Ustadzah cantik itu terus melangkah maju kendati hatinya terasa berat saat harus mengajar di kelas yang berisi orang - orang jahat. Tidak adil sebenarnya ketika ia harus mencap kelas tersebut sebagai kelas yang berisi orang - orang jahat. Sebenarnya, dari sekian santri yang ada di kelas tersebut hanya ada satu penjahat yang terselip disana. Seorang penjahat kelamin yang sudah mencuri keperawanannya yang seharusnya ia serahkan pada suaminya kelak.
Berulang kali bidadari itu menghela nafasnya. Ia berusaha menenangkan diri tuk menyembunyikan kekhawatiran yang tersimpan di hati. Ia takut, ia sangat takut tuk menemui santri bejat itu lagi. Andai dirinya bisa me-request kelas pada salah satu pengajar di bagian pengajaran agar dirinya tidak mengajar di kelas itu lagi. Mungkin hatinya akan sedikit tenang. Mungkin hatinya tidak perlu segugup ini. Mungkin ia tidak perlu merasa khawatir akan sikap buruk yang dimiliki oleh santri bejat itu lagi.
Tibalah ia di depan pintu masuk kelas tersebut. Hanna membenahi kacamatanya. Ia juga merapihkan kemeja polos berwarna putih yang sedang ia pakai. Blazer berwarna biru yang warnanya sama dengan rok span panjang yang menutupi kaki jenjangnya, ia pakai tuk menyempurnakan penampilannya saat mengajar. Hanna terlihat anggun saat itu. Ia terlihat rapih yang seharusnya membuat ia semakin percaya diri untuk mengajar di depan santri - santri.
Kembali, ia mencoba tenang. Ia pun berusaha tuk menunjukan senyum termanisnya dihadapan para santri yang tahun depan akan menjadi seorang ustadz di pondok pesantren ini. Itupun kalau mereka lolos dari kriteria yang ada.
“Assalamualaikum wr wrb !!” sapa Hanna dengan penuh semangat.
“Wa’alaikumsalm wr wb” jawab santri - santri itu bersiap. Mereka menegakan posisi duduknya. Mereka menumpuk tangan mereka diatas meja menghormati kedatangan ustadzah yang sangat mereka cintai. Hanna merupakan salah satu dari sekian ustadzah populer yang banyak digemari oleh santri kelas akhir. Bersama Haura, Nada dan Nisa tentunya. Hanna merupakan ustadzah yang paling sering disebut oleh para santri mengenai kecantikan yang dimiliki oleh wajahnya. Kendati kulitnya berwarna sawo matang. Kendati dirinya saat ini agak gendutan. Kendati wajahnya sering terlihat lelah karena kurangnya istirahat. Tetap, aura kecantikan sang ustadzah tidak pernah luntur oleh zaman.
Banyak pujian yang santri - santri itu berikan terutama dari kalangan santri yang duduk di posisi belakang. Hanna memang terlihat montok. Wajahnya sangat manis, bibirnya tipis, kulitnya pun eksotis. Dandanannya yang selalu tipis tapi terkesan maksimalis. Tak jarang membuat dada dari santri - santri itu kembang kempis. Tak jarang banyak dari santri - santri yang berpura - pura ke kamar mandi hanya untuk menghabiskan stok sperma mereka yang semakin menipis. Hanna adalah idola para santri. Hanna adalah sang bidadari. Banyak dari mereka yang ingin menjadikan bidadari itu seorang istri.
“Naam, kita mulai pelajarannya sekarang yah... Harap perhatikan apa yang akan ustadzah tulis di depan !” kata Hanna mengencangkan suaranya agar dapat didengar oleh para santri yang duduk di posisi belakang.
Dari sekian santri yang memperhatikan cara mengajar Hanna di depan. Ada salah satu santri yang hanya memperhatikan wajah cantik Hanna disaat mengajar. Santri itu tersenyum. Santri itu menyeringai. Ia menatap mata Hanna sambil sesekali memperhatikan lekuk tubuhnya yang aduhai. Santri itu menjilati bibirnya sendiri membayangkan dirinya dapat menyetubuhi ustadzah cantik itu lagi.
Ia tertawa pelan membayangkan ustadzah itu hamil sebelum dirinya dinikahi oleh calon suaminya. Akankah suaminya bakal menerima kehadiran jabang bayi tersebut ? Atau malah suaminya bakal menolak untuk menikahinya ? Lalu kalau seperti itu ? Bagaimana nasib Hanna kedepan ?
“Muweheheheheh... Ayo ustadzah.... Menikahlah dengan ana... Agar ana bisa bebas menjebol memek ustadzah sampai longgar !” kata santri bejat itu tertawa.
Hanna sudah menulis beberapa kata di papan tulis. Kini sudah waktunya bagi ia untuk berkeliling memeriksa tulisan para santri. Satu demi satu Hanna berjalan sambil memeriksa tulisan para santri - santrinya. Ia memegangi buku catatannya yang ia taruh di dada. Kacamata yang melekat di wajahnya semakin memperindah rupa dari bidadari berhijab itu. Lutfi memperhatikannya. Ia memperhatikan kalau ustadzah cantik itu tanpa sadar sedang melangkah menuju ke arahnya.
Plakkkkkk !!!!
“Awwwww” kata Hanna terkejut saat tiba - tiba ada tangan yang menampar pantatnya dan meremasinya dengan kuat.
Beruntung Hanna sempat menutupi mulutnya terlebih dahulu sebelum berteriak. Ia pun menoleh ke belakang dan mendapati seorang santri yang memiliki rambut jarang dengan gigi depan maju yang tersenyum menatapnya. Santri itu tersenyum sambil menunjukan kepalan tangannya dengan menyelipkan ibu jari diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Lutfi ?
Batin Hanna teringat. Karena terlalu asyik mengajar, ia sampai lupa kalau di kelas ini ada bajingan tengik yang selalu bersikap kurang ajar padanya. Setelah kehilangan keperawanannya, berulang kali dirinya selalu dilecehkan entah melalui ucapan verbal atau melalui pelecehan fisik. Kadang saat kelas berakhir, dirinya dipaksa untuk menetap di kelas hanya untuk dicumbui dan diremasi payudaranya oleh santri bejat itu. Bahkan tak jarang dirinya dipaksa untuk mengulum benda menjijikan itu hingga keluar memenuhi rongga mulutnya. Hanna jadi merinding tiap kali teringat kejadian itu lagi. Ia pun mencoba pergi, ia mempercepat langkahnya dan bertekad untuk tidak berjalan menuju sudut kelas itu lagi.
“Muwehehehe... Makin montok aja bokongnya ustadzah” puji Lutfi secara diam - diam saat ustadzah cantik itu berjalan pergi menjauhi dirinya.
Hanna jadi gak mood setelah itu. Rasanya ia ingin segera pulang dan mengakhiri kegiatan belajar mengajarnya sekarang. Padahal jam baru menunjukan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Baru beberapa menit semenjak dirinya memasuki kelas terkutuk ini.
“Hah.... Kenapa waktu berjalan lama yah ?” kata Hanna saat kembali duduk di tempat duduknya sambil mengamati santri - santrinya yang sedang menulis.
Saat itulah, tepat di kursi sebelah depan bagian kiri. Terdapat dua orang santri yang tertidur dengan nyenyak mengabaikan tulisan yang sudah ia tulis di papan tulis. Entah kenapa Hanna jadi emosi melihatnya. Tak biasanya ia cepat marah seperti ini. Apakah karena perlakuan Lutfi tadi ?
Pokoknya ia langsung berdiri dan mendekati dua orang santri yang sedang menjatuhkan kepalanya di atas meja bagian depan tersebut. Melihat Hanna mendekat, beberapa santri yang duduk disekitar santri yang tertidur itu berniat untuk membangunkan. Namun santri itu tetap tertidur. Nampaknya mereka berdua kelelahan tapi itu bukanlah sebuah alasan yang tepat untuk dapat beristirahat ditengah proses belajar mengajar yang tengah berlangsung.
“Yudi... Dodikkkk !!!!” teriak Hanna kesal.
Tanpa ampun Hanna langsung menjewer telinga masing - masing dari santri yang tertidur tersebut. Kedua tangan Hanna sibuk, ia menjewer mereka, Ia menarik telinga mereka hingga kedua santri itu terangkat berdiri di hadapan ustadzah cantik itu. Santri - santri yang melihat perbuatan itu langsung tertawa bersama menertawakan kedua santri yang dihukum oleh ustadzah cantik itu.
“Ahhhhh... Awwww ustadzahhh.... Sakitt... Sakitttt” kata kedua santri itu merintih.
“Siapa yang menyuruh kalian tidur di kelas ?” kata Hanna.
“Maaf ustadzah... Maaf... Kami gak sengaja tertidur” kata kedua santri itu nyaris kompak.
“Gak sengaja ? Sekarang kalian berdua berdiri di luar kelas... Angkat kaki kiri kalian dan jewer telinga kalian agar tidak ngantuk lagi !” kata Hanna menghukum mereka yang membuat santri lainnya tertawa terbahak - bahak.
Kedua santri itu dengan berat hati mematuhi hukuman yang divonis oleh Hanna. Mereka berdua berdiri di luar kelas. Mereka mengangkat kaki mereka dan menjewer telinga mereka sendiri. Mereka sangat malu saat dilihati oleh beberapa adik kelas mereka yang berlalu lalang di lorong samping kelas mereka. Kedua santri itu menunduk. Mereka tampak sedih karena sudah dihukum sampai seperti ini.
Hanna pun duduk di tempat duduknya sambil memegangi kepalanya. Ia tersadar atas apa yang telah ia lakukan. Tidak seperti biasanya Hanna mudah menghukum seorang santri yang tertidur di kelas. Biasanya ia menegurnya terlebih dahulu. Tapi kali ini, ia malah menghukumnya dan mempermalukan mereka di hadapan adik kelas yang berlalu lalang di samping kelas mereka.
Astaghfirullah kenapa jadi emosian gini sih ?
Batin Hanna menyesal. Setelah sepuluh menit berlalu, ia pun memanggil kedua santri itu lagi untuk kembali duduk di tempat duduknya tadi. Nampak kedua santri itu kesal. Mereka seperti tidak terima atas perlakuan ustadzah itu kepada mereka.
Beruntunglah tak lama kemudian sesi kelas segera berakhir. Hanna buru - buru mengucapkan salam dan pergi keluar dari kelas yang sangat menyesakkan ini. Ia merasa lega setelah dirinya keluar. Beban yang tadi melanda hatinya perlahan hilang. Ia berulang kali menarik nafasnya dalam - dalam saat perjalanan pulangnya menuju kantor bagian pengajaran tuk mengembalikan absen kelas.
“Ustadzah” nampak seseorang yang menyapanya dari belakang.
Hanna menghentikan langkah kakinya lalu menoleh, ia tersenyum tak lama kemudian saat menatap wajah yang tak asing lagi baginya.
“Ehh antum, V” kata Hanna tersenyum manis.
“Kaifa hal ustadzah ? Lancar ngajarnya ?” kata V yang juga baru selesai mengajar tetapi di kelas yang berbeda.
“Yahh begitulah V... Lancar tapi gak terlalu juga hihihih” kata Hanna mulai kembali melangkah setelah V sudah tiba di sebelahnya.
“Ehhh maksudnya gimana ?” kata V belum paham.
“Ya lancar tapi ada beberapa santri yang bikin gak lancar gitu loh V... Ada yang tidur juga tadi, ada juga yang macem - macem, nano - nano lah pokoknya” kata Hanna tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi secara detil.
“Ahhh gitu, kok bisa yah ada santri yang tertidur pas ada ustadzah cakep yang ngajar di depan” kata V yang membuat Hanna tersenyum malu.
“Hihihihi tau nih... Kurang apa coba ana kok bisa bikin mereka tidur” kata Hanna tersenyum.
“Kalau ana jadi mereka, sudah pasti mata ana bakal melek terus... Kalaupun ngantuk, ana bakal menahannya menggunakan jemari ana ini” kata V mengilustrasikannya dengan memegangi kedua kelopak matanya agar selalu terbuka.
“Hihihihhi V jangan gitu ah... Malu diliatin santri lain tau !” kata Hanna yang malah merasa malu melihat aksi konyol V di sebelah.
“Ehhh iya ada orang lain yah ? Kalau disamping antum mah, rasanya kaya tinggal berdua aja” kata V yang membuat Hanna tertawa mendengar gombalan murahannya.
“Mulai genit yah sekarang !” kata Hanna tak dapat berhenti menyembunyikan wajah senyumnya.
“Genit ? Enak aja... Ana cuma menjelaskan situasi yang sedang terjadi sekarang kok Han” kata V tak terima disebut genit.
“Halah, pinter banget sih antum ngelesnya” kata Hanna terkagum - kagum oleh sikap V disebelahnya. Padahal tadi dirinya sedang badmood setelah mengajar. Tapi sekarang, setelah dirinya bersama sosok tampan disebelah. Ia langsung tersenyum lagi. Badmood itu tiba - tiba menghilang seolah ditelan masuk menuju inti bumi terdalam.
“Oh yah Han mumpung malam ini gak ada muwajjah, antum ada waktu kosong gak ?” kata V tiba - tiba menanyakan hal itu.
“Malam ini ? Kok gak ada muwajjah ? Emang sekarang hari apa V ?” tanya Hanna sambil mengingat hari.
“Hari kamis lah Hanna... Kok bisa lupa hari gitu sih...” kata V yang membuat wajah Hanna memerah.
“Ohhh iya malam ini jadwalnya santri latihan Muhadhoroh yah ? hehehe” kata Hanna malu.
“Iya malam jumat kan jadwalnya santri untuk latihan berpidato, makanya malam ini antum ada waktu kosong ?” kata V bertanya sekali lagi.
“Malam ini yah ? Gak ada sih, ada apa memang ?” tanya Hanna penasaran.
“Keluar yuk, kita makan di rumah makan itu... Tenang ana yang traktir” ajak V yang membuat jantung Hanna berdebar.
“Ehhh antum ngajak ana makan di luar ?” kata Hanna masih terkejut.
“Iyya, rumah makan disitu terkenal aman kan ? kayaknya gak banyak ustadz atau ustadzah yang tahu tempat itu... Kalau mau nanti kita berangkatnya berpisah, ana dulu baru antum atau mungkin sebaliknya dan jangan pakai pakaian yang mencolok yah ? Gimana ?” ajak V berharap agar ustadzah cantik itu menyetujui ajakannya.
“Ehhmmm boleh deh, antum yang bayar kan ?” kata Hanna mengangguk.
“Tenang, ana yang bayar semua !” kata V sambil menepuk dadanya sendiri.
“Hihihih siip deh kalau gitu” jawab Hanna sambil malu - malu.
“Oke deh, berarti antum tinggal nyari motor aja yah buat perjalanan kesana” kata V memberi saran lain.
“Gampang kalau itu mah V... Ana ada temen kok yang bisa dipinjem motornya” kata Hanna.
“Yaudah deh kalau gitu... Dandan yang cantik yah malam nanti, biar gak malu - maluin” kata V mendekat tuk berbisik di telinganya.
“Hihihihi iya tenang aja... Antum juga dandan yang ganteng biar gak malu - maluin” kata Hanna membalas perkataan V.
“Ahh tenang... Ana udah ganteng dari lahir, gak perlu dandan lagi” kata V dengan percaya dirinya yang membuat Hanna tertawa.
“Dasar kepedean !” kata Hanna yang membuat mereka tertawa bersama.
Kebetulan saat itu mereka sudah tiba di dekat kantor bagian pengajaran. Mereka pun agak menjauh agar tidak dicurigai oleh pengajar lain. Untung saja suasananya dari tadi sepi karena banyak santri yang masih di kelas menerima ajaran dari pengajar yang mengajar di kelas mereka. V pun jadi bisa mengobrol banyak dengan Hanna. Ia bahagia, apalagi malam nanti dirinya akan mengajak ustadzah pemilik senyum termanis itu berkencan.
“Ana duluan yah Han !” kata V berlari bahagia.
“Iya ustadz” jawab Hanna menghentikan langkahnya sambil tertawa melihat tingkah kocak ustadz tampan yang masih satu bagian dengannya.
“Hah, ada - ada aja sih !” kata Hanna sambil geleng - geleng kepala mengagumi sikapnya.
“Mmpphh malam ini yah ? Makan bareng V ?” kata Hanna sambil mengingat agendanya di malam nanti. Entah kenapa jantungnya jadi berdebar kencang. Padahal cuma diajak makan malam doang. Tapi kok rasanya dag dig dug gini yah ? Hanna tak dapat mengentikan senyumnya saat mengingat aksi - aksi kocak yang tadi diberikan oleh V. Ia pun melanjutkan langkah kakinya menuju gedung di depannya untuk mengembalikan absen kelas yang sedang ia pegang.
*-*-*-*
Beberapa menit kemudian di kantor bagian pengajaran. V masih berada di sana setelah mengobrol dengan teman lamanya yakni Adit. Baru setelah itu, ia beranjak pulang menuju kantor bagiannya tuk menemui koleganya sambil menyelesaikan tugas laporan bulanan yang harus ia selesaikan sebentar lagi.
Ia merasa bahagia di hari ini. Apalagi saat dirinya tadi bersama Hanna di sebelah. Senyum itu, tawa itu, paras itu. Ia merasa diberkati karena dapat melihat keindahan yang melekat pada tubuh ustadzah cantik itu. Ustadzah memang beda. Tidak hanya parasnya yang cantik. Auranya pun cantik. Rasanya berbeda ketika dirinya melihat wanita - wanita cantik yang mengenakan pakaian minim berseliweran di luar sana. Dengan pakaian tertutup yang ustadzah - ustadzah itu kenakan. Matanya terasa seperti terobati. Ia tidak perlu insto, rohto atau to to lainnya untuk menyegarkan matanya kembali. Cukup dengan menatap keindahan di wajah mereka, matanya langsung segar bugar seperti baru dilahirkan kembali.
Kebetulan lonceng telah berbunyi menandakan waktu istirahat dimulai. V terkejut, tak terasa waktu berjalan secepat ini hingga tiba - tiba ia mendengar bunyi lonceng di seberang. Ia pun mempercepat langkah kakinya tuk kembali ke kantor bagiannya sebelum disemprot rekan koleganya karena tidak kunjung balik tuk menyelesaikan tugas hariannya.
“Ustadz... Ustadzzzz” sapa seseorang yang membuat V menoleh.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia penasaran, siapa yang telah menyapanya tadi. Maklum, banyak santri yang berseliweran disana. Santri itu sudah pada keluar membuat keramaian yang tiba - tiba datang menyerang kesendirian.
“Ustadz... Hah.... Hah... Hah... Assalamualaikum ustadz” sapa orang itu ngos - ngosan. Orang itu kelelahan hingga membuatnya menunduk sambil memegangi lututnya setelah berlari mengejar dirinya
“Walaikumsalam, eh antum... Salwa yah ?” jawab V.
“Iyya ustadz... Hah... hah... hah... Makasih antum masih inget nama ana” jawab Salwa kembali berdiri lalu tersenyum.
“Ahhhh Salwa ini, ustadz pasti inget lah masa lupa sih sama antum” jawab V mencoba bersikap jantan dihadapan seorang santriwati yang berpenampilan seperti seorang cover girl.
Salwa merupakan seorang santriwati cantik kelas akhir yang memiliki kecerdasan dan kecantikan yang luar biasa. Umurnya telah memasuki 19 tahun. Posturnya tinggi, parasnya manis, ia juga suka berpakaian modis kendati cara berpakaiannya ini tidak disukai oleh pak kiyai karena dianggap berlebihan. Salwa kerap memadukan pakaian yang dikenakannya agar terlihat lebih aesthetic. Kemeja biasa yang dikenakannya disulap menjadi kemeja mode dengan hijab kekinian yang membalut wajah cantiknya. Ia juga pandai merias diri. Dandanannya tidak pernah menor tapi selalu berhasil membuat kaum adam tekor. V saja sampai terpana. Senyum itu, sikap malu - malunya itu, juga caranya dalam menatap dirinya. Jantung V langsung dag dig dug menatap keindahan yang ada di hadapannya.
“Hihihihi antum mau kemana ustadz ?” tanya Salwa sambil tersenyum malu - malu.
“Ustadz mau pulang ke kantor Salwa... Ada apa ?” tanya V ikut tersenyum karena tak tahan melihat senyum manis Salwa.
“Enggak hehehe... Ana...” Salwa bersikap malu - malu. Ia pun menunduk karena kesulitan tuk mengungkapkan apa yang ingin ia bicarakan.
“Iya ?” tanya V berusaha tuk menatap mata Salwa.
Menyadari V sedang menatap matanya membuat Salwa jadi salah tingkah saja. Salwa malah berbalik sambil malu - malu mengeluarkan sesuatu yang ada di saku kemejanya.
“Afwan ustadz... Ini ana punya sesuatu buat antum” kata Salwa tanpa berani menatap ustadz tampan dihadapannya.
“Iya Salwa, apa itu ?” tanya V penasaran.
“Ini” Salwa berbalik arah. Kepalanya menunduk dan tangannya ia julurkan sambil menyerahkan sesuatu untuk ustadz tampan dihadapannya.
“Ini ? Surat ?” kata V terkejut.
“Hehehe iya ustadz... Antum bacanya di kamar aja yah... Yaudah ustadz ana permisi dulu... Wassalamualaikum” kata Salwa langsung ngacir pergi sambil bersikap malu - malu.
“Ehhh tunggu Salwa... Iya walaikumsalam” kata V bingung dengan apa yang terjadi. Ia menggaruk kepalanya sambil membolak - balikan selembar amplop yang katanya berisi surat untuk dirinya.
“Surat ? Baca di kamar yah ? Yaudah deh ke kamar dulu ah kalau gitu” V pun penasaran, akhirnya ia membelokan arahnya dari kantor bagiannya menuju kamar asramanya.
Sesampainya di kamar asramanya. Ia langsung duduk di depan pintu almari pakaiannya. Ia menyandar pada almari itu lalu membuka amplop tersebut kemudian menarik secarik kertas yang berada di dalam. Dengan teliti ia membaca secarik surat yang diberikan oleh santriwati berwajah cantik itu.
Assalamualaikum ustadz,
Antum apa kabar ? Ini ana Salwa. Ana fans berat antum. Ana udah ngefans sejak kali pertama kita bertemu waktu itu. Antum masih inget gak dimana ? Ana suka dengan cara antum waktu itu saat memberikan bunga itu ke ana. Ana masih menyimpan bunga itu di lemari ana loh ustadz. Bahkan saat antum memberikan gorengan itu ke ana. Ana langsung menghabiskannya sendiri loh ustadz. Karena ana tau kalau gorengan itu dari antum untuk ana. Sebenarnya ada banyak kata yang ingin ana tulis di surat ini. Ana gak cukup berani untuk mengucapkan semuanya kalau kita bertemu. Ana orangnya pemalu ustadz. Ana juga gak pede kalau bicara di depan orang yang ana suka. Ana cuma mau bilang kalau ana suka antum. Ana cinta sama antum. Ana jatuh hati dengan sikap antum ke ana. Ana gak minta jawaban dari antum karena ana cuma ingin mengungkapkan isi hati ana saat ini. Tau gak ustadz ? Ana waktu nulis surat ini di kelas tadi sampai senyum - senyum sendiri loh. Ana berharap antum bisa ngisi kelas ana agar ana bisa bahagia menatap wajah antum di kelas. Tapi jangan deh, takut ada santriwati lain yang suka ke antum juga hihihi. Santriwati di kelas ana kan genit - genit. Ana juga mau bilang untuk siang nanti selepas waktu dhuhur, kalau antum ada waktu luang, ana tunggu di lantai dua ruang kelas yah. Ana harap antum bisa meluangkan waktu untuk ana. Terima kasih ustadz. Saranghae !
Dari fans berat antum,
Salwa Nabila Putri
V tersenyum setelah membaca surat cinta dari santriwati cantik tersebut. Tak lama kemudian, Adit, Fauzan dan Wildan yang merupakan teman satu kamarnya masuk. Mereka pun curiga melihat V tersenyum - senyum sendiri di sudut ruangan.
“Ehhhh Fikri, kayaknya ada yang lagi bahagia nih” kata Fauzan yang pertama kali menyadari.
“Ehhh Fa... Faaauzan... Hehe iyyy... Iyya nih” kata V tersipu.
“Ada apa emangnya ?” kata Adit langsung duduk disebelah V. Fauzan pun mengikutinya dengan duduk di sebelah kanan V. Sementara Wildan pun duduk di depan V. Mereka semua mengelilingi V karena begitu penasaran dengan apa yang sedang V lakukan di mari.
“Ehhh apa ini Fik ?” tanya Wildan hendak mengambil kertas yang sedang ia pegang.
“Ahhh inn.. inniii... Emanggg kaya gini waaa... Waaajjar yah ?” kata V sambil menyerahkan surat itu ke Wildan.
Wildan membacanya, ia pun tertawa. Wildan pun menyerahkannya ke Fauzan. Fauzan juga tersenyum lalu diserahkanlah ke Adit. Adit pun tertawa tak mengira V juga akan menerima hal seperti ini.
“Cieeee... Ada yang ngefans rupanya hahahhaha... Wajar kok ini, kadang emang ada santriwati yang berlebihan kaya gini” kata Adit tertawa.
“Beggg... Begggitu yah ?” tanya V.
“Iya kadang santriwati emang begitu Fik, Eh bentar tadi namanya siapa ? Wuihhh Salwa ? Yang terkenal itu ?” kata Wildan tak percaya setelah merebut surat itu dari Adit.
“Salwa ? Salwa yang itu maksudnya ? coba lihat !” Fauzan pun merebut kertas itu dari Wildan. Ia membacanya dan mulutnya langsung menganga.
“Wuihhh iyaa... Langsung sikat aja Fik... Salwa ini produk unggul loh banyak ustadz sini yang udah siap - siap booking Salwa tuk jadi istrinya” kata Fauzan takjub.
“Ohh yah ? Seterr.... Seterrrkenal itu ?” kata V tak menduga.
“Salwa itu kandidat utama tuk jadi ustadzah disini loh Fik... Terlepas dari nilai di ujian akhir yang akan ia lalui. Pasti Salwa akan jadi ustadzah disini... Ia sudah diboking... Banyak dari ustadz atau ustadzah yang suka dengan sikapnya... Gak cuma pintar, sikapnya juga baik, ia juga ramah yang membuatnya mudah dikenali apalagi dengan kecantikan yang ia miliki” kata Adit menambahkan.
“Ohhh beggg... Beggituu ?” kata Fikri manggut - manggut.
“Tapi gak nyangka aja, Santriwati seterkenal Salwa bisa punya ustadz pujaan juga... Dulu ana juga pernah dikirimi surat oleh santriwati seperti ini loh” kata Wildan mengaku.
“Hahahah wajar mah, ustadz kaya oppa - oppa korea sepertimu mah pasti ada yang ngefans” kata Adit menimpali.
“Ana dulu juga pernah dikirimi surat, bahkan baru - baru ini juga dikirimi surat oleh santriwati lain” kata Adit mengaku.
“Ohh yah ? Kaaa... Kallliann terkenal juu... Jugga yah rupanya” kata V baru tahu.
“Hahaha... Jangan salah... Ana dulu juga pernah loh yah” kata Fauzan ikut mengaku. Ustadz gendut dengan brewok lebat serta wajah pas - pasan itupun cukup bangga saat mengungkapkan apa yang selama ini jarang orang lain ketahui.
Seketika wajah Adit, Wildan dan V menoleh bareng - bareng ke arah teman brewoknya itu.
“Kamu juga ?” kata Wildan terkejut.
“Kamu juga ?” kata Adit juga terkejut.
“Kamu juga ?” kata V menyusul kemudian.
Mendengar rekan sekamarnya tidak percaya seolah mencurigai dirinya kalau ia telah mengarang semuanya membuat Fauzan merasa kecewa. Ia pun lekas berdiri sambil memasang wajah masam.
“Dahlah !” kata Fauzan sebal.
“Hahahha ngambek... Canda Ojan jangan ngambek sini aja kita ngobrol” kata Wildan menahannya.
“Hahahaha percaya kok Jan... Kita pasti percaya, Cuma agak shock aja tadi pas dengernya” kata Adit menimpali.
“Hahahaha kalian lucu yah” kata V menatap semua rekan sekamarnya.
Mereka semua pun tertawa bersama, mengobrolkan masa lalu sambil menanti waktu istirahat berakhir. Lonceng pun berbunyi. Mau tak mau mereka semua harus kembali ke kantor bagiannya masing - masing. V pun teringat akan ajakan Salwa di siang nanti.
Baiklah... Ana akan menemuimu Salwa !
*-*-*-*
Terik matahari mulai menyengat. Siang sedang panas - panasnya. Angin kencang pun bertiup menerbangkan debu - debu yang berserakan di atas tanah. Hanna sedang melangkah menuju suatu tempat sambil memasukan tangannya ke dalam saku blazernya. Jemarinya menggenggam sesuatu di dalam. Dalam perjalanannya itu, ia memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya belakangan ini.
Nanti malam pakai baju apa yah ? Nanti malam harus berdandan gimana yah ? Nanti malam bakal gimana yah ?
Hanna tersenyum sendiri memikirkan apa yang akan terjadi di malam nanti. Entah kenapa ia sangat menantikan kejadian di malam nanti. Berdua bersama V sambil menyantap makanan yang ditraktir oleh V. Bukankah hal itu berarti kencan ? Ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Hanna merupakan wanita terjaga yang tak pernah banyak bercengkrama dengan seorang pria. Ia pun merasa gugup. Ia ingin menjadikannya pengalaman agar kelak saat dirinya menikah dengan suaminya, ia tidak perlu gugup lagi karena dirinya pernah melakukannya dengan seseorang yang sangat ia kenal.
Bentar, ini bukan berarti selingkuh kan ? Lagian cuma makan malam doang kok.
Batin Hanna mencari pembenaran untuk alasan dirinya pergi nanti malam. Memang benar kalau dirinya nanti akan pergi bersama seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
Tapi kan hal itu wajar kan. Kami cuma teman. Kami cuma seorang rekan yang hanya akan menyantap makan malam.
Batin Hanna terus memikirkan alasan pembenaran atas dirinya.
Tak terasa dirinya sudah hampir tiba di depan tempat tujuannya pergi di siang ini.
“Nah itu dia gedungnya” Hanna berlari kecil menuju depan pintu yang setengah tertutup.
Tokkk tokkk tokkk !
“Assalamualaikum” sapa Hanna berdiri menanti di depan pintu.
“Naam walaikumsalam” terdengar suara laki - laki dari dalam. Perlahan suara langkah kakinya semakin dekat. Pintu gedung kantor itupun terbuka.
“Ehhhh ustadzah ? Nyari siapa ?” kata seseorang bertubuh tambun dengan janggut tebal yang memenuhi sisi bawah wajahnya.
“Ustadz Fauzan, anu ustadzah Rachel ada ?” tanya Hanna.
“Ohh ada, bentar yah ana panggilkan” kata Fauzan kembali ke dalam tanpa menutup pintu kantor bagiannya.
“Ehhhh antum... Mana dari kemarin ana tunggu juga” kata Rachel bahagia melihat Hanna sudah tiba di depan kantor bagiannya.
“Hihihihi afwan ustadzah... Ana sibuk jadinya baru sekarang deh” kata Hanna berpelukan dengan ustadzah montok dihadapannya.
“Iyyya gapapa... Mana ? Filenya ? Ana udah gak sabar ingin menonton filmnya nanti malam” kata Rachel.
“Ini flashdisk-nya... Balikin yah nanti” kata Hanna.
“Tenang aja hihihihi... Syukron yah” jawab Rachel.
“Hihihihi yuarwelkam beb” jawab Hanna melangkah pergi.
Mereka pun berpamitan, Hanna buru - buru pergi menuju asramanya tuk menyiapkan segala persiapan untuk kencan pertamanya di malam nanti.
Sementara Rachel bahagia karena dirinya akhirnya mendapatkan film lengkap dari serial drama korea yang sedang ingin ia tonton belakangan ini.
“Akhirnya dapat episode lengkap dari film Vincenzo” kata Rachel bahagia.
Tepat sebelum dirinya duduk di meja kerjanya lagi. Ia mendengar dering hapenya berbunyi. Saat ia melihat nama di layar hapenya itu. Ia langsung menyernyitkan dahinya merasa tak nyaman.
“Halloooo” jawab Rachel lemas.
“Huehuehuehue... Besok yah ustadzah” kata seseorang di dalam.
Rachel pun mendadak lemas. Rasa bahagianya menghilang. Ia pun tanpa sadar memegangi bokongnya yang masih tersembunyi di balik rok panjang yang ia kenakan.
*-*-*-*
Sementara itu di dalam ruang kelas. Terdapat seorang santriwati yang tengah menanti seseorang dengan perasaan yang berdebar. Ia berulang kali memegangi dadanya yang naik turun tak beraturan. Sesekali ia melongok ke luar kelas tuk mencari tahu, apakah lelaki pujaannya benar - benar datang tuk menemuinya disini ? Membayangkan sosok itu datang dan tersenyum padanya saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi kalau sosoknya benar - benar datang dan tersenyum padanya ?
"Hah, kenapa aku jadi bucin kaya gini yah ?" Kata Salwa heran dengan dirinya sendiri. Ia tersenyum memandangi langit - langit ruangan. Cinta memang unik. Cinta tidak bisa memilih. Ketika hati sudah mengatakan siapa yang ia cinta. Pasti hati itu akan memerintah seluruh tubuh untuk mengejarnya walaupun harus mengorbankan apa saja yang ia punya.
Salwa jadi gelisah menanti kehadiran sosok ustadz tampan itu datang ke dalam ruangan kelasnya. Ia pun jadi berfikir. Bagaimana kalau ustadz itu tidak datang di siang ini ? Bagaimana juga kalau ustadz itu belum membaca surat yang sudah ia berikan ?
"Hah, iya yah gimana yah ?" Kata Salwa putus asa.
Ia jadi menunduk, ia menatapi telapak tangannya yang begitu mulus karena terurus. Ia pun terpikirkan sesuatu lagi.
"Gimana kalau setelah membaca surat itu, ustadz V malah menjauh dariku, Karena merasa tidak nyaman denganku ? Gimana kalau ustadz V datang tapi malah menolak ketulusan hatiku yang ingin mencintainya ? Apakah aku akan benar - benar dijauhi olehnya ? Apakah aku malah tidak memiliki kesempatan tuk mengobrol lagi dengannya ?" Salwa semakin lemas.
Ia pun menjatuhkan kepalanya ke atas meja merasa sedih atas apa yang telah ia pikirkan tadi.
"Jangan dong... Please ustadz datang donggg... Mana sih kok gak dateng - dateng ?" Kata Salwa semakin gelisah.
Ia melihat ke arah jam tangan yang ia pakai di lengan kanannya.
"Udah jam setengah dua aja nih... Kayaknya gak bakal dateng deh" Kata Salwa merasa kecewa. Ia pun berdiri. Ia hendak pulang ke asramanya untuk mengistirahatkan dirinya yang kecewa karena tidak dapat bertemu ustadz pujaannya.
"Hahhh" Desah Salwa dengan lesu.
Ia berjalan dengan goyah seperti seseorang yang belum mengisi perutnya dengan jatah makan siangnya. Memang benar sih, Salwa belum makan siang. Ia tadi begitu bersemangat hingga dirinya langsung pergi ke dalam kelas untuk menanti sosoknya. Sudah 90 menit berlalu sejak kehadirannya di ruang kelas ini. Ia begitu lelah. Ia begitu sedih. Ternyata rasanya sesakit ini yah ketika realita tidak seindah harapan.
"Okelah... Aku kalah" Kata Salwa melangkah keluar dari ruang kelas itu.
Brruukkkkk !!!
"Aduhhhhhh" Ukhti cantik yang memiliki body ramping itu terjatuh setelah menabrak seseorang. Pantatnya menyentuh lantai. Ia pun memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Salwa... Antum gapapa ?"
"Iyya gapapa ustadz... Ehhhh... " Kata Salwa terkejut saat mengenali suaranya.
Saat kepalanya ia angkat, ia menyadari ada sosok yang tersenyum menatapnya. Sosok itu menjulurkan tangan kepadanya. Salwa dengan malu - malu meraih uluran tangan sosok tampan itu. Salwa sudah berdiri dihadapannya. Salwa pun tersipu. Ia mengusap lengannya sambil menatap ke bawah.
"Antum gapapa Salwa ?"
"Hehe naam... Ana gapapa kok ustadz" Jawab Salwa senyum - senyum sendiri. Entah kenapa suara ustadz itu sangat merdu di telinga Salwa. Suara itu telah menghilangkan rasa suudzon-nya. Suara itu juga telah menghilangkan rasa lapar yang tadi menderanya.
"Syukurlah kalau antum gapapa" Jawab V tersenyum.
"Hihihihi" Salwa hanya tertawa karena bingung harus menjawab apa. Ia terlalu bahagia. Ia pun melupakan kata - kata yang telah ia siapkan sebelumnya.
"Oh yah... Ada apa yah kok ngundang ustadz kesini ?" Tanya V yang membuat Salwa teringat.
"Oh yah hehe afwan ustadz dah ganggu waktu antum... Ehmmm sebelumnya antum udah baca surat dari ana ?" Tanya Salwa malu - malu. Ia pun juga antusias dengan jawaban apa yang akan ustadz tampan itu berikan.
"Sudah kok" Jawab V tersenyum.
"Oh yah ? Sendiri apa bareng - bareng ?" Tanya Salwa sekali lagi yang membuat V terkejut.
"Sennndiri kok... Iya sendiri" Jawab V agak ragu di awal.
Salwa semakin senang. Ia pun tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh ustadz itu. Melihat gadis imut yang ada di hadapannya tersenyum malu - malu, membuat V semakin gemas ingin mencubit pipinya. Apalagi penampilan Salwa terlihat sangat menarik di siang hari itu. Salwa mengenakan kemeja pink yang ia padukan dengan rok panjang berjenis plisket yang memiliki warna yang sama dengan kemejanya. Ia juga mengenakan hijab pink yang membuat Salwa terlihat semakin muda saja. Penampilan Salwa sangat sesuai dengan usianya yang masih muda. Ukhti cantik yang belum menginjak usia 20 tahun itu masih tersenyum. Ia agak ragu tuk membuka mulutnya tuk bertanya pertanyaan lain.
"Anu terima kasih untuk itu yah Salwa" Kata V tiba - tiba.
"Ehhh terima kasih apa ustadz ?" Tanya Salwa terkejut.
"Terima kasih karena sudah menyukai dan mencintai ana sebagai fans" Kata V yang membuat pipi Salwa memerah.
"Ihhh ustadz... Jangan bilang gitu ah... Malu" Kata Salwa memukul lengan V dengan pukulan sayang.
"Aduhhhh" Kata V mengelus lengannya yang membuat Salwa tertawa. Salwa pun ikut mengelusi lengan V setelah itu.
"Tapi ustadz... Ana cinta sama antum bukan hanya sebagai fans loh" Kata Salwa memberanikan diri.
"Hemm maksudnya ?"
"Ya gitu... Ana cinta antum... Ana sayang antum... Gitu deh pokoknya" Kata Salwa dengan lirih karena merasa terlalu malu. Matanya pun melirik samping karena tak sanggup menatap wajah tampan di depan.
"Ehhhh gimana yahhh ?" Kata V sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Salwa hanya tersenyum sambil memeberanikan diri menatap ustadz tampan dihadapannya. Sosok itu mengenakan kemeja dengan celana panjang berwarna gelap yang merupakan seragam mengajar bagi para asatidz.
Salwa merasa kalau ustadz V terlihat semakin tampan ketika ditatap dengan jarak sedekat ini. Ia pun membayangkan suatu hari nanti dirinya bisa bermanja - manja dengannya sambil membaringkan kepalanya dipundak lelaki pujaannya tersebut.
"Ana cinta antum... Yang berarti ana mau jadi istri antum" Kata Salwa yang membuat V terkejut.
"Ehhh maksudnya... Salwa mau menikah dengan ustadz begitu ?" Kata V.
"Heeemm" Katanya dengan sedikit menambahkan desahan. Salwa juga mengangguk yang membuatnya semakin terlihat imut.
"Kok.. Bisa ?" Kata V bingung harus merespon gimana.
"Kenapa gak bisa ustadz ? Ustadz kan ganteng, baik, atau jangan - jangan ustadz udah ada yang punya yah" Kata Salwa agak sedikit kecewa.
"Ehh enggak kok Salwa... Ana masih jomblo hehe" Kata V yang membuat Salwa bersemangat lagi.
"Emmm... Emang antum masih ragu yah dengan perasaan ana ?" Tanya Salwa. Suasana tiba - tiba menjadi serius. V pun bingung. Tapi melihat sikap Salwa yang berdiri malu - malu dihadapannya membuat jantungnya semakin berdebar saja.
V pun diam mengamati lekuk tubuh Salwa. Tubuh Salwa memang indah. Wajahnya pun indah. Senyumnya juga indah. Bahkan suaranya juga indah. Pantas saja Salwa bisa menjadi santriwati populer yang paling dikenali seantero pondok pesantren ini.
"Enggg... Enggakkk kok hehehe... Ana gak ragu" Kata V mendadak gugup dengan sikap daun muda tersebut.
"Kalau antum masih ragu gapapa kok... Nanti ana kasih bukti" Kata Salwa menatap wajah V.
"Buktii ? Maksudnya ?" Tanya V. Entah kenapa rasanya jadi gerah. V pun melihat keluar. Cuacanya memang sedang panas tapi ia tak mengira kalau hawanya akan membakar seperti ini. Saat V menatap ke arah Salwa lagi. Ia terkejut karena kancing kemeja Salwa sudah terbuka sebagian. Kulit dadanya yang indah semakin terlihat. Kulit itu begitu putih. Kulit itu terlihat halus. Belahan dadanya juga perlahan tersingkap. Bra berwarna biru itu masih menutupi sebagian gunung kembarnya.
"Sa.. Sa... Salwa ? Apa yang ?" Tanya V terkejut. Tapi Salwa hanya tersenyum. V diam mematung melihat satu demi satu pakaian Salwa dipreteli oleh dirinya sendiri. Kemejanya telah jatuh, behanya juga telah jatuh. Bahkan rok panjang yang dikenakan olehnya telah melorot jatuh.
Gleeekkkk !!!!
V menenggak ludah. Mimpi apa semalam dirinya bisa melihat keindahan tubuh Salwa yang tinggal mengenakan celana dalam serta hijabnya saja. V mematung. Ditatapnyalah lekuk tubuh indah Salwa secara teliti.
Mulai dari lututnya di sisi bawah hingga bagian bahunya di sisi atas. Kulit Salwa benar - benar mulus. Tubuhnya sangat bening membuat otak V merasa pening. Apalagi saat dirinya menatap keindahan payudaranya. Memang tidaklah besar. Ukurannya tidak sebesar punya Haura tapi ia yakin kalau payudara itu bisa berkembang dengan diberi sedikit remasan. Ia juga menatap keseluruhan lekuk tubuh Salwa. Memang tidak seindah Nada yang pernah ia beri kuda - kuda. Tapi tetap saja, Salwa masih dalam tahap pertumbuhan. V pun yakin saat usia Salwa sudah menginjak matang pasti tubuhnya akan jauh lebih indah daripada Nada ataupun Haura. Ditatapnya wajah indah Salwa yang terlihat malu - malu. Memang tidak secantik Haura, wajahnya juga tidak semanis Hanna, dilihat - lihat wajahnya juga tidak sedewasa Nisa. Tapi tetap saja, aura Salwa berbeda.
Kalau di kalangan ustadzah yang tercantik adalah Haura maka dikalangan santri yang tercantik adalah Salwa. Kalau dikalangan ustadzah yang terseksi adalah Nada maka dikalangan santri yang paling mendekati body goals adalah Salwa. Kalau dikalangan ustadzah yang memiliki senyum termanis adalah Hanna maka dikalangan santri yang memiliki senyum termanis adalah Salwa. Kalau dikalangan ustadzah yang paling terkenal adalah Haura maka dikalangan santri yang paling terkenal adalah Salwa. Bukankah berarti Salwa mendominasi segalanya. Mungkin namanya tidak akan mampu menandingi sejumlah nama yang telah disebutkan diatas. Tapi mengingat usia Salwa masih sangat muda. Bukankah berarti kecantikannya, kesempurnaan tubuhnya serta keindahan senyumnya akan bisa berkembang ? Kalau begitu bukankah suatu hari nanti Salwa akan menjadi sesosok wanita yang cantik yang memiliki senyum termanis dan memiliki tubuh yang body goals ?
V pun jadi bingung. Padahal ia sudah memilih wanitanya antara Haura ataupun Hanna. Baik Haura dan Hanna memang memiliki sensasi tersendiri. Mereka berdua sudah mempunyai pasangan dan keduanya memiliki kelebihan masing - masing. Tapi Salwa ?
Sepertinya ia masih perawan. Ia merupakan barang baru. Onderdilnya masih gress. Segelnya belum terlepas dan satu lagi. Salwa sangat tergila - gila padanya. Ia pun jadi bingung. Biasanya V yang selalu mengejar agar dirinya bisa meniduri wanita yang diinginkannya. Tapi untuk kali ini, dirinya lah yang dikejar oleh santriwati cantik yang berusia masih belia.
"Hihihihi... Gimana ? Antum suka ?" Tanya Salwa yang mengejutkan diri V.
"Ehhh... Suu... Suukka banget... Iya, ustadz sangat menyukainya Salwa" Kata V bernafsu.
Salwa tersenyum melihat diri V yang sudah terengah - engah hanya dengan menatap keindahan tubuhnya. Salwa pun mendekat sambil membelai dada V. Sambil tersenyum ia melepas satu demi satu kancing kemeja yang terpasang disana. V terdiam. Penisnya semakin mengeras mendapati keagresifan yang dimiliki oleh santriwati cantik ini.
Satu demi satu kancing kemeja V mulai terlepas. Salwa sambil malu - malu menurunkan resleting beserta celana yang sedang V kenakan. Salwa senang, setidaknya pelatihan yang sudah ustadzah Syifa berikan padanya tidak terbuang sia - sia. Celana itu sudah turun. Salwa pun menarik turun celana dalam yang sedang V kenakan.
Salwa terkejut melihat ukurannya yang super besar. Salwa berjongkok. Vaginanya yang masih tertutupi celana dalamnya itu terbuka semakin lebar.
"Ahhhhhhhh.... Salwaaa... Ahhhhhh" V merinding saat merasakan dekapan tangan Salwa di penisnya. Saking besarnya, Salwa sampai harus menggunakan kedua tangannya untuk mengocok gada besi berwarna perak itu. Tangan kanan Salwa mencengkram batang penisnya, sementara tangan kiri Salwa mencengkram ujung gundul penis V sambil menekan - nekan lubang kencingnya menggunakan ibu jemarinya.
"Ahhhh... Ahhhh Salwahhhh" Desah V.
"Hihihihi... Jujur ustadz... Kalau antum masih ragu, ana bisa memberikan bukti lain kalau ana bener - bener mencintai antum... Ana akan memberi antum apa aja yang ana punya" Tanya Salwa yang membuat V memejam merasakan dekapan tangan Salwa yang semakin terasa nikmat.
"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhh apa aja ?" Tanya V agak sedikit mendesah.
"Heem ustadz... Tapi untuk ini... Ana masih belum berani yah ustadz... Ana masih perawan" Kata Salwa sambil terus mengocoknya.
"Untuk ini ? Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh" Desah V sambil menyandar pada dinding ruang kelas.
"Iyya ustadz... Tapi kalau antum penasaran... Antum boleh kok bercinta bareng ana tapi lewat belakang" Kata Salwa malu - malu. Cengkraman tangan Salwa semakin kuat. Penis besar V semakin kewalahan saat dibetot oleh santriwati cantik itu.
"Ahhh... Ahhhh... Salwa... Makksudd ? Main belakanggg berati ? Ahhh ahhhh... Lewat lubang pantat ?" Tanya V terengah - engah.
Salwa tak menjawab. Ia hanya terus mengocok penis V sambil menganggukan kepalanya pelan. Wajah Salwa memerah. Mata V pun terperangah. Ia tak mengira kalau santriwati secantik Salwa mengizinkan dirinya untuk memerawani lubang anusnya. Tergoda ? Jelas ya. Nikmat mana yang kamu dustakan kalau menolak rezeki ini ?
"Hihihihi jadi malu ana ustadz... Karena antum udah datang kesini... Ana kasih hadiah yah khusus buat antum" Kata Salwa yang membuat V penasaran.
"Hadiah ? Apa itu Salwa ?" Tanya V penasaran.
Terlihat Salwa menjulurkan lidahnya. Lidah itu perlahan semakin dekat menuju ke ujung gundul penis V. V berdebar. Jantungnya berdegup semakin kencang. Matanya menunduk menatap pergerakan Salwa di bawah. Saat lidah itu menyentuh ujung gundulnya. Mata V langsung memejam dan mulutnya terbuka dengan sendirinya. Mulut Salwa mendekat hingga bibir - bibirnya sudah berada di ujung gundul penisnya. Salwa mengapit ujung gundul penis itu dengan bibirnya. Lidahnya pun keluar dengan menggelitik lubang kencingnya. V merinding. V tak henti - hentinya mendesah merasakan rangsangan santriwati cantik ini. Tangannya pun terdiam. Kakinya mengejang saat lidah Salwa semakin terbebas bermain - main di ujung gundul penis besar itu.
"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhh Salwahhh... Ouhhhhhhh" Desah V merinding merasakan sensasinya.
Salwa tetap bermain disana. Tak banyak kata yang terucap dari mulutnya saat mulutnya menjejali penis besar di hadapannya. Mulutnya mencaplok ujung gundulnya saja. Batang penisnya ia kocok menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya merangsang biji salak yang tergantung dibawah penis itu. Mulut Salwa maju mundur. Tangan kanannya mengocok batang penisnya. Sementara tangan kirinya memelintir biji salak itu hingga membuatnya kejang - kejang merasakan sensasi segar darinya.
"Ouhhhh... Ouhhhh... Ouhhh.. Salwaahhh... Salwaahhhh"
Mulut Salwa ia coba maju hingga membuat batang penisnya ikut tertelan ke dalam mulut Salwa. Salwa kesulitan karena ukurannya yang besar. Tapi ia mencoba mendorongnya terus. Mulutnya terus maju. Penis itupun semakin terhisap. Salwa menjadi pengap karena kurangnya udara yang bisa ia hirup.
"Ahhhhhhh.... Gimana ustadz... Mmppphhh... Salwa udah jago belum ? Ustadz puas ?" Kata Salwa setelah melepaskan kulumannya pada penis V.
"Ahhhhh enakkk Salwaa... Darimana Salwa belajar kaya gini ? Kok Salwa jago bangettt" Tanya V penasaran.
"Hihihi rahasia" Jawab Salwa kembali mengocok penisnya.
Salwa mencengkram kuat batang penis itu ke belakang. Lalu ia tarik lalu dorong. Ia majukan tangannya lalu ia mundurkan. Penis itu semakin terdorong nikmat. Penis itu semakin meradang. Penis itu meronta - ronta tiap kali merasakan kulit mulus Salwa. Salwa kembali mendekat dengan menjilati ujung gundulnya saja. Nampaknya Salwa paham kalau titik tersensitif seorang pria ada di ujung gundulnya. Daripada repot - repot mengulum hingga ke batang penisnya. Ia lebih memilih tuk merangsang ujung gundul penis itu saja. Disinipun kecerdasan Salwa mulai terlihat. Ia terus merangsang penis V secara maksimal.
"Ahhhhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh"
Bibir Salwa kembali hinggap di ujung gundul penis itu. Sedikit demi sedikit Salwa memasukan ujung gundulnya tuk membelah rongga mulutnya. Salwa mengangkat batang penis raksasa itu. Lidah Salwa keluar tuk menjilati sisi bawah penisnya. V semakin merinding merasakan kenikmatan di bawah. Saat Salwa menurunkan kembali penis itu. Salwa memasukan sebagian ke dalam mulutnya. Salwa memaksakan diri. Ia terus menelan penis besar itu hingga ujung gundulnya mentok di dalam kerongkongannya. Salwa tersedak. Tapi ia mendengar desahan nikmat yang keluar dari mulut V. Salwa jadi bersemangat. Salwa pun melumuri penis itu dengan air liurnya hingga membuat diri V semakin terangsang akan kulumannya.
"Slllrppp ahhhh"
Nampak Salwa melepas kulumannya. Tangannya masih sibuk mengocok batang penis itu. Salwa memberanikan diri menatap wajah tampan diatas. Wajah V terlihat bernafsu tapi masih terlihat tampan bagi diri Salwa. Salwa pun tersenyum yang membuat diri V semakin tidak tahan akan kenikmatan yang ia dapatkan.
"Ahhhhhh... Ahhhh.... Ahhhh Salwaa... Udahhh... Ustadz gak kuattt lagii... Ahhh... Ahhhhhh" Desah V.
"Hihihihi ustadz udah mau keluar ?" Tanya Salwa dibawah.
"Iyyahhh... Ouhhhh ustadz gak tahan lagi Salwaa" Kata V mengerang menahan nikmat.
"Hihihi kalau gitu ana akhiri yah" Kata Salwa dengan yakin.
Salwa mendekatkan bibirnya. Ia mencaplok ujung gundulnya saja disaat tangannya mengocok - ngocok batang penisnya dengan nikmat. Mulut Salwa pun menghisapnya. Ia menyedot - nyedot ujung gundul dari penis itu agar sperma yang bersembunyi di dalam bisa segera keluar. V jadi blingsatan. Rasanya pening tak karuan. V pun membayangkan kalau seseorang yang sedang menghisap penisnya adalah santriwati populer yang sudah menjadi incaran asatidz lain. Kini santriwati itu sedang berjongkok menghisap penisnya. Tidak hanya menghisap tapi juga mengocoknya dan menjilati lubang kencingnya.
Kocokan tangan Salwa semakin kuat. Bahkan kocokan tangannya sampai membuat suara V berubah menjadi erangan dan desahan. Lidah Salwa bergerak dengan melilit ujung gundul penis itu. Lubang kencingnya ditoel. Keseluruhan penisnya pun berdenyut merasakan sensasi nikmat dari kocokan Salwa yang mantap.
"Ahhhhhh.... Ahhhh Salwaaa sebentar lagiiii... Sebentar lagi Salwaaa... Ustadz mau keluarrr ouhhhhh" Desah V sampai merinding.
"Mmppphhh..... Mmppphhh iyya ustadz... Keluarkannn... Keluarkan aja semuanyaaaa jangan ustadz tahan" Desah Salwa sambil terus mengulum ujung gundulnya saja.
V tidak kuat lagi. Ditengah jepitan bibir Salwa yang semakin hangat. Ditengah jilatan lidah Salwa yang semakin nikmat serta ditengah kocokan Salwa yang semakin kuat. Ustadz tampan itu telah kehilangan kekuatannya. Disaat hisapan Salwa yang semakin kencang. Tepat saat Salwa menyedot ujung gundulnya dengan penuh kekuatan. Cairan kental berwarna bening itupun keluar menyembur rongga mulut Salwa di dalam.
"Ahhhhhh Salwaaa.... Ustadzzz keluaarrrr !!!!"
Crrroootttt... Crrootttt... Crroootttt !!!
"Mmppphhh... Mmppphhh" Salwa bertahan menerima tiap semprotan yang mengalir begitu deras di dalam rongga mulutnya. Cairan sperma V beraroma menyengat tapi tidak serta merta membuat Salwa memuntahkannya. Ia menerima semua cairan itu di lidahnya. Ia menampungnya. Ia bertahan hingga penis itu berhenti menyemprotkan cairannya.
"Ahhhh... Ahhhh Salwaaa... Ouhhhh nikmattnyaahhh... Ahhhhhhh" V tak dapat diam saat mendapatkan kenikmatan dari bibir manis Salwa. Tubuh V mengejang, matanya pun berkunang - kunang. Mulutnya tak dapat berhenti mengerang saat bidadari cantik itu menyedotnya kencang.
V terus memejam hingga cairan sperma itu berhenti menetes dari lubang kencingnya. Saat V membuka mata. Tubuhnya bergidik nikmat. Kakinya pun melemah dan nyaris ambruk andai tidak ada dinding yang menopang tubuhnya di belakang.
Salwa tersenyum senang. Secara berhati - hati ia menyimpan seluruh sperma yang V keluarkan di mulutnya. Ia pun berdiri lalu menelan seluruh sperma itu tepat dihadapan mata V. V membuka matanya lebar. Ia tak tau kalau Salwa jago dalam membuatnya tepar.
Salwa pun membersihkan beberapa sperma yang sempat menetes jatuh disekitar mulutnya menggunakan hijab berwarna pinknya. Setelah seluruh sperma itu tertelan. Ia membuka mulutnya tuk bertanya pada ustadz tampan dihadapannya.
"Gimana ustadz ? Hihihi" Tanya Salwa antusias dalam menantikan jawabannya.
"Mantap... Ustadz lemas Salwa" Kata V dengan lemah.
"Yeayyy hihihihi... Itu hadiah buat antum ustadz... Antum harus bersyukur tuh cuma antum yang ana beri hadiah kayak gini hihihi" Kata Salwa malu - malu senang.
"Hah... Hah... Hah... Kalau gitu ana berterima kasih yah Wa... Aduhhh.. Ana gak kuat lagi" Kata V mulai menjatuhkan tubuhnya dengan menyender pada dinding ruangan. Penis V mulai melemas. Penis itu mengkerut. Penis itu seperti telah kehilangan sinyalnya. Salwa tertawa melihat ukuran penis itu sudah normal kembali. Ia pun mendekati V yang tengah tepar tak berdaya. Ia berjongkok sambil tersenyum menatap wajah tampannya.
"Terima kasih ustadz... Ana gak nyangka akhirnya diberi kesempatan untuk membuat antum puas... Ana udah bahagia ustadz, bisa melihat antum puas kaya gini... Suatu hari nanti kalau antum mau menikah... Tolong jadikan ana prioritas utama yah... Ana janji akan memberikan yang terbaik agar membuat antum bahagia... Ana rela melakukan apa aja demi antum ustadz" Kata Salwa.
Salwa tiba - tiba mendekatkan wajahnya ke arah wajah V yang sedang menyender ke dinding. V reflek menutup matanya. Bibir mereka bertemu. Salwa mendorong bibirnya tuk mencumbu bibir manis V. Cukup lama Salwa mengecupnya. Salwa pun melepaskannya yang membuat V merasa segar kembali. Nampak aroma spermanya tercium dari mulut Salwa. Tapi itu tidak serta merta menurunkan kenikmatan bercumbu dengannya. V masih puas. Bahkan ia sangat puas bisa menikmati servis oral Salwa yang tak pernah ia berikan pada siapapun selain dirinya.
"Tolong temui ana lagi... Kapanpun antum capek, sedih, gundah atau butuh kenikmatan dari ana... Datang aja ke ana... Ana janji antum akan tersenyum lagi setelah ana hibur" Kata Salwa sambil mengenakan pakaiannya kembali.
Salwa sudah berpakaian. Salwa sudah rapih seperti sebelumnya. Salwa pun izin pamit untuk pulang ke asramanya.
"Ana duluan yah ustadz... Biar gak ada yang curiga kalau ada yang habis mantap - mantap di ruangan kelas ini hihihihi... Wassalamualaikum" Kata Salwa pamit.
"Walaikumsalam" Jawab V terengah - engah.
"Oh ya Ustadz" kata Salwa tiba - tiba berbalik.
"Iyya ?" tanya V menoleh.
"Saranghae.... Hihihihi" Salwa tersenyum kemudian lari malu - malu. V pun ikut tersenyum sambil geleng - geleng kepala membayangkan sikap santriwati imut tersebut.
V masih tak berdaya di sudut sana. Tubuhnya masih lemas. Tapi ia juga puas karena bisa merasakan sepongan mulutnya yang mantap. Ia pun membayangkan kalau sosok tadi adalah sosok yang sama yang diimpikan oleh ustadz lainnya untuk bisa dijadikannya istri di masa depan. Salwa adalah santriwati populer. Santriwati itu sudah tergila - gila padanya. Apalagi ia mengaku masih perawan. Apalagi ia terang - terangan memperbolehkan dirinya menyodomi anusnya. Membayangkan hal itu membuat penisnya ingin tegak kembali.
Tentu saja, merasakan lubang mulutnya saja belumlah puas bagi V. Ia ingin merasakan vagina seseorang. Ia ingin bercinta tapi dengan siapa ?
"Oh yah malam ini ?" V jadi teringat akan jadwal penting yang ia miliki di malam ini. Ia mengelus penisnya yang mulai mengeras kembali. Ia membayangkan wajahnya. Ia membayangkan senyumnya yang begitu manis.
"Hanna... Ahhhh... Ahhhhhh" Kata V sambil mengelus penisnya sendiri.
*-*-*-*
Malam yang sudah lama dinanti - nanti oleh Hanna akhirnya datang. Bidadari itu sedang bersiap - siap di dalam kamar asramanya. Dengan mengandalkan pantulan cermin dari hapenya sendiri, ia mencoba untuk merias wajahnya dengan menggunakan ketrampilan yang ia punya. Hasilnya tidak mengecewakan atau justru malah mengejutkan. Hanna disulap oleh dirinya sendiri menjadi seorang wanita yang sangat cantik lagi jelita. Hanna memang sudah cantik sebelumnya, tetapi dengan tambahan riasan yang melekat di wajahnya. Kecantikan Hanna bertambah secara maksimal.
Beruntung, kamar asramanya telah sepi karena rekan sekamarnya juga pada pergi entah bersama dengan siapa. Sepertinya waktu libur di malam hari dimanfaatkan dengan baik oleh para pengajar khususnya para asatidzah untuk menikmati waktu me time mereka. Hanna teringat kalau rekan sesama ustadzahnya itu juga pada dandan sebelum mereka pergi keluar pesantren. Apakah yang lainnya juga sedang berkencan secara diam - diam dengan seseorang ?
Hanna tersenyum memikirkan itu. Sepertinya semua ustadzah memikirkan sesuatu yang sama belakangan ini. Di usia yang semakin menginjak matang, banyak dari mereka yang memikirkan pernikahan. Mereka semua ketakutan andai diri mereka tak laku karena urung menemukan sang pangeran hati yang akan menjemput mereka di rumah mereka. Mungkin ketika mereka memberanikan diri tuk berkencan, mereka akan dipertemukan dengan pangeran hati yang telah dijanjikan. Hanna sebenarnya sudah menemukan pangeran hatinya, tapi sepertinya ada pangeran kedua yang bersiap - siap untuk menyalip pangeran hati yang pertama.
“Gak, bukan gitu ! Kami cuma rekan kok” kata Hanna berbicara sendiri setelah hatinya menuduh kalau dirinya akan berselingkuh.
“Lagipula, Ustadz Angga juga belum menikahiku kok... Kecuali kalau aku sudah menikah dan aku keluar dengan lelaki lain selain suami aku, baru itu pantas disebut selingkuh” kata Hanna terus berbicara sendiri mencari pembenaran atas dirinya sendiri.
Tapi membayangkan dirinya akan berdua dengan V sebentar lagi kok bikin berdebar yah. Ia tak dapat berhenti tersenyum sambil memandangi kecantikannya melalui layar hapenya. Ia pun membayangkan kalau nanti V pasti akan terpana setelah melihat keindahan parasnya. Ia tak sabar mendengar pujian yang akan V berikan padanya. Sekali lagi, ia mencoba untuk mengecek penampilannya sebelum berangkat ke rumah makan itu.
“Persiapan diri udah, sekarang tinggal persiapan kendaraan... Ustadzah Syifa sibuk gak yah malam ini ?” kata Hanna sambil mengirimkan pesan untuk ustadzah cantik itu untuk meminjam motor yang sudah ia boking sejak siang tadi. Sebenarnya siang tadi ustadzah Syifa sudah mengkonfirmasi kalau malam ini dirinya tidak akan kemana - mana. Tapi untuk memastikan, Hanna pun menanyakan lagi padanya agar motornya bisa ia pakai untuk menemui V di luar.
“Yesssss motornya nganggur” kata Hanna senang. Ia pun segera berlari menuju ke kamar asrama Syifa yang berjarak sekitar tiga kamar saja dari kamarnya sendiri.
Hanna tidak terlihat seperti seorang ustadzah di malam itu. Sesuai arahan dari V untuk tidak menunjukan identitas aslinya sebagai seorang ustadzah karena khawatir akan ada orang lain yang mengenalnya dan melaporkan kehadirannya pada pak Kiyai yang malah menjadikannya dihukum oleh atasan.
Hanna mengenakan kaus berwarna biru muda yang ia padukan dengan jaket bomber berwarna abu - abu. Hijab berwarna coklat melilit kepalanya. Hanna tampak manis dengan riasan tipis namun terkesan maksimalis. Bibirnya terlihat cerah dengan olesan lipstik berwarna merah muda disana. Kulit wajahnya juga terlihat lebih halus. Alis matanya terlihat lebih hitam. Ia juga menyemprotkan parfum favoritnya agar aroma tubuhnya terasa lebih segar. Bahkan ia mengenakan kaca mata untuk menambahkan kesan imut pada dirinya. Sedangkan bawahannya, ia mengenakan celana longgar yang juga berwarna coklat sesuai dengan warna yang dimiliki oleh hijabnya. Hanna terlihat seperti mahasiswi berhijab yang akan menikmati waktu malming bersama pasangannya. Masalahnya, malam ini kan malam jum’at. Yakali ada pasangan yang berkencan di malam jum’at. Itu mau kencan apa mau sunah rosulan ?
“Assalamualaikum” sapa Hanna mengetuk pintunya.
“Walaikumsalam... Masuk aja Ustadzah” jawab Syifa di dalam.
“Hehehe motor antum gak kepake kan ? Hmmm kuncinya dimana yah ?” kata Hanna terburu - buru karena tidak sabar.
“Hayooo mau keluar ama siapa sih ? Cantik amat” puji Syifa terpana akan kecantikan Hanna.
“Hihihih ada deh” kata Hanna tersipu malu.
“Ini kuncinya yah ustadzah... Tapi motornya ada di parkiran dekat gedung pengajaran... Antum gapapa jalan kesana ?” tanya Syifa.
“Ahh gapapa kok” kata Hanna yakin.
“Yakin ustadzah ? Pake pakaian kaya gini ?” kata Syifa sambil mengamati dari atas ke bawah.
“Hihihihi iyya... Pesantren lagi sepi juga kan ? Antum gak usah khawatir ustadzah, motor antum bakal balik dengan aman plus full bensin deh” kata Hanna menjanjikan.
“Ahh yang bener nih bakal ngisi full bensinnya ? Makasih loh yah” kata Syifa senang.
“Tenang... Everything is ok ustadzah” kata Hanna tersenyum.
“Yaudah hati - hati yah bawa motornya... Jangan sampai motor ana lecet” kata Syifa.
“Motornya aja nih ? Ana-nya enggak ?” kata Hanna yang membuat Syifa tertawa.
“Antum mah mau nabrak apapun akan tetep mulus ustadzah... Ya hati - hati juga deh pokoknya” kata Syifa tersenyum.
“Hihihi siap... Oke beb... Ana duluan yah” kata Hanna pergi.
Syifa hanya tersenyum. Ia pun terkagum pada paras cantik Hanna. Melihat hal itu membuat dirinya jadi tidak tahan lagi. Ia pun merindukan Salwa. Ia ingin menikmati keindahan tubuhnya lagi sambil membelai pipinya yang merah merona.
Sementara itu di luar.
Hanna berjalan sambil memasukan tangannya ke dalam saku jaket bombernya. Hawanya dingin membuat ia sedikit merinding saat melakukan perjalanan jauh ke parkiran dekat kantor bagian pengajaran. Sebenarnya jalan yang ia lalui ini tidaklah asing baginya. Kantor bagian pengajaran dan kantor bagian pengasuhan saling berdekatan. Bisa dibilang, ia sama saja dengan melewati jalan yang ia lalui di pagi hari ketika dirinya berangkat menuju kantor bagiannya.
Ia menaikan kepalanya tuk menatap langit gelap disana. Entah hanya perasaannya saja atau gimana, tapi kok langitnya tampak mendung yah. Tidak ada satupun bintang yang terlihat disana. Bulan saja tidak bulat sempurna kendati hari ini merupakan jadwal bagi bulan purnama untuk bersinar. Bunyi dari hewan - hewan malam disekitarnya menambah kesan horror baginya. Entah kenapa ia jadi merasa tidak enak. Sesekali matanya melirik ke kiri kemudian ke kanan. Ia begitu waspada khawatir ada sesosok makhluk yang muncul untuk menculiknya.
“Hah mikirin apa sih aku ini... Kebanyakan nonton film deh kayaknya” kata Hanna merasa malu.
Tepat di depannya ada sebuah gedung yang sedang di bangun tapi masih belum selesai. Bangunan itu sudah megah. Bangunan yang rencananya akan menjadi asrama baru itu tinggal diberi sentuhan akhir saja agar bisa ditinggali oleh santri - santri yang mendaftar di pesantren ini. Ia penasaran, ia pun mencoba untuk melihat - lihat sejenak gedung baru itu.
Hanna merupakan sosok yang pemberani. Ia tidak takut kegelapan dan malah cenderung menyukai segala hal yang berbau misteri. Maklum, Hanna ini orangnya kepoan. Ia pun segera masuk tuk melihat sejenak sisi luar gedung ini dari jarak sedekat mungkin.
“Wahhh hebat juga para pekerja disini... Mereka melakukannya dengan cepat” kata Hanna terkagum sambil memegangi salah satu bata yang sudah tersusun menjadi dinding gedung tersebut.
Saat ia hendak pergi menuju parkiran tuk mengambil motor yang akan ia pinjam. Ia mendapati ada salah satu kamar calon asrama yang tiba - tiba menyala. Lampu itu menyala dengan sendirinya. Sebagai seorang ustadzah yang bertempat di bagian pengasuhan. Ia pun curiga kalau ada santri yang bersembunyi sehingga tidak mengikuti pelatihan muhadhoroh di ruang - ruang kelas.
Ia pun berjalan mendekat dan menyadari kalau lampu itu tiba - tiba mati lagi. Hanna semakin yakin pasti ada yang sengaja bersembunyi di salah satu ruangan yang belum jadi ini.
Jebreetttt !!!
Hanna membuka paksa pintu asrama yang memang tidak memiliki kunci itu. Ruangannya gelap sehingga sudut pandang Hanna terbatas. Hanna agak menutup hidungnya karena banyak debu yang berterbangan disana. Hanna pun membuka mulutnya. Ia mencoba untuk menemukan penjahat yang sengaja bersembunyi di dalam ruangan ini.
“Siapa di dalam ? Ustadzah tau ada seseorang yang sengaja bersembunyi biar gak ikut muhadhoroh kan ?” kata Hanna berteriak.
Tapi ia tak mendengar balasan suara dari dalam. Hanna jadi tegang, tangannya pun meraba - raba dinding ruangan untuk mencari saklar lampu agar dirinya bisa melihat keadaan sekitar.
“Halooo... Kalian ada disini kan ? Gak usah bersembunyi dari ustadzah... Ustadzah tau pasti ada seseorang disini !” kata Hanna sekali lagi. Tapi lagi - lagi ia tak mendengar balasan suara dari seseorang.
Hanna jadi gelisah. Ia pun berfikir kenapa lampu tiba - tiba nyala terus mati sendiri ? Bukankah ada seseorang yang sengaja melakukannya ? Gak mungkin kan lampu bisa melakukan semua itu sendirian ?
Tangannya semakin meraba - raba dinding ruangan. Tapi kok saklarnya gak nemu - nemu yah ? Ia pun mendekat ke arah pintu keluar karena biasanya saklar lampu berada di dekat pintu masuk.
“Ahhh ini dia !” kata Hanna setelah menemukannya. Saat lampu dinyalakan. Tiba - tiba ada seseorang yang sudah berdiri menanti sambil tersenyum menatapnya dari depan.
“Selamat malam ustadzah muwehehehehe” kata orang itu yang membuat Hanna terkejut.
“Aaaa . . . . . . “ belum lama Hanna berteriak. Mulutnya sudah dibekap oleh seseorang dari belakang. Nampak tangan kanan orang itu membekap mulutnya dan tangan kirinya mencengkram kuat payudara kirinya. Tak berhenti sampai disitu, ia merasakan kalau payudara kanannya sedang diremas oleh orang lain dari belakang. Ia juga merasakan kalau bibir vaginanya sedang diraba - raba oleh tangan lain yang berasal dari belakang.
Hanna merinding di malam itu. Tubuhnya perlahan berkeringat. Rasa takut yang begitu berkuasa membuat air matanya turun secara ttiba - tiba. Ia pun mencoba mencari tahu siapa sosok lelaki yang sedang tertawa di depannya.
Bentuk tubuh itu, rambut cepak itu, gigi yang maju itu... Tidak salah lagi, Lutfi !!!
Batin Hanna menyadari.
Lalu siapa kedua orang yang ada di belakang ?
Batin Hanna bertahan menerima remasan demi remasan dari kedua orang yang tertawa puas di belakang.
“Muwehehehe... Gimana ustadzah ? Enak gak pijitin sama teman ana ? Mantap kan ?” kata Lutfi menertawakan ustadzah cantik yang sedang di grepe - grepe oleh temannya sendiri.
Teman ? Maksudnya ?
Batin Hanna penasaran.
“Inget gak ustadzah apa yang sudah antum lakukan tadi pagi ?” kata salah satu dari keduanya.
“Antum udah bikin kita malu ustadzah... Padahal kami cuma tertidur... Kenapa ustadzah sampai mempermalukan kami ? Bukan cuma di depan rekan sekelas tapi juga di depan adek kelas... Tau kan kalau santri kelas akhir tuh punya wibawa yang harus kami jaga ? Kenapa ustadzah malah membuang wibawa itu dari kami ?” kata temannya yang lain.
Tertidur ? Dua orang ? Jangan - jangan ?
Kata Hanna tersadar. Matanya pun membelalak. Ia telah tahu siapa kedua orang yang sedang melecehkan tubuhnya sekarang.
“Muwehehehe... Yudi, Dodik untuk sekarang kalian bisa bebas mau melakukan apa saja ke ustadzah kita tercinta kita... Tapi ingat jangan lakukan hal yang satu itu... Lakukan terserah semau kalian sesuai dengan apa yang sudah kita rencanakan” kata Lutfi mengambil salah satu kursi kemudian duduk disana sambil menatap aksi yang akan dilakukan oleh mereka bertiga.
Rencana ?
Batin Hanna tak percaya. Jadi ketiga santrinya sudah berencana untuk melakukan semua ini padanya ?
“Siap bos” kata kedua santri itu kompak.
Yudi yang merupakan santri berkulit gelap yang memiliki tubuh kurus dengan rambut lebat yang ia sisir ke samping mengambil alih bibir Hanna dengan mencumbuinya dengan penuh nafsu. Tangan Yudi memegangi pipi Hanna untuk membelokan wajahnya agar menatap ke arah wajahnya sendiri. Yudi memejam merasakan sentuhan manis dari bibir tipis ustadzah itu. Yudi mendorong bibirnya. Ia menekan bibir ustadzah cantik itu menggunakan bibirnya sendiri. Tercium aroma nafas sang ustadzah yang membuat Yudi jadi semakin bergairah. Aroma nafasnya yang bikin nafsu membuat tangan kiri Yudi tak henti - hentinya dalam meremasi payudara Hanna dari luar kaus yang ia kenakan.
“Mmmppphhhh... Mmmpphhhhhh... Yudiiii... Mmpphhh lepaskkann ustadzahhh, Yudi... Ustadzah minta maaffff mmppphhhh” desah Hanna saat bibirnya dicumbui tanpa ampun oleh santrinya itu.
Sementara Dodik yang memiliki kulit berwarna kuning langsat sedang meremasi payudara Hanna yang satunya. Payudara itu sungguh besar membuat tangan kurusnya tak mampu tuk mendekap seluruh ukuran payudara itu. Tubuh Hanna yang montok membuat Dodik tak tahan ingin memeluknya. Tangan satunya ia masukan ke dalam kaus berwarna biru Hanna. Santri yang memiliki rambut panjang berponi dan memiliki hidung besar itu terus meraba - raba keindahan tubuh Hanna yang sangat menggairahkan.
“Mmmppphhh... Mmmppphhhh maafkan ustadzahhh... Amppunnnni ustadzahhh... Mohon lepaskan ustadzahh Yudi, Dodik !” teriak Hanna berputus asa.
“Muwehehehe... Terus rangsang ustadzah tercinta kita ini... Jangan percaya omongannya... Ustadzah Hanna ini aslinya binal... Rangsang terus sampai sisi binalnya keluar” kata Lutfi mengompori.
Hanna risih mendengar ejekan dari santri bejatnya itu. Ia pun menduga kalau kedua santri ini telah dihasut oleh santri yang paling tak ingin ia temui. Yudi sedari tadi terus mencumbunya bahkan lidahnya sudah keluar tuk bermain - main di dalam rongga mulut ustadzah cantik itu.
Dikala mulut mereka terbuka. Lidah Yudi langsung merengsek masuk berkelana di dalam untuk mencari pasangannya yang telah hilang. Yudi dengan penuh nafsu menjilati rongga mulut ustadzah cantik tersebut. Hanna tak tahan akan aroma santri berkulit gelap itu. Nafasnya sangat bau, aromanya seperti seseorang yang belum sikat gigi seharian ini.
Yudi pun menemukan lidah sang ustadzah. Disela - sela desahan mereka berdua yang semakin bergairah. Yudi mendorong lidahnya hingga menubruk tepi lidah sang ustadzah. Lidah mereka saling menyundul lalu berganti menjadi saling bergesekan. Lidah mereka berputar mengelilingi rongga mulut Hanna. Awalnya lidah Hanna ada diatas tapi giliran lidah Yudi yang sekarang diatas. Dikala lidah Yudi menindihi lidah Hanna. Yudi menggesek - gesekan lidahnya diatas lidah sang ustadzah yang sudah terkapar tak berdaya. Liur Hanna pun menetes jatuh akibat saking nikmatnya ia bercumbu. Remasan yang ia terima perlahan semakin menaikan gairah birahinya. Tangan kiri Yudi gemas. Ia tak menduga kalau ustadzah cantik ini memiliki ukuran payudara yang tak biasa. Rupanya Hanna pandai menyembunyikan kebesaran payudaranya. Jemari Yudi mencengkramnya kuat. Pemiliknya pun berteriak. Mata Hanna memejam. Ia tak kuasa menahan serangan dari santri yang bernama Yudi ini.
“Mmmpphhhh Mmmpphh ahhhh.... Ahhhhh Yudiii... Jangannn Yudiii... Ingattt ini ustadzahhh.... Apa yang antum lakukan ke ustadzah Yudiiii !” kata Hanna terus mendesah.
“Mmmpphhhh diam ustadzah... Lutfi sudah bilang kalau antum itu nafsuan.... Antum bahkan yang merengek ke Lutfi untuk minta digagahi... Akui itu ustadzah... Antum udah beberapa kali digenjot sama Lutfi kan ?” kata Yudi ditengah cumbuannya.
Hati Hanna tersakiti saat mendengar ucapan yang sudah Yudi berikan. Sungguh Fitnah itu berat. Ia tak menduga rasanya akan sesakit ini. Omongan Lutfi yang sudah menancap di otak Yudi membuat santri yang awalnya polos itu berubah menjadi santri kotor yang hanya mementingkan hawa nafsunya. Hanna menangis dalam hati. Hanna sungguh menangis hingga air matanya tumpah membasahi wajahnya.
Sementara Dodik tak beda jauh. Ia dengan nafsunya menaikan kaus yang Hanna kenakan. Bra berwarna putihnya langsung ia turunkan. Dodik mencumbunya. Puting berwarna coklat itu ia caplok dan ia jilati di dalam. Pemiliknya pun mendesah namun tertahan oleh cumbuan Yudi.
“Mmmpphhhh... Mmpphhh hentikannn... Hentiikannn kaliannnn” desah Hanna putus asa.
Mendengar erangan suara Hanna yang menggoda membuat hawa nafsunya semakin naik saja. Dodik berpindah ke depan. Tangan kirinya mencengkram payudara sebelah kanan ustadzah cantik itu. Mulutnya terus menyusu di putingnya. Lidahnya kadang keluar tuk menoel - noel puting yang berwarna kecoklatan itu. Sementara tangan kanannya pun menyelinap masuk ke dalam tuk menuju bibir vagina yang masih tersembunyi rapat di balik celananya.
Prookkk prokkk prrookkkk !!
“Muweheheheheh teruss semuanya... Kerja bagus... Mari kita lecehkan ustadzah kita ini bersama - sama” kata Lutfi tertawa sambil bertepuk tangan. Ia terlihat puas saat melihat perut rata ustadzah yang berwarna sawo matang itu terlihat. Walau tidak bening tapi kulitnya terlihat licin seperti porsneling. Kulit Hanna terlihat halus. Ia bahkan sampai melonjak - lonjak diatas kursinya karena tak tahan ingin bergabung menikmati tubuh indah ustadzah itu.
“Hentiikannn toloongggg... Ampuni ustadzah, Yudi ! Dodik !.... Apa kalian tega melecehkan ustadzah kaya gini ?” kata Hanna terus memelas.
“Tega ? Mmmpphhhh... Mmmpppphhh.... Apa ustadzah tega mempermalukan kami tadi pagi ?” jawab Dodik sambil menyusu yang membuat Hanna terdiam. Hanna paham kalau kedua santri ini sudah dibutakan oleh hawa nafsu untuk membalas dendam. Ia pun dipaksa untuk menuai apa yang telah ia panen. Ia sudah memanen amarah kedua santri ini. Maka ia harus menerima menjadi pelampiasan amarah dari kedua santri bejat ini.
“Aahhhhhhhhhhhhhhhh” Hanna mendesah saat Dodik menggigit puting susunya dengan pelan. Yudi yang sedang mencumbunya pun terkejut. Kenapa ustadzah Hanna sampai berteriak mantap seperti ini ? Menyadari kalau Dodik lah penyebab utamanya membuat Yudi sampai harus menegur teman satu kelasnya itu.
“Ehhh Dodik jangan keras - keras dong... Ana lagi nyium bibir ustadzah nih... Kalau ente pake nafsu gitu gimana ustadzah bisa ana cium !” kata Yudi kesal.
“Dikidikidik... Maaf Yud... Susunya enak banget jadi kelewat nafsu deh !” katanya tertawa dengan nada tawanya yang khas.
“Yuyuyuyu... Pake hati makanya jangan pake nafsu kalau nyusu !” kata Yudi juga tertawa dengan nada khasnya.
Gemas, Baik Yudi ataupun Dodik melepaskan jaket yang sedang Hanna kenakan. Kaus ustadzah cantik itupun menyusul tak lama kemudian. Hanna tinggal mengenakan cup bra yang sudah diturukan oleh Dodik. Menyadari tubuh Hanna sudah tersingkap, Yudi pun ikut turun dengan menyusu di payudara satunya.
“Aahhhhh... Ahhhhhh... Kaliann hentikannnnn... Jangan lakukan itu ke ustadzah tolonggg... Mmmppphhh... Mmmppphhh” desah Hanna merinding saat kedua santri itu tengah menyusu di kedua payudaranya yang ranum.
Hanna mencengkram kuat kedua telapak tangannya sendiri. Ia memejam. Ia tak kuasa menahan rangsangan yang sedang ia terima dari kedua mulut santri bejatnya ini. Hanna seperti induk yang sedang menyusui kedua bayi besarnya. Puting Hanna dikenyot, Puting Hanna di cakot, Lutfi yang melihatnya sampai melotot tak tahan ingin segera ngentot.
Lutfi menelanjangi dirinya sendiri sampai tak menyisakan apapun di tubuh kurusnya. Lutfi bersabar dengan mengocok penisnya terlebih dahulu sambil memandangi pelecehan yang ada di depannya. Ia tertawa puas. Ia senang bisa mengajak kedua temannya untuk membalas dendam atas apa yang sudah ustadzah cantik itu lakukan pada mereka.
“Muwehehehe... Rangsang terus semuanya... Ayo buat ustadzah Hanna binal dengan aksi kita !” kata Lutfi Lirih.
“Ouhhhh... Ouhhhh kaliannnn... Ouhhhhhh jangannnn... Mmmpphhhhhhh” desah Hanna memejam.
Baik itu Yudi ataupun Dodik mereka sama - sama meremas sambil menikmati keindahan payudara disana. Yudi mencumbu payudara itu. Ia meninggalkan bekas memerah disana. Yudi mencubit puting Hanna. Yudi menggigit putingnya tak lama kemudian.
“Aahhhhhhh jangann digigit Yudiiiiii !!!” desah Hanna dengan nikmat.
“Muwehehehhee teruss semuanya.... Ayo kita binalkan ustadzah Hanna !” kata Lutfi terus menyemangati.
“Siap bos” kata mereka berdua kompak.
Dodik tak tinggal diam. Dirinya yang sedari tadi belum merasakan bibir manis sang ustadzah langsung mencengkram rahangnya dengan paksa.
“Mmmpphhh... Mmpphh apa yang ????” belum sempat Hanna menyelesaikan kalimatnya. Dodik sudah mendekatkan bibir Hanna ke arah bibirnya sendiri.
“Mmmpppphhhhhhh !!!!”
Dodik puas bisa merasakan bibir manis itu. Rasanya memang beda. Sensasinya berbeda. Bibir Hanna lebih manis. Ia mencumbunya dengan beringas tuk memuaskan hasrat yang sudah lama terpendam. Rasanya lebih nikmat setelah ia melakukannya untuk membalas dendam atas amarah telah lama tertahan. Bibir Hanna didorong. Lidahnya kadang keluar tuk menjilati tepi bibirnya. Dodik mendorongnya lagi lalu mengulum bibir bawahnya. Rengekan manja dari ustadzah itu tak didengarkan oleh mereka. Air mata yang jatuh dari pelupuk matanya tak dihiraukan oleh kedua santri yang sudah dipenuhi oleh nafsu. Lutfi yang tak tahan lagi pun mendekat. Ia berjalan menuju sisi belakang Hanna dan langsung memelorotkan celananya hingga celana dalam itu terlihat.
“Mmpppphhhhhhh” Hanna terkejut saat celananya tiba - tiba turun. Lutfi pun mengambil gunting yang sudah ia siapkan untuk merobek celana dalam Hanna.
“Muwehehehehe... Jangan sering - sering pake daleman yah ustadzah ! Ana gak suka soalnya !” kata Lutfi beralasan. Mata Hanna membuka sambil berusaha menoleh menatap nasib celana dalamnya yang mulai robek digunting oleh santri bejat itu. Namun cengkraman tangan Dodik membuat niatnya terurungkan. Ia pun dipaksa menatap kedepan untuk memuaskan nafsu birahi Dodik yang sudah tidak tertahankan.
“Ohhh bokong ini... Mantappnyaahhh” kata Lutfi setelah merobek dan membuang celana dalam itu entah kemana.
Plakkkkk... Plakkkkk !!!
Lutfi menampar bokong itu dengan penuh nafsu. Ia puas, Ia pun meremasnya sambil mencumbui punggung mulus Hanna yang sudah tidak tertutupi apa - apa.
“Mmpphhh... Mmpphhhh... Mmpphhh jangann... Ustadzahh mohonn hentikannn” erang Hanna pasrah.
Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Dirinya tak kuasa tuk melawan ketiga santri sekaligus yang masing - masing berfokus pada bagiannya sendiri. Payudaranya diremasi oleh Yudi. Bibirnya dicumbui oleh Dodik dan bokongnya dicengkram oleh Lutfi.
Hanna ingin menangis sejadi - jadinya saat menerima pelecehan ini. Ia tak menduga bahwa malam yang sangat ia nanti - nantikan ini malah berubah menjadi petaka seperti ini. Ia memohon dalam hati. Ia ingin terbebas. Ia tak mau ketiga santri ini bertindak sesukanya pada tubuh indahnya.
Tolonnggg aku... V !!!!
Hanna memejam sambil meneteskan air matanya mengharapkan bantuan V datang untuk menolong dirinya.
“Mmpphhh... Mmphhhh... Dah kalian berdua istirahat dulu... Perhatikan apa yang akan ana lakukan !” kata Lutfi memberi perintah.
“Siap bos” kata mereka berdua patuh.
Lutfi melepas celana yang masih menyangkut di kaki Hanna. Kini ustadzah berhijab itu tinggal mengenakan hijab coklatnya saja serta kaus kaki dan sepatu yang membungkus kakinya. Selain itu, ia tak mengenakan apapun lagi. Lekuk tubuhnya terkespos. Payudaranya pun tegak menantang merangsang nafsu birahi mereka. Wajahnya yang masih mengenakan kacamata membuat ketiga santri ini gemas akan pesonanya yang menawan. Lutfi mendorong tubuh Hanna agar menunduk sebentar. Ia mencengkrami bokong Hanna. Ia pun mengarahkan penisnya saat memasuki lubang kehangatannya.
“Mmmmpphhhh... Lutfiii ? Jangann lagiii... Aahhhhhhhhhhhh” Hanna mendesah saat perlahan penis itu mendorong masuk ingin membelah liang senggamanya.
Hanna memejam. Ia menggigit bibir bawahnya saat penis besar itu semakin masuk ke dalam. Baik itu Yudi atupun Dodik terpana melihat detik - detik amblesnya penis itu ke dalam liang senggama sang ustadzah. Ustadzah yang biasa mereka lihat sehari - hari dengan pakaian alim kini sedang telanjang mendesah menahan tusukan yang sedang santrinya berikan.
Lutfi menarik nafasnya. Ia tau ini sulit. Ini berbahaya karena berpotensi bisa merangsang gairahnya secara cepat. Ia tak mau dirinya langsung keluar akibat sempitnya jepitan dinding vagina yang ada di dalam. Ia sudah berpengalaman. Ia pun meremas - remas bokong montok itu sambil perlahan mendorongnya maju.
“Uhhhhhhh mantappnyahhhhhhh” desah Lutfi.
“Aaahhhhhh Lutfiiii sakittt.... Ahhhhhhhh” desah Hanna dengan keras.
Tangan Lutfi merengsek naik menuju ke pinggul ramping Hanna. Perlahan rabaannya semakin naik hingga tiba di kedua payudaranya yang aduhai. Dodik dan Yudi terpana saat Lutfi dengan bebasnya meremasi payudara itu sambil menusukan penisnya ke dalam vaginanya. Mereka berdua iri pada Lutfi karena sudah sering bersetubuh dengan seorang ustadzah secantik Hanna.
“Aahhhhh Lutfiii tunggguuu.. Jangan didorong lagi.... Ahhhmmmpppphhhhhh” desah Hanna memejam sambil merapatkan bibirnya.
Tangan Lutfi kembali ke bongkahan pantat itu lagi. Lutfi menamparnya kemudian mencengkram pinggangnya agar tubuh montok ustadzahnya tidak ikut terdorong ke depan.
“Aahhh dikittt lagii.... Dikittt lagiiii !!! Heennkkkgghhhhh !!!” desah Lutfi dengan mantap.
Jleebbbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhhhhhh” desah Hanna saat penis itu mentok menyundul rahim kehangatannya.
Yudi dan Dodik terkagum - kagum oleh keberuntungan Lutfi saat ini. Lelaki mana yang tidak iri melihat Lutfi sudah memasukan penisnya kedalam vagina sang bidadari yang sebentar lagi akan dinikahi oleh calon suami.
Hanna kelelahan. Ia pun menundukan wajahnya hingga kedua payudaranya yang menggantung itu tampak menggoda. Dua orang santri yang sedari tadi menganggur itu gemas karena tak tahan ingin memetik kedua buah dada yang sudah matang itu. Tapi Lutfi dengan rakus segera memetiknya sendiri. Dengan sedikit goyangan di pinggul. Hanna kembali menegakan kepalanya sambil menahan sodokan yang tak terbayang nikmatnya.
“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Hanna mendesah sepuasnya.
Tubuh Hanna terdorong maju mundur secara teratur. Hanna bergairah. Tubuhnya telah berkeringat seiring sodokan yang terasa semakin kuat. Payudara - payudara itu ikut terdorong maju mundur. Mata Yudi dan Dodik pun seolah terhipnotis oleh gerakan payudara itu. Apalagi saat mendengar teriakannya yang manja.
“Aahhhh Lutfiii hentikannn... Jangan lakukan ini ouhhhhhhhhh... Lutfiii Ahhhhhh !!” desah Hanna terdorong maju mundur semakin cepat.
“Muwehehehe... Akhirnya bisa ngerasain lagi... Rasakan ini ustadzah !! Rasakan ini !!!” kata Lutfi dengan penuh nafsu.
Plokkkk... Plokkkk... Plokkkk !!!
“Ahhhh iyahhh... Iyahhhhh ouhhhh Lutfiii hentikannn Mmmmppphhhhhh !”
Lutfi memegangi kedua tangan Hanna dan menariknya ke belakang. Hanna pun pasrah digantung dalam posisi ini. Hal ini membuat Lutfi semakin bebas dalam menancapkan penisnya ke dalam. Terdengar bunyi benturan antar kelamin yang semakin kuat. Ustadzah itu mendesah tak karuan. Ia benar - benar tak mengira oleh sodokan yang terlampau nikmat ini. Terasa dinding vaginanya yang belum terlalu basah tergesek oleh kulit penis Lutfi yang masih seret. Agak sakit sih tapi kenikmatannya bertambah menjadi dua kali lipat. Hanna meronta - ronta. Tubuhnya melonjak - lonjak hingga menggoda iman kedua santri yang masih menganggur itu.
“Aahhhh.... Ahhhh hentikannn... Hentikannnnnn” desah Hanna berteriak putus asa.
“Muwehehehehe... Oh yah kalian boleh bergabung sekarang” kata Lutfi pada kedua temannya.
“Nah akhirnya” kata Dodik yang langsung mengincar mulut Hanna tuk mencumbuinya lagi. Diangkatnya lah kepala Hanna agar sejajar dengan wajahnya. Tanpa ampun ia menjilati tepi bibirnya dahulu sebelum melahap bibirnya dengan penuh nafsu.
“Giliran ana pun tiba !” kata Yudi yang menginginkan tangan Hanna tuk mendekap penisnya. Ia menelanjangi dirinya. Ia begitu gemas ingin merasakan servis dari tangan halus itu. Ia mendekatkan penisnya ke tangan Hanna. Ia pun bergetar saat merasakan sentuhannya yang dahsyat.
“Ouhhh.... Ouhhh... Ouhhhh” desah Yudi saat merasakan sentuhan tangan Hanna dipenisnya. Padahal Hanna belum mengocoknya karena kesulitan menerima serangan dari Lutfi yang sangat dahsyat. Namun dari dorongan pinggul Lutfi itulah. Tangan Hanna pun bergetar yang membuat penisnya ikut bergetar terkena sentuhan tangan halus Hanna.
“Mmpphhh... Mmpphhhh... Ana suka banget bibir antum ustadzah... Dari dulu waktu ustadzah ngajar di kelas... Ana udah berharap suatu hari nanti bisa mencium bibir yang lezat ini !” kata Dodik dengan penuh nafsu.
“Mmmppphhhh... Mmpphhhh... Mmpphh hentikan Dodik jangannn.... Tolong sadar semuanya ini ustadzahhh !!! Jangan lakukan hal semacam ini ke guru kalian sendiriiii... Ahhhhh... Ahhhh ahhhhh” Hanna semakin berteriak keras saat Lutfi bosan mendengar penolakan yang terus - menerus Hanna berikan. Akhirnya Lutfi pun menghukumnya dengan sodokan yang lebih dalam dan mantap lagi. Terbukti Hanna pun berhenti merengek. Ia hanya mendesah menerima sodokan demi sodokan yang semakin dalam mengaduk - ngaduk dinding vaginanya.
“Dikidikidikidik... Gimana ana mau berhenti kalau ustadzah aja mendesah senikmat ini... Ayo turun... Kulum punya ana ustadzah !” perintah Dodik sambil tertawa. Dodik memelorotkan celananya bahkan kaus yang dikenakannya juga ia lepas karena saking gerahnya.
Hanna pasrah. Mulutnya mengatup rapat saat disumpal oleh penis besar Dodik. Ukurannya tak jauh beda dengan kedua penis lainnya. Bedanya penis Dodik jauh lebih lebat bulunya. Aromanya pun tak sedap. Beda dengan penis Yudi yang sedang ia pegang. Warnanya hitam pekat sesuai dengan warna kulit tubuhnya. Sementara penis Lutfilah yang paling besar diantara ketiganya. Penis besar itu terus melonjak - lonjak kegirangan ketika dicekik oleh dinding vaginanya yang sempit. Lutfi merinding saat menerima gesekan mantap itu di dalam vaginanya. Lutfi membuka mulutnya. Tangannya kembali berkuasa atas payudaranya yang montok lagi ranum. Lutfi semakin mencengkramnya kuat. Ia semakin menyodoknya nikmat. Ia terus mendesah merasakan keindahan tubuh Hanna yang tidak ada duanya. Ustadzah yang menjadi favorit para santri tingkat akhir itu pasrah dengan terus mendesah merasakan gairah yang semakin parah. Hawa di dalam ruangan ini semakin panas saja. Suasanya juga memanas dengan nafsu yang semakin tak terbatas. Gairah birahi yang terbalas membuat mereka semua puas akan kenikmatan yang ada pada diri bidadari berhijab ini.
“Lepaskan ustadzahhh muwehehhehe” kata Lutfi menarik hijab Hanna hingga terlepas dari kepalanya. Rambut panjang Hanna yang terikat ke belakang itu tersingkap. Kacamata yang tadi dikenakannya pun jatuh begitu saja ke atas tanah. Lutfi membuang jauh hijab itu hingga jatuh ke atas tanah yang mengotori hijab lembut itu. Dodik pun memegangi kepalanya sambil menggenjot mulut bidadari itu dengan penuh nafsu. Yudi yang hanya kebagian tangan Hanna tak menyerah dengan mencumbui punggung bebasnya yang terbuka.
“Mmmpphhh... Mmpphhhh... Mmpphhhhhhh” desah Hanna memejam tak sanggup tuk melihat raut wajah mereka yang tampak asyik menikmati keindahan tubuhnya bersama.
“Aahhhhhhhhhh” desah Lutfi saat menarik lepas penisnya hingga kulit dari bibir dinding vagina itu nyaris ikut keluar terkena tarikan penis Lutfi.
“Ehh Yudi gelar tikarnya sekarang !” kata Lutfi memerintah.
“Baik bos” kata Yudi.
Dodik pun dibiarkan bermain dengan mulut manis bidadari ini. Ia mencengkram ikat rambut Hanna disaat pinggulnya bergerak maju mundur semakin cepat. Ia merasakan lidah yang ada di dalam merangsang sisi bagian bawah penisnya. Liur pun menetes jatuh karena tak mampu ditampung di dalam rongga mulutnya yang telah penuh. Dodik puas. Ia pun mempercepat gerakan pinggulnya di dalam mulut Hanna.
“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh”
“Ahhh gilaa... Ahhh... Ahhh.. Ahhhhhhh” desah Dodik tak terkendali.
“Muwehehehe gimana rasanya Dod ? Gapapa kan cuma boleh masuk mulut doang ?” kata Lutfi puas.
“Ahhh... Ahhh gapapa Lut... Enak banget ini mahhh... Rasanya mantabbb !!!” desah Dodik yang membuat Lutfi tertawa.
“Lapor, Tikar sudah siap bos !” kata Yudi melapor.
“Bagus... Baringkan ia diatas tikar !” kata Lutfi.
Dodik melepas penisnya dari mulut Hanna. Hanna pun lega dirinya bisa menghirup udara segar lagi. Ia tak berdaya saat Lutfi dengan bebas menidurkan tubuhnya dalam posisi terlentang diatas tikar itu. Lampu menyala remang - remang. Hanna pun pasrah digerayang.
Dodik dan Yudi langsung memainkan payudara Hanna tanpa pernah bosan. Hanna pun melihat Lutfi sudah mendekat ke arah selangkangannya. Lutfi tersenyum. Ia bersiap - siap untuk mengakhiri derita bidadari cantik ini.
“Mmpphhh... Mmpphhhh... Tega kamu yah Lutfi... Tega kamu melakukan hal ini ke Ustadzah” kata Hanna benar - benar kecewa atas sikap bejat santrinya itu. Rangsangan yang juga ia dapatkan dari kedua santri lainnya membuat ia tak dapat berhenti mendesah.
“Muwehehehehe... Gak usah gitu, nanti juga ustadzah yang akan berterima kasih ke ana” kata Lutfi mengangkat kaki Hanna dan memasukan penisnya ke dalam.
Jleeebbbbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhhhhh” desah Hanna dengan mantap.
Penis itu dengan cepat masuk menerobos liang senggama Hanna. Tanpa adanya hambatan, tanpa adanya rintangan. Dengan pelicin yang sudah membasahi liang senggama Hanna. Penis itu langsung menerobos masuk hingga menabrak dinding rahim kehangatannya.
Hanna merem melek tanpa sadar atas kenikmatan yang sedang melanda liang senggamanya. Lutfi tertawa puas. Ia langsung menggerakan pinggulnya tuk merasakan jepitan yang sangat menggairahkan.
"Mmppphhh... Mmppphhh... Mmppphhh"
Yudi menundukan tubuhnya tuk mencumbui leher jenjang Hanna yang terlihat. Kecupan demi kecupan yang ia layangkan membuat bidadari itu merinding merasakan sensasinya. Mulut Hanna tak tinggal diam karena lagi - lagi Dodik sudah menyumpal penisnya tuk mendiamkan suara desahan Hanna yang semakin kuat.
"Mmmppphhhh... Mmmppphhhh... Mmmppphhhh" Hanna mengerang setiap saat. Suaranya terdengar menggairahkan. Suaranya sangat menggoda. Erangannya yang sangat manja membuat birahi ketiga santri ini berpesta akan kelezatan tubuh indah sang bidadari yang tak tertutupi apa - apa.
Payudaranya yang besar bergerak seirama. Tubuh polosnya terdorong maju mundur. Wajahnya yang bikin nafsu membuat Lutfi mempercepat iramanya demi mendapat kepuasan yang tak terhingga.
Maju - mundur, maju - mundur, maju - mundur.
"Mmmppphhhh... Mmmppphhhh... Mppphhhhhh" Desah Hanna semakin keras.
Lutfi menarik pinggang Hanna agar dirinya bisa lebih mudah tuk memasukan penis besarnya. Lutfi menariknya masuk. Lubang vagina Hanna pun tertusuk. Hanna semakin lemas merasakan dorongan demi dorongan yang telah pinggul itu layangkan padanya. Hanna semakin mengangkang. Bidadari itu tak berdaya merasakan tusukan demi tusukan yang santri bejat itu layangkan.
Ketiga santri itu mulai lemas. Mereka semua sudah berada di ambang batas. Pertama Dodik, yang penisnya sedang menyumpal mulut manis Hanna yang tak berdaya. Dodik merasa penisnya seperti sedang disedot - sedot. Ujung gundulnya pun berdenyut pelan. Disaat tubuhnya melemah karena semua energinya tersedot melalui penis yang sedang dikenyot oleh bidadari itu. Ia pun merasa ada gelombang dahsyat yang akan keluar dari dalam lubang kencingnya.
"Ahhh... Ahhh... Ustadzahhh... Ana gak kuat lagi... Ana mau keluarr... Ana mau keluarrrrr" Desah Dodik lelah.
"Mmmppphhhh.... Mpppphhhhhh" Hanna menggelengkan kepala berharap santri itu tidak mengotori wajahnya atau tubuhnya. Namun saat ia merasakan penis itu semakin berdenyut. Dodik dengan segera menarik penis itu kemudian mengarahkannya dengan tepat ke arah wajah cantik Hanna yang masih memejam.
"Ahhhhhh.... Keluuaarrrrrr" Desah Dodik mantap.
Crrooooootttttt !!!!
"Mmmppphhhh !!!" Hanna merapatkan mulutnya saat wajahnya dengan pasrah menerima semprotan demi semprotan yang santri kurus itu layangkan. Wajah Hanna mulai dipenuhi oleh cairan kental Dodik. Aromanya menyengat membuat Hanna tak kuat tuk menghirup bau yang tak sedap.
Ditengah genjotan yang masih Lutfi layangkan. Yudi berpindah dengan menaiki dada Hanna dan menjepit penisnya Menggunakan kedua payudara Hanna yang besar maksimal. Payudara itu sedang kencang - kencangnya membuat jepitan yang ia rasakan semakin terasa.
"Ahhhh... Ahhh... Ahhhh... Ahhh ustadzahhh... Mantap banget susunya ustadzah... Saya gakkk kuatt lagii... Ahhh... Ahhhh" Desah Yudi sambil menjepit penisnya sendiri menggunakan payudara ustadzahnya.
"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhh berattt... Jangan disituuu... Ahhhh" Desah Hanna tak kuasa menahan sodokan Lutfi di vagina dan tindihan tubuh Yudi di dadanya.
Penis besar berwarna hitam itu berdenyut. Penis itu semakin cenat - cenut. Hanna dapat merasakan kalau penis itu semakin hangat. Yudi pun semakin terasa nikmat. Dengan satu dorongan yang mantap. Yudi langsung mengangkat tubuhnya tuk menodai wajah indahnya yang semakin menggoda.
"Ahhhhhh keluaaarrrrr" Desah Yudi dengan mantap.
Crrooottttttt !!!
"Mmmppppphhhh" Hanna hanya mendesah saat lelehan sperma itu semakin banyak memenuhi wajah cantiknya. Bahkan beberapa ada yang keluar mengenai rambutnya.
Hanna memejam. Hanna mengatup rapat mulutnya. Hanna benar - benar tak berdaya saat kedua santri itu telah menodai kecantikan wajahnya yang sempurna. Kini tersisa Lutfi. Seorang santri yang telah berkuasa akan sempitnya lubang vagina yang ia punya. Lutfi tertawa, ia kembali menggerakan pinggulnya sambil memandangi wajah Hanna yang dipenuhi oleh sperma.
"Muweheheheh... Ahhh... Ahhh... Ahhh makin cantik nih ustadzah dengan dandanan kaya gini" Kata Lutfi mengejek wajah Hanna yang belepotan sperma.
"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh.. Ahhhh Lutfiiii... Lutfiiii... Ahhhh... Ahhhh" Desah Hanna memejam merasakan tusukan demi tusukan yang semakin menggairahkan.
Ditatapnya payudara itu yang semakin kencang bergoyang. Lutfi tertawa senang. Lutfi sudah merasa menang. Ia pun merayakannya dengan meremasi payudaranya sambil mempercepat genjotannya yang semakin kencang.
"Ahhh... Ahhh... Ahhhh... Mmmmpphhh... Mlpppphhhh... Mmppphhhhgh" Desah Hanna pasrah.
Desahan Hanna yang nikmat membuat Lutfi semakin tidak kuat. Ia sudah lelah. Ia sudah tak kuat merasakan jepitannya yang semakin sesak.
"Ouhhhh ustadzahhh... Ouhhh... Ouhhhh mantapppnyaaa nih susu.. Ouhhhh sebentar lagiii... Iyahhh... Ahhh... Ahhh.. Ahhhh ustadzahhhh... Saya kelll... Luuu.... Aarerrrr" desah Lutfi dengan mantap.
Dengan sekali tusukan yang mantap. Penis itu nyaris menancap di ujung liang rahimnya yang padat. Lutfi menarik penisnya segera dan langsung mengeluarkan ke wajah sang bidadari yang semakin belepotan.
"Ahhhhhhhhhhhhh" Desah keduanya bersamaan
Crrootttt... Crroottt.. Croootttt !!!
Usailah penderitaan yang Hanna rasakan di malam ini. Santri terakhir yang sudah menggagahi tubuhnya sejak lama telah mengeluarkan spermanya. Wajah Hanna semakin basah. Wajah Hanna semakin belepotan. Hanna terkapar tak berdaya tanpa tertutupi oleh satu helai benangpun yang ada di tubuh indahnya.
Lutfi merem melek. Tubuhnya sampai kelojotan. Menggenjot tubuh sang dewi yang baru saja dilecehi oleh kedua temannya memang tidak ada duanya. Rasanya sangat nikmat. Ia puas. Ia pun merasa mantap.
"Muwehehehehe.... Muwehehehe... Hey kalian jangan diam aja... Kalian harus berterima kasih ke ustadzah karena sudah diizinkan menodai tubuhnya... Cium bibir memeknya sekarang !" Kata Lutfi.
Yudi yang masih bernafsu langsung menuruti perintahnya. Vagina Hanna di kecup bahkan lidahnya ikut keluar tuk menjilati liang senggamanya yang terasa asin baginya.
"Ahhh... Ahhh jangannn... Sudah cukup.. Ahhh" Desah Hanna.
Kini giliran Dodik yang ikut menjilati bibir vaginanya. Lidah Yudi menjilati sisi atas sementara lidah Dodik menjilati sisi bawah.
"Ahhhh... Ahhhh hentikannn... Ouhhhh jangannn... Jangannn" Desah Hanna semakin terangsang.
Lutfi pun menambahi serangan kedua tengannya dengan remasan di dada. Saat lidah Dodik dan Yudi sama - sama masuk ke dalam liang senggamanya. Saat Lutfi dengan penuh kepuasan mencubit puting indah ustadzahnya.
Tubuh Hanna langsung mengejang saat cairan cintanya dengan deras membasahi wajah kedua santrinya.
"Ahhhhhhhhhhhhh" Desah Hanna mendapatkan orgasme di malam ini.
Lutfi tertawa melihat rakusnya kedua temannya saat berebut cairan cinta yang keluar dengan deras dari lubang senggamanya. Hanna benar - benar lemas sekarang. Lututnya melemas. Dirinya terkapar tak berdaya. Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Bahkan ia mengabaikan ejekan demi ejekan yang santri - santrinya lakukan padanya.
"Muwehehehe kerja bagus kalian semua... Kapan - kapan ana akan beri kalian izin deh tuk menikmati lubang memeknya" Kata Lutfi.
"Dikidikidikidik... Makasih Lut, ana gak sabar bisa genjot ustadzah seksi ini" Kata Dodik puas.
"Yuyuyuyu... Tadi nolak pas terakhir eh keenakan mendesah... Emang mantap kan kontolnya Lutfi ?" Kata Yudi menertawaan.
Lutfi, Yudi dan Dodik mengambil satu demi satu pakaian yang Hanna kenakan tadi. Mereka bersama melemparnya ke arah tubuh Hanna yang sudah terbuka. Kini tubuh Hanna agak mendingan karena tertutupi beberapa pakaiannya. Ketiga santri itu pergi meninggalkan Hanna sendirian. Mereka tertawa puas sambil melecehkan ustadzah cantik tersebut dengan beberapa kata yang membuat Hanna terluka.
"Dasar ustadzah lonte... Giliran digenjot keenakan... Dikidikidik"
"Makin gak sabar deh buat nyodok memeknya sambil dengerin desahannya"
"Muwehehehhe sabar kalian semua... Pasti waktu itu akan datang kok... Biarkan lonte kita ini bersitirahat sejenak" Kata Lutfi mengejek Hanna.
Hanna terluka. Air matanya jatuh mencuci wajahnya yang belepotan sperma. Ia menangis sejadi - jadinya. Hatinya telah memar. Tubuhnya telah ternoda. Ia pun mengharapkan sosok V datang untuk mendekap tubuhnya yang lemah tak berdaya.
"Maafin ana yang kotor ini V... Tapi tolong ! Kemarilah... Ana butuh kehadiran antum sekarang !!!" Lirihnya sambil menangis sejadi - jadinya.
*-*-*-*
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Nampak seseorang yang terdiam menanti kehadiran sang dewi. Ia duduk sendirian di tengah pasangan - pasangan yang duduk saling berhadapan. Berulang kali sosok itu melihat ke kiri dan ke kanan karena merasa malu. Ia sendirian, padahal diatas mejanya ada dua porsi bebek bakar yang sudah lama dihidangkan.
"Mana yah Hanna ?" Katanya heran.
Hatinya merasa tidak enak. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Hanna di seberang.
*-*-*-*
Sementara itu di salah satu sudut pondok pesantren. Nampak seorang ustadzah yang baru saja berjalan pulang setelah menyantap makan malamnya. Ia berjalan dengan tenang tanpa menyadari kalau ada seseorang yang telah memperhatikannya sejak tadi.
"Kekekekek... Hari ketiga, di malam Jumat ? Pasti berkah kan ustadzah ?" Katanya tertawa sambil mengamati lekuk indah sang ustadzah yang memiliki gelar ustadzah tercantik seantero pondok pesantren ini.
Tepat saat ustadzah itu membuka pintu rumahnya. Sosok yang mengamati ustadzah itu langsung melesat maju tuk menyergap tubuh indahnya dari belakang.
"Kekekekek"
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *