu. Walau sudah mengurangi kuantitas pakaiannya. Tetap saja hawa panas itu masih terasa hingga bulir - bulir keringat muncul dari pori - pori kulit mulusnya.
“Huftt sampai juga” kata Hanna ketika sudah mencapai teras kantor bagiannya.
Setelah mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam, Hanna segera memasuki kantor bagiannya dan mendapati koleganya yakni V dan Haura terkejut ketika sedang asyik - asyiknya mengobrol berdua.
“Ahahaha hayoo kalian habis ngapain yah kok sampai kaget gitu” kata Hanna tertawa.
“Astaghfirullah Hanna ! Ngagetin aja” kata Haura sambil memegangi dada ranumnya. Sementara V hanya tersenyum kemudian melangkah mundur tuk kembali ke tempat duduknya.
“Ahahaha ana cuma salam doang loh Ra... Tapi kok kalian malah kaget... Kaya habis ngelakuin sesuatu nih... Hayoo habis ngapain coba ?” tanya Hanna heran sambil tertawa mengingat reaksi kedua rekan mengajarnya.
“Hufttt nyebelin... Orang lagi bahas bunga aja kok” kata Haura masih memegangi dadanya ketika merasakan jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya.
“Bahas bunga ? Maksudnya gimana ?” tanya Hanna penasaran lekas menghampiri.
“Gini loh Han... Jadi setiap bunga mempunyai nama dan artinya masing - masing... V tuh tau semua artinya dan kami lagi ngobrolin itu aja daritadi... Ehhhh tau - tau anti malah datang kesini... Ngagetin aja !” kata Haura yang lagi - lagi membuat Hanna tertawa.
“Ahahhaa maaf - maaf” kata Hanna masih tertawa.
V pun mendekat sambil tersenyum sesaat setelah melihat reaksi wajah Haura yang masih shock akibat kedatangan Hanna secara tiba - tiba ketika memasuki kantor bagiannya.
“Kasian tau Han... Liat deh” kata V sambil menunjuk wajah Haura.
“Ehhh emang wajah ana kenapa ?” kata Haura tersinggung saat melihat jemari tangan V menunjuk wajahnya.
“Lucu banget tau Ra.... Kayak maling habis ketahuan... Keliatan banget di wajah anti ahahaha” kata Hanna tertawa.
“Ihhh nyebelin malah disamain sama maling” kata Haura menggemukan pipinya sambil memasang reaksi wajah kesal. Alih - alih iba, V justru terpesona oleh reaksi imut Haura yang membuatnya ingin menoel pipi itu lagi.
“Tapi emang bener kan Ra... antum kan maling” kata V menambahkan yang membuat Haura makin kesal.
“Ihhh kok gitu !!! Kenapa malah ikut - ikutan ngatain aku maling sih V !!!” kata Haura.
“Iya... Maling di hati aku !” kata V yang membuat seluruh penghuni kantor itu tertawa.
“Ciyeeeee ahahaha” kata Hanna yang tertawa semakin keras setelah mendengar gombalan receh V.
Haura ikut tersenyum namun ia berusaha menahannya. Semakin ia menahannya, ia semakin tak kuasa untuk memberikan reaksi senyum termanisnya. Hal itu membuat V turut tersenyum bahagia melihat keindahan yang terlukis di wajah Haura.
Kebetulan tak lama setelah kejadian itu, lonceng pun berbunyi menandakan jam telah berganti. Kebetulan juga saat itu V ada jam mengajar. Ia pun bersiap - siap mengemas buku materinya untuk memberikan ilmunya pada santri - santrinya.
Tepat saat ia ingin pergi dari ruang pengasuhan ini, Haura datang mendekat sambil menanyakan sesuatu pada V.
“Sore ini jadi kan ?” kata Haura mengejutkan V.
“Sore ini ? Ehmmm ada apa yah ? Mau ngajakin kencan yah ?” kata V yang membuat Haura memanyunkan bibirnya merasa gemas ingin menghukum V.
“Nyebelin !” kata Haura menjitak V diam - diam tanpa sepengetahuan Hanna yang sedang fokus menyiapkan materi Shorof.
“Katanya mau ajarin aku tentang bunga... Ayolah !” kata Haura merengek manja.
“Hahahah.... Iyyya... Iyya... Sore ini di taman bunga yah” kata V tersenyum yang membuat Haura ikut tersenyum melihatnya.
“Yeayyyy” sorak Haura.
Setelahnya, V berdiri, kemudian ia hendak melangkah menuju pintu keluar kantor bagian ini. Namun sebelum ia melakukan langkah pertamanya, ia malah menatap Haura yang membuat ustadzah cantik itu tersipu.
“Ada apa ?” tanya Haura.
V hanya tersenyum sambil menyentuh pipinya dua kali menggunakan jemari telunjuknya. Haura paham bahwa ustadz genit satu ini minta dikecup olehnya. Alih - alih memberinya kecupan, Haura malah mengambil salah satu buku yang tergeletak di meja kerja V kemudian hendak mengayunkan tangannya tuk menampar ustadz genit yang selalu menggodanya tiap kali bertemu.
“Waduh !” lekas V berlari setelah melihat Haura sudah berancang - ancang ingin menghantamkan buku itu guna memberinya pelajaran.
Hanna yang melihat V berlari kencang menuju pintu keluar penasaran sambil melihat Haura.
“V kenapa ?” tanya Hanna.
“Biasa Han... Orang nyebelin !” kata Haura tersenyum menatap kepergian ustadz baru itu.
*-*-*-*
Sesampainya di kelas, V langsung memulai mengajar seperti biasa. Ia mengucapkan salam baru setelah itu diikuti oleh pemberian materi oleh V untuk para santri. Berbeda dari kelas lainnya yang sudah dimasuki oleh V. Di kelas ini, V tidak bisa fokus mengajar karena adanya kehadiran satu orang santri yang bernama Lutfi. Masih teringat dalam bayang - bayang saat dulu ketika Lutfi nyaris membahayakan Haura di dalam kantor bagian pengasuhan santri. Dendam kesumat yang V miliki karena Lutfi telah membahayakan seorang wanita yang ia cintai membuat ustadz tampan itu menarik nafas tuk menahan emosi.
V masih bisa menahan diri dengan mengingat kata - kata yang pernah Haura berikan dulu sesaat setelah dirinya marah - marah pada Lutfi tempo hari. Ada aturan tidak tertulis untuk tidak menghukum santri dengan kekerasan fisik yang mana dapat mencederai para santri. Ia juga tak mau dikeluarkan dari pondok pesantren yang mana dapat membuatnya kehilangan kesempatan untuk melihat Haura yang sudah mencuri perhatiannya berkali - kali.
Sudah 15 menit V mengajar di kelas ini. Ia pun heran setelah memperhatikan sikap Lutfi yang berbeda dibandingkan hari - hari sebelumnya. Seingatnya ia sudah mengajar 2 - 3 kali di kelas ini dan seingatnya pula, Lutfi selalu menunjukan sikap yang sulit diatur. Tidur di kelas misalnya, tidak memperhatikan guru saat mengajar bahkan ia tak pernah sekalipun mengerjakan PR yang sudah diberikan di pertemuan sebelumnya.
Tetapi hari ini, Lutfi sama sekali tidak mengantuk. Lutfi bahkan berulang kali kedapatan menulis sesuatu di buku catatannya dan yang membuat V heran adalah fakta bahwa Lutfi mengerjakan pekerjaan rumah yang telah V berikan di pertemuan sebelumnya. V heran tetapi ia juga lega setelah mengetahui perubahan sikap Lutfi yang tak biasa. Ia pun mencoba fokus untuk tidak mengkhawatirkan salah satu santri nakalnya lagi selama mengajar di kelas.
"Muwehehehe... Rencana sudah selesai... Sekarang semua tinggal menunggu waktu hingga ana bisa bertemu dengan antum... Ya ustadzah Hanna yang jelita" Kata Lutfi dengan lirih setelah menuliskan beberapa catatan rencananya di buku tulisnya.
*-*-*-*
Teng ! Teng !! Teng !!!
Lonceng berbunyi, menandakan waktu untuk istirahat dimulai. Para santri yang sudah jenuh belajar di dalam kelas berlarian keluar menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong. Sedangkan beberapa dari mereka lebih memilih tidur di kelas sembari menunggu jam mengajar selanjutnya tiba.
Salwa saat itu lebih memilih ke kantin untuk membeli sesuatu. Sebagai salah satu santriwati yang berprestasi. Ia jarang sekali tidur di kelas. Walaupun ia tertidur, ia masih bisa menjawab pertanyaan dari ustadz atau ustadzah yang mengajar selepas bangun dari tidurnya. Kecerdasannya memang tak tertandingi membuat beberapa santriwati yang sekelas dengannya merasa iri.
Ia melangkah ke kantin sambil membawa uang kertas berjumlah sepuluh ribu rupiah. Dengan riang gembira ia menebarkan senyum manisnya yang khas. Salwa memang cantik, Salwa memang manis dan Salwa memang cerdas membuat santriwati berusia 18 tahun itu selalu menjadi perhatian para ustadz ataupun santri lain ketika berjalan melintasi mereka. Tubuhnya yang tinggi jenjang ditambah dengan rampingnya pinggang yang ia punya juga perawakan manis yang terpancar di wajahnya membuat orang - orang begitu gemas ingin memiliki. Sementara itu rok panjang yang membalut kaki jenjangnya juga kemeja seragam yang melapisi tubuhnya menyempurnakan penampilan indahnya di hari ini. Ia tampak sedap dipandang terutama saat kedua bongkahan pantatnya bergoyang.
Ya, rok yang Salwa kenakan memang agak sedikit ketat di bagian belakang membuat bokongnya itu sedikit mencetak menarik perhatian mata santri yang sangat gemas ingin meremasnya. Beberapa bahkan ada yang berhasrat ingin menusuk lubang kotoran itu demi merasakan betapa sempitnya dan hangatnya lubang disana.
Salwa tidak tahu kalau sedari tadi dirinya diperhatikan oleh mata para serigala - serigala yang kelaparan. Ia tetap berjalan seperti biasa menuju kantin untuk membeli sesuatu. Setibanya disana ia bergegas menuju sisi yang menjual roti - roti.
“Hmmm mana yah yang ustadz itu suka” kata Salwa sembari memilih roti yang ingin ia beli.
Setelah memutuskan untuk membeli roti yang mana. Ia pun pergi menuju kasir untuk membayar roti tersebut.
“Salwa ? tumben nih belinya roti” kata seorang ustadz yang menjaga disana.
“Hehe iya ustadz... Lagi ngidam roti nih hihihi” kata Salwa dengan ceria.
“Ngidam ? Waduh udah berapa bulan yah Wa ? Kok gak bilang - bilang” kata Ustadz itu sambil bercanda.
“Hihihihi apa sih ustadz... Ada - ada aja deh” jawab Salwa yang membuat pipinya memerah.
“Hahaha ini semuanya sepuluh ribu yah... Oh yah gimana persiapan ujian antum Wa ?” kata ustadz itu menanyakan kabar Salwa.
“Ahhh gampang mah itu ustadz... Siap pokoknya !” kata Salwa bergegas membayar roti itu kemudian pergi selepas mengucapkan salam padanya. Ustadz itu pun tersenyum melihat kepergian Salwa dengan ceria.
“Cantiknya” kata ustadz penjaga kantin itu kemudian membuka hapenya guna memandangi foto manis santriwati disana.
Salwa berlari menuju depan gedung kelas berharap ustadz yang sedang ia tunggu belum turun dari gedung itu. Berulang kali Salwa melihat ke sekitar mengamati setiap orang yang melintas melewatinya. Pupil mata Salwa membesar tiap kali memperhatikan seseorang yang melewatinya. Salwa mendadak gelisah karena tak kunjung menemukan seseorang yang sedang ia cari. Salwa berdiri mematung sambil kedua tangannya memegangi kantung kresek berisikan roti yang baru saja ia beli.
Beruntung, karena sebentar kemudian seseorang yang sedang Salwa tunggu pun muncul membuat santriwati berparas manis itu tersenyum lalu bergegas mendekatinya.
“Assalamualaikum ustadz” sapa Salwa dengan ceria.
“Walaikumsalam... Ehh antum... Salwa yah ?” tanya ustadz itu agak sedikit lupa - lupa ingat.
“Iya bener ustadz... Seneng deh antum masih ingat nama ana” kata Salwa tersenyum.
“Hehe antum ada keperluan apa yah Salwa ?” tanya ustadz itu.
“Ini ustadz... Hehe ana punya hadiah buat antum” kata Salwa sambil malu - malu memberikan sekantung kresek itu padanya.
“Hadiah ?” kata ustadz itu.
“Iya ustadz... Ana denger antum suka roti yang di jual di kantin kan ? Jadi ana sengaja beli buat antum nih hihihihi” kata Salwa menatap ke arah bawah merasa malu apabila harus menatap wajah tampan itu.
“Wahhh iya kok antum tau ?” kata ustadz itu sumringah.
“Hihihih tau dong... Ana kan fans antum” kata Salwa membuat pengakuan malu - malunya. Berulang kali Salwa tersenyum tanpa berani menatap wajah tampan disana. Ustadz yang memiliki nama panggilan V itu sampai gemas melihat tingkah Salwa yang begitu menggemaskan.
“Oh yah ustadz V... Antum ada waktu sebentar gak ?” kata Salwa.
“Waktu ? Iya ada kok” kata V.
“Temenin ana sebentar yah ustadz... Kita ke taman bunga itu lagi gimana ?” tanya Salwa yang kemudian dijawab anggukan oleh V. Salwa tersenyum manis sambil memberanikan diri menatap wajah V disana. Mereka pun berjalan bersama dengan jarak yang agak sedikit jauh demi menghindari kecurigaan dari warga pesantren lainnya.
Sesampainya di taman penuh bunga yang menjadi tempat pertama mereka bertemu. Mereka berdua duduk di bangku taman sambil menikmati keindahan hamparan bunga disana. Salwa duduk disamping V dengan perasaan gugup sambil sesekali mencuri - curi pandang menatap wajah tampan disebelahnya. Mereka tetap hening tanpa mengeluarkan sepatah kata pun disana. V yang penasaran mengenai alasan Salwa ingin menemuinya pun berbicara.
“Ada apa yah Wa ? Kok sampai mengajak ustadz ke sini ?” tanya V penasaran.
“Hehehe gak ada apa - apa kok ustadz... Ana cuma mau berdua aja dengan ustadz” jawab Salwa malu - malu.
“Berdua ?” tanya V.
“Iya ustadz... Cukup berdua dengan ustadz aja sambil menikmati pemandangan disini sudah membuat ana merasa nyaman” kata Salwa malu - malu.
“Begitu kah ?” kata V sambil melirik Salwa. Kebetulan Salwa saat itu juga sedang melirik V. Saat mata mereka bertemu tiba - tiba Salwa merasa malu hingga menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
“Ehh Salwa kenapa ?” tanya V heran melihat sikap Salwa.
“Gapapa ustadz” kata Salwa sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik telapak tangannya.
“Ada - ada aja antum Wa” kata V tersenyum melihat tingkah lucu Salwa.
Salwa pun mencoba untuk menenangkan dirinya kembali. Akan tetapi jantungnya berdegup semakin kencang daripada biasanya. Saat Salwa kembali melirik, jantungnya berdegup lebih kencang lagi. Salwa pun tersenyum malu - malu merasakan perasaan yang tak biasa ia alami.
Salwa menoleh menatap wajah V. Rupanya V masih tersenyum sambil menikmati pemandangan bunga dihadapannya. Melihat ketampanan V membuat hati Salwa tak tahan lagi. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan kata - kata. Namun semakin ia mencoba untuk berkata lidahnya semakin kelu untuk mengeluarkan kata - kata itu. Salwa pun menunduk ke bawah sambil memegangi dadanya yang berdebar.
Rasa ini ?
Batin Salwa merasa senang dengan kehadiran V disisinya.
Saat sedang asyik - asyiknya berdua bersama V di taman penuh bunga ini. Tiba - tiba suara lonceng berbunyi menandakan para santri sudah harus kembali ke kelas untuk melanjutkan studinya.
Lohhh kok udah masuk aja !
Batin Salwa kecewa sambil menoleh ke arah suara lonceng itu.
“Salwa udah bunyi tuh... Antum harus kembali ke kelas kan ?” kata V mengingatkan.
“Iya ustadz” kata Salwa agak sedikit cemberut.
“Antum kenapa Wa... Kok keliatan kurang senang” kata V sambil mencubit pelan pipi Salwa yang membuat jantung santriwati itu berdegup semakin kencang.
“Ehhh engga kok... Ana senang” kata Salwa tersenyum malu - malu sambil memberanikan diri menatap wajah V. Rupanya V sedang tersenyum menatap wajah Salwa membuat santriwati itu ikut tersenyum menatap keindahannya.
“Yaudah kalau gitu masuk kelas sana... Nanti dihukum sama bagian pengajaran loh” kata V yang dijawab anggukan oleh Salwa.
“Iya ustadz terima kasih yah... Ana mau pamit dulu wassalamualaikum” kata Salwa melangkah pergi sambil malu - malu tuk kembali ke kelasnya.
“Oh yah ustadz... Rotinya jangan lupa dimakan yah !” kata Salwa berhenti sejenak kemudian berbalik tuk mengingatkan V mengenai roti itu.
“Iya Salwa... Pasti akan ustadz makan” jawab V dengan senyuman.
Salwa kembali berlari menuju kelasnya sambil memasang senyum yang mengembang di wajah. Salwa merasa gembira tapi ia masih bingung untuk mengungkapkan sesuatu yang masih tersimpan di hatinya.
Gimana yah caranya agar ustadz V tau perasaan ana yang sebenarnya ?
Batin Salwa merasa bingung.
Sementara itu dari kejauhan terdapat seorang ustadzah bagian pengajaran yang sedang mendisiplinkan santri untuk kembali ke kelasnya. Tak sengaja ustadzah cantik itu menatap Salwa yang sedang berlari sambil menunjukan senyum di wajahnya. Ustadzah itu ikut tersenyum sambil memandangi paras indah disana.
*-*-*-*
Setelah mendapatkan roti dari salah satu santriwati yang ia temui. Ia bergegas kembali ke asrama untuk beristirahat sejenak sambil menanti waktu Dzuhur tiba. Ia melihat ke arah jam yang terpasang di lengan kanannya. Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Pantas saja ia merasa lelah dan agak sedikit mengantuk dari tadi. Sambil menguap ia pun melanjutkan perjalanannya tuk kembali ke kamarnya.
“Aakkkkkkk !” tiba - tiba ia merasakan sakit di kepala, pandangannya berkunang - kunang dan ia merasakan nyeri di dada. Padahal ia baru melangkah beberapa kali saja dari bangku taman yang tadi ia tempati bersama Salwa.
Perlahan rasa sakit itu mulai mereda. Ia pun melihat ke sekitar sambil memeriksa keadaan.
“Inn... Innnii dimana ? App... Appa ini ?” tanya Fikri bingung dengan keadaan dirinya yang tiba - tiba berada di taman bunga ini.
Seketika ia melihat ke arah kantung kresek yang tiba - tiba berada di tangannya. Saat ia membuka kantung kresek itu untuk mengetahui apa yang berada di dalamnya. Ia pun langsung paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Paas... Pasti ini ullah V ! App... Appa dia yang membeli roti ini ?” kata Fikri penasaran.
“Akk... Akku taruhhh di kamar aja kallau gitu” kata Fikri memutuskan untuk kembali ke asramanya.
Sesampainya di asrama, setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Ia segera memasuki kamarnya untuk menaruh roti yang ia dapatkan ke dalam lemari. Namun ia terkejut saat mendapati pintu kamarnya tidak dikunci. Saat ia melihat ke dalam, ia lebih terkejut lagi saat mendapati Adit dan Wildan sedang berada disana sedang menonton film sambil berbaring diatas kasur lantai lipat yang berbeda.
“Lohhh kokkk.... Kokkk kaliannn ada disini ?” tanya Fikri.
“Ehhh Fikri... Selamat datang !” kata Wildan menoleh sebentar kemudian wajahnya kembali menoleh tuk menonton film itu lagi.
“Ehh Fikri... Iya nih lagi seru - serunya film... Mau ke kantor lagi nanggung” kata Adit disebelah Wildan.
“Fiiii... Fillmm ? Fill.... Fillmmm Appa ?” Tanya Fikri mendekat.
“Biasa Fik... Film korea... Apa lagi ? Hahahha” kata Wildan.
“Drama sejarah nih Fik... Seru tentang kerajaan - kerajaan gitu” kata Adit menimpali.
“Oh yah ?” tanya Fikri ikut duduk ditepi.
Fikri akhirnya ikut menonton memperhatikan alur cerita yang ada. Laptop itu mendadak ramai akibat penonton baru yang ikut menonton. Jam waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk menetap di kantor disalah gunakan untuk menonton film korea yang sedang berada di puncak alurnya. Mereka terhanyut dalam alur cerita yang seru sampai lupa waktu akibat terlalu asyik menonton drama bersejarah itu.
“Itt... Ituuu siapa ? Kokk... Kokk cantikk artisnya ?” tanya Fikri saat matanya tertarik pada salah satu pemeran disana.
“Itu ? Nah iya itu yang dari tadi ana tanyakan Dan... Siapa namanya ?’ Tanya Adit yang rupanya juga penasaran mengenai aktris yang berperan di drama tersebut.
“Itu ? Siapa yah ? Jun Ji-Hyun mungkin” kata Wildan sambil terus menonton film itu.
Klimaks dari film itu mulai terasa ketika dua dari tiga kerajaan disana mulai berperang satu sama lain. Terlihat komandan dari kerajaan Goryeo mulai menyemangati pasukannya untuk berperang melawan kerajaan Silla. Mata setiap penonton di dalam kamar asrama itu fokus menatap keseruan laga yang tengah berlangsung. Setiap pasukan pun maju untuk membunuh setiap lawan dari masing - masing kerajaan.
Tak terduga saat salah satu pasukan dari kerajaan Goryeo menghunuskan pedangnya untuk membunuh lawannya. Darah segar dari seorang prajurit Silla itu muncrat keluar dari dalam lehernya yang terbelah. Fikri dan Adit yang sedang asyik menonton tiba - tiba menjauh karena tak sanggup melihat adegan sadis dari drama tersebut.
Wildan yang sadar dengan reaksi kedua temannya tertawa sambil menekan tombol spasi untuk menghentikan film sejenak mengomentari reaksi kedua temannya.
“Kalian kenapa ? Kok malah gitu hahahaha” kata Wildan.
“Jijik tau Dan... Adegannya terlalu brutal... Gak sanggup ana kalau ngeliat darah gitu” kata Adit merasa jijik.
“Iyy... Iyyaa... Ana juuggg... Jugga gak kuat kalau ngeliat darah gitu... Ann... Anna gak suka darah !” kata Fikri ikut mengomentari.
“Hahahha kalian ini... Namanya juga drama perang... Kalau gak main pedang ya pakai apa ? Roket ? Pistol ? Latar belakang film ini kan tahun tigaratusan... Ya kali pake senapan” kata Wildan.
“Ya apa kek... Racun misalnya” kata Adit.
“Racun ? Ya kali tiap musuh diracuni satu - satu ? Hahahaha... Ribet kali kalau gitu mah... Bisa - bisa jadi senjata makan tuan” kata Wildan menertawakan sikap kedua temannya.
Karena tak sanggup dengan banyaknya adegan kekerasan yang ada. Fikri dan Adit pun mundur dari bioskop mini itu. Mereka berdua lebih memilih kembali menuju kantornya daripada harus melanjutkan film yang dipenuhi oleh adegan berdarah itu.
"Aku kok baru tau yah Fik... Emangnya udah berapa lama benci ngeliat darah ? Dan juga kok bisa gitu ?" Tanya Adit penasaran.
"Add.... Adda sebab... Add... Adda akibat Dit... Ada kisah tersendiri yang membuat Annn... Anna seperti ini" Kata Fikri.
"Ohh begitu" Kata Adit sambil memperhatikan sikap sahabatnya yang tak biasa.
*-*-*-*
Sore hari telah tiba menyapa setiap warga yang tinggal di dalam pondok pesantren. Para santri, santriwati dan pengajar yang ada tampak bersemangat untuk berolahraga demi menyegarkan badan dan merefreskan pikiran. Mereka berlarian menuju lapangan demi merebut giliran. Bagi yang beruntung mereka bisa langsung berolahraga tanpa menunggu giliran. Bagi yang kurang beruntung, mereka terpaksa menunggu sambil menonton teman mereka bermain hingga giliran mereka tiba. Walau demikian mereka masih dapat tertawa melihat aksi lucu dari teman mereka dalam berolahraga.
Berbeda dengan mereka, ada beberapa warga pesantren yang masih sibuk berurusan dengan tugas mereka. V dari bagian pengasuhan contohnya yang masih sibuk duduk di depan layar komputer untuk mengetikan sesuatu. Matanya fokus dan jemarinya bergoyang mengetik satu demi satu huruf tanpa melihatnya. Sepertinya V sudah mulai hafal mengenai tata letak dan posisi huruf di keyboardnya. Kebiasaan yang sering berulang telah membantu ingatannya untuk mencari tahu dimana letak huruf A dan dimana letak huruf Z di keyboard miliknya. Akibatnya ia semakin cepat dalam mengetikkan laporannya. Akhirnya setelah penantian lama, V telah memenuhi targetnya untuk memasukan data sesuai proker yang disiapkan untuk hari ini.
"Yessss... Akhirnya selesai juga" Kata V sambil merenggangkan tangannya naik ke atas.
"Udah selesai ? Cepet amat ?" Kata Haura yang iri melihat V sudah menyelesaikan laporannya.
"Udah dong... Masa iya ngetik segitu doang lama" Kata V yang membuat Haura kesal sekaligus curiga.
"Pasti kerjaannya gak bener nih.... Pasti ada beberapa kata yang dilompatin kan ?" Kata Haura mencurigainya.
"Enggak yah enak aja.... Coba aja liat sini kalau gak percaya" Kata V membuat Haura pun bangkit dari tempat duduknya guna mendatangi V yang berada di dekatnya.
Haura melangkahkan kakinya mendekat. V pun mencium aroma harum semerbak. Sambil mengendus - ngenduskan hidungnya, V menatap ustadzah cantik yang sedang tersenyum mendatanginya.
"Hmmm pake parfum beraroma bunga Primrose yah ?" Tanya V yang membuat Haura terkejut.
"Loh kok tau V ?" Tanya Haura mematung sejenak tak menduga V bisa menebak aroma parfumnya.
"Lupa yah aku ini siapa ?" Kata V percaya diri yang membuat Haura tersenyum kemudian tertawa sambil menepuk lengan V.
Haura pun melihat ke arah layar komputer yang sudah V ketikan. Sekali - kali ia juga memeriksa buku catatan yang menjadi referensi V dalam memasukan data. Jemari kanannya memegangi mouse. Jemari kirinya membalik satu demi satu buku catatan itu.
V hanya melihat ke arah layar komputer menanti Haura memeriksa tugasnya. Kadang V juga melihat ke arah wajah Haura memperhatikan keindahan yang terlukis disana. Haura tak sadar dirinya ditatap oleh V sedari tadi, membuat ustadz baru itu semakin ketagihan hingga membuatnya tak dapat berhenti menatap ke arah wajahnya.
Seketika Haura menoleh, v kepergok menatapnya. Tawa pun keluar dari mulut mereka berdua.
"Ahahaha V... Dasar yah malah nyuri - nyuri kesempatan" Kata Haura tak menduga V terus menatapnya sejak tadi.
"Hahaha salah siapa kamu disana ? Orang di bilang udah selesai malah gak percaya... Lagian . . . " Kata V menghentikan kalimatnya membuat Haura tersenyum menanti V menyelesaikannya.
"Lagian ?" Kata Haura.
"Siapa yang bisa nahan coba untuk gak ngelihat keindahan wajah serta aroma parfum yang tercium harum di tubuh indahmu" Kata V yang membuat Haura tersenyum senang mendengarnya.
"Ahahahah dasar... Mulai lagi nih yah gombalnya !" Kata Haura yang malah duduk di sebuah kursi di samping V. Haura merasa senang tiap kali bisa bersama V. Ia pun menatap wajah V. Ia membuka mulutnya untuk mengobrol dengannya. Tak jarang Haura kembali curhat mengenai sikap suaminya yang malah dibalas V dengan beribu gombalan yang membuat Haura tertawa. Perasaan Haura semakin baik, perlahan ia semakin melupakan kejadian buruk yang pernah pak Karjo lakukan padanya.
"Oh yah V... Jadi gak sore ini... Aku juga mau bisa nebak aroma parfum orang lohhh" Kata Haura merengek manja meminta diajarkan.
"Hmmm mau nebak parfum orang ? yang bener mau ? Biar apa coba begitu ?" Kata V merapatkan bibirnya lalu menurunkan bibirnya ke bawah menanggapi permintaan Haura.
"Ihhh biar keren lah" Kata Haura cemberut.
"Hahaha yaudah jadi kok... Tapi ada syaratnya" Kata V membuat Haura penasaran.
"Apa itu ?" Tanya Haura.
Tanpa diduga V menepuk pipinya lagi dengan jari telunjuk dan juga jari tengahnya meminta dicium. Haura terperangah yang kemudian membuatnya tertawa sendiri tak percaya dengan permintaan V itu.
"Ahahha yaudah merem yah... Siappp... Dah belummm ?" Kata Haura cekikikan melihat V menuruti kata - katanya.
"Udah dong" Jawab V tak sabar menanti ciuman yang akan Haura berikan padanya. V pun berandai - andai merasakan sentuhan dan kehangatan yang diberikan oleh bibir Haura di pipinya. Semakin ia membayangkan, ia semakin tak sabar untuk menerimanya.
Plakkkkk !!!
V terkejut, kemudian tersenyum merasakan pipinya ditampar dengan keras oleh Haura.
Kamvret !!!
"Ahahhaa... Maaf V... Maaf" Tawa Haura lekas memeluk V meminta maaf karena telah memberikan pelajaran.
"Wahh ini dimana ? Kok rasanya seger yah ? Pipiku juga kenapa kok panas" Kata V tersenyum yang membuat Haura semakin tertawa lepas melihat sikap lucu V.
"Rasain ahahahha... Makanya jangan kegenitan yah ustadz V" Kata Haura masih tertawa melihat sikap ustadz baru tersebut.
"Hahhh begitulah... Kadang kenyataan memang tak seindah realita... Yaudah yuk kita ke taman" Kata V mengajak Haura pergi.
"Ehhh mau ngapain ?" Tanya Haura.
"Kencan.... Ya belajar bunga lah katanya pengen tau lebih tentang bunga" Kata V yang membuat Haura kembali tertawa terbahak - bahak.
Tanpa diduga, V menyentuh jemari Haura kemudian mengangkatnya naik mendekatkan jemari itu ke wajahnya. Haura hanya tersenyum membiarkan ustadz yang bukan muhrimnya itu menyentuh tangannya.
Cuppp !
V mengecup punggung tangan Haura kemudian mengajaknya berdiri menuju taman yang berada tak jauh dari kantor pengasuhan.
"Ayo berangkat" Ajak V yang hanya dijawab anggukan dan senyuman oleh Haura.
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju pintu keluar dengan tangan yang saling terkait antara satu sama lain. Haura terlihat bahagia dengan senyum lepas di wajahnya begitupula V yang menatap wajah Haura dengan senyum manisnya. Beruntung hanya ada mereka berdua di dalam kantor pengasuhan ini. Mereka pun bebas mengekspresikan kebahagiaan mereka tanpa perlu takut diganggu oleh pihak ketiga.
Saat mereka membuka pintu, tak diduga ada Hanna yang berniat masuk ke dalam. Sontak mereka melepas genggaman tangan mereka. Mereka canggung, beruntung Hanna tak menyadari pemandangan tadi.
"Ehhh kalian mau kemana ?" Tanya Hanna.
"Kami mau ken... Ahhhh sakittt" Kata V merasakan pinggangnya dicubit.
"Kencan ? Ahahhaa.... Sadar diri Haura udah punya suami V !!" Kata Hanna menegur V sambil tertawa.
"Tau tuhhh enak aja mulutnya kalau ngomong... Kita mau ke kantor administrasi sebentar Han" Kata Haura buru - buru mengklarifikasi walau harus sedikit berbohong.
"Ohhh gitu... Ahahaha yaudah hati - hati yah" Kata Hanna.
"Iya siappp" Haura dan V pun pergi menuju taman bunga untuk menikmati waktu bersama. Saat melihat Hanna sudah berpaling memasuki kantor pengasuhan. Reflek jemari V kembali bereaksi untuk mengait jemari Haura.
"V ihhhh.... Banyak orang diluar entar ketahuan" Kata Haura menegur V yang membuat V tertawa.
“Ehhh itu apa disana ?” kata V sambil menunjuk ke arah yang ia lihat.
“Disana ? Ada apa ? Gak ada apa - appp . . . . .” Haura menoleh dan tak menemukan apapun disana. Saat ia kembali menoleh tuk menatap V. Ia terkejut saat merasakan pipinya dikecup oleh bibir manis V dengan lembut.
Cupppp !!!
V menyentuhkan bibirnya dengan lembut di pipi chubby Haura. Setelah lega dapat menciumnya. V memalingkan wajahnya berpura - pura tidak terjadi sesuatu.
“Ihhh nyebelin yah malah nyuri kesempatan lagi !” kata Haura tertawa bergegas tuk memberikan V pelajaran. V pun tersenyum lalu berlari menjauh dari Haura. Mereka berdua berlarian bagai anak kecil yang sedang bermain - main. Mereka pun saling tertawa menikmati kebersamaan yang sedang mereka lalui berdua.
V !!! Hihihihi
Batin Haura merasa bahagia.
DI KANTOR PENGASUHAN,
Hanna sedang duduk di mejanya membaca materi shorof untuk menyiapkan diri sekaligus mengingat kembali pelajaran yang dulu sempat dipelajarinya. Hanna terkejut ketika menyadari bahwa dirinya banyak melupakan materi yang dulu sempat ia pelajari. Ia pun gugup dalam menyiapkan diri guna mengajari salah satu santrinya yang ingin belajar darinya.
"Aduhhh masa banyak yang lupa sih" Kata Hanna tak menduga.
Ia pun melepas kacamata dari wajahnya menggunakan tangan kanannya. Lalu ia mengucek matanya yang gatal menggunakan jemari di tangan kirinya. Baru ia mengenakan kacamata itu lagi untuk fokus mengingat semua materi yang telah dipelajari.
Waktu berlalu, ia semakin fokus membaca buku materi itu. Jemarinya terus membolak - balikan halaman demi halaman demi mempercepat bacaan. Kemudian karena lelah ia menaruh buku itu di atas meja di hadapannya.
Tokkk tokkk tokkk !
"Assalamualaikum ustadzah" Sapa seseorang di luar.
"Walaikumsalam... Masuk" Jawab Hanna dari dalam.
Seorang santri yang mengenakan kemeja berwarna biru juga celana gelap yang melilit sisi bagian bawah tubuhnya terlihat dari balik pintu itu. Rambutnya yang cepak, wajahnya yang terlihat akrab, juga gigi yang agak menjorok maju membuat Hanna segera mengenalinya.
"Ehh Lutfi silahkan duduk" Kata Hanna berdiri meminta Lutfi lekas duduk dihadapannya.
Lutfi hanya tersenyum ketika mendekati ustadzah Hanna. Ia menenteng buku catatannya sambil melihat ke sekeliling ruangan. Lutfi mencoba mempelajari tata letak kemudian menyeringai diam - diam.
Muwehehehe ! Kayaknya sepi nih ! batin Lutfi.
"Assalamu'alaikum ustadzah... Antum sendirian yah disini ?" Tanya Lutfi menyapa Hanna sekaligus bertanya untuk memastikan keadaan setelah duduk di dihadapan ustadzahnya.
"Iya Lutfi... Ustadzah sendiri" Kata Hanna yang membuat Lutfi membatin senang.
Lutfi lekas membuka buku yang ia tenteng sedari tadi. Dengan segera jemarinya bergerak mengamati satu demi satu tuk mencari materi pelajaran yang belum ia pahami. Ia pun menemukannya dan segera bertanya pada ustadzahnya yang sudah menantinya bertanya.
"Oh iya ustadzah maksud dari ini apa yah ?" Tanya Lutfi mulai menanyakan materi yang belum ia pahami. Lutfi membuka buku catatannya, mengeluarkan penanya dan bersiap - siap menulis apa yang ustadzahnya jelaskan.
"Ohh ini.... Jadi gini loh Lutfi" Kata Hanna menjelaskan.
Alih - alih memperhatikan, pandangan Lutfi justru teralihkan oleh penampilan indah Hanna di hadapannya. Wajah cantik, penampilan manis, bibir tipis membuat Hanna terlihat erotis. Belum lagi dengan warna merah merona yang terlukis di bibirnya. Rasa gemas melanda Lutfi yang tak tahan ingin melumat habis bibir tipis tersebut. Dikala ia mendekatkan diri, tercium lah aroma parfum yang mengundang gairah Lutfi. Dikala ia menatap kemeja yang ustadzah cantik itu kenakan, Lutfi mulai menerka - nerka bagaimana bentuk rupa dibalik kemeja longgar yang ustadzahnya itu kenakan.
Lutfi cukup lama memperhatikannya. Ia mulai membayangkan andai kemeja yang ustadzahnya kenakan itu terlepas. Ia turut menatap ke bawah mencoba menerawang rok lebar yang tersembunyi dibalik meja panjang yang memisahkan mereka berdua. Lalu Lutfi mulai menyesusikan proporsi tubuh ustadzahnya untuk membayangkan ukuran dari payudara yang menggantung di dadanya.
"Pasti gede" Lirih Lutfi ketika memperhatikan tonjolan yang nampak di dada ustadzahnya. Lutfi cukup terkejut karena walau ustadzahnya sudah mencoba untuk mengenakan pakaian yang longgar tapi Lutfi masih saja dapat melihat lekukan payudaranya yang menonjol. Lutfi geleng - geleng kepala memperhatikan dada ustadzahnya secara diam - diam.
"Gimana Lutfi... Antum paham ?" Tanya ustadzahnya.
"Ehh ya... Ya.. Paham ustadzah hehe" Kata Lutfi terkejut.
Karena gugup tak sengaja Lutfi menjatuhkan pulpennya ke lantai dan menggelundung ke arah kaki Hanna. Lutfi tertawa canggung yang membuat Hanna geleng - geleng kepala melihat keanehan santrinya.
"Maaf ustadzah... Bisa tolong ambilkan" Kata Lutfi sambil terkekeh - kekeh.
"Hufftt antum ini kenapa sih ?" Kata Hanna mulai menunduk mencoba untuk mengambil pulpen santrinya.
"Antum pasti gak memperhatikan yah dari tadi... Antum pasti sering melamun yah.... Keliatan tahu kalau antum... Lohhh... Lutfi... Antum dimana ?" Kata Hanna terkejut saat dirinya kembali duduk di tempat duduknya. Lutfi yang seharusnya sedang duduk dihadapannya menghilang. Hanna mencoba melirik ke kanan kemudian ke kiri. Hanna lalu berdiri mencoba melihat ke bawah tempat duduk Lutfi berada. Ia mengira mungkin Lutfi ikut menunduk tuk mengambil pulpennya. Tapi nyatanya Lutfi tidak ada disana. Hanna kembali duduk di kursinya. Seketika bulu kuduk nya merinding saat menyadari Lutfi menghilang entah kemana.
"Lutfi mana yah ? Kenapa tiba - tibaaa.... Ahhhhhh" Hanna menjerit kaget saat ada seseorang yang tiba - tiba meremas dadanya dari belakang. Remasannya terlampau kuat membuat darah yang berada di dalam tubuhnya berdesir mengalir mengelilingi tubuhnya.
Hanna marah ketika dirinya dilecehkan, ia pun menatap ke belakang untuk mencari tahu siapa pelaku mesum yang sudah berani menyentuh tubuhnya.
"Muwehehehe... Selamat siang ustadzah" Sapa Lutfi tanpa dosa.
"Lutfi... Apa yang antum lakukan ke ustadzah... Antum jangan kurang ajj.... Ahhhhhhh" Hanna kembali mendesah ketika Lutfi kembali meremas payudara Hanna.
"Muwehehe ustadzah kenapa sih ? Kok mendesah keenakan terus" Kata Lutfi yang membuat Hanna kesal.
"Lutfi hentikannn... Ini ustadzah Lutfi !!! Ini ustadzah !!! Ahhhhhhh" Desah Hanna memohon agar Lutfi menghentikannya.
"Iyya tauuu ustadzah... Ini ustadzah Hanna kan yang pernah marahin ana di kelas terus ngundang ana kesini biar dimarahin dan nyaris dipukuli sama ustadz yang tinggi itu ? Ana gak ngira ternyata ustadzah punya body yang bagus dibalik baju longgar yang sering ustadzah kenakan" Bisik Lutfi ditelinga Hanna sambil terus meremasi payudaranya.
“Wahhh susu ustadzah juga kenceng banget... Pasti sering olahraga yah ustadzah !” lanjut Lutfi terus melecehkan ustadzahnya.
"Apa ? Antum yang sopan yah kalau bicara... Ahhhh lepasiinnn... Jangan jadi santri yang kurang ajar Lutfiii !!!" Kata Hanna meninggikan suaranya saat merasakan jemari Lutfi mulai melepas satu demi satu kancing kemeja yang ia kenakan.
"Apa ustadzah ? Ana gak denger" Kata Lutfi fokus meremasi kedua buah dada sintal itu hingga tak sempat mendengarnya.
"Antum ternyata ahhhhhhh... Masih jadi santri nakal yah... Ustadzah kira antum uhhhhhh... Sudah berubah... Antum tuh seharusnya uuhhhmmmm" Desah Hanna terkejut saat bibirnya mulai dicumbu oleh santri kurang ajar itu.
"Antum ini uhhmmm terlalu husnudzon ke ana yah usss... Mana ada uhhhmmm orang yang bisa berubah secepat itu" Kata Lutfi ditengah cumbuannya.
Mata ustadzah itu mebelalak kaget menerima serangat kilat dari santrinya. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Lutfi menjauh yang kini sudah berada di sampingnya. Namun usaha dari bidadari cantik itu sia - sia karena nafsu dan tekad Lutfi begitu kuat dalam melumat bibir manis ustadzah cantik itu. Lidah Lutfi mendorong - dorong dan menjilati bibir ustadzahnya, ditambah lagi tangannya yang menahan sisi belakang kepala ustadzahnya. Hanna pun tak memiliki kesempatan untuk bisa kabur dari cumbuan penuh nafsu santrinya.
“Uhmmmm Luttfiiii !!! Hentiikkannn... Uhmmm Uhmmmmmm”
Hanna terus mendesah lalu menutup bibirnya serapat mungkin demi bertahan sekuatnya. Akan tetapi remasan tiba - tiba yang ia terima di salah satu payudaranya membuat bibirnya pun terbuka. Lidah Lutfi langsung bergerak masuk menyerbu rongga mulut ustadzahnya. Lidah mereka saling bertemu. Saling bertubrukan. Saling bergesekan. Lidah mereka bergelut bagai kedua belut yang saling melilit. Liur mereka berkumpul di rongga mulut Hanna. Mulut Hanna pun penuh hingga beberapa dari liur itu menetes jatuh di sela - sela bibir manis ustadzah cantik itu. Lutfi semakin bersemangat dalam menikmati cumbuannya bersama bidadari berhijab dihadapannya.
Satu demi satu kancing kemeja itu mulai dibuka. Kulit mulus sang ustadzah mulai terlihat disana. Mata Lutfi sedikit mengintip demi melihat pemandangan yang selama ini tersembunyi di balik kemeja. Mata Lutfi terbelalak saat menemukan adanya dua tonjolan yang masih tertutupi bra berwarna putih disana. Semakin Lutfi membuka kemejanya, kedua tonjolan yang berbentuk bulat sempurna itu semakin terlihat. Bentuknya pun kencang, montok, sintal. Ah pokoknya luar biasa hingga mebuat perhatian santri kurang ajar itu berpindah.
Lutfi melepas cumbuannya kemudian membuka paksa sisa kancing kemeja yang masih terpasang hingga kancing - kancing itu berceceran di lantai. Hanna terkejut saat melihat santrinya tiba - tiba menurunkan cup bra miliknya dan hendak menyusu disana.
“Luttffiiii !!! Jangannn... Ustadzah mohon jangan lakukannn Lutfiii !!!” Pinta Hanna pasrah.
“Aaahhhhhhhh” Hanna mendesah saat lidah santrinya mulai bermain di putingnya.
Dijilatinya dengan liar puting yang sudah menegak itu hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya. Terkadang ia juga menggigit puting ustadzahnya guna memberikan sensasi tersendiri untuknya. Tangan satunya mengangkat rok lebar yang Hanna kenakan kemudian meraba - raba celana dalamnya guna mencari tahu dimana letak posisi liang senggama ustadzahnya.
“Luttfiiii... Ahhhhh tolooongggg... Jangan lakukan Lutfiiii.... Ustadzahhh mohhonnnn... Jangan perkosa ustadzahhhh Lutfiiii” kata Hanna menangis ketakutan khawatir dirinya akan kehilangan keperawanan beberapa bulan sebelum pernikahannya.
Namun Lutfi mengabaikan. Ia bahkan tersenyum sambil menatap wajah ustadzah yang terlihat semakin bernafsu baginya. Tangan Lutfi menarik paksa celana dalam yang Hanna kenakan hingga lapis legit miliknya terlihat di hadapan Lutfi.
“Waahhhhh” kata Lutfi takjub melihat betapa rapat dan indahnya vagina ustadzahnya.
“Luttfiii janggannn !!!” kata Hanna merapatkan kakinya.
“Ssssttt jangan teriak - teriak ustadzah nanti ada yang denger” kata Lutfi sambil membuka kembali kaki Hanna guna menikmati pemandangan disana.
Jemari Lutfi mulai meraba - raba bibir vagina Hanna. Sementara bibirnya naik untuk melumat kembali bibir manis ustadzahnya agar tidak berisik. Terkadang jemari telunjuk Lutfi bermain - main dengan membelah liang senggama ustadzahnya yang membuat gairah Hanna pun bangkit tanpa kemauan pemiliknya.
Akibatnya vagina Hanna semakin basah oleh cairan cintanya. Dikala Lutfi menggeseknya terdengarlah suara cipratan air disana. Lutfi tersenyum sambil mencumbui ustadzahnya. Ia tersenyum puas bisa menikmati keindahan tubuh sang bidadari.
Lutfi melepas cumbuannya hingga nampak lendir yang menempel di kedua bibir mereka seolah tak ingin berpisah. Lutfi puas bisa menikmati tubuh ustadzahnya. Sementara Hanna masih menangis sesenggukan dengan keadaan yang berantakan. Hanna masih duduk di kursinya mengenakan kemeja terbuka yang mana kancing di bagian bawahnya terlepas dari posisinya. Terlihat dua payudara kencang yang menggantung disana. Sedangkan rok lebarnya terangkat naik memperlihatkan sedikit pahanya yang sintal serta kulit mulusnya yang mempesona. Hanna menangis sesenggukan sambil menatap benci Lutfi tak percaya. Akan tetapi matanya terbuka saat melihat Lutfi mulai menurunkan resleting celananya juga kemeja yang dikenakannya hingga bertelanjang dada dihadapannya.
Penis Lutfi sudah mengacung tegak berdiameter lebar dan berukuran panjang. Sontak Hanna ketakutan melihatnya. Lutfi yang sudah dilanda nafsu menarik tangan ustadzahnya hingga membuatnya berlutut di lantai dihadapannya. Lutfi mendekatkan penis miliknya ke wajah ustadzahnya yang langsung ditolak mentah - mentah. Wajah Hanna bergeleng - geleng menolak disentuh oleh benda menjijikan itu. Namun pinggul Lutfi sengaja dimajukan hingga penisnya mendorong pipi ustadzahnya hingga meninggalkan cairan precum disana. Hanna semakin menangis merasa jijik. Namun ia tak bisa melakukan apapun selain pasrah memohon Lutfi agar segera melepasnya.
“Luffiii janggann Lutfiii !!! Inget ini ustadzah ! Tolong jangan lakukan ini ke ustadzahh Lutfi !” kata Hanna terus memohon.
“Muwehehehe... Gede kan ustadzah punyanya ana... Ana jamin pasti punyanya ustadz Angga gak akan segede ini” kata Lutfi membanggakan dirinya.
“Sekarang pegang punya ana ustadzah... Kocok punya ana... Terus masukin punya ana ke mulut ustadzah !!!” pinta Lutfi berkecak pinggang membiarkan penisnya berdiri tegak dihadapan ustadzahnya.
“Takut dengan ekspresi wajah yang Lutfi berikan membuat tangan Hanna gemetar mencoba untuk menggenggam penis besar disana. Hanna berhasil memegangnya dan mulai mengocoknya pelan membuat Lutfi tersenyum bangga ketika ustadzahnya mau menuruti permintaannya.
“Loh kok cuma dikocok doang ? Kan tadi ana minta buat dimasukin ke mulut ustadzah !” kata Lutfi mengangkat tinggi suaranya membuat Hanna ketakutan.
Tanpa mengucapkan kata - kata Hanna memajukan wajahnya sambil memandangnya jijik. Ia melanjutkan kocokannya sambil menjulurkan lidahnya pada ujung gundul penis itu dengan ragu. Lutfi pun kesal melihat sikap ustadzahnya yang terlihat lambat dalam menuruti perintahnya.
“Ustadzahhh !!! Ana bilang pake mulut bukannya cuma disentil pake lidah !!! Harusnya tuh gini yang namanya pake mulut !!!” kata Lutfi mencengkram hijab syar’i ustadzahnya kemudian membenamkannya ke selangkangan hingga penisnya ikut masuk menerjang rongga mulut sang ustadzah.
“Hmmppphhhhhhhh !!!” Hanna hanya mengeluarkan suara seperti itu sambil menitikan beberapa air matanya. Mulut Hanna yang mungul tak sebanding dengan ukuran penis Lutfi yang berukuran raksasa. Hanna tak mampu untuk memuat seluruh batang penis itu. Hanna pun tersedak saat kerongkongannya terdorong oleh ujung gundul penis santrinya. Hanna juga merasa mual saat mencium aroma tak sedap yang berasal dari selangkangan santrinya.
“Nahhh gitu ustadzahhhh.... Masukin lebih dalam lagi.... Ouhhhh ustadzahhh... Teruss lebih dalam lagi !!!” kata Lutfi semakin membenamkan kepala ustadzahnya ke dalam selangkangannya.
Hanna semakin menangis ketika dipaksa untuk melakukan Tindakan oral ini oleh santrinya. Ia tak menduga bahwa santri yang sudah ia percaya justru melakukan hal ini padanya. Hanna merasa terkhianati. Hanna merasa kecewa pada diri sendiri. Hanna mulai benci. Tapi ia juga berharap agar Lutfi segara sadar dan melepaskan dirinya dari kekhilafan yang dialami oleh sang santri.
Lutfi memaju mundurkan kepala ustadzahnya secara paksa di selangkangannya. Lutfi pun mendesah merasakan kehangatan di sana. Rasanya sungguh nikmat saat menikmati sepongan ustadzahnya. Berulang kali ia menarik kepala ustadzahnya kemudian mendorongnya lagi. Kemudian menariknya lagi lalu mendorongnya lagi secara terus menerus tanpa mengabaikan suara tangis yang berasal dari ustadzahnya.
“Hmmpphhhh hmmmphhhh !” desah Hanna sambil memejam.
Perlahan Lutfi mulai merasakan sapuan lidah sang ustadzah yang tak sengaja menyapu penisnya. Lutfi blingsatan merasakan nikmat di penisnya. Lutfi kini beralih strategi. Lutfi menahan kepala ustadzahnya sedangkan pinggulnya yang bergerak maju mundur keluar masuk di mulutnya.
“Uhhhhh ustadzah... Ouhhhh yahhhhh... Nikmatnyaaa !!!” kata Lutfi saat sedang memperkosa mulut ustadzahnya.
Lutfi sampai lupa kalau yang ia masuki itu mulut bukan vagina. Hanna merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan Lutfi. Penis di dalam mulutnya pun berdenyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Hampir lima menit mereka dalam posisi itu hingga membuat Lutfi nyaris kelepasan karena terbuai oleh kenikmatan yang dirasakakan.
“Aahhhhhhhhhh” kata Hanna saat mulutnya terbebas dari penis Lutfi setelah sekian lama. Mulut Hanna belepotan oleh cairan yang menetes di mulutnya. Hanna pun mengelapnya dengan lengan kemeja yang dikenakannya. Hanna merasa mual, ia juga muak dengan sikap Lutfi yang terlampau tega padanya. Hanna menatap benci wajah sang santri yang dibalas dengan senyum mesum yang dipenuhi gairah birahi.
Lutfi perlahan mendekat yang membuat Hanna reflek merangkak mundur dengan menyeret bokongnya. Hanna terlihat ketakutan namun Lutfi hanya senyum - senyum penuh kepuasan. Penis itu terlihat semakin besar dan perkasa. Hanna pun bingung harus berbuat apa agar bisa terlepas dari siksaan birahi ini.
“Sudah cukup Lutfiii... Ustadzahh mohon... Untuk kali ini lepaskan ustadzah... Jangan sakiti ustadzah dengan sikap antum Lutfi !” pinta Hanna pasrah.
“Cukup apanya ustadzah ? Ana aja belum bersenang - senang dengan lapis legit ustadzah... Lagipula ini kan baru pemansan” kata Lutfi yang membuat Hanna semakin ketakutan.
Lutfi langsung memegangi kaki Hanna kemudian menarik paksa rok lebar yang dikenakannya juga celana dalam yang masih menggantung di lututnya. Kini tersisa lah kemeja terbuka serta kaus kaki panjang saja yang masih melekat di tubuhnya. Hijabnya juga sudah berantakan hingga helai - helai rambut sang ustadzah sedikit terlihat di dahinya.
“Lutfiii !!! Apa yang ????” kata Hanna terperangah.
“Apa ? Menurut ustadzah apa ?” kata Lutfi mulai membuka kaki sang ustadzah kemudian mendekatkan penisnya ke bibir vagina ustadzahnya.
Lutfi memulainya dengan menggeseknya pelan. Lutfi menyeringai saat melihat ekspresi Hanna yang justru merinding menahan geli. Tubuh Hanna menggelinjang sambil mengeluarkan erangan - erangan yang malah membangkitkan gairah birahi Lutfi.
“Ahhhh jangannnn... Sakiitttt... Jangan Lutfiii !!! Ini sakitttt !!” kata Hanna ketika merasakan bibir vaginanya dibelah oleh penis besar itu yang mencoba masuk ke dalam.
Tubuh Hanna mengejang sambil berbaring diatas lantai kantornya. Ujung gundul dari penis besar itu telah masuk. Lutfi ikut mengerang merasakan kepuasannya. Lutfi pun tersentak menyadari betapa nikmatnya persenggamaan yang selama ini hanya bisa ia nikmati melalui video porno saja. Ia kini bisa melakukannya langsung. Ia telah mendorong penisnya ke dalam vagina sempit ustadzahnya.
Hanna meringis dan merintih menahan perih di liang senggamanya. Hanna pun panik akan lepasnya selaput dara yang selama ini menjadi kebanggaannya. Tak pernah sekalipun dalam seumur hidupnya Hanna disentuh oleh seorang lelaki. Ia benar - benar menjaga diri. Ia hanya ingin disentuh kelak oleh sang suami. Tapi siapa sangka di detik ini ia justru sedang dilecehi oleh salah satu santrinya yang bernama Lutfi.
“Ouuhhhhhhhhhhhh”
Lutfi terus mendorong pusakanya sambil melenguh pelan. Lutfi kadang memundurkannya terlebih dahulu baru menerjang maju kemudian. Berbagai strategi telah Lutfi upayakan demi menembus garis pertahanan sang ustadzah. Akhirnya beberapa saat kemudian, seluruh penis miliknya berhasil masuk ke dalam vaginanya.
“Aaaahhhhhhhhhhhhhhh” Hanna menjerit dengan keras sambil menitikan air mata kesedihan. Hanna merasakan perih yang amat sangat di dalam vaginanya. Hanna menangis menahan semua rasa sakit ini. Tak berselang lama mengalirlah darah segar dari dalam vaginanya yang membuat Lutfi menyeringai senang.
“Huhhh akhirnya... Setelah ini ustadzah resmi menjadi seorang wanita yah... Selamat ustadzah” kata Lutfi melecehkan ustadzahnya yang membuat Hanna menatapnya benci.
“Tega antum yah Lutfi melakukan ini ke ustadzah ! Tega antum bikin ustadzah menangis ! Tega antum bikin ustadzah sedih ! Tega antum sudah mengkhianati kepercayaan yang ustadzah berikan !” kata Hanna menangis penuh kekecewaan.
“Muweheheheh... Ana kan gak mengemis kepercayaan itu ke ustadzah... Ustadzah sendiri kan yang udah percaya ke ana ? Ya derita di tanggung sendiri lah kenapa malah nyalahin ana ?” kata Lutfi yang tak tahu malu.
Belum usai rasa benci yang Hanna berikan tiba - tiba ia dikejutkan oleh gerakan penis Lutfi di dalam vaginanya. Lutfi sudah menggoyangkan pinggulnya, mula - mula gerakannya perlahan lalu lama - lama makin cepat dan nikmat. Hanna benar - benar terkejut sambil menahan erangan tiap kali Lutfi menerjang vaginanya. Rasanya amat sakit ketika penis besar Lutfi mengobok - ngobok vaginanya. Ia tidak mau dilecehkan lebih lagi dengan mengeluarkan suara desahan dari mulutnya.
Akan tetapi tiba - tiba rasa sakit yang dideritanya perlahan menghilang berganti menjadi kenikmatan yang tak terduga. Hawa nafsu yang tinggal di dalam tubuh Hanna pun bangkit. Tubuh Hanna mengejang, payudaranya pun mengencang serta puting susunya berdiri tegak menjulang. Hanna pun memejam merasakan kenikmatan yang melanda di tubuhnya. Tak sengaja mulutnya pun terbuka mengeluarkan suara desahan - desahan yang membuat Lutfi tertawa puas melihatnya.
“Aahhhhhh ahhhhhh... Lutfiiiii tungguuu... Ahhhh ahhhh” desah Hanna keceplosan.
“Muwehehehhe tadi nolak - nolak sampai nangis sekarang keenakan juga kan ustadzah ?” kata Lutfi yang membuat Hanna kesal. Wajah Hanna memerah. Ia merasa malu dengan suara desahan yang tercipta di mulutnya. Ia pun mencoba bertahan menjaga sisa harga diri yang masih ia miliki.
Gesekan demi gesekan yang tercipta dari pertemuan dua kelamin yang berbeda menimbulkan percikan kenikmatan yang timbul di dalam. Rasa nikmat benar - benar menguasai diri Hanna. Hanna sampai merem melek merasakan sodokan dari Lutfi. Tubuhnya pun terangkat naik secara tak sengaja hingga membantu Lutfi untuk membenamkan penisnya lebih dalam lagi.
“Ahhhhh Lutfiiii hentikannn... Tolonggg hentikann !! Ini Ustadzah Lutfiii !!!” kata Hanna terus berusaha tuk tidak hanyut dalam alunan birahi yang menerjang tubuhnya.
Lutfi hanya tersenyum melihat reaksi tubuh Hanna. Lutfi memegangi pinggang Hanna dengan kencang. Ia menyodoknya lebih kuat lagi. Payudara Hanna yang bergoyang indah mempesonakan mata Lutfi saat melihatnya. Ia benar - benar tak menduga bisa mewujudkan impiannya dalam memperkosa sang ustadzah.
Menit demi menit berlalu Hanna masih saja digenjot oleh Lutfi dalam posisi yang sama. Hebatnya kecepatan yang Lutfi lakukan cukup stabil membuat Hanna semakin hanyut dalam merasakan persetubuhan terlarang yang dilakukannya bersama santrinya. Lutfi menyeringai merasakan pijitan - pijitan nikmat yang ia terima dari jepitan vagina ustadzahnya. Rasanya sungguh nikmat membuat santri itu terus mendesah sambil memandangi wajah sang ustadzah yang terlihat semakin benci kepadanya.
Hanna merasa marah. Sebisa mungkin ia berusaha bertahan mempertahankan sisa harga diri yang dimilikinya. Mau bagaimanapun ia masihlah seorang ustadzah. Ia mencoba melawan sebisanya. Ia mencoba untuk merapatkan bibir sambil menggeleng - gelengkan kepala tiap kali Lutfi menghujami kelaminnya. Namun semua usahanya sia - sia. Apalagi saat menyadari Lutfi sedang menundukan tubuhnya agar dapat menikmati payudaranya kembali.
“Uhmmm.... Sllrrppppp.... Uhmmm.... Sllrrppp”
Lutfi sudah menunduk, tangannya meremasi payudara kiri Hanna sedangkan mulutnya mencaplok payudara kanannya. Secara bergantian Lutfi memainkan dua payudara yang masih bergoyang indah menerima hujaman penisnya. Setiap remasan dan gigitan yang Lutfi berikan membuat Hanna merintih menahan nikmat. Gaya permainan Lutfi yang cenderung kasar justru membuat birahinya melesat begitu cepat.
Tiba - tiba Hanna merasakan ada sesuatu yang berkumpul di dekat lubang kencingnya. Begitupula Lutfi yang perlahan mulai kehilangan kestabilannya. Lutfi dan Hanna sama - sama merinding. Nafas mereka juga berat. Tubuh mereka terasa panas saat merasakan adanya aliran gelombang yang berkumpul di dekat lubang kencing masing - masing.
Lutfi menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh ustadzahnya. Lutfi kembali melumat bibir ustadzahnya. Lutfi menghisapnya kuat - kuat dan menjepit bibir atasnya dengan nikmat.
“Ehhmmmm Mmmpphh mmpphhhhh !!!” Lutfi tak dapat mendesah karena mulutnya terfokus dalam menikmati bibir ustadzahnya. Sedangkan Hanna terus bertahan dengan berkali - kali menggelengkan kepala menghindari serangan bibir santrinya itu. Cumbuan nikmat yang mereka lakukan semakin mempercepat birahi mereka untuk menuju puncak.
“Hmmpphhhhhhh Hmmpphhh !” desah mereka berdua tertahan.
Lutfi mempercepat hujamannya. Hanna tak sadar memperlebar kakinya tanpa kemauan hatinya. Mereka berdua sudah diambang klimaks. Lutfi semakin cepat menyodok liang senggama ustadzahnya saat merasa klimaksnya semakin dekat.
“Mmmmpppphhhhhhhhhhh !!!!” desah mereka berdua bersamaan,
Crrrroootttt crrrootttt crrooooottt !!!
Lutfi memejamkan mata merasakan semprotan sperma yang menyembur di dalam rahim sang ustadzah. Begitupula Hanna yang sampai merem melek merasakan kenikmatan yang belum sempat ia rasakan. Tubuh mereka berdua kejang merasakan sisa orgasme yang mereka dapatkan. Kenikmatan luar biasa yang mereka terima membuat mereka melupakan situasi, kondisi dan keadaan yang terjadi di sekitar.
Hanna terkapar di lantai saat Lutfi mulai bangkit setelah menindihi tubuhnya. Sesekali tubuhnya yang sintal kejang - kejang merasakan kenikmatan yang ia dapatkan. Begitu pula Lutfi yang sedang membenamkan penisnya sedalam - dalamnya membiarkan tetes terakhir dari spermanya keluar.
Nafas mereka berhembus berat. Mereka pun mencoba bangkit setelah cukup lama beristirahat. Terutama Lutfi yang masih kuat. Ia mencoba bangkit membiarkan tubuh sang ustadzah yang masih terbaring lemas di lantai. Lutfi tersenyum puas saat ia menarik lepas penisnya dari dalam. Keluarlah lelehan sperma yang bercampur dengan darah perawan mengalir deras membasahi lantai ruangan. Tanpa diduga Lutfi mengeluarkan hape dari saku celananya untuk mengabadikan momen langka tersebut.
“Dari kemarin antum nyariin ini kan ustadzah ? Muwehehehe” kata Lutfi memotret ketelanjangan ustadzahnya juga lelehan sperma di lubang senggamanya. Hanna pasrah bukan karena membiarkan Lutfi melakukannya. Tapi karena ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menghalau kamera hape yang sedang memotretnya. Hanna hanya diam sambil menangis menyesali apa yang sudah terjadi.
“Ini yang antum cari sedang ana pegang... Mulai sekarang tiap kali ana mau menikmati tubuh ustadzah lagi... Antum jangan pernah mencoba tuk menghindar yah... Tau kan kalau antum berani menghindar dari ana ? Antum gak mau kan merusak pernikahan yang akan antum jalani dengan ustadz Angga kan ?” kata Lutfi yang membuat Hanna semakin benci hingga tetesan air matanya semakin deras membanjiri wajahnya.
“Muwehehehehe.... Selamat menikmati masa dewasa antum yah ustadzah... Ingat antum sudah resmi menjadi seorang wanita sekarang” kata Lutfi mulai mengenakan pakaiannya kembali lalu meninggalkan ustadzahnya yang masih terkapar dengan lelehan sperma di lantai.
“Wassalamualaikum ustadzah... Muwehehehhe” kata Lutfi tak lupa mengucapkan salam ketika keluar dari kantor bagian pengasuhan.
Hanna pun menangis sejadi - jadinya meratapi nasibnya yang sudah tidak perawan lagi. Ia mengepalkan jemarinya dan berulang kali menghantamkannya ke lantai. Ia sudah dilecehi, ia sudah diperkosa, ia sudah kehilangan harga berharga yang selama ini ia jaga.
Makin lama ia menangis makan mengalir pula lah lelehan sperma yang keluar dengan lambat dari dalam vaginanya. Hanna pun berfikir, ia sempat merenungkan sesuatu.
“Tanggal berapa sekarang ? Moga hari ini bukan hari suburku” kata Hanna mencoba bangkit dari keterpurukan yang sedang ia rasakan. Ia masih shock membuatnya tak dapat berhenti mengingat kejadian buruk yang baru saja ia dapatkan. Ia mengingat air matanya menggunakan lengan kemeja yang masih terpasang di tubuhnya. Hanna terus merenung memikirkan kejadian tadi. Ia kembali mengusap air matanya kemudian terbayang akan sosok ustadz yang sebentar lagi akan menikahinya.
“Maaafin ana ustadzzz....” Kata Hanna kembali menangis hingga tersedu - sedu saat terbayang wajah tampan calon suaminya.
*-*-*-*
Sementara itu di waktu yang sama di ladang taman penuh bunga - bunga. Tiba - tiba V yang sedang bersenang - senang dengan Haura menatap kantor pengasuhan dari kejauhan. Haura yang berada di dekatnya pun bertanya.
“Ada apa V ? Kamu ngelihat apa ?” tanya Haura penasaran.
“Ahhh enggak... Gak ada apa - apa kok” kata V tersenyum. Entah kenapa perasaan V tidak enak. Firasatnya buruk. Ia tak dapat berhenti untuk melihat ke arah gedung pengasuhan secara diam - diam.
Kebetulan saat itu Haura menunjukan setangkai bunga ke arah V bermaksud untuk menyakan artinya.
“Kalau ini bunga apa V ?” tanya Haura penasaran.
Dilihatnya bentuk bunga yang berwarna keunguan disana. Teksurnya yang lembut juga tangkainya yang berwarna kehijauan. Seketika mata V terbelalak. Ia kembali menatap ke arah gedung pengasuhan yang membuat Haura heran dengan sikap V.
“V kamu kenapa sih ? Kok ngeliat kesana terus ?” kata Haura merasa sebal ketika dirinya kurang diperhatikan.
V terus menatap kantor pengasuhan dari jauh sambil merasakan hawa buruk disana. Perasaannya semakin tidak enak. Ia pun penasaran dengan apa yang sedang terjadi disana.
Bukankah tadi ? Bunga Monkshood ? Kenapa Haura menunjukan bunga itu ke aku ? Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor ? Tunggu Bunga Monkshood yah ? Bukankah ini berarti . . . .
“V !!! Kamu kenapa sih ? Sini dong ajarin aku lagi” kata Haura menarik - narik tangan V meminta dirinya diperhatikan.
“Iyya - iya maaf” kata V mencoba tersenyum sambil memahami maksud dari bunga itu.
Hati - hati, lawan yang berbahaya sudah dekat !
Batin V memahami arti dari bunga Monkshood itu.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *