Hari demi hari telah berlalu semenjak pecahnya keperjakaan yang dimiliki oleh pak Prapto. Sekian tahun sudah ia hidup dalam rasa penasaran membayangkan bagaimana nikmatnya bersenggama dengan seorang wanita. Kini, ia telah mengalaminya. Ia telah bersenggama dengan seorang wanita yang cantik, alim, berkulit bening lagi berhijab dan merupakan seorang ustadzah pondok pesantren. Nikmat bukan ? Tapi entah kenapa, kini Pak Prapto justru dihantui oleh rasa penyesalan.
Memang semenjak hari itu, ia tak pernah bertemu lagi dengan ustadzah Syifa. Hari demi hari dikala dirinya menyapu di lorong kelas. Ia begitu ketakutan andai dirinya kembali bertemu dengan sosok ustadzah cantik itu lagi. Tiap kali dirinya melihat ada ustadzah cantik berkulit bening yang berjalan melewatinya, jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Nampaknya rasa penyesalan itu benar-benar telah menerornya. Ia benar-benar kapok sehingga membuatnya merasa takut andai ia mendapatkan karma atas perbuatan yang telah dilakukannya.
Kini di lorong kelas yang biasa ditempati oleh santri putra. Pak Prapto sedang menyapu lorong itu sambil merenungi semua kesalahannya di hari itu. Hari dimana ia kepergok beronani sambil memandangi sebuah hape yang baru saja ia temukan. Andai waktu itu mulut besarnya tidak banyak tingkah, mungkin saja dirinya tidak harus menunjukan aib yang dimiliki ustadzah Syifa kepada pak Udin.
“Hah, rasa penyesalan memang datang di akhir yah” kata Pak Udin ketika sedang menyapu.
Ia bahkan sampai sengaja memilih gedung yang biasa ditempati oleh santri putra supaya dapat menghindari pertemuan dengan ustadzah Syifa. Walau seperti itu, hatinya tetap merasa waswas andai tiba-tiba dirinya kembali bertemu dengan ustadzah cantik berkulit bening itu lagi.
Bruukkkk !!!
Tiba-tiba pak Prapto tersungkur setelah ditabrak oleh seseorang dari belakang. Buru-buru pak Prapto menoleh ke belakang sambil menunjukan ekspresi wajah ketakutan. Ia benar-benar takut andai dirinya mendapatkan karma atas perbuatannya sekarang.
“Aduh maaf pak, sengaja... Muwehehehe” kata santri nakal itu.
“Gapapa... Gapapa mas... Saya yang salah” kata pak Prapto memilih mengalah ketika melihat santri berkepala plontos itu berdiri di belakangnya. Saat pak Prapto berniat mengambil sapu yang tergeletak di sebelahnya. Tiba-tiba kaki santri itu menendangnya hingga sapu itu terdorong semakin jauh dari posisi pak Prapto berada.
“Oops sengaja lagi pak... Muwehehehe” katanya sambil tertawa yang membuat pak Prapto kesal.
Pak Prapto memilih diam, ia hanya melenguh saja ketika santri nakal itu benar-benar bertingkah dengan mengerjai dirinya. Santri itu pun telah pergi menjauhi dirinya hingga sosoknya hilang dari pandangan mata tukang sapu itu.
Dengan sedikit berjalan, pak Prapto akhirnya mengambil sapu yang tadi di tendang oleh santri nakal itu. Ia memungutnya kemudian tubuh kurusnya itu di dudukan di salah satu kursi yang terbuat dari marmer yang terletak di dekat pagar pembatas yang biasa digunakan oleh santri-santri yang kelasnya berada di sekitar situ agar dapat beristirahat sambil melihat pemandangan halaman gedung kelas dari lantai dua gedung ini.
“Hahhhh” katanya mendesah merasa tubuhnya sudah sangat kelelahan.
Di usia yang tidak lagi muda, wajar baginya apabila dirinya jadi cepat lelah ketika bekerja di waktu produktif seperti ini. Iseng, ia berniat untuk melihat rekaman hape yang berisi aib dari ustadzah Syifa.
Ustadzah Syifa memang cantik. Ustadzah Syifa memang berpenampilan menarik. Wajahnya yang menggairahkan memang bisa membuatnya merasa birahi tinggi serasa ingin menyenggamainya lagi. Tapi tetap saja rasa penyesalan itu tetap ada yang membuatnya merasa bimbang atas keputusan yang harus ia perbuat ketika bertemu dengan ustadzah Syifa lagi. Haruskah ia menjadikan Ustadzah Syifa hewan peliharaannya yang bisa ia pakai kapan saja ? Membayangkan hal itu saja sudah membuat penisnya mengeras lagi. Tapi rasa kasihan yang ia miliki pada ustadzah cantik itu membuat dirinya merasa tidak tega.
“Haduhhhh” kata Pak Prapto bimbang.
Seketika ia membuka hapenya. Folder demi folder telah ia buka. Pikirannya yang bercabang membuat jemarinya kadang bergerak sendiri dalam menge-tap hape android yang sedang ia pegang.
“Lohhhh” kata pak Prapto terkejut ketika ia menemukan sesuatu yang baru.
Sebuah folder bernama ustadzah Hanna tertulis disana. Jantung pak Prapto pun berdebar ketika membaca nama dari seorang ustadzah yang sangat ia idolakan. Seorang ustadzah yang bertempat tinggal di kantor bagian pengasuhan yang berwajah cantik dan berkulit sawo matang. Ia pun penasaran, apa isi dari folder yang bertuliskan nama dari ustadzah pemilik senyum termanis di pondok pesantren ini.
Saat pak Prapto membuka folder itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat beberapa foto yang menampilkan keadaan ustadzah Hanna yang sedang berantakan dengan pakaian yang acak-acakan. Kemejanya terbuka bahkan kedua payudaranya terlihat disana. Ekspresi wajah Hanna yang sedang memelas membuat pak Prapto tidak tega. Apalagi ketika dirinya melihat foto ketika ustadzah Hanna sedang mengangkang menampilkan lubang kemaluannya yang lembap. Nampak disana ada bercak sperma yang mengalir keluar. Saat ia meng-swipe foto lainnya lagi. Nampak air mata yang menetes jatuh membasahi pipi dari bidadari cantik itu.
Betapa marahnya pak Prapto menyadari ustadzah idolanya diperlakukan seperti ini. Ia benar-benar kesal hingga membuatnya nyaris membanting hape yang sedang ia pegang. Ia pun menarik nafasnya. Ia mencoba untuk mengatur nafasnya untuk melihat satu demi satu foto yang ada di dalam hape itu. Siapa tau ia bisa menemuan petunjuk mengenai pelaku yang sudah melakukan hal yang tidak-tidak pada ustadzah idolanya itu.
Seketika ia menemukan sebuah rekaman video. Ia pun menurunkan volume suaranya terlebih dahulu kemudian menatap ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan. Kemudian ia memainkan video itu dan menampilkan keadaan ustadzah Hanna yang tengah menangis pasca diperkosa oleh pelaku itu.
“Jangan Lutfiii... Jangan lakukan ini ke ustadzah... Tolong Lutfi hentikan... Jangan kaya gini lagi ke ustadzah” kata Hanna di dalam rekaman video itu. Nampak Hanna berusaha menutupi wajahnya dari rekaman hape itu yang berusaha memperlihatkan keadaan telanjangnya pasca disetubuhi pelaku.
“Lutfi ? Siapa Lutfi ?” kata Pak Prapto murka setelah mendapatkan petunjuk dari video itu.
*-*-*-*
Jam sudah menunjukan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Keadaan memang sudah siang yang membuat beberapa pengajar merasa kelelahan setelah meluangkan waktunya dalam mentransferkan ilmu yang mereka miliki kepada santri-santrinya. Ustadzah Hanna bahkan sampai mengantuk ketika duduk di depan layar monitornya. Matanya kedap-kedip. Dirinya berusaha bertahan dari rasa kantuk yang amat sangat mendera tubuhnya.
“Hehh Hanna” kata seseorang disampingnya yang membuat Hanna terkejut.
“Ehhh Haura hehehe” kata Hanna terkejut rupanya Haura lah yang membangunkan dirinya.
“Kok sampai ngantuk sih... Belum juga dzuhur” kata ustadzah tercantik yang menjabat sebagai ketua bagian pengasuhan itu.
“Gak tau nih... Rasanya kok ana ngantuk banget yah... Ahhhhhhhh” katanya sambil mengerang mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
“Heh jangan keras-keras... Desahan antum bahaya tau, nanti kalau kedengeran sama V & ustadz Rafi gimana ?” tegur Haura yang membuat Hanna tersadar.
“Ehhh iya hehehe... Afwan” kata Hanna merasa malu.
Beruntung, V & ustadz Rafi tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mereka berdua sedang menatap layar monitornya untuk menyelesaikan tugas laporan bulanannya yang rencananya akan mereka setorkan sebentar lagi.
Seketika V pun berdiri sambil membawakan buku laporan yang baru saja diserahkan oleh ustadzah Hanna. Hanna jadi gugup ketika V tiba-tiba sedang berjalan ke arahnya.
“Oh yah ustadzah, ini laporannya apa gak salah nih ?” kata V yang membuat Hanna terkejut ketika tiba-tiba dirinya yang baru bangun diberi pertanyaan oleh ustadz tampan itu. Haura yang berada di sebelah yang berseberangan dari V ikut menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Laporan apa ustadz ?” kata Hanna berbicara dengan formal karena ada ustadz Rafi yang berusia jauh lebih tua dari mereka bertiga.
“Lihat deh, pemasukannya aja segini... Terus pengeluarannya segini... Kok bisa saldo sekarang jadi segini” kata V menjelaskan. Mata Hanna yang baru melek langsung mencoba mengecek kesalahan error apa yang membuat V sampai menanyakan hal ini padanya. Buru-buru Hanna membuka aplikasi kalkulator di layar monitornya. Ia pun mencoba menghitung kalkulasi saldo yang dimiliki oleh kantor bagiannya.
“Lohh iya, kok bisa kelebihan gini yah ?” kata Hanna ikut terkejut.
“Nah kan ?” kata V yang semakin membuat Hanna malu.
“Nah dasar... Dari tadi kepala ngangguk-ngangguk nahan kantuk, akibatnya jadi salah ngitung kan” kata Haura yang membuat Hanna tersenyum malu menyadarinya.
“Ohhh, dari tadi ngantuk yah ?” kata V sambil melirik Haura yang membuat Haura tersenyum sambil menatap ustadzah Hanna disebelahnya.
“Aduhh maaf... Coba sini ana cek lagi coba” kata Hanna tersenyum malu sambil mengambil laporan yang baru saja ia serahkan ke V.
“Nah coba tolong di cek lagi yah” kata V berusaha sesopan mungkin padanya.
V pun kembali ke meja kerjanya sambil tersenyum yang membuat kedua ustadzah cantik itu diam-diam melirik ke arahnya untuk menyegarkan pandangan matanya yang perlahan semakin lowbait menyadari hari yang semakin siang.
Haura pun tersenyum saat melihat senyuman V ketika melirik ke arahnya tadi. Hanna juga tersenyum ketika dirinya ditegur atas kesalahannya dalam memasukan saldo terkini. Entah kenapa Hanna jadi tidak ngantuk lagi. Ia pun bersiap-siap untuk mengedit laporan itu. Kemudian menyerahkan kembali buku laporan itu kepada ustadz V.
Diam-diam Haura yang ada di sebelahnya juga menahan kantuk akibat perbuatan yang dialaminya oleh pak Karjo semalam. Ia dipaksa untuk bergadang. Bahkan ia dipaksa untuk telanjang di ruangan terbuka. Angin dingin yang menusuk tulangnya membuat bidadari tercantik itu sedikit merasa flu. Berulang kali ia mengeluarkan sapu tangannya untuk mengeluarkan cairan kental yang selalu menyumbat kedua lubang hidungnya.
Ia tak menyangka sekitar pukul satu dini hari, dirinya baru bisa pulang tanpa mengenakan dalaman juga hijab syar’i nya karena ia terlalu takut untuk mengambil keduanya yang tertinggal di luar gerbang di dekat area persawahan. Alhasil ia hanya mengenakan kemeja berwarna ungunya juga rok berbahan plisket beserta blazernya saja ketika diam-diam berjalan pulang menuju rumahnya.
Ia bersyukur bisa pulang ke rumah tanpa kepergok oleh orang lain karena dirinya tidak mengenakan hijabnya waktu itu. Tapi ada satu hal yang membuat Haura masih merasa waswas di pagi menjelang siang hari ini. Apalagi kalau bukan karena ancaman yang diberikan oleh kuli bangunan itu. Ia masih sangat ingat kalau kuli kekar itu pernah berkata ingin menyetubuhinya lagi di hari ini.
Seketika mata Haura berusaha melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan. Apakah Pak Karjo diam-diam sedang mengintipnya untuk mencari waktu yang pas untuk dapat menyetubuhinya lagi ?
Membayangkan hal itu membuat Haura reflek memegangi bibir vaginanya sendiri dari luar celana dalam yang ia kenakan.
Semoga, kuli bejat itu cuma menggertakku saja.
Batin Haura merasa waswas.
*-*-*-*
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 22.00 tepat. Masih teringat dalam ingatan, di waktu inilah Haura digagahi oleh kuli kekar itu lagi kemarin malam. Maka dari itu untuk mengantisipasi hal yang sama terulang sekali lagi. Haura lebih memilih pulang bersama ustadzah lainnya setelah waktu muwajjah malam berakhir.
Di malam itu Haura sedang mengenakan gamis berwarna putih yang ia padukan dengan rok panjang berwarna merah muda. Selain itu, blazernya yang berwarna putih juga hijabnya yang berwarna terang semakin membuatnya lebih mirip seorang bidadari daripada seorang manusia. Mau bagaimana lagi ? Haura saat itu tengah tersenyum ketika mengobrol dengan seorang ustadzah yang juga mirip seorang bidadari. Ketika dua bidadari sedang berjalan bersama, kehebohan pun muncul di mana-mana. Satu demi satu santri yang baru saja menyelesaikan waktu muwajjah mereka berpura-pura diam sambil melirik kedua bidadari ini berjalan. Mata mereka terpaku menatap kedua bidadari yang tengah tersenyum itu. Mata mereka begitu bahagia ketika mampu menatap dua bidadari yang sedang berjalan bersama. Mata mereka terasa seperti telah diberkati. Andai ada santri berkacamata yang melihatnya, sudah pasti ketika santri itu melepaskan kacamatanya. Ia sudah mampu melihat dengan jelas tanpa perlu mengenakan kacamatanya lagi.
Satu merupakan ustadzah Haura yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Sedangkan satunya merupakan ustadzah Nada yang sangat terkenal dengan keindahan tubuhnya yang sempurna.
Kalau Haura saat itu sedang mengenakan pakaian serba putih. Lain halnya dengan Nada yang malam itu mengenakan pakaian serba biru. Bidadari bertubuh body goals itu sedang mengenakan gamis berwarna biru yang menutupi seluruh tubuhnya dari atas ke bawah. Ia juga memadukannya dengan kacamata berlensa bening yang membuat para lelaki yang melihatnya merasa pening.
Gimana gak pening ? Haura dengan keindahan wajahnya yang menawan tengah tersenyum cerah sedangkan Nada dengan kesempurnaan tubuhnya tengah berlenggak-lenggok sehingga bokongnya yang begitu berisi terlihat bergeal-geol di belakang sana.
Nada yang terlihat lebih tinggi dari Haura sedang berjalan sambil mengobrolkan sesuatu dengan bidadari tercantik itu. Walau keduanya sudah sama-sama menikah. Tapi Haura lah yang terlebih dahulu menikah sehingga Nada yang lebih sering bertanya mengenai tips-tips yang sangat ia butuhkan untuk mempertahankan bahtera rumah tangganya yang baru seumur jagung.
"Hmmm jadi begitu yah ustadzah" Kata Nada manggut-manggut setelah diceritakan panjang lebar mengenai tips untuk mengatasi permasalahan di rumah tangganya.
"Iya begitu ustadzah... Antum kok dari tadi nanyanya gitu terus, apa antum ada masalah dengan suami antum ?" Tanya Haura penasaran. Haura heran, sejak tadi ketika diri mereka baru saja keluar dari gedung kelas sampai sekarang ketika dirinya nyaris sampai di kompleks perumahan ustadz senior, Nada selalu bertanya mengenai tata cara dalam menjaga awet rumah tangganya. Bahkan Nada tak ragu untuk bertanya ketika suaminya melanggar syariat apa perlu untuk dipertahankan ?
Haura sampai terkejut ketika mendengarnya tadi. Tapi ia tidak terburu-buru untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi karena ia pun tahu, sebagai seorang istri sangatlah berat baginya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi ketika rumah tangga mereka sedang terkena musibah.
"Yah bisa dibilang begitu lah ustadzah... Ana gak nyangka banget, ternyata ustadz Rendy itu sifatnya jauh banget dari sebelum sampai sesudah ana menikah dengannya" Kata Nada tersenyum getir. Ia bahkan sampai tak menatap Haura karena tak sanggup untuk menunjukan raut wajah kesedihannya sekarang.
"Yang sabar yah ustadzah... Setiap pasangan yang baru menikah pasti akan merasakan hal yang sama seperti itu kok... Mungkin sewaktu kita belum begitu mengenalnya, ia terlihat seperti sosok yang berwibawa tapi sewaktu ia merasa nyaman... Ia malah bersifat manja ke kita" Kata Haura tersenyum berharap bisa meredakan masalah ustadzah cantik itu.
"Tapi ini beda ustadzah... Beda banget pokoknya" Kata Nada yang membuat Haura semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ustadzah berbadan body goals itu.
"Makss... " Belum sempat Haura bertanya mengenai maksud dari bidadari bertubuh sempurna itu, Nada terlebih dahulu mengucapkan kalimatnya yang membuat Haura terdiam.
"Bahkan ana sempat kepikiran menyesal loh karena telah menikah dengannya" Kata Nada tersenyum lemah.
Haura diam sejenak tak menjawab ucapan dari Nada. Nada juga diam sambil tersenyum saat berjalan di sebelah bidadari tercantik itu. Seketika suasananya jadi hening, Haura sempat memikirkan kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk menyanggah ucapan Nada tadi. Ia memilih berhati-hati agar sarannya dapat membantu meringankan beban masalah yang diderita oleh ustadzah bertubuh sempurna itu.
"Yang sabar yah ustadzah, maaf ana cuma bisa berkata seperti itu... Lebih baik berhati-hati lagi dalam pemilihan kata yang akan antum ucapkan... Inget ucapan itu sebagian dari doa loh ? Nanti kalau ucapan antum terkabul gimana ?" Tegur Haura terlebih dahulu.
"Hehehe maaf ustadzah... Soalnya ana udah capek banget soal masalah ini... Ana bener-bener kecewa dengan sikapnya... Ana bener-bener gak nyangka kalau mas Rendy sampai punya pemikiran seperti itu" Kata Nada seketika tak sanggup untuk meneteskan air matanya.
Haura jadi bingung ketika melihat rekan ustadzah nya itu menangis tiba-tiba. Mereka berdua pun berhenti melangkah. Dengan penuh perhatian, Nada pun memeluknya untuk meredakan rasa lelah di hatinya.
"Iya tenang yah ustadzah... Jangan nangis... Masalah yang antum hadapi memang berat tapi antum sebagai seorang istri harus kuat" Kata Haura sambil mengusap punggung dari bidadari cantik itu.
"Iya ustadzah... Aduh maaf banget yah, ana jadi mewek gini... Maaf udah ngerepotin antum" Kata Nada merasa tidak enak dengan Haura.
"Gapapa ustadzah... Kita kan udah jadi keluarga sekarang... Kita kan sama-sama dari keluarga pondok pesantren... Sebagai keluarga, sudah jadi kewajiban ana untuk membantu masalah antum" Kata Haura tetap tersenyum untuk menenangkan Nada.
"Iya ustadzah... Makasih banget, ana bersyukur bisa pulang bareng antum sekarang... Ana jadi bisa sedikit curhat buat ngurangin beban hati ana" Kata Nada berusaha tersenyum ketika air matanya masih sedikit menetes.
"Tenang yah ustadzah... Yang sabar... Yang namanya masalah pasti akan dialami oleh semua orang... Mau itu tua ataupun muda, yang miskin ataupun kaya pasti semuanya akan menghadapi sebuah permasalahan... Yang namanya masalah pasti akan ada akhirnya, percaya deh... Ibarat perlombaan pasti ada garis *finish-*nya... Ibarat perkuliahan pasti akan ada waktunya untuk wisuda... Sekarang tinggal kitanya aja mau gimana ? Apakah tetap diam atau maju sampai garis akhir ? Apakah kita lebih memilih diam hingga mengabaikan tugas akhir skripsi atau memilih mengerjakannya hingga sampai wisuda ?" Kata Haura yang membuat Nada diam mendengarkan karena tersentuh oleh kata-katanya.
"Inget, yang namanya masalah kalau udah sampai di titik terberat berarti tandanya masalah itu akan segera selesai... Misalnya nih, antum pernah luka lecet gak ? Kalau luka kita mau sembuh pasti luka kita akan terasa gatal yang membuat tangan rasanya gatel banget ingin menggaruknya... Coba kita sabar dan gak menggaruk itu, pasti luka kita akan cepat selesai kan ?" Kata Haura yang membuat Nada mengangguk setuju.
Nada perlahan mulai merasa baikan setelah mendengar nasihat dari bidadari tercantik itu. Memang tidak salah ketika banyak orang yang menjadikan Haura sebagai sesosok wanita yang sangat sempurna untuk dijadikan istri. Wajah memang cantik tapi kedewasaannya dalam menghadapi sebuah permasalahan juga patut diacungi jempol. Nada perlahan merasa minder karena dirinya masih merasa jauh berbeda dari kedewasaan ustadzah Haura.
"Makasih yah ustadzah... Ana seneng banget deh denger nasihat dari antum... Sering-sering aja yah ustadzah nasihatin ana kalau ana butuh lagi" Kata Nada tersenyum sambil menatap wajah cantik bidadari itu.
"Sama-sama ustadzah... Seneng rasanya bisa bantu masalah antum" Kata Haura tanpa mengetahui masalah apa yang sebenarnya terjadi pada Nada.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah masing-masing. Tak terasa mereka sudah tiba di area kompleks perumahan ustadz senior. Nada yang sudah tiba di depan rumahnya memilih pamit terlebih dahulu. Haura pun berjalan sendirian menuju rumahnya yang berjarak beberapa meter saja dari rumah Nada.
"Akhirnya sampai juga" Kata Haura ketika tiba di teras halaman rumahnya.
Ia merasa lega karena tidak ada tanda-tanda kehadiran pak Karjo lagi di hari ini. Ia pun melucuti sepatunya juga kaus kaki yang membungkus kaki beningnya. Nampak kulit kaki Haura yang begitu putih bersinar mengalahkan gelapnya cahaya malam. Dengan tenang ia pun memasuki rumahnya yang tidak ia kunci karena kunci pintu rumahnya masihlah rusak akibat kejadian di waktu itu.
Ketika sampai di dalam kamar tidurnya, Haura pun meletakan buku-buku pelajaran yang ia bawa ke rak buku yang ada di sebelah ranjang tidurnya. Ia pun menaruh bokong montoknya diatas ranjang tidur empuknya.
"Ahhhhhh... Enaknyaaa" Kata Haura merasakan kenyamanan ketika menggeletakan tubuhnya diatas ranjang kasur tidurnya.
"Hmmm baru jam setengah sebelas yah ?" Kata Haura merasa haus.
Tanpa sempat membuka blazernya, tanpa sempat melepas hijabnya. Haura pun berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air panas yang akan ia tuangkan ke sebuah cangkir yang sudah ia ambil terlebih dahulu. Setelah cangkir terisi penuh, ia menuangkan susu denkou berwarna coklat. Ia pun mengaduknya dengan tenang hingga suara gesekan sendoknya yang terkena tepi gelasnya berbunyi.
Dengan lembut ia mendudukan tubuh indahnya diatas kursi didekat meja makan rumahnya. Kedua tangan Haura diletakan diatas meja itu. Ia juga menaruh cangkirnya kemudian menyeduhnya sedikit hingga tepi bibirnya itu meninggalkan bekas coklat dari susu panas yang baru saja ia minum.
"Aaahhhh segarnya" Desah Haura saat susu hangat itu menyapu bersih rasa haus yang mendera kerongkongannya.
Kembali, ia meletakan cangkir berisi susu itu ke atas meja makan rumahnya. Seketika pikirannya membawanya menuju percakapan yang ia lakukan dengan ustadzah Nada tadi.
"Hmmm iya juga yah... Masalah akan segera berakhir setelah kita merasakan betapa beratnya masalah yang sedang kita terima" Haura baru menyadari kalimat itu yang sudah lama ia dapatkan dari seorang ustadz ketika dirinya masih menjadi santriwati di pondok pesantren ini dulu.
Ia juga terpikirkan tentang masalah yang sedang dialami oleh ustadzah Nada. Sebenarnya seberat apa sih masalahnya hingga Nada sampai kepikiran menyesal seperti itu ?
"Syukurlah masalahku tidak seberat masalahnya" Kata Haura merasa tenang. Memang benar bahwa salah satu cara untuk meredakan masalah yang ia terima dengan melihat orang-orang yang yang berada di bawahnya. Dengan itulah ia jadi lebih bersyukur karena masih ada orang-orang yang mendapatkan ujian jauh lebih berat daripada dirinya.
Ia pun kembali menyeduhnya hingga susu panas di cangkir itu tersisa setengahnya saja.
"Aahhhhhhh... Nikmatnya" Desahnya dengan mantap. Ia pun kembali menaruh cangkir itu diatas meja ruang makannya.
Tiba-tiba . . . .
“Mmmppphhh . . . . . . “ seketika Haura menjerit keras saat mulutnya tiba-tiba dibekap oleh seseorang dari belakang. Jeritan Haura pun tertahan oleh dekapan tangan itu. Haura pun ketakutan, jangan sampai orang yang sedang mendekapnya merupakan orang yang sama dengan seseorang yang ada di benaknya.
"Malam ustadzah... Ini saya... Laki-laki harus menepati janjinya bukan ? Kekekekek" Katanya yang membuat mata Haura membuka lebar.
Seketika kursi yang diduduki oleh Haura ditarik ke belakang. Tubuh Haura diangkatnya hingga bidadari itu sudah berdiri di dalam pelukan kuli kekar itu. Cara paksa yang sudah Karjo lakukan membuat kursi yang tadi ditempati oleh Haura terjatuh ke bawah. Haura pun bertanya-tanya sejak kapan kuli bajingan itu berada di rumahnya. Namun belum sempat ia bertanya, tangan Karjo terlebih dahulu meremas payudaranya yang membuat bidadari itu berteriak.
"Aaahhhhhh" Jerit Haura dengan manja.
"Kekekekek rupanya rasanya masih sama kaya kemarin yah... Kenyal-kenyil gimana gitu kekekekek" Tawanya sambil meremasi gumpalan kenyal itu dengan sangat puas.
Tubuh Haura meronta-ronta. Tubuhnya digerakan ke kiri & ke kanan. Mulutnya terus saja menjerit walau suaranya tak terdengar jelas akibat dekapan tangan dari kuli bejat itu. Seketika matanya teralihkan ke arah pintu masuk. Pintu itu sudah terbuka lebar, ia pun tersadar kalau tadi dirinya belum sempat mengganjal pintu masuk itu menggunakan sesuatu yang besar.
"Mmmpphhh... Mmmpphhh lepassskk... Lepaskkann" Jerit Haura sambil menggigit jemari kuli kekar itu.
"Awww.... Awwwww" Teriak Karjo kesakitan. Haura pun berusaha lepas. Saat dirinya berlari ke arah pintu keluar, Tiba-tiba tangan dari Karjo meraih tangan kirinya yang tertinggal di belakang.
"Aahhhhhhh" Jerit Haura saat tiba di dalam pelukannya lagi.
"Mau kemana ustadzah ? Kekekekek, sini aja bareng saya yah... Kita bareng-bareng buat anak lagi" Katanya yang membuat Haura merinding hebat.
"Enggakk... Enggakkk mauuu... Uhhhhh.... Uhhhhh" Desah Haura saat payudaranya kembali diremasi hingga kedua matanya memejam merasakan cengkraman yang begitu mantap.
"Kekekekek paling gak tahan saya kalau udah ngeremes susumu ini" Katanya sambil meremasi kedua payudara Haura.
"Ahhhh... Ahhhhh lepaskann... Ahhhhh" Desah Haura saat cengkraman kuli kekar itu semakin kuat meremas buah dadanya.
Haura semakin merinding di malam itu. Tubuhnya perlahan berkeringat. Rasa takut yang begitu berkuasa membuat air matanya turun secara tiba-tiba. Ia pun mencoba melawan tapi lagi-lagi usahanya tergolong percuma saat kuli kekar itu semakin beringas dalam memainkan buah dadanya.
“Kekekekek... Gimana ustadzah ? Pijatan saya terasa semakin enak kan ? Mantap kan ?” kata Karjo menertawakan ustadzah cantik yang sedang ia grepe-grepe menggunakan kedua tangannya sendiri.
"Apa maksud bapakkk... Uhhhhhh.... Enggakkk... Enggakkk... Ahhhhhh" Kata Haura terus mendesah menerima remasan itu.
Suara manja yang Haura keluarkan benar-benar merangsang birahi pak Karjo. Kuli kekar itu semakin bernafsu. Kuli kekar itu semakin bergairah dalam memainkan kedua mainan favoritnya.
"Mmppphhh ahhhh... Mmppphhh ahhhh"
Gemas dengan desahan manja yang seringkali Haura ucapkan membuat kuli kekar berkulit gelap itu tak tahan untuk mencumbui bidadari itu lagi. Tangan kirinya mulai menerkam kedua pipi Haura. Diarahkannya wajah bidadari itu agar siap dicumbu olehnya dari belakang.
"Uhhh bibirnya bikin saya gak nahan lagi nih ustadzah... Kekekekek" Katanya gemas sambil mendekatkan bibirnya maju.
"Jangannn... Jangannnn" Jerit Haura berusaha menolak. Namun bibir dari pria tua itu semakin dekat. Alhasil Haura yang sudah dibuat diam tak mampu lagi menolak selain memejamkan matanya saja.
Cuppppp !!!
Pak Karjo memejam merasakan sentuhan manis dari bibir tipis ustadzah itu. Karjo mendorong bibirnya. Ia menekan bibir ustadzah cantik itu menggunakan bibirnya sendiri. Tercium aroma nafas sang ustadzah yang membuat Karjo semakin bergairah. Aroma nafasnya yang bikin nafsu membuat tangan kanan Karjo tak henti-hentinya dalam memainkan benda kenyal milik Haura dari luar gamis yang ia kenakan.
“Mmmppphhhh... Mmmpphhhhhh... pakkk... Mmpphhh lepaskkann aku, pak... Hentikann mmppphhhh” desah Haura saat bibirnya dicumbui tanpa ampun oleh kuli tua itu.
Selagi mencumbui bibirnya. Tangan kanan Karjo terus saja meremasi payudara Haura sebelah kanannya. Payudara itu sungguh besar membuat tangan kekarnya kesulitan tuk mendekap seluruh ukuran payudara itu. Aroma tubuh Haura yang menggairahkan membuat Karjo tak tahan ingin memeluknya erat. Tangan kirinya yang sedari tadi mencengkram kedua pipi Haura bergerak turun dengan memeluk perut rata Haura agar semakin terdorong ke arahnya. Akibatnya penis kekar Karjo yang masih disembunyikan dibalik celananya perlahan membesar akibat sentuhan yang ia terima dari bokong montok Haura.
“Mmmppphhh... Mmmppphhhh lepaskann aku pakk... Tolongg amppunnnni aku... Maafin aku pak... Tolonggg !” teriak Haura berputus asa.
"Kekekekek... Gak usah minta maaf ustadzah... Ustadzah gak salah kok... Keputusan ustadzah udah bagus dengan membiarkan saya memejuhi memekmu waktu itu" Katanya dengan penuh nafsu setelah melepaskan cumbuannya.
Walau dirinya sudah tidak mencumbui bibir ustadzah tercantik itu lagi. Tapi bibirnya terus aktif dalam menggerayangi wajah dari bidadari itu. Pipi Haura dicumbunya, bahkan pipinya sampai dijilati oleh kuli kekar itu.
"Hentikannn... Hentikann pakkk... Jorokkk" Jerit Haura yang terus saja meronta tapi tertahan oleh dekapan kuli kekar itu.
Kesal dengan jeritan Haura yang terus saja berteriak membuat Karjo membalikan tubuh dari bidadari cantik itu. Kini diri mereka saling berhadapan. Ditatapnya sejenak wajah cantik dari bidadari itu. Haura terlihat ketakutan apalagi ketika wajah jeleknya kembali mendekat untuk menerkam mulut dari bidadari itu lagi.
"Mmmppphhh... Mmpphhhh" Desah Haura sambil berusaha mendorong tubuh kekar Karjo.
"Kekekekek... Mantapnya... Segernyaa... Gak ada duanya emang bibirmu ustadzah" Tawanya sambil terus mencumbui bibir bidadari itu.
Cumbuan yang terus Karjo lakukan membuat pertahanan mulut Haura lengah. Mulutnya pun terbuka. Lidah Karjo langsung merengsek masuk berkelana di dalam untuk mencari pasangannya yang telah hilang. Karjo dengan penuh nafsu menjilati rongga mulut ustadzah cantik itu. Haura tak tahan akan aroma nafas sangat kuli berkulit gelap itu. Nafasnya sangat bau, aromanya seperti campuran rokok dengan sayur jengkol. Apakah mungkin pak Karjo baru saja menyantap sayur jengkol malam tadi ?
"Mmppphhh... Nah, ini dia" Desah Karjo saat menemukan lidah sang bidadari.
Tak butuh waktu lama bagi Karjo untuk kembali beraksi. Karjo mendorong lidahnya hingga menubruk tepi lidah sang ustadzah. Lidah mereka saling menyundul lalu berganti menjadi saling bergesekan. Lidah Karjo berputar mengelilingi rongga mulut Haura. Dikala Karjo menindihi lidah Haura. Karjo menggesek-gesekan lidahnya diatas lidah sang ustadzah yang sudah terkapar tak berdaya. Liur Haura sampai menetes jatuh akibat buasnya nafsu Karjo dalam mencumbui mulutnya.
Tangan kiri Karjo ikut gemas. Kedua tangannya kini saling berpasangan dengan payudara masing-masing. Tangan kanan Karjo meremas payudara kanan Haura begitu juga sebaliknya. Karjo pun tak menduga dirinya akan ketagihan dalam meremasi kedua payudara milik ustadzah tercantik sepondok pesantren ini.
"Mmppphhh.. Ahhhh... Mmppphhh pakkk... Ouhhh... Ouhhhh" Desah Haura saat menerima cumbuan juga remasan dari kuli tua itu.
"Kekekekek... Diam ustadzah... Ustadzah cukup diam dan nikmati saja... Toh nanti ustadzah bakal menjerit nikmat bukan saat merasakan kekar nya kontol saya ?" Kata Karjo yang membuat Haura merinding mendengarnya.
Haura pun sedih. Dirinya tidak menyangka kalau ia akan menerima nasib buruk ini lagi. Haura benar-benar marah membiarkan kuli kekar itu berbuat seenaknya pada tubuh indahnya.
Namun belum sempat ia melampiaskan seluruh amarahnya. Karjo terlebih dahulu mengangkat gamis yang Haura kenakan. Bra berwarna putihnya langsung ia turunkan. Karjo dengan penuh nafsu langsung mencumbunya. Puting berwarna pink itu ia caplok dan ia jilati di dalam. Pemiliknya pun mendesah namun tertahan oleh cumbuan kuli kekar itu.
“Mmmpphhhh... Mmpphhh hentikannn... Hentiikannn pakkk” desah Haura merinding.
Mendengar erangan suara Haura yang menggoda membuat hawa nafsunya semakin naik saja. Tangan kirinya mulai mencengkram payudara sebelah kanan ustadzah cantik itu. Mulutnya pun berpindah dengan menyusu di puting sebelah kanannya. Lidahnya kadang keluar tuk menoel-noel puting yang semakin menegak itu. Sementara tangan kanannya pun menyelinap masuk ke dalam roknya menuju bibir vagina yang masih tersembunyi rapat di balik celana dalamnya.
"Ouuhhmm... Mmppphhh... Mmppphhh" Desah Haura hingga tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Kekekekek goyang terus ustadzah... Ohh nikmatnya... Sampai basah gini yah ustadzah" Ejek karjo sambil terus menyusu dan menggesek bibir vaginanya.
"Ahhhh... Jangannn pakkk... Jangannn ouhhhh" Desah Haura semakin tak tahan dengan rangsangan yang ia terima.
Tiba-tiba . . . .
“Aahhhhhhhhhhhhhhhh” Haura menjerit nikmat saat kuli kekar itu mulai menggigit puting susunya dengan pelan. Rasanya semakin nikmat saat mendengar desahannya yang begitu manja. Karjo pun semakin bernafsu. Ia menjepit puting itu menggunakan bibirnya. Ia juga kadang menggigitnya pelan yang membuat bidadari itu berteriak hingga menggelinjang.
"Ahhhhhhhh" Desah Haura dengan sangat manja.
Gemas, Karjo mulai melepaskan blazer yang sedang Haura kenakan. Resleting yang ada pada punggung ustadzah cantik itupun ia turunkan tak lama kemudian. Haura pun tinggal bertelanjang dada menyisakan branya saja yang sudah diturunkan cupnya oleh kuli kekar itu.
Menatap tubuh Haura yang begitu bening bagai sebuah porsneling membuat Karjo semakin gemas untuk memuaskan nafsu birahi nya pada tubuh indah itu. Tidak hanya kedua payudaranya. Bahkan perutnya sampai dijilati oleh kuli kekar itu dengan penuh nafsu.
“Aahhhhh... Ahhhhhh... Pakkk hentikannnnn... Jangan lakukan itu pakkk tolonggg... Mmmppphhh... Mmmppphhh” desah Haura merinding saat tubuhnya menahan geli saat dimandi kucing oleh kuli kekar itu.
Tangan Karjo pun menarik paksa kait bra yang masih melekat di tubuhnya. Kini tak satu pun sehelai benang yang menutupi tubuh bidadari itu. Haura memang masih mengenakan hijabnya. Ia juga masih mengenakan rok berwarna merah mudanya. Selain itu, tubuhnya benar-benar tersingkap membuat nafsu birahi Karjo semakin kuat.
"Uhhhhhhhhhhhhh" Desah Haura saat rok yang ia kenakan diangkat kemudian jemari kuli kekar itu menekan-nekan bibir vaginanya.
Haura pun merasa seperti tersetrum. Tubuhnya tersentak-sentak nikmat menahan gejolak birahinya. Apalagi saat celana dalamnya diturunkan olehnya hingga tangan gelap Karjo semakin mudah dalam merangsang lubang kemaluannya.
"Ahhhh bapakkk... Ahhhh... Ahhhhhh" Desah Haura merasakan jemari Karjo yang terus berdansa di tepi bibir vaginanya.
"Kekekekek makin basah aja nih... Mana yang bilang tadi minta udahan ? Orang udah terangsang gini mana bisa udahan kekekekek" Ejek Karjo yang membuat Haura semakin marah.
Malam itu, di ruangan dapur rumahnya sendiri. Haura terus saja mendesah menerima rangsangan yang semakin nikmat. Ia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya sendiri. Matanya sampai memejam apalagi saat jemari tengah Karjo mulai masuk membelah liang vaginanya cukup dalam.
"Ouhhhhhhhhh" Desah Haura sampai merem melek merasakan kenikmatan itu.
Karjo yang saat itu masih mengenakan kaus polonya beserta celana pendeknya mulai melepas dekapannya pada tubuh Haura. Pikirnya toh mana bisa ia kabur keluar dalam keadaan telanjang seperti ini.
Benar saja, saat tubuh Haura terlepas dari pelukannya. Haura malah jatuh berlutut akibat tak sanggup nya kedua lututnya untuk berlari dari dekapan pria tua ini. Karjo dengan santai mengulum jemari tengahnya yang tercampur cairan cinta bidadari itu. Kemudian ia mulai membugili dirinya sendiri. Melihat Kuli tua itu bersiap untuk menyenggamainya lagi membuat Haura memaksa diri untuk berlari. Matanya pun menuju ruangan kamarnya yang bisa ia kunci dari dalam. Karjo pun menyeringai. Dengan santai ia berjalan cepat sambil menunjukan batang penisnya yang sudah mengeras hebat.
"Ustadzah, mau kemana nih ?" Kata Karjo dengan santai di belakang.
"Jangannn... Jangannn mendekattt" Lirih Haura yang sudah kehabisan tenaga. Tubuhnya bahkan tertatih-tatih saat berlari menjauhi kuli kekar itu.
Sebentar lagi !!!
Batin Haura saat melihat dirinya mendekati pintu kamarnya.
Sadar kalau Haura akan segera memasuki kamarnya membuat kuli kekar itu bergegas lari. Ia tak ingin kehilangan korbannya lagi. Dengan kencang Karjo pun mengejar tubuh Haura yang membuat bidadari itu semakin panik.
"Enggakkk... Jangannn... Jangannn" Jerit Haura.
Bersyukur, karena ia sudah mendekap gagang pintu kamarnya. Saat tubuhnya hendak masuk ke dalam kamarnya itu. Tiba-tiba ia merasakan adanya dorongan dari belakang.
"Kekekekek... Mau main di sini ? Boleh lah ustadzah" Kata Karjo mendorong tubuh bidadari itu.
"Ahhhhhhhh"
Tubuhnya yang lemah terdorong oleh Karjo di belakang. Dalam sekejap tubuh bidadari itu sudah terbaring diatas ranjang tidurnya sendiri. Saat wajahnya menoleh ke arahnya. Haura terkejut karena dirinya kembali melihat tubuh kekar Karjo yang sudah polos tanpa adanya halangan satu kain pun. Apalagi saat pandangannya ia turunkan tuk menatap batang penis itu. Penisnya semakin membesar membuatnya sampai bergidik membayangkan benda sebesar itu kembali memasuki liang senggamanya.
"Kekekekek... Akhirnya, Siap-siap yah ustadzah" Kata Karjo yang sudah berlutut di hadapan selangkangan Haura yang terbuka lebar. Roknya yang masih ia kenakan diangkatnya naik. Kuli kekar itu pun memegangi penisnya dan ber siap-siap untuk memasuki gua paling sempit di dunia ini.
"Jangannn... Jangannn.... Uhhhhhhhh" Desah Haura saat bibir vaginanya tersundul oleh ujung gundul dari penis hitam itu
Haura memejam. Ia menggigit bibir bawahnya saat penis besar itu berusaha memasuki lubang vaginanya yang masih sangat sempit. Karjo pun menarik nafasnya untuk bertahan dari jepitan yang semakin kuat dalam menghimpit batang penisnya.
“Ouhhh ustadzahhh... Sempit banget memekmuuu... Ouhhh” desah Karjo bertahan agar tidak keburu keluar.
Karjo menarik nafasnya. Ia sangat paham kalau saja ia tidak berhati-hati, sudah pasti ia akan kelepasan dan gagal dalam menikmati keindahan bidadari bertubuh indah ini.
Luar biasa memang memek ustadzah satu ini... Baru digesek sedikit aja udah bisa bikin crot, apalagi pas ngeliat ekspresi wajahnya yang bikin sange... Kudu hati-hati ini biar gak keluar duluan !
Batin Karjo mewanti-wanti akan kenikmatan luar biasa yang sedang ia dapatkan.
“Aaahhhhhh bapakkkk sakittt.... Ahhhhhhhh” desah Haura dengan keras.
Dilihatnya keadaan Haura yang terbaring diatasnya. Wajahnya memang mengundang birahi. Tubuhnya pun terlihat semakin mengencang ketika sedang terangsang seperti ini. Apalagi gumpalan kenyal yang semakin menggairahkan itu. Pak Karjo sampai geleng-geleng kepala mengagumi keindahan tubuh dari bidadari satu ini.
“Uhhhhhhhhhh” desah Karjo saat pinggulnya ia dorongkan untuk membelah lubang sempit di kemaluannya itu.
“Aahhhh bapakkkkk... Sakitttt” Jerit Haura saat ujung gundul itu mulai memasuki liang senggamanya. Tubuh Haura yang sedang tegang membuat otot di dinding vaginanya menyempit. Otomatis batang penis Karjo semakin terhimpit. Nyaris saja pak Karjo menjerit. Untung saja ia sudah mengatur nafasnya sehingga ia tidak keburu keluar walau batang penisnya masih terjepit.
“Hennkghhhhh !!!” desah Karjo sambil mendorongkan pinggulnya masuk hingga dinding vagina Haura meneteskan cairan basahnya untuk menstimulasi batang penis itu agar tidak menyiksa dinding vaginanya lagi.
“Aahhhhh pakkk... Jangannn... Jangan didorong lagi pakkk... Sakiitttt” desah Haura menahan penetrasi penis itu.
“Kekekekek... Gak nyangka saya memekmu masih serapet ini... Gak ada bedanya sama memek-memek perawan yang ada di luar sana.... Kekekkeke luar biasa sekali dirimu ustadzah” puji Karjo yang tak dipedulikan oleh bidadari cantik itu.
Menyadari tubuh Haura sangat sayang untuk diabaikan. Tangan Karjo pun merengsek turun menuju ke pinggul ramping bidadari tercantik itu. Perlahan rabaannya semakin naik hingga tiba di kedua payudaranya yang aduhai. Karjo semakin terpana ketika kedua tangannya dengan bebasnya meremasi payudara itu sambil menusukan penisnya ke dalam vaginanya.
Ouhhh nikmatnyaaa... Luar biasa sekali rasanya bisa ngentot dengan seorang ustadzah yang cantik lagi jelita sepertimu ustadzah !
Batin Karjo sambil menatap wajah cantik itu.
“Aahhhhh pakkkk tunggguuu.. Jangan didorong lagi.... Mmmpphhhhh” desah Haura memejam sambil merapatkan bibirnya. Kedua tangannya saja bahkan sampai mengepal kemudian mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya.
Tangan Karjo pun kembali ke pinggang ramping bidadari itu lagi. Karjo berusaha menahannya agar tubuh indah bidadari itu tidak ikut terdorong ke depan ketika penisnya sedang memaksa masuk menuju ke dalam lubang kenikmatan itu.
“Aahhh nikmatnya.... Dikittt lagiiii !!! Heennkkkgghhhhh !!!” desah Karjo dengan begitu mantap.
Jleebbbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhhhhhh” desah Haura saat penis hitam itu sampai mentok menyundul rahim kehangatannya. Tubuhnya pun sampai terangkat naik. Matanya memejam dan mulutnya ia buka lebar-lebar sambil menjerit sekeras-kerasnya merasakan sensasi tusukan dari penis besar milik kuli tua itu lagi.
“Kekekekek gilaaaa !!! Ini sih mantep banget ustadzah... Ouhhhh mimpi apa saya bisa menyetubuhi seorang ustadzah indah sepertimu !” kata Karjo saking puasnya hingga ia tak percaya bisa bercinta dengan seorang ustadzah pondok pesantren seperti Haura.
Haura kelelahan. Ia pun memejamkan matanya hingga kedua payudaranya yang terbebas itu tampak menggoda pandangan pak Karjo. Karjo yang menyadarinya dengan rakus segera meremasnya lagi. Dengan sedikit goyangan di pinggul. Haura kembali membuka matanya sambil menahan sodokan yang tak terbayang nikmatnya.
“Aahhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Haura terkejut merasakan gesekan yang ia terima di dinding vaginanya.
Tubuh Haura terdorong maju mundur secara teratur. Haura nampak menggairahkan. Tubuhnya semakin berkeringat seiring sodokan yang terasa semakin kuat. Payudara-payudara itu ikut bergoyang maju mundur. Mata Karjo sampai teralihkan oleh gerakan payudara Haura yang masih dicengkram kuat menggunakan kedua tangan kekarnya.
“Aahhhh pakk hentikannn... Jangan lakukan ini ouhhhhhhhhh... Pakkk Ahhhhhh !!” desah Haura yang tak berdaya ketika tubuhnya terdorong maju mundur semakin cepat.
“Kekekekek... Nikmatnya bisa ngerasain ini lagi... Rasakan ini ustadzah !! Rasakan ini !!!” kata Karjo dengan penuh nafsu. Tubuhnya pun ia hentak-hentakan hingga kedua paha mereka sama-sama terbentur seiring cepatnya persetubuhan mereka.
Plokkkk... Plokkkk... Plokkkk !!!
“Ahhhh Mmppphhhhh... Mmppphhh ouhhhh pakkk hentikannn Mmmmppphhhhhh !”
Karjo memegangi pinggul ramping bidadari itu lagi. Akibatnya payudara Haura bergerak semakin cepat. Nafsu Karjo pun semakin tak tertahankan ketika mampu menyetubuhinya sambil menatap gerakan indah yang berasal dari payudara kenyal itu. Haura pun pasrah disetubuhi dalam posisi ini.
Bukannya ia tak mau melawan. Tapi tubuhnya benar-benar kelelahan sehingga ia tak sanggup untuk menggerakannya saat penis besar itu terus saja mengobrak-ngabrik liang senggamanya di dalam. Ia pun merasa kalau liang senggamanya semakin basah. Alhasil penis besar itu semakin cepat dalam keluar masuk di dalam vaginanya.
“Ahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Haura merasakan sodokan mantap itu.
Mendengar desahan yang terucap dari mulut manis Haura membuat kuli kekar itu semakin bernafsu dalam menyetubuhi vaginanya. Karjo semakin menancapkan penisnya saat pinggulnya ia dorongkan masuk. Saat ia menarik penisnya, ia nyaris saja menyisakan ujung gundulnya saja. Kembali ia dorongkan pinggulnya dengan kuat hingga penis itu tertusuk hingga menyundul dinding rahimnya. Terdengar bunyi benturan antar kelamin yang semakin kuat. Ustadzah itu mendesah tak karuan. Ia benar-benar tak mengira saat lubang sempitnya bisa dimasuki oleh penis sebesar itu. Terasa kulit penis besar itu terus menggesek dinding vaginanya yang semakin becek. Akibatnya tubuh Haura terdorong maju mundur tak berdaya. Tubuhnya melonjak-lonjak dengan begitu mantap hingga birahi Karjo semakin terpanggil untuk terus menyetubuhi bidadari satu ini.
“Aahhhh.... Ahhhh hentikannn... Hentikannnnnn” desah Haura berteriak putus asa.
“Kekekekek... Yakin nih ustadzah ? Saya yakin ustadzah udah mulai keenakan kan ?” kata Karjo yang nampaknya mulai melihat tanda-tanda dari bangkitnya nafsu yang ada pada tubuh bidadari itu.
Sejujurnya ya, Haura mulai merasakannya. Tubuhnya semakin rileks saat menerima sodokan yang semakin mantap di dalam. Wanita manapun tidak akan sanggup untuk menahan kenikmatan yang ia dapatkan dari penis sebesar itu. Penis Karjo memang tidak ada duanya. Penis itu sungguh besar. Penis itu sungguh Keras. Penis itu sungguh hitam yang membuat sisi lain Haura perlahan mulai menikmati persetubuhan ini. Tapi sisi yang lainnya jelas menolak. Ia tak mau direndahkan oleh kuli kekar ini lagi. Ia seorang akhwat dan ia merupakan seorang istri dari ustadz yang mempunyai kerabat dengan kiyai pondok pesantren ini.
“Aahhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhhhh” Namun sodokan yang semakin dipercepat membuat bidadari itu tak sanggup lagi menahan diri lagi. Ia pun menjerit sepuas-puasnya kendati hatinya tetap menolak kenikmatan yang ia dapatkan saat ini.
“Kekekekek tuh kan mulai keenakan yah ustadzah ?” ejek Karjo melihat Haura mulai menikmati batang penisnya.
“Enggakkk... Enggakkk... Berhenti pakkkk... Ahhhhh... Ahhhhh” Haura semakin berteriak keras kendati ia sempat menolaknya di awal. Sodokan yang terasa semakin dalam dan kuat lah yang menyebabkan Haura berhenti menolak. Lisannya hanya mendesah menerima sodokan demi sodokan yang semakin dalam mengaduk-ngaduk dinding vaginanya.
“Kekekekek... Gimana saya bisa berhenti kalau ustadzah aja terus mendesah senikmat ini... Ayo yang keras ustadzah... Puaskan birahimu saat bercinta dengan saya !” perintah Karjo menertawainya.
“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhh iyahhhh... Ahhhhhh” desah Haura tanpa sadar.
Hanna pasrah tak berdaya. Penis besar itu terus melonjak-lonjak kegirangan ketika dicekik oleh dinding vaginanya yang sempit. Karjo merinding saat menerima gesekan mantap itu di dalam vaginanya. Karjo membuka mulutnya. Tangannya kembali berkuasa atas payudaranya yang montok lagi ranum. Karjo kembali mencengkram payudara itu dengan kuat. Ia semakin menyodoknya nikmat. Ia terus mendesah merasakan keindahan tubuh Haura yang tidak ada duanya di dunia ini.
Ustadzah tercantik se pondok pesantren itu terus saja mendesah merasakan gairah yang semakin parah. Suhu di dalam ruangan ini pun semakin memanas. Suasananya juga memanas seiring nafsu yang telah terbalas. Gairah birahinya yang ia salurkan di tubuh Haura membuat kuli kekar itu puas akan kenikmatan yang ia dapatkan dari bidadari cantik yang tinggal mengenakan hijab beserta roknya saja yang itupun telah terangkat ke perutnya.
“Mmmpphhh... Mmpphhhh... Mmpphhhhhhh... Ahhhh bapakkkkk” desah Haura memejam tak sanggup tuk melihat raut wajah Karjo yang sedang tertawa puas menikmati keindahan tubuhnya. Ia benar-benar benci untuk melihat raut wajah itu lagi. Namun bagaimana lagi, tusukan yang semakin terasa membuatnya terus saja mendesah menggoda birahi Karjo yang semakin terpuaskan.
“Uhhhhhhh gilaaa.... Uhhhhhh uhhhhhhhh henkkgghhhhhh !” Desah Karjo buru-buru menarik penisnya hingga kulit dari dinding vagina itu nyaris ikut keluar terkena tarikan penis Karjo.
“Aahhhhhhhhhh” desah Haura saat merasakan vaginanya hampa kehilangan sesuatu yang mengisinya sedari tadi.
“Hah... Hah... Nyaris aja” kata Karjo merasakan dirinya nyaris saja keluar duluan saat menikmati jepitan yang begitu rapat menghimpit batang penisnya.
"Hah... Hah... Hahh" Desah Haura ngos-ngosan setelah digempur habis-habisan oleh kuli kekar itu.
Tubuhnya yang benar-benar kelelahan begitu tak berdaya ketika tangan Karjo menarik lepas rok merah mudanya yang masih menyangkut di pinggulnya. Saat roknya terlepas, barulah kuli tua itu dapat melihat keindahan tubuh Haura yang benar-benar tidak tertutupi apa-apa lagi. Haura sudah polos menyisakan hijabnya saja. Itupun sudah berantakan. Tubuhnya yang berkeringat menambah sensasi tersendiri bagi kuli kekar itu.
Karjo pun membayangkan tentang keseharian ustadzah tercantik ini. Haura terbiasa menggunakan pakaian longgar. Haura merupakan ustadzah yang selalu tersenyum ketika disapa oleh santriwatinya. Haura merupakan idola bagi seluruh santri yang tergila-gila akan kecantikannya yang sempurna.
Sementara dirinya yang hanya seorang kuli bangunan lagi-lagi mendapatkan durian runtuh di hadapannya. Sang ustadzah sudah terbaring lemah dalam keadaan telanjang bulat. Penis Karjo pun semakin mengeras. Ia benar-benar tak tahan untuk mengulangi kejadian seperti yang ia lakukan di hari kemarin.
Wajahnya nafsuin, tubuhnya yang polos bikin sange, susunya yang bulet bikin pengen ngeremes, memeknya yang rapet bikin ketagihan pengen ngentotin lagi... Dasar ustadzah Haura nih... Gak ada obat lah, gak bakal bisa puas saya kalau lagi ngentotin ustadzah secantik dirimu kekekekek.
Batin Karjo saat mengamati keindahan tubuh Haura yang sudah telanjang.
"Mau apa lagi bapak ? Jangan mendekat pak ! Tolong ampuni aku... Lepasin aku pakk" Kata Haura saat melihat kuli kekar itu kembali mendekatinya.
"Mau apa lagi ? Saya yakin ustadzah pasti sudah tau jawabannya lah" Kata Karjo tersenyum sambil Mengelus-ngelus penisnya yang semakin membesar.
"Ehhhh, jangann.... Jangannn..." Teriak Haura panik saat tubuhnya dimiringkan oleh kuli kekar itu. Sementara diri Karjo pun menyelinap masuk di belakang tubuh Haura. Tangan kekar Karjo pun memeluk tubuh polos Haura di belakang. Tangan itu kadang meremas-remas gunung kembar yang begitu besar, kadang tangan itu juga memelintir puting berwarna merah muda yang semakin menegak disana.
"Ahhhh.... Ahhhh... Jangannn pakk.. Ahhhh" Desah Haura menahan geli saat tangan nakal Karjo memainkan birahi ustadzah cantik itu. Haura pun semakin terangsang menerima cubitan nakal dari kuli kekar itu. Tapi tetap saja, ia terus berusaha tuk menahan setiap birahi yang semakin membakar diri.
"Ouhhhhhhhhhh" Desah Karjo tiba-tiba saat batang penisnya yang besar kembali masuk ke dalam liang senggama Haura yang basah.
Jleeebbbbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhhhhh” desah Haura merasakan lubang vaginanya kembali penuh oleh gada besi berwarna hitam itu.
Penis itu dengan cepat masuk menerobos liang senggama Haura. Penis itu langsung ambles hingga menyundul dinding rahim bidadari itu. Penis itu begitu mudah memasuki liang senggama Haura. Cairan pelicin yang sudah membasahi liang senggamanya menjadi penyebab utamanya. Tanpa adanya hambatan, tanpa adanya rintangan. Penis itu langsung menerobos masuk hingga membuat Haura merinding merasakan sensasi nikmatnya ditusuk menggunakan penis sebesar itu.
Haura merem melek tanpa sadar atas kenikmatan yang sedang melanda liang senggamanya. Karjo tertawa puas mendengar desahan manja dari Haura. Ia langsung menggerakan pinggulnya tuk merasakan jepitan yang sangat menggairahkan.
"Mmmppphhhh... Mmmppphhhh... Mmmppphhhh" Haura mulai kembali mengerang menahan tusukan kuli itu. Suaranya terdengar menggoda. Suaranya sangat menggairahkan. Erangannya yang sangat manja membuat Karjo semakin dilanda birahi dalam menikmati jepitan bidadari satu ini.
Payudaranya yang besar bergerak seirama. Tubuh polosnya terdorong maju mundur di dalam pelukannya. Dekapan tangan Karjo dalam memengangi payudaranya yang bergoyang memberikan sensasi tersendiri bagi kuli beruntung itu. Akibatnya, Karjo semakin mempercepat tusukannya.
Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Penis itu tanpa ampun menghukum rahim kehangatan Haura karena sudah membuatnya ketagihan.
"Mmmppphhhh ahhhh... Mmmppphhhh ahhhh... Mppphhhhh ahhhhh" Desah Haura semakin keras.
Haura tidak bisa lagi berkata apa-apa akibat tusukan birahi Karjo yang telah menggetarkan dinding rahimnya. Ia hanya bisa pasrah mendesah membiarkan kuli kekar itu bertindak sepuasnya dalam memuaskan nafsu birahinya.
Karjo mulai tersenyum menyadari tubuh Haura semakin rileks ketika disenggamai olehnya. Cengkraman di tangannya semakin kuat dalam meremas payudara Haura. Bibirnya bahkan ikut andil dalam merangsang birahi ustadzah cantik itu dengan mencumbui tengkuk lehernya. Pinggulnya masih aktif, bahkan pinggulnya semakin cepat dan kuat ketika memasukan batang penisnya ke dalam liang senggama itu.
Plokkk... Plokkkk... Plokkk !!!
"Ahhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhhh" Desah Haura semakin keras.
"Kekekekek, gimana ustadzah ? Masih belum percaya kalau saya bisa memberikan ustadzah kepuasan ?" Ejeknya sambil terus menyenggamai ustadzah cantik itu.
Haura tidak menjawab. Matanya hanya bisa memejam dan kedua tangannya memegangi sprei ranjang tidurnya. Tubuh Haura yang sudah telanjang tengah berbaring menyamping dengan kaki kanannya yang diangkat naik oleh kuli kekar itu. Sementara pak Karjo yang ada di belakangnya terus menggempur liang senggamanya. Ia juga meremasi payudaranya. Ia juga mencumbui punggung mulus dari bidadari itu yang membuat keduanya sudah merasa di ambang batas.
Kedua insan beda zaman itu semakin lemas. Mereka berdua sudah merasa cukup akan kenikmatan yang mereka raih bersama. Sudah saatnya bagi mereka untuk meraih inti dari persetubuhan ini. Yakni sebuah orgasme dahsyat yang dihasilkan melalui silaturahmi dua kelamin mereka.
Karjo mulai merasa kalau penisnya kini seperti sedang disedot-sedot oleh lubang kemaluan bidadari cantik itu. Ujung gundulnya pun berdenyut pelan. Terasa nafasnya semakin sesak membuat dirinya tidak kuat lagi untuk menahan sensasi kenikmatan ini. Ia pun tidak mengatur nafasnya lagi. Ia juga mempercepat genjotannya agar ia bisa semakin puas ketika mendapatkan orgasme melalui jepitan dinding rahim bidadari tercantik ini.
"Ahhh... Ahhh... Ustadzahhh... Saya gak kuat lagi... Saya mau keluarr... Saya mau keluarrrrr" Desah Karjo semakin bernafsu.
"Mmmppphhhh.... Ahhhh... Ahhhh jangann... Jangann didalem pakkk... Tolong jangan didalem" Desah Haura yang sudah lemas tak berdaya.
Namun jelas, omongan Haura tidak diindahkan oleh telinga kuli tua itu. Dikala ia merasakan penisnya semakin berdenyut. Karjo dengan segera justru mendorong penisnya agar semakin ambles di dalam rahim kehangatan Haura.
"Ahhhhhh.... Keluuaarrrrrr" Desah Karjo mantap.
Crrooooootttttt !!!!
"Mmmppphhhh !!!" Haura memejam saat merasakan rahimnya kembali penuh oleh cairan sperma kuli kekar itu. Bidadari tercantik itu pun terengah-engah. Usai sudah pelecehan yang kembali ia terima dari orang yang sama. Orang yang sudah berulang kali mengotori dirinya. Orang yang sudah berulang kali menodai kehormatannya sebagai seorang ustadzah. Haura pun menangis menyadari dirinya kembali ternoda oleh kebiadapan nafsu dari birahi kuli kekar itu.
Sementara itu, Karjo masih merem melek merasakan sisa orgasmenya. Tubuhnya sampai kelojotan. Tidak ada yang mampu menandingi nikmatnya bersetubuh dengan seorang ustadzah berwajah cantik yang diidolakan oleh semua santri juga ustadz yang ada disini. Itulah yang dirasakan oleh Karjo sekarang. Ia merasa nikmat. Ia merasa puas. Ia pun merasa mantap dengan persetubuhan yang baru ia lakukan bersama bidadari cantik itu.
"Ouhhhh yahhhhh" Desah Karjo saat perlahan-lahan mulai mencabut penisnya dari lubang kemaluan Haura.
"Uhhhhhh" Haura sampai merinding merasakannya. Haura sudah terbaring terlentang. Cairan sperma milik Karjo mulai mengalir keluar dengan deras membasahi sprei ranjang tidurnya. Nampak bidadari itu kelelahan. Matanya menatap kuli kekar itu yang tengah tersenyum menatap kepolosan tubuhnya.
"Bagaimana rasanya ustadzah ? Kekekeke" Kata Karjo tertawa puas.
"Jangan sentuh aku !" Kata Haura marah saat tangan nakal Karjo hendak meremasi payudaranya lagi.
"Kekekekeke loh kok marah ? Padahal udah dikasih kepuasan loh kekekekek" Tawanya yang membuat Haura semakin sebal.
"Kepuasan apanya pak ? Bapak sudah menodai diriku berulang kali !!! Bapak sudah bikin aku berkhianat ke suami aku ! Kenapa bapak setega ini ke aku pak ? Aku kira bapak itu orang baik... Ternyata bapak gak ada bedanya sama orang-orang jahat yang ada di luar sana" Kata Haura sangat marah. Namun reaksi Karjo hanya tersenyum. Ia malah semakin mendekat hingga punggung tangannya menyentuh pipi mulus Haura.
"Kekekekek... Kalau saya udah bikin ustadzah mengkhianati ustadz Hendra, lantas bagaimana dengan ustadz baru itu ?" Kata Karjo yang membuat Haura terdiam.
"Akui saja ustadzah... Ustadzah sering ditinggal ustadz Hendra kan ? Ustadzah butuh belaian kan ? Ustadzah butuh kepuasan batin kan ? Jangan munafik lah ustadzah, kalau ustadzah butuh... Saya siap menyediakan semua itu kok, kekekekek" Tawanya sekali lagi yang membuat Haura terdiam tak bisa menjawab. Harus diakui memang kalau semua pernyataannya benar. Tapi ia enggan untuk mengakuinya. Ia jelas menolaknya. Namun ungkapan munafik yang diberikan oleh Karjo membuatnya benar-benar berfikir.
Apa aku memang orang yang seperti itu ?
Batin Haura merenungi dirinya.
Seketika kedua tangan Haura dibentangkannya. Haura lantas terkejut. Apalagi saat tubuh kekar Karjo mulai turun untuk menindihi dirinya. Nampak bibir tuanya mendekat untuk mencumbu bibir tipis itu.
"Apa yanggg... Apa yang bapak lakukan ? Lepasinnn... Lepasiiinnn" Kata Haura meronta-ronta tak ingin melakukannya lagi.
"Kekekekek... Apa lagi ustadzah ? Siapa yang bilang setelah saya keluar berarti persetubuhan kita selesai ? Jam baru menunjukan pukul 11 kurang ustadzah... Masih banyak waktu yang bisa kita lakukan untuk memuaskan nafsu kita berdua... Ustadzah belum crot kan ?" Katanya dengan frontal yang membuat Haura terdiam. Tiba-tiba bibir Karjo langsung menyosor bibir Haura.
"Mmppppphhhh" Desah Haura dengan manja.
SEKITAR PUKUL 23.58 MALAM.
Di sebuah ruang tamu rumah Haura. Karjo sedang duduk diatas sofa sambil menikmati cemilan kue kering yang tersimpan di dalam toples. Di depannya nampak televisi menyala menampilkan pertandingan sepakbola antara Rayo Vallecano melawan FC Barcelona. Karjo tampak bahagia. Bukan karena tim yang mengenakan seragam putih itu tengah unggul. Melainkan karena adanya seorang wanita berhijab yang dipaksa naik turun diatas pangkuan kuli kekar itu.
"Kekekekek... Ahhhhhh, yang cepet lagi ustadzah... Lebih keras... Lebih cepat" Kata Karjo.
"Ahhhh pakkk... Ahhhh... Ahhhhhh" Desah Haura yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Itupun sudah acak-acakan. Lehernya terlihat dan wajahnya begitu kelelahan melayani nafsu birahi dari kuli kekar itu.
SEKITAR PUKUL 01.23 DINI HARI.
Di sebuah ruangan dapur rumah Haura. Nampak bidadari itu tengah berdiri sambil memegangi meja makan ketika pak Karjo dari belakang tengah menyetubuhi bibir kemaluan dari bidadari itu. Nampak wajah Haura sudah bersimpuh sperma. Sperma itu begitu kental. Sperma itu begitu menyengat. Sperma itu pun berjatuhan seiring sodokan demi sodokan yang Karjo lakukan padanya.
"Ahhhh.... Ahhhh... Ahhhh mantap sekali memekmu ustadzah" Kata Karjo sambil mencengkram pinggul ramping dari bidadari itu.
"Ahhh bapakk... Ahhhh... Ahhh sudahhh pakkk... Jangan lagiii... Jangann lagiiii... Ahhhhhh" Desah Haura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menahan tusukan dari kuli kekar itu.
SEKITAR PUKUL 03.21 PAGI.
Di dalam kamar tidur rumah Haura. Nampak ranjang itu terus bergoyang seirama. Ranjang itu bergerak maju mundur. Ranjang itu bergetar. Ranjang itu telah ternoda oleh perbuatan seorang istri berhijab yang sehari-harinya merupakan ustadzah pondok pesantren. Ustadzah itu tengah terbaring pasrah ketika ditindihi oleh tubuh kekar kuli bangunan itu.
Noda sperma di wajahnya telah mengering. Noda sperma di payudaranya juga telah mengering. Anehnya, cairan pelumas yang melapisi liang senggamanya terus saja basah akibat disetubuhi habis-habisan oleh kuli kekar itu.
Malam itu, Karjo tengah menindihi tubuh Haura. Bibir mereka berciuman. Kedua tangan mereka saling mengaitkan jemari. Nampak kedua payudara Haura terus bergoyang hingga putingnya tergesek oleh kulit kasar pria tua itu.
"Mmppphhh... Mmppphhh... Mmppphhh" Desah mereka berdua yang sudah sama-sama kelelahan. Stamina mereka yang mulai habis. Serta energi mereka yang semakin terkikis membuat kedua manusia yang hidup di zaman berbeda itu mulai tidak kuat lagi. Mereka sama-sama kelelahan. Mereka juga sama-sama berada di ambang batas ketika diri mereka sama-sama merasakan tanda-tanda orgasme mulai menyerang.
Akhirnya dengan satu tusukan yang mantap. Karjo menancapkan batang penisnya hingga mentok menembus rahim kehangatan Haura.
"Mmmpppphhhh"
Karjo keluar. Haura juga keluar. Mereka pun sama-sama mendesah kendati mulut mereka tertahan oleh cumbuan yang diberikan oleh pasangan masing-masing. Haura saat itu benar-benar kelelahan. Rasa nikmat yang mendera ketika dirinya berorgasme entah untuk yang keberapa kalinya membuat rasa kantuk perlahan mulai menguasai tubuhnya.
Haura pun terus dicumbuinya sambil memejamkan matanya. Haura benar-benar lelah. Ia pun tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu karena dirinya telah tertidur.
Bidadari cantik itu pun terlelap meninggalkan noda sperma yang begitu banyak di sekitar tubuh indahnya.
"Kekekekek puas sekali saya ustadzah malam ini" Kata Karjo yang masih mencumbui kedua puting Haura secara bergantian kendati bidadari itu sudah tertidur lelap.
*-*-*-*
ESOKNYA SEKITAR PUKUL SEPULUH PAGI.
Haura sudah terlihat seperti seorang ustadzah lagi. Kemeja berwarna putih yang membungkus tubuh rampingnya. Hijab berwarna cerah yang membalut kepala mungilnya. Juga rok panjang berbahan plisket yang membalut kaki jenjangnya. Wajahnya juga terlihat cantik kendati bidadari itu masih kelelahan setelah kemarin malam dirinya digempur habis-habisan oleh kuli kekar itu.
Haura tengah termenung diatas meja kerjanya sambil memegangi kepalanya. Kedua sikunya menempel di atas meja kerjanya, tangan kirinya mendekap siku tangan kanannya. Sedangkan tangan kanannya memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing akibat kurang tidur semalam. Bidadari itu pun merasa kalau suhu tubuhnya sedikit hangat. Walau merasa kurang sehat, Haura tetap berangkat ke kantornya walau dirinya harus memaksa tubuhnya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Pagi menjelang siang itu, ia pun terpikirkan oleh kejadian yang baru saja ia alami di pagi tadi.
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA, SEKITAR PUKUL SETENGAH TUJUH PAGI.
Mata Haura berkedap-kedip ketika cahaya mentari perlahan mulai masuk melalui kaca jendela yang terbuka di sebelah ranjang tidurnya. Tubuhnya benar-benar sakit semua. Lehernya bahkan merasa pegal. Ia juga kedinginan hingga tubuhnya menggigil di pagi yang sangat cerah ini.
"Astaghfirullah udah jam berapa ?" Kata Haura terkejut menyadari dirinya belum melakukan ibadah shubuh. Ia pun segera bangkit dari posisi tidurnya kemudian duduk diatas ranjang tidurnya.
Tapi bukan itu satu-satunya hal yang membuatnya terkejut.
Mana pakaianku ? Mana hijabku ? Kenapa sprei ranjang tidurku berantakan ?
Batin Haura saat melihat keadaan sekitar.
Seketika ia merasakan adanya cairan yang mengalir dari dalam lubang vaginanya. Buru-buru jemari tangan kanannya memegangi bibir vaginanya. Matanya pun terbuka lebar karena saking terkejutnya ketika cairan kental berwarna putih itu mengalir keluar dengan deras membasahi sprei ranjang tidurnya.
"Pak Karjo" Kata Haura mulai teringat kejadian semalam.
Tak lama kemudian, seorang pria tua berbadan kekar dan berkulit gelap tiba-tiba masuk ke dalam kamar tidurnya. Pria tua itu sudah berpakaian lengkap. Pria tua itu tersenyum sambil melihat selangkangan Haura yang sedang terbuka lebar.
"Kekekekek" Tawanya sambil menunjuk liang senggama Haura yang sudah basah dibanjiri cairan spermanya.
Haura pun buru-buru merapatkan selangkangannya sambil memasang raut wajah kebencian ke kuli kekar itu.
"Itu kekekekek... Itu masih baru loh ustadzah... Baru beberapa menit lalu saya menumpahkannya ke dalam memek sempitmu... Kekekekek" Katanya yang membuat kedua mata Haura membuka lebar.
Ini masih baru ? Tunggu dulu, apa pak Karjo tetap terjaga dan terus menyetubuhi ku sampai jam segini ? Bagaimana bisa ? Bagaimana bisa ia sampai sekuat ini ?
Batin Haura hanya terdiam merasa heran memikirkan bagaimana pak Karjo mempunyai tenaga extra seperti itu.
Gak mungkin pak Karjo masih melek sejak kemarin malam... Pasti ia sempat tertidur sebentar... Tapi tetap saja, bagaimana bisa ia terus menyetubuhiku dan mengeluarkan spermanya berulang kali ke tubuhku ?
Batin Haura bertanya-tanya.
"Kekekekek... Sampai jumpa lain hari yah ustadzah... Saya mau istirahat dulu di rumah... Saya benar-benar puas bisa menyetubuhi tubuh indahmu dari malam sampai pagi" Kata Karjo mulai berpaling pergi.
Haura kembali terdiam dan membayangkan kalau Karjo dari tadi terus saja menyetubuhinya kendati dirinya sudah tertidur karena kelelahan.
Bagaimana bisa pak Karjo seperti itu ?
Batinnya tak percaya.
MASA SEKARANG
"Ustadzah Haura.... Ustadzah Haura" Panggil ustadz Rafi berulang kali yang baru disadari oleh bidadari tercantik itu.
"Ehhh iya ustadz... Ada apa ?" Jawab Haura.
"Aduhh antum kenapa ustadzah... Kok wajah antum pucet gitu ?" Kata ustadz Rafi yang baru menyadarinya. Seketika Hanna & V yang ada di ruangan itu mulai menengok ke arah Haura.
"Astaghfirullah Haura... Antum kenapa sih ?" Kata Hanna baru sadar.
"Haura mau istirahat di rumah aja ?" Kata V memberi perhatian.
"Hehehe gak usah... Ana baik-baik aja kok" Kata Haura memaksa senyum. Haura agak tersentuh dengan perhatian yang mereka berikan. Tapi ia enggan untuk merepotkan mereka kendati tubuhnya benar-benar merasa sakit semua.
"Yaudah, kalau gitu boleh minta laporan bulanan bagian kita sebentar" Kata ustadz Rafi ingin mengecek laporan itu sebelum melaporkannya ke pak Kiyai.
"Naam ustadz... Ini" Kata Haura memaksa berdiri kendati kepalanya semakin pusing.
Haura pun mulai berjalan perlahan demi perlahan untuk menyerahkan buku laporan itu. Semakin lama ia berjalan, Haura merasa ada yang aneh dengan pandangannya. Mata Haura berkunang-kunang. Ia kesulitan untuk melihat ke depan karena tiba-tiba pandangannya mulai buram.
"Haura antum gapapa ?" Tanya seseorang yang itupun Haura tidak mengetahui siapa yang bertanya padanya.
Berulang kali Haura menggelengkan kepalanya. Tangan kirinya pun reflek memegangi kepalanya. Seketika buku laporan yang sedang ia bawa terjatuh. Haura berusaha melihat sekitar. Nampak semua orang yang berada disitu bergegas menghampiri dirinya. Ia pun melihat kalau mulut mereka semuanya terbuka seolah sedang berbicara padanya. Tapi ia tak mendengar satu pun suara.
Kedua lututnya pun melemas. Kepalanya terasa semakin pening. Ia pun tak kuat lagi. Tiba-tiba dirinya ambruk ke belakang. Untungnya ada seseorang yang memeganginya sehingga kepalanya tidak sampai terbentur lantai ruangan.
Matanya mencoba ia buka untuk menatap siapa sosok itu. Nampak seorang ustadz berwajah tampan yang begitu mengkhawarirkan dirinya. Haura pun tersenyum saat itu. Namun senyumannya hanya bertahan sementara. Karena tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Haura pun tak tahu lagi kejadian apa yang terjadi setelah itu.
"Haurraaa... Hauraaa... Cepat cari mobil yang bisa dipinjam... Cepat cari becak atau apalah yang bisa membawanya menuju rumah sakit terdekat" Kata seorang ustadz yang sedang mendekap tubuh lemahnya.
Ustadz itu pun memegangi dahi Haura. Suhu tubuh Haura terasa sangat panas. Ia pun semakin khawatir tentang keadaannya.
Jangan lagi... Jangan lagi kejadian seperti Fitri terulang lagi.
Batinnya sangat khawatir.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *