Search

CHAPTER 18 - HARGA DIRI SEORANG PRIA

CHAPTER 18 - HARGA DIRI SEORANG PRIA

Malam hari selepas waktu muwajjah selesai. Tepatnya di salah satu rumah yang bertempat di asrama pasangan. Terdapat seorang wanita berhijab yang sedang terburu - buru. Sebenarnya ia baru saja mengganti pakaian resminya dengan pakaian santai untuk beristirahat di malam hari. Namun ia teringat akan adanya undangan yang ia terima di sore hari. Ia langsung ketakutan akan adanya bahaya yang mengancam apabila dirinya tetap tinggal disini malam ini.

Bukannya tidak mempercayai keamanan yang ada di dalam rumahnya sendiri. Sebenarnya ia bisa saja mengunci rapat pintu juga jendela yang ada di sekitar rumahnya. Namun pintu utama yang ada di bagian depan rumahnya telah rusak akibat dobrakan seseorang sekitar beberapa hari yang lalu. Masih ingat dalam ingatan bagaimana sosok itu saat hendak memerkosanya. Sosok kekar berkulit hitam itu tampak beringas. Nafsunya sungguh besar. Sosok itu bagai disusupi oleh siluman beruang yang membuatnya jadi sangat bernafsu saat hendak menggagahi dirinya. Untung suaminya datang tepat waktu. Ia pun selamat dari serangan pria tua kekar yang sehari - hari bekerja sebagai kuli bangunan.

“Hah” desahnya karena panik.

Ia berlari memasuki ruang kamarnya untuk mencari sesuatu untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Ia mendekati laci yang berada di sisi samping ranjang tidurnya. Satu demi satu mulai dari yang teratas hingga yang terbawah ia buka. Namun ia hanya menemukan koleksi pakaiannya mulai dari hijab, gamis, celana santai bahkan sampai pakaian dalamnya sendiri. Ia kembali menutup semua laci itu. Kemudian dirinya berlari menuju pintu almarinya yang berada di dekat jendela kamarnya.

“Mana yah... Mana yah ?” katanya dengan panik.

Matanya melirik dari atas ke bawah untuk mencari satu saja pakaian hangat untuk dikenakannya malam ini. Seketika matanya melihat sebuah cardigan berwarna hijau yang ia dapat dari suaminya saat dirinya berulang tahun sekitar tiga bulan yang lalu. Namun posisi itu cukup tinggi. Ia pun meloncat sambil berusaha mengambil cardigan itu.

“Aaahhhhhhh” Ia berteriak karena tumpukan pakaiannya yang bertumpuk dengan cardigan itu malah jatuh semua ke bawah. Ia sangat kesal. Ia pun lekas mengambil semua pakaian yang berantakan itu kemudian menaruhnya diatas ranjang tidurnya. Ia segera menutup pintu almarinya kemudian mengenakan cardigannya dan meninggalkan tumpukan pakaian itu secara berantakan diatas ranjang tidurnya.

Ia tak peduli. Ia tak memiliki waktu untuk melipat kembali semua pakaiannya. Lagipula esok pagi kan masih bisa. Kemudian ia berlari menuju pintu rumahnya dengan secepat kilat. Ia sangat ketakutan hingga membuat jantungnya berdebar lebih kencang.

“Aku gak boleh tinggal disini malam ini... Aku harus pergi... Aku harus pergi secepatnya !!” kata ustadzah tercantik di seluruh pondok pesantren ini dalam pelariannya menuju pintu keluar.

Dengan hanya mengenakan kaus polos berwarna putih juga celana panjang berukuran longgar. Ia masih bisa merasakan hawa dingin saat tubuhnya yang hanya ditutupi oleh tambahan cardigan berwarna hijau itu tertiup angin selepas dirinya membuka pintu rumahnya. Tapi ia tak peduli. Itu lebih baik daripada tetap dirumah menanti kehadiran sosok menyeramkan yang terlintas di benaknya.

Ia segera mengunci rapat pintu rumahnya walau sebenarnya ia tak benar - benar menguncinya. Pintu itu telah rusak. Engsel yang ada di tepi pintu itu nyaris terlepas. Ustadzah cantik itu sempat membenahi cardigannya agar angin dingin yang berhembus tidak terlalu menusuk kulit cantiknya. Ia menarik nafas. Ia pun berlari secepat mungkin untuk mencari tempat berlindung dari sosok menyeramkan yang telah bernafsu untuk menyetubuhi dirinya kembali.

Sebenarnya ia sempat bingung untuk mencari tempat berlindung. Kamar Hanna ? Rasanya tidak enak karena Hanna juga tidak sendirian saat tidur di dalam asrama ustadzah. Pasti teman - teman satu kamarnya akan terganggu kalau ia ikut menginap di dalam kamarnya. Salah satu rumah yang ada di asrama pasangan ini ? Siapa ? Rumah ustadzah Nisa ? Tidak enak karena ada suaminya plus adanya sang buah hati yang masih sangat kecil. Rumah ustadzah Nada ? Tidak enak karena seingatnya hari ini adalah hari peringatan ulang tahun pernikahannya. Masa iya, dirinya numpang di rumahnya dan mengganggu anniversary ulang tahun pernikahan mereka.

Gak, Gak boleh... Aku harus cari tempat lain !

Batinnya berkata. Saat dirinya melewati rumah dari ustadzah Nada. Langkah kakinya langsung berhenti saat mendengar adanya suara teriakan dan desahan yang terdengar dari dalam. Ia jadi penasaran, Alih - alih berlari menjauh. Ia malah mendekat untuk mendengar pembicaraan yang ada di dalam.

“Aahhhhh.... Ahhhhh... Pelannnn... Pelannn pakkk tolloonggggg” terdengar suara seorang wanita dari dalam.

“Wakakakakak... Mantappp sekaliii ustadzahhh... Terus mendesahhh... Lebih keraasss” kata seorang lelaki dari dalam.

Pak ? Terus kenapa lelaki itu memanggil Nada dengan sebutan Ustadzah ? Masa iya Ustadz Rendy memanggil istrinya dengan sebutan itu ? Lagipula suaranya kok tidak terdengar seperti ustadz Rendy ?

Batinnya heran.

“Uhhhhh yahhhhh.... Uhhhhhhh uhhhhhhhh”

Plokkk.... Plokkkk... plokkkkk !

Terdengar suara tubrukan antar pinggul yang cukup dahsyat. Ia jadi menenggak ludah saat mendengar suara yang dapat memancing nafsu birahi ini.

“Ouhhhh... Ustadzahhhh... Ahhhhhh... Iyahhh goyyangg terusss... Lebihhh kerasss... Lebihhh kerraassss” kembali terdengar suara seorang pria dari dalam.

“Aahhhh... Ahhhh... Iyyahhh pakk... Mmmpphhhh.... Mmmpphhhhhh” kembali terdengar suara seorang wanita yang sedang mencumbu seseorang dari dalam.

Ia menenggak ludah apalagi saat dirinya mendengar lanjutan dari seorang pria di dalam.

“Mmpphhh... Ouhhhh... Mmmpphhhhh slllrrppp... Paling suka nih saya bisa melihat ustadzah telanjang sambil ngeremes dua bola bulat ini” desahnya dari dalam.

“Ouhhhhh... Kenapa ini ? Mmpphhhh... Kenapa nikmat sekali ? Aahhhhhh... Yang kerass pakk... Yang keraasssss” katanya terdengar bernafsu.

“Wakakakakak... Iyya ustadzah... Apalagi rambut ustadzah yang berkibar ini... Jadi makin sange yah... Yang siap yahhhhhh !!!”

Plokkk.... Plokkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhhh.... Ahhhhhh.... Ahhhhhhhhh” terdengar desahannya semakin keras.

Ustadzah cantik itu jadi menenggak ludah sambil memegangi payudaranya sendiri. Ia tampak iri oleh kenikmatan yang sedang didapat oleh Nada. Ia pun memilih mundur untuk menjauh dari tempat berbahaya ini karena dirinya sudah tidak tahan dalam mendengar pembicaraan vulgar yang terjadi di dalam.

“Aahhhhh.... Aahhhhhh.... Ahhhhh pakkkkkkk”

Kembali suara itu terdengar kencang yang membuatnya sempat menoleh karena rasa penasarannya yang cukup besar. Namun ia menemukan adanya sandal lain yang terparkir di depan teras rumah Nada.

“Ehhh Sendal siapa itu ?” katanya.

Tapi ia tak peduli. Karena dirinya baru ingat kalau ia sedang menjadi target buronan dari sosok pria tua kekar yang ingin memperkosanya lagi.

Astaghfirullah kok sampai lupa sih ! Ihhhh” katanya sambil memukul kepalanya pelan.

Ia kembali berlari. Wajahnya bahagia saat dirinya melihat adanya gedung kantor bagian pengasuhan santri. Ia tersenyum. Ia pun bergegas untuk berlari secepat mungkin menuju pintu kantor bagiannya.

Ayooo Hauraaa.... Sebentar lagi... Sebentar lagi kamu akan sampai !

Batin Haura menyemangati dirinya sendiri. Ia pun sampai di depan pintu kantor bagiannya. Dengan segera ia merogoh isi sakunya untuk mencari kunci yang dapat membuka pintu kantor bagian ini.

“Mana yahhh... Mana yahhh... Aduhhh kok gak ada sih !” katanya dengan panik.

Namun dari kejauhan ada sesosok makhluk yang terlihat lebih mirip makhluk astral ketimbang manusia. Mungkin mirip genderuwo tapi bisa jadi kolor ijo. Pokoknya ia sedang tersenyum dalam mengamati langkah kaki seorang wanita berhijab yang sudah diperhatikannya sejak lama. Diam - diam saat melihat bidadari itu sedang terhenti di depan pintu kantor bagian pengasuhan santri. Ia lekas mendekat. Langkahnya tidak terdengar. Ia mengendap - ngendap tanpa disadari oleh wanita yang ada di hadapannya.

“Kekekekekek”

SEMENTARA ITU DI TERAS KANTOR PENGASUHAN,

“Nah akhirnya !” kata Haura tersenyum senang.

Kunci pintu itu telah terbuka. Haura pun tinggal masuk ke dalam agar bisa terhindar dari jahatnya kegelapan malam. Namun suara langkah kaki yang terdengar di belakang membuatnya ingin menolehkan wajah cantiknya. Suara nafasnya dibelakang terdengar berat. Juga gerakan yang dirasa semakin cepat. Jantung Haura berdebar kencang. Ia pun langsung menoleh untuk menatap siapa sesosok yang berada di belakangnya.

"Ahhhhhhh" Desahnya saat merasakan mulutnya dibekap oleh seseorang dari belakang.

Terbang seperti kupu - kupu, menyengat seperti lebah. Mungkin kata - kata itu cocok untuk mendefinisikan aksi yang dilakukan oleh pria kekar ini.

Pria itu sempat menoleh ke kiri kemudian ke kanan. Saat mengetahui kalau keadaan di sekitar telah sepi. Ia pun memasuki pintu kantor pengasuhan sambil membawa ustadzah berhijab itu bersamanya.

"Kekekekekek... Mari kita bermalam disini ustadzah" Katanya yang membuat mata Haura membuka lebar. Tangan mulusnya menjulur keluar menuju gelapnya malam. Matanya membuka dengan begitu lebar. Namun perlahan pintu itu mulai menutup. Yang ia dengar kemudian hanyalah suara tawa dari pria tua berbadan kekar disana.

“Kekekekekek”

“Mmmpphhhh... Mmmpphhhh” katanya tertahan.

Haura segera dilepaskan setelah pria tua itu mengunci pintu rapat - rapat dari dalam. Haura lemas seketika saat melihat sosok kekar di hadapannya.

“Pak Karjo ?” kata Haura dengan nada yang bergetar. Ia jelas ketakutan. Bahkan langkah kakinya berjalan mundur dengan sendirinya. Pak Karjo sendiri hanya tersenyum sambil mendekat menatap ke arah perawakan bagus yang dimiliki oleh ustadzah tercantik sepondok pesantren ini.

“Kekekekekek... Terima kasih sudah menerima undangan saya agar bisa mengadakan pesta sex dengan ustadzah sampai pagi” katanya yang membuat Haura merinding.

“Enggakkkk... Pergiii pakkk.... Jangan dekati aku !” kata Haura ketakutan.

Mata pak Karjo memperhatikan penampakan Haura. Karjo tersenyum kemudian lidahnya ia julurkan untuk mengolesi bibir tuanya yang kering. Ia sangat bernafsu saat melihat wajah Haura yang terlihat begitu panik. Haura terlihat cantik dengan hijab pashmina berwarna hijau muda yang membalut kepala kecilnya. Kaus putih polos berukuran longgar serta celana santai berukuran longgar melengkapi penampilannya di malam ini. Pakaian Haura memang terlihat santai untuk mengikuti pesta yang telah diadakan oleh pak Karjo. Namun paras wajahnya yang aduhai disertai bibir tipis kemerahan yang mempesona. Juga riasan tipis yang melekat di wajah Haura sebelum dirinya berangkat muwajjah. Hal itu sudah cukup untuk membuat nafas Karjo kembang kempis. Haura memang sudah cantik tanpa perlu dihias sana - sini. Wajah polos Haura tanpa adanya make - up saja sudah membuat penis Karjo mengeras seketika. Perawakan manis Haura yang hanya mengenakan pakaian santai saja sudah membuat Karjo bernafsu seketika. Apalagi kalau tidak mengenakan apa - apa ? Iya kan ? Begitulah yang ada di pikiran Karjo saat ini.

Sementara itu. Pria tua berbadan kekar yang sehari - hari bekerja sebagai kuli bangunan itu tidak kalah santai dalam mengenakan pakaiannya. Kaus berjenis polo dengan corak garis - garis berwarna putih. Serta celana kain berukuran 3/4 yang hanya menutupi sebagian lututnya. Ia terlihat bernafsu hingga Haura dapat melihat adanya tonjolan yang timbul di balik celana yang Karjo kenakan. Kembali Pak Karjo tersenyum sambil mengamati dada Haura yang masih tersembunyi. Memang sekilas dadanya terlihat kecil karena adanya pakaian longgar yang Haura kenakan di malam hari ini. Tapi sebagai seorang pria yang pernah merasakan kehangatan tubuhnya. Ia sangat tahu kalau dibalik pakaian longgarnya. Terdapat harta karun besar berupa dua gunung kembar raksasa yang terkubur dibalik pakaian longgarnya itu. Ia jadi rindu. Ia jadi ingin untuk meremas kedua gunung kembar itu lagi secara langsung.

“Kekekekek... Ustadzah mau kemana ? Pintu udah dikunci dan hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini lohh... Ustadzah nurut aja yah ? Ustadzah cuma perlu ngangkang aja kok kekekkekeke” katanya melecehkan Haura. Kuli itu terus berjalan mendekat. Matanya semakin tajam dalam memandangi keindahan tubuhnya.

“Pergii pakkk... Jangan mendekattt !!! Tolongg pakkk !” kata Haura ketakutan.

Tiba - tiba Haura tersadar kalau dirinya sudah menempel ke dinding ruangan yang ada di belakang. Haura semakin panik terlebih saat melihat pria tua kekar itu tersenyum mesum sambil menatapnya.

“Pakkk... Jangannn tolloonnggg !!!” kata Haura memohon.

“Kekekekek... Kalau ustadzah nurut, kita bisa melakukannya secara pelan - pelan kok, biar kita berdua bisa mendapatkan kenikmatan bersama... Tapi kalau ustadzah masih ngeyel, jangan salahkan saya kalau saya akan mengeluarkan tenaga maksimal untuk membuat ustadzah gak bisa berjalan selama seminggu kedepan” ancam pak Karjo yang membuat Haura merinding.

Kemudian Haura melihat adanya celah di sisi kiri pak Karjo. Ia pun merenung sejenak. Haruskah ia berlari secepat mungkin melalui sisi kirinya ? Ya harus, setidaknya berani mencoba itu lebih baik daripada diam saja menyerahkan diri pada sosok pria mesum ini.

“Kyyaaaa” katanya berusaha berlari. Pak Karjo terkejut karena dirinya tak menduga. Tapi kemudian ia langsung tersenyum saat tangan kekarnya berhasil mendekap erat tubuh ramping ustadzah cantik ini.

“Aahhhhhhhhhh” desah Haura saat payudaranya kembali diremas dari belakang.

“Kekekekekek... Ustadzah mau main kejar - kejaran yah ? Karena ustadzah sudah saya tangkap, jadi saya boleh melakukan apa aja dong ? Kekekekkeke” katanya tertawa.

“Aahhhhh... Tolonnggg pakkk... Ahhhh lepasskkann... Jangan pakk... Sakittt” kata Haura memelas sambil memejamkan mata dan menutup rapat bibir tipisnya.

“Kekekekekek” kata Pak Karjo. Tangan kekarnya yang berwarna gelap lekas meremas payudara indah yang masih tersembunyi di balik kaus berwarna putih polos itu. Nafas Karjo terdengar berat saat merasakan betapa kenyalnya payudara yang sedang ia remas saat ini. Wajahnya pun mendekat karena tak tahan akan aroma kewanitaan yang terpancar dari tubuh Haura. Ia mencium pipinya. Menjulurkan lidahnya keluar untuk merasakan manisnya pipi ustadzah tercantik sepondok pesantren ini.

“Aahhhhh... Jangannn pakkk... Tollonggg” kata Haura terus berontak. Bahunya ia gerakan ke kiri dan ke kanan. Kakinya kembali ia hentakan. Tangannya menahan tangan Karjo agar tidak semakin liar dalam meremasi payudaranya. Seketika tangan Karjo langsung menurunkan celana longgar yang sedang Haura kenakan. Karena celananya longgar, celana itupun dengan begitu mudah turun melewati kaki - kaki jenjangnya.

“Aahhhhh jangannn” kata Haura berusaha menahan celana itu agar tidak turun. Namun tangan Karjo lebih cepat. Celana itu sudah turun hingga menyangkut di kedua lututnya. Tangan Karjo meremasi bongkahan pantat itu. Kendati masih mengenakan celana dalam. Namun Karjo sudah bisa merasakan betapa halusnya kulit pantat Haura yang terasa mulus. Kedua tangannya bergantian mengusapi bongkahan pantat itu. Kadang kedua tangannya juga turun mengusapi paha mulusnya. Kadang kedua tangannya juga naik mengusapi perut rata Haura dari balik kaus putihnya.

“Pakkk tolloonggg pakkk... Ahhhhh... Jangan lakukan ini lagi padaku !” kata Haura memelas dengan putus asa.

“Kekekekekek... Apaan sih ustadzah... Orang dikasih enak kok malah nolak !” ketus Karjo.

Ia langsung menurunkan celana dalam Haura. Ia berjongkok kemudian lidahnya ia julurkan untuk menjilati lubang belakang Haura yang masih mengatup rapat.

“Aahhhh pakkk... Hentikannn... Ini jorok pakkkk !” kata Haura merinding merasakan sensasinya.

Karjo yang berjongkok di belakang Haura tampak asyik menjilati lubang kotoran itu. Ia tak memperdulikan aromanya. Bahkan ia malah semakin bernafsu untuk menjilatinya. Kedua tangannnya menahan paha bagian depan Haura agar tidak kabur saat diberi kenikmatan ini. Lidah itu bergerak semakin dalam. Lidah itu merangkak menembus lubang kotoran Haura. Haura jadi merinding. Anusnya terasa geli. Kedua tangannya mengepal terangkat mendekati kedua payudaranya hingga kedua lengan Haura terlihat seperti sedang menghimpit kedua payudaranya.

"Ahhhhh... Pakkkk.... Hentikannnn... Ouhhhhhh" Desah Haura merinding.

Puas dengan jilatan di anusnya. Lidah pak Karjo berpindah untuk menjilati lubang kemaluannya yang mulai becek akibat rangsangan yang Karjo lakukan.

“Aahhhhhh... Pakkk... Mmpphhhhh... Mmpphhhhhh” Haura merinding hingga matanya memejam dan kedua tangannya mengepal kuat. Wajahnya ia dongakkan ke langit - langit. Giginya dengan kuat menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan sensasi yang dahsyat saat lubang kemaluannya dijilati oleh pria tua kekar ini.

Haura lemas. Ia pun jatuh berlutut kemudian kedua tangannya bertumpu ke lantai karena saking kehabisan energi. Ia jadi menungging membuat pak Karjo jadi semakin mudah dalam menjilati lubang kemaluannya.

“Aahhhhh... Ahhhh pakkk hentikannn... Ouhhhh... Ouhhhhhh Mmpphhhhhhh” desahnya memejam.

“Kekekkekekek... Sllrrppp nikmat sekali ustadzah memeknya” katanya sambil meremasi bokong Haura karena saking gemasnya. Ia pun menamparnya dengan keras.

“Awww... Awwww sakitttt” desah Haura.

Karjo lekas menarik lepas celana longgar beserta celana dalam yang masih menyangkut di lutut bidadari itu. Jadilah Haura bottomless sekarang. Ia masih menungging dengan menonjolkan bongkahan pantatnya ke wajah Karjo yang membuat kuli bangunan itu semakin bernafsu.

Gila, montoknya bokong ini !!!

Batin Karjo terpana.

Karjo bergegas menurunkan celananya juga celana dalamnya karena tak tahan. Tak disangka penis itu sudah mengeras maksimal. Karjo pun tersenyum kemudian menindihi tubuh ramping Haura hingga penisnya yang besar itu menekan bongkahan pantat Haura yang sekel.

“Aahhhhhhh” kata Haura menahan berat pak Karjo.

"Kekekekek... Mulus banget ustadzah kulitnya" Tawa Karjo puas.

Karjo tersenyum saat melihat wajah Haura yang menurutnya semakin menggairahkan. Bibirnya segera mengincar mulut manis Haura untuk mencumbuinya dengan nafsu.

“Mmmpphhhhh.... Mmpphhhhh... Mmpphhhhh” desah mereka saling bercumbu. Penis Karjo pun ia gesek - gesekan ke bongkahan pantat mulus Haura. Bibir mereka bertemu. Bibirnya melumat bibir Haura dengan penuh nafsu. Lidahnya pun ia julurkan untuk mengolesi tepi bibir Haura yang terasa manis. Haura hanya berdiam pasrah karena tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya telah ditindihi. Pantatnya sedang digesek - gesek oleh benda keras disana. Mulutnya hanya bisa mengatup rapat. Bibirnya terus dicumbui oleh pria tua itu. Ia menahan nafasnya saat aroma busuk mulai tercium dari mulut pak kuli yang semakin bernafsu. Haura muak oleh aroma nafasnya hingga membuatnya hanya bisa memejam sambil menitikan air mata secara tak sadar.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Ouhhh ustadzahh... Mmpphhhh” desah Karjo terus mencumbu.

Haura hanya bertahan sebisanya tanpa bisa melakukan apa - apa. Dadanya terasa sakit karena ditindihi oleh pria tua ini. Di bongkahan pantatnya, ia merasakan sesuatu yang basah akibat cairan precum penis Karjo yang terus menggesek - gesek pantat mulusnya. Ia terkejut saat merasakan tangan Karjo mulai menyelinap masuk ke bawah untuk meremasi payudaranya. Haura menahan sakit. Matanya semakin ia pejam. Alisnya bahkan sampai terangkat naik saat Karjo semakin keras dalam meremasi payudaranya. Bibirnya masih dilumat oleh bibir itu. Mulutnya pun berusaha untuk menahan gerakan liar lidah Karjo yang ingin masuk ke dalam rongga mulutnya.

"Mmpphhhh... Ouhhhhhh... Mmpphhhh" Desah Haura saat merasakan darah di dalam tubuhnya semakin berdesir oleh remasan tangan Karjo.

Gilaaa... Manteppp bangett sihh inii... Bibirnya, dadanya, pantatnya... Ahhh gak tahan lagi !!!

Batin Karjo bernafsu.

Karjo agak sedikit mengangkat pinggulnya sementara tangan kanannya yang sedari tadi meremasi payudara Haura, ia tarik ke belakang untuk memegangi penisnya.

Mana yah lubangnya ???

Batin Karjo sambil mengarahkan penisnya.

Haura heran dengan apa yang sedang penis Karjo lakukan di belakang. Ujungnya yang gundul seperti sedang menggesek - gesek selangkangannya. Gesekannya itu pun merambat hingga mengenai bibir vaginanya. Haura memejam hingga mulutnya terbuka lebar. Ia merasa geli saat penis itu berusaha menusuk - nusuk lubang kemaluannya.

Jangan - jangan ?

Batin Haura merasa tidak enak. Wajahnya segera ia palingkan ke belakang. Kemudian mata mereka bertemu. Haura menatap Karjo tak percaya. Karjo menatap Haura terpana.

"Nah ini dia... Kekekekek... Ahhhhhhh" Desah Karjo saat merasakan penisnya menusuk lubang kemaluan Haura.

"Tungguu pakk... Jangannn... Jangannn... Mmpphhh... Aaaahhhhhhh" Desah Haura sambil menahan pinggul Karjo saat kepala penisnya mulai membelah lubang kemaluannya.

Haura mendesah nikmat. Ia merasakan perih saat kemaluannya dibelah. Gesekan yang ia terima dari kulit penis Karjo yang tak begitu basah membuat dinding vaginanya mengejang sehingga semakin menjepit batang kemaluan raksasa didalam. Bagai dialiri haki, penis Karjo begitu keras dan berwarna pekat. Penis yang lebih mirip batang besi itu terus menusuk hingga menyundul rahim kemaluan Haura. Penis Karjo pun terasa hangat. Kelembapan yang mulai terasa di dalam semakin menambah kenikmatan yang Karjo rasakan. Belum lagi jepitannya. Lubang kemaluan Haura terasa sesak saat batang besi itu memenuhi isi vaginanya.

"Uuuhhhhhh pakk... Ouhhhhhhh" Desah Haura hingga tubuhnya merinding menahan penetrasi ini.

Karjo juga demikian. Untuk menambah kepuasan dalam menyetubuhi ustadzah cantik ini. Ia pun mendorong - dorongkan pinggulnya hingga penis di dalam itu semakin menekan - nekan rahim kenikmatan Haura.

"Ouhhhh... Ouhhhhhh" Desah mereka berdua nyaris bersamaan.

Tangan Haura mengepal. Ia berusaha keras untuk menahan diri dari pelecehan yang sedang ia terima saat ini.

"Ahhh... Tungguu.. Uhhh uhhhhh" Desah Haura terkejut saat penis itu mulai bergerak menggesek - gesek lubang vaginanya.

Dalam posisi menindihi. Pinggul Karjo mulai terangkat naik kemudian ia benamkan sedalam - dalamnya. Kembali ia menarik penisnya secara perlahan kemudian ia benamkan dengan kuat hingga membuat ustadzah cantik itu menjerit nikmat.

“Aaahhhhh pakkkkkk” desah Haura.

“Kekekekekek... Akhirnya kesampean juga bisa ngerasain jepitan mantap ini lagi !” kata Karjo bersyukur.

Sedikit demi sedikit gerakan pinggul Karjo mulai teratur dalam menaik turunkan penisnya. Kecepatannya stabil hingga membuat bidadari dibawahnya semakin menjerit menahan kenikmatan yang sedang Karjo beri. Tangan Karjo pun membentangkan tangan Haura ke samping kanan kiri. Ia mengusap kulit mulusnya sembari pinggulnya terus bergerak. Rabaannya pun mendekat menuju area ketiak kemudian tanpa menunggu lama lagi. Ia kembali mengincar dua payudara yang selalu membuatnya penasaran.

“Ouhhhh... Ouhhhh.... Paling suka nih ama dua bola ini !” kata Karjo yang sangat mengidolai dua payudara Haura.

"Pakkk... Hentikann... Ahhh... Ahhhhh" Desah Haura.

Tubuh Karjo menegak lalu mengangkat tubuh Haura agak sedikit naik. Dalam posisi sulit itu, Haura terus digempur habis - habisan sambil diremasi kedua payudaranya. Haura hanya bisa diam mengatup rapat bibirnya agar dapat menyembunyikan desahannya yang hanya akan membuat Karjo merasa senang.

“Kekekekekekek... Mantapppnyyaaa... Ouhhhh” kata Karjo sambil meremas - remas dua bongkahan pantat itu.

Kenyal, mulus dan berwarna putih. Bukankah pantatnya sempurna ? Melihat betapa mulusnya bongkahan pantat ini saja sudah membuat Karjo gemas untuk selalu menampar benda indah disana. Tamparan demi tamparan pun Karjo layangkan hingga bongkahan pantat itu mulai berubah menjadi warna merah.

“Ahhhhhh... ahhhhhh... ahhhhhh” desah Haura kembali membuka mulutnya.

Puas menikmati sisi belakang Haura. Karjo kembali menindihi tubuh ramping itu untuk mencumbui pipinya sejenak. Pipi halus itu dijilat, dikecup hingga permukaannya basah terkena liur pria tua itu. Aromanya pun tak sedap hingga bidadari cantik itu mampu menghirup liur yang menggenang di sisi kiri pipinya.

“Ayo... Sini ustadzah !” kata Karjo meminta Haura untuk memiringkan tubuhnya.

“Aaaaahhhhhhh” kata Haura saat tubuhnya dimiringkan. Tangan kanannya berada di sisi bawah sementara tangan kirinya berada di atas. Karjo ada di belakangnya dan penisnya masih menancap akibat jepitan kemaluan Haura yang semakin sesak.

“Ouuhhhhhh pakkkkkk... Jangannn laggiiii... Biarkan aku istirahattttt... Aahhhhh” desah Haura saat merasakan penis Karjo kembali bergerak menggesek dinding kemaluan wanitanya.

“Ouhhhhh paling enak nih kalau gayanya gini” desah Karjo sambil meremasi payudara Haura dari luar pakaiannya.

Maju kemudian mundur, dorong lagi terus tarik lagi. Karjo melakukannya secara perlahan untuk memainkan birahi Haura secara sengaja. Ia tampak penasaran untuk mengubah kepribadian Haura agar bisa menjadi wanita binal yang haus akan kenikmatan penisnya.

Tangan kirinya bahkan mulai memasuki kaus yang Haura kenakan dari lubang yang ada di bagian perutnya. Tangan kekar itu sudah sampai di kemegahan gunung kembar disana. Alih - alih meremasnya. Ia malah menekan - nekan puting payudara Haura yang membuat bidadari cantik itu merinding merasakan serangan di dua sisi sensitifnya.

“Aaaahhhhhhhhh”

Haura mendesah sambil memejamkan mata saat putingnya di toel - toel. Vaginanya yang sudah sangat basah terus digeseknya dengan perlahan yang membuat bidadari cantik itu merasa geli - geli nikmat. Benar saja apa yang telah distrategikan oleh pria tua kekar itu. Sang kuli bangunan nampaknya sudah tau mengenai apa yang mampu membuat bidadari cantik itu terangsang. Ia sangat tahu kalau selama ini Haura selalu haus akan kenikmatan bercinta akibat kekurangan yang dimiliki oleh suaminya. Ia juga sangat tahu mengapa ustadz baru itu sampai bisa membuat Haura jatuh hati akan kenikmatannya. Jawaban yang Karjo dapatkan adalah di belaian. Alih - alih menggagahi Haura dengan cara kekerasan seperti apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Ia ingin membuat Haura takluk dengan kelembutannya dalam menikmati keindahan Haura. Ia pun tersenyum saat mendengar erangan demi erangan saat penis miliknya keluar masuk di dalam lubang vaginanya. Ia pun membuka mulutnya untuk menambah bumbu agar ustadzah cantik itu semakin terangsang dalam menikmati kejantanannya.

“Aahhhhhh.... Aahhhhhhhhhhh” desah Haura yang masih memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar. Haura begitu heran kenapa saat ini dirinya mulai merasakan kenikmatan dari kuli bangunan yang sangat ia benci. Ia pun marah pada diri sendiri. Ia sangat marah karena tubuhnya begitu sulit untuk menolak tusukan penis Karjo di dalam vaginanya. Apalagi sentuhan lembut Karjo dalam membelai putingnya di dalam. Bidadari cantik itupun semakin merinding. Puting kirinya yang ditekan oleh kuli bangunan itu membuat darah yang ada di dalam tubuhnya berdesir hebat. Berulang kali ustadzah cantik itu bergidik merinding. Apalagi saat jemari Karjo mulai menggelitiki area sekitar areolanya.

“Ouhhhh pakkkk... Apa yang bapak lakukannn... Tolonngg jangggg.... Ouhhhhh” desah Haura semakin merinding.

“Nikmat bukan apa yang sedang saya berikan ini ?” bisik Karjo.

“Enggakkkk... Enggakkkk sama sekaliiii pakkk... Ahhhhhh” desah Haura berbohong.

“Kekekekek... Oh yah ? Tapi tubuhmu berkata lain tuh” kata Karjo perlahan mulai mempercepat gerakan pinggulnya.

“Jangan asal bicara yah pak ! Aku jelas tidak akan menikmati apa yang bapak lakukan ini !” kata Haura berusaha gigih untuk mempertahankan harga dirinya.

“Kekekekek... Akui saja ustadzah... Ustadzah pasti sangat mendambakan kontol saya yang begitu perkasa ini kan ? Pasti tiap malam ustadzah selalu memimpikan kontol gede saya yang sedang mengaduk - ngaduk lubang memek ustadzah yang sudah sangat basah... Kekekkeke” kata Karjo melecehkannya. Pinggulnya terus bergerak merobohkan harga diri yang dimiliki oleh ustadzah berhijab itu.

“Enggakkkk... Ahhh... Ahhhh... Aku sama sekali gak memimpikan kontol bapak !” kata Haura kelepasan.

“Apa ustadzah ? Kontol ? Kekekkekekek” tawa Karjo senang.

“Aahhhhhh... Ahhhhhh” desah Haura ketika baru menyadarinya. Wajahnya langsung memerah saat tersadar akan pengucapan kotornya. Ia sangat malu sekali tapi entah kenapa setelah berbicara kotor seperti ini. Ada sensasi berbeda yang membuat tubuhnya semakin ingin digagahi oleh pria tua kekar ini.

Gakkkk !!! Jangann menyerahhh Hauraaa.... Jangan menuruti hawa nafsumu !!!

Batin Haura bergejolak.

“Kekekekek... Saya percepat yah pergerakan kontol saya ini ! agar ustadzah bisa lebih menikmati pergerakan kontol saya di dalam !” kata Karjo.

“Ouhhhhh.... Ouhhhhhhhh... Aahhhh pakkk hentikannnnn ahhh ahhhhhh” desah Haura hingga kedua payudaranya yang masih tersembunyi di dalam bergoyang ke kanan dan ke kiri. Ukurannya yang besar membuat kausnya ikut bergerak mengikuti pergerakan payudara Haura di dalam.

“Kekekekekek... Bayangkan ustadzah... Kontol saya pasti sedang bahagia saat bertemu dengan memek rapetmu lagi... Memek ustadzah juga bahagia kan ?” kata Karjo terus menggunakan kata - kata kotor saat membisiki telinga bidadari cantik yang masih tertutupi hijab itu.

“Aahhhhhh... Ahhhhhh.... Ahhhhhhh” desah Haura tak menggubrisnya.

Memek... Kontol.... Kenapa mendengar kata - kata itu malah membuat nafsuku semakin naik ?

Batin Haura keheranan. Haura pun memejam membayangkan perkataan yang Karjo bisikkan tadi. Vaginanya memang sedang digenjot oleh penis besar itu. Bahkan sekarang tangan Karjo mulai menaikan kaus yang ia kenakan hingga payudara kirinya mencuat ke permukaan. Segera kuli bangunan itu menurunkan cupnya hingga payudaranya terbebas menghirup udara segar di luar. Karjo meremasinya. Ia langsung memilin putingnya dan mencengkramnya kuat - kuat sambil mempercepat genjotan pinggulnya.

Astaghfirullah... Memekku... Memekku ahhhhhh !

Batin Haura tak sadar. Ia mulai hanyut dalam kata - kata kotor yang Karjo kenakan. Ia mulai suka menggunakan kata - kata itu saat digagahi oleh pria tua kekar itu. Vaginanya jelas semakin basah. Payudaranya jelas semakin kencang. Ia jelas sangat terangsang. Tapi ia masih tak mau mengakui kejantanan yang sedang pak Karjo berikan.

“Kekekekek... Ouhhhhh... Enak banget kontol saya ustadzah.... Pasti kontol saya ini sudah sangat basah terkena cairan cinta ustadzah di dalam nih.... Ouhhhhh kontol saya pasti sudah sangat keras setelah menggenjot memek nista ustadzah ini !” kata Karjo terus menggunakan kata - kata kotor hingga otak Haura pun ikut kotor saat sedang digagahi olehnya.

“Aahhh pakkk hentikannnn... Jangannn gunakan kata - kata itu lagi” kata Haura takut otaknya akan lebih mudah mengucapkan kata - kata kotor itu daripada kata - kata yang mulia.

“Kekekekek kenapa ustadzah ? Apakah ustadzah mulai menikmati keperkasaan kontol saya ini ?” kata Karjo terus melecehkannya.

“Aahhhh hentikannnn.... Ahhhh.... Ahhhhhhh” kata Haura semakin bergairah saat pinggul Karjo semakin mempercepat laju penisnya.

Posisi Haura yang tiduran menyamping membelakangi tubuh Karjo membuatnya bisa lebih bebas membayangkan apa yang sedang terjadi daripada saat sedang memandanginya. Mungkin apabila wajah mereka saling berhadapan maka Haura akan lebih mudah untuk menolak menuruti kejantanan penis pria tua itu. Haura jelas tidak akan tahan saat melihat wajah jeleknya. Tapi saat ini, ia sedang tidak memandangi pria tua itu. Apa yang ia rasakan saat ini adalah murni keperkasaan yang dimiliki oleh kuli bangunan itu. Haura diam - diam menggigit bibir bawahnya. Payudaranya yang mengeras semakin indah saat bergoyang mengikuti gerakan pinggul Karjo.

“Kekekekkekek jangan ditahan ustadzah... Lepaskan saja... Biarkan kontol saya beraksi dengan memberikan kepuasan ke tubuh ustadzah !” kata Karjo.

“Mmmppphhhhh... Mmmpphhhhhhh” desah Haura memejam saat mendengar bisikan kuli bangunan itu lagi.

Kontol ? Beraksi ? Kenapa Pak Karjo bisa sekuat ini ? Kenapa kontol pak Karjo bisa seperkasa ini ? Kenapa mas Hendra gak bisa seperkasa pak Karjo ?

Batin Haura dalam hati.

“Kekekekekek... Keluarkan ustadzahhh... Keluarkan uneg - uneg ustadzah... Saya tahu kok, pasti ustadzah sedang membayangkan keperkasaan kontol saya kan ?” kata Karjo yang membuat Haura terkejut karena mengetahui isi hatinya.

“Saya ini kuli bangunan ustadzah... Tubuh saya ini berotot termasuk kontol saya ini... Ustadzah merasakannya juga kan ? Betapa kerasnya kontol saya ini saat mengaduk - ngaduk memek binal ustadzah !” kata Karjo yang membuat birahi Haura semakin memuncak.

"Ahhh... Ahhhh.... Ahhhhhh" Desah Haura sambil membayangkan apa yang telah pak Karjo bisikkan. Memang benar kalau penis yang sedang mengaduk - ngaduk vaginanya terasa sangat keras. Tubuh Haura semakin panas. Ia jelas sangat bergairah saat mendengar kata - kata kotor dari mulut tua pria itu. Kata kotor itu berpadu dengan keperkasaan penis kuli bangunan itu. Tubuhnya yang jelita terus digagahi tanpa ampun oleh tubuh kekar pria tua itu. Putih dan hitam. Pemandangan yang kontras terjadi di medan perang. Payudaranya melonjak - lonjak seiring cepatnya pergerakan penis Karjo di dalam. Haura jadi tidak tahan lagi. Birahinya bergejolak seiring binalnya cara Karjo dalam merendahkan statusnya sebagai ustadzah sholehah.

“Aahhhhhh... Ahhhhh... Iyyahhhhh” kata Haura tak sadar.

“Kekekekekek... Apa ustadzah ? Saya gak dengar ?” kata Karjo tertawa.

“Aahhhhhh.... Ahhhhh kontttollll...” kata Haura terbata - bata.

“Apa ustadzah ? Ahhhh.... Saya gak dengar kekekkeke” tawa Karjo merasakan tubuh Haura yang sudah sangat mengejang.

“Konnttoolll.... Ahhh.... Ahhhhh... Konttoolll bapakkkk....” Desah Haura semakin terbata - bata saat tubuhnya semakin digenjot dengan keras.

“Apa ustadzah ? Kenapa kontol saya ini ? Kekekkekekek” tawa Karjo.

“Aahhhh... Ahhhhh... Kontol bapak.... Kontt... Konttoolll bapakkk kerass bangetttt” kata Haura malu sekali saat mengeluarkan uneg - unegnya.

“Kekekekekek... Ohhh jelass.... Ahhhhh... Ahhhhhh... Ustadzah suka kan ?” tanya Karjo tertawa melihat pengakuan Haura yang malu - malu.

Tapi kali ini Haura memilih tidak menjawab. Kepalanya diam - diam mengangguk tapi hatinya bergeleng - geleng. Sedangkan tubuhnya terus melonjak - lonjak hingga payudaranya yang tersembunyi satu itu semakin bergoyang kencang dalam mengikuti persetubuhan yang semakin liar.

"Ahhhhh.... Ahhhh.... Ahhhh bapakkkk... Ahhhh" Desah Haura dengan manja.

"Kekekekekk.... Ahhh... Ahhh keluarkan ustadzahhh... Jangan ditahan... Binalkan dirimu... Keluarkan desahanmu... Nikmati kontol saya yang sangat perkasa ini !!!" Kata Karjo tertawa puas.

"Ahhh... Ahhh... Ahhh iyyahh... Kontt... Konttolll bapakkkk ahhhhh" Desah Haura tanpa sadar.

Haura merasa dirinya sangat kotor setelah mengucapkan kata - kata itu. Ditengah - tengah persetubuhannya ini. Ia mulai merasa kalau nafasnya terasa berat. Payudaranya juga semakin kencang dengan puting yang tegak menantang. Kaki - kakinya juga lemas. Sementara lubang kemaluannya berdenyut - denyut seiring cepatnya pergerakan penis Karjo saat menyetubuhi vaginanya.

“Ouhhhh bbappakk... Ouhhh Mmpphhhhh” desah Haura.

“Kekekekek ada apa ustadzah ? Kok kayaknya makin sange ini ? Udah mau dapet yahhh ?” tanya Karjo tersenyum. Ia kembali mempermainkan birahi Haura dengan cara melemahkan pergerakan pinggulnya.

“Aahhhhhhh.... Ahhhhhh... Cepattt pakkkk... Cepatttt lakukannnn.... Ahhhhhh” kata Haura kesal saat menyadari pergerakan pinggul Karjo.

“Kenapa ustadzah ? Yang jelas dong” kata Karjo memainkan harga diri Haura.

“Aahhhh... Ahhhh cepatttt pakkk... Sudahiiii ouhhhh” desah Haura.

“Kekekekek... Maksudnya ustadzah ingin minta orgasme dari saya ini ? Bilang dong yang bener !!!

Haura semakin kesal saat birahinya terus dipermainkan oleh kuli bangunan itu. Ia heran kenapa dirinya semakin terangsang dalam menerima persetubuhan ini. Ia pun teringat sesuatu. Apa gara - gara tadi saat dirinya menguping persetubuhan Nada dirumahnya ?

“Apaaa ??? Apa yang harus aku ucapkannn pakkk...” kata Haura tak tahu lagi. Ia sudah menyerah dalam mempertahankan harga dirinya. Bahkan pinggulnya bergerak sendiri karena nafsunya yang sudah sampai di ubun - ubun.

“Kekekkeke... Bilang dong kalau ustadzah ingin dipuasi oleh kontol saya ini !” kata Karjo yang membuat Haura semakin bergairah saat mendengarnya.

Kontol ??? Kenapa kata itu membuatku semakin merasa kotor sih ?

Batin Haura bergairah. Ia pun menyerah. Menyerah tak berarti kalah. Ia hanya mengalah. Demi mengatasi birahinya yang semakin parah.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhh akuuu mohhonn pakkk... Ahhhhhh... Puasi aku... Setttuubbb... Setuubuhi akuu pakkkk... Banttuu akuuu mendapatkan kenikmatan dari konttoolll bapakkkk !!!” kata Haura terbata - bata hingga wajahnya memerah.

“Kekekekkekek ustadzah binal juga yahh... Ustadzah macam apa yang meminta kepuasan dari kuli jelek seperti saya ini kekekekekke” katanya yang membuat Haura kesal. Ia juga menyesal. Tapi ia tak memiliki pilihan lain selain berbicara asal. Birahinya sudah tak tertahan. Ia hanya ingin terbebas dari kenikmatan birahi yang semakin menyiksa diri.

Sedetik kemudian, pergerakan Karjo yang semakin kencang membuat dirinya segera melupakan kekesalan tadi.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh pakkkk.... " Desah Haura penuh nikmat.

"Kekekek... Rasakan kontol saya ustadzah... Lahap kontol saya sampai habis... Nikmati keperkasaan saya dalam menikmati kelezatan memek rapat ustadzah" Kata Karjo semakin bernafsu.

"Ahhhhh... Iyaaahhhhhh"

Mulutnya mendesah mengeluarkan suara yang dapat membangkitkan gairah birahi seluruh pria di dunia. Tubuhnya pun semakin mengejang akibat kenikmatan yang sedang Karjo berikan. Sedangkan hatinya menangis karena dirinya sudah menodai harga dirinya sendiri dengan merendahkan dirinya saat meminta kepuasan dari kuli berusia tua dan berwajah jelek ini.

Maafkan adekk mas.... Adekk minta maafff karena sudah mengkhianati mas lagi... Maaf masss untuk kalii ini aja... Adekk udah gak tahan massss.... Aahhhhhh... Ahhhhhh

Batin Haura memejam.

“Kekekekekkek udah mau keluar yah ? Ustadzah mengakui kehebatan kontol saya kan ?”

“Aahhhhhh... Ahhhhh iyahhhh pakkk...” kata Haura tak peduli lagi. Karjo pun semakin bersemangat. Kedua tangannya memeluk perut rata Haura membiarkan payudara kirinya bergoyang semakin cepat seiring pergerakan pinggulnya.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhh pakkk.... Uhhhhhh” Haura sudah tak tahan lagi. Tubuhnya sudah berada diambang batas. Karjo pun tersenyum seiring merasakan denyutan yang semakin kencang di kemaluan ustadzah itu.

“Aahhhhh... Pakkkkkk... Bapaaakkkkkkkkkkkk !!!!” desah Haura penuh kepuasan.

Crrttttt... Crrrrtttt.... Crrrttttttt !!!!

Selepas Karjo menusukan penisnya begitu dalam. Gelombang kejut itu langsung keluar membanjiri ujung gundul dari penis besar Karjo yang tersumpal di dalam. Tubuh Haura mengejang seketika. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik. Mulutnya membuka selebar - lebarnya saat merasakan derasnya semprotan yang keluar dari lubang kencingnya.

“Aaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh” desahnya dengan keras hingga terdengar keluar ruangan. Haura kelelahan. Cairan cinta itupun merembes keluar dari sela - sela lubang yang tak dipenuhi oleh penis besar pak Karjo. Nafas Haura ngos - ngosan. Ia sangat lelah hingga dirinya tidak bisa menggerakan tubuhnya sendiri. Karjo dengan hati - hati menarik keluar penisnya. Saat kemaluan mereka berpisah. Haura kembali menjerit nikmat hingga membuat matanya terpejam merasakan sensasinya.

Karjo berdiri membiarkan tubuh bottomless Haura terbaring di atas lantai yang dingin. Ia melirik sejenak menatap penampakan tubuh Haura sekarang. Bawahannya sudah polos sementara kausnya terangkat naik sebelah memperlihatkan salah satu gunung terindahnya. Cup bra beserta cardigannya juga masih menyangkut di tubuhnya sementara wajahnya yang kelelahan membuat Karjo menjadi semakin bernafsu untuk menyemprotkan seisi spermanya kesana.

Sementara Haura yang terbaring lemas dapat melihat kalau penis perkasa itu masih tegak menantang dirinya. Dari ujung gundulnya menetes beberapa cairan cintanya saat melumuri batang besi raksasa itu. Haura merasa sangat lemas. Ia bahkan tidak yakin kalau dirinya bisa berjalan pulang ke rumah setelah mendapatkan orgasme yang begitu dahsyat di malam ini.

Perlahan demi perlahan bidadari cantik itu kembali mendapatkan akal sehatnya. Nafsu itu telah sirna seiring keluarnya gelombang orgasme yang telah ia semprotkan tadi. Rasa sesal itu mulai terasa. Rasa keheranan mulai timbul memenuhi dirinya sendiri.

Kenapa aku sampai mempermalukan diriku tadi ? Kenapa aku sampai mengucapkan kata kotor tadi ? Kenapa aku sampai memohon pada kuli bangunan itu tadi ?

Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya setelah akal sehatnya kembali ia dapatkan. Ia sedih karena sudah melukai harga dirinya sendiri. Ia sedih karena sudah diperalat oleh hawa nafsunya sehingga ia terpaksa untuk menuruti keinginan hawa nafsunya sendiri. Tak terasa matanya berkaca - kaca. Dalam benaknya muncul sosok suaminya yang sedang tersenyum sebelum berpamitan kepadanya di sore tadi.

Maafkann adekkk masss !!!

Tak berselang lama. Tiba - tiba Karjo kembali datang menghampiri sambil tersenyum menatap wajahnya. Ia berlutut, kemudian wajahnya mendekat tuk menatap wajah Haura yang terkapar diatas lantai. Air mata Haura segera disembunyikannya. Haura tak mau kuli bangunan itu menertawakannya karena melihat air matanya menetes setelah tadi memohon untuk dinikmati oleh pria jelek itu.

“Ayo kita mulai ronde kedua ustadzah... Kekekkekekek... Ronde pertama saya yang menang yah !” kata Karjo yang membuat Haura tak percaya.

Segera Karjo mengangkat tubuh ramping Haura yang membuat bidadari cantik itu terkejut akan keperkasaan tubuhnya. Haura pun sudah berdiri walau kaki - kakinya masih lemas hingga membuatnya kesulitan untuk menegakan tubuhnya sendiri.

"Kekekekek... Cepat balik badan... Ustadzah udah gak sabar untuk merasakan kontol saya lagi kan ?" Bisik Karjo yang kali ini membuat Haura kesal. Ia sebenarnya enggan tapi ia terpaksa untuk menuruti hawa nafsu kuli bangunan ini. Ia pun menungging. Tangannya bertumpu pada tepi meja kerjanya sendiri.

"Hentikannn pakkk... Jangan ucapkan kata kotor itu lagi padaku" Katanya setelah akal sehatnya kembali.

"Kekekekek mulai galak lagi nih... Mentang - mentang udah dapet enak dari saya yah ???" Kata Karjo.

"Enggakkkk... Bukan seperti itu pakk... Tapi akuu.... " Belum sempat Haura menyelesaikan kalimatnya, kata - kata sudah terputus oleh sesuatu yang keras yang sedang menerobos masuk lubang kemaluannya.

"Hakkkkk... Yahhh.... Tinggal dorong aja nih... Ustadzah bisa merasakan kelezatan kontol saya lagi !!!" Kata Karjo tersenyum di belakang. Haura yang sedang menoleh ke belakang pun menggelengkan kepalanya. Ia berharap dalam hati agar pak Karjo tidak mendorong pinggulnya lebih jauh daripada ini.

"Hakkkkk yahhhhh.... Ouhhhhhhhh" Desah Karjo saat penisnya kembali memasuki lubang kemaluan Haura.

"Ahhhhhhhhhhhhh" Desah Haura dengan manja. Matanya terbuka lebar. Jemarinya mencengkram kuat tepi meja itu saat merasakan vaginanya diterobos masuk oleh penis berwarna hitamnya.

"Kekekekek... Ouhhh... Ouhhh mantappnyaa... Ouhhhh" Desah Karjo langsung menggerakan pinggulnya.

Haura terkejut merasakan Karjo langsung tancap gas selepas menerobos masuk vaginanya. Mulutnya ia rapatkan dan matanya ia pejamkan menahan tusukan demi tusukan yang pak Karjo layangkan.

"Kekekekek... Ouhhh sempit sekali ustadzah memeknyaa... Kontol saya sampai kecekik gini" Kata Karjo dengan penuh nafsu di belakang.

Tubuh Karjo yang merinding akibat kenikmatan yang ia dapatkan membuat jemari - jemarinya gatal untuk menikmati keseluruhan tubuh ustadzah cantik itu. Pertama ia mencengkram erat pinggang rampingnya. Jemarinya pun merasakan betapa mulusnya kulit putih Haura. Ia jadi ketagihan. Jemarinya yang tadinya hanya mencengkrami pinggang ramping Haura, perlahan mulai naik dengan mengusapi perut ratanya. Pinggulnya masih terus memborbardir pertahanan ustadzah cantik itu. Kenikmatan yang terus ia dapatkan membuat Karjo lekas meremasi payudara indah milik ustadzah tercantik sepondok pesantren ini. Ia meremasnya langsung dari dalam kaus yang Haura kenakan.

"Ahhhh... Ahhhhh rasakan kontol saya ini... Ahhhh... Akan saya longgarkan memek ustadzah ini !!!"

Haura kembali merinding merasakan rangsangan yang sedang pak Karjo berikan. Tusukan maut yang Karjo layangkan di vaginanya, serta remasan kuat yang Karjo layangkan di payudaranya, serta kata - kata kotor yang terus Karjo bisikan di telinganya membuat Haura mulai merasakan kembali gairah dari persetubuhan terlarangnya dengan pria tua kekar ini.

Haura kesal, Haura marah pada diri sendiri. Tubuhnya yang lemah akan belaian seorang pria menjadi penyebab terkuat kenapa Haura mudah untuk terangsang seperti ini. Haura sangat sadar akan hal itu. Maka ia pun berulang kali meyakinkan diri agar tidak hanyut dalam persetubuhannya dengan kuli bangunannya ini.

Tahan Haura !!! Tahannn... Jangan menyerah dengan hawa nafsu !!!

Batin Haura berusaha. Tapi sedetik kemudian.

"Ahhhh... Ahhhh... Aggg pakkkkkk"

"Kekekekekk... Nikmat bukan ustadzah ? Lezat kan kontol hitam saya ini ? Kekekekekk"

"Ahhh... Ahhhh settoopp.. Ouhh... Ouhh yahhhh" Desah Haura. Tubuhnya semakin melonjak - lonjak. Payudara yang tergantung itu semakin rajin bergoyang. Mulutnya yang tadi tertutup rapat juga semakin rajin mendesah.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhh ustadzahhhh... Ouhhhhh" Desah nya sambil terus menggerayangi payudara Haura sambil menggenjot - genjot lubang kenikmatan bidadari cantik itu. Haura juga ikut mendesah. Walau hatinya menolak tapi sebagai wanita biasa, Haura tak mampu bertahan melawan keperkasaan tubuh kekar pak Karjo. Tangannya hanya mampu bertahan dengan memegangi tepi meja kerjanya. Kakinya hanya mampu bertahan agar tetap berdiri seiring lemasnya diri Haura saat ini. Payudaranya yang semakin kencang juga terus bertahan seiring kuatnya cengkraman Karjo di dadanya saat ini.

Gerah dengan suasana yang semakin memanas. Karjo lekas menaik keluarkan kaus yang sedari tadi dikenakannya. Ia juga dengan gegabah melepasi cardigan yang Haura kenakan serta kaus polos berwarna putihnya. Ia sangat bernafsu hingga ia melakukan semua itu dengan jalan pemaksaan.

"Lepaskannn ustadzah... Lepaskannn jangan di tahan !!!" Bentak Karjo saat berupaya melepaskan pakaian Haura.

"Enggakkk... Jangannn pakkk.. Akuu gakk mauuu... Ahhhhhhh.... Ahhhh" Desah Haura berusaha sebaik mungkin tuk bertahan.

Tapi jelas tenaga Haura tak sebanding dengan tenaga pak Karjo. Cardigan serta kaus yang dikenakannya telah lolos melewati kedua tangannya. Kini tersisa hanya bra ketatnya saja yang tinggal menutupi payudara sebelah kanannya. Karjo tertawa, ia pun melepas kaitnya hingga tubuh ustadzah cantik itu kembali telanjang yang membuat Karjo terkagum - kagum akan bentuk keindahannya.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh pakkk jangannn" Desah Haura berteriak pasrah.

"Kekekekekek... Rasakan kontol saya ustadzah... Rasakan kontol saya !!!" Desah Karjo dengan penuh nafsu.

"Ahhh... Ahhh hentikann pakkk... Ampunnn... Ahhhhh" Desah Haura memelas.

Karjo terus menyetubuhi tubuh Haura yang sedang menungging itu. Kedua tangannya mengusapi punggung mulusnya. Usapannya naik hingga tiba di kedua bahu ustadzah cantik itu. Kemudian usapannya turun hingga tiba membelai pinggul ramping ustadzah manis itu. Setelah itu, Karjo terus menampar - nampar bokong nakal Haura hingga merubahnya menjadi warna kemerahan.

"Ahhh... Ahhhh... Sakittt pakkk.. Ahhhh" Desah Haura menjerit kecil.

"Kekekekek ustadzah nakal... Ustadzah binal... Ustadzah sudah bikin kontol saya ketagihan tuk merasakan jepitan manja memekmu, ustadzah... Kekekekek" Tawa Karjo yang membuat telinga Haura panas.

"Ahhh.... Ahhhhh..... Aku bukan wanita nakal pakkk... Ahhhh ampuni akuu.. Pakkk" Desah Haura.

"Kekekekekek... Ustadzah itu nakal... Ustadzah juga binal... Makanya kontol saya sampai ketagihan memek ustadzah yang rapet ini" Desah Karjo dengan penuh nafsunya.

"Ahhh... Ahhh... Bukan salahhh memekkk akuuu pakkk" Kata Haura kembali kelepasan.

"Kekekkeke apa ustadzah ? Memek ? Memek ustadzah udah ketagihan kontol saya kan ?" Desah Karjo terus melecehkan Haura sambil menggagahi tubuhnya.

"Ahhh... Ahhh enggakk... Bukan seperti itu pakkk" Kata Haura malu.

"Kekekekek dasar ustadzah binall... Dasar ustadzah nakal !!!" Kata Karjo terus menggenjoti vagina Haura dalam posisi menungging membelakangi sementara tangannya terus menampari bokong Haura sambil mengucapkan kata kotor padanya.

"Ahhhh... Ahhh ampunnn pakkk... Ahhh... Ahhhh" Desah Haura merasa terhina.

Haura sangat malu saat dirinya direndahkan secara verbal oleh kuli bangunan itu. Wajahnya jelas memerah, ia sangat malu tapi ia juga marah. Ia marah pada Karjo karena telah melecehkannya. Ia juga marah pada diri sendiri karena tak bisa melawan serangan kuli bangunan di belakangnya.

"Ahhhh... Ahhhhh.... Ahhhh pakkk hentikkannnn" Desah Haura.

"Ahhhhh.... Ahhhh kontol saya udah gak tahannn... Ahhhh kontol saya mau muntahhh" Desah Karjo sudah tak tahan lagi. Berbagai kata kotor yang telah ia ucapkan membuat fantasinya terpuaskan dalam melecehi ustadzah yang dikenal sholehah ini. Karjo sangat puas karena telah mengucapkan kata binal dan nakal pada ustadzah tercantik ini sambil menggenjoti vagina sempitnya.

"Ahhhhh.... Ahhhhh... Pakkkkkk... Hentikannnn" Desah Haura sambil membuka mulutnya lebar - lebar.

"Ahhhh... Ahhhh.... Saya udah gak tahan lagi ustadzah" Kata Karjo sambil memegangi pinggang Haura dan mempercepat genjotannya.

Plokkk... Plokkkk... Plokkkk !!

Suara benturan antar pinggul itu semakin terdengar keras. Karjo sudah sangat tak tahan dalam menggagahi ustadzah cantik ini. Dipandanginya penampakan polos Haura dari belakang. Diusapinya punggung mulus itu. Perpaduan antara kulit mulusnya serta sempitnya dinding vagina Haura saat menjepit kemaluannya membuat Pak Karjo tak mampu menahannya lagi. Karjo mendesah. Tubuhnya terasa panas. Nafasnya terasa sesak dan lututnya mulai lemah saat gelombang itu nyaris keluar dari lubang kencingnya.

"Ahhhhhh... Ahhhh... Ahhh ustadzahhhh... Sayaaa keluuaaarrrrrrrr" Kata Karjo lekas melepaskan penis itu dari dalam vagina Haura. Haura langsung terduduk lemas hingga membuat bidadari cantik itu pasrah saat penis Karjo mengarah tepat ke wajah cantiknya.

"Ahhhhhhhhhhhhhhh"

Crrootttt... Crroottttt... Croottttt !!!!

Penis Karjo menyemburkan spermanya membasahi wajah cantik Haura yang masih tertutupi hijabnya. Tubuh Karjo bergidik nikmat sementara matanya merem melek menahan kenikmatan yang sangat dahsyat ini. Tangan kanannya memegangi kepala Haura sementara tangan kirinya membetot penisnya untuk mengarahkannya dalam melecehkan wajah cantik bidadari berhijab itu.

"Ahhhh... Ahhh gilaaa.... Ahhh mantappppnyaahh" Desah Karjo hingga tetes terakhir. Karjo benar - benar puas. Ia sangat puas setelah berhasil melumuri wajah cantik Haura dengan spermanya lagi. Karjo pun terduduk sambil menatap wajah Haura karena saking lemasnya. Wajah Haura yang belepotan sperma benar - benar telah membuat Karjo terkagum akan maha karyanya.

"Kekekekek... Ustadzah terlihat makin cantik dengan sperma itu" Puji Karjo yang membuat Haura kesal namun lega. Ia kesal dirinya kembali dinodai oleh sperma busuk pria tua ini. Tapi ia lega karena mimpi buruknya akan segera berakhir.

"Ehhhh... Pakkk... Apa yangg ?" Kata Haura heran saat tubuhnya yang lemah tiba - tiba diterlentangkan diatas lantai ruangan.

"Kekekekekek... Saya akui kalau saya kalah di ronde kedua ini... Tapi di ronde ketiga nanti pasti saya akan menang dengan membuat Ustadzah berorgasme lagi" Kata Karjo yang sudah berada diantara selangkangan Haura.

"Apa ? Apa maksud bapak ? Enggakkk... Aku gak mau lagi pakkk... Tolonnggg" Kata Haura panik.

Karjo langsung menarik hijab yang Haura kenakan. Hingga rambutnya yang sebahu itu terlihat. Sambil memegangi kedua paha Haura yang terangkat. Ia kembali memasukan penisnya yang tidak terlalu keras itu ke dalam kemaluan Haura.

Gapapa... Nanti juga keras lagi kok... Kekekekekek...

Batin Karjo tertawa.

Penis yang masih meneteskan sedikit spermanya itu kembali masuk membobol vagina Haura. Tangan Karjo pun tiba dengan meremasi payudara indah disana. Pinggulnya mulai bergerak dan ia mulai tertawa saat memulai ronde ketiga bersama ustadzah cantik yang sedang ia coba binalkan ini.

"Ahhhhh.... Ahhhhh... Ahhhh pakkk hentikannnn... " Desah Haura.

"Kekekekek... Mantappnyaahh... Mantappnyaa ouhhh ustadzah binall... Rasakan kontol saya lagi... Rasakan pejuh saya lagi dasar ustadzah nakal !!!" Kata Karjo sambil memandangi penampakan Haura yang benar - benar polos tanpa adanya pakaian satupun sama sekali.

"Ahhh... Ahhhhh... Ahhh pakkkkkk" Desah Haura dengan sangat keras hingga suaranya terdengar sampai keluar gedung kantor pengasuhan santri.

SEMENTARA ITU DI LUAR

"Ehhh desahan siapa itu ?" Katanya terkagum akan suaranya yang sangat manja.

"Wakakakakak... Sial padahal baru aja ngabisin simpenan pejuh... Untung aja tanki lagi kosong... Kalau masih penuh bisa minta gabung nih" Katanya dalam perjalanan pulangnya menuju rumah. Untungnya suasananya sedang baik malam ini. Ia pun tersenyum sambil membayangkan penampakan seorang ustadzah yang baru saja ia gagahi di rumahnya. Rambutnya berantakan. Tubuhnya terkapar tak berdaya diatas ranjang tidurnya. Wajahnya kelelahan dan dari lubang vaginanya nampak lelehan sperma yang menggenang keluar membasahi sprei ranjang tidurnya.

"Wakakakakak... Ahhh ustadzah Nada... Aku padamu pokoknya !" Katanya sambil mengenang kenangan indah yang baru saja ia buat.


*-*-*-*


Fajar telah menyingsing menandakan pagi akan segera tiba sebentar lagi. Burung - burung saling berkicauan seolah sedang menyapa antar sesama. Mereka seperti sedang menanyakan kabar mengenai apa yang terjadi kemarin. Namun, salah satu burung yang sedang bertenggar di dahan itu terlihat terkejut. Burung yang satunya meyakinkan kawannya kalau dirinya melihat sesuatu yang tak biasa di dalam gedung kantor bagian pengasuhan. Burung yang tak percaya itu segera terbang mengibaskan sayapnya untuk menuju kantor yang dimaksud kawannya. Ia pun tiba di dekat jendela untuk memeriksa keadaan di dalam. Benar ternyata yang diceritakan oleh kawannya. Rupanya ada seorang bidadari yang tertidur di dalam tanpa mengenakan sehelai benang pun.

Apakah ia baru turun dari surga ? Sehingga keindahannya begitu nampak pada lekuk tubuhnya ? Dua payudaranya yang bulat tampak kencang kendati dirinya sedang tidur terlentang. Lubang kemaluannya yang hangat terlihat begitu menggairahkan ketika kedua kakinya terbuka mengangkang. Wajahnya yang bening dengan keindahan bibirnya yang tipis. Tampak dada itu naik turun kembang kempis. Membuat penis burung itu menegang ingin segera pipis. Tak tahan, burung itu pun terbang tinggi untuk mencari sesuatu untuk mengosongkan kandung kemihnya.

"Mmppphhhhhhh" Desah wanita itu sambil kedua tangannya ia rentangkan untuk merasakan nikmatnya mengulet di pagi hari. Cahaya mentari yang menembus kaca jendela kantor bagiannya jatuh tepat mengenai wajah cantiknya. Bidadari itu terkejut saat kedua matanya terbuka dan melihat keadaan yang berada di sekitarnya.

"Ini dimana ? Katanya dengan lemah" Jemari kanannya menyisir rambut sebahunya ke belakang. Ia pun baru tersadar kalau tubuhnya sedang dalam keadaan telanjang. Tubuhnya terasa membeku saat tidur tanpa berpakaian diatas lantai keramik yang dingin.

"Apa yang terjadi ? Dimana aku sekarang ?" Katanya sambil menutupi keindahan tubuhnya. Wajahnya ia tengok ke kiri dan ke kanan. Tangan kanannya menutupi payudaranya sementara tangan kirinya menutupi lubang keindahannya. Ia pun menyandarkan diri pada sebuah dinding sambil mengingat apa yang telah terjadi kemarin.

"Ahhh... Benar juga" Katanya ketika teringat sesuatu. Wajahnya mendadak lesu saat dirinya teringat perbuatan kuli bangunan kemarin saat berulang kali menggagahi dirinya. Saat jemarinya mengusapi tubuhnya yang kedinginan. Ia merasakan adanya kerak yang mengering di sekitar payudara juga perut ratanya. Mungkinkah ini bekas spermanya ?

Kreekkkkkkk !

Seketika bidadari itu terkejut saat mendengar sebuah suara yang berasal dari arah pintu masuk. Wajahnya segera menatap pintu itu dan menyadari kalau pintu itu telah terbuka memperlihatkan sesosok wajah yang terkejut disana.

“Hah !!!!” kata bidadari itu terkejut sambil mulutnya terbuka begitu lebar.

“Lohhhhh !!!” kata lelaki itu.

Lelaki itu terdiam sejenak saat melihat pemandangan di dalam kantor bagiannya. Ia tampak keheranan membuat tubuh lelaki itu terhenti di depan pintu masuk ruangan. Ia tak menyangka. Ia pun mulai memasuki ruang itu sambil menutupi mulutnya tak percaya.

“Kok berantakan ? Kenapa pintu juga gak dikunci ?” katanya saat menyadari beberapa alat yang biasanya ada di atas meja kerja tersusun rapih. Tapi kini peralatan itu jatuh berantakan. Ia pun penasaran mengenai apa yang telah terjadi semalam.

Jderrrrr !!!

“Astaghfirullah... Suara apa itu ?” katanya saat mendengar suara keras dari arah belakang. Wajahnya pun menoleh menuju arah dari sumber suara itu. Ia tampak lega setelah tahu bahwasanya suara itu berasal dari arah pintu masuk yang tertutup.

“Hah... Cuma angin yah ? Bikin kaget aja !” kata ustadz paling senior yang ada di bagian pengasuhan itu.

“Hah... Hah.... Hahhh.... Untunglah tadi aku ketutupan meja saat ustadz Rafi datang” katanya lega. Ia telah kembali berpakaian. Ia pun berlari secepat mungkin untuk pulang kembali menuju rumahnya. Tapi ia merasa kalau tubuhnya sedang tidak enak. Badannya anget dan tubuhnya masih lelah setelah dipaksa kerja lembur bagai kuda semalam.

Ia pun berharap dalam hati. Semoga dirinya bisa kuat untuk menjalani hari - hari. Terkhusus di hari ini.


*-*-*-*


Beberapa menit kemudian, ada seorang santriwati yang sedang menanti kehadiran seseorang. Ia sedang berada di salah satu deretan rumah yang berada di kompleks asrama pasangan. Ia terlihat gelisah hingga membuatnya harus menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia sangat khawatir andai ada salah satu ustadz atau ustadzah yang ia kenal memergokinya disini. Apalagi sekarang sudah hampir mendekati jam tujuh pagi. Waktu yang seharusnya ia gunakan di ruang kelas untuk menerima pelajaran dari pengajar yang mengajar di dalam ruang kelasnya.

Lama menunggu, santriwati itu pun jengah. Ia mendekati pintu rumah itu lagi untuk mengetuk pintu itu sekali lagi.

Tokkk... Tokkk... Tokkk !

“Assalamualaikum” sapa santriwati cantik itu.

Pagi itu, ia mengenakan kemeja berwarna putih yang ukurannya cukup ketat dibandingkan dengan kemeja yang biasa dikenakan oleh santriwati lainnya. Di kepalanya, ia mengenakan hijab berwarna kecoklatan yang warnanya selaras dengan rok lebar yang dikenakan untuk menutupi kaki jenjangnya. Santriwati itu bernama Salwa. Salah satu santriwati tercantik yang juga memiliki kecerdasan karena selalu mendapatkan nilai yang baik selama ujian berlangsung. Ia tampak mempesona pagi itu. Siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh cinta. Termasuk wanita. Wanita manapun yang melihatnya pagi itu pasti akan terpana oleh keindahan paras yang dimiliki olehnya. Belum lagi bibirnya yang begitu menggoda untuk dilumat. Juga warna kulitnya yang begitu bening dan jernih. Teksturnya juga mulus yang membuat siapapun begitu gemas ingin mengusap kulit tubuh bidadari cantik itu. Tubuhnya yang tinggi menjulang semakin memperindah penampakan dirinya di pagi hari ini. Posturnya memang tinggi membuatnya lebih mirip model hijab remaja daripada seorang santriwati.

Salwa masih gelisah karena tuan rumah yang sedang ia tunggu masih belum keluar dari dalam rumah itu. Ia pun menoleh ke kiri. Disana ada rumah pak Kiyai yng memimpin pondok pesantren ini. Jaraknya sangat dekat bahkan bisa dibilang kalau rumah yang sedang ia kunjungi letaknya bersebelahan dengan rumah pak Kiyai. Hal itulah yang membuat Salwa semakin gugup di pagi hari ini.

Beruntung karena tak berselang lama, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Pintu itupun terbuka dan menampilkan penampakan seorang ustadzah yang memiliki wajah cantik lagi jelita.

“Ustadzah... Ustadzah kenapa kok meminta ana untuk datang ke rumah sepagi ini ? Ini kan jadwalnya masuk kelas” kata Salwa langsung bertanya ketika ustadzah itu membukakan pintu untuknya.

“Ehhh Salwa udah dateng yah ? Mari masuk dulu” kata ustadzah berwajah imut itu.

“Tapi ada apa ustadzah ? Sekarang udah waktunya masuk kelas loh... Barusan juga udah bel” kata Salwa khawatir.

“Tenang Salwa... Gak usah khawatirin hal itu... Semua sudah diatur kok” kata ustadzah cantik itu.

Salwa pun semakin heran dengan apa yang diinginkan oleh ustadzah bernama Diah itu darinya. Mereka memang cukup akrab apalagi jarak usia mereka hanya berbeda satu tahun saja. Ustadzah Diah merupakan keponakan dari pak Kiyai pondok pesantren yang mana itu berarti ayahnya adalah adik dari pak Kiyai Jamal. Oleh karena itulah ia bisa tinggal di dalam kompleks asrama pasangan ini kendati dirinya belum menikah sama sekali. Karena ia keponakan pak Kiyai Jamal. Maka otomatis ia juga keponakan Ustadzah Rania yang terkenal akan kecantikannya.

Bersama Salwa, ia memasuki rumahnya untuk menuju ruang tamu. Kebetulan kedua orang tuanya ada jadwal mengajar. Jadi tidak ada siapapun di dalam rumah ini selain mereka ini.

“Sebenarnya, ada seseorang yang ingin bertemu dengan antum salwa !” kata Ustadzah Diah.

“Dengan ana ? siapa ?” kata Salwa.

Saat mereka memasuki ruang tamu. Salwa terkejut saat melihat sesosok wajah imut yang akrab di pandangan Salwa. Ia terlihat cantik dengan senyumnya yang ramah menyapa diri Salwa. Ustadzah itu mengenakan hijab pink yang membuatnya terlihat lebih muda. Kemeja putih bercorak kotak - kotak menutupi tubuh indahnya yang sempurna. Wajahnya yang imut dengan kulit putihnya yang halus mempesonakan mata Salwa sejenak saat melihatnya. Tapi perasaannya tidak enak setelah melihat sosok ustadzah itu menanti di hadapannya.

“Ustadzah Syifa ? Apa yang ustadzah lakukan disini ?” kata Salwa terkejut.

“Hihihihi ana kangen antum Salwa” kata Syifa tersenyum.

Sementara Salwa terkejut dengan kehadiran Syifa yang tiba - tiba ada dihadapannya. Diah pun berjalan ke arah pintu masuk untuk mengunci pintu itu dari dalam. Terdengar suara pintu itu terkunci hingga Salwa menoleh ke belakang. Perasaannya semakin tidak enak. Ia pun bertanya apa maksud dari semua ini ? Kenapa ustadzah Diah bertingkah aneh dengan mengunci pintu itu dari dalam ? Syifa pun bangkit kemudian beranjak mendekati tubuh Salwa. Ia tersenyum yang membuat diri Salwa ketakutan akan nasib buruk yang akan kembali diterimanya.

“Apa ini ustadzah ? Apa maksud semua ini ?” kata Salwa berjalan mundur.

Namun langkahnya terhenti setelah Diah menahan dirinya dari belakang. Salwa pun menoleh dan menatap wajah Diah sedang tersenyum menatapnya.

“Hihihih tenang Salwa... Ustadzah gak bakal ngapa - ngapain kamu kok... Untuk absen udah ustadzah atur... Ustadzah cuma mau . . . . .” kata Syifa terhenti.

“Apa ustadzah ?” kata Salwa berdebar.

“Ustadzah cuma mau meminta waktunya sebentar untuk menikmati tubuh kamu” kata Syifa sambil memegangi dagu Salwa kemudian mencium bibirnya dengan penuh nafsu.

Pasrah, Salwa pun menerima cumbuan itu sambil memejamkan matanya. Salwa terlihat pasif hingga Syifa harus kerja aktif dalam menikmati bibir manis Salwa. Syifa menciumi bibir Salwa. Mulutnya membuka untuk memagut bibir atasnya dengan penuh nafsu. Lidahnya juga turut aktif bergerak dalam membasahi tepi bibir bagian bawahnya.

Tak berselang lama giliran Diah yang memegangi dagu Salwa untuk menolehkan wajahnya ke arahnya. Diah melumat bibir Salwa dengan penuh nafsu. Diah mendorong bibir Salwa itu ke belakang kemudian lidahnya ia julurkan untuk mengolesi tepi bibir Salwa yang semakin basah oleh cumbuan kedua ustadzahnya.

"Ustadzah... Mmmpphhhh... Jangannnn" Kata Salwa menolak.

Syifa tersenyum kemudian melepaskan satu demi satu kancing kemeja yang dikenakan oleh santriwatinya. Syifa tersenyum manis saat melihat penampakan perut rata Salwa dengan dada yang masih tertutupi bra berwarna putihnya. Syifa menarik bra itu dengan paksa hingga ikatannya terlepas lalu jatuh begitu saja di lantai.

"Awwwww... Ustadzahhh... Jangan lagi" Kata Salwa sambil menutupi tubuhnya.

Gemas akan sosoknya membuat Syifa tak tahan ingin mencumbui bibir manis itu lagi. Diah mengalah kemudian jemarinya hinggap di puting Salwa yang sudah mengeras kemudian jemari telunjuknya merangsang puting sebelah kanan Salwa dengan meraba - raba permukaannya yang berwarna merah muda. Syifa juga demikian, selain ia mencumbui bibirnya. Syifa juga merangsang payudara sebelah kirinya hingga membuat santriwati cantik itu semakin terangsang oleh perlakuan bejat ustadzah - ustadzahnya.

“Aaahhhhhh... Mmmpphhhh... Mmmpphhh.... Ustadzaahhhh” desah Salwa melenguh pelan.

“Mmpphhh... Hhihihihi... Beruntungnya yah antum Salwa bisa dipuaskan oleh kami sekaligus” kata Syifa tersenyum di sela - sela percumbuannya.

“Mmmppphhh... Ustadzahhh” kata Salwa semakin merinding.

Diah yang sedari tadi menanti gilirannya tiba mulai mengalihkan perhatiannya pada payudara tegak Salwa. Ia meremasnya kemudian mencaplok keseluruhannya sebelum dirinya berfokus untuk menyusu di payudara indah itu. Diah memilin putingnya, menjilati puting indah Salwa hingga membuat ukhty cantik itu berteriak dengan penuh kebebasan.

“Aaaaaaahhhhhhhh” desah Salwa yang suaranya dapat membangkitkan birahi pria apabila mendengarnya.

“Hihihihi... Antum ini bikin ana gemes yah Salwa” kata Syifa tak tahan. Ia pun ikut mengincar payudara Salwa.

Syifa menyentuh - nyentuhkan lidahnya di puting Salwa sebelum bibirnya melumat habis puting itu dengan cara menghisapnya dan memilinnya menggunakan kedua bibirnya. Salwa semakin memejam hingga mulutnya semakin terbuka lebar - lebar.

“Aaahhhhh ustadzahhh” desah Salwa. Kedua kakinya lemas, vaginanya pun terasa semakin basah hingga membuat santriwati cantik itu tidak mampu untuk melawan karena saking nikmatnya.

“Hihihihih... Antum ini Salwa !” kata Diah kemudian kembali mengincar mulutnya.

Kemeja Salwa yang sudah terbuka itu semakin di lebarkan oleh Syifa. Syifa telah menguasai dada Salwa hingga membuatnya begitu bernafsu dalam menikmati keduanya. Berulangkali Syifa berpindah dari kiri ke kanan dalam menikmati bola kencang yang menempel di dada santriwati cantik itu.

Syifa mencumbu sebelah kiri sementara jemarinya meremas sebelah kanannya. Kemudian ia berpindah ke sebelah kanan membiarkan tangannya mencengkram kuat payudara sebelah kirinya. Diah juga lihai dalam menaikan gairah birahi Salwa. Salwa tampak pasrah membiarkan mulutnya terbuka ketika lidahnya tanpa ampun dihisap oleh mulut Diah yang juga telah bernafsu. Lidah mereka saling bertemu. Saling melilit dan saling bergesekan. Kadang liur mereka sampai menetes karena saking nafsunya mereka bercumbu. Saat liurnya itu jatuh mengenai payudara Salwa. Syifa pun datang untuk menjilat liur mereka berdua itu. Nafsu yang memuncak membuat Syifa lekas menurunkan resleting yang ada di belakang bokong sekel itu. Kemudian rok itu jatuh melewati kaki - kaki Salwa yang jenjang.

"Ahhhh... Ustadzahhh... Mmpphh.. Jangannn"

Salwa sudah bertelanjang menyisakan kemeja juga celana dalamnya saja. Salwa terlihat semakin sexy membuat Syifa tak tahan ingin segera beraksi. Jemarinya pun masuk menuju bibir vagina Salwa yang terasa semakin basah. Syifa tertawa saat merasakan becek di dalam kemaluan santriwatinya itu. Ia pun menggerakan jemarinya menggesek bibir vagina itu dengan penuh nafsu.

“Uhhhhhhhhh” desah Salwa hingga membuat kedua kakinya merapat tuk menahan kenikmatan double yang sedang dirasakannya.

Tak tahan dengan nafsu yang semakin buas. Mereka pun mengajak Salwa menuju kamar pribadi Diah untuk menikmati keindahan tubuh Salwa bersama. Salwa diterlentangkan begitu saja diatas ranjang pribadi Diah. Salwa terbaring lemas dengan payudara yang semakin kencang karena tubuhnya yang semakin terangsang. Kemejanya terbuka memperlihatkan keindahan tubuhnya. Syifa pun tersenyum hingga membuat ustadzah cantik itu melepas satu demi satu kancing kemejanya. Diah yang tak tahan pun datang memeluk tubuh Salwa dari samping. Bibirnya kembali mencumbu sementara tangannya meremasi payudara itu dengan penuh nafsu. Jemari Diah menyentuh - nyentuh puting indahnya sebelum kembali meremasnya dengan cukup kencang. Diah juga mencumbui bibir Salwa dengan mempertemukan lidah mereka berdua kembali. Lidah mereka bergelut. Lidah Diah berkelana menyusuri rongga mulut Salwa di dalam. Diah pun mengalah dengan menarik dirinya menjauh dari Salwa.

Saat Salwa hendak beristirahat setelah menerima cumbuan dari ustadzah Diah. Ia terkejut saat melihat Syifa sudah telanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Syifa pun menarik celana dalam Salwa kemudian bidadari cantik itu mendekat untuk menindihi tubuh rampingnya.

Antum manis banget Salwa... Ustadzah jadi gak tahan.... Hihihihi” kata Syifa sambil berkedip.

Salwa terdiam pasrah saat ustadzah binal itu hendak menindihi tubuhnya. Salwa pun memejam saat tubuh mereka bersentuhan. Kemaluan mereka bertemu, payudara mereka juga bertemu. Puting mereka saling bergesekan yang membuat birahi Salwa semakin tak tertahankan. Syifa pun menggesekan kemaluannya hingga mereka berdua merasakan kenikmatan yang tak tertahankan. Mereka sama - sama memejam sebelum bibir Syifa mendekat untuk mencumbui bibir tipis itu.

Diah yang hanya jadi penonton mulai tak tahan hingga membuatnya sampai membugili dirinya sendiri. Ia pun merangsang vaginanya juga meremas payudaranya setelah dirinya bertelanjang bulat. Sementara Syifa, ia terus mencumbui bibir manis Salwa seiring pergerakan pinggulnya yang semakin kencang. Vagina itu terus bergesekan hingga cairan cinta mereka semakin meluap hingga membanjiri tepi bibir vagina masing - masing. Cairan licin yang membasahi vagina mereka membuat pergesekan kemaluan mereka terasa semakin nikmat. Syifa agak menaikan tubuhnya setelah puas mencumbui bibir Salwa. Kedua tangannya hinggap di payudara ranumnya yang tidak besar tapi sangat pas dengan tubuh ramping Salwa. Payudara Salwa itu sangat pas digenggaman ustadzah cantik itu hingga membuat Syifa terus meremasnya sambil menggerakan pinggulnya menggesek kemaluan mereka berdua.

"Ouhhhh... Ouhhh Salwa.... Ouhhh antum cantikk bangett sihhh" Desah Syifa.

"Ahhhh... Ahhhh ustadzah... Cukuppp... Hentikannn ustadzah" Desah Salwa.

Salwa terbaring lemas di atas ranjang tidur ustadzah Diah itu. Rasa nikmat yang ia terima di payudara dan vaginanya membuatnya kesulitan untuk bisa menjauhkan diri dari apa yang ia sebut sebagai penyakit. Ia ingin normal. Tapi rangsangan yang dilakukan oleh Syifa membuatnya begitu menikmati persetubuhan yang tidak normal ini.

Menyesal ? Sulit bagi Salwa untuk merasakannya karena akal sehatnya sudah jatuh terlalu dalam menuju lembah yang dipenuhi oleh gairah kenikmatan.

“Aahhhhh ustaddzahhh... Ahhhhhh uhhhhhhhh mmpphhhhh” desah Salwa merapatkan bibirnya.

Kesempatan ini pun tak disia - siakan oleh Diah untuk mendekat guna mencumbui bibir manis Salwa itu. Kembali dirinya dinikmati oleh mereka berdua sekaligus. Salwa pasrah. Ia terkapar merasakan kenikmatan yang tak tertahankan.

Tak berselang lama sebuah gelombang kejut mulai terasa mengalir di dalam tubuh Salwa. Tubuh Salwa semakin tegang, payudaranya pun semakin kencang, terasa puting - puting payudaranya semakin tegak menantang. Syifa tersenyum menyadari. Ia pun semakin menggesekan kemaluannya hingga membuat tubuh santriwatinya itu semakin blingsatan tak karuan.

“Aahhhhh.... Ahhhhhh.... Ahhhhh ustadzahhhhhh” desah Salwa.

“Hihihi enakkk bukan ? Ayo Salwa keluarkannn... Ayohhh terusss jangan ditahan” desah Syifa.

Salwa pun mengikuti arahan itu. Salwa main los. Ia benar - benar membiarkan cairan itu mengalir dengan begitu deras menuju lubang kencingnya. Salwa tak tahan lagi. Ia pun semakin memejamkan matanya. Bibirnya diam dicumbu oleh mulut manis ustadzah Diah. Payudaranya pasrah diremas oleh tangan Ustadzah Syifa yang semakin gemas. Sedangkan vaginanya terus digesek oleh birahi ustadzah Syifa yang bergerak semakin binal.

“Aahhhhh... Ahhhhh.... Ahhhhh ustaddzahhh... Aahhhhhhhhh !” desah Salwa saat merasakan orgasme datang menghampirinya.

Syifa dengan cekatan pun merapatkan kemaluannya hingga semprotan cairan cinta Salwa itu menyemprot kemaluan Syifa dengan begitu deras. Syifa memejam ikut mendesah merasakan betapa nikmatnya kemaluannya disemprot oleh cairan cinta Salwa. Syifa pun ambruk hingga kedua payudara itu kembali bertemu. Diah pun tersenyum kemudian bergerak menuju almari pakaiannya untuk mengambil sesuatu. Saat mulut Syifa dan Salwa semakin dekat. Tak sadar mereka saling cumbu dalam memuaskan sisa orgasme yang didapatkan oleh Salwa.

Tubuh Salwa sesekali mengejang hingga matanya merem melek merasakan kepuasan yang begitu sulit untuk ia jelaskan. Ditengah rasa lemas yang dirasakan oleh mereka berdua. Tiba - tiba Syifa dikejutkan oleh adanya sesuatu yang panjang lagi keras yang sedang memasuki lubang kemaluannya.

“Aaahhhhhhhhhhh” desah Syifa sambil menoleh ke belakang.

Kemudian Syifa pun tersenyum saat mendapati ustadzah berhijab itu kembali mengenakan mainan favoritnya berupa dildo sepanjang 18 cm. Lebarnya yang sampai empat cm itu membuat mulut Syifa tak dapat berhenti membuka merasakan kelezatan yang dihasilkan oleh mainan ustadzah Diah itu.

“Hihihihih maaf ustadzah... Gak sakit kan ?” kata Diah di belakang.

“Aahhhh... Enggak kok.... Ini malah enakk.... Aahhhhh” desah Syifa.

Salwa pun penasaran apa yang terjadi dengan ustadzahnya hingga dirinya bisa mendesah sepuas ini. Ia pun mengintip dari sela - sela tubuh mereka berdua dan menemukan ada benda mirip penis yang menggantung di pinggul ustadzah Diah. Salwa terkejut.

“Aaahhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhh” desah Syifa terdorong maju mundur.

Diah pun tampak puas dalam mengusapi bongkahan pantat ustadzah Syifa itu. Diah meremasnya sesekali ia menamparnya sesekali ia mengecupnya hingga membuat ustadzah Syifa itu semakin terangsang menerima perlakuan ustadzah Diah.

Rasa puas yang ia terima dari Diah membuat Syifa menurunkan wajahnya untuk kembali mencumbui mulut Salwa. Mereka berciuman dengan panasnya menikmati hawa nafsu yang semakin tak tertahankan.

Lima menit kemudian tak terasa Syifa sudah mencapai batasnya. Diah mempercepat laju persetubuhannya yang membuat tubuh Syifa semakin terhentak maju mundur. Payudaranya yang menggantung itupun menggesek payudara Salwa yang terkapar dibawah. Syifa tak tahan lagi. Kepalanya ia geleng - gelengkan. Saat orgasme itu datang. Syifa pun mendorong bibirnya sambil mencumbui bibir Salwa dengan penuh kepuasannya.

“Mmmmpppphhhhhhhhh” desah Syifa saat meraskan dildo itu semakin dalam memasuki liang vaginanya hingga menyentuh dinding rahimnya.

“Mmmppphhhhh” Salwa terkejut saat kedua pahanya terciprati oleh cairan cinta dari Syifa yang keluar kemana - mana. Diah juga tersenyum karena bisa memuaskan nafsu ustadzah Syifa yang terkenal besar.

Diah kembali menyingkir sejenak menuju almari pakaiannya meninggalkan Syifa yang begitu asyik mencumbui bibir santriwati cantiknya itu.

“Uhhhhhhhhhh” desah Syifa saat merasakan lubang pantatnya dijilati oleh seseorang dari belakang. Rupanya Diah telah kembali, sambil menjilati anus ustadzah Syifa. Ia pun memasang sesuatu di pergelangan kaki Salwa. Salwa terkejut dengan apa yang Diah lakukan disana.

Diah menjilati lubang anus Syifa. Ia mengorek isinya dengan lidahnya kemudian meludahi sisi dalamnya hingga membuat lubang itu semakin licin.

“Eehhhhh” kata Syifa terkejut saat merasakan lubang anusnya dimasuki sesuatu.

“Tunggu... Tungguuu ustadzahhh jangan duluuu... Uhhhhhhhh” kata Syifa saat dildo selebar empat cm itu mencoba untuk mengoyak lubang anusnya. Belum hilang rasa terkejut yang dideritanya, tiba - tiba ia meraskan lubang vaginanya yang lembap dimasuki oleh sesuatu yang tak kalah besar dibandingkan sesuatu yang memasuki lubang anusnya.

“Aaahhhhhhhh.... Apa ini ?” Salwa terkejut saat alat yang menempel di selangkangannya itu semakin masuk menembus liang vagina Syifa. Saat dildo yang dikenakannya masuk, ia merasakan adanya getaran yang ia terima di bibir vaginanya. Salwa jadi lepas kendali. Keinginan untuk menjadi wanita normal itu perlahan memudar. Hawa nafsu yang kembali menyerang membuat tubuhnya tak tahan untuk menikmati pemandangan indah di atas tubuhnya. Tangannya pun memegangi kedua pinggang ramping Syifa sementara pinggulnya bergerak naik turun untuk membobol kemaluan ustadzah imutnya itu.

“Aahhhh... Ahhhhh kalliiannnn.... Ouhhhhh” desah Syifa saat merasakan kedua lubangnya ditusuk dengan begitu nikmatnya.

“Hhihihihihii enak kan ustadzah ?” kata Diah yang terus mengobrak - ngabrik lubang anus ustadzahnya itu.

Syifa mendesah.

Salwa mendesah.

Begitupula Diah mendesah.

Salwa yang ada di bawah pun ikut mendesah.

“Aahhhhhh... Ahhhh.... Ahhhhh” desah mereka bertiga bersamaan.

Threesome yang dilakukan oleh ketiga ustadzah cantik itu seolah tidak ada habisnya. Mereka terus bercinta menikmati keindahan yang dimiliki oleh tubuh masing - masing. Bahkan Salwa sekalipun. Ia menyerah dengan membiarkan hawa nafsunya beraksi dalam menguasai tubuh indahnya. Dengan penuh nafsu, akibat getaran yang ia terima di bibir vaginanya. Ia terus menghujami penis plastik itu ke dalam kemaluan Syifa dari bawah. Sementara Diah juga tak henti - hentinya mengorek -ngorek lubang kotoran Syifa dari belakang.

“Aahhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhhhh... Salwaa... Hisap payudara ustadzah” desah Syifa tiada habisnya. Salwa segera menurut. Ia mencumbui susu besar yang menggantung indah tepat di hadapan wajahnya itu. Diah juga tak mau kalah dengan meremasi bongkahan pantat sekel ustadzah bagian pengajaran itu.

Satu jam lebih telah berlalu semenjak masuknya Salwa ke dalam rumah yang dipenuhi oleh ustadzah yang lebih mirip pelacur berhijab itu. Setelah Salwa memasukan penis plastiknya hingga menembus rahim ustadzah cantiknya. Setelah Diah memasukan penis plastiknya hingga melebarkan lubang anus ustadzah binalnya. Syifa pun melonglong panjang menikmati orgasme keduanya yang didapatnya dari kedua akhwat sexy-nya.

“Aaaaahhhhhhhhhhhh”

Cairan cintanya menyemprot kemana - mana. Diah tersenyum puas. Salwa juga memejam hingga bibirnya kembali dicumbu oleh ustadzah cantik itu. Ruangan itupun dipenuhi oleh suara desahan - desahan mereka bertiga. Suara itu begitu menggema, hingga seseorang yang sedari tadi mengintip persetubuhan mereka bertiga pun bergidik merinding melihatnya.

“Hah... Jadi ustadzah itu beneran melakukannya yah ? Jadi ustadzah itu memang penyuka sesama jenis ?” kata seseorang sambil merekam aksi mereka bertiga menggunakan hape temuannya.

Semenjak kemarin pagi, setelah dirinya mengobrol sejenak dengan ustadzah Hanna. Ia jadi penasaran akan sosok salah satu ustadzah yang ia temui di dalam hape itu. Beruntung karena tadi pagi saat dirinya sedang menyapu teras kelas. Ia melihat kedua sosok itu melintas melewatinya, ia pun membuntuti kedua ustadzah itu secara diam - diam hingga tibalah ia di tempat ini. Ia tak menduga kalau ternyata seorang ustadzah juga bisa binal. Apalagi binalnya ke sesama wanita. Pria itupun sampai geleng - geleng kepala tak percaya dengan hawa nafsu yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.

Ia pun pergi setelah mendapatkan rekaman ini. Ia berencana ingin beronani sambil menonton rekaman yang sudah disimpannya di dalam hape temuannya. Saat ia hendak pergi untuk mencari tempat sepi dalam menonton aksi bejat mereka bertiga. Tiba - tiba ia dikejutkan oleh suara yang menyapanya dari arah samping.

“Assalamualaikum... Eh pak Prapto yah ?” kata seseorang yang membuat Prapto terkejut lagi senang.

“Walaikumsalam... Ehh ustadzah Hanna ?” jawab Prapto tak dapat menyembunyikan senyum bahagianya.

“Bapak ada apa kok sampai kesini ?” kata Hanna terkejut sambil terus tersenyum menatapnya.

“Ehh anu... Anu ustadzah hehehe... Tadi dipanggil sama salah satu ustadz disini” jawab Prapto berbohong.

“Ohhh gitu hihihihih pantesan bapak keliatan di sekitar sini” kata Hanna tertawa.

“Ehmm ustadzah sendiri ada keperluan apa disini ?” kata Prapto penasaran sambil mengamati lekuk tubuh indah Hanna. Prapto sekali lagi terpana oleh kesempurnaan tubuhnya juga senyum indah yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu. Sekali lagi munculah harapan di dalam diri Prapto untuk dapat memiliki keseluruhan yang ada di tubuh ustadzah cantik itu.

“Aku mau mengunjungi rumah mertua pak... Biasa, mau bersilaturahmi” kata Hanna tersenyum yang langsung melunturkan semua harapan pak Prapto.

“Ohh begitu yasudah silahkan dilanjut aja ustadzah... Saya juga mau kerja lagi kok hehehe” kata Pak Prapto tersenyum lemah berpura - pura kuat.

“Hihihih yasudah kalau gitu... Aku permisi yah pak... Wassalamualaikum” jawab Hanna pamit pergi.

Prapto menjawab salam itu sambil tersenyum lemah. Ia heran kenapa senyum indah Hanna di pagi hari yang indah ini tampak begitu menyakitkan bagi hatinya. Tapi yang lebih membuatnya heran adalah kenapa dirinya yang begitu banyak kekurangan sampai begitu berharap pada sosok yang sempurna seperti Hanna ?

“Oh yah ?” kata Prapto teringat sesuatu.

Selama ini, ia begitu penasaran akan sosok calon suaminya yang bisa membuat Hanna bertekuk lutut hingga mau menerima lamarannya. Diam - diam ia pun membuntuti langkah Hanna hingga tibalah ia di depan rumah mertuanya. Prapto mengintip hingga sosok yang tampan itu pun keluar menyambut kedatangan Hanna.

“Jadi itu calon suaminya... Cocok sih... Pantes ustadzah Hanna bertunangan dengannya... Semoga ustadzah bisa bahagia yah dengannya” kata Prapto mengaku kalah.

Ia pun pergi sambil menunduk guna melanjutkan kegiatannya untuk beronani sambil melihat rekaman aksi yang baru saja di dapatinya pagi tadi. Cukup lama ia mencari spot sepi hingga akhirnya ia bisa menemukan satu tempat yang tepatnya berada di bagian belakang gedung kelas.

Pak Prapto sempat menoleh ke kanan kemudian ke kiri sejenak sebelum ia menyenderkan tubuhnya ke dinding gedung kelas. Resleting celananya ia turunkan. Sesuatu yang sudah mengeras dari tadi pun dikeluarkan. Dengan gemulai, ia menggenggam penis besar miliknya menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menekan tombol play untuk memutar video langka itu.

“Aahhhhhhh” desahnya saat mulai mengocok penisnya dalam posisi berdiri membelakangi gedung kelas.

Ia pun melihat ulang adegan dari salah satu ustadzah yang masih belum ia ketahui namanya. Ustadzah itu sedang di sandwich yang mana kedua lubangnya dimasuki oleh penis buatan yang ukurannya begitu besar. Ia pun melihat ke bawah untuk membandingkan ukuran penis itu dengan penis miliknya. Pak Prapto merasa dengan begitu yakin kalau penis original miliknya jelas lebih besar dari penis mainan itu.

“Aahhhhh... Ahhhhhh” desahnya saat melihat wajah dari ustadzah itu keenakan saat ditusuk oleh rekan sesama akhwatnya.

Mulut Pak Prapto terbuka membayangkan andai dirinya yang menggantikan akhwat yang sedang ditindihi oleh ustadzah binal itu. Ia membayangkan dirinya yang ditindihi begitu aktif memasukan penisnya mengobok - ngobok liang senggama ustadzah itu.

“Aahhhh... Ahhhhhh” desah pak Prapto semakin kuat.

Saat sedang asyik - asyiknya beronani sambil menonton video pornografi. Ia dikejutkan oleh tangan seseorang yang tiba - tiba ada di pundak sebelah kirinya.

“Ehhh kamprett... kamprettt” katanya terkejut hingga wajahnya terlihat begitu panik. Ia buru - buru memasukan kembali pusakanya ke dalam celana sebelum diejek oleh orang itu.

“Huehuehuehue... Lagi - lagi pak Prapto nih ketahuan coli... Huehuehue” tawanya saat melihat keadaan rekan kerjanya yang tampak menyedihkan.

“Hah bapak ini ganggu aja” kata Prapto terlihat kesal karena pria tua itu telah menghilangkan kenikmatan yang tadi sedang ia rasakan.

“Huehuehue.... Seperti perkataan saya kemarin pak... Hari gini masih jaman nyoli ?” kata Pak Udin mengejek diri Prapto.

Pak Prapto pun hanya diam sambil mendengarkan nada tawa yang perlahan semakin menjengkelkan. Pak Prapto menunduk menahan malu. Saat ia menoleh untuk menatap wajah rekan kerjanya itu. Ia melihat kumis Pak Udin sampai bergetar saat menertawakannya. Ia pun jadi sebal. Ia pun melihat ke arah rekaman videonya sekarang.

“Coli ?” kata Pak Prapto.

“Huehuehuehue... Inget umur pak... Udah tua kok masih suka nyoli... Ngewe lah paling enak !” kata Pak Udin terus menertawakan Pak Prapto.

Pak Prapto naik pitam. Wajahnya jelas memerah. Kedua tangannya pun mengepal. Ia menggertakan giginya hingga berbunyi.

“Coli ? Kata siapa ? saya cuma mengamati korban saya kok !” kata Pak Prapto terbawa emosi.

“Korban ? Huehuehue... Dikira habis bencana alam ada korban ?” kata Pak Udin terus menertawakannya.

Pak Prapto semakin sebal. Karena tak tahan dirinya terus menjadi bahan ejekan. Ia pun mendatangi pak Udin sambil menunjukan video yang tadi sedang dilihatnya.

“Lihat ! Ini ketiga korban saya...” kata Pak Prapto tanpa berpikir pandang.

Pak Udin yang diberi gambar ketiga ustadzah sexy itu pun langsung diam. Mulutnya manyun, matanya terkejut tak mengira. Ia yang dari tadi berisik karena menertawakan pak Prapto jadi diam karena tampak sibuk memperhatikan video langka itu.

“Sudah lihat kan ?” kata Pak Prapto langsung mengambil hape itu dengan paksa.

“Ehhh tunggu dulu... Belumm” kata Pak Udin kesal.

“Hah ? Sudah percaya kan ? Itu semuanya korban saya... Tiap hari saya selalu menikmati keindahan tubuh mereka !” kata pak Prapto bergumam.

Pak Udin pun tak percaya. Bibirnya tersenyum kecut. Ia tak percaya kalau pak Prapto sudah menguasai hati mereka bertiga.

“Begini saja... Besok, terserah kapan waktunya ! Diantara ketiga ustadzah yang ada di video tadi... Saya mau bapak bawa satu aja ustadzah yang ada ditengah tadi ke hadapan saya... Ewe dia dihadapan saya baru saya percaya dengan perkataan bapak tadi” kata pak Udin tersenyum.

Pak Prapto pun diam terperangah. Seketika ia sadar bahwa ia telah terjebak dengan kata - kata tak mendasar yang tadi telah diucapkannya.

“Besok ? Bawa ustadzah itu ke hadapan bapak ?” kata Pak Prapto bertanya sekali lagi untuk memastikan.

“Ya... Bawa ustadzah yang tadi ditusuk depan belakang huehuehue” katanya tertawa.

“Kalau saya tidak membawanya ?” kata Pak Prapto ketakutan.

“Berarti bapak ini tukang ngibul plus tukang coli huehuehue” kata Pak Udin yang membuat telinga pak Prapto kepanasan.

“Oke siapa takut ! Apa yang akan saya dapatkan kalau saya berhasil melakukannya ?” kata Pak Prapto mencoba menggertak.

“Ini lihat ! Saya akan memberi bapak kesempatan untuk menikmati korban milik saya !” kata Pak Udin menunjukan hapenya. Pak Prapto pun terkejut saat melihat ada seorang ustadzah yang sudah telanjang di ruang kelas tapi menyisakan hijabnya saja. Ia agak kesulitan untuk mengenalinya karena wajah itu ditutupi oleh tetesan sperma yang begitu banyak.

“Percaya kan ? Lakukan tugas bapak maka bapak akan mendapatkan hadiah dari saya... Bapak mencoba menghindar ? Ya gak masalah, maka saya akan memanggil bapak dengan panggilan tukang coli setiap kali kita bertemu... Tak peduli kalau ada orang lain disekitar kita, mau itu tukang sapu seperti kita, santri atau bahkan ustadzah sekalipun... Saya akan tetap memanggil bapak tukang coli !!! Huehuehuehue... Dah ah saya sibuk... Saya mau kerja lagi... Sampai jumpa di hari esok tukang coli... Huehuehue” kata Pak Udin pergi menertawakan pak Prapto.

Pak Prapto pun lemas. Ia merasa bersalah pada ustadzah yang bahkan belum ia kenal sama sekali. Boro - boro kenal. Namanya aja belum tahu. Ia pun bingung. Ia bimbang. Haruskah ia menuruti perkataan pak Udin tadi ? Masalahnya disini adalah, Harga dirinya akan dipertaruhkan. Akankah ia dikenal sebagai tukang coli yang suka ngibul ? Ataukah ia akan mendapatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan dari memek seorang wanita ?

“Hah”

Pak Prapto hanya mendesah sambil menyesali dirinya yang asal berbicara. Seketika ia pun terbayang akan sosok ustadzah yang diinginkan oleh pak Udin tadi.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy