Search

CHAPTER 19 - RAUNGAN SANG USTADZAH

CHAPTER 19 - RAUNGAN SANG USTADZAH

Malam telah datang membawa angin dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ditengah pencahayaan yang remang - remang. Terbaringlah seorang wanita yang tidur dalam posisi terlentang. Posenya menantang. Karena bidadari itu sedang tertidur dalam keadaan telanjang.

Hanya sehelai selimut yang menutupi tubuh sang bidadari. Wajahnya terlihat dan sebagian telapak kakinya juga terlihat. Wanita cantik itu sedang dalam keadaan lemah tak berdaya. Kepalanya yang dialasi oleh bantal empuk itu berulang kali bergerak ke kiri dan ke kanan. Ia seperti resah. Tubuhnya gusar seperti sedang memimpikan sesuatu yang menyeramkan. Bulir - bulir keringat mulai muncul dari pori - pori kulitnya. Kulit sang dewi telah lembap membuat tampilan visualnya semakin mantap.

Walau masih tertidur tetapi kecantikannya tidak pernah luntur. Tampak posisinya yang tidur terlentang membuat dadanya yang indah itu tinggi menjulang. Ia mengernyitkan dahinya saat merasakan ada yang nyeri dikepalanya.

Bidadari cantik itu sudah terbangun. Matanya telah membuka, menatap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Ia pun bangkit dari posisi tidurnya. Ia pun terkejut kenapa dirinya bisa berada di tempat seperti ini.

“Aaaaahhhh... Adduhhhh kepalaku” katanya sambil memegangi kepalanya yang nyeri.

“Innniii... Iniii dimana ?” katanya sambil melihat sekitar. Ruangan itu tidaklah asing baginya. Desain interior ruangan itu. Foto - foto yang terpasang di dinding ruangan itu. Jelas kalau dirinya sedang berada di dalam ruang tamu rumahnya sendiri.

Mata sang bidadari itu berkedap - kedip sambil menyesuaikan cahaya yang masuk melalui pupilnya. Ia memegangi kepalanya sambil mencoba mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Iniii... Iniiii di rumah kan yah ?” katanya dengan lirih. Ia agak ragu tapi ia juga yakin. Ia hanya bingung kenapa dirinya bisa terbangun di atas sofa panjang yang berada di dalam ruang tamu rumahnya.

Wakakakakak... Goyangg terusss ustadzahhh... Goyanggg terusssss.

“Aadduuhhh kepalaku” katanya merintih setelah teringat sesuatu.

Ustadzah cantik itu memejam mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya telah terjadi. Samar - samar ia teringat bayangan dari pria tambun yang menyuruhnya untuk bergoyang ketika duduk diatas pangkuannya.

Ahhhh... Ahhhh.... Apa yang sudah bapak lakukan ? Ahhhh... Apa yang sudah bapak lakukan padakuhh... Mmmpphhhhhh ?

Wakakakakaka... Entahlah, mungkin ustadzah sendiri yang mulai ketagihan kontol saya !

Puzzle yang sebelumnya sempat berceceran mulai tersusun kembali. Sedikit demi sedikit. Satu demi satu. Ia mulai mengingat kejadian yang telah terjadi padanya.

“Benar juga... Tapi, itu cuma mimpi kan ? Itu gak nyata kan ?” kata Nada masih ragu.

Aahhhh... Ahhh pakkk... Tolloongggggg !!

Wakakakakak, Ada apa ustadzah ?

Tolloonnggg pakkk... Puasi aku... Puasi aku pakkkk... Aku gak tahan lagiiii.

Plookkkk... Plokkkkk... Plokkk !!!

Wakakakakak puasi gimana ustadzah ? Apa yang harus saya lakukan ?

Ahhhh penis bapakkkk... Ahhhhhh... Tolonggg aku butuh penis bapakkk.

Wakakkaka bukan penis namanya ustadzah... Tapi kontol !!! Apa coba ulangi ?

Konntt.... Konnn...

Iyahhh ? Apa ??? Saya gak denger ustadzahhh... Ouhhh mantepnya goyangan ustadzahhh !

Konttooll bapakkk... Iyyahhh... Aku butuh kontolll bapakk.... Puasi aku dengan kontol bapakkkk tolongg pakkk.... Ouhhhhhh...

Wakakakakak, baiklah kencangkan sabuk pengamannya yah !

Jlleeebbbbbb... Plokkkk... Plokkk... Plokkkk !

Iiiiyyyyaaahhhhh... Bapaaakkkkkk !!!

“Mmmpphhhh... Kepalakuu... Kenapa rasaya pusing banget ?” kata Nada sambil memegangi kepalanya.

Tiap kali dirinya teringat akan memori yang terbayang tadi. Ia selalu merasakan pening di kepalanya. Memori itu, kejadian itu, semuanya terasa bagai mimpi bagi sang wanita yang bernama Nada. Ia merasa kalau apa yang terbayang di benaknya itu bukanlah kejadian yang terjadi di dunia nyata. Itu pasti palsu ! Itu pasti hanyalah mimpi belaka.

“Ehhh baju aku mana ?” kata Nada menyadari kalau dirinya sudah telanjang bulat di atas sofa ruang tamu rumahnya. Tubuhnya yang polos itu hanya tertutupi oleh selimut panjangnya saja. Pakaiannya hilang, pakaian dalamnya juga hilang bahkan hijabnya juga hilang. Nada benar - benar telanjang tanpa mengenakan satupun pakaian.

Ia pun menatap ke arah kalender tanpa sengaja. Dari sekian tanggal yang ada di kalender tersebut. Ada satu dari tiga puluh hari yang dilingkari dan itupun terjadi di hari ini. Hari ini merupakan hari peringatan satu tahun pernikahannya dengan Rendy. Jadi, kalau itu yang sebenarnya terjadi, bukankah hal tadi bukanlah mimpi ?

Nada shock berat. Buru - buru ia membuka selimutnya untuk memegangi lubang kemaluannya. Benar saja, lubang vaginanya telah becek bahkan diatas sofa yang ia tempati, terdapat noda basah yang merembes ke dalam.

Nada pun menyadari kalau hal itu benar - benar terjadi. Ia kini mulai mengingat semuanya. Ia mulai teringat ketika pria tua berperut tambun itu mengaduk - ngaduk lubang vaginanya menggunakan penis tak bersunatnya.

"Astaghfirullah... Jadi itu beneran yah ?" Kata sang ustadzah menyesali perbuatannya.

Ia pun bersandar pada sofa panjang ruangannya. Rambutnya yang panjang itu, ia bebaskan tergurai. Tubuhnya benar - benar berkeringat, membuat bidadari itu merasa tak nyaman dengan keadaan dirinya.

"Hahhh" Ia mendengus pelan meratapi kejadian yang telah menimpa kehidupannya. Sambil bersandar pada sofa, ia menutupi tubuh polosnya dengan selimut panjang yang sedari tadi melindunginya dari dinginnya cuaca malam.

Ia menatap sebuah foto yang terpasang di dinding ruang tamu rumahnya. Nada tersenyum di foto itu. Suaminya juga tersenyum di foto itu. Dengan gaun pengantin berwarna putih. Nada terlihat cantik. Begitupula suaminya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam. Rendy nampak jantan dengan senyuman manisnya yang menawan. Nada tersenyum di malam itu menatap masa - masa yang terjadi sekitar satu tahun yang lalu.

Kini sudah tepat satu tahun semenjak pernikahannya dengan suaminya sekarang. Namun yang terjadi pada dirinya sekarang adalah, ia dibiarkan oleh suaminya untuk dinikmati sepuasnya oleh pria tua berperut tambun yang sehari - hari bekerja sebagai pengantar paket.

Yang mengerikan bagi Nada adalah, pria tua itu tak bersunat. Bahkan ia mengenakan kalung salib yang menjelaskan kalau dirinya dan pria tua itu tidak berada pada keyakinan yang sama. Lantas bagaimana kalau dirinya hamil. Apa yang akan ia jelaskan pada anaknya kalau si anak bertanya siapa ayahnya yang sebenarnya ?

Air mata kesedihan mengalir jatuh dari pelupuk mata Nada. Tubuh Nada memang menggoda. Tapi bukan berarti tubuhnya bebas dinikmati oleh siapa saja. Ia pun mempertanyakan komitmen suaminya dalam menikahi dirinya. Kenapa ada seorang suami yang membiarkan istrinya dilecehi seperti ini ?

Nada menunduk jatuh sambil menutupi wajahnya yang dibanjiri dengan air mata. Air mata itu mengalir melewati pergelangan tangannya hingga jatuh ke siku. Nada menangis sejadi - jadinya. Ia benar - benar merasa hina tiap kali dirinya teringat ucapannya pada lelaki tak bersunat itu.

Tolloonnggg pakkk... Puasi aku... Puasi aku pakkkk... Aku gak tahan lagiiii.

"Astaghfirullah... Kenapa aku sampai mengatakan hal itu ? Apa yang sebenarnya terjadi padaku ?" Kata Nada sambil membasuh wajahnya kemudian menyisir rambutnya ke belakang.

"Apa jangan - jangan ?" Katanya saat teringat perkataan pria tua itu.

Wakakakakaka... Entahlah, mungkin ustadzah sendiri yang mulai ketagihan kontol saya !

"Aku... Ketagihan ? Ihh amit - amit" Kata Nada sambil bergidik jijik.

Ia pun melihat ke arah jam yang terpasang di dinding ruangan.

"Udah jam sepuluh rupanya ? Pak Heri dan mas Rendy mana ? Apa sudah pulang ?" Kata Nada penasaran.

Ia pun beranjak dari sofa ruangannya tuk berdiri mencari kedua orang tersebut. Tak sengaja matanya menatap ke arah gelas yang tersedia di atas meja ruang tamu rumahnya. Ia kembali duduk sambil meraih gelas berisi air mineral tersebut kemudian ia menenggaknya dengan begitu rakus karena terlalu haus.

"Hahh segarnyaaa" Katanya sambil menaruh kembali gelas kosong itu di atas meja ruang tamunya.

Setelah merasa segar, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk mencari pakaian demi mengurangi hawa dingin yang perlahan semakin dingin. Tubuh polosnya semakin membeku. Ia benar - benar tak sanggup untuk berkeliaran di ruang tamunya dalam keadaan telanjang bulat.

Selangkah demi selangkah. Wanita cantik itu mulai berjalan menuju kamarnya. Saat dirinya melintasi perbatasan ruang tamunya dengan ruang makan rumahnya. Ia terkejut saat dirinya menatap dua orang yang ia cari - cari sedari tadi.

"Ustadzah.. Sudah bangun rupanya" Kata pak Heri yang saat itu hanya mengenakan kolor lebar berwarna hijaunya. Tubuhnya yang tambun. Rambutnya yang cepak. Serta wajahnya yang jauh dari kata tampan perlahan mulai mendekat. Nada hanya diam mematung tak dapat menggerakan kakinya. Ia hanya menutupi kedua payudaranya beserta selangkangannya menggunakan selimut yang ia bawa. Ia pun ketakutan. Ia tak tau lagi harus berbuat apa.

"Wakakakakak... Selamat malam ustadzah... Ustadzah habis mimpi indah yah ?" Kata pak Heri sambil mencengkram rahang Nada dengan lembut tuk merasakan halusnya kulit yang ia miliki.

Nada hanya terdiam sambil menatapnya dengan tatapan sinis. Ia sangat tak suka sosok lelaki ini. Ia juga merasa malu tiap kali dirinya teringat kejadian waktu itu.

"Wakakakakak kok ustadzah jadi pemalu gini sih... Padahal tadi ustadzah teriak - teriak minta dipuasi oleh saya" Kata Pak Heri yang membuat amarah Nada tersulut.

"Diam pak... Jangan ungkit masalah itu lagi !" Kata Nada dengan kesal.

"Wakakakakak... Sok tangguh banget sih dirimu sayang" Kata pak Heri menarik selimut Nada dengan paksa hingga bidadari cantik itu hanya bisa menutupi bagian intimnya menggunakan kedua tangannya saja.

"Ahhhhh... Sudah pak jangan lagi... Jangan tatap aku seperti itu !" Kata Nada merasa malu.

"Wakakakakak dasar yah" Kata Pak Heri kembali mencengkram rahang Nada.

"Mmpppphhhhhh" Pak Heri mendorong bibirnya ke bibir Nada. Ia mencumbunya dengan penuh nafsu. Setelah sepuluh detik berlalu. Ia pun melepas cumbuannya sambil menampar bokong montok itu.

"Mmmppphhh.... Awwwwww" Desah Nada dengan manja.

"Wakakkaka dah sana mandi... Pakai pakaian yang rapih... Saya tunggu ustadzah di ruang makan ini... Belum makan malam kan ?" Kata pak Heri mempersilahkan bidadari cantik itu untuk membersihkan diri.

Nada dengan malu - malu berjalan menuju kamar mandi. Ia sangat malu hingga dirinya tidak sempat untuk menatap suaminya yang sedari tadi terdiam menatap aksi pak Heri.

"Wakakakakak hebat sekali pak ustadz bisa punya istri semantap ustadzah Nada" Kata pak Heri memuji kecantikan Nada.

"Hahaha itu bukan apa - apa pak... Yang jelas kita bisa nikmati istri kita bersama" Kata Rendy tertawa.

"Wakakakaka... Istri kita ? betul itu pak ustadz... Serahkan semuanya ke saya" Kata pak Heri tertawa.

Ia pun menatap ke arah ruang tamu tuk melihat sesuatu yang ia taruh disana. Kembali senyuman penuh kemenangan terpampang di wajah buruk rupanya.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Nada sudah keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri dan berdandan sesopan mungkin demi meladeni tamu istimewanya di hari yang juga istimewa. Saat Nada keluar, kedua pria yang sudah menantinya sejak lama langsung terdiam terpana. Mereka sama - sama takjub akan pesona yang dimiliki oleh ustadzah cantik ini.

Bagaimana tidak terpesona ? Bahkan suaminya yang sudah satu tahun hidup bersamanya saja terpana tiap kali melihat istrinya selesai berdandan.

Nada mengenakan kemeja longgar berwarna merah muda yang ia padukan dengan celana panjang yang juga berukuran longgar berwarna putih cerah. Hijabnya juga berwarna putih cerah. Wajahnya juga bersinar cerah. Walau bidadari itu tidak tersenyum, aura pancaran kecantikannya yang sempurna membuat mata dari dua pria itu silau terpana.

Nada mendekat menuju salah satu kursi kosong yang berada tepat di sebelah pak Heri. Nada diam menunduk. Ia merasa tak nyaman ketika pak Heri dengan terang - terangan menatap lekuk tubuhnya.

Tanpa memperdulikan tatapan dari pria tua itu, ia menyendok nasi hangat dari dalam mesin penanak nasi. Kemudian ia mengambil sejumlah lauk yang sudah ia buat di sore hari. Nada tak nyaman saat pak Heri dengan bebasnya menatap wajah cantiknya sambil tersenyum mesum. Nada ingin menegurnya tapi ia terlalu malas untuk melakukan itu. Ia pun berharap pada suaminya tuk menegur pak Heri agar tidak melulu menatapnya. Namun saat dirinya menatap suaminya, suaminya malah ikut menatapnya yang membuat bidadari itu merasa jengah.

"Aku makan dulu" Kata Nada dengan lirih.

"Ya silahkan" Jawab pak Heri.

Sesuap demi sesuap nasi telah masuk ke dalam mulut Nada. Tak seperti biasanya, Nada tak begitu lahap dalam mengkonsumsi santapan makan malamnya. Tatapan dari dua pria inilah penyebabnya. Mungkin tatapan dari suaminya bukanlah sebuah masalah. Tapi tatapan dari pak Heri lah masalah dari segala permasalahan yang menimpanya.

Nada memaksa diri tuk menghabiskan nasi yang ada di piring itu. Namun bagaimana pun ia memaksa, perutnya menolak tuk menghabiskan sejumlah nasi yang ada di atas piringnya.

"Hmmmmmm" Nada membalikan sendoknya. Ia terlalu jengah untuk menghabiskan nasi di piringnya. Ia pun menyudahi makan malam nya sambil terus ditatapi oleh pria tak bersunat itu bersama suami tampannya.

"Udahan dek ? Gak kaya biasanya ?" Tanya Rendy heran.

"Udah ah mas... Gak nafsu" Kata Nada sambil memasamkan mukanya berharap kedua pria ini paham dengan kondisi hatinya.

"Wakakakka... Kalau ngemut kontol saya pasti nafsu kan ?" Kata pak Heri yang membuat Nayla nyaris tersedak. Mendengar ucapannya itu membuat Nada hampir memuntahkan makanan yang baru masuk ke dalam perutnya.

"Dijaga yah omongannya pak" Tegur Nada tak tahan lagi.

Pak Heri menatap Rendy. Rendy ikut menatap pak Hery.

"Wakakakakak" "Hahahahaha"

Kedua pria itu malah tertawa yang membuat Nada heran tak habis pikir. Pak Heri tertawa sih wajar karena pria seperti pak Heri memang butuh dihajar. Tapi suaminya ? Kenapa suaminya malah ikut tertawa ? Apakah suaminya menertawakannya ?

Braaakkkkk !!!

Dengan penuh kekesalan, Nada menghantam meja makan itu menggunakan kedua telapak tangannya. Dirinya kecewa, raut wajahnya sebal. Ia sudah muak dengan acara yang katanya 'anniversary' itu.

Acara gak berguna ! Hanya menyesakan hati saja !

Batin Nada karena saking kesalnya. Ia berdiri lalu membalikan badan untuk kembali ke kamarnya.

"Dek tunggu, adek mau kemana ?" Kata Rendy ingin menahan tangan Nada.

"Lepaskan mas... Adek capek kaya gini terus... Adek mau tidur aja !" Kata Nada bergegas memasuki kamarnya.

"Tenang, biar saya saja yang urus" Kata pak Heri menyusul Nada.

"Tolong yah pak" Kata Rendy yang hanya di balas anggukan oleh Pak Heri.

Nada berjalan dengan secepat mungkin tuk memasuki kamar tidurnya. Matanya berkaca - kaca. Ia sangat marah pada kedua pria yang sedang ada di belakangnya. Ia marah pada Rendy karena tidak menjalankan perannya sebagai seorang suami. Ia lagi - lagi mengutuk sikap Rendy yang sama sekali tidak memiliki rasa dayyuts padanya. Bagaimana bisa, ia tidak memiliki rasa cemburu sama sekali padanya. Ia juga marah pada pak Heri. Ia sangat yakin, pasti pak Heri lah yang telah mengubah pola pikir suaminya hingga menjadi rusak seperti ini. Nada mengusap air matanya yang menetes. Ia berjalan sesenggukan sambil menahan rasa kecewanya.

Akan tetapi, tiba - tiba, lagi - lagi ia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ia merasakan sesuatu yang mirip saat dirinya berada di atas angkuan pak Heri pada awal malam tadi. Tubuhnya terasa panas. Lubang kemaluannya terasa gatal. Saking gatalnya, ia sampai mengatupkan kakinya karena tak tahan dengan apa yang ia rasakan di malam ini.

Kenapa lagi ini ? Apa yang sebenarnya terjadi padaku ?

Batin Nada heran.

Padahal sedikit lagi, ia hampir meraih gagang pintu dari kamar tidurnya. Ia pun memaksa diri kendati dirinya merasa tak tahan dengan suasana yang ada di dalam tubuhnya. Ia seperti lebih bergairah. Tubuhnya pun terasa gerah. Rasanya ia ingin melepas seluruh pakaiannya dan merangsang lubang sempit yang ada di bibir kemaluannya.

"Mmmpppphhh kenapa ini ?" Katanya saat meraih gagang pintu itu.

Nada berhasil meraihnya, ia pun membuka pintu itu kemudian memasukan seluruh tubuhnya ke dalam. Namun, saat dirinya hendak memasuki kamar tidurnya. Ada sesosok tangan yang mendorong dirinya masuk. Sosok itu pun ikut masuk. Nada penasaran dengan sosok orang yang telah mendorongnya masuk ke dalam ruang tidurnya. Saat ia berbalik, ia mendapati sosok itu telah mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sosok itupun tersenyum. Sosok tambun yang hanya mengenakan celana kolor berwarna hijaunya.

"Wakakakakak... Ustadzah ingin bercinta lagi dengan saya kan ?" Kata pak Heri yang membuat Nada mundur ketakutan.

“Enggak, enggak pak... Apa yang bapak lakukan disini ?” kata Nada sambil memundurkan dirinya.

“Disini ? ya jelas membantumu Ustadzah ! Saya yakin, ustadzah sedang membutuhkan bantuan saya kan ?” katanya sambil menjilati tepi bibirnya sendiri. Mata pak Heri terpaku pada tonjolan yang muncul di dada sang dewi. Pak Heri geleng - geleng kepala tak mempercayai. Bagaimana bisa ada wanita yang sudah mengenakan pakaian longgar tapi masih memiliki tonjolan di dada ? Seberapa besar sebenarnya buah dada sang dewi ? Semantap itu kah rasa dari buah dada sang dewi ? Memang tak salah kalau Nada ini memiliki kecantikan mirip bidadari. Wajah oke, tubuh oke, erangannya pun oke. Siapa yang tidak ketagihan coba untuk merasakan kembali vagina lezat yang tersembunyi di selangkangan sang bidadari.

“Apa maksud bapak ? Aku tidak mau apa - apa sekarang pak ! Aku mau tidur, aku lelah dengan semua ini pakkk.... Mmmmpppphhhhh” desah Nada berlutut sambil memegangi selangkangannya yang semakin gatal.

“Wakakakakak... Yakin bisa tidur dalam kondisi seperti itu ?” kata Pak Heri yang menatap Nada sambil menunduk memegangi selangkangannya.

“Saya tau, ustadzah pasti sedang membutuhkan ini lagi kan ?” Lanjut pak Heri sambil mengelus penisnya yang berereksi maksimal.

“Nada menaikan wajahnya, tepat dihadapannya ada tonjolan besar yang muncul di selangkangan pak Heri. Nada terkejut saat melihatnya. Namun entah kenapa pandangan Nada mematung tuk menatap tonjolan itu. Nada tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Nada tidak mampu untuk mengalihkan pandangannya. Menatap benda yang super besar itu saja sudah membuat dirinya tak tahan untuk menyingkap celana yang menghalangi tonjolan besar tersebut.

“Ustadzah penasaran kan ? Saya turunkan yah ?” kata pak Heri sambil menurunkan celana kolornya. Nampak penisnya yang berwarna hitam dan memiliki kulup yang menutupi ujung gundulnya itu menggoda pandangan Nada untuk kesekian kalinya. Nafas Nada langsung kembang kempis. Kedua kakinya semakin mengatup saat merasakan lubang vaginanya semakin lembap disana. Tangan Nada gatal ingin menyentuhnya. Matanya teralihkan oleh kemegahan dari penis yang mengenakan tutup hoodie tersebut.

“Wakakakakakak... Indah bukan ? Kenapa ustadzah gak nyoba buat megang ? Coba nih pegang... Nih pegang !” kata Pak Heri sambil mendorong - dorongkan pinggulnya hingga ujung berkulupnya mengenai pipi dari sang bidadari. Aroma selangkangannya mulai terhirup di hidung Nada. Aroma khas bapak - bapak itu membuat Nada semakin bergairah. Nada bingung. Ustadzah cantik itu termenung. Kenapa ia jadi terangsang seperti ini ? Kenapa matanya jadi tergoda oleh keperkasaan penis pria tua ini.

“Wakakakakaka ayo ustadzah... Jangan malu - malu, ustadzah pasti mau kan tuk merasakannya lagi ?” kata pak Heri yang membuat Nada semakin tertarik.

Nada masih malu - malu. Dorongan hawa panas dari dalam tubuh membuatnya ingin selalu tuk mendekap benda berkulup itu. Tapi harga dirinya sebagai seorang ustadzah pemilik body goals terbaik dipertaruhkan. Masa iya, ia menghamba pada penis tak bersunat itu. Tapi semakin ia menatapnya, ia semakin tergoda untuk mengulumnya. Ia ingin memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Ia ingin mengulumnya dan menjilati batang penis itu saat memasuki rongga mulutnya.

“Hah... Hahhh... Hahhhh” desah Nada ngos - ngosan. Ia sudah tidak tahan lagi. Tapi akal sehatnya terus bertahan agar tidak mengulangi dosa itu lagi. Pak Heri tersenyum kagum melihat kekuatan dari sang bidadari. Ia tak mengira, kalau Nada bisa bertahan sekuat ini saat tubuhnya mulai dipengaruhi oleh obat perangsang itu lagi. Pak Heri semakin berbangga diri. Karena sebentar lagi, dirinya akan kembali mencicipi tubuh indah dari sang bidadari yang sangat alim.

Mereka masih terdiam. Pak Heri hanya menyentuhkan penisnya ke pipi sang bidadari. Nada juga terdiam karena dirinya masih kuat bertahan dari pengaruh obat perangsang yang semakin merangsangnya.

Kayaknya memang harus dirangsang dulu nih !

Batin pak Heri terpikirkan sebuah ide.

“Ayo berdiri ustadzah... Ustadzah itu gak usah malu - malu kalau sedang sama saya... Inget ustadzah itu sudah ketagihan, kenapa ustadzah masih sok - sokan menjaga diri ? Mending sini tatap wajah saya dan rasakan kenikmatan yang akan saya berikan !” kata pak Heri mengangkat Nada hingga berdiri saling berhadapan. Ia mencengkram lemah rahang Nada, kemudian memajukan bibirnya yang langsung diterima oleh bidadari cantik itu.

“Mmmmmppphhhhhhhh” desah mereka berdua.

Saat bibir mereka bertemu, pak Heri langsung mendorongnya tuk meresapi kenikmatan yang ia dapatkan. Tangan kiri pak Heri menahan punggung sang bidadari. Sementara tangan kanannya, mencengkrami rahang Nada dengan lemah.

Bibir mereka bersatu. Mata mereka memejam. Nada melenguh saat menahan hujaman dari bibir pak Heri yang kejam. Deru nafas Nada yang menggoda membuat diri pak Heri semakin terpana. Akhirnya, ia kembali merasakan rasa dari bibir manis ini lagi. Mulut pak Heri membuka tuk mencaplok bibir bagian atas Nada. Lidahnya pun keluar tuk menjilati tepi bibir Nada yang mengering. Matanya memejam menahan kenikmatan yang semakin menghujam. Lidahnya memasuki rongga mulut Nada. Lidahnya menjelajah tiap sisi tuk menikmati sensasi kenikmatan yang sangat berharga.

Kembali, lidah mereka saling bertemu. Awalnya ujung dari lidah mereka saling bertubrukan. Kemudian meningkat menjadi saling bergesekan. Lidah itu mengalami perputaran. Kadang lidah Nada yang dibawah kadang lidah Pak Heri yang ada dibawah. Lidah itu saling tindih - tindihan. Lidah itu semakin bergairah. Percumbuan mereka sangat menggairahkan membuat tangan pak Heri tak tahan untuk membiarkan tubuh Nada menganggur begitu saja.

“Mmmpppphhhh... Mmppphhhhh... Sllrrpppp... Aahhhhhhhh” desah Nada menikmati percumbuan ini. Tubuhnya memang menikmati tapi pikirannya terus merenungi. Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa dirinya menjadi semurah ini ? Kenapa dirinya malah menikmati hubungan yang nista ini ? Ciuman pria ini, cumbuan pria ini, bahkan sentuhan pria ini ! Nada semakin bergairah. Nada semakin tergoda untuk membiarkan pria ini bertindak sesukanya.

Payudara Nada di remas. Pak Heri meremasnya dengan begitu gemas. Akibatnya, tubuh Nada menjadi semakin panas. Ia mendesah dengan penuh gairah seiring tubuhnya yang semakin lemah. Nada benar - benar takluk. Rasa malu - malunya perlahan hilang ketika pria tua ini semakin aktif dalam merangsang keindahan tubuhnya.

“Ouuhhhhh... Mmmpppphhhhh... Mmpphhhhhh” desah Nada yang membuat pak Heri tertawa.

Rasanya sungguh nikmat. Tubuh Nada terasa lezat. Ia pun meremas payudaranya semakin kuat. Mulut Nada terbuka lebar. Rasanya sangat memuaskan hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.

Pak Heri melepas cumbuannya sejenak sambil menatap keindahan di wajah sang akhwat. Nada mendesah sambil menatap pak Heri dengan tatapannya yang sayuk. Ia seperti kebingungan, kenapa pak Heri menyudahi percumbuan yang nikmat ini ? Kenapa remasan di payudaranya juga berhenti ? Kenapa pak Heri bisa setega ini ketika dirinya semakin terangsang menikmati remasan pria tua ini ?

“Mau lagi ?” lirih pak Heri yang membuat Nada mengangguk tanpa sadar.

“Kalau gitu. Lakukanlah sendiri !” kata pak Heri yang membuat Nada diam kebingungan.

Matanya terpaku menatap bibir pak Heri. Bidadari itupun menjilati bibirnya sendiri. Ia sudah tak tahan. Dirinya sudah tak kuat menahan birahi yang semakin tak tertahankan ini. deru nafas pria tua ini yang menerpa wajah cantiknya semakin meningkatkan amarahnya tuk mencaplok bibir buas pria tua ini. Ia pasrah. Ia mengalah. Ia memejamkan matanya kemudian mendekatkan wajahnya tuk menikmati bibir lezat itu lagi. Pak Heri tersenyum melihat keputusan ustadzah cantik ini.

“Mmpppphhhhhh.... Mmmppphhhhh... Mmppppppp slllrrrpppp ouhhmmmmm” desah Nada mencumbui bibir pak Heri.

Nada sudah bernafsu. Lidahnya dengan aktif mencicipi bibir bagian atas pak Heri. Bibir tipisnya mengulum bibir tebal pak Heri. Kedua lengannya yang sedari tadi menganggur, ia rangkulkan ke sisi belakang leher pak Heri. Ia mencumbunya dengan penuh mesra. Ustadzah yang masih berpakaian lengkap ini mencumbu bibir pria tua yang sudah tidak berpakaian sama sekali.

Cumbuan yang Nada berikan membuat pak Heri tak tahan lagi. Kedua tangannya ikut mendekap punggung Nada. Mereka berpelukan erat dengan begitu mesranya. Tangan Nada ada di belakang leher pak Heri. Tangan pak Heri ada di belakang punggung Nada. Tangan pak Heri perlahan turun sambil meraba keindahan pinggul Nada. Sampailah ia dibongkahan pantat Nada yang sangat mengagumkan. Teksturnya kenyal, besar, membuat pak Heri semakin tak tahan untuk mencengkramnya kuat.

“Mmmmmppphhhhhhhhh” desah Nada saat merasakan cengkraman tangan pak Heri di bokongnya. Stimulasi yang pria tua ini berikan membuat diri Nada semakin bernafsu dalam mencumbui pria tua ini. Lidahnya pun bergerak aktif dengan memasukannya ke dalam mulut pak Heri. Lidah Nada disedot membuat birahinya semakin naik merasakan sensasinya. Mulut mereka sama - sama terbuka. Lidah mereka sama - sama keluar. Mereka saling menjilat dimana lidah Nada sedang menjilati lidah pak Heri. Begitupula sebaliknya. Mereka sama - sama memejam merasakan foreplay yang semakin bergairah ini.

Mereka pun berhenti ketika mata mereka saling menatap. Pak Heri menatap wajah Nada dengan penuh nafsu sedangkan Nada menatap wajah pak Heri dengan penuh keheranan. Ia heran pada diri sendiri. Dirinya semakin terangsang saja. Dirinya semakin tak tahan untuk membiarkan ketelanjangan pak Heri menjadi sia - sia. Ia pun menatap keseluruhan tubuhnya yang tambun. Perutnya yang maju, puting hitamnya yang mengacung. Penis tak bersunatnya yang naik turun tak beraturan. Ditambah dengan kulit gelapnya yang sangat kontras dengan beningnya tubuh Nada. Entah belajar dari mana. Wajah Nada pun mendekat untuk menjilati puting dari pria tua ini.

“Aahhhhh... Ahhhh ustadzahhhhh” desah pak Heri terkejut melihat nafsu yang ditujukan oleh bidadari berhijab ini.

Nada menjilati puting sebelah kanan pak Heri. Jilatannya naik kadang turun. Lidahnya bergerak aktif untuk membasahi tubuh tambun pria tua ini. Jilatannya berpindah ke sisi kiri puting pak Heri. Putingnya itu disedot, putingnya itu dikenyot. Membuat pemiliknya merem melek merasakan cumbuan dari wanita berhijab ini. Lidah Nada bergerak turun merangsang perut pak Heri. Tangannya yang semakin gemas akhirnya membetot penis tak bersunat pak Heri. Tangannya bergerak maju lalu mundur lalu maju lagi lalu mundur lagi. Penis pak Heri berkedut merasakan betapa mulusnya kulit yang dimiliki bidadari satu ini. Nada masih menjilati tubuh pak Heri. Rasanya, ia seperti ibu kucing yang sedang memandikan anak - anaknya. Ia tak henti - hentinya menjilati pak Heri sambil mengocok penis kerasnya yang semakin menggoda.

Ia pun berjongkok sambil memandangi penis yang sedang ia kocoki. Nada diam mematung sambil mengeluarkan deru nafasnya yang semakin berat. Nafsunya semakin berat. Ia semakin tak tahan akan keindahan rupa dari penis tak berkulup ini. Pak Heri tak menduga kalau efeknya bisa sekuat ini. Ia mencoba mengingat - ngingat berapa dosis yang ia masukan ke gelas bidadari cantik ini. Kalau tak salah, ia memasukan setengah bungkus dari serbuk itu ke gelas minuman Nada. Sementara setengah sisanya ia oleskan ke bibir kemaluan Nada.

Pak Heri tertawa. Pantas saja Nada menjadi bergairah seperti ini. Orang dosisnya aja kebanyakan ! Harusnya mah satu sendok teh saja setiap satu gelas !

“Ayo ustadzah jangan diliatin aja... Masukan dong kontol saya ini !” kata pak Heri.

“Konnn... Toollll” kata Nada yang membuat dirinya semakin kotor setelah mengucapkan kosa kata itu.

“Ia masukan seperti ini ustadzah” kata pak Heri merangsang Nada dengan melekatkan penisnya ke bibir tipis Nada.

Merasakan bibirnya di dorong - dorong oleh penis pria tua itu. Membuatnya semakin tak sabar untuk merasakan kelezatannya lagi. Mulut Nada membuka, penis besar itupun masuk menembus hingga ke pangkal kerongkongannya.

“Ouuhhhhh yahhh ustadzahhhh !!!” desah pak Heri puas.

Penis itu langsung menembus rongga mulut Nada. Nada jadi gelagapan. Karena penis itu saja masih menyisakan setengahnya yang tidak bisa masuk ke dalam rongga mulutnya. Nada memejam bahkan kepalanya terdorong ke belakang menahan dorongan pinggul pak Heri.

“Uhhhhhhhhhhh” desah pak Heri sambil memegangi kepala Nada. Pinggulnya ia tarik kemudian dorong kemudian tarik lagi lalu dorong lagi.

Nada memejam menahan dorongan yang sedang pak Heri lakukan. Pria tua itu ikut memejam merasakan sensasinya disepong oleh bidadari berhijab yang memiliki wajah cantik jelita.

Terasa bagaimana tepi bibir dari ustadzah cantik ini menghimpit penis besar pak Heri. Pak Heri blingsatan. Ia mendesah tak karuan merasakan kuluman dari bidadari cantik ini.

Kenikmatan yang semakin tak tertahankan membuat pak Heri mempercepat gerakan pinggulnya. Nada mengerang di bawah. Ia tak kuasa menahan nafsu pak Heri yang semakin brutal. Kerongkongannya dihantam. Ia bertindak kejam. Ia tak peduli selama nafsu birahinya terpuaskan.

Plokkkk plokkk plokkkk !

Mulut Nada menahan tiap sodokan yang pak Heri lakukan. Pak Heri mengatur nafasnya kuat - kuat. Ia tak mau kecolongan hanya karena kenikmatan mulut Nada, ia jadi tidak bisa memasukan torpedonya ke dalam vagina bidadari ini.

“Mmmppphhhh.... Mmpphhhh... Mmppphhhh” desah Nada tertahan.

Pak Heri tak tahan lagi. Ia sudah di ambang batas. Ia pun menancapkan penisnya hingga ke ujung mentok pangkal kerongkongan Nada sebelum dirinya menarik keluar penisnya lagi.

“Hyuffff... Hampir saja” kata Pak Heri yang nyaris kelepasan.

“Uhhukkkk... Uhhukkk... Uhhuukkk” Nada sampai terbatuk - batuk merasakan kebuasan yang dimiliki oleh pria tua ini.

Belum selesai rasa lelah yang ia rasakan. Pak Heri sudah mengangkat tubuh Nada kemudian melemparkannya diatas ranjang tidurnya. Nada terbaring dalam posisi terlentang. Nada menatap wajah Pak Heri pasrah. Pak Heri pun menarik paksa celana longgar Nada berikut celana dalamnya. Nampak bulu kemaluan Nada yang dicukur rapih terlihat. Ia pun menurunkan wajahnya tuk menyeruput liang senggama yang sangat lezat itu.

“Aahhhhhh.... Aahhhhh pakkkk jangan seperti ituhhhh” desah Nada hingga tubuhnya terangkat naik merasakan kelezatannya.

Lidahnya menjorok keluar. Lidahnya mengorek - ngorek rongga dari vagina wanita cantik itu. Rasa asin, manis, asam bercampur jadi satu saat pria tua ini menjilati rongga vagina Nada. Nada mendesah. Ia benar - benar terangsang saat merasakan jilatan pria tua itu di vaginanya.

Nada sampai harus mencengkram kuat sprei ranjangnya. Dadanya yang masih tertutupi kemeja longgarnya terlihat semakin membesar. Nafsu Nada sepertinya sangat besar. Ia sudah lelah melakukan pemanasan yang sangat menggairahkan. Tubuhnya sudah sangat panas. Ia tidak menginginkan pemanasan lagi selain tusukan dari pria tua tambun ini.

“Wakakakak manis banget ustadzah... Cuhhhhhh” katanya meludahi rongga vagina Nada.

Ia pun mendekat sambil menarik pinggul Nada agar memasuki area tusukannya. Nada yang masih mengenakan kemeja itu menatap mata pak Heri. Jantungnya berdegup kencang menyadari dirinya akan segera ditusuk lagi oleh penis besar tak bersunat itu.

“Ustadzahhhh” panggil pak Heri sebelum dirinya memasukan penisnya ke vagina Nada.

“Eehmmm ada apa pakkk ?” kata Nada dengan manja.

“Haruskah saya memasukannya ?” katanya tersenyum tuk merendahkan status Nada.

"Heem... Harus pak... Aku gak tahannn" Desah Nada manja.

"Ahhh masa" Kata pak Heri menggoda birahi Nada.

“Ehhmm cepattt pakkkk... Ceppattt masukan... Aku gak tahan lagi !” kata Nada tak tahan.

“Wakakakak... Masukan seperti gimana ustadzah ?” kata Pak Heri terus memainkan birahi ustadzah cantik itu.

“Cepattt pakkk ihhhh” Kata Nada tak tahan. Bahkan tangannya sampai meraih batang penis itu kemudian mendorongnya masuk karena sudah tidak tahan lagi.

“Wakakakak iya iyya ustadzah... Sini biar saya saja !” kata pak Heri. Nada pun melepaskan genggamannya. Ia hanya menatap wajah Pak Heri pasrah. Tubuhnya sangat bergairah. Ia menantikan tusukan ini dengan wajah yang memerah.

Jleeebbbbbbb !!!

“Aaahhhhhhhhhhhhhhh” desah mereka berdua saat kedua kemaluan mereka saling bergesekan.

Nada merinding nikmat begitupula pak Heri. Gesekan demi gesekan dari kemaluan mereka saat bertemu menimbulkan sensasi candu yang membuat diri mereka tak lagi malu - malu saat nafsu telah berkuasa di dalam tubuh.

Ditatapnya lah mata Nada yang telah bernafsu. Bidadari cantik itu membuka mulutnya. Bibirnya maju saat penis itu semakin masuk hingga menyentuh rahim kehangatannya.

“Uhhhhhhhhhhhh”

Pak Heri menggigit bibirnya sendiri saat merasakan jepitan dinding kemaluan Nada yang mantap. Pria tua itu secara berhati - hati terus mendorong pinggulnya. Bahkan saat mengetahui dirinya sudah mentok di dalam. Ia masih terus mendorongnya tuk merasakan sensasi kelezatannya.

“Aaahhhhhhhhhhh” kaki Nada yang terangkat semakin terdorong ke belakang. Pahanya didekap dengan erat oleh pria tua itu.

Secara perlahan Pak Heri mulai menarik pinggulnya hingga membuat Nada kembali mengerang merasakan gesekan yang ia terima di dinding vaginanya.

“Ouhhh pakkkk... Ouhhhhhhhhhhh” desah Nada tak mengira rasanya akan senikmat ini.

“Aahhhh yahhhhhh... Ouhhhh ustadzahhhh... Ouhhhhhhh” pak Heri juga tak mengira kalau rasanya akan selezat ini.

Kedua insan yang hidup di zaman yang berbeda ini saling takjub akan kenikmatan yang sedang mereka dapatkan. Mereka sama - sama memejam. Mereka tak banyak berbicara saat desahan yang sudah menjelaskan semuanya.

Pak Heri mengusap - ngusap kulit mulus di paha Nada sambil menarik nafas bersiap - siap untuk sodokan di ronde keduanya. Ditatapnya kembali wajah cantik Nada. Bidadari itu juga nampak telah menantikannya. Nada terengah - engah. Nafasnya naik turun. Ia sudah tak kuat tuk menghadapi nafsu yang semakin besar ini.

“Aahhhhhhhhhh” desah Nada memejam merasasakan tusukan yang mulai diberikan oleh pak Heri.

Tubuh Nada terdorong maju. Matanya memejam dan kepalanya terdorong ke belakang saat penis tak bersunat itu menghantam dinding kemaluannya yang sempit. Kemudian pak Heri menariknya lalu mendorongnya. Ia menariknya lagi lalu mendorongnya lagi. Dada Nada yang masih tersembunyi itu bergerak - gerak. Wujudnya yang masih tersembunyi membuat diri pak Heri semakin penasaran akan penampakannya. Ia jadi semakin bergairah. Ia jadi semakin bernafsu dalam menyenggamai bidadari cantik ini.

“Ouhhhh... Ouuhhhh pakkk... Mmpphhh yahhh... Ahhhh... Ahhhhhh” desah Nada dengan begitu pasrah. Kedua tangannya berada di kiri kanannya. Punggung tangannya itu terbaring diatas sprei. Telapak tangannya terbuka membiarkan penis tak bersunat itu meronta - ronta di dalam lubang kemaluannya.

Tangan pak Heri pun tak tahan untuk meremasi payudara Nada dari luar kemejanya.

Rasanya sungguh nikmat saat menyetubuhinya sambil meremasi payudaranya. Nikmatnya berkali - kali lipat. Jepitan Nada memang hebat. Rasanya sungguh nikmat yang membuatnya tak memiliki pikiran untuk beristirahat.

Ia ingin terus menyetubuhinya. Ia ingin terus mengguncang tubuh indahnya. Ia ingin pinggulnya terus bergerak menyodok - nyodok kemaluannya. Nada mendesah dengan nikmat. Ia benar - benar tak mengira kelezatannya akan senikmat ini. Kepasrahan tubuhnya saat disenggamai oleh pria tak bersunat ini memberikan sensasi dahsyat yang membuatnya ingin terus disetubuhi oleh pria tua ini.

Nada bergairah. Nada sudah ternoda. Hawa nafsunya yang melonjak telah meronta - ronta ingin selalu disetubuhi. Nada membuka mulutnya lebar - lebar. Ia benar - benar telah melupakan harga dirinya yang ingin menjaga dirinya dari nafsu birahi pria yang memiliki keyakinan yang berbeda darinya.

“Ahhhh... Ahhhhh... Pelannn pakkk... Pelannn tolonngggg” desah Nada yang semakin menikmatinya.

“Wakakakakak... Nikmat bukan ustadzah ? Nikmat sekali kan rasanya bercinta dengan saya ?” kata pak Heri disela - sela persetubuhannya.

“Ahhhh... Ahhh iyyahhh pakkk... Mmpphhhh ouhhhhhh” jawab Nada tanpa berpikir terlebih dahulu.

Goyangan Pak Heri semakin kencang membuat tubuh ramping itu semakin menggelinjang. Kenikmatan yang semakin pasang membuat pak Heri ingin membuat tubuh Nada bertelanjang.

Tangannya sudah ada di sisi tengah kemeja bidadari cantik ini. Nada penasaran apa yang ingin dilakukan olehnya. Sambil terus digenjot. Ia menatap tangan pak Heri yang ingin melakukan sesuatu pada kemejanya.

Prrraaakkkkkkk !!!

Dengan paksa Pak Heri membuka kemeja Nada hingga kancing - kancing yang masih menempel di kemeja itu terlepas seluruhnya. Kancing - kancing itu bertebaran disekitar Nada. Ada yang jatuh ke atas ranjang tidurnya bahkan ada yang jatuh di lantai ruangan kamar tidurnya.

Nampaklah pemandangan indah dari tubuh Nada yang masih diselimuti oleh bra ketatnya. Payudara itu melonjak - lonjak kendati masih ditahan oleh bra yang Nada kenakan. Nada terkejut. Namun goyangan pak Heri yang semakin cepat membuat Nada semakin nikmat.

Pak Heri menundukan wajah tuk menyeruput puting indah itu setelah sebelumnya sudah ia turunkan cup yang menghalangi keindahannya.

“Ahhhh... Ahhhhh... pakkk... nikmattt pakkkk ouhhh... nikmat” desah Nada ternoda.

“Wakakakakka... Sllrrpppp.... Mantap sekali ustadzah... Terus mendesah... Lebih kerasssss” pinta pak Heri sambil sesekali menyeruput puting indah itu.

“Uhhhhh yahhhh... Uhhhh... Uhhhhhhhhhhhh” desah Nada tak mampu menahan diri. Dirinya malah mengikuti arahan dari pak Heri. Tubuhnya semakin terdorong cepat. Gejolak yang ada di dalam tubuhnya nyaris meledak.

Plokkkk.... Plokkkk.... Plokkkkk !

Terdengar suara tubrukan antar pinggul yang semakin dahsyat. Goyangan pak Heri semakin kuat. Pinggul mereka semakin keras dalam bersilaturahmi antar kelamin. Nafsu yang semakin tak tertahankan membuat Pak Heri tiba - tiba mengangkat tubuh Nada naik. Tubuh Nada terangkat sementara tubuh pak Heri berbaring diatas ranjang tidur yang biasa ditempati oleh Nada.

Sebelum dirinya berbaring, ia sempat melepaskan bra yang menghalangi keindahan tubuh Nada. Bidadari cantik itupun kini hanya mengenakan kemeja tak terkancing dengan hijab putih berwarna cerahnya.

Posisinya yang sedang menunggangi penis pak Heri. Membuat bidadari itu memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar. Tusukan yang ia terima semakin dalam. Penis itu semakin menusuk hingga menyentuh rahim kehangatannya.

Nada terdiam sambil menatap pak Heri. Pak Heri tersenyum, ia meraba - raba pinggul Nada yang sudah tak tertutupi apa - apa. Ia mendekapnya, merabanya, merasakan kehalusan yang dimiliki oleh kulit mulusnya.

“Hahhhh... Lanjut ustadzah... Ayo goyang seperti waktu itu... Ustadzah juga gak tahan kan ?” kata pak Heri terengah - engah.

Ya, Nada memang sudah tidak tahan lagi. Vaginanya semakin lembap. Vaginanya semakin basah oleh kekarnya penis yang sedang menancap di dalam. Sedikit demi sedikit tanpa merasa malu lagi. Bidadari cantik itu bergoyang membuat penis yang sedang ada di dalam semakin tergoyang. Nada memejam sambil bertumpu pada perut buncit pak Heri. Rasanya sungguh nikmat membuat pinggulnya terus bergoyang secara horizontal. Dari kanan ke depan terus ke kiri lalu ke belakang. Ia berputar tiga ratus enam puluh derajat tuk merangsang penis tak bersunat itu.

“Ouhhh... Ouhhhh... Hebat sekali ustadzahh... Ayoo goyang terus... Goyang terusss ahhhhhh” desah pak Heri puas.

Desahan yang terucap dari mulut pak Heri membuat gairah birahi Nada semakin terangsang saja. Nada pun semakin tak peduli lagi. Ia hanya ingin memuaskan nafsu birahinya. Ia terus bergoyang menikmati penis tak bersunat pak Heri di dalam.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Nada.

Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang hanya mengenakan hijab serta kemejanya itu menatap wajah pria tua yang sedang berbaring ditunggangi olehnya dengan tatapan tak percaya. Ia terus menggenjot tubuh pak Heri sambil memberikan tatapan heran. Payudaranya yang besar itu sudah mengencang. Payudaranya membusung menantang wajah pria tua itu yang sedang terpana.

Rasa penasaran yang telah menguasainya membuat hatinya kembali bertanya - tanya. Apa yang terjadi ? Kenapa rasanya menjadi semakin nikmat ?

“Ahhhh... Ahhhh.... Apa yang sudah bapak lakukan ? Ahhhh... Apa yang sudah bapak lakukan padakuhh... Mmmpphhhhhh ?” desah ustadzah itu penasaran. Ia bertanya sambil menaik turunkan tubuhnya dengan mantap. Ia meremasi payudaranya karena tak tahan sambil memejam menatap langit - langit ruangan.

“Wakakakakaka... Ahhhh... Ahhhh... Sudah saya bilang dari tadi ustadzah, mungkin ustadzah sendiri yang mulai ketagihan kontol saya !” kata pria tua bertubuh tambun yang tinggal mengenakan kalung salib itu.

Nada sebagai ustadzah yang alim sholehah merasa tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh pria tua itu. Pasti ada sesuatu. Tapi apa ? Walau ia tak puas dengan jawabannya, tapi ia sangat puas dengan keperkasaan penis yang sedang mengaduk - ngaduk rongga vaginanya. Tubuhnya tanpa sadar bergerak naik turun dengan sendirinya. Ia terus menekan pinggulnya hingga dapat merasakan titik terdalam dari penis yang tidak disunat itu. Tubuh Nada merasa panas. Ia merasa semakin bergairah. Ia mengangkat tubuhnya hingga kulup dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.

“Uhhhhhhhhhh” desahnya sambil memanyunkan bibirnya.

Jleeebbbbbbb !

“Paakkkkkkkkk.... Aahhhhhhhhh”

Nada mendesah ketika ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu langsung menyundul rahim kehangatannya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Nada merasa ketagihan. Ustadzah itu terus mengaduk penis tak disunat yang dimiliki oleh pria jelek itu. Kedua payudaranya yang bergoyang - goyang merangsang birahi pak Heri yang membuat pria tua itu tertawa senang.

“Wakakakakak... Terus ustadzah... Goyangkan pinggulmu... Rasakan nikmatnya kontol saya yang sedang mengaduk - ngaduk memek ustadzah !” kata Pak Heri menertawakannya.

“Aahhhhh... Iyyahhh.., pakkk... Ouhhhh kenapa ini ?” kata Nada setengah menikmati setengah penasaran.

Sementara itu Rendy yang sedari tadi diluar merasa kesepian setelah ditinggal mereka berdua di dalam. Ia heran kenapa pak Heri begitu lama tuk menghasut Nada agar tidak marah lagi ? ia pun berjalan mendekati pintu ruang tidurnya. Betapa terkejutnya saat dirinya mendengar desahan dari istrinya di dalam. Saat ia hendak masuk, rupanya pintu itu telah dikunci. Ia jadi penasaran apa yang sedang terjadi di dalam ? Suara desahan istrinya yang semakin mantap membuat Rendy tak tahan untuk mengeluarkan penisnya yang semakin mengeras.

“Aahhhh.... Ahhhh... Ahhhh dekkk... Apa yang adek lakukan dengan pak Heri di dalam ? Mas ingin lihat dekkk” kata Rendy penasaran sambil mengocok penisnya.

SEMENTARA ITU DI DALAM KAMAR

“Aaahhhh... Ahhhhhh pakkk... ouhhhhh nikmat sekaliii pakkk... Nikmatttt” desah Nada sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

“Ouhhhh ustadzahhhh... Ahhhh.... Iyyahhhhh goyang terussss... Lebihh keraasss... Lebihhh binallll”

“Aahhhh... Ahhhhhh... Iyyahhh pakkkkk...” kata Nada menurutinya tanpa sadar saat dirinya meremasi payudaranya sendiri karena gatal.

“Ouhhhhh... Ouhhhhh... Mantappp... iyyahhh.... Paling suka nih saya bisa melihat ustadzah telanjang sambil ngeremes dua bola bulat ini” katanya dengan puas.

Pak Heri yang tergila - gila oleh kesempurnaan tubuh Nada tak sanggup lagi berdiam membiarkan bidadari itu melakukan semuanya sendirian. Ia mendekap erat pinggul ramping Nada. Pinggulnya bergerak. Ia mendorong pinggul Nada hingga bidadari cantik itu melonjak naik ke atas.

“Ouhhh pakkkk.... Ouhhh... Ouhhhh” desah Nada melonjak naik turun.

“Aahhhhhh... Ahhhh... Ahhhhhh ustadzahhh... Desahhh teruusss ustadzahhh... lebih kerasss !” kata pak Heri menyemangati.

“Ouhhhh kenapa lagi ini... Kenapa rasanya nikmat sekaliii... Ahhhh yangggg kerasss pakkkk... Lebih kerassssss” desah Nada semakin tak tahan lagi.

“Wakakakah baik ustadzah.... Jadi makin semangat saya dengernya... Siappp yahhhh !” desah pak Heri yang juga semakin tak tahan.

Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!!” Nada meraung - raung membalas kenikmatan yang sudah pak Heri berikan.

Mereka berdua saling bercinta dengan penuh gairah. Desahan - desahan mereka terdengar. Keduanya sudah mendekati batas maksimal. Kenikmatan yang mereka rasakan tidak dapat mereka tahan lebih lama lagi. Pak Heri mempercepat gerakannya. Nafasnya sudah berat. Dirinya sudah terengah - engah begitupula Nada diatas. Akhirnya dengan satu tusukan yang mematikan. Ia menghentakan pinggulnya naik sedalam - dalamnya sambil menarik tubuh Nada turun ke arah selangkangannya.

“Aahhhhhhhh pakkkkkkk” desah Nada hingga kepalanya ia tegakkan menatap langit - langit ruangan.

“Manntaaappppp... Saya keluuaarrrr !!!”

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

Nada mendesah. Begitupula pak Heri. Pak Heri mencengkram kuat pinggul Nada saat semprotan spermanya dengan dahsyat menyembur membasahi liang senggama Nada. Kaki pak Heri melemah. Nafasnya terengah - engah. Nada pun melenguh pasrah menikmati kenikmatan yang tidak ada duanya.

Mata mereka berdua merem - melek penuh kepuasan. Nada pun jatuh ke dalam pelukan. Payudaranya yang besar itu terhimpit dada tambun pak Heri. Nada melemas. Liang senggamanya telah penuh oleh campuran cairan cinta mereka berdua. Malam ini, di hari yang istimewa ini, untuk kedua kalinya. Rahim Nada kembali dipenuhi oleh cairan cinta pria tua yang memiliki penis tak bersunat ini.

“Ouhhhh... Ouhhhhh” desah mereka berdua kelelahan.

Mereka beristirahat sebentar sambil menikmati waktu kebersamaan mereka. Setelah merasa cukup, Pak Heri dengan berhati - hati menidurkan tubuh Nada dalam posisi terlentang di sebelah dirinya yang bertelanjang bulat. Pak Heri tersenyum sambil menatap wajah Nada yang masih tak percaya. Lagi, untuk kedua kalinya. Dirinya mengemis kenikmatan dari pria tua ini. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Pak Heri merasa puas. Tapi ia belum benar - benar puas karena ia hanya bisa menaklukan Nada melalui bantuan obat perangsang. Lain kali, ia ingin menaklukan Nada tanpa bantuan apa - apa. Ia ingin benar - benar menundukan ego Nada yang sebenarnya mulai menikmati gaya permainannya yang berbeda. Pak Heri tertawa. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Nada yang masih ditutupi oleh hijab lebarnya.

“Ini baru permulaan ustadzah... Kalau ustadzah pikir setelah hari spesial ini semuanya berakhir, maka ustadzah salah besar ! Lain kali kita pasti akan bertemu lagi, untuk melakukan sesuatu yang sama seperti di hari ini !” kata pak Heri tersenyum yang membuat Nada semakin lemas saat mendengarnya.

“Mmmmppphhhhhh !!!” Bibir Nada kembali didorong dengan penuh nafsu sambil meremasi buah dadanya yang sangat ranum.

Pak Heri beranjak pergi setelah puas mencumbunya. Ia membuka kunci pintu dan sudah ditunggu Rendy yang masih mengocok.

“Saya permisi dulu yah pak ustadz... Terima kasih buat istrinya wakakakakka” kata pak Heri tertawa bahagia.

Rendy pun tak menanggapi karena dirinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Saat ia mendekati ranjang tidurnya. Ia melihat istrinya sudah terbaring lemah diatas ranjang tidurnya. Ia hanya mengenakan hijab, kemejanya sudah terbuka tak dikancing, kemudian dari dalam liang senggamanya mengalir aliran sungai berwarna bening yang cukup deras. Rendy mengocok penisnya dengan begitu dahsyat saat mengetahui istrinya sampai terkapar seperti ini.

“Aahhhhhhh”

Rendy keluar dan menumpahkan spermanya ke lantai ruangan saja. Nada terkapar. Rendy terpuaskan. Pak Heri pun tertawa sambil mengenakan pakaiannya kembali.

“Wakakakakak... Puas sekali saya malam ini ustadzah ! Tunggu saya yah di kesempatan berikutnya !" kata pak Heri masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi.


*-*-*-*


Esoknya di kantor bagian pengasuhan.

Hanna sedang duduk di depan layar monitornya menghitung sejumlah uang yang akan ia masukan ke dalam catatan laporan bulanan. Matanya fokus, bibirnya bergerak menghitung satu demi satu sejumlah uang yang sedang ia pegang. Ia tak mendengarkan suara apapun kendati ustadz Rafi sedang memarahi salah satu santri karena melakukan pelanggaran. Ia menatap layar monitornya, kemudian mengetikan angka yang telah dia hitung menggunakan mata dan bibirnya.

“Fiyuhh” Hanna lega karena tugas hariannya akan segera berakhir sebentar lagi. Tinggal satu gepok uang yang harus ia hitung. Ia menarik nafasnya kemudian kembali menghitung sejumlah uang tersebut.

Nampak santri yang tadi dimarahi sudah pergi setelah mendapatkan vonis hukuman dari ustadz Rafi dengan mencukur habis rambut yang ada di kepalanya. Rambut santri itu sudah terpotong acak - acakan karena telah ditandai oleh ustadz Rafi menggunakan gunting kesayangannya. 24 jam waktu yang dimiliki oleh santri itu untuk melaporkan kembali keadaan rambutnya.

Kembali, Hanna tak bergeming sedikitpun karena dirinya begitu fokus untuk menghitung sejumlah uang sedang ia pegang.

“Sepuluh ribu, dua puluh ribu, tiga puluh ribu . . . .. “ kata Hanna menghitung uang tersebut.

“Oh yah ustadzah Hanna gimana ? Sudah selesai ?” tanya ustadz Rafi diseberang.

“Tujuh puluh ribu, delapan puluh ribu... Belum ustadz, sebentar lagi... Sembilan puluh ribu . . . .” jawab Hanna.

Tak berselang lama dari pintu masuk kantor bagiannya. Masuklah seorang ustadz yang memiliki wajah tampan setelah menyudahi amanatnya dalam mengajar salah satu kelas yang ada di pesantren ini. Ia terlihat lega sambil mendekati meja yang dihuni oleh Hanna dan Haura.

Haura melirik sejenak mendapati ustadz tampan itu mendekatinya. Setelah melihatnya, Haura kembali menatap layar laptopnya tuk menyelesaikan sejumlah laporan tanpa memberikan reaksi sedikitpun.

“Assalamualaikum” sapa ustadz itu.

“Walaikumsalam V” jawab Hanna dan Haura berbarengan. Tapi keduanya menjawab tanpa menatap wajah si penyalam. Keduanya sedang sibuk dengan tugasnya masing - masing. V agak kesal, tapi ia memahami keadaan kedua ustadzah cantik itu yang sedang dalam keadaan sibuk - sibuknya.

“Oh yah Han, tadi ana ketemu ustadzah Rachel... Katanya dia minta catatan yang gak tau tentang apa... Katanya antum paham dengan apa yang ia maksud” kata V.

Haura terkejut saat V rupanya lebih memilih mengobrol dengan Hanna alih - alih dirinya. Sebenarnya ia merasa lega dirinya tidak diajak ngobrol oleh ustadz tampan itu. Tapi kok rasanya gimana yah ? Kecewa iya, nyesek juga iya. Rasanya nano - nano. Ia bahkan kesulitan untuk menjelaskan perasaannya saat ini.

“Catatan ? Ohh iya iyya... Nanti ana kasih ke dia V... Syukron yah !” kata Hanna melirik V sejenak kemudian kembali fokus menghitung uang tersebut.

“Ya gitu aja sih... Jangan lupa yah !” kata V langsung kembali ke mejanya tanpa sedikitpun melirik Haura.

Sedih, mungkin itulah yang sedang Haura alami. Mungkin ini juga yang sudah ia minta dari V. Mungkin V merasa sungkan padanya karena sebelumnya Haura sempat marah padanya. Tapi kok sekarang jadi nyesel yah ? Apalagi baru - baru ini, dirinya kembali mengalami pelecehan oleh pria tua bejat tak bermoral itu. Haura merasa kesepian. Ia butuh seseorang untuk mencerahkan hatinya kembali. Biasanya kalau seperti ini, ada V datang untuk duduk disebelahnya. Ia rindu ketika mengobrolkan sesuatu dengannya. Ia rindu tuk menatap senyum yang terhias di wajahnya. Bahkan ia rindu tuk merasakan pelukan darinya.

Apalagi suaminya sedang tidak ada di sisinya selama seminggu kedepan. Kini tersisa enam hari lagi. Ia tidak tahu pasti nasib yang akan menimpanya di sisa enam hari itu. Ia takut andai kuli bangunan itu kembali datang dan meminta jatah untuk menggenjot dirinya. Ia butuh penolong. Ia butuh pengawal yang mampu menjaga dirinya dari sosok pria tua kekar itu. Ia pun teringat bagaimana V saat mencegah kuli bangunan itu hendak melecehkan dirinya. Andai ia tak marahan padanya, mungkin malam kemarin ada V yang melindunginya dari sergapan makhluk buas tak bermoral itu.

“Hah” desah Haura lemas meratapi nasib yang telah menimpanya.

Sementara itu Hanna,

“Aduh tadi udah berapa yah ? V !!!!!! Ihh sebel dehh !" teriak Hanna sambil melempar lembaran uang itu ke meja kerjanya.

“Ehhh ada apa ?” kata V menoleh begitu juga dengan Haura dan ustadz Rafi.

“Lupa kan jadinya tadi udah ngitung sampai berapa ?” kata Hanna kesal.

V tertawa begitupula Rafi di seberang. Haura hanya tersenyum kecil melihat kelucuan sikap Hanna.

“Ehhh kirain kenapa... Maaf Hannn... Maaf... Sini biar ana bantu” kata V berbalik badan kemudian berjalan mendekat ke arah Hanna lalu mendudukan tubuhnya di sebelah ustadzah tercantik nomor dua seantero pesantren tersebut.

“Nih ana ngitung yang ini... Antum yang itu yah ?” kata Hanna membagi dua uangnya.

“Oke siap” kata V yang membuat Hanna tersenyum di sebelah.

Haura merengut, ia merasa cemburu. Apalagi saat dirinya melihat senyum indah yang mekar di wajah cantik Hanna. Haura lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya daripada memaksa diri tuk menahan rasa sakit yang ia terima di hati. Ia menenggak ludah lalu termenung menundukan wajahnya.

V !!! Maaf soal itu... Aku egois... Aku juga masih labil dengan sikapku ini !

Batin Haura menangis dalam hati.

Diam - diam V yang ada di seberang menatap wajah cantik Haura. Ia diam mematung sambil memperhatikan gerak - geriknya secara sembunyi - sembunyi.

“Yeeeaayy selesai... Punya antum berapa V ?” tanya Hanna mengejutkan V.

“Ehhh ini ? Tadi... Tadi berapa yah ? Kok lupa” kata V kehilangan fokus yang membuat Hanna cemberut.

“Ihh dasar ! Pokoknya gak mau tau jumlahnya harus disetor ke ana !” kata Hanna yang membuat V terdiam mendengar gerutuan Hanna.

Diam - diam Haura tersenyum melihat reaksi V yang menurutnya lucu.

Tak terasa sebentar lagi hampir mendekati waktu istirahat kedua. V masih menghitung uang di sebelah Hanna. Hanna menanti sambil mengawasi sikap V dalam membantunya menghitung sejumlah uang kantor bagiannya. Hanna menatap ke arah jam dinding. Sebentar lagi sudah mau jam setengah sebelas siang rupanya. Perut Hanna berbunyi, ia pun memegangi perutnya karena merasa lapar.

“Ehh Haura, antum udah makan ?” tanya Hanna tiba - tiba yang mengejutkan Haura.

Ana ? Dari pagi belum makan sih” jawabnya.

“Kalau gitu ke kantin yuk... Ana yang traktir, gimana ?” ajak Hanna.

Mendengar ada yang berbicara soal makanan membuat telinga V bergerak ingin diajak makan oleh kedua bidadari cantik ini.

“Ehh ana juga belum makan loh Han” kata V ikut nyaut aja.

Hanna menoleh melirik V dengan lirikan sinis. V pun penasaran, kenapa tidak ada yang merespon kata - katanya. Saat ia melirik menatap Hanna. Rupanya Hanna sedang menatapnya seram yang membuat V jadi terdiam.

“Udah berapa rupiah yang antum hitung ?” tanya Hanna.

“Ini... Tadi ? Astaghfirullah kok lupa lagi sih !” kata V kesal akibat lirikan yang Hanna lakukan.

“Nah, ngitung aja belum selesai udah minta diajak makan aja ! Itung dulu !” kata Hanna yang membuat Haura reflek tertawa melihatnya.

“Abis selesai, ana boleh ikutan yah !” kata V fokus menghitung tanpa menatap mata Hanna.

“Gak janji yah, pokoknya ana gak mau tau antum harus selesaikan tugas ana itu !” kata Hanna pada V.

“Yuk kita pergi ke kantin” ajak Hanna pada Haura.

Haura mengangguk, ia meraih tangan Hanna kemudian pergi bersama untuk mengisi perut kosong mereka.

“Ehhh tunggu... Ana mau ikut donggg... Jangan pergi dulu kenapa sih ?” kata V sebal dirinya dikacangi oleh kedua bidadari ini.

“Maaf yah ustadz... Bukan muhrim... Ana cuma mau pergi bareng muhrim ana aja... Yuk Ra, kita cabut !” kata Hanna mendekap tangan Haura kemudian pergi bersama menuju pintu keluar kantor.

Haura tersenyum setelah melirik V sejenak. Entah kenapa ia senang saat melihat V dibecandai oleh rekan kerjanya ini. Rasanya ia jadi teringat di awal pertemuannya dengan V. Ia sering sekali bercanda dengannya. Ia pun rindu untuk melakukan itu lagi dengannya. Tapi bagaimana caranya ? Bagaimana caranya agar dirinya bisa akrab dengan V kembali ?

Kedua bidadari cantik itu telah pergi. Hanya ada Rafi dan V sendiri di dalam. V masih menghitung uangnya. Diam - diam ia pun tersenyum saat teringat senyuman Haura saat bidadari itu menatap dirinya. Ia merasa lega karena dirinya bisa melihat senyum manis itu lagi.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Haura dan Hanna sedang berjalan bersama menuju kantin terdekat untuk mengisi perut kosongnya. Ketika mereka berdua berjalan. Mereka terlihat bagai dua orang kontestan miss universe karena kecantikan yang dimiliki oleh keduanya. Diam - diam para santri yang berpapasan dengan kedua ustadzah cantik ini selalu melirik untuk mencuri - curi kesempatan tuk menatap wajah cantik mereka berdua. Bahkan ada yang berpura - pura berjalan di belakangnya hanya demi membuntuti mereka kemana. Mereka semua terpesona. Mereka semua tergoda oleh kesempurnaan fisik yang dimiliki oleh mereka berdua. Haura cantik, wajahnya menarik. Senyumnya juga menggoda walau dirinya sudah menjadi seorang istri dari suaminya, Hendra. Parasnya memang tidak ada duanya. Rupanya benar - benar sempurna akibat kulit mulus yang dimilikinya. Begitupula Hanna disebelah. Kecantikannya tidak jauh berbeda dengan Haura disebelah. Bedanya, senyum yang Hanna miliki lebih manis daripada Haura. Mungkin karena Hanna lebih sering tersenyum daripada Haura. Hanna memang terlihat lebih bersahabat daripada Haura. Wajah Haura seringkali serius ketika dirinya berada di hadapan para santri. Hal itulah yang membuat imagenya terlihat menyeramkan walaupun sebenarnya tidak. Hal itulah pula yang membuat beberapa santri begitu bernafsu untuk menggagahi diri Haura karena rasa penasaran tuk mendengar desahannya yang pasti menggoda.

Antum kayaknya udah akrab banget yah sama V” kata Haura tiba - tiba ditengah perjalanannya menuju kantin.

“Hihihi, iya akhir - akhir ini kami memang sering banget ngobrol Ra... Tapi kayaknya lebih akrab antum deh” jawab Hanna.

“Ahh gak juga kok Han... Kayaknya sekarang lebih akrab antum daripada ana” jawab Haura sambil menunduk.

“Loh masa sih ? Kayaknya dulu antum sering banget ngobrol... Bahkan kayaknya dulu antum sering banget berangkat bareng ke kantor, iya kan ?” tanya Hanna.

“Iya itu dulu... Tapi akhir - akhir ini enggak” jawab Haura.

“Loh kok gitu, emang kenapa Ra ?” tanya Hanna.

“Hehehe... Mungkin karena ana sendiri sih yang lebih memilih menjauh darinya” jawab Haura curhat.

“Ehhh kok bisa ? Apa V pernah nyakitin antum ? Apa gimana ?” tanya Hanna penasaran.

“Gak juga sih... Ya bisa dibilang ana mau lebih menjaga diri aja... Kayaknya dulu hubungan kami terlalu dekat... Kadang ana ngerasa gak enak sama suami” kata Haura mengeluarkan uneg - unegnya.

“Ohhh begitu... Emang sih V itu orangnya humble banget... Ana juga gak sadar tiba - tiba udah seakrab ini dengannya... Tapi menurut ana sih gak perlu sampai menjauh gitu deh Ra” kata Hanna.

“Emang suami antum pernah cemburu ?” lanjut Hanna penasaran.

“Gak sih... Inisiatif ana sendiri tuk menjauh” jawab Haura tersenyum sambil menunduk.

“Gak perlu gitu deh Ra... Kadang emang sikap V agak berlebihan, tapi selain itu dia orangnya baik banget loh... Apalagi caranya dalam berbicara... Dulu pernah waktu ana ada masalah... V dengan kata - katanya mampu membuat ana tersenyum lagi... Dia baik, dia laki - laki yang baik... Kalau ana belum dilamar calon suami... Mungkin ana akan menunggu V untuk melamar diri ana” kata Hanna sambil tersenyum membuat Haura terkejut. Senyum Haura yang tadi mengembang tiba - tiba langsung mengempis menyadari adanya rasa yang juga dimiliki oleh Hanna.

“Hehehe sama... Mungkin ana juga” jawab Haura tersenyum canggung. Hanna disebelahnya juga tersenyum tanpa menyadari perasaan yang Haura miliki.

Ditengah perasaan yang campur aduk itu. Tiba - tiba dari kejauhan nampak seorang pria berusia tua yang berjalan mendekati mereka. Lelaki itu pun mengucapkan salam yang langsung dijawab oleh kedua ustadzah cantik ini.

“Assalamualaikum” sapanya.

“Walaikumsalam... Eh pak Prapto yah ?” jawab Hanna tersenyum.

“Iyya ustadzah hehehe” kata pak Prapto malu - malu.

“Anu ada apa pak ? Ada yang bisa kami bantu ?” jawab Hanna penasaran.

“Anu gini ustadzah. . . . “ kata Prapto malu - malu. Sebenarnya ia sudah menyiapkan kata - kata yang ingin ditanyakan yang ia simpan di dalam hati. Tapi setelah melihat kecantikan Hanna. Kata - kata yang sudah ia simpan pun sirna. Ia jadi lupa setelah melihat keindahan wajah Hanna yang sempurna.

Maklum, Kala itu ustazah yang memiliki senyum termanis itu tengah mengenakan seragam mengajarnya berupa gamis longgar yang ia padukan dengan hijab berwarna biru gelap. Kacamata yang melekat di wajahnya menambah aura kecantikan yang terpancar pada dirinya. Apalagi saat itu ia tengah tersenyum. Tatapannya pun terlihat tulus saat meladeni pak Prapto mengobrol. Tak pernah ada wanita yang rela menyisihkan waktunya untuk mendengarkan kata - kata yang ingin ia katakan. Hanna lah satu - satunya. Ia sudah cantik, baik, ramah lagi. Tubuhnya pun mantap agak ke montok. Dimana pinggulnya itu melengggak - lenggok serasa pinggul ingin menyodok - nyodok.

Pak Prapto jadi malu - malu. Ia pun memberanikan diri tuk menatap wajah ustadzah Hanna. Saat ia mengangkat kepalanya. Ia terkejut oleh penampilan seorang ustadzah yang berdiri di samping Hanna. Ustadzah itu memiliki wajah yang bening. Hijab berwarna abu - abu agak kecoklatan yang membalut wajah kecilnya sangat cocok dengan kecantikan yang dimiliki oleh parasnya. Gamis berwarna abu - abu yang dikenakan di tubuh kecilnya sangat sempurna hingga menimbulkan aura keanggunan di sekitarnya. Gamisnya sungguh panjang hingga kakinya yang jenjang ikut tertutupi oleh gamis tersebut. Ustadzah itu kebingungan saat tiba - tiba pak Prapto terdiam menatapnya. Ia menatap Hanna karena tak nyaman saat ditatap oleh pria tua itu. Hanna yang menyadari langsung menegur tatapan pria tua itu.

“Temen aku cantik kan pak ? Tapi maaf udah ada yang punya, matanya jangan nakal yah pak !” kata Hanna menegur pak Prapto sambil bercanda.

“Ehhh anu... Hehehe maaf ustadzah bukan bermaksud gitu” kata pak Prapto malu yang membuat Hanna tertawa. Tawa yang Hanna hasilkan membuat hati pak Prapto berbunga - bunga saat melihatnya. Ia pun terdiam sesaat sambil mengamati senyum indah yang dimiliki oleh ustadzah cantik ini.

“Iyya... Iya tau kok pak... Aku cuma becanda aja” kata Hanna yang masih tidak bisa menghentikan tawanya.

“Fiyuh... Kirain ustadzah menuduh saya yang enggak - enggak” kata pak Prapto lega.

“Hihihihih gak akan... Oh yah, antum duluan aja Ra... Nanti ana nyusul” bisik Hanna ke Haura.

“Yaudah deh ana duluan yah Han” kata Haura.

Hanna tersenyum sambil mengangguk. Ustadzah tercantik nomor satu itupun pergi duluan membiarkan Hanna sendirian bersama pak Prapto di tempat.

“Udah pak... Teman aku yang paling cantik itu udah pergi... Jadi bapak gak perlu malu - malu lagi buat bertanya” kata Hanna yang membuat Pak Prapto tersipu malu.

“Hehehe anu itu ustadzah... Saya cuma mau nanya waktu pertama kali ustadzah menyapa saya... Kan ustadzah jalan bareng bertiga kan ? Nah yang waktu itu ada di tengah siapa yah namanya ?” kata pak Prapto malu - malu.

“Yang ditengah ?” kata Hanna mencoba mengingat - ngingat.

“Ohhh ustadzah itu... Ciyee kenapa nanyain ? Suka yah ?” kata Hanna yang membuat pak Prapto salah tingkah.

“Ehhh bukan.... Bukan... Bukan gitu ustadzah aduhhh” kata pak Prapto malu - malu.

“Hihihihih becanda kali pak” katanya sambil mencuil lengan pak Prapto. Sentuhan yang Hanna lakukan kembali membuat pak Prapto bahagia. Entah kenapa rasanya ia sudah selangkah lebih dekat dengan ustadzah pemilik senyum termanis ini.

“Iya... Namanya tuh ustadzah Syifa yang kantornya ada di bagian pengajaran disebelah sana itu loh” kata Hanna sambil menunjukan arahnya.

“Ohh iya terima kasih ustadzah... Kalau gitu udah dulu” kata pak Prapto pamit ingin pergi.

“Hihih iya silahkan pak... Nanti kapan - kapan kalau bapak naksir bisa kasih tau aku yah... Mumpung ustadzah Syifa masih jomblo hihihihii... Aku duluan yah wassalamualaikum” sapa Hanna pergi.

“Walaikumsalam” jawab pak Prapto tersenyum.

Kini bidadari itu telah pergi meninggalkan Prapto sendiri di tempat ini. Senyum yang tadi ia berikan. Candaan yang membuat dirinya tersenyum. Entah kenapa Pak Prapto jadi memiliki alasan tambahan untuk menginginkan Hanna menjadi kekasih hatinya. Syifa memang cantik. Penampilannya juga menarik. Tapi tidak ada yang mengalahkan rasa suka yang ia miliki kepada ustadzah Hanna.

“Tapi saya naksirnya ke ustadzah Hanna loh... Bukan ke ustadzah yang lain... Gimana dong ?” kata pak Prapto sambil menatap sisi belakang tubuh Hanna yang kian menjauh darinya.

Pak Prapto ikut pergi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati setelah dirinya bertemu dengan ustadzah cantik itu.

“Ustadzah yang tadi di sebelah Ustadzah Hanna itu . . . . Ahhh gak mungkin, gak mungkin sekarang dia ada di tempat ini” kata pak Prapto pergi.


*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul setengah satu siang. Haura sedang pulang menuju rumahnya untuk beristirahat sejenak merehatkan tubuh - tubuhnya yang kelelahan. Dalam perjalanan pulangnya, ia berulang kali merentangkan tangannya ke atas. Ia meregang hingga membuatnya terasa lebih segar.

Kini perutnya telah terisi. Ia berterima kasih pada Hanna karena telah mentraktirnya menyantap hidangan lezat yang dijual di kantin terdekat.

Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Ia teringat saat dirinya mengobrol panjang lebar dengan Hanna saat ditraktir tadi. Ia heran karena Hanna berbicara panjang lebar mengenai V. Bukankah hal itu berarti Hanna sedang tertarik pada V ? Bahkan Hanna tak membicarakan perihal rencana pernikahannya dengan calon suami. Haura bingung, bagaimana bisa ? Bukankah wanita hanya mencintai satu pria. Kalau Hanna tertarik pada V bukankah berarti Hanna hanya mencintai V ?

Memikirkan hal itu membuat dirinya makin kesal saja. Sama seperti analogi yang ia sambungkan. Ketika dirinya cemburu pada Hanna tentang V. Bukankah berarti dirinya juga tertarik pada V ? Kalau gitu bukankah berarti ia juga mencintai V ? Lantas bagaimana cinta yang ia miliki pada sang suami ? Memang akhir - akhir ini sikap suaminya sudah membaik padanya. Akan tetapi cara bercintanya masih tetap sama. Hal itulah yang membuat Haura begitu kurang dalam mencintai suaminya.

Mengingat soal bercinta. Ia jadi teringat akan kejadian semalam. Kejadian saat dirinya disantap oleh pria tua berbadan kekar itu dengan mantap. Ia membayangkan rasa saat dirinya digenjot habis - habisan oleh pria tua berbadan kekar itu. Kata - kata kotor yang pria itu ucapkan, Entah kenapa menjadi bumbu yang membuat persetubuhannya semakin terasa nikmat. Ia pun merasa laknat. Ia merasa rendah setelah dirinya begitu mudah ditaklukan oleh pria tua kekar itu lagi.

"Hah" Desahnya sambil menatap langit cerah di atas.

Haura bertekad untuk tidak takluk oleh pria tua itu lagi. Kedua tangannya menggenggam. Ia sangat yakin bahwa dirinya tidak akan mengalah pada keperkasaan pria itu lagi. Ia tidak mau dirinya terjebak dalam kutukan hawa nafsu lagi. Cukuplah masa lalu yang berkisah. Masa depan jangan !

Tak terasa, ia telah tiba di depan pintu rumahnya. Ia pun terkejut saat menyadari pintu rumahnya sudah terbuka sebagian. Ini aneh, memang sih kunci pintu rumahnya sudah rusak tapi seingatnya ia sudah menutup pintu rumahnya dengan rapat.

“Jangan - jangan !!!” kata Haura menduga yang tidak - tidak.

Haura mundur selangkah mengira kuli bangunan itu sudah menjebol pintu rumahnya dan menanti dirinya di dalam. Haura pun membalikan badan tak jadi untuk memasuki rumahnya sendiri.

“Assalamualaikum ustadzah” sapa seseorang dari belakang yang mengejutkan Haura.

Astaghfirullah... Walaikumsalam akhi... Ada apa akhi ?” kata Haura terkejut saat melihat ada santri kecil yang kira - kira masih berada di kelas satu.

“Anu ustadzah... Nama ustadzah, ustadzah Haura kan ?” tanya santri kelas satu yang setara dengan kelas satu SMP itu.

Naam akhi... Nama ana ustadzah Haura” jawab Haura tersenyum untuk menenangkan diri.

“Hmmmm kalau gitu... Tadi ada ustadz yang meminta ana buat panggilkan antum kesana” kata santri kecil itu sambil menunjuk ke suatu tempat.

“Ustadz ? Siapa yah ?” kata Haura penasaran. Haura pun melihat ke arah yang sedang santri itu tunjuk.

“Kurang tau juga ustadzah... Ana anterin aja yah” kata santri itu menuntun Haura ke arah yang dimaksud. Haura dibelakang mengikuti tanpa pernah curiga sedikitpun pada santri itu. Namun dari kejauhan terdapat seorang pria yang tertawa melihat sikap polos Haura yang mengikuti arahan santri itu mentah - mentah.

“Kekekekekek... Bagus, bawa dia kemari nak ! Gak sia - sia nyogok santri itu pake satu porsi siomay” katanya tertawa menggunakan nada khasnya. Ia membuka buku catatan kecil yang ia taruh di saku kanan celana kolornya. Ia pun menuliskan sesuatu disana.

Hari kedua... Ceklis.

Haura telah tiba di samping bangunan yang belum jadi. Bangunan itu masih dibangun bahkan dindingnya saja belum di cat.

“Sebentar yah ustadzah... Hmm mana yah, ustadzah tunggu sini dulu yah, biar ana panggilkan” kata santri itu nyelonong pergi.

Naam akhi” jawab Haura tersenyum dengan senyuman termanis yang ia miliki.

Haura pun diam menanti sambil melirik ke sekitar mencari seorang ustadz yang katanya telah memanggilnya ke tempat ini. Cukup lama ia menanti tapi kok yang dinanti gak datang - datang kesini. Bahkan santri itu telah pergi entah kemana. Haura jadi kesal. Ia pun merasa dirinya telah dikerjai.

Tepat saat itulah, tiba - tiba ada sesosok tangan kekar yang membekap mulut manis Haura. Haura terkejut hingga matanya terbuka sangat lebar. Tubuh rampingnya juga di dekap dari belakang. Tanpa bisa melawan. Ustadzah tercantik itupun diseret secara paksa menuju sebuah bangunan yang belum jadi tersebut.

“Mmmmppphhh... Mmmppphhhh” kata Haura panik.

“Kekekekekek... Halo ustadzah” katanya yang membuat Haura menyadari siapa pelaku yang membekapnya di belakang.

Melalui sebuah pintu yang berletak di sisi samping bangunan. Haura dibawa masuk oleh pria tua berbadan kekar itu. Sambil mengendap - ngendap diantara kuli bangunan lainnya yang masih bekerja. Haura dibawanya menuju sebuah ruangan sepi yang tidak ada satupun orang disini. Haura pun di lepaskan di dalam ruangan itu. Ruangan itu belum bisa dikatakan sebagai ruangan. Lantainya masih tanah. Dinding - dinding disekitarnya masih berbentuk susunan bata yang dilekatkan menggunakan semen. Tidak ada jendela sama sekali. Bahkan pintunya hanya ada satu. Pintu itupun menghubungkan ruangan itu dengan ruangan utama dimana banyak kuli bekerja disana. Haura sudah ketakutan saat melihat sosok berbadan kekar itu yang hanya mengenakan celana kolornya. Dada pria tua itu sangat bidang. Otot lengannya sangat kekar. Ia begitu menyeramkan dengan wajahnya yang tak sedap di pandang. Ia tersenyum menatap keindahan Haura yang ketakutan. Ia menjilati tepi bibirnya menatap keindahan rupa yang dimiliki oleh Haura.

“Pak Karjo... Apa yang bapak mau lakukan disini ? Kenapa bapak membawa aku kemari ?” kata Haura ketakutan.

“Menurutmu apa lagi ustadzah ? Bukankah ustadzah sudah tau jawabannya ?” katanya sambil mengusap - ngusap batang penisnya yang sudah mengeras.

“Tappp... Tappiii pakkk... Aku gak mau lagi melakukan itu pak... Lagipula ini di tempat terbuka... Banyak orang diluar sana yang sedang bekerja !” kata Haura panik.

“Kalau gitu diamlah jangan sampai mereka tahu kalau kita akan bercinta dengan penuh nikmat di ruangan sepi ini” kata pak Karjo sambil memelorotkan celananya sendiri. Haura terkejut hingga menutup matanya menggunakan kedua tangannya.

“Ustadzah tau kan ? Kalau banyak kuli disini yang sangat mengidolakan kecantikan ustadzah... Andai mereka tahu ada ustadzah Haura disini... Pastilah mereka akan tergoda untuk menikmati keindahan tubuh Haura bersama - sama” kata Karjo sambil berjalan yang membuat Haura semakin ketakutan.

Haura tak menduga kalau pak Karjo bisa seberani ini. Kuli bangunan itu sudah telanjang bulat di tengah keramaian yang terucap oleh rekan kulinya di seberang. Haura panik saat pria kekar itu sudah mendekat mendatangi dirinya. Penis pak Karjo sudah tegak maksimal. Rambut kemaluannya yang lebat serta keperkasaan yang dimiliki oleh tubuhnya membuat ustadzah tercantik itu merinding. Ia bergidik jijik menyadari pria tua itu sedang bernafsu ingin menodai dirinya lagi. Ia ingin kabur, tapi pintu satu - satunya yang ada di ruangan ini berada di belakang kuli bangunan itu. Pintu itu juga tidak bisa disebut sebagai pintu karena pintu itu hanya ditutupi oleh sehelai kain yang cukup transparan apabila dilihat dari luar.

“Eeaaahhhh... Udah pasrah yah sekarang ustadzah ?” kata Haura tertangkap karena terlalu lama memikirkan cara. Mata Haura berkaca - kaca. Jelas rasa takut telah menguasai dirinya.

“Jangaannn pakk... Lepaskannn akuuu” teriak Haura dengan lirih menyadari suaranya tidak boleh terdengar oleh kuli bangunan lain.

“Kekekekekek... Santai ustadzah, ini baru hari kedua tanpa adanya mas suami di rumah ? Kita nikmati dulu waktu yang ada yah ? Mmmmppphhhhhhh” kata pak Karjo sambil mencumbu bibir manis ustadzah itu.

“Mmmmmmppphhhhh lepassskannnn” desah Haura tertahan saat bibirnya dicumbu dengan penuh nafsu. Tangan Haura berusaha mendorongnya agar pria tua itu menjauh. Tapi tenaganya tak sanggup. Justru penolakan dari Haura membuat pria tua kekar itu semakin bernafsu.

Pak Karjo mendorong bibir tipis Haura dengan penuh bergairah. Bibir Haura tertekan membuat kepalanya terdorong ke belakang. Tangan kekar pria tua itu sudah mendarat di bongkahan pantat Haura. Pantat Haura diremasinya. Pantat Haura dicengkramnya. Karjo dengan puas menikmati keindahan tubuh yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.

"Kekekekek... Makin manis aja bibirnya ustadzah... Mmmppphhh" Katanya sambil terus mencumbu ustadzah cantik itu.

"Mmmppphhh... Enggakkk... Lepasskannn... Lepaskkann aku pakkk... Mmmppphhh" Desah Haura berusaha tuk menolak.

Wajahnya yang tadi tersenyum cerah tidak lagi menampakan auranya yang indah. Haura hanya bisa pasrah. Karena setiap usaha yang dilakukannya selalu terbuang sia - sia. Bidadari cantik itu telah ternoda. Haura telah ternoda untuk kesekian kalinya. Bibirnya yang tipis tengah dicium dengan begitu erotis. Bibirnya dikulum. Bibirnya dijilati oleh lidah pria tua itu. Tubuhnya yang ramping ditarik oleh kuli bangunan itu hingga semakin mendekat ke arahnya. Payudara Haura yang besar terhimpit dada bidang Karjo dari balik gamis yang dikenakannya. Lubang kemaluan Haura yang mulai membasah terdorong oleh batang penis raksasa yang semakin menusuk pinggulnya dari luar gamis yang dikenakannya.

Pria tua yang tadi hanya mengenakan kolor ijo itu tampak puas. Kedua tangannya pun gemas sehingga tangannya naik tuk meremas - remas tubuh indah Haura hingga lemas. Tangan kiri pak Karjo meremas bongkahan pantat sebelah kanan Haura. Tangan kanan pak Karjo naik tuk meremas payudara sebelah kiri Haura. Pak Karjo meremasnya dengan keras. Ia sudah dikuasai oleh hawa nafsu yang membuatnya menjadi semakin beringas.

Air mata mulai jatuh membasahi wajah cantik bidadari itu. Ia tak bisa berbuat apa - apa saat kuli bangunan itu semakin intens dalam menikmati keindahan tubuhnya. Haura pun dibalik. Tubuhnya yang indah kini membelakangi tubuh kekar pak Karjo. Sambil membelakangi, dirinya dipaksa untuk menolehkan wajahnya ke kiri membiarkan bibir pak Karjo mendekat tuk mencumbui dirinya. Kedua payudaranya pun jadi semakin mudah untuk diremasi oleh kuli bangunan itu.

"Kekekekkek gini kan mantep ustadzah... Mmmppphhh... Makin kenyal aja nih susu" Kata pak Karjo mengomentari keindahan payudara Haura.

"Mmpppphhh... Mmppphhhh... Lepaskannn... Ahhhhhhh" Desah Haura dengan manja.

Haura tak bisa berkata karena amarah telah menyesakkan hatinya. Ia sangat marah karena dirinya tidak bisa berbuat apa - apa di tengah bencana yang sedang menimpanya. Karjo menurunkan resleting gamis Haura. Perlahan demi perlahan kulit punggung Haura semakin terlihat. Karjo dengan penuh nafsu langsung mencumbui kulit punggung Haura. Bahu Haura juga dijilati. Bahkan Pak Karjo meninggalkan bekas memerah untuk menandakan kalau dirinya pernah memakai bidadari cantik satu ini.

"Janggannnn... Ahhhh... Jangan lakukan pakkk... Geliii... Ahhhhh" Desah Haura merinding.

"Kekekekek... Geli - geli juga nikmat kan ustadzah ?" Katanya sambil terus menaikan nafsu birahi Haura.

Gamis yang Haura kenakan perlahan mulai turun menampilkan keindahan dari tubuh yang dimiliki oleh bidadari itu. Kulit putihnya yang mulus. Warnanya yang sangat bening. Hingga teksturnya yang sangat halus membuat pak Karjo tak tahan untuk mengelus - ngelusnya selalu. Gamis Haura diturunkannya secara paksa hingga bidadari itu kini hanya mengenakan satu set pakaian dalam beserta hijab yang tadi dikenakannya.

"Janggannn pakkk... Janggannn... Maafin aku pakkk... Jangan lakukan ini padaku... Pakkk... Ini ditempat umum... Nanti ada yang lihattt... Aku malu pakkk.. Aku maluuu" Haura terus menolak tak ingin keindahan tubuhnya terlihat.

"Kekekekeke diam ustadzah... Sudah saya bilang untuk tidak mengundang tamu lain datang... Sssttt nikmati saja apa yang akan saya berikan" Katanya membuat Haura merinding.

Tapi apa daya, baju gamisnya itu sudah jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Gamis itu tergeletak diatas lantai tanah yang kotor. Bahkan sepatu Haura sempat menginjaknya karena pemberontakan tubuhnya yang ingin terlepas dari cengkraman genderuwo ini.

"Ahhhhhh... Gini kan mantap ustadzah... Tubuhmu, aromamu, kulit mulusmu !!! Ahh mantap semuanya kekekekke... Sllrrpppp slllrrpppp" Desah Karjo sambil terus meremasi payudara Haura juga menjilati kulit tubuhnya yang semakin terlihat.

"Ahhhhh... Ahhhh pakkk... Jangannnn" Desah Haura dengan sangat manja.

Tangan kekar Karjo meraba dada besar Haura. Rabaannya turun hingga mengusapi perut ratanya disana. Rabannya kembali naik terus turun lagi. Lalu naik lagi sambil menaikan cup bra yang Haura kenakan.

"Aaaahhhhhhhhh" Desah Haura dengan mantap.

Putingnya dicubit. Putingnya diapit oleh pelintiran jemari pak Karjo. Kadang kuli bangunan itu juga meremasi payudaranya lagi sambil menekan - nekan puting indah itu ke dalam. Cara pak Karjo dalam memainkan keindahan payudara Haura membuat pemiliknya semakin mendesah dengan penuh gairah. Apalagi dirinya sudah topless menyisakan celana dalam dan hijabnya saja. Karjo melepas tali ikat bra Haura. branya jatuh ke tanah sehingga pria tua itu semakin puas dalam meremasi payudaranya yang aduhai.

"Hadap sini ustadzah" Pinta Karjo sambil menggerakkan wajah Haura ke arahnya. Haura menengok ke kiri. Disana sudah ada bibir Karjo yang menanti. Bibir mereka kembali bertemu. Bibir mereka kembali bersatu tuk memuaskan rindu setelah sekian jam tak bertemu. Haura memejam saat bibirnya dicumbu dan payudaranya diremas. Aroma nafas Karjo yang bau membuat bidadari itu tak sanggup menerima cumbuannya lagi.

"Mmmppphhh.... Mmmppphhh.. Pakkk... Sudahh... Aku gak mau laggg.... Mpppphhhh" Desah Haura dengan penuh nikmat.

"Kekekekek mantap ustadzah... Tubuh ustadzah... Ouhhhh... Siallll... Kenapa tubuh ustadzah indah sekali !!!" Kata Pak Karjo kesal hingga dirinya ingin menikmati keindahan tubuh Haura lebih mantap lagi.

Karjo mengeluarkan lidahnya. Lalu berusaha menerobos masuk ke dalam rongga mulut Haura yang tertutup rapat. Haura terus bertahan sekuat mungkin agar rongga mulutnya tidak dinodai oleh lidah pria tua itu lagi. Namun remasan yang terus Haura terima di dada juga usapan yang terasa begitu nikmat disekitar area perut dan pinggangnya membuat bidadari cantik itu tak kuasa tuk mengeluarkan suara desahannya yang paling mantab.

"Mmmppphhhh... Mmmppphhh... Bapakkkkk.... Ahhhhhhh" Desah Haura terpaksa membiarkan lidah itu masuk ke dalam.

"Kekekekek... Mantappnyaa... Terus mendesah ustadzahhh... Nikmati remasan tangan saya... Nikmati ketelanjangan yang ustadzah lakukan disini... Mmpphhhhh" Katanya dengan penuh nafsu.

"Ahhhh... Ahhh... Ahhhhh... Mppphhhh" Desah Haura menuruti perkataan Pak Karjo tanpa sadar.

Lidah mereka pun bertemu. Awalnya ujung dari lidah mereka bertubrukan. Kemudian saling melilit. Lalu saling bergesekan tuk mencari kenikmatan. Tangan Haura pasrah saat tubuh indahnya ditelanjangi dan dinikmati oleh pria tua kekar ini. Remasan tangan Karjo semakin keras. Usapan tangan kasar Karjo semakin merangsang birahi Haura. Haura sampai merinding merasakan kenikmatan ini. Kedua kakinya mengapit saat lelehan cairan cintanya semakin basah menggenangi celana dalamnya.

"Kekekekeke... Ustadzah sudah mulai menikmatinya yah ? Ustadzah sudah merasakan nikmatnya pemanasan dari saya kan ?" Kata Karjo menertawai tubuh Haura yang kini mulai terangsang.

"Ahhhhh... Jangan asal kalau bicara yah pak... Aku gak pernnn... Ahhhh... Aku gakk sudiiiii.. Iyyuhhhh... Ahhhhhh kenapa iniiii... Ahhhhhh" Desah Haura ketika tubuhnya terus dirangsang oleh Pak Karjo.

Kini tangan Karjo mulai menurunkan celana dalam yang Haura kenakan. Celana dalam itupun turun melewati kaki jenjang Haura berikut stocking serta sepatu yang masih ia kenakan.

"Ahhhhhhhhhh" Haura merinding saat jemari kasar Karjo mulai menekan titik sensitif berupa sesuatu yang berbentuk mirip biji kacang - kacangan tersebut. Titik klitoris Haura ditekan membuat tubuhnya yang indah menggelinjang. Haura mengerang - ngerang. Ustadzah tercantik itu meraung - raung merasakan kenikmatan dari pria tua berbadan kekar ini.

"Kekekekeke... Lebih keras ustadzah... Lebih kerasssa !!!" Kata Karjo terus merangsangnya.

"Ahhhhh pakkk hentikannn... Hentikan ahhhhhhhhh" Desah Haura sambil mengatupkan pahanya hingga tangan Karjo itu terjepit di antara selangkangan Haura.

"Kekekekeke desahan ustadzah memang tidak ada duanya !!! Angkat kakinya ustadzah... Saya gak tahan lagi !" Kata Karjo sambil mengangkat kaki kiri bidadari cantik itu.

Tangan kanan Karjo mengarahkan penisnya tuk memasuki liang kemaluan Haura yang sudah semakin basah itu. Mulanya Haura tidak mengerti apa - apa. Ia juga kelelahan akibat dirangsang oleh pria tua itu tanpa beristirahat. Namun ia merasakan adanya benda besar yang menyelinap masuk ke dalam liang senggamanya. Haura membuka matanya lebar - lebar. Ia panik saat benda itu melesat masuk membelah dinding vaginanya yang sempit.

"Ahhhhhhh pakkkkkkk" Desah Haura memejam sambil merasakan tusukan ternikmat yang pernah dirasakannya.

Jleebbbbbbbb !!!

Penis itu melesat masuk bagai sebuah tombak yang telah menusuk tajam korbannya. Haura sampai membuka matanya. Mulutnya ikut terbuka saat gada besi itu semakin dalam menusuk liang senggamanya.

"Ouhhhhhh.... Ouhhhhh pakkkkk" Haura sampai merasa sesak akibat kenikmatan tak terkira yang ia dapatkan dari belakang. Haura berkeringat. Butir - butir keringat itu menggenangi tubuh indah Haura yang membuat nafsu pria tua itu semakin menggelora.

Plokkk... Plokkkk... Plokkkk !

Sedikit demi sedikit Karjo mulai menggerakan pinggulnya. Memang gerakannya lambat tapi saat dirinya mendorong pinggulnya maka ia langsung mendorongnya dengan kuat hingga pinggul mereka berbentur menimbulkan suara yang merangsang gairah.

Haura memejam sambil merasakan tusukan nikmat itu. Tubuhnya sudah telanjang dengan kaki kiri yang diangkat oleh tangan pria tua itu. Tusukan demi tusukan yang ia rasakan perlahan semakin mengencang saja. Tubuhnya yang berdiri membelakangi itu terdorong maju mundur. Payudaranya bergoyang. Tusukan nya menendang - nendang. Haura terus mendesah merasakan genjotan pria tua itu dalam keadaan telanjang. Telanjang di sebuah ruangan kosong dimana banyak kuli yang bekerja di seberang dinding yang menutupi persetubuhan terlarang ini ? Haura mungkin sudah gila, bagaimana bisa ada ustadzah cantik yang mau disetubuhi di tempat berbahaya seperti ini ? Bagaimana kalau ada kuli lain yang tahu kalau dirinya sedang disetubuhi secara pasrah oleh pria tua berbadan kekar yang berulang kali telah merasakan jepitan lubang kemaluannya. Tapi inilah yang terjadi. Setiap penis itu menggesek dinding vaginanya. Haura semakin menggila. Entah kenapa rasanya berbeda. Rasanya jauh berbeda dari apa yang ia dapatkan dari suaminya.

"Nikmat kan rasanya kontol saya kekekekeke" Bisiknya yang membuat Haura merinding mendengarnya.

Haura langsung melek saat mendengar bisikan setan itu. Benar, ia baru teringat akan janji yang telah terucap. Ia tak boleh takluk oleh hal seperti ini lagi. Ia harus melawan. Ia harus menjauhkan diri dari kenikmatan ini.

Tiba - tiba terdengar sebuah suara yang mendekat dari arah pintu masuk itu. Haura terkejut tapi pak Karjo hanya terkekeh - kekeh sambil mempercepat tusukannya.

"Pakkkk... Jangan lagiii... Itu ada oranggg... Mmpphhh... Pakkkk" Desah Haura.

"Kekekekeke terus ? Kalau gak mau dia gabung ya jangan berisik... Kalau saya mah mau dia gabung makanya saya akan buat ustadzah menjerit - jerit kekekekeke" Katanya yang membuat Haura kesal.

Pak Karjo melepaskan pegangannya di kaki Haura. kini tubuh Haura dibiarkan berdiri membelakangi tubuh pak Karjo. Tangan Karjo mencengkram kuat pinggang ramping Haura. Ia membalikan posisinya agar wajah Haura dapat melihat pintu masuk itu. Tanpa ampun, ia langsung menyodokan pinggulnya hingga penisnya yang besar itu semakin dalam menancap di rahim Haura.

"Ahhhh.... Mmppphhhhh" Desah Haura tertahan. Ia menutup rapat mulutnya agar desahannya tidak didengar oleh seseorang di dekat pintu masuk itu.

Haura dapat melihat bayangan sosok itu dari balik kain yang memisahkan ruangan dimana ia berada dan ruangan dimana kuli - kuli itu bekerja. Haura kesulitan sambil menahan lengan Karjo saat pinggul pria tua itu semakin keras dalam menyetubuhi dirinya.

"Ahh... Ahhhhhhh.... Ahhhh bapakkkkk jangannnnnn !!!" Lirihnya.

"Kenapa ustadzah ? Bukankah kontol saya lezat ? Bukankah ustadzah sudah ketagihan kontol saya ?" Katanya.

"Ahhhh... Ahhhhh jangan ucapkan kata - kata itu lagi pakkk !!!!" Desah Haura pasrah.

SEMENTARA ITU

"Kiriman semen yang kemarin dari ustadz Hendra mana ?"

"Ada kok di depan.... Apa belum diambil ?"

"Ah masa ? Buruan buka semen itu... Saya akan mengambil cangkulnya di ruangan ini"

Haura diam - diam mendengar pembicaraan mereka berdua. Saat matanya melirik ke arah sudut ruangan. Ia melihat adanya beberapa cangkul yang dicari oleh kuli bangunan tadi. Dilihatnya tangan kuli itu mendorong kain pemisah di pintu masuk itu. Apakah kuli itu akan masuk kesini ? Apa yang akan ia lakukan sekarang ? Kenapa pak Karjo malah semakin keras dalam menyetubuhinya.

"Uhhh... Uhhhh.. Uhhhh" Desah Haura tertahan.

"Kekekekeke dengar gak suara lelaki tadi ? Itu namanya pak Dino... Tau gak kenapa dia dipanggil pak Dino ? Itu karena dia yang tertua disini... Dia juga yang paling kekar.... Dia juga yang kulinya paling hitam... Udah sepuluh tahun dia ditinggal mati istrinya... Kalau dia melihat ustadzah sedang disetubuhi disini... Sudah pasti dia akan bergabung menyodomi lubang pantat ustadzah ini kekekekeke... Apalagi beliau pernah bilang kalau dirinya gak tahan ngeliat bokong montok ustadzah yang menggoda ini" Kata Karjo sambil menampar bongkahan pantat Haura.

"Aahhhhh... Mmppphhhh.... Mmmppphhhhh" Desah Haura menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya karena takut suaranya terdengar oleh pak Dino.

Tangan pak Dino semakin mendorong kain itu masuk. Haura semakin kalang kabut. Dirinya sedang dinodai. Dirinya sedang dilecehi oleh kuli bangunan kekar ini. Bagaimana kalau nanti ada kuli bangunan lain yang bergabung dengan pria tua bejat ini ? Haura ketakutan. Ia berdoa agar kejadian itu tidak terjadi pada dirinya.

Namun membayangkan dirinya ketahuan ketika sedang bercinta di tempat umum seperti ini. Entah kenapa malah membuat gairah Haura semakin menjadi - jadi. Apalagi rabaan tangan pak Karjo di belakang yang meremas - remas bongkahan pantatnya. Apalagi saat pinggul pak Karjo bergerak semakin dalam hingga tubuhnya melonjak - lonjak.

Rasanya ingin mendesah lebih keras lagi. Mulutnya tak tahan untuk menahan tiap tusukan yang pak Karjo lakukan di vaginanya. Tangan Karjo bergerak naik mengusap punggung mulus Haura. Kemudian usapannya turun hingga tiba di pinggang ramping Haura kembali. Pinggang Haura dicengkram kemudian pinggul Karjo semakin menghujam dengan kejam.

Plokkk plokkkk plokkkk !!!!

"Ahhh.... Ahhhhh... Ahhhh" Desah Haura tak tahan lagi.

Haura mendesah, Haura semakin bergairah. Dilihatnya lah sendal yang dikenakan oleh pria yang berada di balik kain pembatas itu. Haruskah ia pasrah ? Haruskah ia membiarkan pria bernama pak Dino itu masuk menonton dirinya digenjot oleh kuli jelek ini ?

Haura menggeleng - gelengkan kepala. Kenikmatan ini sudah tak dapat ia tahan. Berulang kali tubuhnya terdorong maju dan mundur. Berulang kali payudaranya bergoyang sesuai irama. Nafsu Haura ingin meledak. Dadanya semakin terasa sesak. Apalagi saat dorongan pinggul Karjo semakin terasa galak.

Plokkk plokkk plokkk plokkkk !!!

Suaranya terdengar keras. Tapi tidak sekeras pembicaraan para kuli di ruangan sebelah. Tapi tetap saja. Hal itu sudah cukup untuk membuat kemaluan Haura berdenyut.

"Pakkkk.... Ahhhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhh" Desah Haura tak kuat lagi. Matanya memejam. Dirinya tergerak pasrah. Ia pun melihat pak Dino mulai memasuki ruang yang ditempati Haura ini.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhh... Rasakan Ustadzah... Rasakan ini... !!!!"

Jleeebbbbbbbbb !!!

Pak Karjo membenamkan penis besarnya sedalam - dalamnya. Tubuh Haura melonjak. Matanya memejam. Karjo mengarahkan wajah Haura agar mencumbunya untuk meminimalisir suara yang dihasilkan.

"Mmmmppppppphhhhhhhh !!!!"

Ccrrrrrrrtttt.... Crrrrrrrtttttt !!!

Vagina Haura telah banjir. Cairan cintanya menyemprot begitu banyak hingga cairan itu ada yang keluar jatuh melalui paha bagian dalamnya. Tubuh Haura menggelinjang. Matanya memejam merasakan nikmatnya orgasme di tempat yang berbahaya seperti ini.

"Mmppphhhh.... Mmpppphhhhh" Desahnya semakin mantap saat tangan Karjo dengan gemas meremasi payudara bulat Haura.

Rasanya sangat mantap hingga membuat Haura ingin membiarkan momen ini berlangsung lebih lama lagi. Tak peduli dengan siapa ia sedang bercumbu. Ia hanya ingin menikmati momen ini. Momen ketika dirinya bisa berorgasme dengan begitu dahsyat.

"Uhhhhhhhhhh" Desah Haura saat beberapa tetes cairan cintanya keluar membanjiri liang senggamanya.

"Apa ? Cangkulnya ada disana ? Oke lah saya akan kesana !" Terdengar pak Dino menjawab panggilan dari rekan sesama kulinya.

Pak Karjo melepaskan cumbuannya. Haura terengah - engah. Bidadari cantik itu kembali menatap depan ke arah kain yang menjadi pembatas ruangan ini.

"Hah... Hah... Hah"

Ia bersyukur bahwa pak Dino tidak jadi masuk ke ruangan ini. Tapi kenapa rasanya sangat nikmat saat dirinya berorgasme sambil membayangkan pak Dino masuk dan memergoki dirinya bercinta dengan kuli kekar ini.

"Uhhhhhhhh" Desah Haura masih menggelinjang merasakan sisa orgasmenya.

"Kekekekeke puas banget nih kayaknya ustadzah... Kekekekeke enak kan ngewe bareng saya" Kata pak Karjo yang tak direspon apapun oleh Haura. Ia masih lelah. Tubuhnya masih lemas setelah diberikan kepuasan yang amat sangat nikmat.

"Hah... Hah... Tunggu.. Jangan lagi pakkk... Aku capekkk" Kata Haura menyadari pinggul Karjo mulai bergerak lagi.

"Enak aja tunggu - tunggu... Saya belum dapet enaknya nih... Gak bisa lagi saya menunggu tuk merasakan jepitan memekmu lagi !" Kata Karjo.

"Ahhh... Pakkk... Mau kemana ? Pakkk... Tungguuu" Kata Haura saat tubuhnya didorong hingga mendekati pintu masuk itu.

Haura membuka matanya lebar. Akankah pak Karjo menggiringnya menuju gerombolan kuli yang sedang bekerja di luar ?

"Pakkk... Jangannnn... Janggannn pakkk... Ahhh... Ahhhhhhh" Desah Haura panik.

"Kekekekeke... Ahhh nikmatnyahh... Nikmatnyaahhh" Desah Karjo sambil terus menggenjot kemaluan Haura.

Haura sudah tiba di tepi kain pemisah itu. Kedua tangannya bertumpu pada dinding yang berada di kanan kiri kain pemisah itu. Tiap kali pak Karjo menggenjot vaginanya. Kepala Haura terdorong hingga menyundul kain pemisah tersebut.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh ustadzah... Saya gak kuattt lagiii !!! Ahhhhhhh"

Karjo sudah diambang batas. Ia mencengkram pinggul Haura dengan kuat. Sodokannya pun semakin terasa nikmat. Ia menggempur lubang kemaluan Haura dengan dahsyat. Berulang kali ia memaju mundurkan pinggulnya tanpa ampun. Penis kekar itu terdorong semakin dalam. Penis kekar itu berulang kali menyundul rahim kenikmatan Haura. Penis kekar itu semakin licin saat dibanjiri oleh cairan cinta sang bidadari.

"Ouhhhh... Ouhhhhh... Ouhhhhh ustadzahhh !!!" Desah Karjo tak sanggup lagi.

"Ahhhh.... Ahhhhhhh.... Sudahh pakkk... Akuu capekkk... Ahhhhhh" Desah Haura yang tak memiliki tenaga lagi.

Akhirnya dengan sekali tusukan yang mantap. Pak Karjo menancapkan penisnya hingga mentok menusuk rahim kenikmatan Haura. Haura melek. Haura membuka mulutnya merasakan kenikmatan selanjutnya yang tidak terduga.

"Sayaaa kelluaarrrrrr" Desah pak Karjo menarik pinggulnya keluar kemudian meminta Haura tuk berjongkok di hadapan dirinya.

Crroottttt crrootttt crrooottt !!!!

"Ahhhhhhhhhhhhh"

Cairan sperma Pak Karjo keluar dengan begitu deras mengenai wajah dan sebagian hijab yang masih Haura kenakan. Karjo buru - buru menyingkap hijab Haura ke belakang agar dirinya bisa membasahi payudara besar Haura menggunakan spermanya.

"Ahhhhh gillaaaaa.... Ahhhhhhh" Desah Karjo sambil merem melek merasakan nikmatnya.

Mata pak Karjo merem melek. Lututnya melemas setelah menyetubuhi bidadari cantik ini dengan sangat puas. Berulang kali ia mengocok penisnya agar tidak ada lagi sperma yang tersisa di lubang kencingnya. Sebagai wajah Haura telah tersirami sperma kuli bangunan itu. Sebagai hijabnya juga sama. Payudaranya yang besar telah dibanjiri oleh cairan sperma kuli bangunan itu. Payudaranya terasa lengket akibat banyaknya sperma yang melekat disana.

"Ouhhhh... Bersihkan sekarang ustadzah !" Perintah Karjo yang terpaksa membuat Haura menurutinya.

"Mmppphhh... Mpphhhh... Mmppphhh" Desahnya tertahan saat membersihkan sisa sperma kuli bangunan itu menggunakan mulut dan lidahnya.

Haura terengah - engah. Ia sangat puas. Tapi haruskah ia mendapatkannya dari kuli bangunan ini ? Akal sehatnya kembali. Ustadzah cantik itu pun menangis. Ia telah sadar bahwa ada sisa lima hari lagi yang harus ia lalui dibawah ancaman kuli bangunan kekar ini. Ia tak tahu lagi harus bagaimana agar bisa terlepas dari bayang - bayang sang kuli. Seketika, ia pun teringat akan satu nama yang selalu baik padanya. Seseorang yang selalu menolongnya dikala ada masalah. Seseorang yang selalu menghiburnya dikala gundah gulana.

Tolong akuu... V !!!!

Batin Haura sambil terus menyepong penis yang mulai melemas itu.

Karjo tertawa. Ia menatap puas ustadzah cantik yang baru ia setubuhi. Ia pun mengambil buku catatan kecil yang ia taruh di dekat pintu pemisah ini.

Hari ketiga dimana yah ? Kekekekeke disana aja ahhh !!!

Batinnya merencakan sesuatu untuk memuasi ustadzah cantik ini di hari besoknya.


*-*-*-*


Sementara itu di ruang utama dimana banyak kuli bangunan bekerja. Terdapat kuli kekar lainnya yang hendak menuju ruangan kosong didepan. Namun langkahnya terhenti saat dirinya melihat adanya bayangan seseorang yang sedang berjongkok tepat dibalik kain pemisah itu. Nampak bokongnya terlihat karena tidak tertutupi oleh kain pemisah itu. Nampak lekuk tubuhnya yang menyerupai seorang wanita dengan hijab yang menutupi sebagian punggungnya. Walau tubuhnya tidak terlihat namun bayangannya nampak karena bahan tipis yang dimiliki oleh kain pemisah itu. Samar - samar kuli bangunan itu menduga. Karena lekuk tubuhnya terlihat tidak asing baginya. Apalagi ia sangat mengidolai bongkahan pantatnya. Mungkinkah ia ?

"Ustadzah Haura ?" Lirihnya, Ia pun mengambil sebuah foto untuk mengabadikan momen langka tersebut.

Cekrekkk !!!

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy