Search

CHAPTER 16 - ULANG TAHUN PERNIKAHAN

CHAPTER 16 - ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Pagi hari di dalam kantor bagian administrasi. Nampak seorang bidadari berhijab yang sedang memperhatikan daftar nama - nama santri yang belum membayar SPP bulanan. Ia dengan teliti menatap layar komputernya itu. Ditelinganya ada headset yang tersumpal. Di sebelah keyboardnya ada segepok uang yang sudah ditata sedemikian rupa sesuai data yang ada di dalam komputernya. Alunan musik pun menemani dirinya bekerja melalui headset yang terpasang ditelinganya. Musik dari korea selatan merupakan favoritnya. Selain karena memiliki nada yang akrab ditelinganya, wajah tampan dari para musisi korea menjadi alasan lain kenapa dirinya begitu menyukai musik dari negeri korea.

Satu demi satu lembaran uang itu, ia hitung kembali dengan teliti. Setelah jumlahnya pas, ia mengikat lembaran uang itu menggunakan karet yang sudah tersedia di sebelahnya. Pagi itu, ia tampak cantik seperti biasa. Kemeja gelap yang membungkus tubuh indahnya, rok panjang berwarna biru yang menutupi kaki jenjangnya. blazer yang juga berwarna biru yang melengkapi penampilannya juga tambahan hijab serta kacamata yang menghiasi wajah cantiknya. Walau ia mengenakan pakaian yang longgar, terkhusus di kemejanya. Ia masih tak dapat menyembunyikan ukuran dari payudaranya yang tampak menonjol disana. Andai saja ia melepas blazernya sebentar. Mungkin para santri yang ingin melakukan pembayaran disini tidak akan mampu untuk melepaskan pandangannya dari bulatnya buah dada yang dimiliki oleh ustadzah cantik berbadan sempurna itu.

Bagaimana tidak sempurna ? Dari wajah, ia sudah dianugerahi paras yang manis mempesona. Kulitnya pun bersih akibat perawatan rutin yang dilakukannya setiap hari. Posturnya juga tinggi menjulang yang membuatnya lebih mirip selebgram berhijab yang sering mendapatkan endorse terkenal daripada seorang ustadzah yang mengajar di dalam pondok pesantren. Ia merupakan pemilik body goals diantara para ustadzah yang berada di dalam pondok pesantren ini. Ia tidak hanya memiliki keindahan di fisiknya. Tapi akhlaknya juga demikian. Ia murah senyum dan sering menyapa orang - orang yang ditemuinya dijalan. Hal inilah yang membuatnya memiliki banyak teman di dalam pondok pesantren ini.

Hari Rabu merupakan hari yang menyibukan bagi diri Nada. Selain karena sudah mendekati akhir bulan yang menyebabkan banyak santri yang baru berdatangan untuk membayar SPP bulanan. Hari ini juga merupakan jadwal bagi dirinya untuk menerima hantaran paket yang dikirimkan oleh seseorang yang paling ingin ia hindari saat ini. Pak Heri namanya. Sebenarnya paket selalu berdatangan tiap hari. Tapi terkhusus hari Rabu, giliran Pak Heri lah yang kedapatan mengantarkan beberapa paket itu ke dalam kantor bagian administrasi yang ada di dalam pondok pesantren.

Mendadak kepala Nada pusing memikirkan kejadian ini. Ia memegangi kepalanya sambil ia pukul - pukulkan lemah menggunakan telapak tangannya. Ia pun melihat ke arah kalender yang terpasang di dinding ruangan.

Hmmm dua hari lagi !

Batin ustadzah cantik itu.

Waktu semakin mepet, waktu untuk menuruti kemauan aneh suaminya yang ingin membiarkan dirinya disetubuhi oleh pria tua dari kuli antar yang biasa ia temui di hari Rabu itu. Siapa lagi kalau bukan pak Heri ? Aneh memang kalau dipikir - pikir. Masa iya, untuk kado ulang tahun pernikahan pertama mereka, ia harus mengorbankan dirinya untuk disetubuhi oleh pria tua itu sambil dipandangi oleh suaminya sendiri. Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya bergidik merinding. Ia merasa jijik, ia merasa jorok, ia merasa tak rela kalau dirinya harus dinikmati oleh pria tua yang memiliki keyakinan yang berbeda darinya. Masih teringat betul bagaimana rupa dari penisnya yang tidak disunat. Kulupnya yang tebal menutupi ujung gundul dari penis besar yang mempunyai aroma tidak sedap itu. Rambut kemaluannya juga lebat. Ditambah posturnya yang sedikit tambun ditambah juga dengan perutnya yang buncit menggelembung membuat Nada merasa mau muntah tiap kali teringat akan sosoknya yang buruk rupa.

“Dasar Aneh !” lirih Nada tiap kali terpikirkan hal itu.

Setaunya, peringatan ulang tahun pernikahan adalah waktu yang digunakan oleh pasangan suami istri untuk merayakan hari kebahagiaan mereka yang sudah bersama setelah sekian lama. Lalu apa hubungannya dengan kemauan aneh suaminya ini ? Apakah dengan membiarkan dirinya disetubuhi pak Heri bisa membuat mereka berdua bahagia ? atau hanya suaminya saja yang berbahagia ? Kalau iya, kenapa suaminya bisa bahagia ketika melihat istri yang dicintainya malah disetubuhi oleh pria lain yang baru dikenalnya baru - baru ini.

“Dasar Aneh !” kata Nada sekali lagi.

Ia pun mengelap keringat yang ada di dahinya menggunakan tisu kendati udara AC sudah menyala sedari tadi. Ia berkeringat bukan karena kepanasan. Tapi ia berkeringat karena ia gugup ketika dirinya harus menanti kehadiran pria tua itu yang sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan paket - paket menuju kantor bagiannya.

Seketika suara dari mobil yang terparkir pun terdengar. Nada merasa gugup mendapati kalau orang itu sudah datang. Benar saja, dari balik kaca pintu kantornya yang tembus pandang. Ia melihat sosok dari pria tambun berambut jarang itu yang sedang berjalan menuju kemari. Ia membawa beberapa paket juga lembaran kertas berisi daftar dari paket - paket tersebut.

“Selamat pagi bu ustadzah !” sapa Pak Heri sambil tersenyum mesum.

“Pagi !” jawab Nada dengan dingin.

Ia tidak menatapnya, sebaliknya ia malah menyibukan diri di depan layar monitornya kendati pekerjaannya sudah selesai dalam memeriksa pembayaran bulanan santri - santrinya. Sekejap perasaannya tidak enak seolah dirinya sedang ditatapi oleh pria buruk rupa itu. Nada pun mengangkat kepalanya dan mendapati pria tua itu tersenyum dengan begitu berani sambil menatap mata indahnya. Nada mengernyitkan dahinya merasa risih ditatapi oleh pria tua itu. Ia kesal. Ia pun menegur pria tua itu untuk menjaga pandangannya.

“Tolong matanya yah pak !” tegur Nada.

“Mata saya ? Wakakakak... Ada apa dengan mata saya ustadzah ? Orang bidadari cantik macam ustadzah kan sedang duduk dihadapan saya... Masa iya saya harus menatap ke belakang gitu ?” kata Pak Heri yang membuat Nada merasa risih.

Tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia segera mengambil lembaran kertas yang dipegang oleh pak Heri kendati pria tua itu belum berniat untuk menyerahkannya. Ia masih ingin berdiri disini menatap keindahan yang dimiliki oleh bidadari cantik itu. Nada pun pergi menuju luar kantor untuk memeriksa semua paket itu sendiri.

“Wahh ustadzah ini... Agresif sekali yah... Pasti bakal liar nih waktu di ranjang” kata Pak Heri sambil menatap bokong - bokong indah Nada yang melambai - lambai seolah minta ditampar. Nada yang tersinggung dengan omongan itu segera berbalik. Kedua tangannya mengepal seolah gatal ingin menghajarnya.

“Tolong dijaga yah pak mulutnya ! Ini ditempat umum... Tolong dengan sangat agar bapak tidak berbicara atau menatapi diri saya secara tidak wajar !” kata Nada dengan marah namun ia berusaha untuk sesopan mungkin dalam menyampaikannya.

“Wakakakkaka galak amat sih ustadzah !” kata Pak Heri yang tidak dihiraukan oleh bidadari cantik itu.

Tanpa mendengarkan omongannya. Nada pergi begitu saja menuju luar kantor bagiannya untuk memeriksa paket itu. Matanya bergerak mengecek satu demi satu kotak paket yang beberapa sudah ada di teras kantornya. Beberapa masih ada yang belum dikeluarkan oleh pria tua itu dari dalam bagasi mobil berwarna putih bercorak merah itu. Sesekali ia menatap paket itu kemudian sesekali ia menatap ke arah lembaran kertas itu. Satu demi satu ia melakukannya sendiri. Pekerjaan ini pun membuatnya harus bolak - balik kesana kemari untuk memeriksa satu demi satu kotak paket tersebut.

Sementara pak Heri hanya tersenyum melihat betapa rajinnya ustadzah cantik yang sebentar lagi akan dieksekusi olehnya itu. Melihatnya seperti ini membuat kepalanya sampai geleng - geleng saja. Ia masih tak percaya kalau ada bidadari cantik sepertinya di dunia ini. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menarik. Tapi ia juga rajin bekerja. Belum lagi dengan hijab yang menutupi auratnya. Nada begitu sempurna, ia sholehah, ia benar - benar memiliki ciri - ciri istri idaman. Ia pun membayangkan andai memiliki istri sepertinya. Pasti pekerjaannya bakal lancar, ia bakal bahagia di rumah, ia bakal dimasakan oleh istrinya dengan penuh cinta dan pastinya ia bakal diservis oleh goyangan indah dari pinggul ramping sang ustadzah. Ia pun mendambakan ingin memiliki anak yang keluar dari rahim bidadari cantik itu. Ia pun berencana ingin menghamilinya. Tidak hanya bersetubuh dengannya sekali. Tapi harus berkali - kali. Kalau perlu ia harus memasukan penisnya ke seluruh lubang yang dimilikinya. Depan belakang oke apalagi juga lubang mulutnya. Membayangkan hal itu membuat Pak Heri sampai harus mengelus - ngelus penisnya yang sudah mengeras sendiri.

Ia pun mendekati Nada secara diam - diam. Tiba - tiba, ia sudah berada di belakangnya tanpa sepengetahuan ustadzah cantik itu. Ia pun mengamati penampilannya dari belakang. Pinggangnya yang ramping, bokongnya yang montok bahenol, kedua kakinya yang tinggi jenjang. Dirinya pun bertanya - tanya bagaimana yah rasanya bisa mencengkram pinggang ramping itu sambil menggenjot tubuhnya dari belakang ? Pinggul pak Heri pun bergerak maju mundur sendiri tanpa memperdulikan keadaan mereka yang sedang berada di luar ruangan. Rasa gemas yang tak tertahankan membuat tangan pak Heri pun datang untuk mengusap bokong montok itu.

“Aaahhhhh... Yang sopan yah pak !” kata Nada terkejut.

“Waakakakaka desahannya mantep ustadzah !” ejek pak heri yang membuat Nada semakin kesal dibuatnya.

Ia pun buru - buru untuk mengecek semua paket itu agar pria tua bejat itu bisa segera pergi dari tempat kekuasaannya ini. Akhirnya, pekerjaannya telah selesai dan ia pun dengan segera menyerahkan kembali lembaran kertas itu ke pak Heri.

“Ini pak udah semua... Paket yang ada dimobilpun sudah aku turunkan !” kata Nada.

“Lohhh tandatangani dulu dong ustadzah !” kata Pak Heri yang membuat Nada malu.

Eh iya bener juga !

Nada segera memasuki kantor bagiannya untuk mengambil pena kemudian membubuhkan paraf disana.

Sementara pak Heri mengikuti pergerakan Nada secara diam - diam dari belakang. Ia mengamati kembali lekuk tubuhnya. Sangat indah, sangat mempesona. Kedua jemarinya pun gemas hingga terus bergerak seolah ingin menggelitiknya. Tak tahan lagi. Ia menurunkan resleting celananya dan mengurutkan penisnya yang tertutupi oleh katup tebalnya. Sebagai seseorang yang tidak disunat. Pak Heri begitu mendambakan wanita sholehah di depannya. Ia terus mengocoknya dibelakang Nada tanpa sepengetahuannya. Tak tahan lagi, ia pun memeluk Nada dari belakang sementara penisnya yang sudah keluar itu mendorong bokong Nada yang masih tertutupi oleh roknya.

“Aaahhhhhhh... Apa yang bapak lakukan !” kata Nada terkejut.

"Wakakakakak" katanya tertawa tanpa menjawab sepatah kata.

Pak Heri memeluk pinggang Nada, ia begitu nyaman ketika dapat memeluk tubuh ramping ustadzah itu. ia pun mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nada hingga penis itu semakin mendorong bokong montok ustadzah itu. Nada dengan jelas merasakan adanya pusaka lonjong yang menekan - nekan bokongnya sedari tadi. Ia pun menggerakan tangannya untuk menjauhkan tubuh pak Heri agar tidak lebih dekat daripada ini.

“Paaakkkkk Hentikan !” kata Nada kesal.

Percuma, Pak Heri justru menaikan tangannya untuk meremasi payudara indah itu. Walau masih berpakaian lengkap, pak Heri sudah dapat merasakan betapa bulatnya payudara indah yang dimiliki oleh bidadari berhijab itu. Pak Heri mencengkramnya, merasakan betapa nikmatnya kedua tangannya dalam menjamah dua gunung kembar yang dimiliki oleh Nada.

“Aaahhhhhh lepaskkkann pakkk !! Lepaskannn !” kata Nada meronta - ronta.

Pak Heri tak peduli. Ia sudah sangat bernafsu. Bahkan nafasnya terengah - engah hingga Nada dapat merasakan hembusan nafasnya dari belakang. Tak tahan lagi, Pak Heri pun meminta Nada untuk berjongkok dihadapannya.

“Ayo ustadzah... Turunkan tubuhmu cepat !” kata Pak Heri tak tahan lagi.

Nada dipaksa turun ketika kedua tangan pria tua itu menekan pundaknya hingga ia terpaksa berjongkok dihadapan pria tua itu. Terkejut, Nada kembali melihat benda yang tertutupi kulup itu dihadapannya. Benda lonjong itu terus menekan - nekan wajahnya seolah wajahnya sedang dipijit oleh pusaka berwarna gelap yang telah mengeras itu.

“Heenntiikkann pak ! Ini jorok ! Ini gak benar !” kata Nada sambil mendorong - dorong pinggul Pak Heri menjauh.

“Ouhhh.... Ouhhhh ustadzahhh... Ouhhh cepattt buka mulutnyaa !!” perintah pak Heri.

“Eengggakkk..... Enggakkk mau pakkkk mmpphhhhh !” kata Nada terus merapatkan mulutnya agar tidak dijejali oleh benda menjijikan itu.

Namun pak Heri tidak menyerah. Sambil membetot penisnya, ia terus mengarahkan torpedonya itu ke arah bibir Nada yang begitu rapat. Ujung gundulnya yang sedikit terbuka mulai menyentuh bibir Nada. Nada merasa jijik, kepalanya meronta - ronta berupaya untuk menjauhkan diri dari benda itu. Nada pun merasa bahwa tepi bibirnya terkena cairan precum oleh pria tua itu. Nada paham kalau pak Heri sudah sangat terangsang. Tiada cara lain untuk menghilangkan rasa terangsang itu selain menuntaskannya segera.

“Mmmmpphhh enggakkk pakkk... Engggakkk... Mmpphhhh !” sial bagi Nada.

Ketika dirinya berkata untuk menolak permintaan pria tua itu. Mulutnya malah dijejali oleh penis besar itu. Pak Heri tertawa kegirangan. Ia pun menahan kedua tangan Nada yang ia angkat agar tidak dapat menghalangi penetrasinya untuk menyodok ujung dari kerongkongan itu.

“Mmmmpphhhhhhhhh !!!” Nada memejam saat mulutnya sedikit demi sedikit dijejali oleh penis besar itu. Lidahnya terasa pahit. Aroma busuk yang tercium membuat dirinya muak ingin memuntahkan isi perutnya. Rambut lebat yang ada di atas kemaluan pak Heri pun menggelitik ujung hidungnya yang terkenal mancung itu. Nada geli, Nada merasa jijik. Namun ia tak dapat melakukan apapun selain pasrah menanti pak Heri melakukan semuanya sesuka hati.

“Ouhhhhhh usttaddzaahhh.... Hangattt... Nikmatttt... Sedappppp... Aaahhhhhh” desah pak Heri saat merasakan kenikmatan yang ia terima di penisnya.

Tanpa menunggu lama lagi, ia segera menggerakan pinggulnya maju mundur sambil memegangi kepala bidadari cantik itu. Kedua tangan Nada yang sudah terbebas berupaya untuk mendorong tubuh pak Heri menjauh. Tapi usahanya sia - sia. Karena ia kalah tenaga oleh keperkasaan pak Heri itu.

“Mmmppphhhh... Mmmpphhhhhh !!!” kata Nada terus bertahan. Ia menangis ketika harus merasakan pemaksaan ini lagi. Nada pun pasrah. Kedua tangannya tergeletak lemas disisi kanan kiri tubuhnya. Ia pasrah bukan karena menikmati sodokan pak Heri, Tapi karena ia terlalu sedih sehingga tenaga yang dimilikinya dipusatkan untuk mengeluarkan air matanya.

“Wakakakakaka.... Ahhhhhh ahhhh nikmatnyaaa !!!” kata Pak Heri tertawa puas.

Ia menarik pinggulnya hingga ujung kulupnya berada di tepi bibir Nada. Kemudian tanpa ampun langsung mendorong pinggulnya hingga mentok di tepi kerongkongannya. Lagi, ia melakukan hal yang sama kemudian kembali mendorongnya hingga mentok di dalam.

“Waakakakka... Ahhhh ahhhhh ahhhhh” desah pak Heri keenakan.

Pak Heri terus memperkosa mulut itu hingga merasakan bahwa penisnya sedang berdenyut - denyut ingin memuntahkan lahar panasnya.

“Ouhhh ustaddzahh... Saya gak tahan lagi.. Ouhhh” desah pak Heri ingin menyemprotkan isinya.

“Mpphhhhh... Mppphhhh” kata Nada menggeleng - gelengkan kepala tak ingin untuk menerima cairan kental berwarna putih itu di mulutnya.

“Aahhhh... Ahhhh ayo ustadzah... Setelah saya mencabutnya, ustadzah harus menjulurkan lidah... Karena kalau enggak saya akan mengeluarkannya di wajah atau kemeja ustadzah ini” katanya sambil terus memaju mundurkan pinggulnya.

“Mmmppphhh.... Mmmmppphhhh” kata Nada tak mau wajah atau kemejanya kotor terkena cairan sperma itu.

Pak Heri terus menggenjotnya. Ia semakin cepat. Ia semakin dahsyat dalam menyodok - nyodok tepi dari kerongkongan itu.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhh ustadzahh... Iyyahhhh cepat keluarkan lidahmu !” kata Pak Heri sudah tak tahan lagi.

Nada pasrah. Tanpa adanya penolakan, ia langsung menjulurkan lidahnya bersiap - siap untuk menerima sperma hangat dari pria tua itu.

“Ouhhhhhhhhh.... Sekarang !!! Iyyyyaaaaaahhhhhhhhh !!! ” kata Pak Heri melonglong panjang.

Sialnya karena terlampau nikmat, sperma itu lebih dahulu mengenai wajah dari sang ustadzah sebelum akhirnya mengenai lidahnya yang berwarna kemerahmudaan. Nada memejam. Ia terkejut saat wajahnya terkena cairan sperma itu. Saat lidahnya terkena cairan kental berwarna putih itu. Ia langsung merasakan rasa pahit dari sperma yang masih hangat itu. Aromanya juga memuakan membuatnya tak tahan ingin pergi menjauh dari semprotan pria tua itu.

“Ouhhhhh ustadzaahhhh... Iyahhhh... Ahhhhhhh” desah pak Heri hingga tubuhnya yang tambun kelojotan merasakan sisa dari orgasmenya. Matanya merem melek tapi ia cenderung merem saat cairan spermanya meledak mengenai lidah ustadzah itu. Ia begitu puas hingga terus mengocoknya kendati sperma yang ada di dalamnya sudah habis.

“Ouuhhh nikmattnnyaaa !” kata pak Heri sambil mengelap sisa sperma itu ke pipi Nada untuk membersihkannya hingga tuntas. Pak Heri lega, ia pun menatap Nada yang terbatuk - batuk sambil memuntahkan sisa sperma yang masih terasa di lidahnya. Mata Nada terlihat sembap setelah dipaksa untuk menyepong penis tak bersunat itu.

“Wakakakaka... Akhirnya lega juga... Sampai nanti di hari - H yah ustadzah !” kata Pak Heri nyelonong pergi menyisakan luka di hati Nada yang merasakan dirinya sudah seperti objek pemuas nafsu saja bagi pria buruk rupa itu. Nada terus menangis di pagi itu sambil menatap cairan sperma yang ia muntahkan dari mulut manisnya.


*-*-*-*


Sementara itu di tempat yang berbeda, tepatnya di dalam kantor bagian pengasuhan. Hanna sedang duduk sendirian di depan layar komputernya. Berulang kali ketika jemarinya mengetikan sesuatu, ia harus menghapusnya lagi sebelum mengetiknya lagi. Berulang kali dirinya salah ketik. Ia kehilangan fokus. Ia masih terpikirkan kejadian yang menimpanya di hari kemarin.

Terhitung mulai dari jam sepuluh pagi hingga jam empat sore. Entah berapa kali dirinya digilir oleh santri bejatnya itu. Tubuhnya yang berisi dibolak - balik kesana - sini. Tubuhnya tak terhitung sudah naik turun berapa kali. Tubuhnya tak terhitung sudah berapa kali terdorong maju mundur. Vaginanya terasa ngilu. Bahkan suhu tubuhnya terasa sedikit hangat akibat kurang tidur semalam. Ia benar - benar tak bisa beristirahat setelah itu. Pikirannya masih terganggu. Ia agak sedikit trauma ketika Lutfi begitu beringas dalam menyetubuhinya.

Bahkan suara tawanya yang begitu khas sampai terngiang - ngiang di dalam pikirannya. Vaginanya, payudaranya, wajahnya, mulutnya bahkan sampai punggungnya telah kotor terkena semprotan sperma Lutfi yang begitu bernafsu padanya. Sepertinya ia telah dijadikan pelampiasan oleh santri bejat itu. Ia adalah korban. Korban dari kebejatan moral yang dimiliki oleh santri kurang ajar itu.

Tanpa sadar air matanya menetes jatuh membasahi wajah ayunya. Hanna buru - buru mengelapnya sebelum ada orang lain yang datang melihatnya kendati cuma ada dirinya sendiri di dalam gedung pengasuhan ini.

Tokk tokkk tokkk !

"Assalamu'alaikum" Sapa seseorang yang langsung masuk setelah mengucapkan salamnya.

"Walaikumsalam" Jawab Hanna sambil memaksakan senyum menyembunyikan kesedihannya.

"Ehh Hann... Kamu mau rottt... " Seketika langkah V terhenti saat hendak memberikan roti buatan ustadzah Nisa yang dijual di kantin pondok.

"Kamu habis nangis yah Han" Kata V segera menaruh barang - barangnya di mejanya kemudian melangkah mendekat menuju ke arah ustadzah cantik itu.

"Hehehe enggak kok V" Kata Hanna mencoba berbohong.

"Enggak gimana ? Ini keliatan banget loh Han" Kata V buru - buru mengambil tisu di sakunya kemudian mengelap sisa air mata yang gagal disembunyikan oleh pemiliknya.

Hanna tersenyum saat wajahnya dibersihkan oleh V. V tampak serius, ia benar - benar melakukannya tanpa ada maksud lain. Hanna jadi tersentuh melihat sikap V yang menurutnya cukup jantan.

"Kamu kenapa sih Han ? Kemarin kamu gak keliatan sama sekali loh... Sekarang sekalinya keliatan kok malah nangis gini... Apa terjadi sesuatu padamu di hari kemarin ?" Tanya V begitu perhatian.

Hanna hanya tersenyum sambil teringat kejadian kemarin. Tanpa sadar air matanya kembali menetes bahkan semakin deras yang membuat V sampai harus mengganti tisunya dengan tisu yang baru.

"Maaf V... Maaf... Aduh kelilipan deh makanya air mataku jatuh lagi" Kata Hanna menangis sesenggukan.

V pun hanya diam membiarkan Hanna menangis sejadi - jadinya sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya. V iba saat ustadzah cantik itu menangis. Ia jadi tak tega. Ia pun ingin menghapus air mata itu menggunakan kata - katanya.

"Sabar Han... Tenang... Kalau masih ingin menangis maka tuntaskan lah dulu" Kata V sambil memegangi jemari kanan Hanna yang ada di atas meja.

Tak kuat dengan gejolak yang ada di hatinya. Ia pun memeluk V dengan sendirinya yang membuat ustadz tampan itu terkejut. V sadar bahwa ada yang tidak beres dengan Hanna. Alih - alih menanyakan sebabnya, ia lebih memilih untuk memeluknya, mengusap punggung mulusnya untuk menenangkannya sejenak.

"Huhuhuhu" Kata Hanna masih menangis.

Beban hatinya yang tertahan semenjak kemarin, ia tumpahkan seluruhnya di pundak V yang terasa begitu nyaman baginya. Tubuh Hanna bergetar. Ia benar - benar butuh seseorang yang dapat membangkitkan morilnya kembali. V pun datang disaat yang tepat. Ia mengusapnya, membisikan telinganya dan mencoba segala cara untuk menenangkan bidadari cantik itu.

"Tenangg... Cup cup cup... Yang sabar yahhh... Ada aku disini... Kamu gak usah khawatir lagi" Kata V membisikan kata itu di telinganya.

"Iyya V.... Huhuhu... Terima kasih V sudah datang kesini" Kata Hanna semakin erat memeluknya menuangkan seluruh kekecewaannya.

"Iyya... Sabar... Gak usah khawatir lagi... Gak usah takut lagi... Aku akan selalu disini... Menemanimu dan menjagamu" Kata V membalas pelukan Hanna semakin erat. V heran, dirinya penasaran. Ia begitu bertanya - tanya. Apa yang menyebabkan Hanna menjadi seperti ini ? Apakah karena suatu hal ? Atau karena seseorang ? Mata V menyala, ia akan sangat murka apabila ada seseorang yang membuat Hanna jadi seperti ini.

"Sudahh... Sudah... Sudahi tangismu Han" Kata V terus berusaha untuk menenangkan bidadari itu. Sementara kepalanya ia sandarkan di bahu Hanna sambil matanya melotot memikirkan satu dari dua kemungkinan.

Apakah salah satu dari mereka yang menyebabkan Hanna jadi seperti ini ?

Batin V teringat akan dua orang yang bertemu di gedung yang belum jadi itu kemarin.

Jadi yang dimaksud dengan 'ustadzah' itu tuh Hanna yah ? Awas yah kalian ! Mulai sekarang aku akan mengawasi kalian berdua !!!

Batin V bersumpah. Ia pun telah berjanji pada diri sendiri untuk lebih menjaga orang - orang yang ia kenal di dekatnya, khususnya teruntuk Haura dan juga Hanna.

Namun, tanpa sepengetahuan mereka. Dari luar ruangan, Tepatnya dari balik jendela didekat kedua orang itu berada. Terdapat sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Matanya sayuk. Parasnya cantik. Hijabnya yang berwarna cerah itu tampak cocok dengan penampilannya yang mempesona. Ia sedang membawa sesuatu di dalam kantung kresek yang dibawanya menggunakan tangan kirinya. Saat melihat mereka berpelukan dengan begitu mesra. Kantung kresek itu terlepas dari genggamannya. Isinya pun jatuh bergelimpangan di tanah. Tangan satunya ia gunakan tuk menutupi mulutnya yang terkejut. Ia benar - benar tak menyangka. Setengah hatinya tidak rela melihat ustadz tampan itu berpelukan dengan wanita lain.

Kenapa ? Kenapa aku merasa cemburu ? Bukankah itu bagus untukku ?

Batin seorang bidadari yang mendapat gelar ustadzah tercantik di pondok pesantren ini.

V ! Kamu ini memang selalu seperti ini yah ? Kamu ini selalu modus ke semua ustadzah yang kamu temui sebagaimana kamu modus kepadaku kan ? Dan sekarang kamu mengincar Hanna ? Sahabatku, rekan kerjaku dan juga seorang ustadzah yang akan dinikahi oleh ustadz Angga ? Kamu ini keterlaluan V !!

Batin Haura mencurigainya.


*-*-*-*


Nada sedang berada di tempat wudhu, ia membuka keran air membiarkan air itu jatuh dengan begitu deras. Kemudian ia membuka tangannya untuk mengumpulkan beberapa butir air itu di telapak tangannya. Setelah terkumpul cukup banyak ia memasukannya ke dalam mulutnya lalu ia kumur - kumur air itu selama mungkin untuk membersihkan sisa sperma yang masih terasa di lidahnya. Ia merasa jijik. Ia merasa tak nyaman dengan aroma sperma yang begitu menyengat hingga tercium oleh hidungnya. Ia pun membuka hijabnya sebagian menyisakan penutup kepalanya saja untuk membasuh wajahnya yang sembap akibat tangisan yang ia berikan setelah dipaksa untuk mengulum penis besar itu. Ia melakukannya berkali - kali hingga sperma yang menempel di lidah dan wajahnya itu tidak ada lagi. Baik itu dari rupa ataupun aromanya.

Setelah segar, ia kembali mengenakan hijabnya dengan rapih. Ia juga mengenakan kacamatanya kembali. Ia pun menarik nafasnya sejenak kemudian ia mengenakan jam tangannya lagi. Hatinya merasa lebih baik setelah membersihkan noda sperma milik pria tua tambun itu. Setelah merasa baikan. Ia pun kembali ke dalam kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Assalamu'alaikum" Sapa seseorang yang mengejutkan Nada.

Tak diduga saat ia melangkah ke dalam. Ada seorang ustadzah yang cukup lama menunggunya sedari tadi. Wajahnya terlihat cerah, aura kedewasaan pun terlihat. Ia sedang tersenyum menyambut kedatangan Nada yang telah ia tunggu sedari tadi.

"Ustadzah Nisa... Walaikumsalam" Jawab Nada lekas memeluknya.

"Hihihi... Wajah antum bening amat... Habis wudhu yah ustadzah ?" Kata Nisa terkejut melihat cerahnya wajah Nada.

"Hehehe begitulah... Antum apa kabar ustadzah ?" Tanya Nada.

"Hihi alhamdulillah ana baik... Antum sendiri ?" Tanya balik Nisa.

"Kalau antum baik... Ana juga baik dong ustadzah hihihi... Mari kita duduk dulu yuk" Kata Nada menyadari Nisa telah lelah berdiri sedari tadi.

"Hahhh akhirnya, padahal daritadi ana udah nunggu loh kapan antum menyuruh ana untuk duduk" Jawab Nisa becanda yang membuat Nada tertawa.

"Hihihi... Afwan... Afwan ustadzah... Oh yah, ngomong - ngomong antum ada keperluan apa ? kok sampai kesini sih ? Tumben" Kata Nada penasaran.

"Hihihi iyya nih ustadzah... Kebetulan ayah ana ngirim paket, jadi sebagai anak yang baik, ana harus segera mengambil paket itu dong" Kata Nisa tertawa.

"Ihhh antum ini... Udah gede masih dikirimi paket" Kata Nada becanda sambil menjulurkan lidahnya. Ia pun beranjak menuju meja kerjanya untuk mengambil lembaran kertas yang tadi pagi didapatnya dari pak Heri.

"Hihihi gapapa dong... Kan ana anak kesayangan" Jawab Nisa yang membuat Nada tertawa.

"Ini ustadzah... Coba antum cari nomor paketnya... Nanti biar ana carikan di luar" Kata Nada menyerahkan kertas itu. Ia pun menyadari kalau paket yang dikirimkan oleh pak Heri tadi belum ia rapihkan dan masih berseliweran di luar kantor.

"Naam ustadzah... Nah ini dia... Nomor 1020 ustadzah" Jawab Nisa setelah menemukan nomor paketnya.

"Oke deh, kalau gitu tunggu sebentar yah ustadzah... Biar ana carikan dulu kotak paketnya" Kata Nada dengan sopan. Setelah itu, ia pun bergerak cepat untuk mencari kotak bernomor itu ke luar gedung. Kebetulan beberapa kotak paket baru saja datang pagi tadi. Nada pun jadi penasaran. Padahal kotak itu masih baru kenapa nisa bisa tahu ? Apa mungkin ia sudah mengira - ngira jadwal kedatangan paketnya sebelumnya yah ? Tapi tak mengapa. Nada justru senang ketika salah satu sahabat terdekatnya dan juga merupakan tetangganya itu datang tuk mengunjunginya.

"Nah ini dia” kata Nada menemukannya. Ia pun segera mendatangi Nisa kemudian menyerahkan kotak paket itu kepadanya.

"Ini ustadzah paketnya datang” kata Nada tersenyum.

"Hihihi makasih yah ustadzah” kata Nisa tertawa sambil menerima paket itu.

Alih - alih langsung pulang ke rumahnya. Nisa justru bertanya mengenai masalah yang sebelumnya sempat dialami oleh ustadzah Nada. Nada dengan lemas menjawab kalau masalahnya belum sepenuhnya tuntas. Tetapi ia berkata untuk tidak mengkhawatirkannya karena ia perlahan sudah mampu mengatasinya. Nisa pun tersenyum merasa lega. Nada kemudian bertanya balik.

"Selama antum menikah... Antum punya masalah yang menurut antum sangat berat untuk dilalui gak ?" Kata Nada penasaran.

"Tentu saja ada... Bahkan sekarang pun ana sedang mengalaminya" Kata Nisa tersenyum.

Hah serius ?

Nada terkejut tak percaya. Karena kalau ia melihat wajahnya. Wajah Nisa sama sekali tidak menampakan tanda - tanda kalau ia memiliki sebuah masalah. Wajah Nisa tampak cerah. Bahkan ia terlihat cantik dengan aura kedewasaan yang ia miliki.

"Tapi kok gak keliatan sih kalau antum punya masalah ? Wajah antum perasaan adem ayem aja deh" Kata Nada tak mengira.

"Hihihi adem ayem... Iya seperti itu pokoknya, karena masalah itu bukan untuk diperlihatkan tapi untuk kita hadapi... Jangan malah kita kepikiran yang mana nantinya hanya akan menganggu pekerjaan lain kita" Kata Nisa memberikan nasehat.

Nada pun mengangguk setuju dengan perkataan Nisa itu. Memang benar kalau masalahnya selama ini telah menganggu pekerjaannya. Ia jadi tidak fokus. Pikirannya terganggu oleh permintaan aneh suaminya.

"Dan juga... Siapapun kita, sebesar apapun diri kita, kita pasti akan diberikan permasalahan berupa ujian, cobaan dll... Namun perlu diingat kalau permasalahan itu diberikan bukan untuk menyulitkan diri kita... Melainkan permasalahan itu untuk menguatkan diri kita juga kepribadian kita, agar kita mampu menghadapi permasalahan yang lebih berat lagi... Karena hidup itu tentang menghadapi masalah... Maka lawan masalah antum dan jangan malah ngeluh atau menyerah dalam menghadapi masalah itu" Kata Nisa yang membuat Nada mampu tersenyum lepas lagi.

"Hihihi iya juga... Syukron yah ustadzah... Dari kemarin ana tuh butuh kata - kata motivasi yang berharga dari antum yang kaya gini nih.. Kenapa baru dateng sekarang sih ?" Kata Nada lekas memeluk Nisa.

"Hihihi ana mah bukan apa - apa ustadzah... Ana juga masih banyak kekurangan kok" Kata Nisa merendah. Ia pun membalas pelukan Nada dengan penuh kasih bagaikan kasih seorang ibu kepada anaknya. Kendati umur mereka sebenarnya tidak berjarak cukup jauh.

Tepat saat itu terdengar bunyi bel yang menandakan waktu istirahat telah tiba. Nada & Nisa yang sedang berpelukan pun terkejut kemudian saling tertawa setelah melihat ekspresi masing - masing.

"Assalamu'alaikum" Tepat setelah itu ada santriwati yang berlari cukup cepat menuju kantor ini. Dahinya berkeringat seolah dirinya baru saja menyelesaikan lomba marathon di pagi hari.

"Walaikumsalam" Jawab Nada tersenyum.

"Walaikumsalam... Eh Salwa" Jawab Nisa tersenyum.

"Ehhh ustadzah Nisa... Kok antum disini" Kata Salwa lekas mendatangi Nisa dan memeluknya.

"Hihihi iya nih Wa.... Ana baru ambil paket tadi" Kata Nisa yang tampaknya akrab dengan santriwati itu.

"Antum ada keperluan apa yah ukhty ?" Tanya Nada dengan ramah.

"Ana mau ambil paket ustadzah” jawab Salwa tersenyum.

Antum mau ambil paket yah... Udah diliat nomor antum nomor berapa ?” tanya Nada sekali lagi.

“nomor 999 ustadzah” jawab Salwa.

"Ohh begitu.... Tunggu sebentar yah ukhty" Jawab Nada.

Kebetulan paket yang hendak diambil oleh Salwa telah datang di hari sebelumnya. Nada pun menuju ke dalam ruang kerjanya untuk mengambilkan paket tersebut. Salwa juga mendekati meja tinggi yang membatasi mereka berdua. Sambil menanti, ia pun mendekati Nisa untuk mengobrol sebentar dengannya.

“Ustadzah, antum apa kabar ? Antum jarang masuk kelas ana lagi sih ?” tanya Salwa.

“Hihihi maaf Salwa... ana kan emang gak dapet jadwal buat ngajar di kelas antum" Jawab Nisa tersenyum.

“Hihihi naam ustadzah, ana tau kok... ana cuma kangen antum aja" Kata Salwa.

“Ukhty ini paket antum” kata Nada memanggilnya dari meja kerjanya.

“Ohh naam ustadzah... Sebentarrrrrr” kata Salwa pada Nada.

"Bentar yah ustadzah hihi” kata Salwa pada Nisa yang dijawab anggukan dan senyuman. Ia pun pergi tuk mengambil kotak paketnya. Setelah mengambil paketnya ia kembali mendatangi Nisa untuk berpamitan.

"Afwan ustadzah... ana buru - buru masih ada kelas lagi setelah ini... Ana awwalan yah us” kata Salwa pamit pergi.

“Iyya naam Salwa... semangat belajarnya yah !” kata Nisa menyemangati.

Naam ustadzah” kata Salwa lekas pergi. Namun belum sempat dirinya pergi, Nisa sudah memanggilnya kembali.

“Ehh salwa” panggil Nisa

“Iya ustadzah ?” jawab Salwa.

“Titip salam buat sekeluarga di rumah yah” kata Nisa.

“Pasti ustadzah... akan ana sampaiin... kita kan udah sering main bareng sewaktu kecil dulu” kata Salwa tersenyum.

"Hihihi betul bangets" Jawab Nisa tersenyum.

Salwa pun pergi, meninggalkan Nisa dan Nada sendiri di dalam kantor ini. Nisa pun jadi teringat ketika dirinya masih kecil dulu sebelum dirinya memasuki pondok pesantren. Walau mereka memiliki jeda usia yang cukup jauh. Tapi ia kerap bermain dengannya mengingat kedekatan rumah yang mereka miliki.


*-*-*-*


Keesokan harinya,

Hari - hari menjelang hari peringatan ulang tahun pernikahannya semakin dekat. Tak terasa esok adalah hari - H tersebut. Nada semakin gugup setiap kali memikirkan hal itu. Tubuhnya merinding membayangkan andai pria tua itu benar - benar jadi menjamahnya dan menikmati keindahan tubuhnya. Sungguh Nada masih tak rela memikirkan andai semua itu benar - benar terjadi.

Malam menjelang waktu muwajjah itu. Nada sedang duduk di meja riasnya bersiap - siap untuk menemani santriwatinya belajar malam. Ia dengan fokus menatap cermin dihadapannya. Jemarinya dengan lihai mengoleskan lipstik itu ke bibir manisnya. Ia juga pandai menggunakan maskara untuk memperindah bulu matanya. Sebagai seorang wanita, Nada sangat pandai dalam merias wajahnya. Dandanannya tidak menor, walau tipis tapi sangat maksimalis. Walau hanya akan menemui para perempuan yang usianya jauh lebih muda daripada dirinya. Tidak serta merta membuat Nada berpenampilan biasa saja. Sebagai seorang perfeksionis, Nada ingin menampilkan yang terbaik dihadapan mereka. Karena itulah Nada sampai berdandan secantik mungkin untuk memberikan kesan yang terbaik dihadapan mereka.

“Dekkk...” sapa suaminya dari belakang yang tiba - tiba datang memeluknya.

“Iya mass” jawab Nada tanpa begitu meresponnya karena ia masih sibuk menghiasi wajahnya.

“Lihat sini dong dek... Atau minimal tatap mas dari pantulan cermin itu” kata Suaminya mengeluh.

“Mass... Sebentar dong, adek kan lagi dandan... Sebentar lagi juga mau masuk kelas... Lima menit lagi loh mas sebelum waktu muwajjah dimulai” kata Nada ikut mengeluh karena waktu yang semakin mepet.

“Iyya maaf dek... Mas cuma mau adek merhatikan mas kok” kata Rendy sambil memeluknya dan mengecup kepalanya yang telah tertutupi hijab berwarna pink. Nada pun tersenyum saat menerima perlakuan suaminya.

Rendy pun menatap bayangan istrinya dari pantulan cermin. Sesuai dugaannya. Nada terlihat cantik. Bahkan hari ini lebih cantik daripada hari - hari sebelumnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang kenyataannya seperti ini. Nada terlihat semakin cantik seiring berjalannya hari. Terutama saat istrinya ini ada di sisi Pak Heri.

Rendy terpesona saat itu. Pakaian serba pink yang melekat di tubuhnya mulai dari hijab hingga ke gamis lembut yang menutupi tubuh jenjangnya. Nada tampak sempurna. Nada tampak mempesona. Mata Rendy pun terpukau oleh pancaran kecantikannya. Semakin ia menatapnya, ia semakin ingin untuk menggagahi bidadari cantiknya itu sebelum menyerahkan seluruhnya pada pak Heri di keesokan harinya.

“Mas kenapa sih ? Aneh deh” kata Nada saat melihat mata suaminya dari pantulan cermin itu.

“Hehehe Mas boleh minta satu aja gak dek ?” kata Suaminya sambil membelai tubuh Nada dengan lembut.

“Satu ?” kata Nada merasa tidak enak. Apalagi saat tangan suaminya itu bergerak secara bebas dalam mengusapi tubuh bagian depannya yang masih tertutupi gamisnya. Mulai dari perut bahkan naik hingga membelai payudaranya.

“Mas mau minta gladi bersih dek buat acara besok malam hehehe” bisik suaminya yang membuat Nada terkejut.

“Hah ? Apa mas ? Gladi ?” kata Nada lekas menoleh menatap wajah suaminya.

“Iya dek... Pak Heri sebentar lagi akan datang kemari kok” kata Rendy yang semakin mengejutkan Nada.

“Pak Heri ? Kesini ? Mas, adek mau muwajjah sekarang... Adek gak ada waktu untuk melakukan itu mas !” kata Nada faham kalau waktu berharganya tidak boleh ia buang - buang. Ia lekas pergi dari tempat duduknya kemudian pergi mengambil beberapa buku pelajarannya. Ia ingin cepat - cepat menuju kelasnya sebelum pria tua berperut tambun itu datang menahannya disini.

“Dekk tunggu... Sebentar aja kok” kata Rendy menahan tangan Nada.

“Masss.... Ihhh tau waktu dong mas ! Ini waktunya muwajjah !” kata Nada yang sangat ingin menghindari pertemuannya dengan pak Heri.

“Dekkkk” panggil Rendy saat istrinya itu terlepas dari genggamannya.

Nada sudah merasa cukup dengan pemaksaan yang Pak Heri lakukan padanya di hari kemarin. Menyepong penisnya yang berkulup lebih menyiksanya daripada harus bercinta bersama suaminya semalaman. Ia sangat membenci penis itu. Selain karena kurang higenis, ia juga menyayangkan aroma bapak - bapak yang tercium dari selangkangannya. Nada merasa mual. Nada ingin sekali menghindari hal itu lagi. Belum lagi dengan penampakan tubuhnya, wajahnya dan semua yang melekat di tubuh pria tua itu. Tidak ada yang bagus. Bahkan apabila tubuh pak Heri dijadikan mata kuliah pun, pasti semuanya akan mendapatkan nilai F.

“Adek pergi mas !” kata Nada buru - buru menuju pintu keluar.

“Dek tunggu sebentar” kata Rendy mengejar.

Nada pun semakin mempercepat langkah kakinya menuju pintu masuk. Untungnya Nada lebih cepat. Ia telah berhasil memegangi gagang pintu itu. Saat ia membukanya. Ia terkejut saat melihat pria tua itu rupanya sudah menunggunya sedari tadi.

“Selamat malam bu ustadzah... Wakakakak” kata Pak Heri menyambut kedatangan Nada dengan senyuman.

Nada ingin berteriak. Namun belum sempat ia melakukannya, Pak Heri sudah membekap mulut Nada dengan bibir tebalnya. Pak Heri juga sudah menutup pintu masuk hingga membuat bidadari itu terjebak di dalam rumahnya sendiri.

“Mmmppphhhhhh !!! Mmmppphhhhh !” kata Nada mendesah sambil mendorong tubuh gemuk itu menjauh.

Buku - buku yang tadi dibawa oleh Nada pun jatuh berserakan di lantai. Rendy pun datang untuk memungutnya kemudian merapihkannya kembali sebelum menaruhnya di atas meja ruang tamunya dengan rapih. Kemudian Rendy mendekati pintu masuk lalu mengunci pintu rumahnya dari dalam.

“Sudah lama tadi pak ?” kata Rendy mendekati Pak Heri yang sedang bernafsu mencumbui istrinya itu.

“Mmpphhmmm... Lumayan pak Ustadz... Mmmpphhhh mppphhh” kata Pak Heri tanpa ampun dalam mencumbui bibirnya.

“Ohh begitu kah ? Maaf kalau tadi lama” kata Rendy tersenyum melihat perlakuan pak Heri kepada istrinya.

Tanpa ampun pak Heri mendorong bibirnya, membenamkannya dengan penuh nafsu ke bibir ustadzah berhijab itu. Cukup lama ia menempelkan bibirnya untuk merasakan nikmat dari sentuhan bibir bidadari itu. Nada sampai kehabisan nafas saat merasakan cumbuannya. Ia sungguh kesal, ia sungguh tidak rela kalau pria tua bertubuh tambun lagi berwajah jelek itu dengan penuh kebebasan mencumbui bibir indahnya.

Tangan pak Heri pun tidak tinggal diam dalam menikmati tubuh indahnya. Ia menjamahi payudara itu. Meremasnya tanpa ampun hingga pemilik dua gunung kembar itu merasakan nyeri disana. Payudaranya sungguh kencang membuat Pak Heri semakin senang dalam meremasi keindahannya. Juga aroma wangi yang terhirup dari parfum yang menyebar di tubuh indahnya. Pak Heri jadi ingin menghirup seluruh aroma parfum itu dan menggantikannya dengan aroma sperma yang akan ia sebarkan ke sekujur tubuhnya.

“Wakakaka... Ustadzahh Nada.... Auhmmm... Auuhmmmmm” kata Pak Heri melumati bibir tipis Nada.

Pak Heri membuka mulutnya kemudian menjepit bibir bagian atas Nada dengan beringas. Ia menjilatinya, ia melumatnya, ia menjepit bibir bagian atas itu sebelum pindah ke bibir bagian bawahnya. Nada hanya bisa pasrah karena dorongan yang ia lakukan menggunakan tangannya tidak memberikan dampak sama sekali.

Kepalanya yang ia geleng - gelengkan juga kakinya yang ia hentak - hentakan. Semuanya percuma dihadapan pria tua bertubuh gempal itu. Pak Heri malah tertawa terkekeh - kekeh. Ia sangat puas mendapati ustadzah cantik itu memberikan perlawanan atas usahanya. Pak Heri semakin tertantang untuk menaklukan nafsu dari bidadari berhijab itu.

“Mmmpppphhhh... Pakkkk hentikannn... Pakkk jangann sekarangg pakk.... Aku harus pergi ke kelass... Masss tolonggg masss... Tolong pahami adek mas !” kata Nada berteriak sekeras mungkin mengharapkan pak Heri dan suaminya bisa memberikan toleransi untuk dirinya yang ingin pergi muwajjah ke kelas.

Suaminya yang tersenyum melihat istri cantiknya dicumbui oleh pria tua itu tak menggubris apa yang dikatakan olehnya. Ia malah terangsang yang membuatnya malah mengusap - ngusap penis yang masih tersembunyi di balik celana kainnya. Rintihan Nada saat dicumbui oleh pria tua itu semakin membangkitkan gairah birahi Rendy dalam menonton pelecehan yang sedang dialami oleh istrinya di dalam rumahnya.

"Tenang dek... Tadi mas udah izin ke ustadz Adit kok... Mas udah bilang kalau kamu sakit malam ini" Kata Rendy sambil mengeluarkan batang berbentuk lonjong itu kemudian mengocoknya dengan penuh nafsu.

Sakit ? Udah izin ? Jadi mas sudah merencanakan hal ini dari tadi ?

Batin Nada tak percaya.

“Aaahhhhhh... Pakkk sakkiitttt” kata Nada saat payudaranya diremas dengan begitu keras.

“Wakakakak... Maaf ustadzah... Sakit yah ? Salah sendiri susu ustadzah ini begitu indah” kata Pak Heri yang malah membuat Rendy tertawa.

Rendy yang tak tahan melihat istrinya dicumbui dan digerayangi oleh pria tua itu mulai melepasi satu demi satu pakaiannya. Mulai dari kemejanya, celananya hingga pakaian dalam yang dimilikinya. Rendy sudah telanjang bulat yang membuat Nada terkejut saat matanya membuka melihatnya.

“Wakakakak... Suami ustadzah udah sange kayaknya nih... Ustadzah gak sange juga ? Saya buka yah bajunya ?” kata Pak Heri meminta izin.

Namun belum sempat Nada mengizinkannya dan mungkin Nada tidak akan pernah mengizinkannya. Pak Heri langsung menurunkan secara paksa resleting yang ada di belakang punggung ustadzah cantik itu. Nada jelas menolak. Berulang kali tangannya menahan tangan Pak Heri yang ingin menelanjangi dirinya.

“Pakkk... Jannggannnnnn” kata Nada memohon.

Pak Heri tak mengindahkan suara dari Nada itu. Ia semakin beringas. Kulit putih Nada pun mulai terlihat. Putih, mulus. Ah pak Heri semakin penasaran untuk melihat keseluruhannya. Ia dengan paksa menurunkan gamis itu hingga dua payudaranya itu terlihat kendati masih tertutupi oleh ikatan branya.

“Wuihhh gede banget ustadzah... Wakakaka” kata Pak Heri langsung mencumbui sisi bagian atas payudara itu. Kedua tangannya juga meremasinya tanpa ampun. Nada merasa risih saat payudara indahnya menjadi korban kebejatan pak Heri yang sudah sangat bernafsu itu.

“Ouhhhl... Ouhhhh... Uhhhhhh” desah Rendy menonton semuanya. Ia pun duduk di kursi sofa mengamati mereka berdua yang masih bergelut dalam meremasi payudara indah itu.

“Pakkk henntikkkannn... Masss toloongggg” kata Nada menatap Rendy untuk meminta Pak Heri berhenti. Tapi saat ia menatap suaminya, suaminya malah sedang asyik beronani sambil melihat dirinya yang sedang dilecehkan oleh pria tua ini. Nada tak habis pikir dengan pola pikir suaminya.

“Saya lepaskan yahhh.... Iyyyyah” kata Pak Heri berhasil menurunkan gamis itu hingga ke pinggangnya. Karena nanggung ia pun menurunkan seluruhnya hingga gamis itu lolos melewati kaki - kakinya.

Nada masih mengenakan pakaian dalamnya. Pak Heri pun mundur untuk mengamati sejenak. Sangat indah ! Sangat menggoda ! Ini baru seorang ustadzah ! kata Pak Heri dalam hati.

Nada jelas menutupi keindahan tubuhnya itu kendati dirinya masih mengenakan pakaian dalamnya. Ia sangat malu saat mata pak Heri dan juga mata suaminya memelototi keindahan payudaranya yang masih tertutupi bra berukuran 34C itu. Cukup besar bahkan lumayan besar bila dibandingkan dengan postur tubuhnya yang ramping lagi tinggi itu. Biasanya wanita yang tinggi memiliki payudara yang cenderung kecil. Tapi berbeda dengan Nada. Ia benar - benar sempurna. Ia memang ustadzah pemilik body goals di seluruh pondok pesantren ini. Tubuhnya sempurna membuat pak Heri ingin menikmati tubuh itu untuk sekian purnama. Atau bahkan selamanya.

“Aaahhhhh” kata Nada terkejut saat pak Heri kembali datang mendekat.

Pak Heri langsung menarik paksa bra itu hingga puncak kedua gunung kembar yang berwarna pink itu tersingkap. Pak Heri melongo sesaat sebelum dirinya langsung melumatnya menikmati puting yang semakin tegang disana.

“Aahhhhh... Pakkkk gelliii... Ahhhhh” kata Nada sambil menahan pundak Pak Heri agar tidak semakin dekat. Pak Heri menjilatinya dari dalam mulut tuanya. Ia memilin puting itu dengan bibirnya. Ia melumuri puting itu dengan ludahnya. Ia benar - benar ingin menikmati keseluruhan dari payudara indah yang telah diberkati itu.

Satu demi satu payudara Nada dicicipi oleh pria tua itu. Mulai dari kiri, ia pindah ke kanan, kemudian ke kiri lagi, lalu ke kanan lagi. Ia menjilatinya hingga puas. Ia menyusu di payudara itu bagai seorang bayi yang kehausan. Ia menyeruputnya bahkan menggigitnya dengan cukup keras karena saking bernafsunya pada payudara indah itu.

“Aaahhhh pakkkkk” kata Nada berteriak.

Pak Heri pun memungut branya yang terjatuh tadi kemudian mengikat tangan Nada agar tidak mengganggunya dalam menikmati keindahannya. Nada terkejut saat tangannya diikat oleh pria tua itu. Belum sempat rasa terkejutnya hilang, ia sudah dibawa ke arah sofa panjang di sebelah Rendy yang begitu sibuk mengocok penisnya yang semakin membesar.

Pak Heri duduk terlebih dahulu sebelum Nada di pangkuannya kemudian. Dari belakang Pak Heri meremasi payudara itu sambil mencumbui bibir Nada dengan puasnya. Nada terpaksa melakukannya karena tidak ada cara lain agar bisa pergi dari tempat ini. kedua tangannya yang terikat di letakan di perutnya. Nada merinding saat darah yang ada di dalam payudaranya berdesir menuju ke seluruh tubuhnya. Peredaran darah Nada menjadi semakin lancar membuat gairah birahinya semakin bergetar.

“Ouhhhh.... Uhhhhh... Ouhhhh” desah Rendy sambil mengamati wajah istrinya yang tengah dicumbui oleh pria tua itu. Saat Nada membuka matanya, ia mendapati suaminya tengah memandangi dirinya. Mereka melakukan kontak mata. Yang membuat Nada semakin bertanya - tanya.

Tidak adakah keinginan dalam hati untuk menolongku dari situasi ini mas ?

Nada tau kalau harapannya agar Rendy mau menghentikan aksi bejat pak Heri adalah nol. Tidak mungkin suaminya mau melakukannya karena suaminya sudah sangat terangsang menontonnya. Nada sedih. Tak sadar air matanya pun mengalir.

Nada pasrah. Ia benar - benar tak tahu harus berbuat apa kendati wajahnya masih ia geleng - gelengkan agar terhindar dari nafas busuk pak Heri saat mencumbunya.

“Wakakak... Pak Ustadz udah gak tahan yah ? Pak Ustadz bisa ngentotin istrinya aja kok sekarang” kata Pak Heri yang merasa kasian pada Rendy yang sudah sangat terangsang.

“Wahhh boleh pak ?” kata Rendy malah bertanya.

“Lohh yang jadi suaminya siapa ? Ya boleh lah pak wakakakaka” kata Pak Heri tertawa.

Pak Heri pun meletakan tubuh Nada berbaring diatas sofa panjang itu. Ia menurunkan celananya hingga penis berkulup itu terlihat lagi dihadapan Nada. Sementara Rendy sedang melepaskan celana dalam yang masih melekat di selangkangan istri cantiknya.

Nada terkejut tak mengira atas nafsu buas yang tiba - tiba ada di dalam tubuh suaminya. Ditengah tangisannya itu. Ia terdiam pasrah membiarkan suaminya melakukan apapun sesukanya.

“Yakin nih pak ? Bapak gak mau ngerasain lapis legitnya ?” kata Rendy bertanya yang membuat istri cantiknya mengernyitkan dahi tak percaya.

“Wakakakak saya besok saja... Agar lebih nikmat merasakannya di hari penting kalian berdua” kata Pak Heri yang langsung mendekatkan penisnya guna memasuki mulut kecil Nada.

“Mmmppphhhhh” kata Nada tak siap hingga mulutnya dipaksa untuk merasakan aroma bapak - bapak lagi dari selangkangan pak Heri.

“Uhhhhhhhhh” Rendy pun mulai mendorongkan pinggulnya, merasakan jepitan ternikmat dari lubang kemaluan istri cantiknya.

Nada kewalahan saat lubang mulutnya dan lubang kemaluannya dimasuki oleh benda lonjong masing - masing yang sudah mengeras seluruhnya. Vaginanya yang sudah agak basah itu tergesek oleh penis besar suaminya sedangkan mulutnya kembali merasakan kulup dari penis tak bersunat itu lagi. Nada tak bisa bergerak. Tangannya juga terikat. Ia pun benar - benar pasrah saat tubuhnya terdorong maju mundur oleh gerakan suaminya juga saat mulutnya menahan dorongan penis besar pak Heri saat menyodok - nyodok kerongkongannya.

Nada memejam merasakan persetubuhan ini. Ia ingin berteriak tapi mulutnya tersumpal. Ia ingin berontak tapi gerakan tubuhnya terbatas. Yang ada, ia hanya bisa merintih dalam hati sambil mendengarkan desahan demi desahan dari mereka berdua.

“Aahhhh.... Ahhhh... Dekkkkk sempit banget dek lubang adek” kata Rendy sambil menggenjot pinggul istrinya sambil memegangi kedua kakinya yang terangkat naik.

“Aahhhh... ahhhhh.... Nikmat banget ustadzah mulutnya ini.... Ustadzahhh suka kan penis saya ? Ustadzah lebih suka kan dengan penis yang bentuknya kaya punya saya ini ?” kata Pak Heri sambil bertumpu pada tembok membiarkan pinggulnya maju mundur memperkosa mulut kecilnya itu.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhh” mereka berdua bagai berlomba dalam mengucapkan kata - kata yang sama. Mereka sama - sama mendesah dalam menikmati objek seksual yang sama. Rendy sangat puas ketika menggenjoti tubuh istrinya sendiri yang sedang mengulum penis besar itu. Pak Heri juga puas ketika mampu merasakan mulut manis dari ustadzah cantik itu. Pak Heri pun terbayang kalau mulut ustadzah yang terbiasa mengucapkan kata yang baik - baik itu kini sedang dikotori oleh penis tak bersunatnya. Pak Heri puas. Pak Heri semakin beringas dalam memperkosa mulut kecil ustadzah itu.

Rendy memegangi pinggul istrinya. Gerakan pinggulnya ia percepat hingga kedua payudara itu bergejolak dengan begitu hebat. Gairah birahi Rendy begitu terpuaskan oleh penampakan istrinya yang sedang mengulum penis besar itu. Sekali lagi mereka saling melakukan kontak mata. Nada jadi semakin sedih melihat suaminya seperti ini. Ia saat ini benar - benar tak mengenali siapa seseorang yang sedang memasukan penis besarnya ke dalam vagina sempitnya.

Pak Heri juga demikian. Matanya menatap mata Nada yang sedang menatap suaminya. Pak Heri tertawa mengetahui perasaan Nada yang sebenarnya. Namun ia tak ingin bersimpati karena penisnya saat ini sedang beraksi. Kembali di malam ini, ia memasukan penis tak bersunatnya ke dalam mulut ustadzah satu ini. Ustadzah yang sangat sexy kini sedang ia gagahi. Walau baru memasuki mulutnya tidak serta merta mengurangi kenikmatannya. Ia adalah Nada, objek pemuasnya dalam membahagiakan penisnya yang kelaparan yang ingin merasakan jepitan hangat dari meki seorang ustadzah. Namun ia mesti bersabar, karena ia ingin mendapatkan yang wah yakni saat menggagahi ustadzah cantik ini di hari peringatan ulang tahun pernikahannya esok hari.

"Aahhhh... Ahhhh... Ahhhhhh" Desah pak Heri ketika pinggulnya semakin ia dorongkan hingga Nada nyaris menelan kulup penis itu.

"Ahhhhhhhh.... Saya istirahat dulu pak... Saya takut kalau saya keluar duluan hehehe" Kata Rendy mencabut penisnya dari lubang sempit istrinya.

"Wakakakak senikmat itu kah pak ? Padahal baru sebentar !" Kata pak Heri ikut mencabut penisnya kemudian berpindah menaiki tubuh Nada untuk mendekatkan penisnya ke sela - sela payudaranya yang besar.

"Ahhhhhhhh.... " Kata Nada menahan berat tubuh yang dimiliki oleh pak Heri saat menduduki perutnya.

"Bu ustadzah... Pegang susunya... Rapatkan ke Kontol saya !" Perintah pak Heri yang terpaksa diikuti oleh Nada.

Pak Heri pun memaju mundurkan pinggulnya. Kalau tadi ia memperkosa mulutnya, kali ini ia ingin memperkosa buah dadanya. Pak Heri menggesek kulit mulus payudara itu. Merasakan jepitannya yang nikmat yang membawanya menuju ke angkasa.

"Ahhhhhh... Ahhhhhhh" Desah pak Heri dengan begitu puas.

Nada pun menatap wajah jelek itu dari arah bawah. Ia merasa jengah melihat pak Heri tampak puas dalam menikmati buah dadanya. Belum lagi saat ia melihat penis itu maju mundur menggesek kulit dadanya. Ia bergidik, ia merinding. Ia menarik nafas berkali - kali agar perutnya tidak begitu sakit saat ditindihi oleh berat badan pria gempal itu.

"Ahhhhh... Jangan ditarik pakkkk... Ahhhhh" Kata Nada berteriak saat putingnya ditarik oleh pria tua itu.

"Wakakakak... Gemes banget sih ustadzah... Maaf maaf" Kata pak Heri kembali melepasnya kemudian meminta Nada untuk melepaskan pegangannya di payudaranya sendiri. Gantinya Pak Heri lah yang melakukannya semua. Ia yang menjepit penisnya sendiri menggunakan payudara Nada. Selain memeganginya, ia juga meremasnya. Kadang ia juga memainkan putingnya yang membuat birahi pak Heri terpuaskan.

Setelah cukup beristirahat, Rendy pun kembali bergabung. Ia kembali mengincar lubang sempit istrinya. Ia menusuknya hingga ujung gundul penisnya masuk begitu dalam hingga mengenai rahimnya.

Pak Heri bersemangat melihat Rendy begitu bernafsu dalam menggagahi istri cantiknya. Sebagai seorang fans yang beruntung karena diajak gabung dalam menikmati tubuh yang biasa tertutupi pakaian lebar itu. pak Heri tidak ingin membuat Rendy kecewa. Ia berjanji untuk memuaskan bidadari berhijab itu. Kalau perlu, ia ingin membuat Nada ketagihan akan penis uniknya. Ia ingin membuat Nada mengemis bahkan sampai merangkak sekalipun untuk dapat mencicipi penis tak bersunatnya lagi. Membayangkan hal itu saja membuat penisnya semakin mengeras. Ia pun tak sabar untuk menanti hari itu terjadi.

Rendy mengangkat tubuh Nada hingga istri cantiknya itu berada di dalam pangkuannya. Rendy bergeser sedikit agar punggungnya bisa bersandar pada sandaran sofa itu. Mereka saling memandang. Mata Nada tampak kecewa, bahkan air matanya tidak bisa ia keluarkan lagi karena sudah dihabiskan di hari kemarin. Rendy melihat sejenak penampakan istrinya. Wajahnya masih manis dengan hijab yang menutupi auratnya sebagian. Rambutnya yang memanjang hingga ke punggung itu juga terlihat. Sebagian poninya yang keluar dari sela - sela hijabnya yang berantakan juga terlihat. Belum lagi kalau ia menurunkan pandangannya ke arah dada indahnya. Sungguh menantang saat melihat payudaranya tegak disana. Saat ia meremasnya, ia merasakan betapa kencangnya payudara istrinya. Ia pun meremasnya kemudian kembali menggerakan pinggulnya yang membuat istri cantiknya itu memejam merasakan kenikmatannya.

“Ustadzah... Wakakakka” Pak Heri tidak ingin ketinggalan party sama sekali. Ia segera mendatangi Nada dari sisi satunya. Ia pun meremasi payudara yang tak diremasi oleh Rendy. Mulutnya pun membuka untuk kembali mencumbui ustadzah cantik itu.

“Mmmpphhhh... Mmmpphhhhh.... Mmmppphhhh sudahhhhh.... Mmppphh !” kata Nada ingin segera menyudahi perbuatan nista ini.

Pak Heri mencumbui ustadzah cantik itu dengan penuh nafsu. Jemarinya yang sibuk memilin putingnya juga lidahnya yang tampak asyik berkelana di dalam rongga mulutnya. Nafsu pak Heri semakin bangkit saat mencium aroma kewanitaan dari tubuh ustadzah cantik itu. Bibirnya ia pagut. Bibir bagian bawahnya ia kulum dengan penuh nafsu. Ia menjepitnya kemudian menariknya ke arahnya yang membuat ustadzah itu terkejut.

Nada membuka matanya dan mendapati wajah jelek Pak Heri begitu dekat padanya. Pak Heri tersenyum yang membuat Nada segera memalingkan wajah cantiknya. Kuluman Pak Heri pun terlepas membuat pria tua itu mengarahkan wajah cantik Nada menggunakan jemarinya ke arah wajah jeleknya lagi. Kembali kali ini Pak Heri memastikan agar Nada tak dapat menghindar dari lumatan bibirnya yang sangat ingin menghisap kuat - kuat bibir indah disana.

“Aahhhh... Ahhhhhh... Dekkkk.... Ouhhhhh” kata Rendy semakin bernafsu melihat ciuman panas istrinya dengan pak Heri tepat di hadapan matanya.

Ia pun melepaskan remasannya di payudara istrinya. Gantinya, ia memegangi kedua pinggul kanan kiri istrinya. Ia mempercepat goyangannya hingga payudara satunya yang tak diremasi pak Heri pun bergoyang naik turun. Rendy kembali terpana. Ia juga terpuaskan oleh jepitan yang ia rasakan di dalam lubang kenikmatan istrinya.

“Aaahhhhhh.... Ahhhhhhhhhhhh... Masssssss.... Aahhhhhh udahhh masss cukuupppp” pinta Nada saat bibirnya terlepas dari ciuman pak Heri.

“Wakakakaka... Pak ustadz puas gak ?” kata Pak Heri berpindah ke belakang tubuh bidadari berhijab itu.

“Aahhhhh... Ahhhh... Saya puas banget pakkk... Ahhhhh” kata Rendy setengah memejam akibat saking nikmatnya.

“Aaahhhh... Pakkkk hentikannn... Ouhhhh... Aaaahhhhhh” desah Nada saat merasakan payudaranya diremas dari belakang juga tubuhnya yang terbuka dicumbui oleh bibir tua itu.

Nada merinding tiap kali bibir itu menyentuh bahunya, punggungnya bahkan lehernya yang terbuka. Mulutnya sampai terbuka dan matanya memejam menikmati cumbuan itu. Ia benar - benar lemas diserang dari dua sisi yang berbeda. Ia tak bisa melawan. Bahkan andai kedua tangannya tidak terikat oleh ikatan branya sendiri. Ia juga akan diam karena tidak memiliki tenaga untuk menghalau serangan pak Heri yang begitu bernafsu padanya.

“Uuhhhhhhhhhhh” kata Rendy setelah menancapkan penis itu hingga mentok ke arah rahim istrinya.

Kembali Rendy memposisikan istrinya dalam keadaan semula. Ia menggeletakan tubuh tak berdaya istrinya diatas sofa panjang. Kemudian pak Heri pun berpindah untuk mendekati wajah dari bidadari cantik itu lagi. Dengan segera, Rendy kembali menggerakan pinggulnya untuk menggenjoti keindahan tubuh istri cantiknya.

Pak Heri pun mengikuti. Setelah puas memainkan payudara bidadari cantik itu. Kemudian ia kembali menggagahi mulutnya membuat bidadari itu semakin lemas tak berdaya di hadapan mereka berdua.

"Janggannn.... Janngaannn pakkkk... Mmmppphhhhh" Desah Nada pasrah saat mulutnya kembali dijejali oleh penis pak Heri.

Hampir sepuluh menit mereka bertiga bercinta dalam posisi semula. Baik itu Rendy, pak Heri bahkan Nada sekalipun sudah hampir mencapai batas maksimal yang dimilikinya. Tubuh Nada keringetan dengan payudara yang bergoyang seiring semakin cepatnya genjotan yang dilakukan oleh suaminya. Nada memejam, ia tak kuat lagi saat mulutnya menahan genjotan pak Heri yang semakin menjadi.

“Aahhhhh... Ahhhh ustadzahhh.... Ahhhh” desah pak Heri kali ini lebih terorganisir dengan memutar - mutar pinggulnya dari kanan, ke kiri, ke atas kemudian ke bawah. Penisnya ia gerakan memutar hingga penis itu seperti sedang mengaduk - ngaduk rongga mulut Nada.

“Mmmpphhhh.... Mmpphhhh.... Mmmpphhhhhh !” desah Nada tertahan saat nafasnya semakin berat. Kocokan yang dilakukan oleh penis suaminya di vaginanya menjadi penyebabnya. Ia tak tahan lagi begitupula suaminya yang semakin cepat menggenjoti vaginanya.

“Aahhhh.... Ahhhhh dekkk... Dekkkkk oouuhhhhh” desah Rendy tak tahan lagi.

Rendy semakin mempercepat gerakan pinggulnya begitupula Pak Heri yang ingin menuntaskan seluruh birahinya. Gerakan cepat yang dilakukan oleh mereka berdua membuat Nada semakin pasrah ditekan dari dua arah yang berbeda.

“Aahhhhh... .Ahhhhhh... Ahhhh” gerakan paduan suara mereka semakin kencang. Gairah birahi mereka pun semakin terguncang. Mereka berdua yang sedari tadi mendorong - dorong pinggulnya semakin tak tahan.

Setelah berulang kali menggenjoti vagina istrinya, Rendy pun mendorong pinggulnya hingga penis itu tertancap semakin dalam hingga menyundul rahimnya. Segera Rendy mencabut penisnya untuk mengarahkannya ke wajah cantik istrinya.

“Aaahhhhhhh” desah Rendy buru - buru menuju wajah istrinya.

Begitupula Pak Heri yang sudah tak kuat lagi terlepas dari usianya yang senja. Pak Heri pun mencabut penis itu dari mulut Nada. Kemudian mengarahkannya dengan tajam ke arah wajah cantik ustadzah itu.

“Aahhhhhhhhhh” kata pak Heri segera menarik kulit peninsya hingga ujung gundul yang sedari tadi tersembunyi di balik kulupnya terlihat.

“Mmmppphhhhhhh” desah Nada memejam menyadari kalau dua penis nista itu sedang ingin mengeluarkan spermanya ke arah wajahnya.

Crrooottt... Crrooottt... Crrooottttt !!!

Dua pria itu mendapatkan orgasmenya disaat yang bersamaan. Semprotan sperma mereka berdua begitu deras membanjiri wajahnya. Nada terkejut. Aroma sperma pun tercium dari hidung mancungnya.

Baik itu pak Heri ataupun Rendy bergetar saat merasakan spermanya mengalir deras keluar dari lubang kencingnya. Mata mereka merem melek. Mereka begitu puas hingga tak mampu untuk membuka matanya yang begitu berat.

“Aahhhhh nikmattnyyaaa... Ahhhhhh ouhhhhhh” desah mereka berdua nyaris sama.

“Mmpphhhhh” Nada mengernyitkan dahinya. Ia bergidik jijik saat seluruh wajahnya nyaris tertutupi oleh sperma suaminya juga pria tua pengantar paket itu. Matanya yang memejam dibanjiri oleh sperma yang dibuang oleh suaminya. Sedangkan bibirnya terasa penuh oleh aliran sperma yang dibuang oleh Pak Heri.

“Uhhhhhhhhhhhh.... Puasssnnyyaahhh” kata Pak Heri menuntaskan seluruh spermanya hingga tetes terakhir.

Rendy pun demikian. Ia mengoles - ngoles wajah istrinya yang masih belum tertutupi sperma mereka berdua untuk membersihkan penisnya yang masih meneteskan cairan spermanya.

Mereka berdua sudah menuntaskan hajatnya masing - masing. Mereka berdua pun kewalahan membiarkan Nada terkapar dengan wajah yang dibanjiri sperma mereka berdua.

“Hah... Hah... Hah” kata Rendy duduk di sofa pendek sambil menyenderkan tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat.

“Pak Heri juga demikian. Ia duduk disamping kepala Nada sambil mengamati wajahnya yang belepotan dipenuhi sperma mereka berdua. Wajah cantik yang biasa dilihat sehari - hari oleh warga pesantren lainnya kini dipenuhi oleh cairan sperma dirinya juga suaminya yang mengizinkan istri cantiknya dipakai oleh dirinya esok hari. Pak Heri geleng - geleng kepala sambil tersenyum melihatnya.

“Wakakakakak... Jadi gak sabar untuk menanti hari esok” kata Pak Heri dengan lirih.

“Hah... Hah.... Hah...” Nada benar - benar kelelahan malam itu. pandangannya gelap karena matanya terus memejam. Nafasnya berat seperti habis berolahraga saja. Disaat - saat itulah tubuhnya terasa diangkat oleh seseorang. Nada terkejut tapi ia tak bisa melawan.

“Ehhhh”

“Pak Ustadz mau santapan final gak ?” kata Pak Heri yang mengangkat tubuh Nada.

Final ? Maksudnya ?” kata Rendy tak paham.

“Sini aja mendekat !” kata pak Heri meminta Rendy untuk membuka mulut didepan selangkangan Nada yang terbuka.

“Aaahhhhhh” desah Nada saat bibir vaginanya digesek - gesek oleh jemari pak Heri. Tidak hanya itu. Payudaranya yang mengeras itu juga diremasnya dengan begitu kuat.

Tubuh Nada bergetar. Nafsu yang sempat tertunda itu kembali bangkit bergejolak. Lelehan sperma yang ada di wajahnya itu pun berjatuhan ada yang mengenai hijabnya, bahu & dadanya bahkan sofa yang menjadi tempat duduk mereka berdua.

Pak Heri yang sedang memangkunya itu pun tersenyum. Ia mendapati nafas Nada semakin tak beraturan. Ia pun semakin menggesek bibir vagina itu. Terdengar suara becek dari dalam sana. Desahan Nada yang terdengar pun semakin nikmat. Rendy pun semakin tak sabar sambil membuka mulutnya lebar - lebar.

“Aahhhh... Ahhhhh... Aahhhhhhhhhhhhh pakkkkkkk !!!”

Cccrrriiitttt... Crriiitttt... Crriiittt !!!

Nada berhasil mendapatkan orgasmenya. Cairan cintanya dengan deras membasahi wajah suaminya dan sebagian memasuki mulutnya. Tubuh Nada melonjak - lonjak merasakan orgasme ternikmatnya. Mulutnya pun berteriak sepuas - puasnya dalam melampiaskan rasa yang sedang didapatinya di malam itu.

“Aaahhhhhhhhhhhh” desah Nada melonglong panjang. Ia bagai seekor serigala betina yang sedang melihat bulan purnama. Lolongannya begitu panjang. Mungkin seorang ustadz atau ustadzah yang tinggal di pinggiran asrama pasangan ini pun masih bisa mendengar suara desahannya karena teriakannya yang begitu dahsyat.

“Wakakaka... Mantap bukan ?” kata Pak Heri kemudian menggeletakan tubuh telanjangnya diatas sofa panjang itu. Ia memposisikan Nada duduk menyender pada sandaran sofa itu. Ia kemudian membuka ikatan bra yang mengikat tangannya. Ia pun meremasi payudara kencang itu. Kemudian dengan penuh semangat meminta Rendy ikut mendekat untuk menyusu di payudara indah satunya.

“Aahhhh... Pakkk hentikkann... Ahhh masss Mmmpphhhh” desah Nada saat kedua payudaranya dicumbui oleh mereka merdua. Tubuh Nada bergetar. Tubuhnya bergejolak. Ia pun meronta - ronta merasakan kenikmatan dari dua pria besar yang sedang menyusu di payudara indahnya.

Sementara itu dari luar rumahnya nampak seorang ustadzah yang terkejut saat mendengar teriakan yang berasal dari rumah Nada. Ia pun menoleh sejenak tuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi disana. Sebagai seorang ustadzah yang sudah menikah, ia paham kalau teriakan itu merupakan teriakan penuh kenikmatan yang didapatnya setelah bercinta. Seketika ustadzah yang awalnya baru mau berangkat muwajjah ke kelas itu pun merasa iri. Ia begitu iri pada Nada karena bisa berteriak senikmat itu setelah bercinta. Sedangkan dirinya, ia sama sekali belum pernah berteriak ketika bercinta dengan suaminya. Ia pernah, tapi ia melakukannya saat bercinta dengan orang lain yang notabene bukan suaminya. Ustadzah tercantik nomor satu itu pun melanjutkan perjalanannya sambil menunduk membayangkan nasib yang harus ia terima belakangan ini.

“Hmmmm” katanya sambil menyentuh vaginanya dari luar roknya.


*-*-*-*


Keesokan paginya di sebuah lorong kelas lantai dua. Hanna baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya. Ia sedang dalam perjalanan pulangnya menuju kantor bagian pengajaran untuk mengembalikan buku absen kelasnya. Dalam perjalanan pulangnya itu, ia menunduk. Wajahnya terlihat sedih karena masih terbayang pelecehannya waktu itu.

Pelukan dari V memang bisa menenangkannya kemarin, tapi ketenangan itu hanya bisa bertahan sementara. Karena setelahnya bayang - bayang pemerkosaan itu kembali hadir menghantui dirinya. Ingin rasanya ia menangis di pagi ini. Ia ingin menumpahkan seluruh kekecewaannya lagi sekarang.

Kebetulan dari kejauhan, nampak seseorang yang sedang memperhatikan Hanna sendirian. Orang itu pun menghentikan pekerjaannya, ia menaruh sapunya dalam keadaan berdiri menyender ke dinding. Saat Hanna semakin mendekat kearahnya. Orang itu pun dengan ramah menyapanya.

"Assalamu'alaikum" Sapa orang itu.

"Walaikumsalam" Jawab Hanna terkejut. Ia pun mengangkat kepalanya kemudian ia mencoba mengingat - ngingat siapa seseorang yang sedang berdiri menyalaminya ini. Hanna agak kebingungan karena ia benar - benar tidak mengenalinya. Tapi kalau dilihat - lihat wajahnya cukup akrab. Dan dari pakaiannya, orang itu jelas - jelas bekerja sebagai tukang bersih - bersih di pondok pesantren ini.

"Ustadzah ingat saya ?" Kata orang itu.

"Ehmm maaf... Bapak siapa yah... Aku agak lupa sepertinya" Kata Hanna tersenyum.

"Hehehe maklum... Saya yang kemarin lusa disapa ustadzah sewaktu ustadzah jalan bertiga sama temen - temennya itu" Kata orang itu yang baru membuat Hanna ingat.

"Ahh jadi bapak yang waktu itu yah" Kata Hanna tersenyum.

"Iya betul... Saya Prapto ustadzah... Sujiwo Suprapto nama lengkap saya... Salam kenal !" Kata Pak Prapto mengenalkan diri.

"Iya Pak... Nama aku Hanna Hanifah... Salam kenal" Kata Hanna ikut memperkenalkan dirinya dengan ramah.

Hanna memang di kenal ramah dan ia tak segan untuk menyapa siapa saja yang ditemuinya di jalan. Ia juga seseorang yang terbuka yang tak segan untuk membuka pertemanan dengan siapa saja yang ingin berteman dengannya. Mau itu tua, muda, laki, perempuan ataupun kaya & miskin. Tidak ada perbedaan sama sekali bagi Hanna. Karena baginya, banyak teman itu baik.

"Ohh ustadzah Hanna... Saya boleh meminta waktunya sebentar gak ? Saya ingin mengobrol sebentar dengan ustadzah" Kata pak Prapto memberanikan diri.

"Ohh tentu boleh silahkan" Jawab Hanna. Mereka berdua pun duduk bersama di sebuah kursi panjang yang ada di pinggir lorong kelas itu. Mereka duduk bersama agak berjarak demi menjaga etika yang telah dibuat di pondok pesantren ini. Sebelum berbicara, pak Prapto mengamati lekuk tubuh Hanna terlebih dahulu. Tubuhnya memang mantap, padat berisi membuat penis ingin menari - nari. Ia pun jadi teringat akan salah satu lagu dari band Project Pop yang sering ia dengar di masa lalu.

Guk angguk angguk angguk angguk angguk angguk guk !

Mungkin begitulah cara penis Prapto menari - nari saat ini, penis itu mengangguk - angguk. Penis itu terangkat kemudian turun kemudian terangkat lagi lalu turun lagi. Andai penisnya diberi barbel mungkin penisnya sudah kekar karena sering menaik turunkan barbel itu menggunakan ototnya.

Tapi buru - buru Prapto menghalau pikiran itu. Karena bukan itulah tujuannya ketika ingin mengobrol dengannya. Namun saat wajahnya ia naikan untuk menatap wajah cantiknya. Wajah cantik itu tengah tersenyum dalam menanti dirinya berbicara. Prapto terpesona. Ia benar - benar terkagum oleh senyum manis Hanna disana. Wajahnya yang imut ditambah senyum manisnya yang lucu membuat hati Prapto bertanya - tanya di pagi hari ini. Apakah ia sedang duduk bersama seorang bidadari yang turun dari langit ? Seketika matanya ingin memeriksa punggung ustadzah cantik dihadapannya.

Tidak ada sayapnya !

Batin Prapto.

"Ada apa yah pak ?" Tanya Hanna dengan lembut. Prapto kembali menoleh saat melihat senyumnya kembali menyapa.

“Ehhh... Hehe, jadi begini ustadzah” kata Prapto terkejut.

“Iya ?” Hanna pun tersenyum menanti mulut pria tua itu terbuka mengungkapkan isi hatinya.

"Hehehe, saya cuma ingin berterima kasih saja ke ustadzah karena sudah mau menyapa saya waktu itu... Karena sejujurnya, sejak dahulu, saya kurang mendapatkan perhatian seperti itu dari orang disekitar saya... Saya seringkali kesepian... Apalagi saya tinggal sendirian di kontrakan rumah saya... Saya sangat senang sekali masih ada orang di dunia ini yang mau ramah ke seseorang yang miskin seperti saya" Kata Prapto curhat.

Hanna pun tersenyum. Ia tampak mengerti perasaan yang sedang dimiliki oleh pria tua itu. Hanna pun memegangi punggung tangan Prapto yang membuat diri pria tua itu terkejut. Prapto melihat ke arah tangannya. Nampak tangan Hanna yang sudah dibalut handsock berwarna cerah dari balik gamis panjang yang dikenakan olehnya. Prapto pun terkejut seketika mendapati Hanna begitu menjaga dirinya. Di hari yang panas seperti ini, Hanna tak segan untuk mengenakan handsock hanya demi melindungi aurat di pergelangan tangannya. Hanna tampak cantik, ia juga alim, ia benar - benar memancarkan sosok dari seorang istri yang diidam - idamkan oleh seluruh pria di dunia ini.

"Yang sabar pak" Kata Hanna sambil berhati - hati dalam memegangi punggung tangan pria itu. Ia berusaha agar yang menyentuh kulit pria itu hanyalah kain handsocknya saja.

"Banyak orang baik kok di dunia ini... Bapak hanya belum bertemu dengan mereka saja... Nanti kalau bapak sudah bertemu dengan mereka... Pasti ingatan bapak tentang orang - orang yang cuek ke bapak itu akan terhapus... Aku gak bisa bilang kalau aku adalah salah satu dari mereka... Karena aku tahu sendiri tentang diriku... Aku masih banyak kekurangan... Kebaikan aku gak banyak bahkan sangat sedikit... Tapi aku sedang berusaha untuk menjadi baik karena hidup itu tentang memperbaiki diri" Kata Hanna tersenyum begitu manis menatap pria tua itu.

Prapto pun terpana. Wajahnya memang cantik mempesona tapi kata - katanya juga luar biasa. Apa ada orang lain yang seperti dirinya di dunia ini ? Tidak, karena menurutnya Hanna hanya ada satu seorang. Tidak ada orang lain yang mampu menyamainya.

"Hehe Terima kasih ustadzah... Sudah kuduga ustadzah udah cantik, baik pasti jodohnya juga baik" Kata Prapto tak sengaja melihat kearah cincin yang dikenakan oleh Hanna itu.

"Heheh amiin pak... Makasih doanya... Semoga doanya kembali ke bapak... Semoga istri bapak juga semakin cantik dan baik yah" Kata Hanna mendoakan.

"Hehe tapi saya belum menikah loh ustadzah" Kata Prapto agak lemas setelah menyadari status Hanna terkini.

"Ohh maaf kalau gitu pak... Ya semoga lah bapak bisa bertemu jodohnya... Segera" Kata Hanna tersenyum menatap wajah pak Prapto yang membuat hati pria tua itu merasa adem.

"Terima kasih... Yaudah saya permisi yah ustadzah... Terima kasih sudah mau menemani saya pagi ini... Takut ganggu waktu ustadzah juga... Saya permisi dulu yah ustadzah... Wassalamu'alaikum" Pamit Prapto.

"Walaikumsalam" Jawab Hanna dengan ramah.

Mereka berdua pun berpisah. Hanna pulang ke kantor bagiannya dan Prapto melanjutkan pekerjaannya dengan membersihkan lorong kelas.

Saat itu Prapto terus mengamati langkah kaki Hanna dari belakang. Ia memang cantik, ia memang sempurna. Walau dirinya sadar kalau ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk memilikinya. Tapi entah kenapa hatinya merasa sedih saat mengetahui Hanna sudah bertunangan dengan seseorang. Ia pun penasaran setampan apa calon suaminya hingga mampu menaklukan hati Hanna yang begitu sempurna.

Seketika ia kembali duduk untuk membuka hape temuannya. Nampak dua ustadzah yang sedang bercinta kembali ia tonton dengan seksama. Ia mengusap penisnya dari luar. Ia begitu penasaran untuk dapat merasakan kenikmatan dari lubang sempit seorang wanita.

"Haruskah aku realistis dengan memilih salah satu dari dua ustadzah ini... Mungkin aku bisa memaksanya untuk menikah denganku... Tapi bukankah itu perbuatan yang tidak baik ?" Kata Prapto bimbang.

Ia sangat ingin bercinta tapi ia sama sekali tidak tahu cara memulainya. Kapan dan dimana ? Dan yang terpenting dari itu adalah dengan siapa ?


*-*-*-*


Perasaan Hanna membaik setelah mengobrol sebentar dengan pak Prapto tadi. Ia pun bersyukur karena sudah dipertemukan dengan pria tua tadi sehingga obrolannya dapat meringankan beban di hatinya. Ia terus tersenyum dalam perjalanan pulangnya itu. Tak sengaja ia bertemu dengan seseorang yang membuat Hanna segera mendekat menuju orang itu.

"Ustadzah Nada" Sapa Hanna.

"Ehh ustadzah Hanna" Kata Nada menoleh.

Hubungan mereka cukup dekat kendati usia mereka berbeda dua tahun. Mereka sudah dekat ketika masih menjadi santriwati. Bahkan saat Nada pertama kali diumumkan menjadi ustadzah pondok, ia begitu mendambakan untuk menjadi seorang ustadzah yang bekerja di kantor bagian pengasuhan agar dirinya bisa satu kantor bersama ustadzah Hanna.

"Kaifa halukum ustadzah ?" Kata Hanna menanyakan kabar Nada.

"Ana bil khoir ustadzah" Jawab Nada tersenyum.

"Hihihi syukurlah... Denger - denger hari ini anniversary pernikahan kalian yah ?" Kata Hanna tersenyum.

"Iya ustadzah" Jawab Nada sambil memaksakan senyumnya.

"Wahhh mabruk yah kalau gitu... Selamat buat antum ustadzah semoga pernikahan kalian bisa lebih bahagia" Kata Hanna mengucapkan selamat.

"Hihi iyya ustadzah Ammiinnn" Jawab Nada tersenyum.

Mereka berdua terus mengobrol di pagi hari itu. Terkadang senyum mereka terlihat bahagia saat sedang bersama. Namun dari kejauhan. Tepatnya dari dalam mobil pengantar paket itu berada. Ada seseorang yang mengawasi mereka berdua. Khususnya ustadzah bertubuh tinggi yang semalam telah ia nikmati dengan begitu gagah berani.

"Ustadzah... Ustadzah... Sudah siap belum untuk saya hamili malam ini ? Wakakakak" Kata orang itu tak sabar untuk menunggu malam datang.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy