Sekitar pukul setengah enam pagi dikala mentari mulai memperlihatkan cahayanya, keluar lah seorang wanita cantik dari dalam pintu rumahnya. Wajahnya bersinar nyaris mengimbangi terangnya matahari, ia mengenakan kaus longgar berlengan panjang juga celana training panjang yang tidak ketat yang mana itu semua menutupi auratnya. Hijab berwarna merah muda pun melengkapi penampilan anggunnya di pagi hari. Tatkala ia duduk di kursi teras rumahnya, ia mendapati buku catatan yang telah disiapkan sebelumnya untuk persiapan mengajar di hari ini. Tangan kanannya memegang secangkir kopi panas dan tangan kirinya memegangi buku catatan. Ketika ia menyeduh kopi tersebut ia merasakan kenikmatan yang tiada tara. Tubuhnya terasa hangat dan ia merasakan adanya energi yang berkumpul untuk membantunya dalam menghadapi hari - hari berat yang akan terjadi di hari ini. Matanya menatap buku catatan tersebut membaca setiap tulisan yang ada untuk mempelajarinya agar nanti ketika dirinya mengajar ia mampu untuk menjelaskannya dengan mudah tanpa perlu melihat buku catatan itu lagi.
Sejenak ia meletakan buku catatan dan secangkir kopi tersebut diatas meja teras rumahnya. Ia beranjak berdiri menuju pagar dinding rumah untuk melihat keadaan di sekitar rumahnya. Tampak beberapa santri yang sedang berolahraga pagi dengan giat menenangkan hatinya. Ia pun teringat akan adanya memori indah yang pernah terjadi ketika dirinya masih menjadi santriwati di pondok ini.
“Gak nyangka waktu berjalan secepat ini” kata Haura tersenyum.
Kemudian dirinya kembali duduk di kursi teras rumahnya. Ia melamun karena pikirannya teringat akan kejadian yang menimpa dirinya dua malam yang lalu. Haura terkejut, ia tak menyangka kalau V sampai berani melakukan hal itu padanya. Ia tak habis pikir kalau lelaki itu sampai berani mencumbui bibirnya di malam itu.
Apa ia lupa kalau kita sedang berada di dalam pondok ? Apa ia lupa kalau aku ini sudah resmi menjadi milik seseorang ? Apa ia lupa atau memang sengaja melupakan itu semua demi bertindak semaunya ?
Haura merasa kecewa pada rekan kerja barunya, membuat bidadari berhijab itu terus mendiamkannya tanpa pernah berani mengajaknya berbicara atau menjawab pertanyaanya hingga detik ini.
“Lagipula siapa itu Fitri ? Kenapa dia memanggilku dengan nama itu ?” kata Haura penasaran.
Ia pun menenggak kopinya lagi untuk menenangkan pikirannya. Saat bibir tipisnya menyentuh pinggiran cangkir itu, ia terdiam kemudian meletakan kembali cangkir itu ke atas meja teras rumahnya.
Haura melamun sambil memegangi bibir tipisnya, Ia teringat akan kejadian ketika dirinya dicumbu oleh ustadz baru itu. Haura berfikir, matanya memejam membangkitkan nuansa yang ia alami di malam itu.
Ada apa ? Kenapa yah ? Kenapa aku sempat menikmati percumbuan dengannya ?
Haura bimbang, ia sempat goyah ketika V dengan berani melekatkan bibirnya ke bibir tipisnya kala itu. Hatinya bergetar, ia merasakan adanya getaran cinta yang V kirimkan padanya.
Tepat saat itu, suaminya yang bertubuh tambun keluar dari dalam rumahnya. Ia sudah mengenakan kemeja rapih lengkap dengan sepatu pantofel yang ia pegang dengan tangan kirinya.
“Masssss... Selamat pagi” sapa Haura sambil tersenyum ketika melihat suaminya muncul bersiap - siap untuk pergi menuju suatu tempat.
“Dek... Selamat pagi” kata Hendra tanpa menatap wajah istrinya. Ia terlihat terburu - buru sambil mengenakan kaus kakinya.
“Mas mau kemana ?” tanya Haura lekas menghampiri.
“Mas mau pergi ke luar pesantren sebentar yah... Mau beli perlengkapan untuk pembangunan pondok” kata Hendra sambil mengenakan sepatunya.
“Ohh gak sarapan dulu ?” tanya Haura.
“Nanti aja dek gampang diluar kan bisa... Mas pergi dulu yah ?” kata Hendra bersiap - siap pergi menaiki motornya.
"Oh iya... Minta tolong nanti sore ambilin gaji yang udah mas siapkan di kantor administrasi yah ?" Lanjut Hendra ketika baru teringat sesuatu.
Haura hanya bisa berpura - pura tersenyum menganggukan kepala sambil melambaikan tangan melepas kepergian suaminya. Haura kembali duduk sambil memegangi dadanya. Perlahan ia mulai mengerti kenapa saat itu, dirinya sempat goyah ketika menerima cumbuan dari V.
Tanpa adanya pelukan, tanpa adanya ciuman dan tanpa adanya kata pujian yang ia dapatkan. Haura merasakan adanya kehampaan yang dialami di hatinya. Hatinya terasa kering karena sudah lama tak disirami oleh cinta dari suaminya. Haura melenguh sambil memejamkan matanya menatap langit - langit teras rumahnya.
“Kenapa akhir - akhir ini kamu berubah mas ?” kata Haura merenungi sikap suaminya.
Ia pun terbayang saat masa - masa di awal pernikahannya dulu. Hendra begitu perhatian kepadanya, apapun yang ia katakan pasti Hendra selalu berada disisinya mendengarkan. Saat ia jatuh sakit, Hendra selalu berada disisinya untuk menemaninya hingga ia tak merasa kesepian saat harus melalui hari - hari di atas ranjang rumah sakit.
Namun sekarang semuanya tampak berbeda, Haura sampai kepikiran kenapa ia mau menerima lamarannya dulu untuk menikah dengannya. Menyesal ? Mungkin bukan sikap terbaik yang harus ia lakukan ditengah ujian yang melanda rumah tangganya. Berat itu pasti, tapi ia harus mencari suatu cara agar ia bisa melewati semua cobaan ini.
Tak berselang lama, samar - samar ia melihat bayangan seseorang yang mendekat ke arah rumahnya. Haura mengernyitkan dahinya saat ia menatap wajah dari lelaki yang hendak bertamu ke rumahnya. Rasanya ia ingin masuk segera ke dalam rumah untuk bersembunyi. Namun naas, karena lelaki itu sudah terlebih dahulu melihatnya membuatnya merasa tak enak kalau harus bersembunyi darinya sekarang.
“Assalamualaikum” sapanya.
“Walaikumsalam... Ada urusan apa antum kemari ? V ?” kata Haura bersikap dingin.
“Ohh jadi sekarang pakainya ana - antum lagi ? Ana ikut ah kalau gitu” kata V mencoba mencairkan suasana.
Haura hanya diam tak merespon kata - kata yang telah V ucapkan. V hanya tersenyum melihat sikap Haura yang begitu dingin padanya. Menyadari kesalahan yang telah ia buat, ia pun meminta maaf.
“Ana minta maaf atas perbuatan yang sudah ana lakukan di malam itu” kata V menurunkan suaranya.
“Lupakan... Cepat jelaskan apa maksud tujuan antum kemari ? Kalau cuma ingin meminta maaf... Ana udah memaafkan antum jadi cepat pergi karena ana lagi ingin sendiri” kata Haura tanpa menatap wajahnya.
“Iya... Ana kemari untuk meminta data pembangunan mulai dari jumlah gaji, jumlah pekerja dan beberapa data lainnya untuk melengkapi laporan bagian kita ke Pak Kiyai Jamal di awal bulan nanti” kata V memberikan secarik kertas mengenai beberapa data yang ia butuhkan pada Haura. Haura pun menerima secarik kertas itu dan membacanya.
“Ana dengar suami antum berada di bagian pembangunan kan ? Mungkin akan tepat rasanya kalau ana menemuinya untuk meminta beberapa data kepadanya” kata V.
Melihat V bersungguh - sungguh karena memiliki tujuan yang jelas bukan hanya karena ingin menemuinya, Haura pun menerima kedatangan V walau dirinya masih menjaga jarak agar ia tidak kembali jatuh melalui cara yang sama.
“Maaf suami ana lagi pergi... Tapi mungkin ana bisa memberikan beberapa catatannya ke antum kalau mau... Gimana ?” kata Haura.
“Boleh” kata V tersenyum menatap Haura.
Haura buru - buru memalingkan wajahnya karena malu.
“Tunggu sebentar biar ana ambilkan” kata Haura masuk ke dalam rumahnya.
Tak berselang lama, Haura kembali keluar dengan membawa beberapa buku catatan suaminya.
“Ini beberapa datanya mungkin bisa membantu” kata Haura.
“Na'am, Syukron yah Ra” kata V kembali menatap Haura membuat wajah Haura memerah seketika.
V pun meletakan buku catatan itu diatas meja, kemudian membuka buku kecilnya menuliskan beberapa catatan yang ia butuhkan untuk dimasukannya ke dalam laporan. Saat V menulis, Haura diam - diam menatap V dengan tatapan heran. Dalam hati ia bertanya - tanya, kenapa hanya dengan senyuman dan tatapan darinya sudah sangat berdampak untuk menggoyahkan cintanya pada suaminya seorang. Haura terus menatapnya sampai kemudian memalingkannya saat V melirik menatap wajah Haura.
“Ada apa Ra ? Kok ngeliat - ngeliat ?” kata V sebelum kembali melanjutkan penulisannya.
“Gak usah PD yah ! Ana cuma ngeliat catatan yang antum tulis” kata Haura merasa kesal sambil menahan malu.
“Hahaha begitu kah ?” kata V kembali menatap Haura. Kemudian V tersenyum yang membuat wajah Haura semakin memerah ketika ditatap oleh V.
“Kamu tetap cantik loh Ra walau kamu marah - marah seperti itu” kata V yang membuat hati Haura berdebar kencang.
Haura diam tak dapat merespon, mulutnya mungkin tertutup tetapi hatinya begitu bahagia ketika mendengar pujian darinya. Haura pun semakin heran dengan perasaannya sekarang.
“Ahh selesai juga... Terima kasih yah atas bantuannya... Ana mau pamit dulu... Wassalamualaikum !!” kata V bergegas pergi meninggalkan Haura sendiri di teras rumahnya. Saat V pergi, diam - diam Haura menatapnya dari jauh. Ia bingung, ia heran kenapa lelaki itu begitu mudah untuk membuat hatinya berdebar.
"Walaikumsalam.... Dasar aneh" Jawab Haura terheran - heran.
Tak sengaja dari kursi yang tadi ditempati oleh V, ia menemukan adanya setangkai bunga yang tertinggal disana. Bunga itu sangat indah membuat hati Haura terkesan saat melihatnya. Tapi buru - buru Haura membuang pikiran itu juga dengan bunga yang ia temukan ke dalam tempat sampah.
“Aku tidak boleh takluk lagi melalui cara seperti ini !” kata Haura bertekad.
Saat ia hendak memasuki pintu rumahnya, ia berhenti melangkah, kemudian berbalik arah untuk mengambil kembali bunga yang sempat ia buang tadi. Ia penasaran mengenai maksud dari setangkai bunga yang telah V tinggalkan di rumahnya.
Wahhh kok gitu ? Aku baru tahu kalau setiap bunga memiliki artinya masing - masing.
Tentu ada... Bunga juga memiliki perasaan dan sifatnya sepertinya manusia... Mungkin mayoritas orang akan berkata bunga hanya mengisyaratkan arti dari keindahan dirinya... Padahal ada beberapa bunga yang mengisyaratkan kesedihan juga loh... Kamu tahu gak contohnya ?
Seketika Haura teringat akan kata - kata yang pernah V ucapkan padanya di malam itu. Tanpa mengetahui maksud dan arti yang sebenarnya, Haura menyimpan bunga itu untuk menanyakannya suatu hari nanti mengenai apa makna dari setangkai bunga yang telah ditinggal di kursi teras rumahnya.
"Apa nama dari bunga ini ? Apa maksudnya ?" Tanya Haura merenung.
*-*-*-*
Sekitar pukul setengah tujuh pagi, V baru saja tiba di depan pintu kamarnya setelah mendapatkan data yang ia pinta dari Haura.
Terlihat beberapa santri telah berpakaian rapih mengenakan kemejanya untuk bersiap - siap menghadiri sesi kelas pagi. Sementara V masih berpakaian santai dengan kaus berlengan panjang juga celana training yang menutupi kaki panjangnya.
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka menampilkan Adit yang sudah berpakaian rapih mengenakan kemeja, celana kain lengkap dengan dasi yang bergantung di kerah bajunya. Sepatu pantofel telah ia tenteng lengkap dengan kaus kaki putih yang tersedia di dalamnya. Saat ia melihat V masih bersantai - santai, lekas ia langsung menegurnya.
"Hehhh Fikri ! Cepet ganti bajunya kok masih pakai kaus sih !" Kata Adit.
Tak berselang lama Fauzan & Wildan baru saja keluar mengenakan pakaian mengajar yang nyaris sama dengan Adit.
“Loh belum ganti Fik ? Buruan udah jam berapa sekarang ?” kata Fauzan.
"Kalau ketahuan Kiyai Jamal bisa ditegur loh” kata Wildan menimpali.
“Loh kok... Kok gitu sih ? Me... Memang batasannya sampai jam berapa ?” tanya V.
“Sekitar jam enaman lah pokoknya... Buruan gih !” kata Adit.
“Iyya iya bentar !” kata Fikri bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
“Oh yah Fik... Nanti setelah ganti pakaian temui aku di bagian pengajaran yah ! Jadwalmu udah jadi kayaknya” kata Adit berteriak ke dalam kamarnya. Karena terburu - buru, Adit, Fauzan dan Wildan pun pergi terlebih dahulu ke bagian pengajaran.
“Iya !!!” kata V dari dalam ruangan.
Setelah berganti pakaian dan merapihkan penampilannya di cermin, V bergegas pergi dari dalam kamarnya menuju bagian pengajaran. Tak lupa sebelum pergi, ia sempat mengunci pintu kamar terlebih dahulu agar tidak ada orang lain yang masuk ke dalamnya. Ia pun meletakan kuncinya di atas ventilasi sesuai arahan yang diberikan oleh Fauzan di malam sebelumnya.
“Baa.... Bagian pengajaran yah ? Aaa... Ada disebelah mana yah ?” kata V melirik ke kanan dan kekiri mencoba mengingat arah yang kemarin sempat ditunjukan padanya.
“Kaaa.. Kalau gak salah kan searah sama bagian pengasuhan ? Bee... Berarti ke arah sana !” kata V sambil melangkahkan kakinya.
Satu set kemeja polos, celana kain panjang yang tidak ketat juga dasi panjang yang melingkar di kerah merupakan seragam resmi bagi pengajar putra. Tidak ada patokan khusus, apakah harus memiliki warna yang selaras antara satu pengajar dengan pengajar lainnya, yang jelas kemeja yang dikenakan harus polos dan tidak mencolok. Celana kain yang dikenakan juga harus berwarna hitam. Semua aturan ini sudah diberlakukan sejak lama ketika pondok ini masih baru berdiri di awal - awal. Hal ini dilakukan sesuai keinginan Kiyai Jamal yang tidak mau pengajarnya memiliki sifat sombong karena mengenakan pakaian yang wah dan mencolok.
Tak terasa ia pun tiba di depan kantor bagian pengajaran, beberapa pengajar yang memiliki jadwal mengajar di jam pertama telah tiba untuk mengambil absen kelas yang akan mereka ajar. Suasananya sangat ramai membuat V harus menunggu sebentar agar tidak menganggu para pengajar yang terlihat terburu - buru.
Saat itulah mata V terfokuskan pada kehadiran Haura yang telah bersiap - siap untuk mengajar. Hijab berwarna merah muda membalut kepalanya yang kecil. Tampak senyuman yang ia berikan kepada beberapa pengajar putri menyejukan hati V dari kejauhan. Melihatnya tersenyum merupakan kebahagiaan tersendiri bagi V. Ia senang, ia merasa tenang hingga membuatnya tersenyum secara tak sadar ketika melihatnya dari kejauhan.
Tiba - tiba mereka berdua melakukan kontak mata, senyum yang tadi melekat di wajah Haura sirna seketika, Haura langsung membuang muka sambil memicingkan matanya karena tak nyaman. Buru - buru, ia pergi menjauh dari kantor bagian pengajaran untuk menuju kelasnya.
V menghela nafas melihat sikap Haura yang masih dingin padanya. V dapat memahaminya, ia juga yang keterlaluan karena telah melakukan hal itu secara tiba - tiba. Ia hanya bisa tersenyum kecil sambil melangkahkan kakinya memasuki kantor untuk menemui Adit.
“Assalamualaikum” sapa V sambil melihat sekitar.
“Walaikumsalam” tak diduga Ustadzah Syifa yang ada di dalam menjawab salamnya.
“Ehhh ehmmm.. Anu... Uss... Ustadz Adit ada ?” kata V pada bidadari cantik itu.
“Ohhh ust Adit udah pergi mengajar kayaknya... Absen untuk kelasnya juga sudah dibawa” kata Ustadzah Syifa.
“Oh begitu” kata V sambil melihat sekitar.
“Memang ada apa yah ustadz ?” tanya Ustadzah Syifa dengan ramah.
“Enggak heheh.... Usss... Ustadz Adit bilang... Kaaa.... Kalau jadwal mengajar untuk ana udah jadi yah ?” kata V bertanya.
“Ohhh itu ? Iya sudah kok... Bentar yah ana ambilkan dulu... Antum duduk dulu aja sambil menunggu” kata Ustadzah Syifa dengan sopan.
V pun duduk di dalam kantor menunggu ustadzah Syifa mengambilkan jadwal yang sudah ia buat untuknya. Tiba - tiba seorang bidadari berhijab lainnya lewat dihadapan V. V reflek memandanginya secara tak sengaja. Wajah manis, tubuh montok berisi dengan hijab lebar dan kemeja longgar yang menutupi tubuhnya. Ia mengenakan blazer berkerah rendah yang sengaja tidak ia kancing membuat V samar - samar dapat melihat lekukan payudaranya yang menonjol dari arah samping saat berjalan di depannya.
Lama V menatapnya karena ingin sekali menyapanya. Tapi lidahnya tak selaras dengan pikirannya. Ia merasa malu untuk memulai obrolan terlebih dahulu. Ia merasa tak percaya diri. Namun karena keinginan kuat yang ada di hatinya, membuatnya pun memberanikan diri untuk menyapa.
“Assalamualaikum... Ann... Anntum ustadzah Rachel yah ?” tanya V yang mengejutkan Rachel.
“Ehhh Na’am.. Antum siapa yah ?” tanya Rachel terkejut sambil merapatkan blazernya.
“Ana... Ana Fikri... Ana baru disini hehe... Keee... Kebetulan ustadz Adit sering cerita tentang antum hehehe” kata Fikri yang membuat bidadari itu tersenyum.
Manisnya.
“Ohhh ahahaha... Antum temennya ustadz Adit yah ?” tanya Rachel.
“Iy... Iyyaa salam kenal" kata V tersenyum. Rachel pun ikut tersenyum sambil menundukan kepalanya sejenak.
“Ehmm afwan... Ana ada jam mengajar, kalau gitu permisi dulu yah” kata Rachel buru - buru pergi dari ruangan itu.
“Iya” kata V tersenyum sambil menatap kepergian bidadari berhijab itu dari belakang.
“Bbeee... Beruntungnya Adit punya calon istri secantik dia” kata V dengan nada lirih.
Jantung Rachel berdebar saat berbicara dengan pengajar baru yang ditemuinya di kantor tadi. Ia buru - buru melepaskan pegangannya di blazer. Blazernya itu kembali terbuka menampilkan kemejanya yang masih tertutupi hijab panjangnya.
“Untung gak ketahuan” lirih Ustadzah Rachel sambil berjalan santai menuju kelasnya. Tak berselang lama lonceng pun berbunyi membuat para santri bergegas memasuki kelasnya untuk menunggu pengajar yang akan memberikan ilmunya kepada mereka. Rachel tengah melangkah di lorong samping kelas di lantai dua. Keadannya tengah sepi membuat sisi lain dari dirinya memanggil melalui suara hatinya.
Ayo Rachel lakukan sekarang... Lakukan seperti apa yang sudah kamu rencanakan !
"Sekarang ?" Kata Rachel lirih. Ia pun melihat sekitar untuk memeriksa keadaan.
Rachel menenggak ludah. Dengan perasaan yang berdebar, ia memberanikan diri untuk melepas satu persatu kancing kemejanya hingga terlepas seluruhnya. Ia dengan percaya diri berjalan perlahan seolah tak terjadi apa - apa padanya. Sebuah hijab panjang yang tipis masih menutupi keindahan di dalamnya. Tanpa adanya kaus dalam, tanpa adanya bra yang melekat di dalam. Samar - samar orang dapat melihat bentuk rupa dari payudaranya yang tersembunyi indah dibalik blazer yang memiliki warna selaras dengan rok panjangnya. Beruntung tidak ada seorang pun di depan, membayangkan akan adanya seseorang yang muncul dari arah depan membuat jantung Rachel semakin berdebar kencang.
Seketika ia melihat adanya tukang bersih - bersih yang sedang menyapu debu di lantai. Buru - buru Rachel merapatkan blazernya kembali. Beruntung tukang bersih - bersih itu tidak melihatnya tadi. Rachel mempercepat langkah kakinya kemudian pergi begitu saja menuju kelas yang akan ia ajar yang berletak di ujung lorong. Tampak pria paruh baya itu melirik sejenak saat Rachel melintas. Pria berkumis itu hanya menggeleng - gelengkan kepalanya menatap tiap ustadzah yang melintas melewatinya. Tiap pagi ia selalu berada di lorong ini hanya untuk mencuci mata ketika melihat ustadzah yang cantik jelita berjalan menuju kelas yang akan mereka ajar. Dalam hati ia pun berandai - andai bisa menyicipi satu saja dari ustadzah yang ia temui di lorong ini.
“Hahahah mimpimu ketinggian Din... Din.... “ kata Pak Udin pada dirinya sendiri.
Rachel sudah tiba di samping kelas yang akan diajarnya, beberapa santri yang sempat melihatnya dari dalam kelas pun memperingatkan santri yang lain untuk diam karena pengajarnya sebentar lagi akan tiba memasuki kelas. Rachel berhenti sejenak sambil melihat ke kiri, kanan, depan dan belakang.
Iya... Ayo Rachel... Lakukan sekarang... Mumpung sepi !
Rachel memberanikan diri, dengan perasaan yang berdebar - debar Rachel mulai melepas blazer yang hanya menutupi sisi bagian belakang tubuhnya, membiarkan sisi bagian depannya terbuka sedari tadi. Ia menengok ke belakang, Kemudian ia buru - buru melepas kemejanya hingga membuat ustadzah bagian penggerak bahasa itu topless di samping kelas yang akan ia ajar. Buru - buru ia mengenakan blazernya kembali dan meletakan kemejanya rapih di samping luar kelasnya. Setelah memasukan kembali kancing ke blazernya, ia segera memasuki kelas untuk menyapa para santri yang telah menunggunya.
“Assalamualaikum... Shobahul khoir !” sapa Ustadzah Rachel dengan mengucapkan selamat pagi.
“Walaikumsalam... Shobahun nur ya ustadzah !” jawab para santrinya dengan semangat.
“Mari kita mulai pelajaran kita pagi ini yah.... Apa pelajaran kita hari ini ?” tanya ustadzah Rachel sambil mengambil spidol bersiap - siap untuk menulis di papan tulis.
“Pelajaran kita hari ini adalah Bahasa Arab ya ustadzah !” jawab para santrinya.
Ustadzah Rachel pun menulis di sisi bagian atas papan tulis. Tak sengaja putingnya yang sudah mengacung tegak tergesek oleh kain bahan blazernya, sehingga membuatnya mendesah pelan.
“Ahhhhh”
Buru - buru Rachel menahan suaranya dan bersikap seperti biasa lagi. Ia pun tersenyum sambil menatap para santri yang tak tahu menahu mengenai kebenaran yang tersembunyi dibalik hijab lebar dan blazer yang dikenakan olehnya. Ketika sedang asyik - asyiknya mengajar, Rachel tak menyadari bahwa Pak Udin sedang menyapu sisi luar kelas yang sedang ia ajar. Mata pak Udin memicing ketika melihat adanya kemeja yang terlipat rapih di luar ruangan. Saat dirinya mendekat, ia mendapati adanya tulisan Rachel Olivia Putri di sisi atas saku sebelah kirinya.
"Ini... Punyanya ustadzah Rachel kan ? Kok ada disini ?" Kata Pak Udin terkejut. Kemudian pria paruh baya itu melirik sejenak ke dalam kelas. Ia pun melihat sosok ustadzah Rachel sedang mengajar di dalam. Pikirannya langsung berkeliaran membayangkan beragam kemungkinan kotor yang terjadi.
Sontak jakunnya bergerak naik kemudian turun, buru - buru pak Udin pergi sambil membawa kemeja yang ia temukan di samping kelas tadi.
DI BAGIAN PENGAJARAN
“Afwan udah bikin antum menunggu lama... Ini jadwal mengajar antum” kata ustadzah Syifa menyerahkan lembaran kertas berisi hari dimana V harus meluangkan waktunya untuk mengajar.
“Hmmm” kata V memeriksa jadwalnya.
"Kenapa ? Ada yang salah yah us ?" Tanya Syifa khawatir
"Ehhh... Engg... Enggak ko enggak hehe" Jawab V sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini... Ehmm... Jadd... Jadwal perdana ana lusa yah us ?" Tanya V mendekatkan jadwal itu ke Ustadzah Syifa.
“Mana ? Oh Na’am... Masih ada waktu luang buat antum mempersiapkan materi yang harus antum ajar” kata ustadzah Syifa menyemangati.
“Begitu yah ? Syu... Syukron yah atas bantuannya” kata V.
“Ahahaha itu memang tugas ana kali ustadz” kata ustadzah Syifa malu.
"Kalau gitu ana mau nugas lagi yah" Kata Syifa kembali duduk di mejanya. Dengan serius, ia menatap layar komputernya sambil menggoyangkan jemarinya mengetikan kata - kata. V diam menatap sejenak. Ia melihat sekeliling, ustadz dan ustadzah lainnya yang berada disini sedang duduk berbincang, ada beberapa lainnya yang sibuk membaca tapi hanya ada satu pengajar yang sibuk di depan layar laptopnya. Karena penasaran, V pun bertanya tentang kesibukan Syifa.
“Ntum lagi ngerjain apa ?” tanya V.
“Ohh ini untuk thesis kuliah ana, ustadz” jawab Syifa dengan sopan.
“Thesss... Thesis ? Antum kuliah S2 ?” tanya V terkejut.
“Iya ahahaha... Kok kaget gitu sih ?” jawab Syifa malu.
“Afwan... Memm... Memang usia antum berapa sekarang ?” tanya V penasaran.
“Ana udah tua ustadz... 28 lah hehehe” kata Syifa dengan wajah yang memerah.
“28 ? Tapi kok... Kok wajah antum awet muda yah... Cannn... Cantik lagi hehe... Ana kira masih 20-an awal” Puji V dengan penuh kejujuran.
“Ahhhh masa ? Hhihihihi syukron yah ustadz” kata Syifa tertawa bahagia yang melelehkan hati V saat melihatnya.
“Be... Beneran loh tadi tapi anu... Maaf bukan bermaksud loh yah... Takut... Takut kesinggung hehehe” kata V tersenyum malu - malu saat menatap Syifa tertawa.
“Loh kok kesinggung sih ana ?” tanya Syifa heran.
“Makk... Maksudnya gini... Aduh gimana yah ? Ana... Ana takut kalau dikira modus atau apalah tapi tadi beneran muji kok hehehe... Tan... Tanpa ada maksud lain” kata V salah tingkah.
“Ohh Ahahahahha... Antum ini lucu yah... Biasa aja kali ustadz... Tenang aja... Ana gak akan terpengaruh kok dengan kata - kata seperti itu lagi... Lagipula untuk saat ini ana lagi gak kepikiran untuk nikah dengan seorang ikhwan kok... Ana juga lagi jaga jarak dengan mereka makanya kata - kata seperti itu akan mental dan gak akan pernah bisa menembus hati ana ahahahha" Kata ustadzah Syifa bercanda.
“Ohh hehehe syukurlah... Tapi... Tapi... Maaf nih antum kan udah 28 tahun... Ke... Kenapa antum belum ada pikiran untuk nikah ?” tanya V penasaran.
“Heheheh untuk urusan itu ana punya alasan pribadi ustadz... Maaf yah” kata Syifa tersenyum.
“Ahh enggak... Gak usss.. Gak usah minta maaf... Ana kok yang harusnya minta maaf” kata V merasa tidak enak.
“Gapapa kali tadz... Antum bukan orang pertama kok yang menanyakan hal itu ahahaha” kata Syifa menjawabnya dengan santai.
Hufttt syukurlah dia gak kesinggung... Tapi senyumnya itu loh... Bikin meleleh aja !
“Hehehhe ka... Kalau gitu ana pamit dulu yah... Wassalamualaikum” kata V melangkah pergi secara terburu - buru.
“Iya... Walaikumsalam” jawab Syifa tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Hahhh ada - ada aja... Nikah oh nikah terus bahasannya... Oh yah ngomong - ngomong mana yah dia ? Katanya mau kesini sekarang ?” kata ustadzah Syifa sambil melongokkan kepalanya untuk melihat ke arah pintu masuk.
Sementara itu di luar kantor bagian pengajaran, V tampak pergi tergesa - gesa untuk menjauhi keberadaan Syifa. Penampilan Syifa yang mempesona nyaris menaklukan hati V yang mudah jatuh cinta. Ia pun menarik nafasnya dalam - dalam sambil menatap langit cerah di atas sana.
Kenapa aku jadi seperti ini... Sejak dulu aku memang selalu mencintai seorang wanita yang kutemui... Tapi aku tak pernah menduga kalau aku jadi seberani ini ? Batin V. Saat ia menatap ke atas, seketika terbayang wajah wanita berhijab yang terlukis di langit sana.
“Fitri !” kata V yang kemudian mulai mengatur perasaannya lagi. Ia pun berjalan menuju kantornya untuk memasukan data yang tadi pagi ia dapatkan dari Haura.
Jaga sikapmu ! Jaga sikapmu ! Batin V di setiap langkahnya.
SEMENTARA ITU DI GEDUNG KELAS
Lonceng berbunyi menandakan pergantian jam mengajar dari jam pertama menuju jam kedua. Para pengajar yang telah menyelesaikan jam pertama pun keluar beristirahat sementara pengajar yang memiliki waktu mengajar di jam kedua bersiap - siap untuk memasuki kelas masing - masing.
Rachel baru saja menyelesaikan jadwal mengajarnya dengan senyuman. Ia merasa lega bahwa fantasi terpendam yang diimpikannya sejak lama telah terwujud. Ia merasa senang, ia merasa puas. Ia pun keluar dari kelas untuk mengambil kemeja yang tadi ia letakan.
“Loh kok ?” kata Rachel kaget sambil melihat sekitar.
Rachel panik, jantungnya berdebar kencang, kepalanya pun pusing tak karuan mencari kemeja yang tadi ia letakan di samping kelas. Kebetulan Ustadzah Nada yang mengajar di samping kelas Rachel baru saja keluar dari kelasnya.
“Ustadzah Rachel ? Anti kenapa ? Anti nyari apa ?” tanya Ustadzah Nada.
“Ehhh enggak us... Hehehe... Cuma pulpen kok tadi jatuh dimana yah” kata Rachel berbohong.
“Ohhh ahahhaha kirain apa... Soalnya serius banget mukanya” kata Ustadzah Nada tertawa.
“Hehehe masa ? Biasa aja padahal” kata Rachel yang benar - benar panik karena kemejanya tak dapat ditemukan.
“Yasudah kalau gitu ana duluan yah ? Ana mau jaga kantor sapa tau ada santri yang mau bayar SPP sebentar lagi” kata Ustadzah Nada yang hendak pulang ke kantor bagian Administrasi.
“Naam us...” kata Ustadzah Rachel berpura - pura tersenyum.
Lohh beneran gak ada ? Aduhh gimana ini ?
Rachel berjalan pulang sambil melihat sekitar dengan raut wajah kepanikan. Ia benar - benar takut kalau kelakuan yang hanya diketahui olehnya selama ini bakal diketahui oleh orang lain. Ia benar - benar tak menduga, ia benar - benar tak mengira kalau fantasi yang dimilikinya selama ini akan berubah menjadi bumerang baginya. Ia akhirnya pasrah mengiklaskan kemeja yang dimilikinya sambil berjalan pulang menuju kantor bagian pengajaran untuk mengembalikan absen kelas. Ia pun melewati kamar mandi di samping gedung kelas tanpa mengetahui kejadian yang sedang terjadi di dalamnya.
Seorang pria paruh baya sudah bertelanjang dada sambil menurunkan resleting yang ada pada celananya. Sesuatu yang panjang, keras dan berwarna hitam sudah keluar dibawah sana. Sesuatu itu menatap tajam ke arah kemeja yang dibentangkan oleh salah satu tangannya. Sementara satu tangannya lagi sibuk mengurut miliknya yang panjang nan besar di bawah sana.
“Ahhhhhh ahhhhh ahhhhhh ustadzah Rachel” desah pria berkumis itu sambil memegangi kemeja bertuliskan nama Rachel Olivia Putri di atas saku kirinya. Tangan kanannya menggerakan kelaminnya maju, lalu mundur, lalu maju lagi sambil membayangkan wajah manis dari pemilik kemeja ini.
“Ahhh ahhhhhh hahhhhhhhh” Pak Udin merinding, tubuh tuanya bergetar ketika sedang bermasturbasi menggunakan kemeja yang baru saja ditemukannya di samping kelas. Pikiran liarnya membayangkan bahwa ustadzah Rachel yang tadi ditemuinya sudah tidak mengenakan apa - apa dibalik blazer juga hijab longgar yang tadi dikenakannya.
“Mungkinkah ? Ahhhhh ahhhhhh” semakin liar pikiran yang yang terlintas di kepalanya membuat kenikmatan yang ia rasakan semakin memuncak di bawah sana. Tubuh pak Udin menegang, sebuah semprotan hebat menembak membasahi kemeja yang sedang dipegangnya.
“Ouhhhhh ohhhhhhh ouhhhhhh uhhhh huhhhhhhh” desah Pak Udin hingga tubuhnya mengejang hebat ketika berhasil menumpahkan spermanya ke kemeja milik ustadzah Rachel. Rasanya puas walau harus membuat matanya merem melek merasakan sensasinya. Tubuhnya yang lemas ia sandarkan pada dinding kamar mandi. Ia masih memejamkan matanya sambil mengistirahatkan nafasnya yang bergerak naik turun dengan cepat.
“Ahhh ustadzah Rachellllll.....” kata Pak Udin masih hanyut dalam lamunan birahi.
“Andai aja kamu ada disini Us... Membayangkan wajahmu yang imut itu belepotan terkena tumpahan spermaku... Ahhhh sial aku jadi pengen... Lagian kenapa bisa kemeja ini ada disana ?” kata Pak Udin kepikiran.
“Apa mungkin ustadzah Rachel memang sengaja melepaskannya tadi ? Ah gak mungkin... Gak mungkin seorang ustadzah melakukan itu... Tapi gimana ceritanya ini bisa ada disana ?” Pak Udin kepikiran tapi masih belum menemukan jawaban. Pikirannya pun teralihkan pada kemeja yang sedang dipegangnya.
“Iyyuhhh banyak banget lagi... Mau aku apakan yah kemeja bau ini ?” kata Pak Udin bingung.
“Kembalikan aja ah ke jemuran samping asramanya... Penasaran pengen lihat ekspresinya saat tahu kemejanya bau terkena tumpahan spermaku Huehuehueh” kata Pak Udin dengan berbagai fantasi liarnya.
*-*-*-*
V telah tiba di depan kantor bagian pengasuhan santri. Saat V membuka pintu, ia melihat adanya Hanna yang sudah stand-by di mejanya mengetikan sesuatu di layar PC-nya. V melangkahkan kakinya menuju mejanya tanpa sepengetahuan Hanna yang begitu fokus pada pekerjaannya. Saat tiba di mejanya, ia pun menyalakan CPU menunggu hingga komputer yang ada di mejanya selesai melakukan booting.
“Astaghfirullah V... Sejak kapan antum disini ?” kata Hanna terkejut melihat V tiba - tiba sudah duduk di mejanya.
“Ana... Ana udah dari tadi kok hehe” jawab V.
“Kok.... Kokkk ana gak tau sih ?” kata Hanna yang masih tak menyangka.
“Ka... Kallau itu sih.... Ehmmm.... Ya mungkin.... Kaaa... Karenaa antum terlalu sibuk kali yah hehe” kata V tertawa canggung.
Hanna hanya mengangguk sambil melihat sikap V yang berbeda dari hari sebelumnya. Kali ini ia tampak gugup tak percaya diri. Suaranya pun lirih. Berbeda dengan hari sebelumnya yang tampak jantan bak seorang Ade Rai.
“Mau gorengan ?” tanya Hanna menawarkan.
“Boleh” jawab V berdiri mendekat mengambil satu buah bakwan yang langsung ia makan.
V menggigit bakwan itu menggunakan tangan kanannya. Hanna diam - diam memperhatikan, V terlihat lahap ketika memakan bakwan itu dengan gigitan besar. Tak terduga V pun melirik membuat Hanna tersenyum.
“Antum laper yah V ?” tanya Hanna.
“Ehhh... Enggg... Enggak kok... Enggak hehe” jawab V malu - malu. Hanna hanya tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
Sebentar kemudian Haura pun tiba setelah menyelesaikan jadwal mengajarnya. Saat melihat V ada di dalam, ekspresi wajah Haura langsung berubah dingin tanpa pernah menatapnya lagi. V melirik ketika ada seseorang yang melintas di depannya. Tubuhnya yang ramping, hijab merah muda yang tadi pagi ia lihat, juga kecantikan wajah yang begitu akrab di hatinya.
Fitrii ??
V langsung tersedak saat melihat Haura berjalan di hadapannya. Buru - buru ia mengambil sebotol air untuk melarutkan sedikit gorengan yang tadi nyangkut dikerongkongannya. Setelahnya ia mengambil sehelai tisu kemudian meletakannya di atas meja lalu meletakan gorengan bakwan itu diatasnya.
“V... Antum gapapa ?” tanya Hanna yang mengkhawatirkannya. Sementara Haura hanya melirik sebentar kemudian duduk dimejanya.
“Gaaa... Gapapa kok... Uhhukkk uhukkk... Cuma keselek aja” kata V.
“Argghhhhh” desah V merintih menahan perih di perutnya.
“Oh yah Han ? Kaammm... Kamar mandi ada dimana ?” tanya V.
“Ohhh addaa kok dibelakang” kata Hanna terus memperhatikannya. V pun melangkah pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Tanpa sepengetahuan Hanna dan Haura, terdengar suara erangan yang kuat dari arah dalam kamar mandi. Tak berselang lama V pun kembali sambil tersenyum dengan menampilkan wajah yang fresh setelah dibasuh dengan air segar.
“Antum gapapa kan ?” tanya Hanna sekali lagi khawatir.
“Iya gapapa kok” jawab V kali ini dengan senyuman. Haura yang diam - diam meliriknya kembali terkejut setelah melihat senyuman itu lagi. Buru - buru Haura membuang muka dan memfokuskannya pada pekerjaan yang ada di layar monitornya.
Suara V berubah lagi ? Gerak - geriknya juga berbeda ! batin Hanna menatap V.
“Oh yah V ini masih ada gorengannya... Mau lagi ?” tanya Hanna.
“Gak ah... Ana gak doyan gorengan” kata V sambil melanjutkan pekerjaannya yang mengejutkan Hanna.
“Gak doyan ?” kata Hanna sambil garuk - garuk kepala.
*-*-*-*
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sore hari pun tiba menyapa para santri yang sudah gatal ingin berolahraga. Sore memang waktu yang paling ditunggu oleh para santri. Mereka dapat berolahraga sepuasnya, menuntaskan rasa penat yang dirasakan selama belajar di kelas. Mereka yang masih dapat berolahraga harusnya bersyukur, karena masih ada beberapa penghuni pondok yang tidak bisa melampiaskan rasa penat yang dimilikinya.
Beberapa pengajar yang mendiami bagian penting seperti bagian pengajaran dan pengasuhan contohnya, alih - alih berolahraga mereka harus menyelesaikan deadline laporan sebelum bulan baru tiba. Kepala mereka pusing, panas, mendidih hingga asap mengepul keluar di atasnya. Ada beberapa ketidakcocokan dari laporan serta realita yang ada, apalagi kalau sudah menyangkut masalah uang.
Haura sebagai ketua bagian pengasuhan pusing memikirkan bagian bendahara yang seharusnya menjadi tugasnya Hanna. Mata Haura fokus melihat catatan mulai dari uang pemasukan & uang pengeluaran yang menggunakan biaya kas pondok. Seluruh nota pengeluaran yang pernah digunakan di keluarkan di hadapan Haura. Ia pun menghitung mulai dari biaya bulanan yang didapatkan dari awal, lalu biaya pengeluaran dan hasil akhir yang merupakan saldo terkini.
Hasilnya berbeda masih ada beberapa uang yang hilang yang tidak tertulis di dalam laporan. Hanna di sebelah kirinya khawatir karena ini merupakan tugas utama miliknya sementara ustadz Rafi yang bertugas sebagai wakil berada di sebelah kanan Haura ikut pusing memikirkan kemana uang yang hilang ini berada. Sementara V yang bertugas mengetikan itu semua berdiri menanti di hadapan Haura, ia lah yang menemukan adanya kesalahan di laporan yang sudah Hanna berikan. Ia pun menunggu dengan sabar dan dengan penuh kecemasan setelah melaporkan laporan ini pada Haura.
"Ini ada perbedaan dua ratus ribu kemana Han ? Coba inget - inget lagi deh pasti pernah kepake buat beli sesuatu" Kata Haura pada Hanna.
"Kurang tau loh Ra... Ana udah coba inget - inget lagi tapi ana bener - bener lupa dan perasaan ana udah menyerahkan semua nota bonnya loh Ra" Kata Hanna menyesal.
"Kalau kaya gini ceritanya gak ada cara lain selain nombokin loh... Mau masing - masing dari kita nombokin lima puluh ? Kalau kita berempat kan dikumpulin jadi pas 200 ribu" Kata Rafi mengusulkan ide.
"Jangan deh ustadz... Coba kita cari tau lagi pasti ada satu nota yang keselip disuatu tempat" Kata Haura sebagai ketua.
V yang tidak tahu apa - apa hanya bisa diam melihat perdebatan mereka. Ia tak memiliki pengalaman untuk menemukan solusi ini. Haura terlihat kesal sekali yang membuat Hanna terlihat ketakutan apabila dimarahi.
"Aduh jam berapa sekarang ?" Kata Haura teringat sesuatu di tengah kebingungannya.
"Bentar yah... Ana mau ke kantor administrasi sebentar buat ngambil gaji para pekerja" Kata Haura ketika teringat akan petuah dari suaminya tadi pagi.
"Tapi Haura... Masalah ini gimana ? Besok udah harus laporan loh" Kata Rafi.
"Tapi ustadz... Ana juga punya amanat dari suami ana... Ana harus melakukannya sebelum para pekerja itu pulang" Kata Haura.
"Iya terus ini gimana ? Masa kita harus menunggu sampai antum balik lagi kesini ?" Kata ustadz Rafi nyaris mengajak debat. Terlihat wajah Haura memerah ingin meledak. Ia benar - benar pusing memikirkan semua masalah ini. Hanna diam, wajahnya menunduk hanya bisa menyesali kesalahannya.
"Tappp.... " Ketika Haura nyaris meledak dengan kata - katanya, V pun menahannya. Dengan tenang, ia menahan diri Haura menggunakan telapak tangannya.
"Kantor administrasi kan ? Biar ana aja yang pergi gimana ? Daripada ana menganggur disini... Mending ana yang pergi untuk mengambilkan gaji yang antum maksud" Kata V mengusulkan ide.
Haura menatap Ustadz Rafi yang hanya dijawab dengan anggukan kemudian ke Hanna yang juga dijawab anggukan. Kini tersisa dirinya sendiri, rasanya berat ketika harus meminta tolong pada seseorang yang sedang ia jauhi tapi karena tidak ada pilihan lain, Haura pun terpaksa menurutinya.
"Ana minta tolong yah... Ini... Serahkan catatan ini ke ustadzah Nada" Kata Haura dengan serius.
"Serahkan ke ana... Semuanya akan beres kok... Antum tenang aja yah... Gak usah khawatir !" Kata V tersenyum. Kemudian ia lekas pergi menjalankan tugas dari Haura.
Haura pun tersenyum setelah mendengarkan kata - kata dari V.
*-*-*-*
V berjalan sambil melihat catatan keuangan yang diberikan oleh Haura. V terpana melihat banyaknya jumlah nominal uang disana.
"Innn... Ini kalau dibuat beli cendol lumayan nih" Kata V berandai - andai.
Jarak yang tidak terlalu jauh membuat V segera tiba di tempat setelah melewati waktu sekitar 10 menit berjalan. Saat ia membuka pintu terasa hawa sejuk dari AC ruangan yang berhembus menerpa tubuhnya. V terkejut merasakan kenyaman yang ada di sini. Rasanya berbeda dari apa yang ia rasakan di kantor pengasuhan. Andai ia bertugas disini, sudah pasti mustahil baginya untuk merasakan yang namanya keringetan.
"Assalamu'alaikum" Kata V sambil mencari sosok cantik berkacamata yang sempat ia lihat di hari pertama bekerja.
"Walaikumsalam" Jawab seorang wanita yang memiliki suara lembut dari dalam sana.
Sosok itu kembali menyapa diri V dengan senyuman khas yang semakin menyejukkan hatinya. Ia sudah merasa sejuk dengan dinginnya udara AC disekitarnya, kali ini ia mendapatkan tambahan kesejukan dari bidadari berhijab yang tengah tersenyum dihadapannya. Ia tampak sempurna kecuali dengan adanya satu hal. Yakni statusnya yang sudah menjadi istri orang.
"Ant... Antuum ustadzah Nada yah ?" Tanya V berbasa - basi.
"Ohh naam... Antum pasti ustadz baru dibagian pengasuhan yah ?" Kata Nada.
"Iya" Kata V singkat, padat dan jelas.
"Ada keperluan apa antum kemari ?" Kata ustadzah Nada berdiri menghampiri meja yang membatasi dirinya dengan diri V. Biasanya para santri yang hendak melakukan pembayaran SPP, mengambil paket atau hanya mengambil uang yang dikirimkan oleh orang tua mereka akan berdiri di depan meja tinggi ini sambil menanti petugas administrasi mengurus semuanya. V pun ikut mendekati sambil menyerahkan catatan dari Haura.
"Innnn... Ini dari ustadzah Haura" Kata V.
"Ohhh buat pembayaran gaji yah... Tunggu sebentar yah ustadz" Kata Nada tak sengaja menatap wajah V. Jantung V kembali berdebar kencang ketika sekali lagi harus merasakan keindahan bidadari berhijab didepannya.
Nada duduk di mejanya, mengetikkan sesuatu di layar komputernya. V diam - diam melirik menatap wajah ayu disana. Wajahnya manis, hidungnya juga mancung membuat kacamata yang melekat itu tidak jatuh karena tertahan oleh hidungnya. Bibirnya berwarna kemerahmudaan membuat V sempat kepikiran yang tidak - tidak ketika menatap pesonanya.
Keindahan yang ada di depannya membuat lidah V gatal ingin mengajaknya berbicara. Tapi, ia bingung. Ia tak tahu harus mengobrolkan apa dengan sosok cantik disana. Kepalanya pun melirik ke sekitar guna mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan obrolan.
"Annn... Antum sendirian yah disini ?" Kata V memberanikan diri mengajaknya berbicara.
"Ana ? Enggak kok us... Ada beberapa pengajar lainnya tapi mungkin sudah pada pulang karena sudah sore juga" Kata Nada melirik sejenak kemudian menatap layar komputernya lagi sambil tersenyum.
Aihhhhhh !
V meleleh saat melihat senyumnya yang manis itu.
"Oh yah... Ngomong - ngomong nama antum siapa yah ?" Tanya Nada yang membuat jantung V berdebar saat mendengarnya.
"Ann... Ana... Fikri... Tappp... Tapi lebih suka dipanggil V hehe" Kata V merasa malu ketika memberikan nama panggilannya yang unik itu.
"V ? Ahahhaha unik yah Us nama panggilannya" Kata Nada tertawa yang membuat V ikut tertawa karena tertular.
"Hehehe begitulah" Jawab V malu - malu.
"Ini untuk semuanya... Coba hitung lagi ? Pas kan ?" Kata Nada. V pun menghitung uang yang baru ia terima. Lantas ia mengangguk.
"Ehmm... Iya pas... Syu... Syukkron yah... Annn... Ana pamit dulu wassalamualaikum" Kata V bergegas pergi.
"Na’am walaikumsalam" Jawab Nada. Tak berselang lama hapenya bergetar menerima sebuah pesan dari suaminya.
Gimana dek ? Untuk kali ini saja... Mau yah ! Ini demi ulang tahun pernikahan kita yang pertama.
Mendadak mood Nada memburuk saat menerima pesan dari suaminya.
"Dibilangin dari dulu ana gak akan pernah mau menerimanya mas !" Kata Nada dengan nada kesal.
V sudah keluar dari kantor administrasi membuatnya harus kembali merasakan hawa panas yang menyerang diri.
Wahhh rasanya beda banget pas ada di dalam sama di luar... Mungkin ini kali yah alasan kenapa orang - orang lebih suka keluar di dalam daripada di luar. Batin V sambil mengipasi dirinya sendiri.
"Loh... Caaa... Catatannya mana ?" Kata V setelah meraba - raba isi sakunya.
Ia lekas kembali ke dalam ruangan guna menghampiri Nada yang masih berada di mejanya.
"Assalamu'alaikum ma.. maaf" Kata V menghampiri.
"Ehhh walaikumsalam... Ustadz V yah" Kata Nada sambil mengusap matanya yang berkaca - kaca.
"Ehhh ant... Antum kenapa ?" Tanya V spontan karena terkejut.
"Ahaha gapapa kok... Ada apa yah kok balik lagi ?" Kata Nada sambil berusaha tersenyum padanya.
“Anu itu... Hehehe... Appp... Apa catatannya masih disini ?” tanya V.
“Ohh sebentar coba ana carikan” kata Nada bergerak mencari ke sekitar sambil menghapus air matanya secara sembunyi - sembunyi.
V terus meliriknya, memperhatikan air mata yang tadi sempat jatuh di hadapannya.
“Ohh iya masih disini... Afwan yah ustadz hehehe... Ketinggalan” kata Nada memaksakan senyum.
“Gapapa... Syukron yah” kata V mengambil catatan itu kembali. Tubuhnya nyaris berbalik dan pergi dari ruang kantor ini. Namun air mata Nada memanggilnya untuk memintanya tetap disini menemani.
“Ustadzah Nada . . . .” sapa V.
“Argghhhh” sekali lagi ia memegangi kepalanya menahan perih.
“Iya ustadz ?” jawab Nada sekali lagi memaksakan senyum.
"Antum kenapa ? Ana sempat melihat air mata yang mengalir membasahi pipi antum... Walau antum mencoba tersenyum guna menutupi semuanya, tetapi mata antum tidak... Ana juga melihat adanya kegelisahan di tangan antum... Berulang kali tangan antum bergetar kan ? Apa karena beban yang selama ini antum tahan ?" Tanya V tiba - tiba yang membuat hati Nada tersentuh, terkejut dan tak menduga dengan apa yang didengarnya.
Nada tersenyum, kemudian menatap wajah V.
“Ahaha antum ini... Ana hargai keinginan antum yang ingin membantu... Tapi maaf... Ini masalah pribadi ana dengan suami ana... Lebih baik kami saja yang mengatasinya karena ini masalah keluarga kami... Tapi ana berterima kasih untuk perhatian yang udah antum buat tadi... Syukron yah !” kata Nada tersenyum.
“Yasudah kalau itu mau antum... Ana pamit dulu yah... Semoga masalah antum cepet selesai... Wassalamualaikum” kata V izin pamit.
“Walaikumsalam” jawab Nada menatap pergi kepergian V dari ruang kantornya. Nada tersenyum sambil mengernyitkan dahinya lalu tertawa.
“Padahal baru pertama kali ketemu... Tapi sikapnya sudah seperti seseorang yang sudah lama kenal... Tapi gapapa deh... Ana hargai kebaikannya karena mau membantu mengatasi masalah ana” kata Nada lirih.
*-*-*-*
“Assalamualaikum” sapa V setelah memasuki ruang kantornya lagi.
“Walaikumsalam” jawab Haura, Hanna dan Rafi secara bersamaan.
“Ini Ra udah ana ambil... Gimana ? Udah selesai masalah tadi ?” tanya V pada Haura. Haura pun mengambil catatan miliknya juga sejumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji para pekerja pembangunan.
“Sudah... Terima kasih yah V” kata Haura secara tiba - tiba.
“Terima kasih... Untuk apa ?” tanya V keheranan.
Haura hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan V begitu saja.
“Ana pergi dulu yah ! Sampai jumpa besok” kata Haura melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan kantornya. V menengok ke arah Hanna lalu ke arah Rafi.
“Haura kenapa ? Kok tiba - tiba moodnya berubah jadi baik” kata V bertanya.
“Entahlah... Semenjak antum pergi untuk mengambilkan uang untuknya... Moodnya langsung berubah drastis” jawab Rafi.
“Oh yah terus tadi masalah uangnya gimana ? Apa kalian jadi nombokin ?” tanya V.
“Enggak V... Kebetulan nota yang seharga 200 ribu itu ketemu... Rupanya cuma nyelip dibawah keyboard” kata Hanna menjelaskan.
“Hmmm begitu” kata V manggut - manggut.
“Oh yah V... Ada amanat dari Haura nih buat antum” kata Rafi menyerahkan selembar kertas untuk V.
“Ehh... Apa ini ?” tanya V.
“Tau tuh.... Tadi Haura bilang suruh kasih langsung ke antum dan berpesan jangan dibuka sampai antum sendiri yang membukanya” kata Hanna menimpali.
V semakin penasaran lalu membuka isi catatan tersebut.
Aku masih kesal dengan sikapmu yang tiba - tiba melakukan hal itu padaku ! Kamu tahu kan ? Harga yang harus kamu bayar untuk menebus dosamu itu mahal loh... Seharusnya aku tidak akan mengajakmu berbicara selama satu bulan penuh... Tapi aku beri keringanan... Aku, Hanna dan ustadz Rafi sudah menyelesaikan bagian kami... Sekarang selesaikan laporannya hari ini juga ! Kalau hari ini belum selesai... Aku gak akan segan untuk mencuekimu selama satu bulan lagi !
“Akkhhhhh !” kata V merasa kesal setelah membacanya.
“Ada apa V ? Apa isinya ?” tanya Hanna.
“Ana harus menyelesaikan laporannya hari ini” kata V yang membuat Rafi dan Hanna tertawa mendengarnya.
“Yasudah kalau gitu selesaikan yah... Sudah jam setengah lima sore nih... Kami penat mau istirahat dulu” kata Rafi.
“Ayuk Han pulang” ajak Rafi.
“Ahahahah dadahhh V... Selamat bekerja !” kata Hanna pergi meninggalkan V sendiri di kantor.
V berjalan menuju mejanya kemudian menyalakan komputernya. Rupanya komputer miliknya sudah menyala. Layar monitornya hanya di sleep sedari tadi. Saat V login kembali, ia melihat adanya sebuah catatan yang tertulis melalui aplikasi notepad.
Aku memaafkanmu ! Tapi kalau berani melakukan hal yang aneh - aneh lagi... Aku gak akan segan untuk menamparmu lebih keras lagi !
V tertawa saat membacanya, ia pun duduk sambil membuka file laporan yang sudah ia simpan di folder bernama ‘Laporan’. Saat ia menoleh kesamping, matanya tak sengaja menangkap segelas ice tea yang biasa di jual di kantin pondok.
“Apa ini ? Catatan lagi ?” kata V setelah menemukan selembar kertas tertindih dibawah ice tea tersebut.
Ini untuk menemanimu kerja lembur... Maaf yah aku gak bisa nemenin karena aku udah punya suami 😛... Semoga segelas es teh itu sudah cukup untuk menemanimu... Semangat !
Hati V tersenyum membaca isi pesan tersebut. Dari dalam tubuhnya mengalir sebuah semangat yang menggelora memenuhi jiwa. Jemarinya pun bersiap - siap untuk memencet tombol keyboard guna melengkapi laporan yang harus diselesaikannya.
“Tenang... Aku akan menyelesaikannya... Fitri !”
*-*-*-*
Haura melangkahkan kakinya dengan santai sambil menikmati waktu sore di pondok pesantren. Ia tersenyum secara tak sengaja setelah memikirkan kejadian sore tadi. Kata - kata itu benar - benar masuk ke dalam hatinya. Kata - kata itu benar - benar menenangkan hatinya ditengah kepanikan yang tadi melanda dirinya.
Serahkan ke ana... Semuanya akan beres kok... Antum tenang aja yah... Gak usah khawatir !
Sederhana memang, tapi entah kenapa dampaknya sangat besar untuk memulihkan hatinya. Ia tahu bahwa kesalahan yang sudah V lakukan padanya sangatlah fatal. Sebenarnya berat baginya untuk memaafkan perbuatan V itu. Tapi setelah merenung selama seharian ini, ia menyadari bahwa tidak sepenuhnya semua itu kesalahan V. Ia juga salah karena telah membiarkan dirinya berduaan dengan seorang lelaki yang bukan muhrimnya. Ia tahu, sealim apapun lelaki itu pasti akan tetap tergoda apalagi hanya ada mereka berdua di malam itu. Sudah pasti mereka berdua menjadi santapan empuk setan untuk menjerumuskan mereka dalam ke jurang perzinahan. Haura pun bertekad untuk menjaga dirinya lebih baik lagi agar kesalahan di masa lalu tidak terulang di kemudian hari.
Tak terasa, Haura telah tiba di depan gedung baru yang sedang dikerjakan oleh para tukang bangunan. Sambil melangkahkan kaki secara hati - hati, Haura melihat sekilas gedung bangunan yang belum sepenuhnya jadi. Dinding di ruangan itu sudah dicor halus. Strukturnya pun rapih membuat Haura kagum dengan betapa cepatnya gedung ini dibuat. Saat ia melangkah lebih dalam lagi, seseorang yang ingin ia temui pun muncul menyapa.
“Ustadzah Haura ?”
“Ehh astaghfirullah bapak... Ngagetin aja !” kata Haura tersenyum sambil memegangi dadanya yang berdebar.
“Kekekekke Ustadzah ini lucu yah gitu aja masa kaget” kata tukang bangunan bernama Karjo.
“Lagian Pak Karjo tiba - tiba sih... Kan aku jadinya kaget” kata Haura tertawa.
“Kekekek memang muka saya serem yah us ? Sampe loncat gitu tadi ?” kata Pak Karjo becanda.
“Sedikit Ahahahahhaa” jawab Haura becanda.
Pak Karjo merupakan ketua dari seluruh tukang bangunan yang bekerja disini. Ia lah yang bertugas untuk menyemangati para pekerja agar bisa menyelesaikan bangunan ini secepat dan sebaik mungkin. Ia lebih mirip mandor tapi tak jarang dirinya ikut membantu para tukang bangunan yang lain.
Tubuhnya kekar, kulitnya berwarna gelap, mukanya pun kering dengan tatapannya yang memelas. Pak Karjo berusia limapuluhan namun fisiknya tetap terjaga akibat pekerjaan kasar yang ia lakukan tiap hari.
Pak Karjo sudah sangat dipercaya oleh Haura dan suaminya. Semenjak dari tahap awal pembangunan gedung di pondok pesantren sudah pasti Pak Karjo selalu dipanggil untuk dimintai jasanya guna merampungkan pembangunan disini. Pak Karjo dikenal karena memiliki etos kerja yang tinggi. Pekerjaannya juga nyaris sempurna dan cepat. Oleh karena itu, ia sering diamanati oleh Haura atau suaminya untuk membagikan gaji seluruh pekerja yang didapatnya darinya.
“Oh yah pak... Ini gaji bulanannya... Tolong bagikan yah !” kata Haura tersenyum menyerahkan beberapa amplop bertuliskan nama dari para pekerja yang bekerja disini. Haura bersyukur ia bisa memasukan semua uang yang didapatinya dari V ke dalam amplop saat sejenak kembali ke rumahnya tadi.
“Kekekekke hmmmm wangi yah baunya... Apa gara - gara terkena kulit tangannya Ustadzah ?” kata Pak Karjo setelah mencium lembaran uang yang baru saja diterimanya.
"Apa sih pak" Jawab Haura tersenyum sambil memanyunkan bibirnya.
Manisnya !!!
“Tolong yah pak... Jangan dikorupsi loh !” kata Haura.
“Tenang ! Amanat dari ustadzah Haura yang paling cantik gak akan saya ingkari kok” kata Pak Karjo yang membuat Haura tertawa dari kejauhan. Haura pun keluar dari gedung ini, namun aroma parfumnya yang harum masih saja tercium di hidungnya. Pak Karjo pun tersenyum menatap kepergian sang bidadari itu.
“Ayooo ayooo kumpul waktunya gajian !” kata Pak Karjo segera mengumpulkan pekerja.
“Nih ambil ! Nih punyamu ! Nih milikmu !” kata Pak Karjo membagikan semua amplop yang didapatnya dari Haura.
Setelah semua gaji yang diamanati sudah dibagikan. Pak Karjo pun pergi menuju suatu tempat di dalam gedung yang sepi. Ia menyendiri kemudian membuka galeri hapenya guna menatapi sebuah foto yang ia dapati di malam kejadian itu.
“Ohhhh ouhhhhh ustadzah Hauraaa !” kata Pak Karjo yang tiba - tiba sudah memelorotkan celananya dan mengurut penisnya.
Lidahnya keluar membayangkan andai dirinya yang menggantikan posisi ustadz baru itu.
“Ouhhhhh sialll ustadz baru itu... Baru aja keterima disini tapi udah dapet bibirnya ustadzah Haura” kata Pak Karjo terus mengocok kelaminnya.
Keadaan yang semakin memanas membuat Pak Karjo melepaskan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya. Ia sudah telanjang memamerkan tubuh kekarnya di dalam ruangan. Tubuh tuanya ia senderkan pada dinding yang masih belum jadi. Matanya memejam membayangkannya bisa menikmati keindahan tubuh Haura.
“Ouhhhh ouhhhh yahhhh ouhhhhh” kata Pak Karjo tak pernah berhenti mengelus penisnya.
Hingga suatu saat nafasnya pun tak kuat lagi. Ia merinding, tubuhnya pun bergejolak ketika penisnya menyemprot deras cairan sperma yang tumpah kemana - mana di sekitarnya.
“Ouhhh Haauurraaaaaaa !!!” desah Pak Karjo menikmati fantasinya. Ia pun terengah - engah kemudian membuka matanya kembali.
“Nikmatnya !!! Hahhh hahhhhh” kata Pak Karjo ngos - ngosan. Ia pun menunduk membayangkan posisi Haura sedang berjongkok di depannya dengan wajah yang dipenuhi sperma sedang tersenyum padanya.
“Siaalllll !!!” kata Pak Karjo dengan kesal.
“Aku gak boleh seperti ini terus... Aku harus bisa melakukannya... Aku pasti bisa... Aku harus bisa menikmati tubuhnya suatu hari nanti... Tunggu saja kedatanganku ! Ustadzah Haura !!! Kekekekekke” ia pun tertawa di sore menjelang maghrib itu dengan nada tawanya yang khas.
*-*-*-*
BEBERAPA JAM KEMUDIAN
Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh, lonceng pun berbunyi menandakan akhir dari muwajjah di malam ini. Para santri dan santriwati bersuka cita menyambut kedatangan waktu istirahat mereka yang akan tiba sebentar lagi. Tidak cuma santri, para pengajar juga senang mendengar suara lonceng itu berbunyi. Jadwal padat yang harus mereka hadapi membuat rasa lelah begitu cepat menguasai diri.
Nada salah satunya, ia terlihat lesu dalam perjalanan pulangnya menuju rumah. Matanya begitu berat, Beruntung kaki - kakinya masih kuat dalam mengantarkan dirinya pulang ke rumah dengan selamat.
Ia pun tiba di depan pintu rumahnya yang bertempat di asrama khusus pasangan. Sesaat ia mendengar suara tawa & bahagia dari tetangganya. Nada hanya mampu tersenyum getir mendengarnya. Ia iri karena akhir - akhir ini kehidupan rumah tangganya sedang di uji oleh sekelumit masalah yang melanda keluarga barunya.
"Assalamualaikum" Sapa Nada sambil mengetuk pintu rumahnya.
Tak berselang lama terdengar suara langkah kaki mendekat yang kemudian membukakan pintu itu untuknya.
"Walaikumsalam dek... Baru pulang ?" Jawab Rendy dari dalam.
"Iya mas" Kata Nada mencium punggung tangan suaminya terlebih dahulu baru memasuki rumah kemudian.
Setelah membiarkan istrinya masuk, Rendy pun menutup pintu rumahnya kemudian menguncinya dari dalam untuk menjaga keamanan keluarganya. Ia membuntuti istrinya dari belakang.
"Mau mas bikinin susu gak dek ?" Tanya Rendy pada istrinya.
"Boleh mas" Jawab Nada tersenyum heran.
Nada pun melihat Rendy melangkah ke dapur. Ia tersenyum melihat suaminya begitu perhatian padanya. Alih - alih memasuki kamar untuk beristirahat, Nada jadi sungkan untuk melakukannya. Ia pun duduk di ruang makan menunggu susu yang dibuatkan oleh suaminya hingga jadi.
Apa yang terjadi dengan mas Rendy ? Kenapa tiba - tiba ia jadi perhatian gini ? Tumben juga ia gak nyinggung soal masalah itu. Batin Nada memperhatikan suaminya.
"Maaf lama" Kata Rendy membuat Nada tersenyum senang.
"Gapapa mas... Tumben" Kata Nada tersenyum sambil meminum susu tersebut.
"Tumben kenapa sih dek... Mas sering begini kok" Jawab Rendy yang membuat Nada tersenyum.
Rendy hanya diam menatap Nada meminum susu buatannya. Rendy pun tersenyum membuat Nada ikut tersenyum diperhatikan oleh suaminya.
"Kenapa sih mas ngeliat - ngeliat ? Jadi aneh deh rasanya" Tanya Nada sambil tersenyum.
"Memangnya gak boleh yah ngeliatin istri sendiri ?" Kata Rendy.
"Boleh kok mas" Jawab Nada tertawa ringan kemudian kembali menenggak susunya.
Rendy diam sejenak, ia pun menatap istrinya dengan seksama. Nada terlihat cantik dengan kaca mata yang masih melekat di wajahnya. Ia mengenakan hijab berwarna putih yang ia padukan dengan gamis tipis berwarna bening. Sebuah celana panjang berukuran longgar membungkus kakinya yang jenjang. Sebuah blazer berwarna merah muda melengkapi penampilan indah Nada yang terkesan aesthetic.
Wajah cantik, penampilan aesthetic. Rendy pun terbayang akan persetubuhan terakhir yang ia lakukan bersama istrinya. Dengan jemarinya yang lentik, Nada begitu lihai dalam mengurut penis suaminya. Desahan - desahannya yang menjulang tinggi ditambah dengan goyangannya yang fantastik membuat Rendy tak habis pikir dengan makhluk indah yang sedang duduk dihadapannya.
Rendy melihat sejenak pakaian yang sedang Nada kenakan. Entah karena salah pakaiannya atau memang karena payudara Nada yang besar. Rendy sekilas melihat bulatan yang terpampang dari balik gamis tipis yang istrinya kenakan. Rendy pun menenggak ludah menatap kesempurnaan istrinya.
Gimana yah cara untuk meyakinkannya ? Batin Rendy.
"Gimana muwajjahnya tadi ?" Tanya Rendy berbasa - basi dahulu sambil memegangi jemari istrinya.
"Lancar kok mas" Jawab Nada tersenyum yang membuat Rendy semakin tak tahan melihat keindahan istrinya.
"Syukurlah... Dah habis kan ? Pindah ke kamar yuk" Ajak Rendy setelah melihat istrinya sudah menghabiskan susu buatannya.
"Yukkkk" Jawab Nada manut.
Nada lebih dulu melangkah memasuki kamar, sedangkan Rendy meletakan cangkir yang baru saja digunakan istrinya itu ke wastafel. Sebelum memasuki kamar, Rendy melirik sejenak dari sela - sela pintu kamarnya yang terbuka. Terlihat Nada sedang duduk di tepi ranjang tidurnya. Wajahnya agak menunduk memainkan hape yang sedang ia pegang menggunakan tangan kanannya.
Apa yang harus kulakukan untuk membujuknya ? Apa lebih baik kukatakan besok saja ? Haihh masa ketunda lagi sih ! Mau dibicarakan sekarang ? Pasti moodnya langsung memburuk ! Batin Rendy yang tengah bimbang sambil mengintip kecantikan istrinya.
Walau sudah berada di dalam kamar, Nada masih tetap mengenakan hijabnya. Wajahnya yang jelita membuat Rendy semakin terpesona. Tubuhnya yang mantap membuat Rendy terpana. Payudaranya yang bulat mengundang nafsu birahi Rendy untuk mendekat. Alih - alih kepikiran ide untuk membujuknya, ia justru terangsang akan penampilan istrinya yang memikat.
Haihhh susah punya istri cantik begini ! Batin Rendy mulai bernafsu.
Tak tahan, Rendy bergegas mendekati Nada dengan penis besar yang sudah mengacung tegak dibalik celananya.
"Mass... Uhmmmmmmm" Kata Nada tersenyum kemudian terkejut saat suaminya tiba - tiba mencumbunya.
Rendy memagut bibir istrinya, rasanya manis membuat lidahnya menjulur keluar membasahi bibir Nada yang tipis. Nada hendak menolak karena ia saat ini sedang kelelahan, tapi nafsu besar suaminya sangat sulit untuk ia tahan.
"Aahhhhhh... Masss... Adek capekk mass... Jangan sekarangggg uhmmm" Desah Nada ditengah percumbuannya dikala jemari Rendy mulai meremas payudaranya.
Rendy tak menjawab, nafsu yang sudah tak tertahan membuatnya begitu fokus menjamahi keindahan istrinya. Nafas Rendy semakin berat ketika menatap wajah istrinya yang kewalahan. Jemarinya semakin liar dalam meremasi payudara istrinya. Rasanya kenyal, besar, bulat dan sangat nikmat.
"Masss.... Tungguuuu uhmmmm" Nada kewalahan, secara bertubi - tubi bibirnya dicumbu oleh lelaki bertubuh tegap itu. Sekian bulan sudah Nada menikahinya, ia sangat tahu betul bagaimana kondisi suaminya ketika bernafsu. Buas, liar dan tak jarang suaminya kerap meminta sesuatu yang aneh - aneh dalam menikmati keindahan dirinya.
Ia pun paham bahwa ia tak memiliki kesempatan lagi untuk menahan suaminya agar tidak melakukannya sekarang. Sebagai istri yang shalihah, ia pun mengalah walau ia sangat tahu bahwa saat ini tubuhnya sedang lelah.
Nada pasrah, ia berdiam diri saja membiarkan nafsu liar suaminya bermain. Ia tak membalas perlakuan Rendy, sebaliknya ia membiarkan suaminya memuaskan hasrat birahinya padanya.
Rendy mengangkat gamis tipis itu, kemudian tangannya menyelinap masuk ke dalam untuk meremasi payudara Nada secara langsung. Sontak Nada membuka matanya lebar - lebar karena terkejut. Ia mendesah menikmati remasan suaminya yang mantap.
"Uhhmmm... Ahhh masss... Ouhhhhh jangann kerass kerasss... Ahhhh" Desah Nada ditengah percumbuannya.
Rendy sangat puas dalam mencumbui istrinya, dari balik gamis yang Nada kenakan, jemari Rendy menurunkan cup bra berwarna putih yang Nada kenakan. Jemari telunjuknya menggesek - gesek puting Nada hingga membuat Nada gelisah merasakan nikmatnya. Tubuh Nada menggeliat tak tahan menahan rangsangan Rendy. Rendy pun tersenyum sambil menatap kecantikan wajah istrinya.
"Enak gak sayang... " Tanya Rendy tersenyum.
"Uhhhhh uhhhhhhh...heem mas ahhh hhhh" Desah Nada sambil memberanikan diri menatap mata suaminya.
Rendy puas, ia kemudian mengangkat gamis yang Nada kenakan hingga dua buah payudaranya terlihat. Dalam sekejap Rendy langsung mencaplok bulatan besar itu. Mulutnya sangat rakus dalam menelan payudara itu bulat - bulat. Nada pun mendesah, ia merasa geli ketika payudaranya dijilati oleh suaminya.
"Ahhh masss.... Masssss geliii" Desah Nada.
Rendy tak menggubrisnya, ia justru menambah serangannya dengan meremasi payudara satunya. Ia secara bergantian merangsang payudara bulat istrinya. Dikala ia mencaplok payudara kanan Nada, jemarinya sibuk meremasi payudara kirinya. Begitu pula saat sebaliknya. Serangan yang bertubi - tubi tanpa pernah berhenti membuat Nada kewalahan dalam menahan nafsu buas suaminya.
"Ahhhhhh" Desah Nada terkejut saat Rendy mendorong tubuhnya hingga membuatnya berbaring diatas ranjang.
Tidak cuma itu, dalam sekejap Rendy sudah menarik paksa celana longgar yang melapisi gamis Nada. Nada pun terkejut dirinya sudah setengah telanjang secara tiba - tiba. Wajah Rendy mendekat ke arah selangkangan Nada. Nada pun merasa malu saat pelan - pelan tangan suaminya mulai menarik turun celana dalam yang ia kenakan.
"Jangan diliatin mass.... Adek malu... Jangannnn" Kata Nada dengan nada kecilnya yang menggoda.
"Ada apa sayang... Mas cuma pengen lihat kok" Kata Rendy langsung menurunkan celana dalam Nada.
"Ahhhhhhhhhh" Desah Nada terkejut saat melihat wajah Rendy mendekat menghirup aroma yang dihasilkan oleh vaginanya.
"Masss jangannn ihhh... Adek maluuuu... Jangan gitu" Kata Nada.
"Hahaha gapapa sayang... Mas suka kok" Kata Rendy lekas menindihi tubuh Nada.
"Uhhmm... Uhmmmm auhhmmm" Rendy kembali mencumbui istrinya sambil memainkan liang senggama Nada yang sudah mulai basah. Nada pun mendesah di tengah percumbuannya. Ia merasa nikmat yang membuatnya berat untuk melepaskan ini semua.
Suara cipratan air pun terdengar dari dalam vaginanya. Rendy pun yakin kalau saat ini lah momen yang tepat untuk melampiaskan birahinya.
Rendy melepaskan cumbuannya, kemudian menurunkan celananya. Nada melotot saat melihat penis kekar suaminya yang tidak besar tetapi berukuran panjang. Penis Rendy sudah menegak sempurna dengan urat syaraf yang menonjol di sekitarnya. Dengan berhati - hati ia pun mengarahkan penisnya untuk masuk ke dalam lubang kenikmatan disana.
"Ahhhh masss... Geliiii ahhhh ahhhh" Desah Nada saat Rendy menggesek - gesek penisnya terlebih dahulu di bibir vagina istrinya. Rendy pun tersenyum melihat istrinya tersiksa oleh serangan birahi yang baru saja ia lakukan.
“Masss.... Ahhhhh masss... Jangannn gituuu.... Adek gak kuat masss” desah Nada merasa kesal birahinya dipermainkan. Rendy tersenyum melihat ekspresi Nada, Dengan perlahan ia mulai mendorong penis panjangnya itu memasuki goa terdalam yang hangat lagi sempit. Sedikit demi sedikit penis itu mulai memasuki liang senggama Nada. Rendy memejamkan mata merasakan penisnya seperti terhisap masuk ke dalam lubang kenikmatan tersebut.
“Ouuhhhhhh dekkk” desah Rendy.
"Masss... Masss.... Ouhhhhhhhhhhh" Desah Nada sambil mengangkang pasrah saat sesuatu yang panjang dan keras memasuki liang senggamanya tanpa aba - aba.
Jemarinya langsung bertumpu pada pinggang ramping Nada. Rendy mengusap perut rata istrinya sejenak sebelum kembali menggerakan pinggulnya secara perlahan - lahanlahan.
"Ahhhh ahhhh masss... Ahhhh" Desah Nada pasrah membiarkan payudaranya bergoyang.
Penis Rendy begitu dalam mengobok - ngobok liang senggama Nada. Dinding vagina Nada pun tergesek. Rahimnya bahkan berulang kali tersundul oleh ujung gundul penis suaminya.
Tidak cukup hanya memegangi pinggangnya. Rendy menundukan tubuhnya agar kedua tangannya dengan bebas meremasi payudara bulat istrinya. Putingnya yang agak kecoklatan menaikan birahi Rendy saat merabanya. Tak tahan mulutnya kembali membuka lalu mencaplok puting indah itu lagi.
"Ahhhhh masssssss"
Nada mendesah tak karuan saat dua titik sensitifnya dirangsang secara bersamaan. Berulang kali tubuhnya yang kelelahan terhentak maju mundur dengan kencang. Nada merasa lemas. Hingga suatu saat ia mulai merasakan adanya gelombang hebat yang akan menyembur dari dalam.
"Massss.... Masssss" Desah Nada dengan nafas terengah - engah.
"Iyya dekk... Ahhh ahhhhhh" Desah Rendy mengangkat kepalanya menatap wajah Nada begitu dekat.
Rendy menaikan kembali gamis Nada setinggi - tingginya hingga seluruh payudaranya terlihat. Rendy menegakan tubuhnya kembali. Ia duduk dengan tegak didepan selangkangan Nada yang basah terkena lelehan cairan cintanya sendiri.
Dari atas ia dapat melihat keindahan tubuh bagian bawah Nada yang sudah polos tak tertutupi apapun. Hentakannya yang semakin kencang membuat Nada semakin pasrah tak mampu berbuat sesuatu.
Nada kewalahan begitupula Rendy yang tak kuat dengan sempitnya liang senggama istrinya.
"Ahhh ahhhh dekk... Dekkkk.... " Desah Rendy semakin cepat.
"Ahhh iyyahhh masssss ahhhhhhh" Desah Nada semakin kencang.
Nafas Rendy bergerak tak beraturan saat merasakan penisnya dihimpit begitu kencang oleh vagina istrinya. Suara desahan Nada yang terdengar nikmat semakin menaikan hasrat birahi Rendy pada istrinya. Payudara Nada yang bergoyang kencang seirama membuat pikiran kotornya semakin menjadi. Ia pun tak tahan lagi. Sambil mencengkram pinggang sang istri, Ia menghentakan pinggulnya sekuat - kuatnya dan sedalam - dalamnya hingga menembus rahim sang istri. Sontak gelombang kuat itu menyembur hebat memenuhi rahim sang istri.
“Aaaaaahhhhhhhhhhhhhh” desah mereka berdua secara bersamaan.
Semprotan sperma hangat yang menyembur rahimnya membuat Nada turut merasakan orgasmenya. Sedetik kemudian giliran Nada yang mendapatkan orgasmenya membuat cairan cintanya melebur jadi satu dengan lelehan sperma suaminya.
Sontak Rendy ambruk menindihi tubuh istrinya. Ia sangat puas sambil merem melek menuntaskan sisa sperma yang masih mengalir keluar mengotori rahim istrinya.
“Ahhhhh... Ahhhhh dekkk.... Ouhhhh” desah Rendy ngos - ngosan.
“Hahhhh... Hahhhhh” desah Nada tak menyangka ia masih bisa mendapatkan orgasme ditengah keadaan tubuhnya yang kelelahan.
“Mass... Hahhhh... Adek capek mass... Adek tidur duluan yah” kata Nada yang sudah tak kuat lagi.
“Hahhh iyya dek... Makasih yahh... Hahhh” kata Rendy dengan nafasnya yang berat.
Rendy sempat mencumbui Nada terlebih dahulu sebelum membiarkannya tertidur. Karena kelelahan ia pun berbaring disamping Nada yang sudah terlelap dengan pakaian seadanya yang berantakan. Sambil berbaring ia membuka hapenya terlebih dahulu untuk membaca pesan masuk yang sempat tak ia balas.
Seketika mata Rendy terbuka saat menemukan adanya pesan masuk dari seseorang.
“Gimana Ustadz Rendy ? Sudah dibicarakan ke Ustadzah Nada ?”
“Belum pak... Saya masih ragu... Tadi sore aja kami kembali bertengkar gara - gara masalah itu” balas Rendy.
“Ohh begitu... Gimana keadaan Ustadzah Nada sekarang ? Apa udah tidur ?”
“Sudah pak... Ia kelelahan... Habis saya gempur tadi” balas Rendy.
“Oh yah ? Boleh saya lihat ?”
“Boleh” balas Rendy seketika langsung memotretnya. Orang itu terkejut melihat penampakan Nada yang sudah terkapar diatas ranjang tidurnya.
Nada sudah tertidur dalam keadaan terbaring dengan gamis terangkat hingga kedua payudaranya terlihat. Blazer berwarna merah mudanya masih dikenakan olehnya. Bawahannya sudah polos tak tertutupi apapun lagi. Rambut kemaluannya yang tipis dan terawat menjadi perhatian khusus yang membuat mata orang itu terbuka lebar.
“Bisa tolong fotoin memeknya gak ustadz ? Di zoom yah !” pinta orang itu.
“Ajigile ! Busyettt !!!” katanya setelah melihat lelehan sperma Rendy yang keluar dari sela - sela vagina Nada.
“Mantap banget istrinya ustadz... Tadi desahannya gimana ? Susunya juga gede gitu ! Masih sempit gak memek istrinya ?” balas orang itu antusias.
Rendy tersenyum sambil membaca komentar - komentar dari orang itu yang semakin melecehkan istrinya. Tanpa sadar penisnya kembali menegak. Ia pun mengocok penisnya menggunakan tangan kirinya sambil membaca setiap komentar yang orang itu kirimkan.
"Ahh ahhh ahhhh"
Malam itu Rendy terus membalas pesan darinya tanpa sepengetahuan Nada yang sudah tertidur lelap. Rendy pun melihat wajah istrinya sejenak. Hatinya pun berkata sambil menatap keindahan istrinya.
Bagaimana caranya agar aku bisa membujukmu dek?
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *