Search

CHAPTER 11 - SIKAP SEORANG PRIA

CHAPTER 11 - SIKAP SEORANG PRIA

Pagi hari di sebuah rumah yang bertempat di asrama pasangan. Seorang pria bertubuh tambun tengah mengenakan kemeja berwarna biru. Satu demi satu kancing yang terdapat di kemeja itu dimasukannya ke tempatnya. Naas, saat kancing yang berada di dekat perutnya hendak dimasukan ke tempatnya. Kancing itu justru terlepas membuat pria bertubuh tambun itu kesal.

"Haihhhh copot lagi" Kata pria itu mendengus sebal.

Ia lekas melepas kemeja favoritnya kemudian menaruhnya diatas ranjang tidur yang bertempat di sebelahnya. Dengan segera ia membuka mulutnya untuk memanggil istri cantiknya guna meminta bantuannya agar menjahit kembali kancing itu ke tempatnya.

"Deekkkkkkk !!!!"

Mendengar adanya panggilan dari suami tercinta membuat bidadari berhijab itu lekas mematikan kompor guna menghangatkan sup yang sudah terlebih dahulu dibuatnya sebelum fajar menyingsing di pagi tadi. Ia agak berlari mempercepat langkah kakinya menuju arah panggilan. Wanita itu sudah berhijab, sudah mandi bahkan sudah bersiap - siap untuk berangkat ke kantor bagiannya. Namun ia rela berlari kecil hingga berkeringat demi menjalankan pengabdiannya pada sang suami tercinta. Tepat saat itu ia menatap ke arah dinding untuk melihat jam yang digantung disana. Ia tak menyangka rupanya waktu sudah hampir mendekati jam tujuh membuat wanita cantik itu semakin mempercepat langkah kakinya.

"Iyyya maassss.... Adek datang" Kata Haura.

Haura tiba di ruang tidurnya. Ia menemukan suaminya hanya mengenakan kaus oblong berwarna putih membuat tubuhnya yang tambun berperut buncit itu semakin terlihat. Haura mencoba memahami keperluan apa yang diinginkan sang suami hingga membuatnya sampai harus memanggil namanya.

"Ada apa yah mas ?" Tanya Haura.

"Ini dek... Tolong pasangkan kancingnya... Mas lagi buru - buru" Kata Hendra terlihat gelisah.

"Ahahahha perutnya kegedean sih... Makanya diet mas" Kata Haura mengajaknya bercanda. Namun Hendra tidak tertawa bahkan tersenyum pun tidak. Boro - boro mau tersenyum atau tertawa. Wong menatap wajahnya aja endak. Haura menghela nafas mencoba bersabar menghadapi sikap suaminya. Ia pun berusaha memahami. Mungkin suaminya sedang kesal sehingga dirinya tidak ingin diajak becanda.

Lekas Haura membuka laci meja tuk mengambil peralatan jahitnya. Dengan teliti ia memasukan benang itu ke jarum pentulnya. Agak sulit memang karena harus membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi untuk bisa melakukannya. Demi memuluskan jalannya ia sampai mengulum benang itu ke dalam mulutnya, mencampurkannya dengan sedikit liurnya agar benang tersebut memadat hingga semakin mudah ketika memasuki lubang yang berada di pangkal jarum pentul tersebut.

Persiapan pun selesai, ia lekas menjahit kancing tersebut sambil sesekali melirik suaminya yang tampak resah sambil memandangi jam tangannya.

"Mau kemana sih mas ? Kok kayaknya buru - buru banget" Tanya Haura ditengah proses jahit menjahitnya.

"Mau keluar lagi dek... Mau menemui seseorang untuk mengurusi proses pembangunan gedung" Kata Suaminya lagi - lagi tanpa menatap istri cantiknya.

"Ohh" Jawab Haura singkat tak tahu menahu cara merespon apa lagi yang harus ia lakukan untuk dapat menghangatkan percakapannya dengan sang suami.

Haura mempercepat gerakan tangannya hingga tak terasa ia pun menyelesaikan tugas dari suaminya hanya dengan waktu tiga menit saja.

"Ini mas... Adek udah selesai" Kata Haura menyerahkan kemeja itu ke Hendra.

"Terima kasih yah dek" Kata Hendra lekas mengancingkan satu demi satu kemeja itu tanpa sempat memberikan senyum ke istrinya. Tepat saat Hendra mengikat dasi itu ke kerahnya, Haura melihat kalau dasi yang dibuat suaminya itu kurang rapih. Dengan penuh kasih sayang Haura berniat untuk membenarkan dasi tersebut.

Namun Hendra dengan sopan menolak perbuatan baik istrinya karena sedang terburu - buru. Haura kecewa dan sekali lagi ia mencoba memahami sikap suaminya yang sedang tergesa - gesa.

"Maaf yah dek... Mas lagi buru - buru... Oh yah bisa tolong serahkan catatan ini juga beberapa barang yang mas simpan di gudang ke pak Karjo" Kata Hendra yang membuat jantung Haura seperti berhenti berdetak.

Paakkk... Karrrjjoo ? Batin Haura shock mendengar nama itu lagi.

"Anuuu... Catatan apa yah mas ?" Tanya Haura penasaran.

"Ini serahkan aja... Nanti juga tau kok" Kata suaminya lagi - lagi menjawabnya dengan dingin.

Haura menerima catatan itu kemudian membacanya perlahan guna memahami isi yang tertulis disana. Rupanya catatan itu berisi nota barang yang baru dibeli oleh suaminya guna menuruti kebutuhan yang pak Karjo inginkan.

"Mas pergi dulu yah... Wassalamualaikum dek... Jangan lupa yah serahkan itu ke pak Karjo" Kata suaminya pergi begitu saja tanpa memberikannya pelukan, kecupan atau minimal membiarkan Haura mengecup punggung tangannya.

“Walaikumsalam” kata Haura dengan lirih.

Haura membaca sekali lagi catatan yang ia terima dari suaminya. Dikala matanya membaca catatan itu, pikirannya justru berkeliaran entah menuju kemana. Ia khawatir, ia terpikirkan akan perbuatan buruk Karjo padanya.

"Huffttt... Haruskah aku menemui pria bejat itu lagi ?" lanjut Haura melenguh perlahan.

Karena tidak ada pilihan lain, Haura lekas pergi menuju gudang untuk menjalankan amanat dari suaminya. Sebuah kaleng cat berwarna putih beserta tiga buah kuas ia temukan di dalam gudang rumahnya. Lekas Haura mengambil kantung kresek guna memasukan tiga kuas itu ke dalamnya. Ia pun menentengnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membawa kaleng cat berukuran besar.

Haura membuka pintu rumahnya kemudian berangkat sambil membawa barang - barang tersebut menuju sebuah gedung yang belum jadi demi menemui pria tua kekar yang pernah memperkosanya tempo hari. Haura merenung dalam perjalanan itu. Ia masih khawatir akan trauma yang tempo hari pernah dialaminya. Ia begitu ketakutan bahkan telapak tangannya sampai basah akibat keringat dingin yang keluar dari pori - pori kulitnya.

Semoga hal seperti itu tidak terjadi lagi padaku ! Batin Haura berharap.

Sesampainya disana, Haura mulai memasuki gedung itu secara perlahan. Keadaannya masih sepi karena belum banyak pekerja yang hadir sepagi ini. Haura melangkahkan kakinya pelan sambil mengintip ke dalam. Ia mencari seseorang yang sangat ia benci sambil berharap orang itu belum tiba di gedung ini. Akan tetapi semakin ia kedalam, telinganya semakin mendengar suara ketukan palu yang dihantam oleh seseorang. Haura mulai menduga siapa sosok pria bertubuh gelap yang samar - samar mulai terlihat di pandangannya. Apakah itu Pak Karjo ? Atau kuli lain yang sudah tiba disini sepagi ini ?

Saat Haura semakin dekat, Haura mulai menyadari bahwa orang itu sudah berada disini. Ya, dialah pak Karjo yang sangat ia benci. Seseorang yang awalnya sangat ia percayai kemudian berubah menjadi seseorang yang sangat ia benci akibat perbuatannya dalam melecehkan harga dirinya tempo hari. Alih - alih menyapa seperti biasa, ia lebih memilih diam tanpa mengeluarkan suara sambil menanti kuli itu menyelesaikan tugasnya.

Karjo sama sekali tidak tahu kalau ada bidadari cantik yang sedang menunggunya di belakang. Ia terus memalu paku itu ke dalam balok kayu yang baru ia gergaji pagi tadi. Wajah Karjo terlihat serius, Ia terlihat profesional, Ia terlihat terampil dalam memalu paku itu ke dalam. Haura mengernyitkan dahinya, ia pun berkata dalam hati.

Apa gunanya semua ketrampilan itu kalau tidak memiliki akhlak dalam bersikap ?

“Ehheemm !” Haura berdehem karena tidak betah harus menunggu pria tua itu memalu sampai selesai.

Karjo terkejut dengan suara itu hingga membuat wajah jeleknya menoleh. Ia lebih terkejut lagi saat menemukan adanya bidadari berwajah cantik yang sedang menunggunya dimari. Dilihatnya dengan teliti paras bidadari itu. Karjo tersenyum mesum saat melihat wajah manis sang bidadari yang terbungkus hijab tipis berwarna abu - abu. Paras Haura terlihat sempurna dengan kulit putih mulusnya yang membuat lidah Karjo sampai keluar guna membasahi bibirnya yang kering. Diperhatikannya lah bibir Haura yang berwarna kemerahmudaan. Sllrppp ! Karjo sampai menenggak ludah karena tak tahan ingin melumatnya lagi. Saat Karjo menurunkan sedikit pandangannya ke bawah, Ia menemukan betapa indahnya kombinasi pakaian yang sedang Haura kenakan. Kemeja tipis berwarna putih berukuran longgar dikenakan oleh bidadari itu di dalam. Luarannya ia mengenakan blazer berwarna abu - abu yang selaras dengan warna hijab tipis itu. Haura terlihat dewasa di usianya yang masih muda membuat gairah Karjo melonjak - lonjak ingin meledak. Karjo memang menyukai wanita yang dewasa terutama wanita yang sangat menarik dalam berpakaian. Sementara roknya, ah Karjo diam sejenak saat memperhatikan rok span yang terlihat agak ketat membungkus kaki jenjangnya. Karjo berdiri yang membuat Haura bergerak mundur karena takut. Karjo berjalan menuju samping untuk memperhatikan keindahan Haura secara menyeluruh. Haura hanya diam saja sambil menunjukan reaksi wajah tak nyaman memperhatikan raut wajah Karjo yang terlihat semakin bernafsu. Karjo tersenyum senang saat melihat dua bongkahan pantat Haura yang bulat tak muat hingga membuatnya menonjol di bagian belakang rok ketatnya.

“Kekekekekek pagi - pagi udah didatangin bidadari... Mau minta jatah yah ustadzah ?” kata Karjo membuat darah Haura menaik karena marah.

“Tolong dijaga yah pak kata - katanya !!” kata Haura agak menaikan suaranya.

“Dijaga ? Apa yang perlu dijaga ustadzah...” kata Karjo mendekat sambil mengusap - ngusap penisnya yang masih tersembunyi dibalik celana kolornya. Haura pun mundur ketakutan sambil mengangkat kantung kresek berisi kuas itu guna mengarahkannya ke Karjo.

“Jangan mencoba tuk mendekat yah pak ! Aku kesini cuma mau ngasih barang yang udah bapak pesan dari suami aku !” kata Haura memberanikan diri.

“Barang ? Ahh barang itu ? Sebenarnya saya gak butuh ustadzah.... Yang saya butuhkan ya bidadari cantik yang membawakan barang itu kesini” kata Karjo yang membuat Haura terperangah tak percaya. Karjo sampai berani membuang - buang uang anggaran hanya demi mengundangnya ke sini ?

Seketika Haura lengah dalam lamunannya itu. Karjo bergerak cepat dengan memeluk pinggang sang bidadari dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya dengan sigap meremas bongkahan pantat Haura yang tersembunyi di balik rok spannya.

“Aahhhhhhhh” reflek Haura mendesah hingga membuat barang - barang yang ia bawa jatuh semuanya ke tanah.

“Ohhh ustadzah... Mimpi apa saya semalam bisa didatangi bidadari semanis kamu ? Wajahmu, bibirmu, parasmu ! Indah semuanya ustadzah ! Bagaimana kalau kita sedikit berolahraga agar tubuh kita tetap sehat terjaga ?” kata Karjo kemudian mendekatkan bibirnya guna melumat bibir manis Haura.

“Hmmmppphhhhh !!!” Haura memejam merasakan bibirnya kembali dilumat oleh pria bejat itu lagi.

Haura berontak ingin melawan. Berulangkali tangannya berusaha untuk mendorong tubuh kekar yang tengah bertelanjang dada dihadapannya. Tubuh Karjo yang sudah berkeringat membuat Haura terkejut merasakan kelembaban yang ia rasakan di tangannya. Haura bertindak dengan menggeleng - gelengkan kepalanya bertahan sekuat mungkin guna menjauh dari aroma busuk yang dihasilkan dari mulut tua itu.

“Hmmpphhh lepasskannn.... Hmmphhhhh ahhhhhhh” Haura menjerit nikmat saat salah satu payudaranya yang bulat diremas dengan kuat oleh tangan kotor itu. Karjo agak sedikit kesulitan ketika tubuh ramping Haura masih terbungkus pakaian lengkapnya. Tangan satunya yang menganggur ia gunakan untuk membuka kancing blazernya. Sebentar kemudian tangan nakal itu langsung meremas payudara bulat Haura dengan liar. Walau masih terbungkus kemeja longgarnya. Karjo sudah dapat merasakan betapa kenyalnya dua payudara yang masih tersembunyi di dalam. Nafas Karjo yang hangat pun berhembus menerpa wajah Haura yang semakin tak tahan dengan aromanya. Haura berontak tapi tak kuat. Ia terus berusaha tuk menjauh dari pria bejat itu.

“Pakkkk... Hentikkannnn !!!!” kata Haura tak tahan lagi. Matanya pun sembab saat bulir - bulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Ia benar - benar tak mau untuk merasakan keperkasaan Karjo lagi. Ia tak mau tubuhnya ternoda lagi oleh nafsu buas kuli bangunannya. Haura menangis. Hatinya juga menangis. Tubuhnya terlalu lemah hingga membuat hatinya berteriak menyerukan nama seseorang tuk memintanya datang membantunya.

V Tolongggg akuuu !!!

Karjo merasa senang akan kemenangan yang sudah ada di depan mata. Ia terus melumat bibir manis Haura hingga menyedotnya sampai habis. Nafsunya pun semakin membludak membuat tangannya tak mampu mengontrolnya lagi dalam meremasi dua payudara bulat Haura yang besar.

“Aahhhhhhhhh” desah Haura saat merasakan perih di payudaranya.

“Siapa ? Siapa disana ?” tiba - tiba terdengar suara seseorang dari arah luar yang mengejutkan mereka berdua. Reflek Karjo melepas cumbuaannya pada Haura. Haura juga panik khawatir orang itu akan salah sangka dengan menuduhnya telah melakukan hal yang tidak - tidak. Buru - buru Haura merapihkan kemejanya yang lecek juga mengancingkan blazernya kembali.

Sosok itu semakin dekat membuat Karjo dan Haura gugup dibuatnya. Terlihat samar - samar dari dalam gedung karena refleksi cahaya mentari dari arah luar yang mengaburkan wajah sosok itu. Tak lama kemudian Haura tersenyum saat mengenali wajah dari penyelamatnya dari pelecehan yang hendak kembali ia rasakan.

“Haura ? Apa yang antum lakukan disini ?”

“V” kata Haura tersenyum ingin memeluknya. Namun ia urung melakukannya saat melihat raut wajah V yang terlihat berbeda dari biasanya.

Jangan - jangan !

“Anu hehe gapapa kok ustadz” kata Haura kebingungan mencari cara untuk meredamkan emosi V yang terlihat meluap - luap.

“Gapapa ? Lalu kenapa antum sampai berteriak keras ? Ana aja denger dari luar tadi" kata V terlihat sedang mencengkram tangannya kuat - kuat. Haura pun takut membayangkan kepribadian yang pernah Adit ceritakan dulu.

V memperhatikan sosok pria kekar yang berdiri dibelakang Haura. Posturnya terlihat tidak asing. Warna kulitnya terlihat tidak asing. Sejenak wajahnya pun terlihat tidak asing. Pupil mata V terbuka lebar saat teringat sosok pria yang mengendarai motor tua yang sebelumnya terparkir di halaman rumah Haura di malam saat Haura sakit tak bisa menemani santriwatinya muwajjah.

Jangan - jangan !!

Batin V menyadari. Energi yang berada di dalam tubuhnya berkumpul menuju telapak tangannya. V semakin gemas ketika menduga pria tua itu sudah melakukan perbuatan yang tidak - tidak pada Haura.

Dalam sekejap V mendekati sosok pria kekar itu dalam amarah yang sudah menguasai jiwa. Haura terkejut melihat V sudah bergerak sambil mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Karjo pun mundur ketakutan saat melihat mata ustadz baru itu yang menyala berapi - api.

“Tunggg... Tungguuu !!!” kata Karjo terbata - bata saat terintimidasi oleh tatapan tajam V.

Brrruuggg !!!!

Dengan penuh nafsu, V menghantam pipi Karjo menggunakan kepalan tangan kanannya. Karjo sampai terhuyung - huyung jatuh ke belakang sambil memegangi pipinya. Sementara Haura terkejut hingga kedua tangannya terangkat menutupi mulutnya.

“Aku baru ingat... Malam itu ? Jangan - jangan bapak sudah melakukan perbuatan yang tidak - tidak ke Haura kan !!!” kata V berdiri dihadapan Karjo yang sedang jatuh menahan perih di pipi.

“Dan sekarang bapak berani mengulangi perbuatan itu lagi ? Apa bapak sudah siap tuk menerima konsekuensi dari semua ini ?” kata V. Sebentar kemudian tak sengaja tatapannya teralihkan pada balok kayu yang tadi sempat Karjo gunakan untuk memalu paku. Sontak mata Karjo terbuka lebar mendapati amarah yang sudah berkuasa menguasai tubuh V.

“Ustadz tunggu !” kata Haura panik melihat V tampak kesetanan seolah ingin menghabisi nyawa Karjo.

"Jangg... Jangannn... Amppuniii sayaa" Pinta Karjo ketakutan.

V menyeringai memberikan senyuman yang dipenuhi oleh kemurkaan. Matanya berapi - api menatap wajah dari seseorang yang sangat ia benci. Target sudah dikunci. Dengan berhati - hati V mengangkat balok kayu itu bersiap - siap untuk menubrukan ujung kayu itu yang dipenuhi oleh paku - paku ke arah wajah Karjo yang terlihat menyedihkan.

“DASAARR KURANGG AJARRR !!!!” kata V bersiap tuk memecahkan kepala Karjo.

Tetapi . . . . .

V berhenti sesaat ketika Haura justru berdiri di hadapannya menghalangi perbuatannya seolah ingin melindungi Karjo yang V duga telah menyakiti Haura. Haura berdiri sambil memejamkan mata memasrahkan semuanya tuk menghalangi perbuatan V di pagi ini.

Pak Karjo menyeringai senang dibelakang Haura.

“Haura apa yang antum lakukan !” kata V terlihat marah.

“V hentikan... Ini gak seperti apa yang antum kira” kata Haura berusaha memadamkan amarah V.

“Gak seperti yang ana kira ? Maksudnya ? Jelas - jelas tadi ana melihatnya dari luar kalau orang ini sedang melecehkan antum kan !!!” kata V menaikan suaranya karena terlampau marah.

Antum melihatnya ?” kata Haura dengan lirih.

“Ya ana melihatnya kalau antum . . . . “

Antum melihatnya dengan jelas ?” kata Haura agak sedikit menunduk. V pun diam tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Antum cuma lihat kan ? dan itu gak begitu jelas karena terlihat gelap dari luar ?” kata Haura yang membuat V semakin diam saat mendengar suara Haura seperti bergetar.

“Haura ?!” sapa V dengan lirih.

Ana yang merasakannya sendiri ustadz ! Sudah hentikan kesalahpahaman ini !” kata Haura terlihat menangis tersedu - sedu hingga air matanya jatuh membanjiri wajahnya.

“Hauraa” kata V perlahan - lahan mulai iba dengan tangisan yang Haura keluarkan.

Antum percaya kata - kata ana kan ustadz ?” kata Haura menatap wajah V penuh arti.

“Iya ana percaya kata - kata antum Haura” kata V tak tega.

Haura pun menunduk sejenak sambil memejamkan mata memikirkan gejolak batin yang sedang bergelut di hatinya.

Maaf V... Bukan bermaksud membelanya... Ana cuma takut kalau sampai harus berpisah darimu gara - gara tindakan kekerasan yang antum lakukan ke pak Karjo... Ana gak mau kalau antum sampai dikeluarkan dari sini... Ana gak mau kalau antum sampai dipenjara... Ana cuma mau antum disini... Menemaniku... Menghiburku dengan kata - kata yang antum ucapkan kepadaku... Kamu pasti paham kan, andai tahu betapa beratnya hatiku sekarang ketika harus membela seseorang yang sangat ana benci ? Tolong jangan ikut campur V... Ini masalah ana... Biarkan aku yang menanggung semuanya... Biarkan aku yang mencari cara tuk menyelesaikannya... Cukup bantu aku dengan kata - kata hiburan yang selalu antum tunjukan ke ana... Batin Haura merasa sedih.

“Ini bukan seperti yang antum kira ustadz... Tadi Pak Karjo berusaha membantuku... Tanganku sempat terkena paku tadi dan pak Karjo berniat untuk membantuku tuk mengurangi infeksi itu” kata Haura mencoba berbohong.

“Beneran ?” kata V sambil melihat tangan Haura. Namun tangan Haura justru menutup seolah sedang menyembunyikan sesuatu. V pun curiga.

“Kekekeke lumayan juga pukulannya ustadz.... Tuh denger kan apa kata ustadzah Haura... Saya orang baik kok ustadz... Saya bukan orang yang macam - macam seperti yang ustadz kira tadi” kata Karjo yang membuat V semakin benci padanya.

“Sudah hentikan pak... Ayo ustadz kita keluar aja dari sini” kata Haura menggenggam tangan V mengajaknya tuk keluar dari gedung ini.

“Tunggu sebentar... Biarkan ana berbicara dengannya Haura” kata V yang membuat Haura membiarkan V mendekat untuk berbicara dengannya.

“Kekekke ada apa ustadz ?” kata Karjo terkekeh - kekeh saat melihat V tengah memberikan tatapan benci padanya.

“Tunggu sampai aku mendapatkan bukti yang nyata akan perbuatanmu ! Aku gak akan segan - segan tuk mengusirmu dari pondok pesantren ini... Bukan cuma ragamu tapi juga arwahmu akan pergi dari pondok pesantren ini bahkan dunia ini” bisik V yang hanya bisa didengar oleh Karjo.

“Kekekekek silahkan aja ustadz... Kalau bisa !” kata Karjo yang justru menantang V.

V menarik nafasnya kemudian berpaling tuk pergi menjauh dari pria tua bertubuh kekar itu. Karjo masih terkekeh - kekeh melihat keberanian V dalam mengancam jiwanya. Saat melihat V sudah pergi dari gedung baru ini. Tatapan Karjo langsung berubah menjadi kesal. Ia terlihat marah karena kehadiran ustadz baru itu telah mengacaukan kegembiraan paginya. Tetapi saat teringat Haura justru berdiri disisinya membuat Karjo tersenyum senang.

“Oh iya bukannya ustadz itu yang pernah mencium Haura di malam itu ? Jadi dia yah selingkuhannya ? Berani juga Haura sampai berkorban seperti itu demi melindungi ustadz baru itu agar tidak dikeluarkan dari pesantren ini” kata Karjo.

“Ahhhh benar juga” kata Karjo sambil memetikan jarinya.

“Sekarang kalian boleh bersenang - senang selama kalian masih memiliki waktu untuk melakukannya... Tapi tunggu saja saat waktunya tiba... Akan kusingkirkan ustadz baru itu dari jalanku... Kemudian akan kuhamili Haura hingga dapat mengandung anak dari sperma yang sudah ku semprotkan ke rahimnya kekekekek” kata Karjo yang mulai berambisi untuk menyingkirkan penghalang yang sudah mengganggu rencananya.

Sementara itu di luar gedung baru yang belum jadi. Haura berjalan sambil menunduk di samping V. Berulang kali V melirik menatap wajah Haura yang terlihat sedih. V merasa ada yang tidak beres padanya. V ingin mencari tahu tapi ia tak ingin terburu - buru karena V sangat tahu betul kalau Haura memiliki sifat yang tak bisa dipaksa.

"Antum gapapa kan Ra ?" Tanya V.

"Iya... Aku gapapa kok" Kata Haura memaksakan senyum.

V menghela nafas, ia mencoba tenang tuk dapat menangani sikap Haura yang terlihat menyembunyikan sesuatu.

"Apa yang antum bilang tadi bener kan Ra ? Dia gak pernah melakukan hal yg enggak - enggak ke antum ?" Tanya V masih kurang percaya.

"Iyya V... Bener... aku jujur kok... ana gak pernah bohong ke antum... Antum masih belum percaya ?" Jawab Haura yang malah membuat V tertawa.

"Kenapa malah ketawa ?" Tanya Haura tersinggung.

"Gapapa" Kata V masih tertawa.

"V !!!!" Kata Haura kesal melihat sikap V padanya.

"Ana apa aku nih ?" Kata V yang membuat Haura tersadar.

Haura tersenyum malu kemudian menunduk sambil menyembunyikan wajah merahnya. Karena kesal Haura pun menyubit pinggang V dengan keras demi membalas dendam karena sudah membuatnya malu.

"Awww... Awww sakitt" Kata V berteriak.

"Rasain dasar ustadz nyebelin !" Kata Haura kembali tersenyum. V pun lega sudah dapat melihat senyum lagi dari wajahnya.

"Oh yah... Ana mau pulang dulu yah... Mau mandi dulu baru setelah itu ke kantor... Kebetulan aku gak punya jadwal di jam pertama " Kata Haura.

Lagi - lagi V hanya tersenyum sambil menahan tawa sekuat mungkin. Haura pun heran melihat sikap V itu. Barulah kemudian ia menyadari kalau kata - kata yang ia ucapkan sering berganti - ganti antara aku atau ana.

"V !!!!!!" Kata Haura gemas ingin mencubitnya lagi.

"Kabuurrr !!!!" V kabur berlari ke arah kantor pengasuhan sementara Haura hanya diam sambil tersenyum melihat V yang berlari menjauhinya.

Haura tak dapat menghentikan senyumnya. Ia pun pulang ke rumah guna membersihkan tubuhnya yang baru saja ternodai oleh mulut kuli bangunannya.

Terima kasih karena selalu berada di sisiku !!!... V !!!

Sementara itu V yang masih berlari menuju kantor pengasuhan menoleh sejenak ke belakang tuk melihat Haura. Menyadari Haura tidak mengejarnya lagi membuat hatinya senang. Ia merasa lega bisa melihat senyum itu lagi. Tetapi hatinya merasa resah ketika memikirkan sosok pria tadi.

Siapa namanya tadi ? Karto ? Karno ? Karjo ? Siapapun itu semoga firasat burukku tadi tidak benar !

Semoga Haura memang tidak pernah diapa - apakan oleh orang tua itu !!!

Batin V masih kepikiran soal tadi.


*-*-*-*


V sudah tiba di depan kantor bagian pengasuhan. Dalam benaknya, ia masih memikirkan kejadian yang sebenarnya terjadi pada Haura. Setaunya ia tak pernah melihat Haura tertekan atau terbebani oleh suatu masalah berarti. Atau jangan - jangan selama ini Haura menyembunyikan semua permasalahannya ? Terus V berfikir memikirkan persoalan yang tak pasti ini.

“Entahlah !” kata V. Lantas ia mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam sebelum memasuki kantor bagiannya. Di dalam ia mendapati Hanna tengah sendiri di depan layar komputernya. V diam sejenak saat menatap senyum palsu Hanna dalam menyambut kedatangannya.

Senyum itu tampak dibuat - buat. Lagipula apa yang sebenarnya terjadi pada matanya ? Kenapa terlihat sembap.

“V... Baru datang yah hehe” kata Hanna sambil memaksakan senyumnya.

“Iya... Sendirian aja yah Han ?” kata V mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rekan kerjanya.

Tadi Haura... Sekarang Hanna... Kenapa semuanya terlihat tidak baik - baik saja ? Apa semuanya berkaitan dengan kuli bangunan tadi ?

“Iya nih V... Haura mana ? Biasanya kalian kalau datang selalu barengan” kata Hanna yang membuat V terkejut.

“Eh masa ?” kata V lekas duduk di kursinya sambil menutupi senyum malunya saat Hanna mengetahui kebiasaan yang sering V lakukan di pagi hari.

“Ahahaha pura - pura lupa yah V ?” kata Hanna kemudian menatap layar laptop untuk merampungkan laporannya.

Keadaan kembali hening saat masing - masing dari mereka fokus menatap pekerjaannya. V masih penasaran dengan raut wajah kesedihan yang Hanna tunjukan saat pertama kali bertemu dengannya di pagi tadi. Berulang kali V melirik menatap wajah Hanna guna mengamati keadaannya. Berulang kali tatapan Hanna terlihat kosong, bibirnya bahkan bergetar seolah sedang menahan jeritan hatinya. V semakin penasaran dengan kejadian besar apa yang membuat Hanna menjadi seperti ini.

Haruskah aku bertanya kepadanya ?

“Ehhh Hanna... Ngelamun aja !” kata V yang tiba - tiba sudah berada di kursi kosong disebelah Hanna sambil menepuk bahu ustadzah cantik itu.

Astaghfirullah... Ngagetin aja sih V... Ishhhh !” kata Hanna setengah kesal setengah tersenyum karena malu.

“Ada apa ?” tanya V to the point sambil tersenyum menatap mata Hanna dengan tulus.

Reflek Hanna menurunkan pandangannya karena malu. Sambil tersenyum Hanna berusaha menghindar dari pertanyaan yang sedang V tujukan padanya.

“Gapapa kok V” kata Hanna berpura - pura sibuk membaca lembaran kertas yang ada di meja kerjanya.

“Bukannya itu coretan XOX yang kita mainkan kemarin siang ?” kata V yang membuat wajah Hanna memerah karena malu.

“Hehehe” kata Hanna menunduk.

“Yasudah kalau belum bisa cerita sekarang... Aku gak akan maksa kok... Santai aja yah jangan diambil pusing beban masalah yang sedang kamu tanggung” kata V lekas kembali menuju mejanya.

Perkataan yang V ucapkan justru membuat Hanna kepikiran mengenai kejadian yang ia alami di kemarin sore. Bagaimana tidak kepikiran ? Niat hati ingin tulus membantu salah satu santrinya agar bisa lulus dari pondok pesantren, ia malah diperkosa oleh santri bejat itu hingga membuatnya harus kehilangan keperawanan yang seharusnya ia persembahkan pada sang suami di malam pertama setelah pernikahannya. Tanpa sadar Hanna menunduk sambil menompa kepalanya menggunakan telapak tangan yang ia sandarkan pada meja kerjanya.

Ia mengusap keningnya berandai - andai bisa mengetahui niat buruk Lutfi yang sebenarnya ingin memperkosanya. Sudah pasti ia tak perlu mengalami kejadian yang kurang menyenangkan ini.

“Huftttt” kata Hanna menghela nafasnya.

Andai saja waktu itu . . . .

Ketika ia sedang fokus merenungi perbuatan yang ia lakukan kemarin. Tiba - tiba ia merasakan adanya tangan yang melingkar di pinggangnya. Sontak Hanna terkejut membuat bidadari cantik itu menoleh menatap seseorang yang berani memeluknya. Saat Hanna menoleh, ia sangat terkejut rupanya V yang sedari tadi bersamanya dengan berani memeluk tubuh rampingnya.

“V... Apa yang !!” kata Hanna terkejut.

Belum hilang rasa terkejut yang pertama. Ia sudah harus kembali terkejut saat tiba - tiba wajah V mendekat untuk mencumbui bibir tipisnya.

“Hmmmmpphhhhh !!!” desah Hanna mendengus pelan.

Hanna shock dengan keberanian yang sudah V tunjukan dihadapannya. Ia benar - benar panik. Ia juga khawatir kalau kejadian buruk itu terulang lagi padanya. Ditengah ketegangan yang ia rasakan melalui tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari apa yang ia alami sebelumnya. Sentuhan yang V lakukan dalam mengusap lengannya, sapuan lidah yang V lakukan di bibirnya, juga deru nafas yang beradu diantara mereka berdua. Hanna merasa tenang. Rasa tegang yang sempat ia alami diawal perlahan hilang mereda. Hanna mulai tenang, bahkan ia mulai menikmati percumbuan yang ia lakukan dengan V tanpa sadar. Cumbuan yang ia rasakan kali ini jelas berbeda. Ia sama sekali tidak merasakan adanya hawa nafsu yang V miliki padanya. Rasanya sangat jauh berbeda dari apa yang ia rasakan dari Lutfi.

Tanpa sengaja Hanna memejam menikmati percumbuan ini. Hanna bersikap pasif membiarkan V melumat bibir manisnya hingga habis. V bahkan menggigit bibir tipis Hanna dengan pelan kemudian menariknya mendekat membuat Hanna terkejut akan keahlian yang V miliki dalam mencumbui dirinya.

V membuka mulutnya. Lidahnya bergerak menjilati bibir kering Hanna hingga basah. Ustadzah tercantik nomor dua se-pondok pesantren itu semakin tenang menerima cumbuan yang V berikan. Belum juga dengan usapan yang V lakukan di punggungnya. Hanna merasa nyaman, membuatnya sampai hanyut dalam menerima cumbuan yang V lakukan.

V sangat ahli dalam memainkan perasaan wanita yang ia temui. Alih - alih menggunakan pemaksaan dalam menaklukan mereka. Ia lebih memilih santai dengan menaklukan perasaannya terlebih dulu. Ia selalu memainkan hati Wanita agar hanyut dalam percumbuan yang ia lakukan. V juga menikmati cumbuannya. Bibir manis bertekstur tipis yang Hanna miliki sudah basah tercampur oleh liur V secara merata. Hanna benar - benar hanyut menikmati percumbuan itu.

Mereka benar - benar hanyut ketika bibir mereka saling terkait satu sama lain. Kali ini tidak hanya V yang menggigit bibir Hanna. Bahkan Hanna sudah berani menggigit bibir V akibat nuansa yang sudah tercipta diantara mereka berdua. Hanna sendiri sampai terkejut kenapa ia bisa seberani ini ? Tak lama kemudian, V melepas cumbuannya secara perlahan hingga ada liur yang melekat diantara bibir keduanya. Liur itu terus menyatu seolah tidak mau berpisah dari percumbuan yang sedang dilakukan mereka berdua.

Hanna membuka mata karena terkejut V hendak menyudahi percumbuannya. Saat Hanna membuka mata, ia menemukan V sedang tersenyum menatapnya. Wajah Hanna berubah menjadi merah ketika menatap senyum manis disana. Seolah terbuai oleh ketampanan wajah V. Hanna tetap diam disana menatap keindahan wajah V dengan tatapannya yang sayu.

“Lupakan masalah itu ! Tidak usah dipikirkan lagi yah ! Kalau butuh sesuatu ada aku disini” kata V dengan tersenyum.

Tanpa sadar Hanna mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika melihat V kembali memejam dan mendekatkan kembali wajahnya, Hanna ikut memejam seolah dirinya sedang berada di tengah arus aliran sungai yang kuat. Hanna sudah hanyut dalam kenikmatan percumbuan itu. V sudah memikat hatinya. V sudah membangun nuansa yang kuat diantara mereka berdua.

“Hmmmpphhhhh !!!”

Bibir mereka kembali bertemu. Kali ini V menggunakan tenaganya untuk mendorong bibir tipis Hanna kebelakang. Bibir V terus mendorong bibir tipis Hanna itu dengan penuh nafsu. Jemari tangan V pun menahan punggung Hanna agar tidak terdorong ke belakang. Sementara jemari kirinya mengaitkan jemari kanan Hanna dengan erat untuk membangun ikatan yang kuat ketika sedang memadu kasih dengannya.

Dikala Hanna membuka mulutnya secara sukarela. Lidah V langsung bergerak berkeliaran di dalam rongga mulutnya. Lidah mereka pun bertemu. Awalnya saling bertubrukan kemudian berlanjut saling bergesekan. Bagai dua ular yang tengah bergelut. Mereka saling melilit kemudian menjepit. Liur yang berkumpul di dalam mulut mereka pun penuh hingga ada beberapa yang menetes jatuh keluar membasahi lantai.

Mereka berdua sudah jatuh menuju jurang hawa nafsu yang dalam. V sudah bernafsu begitupula Hanna. Hanna terkejut karena seumur hidupnya, ia tak pernah terangsang seperti ini. Ia benar - benar terbuai akan kenikmatan yang ia lakukan bersama V. Ia dibuat penasaran oleh kenikmatan yang telah V berikan padanya. Akibatnya, Hanna tak bisa berhenti untuk membiarkan V mencumbui dirinya. Hanna benar - benar pasrah akibat rangsangan yang diberikan oleh ustadz tampan dihadapannya.

Tengg ! Tenggg ! Tengggg !

V dan Hanna terkejut ketika mendengar suara lonceng berbunyi. Reflek mereka menghentikan percumbuan yang mereka lakukan berdua. Saat mereka berhenti mencumbu. Mereka saling menatap. Hanna terlihat bingung melalui tatapannya itu. Sedangkan V hanya tersenyum yang membuat pipi Hanna memerah tersipu.

“Kamu pencium yang hebat Han... Aku suka !” kata V yang membuat wajah Hanna semakin memerah karena malu.

V pun pergi begitu saja menuju mejanya meninggalkan Hanna yang tengah kebingungan dengan apa yang terjadi tadi. Hanna terus menatap V yang terlihat sedang merapihkan buku - bukunya yang berantakan di mejanya. Tak sengaja V menoleh sambil tersenyum yang membuat Hanna mengalihkan pandangan malu.

“Aku mau mengajar dulu yah Han... Lain kali kalau kamu sudah siap.... Ceritakan apapun masalahmu padaku !” kata V tersenyum membuat Hanna mengangguk tanpa sadar.

Hanna benar - benar kebingungan dengan apa yang tadi ia alami. Ia sudah mencumbui rekan kerjanya. Ia sudah berciuman dengan rekan kerjanya di kantor bagiannya. Hanna merasa sudah gila karena sudah seberani ini dalam melakukan pelanggaran di dalam kantor bagiannya. Berulang kali Hanna menatap V yang sudah keluar dari kantor bagian ini. Kemudian ia menoleh menatap PC didepannya. Ia kembali menatap V yang sudah semakin jauh darinya. Kemudian kembali menatap komputer dihadapannya. Hanna pun sadar bahwa ia telah kembali melakukan kesalahan karena telah membiarkan lelaki lain yang bukan muhrimnya tuk mencumbui dirinya. Anehnya ia tak merasa bersalah seperti hari kemarin. Ia justru merasa tenang meninggalkan seribu misteri yang membuat Hanna semakin penasaran. Ia merasa lega seolah cumbuan yang ia lakukan tadi bersama V seperti healing dalam meringankan beban pikirannya yang rumit. Ia pun termenung menatap layar komputer yang ada di hadapannya sambil memegangi bibirnya yang basah. Ia hanya merenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun sambil mengingat percumbuan yang sudah ia lakukan bersama V.

V !!!!

Batin Hanna memanggil namanya.


*-*-*-*


Malam hari di kantor bagian pengajaran. Para pengajar yang tidak mendapatkan amanat tuk menjadi wali kelas sedang berkumpul di kantor bagian pengajaran untuk pembagian tugas keliling guna mengawasi para santri ataupun santriwati yang sedang belajar muwajjah di kelas. V dengan gugup menanti di barisan belakang berharap dirinya mendapatkan tugas untuk berkeliling di zona santriwati.

V sangat berharap untuk mendapatkan bagian tuk berkeliling di zona itu bukan karena ingin menebar pesona dihadapan para santriwati. Ia hanya memiliki satu tujuan. Yakni Haura. Ia ingin mengunjunginya. Ia ingin melindunginya. Mewanti - wanti agar wanita pujaannya itu tidak diganggu oleh seorang pria yang diduga sebagai kuli bangunan itu.

V merasa resah, ia merasa gelisah setiap kali terfikirkan hal itu. Membayangkan kalau Haura selama ini benar - benar diganggu oleh kuli bangunan itu membuat V semakin kesal. Ia menarik nafasnya untuk mengatur emosinya. Ia tak mau terbawa suasana akibat terlalu kesal memikirkan sesuatu yang belum pasti. Ia terus berdoa semoga kecurigaannya selama ini terbukti salah. Ia sangat tidak rela kalau Haura sampai jatuh ke dalam pelukan pria tua kekar itu.

“Ustadz Fikri ! Ustadz Fikri !” panggil ustadzah Syifa sedari tadi.

Sontak salah satu pengajar yang berbaris di belakang V menyenggol lengannya tuk memberi tahu kalau giliran V telah tiba.

“Ehh naam ustadzah !” kata V bergegas mendekati Syifa.

“Dipanggil - panggil dari tadi kok gak dateng - dateng ? Dah ngantuk yah ustadz ?” ajak Syifa bercanda.

“Hehe kapan ? Kapan antum manggil nama ana ?” kata V tak merasa namanya dipanggil.

“Dasar ! Nih ustadz absen kelas yang harus antum kelilingi... Tolong yah ustadz periksa satu persatu kelas untuk mencari tahu adakah wali kelas yang absen dalam menemani santrinya muwajjah... Tolong jujur juga yah ustadz jangan mau kalau ada pengajar yang titip absen ke antum... Mereka harus hadir dulu di kelas baru setelah itu mereka bisa mengisi kehadiran di absen yang antum pegang” kata Syifa menjelaskan.

“Aihhh tenang aja ustadzah... Ana gak akan mau menerima tipsen dari mereka... ana juga gak mungkin berbohong ke ustadzah secantik antum” kata V mulai lagi. Syifa hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala mendengar apa yang V ucapkan padanya.

“Hahhh ustadz... Ustadz... Dari dulu pasti kalau antum ngomong selalu menyelipkan kata - kata berbau modus seperti itu... Ana dah bilang kan dulu kalau kata - kata seperti itu gak akan mempan ke ana” kata Syifa mengingatkan kembali.

“Ehh hehe iya kah ? Kapan ? Lagipula ana gak bermaksud seperti itu loh ustadzah” kata V tak merasa.

“Ihh dasar pelupa... Dah sana buruan nanti terlambat loh ustadz !” tegur Syifa melihat V seolah mengulur waktu dengannya.

“Hehe afwan ustadzah... Ana pergi dulu kalau gitu” kata V.

Syifa hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat sikap V yang biasa menggombalnya tiap kali bertemu. Ia pun menghela nafasnya mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya.

“Ustadzah Diah !” kata Syifa memanggil giliran selanjutnya.

Naam ustadzah” sapa ustadzah Diah dengan lembut. Syifa pun tersenyum menatap betapa polosnya rupa sang ustadzah dihadapannya. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih, posturnya yang pas tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek juga suaranya yang lembut dikala menjawab panggilannya. Syifa pun terdiam sesaat sambil mengamati rupa sang ustadzah baru tersebut.

“Hehehe ada apa ustadzah kok ngeliatin ana nya gitu ?” kata ustadzah Diah malu - malu. Syifa hanya tersenyum kemudian menyentuh punggung tangan ustadzah juniornya itu.

“Setelah muwajjah... Antum ada kesibukan lainnya gak ustadzah ?” tanya Syifa tersenyum.

“Hehhe enggak kok ustadzah... Kenapa yah ?” tanya Diah malu - malu.

Syifa pun melihat sejenak ke sekeliling. Dilihatnya ustadz Adit sedang membagi jadwal ke pengajar lainnya. Dikala waktunya tepat. Syifa lekas mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah rampung menulisnya, ia memberikan selembar kertas itu sambil mengucapkan sesuatu padanya.

“Ini ustadzah... Temui ana nanti disini yah setelah muwajjah !” pinta Syifa menatap Diah sambil memberikan senyuman termanisnya.

“Disini ? Di ujung gedung kelas lantai satu ? Mau ngapain ustadzah ?” tanya Diah penasaran.

“Ssstttt... Jangan keras - keras sayang... Ana mau lagi... Seperti biasa” kata Syifa yang langsung dipahami oleh Diah.

“Iiiyyy... Iyya ustadzah” kata Diah tersenyum malu - malu.

Ustadzah Diah pun pergi menuju kelas untuk mengawasi para santri yang sedang muwajjah. Saat Diah pergi, berulang kali Syifa kedapatan mengganti - ganti letak posisi kakinya. Kadang ia menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya dan kadang ia menaruh di posisi yang sebaliknya. Syifa tak nyaman karena cairan cinta yang begitu banyak memenuhi lubang kenikmatannya.

Antum manis banget sih... Ustadzah Diah !! batin Syifa dalam hati.


*-*-*-*


“Ahhhh menyebalkan... Kenapa harus dapet bagian santri putra sih !!!” kata V saat menyadari kelas yang harus ia kelilingi merupakan kelas yang berada di zona laki - laki.

Alih - alih bersemangat tuk dapat menjaga dan melindungi Haura. Ia justru terjebak di wilayah santri putra yang sejauh mata memandang tidak ada kesegaran sama sekali yang ia dapatkan. V merasa terjebak di zona tidak nyaman. Ia merasa lesu bahkan mulai mengantuk karena tidak merasakan energi yang biasa ia dapatkan dari santriwati putri.

“Lagi gak beruntung emang !” kata V dengan lirih.

Selama muwajjah berlangsung, berulang kali V membaur dengan santri tuk membangunkan mereka yang tertidur. V merasa lesu. Ia seperti kehabisan energi. Ia merasa bosan karena hanya melihat wajah para santri yang tak dapat memberikan energi kehidupan untuknya. Terkadang ia merenung memandang ke arah kejauhan. Menuju gedung kelas yang dihuni oleh para santriwati. Ia rindu akan aroma semerbak yang dimiliki oleh para santriwati berikut ustadzah yang mengajar disana. Ia pun membandingkan aroma yang tercium disini.

Asem, kecut, gula legi. Kamu kentut akupun lari !

V terus bertahan sebisa mungkin menanti hingga waktu muwajjah berakhir. Beruntung ia bisa bertahan selama 90 menit penuh hingga suara lonceng berbunyi. Tepat setelah mendengar suara lonceng itu. Ia bergegas lari menuju zona santriwati tuk mengetahui keadaan Haura terkini. Apakah Haura ada di kelas ? Apakah Haura menemani santriwatinya belajar ?

“Ahh iya... Taman bunga !” kata V teringat kalau Haura juga sering menemani santriwatinya muwajjah di taman yang dipenuhi bunga - bunga.

Saat V menuju kesana, ia tak menemukan adanya satupun manusia yang berada disana. V pun gelisah membuatnya bergegas lari menuju kelas santriwati tuk mencari tahu apakah ada Haura disana.

Namun para santriwati sudah pada pergi saat itu. Mayoritas dari mereka telah pulang ke asrama masing - masing. Saat V menuju kelas yang biasa Haura tempati tuk menemani santriwatinya belajar. Ia menemukan bahwa kelas itu sudah kosong.

“Aishhh menyebalkan !” kata V semakin penasaran.

V pun bingung tuk mencari tahu apakah tadi Haura hadir di kelas atau tidak. Kebetulan ada salah satu santriwati yang mendekat ke arahnya. Dengan segera V langsung bertanya kepadanya.

“Assalamualaikum” tanya V yang membuat santriwati itu terkejut.

“Walaikumsalam ustadz” jawab santriwati itu kebingungan ada ustadz tampan yang menyapanya.

Afwan... Antum santriwatinya ustadzah Haura bukan ?” tanya V.

Naam ustadz... Ada apa ?” tanya santriwati itu.

“Tadi sewaktu muwajjah... Ustadzah Haura hadir di kelas apa enggak ?” tanya V.

“Ohh hadir kok ustadz... Kenapa yah ?” tanya balik santriwati itu.

“Ahhh enggak kok... Syukron yah” jawab V tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh santriwati itu. Tampak santriwati itu memasuki kelas tuk mengambil buku yang tertinggal. Setelah mendapatkan kembali bukunya. Santriwati itu langsung pulang menuju asramanya tuk beristirahat guna menghadapi hari esok.

“Syukurlah Haura malam ini gak kenapa - kenapa” kata V merasa lega.

V tersenyum senang. Kakinya pun melangkah tuk kembali ke bagian pengajaran tuk mengembalikan buku absen yang sedang ia pegang. Mendengar kabar kalau Haura dalam keadaan baik - baik saja sudah membuat hatinya lega. V pun merenung sambil menatap langit cerah dimana bintang - bintang bersinar menerangi gelapnya malam.

“Fitri... Bagaimana kabarmu sekarang ? Kamu pasti sudah tenang yah disana... Sejujurnya aku masih merindukanmu disini” kata V ketika teringat sosok Fitri yang telah membantunya sejak kecil.

Dalam perjalanan lanjutannya tuk kembali ke kantor bagian pengajaran. Ia mendapati ada satu lampu yang menyala dari salah satu ruang kelas.

“Loh kok lampunya masih nyala ? Apa ustadzahnya lupa tuk mematikan lampu itu ?” katanya penasaran.

V pun melangkah menuju kelas itu berniat untuk mematikan lampu tersebut demi menghemat pengeluaran biaya pondok pesantren. Namun saat ia tiba disana. Ia malah menemukan adanya ustadzah yang masih berdiam disana. Tatapanya kosong. Ustadzah itu seperti sedang merenungi sesuatu.

“Bukankah dia ?” kata V merasa mengenalinya.

“Assalamualaikum ustadzah Nada” sapa V mengejutkan Nada yang tengah melamun di kelas.

Astaghfirullah... Walaikumsalam” jawab Nada terkejut sambil memegangi dadanya yang ranum.

“Kok antum masih disini sih ustadzah ?” tanya V penasaran sambil melangkah mendekat menuju posisi ustadzah Nada berada.

“Hehehe iya nih ustadz... Akhir - akhir ini lagi pengin sendiri terus” jawab Nada tersenyum ketika ada seorang ustadz yang datang tuk menemaninya.

“Lagi pengin sendiri ? Awas loh ustadzah jangan ngelamun malam - malam... Entar kesurupan” kata V yang membuat Nada tertawa.

“Ahahahha ya jangan sampai dong ustadz.... Serem ihhhh kata - katanya” jawab Nada tersenyum. V pun terpesona oleh keindahan senyum manis Nada.

Hijab putih yang membungkus kepalanya. Kemeja longgar yang menutupi keindahan tubuhnya. Senyum manisnya dikala menyapa dan pesona dari postur rampingnya yang tinggi menjulang. V sampai menggeleng - gelengkan kepala saat mendapati keindahan Nada yang sempurna. Ustadzah bernama lengkap Nada Aulia Fahira itu masih tersenyum. Waktu terasa berhenti bagi V. Tubuhnya mematung tak bisa bergerak ketika mendapati senyum manis yang Nada berikan di malam itu.

“Ustadz... Ustadzz... Kok ngelamun sih ? Nanti kesurupan loh” kata Nada yang membangunkan V dari alam sadarnya.

“Ehhh hahaha... Di comeback nih ceritanya” kata V tertawa yang ikut membuat Nada tertawa.

“Ngomong - ngomong soal melamun... Lagi ngelamunin apa sih ustadzah malam - malam gini ?” tanya V penasaran.

“Ahahah enggak ada kok ustadz... Tadi cuma lagi ingin sendiri aja” kata Nada berusaha menutupi.

“Beneran ? Cerita aja juga gapapa kok ustadzah ? Apa mau minjem pundak ana lagi biar bisa nyaman pas cerita ?” kata V teringat saat di taman penuh bunga kala itu.

“Ahahaha gak perlu ustadz... Kita keluar sebentar yuk... Kita duduk disana sekalian nyari udara segar” kata Nada mengajak V pergi keluar.

“Boleh” jawab V mengikuti langkah Nada yang berjalan keluar dari kelas itu.

Kebetulan walau malam semakin malam. Kegelapan tidak mengikuti karena kalah oleh terangnya cahaya bintang yang bersinar menerangi mereka berdua. Nada dan V berjalan bersama menuju tempat duduk yang terbuat dari semen yang berletak di luar kelas. Mereka duduk bersama berjejeran dengan jarak yang cukup dekat. Nada tersenyum dikala melihat ke arah langit cerah diatas. V ikut tersenyum saat melirik Nada yang nampaknya sedang menikmati keindahan malam. Nada semakin larut dalam keindahan alam yang terbentang di langit sana. Ia pun menunduk sambil menyeka air matanya yang tiba - tiba menetes jatuh dari matanya. V pun menyadari saat melihat air mata itu.

“Hidup memang berat yah ustadz” kata Nada ketika tiba - tiba berkata.

“Iya” jawab V singkat menanti kata - kata lanjutan yang akan Nada keluarkan dari mulut manisnya.

“Ahahaha maaf ustadz... Ana kok tiba - tiba nangis gini sih” kata Nada tak mampu membendung air matanya yang mengalir jatuh.

“Gapapa ustadzah... Boleh ana bantu ?” kata V mendekat.

Nada hanya mengangguk membiarkan V memeluknya dengan erat. Nada merasa nyaman dikala V mendekapnya tuk menenangkan jiwanya yang terguncang oleh permasalahan yang sama yang masih memberatkan pikirannya. Nada hanya menangis di pelukan V hingga air matanya membasahi sebagian kemeja yang V kenakan.

“Cupp cupp cuppp... Tak apa ustadzah... Tuntaskan semuanya... Jangan ragu untuk mengosongkan beban yang masih terasa di hati antum” kata V mengusap punggung Nada dikala menangis terbayang beban masalahnya.

“Iyya ustadz... Makasih yah ustadz udah datang kesini malam ini” kata Nada merasa lega ketika ada pundak yang bisa ia pinjam tuk melampiaskan beban yang menganggu pikirannya.

V hanya tersenyum sambil mengusap punggung Nada. Kadang V juga menepuk - nepuk punggungnya hingga Nada merasa nyaman dengan sikap yang V tujukan padanya. Perlahan perasaan Nada mulai membaik. Ia merasa lega setelah bisa menangisi semuanya. Ia pun tersenyum menatap V sambil menyeka air matanya yang masih menetes jatuh.

“Ini” kata V yang kebetulan membawa tisu di sakunya.

“Makasih yah ustadz” kata Nada sambil menyeka air matanya.

Setelah melihat Nada membaik. Setelah merasa kalau inilah saatnya. V mulai bertanya mengenai apa yang membuat Nada seperti ini. Nada pun tersenyum ia membuka bibirnya yang tipis untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Masih masalah yang sama ustadz... Masih sama saat waktu kita berdua di taman itu” kata Nada memaksa senyum sambil menyeka air matanya.

“Masalah yang itu ? Mengenai perubahan sikap suami antum yah ?” tanya V.

“Iya ustadz hehehe betul” jawab Nada senang ketika V masih ingat cerita yang pernah ia berikan dulu.

“Ada apa dengan suami antum ? Apa suami antum meminta sesuatu yang aneh lagi ?” tanya V.

“Ahahaha enggak kok ustadz... Permintaannya masih sama tapi ya ana masih keberatan... Ana masih belum sanggup tuk melakukan itu” kata Nada.

“Hmmm begitu ?” tanya V semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Nada.

“Kalau boleh ? Bisa diceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?” pinta V.

“Diceritakan ?” kata Nada merasa ragu. Ia berfikir sejenak haruskah ia menceritakan masalah ini atau tidak. V diam - diam memperhatikan sikap Nada. Bibir Nada bergetar seolah tak sanggup untuk menceritakan masalahnya.

“Sudah gapapa kalau gak sanggup... Ana gak akan maksa kok” kata V yang membuat Nada tersenyum senang.

Tiba - tiba tangan V mendekat tuk mendekap jemari Nada. Nada pun tersenyum membiarkan V mendekap erat tangannya. Kemudian Nada merasakan dagunya dicolek oleh V yang memintanya tuk menoleh menatapnya. Nada pun menuruti gerakan jemari V. Saat ia menoleh, ia mendapati wajah tampan V ketika sedang tulus menatapnya. Nada tersipu saat itu. Pipinya memerah. Reflek ia menundukan pandangan karena malu.

“Ustadzah” sapa V sambil tersenyum saat melihat sikap Nada yang terlihat malu - malu. Nada hanya menoleh tanpa mengeluarkan sepatah katapun saat namanya dipanggil oleh V. Kembali terlihat senyum manis yang V berikan untuknya.

Ana penasaran ustadzah... Ada yang ingin ana tanyakan sejak dulu disaat kita pertama bertemu” kata V yang ikut membuat Nada penasaran.

“Apa itu ustadz ?” tanya Nada masih malu - malu tuk menatap wajah tampan V dihadapannya.

“Kenapa antum bisa secantik ini ustadzah ? Senyum antum... Hidung antum... Bahkan tatapan mata antum di malam ini... Ana selalu betah tiap kali memandang kecantikan antum...” kata V yang membuat hati Nada berdebar.

Ana ? hehe ana gak secantik itu kok ustadz” jawab Nada merasa malu.

“Enggak... Enggak... Antum itu cantik... Andai saat ini antum masih single, pasti ana akan langsung melamar antum malam ini” kata V yang membuat Nada kembali tersenyum mendengar kata - kata itu.

“Coba lihat ke atas ustadzah ?” kata V yang dituruti langsung oleh Nada.

“Langitnya cerah kan ? Ini waktu yang tepat untuk membuat pengakuan ke antum” kata V.

“Pengakuan ? Maksudnya apa yah ustadz ?” tanya Nada kebingungan.

“Pengakuan... Kalau sebenarnya ana... Menyukai antum ustadzah” kata V bergegas mendekati wajahnya tuk memberikannya bukti dari perasaannya sekarang.

“Hmmmpphhhh !” Nada terkejut saat tiba - tiba V dengan berani mencumbui bibirnya.

Sontak Nada membuka mata lebih lebar lagi ketika mendapati bibirnya dilumat hingga habis oleh V. Nada panik seolah tindakan yang sudah V lakukan padanya berlebihan. Namun seiring cumbuan yang V berikan membuat kepanikan yang Nada rasakan perlahan menghilang tanpa jejak. Alih - alih panik. Nada mulai menikmati cumbuan V di bibirnya. Nafas Nada mulai berat dan ia mulai memejam membiarkan V melumat bibirnya.

V tersenyum saat merasakan Nada sudah tenang ketika dicium olehnya. Mulut V pun terbuka membiarkan lidahnya keluar tuk mengolesi bibir tipis Nada. Mulanya ia mengolesi tepi bibir bagian atas kemudian mengolesi bagian bawahnya secara merata. V semakin berani tuk memagut bibir atas Nada tuk merasakan kelezatan disana. Nada hanya melenguh menerima cumbuan yang V berikan. Nafasnya semakin berat ketika dirinya terhanyut oleh sapuan lidah dikala mencumbunya. Nada tak mengira kalau V mampu memuaskan bibirnya hanya dengan olesan lidah saja. V pun berhenti sejenak dalam menikmati kelezatan bibir Nada.

Seketika Nada membuka mata saat tangan V mendekat tuk mencengkram kedua pipinya dengan lembut. Terlihat wajah tampan disana yang sedang menatap matanya dengan tulus. Nada terpesona oleh ketampanan V. Ia pun diam membiarkan V menatapnya dengan lembut. Mata itu. Tatapan itu. Nada sangat yakin kalau V sedang mengirimkan perasaan cintanya padanya. Ia pun terbuai saat V mulai membuka mulutnya tuk berbicara.

“Beruntungnya ana bisa mencium bibir antum... Ana gak mengira sebelumnya kalau bibir antum bisa semanis ini” puji V yang membuat pipi Nada memerah.

“Bibir ana ?” kata Nada terbuai.

“Iya ? Ana sangattt... Sangaaattt menyukainya... Mau merasakannya lagi ?” kata V yang dijawab anggukan oleh Nada tanpa sadar. Nada pun memejam membiarkan V kembali mencumbui bibirnya.

“Hmmmpphhhh !!!” Desah mereka berdua dikala bibir mereka kembali bersatu.

Malam itu di bawah gelapnya malam yang cerah. Dimana tiada satupun awan yang menghalangi sinar rembulan. Dua insan yang sedang larut dalam buaian birahi itu tengah bercumbu tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Nada hanya memejam membiarkan bibir V mendekat tuk mendorong bibirnya dengan lembut. Nada dapat merasakan hembusan nafas V yang berat ketika sedang menikmati bibirnya.

Dikala mulut mereka terbuka, dimana lidah mereka berpadu, saling berkait, saling melilit. Sentuhan tangan V dalam meremasi buah dadanya menjadi sesuatu yang paling Nada perhatikan. Nada merasa geli ketika buah dadanya diremas. Ia pun merinding merasakan aliran darah di tubuhnya bergetar merangsang keseluruhan tubuhnya yang sedang dilanda nafsu birahi tinggi.

Dikala lidah mereka bergelut. Nada dapat merasakan kalau jemari tangan V sedang berusaha tuk melepas satu demi satu kancing kemeja yang ia kenakan. Benar saja disaat satu demi satu kancing itu terbuka. Nada dapat merasakan hawa dingin yang berhembus memasuki celah kemejanya. Nada semakin merinding merasakan itu semua. V pun tersenyum saat menyadari itu. Sambil menggenggam jemari Nada. Mulut V pun terbuka tuk mengajak Nada memasuki gedung kelas kembali.

“Masuk ke dalam yuk... Antum kedinginan kan ?” kata V tersenyum. Nada mengangguk sambil tersenyum malu tuk menjawab pertanyaan itu. V pun berlari menarik tangan Nada tuk memasuki kelas yang tadi Nada tempati.

Di dalam mereka kembali berciuman. Bibir mereka saling melekat dengan jarak tubuh yang semakin dekat. Jemari V bergerak tuk merangkul pinggang ramping Nada. Sementara Nada sudah merangkulkan tangannya di leher V ketika dirinya semakin hanyut dalam permainan birahi yang sudah V berikan.

Nada melenguh mengeluarkan nada - nada yang membangkitkan gairah V dalam mencumbunya. Nada terus melenguh ketika bibirnya dihujami ciuman oleh seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Percumbuan mereka yang semakin bernafsu membuat liur Nada menetes jatuh dari sela - sela bibirnya.

Bibir V terbuka kembali memagut bibir atas Nada yang terasa manis baginya. Lidahnya ia julurkan ketika memasuki rongga mulutnya. Hangat, nikmat, tak terasa lidah itu terus berkeliaran di dalam rongga mulut Nada tuk mencari pasangannya. Tepat setelah lidahnya menemukan pasangannya. Mereka saling melilit dan kadang saling menjepit. Gesekan nikmat yang tercipta diantara keduanya membuat liur semakin menetes membasahi mulut Nada yang menjadi lokasi pertempuran dahsyat keduanya.

Nada tak menduga dirinya bisa menikmati percumbuan ini melebihi percumbuan yang biasa ia lakukan bersama sang suami. V pun melepaskan cumbuannya kemudian berdiri menjauh yang membuat Nada bertanya - tanya hal apalagi yang akan V lakukan padanya.

Nada melihat V tengah melepas satu demi satu kancing kemejanya. Nada seolah tau kalau V sebentar lagi akan melepaskan pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Perasaan Nada berdebar ketika mendapati sebentar lagi dirinya akan melihat aurat seorang lelaki selain suaminya. Dada V sudah terlihat. Nada pun dapat melihat betapa putihnya kulit dada V yang tersembunyi di balik kemejanya. Saat Nada menaikan sedikit pandangannya. Ia langsung menunduk malu saat melihat senyum manis V dikala menatapnya. Tak berselang lama, ia melihat kemeja V jatuh begitu saja di lantai kelas. Nada kembali menaikan pandangannya dan mendapati V sudah bertelanjang dada di hadapannya. V memang tidak kekar, tetapi tubuhnya juga tidak terlalu kurus. Pas tidak gemuk tidak pula kurus. Wajah tampan yang menghiasi parasnya membuat Nada semakin tersipu. Apalagi saat V mendekat tuk menyentuh jemarinya.

Antum penasaran gak ustadzah ?” tanya V sembari mengarahkan jemari Nada tuk memegangi sesuatu yang menonjol di celananya.

Nada menenggak ludah sambil melihat ke bawah. Benda itu nampaknya cukup besar hingga membuat benjolan yang luar biasa di celana V. Tanpa sadar Nada mengangguk yang membuat V melepaskan kait hak di celananya lalu menurunkan resleting celananya sekaligus.

“Hahhhhh” Kata Nada terkejut sambil menutupi mulutnya menggunakan salah satu tangannya yang menganggur.

Celana V sudah jatuh ke lantai berikut celana dalam yang menjadi pertahanan terakhir yang V miliki. Nada terkesima oleh ukuran penis yang sedang mengacung tegak dihadapannya. Nada merinding apalagi saat melihat penis itu bergerak naik turun dengan sendirinya seolah penis itu benar - benar hidup tanpa perlu dikontrol oleh V.

Ini ? Segini besarnya ? Ini bohongan kan ?

Batin Nada masih tak percaya.

“Ada apa ustadzah ? Pegang aja kalau penasaran.... Gak usah malu !” kata V tersenyum.

Gerakan tangan Nada yang canggung ketika ingin mengenggam penis V membuat pemiliknya itu tersenyum. Dengan lembut kedua tangan V menyentuh pundak Nada. Ia pun mendorongnya pelan ke bawah agar Nada lebih mudah tuk mengamati keindahan penisnya yang luar biasa.

Nada berlutut dihadapan V yang masih berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Nada terperangah akan keindahan tubuh V. Wajahnya yang tampan, penis besarnya yang berukuran mantap juga ukiran indah dari urat syaraf yang menonjol keluar. Nikmat apa lagi yang harus Nada dustakan dari keindahan di hadapannya ? Nada masih tak percaya dengan kejadian yang sedang terjadi di malam ini.

“Pegang aja ustadzah” kata V yang mengejutkan Nada.

Nada pun memberanikan diri tuk menyentuh benda besar yang sedang mengangguk - ngangguk itu. Karena saking besarnya Nada sampai harus menggenggamnya dengan kedua tangannya. Saat tangan lembut Nada menyentuh kulit penis V. V pun mendesah merasakan titik sensitifnya disentuh.

“Aahhhhh ustadzah” kata V yang membangkitkan gairah birahi Nada saat mendengarnya.

Tergoda oleh rasa penasaran membuat Nada menggerakan jemarinya maju mundur. V semakin mendesah merasakan kenikmatan tak terduga dari gerakan lembut Nada di penisnya.

Nada masih terdiam sambil mengamati rupa penis itu dihadapannya. Nada terpana. Nada terpesona. Nada benar - benar hanyut dalam keindahan yang ada di hadapannya. Tiap kocokan yang Nada berikan membuat V berteriak dalam diam menikmati sensasinya. V tersenyum. V merasa puas ketika penisnya dikocok oleh ustadzah cantik berhijab yang sudah berstatus istri orang.

Bertelanjang di dalam kelas malam - malam sambil dikocokin oleh ustadzah berhijab berparas cantik berpostur tinggi. Siapa yang mengira dalam seumur hidupnya V bisa beruntung mendapatkan kesempatan langka ini. Ia merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan jemari Nada di penisnya. V pun menatap ke bawah tuk mengamati keindahan paras Nada. Nada hanya berdiam dengan mata yang terbuka mengamati ujung gundul penisnya. V tersenyum senang membuat ustadz tampan itu menginginkan sesuatu dari Nada.

Antum.... Ahhhhh.... Mhhhh penasaran yah rasanyahhh ustadzah ?” kata V ditengah desahannya.

“Rasanyaa ?” kata Nada yang sudah hanyut oleh gairah birahinya sendiri.

“Iya... Antum bisa mencicipinya kok... Gak usah ragu... Coba masukan penis ana ke mulut antum” pinta V.

“Masukan ke mulut ana ? Ini ? Benda sebesar ini ?” kata Nada tak percaya dengan apa yang ia dengar. Nada bertanya - tanya di dalam hati mengamati benda sebesar ini. Apa mungkin penis sebesar ini bisa masuk ke dalam mulutnya ?

Seiring waktu berlalu ketika Nada terus mengamati penis itu. Nada semakin penasaran tuk melakukan perintah yang V berikan. Nada menenggak ludah. Bibirnya mulai terbuka tuk mencoba memasukan benda besar itu ke mulutnya.

“Aauuhmmm” desah Nada memberanikan diri tuk mencaplok ujung gundul dari penis besar itu.

“Aahhhhhhh ustadzaahhhhh !” desah V merasakan kehangatan tak terduga dari sentuhan lembut bibir Nada.

“Maaf ustadz... Sakit yah ?” kata Nada berhenti sejenak sambil menatap wajah V diatas.

“Engga kok ustadzah... Sebaliknya... Itu sangat enak... Coba antum lakukan lagi” pinta V.

Nada menarik nafasnya. Dilihatnya kembali penis besar itu dihadapannya. Tak sadar liur Nada sampai menetes jatuh saat menatap ukuran penis itu. Nada memejam. Sambil menggenggam penis besar itu mulutnya pun terbuka tuk mencaplok ukurannya yang luar biasa.

“Aahhhh iyyahhhh seperti itu ustadzah... Tolong dimaju mundurkann” pinta V.

Dimaju mundurkan ? Maksudnya ?

Batin Nada saat masih mengulum penis itu. Nada mencoba menafsirkan perintah yang menurutnya masih baru itu. Kepalanya ia majukan lalu ia mundurkan. Ia bertanya - tanya apakah yang ia lakukan sudah benar ? Dikala Nada melakukan itu terdengarlah suara erangan nikmat yang V teriakan dari mulutnya. Nada pun tersenyum merasa yakin bahwa apa yang ia lakukan mungkin sudah benar.

“Aahhh Ustadzah... Hati - hati... Jangan sampai terkena gigi” kata V.

“Eehhmm... Maaf ustadz... Ana baru pertama kali melakukan ini” kata Nada.

V pun memahami kalau ustadzah secantik Nada gak mungkin melakukan gerakan sex yang bermacam - macam. V pun diam. Mencoba menikmati sentuhan lidah Nada di penisnya.

“Uhhmmpph... Uhmmphh... Auhhmmm” desahan demi desahan Nada keluarkan dalam menikmati penis besar itu di mulutnya. Nada terkejut dengan dirinya sendiri. Kenapa ia tak bisa berhenti dalam menikmati penis besar ini. Ia begitu ketagihan akan rasa dari penis besar itu di mulutnya. Bukan hanya karena besarnya ukuran penis yang membuatnya tak bisa berhenti. Tapi juga karena kombinasi wajah beserta penis besar V lah yang membuat Nada begitu ketagihan dalam menikmati penis besar V. Dalam kulumannya, sekali - kali Nada melirik ke arah V guna memeriksa reaksi dari wajahnya ketika dilayani oleh servis oral dirinya. V terlihat mendesah kadang ia juga memejamkan mata karena tak kuat menerima servis dari mulut Nada yang luar biasa. Nada merasa lega menyadari dirinya cukup ahli dalam melayani seorang ustadz yang berkali - kali telah menolongnya dari permasalahan sama yang terus menganggunya.

“Aahhhh cukuppp ustadzahh... cukuppp” pinta V tak kuat lagi.

“Ahhhhhhh” Nada pun menuruti perintah V. Dikeluarkannya penis besar itu dari mulutnya. Tampak kilauan yang tercipta dari campuran liur Nada membuat bidadari berhijab itu malu dirinya bisa menghias penis seindah itu.

“Ahhhhhh... Antum hebat juga yah dalam memainkan penis ana” puji V yang membuat Nada merasa malu.

V meminta Nada untuk berdiri kembali sambil memintanya untuk bertumpu pada meja guru yang berada di dekat papan tulis. Tanpa adanya penolakan Nada langsung menuruti perintah dari V. Ia beridiri membelakangi V bersiap untuk menerima perintah lanjutan dari ustadz baru yang baru dikenalnya beberapa minggu yang lalu.

Nada terkejut saat roknya diangkat secara tiba - tiba oleh V. Nada menoleh ke belakang dan mendapati senyum dari wajah V yang mengembang. Sontak Nada tersipu melihat keindahan senyum itu. Terasa hembusan nafas V mendekat dari arah belakang. Nada merinding ketika hembusan nafas itu terkena telinganya. Tak berselang lama terdengarlah suara bisikan yang terucap dari bibir V di telinganya.

“Boleh ana masukan sekarang ustadzah ?” kata V meminta izin. Nada tak mengeluarkan sepatah katapun dalam menjawab pertanyaan sensual itu. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum malu - malu menatap wajah V dibelakangnya. V turut tersenyum kemudian mengecup bibir Nada sejenak sebelum tangannya meraih celana dalam yang Nada kenakan lalu menurunkannya hingga jatuh ke bawah.

“Ahhhh ustadzzz !!!” desah Nada khawatir saat merasakan bibir vaginaya tersentuh oleh ujung gundul penis itu.

“Ada apa ustadzah ? gak akan sakit kok” kata V tersenyum yang membuat kekhawatiran Nada mereda.

“Aahhhhhhh ustaddzzz !!!” desah Nada.

Dikala benda gundul mirip tudung jamur itu masuk membelah liang senggama Nada. Nada mendesah hebat hingga suaranya terdengar keras ke arah luar ruangan. Reflek V panik hingga menegur Nada untuk menurunkan suaranya. Nada hanya tersipu sambil meminta maaf karena terkejut merasakan vaginanya di belah oleh keperkasaan penis V.

“Uhhhhhh ustadzz.... Pelann pelannn !!” pinta Nada dikala V mulai mendorong penisnya maju tuk menancapkan benda pusaka itu menuju titik terdalam vaginanya.

Nada masih berpakaian dengan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka di bagian atasnya. Sementara roknya sudah terangkat naik hingga membiarkan kulit mulusnya disentuh oleh usapan manja V di bokongnya. Dikala V melakukan penetrasi tuk menusuk vaginanya. Nada merasakan usapan dan tepukan yang V lakukan di bokongnya. Nada berteriak kecil dikala bokongnya ditampar dengan pelan. Nada juga berteriak kecil ketika bokongnya diusap - usap secara menyeluruh oleh tangan V. Dikala penis itu semakin masuk ke dalam hingga nyaris menembus rahimnya. Nada kembali berteriak keras tuk memuaskan hasrat birahi yang telah V bangkitkan akibat penetrasi penis besar itu.

“Aaahhhhhhhhhmmmmmmmmmmmm Hmmpphhhhhhh !” desah Nada tertahan.

Beruntung V sigap dengan memberikannya cumbuan untuk menyumpal mulut Nada agar tidak berteriak lebih keras lagi. Nada merasa tersipu namun cumbuan yang V berikan juga tusukan yang V tancapkan di vaginanya membuat Nada merasa nikmat oleh kepuasan birahi yang selama ini bersembunyi. Nada benar - benar hanyut dalam kepiawaian V dalam memainkan birahinya. Dikala V mulai menggerakan pinggulnya perlahan. Terasalah gesekan nikmat yang membuat rahim Nada bergetar. Nada hanya memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar merasakan kenikmatan yang ia rasakan. Nada mendesah dalam diam. Ia benar - benar terpuaskan hingga membuatnya melupakan status yang ia miliki sebagai ustadzah pondok juga istri dari Rendy.

“Aahhhh ustadzahhh... Punya antum rapat banget... Seret lagi... Ouhhhh” puji V yang membuat wajah Nada memerah karena malu.

V mencengkram bongkahan pantat itu sambil terkadang meremasnya dan memberikannya tamparan lembut hingga merubah warna bokong itu menjadi kemerahan. Rasa nikmat yang ia terima dari jepitan vagina Nada dalam meremas - remas penis besarnya membuat V merem melek berulang kali.

Ia mendorong pinggulnya kemudian menariknya lagi, Ia mendorongnya lagi kemudian menariknya lagi. Disaat ia mendorongnya lagi ia dengan sengaja mendorongnya dengan kuat hingga merasakan penisnya mentok disana. Nada pun mendesah pelan merasakan gaya lembut yang V lakukan dalam menikmati keindahan tubuhnya.

Tangan V bergerak maju tuk melepas sisa kancing yang masih melekat di kemeja Nada. Saat empat kancing teratas Nada terlepas. V dengan paksa membuka kemeja Nada lebar - lebar hingga rupa dari payudara yang masih tersembunyi di balik bra itu terlihat. Dengan segera V menaikan cup bra itu kemudian memainkan putingnya dengan memilinnya, mencubitnya dan menekannya menggunakan ujung jemari telunjuknya.

“Ahhhh ustadzz..... Ahhhhhh geliii ustadzzzz !” desah Nada merasa malu.

Nada semakin merinding merasakan rangsangan demi rangsangan yang V lakukan di tubuhnya. Ditengah genjotan nikmat yang V lakukan. V turut meremasi bulatan indah disana. Kadang ia juga menariknya dan mengelus - ngelus payudara indah itu. Nada semakin terbuai oleh gairah nafsu yang menguasai jiwanya. Nafsu tak tertahan yang menguasai keduanya memaksa V untuk meningkatkan intensitas pergerakannya.

V fokus dalam menikmati jepitan vagina Nada di penisnya. Kedua tangannya beralih mencengkrami pinggang ramping Nada. Ia pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia menaikannya dari gigi satu menuju gigi empat sekaligus. Perubahan tiba - tiba yang V lakukan dalam menghujami vaginanya membuat Nada terkejut.

“Ustaddzzz... Jangann... Ahhhh ahhhhh... Jangan cepat - cepat ustadzzz !” desah Nada merasakan kecepatan pinggul V dalam menubruk vaginanya.

Nada mendesah menikmati perzinahan ini. Dalam posisi berdiri membelakangi. Payudara Nada yang sudah bebas bergerak maju mundur dengan begitu cepat. Ia juga merasakan bahwa penis besar V menghantam dinding vaginanya dengan keras.

“Ahhh.... Ahhhh.... Ustadzahh !!! Suara antum indah juga yahhhhh... Tubuh antum juga sexy... Ana sampai terpesona melihat kesempurnaan yang antum punya” puji V membuat jantung Nada berdebar mendengarnya.

“Aahhhhhhh ahhhhhh usttadzzzz.... Pellannnn !!!” desah Nada tak sanggup menahan genjotan kencang V di vaginanya.

Nada mendesah begitupula V juga mendesah. Getaran bongkahan pantat Nada disaat bertubrukan dengan pinggulnya semakin memperkuat hasrat V untuk segera menuntaskannya. V pun tak tahan untuk meremas bongkahan pantat itu. V meremasnya juga menamparnya dengan keras akibat terlalu bernafsu. Ia terus mencengkramnya dengan kuat untuk menaikan birahi Nada yang semakin tak terkendali.

"Ouhhhh ustadzzz.... Ahhhh sakitttt... Ahhh jangan ditampparrrin ustadzz... Ahhhhh" Desah Nada.

Nada melirik wajah V di belakang. V pun tersenyum menatap tatapan sayu Nada dari arah depan. Tusukannya yang semakin dalam lagi kuat membuat Nada tak bisa berkata apapun selain mendesah pasrah menerimanya.

V kembali memegangi pinggul ramping Nada. Mempercepat gerakan pinggulnya saat menyadari ia sudah berada di ambang batasnya.

Nada juga demikian, untuk pertama kalinya dalam bersetubuh ia bisa sepuas ini dalam merasakan genjotan seseorang di vaginanya. Gesekan kuat yang ia terima di dinding vaginanya membuat Nada menyadari kalau waktunya sudah tidak lama lagi.

“Aahhhh ustaddzzz.... Hahhhhh... Hahhhh... Ustaddzz tungguuu ahhhhh”

V tersenyum saat merasakan nafas berat Nada yang bergerak tak beraturan. Ia tahu kalau Nada sebentar lagi akan mendapatkan orgasmenya. V pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia juga meremas payudara Nada dengan kuat tuk menggiring birahi Nada menuju puncak. V gemas mendengarkan desahan Nada seolah sedang menggodanya. Cairan cinta yang semakin membanjiri vagina Nada mempermudah penetrasinya dalam keluar masuk menikmati lubang kencing itu. Desahan Nada terdengar semakin nyaring hingga membuat gairah nafsu V terpanggil. Ia pun tak kuat lagi dalam menyetubuhi binor cantik berbody sexy satu ini. V mempercepat gerakan pinggulnya. Lebih cepat. Lebih cepat lagi.

“Aahhhhhh ahhhhh ustaddzzz... Ahhhhhh” desah Nada memejam sambil bertumpu pada meja guru dihadapannya.

“Ahhh iyyahh ustadzahh.... Ouhhh nikmat sekali... Ana sampai gak kuat lagi tuk menahan semua ini ustadzah !” desah V.

Plokkk plokkk plokkkkk !!

Suara benturan antar kelamin itu terdengar semakin keras hingga suaranya memenuhi ruangan begitu juga dengan suara cipratan air yang terdengar dari rahim Nada. Nada kembali menoleh menatap ke arah V dengan pasrah. Tatapannya seolah memohon untuk memberikannya orgasme ternikmat dalam seumur hidupnya.

“Ustaadddzzz... Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh” desah Nada.

Sedikit lagi. V merasa dirinya akan keluar sebentar lagi. Ya ia dapat merasakan sesuatu yang dahsyat sedang mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Ia mempercepat hujamannya tanpa memperdulikan suara desahan yang tercipta dari mulut Nada. Saking cepatnya hujaman yang V lakukan membuat tubuh Nada sampai terdorong maju mundur dengan cepat. Payudaranya pun ikut bergoyang. Desahanya juga terdengar nikmat dan V mulai dapat merasakan gelombang dahsyat telah berkumpul di lubang kencingnya.

“Ahhhh ahhhh ahhhhhh ustadzahhhh !” desah V mencabut penis itu kemudian menarik tubuh Nada mendekat tuk memintanya berlutut dihadapannya.

Crootttt crroottt croottt !!!

“Ahhhhhhhhh !!!” desah V ketika menyemprotkan spermanya ke arah wajah Nada.

Nada terkejut ketika wajahnya disirami oleh cairan kental berwarna putih itu. Aromanya yang memuakkan justru membangkitkan gairah birahi Nada yang belum tertuntaskan. Cairan itu keluar begitu banyak hingga memenuhi wajahnya. Bahkan beberapa ada yang sampai tumpah terkena kemejanya.

“Aahhhh yahhh ustadzahhh... Ouhhhhh !!!” desah V guna menuntaskan birahinya hingga tetes terakhirnya. Dalam menuntaskan tetes terakhirnya itu. Mata V sampai merem melek merasakan sensasi luar biasa yang ia terima.

V puas hingga membuatnya ambruk dalam keadaan telanjang bulat di lantai. Lalu ia melihat ke arah Nada. V tersenyum melihat wajah Nada yang dipenuhi oleh spermanya. Ia pun menyadari kalau ada satu kewajiban yang belum ia selesaikan dari Nada.

“Maaf yah ustadzah” kata V lekas mendatangi Nada yang benar - benar kelelahan setelah digempur habis - habisan oleh V.

“Ustadzz...” panggil Nada dengan lirih karena tenaganya habis.

V meminta Nada untuk berdiri kembali. Walau lemas Nada masih menuruti keamuannya. Dilepasnya lah satu persatu kancing itu juga kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Setelah kemeja itu terjatuh barulah rok yang menjadi incaran terakhir V untuk menelanjangi Nada di malam itu.

“Maaf kalau ana terlambat membukanya” bisik V di telinga Nada.

Jemari V bergerak tuk menyentuh liang senggama Nada. Reflek Nada terkejut saat merasakan adanya setruman ringan di vaginanya. Nada membuka mulut sambil menatap wajah V dihadapannya. V mengangguk kemudian menggerakan jemarinya naik turun tuk merangsang bibir vagina Nada yang sudah sangat basah.

“Ahhhhhh ustaddzz.... Ouhhhhhhhhh !”

Nada mendesah. Birahinya kembali bangkit setelah tadi sempat tertunda. V mengocoknya. Jemarinya dengan lihai menjepit biji kecil yang menggantung di sisi bagian atas vagina Nada.

“Aahhhhhh ustaddzz..” sontak Nada mendesah hebat saat klitorisnya dijepit.

Pinggul Nada bergoyang kekanan dan kekiri merasakan nikmat yang ia terima di vaginanya. Ia pun tak tahan lagi. Rangsangan hebat yang V lakukan di vaginanya membuat Nada tak mampu menahannya lagi. Nafas Nada memberat. Tubuhnya mengejang dan ia pun merinding saat gelombang kejut itu keluar membasahi lantai ruangan.

“Aaaahhhhhh ustaddzzz... Ana keluuuaarrrrr !!!” desah Nada tak mengira akan kenikmatan yang ia dapatkan dari olesan jemari V di vaginanya.

Nada mendesah hebat. Tubuhnya pun mengejang dan matanya merem melek merasakan kepuasan yang tak terkira. Nada ambruk namun tubuhnya segera di tahan oleh V. Dengan lembut V menjatuhkan tubuh Nada agar mampu duduk bersandar pada dinding ruangan kelas.

V pun tersenyum menatap wajah Nada yang belepotan sperma. Wajahnya mendekat tuk membisikan sesuatu di telinga Nada.

“Terima kasih ustadzah... Ana bahagia bisa menikmati waktu berdua bersama ustadzah” kata V lantas tersenyum setelah membisikan kata itu menatap wajah Nada.

Nada kelelahan. Nada benar - benar puas hingga membuatnya bingung saat kesadarannya mulai kembali. Nada merasa heran kenapa dirinya begitu hanyut oleh rayuan yang V lakukan hingga membuat tubuhnya terpaksa tuk menuruti kata - katanya.

V mengeluarkan tisu itu lagi tuk mengelap wajah Nada yang belepotan. V memperlakukan Nada dengan lembut saat membersihkan wajah itu dari spermanya. Nada pun semakin heran dengan sikap V ini. Ia pun bingung haruskah ia menyesal karena telah bercinta dengannya atau justru sebaliknya. Karena sebenarnya ia juga senang karena telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari persenggamaan yang ia lakukan bersama seorang ustadz yang sedang bertelanjang bulat dihadapannya.

“Nah sekarang kan udah cantik lagi” kata V setelah membersihkan semua sperma di wajah Nada.

Nada masih diam mematung saat V tersenyum menatapnya. Nada pun menoleh ke arah jemari V yang diangkatnya naik. Terlihat V hanya mengangkat jari kelingkingnya.

“Tenang... Ana akan menjaga rahasia antum kok ustadzah... Anggap aja tadi merupakan cara ana tuk membantu antum tuk melupakan masalah yang sedang antum alami tadi... Coba jujur antum sudah melupakannya kan ?”

Nada terkejut saat dirinya benar - benar melupakan masalah yang ia alami bersama suaminya. Ia benar - benar penasaran dengan siapa V ini. Kenapa ia begitu hebat dalam membolak - balikan perasaan hatinya. Kenapa ia begitu hebat tuk menaklukan tubuhnya.

Nada hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu.

V hanya tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya tuk kembali mencium ustadzah cantik yang hanya menyisakan hijab itu. Reflek wajah Nada menjauh saat V kembali ingin mencumbunya. Namun semua terlambat karena bibir mereka berdua kembali bertemu untuk melampiaskan sisa gairah yang masih tertinggal di dalam hati mereka.

“Hmmpphhhhh !!!” kembali Nada mendengus pelan menerima cumbuan yang V berikan.


*-*-*-*


Di waktu yang sama tapi berbeda tempat. Tepatnya di sebuah gedung kelas yang berada di zona santri putra. Ditengah kegelapan dan sepi yang melanda gedung kelas itu. Terdengar suara hiruk pikuk dari arah salah satu ruang kelas yang berada di ujung. Suara itu terdengar akrab. Suara itu terdengar menggoda karena tercipta dari dua orang wanita yang berbeda.

"Ahhhhh.... Ahhhhh... Ustadzahhh gapapa... Gak sakit kan ?"

"Ahhhh ana gapapa ustadzah... Tolong lebih kuat lagi... Dorong yang keras... Dorong yang kuat !!!!" Pinta salah satu ustadzah yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab lebarnya saja.

Ustadzah itu tengah berdiri membelakangi partnernya yang tengah menusuk rahimnya menggunakan penis palsunya. Ustadzah berpenis palsu itu mencengkram kuat payudara ustadzah di depannya. Ia mendorong pinggulnya semakin kuat. Semakin dalam hingga ustadzah yang ditusuk itu semakin kuat desahannya.

"Ahhhh ustadzah Diahhh... Lebih kuat lagi.... Ahhhhh" Desah ustadzah Syifa.

"Ahhh iya ini udah ustadzah... Ana sedang melakukannya" Desah Ustadzah Diah.

Mereka terus berpacu melawan waktu. Mereka terus berlomba melawan norma kebiasaan. Setelah lama mereka mendesah dan saling berpeluh keringat. Ustadzah Syifa pun mendesah menerikan suaranya yang menggoda menuju seluruh ruang kelas.

"Ahhhhhhhhhh" Ustadzah Syifa berhasil mencapai klimaksnya. Ia terlihat kelelahan tapi puas mendapatkan apa yang ia mau. Wajah sayu itu pun menoleh ke belakang. Tampak ustadzah Diah tersenyum menyambut senyum manis ustadzah Syifa.

Ustadzah Diah menarik keluar dildo yang terpasang di pinggulnya. Tampak penis palsu itu basah kuyup tersiram cairan cinta Syifa.

"Terima kasih yah ustadzah Diah" Kata ustadzah Syifa dengan nafas yang terengah - engah.

“Sama - sama ustadzah... Senang bisa membantu” kata Diah tersenyum.

“Oh yah... Mau gantian gak ustadzah... Sekarang biar ana yang memakai benda itu” kata Syifa merasa gemas ingin ikut menusuk rahim Diah dengan penis palsunya.

“Gak usah ustadzah... Ana masih mau menjaga keperawanan ana” kata Diah menolaknya dengan halus.

“Hihihi antum ini... Kalau gitu ana jilat aja yah ?” pinta Syifa meminta izin.

Diah kali ini menyanggupi. Dilepasnya lah penis palsu itu dari pinggulnya. Syifa pun berlutut. Dipandangnyalah lapis legit itu yang sudah dibanjiri oleh cairan cintanya. Diah sudah terangsang sejak tadi terutama saat dirinya menggenjoti ustadzah Diah menggunakan dildo itu.

Syifa tersenyum. Lidahnya ia julurkan dikala menjilati liang senggama Diah. Diah pun memejam merasakan geli - geli nikmat yang luar biasa di lubang vaginanya. Diah merinding. Ia pun tak kuat tuk membuka mulutnya mengeluarkan desahan demi desahan yang merangsang Syifa dalam menjilati kemaluan Diah.

“Ahhhhh ustadzahhhhhh !!!” desah Syifa keenakan.

Namun tanpa sepengetahuan mereka berdua ada sepasang mata yang melirik perbuatan tak biasa yang dilakukan oleh dua ustadzah cantik itu. Ia terkekeh - kekeh juga merasa iba mendapati wanita secantik dirinya hanya dipuaskan oleh penis palsu yang berukuran tidak begitu besar.

"Kenapa ustadzah menggunakan yang palsu kalau bisa menggunakan yang asli... Tenang besok - besok kita akan bertemu yah ustadzah dan akan kuperkenalkan kalau yang ori jauh lebih nikmat daripada yang terbuat dari plastik" Katanya sambil merekam sesuatu di hapenya.

*-*-*-*


Nada sudah kembali berpakaian setelah menikmati waktu berdua bersama V. Dalam perjalanan pulangnya ke rumah ia terus merenung memikirkan perbuatan yang tadi ia lakukan. Nada tak mampu mengomentari perbuatannya tadi. Ia masih bingung ia masih bimbang tuk memutuskan apakah perbuatannya tadi merupakan perbuatan yang salah atau bukan. Dalam hati tentu ia berkata bahwa itu merupakan perbuatan yang salah. Tapi di lain sisi ia begitu terbuai dan membuatnya makin penasaran akan kenikmatan yang dihasilkan dari penis besar V. Nada menenggak ludah saat memikirkan rasa saat penis besar itu keluar masuk di vaginanya.

Tak terasa tibalah ia di halaman teras rumahnya. Nada terkejut saat mendapati adanya sendal lain yang terparkir di halaman rumahnya. Nada pun berfikir.

Sendal siapa ini ? Gak mungkin kan ada seseorang yang bertamu ke rumah di jam segini ?

Nada mengetuk pintu kemudian membukanya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Saat wajah ayu Nada melongok masuk. Ia terkejut saat menemukan adanya sosok dari akar permasalahan yang menganggu pikirannya selama ini.

Pak Heri ? Apa yang ia lakukan di rumah di jam segini ?

"Selamat datang dek !" Sapa suaminya.

"Ustadzah... Selamat malam yah" Senyum pak Heri yang membuat Nada tak nyaman.

Rendy pun datang mendekat tuk memberi tahu kepentingan yang pak Heri punya sehingga membuatnya datang ke rumah semalam ini. Mulut Rendy terbuka yang segera dibantah oleh Nada ketika berbicara. Pak Heri dari kejauhan mengetahui kalau ada pertengkaran kecil yang terjadi di tengah kasus suami istri ini. Ia yang lebih berpengalaman pun mendekat.

"Ustadzahhh" Sapa pak Heri yang membuat ustadzah cantik berbody langsing itu menoleh. Nada terkejut dan mulutnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Ia benar - benar terkejut saat melihat pak Heri tanpa merasa malu melepas kaus polo yang dikenakannya. Tubuhnya yang tambun serta perut bulatnya yang maju terlihat mengganggu pandangan Nada. Nada merasa risih tapi sebelum ia sempat memalingkan wajah. Pak Heri dengan segera melepas celana berikut celana dalamnya sekaligus. Nada memejam tak sanggup memandang pemandangan yang menjijikan itu.

Wajah jelek, kumis tebal, serta rambut tipis yang mulai memutih ditambah dengan perut tambun yang sama sekali tidak memberikan efek keindahan terpampang dihadapan Nada. Rendy hanya tersenyum melangkah mundur sambil membuka celananya menikmati perbuatan yang akan Pak Heri lakukan pada istrinya.

"Buka matamu ustadzah... Ada sesuatu yang ingin saya tunjukan" Kata Pak Heri. Nada diam menuruti dan saat ia melihat ke bawah ia terkejut dengan rupa dari penis pak Heri yang berbeda. Nada terkejut dan menatap wajah pak Heri dengan tatapan bingung tak percaya.

"Unik kan ustadzah ? Wakakak" Kata pak Heri tertawa.

Nada pun baru tahu setelah dirinya melihat kalung yang sedang pak Heri kenakan kala itu.

"Betul ustadzah... Walau kita tidak berada di keyakinan yang sama bukan berarti kita tidak bisa tuk berada di atas ranjang yang sama kan ? Wakakakak" Tawa pak Heri.

Nada merasa jijik saat menatap rupa dari penis pak Heri dengan kulup yang memanjang hingga menutupi ujung gundulnya. Ia tidak sanggup melihatnya apalagi dari bentuk tubuh pak Heri yang sama sekali tidak mempesona.

"Sebentar saja kok... Saya cuma mau merasakan kehangatan dari mulut ustadzah saat menjilat dan mengulum batang kontol saya ini" Kata pak Heri yang membuat Nada merinding. Tanpa ba bi bu lagi. Pak Heri yang sudah bertelanjang bulat mendekap erat tubuh ramping Nada. Ia pun mendekatkan wajahnya tuk melumat bibir manis itu.

" Hhhmmmplhhhh !!" Desah Nada mendengus pelan.Pagi hari di sebuah rumah yang bertempat di asrama pasangan. Seorang pria bertubuh tambun tengah mengenakan kemeja berwarna biru. Satu demi satu kancing yang terdapat di kemeja itu dimasukannya ke tempatnya. Naas, saat kancing yang berada di dekat perutnya hendak dimasukan ke tempatnya. Kancing itu justru terlepas membuat pria bertubuh tambun itu kesal.

"Haihhhh copot lagi" Kata pria itu mendengus sebal.

Ia lekas melepas kemeja favoritnya kemudian menaruhnya diatas ranjang tidur yang bertempat di sebelahnya. Dengan segera ia membuka mulutnya untuk memanggil istri cantiknya guna meminta bantuannya agar menjahit kembali kancing itu ke tempatnya.

"Deekkkkkkk !!!!"

Mendengar adanya panggilan dari suami tercinta membuat bidadari berhijab itu lekas mematikan kompor guna menghangatkan sup yang sudah terlebih dahulu dibuatnya sebelum fajar menyingsing di pagi tadi. Ia agak berlari mempercepat langkah kakinya menuju arah panggilan. Wanita itu sudah berhijab, sudah mandi bahkan sudah bersiap - siap untuk berangkat ke kantor bagiannya. Namun ia rela berlari kecil hingga berkeringat demi menjalankan pengabdiannya pada sang suami tercinta. Tepat saat itu ia menatap ke arah dinding untuk melihat jam yang digantung disana. Ia tak menyangka rupanya waktu sudah hampir mendekati jam tujuh membuat wanita cantik itu semakin mempercepat langkah kakinya.

"Iyyya maassss.... Adek datang" Kata Haura.

Haura tiba di ruang tidurnya. Ia menemukan suaminya hanya mengenakan kaus oblong berwarna putih membuat tubuhnya yang tambun berperut buncit itu semakin terlihat. Haura mencoba memahami keperluan apa yang diinginkan sang suami hingga membuatnya sampai harus memanggil namanya.

"Ada apa yah mas ?" Tanya Haura.

"Ini dek... Tolong pasangkan kancingnya... Mas lagi buru - buru" Kata Hendra terlihat gelisah.

"Ahahahha perutnya kegedean sih... Makanya diet mas" Kata Haura mengajaknya bercanda. Namun Hendra tidak tertawa bahkan tersenyum pun tidak. Boro - boro mau tersenyum atau tertawa. Wong menatap wajahnya aja endak. Haura menghela nafas mencoba bersabar menghadapi sikap suaminya. Ia pun berusaha memahami. Mungkin suaminya sedang kesal sehingga dirinya tidak ingin diajak becanda.

Lekas Haura membuka laci meja tuk mengambil peralatan jahitnya. Dengan teliti ia memasukan benang itu ke jarum pentulnya. Agak sulit memang karena harus membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi untuk bisa melakukannya. Demi memuluskan jalannya ia sampai mengulum benang itu ke dalam mulutnya, mencampurkannya dengan sedikit liurnya agar benang tersebut memadat hingga semakin mudah ketika memasuki lubang yang berada di pangkal jarum pentul tersebut.

Persiapan pun selesai, ia lekas menjahit kancing tersebut sambil sesekali melirik suaminya yang tampak resah sambil memandangi jam tangannya.

"Mau kemana sih mas ? Kok kayaknya buru - buru banget" Tanya Haura ditengah proses jahit menjahitnya.

"Mau keluar lagi dek... Mau menemui seseorang untuk mengurusi proses pembangunan gedung" Kata Suaminya lagi - lagi tanpa menatap istri cantiknya.

"Ohh" Jawab Haura singkat tak tahu menahu cara merespon apa lagi yang harus ia lakukan untuk dapat menghangatkan percakapannya dengan sang suami.

Haura mempercepat gerakan tangannya hingga tak terasa ia pun menyelesaikan tugas dari suaminya hanya dengan waktu tiga menit saja.

"Ini mas... Adek udah selesai" Kata Haura menyerahkan kemeja itu ke Hendra.

"Terima kasih yah dek" Kata Hendra lekas mengancingkan satu demi satu kemeja itu tanpa sempat memberikan senyum ke istrinya. Tepat saat Hendra mengikat dasi itu ke kerahnya, Haura melihat kalau dasi yang dibuat suaminya itu kurang rapih. Dengan penuh kasih sayang Haura berniat untuk membenarkan dasi tersebut.

Namun Hendra dengan sopan menolak perbuatan baik istrinya karena sedang terburu - buru. Haura kecewa dan sekali lagi ia mencoba memahami sikap suaminya yang sedang tergesa - gesa.

"Maaf yah dek... Mas lagi buru - buru... Oh yah bisa tolong serahkan catatan ini juga beberapa barang yang mas simpan di gudang ke pak Karjo" Kata Hendra yang membuat jantung Haura seperti berhenti berdetak.

Paakkk... Karrrjjoo ? Batin Haura shock mendengar nama itu lagi.

"Anuuu... Catatan apa yah mas ?" Tanya Haura penasaran.

"Ini serahkan aja... Nanti juga tau kok" Kata suaminya lagi - lagi menjawabnya dengan dingin.

Haura menerima catatan itu kemudian membacanya perlahan guna memahami isi yang tertulis disana. Rupanya catatan itu berisi nota barang yang baru dibeli oleh suaminya guna menuruti kebutuhan yang pak Karjo inginkan.

"Mas pergi dulu yah... Wassalamualaikum dek... Jangan lupa yah serahkan itu ke pak Karjo" Kata suaminya pergi begitu saja tanpa memberikannya pelukan, kecupan atau minimal membiarkan Haura mengecup punggung tangannya.

“Walaikumsalam” kata Haura dengan lirih.

Haura membaca sekali lagi catatan yang ia terima dari suaminya. Dikala matanya membaca catatan itu, pikirannya justru berkeliaran entah menuju kemana. Ia khawatir, ia terpikirkan akan perbuatan buruk Karjo padanya.

"Huffttt... Haruskah aku menemui pria bejat itu lagi ?" lanjut Haura melenguh perlahan.

Karena tidak ada pilihan lain, Haura lekas pergi menuju gudang untuk menjalankan amanat dari suaminya. Sebuah kaleng cat berwarna putih beserta tiga buah kuas ia temukan di dalam gudang rumahnya. Lekas Haura mengambil kantung kresek guna memasukan tiga kuas itu ke dalamnya. Ia pun menentengnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membawa kaleng cat berukuran besar.

Haura membuka pintu rumahnya kemudian berangkat sambil membawa barang - barang tersebut menuju sebuah gedung yang belum jadi demi menemui pria tua kekar yang pernah memperkosanya tempo hari. Haura merenung dalam perjalanan itu. Ia masih khawatir akan trauma yang tempo hari pernah dialaminya. Ia begitu ketakutan bahkan telapak tangannya sampai basah akibat keringat dingin yang keluar dari pori - pori kulitnya.

Semoga hal seperti itu tidak terjadi lagi padaku ! Batin Haura berharap.

Sesampainya disana, Haura mulai memasuki gedung itu secara perlahan. Keadaannya masih sepi karena belum banyak pekerja yang hadir sepagi ini. Haura melangkahkan kakinya pelan sambil mengintip ke dalam. Ia mencari seseorang yang sangat ia benci sambil berharap orang itu belum tiba di gedung ini. Akan tetapi semakin ia kedalam, telinganya semakin mendengar suara ketukan palu yang dihantam oleh seseorang. Haura mulai menduga siapa sosok pria bertubuh gelap yang samar - samar mulai terlihat di pandangannya. Apakah itu Pak Karjo ? Atau kuli lain yang sudah tiba disini sepagi ini ?

Saat Haura semakin dekat, Haura mulai menyadari bahwa orang itu sudah berada disini. Ya, dialah pak Karjo yang sangat ia benci. Seseorang yang awalnya sangat ia percayai kemudian berubah menjadi seseorang yang sangat ia benci akibat perbuatannya dalam melecehkan harga dirinya tempo hari. Alih - alih menyapa seperti biasa, ia lebih memilih diam tanpa mengeluarkan suara sambil menanti kuli itu menyelesaikan tugasnya.

Karjo sama sekali tidak tahu kalau ada bidadari cantik yang sedang menunggunya di belakang. Ia terus memalu paku itu ke dalam balok kayu yang baru ia gergaji pagi tadi. Wajah Karjo terlihat serius, Ia terlihat profesional, Ia terlihat terampil dalam memalu paku itu ke dalam. Haura mengernyitkan dahinya, ia pun berkata dalam hati.

Apa gunanya semua ketrampilan itu kalau tidak memiliki akhlak dalam bersikap ?

“Ehheemm !” Haura berdehem karena tidak betah harus menunggu pria tua itu memalu sampai selesai.

Karjo terkejut dengan suara itu hingga membuat wajah jeleknya menoleh. Ia lebih terkejut lagi saat menemukan adanya bidadari berwajah cantik yang sedang menunggunya dimari. Dilihatnya dengan teliti paras bidadari itu. Karjo tersenyum mesum saat melihat wajah manis sang bidadari yang terbungkus hijab tipis berwarna abu - abu. Paras Haura terlihat sempurna dengan kulit putih mulusnya yang membuat lidah Karjo sampai keluar guna membasahi bibirnya yang kering. Diperhatikannya lah bibir Haura yang berwarna kemerahmudaan. Sllrppp ! Karjo sampai menenggak ludah karena tak tahan ingin melumatnya lagi. Saat Karjo menurunkan sedikit pandangannya ke bawah, Ia menemukan betapa indahnya kombinasi pakaian yang sedang Haura kenakan. Kemeja tipis berwarna putih berukuran longgar dikenakan oleh bidadari itu di dalam. Luarannya ia mengenakan blazer berwarna abu - abu yang selaras dengan warna hijab tipis itu. Haura terlihat dewasa di usianya yang masih muda membuat gairah Karjo melonjak - lonjak ingin meledak. Karjo memang menyukai wanita yang dewasa terutama wanita yang sangat menarik dalam berpakaian. Sementara roknya, ah Karjo diam sejenak saat memperhatikan rok span yang terlihat agak ketat membungkus kaki jenjangnya. Karjo berdiri yang membuat Haura bergerak mundur karena takut. Karjo berjalan menuju samping untuk memperhatikan keindahan Haura secara menyeluruh. Haura hanya diam saja sambil menunjukan reaksi wajah tak nyaman memperhatikan raut wajah Karjo yang terlihat semakin bernafsu. Karjo tersenyum senang saat melihat dua bongkahan pantat Haura yang bulat tak muat hingga membuatnya menonjol di bagian belakang rok ketatnya.

“Kekekekekek pagi - pagi udah didatangin bidadari... Mau minta jatah yah ustadzah ?” kata Karjo membuat darah Haura menaik karena marah.

“Tolong dijaga yah pak kata - katanya !!” kata Haura agak menaikan suaranya.

“Dijaga ? Apa yang perlu dijaga ustadzah...” kata Karjo mendekat sambil mengusap - ngusap penisnya yang masih tersembunyi dibalik celana kolornya. Haura pun mundur ketakutan sambil mengangkat kantung kresek berisi kuas itu guna mengarahkannya ke Karjo.

“Jangan mencoba tuk mendekat yah pak ! Aku kesini cuma mau ngasih barang yang udah bapak pesan dari suami aku !” kata Haura memberanikan diri.

“Barang ? Ahh barang itu ? Sebenarnya saya gak butuh ustadzah.... Yang saya butuhkan ya bidadari cantik yang membawakan barang itu kesini” kata Karjo yang membuat Haura terperangah tak percaya. Karjo sampai berani membuang - buang uang anggaran hanya demi mengundangnya ke sini ?

Seketika Haura lengah dalam lamunannya itu. Karjo bergerak cepat dengan memeluk pinggang sang bidadari dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya dengan sigap meremas bongkahan pantat Haura yang tersembunyi di balik rok spannya.

“Aahhhhhhhh” reflek Haura mendesah hingga membuat barang - barang yang ia bawa jatuh semuanya ke tanah.

“Ohhh ustadzah... Mimpi apa saya semalam bisa didatangi bidadari semanis kamu ? Wajahmu, bibirmu, parasmu ! Indah semuanya ustadzah ! Bagaimana kalau kita sedikit berolahraga agar tubuh kita tetap sehat terjaga ?” kata Karjo kemudian mendekatkan bibirnya guna melumat bibir manis Haura.

“Hmmmppphhhhh !!!” Haura memejam merasakan bibirnya kembali dilumat oleh pria bejat itu lagi.

Haura berontak ingin melawan. Berulangkali tangannya berusaha untuk mendorong tubuh kekar yang tengah bertelanjang dada dihadapannya. Tubuh Karjo yang sudah berkeringat membuat Haura terkejut merasakan kelembaban yang ia rasakan di tangannya. Haura bertindak dengan menggeleng - gelengkan kepalanya bertahan sekuat mungkin guna menjauh dari aroma busuk yang dihasilkan dari mulut tua itu.

“Hmmpphhh lepasskannn.... Hmmphhhhh ahhhhhhh” Haura menjerit nikmat saat salah satu payudaranya yang bulat diremas dengan kuat oleh tangan kotor itu. Karjo agak sedikit kesulitan ketika tubuh ramping Haura masih terbungkus pakaian lengkapnya. Tangan satunya yang menganggur ia gunakan untuk membuka kancing blazernya. Sebentar kemudian tangan nakal itu langsung meremas payudara bulat Haura dengan liar. Walau masih terbungkus kemeja longgarnya. Karjo sudah dapat merasakan betapa kenyalnya dua payudara yang masih tersembunyi di dalam. Nafas Karjo yang hangat pun berhembus menerpa wajah Haura yang semakin tak tahan dengan aromanya. Haura berontak tapi tak kuat. Ia terus berusaha tuk menjauh dari pria bejat itu.

“Pakkkk... Hentikkannnn !!!!” kata Haura tak tahan lagi. Matanya pun sembab saat bulir - bulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Ia benar - benar tak mau untuk merasakan keperkasaan Karjo lagi. Ia tak mau tubuhnya ternoda lagi oleh nafsu buas kuli bangunannya. Haura menangis. Hatinya juga menangis. Tubuhnya terlalu lemah hingga membuat hatinya berteriak menyerukan nama seseorang tuk memintanya datang membantunya.

V Tolongggg akuuu !!!

Karjo merasa senang akan kemenangan yang sudah ada di depan mata. Ia terus melumat bibir manis Haura hingga menyedotnya sampai habis. Nafsunya pun semakin membludak membuat tangannya tak mampu mengontrolnya lagi dalam meremasi dua payudara bulat Haura yang besar.

“Aahhhhhhhhh” desah Haura saat merasakan perih di payudaranya.

“Siapa ? Siapa disana ?” tiba - tiba terdengar suara seseorang dari arah luar yang mengejutkan mereka berdua. Reflek Karjo melepas cumbuaannya pada Haura. Haura juga panik khawatir orang itu akan salah sangka dengan menuduhnya telah melakukan hal yang tidak - tidak. Buru - buru Haura merapihkan kemejanya yang lecek juga mengancingkan blazernya kembali.

Sosok itu semakin dekat membuat Karjo dan Haura gugup dibuatnya. Terlihat samar - samar dari dalam gedung karena refleksi cahaya mentari dari arah luar yang mengaburkan wajah sosok itu. Tak lama kemudian Haura tersenyum saat mengenali wajah dari penyelamatnya dari pelecehan yang hendak kembali ia rasakan.

“Haura ? Apa yang antum lakukan disini ?”

“V” kata Haura tersenyum ingin memeluknya. Namun ia urung melakukannya saat melihat raut wajah V yang terlihat berbeda dari biasanya.

Jangan - jangan !

“Anu hehe gapapa kok ustadz” kata Haura kebingungan mencari cara untuk meredamkan emosi V yang terlihat meluap - luap.

“Gapapa ? Lalu kenapa antum sampai berteriak keras ? Ana aja denger dari luar tadi" kata V terlihat sedang mencengkram tangannya kuat - kuat. Haura pun takut membayangkan kepribadian yang pernah Adit ceritakan dulu.

V memperhatikan sosok pria kekar yang berdiri dibelakang Haura. Posturnya terlihat tidak asing. Warna kulitnya terlihat tidak asing. Sejenak wajahnya pun terlihat tidak asing. Pupil mata V terbuka lebar saat teringat sosok pria yang mengendarai motor tua yang sebelumnya terparkir di halaman rumah Haura di malam saat Haura sakit tak bisa menemani santriwatinya muwajjah.

Jangan - jangan !!

Batin V menyadari. Energi yang berada di dalam tubuhnya berkumpul menuju telapak tangannya. V semakin gemas ketika menduga pria tua itu sudah melakukan perbuatan yang tidak - tidak pada Haura.

Dalam sekejap V mendekati sosok pria kekar itu dalam amarah yang sudah menguasai jiwa. Haura terkejut melihat V sudah bergerak sambil mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Karjo pun mundur ketakutan saat melihat mata ustadz baru itu yang menyala berapi - api.

“Tunggg... Tungguuu !!!” kata Karjo terbata - bata saat terintimidasi oleh tatapan tajam V.

Brrruuggg !!!!

Dengan penuh nafsu, V menghantam pipi Karjo menggunakan kepalan tangan kanannya. Karjo sampai terhuyung - huyung jatuh ke belakang sambil memegangi pipinya. Sementara Haura terkejut hingga kedua tangannya terangkat menutupi mulutnya.

“Aku baru ingat... Malam itu ? Jangan - jangan bapak sudah melakukan perbuatan yang tidak - tidak ke Haura kan !!!” kata V berdiri dihadapan Karjo yang sedang jatuh menahan perih di pipi.

“Dan sekarang bapak berani mengulangi perbuatan itu lagi ? Apa bapak sudah siap tuk menerima konsekuensi dari semua ini ?” kata V. Sebentar kemudian tak sengaja tatapannya teralihkan pada balok kayu yang tadi sempat Karjo gunakan untuk memalu paku. Sontak mata Karjo terbuka lebar mendapati amarah yang sudah berkuasa menguasai tubuh V.

“Ustadz tunggu !” kata Haura panik melihat V tampak kesetanan seolah ingin menghabisi nyawa Karjo.

"Jangg... Jangannn... Amppuniii sayaa" Pinta Karjo ketakutan.

V menyeringai memberikan senyuman yang dipenuhi oleh kemurkaan. Matanya berapi - api menatap wajah dari seseorang yang sangat ia benci. Target sudah dikunci. Dengan berhati - hati V mengangkat balok kayu itu bersiap - siap untuk menubrukan ujung kayu itu yang dipenuhi oleh paku - paku ke arah wajah Karjo yang terlihat menyedihkan.

“DASAARR KURANGG AJARRR !!!!” kata V bersiap tuk memecahkan kepala Karjo.

Tetapi . . . . .

V berhenti sesaat ketika Haura justru berdiri di hadapannya menghalangi perbuatannya seolah ingin melindungi Karjo yang V duga telah menyakiti Haura. Haura berdiri sambil memejamkan mata memasrahkan semuanya tuk menghalangi perbuatan V di pagi ini.

Pak Karjo menyeringai senang dibelakang Haura.

“Haura apa yang antum lakukan !” kata V terlihat marah.

“V hentikan... Ini gak seperti apa yang antum kira” kata Haura berusaha memadamkan amarah V.

“Gak seperti yang ana kira ? Maksudnya ? Jelas - jelas tadi ana melihatnya dari luar kalau orang ini sedang melecehkan antum kan !!!” kata V menaikan suaranya karena terlampau marah.

Antum melihatnya ?” kata Haura dengan lirih.

“Ya ana melihatnya kalau antum . . . . “

Antum melihatnya dengan jelas ?” kata Haura agak sedikit menunduk. V pun diam tak dapat menjawab pertanyaan itu.

Antum cuma lihat kan ? dan itu gak begitu jelas karena terlihat gelap dari luar ?” kata Haura yang membuat V semakin diam saat mendengar suara Haura seperti bergetar.

“Haura ?!” sapa V dengan lirih.

Ana yang merasakannya sendiri ustadz ! Sudah hentikan kesalahpahaman ini !” kata Haura terlihat menangis tersedu - sedu hingga air matanya jatuh membanjiri wajahnya.

“Hauraa” kata V perlahan - lahan mulai iba dengan tangisan yang Haura keluarkan.

Antum percaya kata - kata ana kan ustadz ?” kata Haura menatap wajah V penuh arti.

“Iya ana percaya kata - kata antum Haura” kata V tak tega.

Haura pun menunduk sejenak sambil memejamkan mata memikirkan gejolak batin yang sedang bergelut di hatinya.

Maaf V... Bukan bermaksud membelanya... Ana cuma takut kalau sampai harus berpisah darimu gara - gara tindakan kekerasan yang antum lakukan ke pak Karjo... Ana gak mau kalau antum sampai dikeluarkan dari sini... Ana gak mau kalau antum sampai dipenjara... Ana cuma mau antum disini... Menemaniku... Menghiburku dengan kata - kata yang antum ucapkan kepadaku... Kamu pasti paham kan, andai tahu betapa beratnya hatiku sekarang ketika harus membela seseorang yang sangat ana benci ? Tolong jangan ikut campur V... Ini masalah ana... Biarkan aku yang menanggung semuanya... Biarkan aku yang mencari cara tuk menyelesaikannya... Cukup bantu aku dengan kata - kata hiburan yang selalu antum tunjukan ke ana... Batin Haura merasa sedih.

“Ini bukan seperti yang antum kira ustadz... Tadi Pak Karjo berusaha membantuku... Tanganku sempat terkena paku tadi dan pak Karjo berniat untuk membantuku tuk mengurangi infeksi itu” kata Haura mencoba berbohong.

“Beneran ?” kata V sambil melihat tangan Haura. Namun tangan Haura justru menutup seolah sedang menyembunyikan sesuatu. V pun curiga.

“Kekekeke lumayan juga pukulannya ustadz.... Tuh denger kan apa kata ustadzah Haura... Saya orang baik kok ustadz... Saya bukan orang yang macam - macam seperti yang ustadz kira tadi” kata Karjo yang membuat V semakin benci padanya.

“Sudah hentikan pak... Ayo ustadz kita keluar aja dari sini” kata Haura menggenggam tangan V mengajaknya tuk keluar dari gedung ini.

“Tunggu sebentar... Biarkan ana berbicara dengannya Haura” kata V yang membuat Haura membiarkan V mendekat untuk berbicara dengannya.

“Kekekke ada apa ustadz ?” kata Karjo terkekeh - kekeh saat melihat V tengah memberikan tatapan benci padanya.

“Tunggu sampai aku mendapatkan bukti yang nyata akan perbuatanmu ! Aku gak akan segan - segan tuk mengusirmu dari pondok pesantren ini... Bukan cuma ragamu tapi juga arwahmu akan pergi dari pondok pesantren ini bahkan dunia ini” bisik V yang hanya bisa didengar oleh Karjo.

“Kekekekek silahkan aja ustadz... Kalau bisa !” kata Karjo yang justru menantang V.

V menarik nafasnya kemudian berpaling tuk pergi menjauh dari pria tua bertubuh kekar itu. Karjo masih terkekeh - kekeh melihat keberanian V dalam mengancam jiwanya. Saat melihat V sudah pergi dari gedung baru ini. Tatapan Karjo langsung berubah menjadi kesal. Ia terlihat marah karena kehadiran ustadz baru itu telah mengacaukan kegembiraan paginya. Tetapi saat teringat Haura justru berdiri disisinya membuat Karjo tersenyum senang.

“Oh iya bukannya ustadz itu yang pernah mencium Haura di malam itu ? Jadi dia yah selingkuhannya ? Berani juga Haura sampai berkorban seperti itu demi melindungi ustadz baru itu agar tidak dikeluarkan dari pesantren ini” kata Karjo.

“Ahhhh benar juga” kata Karjo sambil memetikan jarinya.

“Sekarang kalian boleh bersenang - senang selama kalian masih memiliki waktu untuk melakukannya... Tapi tunggu saja saat waktunya tiba... Akan kusingkirkan ustadz baru itu dari jalanku... Kemudian akan kuhamili Haura hingga dapat mengandung anak dari sperma yang sudah ku semprotkan ke rahimnya kekekekek” kata Karjo yang mulai berambisi untuk menyingkirkan penghalang yang sudah mengganggu rencananya.

Sementara itu di luar gedung baru yang belum jadi. Haura berjalan sambil menunduk di samping V. Berulang kali V melirik menatap wajah Haura yang terlihat sedih. V merasa ada yang tidak beres padanya. V ingin mencari tahu tapi ia tak ingin terburu - buru karena V sangat tahu betul kalau Haura memiliki sifat yang tak bisa dipaksa.

"Antum gapapa kan Ra ?" Tanya V.

"Iya... Aku gapapa kok" Kata Haura memaksakan senyum.

V menghela nafas, ia mencoba tenang tuk dapat menangani sikap Haura yang terlihat menyembunyikan sesuatu.

"Apa yang antum bilang tadi bener kan Ra ? Dia gak pernah melakukan hal yg enggak - enggak ke antum ?" Tanya V masih kurang percaya.

"Iyya V... Bener... aku jujur kok... ana gak pernah bohong ke antum... Antum masih belum percaya ?" Jawab Haura yang malah membuat V tertawa.

"Kenapa malah ketawa ?" Tanya Haura tersinggung.

"Gapapa" Kata V masih tertawa.

"V !!!!" Kata Haura kesal melihat sikap V padanya.

"Ana apa aku nih ?" Kata V yang membuat Haura tersadar.

Haura tersenyum malu kemudian menunduk sambil menyembunyikan wajah merahnya. Karena kesal Haura pun menyubit pinggang V dengan keras demi membalas dendam karena sudah membuatnya malu.

"Awww... Awww sakitt" Kata V berteriak.

"Rasain dasar ustadz nyebelin !" Kata Haura kembali tersenyum. V pun lega sudah dapat melihat senyum lagi dari wajahnya.

"Oh yah... Ana mau pulang dulu yah... Mau mandi dulu baru setelah itu ke kantor... Kebetulan aku gak punya jadwal di jam pertama " Kata Haura.

Lagi - lagi V hanya tersenyum sambil menahan tawa sekuat mungkin. Haura pun heran melihat sikap V itu. Barulah kemudian ia menyadari kalau kata - kata yang ia ucapkan sering berganti - ganti antara aku atau ana.

"V !!!!!!" Kata Haura gemas ingin mencubitnya lagi.

"Kabuurrr !!!!" V kabur berlari ke arah kantor pengasuhan sementara Haura hanya diam sambil tersenyum melihat V yang berlari menjauhinya.

Haura tak dapat menghentikan senyumnya. Ia pun pulang ke rumah guna membersihkan tubuhnya yang baru saja ternodai oleh mulut kuli bangunannya.

Terima kasih karena selalu berada di sisiku !!!... V !!!

Sementara itu V yang masih berlari menuju kantor pengasuhan menoleh sejenak ke belakang tuk melihat Haura. Menyadari Haura tidak mengejarnya lagi membuat hatinya senang. Ia merasa lega bisa melihat senyum itu lagi. Tetapi hatinya merasa resah ketika memikirkan sosok pria tadi.

Siapa namanya tadi ? Karto ? Karno ? Karjo ? Siapapun itu semoga firasat burukku tadi tidak benar !

Semoga Haura memang tidak pernah diapa - apakan oleh orang tua itu !!!

Batin V masih kepikiran soal tadi.


*-*-*-*


V sudah tiba di depan kantor bagian pengasuhan. Dalam benaknya, ia masih memikirkan kejadian yang sebenarnya terjadi pada Haura. Setaunya ia tak pernah melihat Haura tertekan atau terbebani oleh suatu masalah berarti. Atau jangan - jangan selama ini Haura menyembunyikan semua permasalahannya ? Terus V berfikir memikirkan persoalan yang tak pasti ini.

“Entahlah !” kata V. Lantas ia mengetuk pintu kemudian mengucapkan salam sebelum memasuki kantor bagiannya. Di dalam ia mendapati Hanna tengah sendiri di depan layar komputernya. V diam sejenak saat menatap senyum palsu Hanna dalam menyambut kedatangannya.

Senyum itu tampak dibuat - buat. Lagipula apa yang sebenarnya terjadi pada matanya ? Kenapa terlihat sembap.

“V... Baru datang yah hehe” kata Hanna sambil memaksakan senyumnya.

“Iya... Sendirian aja yah Han ?” kata V mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rekan kerjanya.

Tadi Haura... Sekarang Hanna... Kenapa semuanya terlihat tidak baik - baik saja ? Apa semuanya berkaitan dengan kuli bangunan tadi ?

“Iya nih V... Haura mana ? Biasanya kalian kalau datang selalu barengan” kata Hanna yang membuat V terkejut.

“Eh masa ?” kata V lekas duduk di kursinya sambil menutupi senyum malunya saat Hanna mengetahui kebiasaan yang sering V lakukan di pagi hari.

“Ahahaha pura - pura lupa yah V ?” kata Hanna kemudian menatap layar laptop untuk merampungkan laporannya.

Keadaan kembali hening saat masing - masing dari mereka fokus menatap pekerjaannya. V masih penasaran dengan raut wajah kesedihan yang Hanna tunjukan saat pertama kali bertemu dengannya di pagi tadi. Berulang kali V melirik menatap wajah Hanna guna mengamati keadaannya. Berulang kali tatapan Hanna terlihat kosong, bibirnya bahkan bergetar seolah sedang menahan jeritan hatinya. V semakin penasaran dengan kejadian besar apa yang membuat Hanna menjadi seperti ini.

Haruskah aku bertanya kepadanya ?

“Ehhh Hanna... Ngelamun aja !” kata V yang tiba - tiba sudah berada di kursi kosong disebelah Hanna sambil menepuk bahu ustadzah cantik itu.

Astaghfirullah... Ngagetin aja sih V... Ishhhh !” kata Hanna setengah kesal setengah tersenyum karena malu.

“Ada apa ?” tanya V to the point sambil tersenyum menatap mata Hanna dengan tulus.

Reflek Hanna menurunkan pandangannya karena malu. Sambil tersenyum Hanna berusaha menghindar dari pertanyaan yang sedang V tujukan padanya.

“Gapapa kok V” kata Hanna berpura - pura sibuk membaca lembaran kertas yang ada di meja kerjanya.

“Bukannya itu coretan XOX yang kita mainkan kemarin siang ?” kata V yang membuat wajah Hanna memerah karena malu.

“Hehehe” kata Hanna menunduk.

“Yasudah kalau belum bisa cerita sekarang... Aku gak akan maksa kok... Santai aja yah jangan diambil pusing beban masalah yang sedang kamu tanggung” kata V lekas kembali menuju mejanya.

Perkataan yang V ucapkan justru membuat Hanna kepikiran mengenai kejadian yang ia alami di kemarin sore. Bagaimana tidak kepikiran ? Niat hati ingin tulus membantu salah satu santrinya agar bisa lulus dari pondok pesantren, ia malah diperkosa oleh santri bejat itu hingga membuatnya harus kehilangan keperawanan yang seharusnya ia persembahkan pada sang suami di malam pertama setelah pernikahannya. Tanpa sadar Hanna menunduk sambil menompa kepalanya menggunakan telapak tangan yang ia sandarkan pada meja kerjanya.

Ia mengusap keningnya berandai - andai bisa mengetahui niat buruk Lutfi yang sebenarnya ingin memperkosanya. Sudah pasti ia tak perlu mengalami kejadian yang kurang menyenangkan ini.

“Huftttt” kata Hanna menghela nafasnya.

Andai saja waktu itu . . . .

Ketika ia sedang fokus merenungi perbuatan yang ia lakukan kemarin. Tiba - tiba ia merasakan adanya tangan yang melingkar di pinggangnya. Sontak Hanna terkejut membuat bidadari cantik itu menoleh menatap seseorang yang berani memeluknya. Saat Hanna menoleh, ia sangat terkejut rupanya V yang sedari tadi bersamanya dengan berani memeluk tubuh rampingnya.

“V... Apa yang !!” kata Hanna terkejut.

Belum hilang rasa terkejut yang pertama. Ia sudah harus kembali terkejut saat tiba - tiba wajah V mendekat untuk mencumbui bibir tipisnya.

“Hmmmmpphhhhh !!!” desah Hanna mendengus pelan.

Hanna shock dengan keberanian yang sudah V tunjukan dihadapannya. Ia benar - benar panik. Ia juga khawatir kalau kejadian buruk itu terulang lagi padanya. Ditengah ketegangan yang ia rasakan melalui tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dari apa yang ia alami sebelumnya. Sentuhan yang V lakukan dalam mengusap lengannya, sapuan lidah yang V lakukan di bibirnya, juga deru nafas yang beradu diantara mereka berdua. Hanna merasa tenang. Rasa tegang yang sempat ia alami diawal perlahan hilang mereda. Hanna mulai tenang, bahkan ia mulai menikmati percumbuan yang ia lakukan dengan V tanpa sadar. Cumbuan yang ia rasakan kali ini jelas berbeda. Ia sama sekali tidak merasakan adanya hawa nafsu yang V miliki padanya. Rasanya sangat jauh berbeda dari apa yang ia rasakan dari Lutfi.

Tanpa sengaja Hanna memejam menikmati percumbuan ini. Hanna bersikap pasif membiarkan V melumat bibir manisnya hingga habis. V bahkan menggigit bibir tipis Hanna dengan pelan kemudian menariknya mendekat membuat Hanna terkejut akan keahlian yang V miliki dalam mencumbui dirinya.

V membuka mulutnya. Lidahnya bergerak menjilati bibir kering Hanna hingga basah. Ustadzah tercantik nomor dua se-pondok pesantren itu semakin tenang menerima cumbuan yang V berikan. Belum juga dengan usapan yang V lakukan di punggungnya. Hanna merasa nyaman, membuatnya sampai hanyut dalam menerima cumbuan yang V lakukan.

V sangat ahli dalam memainkan perasaan wanita yang ia temui. Alih - alih menggunakan pemaksaan dalam menaklukan mereka. Ia lebih memilih santai dengan menaklukan perasaannya terlebih dulu. Ia selalu memainkan hati Wanita agar hanyut dalam percumbuan yang ia lakukan. V juga menikmati cumbuannya. Bibir manis bertekstur tipis yang Hanna miliki sudah basah tercampur oleh liur V secara merata. Hanna benar - benar hanyut menikmati percumbuan itu.

Mereka benar - benar hanyut ketika bibir mereka saling terkait satu sama lain. Kali ini tidak hanya V yang menggigit bibir Hanna. Bahkan Hanna sudah berani menggigit bibir V akibat nuansa yang sudah tercipta diantara mereka berdua. Hanna sendiri sampai terkejut kenapa ia bisa seberani ini ? Tak lama kemudian, V melepas cumbuannya secara perlahan hingga ada liur yang melekat diantara bibir keduanya. Liur itu terus menyatu seolah tidak mau berpisah dari percumbuan yang sedang dilakukan mereka berdua.

Hanna membuka mata karena terkejut V hendak menyudahi percumbuannya. Saat Hanna membuka mata, ia menemukan V sedang tersenyum menatapnya. Wajah Hanna berubah menjadi merah ketika menatap senyum manis disana. Seolah terbuai oleh ketampanan wajah V. Hanna tetap diam disana menatap keindahan wajah V dengan tatapannya yang sayu.

“Lupakan masalah itu ! Tidak usah dipikirkan lagi yah ! Kalau butuh sesuatu ada aku disini” kata V dengan tersenyum.

Tanpa sadar Hanna mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ketika melihat V kembali memejam dan mendekatkan kembali wajahnya, Hanna ikut memejam seolah dirinya sedang berada di tengah arus aliran sungai yang kuat. Hanna sudah hanyut dalam kenikmatan percumbuan itu. V sudah memikat hatinya. V sudah membangun nuansa yang kuat diantara mereka berdua.

“Hmmmpphhhhh !!!”

Bibir mereka kembali bertemu. Kali ini V menggunakan tenaganya untuk mendorong bibir tipis Hanna kebelakang. Bibir V terus mendorong bibir tipis Hanna itu dengan penuh nafsu. Jemari tangan V pun menahan punggung Hanna agar tidak terdorong ke belakang. Sementara jemari kirinya mengaitkan jemari kanan Hanna dengan erat untuk membangun ikatan yang kuat ketika sedang memadu kasih dengannya.

Dikala Hanna membuka mulutnya secara sukarela. Lidah V langsung bergerak berkeliaran di dalam rongga mulutnya. Lidah mereka pun bertemu. Awalnya saling bertubrukan kemudian berlanjut saling bergesekan. Bagai dua ular yang tengah bergelut. Mereka saling melilit kemudian menjepit. Liur yang berkumpul di dalam mulut mereka pun penuh hingga ada beberapa yang menetes jatuh keluar membasahi lantai.

Mereka berdua sudah jatuh menuju jurang hawa nafsu yang dalam. V sudah bernafsu begitupula Hanna. Hanna terkejut karena seumur hidupnya, ia tak pernah terangsang seperti ini. Ia benar - benar terbuai akan kenikmatan yang ia lakukan bersama V. Ia dibuat penasaran oleh kenikmatan yang telah V berikan padanya. Akibatnya, Hanna tak bisa berhenti untuk membiarkan V mencumbui dirinya. Hanna benar - benar pasrah akibat rangsangan yang diberikan oleh ustadz tampan dihadapannya.

Tengg ! Tenggg ! Tengggg !

V dan Hanna terkejut ketika mendengar suara lonceng berbunyi. Reflek mereka menghentikan percumbuan yang mereka lakukan berdua. Saat mereka berhenti mencumbu. Mereka saling menatap. Hanna terlihat bingung melalui tatapannya itu. Sedangkan V hanya tersenyum yang membuat pipi Hanna memerah tersipu.

“Kamu pencium yang hebat Han... Aku suka !” kata V yang membuat wajah Hanna semakin memerah karena malu.

V pun pergi begitu saja menuju mejanya meninggalkan Hanna yang tengah kebingungan dengan apa yang terjadi tadi. Hanna terus menatap V yang terlihat sedang merapihkan buku - bukunya yang berantakan di mejanya. Tak sengaja V menoleh sambil tersenyum yang membuat Hanna mengalihkan pandangan malu.

“Aku mau mengajar dulu yah Han... Lain kali kalau kamu sudah siap.... Ceritakan apapun masalahmu padaku !” kata V tersenyum membuat Hanna mengangguk tanpa sadar.

Hanna benar - benar kebingungan dengan apa yang tadi ia alami. Ia sudah mencumbui rekan kerjanya. Ia sudah berciuman dengan rekan kerjanya di kantor bagiannya. Hanna merasa sudah gila karena sudah seberani ini dalam melakukan pelanggaran di dalam kantor bagiannya. Berulang kali Hanna menatap V yang sudah keluar dari kantor bagian ini. Kemudian ia menoleh menatap PC didepannya. Ia kembali menatap V yang sudah semakin jauh darinya. Kemudian kembali menatap komputer dihadapannya. Hanna pun sadar bahwa ia telah kembali melakukan kesalahan karena telah membiarkan lelaki lain yang bukan muhrimnya tuk mencumbui dirinya. Anehnya ia tak merasa bersalah seperti hari kemarin. Ia justru merasa tenang meninggalkan seribu misteri yang membuat Hanna semakin penasaran. Ia merasa lega seolah cumbuan yang ia lakukan tadi bersama V seperti healing dalam meringankan beban pikirannya yang rumit. Ia pun termenung menatap layar komputer yang ada di hadapannya sambil memegangi bibirnya yang basah. Ia hanya merenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun sambil mengingat percumbuan yang sudah ia lakukan bersama V.

V !!!!

Batin Hanna memanggil namanya.


*-*-*-*


Malam hari di kantor bagian pengajaran. Para pengajar yang tidak mendapatkan amanat tuk menjadi wali kelas sedang berkumpul di kantor bagian pengajaran untuk pembagian tugas keliling guna mengawasi para santri ataupun santriwati yang sedang belajar muwajjah di kelas. V dengan gugup menanti di barisan belakang berharap dirinya mendapatkan tugas untuk berkeliling di zona santriwati.

V sangat berharap untuk mendapatkan bagian tuk berkeliling di zona itu bukan karena ingin menebar pesona dihadapan para santriwati. Ia hanya memiliki satu tujuan. Yakni Haura. Ia ingin mengunjunginya. Ia ingin melindunginya. Mewanti - wanti agar wanita pujaannya itu tidak diganggu oleh seorang pria yang diduga sebagai kuli bangunan itu.

V merasa resah, ia merasa gelisah setiap kali terfikirkan hal itu. Membayangkan kalau Haura selama ini benar - benar diganggu oleh kuli bangunan itu membuat V semakin kesal. Ia menarik nafasnya untuk mengatur emosinya. Ia tak mau terbawa suasana akibat terlalu kesal memikirkan sesuatu yang belum pasti. Ia terus berdoa semoga kecurigaannya selama ini terbukti salah. Ia sangat tidak rela kalau Haura sampai jatuh ke dalam pelukan pria tua kekar itu.

“Ustadz Fikri ! Ustadz Fikri !” panggil ustadzah Syifa sedari tadi.

Sontak salah satu pengajar yang berbaris di belakang V menyenggol lengannya tuk memberi tahu kalau giliran V telah tiba.

“Ehh naam ustadzah !” kata V bergegas mendekati Syifa.

“Dipanggil - panggil dari tadi kok gak dateng - dateng ? Dah ngantuk yah ustadz ?” ajak Syifa bercanda.

“Hehe kapan ? Kapan antum manggil nama ana ?” kata V tak merasa namanya dipanggil.

“Dasar ! Nih ustadz absen kelas yang harus antum kelilingi... Tolong yah ustadz periksa satu persatu kelas untuk mencari tahu adakah wali kelas yang absen dalam menemani santrinya muwajjah... Tolong jujur juga yah ustadz jangan mau kalau ada pengajar yang titip absen ke antum... Mereka harus hadir dulu di kelas baru setelah itu mereka bisa mengisi kehadiran di absen yang antum pegang” kata Syifa menjelaskan.

“Aihhh tenang aja ustadzah... Ana gak akan mau menerima tipsen dari mereka... ana juga gak mungkin berbohong ke ustadzah secantik antum” kata V mulai lagi. Syifa hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepala mendengar apa yang V ucapkan padanya.

“Hahhh ustadz... Ustadz... Dari dulu pasti kalau antum ngomong selalu menyelipkan kata - kata berbau modus seperti itu... Ana dah bilang kan dulu kalau kata - kata seperti itu gak akan mempan ke ana” kata Syifa mengingatkan kembali.

“Ehh hehe iya kah ? Kapan ? Lagipula ana gak bermaksud seperti itu loh ustadzah” kata V tak merasa.

“Ihh dasar pelupa... Dah sana buruan nanti terlambat loh ustadz !” tegur Syifa melihat V seolah mengulur waktu dengannya.

“Hehe afwan ustadzah... Ana pergi dulu kalau gitu” kata V.

Syifa hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat sikap V yang biasa menggombalnya tiap kali bertemu. Ia pun menghela nafasnya mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya.

“Ustadzah Diah !” kata Syifa memanggil giliran selanjutnya.

Naam ustadzah” sapa ustadzah Diah dengan lembut. Syifa pun tersenyum menatap betapa polosnya rupa sang ustadzah dihadapannya. Wajahnya yang cantik, kulitnya yang putih, posturnya yang pas tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek juga suaranya yang lembut dikala menjawab panggilannya. Syifa pun terdiam sesaat sambil mengamati rupa sang ustadzah baru tersebut.

“Hehehe ada apa ustadzah kok ngeliatin ana nya gitu ?” kata ustadzah Diah malu - malu. Syifa hanya tersenyum kemudian menyentuh punggung tangan ustadzah juniornya itu.

“Setelah muwajjah... Antum ada kesibukan lainnya gak ustadzah ?” tanya Syifa tersenyum.

“Hehhe enggak kok ustadzah... Kenapa yah ?” tanya Diah malu - malu.

Syifa pun melihat sejenak ke sekeliling. Dilihatnya ustadz Adit sedang membagi jadwal ke pengajar lainnya. Dikala waktunya tepat. Syifa lekas mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu disana. Setelah rampung menulisnya, ia memberikan selembar kertas itu sambil mengucapkan sesuatu padanya.

“Ini ustadzah... Temui ana nanti disini yah setelah muwajjah !” pinta Syifa menatap Diah sambil memberikan senyuman termanisnya.

“Disini ? Di ujung gedung kelas lantai satu ? Mau ngapain ustadzah ?” tanya Diah penasaran.

“Ssstttt... Jangan keras - keras sayang... Ana mau lagi... Seperti biasa” kata Syifa yang langsung dipahami oleh Diah.

“Iiiyyy... Iyya ustadzah” kata Diah tersenyum malu - malu.

Ustadzah Diah pun pergi menuju kelas untuk mengawasi para santri yang sedang muwajjah. Saat Diah pergi, berulang kali Syifa kedapatan mengganti - ganti letak posisi kakinya. Kadang ia menaruh kaki kanannya di atas kaki kirinya dan kadang ia menaruh di posisi yang sebaliknya. Syifa tak nyaman karena cairan cinta yang begitu banyak memenuhi lubang kenikmatannya.

Antum manis banget sih... Ustadzah Diah !! batin Syifa dalam hati.


*-*-*-*


“Ahhhh menyebalkan... Kenapa harus dapet bagian santri putra sih !!!” kata V saat menyadari kelas yang harus ia kelilingi merupakan kelas yang berada di zona laki - laki.

Alih - alih bersemangat tuk dapat menjaga dan melindungi Haura. Ia justru terjebak di wilayah santri putra yang sejauh mata memandang tidak ada kesegaran sama sekali yang ia dapatkan. V merasa terjebak di zona tidak nyaman. Ia merasa lesu bahkan mulai mengantuk karena tidak merasakan energi yang biasa ia dapatkan dari santriwati putri.

“Lagi gak beruntung emang !” kata V dengan lirih.

Selama muwajjah berlangsung, berulang kali V membaur dengan santri tuk membangunkan mereka yang tertidur. V merasa lesu. Ia seperti kehabisan energi. Ia merasa bosan karena hanya melihat wajah para santri yang tak dapat memberikan energi kehidupan untuknya. Terkadang ia merenung memandang ke arah kejauhan. Menuju gedung kelas yang dihuni oleh para santriwati. Ia rindu akan aroma semerbak yang dimiliki oleh para santriwati berikut ustadzah yang mengajar disana. Ia pun membandingkan aroma yang tercium disini.

Asem, kecut, gula legi. Kamu kentut akupun lari !

V terus bertahan sebisa mungkin menanti hingga waktu muwajjah berakhir. Beruntung ia bisa bertahan selama 90 menit penuh hingga suara lonceng berbunyi. Tepat setelah mendengar suara lonceng itu. Ia bergegas lari menuju zona santriwati tuk mengetahui keadaan Haura terkini. Apakah Haura ada di kelas ? Apakah Haura menemani santriwatinya belajar ?

“Ahh iya... Taman bunga !” kata V teringat kalau Haura juga sering menemani santriwatinya muwajjah di taman yang dipenuhi bunga - bunga.

Saat V menuju kesana, ia tak menemukan adanya satupun manusia yang berada disana. V pun gelisah membuatnya bergegas lari menuju kelas santriwati tuk mencari tahu apakah ada Haura disana.

Namun para santriwati sudah pada pergi saat itu. Mayoritas dari mereka telah pulang ke asrama masing - masing. Saat V menuju kelas yang biasa Haura tempati tuk menemani santriwatinya belajar. Ia menemukan bahwa kelas itu sudah kosong.

“Aishhh menyebalkan !” kata V semakin penasaran.

V pun bingung tuk mencari tahu apakah tadi Haura hadir di kelas atau tidak. Kebetulan ada salah satu santriwati yang mendekat ke arahnya. Dengan segera V langsung bertanya kepadanya.

“Assalamualaikum” tanya V yang membuat santriwati itu terkejut.

“Walaikumsalam ustadz” jawab santriwati itu kebingungan ada ustadz tampan yang menyapanya.

Afwan... Antum santriwatinya ustadzah Haura bukan ?” tanya V.

Naam ustadz... Ada apa ?” tanya santriwati itu.

“Tadi sewaktu muwajjah... Ustadzah Haura hadir di kelas apa enggak ?” tanya V.

“Ohh hadir kok ustadz... Kenapa yah ?” tanya balik santriwati itu.

“Ahhh enggak kok... Syukron yah” jawab V tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh santriwati itu. Tampak santriwati itu memasuki kelas tuk mengambil buku yang tertinggal. Setelah mendapatkan kembali bukunya. Santriwati itu langsung pulang menuju asramanya tuk beristirahat guna menghadapi hari esok.

“Syukurlah Haura malam ini gak kenapa - kenapa” kata V merasa lega.

V tersenyum senang. Kakinya pun melangkah tuk kembali ke bagian pengajaran tuk mengembalikan buku absen yang sedang ia pegang. Mendengar kabar kalau Haura dalam keadaan baik - baik saja sudah membuat hatinya lega. V pun merenung sambil menatap langit cerah dimana bintang - bintang bersinar menerangi gelapnya malam.

“Fitri... Bagaimana kabarmu sekarang ? Kamu pasti sudah tenang yah disana... Sejujurnya aku masih merindukanmu disini” kata V ketika teringat sosok Fitri yang telah membantunya sejak kecil.

Dalam perjalanan lanjutannya tuk kembali ke kantor bagian pengajaran. Ia mendapati ada satu lampu yang menyala dari salah satu ruang kelas.

“Loh kok lampunya masih nyala ? Apa ustadzahnya lupa tuk mematikan lampu itu ?” katanya penasaran.

V pun melangkah menuju kelas itu berniat untuk mematikan lampu tersebut demi menghemat pengeluaran biaya pondok pesantren. Namun saat ia tiba disana. Ia malah menemukan adanya ustadzah yang masih berdiam disana. Tatapanya kosong. Ustadzah itu seperti sedang merenungi sesuatu.

“Bukankah dia ?” kata V merasa mengenalinya.

“Assalamualaikum ustadzah Nada” sapa V mengejutkan Nada yang tengah melamun di kelas.

Astaghfirullah... Walaikumsalam” jawab Nada terkejut sambil memegangi dadanya yang ranum.

“Kok antum masih disini sih ustadzah ?” tanya V penasaran sambil melangkah mendekat menuju posisi ustadzah Nada berada.

“Hehehe iya nih ustadz... Akhir - akhir ini lagi pengin sendiri terus” jawab Nada tersenyum ketika ada seorang ustadz yang datang tuk menemaninya.

“Lagi pengin sendiri ? Awas loh ustadzah jangan ngelamun malam - malam... Entar kesurupan” kata V yang membuat Nada tertawa.

“Ahahahha ya jangan sampai dong ustadz.... Serem ihhhh kata - katanya” jawab Nada tersenyum. V pun terpesona oleh keindahan senyum manis Nada.

Hijab putih yang membungkus kepalanya. Kemeja longgar yang menutupi keindahan tubuhnya. Senyum manisnya dikala menyapa dan pesona dari postur rampingnya yang tinggi menjulang. V sampai menggeleng - gelengkan kepala saat mendapati keindahan Nada yang sempurna. Ustadzah bernama lengkap Nada Aulia Fahira itu masih tersenyum. Waktu terasa berhenti bagi V. Tubuhnya mematung tak bisa bergerak ketika mendapati senyum manis yang Nada berikan di malam itu.

“Ustadz... Ustadzz... Kok ngelamun sih ? Nanti kesurupan loh” kata Nada yang membangunkan V dari alam sadarnya.

“Ehhh hahaha... Di comeback nih ceritanya” kata V tertawa yang ikut membuat Nada tertawa.

“Ngomong - ngomong soal melamun... Lagi ngelamunin apa sih ustadzah malam - malam gini ?” tanya V penasaran.

“Ahahah enggak ada kok ustadz... Tadi cuma lagi ingin sendiri aja” kata Nada berusaha menutupi.

“Beneran ? Cerita aja juga gapapa kok ustadzah ? Apa mau minjem pundak ana lagi biar bisa nyaman pas cerita ?” kata V teringat saat di taman penuh bunga kala itu.

“Ahahaha gak perlu ustadz... Kita keluar sebentar yuk... Kita duduk disana sekalian nyari udara segar” kata Nada mengajak V pergi keluar.

“Boleh” jawab V mengikuti langkah Nada yang berjalan keluar dari kelas itu.

Kebetulan walau malam semakin malam. Kegelapan tidak mengikuti karena kalah oleh terangnya cahaya bintang yang bersinar menerangi mereka berdua. Nada dan V berjalan bersama menuju tempat duduk yang terbuat dari semen yang berletak di luar kelas. Mereka duduk bersama berjejeran dengan jarak yang cukup dekat. Nada tersenyum dikala melihat ke arah langit cerah diatas. V ikut tersenyum saat melirik Nada yang nampaknya sedang menikmati keindahan malam. Nada semakin larut dalam keindahan alam yang terbentang di langit sana. Ia pun menunduk sambil menyeka air matanya yang tiba - tiba menetes jatuh dari matanya. V pun menyadari saat melihat air mata itu.

“Hidup memang berat yah ustadz” kata Nada ketika tiba - tiba berkata.

“Iya” jawab V singkat menanti kata - kata lanjutan yang akan Nada keluarkan dari mulut manisnya.

“Ahahaha maaf ustadz... Ana kok tiba - tiba nangis gini sih” kata Nada tak mampu membendung air matanya yang mengalir jatuh.

“Gapapa ustadzah... Boleh ana bantu ?” kata V mendekat.

Nada hanya mengangguk membiarkan V memeluknya dengan erat. Nada merasa nyaman dikala V mendekapnya tuk menenangkan jiwanya yang terguncang oleh permasalahan yang sama yang masih memberatkan pikirannya. Nada hanya menangis di pelukan V hingga air matanya membasahi sebagian kemeja yang V kenakan.

“Cupp cupp cuppp... Tak apa ustadzah... Tuntaskan semuanya... Jangan ragu untuk mengosongkan beban yang masih terasa di hati antum” kata V mengusap punggung Nada dikala menangis terbayang beban masalahnya.

“Iyya ustadz... Makasih yah ustadz udah datang kesini malam ini” kata Nada merasa lega ketika ada pundak yang bisa ia pinjam tuk melampiaskan beban yang menganggu pikirannya.

V hanya tersenyum sambil mengusap punggung Nada. Kadang V juga menepuk - nepuk punggungnya hingga Nada merasa nyaman dengan sikap yang V tujukan padanya. Perlahan perasaan Nada mulai membaik. Ia merasa lega setelah bisa menangisi semuanya. Ia pun tersenyum menatap V sambil menyeka air matanya yang masih menetes jatuh.

“Ini” kata V yang kebetulan membawa tisu di sakunya.

“Makasih yah ustadz” kata Nada sambil menyeka air matanya.

Setelah melihat Nada membaik. Setelah merasa kalau inilah saatnya. V mulai bertanya mengenai apa yang membuat Nada seperti ini. Nada pun tersenyum ia membuka bibirnya yang tipis untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Masih masalah yang sama ustadz... Masih sama saat waktu kita berdua di taman itu” kata Nada memaksa senyum sambil menyeka air matanya.

“Masalah yang itu ? Mengenai perubahan sikap suami antum yah ?” tanya V.

“Iya ustadz hehehe betul” jawab Nada senang ketika V masih ingat cerita yang pernah ia berikan dulu.

“Ada apa dengan suami antum ? Apa suami antum meminta sesuatu yang aneh lagi ?” tanya V.

“Ahahaha enggak kok ustadz... Permintaannya masih sama tapi ya ana masih keberatan... Ana masih belum sanggup tuk melakukan itu” kata Nada.

“Hmmm begitu ?” tanya V semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Nada.

“Kalau boleh ? Bisa diceritakan apa yang sebenarnya terjadi ?” pinta V.

“Diceritakan ?” kata Nada merasa ragu. Ia berfikir sejenak haruskah ia menceritakan masalah ini atau tidak. V diam - diam memperhatikan sikap Nada. Bibir Nada bergetar seolah tak sanggup untuk menceritakan masalahnya.

“Sudah gapapa kalau gak sanggup... Ana gak akan maksa kok” kata V yang membuat Nada tersenyum senang.

Tiba - tiba tangan V mendekat tuk mendekap jemari Nada. Nada pun tersenyum membiarkan V mendekap erat tangannya. Kemudian Nada merasakan dagunya dicolek oleh V yang memintanya tuk menoleh menatapnya. Nada pun menuruti gerakan jemari V. Saat ia menoleh, ia mendapati wajah tampan V ketika sedang tulus menatapnya. Nada tersipu saat itu. Pipinya memerah. Reflek ia menundukan pandangan karena malu.

“Ustadzah” sapa V sambil tersenyum saat melihat sikap Nada yang terlihat malu - malu. Nada hanya menoleh tanpa mengeluarkan sepatah katapun saat namanya dipanggil oleh V. Kembali terlihat senyum manis yang V berikan untuknya.

Ana penasaran ustadzah... Ada yang ingin ana tanyakan sejak dulu disaat kita pertama bertemu” kata V yang ikut membuat Nada penasaran.

“Apa itu ustadz ?” tanya Nada masih malu - malu tuk menatap wajah tampan V dihadapannya.

“Kenapa antum bisa secantik ini ustadzah ? Senyum antum... Hidung antum... Bahkan tatapan mata antum di malam ini... Ana selalu betah tiap kali memandang kecantikan antum...” kata V yang membuat hati Nada berdebar.

Ana ? hehe ana gak secantik itu kok ustadz” jawab Nada merasa malu.

“Enggak... Enggak... Antum itu cantik... Andai saat ini antum masih single, pasti ana akan langsung melamar antum malam ini” kata V yang membuat Nada kembali tersenyum mendengar kata - kata itu.

“Coba lihat ke atas ustadzah ?” kata V yang dituruti langsung oleh Nada.

“Langitnya cerah kan ? Ini waktu yang tepat untuk membuat pengakuan ke antum” kata V.

“Pengakuan ? Maksudnya apa yah ustadz ?” tanya Nada kebingungan.

“Pengakuan... Kalau sebenarnya ana... Menyukai antum ustadzah” kata V bergegas mendekati wajahnya tuk memberikannya bukti dari perasaannya sekarang.

“Hmmmpphhhh !” Nada terkejut saat tiba - tiba V dengan berani mencumbui bibirnya.

Sontak Nada membuka mata lebih lebar lagi ketika mendapati bibirnya dilumat hingga habis oleh V. Nada panik seolah tindakan yang sudah V lakukan padanya berlebihan. Namun seiring cumbuan yang V berikan membuat kepanikan yang Nada rasakan perlahan menghilang tanpa jejak. Alih - alih panik. Nada mulai menikmati cumbuan V di bibirnya. Nafas Nada mulai berat dan ia mulai memejam membiarkan V melumat bibirnya.

V tersenyum saat merasakan Nada sudah tenang ketika dicium olehnya. Mulut V pun terbuka membiarkan lidahnya keluar tuk mengolesi bibir tipis Nada. Mulanya ia mengolesi tepi bibir bagian atas kemudian mengolesi bagian bawahnya secara merata. V semakin berani tuk memagut bibir atas Nada tuk merasakan kelezatan disana. Nada hanya melenguh menerima cumbuan yang V berikan. Nafasnya semakin berat ketika dirinya terhanyut oleh sapuan lidah dikala mencumbunya. Nada tak mengira kalau V mampu memuaskan bibirnya hanya dengan olesan lidah saja. V pun berhenti sejenak dalam menikmati kelezatan bibir Nada.

Seketika Nada membuka mata saat tangan V mendekat tuk mencengkram kedua pipinya dengan lembut. Terlihat wajah tampan disana yang sedang menatap matanya dengan tulus. Nada terpesona oleh ketampanan V. Ia pun diam membiarkan V menatapnya dengan lembut. Mata itu. Tatapan itu. Nada sangat yakin kalau V sedang mengirimkan perasaan cintanya padanya. Ia pun terbuai saat V mulai membuka mulutnya tuk berbicara.

“Beruntungnya ana bisa mencium bibir antum... Ana gak mengira sebelumnya kalau bibir antum bisa semanis ini” puji V yang membuat pipi Nada memerah.

“Bibir ana ?” kata Nada terbuai.

“Iya ? Ana sangattt... Sangaaattt menyukainya... Mau merasakannya lagi ?” kata V yang dijawab anggukan oleh Nada tanpa sadar. Nada pun memejam membiarkan V kembali mencumbui bibirnya.

“Hmmmpphhhh !!!” Desah mereka berdua dikala bibir mereka kembali bersatu.

Malam itu di bawah gelapnya malam yang cerah. Dimana tiada satupun awan yang menghalangi sinar rembulan. Dua insan yang sedang larut dalam buaian birahi itu tengah bercumbu tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Nada hanya memejam membiarkan bibir V mendekat tuk mendorong bibirnya dengan lembut. Nada dapat merasakan hembusan nafas V yang berat ketika sedang menikmati bibirnya.

Dikala mulut mereka terbuka, dimana lidah mereka berpadu, saling berkait, saling melilit. Sentuhan tangan V dalam meremasi buah dadanya menjadi sesuatu yang paling Nada perhatikan. Nada merasa geli ketika buah dadanya diremas. Ia pun merinding merasakan aliran darah di tubuhnya bergetar merangsang keseluruhan tubuhnya yang sedang dilanda nafsu birahi tinggi.

Dikala lidah mereka bergelut. Nada dapat merasakan kalau jemari tangan V sedang berusaha tuk melepas satu demi satu kancing kemeja yang ia kenakan. Benar saja disaat satu demi satu kancing itu terbuka. Nada dapat merasakan hawa dingin yang berhembus memasuki celah kemejanya. Nada semakin merinding merasakan itu semua. V pun tersenyum saat menyadari itu. Sambil menggenggam jemari Nada. Mulut V pun terbuka tuk mengajak Nada memasuki gedung kelas kembali.

“Masuk ke dalam yuk... Antum kedinginan kan ?” kata V tersenyum. Nada mengangguk sambil tersenyum malu tuk menjawab pertanyaan itu. V pun berlari menarik tangan Nada tuk memasuki kelas yang tadi Nada tempati.

Di dalam mereka kembali berciuman. Bibir mereka saling melekat dengan jarak tubuh yang semakin dekat. Jemari V bergerak tuk merangkul pinggang ramping Nada. Sementara Nada sudah merangkulkan tangannya di leher V ketika dirinya semakin hanyut dalam permainan birahi yang sudah V berikan.

Nada melenguh mengeluarkan nada - nada yang membangkitkan gairah V dalam mencumbunya. Nada terus melenguh ketika bibirnya dihujami ciuman oleh seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Percumbuan mereka yang semakin bernafsu membuat liur Nada menetes jatuh dari sela - sela bibirnya.

Bibir V terbuka kembali memagut bibir atas Nada yang terasa manis baginya. Lidahnya ia julurkan ketika memasuki rongga mulutnya. Hangat, nikmat, tak terasa lidah itu terus berkeliaran di dalam rongga mulut Nada tuk mencari pasangannya. Tepat setelah lidahnya menemukan pasangannya. Mereka saling melilit dan kadang saling menjepit. Gesekan nikmat yang tercipta diantara keduanya membuat liur semakin menetes membasahi mulut Nada yang menjadi lokasi pertempuran dahsyat keduanya.

Nada tak menduga dirinya bisa menikmati percumbuan ini melebihi percumbuan yang biasa ia lakukan bersama sang suami. V pun melepaskan cumbuannya kemudian berdiri menjauh yang membuat Nada bertanya - tanya hal apalagi yang akan V lakukan padanya.

Nada melihat V tengah melepas satu demi satu kancing kemejanya. Nada seolah tau kalau V sebentar lagi akan melepaskan pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Perasaan Nada berdebar ketika mendapati sebentar lagi dirinya akan melihat aurat seorang lelaki selain suaminya. Dada V sudah terlihat. Nada pun dapat melihat betapa putihnya kulit dada V yang tersembunyi di balik kemejanya. Saat Nada menaikan sedikit pandangannya. Ia langsung menunduk malu saat melihat senyum manis V dikala menatapnya. Tak berselang lama, ia melihat kemeja V jatuh begitu saja di lantai kelas. Nada kembali menaikan pandangannya dan mendapati V sudah bertelanjang dada di hadapannya. V memang tidak kekar, tetapi tubuhnya juga tidak terlalu kurus. Pas tidak gemuk tidak pula kurus. Wajah tampan yang menghiasi parasnya membuat Nada semakin tersipu. Apalagi saat V mendekat tuk menyentuh jemarinya.

Antum penasaran gak ustadzah ?” tanya V sembari mengarahkan jemari Nada tuk memegangi sesuatu yang menonjol di celananya.

Nada menenggak ludah sambil melihat ke bawah. Benda itu nampaknya cukup besar hingga membuat benjolan yang luar biasa di celana V. Tanpa sadar Nada mengangguk yang membuat V melepaskan kait hak di celananya lalu menurunkan resleting celananya sekaligus.

“Hahhhhh” Kata Nada terkejut sambil menutupi mulutnya menggunakan salah satu tangannya yang menganggur.

Celana V sudah jatuh ke lantai berikut celana dalam yang menjadi pertahanan terakhir yang V miliki. Nada terkesima oleh ukuran penis yang sedang mengacung tegak dihadapannya. Nada merinding apalagi saat melihat penis itu bergerak naik turun dengan sendirinya seolah penis itu benar - benar hidup tanpa perlu dikontrol oleh V.

Ini ? Segini besarnya ? Ini bohongan kan ?

Batin Nada masih tak percaya.

“Ada apa ustadzah ? Pegang aja kalau penasaran.... Gak usah malu !” kata V tersenyum.

Gerakan tangan Nada yang canggung ketika ingin mengenggam penis V membuat pemiliknya itu tersenyum. Dengan lembut kedua tangan V menyentuh pundak Nada. Ia pun mendorongnya pelan ke bawah agar Nada lebih mudah tuk mengamati keindahan penisnya yang luar biasa.

Nada berlutut dihadapan V yang masih berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Nada terperangah akan keindahan tubuh V. Wajahnya yang tampan, penis besarnya yang berukuran mantap juga ukiran indah dari urat syaraf yang menonjol keluar. Nikmat apa lagi yang harus Nada dustakan dari keindahan di hadapannya ? Nada masih tak percaya dengan kejadian yang sedang terjadi di malam ini.

“Pegang aja ustadzah” kata V yang mengejutkan Nada.

Nada pun memberanikan diri tuk menyentuh benda besar yang sedang mengangguk - ngangguk itu. Karena saking besarnya Nada sampai harus menggenggamnya dengan kedua tangannya. Saat tangan lembut Nada menyentuh kulit penis V. V pun mendesah merasakan titik sensitifnya disentuh.

“Aahhhhh ustadzah” kata V yang membangkitkan gairah birahi Nada saat mendengarnya.

Tergoda oleh rasa penasaran membuat Nada menggerakan jemarinya maju mundur. V semakin mendesah merasakan kenikmatan tak terduga dari gerakan lembut Nada di penisnya.

Nada masih terdiam sambil mengamati rupa penis itu dihadapannya. Nada terpana. Nada terpesona. Nada benar - benar hanyut dalam keindahan yang ada di hadapannya. Tiap kocokan yang Nada berikan membuat V berteriak dalam diam menikmati sensasinya. V tersenyum. V merasa puas ketika penisnya dikocok oleh ustadzah cantik berhijab yang sudah berstatus istri orang.

Bertelanjang di dalam kelas malam - malam sambil dikocokin oleh ustadzah berhijab berparas cantik berpostur tinggi. Siapa yang mengira dalam seumur hidupnya V bisa beruntung mendapatkan kesempatan langka ini. Ia merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan jemari Nada di penisnya. V pun menatap ke bawah tuk mengamati keindahan paras Nada. Nada hanya berdiam dengan mata yang terbuka mengamati ujung gundul penisnya. V tersenyum senang membuat ustadz tampan itu menginginkan sesuatu dari Nada.

Antum.... Ahhhhh.... Mhhhh penasaran yah rasanyahhh ustadzah ?” kata V ditengah desahannya.

“Rasanyaa ?” kata Nada yang sudah hanyut oleh gairah birahinya sendiri.

“Iya... Antum bisa mencicipinya kok... Gak usah ragu... Coba masukan penis ana ke mulut antum” pinta V.

“Masukan ke mulut ana ? Ini ? Benda sebesar ini ?” kata Nada tak percaya dengan apa yang ia dengar. Nada bertanya - tanya di dalam hati mengamati benda sebesar ini. Apa mungkin penis sebesar ini bisa masuk ke dalam mulutnya ?

Seiring waktu berlalu ketika Nada terus mengamati penis itu. Nada semakin penasaran tuk melakukan perintah yang V berikan. Nada menenggak ludah. Bibirnya mulai terbuka tuk mencoba memasukan benda besar itu ke mulutnya.

“Aauuhmmm” desah Nada memberanikan diri tuk mencaplok ujung gundul dari penis besar itu.

“Aahhhhhhh ustadzaahhhhh !” desah V merasakan kehangatan tak terduga dari sentuhan lembut bibir Nada.

“Maaf ustadz... Sakit yah ?” kata Nada berhenti sejenak sambil menatap wajah V diatas.

“Engga kok ustadzah... Sebaliknya... Itu sangat enak... Coba antum lakukan lagi” pinta V.

Nada menarik nafasnya. Dilihatnya kembali penis besar itu dihadapannya. Tak sadar liur Nada sampai menetes jatuh saat menatap ukuran penis itu. Nada memejam. Sambil menggenggam penis besar itu mulutnya pun terbuka tuk mencaplok ukurannya yang luar biasa.

“Aahhhh iyyahhhh seperti itu ustadzah... Tolong dimaju mundurkann” pinta V.

Dimaju mundurkan ? Maksudnya ?

Batin Nada saat masih mengulum penis itu. Nada mencoba menafsirkan perintah yang menurutnya masih baru itu. Kepalanya ia majukan lalu ia mundurkan. Ia bertanya - tanya apakah yang ia lakukan sudah benar ? Dikala Nada melakukan itu terdengarlah suara erangan nikmat yang V teriakan dari mulutnya. Nada pun tersenyum merasa yakin bahwa apa yang ia lakukan mungkin sudah benar.

“Aahhh Ustadzah... Hati - hati... Jangan sampai terkena gigi” kata V.

“Eehhmm... Maaf ustadz... Ana baru pertama kali melakukan ini” kata Nada.

V pun memahami kalau ustadzah secantik Nada gak mungkin melakukan gerakan sex yang bermacam - macam. V pun diam. Mencoba menikmati sentuhan lidah Nada di penisnya.

“Uhhmmpph... Uhmmphh... Auhhmmm” desahan demi desahan Nada keluarkan dalam menikmati penis besar itu di mulutnya. Nada terkejut dengan dirinya sendiri. Kenapa ia tak bisa berhenti dalam menikmati penis besar ini. Ia begitu ketagihan akan rasa dari penis besar itu di mulutnya. Bukan hanya karena besarnya ukuran penis yang membuatnya tak bisa berhenti. Tapi juga karena kombinasi wajah beserta penis besar V lah yang membuat Nada begitu ketagihan dalam menikmati penis besar V. Dalam kulumannya, sekali - kali Nada melirik ke arah V guna memeriksa reaksi dari wajahnya ketika dilayani oleh servis oral dirinya. V terlihat mendesah kadang ia juga memejamkan mata karena tak kuat menerima servis dari mulut Nada yang luar biasa. Nada merasa lega menyadari dirinya cukup ahli dalam melayani seorang ustadz yang berkali - kali telah menolongnya dari permasalahan sama yang terus menganggunya.

“Aahhhh cukuppp ustadzahh... cukuppp” pinta V tak kuat lagi.

“Ahhhhhhh” Nada pun menuruti perintah V. Dikeluarkannya penis besar itu dari mulutnya. Tampak kilauan yang tercipta dari campuran liur Nada membuat bidadari berhijab itu malu dirinya bisa menghias penis seindah itu.

“Ahhhhhh... Antum hebat juga yah dalam memainkan penis ana” puji V yang membuat Nada merasa malu.

V meminta Nada untuk berdiri kembali sambil memintanya untuk bertumpu pada meja guru yang berada di dekat papan tulis. Tanpa adanya penolakan Nada langsung menuruti perintah dari V. Ia beridiri membelakangi V bersiap untuk menerima perintah lanjutan dari ustadz baru yang baru dikenalnya beberapa minggu yang lalu.

Nada terkejut saat roknya diangkat secara tiba - tiba oleh V. Nada menoleh ke belakang dan mendapati senyum dari wajah V yang mengembang. Sontak Nada tersipu melihat keindahan senyum itu. Terasa hembusan nafas V mendekat dari arah belakang. Nada merinding ketika hembusan nafas itu terkena telinganya. Tak berselang lama terdengarlah suara bisikan yang terucap dari bibir V di telinganya.

“Boleh ana masukan sekarang ustadzah ?” kata V meminta izin. Nada tak mengeluarkan sepatah katapun dalam menjawab pertanyaan sensual itu. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum malu - malu menatap wajah V dibelakangnya. V turut tersenyum kemudian mengecup bibir Nada sejenak sebelum tangannya meraih celana dalam yang Nada kenakan lalu menurunkannya hingga jatuh ke bawah.

“Ahhhh ustadzzz !!!” desah Nada khawatir saat merasakan bibir vaginaya tersentuh oleh ujung gundul penis itu.

“Ada apa ustadzah ? gak akan sakit kok” kata V tersenyum yang membuat kekhawatiran Nada mereda.

“Aahhhhhhh ustaddzzz !!!” desah Nada.

Dikala benda gundul mirip tudung jamur itu masuk membelah liang senggama Nada. Nada mendesah hebat hingga suaranya terdengar keras ke arah luar ruangan. Reflek V panik hingga menegur Nada untuk menurunkan suaranya. Nada hanya tersipu sambil meminta maaf karena terkejut merasakan vaginanya di belah oleh keperkasaan penis V.

“Uhhhhhh ustadzz.... Pelann pelannn !!” pinta Nada dikala V mulai mendorong penisnya maju tuk menancapkan benda pusaka itu menuju titik terdalam vaginanya.

Nada masih berpakaian dengan beberapa kancing kemeja yang sudah terbuka di bagian atasnya. Sementara roknya sudah terangkat naik hingga membiarkan kulit mulusnya disentuh oleh usapan manja V di bokongnya. Dikala V melakukan penetrasi tuk menusuk vaginanya. Nada merasakan usapan dan tepukan yang V lakukan di bokongnya. Nada berteriak kecil dikala bokongnya ditampar dengan pelan. Nada juga berteriak kecil ketika bokongnya diusap - usap secara menyeluruh oleh tangan V. Dikala penis itu semakin masuk ke dalam hingga nyaris menembus rahimnya. Nada kembali berteriak keras tuk memuaskan hasrat birahi yang telah V bangkitkan akibat penetrasi penis besar itu.

“Aaahhhhhhhhhmmmmmmmmmmmm Hmmpphhhhhhh !” desah Nada tertahan.

Beruntung V sigap dengan memberikannya cumbuan untuk menyumpal mulut Nada agar tidak berteriak lebih keras lagi. Nada merasa tersipu namun cumbuan yang V berikan juga tusukan yang V tancapkan di vaginanya membuat Nada merasa nikmat oleh kepuasan birahi yang selama ini bersembunyi. Nada benar - benar hanyut dalam kepiawaian V dalam memainkan birahinya. Dikala V mulai menggerakan pinggulnya perlahan. Terasalah gesekan nikmat yang membuat rahim Nada bergetar. Nada hanya memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar merasakan kenikmatan yang ia rasakan. Nada mendesah dalam diam. Ia benar - benar terpuaskan hingga membuatnya melupakan status yang ia miliki sebagai ustadzah pondok juga istri dari Rendy.

“Aahhhh ustadzahhh... Punya antum rapat banget... Seret lagi... Ouhhhh” puji V yang membuat wajah Nada memerah karena malu.

V mencengkram bongkahan pantat itu sambil terkadang meremasnya dan memberikannya tamparan lembut hingga merubah warna bokong itu menjadi kemerahan. Rasa nikmat yang ia terima dari jepitan vagina Nada dalam meremas - remas penis besarnya membuat V merem melek berulang kali.

Ia mendorong pinggulnya kemudian menariknya lagi, Ia mendorongnya lagi kemudian menariknya lagi. Disaat ia mendorongnya lagi ia dengan sengaja mendorongnya dengan kuat hingga merasakan penisnya mentok disana. Nada pun mendesah pelan merasakan gaya lembut yang V lakukan dalam menikmati keindahan tubuhnya.

Tangan V bergerak maju tuk melepas sisa kancing yang masih melekat di kemeja Nada. Saat empat kancing teratas Nada terlepas. V dengan paksa membuka kemeja Nada lebar - lebar hingga rupa dari payudara yang masih tersembunyi di balik bra itu terlihat. Dengan segera V menaikan cup bra itu kemudian memainkan putingnya dengan memilinnya, mencubitnya dan menekannya menggunakan ujung jemari telunjuknya.

“Ahhhh ustadzz..... Ahhhhhh geliii ustadzzzz !” desah Nada merasa malu.

Nada semakin merinding merasakan rangsangan demi rangsangan yang V lakukan di tubuhnya. Ditengah genjotan nikmat yang V lakukan. V turut meremasi bulatan indah disana. Kadang ia juga menariknya dan mengelus - ngelus payudara indah itu. Nada semakin terbuai oleh gairah nafsu yang menguasai jiwanya. Nafsu tak tertahan yang menguasai keduanya memaksa V untuk meningkatkan intensitas pergerakannya.

V fokus dalam menikmati jepitan vagina Nada di penisnya. Kedua tangannya beralih mencengkrami pinggang ramping Nada. Ia pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia menaikannya dari gigi satu menuju gigi empat sekaligus. Perubahan tiba - tiba yang V lakukan dalam menghujami vaginanya membuat Nada terkejut.

“Ustaddzzz... Jangann... Ahhhh ahhhhh... Jangan cepat - cepat ustadzzz !” desah Nada merasakan kecepatan pinggul V dalam menubruk vaginanya.

Nada mendesah menikmati perzinahan ini. Dalam posisi berdiri membelakangi. Payudara Nada yang sudah bebas bergerak maju mundur dengan begitu cepat. Ia juga merasakan bahwa penis besar V menghantam dinding vaginanya dengan keras.

“Ahhh.... Ahhhh.... Ustadzahh !!! Suara antum indah juga yahhhhh... Tubuh antum juga sexy... Ana sampai terpesona melihat kesempurnaan yang antum punya” puji V membuat jantung Nada berdebar mendengarnya.

“Aahhhhhhh ahhhhhh usttadzzzz.... Pellannnn !!!” desah Nada tak sanggup menahan genjotan kencang V di vaginanya.

Nada mendesah begitupula V juga mendesah. Getaran bongkahan pantat Nada disaat bertubrukan dengan pinggulnya semakin memperkuat hasrat V untuk segera menuntaskannya. V pun tak tahan untuk meremas bongkahan pantat itu. V meremasnya juga menamparnya dengan keras akibat terlalu bernafsu. Ia terus mencengkramnya dengan kuat untuk menaikan birahi Nada yang semakin tak terkendali.

"Ouhhhh ustadzzz.... Ahhhh sakitttt... Ahhh jangan ditampparrrin ustadzz... Ahhhhh" Desah Nada.

Nada melirik wajah V di belakang. V pun tersenyum menatap tatapan sayu Nada dari arah depan. Tusukannya yang semakin dalam lagi kuat membuat Nada tak bisa berkata apapun selain mendesah pasrah menerimanya.

V kembali memegangi pinggul ramping Nada. Mempercepat gerakan pinggulnya saat menyadari ia sudah berada di ambang batasnya.

Nada juga demikian, untuk pertama kalinya dalam bersetubuh ia bisa sepuas ini dalam merasakan genjotan seseorang di vaginanya. Gesekan kuat yang ia terima di dinding vaginanya membuat Nada menyadari kalau waktunya sudah tidak lama lagi.

“Aahhhh ustaddzzz.... Hahhhhh... Hahhhh... Ustaddzz tungguuu ahhhhh”

V tersenyum saat merasakan nafas berat Nada yang bergerak tak beraturan. Ia tahu kalau Nada sebentar lagi akan mendapatkan orgasmenya. V pun mempercepat gerakan pinggulnya. Ia juga meremas payudara Nada dengan kuat tuk menggiring birahi Nada menuju puncak. V gemas mendengarkan desahan Nada seolah sedang menggodanya. Cairan cinta yang semakin membanjiri vagina Nada mempermudah penetrasinya dalam keluar masuk menikmati lubang kencing itu. Desahan Nada terdengar semakin nyaring hingga membuat gairah nafsu V terpanggil. Ia pun tak kuat lagi dalam menyetubuhi binor cantik berbody sexy satu ini. V mempercepat gerakan pinggulnya. Lebih cepat. Lebih cepat lagi.

“Aahhhhhh ahhhhh ustaddzzz... Ahhhhhh” desah Nada memejam sambil bertumpu pada meja guru dihadapannya.

“Ahhh iyyahh ustadzahh.... Ouhhh nikmat sekali... Ana sampai gak kuat lagi tuk menahan semua ini ustadzah !” desah V.

Plokkk plokkk plokkkkk !!

Suara benturan antar kelamin itu terdengar semakin keras hingga suaranya memenuhi ruangan begitu juga dengan suara cipratan air yang terdengar dari rahim Nada. Nada kembali menoleh menatap ke arah V dengan pasrah. Tatapannya seolah memohon untuk memberikannya orgasme ternikmat dalam seumur hidupnya.

“Ustaadddzzz... Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh” desah Nada.

Sedikit lagi. V merasa dirinya akan keluar sebentar lagi. Ya ia dapat merasakan sesuatu yang dahsyat sedang mengalir keluar dari dalam tubuhnya. Ia mempercepat hujamannya tanpa memperdulikan suara desahan yang tercipta dari mulut Nada. Saking cepatnya hujaman yang V lakukan membuat tubuh Nada sampai terdorong maju mundur dengan cepat. Payudaranya pun ikut bergoyang. Desahanya juga terdengar nikmat dan V mulai dapat merasakan gelombang dahsyat telah berkumpul di lubang kencingnya.

“Ahhhh ahhhh ahhhhhh ustadzahhhh !” desah V mencabut penis itu kemudian menarik tubuh Nada mendekat tuk memintanya berlutut dihadapannya.

Crootttt crroottt croottt !!!

“Ahhhhhhhhh !!!” desah V ketika menyemprotkan spermanya ke arah wajah Nada.

Nada terkejut ketika wajahnya disirami oleh cairan kental berwarna putih itu. Aromanya yang memuakkan justru membangkitkan gairah birahi Nada yang belum tertuntaskan. Cairan itu keluar begitu banyak hingga memenuhi wajahnya. Bahkan beberapa ada yang sampai tumpah terkena kemejanya.

“Aahhhh yahhh ustadzahhh... Ouhhhhh !!!” desah V guna menuntaskan birahinya hingga tetes terakhirnya. Dalam menuntaskan tetes terakhirnya itu. Mata V sampai merem melek merasakan sensasi luar biasa yang ia terima.

V puas hingga membuatnya ambruk dalam keadaan telanjang bulat di lantai. Lalu ia melihat ke arah Nada. V tersenyum melihat wajah Nada yang dipenuhi oleh spermanya. Ia pun menyadari kalau ada satu kewajiban yang belum ia selesaikan dari Nada.

“Maaf yah ustadzah” kata V lekas mendatangi Nada yang benar - benar kelelahan setelah digempur habis - habisan oleh V.

“Ustadzz...” panggil Nada dengan lirih karena tenaganya habis.

V meminta Nada untuk berdiri kembali. Walau lemas Nada masih menuruti keamuannya. Dilepasnya lah satu persatu kancing itu juga kemeja yang masih melekat di tubuhnya. Setelah kemeja itu terjatuh barulah rok yang menjadi incaran terakhir V untuk menelanjangi Nada di malam itu.

“Maaf kalau ana terlambat membukanya” bisik V di telinga Nada.

Jemari V bergerak tuk menyentuh liang senggama Nada. Reflek Nada terkejut saat merasakan adanya setruman ringan di vaginanya. Nada membuka mulut sambil menatap wajah V dihadapannya. V mengangguk kemudian menggerakan jemarinya naik turun tuk merangsang bibir vagina Nada yang sudah sangat basah.

“Ahhhhhh ustaddzz.... Ouhhhhhhhhh !”

Nada mendesah. Birahinya kembali bangkit setelah tadi sempat tertunda. V mengocoknya. Jemarinya dengan lihai menjepit biji kecil yang menggantung di sisi bagian atas vagina Nada.

“Aahhhhhh ustaddzz..” sontak Nada mendesah hebat saat klitorisnya dijepit.

Pinggul Nada bergoyang kekanan dan kekiri merasakan nikmat yang ia terima di vaginanya. Ia pun tak tahan lagi. Rangsangan hebat yang V lakukan di vaginanya membuat Nada tak mampu menahannya lagi. Nafas Nada memberat. Tubuhnya mengejang dan ia pun merinding saat gelombang kejut itu keluar membasahi lantai ruangan.

“Aaaahhhhhh ustaddzzz... Ana keluuuaarrrrr !!!” desah Nada tak mengira akan kenikmatan yang ia dapatkan dari olesan jemari V di vaginanya.

Nada mendesah hebat. Tubuhnya pun mengejang dan matanya merem melek merasakan kepuasan yang tak terkira. Nada ambruk namun tubuhnya segera di tahan oleh V. Dengan lembut V menjatuhkan tubuh Nada agar mampu duduk bersandar pada dinding ruangan kelas.

V pun tersenyum menatap wajah Nada yang belepotan sperma. Wajahnya mendekat tuk membisikan sesuatu di telinga Nada.

“Terima kasih ustadzah... Ana bahagia bisa menikmati waktu berdua bersama ustadzah” kata V lantas tersenyum setelah membisikan kata itu menatap wajah Nada.

Nada kelelahan. Nada benar - benar puas hingga membuatnya bingung saat kesadarannya mulai kembali. Nada merasa heran kenapa dirinya begitu hanyut oleh rayuan yang V lakukan hingga membuat tubuhnya terpaksa tuk menuruti kata - katanya.

V mengeluarkan tisu itu lagi tuk mengelap wajah Nada yang belepotan. V memperlakukan Nada dengan lembut saat membersihkan wajah itu dari spermanya. Nada pun semakin heran dengan sikap V ini. Ia pun bingung haruskah ia menyesal karena telah bercinta dengannya atau justru sebaliknya. Karena sebenarnya ia juga senang karena telah mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari persenggamaan yang ia lakukan bersama seorang ustadz yang sedang bertelanjang bulat dihadapannya.

“Nah sekarang kan udah cantik lagi” kata V setelah membersihkan semua sperma di wajah Nada.

Nada masih diam mematung saat V tersenyum menatapnya. Nada pun menoleh ke arah jemari V yang diangkatnya naik. Terlihat V hanya mengangkat jari kelingkingnya.

“Tenang... Ana akan menjaga rahasia antum kok ustadzah... Anggap aja tadi merupakan cara ana tuk membantu antum tuk melupakan masalah yang sedang antum alami tadi... Coba jujur antum sudah melupakannya kan ?”

Nada terkejut saat dirinya benar - benar melupakan masalah yang ia alami bersama suaminya. Ia benar - benar penasaran dengan siapa V ini. Kenapa ia begitu hebat dalam membolak - balikan perasaan hatinya. Kenapa ia begitu hebat tuk menaklukan tubuhnya.

Nada hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu.

V hanya tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya tuk kembali mencium ustadzah cantik yang hanya menyisakan hijab itu. Reflek wajah Nada menjauh saat V kembali ingin mencumbunya. Namun semua terlambat karena bibir mereka berdua kembali bertemu untuk melampiaskan sisa gairah yang masih tertinggal di dalam hati mereka.

“Hmmpphhhhh !!!” kembali Nada mendengus pelan menerima cumbuan yang V berikan.


*-*-*-*


Di waktu yang sama tapi berbeda tempat. Tepatnya di sebuah gedung kelas yang berada di zona santri putra. Ditengah kegelapan dan sepi yang melanda gedung kelas itu. Terdengar suara hiruk pikuk dari arah salah satu ruang kelas yang berada di ujung. Suara itu terdengar akrab. Suara itu terdengar menggoda karena tercipta dari dua orang wanita yang berbeda.

"Ahhhhh.... Ahhhhh... Ustadzahhh gapapa... Gak sakit kan ?"

"Ahhhh ana gapapa ustadzah... Tolong lebih kuat lagi... Dorong yang keras... Dorong yang kuat !!!!" Pinta salah satu ustadzah yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab lebarnya saja.

Ustadzah itu tengah berdiri membelakangi partnernya yang tengah menusuk rahimnya menggunakan penis palsunya. Ustadzah berpenis palsu itu mencengkram kuat payudara ustadzah di depannya. Ia mendorong pinggulnya semakin kuat. Semakin dalam hingga ustadzah yang ditusuk itu semakin kuat desahannya.

"Ahhhh ustadzah Diahhh... Lebih kuat lagi.... Ahhhhh" Desah ustadzah Syifa.

"Ahhh iya ini udah ustadzah... Ana sedang melakukannya" Desah Ustadzah Diah.

Mereka terus berpacu melawan waktu. Mereka terus berlomba melawan norma kebiasaan. Setelah lama mereka mendesah dan saling berpeluh keringat. Ustadzah Syifa pun mendesah menerikan suaranya yang menggoda menuju seluruh ruang kelas.

"Ahhhhhhhhhh" Ustadzah Syifa berhasil mencapai klimaksnya. Ia terlihat kelelahan tapi puas mendapatkan apa yang ia mau. Wajah sayu itu pun menoleh ke belakang. Tampak ustadzah Diah tersenyum menyambut senyum manis ustadzah Syifa.

Ustadzah Diah menarik keluar dildo yang terpasang di pinggulnya. Tampak penis palsu itu basah kuyup tersiram cairan cinta Syifa.

"Terima kasih yah ustadzah Diah" Kata ustadzah Syifa dengan nafas yang terengah - engah.

“Sama - sama ustadzah... Senang bisa membantu” kata Diah tersenyum.

“Oh yah... Mau gantian gak ustadzah... Sekarang biar ana yang memakai benda itu” kata Syifa merasa gemas ingin ikut menusuk rahim Diah dengan penis palsunya.

“Gak usah ustadzah... Ana masih mau menjaga keperawanan ana” kata Diah menolaknya dengan halus.

“Hihihi antum ini... Kalau gitu ana jilat aja yah ?” pinta Syifa meminta izin.

Diah kali ini menyanggupi. Dilepasnya lah penis palsu itu dari pinggulnya. Syifa pun berlutut. Dipandangnyalah lapis legit itu yang sudah dibanjiri oleh cairan cintanya. Diah sudah terangsang sejak tadi terutama saat dirinya menggenjoti ustadzah Diah menggunakan dildo itu.

Syifa tersenyum. Lidahnya ia julurkan dikala menjilati liang senggama Diah. Diah pun memejam merasakan geli - geli nikmat yang luar biasa di lubang vaginanya. Diah merinding. Ia pun tak kuat tuk membuka mulutnya mengeluarkan desahan demi desahan yang merangsang Syifa dalam menjilati kemaluan Diah.

“Ahhhhh ustadzahhhhhh !!!” desah Syifa keenakan.

Namun tanpa sepengetahuan mereka berdua ada sepasang mata yang melirik perbuatan tak biasa yang dilakukan oleh dua ustadzah cantik itu. Ia terkekeh - kekeh juga merasa iba mendapati wanita secantik dirinya hanya dipuaskan oleh penis palsu yang berukuran tidak begitu besar.

"Kenapa ustadzah menggunakan yang palsu kalau bisa menggunakan yang asli... Tenang besok - besok kita akan bertemu yah ustadzah dan akan kuperkenalkan kalau yang ori jauh lebih nikmat daripada yang terbuat dari plastik" Katanya sambil merekam sesuatu di hapenya.

*-*-*-*


Nada sudah kembali berpakaian setelah menikmati waktu berdua bersama V. Dalam perjalanan pulangnya ke rumah ia terus merenung memikirkan perbuatan yang tadi ia lakukan. Nada tak mampu mengomentari perbuatannya tadi. Ia masih bingung ia masih bimbang tuk memutuskan apakah perbuatannya tadi merupakan perbuatan yang salah atau bukan. Dalam hati tentu ia berkata bahwa itu merupakan perbuatan yang salah. Tapi di lain sisi ia begitu terbuai dan membuatnya makin penasaran akan kenikmatan yang dihasilkan dari penis besar V. Nada menenggak ludah saat memikirkan rasa saat penis besar itu keluar masuk di vaginanya.

Tak terasa tibalah ia di halaman teras rumahnya. Nada terkejut saat mendapati adanya sendal lain yang terparkir di halaman rumahnya. Nada pun berfikir.

Sendal siapa ini ? Gak mungkin kan ada seseorang yang bertamu ke rumah di jam segini ?

Nada mengetuk pintu kemudian membukanya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Saat wajah ayu Nada melongok masuk. Ia terkejut saat menemukan adanya sosok dari akar permasalahan yang menganggu pikirannya selama ini.

Pak Heri ? Apa yang ia lakukan di rumah di jam segini ?

"Selamat datang dek !" Sapa suaminya.

"Ustadzah... Selamat malam yah" Senyum pak Heri yang membuat Nada tak nyaman.

Rendy pun datang mendekat tuk memberi tahu kepentingan yang pak Heri punya sehingga membuatnya datang ke rumah semalam ini. Mulut Rendy terbuka yang segera dibantah oleh Nada ketika berbicara. Pak Heri dari kejauhan mengetahui kalau ada pertengkaran kecil yang terjadi di tengah kasus suami istri ini. Ia yang lebih berpengalaman pun mendekat.

"Ustadzahhh" Sapa pak Heri yang membuat ustadzah cantik berbody langsing itu menoleh. Nada terkejut dan mulutnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Ia benar - benar terkejut saat melihat pak Heri tanpa merasa malu melepas kaus polo yang dikenakannya. Tubuhnya yang tambun serta perut bulatnya yang maju terlihat mengganggu pandangan Nada. Nada merasa risih tapi sebelum ia sempat memalingkan wajah. Pak Heri dengan segera melepas celana berikut celana dalamnya sekaligus. Nada memejam tak sanggup memandang pemandangan yang menjijikan itu.

Wajah jelek, kumis tebal, serta rambut tipis yang mulai memutih ditambah dengan perut tambun yang sama sekali tidak memberikan efek keindahan terpampang dihadapan Nada. Rendy hanya tersenyum melangkah mundur sambil membuka celananya menikmati perbuatan yang akan Pak Heri lakukan pada istrinya.

"Buka matamu ustadzah... Ada sesuatu yang ingin saya tunjukan" Kata Pak Heri. Nada diam menuruti dan saat ia melihat ke bawah ia terkejut dengan rupa dari penis pak Heri yang berbeda. Nada terkejut dan menatap wajah pak Heri dengan tatapan bingung tak percaya.

"Unik kan ustadzah ? Wakakak" Kata pak Heri tertawa.

Nada pun baru tahu setelah dirinya melihat kalung yang sedang pak Heri kenakan kala itu.

"Betul ustadzah... Walau kita tidak berada di keyakinan yang sama bukan berarti kita tidak bisa tuk berada di atas ranjang yang sama kan ? Wakakakak" Tawa pak Heri.

Nada merasa jijik saat menatap rupa dari penis pak Heri dengan kulup yang memanjang hingga menutupi ujung gundulnya. Ia tidak sanggup melihatnya apalagi dari bentuk tubuh pak Heri yang sama sekali tidak mempesona.

"Sebentar saja kok... Saya cuma mau merasakan kehangatan dari mulut ustadzah saat menjilat dan mengulum batang kontol saya ini" Kata pak Heri yang membuat Nada merinding. Tanpa ba bi bu lagi. Pak Heri yang sudah bertelanjang bulat mendekap erat tubuh ramping Nada. Ia pun mendekatkan wajahnya tuk melumat bibir manis itu.

" Hhhmmmplhhhh !!" Desah Nada mendengus pelan.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy