Search

CHAPTER 25 - SIAPA ORANG ITU ?

CHAPTER 25 - SIAPA ORANG ITU ?

Kedua kaki Haura melemas begitu juga kedua kaki Karjo. Dada besar Haura terasa sesak begitu juga yang dialami oleh dada kekar Karjo. Nafsu mereka yang semakin memuncak membuat kedua insan yang terpisah beda zaman itu semakin tak tahan dengan kenikmatan yang sebentar lagi akan mereka dapatkan.

Akhirnya dengan satu sodokan yang mantap. Karjo dengan puas menancapkan penisnya sedalam-dalamnya hingga menembus rahim kehangatan bidadari itu.

“Sayaaa keluuaarrrrrr !!!” desah Karjo dengan puas.

“Aaahhhhhhh... Aku jugaaaaa !!!” desah Haura menyusul kemudian.

Cairan cinta mereka pun bertemu di dalam rahim kehangatan itu. Rahim Haura bergetar. Rahimnya mulai terasa hangat saat campuran cairan cinta mereka bersatu di dalam rahim itu. Tubuh mereka berdua tersentak nikmat merasakan kepuasan yang tidak dapat dijelaskan. Tubuh mereka kelojotan bahkan Haura nyaris saja jatuh andai pelukan erat yang Karjo lakukan di pinggangnya terlepas. Mereka berdua berteriak puas di tengah gelapnya malam disaat tubuh mereka telanjang tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi.

“Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhh”

Berulang kali mata mereka berkedap kedip merasakan sisa orgasme itu. Mereka benar-benar puas terutama Karjo yang berhasil memenuhi targetnya dengan memenuhi rahim bidadari itu menggunakan cairan spermanya.

“Aahhhhhhhhh mantappnyyaaahhh” desah Karjo saat menarik penisnya hingga lelehan cairan kental mereka jatuh berbarengan ke tanah.

“Uhhhh pakkkk” kata Haura merinding hingga tubuhnya nyaris kembali jatuh sebelum dipegangi oleh kuli kekar itu.

“Hah... Hah... Hah” Haura terengah-engah. Sudah dua kali dirinya mendapatkan orgasme dari orang yang sama. Ia benar-benar kehabisan tenaga. Bahkan ia tak sempat memikirkan konsekuensi dari tumpahnya cairan sperma Karjo di dalam rahimnya. Ia hanya kelelahan dan menginginkan waktu istirahat demi memulihkan tenaganya yang nyaris habis.

“Kekekekek ouhhh puas banget saya ustadzah” tawa dari Karjo seketika menyadarkan Haura dari kenyataan yang menimpanya. Ia sedang telanjang di tempat terbuka dalam keadaan rahim yang dipenuhi oleh tetesan sperma pria tua itu.

Shock ? Jelas bidadari itu mengalaminya. Ia benar-benar tak mengira kalau kuli kekar itu sampai berani memejuhi vaginanya menggunakan cairan sperma busuknya. Apa mungkin pak Karjo serius kalau pak tua itu ingin menghamili dirinya ?

“Ayo ustadzah ikut saya” kata Karjo tiba-tiba menarik tangan Haura lagi.

“Pakkk... Apa lagi ? Jangann pakkk aku capek... Tolongg pak” kata Haura berulang kali menahan namun tetap saja tertarik oleh kekuatan besar pria tua itu.

Hijab yang tadi Haura kenakan terinjak oleh sendal kuli kekar itu. Begitupula celana dalamnya yang berserakan di tanah. Saat ia memasuki area pesantren, kemeja ungunya beserta blazer yang tadi Haura kenakan juga terinjak-injak olehnya. Haura pun bingung dirinya mau dibawa kemana. Tubuh telanjangnya sudah berada di sisi samping gedung kelas. Apa jangan-jangan dirinya akan dibawa ke area halaman kelas ?

“Pakkk... Bapak mau kemana lagi ? Jangann pakkk !!!” kata Haura panik.

“Kekekek diam ustadzah... Kita akan memulai ronde ketiga disini” kata Karjo yang membuat Haura panik.

Ronde ketiga ?

Batin Haura tak menyangka kalau pak Karjo masih mempunyai sisa tenaga extra. Untungnya dirinya dibawa masuk ke dalam kelas. Haura pun dibaringkan di atas meja santri yang terbuat dari kayu. Lampu kelas telah Karjo nyalakan hingga seisi ruangan mulai kelihatan.

“Kekekekekek” tawa Karjo ketika sudah berdiri dihadapan tubuh telanjang Haura yang tidak tertutupi apa-apa.

“Pakkk jangann lagi pakk... Aku capekkkk... Aku gak mau pakkk !!!” kata Haura panik.

“Terlambat ustadzah... Saya sudah keburu nafsu untuk menikmati ketelanjangan ustadzah di malam ini” katanya sambil membelai pipi bidadari itu untuk merasakan kelembutan disana.

“Pakkk... Janggannn... Jangannn... Uhhhhh.. Uhhhhhh” Haura hanya bisa memejam saat ujung gundul dari penis itu mulai terantuk-antuk ingin memasuki lubang kemaluannya lagi.

“Uhhh semppiittnyaaa... Masih sempit aja sih memekmu ustadzah ? Kekekeke” Kata Karjo tertawa puas sambil berusaha memasukan batang penisnya lagi.

“Pakkk... Pakkkkkk... Ouhhhh... Ouhhhhh” desah Haura terus memejam menahan penetrasi Karjo yang ingin memasuki liang senggamanya. Sekalipun otot vaginanya telah menyempit demi menghalangi pergerakan penis Karjo yang ingin masuk. Namun hal itu malah membuat Karjo semakin puas. Ia semakin bernafsu untuk menyenggamai bidadari itu untuk yang ketiga kalinya di malam ini.

“Heeennkkgghhh !!!” kata Karjo mendorong pinggulnya hingga mentok secara tiba-tiba yang mengejutkan diri Haura.

Jllleebbbbb !!!!

“Aaaaaaaaahhhhhhhh” Haura pun menjerit nikmat merasakan satu hentakan pinggulnya yang mantap.

Penis itu dengan mudah masuk menerjang rahim bidadari itu. Haura pun merinding nikmat. Tubuhnya sampai kelojotan saat penis besar itu kembali masuk bahkan langsung mentok mengenai rahim miliknya.

“Bappaaakkkk... Baappaakkkk.... Ahhhhhhhhhh” desah Haura saat Karjo mulai menggerakan pinggulnya.

Plllookkk... Pllokkk... Plookkk !!!

Pergerakan pinggulnya tidak lambat bahkan cenderung cepat. Alhasil tubuh dari bidadari itu tersentak kaget merasakan kenikmatan yang langsung ia dapatkan.

“Kekekekek... Nikmat gak ustadzah digenjot pake kontol saya ? Ustadzah puas kan saya setubuhi berkali-kali ?” kata Karjo disela-sela persetubuhannya.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhhh.. enggak ! Enggak sama sekali pakk !” tolak Haura menahan nikmat.

Namun jawaban darinya hanya membuat Karjo tertawa. Kedua tangannya pun mencengkram kuat kedua sisi pinggang Haura dengan erat. Alhasil sodokannya semakin cepat. Dilihatnya pergerakan kedua payudaranya yang mantap. Karjo pun tersenyum nikmat. Ia semakin mempercepat gerakannya sambil menikmati pemandangan indah yang berada di hadapannya.

“Aahhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh” desah Haura terus menerus.

Kendati sudah keluar dua kali. Tapi penis Karjo masihlah mampu untuk memuasi akhwat yang kini sedang tidak berhijab lagi. Tubuhnya sudah telanjang bulat. Tidak ada satupun kulit indahnya yang tertutupi dihadapan pria tua kekar yang semakin bernafsu untuk menghujami memeknya. Haura benar-benar polos malam itu. Apalagi rahimnya sudah pernah disirami. Rahimnya pun semakin licin. Penis Karjo pun semakin cepat meluncur ke dalam untuk memuaskan nafsu birahi Haura yang perlahan mulai bangkit ketika dinikmati oleh kuli bejat itu lagi.

“Ouhhhh... Ouhhhhhh... Bapaakkkk... Ahhhhh... Ahhhhhh”

Nampak kedua payudara Haura bergoyang semakin kencang. Puting indahnya pun semakin tegak menantang. Tanpa ampun, Karjo terus saja tertawa sambil menikmati tubuh sang ustadzah yang sudah dalam keadaan bertelanjang. Mata Karjo memejam. Ia coba menghayati penetrasi penisnya yang semakin menghujam. Memang agak kejam. Karena berulangkali tubuh Haura sampai menggelinjang. Tubuh Haura sampai terangkat naik. Desahannya semakin apik. Persetubuhan mereka pun semakin epik.

“Mmppphhhh ahhhh... Mpphhhh ahhh... Mpphhhh ahhhh” desah Haura terus mendesah menerima sodokan mantap dari kuli kekar itu.

Mendengar desahan demi desahan yang terucap dari mulut ustadzah tercantik itu membuat kuli tua itu semakin bernafsu untuk mengagahi ustadzah satu ini. Ia semakin mendorong pinggulnya ketika memasukan batang penisnya. Ia semakin menarik penisnya hingga ujung gundulnya nyaris terlepas dari tepi bibir vaginanya. Alhasil, dikala penis itu menghujam. Dengan cepat ujung gundul dari penis Karjo langsung menyundul dinding rahim dari bidadari satu ini.

“Aaahhhhhhh ustadzahhh... Ouhhhh nikmatnyaaa... Ouhhhh mantap sekali jepitanmu itu ustadzahh !” desah Karjo saat melakukan penetrasi ke dalam.

“Aaahhhhhhh udah pakkkk... Jangann lagiii... Ahhhh... Ahhhhhh” desah Haura memejam.

“Kekekekek jangan sok kuat ustadzah... Akui saja, ustadzah juga keenakan kan ?” kata Karjo tak memperdulikan ucapan itu dan terus menghujami dinding vaginanya yang semakin menyempit.

Haura tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya memejam sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Pak Karjo semakin mendorong pinggulnya. Ia menekan-nekan selangkangan itu menggunakan pinggulnya yang terbuka. Haura tak henti-hentinya mendesah saat penis itu meliak-liuk ingin menyundul rahimnya. Haura sampai harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan penetrasi penis kekar itu yang sedang mengobrak-ngabrik liang senggamanya.

“Mmpphhh ahhhhh pakkk dalemm bangett... Mmppphhhh pakkkk” desah Haura menyadari tusukan yang Karjo berikan. Karjo jadi semakin bersemangat dalam menyenggamai tubuh dari bidadari satu ini.

Ia tiba-tiba memelankan sodokannya sambil menarik batang penisnya hingga ke tepi bibirnya.

“Kekekekek.... Rasakannn ini ustadzahhh !!!” desah Karjo saat mendorong pinggulnya dengan mantap hingga menembus dinding rahimnya.

Jleeebbbbbbb !!!

“Aaahhhhhhhhhh” desah Haura dengan manja.

Lagi-lagi Karjo menarik pinggulnya dengan pelan hingga ujung gundulnya nyaris terlepas. Seketika ia kembali menghujami rahim dari bidadari itu menggunakan satu tusukan yang kuat.

“Ahhhhhhhh mantapp !!!!” desah Karjo dengan puas saat ujung gundulnya sudah mentok di dalam.

Jleeebbbbbbb !!!

“Aaahhhhhhhhhh” desah Haura kembali dengan manja.

Sekali lagi, Karjo menarik pinggulnya sambil mencengkram kuat-kuat pinggang ramping dari bidadari tercantik satu ini. Ditatapnya sejenak wajah Haura yang sedang terengah-engah di bawah sana. Karjo tersenyum yang membuat Haura menggelengkan kepala memintanya untuk tidak melakukannya lagi. Namun Karjo malah mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya kemudian menancapkan penisnya sedalam-dalamnya untuk menyetubuhi bidadari tercantik ini.

“Sekali lagiiii hennkkhhhhh !!!” desah Karjo dengan penuh nafsu hingga ia dapat merasakan sensasi tak terhingga yang memuaskan dirinya.

Jleeebbbbbbb !!!

“Aaahhhhhhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.

Kemaluan mereka telah kembali bertemu. Mereka berdua telah kelelahan hanya setelah diri mereka bersatu. Tiada yang lebih nikmat selain bercinta dengan wanita yang ia suka. Bertahun-tahun dirinya telah mengamati keindahan lekuk dari bidadari tercantik satu ini. Bertahun-tahun dirinya sampai menyembunyikan kebusukan sifat aslinya hanya demi mendapatkan perhatian dan simpati dari bidadari satu ini. Kini, di malam ini. Karjo telah mewujudkan impiannya. Impian untuk menyetubuhi Haura tanpa ada satupun helai yang menghalangi. Impian untuk memejuhi rahim dari bidadari tercantik satu ini. Impiannya tersisa satu, yakni menghamilinya dan menjadi ayah dari jabang bayi yang akan keluar dari rahim bidadari satu ini.

Membayangkan semua itu membuat birahi Karjo semakin lepas kendali. Ia ingin memejuhi rahimnya lagi. Ia ingin menghujami liang senggama ini lagi. Ia ingin terus menerus bercinta dengannya sampai bidadari satu ini tunduk dan menuruti semua apa yang diinginkannya.

Kedua tangannya pun bergerak untuk memainkan kedua payudara yang semakin mengencang. Karjo menggigit bibir bawahnya. Penis tegaknya masih menancap di dalam. Haura pun mendesah. Haura pun memejam dengan pasrah ketika pinggul dari kuli kekar itu kembali bergerak tuk memuaskan hawa nafsunya.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Haura dengan manja.

“Ouhhhh... Ouhhh mantapnyyaahhh... Ouhhh puasnya saya bisa menggenjoti tubuhmu lagi ustadzah... Kekekkeke” tawa Karjo disela-sela persetubuhannya. Ia pun mempercepat gerakannya hingga tubuh Haura tersentak maju mundur diatas meja santri itu.

“Aahhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh” desah Haura menahan kenikmatan ini.

“Ahhhh mantappp... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Karjo semakin puas.

Fantasi yang menjadi kenyataan benar-benar telah meruntuhkan ketahanlamaannya dalam bercinta dengan seorang wanita. Kembali, Karjo merasakan tanda-tanda kalau dirinya akan segera mendapatkan orgasme ketiganya. Orgasme yang ia dapat berturut-turut ketika menyetubuhi seorang ustadzah yang sehari-harinya selalu mengenakan hijab dan berpakaian tertutup.

Malam ini, ustadzah itu telah bertelanjang bulat. Rahimnya sudah basah dan kedua payudaranya yang menegak kencang bergoyang ketika disetubuhi olehnya.

“Pakkk... Pakkkkk... Pakkkkk !!!” desah Haura ketika merasakan tanda-tanda itu semakin dekat.

“Ouuhhh ustdzahhhh... Ouhhhh... Ouhhhhhhh mantapppnyaaaaahh !!! Hennkkgghhhh !!!” desah Karjo sambil menghujamkan batang penisnya hingga masuk menembus rahim kehangatannya.

Crroottt... Crroottt... Crroooottttt !!!

Karjo keluar. Haura pun menyusul kemudian. Nafas Karjo ngos-ngosan setelah menikmati jepitan dari seorang akhwat berhijab yang sudah telanjang. Matanya tak dapat lagi membuka ketika lubang kencingnya mengeluarkan semprotan dahsyat yang memenuhi rahim kehangatan bidadari itu. Tubuhnya segera ambruk menindihi tubuh polos Haura. Karjo pun memeluknya erat merasakan tubuh indah Haura yang terasa hangat. Haura juga tengah merem melek keenakan. Ia tak menduga bisa mendapatkan orgasme ternikmatnya ketika disetubuhi dalam keadaan telanjang bulat di tempat yang tak ia duga oleh seorang pria tua yang sangat ia benci.

Perlahan-lahan Karjo mulai membuka matanya sambil sesekali meremasi kedua payudara itu. Sisa-sisa kepuasan dari orgasmenya masih terasa. Ia pun melampiaskannya dengan menyusu di payudara kanan milik bidadari yang sedang telanjang itu.

“Ouhhhh... Ouhhhhhhh” desah Haura merasakan bayi tua itu terus saja menyusu di payudara bulatnya.

“Mmpphhh ahhhhh... Puas sekali saya ustadzah bisa bercinta lagi denganmu... Terima kasih sudah membiarkan saya mengeluarkan semua cadangan sperma saya ke dalam memek ustadzah... Saya sangat berterima kasih sekali... Oh yah, sekarang ustadzah boleh pulang... Lihat bentar lagi mau tengah malam... Besok, persiapkan diri ustadzah karena saya akan kembali menyetubuhi dirimu dari malam hari hingga esok pagi... Kekekekek” kata Karjo sambil menatap wajah Haura dengan jarak yang sangat dekat. Ia pun kembali mencumbui bibir itu untuk memuaskan seluruh nafsunya pada sang akhwat yang sudah berhasil ia taklukan. Taklukan ? Sepertinya belum, Karena Haura belum benar-benar pasrah untuk dinikmati olehnya.

“Mmmpppphhhhhhhh ahhhhhh” desah mereka berdua setelah bercumbu mesra.

Setelah itu, Karjo pun berdiri menuju keluar ruangan untuk mengambil pakaiannya yang ia tinggal di belakang gedung kelas. Dalam perjalanannya untuk mengambil pakaiannya itu, ia pun tersenyum sambil membelai penisnya yang mulai mengkerut karena kelelahan juga kedinginan.

“Sial, kekekekekek... Aku gak boleh terlalu bernafsu nih dalam menyetubuhinya” kata pak Karjo tertawa. Ia pun teringat kalau dirinya mempunyai satu pekerjaan lain yang membutuhkan stamina dan keperkasaan tubuhnya. Ia pun semakin tak sabar untuk menantikan hari esok tiba.

Sementara itu di dalam kelas,

Haura sudah kelelahan di malam itu. Dirinya merenung sambil menatap langit-langit kelas. Tangan kirinya bergerak untuk memeriksa liang senggamanya. Haura pun menangis ketika menyadari cairan kental itu telah memenuhi liang senggamanya. Air mata itu menetes jatuh.

Ruang kelas sudah gelap karena lampu sudah dimatikan oleh Karjo sebelum kuli kekar itu keluar dari ruangan ini. Haura ditinggal sendirian di malam yang sangat gulita itu. Haura terdiam. Haura merenung. Haura menangisi nasibnya setelah digagahi berulang kali oleh kuli kekar yang dulu sangat ia percaya.

“Kenapa bapak sampai setega ini kepadaku pak !!!” lirih Haura dengan sangat marah. Namun sebagai wanita yang lemah, ia hanya bisa menangisi semua nasib yang telah menimpanya hingga saat ini.


*-*-*-*


Pagi hari dikala matahari belum menampakan cahayanya. Nampak seorang ustadzah yang sudah berjalan keluar dari dalam asramanya. Dengan hanya mengenakan kaus berlengan panjang berwarna abu-abu juga dengan jaket hoodie berwarna gelap. Ustadzah berbadan montok itu berjalan keluar setelah menutup pintu kamar asramanya. Ia menyilangkan tangannya di dada untuk meredakan hawa dingin yang bertiup di pagi buta.

Dengan celana training longgar yang melengkapi penampilan paginya. Ustadzah yang memiliki nama panggilan Rachel itu terlihat cantik sempurna dengan segala keindahan yang melekat pada dirinya.

Dari atas ke bawah semuanya tampak sempurna. Wajahnya sangat manis. Kulitnya sangat bening. Bibir merah meronanya yang sedang mengecap ketika membasahi tepi bibirnya terlihat begitu menggoda. Andai saja ada lelaki yang melihatnya, sudah pasti lelaki itu akan jatuh hati pada segala pesona yang dimiliki olehnya.

Rachel Olivia Putri, ia adalah seorang ustadzah berbadan montok yang bertempat di kantor bagian penggerak bahasa. Sebagai ustadzah muda yang merupakan sahabat karib dari ustadzah Nada. Ia tampak merenungi nasibnya yang sebentar lagi akan segera menikah.

Apa yang sudah dilakukan olehnya menjelang hari-H pernikahannya ? Apakah ia semakin dewasa ? Apakah makin kesini dirinya semakin matang dalam menghadapi permasalahan ? Mungkin jawabannya tidak. Sebaliknya, ia malah semakin tidak siap untuk menghadapi hari pernikahannya yang semakin hari semakin dekat.

Bagaimana tidak ? Kebiasaan buruknya yang suka bertelanjang bulat di tempat terbuka telah mengantarkannya pada mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pertemuannya dengan pak Udin adalah contoh nyatanya. Andai saja ia tidak kepergok telanjang di dalam kelas waktu itu. Mungkin saja kehidupannya sekarang akan baik-baik saja tanpa harus mengkhawatirkan kehadiran tukang sapu itu yang sudah berulang kali mencicipi lubang boolnya.

Jujur saja, akibat tusukan dari tukang sapu itu. Ia jadi sembelit. Perutnya terasa sakit. Efeknya masih saja terasa kendati hari-hari telah berlalu semenjak kejadian itu.

Tapi ia bersyukur karena dirinya masih bisa menjaga keperawanannya. Tapi masalahnya mau sampai kapan ia akan seperti ini ? Sampai kapan ia akan menuruti setiap kata yang pria tua berkumis itu titahkan padanya ? Ia bukan budak. Ia seorang ustadzah yang bebas melakukan apa saja tanpa harus menuruti perkataan orang tertentu. Apa haknya pria tua berkumis itu sampai memberikan perintah kepadanya.

Andai saja bukan karena foto aibnya yang bersimpuh sperma di wajah. Sudah pasti Rachel tidak akan mau untuk menuruti perkataan dirinya lagi.

"Hah... Kenapa aku harus melalui semua ini ?" Kata Rachel sambil menatap langit cerah diatas sana.

Tiap kali dirinya merasa badmood. Tiap kali dirinya merasa bosan untuk melakukan suatu pekerjaan. Ada kebiasaan yang sering Rachel lakukan untuk membangkitkan kembali mood-nya. Hal itulah yang ingin Rachel lakukan di pagi hari ini.

Ia menegakan wajahnya untuk melihat jalanan di depannya. Jalanan masih sangat sepi karena santri-santri masih berada di teras asramanya untuk menjalankan kegiatan Ilqa' mufradat. Sebuah kegiatan untuk menambah kosa kata para santri dengan memberikan beberapa vocabularies berbahasa arab.

Sampailah ia di belakang gedung kelas yang biasa ditempati oleh santriwati ketika kegiatan belajar mengajar di pagi hari. Rachel semakin gugup karena dirinya semakin dekat dengan TKP yang akan menjadi saksi bisu untuk memperlihatkan kebiasaan yang sering ia lakukan untuk mengembalikan mood-nya.

Rachel tiba-tiba melepas jaket yang dikenakannya. Rachel pun menaruh jaket itu di lengannya sambil berjalan mendekati gerbang keluar menuju area persawahan. Saat dirinya hendak membuka gerbang itu. Dirinya terkejut ketika mendapati bahwa gerbang itu tidak di kunci.

"Loh... Kok gak dikunci ? Apa jangan-jangan ada ustadz senior yang keluar di jam segini ?" Katanya heran.

Padahal kunci ada di dalam saku celananya. Gak biasanya juga seorang ustadz senior keluar di jam segini untuk berjalan-jalan atau sekedar melihat ladang miliknya yang ditanami tanaman padi.

"Apa mungkin orang yang megang kunci selain aku teledor yah... Sampai lupa ngunci" Katanya mengira-ngira.

Ia pun membuka pintu gerbang bagian belakang hingga udara segar berhembus menerpa wajah ayunya. Rachel memejam. Kedua tangannya ia rentangkan naik untuk merasakan udara bersih yang ia hirup di pesisir area persawahan ini.

"Haaahhhhh"

Setelah menghembuskan udara yang baru saja ia hidup. Bidadari montok itu langsung memelorotkan celananya kemudian menggantungkannya di gagang pintu dari gerbang itu. Tak ketinggalan ia juga melepas naik kaus berlengan panjang berwarna abu-abu nya hingga dalam sekejap bidadari itu sudah telanjang bulat menyisakan hijab beserta sandal berwarna birunya.

Ya, tanpa mengenakan pakaian dalam. Rachel langsung bertelanjang bulat tanpa menyisakan satupun sehelai pakaian yang menutupi keindahan tubuhnya.

Malu ? Sebaliknya. Ini adalah terapi bagi diri Rachel untuk mengembalikan mood-nya yang sempat hilang. Sebagai seseorang yang berkepribadian narsisme. Ia sangat suka untuk memperlihatkan keindahan tubuhnya di ruangan terbuka tanpa harus dilihat oleh orang-orang. Kalau ada yang lihat sih bagus. Tapi tentu, itu akan membuat jantungnya berdebar lebih kencang karena bisa membuat statusnya sebagai seorang ustadzah tercoreng.

Karena itulah, ia memilih untuk mengenakan jaketnya kembali tanpa menutupi keindahan kedua kakinya yang jenjang. Ia pun tidak merapatkan resleting jaketnya. Sebaliknya, ia mulai berjalan dengan jaket terbuka memperlihatkan keindahan lekuk payudaranya yang bulat sempurna. Andai ada orang lain yang melihatnya, sudah pasti orang itu akan langsung menyergapnya dan memuaskan nafsu birahinya padanya.

Membayangkan hal itulah yang membuat diri Rachel semakin tertantang. Ia dengan berani berjalan di jalanan yang masih terbuat dari tanah. Baru beberapa langkah saja ia berjalan, ia mendapati ada sesuatu yang mencurigakan di depannya.

Rachel menunduk. Kemudian mengangkat sebuah kain yang tergeletak begitu saja di depan matanya.

"Ini kerudung punya siapa ? Kok ada celana dalam juga ?" Kata Rachel terheran-heran.

Namun menyadari kalau sinar mentari semakin terang membuat dirinya mengabaikan benda itu. Ia segera berjalan memasuki area persawahan membiarkan angin yang berhembus kencang menerbangkan jaket yang hanya bisa menutupi punggung mulusnya saja. Rachel pun memejam menikmati waktu kesendiriannya. Ia pun membayangkan kalau saat ini banyak orang yang sedang melihatnya. Orang-orang itu terpesona melihat keindahan tubuh bagian depannya yang terbuka ketika terkena hembusan angin pagi.

"Segarnyaaa" Kata Rachel senang.

Ia semakin berjalan mendekati sebuah gubuk yang berada di tengah area persawahan itu. Rachel pun melewati jalan kecil yang memisahkan petak satu dengan petak sawah lainnya. Kesendirannya di tempat terbuka membuat Rachel dengan berani melepas jaketnya.

Rachel bertelanjang bulat di area persawahan itu. Ia pun memutar untuk menikmati waktunya. Tidak ada orang memang. Hal itulah yang membuatnya semakin menikmati kegiatannya kali ini.

"Mmmpphhh" Desah Rachel saat angin dingin itu berhembus mengencangkan kedua payudaranya. Putingnya yang kedinginan semakin tegak menantang. Bibir vaginanya pun semakin becek akibat sensasi yang ia lakukan di tengah area sawah ini.

Apa yang akan kalian lakukan ketika melihat seorang ustadzah sepertiku yang sedang bertelanjang bulat di tengah sawah seperti ini ?

Batin Rachel sambil memejam merasakan kenikmatan ini.

Apakah kalian akan berlomba-lomba untuk menyetubuhi diriku ? Apakah kalian akan berlomba-lomba untuk meremasi payudaraku ? Ataukah kalian justru berlomba-lomba untuk mencumbui bibirku sambil meraba-raba kulit mulusku ? Andai semua itu terjadi pada satu waktu yang sama.

Batin Rachel yang hanya bisa ia ucapkan dalam fantasinya.

Pada umumnya, setiap wanita pasti mempunyai fantasi yang berbeda-beda. Ada seorang wanita yang berfantasi ingin bersetubuh dengan seorang kuli bangunan. Ada seorang wanita yang berfantasi ingin bercinta dengan seorang pria yang berasal dari kelas rendahan. Ada juga seorang wanita bahkan seorang akhwat yang ingin bercinta bersama satu bahkan lebih dari satu pria sekaligus dalam satu waktu.

Tapi umumnya, fantasi itu sangat sulit untuk ia realisasikan karena terhalang oleh norma kebiasaan yang sudah mendarah daging di negeri ini. Begitupula Rachel yang sudah terdidik menjadi seorang akhwat. Ia sangat malu untuk mengungkapkan fantasinya untuk bercinta dengan seseorang di tempat terbuka. Apalagi ia sangat ingin menjaga keperawanannya untuk suaminya. Tidak mungkin juga bagi dirinya untuk mengajak calon suaminya untuk bercinta di tempat terbuka.

"Ehhh udah jam enam kurang aja" Kata Rachel setelah melihat jam tangannya. Ia buru-buru pergi karena khawatir keadaan di sekitar akan semakin ramai. Ia pun ketakutan andai ada seseorang yang melihatnya telanjang di jalanan.

Ia bergegas mengenakan jaketnya kembali. Ia bahkan menaikan resleting nya hingga dua bola dadanya yang bulat terhimpit semakin ketat dari balik jaket yang ia kenakan sekarang.

"Fiyuh... Untung aja gak ketahuan" Kata Rachel yang tiba-tiba sudah berada di gerbang masuk pesantren. Saat ia hendak mengambil pakaiannya yang tadi ia gantung di gagang pintu gerbang. Ia menyadari kalau pakaian miliknya tidak ada.

"Lohhh bajuku sama celanaku mana ?" Kata Rachel panik. Bidadari montok itu bergegas melihat ke kiri dan ke kanan. Berulang kali ia melihat ke depan gerbang begitupula ke belakang gerbang. Sekuat apapun ia mencari ia tak menemukan pakaiannya kembali.

"Aduhhh... Ini gimana nih ?" Kata Rachel panik.

Tepat dari kejauhan. Dari tepi area persawahan. Rachel melihat ada seseorang yang berjalan mendekat. Sosok itu berkulit gelap. Sosok itu bertubuh kekar. Sosok itu terlihat seperti menyadari keadaan dirinya yang sedang setengah berpakaian. Rachel pun melihat keadaan dirinya sendiri.

"Gawaattt !!!" Kata Rachel panik menyadari resleting jaketnya rusak hingga jaket itu membuka kendati resleting itu berada di sisi atas kedua payudaranya.

Sosok hitam itu terlihat berlari ke arahnya. Rachel panik. Sosok kekar itu berlari menyusuri tepi persawahan yang membuat Rachel buru-buru ingin masuk kemudian mengunci gerbang itu rapat seperti waktu itu.

Deggggg !!!

Apa jangan-jangan orang ini yang waktu itu ?

Batin Rachel menyadari kalau sosok kekar itu bisa saja sosok yang nyaris menangkapnya ketika bertelanjang bulat setelah disodomi oleh tukang sapu itu.

Saat Rachel hendak berbalik menuju ke area dalam pesantren untuk bersembunyi. Seketika ada seseorang yang menghalanginya yang membuat dirinya terkejut.

Sosok itu juga berkulit gelap. Bedanya ia terlihat jauh lebih muda dengan gaya rambut yang ia sisir ke belakang. Rachel pun menatap wajah itu. Ia mengenalinya. Ia pun kalut ketika orang itu sedang berada di depannya.

"Abdul ???" Kata Rachel terkejut.

"Ustadzah hehehe... Ternyata ustadzah emang nakal yah... Sukanya telanjang" Kata Abdul mesum sambil menatap keindahan lekuk tubuh Rachel yang terbuka sempurna.

"Abdul... Awas... Ustadzah mau masuk... Jangan halangi ustadzah" Kata Rachel panik.

"Hehehe ustadzah... Ustadzah kalau mau masuk harus janji dulu ke ana" Kata Abdul masih sempet-sempetnya.

"Abdullll... Itu gampang nanti.... Itu di belakang ada orang asing... Ustadzah malu Abdul" Kata Rachel sambil melihat ke belakang dan menyadari sosok itu semakin dekat.

"Hehehe janji dulu... Nanti ana ngebolehin ustadzah buat masuk" Kata Abdul yang membuat Rachel semakin kesal.

"Abdul ihhhhh... Iya ustadzah janji... Apapun itu cepet izinkan ustadzah masuk" Kata Rachel semakin panik.

"Hehehe yang bener ? Ustadzah janji harus bisa bikin ana crot pagi ini ? Ustadzah harus tanggung jawab loh udah bikin ana mupeng di kelas waktu itu" Kata Abdul teringat ketika dirinya menekan puting payudara Rachel. Tiba-tiba bel langsung berbunyi yang membuatnya ditinggal mupeng saat itu.

"Maksud antum ? Ustadzah harus . . . ." Kata Rachel sambil melihat selangkangan Abdul.

"Hehehe betul ustadzah... Apa ustadzah mau diluar aja... Biar orang itu ngehukum ustadzah yang udah berani telanjang di tempat terbuka ?" Kata Abdul semakin mendesak Rachel.

Rachel melirik ke belakang dan mendapati sosok kekar itu semakin dekat. Jaraknya hanya lima meter saja. Ia pun melihat kalau sosok itu berusia sangat tua. Berwajah tidak sedap dan dilengkapi oleh tubuh kekar yang membuat diri Rachel merinding.

"Ustadzahhh !!!" Panggil sosok itu yang membuat Rachel semakin takut.

"Iya Abdul... Ustadzah janji... Ustadzah bakal nuruti apapun kemauan antum" Kata Rachel ketika keadaan semakin terdesak.

"Hehehe deal yah ustadzah" Kata Abdul mempersilahkan Rachel masuk kemudian menutup pintu gerbang dengan rapat sebelum sosok hitam itu menyergap tubuh polos ustadzah itu.

Abdul mengunci pintunya. Terdengar suara gedoran dari arah seberang yang membuat Rachel merasa lega.

Nyaris saja.

Batin Rachel.

"Hahh... Lagi-lagi gagal lagi... Jadi waktu itu aku gak salah liat yah ? Rupanya rumor itu bukan sembarang rumor... Itu beneran ada !!!" Katanya menyesal ketika gagal menangkap ustadzah telanjang itu lagi.

"Hah... Andai saja tadi ketangkep... Bokongnya pasti udah kucoblos tuh" Lirihnya sambil teringat ketika menatap keindahan kemontokan bokong dari bidadari cantik itu.

"Ustadzah disini cantik-cantik yah ternyata... Apalagi yang namanya ustadzah Haura" Kata sosok kekar berkulit gelap dan berusia sangat tua itu ketika memandangi sebuah nomor whatsapp milik ustadzah Haura yang sudah ia simpan kemarin setelah memintanya langsung.

"Hahhhh jadi sange kan" Katanya ketika melanjutkan perjalanannya. Tak sengaja ia menemukan sebuah celana dalam. Ia pun memungutnya kemudian buru-buru bersembunyi di balik pohon kelapa untuk beronani menggunakan celana dalam wanita itu sambil membayangkan sesuatu.

"Ahhhh.... Ahhhh ustadzah Hauraaaaa" Desahnya diam-diam sambil membayangkan dirinya yang mampu menyobos lubang kotorannya.

Sementara itu di dalam area pondok.

"Hehehe ustadzah Rachel" Panggil Abdul sambil menatap mesum keindahan lekuk tubuh ustadzahnya yang terbuka sempurna.

Jantung Rachel pun berdegup kencang menyadari tatapan penuh nafsu yang dilayangkan oleh santrinya itu. Buru-buru ia menyilangkan lengan di dadanya untuk menutupi keindahan dadanya di depan santrinya.

"Hehehe gak usah ditutupin ustadzah... Hayoo mana sekarang janjinya ? Dari kemarin ustadzah tuh udah bikin ana penasaran lohhhh" Kata Abdul yang sudah semakin terangsang.

"Apa mau antum Abdul ? Maafin ustadzah... Ustadzah gak sengaja kaya gini ?" Kata Rachel sambil menutupi sekujur tubuhnya. Ia pun merapatkan jaketnya yang rusak hingga kulit putih beningnya mulai tertutupi oleh jaket itu.

"Hehehe apa aja ustadzah asal bisa mainin susu kenyal-kenyil itu" Kata Abdul ngiler memandang keagungan payudara ustadzahnya.

"Abdulll jangan liat begitu ahh" Kata Rachel tak nyaman melihat tatapan santrinya.

"Hehehe salah sendiri dibuka begitu... Orang ditutup aja udah nafsuin apalagi kebuka gini" Kata Abdul mulai menurunkan training panjangnya.

Rachel menenggak ludah sambil mengernyitkan dahinya ketika batang penis dari santri berusia 19 tahun itu terpampang di hadapannya. Sesuai dugaannya, penis itu berwarna gelap. Ujungnya agak bengkok dengan bulu jembut yang begitu lebat bagai sebuah hutan yang ada di sekitar sungai amazon.

"Hehehe gede kan punya ana ustadzah ?" Kata Abdul sambil mengocoknya dihadapan muka ustadzahnya.

Mungkin tujuannya agar Rachel bisa tergoda oleh ketampanan penis itu seperti yang sudah ia lihat di film-film. Namun nyatanya, Rachel tidak tergoda sama sekali. Ia malah jijik karena bentuknya sungguh tidak menarik.

"Hehehe gimana ustadzah... Hayoo mainin punya ana ustadzah ? Nanti ana balikin deh pakaian yang ana sembunyiin" Kata Abdul yang membuat Rachel tertarik.

"Janji habis itu gak lagi-lagi yah... Ini sekali dan terakhir" Kata Rachel mencoba membuat perjanjian.

"Hehehe siap ustadzah... Asal ustadzah mau nyepong kontol ana... Ana pasti puas kok" Kata Abdul yang sudah tidak tahan lagi.

Dengan setengah keterpaksaan. Rachel kembali menuai apa yang sudah ia tanam. Akibat kecerobohannya dalam menikmati ketelanjangan dirinya. Ia kembali kepergok kali ini oleh salah satu santrinya yang juga sudah mengetahui seluk beluk dirinya yang sudah ketagihan telanjang diruangan terbuka.

Rachel mendekap batang penis yang agak bengkok itu. Saat tangan lembut Rachel menyentuhnya. Terasa tubuh Abdul merinding merasakan sensasi itu.

"Uhhhhh ustadzah" Desah Rachel merasakan sentuhan ustadzah montok itu.

Ditatapnya lah keadaan Rachel yang sedang berjongkok dihadapannya. Wajah manis Ustadzahnya sedang berada tepat dihadapan penisnya. Kedua tangan lembut itu sedang mengelus-ngelus penisnya dengan lembut. Tampak wajah malu-malu Rachel yang baru saja kepergok olehnya memberikan sensasi tersendiri bagi seorang santri yang beruntung itu.

Mimpi apa ana bisa dikocokin sama ustadzah Rachel ?

Batin Abdul sambil menyeringai mesum.

Dikala jemari Rachel terus merangsang batang kemaluan santrinya. Berulang kali Rachel menundukan wajah sambil berharap kalau santrinya itu cepat keluar. Namun pergerakan tangan Abdul yang ingin melonggarkan jaket yang Rachel kenakan mengejutkan bidadari montok itu.

“Nah agak diginiin biar makin hot ustadzah hehehhe” kata Abdul mupeng saat melihat Rachel semakin menggoda.

Nampak dada Rachel yang sudah kedinginan semakin menegak kencang. Wajah ayu Rachel pun terlihat semakin menggairahkan di bawah sana. Hasilnya membuat birahi Abdul semakin tidak terkendali. Berulang kali dirinya mengatur nafasnya agar tidak terlebih dahulu keluar saat dikocoki oleh bidadari seindah ustadzahnya.

"Ahhh... Ahhhh ustadzahh.... Ahhhhh" Abdul mendesah merasakan belaian yang ia terima.

Rachel pun mengeluarkan teknik yang ia pelajari selama magang bersama pak Udin. Tangan kanan Rachel membetot erat batang dari kemaluan itu, Rachel pun menariknya ke belakang hingga ujung gundul dari penis itu semakin terlihat. Kemudian ia mendekatkan wajahnya untuk meludahi ujung gundul dari penis itu. Barulah setelahnya, ia mengusap-ngusapi ujung gundulnya menggunakan tangan kirinya yang membuat Abdul sampai memejam merasakan kepuasan yang ia dapatkan dari ustadzahnya.

“Aahhhh ustadzahhh... Ahhhh... Ahhhhh nikmat banget us... Pakai mulut dongg ouhhhhh” desah Abdul semakin terangsang.

Rachel tanpa ragu langsung melakukannya karena ia tahu, menunda-nunda hanya akan membuang waktunya dihadapan santri mesum satu ini. Mulut Rachel membuka lebar kemudian mencaplok ujung gundulnya saja yang membuat santri berkulit gelap itu kelabakan.

“Aahhhhh... Ahhhhhhh.. Ahhhhh”

Rachel langsung mengeluarkan intensitas tinggi dengan merapatkan bibirnya hingga kedua bibir dari bidadari itu menjepit ujung gundul dari penis santri itu. Lidahnya bahkan ikut bergerak yang membuat Abdul merasakan sensasi terliar ketika disepongi oleh ustadzahnya.

“Ssllrrrppp... Mmmpphhh... Slllrrpp mmpphh” desah Rachel saat memuaskan penis itu menggunakan mulutnya.

Walau ia tak suka ketika harus melakukan perbuatan ini. Walau ia merasa jijik ketika lidahnya harus terkontaminasi dengan benda kotor ini. Rachel tetap saja melakukannya agar ia bisa segera pergi dari dekapan santri mesum ini.

Penis bengkok itu terus saja dicumbui bahkan dijilati oleh bidadari satu ini. Bahkan baru-baru ini, Penis milik Abdul itu disedotnya dengan sangat kuat yang membuat pemiliknya memejam merasakan puasnya dari kenikmatan surgawi yang diberikan oleh ustadzahnya.

“Aaaahhhh ustadzaahhhh... Ahhhh yahhhhhh” desah Abdul dengan puas.

“Mmmpphhh sllrrppp... Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Rachel semakin mempercepat sepongannya mendengar Abdul menikmati perbuatannya. Ia pun berharap semoga santrinya bisa cepat keluar setelah disepong olehnya.

"Ahhh... Ahhhh enak banget ini ustadzah... Ouhh puasnyaaahh" Katanya ketika Rachel terus saja mengoral penisnya menggunakan rongga mulutnya.

"Ouhhhh... Ouhhh Ustadzahhhhh" Desah Abdul sampai bergidik merasakannya. Kenikmatan yang semakin ia dapatkan membuat dirinya tidak bisa hanya diam begitu saja.

Tanpa ia sadari, tiba-tiba pinggulnya bergerak sendiri. Rachel pun terkejut hingga membuat mulutnya berhenti seketika. Dirasakannya penis itu bergerak maju mundur di mulutnya. Bahkan ia merasakan kalau kedua tangan Abdul sudah memegangi kepalanya untuk menahannya agar tidak terdorong ke belakang.

“Mmpphhh... Abdulll... Mmphhh... Mmmppphhh” desah Rachel saat merasakan sodokan santrinya semakin cepat bergerak di dalam mulutnya.

“Ahhh yahh... Enak banget ustadzahhh mulut antum... Tahan begitu yahh... Ouhhhhh” desah Abdul sambil memejam.

“Jangannnn... Ahhhh... Abdulll jangan cepat-cepattt !!!” kata Rachel yang tak dihiraukan oleh santrinya.

“Ouhhh ustadzahhh... Ouhhh mantepnyaa... Ouhhh yahhh... Ouhhh hangatnyaaa... Lagiiii ahhhhh” kata Abdul merasakan penisnya begitu hangat ketika disepong oleh ustadzahnya. Penis bengkoknya terus saja masuk hingga tak sadar sudah mentok menyundul pangkal kerongkongannya.

“Akkhhhh... Akkhhhhhh pelaannll... Ahhkkkkk” desah Rachel sambil memejam saat merasa dirinya nyaris tersedak.

Rasa nikmat yang semakin Abdul rasakan membuat dirinya mencoba untuk melakukan gaya baru dalam menyenggamai mulut ustadzahnya. Terkadang ia melakukan putaran menyamping hingga penisnya terasa seperti menggesek keseluruhan rongga mulut ustadzahnya. Bahkan ia merasa kalau penisnya sampai terkena oleh gigi bidadari itu. Terkadang ia juga menancapkannya dengan menahan kepala Rachel ketika pinggulnya terus maju hingga membuat bidadari itu kelabakan menepuk-nepuk paha dirinya.

“Ouhhhh ustadzaahhhhh !!!” desah Abdul dengan mantap.

Tanpa ampun ia kembali menggerakan pinggulnya maju mundur. Bidadari telanjang itu kewalahan menerima pergerakan pinggul Abdul hingga tak sadar kedua payudaranya yang menggantung dibawah sedang bergondal-gandul. Payudaranya yang mirip buah pepaya itu semakin menggantung bebas. Liur yang menetes dari mulut Rachel pun membasahi kedua payudara itu.

Rachel pasrah sambil berjongkok memegangi kedua paha Abdul yang semakin bernafsu dalam menyenggamai mulutnya. Matanya terus memejam karena tak sanggup menahan siksaan yang ia terima ketika rongga mulutnya disodok-sodok. Desahan demi desahan pun terus Rachel keluarkan hingga membuat nafsu birahi Abdul semakin tak tertahankan.

“Ouhhh ustadzahhh... Ouhhhh nikmat banget mulut antum ini !” kata Abdul saat merasakan penisnya mulai berdenyut-denyut.

“Mmpphhh... Mmppphhh... Mmmpphhh” Desah Rachel terus memejamkan mata. Lidahnya pun mulai merasakan sesuatu yang asin ketika cairan precum dari santrinya mulai menetes yang menandakan santri itu sudah tak kuat menahan birahinya lagi.

“Ouhhh ustadzahhh... Tahan teruss... Rapetin mulut antum... Ouhhh mantappp... Ouhhhhh” desah Abdul saat mempercepat sodokannya di dalam mulut ustadzahnya.

“Mmmpphhh... Mmpphhhhhh” desah Rachel semakin tak kuasa ketika menahan tusukan Abdul yang semakin cepat.

Abdul semakin merinding merasakan kehangatan juga kenikmatan yang semakin ia dapatkan. Penisnya terus berdenyut. Nafasnya terasa sesak. Kedua lututnya semakin melemah ketika dirinya sudah berada di ambang batasnya.

“Aahhhhhhh ahhhhh ustadzahhhh !! Hennkkgghhhh !!! Keellluuuaarrrrrr !!!!” desah Abdul dengan puas hingga dirinya menancapkan penis bengkoknya sedalam-dalamnya ke rongga mulut bidadari itu.

Crrooott.... Crrooott... Crroootttt !!!

“Mmmppphhhhhhhh !!” Rachel memejam kuat saat lelehan sperma dari santrinya mulai keluar memenuhi rongga mulutnya. Tercium aromanya yang kuat begitu menyengat. Seketika ia merasa mual saat cairan kental itu semakin penuh di dalam mulutnya. Entah berapa kali Abdul menyemprotkan cairan spermanya. Yang jelas mulut Rachel tak sanggup untuk menampung semua itu hingga beberapa ada yang menetes jatuh mengenai tanah juga kedua payudaranya yang terbebas di bawah sana.

“Aahhhhhhh yahhhh... Ahhh mantapppnyaaa !!!” desah Abdul dengan begitu puasnya saat merasakan bemasturbasi menggunakan mulut dari ustadzahnya.

Tubuh kurusnya pun tersentak nikmat hingga tetesan terakhir keluar dari lubang kencingnya. Saat dirasa spermanya tidak keluar lagi. Ia pun menarik penis bengkoknya yang membuat bidadari itu terbatuk-batuk hingga memuntahkan cairan sperma yang baru dikeluarkan oleh santrinya.

“Uhhuukk... Uhhuukkk... Uhhuukk” kata Rachel terbatuk-batuk dihadapan santrinya itu.

“Aahhh gilaa ustadzahhh... Puas banget ana... Tapi sayang deh gara-gara terlalu nafsu jadi kelewatan mau mainin susu ustadzah... hah... hah... hah” kata Abdul masih terengah-engah.

Mata Rachel tampak sembap ketika dari tadi menahan tusukan dari Abdul. Untungnya penyiksaan yang dilakukan oleh santrinya itu telah selesai. Rachel hanya bisa menunduk sambil membuka mulutnya karena perutnya terus merasa mual serasa ingin memuntahkan isiannya.

“Uhhukkk... Uhhukkk... Ustadzah udah nepatin janji... Cepat mana pakaian ustadzah, Abdul !” kata Rachel tak ingin berlama-lama lagi di tempat ini.

“Hehehe ini ustadzah... Baju antum” kata Abdul memberikan kaus berlengan panjangnya.

“Celana ustadzah mana ?” kata Rachel heran kenapa hanya kausnya saja yang diberikan oleh santrinya.

“Loh tapi ana nemunya cuma kaus antum aja loh ustadzah di gerbang itu” kata Abdul yang membuat Rachel terheran-heran.

“Gak mungkin Abdul...” kata Rachel tak percaya.

“Kalau gak percaya ya udah... Nih baju antum” kata Abdul sambil melempar kaus itu ke tanah hingga terkena muntahan sperma yang keluar dari mulutnya.

“Abdulllll” kata Rachel kesal, ia pun buru-buru mengambil kausnya berharap tidak banyak sisi kausnya yang terkena lelehan sperma yang baru ia muntahkan.

Sebentar kemudian ditatapnya tubuh telanjang Rachel yang begitu indah mempesona. Lama-lama kok Abdul bernafsu lagi. Ketika ustadzah montok itu lengah, Dengan segera Abdul melepas jaket yang sedari tadi melekat di tubuh ustadzahnya. Rachel terkejut, apalagi ketika penis yang mulai mengeras itu mulai kembali mendekati rongga mulutnya.

“Aahhhhh... Apa yang antum lakukan Abdul !” Jerit Rachel panik.

“Aduhhh maaf ustadzah... Sayang banget kalau ketelanjangan ustadzah gak ana nikmati lagi... Hennkkghhhh !!!” desah Abdul sambil menancapkan penisnya ke dalam rongga mulutnya lagi. Kali ini Rachel sedang bertelanjang bulat yang membuat birahi Abdul semakin liar ketika memuaskan fantasinya di dalam pondok pesantren ini.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhh” desah Abdul saat terus menghujami rongga mulut ustadzahnya menggunakan penis bengkoknya.

Sementara itu dari kejauhan nampak seorang pria tua dengan kumis tebal yang merekam aksi mereka berdua sambil beronani di depan sebuah celana yang ia jembrengkan di atas tanah. Pria berkumis itu semakin bernafsu saat Rachel terlihat pasrah menerima sodokan demi sodokan yang santri itu layangkan.

“Huehuehue... Nah gitu dong... Hukum ustadzah itu, masa saya terus yang ngehukum dia... Ouhhh ouhhhhh... Siallllll !!!!” kata pria tua yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu saat kelepasan mengeluarkan spermanya ke arah celana milik ustadzah itu.

“Huehuehue puasnya... Nantilah balikin celananya setelah menonton layar tancep ini... Gila juga tuh santri gak bosen-bosennya main di mulut ustadzah montok itu !” kata pak Udin puas sambil menonton penampilan Rachel di pagi hari ini.


*-*-*-*


Sore harinya di depan salah satu asrama santriwati yang jauh dari jangkauan laki-laki. Berkumpul lah orang-orang yang semuanya terdiri dari beberapa santriwati juga pengajar putri. Mereka semua mengenakan pakaian olahraga berupa kaus berlengan panjang juga training longgar yang tidak membentuk tubuh indah mereka yang tertutup rapat. Hijab-hijab mereka turut melengkapi seragam olahraga mereka di sore hari ini.

Dengan lantunan musik yang membuat tubuh mereka bersemangat. Dengan bantuan instruktur yang memiliki pengalaman dan bersertifikat. Mereka semua sedang menggerakan tubuh mereka untuk melakukan senam aerobik bersama.

Satu... Dua... Tiga... Empat... Satu....

Terdengar melalui sound yang terpasang di sudut kanan-kiri halaman santriwati. Suara itu menuntun semua orang untuk menyelaraskan gerakan mereka.

Tubuh mereka semua berkeringat. Kaus yang mereka kenakan basah. Lekuk-lekuk mereka pun terbentuk dari balik kaus olahraga yang mereka kenakan. Aroma keringat mereka yang menyengat justru membuat nafsu para lelaki semakin bangkit andai ada yang mencium aromanya disekitar sini. Aroma seorang wanita memang berbahaya, atas dasar itulah sang penyelenggara memilih tempat ini yang merupakan tempat terjauh yang tidak bisa disentuh oleh setiap laki-laki yang ada di pondok pesantren ini.

Dari sekian wanita yang melakukan senam aerobik disini. Ada satu wanita yang menarik perhatian. Ia merupakan seorang ustadzah. Ustadzah yang memiliki lekuk indah hingga tubuhnya yang aduhai tercetak jelas dari balik kaus yang ia kenakan.

Sebenarnya ia tak berniat untuk mengenakan kaus ketat kendati masih menutup aurat. Tapi mau bagaimana lagi ? Ia memiliki tubuh yang sangat sempurna akibat olahraga rutin yang ia lakukan di setiap pagi dan juga sore hari. Secara tak langsung, ustadzah berbadan body goals itu telah mengencangkan kulitnya juga setiap lekuk yang memperindah tubuhnya.

Lihat saja keadaannya sekarang. Ditengah alunan musik yang masih berbunyi. Ia terus berlenggak-lenggok mengikuti gerakan sang instruktur dengan penuh semangat. Kedua payudaranya menonjol dari balik kaus yang ia kenakan. Nampak bongkahan pantatnya yang bahenol tercetak dari balik training yang ia kenakan.

Posturnya yang tinggi tegap. Diikuti oleh keindahan wajahnya yang menawan. Membuat ustadzah yang bernama Nada itu begitu diidolakan oleh semua santriwati yang berdiri di sekelilingnya. Diam-diam semua santriwati itu melirik tuk mengagumi kesempurnaan tubuh yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu. Terutama bentuk tubuhnya yang tinggi semampai dan lekuk tubuhnya yang begitu aduhai.

Nada semakin berkeringat membuat wajahnya terlihat semakin menggairahkan. Bibir ustadzah berbadan body goals itu sedikit membuka ketika menghembuskan nafas yang baru saja ia hirup. Tubuhnya terasa semakin enteng setelah beberapa menit melakukan senam aerobik bersama semua orang yang ada disini.

Di sela-sela pergerakan tubuhnya. Sesekali ia melihat ke arah jam tangan untuk memeriksa waktu sekarang. Tak terasa, sebentar lagi sudah hampir pukul setengah lima sore. Ia pun berencana untuk menghentikan senamnya pada pukul 16.30 tepat kendati masih ada waktu 15 menit lagi sebelum senam benar-benar berakhir di sore ini.

"Hahh... Afwan yah... Ustadzah pamit dulu" Kata Nada pada beberapa santriwati yang ada di sekitarnya.

"Iya ustadzah... Minggu depan ikut lagi yah ?" Kata salah satu dari santriwati itu.

"Hihihi naam ukhty" Kata Nada sambil tersenyum ketika menyetujui ajakannya itu.

Dengan keadaan yang masih terengah-engah. Nada pun keluar dari barisan untuk kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan makan malam bagi suami tercintanya. Suami tercinta yah ? Nada agak ragu ketika memikirkan kalimat itu. Entah, apakah dirinya masih mencintai sosok itu lagi atau tidak. Baru beberapa hari yang lalu, dirinya merasa dikecewakan oleh permintaan lain yang diucapkan oleh suaminya. Ia pun merasa tertipu oleh kepolosan lelaki itu ketika sebelum dinikahi olehnya.

Apa mungkin sikap mas Rendy emang benar seperti ini yah ?

Batin Nada memikirkan bagaimana sih, sikap Rendy yang sebenarnya ? Apa memang Rendy itu orangnya seperti ini ? Orang yang memiliki kelainan aneh dalam melampiaskan hasrat seksualnya ? Atau jangan-jangan ada seseorang yang telah meracuni pikiran Rendy hingga membuatnya jadi rusak seperti ini ? Atau jangan-jangan Rendy dipaksa oleh seseorang untuk melakukan semua ini ?

Sebagai seorang wanita. Feelingnya berkata kalau ada seseorang yang telah mempengaruhi pikirannya. Ia sangat yakin dengan sikap polos yang dimiliki oleh suaminya sebelum menikahinya. Ia sangat yakin kalau alasan Rendy ingin menikahinya karena alasan cinta yang dimiliki olehnya untuk dirinya. Ia pun sangat merasakan ketulusan cinta dari suaminya pada waktu itu. Ia merasa kalau Rendy saat ini sedang sakit. Pikirannya sedang sakit. Cara berfikirnya sedang sakit. Sebagai seorang istri, ia harus bisa menemaninya dan memberikannya pengobatan agar keadaan suaminya bisa kembali seperti semula. Tapi bagaimana caranya ?

Ustadzah berbadan body goals itu terus merenung dalam perjalanan pulangnya menuju rumah.

Tak terasa, ia sudah tiba di depan halaman rumahnya. Terlihat disana, hanya ada satu pasang sandal yang terparkir di depan rumahnya. Nada pun berfikir sejenak, apa suaminya sedang berada di rumah ?

Dicopotnya sandal yang bidadari itu kenakan. Ia pun memasukannya ke dalam rak yang ada di sebelah pintu masuk. Kembali, Nada melihat ke arah sandal yang terparkir di depan teras rumahnya.

"Ceroboh banget sih mas Rendy, masa naruh sandal disini" Kata Nada sambil memungut sandal itu kemudian menaruhnya di rak sepatu rumahnya.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"Assalamu'alaikum" Sapa Nada sambil membuka pintu rumahnya. Saat kepalanya sudah melongok ke dalam. Ia heran kok gak ada suara yang menjawab salamnya yah ? Apa mungkin suaminya sedang berada di dapur ? Atau malah di dalam kamar mandi ?

Tubuh bidadari itu benar-benar berkeringat yang membuatnya merasa gerah sehingga ingin segera mandi untuk menyegarkan diri. Kaki rampingnya pun melangkah menuju tempat jemuran yang ada di halaman belakang rumah. Saat ia melewati kamar mandi, terdengarlah bunyi cipratan air yang berasal dari dalam.

"Hufftt pantes tadi gak ngejawab... Lagi di kamar mandi ternyata" Kata Nada dengan lirih.

Saat ia membuka pintu belakang rumahnya. Terasa angin berhembus yang menyegarkan dirinya. Hijab pashmina yang dikenakannya pun berkibar. Nampak sedikit lehernya terlihat dari celah hijab yang telah di peniti oleh bidadari itu.

Ia segera mengambil handuk berwarna merah mudanya. Ia berjalan sejenak untuk mengecek jemuran yang baru saja ia cuci di pagi hari.

"Nanti aja ah, habis mandi ngambilnya" Kata bidadari cantik tersebut.

Ia pun kembali memasuki rumahnya dan menyadari kalau suaminya masih berada di dalam kamar mandi. Nada agak curiga dengan kegiatan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya di dalam.

Tokk... Tokkk... Tokkk....

"Mas jangan lama-lama yah... Adek mau mandi" Kata Nada mengetuk pintu kamar mandi rumahnya. Nada diam menanti di depan pintu kamar mandi itu, tapi kok gak ada suara yang menjawabnya yah ? Padahal minimal kan tinggal bilang 'ya' untuk mengkonfirmasi kalau suaminya mendengar apa yang sudah ia ucapkan.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"Masss.... " Panggil Nada dengan manja.

Lagi-lagi, tak ada jawaban yang diberikan oleh sosok yang berada di dalam kamar mandi itu. Karena terlalu lama menunggu, Nada pun memutuskan untuk pergi ke dalam kamarnya untuk melepas pakaiannya yang semakin basah akibat keringat yang terus mengucur deras. Rencananya, ia ingin mengenakan handuk saja saat berjalan dari kamarnya menuju kamar mandi.

"Dasar lama banget sih Mas Rendy nih" Kata Nada berjalan dengan sebal.

Sesampainya di dalam kamar. Nada terlebih dahulu melepas hijab yang dikenakan olehnya. Ia pun menaruhnya ke dalam ember kosong berisi baju-baju kotor. Nampak rambutnya yang terikat ia gerai sehingga rambut itu menutupi punggung mulusnya. Lalu, giliran kaus berlengan panjangnya yang ia loloskan melewati kepala kecilnya. Nampak bra ketat berukuran 34C itu menghimpit kedua payudaranya yang besar sekaligus kenyal. Karena sesak, Nada langsung melepas bra itu kemudian menaruhnya bersama kaus berlengan panjangnya ke dalam ember tadi.

Dikala ia sedang topless di dalam kamarnya, Nada terlihat semakin menggairahkan dengan tubuh padat juga kulit kencang yang ada pada dirinya. Apalagi butir-butir keringat itu masih menetes keluar sehingga tubuh Nada terlihat begitu berkilau. Putingnya yang berwarna merah muda, kulit putih mulusnya yang begitu menggoda serta bulatnya payudara yang melekat di dada. Siapa lagi bidadari indah satu ini kalau bukan ustadzah Nada ?

Ustadzah berbadan body goals itu mulai memelorotkan celananya. Nampak paha kencangnya yang begitu besar juga celana dalamnya yang berwarna putih mulai memperlihatkan keindahannya. Ketika Nada tinggal mengenakan celana dalamnya saja, ia terlihat begitu erotis. Ditambah perpaduan wajahnya yang begitu manis. Begitupula dadanya yang naik turun kembang-kempis.

Nikmat mana yang kamu dustakan ketika memiliki tubuh yang indah semampai seperti ini ? Kenapa tubuh yang seindah ini malah tidak dijaga oleh sang suami ? Kenapa suaminya malah membiarkan tubuh seindah ini dipakai oleh orang asing seperti Pak Heri ?

Nada kembali kepikiran tapi ia mencoba untuk melupakan. Rasanya ia semakin lelah ketika terpikirkan hal itu lagi. Ia pun memelorotkan garis pertahanan terakhirnya hingga ia kini sudah bertelanjang bulat tanpa ada satupun pakaian yang menghalangi.

Ia pun berjalan tanpa sehelai benang pun menuju ranjang dalam keadaan telanjang. Diambilnya handuk berwarna merah muda itu yang sudah ia jembrengkan sebelumnya diatas sprei ranjangnya. Dengan gemulai jemari itu mengambilnya, kemudian mulai melilitkannya ke arah tubuh polosnya.

Saat itulah terdengar suara pintu yang terbuka ketika Nada sedang memunggunginya. Nada tidak menoleh, ia bahkan terlihat tenang kendati dirinya sudah tidak mengenakan apa-apa dibalik handuk yang semakin melilit keindahan tubuhnya.

"Lama amat sih mas mandinya... Adek udah gerah tau nungguinnya dari tadi" Kata Nada sambil menolehkan wajahnya ke belakang.

Saat wajah indahnya sudah menoleh, alangkah terkejutnya ia ketika yang ia lihat bukanlah suaminya melainkan orang asing yang sudah lama ingin ia hindari.

"Ppaakk... Heri ?" Kata Nada buru-buru menutupi tubuhnya ketika lilitan handuknya belum ia kencangkan. Tubuh Nada sudah menghadap ke arah pria tua bertubuh tambun dengan kepala plontos yang menyisakan sedikit rambutnya. Pria tua itu tersenyum ketika melihat wanita muda yang sudah bersuami namun hanya mengenakan handuknya saja di dalam satu ruangan yang sama dengannya. Pria tua itu pun menjilati tepi bibirnya sendiri. Ditatapnya tubuh berkeringat Nada yang begitu menggairahkan. Seketika penisnya mulai mengeras kendati ia masih mengenakan pakaian lengkap berupa seragam kantornya juga celana kainnya yang membungkus kaki gemuknya.

"Wakakaka... Selamat sore ustadzah" Sapa pak Heri sambil tersenyum melihat hidangan lezat yang ada di hadapannya.

Nada semakin panik menatap raut wajah yang dipenuhi oleh kemesuman itu. Karena banyak bergerak, handuk yang melilit tubuhnya itu pun terlepas sehingga tubuh bagian belakangnya terbuka. Andai tangannya tidak memegangi handuk yang menutupi sisi bagian depan tubuhnya, pastilah keseluruhan tubuh Nada sudah terbuka di hadapan pria tua pengantar paket tersebut.

"Appaa yangg bapakk lakukan disini ? Mana mas Rendy ?" Kata Nada terkejut melihat ada pak Heri tiba-tiba di dalam rumahnya.

"Wakakaka entahlah... Orang saya tadi lagi bertamu kok, eh kebetulan perut saya mules... Saat itulah pak Ustadz bilang ke saya kalau ada urusan sebentar di luar rumah... Kebetulan juga ada suara ustadzah yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi tadi... Saat itulah saya tersenyum kalau tau ada ustadzah di dalam rumah ini" Kata Pak Heri menjelaskan alasannya kemari sambil tersenyum dihadapan ustadzah cantik ini.

Jjaaadii... Sendal tadi, orang yang di kamar mandi tadi ? Itu pak Heri ?

Batin Nada baru menyadari.

"Lalu ada urusan apa bapak masuk kamar aku ? Ini kamar aku pak... Ini kamar privasiku" Kata Nada semakin gugup melihat pak Heri malah tersenyum sambil mendekati dirinya.

"Wakakaka kamar ustadzah memang privasinya ustadzah... Tapi tubuh ustadzah bukan privasi bagi saya lagi... Saya kan udah pernah ngapa-ngapain dengan tubuh indah itu" Kata pak Heri semakin mendekat.

Tak sadar rupanya punggung mulus dari bidadari itu sudah menempel ke dinding setelah dari tadi, dirinya hanya mampu mundur untuk menghindari pergerakannya.

"Aahhhhhh" Jerit Nada saat pak Heri dengan sigap menarik handuknya sehingga tubuh aduhainya mulai terlihat di hadapan pria tua itu.

"Wakakakak baru kali ini saya ngeliat tubuh montok ustadzah tanpa ada satupun pakaian yang menghalangi... Mantap juga yah sekarang... Makin mantap setelah saya setubuhi wakakaka" Kata pak Heri mengomentari keindahan tubuh ustadzah itu.

"Hentikan pak... Jangan liat !!! Jangan liat aku !!" Kata Nada merasa malu sambil menutupi sekujur tubuhnya menggunakan tangan seadanya.

"Wakakakak ngapain harus ditutupi sih ustadzah... Orang saya aja udah pernah lihat kok" Kata pak Heri semakin gemas ketika ustadzah itu terus berusaha untuk menutupi kemantapan tubuhnya.

Tangan kanan pak Heri sudah merangkul punggung mulusnya. Tangan kirinya pun menarik tangan kanan Nada hingga salah satu payudaranya terlihat. Ditatapnya wajah Nada dengan jarak yang begitu dekat. Pria tua itu tersenyum. Ia menatap wajah cantik itu yang begitu ketakutan andai dirinya dinodai lagi oleh penis tak bersunatnya.

"Wakakaka... Ustadzah makin cantik aja sekarang... Kulit ustadzah juga semakin mulus... Gimana saya bisa melupakan ustadzah kalau ustadzah sendiri aja makin menggoda kaya gini" Pujinya sambil menatap mata Nada dengan tatapan tajam.

Wajah Nada dimundurkan ketika wajah pak Heri semakin dekat. Ia begitu jijik oleh kejelekan yang ada pada wajahnya. Aroma nafasnya yang tak sedap pun mengganggu dirinya. Apalagi bau bapak-bapak yang melekat pada seragam kerjanya.

"Jangan dekat-dekat pakkk... Pergiii... Pergiiii" Kata Nada sambil mendorong tubuh tambun itu dengan tangan kanannya. Tubuhnya beberapa kali ia gerakan untuk menyingkirkan tangan nakal pak Heri yang terus mengelus punggungnya. Bahkan kali ini bokongnya sudah diremas-remas yang membuat tangan kiri Nada bergerak untuk menjauhkan tangan nakal itu dari tubuhnya.

Namun akibatnya kedua payudara Nada tidak ada yang menjaga. Kedua payudara montok itu sudah terbebas tanpa ada satupun yang menutupi. Mata pak Heri pun teralihkan oleh keindahan itu. Tangan kirinya pun membelai payudara kanan Nada dengan lembut. Terasa kekenyalannya yang sempurna bagai sebuah jeli yang telah dimasak matang. Apalagi ukurannya juga besar membuat pria tua itu semakin bernafsu untuk menyetubuhi bidadari berbadan body goals itu lagi nanti.

"Jangannn... Jangannn pakkk... Jangannn pegang-peganggg" Kata Nada merasa tak nyaman dengan belaian tangan pak Heri di payudara kanannya.

"Ouhhh ustadzahhh... Makin gede aja nih... Wakakaka pasti gara-gara sering saya remes yahhh" Kata pak Heri semakin memperkeras remasannya karena terlalu gemas.

"Ouhhh... Ouhhhh... Mmphhh... Mmphhh pakkk... Jangannn" Desah Nada sesekali sambil menjauhkan tangan nakal itu yang semakin keras meremasi payudaranya.

"Wakakaka ustadzahhh... Kalau mendesah kok bikin saya merinding yah ? Makin gak sabar kan saya jadinya" Kata pak Heri semakin gemas dalam membelai keseluruhan tubuh dari bidadari itu.

Tangan kanannya meremas bongkahan pantatnya. Tangan kirinya meremas payudara kanan Nada yang memerah. Nampaknya Pak Heri terlalu bernafsu hingga remasannya telah merubah warna payudara ustadzah itu.

"Pakkk... Jangannn pakkk... Aku mohonnn... Jangan lagiii... Mmpphhhh" Kali ini Nada mendesah lebih keras sambil memejamkan mata karena tak kuat.

"Ouhhh puasnyaaahhhh" Desah pak Heri saat menguatkan remasannya di payudara kenyal ustadzah itu.

Setelah puas melakukan pemanasan pada tubuh indah Nada. Pak Heri langsung mendorong tubuh polos itu hingga terbaring terlentang diatas ranjang pribadinya.

"Aaahhhhh" Jerit Nada saat tubuhnya sudah berbaring diatas sprei lembut ranjangnya.

"Wakakakaka... Indah sekali tubuh indahmu ustadzah" Kata pak Heri sambil menjilati bibirnya sendiri. Mata pak Heri semakin binar mendapati sang korban telah terbaring pasrah. Satu demi satu kancing kemejanya ia lepas. Tak lama kemudian celananya menyusul, kini pria tua itu pun sudah telanjang bulat mengikuti ustadzah berbadan body goals itu.

“Wakakakakak” Sambil tertawa, tubuh gempal dari pria pengantar paket itu langsung menindihi tubuh ramping dari ustadzah cantik itu.

“Mmppphhhhhh” desah Nada merasakan tubuhnya terhimpit oleh tubuh pak Heri.

Mata pak Heri menatap keindahan wajah Nada dengan jarak yang sangat dekat. Jemari tangannya pun gemas hingga langsung membelai payudara ranum dari bidadari indah itu. Penisnya yang semakin mengeras menggesek kulit mulus dari bidadari itu. Pak Heri pun merasakan sensasi tersendiri yang membuatnya semakin terangsang ketika dihadapkan pada kondisi tubuh ustadzah Nada yang sudah telanjang.

“Mmpphhhh... Mmmppphhhhh... Jangannn pakkk... Jangannnnn” desah Nada sambil mendorong tubuh gempal itu menjauh darinya. Berulangkali Nada menjauhkan wajahnya agar tidak didekati oleh wajah buruk rupa itu lagi. Namun penolakan yang Nada berikan ditambah dengan suara lenguhan yang terucap dari bibir manisnya membuat pak Heri semakin bernafsu untuk melakukan hal yang lebih pada bidadari cantik itu.

“Beruntung banget saya bisa menikmati tubuh indahmu, ustadzah... Mimpi apa saya waktu itu bisa membuat pak ustadz mengizinkan saya untuk menikmati tubuh ustadzah” kata pak Heri sambil memandangi wajah cantiknya sambil meremasi benda bulat kenyal yang semakin menggairahkan.

“Mmmppphhhh... Mmmpphhh... Hentikannn... Henntikkannnn” desah Nada terus menolak gerakan tangan pak Heri yang semakin keras dalam memainkan payudaranya. Seketika ia terpikirkan sesuatu ketika mendengar omongan yang baru saja pria tua itu katakan.

Bisa membuat mas Rendy mengizinkan orang ini ? Apa mungkin, orang ini lah penyebab mas Rendy jadi rusak seperti ini ? Sudah kuduga gak mungkin mas Rendy yang tiba-tiba mencari orang lain untuk memuaskan fantasi anehnya... Pasti ada orang yang telah mempengaruhi pikirannya.

Batin Nada menyadari penyebab dari keanehan suaminya belakangan ini.

“Wakakakak... Ustadzah ngapain lihat saya kaya gitu... Ustadzah udah kangen ciuman saya yah ?” kata Pak Heri tertawa ketika Nada menatapnya dengan tatapan penuh kebencian ketika membatin soal penyebab suaminya tadi.

“Hentikannnn... Lepaskan aku pak ! Gak usah merusak rumah tangga yang baru aku bangun dengan mas Rendy !” kata Nada mengumpulkan tenaganya hingga kedua tangannya mampu mendorong tubuh pak Heri menjauh.

Pak Heri terkejut. Tapi ia hanya tersenyum menyadari Nada semakin berontak ketika hendak dieksekusi olehnya.

“Wakakakak... Apa maksudmu ustadzah... Hiyyahh” kata pak Heri ketika kedua tangannya masing-masing memegangi pergelangan tangan Nada. Kemudian dengan sekuat tenaga, pria tua itu merentangkan kedua tangan Nada ke kiri juga ke kanan sehingga Nada semakin terlihat pasrah di bawah sana.

“Aahhhhhhhh... Lepaskannn.... Lepasskannnn” kata Nada berusaha berontak sambil menggelengkan kepalanya.

“Wakakakakak udah cantik, manis, alim & gak gampangan lagi... Ustadzah itu kesukaan saya loh” kata pak Heri sambil menatapi wajah indah Nada kemudian turun ke payudaranya.

Matanya meng-scan keindahan tubuh dari bidadari itu. Lidahnya pun keluar untuk menjilati tepi bibirnya yang kering. Tubuh Nada semakin indah di sore hari itu. Keringat yang masih melekat di tubuh indahnya memberikan sensasi berlebih pada pria tua berusia lima puluh tahunan tersebut.

“Saya makin gak sabar nih ustadzah... Wakakakak... Mmmpphhhhhh” desah Pak Heri sambil menurunkan kepalanya tuk mencumbu bibir dari ustadzah manis itu.

“Mmpphhhhhhh” Nada pun ikut melenguh ketika bibirnya yang manis itu di dorong oleh pak Heri dengan penuh nafsu.

Pak Heri telah membuka mulutnya lebar-lebar. Ia mencaplok bibir tipis itu untuk memuaskan hasrat birahi yang sudah lama ia pendam. Lidahnya pun ikut keluar dengan menjilati bibir atas dari ustadzah cantik itu. Birahinya yang sudah amat tinggi membuat pria tua itu semakin liar ketika mencumbui bibir tipis Nada. Ia pun berpindah dengan mencumbui bibir bagian bawah Nada. Bibirnya menjepit bibir bawah Nada. Lidahnya keluar tuk membasahi tepi bibir itu. Lidah itu pun menjilati bibir tipis Nada sambil sesekali mendorongnya agar bisa memasuki rongga mulutnya.

“Ouhhhhhh ustadzah... Mmpphhhh... Mmmppphhhh” desah Pak Heri puas.

“Mmppphhh... Mmpphhh... Mmpphhhhh” desah Nada tertahan.

Berulang kali Nada berusaha melepaskan diri dari dekapan nafsu pria tua itu yang semakin beringas dalam mencumbui bibirnya. Nada terus saja menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya yang sedang ditahan terus bergerak dengan harapan bisa terlepas dari cengkramannya. Namun semua usahanya jadi percuma karena nafsu pak Heri sudah sangat besar hingga tak akan membiarkan mangsanya terlepas begitu saja.

Saat pertahanan Nada jebol hingga mulut bidadari itu agak sedikit membuka. Lidah pak Heri bergegas masuk sambil menjilati rongga mulutnya. Saat lidah mereka bertemu. Lidah pak Heri langsung melilit lidah bidadari itu. Lidahnya juga ikut menggesek lidah bidadari itu. Lidahnya pun menubruk lidah dari bidadari manis itu. Ketika nafsu semakin berkuasa, lidah pak Heri menekan lidah Nada ke bawah. Bibirnya pun tak tinggal diam dengan mendorong bibir Nada dengan kuat, hingga kepala dari bidadari itu semakin terbenam ke arah ranjang kasur yang menjadi saksi bisu percumbuan panas mereka di sore hari ini.

Cuupppppp !!!

“Mmpphh ustadzah... Mmpphhh... Mmmpphhhh nikmat sekali bibirmu ini” desah Pak Heri.

“Mmmpphhh ahhhhh... Mmpphhhh ahhhhhh” Nada hanya bisa mendesah tiap kali bibir pak Heri semakin bernafsu dalam memainkan bibir tipisnya.

Suara desahan mereka membahana. Ruang kamar ini telah penuh oleh suara desahan juga lenguhan dari mereka berdua. Gairah birahi mereka terus menggelora. Terutama dari pak Heri yang tidak tahan ketika melihat tubuh ustadzah Nada yang sudah telanjang bulat. Rasanya ia ingin segera membenamkan penisnya, menjilati kulit mulusnya, kemudian mencumbu bibirnya sambil meremasi payudara itu dengan sangat puas.

“Mmmpphhhh... Mmuuahhhh” desah Pak Heri dengan gemas. Ia pun melepaskan cumbuannya sambil menatap wajah indah Nada. Nampak mata dari bidadari itu sembap ketika menyadari dirinya sedang diperkosa oleh pria tua itu lagi.

Ketika mata mereka bertemu. Nada pun mengalihkan pandangannya ke samping. Ia sangat benci melihat wajah pria tua itu lagi. Apalagi wajahnya sedang tersenyum seolah pria itu tidak mempunyai penyesalan karena sudah melakukan hal yang tidak-tidak pada tubuh indahnya.

“Wakakaka... Kenapa ustadzah... Senyum dong... Mana suara ustadzah yang minta dimasuki oleh kontol saya lagi” kata Pak Heri mengungkit kejadian itu ketika Nada telah dicekoki obat perangsang.

“Jangan ungkit masalah itu lagi pak !” kata Nada dengan kesal sambil memalingkan wajahnya yang memerah.

“Wakakakak... Tolloonnggg pakkk... Puasi aku... Puasi aku pakkkk... Aku gak tahan lagiiii” kata pak Heri menirukan suara Nada yang membuat bidadari itu memerah.

“Bapaakkkk !!!!” kata Nada semakin kesal hingga membuat wajahnya semakin memerah.

“Wakakakakak... Akan saya buat ustadzah mengemis kenikmatan lagi dari saya di sore ini” kata Pak Heri sambil melepas cengkramannya hingga kedua tangan Nada terbebas.

Seketika pak Heri berjalan menjauh menuju celananya untuk merogoh saku celananya. Nada pun terdiam dalam keadaan bingung. Kepalanya ia angkat untuk melihat rencana apa lagi yang ingin dilakukan oleh pria tua itu kepadanya. Nampak Pak Heri seperti membuka sesuatu. Ia seperti sedang menenggak sesuatu. Tiba-tiba pria bertubuh tambun dengan perut buncit yang sangat maju itu kembali mendekati dirinya. Nada pun gugup hingga membuatnya berniat untuk kabur sebelum diapa-apakan lagi oleh pria tua itu.

“Aahhhhhhhh” desah Nada terlambat hingga kedua tangannya kembali dicengkram erat.

“Mmmppppphhhhh”

Kembali bibir pria tua itu menyosor bibir tipis Nada. Bibir mereka kembali bertemu untuk memuaskan nafsu yang tadi sempat tertunda. Namun ada yang aneh dari cumbuannya kali ini, terutama Nada yang merasakannya. Nada merasa kalau lidahnya seperti tertimpa serbuk tiap kali pria tua itu mencumbunya. Tak sengaja Nada menelannya. Pergerakan tangan pak Heri yang mulai berpindah dengan meremasi bola bulat kenyalnya membuat ustadzah yang sudah telanjang itu merinding hebat. Darahnya berdesir. Matanya pun memejam dalam nafsu yang menggetarkan dirinya.

“Mmmpppphhhhhhh” desah Nada tertahan.

Kedua tangan pak Heri mencengkram kuat-kuat benda kenyal mirip jeli itu. Jemarinya sudah berada di puncak berwarna kemerahmudaan itu. Dibelainya dengan lembut keindahan bukit kembarnya. Digeseknya dengan perlahan puting bewarna merah mudanya. Pak Heri cenderung lembut dalam menikmati kemulusan yang ada pada keindahan payudara itu.

Tak diduga, nafsu mulai menguasai tubuh Nada dengan cepat. Nada terheran kenapa tiba-tiba dirinya langsung terangsang seperti ini. Ia bingung karena tubuhnya mulai merespon remasan tangan pria tua itu dengan perasaan nikmat.

“Aahhhhhhhhhh”

Dikala jemari Pak Heri menggelitiki puting indahnya. Tubuh Nada meresponnya dengan lenguhan manja yang membuat birahi pak Heri semakin meninggi. Dikala tangan pak Heri meremas pelan payudara ranum itu. Tubuh Nada meresponnya dengan memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya tuk menahan kenikmatan yang ia dapatkan. Raut wajah Nada yang sedang sangek itu membuat birahi pak Heri semakin tak terkendali.

Ggglleeekkk !!!

Pak Heri pun menenggak sisa serbuk yang ada di mulutnya sebelum dirinya memulai untuk menyetubuhi bidadari itu.

Jadi begini yah rasanya.

Batin pak Heri merasakan reaksi cepat yang ada pada tubuhnya setelah menenggak sisa serbuk yang ia masukan ke dalam mulutnya. Nafas Pak Heri tiba-tiba terasa berat. Tubuhnya terasa gerah hingga keringat mulai keluar membanjiri tubuhnya. Ia pun merasa kalau ujung gundulnya mudah sekali terangsang tiap kali menyentuh sesuatu.

Nafsu mereka berdua yang tiba-tiba semakin meninggi membuat pak Heri kembali menurukan wajahnya tuk mencumbui bibir itu lagi.

“Mmmppphhhhh” desah mereka berdua tertahan.

Saat bibir mereka kembali bertemu, pak Heri langsung mendorongnya tuk meresapi kenikmatan yang ia dapatkan. Tangan kiri pak Heri membelai kulit mulus sang bidadari. Sementara tangan kanannya, masih meremasi payudara kiri Nada yang semakin bulat sempurna.

Bibir mereka bersatu. Mata mereka memejam. Nada melenguh saat menahan nafsu buas pak Heri yang semakin menghujam. Deru nafas Nada membuat pak Heri semakin tergoda. Mulut pak Heri membuka tuk mencaplok bibir bagian atas Nada. Lidahnya pun keluar tuk menjilati tepi bibir Nada yang semakin kering. Lidahnya memasuki rongga mulut Nada. Lidahnya menjelajah tiap sisi tuk menikmati sensasi kepuasan yang tidak ada duanya.

Kembali, lidah mereka saling bertemu. Awalnya ujung dari lidah mereka saling bertubrukan. Kemudian berubah menjadi saling bergesekan. Lidah itu saling berperang. Mereka sama-sama ingin menang. Kadang lidah Nada yang mendorong lidah pak Heri begitupula sebaliknya. Lidah mereka terus dorong mendorong. Lidah mereka semakin bergairah. Percumbuan mereka semakin panas ketika diri Nada mulai aktif dalam mengikuti permainan pak Heri yang terus merangsang dirinya.

“Mmmpppphhhh... Mmppphhhhh... Sllrrpppp... Aahhhhhhhh” desah Nada menikmati percumbuan ini. Nada terkesan aktif saat melakukan percumbuan kembali dengan pria tua itu. Nada pun mulai heran. Apa yang sebenarnya sedang terjadi ? Kenapa tubuhnya menjadi sepanas ini ? Kenapa dirinya malah menikmati perbuatan yang tercela ini ? Ciuman pria tua ini, cumbuan pria tambun ini, bahkan belaian dari pria buruk rupa ini ! Tubuh Nada malah semakin bergairah. Nada semakin menikmati setiap perbuatan yang dilakukan oleh pria tua ini padanya.

Payudara Nada terus di remas. Pak Heri meremasnya dengan begitu gemas. Begitupula kulit mulusnya yang sedang dibelai oleh pria tua itu. Tubuh Nada semakin merinding. Nada semakin bergairah ketika tangan-tangan nakal pak Heri terus merangsang birahi Nada yang sudah dalam keadaan telanjang.

Seiring berjalannya waktu, penolakan yang tadi ia lakukan di awal sudah menghilang. Rasa penolakan itu mulai berubah menjadi rasa malu-malu ketika tubuh indahnya dinikmati begitu saja oleh pria tua itu. Walau seperti itu, bukan berarti Nada membiarkan Pak Heri bertindak sesukanya. Ia masih menolak walau penolakannya cenderung lemah bahkan sebenarnya ia sangat ingin membiarkan tangan-tangan nakal itu untuk membelai tubuhnya untuk memacu syahwat birahinya.

“Ouuhhhhh... Mmmpppphhhhh... Mmpphhhhhh” desah Nada dengan begitu manja yang membuat pak Heri tertawa.

“Wakakakak liat kan sekarang ustadzah ? Udah mulai sangek aja nih” ejek pak Heri yang membuat Nada kesal.

Pak Heri sudah menegakan tubuhnya. Ia pun menatap keseluruhan tubuh indah Nada yang sudah tidak tertutupi apa-apa. Wajahnya, lekuk tubuhnya, bulatnya kedua payudaranya juga kencangnya kulit yang dimiliki olehnya. Pak Heri sampai geleng-geleng kepala menatap kesempurnaan tubuhnya. Penis tak bersunatnya yang semakin mengeras mulai ia sentuhkan ke tepi bibir dari kemaluan Nada yang semakin basah.

“Uhhhhhhhhh” desah Nada merinding.

“Menurut ustadzah ? Boleh gak kontol saya masuk ke dalam lubang memekmu lagi ?” kata Pak Heri yang membuat wajah Nada memerah.

“Apa maksud bapak ? Mmppphhh... Jangannn pakk... Uhhhhhh jangannn aku mohonnn” kata Nada setengah menolak setengah mendesah karena penis itu terus saja menggesek tepi bibirnya yang semakin lembap.

“Ah masa ? Ustadzah yakin ?” kata pak Heri sambil memasukan ujung kulupnya dulu yang membuat mata Nada memejam dan kedua tangannya mencengkram kuat sprei ranjangnya.

“Uhhhhhhhhh” desah Nada menahan nikmat. Tiba-tiba pak Heri mencabut penisnya yang membuat Nada seperti merasa kehilangan.

“Boleh gak kontol saya memasuki memek ustadzah lagi ?” kata pak Heri sekali lagi.

“Enggakkk... Aku gakk mau pakkk... Jangann lagiii... Uhhhhhhhhh” desah Nada kali ini hingga tubuhnya terangkat naik saat ujung kulupnya kembali membelah liang senggama Nada. Seketika pak Heri mencabutnya lagi yang membuat Nada kesal birahinya dipermainkan.

Kenapa ? Kenapa tubuhku jadi terangsang seperti ini ?

Batin Nada kesal.

“Gimana ustadzah ?” kali ini pak Heri kembali memasukan ujung kulupnya saja. Habis itu ia tarik kemudian dorong lagi lalu tarik lagi kemudian dorong lagi. Walau baru ujung kulupnya saja yang masuk tapi sudah membuat birahi Nada merasa terpuaskan. Nada semakin kesal oleh perbuatan pria tua itu yang memainkan gairah birahinya. Ia enggan untuk mengakui kebenaran karena sebenarnya ia merasa tergoda oleh sensasi gesekan yang ia terima di dinding vaginanya.

“Uhhhhhhhhhhh” desah Nada memejam saat satu per empat dari penis tak bersunat itu mulai masuk. Kemudian pria tua itu mendorong pinggulnya lebih dalam lagi sehingga setengah dari penis tak bersunatnya mulai memasuki liang kenikmatan duniawinya. Seketika pak Heri menariknya lagi yang membuat Nada merasakan kekosongan disana.

“Pakkkkk” kata Nada keceplosan karena saking kesalnya.

“Ada apa ustadzah ? Wakakakak” kata pak Heri tertawa yang membuat Nada semakin benci pada pria tua ini.

Kenapa sih tubuh aku ini ? Kenapa aku jadi kaya gini lagi !!!

Batin Nada belum memahami penyebabnya.

Jleebbbbbbbb !!!

“Uhhhhhhhh” desah Nada terkejut ketika penis itu tiba-tiba kembali masuk ke dalam rongga vaginanya. Nada merasa tidak siap. Matanya pun memejam kuat sedangkan mulutnya terbuka lebar. Seketika pak Heri kembali menariknya yang membuat Nada semakin kesal.

“Wakakaka ada apa ustadzah ? Kok kaya kesel gitu mukanya” ejek pak Heri dalam memainkan birahi bidadari satu ini.

“Gak ada” kata Nada merasa kesal namun enggan untuk jujur kepadanya.

“Wakakakak ustadzah mau merasakan ini lagi yah ?” kata pak Heri kembali memasukan penisnya hingga membuat mulut Nada kembali membuka lebar.

“Ouuhhhhhhhh” desahnya dengan manja.

Namun lagi-lagi pak Heri menariknya yang membuat Nada merasa sebal sudah dikerjai sedari tadi olehnya.

“Coba jujur... Ustadzah mau saya masuki lagi kan ?” kata pak Heri menggoda birahi Nada yang sudah amat terangsang.

Nada pun berpikir sejenak. Ia merasa ragu untuk mengakui tubuhnya yang sudah amat terangsang sedari tadi. Ia berulang kali membatin untuk menolak serangan birahi ini. Namun rasa gatal yang ia terima di vaginanya membuat ustadzah cantik itu merasa perlu untuk mengakui kebenarannya.

“Hennkkghhhh !” desah pak Heri tiba-tiba langsung memasukan setengah dari penisnya tanpa menunggu jawaban dari Nada.

“Uhhhhh bapakkkkk” desah Nada dengan manja.

Seketika Pak Heri kembali menariknya kemudian menusuknya lagi kemudian menariknya lagi kemudian menusuknya dengan satu tusukan mantap hingga mentok ke dalam.

“Uhhhhhhhhhhhh” desah Nada hingga tubuhnya kembali terangkat.

“Hah... Hah... Hah...” Nada terengah-engah ketika penis pak Heri sudah menancap seluruhnya di dalam. Namun lagi-lagi pak Heri menariknya, hingga perlahan ruang di rongga vaginanya semakin hampa. Tak sadar Nada menggelengkan wajahnya sambil menatap wajah dari pria tua itu.

“Wakakakakak... Kenapa ustadzah ? Bilang dong ada apa” kata pak Heri yang sejatinya juga sudah terangsang akibat obat perangsang yang juga ia tenggak. Namun ia ingin mendengar permohonan dari Nada terlebih dahulu sebelum menyetubuhi keindahan tubuhnya dengan mantap.

“Akuu... Uhhhhhhh” kembali Nada menerima gesekan untuk mempermudah dirinya tuk mengakui rasa nikmat yang ia dapatkan sekarang.

“Ustadzah mau saya kontolin lagi memeknya ?” kata Pak Heri membantu ustadzah itu agar tidak terlalu malu saat mengakuinya.

“He-em” kata Nada mengangguk lemah yang membuat pak Heri tertawa.

“Wakakak kalau gitu bilang dong” kata pak Heri terus memancing ustadzah itu.

“Ahhhhhhhh... Bilang apa pak ?” kata Nada saat menerima satu tusukan lainnya sebelum pak Heri kembali menaiknya.

“Bilang kaya kemarin kalau ustadzah membutuhkan keperkasaan kontol saya” kata Pak Heri yang membuat birahi Nada bergetar. Sebagai akhwat alim yang selalu menjaga dirinya. Tentu, mengucapkan kalimat kotor seperti itu bukanlah hal yang mudah baginya. Namun hanya dengan mendengarnya saja sudah membuat dirinya merasa kotor. Ia merasa bergairah. Mulutnya pun sedikit membuka ketika hendak mengucapkan permohonan itu lagi.

Jleebbbb !!!

“Aahhhhh... Akuuu Uhhhhh” desah Nada saat satu tusukan pak Heri kembali masuk menggesek dinding vaginanya.

“Iya ustadzah ? Ada apa ? Wakakakkaka” kata pak Heri tertawa saat menarik penisnya lagi.

“Toll.. Toloongg pakkk... ahhhhhhhh” kata Nada malu-malu saat merasakan kembali tusukan penuh menggairahkan dari penis tak bersunat itu.

“Iya, tolong apa ustadzah sayang ?” kata pak Heri kembali menariknya yang membuat Nada tidak tahan lagi.

“Tolonggg mmpphhhhhh... Puasiiii akuuuu” katanya dengan lirih sambil merasakan gesekan pelan yang mulai kembali memasuki liang vaginanya.

“Ohhh minta dipuasi ? Pake apa sayang ?” kata pak Heri yang membuat Nada semakin kesal karena pak Heri menanyakan hal yang sudah jelas.

“Aaahhhhhhh... Konnnt... Konttoll bapakkkk” kata Nada malu-malu hingga wajahnya memerah. Kembali tusukan yang ia terima semakin merangsang syahwat birahinya.

“Ohhh gitu ngomong yang jelas dong jangan dipisah-pisah gitu, ustadzah wakakkaka” kata pak Heri terus merangsang birahi Nada yang membuat ustadzah itu tidak tahan lagi.

“Buruannn pakk... Puasii akuu... Puasi aku pakkk... Aku gak kuat laggg... Ahhhhhhh” desah Nada saat kembali ditusuk menggunakan penis berwarna hitam itu.

“Hennkkgghhh mantappppp !” desah pak Heri namun kemudian ia mulai mencabutnya lagi. Merasa kalau pak Heri terus menerus mencabut penisnya membuat diri Nada merasa gelisah.

“Teruss pakkk... Jangan berhenti... Aku mau lagii... Ahhhhhhh” desah Nada saat merasakan tusukannya lagi.

Iseng pak Heri kembali menariknya keluar agar Nada terus memohon pada dirinya. Pak Heri pun tersenyum melihat raut wajah Nada yang semakin resah menerima rangsangan darinya.

“Pakkk jangan dilepas pakk... Aku mau lagiii... Akuuu mauuuu uhhhhhhhhh” desah Nada merasakan tusukan itu.

“Wakakakak... Kalau mau ngerasain kontol saya... Ustadzah harus jujur dengan diri sendiri... Kalau ustadzah mau ya jangan ditahan... Terus ucapkan kalau ustadzah menginginkan kontol saya” kata pak Heri mulai menariknya kembali.

“Aaahhhh jangan ditarik pakkk... Puasi aku... Uhhhh... Puasi aku dengan konttooll bapakkk... Iyyahhh... Terus pakkk... Aku mau kontolll bapakk.... Puasi aku dengan kontol bapakkkk tolongg pakkk.... Ouhhhhhh...” desah Nada tak peduli lagi dengan harga dirinya karena ia sudah sangat terangsang.

“Nah begitu dong... Henkkghhhhh” desah pak Heri sambil mencengkram kuat pinggang ramping dari ustadzah berbadan body goals itu.

“Aahhhhhhhh.... Terus pakkk... Puasi akuuu... Puasi akuuuu” desah Nada yang membuat pak Heri bersemangat.

Penis pak Heri langsung keluar masuk menghujami liang senggama itu. Desahan demi desahan yang keluar dari mulut alim Nada membuat Pak Heri mempercepat tusukan mautnya.

“Aahhhhh... Ahhhhh... iyahhh seperti itu pakkk... Puasi akuuu... Puasi aku dengan kontol bapak yang gede” desah Nada sambil memejam tak sanggup untuk menatap wajah jelek itu.

Nada mendesah dengan nikmat. Ia benar-benar terhanyut oleh kenikmatan yang berasal dari obat terangsang yang diam-diam pak Heri berikan. Nada tak mengira kalau bersetubuh bisa senikmat ini. Apalagi ketika ia melakukannya dengan lelaki lain yang bukan suaminya. Kepasrahan tubuhnya saat disenggamai oleh pak Heri telah memberikan sensasi tersendiri yang membuat Nada ingin terus di genjot olehnya.

“Aahhhh pakkk... Ahhhh terusss... Terus puasi akuuuuuu” desah Nada memohon agar kenikmatan ini tidak dihentikan lagi oleh pria tambun itu.

“Ouhhh ustadzahhh... Ouhhh mantapnyaa.... Saya gak nyangka ustadzah sebinal ini yah” katanya yang membuat wajah Nada memerah. Mendengar kata binal yang disematkan padanya membuat birahi Nada semakin bergetar.

Nada bergairah. Nada sudah sangat ternoda. Hawa nafsunya yang melonjak telah meronta-ronta ingin selalu disetubuhi. Nada membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya telah menutup rapat-rapat. Ia melakukannya untuk menikmati kelezatan yang diberikan oleh pria tak bersunat itu padanya. Ia benar-benar telah melupakan harga dirinya sebagai seorang ustadzah. Sore ini, ia hanyalah wanita pemuas nafsu yang begitu menghamba pada tusukan demi tusukan yang pak Heri berikan padanya.

“Ahhhh... Ahhhhh... teruusss pakkk... terruussss tolonngggg” desah Nada yang semakin menikmatinya.

“Wakakakakak... Nikmat bukan ustadzah ? Nikmat sekali kan rasanya bisa bercinta dengan saya ?” kata pak Heri disela-sela persetubuhannya.

“Ahhhh... Ahhh iyyahhh pakkk... Mmpphhhh ouhhhhhh” jawab Nada tanpa berpikir panjang.

Di sela-sela persetubuhannya itu. Nada kembali membatin terpikirkan nasib dirinya yang begitu ternoda oleh kenikmatan ini. Mulutnya memang mendesah. Tubuhnya memang menikmati. Namun jauh di lubuk hatinya masih tersisa rasa penyesalan akibat perzinahan yang kembali ia lakukan dengan pria tua ini.

Maafin aku mass... Aku gak kuat lagi menahan diri... Maaf mas... Maaf, aku gak bisa menahan diri untuk berzina dengan lelaki ini.

Batinnya saat merasakan vaginanya semakin gatal dan tubuhnya terasa semakin panas. Nada pun heran kenapa dirinya bisa jadi semurah ini tiap kali bersetubuh dengannya. Ia pun penasaran tentang apa yang sudah lelaki ini perbuat hingga tubuhnya menjadi gampangan seperti ini.

Ditatapnya lah dada indah yang sedang bergoyang dibawah sana. Benda kenyal itu terus saja bergoyang. Goyangannya pun semakin cepat seiring tusukan yang ia berikan semakin kuat. Tangannya yang sedari tadi mencengkram kuat pinggulnya perlahan mulai berpindah tuk memegangi susu bulat kenyal itu.

Nada semakin memejam saat benda intimnya dipegang oleh pria tua itu lagi. Sodokan yang semakin kuat ditambah dengan belaian yang ia terima di payudaranya membuat nafsu birahi Nada semakin tak terkendali. Sedari tadi mulutnya terus saja membuka mengeluarkan desahan demi desahan sedangkan matanya terus memejam merasakan sodokan yang semakin mantap ia rasakan.

Kepuasan juga dialami oleh pak Heri karena berhasil membuat Nada memohon untuk disetubuhi olehnya. Ketika pandangannya teralihkan oleh kedua payudara Nada yang terus bergerak membuat pria tua itu mulai tergoda untuk menyusu disana.

Pak Heri pun mulai menundukan wajah demi menyeruput puting indah itu. Tangan kanannya masih memegangi payudara kenyalnya yang bergetar sedangkan pinggulnya terus bergoyang memacu tubuh telanjang itu agar terus bergoyang bersama.

“Ahhhh... Ahhhhh... pakkk... nikmattt pakkkk ouhhh... nikmat” desah Nada tanpa sadar.

“Wakakakakka... Sllrrpppp.... Nah gitu dong ustadzah... Terus mendesah... puaskan nafsumu itu” desah pak Heri mempercepat gerakan pinggulnya sambil terus menyusu merangsang payudara bidadari itu.

“Uhhhhh yahhhh... Uhhhh... Uhhhhhhhhhhhh” desah Nada tak mampu menahan diri. Dirinya malah menuruti perkataan dari pak Heri. Tubuhnya semakin terdorong maju mundur dengan cepat. Gejolak yang ada di dalam tubuhnya pun nyaris meledak.

Plokkkk.... Plokkkk.... Plokkkkk !

Terdengar suara tubrukan antar pinggul yang semakin dahsyat. Goyangan pak Heri semakin kuat. Pinggul mereka semakin terbentur keras ketika bertubrukan satu sama lain. Nafsu yang tak dapat mereka tahan membuat erangan mereka semakin terucap jelas.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh" Desah Nada semakin keras.

“Ouhhh... Ouhhhh... Nikmat sekali ustadzahh... Ayoo desah terus... keraskan suara desahanmu” desah pak Heri puas.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Nada tak sengaja menuruti.

Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang sudah bertelanjang bulat itu menatap wajah pak Heri tak percaya. Nada tak percaya akan tusukan penis tak bersunat itu yang semakin mengeras dan semakin dalam di liang senggamanya. Payudaranya yang besar itu sudah mengencang. Payudaranya itu terus bergoyang mengikuti pergerakan pinggul dari pria tua itu.

“Aaahhhh... Ahhhhhh pakkk... ouhhhhh nikmat sekaliii pakkk... Nikmatttt” desah Nada saat merasakan genjotan pak Heri semakin kencang.

“Ouhhhh ustadzahhhh... Ahhhh.... Iyyahhhhh desah terussss... Lebihh keraasss... Lebihhh binallll”

“Aahhhh... Ahhhhhh... Iyyahhh pakkkkk... Mmpphh ahhh” desah Nada menurutinya tanpa sadar saat dirinya meremasi payudaranya sendiri karena gatal.

“Ouhhhhh... Ouhhhhh... Mantappp... iyyahhh.... Paling suka nih saya kalau melihat ustadzah telanjang yang semakin binal” katanya dengan puas.

“Ouhhh pakkkk.... Ouhhh... Ouhhhh” desah Nada terheran saat merasakan vaginanya semakin gatal.

“Aahhhhhh... Ahhhh... Ahhhhhh ustadzahhh... Indah sekali tubuhmu... Sempit sekali memekmu... Ouhhhhhh puasnyaahh !” kata pak Heri sangat puas.

“Ouhhhh kenapa lagi ini... Ada apa dengan tubuhku... Ahhhh dorong yangggg kerasss pakkkk... Lebih kerassssss” desah Nada semakin tak tahan lagi.

“Wakakakah siap ustadzah.... Jangan nyesel yah ? Hennkkgghhh !” desah pak Heri yang menahan nafasnya untuk mempercepat gerakan pinggulnya.

Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!!” Nada meraung-raung membalas kenikmatan yang sudah pak Heri berikan.

Mereka berdua saling bercinta dengan penuh gairah. Keduanya sudah bercinta hingga mendekati batas maksimal. Kenikmatan yang mereka rasakan tidak dapat mereka tahan lebih lama lagi. Pak Heri mempercepat gerakannya. Nafasnya sudah berat. Dirinya sudah kelelahan begitupula Nada yang terbaring dibawahnya. Akhirnya dengan satu tusukan yang kencang. Ia menghentakan pinggulnya maju sedalam-dalamnya sambil menarik tubuh Nada ke arah selangkangannya.

“Aahhhhhhhh pakkkkkkk” desah Nada hingga kepalanya ia tegakkan menatap langit-langit ruangan.

“Ahhhhhhhhh... Saya keluuaarrrr !!!”

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

Nada mendesah. Begitupula pak Heri. Pak Heri mencengkram kuat pinggul Nada saat semprotan spermanya dengan dahsyat menyembur membasahi liang senggama Nada. Kaki pak Heri melemah. Nafasnya terengah-engah. Nada pun melenguh pasrah menikmati kenikmatan yang tidak ada duanya.

Mata mereka berdua merem-melek penuh kepuasan. Pak Heri pun jatuh ke dalam pelukan Nada. Payudaranya yang besar itu terhimpit dada tambun pak Heri. Nada melemas. Liang senggamanya telah penuh oleh campuran cairan cinta mereka berdua.

“Ouhhh mantapnyaahhh” desah Pak Heri menikmati sisa orgasmenya dengan mencumbui dada mulus bidadari itu.

“Aahhhh.... Bapakkk... Ouhhhhh” desah Nada dengan sangat puas ketika berhasil mengeluarkan gelombang ternikmatnya.

Nada terengah-engah saat ditindihi oleh pria tambun itu. Berulang kali matanya memejam sambil mengeluarkan deru nafasnya yang hangat. Ustadzah berbadan body goals itu sudah kelelahan. Padahal baru saja dirinya mengikuti gerakan senam. Eh, di rumah ia malah diajak senam lagi oleh pria tua yang tak menyunat penisnya itu.

Perlahan demi perlahan kesadaran Nada mulai kembali. Rasa sesal itu kian memenuhi dadanya. Nada merasa malu. Ia merasa menyesal karena sudah meminta kenikmatan pada pria tua itu lagi.

Kenapa ? Kenapa aku jadi semurah ini ?

Batin Nada merasa kalau dirinya tidak ada bedanya dengan pelacur-pelacur jalanan yang ada di luar sana. Ia sudah telanjang bulat membiarkan pria tua itu menikmati keindahan tubuhnya. Bahkan ia yang meminta untuk disetubuhi lebih keras lagi. Padahal dia adalah ustadzah. Dia adalah istri dari seorang suami bernama Rendy. Tapi kenapa sifatnya malah seperti ini.

Maaaff... Masss !!

Batin Nada merasa begitu menyesali perbuatannya. Sebagai seorang istri sholehah, rasa sesal itu begitu berkuasa di dalam hatinya.

“Wakakakaka... Indahnya tubuh indahmu ustadzah... Saya puas banget” kata Pak Heri memejam berniat untuk mencumbui bibir bidadari itu lagi.

Nada pun merasa jijik melihat wajah itu yang semakin dekat. Dengan satu tamparan yang kuat, ia menghantam pipi pria tua itu hingga membuatnya terkejut.

Plaakkkkk !!!

Pak Heri terdiam hingga membuka matanya lebar-lebar.

“Puas bapak udah merusak keluarga aku ? Puas bapak udah meracuni pikiran mas Rendy dengan pikiran-pikiran rusak itu ?” kata Nada yang membuat Pak Heri terdiam.

“Pasti bapak kan yang udah membuat suami aku sampai berpikiran seperti itu ? Bahkan bapak udah menanamkan pikiran ke suami aku agar aku disetubuhi oleh dua orang sekaligus ! IYA KAN ?” teriak Nada sambil meneteskan air matanya karena begitu kesal.

“Disetubuhi oleh dua orang sekaligus ? Maksudnya ?” kata pak Heri terlihat kebingungan.

“Gak usah pura-pura gak tau yah pak ! Kemarin suami aku bilang kalau ia ingin melihat aku disetubuhi oleh dua orang sekaligus dalam satu waktu ! Pasti bapak kan yang udah membisikan ide gila ini ?” kata Nada meluapkan emosinya.

“Dua orang sekaligus ?” lirih pak Heri yang membuat raut wajah Nada berubah.

Pak Heri malah terlihat kalau ia baru tau rencana yang baru saja Rendy buat. Nada pun keheranan. Ia pun membatin dalam hati.

Apa jangan-jangan... Pak Heri bukan salah satu dari dua orang itu ? Kenapa ia terlihat kebingungan ?

Batin Nada terdiam.

Seketika pak Heri mencabut penisnya membuat ustadzah cantik itu menahan geli ketika campuran cairan cinta mereka keluar begitu saja membasahi sprei kasurnya.

Pak Heri tanpa mengucapkan sepatah kata langsung mengenakan satu demi satu pakaiannya kembali. Nada pun kebingungan karena pak Heri langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Pakkkkk... Jawab akuu !!!! Pakkkk !!!” teriak Nada saat melihat pak Heri sudah keluar dari kamarnya. Ustadzah yang sudah telanjang bulat itupun menyisakan tanda tanya di benaknya. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi pada suaminya.

Apa lagi rencanamu kali ini mas ?

Batin Nada merasa was-was tiap kali mengingat ide gila suaminya itu.

Sementara itu, Pak Heri sudah tiba di dalam mobilnya yang ia parkir di depan kantor bagian administrasi. Ia menarik tuasnya kemudian menjalankan mobilnya sambil merenungi omongan yang diucapkan oleh Nada tadi.

“Pak ustadz Rendy mau mengajak orang lain untuk menyetubuhi ustadzah Nada ? Bukan hanya satu dari dua orang sekaligus ? Kenapa ia tak membicarakannya padaku ? Kurang ajar !” kata Pak Heri terlihat kesal.

Entah kenapa ia tak rela kalau ada pria lain selain dirinya yang bisa menyetubuhi ustadzah cantik itu. Tangan pria tua itu pun mengepal saat memegangi stir kemudinya.

Saat ia sudah mendekati gerbang menuju luar area pondok. Seketika ia melihat seseorang yang ia kenal sedang berbicara dengan dua orang lainnya yang terasa asing di matanya.

“Itu dia pak ustadz Rendy” kata Pak Heri memberhentikan mobilnya sambil melirik siapa dua orang yang sedang diajak oleh suami dari Nada itu.

Nampak salah satu dari keduanya berbadan kekar. Kulitnya sangat hitam. Wajahnya terlihat tua dan ia hanya mengenakan celana pendeknya saja memperlihat tubuh kekarnya yang masih terbalut sebuah perban.

“Siapa orang itu ?” kata Pak Heri penasaran.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy