Malam semakin larut. Di tengah kegelapan yang semakin menyelimuti pondok pesantren. Tampak seorang ustadzah yang sedang berjalan pulang menuju rumahnya.
Dalam perjalanannya itu ustadzah yang memiliki postur ramping, bertubuh tinggi, serta berkulit putih lagi bening tengah merenung memikirkan perbuatan yang baru saja ia lakukan di kelas. Ia terus berfikir dalam perjalanannya itu. Di pegangnya lah bibir tipisnya. Di rabanya lah dada ranumnya. Di sentuhlah liang senggama yang masih tersembunyi di balik rok panjangnya. Nada agak menyesali perbuatan yang telah ia lakukan. Ia sangat tahu melalui suara hatinya bahwa apa yang sudah ia lakukan adalah perbuatan yang salah. Akan tetapi nuansa yang terjadi tadi dikala V menciptanya membuat Nada hanyut tak kuasa menahan alur yang membawanya menuju jurang kemaksiatan.
Nada telah berzina dengan seorang pria yang bukan suaminya. Tapi sikap V dalam merangsangnya juga sikapnya dalam menyalurkan cintanya membuat Nada terhanyut dalam buaian itu. Nada pun melenguh. Ia menarik nafasnya dalam - dalam tuk berjanji pada diri sendiri untuk tidak terjebak dalam buaian nafsu itu lagi. Ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya menuju rumah.
Tak terasa tibalah ia di halaman teras rumahnya. Nada terkejut saat mendapati adanya sendal asing yang terparkir di halaman rumahnya. Nada pun berfikir.
Sendal siapa ini ? Gak mungkin kan ada seseorang yang bertamu ke rumah di jam segini ?
Dilihatnya jam yang ia kenakan di lengan kanannya. Jam sudah menunjukan pukul 23.00. Apa yang membuat tamu itu datang kemari ? Kepentingan mendesak apa yang membuat tamu itu datang ke rumahnya ?
“Assalamualaikum” sapa Nada setelah mengetuk pintu.
Nada membukanya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Saat wajah ayu Nada melongok masuk. Betapa terkejutnya ustadzah cantik itu saat menemukan adanya sosok dari akar permasalahan yang mengganggu kehidupannya akhir - akhir ini.
Pak Heri ? Apa yang ia lakukan di rumah di jam segini ?
"Walaikumsalam.... Selamat datang dek !" Sapa suaminya.
"Ustadzah... Selamat malam yah" Senyum pak Heri yang membuat Nada tak nyaman.
Rendy pun datang mendekat tuk menyambut kedatangan istrinya yang cantik lagi jelita. Tampak Nada kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula kenapa suaminya mau tuk menerima tamu malam - malam begini.
Rendy memeluknya dan memberikannya kecupan di kening sang istri. Nada masih gelisah yang membuat bidadari cantik itu bertanya - tanya.
“Ada apa mas ? Kenapa pak Heri bisa ada disini ?” tanya Nada penasaran.
“Biasa dek ? Adek pasti tau kok maksudnya” kata Rendy tersenyum yang membuat Nada bengong tak percaya.
“Biasa ? Maksudnya itu ? Yang ada hubungannya dengan adek ?” tanya Nada.
“Iya sayang” kata Rendy yang membuat istri cantiknya terperangah.
“Masss.... Ini udah malam mas... Lagipula rumah kita kan bersebelahan dengan rumah ustadz lain... Apa mas gak takut kalau ketahuan ? Adek juga udah capek mas... Adek juga masih belum siap tuk melakukan itu !” kata Nada protes tak mau melakukannya.
“Dek... Ayolah... Cuma sebentar doang kok... Mas juga tau kok kalau adek pasti capek... Makanya pak Heri tadi bilang kalau . . . . “
“Masss... Udahlah... Adek gak mau... Adek ngantuk mas mau tidur !” kata Nada keukeuh ingin mengistirahatkan dirinya.
Ditengah pertengkaran yang terjadi diantara keduanya. Tampak pria tua bertubuh tambun itu datang mendekat. Ia tersenyum saat mengetahui Nada yang menjadi incarannya terus menolak dengan alasan kelelahan. Ia pun membuka mulutnya. Menyapa bidadari cantik itu. Hingga membuat wajah cantiknya menoleh menatap dirinya.
“Ustadzah” sapa Pak Heri.
Dikala Nada menoleh. Mulutnya diam tak bisa berkata - kata. Bidadari cantik itu terkejut hingga kedua telapak tangannya naik menutupi mulutnya. Ia tak percaya saat melihat pak Heri dengan berani membuka kausnya dihadapan dirinya juga suaminya. Terlihat tubuhnya yang tambun serta perut bulatnya yang maju mengganggu pandangan Nada. Nada merasa risih menatap tubuh yang menjijikan itu. Sedetik kemudian, tepat sebelum Nada sempat memalingkan pandangannya. Pak Heri dengan segera melepas celana berikut celana dalamnya sekaligus. Nada memejam tak sanggup memandang keadaan Pak Heri yang sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.
Wajah jelek, kumis tebal, serta rambut tipis yang mulai memutih ditambah dengan perut tambun yang sama sekali tidak memberikan efek keindahan terpampang dihadapan Nada. Rendy hanya tersenyum melangkah mundur sambil memberikan jalan untuk pak Heri membiarkan pria tua itu mendekati istrinya. Saat Rendy sudah tiba di sofa duduknya. Ia segera melepas celananya untuk mengeluarkan benda tumpul dengan ujung yang berbentuk seperti kepala jamur itu. Miliknya sudah menegak keras hingga membuat pemiliknya pun senang menanti apa yang akan ia lihat sebentar lagi.
"Buka matamu ustadzah... Ada sesuatu yang ingin saya tunjukan" Kata Pak Heri tersenyum.
Nada diam tak mengeluarkan sepatah katapun saat mendengar suara itu. Matanya pun terbuka secara perlahan. Saat ia melihat ke bawah ia terkejut dengan rupa dari penis pak Heri yang tampak berbeda. Nada terperangah tak percaya membuat bidadari cantik itu segera menatap wajah pak Heri dengan mata - mata yang seolah ingin bertanya.
Kenapa bentuk penis bapak seperti ini ?
"Unik kan ustadzah ? Wakakak" Kata pak Heri tertawa.
Nada pun menyadari setelah dirinya melihat kalung yang sedang pak Heri kenakan. Pak Heri pun sadar saat Nada menatap kalung yang selalu ia kenakan tiap hari. Sambil tersenyum pria tua itu pun memberi tahu ke bidadari cantik dihadapannya mengenai siapa dirinya sebenarnya.
"Betul ustadzah... Walau kita tidak seiman bukan berarti kita tidak bisa untuk bercinta kan ? Wakakakak" Tawa pak Heri.
Nada merasa jijik saat menatap rupa dari penis pak Heri dengan kulup yang memanjang hingga menutupi ujung gundulnya. Ia tidak sanggup melihatnya apalagi dari bentuk tubuh pak Heri yang sama sekali tidak mempesona.
“Saya janji ustadzah... Cuma sebentar aja... Saya cuma mau ustadzah mengulum batang penis saya ini... Setelah selesai saya akan pulang dan membiarkan ustadzah beristirahat dengan tenang” kata Pak Heri membuat Nada merinding.
Tanpa menunggu lebih lama lagi. Pak Heri dengan tubuh polosnya langsung mendekap erat tubuh ramping Nada. Ia pun mendekatkan wajahnya tuk melumat bibir manis itu hingga habis.
" Mmmpphhhh !!" Desah Nada mendengus pelan.
Dicumbuinya bidadari cantik itu dengan penuh nafsu. Bibir tebal pria tua itu dengan binal mendorong bibir tipis Nada ke belakang. Nada kewalahan. Ia tak sempat menolak saat tiba - tiba pria tua itu mendatanginya. Nada hanya mampu memejam membiarkan pria tua itu menikmati bibirnya.
“Mmppphhhh... Mmpphhh... Leppasskkannn !!!” desah Nada sambil mendorong tubuh polos Pak Heri menjauh.
Tapi percuma karena kekuatan Nada tidak seberapa. Pak Heri dengan penuh kepuasan menjilati bibir tipis Nada yang aduhai. Rasanya manis dengan liur yang ia oleskan di tepi bibir itu. Di kala pertahanan Nada melemah. Bibirnya dengan giat memagut bibir atas Nada. Pak Heri mengulum bibir itu kadang menyedotnya kadang mengoleskan ludah di bibir indah Nada. Nada merasa jijik dicumbui oleh pria tua itu. Ia ingin memberontak. Ia ingin melawan. Tapi dirinya tak bisa karena dirinya kalah segalanya dari pria tua itu.
Tak sengaja disaat matanya terbuka. Ia menatap suaminya yang malah sedang asyik beronani sambil memandangi dirinya dilecehkan. Entah kenapa hati Nada tergores setelah melihat pemandangan itu. Nada merasa miris melihat suaminya seperti ini. Seorang suami yang seharusnya menjaga istrinya, melindungi istrinya dari kejahatan pria lain. Tapi suaminya malah membiarkan dirinya dilecehkan oleh nafsu buas pria lain. Hati Nada terluka membuat air matanya jatuh secara sendirinya.
“Uhmmpphhh ustadzahhh... Uhmmmmm beruntungnya saya bisa merasakan kelezatan bibir ustadzah” gumam pak Heri saat mencumbunya.
Tangan Pak Heri dengan gemas meremasi buah dada Nada yang ranum lagi kencang. Nada pun tak kuat tuk menahan sakit akibat kasarnya remasan yang pak Heri lakukan. Nada memohon dalam hati agar dirinya dilepaskan. Ketika lisannya ingin mengucapkan kata itu. Lidahnya justru dikulum oleh pria tua itu. Aroma busuk yang berasal dari mulut tua itu terhirup di hidung Nada. Nada mau muntah saat mencium aromanya yang tak sedap. Nada tak kuasa menahannya lagi.
“Hmmmmmaaaahhhhhh !!” pak Heri melepaskan cumbuannya kemudian menatap wajah Nada dengan penuh nafsu. Tampak mata Nada yang berkaca - kaca terhias diwajahnya. Nada seolah memohon dengan matanya agar dilepaskan. Namun pak Heri yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu mana paham dengan kode yang Nada berikan melalui matanya. Ia justru terpesona oleh keindahan mata itu. Membuat pria tua bertubuh tambun itu semakin bernafsu tuk mengosongkan tabung spermanya ke wajah Nada yang cantik lagi jelita.
“Ustadzah duduk dulu yah... Pasti capek kan !” kata Pak Heri menurunkan wajah Nada hingga sejajar dengan penisnya. Nada pun dapat melihat dengan jelas bentuk rupa dari penis pak Heri yang tak disunat itu. Berulang kali Nada berniat tuk memalingkan wajahnya. Namun kepalanya ditahan oleh Pak Heri. Nada hanya memejam jijik saat pak Heri menampar - namparkan penisnya ke arah pipinya. Tiap kali penis itu menghantam pipinya. Ia mendengar suara tawa khas yang menyebalkan dari pak Heri seolah suara tawa itu berkeliaran menghantui pikirannya.
"Wakakakakak"
Pak Heri tiba - tiba mengarahkan penis itu ke bibir Nada. Tak sengaja Nada sempat merasakan kulup dari penis itu. Nada merasa jijik membuatnya segera meludah ke lantai.
“Cuhhh !!!”
“Wakakakak... Jangan diludahin ustadzah lantainya... Ini kan rumah ustadzah sendiri... Capek nanti bersihinnya” kata Pak Heri.
“Mmmpphhhh hentikan pak... Jauhkan benda itu dari mulutku... Jorok pak !” kata Nada berulang kali menolak.
“Jorok ? Wakakakak... Coba dulu ustadzah... Entar juga ketagihan kok” kata Pak Heri terus mendekap penisnya tuk membantunya masuk ke dalam rongga mulut Nada.
“Mpphhmmmm mpphhmmm enggakkk... enggak mauuu !!!” teriak Nada menggelengkan kepalanya tak nyaman.
“Ouuhhhhh ustadzahh... Ayooo bukaaa mulutnnyya... Jangan sampai saya crot duluan gara - gara kenikmatan ini” kata Pak Heri yang sudah merasa nikmat hanya karena ujung gundul penisnya yang terdorong ke arah bibir Nada yang masih tertutup rapat.
Rendy terpana saat istri cantiknya dilecehi oleh pak Heri. Dengan cepat tangan kanannya mendekap penis itu. Ia menaik turunkannya dengan mantap sambil menatap fantasi yang benar - benar terjadi di hadapannya.
“MMpphhhh pakkk gakkk mauuuu...” kata Nada terus menolak.
“Ouuhhhh ustaddzaaahhhh... Gak usah malu - malu... Ayoo bukaaaa !” kata Pak Heri yang perlahan dapat membuka pertahanan Nada.
“AAakkkllhhhhhhh !!!” Pertahanan Nada sudah jebol. Mulutnya terbuka membiarkan penis besar itu masuk ke dalam rongga mulutnya. Nada dapat merasakan aroma keringat yang tercipta dari selangkangan pak Heri. Baunya tak sedap membuat perut Nada mual ingin memuntahkan isinya.
“Iyyahhhhhu ustaddzaahhh.... Ouhhh masukkkk... Nikmmaattt !” kata Pak Heri saat impiannya terwujud.
Tanpa istirahat. Pak Heri langsung mendorong pinggulnya sambil memegangi kepala ustadzahnya. Maju mundur maju mundur maju mundur. Pak Heri memejam sambil merasakan penis tak disunatnya keluar masuk di dalam rongga mulut Nada. Nada hanya mengerang tiap kali merasakan penis itu menusuk tenggorokannya. Nada tak kuasa bertahan lagi. Air matanya kembali turun membanjiri wajahnya yang ayu.
“Ouhhhhhh gilllaaaa... Ouhhh ustadzahhhku !” desah Pak Heri.
Dirasakannya ujung gundul dari penisnya tersapu oleh sapuan lidah di mulut Nada. Liur Nada yang sudah penuh mulai jatuh dari tepi mulutnya. Ia pun merasakan kalau penisnya sudah sangat basah ketika dilaminating oleh liur hangat Nada. Ya Pak Heri merasakan kehangatan di peninsya. Ia begitu puas saat benda sensitifnya itu keluar masuk tergesek oleh lidah Nada di dalam. Ia dapat merasakan penis bagian bawahnya dengan sigap digesek oleh lidah Nada.
Bidadari berhijab itu pun kalut. Ia benar - benar tak mengira kejadian buruk ini terjadi padanya. Tak pernah mengira dalam seumur hidupnya ia akan dipaksa tuk mengulum penis yang benar - benar tak ia suka. Sesaat ia terbayang saat V melakukan hal yang sama padanya. Rasanya jelas berbeda entah itu dari aromanya atau caranya dalam melakukannya. Walau sama - sama memuakan tapi aroma dari penis V jelas - jelas memabukan yang membuat hasrat birahinya bangkit hingga membuatnya tidak bisa berhenti mengulumnya. Sedangkan penis pak Heri ? Nada tak bisa menjawabnya karena tiap tusukan yang pak Heri lakukan. Nada selalu menahan diri tuk tidak memuntahkan isi perutnya karena tak kuat menahan aromanya. Cara V dalam memperlakukan dirinya saat bercinta pun berbeda. V menggunakan cara yang lembut. V menggunakan cara perlahan hingga hatinya benar - benar takluk yang memaksa tubuhnya hanyut mengikuti apa yang V mau darinya. Sedangkan cara kasar yang pak Heri lakukan benar - benar tak sesuai dengan style dirinya. Nada tak betah. Nada ingin mengakhiri perbuatan ini secepatnya.
“Ahhhh ahhhhh ustadzahhh... Mantappnyaaa” desah Pak Heri mempercepat genjotan di mulut Nada.
“Arrkkhhh.... Arkrkkhhhhh” Nada tak kuasa lagi. Matanya terus memejam membiarkan penis itu keluar masuk di mulutnya.
Segala upaya yang ia lakukan sedari tadi terbuang sia - sia. Ia sudah mendorongnya. Ia sudah menjauhkan wajahnya. Tapi yang ia dapatkan malah penetrasi pak Heri yang semakin cepat menghujami mulutnya.
“AAhhhhh ustadzahh... Saya mauu keluuarrr ouuhhh” desah Pak Heri yang sudah tidak kuat lagi.
Nada terkejut mendengarnya. Ia pun berusaha untuk tidak terkena muntahan sperma dari pak Heri yang menurutnya akan sangat menjijikan. Membayangkan aroma yang mungkin terhirup dari sperma itu saja sudah membuat Nada mual. Ia pun berusaha tuk memberontak darinya.
“Ahhhhh ahhhhh ustaddzahhhh !” kata Pak Heri semakin mempercepat genjotannya.
“Aahhh eevvaaskskannn... Udahhhh” kata Nada.
Namun tenaga pak Heri yang sudah terkuras juga kenikmatan yang semakin mantap ia dapatkan membuat pria bertubuh tambun itu tak mampu bertahan lagi. Dikala tubuhnya merinding. Disaat kaki - kakinya bergetar. Gelombang kejut dari dalam tubuhnya mengalir dengan deras menuju lubang kencingnya.
Nada ketakutan saat merasakan penis di mulutnya berkedut pelan. Nada menggeleng - gelengkan kepalanya. Nada berusaha melepaskan diri dari tusukan penis Pak Heri yang terbenam di mulutnya. Nada tak ingin mulutnya dikotori oleh cairan sperma yang busuk itu.
Naas sedetik kemudian. Saat pak Heri mendorong pinggulnya hingga mentok. Hingga hidung dari Nada menyentuh rambut kemaluannya. Lidah Nada mulai merasakan rasa pahit dari cairan yang keluar memenuhi mulutnya.
“Mppphhhhhhh” Nada memejam menahan itu semua.
“Oooouuhhhh ustaddzahhh... Iyyahhhh... Saya keluuaurrrr !” desah pak Heri dengan penuh nikmat.
Ccrroootttt crroottt crrooottt !!!
Pak Heri berhasil memuaskan hasratnya dengan menyemprotkan cairan cintanya di dalam mulut Nada. Tubuh pak Heri bergetar. Matanya merem - melek. Kaki - kakinya pun lemas ketika mendapatkan kepuasan yang tak terkira.
"Ahhhhhh mantaaapppnyaaahhh" Desah Pak Heri dengan keras tak peduli apabila suaranya terdengar hingga ke arah luar.
Sisa - sisa dari tetes terakhir yang mengalir keluar dari penis pak Heri membuat tubuh tambunnya mengejang sekali - kali. Saat merasakan seluruh spermanya sudah ia transferkan ke dalam mulut Nada. Pak Heri langsung jatuh ke lantai dengan perasaan yang begitu puas.
Nada terkejut saat mulutnya dibanjiri oleh sperma menjijikan dari pak Heri. Saat dirinya hendak memuntahkan sperma itu. Ia terkejut lagi saat suaminya tiba - tiba datang sambil membetot penisnya.
"Oohhhhh dekkk... Mas keluaarrr... Ouhhh yahhh... Ouhhhh" Desah Rendy beberapa saat kemudian.
“Uhhhmmmmmmm” desah Nada saat wajahnya yang manis dibanjiri oleh sperma suaminya.
Nada terperangah tak percaya ketika suaminya dengan tega memuntahkan spermanya ke wajah dirinya. Nada merasa kesal. Ia benar - benar marah saat dirinya merasa seperti objek seksual saja. Malam ini dirinya tidak merasa seperti istri dari Rendy. Ia hanya merasa dirinya seperti sebuah objek yang dapat digunakan oleh siapa saja termasuk pria tua bertubuh tambun yang sedang tersenyum puas penuh kemenangan.
“Uhhukkk... Uhuukkkk !”
Nada terbatuk - batuk hingga sperma yang ada di mulutnya keluar membasahi lantai. Pak Heri menyeringai senang saat wajah ayu Nada sudah penuh oleh spermanya juga sperma Rendy.
“Wahhhh gillaa.... Saya puas banget pak ustadz... Terima kasih yah sudah membiarkan saya memakai istri ustadz” kata Pak Heri kepada Rendy yang membuat Nada semakin kesal mendengarnya.
“Hahaha saya juga puas kok pak... Sama - sama” kata Rendy. Mereka pun terlibat pembicaraan setelah itu. Nada ditinggal sendiri dengan keadaan memprihatinkan ketika wajahnya dipenuhi oleh sperma - sperma mereka berdua. Nada menangis. Nada menangis sendirian mendapati situasi ini.
Hatinya terluka oleh sikap suaminya. Ia pun merasa bahwa suaminya benar - benar berubah. Ia sudah tidak mengenal suaminya lagi. Ia merasa asing dengan sosok yang tiap hari ia panggil dengan kata Mas itu. Bahkan dengan kondisinya seperti ini. Rendy tidak segera datang tuk membantunya. Minimal ia berharap Rendy mau datang tuk membersihkan sperma yang ia muntahkan ke wajahnya. Seketika ia teringat sikap V padanya. V saja dengan sopan membersihkan apa yang ia muntahkan ke wajahnya. Tapi suaminya ? Nada pun merasa kalau V dan suaminya merupakan dua orang yang jauh berbeda.
“Kalau gitu saya pulang dulu yah pak ustadz” kata Pak Heri.
“Hahahha silahkan pak... Hati - hati yah” kata Rendy.
“Oh yah kapan hari itu ? Hari jadi penikahan kalian ?” tanya pak Heri.
“Sebentar lagi pak... Beberapa hari lagi” kata Rendy yang membuat Heri bersemangat.
“Wakakakak.... Jadi gak sabar... Ngomong - ngomong saya boleh ngehamilin istri ustadz kan ?” kata Pak Heri yang membuat Nada mengernyitkan dahi saat mendengarnya dari kejauhan.
“Boleh banget pak... Saya jadi gak sabar bayanginnya hahahaa” jawab Rendy yang membuat Nada terkejut bukan main. Pak Heri pun pergi setelah berpamitan dengan Rendy.
Nada menangis dalam diam malam itu. Ia benar - benar sedih mendapati suaminya seperti ini. Ia hanya menangis dan terus menangis di tengah ujian yang melanda rumah tangganya.
Setelah pria tua itu pergi. Rendy lekas datang menghampiri istrinya. Nada pun melirik melihat suaminya datang tuk menghampiri dirinya.
“Dekkk... Terima kasih yahh” kata Rendy.
“Terima kasih apanya mas ? Memang mas gak marah adek diginiin sama bapak itu ?” tanya Nada terperangah.
“Gak lah... Mas malah senang” jawab Rendy yang membuat Nada menghela nafas tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Senang ? Mas tega... MASSS TEGGAAA !!!!” teriak Nada.
Karena terlalu sedih Nada pun berlari menuju kamar mandi meninggalkan Rendy yang kebingungan dengan sikap istrinya. Nada menangis di dalam kamar mandi itu. Entah sampai kapan suara itu masih terdengar dari dalam.
Sementara itu di sebelah rumahnya. Nisa yang saat itu sudah tertidur terbangun sesaat ketika mendengar adanya suara teriakan dari rumah tetangganya. Nisa pun membangunkan suaminya tuk menanyakan hal itu.
“Biii... Bangunnn... Abi denger suara gak tadi ?” kata Nisa.
“Heemmmm ? Suara apa Umi ? Abi gak denger” kata Reynaldi setengah tertidur.
Nisa pun penasaran mengenai suara teriakan yang sempat membangunkan dirinya. Apalagi suaranya berasal dari rumah Nada. Seorang ustadzah yang akhir - akhir ini seringkali curhat kepadanya mengenai persoalan rumah tangganya. Karena mengantuk Nisa kembali tertidur sambil memeluk tubuh besar suaminya sambil berharap dalam hati.
Semoga tadi cuma perasaanku aja !
Ketika Nisa sudah benar - benar terlelap tiba - tiba hape yang Nisa letakan di meja kecil samping ranjang tidurnya menyala. Terdapat pesan masuk disana. Sebuah nomor dengan nama Komandan muncul di layar hapenya.
*-*-*-*
Keesokan paginya. V buru - buru berangkat menuju kantor bagiannya karena ingin menyiapkan materi yang belum ia tulis di buku catatannya. Perlu diketahui syarat untuk mengambil absen kelas di bagian pengajaran adalah dengan memperlihatkan catatan materi ke pengajar yang berjaga disana sebagai bentuk dari persiapan pengajar untuk mengajar. V sama sekali belum mengerjakannya. Ia pun buru - buru ke kantor untuk mempersiapkan catatan itu.
"Hahhhh... Gara - gara kesiangan olahraganya jadi mepet gini kan !" Kata V sambil berlari dalam perjalanannya menuju kantor bagiannya.
Beruntung gedung dari bagian pengasuhan sudah terlihat didepan matanya. Ia pun memperlambat laju larinya untuk menghemat tenaga terutama saat mengajar nanti.
“Assalamualaikum” sapa V setelah memasuki kantor bagiannya.
“Walaikumsalam” jawab seseorang dari dalam.
“Loh Hanna masih sendirian aja ? Yang lain belum pada dateng yah ?” tanya V terlihat ngos - ngosan setibanya di dalam kantor bagiannya.
“Iyya V hehe” jawab Hanna dengan canggung.
Masih teringat dengan jelas dalam bayangnya saat V tiba - tiba mencumbui bibirnya. Hanna jadi merasa malu tiap kali bertemu dengan V. Tapi anehnya, V malah terlihat seperti biasa saja seolah percumbuan yang ia lakukan kemarin dengannya adalah hal yang lumrah baginya.
Hanna melirik, matanya menatap V yang sedang menulis sesuatu di buku catatannya. Hanna pun penasaran. Walau hatinya ragu tuk bertanya karena rasa canggung yang masih ia rasakan. Tapi ia mencoba saja. Ia ingin melupakan perbuatan itu. Ia ingin mencuci otaknya seolah percumbuan yang pernah ia lakukan bersama V kemarin tidak pernah terjadi.
“Lagi ngerjain apa ?” tanya Hanna berbasa - basi.
“Ohh ini ? Biasa Han... Cuma nyiapin materi aja buat ngajar nanti” jawab V.
“Ohhh kok baru ngerjain sekarang ? Semalem sibuk yah ?” tanya Hanna yang tak biasa melihat pengajar yang menyiapkan materi secara mendadak.
“Hehe begitulah Han” jawab V.
“Emangnya materi apa sih ?” tanya Hanna sekali lagi.
“Ini....” jawab V sambil menulis materi di buku catatannya.
“Ini Shorof Han” jawab V yang membuat Hanna teringat sesuatu.
“Ohhhh” jawab Hanna tak sengaja pikirannya teringat akan kejadian itu.
Hanna jadi merenung setelah mendengar jawaban tak terduga dari V. Ia jadi teringat akan kejadian itu. Kejadian kelam yang akhir - akhir ini mempengaruhi dirinya. Hanna menunduk berpura - pura menulis sesuatu untuk menyembunyikan kekhawatirannya akibat kenangan buruk yang sangat mempengaruhi psikisnya.
Hanna pun mengingatnya. Kejadiannya sore saat itu. Kebahagiaan yang Hanna rasakan saat menulis catatan materi untuk santri yang ingin belajar darinya mendadak buyar. Ia terkejut. Ia shock. Segala persiapan yang telah ia lakukan untuk mengajarkan materi Shorof itu buyar ketika Lutfi, sang santri yang ingin belajar darinya justru memiliki niatan buruk kepadanya. Masih terbayang jelas dalam ingatan wajah jahat Lutfi saat memperkosanya. Hati Hanna merasa tercabik membuat bidadari cantik itu menyesal karena tidak dapat menjaga keperawanannya untuk calon suaminya kelak.
"Maafin ana ustadz Angga" Lirih Hanna masih menyesali kejadian itu.
V sudah menulis materinya. Tak sengaja tatapannya menatap ke arah Hanna yang tampak merenung di pagi hari. V jadi teringat kejadian kemarin. Apa masalah yang Hanna rasakan masih berlanjut hingga sekarang ? Apa masalah yang kemarin sama sekali belum mereda ? Reflek hatinya terpanggil untuk mendekati ustadzah cantik itu.
“Heyy... Hanna ngelamun lagi nih” kata V setelah mendekat.
“Ehhh V... Hehe gak tau nih akhir - akhir ini suka gagal fokus” jawab Hanna memaksakan senyum.
“Ohhh kok bisa ? Kurang minum yah Han ?” tanya V.
“Mungkin” jawab Hanna.
V pun bingung menyikapi cara Hanna untuk mengetahui masalahnya. Hanna tampak sedang menutupi sesuatu. V dapat mengetahui itu dengan jelas dari reaksi wajah Hanna. V jadi penasaran mengenai hal apa yang sebenarnya Hanna tutupi. Ingin terus bertanya tapi gak enak karena takut Hanna malah merasa seperti sedang diinterogasi. Lagipula ia bukan polisi. Ia tak memiliki hak untuk mencampuri urusan orang lain. Tapi kalau Hanna dibiarkan seperti ini, hati V tak terima karena dirinya merasa tidak nyaman ketika membiarkan ada wanita yang membutuhkan bantuannya.
Hmmm ngapain yah ?
Batin V bingung.
Karena tidak memiliki ide untuk memaksa Hanna membuka mulutnya. V akhirnya mengajak ngobrol Hanna untuk mengakrabkan diri dengannya. V jadi menyadari kalau selama ini dirinya lebih sering mengobrol dengan Haura daripada Hanna. V pun berfikir, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengakrabkan diri dengannya.
Beruntung Hanna cukup ramah untuk diajak berbicara. Berulang kali Hanna menyempatkan senyum dalam obrolan yang ia lakukan bersama V. Walau masih ada kecanggungan yang Hanna rasakan ketika mengobrol dengannya. Hanna berupaya untuk menghapus kecanggungan itu. Berulang kali pikirannya selalu berkata tuk menghapus ingatan itu. Pikirannya selalu meminta untuk menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya.
Ketika mereka berdua sedang asyik mengobrol, terdengar suara ketukan yang berasal dari arah pintu masuk. Sebentar kemudian suara salam terdengar yang membuat dua penghuni gedung pengasuhan ini menjawab salam tersebut. Sedetik kemudian keluarlah seorang wanita cantik berkulit putih dengan hijab yang melilit kepalanya. Haura adalah nama dari wanita itu. Ia tampak anggun dengan kemeja polos berwarna putih yang ia padukan dengan blazer bening berwarna biru. Rok span melengkapi penampilannya pagi itu. Haura tampak menggoda seperti biasa yang membuat orang - orang terpana tiap kali melihatnya.
Saat Haura memasuki kantornya. Ia terkejut melihat Hanna dan V tampak akrab ketika mengobrol berdua. Haura merasa pemandangan itu cukup langka karena seingatnya ia jarang melihat mereka berdua mengobrol seperti ini. Haura mengernyitkan dahi. Ia berpura - pura tidak melihat pemandangan itu sambil berjalan menuju meja kerjanya.
Saat Haura melintasi mereka berdua. Reflek telinganya mendekat untuk mencuri pembicaraan yang sedang mereka lakukan. Entah kenapa Haura begitu penasaran oleh pembicaraan yang sedang mereka lakukan berdua. Kebetulan tempat duduk dimana Haura berada ada di samping meja kerjanya Hanna. Tampak V masih asyik mengobrol sambil memunggungi dirinya. Entah kenapa ada perasaan tak suka yang muncul dari hati Haura. Cemburu ? Mungkin. Bagaimana tidak ? Tiap pagi yang selalu ia lalui, ia pasti mendapatkan pujian dari V tiap kali melihat penampilannya. Tapi pagi ini ? Pujian yang biasa ia dapatkan teralihkan oleh pembicaraan yang sedang ustadz baru itu lakukan bersama rekan kerjanya.
Haura merasa kesal membuatnya teringat oleh sikap suaminya yang jarang memberinya pujian. Haura menjadi makin sebal. Ia pun tak fokus untuk mengerjakan sesuatu di komputernya karena telinganya teralihkan tuk mendengarkan obrolan mereka. Haura mendengus kesal. Ia pun memprotes sikap V dalam hati.
V !!! Betah banget sih ngobrol dengannya !!!
*-*-*-*
Pada saat yang sama di kantor bagian pengajaran. Datang seorang wanita bertubuh mungil yang mengenakan seragam longgarnya serta hijab panjang yang menutup hingga ke dadanya. Sebuah rok panjang yang menutup hingga kaki - kakinya melengkapi penampilannya hari ini. Di tangannya, ia membawa buku absen juga buku materi yang menjadi pedomannya dikala mengajar.
Ia tampak kelelahan karena wajahnya berkeringat setelah disirami oleh cahaya matahari. Jemari di tangan kanannya pun bergerak mengibas - ngibas lehernya tuk memanggil angin agar datang mendinginkan dirinya. Beberapa saat kemudian datang seorang ustadz dari bagian pengajaran yang bernama Adit.
"Ahlan ustadzah" Sapa Adit dalam menyambut kedatangan tamunya.
"Assalamu'alaikum ustadz... Ini ana mau mengembalikan absennya" Kata Ustadzah tersebut.
"Walaikumsalam ustadzah Nisa... Syukron" Jawab Adit dengan sopan.
"Oh yah ustadzah... Silahkan tinggalkan paraf disini" Kata Adit setelah melihat Nisa buru - buru pergi setelah mengembalikan absen itu.
"Oh yah ustadz... Afwan ana lupa" Kata Nisa tertawa malu. Adit pun ikut tertawa bersama Nisa.
"Untuk hari ini apa ada masalah saat mengajar tadi ?" Tanya Adit.
"Hehee gak ada kok ustadz... Alhamdulillah santriwati ana memperhatikan dengan baik" Jawab Nisa.
Paling masalahnya cuma dari pribadi aja ustadz. Batin Nisa kemudian.
"Yah syukurlah kalau gitu" Kata Adit merasa senang.
"Kalau gitu ana permisi dulu yah ustadz" Kata Nisa tersenyum.
"Iya ustadzah... Silahkan" Kata Adit ikut tersenyum melihat Nisa tersenyum.
Adit pun kembali duduk ke tempatnya. Sembari menanti pengajar lainnya datang tuk mengembalikan absen kelas. Ia memandangi hapenya secara terus menerus. Dilihatnya layar hape miliknya. Tampak ruang obrolan yang berisi antara dirinya dengan ustadzah Rachel terpampang disana. Adit tampak heran kenapa Rachel seringkali terlambat dalam membalas pesannya akhir - akhir ini.
"Ahhh iya... Kenapa tadi gak nanya sekalian ke ustadzah Nisa ? Mereka kan satu gedung" Kata Adit agak sedikit menyesal.
Sementara itu dalam perjalanan pulangnya. Nisa tampak melenguh menghela nafasnya menyesali dirinya yang kurang fokus dalam mengajar tadi. Memang santriwati nya bisa memahami ajaran darinya dengan baik. Tetapi masalah yang sedang melanda dirinya belakangan ini tampak mengganggu konsentrasinya dalam mengajar.
Nisa masih kesal pada Fandi karena dirinya masih mendapatkan pesan dari mantan tetangga yang begitu tergila - gila padanya. Nisa pun berfikir. Nisa terus bertanya dalam hati, apa yang membuat Fandi tidak bisa melupakannya ? Apa yang membuat Fandi begitu terikat padanya ?
Seketika ia terbayang wajah Fandi ketika kembali bertemu dengannya setelah dirinya menikah. Nisa iba pada penampilan Fandi yang tampak lusuh. Kondisinya seperti orang yang tak terurus. Memikirkan bagaimana keadaan mental Fandi membuat hati Nisa kuwatir.
Jangan melakukan hal yang aneh - aneh lagi mas !
Walau dirinya telah menikah dengan orang lain. Nisa bukanlah wanita sejahat itu. Ada perasaan bersalah yang timbul dari dalam diri Nisa untuk Fandi. Apalagi Fandi telah memberikan banyak kebaikan padanya sejak kecil. Nisa pun berkali - kali berfikir untuk mencari seseorang yang pas untuk Fandi agar sosok komandan itu bisa terlepas dari bayang - bayang dirinya.
Nisa pun sampai di rumahnya. Keadaan tampak sepi. Ia mencoba melihat ke sekitar tuk mencari suaminya. Sepertinya suaminya sedang pergi. Aldi bahkan tertidur di pagi menjelang siang ini.
"Hufftt syukurlah" Kata Nisa mensyukuri dirinya bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus mengurusi Aldi.
Dalam waktu senggangnya itu, Hati Nisa masih gelisah memikirkan persoalan Fandi yang terus mengganggu pikirannya. Berulang kali dirinya mondar - mandir tanpa tahu harus berbuat apa. Kadang ia ingin memasak. Kadang ia ingin memakan cemilan. Kadang ia ingin mencuci pakaian. Namun ketika ia sudah tiba di tempat dimana dirinya bisa melakukan berbagai keinginannnya itu. Mendadak ia lupa hingga membuatnya tak tahu ingin melakukan apa. Nisa resah. Ia butuh saran dari seseorang. Karena tak kuat lagi. Ia segera mengambil telponnya tuk mengubungi ayahnya.
"Ayahhh... Assalamualaikum" Sapa Nisa dengan lembut.
"Walaikumsalam... Nak, apa kabar ?" Sapa Ayahnya bahagia mendapati putri kesayangannya menelpon.
"Baik ayah... Ayah sendiri gimana kabarnya ?" Tanya balik Nisa.
"Baik nak.... Gimana kabar dek Aldi ? Gimana kabar nak Reynaldi ? Udah makan ?" Berbagai pertanyaan diberondong oleh ayahnya karena terlalu rindu pada putrinya tercinta.
"Ahahahah.... Ayah... Satu - satu dong... Iya semuanya baik... Nisa juga udah makan cuma ya laper lagi" Kata Nisa yang membuat ayahnya tertawa senang.
“Oh yah nak ? Ada apa nelpon ayah ? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu nak ?” kata Ayah seolah hatinya terhubung pada putri tercintanya. Nisa terharu mendengar kepekaan yang dimiliki oleh ayahnya. Sambil membuka bibirnya yang bergetar. Dara cantik itu pun mulai berbicara pada ayahnya.
“Hehe sedikit ayah” jawab Nisa.
“Sedikit ? Ada apa nak ? Boleh diceritakan ke ayah ?” tanya Ayahnya.
“Bukan apa - apa sih yah... Nisa cuma mau minta nasehat aja dari ayah” kata Nisa. Sementara ayahnya yang berada jauh disana pun tersenyum. Ayahnya memejam sesaat tuk mengingat masa - masa ketika Nisa masih kecil dulu. Sebentar kemudian sang ayah mulai berbicara tuk berbagi petuah kepada Nisa yang selamanya akan selalu menjadi putri kecilnya.
“Apapun yang suamimu perintahkan, turuti nak ! Sekarang ayah bukan lagi lelaki yang berkewajiban menjagamu, merawatmu dan mendidikmu.... Tugas ayah sudah ayah estafetkan ke suamimu... Dialah yang wajib kamu layani.... Kamu sayangi... Dan kamu turuti... Ingat dulu ayah pernah bilang kalau ayah itu refleksi dari matahari sedangkan ibu refleksi dari bulan... Maka anak itu refleksi dari apa sayang ?” tanya Ayahnya.
“Bintang ayah” jawab Nisa setelah mengingatnya sejenak.
“Betul nak... Tanpa bulan, tanpa adanya matahari... Bintang tidak akan bersinar karena bintang hanya bertugas untuk memantulkan cahaya yang ia terima dari mereka... Sekarang kamu sudah resmi menjadi bulan... Masih inget tugas bulan itu apa ?” tanya Ayahnya.
“Menghibur matahari ayah... Tuk meredakan rasa penat matahari dengan pancaran keindahan yang bulan miliki” jawab Nisa sambil tersenyum malu.
“Betul nak... Hibur suamimu dengan kecantikan yang kamu miliki... Jangan sekali - kali memberikan keindahanmu untuk orang lain ! Karena kamu hanya milik suamimu !” kata Ayahnya yang membuat Nisa terkejut seolah perkataan ayahnya telah menusuk jantungnya. Nisa jadi sedih ketika memikirkan perzinahan yang telah ia lakukan bersama Fandi. Nisa menyesal tapi ia masih kepikiran akan sosok itu. Nisa merasa kalau Fandi seperti mengemis cinta padanya. Nisa pun iba. Ingin ia biarkan tapi tak tega. Nisa pun bingung harus berbuat apa.
“Nakk... Nakk... Kok diem ? Kamu gapapa nak ?” tanya ayahnya yang mengejutkan Nisa.
“Ehhh iyya hehehe maaf yah... Tadi Nisa dipanggil dek Aldi” kata Nisa sedikit berbohong.
“Ohh yaudah... Apa mau bermain dengan dek Aldi sekarang ?” kata Ayahnya.
“Hehe iya ayah... Terima kasih ayah buat nasehatnya... Perasaan Nisa jadi membaik sekarang” kata Nisa sedikit berbohong.
“Iya nak gapapa... Sekali - kali kabari Ayah lagi yah... Jangan lupa untuk pulang kalau udah waktunya liburan” kata Ayah merasa bangga pada putri kecilnya.
“Iyya Ayah... Oh iya yah !” kata Nisa ketika dirinya teringat sesuatu.
“Ada apa nak ?” tanya ayahnya penasaran.
“Kabar mas Fandi gimana ?” tanya Nisa.
“Nak Fandi ? Ayah kurang tau yah nak... Ayah jarang liat dia lagi di rumah... Katanya sih dia tinggal dan kerja di kota... Kalau gak salah sih ngekos... Ada apa yah ?” tanya ayahnya.
“Ahhh enggak ayah... Cuma titip salam aja yah kalau mas Fandi pulang” kata Nisa.
“Ohh iya nak nanti ayah sampaikan” jawab ayahnya.
Nisa pun tersenyum kemudian menutup panggilan teleponnya setelah mengucapkan salam. Panggilan telpon resmi berakhir. Perasaan Nisa bukannya membaik tapi malah memburuk akibat dirinya teringat akan persetubuhan terlarangnya bersama Fandi. Nisa menyesal telah melakukan itu. Apalagi ia merasa dibohongi oleh Fandi setelah lelaki itu berjanji untuk tidak menghubunginya lagi setelah dirinya memberikan keindahan tubuhnya. Tapi nyatanya Fandi masih tetap menghubunginya hingga sekarang dengan mengirimnya berbagai pesan yang membuatnya terganggu.
Nisa pun melenguh sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa empuk rumahnya. Nisa merenung meratapi ujian yang sedang melanda keutuhan keluarganya. Nisa berfikir kenapa begitu sulit ujian yang harus ia terima saat ini.
Seketika hapenya bergetar yang membuat Nisa buru - buru membuka layar kuncinya tuk mencari tahu siapa yang mengirimnya pesan di jam segini.
“Mas Fandi ?” kata Nisa. Sebenarnya Nisa agak malas tuk membaca pesan darinya. Tetapi setelah ia membaca kata pertama dari pesan itu. Mendadak dirinya terkejut hingga membuatnya beranjak berdiri.
“Aku ada di gedung penerimaan tamu senior... Tolong temui aku disini... Aku tunggu yah” kata Nisa setelah membaca pesan itu.
Mulut Nisa terbuka lebar hingga membuat tangan kirinya reflek tuk menutup mulut itu karena saking terkejutnya. Nisa pun berbicara di dalam hati.
“Mau apa Mas Fandi kesini sih !” kata Nisa panik.
Ia pun bingung haruskah ia menuruti kemauannya atau tidak. Dilain sisi ia begitu malas tuk bertemu dengannya karena kuatir akan banyaknya mudhorot yang akan ia dapat. Tapi di lain sisi ia merasa tindakan Fandi merupakan tindakan yang sembrono karena bisa membahayakan statusnya apabila Fandi ingin bertemu dengannya. Ia sangat khawatir ketika Fandi malah berbicara dengan ustadz atau ustadzah di bagian penerimaan tamu kalau dirinya ingin bertemu dengannya. Ia pun takut apabila dirinya dicurigai nanti. Ia pun berinisiatif tuk mendatanginya sebelum Fandi mengungkapkan keinginannya.
Bergegas ia pergi menuju kamarnya tuk mengganti pakaiannya dengan gamis santainya. Sesaat sebelum ia pergi, ia menatap cermin terlebih dahulu. Wajahnya yang agak kusam akibat terkena sinar matahari pagi membuatnya mau tak mau harus merias wajahnya sedikit. Nisa mengenakan riasan tipis saat itu.
Wajahnya yang mungil terbalut hijab lebar berwarna coklat. Wajahnya tampak lebih muda kendati usianya sudah hampir memasuki kepala tiga. Posturnya yang mungil membuatnya lebih terlihat seperti anak kuliahan yang berada di puncak masa pubernya. Gamis longgar yang selaras dengan warna hijabnya melengkapi penampilannya di pagi menjelang siang ini. Nisa tampak sempurna dengan paras imut yang dimilikinya. Ustadzah beranak satu itu pun bersiap tuk pergi menuju gedung penerimaan tamu demi menemui teman lamanya.
Gedung penerimaan tamu merupakan gedung yang digunakan oleh tamu sebagai perantara tuk bertemu dengan santri, santriwati ataupun para pengajar yang tinggal disini. Gedung penerimaan tamu berada di dekat gerbang masuk pesantren. Tamu hanya diizinkan tuk bertemu di gedung itu. Tamu tidak boleh memasuki area pesantren demi menghindari tindakan yang tidak diinginkan.
Nisa telah tiba di gedung itu. Segera matanya tertuju ke seluruh penjuru ruangan tuk mencari sosok tamu. Nisa tak tahu, ia pun berjalan ke bagian resepsionis tuk bertanya pada ustadzah bagian penerimaan tamu yang kebetulan sedang berjaga disana.
“Assalamualaikum ustadzah... Afwan tadi ada tamu yang nyariin ana gak ?” tanya Nisa.
“Walaikumsalam ustadzah Nisa... Setau ana gak ada loh ustadzah” jawab ustadzah itu.
“Ohh begitu ?” kata Nisa merasa heran. Akan tetapi, dirinya merasa bersyukur setelah menyadari Fandi tidak berbicara kalau dirinya ingin bertemu dengannya disini.
“Kalau gitu ada gak tamu yang namanya Fandi ?” tanya Nisa.
“Fandi ? Coba sebentar yah ustadzah... Ana cek dulu” kata Ustadzah itu dengan ramah.
“Ohh iya ada ustadzah... Ada di kamar delapan yang berada di pojok sana” kata ustadzah itu memberi tahu Nisa dimana posisi Fandi berada.
“Memang dia siapa yah ustadzah ?” tanya ustadzah itu tiba - tiba yang mengejutkan Nisa.
“Ohh itu saudara ana ustadzah” jawab Nisa.
“Ohh naam ustadzah” jawab ustadzah itu tanpa mencurigainya lagi.
Bergegas Nisa pergi menuju kamar delapan yang berada di pojok bangunan. Terlihat di sekitarnya beberapa wali santri yang berbahagia ketika sedang mengunjungi anak tercintanya. Nisa pun menghitung setidaknya ada 4 wali santri yang menjadi tamu di gedung ini. Termasuk Fandi jadi total ada lima tamu yang sedang berkunjung ke pondok pesantren ini.
“Tumben gak terlalu ramai... Apa gara - gara covid ?” kata Nisa.
Setibanya disana, Nisa bergegas mengetuk pintu itu kemudian mulutnya membuka tuk mengucapkan salam sebelum membukakan pintu di kamar delapan. Saat Nisa membuka pintu itu. Tampaklah seseorang yang sedang tersenyum sambil menatap dirinya.
“Senior... Kamu datang ?” kata Fandi lekas berdiri tuk mendatangi.
Melihat tangan Fandi direntangkan lebar - lebar seolah ingin memeluknya. Nisa reflek mengangkat tangannya maju memintanya untuk tidak melakukan itu.
“Tolong mas... Ingat aku bukan muhrim mas !” kata Nisa mencoba tuk mengingatkannya.
Fandi tampak kecewa dengan sikap Nisa tapi menyadari dirinya bisa menatap keindahan di wajah Nisa lagi membuat rasa kekecewaan itu pun memudar seketika. Ia sudah sangat bersyukur bisa menemui Nisa lagi disini.
“Ada apa mas kok kesini ?” tanya Nisa membuka pembicaraan.
“Aku cuma rindu padamu senior” jawab Fandi.
“Tapi ini pesantren mas... Kalau ketahuan aku bisa dikeluarkan... Apalagi aku sudah menikah mas... Aku gak mau dapet fitnah kalau ada yang nanti mencurigai kita berdua disini” kata Nisa.
“Aku tau senior kalau ini beresiko... Tapi tolong mengertilah... Rasa rinduku mengalahkan resiko itu... Kepalaku pusing ketika memikirkanmu tidak ada disisiku... Aku ingin menemuimu... Menatap wajah cantikmu... Juga senyum yang biasa kamu berikan padaku...” kata Fandi tersenyum.
Nisa hanya menunduk mendengar kata - kata dari Fandi. Hatinya merasa sakit melihat Fandi tersenyum seolah dirinya begitu mengharap kalau cintanya akan terbalaskan. Nisa jelas tidak bisa membalas cintanya. Nisa sudah menikah dan semua orang tahu itu termasuk Fandi yang berada di hadapannya. Nisa kembali mendengus pelan melihat sikap melas Fandi.
“Ini aku membawa beberapa roti juga es krim yang kamu sukai dulu... Kamu masih menyukainya kan ?” tanya Fandi masih tersenyum.
Nisa hanya mengangguk lantas mengambil es krim itu kemudian membukanya dan memasukannya ke dalam mulutnya. Fandi kembali tersenyum menatap keindahan wajah Nisa dihadapannya. Nisa pun sadar kalau dirinya sedari tadi di tatap oleh Fandi. Wajah Nisa pun memerah. Ia pun menegur Fandi untuk menjaga pandangannya.
"Tolong mas dijaga pandangannya !" Tegur Nisa merasa tak nyaman.
“Maaf senior... Mataku selalu teralihkan tiap kali menatap wajah indahmu” kata Fandi ikut membuka es krim itu sambil memakannya bersama Nisa.
Nisa terus menunduk tak tahu apa yang harus ia lakukan selain menghabiskan es krim di tangannya. Sesekali ia menatap wajah Fandi di hadapannya. Wajahnya terlihat tidak rapih karena kumis, jenggot dan rambutnya dibiarkan tumbuh tak beraturan. Tubuh kurusnya yang hanya ditutupi oleh kemeja bermotif kotak - kotak. Sedangkan kaki kurusnya hanya ditutupi oleh celana jeans panjang berukuran ketat.
Kadang Nisa prihatin tiap kali menatap sosok Fandi di masa sekarang. Sosoknya sangat berbeda dari apa yang ia ingat di masa lalu. Nisa pun merenung membayangkan sosok Fandi yang begitu kesulitan melalui hari - hari ketika ditinggal nikah olehnya. Terkadang Nisa merasa menyesal karena menyetujui lamaran dari suaminya terkini. Tapi ia tak bisa menyalahkan. Karena dirinya juga tidak terikat dengan Fandi saat itu. Tapi tetap saja. Tiap kali dirinya menatap wajah dihadapannya, Nisa menjadi sedih hingga membuat matanya berkaca - kaca.
“Seniorrr !!!” sapa Fandi yang tiba - tiba sudah mengusap punggung tangannya.
“Masss !!!” Tegur Nisa kembali ketika punggung tangannya disentuh oleh lelaki itu.
“Maaf” kata Fandi tersenyum sedih.
Nisa semakin iba menatap wajah Fandi yang serba salah dihadapannya. Ia pun bingung memikirkan cara agar Fandi bisa terlepas dari ikatan yang mengikat dirinya dengan Fandi.
"Aku cuma rindu ketika teringat masa - masa itu... Dimana kita bisa asyik mengobrol menghabiskan waktu bersama" Kata Fandi membangun nostalgia.
"Iya itu dulu mas" Jawab Nisa dingin.
"Iya itu memang dulu... Tapi aku berharap bisa mengalaminya lagi sekarang" Kata Fandi tersenyum membayangkan momen itu.
"Mas... Tolong... Aku udah menikah... Carilah wanita lain mas... Banyak dari mereka yang jauh lebih cantik dari aku" Kata Nisa.
"Iya mungkin ada... Tapi kamulah cinta sejatiku Nisa" Kata Fandi yang membuat Nisa sedih melihat betapa keras kepalanya Fandi.
Nisa merenung memikirkan cara tuk meluluhkan keegoisan Fandi yang begitu ingin hidup bersamanya. Nisa berfikir tidak mungkin bagi seorang wanita untuk memiliki dua suami. Apabila ia harus memilih jelas dia akan memilih Reynaldi suaminya terkini. Apalagi ia telah dikaruniai seorang putra yang lucu. Reynaldi juga sosok yang sangat mengerti dirinya dan seingatnya ia tak pernah memiliki sebuah masalah ketika tinggal bersamanya.
Ketika Nisa merenung dikala dirinya lengah. Tiba - tiba Fandi sudah mendekat sambil mendekap kedua bahunya. Reflek mata Nisa melebar ketika mendapati jarak diantara wajah mereka begitu dekat.
"Apa yang mas lakukan ? Lepaskan mas... " Pintar Nisa merasa resah ketika dirinya kembali disentuh.
"Senior... Apa kamu masih ragu akan ketulusan cintaku ? Apa itu alasannya kamu masih belum berani tuk mengakui ketulusanku ?" Kata Fandi dengan jarak yang begitu dekat.
"Bukan itu mas... Itu karena aku sudah menikah dan gak mungkin aku menuruti kata - kata mas" Kata Nisa. Berulang kali tubuh mungilnya berontak. Tapi ia tak mampu.
"Bohong kamu senior !! Kamu pasti seperti ini karena kamu masih ragu kan ? Sini biar kubuktikan ketulusan cintaku yang suci" Kata Fandi tiba - tiba kembali mendekatkan wajahnya. Sontak Nisa panik. Berulang kali kepalanya ia mundurkan mencoba tuk menjauh. Namun semua percuma karena bibir Fandi sudah sampai di bibirnya.
"Mmmhhh... Uhhmmmm" Nisa melenguh pelan karena terkejut.
Bibir Fandi sudah mengunci bibir Nisa. Fandi mendorong bibirnya lalu menghirup aroma tubuh Nisa yang harum semerbak kemudian ia membenamkan bibirnya tuk membuktikan ketulusan cintanya padanya. Nisa kaget saat menerima pergerakan tiba - tiba yang Fandi lakukan. Berulang kali ustadzah bertubuh mungil itu melawan. Kedua tangannya mendorong tubuh kurus Fandi. Kepalanya ia gelengkan sebisa mungkin. Matanya bahkan memejam karena tak sanggup menerima perbuatan ini lagi. Tapi semua percuma karena Fandi sudah mengedepankan hawa nafsunya demi melumat bibir manis sang bidadari hingga habis.
"Hmmpphh... Auhhmmm.... Kau merasakannya kan senior... Cintaku ? Inilah cintaku padamu yang menggelora seniorrrr !!!!" Kata Fandi ditengah percumbuannya.
Bibir lelaki kurus itu menekan bibir Nisa dengan dorongan liar membabi buta. Dirasakannya lagi bibir tipis itu dengan penuh nafsu. Rasa manis dari tepi bibirnya begitu terasa di lidah Fandi. Rasa yang manis itu membuat lidah Fandi bergerak menjilatinya tanpa henti. Diolesnya bibir Nisa secara merata. Liurnya pun terhias dengan rapih di bibir bidadari berhijab itu.
Nisa tak nyaman membuatnya terus bergerak mencari udara segar disela - sela percumbuan yang ia terima. Ia tak menduga Fandi menjadi seliar ini. Ia seperti tak mengenal Fandi yang dulu. Fandi yang sekarang sudah dikuasai hawa nafsu.
"Hentikkannn mass.... Mmhhhh... Stopppp... Sadar masss... Ini aku... Ini aku Nisa mass" Kata Nisa terus berusaha menghentikan nafsu buas Fandi yang mulai tak terkendali.
"Tentuu senioorr... Mmhhhh... Aku mengenalmu... Sangat mengenalmu" Katanya terus mencumbu Nisa tanpa memperdulikan kata - kata permohonannya.
Ditengah percumbuan yang semakin liar. Fandi mencoba tuk mendorong lidahnya guna memasuki rongga mulut Nisa. Nisa terus bertahan dengan merapatkan bibirnya dengan sesekali melenguh menahan semuanya.
Seketika Nisa mulai tersadar kalau dirinya saat ini berada di kamar delapan di gedung penerimaan tamu. Memang benar kalau di kamar delapan ini dirinya cuma berdua saja dengan Fandi. Tapi saat dirinya melihat ke arah pintu masuk. Ia mendapati pintu itu tidak tertutup rapat. Bahkan Nisa dapat melihat dedaunan hijau yang tertanam di halaman gedung penerimaan tamu melalui celah yang terbuka cukup lebar.
Nisa semakin panik khawatir aksi nekat yang Fandi lakukan akan merugikan dirinya. Namun ketika Nisa hendak berontak tuk menghentikan pelecehan ini. Nafsu Fandi malah semakin menjadi. Fandi melumat bibir Nisa dengan penuh nafsu. Bibirnya membuka lebar kemudian memagut bibir atas sang bidadari. Nisa mendengus pelan sambil menahan serangan Fandi yang diarahkan bertubi - tubi.
Nisa dapat merasakan bibir atasnya dihisap oleh Fandi dengan sangat kuat. Kadang bibir atasnya yang sedang berada di dalam mulut Fandi dijilatnya menggunakan lidah lentiknya. Nisa sampai kehabisan nafas menerima rangsangan itu. .
"Lihat seniorr... Kamu juga bisa merasakannya kan ? Coba jujur, kamu pasti mulai merasakan gairah yang meledak - ledak dari dalam diriku kan ? Itulah cintaku padamu senior... Mmmmpphhh" Kembali Fandi melumat bibir Nisa.
"Masss.... Mmmhhh... Hentikannn massss... Ini bukan cintaaa.... Ini cuma nafsu semata mass... Hentikannn mmmhhh" Desah Nisa yang tak berdaya ketika bibirnya dicumbui sedari tadi.
Fandi tak peduli. Lidahnya pun mulai bermain - main di dalam rongga mulut Nisa. Bidadari berhijab itu tidak sanggup lagi mengelak darinya karena setiap kali lidahnya ikut bergerak yang ada malah membuat lidah mereka saling beradu. Nisa pun mengalah membiarkan lidah Fandi menari - nari di dalam mulutnya. Di tengah percumbuan yang senakin liar itu mata Nisa yang masih terpejam mulai basah mengeluarkan derai air matanya.
"Enakkk kannn seniorrr ? Akui aja" Tanya Fandi yang kini mulai melumat bibir bawah Nisa.
"Mmhhhhhh enggakkk sama sekali mas... Sudahhhh... Jangan dilanjutkan massss" Kata Nisa terus memohon.
Sekali lagi Fandi tidak peduli. Ia yang sudah dikuasai hawa nafsu malah menggerakkan tangannya tuk menggerayangi dada Nisa yang masih tertutup gamis lebarnya. Fandi dapat merasakan kekenyalan dari payudara yang dimiliki oleh kawan masa kecilnya itu. Ditengah percumbuan nya yang masih berlanjut. Tangan Fandi meremasi buah dada ranum itu. Jemarinya bahkan menekan - nekan puncak dari gunung kembar cinta yang dimiliki oleh bidadari itu. Karena tak tahan, segera tangan satunya yang menganggur menurunkan resleting yang berada di punggung Nisa.
"Mmhhhh jangannn... Hentikannn ahhhhhh... Masss tolongggg... Ahhhhh" Desan Nisa merasakan payudaranya diremasi dengan begitu nikmat oleh Fandi.
Nisa yang masih duduk berlutut pasrah dalam dekapan Fandi panik ketika gamis yang dikenakannya sudah turun hingga ke pinggangnya. Fandi pun dapat melihat kulit indah Nisa yang selama ini tersembunyi di balik pakaian lebarnya. Bra berwarna putih itu juga terlihat. Sekejap mata Fandi terhipnotis oleh belahan yang memisahkan antara gunung satu dengan gunung dua. Fandi menghentikan cumbuannya lantas lidahnya keluar menjilati bibirnya sendiri ketika menyadari betapa dalamnya belahan yang ada diantara kedua gunung kembar itu. Mungkinkah sedalam palung mariana ?
"Massa tolonggg... Sudahii masss... Hentikan semua ini... Itu cuma nafsu mas.. Bukan cinta seperti yang mas fikirkan" Kata Nisa terus berusaha menyadarkan kawan lamanya sambil berusaha menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang.
"Nafsu ? Tau apa kamu tentang nafsu senior ? Perasaanku selama ini saja masih belum kamu ketahui" Kata Fandi.
"Ahhhhh jangannnnnn" Desah Nisa panik dikala tangan Fandi berusaha tuk menelanjanginya.
Buru - buru Nisa menutup mulutnya khawatir suaranya akan terdengar hingga ke arah luar. Telinga Nisa dengan jelas mampu mendengar pembicaraan dari para wali santri yang mengobrol di teras kamar. Nisa pun bingung harus berbuat apa.
Sementara di tengah kebingungan yang melanda diri Nisa. Fandi sudah dapat melepaskan gamis yang Nisa kenakan. Fandi tersenyum kemudian membuang jauh - jauh gamis itu. Nisa perlahan mundur sambil menyeret bokongnya di lantai yang dingin. Ia benar - benar ketakutan. Semua terlukis diwajahnya apalagi saat melihat wajah Fandi yang berapi - api dalam menatap payudaranya.
"Ahhhhhhh desah Nisa dengan lirih dikala Fandi menindihi tubuhnya. Nisa yang sudah setengah telanjang berbaring diatas lantai yang dingin. Sedangkan Fandi sudah berada di atasnya menikmati keindahan tubuhnya. Nisa panik. Nisa tak tahu lagi harus berbuat apa tuk bertahan dari pelecehan ini.
"Jaa... Jangannn... Jangannn disana masss... Ouhhhh yahhhh" Desah Nisa tanpa sadar saat bibir Fandi hinggap di puting payudara Nisa setelah menyingkap cup bra yang dikenakannya. Tak cukup sampai di situ. Tangannya yang semakin gatal menggerayangi tubuh sang bidadari dengan liar. Kini sudah mulai memasuki celana dalamnya dan menyentuh permukaannya yang berbulu. Tubuh Nisa tersentak saat jari - jemari Fandi mulai meraba bibir kemaluannya, rasanya seperti ada sengatan listrik yang membuatnya berkelejotan.
“Jangan mass ouhhhh...jangan disana” Nisa mengiba sekali lagi.
"Tenang aja seniorr... Ini cuma pemanasan kok... Nanti juga enak" Lanjut Fandi terus merangsang tubuh setengah telanjang itu.
"Ahhhh.... Ahhhh masss... Ouhhhhhhhmmm.... Masss !!!!" Desah Nisa ketika payudara dan lubang intimnya dirangsang sekaligus.
Tubuh Nisa bergetar, dari mulutnya yang sedang menganggur terdengar suara desahan yang tertahan. Dia harus mengakui bahwa dirinya mulai terangsang walaupun nuraninya menolak. Nisa masih punya harga diri dan ia tak mau menghabiskan harga dirinya dengan mendesah menikmati rangsangan Fandi. Memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk menahan desahan ketika tubuh mulai menikmati semuanya. Sebagai gantinya ia hanya bisa menangis mencurahkan semuanya melalui air mata.
"Ouhhhh seniorrrr.... Aku suka aroma tubuhmu... Harummu semerbak... Nafsuku bergejolak... Hingga kontolku pun bertindak ingin merasakan jepitan hangatmu lagi" Desah Fandi ditengah rangsangannya dalam mengecupi dada ranum Nisa.
"Ouuhhhh massss... Tolonggg hentikannnnnn" Desah Nisa dikala menahan geli di dada.
Daerah bibir kemaluannya semakin basah seiring dengan gesekan jari-jemari Fandi yang semakin intens. Suara desahan yang tertahan dari mulut Nisa seolah memanggil lidah Fandi tuk kembali bermain - main di mulutnya. Tergoda, Fandi kembali melumat bibir Nisa sembari memainkan lidahnya di rongga mulutnya. Lidah Nisa tanpa sengaja menggesek lidah Fandi yang mengorek-ngorek mulutnya, lidah mereka saling jilat, saling bergulat dan hal itu berlangsung selama lima menit lamanya.
Kemudian Fandi mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Nisa yang sange akibat gesekan jemari di vaginanya. Nisa sekuat mungkin bertahan dengan memejam berusaha tak menunjukan apa yang sedang ia rasakan. Namun hal itu malah membuat Fandi tersenyum karena merasa sudah mampu membuat Nisa puas keenakan.
"Ahhhh masss.... Cukuppl... Ouhhhh massss... Hentikannn" Desah Nisa bertahan.
Digeseknya terus liang senggama Nisa hingga basah. Fandi tersenyum menatap wajah Nisa yang keenakan merasakan jemari saktinya. Tubuh mungil Nisa menggeliat hebat. Tubuhnya bahkan sampai terangkat. Tubuh Nisa meronta - ronta tak kuasa menahan kenikmatan yang tak terduga. Nisa benar - benar seperti cacing kepanasan yang menggeliat akibat terkena sinar matahari.
Nisa masih saja menggeliat karena rasa geli yang ia rasakan di pangkal pahanya. Gimana enggak ? Dengan lihai Fandi memainkan jemarinya dengan cara menekan, memutar - mutar bahkan menggosok bibir vagina itu. Lendir kewanitaannya pun basah membasahi jemari Fandi serta bagian tengah dari celana dalam yang masih terpasang di pinggulnya.
"Ouhhhhh maasssssss" Desah Nisa ketika merasakan vaginanya ditusuk begitu dalam oleh jemari tengah Fandi.
Setelah puas bermain - main dengan tubuh indah Nisa. Fandi mulai beraksi dengan menurunkan resleting celananya. Nisa masih tidak tahu karena dirinya begitu lelah setelah menerima serangan yang bertubi - tubi dari Fandi. Tiba - tiba ia merasakan pinggang rampingnya dipegang. Celana dalamnya pun diturunkan. Nisa menoleh dan melihat rupanya Fandi sudah berancang - ancang ingin menyetubuhinya kembali.
"Jjjaaa.... Jannggannn... Jangannn massss" Desah Nisa saat melihat kancing kemeja kotak - kotak yang Fandi kenakan sudah terbuka. Nisa dapat melihat tulang rusuk Fandi yang menonjol di dadanya karena saking kurusnya. Ia juga melihat celana jeans yang Fandi kenakan sudah terlepas dan tergeletak di sampingnya. Sebentar kemudian ia merasakan bibir vaginanya terketuk - ketuk oleh sesuatu yang keras dan panjang dibawah sana. Nisa panik. Nisa tak bisa bergerak karena cengkraman kuat yang sudah Fandi lakukan di pinggangnya.
"Aahhhhhhhhmmmmm" Nisa mendesah keras sebelum mulutnya dibekap oleh Fandi karena tak ingin kesenangannya terganggu oleh pihak ketiga yang mungkin memergokinya. Nisa dapat merasakan penis besar itu melesat dengan cepat berpetualang di rongga vaginanya. Nisa dapat merasakan betapa urat syaraf di penis besar itu menggesek - gesek dinding vaginanya. Nisa tak kuasa tuk menahan suaranya. Ia ingin berteriak tuk mengekspresikan penetrasi luar biasa ini.
Saat penis besar itu sudah masuk seluruhnya setelah dibantu oleh cairan cinta Nisa yang membanjiri vaginanya. Fandi bergegas tuk menggerakan pinggulnya merasakan jepitan memek yang luar biasa dari Nisa.
"Ouhhhhhh... Masss.... Hmmpphhh" Desah Nisa tertahan karena mulutnya dibekap oleh Fandi.
Fandi dengan perlahan menikmati tusukan demi tusukan yang ia lesatkan ke dalam vagina Nisa. Ia memejam, mulutnya terbuka lebar menikmati jepitan vagina Nisa yang seperti mencekik penisnya.
Dikala lelaki kurus itu menarik kemaluannya mundur hingga sampai ke ujung gundul, ia menghantamkan pinggulnya sekuat tenaga hingga ujung gundul itu menyundul rahimnya. Diulanginya lagi perbuatan itu secara perlahan hingga tubuh Nisa yang hanya menyisakan hijab, kaus kaki serta bra yang sudah terangkat naik menyingkap buah dadanya itu terhentak - hentak perlahan.
"Mmhhhh... Mhhmmmmm... Hmmmpphh !!!!" Desah Nisa tertahan.
Saat Fandi melepas dekapan tangannya di mulut Nisa. Tampak bidadari berhijab itu menggelengkan kepalanya meminta tuk menghentikan perbuatannya. Tapi reaksi Fandi hanya tersenyum lantas kemudian mendekatkan wajahnya tuk mencumbui bidadari bertubuh mungil itu.
"Mmmmplhhhhhh" Tampaknya Fandi sudah tergila - gila pada mulut manis Nisa. Kembali dilumatnya bibir tipis itu dengan penuh nafsu. Karena saking nafsunya, Fandi sampai meningkatkan intensitas serangannya dalam memacu kecepatan pinggulnya.
"Hmmmpphhhh massss !!!"
Maju mundur maju mundur maju mundur. Payudarara Nisa yang berukuran pas di genggamannya terus bergoyang sesuai irama. Suara erangan yang tertahan dari mulut Nisa malah meningkatkan gairah birahi Fandi dalam menikmati tubuh indah itu.
"Mmmhhhh... Kamu sukakan... Aku juga ahhhhh... Aku bersyukur bisa bersetubuh lagi denganmu seniorrr" Kata Fandi setelah melepaskan cumbuannya.
Fandi kembali menaikan tubuhnya tuk menatap wajah indah Nisa dibawah. Fandi meletakan kedua tangannya di kanan kiri pinggang Nisa. Mulut Fandi terbuka mengeluarkan erangan demi erangan di tengah persetubuhan yang ia lakukan.
"Ahhhh ahhhhhh seniorrr.... Ahhhhhhh" Desah Fandi dengan nafas beratnya.
"Ahhh massss... Cukuppp masss.... Aku minta tolonggggg ahhhh ahhhh" Desah Nisa.
Fandi benar - benar menikmati persetubuhannya. Ia melancarkan serangan demi serangan untuk memastikan keseluruhan penisnya masuk membelah liang senggama itu. Lelaki kurus itu selalu melihat ke bawah tuk mengagumi bentuk tubuh dari si cantik yang tengah terkapar tak berdaya. Matanya dengan binar menelan seluruh keindahan yang terpahat di tubuhnya. Juga gerakan dari buah dada Nisa yang berguncang seiring sodokan yang ia lesatkan di vaginanya.
Fandi tidaklah sebodoh itu yang begitu bernafsu hingga menyia - nyiakan barang bagus yang sedang ia pakai. Ia juga bukanlah orang yang terburu - buru dalam menikmati sesuatu. Ia lebih memilih menikmatinya secara perlahan namun pasti. Pasti untuk memuaskan dirinya juga Nisa yang semakin berteriak - teriak menahan sodokan dari penis besarnya.
"Ahhhhhh... Ahhhh... Masss... Tolonggggg... Ahhhh" Desah Nisa sembari menggenggam tangannya erat.
Kenikmatan yang semakin tak tertahan membuat Fandi meningkatkan intensitas goyangannya. Dorongan pinggul yang Fandi lesatkan ke dalam vagina Nisa semakin cepat. Ia juga terampil dalam menusuk penis itu hingga mengenai titik terdalam dari lubang kenikmatan Nisa. Penis itu cenderung melesat tajam bagai seekor Cheetah yang sudah menemukan mangsanya. Penis itu dengan lihai bergerak maju mundur tanpa lelah. Menggesek dinding vaginanya. Hingga cairan cinta yang berkumpul di dalam semakin banyak cenderung membanjir. Akibat gesekan yang semakin cepat itu. Fandi pun tak dapat menghindari tubrukan demi tubrukan dari selangkangan mereka saat bertemu.
Plokkk plokkk plokkk !
"Ahhh nikmatnyaaa... Ouhhh mantaappppp ahhhhhh" Desah Fandi menikmati.
Fandi benar - benar puas kali ini. Ia sangat puas karena bisa menyetubuhi kembali wanita yang sangat ia idam - idamkan sejak lama. Ia pun melampiaskannya dengan mempercepat sodokannya. Penampakan depan tubuh Nisa yang begitu indah semakin mengesankan persetubuhan terlarangnya.
Nafsu yang sudah memuncak di tambah dengan gairah yang semakin menjadi seolah menjadi halangan bagi Fandi untuk menikmati tubuh Nisa lebih lama lagi. Ia merasakan dirinya sudah berada di ambang batas. Erangan demi erangan pun Fandi keluarkan. Sodokan demi sodokan pun Fandi percepat hingga membuat kepala Nisa terlonjak - lonjak seiring tusukan yang Fandi lesatkan di vaginanya.
Sama seperti Fandi. Nisa juga tak tahan lagi dari pemerkosaan yang sedang ia alami. Tubuh nya lemas tak berdaya dan nafasnya mulai memberat seiring gesekan demi gesekan yang ia terima di dinding vaginanya.
"Ouhhhh seniorrr.... Ouhhhh aku gak kuat lagiii... Ouhhhh yahhh aku mauu keluaarrrrr" Desah Fandi tak tahan lagi.
Sementara Nisa tak merespon kata - kata itu. Ia sedang berperang melawan gairah nafsunya untuk tidak keluar ketika disetubuhi oleh Fandi. Tapi apa daya. Ini terlampau nikmat. Ia begitu sulit tuk menahan semua rangsangan ini.
"Ahhh ahhhh ahhh seniiorrrrrr"
"Ahhhh ahhh maassss... Tungguuuu... Ahhhhhh"
Crrootttt crrroottt crroootttt !!!!
"Sennniioorr uhhmmmmmm" Fandi bergegas menurunkan tubuhnya untuk mencumbu bibir Nisa dikala ia mendapatkan klimaksnya.
"Hmmmppphhhh" Desah Nisa tertahan ketika dirinya juga mendapatkan orgasme dari persetubuhan terlarangnya.
Tubuh mereka berdua mengejang seiring orgasme yang ia dapatkan di pagi menjelang siang ini. Sperma Fandi telah penuh mengisi rahim Nisa yang bergetar ketika ditembakan oleh cairan kental itu. Cairan cinta yang Nisa keluarkan pun bercampur oleh sperma itu di dalam. Sesekali mereka merem melek menikmati sisa dari orgasme yang mereka dapatkan.
"Mmmhhhhh... Mmhhhh... Sllrrppppp ahhhhhh" Desah Fandi setelah menghisap bibir Nisa dengan penuh Nafsu.
Setelah Fandi melepaskan cumbuannya. Nisa terkapar di lantai tak berdaya. Wajahnya berkeringat setelah dirinya berolahraga dengan hebat. Nisa masih merenung dengan dada yang naik turun terengah - engah. Ia benar - benar kelelahan dan ia merasa keterlaluan karena kembali disetubuhi oleh pria kurus ini lagi.
"Ahhhhhhh" Desah Nisa tiba - tiba saat Fandi menarik keluar penisnya hingga berbunyi "plop".
Lelehan sperma yang bercampur dengan cairan cintanya itu mengalir keluar dengan deras dari lubang senggamanya. Nisa pun tersadar akan dosa besarnya yang kembali ia lakukan. Seketika air matanya jatuh meleleh membasahi pipinya. Lagi - lagi ia mengkhianati suaminya yang sudah mencintainya dan mengayominya sepenuh hati.
"Hahhhh nikmatnya... Gimana ? Kamu sudah merasakan betapa tulusnya perasaan cintaku kan senior ?" Tanya Fandi tanpa merasa bersalah.
Nisa tak menjawab, ia hanya bangkit untuk duduk di hadapan Fandi dalam keadaan telanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Nisa pun membenarkan branya. Ia memungut celana dalamnya lantas mengenakannya. Kemudian langkah terakhir, ia mengenakan gamisnya kembali tanpa mengucapkan sepatah katapun pada lelaki kurus yang masih bersantai memamerkan penisnya yang sudah lembek.
"Seniorrr ? Jawab dong... Kamu sudah tau betapa besarnya cinnttt . . . . "
Plakkkkkkk !!!
Tamparan keras Nisa layangkan di pipi kiri Fandi. Fandi terkejut apalagi saat melihat wajah penuh kemurkaan yang terpampang di wajah wanita pujaannya.
"Seniorrr kamu kenapa ?" Tanya Fandi lagi - lagi tak merasa berdosa.
"Kenapa ? Kamu masih tanya mas ? Apa ? Cinta ? Hah ? Cuma satu yang ingin ku katakan padamu mas !" Kata Nisa dengan tegas.
"Apa itu ?"
"Aku membencimu !! Jangan harap bisa bertemu lagi denganku setelah ini" Kata Nisa pergi begitu saja keluar ruangan menuju kamar mandi yang ada di gedung penerimaan tamu ini.
Fandi masih cengok melongo tak tahu apa - apa. Ia tampak kebingungan. Ia pun menggeleng - gelengkan kepala sambil mengenakan pakaiannya kembali.
"Ada apa dengan Nisa ? Padahal dulu ia mau bercinta denganku... Tapi kenapa sekarang malah marah - marah ?" Kata Fandi dengan polosnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi umum yang berada di gedung penerimaan tamu. Tampak Nisa sudah melepaskan seluruh pakaiannya termasuk hijab yang melilitnya dari tadi. Dari matanya mengalir air mata penyesalan akibat persetubuhan terlarang yang kembali ia jalani bersama Fandi. Walau kali ini ia sudah berusaha tuk bertahan tapi tetap saja ia tak mampu melakukan.
Tangan kanannya memegangi keran shower yang ia arahkan ke lubang kemaluannya. Tampak cairan kental berwarna putih itu mengalir keluar dari dalam. Nisa benar - benar menyesal. Bahkan ia takut apabila dirinya mengandung jabang bayi dari sperma yang bukan berasal dari suaminya.
Nisa terus menangis di dalam kamar mandi sambil membersihkan lubang kemaluannya.
“Maafin Umi bi... Sekali lagi umi gagal dalam menjaga diri”
*-*-*-*
Sore harinya Haura sedang berjalan pulang setelah menyelesaikan tugas hariannya di kantor bagiannya. Dalam perjalanan pulangnya itu, dirinya bertanya - tanya mengenai sikap V yang lebih condong ke Hanna daripada dirinya. Yang membuat dirinya lebih bertanya - tanya lagi ialah kenapa dirinya bisa cemburu pada seorang lelaki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Saudara bukan, suami juga bukan. Lantas apa hak Haura bisa memiliki rasa cemburu itu ?
“Tapi apa yah yang membuat Hanna lebih menarik daripada aku ? Apa aku kurang cantik ? Apa aku kurang baik ? Atau jangan - jangan V sudah bosan padaku ? Ehh tunggu dulu... Kenapa masih mikirin itu sih !” kata Haura misuh - misuh sendiri.
Tanpa sepengetahuan Haura ada seseorang yang sedang mengamatinya diam - diam dari kejauhan. Ia melangkah sedikit demi sedikit sambil membuntuti Haura dari belakang.
Sreekkkk.... Srekkk... Srekkkk !
Tiba - tiba Haura menoleh ke belakang ketika mendengar suara dari dedaunan yang jatuh tergesek langkah kaki seseorang. Ia pun melihat ke kiri dan ke kanan seperti mencari seseorang. Karena tidak menemukan apa yang ia cari. Ia pun melanjutkan perjalanannya pulang menuju rumah.
Apa ada seseorang yang membuntutiku yah ?
Akhirnya sampailah Haura di depan teras rumahnya. Saat tiba disana ia tak menemukan adanya sepeda motor milik suaminya. Haura pun paham kalau suaminya masih belum pulang dari tugas hariannya yang menyibukan.
“Gapapa Haura... Udah biasa kok” katanya berbicara sendiri.
Ia mengambil kunci yang ia bawa di saku blazernya. Kemudian ia memasukan kunci itu ke lubangnya. Setelah terbuka ia segera membuka pintunya tuk memasuki rumahnya.
“Hahhhh masak apa yah malam ini ?” kata Haura ketika hendak menutup pintunya.
Namun saat ia hendak menutup rapat pintunya. Ia tak bisa. Ia pun menyadari kalau ada sebatang tangan yang sedang menahan pintu rumahnya. Tangan itu berwarna gelap. Tangan itu terlihat kekar dengan urat - urat yang menonjol mengitarinya. Saat Haura menaikan pandangannya, ia terkejut setelah melihat wajah itu.
“Kekekekek... Selamat sore ustadzah !”
Haura panik. Dengan segera ia berusaha tuk menutup rapat pintu rumahnya.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *