Search

CHAPTER 15 - SANG AKTOR

CHAPTER 15 - SANG AKTOR

Tidak salah lagi... Dua dari tiga ustadzah itu adalah....

Batin pak Prapto terkejut. Ia buru - buru membuka hape temuannya. Matanya dengan teliti mencocokan apa yang ia lihat di video itu dengan apa yang ia lihat di hadapannya.

Seketika penisnya mengeras. Kedua tangannya pun bergerak gemas. Ia tak tahan dengan gejolak nafsu yang tiba - tiba datang menguasainya. Nafasnya juga terengah - engah. Matanya menatap ketiga ustadzah yang perlahan semakin jauh darinya.

Sebagai seorang jomblo tulen yang sama sekali belum pernah menyentuh wanita. Membuat pria tua itu begitu penasaran tuk merasakan jepitan hangat yang berada di dalam kemaluan wanita. Keindahan paras yang selama ini hanya bisa dinikmati melalui kocokan tangannya saja, kenikmatan yang selama ini hanya mampu didengar oleh telinganya saja, kali ini kesempatan itu datang tuk dapat merasakannya langsung dari sentuhan wanita itu sendiri.

Tidak hanya satu tapi dua wanita sekaligus kini berada di dalam targetnya. Ia pun memikirkan berbagai cara tuk dapat menikmati mereka sekaligus. Ancaman ? Pemaksaan ? Ah dirinya semakin tak tahan ingin meremas bokong - bokong montok mereka yang melambai - lambai seolah ingin mengundangnya datang.

Matanya terhipnotis. Dari matanya ada gambaran bokong - bokong montok mereka yang masih tertutupi rok itu. Lidahnya pun bergerak keluar dengan sendirinya. Ia menjilati bibirnya sendiri. Kedua kakinya pun melangkah mendekat ke arah tiga ustadzah yang masih tertutupi oleh pakaian syar'i itu.

"Ustadzah" Terucap kata dari mulut tuanya.

Perlahan - lahan. Ketiga ustadzah itu menoleh sambil tersenyum kepada pria tua yang menyapa mereka. Namun senyuman mereka mendadak hilang saat melihat reaksi aneh dari pria tua itu.

Bapakkk . . . .

Kaki pak Prapto berhenti melangkah. Akal sehatnya kembali. Ia pun berdiri membeku sambil menunduk di hadapan mereka bertiga yang sedang menoleh menatapnya.

"Bapak manggil kita ? Ada apa yah pak ?" Tanya Hanna sebagai perwakilan.

Pak Prapto menaikan wajahnya. Kini wajah tuanya sudah terlihat di hadapan mereka. Satu persatu wajah cantik mereka ditatapnya oleh pria tua itu. Ketiga ustadzah itu merasa tidak nyaman. Ia merasakan ada gelagat aneh dari pria tua yang sedang memegangi sapu itu.

"Maaf tadi yang mengucapkan salam siapa yah ?" Tanya pak Prapto sopan.

Ketiga ustadzah itu saling menoleh mencari siapa yang mengucapkan salam kepada pria tua itu tadi.

"Ustadzahhh... Antum kan ?" Bisik mereka.

"Ehh iya... Aku pak..." Jawab Hanna mengangkat tangannya.

Pria tua itu tersenyum.

Entah kenapa aura keceriaan yang tadi nampak di wajah mereka mulai berubah menjadi aura ketegangan. Ketiga wajah itu was - was melihat gelagat aneh yang dimiliki oleh pria itu. Hanna yang berada di depan gugup. Berulang kali ia menoleh menatap Syifa dan Diah tuk memintanya bantuan agar bisa keluar dari situasi ini.

"Terima kasih... Semoga kebahagiaan selalu menyertai ustadzah" Kata pak Prapto.

"Ehhh" Jawab ketiga dari mereka kompak bersamaan.

Mereka semua terkejut dengan ucapan tak terduga yang diberikan oleh pria itu. Mereka semua pun terkekeh - kekeh. Mereka tertawa canggung karena sudah lebih dulu suudzon pada pria tua itu. Mereka jadi tidak enak kepadanya.

"Hehehe iyya... Makasih yah pak... Semoga doanya kembali ke bapak" Jawab Hanna dengan sopan.

"Iya ustadzah... Aamiin... Permisi" Kata pak Prapto berbalik badan tuk melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang bersih - bersih kelas.

Hanna, Syifa dan Diah tersenyum canggung dalam menyikapi situasi ini. Mereka bertiga ikut berbalik tuk menuju kelas masing - masing guna memulai proses belajar mengajar di hari ini.

"Aneh yah orang tadi"

"Ekspresinya juga aneh... Sempet merinding tadi"

"Apa lagi tadi pas jalan mendekat... Ana aja sampe jantungan loh"

"Sstttt kalian gak boleh gitu... Gak boleh ghibah ah... Lagian bapak tadi kan baik" Kata Hanna menasehati.

Begitulah mereka saling berbincang dalam perjalanan mereka menuju kelas. Ada yang masih deg - degan. Ada yang masih khawatir dengan pergerakan pria tadi. Ada juga yang mengingatkan tuk tidak melanjutkan proses ghibah mereka di pagi hari. Ya namanya juga wanita yang mempunyai ribuan kata - kata di otaknya. Andai mereka melihat secuil kesalahan. Mungkin ribuan komentar pedas bisa keluar dari mulut manisnya. Wanita, yang memiliki ribuan keindahan di tubuhnya. Wanita, yang memiliki ribuan pesona di wajahnya. Wanita, yang memiliki ribuan rahasia di dalam hatinya.

Wanita . . . . .

Sebuah makhluk indah yang sangat ingin ia dekati saat ini. Lima puluh tahunan lebih ia hidup tapi masih belum mampu tuk merasakan kenikmatan dunia. Lima puluh tahunan lebih ia hidup tapi masih belum mampu tuk menjamah seorang wanita. Bercinta di lokalisasi saja tidak pernah, apalagi menikah.

Ribuan cara sebenarnya sudah ia kerahkan tuk dapat menikahi wanita manapun yang ditemuinya. Tapi seluruh upayanya tidak pernah berhasil. Bahkan ia mendapatkan celaan karena dinilai terlalu percaya diri dalam mendekati wanita itu. Mulai dari kembang desa sampai kembang raflesia sudah pernah Prapto dekati. Tapi semuanya selalu berujung dengan kegagalan. Hanya ada satu wanita yang pernah baik padanya. Ia pun menyimpan baik - baik kata - kata yang pernah diucapkan oleh wanita itu. Dan kata - kata itulah yang berhasil menyelamatkannya dari gejolak nafsu yang seringkali bangkit akibat rasa penasarannya dalam menikmati tubuh seorang wanita.

"Terima kasih" Kata pak Prapto mengenangnya.

Ia pun kembali menatap hape yang sedang dipegangnya. Ia kembali melihat ke arah layar yang sedang membuka tayangan video yang sedang di pause. Seketika ia terpikirkan sebuah ide.

"Haruskah aku menghapusnya ?"

"Tapi kan sayang"

"Ya sudah simpan aja lah" Kata Prapto lekas memasukan hape itu ke dalam saku celananya.

*

"Afwan... Ana awwalan yah ustadzah" Kata Hanna ketika tiba di depan kelasnya.

"Naam ustadzah" Jawab Syifa dan Diah nyaris berbarengan.

Setelah hanya ada mereka berdua. Syifa dan Diah jadi lebih bebas dalam mengobrolkan sesuatu diantara mereka. Mereka bahkan bergandengan tangan dan sering kali menukar pandangan tuk menikmati keindahan yang dimiliki oleh paras masing - masing.

"Ustadzah... Antum tau gak, kemarin sore ana melihat ada ustadzah yang bermasturbasi sendirian di kamar loh" Bisik Syifa mengagetkan Diah.

"Ehhh beneran ? Siapa ?" Tanya Diah penasaran.

"Mau tau ? Tapi ada syaratnya" Kata Syifa sambil iseng meremas pantat Diah.

"Ustadzah... Ihhhh jangan jail disini... Nanti ada yang lihat" Kata Diah dengan wajah memerah.

"Hihihi... Habis mengajar ana tunggu di tempat biasa yah" Bisik Syifa.

"Abis mengajar ? Mau ngapain ustadzah ?" Tanya Diah.

"Kaya biasa.... Nanti ana kasih tau juga siapa ustadzah yang kemarin ana lihat" Kata Syifa tersenyum manis.

"Kayak biasa ? Maksudnya kita . . . . " Kata Diah semakin memerah.

"Heem... Ana kangen sama mainan anti lagi... Ana kangen sama dorongan pinggul anti yang keluar masuk dengan bebasnya di kemaluan ana" Kata Syifa berkedip.

"Antum nih dasar... Malah ketagihan" Jawab Diah tersenyum malu - malu.

"Hihihi... Salahin tante anti dongdong, Ustadzah Diah" Jawab Syifa. Tepat sebelum mereka memasuki kelas, di salah satu sudut yang tidak terlihat oleh siapapun. Mereka kembali melakukan ciuman bibir dengan panasnya. Bahkan jemari mereka saling meremas payudara lawannya. Syifa yang sudah tidak tahan meminta Diah tuk mengangkat roknya. Jemari Diah pun sudah tiba di kemaluan Syifa. Syifa memejam, sambil menahan suara ketika kemaluannya dikocok dan bibirnya dilumat dengan penuh nikmat oleh ustadzah cantik yang baru memasuki tahun pertama pengabdiannya.


*-*-*-*


Sementara itu, di kantin pengajar. Banyak dari ustadz dan ustadzah yang pergi kemari untuk menyantap sarapan yang disajikan oleh ibu - ibu penjaga kantin yang mereka sebut sebagai mbok'e.

Sebenarnya untuk makan pagi, siang dan malam. Baik itu pengajar ataupun santri. Mereka sudah diberikan jatah di dapur umum masing - masing. Namun saat mereka menyadari kalau hari ini adalah hari rabu. Seketika mereka teringat akan sebuah lauk yang membuat mereka jadi tidak berselera. Tahu goreng dan sambal teri ? Sebenarnya cukup enak, tetapi bagi seseorang yang kurang menyukai rasa yang terlalu kuat, rasa enak itu bisa berubah jadi rasa tidak enak. Apalagi aroma laut yang tercium dari ikan teri itu. Juga rasa garam yang membuat rasa itu semakin kuat. Kadang beberapa pengajar khususnya dari kalangan ustadzah lebih tertarik untuk makan di kantin daripada di dapur umum.

Untuk kantin sendiri, sebenarnya tempatnya sama. Tidak dipisah sama sekali baik itu untuk ustadz atau pun ustadzah. Namun di dalam kantin itu. Ada tempat tersendiri bagi seorang ustadz ataupun ustadzah yang ingin makan disana. Seorang ustadz setelah mengambil lauk akan diarahkan ke sebelah kiri oleh mbok'e yang berjaga. Sedangkan ustadzah akan di arahkan ke sebelah kanan.

Selain dimaksudkan agar para ustadz dan ustadzah tidak bercampur disaat makan. Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk melindungi kewibawaan mereka sebagai seorang pengajar. Apalagi laki - laki itu identik dengan wibawanya. Apabila wibawa itu hancur, mau setampan apapun lelaki itu. Wanita dijamin tidak akan mau untuk hidup bersama dengan lelaki itu.

Di dalam kantin itu, terdapat dua orang ustadzah yang terlihat akrab di mata para penghuni pondok pesantren ini. Selain karena mereka berdua memiliki paras yang cantik jelita juga lekuk indah yang mempesona. Mereka juga berada di kantor bagian yang bergengsi yang membuat diri mereka cukup dikenal karena sering berinteraksi dengan para santri. Mereka berdua adalah ustadzah Nada dan ustadzah Rachel.

Nada walau memiliki tubuh ramping dan berpostur tinggi. Tapi dirinya dikenal sebagai ustadzah yang doyan makan. Bahkan saat makan, ia lebih memilih menggunakan tangannya kendati ada sendok atau garpu yang telah disediakan oleh pihak kantin. Pagi ini, ia menyantap nasi ayam kari dengan sambal bawang yang ia lumuri diatas nasi panasnya. Ia juga mengambil dua tahu goreng dan satu keping kerupuk demi memanjakan perutnya yang tengah kelaparan.

Sedangkan Rachel yang memiliki tubuh montok berisi juga dikenal sebagai ustadzah yang doyan makan. Walau memiliki tubuh yang lebih big daripada sahabatnya yakni Nada. Rachel sama sekali tidak minder. Ia merasa nyaman saja berada di sebelah wanita yang memiliki body goals seperti Nada ini. Karena mau bagaimanapun. Rachel memiliki wajah cantik juga kulit putih bening khas mojang Bandung pada umumnya. Itulah kebanggaan Rachel. Kebanggaan yang membuat dirinya merasa lebih menarik daripada wanita manapun di dunia ini. Apalagi payudaranya yang besar, juga bentuknya yang kencang tidak jatuh serta putingnya yang berwarna kemerahmudaan.

Tapi kali ini, ustadzah montok itu tidak selahap seperti biasanya. Sayur kacang panjang yang ia taburkan diatas nasi panasnya, juga ayam bakar bumbu bali yang berpose di tepi piringnya. Entah kenapa Rachel tidak bernafsu untuk menyantap mereka. Padahal perutnya keroncongan dan seringkali berbunyi minta diisi. Tapi mulut ogah tuk memasukan makanan lezat itu. Ia malah merenung sampai Nada yang sedang lahap disebelahnya heran dengan sikap tak biasa sahabatnya.

"Udah kenyang yah Cel ? Buat ana aja yah" Kata Nada sambil memegangi piring Rachel.

"Ehhh enak aja... Masih laper tau" Jawab Rachel menahan tangan Nada.

Nada pun tertawa dan melanjutkan sarapannya. Ditengah sarapannya itu, ia menceritakan sesuatu mengenai kehidupan pribadinya terutama di awal pernikahannnya. Rachel hanya tersenyum di permulaan cerita itu. Tapi seiring berjalannya waktu ketika cerita mulai memasuki pertengahan. Pikiran Rachel malah bertebaran kemana - mana. Apalagi saat ia memikirkan kejadian kemarin setelah tembusnya pertahanan belakangnya oleh pria tua berkumis bernama Udin.

KEMARIN SORE.

“Ini bersihkan cepat !” pinta pak Udin sambil mengarahkan penisnya.

Dengan terpaksa ustadzah cantik itu membuka mulutnya kemudian mencaplok penis licin itu untuk membersihkan sisa sperma yang menetes keluar dari lubang kencingnya. Saat penis itu memasuki mulutnya, ketika lidahnya merasakan gesekan sisi bawah dari penis pria tua itu. Sang bidadari berhijab itu pun baru menyadari sesuatu yang sempat terlupakan darinya.

Tunggu dulu... Ini kan bekas lubang anusku !

Batin Rachel menyadari. Matanya pun membuka lebar. Dengan segera, ia mendorong pinggul Udin menjauh kemudian ia berusaha memuntahkan apa yang sempat dirasakan di mulutnya.

“Huehuehuehue” Pak Udin hanya tertawa melihat reaksi Rachel setelah menyepong penisnya yang baru memasuki anusnya sendiri.

“Cuhhh... Cuhhh... Cuh” Rachel terus meludah berusaha membuang sisa bekas yang masih terasa di lidahnya. Ia membayangkan berbagai hal jorok dari penis yang telah memasuki anusnya. Semakin ia membayangkan. Rasa jijik itu semakin berkuasa yang mendorong tubuhnya untuk memuntahkan segala yang terkecap di lidahnya sendiri.

Rachel membaik. Lidahnya mulai terasa normal lagi. Sambil berlutut diatas tanah, ia menutupi tubuh telanjangnya dengan kedua tangannya sebisanya. Tangan kirinya ia gunakan tuk menutupi bulatan indahnya yang terlampau besar sedangkan tangan kanannya ia gunakan tuk menutupi lubang kemaluannya yang masih basah akibat dibanjiri air kenikmatannya. Ia pun menatap pak Udin dengan penuh permohonan.

“Pak... Tolong ambilkan pakaianku di kelas” pinta Rachel penuh harap.

“Saya ? Huehuehue... Ambil sendiri lah ustadzah... Kenapa malah nyuruh saya ?” kata Pak Udin yang membuat bidadari itu kesal.

“Pak... Tolong ! Kan bapak yang meninggalkan pakaian aku disana... Tolonglah pak ini sudah semakin sore... Tolong ambilkan sebelum para santri itu keluar tuk berolahraga !” kata Rachel memohon.

“Huehuehue... Baiklah... Baiklah ! Mumpung saya lagi baik nih... Tunggu sini yah ustadzah” kata Pak Udin lekas memasukan penis itu kembali.

Rachel pun terdiam. Ia merasa lega karena pak Udin masih mau menurutinya tuk mengambil pakaiannya yang tertinggal. Kini, ia sendirian di pinggiran area persawahan ini. Ia menatap Pak Udin yang berjalan semakin jauh menuju gerbang pesantren tuk mengambil pakaiannya. Rachel kedinginan. Ia berharap Pak Udin segera menyelesaikan tugasnya agar dirinya segera kembali berpakaian.

“Ayolah pak... Cepat !” pinta Rachel.

Sementara Pak Udin sudah tiba di belakang gedung kelas. Ia berjalan dengan santai tanpa memperdulikan nasib Rachel yang masih telanjang bulat disana. Ia tak memperdulikan nasibnya. Bahkan apabila ada orang lewat yang memergoki sang ustadzah cantik itu telanjang pun. Ia masih tak mau tau. Ia hanya membiarkan agar ustadzah cantik itu terbiasa untuk tidak mengenakan apa - apa yang mana pakaiannya hanya akan menghalangi keindahan tubuhnya saja.

“Loh... Kok bajunya ilang !” kata Pak Udin terkejut.

Tapi kemudian dirinya tersenyum saat membayangkan sosok Rachel itu. Sambil terkekeh - kekeh. Ia pun pergi meninggalkan gedung kelas ini, membiarkan ustadzah montok itu terkatung - katung disana tanpa tahu kalau dirinya mengabaikan perintahnya tuk mengambil pakaiannya yang tertinggal.

“Maaf ustadzah.... Pakaian ustadzah ilang gak tau kemana... Ustadzah bisa pulang sendiri kan ? Huehuehuehue” kata Udin membayangkan nasib Rachel ketika harus pulang dalam keadaan telanjang bulat.

Cukup lama Rachel menanti di tepi area persawahan ini. Perlahan sinar mentari datang menggantikan awan mendung yang telah menurunkan hujan barusan. Tubuh Rachel terasa hangat setelah tersinari cahaya itu. Ia pun mengamati sekitar tuk melihat keadaan. Masih sepi sih tapi kenapa pak Udin lama sekali ?

Sedikit demi sedikit, ustadzah montok itu gelisah khawatir kalau ada orang yang melihatnya apabila dirinya harus berlama - lama di area sini. Kegelisahan itu pun memuncak saat dari kejauhan tampak dua pria berpakaian petani yang sedang melangkah ke arahnya. Kedua pria itu berpakaian lusuh, dengan topi bundar ala petani juga cangkul yang ia bawa di pundaknya. Rachel terkejut ! Jantungnya berdebar semakin kencang. Berulang kali ustadzah yang hanya mengenakan hijab, kaus kaki serta sepatunya itu menolehkan kepalanya guna mencari tempat bersembunyi untuk menyembunyikan keindahan tubuhnya yang tersaji secara gratis. Rachel masih menutupi dada dan kemaluannya menggunakan tangannya seadanya. Ia mondar - mandir dari kanan ke kiri kemudian maju terus mundur. Ia ragu, ia tak menemukan titik temu. Ia benar - benar kalang kabut agar tidak terlihat dari kedua pria tua itu yang lama - lama makin mendekat.

Ya dua pria itu semakin terlihat oleh Rachel. Untungnya mereka sedang menunduk sambil mengobrolkan sesuatu. Perasaan Rachel semakin berdebar. Tapi anehnya, kenapa disaat menegangkan seperti ini kemaluannya justru semakin basah ? Apakah karena efek dirinya yang belum mendapatkan orgasme setelah dirangsang habis - habisan oleh pak Udin tadi ? Kalau iya kenapa harus sekarang ? Bukankah waktunya tidak tepat.

Telinga sang ustadzah itu sudah mampu tuk mendengar obrolan mereka berdua. Bukankah mereka semakin dekat ? Tapi kenapa ia masih belum bisa bersembunyi di suatu tempat ? Boro - boro bersembunyi, orang dari tadi aja cuma berdiam diri di tempat.

Rachel semakin kalang kabut. Ia tak mau dirinya menjadi objek gratis bagi kedua pria tua itu. Saat Rachel menoleh, ia menyadari kalau kedua pria itu berusia lima puluhan. Hal ini nampak jelas dari uban yang tumbuh di kepala mereka, juga keriput yang ada di kulit mereka. Tubuh mereka juga kurus dengan kulit yang berwarna gelap.

Jantungnya berdebar semakin kencang. Ia tak mau andai dirinya kepergok oleh mereka berdua, bisa - bisa kedua lubang sisa yang belum dimasuki oleh Udin tadi akan dimasuki oleh mereka berdua. Vaginanya ? Mulutnya ? Apakah dirinya akan menjadi ladang pemuas bagi kedua petani itu ? Apakah petani itu tidak akan bertani di sawahnya tapi malah akan bertani di tubuhnya ?

Gllleeekkkkk !!!!

Rachel menenggak ludah, ia tak mampu membayangkan apabila hal itu terjadi. Karena kepepet oleh waktu, Rachel pun berlari menuju pohon kelapa tinggi yang tumbuh di dekat tembok yang memisahkan area persawahan dengan area pondok pesantren. Rachel menoleh ke arah kedua pria tua itu dari balik batang pohon kelapa yang menyembunyikannya. Ia melihat ke arah gerbang pesantren yang masih terbuka. Seketika ia ingin kabur memasuki gerbang masuk pesantren itu. Masalahnya dua pria itu sedang melangkah dari arah sana. Bahkan kedua pria tua itu berada sangat dekat dari gerbang pesantren yang ingin Rachel masuki. Rachel pun menyesal, kenapa gak dari tadi dirinya pergi menuju gerbang pesantren itu.

Dua pria itu semakin dekat. Bahkan jaraknya hanya empat meter saja dari tempat persembunyiannya sementara. Rachel memejam, kedua payudaranya yang menggantung itu semakin tegang, putingnya pun berdiri mengencang juga cairan cintanya yang ada di vaginanya semakin basah menggenang. Tanpa sadar disaat yang menegangkan itu. Jemari Rachel justru menggesek - gesek bibir vaginanya sendiri. Tangan yang bertugas tuk menutupi payudaranya justru malah meremasnya. Sang ustadzah pun heran. Kenapa disaat yang menegangkan ini malah terasa semakin nikmat ? Bahkan tangannya tak mampu berhenti untuk merangsang salah dua dari titik sensitifnya.

Samar - samar suara obrolan mereka semakin terdengar jelas. Kedua pria tua itu pun berhenti sementara tuk menceritakan apa yang dilihat oleh salah satu dari mereka berdua. Ya mereka hanya berjarak satu meter saja dari pohon kelapa yang menjadi persembunyian Rachel sekarang. Mereka masih belum tahu kalau dibalik pohon itu ada peri cantik yang sedang bertelanjang bebas membiarkan auratnya yang indah itu terekspos di ruangan terbuka.

“Beberapa hari yang lalu... Di hari minggu saat diriku hendak pergi bertani ke area sawahku... Aku nemu itu loh, Celana dalam wanita yang tertinggal di gubuk sebelah sana itu...” kata salah satu dari mereka sambil menunjuk gubuk itu.

Gubuk ? Celana dalam ? Jangan - jangan !!!

Batin Rachel menyadari. Matanya langsung terbuka saat mendengar percakapan itu. Telinganya ia pasang dengan teliti untuk mendengar cerita yang diberikan oleh pria tua itu.

“Oalah ? Kok bisa sih pak ?” kata temannya.

“Iya... Aku juga gak tau loh tiba - tiba sudah ada disana... Dan anehnya dari kejauhan aku melihat seorang ustadzah yang nyelonong masuk ke dalam gerbang pesantren ini... Ustadzah itu terlihat buru - buru seolah dirinya tidak mau ketahuan oleh siapapun” kata Pria tua itu.

Rachel menenggak ludah sambil tetap merangsang tubuhnya dengan gesekan dan remasan yang ia berikan di titik sensitifnya.

“Hah seriusan ?” kata temannya.

“Andai itu memang benar, kalau celana dalam itu milik seorang ustadzah... Aku gak akan segan tuk menggenjot memek ustazah itu dan melubangi memeknya hingga memek sempit itu semakin lebar” kata pria tua itu dengan nafsu.

Mendengar dua pria itu sedang membicarakan dirinya dengan penuh nafsu membuat ustadzah cantik itu semakin giat dalam merangsang vaginanya. Terdengar suara becekan air dari dalam vagina sang ustadzah. Membayangkan benar andai kejadian itu akan terjadi membuat nafsu birahi Rachel semakin menjadi - jadi. Rachel semakin kencang meremas payudaranya. Vaginanya juga ia gesek semakin cepat menggunakan jemarinya.

Tanpa sadar, kedua pria itu sudah melintas dihadapan Rachel yang masih bersembunyi. Dengan jelas bidadari itu dapat melihat wajah mereka berdua dari samping. Jantung Rachel terasa seperti berhenti berdetak. Kedua tangannnya juga berhenti dari perbuatannya tadi saat merangsang titik sensitifnya. Perasaan Rachel berdebar membayangkan andai kedua pria itu menoleh menatapnya. Apa yang akan terjadi andai kedua pria itu melihatnya telanjang sekarang ? Apakah ia akan diperkosa ? apakah keperawanannnya akan hilang ? Atau justru ia akan mendapatkan hadiah anal lagi ? Lalu satu orang yang lain akan menyumpal mulutnya dengan penis besarnya ?

“Uhhhhhhhhhh” desah Rachel diam - diam.

Tangannya semakin kencang dalam meremasi payudaranya. Tangan satunya juga semakin lihai dalam menggesek bibir vaginanya. Pikirannya semakin kotor akibat nafsu yang belum sempat terpuaskan saat dinikmati oleh pak Udin tadi. Nafsunya memberat, nafasnya terengah - engah. Bibir Vaginanya itu semakin basah dan licin akibat sering digesek oleh jemari gemuknya itu.

“Uhhhhhh uhhhhhhh” desah Rachel memejam.

Bermasturbasi ? Dalam keadaan telanjang di tempat terbuka ? Disaat ada dua orang asing yang sedang melintas di hadapannya ? Apakah ia sudah gila sekarang ? Bagaimana kalau mereka berdua sedang terpana saat menatapnya sekarang ? Justru ia semakin terangsang andai kejadian itu benar terjadi.

Rachel menggigit bibir bawahnya. Jemarinya memainkan putingnya dan memilinnya dengan pelan. Kemudian dua jemarinya dengan nakal memainkan klitoris yang ada di bagian atas vaginanya. Suara becekan itu semakin menjadi - jadi. Ia kewalahan. Ia tak mampu menahan birahi yang semakin tidak tertahankan. Di siang menjelang sore itu. Disaat sinar matahari mulai menerangi dirinya. Sebuah gelombang deras mengalir keluar dari dalam vaginanya.

"Ehhmmmmmmmm" Buru - buru Rachel menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya. Kedua kakinya bergetar. Berulang kali kedua kakinya mengatup rapat hingga sebagian paha di bagian dalamnya basah terkena semprotan cairannya sendiri. Tubuhnya pun melonjak - lonjak.

Beruntung tangan kirinya mampu meraih batang pohon kelapa yang ada di sebelahnya. Hingga dirinya tidak terjatuh akibat terlalu lemas dalam mendapatkan orgasme ternikmatnya. Rachel masih memejam, perlahan demi perlahan ia mulai membuka matanya. Tubuhnya masih sedikit bereaksi dengan lonjakan - lonjakan ringan akibat dari sisa orgasmenya yang terlalu nikmat.

Ia menatap ke bawah, tampak cairan cintanya membasahi area pertanahan yang ada di bawahnya. Padahal area itu sebelumnya cukup kering kendati ada hujan deras yang membasahi bumi pesantren tadi. Dahan dari pohon kelapa itu menjadi penyebabnya. Yang menahan agar air hujan itu tidak jatuh membasahi tanah yang ada di bawah pohon kelapa itu.

Tunggu dulu... Bagaimana dengan mereka ?

Rachel tersadar akan sosok dua pria tadi yang sempat lewat dihadapannya. Ustadzah cantik itu pun menoleh dan mendapati dua pria tadi terus berjalan tanpa menyadari kehadirannya.

"Huffttt syukurlah" Kata Rachel merasa lelah hingga kedua tangannya bertumpu pada batang pohon kelapa itu. Namun, saat kedua kalinya bergerak. Tak sengaja sepatu yang dikenakannya itu menendang batu hingga baru itu bergulir jatuh ke area persawahan dimana ada genangan air disana.

Bluukkkkkk !!!!!

Terdengar bunyi dari batu yang jatuh ke dalam air.

Celaka !!!!

Kedua pria itu menoleh. Tubuh Rachel bergetar yang membuat jantung ustadzah cantik itu berdebar - debar.

"Loh itu !!!" Kata pria tua tadi.

Rachel terus memejam tanpa peduli apa yang sebenarnya terjadi. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Lama - lama suara itu makin dekat. Rachel dapat mendengar hembusan nafas mereka yang berat saat kedua pria itu terasa semakin dekat dengannya.

"Loh ini kok aneh yah... Kenapa area basahnya cuma disini" Kata pria itu.

"Nah iya... Bukannya harusnya area disini kering ?" Kata temannya sambil melihat ke atas memeriksa dahan pohon kelapa itu.

Jantung Rachel masih berdebar. Beruntung ia segera bersembunyi setelah tak sengaja menendang batu tadi. Ia bersembunyi di sisi lain pohon kelapa yang tak terlihat oleh mereka. Namun kedua pria itu berada tepat di belakangnya. Andai mereka melangkah sekali saja ke arahnya. Bisa jadi mereka akan mendapati Rachel yang sedang bertelanjang bulat di balik pohon kelapa ini.

Sialnya kesialan masih belum hilang dari diri ustadzah cantik ini. Tepat di hadapannya nampak bayangan orang lain mendekat. Jaraknya memang cukup jauh. Tapi kalau dirinya tidak buru - buru menghindar bisa jadi tubuhnya yang montok itu menjadi santapan empuk dua pria tua di belakang dan satu pria lagi yang tak begitu jelas di depan.

Sialnya lagi, disaat yang menegangkan ini. Bibir vagina sang ustadzah ini kembali basah. Ia pun heran kenapa dirinya malah terangsang disaat - saat seperti ini ?

Aduhhh... Harus gimana nih....

Rachel bimbang. Haruskah ia menanti kedua pria tua di belakangnya pergi baru dirinya bisa berlari menuju gerbang yang terbuka di hadapannya ? Atau tetap berlari saja tanpa memperdulikan dua pria tua yang di belakang ? Jarak dirinya dengan gerbang di depannya berjarak 15 meter saja. Cukup jauh memang dan itu akan beresiko apabila ia memaksa berlari. Bisa - bisa dua pria yang ada di belakangnya ini sadar ada ustadzah bugil yang berlari di area terbuka seperti ini. Bagaimana kalau kedua pria tua itu mengejarnya ? Bagaimana kalau dirinya nanti tertangkap ?

"Uhhhhhhhh" Tak tahan sang ustadzah malah menyentuh vaginanya hingga kenikmatan itu kembali terasa menjalar tubuhnya.

Tidak... Jangan lagi !!! Aku harus segera pergi dari sini !!!

Rachel menarik nafas. Di belakang ia masih dapat mendengar pembicaraan dua pria tua itu. Dari depan nampak bayang - bayang lelaki itu semakin dekat. Kembali rasa ragu itu muncul yang membuat kakinya begitu berat untuk melangkah.

Aduhhhh... Kenapa susah banget sihhhh...

Nafas Rachel memberat saat melihat pria yang ada di hadapannya terdiam kemudian menurunkan kepalanya seolah melihat sesuatu yang aneh dari kejauhan. Mungkinkah pria itu telah sadar akan kehadiran dirinya yang telanjang ?

Jantung sang ustadzah itu berdebar kencang saat melihat pria yang ada di hadapannya berlari ke arahnya.

Gawattt !!!!

Mata Rachel melebar. Ia tak punya waktu lagi untuk tetap bertahan di tempat ini. Ia mengepalkan kedua tinjunya. Ia menyiapkan dirinya. Ia kembali menarik nafas. Tanpa memperdulikan dua pria di belakang, ia pun berlari sekencang - kencangnya menuju arah gerbang yang terbuka di hadapannya.

Kedua payudaranya itu melonjak - lonjak dengan indah saat dirinya berlari kencang. Nampak pria dihadaannya itu terlihat. Pria itu tersenyum saat mengetahui ustadzah cantik itu berlari kearahnya. Nyatanya tidak, ia hanya berlari ke arah gerbang yang arahnya searah dengan kedatangan seorang pria di hadapannya.

Rachel menunduk karena tak mau identitasnya diketahui oleh pria itu. Sekilas Rachel dapat melihat kalau pria beruntung itu berambut botak. Mungkin berusia 30 tahunan, Tubuhnya kekar, Berkulit sawo matang dan tubuhnya tertutupi oleh pakaian seadanya. Bisa dibilang pria beruntung itu bukan berasal dari keluarga berada. Apakah pria itu merupakan pria miskin ?

"Ahhhhhhhhh"

Rachel segera memasuki gerbang itu kemudian menutupnya rapat. Tak lupa ia juga menguncinya. Tak berselang lama terdengar suara dentuman dari gerbang besi yang dipukuli oleh seseorang dari arah yang berseberangan.

"Ustadzahhh... Ustadzahhhhh" Rachel terus memejam sambil menyandarkan diri ke gerbang yang dipukuli oleh orang itu. Ia begitu ketakutan sekaligus lega dirinya bisa sampai di dalam gerbang di waktu yang tepat.

"Ehhh Rip... Ada apa ? Ngapain mukul - mukulin gerbang ?" Tanya seseorang yang suaranya akrab di telinga Rachel. Suaranya seperti pria tua yang berbicara kalau dirinya menemukan celana dalamnya yang ditinggal di gubuk persawahan beberapa saat yang lalu.

"Ini pak... Ada ustadzah bugil tadi... Ia berlari dari arah sana kesini" Jawab pria kekar itu.

"Hahh bugil ? Mana ada Rip... Orang kami tadi aja dari arah sana kok... Gak ada orang lain juga"

"Tapi pakkk... Saya yakin kalau ngelihat ustadzah yang berlari kesini... Kulitnya putih pak... Body nya montok... Ia masih pake hijab tapi tubuhnya telanjang !!!!" Katanya dengan nafsu.

"Hahahaha Rippp... Rippp... Kebanyakan nonton bokep pasti nih" Timpal pria tua itu.

"Tapi pak beneran !!!!" Kata pria kekar itu kekeh.

Mereka terus berdebat yang mana suara itu membuat Rachel merasa was - was. Ia tak mau berdiam diri disini. Apalagi gerbang yang menutupi dirinya cukup tinggi. Gerbangnya juga tertutup rapat yang membuat orang - orang di luar sana gak akan mungkin melihat apa yang terjadi di dalam pondok pesantren ini. Di atas tembok pemisah itu juga ada kawat berduri yang mencegah orang luar tuk masuk ke area pesantren sekaligus mencegah para santri yang ingin kabur keluar dari pesantren ini.

Dada Rachel masih naik turun akibat ngos - ngosan setelah berlari secepat mungkin tuk menghindari kejaran pria tadi. Sesaat ia merasa gila karena sudah bertindak seliar ini. Ia pun jadi kesal pada pria berkumis yang meninggalkan dirinya sendirian di tempat terbuka seperti tadi. Ia makin kesal tiap kali teringat sosoknya.

"Semua gara - gara pak Udin !!!" Kata Rachel.

Ia pun melangkah dengan kesulitan akibat rasa nyeri yang mulai terasa di anusnya. Rasanya agak kurang nyaman karena anusnya masih basah tergenang sisa sperma yang belum keluar di dalam. Ia pun hendak pergi ke kamar mandi tuk membersihkannya sejenak. Namun naas saat bidadari cantik itu menoleh dari balik dinding yang ada di belakang gedung kelas itu. Ia mendapati banyak santri yang berlalu - lalang karena sudah memasuki jam olahraga. Ustadzah cantik itu lemas. Ia pun penasaran bagaimana caranya agar bisa pulang ke kamar asramanya.

Ia pun memutuskan untuk menunggu sejenak. Namun usahanya jadi percuma karena banyak dari mereka yang tidak pergi justru malah semakin ramai. Makin banyak santri yang berlalu lalang untuk berolahraga setelah hujan turun. Ustadzah cantik itu kembali kedinginan hingga payudaranya yang tak tertutupi apa - apa itu kembali tegak menantang. Ustadzah cantik itu masih berdiri menutupi ketelanjangannya. Karena merasa tak nyaman ketika harus berdiri menanti tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Ia memaksakan diri tuk berlari menuju teras kelas disaat perhatian santri itu teralihkan oleh pertandingan basket yang baru saja di mulai. Rachel pun ngeluyur secepat mungkin tuk mengambil pakaiannya yang ada di teras kelas.

"Lohhhhh" Lirihnya terkejut.

Sesampainya disana. Ia sama sekali tidak menemukan pakaiannya. Ia pun gugup. Dengan segera ustadzah cantik itu memasuki ruang kelas sebelum dirinya dilihat oleh para santri.

"Ihhhh baju aku dimana sih ? Apa jangan - jangan diumpetin sama pak Udin ?" Kata Rachel menuduhnya tanpa bukti karena saking kesalnya.

Kedua tangannya pun mengepal erat. Tangannya gatal ingin mencabut kumis tebal yang dimiliki oleh pria tua itu. Kalau bisa, ia ingin meremas penis tuanya hingga remuk agar sosoknya tidak dapat mengganggu dirinya kembali. Kini ia terdiam, ia bingung memikirkan cara agar bisa pergi dari tempat ini.

"Gimana yah caranya biar bisa pulang ?" Tanya Rachel penasaran.

Nekat ? Mungkin itulah satu - satunya jawaban yang dimiliki oleh otaknya. Diam - diam, sedikit demi sedikit. Rachel melangkah perlahan menyusuri dinding kelas yang merupakan titik terjauh dari para santri itu berada. Kebetulan perhatian mereka teralihkan oleh laga seru yang mempertemukan jagoan basket itu. Mereka sibuk menonton dan bermain basket. Rachel pun melihat adanya peluang emas. Ini merupakan kesempatan apik. Rachel pun melangkah sambil sesekali melihat ke arah santri itu.

Rachel kali ini berada di tepi gedung sebelah timur. Sedangkan jalan yang mengarah ke asramanya berada di sisi gedung sebelah barat. Mau tak mau, Rachel harus menyeberang menyusuri gedung itu. Melewati rintangan yang mendebarkan dari para santri yang masih asyik menonton pertandingan bola basket itu.

Ia melangkah dengan penuh kekhawatiran. Kadang ia menutupi payudaranya, kadang ia menutupi kemaluannya saja. Rasanya tidak nyaman apabila harus berjalan dengan dua lubang yang basah oleh cairan cintanya masing - masing.

Kebetulan Rachel sudah tiba di ujung kelas paling barat itu. Saat kepalanya menoleh tuk memeriksa para santri. Ia melihat ada beberapa santri yang hendak menolehkan kepalanya ke arah dirinya.

Gawatttt !!!

Rachel segera memasuki ruang kelas paling barat itu untuk bersembunyi sementara dari tatapan penuh nafsu yang mungkin diberikan oleh para santri itu apabila melihatnya. Sejenak Rachel merasa lega. Tapi kesialan belum benar - benar pergi diri ustadzah montok itu. Tepat saat itu ada bola basket yang menggelinding memasuki ruang kelas dimana dirinya berada. Saat Rachel melongokan kepalanya sedikit, ia melihat ada santri gemuk yang berlari kearahnya untuk mengambil bola basket yang tadi menggelinding masuk ke dalam kelas itu.

Rachel panik. Dimana lagi ia bisa bersembunyi ? Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Di balik meja ? Percuma karena kaki - kaki di bagian depan meja itu tidak tertutupi oleh apapun yang mungkin dapat membuat santri itu menyadari kehadirannya. Ia pun membalikan badan tuk mencari tempat persembunyian.

Belum sempat ia bersembunyi, ia sudah dapat merasakan aura kehadiran santri gemuk itu di belakang. Rachel menegakan kepalanya. Ia membuka matanya lebar - lebar seolah dirinya kalah dari permainan hide and seek yang sedari tadi dimainkannya.

"Ehhhh" Kata santri gemuk di belakang.

Celaka ? Apakah ia menyadari diriku yang tidak mengenakan apa - apa saat ini ?

Rachel membatin. Ia pun memejam pasrah membiarkan santri gemuk itu melalukan apapun yang ia mau andai santri itu benar - benar memergokinya. Rachel memegangi dadanya dan jantungnya terasa berdebar lebih kencang daripada biasanya.

Ustadzah cantik itu pun berfikir. Mungkinkah santri itu sedang terpana karena melihat sisi tubuh bagian belakangnya yang telanjang ? Mungkinkah santri itu sedang menatap bongkahan pantatnya yang montok sekarang ?

Glleekkkkk !!!

Ia menenggak ludah. Memikirkan berbagai kemungkinan itu membuat vaginanya sendiri semakin basah. Tubuhnya pun menegang. Dara cantik itu tak sanggup menoleh menatapnya.

"Lohh kok bolanya kempes yah" Kata santri itu di belakang.

Ehhhhh !!!

Batin Rachel terkejut. Wajah cantiknya ia beranikan tuk menoleh. Terlihat santri itu berjalan mendekati bola kemudian pergi begitu saja tanpa menyadari kehadirannya. Jantung ustadzah itu sejenak seperti berhenti berdetak. Tapi ia lega karena masih mempunyai sedikit keberuntungan untuk menghindar dari malapetaka yang akan merugikannya.

Untung ruangan kelas disini agak gelap !

Terlihat dadanya naik turun dengan cepat. Ia pun memeganginya. Setelah rasa ketegangan itu mereda, ia pun kembali melongokan kepalanya untuk melihat keadaan di sekitar. Setelah merasa aman. Ia segera berlari secepat mungkin. Menyusuri jalan setapak menuju asramanya dalam keadaan telanjang bulat.

Kebetulan jarak gedung kelas dengan asrama pengajar tidak terlalu jauh. Dengan segera ia sudah dapat melihat gedung asramanya berada. Tapi disana ada beberapa ustadzah yang sedang bersantai di teras asramanya. Beberapa ada yang membaca buku. Beberapa ada yang mengobrol sambil duduk - duduk menikmati angin sore.

Dari balik pepohonan, Rachel kembali lemas memikirkan cara agar dirinya bisa memasuki kamarnya. Ia merasa yakin kalau ia sudah memasuki kamarnya maka ia akan merasa aman. Untuk sekarang, ia masih belum tenang karena ada ancaman yang berasal dari sisi bagian depan juga bagian belakangnya. Berulang kali bidadari cantik itu menoleh ke belakang tuk memeriksa adakah ustadzah yang berjalan dari arah sana ?

Untungnya secara serempak, ia melihat ustadzah itu bepergian dari teras asramanya. Beberapa ada yang pergi ke kamar mandi. Beberapa ada yang masuk ke dalam kamarnya. Beberapa ada yang pergi ke tempat wudhu sambil membawa ember untuk mencuci pakaiannya. Saat teras sepi itulah, Rachel ngeluyur dengan cepat menuju kamar asramanya. Rachel berlari telanjang hingga payudaranya berloncatan tanpa lelah.

Untungnya, ia tiba di depan pintu kamarnya dengan selamat. Ia lebih dahulu melepas sepatunya sebelum menginjak teras asramanya. Sebelum dirinya memasuki kamarnya, secara berhati - hati ia ingin memeriksa keadaan terlebih dahulu di dalam. Apakah ada orang disana ?

Ia membuka pintu kamarnya sebagian, matanya mengintip ke dalam. Untungnya ia tidak menemukan siapa - siapa di dalam kamarnya. Ia lega, ia pun memasuki kamar itu dengan tenang. Hatinya lelah, tubuhnya juga demikian. Jantungnya terus berpacu melawan waktu. Entah berapa kali jantungnya berdebar lebih kencang di hari ini. Rasanya seperti habis berolahraga, ia pun ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.

Masalahnya ia masih telanjang. Ia pun membuka pintu almarinya yang dikunci menggunakan gembok berkode. Saat hendak membuka kunci itu. Tiba - tiba pintu kamar terbuka. Jantung Rachel berdebar. Matanya membuka lebar. Ia pun menoleh tuk menatap siapa seseorang yang sedang membuka pintu kamar.

Ustadzah itu diam membeku. Begitupula Rachel. Mereka saling tatap. Mata mereka melakukan kontak. Reflek Rachel ingin berteriak Namun ia segera menahannya karena hanya akan mengundang orang - orang. Ia pun hanya menutupi kemaluannya sambil menunduk meminta maaf karena malu.

Beruntung ustadzah itu hanya tersenyum kemudian kembali keluar seolah sadar kalau yang dilakukan Rachel merupakan ketidaksengajaan. Namun ia tersadar kalau pintu almari Rachel masih terkunci rapat. Bagaimana itu bisa jadi sebuah ketidaksengajaan ?

"Aduhhh... Apalagi sih yang aku lakukan !!!" Lirih Rachel kesal karena tidak segera membuka pintu almarinya.

Rachel buru - buru membuka pintu lemarinya. Namun rasa berdebar yang sedari tadi menyerangnya membuat kemaluannya semakin basah. Rachel melepas hijabnya. Juga kaus kaki yang masih menyangkut di kakinya. Rachel sudah bertelanjang bulat. Bahkan rambutnya yang sebahu itu terlihat. Nafasnya terengah engah. Ia pun menutup pintu lemarinya dan bersandar disana. Sambil duduk ia melebarkan kakinya. Ia pun mengusap vaginanya menikmati nafsu yang sudah tidak lagi tertahan.

“Aahhhhhhh... Ahhhhh”

Diam diam ustadzah yang tadi memergokinya tersenyum sambil mengintip Rachel yang sedang bermasturbasi di dalam kamarnya sendiri.

MASA SEKARANG

"Ihhh lama amat sih Cel makan nya ? Ana bayar duluan yah kalau gitu ?" Kata Nada yang di jawab anggukan oleh Rachel. Nada lekas pergi meninggalkan Rachel sendiri menuju kantin tuk membayar sarapannya kepada mbok'e yang berjaga.

Sementara Rachel gugup ketika teringat kejadian yang membekas di hari kemarin. Ia lekas meminum air yang ada di dalam botol kemasan di sampingnya. Saat air itu mengalir dengan tenang menyusuri kerongkongannya. Ia mendengar sebuah pembicaraan dari dua orang ustadzah yang lewat di belakangnya.

"Aneh deh... Kemarin ana ngelihat ada ustadzah yang berlarian telanjang loh" Kata ustadzah itu.

"Hahh beneran ?" Jawab temannya.

Segera ustadzah montok itu tersedak hingga sebagian air yang hendak masuk ke mulutnya keluar membasahi lantai.

"Uhhuukk.... Uhhuukk" Rachel terbatuk - batuk jadinya ketika terkejut mendengar berita itu.

"Ehh Rachel... Gak usah buru - buru... Pelan - pelan aja, bakal ana temenin kok" Kata Nada yang melihat sahabatnya tersedak.

"Hehe iya Da... Maaf" Jawab Rachel merasa malu.

Diam - diam Rachel kembali melanjutkan sarapannya di temani Nada yang setia menantinya di sebelahnya. Rachel pun lega setelah mendengar kelanjutan cerita kalau ustadzah tadi tidak begitu melihatnya dengan jelas mengenai siapa ustadzah yang kemarin di lihatnya.


*-*-*-*


BEBERAPA JAM KEMUDIAN

Hanna baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya. Ia bersyukur karena santriwatinya tidak ada yang tidur dan cenderung memperhatikan dirinya dikala diajar. Ia pun berjalan dengan tenang selama perjalanan pulangnya menuju kantor bagian pengajaran untuk mengembalikan absen kelasnya.

Sebuah gamis lebar berwarna cerah menutupi tubuh rampingnya, rok panjang berwarna gelap melapisi kaki jenjangnya. Hijab syari berwarna kehijauan melengkapi penampilannya yang memukau juga tambahan kacamata yang menghiasi wajah cantiknya. Hanna tampak lebih muda, ia tampak mempesona, perpaduan pakaiannya yang sempurna ditambah dengan perawakan yang indah dari ustadzah cantik itu membuat dirinya dipuja - puja oleh siapapun yang melihatnya. Santriwatinya yang diajar olehnya, para santri yang kebetulan bertemu dengannya dijalan, para ustadz yang tersipu saat melihat senyumnya bahkan para pekerja yang bekerja di dalam pondok pesantren ini semuanya terkagum - kagum oleh keindahan pemilik senyum termanis di pondok pesantren ini. Tidak berlebihan memang kalau dirinya dijuluki dengan ustadzah tercantik nomor dua setelah ustadzah Haura.

Hanna menunduk dalam perjalanannya menuju kantor bagian pengajaran. Jujur, setelah kejadian pemerkosaan itu. Hanna jadi lebih berhati - hati dalam menjaga dirinya. Ia tahu kalau dirinya belum benar - benar terlepas dari cengkraman Lutfi, salah satu santrinya sendiri. Ia masih shock saat teringat kejadian itu. Ia benar - benar tak percaya kalau santri yang dikenal nakal itu sampai berani memperkosanya di kantor bagiannya.

Keperawanannya memang telah lepas. Ia benar - benar kecewa ketika terpikirkan hal itu. Ia merasa bersalah karena tak bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya kelak. Tapi ustadzah cantik itu masih memiliki hal yang tidak dimiliki oleh wanita lain, termasuk ustadzah lainnya yang ada di pondok pesantren ini. Yakni keindahan senyumnya juga paras indahnya dikala menyapa.

“Assalamualaikum” sapa Hanna ketika tiba di depan pintu masuk gedung itu.

“Walaikumsalam” jawab seseorang dari dalam.

“Loh, V ? Kok antum yang ngejawab ?” tanya Hanna terkejut sambil tersenyum.

“Hehehe... Bukankah menjawab salam itu wajib ? Iya gak sih ustadzah ?” tanya V ikut tersenyum melihat Hanna tersenyum.

“Yups... Antum shohih ustadz” jawab Hanna lekas masuk ke dalam gedung itu.

Alih - alih mencari ustadz yang berjaga untuk menyerahkan absennya, ia malah duduk di kursi kosong yang ada di depan V. Ia sempat melihat ke sekitar terlebih dahulu. Tetapi ia tak menemukan siapapun disini selain rekan kerjanya itu.

“Ehh yang lainnya dimana ? Antum lagi nunggu juga yah ?” tanya Hanna.

“Iya nih gak tau ustadz Adit dan yang lainnya pada kemana ? Biasanya sih hari ini Ustadzah Syifa yang jaga... Tapi gak tau dimana dia sekarang” jawab V dengan santai.

“Wah iya juga... Padahal tadi pagi kami jalan bareng loh sebelum masuk ke kelas masing - masing” jawab Hanna teringat kejadian tadi pagi.

“Hmmm begitu yah ? Mungkin lagi dalam perjalanan pulang kali yah” jawab V.

Keadaan pun menjadi hening setelah itu. Pertemuan tak terduga yang mereka alami disini menjadi penyebabnya. Mungkin apabila mereka bertemu di kantor bagian pengasuhan, rasa canggung itu akan hilang karena terbiasa dengan suasana yang ada di sekitar. Tapi disini, di gedung bagian pengajaran ? Rasanya ada yang berbeda dengan keadaan sekitar. Rasanya cukup canggung apabila mereka bertemu disini. Seketika Hanna kepikiran ide untuk mengisi kekosongan ini.

“Oh yah V... Dulu waktu sebelum menjadi pengajar disini, kamu sempat kuliah kan ?” tanya Hanna dengan bahasa santai ketika hanya ada mereka berdua disini.

“Oh iya bener... Eh kok tau sih ? Emang dulu aku pernah cerita yah ?” jawab V.

“Heleh malah lupa... Dulu waktu awal - awal banget kamu kan pernah cerita” kata Hanna yang ternyata masih ingat.

“Ehh gitu yah ternyata hahaha... Iya memangnya kenapa Han” jawab V.

“Memangnya waktu itu kamu ambil jurusan apa ?” tanya Hanna.

“Aku ? Kimia Han” jawab V yang membuat Hanna kaget.

“Hehhhh beneran ? Orang pinter berati nih” tebak Hanna yang membuat V tertawa.

“Hahahaha.... Cuma coba - coba aja... Lagipula waktu itu ada beasiswa kok” jawab V merendah.

“Ohhh begitu hihihihi” jawab Hanna ikut tertawa.

“Ehh bentar - bentar... Emang selama ini kamu nganggap aku apa ? Orang gak pinter gitu ?” kata V tersinggung.

“Hihihi bukan V bukan ! Bukan gitu... Bener deh, serius bukan” kata Hanna tertawa terbahak - bahak menyadari kesalahan ucapannya.

“Pinter ngeles juga yah kamu Han” kata V sambil mengambil kacang - kacangan yang tersedia di toples itu.

“Ehh kok asal ambil aja ! Emang itu disediakan buat tamu ?” tanya Hanna.

“Gak tau... Orang ada disini berarti buat tamu kan ? Kamu mau juga ? Ambil nih !” kata V.

“Heleh... Yaudah kalau itu punya ustadz sini tanggung jawab yah” kata Hanna mulai mengambil kacang kulit yang ada di dalam toples itu.

“Hahaha santai... Ustadz Adit temen aku kok” jawab V dengan santai.

Hanna pun mulai mengikuti apa yang telah dilakukan oleh V.

“Oh yah Han... Dulu kamu sempat kuliah juga kan ?” tanya V.

“Iya V... Dulu sambil ngajar disini, aku juga kuliah di kampus yang ada di sebelah barat itu loh, yang deket sama pondok ini... Kamu tahu gak ?” jawab Hanna sambil memakan kacang kulit itu.

“Ohh iya disitu kan ?... Banyak yah pengajar disini yang kuliah disana” jawab V.

“Iyyalah... Orang pondok ini punya MoU kerja sama dengan kampus sana” kata Hanna.

“Loh maksudnya ?” tanya V.

“Mirip kaya rumah sakit itulah... Bedanya para pengajar yang kuliah disana akan dibayarkan oleh pihak pondok... Makanya banyak dari kami yang kuliah disana sampai sekarang” jawab Hanna.

“Ohhh pantes... Emang dulu kamu ngambil jurusan apa ?” tanya V.

Tarbiyah V... Hehe” jawab Hanna malu - malu.

“Hahahaha masih normal... Aku loh ngambilnya jurusan kimia” kata V berbangga diri.

“Hmmm berati ada yang gak normal nih hihihi” jawab Hanna.

“Hahaha berani ngejek nih ? Sebenarnya selain ngambil jurusan kimia, aku juga ikut ekskul teater loh” kata V yang mengejutkan Hanna.

“Ehh beneran ?” tanya Hanna tak menduga.

“Iya dong gak percaya ?” tanya V menantang.

“Enggak hihihihi” jawab Hanna bercanda yang membuat mereka berdua tertawa.

“Dari apa yang kupelajari waktu itu... Kita, sebagai manusia, ditakdirkan untuk menjadi aktor loh” kata V sambil mengemil kacang itu.

“Oh yah kok bisa ?” tanya Hanna ikut mengambil kacang kulit itu, ia membukanya dan memasukan isinya ke dalam mulut manisnya.

“Iya, Kita selama hidup di dunia bisa memilih topeng apapun yang kita mau” kata V.

“Topeng ? Maksudnya ?” kata Hanna penasaran.

“Iya topeng, Tau kan banyak dari kita sekarang yang berperan jadi pejabat tapi nyatanya bertopeng penjahat, ada yang berperan jadi polisi tapi nyatanya hobi eksekusi, ada juga yang berperan jadi pekerja kantor tapi sebenarnya ia koruptor... Banyak kepalsuan yang ada di dunia ini... Banyak manusia bertopeng yang hidup di dunia ini... Masalahnya sebagai warga biasa, kita tidak pernah tau mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah” kata V.

“Hmmm iya bener tuh V” jawab Hanna mendengarkan.

“Oh yah... Berarti dulu sewaktu di kampus kamu pernah bermain peran dong ? Pernah memerankan apa aja ?” tanya Hanna sambil tangannya meraih kacang yang ada di dalam toples itu.

“Banyak Han... Mulai dari seorang kekasih sampai seseorang yang tidak tahu terima kasih... Mulai dari seorang bajak laut sampai seseorang yang berwatak penakut... Mulai dari seorang yang pemberani sampai seseorang yang hobi menyendiri... Banyak deh, aku aja sampai lupa pernah berperan jadi apa aja... Jadi gak berlebihan lah yah kalau aku menyebut diriku sebagai seseorang yang mempunyai seribu wajah” kata V berbangga diri.

“Wuihhhhh... Keren gitu... Terus kalau gitu, sekarang kamu lagi berperan jadi apa V ?” tanya Hanna.

“Aku ? Sekarang ? Apa yah ? Mungkin penyair” kata V.

“Ehh penyair ?”

“Mau bukti ?”

“Coba !”

“Hanna, Dikala engkau gundah gulana, Rogohlah sesuatu yang ada di dalam saku celana... Walau sudah berdebu, ingatkah sesuatu yang sudah kau simpan di hari rabu ? . . . . Sebuah kertas berwarna biru yang berupa uang lima puluh ribu... “ kata V kemudian menahan tawa karena malu.

“Hihihihihi... Bagus V bagus... Aku sampai gak bisa berhenti ketawa dengernya” kata Hanna tertawa terbahak - bahak.

Sementara wajah V memerah menahan malu dengan syair abal - abal yang baru dibuatnya. Ia pun menunduk sambil menahan senyum dengan tangannya yang tak henti - hentinya mengambil kacang yang ada di dalam toples itu.

“Hihihi haduhh... Perut aku jadi sakit nih dengernya... Kamu keren deh... Aku akui kalau kamu memang seorang aktor sejati... Mulai tadi yang berbicara kaya pujangga eh tau - taunya malah jadi pelawak... Haduhhh V... V... Keren deh kamu ini... Udah baik, pinter, jago ngelawak lagi” kata Hanna memuji V.

V pun tersenyum kepada Hanna setelah menerima pujian itu. Kemudian tangannya kembali mengambil kacang di toples itu lalu mulutnya membuka untuk mengucapkan sepatah kata pada ustadzah cantik yang duduk dihadapannya.

“Baik ? Ah berlebihan deh kamu Han... Aturan pertama yang harus dipahami oleh seorang wanita adalah.... Jangan pernah mempercayai omongan laki - laki” kata V tak henti - hentinya mengemil cemilan kacang itu.

“Ohhh gitu... Terus ?” kata Hanna menahan senyum.

“Udah sih... Kok terus ? Tukang parkir yah ?” kata V yang malah membuat Hanna kembali tertawa.

“Hihihih tuk kan V... Kamu jago ngelawak deh... Pasti lagi berperan jadi pelawak yah sekarang ?” kata Hanna tertawa menahan sakit di perutnya.

“Senyummu indah Han... Aku suka saat mendengar suara tawamu... Juga nadamu dikala berbicara... Serta penampilanmu yang begitu sempurna... Kadang ketika aku duduk disini menatapmu yang begitu malu - malu... Membuat hatiku berdebar kencang hingga menimbulkan suara yang berbunyi ninu - ninu” kata V kembali menahan tawa saat mengakhiri kalimatnya.

“Hihihihih apaan V ninu - ninu... Mobil ambulance yah ? Hihihihi” tawa Hanna tanpa akhir.

Hanna terlihat bahagia saat itu. Tawanya awet seolah ia telah meminum obat pengawet. Kecantikannya juga awet. Serta senyumnya yang membuat ustadz baru itu merasa candu. Ia tak dapat berhenti untuk menatap senyum itu. Perlahan ada rasa yang tumbuh di dalam hatinya. Bukan hanya sekedar nafsu. Tapi rasa untuk untuk memiliki tubuh serta hati ustadzah cantik itu.

Hmmm Hanna !!!

V pun melihat cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. V tersenyum canggung. Ia baru ingat kalau ustadzah manis yang sedang tertawa dihadapannya sudah bertunangan dengan anak dari Kiyai yang memimpin pondok pesantren ini.

Entah kenapa ada rasa tidak rela yang tumbuh di dalam hatinya. Benci ? Kenapa harus ? Bukankah itu bagus ? Lagipula bukankah ia sudah memilih Haura kendati ia sudah memiliki suami di sisinya. Haura atau Hanna ? Dua - duanya bagus. Dua - duanya wanita yang sempurna. Dua - duanya merupakan istri idaman. Dua - duanya berada di nomor satu dan dua.

“Hah repot” lirihnya dengan suara yang sangat kecil sekali.

Sebagai lelaki, entah kenapa ia lebih menyukai seorang wanita yang sudah atau akan menikah. Padahal banyak dari wanita lain yang masih perawan dan lebih muda dan menggoda daripada mereka berdua. Tapi hatinya lebih tertuju pada Haura juga ada tambahan Hanna mulai detik sekarang. Mereka lebih menggoda dan memiliki sensasi yang beda. Mereka lebih nikmat dan lebih memberikan kepuasan setelah bercinta.

Ahh jadi ingin bercinta kan

Batin V saat merasakan penisnya mengeras. Apalagi saat ia mengangkat wajahnya guna menatap wajah cantik ustadzah itu. Senyum manisnya yang sempurna langsung menyapa dirinya. Kacamata bening yang menghiasi wajahnya juga bibir tipisnya yang merona. Ada rasa dalam hati untuk melumat bibir itu kembali. Ada rasa ingin mencumbui bibirnya juga menghisap lidahnya. Ia pun membayangkan ketika tubuh sekel ustadzah itu naik turun di dalam pangkuannya. Suara desahan yang memukau terbayang di benaknya. Ekspresi wajahnya yang bernafsu juga terlukis di pikirannya.

V berandai - andai dengan menghilangkan pakaian yang saat ini dikenakan oleh ustadzah cantik itu. Kurus tidak. Gemuk juga tidak. Mungkin lebih tepatnya berisi lah yah. Apalagi saat menatap tonjolan yang ada di dadanya juga perawakan tubuhnya yang montok.

Ah mantap !

Kulit putihnya yang bening juga halusnya tekstur yang dimiliki kulit itu. V semakin tidak tahan untuk mengekse ustadzah cantik itu. Tangannya pun bergerak untuk meremas jemari kirinya. Hanna terkejut saat jemari kirinya di sentuh. Ia pun memberanikan diri tuk menatap wajah V. Wajahnya manis, tampan, dengan senyumnya yang indah membuat jantung Hanna berdebar. Hanna reflek menundukan pandangan karena malu. Wajahnya jelas memerah. V dengan jelas melihat perubahan wajahnya itu. V pun membuka mulutnya. Ia ingin memberanikan diri untuk jujur tentang perasaannya.

“Hann... Sebenarnya aku . . .” kata V semakin meremas jemari kiri Hanna.

“Ada apa V ? Kok kamu jadi aneh gini sih ?” tanya Hanna heran.

“Akkuuu... Akuuuu....”

“Assalamualaikum... Ehhh kalian sudah lama menunggu yah !”

Reflek V menarik tangannya dan tubuhnya nyaris meloncat karena terkejut. Begitupula Hanna. Mereka berdua terkejut oleh kedatangan seseorang yang tiba - tiba ada di depan pintu masuk gedung ini.

“Walaikumsalam... Eh antum ustadzah Syifa iyya us heheh” kata Hanna mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya. Untungnya Syifa terlihat buru - buru. Hijabnya juga terlihat tidak rapih. Jadi ia tak sempat melihat perbuatan yang dilakukan oleh dua tamu yang sedang menunggu di kantor bagiannya.

“Hehe afwan yah kalian... Tadi ana ada urusan sama ustadzah Diah... Maaf yah membuat kalian menunggu” kata Syifa buru - buru mengambil daftar absen berisi paraf para pengajar yang ingin mengambil atau mengembalikan buku absen kelasnya.

“Gapapa kok ustadzah” jawab V agak sedikit kesal.

Huh nyaris saja... Kenapa antum malah datang disaat yang tidak tepat !

Naam syukron yah... syukron sudah mengisi parafnya... Sekali lagi afwan atas keterlambatan ana” kata Syifa berterimakasih kepada dua pengajar bagian pengasuhan yang sudah membubuhkan tanda tangannya. V dan Hanna pun menyerahkan absen kelas itu. Setelah itu mereka pulang bersama menuju kantor bagian mereka.

Selama perjalanan, rasa canggung itu kembali muncul diantara mereka berdua. V tidak mengucapkan kata - kata begitupula Hanna yang terus menunduk. Entah kenapa wajah Hanna masih memerah saat menatap wajah tampan V tadi. Jantungnya pun masih berdebar kencang. Ia mengaitkan jemari - jemarinya sendiri sambil terus menunduk menatap jalan setapak yang mereka lalui berdua.

“Anu maaf soal tadi hehe... Itu bagian dari akting juga kok” kata V merasa malu.

“Hehehe iyya gapapa... Tadi aku juga akting kok... Saking naturalnya sampai ikut kaget juga tadi” jawab Hanna tertawa. Kembali senyum manis Hanna menyilaukan pandangan V saat menoleh menatapnya.

“Hehehe jago akting juga yah” kata V berbicara menatap depan tanpa berani menatap wanita cantik di sebelahnya.

“Hihihih yang jelas gak sehebat kamu lah V... Udah cakep, baik, keren, jago ngelawak lagi” jawab Hanna yang membuat jantung V berdebar.

Cakep ? Hanna bilang aku cakep ?

Perlahan senyumnya keluar sendiri tanpa mampu ia bendung. Senyum itu terus mengembang hingga V sampai harus menutupinya dengan telapak tangannya.

“Hayoo senyum - senyum sendiri kenapa ?” tanya Hanna ikut tersenyum disamping V.

“Ada deh” kata V menarik kembali tangannya hingga mulutnya itu tidak ditutupi lagi olehnya. V tak sanggup menahan senyum. Ekspresinya yang lucu justru membuat Hanna kembali tertawa.

“Hihihihi V... V... Antum aneh banget deh” kata Hanna ikut tertawa.

“Gapapa aneh... Yang penting ganteng” jawab V yang kembali membuat Hanna tertawa.

Rasa bahagia yang memuncak membuat hati V ingin meledak. Hatinya tidak mampu untuk menyimpan semua rasa bahagia ini. Apalagi dengan adanya Hanna disampingnya membuat tangan V reflek ingin mengaitkan jemarinya. V pun teringat akan sebuah peribahasa yang pernah di dengarnya oleh orang - orang.

Benar memang kalau cinta itu tidak datang begitu saja... Cinta datang karena adanya interaksi yang dibuat oleh dua manusia yang berbeda... Tidak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama... Yang ada hanyalah nafsu semata... Cinta dapat bertahan lama tapi nafsu hanya bertahan sementara.

“Oh yah... Aku duluan yah Han... Baru inget ada pekerjaan yang harus aku lakukan” kata V izin pamit.

“Ohh iya V gapapa” kata Hanna tersenyum.

“Tolong jaga diri yah... Jaga semuanya... Jangan sampai kenapa - kenapa” kata V tak ingin sesuatu terjadi pada ustadzah cantik itu.

“Iya... kamu juga yah V... Terima kasih udah jadi orang baik... Terima kasih udah membuatku tertawa hari ini” kata Hanna.

“Baik ? Hahahaha” kata V tertawa.

“Iya kan ? Haura juga sering cerita kalau kamu ini sering berbuat baik ke Haura” kata Hanna.

“Aturan kedua... Jika ingin mengenaliku lebih, jangan percaya dengan perkataan orang lain yang ditujukan untukku... Jangan juga percaya dengan omongan yang kuberikan untukmu... Kalau mau mengenalku, kalau kamu ingin mengenaliku lebih dalam... Perhatikan saja sikapku baik itu selama di depanmu atau mungkin di belakangmu” kata V.

Hanna hanya mengernyitkan dahi ketika diberikan kata - kata yang menurutnya hanya membuat dirinya pusing saja. Hanna pun tersenyum kemudian tanpa sadar melambai mengiringi kepergian V yang semakin jauh darinya.

V sudah jauh, ia merasa bahagia. Ia pun menoleh dan melihat Hanna masih tersenyum untuknya.

Wadaw ! Leleh hati ini jadinya.

Batin V yang berhasil kabur dari keindahan sosok Hanna tadi. Ia begitu bahagia, rasanya jadi ingin salto - salto saja. Ia ingin berteriak untuk mengabarkan pada dunia kalau ada hati yang sedang ingin ia jaga. Ia ingin menikahinya tapi dengan cara apa ? Haura, benar juga. Ia masih tetap ingin menargetkan Haura ? Tapi bagaimana ? Suaminya aja masih setia berdiri di sisinya.

Fitri.

Sebuah nama yang begitu berarti baginya. Sebuah alasan kenapa ia begitu ingin menikahi Haura. Parasnya yang mirip juga hatinya yang bersih lagi suci. Haura merupakan sosok yang setia, walau pernah terlena tapi ia tetap ingin menjaga sesuatu yang harus ia jaga yakni pernikahannya.

"Jadi bingung kan jadinya" Katanya seketika terbayang siapa jodoh di hatinya selama ini.

Namun pandangan V teralihkan oleh sosok yang telah membuatnya penasaran. Sosok yang begitu ia benci. Tidak hanya satu tapi dua sekaligus. Hal itu menimbulkan kecurigaan di hati V. Apa yang dilakukan oleh dua pria itu di satu tempat ?

V mengendap - ngendap. Kepalanya ia tundukan, kakinya ia jinjit. Ia melangkah secara hati - hati dengan meminimalisir kemungkinan suara yang bisa didengar. Kedua pria itu memasuki sebuah gedung yang belum selesai dibangun. Mereka tampak mengobrol membicarakan sesuatu. Mungkinkah ?

Kebetulan V berdiri di luar gedung di dekat jendela yang terbuka. Ia sudah dapat mendengar suara mereka dari posisi berdirinya. V menarik nafasnya, ia mencoba mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

"Gampanglah nanti... Santai gak usah buru - buru" Terdengar Lutfi berbicara. Suaranya meninggi. Apa dia lagi marah - marah ?

"Nanti - nanti kapan ? Bukankah kita sudah setuju tuk melakukannya bersama ?" Tanya Pak Karjo.

Kerja sama ? Apa maksudnya ?

Batin V penasaran.

"Iya... Tapi aku tak bisa melakukannya sekarang... Aku sedang tidak mood..." Kata Lutfi.

"Tidak mood ? Kemarin gak mood, sekarang gak mood, kapan moodnya ?" Tanya Karjo kesal.

"Muwehehe... Sabar... Gak usah terburu - buru, nanti pasti akan ku kabari tuk membantumu melakukan sesuatu pada ustadzah itu" Kata Lutfi dengan lirih.

Ustadzah ?

Mata V membuka lebar. Ia pun penasaran dengan apa yang direncanakan oleh mereka berdua.

Apa maksud kalian 'pada ustadzah itu ?' Apakah kalian sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada salah satu ustadzah disini ? Cepat katakan siapa ? Sebutkan saja Haura atau Hanna agar aku bisa menghabisi kalian di tempat !

"Benar yah ? Saya tunggu, semoga moodmu cepat membaik" Kata Karjo.

"Santai aja... Aku harus pergi dulu... Sampai nanti" Kata Lutfi lekas pergi dari gedung itu.

V pun mencoba tenang. Ia tetap diam hingga Lutfi benar - benar pergi dari gedung ini. Ia mencoba mengintip ke arah Lutfi. Benar saja, Lutfi benar - benar pergi tanpa mengucapkan kata terlarang yang V inginkan darinya.

"Apa yang sebenarnya kalian rencanakan ?" Kata V penasaran. Mendapati mangsanya telah pergi. V pun ikut pergi melanjutkan perjalanannya yang kebetulan searah dengan taman yang di penuhi bunga - bunga.


*-*-*-*


“Hahhh... Kurang ajar ! Kemana sih hapeku ? Dimana aku menaruhnya ? Kenapa bisa sampai hilang ?” kata Lutfi melenguh sambil menendangi batu yang ada di jalan karena terlalu kesal dengan musibah yang menimpanya.

Ia benar - benar badmood setelah itu. Ia malas melakukan apa saja. Bahkan makan pun malas. Didalamnya terdapat banyak harta berharga berupa koleksi video dewasa yang sudah didownloadnya sejak lama.

Apalagi ada video langka itu ! Mana susah lagi dapetinnya... Lagipula siapa yah nama ustadzah itu ? Belum juga aku memerasnya, tapi keburu ilang tuh hape... sial banget pokoknya !” kata Lutfi terus misuh - misuh sendiri.

Kebetulan selama perjalanannya itu, Ia melihat seorang ustadzah yang melintas dihadapannya. Ustadzah itu cantik, tubuhnya berisi, ada kacamata di wajahnya yang menghiasai.

“Muwehehehe ! Rejeki emang gak kemana !” kata Lutfi seolah ingin melampiaskan seluruh kekecewaannya pada ustadzah itu. Ia pun mengendap - ngendap. Berusaha tuk menerkam ustadzah cantik itu dari belakang.


*-*-*-*


"Disini lagi kita sekarang" Kata V mendapati dirinya sudah tiba di taman bunga di dekat gedung bagian pengasuhan.

Entah sudah berapa kali V mengunjungi tempat ini. Terhitung semenjak percumbuannya dengan Haura di tempat ini, mungkin hanya beberapa hari saja dirinya absen mengunjungi tempat indah ini semenjak dari hari pertama dirinya bekerja disini.

Tempat ini membuatnya nyaman. Tempat ini juga menimbulkan kenangan. Ya bunga - bunga yang tumbuh disekitarnya ini membuatnya teringat akan lingkungan tempat tinggal yang ada di rumahnya. Sebagai anak dari penjual bunga. Hal ini jelas membangkitkan kenangan yang dulu sempat dibuatnya dikala ia masih kecil.

"Tunggu dulu... Bunga ini" Kata V saat teralihkan oleh bunga yang tumbuh di sebelah kirinya.

Ia berjongkok memandangi bunga itu cukup lama. Ia pun tersenyum sambil membelai bunga indah itu. Dirinya teringat saat dulu ketika dirinya diberi bunga ini oleh Fitri dikala diri mereka masih duduk di bangku SMP. Bunga yang saat itu menjadi tanda persahabatan dirinya dengan Fitri. Seorang sahabat sekaligus guru kehidupannya. Ia pun jadi merindukan Fitri. Ia pun membayangkan andai Fitri masih hidup dan duduk di sebelahnya. Ia pasti telah bercerita banyak hal semenjak kepergian Fitri dari dunia ini. Tanpa sadar air matanya menetes. Ia pun tersenyum tuk menghapus air mata itu sekaligus pergi dari tempat ini menuju kamar asramanya untuk beristirahat sejenak.

Selama perjalanan pulangnya, ia mengusap matanya yang memerah karena menahan air matanya. Ia hanya bersyukur karena sudah dikenalkan dengan gadis baik sepertinya. Namun karena ‘penyakit’ yang dimilikinya membuat V dipaksa untuk berpisah dengannya. Tapi V tak mempermasalahkannya. Ia hanya menganggap mungkin ini jalan terbaik untuk hidupnya.

“Terima kasih... Fitri !” kata V bersyukur.


*-*-*-*


Hanna berjalan dengan santai sambil senyum - senyum sendiri mengingat candaan yang diberikan oleh V untuknya. Entah kenapa humor yang dimiliki oleh V merupakan seleranya. Ia mudah tertawa apabila V ada di dekatnya. Perutnya bahkan sampai sakit. Ia pun menggeleng - gelengkan kepala tak percaya ada lelaki sepertinya disini.

“Hahhh... V ! ada - ada aja kamu ini !” katanya dengan lembut.

Kaki kanannya ia majukan baru disusul kaki kirinya. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku gamisnya. Suasana hatinya membaik. Senyum begitu mengembang di wajah manisnya. Parasnya begitu sempurna membuat para santri yang ditemui ingin menyapa ustadzah cantik disana. Ah para santri itu langsung klepek - klepek ketika dibalas senyuman oleh ustadzah cantik itu. Hanna hanya tersenyum menganggap lucu reaksi yang diberikan oleh santri - santrinya.

Tiba - tiba.

“Hemmmmmm.... Hemmmmpppphhhh”

Mulut ustadzah cantik itu dibekap. Matanya pun ingin menoleh siapa tersangka yang berani membekapnya. Tangan Hanna digerakan untuk melepas tangan lelaki itu. Tapi apa daya. Kekuatan lelaki itu terlalu kuat. Apalagi saat diberikan nada ancaman melalui bisikan lelaki itu.

“Diam atau ana gak akan segan untuk memukul antum ustadzah !” katanya yang membuat Hanna berdiam pasrah karena saking takutnya.

Saat suasana benar - benar sepi. Tidak ada santri sama sekali yang berlalu lalang disekitar mereka. Lelaki itu lekas menyeret Hanna memasuki gudang tak terpakai yang letaknya cukup jauh dari keramaian. Lelaki itu membuka pintu itu. Lantas ia mendorong tubuh Hanna masuk kemudian menguncinya dari dalam.

“Muwehehehehe” tawanya dengan nada khasnya.

Hanna pun menoleh. Benar saja, ia tampak kenal dengan suara lelaki itu. Suara dari lelaki yang telah merenggut keperawanannya. Suara dari lelaki yang telah merenggut harga dirinya. Suara dari lelaki yang telah merenggut kebahagiaannya.

“Lutfi ! Apa yang antum lakukan ke ustadzah ! Lepaskan ustadzah, Lutfi !” kata Hanna berteriak.

“Muwehehehe.... Lepaskan ? Maaf ustadzah... Ana lagi badmood nih seharian... Ana gak tau gimana caranya biar bisa normal lagi selain menikmati tubuh ustadzah sekarang !” kata Lutfi mulai menurunkan resleting celananya. Mata Hanna pun membesar. Ia benar - benar ketakutan ketika melihat Lutfi kembali hendak melakukan aksi jahatnya.

“Lutfii !! Tolong jangan lagi ! Ini ustadzah, Lutfi ! Apa yang akan antum lakukan ke ustadzah ?” kata Hanna terlihat panik.

“Muwehehehe... Justru itu ustadzah... Hanya dengan menikmati tempik legit ustadzah lah ! Ana bisa mendapatkan kebahagiaan lagi” katanya sudah mengeluarkan penisnya yang mengeras.

“Ahhhh... Astaghfirullah Lutfi ! Jangan lakukan ! Masukan kembali benda itu Lutfi !” kata Hanna berusaha menutupi pandangannya.

“Muwehehehe... dimasukin lagi ? Ana akan melakukan hal yang sebaliknya ustadzah !” kata Lutfi lekas melepas satu persatu kancing kemejanya.

Hanna panik. Ia jelas tahu kalau dirinya tidak akan diberi kesempatan untuk pergi dari tempat ini. Pandangannya ia arahkan ke sekitar. Mencari celah tersembunyi agar bisa kabur dari tempat ini. Tapi sejauh mata memandang, ia hanya melihat peralatan sapu yang tidak terpakai. Alas yang ia duduki saat ini pun kotor dengan debu yang bertebaran dimana - mana. Saat wajah cantiknya kembali menoleh Lutfi. Santrinya itu sudah selesai melepas seluruh pakaiannya. Ia sudah telanjang bulat dengan penis tegak menantang yang ingin memasuki lubang kenikmatan sang ustadzah.

“Aahhhhhh Lutfi tolong jangan lakukan hal ini ke ustadzah” kata Hanna saat melihat Lutfi mendekat.

“Muweheheh... Katakan itu nanti setelah ustadzah hamil hasil dari anak ana sendiri” kata Lutfi bergegas tuk meremas payudara Hanna dan hendak mencium bibir tipisnya yang merona.

“Mmppphhh... Enggakkk.. Ahhhhh sakittt Lutfiiii... Hentikan semua ini !” kata Hanna merasa perih saat payudaranya diremas.

Kepalanya pun ia geleng - gelengkan saat bibir maju Lutfi hendak datang mencumbui bibirnya. Hanna begitu ketakutan. Dengan sekuat tenaga ia menolak pelecehan yang dilakukan oleh santri bejatnya itu.

“Mmmpppphhhhhhh” Namun sialnya, bibir Lutfi sudah tiba di bibir manis Hanna. Bibirnya tanpa ampun mendorong bibir manis itu hingga kepalanya terdorong ke belakang sebelum ditahan oleh jemari Lutfi.

Sementara tangan kirinya tanpa ampun meremasi payudaranya yang ranum. Bulatan itu begitu kencang dan sangat pas digenggaman tangannya. Lutfi pun bertanya - tanya. Apakah payudara Hanna diciptakan untuk diremas oleh jemarinya ?

“Mmppphhh ustadzahhh... Ouhhmmm... Manis bangetttt uhmmm” kata Lutfi terus melumat bibir atas Hanna dengan nafsu. Ia mengulum bibir atasnya. Kemudian berusaha memasukan lidahnya. Ia begitu puas setelah merasakan kelezatan dari mulut manis sang ustadzah. Jemarinya pun gemas tuk mengangkat naik gamis yang dikenakan oleh ustadzahnya.

Saat gamis itu terangkat. Ia dapat melihat perut putih mulusnya yang halus. Hanna melirik sambil terus mencumbi bibir manis ustadzah itu. Tangan kirinya dengan penuh nafsu mengusap perut ratanya. Usapannya pun naik hingga meremas payudara Hanna dari balik gamis yang masih dikenakannya. Tampak bra ketatnya masih menghalangi jemari Lutfi tuk beraksi. Tapi hal itu tidak serta merta mengurangi rasa nikmatnya. Payudaranya sungguh kencang membuat Lutfi tak dapat berhenti untuk melanjutkan pelecehannya pada ustadzah cantiknya.

“Mmppphhhhhh... Hentikann Lutfi ! Hentikkannnn !!! Usatadzah mohon !” kata Hanna dengan putus asa.

Namun jelas bahwa Lutfi tak akan mengindahkan suaranya. Ia malah mengangkat tubuh Hanna memaksa ustadzah cantik itu untuk berdiri dari posisi duduknya. Segera kedua tangannya datang tuk meremas bokong montoknya. Sementara bibirnya masih betah mencumbui mulut manisnya.

Lidahnya sudah berhasil memasuki mulut manis sang ustadzah. Lidahnya berkelana. Menjilati setiap sudut dari rongga mulut bidadari berhijab itu. Sedangkan Hanna terus memejam sambil sesekali berusaha tuk mendorong tubuh santrinya menjauh. Tapi ia kalah tenaga. Ia tak mampu mendorongnya. Hal itu disebabkan karena remasan tangan Lutfi yang hinggap di bokongnya.

Dengan terburu - buru. Lutfi menurunkan resleting yang ada di belakang rok panjang itu. Resleting itu sudah turun membuat Lutfi dengan paksa menurunkan rok itu melewati bokong montoknya yang sangat berisi. Lutfi sampai harus meremasnya kembali karena tidak tahan akan kepadatan bokong indah disana.

Saat itulah Lutfi mendapatkan lidah Hanna di mulutnya. Ia pun mengulum lidah itu. Ia menghisapnya dengan penuh nafsu. Hanna sampai memejam dan mengernyitkan dahinya mendapati lidahnya dihisap begitu kuatnya. Lutfi pun menggiring lidah Hanna agar memasuki mulutnya. Saat lidah mereka bertemu di dalam. Lidah itu saling menggeliat. Lidah itu saling melilit. Lidah itu saling menggesek tuk merangsang birahi masing - masing. Lutfi pun puas namun tidak halnya dengan Hanna diseberang.

Ia tampak risih. Ia enggan untuk melanjutkan perbautan kotor ini. Ia merupakan seorang ustadzah yang sebentar lagi akan menikah. Ia jelas menolak membiarkan santrinya bertindak sesukanya. Tangannya terus mendorong bahkan memukul bahu Lutfi agar berhenti untuk mengeksploitasi tubuhnya lebih.

Hanna terus memukul - mukul. Kemudian ia menggenggam jemarinya. Ia mengepalkan tinjunya. Dengan sekuat tenaga ia pun memukul sisi bagian kanan dari kepala Lutfi yang memiliki rambut sedikit itu.

“Aahhhhhhhh” kata Lutfi sambil memegangi kepala bagian kanannya.

Hanna pun lepas. Ia memiliki kesempatan untuk kabur dari tempat mengerikan ini. Ia sudah tiba di pintu namun kunci itu begitu keras. Ia kesulitan untuk menggeser kunci itu lepas dari tempatnya berada.

Pandangan Lutfi samar - samar setelah dipukul dengan tinju hanna di dekat matanya. Ia pun mendapati kalau mangsanya hendak kabur. Dengan penuh dendam. Lutfi menarik tubuh rampingnya Hanna dan mendorongnya hingga mengenai sapu - sapu lantai yang sudah tidak dipakai lagi.

“Aahhhhhhhh”

Sapu - sapu itu jatuh berjejeran. Begitupula tubuh dari dara cantik itu yang terkapar di lantai gudang yang dipenuhi oleh debu - debu ini.

Dengan beringas Lutfi menarik rok yang dikenakan oleh Hanna hingga lepas. Ia juga menarik celana dalam yang dikenakan oleh ustadzah itu. Lutfi menindihinya. Hanna yang sedang jatuh tengkurap itu pun merasa berat ketika ada Lutfi diatasnya.

“Aawww.... Awwww” teriak Hanna saat bokong montoknya ditampar oleh Lutfi.

“Muwehehehe”

Hanna pun meringis kesakitan. Bongkahan pantatnya yang empuk itu diremasnya dengan penuh nafsu. Seketika matanya membuka lebar saat sesuatu yang besar sudah tiba di bibir vaginanya. Sesuatu itu berukuran besar, teksturnya pun keras. Sesuatu itu terus mengantuk - ngantuk bibir vagina Hanna yang mulai basah terolesi cairan cintanya.

“Aahhhhhh.... Lutfi apa yanggg... Ahhhhh” desah Hanna saat merasakan vaginanya diobok - obok oleh jemari nakal Lutfi.

“Muwehehehe.... Enak kan ustadzah ? Mulai banjir nih muwehehehe” kata Lutfi menertawakannya.

Hanna meringis. Matanya memejam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia begitu kewalahan saat vaginanya dilecehkan oleh tangan nakal Lutfi. Lutfipun tertawa kegirangan melihat ekspresi ustadazahnya. Berulang kali ia juga menampari pantat sekel itu hingga kulitnya yang putih berubah jadi merah.

“Aawww... Awwww.... Hentikan Lutfiiii... Ammpunnn... Maafin ustadzahhhh, Lutfiii !!” kata Hanna meminta maaf karena tidak sanggup bertahan.

Lutfi pun menuruti. Ia menghentikan obokannya di kemaluan Hanna. Setelahnya. Ia malah merapatkan kaki jenjang Hanna. Kemudian sesuatu yang besar berukuran lonjong itu didekatkan diantara selangkangannya.

Apa ?

Hanna langsung menoleh menyadari sinyal bahaya yang didapatinya.

“Uhhhhhhhh” desah Hanna memejam menahan perih saat saat penis raksasa itu memaksa masuk ke lubang vaginanya yang sempit.

“Muwehehehhe... Nikmatnya ustadzahhh... Ahhhh !” desah Lutfi puas.

“Aaaawwww... Lutfiii... Hentikannn !!! Hentikannn Lutfi jangan lagi !!! Ahhhhhh” Hanna mendesah keras. Kedua tangannya mengepal merasakan penetrasi yang dilakukan oleh Lutfi ketika penisnya hendak memasuki vaginanya. Penis itu nampak kewalahan saat memasuki lubang kemaluan Hanna yang masih sangat sempit. Berulang kali Hanna sampai memukul - mukul lantai ruangan itu untuk menahan rasa sakit yang dideritanya. Kakinya juga demikian, kakinya ia hentak - hentakan berusaha tuk menahan penetrasi penis Lutfi agar tidak masuk lebih dalam lagi daripada ini.

“Uhhhhhhh Ustadzahhhh !!” desah Lutfi makin girang.

Usaha yang dilakukan Hanna justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Alih - alih hentakan kakinya mampu untuk menahan penetrasi Lutfi. Penis yang ada di dalam vagina itu semakin terhimpit hingga pemiliknya merasa girang merasakan jepitan yang semakin kuat yang ia rasakan di dalam vagina ustadzahnya. Berulang kali tangan nakalnya meremas bokong montok itu. Ia menamparnya. Melampiaskan seluruh hawa nafsunya pada ustadzahnya yang sudah tidak mengenakan apa - apa di bagian bawah tubuhnya.

“Ussttaddzahhhh... Uhhhhh” kata Lutfi mendorong pinggulnya.

Penis itu pun semakin masuk. Hanna merasa perih. Kemaluannya terasa sesak. Gesekan yang diberikan oleh kulit penis Lutfi membuat dinding vaginanya basah mengeluarkan cairan pelumas yang memudahkan Lutfi untuk masuk lebih dalam lagi.

“Aaahhhhh Luuttffiiii... Ustadzahhh mohhoonn... Ahhhh hentikann Lutfiiii” kata Hanna terus berontak.

Lutfi mengabaikan semuanya. Ia semakin beringas dan mendorong pinggulnya sekuat mungkin hingga penis itupun mentok menyundul pangkal rahim ustadzahnya.

“Aaaahhhhhhh” desah mereka berdua nyaris bersamaan.

Hanna lelah. Begitupula Lutfi diatasnya. Lutfi membiarkan ustadzahnya itu beristirahat sebelum diberi kenikmatan yang lebih lezat. Belum satu menit. Lutfi malah memulai genjotannya dengan menarik - dorongkan pinggulnya mengebor isi goa dari lubang kenikmatan ustadzahnya.

“Lutffiiiiiii... Ehmmmmmm” desah Hanna menoleh menatap santrinya dengan tatapan sayuk.

“Muwehehehe... Enak kan ustadzah ?” kata Lutfi meringis senang.

Hanna terbaring dalam posisi tengkurap. Kedua kakinya dirapatkan oleh santri bejat itu. Kedua tangannya mengepal. Payudaranya yang masih terbalut gamis lebarnya terhimpit oleh beban tubuh ramping pemiliknya. Sedangkan Lutfi diatas memasukan penisnya dari sela - sela selangkangan yang sedikit terbuka. Lutfi senang sekali. Wajahnya bahagia. Seolah mood yang sempat hilang darinya mulai dapat ditemukan lagi oleh pemiliknya.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ustadzahhhh... Ouhhhhh” desah Lutfi menikmati.

Lutfi mulai menjatuhkan dirinya. Menindihi tubuh berisi ustadzahnya. Kedua tangannya memegangi tangan Hanna dan merentangkannya di atas lantai kotor itu. Wajahnya pun menyelinap untuk mencumbui pipi ustadzahnya itu. Tampak Hanna risih ketika wajahnya hendak diciumi oleh bibir jelek itu. Tapi apa daya. Posisinya sedang terdesak hingga membuatnya tidak memiliki cara untuk menghindari ciuman itu.

“Uhmmm... Uhhmmmm... Manisnya pipi antum ustadzahhh.. Auuhmmmm” desah Lutfi sambil menciumi pipi ustadzahnya.

“Luutffiii... Ahhhhhhh hentiikkkannnn... Stoopppp Lutfiii !” kata Hanna tak kuat.

Pinggul Lutfi dengan beringas naik turun menghantam bongkahan pantat Hanna yang besar lagi empuk itu. Kemaluan Hanna pun semakin basah. Erangannya semakin keras. Payudaranya yang masih tersembunyi itupun mengencang. Hanna mulai terangsang. Tapi tidak mau mengakui itu. Ia sedang dilecehkan. Dan ia sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh santrinya. Tetapi sebagai seorang wanita. Ia tidak memiliki kekuatan yang sebanding untuk melawan nafsu santrinya itu. Ia hanya bisa mengerang. Bertahan dengan erangan nikmat yang diberikan oleh Lutfi diatasnya. Ia kembali sedih hingga tetes air matanya pun jatuh membasahi wajahnya.

Ia begitu pasrah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk dapat selamat dari terjangan nafsu buas Lutfi. Ia pun terbayang akan sosok suaminya. Ia kembali teringat akan pesan ustadzah Rania waktu itu.

Persiapanku ? Persiapan apa ? Alih - alih siap, aku malah semakin merasa tidak pantas untuk menjadi menantu seorang kiyai pondok pesantren !

Aku sudah ternoda... Aku bukan lagi wanita yang suci... Aku wanita kotor... Apakah wanita sepertiku masih pantas untuk seorang lelaki yang hebat seperti kamu mas ?

Mas Angga... Jawab ! Apakah mas masih mau untuk menikah dengan wanita kotor sepertiku ?

Hanna melamun memikirkan dirinya sendiri yang tak lagi suci. Ditengah lamunan itu. Tiba - tiba Lutfi mengangkat tubuh Hanna yang sudah lemas tak berdaya. Lutfi mengambil rok yang tadi dibuangnya. Ia pun menjembrengnya dilantai kemudin duduk diatasnya. Setelah itu ia mengangkat gamis juga melepas kait bra yang masih menutupi keindahan dada Hanna.

Hanna sama sekali tidak melawan karena tenaganya habis diterjang oleh gempuran Lutfi. Ia bersandar pada dinding ruangan. Kemudian memposisikan tubuh ustadzahnya untuk duduk di dalam pangkuannya.

“Uhhhhhhhh” desah Hanna saat merasakan penis itu semakin dalam saat menusuk lubang kenikmatannya.

Hanna mulai kembali sadar. Ia menatap depan mendapati santrinya itu sedang menatap dirinya dengan tajam. Santrinya sudah telanjang begitupula dirinya. Kulitnya yang berwarna putih bening itu terlihat. Pusarnya yang bersih berada di pusat perut ratanya itu terekspos. Payudaranya yang menggantung indah itu pun nampak dihadapan Lutfi. Lutfi menjilati bibirnya sendiri kemudian wajahnya mendekat untuk melumat puting payudaranya yang tegak menantang.

“Aaahhhhhhhhhhh Lutfiiiiiii” desah Hanna sambil menggigit bibir bawahnya.

Lutfi mencaplok payudara kiri Hanna. Ia menjilati puting pinknya dari dalam mulutnya. Lidahnya itu merangsang dengan giat. Ujung lidahnya ia sentuhkan di pucuk puting indah itu. Kemudian lidahnya bergerak untuk melilit puting yang mempesona itu.

Hanna jadi merinding merasakan rangsangan yang diberikan oleh Lutfi. Wajahnya ia dongakkan ke atas. Tangan kirinya pun bertumpu pada pundak sebelah kanan santrinya. Nikmat ? Tidak ! Berulangkali dirinya menyadarkan diri kalau ia sedang diperkosa. Ia sedang dilecehkan.

Benar ! Aku sedang dilecehkan ! aku ini seorang ustadzah... Ayo bangkit Hanna ! Lawan kejahatan yang sedang menyerangmu ini !

“Aahhhhh... Ahhhmmmmmm” desah Hanna.

Ia mengamati sejenak keadaan sekitar. Lutfi tampak asyik menyusu di payudaranya. Ia pun merasakan cengkraman Lutfi melemah di tubuhnya. Kepalanya pun ia toleh dengan susah payah untuk melihat ke arah pintu keluar. Ia mengamati kunci itu yang hanya tinggal di geser ke sebelah kanan saja.

Aku harus pergi dari sini !

Batin Hanna bertekad.

“Ustadzahhhhhh... Uhhmmmmmm Ssllrrrpppppp” desah Lutfi dengan penuh nafsu. Dikala mulutnya menjilati payudara kirinya. Tangannya dengan gemas mencengkram payudara kanannya. Terus ia bergantian merangsang dua payudara indah itu disana. Penisnya yang masih menancap itu pun cenat - cenut merasakan jepitan yang semakin hangat di dalam.

Hanna pun bersiap - siap untuk kabur dari tempat ini. Naas, saat tubuhnya telah siap. Lutfi malah menahan kepalanya dengan mencumbui bibir indahnya kembali.

“Mmmmppphhhhhhhh” desah Hanna terkejut.

Lutfi menjilati rongga mulut itu. Bibirnya mengapit bibir atas Hanna dengan penuh nafsu. Ia bahkan sampai meludahi lidah ustadzahnya kemudian menjilati kembali ludah itu beserta lidah Hanna yang semakin basah terkena liur dirinya.

“Mmpphhhhhh.... Mmpphhh nikmattnyyaa” desah Lutfi terus merangsang diri Hanna. Tangan kirinya pun mencengkram payudara Hanna dengan nikmat. Lutfi benar - benar puas dalam menikmati kesempurnaan yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.

Puas menikmati bibir ustadzahnya. Lutfi pun bersiap - siap untuk menggenjot kembali tubuh ustadzahnya. Lutfi melepas kulumannya. Kedua tangannya pun bersiap - siap dengan mencengkram pinggang kanan kiri ustadzahnya. Lutfi menatap wajah Hanna dengan penuh nafsu.

“Muwehehehe... Siap yah ustadzah !” kata Lutfi tertawa puas.

Sekarang saatnya !

Brruukkkkkkkk !

“Aaaaawwww !” Lutfi berteriak kesakitan saat kepala bagian belakangnya terhantam dengan keras dinding yang ada di belakang tubuhnya.

Setelah melihat adanya kelengahan. Hanna dengan sigap mendorong tubuh Lutfi ke tembok hingga membuat kepala santrinya itu terbentur. Hanna pun segera berdiri kemudian mengambil pakaian seadanya berusaha kabur dari tempat sepi ini. Ia sudah tak peduli andai banyak orang yang melihat kalau dirinya berlarian dalam keadaan telanjang. Itu lebih baik daripada berdiam saja disini dinikmati oleh santri bejat itu lagi.

“Aaaahhhhhhh sakkkititt..... Kurang ajar yah !” kata Lutfi murka.

Hanna tak peduli dengan suara ancaman itu. Ia buru - buru mendekati pintu untuk membuka kunci yang masih menutup rapat ruangan itu. Untungnya kunci itu berhasil di geser. Cahaya mentari pun mulai nampak dihadapannya. Hanna tersenyum lega. Ia bisa kabur dari ruangan penuh sesak ini.

Tapi !

“Muweheheh mau kemana ustadzah !” kata Lutfi yang sudah memegangi pinggangnya.

Tiiddaakkkkk !!!

Tubuh rampingnya ditarik. Hanna pun dilemparkan hingga jatuh terkapar di lantai ruangan ini. Lutfi pun menutup ruangan itu dengan santai. Tampak Hanna ketakutan ketika didekati oleh santri bejat itu lagi.

Antum mau kemana ?” kata Lutfi sambil memegangi kepalanya yang sakit.

“Lutffiiiii... Maafin ustadzahhh, Lutfiii !!! Ustadzah cuma mau pergi... Ustadzah gak mau melakukan ini lagi Lutfi !” kata Hanna ketakutan.

“Muwehehehe... Sudah terlambat ustadzah... Ana gak akan segan untuk menggempur ustadzah sampai gak bisa berjalan !” kata Lutfi mendekati Hanna.

“Aahhhhh janggannn Lutfiii... Ampunnn.... Maafin ustadzah, Lutfiii !”kata Hanna panik.

Tubuhnya yang telanjang ia baringkan dengan posisi terlentang secara paksa di lantai. Kakinya yang jenjang itu direntangkannya lebar - lebar. Lutfi tertawa melihat wajah ustadzahnya yang masih dilengkapi oleh kacamatan itu. Hanna terlihat lebih manis. Hanna terlihat lebih indah dengan ketelanjangan yang sedang dialaminya.

“Uhhhhhhhhhh... Luuttffiiiii... uhhmmmmmmm” kata Hanna memejam saat penis itu sudah masuk menghujami vaginanya.

“Muwehehehe... Gak ada lagi ampun buat antum ustadzah !” kata Lutfi langsung menggerakan pinggulnya menggesek - gesek dinding vaginanya yang semakin licin itu.

“Aahhhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh” desah Hanna pasrah.

Lutfi tertawa saat ustadzahnya itu tak berdaya sambil memejam menahan gempuran yang dilakukannya. Payudaranya itu bergoyang seirama. Kulit putihnya yang halus itu dirabanya. Tangan Lutfi yang mulanya ada di pinggang bergerak naik tuk mencengkram payudaranya kuat. Perlahan tangan itu kembali berkelana menyusuri keindahan tubuh Hanna. Mulanya ada di perut kemudian naik ke bukit kembarnya lagi kemudian hinggap di lehernya. Lutfi tertawa jahat saat tangan kirinya mencengkram lemah leher ustadzahnya. Hanna begitu ketakutan. Ia panik. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan hidupnya.

Tolloonngggg... V !!!!

Batin Hanna saat teringat akan rekan kerjanya.

Lutfi menundukan tubuhnya menindihi tubuh telanjangnya hingga kedua putingnya bertemu saling bergesekan. Lutfi pun mencumbui bibir itu. Menghisapnya kuat sambil pinggulnya terus menerus menghujami vaginanya.

“Mmpphhhh... Mmppphhhh... Ahhhhhhh... Henntikkkannnnn !!!” desah Hanna berusaha bertahan.

“Muwehehehe... Rasakan itu ustadzah !!! Terima akibatnya kalau gak mau menuruti perintah ana !” kata Lutfi sambil terus menggempur vaginanya.

Penisnya yang semakin besar menggesek dinding vagina Hanna dengan kasar. Kemaluannya itu terus bertemu saling bertubrukan hingga berbunyi suara plokkk plokkk plokkk !

Suara cipratan air itu terus terdengar karena kemaluan Hanna yang semakin basah terus diaduk - aduk oleh penis nista itu. Lutfi kembali menaikan tubuhnya. Kedua tangannya pun hinggap di payudaranya guna mencengkramnya kuat sambil memainkan putingnya menggunakan jemari telunjuknya.

“Aahhhhh... Ahhhhh.... Ahhhhhh” desah Hanna kewalahan menahan rasa sakit juga air mata yang semakin jatuh ke kanan kiri pipinya.

Lutfi mentoel - toel puting payudara itu. memainkan keindahannya. Juga meremas payudaranya yang semakin kencang. Lutfi tertawa mendapati ustadzahnya sudah berada di puncak kenikmatan. Lutfi pun mempercepat genjotannya. Ia bahkan sampai menahan nafasnya untuk memaksimalkan gerakannya yang dipercepat.

“Aahhhhh... ahhh... Ahhhhhhhhhhhh” desah Hanna semakin keras.

Maju mundur, maju mundur, maju mundur. Lutfi menghujaminya semakin keras hingga tubuh Hanna terombang - ambing bagai sebuah kapal yang sedang menghadapi badai di tengah lautan.

Lutfi pun mengangkat tubuh Hannaa yang sudah lemas tak berdaya. Ia memposisikan Hanna agar duduk dipangkuannya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke tembok ruangan. Ia memegangi pinggang Hanna sambil memandangi wajah Hanna yang sembap setelah menghabiskan air matanya.

“Muwehehehehe” kata Lutfi menertawakannya.

Hanna segera memalingkan wajahnya karena tak sanggup menatap wajah yang sangat ia benci. Namun gerakan pinggul Lutfi yang kembali bergerak memaksanya untuk memejam menahan rasa sakit yang diderita di vaginanya. Kemaluannya itu terasa ngilu akibat digempur habis - habisan sedari tadi.

Lutfi puas merasakan jepitan yang berasal dari tubuh ustadzahnya itu. Tubuh Hanna naik turun. Payudaranya melonjak - lonjak. Gairah birahi yang ada di dalam tubuhnya pun nyaris meledak. Baik Lutfi ataupun Hanna mereka berdua sudah berada di ambang batasnya. Nafas mereka sama - sama memberat. Kemaluan mereka sama - sama berdenyut kencang. Mereka sudah tak kuat lagi menahan gairah birahi yang sedang berlomba - lomba menuju puncak kenikmatan.

“Ahhhhh... Ahhhh ustadzahhhh... Ouhhhhh” kata Lutfi mempercepat hujamannya hingga tubuhnya mengejang.

“Aahhhh Lutfiii... Sakkiittt ahhhhh” kata Hanna tak kuasa lagi bertahan.

“Aahhhhh.... Ahhhhh... Ahhhhh ustadzahhhhh... Ohhhhhh iyyaaaahhhhhhh !!!!!” desah Lutfi saat dirinya mendapatkan kenikmatan yang ia cari - cari selama ini.

Crroootttt crroottttt crrooottt !!!

“Aaaaaaaaaahhhhhhhhhh” tak berselang lama, Hanna pun mendapatkan klimaksnya kendati harus melalui jalan pemerkosaan.

Tubuh Lutfi mengejang berkali - kali. Matanya merem melek merasakan orgasme ternikmatnya. Tangannya pun reflek memeluk tubuh ustadzahnya yang telanjang itu dan bibirnya reflek mencumbui leher ustadzahnya yang terekspos akibat hijabnya yang sudah mulai berantakan.

Sementara Hanna tidak mampu menutupi mulutnya. Ia begitu lelah saat gelombang dahsyat itu mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya. Tatapan Hanna pun kosong saat ini. Ia menatap langit - langit membiarkan Lutfi memeluk dan merangsang tubuhnya yang tidak tertutupi apa - apa lagi. Ia benar - benar lelah. Tangannya saja sudah tak mampu untuk ia gerakan.

“Aahhhhh” terucap desahan dari mulut manis ustadzah itu saat campuran cairan cinta mereka yang bersatu di dalam lubang vaginanya mengalir keluar dari sela - sela pertemuan dua kelamin mereka. Hanna pun berfikir. Sudah dua kali Lutfi menyemprotkan spermanya di dalam lubang vaginanya.

Apakah aku akan hamil ? Apakah aku akan hamil di luar pernikahanku ?

Hanna benar - benar takut memikirkan andai hal itu terjadi. Ia begitu ketakutan hingga membuat bulu kuduknya merinding membayangkan andai semua hal itu terjadi. Andai benar terjadi ? Apakah bayi yang akan di kandungnya akan memiliki ayah ? Apakah Lutfi mau bertanggung jawab ? Andai mau, Hanna jelas tidak mau memiliki suami sebejat Lutfi. Ia begitu takut hingga matanya memejam tak ingin membayangkan semua hal itu terjadi.

“Aaaahhhhhhh” desah Hanna, saat Lutfi mulai mencabut kemaluannya dari dalam lubang vaginanya.

Campuran cairan cinta mereka itu mengalir deras dari dalam lubang vaginanya. Hanna merinding, Hanna merasa geli saat cairan itu meluncur deras dari dalam lubang kenikmataannya. Dengan perlahan Lutfi pun menggeletakan tubuh ustadzahnya diatas rok yang tadi dikenakannya. Lutfi tampak mengocok penisnya sejenak. Walau belum benar - benar keras. Lutfi sudah kembali memasukan penisnya ke dalam lubang kenikmatannya.

Mata Hanna melebar, menyadari kalau Lutfi ingin kembali menikmati tubuhnya.

“Muwehehehe... Ana dah bilang kan kalau ana akan membuat antum lemas sampai gak bisa berjalan lagi !” kata Lutfi yang membuat mata Hanna melotot ketakutan.

“Tidakkkkkkk !!!” kata Hanna berteriak.

“Aahhhhhh.... Ahhhh..... Ahhhhhhhhhhhhh !!!”

Desahan demi desahan pun terdengar setelah teriakan itu. Lutfi tertawa puas menikmati keindahan tubuh ustadzahnya. Sedangkan Hanna terus merintih menahan perih ketika harus dihukum oleh nafsu besar santrinya. Hanna terus memohon dalam hati. Ia hanya berharap agar pelecehan ini segera berakhir.

“Aaahhhhhhhhhhh !”


*-*-*-*


Sore hari sekitar pukul empat. Haura sedang duduk - duduk di depan teras rumahnya. Ia duduk sambil menikmati secangkir teh hangat yang telah dibuatnya untuk menemaninya menikmati pemandangan indah di sore hari. Ada hal yang mengganjal di dalam benaknya saat ini. Ia begitu penasaran kenapa di kantor tadi hanya ada dirinya dan ustadz Rafi seorang.

“Kemana yah V dan Hanna... Kok mereka gak ada di kantor ?” kata Haura penasaran.

Terhitung sebelum waktu dhuhur hingga sekitar pukul setengah empat tadi. Ia tak melihat mereka berdua. Ia masih melihat V sih sekitar pukul dua siang. Tapi tak lama setelah itu, V pergi lagi menuju suatu tempat. Yang jadi pertanyaannya kemana Hanna saat ini ? Bahkan beberapa menit lalu saat ia berkunjung ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya. Ia tak menemukan Hanna ada di dalam.

“Dimana yah ?” tanya Haura khawatir.

Tak berselang lama, Lewatlah seorang ustadzah cantik bertubuh langsing, berpostur tinggi yang kemudian menyapa Haura.

“Assalamualaikum ustadzah” sapa Nada.

“Walaikumsalam... Ehh antum” jawab Haura tersenyum. Haura dibuat penasaran saat melihat banyak barang yang sedang ditenteng Nada di kedua tangan kanan kirinya.

“Ehh itu buat apa ustadzah ?” tanya Haura.

“Hehehe... Ini pesenan suami ana ustadzah” kata Nada malu - malu.

“Pesenan ? Ada acara apa ?” tanya Haura.

“Kan sebentar lagi peringatan satu tahun pernikahan kami ustadzah” jawab Nada dengan wajah memerah.

“Waahhhh... Selamat yah !” kata Haura turut berbahagia.

“Hehe terima kasih yah ustadzah” jawab Nada memaksakan senyum.

“Kalau boleh tau berapa hari lagi nih ?” tanya Haura.

“Sekitaran tiga hari lah hehe... Mohon doanya yah ustadzah... Yang terbaik buat kami” kata Nada.

“Iyya... Semoga kalian segera diberi momongan yah” kata Haura mendoakan.

“Ammiinn... Semoga doanya balik lagi ke antum yah ustadzah” jawab Nada.

Naam aamminnn... Syukron ustadzah” kata Haura tersenyum manis.

“Kalau gitu permisi yah... Takut ditunggu hehe... Wassalamualaikum” sapa Nada lekas pergi.

“Walaikumsalam” jawab Haura tersenyum. Haura pun jadi ingat saat merasakan anniversary satu tahun pernikahannya dulu. Ia begitu bahagia saat itu, menghabiskan hari - hari indahnya bersama suaminya seorang.

“Hah masa itu” kata Haura mengenang semuanya.

*

Pak Heri !!!

Sementara itu Nada malah termenung menjelang peringatan satu tahun pernikahannya. Ia tak bisa bahagia. Karena di dalam pikirannya ia malah terbayang sosok seorang pria yang sehari - hari bekerja sebagai tukang pengantar paket itu. Nada merinding, membayangkan dirinya harus melayani nafsu buas pria itu lagi di bawah restu seorang suami.

“Kenapa sih Mas Rendy sampai kepikiran kaya gini ?” kata Nada tak habis pikir.

Ia pun berjalan pulang menuju rumahnya. Menyiapkan diri untuk menuruti permintaan aneh dari suaminya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy