Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Haura sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah dirinya menyelesaikan tugas yang telah ditargetkan per hari di kantor bagiannya. Sore itu Haura masih mengenakan pakaian yang sama dari apa yang ia pakai di pagi hari. Kemeja longgar bermotif polos, rok span ketat yang membungkus kaki rampingnya juga adanya blazer berwarna biru yang memiliki warna selaras dengan rok itu.
Dalam perjalanan pulangnya, ia membatin menanyakan penyebab sikap V yang baru - baru ini lebih condong ke Hanna daripada dirinya. Mungkin itu wajar sebagai rekan kerja, tidak mungkin seseorang hanya akrab pada satu orang saja. Tetapi yang membuat Haura lebih penasaran adalah kenapa ada rasa cemburu yang muncul dari lubuk hatinya pada seorang lelaki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya. Ia tahu kalau V bukanlah saudaranya. Ia tahu kalau V bukanlah suaminya. Lantas apa hal yang menyebabkan dirinya bisa memiliki api cemburu itu ?
“Apa sih yang membuat Hanna lebih menarik daripada aku ? Apa aku kurang cantik ? Apa aku kurang baik ? Atau jangan - jangan V sudah bosan padaku ? Ehh tunggu dulu... Kenapa masih mikirin itu sih !” kata Haura sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
Diam - diam tanpa sepengetahuannya ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Orang itu tersenyum, berulang kali lidahnya keluar menjilati bibirnya yang kering. Matanya begitu tajam mengamati lekuk tubuh indah Haura dari belakang. Sedikit demi sedikit orang itu melangkah mendekat membuntuti langkah Haura.
"Kekekekek" Tawanya sambil mengamati lekuk tubuh Haura.
Sreekkkk.... Srekkk... Srekkkk !
Tiba - tiba Haura menoleh ke belakang ketika mendengar suara dari dedaunan yang jatuh tergesek langkah kaki seseorang. Ia pun melihat ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu. Matanya begitu tajam menatap sekitar. Sekilas terlihat tatapan kekhawatiran yang Haura tampilkan di sore hari itu. Haura menggelengkan kepala saat dirinya tidak menemukan sumber suara yang tadi mengejutkannya. Karena tidak menemukan apa yang ia cari. Ia pun melanjutkan perjalanannya pulang menuju rumah.
Tadi suara apa yahh ? Apa ada seseorang yang mengikutiku ?
Akhirnya sampailah Haura di depan teras rumahnya. Saat tiba disana ia tak menemukan adanya sepeda motor milik suaminya. Haura mendengus pelan menyadari suaminya belum pulang dari tugas harian yang menyibukan.
“Gapapa Haura... Udah biasa kok” katanya berbicara sendiri.
Ia mengambil kunci yang ia bawa di saku blazernya. Kemudian ia memasukan kunci itu ke lubang kunci yang ada di pintu rumahnya. Setelah terbuka ia segera membuka pintunya tuk memasuki rumahnya.
“Hahhhh nanti malam masak apa yah ?” kata Haura ketika hendak menutup pintunya.
Namun saat jemarinya sedang menarik pintu itu untuk menutupnya rapat. Ia menemukan ada tangan yang menyelinap masuk mengganjal pintu itu agar tidak tertutup rapat. Haura mengamati dengan seksama. Tangan itu berwarna gelap. Tangan itu terlihat kekar dengan urat - urat syaraf yang menonjol mengelilinginya. Haura penasaran tuk mengetahui siapa pemilik tangan yang sudah berkeriput itu. Saat bidadari cantik itu menaikan pandangannya, ia menatap adanya wajah yang tengah tersenyum menatap dirinya. Wajah yang sangat tidak asing. Wajah yang membuat jantung Haura berdebar kencang. Keringat dingin pun mulai bercucuran terutama di sekitar telapak tangannya. Mata Haura terbuka lebar berikut mulutnya yang tadi tertutup rapat.
"Kekekekek... Selamat sore ustadzah !" Kata pak tua itu sambil tersenyum dengan nada tawanya yang khas.
"Aaaaaahhhhhhhhhhh" Haura berteriak karena terkejut.
Haura takut. Haura panik. Haura shock membuat bidadari berhijab itu reflek menutup pintu rumahnya dengan paksa.
"Tttooo... Toollloonnggg" Teriak Haura ketika dirinya merasa terancam oleh kehadiran kuli bangunan itu lagi.
"Sssttt... Jangan keras - keras ustadzah... Nanti ada yang denger" Kata pak Karjo sambil mengganjal pintu itu menahannya agar tidak tertutup rapat.
Namun Haura tidak mengindahkan permintaannya itu. Alih - alih menuruti, Haura malah berteriak lebih keras lagi yang membuat kuli bangunan itu panik khawatir rencananya bakal gagal akibat aksinya kepergok oleh orang lain.
"TTTTOOOLLLOOONGGGG !!!" teriak Haura lebih keras lagi.
Sontak Pak Karjo kesal dengan sikap Haura yang mulai berani menantang perintahnya. Akibatnya Pak Karjo mulai menggunakan kekuatannya. Tubuhnya yang kekar berwarna gelap mulai mendobrak masuk pintu rumah Haura hingga dara cantik itu berkali - kali terdorong ke belakang setelah tak mampu menahannya.
"Ahhhhhh... Tolongggg jangannn masuukkk pakkkkkk !" Kata Haura sekuat tenaga menahan agar Pak Karjo tidak memasuki rumahnya.
"Diiammmm kurangggg ajarrr !!!! Sudah saya bilang jangan berteriak !!!" Tegas Pak Karjo ketika dirinya mulai panik setelah Haura semakin bebal tidak mau menuruti perintahnya. Karjo terus mendorong pintu itu, memaksa dirinya untuk masuk sambil memenggertakkan giginya sekuat tenaga.
Kurang ajar lonte satu ini... Awas aja kalau kubisa memasuki pintu ini... Ku jamin suara teriakanmu akan lebih keras dari ini... Ku jamin dirimu akan meronta - ronta ketika merasakan tusukan - tusukan maut dari torpedo kebanggaanku !!!
Batin Pak Karjo penuh nafsu.
Sialnya pintu itu mulai terdorong masuk ke dalam. Haura semakin panik. Matanya berkaca - kaca. Hatinya menangis tiap kali dirinya berusaha tuk bertahan menahan kekuatan besar Karjo yang ingin masuk mendobrak pintu rumahnya.
"Tolloongggg siapapun ituuu... Tolongggg akuuuu" Kata Haura tak henti berteriak mengharapkan bantuan seseorang.
Haura penasaran dimana orang - orang saat dirinya membutuhkan bantuan ? Apa tidak ada satu orang pun yang berada di kompleks asrama ini ? Haura nyaris patah semangat. Semangatnya semakin mengendur saat sebagian dari tubuh Karjo berhasil masuk ke dalam rumahnya.
Mata Haura terbuka lebar. Ia begitu ketakutan menatap wajah Karjo yang begitu bernafsu ingin menikmati tubuhnya. Tau dirinya sudah tidak memiliki harapan lagi. Bergegas bidadari cantik itu berlari menuju titik terdalam dari rumahnya.
"Ahhhhhhh" Sial bagi Haura saat tangannya yang tertinggal justru berhasil ditangkap oleh Karjo.
"Kekekekekek"
"Lepaskkannn.... Ahhhhhh" Teriak Haura panik ketakutan.
Wajah Haura sudah sembap. Matanya memerah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Ia begitu ketakutan. Ia begitu khawatir kalau dirinya akan diperkosa lagi oleh kuli bangunan berakhlak bejat itu.
"Ahhhhhh lepaasskkannnnn !!! Awwww sakitttt!" Haura makin panik ketika tangan kekar Karjo sudah mendekap tubuh Haura dari belakang. Seperti dugaannya. Payudaranya yang ranum lagi kencang mulai digerayangi oleh si pria tua bajingan itu. Berulang kali Haura berteriak merasakan perih saat payudaranya diremas dengan begitu nafsu boleh kuli berbadan kekar itu.
Haura pasrah. Ia merasa tidak mempunyai harapan lagi. Ia begitu ketakutan andai Pak Karjo akan melakukan kekerasan padanya.
"Lihat apa akibat dari tindakan sembrono yang ustadzah lakukan ? Andai tadi ustadzah bisa baik - baik melayani saya... Sudah pasti saya tidak akan sebringas ini... Tau kan kalau saya sudah marah gimana ? Saya jamin ustadzah gak akan bisa berjalan lagi esok hari" Ancam Karjo yang membuat Haura semakin menangis ketakutan.
"Tolonnggg... Ampunn pakkkk... Lepaskannn akuuu... Jangan sakiti aku pakkk" Pinta Haura dengan putus asa.
"Kekekekek kenapa gak dari tadi ustadzah ? Saya sudah keburu emosi... Saya udah gak tahan tuk mengisi lubang memek ustadzah dengan pejuh kental saya ini" Kata Pak Karjo mendekatkan wajahnya berusaha tuk mencium pipi Haura.
"Mmmmuuuuuuuaaaaahhhh" Bibir Karjo dimajukannya berusaha menyentuh kulit pipi mulus sang bidadari.
"Enggakkk... Enggakkk mauuu... Lepaskkannn" Kata Haura berulang kali bergerak - gerak berusaha membebaskan diri dari cengkraman Karjo. Tubuhnya meronta, kakinya ia hentak - hentakan.
"Ahhhhhhh kammppreeettt" Kata Karjo memaki dengan keras saat kandung kemihnya terasa ngilu terkena tendangan tidak terduga dari Haura.
Haura jadi memiliki kesempatan tuk kabur. Haura berlari menjauh sebisa mungkin. Namun rasa takutnya yang terlalu besar membuat kaki - kakinya otomatis melemah. Karena saking takutnya, Haura tak sanggup lagi tuk berlari. Ia malah jatuh tersungkur ke lantai yang membuat Karjo menyeringai senang. Haura membalikan badan menatap wajah Karjo yang tersenyum sambil memegangi penisnya yang ngilu. Karjo kesal, ia pun merasa kalau dirinya sudaj tidak memiliki waktu lagi untuk bermain - main.
"Kekekekek... Sudah yah ustadzah... Walau masih ngilu... Punya saya ini masih bisa bikin ustadzah berteriak lohhh" Kata Karjo berjalan pelan mendekati Haura.
"Ampunnn pakkk... Tolonggg jangan kesiniiiii... " Kata Haura menggeleng - gelengkan kepalanya merasa takut oleh intimidasi Karjo. Haura pun melihat sekitar. Benda apapun yang berada di jangkauannya ia lemparkan ke kuli bangunan itu. Sepatu, sandal bahkan toples jajanan yang disediakan untuk tamu turut menjadi korban kepanikan Haura.
"Jangannn mendekatttt !!! Pergiii... Pergi dari sini !!!!" Teriak Haura.
"Kekekekek"
Berulang kali Haura menyeret mundur bokong montoknya yang masih tertutupi rok panjangnya. Ia benar - benar ketakutan membuat bidadari itu tidak memikirkan cara lain selain pergi sejauh - jauhnya dari pria tua kekar itu.
"Happpp... Yahhhh"
Karjo sudah mendekap kakinya. karjo pun menarik kaki Haura hingga bidadari cantik itu terseret mendekat ke arahnya.
"Enggakkk... Ampunnnn pakkkk" Kata Haura panik.
Karjo sudah bernafsu, ia sudah menaikan rok yang Haura kenakan bahkan sudah mengeluarkan pusaka berharganya. Ia melebarkan kaki jenjang Haura hingga celana dalamnya yang berwarna putih itu terlihat.
"Ampunn pakkk.... Jangannn !!!!" Kata Haura sambil berusaha menutupi kembali celana dalamnya menggunakan roknya.
"Kekekekek ampunn ? Sudah saatnya saya untuk. . . . ."
Breemmmm breemmmm... Siittttt !!!
Seketika Haura dan Karjo menengok ke arah belakang menuju pintu masuk rumahnya. Tiba - tiba terdengar suara motor yang berhenti hingga denyit rem itu berbunyi. Tak berselang lama kemudian, terdengarlah suara langkah kaki yang mendekat. Reflek Karjo menjauhkan diri dari Haura saat mendapati adanya bayangan seseorang yang muncul di dekat pintu rumah Haura. Haura juga demikian, ia buru - buru membenahi pakaiannya yang tadi berantakan. Begitupula kuli bangunan itu yang memasukan pusakanya kembali.
"Dekkk... Adek kenapa teriak - teriak ???" Terdengar suara laki - laki dari arah pintu masuk. Sekejap lelaki itu sudah sampai di depan pintu rumahnya. Ia pun terkejut mendapati istri cantiknya tengah duduk dengan kedua tangannya yang bersandar menompa tubuh lemahnya. Terlihat dari wajahnya yang sembap juga bola matanya yang memerah. Haura terlihat ketakutan dengan raut wajah shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Namun saat pandangannya menoleh ke samping. Ia menemukan adanya seseorang yang sangat ia percayai berada di rumahnya bersama istri cantiknya. Bergegas lelaki itu datang mendekat untuk menanyai apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa ini ? Apa yang terjadi dengan istri saya ?" Tanya Hendra mendekat.
"Mass... Tolongg mas... Tadi Pak Karjooo . . . ." Kata Haura terpotong saat dirinya ingin mengadu. Haura takut saat matanya bertemu dengan mata Karjo yang sedang melotot tajam. Ia pun tak berani tuk melanjutkan aduannya.
"Ada apa sayang ? Apa yang Pak Karjo lakukan ?" Tanya Hendra begitu penasaran.
"Hehehe jadi begini biar saya jelaskan Pak" Kata Karjo berbicara dengan Hendra dengan nada berbisik - bisik.
Haura mengernyitkan dahi. Ia pun berdoa dalam hati agar suaminya bisa tahu kebenaran yang sebenarnya terjadi.
"Ohhh ternyata begitu... Jadi Pak Karja yang sudah menyelamatkan istri saya yah hahaha" Kata Hendra tak tahu apa - apa yang membuat Haura terdiam tak bisa berbicara.
Bbbuuu... Bukan begitu mas !!!!
Memang tadi kenapa dek kok teriak - teriak gitu sih ?" Tanya Hendra tersenyum tuk meredakan rasa takut istrinya.
"Tttaaa... Tadiii... Addd... Adekk" Kata Haura terbata - bata karena saking takutnya. Matanya tak sengaja bertemu dengan mata Karjo. Terlihat Karjo melotot tajam yang membuat bidadari itu merinding ketakutan.
"Heheheh ttaaa... Taadiii... Adekk ngeeliiatt ular mass... Iyyaaa ular hehehe... Untung Pak Karjo datang mengusirnya... Hehehe iyya gitu" Kata Haura memaksa senyum.
"Ular ? Dimana ?" Kata Hendra panik saat mengetahui di rumahnya ada ular.
"Tenang Pak ustadz... Sudah saya buang ularnya ke luar, ke tempat yang jauh dari orang - orang... Ini saya baru datang lagi tuk menenangkan ustadzah Haura yang keliatan masih shock" Kata Pak Karjo beralasan.
"Hmmm begitu... Untung lah ada pak Karjo datang menyelamatkan" Kata Hendra yang membuat Haura terdiam menggelengkan kepala mencoba tuk memberikan kode bahwa bukan itu yang sebenarnya terjadi.
Menyadari rencananya telah gagal untuk dapat kembali menikmati selir indahnya, membuat Karjo memilih untuk mundur sambil mengatur waktu sembari merancang strategi baru. Ia mengakui kalau dirinya telah salah langkah dengan melupakan jadwal keseharian Hendra. Ia pun mendengus kesal secara diam - diam dibelakang mereka.
"Yaudah karena pak Hendra sudah berada disini... Saya pamit pulang yah... Permisi pak" Kata Karjo pamit pergi.
"Iyya pak.. Terima kasih sudah menolong istri saya... Saya gak tau bakal jadi apa kalau gak ada pak Karjo tadi" Kata Hendra tersenyum. Sementara Haura hanya terdiam menyikapi kesalahpahaman ini.
Karjo hanya tersenyum pura - pura mendengar ucapan terima kasih itu. Lekas ia keluar dari rumah Haura tanpa membawa hasil dari apa yang sudah ia rencanakan.
"Siallll.... Niat hati mau nyoblos kaya pemilu yang ada malah sakit nahan ngilu" Kata Karjo sambil berjalan dengan kaki yang agak sedikit di lebarkan.
Sementara itu Haura sangat senang dengan kehadiran suaminya yang tiba - tiba datang tuk menyelamatkannya. Walau sang suami menyelamatkannya melalui cara ketidaksengajaan. Tapi hal itu sudah cukup untuk menghindarkan dirinya dari bahaya yang berasal dari pak Karjo.
"Massssss" Kata Haura bergegas tuk memeluk tubuh tambun suaminya. Hendra pun reflek dengan membalas pelukan istri cantiknya itu. Tangannya dengan lembut mengusap - ngusap punggung istrinya. Sesekali ia mengecup pipi istrinya untuk menenangkan tangisan yang kembali keluar dari mata istrinya.
"Udahhh gapapa... Semua udah berlalu dek" Kata Hendra terus menenangkan.
Sejenak Haura mampu melupakan teror yang ia dapatkan dari Karjo tadi, dengan kenyamanan yang diberikan oleh suaminya. Hendra pun tersenyum lalu membelai kepala Haura dengan lembut. Haura pun terkejut saat menyadari suaminya begitu perhatian dengan memberikannya kenyamanan. Haura terkejut karena dirinya sudah cukup lama tidak merasakannya.
Hendra pun heran melihat istrinya begitu ingin bermanja - manja dengannya. Sambil mengecup keningnya. Hendra pun bertanya mengenai kejadian yang terjadi barusan.
"Tadi emang ada ular yah sayang ? Kok bisa ? Muncul darimana ?" Tanya Hendra.
Mendengar suaminya mengungkit masalah ular tadi membuat pikirannya kembali teringat akan sosok Karjo. Haura pun dengan kesal menepuk dada suaminya sambil menunjukan wajah cemberutnya yang imut.
"Udah deh mas... Adek gak mau keinget soal itu lagi" Kata Haura yang segera dipahami oleh suaminya.
"Hahaha yaudah maaf... Mas yang salah... Jangan nangis lagi dong" Kata Hendra merasa senang ketika dapat melihat senyum lagi di wajah istrinya. Tangannya pun ia gerakan tuk menyeka air mata yang masih ada di wajah istrinya.
"Iyaaa... Makasih mas... Jangan ungkit soal itu lagi pokoknya" Kata Haura mulai kembali tersenyum.
"Siapp... Gak lagi - lagi deh hehehe... Oh yah... Ngomong - ngomong mas boleh ganti baju dulu gak ? Mas keringetan nih daritadi dipeluk adek" Kata Hendra yang membuat Haura tersipu.
"Ahahahaha maaf mas... Boleh kok" Jawab Haura tersenyum. Haura pun mendampingi suaminya sambil mengantarnya ke kamar guna menemaninya tuk berganti pakaian.
*-*-*-*
Selepas shalat Isya sebelum berangkat muwajjah. Haura bersama suaminya sedang menyantap makan malam yang sudah di masak bersama. Sayur balado terong lengkap dengan lalapan tempe goreng terhidang diatas meja makan. Untuk hari ini Haura merasakan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kalau biasanya, ia terbiasa menyiapkan makan malam sendiri. Tapi hari ini ada sang suami yang membantunya dalam menyiapkan santapan makan malam mereka.
Dikala dirinya menumis terong balado, ada sang suami di belakang yang membumbui irisan tempe yang sudah di potong tipis - tipis itu. Dikala dirinya sedang mengulek sambal ada sang suami yang setia menemani membalik - balikan tempe yang sedang di goreng diatas wajan penuh minyak. Haura tidak merasa kesepian lagi. Karena ada sang pujaan hati yang mengisi relung hatinya lagi. Sesaat Haura merasa kalau dirinya seperti mengalami apa yang ia rasakan di awal - awal menikah dulu. Semua suasana ini terasa seperti nostalgia baginya.
Malam itu, Haura dengan penuh kasih menyendokan nasi ke piring yang diperuntukan untuk suami. Ia tersenyum membayangkan reaksi suami ketika diberi piring penuh nasi ini.
"Ini mas... Mas mau pake tempe goreng, sayur balado terong apa semuanya ?" Tanya Haura.
"Semuanya dong... Badan segini kalau gak makan banyak bisa kurus nanti" Kata sang suami yang membuat Haura tertawa.
"Ini khusus buat mas tercinta" Kata Haura sambil malu - malu memberikan.
"Hahaha makasih adek sayang" Jawab Hendra yang membuat istri cantiknya tersenyum setelah hatinya di penuhi oleh cinta suami.
Mereka pun berbincang malam itu. Makan malam yang biasa dilalui begitu saja tanpa adanya perbincangan yang hangat. Kali ini mereka bisa begitu asyik berbicara menceritakan apa yang terjadi khususnya di hari ini. Haura sebagai seorang wanita pun menceritakan apa yang ia alami dari bangun tidur sampai detik sekarang. Ia menceritakan semuanya kecuali kejadian buruk yang ia alami di sore tadi.
Hebatnya, Hendra menanggapi semua cerita Haura dengan baik. Haura pun makin senang seolah ada keajaiban yang mengubah pola hidupnya. Hendra juga bercerita kalau proyek yang sering ia lakukan ke luar pondok sudah hampir selesai dan itulah yang membuat dirinya bisa seperti dulu lagi. Haura lega tapi ia juga menyesal. Ia pun menyadari kalau suaminya berubah akhir - akhir ini hanya karena masalah kesibukan. Haura menyesal karena di saat suaminya sibuk dirinya justru mencari perhatian lain dari sesosok ustadz baru yang ia panggil sebagai V.
Aku gak boleh begini... Aku harus menjauhi orang itu... Mungkin ini hikmahnya kenapa V lebih dekat ke Hanna daripada aku.
Batin Haura menyadari.
Setelah selesai menyantap makan malam. Mereka berdua buru - buru bersiap untuk menemani santri - santri mereka muwajjah. Haura dengan sibuk membawa piring - piring kotor itu ke atas wastafel. Sedangkan suaminya berganti pakaian terlebih dahulu baru setelah itu membantu istrinya dalam mencuci piring - piring kotor itu. Sementara suaminya mencuci piring. Haura pun berdandan memakai pakaian yang rapih untuk menemani santriwatinya muwajjah.
Hendra sudah rapih dengan kemeja yang ia masukan ke dalam celana kain tanpa mengenakan dasi. Sementara Haura, ia mengenakan gamis santai berwarna biru juga hijab lebar yang membuat Hendra terpesona.
"Apa liat - liat !" Kata Haura sambil tersenyum malu.
"Cantiknya istri mas... Kok bisa sih adek secantik ini" Puji suaminya yang membuat Haura senyum - senyum sendiri.
"Bisa aja... Makanya jangan kelamaan di luar biar sering - sering ngeliat bidadari secantik adek" Kata Haura yang mengakui kalau dirinya secantik bidadari.
"Hahaha iyya maaf sayang... Yukk sini pegangan biar bidadari kaya adek gak ngilang" Kata sang suami yang membuat Haura tersenyum lekas mendekap tangan sang pangeran hati.
Mereka pun bersama berangkat muwajjah. Kemesraan mereka begitu terpancar di malam ini. Mereka seringkali tertawa bahkan mereka selalu tertawa sepanjang jalan di asrama pasangan ini. Haura kali ini benar - benar yakin tuk kembali ke jalan yang benar tuk meninggalkan sosok itu. Sosok yang akhir - akhir ini telah merenggut hatinya. Ia ingin hijrah. Ia ingin kembali ke pelukan suaminya.
"Sampai sini yah... Mas mau ke zona putra... Adek gak perlu di temenin sampai sana kan ?" Kata Hendra.
"Gak usah lah mas... Malu... Disini aja" Kata Haura malu - malu.
"Imutttnyaaa... Coba sini sebentar mas mau ngasih sesuatu" Kata Hendra sambil mendekatkan wajahnya. Haura pun memejamkan mata. Ia pun merasakan pipinya disentuh oleh bibir suaminya yang hangat. Kembali hatinya dipenuhi oleh cinta dari sang suami.
"Wassalamu'alaikum dek... Jaga diri yah" Kata Hendra
"Iyya mas... Walaikumsalam... Mas juga" Jawab Haura. Suaminya pun pergi menuju kelas yang ada di zona santri putra. Sementara Haura berjalan menuju kelas yang ada di zona santriwati putri. Tak berselang lama ustadzah Nada dan ustadzah Nisa yang notabene tetangganya di asrama pasangan pun datang menghampiri. Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju kelas mereka masing - masing.
Maaf V... Untuk kali ini, aku sangat yakin tuk mengucapkan selamat tinggal padamu.
*-*-*-*
Esok paginya.
"Masss.... Adek pergi dulu yah" Kata Haura meminta izin pada suaminya.
"Loh mau kemana ? Ini kan masih pagi dek.... Matahari aja belum muncul" Kata suaminya heran.
"Ahahaha iya tau kok kalau mataharinya belum muncul... Adek juga bisa liat sendiri di luar" Kata Haura mengajak becanda.
Hendra pun mendekat. Dirabanya wajah manis sang istri menggunakan telapak tangannya. Hendra tersenyum merasakan kehalusan yang ia rasakan di punggung tangannya. Haura tersipu saat melihat sang suami tersenyum. Ia pun ikut tersenyum sambil menundukan pandangannya karena malu.
"Dekkk... Diluar dingin masa mau pake kaus lengan panjang aja sih.. Bentar yah mas ambilin jaket dulu" Kata Hendra lekas pergi ke kamarnya.
"Ehhh mass... Gak usah" Kata Haura berniat menghentikan niatan suaminya. Tapi sayang, suaminya sudah pergi. Haura pun tersenyum saat merasakan perhatian yang kembali ia dapatkan dari suaminya. Haura makin menyesal ketika ia kembali teringat akan tindakannya yang akhir - akhir ini malah mengemis perhatian kepada orang lain. Haura pun mengernyitkan dahinya menyadari betapa besar dosa yang telah ia buat dibelakang suaminya. Tiba - tiba munculah satu nama yang teringat di benaknya.
"V"
Haura pun semakin yakin mengenai sikap V yang baru - baru ini lebih dekat ke Hanna daripada dirinya. Mungkin inilah hikmahnya agar dirinya bisa kembali ke pelukan suaminya.
"Ini dek pake jaketnya yah" Kata Suaminya yang mengejutkan Haura.
"Ini ? Apa gak ketebelan mas ? Nanti yang ada adek malah kepanasan" Kata Haura memprotes.
"Sstttt gak boleh gitu... Kalau nanti adek kepanasan anggap aja itu berasal dari cinta mas untuk adek" Kata Hendra yang membuat Haura tertawa.
"Ahahaha belajar dari mana mas ?" Tanya Haura heran.
"Google" Jawab Hendra.
Haura kembali tertawa.
Haura pun pergi ke luar menuju suatu tempat untuk mencari sesuatu yang sangat ia cari dari kemarin. Setaunya ia pernah menemukan benda itu di suatu sudut tempat. Haura merapatkan tangannya dan menyadari betapa dinginnya udara di pagi ini. Haura pun menyadari bahwa keputusan suaminya untuk memintanya mengenakan jaket yang tebal merupakan keputusan yang tepat.
Haura mendongakan wajahnya menatap langit - langit. Langit masih gelap kala itu. Ia pun menaikan lengannya untuk melihat jam yang ia kenakan di lengan kanannya.
"Baru jam lima lebih sepuluh menit rupanya"
Karena hawa semakin dingin. Ia pun memutuskan untuk berlari - lari kecil menuju suatu tempat yang ingin ia tuju. Hijab simpel berwarna ungu menutupi kepalanya. Kaus tipis berlengan panjang ia kenakan ditubuhnya. Jaket pemberian suaminya melapisi kaus tersebut untuk melindungi tubuhnya dari hawa dingin yang menyerang. Sementara celana training panjang berukuran longgar melengkapi outfit yang Haura kenakan di pagi hari.
Kebetulan pagi itu, Haura mengenakan sepatu olahraga. Ia pun teringat akan sebuah peribahasa yang pernah ia pelajari sewaktu SD. Sambil berenang minum air. Mumpung lagi pake sepatu olahraga ya kenapa gak berolahraga sekalian ?
"Siapa tau mas Hendra makin sayang kalau tubuh aku makin bagus" Kata Haura tersenyum malu sambil membayangkan reaksi suaminya.
Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai santriwati yang ia temui. Dengan ramah Haura menjawab salam dari setiap santriwati yang menyapanya. Tak jarang Haura juga mengobrol santai dengan mereka walau hanya sebentar untuk mempererat hubungannya dengan santriwatinya.
Akhirnya tibalah ia di sebuah taman yang ditumbuhi oleh bunga - bunga. Inilah tempat yang sudah Haura incar dari kemarin. Semenjak perubahan sikap suaminya yang kembali seperti dahulu. Haura jadi ingin memberikan hadiah kepada suaminya berupa kejutan dari sekuntum bunga yang akan ia berikan. Ya Haura merasa senang dirinya bisa mendapatkan ilmu baru dari V. Walau dirinya pernah melakukan dosa dengannya tapi ada satu hal yang bisa Haura pelajari darinya. Dan inilah yang telah Haura dapatkan darinya.
"Ternyata ada hikmah dari setiap perbuatan yang kita lakukan" Kata Haura mendapatkan poin penting dari pengalaman hidupnya.
Di taman itu, Haura mulai menyusuri tiap sudut untuk menemukan bunga yang ingin ia petik untuk diberikan pada suaminya. Agar semakin yakin supaya dirinya tidak salah petik. Haura sampai membuka hapenya untuk mencari detil dari bunga yang sedang ia cari. Mulai dari warnanya, bentuk mahkotanya sampai pola yang terukir di mahkota bunga itu.
"Aku yakin banget pernah melihatnya disini... Tapi disebelah mana yahh ??" Tanya Haura penasaran.
Haura menundukan kepalanya. Tiap kali dirinya menemukan bunga yang menurutnya mirip. Ia langsung berhenti kemudian berjongkok untuk memeriksa bunga itu. Berulang kali matanya melihat ke layar hape kemudian ke bunga itu lalu ke hape lagi lalu ke bunga itu.
"Ahhh bukan yang ini" Kata Haura.
Ia pun beranjak pergi untuk mencari bunga lain. Seketika pandangannya teralihkan oleh sekuntum bunga yang memiliki mahkota berwarna putih di arah sebelah kirinya.
"Itu kah ?" Kata Haura merasa senang.
Ia bergerak cepat menuju bunga itu. Kakinya berlari kecil hingga dua bola yang sedang ia bawa di dada melonjak - lonjak tanpa sengaja. Ia pun berjongkok. Diamatinya lah bunga itu. Lalu kemudian sebuah senyum kebahagiaan terlukis di bibir manis Haura.
"Ini dia" Kata Haura tersenyum penuh kemenangan.
Saat ia berdiri kemudian berbalik badan untuk kembali ke rumahnya. Ia dikejutkan oleh sosok lelaki yang tiba - tiba sudah berdiri di belakangnya. Saking terkejutnya, tubuh ramping Haura sampai terjatuh ke belakang hingga bokongnya yang montok terhempas ke tanah. Haura sampai menyebut kala itu. Ia pun mulai menaikan pandangannya untuk mencari tahu siapa orang yang tiba - tiba datang mengejutkannya.
"Astaghfirullah... V !!!!" Kata Haura kesal.
"Assalamu'alaikum ustadzah... Habis ngapain ?" Tanya V tersenyum. Tangannya ia julurkan untuk membantu bidadari cantik itu berdiri. Namun Haura menolaknya karena ia tahu kalau V bukankah muhrimnya.
"Walaikumsalam... Bukan urusan antum kan ustadz ?" Jawab Haura dengan dingin sambil berusaha menjaga diri. Haura pun berdiri tanpa bantuan dari V. V yang ada di depannya pun terkejut dengan perubahan sikap Haura secara tiba - tiba. Sebentar kemudian, mata V teralihkan oleh sekuntum bunga yang sedang Haura bawa.
"Bunga Anemone yah ? Ketulusan ? Cinta yang tidak akan luntur ? Untukku yah Haura ?" Kata V.
"Gak usah kepedean... Gak usah sok akrab... Jelas ini buat suami ana ustadz" Kata Haura yang kembali mengejutkan V.
"Afwan ustadz... Ana sibuk... Ana permisi dulu" Kata Haura yang merasa tak nyaman berada di tempat ini. Ia pun berniat untuk buru - buru pergi dari sini.
"Haura.... Mau kemana ? Sini dulu lah temeni aku" Kata V tiba - tiba menahan tangan Haura.
"Ustadz... Lepaskan ! Jangan coba - coba sentuh ana ustadz !!!" Kata Haura merasa kesal.
"Kamu kenapa sih Haura... Kok marah - marah gitu... Sini aku tenangin yah biar perasaanmu membaik" Kata V yang tak bisa membaca keadaan. V berfikir mungkin Haura sedang marah padanya karena suatu hal. Biasanya kalau dipeluk gini juga baikan. Tanpa kata - kata lagi. V lekas memeluknya dari belakang. Bahkan kepalanya ia sandarkan pada punggung Haura.
"Ustadz... Antum ini apa - apaan sih ? Lepasin ana ustadz... Lepasin !!!" Kata Haura berontak karena merasa risih.
"Ana ? Apa aku nih ? Ehh kayaknya dari tadi aku dengernya pake ana terus yah" Kata V yang malah memejam karena merasa nyaman memeluk tubuh ramping Haura.
"Ustadz !!!! Tolong... Ana lagi gak bercanda... Awas !!!"
Haura pun berontak tak mau dipeluk oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Setelah pelukan V melemah. Haura segera menjauhkan diri dari V kemudian reflek tangannya berayun tuk menampar pipi ustadz berwajah tampan dihadapannya.
Plaaaakkkkkkk !!!!
Mata V langsung melek saat pipinya ditampar begitu keras oleh Haura. Seketika Haura ikut terkejut ketika tangannya reflek terayun sendiri untuk menampar pipi V guna memberinya pelajaran. Haura membuka mulutnya tak percaya. Tangan kirinya yang menganggur menutupi mulutnya yang terbuka. Hanya satu kata yang terucap setelah Haura menampar pipi V.
"Maaf... Tapi tolong ustadz... Ana udah menikah... Ingat itu !!!!" Kata Haura.
"Tapi... Haura !!!" Kata V berniat memegangi tangan Haura lagi.
"Ustadz !!! Ana cuma minta tolong agar antum menjaga sikap didepan ana !!!" Kata Haura menepis tangan V kemudian pergi berlari tuk kembali ke rumahnya.
"Haura kenapa yak ? Gak biasanya begini ? Apa dia lagi datang bulan yah ?" Tanya V sambil memegangi pipinya yang perih.
"Yah biarlah... Nanti juga baikan kok... Nantilah di kantor minta maafnya" Lanjut V dengan santai dalam menyikapi sikap Haura tadi.
Sementara itu dalam perjalanan pulangnya ke rumah. Haura agak sedikit menyesal karena telah menampar V tadi. Walau dirinya sadar kalau sikap V tadi memang berlebihan padanya. Tapi mungkin V tidak tahu kalau dirinya ingin kembali seperti dulu lagi yakni sebagai seorang wanita yang benar - benar menjaga dirinya. Ia tak mau lagi terjebak oleh kebaikan V dalam bersikap padanya. Ia harus bisa jaga diri. Ia sudah punya suami. Ia tak mau lagi mengkhianati sang suami yang sudah bekerja keras demi menafkahi dirinya.
Tokkkk tokkk tokkkk !!
"Assalamu'alaikum !" Sapa Haura sambil mengetuk pintu rumahnya sendiri.
"Walaikumsalam... Ehhh adek" Jawab suaminya sambil tersenyum riang yang membuat hati Haura membaik seketika.
"Ini... Adek punya hadiah buat mas... Coba apa tebak ?" Kata Haura dengan malu - malu sambil menggoyangkan tubuh ramping nya ke kiri dan ke kanan. Sementara kedua tangannya ia sembunyikan di belakang menyembunyikan sesuatu yang ingin ia berikan.
"Apa yahhh ? Makanan yahhh" Jawab suaminya.
"Ihhhh makanan terus... Pantes perutnya gede.... Pikirannya makan terus sih !!!" Kata Haura.
"Bukan... Bukan itu... Coba ayo tebak lagi" Pinta Haura.
"Ehmmmm apa yah ? Kasih sayang adek ?" Tebak suaminya yang membuat Haura tertawa.
"Ahahhaha hampir benar... Tapi ini nih... Taraaaaa !!!!" Kata Haura menunjukkan sekuntum bunga itu untuk suaminya.
"Wahhhh cantiknya... Bunga apa ini ?" Kata Hendra.
"Ini bunga Anemon mas.... Tau gak artinya apa ?" Tanya Haura.
"Wahhh... Ada artinya ? Apa emangnya ?" Tanya Hendra.
"Cintaku pada mas gak akan pernah luntur" Jawab Haura malu - malu sambil menundukan pandangannya. Bahkan kaki kanannya maju sambil menyeret kaki itu ke kiri dan ke kanan yang membuat Hendra makin gemas pada istri cantiknya.
"Begitu pula cinta mas ke adek" Jawab Hendra sambil mengecup kening Haura membuat bidadari itu meleleh merasakan kasih sayang suaminya.
Haura tersenyum bahagia dan ia pun berkata dalam hati
Seperti inilah seharusnya perbuatan yang dilakukan oleh sepasang suami istri... Maaf kalau aku pernah mengkhianati cintamu mas dengan mencari perhatian ke lelaki lain.
Batin Haura menyesal.
"Oh yah dek !" Kata suaminya yang mau tak mau membuat Haura menoleh menatap wajah suaminya. Dikala mata mereka bertemu otomatis mereka tertawa bersama akibat kecanggungan yang terjadi diantara mereka. Sambil malu - malu Haura pun membuka mulutnya tuk menjawab perkataan suaminya.
"Iya mas... Ada apa ?" Tanya Haura.
"Sebetulnya mas juga punya kejutan loh untuk adek" Kata Hendra yang membuat Haura terkejut bukan main.
"Oh yah ? Hadiah apa ?" Tanya Haura yang sangat menyukai kejutan.
"Tapi sebelumnya ayo masuk dulu" Kata Hendra mengajak istrinya masuk kemudian menutup pintu itu rapat. Mereka berdua berjalan menuju kursi ruang tamu. Mereka berdua pun duduk bersama di sofa itu. Tampak senyum lebar mengembang di wajah mereka berdua. Haura sendiri merasa dirinya seperti penganten anyar. Rasanya agak canggung ketika melihat sikap suaminya yang kembali seperti dulu lagi. Berulang kali mata Haura menunduk tak berani menatap wajah suaminya. Bahkan dikala dirinya berbicara, ia hanya menatap pakaian suaminya karena terlalu malu dengannya. Berbulan - bulan sudah Haura tidak merasakan kemesraan ini, berbulan - bulan sudah Haura tidak merasakan keromantisan ini. Haura pun berharap dirinya bisa merasakan momen ini lebih lama lagi. Kalau perlu, selamanya !
Setelah mendudukan tubuh mereka bersama. Hendra kembali membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya.
"Tutup matanya yah" Kata suaminya sambil tersenyum.
"Iyya udahh" Kata Haura sambil menutupi matanya menggunakan telapak tangannya.
"Boong ah... Matanya masih ngintip tuh" Kata Suaminya memergoki Haura.
"Ahahhaha buruan ih makanya... Penasaran tau mas" Kata Haura yang sangat ingin bermanja - manja dengan suaminya.
Hendra pun tersenyum saat Haura sudah melakukan tugasnya dengan benar. Diam - diam ia pun membuka kejutan yang sudah ia siapkan untuk istri tercintanya.
"Nah sekarang adek boleh buka mata !!!" Kata Hendra.
Lekas Haura membuka matanya menanti kejutan apa yang akan ia dapatkan. Namun saat matanya terbuka, ia tak menemukan apapun dari apa yang suaminya berikan. Haura menatap wajah suaminya. Wajah Hendra yang memiliki brewok tebal itu tersenyum. Ia pun menurunkan pandangannya, ia hanya melihat tubuh suaminya yang tambun berpakaian kaus polo berpola garis - garis lurus. Namun saat ia menurunkan lagi pandangannya ke bawah ia menemukan suaminya dengan berani menurunkan celana panjang berbahan kolor yang sedari tadi dikenakannya. Suaminya dengan bangga memegangi penisnya yang menegak. Ia bahkan mengocok nya perlahan demi menggoda istri cantiknya.
"Hahhhhh" Haura terkejut hingga mulutnya terbuka lebar sebelum ditutupi oleh kedua tangannya.
"Hehehe liat punya mas bisa berdiri kan ? Walau sebenarnya masih belum terlalu keras sih... Tapi mas akan terus berusaha demi membahagiakan adek... Maaf kalau akhir - akhir ini mas terkesan cuek... Mas cukup sibuk di luar.... Mas juga mendalami pengobatan kok agar adek bisa bahagia bersama mas" Kata Hendra.
Haura terharu dengan usaha suaminya tuk memperbaiki kondisi fisiknya. Mata Haura pun berkaca - kaca. Tanpa mempedulikan penis suaminya yang sedang mengacung tegak itu. Haura langsung memeluk suaminya dengan erat sambil menumpahkan air matanya. Ada dua alasan kenapa Haura sampai meneteskan air mata setelah dirinya mendapatkan kejutan dari suaminya. Pertama, ia terharu karena melihat perjuangan suaminya untuk mengatasi kekurangan fisik yang dimilikinya. Kedua, ia sangat menyesal karena disaat suaminya berjuang ia malah bermain serong dengan lelaki lain bahkan sampai menaruh hati berlebih padanya. Mulai saat ini Haura pun berjanji untuk lebih menghormati suaminya. Mencintainya sepenuh hati dan mengorbankan segalanya demi kebahagiaan suaminya.
"Dekkk... Dekkk... Kenapa sih kok malah nangis gini ? Kecewa yah sama kejutan yang mas beri ?" Tanya suaminya.
"Bukan mas... Huhuhuhu... Justru adek terharu mas sampai berbuat sejauh ini demi adek" Kata Haura masih memeluk tubuh gemuk suaminya dengan erat.
"Hahaha adek nih... Cup cup cup... Jangan nangis dong... Sudah yah sudah" Kata suaminya sambil menepuk punggung Haura dengan lembut.
Haura pun melepaskan pelukannya sambil mengangguk menatap wajah suaminya. Berulang kali Haura berusaha tuk menahan air mata itu. Namun ia tak mampu yang malah membuat Hendra tertawa karena menganggapnya lucu.
Setelah baikan. Haura tersenyum sambil menatap suaminya. Mereka saling tatap sejenak tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lantas kemudian wajah suaminya mendekat yang membuat pipi Haura memerah. Sedetik kemudian Haura dapat merasakan hembusan di telinganya kendati dirinya masih mengenakan hijab saat itu.
"Mas mau minta sesuatu boleh" Bisik Hendra yang membuat Haura merinding.
"Apa itu mas ?" Tanya Haura malu - malu.
"Mas kangen adek... Mas mau dilayani adek lagi" Bisik Hendra yang membuat wajah Haura memerah.
Haura hanya mengangguk lantas melepas jaket yang sedari tadi dikenakannya hingga kaus panjang berbahan tipis itu pun terlihat dihadapan suaminya. Saat jaket itu terlepas. Reflek mata Hendra tertuju pada sesuatu yang menonjol di dada Haura. Hendra pun tersenyum menatapnya.
"Besar yah dek" Puji Hendra.
"Hihihihi... Ini juga punya mas... Mas boleh melakukan apapun sesuka mas" Goda Haura.
Hendra reflek menenggak ludah mendengar ucapan istrinya. Belum lagi saat Haura dengan lembut memegangi penisnya yang kedinginan akibat sedari tadi dianggurkan.
"Ahhhhhhhh" Desah Hendra.
Haura terkejut saat merasakan ada sedikit rasa di penis yang sedang ia genggam. Memang belum sekeras baja. Tapi Haura sudah merasakan adanya perbedaan dari sebelumnya. Sambil tersenyum menatap suaminya, Haura dengan lihai membetot penis itu kemudian menaik turunkannya dengan lembut.
"Ahhhhh dekkkkk... Ahhhhhh" Desah Hendra merasakan kelihaian tangan istrinya.
"Hihihi gimana mas ? Mas suka ?" Bisik Haura.
"Ahhhh iyyahhh dek... Masss suka banget" Kata suaminya mendesah.
"Hihihihi" Haura tertawa melihat suaminya mendesah akibat perbuatan tangannya.
Tangan satunya yang menganggur ia gerakan tuk memegang tangan suaminya. Haura pun menuntun tangan suaminya itu menuju bulatan besar yang masih tersembunyi di balik kausnya. Saat tangan suaminya tiba di salah satu dari dua gunung kembar itu. Haura langsung mendengus pelan hingga udara itu keluar dari lubang hidungnya. Haura merinding merasakan remasan demi remasan yang suaminya berikan untuknya.
"Dekkk... Ini kok kayaknya makin gede yahhh... Adek apakan kok bisa indah gini... Ouhhhh" Puji suaminya di tengah kocokan Haura.
"Hihihi... Itu gara - gara mas sering nganggurin... Coba mas sering pake !" Kata Haura.
"Kalau mas pake... Ahhhhhh... Malah kecil dong ?" Kata suaminya dengan polos yang membuat Haura tertawa.
"Yang ada ya makin gede" Kata Haura yang membuat pikiran Hendra traveling mengelilingi dunia. Hendra tak dapat membayangkan bagaimana rupa dari payudara yang lebih besar dari milik istrinya.
Penasaran, Hendra pun menaikan kaus yang Haura kenakan hingga kedua buah dada itu terbuka di hadapannya. Kurang puas, Hendra lekas menurunkan cup bra itu hingga puting - putingnya yang kemerahan terpampang di hadapannya.
"Wahhhhh" Hendra takjub akan keindahan rupa payudara Haura. Haura pun diam sejenak membiarkan suaminya menikmati keindahannya. Tatapan suaminya yang binar membuat pipi Haura memerah. Haura pun merasa malu apabila harus ditatapi seperti itu.
"Adek cantik kan mas ?" Tanya Haura.
"Ya jelas dong dek... Suami mas masa gak cantik ? Para bidadari aja iri ngeliat kecantikan adek" Puji suaminya yang sudah terlanjur nafsu.
Haura tersenyum, kemudian wajahnya mendekat untuk menatap wajah suaminya lebih dekat. Terlihat Hendra merasa malu ketika ditatap sedekat ini oleh wanita cantik yang ia sebut sebagai istri.
"Adek boleh lanjut lagi kan mas ? Mas masih penasaran kan lanjutan dari aksi adek" Kata Haura menggoda suaminta. Jemarinya dengan lembut menoel - noel ujung gundul suaminya. Tampak cairan precum sudah mengalir keluar membasahi kepala penisnya. Jelas Hendra tidak tahan dengan gerakan maut tangan istrinya dikala menggoda. Bahkan Hendra pun yakin kalau semua lelaki di dunia pasti tidak akan mampu bertahan dari rangsangan hebat istrinya dikala bercinta.
"Ahhhh dekkk... Jangan digituin dehhhh... Ahhh ahhh masss gakkk kuattt" Desah Hendra yang membuat Haura tertawa. Tampak Haura yang sedang setengah menungging itu tersenyum. Payudaranya yang sudah terekspos pun menggantung indah disana. Lekas Haura mengeluarkan jurus pertamanya dengan menggenggam penis suaminya itu. Haura kembali tersenyum melihat reaksi suaminya yang merem melek tak karuan. Lantas setelah itu, Haura memberanikan diri tuk mengecup bibir tebal suaminya dengan lembut.
"Mmmhhhhhhhh" Haura memejam, bibirnya dengan berani memagut bibir bawah suaminya dengan lembut. Terasa dagu Haura geli saat tergesek oleh brewok tebal suaminya. Hendra mendengus pelan merasakan jepitan bibir Haura yang semakin bernafsu memagutnya. Haura melepas cumbuannya terasa deru nafas mereka berhembus menerpa wajah masing - masing. Aroma yang tercium membuat gairah seksualitas mereka bangkit ingin melakukan hal yang lebih daripada ini. Hendra yang tak tahan pun kembali mendekat. Haura pun ikut mendekat. Bibir mereka berdua kembali bertemu saling mengecup saling mendorong dengan penuh kelembutan. Lidah Haura perlahan keluar ingin menjilati bibir suaminya. Lidah Haura pun bergerak mengoles bibir kering suaminya menggunakan liurnya. Giliran lidah suaminya yang ingin memuja keindahan istrinya. Namun lidah mereka malah bertemu. Mereka pun saling menjilat, lidah mereka bertubrukan, lidah mereka saling menggesek menikmati rasa dari percumbuan ini.
Perlahan nafsu Haura pun bangkit terbukti dari nafas berat yang Haura hembuskan dari lubang hidungnya. Dadanya naik turun. Ia begitu hanyut oleh cumbuan yang suaminya lakukan dengannya.
Tangan Haura pun reflek menaik turunkan penis suaminya. Dikala kocokannya naik. Jempolnya menekan - nekan ujung gundul dimana lubang kencingnya berada. Reflek suaminya mendesah pelan ditengah cumbuan yang mereka lakukan. Suaminya pun membalas rangsangan istrinya dengan meremasi payudara berbentuk bulat itu. Hendra terkejut saat ingin meremas bulat - bulat payudara isinya. Caplokan tangan kanannya tak sanggup untuk meremas keseluruhan payudara itu. Hendra hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala mensyukuri keindahan yang dimiliki oleh istrinya.
Mereka pun berhenti bercumbu. Terlihat tatapan mata mereka yang sayu seolah tak mau kenikmatan ini segera berakhir. Haura khususnya ingin menikmati hal ini lebih lama lagi. Hendra pun mengabulkan keinginan istrinya itu dengan mencaplok ujung dari payudara indah itu.
"Ahhhhhhh" Reflek Haura mendesah sambil menggenggam erat penis yang sedang di betotnya. Hendra mengerang merasakan kenikmatan double yang sedang dirasakannya. Pertama kenikmatan dalam menyusu di payudara besar istrinya kedua yakni kenikmatan dalam merasakan kocokan dahsyat istrinya.
Hendra sangat beruntung pagi itu. Setiap kocokan yang istrinya berikan membuatnya lebih bersemangat lagi dalam menyusu di payudara itu. Dikala kocokan istrinya semakin hebat ia pun semakin bernafsu dalam mencaplok benda kenyal itu.
Haura merasakan vaginanya tengah basah. Ia begitu kenikmatan merasakan putingnya dijilati saat berada di mulut suaminya. Berulang kali pahanya membuka lalu mengatup lalu membuka lagi lalu mengatup lagi tiap kali merasakan jilatan itu.
Kenikmatan yang ia dapatkan membuat jemarinya lebih bersemangat. Ia pun mengocok penis suaminya dengan cepat. Wajahnya mendongak ke atas sambil matanya terpejam menikmati semua. Suaminya hanya bisa mengerang tiap kali penisnya dibetot dengan kuat oleh istrinya.
Diitengah kenikmatan yang sedang Haura dapatkan saat itu. Tiba - tiba bidadari cantik bertubuh ramping itu terkejut saat meraskan adanya sesuatu yang menyirami tangannya. Tangannya terasa basah membuat bidadari itu pun penasaran terutama saat dirinya merasakan adanya gigitan yang suaminya berikan di putingnya.
"Hnnngggggghkkkkkkk !!!!"
Crrooottt crroottt crrooottt !
Haura kaget, ia tak menyangka kalau hal ini benar - benar terjadi. Saat Haura membuka matanya dan melihat ke arah penis yang sedang ia genggam. Ia menemukan banyaknya cairan putih yang bertebaran dimana - mana.
Ini bohong kan ?
Batin Haura kecewa.
"Ahhhh.... Ahhhh... Nikmatnya dek... Ahhh mass puas banget" Kata Hendra usai menyusu di payudara Haura.
Haura masih diam tak percaya. Ia pun menemukan tangannya itu sudah basah terciprat cairan sperma suaminya. Haura menatap kosong. Ia tak mengira kalau suaminya sudah keluar disaat dirinya sedang terangsang - terangsangnya.
"Muuahhhh... Mas mandi dulu yah... Maaf mas ada kerjaan lagi di luar" Kata Hendra mencium kening istrinya lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sekali lagi Haura diam sambil menatap jemarinya yang belepotan sperma.
Ini bohong kan ? Mas... Masss Hendra....!!!
Suara hati Haura menjerit saat dirinya ditinggal ketika lagi enak - enaknya. Haura hanya bisa menggeliat merasakan kelembaban yang ia rasakan di vaginanya.
Haura benar - benar bingung kali ini. Ia tak tahu lagi dengan cara apa ia bisa melampiaskan hawa nafsunya yang tertunda. Ia pun mengambil tisu yang ada di meja ruang tamunya kemudian membersihkan jemari kanannya yang tertumpahi sperma suaminya. Haura pun membatin. Dirinya berfikir merenungi kekecewaan yang sedang ia rasakan.
Kenapa aku masih kecewa ? Bukan kan mas Hendra sudah berjuang sebisanya ? Bukankah ini kemajuan yang luar biasa ? Tapi kenapa hanya karena kepuasan yang belum bisa kudapatkan membuat hatiku kecewa berat ? Sebenarnya apa sih yang aku mau dari suamiku ? Perhatiannya kah ? Atau kepuasan yang bisa kudapat darinya ?
Haura pun membenahi pakaiannya kembali. Seketika muncul sesosok wajah yang terbayang di benaknya.
"Enggak... Aku gak boleh memikirkan dia lagi !!!" Kata Haura sambil memegangi kepalanya menggunakan kedua tangannya.
*-*-*-*
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih sebelas pagi. Di depan layar monitornya, Haura masih termenung memikirkan kejadian yang terjadi di pagi tadi. Tatapannya kosong menatap gelas yang berada di sebelah kanan keyboardnya. Haura hanya penasaran kenapa kondisi suaminya bisa seperti ini ? Apakah karena faktor endurance suaminya yang lemah ? Atau karena faktor gerakan tangannya yang terlalu lihai ?
Entahlah . . . .
Haura ragu kalau faktor kedua lah yang menyebabkan suaminya bisa keluar secepat itu. Buktinya saat ia bercinta dengan V, V bisa bertahan cukup lama bahkan mampu memberinya kepuasan dalam memenuhi nafkah batinnya.
"Ahhhhh kenapa keinget dia lagi sihhh !" Buru - buru Haura menggelengkan kepala.
Demi melupakan masalahnya, ia memegangi gelas itu menggunakan tangan kirinya. Sementara jemari kanannya mengambil sendok kecil kemudian mengadukan isi dari gelas itu hingga dua buah es batu yang berada di dalamnya bertubrukan menciptakan lantunan melodi yang menenangkan.
Haura lekas meminum es susu itu yang telah dibeli sebelumnya dari kantin terdekat. Sesaat terasa kesegaran yang mengalir melalui kerongkongannya. Haura mengecap bibirnya kemudian meletakan kembali gelas itu di samping kanan keyboardnya.
"Hahhhh segarnya" Katanya.
Haura kembali termenung setelah menghabiskan minuman tersebut. Tatapannya masih kosong menatap layar monitor. Ia masih dilanda kekecewaan hingga membuat batinnya sulit melupakan.
Tiba - tiba di tengah lamunannya, ada seseorang yang meletakkan kantung kresek di atas meja kerjanya. Haura lantas terkejut kemudian wajahnya menoleh tuk mencari tahu siapa seseorang yang menaruh kantung kresek itu. Haura hanya tersenyum saat melihat wajah tampannya. Ustadz baru itu segera duduk di kursi kosong yang berada di sebelah Haura.
V !!!
"Assalamu'alaikum" Sapa V dengan ramah.
"Walaikumsalam" Jawab Haura.
"Ana dengar antum suka es krim yah ? Ini ada hadiah buat antum" Kata V berucap sopan.
"Naam ustadz... Syukron" Jawab Haura.
Tangan Haura lekas membuka kantung kresek itu untuk melihat sesuatu yang berada di dalamnya. Rupanya di dalam ada satu buah es krim rasa stroberi yang masih dalam keadaan dingin.
"Antum tau darimana kalau ana suka es krim rasa stroberi ustadz ?" Tanya Haura penasaran.
"Dari Hanna.... Ana juga inget waktu awal - awal dulu sewaktu Hanna membelikan jajanan untuk kita... Pasti Hanna selalu membelikan antum es krim rasa ini kan ?" Kata V yang membuat Haura terkejut.
Dari Hanna ? Apa mungkin alasan V mendekati Hanna karena ingin tau sesuatu yang belum diketahuinya dariku ?
Batin Haura.
Haura masih bersikap formal dengan memanggilku Ustadz ? Apa mungkin Haura masih marah padaku atas perbuatanku tadi pagi ?
Batin V berfikir.
Mereka sama - sama membatin tanpa bisa mengungkapkan apa yang terucap di dalam hati. Tak sengaja mata mereka bertemu. Mereka berdua lekas menundukan pandangan akibat kecanggungan yang mereka alami. Haura pun teringat perbuatannya pagi tadi. Amarahnya menciptakan kecanggungan yang ia alami saat ini. Mulutnya pun terbuka. Pandangannya ia naikan. Bibirnya pun bergetar ingin mengucapkan maaf atas perbuatannya pagi tadi.
"Anu... Maaf . . . . . " , "Soal tadi.... Maaf . . . ."
Mereka berdua mengucapkan sesuatu yang hampir sama. Mereka berdua pun tersenyum malu atas kesamaan kata yang tadi mereka ucapkan.
"Antum dulu" Kembali mereka berdua mengucapkan kata yang sama.
V pun mengalah. Tangannya mempersilahkan Haura untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan tadi
"Anuuu... Soal tadi pagi... Ana minta maaf yah ustadz udah nampar antum dengan keras" Kata Haura agak menyesal.
"Gak usah minta maaf Haura... Ana yang seharusnya minta maaf karena sudah bertindak berlebihan ke antum" Kata V yang membuat Haura tersenyum.
Haura lega saat V lekas menyadari kesalahannya. Haura juga lega ternyata V lebih memilih legowo daripada menyalahkan dirinya karena sudah menamparnya dengan keras.
"Oh yah ustadz... Ana boleh memakannya ?" Kata Haura menyadari es krim yang didapatkannya semakin lembek karena mulai mencair.
"Oh iya silahkan aja" Kata V.
Haura lekas membuka bungkus itu. Kemudian memasukan es krim berwarna merah muda itu ke dalam mulutnya. Haura pun menyadari suasana yang terjadi saat ini. Hanya ada mereka berdua. Haura pun ingin jujur pada V untuk mengungkapkan perasaannya saat ini.
"Oh yah ustadz... Ada yang mau ana katakan ke antum" Kata Haura setelah menghabiskan es krim itu.
"Oh yah ? Apa itu ?" Tanya V.
"Ana cuma mau mengingatkan antum untuk tidak mengulangi perbuatan seperti yang pagi tadi antum lakukan... Antum harus ingat kalau ana sudah menikah... Gak selayaknya seorang istri seperti ana melakukan perbuatan seperti itu ustadz" Kata Haura.
"Lagipula antum sudah lama tau kan kalau ana sudah menikah ? Kenapa antum masih terus berani melakukan perbuatan berlebihan seperti itu sih ? Tolong ngertiin ana ustadz... Ana gak mau terlibat masalah karena tindakan antum itu !!!" Tegur Haura membulatkan tekadnya untuk menjaga diri dalam berhubungan dengan lelaki lain.
"Kenapa ? Bukannya antum sudah tau kan Ra ? Ana udah pernah mengatakannya kan ? Itu karena ana mencintai antum Haura... Ana mencintaimu" Kata V menjelaskan.
“Kalau gitu ana juga udah bilang kan ustadz ? Ana sudah menikah dan gak mungkin bagi ana untuk membalas cinta antum itu !” kata Haura menegaskan.
“Benarkah ? Ana ragu dengan jawaban antum itu” kata V yang membuat Haura terdiam.
“ . . . . . “
Lagipula ustadz... Ana mau antum jujur tuk menjawab pertanyaan ana" Kata Haura setelah terdiam sejenak.
"Apa itu ?" Tanya V.
“Ana cuma mau nanya kalau alasan antum mencintai ana hanya karena wajah ana yang mirip dengan cinta pertama antum itu kan ? Iya kan ?
“ . . . . . . “ Kali ini V yang terdiam tak bisa menjawab.
“Jujur aja ustadz.... Dari gelagat antum saat pertama kali kita bertemu... Juga saat di taman bunga dikala malam itu... Antum selalu memandang ana sebagai Fitri kan ? Jadi selama ini yang antum cintai itu Fitri kan bukan ana !!! Sadar ustadz... Ini ana... Haura... Bukan masa lalu antum yang bernama Fitri itu !” kata Haura.
V sempat diam sejenak kemudian ia tersenyum setelah mengatur kata - kata yang sudah di siapkan di benaknya.
“Hehehe harus ana akui Ra... Memang pada mulanya seperti itu... Tapi seiring berjalannya waktu... Perasaan itu mulai berubah... Ana mencintai antum sekarang bukan karena sosok antum yang mirip dengannya... Tapi karena sifat antum, sikap antum bahkan cara antum dalam memberikan perhatian ke ana” Kata V.
“Lagipula sudah cukup lama juga kan kita saling mengenal ? Kita sudah sering berinteraksi, berkorelasi bahkan berpartisipasi dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan bersama... Sejujurnya rasa itu pun mulai tumbuh di hati ana Ra...” lanjut V.
“Kalau gitu ana minta maaf ustadz... Mungkin ana yang menyebabkan rasa antum itu tumbuh ke ana... Jujur ana juga lengah waktu itu... Hubungan ana dengan suami ana lagi renggang... Dan sekarang ana sadar... Kalau itu perbuatan salah... Ana ingin menghentikannya ustadz sebelum perasaan itu makin besar dan sulit untuk antum tinggalkan” kata Haura mencoba menyadarkan V.
“Hauraaa....” Panggil V sambil tersenyum.
“Tolong ustadz jangan tersenyum... Jangan memulainya lagi... Antum udah baik ke ana selama ini... Ana gak mau senyum antum itu berubah menjadi air mata karena keegoisan antum yang begitu mencintai ana !” kata Haura memalingkan wajah.
“Haurraaaa” V kembali memanggil Haura dengan menyentuh dagu manisnya dan mengarahkannya dengan lembut tuk kembali menatap wajahnya.
“Percayalah... Ini murni karena tindakan ana sendiri... Gak ada sangkut pautnya dengan sikap antum selama ini ke ana... Andai kata waktu itu antum selalu cuek... Perasaan yang ada di dalam hati ana akan selalu tumbuh bagai setangkai bunga yang diberi pupuk dan disirami oleh air hujan yang cukup” kata V memberanikan diri memegang tangannya.
Haura terdiam.
Haura pun memberanikan diri tuk menatap wajah V. Harus diakui kalau V memang memiliki wajah yang tampan. Wajahnya pun mengingatkan Haura pada salah satu member EXO. Salah satu boyband terkenal di korea.
Bukan hanya wajahnya yang membuat Haura membeku saat ini. Melainkan sikap V dalam melunakan hatinya. Juga perkataannya yang melelehkan hatinya. Rasa nyaman yang sudah dibangun sejak dulu mulai tumbuh kembali padanya. Sesaat tekad yang sudah dibentuk bulat - bulat oleh Haura mulai berubah menjadi abstrak kembali. Haura terpana dan sulit baginya untuk menghindar apabila sudah seperti ini.
Jemari tangan V membelai wajah cantiknya. V pun tersenyum sambil memperhatikan penampilan Haura dari atas ke bawah. Penampilannya tidak ada yang berbeda dari hari kemarin. Sama seperti ustadzah pada umumnya. Haura mengenakan seragam berupa kemeja polos berwarna putih berukuran longgar yang ia padukan dengan rok span kecoklatan yang warnanya selaras dengan hijab lebar juga blazer yang menutupi kemeja longgarnya. V merasakan betapa halusnya kulit cantik Haura. Sementara Haura mulai menatap V dengan tatapannya yang sayuk. V mengenakan kemeja bermotif polos dengan celana kain longgar yang menutupi kakinya. Sedangkan dasi berwarna gelap bergantung di kerah kemejanya dengan rapih.
“Tenang Haura... Mau bagaimanapun antum memaksanya... Perasaan ana akan tetap sama seperti dulu... Ana akan tetap mencintai antum meskipun antum sudah mempunyai seorang suami di sisi antum” Kata V mulai mendekatkan wajahnya.
Suami ???
Seketika ucapan V itu kembali menyadarkan Haura. Ia terkejut saat melihat wajah V sudah sangat dekat. Reflek nalurinya memaksa tubuhnya untuk memundurkan kepalanya untuk menjauh sejauh mungkin dari niat V yang ingin mencumbunya kembali.
“V... Tolongggg.... Jangan lakukan ini lagi !!!” pinta Haura sambil tangannya menahan tubuh V agar tidak mendekat.
Tapi wajah V sudah terlanjur dekat. Hembusan nafas Haura yang hangat saat menerpa wajahnya membuat nafsu V bangkit ingin mencumbui bidadari cantik itu lagi. V tak tahan mendengarkan ucapan Haura yang ingin menolaknya mendekat. Baginya suara itu lebih mirip desahan yang membuat birahinya bangkit ingin merasakan kelembutan bibir itu lagi.
“Mmmmhhhhhhhh !!!” desah Haura tertahan saat bibirnya bertemu dengan bibir V.
V memejam begitupula Haura ikut memejam. Bibirnya dengan lembut mendorong bibir Haura hingga kepalanya itu nyaris terdorong ke belakang. Beruntung tangan V sigap dengan mendekap bagian belakang kepala Haura itu. Haura masih berusaha menolak dengan mendorong tubuh V walau usahanya terkesan percuma.
"Jangannn ustaddzz... Mmmhhhh !" Desah Haura sambil menggelengkan wajahnya berusaha menolak.
Namun lidah V begitu terampil dalam menaklukan birahi Haura. Lidahnya dari dalam menggeliat menjilati tepi bibir Haura. Diolesnya bibir itu dengan liurnya hingga merata. Selain itu lidah V juga aktif dalam mendorong - dorong pintu gerbang Haura agar lidah itu bisa memasuki mulutnya.
Bibir Haura yang sedari tadi rapat mulai mengendur akibat terkena penetrasi V itu. Haura dapat merasakan lidah ustadz itu masuk dan bermain - main di dalam mulutnya. Perasaan Haura pun bercampur antara marah, kesal namun juga terangsang akibat kelihaian lidah V di dalam. Berulang kali tangannya menghentak - hentak dada V agar mau melepaskannya. Tapi tampaknya percuma terutama saat dirinya merasakan kalau tangan V sudah bergerak tuk melepaskan kancing blazernya.
"Ustadzzz !!!!!! Mmmmmhhhhhhhh" Haura mendesah saat merasakan payudaranya diremas sesaat setelah blazer itu terlepas dari tubuhnya. Remasannya stabil tidak terlalu pelan dan tidak terlalu sakit. Remasan yang V lakukan justru semakin mengundang birahinya tuk mendekat.
"Hauraaaa... Uhhmmmm... Aauuuhhmmm" V hanya mendengus saat bibirnya dengan sibuk melumat bibir Haura. Bibirnya ia majukan kemudian memagut bibir atas Haura dengan lembut. Tangannya pun aktif untuk meremasi payudara itu dari luar kemejanya. V sangat menikmati percumbuannya itu. Tak terasa nafas mereka semakin berat. Wajah mereka saling merasakan hembusan udara yang hangat. Tangan V pun menahan belakang kepala Haura yang masih terus berontak. Tak sengaja saat lidah Haura keluar, V segera menghisap lidah itu dengan bibirnya hingga menciptakan suara yang mengaduk gairah.
"Sssslllrrrpppp.... Sssslllrrrppppp.... Ahhhh... Auhhmmmm"
"Mmmhhhhhh.... Ustadzzzz.... Sudahhhh... Cukupppp ustaddzz !!! Mmmmhhhhpph" Desah Haura.
V semakin bernafsu dalam mencumbui bidadari berhijab itu. Selepas dirinya menghisap lidah Haura. Ia kembali membuka mulutnya tuk memagut bibirnya. Kali ini bibir bawahnya yang menjadi incaran mulut V. Dikala bibir V merapat menjepit bibir Haura. V menarik bibir bawah Haura itu mendekat kemudian melepaskannya kemudian. V pun membuka mata. Mata mereka saling menatap sesaat. Kemudian V memberikan senyumnya yang membuat Haura bingung membalasnya.
Sejujurnya Haura terpesona oleh senyum manisnya itu. Siapa wanita yang tidak takluk apabila diberikan senyuman seperti itu ? Apalagi dirinya baru saja dicumbu, Haura pun teringat akan percumbuannya pertama kali dengan V. Haura heran karena rasanya nyaris sama. Tidak ada perbedaan sama sekali. Rasanya masih memabukan yang membuatnya menjadi ketagihan.
Haura tersadar dari lamunannya saat tangan V sedang bergerak membuka kancing kemejanya. Reflek jemarinya bergerak untuk menghalau perbuatan V itu. Haura berulang kali memohon agar V mengurungkan niatnya. Ia terus berusaha meneguhkan tekadnya yang berulang kali melemah terkena rangsangan V.
"Ustadz... Tolonggggg ustadzzz... Jangan lakukan ini lagi... Ahhhhhhh" Seketika Haura mendesah hingga membuatnya seperti melayang ke angkasa saat payudaranya diremas. Kedua tangan Haura pun melemas. Kepalanya ia dongakkan ke atas dan matanya memejam dengan bebas.
"Uhhhhhhh.... Usttaadddzzzzz" Haura berteriak dengan keras.
Sepertinya gejolak birahi yang tertunda di pagi tadi turut membantu V untuk mempercepat penaklukan Haura. Haura semakin kesulitan untuk bertahan dari kenikmatan ini. Dalam sekejap empat kancing teratas kemejanya pun terlepas. Tampak bra berwarna putih itu terlihat. Tanpa menunggu waktu lagi, V mendekatkan kursinya hingga jarak yang memisahkan mereka berdua semakin dekat. Karena kesulitan, V pun bangkit dari posisi duduknya untuk mencumbui dada atas Haura yang sudah terbuka.
"Aaahhhhhhhhhh... Ustaddzzzz... Gellliiii... Ahhhh ahhhh" Desah Haura.
Kedua payudara Haura semakin kencang diremas oleh kedua tangan V. Anehnya bukannya rasa sakit yang Haura rasakan tetapi rasa nikmat yang semakin tak tertahankan. Lidah V pun berpetualang dalam menjilati dada bagian atas Haura.
Dalam petualangannya itu. Tangan V sibuk melepas satu demi satu kancing kemeja itu hingga seluruhnya terlepas. Tampak keindahan yang terlukis di sana membuat V berhenti sejenak untuk menikmatinya. Reflek Haura menutupi bagian tubuhnya yang terbuka menggunakan kemeja yang dikenakannya.
Wajah Haura pun memerah. Tatapannya terlihat bernafsu tapi ia berusaha tuk menutupi semua itu. Haura tak ingin merasa malu karena sejak tadi tubuhnya terus bertahan dari serangan V yang selalu ingin mencumbu.
"Hauurraaaa... Antummm keliatan cantik banget hari ini.... Entah perasaan ana aja atau memang kecantikan antum bertambah ? Kulit antum semakin halus dan suara antum semakin menggoda ketika ana cumbu" Kata V yang membuat wajah Haura memerah karena tersipu.
"Udahhh ustaddzz... Cukuppp... Ana gak mau denger pujian antum lagi... Tolong jangan paksa ana tuk melakukan dosa ini lagi ustadz" Kata Haura berusaha sekuat tenaga agar tidak terjatuh ke dalam perangkap kemaksiatan ini lagi.
"Paksa ? Tapi tubuh antum berkata sebaliknya kan Haura ? Tubuh antum justru berkata untuk melanjutkan ini lagi" Kata V yang membuat Haura diam tak bisa berkata.
"Ustaddzz V.... Ahhhhh janggannnnnn... Ahhhh" V kemudian melepas bra yang masih menempel di dada Haura. Membiarkan kemeja itu dengan sendirinya menutupi kulit mulus Haura.
Entah kenapa V merasa hawa di ruangan ini semakin panas. V pun melonggarkan dasinya. Melepas 3 teratas kancing kemejanya kemudian menarik keluar kemejanya dari dalam celananya. Haura hanya diam saat itu sambil menerka - nerka apa yang akan V lakukan setelah ini. Saat matanya melihat kalau V menurunkan resleting celananya. Buru - buru Haura memalingkan wajah demi menghindari pemandangan indah itu lagi.
"Ahhhh Haura.... Coba lihat ini... Antum pernah bilang kan kalau menyukai benda ini" Kata V dalam keadaan berdiri sambil mengocok penisnya yang sudah tegak maksimal.
"Hahhhh" Kata Haura terkejut sambil menutupi mulutnya.
Haura terkejut, Haura heran, entah kenapa ia merasa kalau penis itu semakin besar dari sebelumnya. Entah kenapa tubuhnya merinding melihat penampakan itu. Reflek wajahnya naik tuk menatap wajah tampan itu. Saat Haura menatap wajahnya. Haura merasa kalau penampilan V saat ini tampak sexy.
Kemejanya yang terbuka sebagian di bagian atas. Dasi yang masih menggantung di kerahnya. Juga bulir - bulir keringat yang membasahi sebagian tubuhnya. Haura menenggak ludah melihat keindahan yang V miliki di pagi menjelang siang ini.
"Uhhhmmmmpphhhhh" Haura lengah hingga V kembali mendekat tuk mencumbu bibirnya lagi.
Haura dapat merasakan V begitu erat dalam memeluknya. Punggungnya seperti dielus, bokongnya terasa diusap. Merasakan sentuhan dan rabaan nakal V di tubuhnya membuat nafsu birahinya semakin bangkit.
"Hnnkkkkhhhhhh... Mmmmhhhhh.... Auhhmmmmm"
"Usttaadzzz..... Jangannnn"
V melumat bibir itu hingga habis. V menyalurkan seluruh cinta dan hawa nafsunya ke bibir Haura. Berulang kali ia menggigit bibir Haura. Ia juga menjulurkan lidahnya membiarkan lidah mereka saling bergesekan di dalam. Sementara itu tangan V terus membelai tubuh indah Haura. Kedua tangannya pun semakin turun tuk mencari resleting yang berada di belakang rok spannya.
Mata Haura terbuka lebar saat merasakan roknya melorot jatuh ke lantai. Belum sempat kedua tangannya menahan rok itu. V sudah buru - buru melepas celana dalam yang Haura kenakan.
Apa ? Sejak kapan ?
Batin Haura tak menyadari gerakan cepat tangan V saat membugili dirinya.
V kemudian melepas cumbuannya tuk menatap penampakan indah dari sang bidadari berhijab yang kini hanya mengenakan hijab, alas kaki serta kemeja yang sudah tak di kancing sama sekali. V dapat melihat keindahan kulit Haura di sela - sela kemeja yang terbuka itu. V juga dapat melihat belahan payudaranya. Walau belum sepenuhnya terbuka. Haura justru semakin sexy dengan penampilan seperti ini.
"Maaf kalau dari tadi aku jarang memuji keindahan tubuhmu... Ngomong pake ana antum tuh susah karena gak terbiasa... Sekarang aku minta izin tuk berbicara pake aku kamu aja yah Ra... " Kata V sembari membelai pipi mulusnya.
Haura hanya diam sambil menepis sentuhan tangan V kemudian mengelap bibirnya yang basah.
"Ayo duduk aja Ra... Kamu sangat menyukainya kan ?" Kata V sambil mendorong kedua bahu Haura hingga bidadari itu berlutut dihadapannya.
"Tapp... Tappiii... V !!! Aku gak mau melakukannya lagi... Sudah kubilang kan daritadi" Kata Haura masih berusaha menjaga kehormatannya.
V pun senang Haura sudah tidak canggung untuk memanggil namanya lagi. Sambil mengusap belakang kepalanya, V tersenyum sambil memberikan sepatah kata untuknya.
"Gak usah ragu Ra... Genggam milikku dengan tanganmu... " Kata V menuntun tangan Haura tuk menggenggam penisnya.
"Enggakkk.... Aku gak mau menyentuhnyaa... Hentikann V.... Tolonggg"
"Ahhhhhhh" Desah V saat merasakan kelembutan kulit halusnya.
Haura agak menjauhkan wajahnya saat menatap benda lonjong berdiameter besar itu. Ukurannya mantap, ujung gundulnya yang kecoklatan juga dengan urat - urat yang menjorok keluar. Saat Haura menggenggamnya, ia dapat merasakan perbedaan yang cukup besar antara milik suaminya dengan milik V. Milik suaminya lebih mirip balon lonjong berisi air sedangkan milik V lebih mirip gagang besi yang begitu perkasa. Haura kembali menatap V yang hanya dijawab anggukan olehnya.
"Keras bukan ?" Tanya V. Haura hanya memalingkan wajah tak menjawab pertanyaan tadi.
"Ahhhhhh.... Ahhhh...." Desah V saat kedua tangan Haura mulai menggerakan penisnya walau masih harus dituntun oleh tangannya.
Haura terpana sambil menatap sesosok penis yang sedang ia kocok. Haura merasa tidak percaya ada penis sebesar ini. Ia dipaksa mengocoknya dengan pelan, pelan, dan pelan sambil pelan - pelan terpana menatap ukurannya.
"Ouuhhhhh iyaaa seperti itu Ra.... Pellannn... Pelllaannn" Desah V menikmati.
Haura hanya diam sambil sesekali menarik nafasnya yang berat. Matanya masih melirik walau kepalanya berusaha menjauh dari benda lonjong itu.
Suara desahan yang V ucapkan semakin meningkatkan gairah birahinya. Haura pun bingung. Batinnnya terus saja menolak untuk tidak melanjutkan perbuatan ini. Tetapi rasa penasaran yang timbul dari dalam diri memaksanya untuk terus mengocok benda perkasa itu lagi.
Makin lama, Mata Haura begitu fokus menatap lubang kencing yang berada di pusat ujung gundulnya. Mulut Haura sedikit terbuka. Angin nafasnya berhembus dari sana. Haura bertanya - tanya, kenapa belakangan wajahnya malah sulit dipalingkan dari benda ini ? Apa gerangan yang membuatnya berubah sedrastis ini ? Haura terus bertahan sebisanya untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
"Kamu ingin merasakannya lagi kan Ra ? Coba jujur aja" Kata V tersenyum sambil mendorong - dorongkan pinggulnya hingga ujung gundulnya menyundul pipi Haura.
"Enggak V... Aku gak mau... Itu menjijikan" Kata Haura menolak. Tapi matanya terus memandang ujung gundul itu. V pun tersenyum memperhatikannya.
"Gak usah malu... Aku tahu kalau kamu itu mau" Kata V berusaha mengarahkan penisnya ke tepi mulut Haura.
"Mmmmm.... Enggakkkk... Hentikan V... Stooppppp... Mmmhhhhh" Desah Haura sambil memalingkan wajah.
Namun gerakan menolak yang Haura lakukan malah semakin merangsang ujung gundul penisnya. V merasa kulitnya seperti digesek - gesek oleh halusnya kulit wajah Haura. V semakin bersemangat. Tak sengaja disela - sela usahanya. Penis itu mulai berhasil masuk menembus mulut bidadari cantik itu.
"Mmmmhhhh.... Mmpphhhhhhh" Desah Haura saat mulutnya tersumpal.
"Ahhhhhh... Seperti itu Ra... Iyyahhhhh hanggatttt" Desah V keenakan.
V berulang kali mendorong pinggulnya demi memasuki mulut manis Haura. Semakin V mendorongnya, ia semakin merasakan kelembaban dan kehangatan yang ia rasakan di dalam. V terus mendorongnya karena terlalu nikmat. Tak sadar Haura yang berada di bawah kesulitan karena kerongkongannya ditusuk oleh benda perkasa itu hingga membuatnya nyaris tersedak.
Pukkk... Pukkk... Pukkk !
Berulang kali Haura menepuk paha V memintanya tuk berhenti. V pun tersadar saat melihat keadaan Haura di bawah. Segera V menarik keluar penisnya dari mulut itu. Haura pun terbatuk - batuk dibuatnya.
"Uhhuuukkkk... Uhhhuukkk... Uhhuk" Kata Haura nyaris tersedak.
"Hahaha maaf... Habis terlalu nikmat sih" Kata V meminta maaf.
"Sudah cukup... Aku gak mau melakukan ini lagi !! Uhhuukkk !" Kata Haura sambil mengusap area sekitar mulutnya.
Dikala Haura beranjak untuk pergi menjauh dari V. Tiba - tiba tangan V menahannya. Haura terkaget dan menolehkan wajahnya.
"Mmmmpppphhhhh"
Kembali mereka bercumbu menikmati sentuhan bibir diantara mereka berdua. Haura terkejut dikala dirinya menerima cumbuannya lagi. Dari belakang V mencumbunya, kedua tangannya ikut sibuk dengan meraba dan meremasi payudaranya sementara pinggulnya ia dorong hingga penisnya yang sudah mengacung tegak itu tergesek oleh kulit mulus di paha Haura.
"Mmmmpphhhh.... Mpphhhh... Ahhhhh Hauraaaa" Desah V menikmatinya.
Sementara bagi Haura, bidadari cantik itu tak menyangka V masih terus merangsangnya dengan berbagai sentuhan yang semakin membuat birahinya bangkit.
Tiba - tiba V mengangkat salah satu kaki Haura dan meletakannya diatas kursi yang tadi Haura duduki. V pun melepaskan cumbuannya kemudian tangannya menggesek penisnya pelan. V meludahinya sejenak dan melumuri penisnya hingga agak sedikit licin.
"Ehhhhhh... V... Apa yang ?" Kata Haura saat merasakan bibir vaginanya tersentuh oleh sesuatu yang keras di bawah.
V tidak banyak bicara saat melihat reaksi wajah Haura yang terkejut. Sebaliknya ia hanya tersenyum sambil memegangi pinggul Haura dengan erat lalu dengan sedikit tenaga pinggulnya mulai mendorong hingga penis yang berada di tepi bibir vaginanya masuk menerobos liang senggamanya.
"Uhhhhhhh... Uhhhhhhh" Desah V mengusahakan penisnya masuk menerjang kerapatan liang senggamanya.
"Ahhhhhh.... V... Tungguuuu... Jangan didorongg... Sakittttt ahhhhh" Desah Haura sambil menepuk - nepuk tangan V di pinggulnya.
"Tenanggg Hauraaa.... Tahannn sebenntarrrr... Uhhhhhhh" Desah V sembari meraba - raba perut Haura kemudian menaikannya hingga ke dada.
"Aaaaahhhhh... Aahhhh... Tunggu... Sakitttt V... Ahhhhhh" Desah Haura sambil menekan - nekan paha V agar tidak terlalu mendorong tubuhnya.
Demi mengurangi rasa sakit yang Haura rasakan. V agak sedikit menurunkan kemeja yang masih nyangkut di tubuh Haura untuk mencumbui bahunya yang terbuka. Cara ini terbukti efektif ketika Haura mulai mendesah dan melupakan rasa sakit yang ia terima di vaginanya.
"Auuhhmmm... Uhmmmmm.... Ahhhhhhh" V lega saat penisnya yang besar itu berhasil mentok menyundul rahimnya.
"Uhhhhhhhh.... V tungguuuu.... Ahhhhhhhh !!!!"
Mata Haura memejam dan mulutnya terbuka lebar saat penis perkasa itu berhasil memasuki vaginanya kembali. Haura agak kelelahan saat menerima penetrasi V tadi. Nafasnya ngos - ngosan. Tangannya pun meraba - raba sekitar tuk mencari benda untuk bertumpu disana.
"Tunggguuu.... Tunggguuu V... Ahhhhh... Ahhhhhhh" Desah Haura saat pinggul V mulai bergoyang menggesek - gesek dinding vaginanya yang rapat menjepit penisnya.
"Ouhhhhh... Ouhhhh... Nikmattnyahhh ahhhhh" Desah V.
Lubangnya yang sempit membuat V meringis tiap kali penisnya mengorek - ngorek liang senggamanya. V terus medesah menahan kenikmatan yang dihasilkan melalui pijitan dinding vaginanya.
“Ahhhhhh V... Ouuhhhhhhh hentikan... Sudah kubilang ahhhhh... Aku enggak mau V !!!” desah Haura terus menolak demi menjaga harga dirinya sebagai seorang istri.
Ukurannya yang besar membuat Haura dapat merasakan betapa kuatnya penis itu dalam menggesek - gesek dinding vaginanya. Sentuhan di kulit pinggangnya yang mulus turut membuat birahi Haura meningkat. Juga rabaannya yang semakin naik dalam meremasi payudaranya membuat gairah Haura bergejolak.
"Ouhhhhhhh Hauraaaaa"
Menatap tubuh indah Haura yang hanya tertutupi hijab dari belakang membuat V semakin bersemangat dalam menggagahi bidadari tercantik di pondok pesantren ini. V merasa puas dalam merasakan jepitannya. V merasa puas dalam mendengarkan desahannya. V merasa puas secara keseluruhan saat menikmati kesempurnaan tubuh Haura.
“Ahhh V tolonggg... Jangan lakukan ini V... Aku mohon... Aku ingin menjaga diri V... AKU GAK MAU MENANGGUNG DOSA INI LAGII !!!” kata Haura terus merintih.
“Ahhhh tahan sebentar Haura... Ahhhh ahhhhhhh ouhhh yahhhh” kata V mengabaikan permintaan Haura karena dirasa terlalu nanggung.
Tubuh Haura melonjak - lonjak maju mundur tak karuan. Hentakan dahsyat yang V lakukan membuat Haura semakin mendesah pasrah. Payudaranya bergoyang seirama. Haura menangis menahan rasa bersalah yang sudah menguasai hatinya. Penisnya yang sungguh keras dan besar membuat Haura terus berteriak tanpa henti.
“Aahhhhh V.... V toloongg sudahi ahhhh” desah Haura.
Maju mundur maju mundur maju mundur. V tak pernah lelah dalam menikmati tubuh indah Haura. Tangannya tak hanya berhenti memegangi pinggang rampingnya. Kadang tangannya turut hadir mengusap perut Haura merasakan kemulusannya. Kadang jemarinya juga hinggap di payudara Haura untuk mencengkramnya kuat - kuat. Haura pun semakin berteriak merasakan kenikmatan yang mulai menjalar di tubuhnya.
“Aahhhh ahhhhh V.... Ouhhh yahhhh !!!” desah Haura.
Haura hanyalah wanita biasa. Yang tak kuasa menolak ketika diberi kenikmatan yang luar biasa. Ia mengakui kalau ia mulai merasakan kenikmatan itu lagi. Kenikmatan yang hanya bisa ia dapatkan dari V. Bahkan Karjo yang pernah memperkosanya masih kalah dalam memberikan kepuasan ini.
"Uhhhhhhhhhhhhh" Desah Haura saat merasakan rahimnya tertusuk oleh penis V yang ditancapkan sedalam mungkin.
Kemudian V menarik penisnya keluar hingga benda lonjong itu tampak berkilau akibat tercampur oleh cairan cinta Haura yang menggenang di dalam.
Haura yang lemas dibalikan tubuhnya oleh V. Nampak wajah yang kelelahan terhias disana. V mendekap erat tubuh Haura kemudian mencumbu bibirnya kembali.
"Uhhhmmmmpphhhhh... Mmuuahhhh" Desah V saat bibirnya mendorong bibir Haura kemudian melepaskannya.
"Mmmppphhhhhh" Desah Haura saat bibirnya di cumbu.
V pun mendekap punggung Haura. Ia memeluknya hingga batang penisnya yang mengacung di bawah terdorong terkena paha mulusnya.
Ia pun duduk di atas kursi yang tadi ia tempati. Kemudian ia membawa Haura agar bisa duduk di pangkuannya. Mereka saling bertatapan di saat mereka saling duduk berhadapan.
"Pelannn pelannn Haura... Ayo masukan" Kata V.
"V... Tolonggg kenapa kamu jadi seperti ini sih ? Kenapa kamu memaksaku tuk melakukan ini ?" Kata Haura heran melihat sikap V yang begitu memaksanya untuk menuruti hawa nafsunya.
"Aku sudah bilang kan Haura... Aku gak memaksamu... Sebaliknya coba tanya tubuhmu sendiri... Apa tubuhmu terpaksa ? Atau malah suka rela ?" Kata V yang hanya membuat Haura diam.
"Uhhhhhhhhhhhh.... V.... Ahhhhh gakkk muaatttttt" Desah Haura terkejut saat V tiba - tiba mendorong tubuhnya ke bawah.
Penis itu dengan gagah berhasil menembus kembali liang kenikmatan Haura. Merasa tak ingin membuang waktu lagi membuat V segera menggerakan pinggulnya hingga tubuh Haura itu melonjak - lonjak diatas pangkuannya.
“Ahhhhhh ahhhhhh ahhhhhhhhh V.... Apaahhh.... Yangghhhh..... Ahhhhhh !!!” kata Haura merasakan kenikmatan yang ia dapatkan walau masih malu tuk mengakuinya.
“Gimana Ra ? Kamu mulai merasakannya kan ?” kata V terus menggenjoti tubuh Haura.
“Ennggakkkk V... Ahhhh tolonggg sudahiiii semuaa iniii... Ahhh ahhhhh” kata Haura.
Haura terhentak naik turun dengan cepat. Tubuhnya yang indah di bagian depan sudah sedikit terbuka. Tangan V yang sedari tadi mendekap pinggulnya mulai melebarkan kemeja yang masih menyangkut di tubuh Haura hingga seluruh tubuh bagian depannya terlihat. V tersenyum melihat keindahan tubuh itu.
V menurunkan kemeja yang masih menyangkut di tubuh Haura hingga tiba di sikunya. V pun tersenyum melihat kemegahan buah dada Haura yang tegak menantang. Melihat dua gunung kembar itu bergoyang - goyang membuat birahi V tertantang. V membuka mulutnya kemudian mencaplok puting berwarna merah muda itu lalu menggigitnya dengan pelan.
"Aahhhhhhh V.... Ahhhhh ahhhhhh ouhhhhhh" Desah Haura sambil menutupi mulutnya yang terbuka lebar menggunakan punggung tangan kirinya.
Haura terus mendesah dan mendesah menerima rangsangan V yang semakin bernafsu. Tangan V pun merengsek naik meremasi payudara Haura. Haura yang tidak memiliki tumpuan dalam menduduki pusaka V terpaksa bertahan dengan merangkul leher ustadz tampan itu.
Haura semakin mendesah merasakan remasan juga tusukan yang terus melemahkan tekadnya. Wajah tampan V pun tersenyum menatap reaksi Haura yang terlihat keenakan.
Menyadari V tengah menatapnya, Haura memalingkan wajah karena malu saat harus mengakui itu. V hanya bisa tersenyum melihat sikap Haura yang malu - malu nikmat. Tanpa membuang waktu ia menambah kecepatan dalam menaik turunkan tubuh Haura yang membuat bidadari cantik itu semakin mendesah saat lubang vaginanya tertancap semakin dalam oleh penis besar perkasa itu.
“Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh V !!!!” teriak Haura.
"Iyyaaahhhh Haura... Ahhhh... Jangan ditahan... Keluarkan saja... Kamu mulai merasakan gelombang itu kan ?" Tanya V.
Haura benci harus mengakui kalau sebentar lagi dirinya akan mendapatkan gelombang kenikmatan itu lagi. Tanda - tanda itu mulai ia rasakan. Payudaranya yang diremas semakin kencang. Putingnya yang berada di puncak semakin tegak menantang. Suara desahannya pun semakin lantang.
“Ahhhh ahhhhh ahhhh” Haura makin terang - terangan mendesah bukan karena telah membuang tekadnya. Ia gengsi tuk mengakui tapi rasa dari penis besar V saat mengorek - ngorek liang senggamanya lah yang membuat Haura terpaksa meneriakan suaranya. Haura panik, Haura kalut ketika nafsunya yang membesar membuatnya kesulitan tuk mengontrol kesadarannya.
Naik turun, naik turun, naik turun. Tubuh Haura terlihat indah dipandangan V yang semakin larut dalam persetubuhan ini. Berulang kali lidah V keluar ingin menyusu di putingnya lagi. Ia ingin menghisapnya kuat - kuat tuk memuaskan birahi yang semakin tak tertahankan.
“Ahhhhh ahhhhhh ahhhh V toolloonggg jangan lakukan !!” desah Haura saat V menjilati susunya.
V tak kuat lagi, rasa nikmat yang dihasilkan sedari tadi mulai tak dapat ia kuasai. Penisnya semakin besar dan berdenyut - denyut di dalam. Haura yang merasakannya pun menatap wajah V tak percaya.
Tapi lagi - lagi V hanya tersenyum menatap reaksi Haura tadi. Sebaliknya ia malah mendekap tubuh Haura dengan erat hingga payudaranya yang besar terhimpit ke dada V yang masih mengenan pakaian lengkap.
"V.... Jangan bilang kamu akan . . . ." Kata Haura tertahan saat bibirnya kembali dicumbu oleh V.
"Apa Haura.... Uhhmmmmm... Aku tak tahu apa maksudmu" Desah V menjelang orgasmemya.
Haura tak dapat berbicara saat mulutnya tersumpal oleh cumbuan V. Haura meringis saat merasakan tusukan itu semakin dahsyat keluar masuk di vaginanya. Tubuhnya juga didekap erat hingga membuatnya tak bisa berontak.
"Mmppphhhhhh.... Mmpphhhh Haura..... Aku mulai merasakanyaaaa aaauuhhhhhmmm" Desah V mencengkram kuat pinggang Haura dan menusukan penisnya lebih dalam ke vagina Haura.
“Ahhhhh V Mmmmpphhhhhh.... Mpphhh jangannn” desah Haura panik.
Penis V semakin berdenyut, nafasnya ikut memberat, tubuhnya pun bergetar merasakan gelombang nikmat yang akan segera keluar.
“Ahhhhh ahhhhhhh.... Iyahhhhh... Uhhh... Haurraa... Ouhhh.. MMPPHHHHH !!!” V menancapkan penisnya sedalam - dalamnya hingga ujung gundul dari penis itu menyundul rahim Haura. V semakin membenamkan bibirnya. Melumat habis bibir itu disaat cairan cintanya keluar membanjiri liang senggama Haura.
Crrooottttt.... Croootttt... Crooottt !!!
V memejamkan mata meluapkan seluruh kenikmatan yang berhasil ia dapatkan. Bibirnya pun semakin rapat mengatup bibir sang bidadari. Tubuhnya mengejang hingga sesekali melonjak naik ke atas.
Sementara Haura juga ikut mendapatkan orgasmenya beberapa detik setelah rahimnya banjir tersirami cairan sperma V. Serentak rahimnya pun tak sanggup tuk menampung perpaduan cairan cinta mereka. Campuran cairan cinta mereka yang sudah melebur jadi satu itu keluar melalui sela - sela himpitan kelamin mereka. Mereka berdua puas merasakan orgasme yang berhasil mereka dapatkan secara berbarengan.
“Mmmmmuuahhhhh... Hahhhh... Hahhhhh” V tersenyum setelah mencumbui bibir sang bidadari itu. Ia masih merem melek merasakan sisa orgasmenya itu. Sementara itu, Haura sudah kembali mendapatkan kesadarannya. Tubuhnya yang lemas ambruk dalam pelukan V. Nafasnya yang terengah - engah. Matanya yang masih memejam. Entah kenapa rasa penyesalan itu kembali datang menguasai lubuk hatinya. Bahkan Haura merasa sangat menyesal hingga hatinya mengutuk perbuatannya barusan. Tanpa sadar air mata penyesalan jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis sambil mengingat kebaikan suaminya sejak kemarin sore hingga pagi tadi.
Setelah baikan, Haura memberanikan diri untuk menatap wajah tampan ustadz baru itu. Haura mengernyitkan dahinya. Ia sungguh marah karena diri V memaksanya untuk bersetubuh dengannya. Namun reaksi V malah tersenyum dengan begitu polosnya setelah diberi kenikmatan yang luar biasa darinya.
“Kenapa kamu masih melanjutkannya V ? Aku sudah bilang kan untuk berhenti melakukan ini !!!” kata Haura kecewa ditengah lenguhan nafasnya yang berat.
“Maaf... Haurraa... Aku gak sanggup menahannya... Kamu terlalu . . . . “
Pllaaaakkkkkkk !!!
Haura dengan puas menampar pipi itu. Haura muak dengan kata - kata yang selalu V lontarkan untuk meluluhkan hatinya. Haura bosan. Haura ingin kembali ke jalan yang benar dengan berada di pelukan suaminya. Haura segera berdiri walau kaki - kakinya masih tak sanggup untuk menahan bobot tubuhnya yang masih lemah. Saat ia berdiri, lekas cairan cinta mereka mengalir keluar dengan begitu derasnya. Haura sampai merinding merasakan semua itu. Kemudian ia mengambil tisu yang ada di meja kerjanya untuk mengelap vaginanya yang begitu lembap oleh cairan mereka berdua.
“Hauraa... Maaf aku . . . . .”
“Stooppppp !!! Berhenti ! Aku gak mau berbicara denganmu lagi V !! Aku tak sudih untuk mengobrol denganmu... Bahkan memanggilmu ustadz pun aku tak mau !” kata Haura yang benar - benar dilanda amarah.
Bergegas Haura membenahi pakaiannya satu persatu. Mulai dari branya, kemeja, celana dalam, rok span kemudian blazernya. Ia pun meninggalkan ruangan itu untuk pulang menuju rumahnya. Dalam perjalanan pulangnya. Ia begitu kesulitan tuk melangkah akibat rasa perih yang ia terima dari tusukan penis besar V saat keluar masuk di vaginanya. Diam - diam Haura mengelap air mata yang menetes jatuh menggunakan tisu yang ia kantungi di saku blazernya. Haura begitu sedih oleh sikap V siang ini. Haura benar - benar kecewa. Haura kecewa berat saat V terlalu memaksanya untuk menuruti kemauannya tuk bersetubuh dengannya.
“Siapa dia sebenarnya ? Apa dia kepribadian baru lainnya yang tak kukenal sebelumnya ? Kenapa ia begitu bernafsu padaku ? Kenapa ia terlalu memaksaku ? Bahkan ia terus memaksaku kendati ia sudah tau kalau aku sangat membenci pemaksaan” kata Haura dengan lirih.
Sementara itu, tampak seseorang yang diam - diam mengamati langkah kaki Haura. Sosok itu tersenyum seolah dirinya telah mendapatkan tangkapan ikan yang besar. Ia pun mengetikan sesuatu di catatan hapenya untuk menjadwal rutinitas harian yang Haura kerjakan.
“Kekekekek... Ustadzahh ohhh ustadzahhh... Rupanya yah ustadzah ini !” kata kuli bangunan itu terkekeh - kekeh.
Ia pun membuka hapenya dan melihat kembali rekaman video yang baru saja ia dapatkan dari kantor pengasuhan.
Ahhhhh ahhhhhh ahhhh V toolloonggg jangan lakukan !!
Karjo terkejut saat ia menyetel volumenya dengan begitu keras. Buru - buru wajahnya menoleh ke kiri dan ke kanan tuk melihat keadaan.
“Untung gak ada orang... Sial nyaris aja ! Kekekekek” katanya tertawa.
“Lihat saja ustadzah... Dengan rekaman ini pasti ustadzah gak akan bisa menolakku lagi ! Bagaimana nantinya kalau pak Hendra tau ? Bagaimana nantinya kalau seluruh pesantren tau kalau ada dua pengajar pengasuhan yang terlibat skandal panas seperti ini Kekekkeke... Juga bagi ustadz baru itu... Lihat aja kalau dia masih sok berani mengancamku... Sampai video ini tersebar pasti ustadz sok itu akan dikeluarkan selama - lamanya dari pesantren ini... Aku pun tidak memiliki gangguan lagi untuk menyetubuhi lekuk indahnya dan membuahinya dengan sperma segarku ini... Kekekekek cita - citaku untuk menghamili Haura pasti akan terwujudkan dengan mudahnya !!! Kekekekekek” kata Karjo tersenyum penuh kemenangan.
"Akan kupastikan ustadz baru itu dikeluarkan dari pesantren ini !!!! Kekekek"
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *