Pintu telah dibuka, nampaklah seorang pria berbadan kekar, berkulit gelap yang hanya mengenakan celana pendek serta kaus oblong. Nampak di kaus nya ada robekan-robekan kecil yang membuatnya terlihat seperti kaus oblong mahal yang dijual di mall.
Saat melihat sosok itu. Haura langsung merinding dan nyaris saja menutup pintunya lagi. Untungnya ia keburu melihat wajah dari sosok itu. Seketika ia lupa-lupa ingat namanya. Ia memang sering melihatnya, ia hanya lupa nama dari seorang pria tua yang sedang bertamu ke rumahnya.
"Permisi ustadzah Haura... Maaf mengganggu waktunya" Kata pria itu dengan sopan.
"Ohh iya Pak... Gapapa... Aku lagi senggang kok" Kata Haura bersikap malu-malu.
"Hmm maaf... Saya biasa dipanggil pak Dino... Selama pak Karjo izin berobat karena sedang cedera di dadanya, saya yang ditugaskan untuk menggantikan posisi beliau sementara... Ini saya cuma mau melaporkan beberapa laporan di bulan ini" Kata pak Dino dengan sopan.
"Ohhh begitu... Silahkan duduk dulu pak" Kata Haura mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di kursi kosong yang tersedia di teras rumahnya. Haura dengan perlahan berjalan di belakang pak Dino. Dalam hati ia merasa senang karena rupanya pak Karjo sedang sakit akibat dipukuli oleh sosok bertopeng itu. Tapi di lain sisi, ia teringat akan perkataan Pak Karjo waktu itu.
Bukankah pak Dino ini orang yang katanya menyukaiku... Menyukai lubang duburku ?
Batin Haura merinding.
Ahh enggak... Aku gak boleh langsung percaya omongan kuli bejat itu... Mungkin aja pak Dino bukan seperti yang kuli bejat itu bicarakan.
Batin Haura mencoba husnudzon.
"Maaf ini laporannya mengenai uang yang sudah kami belanjakan beserta daftar kehadiran dari pekerja yang ikut membangun proyek ini... Silahkan dilihat dulu ustadzah" Kata Pak Dino sopan. Mereka berdua sudah duduk saling berhadapan. Pak Dino pun menyerahkan laporan itu kepada ustadzah tercantik se-pondok pesantren itu.
"Ohhh iya Pak" Jawab Haura dengan ramah. Haura pun menerima laporan itu. Dibacanya lah satu demi satu laporan itu dengan teliti.
Diam-diam ketika Haura membaca laporan darinya, mata pak Dino mencuri-curi pandang ke arah wajah sang ustadzah yang cantik lagi jelita. Pak Dino tak menduga bahwa dirinya bisa menatap keindahan wajahnya dengan jarak sedekat ini. Terlihat saat bibirnya mengecap ketika sedang membaca satu demi satu laporan dengan lirih. Entah kenapa rasanya ia ingin melumat bibirnya hingga habis. Ketika ia menurunkan pandangannya tuk menatap tubuh rampingnya. Nampak payudaranya yang menonjol dari balik kaus yang Haura kenakan menggoda dirinya.
Sebagai kuli tertua, yang terkekar dan yang terhitam dari seluruh kuli yang bekerja disini. Sudah sewajarnya bagi dirinya untuk menginginkan seorang wanita yang cantik lagi berkulit mulus dan berwarna bening. Apalagi sudah sepuluh tahun belakangan dirinya di tinggal mati oleh istrinya. Ia pasti sangat kesepian. Ia pasti butuh belaian. Ia juga butuh pemuas untuk melampiaskan nafsu birahi nya yang teramat besar.
Ketika Haura menaikan wajahnya, Pak Dino buru-buru menurunkan pandangannya hingga bidadari itu tidak menyadari perilakunya.
"Hmmm begitu... Jadi bapak butuh tambahan seratus ribu rupiah untuk keperluan cat yah ? Bentar yah pak aku ambilkan dulu uang anggarannya" Kata Haura dengan sopan. Tak sengaja Haura tersenyum yang senyumnya mampu menyilaukan dunia pak Dino.
"Ohh ii.. Iyahh ustadzah" Kata Pak Dino malu-malu.
Haura dengan sopan meminta izin untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat Haura berpaling memunggungi pak Dino. Nampak bokong Haura yang bergeal-geol menggoda birahi pak Dino. Seketika penisnya mengeras. Ia pun tak tahan lagi dengan membelainya pelan.
Luarrrr biasaaa... Bokongnya montok banget !!!
Batin pak Dino tergoda.
Pria tua berusia 56 tahun itu tidak tahan lagi. Sudah bertahun-tahun ia memperhatikan istri dari ustadz Hendra ini. Kini, tibalah waktunya bagi ia untuk berduaan bersamanya. Seketika ia melirik ke kiri dan ke kanan. Sepi, tidak ada satupun orang sama sekali. Haruskah ia melakukannya sekarang ?
Tiba - tiba tubuh tuanya beranjak berdiri. Pelan-pelan ia mulai mendekati Haura yang hampir memasuki rumahnya.
"Ustadzah" Lirih pak Dino yang membuat Haura menolehkan wajahnya.
Tepat sebelum Haura benar-benar menolehkan wajahnya, seketika pak Dino mengurungkan niat yang tadi sempat dipikirkannya. Pak Dino tidak jadi mendekati. Ia hanya terdiam dalam posisi berdiri.
“Hmm ada apa yah pak ?” Tanya Haura saat dirinya dipanggil.
“Ahhh enggak ustadzah... Maaf saya salah lihat... Saya kira tadi ada serangga di punggung ustadzah” kata pak Dino beralasan.
“Serangga ?” kata Haura terkejut sambil berusaha melihat ke arah punggungnya.
“Gak ada kok ustadzah... Beneran, maaf tadi saya cuma salah lihat” kata pak Dino saat melihat Haura panik mengira ada serangga di punggungnya.
“Ihhhh bapak bikin aku takut aja deh... Beneran gak ada kan ?” kata Haura masih menyentuh-nyentuh punggungnya berharap pak Dino jujur kalau tidak ada serangga disana.
“Iyya maaf ustadzah... Gak ada” kata Pak Dino tersipu.
“Ihhh nyebelin nih bapak... Huftttt” kata Haura menahan senyum. Haura jadi malu karena sudah menunjukan sisi dirinya yang sebenarnya sebagai seorang wanita yang takut akan serangga. Maka tak heran kalau wajahnya sampai memerah karena selama ini ia hanya menunjukan sisi dirinya pada orang terdekatnya.
Sementara pak Dino hanya tersenyum-senyum sendiri ketika mampu melihat sisi imut dari bidadari itu.
Haura sudah masuk ke dalam meninggalkan kesan imut yang sangat kuat di benak pak Dino. Ya, masih teringat dalam ingatan bagaimana ekspresi wajah Haura ketika menahan senyum ketika dirinya malu karena dikira ada serangga di punggungnya. Entah kenapa pak Dino jadi terus tersenyum sambil menundukan wajah. Kedua jemarinya saling mengait. Ia terus saja mengulang-ngulang ingatannya saat melihat ekspresi wajah dari Haura tadi.
Imuuttnnyyaaa !!!
Batinnya senang.
Tak lama kemudian Haura datang sambil membawa sejumlah uang yang diminta oleh pak Dino. Ia juga membawa catatan juga tanda tangan darinya sebagai bukti kalau ini merupakan uang dari anggaran pembangunan gedung baru tersebut.
“Ini yah pak... Coba di cek lagi siapa tau kelebihan” kata Haura yang membuat pak Dino melirik sejenak wajahnya kemudian tersenyum sebentar. Pak Dino tak menyangka selain mampu melihat reaksi imut wajahnya, ia juga diajak bercanda yang membuat hatinya berbunga-bunga.
“Nah pas... Terima kasih yah ustadzah” kata pak Dino setelah menghitung sejumlah uang itu.
“Iya pak sama-sama” jawab Haura tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya.
Seketika pak Dino menyadari kalau waktu pertemuannya dengan Haura akan segera habis sebentar lagi. Ia merasa kurang, ia pun enggan untuk pergi meninggalkan. Rasanya gimana gitu kalau buru-buru pulang sekarang. Akhirnya ia pun terpikirkan sebuah ide untuk menetap lebih lama lagi untuk sekedar bisa berduaan dengan ustadzah tercantik se-pondok pesantren ini.
“Anuuu... Oh iya ustadzah... Emang ustadz Hendranya kemana ?” tanya pak Dino berbasa-basi.
“Biasa itu pak... Ada urusan keluar kota katanya”
“Oh begitu ? Memang ustadzah sering ditinggal pergi yah ?” tanyanya lagi.
“Ya kalau bisa dibilang sering ya iya juga... Tapi mah udah biasa itu pak...” jawab Haura tersenyum ramah.
“Wahhh tega banget... Masa iya punya istri secantik ustadzah malah sering ditinggal pergi sih” katanya sambil berkesempatan untuk memuji penampilan cantik ustadzah itu.
“Hihihihihi tau tuh pak... Tapi emang udah resikonya sih punya suami sibuk” jawab Haura sambil tersipu ketika mendengar pujiannya. Reflek bidadari itu menundukan wajah. Sikapnya yang malu-malu membuat pak Dino merasa nagih untuk memberikan pujian pada bidadari cantik itu.
“Iya sih tapi ya gak seharusnya juga ditinggal tiap hari... Kan kasian ustadzah jadi gak punya temen ngobrol di rumah” kata pak Dino sambil memperhatikan wajah cantiknya yang masih menunduk.
“Hihihi iyya nih pak... Kadang aku juga ngerasa kesepian di rumah” jawab Haura tak sengaja curhat.
“Wahhh kasiannya... Ustadzah punya boneka gak di kamar ?” tanyanya tiba-tiba.
“Boneka ? Hmmm ada sih emangnya kenapa pak ?” tanya Haura sambil mengangkat wajahnya.
“Jangan-jangan karena saking kesepiannya, ustadzah sampai ngobrol sama boneka lagi” kata pak Dino yang membuat Haura tertawa.
“Hihihihi bapakkkk... Kok bapak tau sih kegiatan aku ?” tanya Haura agak terkejut karena pak Dino berhasil menebaknya.
“Ehhhh itu beneran ? Padahal saya cuma asal nebak loh... Lain kali kalau ustadzah kesepian lagi... Tinggal hubungin saya aja... Nanti saya siap kok tuk mendengarkan keluh kesah ustadzah” katanya penuh harap.
“Hihihi dasar... Nanti bapak malah gak fokus kerja lagi” kata Haura terlihat ceria dengan senyum di wajah.
“Sebaliknya ustadzah... Saya malah lebih bersemangat” kata pria tua itu yang membuat Haura kembali tertawa.
“Hihihihi kapan-kapan yah pak tapi gak janji juga” kata Haura sempat menjulurkan lidahnya sedikit. Reaksi imut Haura kembali membuat pak Dino gemas kepadanya. Rasanya ia ingin mengulum lidah yang baru saja ustadzah itu julurkan. Pak Dino pun geleng-geleng kepala. Rasanya ia begitu bahagia ketika mampu mengobrol dengan bidadari secantik dirinya.
“Huahahaha... Ya udah saya undur diri dulu kalau gitu yah ustadzah... Udah terlalu sore juga” kata pak Dino.
“Ohhh iyyah pak... Terima kasih yah tadi soal laporannya” kata Haura tersenyum sambil berbicara sopan kepadanya.
“Huahahaha... Harusnya saya yang berterima kasih ustadzah bisa meluangkan waktu untuk mengobrol dengan wanita secantik ustadzah” kata pak Dino.
“Hhiihihihi bapak ahhh... Jangan bilang gitu deh... Aku malu” kata Haura tersipu.
“Huahaha yasudah permisi ustadzah... Wassalamualaikum” kata pak Dino pergi.
“Walaikumsalam pak” kata Haura tersenyum sambil diam berdiri di teras rumahnya menanti hingga sosok itu pergi jauh dari pandangan matanya.
Namun belum beberapa langkah ia pergi, pak Dino sudah kembali lagi yang membuat Haura bertanya-tanya dalam hati.
“Hmmm maaf ustadzah... Boleh minta nomor hapenya... Bukan buat yang enggak-enggak kok, biar mudah aja kalau saya membutuhkan sesuatu ke ustadzah” katanya yang membuat Haura tertawa.
“Hihihihi iyya tau kok pak... Ini yah nomor aku” kata Haura sambil menyebutkan satu demi satu nomor hapenya.
“Wahhh terima kasih banget ustadzah... Bakal saya inget-inget nih nomornya” kata Pak Dino saking senangnya.
“Hihihihih asal jangan disebar ke orang lain aja” kata Haura bercanda.
“Gak akan ustadzah... Barang langka ini... Gak akan saya sebar sembarangan” kata pak Dino dengan yakin.
Haura hanya tersenyum menanti kepergian pak Dino dari rumahnya. Setelah pria tua kekar itu pergi menjauh. Barulah Haura memasuki rumahnya untuk melanjutkan bersih-bersih rumahnya.
Pintu telah ditutup, Haura kembali melepas hijab simpelnya yang ia taruh di sandaran sofa yang berada di sebelah kirinya.
“Hah dasar pak Dino ini... Sudah kuduga, pak Dino ini orangnya baik gak seperti yang dikatakan oleh kuli bejat itu kemarin” kata Haura agak kesal ketika kembali teringat sosok itu.
Sebagai ustadzah yang memiliki sifat supel dan mudah bergaul, tak heran kalau dirinya selalu tersenyum ketika mengobrol sejenak dengan pak Dino tadi. Apalagi pak Dino orangnya juga ramah. Maka tak heran kalau dirinya bisa begitu mudah akrab dengannya.
Seketika terdengar bunyi SMS masuk.
“Eehhh siapa yah ?” katanya sambil membuka layar kunci di hapenya.
“Maaf ustadzah, ini saya pak Dino... Tolong di simpan yah” balas pak Dino.
“Oalah pak Dino hihihihih” kata Haura tertawa.
“Siap pak... Nanti aku save nomor bapak” balas Haura sambil tersenyum menyimpan nomor itu.
*-*-*-*
Malam harinya selepas waktu muwajjah berakhir.
“Assalamualaikum” sapa seorang ustadzah ketika memasuki pintu rumahnya.
“Walaikumsalam ehhh Umi dah pulang” kata seorang pria berjanggut tebal bertubuh tambun yang memiliki jarak usia sekitar lima tahun dari ustadzah itu.
“Ehhh Abi” kata ustadzah bertubuh mungil itu sambil mengecup punggung tangannya.
“Gimana tadi muwajjahnya... Masih ada yang ngantuk gak santriwati-santriwatinya ?” tanya suaminya dengan ramah.
“Yeeee enggak dong bi... Masa iya umi yang ngajar malah ditinggal ngantuk sih... Gak yah” kata ustadzah cantik bernama Nisa itu. Nisa kemudian melepas kaus kaki yang dikenakanya kemudian menaruhnya di dalam sepatu yang terlebih dahulu sudah ia taruh di rak sepatu.
“Hahahaha syukur deh mi... Abi kira ditinggal tidur lagi kaya kemarin” kata Reynaldi yang membuat istrinya merasa malu.
“Ihhh kemarin ya kemarin... Sekarang udah enggak dong” kata Nisa menahan senyum. Suaminya pun hanya tertawa mendapati sikap lucu yang dimiliki oleh istrinya.
“Ohhh iya bi, Dek Aldi mana ?” tanya Nisa mendapati tidak adanya kehadiran putranya sekarang.
“Udah tidur mi, tadi habis main bareng tiba-tiba ketiduran” kata Reynaldi sambil tersenyum.
“Oh yah ? Tapi udah di kasih makan kan ?” kata Nisa perhatian.
“Udah dong... Habis gak tersisa malah” jawabnya yang membuat Nisa lega.
“Hufftttt syukur deh kalau gitu” kata Nisa merasa senang.
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju kamar tidur mereka. Nampak Nisa duduk di tepi ranjang tidur sambil memainkan hapenya sebentar untuk beristirahat. Reynaldi pun merasa kalau wajah dari istrinya sangat kelelahan, ia pun berinisiatif untuk membuatkan sesuatu agar wajah dari Nisa bisa terlihat lebih segar seperti biasanya.
Saat itu, Nisa sedang mengenakan kemeja berwarna putih yang ia padukan dengan celana panjang hitam berukuran agak longgar. Ia juga mengenakan kerudung berwarna gelap sesuai dengan tema pakaian yang ia kenakan yakni, black & white.
Ia belum sempat mengganti pakaiannya, karena ia merasa terlalu lelah untuk melakukannya sekarang. Sebaliknya ia membaca satu demi satu beberapa pesan yang sempat ia lewatkan.
“Wahhh maaf banget ustadzah Nada... Besok jadwal ana full banget... Mungkin lain waktu aja yah kita hangout bareng lagi” balas Nisa pada pesan yang dikirimkan oleh ustadzah Nada.
“Yahhh ustadzah... Padahal lagi banyak yang mau ana obrolin ke antum” balas Nada dengan segera setelah mendapatkan balasan darinya.
“Hihihihi iyya tau... Ana faham kok, tapi maaf banget... Lain kali yah ustadzah” balas Nisa menolak secara halus. Bahkan ia menambahkan emotikon senyum agar Nada tidak salah mengira kalau dirinya enggan untuk bertemu dengannya tanpa sebuah alasan.
“Iyya ustadzah... Gapapa kok... Mungkin ana nya yang terlalu maksa.... Lain kali aja deh yah” balas Nada yang ikut menambahkan emotikon senyum agar Nisa tidak salah mengira tentang balasan pesannya.
“Siappp ustadzah” balas Nisa yang mengakhiri chattan malamnya dengan ustadzah berbadan body goals itu.
Setelah selesai, Nisa kembali untuk men-scroll layar hapenya ke bawah untuk mencari balasan pesan lainnya yang belum ia balas.
Ada satu buah pesan yang sudah lama belum ia buka. Sebuah pesan dari seseorang yang dulu sempat menjadi orang istimewa baginya. Ia agak sungkan untuk membukanya. Lagipula, kenapa orang itu masih saja mengiriminya pesan.
“Mas Fandi ini kenapa sih ?” kata Nisa heran.
“Kenapa mas masih terus ngehubungin aku ? Bukannya mas udah janji buat gak ngontak aku lagi ?” balas Nisa mumpung dirinya sedang sendirian di ruangan kamarnya.
“Maaf senior... Aku gak bisa melupakanmu” balas Fandi dengan polosnya.
“Ihhh tapi kan mas udah janji... Bahkan aku sampai rela mengkhianati suamiku demi mas biar mas bisa melupakan aku” balas Nisa teringat akan janji Fandi yang bisa melupakannnya andai ia menyerahkan keindahan tubuhnya.
“Aku tau itu... Aku juga masih ingat itu... Cuma aku tetap gak bisa melupakan dirimu, senior” balas Fandi.
“Masss tolonggg... Jangan hubungi aku lagi... Aku mau fokus ke keluarga aku... Aku gak ada waktu buat ngelayani tingkah mas lagi... Kalau mas masih aja kaya gini, aku gak akan senggan buat blokir nomor mas” balas Nisa tegas.
“Seniorrrr... Setega itu kah kamu padaku ?” balasnya.
“Tega ? Mas yang udah tega ke aku ? Mas udah bikin aku pusing bahkan membuat aku bersalah pada suami aku” balas Nisa mulai terpancing emosi.
“Seniorrr”
Block !
Tanpa ragu, Nisa memblokir nomor itu. Apakah masalah bisa selesai ? Mungkin saja. Setidaknya untuk sementara ini.
“Umiii... Ini abi buatin sesuatu buat umi” kata Reynaldi sambil membawakan secangkir susu hangat untuk istri tercintanya.
“Waahhhh abi... Makasih banget... Tau aja kesukaan umi apa” kata Nisa langsung merubah ekspresi wajahnya ketika melihat kedatangan suaminya.
Tanpa menunggu waktu, Nisa buru-buru menyeduhnya. Ia meminumnya sedikit demi sedikit untuk meredakan rasa lelah di hatinya. Sebagai seorang suami yang sudah lama menikahinya, Reynaldi merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya. Sepertinya ada yang tidak beres walau ia sendiri ragu tentang apa itu. Insting Reynaldi telah berkata tapi mata dan hatinya tidak mempunyai jawaban dari pertanyaan instingnya itu.
Dalam sekejap, setengah cangkir dari susu hangat itu sudah habis seketika. Reynaldi pun keheranan tapi kemudian tersenyum sambil menatap istri cantiknya.
“Umi haus banget yah ?”
“Hihihihi iya nih Bi... Umi haus” jawabnya sambil menatap wajah suaminya.
Seketika rasa penyesalan kembali tumbuh ketika teringat perbuatannya saat bersetubuh dengan mantan tetangganya. Seketika ia menunduk malu karena sudah melakukan perbuatan itu. Ia merasa menyesal hingga wajahnya keceplosan untuk menunjukan perasaan hatinya yang sebenarnya.
“Umiii sayang kenapa ?” kata Reynaldi lekas menghampiri sambil memeluk tubuh mungil bidadarinya itu.
“Ehhh emang umi kenapa bi ? Umi gapapa kok” kata Nisa berpura-pura tersenyum.
“Muka umi keliatan sepet deh... Apa karena susu buatan abi kurang manis yah ?” kata Reynaldi yang membuat istri cantiknya tersenyum.
“Hihihi bukan kok Bi... Bukan karena itu” jawab Nisa membalas pelukan suaminya dengan nyaman. Sesuai dugaannya, tidak ada yang mampu menyamankan dirinya selain pelukan dari suami tercintanya.
“Umi kenapa sih... Kok tiba-tiba jadi manja gini” kata Reynaldi membalas pelukan Nisa lebih erat lagi.
“Gapapa kok bi... Umi cuma kepikiran aja... Cinta kita bisa abadi sampai nanti kan yah ?” kata Nisa tiba-tiba mengejutkan Reynaldi.
“Umiii ngomong apa sih ? Ya pasti lah Mi... Walau ada salah satu dari kita yang tertimpa masalah atau membuat kesalahan... Kita harus bisa memaafkan karena kita itu manusia yang gak luput dari kesalahan dan dosa” kata Reynaldi yang menenangkan Nisa seketika.
“Hihihihi terima kasih Bi... Akhir-akhir ini umi tuh butuh kata-kata kaya gitu dari mas loh” kata Nisa semakin nyaman dalam memeluk suaminya.
“Ada-ada aja sih umi ini” kata Reynaldi yang membuat Nisa hanya tersenyum di malam itu.
Nisa merasa nyaman ketika dipeluk oleh kekasih halalnya. Namun rasa penyesalan itu masih tetap ada menghantuinya. Hatinya masih terasa sesak. Rasanya ia ingin menebusnya agar rasa sesal itu bisa hilang dari dirinya. Seketika ia terpikirkan sebuah ide untuk menebus kesalahan dosanya.
“Oh yah bi... Abi udah ngantuk ?” kata Nisa tiba-tiba lagi.
“Belum kok mi... Ada apa emangnya ?” kata Reynaldi penasaran.
“Hmmm hehehe... Kayaknya akhir-akhir ini dek Aldi kesepian deh... Gimana kalau kita hmmmmm.... Hehehehe” kata Nisa merasa malu sambil menatap wajah suaminya.
Reynaldi hanya tersenyum sambil membalas tatapan wajah dari istri cantiknya. Ia pun hanya diam sambil menanti permintaan yang diinginkan oleh istrinya walau sebenarnya ia sudah tau jawaban apa yang ada di benak kekasih halalnya.
“Terus ?” jawab Reynaldi memancing.
“Umi mau kitaaa... Umiii tuhhhh... Ihhh abiii... Abi pasti tau deh maksud umi apa” jawab Nisa malu-malu hingga jemarinya hanya menyentuh-nyentuh dada dari tubuh tambun suaminya yang mengenakan kaus santai.
“Abi gak tau kok... Abi kan polos” jawab Reynaldi dengan brewok tebalnya.
“Ihhh polos apaan... Pokoknya umi mau nambah temen buat dek Aldi hehehhee” kata Nisa masih malu-malu yang membuat Reynaldi semakin gemas.
“Ohhh Umi mau bercinta sama Abi... Lubang kemaluan umi minta abi tusuk pake pentungannya abi ?” kata Reynaldi dengan bahasa polos namun terdengar kotor. Nisa pun tertawa malu sambil memukul pelan lengan gemuk dari suaminya itu.
“Dasar mesum” kata Nisa setelah mendengar jawaban dari suaminya.
“Hahahaha habis umi yang udah bikin abi mesum sih” kata Reynaldi yang lama-lama gak tahan lagi. Seketika wajah tampan itu mendekati wajah istrinya. Jantung Nisa semakin berdebar mendapati sebentar lagi suaminya akan bercocok tanam dengannya.
Wajah mereka kian dekat sehingga mata mereka otomatis terpejam mencoba menikmati sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Bibir mereka bersentuhan saling melumat saling menuntut balas akan cumbuan yang mereka lontarkan bersama. Bibir merah Nisa yang merekah terbuka menerima tiap pagutan yang Reynaldi arahkan kepadanya. Nisa mendesah pelan ketika bibir bawahnya di gigit oleh Reynaldi dengan penuh kelembutan. Lidah Reynaldi menjulur keluar menjilati tiap - tiap senti bibir Nisa yang begitu manis mempesona. Lidah Nisa ikut keluar. Lidah mereka saling bertempur, saling menampar dan saling menjilat bagaikan pertarungan antar dua piton yang sedang dilanda syahwat birahi.
Reynaldi mengaitkan jemarinya ke jemari Nisa. Reynaldi mendorong tubuh Nisa hingga istrinya itu sedang terlentang di bawah tubuhnya. Nisa berbaring dalam posisi terlentang menerima tiap cumbuan yang dilakukan oleh Reynaldi diatasnya. Reynaldi menindihi tubuh Nisa. Tangan kanan Reynaldi bergerak merangkul kepala Nisa. Mereka tersenyum sekali lagi dengan tatapan mata yang saling memandang. Kening mereka bersentuhan. Mereka begitu bahagia di malam itu dengan keintiman yang semakin intens diantara mereka berdua.
Mereka kembali bertukar posisi dimana Reynaldi terlentang diatas ranjang sementara Nisa dalam posisi telungkup menindihi suaminya. Reynaldi memeluk erat tubuh mungil Nisa. Tangan kanannya mengusap punggungnya sementara tangan kirinya memegangi kepala sambil mengusap kepalanya yang masih terbalut hijab dengan penuh kelembutan.
Cumbuan mereka tidak berhenti justru semakin menjadi. Kaki kanan Reynaldi terangkat mengapit tubuh Nisa sehingga membuatnya jatuh ke arah kiri. Lenguhan demi lenguhan tercipta diantara mereka. Nafas mereka sedang beradu ketika hembusan nafas mereka perlahan semakin cepat. Tangan Reynaldi mendarat di payudara Nisa dan meremasnya dengan lembut. Sambil melepas cumbuannya Reynaldi menatap mata Nisa sambil tersenyum.
“Ciuman umi manis banget sih... Abi jadi gak tahan buat nyium umi terus” Katanya sambil meremas-remas payudara istrinya yang kenyal.
Sambil tersenyum malu Nisa hanya tersipu yang membuat Reynaldi semakin gemas akan kepolosan istrinya. Reynaldi pun semakin giat dalam memainkan salah satu bola bulat yang dimiliki istrinya. Nisa hanya melenguh keenakan hingga membuat matanya terpejam menikmati tiap remasan yang membuatnya bergidik nikmat. Jemari Reynaldi kian nakal dengan mencubit puncak gunung yang masih bersembunyi dibalik kemeja putih yang dikenakannya. Reynaldi tidak tahan lagi, ia sudah sangat bernafsu sehingga membaringkan tubuh Nisa kembali diatas ranjang. Ia bangkit dari posisi berbaringnya tuk melepas kemeja beserta bra yang dikenakan oleh Nisa. Dalam sekejap Nisa sudah bertelanjang dada dihadapan dirinya. Ia tersenyum malu ketika Reynaldi dengan nanar menatapi ketelanjangan dirinya.
“Tubuh umi indah banget sih... Kulit umi juga mulus... Abi gak nyangka umi bisa merawat tubuh yang sesempurna ini” pujinya terpana akan kencangnya kulit yang membungkus tubuh indah Nisa.
“Hihihihi makasih mas... Umi kan sengaja merawat tubuh umi buat nyenengin mas” kata Nisa menggoda suaminya.
Reynaldi semakin gemas setelah mendengar ucapan dari Nisa saat tersenyum menatapnya. Mata Reynaldi nanar menatap ke arah dua payudara yang terlihat begitu kencang tidak jatuh ke bawah. Putingnya yang berwarna merah muda sangatlah menggoda. Berulang kali Reynaldi menjilati bibirnya sendiri sambil meremasi pinggang mulus istrinya kemudian naik hingga ke dadanya.
“Uhhhhhhhh Abiiiiiii” desah Nisa merinding nikmat.
Mendengar desahan yang istrinya ucapkan membuatnya semakin tidak tahan lagi. Kedua tangannya pun berhenti di payudara montok itu. Dengan lembut ia kembali melumat bibir Nisa. Nisa pasrah menerima tiap cumbuan yang diarahkan ke bibirnya. Nisa merasa bahwa cumbuan dari suaminya bukanlah cumbuan yang didasari oleh nafsu semata. Ini adalah cumbuan lembut yang dipenuhi oleh perasaan cinta dari Reynaldi kepadanya. Cumbuan yang Reynaldi berikan justru membuat Nisa semakin hanyut dalam buaian cinta yang sedang dicurahkan untuknya. Tangan Reynaldi kembali bergerak membelai tiap senti tubuh indah Nisa yang begitu menggoda. Tangan kanannya hinggap di payudaranya. Tangan itu meremasnya dan terus meremas dengan penuh kelembutan. Jemarinya memilin putingnya, kadang ia menariknya, kadang ia juga mencubitnya. Sedangkan tangan kirinya membelai punggung Nisa dengan penuh perasaan. Belaiannya semakin turun hingga masuk ke dalam celana panjang yang sedang dikenakan oleh istrinya. Kedua bongkahan pantat Nisa diremas olehnya hingga jemari tengahnya pun masuk membelah pantat tersebut menggesek lubang kotorannya.
“Abbiiii ihhhh jorrookkk” kata Nisa tersenyum saat merasakan jemari itu nyaris saja membelah liang duburnya.
“Hahahaha maaf umi... Abi gemes banget sih sama tubuh umi” puji Reynaldi yang semakin meluluhkan hati istrinya. Reynaldi pun kembali menunduk untuk melumat habis bibir tipisnya.
“Mmpphhh.... Mmppphh... abi buka sekarang yah celananya umi” gumamnya disela - sela percumbuan mereka berdua.
“Iya Bi... Umi nurut abi aja” jawab Nisa membuat birahi Reynaldi semakin melonjak naik.
Celana Nisa sudah terlepas menampilkan rambut kemaluannya yang terlihat tipis - tipis. Kini Nisa benar - benar sudah bertelanjang bulat dihadapan suaminya. Nisa tersipu saat melihat tatapan binal yang dilakukan oleh Reynaldi kepadanya.
“Luar biasa sekali tubuh umi ini... Abi sampai gak bisa berkata-kata untuk mengomentari kemolekan umi” kata Reynaldi terpesona yang membuat Nisa semakin senang akan pujiannya.
Rasa gerah yang melanda membuat Reynaldi ikut menelanjangi dirinya sendiri. Tubuhnya yang tambun sudah terekspos di hadapan wajah istrinya. Ukuran penisnya yang gemuk tapi tidak terlalu keras sudah mengacung tegak di hadapan istrinya. Karena nafsu yang semakin tak tertahan membuat suami dari nisa itu mendekatkan penisnya ke wajah sang istri. Nisa dengan sigap mendekap penis itu kemudian mengocoknya dengan lembut.
"Ouhhhh umiiiim... Uhhhhh.... Uhhhh nikmat nyaaa" Desah Reynaldi puas.
Nisa tersenyum mendengar desahan dari suaminya. Tangan kanannya dengan lembut mendekap batang penisnya yang gemuk. Genggaman tangannya ia tarik maju hingga ujung gundulnya kelelep oleh tebalnya kulit penis Reynaldi yang mengubur hidup-hidup ujung gundulnya. Saat Nisa mendorong tangannya ke belakang. Nampak ujung gundulnya kembali terlihat yang membuat Reynaldi semakin keenakan merasakan kocokannya.
Jemari mulusnya bergerak maju mundur dengan perlahan. Reynaldi sampai menggelengkan kepala merasakan kenikmatan yang semakin tak tertahankan.
"Ouhhh... Ouhhhh" Desah Reynaldi puas.
Maju-mundur, Maju-mundur, Maju-mundur. Penis Reynaldi terus dikocoknya dengan lembut membuat pemiliknya hanya biasa mendesah menahan kenikmatan.
“Gimana bi ? enak gak ?”
“Enak banget umii... ahhh ahhhhh” desah Reynaldi berkelanjutan.
Sedikit demi sedikit perlahan demi perlahan, gerakan jemari Nisa terasa semakin kencang mengocok batang kemaluan suaminya. Reynaldi sampai merem melek dibuatnya. Gerakan terus menerus yang diperbuat oleh Nisa membuat nafsu birahi Reynaldi memuncak. Cairan precum mulai keluar dari lubang kencingnya membasahi kepala penis Reynaldi yang berbentuk seperti jamur itu.
Gairah birahi yang tumbuh pada diri Nisa ketika menatap penis suaminya yang sedang ia kocok membuat Nisa tergoda untuk ikut mengocok vaginanya. Reynaldi hanya bisa menahan nafas agar dirinya tidak cepat keluar ketika Nisa yang sudah bertelanjang bulat memainkan lubang kencingnya dengan cara menekannya pelan. Reynaldi terpukau akan kecantikan wajah Nisa yang berada di dekat penis yang sedang istrinya kocok.
"Ouhhh cukuppp umi... Cukuppp... Abi pengen masukin sekarang aja" Kata Reynaldi tak tahan lagi.
"Abi mau sekarang ?" Kata Nisa semakin gugup.
"Iyya mi... Abi udah gak kuat" Kata Reynaldi saat sudah berada di hadapan kaki Nisa yang terbuka.
"Mmppphhh... Mmppphhh" Desah Nisa menahan geli.
Berulang kali Reynaldi menggesek - gesek ujung penisnya yang sudah mengejang ke arah bibir vagina istrinya. Rasanya begitu nikmat. Permukaan vaginanya yang lembap dan hangat membuat penis Reynaldi semakin mudah terangsang.
"Mmppphhh abiii... Mmppphhh" Desah Nisa menahan geli.
Suara desah yang ia dengar dari istrinya juga rasa nikmat yang ia rasakan dari ujung gundulnya membuat ia semakin tidak tahan untuk menerjang liang senggama itu lagi.
Jleeebbb !!!
"Uuhhhh abiiii" Desah Nisa dengan manja.
"Hah... Hah... Sempit banget memeknya umi... Henkkkghhh" Desah saat menancapkan penisnya lagi.
"Aaahhhhhhh abiii... Abiii..." Desah Nisa hingga tubuhnya terangkat naik.
Rasa nikmat yang ia rasakan membuat tubuhnya kembali membungkuk untuk menikmati ketelanjangan istrinya.
Reynaldi mencumbui leher jenjangnya dan menjilatinya hingga membuat Nisa merinding nikmat. Nisa sampai menengadah wajahnya naik merasakan cumbuan suaminya yang diarahkan ke lehernya. Jemari Reynaldi juga tak tinggal diam dengan mencengkram kuat dua payudaranya yang menganggur. Cumbuannya turun menghisap dua putingnya yang sudah mengeras secara bergantian. Awalnya ia menghisap puting kanannya sebelum pindah ke kiri kemudian pindah ke kanan lagi lalu menjilatinya sejenak dan menggigitnya pelan kemudian pindah ke kiri untuk menghisapnya kuat - kuat kemudian ke kanan lagi dengan menggigitnya gemas membuat Nisa menggelinjang menggeleng - gelengkan kepalanya merasa nikmat.
"Uhhhhhh abiiiii" Ditengah cumbuan yang mereka lakukan tiba-tiba Reynaldi sudah mengambleskan penisnya masuk hingga membuat Nisa kelojotan menahan penetrasi dari suaminya.
"Uhhhh Umiii... Memek umi sempit banget sihhh... Abis sampai betahh lama-lama kaya gini" Desahnya saat merasakan jepitan yang semakin terasa ketika penis gemuknya terhimpit oleh dinding vagina istrinya.
"Abiii... Omongan abi kok kotor banget sihhh... Uhhhh punyanya abi juga gede banget... Jangan ditekan lagi bi... Gak muatt" Desah Nisa.
Namun omongan dari Nisa jelas diabaikan oleh dirinya. Siapa yang bisa menahan ketika penis sudah menancap kalau tidak digerakan. Sedikit demi sedikit pinggulnya mulai bergerak menggesek-gesek liang senggama istrinya.
"Uhhhh nikmat banget umiii... Uhhhh mantepppnyaa" Desah Reynaldi puas.
"Abiii... Pelannn biii... Pelan" Desah Nisa saat merasakan penisnya semakin cepat bergerak di dalam.
Setelah mendengar desahan yang terucap dari mulut istrinya, Reynaldi langsung mempercepat gesekannya di liang senggama Nisa. Tangan Reynaldi yang gemas bergerak meremasi payudaranya yang bergoyang indah. Jemarinya menekan-nekan puting istrinya. Jemarinya juga kadang menggelitiki putingnya yang membuat Nisa memejam menahan semua sensasi ini.
"Ahhhh... Abiii.... Geliii biii ahhh... Ahhh" Desah Nisa dengan pasrah.
Tubuhnya yang bertelanjang bulat sedang disodoknya maju mundur. Nampak tangan Reynaldi sudah bertengger mencengkrami pinggang kanan kirinya. Ia semakin cepat menggerakan pinggulnya. Alhasil payudara istrinya juga semakin cepat bergoyang. Nampak pria tambun brewokan itu menatap wajah istrinya yang sedang keenakan. Nisa tengah memejam. Mulutnya mengatup rapat. Bahkan kedua tangannya juga mengepal rapat walau sesekali kadang membuka tuk mencengkrami sprei ranjangnya.
"Ahhhh umiii... Ahhh... Ahhhhhh" Desahnya semakin cepat sambil memandangi pergerakan payudaranya.
"Abiii pelannn biii... Pelannn... Ahhhh... Ahhhh" Desah Nisa dibawah menahan pasrah.
"Umiii... Buka kakinya lebih lebar lagi mi" Perintah Reynaldi yang semakin bernafsu.
Nisa pun menuruti dengan melebarkan pahanya lebih lebar lagi. Reynaldi yang tidak tahan langsung menindihi istrinya. Kedua tangan mereka saling mengait. Dada mereka saling terhimpit. Bibir mereka pun saling mengapit. Tak ketinggalan liang senggama Nisa yang sempit pun semakin menjepit.
"Mmppphhh umiiii... Umiii menggoda banget mi... Abi gak tahan" Desah Reynaldi sambil mendorong tarikan pinggulnya mengobrak-ngabrik liang senggama istrinya.
"Mmmppphhh... Abiiii.... Mpphhh pelannn biii... Abiii kecepetan masukinnya" Desah Nisa disela cumbuannya dengan suaminya.
Mereka terus saja mencumbu sambil bersetubuh memuaskan rindu. Pangkal paha mereka terus bertemu. Mereka terus bergempur. Mereka saling mengoplok satu sama lain. Penis gemuk Reynaldi semakin dalam menusuk liang senggama Nisa. Liang senggama Nisa semakin menyempit yang membuat penis gemuk Reynaldi merasa seperti tercekik.
"Mmmpphhh... Mppphhh... Mpphhh" Desah Pria tambun itu tidak kuat lagi.
"Abbiii... Abbbiii... Ahhhhh... Ahhhhh.... Ahhhhh" Desah Nisa saat merasakan pinggul suaminya semakin menggempur lubang kemaluannya.
Plokkk... Plokkk... Plokkkk....
Suara gempuran itu semakin keras. Mereka berdua pun berteriak puas. Sodokan demi sodokan telah Reynaldi layangkan tuk menyundul liang senggama istrinya. Jepitan demi jepitan juga telah Nisa apitkan agar penis suaminya semakin tercekik menahan kenikmatan.
"Ahhhh umiii... Umiii.... Abi gak tahan lagi umii... Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhh" Desah Reynaldi tidak kuat lagi.
"Ahhhh abiiii... Ahhhh ahhhh umiii jugaaaaa"
Dengan satu tusukan yang mantap. Reynaldi pun memasukan penisnya sedalam-dalamnya hingga hampir mengenai rahim dari bidadari mungil itu. Reynaldi segera mengincar bibir istrinya. Kedua tangan gemuknya memeluk leher istrinya ketika semburan yang dahsyat keluar dari lubang kencingnya.
"Abiii keluuuarrrrr miiii... Mmmmppphhhhhhhh" Desah Reynaldi kemudian mencumbu istrinya hingga puas.
Crrrrooottt... Crrrrooottt... Crrroootttt...
"Mmmppphhhh" Nisa hanya bisa mendesah pasrah sambil memejamkan mata. Terasa liang senggamanya disirami oleh cairan cinta suaminya dengan deras. Pelukan yang ia terima juga semakin erat. Terasa mata Nisa sampai berkunang-kunang. Tubuhnya pun kelojotan tak lama kemudian setelah ia mendapatkan kepuasan dari suaminya.
"Mmmmppppphhhh" Nisa mendapatkan orgasme dari suaminya. Ia pun merasa kalau penis suaminya terus saja berdenyut. Liang rahimnya semakin penuh. Mata Nisa akhirnya memejam tuk menahan kenikmatan yang ia dapatkan.
"Ouhh umiii... Abiii puas banget malam ini... Hah... Hah... Terima kasih yah mi... Umi makin cantik deh kalau telanjang gini" Puji Reynaldi yang membuat Nisa malu.
"Abiii ihhh.... Istrinya siapa dulu dong" Kata Nisa sambil tersipu.
"Istrinya abi... Cuppppp" Katanya sambil mencumbu bibir istrinya.
Setelah itu Reynaldi pun pamit ke kamar mandi untuk membersihkan penisnya terlebih dahulu. Nisa yang masih terkapar hanya bisa menatap ke langit-langit membayangkan sesuatu yang baru saja terjadi.
Ia memang merasa puas. Ia memang mendapatkan orgasme darinya. Tapi kok, entah kenapa ada sensasi yang kurang ketika dirinya disetubuhi oleh suaminya.
Mas Fandi....
Batin Nisa ketika teringat sosoknya. Rasanya memang lebih puas andai Fandi yang menyetubuhi dirinya. Ia pun rindu. Ia seketika mengambil hapenya untuk melakukan sesuatu.
Unblock !
*-*-*-*
Keesokan sorenya.
Haura baru saja keluar dari kantor bagian pengasuhan untuk berjalan pulang menuju rumahnya. Rasanya, hari ini merupakan hari terlelahnya setelah sekian tahun menjadi seorang ustadzah di pondok pesantren ini. Mulai dari pagi hingga menjelang dzuhur tadi. Jadwal mengajarnya nyaris full tanpa ada waktu jeda sama sekali. Mulai dari menjadi pengajar asli sampai jadi pengajar pengganti sudah ia lalui. Biasanya ia tak sesibuk ini. Namun kesibukan dari pengajar lainnya telah memaksanya untuk menggantikan posisi mereka untuk mengisi kelas yang ditinggalkan oleh pengajar aslinya.
Ia berjalan dengan santai sambil melihat ke arah jam tangan yang ada di lengan kirinya. Ia tersenyum rupanya sekarang baru jam empat lebih sepuluh menit rupanya. Kedua kakinya merasa lemas karena di siang tadi, ia tak sengaja tertidur sambil menyandarkan tubuhnya di atas meja kerjanya. Ya ia tertidur di kantor dengan cara yang tidak biasa. Caranya tertidur mirip dengan cara santri ketika tertidur di kelas. Sialnya tidak ada satupun rekan sekantornya yang membangunkan dirinya. Nyaris dua jam ia tertidur karena saking lelahnya. Ia memang puas tertidur tapi efeknya bisa ia rasakan sampai sekarang.
Dengan kemeja berwarna putih berukuran longgar yang ia kenakan. Dengan rok panjang berwarna coklat muda yang menutupi kakinya yang jenjang. Dengan hijab berwarna cerah dengan corak kemerahan yang membalut kepala kecilnya. Haura masihlah menggoda kendati wajahnya sedang lesu seperti orang baru bangun tidur.
Wajahnya tersenyum malu sambil sesekali menunduk tuk menyembunyikan wajahnya yang lesu. Tiap kali ada santri lewat, pasti ia selalu menundukan wajah. Begitu juga tiap ada pengajar lainnya. Haura merasa malu sekali dengan kondisi wajahnya walau sebenarnya ia masih tetap cantik jelita seperti biasa.
Ketika ia berjalan melewati sebuah gedung kosong yang baru jadi, Tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya dari samping.
"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa orang itu mengejutkan Haura.
"Ehhh Walaikumsalam pak... Pak Dino yah" Kata Haura melihat wajahnya sekilas kemudian menundukan wajahnya karena malu.
"Hehehe iya ustadzah... Sombong nih tadi saya liatin terus ehhh ustadzah nya malah kaya pura-pura gak liat" Kata Pak Dino bercanda.
"Ehhh hihihi bukan gitu pak... Aku malu tau mukaku kaya abis baru bangun tidur" Kata Haura memerah.
"Baru bangun tidur ? Emang tadi di kantor tidur yah ustadzah ?" Tanyanya penasaran.
"Iyya sih pak hehehehe" Jawab Haura malu-malu.
"Kalau gitu ya berarti ustadzah emang baru bangun tidur" Kata pak Dino yang membuat Haura tersenyum malu.
"Ihhhh tapi bukan baru bangun tidur juga... Maksudnya tuh, aku bangunnya dah lama... Dah beberapa menitan tapi muka aku masih kaya gini" Kata Haura buru-buru memverifikasi.
"Emang gimana ? Boleh saya lihat ustadzah ?" Kata pak Dino yang disetujui oleh Haura. Saat Haura mengangkat wajahnya, Haura jadi malu-malu menanti reaksi dari pria tua ini.
"Wahh ustadzah tetep cantik kok... Saya aja sampai tersepona deh jadinya" Kata pak Dino yang membuat Haura tertawa.
"Terpesona kali pak" Kata Haura menahan senyum.
"Nah iya maksudnya itu hehehe" Kata pak Dino ikut malu.
"Oh yah pak Dino ada apa kok manggil saya ?" Kata Haura masih mengucek-ngucek matanya. Bahkan sesekali menguap yang membuatnya jadi malu sendiri.
"Heheh maaf Pak... Aku masih ngantuk" Kata Haura buru-buru menutupi mulutnya malu.
"Huahahaha lucu juga ustadzah nih... Gak ada apa-apa kok ustadzah... Cuma mau menyapa aja" Kata Pak Dino tersenyum di hadapan bidadari itu.
"Hmmm gitu, kalau gitu aku duluan aja yah pak... Mau istirahat di rumah" Kata Haura izin pamit.
"Iyya ustadzah... Jangan tidur lagi yah ? Pamali tidur sore-sore" Kata pak Dino perhatian.
"Hihihihi iyya pak... Gak akan kok" Kata Haura mulai pergi meninggalkan Pak Dino sendiri.
Saat Haura sudah jauh, Diam-diam pak Dino kembali mengamati hapenya tuk mencocokan foto itu dengan penampilan Haura dari belakang.
"Kayaknya mirip tapi semoga saja bukan" Kata pak Dino masih ragu.
"Lagipula kalau iya, dengan siapa ia melakukannya ? Kenapa juga sampai melakukannya di tempat seperti itu ?" Kata pak Dino bertanya-tanya.
Namun pergerakan pantat Haura yang bergeal-geol membuat nafsu birahi nya meminta ingin disenggol. Buru-buru ia menuju kamar mandi untuk memuaskan hajatnya dengan membayangi dirinya bisa memasukan batang penisnya ke dalam anus sang ustadzah.
"Ouhhh... Ouhhhh... Ouhhh Ustadzahh !!!" Desah pria tua kekar itu.
*-*-*-*
Malam semakin larut, jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih sepuluh menit. Tak terasa sepuluh menit telah berlalu semenjak berakhirnya waktu muwajjah malam. Gedung kelas yang biasa ditempati oleh santriwati belajar telah sepi. Semua santriwati beserta para ustadzah telah pergi. Lampu-lampu yang tadi menyala telah dimatikan demi menghemat biaya yang dikeluarkan oleh pondok pesantren.
Namun dari sekian kelas yang ada di gedung tersebut. Ada satu kelas yang masih menyala terang. Bukan karena ustadzah yang menempati kelas tadi lupa mematikan lampu itu. Tapi karena ustadzah itu masih menetap disana untuk merenungi waktu kesendiriannya.
Akhir-akhir ini, khususnya selama dua hari belakangan ini. Hatinya merasa tenang setelah mendapatkan kabar kalau predator seksual yang biasa memburunya sedang sakit sehingga tidak bisa hadir di pondok pesantren ini. Ia merasa senang, ia merasa lega. Ia pun tak perlu khawatir lagi andai pria tua bejat itu tiba-tiba datang untuk menyergap dirinya.
Malam itu, dengan ditemani oleh lampu yang menyala remang-remang. Haura hanya duduk sendirian mengamati bintang-bintang yang terlihat dari arah jendela luar kelas. Ia pun menghela nafasnya sambil mengamati gemerlap bintang di angkasa. Rasanya sangat tenang sekali. Membuat hatinya terasa sedikit terobati. Ia pun menulis beberapa kata di buku catatannya sebagai evaluasi diri sendiri agar di hari berikutnya ia bisa lebih baik lagi daripada hari ini.
“Lohhh udah mau jam setengah sebelas aja” kata Haura saat melihat ke arah jam tangannya.
Buru-buru ia membereskan beberapa buku yang ia bawa di malam itu. Ia pun memasukannya ke tas jinjing besar agar ia bisa lebih mudah dalam membawanya menuju rumah.
Setelah mematikan lampu kelas yang tadi ia pakai. Ia pun mulai berjalan menyusuri lorong demi lorong yang gelap dalam perjalanan pulangnya menuju rumah. Untungnya, Haura bukanlah seorang wanita yang penakut. Kendati suasana sangat gelap, dengan bantuan lampu senter yang menyala melalui aplikasi hapenya. Ia dengan tenang berjalan tanpa memperdulikan hal apapun yang ada di sekitarnya.
Bahkan sempat-sempatnya ia bersenandung di malam itu demi menemani waktu kesendiriannya dalam perjalanan pulangnya. Suara Haura sangat merdu sekali. Bahkan ekspresi wajahnya tampak menghayati saat menyanyikan sebuah lagu sedih yang teringat di kepalanya. Tak jarang tangannya mengepal saat menekankan sebuah lirik yang ia nyanyikan di malam itu.
Andai ada wanita lain yang mendengarnya bernyanyi. Sudah pasti wanita itu akan merasa iri pada kesempurnaan yang dimiliki. Wajah sudah cantik, badan sudah ramping, payudaranya kenyal dan dibekali oleh suara yang merdu menggoda. Sudah pasti setiap wanita yang bertemu dengannya terlebih dahulu insecure melihat kesempurnaan yang ada pada dirinya. Belum lagi dengan jabatan yang dimiliki olehnya sebagai ketua dari bagian pengasuhan yang notabene merupakan salah satu kantor bagian paling bergengsi di pondok pesantren ini. Ibaratnya, Haura ini sudah seperti ketua polisi karena tugas dari bagian pengasuhan adalah menertibkan semua disiplin yang ada.
Tibalah ia di teras lantai satu. Suasananya sangat tenang sekali. Tidak ada satupun suara yang terdengar sama sekali. Paling hanya satu-dua suara jangkrik yang mengerik. Itupun berasal dari bagian belakang sebelah luar gedung kelas yang notabene merupakan area persawahan.
“Nananana . . . " Ketika sedang asyik-asyiknya bersenandung. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekap mulutnya dari belakang.
"Mmpppphhh... Mmmmpphhhh” Haura mendesah tertahan dan kedua matanya seketika membuka lebar.
Haura pun merasa ketakutan. Ia tak mengira kalau ada orang lain yang masih berada di sekitar sini selain dirinya. Ia pun menduga kalau sosok itu berjalan dari area belakang gedung kelas untuk menyergap dirinya yang kini sedang berada di sisi samping gedung kelas.
Seketika ustadzah cantik itu diseret menuju area belakang gedung. Haura tidak tau siapa orang itu. Yang jelas orang itu mempunyai kekuatan karena mampu membawanya dengan paksa menuju sisi bagian belakang gedung kelas ini.
“Kekekekek... Apa kabar ustadzah ?”
Seketika jantung Haura seperti berhenti berdetak. Suara itu terdengar tidak asing lagi baginya. Suara yang selama ini terus menghantui dirinya. Seketika ia langsung menolehkan wajahnya ke belakang untuk melihat sosok itu. Hatinya masih tak percaya kalau orang itu merupakan orang yang ia pikirkan saat ini.
Pakkk Karrjoooo !!!
Batin Haura saat melihat wajah tuanya.
“Sudah lama saya tidak mendekap tubuh indahmu ini... Saya gak mengira ternyata ustadzah agak montokan yah sekarang... Kekekekek” katanya sambil membawa ustadzah itu dengan paksa.
“Mmpphhhh... Mmppphhh...” Haura pun panik sambil menggelengkan kepalanya. Ia terus saja berontak agar bisa terlepas dari dekapan pria tua kekar itu.
Haura yang sedang mengenakan kemeja longgar berwarna ungu beserta blazer dengan warna yang sama tengah memberontak dengan sesekali menggerakan tubuhnya ke kanan juga ke kiri. Rok berbahan plisket berwarna putih yang menutupi kaki jenjangnya terus saja berkibar saat tubuhnya diangkat oleh pria tua kekar itu. Hijab berwarna terangnya semakin berantakan saat bidadari itu terus melawan agar tidak dilecehi oleh kuli kekar itu lagi. Tapi sekuat apapun Haura berusaha, hasilnya tetap nihil karena ia bukanlah tandingan dari pria tua kekar yang sudah berkali-kali memasukan penisnya ke dalam liang senggamanya.
“Kekekekek percuma ustadzah... Mau gerak gimanapun juga percuma, karena sebentar lagi ustadzah harus memuasi nafsu buas saya yang sempat tertunda” kata Pak Karjo dengan penuh nafsu. Haura semakin ketakutan setelah mendengar suara ancaman darinya.
Sesampainya di area belakang gedung kelas di dekat gerbang yang memisahkan area pesantren dengan area persawahan di luar. Karjo pun melepaskan dekapan tangannya kemudian membalikan tubuh ramping itu agar ia dapat melihat keindahan wajah dari seorang ustadzah yang sangat ia rindukan. Haura pun bersandar pada dinding gedung kelas. Wajahnya panik, ia benar-benar tak menduga kalau pria tua ini tiba-tiba sudah ada disini bersiap-siap untuk melecehkan tubuhnya lagi.
“Bappaakkk... Apa yang ingin bapak lakukan ? Biarkan aku pergi pakkk... Aku gak mau menuruti nafsu bapak lagi” kata Haura yang semakin panik saat berdiri di hadapan pria tua itu. Apalagi saat pria tua itu hanya tersenyum sambil menatap keindahan wajahnya.
Tangan kanan Karjo sudah bersandar di sebelah bahu kiri Haura menempel ke arah dinding. Sedangkan tangan satunya berkecak pinggang sambil mengamati keindahan lekuk tubuh Haura dari atas ke bawah.
Karjo dapat merasakan aroma tubuh Haura yang sangat wangi di malam itu. Ia pun mengamati wajah indahnya. Kendati reaksi Haura tengah ketakutan saat melihat wajah kuli itu, tapi kecantikannya yang natural tidak bisa ia sembunyikan dari wajah cantiknya. Pak Karjo pun menjilati bibirnya sendiri saat melihat tonjolan indah yang tersembunyi di balik kemeja berwarna ungu itu. Tangan kirinya mulai bergerak dengan mencemol payudara sebelah kanan Haura. Bidadari itu pun melenguh sambil memejamkan mata menatap langit di malam hari.
“Mmmmppphhhhhh” desah Haura terkejut.
“Kekekekek... Ini yang saya rindukan darimu ustadzah... Lenguhan penuh kenikmatan yang terucap dari bibir indahmu... Juga kekenyalan yang berasal dari susu montokmu” katanya sambil melecehkan tubuh dari bidadari itu.
“Mmmppphhh... Lepaskann pakk... Jangannn... Jangan lakukan ini lagi paakk... Mmppphhhh” Lenguhan kedua kembali terucap dari mulut manis ustadzah itu. Saat Haura merasakannya, tubuhnya seketika merinding karena darahnya berdesir dari payudaranya ke seluruh tubuhnya. Tangan kanan Karjo yang tadi menyangga dinding mulai berpindah dengan merangkul pinggang ramping dari bidadari itu. Lalu, wajahnya pun mendekat hingga Haura dapat merasakan aroma busuk dari nafas pria tua itu.
“Sudah berapa hari kita tidak bertemu ustadzah ? dua hari ? tiga hari ? Pokoknya di malam ini saya akan memejuhi tubuhmu sesuai dengan hari yang saya lewatkan itu” katanya sambil menatap tajam mata Haura dengan tatapan penuh nafsu.
“Mmmppphhhhh” kembali payudara kanan Haura diremasnya. Blazernya kini telah dilepas. Tangan kanan Karjo mulai mendekap tubuh Haura dan mendekatkannya hingga pinggul mereka saling menyentuh.
Pria tua itu yang kini mengenakan celana kain panjang dengan kaus polo yang menutupi perban yang membalut luka di dadanya. Kendati kemarin ia sempat dipukuli habis-habisan oleh sosok bertopeng itu. Nampaknya sekarang ia sudah baikan seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
“Ouhhh... Saya sangat suka aroma nafas ustadzah yang dihembuskan ke wajah saya... Ya benar... Kulit mulus yang saya rindukan ini... Saya gak mengira bisa menyentuh kulit mulusmu lagi dengan waktu secepat ini kekekekek” katanya sambil membelai pipi dari bidadari cantik itu.
“Mmpphhhh... Hentikannnn... Mmppphhh pakkk... Mmpphhhh” desah Haura saat payudaranya terus saja diremas oleh pria tua itu.
“Kekekekek terus mendesah ustadzah... Saya mau mendengarnya lagi... Saya sudah ketagihan untuk mendengar suara desahanmu itu, ustadzah.” Kata Karjo semakin mengeraskan remasannya di payudara Haura.
“Aahhhhhhhhh... Ahhhhhh sakiittt pakkk... Ahhhhhh” desah Haura saat remasan Karjo semakin kuat.
“Kekekekekek maaf ustadzah... Saya terlalu bernafsu... Lagian salah sendiri punya badan kok seseksi ini ?” kata Karjo sambil mengamati lekuk tubuh Haura.
Ekspresi wajah Haura yang tengah sangek membuat nafsu Karjo semakin liar ingin melumat bibir tipis itu. Apalagi bibir Haura agak sedikit membuka, matanya pun memejam ketika menahan remasan tangan Karjo di dadanya.
“Mmmppphhhhhhh” desah Haura saat payudaranya diremas dan bibir tipisnya dilumat dengan sangat puas.
“Ouhhh ustadzahhh.... Mmmpphhhhhhh” desah Karjo saat melumat bibir tipis itu dengan penuh nafsu.
Haura hanya bisa pasrah menerima cumbuan dari pria tua dihadapannya. Bukan berarti Haura bermaksud mengalah. Ia hanya tidak mampu untuk melawan nafsu buas kuli kekar itu yang semakin beringas dalam mencumbui bibirnya.
Bibir mereka bertemu. Deru nafas mereka bersatu. Mata mereka memejam dikala bibir mereka saling menghujam. Kepala Karjo menerjang merasakan kenikmatan yang berasal dari bibir Haura. Bibir Haura didorong olehnya. Bibir Haura dilumat olehnya. Bibir Haura juga dijilati olehnya ketika bibir bawahnya dijepit oleh kedua bibir Karjo yang sedang mengulum bibir bawahnya.
“Mmppphhh ustadzahhh... Mmpphhhh nikmat sekali bibirmu ini”
Karjo mendesah nikmat. Lidahnya kian memaksa untuk menerobos masuk garis pertahanan Haura. Lidah Karjo berhasil masuk. Kini lidahnya berkeliaran di dalam mencari pasangannya. Saat telah menemukan pasangannya. Lidah mereka saling beradu. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling siku. Lidah mereka saling menggesek, saling membasahi. Rongga mulut Haura yang semakin penuh membuat liur yang ada di dalam pun jatuh mengenai kemeja longgar yang ia kenakan. Tangan kiri Karjo yang gemas terus saja meremasi susu indah itu. Sungguh kencang, Sungguh kenyal, berbeda saat tadi ketika pertama kali meremasnya beberapa menit yang lalu. Kini payudaranya semakin kencang, payudaranya semakin kenyal. Nampaknya nafsu Haura sedang naik. Hal itu membuat Karjo semakin bahagia akan kenikmatan yang sedang didapatkannya. Tangan kirinya dengan sigap melepas tiga kancing teratas kemeja yang dikenakannya. Payudara sebelah kanan Haura terbuka. Karjo langsung meremasnya tanpa memperdulikan erangan demi erangan yang keluar dari mulut manis Haura.
“Mmppphhhh... Mmpphhh pakkk... Mmpphhhh” desah Haura dengan manja saat gairah birahinya semakin terangkat.
“Mmpphhhh... Mphhhhh indahnya susu indahmu ini... Kencangnya susu indahmu ini... Mmpphhh” desah Karjo disela-sela percumbuannya.
Jemari di tangan kirinya mulai menurunkan cup bra yang sedari tadi menghalangi kulitnya yang ingin menyentuh permukaan payudaranya. Saat cup itu turun, nampaklah puting berwarna merah muda yang membuat Karjo langsung gemas dengan memainkannya.
“Aahhhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura dengan manja.
Karjo sudah melepas cumbuannya, ia pun mengarahkan wajahnya untuk melumat puting indah itu. Tanpa menunggu lama, bibirnya langsung menyosor mengulum puting kemerahmudaan itu. Puting itu di kulumnya, puting itu di gigitnya pelan. Puting itu pun dijilatinya yang membuat nafsu Haura meninggi merasakan sensasi itu.
“Aahhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura menahan geli.
Hanya dengan pencahayaan bulan yang berasal dari langit atas. Ditambah dengan lampu berkekuatan 30 watt yang terpasang di tiang dekat gerbang keluar. Karjo menikmati keindahan tubuh Haura yang sudah lama tak ia rasakan. Tangan kirinya meremas payudara itu. Tangan kanannya mengusap-ngusap punggung mulusnya. Mulutnya tak henti-hentinya dalam menjilati puting yang semakin menegak itu.
“Pakkk... Cukuppp pakkk... Hentikannnnnn ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura dengan mata berkaca-kaca.
Kedua tangannya sudah mengepal sedari tadi. Tubuhnya sudah ia gerakan sedari tadi. Berbagai perlawanan sudah ia lakukan sedari tadi. Tapi Karjo masih saja menang hingga kuli itu dengan bebas mampu menikmati keindahan tubuhnya dengan sangat puas.
Tolonngggg... Tolongggg V... Tolonggg aku lagi seperti waktu ituuuu !!!
Batin Haura meminta pertolongan ketika teringat akan sosok bertopeng itu.
SEMENTARA ITU DI ASRAMA PENGAJAR PUTRA
“Ehhh bukannya itu film yang lagi booming yah sekarang ?” kata Fauzan mendekat.
“Iyya nih, ayo ajak yang lainnya... Kita nonton bareng sekarang” kata Wildan sambil menghubungkan laptopnya dengan sebuah proyektor yang ia pinjam dari kantor bagian pengajaran.
“Ayo Fikri... Sini dong gak usah malu-malu... Kita nonton apa namanya yang ada gurita-guritanya ?” kata Adit mengajak V.
“Octopus game yah ?” kata Fauzan menyaut.
“Squid game kali... Dah sini duduk bareng” kata Wildan saat proyektor telah siap menampilkan film yang akan mereka tonton bersama.
“Tappp... Tappiii Dit” kata V setengah menolak.
“Udah gak usah malu-malu... Sini duduk, kita nonton bareng sampe abis” kata Adit memaksa V duduk disebelahnya untuk menonton film serial tersebut.
Mata V memang menatap film itu. Tapi entah kenapa hatinya merasa gelisah di malam itu.
Kenapa yah kok perasaanku gak enak banget ?
Batin V kebingungan.
KEMBALI KE AREA BELAKANG GEDUNG KELAS
“Paaakkkk... Pakkk... Ahhhhhh... Ahhhhh” Haura masih saja mendesah ketika pak Karjo tanpa bosan mencumbui puting dari payudara bidadari itu. Nafsu yang semakin tidak tertahan membuatnya dengan segera melepas secara paksa kemeja yang Haura kenakan hingga kancing-kancing itu sampai copot berjatuhan ke tanah.
“Aaahhhhhhhh” Haura terkejut saat keindahan tubuh bagian atasnya mulai terbuka. Karjo tanpa ampun langsung menarik kait bra itu hingga kedua payudara Haura terbebas tanpa dilindungi apapun lagi.
“Kekekekek... Kalau udah gini ustadzah bisa apa ? Hah ?” kata Karjo sambil mendekatkan kedua tangannya untuk meremasi kedua payudara itu.
“Ouhhhhh... Ouhhhh pakkk... Ahhhhhh... Ahhhhhhhh” desah Haura sampai merinding saat kedua payudaranya diremas tanpa ampun.
“Kekekekeke bagus seperti itu ustadzah... Saya suka raut ekspresimu... Ayo mendesah lagi” kata Karjo semakin menguatkan remasannya.
“Aahhhhh pakkkk... Ahhhhhhhhh” desah Haura sambil memejamkan mata & menggelengkan kepala.
Tangan kanan Karjo mengangkat naik rok berbahan plisket yang Haura kenakan. Tangannya setelah itu langsung masuk untuk menakan-nekan celana dalam Haura yang sudah sangat basah akibat rangsangan yang diberikan olehnya.
“Ouhhh pakkk jangannn... Jangannn” kata Haura sambil menggoyangkan pinggulnya.
Tangan kiri Karjo masih meremasi payudara itu. Tangan kanannya dengan liar mulai memasuki celana dalamnya untuk membelai liang senggama Haura yang sudah sangat becek.
“Ahhhhhh... Ahhhhh bapakkkk... Hentikannn pakk... Ahhhhhh” desah Haura yang sebenarnya mulai merasa enak oleh sentuhan jari yang dilakukan Karjo di vaginanya. Tapi ia enggan untuk mengakui itu. Ia sudah bertekad untuk tidak mengalah. Ia enggan untuk mengakui kenikmatan yang sedang ia rasakan.
“Kekekekek yakin ? Ustadzah aja sampai keenakan gitu... Liat aja tuh pinggulnya sampai goyang-goyang nikmat kaya gitu” ejek Karjo.
“Mmpphhh ahhhh... Mmpphhh ahhhh” desah Haura tanpa menghiraukan omongan darinya.
Puas setelah melecehkan tubuh indahnya hingga membuat vaginanya semakin becek. Karjo mulai melepaskan celananya beserta celana dalamnya sekaligus. Kemudian ia juga melepaskan rok plisket yang Haura kenakan hingga terlepas dari kaki jenjangnya. Haura pun dipaksanya turun hingga membuat bidadari itu kini sedang berjongkok di hadapan kuli kekar itu.
Haura sudah telanjang menyisakan hijab berwarna putihnya. Kemejanya yang sudah tak terkancing masih menyangkut di tubuhnya dengan menutupi area punggungnya saja. Kedua payudaranya terekspos dengan jelas. Putingnya yang kedinginan karena tertiup angin malam semakin menegak saat berjongkok dihadapan selangkangan pria tua itu. Haura merasa malu ketika vaginanya terasa semakin basah. Apalagi saat ia mengangkat wajahnya, ia melihat kalau penis kekar yang sudah berulang kali masuk ke dalam rahimnya itu sudah terpampang di wajahnya. Dengan tatapan melas, dengan hijab yang berantakan hingga sedikit rambutnya mulai terlihat. Haura hanya pasrah menantikan nasib apa yang akan ia terima sebentar lagi.
Pak Kajo tersenyum sambil mendekatkan penisnya ke wajah manis Haura. Haura hanya diam sambil mengernyitkan dahinya merasa jijik. Pak Karjo pun tertawa melihat sikap bidadari itu yang berpura-pura nolak padahal menginginkan penis besarnya.
"Mainin lagi dong ustadzah... Seperti waktu itu, sewaktu ustadzah mengemis ke saya untuk memainkan kontol gede Saya" Kata Karjo sambil menyentuhkan ujung gundulnya hingga menggesek pipi mulus Haura.
"Hentikan pak... Jauhkan benda itu dari wajahku" Kata Haura semakin jijik saat merasakan aroma selangkangannya yang menusuk lubang hidungnya.
"Kekekekek jauhkan ? Gak usah sok jual mahal ustadzah !!! Saya tahu, ustadzah pasti menginginkannya lagi kan ?" Kata Karjo langsung menjejali penisnya ke bibir bidadari itu.
"Mmppphh... Mpphhh" Sekuat mungkin Haura merapatkan bibirnya. Ujung gundul penis itu terus saja mendorong untuk memaksa bibir manis Haura membuka agar penisnya bisa masuk dan merasakan sensasi nikmat di dalam rongga mulutnya.
"Henntikannn pakk... Pergii... Cuihhhh" Kata Haura sekuat tenaga mendorong pinggul Karjo menjauh kemudian ia meludah ke tanah untuk menghilangkan bekas penis yang yang tercicip di bibirnya.
"Kekekekek.... Gini ustadzah" Kata Karjo berjongkok dihadapan Haura hingga wajah mereka saling berhadapan. Haura merasa tak nyaman dengan tatapan penuh kemesuman yang Karjo tunjukan padanya.
"Ustadzah ingat gak apa yang sudah pria bertopeng itu lakukan ke saya ? Lihat semua luka ini ? Ayolah ustadzah, saya maunya kita bersenang-senang aja malam ini... Saya gak mau punya sifat pendendam... Tolong jangan bikin saya marah lagi dan turuti apa saja yang saya mau malam ini" Seketika suara Karjo berubah. Matanya jadi melotot. Suaranya pun agak meninggi. Apalagi tangan kanannya mulai bergerak ke arah leher Haura. Terasa cengkeraman lemah yang Karjo lakukan di lehernya. Haura mulai menangis, ia pun memegangi tangan kekar Karjo yang berniat ingin mencekiknya.
"Ustadzah mau kan nuruti keinginan saya ? Atau saya paksa ustadzah aja biar mau menuruti keinginan saya ?" Katanya mulai mencekik leher Haura pelan yang membuat bidadari itu ketakutan.
"Nnuu... Nuurrutt pakkk" Kata Haura ketakutan hingga tangannya bergetar.
"Kekekekek anak baik... Kalau gitu mainkan kontol saya sekarang !!!" Perintah Karjo sambil berdiri di hadapan bidadari itu lagi.
Dengan berat hati, dengan paksaan yang sudah kuli kekar itu lakukan. Haura setengah ragu mulai mendekap penis raksasa itu. Haura terkejut. Penis itu terasa lebih besar, lebih keras dan lebih berwarna hitam. Guratan ototnya semakin menonjol mengitari penis itu. Haura pun merinding. Namun dengan teriakan dari Karjo, Haura mulai menuruti apa saja yang dimintanya.
"Cium dulu ustadzah... Terus kocok kontol saya dengan penuh kelembutan" Katanya yang membuat Haura terpaksa menurutinya.
Cuuuppp !!!
Bibir dari bidadari itu sudah menempel di ujung gundul dari penis itu. Pelan-pelan, Haura mulai membelai lembut batang penis itu. Karjo pun mulai keenakan. Terasa kulit lembut Haura saat membelai batang penisnya membuat dirinya merasa seperti terbang melayang ke angkasa. Apalagi tadi saat merasakan kecupan di ujung gundulnya. Perpaduan antara kehangatan serta kelembapan yang terasa di bibirnya membuat ia semakin tidak sabar untuk merasakan jepitan vaginanya yang sempit luar biasa.
"Ouhhhhh ustadzah... Ouhhhhh nikmatnyaahhh" Kata Karjo mulai tenang menghayati.
Haura hampir menangis malam itu. Tangan kanannya terus saja bergerak maju mundur secara perlahan. Penis Karjo terus dikocoknya hingga membuat pemiliknya menggelengkan kepala merasakan nikmat dari kelembutan jemarinya.
"Ouhhh bagus seperti itu ustadzah... Gitu kan cakep... Ouhhhhh pelan-pelan ustadzah... Iyyah seperti itu ouhhhhh" Desah Karjo hingga merinding.
Maju-mundur, Maju-mundur, Maju-mundur. Penis Karjo terus dikocoknya hingga membuat pemiliknya hanya biasa mendesah keenakan.
"Ahhhh bagus kaya gitu ustadzah... Ayo percepat... Percepat lagi ustadzah... Ahhhh yahhhh" Desah Karjo merasakan penisnya semakin dikocok cepat.
Haura hanya diam sambil mengamati penis itu dengan perasaan jijik. Sesekali ia mendongakan kepalanya ke atas untuk melihat ekspresi wajah tuanya. Sebenarnya Haura ingin kabur, tapi ia merasa takut andai pria tua ini melakukan kekerasan padanya. Sembari terus mengocoknya, ia hanya berharap semoga pria bertopeng itu kembali datang menolongnya.
"Ahhh yahh... Ouhhh nikmattnyaaa... Ahhhh" Karjo sampai merem melek merasakan kocokan Haura yang semakin terasa nikmat.
Gerakan terus menerus yang Haura lakukan membuat nafsu birahi Karjo kian memuncak. Cairan precum mulai keluar dari lubang kencingnya membasahi kepala penisnya yang berbentuk seperti kepala jamur itu.
Gemas merasakan kenikmatan yang semakin memuaskan membuat Karjo semakin tak sabar untuk merasakan sepongan maut dari bidadari itu.
"Ustadzah... Gunakan mulutmu sekarang... Saya mau merasakan kulumanmu lagi.. Kulum kontol saya... Sepong kontol saya... Puaskan saya dengan servis mulutmu itu" Kata Karjo memberi perintah.
"Mulut aku pak ?" Kata Haura merasa enggan.
"KAMU KEBERATAN ?" Kata Karjo dengan suara meninggi yang membuat Haura terpaksa menurutinya saja.
"Engg... Enggak pak" Kata Haura ketakutan.
"Kekekeke... Bagus... Sekarang jilat & sepong kontol saya sampai saya minta berhenti" Kata Karjo memaksa bidadari berhijab itu.
Dengan hati-hati Haura mulai membuka mulutnya kemudian menjulurkan lidahnya untuk menjilati lubang kencingnya. Walau sempat ragu, nyatanya Haura mampu menyentuh lubang kencing itu menggunakan ujung lidahnya. Karjo hanya mampu menahan nafas ketika ujung gundulnya tersentuh oleh lidah lembap Haura. Apalagi jilatan itu terus berkelanjutan. Haura terus saja menjilati ujung gundul dari penis itu dengan keterpaksaan. Akibatnya penis Karjo terasa seperti sedang digelitiki. Ia pun semakin terangsang membuat Karjo terus menerus menarik nafas agar dirinya tidak kelepasan saat merasakan servis mulutnya.
"Ouhhhhh ustadzahhh... Ouhhh yahhh... Ouhhhhh" Desah Karjo dengan puas.
Bahkan kini tangan Haura kembali bergerak dengan mengocoki batang penis itu. Karjo pun mendapatkan kenikmatan berlebih. Ia merasakan servis dari mulut Haura dan juga tangan kanannya saat memainkan penisya.
"Ahhhh ustadzahhh... Ahhh yahhh... Ouhhhhhhh" Desah Karjo begitu puas.
Sementara Haura terus saja memejam tak peduli dengan erangan demi erangan yang sudah Karjo teriakan.
"Masukan sekarang !"
Seketika terdengar suara yang membuat Haura reflek membuka mata. Saat ia menaikan pandangannya. Rupanya Karjo sudah tidak sabar untuk merasakan servis mulut darinya.
"Sekarang ustadzah !! Cepattt !!!!" Teriak Karjo yang membuat Haura hanya memejam takut kemudian menuruti keinginannya itu.
"Mmmpphhh" Desah Haura saat mulai mencaplok ujung gundul dari penis itu
“Ouhhh yahhhh” desah Karjo ketika merasakan betapa hangat dan lembabnya ujung penis yang dimilikinya ketika sedang dikulum oleh mulut bidadari itu.
“Mmpphh... Mpphhh... Mpphhh” Haura memejamkan mata sambil memaju mundurkan kepalanya menyapu tiap senti permukaan penis pria tua itu dengan lembut. Karjo sampai merem melek merasakan kenikmatan yang tiada terkira.
Haura agak jijik merasakan bau dari penis yang sedang ia kulum. Namun teriakan yang Karjo lakukan memaksanya untuk terus mengulum penis itu.
"Lakukan variasi ustadzah... Jangan pasif kaya gini... Kulum lebih cepat lagi !!!" Teriak Karjo.
Haura hanya memejam sambil mencoba bersabar mendengar teriakan dari pria tua itu. Ia pun kembali mencengkram batang kemaluan Karjo. Lidahnya bermain dengan menjilati ujung bagian bawah penis kuli bangunan itu. Ia kembali mengulum ujung gundulnya kemudian meletehkannya lagi. Mengulumnya lagi lalu meletehkannya lagi hingga ujung gundul dari penis Karjo terlihat basah diselimuti oleh liur Haura yang sudah membungkusnya dengan rata.
Karjo semakin tidak tahan menikmati rangsangan yang Haura berikan. Tiba-tiba kedua tangannya sudah memegangi sisi samping dari kepala bidadari itu. Dengan penuh nafsu ia langsung menggerakan pinggulnya hingga penis itu mulai menyodok - nyodok kerongkongan Haura dengan penuh nafsu.
“Ahhhhhhh nikmat sekali ustadzah... Ouhhhh yahhh Ohhhh ahhhh” desah Karjo.
Haura seperti tersedak ketika ujung gundul penis Karjo terus saja menyodok tepi kerongkongannya. Ukuran penis Karjo yang terlampau besar membuat mulut Haura berusaha membuka lebar. Karjo pun hanya mampu memasukan - nya saja. Namun Karjo terus memaksa dengan menarik kepala Haura ke arahnya membuat Haura sampai kehabisan nafas dan memukul-mukul paha Karjo memintanya untuk menghentikan perbuatannya.
“Ouuhhhhh mantapppnyaahhh” lenguh Karjo dengan penuh kepuasan.
“Uhhukk uhhukk uhhuukk” Haura terbatuk-batuk pasca terlepas dari usaha Karjo yang ingin memasukan keseluruhan penisnya ke dalam mulut kecilnya.
"Kekekekek... Puas sekali saya ustadzah... Gilaaa baru lewat mulut aja udah puas kaya gini... Gimana kalau lewat memek" Kata Karjo yang tak peduli dengan keadaan Haura yang baru saja tersedak penisnya. Haura hanya diam tak mengomentari omongannya tadi. Ia hanya menatap benci kuli kekar itu sambil sesekali terbatuk akibat paksaan yang dilakukan oleh pria tua itu tadi.
Setelah puas bermain-main dengan keindahan tubuh Haura. Karjo pun tak sabar untuk melaksanakan inti dari tujuannya mengajak Haura kemari.
"Tunggu... Tunggu pakkk... Biarkan aku istirahat dulu... Aku lelah pak" Kata Haura menyadari ketika Karjo memintanya tuk berdiri karena sudah tak tahan ingin menyetubuhinya.
"Istirahat ? Enak aja... Dikira jam sekolah ada waktu istirahatnya ? Cepat berdiri, saya udah gak tahan lagi" Kata Karjo sambil mengangkat tubuh Haura kendati bidadari itu berusaha untuk terus menolak.
"Tunggu pakkk... Uhuukkk... Uhhuk... Aku masih capek pakkk... Jangan mulai dulu" Kata Haura terlihat lemah.
"Kekekekek... Katakan itu nanti setelah saya mengisi rahimmu itu dengan sperma saya" Kata pak Karjo sudah berdiri di hadapan Haura yang kelelahan. Tangan kiri Karjo lantas mencengkram pipi dari bidadari itu. Karjo menatapnya dengan penuh nafsu. Lidahnya ia keluarkan tuk menjilati bibirnya sendiri.
Sungguh indah. Sungguh indah tubuh dari bidadari ini !
Batinnya tak kuat lagi.
Satu kaki Haura sudah diangkatnya oleh kuli kekar itu. Alhasil lubang kemaluannya semakin terbuka, karjo pun mendekatkan batang kemaluannya melalui sela-sela celana dalam yang masih bidadari itu kenakan.
"Pakkk... Pakkk... Tunggu... Uhhhhhhh" Desah Haura saat merasakan batang hitam dari penis itu mulai membelah liang senggamanya yang basah.
"Ahhh mantappnyaa... Dikit lagi hennkkghh" Desah Karjo terus mendorong pinggulnya.
"Ahhhhhh bapakkk ahhh... Ahhhhhhh" Desah Haura dalam posisi berdiri saling berhadapan.
"Ahhhhh sempittnyaaahhh... Heran saya ahhhh... Dari kemarin saya nikmati kok masih sempit aja kekekkekeke" Tawa Karjo puas saat hendak menyetubuhi Haura dalam posisi berdiri.
"Tunggu... Tunggguuu pakkk... Ahhh... Ahhhhh" Desah Haura sambil membuka mulutnya lebar-lebar ketika penis itu memaksa masuk. Tiba-tiba . . . . .
Jleeebbbbb !!!
Dengan satu hentakan yang dahsyat. Akhirnya Karjo dapat mendorong pinggulnya hingga mentok mengenai rahim dari bidadari itu.
"Aaaaaaaahhhhhhh" Desah mereka berdua bersamaan menikmati kenikmatan yang tak tertahankan.
Tangan kiri Karjo sudah mendekap punggung mulusnya. Tangan kanannya pun mengelus pipi mulusnya. Akhirnya, sesuatu yang ingin ia lakukan selama ini benar-benar terwujud di malam ini. Tak perlu menunggu lama, ia mulai menggerakan pinggulnya tuk merasakan jepitan yang begitu mantap dari otot-otot vaginanya yang menjepit batang kemaluannya.
"Ouhhhhh ustadzahhh... Ouhhhhh sempitnyaaahhh... Ouhhh" Desah Karjo sambil menatap mata Haura dengan penuh nafsu.
"Ouhhh bapakkk... Ouhhh... Uhhhhhh" Desah Haura tak menyangka bahwa penis sebesar ini kembali memasuki rahim kehangatannya.
Pak Karjo mulai menggerakan pinggulnya sambil sesekali menusuk rahim bidadari itu hingga ke ujung. Penis kekar itu dengan perkasa mengaduk-ngaduk liang senggama Haura secara merata. Penis kekar itu terus keluar masuk sesuai perintah yang diberikan oleh pemiliknya. Haura sesekali hanya mendesah sambil berteriak pasrah. Tubuh telanjangnya benar-benar sedang dinikmati oleh si pemerkosa. Liang senggamanya pun semakin basah akibat tusukan demi tusukan yang mengobrak-ngabrik liang senggamanya.
Selagi penisnya terus mengaduk-ngaduk rahim bidadari itu. Kedua tangannya tak tinggal diam dalam membelai ketelanjangan yang dialami oleh Haura. sesekali tangan kirinya meraba bokong montoknya. Ia meremasnya, ia mencengkramnya, ia menamparnya bahkan sesekali ia mendorongnya hingga penis miliknya semakin menusuk ke dalam.
"Ouhhhhh pakkk... Ouhhh... Ouhhhhh" Desah Haura saat menerima tusukan demi tusukan darinya.
"Kekekekek... Akhirnyaa... Akhirnyaa... Saya puas banget bisa menikmati tubuhmu lagi... Apalagi susumu yang gondal-gandul kaya gini... Mmppphhh" Desah Karjo sambil menyusu disana.
"Ahhhh... Jangan digigit pakkk... Ahhhh sakittt... Ahhh ahhhhh" Desah Haura dengan manjanya.
Karjo benar-benar puas saat menyusu sambil memasukan batang penisnya ke dalam rahim bidadari itu. Berulang kali mulut Karjo berpindah dari payudara kiri ke kanan. Ia melahap puting itu dengan sangat rakus. Sesekali ia menghisap puting itu hingga membuat Haura merinding. Sesekali ia mengulumnya sambil memberikan jilatan yang membuat bidadari itu mengejang. Bahkan tak jarang karena saking bernafsunya ia sampai menggigit puting indah itu hingga membuat Haura mengerang.
"Aahhhhh bappaaakkkk" Desah Haura memejam dengan manja.
Tubuh indah Haura terantuk-antuk saat menerima sodokan dari Karjo. Vaginanya terasa ngilu saat berulang kali ditusuk-tusuk tanpa ampun oleh Karjo. Cengkraman di bokongnya juga terasa semakin kencang. Begitupula yang ia terima di payudara kanannya saat kuli kekar itu meremas kuat dan menjilati putingnya.
Cara kasar yang Karjo lakukan di tubuhnya membuat nafsu birahi Haura semakin naik tak terkendali. Rangsangan dan remasan Karjo yang tak pernah berhenti dalam menggerayangi tubuhnya membuat Haura pasrah dalam menyerahkan harga dirinya. Haura bahkan sampai menggigit bibir bawahnya saat merasakan gelombang besar akan segera keluar dari dalam liang senggamanya.
"Pakkk... Pakkk... Tunggguuu... Ouhhh... Ouhhh yahhhh" Desah Haura saat malu-malu tapi menikmati persetubuhan itu.
"Kekekekek mulai terasa nikmat kan ustadzah ? Ahhh... Ahhhhh" Desah Karjo tertawa.
"Enggakk... Gakkk akan pakkk... Aku gak akan menikmati semua ini" Desah Haura berbohong.
"Benarkah ? Gimana kalau seperti ini ?" Kata Karjo mempercepat genjotannya.
"Ahhhh... Ahhhhhh... Aahhhhhhh" Desah Haura saat vaginanya semakin terasa diaduk-aduk.
Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!
Pinggul mereka bertubrukan semakin kencang. Haura benar-benar kalut saat merasakan kenikmatan yang menendang-nendang. Tubuh Haura pun menggelinjang. Ia benar-benar menikmati persetubuhannya dalam keadaan setengah telanjang.
Nampak rambutnya yang panjang sebahu semakin terlihat. Hijabnya benar-benar berantakan. Begitupula imannya yang luntur saat merasakan tusukan dari penis besar itu.
"Ahhhh... Ahhhhhh... Ahhhhh" Desah Haura secara stabil yang menandakan tidak ada perlawanan lagi pada tubuhnya.
"Kekekekek... Baguslah kalau ustadzah mulai paham... Buat apa melawan kalau nantinya juga bakal keenakan... Saya lanjut yah ustadzah... Ahhhh... Ahhhhhh"
"Ouhhh pakkk... Ahhh... Ahhhhhh tunggguuu... Uhhhhh dalem bangettt.. Ahhhh" Desah Haura saat penis besar Karjo berulang kali menusuk rahimnya hingga mentok ke dalam.
Haura akhirnya tidak kuat lagi. Tubuhnya yang lemah benar-benar pasrah menerima kenikmatan itu. Ditengah persetubuhannya yang semakin kencang. Disaat tubuhnya yang semakin terangsang. Haura pun takluk oleh satu tusukan Karjo yang membuatnya menggelinjang hingga tak sadar memeluk erat tubuh tua itu dihadapannya.
"Ahhhhhhhh.... Akuuu keluaarrrrrrr" Desah Haura dengan penuh nikmat.
"Ahhhhhhhhhhh hangatnya kekekekek" Tawa Karjo saat penisnya didalam disirami oleh cairan cintanya. Karjo pun berhenti sesaat membiarkan bidadari itu menikmati semprotan orgasme ternikmatnya. Haura tak henti-hentinya memeluk tubuh tua Karjo tanpa sadar. Matanya pun merem melek tak terhindarkan. Liurnya bahkan sampai menetes membasahi kaus polo yang kuli kekar itu kenakan.
"Uhhhhhhhhhhh" Desah Haura dengan puasnya merasakan orgasme itu.
"Kekekeke nikmat banget kan ustadzah... Kalau dari kemarin ustadzah nurut... Saya sudah berulang kali memberikan kenikmatan seperti ini ke ustadzah" Bisiknya yang membuat wajah Haura memerah.
"Hah... Hah... Hah..." Haura terengah-engah sambil memeluk tubuh kekarnya. Ia sangat kesal pada diri sendiri. Kenapa ia sampai menikmati persetubuhan ini. Kenapa pula ia sampai mendapatkan orgasme dari pria tua sejelek dia.
Ketika sedang asyik-asyik menikmati waktu pasca orgasmenya. Tiba-tiba pinggul Karjo kembali bergerak. Haura kaget karena dirinya masih butuh istirahat. Namun genjotan yang semakin cepat membuatnya paham kalau pria tua ini ingin segera menyelesaikan hajatnya dengan menyemburkan isi spermanya ke tubuhnya.
"Ahhhh... Ahhh... Sekarang giliran saya yah ustadzah" Desah Karjo.
"Tuggguu pakk... Jangan.. Aku masih butuh istirahat... Ouhhhh... Ouhhh yahhh" Desah Haura.
Dalam posisi berdiri saling berhadapan. Karjo mempercepat gerakan pinggulnya membuat bidadari itu semakin pasrah tak berdaya dalam pelukannya. Karjo pun tidak tahan lagi. Tusukan demi tusukan yang telah ia benamkan di dalam rahimnya membuat ia tidak sanggup lagi tuk menahan kenikmatan ini.
“Ouhhhhh ustadzahhh... Ouhhhhh saya gak kuat lagiii... Ahhhhh... Ahhhhh” desah Karjo mempercepat genjotannya.
“Tunggu pakkk... Tungguuuu... Uhhhhh uhhhhhhhh” desah Haura sambil memanyunkan bibirnya.
Gairah birahi Karjo semakin tidak terkendali. Kuli kekar itu sudah diambang batas. Genjotannya semakin ia percepat. Tubuh bidadari itu yang sudah telanjang dipeluknya erat.
“Aahhhh... Ahhhh akhirrnnyaahhh... Iyahhh... Iyahhh... Sayyaaa kellluuaarrrrrrrrr !!!” desah Karjo dengan puas.
Sebelum ia benar-benar mengeluarkannya. Ia segera menarik penisnya keluar kemudian meminta Haura untuk berjongkok dihadapannya.
Crrooott... Crrooottt... Crroootttt !!!
Satu demi satu semprotan sperma itu keluar membasahi wajah ayu Haura. Karjo sampai memejam merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tubuhnya pun bergidik. Ia merinding merasakan kepuasan yang tiada tanding. Berulang kali tubuhnya tersentak nikmat. Kedua lututnya bahkan sampai melemah saat satu demi satu sperma kentalnya keluar membasahi wajah ayu Haura. Pak Karjo lemas. Tapi ia tertawa puas. Dirinya pun kelojotan merasakan kepuasan dari orgasme ternikmat yang pernah dialaminya.
“Mmmpphhh” desah Haura saat merasakan satu demi satu sperma kental itu memenuhi wajah cantiknya dalam sekejap. Beberapa ada yang mengenai hijabnya. Beberapa bahkan ada yang mengenai pipi hingga tepi bibirnya.
Haura mulai mencium aroma tak sedap dari sperma kental pria tua itu. Aromanya begitu kuat hingga membuat Haura merasa mual akan bau busuknya yang menyengat. Bidadari itu pun terduduk menyender pada dinding luar kelas dalam keadaan yang benar-benar berantakan.
Wajah bidadari itu kelelahan. Sperma yang berada di wajahnya dibiarkan begitu saja hingga beberapa ada yang sampai menetes berjatuhan. Karjo tertawa puas sambil memandangi keadaan ustadzah tercantik itu. Pak Karjo geleng-geleng tak mengira dirinya bisa kembali menyetubuhi ustadzah tercantik se-pondok pesantren ini.
Walau sudah keluar sekali, dirinya belum benar-benar puas sebelum dirinya bisa memuntahkan spermanya di dalam rahim sang ustadzah. Seketika Karjo melepas kaus polonya hingga membuatnya telanjang bulat di bidadari itu. Seketika ia mendatangi Haura kemudian menarik tangannya untuk memaksanya ikut menuruti hawa nafsunya.
“Pakkkk akuu masih capekk pak... Bapak mauu ngapain lagii” kata Haura kelelahan.
“Kekekekek ingat kan perkataan saya tadi ? Kalau saya mau membayar utang dari hari-hari yang sempat saya lewatkan ketika tidak mampu menyetubuhi dirimu” kata Karjo ketika sudah berada di dekat gerbang. Seketika gerbang itu sudah dibuka entah bagaimana caranya. Haura luput memperhatikannya. Ia pun ditarik menuju area luar pesantren yang membuat bidadari itu enggan untuk mengikutinya.
“Pakkk mau kemana ? Itu di luar pondok pakk... Bisa-bisa banyak orang yang lihat nanti” kata Haura panik.
“Kekekkeke hari sudah malam ustadzah... Mana mungkin ada orang yang berlalu lalang selarut ini... Kalaupun ada, biarkan mereka menikmati keindahan tubuh yang ustadzah punya” katanya tiba-tiba sudah menarik tubuh Haura kemudian memeluk tubuhnya dari belakang.
“Tungguuu pakkk... Ouhhhhh... Ouhhhhh... Mmppphhhhhh” desah Haura saat kedua payudaranya diremas olehnya dari belakang.
“Kekekekek montoknya susumu ini... Ouhhh saya paling suka sama cewek yang berdada besar kayak ustadzah” puji Karjo yang tak digubris sedikitpun oleh Haura.
“Pakkkkk jangannnn... Nanti ada yang lihattt pakkk... Jangannnn” kata Haura merasa malu sambil menahan tangan Karjo agar tidak meremasi payudaranya lagi.
“Kekekekkek... Gak akan ustadzah... Biarkan bulan menjadi saksi akan keindahan tubuh yang ustadzah punya” kata Karjo sambil terus meremasi payudara itu.
“Pakkk hentikannn pakkk... Aku gak mauuu.. Ouhhhhh... Ouhhhh” desah Haura dengan manja.
Payudara Haura diremas. Payudara Haura dicengkram. Nampak telapak tangan Karjo membuka seluruhnya agar mampu melahap keseluruhan dari payudara besar itu. Payudara Haura berdiri tegak. Tidak jatuh dan cenderung kencang. Hal itu lah yang membuat Karjo begitu ketagihan tiap kali mencemol ukuran payudaranya.
“Ahhhh jangannn... Jangannnnn” desah Haura saat dirangsang olehnya dengan menggelitiki puting payudaranya.
“Kekekekek makin kenceng kan ustadzah susunya... Kekekekek” kata Karjo melakukan pemanasan sambil menanti penisnya berdiri tegak kembali.
Celana dalam Haura dilepas. Hijab Haura yang sudah berantakan juga sudah dicopotnya. Haura benar-benar telanjang di malam hari itu. Paling hanya kaus kaki serta sepatu pantofelnya saja yang melekat di tubuh indahnya.
Rambutnya yang panjang sebahu. Tubuh putihnya yang mulus. Serta kedua payudaranya yang tegak mengacung. Haura bagai sang dewi yang baru saja turun dari langit. Tubuhnya sangat-sangat indah yang membuat Karjo terus saja membelainya hingga membuat bidadari itu mendesah.
“Ahhhh... Ahhhhh bapakkkk... Ahhhh” desah Haura saat merasakan birahinya mulai kumat lagi.
“Kekekekek... Dengan ini saya mulai ronde kedua !” kata pak Karjo saat merasakan penisnya sudah mengeras kembali. Ia pun mengarahkan penis itu ke dalam bibir vagina sang ustadzah. Haura pun memejam mendesah merasakan sentuhan di bibir vaginanya. Saat penis itu mulai masuk. Haura hanya bisa menegakan tubuhnya merasakan gesekan demi gesekan yang merangsang dinding vaginanya.
“Paakkkk ouhhhhhh” desah Haura sambil menggigit bibirnya.
“Ahhhhh ustadzahhh... Mantappnyaahhh” desah Karjo dengan begitu puas.
Sedikit demi sedikit penis itu kian masuk membelah liang senggamanya. Awalnya cuma kepala penisnya saja. Namun dengan bantuan pelicin yang berasal dari cairan cintanya tadi membuat penis itu dengan segera terhisap ke dalam liang senggamanya.
Jlleeebbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhh” desah mereka berdua dengan keras. Nampak perpaduan suara mereka menggema mengisi area persawahan. Bahkan burung yang sempat bertengger di kabel tiang listrik terkejut hingga membuat mereka semua berterbangan menjauhi mereka berdua.
Haura dalam posisi menungging maju. Kedua tangannya ditarik ke belakang oleh Karjo. Nampak kedua payudaranya yang menggantung dibiarkan begitu saja. Rambutnya yang sebahu mulai menutupi sebagian wajahnya. Ketika Karjo mulai menggerakan pinggulnya. Tubuh Haura pun mulai tersentak maju mundur diiringi oleh desahan-desahan kecil yang bidadari itu ucapkan.
“Aahhhhhh bapakkkkk” desah Haura dengan manja.
Karjo terpana mendengar erangan yang terucap dari mulut bidadari itu. Karjo sampai memejam tuk fokus menikmati jepitan yang semakin terasa membetot batang penisnya. Sedikit demi sedikit Karjo mempercepat laju genjotannya. Sedikit demi sedikit Karjo mulai menarik nafasnya kemudian menghembuskannya segera. Nampak punggung mulus dari bidadari itu yang terdorong maju mundur akibat perbuatannya. Sperma yang sempat memenuhi wajah Haura perlahan mulai jatuh akibat sodokan yang menurunkan sperma itu ke bawah. Karjo pun menarik tangan Haura ke belakang hingga bidadari itu semakin menegak menampakan kedua payudaranya yang bergoyang saat menerima genjotannya.
“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura di malam yang semakin gulita itu.
Bidadari itu merasa sangat malu ketika harus bertelanjang bulat untuk pertama kalinya di tempat terbuka seperti ini. Mungkin bukan pertama kalinya juga apabila menyangkut tempat umum. Tapi untuk kali ini dirinya benar-benar disetubuhi ditempat terbuka tanpa ada satupun atap yang menutupi perbuatan nista mereka berdua.
Haura yang sudah lemas tak berdaya hanya bisa pasrah memejam membiarkan pria tua itu dengan bebas memborbardir liang senggamanya menggunakan penis besarnya.
Plokkkk... Plokkk... Plokkk !!!
Tangan Karjo berpindah ke bokong montok sang ustadzah. Ia mengusap kulit bokongnya yang halus. Kemudian rabaannya naik ke pinggang untuk merasakan betapa rampingnya tubuh dari bidadari itu. Tubuh Haura terus bergerak maju mundur. Gerakan payudara itu pun menggoda birahi Karjo yang ingin meremasnya lagi.
“Aahhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura dengan manja.
Sodokan yang semakin kuat membuat Haura tak sadar melebarkan kakinya sendiri. Tangan Karjo mencengkram pinggang dari bidadari itu dengan kuat. Ia pun semakin lemas ketika berulang kali penis itu menyundul-nyundul dinding rahimnya.
“Aahhhh... ahhhh ustadzahhh... Saya gak kuat lagiii... Saya mau keluarr lagiii” desah Karjo ingin menyudahi ronde keduanya.
“Ouuhhhh... Ouhhhh... Mmphhhhh... Mmpphphhh” desah Haura terus menggeleng kepala tuk menyadarkan dirinya kalau ini gak mungkin terjadi. Ini pasti mimpi. Ini pasti tidak nyata.
Namun sodokan yang ia rasakan bukanlah mimpi belaka. Genjotan yang ia terima benar-benar nyata. Ia pun merasakan kalau batang kemaluan itu semakin berdenyut di dalam.
“Ahhhhhh... Ahhh ustadzahhh... Saya mau keluarrr.... Ahhhh ustadzah tau kan kalau saya bakal mengeluarkannya dimana ?” kata Karjo yang membuat perasaan Haura mendadak tidak enak.
“Ahhhh... Ahhh mmaakkksudnya ? Jangann pakkk !!! Jangan keluarin di dalem !” kata Haura panik.
“Kekekek semua sudah terlambat ustadzah... Saya sudah meniatkannya !” kata Karjo semakin mempercepat genjotannya.
“Enggakkk... Jangann pakkk... Aku mohonn.. .Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh” desah Haura yang sudah bertelanjang bulat.
Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Haura menggeleng-geleng kepala berharap Karjo hanya mengancamnya saja dan tidak jadi tuk memuntahkan spermanya ke dalam rahimnya. Selain itu, sodokan yang terlampau nikmat membuatnya tak yakin ia bisa bertahan lebih lama lagi.
Payudara-payudaranya yang menggantung indah bak buah anggur yang siap untuk dipetik. Tubuh Haura semakin kencang ketika sedang disetubuhi dalam posisi telanjang di tempat terbuka. Hawa dingin yang berhembus di malam itu semakin mengencangkan putingnya membuat puting itu semakin tegak berdiri di bawah sana.
Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!
“Bapakkkk... Ahhhh... Ahhhhh” desah Haura ketika orgasme keduanya nyaris ia dapatkan.
Kedua kaki Haura melemas begitu juga kedua kaki Karjo. Dada besar Haura terasa sesak begitu juga yang dialami oleh dada kekar Karjo. Nafsu mereka yang semakin memuncak membuat kedua insan yang terpisah beda zaman itu semakin tak tahan dengan kenikmatan yang akan mereka dapatkan.
Akhirnya dengan satu sodokan yang mantap. Karjo dengan begitu puas menancapkan penisnya sedalam-dalamnya hingga menembus rahim kehangatan bidadari itu.
“Sayaaa keluuaarrrrrr !!!” desah Karjo dengan puas.
“Aaahhhhhhh... Aku jugaaaaa !!!” desah Haura menyusul kemudian.
Cairan cinta mereka pun bertemu di dalam rahim kehangatan itu. Rahim Haura bergetar. Rahimnya mulai terasa hangat saat campuran cairan cinta mereka memenuhi rahimnya. Tubuh mereka berdua tersentak nikmat merasakan kepuasan yang tidak tertahankan. Tubuh mereka kelojotan bahkan Haura nyaris saja jatuh andai pelukan erat yang Karjo lakukan di pinggangnya terlepas. Mereka berdua berteriak puas di tengah gelapnya malam disaat tubuh mereka telanjang tanpa ada sehelai pun benang yang menutupi.
“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhh”
Berulang kali mata mereka berkedap kedip merasakan sisa orgasme itu. Mereka benar-benar puas terutama Karjo yang berhasil memenuhi targetnya dengan memenuhi rahim bidadari itu menggunkan cairan spermanya.
“Aahhhhhhhhh mantappnyyaaahhh” desah Karjo saat menarik penisnya hingga lelehan cairan kental mereka jatuh berbarengan ke tanah.
“Uhhhh pakkkk” kata Haura merinding hingga tubuhnya nyaris kembali jatuh sebelum dipegangi oleh kuli kekar itu.
“Hah... Hah... Hah” Haura terengah-engah. Sudah dua kali dirinya mendapatkan orgasme dari orang yang sama. Ia benar-benar kehabisan tenaga. Bahkan ia tak sempat memikirkan konsekuensi dari tumpahnya cairan sperma Karjo di dalam rahimnya. Ia hanya kelelahan dan menginginkan waktu istirahat demi memulihkan tenaganya yang nyaris habis.
“Kekekekek ouhhh puas banget saya ustadzah” tawa dari Karjo seketika menyadarkan Haura dari kenyataan yang menimpanya. Ia sedang telanjang di tempat terbuka dalam keadaan rahim yang dipenuhi oleh tetesan sperma pria tua itu.
Shock ? Jelas bidadari itu mengalaminya. Ia benar-benar tak mengira kalau kuli kekar itu sampai berani memejuhi vaginanya mengguankan cairan spermanya. Apa mungkin pak Karjo serius kalau dirinya ingin menghamili ustadzah cantik itu ?
“Ayo ustadzah ikut saya” kata Karjo tiba-tiba menarik tangan Haura lagi.
“Pakkk... Apa lagi ? Jangann pakkk aku capek... Tolongg pak” kata Haura berulang kali menahan namun tetap saja tertarik oleh kekuatan besar pria tua itu.
Hijab yang tadi Haura kenakan terinjak oleh sendal kuli kekar itu. Saat ia memasuki area pesantren, kemeja ungunya beserta blazer yang tadi Haura kenakan kembali terinjak-injak olehnya. Haura pun bingung dirinya mau dibawa kemana. Tubuh telanjangnya sudah berada di sisi samping gedung kelas. Apa jangan-jangan dirinya akan dibawa ke area halaman kelas ?
“Pakkk... Bapak mau kemana lagi ? Jangann pakkk !!!” kata Haura panik.
“Kekekek diam ustadzah... Kita akan memulai ronde ketiga disini” kata Karjo yang membuat Haura panik.
Ronde ketiga ?
Batin Haura tak menyangka kalau pak Karjo masih mempunyai sisa tenaga extra. Untungnya dirinya dibawa masuk ke dalam kelas. Haura pun dibaringkan di atas meja santri yang terbuat dari kayu. Lampu kelas telah Karjo nyalakan hingga seisi ruangan kelas mulai kelihatan.
“Kekekekekek” tawa Karjo ketika sudah dihadapan tubuh telanjang Haura yang tidak tertutupi apa-apa.
“Pakkk jangann lagi pakk... Aku capekkkk... Aku gak mau pakkk !!!” kata Haura panik.
“Terlambat ustadzah... Mari kita lalui malam yang panjang ini untuk bercinta, untuk memuaskan nafsu bersama” katanya saat ia mulai memasukan penisnya yang mulai mengeras walau tidak sekeras sebelumnya.
“Hennkkgghhhh” desah Karjo mulai menancapkan penisnya.
Jlleeebbbb !!!
Penis itu dengan mudah masuk menerjang rahim bidadari itu. Haura pun merinding nikmat. Tubuhnya sampai kelojotan saat penis besar itu kembali masuk bahkan langsung mentok mengenai rahim miliknya.
“Bappaaakkkk... Ahhhhhhhhhh” desah Haura saat Karjo mulai menggerakan pinggulnya.
Plllookkk... Pllokkk... Plookkk !!!
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *