Search

CHAPTER 23 - ASA SANG KULI

CHAPTER 23 - ASA SANG KULI

Pagi hari, Haura sedang berada di taman menikmati waktu muwajjah pagi bersama santriwati-santriwatinya. Waktu itu, ia mengenakan pakaian olahraga berupa kaus berlengan panjang berwarna coklat muda yang ia padukan dengan celana training panjang bercorak terang. Hijab lebarnya terpasang di wajah mungilnya. Bidadari itu tersenyum. Ia mengamati satu demi satu wajah imut dari santriwati-santriwatinya. Tidak ada yang lebih menyenangkan baginya ketika menghabiskan waktu bersama santriwati-santriwatinya. Nampaknya jiwa seorang guru sudah melekat di relung hatinya. Rasanya kaya ada yang kurang apabila ia tidak menghabiskan waktu bersama santriwati-santriwatinya.

Namun sesekali bidadari itu menoleh ke samping memandangi satu demi satu bunga yang berjejeran di taman itu. Tiap kali dirinya memandang bunga, pastilah ia teringat akan sosok seseorang.

V !!!!

Ya, seorang ustadz tampan yang berulang kali telah membuat hatinya bimbang. Ia memang sudah nyaman padanya namun beberapa kali ia merasa bersalah tiap kali berduaan dengannya. Ia pun mendesah sambil mengamati langit biru di atas sana. Cuaca memang cerah tapi kok hatinya terasa gundah yah. Ia mengalami dilema, mungkin dikarenakan oleh kelabilan yang dimiliki olehnya.

Labil yah ?

Antara ya atau tidak. Antara memilih suaminya atau ustadz tampan dihatinya. Kenapa hal ini begitu sulit baginya ? Bukankah jawabannya sudah pasti, yakni suaminya ? Tapi kok rasanya gimana gitu andai dirinya melihat V bersama ustadzah lain, terutama dengan Hanna yang akhir-akhir ini selalu terlihat bersamanya.

Bidadari yang sedang duduk dibangku taman itu terlihat gelisah. Rasanya ia seperti merindukan sosoknya. Ia ingin ustadz tampan itu duduk disampingnya untuk mengajar santriwati-santriwatinya bersamanya. Mungkin apabila ia berada disisinya sekarang, semuanya akan terasa lengkap.

“V” Lirihnya sambil melihat langit biru cerah diatas sana.

Satu demi satu ia bubuhkan catatan di buku tulisnya. Sembari menemani santriwatinya belajar. Ia malah mencoret-coret bukunya dengan sebuah tulisan yang sulit untuk ia katakan dengan lisan.

Lagi-lagi, ia buru-buru mencoret tulisan itu karena ia merasa bersalah pada suaminya karena telah mengkhianatinya.

Duhhh kenapa aku kangen dia sih ?

Batin ustadzah tercantik se-pondok pesantren itu.

Tidak hanya karena wajahnya yang tampan. Tapi juga karena sikapnya yang sudah membuatnya nyaman. Apalagi tiap kali dirinya bercanda dengannya. Senyum pasti akan terukir di wajah. Itukah yang selama ini ia cari-cari dari ustadz tampan itu.

Mungkin satu-satunya alasan kenapa ia begitu merindukan sosoknya karena satu. Ia kesepian. Suaminya seringkali pergi meninggalkan. Suaminya seringkali bepergian. Ia seringkali ditinggal sendirian di rumah, tanpa diketahui oleh suaminya kalau selama ini ada predator seksual yang seringkali mengintainya untuk dapat mencicipi kelezatan dari vagina harumnya.

Haura merinding ketika teringat sosok itu lagi. Ia begitu ketakutan andai pak Karjo kembali datang dan memperkosa dirinya. Masih terbayang dalam ingatan bagaimana ukuran dari penisnya yang besar mengobrak-ngabrik dinding vaginanya. Masih terbayang dalam ingatan bagaimana kedua tangannya itu dengan gemas meremasi kedua payudara ranumnya. Masih terbayang dalam ingatan bagaimana kuli bangunan itu dengan penuh nafsu mencumbui dirinya dan berniat untuk menghamili dirinya.

Haura semakin merinding. Berulang kali ia menolehkan wajah ke kiri juga ke kanan. Nampaknya ia mempunyai firasat kalau ada seseorang yang sedang mengawasinya sejak tadi. Mungkinkah ada ?

Semoga saja tidak !

Namun nyatanya, firasat seorang wanita memang tidak bisa diremehkan. Jauh disana, ada seorang kuli bangunan yang diam-diam mengamati lekuk indah dari bidadari berwajah sempurna disana. Kuli itu berulangkali menjilati bibirnya sendiri. Kuli itu berulangkali mengelus penis besarnya yang sudah membesar. Kuli itu berulang kali menatap hapenya tuk mengamati keindahan bokong dari seorang bidadari yang ia yakini sebagai Haura. Nafas sosok itu kian berat, ia begitu mendambakan akan keindahan tubuhnya yang sempurna. Ia pun bersumpah ingin bercinta dengannya tak peduli walaupun harus menunggu sekian tahun untuk dapat mencicipi vagina lezatnya.

Seketika ia terkejut ketika Haura tiba-tiba berdiri membubarkan santriwati-santriwatinya. Sepertinya waktu untuk muwajjah pagi sudah berakhir. Semua santriwati sudah pada pergi. Begitupula ustadzah cantik itu yang sedang berjalan memegangi buku yang ia taruh di dada.

“Aku harus mengikutinya” Kata kuli bangunan itu.

Mengendap-ngendap bagai seorang ninja. Ia dengan baik melakukan aksi mata-matanya di pagi hari ini. Entah jabatannya apa andai ia tinggal di desa ninja. Mungkin seorang genin, bisa jadi chunin, atau mungkin saja jounin. Tiap kali kuli bangunan itu melangkah, suara kakinya tidak terdengar. Bukankah itu berarti ia sudah berada di level tertinggi ? Apa jangan-jangan ia merupakan agen mata-mata selevel James Bond. Mungin saja !

Dari belakang ia mengamati bagaimana bokong Haura bergoyang. Pantatnya yang montok bergeal-geol serasa penis ingin masuk ke dalam untuk membuat gol. Bokong Haura memang tidak ada duanya. Apalagi tubuh rampingnya yang sempurna. Rasanya ingin hati mendekap tubuhnya kemudian menancapkan penis besarnya ke dalam lubang pantatnya yang sempit.

“Ahhhhh pasti mantap sekali !” Lirihnya dengan sangat yakin.

Tiba-tiba tanpa ia duga, ustadzah cantik beraroma wangi itu menoleh ke belakang membuat kuli bangunan itu kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Saat wajahnya hendak menoleh ke arahnya. Tanpa tahu harus berbuat apa, ia malah berbalik badan sambil melangkah menjauh berpura-pura kalau dirinya tidak mengikuti ustadzah itu.

Haura pun mengerutkan dahinya mendapati ada orang mencurigakan di belakangnya. Tanpa menunggu lama, bidadari cantik itu pun mempercepat langkah kakinya menjauhi sosok mencurigakan itu. Hatinya gelisah, hatinya pun bertanya-tanya.

“Siapa sih orang itu ?” Katanya saat sekilas melihat penampakan punggungya.

Ia pun mencoba menerka-nerka. Kulitnya sangat gelap. Tubuhnya pun sangat kekar. Apalagi sosok itu sedang bertelanjang dada hanya mengenakan celana pendeknya saja. Hanya ada satu nama yang ia ingat ketika mendapati ada laki-laki yang mempunyai ciri-ciri seperti itu.

“Jangan-jangan ? Itu pak Karjo ?” Katanya merinding.

Tanpa menunggu lama, ia bergegas pergi menjauhi sosok itu. Ia berlari, Ia mempercepat langkah kakinya agar dirinya tidak dikejar lagi oleh kuli kekar itu.

Saat kuli itu berbalik, ia mendapati kalau Haura sudah jauh pergi meninggalkan. Ia pun kecewa. Sikap ragu-ragunya telah merusak kepercayaan dirinya yang tadi ingin membuntuti bidadari berhijab itu.

“Mungkin belum rezekinya... Nanti saja” Katanya sambil mengelusi penisnya yang mulai mengendur karena kekurangan sinyal ketika pusat sinyalnya semakin berjalan jauh darinya.

“Hah... Hah... Hah...” Haura terengah-engah saat berlari cepat menjauhi sosok mencurigakan itu. Ia pun menundukan wajah sambil menempelkan kedua tangannya di lutut kanan kirinya. Ia sangat kelelahan. Ia pun mengusap dahinya yang berkeringat menggunakan punggung tangannya. Tak terasa tubuhnya sudah dibanjiri oleh air keringat yang sangat banyak. Seketika kaus yang ia kenakan jadi lembap. Bahkan beha berukuran 34C yang dikenakannya tampak tercetak dari balik kaus yang semakin basah itu. Untungnya bidadari itu tidak menyadari hingga santri-santri yang tak sengaja melewatinya bisa menikmati keindahan tubuhnya dengan santai.

“Fiyuhhh nyaris saja... Itu pak Karjo kan yah ?” Lirihnya nampak kurang yakin.

Saat merasa kalau sosok itu sudah jauh pergi di belakang. Ia mulai berjalan santai mendekati gedung kelas. Memang perjalanan dari taman bunga ke rumahnya harus melewati gedung kelas itu. Gedung kelas yang biasa ditempati oleh para santriwati. Saat ia menolehkan wajahnya ke sana, ia mendapati kalau ada sosok yang ia kenal disana sedang berduaan dengan seorang santriwati cantik yang sudah sangat terkenal.

“V ? Salwa ?” Kata Haura dari kejauhan.

V ? Siapa yang tidak mengenalnya ? Hampir seluruh santriwati juga ustadzah yang ada di pondok pesantren ini pasti mengenal nama dari ustadz baru itu. Parasnya yang tampan, sikapnya yang ramah dan sosoknya yang cool membuat semua wanita yang ada di pesantren ini begitu tergila-gila pada penampilannya.

Begitupula dengan Salwa yang sedang duduk tersenyum di hadapannya. Ia merupakan santriwati tingkat akhir yang memiliki kecantikan wajah serta kecerdasan otak yang membuat dirinya dicalonkan untuk menjadi ustadzah baru di tahun ajaran selanjutnya. Salwa merupakan santriwati ramping bertubuh tinggi yang mempunyai kulit wajah yang bening sempurna. Ia juga sering berpakaian selayaknya seorang cover girl dengan memadukan berbagai kemeja dengan rok trendi yang membuatnya menjadi sedap di pandang tiap hari.

Bayangkan saja, masih berpakaian saja sudah sedap dipandang apalagi kalau tidak berpakaian ?

Seketika ada rasa cemburu yang berkuasa di hati Haura. Ya, hatinya panas melihat sosok V sedang berduaan dengan Salwa di sebuah bangku taman yang berada di depan gedung kelas. Dari posisi Haura, ia memang hanya melihat punggung dan sebagian dari sisi samping ustadz tampan itu. Namun dari posisinya, ia juga dapat melihat bagaimana raut wajah Salwa yang tampak bahagia ketika berduaan bersamanya. Sebagai sesama wanita, mungkin ia dapat merasakan feel yang Salwa rasakan sekarang.

Hati Haura seketika kusut bagai sebuah benang yang tidak dirapihkan setelah digunakan. Tanpa memperdulikan sosoknya yang sedang berduaan. Haura pun melangkah pergi untuk pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap mengajar di jam pertama nanti.


*-*-*-*


Sementara itu di sebuah taman yang berada di depan gedung kelas.

“Ehhh bukan gitu Salwa... Yang benar tuh kaya gini” kata V sambil mengajari santriwati cantik itu belajar privat.

Dikala V yang duduk di hadapan Salwa sedang mengoreksi soal yang baru dijawab oleh santriwatinya. Santriwati itu malah sibuk mengamati raut wajah dari ustadz tampan di hadapannya. Nampaknya ia tak peduli dengan koreksian yang sedang dibenarkan oleh ustadznya. Ia hanya tersenyum mengamati keindahan yang dimiliki oleh ustadz tampan di hadapannya.

“Begini yah Wa... Gimana paham kan ?” kata V seketika mengangkat wajahnya tuk menatap wajah Salwa. Namun Salwa hanya tersenyum sambil menatap wajahnya yang membuat ustadz tampan itu merasa canggung dengan sikap santriwatinya.

“Salwa... Tadi antum memperhatikan gak apa yang udah ustadz jelaskan ?” tanya V.

“Perhatikan kok ustadz... Ana selalu memperhatikan antum” katanya sambil menyangga pipinya menggunakan telapak tangan setelah sikunya ia taruh diatas meja.

“Beneran ? Tapi kok rasanya antum kaya gak memperhatikan ke buku yang tadi sedang ustadz koreksi ?” kata V semakin canggung saat santriwati itu terus saja menatapnya sambil tersenyum.

“Ihhh beneran kok ustadz... Ana memperhatikan tau... coba aja deh tes ana” katanya sambil tersenyum yang membuat V seketika tersipu.

Satu demi satu V mencoba untuk bertanya pada santriwati itu mengenai soal yang baru saja ia koreksi. Di luar dugaan, Salwa menjawab semua pertanyaan dengan benar. V pun terkejut menyadari kecerdasan yang dimiliki oleh Salwa. Memang benar bahwa Salwa merupakan santriwati yang cerdas. Bahkan sebetulnya ia tak perlu belajar privat pada V karena ia sudah memahami semua materi yang telah di ajarkan di kelas. Ini hanyalah akal-akalan Salwa saja agar dirinya bisa menikmati waktu berdua bersamanya.

“Betul semua kan ana ? Yeaaayyyy” kata Salwa dengan ceria yang membuat V keheranan namun senang. Ya dia sangat senang mendapati ada santriwatinya yang memahami apa yang sudah ia ajarkan. Tapi ia juga heran mengenai sikap Salwa yang sepertinya seringkali caper padanya. Memang sih, Salwa sudah mengutarakan perasaannya pada dirinya. Bahkan beberapa hari yang lalu Salwa sudah membuktikan perasaannya itu dengan memberikan apapun yang V minta. Bahkan dengan suka rela Salwa sampai menanggalkan seluruh pakaiannya untuk mengulum batang penis yang dimiliki oleh ustadz tampan itu. Seketika V bergidik merinding mengingat momen itu. Rasanya memang nikmat tapi agak gimana gitu karena sebetulnya ia belum terlalu mengenal sosoknya.

“Ustadz... Nanti kalau antum mau menikah, antum mau punya istri yang kaya gimana ?” tanyanya tak terduga yang membuat V kebingungan.

“Ehhh Salwa kok nanyanya gitu sih ?”

“Hihihih ya nanya aja kok ustadz... Pengen denger aja... Siapa tahu ana bisa siap-siap jauh-jauh hari” katanya dengan malu-malu.

“Ya... Ya... Anuuu... Ituuu” V jadi gagap mendapati pertanyaan tak terduga darinya. Melihat jawaban dari V membuat Salwa semakin tertawa karena mendapati V sangatlah lucu baginya.

“Hihihihih gak usah tegang ustadz... Dibawa santai aja... Kalau ustadz belum siap sekarang... Ana siap bersabar lebih kok” katanya sambil menumpuk kedua tangannya diatas meja sambil menatap mata V.

“Ya... Ya itu hehehe... Oh yah gimana belajarnya di kelas Salwa ada halangan ?” tanya V mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Ada ustadz”

“Oh yah apa itu ?” kata V senang akhirnya ada topik lain yang bisa dibicarakan selain rasa suka yang Salwa miliki padanya.

“Pokoknya tiap kali ana belajar di kelas... Ana selalu kepikiran seseorang yang membuat fokus & nilai ana turun... Biasanya sih kalau ulangan suka dapet 100 tapi kemarin malah dapet 95” kata Salwa sambil tersenyum.

Seketika V paham mengenai orang yang Salwa maksud itu.

“Hah” V nampak kelelahan ketika menghabiskan waktu berdua bersama Salwa. Rasanya seperti baru marathon 1000 meter saja. Ia pun berkeringat. Sebelum ia mengelap keringatnya, tiba-tiba Salwa sudah berdiri kemudian mengeluarkan sapu tangannya untuk mengelap dahi dari ustadz tampan itu.

“Panas yah ustadz... Mau pindah ke kelas ?” kata Salwa sambil mengelap dahi V.

Matahari memang sudah meninggi. Padahal jam baru menunjukan pukul enam kurang sepuluh menit. Masih ada waktu 10 menit tersisa untuk menghabiskan waktu berdua sebelum masa muwajjah pagi benar-benar berakhir.

“Boleh deh Wa” kata V menyetujui itu.

“Hihihi yuk ustadz masuk ke dalam” kata Salwa sambil menarik tangan V mengajaknya masuk ke dalam kelas.

V ikut saja saat tangannya ditarik oleh santriwati cantik itu. Pagi itu ia sedang mengenakan kaus gelap berlengan pendek yang ia padukan dengan celana training panjang berukuran longgar. Rambutnya ia sisir rapih ke belakang. Walau ia tidak mengenakan make-up. Tapi aura wajahnya yang cerah membuat orang-orang terpana akan putihnya kulit yang dimiliki oleh V. Maka tak heran kalau Salwa sampai tergoda melihat ketampanan yang dimiliki olehnya.

Saat itu, Salwa sedang mengenakan kaus panjang yang ia sembunyikan di balik sweater berwarna krem. Rok panjang berwarna putih menutupi keindahan kakinya yang jenjang. Nampak hijab yang juga berwarna krem melengkapi penampilan cantiknya di pagi hari ini. Sejujurnya, V terpukau akan kombinasi pakaiannya. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan cara Salwa yang seolah selalu mengejar-ngejar dirinya.

Seketika bidadari cantik itu tersenyum sambil menolehkan wajahnya ke arahnya. V tersipu apalagi dengan genggaman tangan yang begitu erat dari sosok bidadari itu.

“Salwa” lirih V saat ditarik olehnya ke dalam kelas.

Sesampainya di dalam ruang kelas, tiba-tiba V berhenti yang membuat tarikan tangan Salwa ikut terhenti. Santriwati cantik itu pun menoleh menatap V.

"Salwa... Ustadz mau nanya boleh ?"

"Mau nanya apa ustadz ?" Jawab Salwa tersenyum.

"Ustadz cuma penasaran aja... Apa yang membuat antum tertarik ke ustadz ? Bahkan kemarin antum sampai mengirimi surat itu ke ustadz ?" Tanya V penasaran.

"Hihihi ada banyak ustadz" Jawab Salwa tersipu mendapati V menanyakan hal itu.

"Misalnya ?"

"Ya antum cakep, antum baik, antum juga pengajar yang baik... Tapi dari semua itu, yang terpenting ya karena antum udah bikin ana nyaman... Antum juga datang disaat yang tepat sewaktu dulu ana membutuhkan seseorang... Intinya, ana ngerasa antum lah orang yang cocok untuk membimbing ana setelah menikah nanti" Kata Salwa tanpa memberanikan diri menatap wajah V. Ia tampak malu-malu sembari menundukan wajah kendati tangannya masih saja mendekap tangan V yang baru saja ia tarik.

Wajah V memerah saat mendengar pujian yang telah Salwa berikan. Apalagi senyum malu-malunya membuat V juga ingin tersenyum di hadapannya. Ustadz tampan itu tersipu mendengar kejujuran yang sudah Salwa ucapkan di hadapannya.

"Hahaha antum ini... Bikin ustadz gerah aja pagi-pagi" Kata V salah tingkah hingga ia mengibas-ngibaskan tangannya tuk mengipasi kerah lehernya yang kepanasan.

"Hihihi emang kenapa ustadz ? Kok bisa sampai gerah ?" Tanya Salwa malu-malu.

"Habisnya antum pagi-pagi udah bikin ustadz bingung aja sih" Katanya sambil mengelap keringatnya menggunakan telapak tangannya.

"Ehhh sini biar ana lagi aja ustadz... Ustadz duduk aja yah di bangku sebentar" Kata Salwa sambil mengambilkan bangku kayu kemudian menyuruh V untuk duduk diatasnya.

V menuruti. Seketika tangan Salwa mulai bergerak dengan mengelapi wajah lembap V yang berkeringat. Maklum saja, ia mengenakan kaus berwarna gelap hingga membuatnya lebih mudah untuk menyerap cahaya matahari daripada warna lainnya.

Salwa tersenyum sambil mengelapi wajah dari ustadz tampan itu. Diam-diam V melirik dan mendapati mata mereka bertemu. Salwa pun tersipu hingga menutupi mulutnya menggunakan tangan satunya.

"Hehehe ada apa Salwa kok senyum" Kata V canggung.

"Enggak ustadz... Hihihihi" Jawab Salwa sambil menahan senyumnya.

Setelah wajahnya kering, V masih merasa gerah di tubuhnya. Tangan kirinya menjepit kerah lehernya. Ia pun mengibas-ngibaskannya untuk mencari udara segar yang bisa mendinginkan tubuhnya. Seketika Salwa menyadari ketidaknyamanan yang dialami oleh ustadz tampannya. Ia pun berniat untuk membantu ustadz tampan itu.

"Kalau gerah dilepas aja juga gapapa kok ustadz" Kata Salwa malu-malu.

"Ustadz lepas baju gitu... Ehh jangan dong Salwa.... Ustadz kan malu" Kata V merasa canggung.

"Ehhh hehehe daripada ustadz kegerahan... Ana gapapa kok... Nanti ana bantu buat ngelap keringet ustadz" Jawab Salwa sambil menatap ke samping ke arah pintu keluar.

"Jangan deh Wa... Ustadz malu jadinya... Lagian masa iya seorang ustadz telanjang dada di depan santriwatinya... Itu kurang sopan namanya" Kata V malu.

"Hehehe tapi ana kan pernah gitu juga di depan antum... Lepas aja yah ustadz itung-itung gantian" Kata Salwa dengan wajah memerah.

"Tapi Wa... Tapi kan" Kata V bingung.

"Gapapa ustadz... Ana bantu lepas yah" Kata Salwa sambil menaikan kaus yang V kenakan hingga membuatnya bertelanjang dada di depan dirinya.

Seketika Salwa tersenyum malu. Ia begitu malu ketika melihat setengah aurat dari ustadz tampan itu. Walau tubuhnya tidak kekar, tapi kulit bening yang dimiliki olehnya, serta ketampanan wajah yang terhias disana membuat Salwa tak mampu mengalihkan pandangannya dari pahatan seni yang ada di depannya.

"Maaa... Maaaff Salwa... Badan ustadz gak bagus" Kata V merasa malu sambil menutupi tubuhnya didepan santriwatinya.

"Hihihi gapapa ustadz... Ana tetep suka kok" Katanya sambil mulai mengelap tubuh berkeringat V. Aroma maskulin yang memancar dari tubuh telanjang itu seketika mengundang nafsu birahi Salwa yang tergoda akan keindahannya. Pelan dan pelan Salwa mengelap keringat yang ada di bahu V. Namun matanya malah menatap dua buah puting yang sudah mengacung tegak di dada V. Wajah santriwati itupun memerah padam.

V merasa sangat canggung. Kendati dirinya pernah bertelanjang dada dihadapan Haura bahkan sampai bercinta dengannya lebih dari satu kali. Namun apa yang ia rasakan saat ini sangatlah jauh berbeda dari apa yang ia rasakan dulu. Ia sekarang bertelanjang dada bukan karena keinginan hatinya, berbeda dengan saat ketika ia ingin menyetubuhi Haura.

Gleekkkk !!!!

V menenggak ludah saat tangan bidadari itu mulai mengeringkan keringat di dadanya. Saat sapu tangan santriwati itu tergesek ke putingnya, V jadi merinding merasakan sensasinya. Apalagi saat dirinya melihat senyum malu-malu dari santriwati itu. Rasanya ia jadi gemas ingin mencubitnya dengan segera.

Sekali-kali mata Salwa ia naikan tuk menatap reaksi wajah dari V. Salwa pun tersenyum manis mendapati ustadz tampan itu sedang menahan geli ketika dilayani olehnya.

V memang sedang geli ketika tubuh telanjangnya sedang dielap-elap oleh santriwati secantik Salwa. Ia jadi teringat akan perkataan Adit dan teman-teman sekamarnya kalau Salwa merupakan santriwati ter-hitz sepondok pesantren ini. Bisa dibilang Salwa adalah Hauranya santriwati. Banyak lelaki yang begitu ingin untuk memiliki hatinya. Banyak lelaki yang begitu ingin untuk mempersunting dirinya. Bahkan banyak lelaki mesum yang bermimpi bisa memuntahkan sperma hangatnya di rahim santriwati ini.

Ditatap nya wajah manis Salwa kemudian tubuh rampingnya yang masih tertutupi sweater longgarnya. Cukup lama V menatapnya, V pun merasa kalau Salwa ini kok orangnya manis juga. Apalagi caranya dalam tersenyum membuat V dapat melihat lesung pipi yang ada di sebelah kiri wajahnya.

Sedikit demi sedikit V mulai mendapatkan sinyal hingga batang penisnya yang masih tersembunyi itu mulai naik.

Saat Salwa melirik ke arah V. Ia mendapati kalau V sedang terdiam menatap wajahnya. Mata mereka kembali bertemu. Mereka sama-sama tersenyum malu mendapati kalau mereka selama ini saling melirik secara diam-diam tanpa sepengetahuan lainnya.

"Ahhh hehe maaf Salwa... Ustadz udah ngeliatin antum tadi" Kata V tersipu.

"Hehehe gapapa ustadz... Gapapa kok" Kata Salwa tersipu.

Wajah Salwa semakin memerah ketika menyadari kalau selama ini V diam-diam suka memperhatikannya. Ia pun berpura-pura tenang sambil melanjutkan tugasnya dengan mengelap lengan V. Namun wajahnya yang sedang bahagia jelas tidak mampu ia sembunyikan. Ia masih saja tersenyum malu-malu yang membuat V semakin betah saat mengamatinya secara diam-diam.

"Ustadz ihhh..." Kata Salwa tersipu saat V kembali kepergok melirik dirinya.

"Ehh Salwa maaf... Hehehe"

"Dasar antum nih... Kalau gitu kan ana jadi malu tau ustadz" Kata Salwa salah tingkah hingga membuatnya meremas-remas sapu tangan yang sedang ia pegang.

"Anuuu... Anuuu... Habis ustadz baru sadar... Antum manis banget sih Wa... " Kata V yang membuat jantung Salwa semakin berdebar kencang mendengar pujiannya.

"Ana ? Hehehe terima kasih ustadz" Jawab Salwa semakin salah tingkah dibuatnya.

Dari sekian usaha yang sudah Salwa lakukan, baru kali ini ia mendapatkan pujian dari seseorang yang ia suka. Walau sedari tadi ia terus saja caper seolah ia tak mempunyai rasa malu padanya. Namun kalau udah dipuji kaya gini sih, wanita mana yang gak salah tingkah mendengar pujian yang dilakukannya secara tiba-tiba.

V terus saja tersenyum tanpa sadar sambil mengamati keindahan wajah Salwa. Kulitnya yang bening, bentuk matanya serta hidungnya, juga bibir tipisnya yang berwarna pink. Lama kelamaan Salwa ini kok semakin terlihat sempurna aja yah ? Jantung V berdegup lebih kencang hingga tak sadar ia sedang mengelusi batang penisnya yang semakin berdiri tegak.

Tak sengaja Salwa melihat pergerakan tangan V. Matanya pun terkunci pada tonjolan besar yang tersembunyi di balik celana V.

"Hihihihi udah gede aja tuh ustadz" Kata Salwa malu-malu sambil melirik tonjolan penis V.

"Ehhh apanya Wa ?" Seketika mata V melihat ke arah tonjolan celananya.

"Ehhh ini ?" Kata V dengan wajah memerah.

"Hihihi udah pengap tuh ustadz... Ana bantu keluarin aja yah, gimana ?" Tanya Salwa tiba-tiba yang membuat V gugup.

"Ehhh gak usah Salwa.... Gak usah deh" Kata V malu.

"Hihihi gapapa ustadz... Gantian, sekarang antum aja yang telanjang" Tiba-tiba tangan Salwa sudah tiba di tepi celana training V.

"Ehhh Salwaaa... Jangannn... Jangannn" Kata V semakin gugup.

Salwa sebenarnya juga gugup. Tapi ia juga penasaran tuk melihat keadaan ustadznya ketika sedang bertelanjang bulat tanpa berpakaian sama sekali. Tanpa menunggu lama, Salwa langsung berlutut di hadapannya. Kemudian kedua tangannya ia gerakan naik untuk memegangi pangkal celana V yang ada di sekitar pinggangnya.

Sedikit demi sedikit celana training itu mulai diturunkan. Salwa sudah dapat melihat celana dalam berwarna coklat yang ustadz tampan itu kenakan. V hanya terdiam mendapati santriwati cantik itu sedang membugilinya. Rasanya gimana gitu, mungkinkah ini yang Haura rasakan saat itu ketika dirinya menurunkan celananya ?

Tanpa disadari, celana training V sudah tiba di lututnya. Tonjolan besar yang bergerak naik turun itu menggoda perhatian Salwa. Seketika ia dengan berani membelai tonjolan itu. V pun merinding merasakan usapan lembut dari santriwatinya kendati dirinya masih mengenakan celana dalam.

"Ouuuhhhhhhh" Desah V merinding.

"Hihihi enak yah ustadz ? Coba ana lihat" Kata Salwa dengan malu-malu menarik celana dalam yang sedang V kenakan. Nampak batang penisnya yang besar mengejutkan diri Salwa.

Penis itu tidak hitam. Mungkin agak kemerahan. Ukurannya juga sangat besar dengan ujung gundul yang lebih mirip kepala jamur. Nampak rambut kemaluannya yang tidak terlalu lebat membuat Salwa tidak begitu jijik untuk membelai penis besar itu. Saat Salwa mendekatkan kepalanya tuk melihat bentuknya lebih jelas lagi. Salwa mencium aroma kuat yang berasal dari selangkangan ustadz tampan itu. Walau baunya bisa membuatnya muak, tapi ketika nafsu sedang menguasai dirinya malah membuatnya semakin terangsang untuk memainkan benda besar itu.

"Uhhhhhhhhh... Salwaaaa" V merinding saat tangan Salwa sudah mendekap batang penisnya. Permukaan kulit Salwa yang lembut membuat sentuhan yang ia terima di batang penisnya semakin terasa nikmat.

Salwa masih berlutut dihadapan V sambil mengamati senti demi senti penampakan tubuh telanjang ustadznya. Lama kelamaan, santriwati itu semakin terangsang setelah melihat penampakan polos dari ustadz tampannya.

Setelah puas melihat tubuh dari V. Mata Salwa kemudian terpaku pada batang penis yang sedang ia dekap. Pelan demi pelan ia membelai penisnya naik. Kemudian ia membelai penisnya turun. Mulai dari batang penisnya, ia membetotnya kuat. Ia membiarkan ujung gundul dari penis itu begitu saja tanpa ia sentuh. Ia kembali membelai batang penis V naik hingga kulit penisnya itu menutupi ujung gundul yang tenggelam seolah dilahap oleh kulit batang penisnya.

"Ahhh... Ahhhh Salwaaaa.... Ahhhhh" V mendesah merasakan belaian yang ia terima.

"Gimana ustadz ? Enak gak ?" Tanya Salwa malu-malu.

"Ahhh... Ahhhh enak banget Salwaaa... Ini lebih enak daripada yang kemarin" Katanya membuat Salwa tersenyum.

Mendengar desahan nikmat yang V rasakan membuat semangat Salwa untuk memuaskan ustadz tampan itu semakin tinggi. Celana training beserta celana dalam yang tadi masih menyangkut di lutut V sudah ia lepaskan. V pun telanjang bulat tanpa ditutupi apa-apa lagi. Entah kenapa rasanya semakin nikmat ketika ia telanjang sambil dikocoki oleh santriwati cantik itu.

"Ouhhhh... Ouhhh Salwaahhhh" Desah V sampai bergidik merasakannya.

Tak terasa lima menit telah berlalu semenjak diri mereka memasuki ruang kelas itu. Saat Salwa melihat ke arah jam tangannya. Ia terkejut saat melihat waktu sudah menunjukan pukul lima lebih lima puluh lima menit.

"Ustadzzzz... Ana percepat yah ustadzah... Lima menit lagi udah jaros... Kalau nanti jaros bunyi... Ustadz kan jadi nanggung, hihihi" Kata Salwa sambil terus mengocok batang penis itu.

"Ahhhh... Ahhh iyyahh Salwa... Ustadz nurut antum aja" Kata V yang semakin keenakan merasakan tangan mulus dari bidadari itu.

"Hihihi" Salwa tersipu. Dengan malu-malu ia menyelempangkan hijabnya ke belakang lehernya kemudian ia pun mendekatkan kepalanya sambil menjulurkan lidahnya agar mulut kecilnya mampu untuk menelan batang penis raksasa itu.

"Aaaaaaaahhhhhh" V sampai memejam kemudian menengadahkan kepalanya ke atas saat ujung gundul dari penis itu merasakan kehangatan dan kelembapan dari rongga mulut Salwa.

Salwa tersenyum mendengar erangan dari ustadz tampan itu. Untuk sementara, baru ujung gundulnya saja yang masuk ke dalam rongga mulutnya. Mulut kecilnya jelas tak mampu untuk menelan bulat-bulat batang penis itu. Sedikit demi sedikit ia mencoba untuk melahap batang penisnya. Senti demi senti batang penis itu mulai tenggelam. V pun mulai menggelinjang. Bahkan kedua tangannya sampai mencengkram kuat-kuat sisi samping dari alas duduk yang sedang ia tempati.

"Aaaahhhh... Salwaaahh... Ouhhhhh" Desahnya.

Karena kesulitan, Salwa pun memuntahkan batang penis itu hingga permukaannya sekarang telah dilumuri oleh liur miliknya. Tangan kanannya kembali mendekap batang penisnya. Sambil mengecap ia pun mengocok batang penis itu lagi yang membuat V semakin keenakan.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhhh" Desahnya tiada henti.

Kini lidah Salwa mulai bermain dengan menjilati batang dari penis besar itu. Belaian lidahnya yang lembap perlahan mulai membasahi batang penis V. Awalnya ia menjilati sisi kirinya, kemudian sisi depannya. Salwa seperti sedang menjilati sebuah lolipop yang membuat V semakin keenakan merasakan sensasinya.

Kembali, mulut Salwa ia buka tuk mengulum batang penis itu lagi. Saat ujung gundulnya kembali ia telan. V kembali menggelinjang merasakan sensasinya.

"Ahhhh... Ahhhh Salwa... Enakkkk bangetttt... Ahhhh" Desahnya sambil membelai lembut kepala Salwa yang masih tertutupi hijab.

"Mmppphhh... Mmppphhh... Mmppphhh" Salwa terus bekerja dengan mengulum batang penis itu. Kepalanya ia naik turunkan. Sedangkan genggaman tangannya juga tetap ia naik turunkan. V semakin merinding merasakan sensasi ketika batang penisnya juga ujung gundulnya dirangsang dengan demikian rupa oleh santriwati cantik itu.

Cengkraman tangan V semakin kuat. Ia memegangi kursinya saat hisapan dari santriwati itu semakin nikmat.

"Aaahhhhh.... Ahhhhhhhh Salwaaaa" Desahnya.

Ditengah kenikmatan yang ia dapatkan dari santriwatinya. Muncullah sebuah pertanyaan di benak V. Kenapa Salwa sampai sejago ini ketika mengulum penisnya ? Apakah Salwa pernah melakukan hal yang sama sebelumnya ?

"Mmppphhh... Mmppphhh ustadz... Punya ustadz gede banget sihhh... Mmppphhh" Desah Salwa saat menaik turunkan kepalanya mengulum penis itu.

"Ahhhh... Ahhhhh Salwa... Antum kok jago banget sihh... Ouhhhh" Puji V keenakan.

Salwa semakin bersemangat mendengar pujian darinya. Kedua bibir tipisnya dengan kencang mengapit ujung atas dan ujung bawah dari penis besar itu. Kemudian dengan cepat ia gerakan naik turun. Tak lupa, lidahnya juga bergerak dengan membasahi ujung gundul penis itu dengan sesekali menjilati nya hingga penis itu semakin mudah ketika merengsek masuk ke dalam rongga mulutnya.

"Aaaahhhhh... Ahhhh.... Aaahhhhh" Kenikmatan yang V dapat membuatnya sampai berdiri dihadapan santriwati cantik itu.

Tanpa ia sadari, kedua tangannya langsung memegangi kepala mungil dari bidadari berhijab itu. Salwa terkejut mendapati ustadznya sudah bangkit berdiri di hadapannya. Namun rasa cinta yang ia miliki padanya membuatnya enggan untuk menghentikan servisnya untuk menyenangkan ustadz tampan di hadapannya.

Alih-alih berhenti atau menurunkan kecepatan mengulumnya, ia malah mempercepat gerakannya bahkan ia mengkombinasikannya dengan pergerakan tangan yang sedang mengocok batang penisnya.

“Mmmpphhh... Mmmmpphhh... Mmmppphhhh” desah Salwa tanpa pernah beristirahat.

Dikala kepalanya maju mundur secara teratur. Dekapan tangannya yang berada di batang penis itu tetap bergerak bahkan ia melakukan gerakan memutar hingga penis itu mendapatkan servis double dari bidadari tersebut.

“Ahhhh... Ahhhhh Salwwaaa... Ahhhhhh” V semakin tidak tahan. Tanpa ia sadari pinggulnya bergerak sendiri sedangkan tangannya menahan pergerakan kepala Salwa agar bidadari itu tidak terjungkal ke belakang terkena gerakan pinggulnya yang semakin ia percepat.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Aahhhhhhh” V nampaknya lupa kalau ia saat ini sedang menyetubuhi mulutnya. Rasa nikmat yang telah mendera kemaluannya membuat ia melupakan segalanya. Salwa pun terkejut di bawah. Berulang kali penis besar itu terus menyodok-nyodok pangkal kerongkongannya. Bahkan hidungnya yang mancung itu seringkali terkena rambut kemaluan V yang tidak terlalu tebal.

“Mmmppphhh... Mmmpppphhhh... Mppphhh”

Salwa hanya bisa memejam menahan pergerakan pinggul V yang semakin cepat. Berulangkali tangannya mengepal kemudian memukul-mukulkan paha mulus V agar menurunkan kecepatannya saat sedang menyenggamai mulutnya.

Namun rasa nikmat yang sedang menderanya lagi-lagi menulikan telinga V. Ia seolah tak mendengar desahan yang tertahan di mulut Salwa. Ia juga seolah tak merasakan pukulan demi pukulan yang Salwa layangkan di pahanya.

“Aaahhhhh... Ahhhh Salwwaa... Ustadz mau keluar sebentar lagi... Ahhhhh” desah V tak tahan.

“Mmmpppphhh... Mmppphhhh... Ustaddzzzzz” desah Salwa tertahan.

Nafas V sudah sesak bahkan kedua lututnya sudah melemah seiring datangnya gelombang dahsyat yang sudah berkumpul di lubang kencingnya. Ustadz tampan bertubuh kurus itu memejam. Ia pun fokus merasakan kenikmatan yang sedang didapatinya di batang kemaluannya.

Terasa batang penisnya semakin hangat di dalam. Terasa ujung gundulnya terus berbenturan dengan lidah Salwa yang lembap. Sentuhan demi sentuhan yang didapatinya di lubang kencingnya semakin membuatnya tidak tahan lagi.

Pinggul V terus saja bergerak maju mundur. Ia terus menggoyangnya tanpa pernah merasa kendur. Tubuh telanjangnya kini sudah berkeringat. Batang kemaluannya yang keluar masuk di dalam mulut Salwa semakin terasa nikmat. Tanpa ia sadari, ia semakin menyodok mulut Salwa dengan kuat. Penis itu keluar masuk mulutnya dengan sangat cepat.

Liur pun menetes dari mulut kecil Salwa. Sebagian ada yang jatuh ke lantai, sebagian ada yang jatuh ke sweater miliknya.

“Aahhhh... Ahhh.. Salwwaaa.... Ustadz gak tahan lagi... Ahhh... Ahhhhh.... Ustadzz kelluuaarrrr !!!!” jerit V saat ia mendapatkan orgasme ternikmatnya.

Crrroootttttttt !!!!

“Mmmpppppppphhhhhhhh” Salwa memejam. Mulutnya semakin ia rapatkan. Terasa cairan sperma itu dengan kencang membanjiri rongga mulutnya. Semprotan pertama dengan deras mengenai pangkal kerongkongannya, ia nyaris tersedak. Untungnya ia bisa menahannya. Namun tiba-tiba semprotan kedua keluar yang bercampur dengan semprotan pertama. Mulut Salwa pun semakin penuh. Bahkan ujung gundul dari penis V sampai ikut terkena tetesan pejuh. Karena kelebihan muatan, tetesan sperma kental itu sampai keluar dari sela-sela mulut bidadari kecil itu.

Untungnya V langsung mencabutnya, Salwa pun terbatuk-batuk sambil memuntahkan lelehan sperma itu ke lantai. Salwa berlutut kemudian kedua tangannya menahan beban tubuhnya yang jatuh ke depan. Sperma kental itu keluar dengan deras dari rongga mulut Salwa. V yang baru mendapatkan orgasme ternikmatnya pun terduduk di bangku kursi yang tadi ia tempati. Matanya masih merem melek. Tubuhnya sesekali kelojotan merasakan kenikmatan yang tak tertahankan.

“Uhhukkk... Uhhuukkkk” Salwa merasa mual. Ia nyaris saja memuntahkan isi perutnya akibat sodokan berlebihan yang ia terima di mulutnya. Nampak mata dari bidadari itu berkaca-kaca saat berlutut dihadapan V.

“Salwaa... Ahhhh... Antum gapapa ?” kata V saat akal sehatnya mulai kembali.

“Gapapa kok ustadz... Uhhukkk... Uhhukkk” kata Salwa masih terbatuk.

“Aduh maaf banget Salwa... Ustadz tadi kelewat nafsu... Antum beneran gapapa ?” tanya V sekali lagi menkhawatirkan bidadari itu.

“Gapapa kok ustadz hehehehe” kata Salwa sambil mengangkat wajahnya tuk menatap diri V.

Nampak bidadari itu tersenyum lemah. Nampaknya ia memaksakan diri tuk tersenyum kendati ia merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya.

“Aduhhh maaf banget Salwa... Sini ustadz bantu berdiri” kata V berniat membantu dengan mendudukannya di salah satu bangku kosong yang berada di meja depan.

“Hehehhe terima kasih ustadz” kata Salwa saat lengan kanannya di bopong oleh seorang ustadz yang sudah bertelanjang bulat di sebelahnya.

Tak lama kemudian, lonceng pun berbunyi menandakan waktu untuk muwajjah pagi sudah berakhir. Salwa dan V yang mendengar suara lonceng itu lekas menatap ke arah asal dari bunyi suara itu.

“Udah jaros tuh ustadz... Ustadz pakai baju dulu sana... Jangan sampai nanti ada yang ngelihat antum kaya gini” kata Salwa masih memaksakan senyum.

“Iya Salwa... Bentar ana dudukan antum dulu” kata V dengan lembut membuat Salwa duduk di salah satu bangku kosong tersebut.

Antum pergi duluan juga gapapa kok... Ana mau istirahat sebentar disini” kata Salwa sambil melihat penampakan V yang sedang mengenakan satu demi satu pakaiannya lagi.

“Beneran gapapa ustadz tinggal ?” tanya V.

“Iya ustadz gapapa kok... Lagian kalau keluarnya barengan nanti malah bikin curiga orang hihihi” kata Salwa sambil mengelap matanya yang berkaca-kaca.

“Yaudah kalau antum maunya gitu... Ana duluan yah... Sekali lagi maaf udah kelewatan tadi” kata V masih menyesali perbuatannya.

“Gapapa kali ustadz... Itu wajar kok” kata Salwa memaksakan senyum.

Kini ustadz tampan itu sudah pergi meninggalkan Salwa sendiri di dalam ruang kelas ini. Saat menyadari kalau V sudah jauh darinya. Ia pun menyeka air matanya dan mengelap sisa liur yang ada di tepi mulutnya. Jujur, ia merasakan sakit saat batang penis itu menyundul-nyundul pangkal kerongkongannya. Bahkan kali ini perutnya merasa mual hingga ia tidak nafsu makan kendati perutnya terasa lapar.

Seketika Salwa pun berfikir mengenai kejadian yang baru saja ia alami. Ia jelas memahami kalau V pastilah sangat bernafsu ketika sedang dikulum olehnya. Seketika matanya melirik ke arah tumpahan sperma yang baru saja ia muntahkan. Ia pun lalu memegangi bibir vaginanya dari luar celana dalam yang ia kenakan. Ya, bibir vaginanya sudah lembap yang membuatnya terpikirkan sebuah ide.

“Haruskah ana memberikan keperawanan ana ke ustadz V ?” lirihnya di pagi hari itu.


*-*-*-*


Beberapa jam kemudian, tepatnya sekitar pukul delapan pagi.

Di sebuah kelas nampak seorang ustadzah yang sedang mengakhiri sesi mengajarnya di pagi hari. Ustadzah itu nampak mempesona. Bahkan senyumnya saja sudah membuat para santriwati terpana akan keindahannya.

“Sekian dari ustadzah... Kalau ada yang salah, ustadzah mohon maaf yah... Wassalamualaikum wr wb” salam ustadzah tersebut.

“Walaikumsalam wr wb” jawab semua santriwati itu secara kompak.

Ustadzah yang bertempat di bagian pengasuhan itu pun pergi meninggalkan kelas untuk menuju kantor bagian pengajaran demi mengembalikan absen kelasnya. Ustadzah yang menjadi rekan Ustadzah Haura di bagian pengasuhan itu seketika langsung mengubah reaksi wajahnya. Kalau di kelas tadi, ustadzah yang bernama Hanna itu tampak ceria, bersemangat dan murah senyum. Seketika setelah keluar dari kelas wajahnya mendadak lesu. Senyumnya menghilang bahkan ia terlihat murung.

Ada satu permasalahan yang membuatnya jadi seperti ini. Sepertinya ia masih menyesali kejadian yang menimpanya tempo hari. Kejadian yang membuatnya sampai harus melayani nafsu buas dari tiga orang santri. Padahal di malam hari itu, ia sudah ada janji dengan V. Janji untuk menemuinya di sebuah rumah makan untuk membicarakan banyak hal. Namun kenyataan yang terjadi, ia malah disergap oleh ketiga santri bejat itu. Ia pun dinikmati oleh mereka di salah satu ruang kosong yang berada di sebuah gedung yang masih dalam tahap pembangunan.

“Hah” Hanna mendesah merenungkan nasib yang sudah mendera dirinya.

Ia tak menyangka bahwa di pondok pesantren ini ada tiga orang santri yang sampai tega melakukan hal ini padanya. Hanna pun memeluk tubuhnya sendiri. Ia masih saja merinding tiap kali memikirkan kejadian itu. Ia sangat sedih, apalagi ketika V seolah menjauhinya akibat rasa kecewa yang menderanya ketika dirinya tidak mampu menepati sebuah janji padanya.

Kenapa sih ujian hidupku sampai seberat ini ?

Batin Hanna sedih.

Padahal sebentar lagi ia akan menikah. Ia pun takut membayangkan andai calon suaminya yang bernama Angga mengetahui semua kebenaran yang telah terjadi padanya. Apakah ia masih mau untuk menikahinya ?

“Ustadzah” seketika ada suara seorang lelaki dari belakang yang menyapanya. Hanna pun terkejut. Kemudian ia menolehkan wajahnya tuk melihat siapa yang sudah menyapa dirinya.

“Ehhh ustadz Angga” Seketika Hanna jadi tersipu mengetahui calon suaminya sedang berada di belakangnya. Sikap malu-malunya seketika tumbuh begitu saja. Jantungnya pun berdegup kencang menyadari laki-laki yang akan menikahinya sedang berada di dekatnya.

“Baru habis ngajar yah ustadzah ?” tanya Ustadz Angga.

“Iyya nih ustadz... Antum juga yah ?” tanya balik Hanna.

“Iyya, Wah kok bisa samaan gini yah” tanya Angga malu-malu saat berada di sebelah calon istrinya.

Mereka berdua pun berjalan bersama menyusuri lorong kelas tersebut. Hanna sambil menunduk menaruh buku materi yang ia bawa di dada. Ia mendekapnya erat tanpa berani menatap calon suaminya yang berjalan di sebelahnya. Begitu pula Angga yang berada di sebelahnya. Sesekali ia memang melirik tuk menatap wajah cantik dari calon istrinya. Tapi seringkali ia malah menatap ke depan akibat rasa gugup yang ia miliki padanya.

Maklum Angga sangat mencintai Hanna. Ia begitu ingin untuk memiliki hatinya, tidak hanya hatinya tapi juga tubuhnya. Tubuh Hanna yang begitu berisi sesekali dilirik oleh Angga. Dadanya yang begitu maju sesekali menggoda anak dari pak kiyai itu. Hanna memang cantik. Hanna memang sempurna. Bahkan senyumnya saja sudah cukup untuk membuat Angga melakukan apa saja demi membahagiakannya.

Walau begitu, akibat rasa berlebih yang ia miliki pada Hanna. Sesekali rasa takut mulai mendera dirinya ketika memikirkan andai suatu hari nanti dirinya tidak mampu untuk menikahi ustadzah bagian pengasuhan tersebut.

“Oh yah Ustadz... Antum apa kabar ?” tanya Hanna mengejutkan Angga.

“Ohhh ana ? Ana baik kok... Antum gimana ?” tanya Angga.

“Hehehe ana lagi kurang baik ustadz” jawab Hanna yang mengejutkan Angga lagi.

“Kurang baik ? Antum ada masalah ?” tanya Angga khawatir.

Hanna hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia sampai menolehkan wajahnya ke arah calon suaminya. Angga pun menatap wajah dari calon istrinya itu. Ia pun merasa kalau Hanna sedang baik-baik saja. Tatapan dari Hanna terlihat lemah. Ia terlihat seperti membutuhkan seseorang untuk meredakan masalahnya.

Antum kenapa ? Boleh cerita ?” kata Angga semakin khawatir.

“Ada pokoknya ustadz... Ana minta doanya aja biar masalah ini cepat selesai” kata Hanna enggan untuk menceritakan keluh kesahnya pada Angga.

“Yaudah kalau gitu... Semoga cepat selesai yah masalahnya” kata Angga hanya mampu mendoakan.

“Syukron ustadz” jawab Hanna sambil tersenyum yang membuat hati Angga tersentuh.

Perpaduan antara senyum indah Hanna dengan tatapan matanya yang sayuk membuat Angga sampai terpukau ketika melihat wajah dari calon istrinya. Seketika wajahnya langsung menunduk. Bukan malah bersemangat karena sebentar lagi bisa menikahinya. Tapi ia malah semakin takut andai dirinya tidak mampu menikahinya. Angga memang orangnya sering khawatir. Ia mudah takut dan gampang kepikiran. Secara fisik memang ia terlihat kuat dengan modal tampan serta tubuh kekar yang dimilikinya. Tapi dari segi mental, Angga sangatlah lemah. Bahkan tak jarang ia selalu curhat pada ibu tirinya yang membuatnya lebih mirip anak mamah ketimbang anak kiyai yang seharusnya sudah dewasa.

“Hmmmm Ustadz... Antum duluan aja yah” kata Hanna menyadari diri mereka sudah hampir mendekati bagian luar gedung. Sebagai pasangan yang belum menikah, Hanna tidak mau andai ada warga pesantren lainnya yang melihat diri mereka berduaan.

“Yaudah... Tapi jangan kepikiran lagi yah... Jangan sampai masalah antum malah mengganggu kegiatan mengajar antum” kata Angga menasehati.

“Iyya ustadz... Syukron” jawab Hanna. Angga pun pergi sementara Hanna menanti hingga calon suaminya cukup jauh dari posisinya.

Ketika dirasa Angga sudah cukup jauh, Hanna pun hendak melangkah untuk melanjutkan perjalanannya menuju kantor bagian pengajaran. Seketika wajahnya menoleh ketika ada seseorang yang menyapanya dari belakang.

“Permisi ustadzah Hanna”

“Ehhh pak Prapto ?” jawab Hanna tersenyum.


*-*-*-*


Dalam perjalanannya menuju rumah, Angga terpikirkan keadaan Hanna yang nampaknya sedang tertimpa sebuah musibah. Walau tadi ia sempat berkata kepada Hanna untuk tidak memikirkan masalahnya lagi, tapi sejatinya ia lah yang terpikirkan mengenai masalah apa yang sebenarnya sedang menimpa Hanna. Mungkinkah sebuah masalah yang membuatnya tidak bisa menikahinya ?

Kembali anak dari pak kiyai itu resah memikirkan sesuatu yang tidak pasti itu. Tak terasa ia sudah tiba di depan pintu rumahnya. Saat ia hendak membuka pintu rumahnya, ia tersadar kalau absen kelas yang tadi ia bawa belum ia kembalikan. Karena merasa nanggung sudah berada di depan rumah. Ia pun memilih untuk menunda mengembalikan absen kelas yang sedang ia bawa.

Sebagai anak pak kiyai, tentu dirinya tidak akan dimarahi oleh salah satu pengajar yang berada di bagian pengajaran. Tapi bagaimana kalau nanti pengajar disana mengadukan hal ini pada bapaknya ?

“Itu urusan nanti lah... Lagi gak mood kemana-mana” lirihnya saat membuka pintu rumahnya.

Wajahnya terlihat kelelahan. Tapi bukan berarti ia lelah karena fisik. Ia hanya lelah karena pikirannya yang selalu memikirkan sesuatu yang belum pasti. Alhasil ia jadi resah. Ia juga gelisah sambil mengusap rambutnya yang acak-acakan. Ia pun duduk di sofa ruang tamu rumahnya sambil mengemil salah satu jajanan yang berada di dalam toples di atas meja ruang tamu rumahnya.

Tak lama kemudian terdengar sebuah ketukan pintu yang berasal dari depan rumahnya. Saat ia hendak berdiri tuk membukakan, tiba-tiba pintu sudah terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik berusia 31 tahun yang sedang tersenyum saat melihat Angga di dalam.

Wanita itu berwajah cerah, kulitnya berwarna putih, tubuhnya pun ramping. Wanita yang terlihat lebih muda dari usianya itu sedang mengenakan gamis berwarna krem yang ia padukan dengan hijab berwarna putih. Senyumnya yang indah mengalihkan dunia Angga seketika. Bibirnya yang tipis yang terolesi oleh lipstik berwarna merah terang menggoda birahi Angga seketika. Tanpa disadarinya, Angga menjilati bibirnya sendiri saat melihat bibir merah merona dari bidadari berhijab dihadapannya. Postur tubuhnya yang tidak tinggi dan juga tidak pendek. Tingginya hanya sedagu dari Angga yang mempunyai tinggi sekitar 171,1 cm.

Wanita itu pun menghampiri Angga. Angga dengan spontan langsung berdiri kemudian menyalami wanita itu dengan mengecup punggung tangannya.

“Assalamualaikum” sapa bidadari itu.

“Walaikumsalam, Umi” jawab Angga dengan sopan.

“Anak umi udah pulang aja nih... Gimana ngajarnya tadi ?” kata Rania yang sudah duduk disebelah anak tirinya.

“Ya, alhamdulillah lancar mi hehehe” kata Angga malu-malu.

Gimana gak malu-malu. Walau ia secara resmi sudah mempunyai hubungan darah karena Rania sudah dinikahi oleh bapaknya. Kencantikan Rania yang begitu awet muda dan tak lekang oleh zaman itu benar-benar mempesonakan matanya. Apalagi aroma tubuhnya yang sungguh wangi. Kelembutan tangannya saat bersalaman tadi. Angga jadi bernafsu secara tak langsung saat melihat kecantikan dari ibu tirinya.

“Bener ? Tapi kok mukanya sepet gitu sih ? Coba sini cerita ke Umi... Apa yang bikin muka kamu kaya gini lagi ?” kata Rania sambil tersenyum menatap wajah anak tirinya. Sontak wajah Angga memerah padam. Keindahan Rania memang tidak bisa ia tolak. Ia pun memilih menundukan wajah karena tersipu oleh kecantikannya yang natural.

“Hehehe emang keliatan yah Mi ? Iyya nih Mi... Ada yang bikin Angga kepikiran lagi” katanya.

“Hmmm kamu ini kebiasaan deh... Dari dulu pasti masalah kamu cuma kepikiran dan kepikiran terus... Coba umi tebak, pasti tentang ustadzah Hanna lagi kan ?” kata Rania yang berjarak empat tahun saja pada putra tirinya,

“Hehehe iyya mi, Angga kepikiran Hanna lagi” katanya malu-malu.

Melihat sikap putra tirinya yang tersipu ketika berbicara dengannya membuat Rania gemas saja. Apalagi wajah tampan yang dimiliki oleh putranya, juga tubuh kekar yang dimiliki oleh putranya. Rania pun tersenyum sambil memandang keindahan putra tirinya itu.

“Huffttt kamu ini... Coba sini cerita ke umi apa yang bikin kamu kepikiran ?” kata Rania sambil menyentuh punggung tangan putra tirinya.

Merasakan dekapan yang hangat di tangan kirinya membuat jantung Angga berdegup lebih kencang daripada biasanya, apalagi saat ia mengangkat wajahnya tuk menatap kecantikan wajah ibu tirinya di sampingnya. Rania sedang tersenyum membuat wajah Angga semakin memerah melihat kencantikannya yang sempurna.

“Anuuu... Annuuuu hehehe... Gak penting sih Mi... Cuma tadi Angga ketemu terus mukanya Hanna agak sepet gitu” katanya dengan malu-malu.

“Lohh sepet pas ketemu kamu ?” tanya Rania.

“Bukan sepet sih, tapi ya kaya sedih gitu deh... Jadi kepikiran apa yang sedang terjadi padanya sewaktu ada di belakang Angga” katanya curhat.

“Hufftttt Angga... Umi kira apa... Biasa aja kali ya mungkin ada masalah di bagiannya, atau ada masalah pribadi dengan ustadzah lainnya... Kenapa sampai kamu kepikiran lebih sih ?” kata Rania heran.

“Hehhee gak tau mi... Pokoknya perasaan Angga gak enak aja waktu tadi... Firasat Angga kayak buruk ke Hanna tadi” katanya.

“Angga... Sini coba lihat ke umi” kata Rania sambil membelai pipi Angga kemudian mengajaknya tuk menatap wajahnya. Tatkala sentuhan lembut dari Rania menyentuh pipinya. Terasa ada getaran yang membuat hati Angga bertanya-tanya.

Kenapa jantungku deg-degan ketika ditatap olehnya ?

Angga menenggak ludah ketika ditatap sedekat ini oleh ibu tirinya. Apalagi saat bidadari itu tersenyum di hadapannya. Angga pun tersipu. Angga pun merasa malu.

“Kamu itu sebentar lagi mau menikah... Kamu itu harus kuat... Jangan lemah kaya gini... Anak umi gak boleh gampang kepikiran lagi pokoknya... Kamu harus kuat... Kamu harus bisa tegar apapun masalah yang menimpa hidupmu nantinya” kata Rania menyemangati putra tirinya.

“Iyya Mi... Angga tau... Tapi itu gak mudah bagi Angga” katanya jujur.

“Apanya yang gak mudah Angga... Kamu itu bisa... Kamu cuma perlu mencobanya aja” kata Rania terus memotivasinya.

“Mencobanya ?” tanya Angga masih bingung.

“Iya... Kalau kamu kepikiran dia lagi... Paksa dirimu untuk melupakan masalah itu... Yakinkan dirimu kalau dia pasti baik-baik saja... Kenapa kamu mesti repot-repot memikirkan masalah orang lain sih ?” kata Rania.

“Tappp... Tappii Miii” Angga masih ragu kalau ia mampu untuk melakukan hal itu.

“Angga sayanggg” kata Rania sambil mendekap kedua tangan putra tirinya. Mata indah Rania pun memfokus untuk menatap mata dari putra tirinya.

Melihat tatapan yang tajam dari Rania membuat jantung dari Angga semakin berdegup lebih kencang. Dipeluknya lah tubuh kekar dari ustadz tampan itu. Rania memeluknya erat yang membuat nafas Angga merasa sesak akibat begitu eratnya pelukan yang diberikan oleh Rania kepadanya.

“Kamu pasti bisa kok... Jangan pernah ragu... Jangan pernah merasa kamu gak bisa... Kamu pasti bisa... Percaya deh sama omongan umi” kata Rania saat mendekap tubuh Angga dengan erat.

Saking eratnya pelukan yang Rania berikan membuat Angga dapat merasakan keempukan yang ia terima di dadanya. Tanpa sadar Angga membalas pelukan itu. Terasa tubuh rampingnya dibalik gamis longgar yang ibunya kenakan. Aroma feminim dari sang ibu mulai membangkit gairah birahi dari sang anak. Tak terasa penisnya mulai mengeras saat dipeluk oleh ibu tirinya sendiri.

“Kamu pasti bisa sayang” kata Rania saat menarik mundur tubuhnya lagi tuk menatap wajah tampan dari putra tirinya.

Angga tak mendengarkan omongan dari ibunya. Ia sedang terpesona oleh kecantikan wajah ibunya. Ia terpukau, ia pun teralihkan oleh keindahan wajahnya.

“Ummiiii... Ummii cantik” pujinya secara tiba-tiba tanpa ia sadari.

“Ehhhhh... Hihihi iya makasih Angga” jawab Rania juga terkejut mendengar pujian dari putranya.

“Ummiii... Ummiii cantik banget” kata Angga yang seolah terhipnotis oleh keindahan wajah Rania. Tangan kirinya pun mendekap pinggang ramping Rania saat duduk diatas sofa panjang di ruang tamunya. Sedangkan tangan kanannya membelai pipi mulus dari bidadari berhijab itu.

“Hehehehe iyya makasih... Angga... Angga kamu gapapa ?” kata Rania menyadari ada keanehan dari gerak gerik putra tirinya itu.

Jemarinya dengan lembut membelai pipi dari wajah bidadari itu. Jempolnya bahkan sampai mengusap tepi bibirnya dan menurunkan bibir bawah Rania hingga gigi gerahamnya yang berwarna putih bening terlihat.

“Ummiiiii” panggil Angga dengan lembut.

“Anggga kamu kenapa sihhhh... Jangan bilang kamuuuu . . . . .” kata Rania mulai menduga yang tidak-tidak.

Belum sempat Rania menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Angga sudah memeluk erat tubuh ramping dari bidadari itu. Wajahnya bahkan langsung maju untuk mencumbu bibir dari bidadari itu.

Cuupppppp !!!

“Mmmpppphhh... Mmmppphhhh” desah mereka berdua saat bibir Angga mulai mendorong bibir dari ibu tirinya.

Entah nafsu dari mana, seketika tubuh Angga sudah bergairah saat melihat kecantikan ibunya. Angga pun mencumbu bibir ibunya dengan penuh nafsu. Bibir Rania didorongnya. Bibir tipisnya dicium. Bibir tipisnya dikecup. Bibir Rania tanpa ampun ditekan oleh putra tirinya yang sudah terlanjur bernafsu padanya.

“Anngggaa... Mmppphhh... Mmpphhh... Jangan sekaranggg Anggaa... Mmpphhh” kata Rania agak menolak.

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling dorong. Bibir mereka saling menyentuh satu sama lain. Rania terkejut ketika bibir Angga melumat habis bibirnya dengan penuh nafsu. Pelukan erat yang Angga lakukan membuat kedua payudara Rania yang empuk terhimpit ke dada kekarnya. Usapan dari tangan Angga saat membelai punggung mulusnya membuat Rania perlahan merasa tenang setelah menerima cumbuan yang tiba-tiba dari putra tirinya.

Angga membuka mulutnya, ia mengulum bibir bagian bawah ibunya dengan penuh kelembutan. Lidahnya keluar untuk menjilati bibir bawah Rania yang sudah berada di dalam mulutnya. Rasa manis yang dihasilkan dari liurnya membuat Rania perlahan mulai hanyut dalam menikmati cumbuan yang ustadz tampan itu lakukan.

Nafas Rania yang hangat berhembus menerpa wajah Angga yang sedang bergairah. Perlahan Rania semakin takluk dalam kenikmatan yang dirasakan saat Angga melumat bibirnya. Bibir merah mudanya terbuka membiarkan lidah Angga masuk menjelajahi seisi ruang di dalamnya. Ketika lidah Rania keluar mulut Angga langsung melahapnya dan menghisapnya kuat-kuat. Liur sampai menetes keluar dari mulut mereka berdua karena saking nafsunya. Disela cumbuan mereka yang semakin bergairah. Angga kedapatan mulai menurunkan resleting gamis yang ibunya kenakan. Tak berselang lama bra ketat yang ia kenakan juga dilepas oleh putranya. Tangan kiri Angga mulai bergerak untuk membelai payudara kencangnya yang semakin tegak ketika dirangsang olehnya.

“Mmpphhh Ummiiiii... Mmpphhh Angga paling suka sama susu umi yang kenceng ini” katanya disela-sela percumbuan dengan ibu tirinya.

“Mmpphhh Anggaa... Mmpphh... Tungguuu Anggaa... Jangann sekaranggg... Nanti Abi bisa tau” Rania sebenarnya sudah takluk oleh cumbuan yang diberikan oleh putra tampannya. Apalagi ia adalah orang yang mengajari Angga seperti ini. Ia jelas bernafsu pada putra tampannya. Tapi ada satu orang yang tidak boleh tau mengenai hubungan terlarang yang dimilikinya dengan putra tirinya. Yakni siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri, pak Kiyai Jamal.

“Mmppphhh Umiiii... Mmmppphhh” tapi Angga tidak menghiraukan. Ia sudah terlanjur bernafsu yang membuatnya tidak memperdulikan omongan yang diberikan oleh ibu cantiknya.

Rania cenderung pasif namun Angga terlampau aktif. Berkali-kali bibirnya naik tuk memagut bibir bagian atas kadang bibir bagian bawah ibunya. Jilatan lidahnya keluar berulang kali tuk membasahi tiap senti bibir ibunya. Ketika lidahnya masuk ke dalam mulut ibunya. Lidah mereka saling bergelut, saling menggeliat, saling melilit. Tangan kanannya naik menahan kepala ibunya agar tidak terdorong ke belakang. Tak ada suara yang terucap melainkan desahan dan lenguhan yang mereka ucapkan ketika semakin bergairah.

Ketika nafsu sudah tak mampu Angga tahan. Gejolak birahi pun ingin meledak setelah sekian lama Angga pendam. Tangan kiri Angga berpindah dari payudara kanan Rania ke sebelah kirinya. Ukuran payudaranya memang besar namun saat tubuhnya sedang terangsang maka ukurannya bisa mengembang lebih besar lagi. Angga menekan jemarinya ke arah puting ibunya yang membuat Rania mendesah keenakan. Jemari-jemarinya pun membuka agar mampu menerkam keseluruhan payudara ibunya yang besar. Rania pun menjerit nikmat merasakan remasannya. Belum lagi dari cumbuan bibirnya yang memaksa birahi Rania semakin naik menguasai tubuhnya.

“Ahhhhh... Ahhhhh mmpphhh... Anggaaaa” desah Rania dengan manja.

Kini kedua tangannya mulai meremas kedua payudara ibunya. Cumbuan mereka pun terlepas. Mereka saling tatap dengan jarak yang sangat dekat. Nampak matanya yang sudah bernafsu membuat Rania semakin tersipu. Rania pun memejam sambil menjerit nikmat saat remasannya semakin terasa membangkitkan gairah birahinya.

“Ahhhhh... Ouuhhhh Anggaaa... Ouhhh yahhhh” desah Rania dengan manja.

Setelah puas menikmati bibir dari ibu tirinya. Angga mulai berdiri untuk menurunkan celana yang sedang ia pakai. Nampak penisnya yang sudah berdiri tegak membuat Rania sampai melotot menyadari ukurannya yang semakin besar. Rania pun ditidurkan oleh Angga. Gamis bagian bawahnya ia angkat hingga tiba di perut rata ibunya. Celana dalam Rania pun dipelorotkan. Nampak pemandangan indah Rania yang sedang berbaring terlentang dalam keadaan payudara yang sudah terlihat juga bibir kemaluannya yang juga terlihat.

Nampak bibir vagina Rania sudah lembap akibat rangsangan yang sudah Angga berikan. Angga pun menjilati bibirnya sendiri. Ditatapnya lah bibir vagina yang berwarna pink itu. Nampak rambut kemaluannya yang gundul akibat baru dicukur membuat Angga semakin bernafsu. Tangan kanannya pun memegangi penisnya. Ia pun mengarahkannya hingga batang penis itu mulai menyentuh bibir dari vagina Rania.

“Uhhhhhhhhhhhhh” desah Rania saat merasakan bibir vaginanya tersentuh oleh ujung gundul penis itu.

“Ouhhhh Umiiii... Enakknyaaa... Ahhhhhhhh” desahnya saat berusaha tuk memasukan batang penisnya masuk ke dalam vaginanya.

“Angggaaa.... Ouhhhh... Tunggguuu Angga jangan langsung dimasukannn... Ouhhh pelannn Anggaaaa” desah Rania menyadari nafsu yang dimiliki oleh putranya.

“Aahhhhhh Umiiiii... Umiii cantik banget sihhh... Suara umi juga menggoda banget... Angga gak tahann umiiii” kata Angga sambil memegangi kedua pinggang Rania.

“Aannggaa... Tungguuu... Uhhhhhhh... Anggga nanti Abi bentar lagi pullll... Uhhhhhh... Jangan disini Anggaaaa” kata Rania setengah panik setengah menikmati.

Rania pun teringat akan pesan dari suaminya kalau pukul sembilan pagi nanti, suaminya akan pulang dari perjalanan jauh yang ia tempuh bersama ustadz Reynaldi setelah menghadiri pertemuan antar kiyai pondok pesantren. Seketika ia langsung melihat ke arah jam dinding rumahnya.

Lima belas menit lagi ?

Batin Rania panik.

“Uhhhhh Ummiii... Hennkkghhhh” desah Angga saat penisnya mulai menyoblos paksa kendati ukurannya tidak muat.

“Aahhhhh Angggaa... Ahhhhhhhh” desah Rania dengan manja saat batang penis itu terus menyodok-nyodok lubang kemaluannya yang sempit.

Dikala kedua tangannya mencengkram pinggang ramping Rania. Pinggulnya dengan kuat langsung ia dorongkan. Namun lubang sempit yang Rania miliki membuat Angga kesulitan untuk memasukannya. Ia pun menarik pinggulnya lagi kemudian ia menghantamkannya lagi. Ia menariknya lagi kemudian menghantamnya lagi.

“Aahhhhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhhh” desah Rania dengan manja.

“Sedikit lagiii... Hennkkkgghhhh !!!!” desah Angga saat pinggulnya dengan gagah membenamkan batang penisnya itu hingga mentok menyundul rahim dari ibunya sendiri.

“Aaaaaaahhhhhhhhhhhh !!!” Rania melonglong kuat saat merasakan kenikmatan yang tidak terkira. Nampak wajah dari bidadari itu kelelahan. Ia pun menatap wajah Angga dengan tatapan yang sayuk. Nampak bibir dari Rania itu bergerak seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun belum sempat ia berbicara, Angga sudah menggerakan pinggulnya hingga tubuh dari bidadari itu mulai bergerak maju mundur menerima sodokan dari putra tirinya.

“Aahhhh... Ahhhh Umiiii... Ouhhh Miiiiii... Mmmpphhhhh” desah Angga sambil menatap wajah cantik ibunya. Penisnya yang besar sudah terjepit di dalam. Terasa dinding vagina Rania seperti memijat-mijat dari batang penisnya. Angga sampai mendesah. Matanya kadang memejam. Ia pun menatap langit-langit agar dirinya bisa berfokus pada jepitan yang ia terima di batang penisnya.

“Aahhhh Umiiii... Ahhhhhh... Ahhhhhhhh” desahnya puas.

Rania juga sesekali memejam menerima tusukan yang terasa mantab. Payudaranya bergoyang semakin cepat. Genjotan yang ia terima pun semakin kuat. Nampak mata Rania berkedap-kedip merasa tusukan yang ia terima semakin terasa nikmat. Mulutnya yang tadi menutup perlahan membuka. Kedua tangannya yang tadi terbuka perlahan mulai mengepal. Dengan kenikmatan yang semakin terasa. Rania pun melampiaskannya dengan desahan demi desahan yang keluar dari mulutnya.

“Aahhhhhhh... Ahhhhhh.. Angggaaa.... Ahhh yahhh... Ahhhhhhhh Anggaaaaaaa !!!” desah Rania dengan sangat manja.

Tangan Angga berpindah dengan meremasi kedua payudaranya. Angga tergoda oleh pergerakan kedua payudara itu seolah sedang memanggilnya. Puting Rania ditariknya, Puting Rania dicubitnya. Puting Rania ditekannya saat ia mempercepat gerakan tusukannya.

“Ouhhhh... Ouhhhh.... Mmppphhhhhhh... Mmpphhhhh” desah Angga sambil memainkan kedua payudara itu.

Hampir lima menit mereka bersetubuh dalam posisi itu. Tusukannya yang terasa semakin nikmat membuat Angga menghentikan laju penisnya untuk beristirahat sebentar karena khawatir ia akan terlebih dahulu keluar.

Rania pun diajak berdiri oleh putranya. Tubuh Rania dipeluknya. Mereka pun berdiri di belakang sofa dimana banyak ruang yang bisa ia pakai untuk menikmati persetubuhan bersama. Dalam posisi berdiri saling berhadapan. Mereka kembali bercumbu. Bibir mereka saling dorong. Bibir mereka saling kecup. Tangan Angga tak tinggal diam dengan memelorotkan gamis yang sedang Rania pakai. Rania pun telanjang bulat dengan menyisakan hijab beserta kaus kaki panjangnya saja.

“Balik badan Mi” perintah Angga yang sudah kembali bernafsu.

“Tunggguuu... Tungguuu Anggaa... Jangan lagi.... Jangan disini... Nanti abiii pulaanngggggggg !!!” desah Rania terkejut saat batang penis itu kembali masuk menghujami vaginanya.

Lubang senggama Rania yang sudah basah memudahkan batang penis itu untuk melesat masuk ke dalam. Rahim Rania kembali tersundul. Tubuhnya sampai bergetar menerima sensasi itu.

“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhhh” Desah Rania.

Dalam posisi berdiri membelakangi, Rania disetubuhi oleh putranya yang sedang memeluk erat pinggangnya agar tidak jatuh. Nampak kedua payudaranya mendal-mendul menerima sodokan demi sodokan dari putra tampannya. Mata Rania pun memejam. Ia sungguh tak kuat menerima sodokan yang terasa semakin mantab.

“Ouhhh Umiiii... Rapet banget memeknya umi... Ouhhh Angga puas banget miiii” desahnya yang membuat Rania merasa malu.

Sambil merapatkan bibirnya, Rania hanya bisa pasrah menerima sodokan demi sodokan dari Angga. Benturan antar pangkal paha yang terdengar keras menjadi lantunan musik yang melatar belakangi persetubuhan yang panas ini. Berulang kali tangan Angga naik mengelusi perut beserta dada kencangnya. Nafas Angga sudah terengah-engah. Ia sangat menikmati ketelanjangan yang dilakukan oleh ibunya dihadapan dirinya.

Ploookkkk... Plokkkk.... Plokkkk !!!

Suara benturan itu semakin keras. Persutubuhan yang mereka lakukan semakin memanas. Nampak Rania sudah menungging dengan menumpukan kedua tangannya pada sandaran sofa yang tadi mereka duduki bersama. Tepat dihadapan wajahnya merupakan pintu masuk. Andai ada seseorang yang masuk pasti orang itu dengan jelas mampu melihat dirinya yang sedang disetubuhi oleh putra tirinya.

“Aahhhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Rania tak kuasa menahannya lagi. Berulang kali bibirnya ingin ia buka tuk menjelaskan situasinya tentang kepulangan pak Kiyai sebentar lagi. Nampak jam sudah menunjukan pukul sembilan kurang satu menit. Ia ingin berbicara namun sodokan kencang yang ia terima membuatnya sulit untuk mengucapkan kata-kata.

“Aahhhhhh Angggaahhh... Ahhh tunggu bentarrr... Ouhhhh ouhhhhh” hanya erangan dan desahan yang bisa Rania ucapkan.

Plokkk.... Plokkk... Plokkk !!!

Suaranya semakin keras. Jelas kalau Angga sudah hampir mencapai batas. Nafasnya terengah-engah. Kedua lututnya sudah melemas. Kedua tangannya dengan binal terus mengusapi punggungnya dan menampari bongkahan pantatnya.

Plakkk... Plakkkk... Plakkk !!!

“Aahhhh... Ahhhhhhh” jerit Rania semakin manja.

Mendengar jeritan Rania yang terus saja menggodanya membuat nafsu dari birahi Angga tidak mampu untuk menahannya lebih lama lagi. Apalagi saat cairan cinta Rania sudah membasahi seluruh penisnya. Apalagi jepitan Rania semakin rapat menghimpit batang penisnya. Apalagi payudara Rania yang semakin kencang membuat tangan Angga semakin betah untuk meremasinya.

"Ahhh... Ahhhh umiii... Ummiii... Angggaa gakk kuat lagii... Ahhhh... Ahhhhh Anggga keluuaarrrr !!" Desah Angga hingga bergidik nikmat.

Akhirnya dengan tarikan nafas yang Angga perkuat. Dengan satu tusukan yang dirasa mantap. Dengan satu cengkraman yang ia perketat. Satu semburan sperma dengan kencang menghujami rahim dari istri pak kiyai tersebut.

"Aaaaahhhhhh" Desah mereka berdua bersamaan.

Crrooott... Crrooott... Crrooott...

Lutut Angga melemas, kedua matanya kedap-kedip menahan nikmat. Baru kali ini, ia merasakan semprotan yang dirasa mantap. Tubuhnya benar-benar kelojotan. Ia nyaris saja jatuh andai tidak memegangi tubuh mulus dari ibu tirinya.

"Hah... Hah... Hah" Mereka berdua terengah-engah. Mata Angga menatap punggung mulus Rania yang tidak ditutupi apa-apa. Rania sendiri hanya menundukan wajah sambil merasakan rahimnya begitu penuh oleh cairan sperma anak tirinya.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

Cekkleeekkk !!!

Mata Angga membuka lebar. Kepala Rania diangkatnya ketika mereka berdua mendengar ketukan pintu dan gagang pintu yang sedang dibuka.

Jangan - jangan ?

Batin Rania panik.

"Assalamu'alaikum... Abi pulang... " Kata pak Kiyai Jamal saat memasuki pintu rumahnya.

Gawaatttt !!!

Batin Rania semakin panik.

Angga juga kebingungan, ia pun mendorong tubuh polos ibunya ke bawah untuk bersembunyi dari balik sofa panjang yang mampu menutupi mereka berdua.

"Walaikumsalam Bi" Kata Angga berpura-pura tenang saat kedua mata mereka bertemu. Untungnya Angga masih mengenakan kemejanya, untungnya juga sofa panjang itu menutupi sisi telanjang bagian bawahnya. Hingga pak Kiyai tak mengira kalau putranya itu baru saja melakukan hal yang tidak-tidak pada istri barunya.

"Uhhhhhhhhhh" Desah Rania tertahan ketika lelehan sperma putranya dengan deras keluar dari lubang vaginanya. Untungnya ia sudah berjongkok. Untungnya ia sudah menutupi mulutnya menggunakan telapak tangannya.

"Ehh Angga... Umi dimana ? Ini Abi bawain oleh-oleh untuk kalian" Kata pak Kiyai. Angga semakin gugup mendapati bapaknya sedang berjalan ke arahnya.

"Ummm... Ummiii di kamar kali bi... Ahhhh" Jerit Angga terkejut.

"Ehh Kamu kenapa ?" Tanyanya pada anak kandungnya.

"Gapapa bi hehehhee... Uhhhh" Desah Angga tertahan. Rupanya dari bawah, Rania yang belum mendapatkan klimaksnya sedang membersihkan sisa sperma dengan mengulum batang penis putranya.

Untungnya pak Kiyai Jamal hanya menaruh oleh-oleh nya di atas meja ruang tamu rumahnya. Kemudian karena ada urusan lain, ia kembali keluar meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.

"Uhhhh umiii... Uhhhhh" Desah Angga saat penisnya terus dikulum.

"Mmppphhh... Mmppphhh... Angga... Kamu nakal yah ? Umi bilang daritadi buat nunggu dulu malah maksa terus" Tegur Rania.

"Ahhhh... Maaf Mi... Habis memek Umi rapet bangett sihhh... Aahhhh" Desah Angga seketika penisnya mulai mengeras lagi.

"Hihihihi gak bapaknya gak anaknya sama aja... Sama-sama mesum... Yuk Angga, kamu harus tanggung jawab bikin Umi puas" Kata Rania sambil menarik penis Angga menuju kamar putranya.

"Ehhh Mi... Angga kan baru keluar, capekkk mi.... Kenapa gak minta Abi aja ?" Kata Angga yang kelelahan.

"Kalau Abi pasti bakal minta jatah nanti malem... Kalau pagi gini jatahnya ya kamu, apalagi kamu udah bikin Umi On" Katanya saat berjalan bersama menuju kamar Angga.

"Tapi miiii... Miiii...."

Cekleekkk !!!!

Pintu telah dikunci dari dalam. Angga pun telah ditidurkan dalam posisi terlentang. Dalam keadaan telanjang bulat menyisakan hijabnya, Rania melepas kemeja yang masih menempel di tubuh putranya. Barulah setelah itu, ia mulai menaiki pangkuan putranya untuk memuaskan nafsunya yang belum ia puaskan.

"Ahhhh.... Ahhhh... Ahhhh" Desah mereka berdua di dalam kamar. Khususnya Angga yang terus mendesah ketika penisnya diaduk-aduk oleh goyangan pinggul dari ibu tirinya.


*-*-*-*


Waktu sudah sore, waktu bagi setiap warga pesantren untuk beristirahat dengan berolahraga atau bersantai bersama kenalan terdekat. Tidak seperti ustadzah lainnya yang sedang berkumpul untuk menikmati waktu bersama, Haura sedang berada di rumah membersihkan satu demi satu debu yang bertebaran di seluruh rumahnya.

Dengan kaus santai berlengan panjang, dengan celana training berwarna biru muda. Haura tampak cantik dengan rambut sebahu yang sedang ia pamerkan pada hari itu. Ia memang sedang sendirian di rumah. Ia pun menanggalkan hijabnya karena merasa yakin kalau tidak ada seorangpun yang mampu melihat auratnya didalam.

Ia memegangi sapu lantai. Dari dapur rumahnya yang berada di ujung sampai ruang tamunya yang dekat di pintu masuk. Ia terus menyapu mendorong debu itu untuk membuangnya ke tempat sampah yang berada di balik pintu keluar rumahnya.

Ketika sedang asyik-asyik bersantai bersama sapu yang ia pegang. Terdengarlah bunyi ketukan yang membuat bidadari itu terkejut.

"Iyya sebentar" Kata Haura berlari terburu-buru menuju kamarnya untuk mengambil hijab simpel demi menutupi auratnya.

Haura sudah mengenakan hijabnya. Ia pun terlihat lebih cantik ketimbang tadi saat memamerkan rambut sebahunya. Saat berjalan menuju pintu masuk, hatinya bertanya-tanya mengenai siapa yang sedang bertamu ke rumahnya se-sore ini.

Pintu telah dibuka, nampaklah seorang pria berbadan kekar, berkulit gelap yang hanya mengenakan celana pendek serta kaus oblong. Nampak di kaus nya ada robekan-robekan kecil yang membuatnya terlihat seperti kaus oblong mahal yang dijual di mall.

Saat melihat sosok itu. Haura langsung merinding dan nyaris saja menutup pintunya lagi. Untungnya ia keburu melihat wajah dari sosok itu. Seketika ia lupa-lupa ingat namanya. Ia memang sering melihatnya, ia hanya lupa nama dari seorang pria tua yang sedang bertamu ke rumahnya.

"Permisi ustadzah Haura... Maaf mengganggu waktunya" Kata pria itu dengan sopan.

"Ohh iya Pak... Gapapa... Aku lagi senggang kok" Kata Haura bersikap malu-malu.

"Hmm maaf... Saya biasa dipanggil pak Dino... Selama pak Karjo izin berobat karena sedang cedera di dadanya, saya yang ditugaskan untuk menggantikan posisi beliau sementara... Ini saya cuma mau melaporkan beberapa laporan di bulan ini" Kata pak Dino dengan sopan.

"Ohhh begitu... Silahkan duduk dulu pak" Kata Haura mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di kursi kosong yang tersedia di teras rumahnya. Haura dengan perlahan berjalan di belakang pak Dino. Dalam hati ia senang rupanya pak Karjo sedang sakit akibat dipukuli oleh sosok bertopeng itu. Tapi di lain sisi, ia teringat akan perkataan Pak Karjo waktu itu.

Bukankah pak Dino orang yang katanya menyukaiku... Menyukai lubang duburku ?

Batin Haura merinding.

Ahh enggak... Aku gak boleh langsung percaya omongan kuli bejat itu... Mungkin aja pak Dino bukan seperti yang kuli bejat itu bicarakan.

Batin Haura mencoba husnudzon.

"Maaf ini laporannya mengenai uang yang sudah kami belanjakan beserta daftar kehadiran dari pekerja yang ikut membangun proyek ini... Silahkan dilihat dulu ustadzah" Kata Pak Dino sopan. Mereka berdua sudah duduk saling berhadapan. Pak Dino pun menyerahkan laporan itu kepada ustadzah tercantik se-pondok pesantren itu.

"Ohhh iya Pak" Jawab Haura dengan ramah. Haura pun menerima laporan itu. Dibacanya lah satu demi satu laporan itu dengan teliti.

Diam-diam ketika Haura membaca laporan darinya, matanya mencuri-curi pandang ke arah wajahnya yang cantik lagi jelita. Pak Dino tak menduga bahwa dirinya bisa menatap keindahan wajahnya dengan jarak sedekat ini. Terlihat saat bibirnya mengecap ketika sedang membaca satu demi satu laporan dengan lirih. Entah kenapa rasanya ia ingin melumat bibirnya hingga habis. Ketika ia menurunkan pandangannya tuk menatap tubuh rampingnya. Nampak payudaranya yang menonjol dari balik kaus yang Haura kenakan menggoda dirinya. Sebagai kuli tertua, yang terkekar dan yang terhitam dari seluruh kuli yang bekerja disini. Sudah sewajarnya baginya untuk menginginkan seorang wanita yang cantik lagi berkulit mulus dan berwarna bening. Apalagi sudah sepuluh tahun belakangan dirinya di tinggal mati oleh istrinya. Ia pasti sangat kesepian. Ia pasti butuh belaian. Ia juga butuh pemuas untuk melampiaskan nafsu birahi nya yang teramat besar.

Ketika Haura menaikan wajahnya, Pak Dino buru-buru menurunkan pandangannya hingga bidadari itu tidak menyadari perilakunya.

"Hmmm begitu... Jadi bapak butuh tambahan seratus ribu rupiah untuk keperluan cat yah ? Bentar yah pak aku ambilkan dulu uang anggarannya" Kata Haura dengan sopan. Tak sengaja Haura tersenyum yang senyumnya mampu menyilaukan dunia pak Dino.

"Ohh ii.. Iyahh ustadzah" Kata Pak Dino malu-malu.

Haura dengan sopan meminta izin untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat Haura berpaling memunggungi pak Dino. Nampak bokong Haura yang bergeal-geol menggoda birahi pak Dino. Seketika penisnya mengeras. Ia pun tak tahan lagi dengan membelainya pelan.

Luarrrr biasaaa... Bokongnya montok banget !!!

Batin pak Dino tergoda.

Pria tua berusia 56 tahun itu tidak tahan lagi. Sudah bertahun-tahun ia memperhatikan istri dari ustadz Hendra ini. Kini, tibalah waktunya bagi ia untuk berduaan bersamanya. Seketika ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sepi, tidak ada satupun orang sama sekali. Haruskah ia melakukannya sekarang ?

Tiba - tiba tubuh tuanya beranjak berdiri. Pelan-pelan ia mulai mendekati Haura yang hampir memasuki rumahnya.

"Ustadzah" Lirih pak Dino yang membuat Haura menolehkan wajahnya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy