Search

CHAPTER 21 - SIAPA KAMU ?

CHAPTER 21 - SIAPA KAMU ?

Malam hari, Haura baru saja pulang dari dapur umum untuk menyantap makan malam yang terdiri dari sayur balado kentang dengan tambahan tahu crispy berukuran besar. Sebenarnya bagi seorang ustadzah yang tinggal di dalam area perumahan ustadz senior. Haura tidak memiliki hak untuk menyantap makanan di dapur umum. Dapur umum itu sendiri sebenarnya dibagi menjadi dua, yakni dapur untuk pengajar dan dapur untuk santri. Dapur untuk pengajar hanya diperuntukan bagi pengajar yang tinggal di asrama pengajar. Sementara bagi pengajar yang tinggal di asrama ustadz senior, mereka diwajibkan untuk menyantap makanan di rumah masing - masing. Hal itu terjadi karena di setiap rumah yang ada disana sudah dilengkapi dengan fasilitas dapur yang bisa digunakan oleh ustadzah untuk memasak segala makanan yang diinginkan oleh mereka.

Tapi Haura tidak mempunyai selera untuk memasak akhir - akhir ini. Ia yang tinggal sendiri di rumah tanpa adanya suami yang menemani menjadi alasan utama kenapa ia sampai pergi ke dapur umum untuk makan. Toh, untuk apa memasak kalau hanya diri sendiri yang memakannya ?

"Hah" Haura sedikit mendesah dalam perjalanan pulangnya menuju rumah.

Berulang kali dirinya melihat ke kiri dan ke kanan. Ia merasa resah. Ia merasa gelisah karena khawatir orang itu akan kembali datang untuk menghantui dirinya. Dua hari sudah ia dilecehkan oleh sosok kuli bangunan yang awalnya ia percaya. Tak pernah mengira dalam seumur hidupnya kalau kuli bernama Karjo itu mempunyai niatan busuk untuk menodai dirinya. Ia jadi merasa takut saat berjalan sendirian di tengah kegelapan malam.

Lampu masih menyala sih, tapi keadaan sangat sepi karena santri - santri sedang berada di kelas untuk melakukan pelatihan pidato yang diadakan setiap seminggu sekali yakni di malam Jum'at.

Sedangkan ustadz - ustadz yang kebagian menjadi pengawas ikut menemani santri itu berpidato. Sedangkan yang tidak kebagian jadwal biasanya pada keluar untuk berlibur merefreskan pikiran mereka.

Alhasil keadaan pondok jadi sepi. Bulu kuduk Haura pun berdiri. Ia melihat ke atas dan mendapati awan mendung telah menutupi bintang - bintang yang ingin bersinar di malam ini. Angin malam yang berhembus kencang membuat Haura sampai harus memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.

Bidadari itu menyesal karena tidak mengenakan pakaian hangat di malam hari ini. Ia tidak tahu kalau hawanya akan sedingin ini. Bidadari itu hanya mengenakan kaus longgar berlengan panjang dengan rok panjang berbahan plisket. Tak lupa hijab berwarna hijau melengkapi penampilannya pada malam hari ini.

Berulang kali ia sampai harus memegangi roknya agar tidak terbang tertiup angin malam yang selalu menggodanya untuk membuka sisi bawah tubuhnya yang mempesona.

Karena tidak kuat dengan hawa dingin yang ada di sekitar. Ustadzah tercantik nomor satu itupun berlari. Ia agak sedikit mengangkat roknya agar bisa sesegera mungkin sampai di teras rumahnya.

"Akhirnya sampai" Kata Haura merasa lega.

Dengan hati - hati ia melepas sepatu yang ia kenakan kemudian ia taruh di rak yang berada di samping pintu masuk rumahnya. Tak lupa dengan kaus kaki panjang yang memiliki warna serupa dengan kulit indahnya. Ia melepas kaus kaki itu, kemudian menaruhnya di dalam lubang sepatu agar ia tidak lupa saat esoknya ia ingin mengenakan kaus kaki itu lagi.

Sebelum memasuki rumahnya, ia diam sejenak sambil mengamati keadaan langit di atas sana. Perasaannya tidak enak. Hatinya pun bertanya - tanya.

"Kok malam ini mendung yah ?" Tanya Haura gelisah.

Akhirnya setelah itu, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Dirinya melangkah mendekati pintu masuk itu. Tangannya yang lembut sudah memegang gagang pintu rumahnya. Ia tinggal mendorongnya ke bawah lalu memasuki rumahnya seperti biasa.

Namun saat kaki kanannya baru masuk ke dalam area rumahnya. Sesuatu yang ia takutkan sedari tadi pun datang.

"Ehhh... Apa yang ?"

Haura terkejut saat ada seseorang yang mendorong tubuhnya masuk ke dalam. Orang itu memaksa diri Haura masuk. Tidak hanya itu, bahkan kedua payudaranya yang kenyal tiba - tiba dicengkram yang membuat Haura reflek berteriak.

"Ahhhhhhh... Siapa kamu ? Jangannn... Jangannnn ahhhhh !!!" Teriak Haura terkejut.

"Kekekekek... Ustadzah udah gak kenal saya yah" Kata orang itu di belakang Haura.

Mata Haura membuka lebar, tidak perlu penjelasan lagi untuk mengenali kuli bangunan mesum yang berulang kali telah memasuk - keluarkan penisnya di dalam rahim kehangatannya yang rapat.

Suara itu ?

Haura panik. Ia pun meronta - ronta saat kuli bangunan itu hendak menutup rapat pintu rumahnya.

"Lepaskannn... Lepaskan aku pakkk... Tolong jangan lagi bapak melakukan itu padaku !" Kata Haura memohon.

"Kekekekek... Percuma ustadzah, saya sudah kecanduan dengan rapetnya memek kotormu itu... Sllrrppp saya udah gak sabar ingin menjilat dan mengecup memek pinkmu itu lagi" Kata Pak Karjo di belakang sambil meremas - remas payudara indah tersebut. Bibirnya ia jilat sendiri sambil menatap kotor bulatan indah yang sedang ia pegang dari luar kaus yang bidadari itu kenakan.

"Ahhhh... Lepaskannn.... Lepaskannn akuhhh... Ahhh" Desah Haura melawan.

Ia terus berontak namun hasilnya nihil. Setiap usaha yang ia lakukan agar terlepas dari cengkraman kuli bangunan itu malah membuatnya semakin merinding. Pak Karjo tertawa bahagia. Ia tertawa lepas. Ia tertawa puas sambil merasakan betapa kenyalnya payudara yang serang ia remas.

"Kekekeke... Mantapnya... Bulatnya susu indahmu ini" Tawa Karjo puas.

'Mmhh hentikan... Hentikannn" Haura terus meronta disaat payudara indahnya dijadikan mainan oleh kuli bangunan itu.

Mendengar erangan Haura yang terdengar seperti desahan membuat birahi pak Karjo semakin tinggi. Tangannya semakin gemas saat merasa kalau payudara bidadari itu semakin kencang saat ia remas dari belakang. Bibirnya pun maju. Bibir pria tua itu geregetan ingin mencumbu bibir tipis milik bidadari itu lagi. Tangan kirinya sampai rela mengalah dengan menghentikan remasannya kemudian menggerakan wajah Haura agar mendekat ke bibir tuanya.

"Enggakkk... Engakkkk gakk mauuuu" Erang Haura menolak sambil merapatkan bibirnya.

Kedua tangannya ia gerak - gerakan. Sikunya ia dorong berulang kali ke belakang. Beruntung, usahanya kali ini membuahkan hasil.

"Ahhhhhhh" Pak Karjo mengerang kesakitan saat dada bidangnya yang masih ditutupi oleh kaus polonya itu terkena sikut bidadari cantik itu. Haura terlepas dari dekapan Karjo. Karjo masih merintih sakit sambil memegangi dada sebelah kirinya. Kuli bangunan itu menyeringai. Ditengah kegelapan yang melanda rumah ini dikarenakan lampu yang belum dinyalakan oleh pemiliknya, mata Karjo dapat melihat kalau bidadari itu sedang berlari menuju ke arah dapur.

"Kekekeke... Mau kemana kamu cantik ? Percuma gak usah lari, pasti malam ini akan saya jebol juga kok memek rapetmu itu" Kata Pak Karjo mulai berjalan mendekat.

Haura panik, matanya sulit melihat ditengah keterbatasan cahaya yang ada. Ia berjalan maju sambil meraba - raba dinding yang ia pegang menggunakan tangannya.

"Jangan mendekattt... Jangan mendekat" Kata Haura berteriak karena panik.

Pak Karjo menyeringai saat mendengar suara yang berasal dari arah jam sebelas. Kepalanya menoleh agak ke kiri. Ia berjalan mendekat sambil tertawa mendengar kebodohan bidadari itu.

Kekekeke... Panik yah ustadzah ? Ngapain pake teriak juga ? Saya kan jadi tahu dimana posisi ustadzah.

Batin Karjo menyeringai.

Pak Karjo tertawa saat telinganya mendengar deru nafas seseorang. Kebetulan bidadari itu berada didekat jendela yang masih belum ditutupi oleh korden. Ia pun mendapatkan sedikit cahaya yang mampu membuatnya melihat sedikit keadaan bidadari itu. Ia melihat kalau bidadari itu sedang berdiri di pojokan dapur sambil membawa teflon yang ia pegang menggunakan kedua tangannya sebagai senjata.

"Jangan mendekattt... Jangan mendekat atau aku akan memukul kepala bapak !!" Kata Haura terengah - engah. Dirinya sudah berkeringat. Ia sangat panik dengan situasi yang sedang ia alami.

"Kekekek... Ustadzah mau masak yah ? Kok bawa teflon gitu ?" Ejek Karjo mendekat tanpa memperdulikan ancaman yang sudah Haura layangkan.

"Sudah kubilang jangan mendekat... Hentikan... Hentikan langkah bapak sekarang" Kata Haura panik sambil mengibaskan teflon itu ke depan untuk menakuti diri Karjo agar tidak mendekat.

Haura ketar - ketir saat meladeni pergerakan pria tua ini. Wajahnya sudah dipenuhi oleh kekhawatiran. Keringat dingin semakin bermunculan. Ia benar - benar ketakutan saat kuli bangunan itu tidak mengindahkan ancamannya. Pak Karjo semakin dekat yang membuat tubuh Haura merinding hebat.

"Kekekekekek" Pak Karjo hanya tertawa yang membuat bidadari itu semakin ketakutan. Apalagi senyum yang mengembang di wajah tuanya itu. Haura bergidik ngeri saat merasakan aura kejahatan yang berasal dari diri kuli tua disana.

Haura semakin mundur. Tak sadar dirinya sudah mentok ketika pantat semoknya menabrak meja keramik yang berisi berbagai peralatan masak di dapurnya. Tangan kanannya masih memegangi teflon tuk mengancam kehadiran Karjo yang semakin dekat. Tangan kirinya pun meraba - raba meja di belakangnya. Kebetulan ia menemukan sebilah pisau yang langsung ia todongkan ke arah kuli bangunan itu.

"Jangan mendekat !" Teriak Haura yang kali ini membuat Karjo panik.

"Ohh ow ow... Tenang ustadzah... Itu tajem loh" Kata Karjo sambil mengangkat kedua tangannya ke depan untuk menahan rasa takut Haura agar tidak menusuk dirinya.

"Jangan mendekat atau aku gak akan segan untuk menusuk perut bapak !!!" Ancam Haura.

Situasi kini berbalik. Karjo yang melangkah mundur sementara Haura yang bergerak maju sambil membawa kedua senjatanya. Haura melirik ke belakang kuli itu. Ia berencana untuk menekan diri Karjo hingga ke ruang tamunya. Baru setelah itu ia berencana untuk kabur ke luar rumah sambil berharap ada seseorang yang bisa ia mintai bantuan agar dirinya bisa terhindar dari sosok pria tua ini.

Tapi apa ada seseorang yah ? Semua ustadz kan sedang jadi pengawas di kelas ?

Batin Haura ragu.

Ia tetap waspada sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Ia memperhatikan pak Karjo yang terus dipaksa mundur sambil mengangkat kedua tangannya. Ia sudah tiba di ruang tamu seperti yang sudah ia rencanakan. Ia pun menatap ke depan tepatnya ke arah pintu masuk yang sudah terbuka sedikit.

Itu dia... Sedikit lagi !

Batin Haura.

Namun karena terlalu fokus pada pintu keluar di hadapannya. Ia jadi lengah. Sosok kuli bangunan itu langsung menyergapnya. Tangan kiri Haura dipelintir ke belakang hingga pisau itu pun jatuh ke lantai.

"Ahhhh sakitttt" Jerit Haura merasakan sakit di tangan kirinya. Dari belakang, Karjo mengarahkan rahang Haura menggunakan tangan kanannya untuk ditatap olehnya. Dipandangilah wajah bidadari cantik itu. Karjo tersenyum. Karjo menyeringai.

"Mmmpppphhhhh"

Wajah Karjo mendekat, ia pun mencumbu bibir manis itu dengan penuh nafsu. Bibir Haura didorong olehnya. Nafas Karjo semakin berat. Terasa deru nafasnya yang hangat menerpa wajah cantik Haura. Bidadari itupun kewalahan. Nafasnya nyaris habis karena ditutupi oleh hawa nafsu Karjo dalam mencumbunya. Lidahnya menggeliat masuk. Lidah itu pun menjilati tepi bibir Haura yang membuatnya semakin senang karena bisa merasakan sentuhan bibir itu lagi.

"Mmpphh... Mmpphh... Jangan merasa sok yah ustadzah... Jangan pernah berani tuk melawan saya... Terima saja takdirmu itu untuk menjadi pemuas nafsu birahi saya" Ancam Karjo ditengah percumbuan panas mereka.

"Enggakk... Aku gak pernah mau tuk menuruti perkataan bapak itu... Lepaskan akuu... Lepaskannn mmpphh" Haura sudah berusaha untuk lepas dari cumbuan pria tua itu tapi hasilnya sama saja. Justru perbuatan Haura ini malah semakin merangsang birahi Pak Karjo yang gemas akan usahanya yang ingin terbebas darinya.

Karjo semakin bernafsu. Bibirnya terus maju. Disosornya bibir manis itu. Deru nafas mereka bersatu. Lidah mereka di dalam pun bertemu. Karjo menggerakkan lidahnya tuk menjilati rongga mulut itu. Kemudian ia menjilati permukaan lidahnya, lidahnya menindihi lidah Haura. Lidahnya menggeseki lidah Haura. Lidahnya dengan beringas bermain - main di dalam rongga mulut bidadari itu.

"Mmpphh... Mmpphh"

Akibatnya, liur pun memenuhi rongga mulut Haura. Liur itu meleleh jatuh dari tepi bibir manis Haura. Walau dirinya diserang habis - habisan oleh pria tua itu. Haura tidak mau menyerah begitu saja. Dirinya masih melawan. Tangannya yang terkekang oleh cengkraman tangan Karjo di belakang terus menggeliat. Tangannya berusaha bebas. Tangan kanannya itu ia angkat naik kemudian memukul kepala kuli bangunan itu menggunakan teflon yang masih ia pegang.

Plaanngggg !!!

"Ahhhhhhhhh" Jerit Karjo kesakitan.

Sepertinya pak Karjo lupa kalau bidadari itu masih mempunyai senjata lain di tangan kanannya. Suasana yang remang - remang di dalam rumah bidadari ini turut membantunya dalam menyembunyikan teflon yang sedang ia pegang.

Kepala Karjo pun terhantam. Suaranya terdengar nyaring begitupula suara jeritan yang terucap dari mulut kuli bangunan itu.

“Aaahhhh kurang ajar !” teriak Karjo kesal.

Haura menyempatkan situasi ini untuk kabur berlari darinya. Cengraman Karjo terlepas. Haura sudah terbebas. Haura kembali mencoba kabur menuju arah pintu keluar rumahnya. Tapi Karjo tidak akan pernah membiarkan mangsanya pergi begitu saja.

"Jangann harap bisa kabbur yahh... Sini kamu !" Kata Karjo murka.

Karjo mulai berlari tuk mengejarnya. Tangan kanan Haura diraih. Tubuhnya pun diputarbalikan ke belakang sehingga mereka berdua saling berhadapan. Haura ketakutan. Ia pun menggelengkan kepalanya pasrah.

"Jangannn... Jangannn..." Teriak Haura.

"Kekekeke kemarilah ustadzah... Jangan bikin saya marah yah !" Kata Karjo sambil menarik tangan Haura hingga tubuh ramping itu terseret ke arah pelukannya.

Tangan kiri Karjo mendekap punggung mulus Haura. Tangan kanannya melepas dekapan tangan bidadari itu. Tangan kanan itu lekas berpindah tuk mendekap punggung kepala sang bidadari.

"Mmmppphhh"

Kembali mereka berdua berciuman. Kembali mereka berdua saling cumbu untuk meluapkan nafsu yang sudah tidak tertahankan. Terkhusus bagi Karjo, ia benar - benar gemas oleh sosok ustadzah satu ini yang begitu ngotot ingin kabur darinya. Rasanya ia jadi tak sabar untuk menghujami lubang vaginanya sampai puas. Ia ingin membanjiri rahimnya. Ia ingin memberikan pelajaran agar bidadari itu tidak berani macam - macam lagi dengannya.

"Mmpphh... Mmpphh" Haura menggeleng kepalanya. Bibirnya kembali didorong. Nafas bau itu kembali tercium. Haura berusaha sebisa mungkin untuk merapatkan bibirnya. Namun remasan yang ia terima di bongkahan pantatnya membuat ia tak kuasa untuk mendesah.

Haura pun menangis menyadari kejadian itu akan terulang lagi. Tangannya mendorong pak Karjo. Ia terus mendorongnya sekuat tenaga. Tapi semua percuma karena tenaganya bukanlah tandingan dari kuli kekar itu.

"Ahhh... Hentikan... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura merintih saat tangan kanan pria tua itu mulai meremasi payudaranya yang semakin mengencang.

Pak Karjo menyeringai disela - sela cumbuannya. Disaat tangannya itu meremasi payudara kencangnya. Bibirnya terus maju untuk mencumbu bibir manis sang dewi. Ia mencumbunya dengan penuh nafsu. Lidahnya menggeliat masuk tuk menjebol garis pertahanan sang dewi. Karjo sepertinya sudah tergila - gila oleh rasa manis dari bibir sang dewi. Bahkan tangan kirinya mulai berpindah maju dengan meraba bibir vaginanya dari luar rok panjang yang masih ustadzah itu kenakan. Haura pun merinding merasakan pelecehan yang kembali ia alami di malam hari ini.

"Lepaskan... Lepaskannn" Jerit Haura disela - sela cumbuan yang ia terima.

Haura terus berontak. Kakinya kini yang meronta - ronta dengan menendang apapun yang ada di hadapannya. Dengan sekuat tenaga, ia pun menendang betis kuli kekar itu kemudian teflonnya kembali ia gunakan tuk memukul kepala kuli kekar itu yang membuatnya kembali tumbang untuk kesekian kalinya.

"Ahhhhh sakkitttt" Pak Karjo berteriak ngilu.

Ini kesempatan !

Batin Haura saat dirinya kembali terbebas. Matanya menatap pintu rumahnya yang sedikit terbuka. Ia merasa kalau inilah kesempatan terakhirnya. Tidak ada cara lain baginya untuk kabur kecuali dari kesempatan satu ini.

Haura memperkuat tekadnya. Dara cantik itu beranjak pergi dengan mempercepat langkah kakinya. Namun baru beberapa langkah kaki saja ia pergi, kakinya sudah dipegang oleh pria tua itu.

"Ahhhhhh"

Haura jatuh tersungkur ke lantai. Teflonnya pun terlepas jauh hingga mendekati pintu keluar rumahnya. Haura menengok ke belakang. Ia mendapati kuli bangunan itu sudah jengah karena terlalu lama bermain - main dengannya. Karjo terlihat bernafsu. Ia sudah gemas ingin menyantap hidangan utama yang sudah tersaji dihadapannya.

"Kekekeke... Sudah puas belum ustadzah main - mainnya ?" Kata Karjo sambil mengelusi betisnya yang kesakitan.

"Jangannn... Jangan mendekattt... Ampuni aku pakk... Ampunnn" kata Haura pasrah. Haura pun berusaha merangkak kabur tapi kaki Haura ditarik oleh kuli kekar itu hingga tubuh rampingnya semakin terseret menjauhi pintu keluar rumahnya.

“Aahhhh jangannn... tolongg... Ampunn pak” teriak Haura ketakutan.

"Kekekeke setelah apa yang sudah ustadzah lakukan pada saya ? Enak aja !" Kata Karjo kesal. Ia pun mendekati Haura. Ia membalikan tubuh rampingnya untuk menjadikannya berbaring terlentang.

"Ahhhhhh" Haura terkejut saat tubuhnya dibalik oleh pria tua itu. Haura terbaring diatas lantai dengan pasrah. Kedua tangannya direntangkan ke kiri dan ke kanan. Kedua tangannya itu masing - masing ditahan oleh tangan kekar sang kuli. Haura nampak pasrah saat kuli bangunan itu sudah menguasai tubuhnya yang sempurna. Ditatapnya lah wajah cantik itu olehnya. Matanya yang indah. Kulit wajahnya yang mulus. Serta perpaduan yang sempurna dari wajahnya yang mempesona. Karjo sampai menjilati bibirnya sendiri karena tak tahan ingin merasakan kelezatan tubuh ini lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Wajahnya kembali turun untuk mencumbu bibir manis itu lagi.

"Mmmppphhhh" Desah mereka berdua.

Mata Haura terpejam di tengah kepasrahan yang harus ia alami. Ia tampak kewalahan saat bibirnya dikulum oleh mulut pria tua itu. Bibirnya dihisap olehnya. Bibirnya dijilati oleh pria tua itu. Kedua tangannya yang terbentang pasrah tak bisa ia gerakan karena ditahan oleh kedua tangan pria tua kekar itu. Kedua kaki Haura yang di tindihi oleh tubuh kekarnya juga bernasib sama. Haura benar - benar tidak bisa berbuat apa - apa untuk menyelamatkan tubuhnya dari nafsu bejat kuli kekar tersebut.

"Kekekeke... Mmmpphhh... Mmmpphh nikmatnya... Mmpphh" Desah Karjo puas.

"Hentikannn... Hentikan pakkk... Sudahhhh" Teriak Haura sambil menangis. Matanya telah berkaca - kaca dan air matanya sudah keluar membasahi wajah ayunya.

"Kekekeke... Terus menjerit ustadzah... Terus menjerit... Panggil siapapun yang bisa menolongmu !" Kata Karjo tertawa.

Karjo masih belum puas dalam mencumbu bibir manis itu. Bibirnya masih mendarat di bibir Haura. Ia pun menyedotnya. Ia menghisap kuat untuk merasakan sensasi bibirnya yang memukau. Kemudian ia menjilati tepi bibir itu. Lidahnya menggeliat ingin masuk ke dalam. Karena susah, ia mengarahkan lidahnya untuk menjilati keseluruhan wajah Haura. Pipi Haura dijilat, dahi Haura dijilat bahkan lubang hidungnya dijilat yang membuat Bidadari berhijab itu bergidik karena jijik akan perbuatannya.

"Hentikan... Hentikkannn ahhhhhhh" Haura mendesah lepas saat kedua tangan Karjo sudah berpindah untuk meremasi kedua payudara bulatnya dari luar kaus yang ia kenakan. Tampak hijab Haura sudah berantakan. Sebagian rambutnya yang panjang sebahu itu terlihat. Melihat kondisi Haura yang seperti ini membuat Karjo semakin bersemangat saja untuk menodainya.

"Ahhhh... Ahhh hentikan... Tolonnggg.... Tolonggg"

Haura memejam sambil membuka mulutnya lebar - lebar. Kedua tangannya yang sudah terbebas ia gerakan untuk menahan remasan tangan Karjo di payudaranya. Haura terus meminta tolong. Namun yang terdengar disekitarnya hanyalah suara tawa dari pria tua itu. Keadaan memang gelap. Ia pun kesulitan untuk meliat sekitar. Namun asa tiba - tiba datang saat tangannya meraba - raba lantai sekitar dan menemukan sebilah pisau yang tadi ia jatuhkan.

Tanpa menunggu lama, Haura langsung menggenggam pisau itu kemudian melayangkannya dengan cepat ke arah pipi pria tua itu.

"Ahhhhhhh" Karjo memegangi pipinya yang tersayat oleh pisau dapur tersebut. Darah pun memuncrat hingga mengenai sedikit wajah ayu Haura.

Karjo berguling ke samping sambil memegangi luka perih di pipi sebelah kirinya. Ia terus berteriak. Ia terus menjerit tuk mengekspresikan rasa sakit yang sedang ia terima.

"Dasar kurang ajar !!!" Teriak Karjo yang sudah kehabisan kesabaran. Matanya menatap tajam ke arah punggung ustadzah tercantik itu yang sedang berlari ke arah pintu keluar. Karjo mulai mengejar. Karjo berlari sekuat tenaga untuk memberi pelajaran pada akhwat tercantik tersebut.

Sedikit lagi... Sedikit lagi...

Haura berlari sekuat tenaga mendekati pintu itu. Ia sudah dekat. Ia semakin dekat. Nafasnya terengah - engah dan jantungnya berdebar sangat kencang. Akhirnya, ia sudah memegangi gagang pintu itu. Ia menariknya. Wajahnya pun sudah keluar menatap terangnya cahaya purnama yang bersinar.

Akhirnya... Aku terbebbb. . . . .

"Ahhhhh.... tidakkkkk ?" Kata Haura sambil melihat ke arah perutnya. Terdapat tangan kekar yang bercokol disana. Tangan itu menariknya mundur. Tubuh Haura kembali diseret olehnya menuju area gelap yang berada di dalam rumahnya sendiri.

"Ahhhhh... Tollonnggggg" Jerit Haura berteriak.

Haura dipeluk dari belakang. Tubuhnya diangkat oleh kuli kekar itu. Ia membawanya secara paksa menuju kamar tidur yang biasa ditempati oleh bidadari itu. Karjo menyeringai puas. Nampaknya ia ingin mengeksekusinya di dalam sana.

"Kekekeke terus aja teriak ustadzah... Terus aja teriak... Kekekeke, emang ada yang dengar ? Dah tau percuma ? Kenapa masih dilanjut ?" Ejek Karjo.

"Ahhhh... Ahhh... Lepaskan aku... Lepaskannn... Jangan bawa aku kesana Pakk... Tolonggg" Teriak Haura panik.

"Kekekeke... Ustadzah kira bisa kabur dari saya yah ? Hah ? Kekekeke... Enak aja, saya pastikan untuk malam ini, saya akan menyirami rahim ustadzah dengan sperma kental saya... Saya pastikan ustadzah akan hamil di malam ini !!! Sebenarnya saya gak mau buru - buru yah... Tapi sikap ustadzah ke saya barusan membuat saya muak untuk menunggu lebih lama lagi... Terima takdirmu sebentar lagi ustadzah.... Takdir untuk menjadi pemuas nafsu dari birahi saya ini !!" Kata Karjo penuh nafsu.

"Enggakkk... Tolonggg jangan lakukannn... Jangan lakukan padaku pakkk... Ampuni aku...." Kata Haura panik.

"Kekekeke.... Mau coba berapa kali juga percuma ustadzah ? Gak ada yang mampu bisa menolongmu dari takdir yang sudah dituliskan untukmu... Lagipula ada siapa di luar sana ? Ustadz ? Ada di kelas semua bukan ? Ustadzah ? Sama aja... Berdoalah agar benih yang saya tanam bisa menjadi bayi lucu yang akan keluar dari rahim kotormu itu !" Kata Karjo yang membuat Haura semakin takut.

"Tolonggg... Tolonggg akuuuu" Haura tidak menyerah dalam meminta pertolongan. Dilihat dirinya sudah semakin dekat menuju pintu kamarnya. Haura meronta. Dirinya sudah menangis sejadi - jadinya.

"Kekekeke... Coba aja terus ustadzah... Gak akan ada yang bisa mendengarnya kok" Kata Karjo menertawakan kepasrahan Haura.

"Tollloonngggg" Haura berteriak semakin keras. Karjo sudah membuka gagang pintu kamar itu. Bidadari itu sudah dimasukan ke dalam kamar tidurnya. Karjo menyeringai menatap ranjang empuk yang akan menjadi saksi bisu persetubuhan indah dengan bidadari yang sedang digendongnya.

"Kekekeke... Berisik amat sih ustadzah... Liat deh ke depan, tinggal pasrah aja kok susah banget... Sudah, menyerah saja... Pasrah kan tubuhmu itu karena malam ini ustadzah akan menjadi milik sayyyy... "

Planngggggg !!!!

Haura terkejut saat mendengar bunyi nyaring yang berasal dari belakang Haura. Ia menoleh dengan mata berkaca - kaca. Tiba - tiba tubuhnya terjatuh ke lantai. Kuli bangunan itu tumbang sambil memegangi kepalanya yang kesakitan. Karjo kesal, dalam keadaan berlutut ia pun menengok ke belakang untuk mencari tahu siapa yang sudah berani memukul kepalanya.

"Ahhhhh kurang ajar siapa kamm...." Belum selesai Karjo menyelesaikan kalimatnya. Tubuhnya yang kekar tiba - tiba terhempas ke belakang mendekati pintu keluar akibat tendangan yang ia terima di perut ratanya.

“Aaahhhhhh” Karjo menjerit sambil berguling miring di lantai.

Belum selesai kebingungan yang menimpa dirinya. Tiba - tiba ia merasakan tendangan yang cukup keras dibagian perut ratanya lagi.

Bruukkkkk !!!

"Ahhhhhhhh" Jerit Karjo.

Bruukkkkk !!!

"Ahhhhhhh" Jerit Karjo saat menerima tendangan sekali lagi.

Haura terkejut saat melihat seseorang yang tiba - tiba ada disana dan sedang menendangi perut kuli bangunan itu. Haura mencoba mencari tahu siapa orang itu tapi keadaan gelap yang ada di sekitar membuatnya kesulitan untuk melihat wajahnya yang tersembunyi di balik gelapnya malam.

"Ahhhh... Kurang ajarrrr !!!"

Pak Karjo bangkit dengan menendang kaki sosok misterius itu hingga membuatnya terjatuh. Karjo sudah berdiri. Ia pun menertawakan sosok asing itu yang sudah membuatnya semakin marah.

"Kekekeke... Siapa kamu ? Berani - beraninya kamu mengganggu kesenangan yang akan kurasakan sebentar lagi !!" Kata karjo. Ia pun bersiap tuk melayangkan tinjuannya ke arah wajah dari sosok misterius itu.

"Rasakannn ini !!!" Teriak Karjo.

Namun sentuhan dari punggung tangan kiri sosok itu yang mengenai lengan bagian dalam pak Karjo membuat tinjuan dari kuli itu pun meleset sedikit. Pak Karjo meninju lantai yang membuat pria tua itu menjerit kesakitan.

"Ahhhhhhh.... Sialll"

Pak Karjo berniat untuk meninju sosok ini lagi dengan menggunakan tangan satunya. Namun sosok itu terlebih dahulu mengangkat kedua kakinya kemudian kaki - kakinya itu ia dorong untuk menghujamnya tepat ke arah perut kuli bangunan itu.

"Ahhhhh"

Kuli kekar itu terpental ke belakang sambil merasakan mual di perut. Ia langsung terbatuk - batuk sambil memiringkan wajahnya ke samping.

Haura tersentak saat satu demi satu kedua pria itu saling pukul - memukul. Berulang kali Haura merapatkan tangannya. Ia berdoa semoga sosok misterius itu bisa menyelamatkan dirinya dari ancaman kuli bangunan itu.

"Ahhhhhhh" Pak Karjo kembali berteriak saat pipinya ditinju hingga membuatnya terkapar di lantai ruangan. Sosok itu berjalan mendekat dengan santai. Sosok misterius itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Lalu tangan kanannya ia tekuk ke belakang kepalanya sambil menyentuh siku satunya. Ia melakukan hal yang sebaliknya. Ia terus meregangkan tangannya seperti orang yang sedang melakukan pemanasan.

"Siapa sebenarnya kamu ? Beraninya kammm.... "

Bruukkkk !!!

Kali ini perut Karjo kembali ditendang.

Bruuukkkk !!!

Perutnya kini diinjak.

Bruukkk !!!!

Perutnya berulang kali dijejakan oleh sosok misterius itu yang membuat diri Karjo semakin menderita.

Pak Karjo terkapar tak berdaya. Bahkan saat kerah kaus polonya diangkat oleh sosok itu. Ia tak bisa berbuat apa - apa. Ia hanya menatap wajah dari sosok itu yang rupanya tertutupi oleh sebuah topeng berwarna putih. Karjo pun kesal, ia menatap wajah sosok itu menggunakan tatapan sebenci - bencinya.

Bruukkkk !!!

Pipinya ditinju yang membuat darah keluar dari tepi mulut tuanya.

Brukkkk !!!

Kembali pipinya ditinju tanpa ampun.

Belum puas, sosok bertopeng itu menghempaskan cengkramannya di kerah sang kuli ke bawah. Punggung Karjo terhempas ke lantai ruangan dengan keras. Sosok itu berdiri tegak sambil memandangi keadaan Karjo yang sudah tak berdaya. Berulang kali sosok itu mendekat lalu menendang - nendang bagian tubuh dari kuli bangunan itu. Awalnya perutnya yang ditendang, lalu pinggangnya, lalu perutnya lagi bahkan punggungnya juga ikutan. Kuli itu pun terguling ke belakang mendekati pintu keluar. Ia terlihat kesakitan. Pinggang Karjo yang kini ditendang menyusul kemudian dengan lengan dan pahanya.

"Ahhhhh sakkitttt... Ahhhhh" Jerit Karjo.

Menyadari kuli itu sudah terkapar tak berdaya, sosok bertopeng itu berbalik mendekati sang bidadari yang masih bersembunyi. Haura pun ketakutan saat sosok misterius itu berjalan mendekat ke arahnya. Ia masih ragu tuk menilai apakah ia seorang pahlawan atau justru malah lawan. Haura pun berniat untuk menutup rapat pintu kamarnya namun tak jadi saat melihat kuli bangunan itu kembali bangkit.

"Awasssss" Teriak Haura.

Terlambat, punggung sosok bertopeng itu sudah ditendang hingga membuatnya tersungkur jatuh dalam keadaan telungkup. Sosok bertopeng itu lekas berbalik. Tepat saat itu, pak Karjo hendak menginjak perutnya untuk membalas perlakuan yang sudah ia terima.

"Rasakan ini dasar bocah kurang ajar !!!"

Namun pria bertopeng itu menahannya dengan menyilangkan kedua tangannya tepat ke arah sasaran kaki itu berada.

Karjo terlihat kesal, ia pun hendak menginjak sisi bagian tubuh lain. Namun sosok itu kembali bertahan dengan menyilangkan kedua tangannya di tempat yang menjadi sasaran kuli bangunan itu.

Saat kuli bangunan itu hendak menginjaknya lagi. Sosok yang sedari tadi diam tak bersuara itu menghempaskan kaki Karjo hingga injakannya meleset ke samping. Keseimbangannya pun goyah. Karjo terjatuh ke samping.

"Ahhhh siallll" Kata Karjo.

Hal ini pun dimanfaatkan olehnya untuk menyerang balik kuli tua bertubuh kekar itu. Tanpa bersuara, ia menendang tepat ke arah perut sang kuli yang saat itu sedang berbaring menyamping. Karjo berteriak kesakitan hingga dari mulutnya keluar darah yang memuncrat.

"Ahhhhhhhhh"

Sosok bertopeng itu sudah tegak berdiri lagi. Melihat wajah kuli itu sudah terkena percikan darah yang memuncrat dari mulutnya. Ia kembali menendang kuli bangunan itu tanpa ampun. Kali ini giliran kepalanya yang ia tendang dengan keras.

Bruukkkkkk !!!

Bagaikan menendang bola yang berada di genangan air. Ketika kaki pria bertopeng itu menghantam pipi Karjo dengan keras. Muncrat lah darah yang mengotori lantai rumah Haura.

"Ahhhhh... Uhhukk... Uhhuukkk" Karjo sampai terbatuk - batuk sambil menghadapkan wajahnya ke samping.

Bruukkkkk !!!!

Karjo terguling saat menerima tendangan selanjutnya dari sosok misterius itu.

Bruuukkkk !!!!

Kembali, untuk kesekian kalinya Karjo ditendang hingga tubuhnya terguling mendekati pintu keluar.

"Ahhhh.... Uhhuukk... Uhhuukkk" Karjo terus batuk saat menerima tendangan darinya. Kepalanya mulai pusing. Pandangannya pun berkunang - kunang akibat terlalu banyak darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.

Kurang ajar bocah sialan itu !!!

Karjo sudah muak. Ia sudah lelah dipermalukan oleh sosok bertopeng tersebut. Ia pun hendak bangkit. Ia sudah merencanakan hal untuk melakukan serangan balasan.

"Kyaahhhh !!!" Karjo berteriak. Tangannya mengepal bersiap - siap untuk menghajar sosok bertopeng itu.

Disaat kuli itu nyaris bangkit tuk melakukan perlawanan balik. Sosok bertopeng itu langsung mengeluarkan tendangan kakinya yang mengenai tepat ke arah mulut, hidung dan dahi dari kuli bangunan itu.

"Ahhhhhhhh" Teriak Karjo tuk sekian kalinya.

Kuli itu pun terhempas ke belakang. Ia sudah terkapar tak berdaya saat berbaring diatas lantai rumah calon korbannya. Wajah pria tua itu semakin hancur. Nafasnya berat. Dirinya terengah - engah tak kuasa menerima tendangan bertubi - tubi dari pria bertopeng itu.

"Hah... Hah... Hah..." Karjo terengah - engah. Ia sudah tak kuasa tuk meladeni perlawanan dari sosok misterius tersebut.

Sosok itu kembali mendekat dengan santai. Ia berjalan sambil menatap kuli itu dari balik topeng yang ia kenakan. Ia menggelengkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan hingga terdengarlah bunyi krek saat ia melakukannya. Wajah Karjo yang semakin hancur itu terlihat ketakutan. Ia menyeret bokongnya mundur saat melihat sosok bertopeng itu mendekat.

Sosok bertopeng itu masih berjalan tanpa mengeluarkan satu pun suara dari mulutnya. Tak sengaja, ia menendang sesuatu. Ia melihat ke bawah. Ia pun mengambilnya yang membuat mata Karjo membuka lebar.

"Apa... Jangan... Jangannnn" Keadaan berbalik. Karjo lah yang kali ini berteriak jangan saat sosok bertopeng itu menemukan mainan baru tuk memuaskan hasrat membunuhnya.

Pisau itu sudah dipegang di tangan kanannya. Keringat dingin bermunculan dari sosok kekar yang sedang ketakutan dihadapannya. Tanpa berfikir lama lagi. Kuli bangunan itu tiba - tiba berdiri kemudian berlari kabur dari sosok bertopeng itu.

"Akan ku balas kamu lain kali !"

Karjo berlari terbirit - birit hingga beberapa kali terjatuh. Ia bangkit lagi tuk berlari kemudian terjatuh lagi. Ia begitu ketakutan akan sosok bertopeng itu hingga kedua lututnya melemah. Ia masih beruntung karena masih mempunyai tenaga untuk kabur darinya.

Pria bertopeng itu berusaha mengejar. Tapi ia berhenti di depan teras rumah Haura sambil mengamati ke arah mana kuli kekar itu kabur darinya. Sadar kalau pak Karjo sudah menghilang dari pandangan matanya. Ia pun berbalik untuk mendekati sang bidadari yang masih bersembunyi. Tangannya meraba dinding terlebih dahulu untuk menyalakan saklar lampu. Lampu pun menyala, ia sudah dapat melihat keadaan sekitar dengan jelas.

Mata Haura berkedap - kedip menyesuaikan cahaya yang masuk melalui matanya. Nampaklah sosok yang tadi membantunya mendekat. Sosok itu mengenakan topeng berwarna putih. Ada corak merah disekitar mata tersebut. Ia juga mengenakan jaket hoodie berwarna gelap dengan logo dua topeng kecil di belakang tengkuk lehernya. Kedua tangannya tertutupi oleh sarung tangan berwarna putih. Kedua kakinya ditutupi oleh celana jeans ketat yang memiliki warna selaras dengan jaket hoodie yang ia kenakan.

Haura pun menduga kalau orang ini bukan berasal dari orang yang tinggal di dalam pondok pesantren. Haura sangat yakin setelah melihat celana jeans yang orang itu kenakan. Haram bagi santri, ustadz ataupun penghuni pondok lainnya untuk membawa celana jeans ke dalam area pondok pesantren. Apalagi celana jeans itu juga ketat. Haura tersentak dari balik pintu saat melihat sosok itu perlahan berlutut menggunakan satu kaki dihadapannya. Kaki kanannya ia tekuk naik kemudian siku kanannya ia taruh diatas lutut kanannya. Sementara kaki kirinya ia lipat ke bawah yang menjadi alas bagi bokongnya untuk duduk diatasnya. Sosok itu tidak berkata apapun. Sosok itupun membuang pisau yang tadi ia pegang ke samping. Sosok itu lalu menatap wajah indah Haura yang membuatnya bidadari itu perlahan semakin ketakutan. Apalagi saat sosok bertopeng itu memiringkan kepalanya ke kiri.

“Siapa kamu ?” tanya Haura. Tapi sosok itu tidak menjawab.

Haura merasa takut hingga nyaris menutup rapat pintu kamar yang sedang ia pegang menggunakan kedua tangannya saat melihat tangan dari sosok bertopeng itu bergerak ke arah belakang punggungnya. Haura pun berfikir. Apa jangan - jangan ia hendak mengambil sebilah pisau lain yang di sembunyikan di belakang punggungnya ?

Namun diluar dugaan, sosok itu mengeluarkan sesuatu yang membuat Haura semakin terkejut. Sekuntum bunga berwarna merah muda dengan perpaduan warna putih yang terhias di tepi ujung bunga tersebut. Sosok itu mendekatkan bunga yang sedang ia pegang ke arah Haura. Haura bingung harus berbuat apa. Haruskan ia menerimanya ? Apakah sosok ini berniat untuk memberikan bunga ini kepadanya ?

“Untukku” tanya Haura setengah ketakutan. Sosok itu hanya mengangguk. Dengan perasaan ragu, Haura menerima bunga pemberian sosok itu.

Saat wajahnya ia turunkan ke bawah. Ada secarik kertas berisi tulisan yang terikat pada tangkai bunga tersebut. Ia pun penasaran. Ia pun membaca tulisan tersebut dari dalam hati.

Sweet William ?

Haura langsung mengangkat wajahnya untuk menatap sosok bertopeng yang masih diam tak mengeluarkan suara. Seketika ia teringat akan sosok yang telah mengenalkannya pada keindahan rupa bunga beserta makna yang terselip di dalamnya.

“V ? Kamu V kan ?” tanya Haura masih bingung.

Namun lagi - lagi sosok bertopeng itu tidak mengeluarkan sedikit suara. Sosok itu hanya mengangat jemari telunjuknya seolah sedang menunjukan angka satu ke arahnya.

“Satu ?” kata Haura ikut mengangkat jemari telunjuknya seperti apa yang sedang dilakukan oleh sosok bertopeng tersebut.

Kemudian sosok itu memberikan isyarat lain dengan membuka kesepuluh jarinya dan mendorongnya pelan ke bawah.

“Ke bawah ? Tunggu sini maksudnya ?” tanya Haura mencoba menebak apa yang sedang sosok itu maksudkan.

Tiba - tiba sosok itu pergi keluar rumah yang membuat Haura kebingungan. Wajahnya melongok ke pintu keluar sambil mendekap sekuntum bunga yang masih ia pegang. Tak lama sosok itu kembali mendekat dengan membawakan sesuatu untuk dirinya. Sosok itupun menyerahkan sekantung kresek kepadanya yang membuat Haura semakin kebingungan.

“Apa ini ?” Tanya Haura penasaran. Tapi sosok itu tidak menjawab. Haura pun membuka isi kantung kresek tersebut. Terciumlah aroma sedap yang membuat hidung Haura serasa diberkati. Ia mendapati ada satu porsi bebek bakar yang masih hangat lengkap dengan lalapan yang ada di dalam sana. Haura pun mengangkat wajah cantiknya tuk menatap sosok bertopeng itu lagi.

“Buatku ?”

Sosok bertopeng itu mengangguk. Haura pun terkejut. Aroma bebek bakar itu memang menggoda dirinya tapi ia baru saja makan. Kalau untuk besok pun kayaknya bakal kurang nikmat. Ia dengan halus pun menolak pemberian dari sosok bertopeng itu.

“Terima kasih, tapi maaf aku baru makan... Aku masih kenyang” Kata Haura. Haura pun memberikan kantung kresek itu lagi padanya. Sosok itu kembali mengambil apa yang tadi ia berikan. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Sosok itupun berjalan pergi menuju pintu keluar yang membuat Haura semakin bingung saja dengan apa yang baru terjadi padanya. Seketika Haura pun teringat.

“Tunggu, Siapa kamu ? Kamu V kan ?” kata Haura ingin mengetahui siapa identitas pria baik ini.

Sosok itu pun menoleh sejenak tapi kemudian ia berpaling tanpa menjawab pertanyaan darinya. Sosok itu kembali berjalan ke arah pintu keluar.

“Tungguuu !” kata Haura sekali lagi. Sosok itu berhenti lalu kembali menoleh. Ditatapnya lah wajah polos Haura yang begitu indah tak seperti tadi saat dirinya dikejar - kejar oleh kuli bajingan tersebut. Haura menundukan wajahnya malu. Senyum indahnya pun keluar yang membuat siapapun yang melihatnya terpesona.

“Terima kasih, sudah menolong aku tadi” kata Haura berterima kasih dengan tulus. Sosok itu kembali berpaling yang membuat Haura terheran tapi kemudian ia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum.

Sosok itu mengangat tangan kanannya. Jemari tengah, jemari telunjuk dan ibu jarinya terangkat rapat. Ia pun menyentuhkan ujung jari telunjuknya ke pelipis sebelah kanan dari luar topeng yang ia kenakan. Ia pun mengangkatnya pelan tuk membalas ucapan terima kasih dari bidadari yang tersenyum di belakang.

Sosok itupun pergi. Sosok itupun membekas di hati sang bidadari. Terbayang di benaknya bentuk topeng yang menutupi identitas sebenarnya. Haura pun bertanya - tanya setelah kejadian itu.

“Siapa sebenarnya kamu ini ? Lalu, apa maksud dari bunga ini ?” tanya Haura sambil memandangi bunga indah itu.

“Bunga Sweet William yah ?” kata Haura berusaha mengingat tulisan yang ada di secarik kertas yang menempel pada tangkai bunga tersebut.


*-*-*-*


Keesokan paginya di gedung bagian pengasuhan santri. Hanna sedang duduk di meja kerjanya sambil membayangkan sesuatu yang terjadi padanya semalam. Hanna merinding saat satu demi satu santri bejatnya itu berlomba untuk melecehkan dirinya. Rasa senang yang sudah terbayang sejak kemarin siang. Perlahan berubah menjadi malapetaka yang menyeretnya ke dalam hawa nafsu yang ada pada diri ketiga santri bejatnya. Hanna sangat menyesali perbuatannya. Ia juga menyesal pada V karena tidak bisa menepati janji yang telah ia ucapkan padanya. Ia pun membuka hapenya. Pesan semalam yang sudah ia kirimkan pada V masih belum dibacanya. Hanna menduga pasti V kecewa padanya. Ia jadi ingin meminta maaf padanya ketika dirinya bertemu dengannya di pagi ini.

Tepat saat itu, V baru saja tiba setelah berangkat dari asramanya. Ia terlihat rapih tapi tidak terlihat ramah sama sekali. Tak sekalipun wajahnya menatap ke arah Hanna yang membuat bidadari itu semakin merasa tidak enak padanya. Tepat saat V mendudukan dirinya di meja kerjanya. Hanna langsung beranjak mendekati V untuk meminta maaf padanya.

“V... Soal semalam” kata Hanna terburu - buru.

“Walaikumsalam” sindir V yang membuat Hanna merasa tidak enak.

“Assalamualaikum” sapa Hanna yang kemudian dijawab lirih oleh V sambil menganggukan kepalanya.

“Anu soal itu . . . . “ kata Hanna.

“Sudah tidak apa - apa... Setiap orang punya kesibukannya masing - masing kan ?” kata V seolah tidak mau mendengar alasan yang ingin Hanna berikan.

“Iii... Iyyaa” jawab Hanna lirih.

“Gak usah disesali... Ana gapapa kok... Mungkin itu yang terbaik daripada antum datang ke rumah makan yang sudah ana anjurkan kemarin” kata V.

“Ma... Maaff V” kata Hanna masih menyesalinya.

“Sudah lupakan... Ana semalam bersenang - senang kok... Sekarang ana mau kerja dulu yah mau nyiapin materi buat ngajar nanti” kata V sambil tersenyum.

“Yaudah... Semangat” kata Hanna lemas sambil kembali ke tempat duduknya. Hanna pun duduk ke meja kerjanya sambil melihat senyum yang terhias di wajah V tadi. Senyum itu tampak palsu. Pasti ia berpura - pura tersenyum agar tidak menyakiti dirinya. Hanna jadi menyesal. Air matanya pun menetes diam - diam tanpa sepengetahuan V yang sedang menyiapkan materi disana.

Andai kamu tahu apa yang terjadi padaku semalam V... Maaf karena tidak bisa menemuimu semalam.

Batin Hanna menangis.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Masih di tempat yang sama yakni di dalam kantor bagian pengasuhan. Haura sedang duduk di meja kerjanya sambil memegangi sekuntum bunga yang ia dapatkan semalam. Matanya menatap bunga itu. Ia terpesona tapi pikirannya juga bertanya tanya

Siapa orang itu ? Dia V kan ?

Batin Haura berfikir. Sesekali wajahnya menengok ke arah pintu masuk mengharapkan kedatangan orang yang sedang ia pikirkan. Namun orang itu tak kunjung datang. Ia kesepian. Apalagi hanya ada dia sendiri di dalam gedung pengasuhan ini. Hanna mengajar, V juga mengajar dan ustadz Rafi pun sama.

“V mana yah ?” kata Haura dengan gelisah.

Ia tak sabar ingin menemuinya. Ia ingin mengucapkan terima kasih padanya karena sudah membantunya lepas dari cengkraman kuli bangunan kekar itu. Pikirannya kembali terbayang akan aksi sosok bertopeng itu saat berkelahi dengan pak Karjo. Entah mengapa Haura menganggapnya keren. Apalagi dengan topeng yang menyembunyikan identitasnya. Bukankah sosok itu terlihat seperti pahlawan super ? Bolehkah ia memanggilnya dengan pahlawan bertopeng ? Ah tidak. Pahlawan bertopeng hanya ada satu, itupun di anime Crayon Sinchan.

“Mana sih yah kok gak dateng - dateng ?” tanya Haura semakin tak sabar.

Tak lama kemudian, sosok yang ia nanti - nantikan pun datang. V masuk setelah mengucapkan salam terlebih dahulu kemudian duduk di meja kerjanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan. Wajahnya berkeringat. Cuaca panas diluar membuatnya gerah sehingga ia mengipasi dirinya sendiri menggunakan buku catatan yang ia pegang menggunakan tangan kanannya.

“Assalamualaikum, V” sapa seseorang yang mengejutkannya.

“Walaikumsalam, Eh Haura... Ada apa yah ?” jawab V keheranan. Sudah lama Haura mendiamkan dirinya setelah sekian lama. Tumben - tumbenan Haura menyapanya duluan.

“Anu hehehe” kata Haura menunduk malu. Tubuhnya pun ia goyang - goyangkan. Lalu setelah memberanikan diri. Ustadzah cantik itupun mengangkat wajahnya tuk menatap wajah tampan dihadapannya.

“Terima kasih yah semalam” lanjut Haura.

“Semalam ? Memangnya kenapa yah ?” jawab V kebingungan.

“Semalam V... Kamu gak inget ?” tanya Haura juga bingung melihat V kebingungan.

“Emang kenapa sih ? Apa terjadi sesuatu padamu ?” tanya V.

Kini Haura benar - benar bingung. Tatapan mata itu. Raut wajah itu. V seperti orang yang benar - benar tidak tahu apapun tentang kejadian semalam. Ekspresi wajah itu bukan seperti orang yang sedang menyembunyikan kebohongan. Ekspresi wajah V benar - benar seperti orang yang kebingungan dengan pemberitaan yang tiba - tiba sampai di telinganya.

“Kan, Kan... Kamu udah nolong aku kan ?” lanjut Haura keceplosan.

“Nolong kamu ? semalam ? Apa terjadi sesuatu padamu Ra ? Cerita dong, apa yang sebenarnya terjadi ?” tanya V yang malah membuat Haura semakin kebingungan.

Haura diam mematung. Ia pun bingung. Sebenarnya ia sudah menduga kalau orang semalam itu bukan berasal dari dalam pondok pesantren karena celana jeans yang ia pakai. Tapi mengenai bunga itu. Seingat Haura hanya V lah yang sangat paham tentang masalah bunga.

Apa mungkin ada orang lain yah yang faham tentang nama bunga beserta maknanya ?

Batin Haura berfikir. Tanpa sadar jemarinya terus bergerak memelintir tangkai bunga itu sehingga bunga itu terus berputar menarik perhatian V.

“Bunga itu ? Sweet William yah ?” tanya V mengejutkan Haura.

“Ehhh iya... Kok tau ?” tanya Haura terkejut.

“Kamu lupa yah ?” tanya V sambil tersenyum.

Haura lekas menundukan pandangan setelah melihat senyum manis itu lagi. Rasanya sudah lama ia tak melihat senyum V. Kenapa sekarang saat ia melihatnya hatinya langsung berdebar kencang ?

“Ehhhh, hehehe... Emang artinya apa yah ?” tanya Haura tersipu.

“Itu ? Artinya tersenyumlah... Siapa yang memberikannya ? Kenapa ia menyuruhmu tuk tersenyum ? Apa terjadi sesuatu yang membuatmu enggak bisa tersenyum ?” tanya V penasaran.

Jadi artinya senyum ! Tuh kan, pasti orang itu sangat paham tentang makna bunga yang sedang aku pegang... Tetapi siapa dong kalau bukan V ?

Batin Haura heran.

“Ahhh enggak... Hehehe, ini ana cuma metik asal kok di taman” kata Haura.

Ana atau aku ?” tanya V tiba - tiba yang membuat Haura tersenyum kesal.

“Huh” Haura lekas berbalik karena kesal. V pun hanya tersenyum setelah berhasil menggodanya lagi setelah sekian lama.

Diam - diam Haura juga tersenyum dibelakang V. Tapi ia berusaha tuk tidak menunjukannya. Sebisa mungkin ia pun menjaga ekspresi datarnya sambil membatin dalam hati.

V, awas kamu yah !

Batin Haura sebal karena dirinya kembali digoda dengan cara yang sama setelah sekian lama.

Haura telah kembali ke tempat duduknya. Ia berpura - pura mengetik sesuatu sambil diam - diam mengamati sosok V. Wajahnya yang tampan itu ia tatap. Pergerakan bola matanya juga ia perhatikan. Sekali lagi, tidak ada tanda - tanda kalau V mengetahui kejadian yang terjadi padanya semalam.

Bahkan setelah menit demi menit berlalu, Wajah V masih tetap sama. Ia tidak tersenyum senang seolah berhasil menyembunyikan aktingnya dihadapan Haura. Jelas V tidak berakting. Jelas V tidak tau kejadian semalam di rumahnya. Perlahan Haura semakin yakin kalau sosok yang telah menyelamatkannya semalam bukanlah V. Lantas kalau bukan V, siapa dong ? Siapa yang telah memberinya bunga ini ?

Haura bingung. Bidadari tercantik sepondok pesantren itupun menggaruk kepalanya dari luar hijab yang dikenakannya.

Siapa yah semalam ?

Batin Haura semakin penasaran.


*-*-*-*


Waktu sudah hampir mendekati siang hari. Haura baru saja pulang dari tempat ia mengajar. Ia berjalan menyusuri lorong kelas sambil berpikir keras. Pikirannya masih dipenuhi bayang - bayang tentang siapa sosok yang telah menyelamatkan dirinya semalam. Sejujurnya, hatinya berkata kalau V lah sosok bertopeng itu. Lagipula proporsi tubuhnya juga mirip.

“Jadi, siapa sih orang yang semalem itu ?” lirih Haura.

Tak sadar dirinya sudah tiba di lantai satu lorong tersebut. Saat ia hendak keluar dari gedung kelas untuk mengembalikan absen kelas, tak sengaja dirinya disapa oleh seseorang yang mengejutkannya.

“Assalamualaikum ustadzah” sapa ustadzah cantik bertubuh montok itu.

“Walaikumsalam” jawab Haura sambil tersenyum manis.

Haura menatap wajahnya sekilas. Terlihat aura kegugupan yang nampak di wajah ayunya. Ustadzah itu memang hanya lewat menyapa. Tapi wajah kegugupan itu membuat diri Haura bertanya entah mengapa.

“Ada apa yah dengannya ? Kayaknya aku pernah ketemu sama ustadzah itu deh ? Itu ustadzah di bagian penggerak bahasa kan yah ? Pantes dia nyapa duluan” kata Haura sambil melirik ke belakang menatap sosok ustadzah itu. Haura melihat penampakan tubuhnya sekilas. Entah kenapa Haura tidak suka saat melihat penampilannya. Pakaiannya terlalu ketat, andai ia dekat dengan ustadzah itu, mungkin ia sudah menegurnya karena sudah berpenampilan nekat.

Haura mengabaikan, lagipula ustadzah itu sudah pergi jauh menaiki tangga kelas di belakangnya. Haura hanya menggeleng - geleng kepala sambil melanjutkan perjalanannya menuju gedung bagian pengajaran.

“Ehhhh” Haura berhenti sesaat ditengah perjalanannya.

Ditatapnya sebuah gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Haura mengalami trauma. Ia takut kalau sosok itu akan kembali muncul dari dalam gedung baru tersebut. Apalagi ia memiliki kenangan buruk saat pernah disetubuhi olehnya di dalam gedung baru ini.

Haura masih diam tak bergerak. Ia ragu, haruskah ia maju saja ? Atau haruskah ia berlari agar dirinya tidak terlihat oleh sosok itu.

“Gimana yah ?” kata Haura bingung.

Haura sempat melihat sekilas keadaan sekitar. Tak ada satupun seseorang yang bisa diminta jalan bareng untuk menghindari sikap buruk kuli bejat itu. Masa iya sih tetap maju dengan resiko bertemu dengannya lagi ?

“Bismilah aja deh” kata Haura.

Ia berjalan selangkah demi selangkah tanpa memalingkan wajahnya ke samping. Ia mempercepat langkah kakinya. Ia terus melaju. Matanya terus menunduk menatap jalanan di bawah. Saat dirinya hampir tiba di depan gedung baru itu. Jantungnya semakin berdebar mengharapkan sosok itu tidak menemukannya disini.

“Ehhem... Ustadzah”

Jantung Haura rasanya kayak mau copot. Ia terkejut hingga tubuhnya tersentak. Wajahnya segera menengok ke samping saat mendengar suara yang ia kenal. Sosok kekar itu mendekat. Haura pun terdiam di tempat sambil menunduk lesu.

“Kekekeke... Puaskah dirimu ustadzah sudah membuat saya jadi seperti ini ?” kata pak Karjo sambil menunjuk kepalanya yang sudah dibalut perban. Ia tertatih - tatih saat mendekati Haura. Tubuhnya masih lemas setelah babak belur dipukuli oleh sosok bertopeng itu semalam.

Haura memejam ketakutan. Rasanya ingin menangis saja saat mendapati suara langkah kaki itu semakin dekat. Tubuh Haura bahkan bergetar terlebih saat mendengar suara nada tawanya yang terdengar khas.

“Kekekeke... Sayang sekali semalam saya gagal menikmati tubuh indahmu” kata Karjo sambil mendekap dagu Haura kemudian mengangkat wajahnya agar mampu menatap matanya yang sudah bernafsu ingin melumat kembali bibir tipis itu.

“Andai semalam saya bisa melakukannya... Bayangkan saja... Kekekekek” tawa Karjo sambil memegangi perut Haura yang membuat bidadari itu semakin memejam ketakutan.

“Kamu tau kan ustadzah betapa tergila - gilanya saya akan keindahan tubuhmu” kata Karjo sambil menatap dada indah yang sudah menonjol dibalik kemeja yang Haura kenakan. Haura hanya memejam ketakutan. Telinganya nyaris berdarah saat mendengar kalimat demi kalimat yang sudah pria tua itu lontarkan padanya.

“Melihat dada indah ini membuat saya gemas ingin membuka paksa kemeja yang sedang ustadzah kenakan... Saya membayangkan kancing kemeja itu jatuh berserakan... Dada indahmu pun keluar meloncat kegirangan... Rasanya mulut saya jadi gemas ingin menyusu di dada indahmu lagi... Kekekekek” kata Karjo semakin tak tahan untuk meraba tubuh indah itu.

“Hentikan pak... Sudah cukup, aku mau pergi” Kata Haura memaksa diri untuk kabur dari situasi ini.

“Eeiittss... Mau kemana cantik ? kekekekek” kata Karjo menahan tangan Haura.

“Lepaskan pak ! Ini diluar ruangan... Nanti ada yang lihat !” kata Haura memberontak.

“Siapa yang lihat ustadzah ? Kekekekek... Sayang sekali saya tidak bisa tuk menikmati tubuhmu sekarang... Saya masih lemah... Tapi kuli - kuli yang ada di dalam pasti bisa kan ustadzah ?” kata Karjo menyeringai yang membuat mata Haura melebar.

“Maksud bapak ?” tanya Haura tersentak tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.

“Apa lagi ? Gak usah pura - pura gak tau yah ustadzah... Ada pak Dino dkk di dalem yang siap memenuhi semua lubang kenikmatanmu !” kata Karjo dengan penuh nafsu yang membuat Haura bergidik membayangkan hal itu terjadi padanya.

“Ennggakkk.... Enggakkk mauu... Lepaskan pakk... Lepaskannn !!!!” teriak Haura.

“Kekekekek” Karjo tak peduli. Ia pun menarik tangan Haura dengan paksa yang membuat tubuh ramping bidadari itu terseret menuju pintu masuk gedung baru itu.

“Lepaskkan... Jangannn pakkk... Jangannnn... Aku gak mau pakkk” kata Haura nyaris menangis.

“Kekekekek... Saya gak sabar melihat mereka berebutan tuk menjebol memek rapetmu itu ! Kekekekek... Ustadzah sudah membuat saya seperti ini, maka saya sah - sah aja dong mau balas dendam tuk menodai tubuh indahmu itu” kata Karjo dengan penuh nafsu. Haura pun merinding di siang bolong. Matanya sudah berkaca - kaca. Ia benar - benar takut membayangkan semua itu terjadi pada dirinya.

“Toolloongggg... Tolloonggg akuu... Mmmpphhhh” mulut Haura didekap dengan menggunakan tangan kiri pria tua itu. Karjo kembali tertawa sambil menyeret bidadari cantik itu ke dalam gedung baru yang sedang ia bangun bersama rekan koleganya.

“Mmmpphhh... Mmmmpphhh” Tangannya ia julurkan, ia berusaha memegangi sesuatu tuk menahan pria tua bejat ini yang tengah menyeretnya masuk menuju jurang kemaksiatan. Walau tubuh Karjo masih lemah tapi fisiknya masih tetap kuat tuk menyeret tubuh Haura masuk ke dalam. Hasil nguli bertahun-tahun lamanya lah yang telah menjadikannya memiliki tubuh yang kuat seperti ini.

Haura berbalik tuk menatap pria bejat itu. Sepertinya Pak Karjo sudah kesurupan jin mesum yang selalu membuat kuli itu ingin memperkosa dirinya terus. Haura sadar kalau teriakannya tidak berdampak untuk membantu dirinya keluar dari situasi mencekam ini. Haura menatap luka yang diperban dikepalanya. Ia menatap langkah kaki Karjo yang terlihat lemah.

Ini dia saatnya !

Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ia punya. Haura menarik nafasnya kemudian menendang kaki dari kuli bangunan kekar itu yang membuatnya langsung terjatuh berlutut ditanah.

“Aahhhhhh” jerit Karjo.

Haura langsung berlari menjauh. Karjo lekas bangkit sambil mengejar sang bidadari yang sangat ingin ia gagahi. Haura sudah tiba kembali di jalan setapak yang tadi ia lewati. Karjo pun sebentar lagi tiba disana.

“Tungguu ustadzahhh” kata Karjo kesal sambil memandang Haura dengan penuh kekesalan.

Tangan Karjo ia julurkan maju. Ia hampir tiba tuk menyentuh bahu dari bidadari ramping tersebut.

“Huh ?” kata Haura terkejut pria tua itu masih mampu berlari dan mendekap bahunya.

“Kena kamu !” kata Karjo senang.

“Eh, Ustadzah Haura !!” sapa seseorang dari kejauhan yang membuat Karjo reflek melepaskan pegangannya di bahu Haura.

Sialll... Siapa lagi itu ?

Batin Karjo kesal karena dirinya kembali diganggu oleh kehadiran seseorang.

Haura lekas menoleh menatap seseorang yang memanggil namanya. Matanya yang berkaca - kaca itu tersenyum saat menatap sosok itu. Wajahnya yang tampan. Senyum manisnya yang menawan.

Tidak salah lagi, itu.... V !

Batin Haura tersenyum.

V berlari mendekat namun kemudian terhenti saat melihat mata Haura yang terlihat sedih.

“Haura... Kamu kenapa ?” tanya V penasaran.

Karjo diam - diam melangkah menjauh. Wajahnya tersenyum kecut. Ia pun pergi kembali ke gedung baru itu sambil mengepal erat tangannya seperti ingin meninju sosok itu.

“Aku gapapa kok... Terima kasih sudah kesini” kata Haura tiba - tiba memeluknya.

“Ehhh... Haura ?” kata V kebingungan. Isak tangis Haura terdengar. Ia seperti bersyukur bahwa sosok V datang untuk menyelematkannya dari sosok kuli kekar itu lagi.

“Ada apa sih ? kok nangis ?” tanya V. Tangannya ragu ingin memeluk bidadari itu. Ini diluar ruangan. Ia tak mau gegabah khawatir ada orang lain yang datang melihat mereka dan melaporkan perbuatan mereka.

V pun melihat sekitar. Ia menemukan sosok kekar dengan kepala yang diperban berjalan menjauh darinya.

“Apa karena dia ?” tanya V lirih yang membuat tangis Haura semakin kencang.

“Bukan... Sudah kita pergi aja dari sini” kata Haura buru - buru ingin menjauh. Jemarinya ia gunakan tuk menyeka air matanya sendiri. Ia pun menarik lengan V lalu meminta V untuk mempercepat langkah kakinya.

Haura masih sesenggukan sesekali saat berjalan cepat disamping V. Wajahnya ia tundukan. Ia pun mengambil saputangan yang ia taruh di blazernya tuk mengusap air mata itu.

“Sudah.. Sudah... Jangan nangis... Kamu kenapa sih ? Semalam katanya aku udah nolong kamu ? Tapi aku gak ngerasa udah nolong kamu... Sekarang kamu tiba - tiba nangis disaat ada pak kuli di depan gedung itu tapi kata kamu bukan karenanya... Apa sih yang sebenarnya terjadi padamu Ra ?” tanya V penasaran.

“Hehehe... Maaf” kata Haura masih mengusap air mata menggunakan sapu tangan itu. V pun mengernyitkan dahinya merasa kasihan pada bidadari cantik di sebelahnya. Ia pun berinisiatif tuk membantunya.

“Sini biar aku aja” kata V mengambil sapu tangan itu dari Haura. Dengan penuh perhatian, ia memposisikan diri Haura tuk berdiri di hadapannya. Haura terdiam mematung saat V mendekatkan sapu tangan itu untuk mengelap air matanya. Haura tersenyum malu. Ia merasa senang dengan perhatian yang sudah V berikan padanya.

“Nah sudah... Gini kan cakep jadinya” puji V yang membuat wajah Haura memerah.

“Hehehe... Makasih yah” jawab Haura tersipu. Ia pun mengambil kembali sapu tangan yang tadi ia berikan pada V.

“Jadi gimana ? Ada apa kok sampe nangis kaya gini ?” tanya V.

“Hehehe gak penting kok... Nanti deh aku ceritain sambil jalan” kata Haura yang membuat V semakin penasaran.

“Ehhh dasar nyebelin... Tapi bukan karena orang tadi kan ? lagipula ada apa dengan kuli itu ? Kepalanya habis kejedot apa gimana sih kok sampe diperban gitu” tanya V penasaran sambil menyilangkan tangannya didepan bahunya.

“Bukan kok... Tenang aja” kata Haura sedikit berbohong. Ia masih menyeka sedikit air matanya sambil tersenyum mengingat perlakuan V padanya. Sesekali ia melirik wajah V yang sepertinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi padanya.

Tak terasa gedung bagian pengajaran sudah terlihat disana. Samar - samar Haura dapat melihat ustadz Adit sedang melayani pengajar lain dalam mengambil atau mengembalikan buku absen untuk kebutuhan mengajarnya.

Tiba - tiba Haura berhenti melangkah saat melihat Adit di seberang. Matanya membuka lebar saat pikirannya teringat akan obrolan yang pernah ia bicarakan dengan Adit mengenai kepribadian V.

“Hahhhh” Kata Haura terkejut sambil menutupi mulutnya.

“Ehhh kamu kenapa Ra ?” tanya V menyadari kalau Haura tertinggal dua langkah disebelahnya.

Haura pun menatap wajah V dengan tatapan tak menyangka. V yang ditatap seperti itu pun terkejut. Ia pun mendekati Haura sambil memegangi dahinya tuk memeriksa suhu tubuhnya.

“Kamu baik - baik aja kan Ra ? Akhir - akhir ini kamu aneh deh” kata V. Tapi Haura hanya terdiam saja sambil terus menatap wajah V. Ia pun membatin dalam hati sambil memikirkan hal itu.

Pantas aja V tidak menyadari... Jangan - jangan yang semalam itu adalah . . . .

Batin Haura terkejut.


*-*-*-*


Sementara itu di lorong kelas.

Terdapat ustadzah berbadan montok yang sedang berjalan dengan lesu memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil mengusap lengan yang tertutupi oleh blazer berwarna birunya. Tatapannya kosong menatap ke bawah. Kakinya terus melangkah tanpa menyadari kelas yang akan ia ajar ada di sebelah mana. Mungkin sudah terlewat atau mungkin malah belum sampai.

Berulang kali ustadzah itu membenahi blazernya agar tertutup lebih rapat. Ia tak nyaman dengan pakaian yang sedang ia kenakan. Hijabnya yang lebar itu ia benarkan berulang kali agar menutupi area di depan dada. Ia pun kesal pada orang itu. Ia sangat kesal kenapa pria tua sepertinya sampai harus ikut campur dalam urusan pakaian yang akan ia kenakan.

BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA

Pagi menjelang siang di salah satu gudang tertutup di sudut pondok pesantren ini. Ustadzah cantik berbadan montok itu tiba - tiba disergap oleh pria tua yang sehari - hari bekerja sebagai tukang sapu kelas saat dirinya hendak mengajar ke gedung kelas. Ustadzah montok itu dipaksa telanjang. Ustadzah itu dipaksa mengenakan pakaian yang tidak masuk di akal saat dirinya hendak mengajar di kelas tersebut.

“Maksud bapak ? Aku harus pakai baju kaya gini ?” katanya tak percaya.

“Huehuehue... Ya, saya yakin pasti ustadzah akan terlihat lebih cantik dengan pakaian ketat seperti ini !” katanya sambil menyeringai mesum menatap lekuk tubuh Rachel yang sudah tidak berpakaian.

“Tapi pak... Ini kan transparan banget... Ini juga ketat... Aku gak mau pake baju kaya gini di depan santri - santri pak !” protes Rachel.

“Ohh gitu... Pilih mana ? Pakai baju yang saya berikan atau ustadzah telanjang tanpa mengenakan satupun baju saat mengajar di kelas nanti ? Kalau ustadzah pilih yang kedua, saya langsung dorong nih ustadzah keluar huehuehue” katanya sambil mengamati lekuk indah sang ustadzah yang tinggal mengenakan hijabnya saja.

Rachel mendesah. Ia tau kalau dirinya tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun memandangi kemeja tipis itu. Ia menjembrengnya di depannya sehingga pria tua bernama pak Udin itu tertawa saat kemeja itu langsung menembus memperlihatkan bentuk dua payudaranya yang sungguh bulat sempurna.

“Bagaimana ustadzah cantik ?” katanya sambil menjilat bibirnya sendiri lalu mengusap penisnya pelan.

“Huh... Aku akan mengenakannya” kata Rachel terpaksa.

“Huehuehuehue... Pilihan yang bagus ustadzah” Pak Udin tertawa puas mendapati ustadzah cantik itu menuruti apa yang ia mau.

Rachel mengenakan kemeja berbahan sangat tipis itu. Saat ia mengenakannya, ia merasa tak ada bedanya saat dirinya telanjang tadi. Tapi ia merasa ini lebih baik daripada tidak berpakaian sama sekali. Ia mengancingkan satu demi satu kemejanya sambil dipandangi mesum oleh pria tua itu. Rachel jengah, ia pun memalingkan mukanya agar dirinya tidak melihat sosok wajah yang sangat menyebalkan baginya.

Ia pun menaikan rok panjang berbahan plisket hingga menutupi kaki jenjangnya. Tak lupa, ia pun menutupi kemeja tipis itu menggunakan blazer berwarna biru yang sudah ia bawa dari kamar asramanya.

“Sudah, aku mau keluar” kata Rachel dengan lemas.

“Huehuehue... Selamat mengajar yah ustadzah... Semoga nanti ada santri yang sadar dengan pakaian yang ustadazah pakai yah huehuehue” kata pak Udin sambil membukakan pintu untuk ustadzah cantik tersebut.

Rachel tak banyak bicara. Ia hanya menatap pria tua itu dengan tatapan jijik. Ia pun pergi menuju kelasnya sambil berulang kali membenahi pakaian yang sedang ia kenakan.

MASA SEKARANG

“Kenapa sih orang itu gak pernah bosan melecehi diriku ?” lirih Rachel heran dengan pria tua itu.

“Untung aja tadi ustadzah Haura gak sadar dengan pakaian yang kukenakan ini... Bisa - bisa aku malu kalau ada ustadzah lain yang tahu dengan pakaian yang aku kenakan” lirih Rachel meratapi hidupnya.

Tak terasa kelas yang akan ia ajar sudah berada di depan mata. Kelas itu berada di ujung lorong. Kelas yang sama saat dirinya kehilangan pakaian waktu itu juga saat dirinya kepergok oleh pria tua berkumis tebal itu.

“Kenapa takdirku harus mengajar di kelas ini yah ?” kata Rachel berandai - andai dirinya tidak mengajar disini. Pasti dirinya tidak perlu sampai harus dikerjai berulang kali oleh pria mesum tersebut.

“Fiyuhhhh... Aku harus bisa... Aku harus bisa” kata Rachel yang sudah tiba di depan kelas yang akan ia ajar.

Setelah mengetuk pintu masuk. Ustadzah Rachel pun menyapa santri - santrinya dengan ucapan salam yang membuat santri - santri itu bersemangat.

“Asssalamualaikum wr wb”

“Walaikumsalam wr wb” jawab mereka semua dengan keras.

Jawaban dari mereka seolah menjadi obat pelipur lara bagi Rachel. Ustadzah montok itupun tersenyum. Dengan percaya diri ia bertanya pada santri - santrinya mengenai pelajaran apa yang akan diajarkan olehnya di pagi menjelang siang ini.

Madza darsunal aana ?” tanya Rachel menanyakan pelajaran hari ini.

Darsunal aana, tamriinul lughoti” jawab mereka kompak.

Pelajaran bahasa memang membutuhkan semangat yang tinggi untuk dapat memahaminya. Pelajaran bahasa membutuhkan banyak latihan dan usaha agar mampu menguasainya. Itu lah yang saat ini sedang dilakukan oleh Rachel melalui metode pembelajarannya. Ia ingin membuat santri itu paham dengan memberikannya semangat melalui teriakan dan penaikan suara agar tidak ada yang mengantuk saat dirinya mengajar. Ia juga sudah menyiapkan banyak materi latihan agar santri - santrinya itu dapat menguasainya dan mempraktekannya di kehidupan sehari - harinya.

Diam - diam dari luar kelas ada seorang pria tua berkumis tebal yang sedang terkekeh - kekeh melihat ustadzah montok itu mengajar. Ia berulang kali memandangi dada ustadzah cantik itu. Ia pun membatin. Ia tak sabar menantikan kejutan yang akan terjadi sebentar lagi.

Huehuehue... Andai ustadzah tau, itu bukan hanya sekedar kemeja tipis loh ustadzah.

Batin Pak Udin sambil tersenyum memikirkan hal itu akan terjadi pada ustadzah montok itu.

Rachel pun berniat untuk menulis judul materi di sisi atas papan tulis. Saat ia merentangkan tangan kanannya naik, hal yang tak terduga pun terjadi padanya.

Satu demi satu kancing kemejanya pun copot. Kancing itu jatuh berserakan dilantai ruang kelas. Rachel terkejut hingga membuatnya panik. Tapi kepanikannya belum usai saat tiba - tiba kancing blazer yang ia kenakan turut copot hingga membuat sisi tubuh bagian depannya terekspos.

“Huehuehuehue... Maaf ustadzah, kancing kemeja itu sudah saya longgarkan hingga mudah terlepas... Begitupula blazer yang tadi sempat ustadzah lepas di gudang itu” lirih pak Udin tertawa sambil menutupi mulutnya.

Rachel panik, ia pun menengok ke belakang menatap santri - santrinya. Beruntunglah mereka semua tidak tahu dengan kejadian memalukan ini. Mereka semua sedang sibuk membuka buku catatan mereka, menyiapkan diri mereka untuk pelajaran di siang bolong ini.

Gawat... Aduh gimana ini ?

Batin Rachel panik.

Ia ragu untuk berbalik. Berulang kali ia membenahi blazer dan juga kemejanya agar tidak terbuka memperlihatkan dada indahnya yang putih sempurna. Rachel tidak mengenakan dalaman. Baik itu beha ataupun celana dalam. Sudah beberapa hari ini dirinya dipaksa melakukan hal seperti ini. Keadaan pun diperparah dengan kancing yang tiba - tiba terlepas seperti ini.

Ihhhh dasar pak tua itu... Aduh gimana ini ?

Batin Rachel resah.

Ia pun dengan hati - hati berjalan mengambil buku catatannya tanpa sekalipun membalikan tubuhnya dihadapan para santri - santrinya.

Beberapa santri yang duduk di kursinya pun bingung dengan perlilaku ustadzah cantiknya itu. Tindakannya aneh. Tak seperti biasanya ustadzahnya itu selalu memunggungi diri mereka tanpa sekalipun menghadapkan wajah cantiknya ke arah mereka.

“Ditulis dulu yah semuanya” kata Rachel.

“Iya ustadzah” jawab mereka semua.

Satu demi satu tulisan berbahasa arab itu ditulis di papan tulis. Para santri pun mengeluarkan pena mereka untuk mencatatkannya di buku tulis mereka. Namun ada satu santri yang memperhatikan pakaian yang sedang Rachel kenakan.

Rachel memang sedang menulis. Tangan kirinya memegangi buku catatannya. Sementara tangan kanannya memegangi spidol sehingga kemeja yang tidak terkancing itu benar - benar terbuka memperlihatkan dada indahnya. Rachel tak sadar kalau dari pantulan papan tulis berwarna putih itu. Santri - santri yang khususnya duduk di bagian depan bisa melihat pantulan dari bayangan ustadzah yang sedang menulis di depan.

Walau samar - samar, santri itu terkejut hingga dirinya meminta temannya yang duduk di sebelahnya tuk memperhatikan kejadian langka yang ada di hadapannya.

“Iya... Iyya ada apa sih ?” kata temannya yang sedang menulis.

“Sebentar deh, coba liat ke arah pantulan papan tulils yang ada di depan ustadzah” kata seorang santri yang duduk di barisan depan tepatnya di depan meja guru berada. Dari samping, ia samar - samar dapat melihat kalau kemeja itu sudah terbuka. Sisi kemejanya menghadap ke kiri dan ke kanan. Payudaranya yang bulat itu pun nampak dari pantulan papan tulis yang ada di sana.

“Busyet... Itu beneran ?” kata temannya. Santri yang tadi pertama kali menyadari pun mengangguk. Mereka berdua sama - sama tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

“Sudah, ditulis dulu yah semuanya” kata Rachel sambil berhati - hati melangkah menuju meja guru. Ia pun berniat untuk mengalihkan perhatian santri pada tulisan di papan tulis itu. Ia pun berniat untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada di kemejanya ini.

Rachel sudah duduk menghadap santri - santrinya. Kedua tangannya secara diam - diam berusaha untuk menutupi sisi tubuh bagian depannya yang terekspos dihadapan para santri - santrinya. Ia bingung. Ia berulang kali menatap ke depan sambil memperhatikan satu persatu wajah dari santri itu.

Untunglah belum ada yang sadar.

Batin Rachel tanpa sadar kalau ada dua santri yang duduk didepannya memperhatikan dada bening yang sedang mengintip dari balik kemeja tipisnya. Nampak kedua santri itu menenggak ludah saat melihat belahan dadanya yang aduhai tercetak disana. Belahan dada itu sungguh dalam. Pastilah ukuran dari kedua payudara itu sangatlah besar.

Saat Rachel menatap diri mereka. Kedua santri ini kembali berpura - pura menulis agar diri mereka tidak dicurigai oleh ustadzahnya. Saat mata Rachel teralihkan ke hal lain. Kembali mata kedua santri itu melihat ke arah setengah payudaranya yang terlihat bulat sempurna.

Kedua santri itu menenggak ludah. Mereka jadi tidak dapat berkosentrasi dengan keindahan yang ada di hadapan mereka.

“Ustadzah... Itu nomor tujuh tulisannya apa ?” tanya salah satu santri yang ada di belakang. Rachel pun menoleh ke samping, tak sengaja puting yang tersembunyi dibalik kemeja itu pun nampak dihadapan kedua santri yang duduk didepannya.

Hennkkhhhh !!!

Kedua santri itu seperti tersedak oleh ludahnya sendiri. Ia benar - benar tak menduga kalau diri mereka mampu menatap puting indah dari seorang ustadzah yang sudah lama mereka idolakan.

“Ohhhh itu Mistorun artinya penggaris” kata Rachel tanpa sadar kalau kemejanya tadi terbuka sedikit.

“Kalau yang nomor empat ustadzah ?”

“Kalau yang nomor delapan ?”

Kembali satu persatu santri lainnya bertanya yang membuat Rachel memiringkan tubuhnya hingga menyingkap sebagian dadanya yang tadi tertutupi oleh kemeja yang dikenakannya.

Kedua santri tadi terpana oleh betapa beningnya kulit indah sang ustadzah. Mata mereka tak dapat dialihkan oleh kemulusan kulit yang dimiliki oleh ustadzah montok itu. Mereka berdua sampai panas dingin sendiri ketika santri lainnya sibuk bertanya mengenai catatan yang sudah ditulis oleh ustadzah Rachel di papan tulis.

Rachel pun tampak sibuk dalam meladeni satu persatu pertanyaan dari santri tersebut. Rachel sampai lupa diri. Rachel sampai tak sadar kalau kemeja yang ia kenakan sudah terbuka sebagian hingga payudara sebelah kirinya itu meloncat keluar yang membuat beberapa santri yang duduk di kursi depan melonjak takjub akan ukurannya yang besar.

Semua santri yang duduk di depan itu menenggak ludah. Mereka semua bungkam. Mereka semua berpura - pura tidak melihat keindahan yang baru saja mereka lihat.

“Huehuehue... Mantapnyaahhh susumu itu ustadzah.... Ouhhh...Ouhhhh” kata pak Udin pemanasan sambil menatap payudara kiri Rachel yang terbuka disana.

“Yang sudah selesai silahkan kumpulkan buku kalian di meja ustadzah yah” kata Rachel kembali menghadap depan sambil menuliskan sesuatu di buku catatannya. Saat ia hendak membenahi pakaiannya. Ia tersadar kalau salah satu payudaranya ada yang meloncat keluar hingga membuat wajah Rachel memerah malu. Segera matanya menatap sekitar mengamati reaksi wajah dari semua santri yang ada di hadapannya.

Astaghfirullah... Kok bisa keluar sih... Gak ada yang tahu kan ?

Batin Rachel merasa malu. Ia pun bertekad untuk menutupi pakaiannya lebih rapat lagi. Rachel bahkan sampai merapatkan kedua sikunya hingga kemeja itu menutupi kedua payudaranya. Rachel pun berpura - pura menulis sesuatu untuk meredakan kegugupan karena salah satu payudaranya tadi terlihat.

“Ini ustadzah ana udah” kata salah seorang santri yang sudah menyelesaikan tulisannya.

Naam syukron” jawab ustadzah montok itu sambil tersenyum canggung.

Santri lainnya pun berdatangan satu demi satu hingga buku yang dikumpulkan itu semakin menumpuk tinggi di meja guru tersebut. Untuk mengurangi ketinggian buku, Rachel pun mulai memeriksa satu demi satu tulisan para santri di buku catatannya itu. Satu demi satu Rachel menyelesaikannya. Ia juga membubuhkan tanda tangan beserta catatan untuk menyemangati santri itu agar lebih giat lagi dalam belajar. Rachel sampai lupa diri hingga tak sadar kemeja itu kembali terbuka kali ini memperlihatkan kedua payudaranya yang menggantung indah.

Tibalah saatnya bagi kedua santri yang duduk di depan meja guru untuk mengumpulkan buku catatannya. Saat ia berdiri, ia sudah terhenti di tempat akibat kedua payudara indah yang sudah meloncat keluar dari dalam kemeja ustadzah itu.

Santri itu mencolek teman di sebelahnya untuk berdiri kendati belum menyelesaikan tulisannya.

“Ada apa ?” tanyanya.

Namun santri yang sudah berdiri itu hanya mengangguk sambil memberikan gestur untuk memintanya berdiri. Saat temannya itu ikut berdiri, mulutnya langsung membuka saat dirinya melihat kedua payudara indah itu menggantung dengan bebasnya di depan sana.

Kedua santri yang sudah berdiri itu saling berkontak mata sambil geleng - geleng kepala. Mereka berdua terpesona oleh keindahan buah dada yang begitu sempurna disana.

“Kalian sedang apa berdiri ?” tanya ustadzah Rachel yang mengejutkan diri mereka berdua.

“Ehhh anuuuu” kata kedua santri itu termenung. Mereka pun menatap wajah Rachel didepannya. Ia menurunkan pandangannya sedikit dan mendapati payudara itu masih tergantung disana. Santri itu tak percaya dirinya bisa berbicara dengan ustadzah yang sedang memperlihatkan kedua susu indahnya.

“Kalian sudah selesai menulis ?” tanya Rachel tanpa sadar dengan apa yang telah terjadi.

“Sudah”, “Belum” kata kedua santri itu berbarengan.

“Yang sudah dikumpulkan aja... Yang belum segera ditulis yah” kata Rachel tersenyum yang membuat jantung kedua santri itu berdebar kencang.

Santri yang sudah selesai itu mendekati meja guru. Sementara yang belum kembali duduk untuk menyelesaikan tulisannya.

“Ini ustadzah” kata santri itu sambil memberikan bukunya ke ustadzah Rachel.

Tak diduga, Rachel langsung menerimanya dan mengecek tulisan itu di depan santrinya langsung.

“Duh tulisan kamu kok susah dibaca gini sih ?” kata Rachel yang membuat santri itu hanya tersenyum canggung. Saat santri itu hendak duduk karena merasa pusing oleh keindahan payudara dihadapannya. Tiba - tiba Rachel memanggilnya.

“Ehh Abdul... Lihat tulisan kamu nomor satu deh” pinta Rachel yang membuat santri bernama Abdul itu lekas berbalik tuk melihat tulisan yang sedang diperiksa oleh ustadzah cantik itu.

“Kenapa ustadzah ? Hehehehe” kata Abdul gelisah sambil mengusapi penisnya yang semakin mengeras di bawah. Matanya pun teralihkan oleh bentuk payudara yang menggantung itu. Alih - alih menatap tulisannya, Abdul malah menatap keindahan payudara itu dengan begitu bebasnya.

“Lihat tulisan kamu deh Dul... Tulisan kamu kok jelek gini sih... Ustadzah jadi susah buat bacanya tau” kata Rachel.

“Jelek ? Perasaan indah kok ustadzah” kata Abdul yang malah mengamati payudara itu.

“Indah darimana ? Ada - ada aja deh kamu Dul” kata Rachel sambil menggelengkan kepala yang tak sengaja membuat payudaranya bergetar.

Abdul menenggak ludah melihatnya. Ia pun semakin meremas - remas penisnya karena tak tahan dengan bentuk payudara itu yang semakin indah.

“Coba ini bacanya apa ?” kata Rachel minta didikte.

“Ehh itu ?” kata Abdul mendekat tuk memeriksa tulisannya. Tapi matanya kembali melirik ke arah payudara itu. Nafasnya sudah terengah - engah saat dirinya sudah mendekat ke arah gunung kembar itu. Rasanya ia ingin menyusu disana. Ia ingin menjilatinya. Ia ingin menghisapnya hingga puting berwarna merah muda itu semakin menegak kencang hingga bentuknya semakin menantang.

“Abdullll” kata Rachel menyadarkan Abdul.

“Ehhh ustadzah” kata Abdul geleng - geleng kepala.

“Ohhh itu, Maktabun ustadzah” kata Abdul merasa pusing.

“Nah betul... Kalau ini ?” kata Rachel menunjuk nomor dua.

Mata Abdul kembali berpindah untuk menatap tulisan yang ada di nomor dua. Namun letaknya yang berada semakin dekat dengan payudara ustadzahnya membuat santri itu semakin bernafsu ingin menyusu disana.

“Abbduullllll” kata Rachel kembali menyadarkan santri itu.

“Ehhh ustadzah hehehe... Itu Maq’adun” kata Abdul yang kembali menggeleng kepala karena tak sadar dirinya nyaris menodai ustadzahnya sendiri.

Antum ini kenapa sih Dul ? Kok suka ngelamun gini ?” tanya Rachel heran yang membuat Abdul ketakutan andai dirinya ketahuan.

“Ehhh anu... Kurang tidur kayaknya ustadzah hehehehe” kata Abdul berbohong.

“Huh dasar... Kalau nomor lima ini ?” tanya Rachel sekali lagi karena tak dapat membaca tulisan jelek Abdul yang menyakitkan matanya.

Celaka bagi Abdul, karena tulisan di nomor lima itu berada di paling bawah buku catatan yang sedang diperiksa oleh ustadzah montoknya. Hal itu menjadikan letaknya semakin dekat dengan payudara yang menggantung bebas disana. Kepala Abdul pun semakin pusing. Matanya sampai berkunang - kunang akibat terlalu banyak menatap payudara indah disana. Kayaknya Abdul sudah di mabuk payudara deh.

“Yang mana ustadzah ?” kata Abdul sambil mendekatkan jemarinya tuk menunjuk tulisan yang ditanyakan oleh ustadzahnya.

“Yang ini ?” Rachel pun menunjuk tulisan yang dimaksud. Abdul pun paham. Jemarinya semakin mendekat tapi bukan ke tulisan itu, melainkan ke payudara ustadzahnya yang sudah menggodanya sedari tadi. Nafasnya sudah berat pikirannya sudah ternoda oleh keindahan payudara disana.

Rasanya gimana yah ? Kalau segede gini sih pasti kenceng banget rasanya... Gimana kalau nanti aku remes, eh ustadzah malah berteriak ? Apa aku akan dikeluarkan dari pesantren ini ? Ah aku tak peduli, gimana yah suara desahan ustadzah saat diremes nanti ?

Batin Abdul yang sudah ternoda.

Jemari itu semakin mendekat. Jemari itu semakin bertindak nekat. Abdul tak peduli lagi kalau nanti ia harus kuwalat. Nafsunya sudah tersengat, oleh birahi yang diakibatkan oleh keindahan payudara ini.

Gleeeggggg !!!

Abdul menenggak ludah. Jantungnya berdebar kencang membayangkan ia akan meremasi payudara indah itu sebentar lagi.

Remes gak yah... Remes gak yah... Remes gak yah ?

Batin Abdul setengah ragu setengah nafsu. Tangan satunya saja bahkan sudah mengusap penisnya dari dalam resleting yang sudah ia buka. Penisnya semakin mengeras. Ia pun ingin menodai payudara indah itu dengan sperma yang ia muntahkan di gunung kembar disana.

“Abdul kamu kenapa ?” tanya Rachel heran dengan tatapan kosong Abdul itu. Sepertinya santrinya itu sedang tidak menatap tulisan yang sedang ia tunjuk. Jari telunjuknya itu juga entah sedang mengarah kemana. Rachel pun hendak menunduk tuk menatap apa yang sedang Abdul tatap. Saat pandangannya semakin turun, matanya langsung membuka lebar saat menyadari kalau kedua bukit kembarnya itu sudah tersingkap memperlihatkan keindahannya dihadapan santri yang beruntung itu.

Apaaa ???? Jangan - jangan... Abdul sudah melihat ini sejak tadi !!!

Batin Rachel panik.

“Ustadzahhhh... ana....” Kata Abdul sudah hampir menyentuh puting indah itu.

“Abdul jangan” lirih Rachel. Tapi ia tak menutup payudara indah itu. Ia hanya diam mematung sambil menatap jemari itu yang semakin dekat menyentuh putingnya.

“Mmmmpphhhh” Rachel menggelinjang saat putingnya itu di tekan. Abdul pun membuka mulutnya merasakan sensasi nikmat dari sentuhan yang ia lakukan di puting payudara ustadzahnya. Saat Abdul menekannya lebih kencang lagi tiba - tiba . . . .

Teenngggggg.... Tenggggg... Tenggggggg

Suara lonceng berbunyi. Abdul terkejut hingga tubuhnya tersentak kaget. Rachel memanfaatkan situasi ini dengan merapatkan kembali pakaiannya.

Jantung Rachel berdebar kencang saat sadar kalau sedari tadi ada seorang santri yang menyadari keadaan pakaiannya yang terbuka.

“Yasudah kita sudahi pelajarannya kali ini yah... Untuk buku kalian bisa ambil sendiri di meja ustadzah... Wassalamualaikum wr wb” kata Rachel buru - buru pergi keluar dari kelas ini.

Abdul hanya diam menganga. Ia kecewa berat karena gagal merasakan sentuhan di payudara indah itu lebih lama lagi. Tapi ia juga terkejut kenapa saat ia menyentuh putingnya, kok lonceng malah berbunyi yang menandakan akhir dari pelajaran kali ini.

Apa mungkin belnya ada disitu yah ?

Batin Abdul terheran - heran.

Sementara itu Rachel buru - buru berlari. Saat dirinya sudah tiba di luar kelas, ia dikejutkan oleh dekapan seorang tukang sapu yang sudah menunggunya sedari tadi.

“Huehuehue... Kerja bagus ustadzah... Saya sangat suka saat ustadzah membiarkan santri itu melihat semua keindahan tubuhmu” kata Pak Udin menahan tubuh Rachel.

“Apa maksud bapak ? Aku gak sengaja melakukannya... Aku gak tau kalau santri itu sedang menatap tubuhku dari tadi !” kata Rachel tersipu hingga wajahnya memerah.

“Huehuehue saya gak peduli ustadzah... Yang jelas ustadzah harus tanggung jawab sekarang karena sudah membangkitkan hawa nafsu saya !” kata pak Udin.

“Apa ? Kenapa aku yang harus tanggung jawab ? Ehh sekarang ? disini ?” kata Rachel terkejut.

Ia menatap sekitar. Kelas tinggal menyisakan satu pelajaran lagi sebelum lonceng berbunyi menandakan akan dari sesi belajar mengajar di pagi hari ini. Ia benar - benar panik apabila harus melayani nafsu buas pak Udin di samping kelas yang baru saja ia ajar. Berulang kali wajahnya melongok ke kelas sebelah. Pak Udin pun menyadarinya.

“Huehuehue... Tenang ustadzah di kelas sebelah sudah berganti kok... Kita bisa bebas melakukan apapun disini sekarang" kata pak Udin sambil membuka paksa kemeja Rachel kemudian menyusu di puting indahnya.

“Apaa... Mmppphhhhh... Jangann pakk... Tapi kan kelas ini belum dimasuki oleh pengajar lain... Gimana kalau nanti pengajarnya dateng... Mmpphhhhh ahhh jangann digigit” kata Rachel merinding merasakan nafsu dari mulut pria tua berkumis itu.

“Huehuehue... Bilang - bilang aja kalau ada pengajar lain yang dateng dari belakang saya... Tugasmu mengawasi... Tugas saya menikmati susu indah ini... Ssllrrppp... Ssllrrppp mmmhh” desah pak Udin dengan penuh nafsu.

“Apa ? Tapi pak... Mmmpphhh... Mmpphh ahhhhh”

Berulang kali Rachel mendesah saat menikmati hisapan bibir pak Udin di payudaranya. Berulang kali tubuhnya merinding saat lidah tua itu merangsang puting indahnya yang semakin menegak disana. Rachel memejam tanpa sadar. Mulutnya pun setengah membuka saat kedua gigi geraham pak Udin menggelitiki putingnya yang sudah mengejang maksimal.

"Mmmpphhh mantapnya susumu ini.. Mmpphh gak bosan - bosan saya tuk menyusu di susu gedemu ini" Kata pak Udin terus menghisapnya.

"Ahhhh... Ahhhh... Hentikannn... Ahhh nanti suaraku kedengeran pakkk" Desah Rachel tak kuasa menahannya.

"Mmpphh... Mmmpphhh... Itu salahmu bukan salah saya... Tugasmu cuma tutup mulut kok kenapa saya yang disalahin !" Kata pak Udin yang semakin bernafsu dalam menyusu di susu gede itu.

Tangan nakal pak Udin meremasi kedua payudaranya yang sudah terbebas. Pak Udin gemas, ia pun meremasnya hingga puas. Kadang ia juga mencengkramnya dengan keras hingga Rachel kesulitan untuk berteriak bebas. Ia masih ada di samping ruang kelas. Ia tak boleh berteriak hingga mengakibatkan santri yang ada di dalam itu keluar dari dalam kelas.

Tangan Pak Udin mencengkram payudara itu. Mulutnya ia buka kemudian lidahnya keluar tuk menjilati puting indah itu. Lidahnya bergerak naik turun merangsang puting yang berwarna pink itu. Kadang mulutnya sampai mencaploknya dan menggigitnya hingga tubuh Rachel mengejang merasakan kenikmatan yang tak terkira.

"Uhhhhhhhh" Rachel merinding tiap kali payudaranya dirangsang dengan begitu hebat oleh pria tua itu. Mata Rachel jadi agak kabur. Ia benar - benar terpuaskan oleh sepongan yang dilakukan oleh pria tua itu di payudaranya. Apalagi saat kumis tebalnya menggelitiki payudaranya. Rachel jadi gelisah tak tentu arah. Mulutnya ia tutupi. Ia khawatir kalau dirinya akan kelepasan mendesah karena kenikmatan yang sedang ia rasakan. Berulang kali ia mencoba tuk mendorong tubuh pak Udin menjauh. Tapi pak Udin malah semakin dekat dan semakin buas dalam merangsang payudaranya. Alhasil tubuh Rachel pun menggeliat. Ia seperti sedang berjoget didepan pria tua yang sedang menyusu di payudaranya.

"Uhhhh... Uhhhhhh" Desah Rachel tak kuasa menahan.

Tak sengaja dari kejauhan. Nampak bayangan seseorang mendekat. Itu seorang ustadz. Rachel samar - samar dapat melihat penampilan rapih dari kemeja yang ustadz itu kenakan. Wajahnya lumayan tampan. Rambutnya ia sisir rapih ke belakang. Rachel perlahan mulai melihat wajah dari ustadz tampan itu.

Gawatt !!!

Rachel mengenalinya. Ia mendorong tubuh pak Udin menjauh agar payudaranya berhenti dicumbui oleh pria tua mesum berkumis tebal itu.

"Pakkk hentiikann... Ada orang mendekat... Sudah pakk, cukup" Kata Rachel panik.

"Mmpphh... Mmpphh.. Ssllrrp bentar lagi ustadzah nanggung" Kata Pak Udin yang sedang keenakan.

"Apa ? Pakkk itu orangnya makin dekat... Jangan lakukan ini lagi pakkk" Dorong Rachel sekuat tenaga.

"Dikitt lagii ustadzah... Mmpphh... Mmpphh" Kata pak Udin yang membuat bidadari montok itu kesal.

"Ihhhh pakkk" Rachel pun mendorong pria tua itu sekuat tenaga. Barulah pria tua itu terlepas dari payudaranya. Rachel pun buru - buru menutupi kemejanya juga merapatkan blazernya agar orang itu tidak tahu menahu mengenai kondisi pakaiannya saat ini.

"Huhuehue... Sial saya ketagihan ustadzah" Katanya sambil mengelap liur yang ada di tepi bibirnya. Rachel menatapnya kesal. Ia pun gugup saat orang yang ia kenal itu semakin mendekat ke arahnya.

"Dekk... Kamu ngajar disini yah ?" Tanya orang itu.

"Iya mas Adit hehehe" Jawab Rachel canggung.

"Pak..., eh dek kamu gak langsung pulang ke kantor ? Tumben" Adit menyapa pak Udin terlebih dahulu. Barulah setelah itu, ia bertanya pada calon istrinya yang akan dinikahi di bulan Syawwal nanti.

"Hehehe tadinya gitu mas, tapi tadi diajak ngobrol sama bapak ini" Kata Rachel sambil tangannya berhati - hati merapatkan blazernya.

"Ohh begitu... Kamu kenapa ? Kedinginan yah ? Kok tanganmu gitu ?" Tanya Adit keheranan dengan cara Rachel dalam memegangi pakaiannya.

"Hehehe iyya mas" Jawab Rachel menunduk malu.

"Huft makanya lain kali pakai pakaian yang lebih tebal yah jangan sampai sakit" Kata Adit menasehati.

"Iya mas... Makasih" Jawab Rachel masih menunjuk.

"Yaudah, ana duluan... Kebetulan dapet tugas buat ngisi kelas di sebelah... Pengajar aslinya mendadak sibuk jadi ana deh yg gantiin... Ana duluan yah" Kata Adit pamit.

"Iyya mas... Semangat" Jawab Rachel terkejut rupanya calon suaminya akan mengisi kelas yang baru saja ia ajar. Masalahnya pak Udin dari kejauhan tertawa saat menatap kondisi tubuhnya saat ini.

"Assalamu'alaikum wr wb"

"Walaikumsalam wr wb"

Adit menyapa di dalam kelas. Sementara Rachel semakin merana di luar kelas. Pak Udin perlahan mendekat. Dengan paksa ia langsung membuka blazer beserta kemeja itu kembali hingga keindahan payudara Rachel kembali tersingkap.

"Huehuehue... Ini menarik... Tadi itu calon suamimu kan ? Pasti bakal lebih mantap bisa ngentotin pantat rapetmu itu pas calon suamimu sedang mengajar di dalam kelas" Kata pak Udin yang membuat Rachel merinding. Tak sadar tangan Rachel menyentuh pantatnya dari luar roknya. Ia begitu ketakutan. Ia tak mau tuk merasakan tusukan penis besar itu lagi di dalam lubang kotorannya.

"Ahhh... Jangan... Jangannn" Teriak Rachel lirih saat pak Udin melepas paksa blazer yang Rachel kenakan. Pria tua itu pun langsung meminta Rachel berjongkok sambil menyandar pada dinding kelas. Ia langsung mengeluarkan pusakanya. Dengan tega ia langsung mendorong penisnya masuk yang membuat Rachel tak kuasa untuk menahan tenaganya.

"Mmmpphhh... Enggak... Enggakkkk" Lirih Rachel sambil menggeleng - gelengkan kepala.

"Huehuehue... Mantappnyaa... Ahhh mulut rapetmu itu... Ahhhh" Desah Pak Udin tertawa puas.

"Mmmpphhh... Mmpphh..." Sebisa mungkin Rachel menahan penis itu agar tidak memasuki mulutnya lebih dalam lagi. Walau sekarang baru ujung gundulnya saja yang masuk ke dalam mulut bidadari itu, pak Udin sudah mengerang keenakan merasakan sensasi di bawah sana. Sebisa mungkin tangan Rachel menahan gerakan pinggul pak Udin agar tidak semakin mendekat. Namun dorongan paksa yang pria berkumis tebal itu lakukan membuat bidadari ini tak kuasa membiarkan mulutnya di bor lebih dalam lagi oleh penis itu.

“Mmmpphhhhh” desah Rachel memejam.

Liur yang ada di dalam mulutnya sampai menetes jatuh. Liur itu ada yang mengenai lantai ada juga yang jatuh mengenai payudara indahnya.

"Huehuehue... Mantapnyaahh... Mantappnyaahh" Desah pak Udin tertawa puas.

Pak Udin terus mendorong pinggulnya hingga kepala Rachel ikut terdorong ke belakang mengenai dinding kelas. Bulu jembut pak Udin yang tebal dan bau menyengat itu menyerang hidung Rachel hingga membuat bidadari itu merasa mual dengan penis berkeringat yang sedang merangsang mulut kecilnya.

"Uhhh... Uhhh... Uhhhh" Desah pak Udin sambil memegangi sisi kanan kiri kepala Rachel. Pak Udin mempercepat gerakan pinggulnya. Mulutnya sampai menganga lebar. Rasa nikmat saat lidah Rachel merangsang sisi bagian bawah penisnya menimbulkan kenikmatan yang tidak dapat dijelaskan. Apalagi saat Rachel dengan pasrah menerima satu demi satu sodokan penis itu di mulutnya.

Glllggg... Glllggg... Glllggg !!!

Berulang kali penis tua itu memborbardir mulut kecil Rachel yang sudah tak berdaya. Hampir tiga per empat dari penis besarnya sudah basah terkena liur Rachel di dalam. Bidadari itu hanya bisa memejam membiarkan ujung gundul dari penis itu menyodok - nyodok pangkal kerongkongannya. Liur Rachel sampai menetes jatuh mengenai payudara indahnya. Tubuhnya yang montok oti pun semakin menggairahkan apalagi saat mendengar suara yang terucap dari mulut manisnya.

Pak Udin semakin tidak tahan lagi. Hawa nafsunya telah terpanggil. Dirinya sudah tidak sabar untuk menggenjot anus itu lagi.

"Ayo berdiri ustadzah !" Kata pak Udin memaksa berdiri kemudian mengarahkan tubuh montok itu untuk menungging bertumpu pada dinding.

"Uhhhh... Uhhh pakkkk... Jangannnn" Desah Rachel saat roknya diangkat paksa kemudian lubang anusnya dijilati oleh pria tua itu.

Mulut Rachel terbuka saat lubang anusnya dimasuki oleh lidah pria tua itu. Lidah itu merangkak sesenti demi sesenti sambil membasahi rongga di dalam lubang kotoran itu. Pak Udin tertawa saat melihat warna pink yang ada di dalam rongga pantat itu. Jemari tengah di tangan kirinya pun ia masukan hingga membuat mulut Rachel terbuka mengeluarkan desahan yang terdengar nikmat.

"Ahhhhh... Pakkkkk... Ahhhh ahhhhhhh" Desah Rachel tak kuasa saat jemari itu terus merengsek masuk ke dalam lubang kotorannya. Hampir tiga per empat dari jemari itu sudah masuk menembus liang pembuangan kotorannya. Rachel semakin lemas merasakan tusukan maut itu. Sisi kiri wajahnya pun ia sandarkan pada dinding. Tak sengaja ia mendengar suara calon suaminya yang sedang mengajar di kelas.

Masss... Ahhhh... Ahhhh... Tolonggg akuu masss... Akuuu sudah dinodai olehhnyaa... Lubang pantatku sudah dikotori berulang kali olehnya... Ouhhhh.

Batin Rachel tanpa sadar. Ia tak mengira bahwa tusukan yang ia terima di anusnya bisa membuatnya jadi selemas ini. Dirinya terengah - engah. Padahal baru jemari pria tua itu apalagi nanti saat penis besarnya yang masuk membelah lubang anusnya ? Ia bahkan sampai memejam sambil menggigit bibir bawahnya.

"Uhhhh" Desah Rachel yang semakin merangsang birahi pak Udin.

Tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang masih sepi. Pak Udin tertawa puas hingga ia mulai berdiri sambil mengarahkan penis itu ke dalam lubang dubur sang akhwat. Tepat sebelum ia memasukan penisnya ke dalam, ia pun mencium dubur sang akhwat kemudian meludahinya untuk memudahkan penisnya bermain - main didalam sana.

"Ahhhhhhhhh" Desah Rachel mengangkat kepalanya sambil melihat ke belakang. Nampak pria berkumis itu tertawa sambil menatap wajah ayu Rachel yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu. Pak Udin pun memegang penisnya. Dengan riang ia mendekatkan ujung gundul dari penis besarnya tuk memasuki lubang sempit yang sudah basah terkena air ludahnya.

"Ouhhhh... Sempitnya... Ouhh... Ouhhhh... Mantaappppp" Desah Pak Udin saat penis besarnya itu mulai ia masukan menembus liang kotoran sang ustadzah.

"Ahhhhhhh... Jangannnn... Pakkk jangannnn" Rachel berteriak sesaat sebelum tangannya ia gerakan tuk menutup mulutnya. Ia hampir lupa kalau ia sedang berada di samping lorong kelas. Tusukan penis itu. Sodokan penisnya. Rachel tak kuasa tuk menahan rasa perih yang ia dapatkan disana. Padahal penisnya itu sudah sangat licin. Padahal lubang anusnya sudah dibasahi oleh liur si kumis. Tapi tetap aja. Rasa sakit itu masih mendera menyakiti anus sang bidadari yang tengah didzolimi.

"Huehuehue... Dikit lagi ustadzah... Tahan duluuu... Heeeggggg" Kata pak Udin sambil menarik kemeja tipis yang Rachel kenakan hingga tubuh bagian depannya semakin terbuka. Memperlihatkan keindahan yang ada pada diri sang ustadzah. Kedua tangan Pak Udin pun berpindah dengan mencengkram rok plisket yang sudah ia angkat hingga menyangkut di pinggul rampingnya.

Pak Udin sampai geleng - geleng kepala merasakan jepitan nikmat yang ia terima di pentungan besinya. Ia pun menarik tubuh Rachel mendekat. Sebaliknya ia juga mendorong pinggulnya hingga penis besarnya itu semakin menancap di dalam lubang kotorannya.

"Ouhhhhh pakkk... Ouhhhh besar bangettt... Ouhhhh sakitttt" Desah Rachel sambil memejankan matanya.

"Huehuehue... Mantep bukan... Ini baru proses masuknya loh ustadzah belum pas goyangan saya" Kata pak Udin tersenyum bangga.

"Jangann... Jangan didorongg lagiii... Uhhhh... Uhhhh" Desah Rachel merinding merasakan kenikmatan ini.

"Akhirnyaaa... Sedikit lagi... Sedikit lagiii.. Ouhhhh yahhhhh... Hennkkhggg" Desah pak Udin puas saat memasukan seluruh penisnya menembus liang pembuangan kotoran Rachel.

Jleeebbbbb !!!

"Ahhh... Mmmppphhhh" Kembali, nyaris saja Rachel berteriak keras sebelum ia menutupi mulutnya menggunakan tangan kanannya.

Lutut Rachel melemah saat penis besar itu benar - benar masuk seluruhnya ke dalam lubang kotorannya. Wajah Rachel menoleh ke belakang. Tatapannya yang sayu itu membuat pak Udin semakin puas dengan kenikmatan yang sedang ia dapatkan.

"Huehuehue... Langsung aja yah ustadzah sebelum mereka semua keluar" Kata pak Udin sambil menarik kemeja tipis Rachel lepas.

"Ehh pakk jangann... Jangann... Jangan dilepas" Kata Rachel panik saat dirinya sudah bertelanjang di lorong samping kelas yang sedang diajar oleh calon suaminya. Kedua payudaranya yang besar itu terekspos. Kulit beningnya terlihat begitu mulus dan halus. Mulai dari wajah sampai ujung kaki semuanya bening. Pak Udin sampai tersenyum bangga saat dirinya mampu menaklukan seorang ustadzah secantik dan semontok Rachel. Karena gemas ia pun menampar - nampar bongkahan pantat Rachel hingga puas.

Plakkk... Plaakkkk...

"Ahhh... Ahhhhh... Ahhhh" Jerit Rachel lirih yang membuat birahi pak Udin semakin menjadi.

Sebelum dirinya benar - benar menikmati tusukan yang ia lakukan di anus Rachel, ia terlebih dahulu membelai punggung mulus Rachel sambil menundukan tubuhnya. Bibirnya juga mendekat tuk mencumbui punggung itu hingga berulang kali membuat Rachel merinding hebat. Lidahnya pun ia keluarkan tuk menjilati kemulusan yang terbentang di punggungnya. Tangannya juga tak tinggal diam dengan menyentuh pinggang ramping Rachel. Tangannya bergerak secara perlahan mengusap kemulusan kulit indah itu. Usapannya itu bergerak naik kemudian turun. Tangannya tak henti - hentinya dalam membelai kemulusan kulit indah itu. Puas dengan sentuhan di punggung mulusnya. Tangan pak Udin dengan perlahan bergerak menuju payudara bulat yang tengah menggantung dibawah.

"Ouhhh... Ouhhhh... Ouhhhh" Desah Rachel saat payudara bulatnya diremas berulang kali oleh pria tua itu.

“Huehuehue... Mimpi apa saya bisa ngerasain keindahan kulit mulusmu ini ustadzah... Mmmphh... Mmpphh... Sllrrppp ahhh... Mmpphhh” kata pak Udin sambil terus mencumbu punggung indah itu. Tangannya juga tak tinggal diam dalam membelai keindahan payudara itu. Pak Udin sangat sibuk dalam merangsang kemulusan tubuh sang ustadzah. Ia bahkan sampai lupa dengan keadaan penisnya yang masih menyangkut di lubang dubur sang ustadzah.

“Huehuehue... Sekarang saatnya yah ustadzah... Kita lakukan uhhhhhh” kata pak Udin sambil menegakkan kembali tubuh tambunnya. Kedua tangannya pun mencengkram kuat pinggang ramping sang ustadzah. Lidahnya ia keluarkan tuk menjilati tepi bibirnya sendiri. Dipandangilah sesaat tubuh montok Rachel yang akan ia genjot sebentar lagi. Rachel sedang menungging tanpa ada satupun pakaian yang menutupi. Rachel tinggal mengenakan hijabnya saja. Rok plisketnya sudah terangkat naik sedangkan kakinya hanya ditutupi oleh sepatu beserta kaus kakinya saja. Keadaan sepi yang ada di lorong kelas ini membuat pak Udin tersenyum. Tombak saktinya bersiap - siap untuk maju.

“Uhhhhhhhhh” desah pak Udin sampai memejamkan mata saat pinggul Rachel ia tarik hingga penisnya semakin terhimpit oleh jepitan ternikmat yang pernah ia rasakan.

“Aahhh mmmpphhh pakkkk” Lirih Rachel sambil menolehkan wajahnya ke belakang menatap wajah tua yang sedang keenakan disana.

“Uhhhhhhh sempittnyyaa.... Ouhhhhh” desah Pak Udin saat mendorongkan kembali pinggulnya hingga membuat ustadzah yang sedang menungging itu memejam membuka mulutnya lebar - lebar.

“Aahhhhhhh” desah Rachel tanpa sadar.

Kembali pak Udin menarik pinggulnya hingga tepi dari ujung gundulnya saja yang masih menempel di jepitan lubang anus sang ustadzah.

“Heennngggkkhh” desah pak udin dengan Mantab.

Jllleebbbbb !

Penis itu ia tancapkan langsung membelah lubang dubur Rachel yang membuat tubuhnya tersentak maju. Beruntung Rachel sudah menutupi mulutnya menggunakan tangan kanannya hingga suara jeritannya tidak terdengar keras.

Kembali pak Udin menarik pinggulnya hingga kulit yang ada di dalam dubur Rachel ikut tertarik mengikuti gerakan penis Udin akibat besarnya ukuran penis dari pria berkumis itu.

“Ouuuuhhhhhh” desah Rachel memejam.

“Huehuehue” tangan kanan Pak Udin pun mencengkram penisnya sendiri. Ia mengocok batangnya saat ujung gundulnya berada di dalam lubang dubur tersebut.

“Ahhhh yahhh... Ahhhh yahhh... Ouhhh nikmatnya ustadzahhh” desah pak Udin.

Pak Udin pun membuka seragam kerja yang sedang ia kenakan hingga tubuhnya yang berkeriput itu nampak terekspos di lorong kelas tersebut. Nafsu yang sudah memuncak membuatnya melupakan rasa malu yang ada pada dirinya. Sensasi bercinta dengan seorang ustadzah di lorong kelas disaat jam pelajaran masih berlangsung membuat pak Udin semakin bergairah. Apalagi saat melihat tubuh mulus ustadzah yang masih menungging itu.

“Huehuehue... Cuhhhhh” pak Udin meludahi penisnya. Ludahnya ada yang terjatuh mengenai bongkahan pantat itu. Pak Udin menamparnya kemudian melumuri penisnya menggunakan liur yang tadi ia keluarkan.

Plaaakkkk !

“Aaahhhhhh” desah Rachel dengan manja.

“Huehuehue... Sekarang yah ustadzah... Hennkkggghhh” kembali pak Udin mendorong pinggulnya hingga penisnya semakin masuk menembus liang dubur tersebut.

“Ouhhhhhhh pakkk... Mmmpphhhh” desah Rachel tertahan sambil membalikan wajah menatap pak Udin.

“Ahhhhhh... Ahhhh yahhh... Ahhhh ustadzah” desah pak Udin keenakan sambil membelai - belai bokong montok tersebut.

“Mmpphhh... Mmpphh” Rachel mendesah tertahan. Matanya memejam sambil menggigit bibir bawahnya tuk menahan rasa nikmat yang ia dapatkan dibelakang sana. Tubuh montok itupun terdorong maju lalu mundur lalu maju lagi lalu mundur lagi. Tak jarang pria tua berkumis itu menampar - nampar bongkahan pantatnya yang membuat ustadzah itu mengeluarkan suara lirih mirip desahan yang semakin membangkitkan gairah birahi pak Udin saat menyetubuhinya.

Kedua tangan pria tua itu bergerak naik membelai punggung mulus sang ustadzah. Goyangan pinggulnya masih stabil membuat diri Rachel hanya bisa pasrah menerima tusukan demi tusukan yang semakin melebarkan lubang duburnya. Rachel merasakan kalau lubang vaginanya semakin basah. Tubuhnya masih ingat saat dirinya tanpa sadar dipandangi oleh Abdul di dalam kelas tadi. Tatapan mata itu saat memandangi keindahan payudaranya. Juga keadaan sekarang dimana dirinya berada di samping kelas dimana ada calon suaminya yang mengajar disana. Bagaimana kalau nanti tiba - tiba Adit keluar dan mendapati calon istrinya sedang di anal oleh tukang sapu bejat ini ? Bagaimana nanti kalau ada santri yang meminta izin ke kamar mandi dan mendapati ustadzahnya sedang digenjoti oleh tukang sapu kelas. Bagaimana kalau tiba - tiba lonceng berbunyi dan semua santri beserta pengajarnya kaget melihat dirinya sedang memejam keenakan disodomi oleh pria tua berkumis ini.

Membayangkan itu semua membuat birahi Rachel bangkit sendiri. Fantasi terpendamnya saat membayangkan semua orang menatapi keindahan tubuhnya membuat tusukan yang ia dapatkan dari pak Udin di duburnya semakin terasa nikmat. Tanpa sadar Rachel hanya bisa bertahan membiarkan pria tua itu menusuk lubang anusnya sepuasnya. Kedua tangannya hanya bertumpu pada dinding kelas. Matanya memejam tanpa berani melihat ke sekitar. Kedua payudaranya juga bergerak - gerak seiring dorongan yang ia dapatkan dari pinggul pria berkumis itu.

“Ouhhhh... Ouhhhh... Ouhhhhhh” desah Rachel merasa gelisah karena bibir vaginanya hanya dibiarkan begitu saja tanpa disentuh oleh kejantanan penis Pak Udin.

“Huehuehue... Kayaknya ada yang mulai menikmati nih” ejek Pak Udin sambil berbisik di telinganya.

“Ouhhh... Ouhhh... Siapa bilang ! Aku gak menikmati inihhhh... Mmmpphhhh... Mmmpphhh” jawab Rachel sambil memejam membohongi perasaan yang ia rasakan sebenarnya.

“Huehuehue... Yakin ? Kalau gini gimana ? Hennkkgggg !!!” kata Pak Udin sambil mengeden mempercepat goyangannya yang membuat Rachel semakin membuka mulutnya merasakan tusukan demi tusukan yang semakin dalam di lubang duburnya.

“Aahhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhh” jerit Rachel tanpa sadar.

Beruntung Adit sedang berteriak - teriak di dalam sana memompa semangat santrinya dalam mengajar. Semua santri di dalam pun berteriak hingga jeritan yang Rachel ucapkan itu teredam oleh suara bising mereka semua.

“Hentikannn pakkk... Ahhhh ahhhh sakittt... Ahhhhh” desah Rachel hingga tubuhnya terdorong menempel ke dinding kelas. Payudaranya yang besar itu terhimpit. Tubuhnya semakin menegak saat dorongan pak Udin semakin beringas dalam menikmati lubang pantatnya.

“Ouhhh yahh... Ouhhh... Ouhh mantappnyahhh... Ouhhh” desah pak Udin saat genjotannya semakin ia percepat.

“Pakkk... Pakkk... Pakkkk Mmmmpphhhh” desah Rachel sambil menatap pria tua itu di belakangnya.

“Ouhhh... Ouhhhh Ouhhh hennnkkkghhhh” desah pak Udin menancapkan penisnya ke dalam. Kemudian menghentikan goyangannya sesaat yang membuat diri mereka berdua merinding merasakan kenikmatan ini. Pak Udin membelai tubuh itu lagi kemudian mencumbunya sesaat yang membuat diri Rachel semakin merinding merasakan sensasi ini.

Pak Udin pun mendekap perut Rachel kemudian memundurkan tubuhnya agar mempermudahnya dalam meremasi payudara itu lagi. Rachel kembali berposisi menungging sambil berdiri. Pak Udin sepertinya sudah tidak kuat lagi merasakan jepitan yang ia dapatkan di lubang anus sang ustadzah. Pak Udin mengarahkan wajah Rachel agar menatap dirinya dalam posisi membelakanginya. Wajah pak Udin mendekat. Ia pun mencumbu bibir itu dengan penuh nafsu.

“Mmmppphhhh”

Saat bibir mereka bertemu, pinggul Pak Udin kembali maju tuk menggenjot tubuh montok yang sedang ia sodomi. pak Udin mendorong bibirnya menekan bibir Rachel untuk menerima cumbuan yang ia berikan padanya. Mata mereka otomatis memejam saat merasakan kenikmatan yang sedang mereka dapatkan. Bibir pak Udin terus maju. Deru nafasnya pun berat hingga Rachel dapat merasakan hembusan nafasnya yang berat menerpa wajah cantiknya. Payudaranya yang menggantung itu di remas. Lubang anusnya yang sempit itu di tebas. Hasilnya, ustadzah montok yang sebentar lagi akan menikah itupun merasa lemas. Penis pak Udin terus merengsek masuk menembus liang dubur Rachel hingga mentok. Rachel tak kuasa lagi menahannya. Ia pun menjerit nikmat. Beruntung ada bibir pak Udin yang menahan jeritan penuh kepuasan yang nyaris diucapkan oleh bidadari indah ini.

“Mmpphhh... Mmpphh... Ustadzahh.. Ahh yahh.. Mmpphhh” pak Udin mendesah nikmat saat pinggulnya terus bergerak maju mundur menikmati keindahan tubuh polos sang ustadzah. Penisnya terasa ngilu saat otot dubur Rachel berkontraksi hingga membuat penis itu semakin terjepit di dalam lubang kotorannya. Tangan pak Udin jadi gemas hingga jemarinya memelintir puting berwarna pink itu sambil meremasi kedua bukit indahnya yang semakin mengencang disana.

“Ahhhhhhh... Mmmpphhhh.... Mmpppphhh pakkkk... Ouhhhh” desah Rachel sambil memejam menerima cumbuan dari pria berkumis itu.

Hampir tidak ada suara yang terucap dari kedua mulut mereka saat bibir mereka bertemu merasakan sodokan nikmat yang terasa semakin cepat. Hanya iringan desahan dan erangan yang terucap dari bibir manis mereka. Suara penuh nafsu itu menjadi backsound yang mengiringi persetubuhan terlarang mereka di tempat yang bisa dibilang nekat untuk melakukannya. Tak peduli dengan suara bising yang ada di dalam kelas di depan mereka. Mereka hanya fokus pada kenikmatan yang sedang mereka dapatkan. Bagaimana kalau ada yang lihat ? Bagaimana kalau ada yang memergoki mereka ? Justru pikiran semacam itu yang membuat nafsu mereka semakin menjadi. Khususnya Rachel yang tak kuasa menahan akal sehatnya saat pikirannya terbayang kalau calon suaminya akan memergokinya sedang bercinta dengan pria tua berwajah jelek ini.

“Aaahhh pakk... ahhh ahhhhhh ahhhhhhhh ahhhhhh” desah Rachel saat merasakan tusukan pak Udin semakin cepat.

“Ouhhh ustadzahh... Ouhh yahh... Saya udah gak kuat lagi... Saya... Mmmpphhhh” desah pak Udin semakin mencumbu bibir indah itu dengan penuh nafsu.

“Mmmppphhhh” Rachel pun demikian. Ia hanya bisa pasrah menerima cumbuan dari pria tua ini. Nafas pak Udin sudah berat. Pikirannya sudah dipenuhi oleh berbagai pikiran kotor saat menyenggamai ustadzah montok ini. Tangannya semakin keras dalam meremasi payudara indah ini. Bibirnya semakin bernafsu saat mendorong bibir tipis ustadzah satu ini.

Plokkk plokkk ppllookkk !!!

Pinggul mereka bertemu menimbulkan suara antar benturan yang semakin keras. Rachel bisa saja berteriak andai bibirnya tidak disumpal oleh bibir pria berkumis itu. Hidung Rachel pun gatal akibat gesekan dari kumis tebalnya.

Pak Udin tidak tahan lagi. Ia semakin cepat dalam menyetubuhi lubang duburnya. Kedua tangannya pun lepas dari pegangannya di payudara Rachel. Tangan itu mencengkram kuat pinggang rampingnya. Mulutnya pun lepas dari cumbuannya di bibir sang ustadzah agar dirinya bisa berfokus mengantarkan cairan spermanya agar bisa keluar di dalam lubang dubur itu.

“Aahhh... Ahh... ahhh... Ahhhhhh” desah pak Udin semakin bernafsu.

“Mmmpphhh pakkk... Mmpphhh... Mmppphhhhh” desah Rachel sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

Pak Udin tidak kuat lagi. Jepitannya semakin terasa nikmat. Sodokannya pun semakin kuat. Dengan satu kali hantaman yang menancapkan penis saktinya hingga menembus lubang dubur itu. Pak Udin pun mendesah dengan penuh nikmat mengeluarkan cairan kental berwarna putihnya.

“Aahhhhh kelluuaarrrrrr !!!!” desah pak Udin dengan keras.

Crroottt... Crrootttt... Crroootttt !!!

“Aaahhhhh pakkkkkkkkkk” Rachel ikut berteriak saat penis itu semakin dalam saat memasuki lubang duburnya. Cairan sperma itu pun keluar membanjiri lubang duburnya. Beruntunglah ia ketika santri di dalam kelas itu sedang berteriak mengikuti arahan dari ustadz Adit di dalam. Suara jeritannya kembali teredam. Kini hanya tersisa kenikmatan yang masih terpendam. Terutama bagi ustadzah Rachel yang belum mendapatkan kepuasan yang ia inginkan.

“Ahhhh yahhhhh... Ouhhh nikmatnyahhh” desah pak Udin merem melek merasakan kenikmatan tak terkira dari dubur ustadzah cantik itu. Pak Udin bergidik nikmat. Tubuhnya pun merinding merasakan kepuasan yang tiada tanding.

“Ouhhhhhh” desah mereka berdua saat pak Udin menarik penisnya keluar hingga cairan sperma itu menetes jatuh dari lubang dubur sang ustadzah. Penis itu tumpah dengan begitu banyak. Bahkan cairannya ada yang melewati bibir vaginanya yang masih mengatup rapat walau sudah basah oleh cairan cintanya sendiri. Lutut Rachel langsung lemas hingga dirinya pun terjatuh dalam posisi berlutut menghadap ke arah tembok. Saat dirinya berlutut sperma itu semakin mudah keluar hingga menggenangi lantai lorong kelas.

“Mmmmpphhhh” desah Rachel merinding hebat.

“Ahhhh gilaaa nikmatnyaaa” kata pak Udin geleng - geleng kepala. Ia pun memasukan kembali penisnya yang sudah mengecil ke dalam celananya kemudian ia juga mengenakan kembali seragam kerjanya. Lalu ia mendekati tubuh Rachel yang sudah lemas tak berdaya. Rachel masih terengah - engah saat pria tua itu mendatanginya dari belakang. Wajah Rachel dihadapkannya ke kiri tepat ke arah wajah pria tua itu. Tatapan mata Rachel yang sayu membuat diri pak Udin tersenyum. Lalu dirinya mengecup bibir tipis itu lagi sambil membayangkan semua kenikmatan yang baru saja ia dapatkan.

“Mmpphhh muuaahhhh... Terima kasih yah ustadzah... Sampai jumpa lagi di lain hari saat saya memasukan penis saya lagi di dalam lubang kotoranmu itu... Huehuehuehue” kata pak Udin lekas pergi meninggalkan ustadzah montok itu sendiri.

Dalam perjalanannya pulang meninggalkan ustadzah montok itu sendirian di samping lorong kelas. Ia teringat akan perkataan rekan tukang sapunya yang berkata ingin menyerahkan ustadzah cantik yang ada di rekaman hapenya ke hadapan dirinya.

“Mana yah tukang coli itu ? Udah sekian hari terlewat tapi belum bisa membuktikan omong kosong yang sudah ia ucapkan... Dasar payah !” kata pak Udin cengengesan.

Sementara itu, Rachel yang lemas pun berbalik menyandarkan punggung mulusnya pada dinding kelas yang ada di belakangnya. Rachel masih terengah - engah merasakan tusukan demi tusukan dari pria tua itu. Ia pun melihat ke kiri dimana kemeja tipisnya tergeletak disana. Ia pun melihat ke kanan saat blazernya juga tergeletak di arah yang berseberangan dengan kemeja tipisnya.

“Aahhhhhhh” Rachel memejam saat merasakan sisa sperma di lubang duburnya mengalir keluar membasahi lantai lorong kelas.

Rachel yang sudah telanjang menyisakan hijab di kepalanya juga rok plisket yang terangkat naik hingga menyangkut dipinggangnya itu mulai memegangi vaginanya sendiri. Hawa nafsunya yang belum tersalurkan ditambah dengan keadaan sepi yang ada disekitarnya membuat Rachel tak sanggup lagi menahan tuk merangsang bibir vaginanya sendiri.

“Mmpphhh... Kenapa ? Mmmpphhh... Kenapa aku jadi kaya gini sih ?” desah Rachel saat merangsang bibir vaginanya sendiri. Rachel merasa sebal pada seorang pria yang tidak bertanggung jawab sepertinya. Bagaimana bisa dirinya ditinggal nafsu seperti ini. Jemarinya pun menekan bibir vaginanya. Ia juga menekan biji klitorisnya yang membuatnya semakin mendesah kegirangan.

“Ouhhh... Ouhhh pakkk Udinnn... Mmpphhhh” desah Rachel lirih sambil memejam.

Tangan satunya yang menganggur ia gunakan tuk meremasi payudaranya sendiri. Rasanya pun jadi semakin nikmat. Hingga suatu saat nafasnya semakin berat. Dirinya terengah - engah. Payudarnya semakin kencang. Tubuhnya yang montok itu pun mengejang.

“Mmmmpphhhhhh”

Ccrrttt... Crrttt... Ccrrttt !

Cairan cintanya mengucur deras bagaikan air mancur yang keluar dari lubang kencingnya. Tubuh montoknya saja sampai terangkat naik. Rachel merasa lega setelah mendapatkan apa yang ia mau. Matanya merem melek keenakan. Ia akhirnya terpuaskan setelah bermasturbasi di tempat terbuka dalam keadaan anusnya yang dibanjiri oleh sperma seseorang.

Seketika akal sehatnya mulai kembali. Ustadzah itu mulai sadar atas perbuatan yang sudah ia lakukan. Kini, yang tersisa darinya hanyalah penyesalan yang ada di hati. Rachel memang mendapatkan kepuasan. Tapi apakah ini yang ia harapkan ? Pertemuannya tadi dengan Adit membuat hatinya semakin sakit. Ia merasa terluka saat sudah kehilangan akal sehatnya saat lubang duburnya dinikmati oleh pria tua berkumis itu. Rachel pun memejam sambil menyandarkan punggungnya merenungi apa yang sudah terjadi padanya.

Tenggg... Tenggg... Tengggg !!!

Rachel terkejut saat mendengar suara lonceng berbunyi.

Benar juga... Sekarang kan masih di jam pelajaran !

Batin Rachel teringat. Rachel semakin panik. Apalagi saat satu demi satu pengajar yang ada di kelas mulai mengucapkan kalimat penutup untuk menuntaskan pengajaran di kelas yang sudah diamanatkan.

“Sekian dari ustadz... Apabila ada kata yang salah, ustadz mohon maaf... Wassalamualaikum wr wb” salam Adit.

“Walaikumsalam wr wb” jawab mereka semua yang membuat diri Rachel semakin panik.

Celaka !

Batin Rachel. Ia panik saat tubuhnya yang sedang bertelanjang itu terasa berat untuk ia gerakan. Apalagi saat ia mendengar saura langkah kaki yang terburu - buru ingin keluar dari dalam kelas. Tak sengaja, ia melihat ustadz Adit sudah keluar dari kelas yang ada di belakang Rachel. Mata Rachel pun membuka lebar, ia pasrah andai dirinya kepergok telanjang seperti ini oleh calon suaminya.


*-*-*-*


Sementara itu di tempat yang berbeda, pak Prapto terdiam mematung sambil memikirkan janji yang sudah ia ucapkan pada rekan kerjanya. Sudah beberapa hari ini dirinya menghindari pak Udin. Ia merasa malu tuk membuktikan perkatannya waktu itu. Memang sih saat itu lidahnya sudah terlalu berani dengan mengorbankan keindahan seorang ustadzah yang ada di rekaman hapenya. Ia pun bingung. Haruskah ia mengorbankan ustadzah mulus itu atau mengorbankan harga dirinya ?

Tak sengaja saat dirinya merenung, ia mendapati ustadzah yang sedang ia pikirkan lewat di sebelahnya. Ustadzah itu terlihat cantik. Ustadzah itu terlihat indah. Ustadzah itu terlihat anggun dengan gamis lebar yang sedang ia kenakan. Pak Prapto pun tak mengira kalau dibalik keanggunan yang ada pada diri ustadzah satu ini, terdapat sisi binal yang membuat ustadzah mulus ini menyukai sesama jenis.

Itu ustadzah Syifa... Apa yang harus aku lakukan sekarang ?

Batin pak Prapto. Dengan memberanikan diri, ia pun mendekati Syifa yang sedang berjalan satu langkah didepannya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy