Search

CHAPTER 22 - MENTOR

CHAPTER 22 - MENTOR

Lonceng telah berbunyi menandakan waktu untuk memasuki kelas pagi telah berakhir. Syifa yang saat itu tengah mengajar di dalam kelas pun mengakhiri sesi belajar mengajarnya dengan kalimat penutup yang langsung disambut oleh santri - santri dengan penuh suka cita.

“Untuk siang ini Ustadzah akan akhiri dulu... Apabila ada pelajaran yang belum jelas bisa tanyakan langsung ke ustadzah di kantor yah” kata Syifa tersenyum.

“Iya ustadzah” jawab mereka kompak.

“Yasudah... Apabila ada salah ustadzah mohon maaf... Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum wr wb” kata Syifa mengakhiri sesi mengajarnya.

“Walaikumsalam wr wb” jawab mereka kompak.

“Ya silahkan duluan” kata Syifa mempersilahkan santri - santrinya untuk keluar kelas terlebih dahulu.

Setelah diberi aba - aba oleh ustadzahnya untuk keluar kelas. Para santri itu berebutan ingin segera pulang menuju asrama mereka. Syifa hanya melihatnya sambil tersenyum. Entah kenapa Syifa merasa heran kepada santri - santrinya itu. Tadi aja sewaktu mengajar di kelas mereka semua pada lesu tapi kok ketika mendengar lonceng berbunyi seketika mereka semua langsung bersemangat.

Dasar !

Batin Syifa ketika melihat santri - santrinya.

“Ehhh hati - hati... Jangan berebutan satu persatu yah keluarnya” kata Syifa akhirnya tidak tinggal diam ketika mereka semua semakin brutal ingin menjebol pintu keluar ruangan kelas ini.

Akhirnya mereka semua sudah keluar. Tinggalah tersisa ustadzah Syifa dimari. Syifa masih duduk di meja guru sambil menuliskan sesuatu di buku catatannya mengenai evaluasi mengajarnya sendiri. Waktu memang semakin siang. Bahkan Adzan sudah berkumandang yang membuat Syifa ingin beristirahat sebentar di ruang kelas sambil merenung memikirkan sesuatu untuk meng-healing dirinya.

Tiap kali dirinya merenung, sudah pasti dirinya teringat akan masa - masa saat dirinya mengenal lelaki itu. Lelaki yang sudah sangat ia cintai. Lelaki tampan yang sudah membuatnya jatuh hati. Tapi kenapa lelaki itu sampai tega untuk mengkhianati ?

“Bukankah ia sudah keterlaluan ? Bukankah ia sama sekali tidak jantan ? Kenapa ia tega sampai pergi meninggalkan ? Sekecil itu kah nyalinya setelah membuatku bertekuk lutut sampai rela menyerahkan ?” lirihnya tak percaya.

Perawanku sampai hilang setelah mendengar janjimu mas ? Tapi kenapa mas tega sampai pergi begitu saja setelah merenggut keperawananku ? Jujur, aku masih kecewa dengan sikapmu mas ! Bahkan setelah bertahun - tahun berlalu !

Batin Syifa hingga nyaris meneteskan air mata.

Buru - buru Syifa melepaskan kacamatanya kemudian mengambil sapu tangan yang ia taruh di saku baju gamisnya. Syifa sempat menghirup cairan kental di hidungnya akibat terbawa arus kesedihan yang melanda hatinya.

“Duh, kenapa aku sampai nangis gini sih ? Buat apa aku sampai menangisi lelaki payah itu !” katanya sambil mengelap liur hidungnya kemudian memasukan kembali sapu tangan itu ke saku gamisnya.

Setelah perasaannya membaik. Ustadzah cantik yang bertempat di bagian pengajaran itu pun beranjak pergi dari kursinya untuk kembali ke kantor bagiannya. Ustadzah setinggi 164 cm itu mulai berjalan menyusuri lorong kelas sambil sesenggukan akibat dirinya yang terbawa suasana setelah memikirkan lelaki itu. Jujur dirinya masih kecewa pada lelaki itu. Hal itulah yang menjadi awal mula bagi dirinya hingga ia terjebak di dalam kubangan birahi yang memaksanya menjadi penyuka sesama jenis.

Syifa sudah terlalu kecewa pada lelaki. Seluruh cinta yang pernah ia berikan tidak dibalas sedikitpun oleh lelaki itu. Bahkan ketika ia dengan suka rela menyerahkan keperawanannya. Lelaki itu malah langsung pergi meninggalkan. Siapa yang tidak kecewa pada sikapnya yang sangat tidak jantan ? Siapa yang sanggup bersabar setelah diperlakukan oleh lelaki pengecut seperti itu ?

“Sudah jangan lagi... Jangan pikirkan itu lagi Syifa... Lupakan semuanya !” lirihnya pada diri sendiri.

Tak terasa sebelum dirinya menuruni tangga menuju lantai dua. Ada seseorang yang memanggilnya dari belakang yang membuat bidadari itu langsung menoleh.

“Permisi, Selamat siang ustadzah” sapa seseorang dari belakang.

“Iya ? Ada apa ?” jawab Syifa setelah menolehkan wajahnya.

“Apa benar dengan ustadzah Syifa ?” tanya orang itu.

“Iya... Kenapa yah ?” tanya Syifa keheranan.

“Tadi sewaktu saya kesini ada seseorang yang meminta saya untuk memanggil ustadzah kepadanya” kata pria tua yang sedang memegangi sapu itu.

“Seseorang ? Siapa ?” tanya Syifa keheranan.

“Hehehe saya juga kurang tau... Gimana kalau saya antar aja ke orang itu” kata pria kurus itu.

“Hmmm yaudah deh” kata Syifa tanpa curiga sedikitpun.

Satu demi satu anak tangga telah mereka turuni. Ubin demi ubin telah bersama mereka lewati. Ustadzah Syifa pun berjalan satu langkah di belakang mengikuti arahan yang diberikan oleh pria tua yang tampaknya bekerja sebagai tukang sapu ruang kelas.

Bapak ini siapa yah ? Siapa juga yang memintanya untuk memanggil diriku ? Kenapa juga harus melalui perantara bapak ini ?

Batin Syifa mulai curiga.

Namun setelah melihat gerak - gerik dari pria tua itu, yang nampaknya memang bersungguh - sungguh dalam menjalankan amanatnya dalam mengantarnya tuk menemui orang itu, membuat kecurigaan Syifa luntur seketika. Ia pun mempercayai sosok ini tuk menemui seseorang yang katanya sudah memintanya untuk datang menemuinya.

Tiba - tiba perasaan Syifa mulai tidak enak saat pria tua ini mengantarnya menuju area belakang kelas. Syifa ingin bertanya pada sosok itu mengenai apakah jalannya memang benar ? tapi lidahnya malah kelu. Siang memang sedang panas - panasnya sekarang. Matahari tepat berdiri diatas ujung kepala mereka berada. Andai tidak ada pepohonan yang berdiri di sekitar mereka. Sudah pasti diri mereka akan kesilauan dalam menerima cahaya mentari yang bersinar terang.

Syifa menundukan kepalanya melihat keadaan di bawah. Banyak dedaunan gugur dibarengi dengan sampah - sampah plastik berserakan yang tidak dibersihkan begitu saja. Syifa merasa jijik pada keadaan kotor di belakang gedung kelas ini. Ia pun menolehkan wajah ke kiri dimana ada pagar - pagar panjang yang mencegah para santri untuk kabur menuju area persawahan yang ada di seberang pondok pesantren ini.

“Tunggu sebentar yah ustadzah” kata pria tua tadi yang membuat Syifa agak terkejut setelah mengamati keadaan sekitar.

Syifa pun diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Kedua tangannya masih memegangi buku yang ia taruh di dada. Tampak bidadari itu membenarkan kacamatanya sejenak sambil melihat keadaan sekitar. Ia pun mendapati adanya sehelai kain bersih yang dibentangkan di salah satu tempat teduh. Ia juga mendapati kalau sosok yang telah mengantarnya kesini sedang memasuki ruangan kecil yang terlihat seperti gudang penyimpanan alat - alat kebersihan.

“Itu kain buat apa ditaruh disitu ? Itu bapak tadi juga mau kemana sih yah ?” tanya Syifa keheranan.

Entah kenapa perasaannya semakin tidak enak. Hatinya resah. Jiwanya pun gelisah. Rasanya ia ingin pergi saja dari tempat yang sangat sepi ini. Tapi dirinya malah diam berdiri karena sebetulnya ia juga penasaran mengenai identitas dari siapa yang sudah memintanya datang ke tempat kotor seperti ini.

Tak lama kemudian sosok yang ia nanti pun keluar. Pria kurus yang tadi membawanya tiba - tiba keluar membawa sosok tambun berkulit sawo matang agak ke gelap dengan wajah yang tak jauh berbeda dengan sosok di sebelahnya. Wajah mereka sama - sama tua. Wajah mereka sama - sama berkeriput. Bedanya sosok yang dibawa oleh sosok tadi memiliki kumis tebal yang tebalnya itu membuat diri Syifa bergidik merinding.

“Ini ustadzah orangnya” kata pria kurus tadi.

“Huehuehue... Selamat siang ustadzah” kata pria berkumis itu mengangkat tangannya mengajak bersalaman. Jelas Syifa tidak menerima ajakan dari pria berkumis itu. Pria berkumis itu bukan muhrimnya yang membuat Syifa tidak mempunyai alasan untuk menerima ajakan bersalaman dari pria berkumis tersebut.

“Huehuehue bodohnya saya ini... Mana mungkin ustadzah secantik kamu mau bersalaman dengan pria tua seperti saya” katanya sambil mendekap dagu Syfa yang membuat bidadari itu terkejut.

“Apa maksud bapak ? Lepaskan !” kata Syifa sambil menghalau tangan pria berkumis itu yang membuatnya malah tertawa memandangi wajah cantiknya. Pria kurus yang tadi membawanya hanya diam sambil menundukan wajah seolah ada rasa sesal yang muncul di hatinya setelah melakukan perbuatan ini.

“Huehuehue... Dasar sok alim !” katanya yang membuat Syifa tersinggung.

“Apa maksud bapak ? Ada urusan apa bapak memanggil aku kemari ?” tanya Syifa heran.

“Huehuehue... Santai dong ustadzah... Kenalin dulu, saya Udin sedangkan teman saya ini namanya Prapto... Kami sama - sama tukang sapu di pondok pesantren ini... Huehuehue” katanya sambil tertawa tidak jelas yang membuat Syifa semakin heran.

“Aku gak peduli dengan nama kalian... Yasudah kalau tidak ada urusan mending aku pergi aja” kata Syifa lekas berbalik namun tiba - tiba tangan kanan pak Udin sudah mendekap pinggangnya yang membuat diri Syifa merinding.

“Apa ? Gak usah pegang - pegang yah pak ! Gak sopan itu namanya !” kata Syifa terkejut hingga buku - buku yang tadi ia bawa pun jatuh berserakan di tanah.

“Wahhh gak nyangka dibalik gamis lebar yang ustadzah kenakan, tersimpan tubuh ramping yang membuat saya semakin penasaran... Huehuehue” kata pak Udin ketika tangan kirinya ikut mendekap perut Syifa kemudian perlahan jemarinya naik ingin memegangi sesuatu yang menonjol di dada indahnya.

“Apa maksud bapak ? Lepaskan aku pak ! Lepaskan atau aku akan teriak !!!” ancam Syifa kesal.

“Huehuehue... Silahkan saja... Saya gak peduli... Karena saya mempunyai sesuatu yang membuat ustadzah akan mengurungkan niatmu itu untuk berteriak” katanya yang membuat Syifa terdiam.

Apa maksudnya ?

Batin Syifa penasaran.

Namun saat dirinya sedang merenung memikirkan perkataan pak Udin. Tiba - tiba dadanya yang masih dibalut gamis lebar itu di remas dengan begitu mantap oleh pria tua berkumis tebal itu.

“Aahhhhhhhhhh” desah Syifa tanpa sadar. Desahannya sungguh menggairahkan yang membuat kedua pria tua di belakang merinding merasakan betapa manjanya bidadari satu ini dalam berteriak merangsang birahi mereka berdua.

“Gede banget ustadzah... Huehuehue... Kesukaan saya ini” kata pak Udin sumringah.

“Gak usah kurang ajar yah pak ! Lepaskannn !!! Lepaskan akuuu !!! Tolooonggggg !!!” Syifa akhirnya menjerit minta tolong.

Namun tiba - tiba pak Udin sudah membalikan tubuh ustadzah ramping itu hingga diri mereka saling berhadapan. Dibelainya pipi mulus ustadzah itu oleh tangan pak Udin. Syifa memalingkan wajahnya tuk menjauhkan tangan kasar pak Udin. Pak Udin hanya tersenyum. Tangan satunya yang menganggur ia gunakan tuk meremas bokong montok Syifa. Syifa pun memejam tanpa sadar. Mulutnya terbuka lebar. Saat itulah pak Udin mendekatkan wajahnya tuk mencumbu ustadzah muda yang beraroma sangat wangi itu.

“Mmmppphhhhhh” desah Syifa tertahan.

Remasan yang ia terima di bokong memang mengejutkannya. Tapi ia lebih terkejutnya lagi saat pria tua berkumis tebal ini dengan berani mencumbu bibirnya dengan memagut sisi bagian atas bibirnya. Syifa hanya bisa pasrah memejam saat liur pak Udin mulai berkumpul memenuhi rongga mulutnya. Lidah pak Udin pun keluar dengan menggeseki lidah Syifa yang masih bersembunyi di dalam. Lidah mereka pun bertemu. Lidah mereka saling bergesekan. Lidah mereka saling bergelut yang semakin menggairahkan nafsu birahi pak Udin saat mencumbu barang baru tersebut.

Rasanya memang lebih nikmat bercumbu dengannya daripada dengan ustadzah Rachel. Mungkin karena faktor barang baru kali yah sehingga sensasinya lebih nikmat apalagi saat ustadzah berkacamata ini melakukan perlawanan yang membuat pak Udin semakin kegirangan.

“Lepaskkan akuu... Lepasskannn !!!” kata Syifa sambil mendorong tubuh tambun pak Udin.

“Huehueue... Mantapnyaaa bibirmu ini... Mmmpphhh... Saya jadi gak tahan.... Saya mmpphhh” desahnya sambil mendorong bibir tipis Syifa ke belakang. Tangan kiri pak Udin pun menahannya agar diri Syifa tidak jatuh ke belakang. Mendapati pria tua itu dengan penuh nafsu membenturkan bibirnya ke bibir tipisnya dengan sekuat tenaga membuat diri Syifa semakin pasrah menerima cumbuan itu. Bukan bermaksud menyerah tapi tenaganya saja yang tidak sampai untuk meladeni nafsu buas pak Udin yang selama ini sudah ngebet ingin memasukan penisnya ke dalam kemaluan seorang ustadzah. Rachel memang mantap. Tubuhnya montok berisi. Pipinya pun chubby. Tapi pak Udin memiliki ikatan perjanjian dengannya untuk tidak memasuki lubang sempitnya. Tentu ada sesuatu yang kurang yang membuat diri pak Udin semakin penasaran. Siapa sangka rekan sesama tukang sapunya malah memberikan target lain melalui rekaman hape yang tak sengaja ia temukan. Saat pertama melihatnya, pak Udin langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Terutama pada ustadzah Syifa satu ini.

Ustadzah yang saat ini sedang mengenakan gamis berwarna gelap itu semakin pasrah dicumbui olehnya. Hijab lebarnya yang berwarna kecoklatan semakin ternoda oleh liur mereka yang turun berjatuhan membasahi hijab itu. Kacamata yang melekat di wajahnya semakin menambah kesan imut pada dirinya. Belum lagi dengan kulit beningnya yang begitu halus saat di elus. Aroma tubuhnya yang disemproti parfum kasturi. Ditambah dengan sensasi bibir tipisnya saat ia cumbui. Pak Udin jadi tidak ingin berhenti saat menikmati kesegaran dari raga ustadzah satu ini. Ia ingin menelanjanginya. Ia ingin menikmati keindahan tubuhnya. Bahkan ia ingin mengisi rahimnya dengan sperma kentalnya hingga bisa menghasilkan keturunan melalui rahim ustadzah satu ini.

Membayangkan semua itu membuatnya semakin bernafsu. Liurnya semakin menetes jatuh saat mencumbui bidadari cantik itu. Kedua tangannya bahkan sudah memeluknya erat untuk menjelaskan kalau dirinya tidak ingin berpisah dari pesona bidadari berkacamata itu.

“Hentikannn.... Lepasskannn akuuu... Mmpphhhh... Tolongggg... Tolonggg akuuuu” jerit Syifa.

“Huehuehue... Mau minta tolong ke siapa ustadzah ? Semua santri sedang ada di asramanya kok... Semua ustadzah juga sedang di kantornya kok... Cuma ada kita bertiga disini... Gimana kalau ustadzah telanjang terus melayani nafsu kami ?” katanya ditengah cumbuannya yang membuat Syifa semakin merinding.

“Enggakk... Mmpphhh... Akuu gakk mauuuuu” jerit Syifa yang membuat pak Udin tertawa karena terlebih dahulu mengetahui jawabannya.

“Mmpphhh mantapp... Huehuehue saya tahu pasti ustadzah akan menjawab dengan jawaban itu... Muuahhhhhhh” katanya dengan penuh nafsu sebelum melepaskan cumbuannya pada bidadari itu.

“Pak Prapto mana hapenya ?” kata Pak Udin yang membuat Syifa penasaran sambil mengelap bibirnya yang basah menggunakan hijab lebarnya yang menggantung dibawah.

Pak Prapto pun menyerahkan hape temuannya itu ke pak Udin. Pak Udin terkekeh - kekeh sambil memintanya untuk memegangi ustadzah Syifa sejenak agar tidak kabur darinya. Pak Prapto nurut - nurut saja walau ada perasaan tidak enak yang berkumpul di hatinya.

“Aahhhhh... Lepaskan aku pakkk !” jerit Syifa saat kedua lengannya ditahan di belakang punggungnya oleh pria kurus yang tadi mengajaknya kemari. Pak Prapto hanya diam. Syifa pun terus berontak tapi usahanya percuma sia - sia oleh kekuatan pria kurus dibelakangnya. Saat tubuhnya dipegangi oleh pak Prapto otomatis dadanya semakin membusung ke depan. Pak Udin tertawa saat sepintas melihat ilustrasi dari kebesaran payudaranya yang masih tersembunyi di balik pakaian longgarnya. Usaha Syifa yang terus berontak hingga pinggulnya bergerak - gerak tak sengaja menggesek kemaluan pak Prapto yang malah semakin merangsangnya hingga penis itu semakin tegak di dalam.

“Lihat ini ustadzah !” kata pak Udin sambil tersenyum mesum yang membuat Syifa penasaran mengenai apa yang ingin pria berkumis itu tunjukan padanya.

Saat Syifa menatap ke arah layar hape itu. Dirinya terkejut saat layar hape itu menampakan kejadian saat dirinya di sandwich depan belakang oleh Salwa dan juga ustadzah Diah di dalam kamar salah satu area kompleks perumahan ustadz senior tersebut. Syifa otomatis diam tak dapat melawan. Dirinya shock saat aksi nekatnya itu ketahuan oleh pria tua bejat itu.

“Itt... Ittuuu bukan aku... Maksud bapak itu aku ? Itu bukan aku !” kata Syifa mengelak.

“Oh yah ? Terus kalau ini siapa ?” kata pak Udin mengganti video lain ke video saat dirinya disetubuhi oleh ustadzah Diah di salah satu ruang kelas setelah sesi muwajjah malam berakhir.

Diam sudah diri Syifa. Ia tidak bisa lagi mengelak karena tepat di video tersebut dirinya bisa melihat wajahnya yang sedang keenakan ditubruk - tubruk oleh penis mainan ustadzah Diah. Mata Syifa pun berkaca - kaca. Ia pun menyadari maksud dari kedua pria tua ini yang ingin menemuinya disini. Apakah ia akan menuai apa yang sudah ia tanam ? Apakah dirinya akan kembali dikotori oleh pria - pria bejat yang hanya menginginkan keindahan tubuhnya saja ?

“Gimana ustadzah ? Kok diem ? Dah ngaku yah ? Huehuehuehue” kata pak Udin tertawa menggunakan nada khasnya.

Syifa hanya menunduk sambil meneteskan satu demi satu air matanya sambil memikirkan kejadian buruk yang akan menimpanya sebentar lagi. Ia menangisi itu. Ia pun tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menutupi aib terbesarnya selama ini.

“Kok bisa ustadzah secantik kamu malah main sama ustadzah cantik lainnya ? Apa kami ini kurang menarik bagimu ustadzah ? Kontol saya ini lebih gede loh... Lebih asli... Ada cap badaknya lagi huehuehue” tawanya yang malah membuat Syifa semakin menangis.

“Hapusss pakkk.... Hapusss video ituuu” pinta Syifa sambil menangis pasrah.

“Apa ? Hapus ? Enak aja... Saya aja belum ngerasain memek rapetmu kok !!!” kata pak Udin sambil membelai pipi mulus ustadzah berkacamata itu.

Rabaannya kemudian turun tuk membelai payudara itu lagi. Pak Udin tersenyum saat merasakan ukurannya yang sangat besar. Mungkin tidak sebesar Rachel. Tapi untuk ukuran tubuhnya yang ramping. Payudara ustadzah berkacamata ini sudah cukup besar. Bahkan sangat besar.

“Toloonnggg pakkkk... Maafin aku... Ampuni aku pak... Hapus video itu !” pintanya memelas.

“Huehuehue... Iya nanti” katanya yang membuat diri Syifa sumringah.

“Ya, tapi setelah saya menghamili dirimu” katanya yang membuat Syifa terperangah.

“Ustadzah tuh harusnya berterima kasih ke kami... Khususnya ke pak Prapto yang sudah merekam semua video di hape ini !” katanya yang membuat Syifa menoleh ke belakang. Pak Prapto pun tak berani menatap wajah dari bidadari cantik itu. Ia hanya menunduk. Syifa pun kesal padanya karena sudah membuat aksi nekatnya ketahuan.

“Andai tidak ada bukti rekaman dari pak Prapto... Apa jadinya pesantren ini kalau ustadzahnya malah menulari santri - santrinya untuk menyukai sesama jenis ! Ustadzah ini harus dihukum deh, karena sudah mencemarkan nama baik pondok pesantren ini ! Sebagai tukang sapu yang loyal... Saya pun memerintahkan pak Prapto untuk membuktikan perkatannya dengan menghukum ustadzah cantik yang lebih mirip boneka sex ini... Huehuehue” tawanya.

Pak Prapto hanya terdiam saat wajah Syifa kembali menoleh menatap dirinya. Benar apa yang telah dirasakan sebelumnya. Ustadzah Syifa pun harus menerima konsekuensi dari omongan kosongnya beberapa hari yang lalu. Haruskah ia menyoblos rahimnya saja ? Atau bersikap jantan dengan membiarkan ustadzah cantik ini kabur ? Lalu apakah ia sanggup dengan menerima konsekuensinya dengan disebut sebagai tukang coli oleh pria berkumis ini ?

“Ada apa pak Prapto ? Kok diem ? Ohhh iya pakaiannya masih ngalangin yah... Sini saya bantu naikan yah” kata pak Udin tiba - tiba mulai menaikan gamis dari bidadari cantik ini.

“Enggakkk... Enggakkk... Tolong jangan lakukan pakkk !!!” kata Syifa sambil menghentak - hentakan kakinya. Namun semua percuma karena tangan pak Udin dengan sigap sudah mengangkat gamis itu hingga sepatu dan kaus kaki setinggi lutut itu sudah terlihat. Gamis Syifa semakin diangkat naik hingga paha mulusnya pun terungkap. Tiba - tiba gamisnya itu sudah terangkat hingga ke pinggang sang bidadari. Syifa merasa malu. Berulang kali dirinya ingin menurunkan gamis gelapnya lagi. Tapi tangannya yang tertahan oleh tangan pak Prapto membuatnya tak bisa melakukan apa yang ia mau.

“Hentikannn... Jangannn... Jangann lakukannn” teriak Syifa pasrah.

Pak Udin dan pak Prapto yang sama - sama sedang mengenakan seragamnya itu terperangah melihat kemulusan dari paha ustadzah cantik ini. Dari belakang pak Prapto terdiam mengamati lekukan bokong indahnya yang masih tertutupi celana dalam berwarna putih itu. Walau dirinya masih bimbang untuk memilih menjadi pria jantan atau pria bajingan. Tapi keindahan yang ada di bokong ustadzah Syifa ini seolah telah mendorongnya untuk menjadi pria bajingan saja. Toh ini kesempatan emas. Kapan lagi dirinya bisa menikmati betapa rapatnya kemaluan dari seorang ustadzah. Ustadzah loh ini, bukan cewek pinggiran jalan yang biasa ia temui saat dirinya dikampung dulu.

Gleekkkkk !!!

Pak Prapto menenggak ludah. Dirinya mulai tergoda untuk menyoblos vagina ustadzah cantik ini saja. Toh sudah terlanjur sampai sejauh sini. Masa iya sih dirinya tidak sempat mencicipi kemolekan tubuh dari bidadari berkacamata ini ?

“Pakkk jangannn... Jangannn lakukann pakkk” teriak Syifa penuh permohonan.

Seketika Pak Prapto tersadar. Ia kembali bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“Ayo pak Prapto... Mana perkataanmu waktu itu ? Apa jangan - jangan kamu cuma punya mulut besar aja ?” ejek pak Udin yang membuat pak Prapto kesal ingin menyetubuhi vagina ustadzah Syifa saja.

“Pakkk jangannn... Tolonggg ampuni akuuuu” teriak Syifa yang membuat pak Prapto kembali bimbang.

Apa... Apa yang harus aku lakukan ?

Batin pak Prapto kebingungan.

Tubuh indah Syifa jelas sulit untuk ia abaikan. Tapi air mata yang menetes di wajahnya juga sulit untuk ia biarkan. Apa tega dirinya membiarkan ustadzah cantik ini menangis ? Tapi apa dirinya juga sanggup membiarkan ustadzah cantik yang sudah menungging ini dibiarkan begitu saja tanpa ia cicipi terlebih dahulu ?

“Pak Praptoooo” kata pak Udin terus menggodanya untuk menatap bokong mulus Syifa.

“Jangannnn.... Jangannn pakkkk” teriak Syifa.

Pak Prapto pun menghembuskan nafasnya yang baru saja ia hirup. Ia sudah memutuskan tujuannya. Ia sudah memutuskan akan jadi apa dirinya dengan melepaskan ustadzah cantik ini atau mencicipinya sedikit untuk memuaskan rasa penasarannya selama ini.

Tiba - tiba pegangan tangannya dilepas. Tangan ustadzah Syifa pun terbebas. Pak Udin mengerutkan dahinya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Syifa pun tersenyum lega. Saat wajahnya hendak menoleh ke belakang untuk menatap sosoknya. Senyuman itu tiba - tiba hilang sekejap. Kini giliran pak Udin yang tersenyum saat melihat perbuatan dari pak Prapto di belakang bidadari itu.

“Maaf ustadzah... Saya gakk kuatttt !” kata pak Prapto sambil menurunkan resleting celananya kemudian mengeluarkan penis besarnya yang berwarna sangat hitam. Syifa bergidik saat melihat ukurannya yang sangat besar itu. Tiba - tiba celana dalam Syifa diturunkan hingga jatuh melewati paha mulusnya menuju lutut dari bidadari cantik itu. Kue lapis legitnya yang berwarna pink itu terlihat. Pak Prapto pun memegangi bokong mulus Syifa sambil terengah - engah.

“Hah... Hah... Hah... Akhirnya... Sedikit lagiiii” katanya menatap kemaluan Syifa dengan tatapan penuh nafsu.

“Huehuehue ya lakukan... Lakukan sekarang pak !” kata pak Udin menyemangati.

“Jangannn.... Jangannnnnn” jerit Syifa sambil menggeleng kepala.

Tubuh tegap Syifa pun diturunkan hingga posisinya semakin menungging hingga diri pak Prapto semakin mudah untuk memasukan penis besarnya.

“Aahhhhhhhh” desahnya saat ujung gundul dari penisnya sudah menyentuh dari bibir vaginanya yang agak basah.

Saat pak Prapto mendorong sedikit pinggulnya. Nampak ujung gundulnya mulai membelah bibir dari vagina bidadari itu.

“Mmmhhhhh” desah mereka merasakan kenikmatan dari gesekan kelamin mereka berdua.

Pak Prapto sempat menggesek - geseknya pelan sebelum ia semakin mendorongnya hingga seluruh ujung gundulnya sudah masuk menancap di kemaluan bidadari itu.

“Ouuhhhh nikmmattnyyaaahhh” desah pak Prapto merinding hebat. Puluhan tahun sudah ia hidup. Baru kali dirinya bisa menikmati rapatnya dari kemaluan seorang wanita. Tidak tanggung - tanggung. Ia menancapkan penisnya ke vagina dari seorang ustadzah yang mempunyai wajah cantik dan bertubuh langsing.

Membayangkan kepuasan yang ia raih membuat pak Prapto semakin menancapkan penisnya lebih dalam lagi yang membuat diri Syifa mengangkat kepalanya karena tak kuasa menahan besarnya penis itu yang merengsek masuk ke dalam vaginanya.

“Aahhhh sakkkittt.... Ahhhhhhh” desah Syifa memejam.

“Ouhhhhh nikmattt sekaliii... Ohhh yahhhh” desahnya sambil terus mendorong pinggulnya sambil sesekali meremas bongkahan pantatnya dan mengelusi kulit mulusnya.

“Ouhhhh enakkkk... Ouhhhh manttaapppp” desah pak Prapto sambil memejam dan memajukan bibirnya. Pak Udin pun tertawa sambil memundurkan dirinya. Diam - diam ia mengeluarkan hapenya tuk merekam aksi liar di belakang gedung kelas ini.

“Huehuehue... Lumayan buat bacol” kata pak Udin yang tidak ingin menganggu kenikmatan mereka berdua.

“Ouhhhhh... Hennkkkkkk... Ouhhhh Hennkkkkkkggg” desahnya saat berulang kali menarik pelan pinggulnya kemudian menghantamnya kuat. Ia tarik lagi pinggulnya kemudian ia hantamkan lagi.

“Aahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Syifa merasakan tusukan dari penis tua itu yang terasa semakin dalam menembus rahimnya. Tubuh ramping Syifa pun terdorong maju mundur berulang kali.

Pak Prapto terkejut saat dirinya sudah merasa mentok di dalam rahim kehangatan Syifa. Padahal baru tiga per empatnya saja yang masuk. Tapi kok sudah mentok yah ?

“Udahhhh... Uhhhhh jangann didorongg lagii.... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Syifa sambil memejam merasakan tusukan dari pria tua bertubuh kerempeng itu.

Kenikmatan yang tak terkira lezatnya membuat pak Prapto tak kuasa untuk menahannya lagi. Tanpa memberikan Syifa istirahat, ia langsung menarik penisnya hingga ujung gundul dari penisnya itu nyaris keluar dari bibir vaginanya. Kemudian tanpa ampun ia langsung membenamkannya hingga mentok menyundul rahimnya.

“Uhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Syifa merinding hebat.

Kembali ia menarik penisnya hingga ujung gundulnya itu nyaris keluar dari bibir vaginanya. Nampak kulit dalam dari dinding vagina Syifa ikut tertarik keluar sebelum tiba - tiba pak Prapto menghentakan pinggulnya lagi hingga tubuh Syifa kelojotan meladeni nafsu buasnya.

“Aahhhhhhhhh pakkkkkkk” desah Syifa melonglong panjang.

Tak pernah terpikiran olehnya bahwa dirinya akan disetubuhi lagi oleh seorang lelaki. Semenjak hilangnya keperawanannya oleh lelaki itu. Tak pernah sama sekali dirinya mau mendekat pada seorang lelaki lagi. Menyentuhnya saja tidak pernah apalagi sampai disetubuhi seperti ini. Merasakan tusukannya yang semakin dalam diiringi desahan oleh pria dibelakang juga suara tawa yang diucapkan oleh pria tambun di depannya membuat Syifa semakin membenci seorang laki - laki.

Apalagi saat tangan pria kurus dibelakangnya itu mendekap erat pinggang rampingnya. Pak Prapto semakin leluasa dalam menikmati keindahan tubuhnya. Syifa hanya bisa pasrah menangis merasakan sodokan demi sodokan yang membuat pria tua dibelakangnya itu mendesah kegirangan merasakan kenikmatan pertamanya dalam menyetubuhi seorang wanita.

“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah pak Prapto memejam.

Gerakannya semakin cepat saja. Gerakannya tak beraturan. Gerakannya cenderung brutal akibat nafsu buas yang semakin tak tertahankan. Syifa terkejut oleh gaya main barbar dari pria tua kurus satu ini. Gerakannya yang sangat cepat membuat tubuh Syifa terlontar - lontar ke depan menahan tusukan dari pria tua ini. Tangannya menahan tangan pak Prapto. Bibirnya bawahnya ia gigit. Ia pun merasakan sakit di dinding vaginanya.

Plokkk plokkk plokkkk !

“Ahhhh... Ahhhh sakitttt... Ahhhh pelan pelan pakkk... Ahhhhh” desah Syifa dengan manja.

“Huehuehue... Dasar primitif !” ejek pak Udin saat melihat gaya main rekan kerjanya.

Pak Prapto terus menggenjotnya tanpa ampun tanpa amnesti lagi. Kedua tangannya semakin mencengkram kuat pinggang mulus itu. Hentakan pinggulnya juga semakin kuat. Desahan yang terucap dari mulut sang bidadari pun semakin keras.

“Aahhhh... Ahhh... Ahhhhh”

Tiba - tiba pak Prapto sudah merasa ingin keluar. Gerakan barbarnya sudah tidak terkendali lagi. Mata pak Prapto berkunang - kunang. Rasa nikmat yang semakin tak tertahankan membuatnya ingin memuntahkan spermanya segera.

“Ahhhh... Ahhhh... ahhhh sayaa.... Sayaaa.... Keluuuaarrrrrrr !!!” tiba - tiba pak Prapto menjerit padahal baru tiga menit dirinya menyetubuhi bidadari cantik ini.

“Apaaa ??? Ehhh uhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Syifa terkejut saat rahimnya tiba - tiba hangat dipenuhi oleh sperma pria tua berbadan kurus itu.

“Aaahhh nikmatttnyaahhh... Ahhhhh” desah pak Prapto merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat. Ia pun merinding merasakan kepuasan yang sangat dahsyat. Tubuhnya yang kurus itu berulang kali kelojotan hingga nyaris jatuh ke depan karena tak kuasa menahan keseimbangannya.

“Ouhhhhhhhh” desah pak Prapto sambil menampari bokong mulus itu kemudian segera menariknya keluar.

“Uuuhhhhhhhhhhhh” desah Syifa saat merasakan aliran sperma yang telah pak Prapto keluarkan mengalir deras melewati rahim kehangatannya. Syifa masih merem melek tak menyangka bahwa rahimnya kembali terisi oleh cairan sperma orang lain lagi. Dirinya bahkan nyaris terjatuh saat terhuyung - huyung setelah menerima sodokan barbar dari pria tua yang tidak memiliki pengalaman bercinta.

Beruntung ada pak Udin yang sudah menangkap bidadari yang masih mengenakan hijab beserta kacamata beningnya tersebut.

"Huehuehue... Hati - hati ustadzah... Teman saya satu ini memang kurang berpengalaman... Pasti ustadzah belum puas yah ? Nah itu bagian saya tuk memuaskan nafsu ustadzah" Katanya yang membuat diri Syifa merinding.

"Cukuppp pakkk... Sudah... Aku gak kuat lagiii" Kata Syifa menolak.

"Huehuehue... Tenang ustadzah sayang... Saya mainnya pake perasaan kok" Kata Pak Udin sambil mengangkat tubuh Syifa hingga mereka berdua kembali berhadapan.

"Indah sekali wajah cantikmu ustadzah... Sayang banget kalau cuma dipake buat nyiumin ustadzah lainnya... Mending dipake buat nyium pria tua seperti saya" Katanya sambil membelai wajah dari bidadari itu.

"Aku gak mau pakkk... Aku gak mau lagiii menuruti keinginan bapak... Aku mau pergi pak... Aku gak mau disini" Kata Syifa sambil berusaha menjauhkan wajah Pak Udin darinya.

"Huehuehue... Gemesin banget sih kamu ustadzah" Katanya sambil mendekatkan bibirnya lagi.

"Enggakk... Enggakk... Mmmpphhhh" Desah Syifa yang akhirnya kembali dicumbu lagi olehnya.

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling bersentuhan. Bibir Syifa pun didorong dengan penuh nafsu oleh pria tua itu. Tangan kanan pak Udin mendekap punggung mulus sang bidadari sedangkan tanya kirinya meremas bokong sekel sang dewi. Pak Udin sampai memejam tuk merasakan kenikmatan yang sedang ia dapatkan. Terbayang dalam benaknya wajah dari sang ustadzah. Nafsunya pun mendorong dirinya tuk membayangkan sensasi saat dirinya mencumbui seorang ustadzah. Ustadzah yang biasanya terkesan alim, berpakaian rapat dan menjaga dirinya kini sedang ia cumbui, remasi dan dekapi. Nafsunya pun meningkat hingga bibirnya kadang membuka tuk mencaplok bibir tipis dari ustadzah satu ini.

"Mmppphhh... Mmppphhh.. Sudahhh... Sudahhh aku gak mau lagiiii" Desah Syifa disela - sela cumbuannya. Pak Prapto pun mengamati bagaimana panasnya percumbuan yang sedang pak Udin layangkan pada ustadzah cantik berkacamata itu.

"Huehuehue... Mantapnyaahh... Mantappnyahhh bibirmu ini... Mmppphhh" Desahnya kembali mencumbui bidadari itu.

Tangan kiri pak Udin pun berpindah dari meremasi bokongnya ke meremasi payudaranya. Benda berbentuk bulat dan berasa kenyal itu ia remas hingga puas. Jemarinya dengan rakus memainkan payudara bulat itu. Sedangkan tangan kanannya pun turun dari mendekap punggungnya ke meremasi bokong sekelnya.

Lidahnya pun semakin liar dalam memaksa masuk menjebol garis pertahanan yang dibuat oleh bibir Syifa. Syifa terus merapatkan bibirnya. Syifa memejam menahan tiap rangsangan yang dilakukan oleh pria tua bertubuh kurus itu.

Jemari kiri pak Udin mencubit tonjolan indah yang ia temukan dari balik gamis gelapnya. Akibatnya Syifa pun menjerit nikmat. Pak Udin semakin senang dalam mendengar jeritannya yang penuh dengan kemanjaan.

"Ahhh pakkk... Jangan... Jangannnn ouhhhhhh" Jerit Syifa.

"Huehuehue... Jerit terus ustadzah... Teriak yang keras... Puaskah nafsumu itu dengan rangsangan yang saya berikan untukmu" Katanya.

Bokong Syifa di remas - remas. Payudara Syifa juga diremas - remas. Bidadari itu pun merinding merasakan kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan. Tetesan sperma yang masih ia rasakan jatuh dari lubang vaginanya menambah sensasi kotor yang telah dirasa di tubuhnya.

Syifa merasa ternoda oleh pelecehan kedua pria tua ini. Ia tahu kalau dirinya bukan ustadzah yang alim. Tapi pelecehan yang telah dilakukan oleh keduanya membuat dirinya merasa semakin ternoda. Syifa merasa kotor ketika tubuhnya terus dikotori oleh pria tua berkumis tebal ini. Syifa merasa sudah seperti objek seksual saja. Objek yang hanya digunakan untuk memuasi nafsu kedua pria tua ini.

Creeetttt !!!

Resleting Syifa tiba - tiba diturunkan. Syifa terkejut karena dirinya tidak menyadari hal itu. Gamisnya yang sudah kembali turun menutupi sekujur tubuhnya tiba - tiba semakin turun setelah resletingnya melorot melonggarkan ukuran gamisnya.

Bahu mulus Syifa terlihat. Warnanya yang bening menyegarkan mata Pak Udin seketika. Pak Udin pun menyelempangkan hijab lebar Syifa ke belakang hingga dirinya mampu menatap dada besar yang masih terjepit oleh bra ketat berukuran 34C itu.

"Jangannn pakkk.... Jangannn lihattt... Jangannn dilihattt" Kata Syifa merasa malu saat mata buas pak Udin memandangi keindahan dadanya.

"Huehuehue.... Seger banget ini" Katanya langsung mendekat wajahnya tuk membenamkannya ke arah dada gede gitu.

"Ahhh... Hentikann... Hentikannn" Kata Syifa merasa risih saat wajah pak Udin mendorong - dorong dadanya.

"Uhmmm... Mmppphhh... Mmppphhh" Desah pak Udin sambil mengecupi dada besar itu yang tidak tertutupi oleh bra berwarna putih.

Tangan kiri pak Udin pun datang untuk meremasi payudara satunya. Sedangkan yang satunya lagi ia turunkan cupnya hingga ia dapat menyusu disana.

"Mmppphhh... Mpphh... Nyamm.. Nyammm" Desah Pak Udin sambil menjepit puting berwarna pink itu menggunakan bibirnya.

"Ahhhh.... Ahhhh... Jangannn... Ahhhh" Desah Syifa sambil terus berusaha mendorong tubuh tua itu. Namun pak Udin tidak bergeming sedikitpun. Ia terus maju untuk mencumbu puting lezat berwarna kemerahmudaan itu.

Tangan satunya yang menganggur ia arahkan tuk melepas ikatan yang menahan dada Syifa dalam bra berwarna putih itu. Kait bra nya terlepas. bra itu pun jatuh ke bawah. Kedua payudara Syifa yang menggantung itu langsung disantap tanpa ampun oleh pria berkumis tebal itu.

"Ahhhh... Ahhhhhh... Ahhh bapakk..." Kata Syifa merasa geli saat putingnya diputer, dijilat dan dicelupin oleh mulut buas pak Udin.

Tangan pak Udin mendekap pinggang ramping Syifa. Gamisnya pun melorot jatuh melewati kaki - kaki bidadari itu saat tidak ada yang menahannya. Jadilah Syifa telanjang bulat tanpa ada satupun pakaian yang menutupi. Hijab lebarnya masih ada. Kakinya juga masih tertutupi oleh kaus kaki beserta sepatunya. Namun dada besarnya yang indah itu tersingkap. Vaginanya yang berwarna pink serta ditumbuhi oleh bulu jembut yang tipis itu juga tersingkap.

Diam - diam pak Prapto terpana melihat keindahan tubuh yang dimiliki oleh bidadari cantik itu. Tak pernah dalam seumur hidupnya ia melihat tubuh yang lebih mirip seperti pahatan seni itu. Penis pak Prapto tiba - tiba mengeras lagi walau tadi dirinya sudah memuncratkan seluruh spermanya ke dalam liang senggama Syifa.

"Ayo duduk ustadzah... Huehuehue... Hehh pak Prapto... Lihat gimana caranya saya memuaskan bidadari ini" Kata pak Udin dengan sombongnya. Pak Prapto hanya diam menatap gerak - gerik pak Udin yang ingin memberinya pelajaran agar bisa memuaskan seorang ustadzah.

Syifa terpaksa menunduk saat tubuhnya didorong ke bawah oleh pria tua bertubuh tambun itu. Tiba - tiba penis besar berbadan gemuk itu ngangguk - ngangguk tepat di hadapannya. Syifa terkejut. Ia juga merasa jijik menatap penis yang beraroma bapak - bapak seperti itu. Syifa memundurkan wajahnya ingin menjauhi benda berbentuk lonjong tersebut.

"Huehuehue... Gimana bentuknya ustadzah ? Menggoda bukan ?" Katanya tanpa tahu malu. Ia pun melepaskan satu demi satu kancing seragamnya agar dirinya bisa lebih leluasa dalam menikmati keindahan tubuh bidadari itu. Ia juga melepaskan celananya agar dirinya bisa samaan dengan bidadari yang sedang berjongkok di hadapannya. Ketelanjangan di tempat terbuka semakin menambah sensasi untuk menyetubuhi ustadzah satu ini.

"Buka mulutnya ustadzah... Kereta mau lewat... Tutt... Tutttt" Katanya sambil mendorong - dorong penisnya hingga ujung gundulnya menabrak pipi mulus Syifa.

"Ahhh mulusnya... Ahhhh mantappp huehuehue" Katanya tertawa.

Syifa merasa risih saat penis tua itu dengan bebas melecehi wajahnya. Syifa ingin pergi tapi tubuhnya masih lemas setelah disetubuhi dengan cara barbar oleh pak Prapto. Tiba - tiba bibirnya didorong oleh penis besar itu.

"Goolllll... Ahhhh yahhh mantappppp" Desah pak Udin puas.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Syifa saat mulutnya disumpal oleh ujung gundul penis itu yang semakin masuk ke dalam.

"Doronggg.... Dorongggg... Ahhhh" Desah pak Udin sambil mendorong pinggulnya sementara kedua tangannya menahan kepala Syifa hingga bidadari itu tidak bisa kabur dari penis besar itu.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Syifa memejam.

Pak Udin merinding saat ujung gundulnya semakin masuk ke dalam mulut bidadari itu. Campuran liur yang mengenai ujung gundulnya semakin menambah kesan nikmat yang ia terima di pentungan miliknya.

"Ahhhh akhirnyaahhh masuk semuaaa" Kata pak Udin puas.

Syifa pun memejam saat kerongkongannya disodok oleh ujung gundul dari penis besar itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh" Tanpa ampun pak Udin langsung memaju mundurkan pinggulnya ke arah mulut Syifa. Pak Udin tersenyum puas sambil memegangi kepala mungil Syifa. Penis itu pun semakin diselimuti oleh liur Syifa. Penis itu semakin berkilauan. Penis itu semakin licin yang membuatnya semakin cepat dalam keluar masuk di dalam mulut bidadari itu.

"Ahhhh berdiri... Buruan saya gak kuat lagi" Kata pak Udin merasakan penisnya nyaris berdenyut kalau saja dirinya tidak segera mencabutnya dari mulut kecil Syifa.

Syifa dengan lemas dipaksa berdiri oleh pria tua berkumis tebal itu. Dirinya diposisikan menungging membelakangi. Syifa agak mengerutkan dahinya saat bibir vaginanya kembali tersentuh oleh penis besar itu.

"Ahh.... Ahhhhhhhh" Desah Syifa kaget saat ujung gundul dari penis besar itu mulai menyelinap memasuki bibir vaginanya.

"Huehuehue... Mantappp... Mantappp.... Jadi semikmat ini yah rasanya memek seorang ustadzah" Kata pak Udin ketika tangan kanannya mengarahkan penisnya masuk sementara tangan kirinya mendekap tubuh telanjang Syifa yang tengah menungging.

"Ahhhh... Ahhh pakkkk... Tolong jangannn... Itu gak muatt pakkk.... Itu gak muattt" Kata Syifa menyadari betapa besarnya penis yang sedang memasuki liang senggamanya.

"Huehue... Tenang... Bakal muat kok... Ustadzah tinggal tahan aja yahhhh... Hennkkgghhh" Desahnya saat mendorong penis itu semakin masuk.

"Ahhhhhhhhh" Desah Syifa hingga ia mengangkat kepalanya naik menatap langit cerah berwarna biru diatas sana.

Pak Prapto takjub saat menatap reaksi wajah sange Syifa saat dihentak secara keras oleh pria tua berkumis itu. Wajah Syifa semakin terlihat bernafsu saat perlahan demi perlahan tubuh pak Udin mulai menggerakan pinggulnya pelan.

"Ahhhh... Ahhhh pakkk... Ouhhh.... Ouhhhhh" Desah Syifa yang membuat pak Udin bersemangat.

"Huehuehue... Asyiknyaaa... Ayo ustadzah... Teriak lagiii... Yang asyik teriaknya yah" Desah pak Udin sambil memegangi pinggang ramping Syifa yang sudah tidak tertutupi apa - apa.

"Ahhh... Ahhhh... Ahhhh... Ahhh bapakkk... Aahhhhh" Desah Syifa yang semakin membakar api birahi pak Udin.

Syifa tengah menungging sambil membungkukan tubuhnya. Kedua tangannya hampir menyentuh tanah karena khawatir dirinya akan jatuh ke bawah. Untung saja kedua tangan pak Udin dengan sigap mendekap pinggang rampingnya. Ia juga dengan sigap memaju mundurkan pinggulnya hingga membuat bidadari itu kewalahan menerima sodokan demi sodokan dari pria tua berkumis tebal itu.

"Ouhhhh.... Ouhhhhh... Pakkk.... Ahhhhhh.... Sudahhh pakkk... Jangannn.... Ahhhh" Desah Syifa. Payudaranya yang menggantung itu bergerak maju mundur. Pahanya semakin memerah terkena koplokan dari pinggul pak Udin.

"Awww.... Awwww.... Ahhhhhhhh" Desah Syifa saat bongkahan pantatnya ditampar - tampar.

"Huehuehue... Teruss ustadzah... Mendesahhh yang nikmat donggg... Puasin semua nafsumu itu.... Jangan ada yang ditahan yah huehuehue" Katanya tertawa saat menikmati jepitan vagina Syifa.

Punggung mulus Syifa di elus. Bongkahan pantatnya juga di elus. Nafas pak Udin ngos - ngosan saat menikmati santapan daging mentah yang begitu legit. Penisnya terasa dijepit. Ia pun menatap langit.

"Huehuehue... Nikmat mana yang saya dustakan !!!" Katanya bersyukur bisa diberikan nikmat dengan menyetubuhi seorang ustadzah berhijab yang mengenakan kacamata.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhhh.... Mmppphhhhhh" Desah Syifa saat tiba - tiba pak Udin mencabut penisnya. Lubang senggamanya yang sedari tadi penuh kini telah kosong setelah ditinggali empunya. Dengan pasrah ia dibawa menuju suatu tempat oleh pria tua berkumis tebal yang sama - sama sudah telanjang.

"Tiduran disini yah ustadzah" Kata Syifa saat dirinya tiba - tiba sudah berbaring diatas sebuah kain. Seketika ia pun sadar akan fungsi dari kain ini saat pertama kali melihatnya tadi.

Pak Udin sudah berlutut di hadapan selangkangan Syifa yang sudah terbuka lebar. Pak Udin tersenyum ketika mata mereka bertemu melakukan kontak. Syifa semakin jijik saat dirinya melihat pelaku dari pemerkosa yang sudah menyetubuhi tubuhnya sedari tadi. Pria tua itu berperut buncit. Kumisnya sangat tebal. Badannya gemuk bahkan lengannya juga gemuk. Penisnya yang panjang itu juga berbatang gemuk. Kedua kaki Syifa diangkatnya naik. Vagina berwarna merah muda itu pun telah siap untuk disantap kembali.

"Huehuehue... Lihat dan perhatikan caranya yah pak" Kata pak Udin ke pak Prapto dengan begitu percaya diri.

Jlleeebbbb !!!

"Ahhhhhhhh" Desah Syifa yang masih menggunakan kaca mata.

Penis besar itu dengan mudahnya melesat masuk karena sudah licin terkena liur dari bidadari tadi. Selain itu bekas sperma pak Prapto yang membasahi liang senggamanya semakin mempermudah penisnya dalam menembus rahim kehangatan Syifa.

"Ouhhhhhh mantappnyahhhh" Desah pak Udin sampai merinding.

Pak Udin agak menaikan hijab lebar yang menghalangi keindahan dada Syifa. Ia pun telah siap untuk membasahi rahim ustadzah satu ini.

"Ouhhhh... Ouhhhhhh... Ouhhhh pakkkk... Ouhhhh sudahhh pakkk" Kata Syifa tak sanggup lagi. Matanya memejam dan bibirnya maju merasakan penis itu semakin dalam merangsang gairah birahinya.

"Ahhhhh... Ahhhh... Mantappnyahh... Ouhhhh yahhhh" Desah pak Udin sambil mengamati pergerakan payudara Syifa yang semakin kencang. Pinggul Pak Udin bergerak semakin cepat. Goyangannya pun semakin hebat. Kadang ia putar penisnya secara vertikal menyamping. Kadang ia juga menancapkan penisnya terlebih dahulu lalu menariknya hingga nyaris terlepas lalu menghentaknya dengan kuat hingga bidadari itu tersentak.

"Ahhhhh... Ahhhhh... Ahhhh" Desah Syifa.

Kedua tangan pak Udin turun memegangi payudara yang semakin menggemaskan itu. Pak Udin meremasnya. Pak Udin mencengkramnya kuat. Pak Udin pun menjepit putingnya hingga tubuh Syifa terangkat naik merasakan sensasinya.

"Ahhhh dikitt lagii... Ahhh gak kuattt... Ahhhh mantapnyahhh" Desah pak Udin tak kuasa menahan birahi ini lagi.

"Ahhhh... Ahhhhhh... Ahhh pakkk cukupppp... Ahhhhh" Desah Syifa yang juga nyaris mendepatkan klimaksnya. Mata Syifa memejam. Kedua tangannya mengepal kuat.

Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!

Hentakan demi hentakan telah pak Udin layangkan. Kepalanya sampai menggeleng - geleng tak kuasa menahan kenikmatan ini.

"Uhhhh... Uhhh... Uhhhhhh" Sambil memegangi payudara Syifa. Pak Udin mempercepat gerakan pinggulnya. Gerakannya semakin cepat hingga suara plok plok plok itu semakin keras.

Diam - diam Prapto rupanya sudah mengocok - ngocok penisnya karena tidak kuasa menahan Syifa digenjot oleh rekan kerjanya itu.

"Ahhhh... Ahhhh dikit lagi.... Ahhh iyahhhhhhhhhhh" Pak Udin dengan satu hentakan yang kuat menancapkan penisnya hingga mentok menyundul rahim Syifa.

"Uhhhhhhhh" Syifa memejam hebat saat lagi - lagi liang senggamanya disirami oleh cairan kental berwarna bening itu.

Tubuh Udin mengejang. Matanya merem melek. Tubuhnya kelojotan hingga nyaris menindihi tubuh Syifa yang sudah terbaring pasrah. Tak lama kemudian giliran Syifa yang mendapatkan klimaks hingga liang senggamanya semakin penuh oleh campuran cairan cinta mereka berdua. Lelehan itu mengalir keluar disela - sela sumpalan penis Udin yang menutup rapat.

"Uhhhhhhh... Gilaaa.... Uhhhhhhh" Desah pak Udin sambil mendorong - dorong pinggulnya walau sudah mentok sambil meremasi payudara besar itu lagi. Tak ketinggalan tiba - tiba Prapto datang sambil menumpahkan cairan spermanya ke wajah cantik Syifa.

"Mmpphhh" Desah Syifa terkejut saat tiba - tiba ada sperma kental yang datang mengenai pipi dan kacamata beningnya.

Usai sudah kenikmatan yang terjadi di belakang gedung kelas ini. Pak Udin yang sudah puas pun mencabut penisnya. Lelehan spermanya semakin deras membasahi pantat Syifa beserta kain yang menjadi alas berbaring dirinya. Pak Prapto terduduk jatuh. Ditatapnya wajah Syifa yang sudah belepotan sperma. Perbandingan penampilan Syifa sangat jauh saat tadi bidadari itu ditemuinya di lorong kelas dengan saat bidadari itu yang sudah telanjang bebas dengan vagina yang dipenuhi lelehan sperma.

"Huehuehue... Gitu caranya memuaskan seorang ustadzah... Ingat semua itu baik - baik" Kata pak Udin berjalan telanjang sambil memungut pakaiannya yang tadi ia lepaskan. Tanpa bertanggung jawab, pak Udin pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih kelelahan oleh kenikmatan yang baru saja mereka lakukan.

"Huehuehue... Lumayan bisa dapet memek ustadzah" Katanya sambil mengambil hape yang tadi ia taruh di salah satu sudut.

"Bagus juga nih rekamannya huehuehue" Katanya tertawa puas.

Sementara itu, pak Prapto masih duduk di samping Syifa yang tengah menangis setelah tubuhnya dinodai oleh kedua pria tua itu. Pak Prapto yang melihatnya jadi iba. Tapi ia juga bersalah karena sudah dua kali menodai tubuhnya. Yakni di vagina dan di wajah ayunya.

"Ustadzahhh" Sapa pak Prapto iba. Bidadari cantik itu pun menoleh sambil memberikan tatapan benci padanya. Pak Prapto semakin tidak enak. Ia pun membuka mulutnya tuk mengeluarkan uneg - unegnya.

"Ma... Maaaff" Katanya dengan terbata - bata.


*-*-*-*


Sementara itu di saat yang sama. Ada sepasang pengajar muda yang baru saja keluar dari dalam kantor bagiannya. Mereka terlihat serasi dikala berdua. Wajah mereka sama - sama menawan. Mereka sama - sama memakai pakaian kebiruan. Ustadzah itu mengenakan gamis berwarna biru langit sedangkan ustadz itu mengenakan kemeja berwarna biru yang warnanya mirip dengan seragam kesebelasan Lazio.

Dikala mereka berjalan bersama mungkin banyak yang mengira kalau ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua. Maklum saja, mereka seringkali tersenyum. Mereka bahkan tak malu lagi ketika bercanda. Tinggi mereka saja serasi dimana tinggi sang ustadzah setinggi hidung dari ustadz tersebut.

Terkhusus bagi ustadz tampan bernama V. Ia merasa senang ketika dirinya bisa kembali akrab dengan ustadzah pujaan yang sebenarnya sudah bersuami. Bagaimana tidak, beberapa hari telah berlalu tetapi dirinya tidak bisa untuk mengobrol atau bersenda gurau akibat kelabilan yang dimiliki oleh ustadzah tercantik itu. Rasa bimbang yang mendera antara harus menjaga jarak atau tidak menjadi persoalan tersendiri bagi ustadzah cantik tersebut.

Sebenarnya ustadzah bernama Haura itu sudah terlanjur nyaman ketika berada di sisi V. Tapi di lain sisi ia ingin menjaga jarak karena khawatir rasa sayang yang ia miliki pada suami tidak sebanyak rasa sayang yang ia punya pada diri V. Apalagi dirinya pernah keblablasan hingga tubuh indahnya pernah dinikmati oleh ustadz tampan tersebut.

Namun berkat kejadian semalam. Seketika Haura merasa yakin kalau menjauh dari V bukanlah solusi dari kehidupannya yang ingin menjaga hubungan baiknya bersama suami. Buktinya saat diri mereka berjauhan, ia masih merindukan sosok tampan itu. Bahkan saat ia jauh, dirinya jadi rentan akan bahaya yang datang dari kuli bangunan berbadan kekar itu. Untunglah semalam V mampu menyelamatkannya dengan menghajar kuli bangunan itu hingga babak belur. Setidaknya itulah yang diyakini oleh Haura saat ini.

Saat itu, Haura sedang tersenyum dengan begitu manis pada ustadz tampan yang sedang berjalan di sebelahnya. Ia merasa senang ketika ada seseorang yang mampu menjaganya dan melindunginya dari sergapan Karjo yang berulang kali telah menyetubuhi tubuhnya. Ketika ada V di sebelah, ia selalu merasa aman. Karena itulah di siang hari ini dirinya meminta V untuk mengantarnya pulang ke rumah karena khawatir ada kuli kekar itu lagi yang tiba - tiba menyergapnya dan meminta jatah darinya.

"Ngapain sih orang pulang aja minta ditemenin" Kata V di sebelah.

"Ohh gak mau nih ? Yaudah aku minta orang lain aja yah" Katanya yang membuat V berubah pikiran.

"Ehh jangan dong... Udah nanggung sampai sini... Masa iya balik lagi sih" Kata V beralasan.

"Heleh padahal baru lima langkah dari pintu kantor kok dibilang nanggung" Kata Haura sambil menahan senyum.

"Hehehe abisnya lima langkah bersamamu kan lebih jauh ketimbang melangkah seribu kali... Maklum, soalnya waktu terasa lama ketika ada kamu disebelah aku" Kata V yang membuat Haura mengangkat alisnya menatap V di sebelah.

"V !! Kamu sakit yah ? Istirahat dulu sana... Baru siang udah gombal ! Dasarr !! Uhhhh" Katanya gemas hingga mencubit lengan V.

"Aduhhh... Aduhhh" Kata V kesakitan.

"Heleh gitu aja kesakitan... Pinter yah pura - puranya" Kata Haura.

"Ehhh kali ini beneran tau... Liat deh merah kan" Katanya sambil menunjukan luka itu pada Haura.

"Wahhh iyya kasiannn... Siapa yang udah nyakitin kamu V... Sini bilang ke aku biar aku balas perbuatan orang itu" Katanya sambil menahan senyum.

"Gak usah... Biar aku sendiri aja yang bales orang itu" Katanya bersiap - siap untuk mengejar Haura.

"Ehhh... Ehh tolongggg" Kata Haura tertawa riang menghindari kejaran V di belakang.

"Awas yah... Sekali ketangkep abis nih" Kata V mengejar di belakang.

"Hihihi gak akan kena" Katanya sambil menghindar ke kanan juga ke kiri.

"Nahhhh" Katanya nyaris memegangi lengan Haura namun terlepas.

"Eittsss... Gak kena" Katanya lagi yang membuat V gemas ingin menangkap bidadari itu.

"Nahhh akhirnya" Katanya setelah berhasil menangkap Haura dengan cara memeluknya dari belakang.

"Ehhhhh" Seketika Haura merasa malu. Jantungnya berdebar saat ustadz tampan itu sedang memeluk tubuhnya dari belakang. Ia pun menundukan pandangan. Ia mendapati kalau jemari tangan V sedang mendekap erat tubuh indahnya.

"Gak usah lari lagi dariku... Kapanpun kamu berlari pasti ada aku yang akan mengejarmu di belakang" Bisiknya kemudian mengecup kepala Haura dari luar hijab yang masih ia kenakan. V pun melepas pelukannya di pinggang Haura. Kemudian mereka berdua kembali berjalan menuju rumah Haura yang berada perumahan kompleks pengajar senior.

Jantung Haura pun berdebar merasakan kecupan serta pelukan dari V di belakang. Seketika rasanya jadi canggung ketika berjalan disebelah ustadz tampan itu. Haura jadi bertindak malu - malu. Ia seperti remaja muda yang baru saja merasakan cinta pertamanya. Diam - diam ia pun melirik V yang sudah berjalan di sebelahnya.

Haura tersenyum tanpa bersuara. Ia kembali menarik wajahnya untuk menutupinya khawatir V mengetahui tindakannya.

"Cieee yang bahagia ditemenin aku pulang yah ?" Kata V disebelah Haura yang membuat Haura malu.

"Ihhh apaan ? Tiap hari juga ketemu masa gini aja bahagia" Kata Haura mengelak.

"Ahhh yang bener nih ? Tapi itu kok senyum - senyum sendiri" Kata V yang membuat wajah Haura memerah malu.

"Ihhhh itu bukan karena kamu yah... Ngapain juga ana senyum - senyum sendiri kaya orang gila aja !!!" Katanya sambil menahan senyumnya.

"Ana atau aku nih ?" Kata V yang membuat Haura salah tingkah karena malu.

"Ihhhh dasar nyebelin" Katanya sambil menampar - nampar bahu lengan V.

"Hahahha... Ampunnn... Ampunnn" Kata V tertawa.

Melihat reaksi wajah Haura yang malu - malu membuat V semakin gemas saja. Jemarinya sangat gemas ingin mencubit pipi tembem itu. Apalagi kalau ia bisa mencubit susunya yang menonjol maju dari balik gamis yang Haura kenakan.

Kangen kan jadinya.

Batin V merindukan keindahan tubuh Haura lagi.

"Oh yah Haura... Emang suamimu pulang kapan ?" Tanya V ditengah perjalanannya.

"Kapan yah ? Beberapa hari lagi mungkin, kenapa emang ?" Jawab Haura.

"Kalau gitu aku siap kok buat nemenin kamu malam ini di rumah" Katanya yang membuat wajah Haura memerah.

"Ihhh ngapain ?" Kata Haura tersentak malu.

"Ya buat ngelindungi kamu lah... Masa iya buat nidurin kamu... Ehhhh" Katanya yang membuat Haura paham maksud tersembunyi dari tujuan V.

"Sekali lagi kamu bahas itu lagi aku marah nih... Biarin bodo amat pokoknya kalau kamu nyinggung kekhilafan aku lagi" Katanya sambil berpura - pura cuek.

"Yahhh maaf deh... Kan cuma berharap... Siapa tau malam ini khilaf" Katanya yang membuat Haura menjerit.

"V !!!! Genit lagi ke aku awas pokoknya" Kata Haura sambil memukul lengan V.

"Ampunnnnnnn" Kata V yang membuat Haura tertawa.

"Hihihi rasain nihhhh" Kata Haura tersenyum senang. Mereka pun saling mengobrol dan bercanda dalam perjalanan mereka menuju rumah Haura. Mereka seakan lupa kalau diri mereka sedang berada di luar ruangan. Mereka seakan tak peduli andai ada orang lain yang memergoki mereka bermesraan. Keadaan memang sepi sih tapi dari suatu sudut yang tak diketahui oleh mereka berdua. Tepatnya dari balik jendela dari sebuah gedung yang belum jadi. Ada salah seorang bertubuh kekar berkulit hitam yang sedang mengelusi penisnya. Penisnya sudah mengacung tegak. Ia sesekali menatap sebuah foto yang ia simpan di hape miliknya.

"Pak Dino.... Untuk kontruksi di ruang 102A gimana yah ?" Tanya seseorang yang mengejutkan sosok kekar itu.

"Ehhh itu... Anu... Ya lakukan dulu seperti biasa... Nanti saya jelasin lagi" Katanya terkejut. Orang yang tadi menyapanya buru - buru pergi dengan kebingungan karena belum mendapatkan penjelasan yang ia butuhkan.

Sosok kekar itu kembali menatap diri Haura yang semakin jauh dari pandangannya. Matanya pun menatap bokong Haura yang berleggak - lenggok dari balik gamis yang ia kenakan.

"Sllllrrppp" Sosok itu pun mengelap liurnya yang nyaris jatuh kemudian pergi tuk melanjutkan pekerjaannya di hari ini.


*-*-*-*


Sore hari di kantor bagian administrasi. Nada sedang duduk menyendiri di depan layar monitornya. Di telinganya tersumpal sebuah headset berwarna putih yang terhubung ke hape yang sedang ia pegang. Sambil mendengarkan musik Korea yang sudah ia download. Jemarinya mengusap layarnya naik untuk melihat satu demi satu foto sahabatnya yang diunggah melalui media sosial Intagram. <br/>Semakin lama ia melihat foto - foto sahabatnya. Ia semakin rindu akan kehadiran mereka. Lika - liku kehidupan pernikahan yang sudah ia lalui membuatnya semakin merindukan masa - masa saat dirinya masih *single* dahulu. Masa - masa indah ketika dirinya bisa tertawa bersama mereka terkenang di hatinya selalu. Apalagi saat dirinya tak sengaja menemukan sebuah video yang diunggah oleh salah satu sahabatnya di akun in tagram.<br/>Semakinlamaiamelihatfoto−fotosahabatnya.Iasemakinrinduakankehadiranmereka.Lika−likukehidupanpernikahanyangsudahialaluimembuatnyasemakinmerindukanmasa−masasaatdirinyamasih∗single∗dahulu.Masa−masaindahketikadirinyabisatertawabersamamerekaterkenangdihatinyaselalu.Apalagisaatdirinyataksengajamenemukansebuahvideoyangdiunggaholehsalahsatusahabatnyadiakunintagram. <br/>Semakin lama ia melihat foto - foto sahabatnya. Ia semakin rindu akan kehadiran mereka. Lika - liku kehidupan pernikahan yang sudah ia lalui membuatnya semakin merindukan masa - masa saat dirinya masih *single* dahulu. Masa - masa indah ketika dirinya bisa tertawa bersama mereka terkenang di hatinya selalu. Apalagi saat dirinya tak sengaja menemukan sebuah video yang diunggah oleh salah satu sahabatnya di akun in ta g r am . < b r / > S emakin l amaiame l ihat f oto f otosahabatn y a . I asemakin r indu akank ehadi r anmereka . Lika l ik u k ehidupanp er nikahan y an g sudahia l a l uimembuatn y asemakinm er indukanmasa masasaatdi r in y amasih sin g l e dahu l u . M asa masaind ahk etikadi r in y abisat er ta w abersamamerekat er k enan g dihatin y ase l a l u . Apa l a g isaatdi r in y at ak sen g ajamenemukansebuah v id eoy an g diun gg aho l ehsa l ahsatusahabatn y ad iak unin tagramnya.

Bersama geng yang mereka namai Edelweiss. Nada tersenyum menatap sebuah video yang direkam sekitar 1,5 tahun itu. Masa saat dirinya belum menikah. Masa saat dirinya belum dilamar oleh suaminya. Masa saat dirinya sedang berlibur di rumah menikmati waktu liburannya setelah lulus dari pondok pesantren.

"Hah... Firda, Maya, Lea, Fathia dan kalian semua... Kapan kita bisa bertemu lagi ?" Katanya.

Ia pun melepas headset yang sedari tadi menutupi indera pendengarannya. Ia pun menaruh hape yang sedang ia pegang ke atas meja kerjanya. Ia pun beranjak berdiri menuju galon air untuk minum membasahi kerongkongannya yang kekeringan. Segera tangannya meraih gelas berwarna biru. Ia pun berjongkok di depan galon tersebut sambil membuka keran hingga air minum itu pun mengalir ke bawah. Setelah air memenuhi gelas yang sedang ia pegang. Ia lekas meminumnya hingga ia merasa segar bugar kembali.

"Hah... Segarnya" Katanya sambil mengelap sisa air di tepi bibirnya.

Ia kembali menaruh gelas itu di dalam laci bagian atas. Ia menutupnya kemudian berjalan menuju pintu keluar untuk menikmati suasana waktu sore di pondok pesantren. Ia duduk di salah satu kursi yang tersedia di teras kantor bagiannya sambil memandang santri - santri yang berlalu lalang berjalan di depan kantor bagiannya.

Ia merenung membayangkan kejadian beberapa hari lalu saat dirinya menyelenggarakan pesta ulang tahun pernikahannya. Tiap kali ia mengenang peristiwa itu. Dirinya semakin sebal saja. Ia sebal pada sikap suaminya. Ia merasa kesal karena suaminya seperti tidak mempunyai rasa tanggung jawab kepadanya. Masa iya ada suami yang tega membiarkan istrinya disetubuhi oleh orang asing ? Bahkan orang asing itu mempunyai keyakinan yang berbeda dengannya. Penisnya saja tidak disunat yang membuat Nada kadang merasa jijik padanya.

"Hah... Astaghfirullah" Katanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dibelakangnya.

Lelah ? Itulah yang ia rasakan sekarang. Tidak hanya fisiknya, tapi batinnya juga merasa lelah. Rasanya ia ingin rehat saja dari aktivitasnya sebagai seorang ustadzah. Ia ingin berbaring selama beberapa hari untuk menstabilkan kembali perasaannya yang kurang terkendali.

Akhir - akhir ini suaminya memang sudah tidak menyinggung soal fantasi anehnya lagi. Tapi kok perasaannya tetap tidak enak yah ? Nada masih merasa tidak enak. Apa karena rasa bersalahnya yah ? Ia merasa bersalah karena sudah disetubuhi oleh orang lain selain suaminya. Tapi kan ini juga permintaan suaminya ?

"Au ah pusing" Kata Nada beranjak berdiri untuk memasuki kantor bagiannya lagi.

Sore hari itu Nada terlihat cantik dengan kaus hitam berlengan panjang yang rasanya agak ketat di sekitar dada. Nada sendiri merasa heran dengan kaus miliknya. Rasanya kok semakin sempit yah ? Padahal dulu kan enggak. Masalahnya yang sempit itu kok cuma di bagian dada ? Apa karena dadanya membesar karena sering diremasi oleh seseorang ?

Ia juga mengenakan hijab dengan warna yang sama bermodel pashmina. Sementara bawahannya ia mengenakan rok panjang berwarna gelap dengan motif tutul - tutul yang membuatnya semakin terlihat indah.

Posturnya yang tinggi semampai itu semakin terlihat. Tubuhnya yang kencang dengan payudara mulus yang tegak menantang semakin terlihat. Kulit wajahnya yang cerah dengan senyum manis yang begitu indah juga semakin terlihat. Ustadzah cantik berbadan body goals itu pun berjalan dengan santai memasuki kantor bagiannya.

Tokk... Tokk... Tokk !!!

Baru saja dirinya masuk ke dalam sebelum tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu dari belakang. Lekas bidadari bertubuh semampai itu membalikan badannya sambil menoleh. Saat wajahnya menoleh, tepat ada sinar matahari yang jatuh mengenai wajah cantiknya. Wajah Nada terlihat semakin cerah. Namun itu malah menyulitkan Nada untuk melihat seseorang yang sudah berdiri di depan kantor bagiannya ?

"Siapa ?" Tanya Nada sambil mengangkat jemari tangannya tuk menghalangi cahaya mentari yang masuk dari sela - sela jendela kantor bagiannya.

"Wakakakak... Sombong yah sekarang ustadzah sudah gak kenal saya !" Katanya dengan nada tawanya yang khas mengejutkan diri Nada.

Nada tawa itu ? Suara itu ?

Batin Nada panik. Dirinya reflek mundur karena ketakutan khawatir pria tua itu mempunyai niatan buruk lagi pada dirinya.

"Pppaa.... Ppaakkk Heri ? Apa yang bapak lakukan disini ?" Tanya Nada panik.

"Wakakaka... Emang gak boleh yah saya disini sore - sore ?" Kata pak Heri sambil berjalan mendekat.

"Bapak mau apa ? Jangan mendekat ?" Kata Nada panik sendiri.

"Lohh kenapa ustadzah ? Saya bukan orang jahat kok... Jangan panik gitulah... Tersinggung saya jadinya" Kata pak Heri yang semakin mendekati Nada.

Tak sadar rupanya Nada sudah mentok di belakang. Punggungnya sudah menyentuh meja tinggi yang memisahkan ruang staff administrasi dengan pengunjung yang datang kesini.

Jemari Nada pun digenggam oleh pak Heri. Dengan lembut pak Heri mengangkat punggung tangan Nada sambil mengusapnya pelan.

"Apa kabarnya... Ustadzah ku sayang ?" Kata pak Heri yang membuat Nada hanya terdiam menatap.

"Bbba... Baiikk" Kata Nada tergagap akibat terlalu takut padanya.

"Baguslah... Saya senang ketika ustadzah baik - baik aja" Katanya sambil menaruh lutut kanannya ke bawah kemudian mengecup punggung tangan Nada yang membuat bidadari itu sempat terkesan.

Tapi kemudian buru - buru Nada menarik tangannya karena ia tahu bahwa pria tua itu bukanlah muhrim baginya.

"Wakakakakak... Ustadzah nih" Katanya sambil tertawa saat Nada segera menarik tangannya selepas dirinya mengecup punggung tangannya.

Tiba - tiba tangan kiri pak Heri sudah hinggap di punggung mulus Nada. Tangan kanan Pak Heri pun menyentuh dagu indah Nada. Reflek Nada menatap pandangan Pak Heri saat pria tua itu mengarahkan wajahnya untuk menatap dirinya.

"Makin hari, kamu kok makin cantik aja sih sayang" Kata pak Heri sambil membelai lembut pipi mulus Nada.

"Lepaskan pak... Jangan sentuh wajah aku" Kata Nada dengan tegas yang malah membuat pak Heri tertawa.

"Wakakakak... Selain makin cantik... Kamu juga makin tegas aja yah... Gapapa justru itu yang bikin saya semakin mencintaimu" Kata pak Heri yang sudah tergila - gila akan pesona yang dimiliki oleh ustadzah berbadan sempurna itu.

"Hentikan pak ! Kalau bapak gak punya urusan disini mending bapak pergi aja sebelum aku usir paksa !" Tegas Nada yang kembali membuat pak Heri tertawa.

"Wakakaka... Ustadzah nih... Udah cantik, manis tapi galak yah... Jadi ingat saya waktu ustadzah berteriak - teriak meminta saya untuk menyodok lebih keras lagi" Katanya yang membuat Nada semakin naik pitam. Tapi ia hanya bersabar sambil berdiam tanpa memberikan reaksi apapun.

"Tubuh indah ini... Susu besar ini... Kapan ustadzah ada waktu biar saya bisa menyetubuhimu lagi ?" Katanya sambil tersenyum setelah membelai tubuh indahnya dan menyentuh payudaranya.

"Pergi !!! Pergi dari sini pakkk... Pergiii !!!!" Kata Nada merasa kesal sambil mendorong tubuh Pak Heri keluar.

"Wakakakak... Sabar sayanggg... Sabar.... Kenapa sih buru - buru meminta saya keluar ? Padahal kan kontol saya belum masuk !" Katanya sambil tertawa yang membuat Nada jengah.

"Pergi pokoknya !!! Acara sudah berakhir... Aku gak ada hak untuk membiarkan bapak semena - mena lagi dalam memperlakukan tubuh aku !!!" Kata Nada.

"Ohhh jadi begitu ? Lalu bagaimana dengan kabar bayi kita ?" Katanya dengan percaya diri sambil berbalik memegangi perut Nada.

Nada terdiam saat pak Heri tiba - tiba sudah berdiri menatapnya. Tangan kiri pria tua itu mendekap pinggang rampingnya. Tangan kanan pria tua itu membelai perut ratanya. Nada mengerutkan dahinya saat pak Heri dengan pede mengaku telah memiliki jabang bayi di rahimnya.

"Gak usah ngada - ngada pak ? Aku gak akan rela punya bayi dari sperma jahat bapak !!!" Kata Nada dengan tegas sambil mendorong kembali tubuh tambun pria itu.

"Wakakakaka... Terus apa kabar dengan jutaan sel sperma yang sudah saya *************************************************************** ke rahim hangatmu itu ? Masa iya dari jutaan gak ada yang berubah jadi bayi" Katanya yang membuat Nada merasa kesal sekaligus takut. Ia sangat takut andai dirinya memiliki jabang bayi dari pria bejat satu ini.

"Gak ada... Gak ada bayi yang keluar dari rahim aku yang berasal dari sperma bapak !!!!" Kata Nada berteriak karena saking kesalnya.

"Mmpppphhhhhh" Tiba - tiba mulut Nada dibekap oleh pria tua itu. Pak Heri pun tersenyum sambil mendekatkan wajahnya hingga mengenai pipi dari bidadari itu.

"Kalau gitu... Bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi di sore hari ini... Gak perlu lama, kita selesaikan cepat saja asal sperma saya bisa masuk menyirami liang senggamamu lagi" Katanya yang membuat Nada ketakutan.

"Enggakk... Enggakkkkk" Kata Nada geleng - geleng kepala.

"Jawabannya tuh iya sayang... Hamil dong... Biar ustadzah bisa tau seberapa besar rasa cinta saya kepadamu... Wakakakakak" Kata pak Heri yang tiba - tiba sudah menaikan kaus panjang Nada hingga sebagian payudaranya yang tertutupi bra berwarna putih itu terlihat.

"Mmmpphhh... Mmppphhhh" Kata Nada tertahan sambil geleng - geleng kepala.

"Wakakakakak... Kasian banget nih susu... Masak iya susu segede ini cuma dikasih 34C... Harusnya mah 36C" Katanya sambil menarik lepas beha ketat yang sedang Nada kenakan.

"Ahhhhhhhhh" Desah Nada saat terlepas dari dekapan tangan pak Heri. Nada terlihat panik saat tangan kiri pak Heri mengangkat naik kaus yang Nada kenakan sementara tangan kanannya meremasi mainan kesukaannya setelah sekian lama tidak bertemu.

"Ouhhhhh... Susumu ini ustadzah... Ouhhh mantapnyaahhhh... Ahhhhh indah sekali putingmu ini" Kata pak Heri terpesona oleh puting tegak berwarna pink itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Hentikan... Hentikan pakkk... Jangannnnn" Desah Nada. Kedua tangannya berulang kali sudah mendorong tubuh pak Heri menjauh. Namun tubuh pak Heri tidak bergeming sedikitpun. Pak Heri masih berdiri tegak dihadapan Nada sambil meremasi payudaranya yang begitu indah untuk diabaikan.

"Wakakakak.... Gedenyaa... Mantappp ini" Katanya mulai menyusu di payudara itu.

"Mmmpppphhhh" Desah Nada memejam saat merasakan sesuatu yang geli di puting payudaranya.

"Ssllrrpp... Ssllrrppp” lidah Pak Heri tanpa henti menjilati puting payudaranya. Tangan kirinya meremas bukit dari pegunungan indah itu. Akibatnya bukit itu semakin mencuat yang memudahkan bibirnya untuk mencaplok ujung putting yang berwarna kemerahmudaan itu.

Pak Heri berpindah dengan menjilati payudara Nada yang satunya. Sedangkan payudara Nada yang menganggur ia remasi kemudian ia cubit putingnya yang membuat Nada menjerit, yang mana jeritannya semakin membuat pak Heri bersemangat.

“Aahhhhhhhhh... Ahhhh hentikannn pakkk... Hentikannnn” desah Nada menahan geli.

Tubuh rampingnya itu pun dipepetnya ke arah tembok. Bibir Nada yang begitu tipis dan manis disedot oleh pak Heri. Nampaknya ia sudah puas bermain - main dengan payudara indah Nada. Kini ia mengincar bibir manisnya. Bibir manis itu pun di dorong oleh pak Heri. Pak Heri mendorongnya dengan penuh nafsu hingga mau tak mau Nada hanya bisa memejam menahan gelora birahi dari pria tua ini.

“Mmmppphhh... Mmmppphhhhhhh” desah mereka berdua.

Nada tidak menyerah begitu saja. Dikala matanya memejam saat menahan cumbuan penuh nafsu yang dilayangkan oleh pria tua itu. Kedua tangannya terus mendorong bahu dari pria tua itu. Kadang tangannya menampar - nampar lengan gemuknya berharap agar pria tua itu menyerah. Tapi nafsu Pak Heri jelas bukan tandingan Nada. Sekeras apapun Nada berusaha hasilnya tidak akan jauh berbeda ketimbang dirinya pasrah. Tangan pak Heri tidak tinggal diam. Ia mengangkat naik rok bintik - bintik Nada yang membuat bidadari itu panik.

“Mmmpphhh... Mmppphhh jangannn... Jangannnn” desah Nada dengan pasrah disela - sela cumbuannya. Kedua tangannya menahan tangan pak Heri agar tidak mengangkat roknya. Namun tenaga ekstra yang pak Heri keluarkan membuat Nada hanya bisa menyerah. Ia kembali menahan tangan pak Heri kebawah namun hasilnya tetap sama. Roknya tetap terangkat. Celana dalamnya yang berwarna putih itupun tersingkap. Dengan segera pria tua yang sudah dirundung nafsu itu memelorotkan celana dalam Nada hingga jatuh begitu saja melewati kedua kakinya.

“Aahhhhhhhhhh” desah Nada merasa malu.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Akhirnya ketemu lagi sama memekmu” katanya tanpa sabar sambil menurunkan resleting celananya. Penis tak bersunatnya itu sudah keluar. Penis tak bersunatnya itu semakin tegak berdiri saat menatap pasangannya yang sudah terbuka dihadapannya.

“Jangannn pakk... Jangannnnn” Nada terus berusaha untuk tidak diperkosa lagi. Matanya berkaca - kaca. Dirinya begitu takut andai penis besar berhoodie itu kembali masuk menembus liang senggamanya. Dirinya begitu fokus pada penis besar itu hingga dirinya sampai lupa kalau pintu masuk kantor bagiannya masih terbuka sedari tadi. Andai ada pejalan kaki yang lewat di depan kantor administrsi. Mereka pasti bisa langsung melihat diri Nada yang sedang diperkosa oleh pria tua bejat berbadan tambun itu.

“Wakakakakka... Bentar lagiii” katanya dengan begitu bahagia. Kaki kiri Nada diangkat oleh tangan kanan pak Heri. Pak Heri pun menatap sesaat wajah Nada dalam posisi berhadapan. Mata sayuk Nada ketika akan dimasuki oleh penisnya membuatnya semakin benafsu saja.

“Wakakakkakaka... Siap - siap yah ustadzah !!! Henkkkkgghhhh !!!” desahnya sambil menghentakan penisnya masuk membelah liang senggama Nada walau masih agak seret.

“Aahhhhhhhhhhhhhhhh” jerit Nada dengan begitu mantap yang menaikan nafsu birahi pak Heri.

“Aahhhhhh... Sempitnyahhh... Serettnnyyahhh” desahnya sambil berusaha tuk memasukan keseluruhan batang penisnya.

“Aaahhhh sakkittt... Sudah pakkk... Jangann lagii... Aku sakittt pakkkk” kata Nada saat vaginanya tidak terlalu basah.

“Wakakakakak... Justru ini yang saya mau !” kata pak Heri mendapati kenikmatan yang semakin terasa saat liang senggama Nada tidak terlalu basah.

“Heennnkkghhhhh” pak Heri kembali menghentakan pinggulnya setelah menariknya sejenak. Penis itu semakin masuk menembus liang senggama Nada. Mata Nada berkaca - kaca. Bahkan tetesannya mulai turun saat merasakan rasa perih di liang senggamanya.

“Saakkiittt pakkk... Ahhhhhhh” desah Nada sambil memeluk tubuh tambun pak Heri tanpa sadar. Pak Heri semakin menekan Nada ke tembok. Ditatapnya wajah cantik Nada yang tengah menangis itu. Pak Heri tersenyum. Dengan penuh nafsu ia pun mendekatkan bibirnya untuk kembali mencumbui bibir manis itu.

“Mmmppphhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.

Pak Heri sudah memasukan penisnya hingga mentok ke dalam. Ia pun beristirahat sejenak sambil menikmati kuluman manis dari bibir sang bidadari. Ustadzah yang mempunyai tubuh body goals itu pasrah saat bibirnya ditekan tanpa ampun oleh pria tua itu.

Tak cukup dengan mendorong bibirnya. Bibir pak Heri pun membuka untuk mencaplok bibir atas dari bidadari itu. Nada terpaksa memejam karena tak kuasa menatap wajah jelek dari pria tua dihadapannya.

“Mmmpphh... Mppphhhh manisnyyaa... Mmpphhh mantapppp” desah pak Heri dengan puas.

Pinggulnya pun mulai bergerak dengan menarik mundur pinggulnya kemudian mendorongnya pelan yang membuat Nada reflek menjerit pelan. Untungnya bibirnya tertahan oleh bibir tua pak Heri. Ia jadi tidak menjerit keras. Jeritannya tertahan. Nada pun semakin erat dalam memeluk tubuh pak Heri tanpa sadar saat merasakan gesekan yang ia terima di liang senggamanya.

“Mmpphhh... Mmpphh pakkk... Cukuppp pakkk... Mmpphhhhhh” desah Nada.

“Wakakakaka.... Nikmatnya bibirmu ini... Seretnya memek rapetmu ini... Apalagi susumu ini... Andai ustadzah jadi istri saya... Mau gak ustadzah cerai dengan suamimu untuk menjadi istri saya nantinya ?” katanya dengan penuh harap.

“Mmpphhh... Mmpphhhhh... Jangan harap yah pak ! Aku gak akan sudi untuk melayanimu” tegasnya yang membuat pak Heri tertawa semakin bersemangat.

“Wakakakakka... okelah akan saya buktikan kalau saya ini pantas untuk menikah dengan bidadari sepertimu” katanya setelah melepas cumbuannya sejenak.

Pak Heri kembali mengincar bibir tipis itu. Kali ini lidahnya sudah keluar dengan menerobos masuk rongga mulut Nada. Lidah mereka di dalam bertemu. Mereka saling bergesekan. Mereka saling bermusuhan. Lidah mereka di dalam bergelut. Mereka bagai dua ekor belut. Mereka bergerak dengan begitu licin merangsang birahi mereka sendiri. Sementara pinggulnya tidak tinggal diam di bawah. Pinggul itu terus mengebor semakin dalam berharap ada minyak yang keluar dari inti liang senggama Nada.

“Mmmpphhh... Mmpphhh... Ahhhhh... Ahmmpphh” desah Nada.

Mereka terus bercinta dalam posisi berdiri saling berhadapan. Lidah mereka masih bergelut di dalam rongga mulut Nada. Kemaluan mereka juga masih bertempur dengan saling mengoplok hingga terdengar suara koplokan yang semakin keras.

Plokk... Plokkk... Plokkk !!!

“Aahhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Nada setelah terbebas dari mulut bau pak Heri.

“Wakakakakak... Nikmatnya susumi ini... Mmpphh mantappp... Sllrrppp... Sllrrppp nikmat” kata pak Heri menyusu di payudara itu sambil menggenjot terus liang senggama Nada tanpa ampun.

“Aahhhhh... Ahhhhh ampunnn pakkkk... Ahhhh hentikaannn” kata Nada menjerit pasrah.

Lima menit lebih mereka bercinta dalam posisi ini. Pak Heri pun tidak tahan lagi untuk mengeluarkan seluruh cadangan lendirnya. Ditengah sodokannya yang semakin cepat. Ditengah tusukannya yang semakin terasa nikmat. Ditengah koplokannya yang semakin terdengar kuat. Pria tua yang sehari - hari bekerja sebagai pengantar paket itupun menyerah setelah dijepit habis - habisan oleh kemaluan bidadari cantik itu.

“Aahhhhh... Ahhhh... Ahhhh sebentar lagiii... Ahhhhhh hennkkgghhhh” desahnya sambil menusukan penisnya sedalam - dalamnya hingga menyundul liang senggama Nada.

“Aaaahhhhhhhhhhhh” desah Nada sambil memejamkan mata saat liang senggamanya kembali penuh disirami oleh cairan sperma pak Heri.

Pak Heri merem melek. Matanya seketika menjadi lowbet. Matanya tak leluasa untuk membuka akibat kenikmatan yang luar biasa. Tubuhnya kelojotan hingga menghimpit tubuh bidadari itu. Kedua tangannya pun hinggap di payudara mulus Nada. Wajah pak Heri semakin terlihat jelek saat itu. ia begitu puas saat kembali memuntahkan cairan spermanya di dalam liang senggama seorang ustadzah yang mempunyai gelar pemilik body goals terbaik.

“Hah... Hah... Hah...” kini mereka hanya bisa terengah - engah setelah melewati waktu - waktu nikmat saat kemaluan mereka bersatu menciptakan sebuah irama. Mata mereka saling bertatapan. Mata Nada seolah menjelaskan bahwa dirinya tak percaya kalau ia kembali digagahi oleh pria tak bersunat ini. Sementara mata pak Heri menjelaskan kalau dirinya sangat puas bisa menyetubuhi bidadari berhijab secantik ustadzah Nada.

Pak Heri tanpa ragu kembali mendekatkan bibirnya tuk mencumbui bibir bidadari itu.

“Mmmppphhhhhh” mereka berdua berciuman setelah menikmati waktu bersama di sore hari yang indah ini. Bibir Nada terus didorong. Pemiliknya hanya bisa pasrah membiarkan pria tua itu melakukan apapun pada tubuhnya.

Tiba - tiba . . . . .

“Kaliannn !!!” kata seseorang yang mengejutkan diri mereka berdua.

Buru - buru pak Heri melepas ciumannya. Nada juga terkejut hingga dirinya menoleh ke samping tuk menatap seseorang yang sudah memergoki mereka berdua.

“Oalah pak ustadz... Bikin saya kaget aja” kata pak Heri tersenyum lega.

“Massss” kata Nada seolah menyesal ketika dirinya kembali disetubuhi oleh pria tua ini bahkan setelah event berakhir.

“Kaliannn... Kaliann baru bercinta yahhh... Siall saya melewatkan pertunjukan kalian berdua” katanya sumringah yang membuat Nada heran.

“Massss” panggil Nada sekali lagi. Namun suaminya itu hanya bisa tertawa puas ketika melihat istri cantiknya selesai digagahi.

Saat pak Heri melepas penisnya yang menancap. Cairan spermanya dengan deras membanjir keluar membasahi lantai kantor administrasi.

“Wakakakakka... Maaf pak ustadz... Sperma saya sudah mengotori kantor” kata pak Heri tertawa.

“Hahahha gapapa pak Heri... Biar istri saya yang nanti membersihkan” katanya tertawa yang membuat Nada semakin heran.

Nada pun pelan - pelan terduduk jatuh. Roknya yang tadi terangkat mulai turun menutupi keindahan kakinya. Namun lelehan sperma pria tua itu masih saja mengalir yang membuat diri Nada menangis ketakutan. Ia begitu ketakutan karena sudah dua kali rahimnya disirami oleh penis pria tua ini.

“Wakakakka... Saya pamit dulu yah... Maklum orang sibuk... Tadi niatnya cma silaturahmi aja... Terima kasih yah pak ustadz sudah membiarkan saya mencicipi istrinya lagi” kata pak Heri melangkah pergi.

“Iya pak sama - sama... Harusnya saya yang berterima kasih karena sudah membantu saya dalam memuaskan fantasi terpendam saya” kata Rendy yang membuat Nada terdiam tak percaya.

Nada hanya menangis di sore hari itu sambil membayangkan berbagai kemungkinan terburuk andai dirinya bisa mempunyai anak dari pria tua itu. Dirinya duduk menyandar pada dinding sambil memeluk kedua lututnya yang ia angkat sejajar.

Lalu Rendy pun datang sambil membawakan tisu untuk istri cantiknya.

“Ini dek... Terima kasih yah sudah memuaskan birahi mas” katanya yang membuat Nada semakin marah.

“Terima kasih apanya mas !!! Mas sudah melanggar janji mas untuk menjaga adek ! Emang mas gak marah apa ngeliat adek digituin sama pak Heri tadi !!!” kata Nada melonjak marah.

“Enggak” jawab Rendy dengan tenang yang membuat Nada semakin tak percaya. Ia benar - benar kecewa pada suami tercintanya.

“Apa ?” kata Nada sambil mengerutkan dahinya tak percaya.

“Bahkan mas punya ide lain loh dek... Gimana kalau adek melayani dua pria sekaligus ketika mas duduk menonton aksi adek ?” katanya yang membuat Nada hanya diam mengangkat alisnya heran.

Bibir Nada pun beku. Ia sudah kehabisan kata - kata untuk menjelaskan situasi yang sedang ia alami.

“Mau yah dek ?” katanya dengan senyum penuh arti.

“.......” Nada hanya diam sambil menatap wajah suaminya dengan tatapan amarah penuh kekecewaan.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy