Sekitar pukul tiga sore di depan teras rumah seseorang.
Seorang wanita cantik itu tampak sibuk dengan berulang kali bolak - balik memasuki rumahnya untuk mengambilkan sesuatu untuk suami tercintanya. Sedangkan suaminya hanya menunggu di teras. Ia tampak rapih dengan kemeja bergaris kotak - kotak juga celana kain yang menutupi kakinya. Rambutnya klimis yang ia sisir dengan rapih ke belakang.
Tak berselang lama, istrinya kembali datang setelah keluar dari dalam rumahnya. Ia membawakan dasi yang kemudian ia pakaikan ke kerah kemeja suaminya.
“Kamu kok sibuk sendiri sih dek ? Padahal pakai pakaian kaya gini aja udah cukup loh” kata suaminya yang ingin mengenakan kemeja saja tanpa adanya dasi.
“Biarin, jadi orang tuh harus rapih mas biar bisa enak kalau diliat sama orang lain” kata istrinya yang ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya.
"Hahaha kamu ini dek" Tawa suaminya yang membuat wanita cantik itu tersenyum.
Sebentar kemudian ada sebuah mobil melintas yang kemudian berhenti di depan rumah mereka. Kaca jendela itu pun turun kemudian ada tangan yang muncul untuk menyapa dua pasangan muda itu.
“Ustadz Hendra... Ciyeee lagi diurusin sama istrinya nih” kata salah seorang dari dalam mobil itu.
“Hahaha tunggu sebentar yah ustadz... Bentar lagi selesai kok” kata Hendra merasa malu.
Sementara Haura sebagai istrinya pun senyum - senyum sendiri mendengar pujian yang diberikan oleh salah satu dari rekan suaminya.
“Mas izin ke luar kota selama seminggu yah... Ada urusan pondok... Gapapa kan kalau mas tinggal sendiri ?” kata Hendra meminta izin.
“Iyya gapapa mas... Adek paham kok... Adek juga udah gede kok” kata Haura tersenyum malu - malu tanpa berani menatap suaminya.
Titt... Titttt... Tittt !!!
“Ayo ustadz Hendra... Kok malah bikin drama di pagi hari... Kasian ana yang masih jomblo ini” kata rekan Hendra dengan begitu iseng.
“Hihihi ditunggu itu mas” kata Haura tersipu.
“Hahahaha iyya dek... Mas pamit pergi dulu yah... Tolong jaga rumah... Wassalamualaikum” kata Hendra mengecup dahi istrinya kemudian mengulurkan tangannya agar dikecup oleh istri cantiknya.
“Walaikumsalam mas” jawab Haura tersenyum malu - malu.
Hendra pun melangkah memasuki mobil berwarna hitam itu. Haura melambaikan tangan saat mobil itu mulai berangkat meninggalkan dirinya sendirian di teras rumahnya. Haura merasa senang kendati dirinya ditinggal pergi oleh suaminya selama seminggu kedepan. Setidaknya ia mendapatkan kecupan juga diizinkan untuk mencium punggung tangan suaminya lagi. Ia hanya berharap dalam hati, semoga dalam seminggu ke depan dirinya bisa terhindar dari seorang predator seksual bernama Karjo yang akhir - akhir ini mulai menampakkan jati dirinya yang sebenarnya. Haura merinding karena baru mengetahui siapa Karjo ini sebenarnya.
Ia pun melihat ke arah jam tangannya untuk memeriksa waktu saat ini. Rupanya sudah mendekati pukul setengah empat sore. Ia segera memasuki kamarnya untuk bersiap - siap berangkat menuju kantor bagiannya.
Haura merasa tidak enak kepada rekan kerjanya karena sejak siang tadi. Ia sudah meminta izin untuk pulang mengurusi keperluan suaminya yang akan melakukan perjalanan panjang selama seminggu kedepan.
Setelah mandi dengan air bersih yang menyegarkan dan berdandan menggunakan riasan yang sedikit. Haura pun keluar dari teras rumahnya dengan mengenakan pakaian santai tapi terlihat rapih. Hijab berwarna coklat membalut kepalanya. Sebuah kemeja longgar berwarna putih menghiasi tubuh kecilnya. Rok panjang yang menutupi kaki rampingnya melengkapi penampilan sempurnanya di pagi hari ini. Wajahnya yang manis ia hias menggunakan riasan tipis. Bibirnya berwarna cerah setelah diolesi oleh lipstik berwarna merah. Dandanannya tidak menor tapi sudah cukup untuk membuat orang - orang terpana akan kecantikan Haura yang sempurna.
Ia tampak sempurna, wajahnya rupawan, pakaiannya juga menawan. Berulang kali Haura membalas sapaan orang - orang yang menyapanya dengan ramah. Ia pun tersenyum cerah membuat orang - orang yang bertemu dengannya menjadi semakin bergairah.
Namun saat keadaan mulai sepi, ia jadi teringat akan kejadian yang terjadi di malam kemarin. Ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi di dalam rumah Nada semalam. Ia sangat penasaran kenapa Nada bisa berteriak senikmat itu. Ia jadi iri karena begitu ingin merasakan apa yang Nada rasakan di malam itu.
“Andai mas Hendra tidak bermasalah dengan miliknya” kata Haura dengan lirih.
Ia menunduk sambil mengamati jalan setapak yang ia lewati. Walau matanya memperhatikan satu demi satu bebatuan yang ada disana. Pikirannya tetap terbang ke arah kemarin malam. Memikirkan betapa jantannya suami Nada hingga dapat membuat Nada berteriak penuh kepuasan.
“Oh iya bukannya sebentar lagi Nada akan merayakan hari ulang tahun pernikahannya yah ?” kata Haura teringat sesuatu.
Seketika ia mulai menghitung sesuatu menggunakan jemarinya. Ia jadi serius. Bahkan mulutnya berbisik - bisik ketika jemarinya ia gerakan untuk menghitung hari menjelang ulang tahun pernikahan Nada.
“Semalam kah ? Atau hari ini ?” kata Haura tak begitu yakin.
Ia pun berasumsi andai semalam adalah hari ulang tahun mereka, maka Nada telah mendapatkan kado terindah dengan kepuasan yang ia dapatkan saat bersenggama dengan suami tercintanya. Tapi kalau hari itu adalah malam ini, maka Haura tak dapat membayangkan lagi. Hadiah apa yang lebih baik dari kepuasan yang didapatkan oleh Nada semalam.
“Aaaahhhhhhhh” seketika Haura terkejut hingga dirinya nyaris berteriak sebelum mulutnya dibekap oleh seseorang dari belakang.
Sementara tangan satunya memeluk pinggang ramping Haura. Orang itu berperawakan kekar hingga dapat mencengkram erat tubuh ramping Haura dari belakang. Mata Haura berusaha untuk menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa sosok itu. Tapi ia kesulitan untuk menolehkan kepalanya. Ia hanya tahu kalau kulit orang itu berwarna gelap dari pergelangan tangan yang sedang memeluk tubuh rampingnya.
“Kekekekekek” tawanya yang membuat mata Haura membuka lebar.
Apalagi saat tangan kiri lelaki itu mulai beranjak naik dari perut ratanya menuju payudaranya yang ranum. Haura memejam sambil menahan desahannya saat payudaranya itu di remas dengan begitu keras oleh pria yang suara tawanya cukup akrab di telinga Haura. Ia juga merasakan kalau bokong montoknya ditekan - tekan oleh sesuatu yang keras yang tersembunyi dibalik celana pria tua itu.
“Leppasskkannnn” kata Haura dengan suara tertahan.
“Ouuhhh ustadzahhh sayanngggg... Paling suka nih saya kalau udah megangin dua bola gede ini” bisik Karjo di telinga Haura ketika kedua tangannya dengan bebas meremas buah dada Haura.
Haura merasa risih. Berulang kali ia melenguh menahan rangsangan dari remasan pria tua itu. Tangannya ingin memberontak tapi tertahan oleh dekapan Karjo dari belakang.
“Kekekekek Apa kabar ustadzah ? Makin bagus aja nih bodynya setelah saya gagahi waktu itu” kata Karjo memuji kepadatan tubuh Haura yang semakin sintal.
“Gak usah aneh - aneh yah pak ! Lepaskan ! Ini ditempat umum pak !” kata Haura memberanikan diri untuk berontak.
“Lepaskan ? Ustadzah minta bajunya dilepas gitu ? Oke” kata Karjo lekas membuka satu demi satu kancing kemejanya.
“Pakk... Bukannn... Janggannnn !” kata Haura yang untungnya masih bisa menahan tangan Karjo kendati dua kancing teratas kemejanya sudah dibuka oleh tangan mesum Karjo.
“Katanya lepaskan ? Gimana sih ustadzah ? Kekekekek” kata Karjo tertawa.
Karjo pun melepaskan remasannya di dada Haura kemudian ia mengelus bokong montok itu sebelum ia menamparnya dengan keras. Haura pun berteriak kecil saat itu. Kemudian buru - buru Haura mengancingkan kembali kemejanya sebelum ada orang lain yang datang ke tempat sepi ini.
“Apa yang bapak inginkan ? Ini masih sore dan ini di tempat terbuka pak !” kata Haura kesal.
“Kekekkeke.... Saya gak gila kok ustadzah, saya juga tahu keadaan... Saya cuma mau mengantarkan undangan saja” kata Karjo terkekeh - kekeh sambil mengamati lekuk tubuh indah Haura dari depan saat wajah mereka saling berhadapan.
“Undangan ?” kata Haura merasa heran.
“Iya Ustadzah, malam ini jangan kemana - mana yah karena saya akan mengundang ustadzah ke pesta sex yang akan saya adakan di rumahmu dari malam sampai esok hari... Saya ingin bercinta lagi dengan ustadzah... Karena saya gak tahan ingin menggenjot tubuh indahmu lagi kekekekek” bisik Karjo.
“Apaaa ?” belum sempat hilang rasa terkejut yang dimiliki oleh Haura.
Tiba - tiba Karjo mendekatkan wajah Haura hingga bibirnya yang tebal itu mengecup bibir Haura dengan penuh nafsu.
“Mmmmmmuuuuuaaaahhhhhhhhh”
Karjo menekan bibir indah Haura untuk merasakan kelezatan yang dimiliki oleh bibir manis itu. Cukup lama Karjo menciumnya sebelum ia melepaskannya lagi.
“Mmpphhhh” kata Haura saat menahan cumbuan penuh nafsu yang dilayangkan oleh kuli bangunan itu. Kemudian setelah cumbuannya terlepas, ia lekas mengelap sisa liur Karjo di bibirnya menggunakan sapu tangan yang ia kantongi di saku kemejanya.
“Kekekekekek... Saya tunggu malam ini yah ustadzah” kata Karjo nyelonong kabur meninggalkan rasa was - was di hati Haura. Benar saja kekhawatiran yang tadi sempat dirasakan oleh bidadari cantik itu selepas perginya suaminya ke luar kota dalam rangka mengurusi urusan pondok pesantren.
Apalagi ia harus menanti selama seminggu kedepan sebelum kepulangan suami tercintanya. Apa yang harus ia lakukan selama seminggu kedepan ? Dimana lagi ia bisa bersembunyi dari nafsu buas pria tua kekar ini ?
Haura mendadak lemas membayangkan apa yang akan terjadi di malam nanti.
*-*-*-*
Beberapa menit kemudian ketika langit hampir berubah menjadi warna keoranyean seluruhnya. Nisa sedang berada di rumah menemani putra kesayangannya bermain bersama suaminya. Ia tersenyum melihat keakraban yang dimiliki oleh keduanya. Sesekali Nisa ikut bermain dengan memainkan mainan mobil - mobilan yang merupakan favorit Aldi, Putra Nisa tercinta. Jemarinya dengan lihai menggerakan mobil berwarna merah itu hingga Aldi tidak mau kalah dengan mendorong maju mobil berwarna birunya.
“Brrmmm... Brreeemmmmmm” kata Aldi mendorong mobil itu hingga berhasil membalap Nisa.
“Yahhh Umi kebalap... Awas yah Umi susul dari belakang... Ngeeennngggg !” kata Nisa ikut bermain.
Reynaldi tertawa melihat kelucuan yang ada pada diri putra dan istri tercintanya. Ia hanya geleng - geleng kepala merasa senang melihat kebahagiaan yang ada pada keluarga kecilnya. Seketika saat sedang asyik bermain. Nisa teringat kalau dirinya sedang membuat cake di dapur.
“Aduhhh... Titip Aldi bentar yah Bi... Mau cek cake dulu” kata Nisa pada suaminya.
“Iya sayang” jawab Reynaldi tersenyum. Ustadz tampan berjanggut tebal itu pun menggantikan posisi Nisa untuk memainkan mobil itu bersama putranya. Nisa tersenyum melihat tingkah laku suaminya yang bisa menjadi apa saja. Ketika dirinya mempunyai permasalahan, suaminya bisa berubah menjadi sosok nyaman yang mampu membuat hatinya tenang. Ketika dirinya ingin bermain, suaminya bisa berubah menjadi sosok anak kecil yang mampu membuat hati Nisa tertawa. Ketika dirinya sedang dalam bahaya, suaminya bisa berubah menjadi sosok pahlawan yang mampu membuat dirinya merasa aman. Nisa sangat bersyukur pada suami tercintanya. Ia terus saja tersenyum dalam perjalanannya menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Nisa langsung mengecek isi oven untuk memeriksa kepadatan kue itu. Kemudian wajah cantiknya melihat ke arah jam dinding untuk memeriksa ketepatan waktu dalam mengukus kue buatannya. Ia tersenyum, kemudian dirinya membuka laci dapur yang letaknya berada di dekat langit - langit untuk mencari sarung tangan lucu berwarna merah mudanya. Setelah susah payah dalam mengambil sarung tangan itu hingga membuat tubuhnya yang mungil harus berjinjit. Ia lekas mengenakan sepasang sarung tangan itu. Ia pun mengelap dahinya yang agak berkeringat sebelum membuka isi dari oven tersebut.
“Hah... Wanginya” katanya tersenyum setelah membuka ovennya.
Aroma cake yang harum semerbak membuat perut Nisa seolah berbunyi meminta diisi. Ia jadi lapar. Ia sangat bangga dengan cake buatannya. Dengan berhati - hati, Nisa meletakan cake itu ke atas meja makan untuk mendinginkannya sejenak. Sebenarnya, ia hendak menaburkan meses ke atas kue buatannya. Tapi ia paham kalau ia meletakannya sekarang, ia hanya akan melelehkan meses itu. Setelah menunggu cukup lama hingga kira - kira kue itu sudah agak dingin. Barulah ia menghiasnya dengan berbagai atribut yang terpikirkan di benaknya.
Ia menaburkan meses, mengoleskan cream bahkan menuliskan kata - kata disana.
“Happy Anniversary yang ke satu, Nada & Rendy” kata Nisa membaca hiasan kuenya. Nisa tersenyum merasa puas dengan keindahan yang telah dibuat diatas cake itu.
“Pasti mereka akan senang” katanya dengan begitu yakin.
Tiba - tiba hape yang berada di saku kanan celana trainingnya bergetar. Nisa agak terkejut saat merasakan getaran itu. Buru - buru ia mengambil hapenya kemudian memeriksa siapa seseorang yang telah menelponnya di sore hari ini.
“Ehh ini bukan panggilan telepon” kata Nisa menyadari.
Saat ia membaca nama kontak yang tersimpan disana. Mata Nisa langsung memicing merasa tidak nyaman dengan nama itu. Nisa agak sebal. Seolah nama yang tertulis di kontak itu telah menghapus kebahagiaan yang tadi dirasakannya.
“Mau apa mas Fandi meminta panggilan video kepadaku ?” kata Nisa heran.
Ia pun hendak menutup panggilan telepon itu. Tapi naas, ia malah menggesek ke arah yang salah. Secara terpaksa ia malah menerima panggilan video yang diminta oleh teman lamanya itu.
“Aduh gawat !” kata Nisa saat dirinya melihat wajah Fandi disana.
Nisa panik, kalau ia menutupnya sekarang. Ia merasa tidak enak. Ia akhirnya mengalah dengan menerima panggilan video itu. Nisa melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari headset agar suara mas Fandi tidak terdengar oleh suaminya yang sedang bermain bersama putranya.
“Nah ini dia” kata Nisa menemukan headset nirkabel di kamar miliknya.
Headset pun tersambung, Nisa telah bersiap untuk melakukan panggilan video dengan teman lama yang pernah dicintainya. Namun sebelum ia berbicara dengan teman lamanya, ia menoleh ke arah suami dan anaknya untuk memeriksa keadaan mereka.
“Ada apa mas ?” kata Nisa begitu merasa aman dengan keadaan disekitarnya.
Namun Fandi hanya tersenyum sambil menatap wajah cantik Nisa dari layar hapenya. Nisa yang melihat Fandi tiba - tiba tersenyum merasa aneh.
“Kamu makin cantik senior ! Aku kagum padamu” katanya setelahnya.
Nisa kembali mengernyitkan dahinya merasa tidak nyaman.
“Ada apa mas ? Cepat katakan saja apa yang mas mau” kata Nisa jengah dengan pujian yang diberikan oleh teman lamanya.
Fandi kembali tersenyum. Ia pun menundukan kepalanya sejenak sebelum menatap wajah cantik Nisa lagi disana.
“Kamu memang sudah berubah yah” kata Fandi yang membuat Nisa bingung dengan respon apa yang harus ia berikan. Di lain sisi, ia merasa kasihan padanya tapi di lain sisi ia merasa tidak nyaman karena Fandi terus memberikannya berbagai pujian kendati dirinya sudah tau kalau sosok Nisa sekarang sudah memiliki seorang suami.
Fandi bukan tanpa alasan mengucapkan pujian itu pada diri Nisa. Kendati di sore hari ini Nisa hanya mengenakan hijab simpel yang ia padukan dengan kaus berlengan panjang serta training panjang berukuran lebar. Aura kedewasaan yang terlukis di wajahnya. Juga kecantikan natural yang dimiliki oleh dirinya membuat hati Fandi selalu berdebar ketika menatap wajah indah disana. Bola matanya yang putih berwarna jernih sedangkan iris matanya yang hitam begitu pekat. Kulit wajahnya putih bahkan walau ia belum menyentuh kulit itu di hari ini. Ia sudah yakin kalau Nisa memiliki kulit wajah yang sangat halus. Bibirnya yang basah berwarna kemerahan. Hidungnya yang pas tidak mancung tidak pula pesek. Juga postur tubuhnya yang mungil membuat diri Fandi gemas ingin membelai sosoknya yang kini hanya bisa ia kenang dalam kenangan. Fandi kembali tersenyum. Tapi senyumannya kali ini terlihat lemah karena ia sadar akan kenyataan yang sudah terjadi sekarang. Walau begitu, obsesi yang begitu memuncak di dalam hati, membuatnya tak bisa melepaskan Nisa begitu saja. Walau Nisa sudah menikah, Fandi selalu merasa yakin kalau sosok Nisa juga dimiliki olehnya.
“Mas cepat ! Aku sibuk sekarang !” kata Nisa menyadarkan Fandi.
“Iya senior... Maaf... Aku cuma mau mengabarkan kalau dalam waktu dekat ini, aku akan mengunjungi pondok pesantren lagi” kata Fandi.
“Hah ? Kesini ? Mau apa mas ?” kata Nisa terkejut.
“Kamu pasti tau alasannya” Fandi hanya tersenyum sambil menjawab pertanyaan itu.
Nisa terdiam saat mendengar Fandi mengatakan jawabannya.
“Kalau senior ada waktu, datanglah ! Nanti aku kabari lagi kapan waktu tepatnya ketika aku kesana” kata Fandi yang langsung menutup panggilan video itu.
Nisa jadi terdiam sambil meletakan hape itu ke samping cake yang sudah dingin akibat dibiarkan sedari tadi. Tangannya masuk ke dalam hijabnya untuk melepas headset yang menempel di telinganya. Kemudian ia pun menaruh headset itu di samping hapenya. Nisa termenung di waktu sore menjelang maghrib. Ia duduk di kursi yang berada di dekat meja makan sambil menaruh kedua sikunya diatas meja. Telapak tangannya mengusap wajah cantiknya kemudian menggesek kedua telapak tangannya. Ia pun terpikirkan akan sosok berwajah cantik yang membuat Fandi ingin datang kesini lagi. Dengan lemah, ia pun membuka mulutnya untuk mengatakan sebuah kata.
“Pasti karena dia yah, Mas Fandi sampai datang kesini lagi ?”
*-*-*-*
Sementara itu di sebelah rumah Nisa. Nada sedang sibuk menghiasi ruang tamunya dengan balon - balon yang ia pasang di dinding ruangan. Ia juga menggantungkan kertas kado yang telah ia potong dalam bentuk segitiga kemudian menempelkan kertas itu pada sebuah tali yang ia rentangkan di dekat langit - langit rumahnya. Sebenarnya Nada kurang menyukai konsep pesta ini yang menurutnya agak kebarat - baratan. Nada merupakan pribadi yang sederhana. Ia lebih menyukai kalau anniversary ulang tahun pernikahannya ini dilalui hanya dengan suaminya saja. Mungkin dengan makan malam bersama sambil menikmati suasana romantis dengan menyalakan lilin di atas meja makan. Juga dengan mengobrolkan sesuatu mengenai masa depan mereka. Itu sudah dirasa cukup bagi Nada ketimbang harus menghias rumah mereka menggunakan berbagai atribut yang telah dibelinya di hari kemarin. Ia merasa kalau ini berlebihan. Apalagi kalau sampai mengundang orang lain untuk menikmati pesta mereka. Apalagi kalau orang itu sampai harus menikmati keindahan tubuhnya.
“Hah” desah Nada melenguh pelan.
Ia tak bisa menolak semua ini, karena ia masih menghormati keinginan suaminya. Walau sebenarnya keinginan suaminya sangat aneh. Ia masih mencoba untuk menghormati itu. Ia ingin berusaha untuk menjadi wanita yang sholehah yang mana akan menuruti semua keinginan suaminya.
Tokk ! Tokkk !! Tokkkk !!!
Nada menoleh saat mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Seketika Nada langsung melihat ke arah jam dindingnya.
“Baru jam lima lewat, gak mungkin orang itu sudah datang kan ?” kata Nada gelisah.
Suara ketukan itu kembali terdengar yang membuat Nada terpaksa mendekati pintu itu untuk menerima tamu di hari istimewanya.
"Iyya sebentar" Kata Nada berlari kecil untuk membukakan pintu itu.
“Assalamualaikumm” ucap seseorang yang suaranya mampu membuat Nada tersenyum setelah membukanya.
“Walaikumsalam... Ehhhh ustadzah Nisa” jawab Nada senang.
“Hihihi ini ada hadiah buat antum ustadzah” kata Nisa memberikan hadiah berupa kue kepada Nada yang merupakan tetangga sekaligus sahabatnya.
“Wuihh cantiknya... makasih ustadzah” kata Nada lekas memeluknya setelah menerima kue itu kemudian meletakannya di atas meja ruang tamu.
“Hihihi sama - sama” jawab Nisa merasa senang ketika Nada juga senang.
“Antum tuh gak perlu sampai kaya gini loh ustadzah” kata Nada merasa tidak enak dengan hadiah yang sudah diberikan oleh Nisa.
“Hihihih gapapa... Tadi juga cuma iseng kok” jawab Nisa.
“Selamat yah atas peringatan ulang tahun pernikahan kalian... Semoga kedepannya kalian makin langgeng dan bahagia terus selamanya” lanjut Nisa yang membuat Nada sampai terharu.
Nisa pun memeluk tubuh ramping ustadzah tetangganya itu kemudian memberikan kecupan di pipi empuknya. Nada hanya memejam saat menerima kecupan hangat darinya. Nada tersenyum begitupula Nisa tersenyum. Nada sangat bersyukur karena telah dianugerahi tetangga sekaligus teman yang baik pada diri Nisa.
Tak lama kemudian, Rendy pun datang dan melihat istri cantiknya sedang dipeluk dengan begitu erat oleh ustadzah Nisa. Nisa yang sadar akan kehadiran Rendy lekas melepas pelukannya karena merasa malu. Ia merasa malu karena di usianya yang sudah memasuki usia matang dan mempunyai satu orang anak. Tapi ia masih bersikap kekanak - kanakan selayaknya anak kecil yang suka memeluk dan mencium teman sesamanya. Rendy hanya tersenyum melihat kewajaran yang biasa di lakukan oleh sesama wanita.
"Ustadz Rendy, ini ada hadiah buat antum juga ustadzah Nada" Kata Nisa sambil menunjukan kue buatannya.
"Waduh jadi gak enak kita nih dapet hadiah istimewa dari koki terbaik kita" Puji Rendy mendekat sambil merangkul istri cantiknya.
"Hihihi berlebihan mah antum mujinya... Untuk kedepannya, semoga kalian bisa terus bahagia yah" Kata Nisa mendoakan.
"Naam syukron yah ustadzah... Semoga doa nya kembali ke antum" Jawab Rendy tersenyum.
Nada ikut tersenyum di sebelah Rendy. Kemudian Nisa pun pamit undur diri untuk kembali ke dalam rumahnya.
"Adek mau naruh kuenya di dapur yah mas" Kata Nada meminta izin.
"Iya dek" Jawab Rendy mengangguk menyetujui. Istrinya pun pergi membawa cake pemberian Nisa untuk disimpannya menjelang pesta nanti malam.
Rendy melirik saat istrinya membawa pergi cake itu. Matanya dengan binar menatap keindahan tubuh istrinya dari belakang. Pantatnya yang melenggak - lenggok begitu memanjakan matanya. Ia pun membayangkan andai Pak Heri sedang ada disisinya sore ini. Ia pasti akan menampar bokong itu kemudian meremas dengan keras hingga istri cantiknya berteriak dengan begitu manja. Membayangkan hal itu saja sudah membuat penisnya mengeras. Ia pun mengusapnya, mengelusnya kemudian menenangkannya agar bersabar hingga malam datang.
"Pasti pesta malam ini akan sangat meriah" Ujarnya tersenyum.
*-*-*-*
MALAM HARINYA,
Nada sedang duduk di depan meja riasnya. Ia terlihat gelisah karena memikirkan bencana yang akan terjadi sebentar lagi. Wajahnya menatap ke arah cermin itu. Ia terlihat cantik. Tapi untuk apa ia harus berdandan secantik ini kalau dirinya hanya diminta untuk memuaskan nafsu pria tua yang sama sekali belum disunat ?
"Hah"
Nada mendesah sambil melihat ke arah jam yang tertempel di dinding ruangan kamarnya. Tak terasa, sudah setahun ia tinggal di kamar ini. Setahun sudah ia tinggal bersama sosok lelaki yang kini menjadi suaminya. Ia pun beranjak dari meja riasnya untuk memandangi salah satu foto yang telah dibingkai dan dipasang di dinding sebelah ranjang tidurnya. Nada tersenyum mengingat masa - masa itu. Rasanya sangat bahagia ketika ia menjalani hari - hari di awal pernikahannya. Akan tetapi belakangan ini, kebahagiaan itu sirna begitu saja seiring perubahan sikap yang dialami oleh suami tercintanya.
Senyum yang tadi mengembang di wajahnya perlahan menghilang saat teringat momen saat dirinya melihat wajah suaminya yang begitu bernafsu saat dirinya dilecehkan oleh pria tua itu kemarin.
"Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya seperti ini ? Apa Mas Rendy gak punya sifat dayyuts sama sekali ?" Kata Nada heran.
Tak berselang lama, terdengar suara ketukan yang berasal dari arah pintu kamarnya. Nada menoleh kemudian mendekat untuk membukakan pintu kamarnya.
Saat pintu terbuka, ada seseorang yang tersenyum disana. Siapa lagi kalau bukan suaminya ? Seorang pria beruntung yang bisa mendapatkan cinta dari ustadzah cantik yang memiliki body goals terbaik. Wajahnya yang cantik, postur tubuhnya yang tinggi, serta payudaranya yang besar lagi tegak menantang dan tidak kendur sama sekali. Nada seperti telah diberkati oleh keindahan tubuh yang luar biasa. Lelaki manapun yang bisa menidurinya pasti akan sangat bangga. Mereka pasti akan membicarakan kisahnya saat dapat menidurinya semalam. Gerakan payudaranya yang bergetar misalnya, atau suara desahannya yang begitu menggoda, atau justru bibir merahnya yang begitu bernafsu untuk dicumbu. Andai Nada dijadikan piala bergilir. Pasti setiap orang di dunia akan bersungguh - sungguh untuk bisa memenangkan piala bergilir itu. Tapi pertanyaannya kenapa suaminya dengan senang hati malah membiarkan dirinya dinikmati oleh orang lain ? Bukankah hal itu aneh ?
"Wahhh... Cantiknya istri mas" Puji Rendy saat terpesona oleh penampilan istrinya yang menawan. Nada tersenyum. Setidaknya pujian itu sudah cukup untuk memberikan kesenangan di hatinya.
Rendy saat itu mengenakan kemeja rapih yang ia masukan ke dalam celana kainnya. Rambutnya ia sisir ke belakang. Ia juga mengenakan dasi kupu - kupu yang menempel di kerah kemejanya. Ia merangkul pinggang ramping Nada kemudian mengajaknya ke ruang tamu untuk menanti tamu istimewa yang akan datang sebentar lagi. Perlahan jantung Nada berdetak lebih kencang. Ia sangat gugup karena untuk pertama kalinya setelah menikah dengan Rendy. Ia akan bertemu dengan seorang tamu yang membuatnya harus berdandan secantik ini agar bisa dinikmati olehnya
"Hmmmm wangi banget parfumnya dek" Puji suaminya sekali lagi saat menyadari aroma parfum yang begitu kuat yang tersebar di sekujur tubuh istrinya. Nada lagi - lagi hanya tersenyum saat mendengar pujian dari suaminya.
Tepat saat Nada mendudukan bokong montoknya di salah satu sofa panjang yang telah menjadi saksi bisu persetubuhan mereka bertiga di kemarin hari. Terdengar suara ketukan pintu yang membuat jantung Nada berdebar lebih kencang.
Pak Heri sudah datang kah ?
Batin ustadzah cantik itu.
"Ah, sepertinya dia sudah datang... Mas mau bukain pintu sebentar yah" Kata Rendy meminta izin.
"Iya mas" Jawab Nada sambil memaksakan senyumnya.
Rendy pun ikut tersenyum membalas senyuman manis istrinya. Ia beranjak dari sofa itu kemudian melangkahkan kakinya mendekat untuk membukakan pintu rumahnya. Dari sofa ruang tamu, Nada mencoba mengintip ke sela - sela pintu yang mulai terbuka.
Itu pak Heri ? Atau bukan ? Semoga bukan !
Batin Nada yang ingin mengulur waktu lebih lama. Namun saat pintu itu terbuka. Muncul lah sesosok pria tua yang mengenakan kemeja gelap dengan celana jeans yang menutupi kaki gemuknya. Kancing kemeja itu sudah terbuka tiga. Bulu dadanya sampai terlihat di pandangan Nada. Perutnya yang gemuk membuat kancing - kancing yang ada di perutnya nyaris terlepas. Rambutnya yang jarang, ia sisir ke belakang. Pria tua bertubuh tambun itu terlihat rapih walau sebenarnya ia masih tidak sedap untuk dipandang sama sekali.
"Ah, pak Heri... Selamat malam... Terima kasih sudah datang" Kata Rendy menyalami pak Heri.
"Wakakakak... Orang diundang pesta kok gak datang... Saya lah yang rugi" Kata Pak Heri tertawa. Rendy pun ikut tertawa melihat pak Heri tertawa.
Saat pak Heri menolehkan wajahnya, ia melihat sesosok wanita cantik yang tengah duduk di sofa panjang ruang tamu. Ia terlihat anggun dengan hijab lebar berwarna abu - abu. Selain itu dress panjang berukuran longgar yang dikenakan oleh ustadzah cantik itu membuatnya terlihat seperti seorang putri dari sebuah kerajaan. Bibirnya yang tipis itu terolesi oleh lipstik tipisnya. Wajahnya yang cerah mempesonakan mata Pak Heri saat melihatnya. Belum lagi dengan aroma parfum yang terhirup. Sikap malu - malu yang Nada tunjukan di malam itu membuat pak Heri semakin gemas ingin mencumbu bibir manisnya. Sungguh luar biasa penampilan ustadzah Nada di hari peringatan ulang tahun pernikahannya. Sungguh beruntung dirinya diizinkan untuk dapat menikmati keindahan dari tubuh bidadari berhijab disana.
"Wah ustadzah... Ustadzah cantik sekali malam ini" Puji pak Heri yang membuat Rendy merasa bangga.
"Terima kasih pak" Jawab Nada setengah ikhlas setengah terpaksa. Senyum yang terhias di wajah manisnya membuat Pak Heri semakin tak tahan akan pesonanya. Ia langsung nyelonong untuk duduk disamping bidadari itu. Rendy hanya tertawa melihat betapa tergesa - gesanya pak Heri saat melihat kecantikan istrinya.
"Ada - ada aja" Kata Rendy sambil geleng - geleng kepala.
Nada ketakutan saat beruang buas itu tiba - tiba berlari ke arahnya. Namun dekapan yang pak Heri lakukan saat membelai tangan halusnya, membuat Nada mengurungkan niatnya untuk berlari menjauh darinya. Nada hanya diam sambil memandangi wajah pria tua itu yang sedang tersenyum mesum menatap dirinya. Wajah Nada memerah kemudian segera ia palingkan dari wajah pria jelek itu di hadapannya.
"Wakakakak... Manis banget sih bu ustadzah satu ini" Puji sekali lagi Pak Heri sambil mengecup punggung tangan Nada.
Saat punggung tangannya dikecup. Nada agak merinding merasakannya. Ia nyaris menarik tangan itu namun ditahan oleh kekuatan pria tambun berambut jarang itu. Sambil menatap keindahan di mata Nada. Pak Heri mengangkat jemari kanan Nada kemudian ia memasukan jari tengah Nada ke dalam mulutnya. Kali ini Nada benar - benar merinding hingga matanya memejam dan tubuhnya bergidik merasakan kuluman yang pak Heri lakukan di jemarinya.
"Wakakakak... Manisnya" Puji pak Heri terpesona.
Kembali pak Heri hendak mengecup punggung tangannya. Namun ia tak menyentuhkan bibirnya di kulit tangan mulus Nada. Sebaliknya, ia hanya menghirup aromanya mulai dari punggung tangannya kemudian naik ke lengan kanannya kemudian sampai di bahu sebelum akhirnya sampai di tujuan utamanya yakni di hadapan wajahnya.
Nada memejam saat menyadari dirinya akan segera dicumbu oleh pria tua itu lagi. Wajah Nada tegang dan bibirnya mengatup begitu rapat. Namun ia tak kunjung mendapatkan cumbuan itu. Nada jadi penasaran. Ia pun membuka matanya dan dirinya terkejut hingga tubuhnya nyaris meloncat.
Ia terkejut karena melihat wajah pria tua jelek itu begitu dekat dari wajah cantiknya.
"Wakakakak... Ustadzah ini lucu yah... Saya cuma minta ustadzah buat mengulum lidah saya sebagai pemanasan sebelum kita bisa bercinta sebentar lagi" Kata pak Heri terkekeh - kekeh.
Nada mengernyitkan dahi saat mendengar permintaan aneh pria tua itu. Ia bimbang. Dalam hati ia jelas menolak permintaan aneh itu tapi di lain sisi ia tak mau mood suaminya rusak di hari peringatan ulang tahun pernikahan mereka. Nada sempat menoleh sejenak menatap ke arah suaminya untuk meminta pendapat. Saat ia melihatnya. Rendy hanya mengangguk menandakan ia setuju untuk menuruti permintaan aneh dari pria tua itu.
Nada jadi berat hati saat harus menuruti kemauan pak Heri. Ia bahkan tak berani untuk menatap mata pak Heri karena tak sanggup untuk melihat jeleknya wajah yang dimiliki oleh pria tua itu. Apalagi suara tawanya yang menganggu konsentrasinya. Berulang kali bibir Nada mencoba membuka tapi berulang kali pula bibirnya bergetar.
"Wakakakak... Ayo ustadzah... Bikin saya dag dig dug aja nih wakakakak" Kata Pak Heri antusias.
"Hah" Nada melenguh tanpa sadar. Nafas Nada yang hangat terhirup oleh hidung pak Heri. Perpaduan suaranya yang menggoda serta aromanya yang menaikan gairah membuat pak Heri semakin tak sabar untuk menikmati kesempurnaan tubuh dari ustadzah cantik ini.
Nada kembali mencoba, kali ini pak Heri menutup mata agar lebih terasa sensasinya. Dengan segera lidahnya ia julurkan sambil menanti kuluman Nada datang. Pak Heri cekikikan yang membuat Nada semakin kesal dan terus bertanya - tanya.
Kenapa aku harus melakukan semua ini sih ?
Nada kembali berkonsentrasi. Perlahan ia mulai membuka bibirnya. Dengan berat hati ia mencoba untuk memasukan lidah pria tua itu ke dalam mulutnya. Namun aroma nafas pak Heri yang bau menjadi hambatan baru bagi Nada untuk dapat menyelesaikan misi pertamanya. Wajah Nada semakin dekat, aroma nafas pak Heri semakin pekat. Nada kembali mendekat hingga ujung dari lidah itu tak sengaja tersentuh tepi bibir tipisnya.
"Wakakakak... Buruan ustadzah !!! Saya gugup" Kata pak Heri semakin antusias.
"Hah" Nada kembali melenguh yang membuat pak Heri geregetan saat mencium aroma nafasnya. Penis pak Heri semakin mengeras dan kedua tangannya begitu gemas ingin menjamah keseluruhan tubuh dari ustadzah cantik itu.
"Mmmppphhh" Desah Nada dengan nafas beratnya saat bibirnya akhirnya dapat menjepit lidah pak Heri yang sudah menjulur keluar. Pak Heri senang, pak Heri begitu bahagia. Ia dengan pasrah menerima kuluman bibir yang dilakukan oleh ustadzah cantik itu.
Sementara Nada masih mengernyitkan dahinya, ia merasa jengah dengan usaha yang sedang ia lakukan. Ia merasa jijik. Ia ingin menghentikan usahanya kali ini. Namun saat Nada hendak melepaskan kulumannya. Tiba - tiba tubuh pak Heri berubah menjadi agresif. Tubuh Nada dipeluk, bibirnya pun ditekan oleh mulut tua pak Heri. Pak Heri mendorong bibir manis itu cukup lama untuk dapat merasakan kenikmatan darinya.
"Mmmpphhhhhuuuaaahh" Kata pak Heri baru melepas ciumannya setelah 45 detik tanpa jeda mendorong bibir itu.
“Aaahhhh” desah Nada saat terbebas dari mulut pak Heri.
"Mantappp sekali istrinya pak... Wakakakak... Saya nyaris gak tahan tadi" Kata pak Heri tertawa puas.
"Hahahaha jangan dulu lah pak... Mari kita ke dalam sebentar... Kebetulan ada kue yang bisa kita santap sebelum menuju ke inti acara" Kata Rendy yang membuat pak Heri terkejut lagi senang.
"Wakakaka... Ada kuenya ? Suupppeerrrrr sekali pesta malam ini pak" Kata Pak Heri meninggalkan Nada sendiri.
Nada dengan jijik membersihkan sisa liur yang ada di tepi bibirnya menggunakan tisu yang telah disediakan di meja ruang tamu. Berulang kali Nada sampai meludah karena tidak nyaman dengan rasa yang ada di tepi lidahnya.
Nada hanya diam di malam itu. Ia pun mendengar suara tawa yang dilakukan oleh suaminya dan pak Heri. Nada kembali merenung.
"Bener gak sih apa yang aku lakukan malam ini ?" Lirih Nada.
Seketika matanya teralihkan pada sebuah pintu yang sedikit terbuka. Seketika terlintas dalam benaknya untuk kabur dari situasi ini. Ia sangat benci untuk melakukan perbuatan ini. Maka wajar kan kalau ia sampai berfikir untuk kabur agar bisa menjauh dari situasi ini ?
Ia pun diam - diam beranjak dari sofa ruang tamunya untuk pergi menuju pintu rumahnya. Ia sudah memegangi gagang pintu itu. Sekali ia menariknya, ia bisa kabur dari tempat yang terkutuk ini.
Haruskah ?
Batin Nada bimbang.
"Dekkk sini... Mari kita makan kuenya" Panggil Rendy dari dalam.
Nada menoleh sejenak. Ia berfikir. Haruskah ia memenuhi panggilan itu. Namun gerakan tangannya saat menarik gagang pintu rumahnya membuat ia dapat merasakan hembusan angin malam yang bertiup ke arahnya. Angin itu sangat segar membuat diri Nada terpanggil untuk mendekati kesegaran itu.
Haruskah ?
Batin Nada bimbang.
Nada menarik pintu itu, tubuhnya yang ramping pun menyelinap keluar dari dalam rumahnya.
"Dekkkkk... " Panggil kembali suaminya.
Nada berhenti. Jemarinya jadi membeku karena kebimbangan yang ada di hati. Ia kembali melenguh kemudian setelah memikirkannya matang - matang. Ia pun menarik mundur tubuhnya kemudian menutup rapat - rapat pintu rumahnya.
"Iya mas... Adek datang" Kata Nada mendekat.
Hati Nada telah memutuskan. Ia telah berjanji pada diri sendiri untuk menyetujui keinginan ini. Toh cuma untuk hari ini saja kan ? Dalam hati, Nada berharap semoga setelah terwujudnya keinginan aneh suaminya. Ia bisa kembali merasakan suasana yang sempat ia rasakan di hari awal - awal pernikahannya.
"Iyya mas... Maaf adek terlambat" Kata Nada hendak duduk di sebelah Rendy.
"Iyya gapapa... Loh duduk di sebelah pak Heri dong dek jangan disini" Kata Rendy yang membuat Nada terperangah.
"Ehhh.... Hehehehe iya mas" Kata Nada terpaksa menuruti kemauan itu.
"Wakakakakak... Sini bu ustadzah duduk disamping saya" Kata Pak Heri lekas merangkul bahu ustadzah cantik itu yang membuat Rendy tertawa dihadapannya. Nada hanya menunduk membiarkan tangan kotor itu membelai bahunya yang ramping.
Mereka bertiga sedang duduk berhadap - hadapan. Pak Heri dengan Nada duduk bersama menatap ke arah Rendy yang duduk sendirian di malam itu. Sambil mengobrol, mereka menyantap cake buatan ustadzah Nisa. Saat Nada memasukan kue itu ke dalam mulutnya. Nada terkejut dengan kelembutan dari tekstur kue manis itu. Rasanya sangat pas, tidak terlalu manis dan tidak pula terlalu kuat. Rasanya sangat lezat hingga membuat Nada begitu ketagihan untuk menghabiskan potongan kue itu.
"Ustadzahhh... Aaaaaaa" Kata pak Heri tiba - tiba membuka mulutnya.
Nada kesal sekali saat mendengar suaranya. Ia sangat tahu kalau pak Heri ingin bermanja - manja dengannya. Mulutnya itu terbuka meminta disuapi olehnya. Dengan wajah sepat, Nada pun terpaksa untuk menyuapi pria tua itu menggunakan garpu untuk menusuk kue manis itu. Dengan sabar ia mengangkat tangannya lalu ia arahkan ke mulut pak Heri yang terbuka.
"Aauuhhmmmm" Kata Pak Heri menyantap kue yang disuapi oleh Nada. Rendy tertawa saat melihatnya.
Nada gemas sekali hingga tangannya ingin menusuk kue itu lebih dalam hingga menembus kerongkongannya. Nada sangat ingin melukai mulut pak Heri hingga membuat pria tua itu terluka sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.
Saat kue itu habis tertelan di mulut pak Heri. Nada hendak menyantap potongan kue lainnya. Beruntung ia teringat kalau garpu yang ia pegang saat ini merupakan bekas dari mulut pak Heri. Ia buru - buru mengganti garpu itu dengan yang baru untuk menghabiskan potongan kue lainnya yang masih tersisa. Pak Heri melirik, saat ustadzah cantik itu kembali memakan kue yang letaknya dekat dengan posisi tempat duduknya. Pak Heri tersenyum.
Kembali tangan pak Heri datang dengan membelai bahu ramping Nada. Nada hanya diam saja, membiarkan pria tua itu mengobrol dengan suaminya sambil merangkul bahu rampingnya. Nada tak mendengar sama sekali pembicaraan mereka, karena dirinya sangat tidak tertarik. Bahkan saat pria tua itu tertawa lepas, Nada berpura - pura untuk tidak mendengar suaranya yang berisik.
“Wakakakakak... Iya gak ustadzah... Ustadzah ini sebenarnya sangat tertarik kan jadi istri saya ? Wakakakka” tawa pak Heri yang membuat Nada jengah. Ia hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu. Pak Heri pun semakin tertawa senang hingga tangannya mendekatkan tubuh Nada ke arah pelukannya. Tubuh mereka menempel. Nada semakin risih oleh sikap berlebihan pria tua ini. Ia jadi menyesal karena sudah mengangguk, padahal niatnya hanya ingin menyudahi pembicaraan yang sama sekali tidak bermutu.
Tiba - tiba Nada merasakan kalau tangan yang hinggap di bahu kirinya mulai bergerak dengan mencoba menyentuh payudaranya dari luar. Jemari pria tua itu merangkak berusaha untuk tiba di kaki gunung kembar tertinggi yang ada di tubuh Nada. Buru - buru Nada menggerakan bahunya agar tangan pria tua itu bisa terlepas dari tubuhnya. Namun pak Heri malah semakin terang - terangan dengan menggunakan kedua tangannya. Dikala tangan kirinya kembali merangkul bahunya. Tangan kanannya dengan berani menyentuh paha kanan Nada dari luar dress panjangnya.
Nada merasa geli oleh gerayangan yang dilakukan oleh pria tua itu. Nada menoleh menatap pak Heri sambil tangannya ia gerakan untuk mendorong tangan pak Heri agar menjauh darinya.
“Pakkk hentiikannn !” pinta Nada merasa risih.
“Wakakakak... Kenapa sih ustadzah ? Bukannya malam ini ustadzah jadi milik saya ?” tanya pak Heri melirik Rendy.
“Iya dek... Betul apa yang pak Heri katakan... Lebih baik adek membiarkan pak Heri melakukan apa saja yang ia mau” kata Rendy yang membuat Nada tak percaya.
“Tapii masss” kata Nada mencoba protes.
“Sstttt tak apa... Percaya aja dengan mas... Lakukan apa yang pak Heri inginkan” kata Rendy yang membuat Nada terduduk diam.
“Wakakakak.... Pak Ustadz ini pengertian sekali... Terima kasih yah pak sudah mengizinkan saya untuk melakukan hal apa saja ke bu ustadzah yang cantik ini.... Ngomong - ngomong saya boleh menghamilinya gak ?” kata Pak Heri yang semakin bernafsu. Bahkan tangannya semakin liar. Kedua tangannya dengan gemas meremasi kedua payudara Nada. Sedangkan Nada berusaha untuk menyingkirkan tangan - tangan nakal itu dari aset berharganya.
“Hahahha silahkan saja pak” kata Rendy yang membuat Nada terdiam tak percaya.
“Wakakakak... Saya jadi gak sabar nih... Boleh saya mulai saja ?” kata Pak Heri mulai berdiri saat tangannya masih meremasi payudara Nada.
“Silahkan saja... Saya juga gak sabar ingin melihat aksi pak Heri ke istri saya” kata Rendy tersenyum. Nada menatap ke arah suaminya tak percaya. Disela - sela usahanya dalam menangkis tangan nakal pak Heri. Ustadzah cantik yang baru satu tahun menikah itu pun kebingungan saat suaminya mempersilahkan pak Heri untuk memulai semuanya. Ia heran kenapa suaminya begitu ringan dalam mempersilahkan pak Heri untuk melecehkan dirinya.
Tangan pak Heri semakin nakal. Ia sedang dalam posisi berdiri. Ia pun mengajak Nada untuk ikut berdiri di hadapannya. Berulangkali wajah cantiknya ia palingkan saat wajah pak Heri mendekat untuk mencumbu bibir manisnya. Tangan kiri Pak Heri sudah merangkul pinggang ramping Nada, telapak tangannya sudah hinggap di punggung yang masih tertutupi dress itu. Sedangkan tangan kanannya terus aktif dalam membelai payudara indah sang ustadzah.
“Pakkkkkk...” kata Nada berusaha menolak.
“Wakakakak... Ustadzah ini bikin saya gemas aja sih... Sini dekatkan wajah cantik ustadzah ke saya... Saya mau melumat bibir indah itu lagi !” kata pak Heri bernafsu.
“Pakkkk... Engggaakkkkk” kata Nada menggelengkan kepalanya.
“Wakakakakak.... Mmmmuuuuuuuuuu” kata Pak Heri memanyunkan bibirnya.
Pak Heri terus berusaha untuk menciumi lagi bibir tipis itu. Tangan kirinya ia tarik untuk mendekatkan tubuh Nada. Tubuh ramping itu pun sudah menempel hingga mengenai sesuatu yang berada di antara selangkangannya. Pak Heri mendesah pelan saat penisnya yang masih bersembunyi tersentuh oleh tubuh indah sang ustadzah. Ia pun semakin gemas, hingga lidahnya ia julurkan untuk menjilati pipi manis Nada.
“Aaaahhhhh... Hentikannn pakkk... Ini jorook !” kata Nada saat pipinya dijilati oleh pak Heri.
“Wakakakakak” kata Pak Heri hanya tertawa.
Mata Pak Heri memejam, mulutnya membuka lebar untuk mencaplok bibir manis Nada. Nada dengan penuh kepasrahan berusaha untuk menolak. Tapi mulut pak Heri semakin mendekat. Wajah Nada didorongkannya sendiri ke belakang. Tapi apa daya, karena usahanya percuma saat ujung bibir dari pria tua itu mulai menyentuh bibir manisnya.
“Mmmmppppphhhh.... Akhirnnyaaa... Mmppphhhh... Yahhhh Mmpphhhh” desah pria tua itu dengan sangat bernafsu saat bibirnya dengan beringas melumat bibir manis Nada.
“Mmmmmppppphhhh” dengan pasrah Nada menahan serangan birahi pak Heri. Matanya memejam, kedua tangannya ia dorongkan untuk menjauhkan tubuh gemuk itu. Namun nafsu birahi dari pak Heri lebih besar dari segalanya. Nafsunya sangat sulit untuk ditahan, Bercumbu dengan ustadzah cantik nan sholehah seperti Nada ? Siapa yang bisa tahan ?
“Mmmmmpppphhhh pppaakkkkk !” desah Nada saat payudara kanannya semakin diremas kuat oleh pak Heri.
Pak Heri pun merapatkan bibirnya, dengan penuh kekuatan ia mendorong bibir Nada menggunakan bibirnya. Tangannya dengan gemas meremasi benda kenyal di dada Nada. Ia semakin bernafsu hingga membuatnya tak memperdulikan hal apapun yang berada di sekitarnya. Tangan kanan Pak Heri mencemol payudara Nada dari luar dressnya. Rasanya sungguh kenyal bagai meremasi sebuah balon yang terbuat dari karet. Tapi ini lebih nikmat lagi, karena ketika pak Heri meremasnya terdengarlah suara desahan yang semakin membangkitkan gairah birahi pak Heri. Jemarinya ia gerakan untuk mencari puncak dari gunung terindah di dunia ini. Agak sulit bagi pak Heri untuk mencarinya karena tubuh Nada masih tertutupi oleh dua lapis pakaiannya. Pertama dressnya kemudian cup branya.
“Aaahhhhhhhh... Ouhhhhh pakkk tollloonnggg hentiikaannn” desah Nada yang semakin menggugah gairah.
"Wakakakak... Mantappp... Mantaapppp" Tawa pak Heri puas.
Saat mulut Nada terbuka, lidah pak Heri langsung menerobos masuk hingga tibalah ia di dalam rongga mulutnya. Nada terlambat, saat ia merasakan lidah pak Heri masuk. Ia malah baru menutup rapat bibir tipisnya. Hal ini membuat pak Heri semakin senang, rasanya seperti dikulum kembali oleh mulut manis Nada. Lidah pak Heri pun bergentayangan di dalam rongga mulutnya. Lidahnya dengan liar menyapa setiap tepi yang ada di dalam rongga mulut itu. Tak sengaja lidahnya bertemu dengan lidah ustadzah cantik itu. Ujung dari lidah mereka bertubrukan. Lidah mereka saling bergesekan. Lidah mereka saling tindih - tindihan. Lidah mereka saling bergelut. Awalnya lidah Nada yang ada diatas kemudian beralih menjadi lidah pak Heri yang berada diatas menggesek lidah Nada yang ada di bawah. Mereka berdua memejam menikmati perseteruan yang terjadi di dalam mulut manis Nada. Pak Heri tersenyum senang sedangkan Nada meringis sedih.
Rendy dari kejauhan sudah terpana saat melihat betapa nafsunya pak Heri dalam menggerayangi tubuh cantik istrinya. Walau Pak Heri begitu fokus dalam mencumbui istrinya, tapi tangan kanannya tak henti - hentinya dalam meremasi payudara indah yang masih tersembunyi di dalam. Tangan kirinya juga terus bersabar untuk menahan tubuh Nada agar tidak terjatuh ke belakang saat diri pak Heri semakin bernafsu untuk menikmati keindahan paras tubuhnya.
Diam - diam Rendy mengeluarkan penisnya yang telah mengeras. Ia mengusapnya pelan kemudian membetotnya sambil menonton pelecehan yang terjadi pada istri cantiknya.
“Aahhhh.... Mmpphhhh... Aaahhhhhh pakkkk... Cukkuuppp Mmmpppphh” desah Nada.
Pak Heri semakin bernafsu saat mendengar desahan demi desahan yang Nada ucapkan. Ia pun menurunkan resleting yang ada di punggung ustadzah cantik itu. Kulit bahunya yang halus mulai terlihat. Mata pak Heri pun terpesona hingga ia langsung mengalihkan cumbuannya ke arah bahu beningnya.
“Aaahhhhhh pakkkkkk” desah Nada saat bahunya dikecup oleh mulut tua pak Heri.
Nada merinding saat mulut basah itu menyentuh kulit bahunya. Mata Nada otomatis memejam, bibirnya pun ia gigit rapat kemudian wajahnya ia dongakkan ke atas. Dress yang Nada kenakan semakin turun hingga penampakan tubuh Nada di bagian depan semakin terlihat. Kecupan yang pak Heri layangkan pun ikut turun menuju sisi depan tubuh dari ustadzah cantik itu.
“Ouuhhhh pakkkk... Tolloonnggg... Ahhhhhhh... Mmmppphhhh” desah Nada menahannya. Berulang kali mulutnya terbuka mengeluarkan suara desahan yang semakin meninggikan birahi pak Heri. Saat ia menutup rapat suaranya, desahannya yang tertahan juga ikut membangkitkan gairah birahi pak Heri. Nada serba salah. Ia tak memiliki pilihan lain. Mau apapun usahanya, semuanya hanya akan membuat pak Heri semakin bernafsu.
Cumbuan yang pak Heri layangkan membuat langkah Nada tergerak mundur ke belakang. Tak sadar punggung Nada sudah menyentuh tembok yang ada di ruang makan rumahnya. Nada kembali membuka mata. Matanya mencoba melirik meski sulit karena ada pak Heri yang terus bernafsu mencumbui kulit indahnya. Rupanya ia sedang menyender pada tembok yang memisahkan ruang dapur dengan ruang tamu. Apakah Pak Heri ingin menggiringnya menuju ruang tamu.
“Ouhhhhhhhhhh” desah Nada dengan begitu kuat saat kedua payudaranya di remas dengan begitu puas. Darah sang ustadzah itu berdesir membuat tubuhnya bergidik merinding merasakan kenikmatan yang ada. Matanya memejam dan wajahnya ia dongakkan ke atas menatap langit - langit ruangan. Kedua tangannya pun pasrah dengan menempel di dinding ruangan. Pak Heri tertawa senang saat menatap ekspresi wajah Nada yang keenakan. Ia meremas payudara Nada yang hanya terlindungi bra ketatnya saja. Kembali, Pak Heri meremasnya yang membuat desahan panjang kedua dari Nada keluar dari mulut manisnya.
“Ooouuhhhhhhhhhhhh” desah Nada yang kali ini suaranya terdengar lebih nikmat.
Penis pak Heri langsung mengeras seketika kendati belum keluar dari kandangnya. Sedangkan Rendy dari kejauhan terpana melihat betapa indahnya tubuh Nada saat dilecehkan oleh pria tua jelek berbadan gemuk itu.
Cup bra itu pun diturunkan. Dress yang ada di tubuh ustadzah cantik itu sudah turun hingga menyangkut di pinggang rampingnya. Segera pak Heri menyusu untuk menikmati keindahan puting yang berwarna kemerahmudaan.
“Uhhhh pakkkk... Tolongg cukuppkann pakkk... Ahhhhh” desah Nada sambil mendorong kepala pak Heri menjauh.
Tapi Pak Heri tak bergerak. Kepalanya masih ada dan sedang menyusu di payudara indah disana. Ia bolak - balik dalam menikmati payudara indah itu. Pertama ia menyusu di payudara kirinya kemudian ia berpindah ke payudara kanannya. Saat ia meremas payudara kanannya, kemudian ia berpindah dengan meremasi payudara kirinya. Kadang putingnya ia sentuh - sentuhkan dengan jemarinya. Kadang puting yang menggemaskan itu di cubit hingga membuat pemiliknya menjerit.
“Aahhhhhh pakkkk... Ahhhh sakiittt... Aahhhhhh” desah Nada menjerit.
“Wakakakak... Gilaaaakkk... Ini sih mantep banget ustadzahhh... Ahhh sialll jadi semakin gak tahan saya” kata Pak Heri kesulitan untuk mengungkapkan kenikmatan yang sedang ia rasakan.
Kembali wajah jeleknya ia arahkan ke wajah ustadzah cantik itu. Ia mencumbunya, ia melumatnya, ia menyedot mulutnya dengan penuh kepuasan sambil meremasi kedua payudaranya. Pak Heri tak tahan lagi. Ia pun menurunkan resleting celananya kemudian mengeluarkan penis andalannya yang sama sekali tidak disunat.
“Turun ustadzah !” perintah pak Heri karena sudah tidak tahan.
Nada terpaksa berjongkok saat kedua bahunya didorong turun oleh pak Heri. Nada pun terpaksa mengikuti arahannya kendati ia sangat tidak menginginkannya. Nada berjongkok dengan dress yang sudah terbuka hingga kedua payudaranya pun menggantung bebas begitu saja.
“Ayo ustadzah... Seperti kemarin.... Kulum punya saya ini !” kata pak Heri yang sudah sangat bernafsu.
Nada pun sekilas melihat penampakan ular besar yang mengenakan tutup hoodie itu. Menjijikan, tidak membangkitkan selera, memuakkan ! Begitulah beberapa kata yang terlintas diwajah Nada saat melihat penampakan penis pak Heri. Ia enggan untuk memasukan penis itu ke dalam mulut berharganya. Namun tangan kiri pak Heri yang sedang membetot penis itu memaksa Nada untuk memasukan benda menjijikan itu ke dalam mulutnya. Nada bertahan dengan tidak membuka mulutnya namun hal itu malah membuat pak Heri semakin senang ketika kulup tebalnya menyentuh tepi dari bibir manis Nada.
“Aahhhhhhhh... Baru disentuh aja udah enak gini” kata pak Heri.
“Mmmpppphhh hentikannn... Mmmpppphhhh” desah Nada menggeleng - gelengkan kepala sambil mendorong pinggul pak Heri menjauh.
Pak Heri tidak menyerah, ia terus memaksakan penisnya untuk mendorong mulut Nada sampai terbuka. Usahanya mulai mendapatkan angin segar. Nada perlahan mulai membuka mulutnya. Penis besar pak Heri itu sudah berada diantara mulut Nada yang nyaris terbuka. Pak Heri mendorongnya. Menguatkan dorongannya hingga perlahan pertahanan mulut Nada itupun bisa tertembus olehnya.
“Mmmmmpppphhhh” desah Nada saat kembali merasakan aroma bapak - bapak dari selangkangan pak Heri.
“Aaahhhhh nikmatttnyaaahhhh !” desah Pak Heri dengan puas. Sementara Rendy mengambil salah satu kursi yang berada di dekat meja makan kemudian ia duduk disana agar lebih nikmat saat menonton tontonan yang sangat menarik ini.
Nada memejam dengan kedua tangannya yang ia tempelkan ke belakang dinding rumahnya yang ia jadikan sandaran. Ia begitu pasrah saat benda menjijikan itu kembali memasuki rongga mulutnya. Mata Nada mulai berkaca - kaca saat itu. Liurnya yang ada di tepi mulutnya sampai menetes karena tak sanggup menahan benda sebesar itu didalam mulut kecilnya.
Perlahan pak Heri mulai mendorong pinggulnya hingga membuat Nada kesulitan untuk bernafas karena ujung dari penis itu telah menusuk kerongkongannya kendati pangkal dari penis itu belum memasuki mulutnya. Hal ini membuktikan betapa panjang dan perkasanya penis yang dimiliki oleh pria tua berbadan tambun itu.
“Aaaaaahhhhhh... Ahhhhhh... Ouhhhh nikmattnyya ustadzah” desah pak Heri memejam.
Alih - alih menikmati wajah Nada yang sedang disumpali penisnya. Ia justru memejam merasakan sensasi yang ia alami saat menikmati mulut manis ustadzah cantik ini. Berulang kali ia menggerakan pinggulnya memutar hingga penis itu tampak seperti mengaduk - ngaduk rongga mulut Nada.
“Aahhhhh... Ouuuhhhhhhh yahhhhh” desah pak Heri saat mendorongkan pinggulnya. Kemudian ia pun menarik penis itu hingga kulupnya menempel di tepi bibir Nada. Setelah itu, ia langsung mendorongnya kuat hingga menyentuh pangkal kerongkongannya. Kembali ia tarikan lalu ia dorongkan dengan kuat. Terus pak Heri melakukan hal itu hingga Nada yang berada di bawah pun kesulitan.
Nada kesulitan untuk melihat karena matanya sudah dibanjiri oleh air mata. Ia begitu kesulitan saat penis besar itu menyodok - nyodok kerongkongannya di dalam. Tangannya tak mampu lagi mendorong pinggul pak Heri karena ia sedang dirundung kesedihan di hati. Bukan hanya karena tangisan yang membuat dirinya semakin lemah hingga tak mampu menahan dorongan pinggul pak Heri. Tapi juga karena suaminya yang diam - diam ia tatap dari kejauhan. Rendy malah terlihat menikmati pelecehan ini. Nada menjadi sedih. Nada pun pasrah sebelum tiba - tiba pak Heri mengangkat dirinya kemudian memintanya berbalik arah bertumpu pada tembok dinding ruangannya. Nada penasaran apa yang sedang terjadi. Pak Heri yang ada di belakangnya tiba - tiba mengangkat dress bagian bawahnya yang menutupi kaki jenjangnya.
“Aaahhhhhhhhhh” desah Nada saat tangan pak Heri membelai kaki Nada bagian dalam. Ia mulai membelainya dari bawah kemudian terus naik, naik hingga tiba di paha berisinya. Pak Heri pun terus mengangkat dress itu hingga bongkahan pantat Nada yang tertutupi oleh celana dalam itupun terlihat.
“Wakakakakak... Montoknya” kata pak Heri sambil menamparnya.
“Aahhhhh sakitttt” desah Nada.
Pak Heri pun memeriksa sesuatu yang tersembunyi di balik celana dalam ini. Ya, pak Heri membuka sela - sela pakaian dalam Nada untuk memeriksa kelembaban yang terdapat di lubang kemaluan Nada.
“Wakakakakak” tawa pak Heri saat mendapati vagina Nada sudah sangat basah dibawah sana. Ia pun tidak perlu untuk merangsang lebih lagi. Sebaliknya ia malah mengarahkan penis besarnya untuk memasuki sesuatu yang selama ini ia inginkan. Sesuatu yang sangat nikmat. Sesuatu yang sangat lembap. Sesuatu yang sangat hangat di dalam sana.
“Aaaaaaahhhhhhhhhh” desah Nada terkejut. Rendy yang tak ingin melewatkan momen ini bahkan sampai mengeluarkan hapenya untuk merekam momen berharga ini. Nada memejamkan mata saat lubang vaginanya tertembus oleh sesuatu yang sangat besar di bawah sana. Ia dapat merasakan betapa kulit penis pria tua yang masih kering itu menggesek dinding vaginanya yang sudah sangat basah. Jemari Nada yang menempel di dinding itupun mengatup ingin mencengkrami sesuatu. Payudaranya yang menggantung bebas itu semakin mengencang seiring hawa nafsu yang kian datang.
Malam itu, di hari peringatan ulang tahun pertamanya. Ada seseorang yang sangat tidak ia sukai sedang memasukan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Nada merinding sekali lagi merasakan penetrasi ini. Pak Heri merasa kesulitan karena ujungnya yang seret itu malah menyangkut hingga membuat pak Heri harus mengeluarkan sedikit tenaga extra agar dapat memasukan batang keseluruhannya ke dalam lubang kenikmatan itu.
“Aaaaaaaaaahhhhh pakkkk.... Cabbuuuttt pakkk... Jangan didoronggg lagii... Ahhhhhhhh” desah Nada dalam posisi menungging membelakangi pak Heri.
“Wakakakak... Kenapa ustadzah ? Enak aja, orang lagi enak gini !” gerutu pak Heri. Nada hanya memejam sambil menggigiti bibir bawahnya.
“Uuuuhhhhhhhh” dengan sekuat tenaga, ia pun mendorong pinggulnya hingga penis itu semakin masuk hingga menyundul rahim yang dimiliki oleh Nada.
“Aaaahhhhhhhh” desah Nada saat tahu vaginanya sudah dipenuhi oleh penis besar pak Heri.
Nada lemas sekali hingga membuatnya ingin beristirahat sejenak. Namun gerakan pinggul yang sudah dimulai oleh pak Heri membuatnya harus melupakan keinginannya. Pinggul itu terus bergerak hingga membuat Nada harus merasakan gesekan di dalam lubang kemaluannya.
“Aaahhhhhhhh... Ahhhhhhhhh.... Ahhhh pakkkkk” desah Nada saat lubangnya terasa penuh oleh gesekan pak Heri.
Mata Nada memejam menahan kenikmatan yang sedang ia rasakan di dalam. Sementara pak Heri tampak begitu asyik dalam memasukan pusaka berharganya ke dalam vagina Nada. Mulut pak Heri membuka sedangkan matanya memejam sambil sesekali melirik keindahan tubuh Nada dari arah belakang. Kedua tangannya sudah hinggap di pinggang Nada yang masih tertutupi oleh dress panjangnya. Lengan Nada yang masih ditutupi sebagian oleh lengan dress itu terus bertahan dalam menahan dorongan pak Heri yang semakin kencang.
Ya, pak Heri semakin tak sabar dalam memuaskan bidadari indah yang sedang tak berdaya di hadapannya. Pak Heri semakin mempercepat dorongannya hingga tubuh Nada semakin terhimpit ke arah dinding ruangannya.
“Aahhhh... Ahhhhh nikmat sekali.... Nikmat sekali” desah pak Heri dengan begitu puas.
Perlahan demi perlahan tubuh Nada pun terdorong menegak hingga payudara dan perutnya itu terhimpit ke arah dinding ruangan rumahnya. Pak Heri pun tersenyum senang kemudian mendekatkan bibirnya untuk mencumbu kembali bahu Nada yang sedikit terbuka.
“Aaaaahhhhhhhhh... Bapaakkkkk.... Aaahhhhhhh” desah Nada memejam nikmat.
Nada keheranan dengan apa yang terjadi pada tubuhnya. Kenapa seiring berjalannya waktu ia malah menikmati penis tak bersunat yang sedang keluar masuk di vaginanya ? Apa yang salah pada dirinya ? Kenapa ia tak memiliki kekuatan lagi untuk melawan di hari peringatan ulang tahun pernikahannya ?
“Uuuuhhhhhh.... Uhhhhhhhh pakkkkkk” desah Nada yang masih ingin melindungi harga dirinya sebagai seorang ustadzah. Namun ia merasakan ada yang tak beres pada tubuh indahnya.
Penis itu membombardir kemaluan Nada dengan begitu beringasnya. Penis itu masuk lalu keluar lalu masuk lagi lalu keluar lagi. Penis itu tanpa ampun mengobok - ngobok vaginanya. Nada jadi gemetar merasakan dorongan yang dilakukan oleh pria tua itu di dalam vaginanya. Belum lagi saat tangan berbulunya mendekat untuk meremasi payudaranya. Karena kesulitan, tangan pak Heri kembali menarik pinggul Nada hingga membuat ustadzah cantik itu menungging.
Saat pak Heri kembali mendorong pinggulnya. Ia semakin cepat bahkan cenderung dahsyat. Kedua tangannya dengan sigap mencengkram kuat dress yang menyangkut di pinggang Nada. Akibatnya, bidadari cantik itu terdorong maju mundur semakin cepat. Payudaranya bergoyang hebat. Pak Heri semakin tak tahan hingga tangannya mengusap - ngusap punggung Nada yang sangat halus itu.
“Aahhhh... Aahhhh... Pakkk... Ouhhhhhh” desah Nada kelojotan.
Pak Heri menarik nafasnya, Ia agak memposisikan tubuhnya agar memudahkan penisnya semakin dalam saat menyodok kemaluan bidadari berhijab itu. Nafasnya yang semakin berat membuat pak Heri semakin gemas untuk meremasi pantat yang selalu bergetar saat tertabrak oleh pinggul gelapnya. Pak Heri pun tersenyum saat merasakan denyutan yang ada di dalam kemaluan Nada.
“Aahhhhhh.... Ahhhhhhh.... Aahhhh pakkk henntikkannnn” desah Nada dengan nafas terengah - engah. Payudaranya yang menggantung itu tampak semakin kencang. Payudara itu semakin tegak menantang. Tubuh Nada pun terlihat kejang. Pak Heri pun hanya tersenyum senang melihat gejala ini.
“Aaahhhhhh... Aaahhhhh... Ahhhh pakkkk tunggguuu... Tungggu dulluuuu... “ desah Nada saat merasakan adanya kenikmatan yang bersumber dari lubang kencingnya. Ia sadar kalau persetubuhan ini akan mencapai puncak yang berujung pada kenikmatan yang akan ia dapatkan. Nada menggeleng - geleng kepala tak percaya. Ia sama sekali tidak mau untuk mendapatkan kenikmatan dari pria tua ini.
Tapi kenikmatan yang ia rasakan semakin memuaskan. Tangannya semakin kuat dalam menahan dorongan pinggul pak Heri di belakang. Kedua kakinya yang tadi melebar tiba - tiba ia rapatkan tanpa sadar. Akibatnya dinding vagina itu semakin menjepit penis pak Heri di dalam. Pak Heri tersenyum. Ia mempercepat dorongan pinggulnya. Goyangannya semakin kencang bahkan suara tubrukan antar kelamin ini semakin terdengar keras.
Plokkkk.... Plokkkk... Plokkkk !!!
Nada tau dia tidak tahan lagi. Nada tau kedua lututnya sudah lemas akibat adanya gelombang yang akan keluar sebentar lagi. Nada memejam. Kedua tangannya mengepal kuat. Bibirnya pun ia rapatkan sekuat mungkin untuk menahan serangan birahi ini.
Tiba - tiba . . .
“Aaahhhhhhhh” desah Nada saat gelombang itu datang memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa. Segera pak Heri mencabut penisnya dari kemaluan Nada hingga cairan yang begitu deras keluar bagai air keran yang telah dibuka.
Crrriitttt... Crriiittttt... Crriiittttt !
Nada tiba - tiba mendapatkan orgasmenya dengan deras hingga cairannya membasahi lantai ruangannya. Tubuh Nada terguncang. Matanya merem melek tak karuan. Tubuhnya yang lemah itu nyaris terjatuh sebelum pak Heri dengan sigap memeganginya.
“Aaaahhhhhhhhh” desah Nada saat merasakan sisa - sisa dari orgasmenya.
“Wakakakakak... Ustadzah udah dapet aja nih... Terlalu nikmat yah kontol saya ini ?” kata pak Heri yang omongannya tak dihiraukan oleh Nada. Nada begitu hanyut oleh kenikmatan ini. Nafasnya jelas berat. Matanya kunang - kunang. Kedua kakinya terus mengatup saat tetesan cairan cintanya masih keluar dari lubang kencingnya.
“Hah... Hah.... Hah...” Nada masih ngos - ngosan setelah semprotan dahsyat yang dirasakannya di malam hari ini.
Tiba - tiba pak Heri kembali mencumbui bibirnya. Nada pun tak memiliki kesempatan untuk menghindar. Terpaksa Nada menerima cumbuan itu. Bibir mereka kembali bertemu untuk memuaskan rindu yang selama ini tertahan. Beberapa menit mereka berpisah, kembali mereka dipertemukan di tempat ini. Puas mencumbunya, pak Heri pun membawanya menuju ruang tamu rumah Nada.
“Aaahhhhhh” desah Nada terkejut saat dirinya diangkat oleh pria tua itu. Rendy dari kejauhan pun mengikuti langkah kaki pak Heri.
Pak Heri sudah mendudukan tubuhnya diatas sofa panjang di ruang tamu itu. Dengan perlahan - lahan, pak Heri mulai menggeletakan tubuh indah Nada yang sudah sedikit terbuka diatas pangkuannya yang sedikit ia lebarkan. Karena gerah, pak Heri melepaskan semua kancing kemeja itu yang membuat Nada mampu melihat perut tambun itu lagi dan juga bulu di dadanya yang cukup tebal.
Kini mereka duduk saling berhadap - hadapan. Pak Heri menyender pada sandaran sofa. Sedangkan Nada duduk dipangkuan pak Heri sambil menatap wajah pria tua jelek itu. Kembali Nada memejam secara tak sadar saat merasakan kenikmatan dari penis besar itu saat menusuk vaginanya yang sempit.
“Aaaahhhhhhhh” desah Nada dengan begitu nikmat.
Pak Heri pun mendekat untuk menurunkan resleting dress Nada lebih ke bawah lagi kemudian ia mengeluarkan tangan Nada dari lengan dressnya agar ia dapat melihat keseluruhan lengan indah Nada yang berwarna bening. Ia juga melepas bra yang masih menggantung itu hingga membuatnya dapat melihat penampakan polos Nada dari pusar ke atas. Namun hijabnya yang masih menutupi daerah dada itu membuat pak Heri menyibakkannya dengan segera ke belakang.
“Nah ini baru indah” kata Pak Heri.
Nada tampak malu ketika harus menatap wajah pria tua itu. Ia juga tampak sebal hingga membuatnya harus memalingkan wajahnya ke samping. Pak Heri hanya tersenyum. Ia pun meminta Nada untuk menggerakan tubuhnya sendiri.
Nada terpaksa menurutinya karena tidak ada cara lain agar dapat menghentikan nafsu pak Heri selain memberikannya orgasme. Nada langsung bergerak naik kemudian turun kemudian naik lagi kemudian turun lagi yang membuat pak Heri blingsatan merasakan kenikmatannya. Tangannya hanya memegangi pinggang Nada secara lemas sambil merasakan goyangannya yang sangat aduhai.
Melihat ekspresi pak Heri yang keenakan membuatnya semakin jengah. Ia merasa sebal karena harus melakukan hal ini pada pria tua yang berulang kali telah melecehkannya.
Namun anehnya, Nada justru kembali merasakan kenikmatan seiring gerakan goyangannya sendiri. Penis Pak Heri yang masih tegak perkasa adalah penyebab utamanya. Nada yang tiba - tiba merasa sesak itu sampai harus bertumpu pada pundak pak Heri yang menyebabkan pria tua itu semakin tersenyum senang.
“Wakakakak... Nikmat juga kan ?” kata pak Heri.
Nada tak mengindahkan pertanyaannya. Sebaliknya ia malah mempercepat gerakan naik turunnya bahkan ia kombinasikan dengan gerakan memutar yang membuat pak Heri semakin keenakan. Pinggul Nada bergerak maju kemudian mundur kemudian maju lagi kemudian mundur, baru setelah itu pinggulnya ia geser ke kanan lalu maju lalu ke kiri lalu mundur terus ia gerakan memutar yang membuat Nada semakin keheranan.
Kenapa rasanya jadi seenak ini ?
Batin Nada keheranan. Sementara Pak Heri yang sedang digoyang oleh ustadzah berhijab itu tersenyum saat melihat ekspresi wajah Nada. Wajah Nada seperti mulai keenakan. Wajahnya seperti sedang kebingungan. Wajahnya tampak bingung dengan kenyataan yang sedang ia rasakan.
Wakakakak... Jadi sudah mulai bereaksi yah ?
Batin pak Heri terkekeh - kekeh. Ia merasa senang karena serbuk tak berasa yang ia taburkan diatas kue tadi sebelum Nada datang ke meja makan mulai bereaksi. Ia pun kini tinggal memetik hasilnya saja. Tubuh Nada terasa panas hingga membuat butir - butir keringat mulai muncul dari sela - sela pori - pori kulitnya.
“Mmmmmhhhh aahhhhh... Mmmhhhhhh ahhhhh” desah Nada sambil memejam.
“Aaahhhh... Ini kenapaaa ? Apa yang terjadi pada tubuhkkuuu... Uhhhhhhh... Ouhhhhhhhh” desah Nada yang tak dapat berhenti menggerakan pinggulnya naik turun.
“Wakakakakak... Ustadzah bisa sange juga rupanya... Ayo ustadzah goyang terusss... Goyang yang nikmat... Goyang sampai ustadzah gak bisa bergoyang lagi” kata Pak Heri yang membuat Nada merasa malu.
Masalahnya tubuhnya malah mengikuti apa yang pak Heri ucapkan. Ia semakin menggoyang tubuhnya. Ia bahkan sudah tidak bertumpu pada bahu pak Heri lagi. Ia duduk tegak sambil menatap wajah pak Heri dengan heran. Perasaannya berkata kalau pak Heri sudah melakukan sesuatu pada tubuhnya. Tapi apa ? Apa yang membuatnya jadi tak bisa berhenti mengaduk - ngaduk kemaluan pak Heri ini ?
“Ouhhhhh... Ouuuhhh gillaaa ahhhhhhh... Ahhhhhh” desah pak Heri semakin nikmat. Sementara Rendy tak percaya dengan kebinalan yang dilakukan oleh istrinya. Istrinya terus menggoyang. Istrinya terus naik turun dalam menunggangi pacuan kuda dari pangkuan pak heri itu. Payudaranya yang terbebas itu pun bergerak naik turun. Mulut Nada semakin terbuka menahan nikmat. Hingga membuat pak Heri gemas ingin mencumbui bibir manisnya kembali.
“Mmmmmpppphhhhhhh” desah Nada saat menerima cumbuan itu.
Disela - sela cumbuannya, Pak Heri mulai menarik keluar dress yang sedari tadi hanya menghalangi keindahan tubuh Nada saja. Ia menaikannya hingga lolos melewati pergelangan tangannya diatas. Nada sudah bertelanjang bulat menyisakan celana dalam dan hijab lebarnya saja. Saat dressnya itu lolos melewati hijabnya, Hijab Nada agak sedikit berantakan hingga membuat bidadari berhijab itu membenahi hijabnya lagi.
Pak Heri terpana. Bahkan saat tubuhnya telanjangpun, Nada masih sempat untuk menutupi aurat yang ada di kepalanya. Kembali mereka berciuman dengan nikmat sebelum pak Heri melepaskannya agar Nada semakin bebas dalam menikmati penis uniknya.
Ada apa ini ? Kenapa aku gak bisa menghentikan gerakan tubuhku ?
Batin Nada keheranan. Pinggulnya terus aktif dalam mengocok penis pak Heri di dalam kemaluan dirinya. Bahkan ia cenderung menikmati hingga ia tak sadar mempercepat gerakan pinggulnya sendiri. Ia bahkan kembali mendekati pak Heri dengan menaruhkan pergelangan tangannya di bahu pria tua itu. Wajah mereka begitu dekat dengan deru nafas yang semakin cepat. Nada menatap pak Heri dengan penuh keheranan sedangkan pak Heri menatap Nada dengan penuh kekaguman. Pinggul Nada masih terus aktif bergerak menikmati kenikmatan yang semakin ia rasakan.
“Aaaaaaaaahhhh.... Ahhhhhhh... Aaaaaahhhhhhhhh” desah Nada sambil menatap mata pak Heri.
Kenapa ini ? Kenapa aku semakin menikmati semua ini ?
Batin Nada sambil menatap wajah pria tua jelek itu. Nada semakin bernafsu hingga membuat dirinya kehilangan kendali atas akal sehatnya sendiri. Tanpa sadar wajah Nada mendekat ke arah pria tua itu. deru nafas mereka semakin terdengar kencang. Pak Heri terpana ketika ditatap sedekat ini oleh ustadzah cantik ini. Sedangkan Nada, ada perasaan aneh saat dirinya menatap pria jelek itu sambil menaik turunkan pinggulnya membiarkan penis tak bersunat itu tersenyum kegirangan di dalam.
Mulut Nada sedikit terbuka, begitupula mulut pak Heri. Mereka semakin dekat dan mata mereka pun memejam sebelum bibir mereka bertemu untuk menikmati keindahan yang ada pada diri masing - masing.
Nada sudah kehilangan akal sehatnya akibat obat perangsang yang diam - diam pak Heri taburkan tanpa sepengetahuannya bahkan tanpa sepengetahuan suaminya. Dari kejauhan, Rendy hanya melihat kalau istrinya semakin binal dalam mencumbui pria tua berwajah jelek itu. Rendy pun semakin mempercepat kocokannya.
“Mmpphhhh... Mmmmppphhhhh... Mmmppphhh... Uhhhmmmmm” desah Nada dalam mencumbui mulut pak Heri.
“Mmmppphhh... Ustadzah mulai suka kann... Mmpphhh... Ustadzah mulai ketagihan kontol saya kan ?” kata pak Heri yang tak dijawab oleh Nada.
Karena sejujurnya Nada pun bingung dengan jawaban itu. Suka ? Jelas tidak. Tapi ia tak bisa menghentikan gerakan pinggulnya yang perlahan semakin nikmat ini. Bahkan Nada sampai melumat mulut pria tua itu karena tak tahan oleh kenikmatan yang dihasilkan di dalam vaginanya.
“Aaaahhhhhhhh apa yanggg... Apa yanggg bapak lakukan padaku sebenarnyaaaahhh ?” kata Nada mulai penasaran.
“Aahhhhhhh... Entah... Mungkin ustadzah sendiri yang mulai ketagihan wakakakak” tawa pak Heri yang membuat Nada semakin kesal. Ia kesal pada diri sendiri kenapa ia semakin menikmati.
Wakakakak... Gak sia - sia rupanya orang itu nawarin ini ke saya !
Batin pak Heri puas.
Nada merasa gelisah. Dirinya terus menekan pinggulnya untuk dapat merasakan titik terdalam dari penis itu. Tubuhnya merasa panas, ia merasa semakin bergairah. Ia menaikan tubuhnya hingga kulup dari penis itu menyentuh bibir vaginanya. Saat ia turun, ia menurunkannya dengan sangat cepat hingga penis itu langsung tiba di titik terdalam vaginanya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Kedua payudaranya yang bebas itu ia biarkan bergoyang - goyang. Pak Heri jadi semakin senang melihat keindahan dua payudara indah yang menggantung di dada Nada.
Nada yang sudah sangat bernafsu menggigit bibir bagian bawahnya sendiri. Dadanya yang besar ia busungkan ke depan hingga membuat pak Heri semakin tergoda untuk melumat payudara itu.
Gemas, pak Heri pun meremasnya dengan sangat kuat bahkan mulai memasukan puting itu ke dalam mulutnya untuk ia cumbui. Ia bagai bayi besar yang sangat kehausan. Ia melumat puting itu. Ia menggigitnya pelan dan meremasnya dengan sangat kencang hingga membuat pemiliknya semakin mendesah dengan penuh gairah.
"Aaaaahhhhhhhhh pakkk" Desah Nada.
"Wakakakakak... Ayo ustadzah... Goyangkan semakin kencang... Putar ke kanan putar ke kiri !!!!" Kata Pak Heri kembali bersandar membiarkan payudara itu bergerak dengan sendirinya.
Nada menggoyangkan pinggulnya seperti sedang memutar persneling mobil. Ia tidak menggerakan pinggulnya naik turun secara vertikal. Tapi kini, ia menggoyangkan pinggulnya ke kanan kiri secara horizontal. Nada mendesah nikmat begitupula pak Heri di bawah sana. Penis pak Heri yang sudah semakin basah itu terasa seperti sedang diaduk - aduk oleh kelembapan dan kehangatan yang ada di dalam vagina ustadzah yang sedang telanjang itu.
“Uhhhhhh.... Uhhhhhhhhhhh.... Uhhhhhhhhhhh” desah Nada saat menikmati persetubuhan ini. Ia semakin bergairah bahkan kedua tangannya tanpa sadar sudah berada di payudaranya sendiri. Tubuhnya terus mengaduk - ngaduk penis itu sambil meremasi payudaranya sendiri. Nada semakin bernafsu. Nada semakin kehilangan kesadarannya. Ia hanya ingin kepuasan tak peduli darimana ia mendapatkannya.
Payudaranya kembali mengencang. Nafasnya kembali terdengar berat. Vaginanya yang ada di bawah itupun berdenyut kencang. Nada heran kenapa dirinya sudah ingin mendapatkannya lagi. Apakah karena goyangannya sendiri ? Lalu kenapa pak Heri masih bertahan sekuat ini ?
“Wakakakak... Ustadzah gatel mau dapet lagi yah ? Mau saya bantu ?” kata pak Heri menyadari adanya gejala yang terlihat di tubuh Nada.
“Aahhhhh... Ahhhhhhhh.... Terseerrahhhh” kata Nada yang masih sok jual mahal dihadapan pak Heri. Wajahnya ia palingkan namun pinggulnya bergerak semakin cepat dalam menaik turunkan tubuhnya.
“Wakakakakka... Kalau gitu buat permohonan cepat agar saya bisa bantu ustadzah untuk mendapatkan orgasme kedua di malam hari ini.
“Aaahhhhh... Ahhhh permohonan seperti apa ? Aaahhhhhhh” desah Nada. Wajahnya memerah menahan malu.
“Apa saja... Buat permohonan kalau ustadzah membutuhkan kontol saya untuk mendapatkan kepuasan dari saya !” kata pak Heri kegirangan saat penisnya terus diaduk - aduk oleh pinggul Nada. Bahkan saat ini, pak Heri tidak mengeluarkan energi sama sekali. Semua gerakan dilakukan oleh Nada. Nada seperti sedang menjual harga dirinya dengan mengemis kenikmatan dari pria tua di hadapannya.
“Aaaahhhhh... Aaahhhhhhhhh” desah Nada semakin terangsang. Matanya pun membuka untuk menatap wajah pak Heri. Ia pun merenung. Haruskah ia memohon hal itu pada pria tua berwajah jelek ini ? Namun gejolak birahi yang sedang ia alami membuatnya sulit untuk menuruti akal sehatnya lagi. Akal sehatnya jelas menolak tapi hawa nafsunya jelas mendukung agar bisa dipuasi oleh pria tua ini. Nada menyerah.
“Aaahhhh... ahhhh pakkkk... Mohon pakkk... Tolonngggg puasi akuuu... Lakukan apa saja agar aku bisa puas pakkkk... Aahhhh” kata Nada sambil menahan rasa malunya.
"Wakakakak... Misalnya apa ustadzah ? Yang jelas dong ?" Kata pak Heri tertawa.
"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhhh" Desah Nada naik turun sambil menatap pak Heri dengan sebal. Namun rasa nikmat yang semakin tak tertahankan membuat Nada rela untuk melepas harga dirinya demi mendapatkan kepuasan yang fana.
"Ahhhhh.... Ahhhhhh... Aku butuh itu pakkk... Aku butuhh ahhhhhh" Kata Nada merasa malu untuk mengucapkannya. Pria tua bertubuh tambun itu terkekeh - kekeh sambil menikmati kepolosan tubuh Nada yang terus naik turun di pangkuannya.
"Ahhhh... Apa ustadzahhh ? Yang jelas dongg... Ahhhh" Desah pak Heri.
"Pennisss bapakkkk... Aku butuh penis bapakkk... Ahhhhhh" Desah Nada saking bernafsunya. Bahkan ia sampai menggigit jemari kirinya sendiri yang membuat pak Heri semakin gemas.
"Wakakakaka... Ahhhh... Ahhh bukan penis ustadzah.... Tapi kontollll !!! Ayo ulangi !" Kata pak Heri berupaya untuk terus melecehkan ustadzah berhijab itu.
Nada jengah, ia sangat tahu kalau Pak Heri sedang berusaha merendahkannya. Ia tidak ingin untuk menuruti permintaan itu. Tapi rasa gatal yang ia rasakan di kemaluannya, juga gairah birahi yang semakin meledak - ledak di dalam tubuhnya membuat bidadari cantik itu mengalah.
"Ahhhh... Ahhh Iyyaahhh... Maksudnya itu pakkk... Akuuu mauuu ituuu... Akuu mauu kontol bapakkkk.... Puasi aku dengan kontol bapakkk... Pakkkkk tolongggg... Ouhhhhhh !!!" Desah Nada hingga wajahnya memerah.
“Wakaakakakak baiklah ustadzah... Kencangkan sabuk pengamannya yah” kata pak Heri lekas mencengkrami pinggang mulus Nada. Pinggul pak Heri yang sedari tadi diam mulai bergerak. Awalnya ia bergerak pelan. Sedikit demi sedikit ia menaikan gigi kecepatannya. Nada yang mulai merasakan penetrasi itupun mulai memejam dan membuka mulutnya lebar - lebar. Dinding vaginanya terasa semakin digesek. Cepat, cepat dan semakin cepat. Tubuh Nada mulai bergerak naik turun semakin cepat. Tubuhnya yang duduk tegak di pangkuan pak Heri itu semakin bergetar hebat. Payudaranya naik turun dengan kencang. Kedua tangan Nada mengepal menahan nikmat sementara matanya sekali memejam sekali memelek untuk menatap mata pak Heri dengan tatapan sayuk. Mulutnya juga sesekali mengatup rapat dan sesekali terbuka mengeluarkan desahan yang menggelora di dalam ruang tamu ini. Nada sudah bertelanjang menyisakan hijab serta celana dalamnya saja. Ustadzah yang terkenal alim ini pun takluk oleh serbuk perangsang yang ditaburkan oleh pria tua itu.
“Aahhhhhh.... Ahhhhh pakkkkk.... Iyahhhhh... Semakinn kencangggggg... Yangg kencannggg ahhhhhh” desah Nada tak kuasa menahan diri lagi.
“Aahhhh.... Ahhhhh.... Siappp ustadzahhh... Aahhhhh... Ahhhhh” desah Pak Heri yang juga tak mampu menahan diri lagi.
Impiannya sebentar lagi akan segera terwujud. Impiannya dalam memenuhi lubang kemaluan Nada dengan spermanya akan segera terwujud. Pak Heri pun memeluk Nada hingga payudaranya itu terhimpit ke tubuh tambunnya. Bibir Nada yang menggoda membuat pak Heri tergoda untuk mencumbunya. Pak Heri mendorong bibirnya ke bibir Nada. Ia mempercepat gerakan pinggulnya mengobrak - ngabrik kemaluan ustadzah Nada. Rendy dari kejauhan juga semakin nikmat. Ia tak mampu untuk menahan semua gejolak birahi ini lagi.
“Mmppphhhhh... Mmpppphhhhhhh” desah Nada.
“Mmppphhh... Mmpphhhh aahhhhhh... Ustadzahhhhhhh” desah pak Heri tak mampu menahannya lagi.
“Aaahhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah mereka berdua setelah melepaskan cumbuannya. Mereka saling menatap. Mereka sudah tak peduli dengan siapa lawan mainnya. Mereka hanya ingin untuk meluapkan gejolak yang ada di dalam jiwa. Nafas mereka berat, Kemaluan mereka sama - sama berdenyut. Kembali, payudara Nada yang dibiarkan bergerak bebas itu semakin mengencang.
“Aaahhhhh.... Ahhhhhh... Aahhhh bapaakkkkkkk” desah Nada.
“Aaahhhhh... Ahhhh... Ahhhh ustaddzaaahhhhh” desah pak Heri.
Malam itu. Sekitar pukul setengah sembilan. Kedua insan yang dipisahkan begitu jauh oleh usia mulai mendapatkan tanda - tanda akan ledakan yang besar yang berasal dari kemaluan masing - masing. Nada sudah tak peduli pada sosok pak Heri. Ia hanya ingin mendapatkan orgasmenya lagi. Sedangkan Pak Heri semakin puas dengan pengaruh obat perangsang yang ia berikan pada diri Nada. Nada jadi semakin binal. Pak Heri pun semakin beringas dalam menggenjoti ustadzah pemilik body goals ini.
Kemaluan mereka saling bertubrukan. Pinggul mereka bertemu. Semakin kencang, kencang dan kencang. Tubuh Nada bergejolak naik turun. Nafsunya sudah tinggi dan ia ingin menuntaskannya hingga berteriak ke puncak.
“Aaahhhhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhh bapakkkkkkkk !!!!”
“Aahhh ustadzahhh... Saayyaaa kelluuaarrrrrr !!!”
Crrootttt crrootttt crrooottttt !
“Aaahhhhhhhhhhhhhhhhh” desah mereka berdua secara bersamaan. Vagina Nada segera dipenuhi oleh cairan cinta masing - masing. Pak Heri dengan beringasnya menusuk penisnya hingga menyundul rahim kemaluan Nada. Rahim itu berdenyut saat disirami oleh sperma kentalnya yang hangat. Sedangkan Nada segera memuncratkan cairan cintanya hingga membasahi kulup yang melindungi ujung gundul kemaluan pak Heri.
Mata mereka memejam dan tubuh mereka merinding merasakan kepuasan yang tiada tanding. Nafas mereka saling berlomba dan tubuh mereka lemas hingga mereka terjatuh ke arah sandaran sofa yang ada di belakang pak Heri. Nada pun jatuh ke dalam pelukan pak Heri. Saat wajah mereka kembali berdekatan. Mereka kembali melakukan percumbuan untuk menuntaskan apa yang masih menetes di dalam kemaluan Nada.
“Aahhhhhhhhh” desah Nada bergidik merinding ketika mendapat kenikmatan sepuas ini. Sebelumnya ia tak pernah merasakan orgasme hingga senikmat ini. Ia pun heran, ia pun bingung. Kenapa ia bisa puas ketika dirinya disetubuhi oleh pria tua berwajah jelek ini ?
“Mmppphhhh... Mmpphhhhhh ahhhhh” desah pak Heri kemudian ia melepaskan kulumannya di bibir Nada. Dengan berhati - hati Pak Heri menaruh tubuh polos Nada ke atas sofa panjang yang ada di sebelahnya. Nada sudah terbaring lemas diatas sofa panjang rumahnya. Tatapannya sayuk. Matanya masih merem melek akibat kepuasan yang ia terima. Dadanya yang besar masih naik turun seiring nafasnya yang berat. Nada pun menatap pak Heri saat tangan pria tua itu mendekat untuk membelai wajah halusnya.
Hijab Nada yang mulai berantakan itupun dilepas. Rambutnya yang terikat panjang di belakang itu pun terlihat. Kemaluan mereka masih bersatu yang membuat pak Heri kembali datang untuk mencumbui bibir dan meremasi payudara indah itu lagi.
“Mmmppphhhh... Mmmppphhhhhh... Mmmppphhhhhhhh” desah mereka berdua.
Setelah mereka beristirahat sambil berciuman diatas sofa itu. Pak Heri lekas menarik tubuhnya dan menarik lepas penis yang selama ini menyumpal kemaluan Nada.
“Aaahhhhhhhh” desah Nada dengan lemas saat kemaluan mereka berpisah setelah duapuluh menitan bersatu.
Tampak lelehan sperma yang bercampur cairan cinta Nada mengalir deras yang membuat Nada bergidik merinding merasakan sensasi liar ini.
Perlahan akal sehat Nada kembali. Ia pun menyadari kalau kemaluannya sudah dibanjiri oleh cairan kental pak Heri. Dirinya yang lelah mencoba menengok ke arah suaminya. Suaminya juga terlihat kelelahan setelah menumpahkan spermanya yang banyak hanya ke lantai ruang tamunya. Sungguh ironi. Kenapa suaminya malah menumpahkan spermanya ke lantai ? Sedangkan pria tua yang sebelumnya tak ia kenal ini bisa sebebas itu dalam menumpahkan spermanya ke dalam lubang vaginanya.
Entahlah !
Batin Nada menyesal. Ia tampak kelelahan. Ia tampak mengantuk. Matanya perlahan memejam karena tak sanggup menahan rasa lelah setelah dua kali tubuhnya berorgasme merasakan kejantanan penis pak Heri. Perlahan bidadari cantik itu mulai tertidur diatas sofa panjang tanpa mengenakan sehelai kain sama sekali. Hijabnya sudah dilepas bahkan celana dalamnya juga sudah ditarik oleh tangan pak Heri.
Sebelum mata Nada benar - benar terpejam. Terdengar sayup - sayup pembicaraan dari mereka berdua. Entah apa yang mereka bicarakan karena dirinya sendiri sudah terlalu lelah. Ia hanya mendengar kalau sebentar lagi pak Heri ingin melakukan ronde kedua dengannya.
Setelah Nada tertidur. Diam - diam pak Heri memberikan segelas air yang ia taruh diatas meja ruang tamu itu. Ia pun menaburkan serbuk itu lagi kemudian dirinya tertawa terbahak - bahak. Ia melihat ke samping untuk mencari suami Nada. Namun ia tak menemukannya. Ia pun tertawa sambil membayangkan hal apa yang akan terjadi setelah Nada meminum ramuan ini selepas terbangun dari tidur panjangnya.
“Wakakakak” tawanya sambil menatap keindahan ustadzah Nada yang sama sekali tidak berpakaian.
*-*-*-*
Sementara itu di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Tampak seorang wanita berhijab yang sedang terburu - buru. Wajahnya jelas ketakutan karena ia ingin pergi menjauh dari tempatnya sekarang. Satu demi satu laci di kamar tidurnya ia buka. Satu demi satu pintu almarinya juga ia buka. Ia sangat kebingungan akibat rasa takut yang begitu memuncak di dalam jiwanya.
“Mana yah ? Mana yah ?” katanya dengan panik.
Ia terus mencari sesuatu untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Ia berencana untuk menginap. Ia berencana untuk menjauh sejauh - jauhnya dari rumahnya sekarang.
"Aku gak boleh tinggal disini malam ini... Aku harus pergi... Aku harus pergi" Kata ustadzah cantik itu setelah menemukan cardigannya.
Dengan hanya mengenakan kaus polos berwarna putih juga celana panjang berwarna longgar. Ia tampak kedinginan ketika tubuhnya hanya ditutupi oleh tambahan cardigan berwarna hijaunya. Tapi ia tak peduli. Itu lebih baik daripada tetap dirumah menanti kehadiran sosok menyeramkan yang terlintas di benaknya.
Ia segera mengunci rapat pintu rumahnya walau sebenarnya ia tak benar - benar menguncinya karena pintu itu sudah rusak akibat dobrakan dari seseorang di sore hari waktu itu. Kemudian ia berlari secepat mungkin menjauhi rumahnya. Ia berlari menuju kantor bagian pengasuhan untuk mencari perlindungan disana. Seketika hatinya lega saat gedung bangunan itu sudah mulai terlihat. Ia memelankan laju larinya. Ia pun sudah tiba didepan pintu gedung pengasuhan itu. Tangannya sudah memegangi gagang pintu kantor bagiannya. Kemudian tangan satunya pun merogoh saku celananya untuk mencari kunci pintu kantor tersebut.
“Mana yah... Mana yah ?” katanya dengan panik.
Namun dari kejauhan ada sosok yang tersenyum dalam mengamati langkah kaki wanita berhijab itu. Diam - diam ia mendekat. Langkahnya tidak terdengar. Ia mengendap - ngendap tanpa disadari oleh wanita yang ada di hadapannya.
SEMENTARA ITU DI TERAS KANTOR PENGASUHAN,
Kunci telah terbuka dan wanita itu tinggal masuk ke dalam untuk berlindung dari kejahatan malam. Setelah ia mendorong pintu masuk itu. Tiba - tiba ia merasakan adanya sosok yang datang dari belakang. Ia lekas menoleh namun sosok itu keburu menangkapnya dari arah belakang.
"Ahhhhhhh" Desahnya saat menyadari ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang.
Terbang seperti kupu - kupu, menyengat seperti lebah. Mungkin kata - kata itu cocok untuk mendefinisikan aksi yang dilakukan oleh pria kekar ini.
Pria itu sempat menoleh ke kiri kemudian ke kanan. Saat mengetahui kalau keadaan di sekitar telah sepi. Ia pun memasuki pintu kantor pengasuhan itu sambil membawa ustadzah berhijab itu bersamanya.
"Kekekekekek... Mari kita bermalam disini ustadzah" Katanya yang membuat mata ustadzah cantik itu membuka lebar.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *