Pagi menjelang siang sekitar pukul sepuluh tepat. Rachel berjalan dengan santai sambil menenteng buku absen selepas mengajar dari kelas yang ia ajar. Rachel mengusap dadanya merasa lega setelah menyelesaikan amanat yang sudah dititipkan kepadanya. Ia bersyukur karena proses mengajar di hari ini bisa berjalan dengan lancar.
Dalam perjalanannya menuju gedung pengajaran, untuk mengembalikan buku absen yang ia pegang. Ia bersenandung sambil menikmati cuaca cerah di pagi menjelang siang. Wajahnya ia dorongkan ke atas. Tak sengaja cahaya mentari yang bersinar menyilaukan pandangannya. Tangan kirinya yang menganggur bergerak reflek dengan menutupi matanya yang silau terkena cahaya itu. Rachel tak sadar kalau ada beberapa santri yang terdiam lagi terpana menatap keindahan tubuh ustadzah montok itu. Ya mata mereka kompak menatap sesuatu yang menonjol di dada ustazah jelita itu. Ya dikala Rachel mengangkat tangannya tuk menutupi pandangannya, dadanya otomatis terdorong maju hingga membuat mata - mata santri itu nyaris meloncat keluar dari tempatnya. Bukan hanya karena ukurannya yang besar. Tapi santri - santri itu terkejut karena melihat adanya tonjolan yang berasal dari puncak gunung kembar itu berada. Mungkinkah ? Apakah yang terlintas di pikiran mereka benar ?
Ya, sudah lama Rachel dipaksa untuk tidak mengenakan dalaman lagi. Walau sebenarnya, ia masih belum terbiasa karena dirinya sendiri masih merasa risih tiap kali putingnya itu tergesek oleh kain pakaiannya.
Ketelodorannya saat itu, ketika dirinya sedang asyik bertelanjang di dalam kelas. Membuatnya mau tak mau harus berurusan dengan pak Udin si tukang bersih - bersih kelas yang memergokinya. Semua hal itu pun menjadi awal mula dari coretan takdir dari kisah sang bidadari yang harus ia lalui. Hidupnya kini berada dalam ancaman pak Udin. Apa yang diinginkan oleh pria tua berkumis itu harus dituruti olehnya. Mau tak mau, suka tidak suka ya Rachel harus menuruti semuanya.
Termasuk masalah pakaian yang harus ia kenakan tiap hari.
Saat itu, Rachel mengenakan gamis longgar berwarna coklat agak kehitaman yang ia padukan dengan setelan rok panjang berjenis plisket yang menutupi hingga ke mata kakinya. Sebuah hijab yang juga berwarna coklat berbahan tipis melengkapi penampilannya di hari ini. Tanpa ada tambahan lain, Rachel cukup berani dengan tidak mengenakan dalaman lagi dibalik gamisnya. Sebenarnya lekuk payudaranya yang ranum itu tidak terlalu terlihat dengan adanya hijab yang menutupi hingga ke dadanya. Tetapi apabila Rachel kembali membusungkan dadanya seperti tadi ya bisa - bisa semua orang yang ada disekitarnya bakal tau kalau Ustadzah Rachel yang memiliki body montok lagi semlohay itu terbiasa tidak mengenakan dalaman.
Ia pun melanjutkan perjalanannya. Ia menunduk sambil melirik ke sekitar menatap setiap santri yang berpura-pura tidak melihatnya.
Mereka sadar gak yah dengan pakaianku saat ini ?
Batin Rachel sembari menenggak ludahnya.
Ia pun sampai di tempat tujuan dalam keadaan selamat. Saat ia tiba di depan pintu masuk gedung itu, ia melihat adanya ustadzah lain yang sedang duduk di ruang tunggu untuk beristirahat. Dengan sopan Rachel berusaha untuk menyapanya.
"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa Rachel yang malah membuatnya terkejut.
"Ehhh... Walaikumsalam" Jawabnya kaget.
Rachel pun kepikiran kenapa ustadzah itu melamun di siang - siang seperti ini ? Apa ada masalah yang sedang mengganggu pikirannya ?
"Afwan ustadzah... Udah ngagetin" Jawab Rachel merasa tidak enak.
"Hehe gapapa bukan salah antum kok" Jawab ustadzah itu.
Karena sudah meminta maaf plus karena dirinya mengira kalau ustadzah itu sedang ingin sendiri dan tidak mau kesendiriannya diganggu, membuat Rachel melangkah pergi tuk mencari pengajar di bagian pengajaran untuk menyerahkan buku absen kelasnya.
"Assalamu'alaikum" Sapa Rachel. Wajahnya ia gerakan untuk melongok ke ruang dalam demi mencari seseorang yang berjaga di kantor ini.
"Tunggu sini aja ustadzah... Kayaknya mereka lagi pada pergi deh" Jawab ustadzah tadi.
"Ohh begitu yah ustadzah hehehe" Jawab Rachel lekas menghampiri ustadzah tadi.
Bokongnya ia dudukan dengan perlahan di kursi ruang tunggu. Ia pun merasa canggung. Bibirnya beku, lidahnya kelu serta jiwanya ragu tuk mengajak ustadzah itu mengobrolkan sesuatu. Ditatapnya ustadzah cantik itu dengan seksama. Rachel heran kenapa ustadzah itu terus menunduk. Apakah terjadi sesuatu ?
Kemudian Rachel teringat kalau dirinya sedang tidak mengenakan dalaman. Buru - buru Rachel membenahi pakaiannya khususnya hijabnya ia posisikan sedemikian rupa untuk menutupi dadanya yang menonjol.
Hufftttt untung masih sempat !!
Batin Rachel setelah membenahi pakaiannya.
"Antum ustadzah Rachel kan yah ?" Tanya ustadzah itu yang mengejutkan Rachel.
"Ehh naam ustadzah... Antum ustadzah Haura kan dari bagian pengasuhan ?" Kata Rachel merasa canggung karena merasa tidak begitu akrab.
"Hehe naam" Jawab Haura dengan singkat.
Mereka berdua kembali terdiam membuat Rachel khususnya merasa tidak nyaman. Dalam hati ia meneriakan nama - nama pengajar bagian pengajaran yang ia kenal khususnya ustadz Adit yang merupakan calon suaminya. Rachel heran kemana orang - orang ? Apa tidak ada satupun yang menjaga disini ? Rachel ingin segera keluar dari sini untuk melepaskan diri dari kecanggungan ini.
Mana sih mas Adit ini ?
Batin Rachel.
"Assalamu'alaikum"
Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Tiba - tiba ada suara yang berasal dari belakang Rachel yang mengejutkan diri mereka berdua.
"Astaghfirullah" Kata mereka berdua serempak sambil mengelus dada. Kompak wajah mereka menengok ke asal suara tersebut. Haura tersenyum begitupula Rachel. Tapi Rachel yang terlanjur kesal karena salamnya justru mengagetkannya membuat bidadari cantik itu lekas berdiri untuk menegurnya.
"Ihhh ustadz ngagetin aja !!!" Jawab Rachel menggunakan bahasa formal karena adanya Haura di depannya.
"Hahaha ana udah sopan loh dengan menyapa kalian" Kata Adit sambil tersenyum.
Haura pun ikut tersenyum melihat kecocokan mereka berdua.
"Afwan ustadz... Ini... Ana mau balikin absen" Kata Haura sambil menyodorkan buku absennya. Adit lekas datang menghampiri ustadzah yang lebih senior dari dirinya juga diri Rachel. Adit sempat mengeceknya sejenak kemudian meminta ustadzah cantik itu untuk meninggalkan paraf di tempat yang tersedia.
"Oh naam... Silahkan ustadzah" Kata Adit melayani Haura dengan sopan.
"Ini ustadz... Sudah yah" Kata Haura.
"Naam ustadzah syukron... Oh yah ngomong - ngomong kabar ustadz Fikri gimana ?" Tanya Adit ingin berbasa - basi.
"Ya seperti biasa ustadz... Baik" Jawab Haura setengah hati. Haura pun buru - buru pergi meninggalkan tanda tanya di hati Adit.
"Ustadzah Haura kenapa ? Kok ngejawabnya gitu ?" Lirih Adit penasaran. Ia pun hendak kembali menuju kursi kosong untuk menemani Rachel yang lagi sendiri.
"Assalamu'alaikum" Tiba - tiba terdengar sapaan lagi dari arah luar gedung yang membuat Adit bergegas menoleh tuk menjawab salam itu.
"Walaikumsalam... Eh Ustadz Fikri yah ? Ahlan !!!" Kata Adit menyambut kawannya.
"Ehhh Haura apa kabar ?" Kata V berniat menyapanya. Namun jawaban Haura malah cuek bahkan cenderung membuang muka tanpa menjawab salam itu. V heran melihat sikap Haura begitupula Adit dan Rachel yang melihatnya dari kejauhan.
V pun santai dalam menyikapinya, ia mendekat ke arah Adit untuk mengambil absen kelas yang akan ia ajar.
"Ehh kalian kenapa ? Ada masalah apa dengan ustadzah Haura ?" Tanya Adit pada V.
"Entahlah... Aku juga gak tahu" Jawab V.
"Ini yah absennya... Itu juga udah aku tanda tangani... Wassalamualaikum" Salam V buru - buru karena harus menuju kelasnya.
"Iya siip" Jawab Adit.
V pun berlari setelah mengambil buku absen itu. Dengan segera ia pun menghilang dari pandangan Adit karena saking cepatnya.
"Ada apa yah dengan mereka ?" Kata Adit masih penasaran.
Adit kemudian berjalan mendekati Rachel yang sudah menunggunya sedari tadi. Adit pun duduk di kursi kosong di depannya. Sementara Rachel hanya memeluk buku absen itu sembari menunggu calon suaminya berbicara setelah melayani pengajar lainnya yang ingin mengambil atau mengembalikan buku absen tersebut. Selama penantiannya itu, ia terus memeluknya demi menutupi dua gunung kembarnya karena khawatir calon suaminya itu menyadari apa yang selama ini ia sembunyikan darinya.
"Heyy... Kamu kemana aja ? Sibuk yah ? Tumben belakangan ini jarang bales pesan dari mas ?" Kata Adit menggunakan bahasa santai karena hanya ada mereka berdua di gedung ini.
"Iyya mas maaf hehehe... Kantor bagian aku akhir - akhir ini sering ngadain kumpul evaluasi sih... Makanya jarang bisa bales pesan dari mas" Kata Rachel beralasan.
"Hmm begitu yah ? Pantes aja" Jawab Adit tanpa mencurigainya lebih dalam lagi.
"Ehhhmmm mas.... Aku pulang dulu yah ?" Kata Rachel pamit undur diri.
"Loh buru - buru amat dek... Kok tumben ?" Kata Adit heran.
"Hehe iya mas maaf... Aku udah ada janji sama ustadzah Nisa... Gak enak kayanya daritadi udah nungguin" Kata Rachel kembali beralasan.
"Yahhh gitu yah ? Yaudah deh kalau gitu" Jawab Adit sambil tersenyum.
"Ini yah mas absennya..." Kata Rachel menyerahkan absen itu ke Adit.
"Ini yah mas udah aku tandatangani... Maaf mas aku pamit dulu yah wassalamualaikum" Izin Rachel dengan tergesa - gesa. Ia pun mempercepat langkah kakinya meninggalkan kantor bagian pengajaran. Sementara Adit ikut melangkah mengiringi kepergian calon istrinya hingga depan teras kantor bagiannya.
"Iyya dek... Hati - hati yah" Kata Adit menyikapi kepergian Rachel.
"Kenapa yah kok bagian lain lagi pada sibuk ? Apa ada acara pondok yang akan diselenggarakan sebentar lagi ?" Kata Adit berdiri di teras bagiannya.
Ia pun mengamati kepergian calon istrinya dengan seksama. Dalam hati ia berharap calon istrinya itu menoleh dan memberikan senyum padanya. Tapi apa daya. Ekspetasi tidak seindah realita. Rachel terus melangkah tanpa pernah berbalik arah. Adit hanya mengangguk menatap keindahan calon istrinya dari kejauhan.
"Assalamu'alaikum" Sapa seorang ustadzah beberapa saat kemudian.
"Walaikumsalam... Loh ustadzah Nisa ? Antum mau apa ?" Jawab Adit terkejut.
"Ana mau ambil absen buat ngajar ustadz... Kenapa yah ?" Tanya Nisa.
"Lohh bukannya antum ada janji dengan Ustadzah Rachel setelah ini ?" Kata Adit heran.
"Ehhh iya kah ? Tapi sekarang ana ada jadwal ngajar loh ustadz" Jawab Nisa yang membuat Adit terkejut lagi heran.
"Ohh gitu yah ?" Jawab Adit sambil menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Emang antum bilang kaya gitu dari siapa ? Dapat kabar dari mana ?" Tanya Nisa.
"Ehhmmm ustadzah Rachel sendiri sih yang bilang... Barusan aja malah !!" Jawab Adit.
"Hmmm mungkin salah informasi kali ustadz... Untuk hari ini masih banyak dari kami yang punya jadwal mengajar loh... Kalau besok menjelang dzuhur baru iya ada jadwal meeting diantara kami" Kata Nisa menjelaskan.
"Ahhhh... Mungkin kali yah hahaha... Memang akhir - akhir ini bagian antum lagi sibuk apa ?" Tanya Adit memastikan.
"Banyak ustadz... Khususnya ya membuat program - program untuk pengembangan bahasa santri... Ehh yah ustadz nanti lagi yah... Afwan ana udah terlambat nih" Kata Nisa setelah melihat jam tangannya.
"Aduhh... Oh yah kok malah ngobrol sih... Antum ngajar kelas berapa ustadzah ?" Tanya Adit segera memasuki gedung bagiannya.
"Ini ustadz... Kelas 3C" Jawab Nisa.
"Ini ustadzah... Afwan yah hehe" Kata Adit merasa bersalah sambil menyerahkan buku absen itu.
"Ahahaha gapapa ustadz... Permisi yah... Wassalamualaikum" Salam Nisa dengan sopan.
" Naam walaikumsalam" Jawab Adit.
Nisa pun pergi menuju kelasnya setelah mendapatkan buku absen kelas dari Adit. Adit pun memandangnya dari kejauhan. Ia berfikir.
"Mungkin Rachel tadi memang salah ucap kali yah... Gak mungkin juga kan Rachel berbohong ke aku ?" Kata Adit berbicara sendiri.
Tapi entah kenapa di pagi menjelang siang itu perasaan Adit masih terasa tidak enak. Perasaannya berkata lain. Ia mempunyai firasat buruk. Ia pun hanya berharap semoga Rachel dalam keadaan baik - baik saja ditengah kesibukannya sebagai ustadzah bagian penggerak bahasa.
*-*-*-*
Kepala Rachel terus menunduk selama perjalanan pulangnya menuju kantor bagiannya. Kakinya terus melangkah tanpa pernah sesekali menatap ke depan. Perasaan bersalah begitu membekas di hatinya setelah membohongi calon suaminya. Ia menyesal telah melakukannya. Tapi ia punya alasan sendiri kenapa ia sampai berani melakukannya. Ia tak mau calon suaminya tahu kalau akhir - akhir ini dirinya tidak pernah memakai dalaman lagi.
"Hah"
Rachel mendengus kesal tiap kali teringat akan kejadian itu, kejadian disaat dirinya bertelanjang bebas di dalam ruang kelas. Tiap kali teringat hal itu, ia hanya berandai - andai kejadian itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya. Masih terbayang dalam ingatan bagaimana ekspresi wajah pria berkumis itu saat pertama kali memergokinya telanjang. Ia muak saat terbayang wajahnya. Ia sangat kesal hingga ingin menamparnya. Tapi apa daya karena semua angan - angan itu hanya bisa ia wujudkan di dalam benaknya saja. Ia begitu takut andai rekaman yang disimpan oleh pria tua itu tersebar ke seluruh penjuru pesantren. Ia sangat malu dan pasti ia sangat malu. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat wajahnya memerah.
Ustadzahhh.
Terdengar suara seseorang memanggilnya.
Rachel menoleh tapi dirinya tidak menemukan siapa - siapa disana. Rachel heran, ia pun mengerutkan dahinya penasaran. Ia sangat yakin kalau telinganya telah mendengar suara tadi. Apa mungkin itu cuma perasaannya saja ?
Di siang menjelang waktu dzuhur itu. Tepatnya di jalan setapak di dekat lapangan basket yang dulu pernah ia bermain bersama santri - santri hanya dengan mengenakan pakaian ketat. Rachel merinding sendirian. Ia pun mengelus bahunya sendiri kendati sinar matahari masih bersinar menyinarinya. Ia heran kenapa di cuaca panas seperti ini dirinya bisa merinding ?
Siapa yah ?
Ia hanya menenggak ludah. Setelah tak menemukan siapapun disana, ia pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.
Ustadzahhh.
Kembali suara itu terdengar di telinganya.
"Siapa disana ?" Rachel kembali menoleh sambil menimpali suara itu.
Tapi anehnya, kembali Rachel tak menemukan adanya tanda - tanda seseorang yang menyapa dirinya. Rachel jadi semakin merinding penasaran. Tapi karena rasa takut yang begitu memuncak, ia pun memutuskan untuk mempercepat langkah kakinya.
Kali ini terdengar suara gesekan langkah kaki seseorang. Rachel menoleh. Ia berbalik arah guna menyusuri asal suara tersebut. Ia sangat yakin kalau dirinya mendengar suara yang berasal dari gesekan antar alas kaki dengan tanah kering yang menjadi pijakan orang itu. Rachel pun berteriak.
"Siapa itu ? Siapa ?" Kata Rachel mengeraskan suara.
Suasana sangat sepi karena santri - santri sedang berada di kelas mengikuti proses belajar mengajar. Rachel pun yakin kalau suara itu bukan berasal dari salah satu santrinya. Rachel diam. Dirinya berpikir sejenak. Suara itu terasa tidak asing baginya. Suara itu terdengar akrab di telinganya.
"Jangan - jangan !!!" Kata Rachel terkejut. Berulang kali kepalanya menoleh ke sekitar untuk mencari sosok itu. Dirinya pun menenggak ludah setelah menduga siapa pemilik dari suara yang ia dengar barusan.
"Ittt.... Ittuu bukan suara pak Udin kan ?" Kata Rachel berbicara sendiri.
Tetapi kalau diingat - ingat suara itu memang sangat mirip dengan suara pria tua berkumis itu. Rachel pun ketakutan. Ia lantas berbalik untuk berlari sejauh - jauhnya dari tempatnya berdiri.
Brruuuukkkkk !!!
Belum sempat berlari, tepat setelah dirinya membalikan badan. Rachel malah terjatuh setelah menabrak sesuatu. Bokongnya pun mendarat di tanah sementara kakinya membuka selebar - lebarnya.
"Aduhhhh sakkitt" Kata Rachel memegangi hidungnya yang perih.
"Mbakkk... Mbakk ustadzah gapapa ?" Tanya lelaki itu.
"Iyya gapapaa" Kata Rachel lantas menaikan wajah tuk menatap siapa lelaki itu.
Saat Rachel menatapnya, ia lebih dulu melihat gagang sapu yang sedang dipegang oleh lelaki itu. Jantung Rachel pun berdebar. Lantas dirinya memberanikan diri untuk menatap tubuh itu. Tubuh lelaki itu kurus seperti hal nya kulit yang membungkus tulang saja. Kulitnya berwarna sawo matang. Saat ia menaikan pandangannya ke wajah. Ia kembali melihat sesuatu yang membuatnya merinding.
"Kkuuu... Kuumis itu" Lirih Rachel.
Ya lelaki itu memang berkumis tapi ada yang berbeda dari apa yang biasa Rachel lihat. Ia tampak tak seperti Pak Udin. Ia mengenakan kacamata bahkan kulit wajahnya berkeriput.
"Mbak ustadzah kenapa ? Kok tadi teriak - teriak... Saya mendekat kesini karena mendengar suara yang berasal dari sini... Itu suara mbak kan ?" Tanya lelaki itu.
Rachel masih linglung memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tatapannya kosong. Jemarinya masih mengelus hidungnya yang perih.
Suara ? Itu suara siapa yah ? Apa suara tadi tidak nyata ? Apa suara tadi berasal dari pemikiranku saja ?
Batin Rachel.
Sedangkan lelaki itu heran karena ustadzah montok yang baru ditemuinya hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaannya. Lelaki itu pun memberanikan diri tuk menatap wajah cantik yang sedang melamun disana. Barang kali ia mengenalnya.
Kulit putih, pipi tembam, wajah manis membuat lelaki bertubuh kurus itu gemas sekali saat menatapnya. Saat ia menurunkan pandangannya, ia dapat melihat bulatan di dada yang begitu menonjol disana. Untuk pertama kalinya setelah pertemuan itu, lelaki kurus tersebut langsung menenggak ludah sedetik setelah melihatnya. Ia begitu terpana hingga membuatnya menjilati tepi bibirnya sendiri tanpa ia sadari. Saat dirinya kembali menurunkan pandangannya menuju ke tepi lembah goa yang terbuka. Matanya langsung membuka selebar - lebarnya mendapati adanya lepitan daging berwarna kemerahan yang terekspos di dalam roknya. Rambut - rambut halus yang tumbuh diatas goa itu tidak terlalu lebat dan cenderung rapih.
Eh tunggu dulu !!
Goa itu masih menutup rapat dan ia dapat melihat dengan jelas kalau dari balik goa yang merapat itu ada becekan air yang menggenang di dalam.
Ini mah bukan goa... Tapi innn... Inniii !!!
"Mmbbb... Mbakkkk !!!" Teriak lelaki berusia limapuluhan itu setelah menyadari sesuatu.
Sontak pikiran lelaki itu pun traveling kemana - mana membayangkan andai dirinya bisa memasuki goa sempit di bawah sana. Seonggok batang yang sedari tadi tersembunyi di balik celananya itu mengeras. Nafasnya memberat dengan cepat. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya. Ia bisa melihat kemaluan seorang wanita secara langsung.
Rachel terbangun dari lamunannya setelah mendengar teriakan itu. Ia pun menoleh menatap wajah lelaki yang sedang berdiri dihadapannya. Lelaki itu tampak terkejut sambil menatap dirinya. Rachel pun bertanya - tanya, adakah yang salah dari dirinya hingga membuat pria itu terkejut ?
Segera bidadari cantik itu menatap ke arah apa yang sedang lelaki itu tatap. Ia menyadari kalau mata lelaki itu tertuju pada satu tujuan yang pasti. Ia pun mengikuti arah kemana mata lelaki itu menatap. Seketika jantung Rachel berdebar begitu kencang. Ia sadar kalau lelaki itu tengah menatap ke arah roknya yang terbuka.
Loh terbuka ? Sejak kapan ? Ehh... Tunggu dulu !!!!
Bukankah ia sedang tidak mengenakan dalaman apapun dibalik pakaiannya ? Berarti yang sedang pria ini tatap dibalik roknya adalah . . . . .
"Aahhhhhhhh" Teriak Rachel. Lekas Rachel merapatkan kakinya kemudian menutupi kemaluannya menggunakan roknya.
"Mmaaa... Maaaff.... Maaf mbak ustadzah... Maaf gak sengaja" Kata lelaki itu panik.
Wajah Rachel memerah sangat. Ia pun tak bisa mengucapkan sepatah katapun saat itu. Lidahnya kelu, mulutnya pun membeku. Alih - alih menjelaskan kenapa dirinya tidak mengenakan dalaman atau minimal mengucapkan sepatah kata. Rachel justru berdiri kemudian berlari menjauh darinya.
"Maaf... Permisi pak" Kata Rachel pergi sambil menahan malu.
"Mbbaakk... Tungguu mbakkk" Panggil lelaki itu sambil menjulurkan tangannya. Namun sang bidadari telah berlari. Lelaki itu hanya terdiam di tempat sambil takjub atas pemandangan indah yang baru saja ia lihat.
"Nikmat mana lagi yang kamu dustakan To !!!" Kata lelaki itu bersyukur.
Lelaki itu masih tak percaya setelah mendapatkan rezeki yang tak terduga dari bidadari itu. Meski wujudnya telah pergi tapi gambaran dari keindahan yang terbayang di benaknya masih ada. Lelaki itu masih ingat dengan jelas gambaran dari dua lepitan berwarna kemerahan yang berada di dalam rok tadi. Rupanya sungguh indah dengan rambut tipis yang berada di sisi atasnya. Tanpa sadar lelaki itu menjilati tepi bibirnya sendiri.
"Pasti wangi !!!!" Kata lelaki itu sambil mengelusi pusakanya yang mengeras.
Napas pria tua itu semakin memberat. Ia tak menyangka hanya dengan melihat kelamin milik bidadari montok itu sudah mampu membuatnya terangsang. Ia pun tak fokus lagi dalam pekerjaannya karena pikirannya masih terbayang akan bentuknya.
"Siallll... Jadi gak fokus kan !!! Hahhh... Hahhh... Hahhhh" Katanya dengan nafas terengah - engah.
Lelaki itu lekas menanggalkan sapunya. Ia pun berlari dengan kecepatan penuh untuk mencari tempat sepi. Ia pun menemukan satu, tepatnya di belakang gedung kelas. Ia langsung menurunkan celananya dan mengurut penisnya yang sudah mengeras hebat.
"Ahhhh... Ahhhh mbakkk ustadzahhh" Kata lelaki itu mengocok dengan nikmatnya.
"Ahhh... Ahhh... ohhh yahhhh" Kata lelaki itu teringat sesuatu.
Ia lekas mengeluarkan hape dari sakunya untuk menonton video porno sebagai bumbu untuk menambah cita rasa akan kelezatan onaninya
"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhh" Kata pria tua itu sambil matanya menatap ke arah layar hapenya.
"Uhhh yahhh... Uhhhh bentarrr lagiii.. Ahhhh ahhhhhhhhhhhh"
Croottt crroottt crroottt !!!!
Badan lelaki itu mengejang dengan hebat saat mengeluarkan seluruh cadangan spermanya. Nafasnya terengah - engah dan matanya merem - melek merasakan sisa orgasmenya yang menyemprot dengan dahsyat.
"Hahhhh... Hahhh... Ouhhh nikmaatttnyaaaa" Katanya mendesah hingga satu tetes terakhir.
"Ouhhh... Ouhhhhh" Kata pria tua itu masih memejam sambil terus mengocok penisnya yang mulai melembek.
"Oyyyyy... Lagi enak - enak nih kayaknya" Kata seseorang di belakang yang mengejutkan pria tua itu.
"Ehhh kamprett kamprettt" Katanya dengan latah sambil menoleh.
"Huehuehue... Hari gini masih jaman nyoli ?" Katanya menertawakan pria tua itu.
"Oalah pak... Pakkk... Bikin kaget aja... Saya kira siapa ?" Kata lelaki itu agak sedikit lega setelah mengetahui rupanya orang yang memergokinya itu tidak lain tidak bukan hanyalah rekan kerjanya saja.
"Pak Prapto nih... Huehuehue... Kalau mau butuh enak - enak tinggal hubungi saya aja... Gak perlu sampai coli gitu" Kata pak Udin masih menertawakan.
"Yeee enak aja... Saya masih normal pak... Ngapain manggil bapak" Kata pak Prapto merinding.
"Ehhh enak aja... Bukan itu maksudnya... Maksudnya saya bisa sediakan bidadari yang bisa muasin bapak !!!" Kata Udin dengan bangga.
"Maksudnya ? Pak Udin punya simpanan cewek gitu ? Kok bisa ? Ngomong - ngomong cantik gak ?" Kata pak Prapto bersemangat.
"Cantik lah... Orang dia dari ustadzah sini" Kata pak Udin yang malah membuat pak Prapto ragu tak percaya.
"Ustadzah ? Jadi simpanan bapak ? Mulai ngayal deh nih kayaknya" Kata pak Prapto tak percaya.
"Huehuehue... Terserah aja kalau gak percaya... Dah ah saya mau kerja lagi... Orang dikasih penawaran apik malah ngeyel... Oalah Pak... Pak..." Kata pak Udin menertawakannya.
Pak Prapto pun heran kenapa pak Udin sampai berani berkata seperti itu. Dari reaksi mukanya pak Udin seperti percaya diri. Gak mungkin kan kalau pak Udin berbohong ? Apa jangan - jangan yang diomongkannya itu benar adanya ? Tapi masa iya ada ustadzah yang mau jadi simpanan lelaki tua miskin yang sehari - hari bekerja sebagai tukang sapu sepertinya. Ia pun ragu kemudian wajahnya menoleh ke arah video porno yang tadi sempat dilihatnya. Ia kembali menoleh menatap Pak Udin yang perlahan semakin jauh darinya. Kemudian ia kembali menatap video porno itu.
Entah kenapa tiba - tiba keraguan di hati Prapto meluntur. Ia pun memperhatikan video porno itu dengan seksama.
"Kayaknya saya pernah melihat dua cewek berhijab ini deh... Tempat di video ini juga tidak asing... Apa jangan - jangan tkp di video ini ada disini ? Lagipula ini juga hape siapa ????" Kata pak Prapto heran.
*-*-*-*
"Hhhhh.... Hhhhh... Hhhhh"
Rachel berlari sejauh mungkin sambil sesekali menoleh ke belakang tuk memeriksa apakah lelaki tua tadi mengerjarnya atau tidak. Nafasnya sudah ngos - ngosan. Keringat pun begitu deras membanjiri tubuhnya. Setelah yakin kalau pria tua tadi tidak mengejarnya hingga ke titik ini. Rachel memutuskan untuk berhenti berlari. Ia menunduk sambil tangannya bertumpu pada kedua lututnya. Tampak keringat menetes jatuh dari kening wajahnya. Rachel merasa lega. Ia bersyukur kalau pria tua tadi tidak mengejarnya.
"Astaghfirullah.... Hampir aja tadi !!!" Kata Rachel ketakutan. Ia khawatir kalau kejadian tadi malah jadi blunder keduanya yang mana dapat memanggil nafsu birahi lelaki itu untuk datang mencicipi tubuhnya. Ia sudah muak dengan pak Udin. Ia pun tak mau tuk menambah daftar lelaki lain lagi yang bisa menjamah tubuhnya.
"Ustadzah !!!"
Ditengah rasa lelah yang melanda si bidadari berhijab. Kembali terdengar suara seseorang yang menyapa dirinya. Sontak bidadari montok itu terkejut. Dengan segera ia mengangkat kepalanya tuk memeriksa siapa sosok yang menyapanya kali ini.
"Hufttt... Antum ngagetin aja !" Jawab Rachel merasa lega.
"Hehehe"
Sosok berkacamata itu tersenyum. Ia merasa lega kalau ustadzah yang baru saja ditemuinya dalam keadaan baik - baik saja. Namun saat sang ustadzah menegakan tubuhnya untuk menyapa dirinya yang berambut ikal itu. Ia terkejut. Matanya membuka lebar. Reflek pandangan ustadz itu segera mengarah ke leluk tubuh Rachel yang tercetak jelas disana. Tidak hanya tercetak jelas. Bahkan sekilas, Ustadz yang juga memiliki brewok tebal itu dapat melihat rupa dari puting indah sang ustadzah walau masih samar - samar. Ustadz itu pun menenggak ludah. Diam - diam ia mengabaikan pemandangan tadi. Matanya ia palingkan. Karena ingin menjaga diri dari keindahan tubuh sang bidadari yang ada di hadapannya.
"Ustadz Fauzan... Antum lagi apa kok disini ?" Tanya Rachel.
"Inn.. Innii kan jalan dari asrama putra ustadzah... Annt... Antumm sendiri kok bisa disini ?" Tanya Fauzan gugup. Berkali - kali matanya melirik ke arah gundukan besar yang masih tersembunyi di balik gamis lebar sang ustadzah.
Kini Rachel yang gugup. Pandangannya beralih ke kanan kemudian ke kiri untuk memeriksa keadaan. Sialnya saat sang ustadzah bergerak kesana - kemari, payudaranya yang tak dijaga dengan baik ikut bergerak ke kanan juga kiri yang membuat wajah Fauzan ikut bergerak ke kanan juga ke kiri mengikuti gerakan payudara sang bidadari.
"Hehehe iyya yah... Kok ana bisa disini ?" Tanya Rachel baru menyadari di mana dirinya berada.
Saat wajah Rachel kembali tuk menatap dirinya. Buru - buru Fauzan mengalihkan pandangannya agar tak disangka mata keranjang karena keindahan gunung kembar di hadapannya. Sebagai seorang lelaki yang masih normal, jelas lekuk tubuh Rachel itu menggoda imannya.
Meskipun Rachel tampak rapih dengan hijab yang melilit di kepalanya. Tetapi dua bola kembar yang menonjol di dada itu jelas membuat gairah nafsunya bergetar. Gamis itu sudah basah akibat keringat yang bermunculan saat sang bidadari itu berlari menjauhi pria tadi. Perlahan gamis yang semula berwarna coklat itu berubah menjadi samar - samar. Fauzan jelas dapat melihat tubuh bagian atas sang ustadzah mulai dari pangkal leher hingga ke pusar yang menjadi titik terbawah yang tertutupi gamis itu. Beruntung rok yang dikenakan sang ustadzah tidak ikut tembus pandang. Bagaimana jadinya kalau keseluruhan tubuh Rachel ini terlihat ?
Memikirkan hal itu membuat penis si Fauzan mengeras seketika. Ia tak dapat membayangkan andai ustadzah yang sebentar lagi akan menikah dengan teman satu kamarnya itu berkeliaran kesana - kemari dengan pakaian tipis yang mana itu semua sudah mampu untuk mengeksplorasi keindahan tubuhnya.
Agak aneh memang membayangkan itu terjadi. Tapi kenyataan yang tengah menghampiri bisa saja menepis pikiran aneh yang tiba - tiba datang di benak ustadz berjanggut tebal ini. Apalagi sebelumnya, ia sudah cukup sering melihat lekukan yang dimiliki sang ustadzah ketika masih mengenakan pakaian normal. Tapi di pagi menjelang siang ini ?
Gamis lebar yang dikenakannya saja masih belum cukup untuk menyembunyikan tonjolan indah di dadanya. Ditambah teksturnya yang tipis transparan ? Apalagi kalau ia dapat melihat paha mulusnya yang jenjang ? Selangkangannya yang harum semerbak ? Juga bulu - bulu halus yang tumbuh di atas kue lapis legitnya ?
Gllleekkkkk !!!
"Ustadz" Sapa Rachel mengejutkan Fauzan.
"Eh naam ustadzah" Jawab Fauzan terkejut. Namun matanya itu dengan reflek malah menatap dada sang ustadzah.
"Ohhh... Wuuaawww" Lirihnya.
"Ustaaddzz... Antum kenapa ?" Tanya Rachel heran.
"Ehh iyya... Iya ustadzah... Ada apa ?" Tanya Fauzan tersadar.
"Boleh minta tolong gak ustadz ?" Pinta Rachel.
"Mintt.. Minttaa tollong ? Appaa ?" Tanya Fauzan penasaran.
Tak sengaja matanya kembali menatap tubuh indah Rachel. Terlihat bulatannya yang sempurna. Juga puting merah mudanya yang menyapa. Juga mulusnya kulit halus Rachel yang terawat tiap harinya.
Apa jangan - jangan ? Pertolongan yang ia minta adalah . . . .
Pikiran Fauzan traveling kemana - mana. Membayangkan berbagai kemungkinan jorok yang bisa terjadi. Apa mungkin yang ingin Rachel mintai tolong adalah dengan menutupi tubuhnya ? Menggunakan kedua tangan dirinya ?
Gllekkkk !
Atau mungkin permintaan yang Rachel inginkan darinya adalah mengelap sekujur tubuhnya yang basah terkena keringat ? Termasuk mengusap daerah payudaranya juga paha montoknya ?
Glleekkkk !!
Atau mungkin permintaan yang Rachel inginkan darinya adalah menemaninya berganti pakaian ? Tunggu dulu ? Bukankah di kantor sekarang sepi ? Tidak ada orang sama sekali ?
"Bisa tolong antar ana ke kantor gak ustadz ?" Kata Rachel yang membuat jantung Fauzan semakin berdebar.
Gleekkkkk !!!
Kantor ? Di saat sepi - sepinya ? Jadi, mungkinkah tebakan terakhirku benar ?
"Bbboo... Bollehh kok ustadzah" Kata Fauzan tanpa lanjut berpikir lagi.
Rachel tersenyum. Kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju kantor bagiannya. Dalam perjalanan pulangnya itu. Sesekali wajah Fauzan melirik ke samping guna memeriksa keadaan tubuh rekan kerjanya tiap kali berjalan. Benar saja apa yang selama ini ada di dalam pikirannya. Rupanya payudara Rachel terus bergetar tiap kali dirinya melangkah. Fauzan menggeleng - gelengkan kepala jadinya. Seketika ia teringat Adit yang merupakan teman sekamarnya sekaligus calon suami dari bidadari yang berjalan di sebelahnya. Adit memang laki - laki yang beruntung. Lihat saja bidadari cantik yang akan dinikahi oleh Adit. Apa kekurangan yang dimiliki olehnya ? Dari atas, wajah sudah cantik, jelita, manis, senyumnya pun indah mempesona. Sedangkan tubuhnya montok, semlohay, kulitnya juga putih, bersih, mulus dan harum. Itu pun belum termasuk penilaian yang ia berikan untuk keindahan payudaranya. Sudah bulatnya sempurna, ukurannya besar, kencang tidak jatuh ke bawah lagi. Apakah dengan membayangkan sosok Meguri sudah bisa untuk membantunya dalam membayangkan soso Rachel telanjang ? Tidak. Sosok Rachel lebih indah daripada Meguri. Apalagi sosoknya nyata, dekat dan dia ada di sebelahnya sekarang.
Apalagi ia masih perawan, pasti beruntung Adit saat bisa merasakan malam pertama dengannya.
Tunggu ! Kenapa aku jadi mesum gini !
Batin Fauzan tersadar dari lamunannya. Tak diduga rupanya saat itu sudah memasuki jam istirahat. Santri - santri sudah berkeliaran berbondong - bondong keluar dari gedung kelasnya. Ia pun bingung karena seingatnya, ia belum mendengar suara lonceng berbunyi. Apa mungkin sudah yah ? Hanya saja ia tidak dengar.
Eh !
Fauzan kaget saat itu. Tanpa Rachel sadari. Banyak para santri yang terperangah menatap pakaian yang sedang Rachel kenakan. Satu persatu santri yang berjalan melewati diri mereka berdua berhenti seketika. Sebagian ada yang pura - pura tidak melihat dan sebagian lain ada yang terang - terangan menatap tonjolan buah dada indah disana. Seketika angin cukup besar berhembus menerbangkan rok Rachel.
"Aahhhhhh" Rachel berteriak yang mana teriakannya lebih mirip desahan daripada teriakan terkejut.
Reflek saat itu Fauzan bingung harus melakukan apa saat melihat dua paha mulus yang tak tertutupi apa - apa. Fauzan terperangah. Sekali lagi matanya menatap sekitar. Banyak dari santri - santri itu yang membuka mulutnya sambil mengusap - ngusap celananya.
"Afwan ustadz... Kita percepat yah jalannya" Kata Rachel tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Naam ustadzah" Jawab Fauzan.
Selama perjalanan itu. Fauzan panas dingin menghadapi situasi seperti ini. Ia pun heran pada diri sendiri. Padahal yang tidak mengenakan dalaman kan Rachel. Tapi kenapa dirinya yang deg - degan ?
Sesampainya di kantor bagian penggerak bahasa.
"Terima kasih yah ustadz sudah mengantarkan ana kesini" Kata Rachel berbalik badan tuk menatap Fauzan.
"Ahhh gak masalah kok ustadzah hehe" Jawab Fauzan gugup.
Waduhhh !!!
Kembali dua payudara bulat itu bergetar ketika tubuh pemiliknya berputar tuk menatap dirinya. Fauzan gelisah. Ia sudah tak mampu berpikir jernih lagi kali ini. Serangan yang sedari tadi ia terima melalui penampilan berani Rachel telah mengacaukan otaknya. Gairah birahi Fauzan pun ikut bergetar. Ia menenggak ludah. Matanya coba ia alihkan tapi tak berselang lama kembali menatap dua benda bulat sempurna itu. Kakinya berulang kali merapat sambil ia gesekan tuk menjepit penisnya yang mengeras. Nafasnya pun kian berat. Akhirnya ia pun tidak kuat lagi untuk menahan birahinya yang ingin meledak.
"Afwan ustadzah... Kalau gitu ana mau ke wc bentar yah ?" Izin Fauzan gelisah.
"Ii.. Iyya ustadz" Belum juga Rachel menjawab tapi Fauzan sudah terlebih dahulu ngacir ke kamar mandi. Rachel pun heran. Ia penasaran kenapa Fauzan sampai lari terbirit - birit menuju kamar mandi.
"Ustadz Fauzan kenapa yah ? Apa udah sekebelet itu ?" Tanya Rachel.
Tangannya pun ia gerakan untuk membuka kantor bagiannya. Belum juga ia menyentuh gagang pintu itu. Terdengar lah bunyi dari notifikasi hapenya.
"Ehh ada pesan ?" Tanya Rachel.
Namun belum sempat ia membaca semuanya. Ia sudah lebih dahulu menutupnya karena sudah memahami apa yang terkandung di dalamnya.
"Besok siang di kelas ? Mau apa lagi sih pak Udin ini !!!" Kata Rachel mendengus kesal. Kepalanya pusing. Ia merasa lelah, ia juga merasa kesal dengan kehidupan penuh pemaksaan yang akhir - akhir ini harus dialaminya.
Ia pun membuka pintu kantornya kemudian memasuki kantor itu tanpa menyadari pakaian yang sedari tadi ia kenakan. Tanpa sepengetahuannya, dirinya telah menjadi bahan pergunjingan santri yang masih belum percaya dengan keberanian yang Rachel lakukan dengan pakaiannya.
*-*-*-*
Malamnya.
"Oh yah Da... Gimana masalah anti waktu itu ? Udah kelar kan ?"
"Yahhh... Kalau dibilang kelar sih masih belum... Tapi udah mendingan lah Cel... Gak terlalu kepikiran lagi" Kata ustadzah cantik berpostur jenjang yang tengah mengenakan kemeja tipis berwarna putih itu.
Ia sedang berjalan bersama sahabatnya di malam setelah muwajjah berakhir. Blazer berwarna biru melengkapi penampilannya juga rok panjang berwarna gelap yang menutupi hingga ke mata kakinya. Di dadanya ia mendekap buku materi berisi catatan mengajarnya untuk para santriwati.
"Ohhh begitu... Baguslah Da... Ana ikut seneng jadinya mendengar anti gak kepikiran lagi" Kata sahabat seperjuangannya yang memiliki kulit putih bening serta tubuh montok berisi. Sebagaimana dengan Nada sahabatnya, ia mengenakan pakaian yang selaras dengannya. Walau dress resmi untuk muwajjah malam adalah pakaian rapih yang sopan. Kebanyakan para ustadzah lebih nyaman mengenakan kemeja longgar yang dipadukan dengan rok span yang nyaris membentuk lekuk kakinya.
Begitupula yang saat ini dikenakan oleh Rachel. Ustadzah cantik bertubuh montok itu juga mengenakan kemeja di dalam blazer yang menutupi keindahannya. Untungnya Rachel mengenakan blazer malam itu. Karena kalau tidak, para santriwati atau mungkin para warga pesantren lainnya yang melihatnya akan takjub terpana oleh kulit indah Rachel yang terlihat dibalik tipisnya kemeja lebar itu. Tentu ada alasan dibalik semuanya. Alasan yang hanya diketahui oleh Rachel juga seseorang yang memintanya mengenakan pakaian ini. Alasan kenapa Rachel masih setia tuk tidak mengenakan dalaman di balik pakaiannya.
Rachel merinding kedinginan karena dibalik kemeja itu, ia sudah tidak mengenakan apapun lagi. Andai Rachel menyingkap blazernya, andai Rachel mengangkat naik roknya. Orang - orang yang berada di sekitarnya akan mampu melihat keindahan kulit Rachel yang kemulusannya mirip kulit seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Kulitnya sangat lembut akibat perawatan rutin yang sering ia lakukan setiap harinya.
"Oh yah Cel... Persiapan anti sendiri menjelang nikah gimana ? Anti udah siap kan tuk jadi seorang istri ??" Tanya Nada.
"Ehhh ituu... Ituuuu" Mendadak Rachel gugup saat dirinya ditanyakan hal itu.
"Ahahaha walau anti gak ngejawab tapi ana paham kok rasanya... Emang sebelum nikah pasti ada aja pikiran yang mengganggu fokus kita... Makanya dulu mas Rendy sengaja ngatur agar jarak antara lamaran dan pernikahan tidak terlalu jauh untuk mengurangi resiko seperti ini" Kata Nada.
"Ehehehe iya Da... Bener banget... Akhir - akhir ini ana sering ragu memikirkan kelayakan diri ana untuk mas Adit" Kata Rachel teringat masalah yang akhir - akhir ini melandanya.
"Tenang aja Cel... Pasti ustadz Adit yang terbaik buat anti... Gak usah ragu... Tetep terus aja dalam keyakinan itu" Kata Nada terus menyemangati karena dirinya sudah memiliki pengalaman di bidang itu.
"Iya Da... Syukron yah" Jawab Rachel agak sedikit memaksa senyum.
Kebetulan mereka berdua sudah tiba di persimpangan jalan. Arah kiri merupakan arah yang Nada tuju karena rumahnya yang berada di perumahan pengajar senior berada di sebelah sana. Sedangkan arah kanan merupakan arah yang Rachel tuju karena asrama ustadzah berada di sebelah sana.
"Tenang aja Cel... Kalau anti masih ragu sering - sering konsultasi ke ana aja yah.... Gratis kok hihihi" Kata Nada sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah kiri.
Rachel hanya tersenyum, ia mengangguk sambil melambaikan tangan pada sahabatnya yang dikenal akan parasnya yang jelita. Rachel tidak melangkah kemana - mana saat itu ia justru menunduk menatap iri sahabatnya yang sudah menikah itu. Dalam hatinya ia merenung membayangkan andai dirinya sudah menikah sekarang.
"Pasti tidak akan serumit ini" Kata Rachel.
Alih - alih berbelok ke arah kanan, ia justru berbalik badan untuk kembali menuju gedung kelas. Ia melangkah dengan ragu sambil sesekali pandangannya menatap ke bawah memperhatikan jalan setapak itu. Banyak pikiran yang sedang dialami oleh ustadzah cantik itu. Pikirannya bentrok memikirkan kejadian yang akhir - akhir ini ia alami.
Rachel melenguh kesal sambil kakinya terus melangkah hingga tiba - tiba ia sudah tiba di depan gedung kelas itu lagi. Langkah kakinya terhenti ketika dirinya sudah ada di teras gedung kelas itu. Ia pun melihat sekitar dan dirinya hanya mendapati kesunyian. Pandangannya ia naikan untuk mengamati keseluruhan gedung itu. Bahkan ia sampai mundur beberapa langkah untuk memperhatikan satu demi satu lantai yang ada di gedung itu.
Gedung yang ada di hadapannya terdiri dari tiga lantai. Masing - masing dari lantai itu sudah gelap karena telah ditinggalkan oleh santriwati yang sudah pada pulang ke asramanya masing - masing. Di sekitar area itu hanya ada lampu berdaya rendah yang terangnya tidak mampu menerangi seluruh halaman kelas. Rachel menenggak ludah sejenak, kemudian dirinya melangkah menuju tangga yang berletak di ujung gedung itu.
Buku materi yang ia pegang diletakannya di anak tangga. Dalam perjalanannya dari lantai satu menuju lantai dua. Ustadzah montok itu melepaskan satu demi satu kancing blazernya. Sekejap kancing itu sudah terlepas seluruhnya. Segera, tanpa mengucapkan sepatah kata. Rachel membuka blazernya dan menggeletakannya begitu saja di atas tangga menuju lantai dua.
Tak cukup sampai disitu. Setibanya di lantai dua, ustadzah yang memiliki paras bening itu melangkah mendekati pagar pembatas. Ia diam sejenak disana menatap pemandangan indah ke halaman gedung kelas. Tangannya ia sandarkan pada pagar keramik yang melindungi santriwati agar tidak terjatuh saat melihat pemandangan ke bawah. Terasa angin sepoi - sepoi bertiup ke wajah sang bidadari. Rachel merasa tenang dengan keheningan yang ia rasakan di tempat sepi ini. Sambil menikmati pemandangan itu, ia melanjutkan aksinya dengan melepas kancing kemejanya. Hawa dingin pun berhempus bertiup menuju dadanya yang mulai terekspos di malam itu.
Tak lama kemudian, kemeja itu sudah terjatuh ke lantai teras yang sedang ia pijak. Terlihat dua buah dada menantang yang mengacung tegak disana. Kedua gunung kembar itu mengencang karena hawa nafsu yang sudah mengejang. Bentuknya tidak jatuh seolah payudara itu terlihat begitu percaya diri. Pusar Rachel turut mengintip malam itu. Rachel pun menarik nafasnya kemudian memejam menikmati nuansa kebebasan yang kembali ia rasakan. Rasanya sangat tenang membuat Rachel merasa nyaman hingga dapat melupakan masalah - masalah yang akhir - akhir ini ia dapatkan.
Kedua tangannya ia letakan di masing - masing pinggangnya. Ia berkecak pinggang. Tangan kirinya bertumpu di pinggang kirinya sementara tangan kanannya bertumpu di pinggang kanannya. Perlahan demi perlahan kedua tangan Rachel beranjak naik merangsang kulit mulusnya disana. Wajah Rachel mendongak naik dikala usapan tangannya tiba di dadanya.
"Aaaahhhhhhhh.... Hhhemmmmmm"
Rachel mendesah saat kedua tangannya terus naik hingga tiba di punuk lehernya kemudian kedua tangannya kembali turun tuk meraba dua buah dadanya yang semakin kencang akibat hawa nafsu yang mulai berkumpul datang. Rachel mendengus pelan di malam yang semakin gulita itu. Tiba lah saat kedua tangannya sampai di pinggang mulusnya. Cukup lama Rachel meraba - raba pinggangnya sendiri sebelum Rabaan nya kembali naik merangsang payudaranya.
"Ehhmmmm.... Ahhhhhhh"
Rachel memainkan payudaranya sendiri. Ia meremasnya, ia mengusapnya, ia juga memilin putingnya hingga membuat bidadari cantik itu merinding merasakan sensasinya. Hijab lebar yang masih dikenakannya pun berkibar saat angin malam berhembus kencang meniup tubuh polosnya. Rachel merinding kedinginan. Tapi nuansa sepi yang ia alami justru semakin membangkitkan gairah birahinya.
"Uhhhhhhhhhh"
Tangan Rachel kembali turun menuju pinggangnya untuk mengusapnya kembali. Rachel masih memejam. Mulutnya pun terbuka lebar merasakan sensasi nikmat yang ia rasakan. Tak terasa pinggang Rachel bergoyang menikmati kesunyian ini. Hasilnya dua payudara yang menggantung di dadanya ikut berdansa mengikuti goyangan pinggulnya.
Jemari - jemari Rachel sudah tiba di tepi pinggang rampingnya. Kedua jemarinya begerak mengusap punggungnya sambil mencari resleting yang bertempat di bokong montoknya.
Ssrrrrtttttttttt !
"Ahhhhhhhhh"
Suara desahan yang nikmat terucap saat rok span yang Rachel kenakan mulai jatuh menindihi kemeja yang berada di belakangnya. Kedua kaki Rachel ia angkat untuk melepaskan rok yang masih menyangkut di kaki - kakinya itu.
Akhirnya, kembali untuk kesekian kalinya ia bisa bertelanjang bulat di tempat terbuka. Sontak Rachel merapatkan kakinya saat angin dingin berhembus meniup liang senggamanya. Rachel merasa geli. Tapi ia juga merasa nikmat atas kebebasan yang kembali ia dapatkan.
Jemari kirinya turun tuk mengusap pintu dari bibir vaginanya itu. Rachel terkejut saat bibir vaginanya sudah basah akibat nuansa yang terbayang di benaknya. Jemari tengahnya ia benamkan hingga terjepit di bibir liang senggamanya. Rachel kembali memejam sambil mengeluarkan desahan yang tertahan di mulutnya. Mulut Rachel terbuka lebar tapi ia tak mengeluarkan suara akibat kenikmatan yang sedang ia rasakan.
Tak kuat dengan rangsangan yang ia lakukan di tubuhnya sendiri. Rachel terus melangkah mundur sambil memejamkan mata merangsang liang senggamanya. Rachel terkejut saat punggungnya sudah menyentuh dinding kelas. Rachel membuka mata sejenak tuk melihat ke belakang. Ya ini memang dinding kelas. Rachel kembali memejam tuk menikmati waktu sendirinya.
"Ahhhhhhhhhhhhh"
Dikala jemari kirinya merangsang vaginanya. Jemari kanannya merangsak naik tuk meremas dua payudara bulatnya. Darah yang mengalir di tubuh Rachel berdesir saat merasakan remasannya sendiri.
"Mmmmmhhhhh"
Desahannya yang nikmat kembali terucap dari mulut manisnya. Perlahan Rachel dapat merasakan stress nya berkurang setelah pertemuannya dengan pria berkumis bernama Udin itu. Rachel ingin melampiaskan semua beban pikirannya sekarang. Ia menumpahkan seluruh hasrat birahinya sekarang. Tak terasa karena saking nikmatnya, jemari tengah kiri Rachel masuk cukup dalam yang membuat mata Rachel terbuka.
"Aaawwwww"
Rachel lupa kalau dirinya masih perawan. Ia pun terkejut saat dirinya merasa sakit akibat selaput dara yang menjadi mahkota pelindungnya tertusuk oleh jemarinya sendiri.
Rachel pun melihat ke sekitar. Demi memuaskan hasratnya, ia pun bangkit dari posisinya untuk berjalan menuju lantai tiga. Satu demi satu anak tangga ia daki. Tangan kirinya pun bertumpu pada sandaran yang ada di tepi. Tak terasa dua buah dadanya bergoyang tiap kali dirinya melangkah. Rachel kembali mendengus merasakan kesunyian di tempat ini. Ia memejam membayangkan andai ia melakukan ini di pagi hari.
Ia pun terbayang akan wajah para santri yang terpana akibat keberaniannya dalam membuka pakaiannya disini. Ia pun membayangkan saat mata para santri itu menyala menatap dua buah dadanya yang mengacung tegak. Ia pun terbayang saat setiap para santri yang melihatnya menjilati bibirnya masing - masing karena tak tahan akan keindahan payudara yang dimilikinya.
"Ahhhhhhhhhh"
Rachel melenguh pelan sambil meremasi payudaranya disaat pikirannya membayangkan santri - santri itu mendekat saling memperebutkan payudara yang menggantung di dadanya. Ia tak dapat membayangkan bagaimana para santri itu meremasi payudaranya dengan liar.
Rachel pun tak sanggup melangkah lagi. Di lantai tiga itu. Di depan salah satu ruangan kelas. Ia duduk bersandar pada dinding kelas sambil melebarkan kakinya. Mata Rachel memejam dan kedua jemarinya sibuk merangsang titik sensitif nya masing - masing.
“Aaaahhhhhhh... Mmmmhhhhh yahhhh !!”
Jemari kanannya sibuk meremasi payudaranya sementara jemari kirinya sibuk membasahi vaginanya. Berulang kali desahan demi desahan itu terucap dari mulut manis sang ustadzah. Ia tak peduli andai suaranya terdengar oleh orang lain. Ia sudah terangsang hebat. Ia ingin menuntaskannya segera.
“Ouuhhhhhhhh.... Ouhhhhhhhhhhhh.... Uhhhhhhhh”
Rachel pun mulai merasa kalau ada aliran gelombang yang secara serempak mengalir menuju lubang kencingnya. Rachel semakin memejam. Mulutnya semakin terbuka lebar. Jemari - jemarinya pun semakin giat dalam merangsang titik sensitifnya. Terdengar suara cipratan air yang berasal dari lubang kemaluannya. Liang senggamanya semakin becek. Rachel pun mempercepat gesekan jemarinya di bibir vaginanya.
“Aahhhh ahhhhhhhhhhhhh”
Terlihat payudara Rachel semakin kencang. Tampak sudah kalau Rachel sedang berada di puncak kenikmatannya. Nafasnya pun mendadak sesak. Ia menghela nafasnya dengan begitu cepat.
“Ouhhhhhh ouhhhhhh ouhhhhh... Dikittt lagiiiii.... Aahhhhhhh !
Cccrrrrrrtttt... Crrrrtttttt !!!
“Iyyyyaaaahhhhhhhhhh !!!!”
Rachel berhasil mencapai klimaksnya saat cairan cintanya dengan deras menyemprot keluar dari lubang vaginanya. Berulang kali kaki - kakinya ia rapatkan disaat semprotan cairan cintanya mencapai klimaks. Nafas Rachel memberat. Tubuhnya pun mengejang hebat. Ia kesulitan untuk membuka matanya akibat kenikmatan yang sedang ia rasakan.
Berulang kali tubuh montok Rachel terangkat naik saat orgasme berhasil datang menghampirinya. Rachel sangat puas. Ia pun lega karena berhasil melampiaskan rasa stressnya dengan bermasturbasi dikala sepi. Rachel pun memejam sambil mengusap dahinya. Ia terbayang akan janji yang harus ia tepati besok. Janji untuk bertemu dengan seorang pria tua yang sangat ia benci.
“Hhhhhhhh... Hhhhhhh... Andai hari esok tidak pernah ada !” kata Rachel terbayang akan tugas berat yang harus ia hadapi besok.
*-*-*-*
Esoknya di siang harinya.
"Jadi gimana menurut antum ? Apa sudah tepat proker yang telah kita buat?" Tanya Nisa pada juniornya.
"Bagus sih ustadzah... Tiap Jumat pagi sebelum ada lari pagi kita akan mengadakan kegiatan bahasa di depan aula pertemuan... Kebetulan juga kan disana cukup luas areanya" Kata Rachel menyetujui.
"Lalu, apa ada usulan kegiatan gitu ? Masa iya kegiatan bahasanya cuma conversation aja antar santri ? Kalau ada masukan bilang aja, agar kita bisa cepat melaporkannya ke pak Kiyai" Tanya Nisa.
"Ehhmmm apa yahh ?" Jawab Rachel berpikir sejenak. Namun sebenarnya Rachel tidak benar - benar berfikir siang itu. Dirinya menatap ke arah langit lepas. Tampak cuaca sedang mendung saat itu. Apakah cuaca sedang mewakilkan perasaannya sekarang ?
"Ustadzah ?" Kata Nisa mendapati juniornya malah melamun.
"Ehh hehehe afwan ustadzah" Kata Rachel merasa bersalah.
"Antum kenapa ? Kok kayaknya lagi mikirin sesuatu ?" Tanya Nisa sambil tersenyum.
"Ahhh enggak kok ustadzah... Tadi cuma ngeliat langit mendung aja" Jawab Rachel mengelak.
"Beneran ?" Tanya Nisa lagi sambil tersenyum.
"Ihhhh beneran kok ustadzah" Jawab Rachel sambil cemberut yang membuat Nisa tertawa.
Kemudian Rachel melihat ke arah jam tangannya. Tampak kegelisan terlihat di wajahnya. Nisa kembali tersenyum saat menyadarinya.
"Antum lagi ada janji temu yah ? Kok antum keliatan resah gitu ?" Tanya Nisa.
"Hehehe begitu lah ustadzah" Jawab Rachel menunduk.
"Hihihi yaudah kalau antum ada janji... Antum boleh meninggalkan meeting ini kok" Kata Nisa.
"Beneran ustadzah ?" Tanya Rachel tak percaya.
"Iya gapapa... Lagipula asatidz yang lain juga belum pada datang nih... Gak tau pada kemana" Kata Nisa mendengus sebal karena waktu pertemuan yang ngaret.
"Hihihi yang sabar ustadzah... Yaudah yah ana permisi dulu... Wassalamualaikum... Syukron yah ustadzah" Pamit Rachel.
"Walaikumsalam" Jawab Nisa dengan sabar. Rachel pun pergi meninggalkan Nisa sendiri di dalam gedung kantor ini.
Sesuai dugaan. Langit di siang itu cukup gelap. Bahkan ia merasakan adanya tetesan air hujan yang jatuh mengenai wajahnya. Ia pun mempercepat langkah kakinya. Ia berlari terburu - buru menuju suatu tempat demi menemui orang itu. Hatinya setengah terpaksa untuk melakukannya. Karena nuraninya tahu, kalau perbuatan yang selama ini dilakukannya dengan pria berkumis itu merupakan perbuatan yang salah.
Ia berlari secepat mungkin menghindari tetesan air hujan yang semakin deras. Hujan yang awalnya turun setetes demi setetes perlahan berubah menjadi rintik demi rintik. Kemeja berwarna putih yang dikenakannya pun basah. Tangan kanan sang bidadari diangkatnya demi menghalau tetesan air hujan itu. Namun usahanya terbilang percuma karena langit justru menambah volumenya hingga hujan itu perlahan makin deras.
Rachel kalut. Ia mempercepat laju larinya seperti seorang atlet lari jarak pendek. Tak peduli rasa lelah yang dialaminya. Ia tetap berlari secepat mungkin demi menghindari tetesan hujan itu. Akibatnya, dadanya yang tak dijaga ketat oleh cup bra itu bergoyang naik turun tak karuan. Dua payudaranya itu bergerak seirama bagai seorang penabuh drum. Naik - turun, naik - turun, naik dan turun.
Rachel menaikan pandangannya yang kabur akibat terhalang oleh tetesan hujan itu. Ia pun melihat adanya gedung kelas yang menjadi titik temu pertemuannya dengan pria tua itu. Demi mempermudah laju larinya. Rachel sampai mengangkat rok panjangnya hingga kaki - kakinya yang mulus itu nyaris terlihat seluruhnya. Beruntung para santri ataupun santriwati lain yang berada di sekitarnya tidak melihatnya. Mereka sama seperti Rachel yakni sedang berlari secepat mungkin menghindari derasnya hujan. Hingga membuat mereka mengabaikan apa yang ada di sekitar.
"Akhirnya sampai juga" Kata Rachel tiba di gedung kelas untuk berteduh.
Ia pun menoleh ke belakang. Menatap derasnya hujan yang mengguyur pondok pesantren ini. Ia bersyukur dalam hati karena sudah tiba di teras gedung kelas ini. Andai dirinya telat beberapa menit saja. Sudah pasti dirinya akan basah kuyup terkena air hujan.
Kemudian Rachel melihat kemejanya. Agak basah memang tapi untungnya gak basah - basah amat. Rok panjangnya yang basah jadi lengket dengan kulitnya. Berulang kali Rachel membenahi roknya yang melekat hingga mencetak lekuk tubuh bagian bawahnya yang mempesona. Kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Rachel menaikan pandangan dan menemukan orang yang ingin bertemu dengannya mendekat.
"Huehuehue... Basah - basahin nih ustadzah... Asyik dong" Katanya dari kejauhan.
Namun Rachel mengabaikan perkatannya itu. Alih - alih menanggapi, ia malah sibuk memeras roknya hingga air perasan itu jatuh membasahi keramik teras kelas.
"Ustadzah" Sapa Pak Udin kali ini sambil mencolek pipi manis sang ustadzah.
"Apa sih pak !!" Kata Rachel buru - buru menghalau tangan kotor itu.
"Huehuehue... " Pak Udin hanya tertawa saat terkejut melihat keberanian bidadari peliharaannya.
Dah mulai ngelunjak nih... Kayaknya kudu diberi pelajaran biar gak ngelawan lagi !!!
Batin pak Udin.
Pak Udin melihat sejenak pakaian yang dikenakan oleh sang ustadzah. Basah, lembap, tipis dan ia dapat melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam.
Huehuehue... Menggoda juga !
"Apa sih - apa sih ? Gak ramah amat sih jadi ustadzah ?" Kata Pak Udin sambil membelai bahu Rachel.
Rachel hanya menatapnya risih mengharap tangan pria tua berkumis itu segera menyingkir dari tubuhnya. Namun harapannya sirna saat tangan nakal itu makin berani hingga nyaris menyentuh gunung kembarnya.
"Pakkk... Ihhhhh" Kata Rachel merasa jijik.
Pak Udin kembali tertawa saat tangannya kembali dihalau secara kasar oleh bidadari berhijab itu. Jengah karena usahanya dalam menyentuh tubuh montok itu selalu gagal. Pak Udin tak memiliki cara lain selain menggunakan cara pemaksaan.
"Huehuehue.... Makin kenceng aja nih susu" Kata pak Udin yang langsung mencemol payudara indah itu.
"Ahhhhhh.... Pakkk ihhh... Hentikannn... " Kata Rachel mendorong tangan Pak Udin agar menjauh dari tubuhnya.
"Huehuehue... Enak aja... Daritadi saya mau megang tau... Saya kangen ingin nyusu di susu montok ini" Kata Pak Udin sambil meremas - remas payudara itu dengan nafsu.
"Pakkkk... Ihhhh" Kata Rachel merasa risih. Pandangannya pun ia alihkan tuk melihat sekitar. Tidak ada orang memang karena rintik hujan yang semakin deras. Tapi tetap saja. Wanita mana yang mau dirinya dilecehkan oleh pria tua jelek yang memiliki kumis tebal itu.
"Mmmhhhhhhpppp" Desah Rachel terkejut saat tiba - tiba bibir Udin sudah mendarat di bibirnya.
Rachel jengah dengan aroma busuk yang tercium dari mulut pria tua yang sehari - hari bekerja sebagai tukang sapu kelas itu. Bibir Rachel didorongnya dengan nafsu, mulutnya pun merapat sekuat tenaga untuk melindungi diri dari terjangan lidah Udin yang ingin menerobos masuk. Berulang kali tangannya mendorong tubuh tua itu menjauh. Namun nafsu pak Udin yang semakin beringas menyulitkan diri Rachel yang ingin bebas dari dekapan pria itu.
"Mmmppphhhh.... " Desahnya tertahan sambil geleng - geleng kepala.
Ia terkejut saat pak Udin dengan sigap menaikan rok basahnya hingga kaki - kakinya yang mulus itu terlihat. Mata sang ustadzah langsung terbuka saat merasakan goa sempitnya tersentuh oleh tangan kasar pria itu.
"Mmmppphhh... Mpphhhhhh" Rachel menggelengkan kepala ingin menolak. Namun gesekan jari Udin di bibir vaginanya membuat kemaluan milik bidadari itu lembap dibanjiri cairan cintanya. Rachel risih. Berulang kali tangannya bergantian dalam menurunkan rok itu juga mendorong jauh tubuh tua pak Udin.
"Ennggggakkkkkk" Teriak Rachel saat terbebas dari dekapan pria tua itu.
"Huehuehue... Makin mantep nih ustadzah isepannya" Puji pak Udin sambil mengelap liurnya yang menetes di tepi bibirnya.
Rachel buru - buru merapihkan pakaiannya. Roknya ia turunkan dan kemejanya ia rapihkan. Saat ia melihat kemejanya. Ia menyadari kalau kemejanya telah tembus pandang. Ia pun heran, sejak kapan kemejanya jadi seperti ini ? Apa sejak terkena hujan tadi ? Atau setelah diremas oleh pria tua ini ?
Reflek tangannya menutupi payudaranya dari tatatapan serigala jahat yang tengah kelaparan itu. Pak Udin terlihat menakutkan. Bukan hanya karena wajahnya yang jelek. Tapi karena nafsu yang sedang tinggi itulah yang membuat paras pak Udin semakin mengerikan.
"Pakkk... Aku sudah disini kan ? Bapak mau apa ? Cepat katakan dan akhiri segera !!!" Kata Rachel.
"Huehuehue... Buru - buru amat sih ustadzah... Satu kali ciuman lagi gimana ? Gemas saya ingin menyepong bibir itu" Jawab pak Udin yang membuat bidadari itu mengerutkan dahi.
"Cepat pak !!!! Apa mau bapak" Kata Rachel sambil mengelap tepi bibirnya.
"Huehuehue... Yaudah kalau maunya buru - buru mah huehuehue" Kata pak Udin malah tertawa yang membuat ustadzah cantik itu heran.
"Lihat kaki saya sekarang ? Dari pagi saya terjebak disini karena sandal saya hilang diambil orang... Gimana kalau ustadzah belikan saya sandal... Nanti kalau sandal itu sudah sampai ke saya.... Ustadzah boleh pergi dari sini" Kata pak Udin yang membuat Rachel heran.
Rachel pun menurunkan pandangannya. Benar memang kalau pak Udin sedari tadi cuma nyeker disini. Lalu apa iya yang dikatannya kalau dirinya terjebak di gedung ini ? Padahal nyeker aja kan bisa ! Pasti pak kumis satu ini cuma mencari - cari alasan aja.
"Cuma itu ?" Kata Rachel heran.
"Tul... Cuma itu saja" Jawab pak Udin tersenyum.
"Kalau gitu cepat... Berikan uangnya... Mana !!" Kata Rachel menjulurkan tangan.
"Enak aja... Pakai uang ustadzah lah... Kalau pakai uang saya mending saya beli sendiri aja huehuehue" Katanya yang membuat Rachel kesal.
"Ihhh... Yaudah jangan kemana - mana yah pak... Aku belikan sandalnya setelah itu biarkan aku pergi ? Janji ?" Kata Rachel mencoba nego.
"Janji... Huehuehue" Tawanya.
Rachel pun langsung pergi saja setelah mendapatkan deal dari pria tua berkumis itu. Ia berlari tanpa takut menerjang rintik hujan yang semakin deras. Dalam sekejap tubuh Rachel sudah basah kuyup tersiram cairan yang berasal dari langit itu. Segar memang tapi kalau deras gini ya bikin kepala pusing juga.
Sementara pak Udin dari kejauhan tertawa melihat keseriusan Rachel agar bisa terlepas dari dekapannya hari ini. Namun ditengah senyumnya yang mencurigakan. Pria tua itu sedang mengusap - ngusap penisnya yang telah mengeras. ia mengusapnya dari luar celananya. Ia tampak tak sabar untuk merasakan kelezatan tubuh mempesona itu lagi.
"Setelah ini ? Melepaskan ustadzah ? Enak aja... Kita main sebentar lah minimal satu celup dua celup huehuehue" Katanya yang membuat penisnya semakin mengeras karena bernafsu.
Sementara itu Rachel,
"Kenapa aku sampai rela hujan - hujanan begini sih demi pak tua itu.... Awas aja kalau setelah ini gak nepati janji.... Aku kucek - kucek tuh kumisnya !!!" Kata Rachel kesal.
Rachel terus berlari hingga melewati santri - santri yang diam berteduh menanti kapan hujan mereda. Setiap santri yang melihat ustadzah Rachel melintas. Mereka langsung menggerakan wajah mengikuti gerakan kemana ustadzah cantik itu melangkah. Mereka bagai menonton race MotoGP. Yang mana saat ustadzah Rachel itu lewat. Mereka langsung kehilangan jejaknya begitu saja. Namun ada yang membekas di pikiran santri - santri itu saat pertama kali melihat ustadzah nya berlari dibawah kerumunan hujan. Umumnya mereka semua serempak mengucek mata mereka. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata mereka sendiri. Mungkinkah ? Ustadzah Rachel telanjang ? Mereka ragu sesaat setelah melihat kemeja putih itu. Atau jangan - jangan ustadzah Rachel tidak mengenakan apa - apa dibalik kemeja itu ? Seketika penis mereka masing - masing mengeras saat mengingat gerakan payudara sang ustadzah yang memantul - mantul disaat berlari tadi.
"Nah itu dia bagian koperasi pelajar" Kata Rachel saat melihat tempat yang menjual sandal sudah dekat.
Selayaknya bagian koperasi pada umumnya. Disini koperasi ditugaskan untuk menjual berbagai kebutuhan santri mulai dari makanan, alat mandi, sabun, kemeja dan termasuk sandal juga. Ya walau sendal yang dijual hanya ber-cap sewalow saja.
"Assalamu'alaikum" Sapa Rachel tanpa ragu ketika memasuki koperasi itu.
"Naam... Wa'alaikum. . . . " Ustadz yang sedang berjaga itu terdiam saat melihat ustadzah Rachel masuk dari pintu masuk. Ia terdiam, buku yang tadi dibacanya jatuh tergeletak begitu saja, kacamatanya ia lepas kemudian mengucek matanya yang tidak gatal dan mulutnya terbuka lebar tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Wajah manis ustadzah itu lembap gara - gara tersiram air hujan. Tunggu ! Itu sudah biasa. Tapi saat ia menurunkan pandangannya sedikit. Ia menemukan dua bola besar yang menggantung seukuran buah melon di dada sang ustadzah. Ia menemukan dua bola bulat itu tergantung secara bebasnya. Tidak ada sesuatu pun yang menutupi atau bahkan menahan bola indah itu agar tidak jatuh ke bawah. Hebatnya dua buah dada itu terlihat kencang tegak menantang. Akibatnya burung milik ustadz itu pun tertantang. Tanpa sadar burung miliknya mengeras saat terpana melihat bulatan indah milik sang ustadzah yang telah matang.
“Afwan ustadz... Tempat sendal di sebelah mana yah ?” tanya sang ustadzah buru - buru.
Ustadz itu masih diam ketika tatapannya terkunci pada dua bulatan indah di dada sang ustadzah.
“Ustadz !” panggil Rachel lagi.
“Ehh iya ?” tanya ustadz itu terkejut.
“Tempat sendal di sebelah mana yah ?” tanya Rachel sekali lagi.
“Ohh sendal... Anu itu ada di pojok sebelah sana yah ustadzah” kata ustadz itu sambil menunjukan arahnya.
“Syukron ustadz” kata Rachel segera berlari menuju tempat yang ditunjukan oleh ustadz tadi.
Seketika ustadz penjaga koperasi itu merasa pusing. Ia menggelengkan kepalanya serasa ada yang salah di dalam otaknya. Saat dirinya kembali melihat Rachel berlari, Kembali dirinya membeku menatap dua payudara itu yang loncat mendal - mendul mengikuti langkah kaki pemiliknya. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya setelah ia dewasa. Ia pun menatap payudara seorang wanita yang begitu indah. Putingnya yang berwarna pink mengacung tegak menembus tipisnya kemeja basah yang dikenakan sang ustadzah. Entah kenapa pikirannya semakin ternoda. Burungnya bergejolak meronta - ronta. Tangan kanannya pun gatal ingin mencekik penisnya dan mengeluarkan gairah birahi yang semakin tak tertahan.
“Aduh dimana sih yah sendalnya ?” kata Rachel terburu - buru.
Ia melihat ke kiri dan ke kanan mencari sandal yang bisa ia beli. Kebetulan ia menemukannya. Namun tak sengaja, ia melihat adanya cermin yang terpasang di tepi bagian atas dinding koperasi pelajar. Tubuh Rachel membeku seketika. Ia tak mengira dengan apa yang terjadi pada pakaiannya.
Saat ia melihat ke atas di bagian kepala. Ia masih merasa normal dengan hijab yang dikenakannya. Namun saat ia melihat tubuh bagian atasnya mulai dari kemeja tipis yang dikenakannya. Ia dengan jelas mampu melihat tubuhnya di balik kemeja yang ia kenakan. Ia seperti tidak berpakaian. Ia mampu melihat kulit beningnya sendiri. Apalagi dua payudara yang tegak karena kedinginan disana. Seketika ia merasa malu. Ia pun menutupi tubuhnya menggunakan sandal yang ia pegang.
“Ustadz tadi sadar gak yah dengan pakaianku ini ?” tanya Rachel dengan lirih.
Ia pun ragu untuk mendekati ustadz itu kembali. Lalu apa yang harus ia lakukan disini ? Cuma diam menanti ? Tanpa melakukan apapun sama sekali ? Jelas itu merupakan tindakan yang membosankan.
Ia pun melongokan kepalanya mengintip apa yang sedang ustadz itu lakukan. Ustadz itu sedang menatap layar komputernya. Ia pun merasa kalau ustadz tadi tidak menyadari pakaiannya. Ia bersyukur lega. Saat dirinya melihat ke luar. Tampak rintikan hujan itu masih turun membasahi. Tidak ada tanda - tanda sama sekali kalau hujan akan segera mereda. Kembali Rachel menarik kepalanya kemudian menyandarkan tubuh montoknya ke dinding koperasi pelajar itu.
“Hah... Apa yang harus aku lakukan sekarang ?” kata Rachel berdebar.
Ia memang seringkali telanjang di tempat terbuka. Bahkan semalam ia telah melakukan kebiasannya itu dengan berjalan - jalan di gedung kelas sambil telanjang dan bermasturbasi disana. Walau ia sempat membayangkan bagaimana saat para santri berebutan dalam meremasi payudaranya. Tapi itu hanya sekedar fantasi saja. Ia merasa malu bahkan ia tak sanggup untuk melakukannya di kehidupan nyata. Ia pun ragu tuk melangkah tapi ia tak mau berlama - lama disini. Akhirnya setelah membulatkan tekadnya. Ia pun memberanikan diri mendekati ustadz tadi untuk membayar sendal yang sedang ia bawa.
“Afwan ustadz” kata Rachel.
“Ehhh iyyahh” kata ustadz tadi terkejut hingga tubuhnya meloncat. Bahkan Rachel melihat kalau tangan ustadz itu segera ditarik dari bawah. Apa yang telah dilakukannya hingga membuat ustadzah montok itu curiga.
Rachel menatap sejenak memperhatikan ustadz itu. Kacamata yang melekat di wajahnya. Buku bacaan yang tergeletak di samping keyboardnya. Jelas ustadz ini pasti kutu buku. Saat Rachel melihat gaya rambutnya. Terlihat rambut itu disisir dengan gaya belah tengah. Rachel terkejut dengan gaya yang dimiliki oleh ustadz itu. Sekilas ustadz itu terlihat culun di hadapan Rachel.
“Ini berapa yah ?” kata Rachel sambil tangan kirinya berusaha menutupi payudaranya senatural mungkin.
“Ini...” Kata ustadz tadi berpura - pura melihat layar komputernya tuk mengecek harga. Namun tatapannya menoleh tuk menatap tubuh sang ustadzah. Ustadz itu pun terpana dengan bulatan indah itu. Walau putingnya tertutupi tangan sang ustadzah. Tapi bulatan yang besar itu jelas membuat dirinya semakin penasaran.
“Ini.... Sepuluh ribu rupiah aja ustadzah” kata ustadz itu.
“Ohhh iya ustadz” kata Rachel sambil merogoh uang di saku kemejanya.
Saat itulah payudara Rachel kembali bebas tak ada yang menutupi. Ustadz itu pun dapat melihat putingnya yang berwarna kemerahmudaan lagi. Mata ustadz itu melebar seketika. Ia benar - benar takjub hingga membuat nafsunya memuncak tak dapat lagi tertahankan.
“Ini yah ustadz” kata Rachel segera memberikan uang itu.
Ustadz itu hanya mengangguk sambil menerima uang tersebut. Rachel hanya diam mematung di depan kasir tersebut. Ia bimbang saat melihat hujan yang semakin deras di luar. Kesempatan ini pun tidak di sia - siakan oleh ustadz itu untuk mengocok penisnya yang sudah bebas di keluarkan olehnya. Ia mengocoknya sambil diam - diam memperhatikan lekuk tubuh ustadzah yang sedang berdiri di hadapannnya.
“Uhhhhh... Uhhhhh.... Uhhhhh” desahnya dengan lirih.
Sialnya lagi Rachel lupa untuk menutupi payudaranya. Rachel membiarkan payudara itu menggantung karena terlalu fokus melihat ke luar ruangan. Kedua tangannya dibiarkan di kedua sisi tubuhnya. Pemikirannya sedang sibuk berdebat untuk memutuskan apa yang harus ia perbuat sekarang.
“Uhhhhhh... Susu itu... Uhhhhhh bulatnyaaa” desahnya sambil mengamati payudara sang ustadzah.
Ustadz itu pun terbayang saat kedua tangannya meremasi susu montok disana. Ia pun membayangkan bagaimana puasnya saat kedua tangannya mampu meremas susu itu dan menyeruput putingnya. Ia sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak memikirkan siapa dirinya dan siapa ustadzah disana. Ia hanya ingin membuang pikiran kotor dengan cara mengeluarkan cairan spermanya. Tapi bagaimana ? Hanya dengan masturbasi ?
“Ustadz....” Sapa Rachel yang membuat ustadz itu terkejut.
“Ehhh iyya... Iyyaa ustadzah” katanya.
“Disini ada payung gak ustadz ? Atau papan yang gak digunakan lagi ?” tanya Rachel.
“Ehhh payung... Anu gak ada ustadzah... Untuk papan kayaknya ada disana” kata Ustadz itu segera memasukan burungnya ke kandangnya lagi kemudian berdiri keluar untuk menunjukan papan itu. Ia merasa kalau di balik pintu masuk ada sebilah papan yang tak digunakan lagi.
Entah kenapa kaki ustadz itu merasa sulit untuk melangkah. Untuk berdiri saja ia tak sanggup. Apakah karena terlalu asyik beronani tadi ? Walau belum mendapatkan klimaksnya, ia merasa lututnya agak sedikit sakit. Ia pun menarik pintu masuk itu. Benar saja ada sebilah papan disana.
“Disini ustadzah” kata ustadz itu hendak memberikan papannya.
“Naam ustadz.... Syukk . . . . “
“Ehh awas ustadzah !!!”
Belum sempat Rachel menuntaskan kalimatnya. Disaat dirinya melangkah mendekati ustadz culun itu. Kakinya tersandung sesuatu yang membuat tubuh Rachel terjatuh menindihi ustadz berkacamata itu.
“Aaaahhhhhhhhhh” ustadz itu berteriak kaget saat tubuhnya tertindihi tubuh montok sang ustadzah. Kepalanya ada di depan pintu yang terbuka. Kepalanya pun sedikit terciprati rintikan air hujan dari luar. Tapi bukan itu yang membuat ustadz culun itu berteriak sedikit mendesah.
Tapi karena penisnya yang sedang mengeras tertindihi oleh tubuh sang ustadzah. Tangan kanannya yang hendak menahan tubuh montok itu justru tertindihi oleh payudaranya yang ranum. Tanpa sadar saat tangan itu berkontak dengan bulatan montok itu. Tangan itu bergerak cepat melakukan gerakan seperti meremas - remas.
Teottt - teott... Teotttt - teottttt....
Sebuah dorongan yang dilakukan tubuh Rachel ke penis sang ustadz walau tidak dilakukannya dengan sengaja. Sudah mampu untuk menekan nafsunya menuju kenikmatan tertinggi. Ya di siang hari saat hujan deras itu. Ustadz itu berhasil mendapatkan klimaksnya saat tubuh kurusnya ditindihi oleh tubuh montok sang ustadzah.
“Aaaahhhhhhhhhhh”
Mata ustadz culun itu merem melek menahan nikmat. Erangannya pun dahsyat. Sesekali tubuhnya mengejang merasakan semprotan yang begitu hebat keluar di dalam celananya.
“Usttaddzzz... Ustaddzzz gapapa ?”
Rachel yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi merasa khawatir. Ia merasa bersalah karena telah menindihi tubuh ustadz itu. Apalagi saat melihat matanya yang merem melek.
Jangan - jangan ?
“Ustadzz.... Ustadzz gapapa kan ? Jangan pergi ustadz... Aduhhh ana gak sengaja melakukannya ustadz” kata Rachel khawatir.
Ia merasa takut andai dirinya tak sengaja membunuhnya. Apalagi kepalanya sempat terbentur cukup keras. Ditambah matanya yang merem melek begini ? Rachel merasa khawatir dengan perbuatannya tadi.
“Ahhhhhh... Gakk... Gakkk papa ustadzah” kata Ustadz culun tadi yang masih mengejang menahan nikmat atas orgasme yang berhasil di dapatkannya.
“Ustadz gapapa ? Huft syukurlah... Ana kira ustadz kenapa - kenapa tadi !” kata Rachel merasa lega,
“Hehehe gapapa ustadzah... Hehe” kata Ustadz itu masih merasa lemas.
Rachel pun membantu ustadz itu untuk duduk menyandar di dinding koperasi. Rachel pun meminta izin untuk pergi meninggalkannya sendiri. Ustadz itu mengangguk menyetujui. Ustadz itu bahkan berterima kasih atas apa yang telah di dapatkannya siang ini.
Rachel heran. Kenapa ustadz itu malah berterima kasih ?
“Yaudah yah ustadz... Sekali lagi afwan ana gak sengaja tadi.... Permisi wassalamualaikum” izin Rachel pamit.
“Waa.... Waalaaikum salam hehehe” kata Ustadz tadi sambil mengangkat jempolnya yang lemas.
Rachel pergi berlari sambil membawa papan tadi diatas kepalanya. Rachel bersyukur ustadz tadi tidak kenapa - kenapa. Tapi ada satu lagi yang harus ia khawatirkan. Yakni seseorang yang akan ia temui sebentar lagi.
Untungnya Rachel dapat merasakan kalau hujan itu mulai berkurang derasnya. Hujan itu tidak sederas tadi. Tapi masih cukup deras untuk membuat tubuhnya basah kuyup. Selama perjalanan balik itu. Berulang kali dirinya misuh - misuh pada pria berkumis itu yang telah memintanya membelikan sandal.
“Ngerepotin aja !” kata Rachel.
Sesampainya di gedung kelas. Ia melihat pak Udin sudah berdiri menanti kehadirannya. Pak Udin tertawa girang melihat kehadirannya. Ia merasa kalau kegirangannya itu bukan berasal dari sendal yang telah ia beli. Tapi dari payudaranya yang terasa meloncat - loncat dibalik kemeja transparan yang sedang dikenakannya.
Dasar otak mesum !
“Huehuehuehue... Makasih ustadzah atas sendalnya” katanya tertawa.
“Ini... Aku sudah bisa pergi kan pak ?” kata Rachel tanpa merespon ucapan terima kasih itu.
“Pergi ? Kemana ? Ke hati saya ? Huehuehue” katanya tak tahu diri.
“Pakkkk !!!!” kata Rachel sebal.
“Huehuehue dasar gak bisa diajak betjanda ! Iya boleh kok... Tapi setelah . . . . .” kata Pak Udin yang membuat perasaaan Rachel tidak enak.
“Apa lagi pak ? Bapak udah janji kan ?” kata Rachel.
“Iya emang... Tapi janji kan bisa diperbarui kan yah ? Huehuehue” kata Pak Udin melangkah mendekat.
“Apa ? Pakkk... Tolongg pak... Jangan gitu dong... Bapak udah janji tuk membiarkan aku pergi setelah membeli sendal ini !” kata Rachel. Saat melihat pria berkumis itu mendekat. Ia melangkah mundur karena ketakutan.
“Hehehe maaf ustadzah... Sekarang saya janji tuk melepaskan ustadzah setelah nafsu saya terpuaskan !” kata pak Udin yang membuat bidadari itu tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“AAaahhhhhhhhhh” desah Rachel saat payudaranya diremas.
Pak Udin terkekeh - kekeh di hadapan wajah Rachel yang makin muak dengan sikap pria tua itu. Pak Udin tertawa dengan nada yang menyebalkan sambil meremasi payudara montok sang ustadzah. Genggaman tangannya membuka kemudian mencengkram kuat payudara yang masih tersembunyi di dalam. Karena saking kuatnya. Rachel pun mendesah sekeras - kerasnya tuk mengekspresikan nafsu yang pak Udin salurkan padanya.
“Huehuehuehue mantap nian ustadzah... Montok banget” kata Pak Udin kali ini sambil memanyunkan bibirnya hendak mencumbui bibir itu lagi.
Rachel jelas memundurkan kepalanya menjauh sejauh mungkin dari bibir tua itu. Nafasnya yang bau menambah alasan yang harus diberikan kenapa Rachel begitu giat menolak cumbuan pria tua itu.
Namun apa daya. Nafsu pak Udin yang tak terbendung telah berhasil mendarat di bibir tipis itu. Dengan penuh nafsu pak Udin mendorong bibirnya melumat habis bibir itu sambil menyalurkan seluruh nafsunya padanya.
“Mmmmpppphhhhhhhh !!!” desah Rachel memejam.
Berulang kali mulut Pak Udin membuka tuk mencaplok keseluruhan bibir itu. Lidahnya berulang kali menggeliat tuk mengoles tepi bibir Rachel yang tertutup rapat. Mulai dari bibir bagian atas. Lidah itu pun bergerak tuk mengincar bibir bagian bawahnya.
“Mmmppphhhhhh pakkkk... Lepasskannnn !!!” Kata Rachel berusaha mendorong pak Udin menjauh.
Tubuh Pak Udin memang sempat terdorong tapi nafsunya tidak mengalah tuk kembali mendekati ustadzah montok itu. Kedua tangannya pun mendarat di rok ketat itu kemudian meremas bongkahan pantatnya sambil mencumbui bibir manisnya.
“Slllrrppppp.... Uhhhhhh montok banget ustadzah... Saya suka... Saya gemas banget sama pantat ini !” kata Pak Udin sambil menampar - nampar bokong Rachel.
“Aahhhh... Ahhhh pakkk sakittt !” desah Rachel.
Saat bokong Rachel tertampar. Tubuhnya otomatis mendekat ke arah selangkangan pak Udin. Pak Udin pun tersenyum merasakan kepuasan yang ia dapatkan.
“Eeehhhh pakkk... Apa yang bapak lakukan ? Jangan disini pak... Jangann !!!” kata Rachel panik saat tangan Pak Udin hendak menurunkan roknya.
“Huehuehue kenapa ? Gak ada orang juga ustadzah” kata Pak Udin tak memperdulikan perkataan Rachel.
Berulang kali tangan Rachel menahan tangan pak Udin agar tidak menurunkan resleting roknya. Berulang kali ia berusaha dan berulang kali juga ia gagal tuk menahan nafsu besar pak Udin. Resleting roknya sudah turun. Pak Udin pun menurunkan rok yang Rachel kenakan hingga rok itu jatuh tergeletak begitu saja diatas keramik teras kelas di lantai satu.
Pak Udin tersenyum sambil masih mencumbui bibir sang ustadzah. Kadang cumbuannya mendarat di pipi. Kadang lidahnya yang bergerak tuk menjilati pipi manis sang ustadzah.
“Ehhhh pakkkkkk !!!” kata Rachel berteriak saat Pak Udin dengan paksa membuka kemejanya hingga kancing - kancing itu pun lepas dan berjatuhan di keramik teras kelas.
Rachel panik. Bagaimana ia bisa pulang kalau seluruh kancing itu terlepas dari kemejanya ! Tapi Pak Udin tak membiarkan Rachel jatuh ke dalam kepanikan. Tangan nakalnya langsung meremasi payudara itu dan bibirnya langsung mendarat tuk mencumbui dada sang ustadzah.
“Aahhhhhhh pakkk.... Jangannn.... Hentikannn pak !” desah Rachel.
Pak Udin tak mengindahkan. Ia malah semakin bernafsu dalam mencumbui dada sang ustadzah. Bahkan ia sampai meninggalkan bercak merah di dada yang menjadikannya kenang - kenangan bagi sang ustadzah yang sebentar lagi akan menikah.
Pak Udin pun mengeluarkan penisnya dari balik celana kolornya. Tangan Rachel diminta untuk menggenggam penisnya. Rachel dengan paksa menuruti keinginan pria berkumis itu. Pak Udin melenguh nikmat saat merasakan cengkraman tangan halus sang ustadzah di penisnya. Pak Udin pun semakin bebas menikmati kepuasan yang ia dapatkan dari tubuh sang ustadzah.
Sllrrrpppp... Uhhmmm... Montok banget sih susu ini ustadzah... Sllrrppp... Saya gak bisa meninggalkan benda nikmat ini !” kata Pak Udin terus menyusu di payudara Rachel.
“Aahhhhh pakkk... Hentikannn... Jangan lakukan itu pakkk ouhhh geliiii !” kata Rachel merinding nikmat.
Pak Udin berkali - kali berpindah dari susu kiri ke susu kanan. Ia menjilatinya, ia menghisapnya dan ia menggigitnya pelan terutama puting yang mengacung tegak disana. Dikala ia menyusu di susu kirinya maka ia meremas susu kanannya yang menganggur. Disaat ia menyusu di susu kanannya maka ia meremas susu kirinya yang menganggur. Hal itu dilakukannya berkali - kali yang membuat tubuh sang ustadzah bergetar menerima rangsangan hebat yang diberikan pria tua berkumis itu.
Akibatnya tangan Rachel semakin erat dalam membetot penis tua itu. Pak Udin blingsatan menerika cengkraman kuat sang ustadzah. Ia begitu puas membuatnya segera melepas kemeja yang masih menggantung di lengan ustadzah cantik itu.
“Pakkkkkk !!!” desah Rachel saat ia sudah bertelanjang bebas menyisakan hijab, kaus kaki dan sepatu yang masih dikenakannya.
“Huehuehuehue... Ayo kita ke belakang kelas ustadzah !” ajak pak Udin menyeret tangan Rachel.
“Ehhh pakk... Mau kemana ? Tunggu itu pakaian aku !” kata Rachel panik. Ia pun menoleh menatap pakaiannya yang terkapar begitu saja di teras kelas. Tubuh telanjangnya dibawa entah kemana oleh pria tua berkumis ini. Rasanya aneh ketika bertelanjang di tempat terbuka di ruangan terang seperti ini. Kesempatan untuk dilihat orang - orang semakin terbuka. Perasaan Rachel berdebar kencang andai ada seseorang yang melihatnya bertelanjang seperti ini. Apalagi Hujan mulai berubah menjadi rintik - rintik. Kesempatan para santri untuk keluar dari tempat berteduhnya pun membesar. Apakah ada seseorang yang memergokinya sekarang ?
Pak Udin membuka gerbang menuju area persawahan yang tempo hari pernah Rachel jadikan tempat bermasturbasi di tempat terbuka.
Setelah membuka gerbang itu dan menutupnya kembali. Segera tubuh Rachel diposisikan sedemikian rupa dengan membelakangi tubuh tuanya. Pak Udin pun meremas payudara Rachel dari belakang. Bibirnya mendarat tuk mencumbu punggung mulusnya. Sementara penisnya ia dorongkan ke kulit bokong Rachel yang begitu mulus, halus dan terurus.
“Uhhhhhh ustadzahhhh !” desah pak Udin begitu menikmatinya.
“Aaahhhhh pakkk... Jangan keras - keras... Ahhhh sakitttt aaaahhhh” desah Rachel.
Berulang kali mata Rachel melihat sekitar tuk memeriksa keadaan. Hatinya begitu berdebar khawatir dirinya akan ketahuan akibat nafsu buas pak Udin dibelakang.
Pemandangan disekitarnya cukup asri dengan keindahan dari berbagai tanaman yang baru disirami air hujan. Aroma hujan juga terasa dimana - mana yang membuat pikiranya begitu segar terbuka. Ya harusnya seperti itu kalau tidak ada pria mesum yang sedang menikmati tubuhnya di belakang.
“Kakinya buka yah ustadzah... Nah iya seperti itu... Ouhhhhhhhhhh” kata Pak Udin setelah memposisikan penisnya agar dijepit oleh selangkangan Rachel.
Pak Udin dapat merasakan kelembaban di sisi atas penisnya yang bergesekan langsung dengan lubang kenikmatan sang ustadzah.
Kedua tangan pak Udin mencengkram pinggang ramping sang bidadari. Ia mencengkramnya kuat sambil menggerakannya naik tuk meraba kulit halusnya. Kemudian matanya memejam sambil mendorongkan pinggulnya tuk merasakan gesekan yang ia dapatkan di bawah.
“Ouuhhhhhhhh ustadzahhhh !” desah Pak Udin nikmat.
Sementara mulut Rachel terbuka saat bibir kemaluannya tergesek oleh benda keras berwarna hitam itu. Matanya turut memejam merespon rangsangan yang pak Udin berikan.
Saat pak Udin semakin mempercepat gerakannya. Tubuhnya yang montok itu terdorong maju mundur. Rachel seperti sedang disetubuhi. Padahal nyatanya tidak. Penis itu tidak masuk ke dalam. Melainkan hanya menggesek tepi bibir vaginanya saja. Pak Udin memiliki perjanjian untuk tidak menjebol keperawanan sang ustadzah. Pak Udin tak menyesalinya karena rasanya sudah cukup nikmat dengan menggesek kemaluan sang ustadzah dengan cepat.
“Aahhhh.... Ahhhhh... Ahhhhh pakkkkkkk” desah Rachel sambil tangannya berusaha tuk mendorong cengkraman tangan pak Udin di pinggangnya.
Rachel berusaha menolak dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Bibirnya pun ia rapatkan dan tangannya ia usahakan tuk mendorong tangan pak Udin itu. Namun usahanya percuma yang ada malah gerakan pak Udin semakin cepat dalam menggenjoti selangkangannya.
“Aahhhhh ahhhhhh ouhhhhh ustadzahh... Uhhhhh” kata Pak Udin.
Pak Udin pun melampiaskan nafsunya dengan menampar - nampar bokong montok itu hingga kemerahan. Berulang kali Rachel berteriak mendesah yang desahannya semakin merangsang nafsu pak Udin untuk bertindak lebih.
“Eehhh pakkk... Ahhhhhh... Bapak janji kan untuk tidak melakukannya !” kata Rachel saat merasakan penis itu berusaha membelah vaginanya.
“Huehuehue... Iya dong ustadzah... Ini cuma dorong - dorong doang kok” kata Pak Udin.
“Ihhh jangan pakk... Nanti kelepasan.... Ahhhhh” desah Rachel saat merasakan ujung gundul yang berbentuk jamur itu telah masuk ke dalam lubang sempitnya.
“Aaahhhhhhhhhhhhh” desah Pak Udin nikmat.
“Pakkkk hentikannnn... Uhhhh pakkkk jangannnnn” kata Rachel merasakan penis itu berusaha mendorongnya.
Uhhhh nikmat banget.... Sial kenapa waktu itu saya mengiyakan perjanjiannya ! Gak mungkin kan kalau kontol saya ini harus ditarik keluar lagi !
Batin pak Udin merasa nanggung.
“Pakkkk keluarkann... Jangan paksa pak... Jangan didorong lagi ahhhhhhhh” desah Rachel.
Sialnya suara desahan Rachel semakin menaikan birahinya. Pak Udin pun bimbang haruskah ia mendorongnya tuk memecahkan segel keperawanan Rachel ? Atau membiarkannya saja dan mencari cara lain tuk mendapatkan kenikmatan yang lebih ? Seketika pak Udin tersenyum terpikirkan sebuah ide.
“Ahhhhhhhhhhhh” desah Rachel mengatupkan pahanya saat pak Udin menarik keluar penisnya.
Ujung gundul penis itu pun berkilauan saat terseliputi cairan cinta sang ustadzah. Pak Udin mengocoknya sejenak kemudian meludahinya dan melumuri seluruhnya dengan liur licinnya.
Sementara Rachel masih terengah - engah setelah dirinya nyaris kehilangan keperawanannya. Ia bersyukur masih dapat menjaganya. Tapi ia bingung kenapa Pak Udin diam di belakang. Ia pun menoleh tuk menatap pria berkumis itu.
“Ehhhhhh !!!”
Belum sempat menoleh, ia sudah merasakan benda keras yang mendarat di lubang belakangnya. Mata Rachel membesar saat merasakan penis besar nan keras dari pria tua itu mendorong pinggulnya saat hendak membelah lubang anusnya. Reflek Rachel meringis menahan perih sambil menoleh ke pak Udin.
“Pakkkk... Apa yang bapak lakukan !!!” kata Rachel.
“Huehuehue saya gak ada janji untuk tidak memasuki lubang ini kan ?” kata Pak Udin yang membuat mata Rachel terbuka lebar.
Maksudnya ? Bapak mau memasuki lubang belakangku ?
“Aahhhhhh pakkkk sakiititttttt !!!” teriak Rachel sambil menampar - nampar tangan pak Udin yang masih mencengkram pinggangnya.
“Uhhhh semppiitttnyyaaa... Serreettt euyyyy !” desah pak Udin.
“Aahhhh pakkk... Hentikann... Ahhhhhhhh !” desah Rachel saat anusnya dibelah oleh tombak raksasa Udin. Seperti Odin sang dewa Asgaard yang merupakan ayah dari Thor. Udin juga memilki tombak sakti yang dapat membuat wanita manapun berteriak. Khususnya Rachel yang saat ini sedang merasakan kesaktiannya. Kalaupun Odin memiliki tombak Bernama Gungnir. Maka Udin memiliki tombak bernama Kuntir. Kuntul yang bikin ketar - ketir.
“Aahhhhh pakkkk.... Ahhhhhhhh” desah Rachel merasakan penis itu semakin dalam saat menusuk anusnya.
Pak Udin puas bisa membenamkan penisnya sedalam - dalamnya ke lubang anus sang ustadzah. Terlihat darah kental pun mengalir dari dalam anusnya. Pak Udin tertawa terkekeh - kekeh merasakan kepuasannya. Ia pun mendengar suara tangisan yang berasal dari tunggangannya.
“Huehuehue... Gak usah nangis ustadzah... Tahan sebentar yah... Bakal asyik kok” kata Pak Udin.
Rachel tak tahan lagi. Perutnya merasa mual dan anusnya terasa sakit tertusuk penis pak Udin itu. Air mata pun mengalir keluar membasahi wajahnya. Pak Udin tertawa sambil mengusap - ngusap tubuh polos Rachel agar sang ustadzah dapat terbiasa dengan penetrasi kasarnya. Setelah dirasa cukup. Pak Udin kembali menggerakan pinggulnya tuk mendorong - mundurkan tubuh montok itu.
“Aahhhhhh ahhhhhh ahhhh” desah Rachel ditengah tangisnya.
“Huehuehue... Nikmatnyaa... Ouhhh sempitnya... Ahhhhhh” desah Pak Udin keenakan.
Penisnya terasa seret karena kurangnya pelumas yang ada di dalam. Namun hal itu tidak serta merta menghilangkan rasa nikmat yang ia rasakan. Sebaliknya kenikmatan itu makin terasa hingga membuat pinggulnya tak mau berhenti dalam menggenjoti anus sempit sang ustadzah.
Berulang kali tangan Pak Udin mengusap punggungnya, kemudian naik meremas payudaranya. Pak Udin pun menegakan tubuh sang ustadzah yang menunduk sedari tadi. Bibirnya lekas mencumbui bahu sang ustadzah sembari tangannya meremas dengan puas bulatan yang menggoda disana.
Nafasnya terengah - engah saat penisnya berulang kali memasuki lubang anusnya. Gesekan nikmat yang menjepit penisnya membuat gairah birahinya menjadi - jadi. Berulang kali tangannya meremas payudara itu. Memelintir putingnya kemudian turun meraba perut ratanya. Bahkan jemarinya juga hinggap di vaginanya membuat ustadzah montok itu gelisah merasakan rangsangan dari lubang bagian depan dan lubang bagian belakang.
Himpitan yang begitu menantang dari lubang kotoran sang ustadzah membuat penisnya di dalam berdenyut kencang. Pak Udin heran kenapa dirinya bisa secepat ini merasakan adanya gelombang yang mengalir di dalam. Apakah karena efek jepitan anus sang ustadzah ?
Pak Udin tak peduli lagi. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Ia terkejut saat ia hendak menarik penisnya. Penis itu seperti menyangkut seolah tak ingin keluar dari lubang sempit itu.
“Huehuehuehue”
Pak Udin pun berusaha. Ia menggerakan pinggulnya ke belakang kemudian mendorongnya ke depan. Ia tarik lagi terus dorong lagi. Tarik lagi terus dorong lagi. Sesekali ia menampar bokongnya dan mencengkram kuat payudaranya. Pak Udin tak sanggup lagi. Birahinya sudah memuncak. Ia pun menancapkan penisnya sedalam - dalamnya hingga terbenam di dalam lubang anus itu.
“Uhhhh.... Ustadzahh... Ustadzahh.. Ahhhh.... Ahhhhhhhhh saya...... UUUHHHHHHHHH !!!!!!” desah Pak Udin dengan nikmatnya saat menyemprotkan seluruh spermanya di dalam.
“Aahhhhhhhhhh” Rachel berteriak terkejut saat lubang kotorannya disirami oleh cairan yang hangat. Tubuh Rachel lemas seketika. Kaki - kakinya tak sanggup menompa tubuhnya. Matanya merem melek. Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati pria tua itu juga merem melek sampai bergidik nikmat merasakan kepuasan.
“Uhhhhh... Uhhhhhh... Uhhhhhh” desah pak Udin sambil sesekali mencumbui punggung Rachel yang terbuka.
Kaki Rachel benar - benar lemas hingga membuatnya berlutut diatas tanah dipinggiran area persawahan itu. Penis pak Udin yang berada di dalam pun lepas seketika. Penisnya yang sudah mengecil ditambah dengan licinnya anus Rachel setelah disirami oleh semprotan spermanya turut membantu dalam memudahkan keluarnya penis itu. Tak disangka hujan saat itu berhenti. Pak Udin tersenyum kemudian dirinya segera menunjuk ke arah timur saat melihat keindahan disana.
“Lihat ustadzah... Pelangi di sebelah timur sana... Indah bukan ? Huehuehue” kata Pak Udin.
Rachel segera mengangkat kepalanya tuk melihat pelangi itu. Benar saja memang ada pelangi disana. Tapi kenapa harus keluar sekarang disaat dirinya baru saja dinodai oleh pria tua ini. Rachel masih menangis sesenggukan. Ia mengusap air matanya sambil memegangi bongkahan pantatnya tuk melebarkan lubang yang terasa perih di dalam.
“Tapi tau gak ustadzah ? Walau pelangi itu sangat indah... Tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan ustadzah ketika sedang telanjang di tempat terbuka seperti ini” puji pak Udin yang membuat Rachel mengernyitkan dahinya sebal.
“Ini bersihkan cepat !” pinta pak Udin sambil mengarahkan penisnya.
Dengan terpaksa ustadzah cantik itu membuka mulutnya kemudian mencaplok penis licin itu untuk membersihkan sisa sperma yang menetes keluar dari lubang kencingnya.
Tunggu dulu... Ini kan bekas lubang anusku !
Batin Rachel baru menyadari.
*-*-*-*
Sementara itu di gedung kelas ada salah seorang santri yang berjalan menuju kelas. Ia tampak kesal setelah dirinya baru teringat sesuatu.
“Hah kenapa juga buku ana sampai ketinggalan di kelas !” katanya sebal.
Namun ia malah menemukan adanya kemeja beserta rok yang ada disana. Heran dengan apa yang terjadi. santri itu malah membawanya dan memindahkannya menuju tempat sampah yang ada disana. Kebetulan ada ustadz dari bagian bersih lingkungan yang sedang memindahkan sampah dari tong sampah ke mobil pengangkut sampah.
“Afwan ustadz... Ini ada sampah bekas” kata santri itu.
“Ohh yaudah taruh aja di mobil” kata ustadz itu.
Santri itu lekas membuang pakaian bekas yang ia temukan ke mobil pengangkut sampah itu. Mobil itu pun pergi begitupula santri yang hendak mengambil buku yang tertinggal di kelasnya.
*-*-*-*
Keesokan paginya di gedung kelas.
Pak Prapto sedang menyapu teras kelas disaat para santri berlalu - lalang menuju kelasnya sebelum lonceng berbunyi yang menandakan waktu belajar - mengajar dimulai. Tepat saat itu lonceng pun berbunyi nyaring. Para santri lekas berlari memasuki kelas masing - masing.
“Assalamualaikum pak”
Tepat setelah keadaan sepi. Pak Prapto dikejutkan oleh suara sapaan yang ditujukan padanya. Pak Prapto senang. Ia tersenyum kemudian hendak menjawab salam yang diperuntukan untuknya.
“Waalaikumsa . . . . .” pak Prapto terkejut hingga tak mampu menyelesaikan salamnya. Sesaat ada tiga orang ustadzah yang sedang melintas bersamaan. Mereka cantik - cantik. Mereka terlihat dewasa & mereka semua terlihat sholehah dan mencerminkan seorang istri idaman. Tapi bukan itu yang membuat Pak Prapto terkejut melainkan karena dirinya merasa telah melihat salah dua dari tiga ustadzah yang sedang melintas sambil menyapanya.
Tidak salah lagi.... Dua dari ustadzah itu adalah . . . .
Batin pak Prapto terkejut. Ia pun buru - buru membuka hape temuannya. Matanya dengan teliti mencocokan apa yang ia lihat di video itu dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Seketika Penisnya mengeras. Kedua tangannya pun bergerak gemas. Ia tak tahan untuk menahan gejolak nafsu yang tiba - tiba melandanya.
"Ustadzah" Sapa Prapto yang membuat 3 ustadzah itu menoleh. Seketika reaksi wajah mereka berubah saat menatap wajah Prapto.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *