Pagi hari menjelang siang. Pak Prapto terus saja menyapu lantai lorong kelas sambil sekali-kali melihat ke sekitar untuk mencari seseorang. Entah kenapa hatinya jadi tidak tenang. Pikirannya masih terbayang akan foto yang ia temukan di hape temuannya. Pak Prapto masih tak percaya. Ia pun membatin dalam hatinya sendiri.
Ini pasti bohong kan ?
Namun saat dilihat-lihat lagi. Foto itu memang terlihat asli. Foto itu memang beneran terjadi. Membayangkan hal itu membuat hati pak Prapto tersakiti. Ia sungguh tak rela. Siapa yang tega melakukan hal itu pada ustadzah idolanya.
Kurang ajar yang namanya Lutfi itu !
Batinnya masih merasa marah.
Akhirnya, waktu yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Lonceng telah berbunyi. Walau belum memasuki waktu istirahat. Lonceng yang berbunyi saat itu merupakan tanda bagi para pengajar untuk mengakhiri sesi belajar mengajarnya. Andai pengajar itu masih mempunyai waktu mengajar lagi di tempat lain. Ia harus segera keluar untuk berpindah ke kelas lain untuk melanjutkan sesi belajar mengajarnya.
Satu demi satu ustadzah pun mulai keluar dari dalam ruangan kelas. Pak Prapto sengaja berhenti sambil berpura-pura istirahat untuk mengamati adakah ustadzah yang ia cari disini ? Nampak satu demi satu para ustadzah menyapa pak Prapto dengan ramah. Itu sudah biasa. Masalahnya mana ustadzah yang ia cari ? Kenapa masih belum ketemu ?
“Nah itu dia !” kata pak Prapto saat melihat ustadzah Hanna mulai keluar dari dalam ruangan kelasnya.
Buru-buru pak Prapto berjalan mendekati bidadari berhijab itu. Bidadari yang katanya sebentar lagi akan segera menikah. Masalahnya, kenapa bidadari sebaik dia sampai harus mengalami tragedi yang mengerikan seperti yang ia lihat di dalam hape itu.
“Pagi ustadzah” sapa pak Prapto saat mendekatinya.
“Pagi pak... Ehh pak Prapto yah” jawab Hanna sambil tersenyum. Pak Prapto pun tercengang. Ia tak menyangka Hanna masih bisa tersenyum semanis itu. Ia pun jadi ragu untuk menanyakan hal itu. Apa benar, foto yang ia temukan di hape itu merupakan foto Hanna ? Kalau ya, kenapa Hanna terlihat baik-baik saja ?
“Apa kabar ustadzah hari ini ? Ustadzah baik ?” tanya pak Prapto ketika berdiri bersebelahan dengan ustadzah cantik itu di samping salah satu ruangan kelas.
“Mmmm baik kok pak... Ada apa yah ? Tumben nanya kabar ?” jawab Hanna masih tersenyum.
“Heheheh gapapa ustadzah... Cuma pengen nanya kabar aja” kata Pak Prapto bingung untuk menanyakan foto itu. Ia ragu. Ia bimbang harus bertanya atau tidak.
“Ohhhh hihihih... Iya aku baik pak... Bapak sendiri gimana ?” tanya Hanna dengan ramah. Ia dengan sabar meladeni percakapannya dengan pria tua yang bekerja sebagai tukang sapu itu.
“Saya baik juga kok ustadzah” jawab pak Prapto kali ini agak sedikit menunduk karena sedang memikirkan cara untuk memasukan pertanyaan itu ke percakapannya dengan ustadzah Hanna.
“Bagus deh pak... Tapi kok mukanya sepet gitu yah ? Apa bapak yakin gapapa nih ?” tanya balik Hanna sambil tersenyum kepada pria tua itu.
“Hehehe, anu saya mau nanya boleh ustadzah ?” tanya Pak Prapto meyakinkan diri.
“Boleh kok... Silahkan tanya apa aja... Ada apa yah pak ?” tanya Hanna dengan ramah.
“Ustadzah kenal yang namanya Lutfi ?” tanya pak Prapto yang seketika membuat senyum Hanna menghilang.
“Lutfi ? Engg.. Enggak... Aku gak kenal kok pak” jawab Hanna tiba-tiba tergagap. Seketika firasat buruk mulai dirasakan oleh pak Prapto. Ia pun mulai yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara ustadzah Hanna dengan seseorang yang bernama Lutfi itu.
“Katakan aja ustadzah... Jujur saya pengen tau yang namanya Lutfi itu yang mana” kata Pak Prapto tidak bersabar karena tak tahan dengan sosok bernama Lutfi itu.
“Bapak ngomongin apa sih ? aku gak paham loh pak... Udah deh yah... Aku ada waktu ngajar lagi pak” kata Hanna merasa tak nyaman sehingga ingin menghindar.
“Ustadzah” kata pak Prapto tanpa sadar memegangi tangan Hanna. Hanna pun melirik ke arah tangannya yang sedang dipegang oleh pak Prapto. Pak Prapto pun tersadar kalau ia sudah memegangi tangan seorang akhwat tanpa izin. Ia pun mulai mengeluarkan hapenya kemudian mengucapkan beberapa kata pada ustadzah cantik itu.
“Saya punya sesuatu yang ingin saya tunjukan ke ustadzah” kata pak Prapto pada ustadzah cantik itu.
Melihat pak Prapto mengeluarkan sebuah hape. Hanna pun merasa tak enak. Hatinya jadi gelisah. Ia mulai penasaran kenapa pria tua ini sampai mengenal seseorang yang bernama Lutfi dan kenapa pula pria tua ini bersikeras untuk menunjukan sesuatu di hape itu.
“Ada apa sih pak ?” kata Hanna semakin tak nyaman.
“Ayo kesini sebentar ustadzah... Biar saya tunjukan” kata pak Prapto mengajaknya ke dekat lorong di samping kamar mandi.
Dengan berhati-hati, sambil melihat ke kanan juga ke kiri. Pak Prapto akhirnya mengeluarkan hape yang ia temukan. Saat pak Prapto menunjukan foto itu ke Hanna. Seketika kaki Hanna langsung lemas tak berdaya. Ia langsung jatuh berlutut sambil berderai air mata. Pak Prapto pun semakin yakin kalau foto yang ada di hape ini merupakan foto asli ustadzah Hanna.
“Darimana bapak menemukan foto ini ? Tolong pak hapus... Hapus foto itu pak... Aku takut” kata Hanna dengan mata berkaca-kaca.
“Ayo ustadzah berdiri dulu... Ayo sini duduk sebentar di kursi” kata pak Prapto membantu Hanna berdiri kemudian merangkulnya untuk duduk di kursi marmer di pinggir dinding pembatas lantai dua gedung kelas.
“Saya cuma mau nanya satu hal aja ke ustadzah... Siapa itu Lutfi ? Tenang saya bukan orang yang macem-macem seperti itu” kata pak Prapto untuk menenangkan diri Hanna yang tengah terkejut.
“Bapak gak usah ikut urusan aku pak... Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri... Tolong, aku cuma mau bapak hapus foto itu pak... Aku gak mau foto itu merusak karierku... Aku gak mau foto itu merusak pernikahanku” kata Hanna menangis kejer.
“Iya ustadzah... Saya tau... Saya gak akan sebar... Saya gak akan merusak kehidupan ustadzah... Yang saya mau tau itu, siapa Lutfi ? Saya janji, saya akan membalasnya ustadzah” kata Pak Prapto dengan penuh percaya diri.
“Pak... Gak usah ikut urusan aku... Aku gak mau menyeret orang lain ke masalah hidupku... Kalau bapak peduli dengan aku, tolong hapus foto itu... Percaya deh, aku pasti bisa menyelesaikan masalahku sendiri !” kata Hanna sambil menatap mata pak Prapto dengan begitu percaya diri.
Melihat tatapan mata itu yang begitu yakin membuat pak Prapto akhirnya luluh juga. Ia sebenarnya agak ragu untuk menghapus foto itu. Walaupun ia merasa kesal tiap kali melihat foto itu. Tapi di foto itu tersembunyi berbagai permata berupa lekuk indah Hanna yang tidak tertutupi apa-apa. Akan sangat disayangkan andai dirinya tidak bisa melihat keindahan tubuh Hanna lagi.
“Pakkk... Tolonggg hapus foto itu... Tolongg pak !” kata Hanna terus memohon.
Pak Prapto pun melirik wajah Hanna. Kemudian melirik ke hapenya. Ia kembali melirik wajah Hanna. Jemarinya bergetar karena bimbang antara ya atau tidak. Antara menghapusnya atau disimpan saja.
Demi kebaikan ustadzah Hanna kan yah ? Haruskah ?
Batin Pak Prapto berniat ingin menghapus foto itu.
Tapi sayang banget gak bisa melihat polosan tubuh ustadzah Hanna lagi.
Batin pak Prapto bimbang.
“Yaudah... Tapi tolong jaga diri ustadzah... Jangan sampai diganggu oleh orang itu lagi” kata Pak Prapto mengalah dan menunjukan satu demi satu foto itu dihapus. Melihat satu demi satu foto aibnya telah terhapus membuat hati Hanna seketika bergembira disana. Tanpa sadar. Akhwat berbadan montok itu langsung memeluk pak Prapto dengan erat. Pak Prapto terkejut. Telinganya masih mendengar suara isak tangis dari bidadari itu. Kedua tangannya pun reflek memeluk tubuh berisi Hanna kemudian mengusap punggungnya untuk menenangkannya.
“Terima kasih pak... Bakal jadi apa aku kalau bapak gak menemukan foto itu... Terima kasih sudah menuruti aku pak... Terima kasih sudah mau menghapus foto itu” kata Hanna menangis saat memeluk tubuh kurus pria tua itu.
“Iya ustadzah... Saya bukan orang jahat seperti itu... Saya cuma gak tega, kalau seorang ustadzah sebaik ustadzah Hanna sampai harus mengalami hal buruk seperti itu” kata pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum saat memeluk tubuh kurus pria tua itu.
Akibat saking bahagianya. Akibat saking senangnya. Hanna pun mengecup pipi pria tua itu dengan lembut. Kecupannya cukup lama. Bahkan pipi pak Prapto sampai basah terkena liur yang keluar dari mulut bidadari itu. Hanna pun melepaskan pelukannya. Ia juga melepaskan kecupannya. Ditatapnya lah wajah buruk pria tua itu. Hanna tersenyum. Sekali lagi, ia mengucapkan terima kasih pada pria tua yang telah membantunya itu.
“Hati-hati aja yah ustadzah... Kalau ustadzah butuh bantuan, saya bisa kok” kata pak Prapto bersikeras untuk membantu ustadzah cantik itu. Namun jawaban Hanna hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah pak... Aku gak mau bapak kenapa-kenapa karena ikut masalah aku... Sekali lagi terima kasih yah pak... Aku mohon izin pamit dulu karena masih ada jam mengajar... Hehe terima kasih pak” kata Hanna yang tak dapat berhenti tersenyum sambil menatap wajah pria tua itu. Hanna pun pamit pergi. Pak Prapto hanya bisa menatap punggung Hanna yang perlahan semakin jauh dari pandangan matanya.
Semakin jauhnya langkah kaki Hanna, Pak Prapto malah semakin terpikirkan seseorang yang bernama Lutfi itu. Hatinya semakin dendam. Ia ingin membalas perbuatan Lutfi itu karena sudah bertindak bermacam-macam dengan ustadzah Hanna.
Tapi masalahnya, siapa itu Lutfi ?
“Hah” desah pak Prapto memikirkan masalah itu. Hatinya masih terasa gelisah sebelum ia bisa melakukan balas dendam pada sosok itu.
*-*-*-*
Sementara itu di salah satu sudut rumah sakit. V masih saja duduk disana menemani ustadzah Haura yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Haura masih pingsan. Matanya masih terpejam. Namun kecantikannya tidak pernah hilang dari wajah indahnya. V pun tersenyum, ia terus saja memandangi wajahnya sambil sesekali membelai dahi bidadari berkulit bening itu. Tiba-tiba, senyum V hilang saat merasakan suhu badan Haura yang masih saja terasa panas.
“Kenapa lagi sih kamu Haura ? Kenapa kamu pingsan gini ?” kata V khawatir.
Hatinya pun gelisah tiap kali memikirkan Haura kenapa-kenapa. Ia tak mau lagi kehilangan sesosok wanita yang ia cinta. Ia tidak mau lagi masa lalunya kembali terulang hingga membuatnya harus kehilangan seseorang yang ia cinta. Seseorang, yang fisik dan sifatnya hampir sama persis dengan masa lalunya. Seseorang yang ia cinta di masa lalu bernama Fitri.
Bahkan saat itu, ia tak bisa menemani Fitri diakhir-akhir masa hidupya. Ia hanya tahu kabar kepergiannya melalui sebuah pesan. Ia pun menyesal karena tak bisa menatap wajah indahnya lagi. Bahkan sampai detik ini.
“Bertahanlah Haura... Kamu pasti bisa sembuh... Jangan menyerah dengan keadaan... Ayo sehat lagi yah” kata V terus membisiki kalimat penyemangat demi kesembuhan ustadzah Haura.
Tak lama setelah itu, dokter yang bertanggung jawab untuk memeriksa kondisi Haura pun datang. Ia bernama dokter Ani, dokter yang dahulu sempat menangani V dikala kejiwaannya terganggu.
“Dok... Gimana kondisi Haura ?” tanya V saat dokter Ani sedang memeriksa keadaan Haura.
“Tenang ustadz... Ustadzah Haura kayaknya cuma kecapekan dan banyak pikiran aja kok... Karena itulah ia sampai drop kaya gini... Ia terlalu memaksa diri... Ia terlalu memaksa tubuhnya untuk bekerja... Padahal tubuhnya lagi capek, pikirannya pun capek... Untuk sementara biarkan ustadzah Haura istirahat dulu yah... Biarkan ia mengembalikan lagi kekuatannya agar ia bisa sehat lagi seperti semula” kata dokter Ani tersenyum sambil memandang wajah V.
“Hufttt syukurlah” jawab V sambil menatap wajah Haura.
“Terima kasih yah dok” kata V pada dokter Ani.
“Yasudah untuk sementara ditemani dulu yah... Kalau ustadzah Haura sudah sadar, nanti segera hubungi saya, agar saya bisa memeriksanya dengan segera” kata Dokter Ani tersenyum pada ustadz tampan itu.
“Iya dok, sekali lagi terima kasih” jawab V tersenyum.
Dokter Ani pun pergi meninggalkan V sendiri di ruangan pasien itu. Saat dokter Ani pergi itulah, V jadi teringat masa lalunya ketika ia masih bersama-sama dengan seseorang yang mirip sekali dengan ustadzah Haura.
SEKITAR 8 TAHUN YANG LALU
Delapan tahun yang lalu, masa dimana anak-anak yang baru tumbuh dewasa menikmati waktu berseragam putih-birunya. Tidak ada masalah. Tidak ada masa susah. Yang ada hanyalah kebahagiaan ketika bersama-sama dengan seseorang yang kita sayang.
Itulah yang saat ini sedang terjadi pada V kecil. Dikala ia masih duduk di bangku kelas sembilan SMP. Ia bersama teman-teman sekelasnya sedang melakukan darmawisata ke kota Bandung. Kota yang juga dijuluki sebagai kota kembang. Bukan tanpa alasan memang kenapa kota Bandung sampai dijuluki sebagai kota kembang. Dahulu, pada zaman itu kota Bandung dinilai sangat cantik karena banyaknya pepohohan dan bunga-bunga yang tumbuh disana. Tak berlebihan memang sehingga kota Bandung sampai juga disebut sebagai Paris van Java. Atau kota Parisnya yang ada di pulau jawa.
Saat itu, siswa-siswi yang sedang berwisata dibagi menjadi beberapa kelompok oleh gurunya. Setiap kelompok diawasi oleh satu guru. V pun termasuk dari salah satu kelompok itu. Mereka pun sedang bersama-sama memasuki taman bunga yang tumbuh begitu indah di daerah Lembang. Daerah yang dikenal dengan dataran tingginya sehingga banyak bunga-bunga indah yang tumbuh disana.
Sebenarnya perjalanan kali ini merupakan akhir dari darmawisata mereka sebelum mereka semua balik kembali ke sekolah. Karena itulah para guru sengaja memilih tempat yang menyegarkan ini untuk membersihkan mata & pikiran mereka melalui pemandangan indah yang terbentang di kejauhan.
“Fikri lihat deh... Indah banget yah !” kata Fitri yang merupakan satu kelompok dengan V.
“Ehhh... Mann... Manna... Wahh iyyy... Iyya yah” jawab V.
“Hihihih ayukkk... Kesini” kata Fitri menarik tangan V kemudian berjalan menuju ke arah tepi pembatas yang memisahkan area pejalan kaki dengan area bunga-bunga yang tumbuh disana.
“Wahhhhhh... Bbaa... Bbaannyakk yah ! Warna-warrnn... ni” kata V terkagum melihat keindahan bunga di depannya.
“Iya nih... Wah cantik banget... Liat deh yang warna kebiruan disana” kata Fitri menunjuk ke arah bunga itu.
“Wuihhh... Kok... kok bisa cakep gitu yah” kata V tak percaya seolah matanya telah diberkati.
“Mana ? biasa aja” kata seseorang yang tiba-tiba datang disebelah V. Fitri yang berada di arah yang berseberangan pun melirik siapa sosok itu.
“Rizky Bagus Perkasa... Anak nakal yang sukanya nyari keributan... Mau ngapain lagi disini ?” tanya Fitri yang sebal melihat orang itu lagi. Walau Rizky merupakan anak orang kaya dan diberkati dengan wajah tampan nan rupawan. Kalau sifatnya suka bikin jengkel ya gimana mau disukai kaum wanita. Itu juga yang dirasakan oleh Fitri ketika Rizky seringkali mengganggu V bahkan semenjak mereka sama-sama duduk di bangku SD.
“Kita kan sekelompok ? Salah yah aku disini ?” kata Rizky dengan dingin.
V yang berada di antara mereka berdua pun tak nyaman. Ia pun lebih memilih diam sambil melihat ke depan. Untungnya ada penjaga yang mulai mendekat untuk memimpin tur mereka di taman bunga ini.
“Sssttt semuanya diam... Staffnya udah mulai berbicara tuh” kata seorang guru yang menyuruh semua siswanya diam agar bisa memperhatikan.
V, Rizky dan Fitri pun diam. Mereka berdiri bersama tepat di barisan paling depan sehingga mereka dapat melihat semuanya dengan jelas.
“Selamat sore semuanya... Bapak-bapak beserta ibu-ibu guru dan semua siswa-siswi cakep dan baik hati semua... Perkenalkan, saya disini akan berdiri untuk menjelaskan setiap nama-nama bunga yang tumbuh di taman ini... Sebelum kita memulainya, Apakah bapak-bapak, ibu-ibu dan adek-adek semuanya pernah mendengar istilah say it with flowers ?” kata staff penjaga itu.
“Belummm pakkkk” jawab semua kompak.
“Wah sayang banget hari gini masih belum pada dengar” kata staff penjaga itu tersenyum sambil bertepuk tangan. Semua siswa beserta guru yang ada disitu pun tertawa. Termasuk tiga serangkai yang sedang berdiri di barisan paling depan.
“Jadi gini temen-temen.... Manggilnya temen-temen aja yah biar saya keliatan lebih muda” kata staff penjaga itu sambil menjulurkan lidah yang berhasil menarik perhatian para pengunjung hingga membuat mereka semua tertawa.
“Kalimat say it with flowers merupakan slogan atau ungkapan yang sering terlontar saat seseorang tidak mampu mengungkapkan perasaan yang ada di dalam hatinya... Kalau kalian tahu, bunga bisa kita manfaatkan untuk mengungkapkan perasaan yang tak mampu kita sampaikan lewat kata-kata lohhhhh” kata staff penjaga itu yang membuat semua pengunjung tertarik. Termasuk V, Rizky dan Fitri yang semakin memperhatikan staff itu berbicara.
“Misal nih, ada salah satu dari kalian yang merasa kecewa namun kalian ragu untuk membicarakannya karena takut membuatnya terluka... Kalian cukup memberi orang itu bunga yang berwarna putih dan bertunas seperti ini... Bunga ini bernama Asphodel yang memiliki arti penyesalanku padamu sampai akhir" Kata staff pemandu itu sambil menunjuk ke arah bunga yang dimaksud.
“Whooaaaaa” semua orang terkagum sampai berteriak serempak. Beberapa dari mereka sampai ada yang memotret bunga itu untuk dijadikan kenang-kenangan selama liburan ke taman ini.
“Coba kalian semuanya lihat kesini... Pernah gak kalian lihat bunga yang mahkotanya berwarna merah keunguan dan ada tambahan warna kuning di dalamnya ? tahu gak ? Bunga ini tuh paling cocok bagi kalian yang masih muda-mudi namun memendam sebuah perasaan pada seseorang yang dulu pernah kalian cintai” kata staff penjaga itu tersenyum.
“Ciiyyeeeee hahahahaha” semua pengunjung pun tersenyum malu membayangkan semua itu. Bahkan guru-guru yang sudah menikah pun ikut tersipu. V pun diam-diam memandang Fitri disebelah.
“Bunga ini bernama Ambrosia... Konon bunga ini dahulu merupakan makanan bahkan minuman bagi para dewa-dewi yang ada di negeri Yunani. Seringkali bunga ini juga diyakini bisa memberikan kehidupan abadi bagi siapapun yang memakannya... Tapi ingat, ini cuma mitos yah hehehe karena tidak ada seseorang yang abadi di dunia ini... Nah, karena sebab itulah banyak orang-orang yang menggambarkan kalau bunga ini sangat cocok bagi seseorang yang ingin menghidupkan cinta lama pada seseorang yang dulu pernah kalian cintai dengan harapan cinta itu bisa abadi seperti mitos bunga ini” kata staff penjaga itu menjelaskan.
Semua orang pun takjub. Bahkan Rizky yang awalnya tidak tertarik jadi tertarik mengenai penjelasan yang begitu gamblang oleh staff pemandu wisata itu. Setelah itu perjalanan pun dilanjutkan ke sisi bagian lain taman ini.
Namun Rizky yang masih penasaran pun tetap tinggal. Dikala semuanya pergi, Rizky pun bertanya pada staff yang tadi menjelaskan semua.
“Kalau ini bunga apa pakk” kata Rizky menunjuk ke arah bunga yang bermahkota merah namun memiliki warna gelap di dalamnya.
“Ohh itu... Namanya bunga Poppy nak”
“Bunga Poppy ? Apa memang artinya pak ? Kok aku tertarik dengan warnanya” kata Rizky antusias. Staff penjaga itupun tersenyum sejenak menatap Rizky. Lalu ia menundukan tubuhnya kemudian menepuk kedua bahu Rizky menggunakan kedua tangannya.
“Kematian yang terlupakan” kata staff pemandu wisata itu yang membuat Rizky ketakutan.
Sementara itu di rombongan siswa.
“Ehhh Rizky mana yah ?” tanya Fitri yang pertama menyadari.
“Gakkk... Gakkk tauu tuh... Ketingg... Ketinggalan kali yah” kata V tak begitu peduli.
“Ehmmm masa sih ? Pak... Pak Guru, kok Rizky gak ada yah ? Apa masih tertinggal” tanya Fitri sebagai ketua rombongan kepada guru yang mengawasinya.
“Lohhh iya yah ? Rizkyyyy !!!!” panggil guru itu.
Untunglah rombongan kelompok masih berada di dekat Rizky. Guru itu pun memanggil Rizky yang nampaknya sedang berbicara dengan pemandu wisata yang tadi menjelaskan.
“Kenapa begitu ? Kenapa artinya seperti itu ?” kata Rizky pada staff penjaga itu.
“Hahaha... Bunga ini memang indah... Bunga ini memang menarik... Tapi tau gak bahwa di dalam bunga ini terkandung sebuah racun mematikan yang bisa membuat orang-orang tewas seketika... Hati-hati jangan disentuh dengan tangan kosong yah... Kalau kena getahnya bahaya” kata staff pemandu wisata itu tersenyum.
Rizky pun tidak menjawab bahkan tidak bereaksi sedikitpun mengenai penjelasan itu. Ia pun pergi kembali ke rombongan untuk melanjutkan tur darmawisata mereka di taman bunga yang indah ini.
Staff pemandu wisata itu masih saja tersenyum dari kejauhan. Ia terus saja menatap Rizky bahkan saat Rizky sudah semakin jauh dari pandangannya. Pemandu wisata itu masih saja tetap menatapnya.
SEKITAR 4 TAHUN KEMUDIAN
Di sebuah kantin dimana mereka berdua terbiasa ngumpul. Nampak seorang gadis cantik berhijab yang tengah menunggu kehadiran seseorang. Hijabnya yang berwarna merah melilit kepalanya yang mungil. *Sweater-*nya yang berwarna terang menutupi tubuhnya yang ramping. Celana hitamnya yang berwarna gelap dan bermotif kotak-kotak menutupi kedua kakinya yang jenjang. Ia tampak sempurna. Cantiknya sungguh tidak ada duanya. Gadis itu telah tumbuh selayaknya bunga yang bermekaran di musim semi.
Kaki kanannya ia naikan di atas kaki kirinya. Tangan kanannya ia sandarkan pada pipi chubby-nya. Diantara dua bibirnya, terjepit sebuah sedotan yang menghubungkan mulut manis gadis itu dengan sebuah minuman segar yang terhidangkan diatas gelas beningnya. Ia pun menyeruput minuman itu. Terasa air dingin itu mengademkan kerongkongannya. Rasa panas yang mendera di siang hari yang panas ini pun mulai berkurang. Berulang kali gadis itu melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan di lengan sebelah kirinya. Sesekali ia juga melirik ke kanan juga ke kiri.
"Mana sih Fikri, kok lama amat... Apa jam kuliahnya belum selesai yah ?" Tanya Fitri.
Walaupun sejak SD mereka terbiasa satu kelas bersama. Untuk sekarang, ketika mereka mulai memasuki bangku kuliah. Mereka tidak lagi dapat sekelas karena kebetulan mereka memilih jurusan yang berbeda. Fitri memilih jurusan manajemen bisnis sedangkan V memilih jurusan kimia kendati waktu itu dirinya baru saja lulus dari pondok pesantren.
Ya, mereka sempat terpisah empat tahun sebelum dipertemukan kembali di kampus ini. Fitri pun menunggu dengan sabar. Ia kembali menyeruput minumannya sambil sesekali melihat ke arah selatan. Tempat dimana gedung kelas V berada.
Tiba-tiba dari belakang, ada seseorang yang memberikan setangkai bunga berwarna kuning di sebelah tangan Fitri. Fitri pun menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya ia ketika orang yang sudah lama ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.
"Fikrii" Kata Fitri tersenyum.
"Uddd... Udah lama yahhh... Nungg... Nungggunyaa ?" Kata V yang kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Fitri.
"Lama banget... Ngapain aja sih baru dateng ?" Kata Fitri tersenyum sambil menyeruput minumannya kembali.
"Biii... Biasaaa hehehe... Doss... Dossennya lamaa" Jawab V.
"Ohhh yahhh... Masss... Masih inget gak... App... Appaa maksud darrr... Dari bunga itu ?" Tanya V.
"Hihihi... Masih dong... Bunga Akasia kan ? Persahabatan maksudnya ?" Kata Fitri yang hanya dijawab senyuman oleh V.
Ya betul... Tapi bisa bermakna lain loh ? Tau gak apa itu ?
Batin V yang hanya bisa ia simpan di dalam hati. Ia tak berani mengungkapkannya. Ia hanya bisa membatin karena terlalu malu untuk mengatakan maksud yang sebenarnya dari pemberian bunga itu.
"Oh yah Fik... Mau pesen apa ?" Kata Fitri pada V.
"Es teh aja" Jawab V singkat.
"Bu... Es tehnya satu porsi lagi yah" Kata Fitri kepada ibu-ibu yang berjaga di kantin itu.
"Siap mbak... Bentar yah" Kata ibu penjaga kantin itu.
"Oh yah Fik... Udah tau belum... Kedua orang tuanya Rizky meninggal loh" Kata Fitri yang mengejutkan V.
"Ehhhh ? Kokk... Kokk bisa ?" Kata V terkejut.
"Iya... Katanya rumahnya semalem kemalingan... Nah pencuri itu yang berhasil membunuh kedua orang tuanya... Tapi untungnya gak ada barang dari rumah Rizky yang tercuri... Hari ini aja dia gak masuk kelas loh" Kata Fitri yang satu kelas dengannya.
"Wahhhh" Kata V tak bisa berkata-kata.
"Kapan-kapan kita ngelayat ke rumahnya yuk" Kata Fitri mengajak V.
"Buuu... Buuaatt appaa ? Biii... Biiarriin aja lah... Itu hukuu... Hukuman buat dia" Kata V yang masih kesal karena sering dijaili Rizky sejak kecil.
"Heh gak boleh gitu... Kejahatan gak boleh dibalas dengan kejahatan... Siapa tau dengan kebaikan sifat kita, sifatnya yang nyebelin itu bisa berubah" Kata Fitri bertindak dewasa.
"Iyyy... Iyya sih" Kata V.
Karena lapar, V pun berniat mengambil tempe mendoan yang terhidang diatas meja kantin itu. Namun belum sempat V mengambilnya, tangan Fitri terlebih dahulu menepuk tangan V sehingga V tidak jadi untuk menyantap tempe gorengan itu.
"Hush kebiasaan... Jangan sering-sering makan gorengan tau" Kata Fitri menasehati.
"Ehhhh... Emmm... Emmang knapa ? Kannn... Kann enak" Kata V protes.
"Iya tapi gak baik buat kesehatan tau... Dari dulu makannya gorengan terus... Sekali-kali makan buah atau sayuran kek" Kata Fitri menasehati.
"Yahhh... Masss.. Massaa sayuran sama buuu... Buahhh... Kan gak ada yangg juuu... Juaal" Kata V
"Kata siapa ? Liat di sana ada yang jual rujak... Di sebelah sana ada yang jual pecel" Kata Fitri.
"Iyyy... Iyya sihhh" Kata V mengalah.
"Nah iya satu lagi... Coba dibiasain kalau ngomong tuh yang PeDe deh... Aku yakin, kamu pasti bisa kok buat ngerubah gaya bicaramu itu" Kata Fitri begitu peduli.
"Tappp... Tappi kan kenapa ? Ginnii.. Ginni aku juga bisa kok berrrkomuni... Kasi" Kata V.
"Iya... Tapi jelek tau... Pokoknya kamu tuh harus bisa berubah... Aku kaya gini tuh juga demi kebaikan kamu tau... Kita udah sahabatan lama... Aku mau yang terbaik buat kamu nanti" Kata Fitri terus menerus menasehati.
"Iyyya.. Iyyaaa... Nannn... Nantii kuusahain kok" Kata V yang belum terbiasa.
"Janji kamu bisa merubah gaya hidup kamu ?" Tanya Fitri.
"Iyyy... Iyyaaa... Aku usahhaaa... In kok" Kata V.
"Bener yah ? Kalau kamu masih kaya gini lagi... Aku gak mau deh ketemu kamu lagi" Kata Fitri tersenyum.
"Iyy... Iyaaa... Aku janji dehh bakal berruu.. Bah" Jawab V.
Fitri tersenyum mendengar jawaban dari V. Setelah itu, ia pun kembali menyeruput minuman segarnya. Tiba-tiba ia memegangi dadanya. Fitri pun berkata pada V.
"Ehh Fik... Bentar yah, aku mau ke kamar kecil dulu" Kata Fitri terlihat terburu-buru pergi. V pun hanya mengangguk saja. Minuman yang tadi ia pesan pun jadi. Sambil menunggu Fitri kembali. Ia menyeruput minuman segar itu hingga rasa haus yang bergelut di kerongkongannya mulai menghilang.
Sementara itu, Fitri yang tadi pamit ke kamar mandi semakin memegangi dadanya. Dadanya semakin terasa sesak dan ia mulai merasakan sakit disana.
"Aduhhh... Kenapa kambuh lagi ?" Kata Fitri menahan perih.
Ia buru-buru mengambil sapu tangan bersih yang baru saja ia beli saat perjalanan ke kantin tadi. Ia pun menutupi mulutnya saat ia merasa akan segera batuk. Fitri pun terbatuk-batuk. Lehernya terasa perih. Saat ia melihat kembali sapu tangan itu. Ada bercak kemerahan yang tertinggal disana.
Fitri hanya mengernyitkan dahi saat melihat noda itu. Ia pun kembali melipat sapu tangannya. Kemudian wajahnya ia tolehkan ke belakang untuk melihat keadaan V.
Untunglah... Sepertinya ia belum menyadari hal ini.
Batin Fitri lega.
MASA SEKARANG
"Siapa yang tahu... Kalau sejak kejadian di kantin waktu itu, kita gak pernah bisa lagi tuk bertemu... Kamu terus-terusan sakit sampai gak masuk kuliah tanpa sepengetahuanku... Aku sudah berubah seperti kemauan kamu... Aku gak lagi bicara gagap... Aku gak lagi ketagihan makan gorengan... Tapi kenapa kita gak bisa lagi bertemu ? Terkadang dunia gak sebecanda itu yah" Lirih V saat menatap wajah cantik Haura. Namun V tetap tersenyum sambil memandang wajah cantiknya.
"Ustadz !!!!" Seketika V dipanggil oleh seseorang dari belakang. Saat V menolehkan wajahnya, rupanya itu dari dokter Ani. Dokter yang menangani Haura sekarang.
"Iya dok ada apa ?" Tanya V mendekat.
"Hmmm maaf ini... Mau buat data aja, untuk mengisi nama penjenguk pasien... Nama antum siapa yah? Maaf agak lupa" Tanya Dokter Ani sambil memegangi sebuah kertas dan pena.
"Ohhh nama ana. . . . " Belum sempat V menjawabnya. Dokter Ani keburu menjawab duluan.
"Oh yah ustadz V yah ?" Tanya Dokter Ani.
"Iya betul" Jawab V tersenyum.
"Kalau boleh tau nama lengkapnya siapa ?" Tanya dokter Ani bersiap-siap untuk menulis.
"Ohhh itu... Fikri Hazami dok" Jawab V.
"Hmmm begitu... Yasudah terima kasih yah ustadz... Permisi" Kata Dokter Ani bergegas keluar dari ruangan.
Saat dokter cantik itu sudah keluar dari ruangan dimana Haura & V berada. Dokter itu terus saja memandangi sebuah nama yang baru saja ia tulis di lembaran kertas itu.
"Ini aneh" Kata dokter Ani heran.
"Kenapa pemeriksaannya gak cocok dengan yang dulu ? Padahal dulu kan . . . . ." Kata dokter Ani sambil menoleh ke belakang. (Baca Chapter 6 untuk tahu perbedaan pemeriksaan yang lama dengan yang baru) Ia pun memandangi ustadz tampan itu dari balik kaca yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan dimana dokter Ani berada.
"Sebenarnya dia punya kepribadian ganda gak sih ? Atau mungkin akunya aja yang gak begitu paham dengan kasus ini ? Ihh sebel deh... Harus sering-sering konsultasi ke dokter ahlinya kalau kaya gini" Kata dokter Ani berbicara sendiri. Ia makin bimbang setelah mendengar jawaban dari V tadi.
*-*-*-*
Sore harinya dikala penghuni pondok pesantren tengah berolahraga. Ada salah satu ustadzah yang tengah mengenakan pakaian santainya berjalan dari kamar asramanya menuju kantor bagiannya yang bertempat di kantor pengasuhan santri. Hatinya tengah gelisah oleh dua kejadian yang tiba-tiba ia alami di pagi hari ini. Pertama, bagaimana bisa pak Prapto mengetahui rahasianya tentang insiden pelecehan yang dilakukan oleh Lutfi kepadanya. Kedua, bagaimana keadaan Haura sekarang ? Terakhir kali sewaktu V mengabari, Haura katanya hanya kecapekan saja. Tapi tetap saja, sebagai seorang wanita ada rasa gelisah yang menghantui diri Hanna saat ini.
Dengan celana training longgar yang membungkus kaki semoknya. Dengan kaus berlengan panjang yang agak ketat di dada. Tubuh berisi Hanna terlihat semakin menggoda dikala berjalan-jalan di sekitar area pondok pesantren.
Tidak ada niatan sedikit pun bagi Hanna untuk menggoda. Tidak ada niatan sedikitpun bagi Hanna untuk menampilkan keindahan tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi ? Makin kesini kok tubuhnya semakin berisi aja. Mungkin karena pola makannya yang tidak teratur membuat tubuhnya cepat membengkak hingga membuatnya jadi semakin semok seperti saat ini.
Sebenarnya Hanna jarang makan nasi. Cuma, ia sering mengemil di malam hari. Hal itulah yang membuat tubuhnya jadi sedap dipandang seperti ini. Tak jarang dalam perjalanannya kesini, ada banyak mata santri nakal yang begitu bergairah menatap susu gede manis yang tergantung dibalik kaus ketatnya itu. Apalagi saat itu Hanna sedang mengenakan kaus berwarna gelap. Sedangkan cahaya matahari masih bersinar. Dikala kaus gelap Hanna menyerap panasnya cahaya matahari, otomatis tubuh dari bidadari montok itu mengeluarkan cairan keringat yang membuat kaus itu semakin mencetak dengan jelas keindahan tubuhnya.
Hanna sadar sih dengan keadaan kausnya. Ia juga agak menyesal. Makanya ia pun buru-buru mempercepat langkah kakinya agar ia bisa segera sampai di kantor bagian pengasuhan santri.
Akan tetapi, ditengah perjalanannya menuju kesana. Tiba-tiba dirinya langsung berhenti ketika melihat seseorang yang berdiri dihadapannya. Orang itu tengah berdiri santai menyandar pada salah satu tiang lampu yang berada di antara jalan menuju ke kantor bagiannya.
Lutfi...
Batin Hanna ketakutan.
“Assalamualaikum ustadzah” sapa Lutfi sambil berjalan mendekat.
Hanna jelas ketakutan. Dikala Lutfi melangkah mendekat, Hanna secara tidak sadar malah memundurkan langkah kakinya. Matanya masih menatap wajah santri berkepala plontos itu. Ia begitu hati-hati karena takut dirinya akan di nodai lagi.
“Lohhh ustadzah kok diem aja... Dijawab dong salam dari ana muweheheheh” tawanya yang membuat pikiran Hanna terngiang-ngiang mengenai kejadian di malam itu.
“Ada apa lagi Lutfi !!! Apa mau antum ?” kata Hanna panik.
“Ssssttttt... Kita di tempat terbuka ustadzah... Banyak santri lain yang lihat... Biasa aja dong jangan bertingkah mencurigakan... Nanti mereka mikirnya kita kaya abis ngapa-ngapain gimana ? Muwehehehhe” kata Lutfi yang menyadarkan Hanna.
Benar memang mereka masih di tempat terbuka. Banyak santri-santri yang berseliweran di kanan kirinya. Tapi tidak banyak. Mungkin hanya satu-dua saja. Hanna pun menenangkan dirinya. Ia pun berpikiran positif. Tidak mungkin Lutfi akan bertindak nekat di tempat terbuka seperti ini.
“Ini ada surat cinta dari ana untuk antum” kata Lutfi tiba-tiba memberikan sebuah amplop kepada Hanna.
“Surat ?” kata Hanna.
“Naam ustadzah... Sebuah surat yang isinya betapa rindunya ana ke antum ustadzah muwehehehhe” kata Lutfi berbicara lirih sehingga hanya Hanna sajalah yang mendengar percakapannya.
“Maksud antum ?” kata Hanna tersinggung.
“Baca aja nanti ustadzah... Tapi harus sendiri yah... Ana malu soalnya kalau ada orang lain yang ikut baca surat dari ana muwehehehhe” lirih Lutfi kemudian bergegas pergi meninggalkan Hanna.
Lutfi pun berjalan menuju arah yang tadi di lewati oleh Hanna. Namun baru beberapa langkah saja ia memunggungi ustadzah cantik itu. Lutfi sudah kembali sambil berbisik di belakang punggung Hanna. Mereka berdiri saling tidak berhadap-hadapan. Punggung mereka mungkin nyaris berhimpitan. Tapi nyatanya tidak. Punggung mereka hanya terpisah beberapa sentimeter saja.
“Ana suka banget dengan body montok antum ustadzah... Lihat ustadzah pake baju ketat kaya gini aja bikin nafsu ana gak tahan... Muwehehehe siap-siap kerja bagai kuda lagi yah ustadzah... Kontol ana udah gak tahan lagi us !!!” kata Lutfi yang membuat Hanna merinding. Lutfi pun pergi menjauh. Saat Hanna membalik badan, santri bejat itu benar-benar telah pergi meninggalkan dirinya. Walau sosok itu telah pergi. Kata-katanya masih terngiang di dalam pikirannya.
Apa maksud perkataannya itu ? Kerja bagai kuda ?
Batin Hanna merinding.
Karena tidak paham apa maksudnya. Hanna pun melanjutkan perjalanannya menuju kantor bagiannya.
Sesampainya disana, hanya ada ustadz Rafi saja yang menunggu di dalam kantor bagiannya. Setelah menyapa sebentar dan saling bertukar pandang sejenak. Hanna buru-buru duduk di meja kerjanya untuk membaca lembaran surat yang baru saja ia dapatkan dari Lutfi.
“Hai ustadzah... Ini ana Lutfi,
Akhir-akhir ini ana terlalu sibuk dengan kegiatan ana sebagai seorang santri sampai-sampai gak sempat buat nyapa ustadzah lagi... Ana tahu pasti antum kangen berat ke ana kan ? Antum pasti kangen kan gimana rasanya memek antum disodok-sodok pake kontol raksasa ana... Sejujurnya ana juga kangen denger desahan antum yang mantap itu kok ustadzah... Ana juga kangen rasanya dijepit pake memek sempit dan anget kaya punya antum... Jangan khawatir !!! Malam ini, antum gak perlu ikut ngawas muhadhoroh di kelas... Cukup datengi kelas dimana kita pernah bercinta bersama santri-santri beruntung waktu itu... Masih inget kan tempatnya dimana ? Di gedung kosong yang baru jadi itu loh muwehehehhe !!!
Datanglah sendiri ustadzah... Karena kalau ustadzah sampai membawa orang ! Atau ustadzah melaporkan surat ini ke orang lain... Ana gak akan segan untuk menunjukan video rekaman kita dikala kita bercinta bersama.” Lirih Hanna sambil merinding dikala membaca surat dari Lutfi.
“Ehhem... Dapet surat dari fans yah” kata Ustadz Rafi dari kejauhan.
“Ehhh ohh ya... Iya ustadz heheh ada yang ngasih” jawab Hanna sekenanya ketika dikejutkan oleh suara ustadz Rafi.
Setelah membaca surat itu. Kedua tangan Hanna otomatis meremasnya bahkan nyaris merobeknya jadi dua. Untunglah ustadz Rafi tidak melihatnya. Karena kalau ustadz itu sampai melihat bisa-bisa ia tidak harus harus menjawab apa untuk memberikan alasan dari tindakannya.
Video rekaman waktu itu yah ? Bukannya video itu sudah di hapus pak Prapto ? Tapi sebentar, itu kan video dari hapenya pak Prapto... Bukan hapenya Lutfi ? Brati video itu sudah tersebar dong ? Aduhhh gimana ini ?
Batin Hanna yang tak tahu menahu kalau hape yang pak Prapto tunjukan tadi pagi adalah hape Lutfi yang sudah ditemukan olehnya.
“Malam ini yah ? Lagi... Astaghfirullah !!!” kata Hanna merasa lemas mengetahui kejadian buruk akan menimpanya malam ini.
MALAM HARINYA
Hanna terlihat terburu-buru untuk pergi menuju tempat yang sudah dijanjikan itu. Keadaan disekitarnya memang sudah sepi. Semua ustadzah, ustadz ataupun para santri sudah pada pergi menuju kelas masing-masing untuk melaksanakan pelatihan muhadhoroh malam.
Pakaian Hanna agak sedikit santai ketimbang para ustadzah yang bersiap-siap untuk muhadhoroh. Kalau ustadzah lain tengah mengenakan pakaian gamis atau kemeja rapih demi bertemu dengan santriwati-santriwatinya. Hanna malah mengenakan kaus berwarna abu-abunya yang itu pun agak ketat di dada. Ia juga mengenakan celana panjang yang memiliki warna selaras dengan kausnya. Tak lupa ia juga mengenakan hijab berwarna gelap yang membuatnya semakin terlihat sempurna di malam itu. Hawa dingin yang berhembus di malam itu memaksanya untuk mengenakan jaket berwarna birunya untuk melengkapi penampilan menariknya di malam hari ini.
Walau Hanna hanya mengenakan riasan yang tipis. Walau Hanna tidak berdandan lagi setelah mandi setelah maghrib tadi. Anehnya, penampilan wajah Hanna masihlah sangat mempesona seperti biasa. Kulit pipinya begitu halus. Kulit di tubuhnya pun bening mulus. Bahkan beberapa nyamuk yang hendak mencium tubuh indahnya terlebih dahulu terpeleset karena tidak sanggup berdiri di atas kulit indahnya.
Apalagi dengan proporsi tubuhnya yang berisi sempurna. Mungkin tubuh Hanna tidak seramping tubuh indah Haura. Mungkin tubuh Hanna tidak seproporsional tubuh Nada yang mempunyai body goals sempurna. Mungkin tubuhnya lebih mirip ke Rachel. Montok berisi tapi tetap saja ada daya tarik yang membuat setiap laki-laki jatuh cinta padanya. Tidak hanya jatuh cinta tapi juga jatuh nafsu.
Entah salah apa Hanna kenapa dirinya bisa jadi menggairahkan seperti ini. Padahal dari atas sampai bawah semua auratnya sudah ditutupi oleh pakaian yang ia kenakan. Tapi tetap saja ada daya tarik seksual yang membuat para lelaki begitu ingin untuk bersetubuh dengannya. Bahkan sampai ada dua santri yang berandai-andai bisa menyetubuhinya bareng untuk bersama-sama membuat anak dengannya.
Ketika Hanna sudah sampai di gedung kosong itu. Hanna terlihat lebih berhati-hati daripada sebelumnya. Ia melirik ke kanan juga ke kiri untuk melihat keadaan. Ia begitu gugup andai santri bejat itu kembali menyergapnya dan memaksanya untuk menuruti keinginan hawa nafsunya.
Sebenarnya Hanna buru-buru ingin kesini untuk menegosiasikan rencana agar dirinya bisa dibebaskan dari ancaman nafsu Lutfi yang begitu menggebu-gebu. Tapi bagaimana yah ? Karena sejujurnya ia belum mendapatkan ide sama sekali. Keadaan yang semakin mendesak membuat pikirannya semakin buntu karena kesulitan untuk mendapatkan ide segar di waktu yang semakin mepet ini.
Prrrookkkk... Prrroookkk... Prrroookkkk !!!
Hanna terkejut ketika mendengar suara tepukan tangan dari seseorang. Rupanya suara itu berasal dari dalam ruangan yang sama ketika Hanna dilecehkan oleh ketiga santri waktu itu.
“Selamat datang ustadzah... Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk bermantap-mantap dengan kontol ana” kata Lutfi dengan santai sambil tersenyum menatap ustadzah cantik itu.
Wajah santri itu terlihat licik. Wajah santri itu terlihat bernafsu. Hal itu membuat Hanna semakin tidak nyaman dan ragu untuk memasuki ruangan itu.
“Tunggu Lutfi... Ustadzah mau ngomong sebentar !” kata Hanna berniat bernegosiasi.
“Ada apa lagi ustadzah... Buruan lah... Ana udah gak sabar pengen ngeliat susu gede antum lagi !!” kata Lutfi yang sudah semakin mupeng ingin menyenggamainya.
“Lutfi tolonggg... Ini ustadzah... Tolong bebaskan ustadzah... Jangan bikin ustadzah kaya gini lagi... Tolong Lutfiii” kata Hanna memelas.
“Muwehehehehe... Bosen ana ustadzah denger ceramah antum kaya gitu... Buruan deh, jangan buang-buang waktu lagi... Waktu makin malem loh ustadzah... Lama-lama ana paksa antum buat pulang telanjang ke asrama lohh !” ancam Lutfi yang membuat Hanna bergidik ngeri.
“Luttfiiii !!!” kata Hanna yang hanya membuat Lutfi tertawa.
“Muwehehehe cepat kemari ustadzah... Jangan bikin kontol ana semakin penasaran !” kata Lutfi semakin gemas melihat raut wajah Hanna yang menggairahkan.
Hanna pun mendekat dengan berhati-hati. Satu demi satu langkah kakinya bergerak. Ia pun sudah semakin dekat dengan pintu yang memisahkan ruangan itu dengan teras ruangan dimana dirinya berpijak.
“Muwehehehe... Cepat kesini ustadzah... Antum tuh udah bikin ana gemes aja” kata Lutfi menarik tangan Hanna hingga tubuh montoknya pun jatuh ke dalam pelukan santri bejat itu. Lutfi pun tersenyum merasa dada kurusnya dihantam oleh sesuatu yang empuk yang berasal dari dada ustadzah cantiknya.
“Muwehehehe makin mantap aja nih susunya” kata Lutfi sambil memegangi payudara indah itu.
Hanna pun merasa tak nyaman. Wajahnya memerah sangat karena bagian intimnya kembali diremas-remas oleh santri bejat itu.
“Hentikan Lutfiii... Tolonggg jangan lagi !” kata Hanna berusaha mendorong tubuh Lutfi dengan lemah.
“Muwehehehe enak aja... Lagi enak gini kok udahan” kata Lutfi yang tetap berdiri tegak untuk memainkan payudara indah itu.
Tangan kanan Lutfi mendekap punggung bidadari cantik itu. Sementara tangan kirinya meremas-remas dan kadang mencengkram payudara kanan Hanna yang masih tertutupi kaus ketatnya. Tubuh Hanna menggigil ketakutan merasakan remasan tangan itu di payudaranya. Ia hampir tak percaya dengan dirinya sendiri ketika ia dengan rela mendatangi santri bejat itu padahal ia sudah tau apa yang akan dilakukan oleh santri itu padanya. Andai saja tidak ada ancaman seperti yang diberitakan di surat itu. Sudah pasti ia tidak akan mau menuruti ajakan santri bejat itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Hanna harus siap untuk menanggung semua akibat dari keputusannya.
“Mmppphhhh.... Mmppphhhh Lutfiiiii” desah Hanna merasakan remasan itu.
“Muwehehehe... Enak bukan ustadzah ? Mantap kan rasanya susu ustadzah diremas-remas ?” kata Lutfi tersenyum. Namun jawaban Hanna hanya menggelengkan kepala. Bahkan tangannya sesekali masih mendorong tubuh Lutfi agar bisa menjauh darinya.
Hanna memejamkan mata. Ia tak rela kalau tubuhnya sampai harus disentuh oleh lelaki lain selain calon suaminya. Ia tahu kalau perbuatan ini salah. Tapi sebagai wanita lemah yang tak berdaya, dirinya bisa apa ? Namun anehnya rabaan dan tangan dari Lutfi itu perlahan mulai membangkitkan gairahnya. Kok bisa ? Apakah karena dirinya sudah cukup sering dilecehkan oleh santri bejat itu ?
Apalagi tangan kanan Lutfi mulai beranjak naik untuk mengusap punggung mulusnya. Walau ia masih mengenakan jaket. Walau ia masih mengenakan kaus ketatnya. Usapan tangan santri itu masihlah terasa yang membuat tubuhnya merinding hebat.
“Mmmpppphhhhh” Hanna tak sadar melenguh saat tangan Lutfi terus menerus membelai keindahan tubuhnya. Tangan kiri Lutfi pun berpindah untuk mencengkram payudara satunya. Walau masih ditutupi oleh kaus ketatnya. Lutfi justru semakin terangsang karena dirinya sudah bisa merasakan sentuhan penuh kenikmatan seperti ini padahal ia belum melihat rupa dari apa yang tersimpan di dalam kaus ketat itu.
Jaket yang Hanna kenakan pun diturunkan. Kemudian kedua tangan Lutfi juga menurunkan celana panjang yang Hanna kenakan di malam itu. Celana Hanna pun jatuh melorot begitu saja. Kini kedua tangan Lutfi pun hinggap di kedua bongkahan pantat Hanna untuk meremasnya dan merasakan kemontokannya.
“Uhhhhh Lutffiii... Uhhhh hentikannnnn” desah Hanna dengan manja.
Lutfi tak merespon. Ia hanya tersenyum sambil merasakan empuknya bongkahan pantat yang sedang ia remas. Ia pun menurunkan celana dalam itu hingga Hanna sudah bertelanjang kaki di bawah sana.
“Uhhhhhhhh” desah Hanna ketika angin dingin berhembus melewati selangkangannya yang tidak tertutupi apa-apa.
Lutfi pun berpindah dengan membelakangi tubuh Hanna. Kembali tubuh Hanna dipeluknya dari belakang. Kedua payudaranya kembali diremas menggunakan kedua tangannya dengan mantap. Tak jarang remasannya langsung ia layangkan ke dalam kaus yang masih Hanna kenakan. Saat tangan kasar Lutfi menyentuh kulit mulus Hanna diperutnya. Hanna langsung merinding hebat. Ia pun memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan gairah yang semakin menjadi-jadi di tubuh montoknya.
Hati Hanna menangis tapi tubuhnya tidak bisa melakukan perbuatan apa-apa. Hanna sungguh sedih ketika dirinya harus mengalami nasib seburuk ini. Ia pun heran kenapa ada seorang santri yang tega melakukan hal ini kepada ustadzahnya ? Ia pun merenung memikirkan apa yang sudah membuat santri ini sampai tega melecehkan tubuhnya berulang kali.
“Uhhhhhhhhhhhh” desah Hanna sekali lagi ketika Lutfi tiba-tiba sudah menempelkan batang penisnya yang mulai mengeras di sela-sela pantat ustadzah cantik itu. Bongkahan pantat Hanna yang berisi membuat batang penis Lutfi serasa dijepit. Lutfi pun ikut memejam merasakan kenikmatan ini.
Santri bejat yang semakin bernafsu itu mulai menggerak-gerakan batang penisnya di belahan pantat Hanna dengan gerakan yang lembut sementara kedua tangannya masih mencengkram kuat kedua payudara Hanna dari luar kaus ketat yang ustadzah itu kenakan.
“Aahhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhh” desah mereka berdua nyaris bersamaan.
Hanna mendesah merasakan tubuhnya terus dirangsang oleh santri bejat itu. Lutfi juga mendesah merasakan gesekan nikmat yang ia dapatkan di sela-sela bokong montok ustadzahnya. Lama kelamaan, tangan Lutfi pun mulai masuk ke dalam kaus Hanna untuk ia lucuti. Kedua tangan Lutfi awalnya cuma meraba-raba perut indahnya saja. Kemudian tangan itu mulai meremas langsung payudara Hanna dari luar beha yang masih ia kenakan. Hanna semakin mendesah. Hanna semakin bergairah merasakan remasan di dada. Barulah karena tidak tahan lagi, Lutfi meloloskan kaus yang Hanna kenakan melalui kedua tangannya yang terangkat ke atas.
“Uhhhhmmm... Mmpphhhhhh... Mmpphhh ahhhh... Lutfiiii... Sudahhh... Jangannn lagi Lutfiiii !!!” desah Hanna ketika ustadzah cantik itu tengah berdiri membelakangi Lutfi. Dirinya hanya tinggal mengenakan hijab berwarna gelapnya saja beserta bra berukuran 34C yang membungkus kedua payudaranya saja. Selain itu, tubuh indah Hanna sudah tersingkap yang membuat tangan Lutfi semakin gemas untuk menggerayangi keindahan tubuhnya.
“Aahhhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhh” desah Hanna menahan geli hingga tubuhnya bergeal-geol kesana kemari.
“Muwehehehe... Makin berisi yah ustadzah... Ikut bangga ana ikut andil dalam membentuk tubuh indah antum” ejek Lutfi yang tak dihiraukan oleh ustadzah cantik itu.
Sebenarnya ini kali pertama Hanna diperlakukan cukup lembut oleh santri bejat itu. Biasanya santri itu langsung memaksanya dan meremasi tubuhnya tanpa ampun. Hal itulah yang membuat birahinya jadi cepat naik saat ini. Sebuah kelembutan dari remasan yang membuat dirinya merasa terbang ke kayangan. Apalagi kedua tangan santri itu masih saja meremasi payudaranya yang merupakan titik tersensitifnya.
Lutfi pun melepaskan kait bra yang menjadi satu-satunya penghalang keindahan tubuh Hanna. Setelah bra itu terlepas. Jemari telunjuk Lutfi di masing-masing tangannnya mulai menekan-nekan puting indah yang berwarna kecoklatan itu hingga membuat tubuh Hanna bergejolak merasakan sensasinya.
“Ahhhhhh Lutfiii jangan ditekann gituuu... Ahhhhhh.... Ahhhhhhh” desah Hanna merinding.
“Muwehehehe mantapnya susu montokmu ustadzah... Makin gak tahan ana... Cepet tiduran di atas tikar sana” kata Lutfi mendorong tubuh Hanna hingga ustadzah cantik itu tersungkur diatas tikar yang sudah disiapkan oleh Lutfi sebelumnya.
Saat Hanna berbalik badan agar bisa tiduran dalam keadaan terlentang. Ia terkejut rupanya Lutfi sedang membuka kaus yang ia kenakan. Lutfi sudah bertelanjang bulat. Sama persis dengan dirinya yang sudah tidak mengenakan apa-apa diatas tikar ini.
Lutfi yang tidak tahan lagi segera memegangi kedua paha Hanna yang ia lebarkan. Lutfi sempat menjilati bibirnya sendiri sambil mengamati liang senggama yang sudah sangat becek di bawah sana. Lutfi pun menundukan kepalanya. Ia langsung menjilati paha Hanna terlebih dahulu. Hanna otomatis tersentak. Namun ia hanya menahan desahannya dengan menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya. Jilatan Lutfi pun turun hingga tiba di selangkangannya. Otomatis Hanna semakin tersentak oleh rasa gairah yang melanda tubuhnya. Berulang kali tubuh Hanna bergerak-gerak yang membuat Lutfi kesulitan. Namun hal itu malah membuat Lutfi tersenyum karena merasa sudah membuat ustadzah cantik ini terangsang oleh permainan lidahnya.
“Muweheheh... Ini nih yang mantepnya” kata Lutfi bersiap-siap untuk menjilati lubang vagina itu.
“Mmmpppphhhhhhhhh” desah Hanna merapatkan bibirnya sambil memejamkan matanya. Kedua tangannya sampai mencengkram tikar yang menjadi alas tidur tubuhnya. Berulang kali tubuhnya melonjak-lonjak saat lidah santri itu bergerak-gerak di tepi bibir vaginanya.
Lidah Lutfi pun bermain-main dengan menggesek bibir vaginanya terlebih dahulu. Kemudian jemarinya ikut membantu dengan melebarkan lubang yang berwarna agak kecoklatan itu. Saat bibir vagina Hanna terbuka. Lutfi meludahinya sejenak sebelum lidahnya langsung menerobos masuk membelah liang senggama Hanna. Otomatis Hanna megap-megap sambil menggelengkan kepala untuk berusaha menolak kenikmatan yang sudah mendera tubuhnya.
“Jangannnn... Jangannn Lutfiii... Ustadzah gak mau... Jangan nodai ustadzah lagi !!” pinta Hanna yang tak dihiraukan sedikitpun oleh santri bejat itu.
“Muwehehhehe... Tinggal diem aja susah amat sih....” Ejek Lutfi yang sudah bangkit setelah puas menjilati liang senggama Hanna yang terasa agak asin-asin gimana gitu.
Kini santri berkepala plontos itu bersiap-siap dengan menempelkan ujung gundul kemaluannya ke bibir vagina Hanna yang sudah sangat basah. Saat Lutfi mulai mendorong pinggulnya hingga penis itu masuk membelah liang senggama Hanna. Rupanya tidak semua dinding vaginanya telah terlumasi oleh cairan liurnya tadi. Akibatnya penis itu tidak mulus masuk ke dalam. Penis itu pun menyangkut ketika baru memasuki setengahnya saja. Terasa vagina Hanna ngilu ketika penis itu mulai menerjang liang kenikmatan duniawinya.
“Ahhhhh jangannn Lutfiiii... Sakiittt... Jangan di dorong lagiii.... Ahhhhhh” desah Hanna menjerit. Sebenarnya ia sudah berusaha untuk tidak berteriak keras karena khawatir akan ada orang lain yang memergokinya. Tapi mau gimana lagi ? Rasa sakit itu benar-benar nyata sehingga ia tidak dapat mengontrol suaranya sendiri.
Tak sadar air mata pun menetes membasahi wajah ayu Hanna. Lutfi hanya tersenyum melihat tangisan air mata itu. Lutfi yang agak menunduk dengan memegangi pinggang ramping Hanna berusaha untuk menancapkan penisnya lagi hingga mentok ke dalam. Tapi ia kesulitan akibat rapatnya liang senggama yang menjepit setengah dari batang penisnya itu.
Hanna berusaha mendorong-dorong tubuh Lutfi menjauh darinya. Namun usahanya sia-sia. Kekuatan Hanna tidaklah sebanding dengan santri berkepala plontos itu. Ustadzah itu hanya bisa menangis pasrah ketika pinggul Lutfi kembali bergerak menerobos masuk liang senggamanya.
“Aahhhhhhhhh... Ahhhhhhhh sakitttt... Ampuni ustadzahhh Lutfiiii... Aaaahhhh” jerit Hanna merasakan penetrasi batang penis raksasa itu.
“Sial susah amat nih muwehehhee... Oh yah gini aja deh” kata Lutfi terpikirkan sebuah ide. Lutfi pun mengangkat kedua kaki jenjang Hanna untuk ia taruh di atas kedua bahunya. Hanna yang lemas tak berdaya pun diam saja ketika Lutfi hendak melakukan sesuatu padanya. Lutfi tersenyum menatap wajah cantik itu. Hanna segera memejam ketika tahu apa yang akan santri itu lakukan padanya.
Jllleeebbbbb !!!
“Aahhhhhhhh jangannnnnn.... Lutfiiiii ahhhhhhhh” desah Hanna menjerit nikmat yang membuat Lutfi tersenyum puas.
“Muwehehehe keenakan yah ustadzah ? Yaudah ana tarik sebentar yah” kata Lutfi menarik penisnya sebentar.
Namun baru beberapa detik ia menariknya, ia kembali mendorongnya hingga penis itu tersedot ke dalam.
“Aahhhhhhhhhh” jerit Hanna dengan manja.
Lagi, Lutfi menarik pinggulnya kali ini hingga ujung gundul penisnya nyaris terlepas keluar dari bibir vagina Hanna. Baru setelah itu, dengan satu hentakan yang mantap. Lutfi mendorong pinggulnya sekuat-kuatnya hingga barulah penis itu mentok menghantam dinding rahim bidadari indah itu.
“Aaaahhhhhhhhhh Lutffiiiiii !!!” jerit Hanna sepuas-puasnya.
“Muweheheheheh mantapnyaaaahhhhh... Ehhh ? Kok banjir ? Muwehehehe” kata Lutfi tertawa ketika penisnya terasa tersirami oleh cairan cinta Hanna. Rupanya Hanna baru saja mendapatkan orgasmenya. Orgasme yang didapat dari teknik tarik ulur santri bejat itu. Lutfi pun tertawa puas. Sedangkan Hanna merasa malu sekali ketika bisa berorgasme melalui cara pelecehan seperti ini.
Untungnya setelah cairan cinta Hanna menggenangi lubang senggamanya. Penis Lutfi jadi semakin mudah untuk keluar masuk di dalam. Cairan cintanya membuat dinding vaginanya menjadi licin. Otot-otot di dinding vagina Hanna pun jadi semakin rileks. Ketika Lutfi mulai menggerakan pinggulnya. Hanna mulai tak merasakan sakit seperti apa yang ia alami beberapa menit yang lalu.
e
“Muwehehehe inilah inti dari pestanya ustadzah !” kata Lutfi mulai memompa peninsya sedalam-dalamnya di kemaluan ustadzah cantik itu.
“Ahhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhh” desah Hanna dengan manja merasakan penis itu menyodok-nyodok dinding vaginanya.
"Ahhhh.... Ahhhh ustadzahhh ahhhh"
Lutfi yang sedang memegangi kedua paha montok Hanna juga mengerang nikmat merasakan kenikmatan itu. Hampir saja matanya tidak bisa terbuka akibat kenikmatan luar biasa yang ia dapatkan. Kedua tangannya terus mengusap-ngusap paha mulus ustadzahnya.
Pandangan mata Hanna mulai kabur karena kenikmatan yang ia dapatkan dari Lutfi. Tubuhnya melemas dan kepalanya ia geleng-gelengkan karena tak percaya dengan rasa nikmat yang ia dapatkan sekarang.
Aku gak boleh menikmati ini... Aku gak boleh menikmati ini !!!
Batin Hanna yang tidak mau jatuh ke dalam kenikmatan duniawi ini.
Namun sodokan penis Lutfi yang semakin cepat memaksa mulut Hanna membuka untuk mengucapkan berbagai kata desahan yang semakin merangsang birahi Lutfi.
“Uhhhhh.... Uhhhhh... Lutfiii... Ouhhh” lenguh Hanna saat tubuhnya terdorong maju mundur diatas tikar itu.
Gemas melihat pergerakan payudara Hanna yang seolah menggodanya. Membuat tangan Lutfi berpindah untuk meremasi payudara indah itu. Kedua kaki Hanna diturunkan. Tubuh Lutfi pun dijatuhkan hingga dirinya bisa ikut menjilati puting kecoklatan yang terlihat menggairahkan disana.
Lutfi menyusu disana. Lutfi menjilati putingnya dengan penuh nafsu. Kadang remasannya juga keterlaluan hingga darah yang ada di tubuh Hanna berdesir mengelilingi tubuh berisinya. Hanna pun hanya bisa menarik nafasnya ketika bibir santri itu tanpa ampun membasahi seluruh area dadanya. Bahkan salah satu jilatan di pentil bidadari berhijab itu berhasil membuat Hanna mendesah dan mengerang dengan penuh nikmat.
“Aaaaahhhhhhhhhhh”
Lutfi mengulum puting Hanna yang sudah mengeras. Ia pun juga menggigitnya dengan pelan. Otomatis Hanna hanya bisa mendesah karena sensasi yang sedang ia rasakan. Apalagi benturan yang ia terima di liang senggamanya. Terasa penis itu masih terus menyodok-nyodok liang senggamanya. Tubuh Hanna sesekali masih terdorong maju mundur dibawah tindihan santri bejat itu. Vagina Hanna yang digenjoti oleh penis Lutfi secara berulang-ulang semakin dibanjiri oleh cairan cintanya. Rasa nikmat yang semakin menjalar di dalam liang senggama itu membuat Lutfi semakin bernafsu untuk menggenjoti dinding vagina ustadzahnya.
“Ahhhhh... ahhhhh... Ahhhhhh Luttfiiii !!!” jerit Hanna tidak tahan lagi.
Lutfi melepas dekapannya di payudara Hanna dan kembali berfokus untuk menyetubuhinya. Kedua tangannya kembali mencengkram pinggang ramping Hanna. Ia pun mempercepat gerakannya hingga kedua payudara itu kembali bergoyang dengan sendirinya hingga mata Lutfi terhiburkan oleh gerakan indah dari payudara ustadzahnya.
“Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh” desahnya terengah-engah tiap kali penis Lutfi menerobos masuk ke dalam liang cintanya yang hangat dan basah. Santri bejat itu menyetubuhi Hanna dengan kecepatan yang semakin tinggi. Seiring cepatnya Lutfi dalam menggenjoti kemaluan Hanna, makin nikmat pulalah kepuasan yang dirasakan oleh mereka berdua. Keringat pun mulai membasahi sekujur tubuh telanjang mereka berdua. Lutfi pun menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan kenikmatan agar tidak keluar duluan.
“Mmpphhhh... Mmpphhh... Mmpphhh” Lutfi pun mengerang dengan mantap saat tubuh telanjangnya menghujam keindahan tubuh Hanna dengan mantap.
“Ahhhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah Hanna semakin keras.
“Kekekekek lagi enak-enak rupanya” kata seseorang yang tiba-tiba mengejutkan mereka berdua.
Hanna terkejut hingga matanya terbelalak melihat ada pria tua berkulit hitam bertubuh kekar yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini. Lutfi juga terkejut tapi setelah melihat wajahnya, Lutfi jadi sedikit tenang dan mempercepat gerakan pinggulnya agar bisa segera menumpahkan spermanya di dalam.
“Kekekekek tenang ustadzah... Saya cuma pengen ngeliat kok... Mantap juga yah rupanya body montokmu itu” tawa Pak Karjo saat duduk di sebuah kursi untuk melihat persetubuhan yang dilakukan oleh seorang santri dengan ustadzahnya.
“Siapa kamuuu... uhhhh... Uhhhh jangannn... Jangannn liattt” kata Hanna panik.
“Muwehehe tenang ustadzah... Dia gak bakal ikutan kok... Mending fokus kesini aja biar kita bisa bareng-bareng menuju puncak kenikmatan tertinggi” kata Lutfi semakin kuat menghantam vagina Hanna.
“Aahhhhhhh... Aahhhhhh.... Ahhhhhhhh” desah Hanna semakin keras.
Kedua tangan Lutfi mengusap-ngusap pinggang mulus bidadari berhijab itu. Kepala Lutfi pun dihentakannya ke atas agar penisnya bisa fokus menerima jepitan yang semakin mantap di dalam. Nafas mereka pun sama-sama berat. Gairah birahi mereka sama-sama tidak tertahankan lagi. Pak Karjo yang melihat persetubuhan itu lama-lama ngaceng juga sehingga ikut mengurut penisnya kendati kemarin malam ia sudah berpuas-puas bercinta dengan ustadzah Haura.
“Uhhhh... Uhhhhhhhh bersiapplahhh ustadzaahhhh... Terima iniiii... Pejjuhhhh anaaa... Hennkkgghhhhhhh !!!!” desah Lutfi yang menghantam dinding rahim ustadzah Hanna dengan sangat kuat.
Ccrrooottt... Crroottt... Crrooottt !!!
Cairan sperma itu pun keluar dengan begitu deras membasahi liang senggama Hanna. Untungnya Hanna juga mendapatkan orgasme keduanya di malam ini ketika lelehan sperma itu menyemprot rahimnya dengan sangat deras. Hanna dapat merasakan semprotan air mani yang hangat dan lengket di dalam rahimnya. Sensasi yang ia rasakan sedari tadi membuatnya telah sampai di puncak kenikmatan. Hanna mendengus pelan. Matanya merem melek ketika mendapatkan orgasme keduanya di malam itu.
“Ouhhhh... Ouhhhhh... Ouhhhh sialannnnn ayo sini ustadzah buka mulutnya” kata Pak Karjo yang juga sudah hampir keluar.
Tangan kekar pak Karjo mengangkat kepala Hanna. Hanna seperti bersandar di lengan kekar pria tua itu. Tangan satunya pun mengarahkan penisnya ke mulut Hanna yang sudah terbuka. Hanna dapat merasakan lidahnya terkena lelehan precum petanda pria tua itu bentar lagi akan segera keluar.
“Aahhhhh... ahhhhhh ustadzahhhh !!!!” desah Karjo saat lelehan spermanya dengan deras menyembur mulut kecil Hanna.
“Mmpphhhh” desah Hanna kelabakan saat cairan sperma kuli kekar itu memenuhi mulutnya. Bahkan sebagian ada yang mengenai wajah cantiknya. Karjo pun puas di malam itu begitupula Lutfi yang masih menancapkan penisnya di dalam liang senggama Hanna.
Saat Lutfi menarik keluar penisnya. Nampak lelehan sperma itu dengan deras membanjiri tikar yang menjadi alas tidur dirinya. Mereka berdua puas menyisakan Hanna yang kelelahan di malam itu. Dirinya masih terengah-engah dengan wajah, mulut dan liang senggama yang dipenuhi oleh sperma mereka berdua.
Ya, Hanna kelelahan setelah melayani nafsu buas dari santri bejatnya itu. Tubuh telanjangnya kini tergeletak tak berdaya. Hanna hanya bisa menangis menyadari dirinya sudah dilecehkan oleh kedua lelaki ini. Terutama santri botak yang sedang tertawa di sebelah pria tua kekar ini.
Diam-diam dari kejauhan ada seseorang yang telah merekam semua persetubuhan mereka sedari tadi. Orang itu menatap benci kedua orang yang sudah melecehkan ustadzah Hanna sejak tadi. Tangan kanan orang itu yang sedang memegangi hape yang merekam hubungan intim mereka berdua tengah bergetar. Tangan kirinya pun mengepal dengan kuat. Kepalanya ia geleng-gelengkan tak percaya. Kedua kakinya ingin maju tapi merasa ragu.
"Jadi itu yang namanya Lutfi... Terus, siapa laki-laki satunya itu ? Apa mereka berdua bersekongkol ?" Kata pria tua yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu itu.
"Akan saya laporkan perbuatan mereka agar ustadzah Hanna bisa dijauhkan dari semua deritanya... Ehhh bentar kok gelap banget gini yah ?" Kata pak Prapto setelah melihat ulang rekaman yang baru saja ia rekam.
"Difoto aja deh kali yah ?" Kata pak Prapto bergerak kesana kemari agar sudut cahaya yang ia dapatkan bisa menerangi foto hasil jepretannya.
Saat pak Prapto menekan tombol jepret di hapenya. Mendadak cahaya flash muncul dari hape yang sedang ia pegang. Pak Prapto panik. Begitu pula kedua lelaki yang sedang tertawa setelah melecehkan ustadzah Hanna.
"Siapa itu ?" Kata pak Karjo duluan yang menyadari. Lutfi pun menoleh ke belakang. Tau kalau ada seseorang yang memergoki mereka menyetubuhi Hanna membuat keduanya segera mengejar tukang sapu itu.
"Gawat !!!" Kata pak Prapto ketahuan.
Pak Karjo yang tadi cuma memelorotkan celananya sejenak saat memejuhi wajah Hanna bergegas lari sedangkan Lutfi memilih untuk mengenakan celana panjangnya terlebih dahulu.
Hanna yang panik mencoba untuk bangkit. Tapi tubuhnya yang lelah membuatnya tak sanggup untuk berdiri dari tikar ini.
"Tenang ustadzah... Cuma ada satu tikus kok" Kata Lutfi tersenyum setelah mengenakan celananya kembali. Ia pun mulai mengenakan kausnya. Dengan segera ia ikut berlari menyusul pak Karjo yang terlebih dahulu pergi meninggalkan mereka berdua disini.
"Tungguuu !!!!" Kata pak Karjo dengan tegas yang membuat kaki pak Prapto melemah.
Belum sempat pak Prapto keluar dari gedung yang baru jadi itu. Kaus kumuhnya sudah dipegang oleh pak Karjo. Pak Prapto pun panik. Apalagi saat tubuh kurusnya itu ditarik kemudian dilemparkannya ke belakang. Pria tua kurus itu pun terguling-guling di lantai hingga wajahnya pun kotor bersimpuh debu-debu yang berserakan di lantai gedung yang baru jadi itu.
"Jangannn... Jangannn" Kata pak Prapto panik melihat kaki dari pak Karjo mulai terangkat.
"Kekekeke... Apa maksud dari perbuatanmu tadi ? Hahhh ?" Ucap pak Karjo dengan tegas.
Brruukkkkkk !!!!
Perut pak Prapto ditendang hingga pria tua kurus itu merasa mual di perutnya.
"Ammpunnn... Ampunnn... Ampuni saya pakkk" Teriak pak Prapto memelas.
"Ampun ? Bapak mencoba untuk melaporkan perbuatan kami yah ? Coba liat mana hapenya ?" Kata pak Karjo yang langsung dituruti oleh pak Prapto.
"Kenapa ini ? Siapa dia ?" Kata Lutfi yang baru saja tiba dan sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Coba periksa ini !" Kata pak Karjo pada Lutfi.
Lutfi pun mengeceknya. Ia menemukan sebuah file baru berisi sebuah rekaman persetubuhan mereka dengan Hanna dan juga satu jepretan foto yang menggambarkan keadaan mereka berdua telanjang setelah menyetubuhi ustadzah cantik itu.
"Muwehehehe... Apa maksud semua ini pak ?" Kata Lutfi pada pak Prapto.
"Ituuu... Ituuuu" Kata pak Prapto panik.
Bruuukkkkk !!!
Kembali satu tendangan dengan telak mengenai perut pria tua itu.
"Kekekekek... Bapak mencoba ingin melaporkan perbuatan kami yah ?" Kata pak Karjo yang membuat wajah pak Prapto semakin pucat setelah rencananya ketahuan.
"Muwehehehe gak usah masang ekspresi melas gitu lah pak... Udah kepergok kok" Kata Lutfi menertawakan pria tua bertubuh kurus itu.
"Ampunnn pakkk... Ampunnn masss... Saya menyesal... Tolonggg jangan sakiti saya" Kata pak Prapto ketakutan.
Pak Karjo pun melirik ke Lutfi. Lutfi tersenyum. Sebagaimana mereka yang sudah bertukar kode. Mereka seolah paham dengan langkah apa yang harus mereka perbuat sekarang.
"Sekarang !!!" Kata pak Karjo.
Bruukkk... Bruukkkk... Bruukkk....
"Ahhh... Ampunn... Ampunnn sakitttt pakkk... Sakitttt" Jerit pak Prapto berlinang air mata.
Tubuhnya, perutnya, punggungnya berulang kali ditendangi oleh kedua lelaki itu. Pak Karjo hanya tertawa begitu juga dengan Lutfi.
Bruuukkkkk !!!!
Satu tendangan dengan telak mengenai wajah pak Prapto.
"Kekekekek rasakan ini !!!!" Ucap pak Karjo setelah menginjak perut pak Prapto yang sedang terbaring di tanah.
"Muwehehehe rasakan ini !!!" Ucap Lutfi menendang telinga Pak Prapto.
Pak Prapto pun lemas tak berdaya. Tubuhnya benar-benar lemah setelah digebuki oleh kedua lelaki ini.
"Ampunnn.... Ammppunnn... Uhhuukk... Uhhuukk" Lirih pak Prapto sampai dari mulutnya keluar darah terbatuk-batuk.
Sementara itu, Hanna yang masih berada di dalam ruangan mendengar suara jeritan yang terasa tak asing di telinganya. Walaupun tubuhnya masih lemah. Walaupun tubuhnya masih terasa sakit setelah disetubuhi oleh Lutfi. Hanna buru-buru mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.
Hanna yang masih mengenakan hijabnya saja berupaya mengambil jaketnya. Ia pun mengambil celana dalamnya saja untuk menutupi aurat sementara. Sambil bertumpu pada dinding. Hanna secara perlahan mulai berjalan mendekati tempat kejadian perkara.
"Mampus kau !!!!" Teriak Lutfi setelah menghajar Pak Prapto sampai babak belur.
Bruuukkkkk !!!
Satu tendangan pamungkas telah dikeluarkan oleh pak Karjo hingga wajah dari pria tua berbadan kurus itu memar semua. Wajah pak Prapto berantakan. Tubuhnya tergeletak tak berdaya. Pria tua bertubuh kurus itu hanya bisa bernafas sambil menangis menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
"Muwehehehe... Ini kayaknya hapeku... Rupanya dicuri sama cecunguk ini !" Kata Lutfi senang hapenya berhasil ia temukan kembali.
"Kekekekek bagus lah... Ayo cepat pergi.... Biarin pak tua ini mati secara perlahan di tempat ini" Kata pak Karjo mengajak Lutfi pergi.
"Muwehehehe oke lah" Kata Lutfi ikut pergi meninggalkan pak Prapto.
Tepat setelah itu. Hanna yang baru saja tiba merasa terkejut dengan tergeletaknya seseorang yang tak berdaya diatas tanah.
Tunggu.. Ituuu !!!!
"Pak Prapto !!!" Teriak Hanna berteriak memanggil.
Ustadzah yang saat itu cuma mengenakan hijab + celana dalamnya saja juga tambahan jaket yang resletingnya cuma menutup sampai dadanya saja segera berlari mendekati pria tua itu.
"Pakkkk... Bapak kenapa disini ? Apa yang terjadi pakkkk ?" Kata Hanna menangis.
"Hehehe... Ustadzah... Saya cuma gak tega membiarkan ustadzah secantik dan sesexy ustadzah Hanna tersiksa sendirian" Kata pak Prapto dengan lemah sambil melihat keadaan Hanna yang sangat sexy sekali di malam itu. Belahan dadanya terlihat. Kedua pahanya yang besar berisi menjadi alas dari kepala pria tua itu. Belum lagi dengan sedikit noda sperma yang membekas di wajah cantiknya.
"Bapakkkk... Dibilang jangan ikut campur juga !" Kata Hanna merasa kesal sambil menangis memegangi kepala pria tua itu.
"Hehehe gak usah pikirin saya ustadzah... Saya udah lemes banget... Mungkin udah waktunya . . . . " Belum sempat pak Prapto menyelesaikan kalimatnya. Hanna bergegas memotong ucapannya itu.
"Jangan bilang gitu ahhh... Bapak bentar tunggu sini... Aku akan cari pertolongan" Kata Hanna bergegas kembali ke ruangan tadi untuk mencari sisa pakaiannya yang lainnya. Setelah kembali mengenakan pakaian lengkap. Hanna pun berlari mencari bantuan berharap ada seseorang yang mampu membawa pak Prapto menuju rumah sakit terdekat.
"Hehehe... Maaf merepotkan... Ustadzah" Lirih Pak Prapto yang sudah tak kuat lagi.
Sementara itu di sebuah tempat yang tak jauh dari gedung baru tadi. Pak Karjo dan Lutfi sedang berjalan bersama. Mereka sedang tertawa puas setelah mendapatkan tujuannya masing-masing.
"Emang itu hapemu ? Apa isinya ? Kenapa keliatan seneng banget ?" Tanya pak Karjo pada Lutfi.
"Muwehehehe banyak barang langka yang tersimpan disini pak... Salah satunya ya aib-aib seorang ustadzah yang bisa kita nikmati bersama... Liat ini !" Kata Lutfi sambil menunjukan video aib ustadzah Syifa yang sedang di nikmati bersama oleh Salwa dan juga ustadzah Diah.
"Kekekekek menarik juga... Boleh tuh ustadzah itu dijadiin sandwich... Pasti mantep suara desahannya !!!" Kata pak Karjo bernafsu.
"Muwehehehe pastinya !" Kata Lutfi tersenyum puas.
"Tapi ingat... Kita harus melaksanakan tugas untuk menghibur ustadz ADM itu dulu" Kata pak Karjo mengingatkan.
"Ohhh yang itu... Istrinya yah si ustadzah Nada ? Muwehehehe emang cakep sih... Gak nyangka ustadz Rendy rupanya sebejat itu... Emang boleh di sandwich gak tuh bokong sama memeknya ?" Tanya Lutfi tak sabar.
"Kekekekek... Belum tahu juga... Nanti lah kapan-kapan kita tanyakan lagi... Pokoknya target terdekat kita harus bisa membuat ustadz Rendy puas.... Kalau bisa kita hamilin si ustadzah Nada... Baru setelah itu kita hamilin ustadzah Hanna... Terus ustadzah yang ada di hape itu.... Baru kita sama-sama nikmati ustadzah Haura yang merupakan puncak dari semua rencana kita selama ini... Kekekekek" Kata Pak Karjo tertawa puas semakin tidak sabar.
Dikala pak Karjo berbicara sendiri. Lutfi justru tidak mendengarkan karena dirinya terlalu asyik memeriksa satu demi satu video rekaman yang ada di hapenya. Nah dari setiap rekaman di hape itu. Muncul lah satu video baru yang tak ia duga sebelumnya.
Loh ini kan Abdul... Beruntung juga si Abdul kontolnya bisa disepong sama ustadzah montok ini... Siapa yah nama ustadzah satu ini ?.
Batin Lutfi lupa-lupa ingat.
Rencana telah dibuat. Akankah mereka bisa mewujudkan semua rencana yang sangat indah itu ? Apakah setiap ustadzah akan bisa dihamili oleh pejuh mereka berdua ? Ataukah ada seseorang yang akan mencegah mereka untuk mewujudkan rencana busuknya ? Kita lihat saja nanti !
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *