Search

CHAPTER 28 - RASA YANG TERTINGGAL

CHAPTER 28 - RASA YANG TERTINGGAL

“Jangannn mendekatt !!! Jangann mendekatt !!!” Kata akhwat berhijab itu terlihat ketakutan ketika melihat sesosok gelap berbadan kekar yang terus menerus mengejarnya.

Bidadari itu terus berlari. Kadang sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat jarak yang memisahkan mereka berdua. Ia pun menyusuri lorong demi lorong yang gelap. Ia hanya melihat setitik cahaya di depan. Ia terus berlari menuju cahaya itu.

“Kekekekek... Mau kemana ustadzah ?” Kata sosok berbadan kekar itu terus mengejarnya.

“Tidakkk... Jangannn... Jangan kesini !!!” Jeritnya ketika mendengar suara itu semakin dekat saja.

Saat akhwat itu menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya. Ia mendapati sosok itu perlahan semakin dekat. Padahal sosok kekar itu hanya berjalan tapi langkah kakinya lebih cepat daripada dirinya yang sedang berlari menjauh.

“Kekekekek... Hayooo kenaaaa” katanya tiba-tiba sudah mendekap pinggangnya.

“Aahhhhhh tidakkk... Jangannn lagiii... Jangann lagiiii... Aku gak mau kaya gini lagi pakkk... Aku gak mauuuu !!!” Jeritnya ketakutan. Apalagi tangan kekar itu sudah mendekap perutnya. Perlahan tangan kekar itu semakin naik. Tangan itu hampir mendekati bukit kembar yang masih tertutupi kemeja berwarna putihnya.

“Enggakkkk... Toolloongggg... Tolloongg akuuu... Selamatkann akuuu !!” Jeritnya.

“Kekekekek... Akhirnya susu indahmu ini... “ Seketika pria tua berbadan kekar itu mencengkram payudaranya dengan kuat.

Tiba-tiba . . . .

Mata Haura terbuka. Tubuhnya tersentak kaget. Ia pun bingung dengan keadaan dirinya saat ini. Haura pun memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia pun melihat ke sekitar dan mendapati jam sudah menunjukan pukul dua pagi.

Cahaya lampu yang menerangi ruangan itu tidaklah terlalu terang. Cahaya lampu itu berwarna kuning. Ukuran cahayanya sangat pas untuk menemani setiap pasien yang beristirahat di waktu malam.

“Sudah malam yah... Ini dimana ?” kata Haura sambil bangkit dalam posisi duduk dengan memegangi kepalanya. Saat ia menggerakan tangannya lebih. Ia menyadari kalau lengannya itu sedang diinfus. Untungnya Haura tidak terlalu kuat dalam menggerakan tangannya tadi. Infusnya pun tidak terlepas.

Saat ia menolehkan kepalanya ke kiri. Ia mendapati ada seseorang yang tertidur di sebelahnya. Orang itu sedang tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya pun ia sandarkan pada ranjang tidurnya. Sementara tangannya itu sedang mendekap tangan kiri Haura yang membuat bidadari cantik itu tersentuh.

“V sejak kapan kamu disini ?” Lirihnya tersenyum sambil menatap wajah ustadz tampan itu.

Haura pun mencoba tenang agar dirinya tidak membangunkan seorang ustadz yang rela menemaninya disini sampai jam segini. Ia pun menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia juga membiarkan tangan kirinya didekap olehnya. Ia pun memejamkan mata untuk merenungkan kejadian yang terjadi sebelumnya.

“Oh iya, gara-gara orang itu !” kata Haura teringat akan teror kuli kekar itu yang sampai-sampai terbawa ke mimpinya dikala ia pingsan.

Astaghfirullah... Astaghfirullah” ucap Haura merenungi dirinya.

Ia kembali merenung. Sudah berapa kali dirinya disetubuhi oleh kuli tua itu ? Sudah berapa kali dirinya dinodai oleh kuli tua itu ? Dan yang terpenting, sudah berapa kali rahimnya disemprot oleh cairan sperma pria tua itu ?

Tanpa sadar Haura memegangi perutnya sendiri. Ia pun mengelusnya pelan. Tak sadar air matanya keluar membasahi pipi chubby-nya.

“Jangann sampaiii... Jangan sampaiii aku mengandung bayi dari kuli bejat itu !!!!” kata Haura bersumpah untuk tidak hamil darinya.

Karena waktu masih terlalu malam. Haura pun lebih memilih untuk tidur lagi. Ia membaringkan kepalanya ke samping tuk menatap wajah V yang tengah terlelap. Jemari Haura yang tidak diinfus itu ia gerakan untuk membenarkan poni V yang menutupi wajahnya. Haura pun tersenyum. Bidadari cantik itu pun mulai memejamkan matanya sambil mendekap tangan V agar dirinya bisa merasa tenang di malam hari ini.

Terima kasih sudah menemaniku selama ini... V !

Batin Haura dalam terlelapnya.

*-*-*-*


Pagi harinya di hari Jum’at yang merupakan hari libur bagi pondok pesantren. Nisa sedang bermain-main dengan Aldi putranya sambil menonton acara televisi pagi. Tidak ada hal yang menggembirakan bagi Nisa selain menikmati waktu berdua bersama putra kesayangannya. Senyumnya yang merekah terhias di wajah Nisa. Begitupula senyum yang merekah di wajah putra lucunya.

“Umiii... Umii... Itu jajanan apa ?” tanya Aldi pada ibunya.

“Ehh Kinderjoy ? Itu jajanan gak enak sayangg... Isinya dikit, gak bikin kenyang” kata Nisa beralasan agar tidak membeli jajanan mahal itu.

“Ah masa Mi ? Tapi aku mauuuu” pinta Aldi dengan manja.

“Sayanggg... Tapi gak ada yang jual disini... Yang jual tuh jauh-jauh loh... Masa umi harus keluar pondok pesantren dulu sih” kata Nisa beralasan agar putranya tidak lagi minta dibelikan jajanan itu.

“Umiiiiii” Aldi malah merengek minta dibelikan jajanan itu.

Sebagai orang tua, siapa yang tega membiarkan putra tersayangnya merengek tanpa diberi sesuatu olehnya. Nisa pun akhirnya luluh. Ia pun melihat ke arah jam dinding dan rupanya jam baru menunjukan pukul setengah sembilan pagi.

“Yaudah... Tapi kalau kita keluar pondok, kamu harus mandi dulu yah” kata Nisa tersenyum.

“Yeayyyyyy” Aldi pun mengangguk menyetujui.

Akhirnya dengan segera Nisa memandikan Aldi dengan penuh kasih sayang. Nisa tersenyum saat menyabuni tubuh mungil Aldi. Mereka berdua terus saja tersenyum dari awal mandi hingga selesai waktu mandi. Setelah badan Aldi sudah wangi. Setelah tubuhnya di keringkan menggunakan handuk. Aldi akhirnya keluar dalam keadaan telanjang dituntun oleh Nisa menuju kamarnya.

“Ehhh sini pake baju dulu... Kok udah langsung ngeluyur pergi aja sih !” kata Nisa tertawa melihat Aldi tidak sabar untuk segera pergi berjalan-jalan dengannya.

Sesampainya di kamar. Nisa memakaikan putranya kaus berlengan panjang dengan motif garis-garis berwarna hitam putih. Tak lupa, Nisa juga memberikan bedak di wajah Aldi agar putranya itu terlihat lebih lucu lagi. Setelah mengenakan celana di kaki Aldi. Kini giliran Nisa yang bersiap-siap berganti pakaian agar tampil rapih disaat pergi berjalan-jalan bersama putra kesayangannya.

“Mumpung mas Reynaldi lagi pergi kan” lirih Nisa mulai berganti pakaian.

Suaminya memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Tugasnya sebagai ajudan dari pak Kiyai membuatnya harus pergi kemanapun pak Kiyai pergi. Ustadz Reynaldi juga bertugas untuk menyopiri pak Kiyai kemanapun beliau pergi. Tak heran karena tugas beratnya itulah, Nisa lebih sering ditinggal bersama putranya agar bisa menjaganya dan menemaninya bermain.

Dalam sekejap Nisa sudah berganti pakaian. Tanpa diduga, seorang ibu muda yang hampir memasuki kepala tiga itu terlihat lebih muda daripada usianya. Nisa memang terlihat awet muda. Kulit wajahnya yang halus ditambah postur tubuhnya yang mungil membuatnya banyak yang mengira kalau Nisa ini adalah seorang ABG. Padahal dia sudah menikah. Bahkan ia sudah mempunyai satu anak yang lucu.

Nisa mengenakan pakaian serba hitam. Mulai dari hijabnya, gamisnya bahkan tas yang ia bawa juga berwarna hitam. Perpaduan pakaian berwarna gelap yang ia kenakan dengan kulit indahnya yang berwarna bening membuat Nisa terlihat begitu sempurna. Ia seperti malaikat. Wajahnya begitu polos. Apalagi senyum indahnya yang menawan membuat setiap pria yang melihatnya langsung jatuh hati ingin memilikinya.

Sayang Nisa sudah ada yang punya. Andai dirinya masih jomblo, mungkin sudah banyak lelaki lain mulai dari santri, ustadz bahkan pengusaha kaya yang antri ingin meminangnya untuk menjadi kekasih hatinya.

“Ayokkk sayangggg kita berangkattt !!” kata Nisa tersenyum yang disambut dengan begitu gembira oleh putranya.

Nisa dengan penuh kasih menggendong putra sulungnya. Ia memeluknya dengan erat sambil sesekali mencium pipinya yang harum. Ia pun sudah membuka pintu rumahnya. Setelah menguncinya dengan rapat, ia bergegas menurunkan Aldi kemudian memintanya dengan hati-hati untuk menaiki motor matic-nya terlebih dahulu.

“Awas jatoh... Pelan-pelan yah sayang” kata Nisa dengan penuh perhatian.

Akhirnya mereka berdua sudah berada di atas motor. Kunci telah Nisa masukan. Bidadari bertubuh mungil itu pun mulai menstrarter motornya. Mereka berdua pun berjalan-jalan bersama sambil menikmati udara pagi yang menyegarkan diri mereka berdua.

Saat motor yang Nisa kendarai melewati gerbang masuk pondok pesantren. Segera pemandangan indah dari area persawahan yang luas di kanan kirinya menyegarkan pandangan mereka. Suasana kehijauan yang asri terlihat membuat mereka berdua bahagia. Sesekali Aldi yang duduk di depan ibunya menunjuk ke setiap benda yang membuatnya penasaran. Dengan sabar, Nisa pun menjelaskan semua itu. Rasanya senang sekali Nisa bisa mengajarkan banyak hal pada putranya dikala usianya masih sangat muda.

“Nahhh sampaaiiiii” kata Nisa setelah memarkirkan motornya di minimarket terdekat.

“Yeayyyy sampaaiii” kata Aldi meloncat-loncat kegirangan menyadari dirinya akan segera menyantap jajanan favoritnya. Setelah berkeliling sebentar, Nisa akhirnya menemukan apa yang putranya cari. Walau dari wajahnya jelas mengisyaratkan kalau dirinya tidak suka menghabiskan lembaran uangnya hanya untuk membeli jajanan seperti ini. Tapi setelah ia menatap wajah putranya yang kegirangan membuat perasaan Nisa perlahan membaik seketika. Ia begitu bahagia melihat senyum yang mengembang di wajah putranya.

“Nih dek... Dah seneng belum ?” Tanya Nisa pada putranya.

“Udaaaahhhhh” jawab Aldi tersenyum yang membuat ibunya pun ikut tersenyum.

“Sekarang kita pulang yah ? Gak mau beli apa-apa lagi kan ?” tanya Nisa memastikan.

Aldi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Pasangan ibu-anak itu pun kembali menaiki motornya. Setelah itu, mereka berdua mulai melaju secara perlahan untuk kembali ke rumahnya.

Ditengah perjalanan pulangnya, tiba-tiba mesin motor yang Nisa kendarai rusak. Walaupun jemari kanan Nisa sudah menarik gas untuk melajukan motornya. Motor itu masih tetap diam. Matanya seketika melihat ke arah speedometer-nya untuk mengecek jumlah bensin yang ia punya.

“Masih cukup kok” kata Nisa heran.

“Umiii... Motornya kenapa Mi ?” tanya Aldi heran.

“Gak tau nih sayang... Sayang turun dulu yah, umi mau nyoba starter dulu” kata Nisa menurunkan Aldi. Aldi pun diam termenung menatap ibunya yang sedang menstarter motornya. Motor itu sudah berdiri diatas standar dua. Nisa pun mulai menggenjotnya. Mau sekeras apapun Nisa mencoba, hasilnya tetap saja sama. Motor itu ngambek. Motor itu tidak mau menyala yang perlahan membuat Nisa semakin kesal saja.

“Aduhhh ini gimana sih ?” kata Nisa heran.

Ia pun meminggirkan motornya ke tepi jalan. Aldi yang khawatir pun bertanya pada ibu cantiknya.

“Umiii... Motornya gapapa kan ? Kita bisa pulang kan ?” tanya Aldi dengan polosnya.

“Aduhhh umi gak tau sayangggg... Umi juga bingung... Sayang sih nyuruh umi keluar buat beli jajan” kata Nisa karena terlalu penatnya memikirkan bagaimana membuat mesin motornya menyala.

Kepalanya sudah pusing ditambah terik matahari yang semakin menyengat. Lengkap sudah derita yang Nisa alami di pagi hari ini. Ketika ia melihat ke arah putranya. Ia pun tersadar atas apa yang baru saja ia ucapkan. Ia tak tega melihat Aldi menangis karena tersakiti oleh ucapannya tadi.

“Sayanggg maafff” kata Nisa segera memeluk putra kesayangannya itu.

“Tapi kan aku cuma mau beli jajan ini... Masa aku dimarahin” kata Aldi merajuk.

“Iyya gapapa kok sayanggg... Umi yang salahhh... Maaf umi udah marah ke adek... Maafin umi yah, umi kepanasan soalnya” kata Nisa sambil memeluk putranya.

Aldi pun masih menangis sesenggukan. Nisa pun kebingungan memikirkan cara agar ia bisa pulang ke rumah. Seketika ia melihat ke sekeliling untuk mencari bengkel terdekat.

“Aduhhh kok gak ada yah ? mana aku gak tau daerah sini lagi” ucap Nisa resah.

Akhirnya dengan keterpaksaan. Nisa pun mendorong motor matic-nya sementara Aldi diminta untuk berjalan di sampingnya.

“Sayang gak capek kan jalan sebentar ? Maafin umi yah motornya malah rusak” kata Nisa tak tega pada putranya.

“Gapapa kok mi... Aku kan kuat... Masa gini aja capek” kata Aldi yang membuat Nisa tersenyum.

Cukup lama Nisa mendorong motornya, bahkan hampir enam meter Nisa mendorong motornya namun dirinya tak kunjung menemukan bengkel terdekat. Nisa yang kelelahan pun memutuskan untuk beristirahat sebentar. Apalagi saat ia melihat Aldi yang berkeringat tak menentu.

“Kita istirahat sebentar yah ? Sayang haus gak ?” tanya Nisa yang dijawab anggukan oleh putranya. Nisa untungnya membawa sebotol air yang ia simpan di dalam tas jinjingnya. Nisa mengeluarkan botol itu kemudian membukakan tutupnya lalu ia berikan kepada putranya yang langsung ia minum dengan rakus.

Nisa tersenyum, ia pun meminta putranya untuk minum dengan hati-hati.

“Aahhhh segeer mi” kata Aldi sudah segar kembali.

Alhamdulillah mau lanjut ? Apa istirahat dulu ?” kata Nisa merasa lega sudah melihat senyum di wajah putranya lagi.

“Istirahat !! Capekkkk” kata Aldi yang membuat Nisa tersenyum.

Nisa pun duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu yang berdiri di atas trotoar jalanan. Ia mendekap putranya untuk duduk bersandar kepadanya. Sesekali ia melihat ke kiri dan ke kanan siapa tau ada seorang ustadz yang bisa ia mintai bantuan.

Sialnya pakaian serba gelap yang Nisa kenakan malah membuat hawa panas semakin terserap hingga bidadari bertubuh mungil itu merasa kegerahan di pagi menjelang siang hari ini. Saat ia melihat ke arah jam tangannya. Rupanya jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi.

“Aduhhh udah sejam terjebak disini” kata Nisa gelisah.

“Umiiii... Aku ngantuk” kata Aldi yang sedang bersandar pada tubuh mungil ibunya.

“Sayang ngantuk... Yaudah tidur dulu... Nanti umi bangunin kalau mesinnya dah jadi” kata Nisa perhatian.

“Terus umi gimana ? Apa umi gak kesepian pas aku tidur ?” tanya Aldi sambil menatap wajah ibunya yang membuat hati Nisa terharu.

“Gapapa... Kalau ngantuk jangan dipaksa... Istirahat aja dulu yahhh” kata Nisa sambil menyentuh hidung putranya yang membuat Aldi pun tersenyum bahagia.

Namun tiba-tiba ada sebuah motor yang berhenti di depan tempat duduk Nisa berada. Saat Nisa mengangkat wajahnya, raut wajahnya pun berubah menjadi terkejut. Ia tak menduga bisa bertemu dengannya di tempat seperti ini.

“Lohhh Nisa yah ?” kata sosok itu sempat ragu.

“Mass... Fandiiii ?” jawab Nisa terkejut. Aldi pun menatap sosok Fandi itu, kemudian ia menatap wajah ibunya. Ia begitu penasaran mengenai identitas orang ini dan kenapa juga bisa mengenal ibunya.

“Seniorrr... Apa yang kamu lakukan disini ?” kata Fandi lekas turun dari motornya untuk menghampiri bidadari mungil itu.

“Gapapa mas... Anu itu, motor aku rusak” jawab Nisa sekenanya untuk menjaga jarak dengannya.

“Motor kamu rusak ? Coba pinjem kuncinya” kata Fandi bergegas mencoba untuk memperbaikinya.

Saat Fandi mencobanya ia juga tidak bisa. Fandi pun sempat mengecek beberapa komponen yang ada di motor matic mantan tetangganya itu.

“Kayaknya perlu ganti aki deh ini mah” kata Fandi menduga.

“Ganti aki ? Emang lama mas ? Masih bisa diperbaiki kan motor aku ?” tanya Nisa khawatir.

“Tenang... Aku punya temen yang kerja di bengkel di sekitar sini... Mau aku anter kesana ? Nanti sambil nunggu bisa sekalian nginep di kosan aku dulu... Kebetulan kosanku kan ada disekitar sini... Gimana ?" Tanya Fandi tersenyum.

Nisa sempat ragu ketika ditawari menginap di kosan oleh lelaki kurus itu. Ia khawatir kejadian di masa lalu akan kembali terulang andai dirinya masuk ke dalam kosan itu. Tapi, setelah ia melihat keadaan putranya yang kelelahan, Nisa pun jadi tak tega. Nisa pun tersenyum malu-malu sambil menganggukan kepalanya untuk menyetujui ajakan seorang lelaki yang pernah ia cinta itu.

Saat Fandi menatap wajah dari bidadari mungil itu. Nampak keringat yang begitu deras membasahi wajah cantiknya. Fandi pun tak tega, dengan tanggap ia segera mengeluarkan sapu tangannya untuk mengelap keringat di dahi bidadari cantik itu. Nisa terkejut tapi ia juga tersentuh oleh caranya dalam memperlakukan dirinya.

“Udah berapa lama kamu dorong motornya ? Ehh ini anak kamu yah ?” kata Fandi baru menyadari kehadiran putra Nisa.

“Hehehe iya mas... Ini anak aku... Cukup lama sih mungkin udah beberapa menit aku jalan dari deket polsek tadi sampai kesini” kata Nisa tersipu yang membuat Fandi iba.

“Ehhh itu mah jauh banget... Yaudah kamu naik motor aku aja... Biar aku yang dorong motor kamu” kata Fandi.

“Heyyy adek kecil namanya siapa ini ?” tanya Fandi pada Aldi.

“Aku Aldi om... Om siapa ?” tanya Aldi balik.

“Om temennya ibu... Ehh manggilnya ibu kan ?” tanya Fandi ke Nisa.

“Umi” jawab Nisa tersenyum.

“Om temennya umi dek... Untuk sementara adek sama umi naik motornya om yah... Biar om dorong motor adek sampai bengkel temennya om” kata Fandi yang membuat Aldi mengangguk tersenyum.

“Ini kuncinya senior... Bisa naiknya kan ?” kata Fandi kepada Nisa.

“Bisa kok mas... Aku juga bisa kok naik motor bergigi” kata Nisa tersipu malu.

Fandi pun tersenyum. Ia dengan suka rela mendorong motor itu sementara Nisa dan putranya menaiki motor Fandi dan berjalan di belakangnya.

Tak lama kemudian, mereka pun tiba di bengkel dimana ada teman Fandi bekerja disana. Untungnya keadaan di bengkel itu sedang tidak terlalu ramai. Saat Fandi memarkirkan motor yang ia dorong di dekat temannya. Nisa pun ikut turun dan berdiri diam di belakangnya sambil menggendong putranya.

“Eh bro” sapa Fandi kepada temannya yang langsung dijawab oleh temannya itu.

“Weehhh Fandi... Dari mana aja ? Kok baru keliatan sekarang !” kata temannya begitu senang.

“Hahaha biasa anak kos sibuk kerja cari duit” kata Fandi tersenyum menjawab pertanyaan itu.

“Ohhhh hahahah... Lama gak ada kabar kayaknya udah bawa istri sama anak aja nih ?” kata temannya saat melirik ke arah Nisa dan putranya.

Nisa sempat terkejut ketika ia dikira istri dari Fandi. Ia pun hanya tersenyum malu tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk temannya Fandi itu.

“Hehehe ya begitulah... Oh yah bisa minta tolong gak ? Ini kayaknya akinya perlu diganti deh... Atau gimana sih kurang paham juga... Pokoknya motornya gak bisa distarter” kata Fandi menjelaskan pada temannya.

“Ahhh gitu oke deh... Siap... Nanti aku kabarin kalau motornya dah beres... Nomor hapemu masih sama kan ?” kata teman Fandi.

“Sama dong... Oke yah kalau gitu aku tinggal dulu gapapa kan ?”

“Ohh gapapa... Ngomong-ngomong bilang ke istrimu dong... Ada gak temennya yang jomblo... Biasanya cewek cakep kan punya banyak temen yang cakep juga” lirih teman Fandi yang membuat Fandi tertawa.

“Hahahaha ya itu mah gampang... Tapi masalahnya ada gak yang mau sama kamu ?” jawab Fandi yang membuat temannya pun tertawa bersama.

Fandi pun pamit, ia mulai mendekati Nisa untuk bertanya padanya.

“Sekarang kita ke kos yah ? Kayaknya bakal lama... Soalnya mau diperiksa dulu kerusakannya dimana ?” kata Fandi.

“Emang berapa lama mas ?” tanya Nisa penasaran.

“Kurang tau juga yah... Tapi temanku ini udah ahli kok... Jadi pasti gak akan membutuhkan waktu lama” kata Fandi menenangkan.

“Ohhh yaudah deh gapapa mas” jawab Nisa malu-malu.

“Hahaha bagus deh... Dia temen SMA aku... Dia terpercaya kok tenang aja” kata Fandi sudah menaiki motornya bersiap-siap untuk mengantar bidadari cantik itu pulang ke kosnya.

“Oh yah mas... Tadi pas mas bisik-bisik dengan teman mas tuh... Kan temen mas sempet ngelirik ke aku... Emang tadi mas bisik-bisik apa ?” tanya Nisa penasaran.

“Ohhh itu... Dia minta dicariin temenmu senior... Katanya dia ngebet pengen punya istri yang cantik kaya kamu” ucap Fandi.

“Ehhhh” jawab Nisa tersipu yang membuat Fandi tersenyum gemas melihatnya.

Nisa pun membonceng di belakang Fandi. Sedangkan Aldi yang mulai mengantuk di himpit diantara tubuh Nisa dan Fandi.

“Sudah siap senior ?” tanya Fandi.

“Siapp mas” jawab Nisa tersenyum.

“Pegangannnn.... Motor meluncur !” kata Fandi.

Saat Fandi menarik gasnya hampir saja Nisa terjungkal ke belakang karena saking semangatnya. Aldi pun sampai terbangun dari rasa kantuknya. Nisa yang kesal pun memukul lengan Fandi karena kurang berhati-hati.

“Maaf senior” kata Fandi malu.

“Dasar !” kata Nisa tersenyum malu-malu.


*-*-*-*


Sementara itu, di waktu yang sama.

Haura tiba-tiba terbangun dan menyadari kalau hari sudah pagi. Bahkan mungkin, hari sudah mendekati waktu siang. Saat ia menengokan wajahnya ke samping. Ia terkejut karena yang berada disana bukan lagi V. Melainkan ustadz Rafi.

"Haura... Antum udah bangun ? Alhamdulillah" Kata ustadz Rafi bersyukur.

"Ehhh ustadz... Ustadz sejak kapan disini ?" Tanya Haura terkejut sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.

"Sejak pagi tadi Haura... Mungkin sekitar jam 8... Abis gantian tadi sama ustadz V" Jawab Rafi yang membuat Haura kecewa.

Yahhhh... Udah pulang yah...

Batin Haura.

"Antum pasti laper kan ? Ini tadi dari pihak rumah sakit ngasih sarapan bubur loh... Dah lama kan antum belum makan ? Pasti laper yah ?" Kata ustadz Rafi yang sudah seperti kakak sendiri bagi Haura.

"Hehehe iyya ustadz... Ana laper" Jawab Haura langsung menerima piring itu. Haura pun mencicipi bubur itu. Rupanya rasanya gurih. Haura pun dengan lahap mulai menyantap bubur yang diberi toping ayam di sekitarnya.

"Enak kan ? Hahaha... Yang banyak makannya Haura... Biar gak kurus lagi" Ucap ustadz Rafi yang membuat Haura tersipu malu.

"Oh yah paling sebentar lagi, ana bakal balik ke pesantren buat persiapan Jum'atan... Sebentar lagi ana juga ada janji dengan seorang santri... Nanti biar ustadzah Hanna aja yah yang nemenin ? Kebetulan ustadzah Hanna ada di ruangan sebelah kok" Kata ustadz Rafi mengejutkan Haura.

"Lohhh... Ustadzah Hanna sakit juga ?" Tanya Haura penasaran.

"Bukan sih... Katanya kenalannya ada yang sakit... Jadi ustadzah Hanna cuma nemenin aja gitu sekalian jenguk" Kata ustadz Rafi yang membuat Haura lega.

"Huufttt kirain sakit juga" Kata Haura sambil memegangi dadanya.

"Yaudah ana pergi sebentar yah... Ini ustadzah Hanna sebentar lagi mau kesini... Jaga diri yah... Jangan lupa diabisin buburnya" Kata ustadz Rafi setelah membaca balasan chat dari ustadzah Hanna.

"Iya ustadz... Terima kasih udah nemenin" Jawab Haura tersenyum.

Saat ustadz Rafi telah pergi meninggalkannya sendiri. Haura pun mendengus sebal. Ia menatap piring berisi bubur ayamnya sambil membatin sesuatu.

Andai V masih disini... Aku kangen banget pengen ngobrol bareng kamu sekaligus berterima kasih denganmu... Makasih yah buat kebaikanmu selama ini, V.

Batin Haura sambil melihat ke arah jendela kamarnya yang terbuka.


*-*-*-*


Sementara itu di kos,

Tidak seperti yang Nisa duga. Ternyata Fandi bisa begitu akrab dengan Aldi. Mereka berdua sedang bermain bersama. Padahal biasanya Aldi suka malu-malu ketika bertemu dengan orang baru. Tapi tidak dengan Fandi.

Nisa yang saat itu sedang berada di kamar mandi sedang mencuci tangannya dan membersihkan wajahnya. Ia pun sesekali melirik untuk melihat keadaan putranya di dalam kamar Fandi. Nisa tersenyum melihat putranya begitu bahagia ketika bermain bersama seseorang yang dulu pernah ia cinta.

Nisa pun memasuki kamar kos Fandi untuk bertemu mereka berdua. Saat Nisa baru masuk itulah, Fandi langsung tersenyum ketika terpukau oleh keindahan wajah Nisa.

"Cantik banget kamu senior... Wajah kamu kinclong gitu" Puji Fandi yang membuat Nisa tersenyum malu.

"Biasa aja kali" Kata Nisa berpura-pura tidak ada yang terjadi padahal ia tersenyum malu.

"Sayangggg... Lagi main apa ?" Tanya Nisa pada putranya.

"Lagi main mobil-mobilan bareng om baik" Kata Aldi tersenyum menatap ibunya.

"Mobil ? Itu kan cuma batu" Jawab Nisa tersenyum.

"Ihhh tapi kan bisa dijadiin mobil" Kata Aldi yang membuat Nisa gemas untuk mengusap rambut putranya.

"Maaf gak punya mainan disini... Adanya cuma batu" Kata Fandi kepada Nisa.

"Gapapa mas... Makasih yah udah nemenin Aldi pas aku ke kamar mandi" Kata Nisa tersenyum. Kembali, senyum indah Nisa membuat diri Fandi terpesona.

"Apa kabarmu sekarang ? Dari kemarin aku chat kok gak pernah bales ?" Tanya Fandi.

"Maaf mas... Aku baik kok" Jawab Nisa merasa tidak enak.

"Nomormu masih aktif kan ?" Tanya Fandi lagi.

"Masih kok" Jawab Nisa semakin merasa tidak enak.

"Hahaha gapapa... Aku paham kok" Kata Fandi sambil mendekap punggung tangan Nisa. Nisa pun melirik ke tangannya. Ia pun hendak menariknya namun ia urungkan karena merasa begitu bersalah pada diri Fandi.

"Jadi inget sewaktu dulu kita masih suka main bertiga" Ucap Fandi mengenang masa lalu.

"Waktu dulu yah, pas di dekat taman bermain waktu itu ?" Ucap Nisa ikut mengenang masa itu.

"Iya... Rasanya bahagia sekali kita... Aku masih inget dulu kamu kalau pake hijab masih suka mencang-mencong" Kata Fandi menatap wajah Nisa.

"Hehehe iya mas... Jaman waktu aku belum kenal pashmina... Pake hijab pun seadanya... Sekarang gak kan ?" Kata Nisa tersenyum memberanikan diri menatap Fandi.

"Enggak... Kamu sekarang cantik banget... Hijab kamu, gamis kamu... Kamu memang seorang ustadzah... Penampilan kamu sempurna Senior... Cocok banget dengan dirimu" Puji Fandi tersenyum namun kemudian menundukan wajahnya.

Nisa pun tersenyum senang mendengar pujian dari Fandi. Tapi setelah itu ia merasa kalau Fandi masih kecewa karena tidak berhasil mendapatkan hatinya. Nisa pun mendekap tangan Fandi yang sedang mendekap tangan satunya. Tangan mereka pun saling tumpuk-tumpukan. Fandi yang terkejut menatap tangannya. Kemudian wajahnya ia naikan tuk menatap wajah ayu Nisa.

"Massss... Jangan sedih, pasti ada kok wanita yang lebih baik daripada aku" Ucap Nisa menghibur.

"Hahaha aku bukannya sedih senior... Aku cuma menyayangkan aja kejadian waktu itu... Andai aja aku bisa sedetik lebih cepat... Mungkin aku yang akan jadi ayah dari anak ini" Kata Fandi memaksa senyum sambil menatap Aldi yang sedang asyik bermain sendiri.

Nisa pun hanya bisa tersenyum tak mampu membalas komentar itu. Ia kehabisan kata-kata. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Memang sangat disayangkan karena sejatinya waktu itu ia juga menunggu kehadiran Fandi. Tapi ini lah yang telah terjadi. Ia sudah menjadi seorang istri dari seorang suami bernama Reynaldi. Ia pun sudah mempunyai putra bernama Aldi. Sudah banyak kenangan pula yang telah ia buat bersama suami. Andai ia bisa memutar waktu, apakah ia rela untuk menukar semua kehidupannya saat ini agar dirinya bisa mengulangi masa itu ketika dirinya menunggu kedatangan Fandi untuk menjemput dirinya.

Belum tentu dirinya rela.

"Dekkk... Aku panggil kamu dek aja lagi yah kaya dulu... Rasanya aku malah makin sedih tiap kali manggil kamu senior" Kata Fandi.

"Terserah mas aja... Aku nurut" Ucap Nisa tersenyum.

"Aku mau nanya ke kamu dek... Sebenarnya kamu masih mencintaiku gak ?" Tanya Fandi tiba-tiba yang mengejutkan Nisa.

"Ehhh mas... Kenapa nanyanya gitu lagi sih ? Aku udah bersuami mas... Aku bahkan punya anak... Gak pantes mas nanya itu ke aku" Jawab Nisa mencoba menjaga hati.

"Dekkk... Bukan itu jawaban dari pertanyaanku... Aku cuma butuh satu dari dua jawaban... Masih atau enggak" Ucap Fandi tegas. Ia bahkan memegangi kedua bahu Nisa kemudian memaksanya untuk menatap matanya.

Nisa pun tak bisa mengelak. Setelah dipaksa untuk menjawab pertanyaan itu. Nisa hanya memilih untuk mengangguk lemah.

Pelan-pelan dekapan tangan Fandi di bahu Nisa pun melemah. Nisa pun menaikan pandangannya tuk menatap wajah Fandi. Ia terkejut ketika melihat Fandi malah tersenyum padanya.

"Terima kasih" Jawab Fandi tiba-tiba memeluk tubuh Nisa yang membuat bidadari bertubuh mungil itu langsung jatuh ke pelukannya. Nisa hanya diam. Ia bingung haruskah ia membalas pelukannya atau justru menolaknya dengan mendorongnya jauh.

"Aku tau ini memang rumit... Tapi sejujurnya aku masih mencintaimu... Bahkan aku merasa kalau aku telah memilikimu... Aneh bukan ?" Kata Fandi saat memeluk tubuh mungil Nisa.

"Itu karena mas belum bisa move on dari aku... Cari cewek sana... Pasti mas bakal bisa melupakan aku kok" Kata Nisa saat masih di pelukannya.

"Benarkah bisa ? Buktinya, kamu aja yang udah menikah masih mencintai diriku... Bukankah itu aneh" Kata Fandi yang mengejutkan Nisa.

Iya aneh.

Jawab Nisa di dalam hatinya. Seketika ia pun mulai berfikir. Ia mulai tersadarkan. Iya yah, kenapa aku terkadang masih memikirkannya... Kenapa aku masih tidak mampu jauh-jauh darinya ? Kenapa aku masih begitu merindukannya ?

Batin Nisa heran. Ia pun mulai memejam dan ia merasakan dekapan yang begitu hangat dari lelaki yang bukan muhrimnya itu. Pelan-pelan Nisa pun memberanikan diri tuk membalas pelukan Fandi. Ia memeluk tubuh kurus Fandi. Fandi tersenyum merasakan dekapan yang begitu hangat dari wanita pujaannya.

"Maafin aku yah mas yang masih labil... Aku tau dengan takdirku... Aku cuma ingin menjaga jarak agar aku bisa fokus ke suami aku... Tapi kayaknya aku gak bisa... Karena terkadang, aku juga sering merindukan mas... Walau berulang kali mas mengirimkan pesan itu ke aku... Tangan aku selalu gatal ingin membacanya... Tapi aku terlalu munafik mas... Aku malah memaksa diri untuk tidak membaca pesan dari mas... Gak tau ah mas... Aku jadi bingung sekarang... Maafin aku yah mas yang masih belum dewasa kaya gini" Kata Nisa bingung sendiri dengan susunan kata yang baru saja ia ucapkan.

Sebenarnya banyak hal yang ingin ia ucapkan pada Fandi. Tapi ia begitu sulit untuk mengurutkannya. Akhirnya ia hanya bisa mengucapkan kata yang hanya ia ingat saja.

"Gapapa dek... Aku paham banget kok... Harusnya aku yang minta maaf karena udah mengganggu kamu dengan keluarga baru kamu... Aku egois... Tapi nyatanya itulah yang terjadi... Aku menginginkanmu... Aku menginginkan kamu menjadi kekasih hatiku" Kata Fandi melepas pelukannya hanya untuk menatap wajah cantik Nisa.

Nisa pun tersipu sehingga ia menundukan wajahnya. Saat Nisa hendak mengucapkan kata-kata lagi. Ia terkejut oleh suara putranya yang rupanya sedari tadi memperhatikannya.

"Umi lagi ngapain sih ?" Tanya Aldi mengejutkan Nisa.

"Astaghfirullah" Kata Nisa sampai lupa kalau ada orang lain disini selain mereka berdua.

Sama halnya dengan Nisa. Fandi pun terkejut oleh suara anak kecil itu.

"Hehehe umi cuma ngobrol bareng temen umi kok... Jangan bilang abi yah... Harus tutup mulut yah" Kata Nisa mewanti-wanti. Aldi pun mengangguk sambil menutupi mulutnya.

"Cuppp... Dasar sampai lupa" Kata Fandi memberanikan diri tuk mengecup pipi Nisa.

Nisa yang terkejut pun memukul lengan kurus Fandi sambil tersenyum malu.

"Jangan gitu ahhh... Ada Aldi tau" Kata Nisa tersenyum malu. Fandi pun tersenyum melihat senyum malu-malu dari wanita pujaannya.

“Oh yah mas ? Mas udah makan ?” tanya Nisa masih merasa tidak enak.

“Belum sih dek ? Kamu udah ?” tanya balik Fandi.

“Aku sama Aldi udah makan kok di rumah... Mmmm kalau aku masakin sesuatu gimana ? Dimakan yah ! Jangan kebiasaan gak makan pagi deh !” kata Nisa berusaha untuk meredakan rasa tidak enak di hatinya dengan memasakan sesuatu untuk Fandi.

“Boleh deh kalau gitu” jawab Fandi yang membuat Nisa tersenyum senang.

“Di dapur emang ada apa aja mas ?” tanya Nisa.

“Kurang tau yah... Orang-orang sini mah jarang banget yang masak... Kalau ada palingan cuma telur” jawab Fandi sambil keluar kamar untuk memeriksa isi kulkas.

“Nah iya cuma telur, ini pun nasi cuma sisa kemarin” lanjut Fandi.

“Hah dasar pemalas semua... Yaudah deh aku masakin nasi goreng aja yah ?” tanya Nisa.

“Boleh” jawab Fandi tersenyum.

“Oke deh... Mas jaga sini yah nemenin Aldi” kata Nisa mulai menaikan lengan gamisnya bersiap-siap untuk memasakan sesuatu untuk Fandi.

“Aku ? Nemenin Aldi ? Aku bantu kamu aja gimana ? Ya masa kamu yang masak sendiri di kosan aku” kata Fandi merasa tidak enak.

“Ihhh gapapa.... Justru aku yang gak enak kalau gak ngelakuin sesuatu buat mas” kata Nisa buru-buru ke dapur untuk memasakan sesuatu ke Fandi.

Fandi pun mengalah. Ia akhirnya setuju untuk menemani putra dari wanita pujaannya. Walau Aldi bukanlah putranya, tapi memikirkan kalau Aldi adalah putra dari Nisa membuat Fandi berusaha untuk menyayanginya seperti menyayangi putranya sendiri.

“Main mobil-mobilan dari batu yukkk” ajak Fandi.

“Yukkkkkk” ucap Aldi antusias.

Mereka berdua bermain bersama. Mereka tidak ada yang mau mengalah. Mereka bagaikan anak-anak yang seumuran. Hal itulah yang membuat Aldi lebih mudah dekat dengannya daripada orang lain. Nisa yang sedang memasak di dapur sesekali melirik ke dalam kamar untuk melihat keadaan putranya. Ia lagi-lagi tersenyum saat melihat keakraban yang terjadi diantara keduanya. Nisa pun sampai berfikir. Mungkin ini yang akan terjadi andai dirinya menikah dengan Fandi.

Buru-buru Nisa menggelengkan kepala untuk membuang pikiran itu. Ia pun kembali bertekad untuk menguatkan hatinya kalau ia adalah istri dari Reynaldi bukan Fandi.

Tak lama kemudian, Nasi goreng yang dimasak oleh Nisa sudah siap. Nisa dengan penuh kasih menghiasi nasi goreng itu dengan meletakan beberapa timun di pinggir piring itu. Nisa pun tak sabar untuk melihat reaksi dari lelaki yang pernah ia cinta itu. Ia berharap masakan darinya bisa menghibur hati Fandi yang masih sendiri hingga detik ini.

“Ini mas nasinya” ucap Nisa dengan malu-malu saat memberikan nasi goreng itu. Nisa bahkan sampai berlutut ketika menyerahkan nasi itu dengan penuh sopan santun yang membuat Fandi tersenyum kagum.

“Terima kasih dek” jawab Fandi.

“Sayang mau juga ?” kata Nisa sampai melupakan putranya. Untungnya Aldi menggelengkan kepalanya sambil sesekali menguap.

“Uhhh sayang masih ngantuk yah... Sayang mau tidur dulu ?” tanya Nisa merasa iba.

“Iya Mi... Aku ngantuk mau tidur” jawab Aldi manja.

“Mas... Boleh pinjem kasurnya” kata Nisa pada Fandi.

“Ohhh boleh banget kok dek... Sini biar aku aja yang angkat Aldi” kata Fandi buru-buru meletakan piringnya kemudian mengangkat Aldi untuk menidurkannya diatas ranjang tidurnya. Fandi bahkan sampai menurunkan kaus yang sempat terangkat memperlihatkan perut Aldi ketika anak kecil itu sudah terbaring diatas ranjang tidurnya.

Nisa tersenyum diam-diam melihat kasih sayang Fandi pada putranya.

“Aku makan yah sekarang ?” kata Fandi meminta izin.

“Iya mas” jawab Nisa tersenyum manis yang membuat hati Fandi terasa kembang kempis.

“Gimana ?” tanya Nisa gugup menantikan reaksi dari lelaki kurus itu.

“Mmmhhhh enak banget dek... Luar biasa rasanya... Selera aku banget” jawab Fandi yang langsung melahapnya dengan lahap.

“Hihihihi syukurlah kalau mas doyan” jawab Nisa tersenyum.

Nisa terus tersenyum melihat Fandi begitu lahap dalam menyantap masakannya. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita ketika melihat apa yang sudah dimasaknya dihabiskan dalam sekejap.

“Ahhhh kenyangnyaa” kata Fandi yang membuat Nisa terkejut.

“Ihhhh kok udah abis aja ? Gak dikunyah yah makannya ?” kata Nisa heran.

“Ahhhh dikunyah kok... Cuma ya karena laper banget jadinya cepet abis deh... Ehh bentar yah ?” kata Fandi buru-buru keluar kamar yang membuat Nisa hanya menengoknya saja. Nisa pun melihat kalau Fandi baru saja memasuki kamar mandi. Setelah Fandi kembali ke kamarnya, Nisa segera bertanya mengenai apa yang baru dilakukannya.

“Hehehhe cuma abis minum sama gosok gigi kok... Malu kalau mulut masih bau kalau ada bidadari cantik di depan aku” kata Fandi yang membuat Nisa tertawa terbahak-bahak.

“Dasar ahhh... Kebiasaan pasti suka jarang mandi yah... Gak berubah dari dulu !” kata Nisa masih saja tersenyum yang membuat Fandi ikut tersenyum.

“Kamu juga sama aja dek... Senyummu masih gak berubah bikin aku gemes pengen noel kamu” kata Fandi sambil mencolek pipi Nisa. Nisa pun tersipu ketika pipinya dicolek. Ia pun buru-buru menegur sambil memukul paha Fandi yang sedang duduk dihadapannya.

“Gak boleh pegang-pegang... Dasar kebiasaan !” kata Nisa berpura-pura menolak.

“Kenapa emangnya ? Kita kan udah terlalu dekat... Kita udah kaya kakak-adek kan” kata Fandi semakin gemas melihat reaksi wajah Nisa.

“Hihihi iya sih... Mas emang udah kaya kakak aku sendiri” kata Nisa mengakui malu-malu.

“Kamu juga dek... Udah kaya adek ketemu gedenya aku” jawab Fandi yang membuat Nisa terkejut namun tertawa mendengar leluconnya.

“Apa sih mas ? Gaje deh” kata Nisa tertawa yang membuat Fandi semakin gemas.

“Happpp yahhhhh” kata Fandi tiba-tiba mendorong tubuh Nisa hingga bidadari bertubuh mungil itu terbaring di atas tikar lantai ruangan. Kedua jemari mereka saling mengait. Perut mereka pun saling berhimpitan. Nampak wajah Fandi yang berada diatas menatap wajah Nisa yang tersipu di bawah. Jarak yang semakin dekat membuat wajah Nisa semakin memerah. Nisa pun membuang wajahnya ke samping karena tak sanggup memandang wajah dari seorang lelaki yang masih ia cintai.

“Sayangggg... Kamu cantik banget sih” kata Fandi menggoda yang membuat Nisa hanya bisa tersenyum malu-malu.

“Apa sih mas... Jangan gitu ahh... Jangan mulai lagi deh... Aku malu” kata Nisa yang tak berani menatap wajah Fandi.

“Malu kenapa sih ? Sini coba tatap aku” kata Fandi melepaskan kaitan di jemari kiri Nisa hanya untuk menyentuh pipinya agar Nisa mau menatap wajahnya. Nisa pun tersipu ketika ditatap dengan jarak sedekat ini.

“Tuh kan cantik banget kamu” puji Fandi yang membuat Nisa tak tahan lagi untuk tersenyum.

“Massss ihhhh... Jangan gitu dehhh... Aku gak kuat tahu” kata Nisa yang masih tak sanggup untuk menahan senyum.

“Gak kuat apa ? Gak kuat nahan beban tubuh aku atau gak kuat diliatin sama wajah aku ?” tanya Fandi semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Nisa semakin tersenyum berusaha untuk mendorong wajah Fandi menjauh.

“Hihihihihi dua-duanya mas” kata Nisa yang sudah terhanyut oleh kenangan masa lalu.

“Hahahaha kalau gitu... Boleh gak aku ?” kata Fandi sambil menyentuh bibir Nisa. Nisa pun mengangguk malu-malu. Tanpa ragu bibir Fandi langsung mendekat untuk memagut bibir tipis itu. Mata Nisa pun memejam ketika bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir lelaki yang bukan muhrimnya itu.

“Mmmmppphhhhhh” desah mereka berdua mendengus mantap.

Mereka berdua berciuman, bibir mereka saling melekat dengan jarak tubuh mereka yang semakin dekat. Fandi semakin erat dalam mendekap tangan mungil Nisa. Sementara Nisa hanya bisa pasrah menerima setiap cumbuan yang diberikan oleh lelaki bukan muhrimnya.

Nisa melenguh mengeluarkan suara yang membangkitkan gairah birahi Fandi dalam mencumbunya. Nisa terus bertahan ketika bibirnya dihujani ciuman dari lelaki yang pernah ia cinta. Ciuman mereka yang semakin bernafsu membuat liur Nisa perlahan menetes jatuh dari sela-sela bibirnya membasahi lantai ruangan. Bibir tipis sang ustadzah itu terus saja beradu menerima serangan bertubi-tubi dari bibir kencang Fandi yang semakin agresif.

“Mmppphhhh dekkk... Mmmpph bibir kamu manis banget... Aku senang bisa mencumbuimu lagi” puji Fandi yang membuat Nisa tersipu. Namun Nisa tidak membalasnya. Ia hanya diam sambil menerima satu demi satu dorongan bibir Fandi yang menekan-nekan bibir tipisnya.

Bibir merah Fandi terbuka memagut bibir atas Nisa yang terasa manis baginya. Lidahnya ia julurkan ketika memasuki rongga mulutnya. Lidah itu bergerak lincah bagai seekor ular yang berkelana memasuki goa. Ular itu menggeliat kesana-sini. Ular itu merengsek masuk merangsang rongga mulut Nisa dengan begitu agresif. Tak diduga ular itu bertemu dengan lawannya. Mereka pun bergelut di dalam. Mereka saling melilit, permukaan mereka semakin basah akibat pertempuran dahsyat diantara keduanya. Kadang ujung dari lidah itu berbenturan kemudian saling menggesek kemudian setelah itu lidah Fandi menarik keluar lidah Nisa untuk membawanya ke dalam sarangnya.

“Uhhmmmmmm” desah Fandi dikala kedua bibirnya menjepit rapat lidah Nisa yang semakin hanyut dalam buaian nafsu birahi.

Nisa terkejut ketika dirinya mampu bercumbu sepanas ini. ia pun merasa dirinya lebih sexy, ia merasa dirinya lebih menarik dan lebih berani lagi untuk memanjakan hasrat birahi yang selama ini terus bersembunyi di dalam diri.

Lama mereka berciuman, mereka semakin terangsang dengan kehangatan yang terjadi di dalam kamar ini. Tangan Fandi mulai bergerak untuk mengusap tonjolan indah di dada Nisa. Rabaannya kadang naik kadang menuruni tonjolan itu hingga membuat pemiliknya mendesah nikmat merasakan usapan nakal Fandi di daerah terlarangnya.

“Aahhhhhhhh aahhhh masss” desah Nisa disela-sela cumbuannya. Nisa merasa geli ketika tangan nakal Fandi begitu liar dalam meremasi bulatnya payudaranya.

Tangan nakal Fandi kembali bergerak naik untuk menaiki tonjolan indah itu. Nisa merinding, ia sampai memejamkan matanya tak kuasa menahan nikmat yang sedang ia rasakan. Tak diduga, tangan itu akhirnya hinggap di daerah tersensitif Nisa yang merupakan puting payudaranya.

“Aahhhhhhhh” desah Nisa sambil membuka matanya terkejut. Ia merasa terangsang ketika putingnya itu terus ditekan-tekan dari luar gamis yang masih ia kenakan

Payudara kirinya diremas oleh tangan kanan Fandi. Fandi pun tersenyum sambil menatap wajah indah Nisa yang sudah tak ia cumbui lagi. Terlihat diwajahnya kalau Nisa sedang menikmati remasan kuat di buah dadanya. Nafasnya terasa berat hingga membuatnya kembali memejam membiarkan Fandi memainkan dua buah payudaranya yang besar.

“Aahhhhh mass.... Ehmmmm ahhh ahhhh” desah Nisa dengan manja tak kuasa menahannya.

Fandi tersenyum melihat ekspresi Nisa yang begitu terangsang hebat olehnya. Ia pun kembali mencumbuinya dan ia tak menduganya kalau Nisa malah akan membalas cumbuannya itu.

“Sllrrpppp uhmmmm auuhhmmmm uuhhmmmmm” desah mereka berdua yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

Fandi pun mulai menurunkan resleting gamis yang tersembunyi di bagian depan dada Nisa. Sedikit demi sedikit, Fandi mulai melihat kulit beningnya yang tersembunyi di balik gamis yang ia kenakan. Sebuah bra berwarna putih juga mulai terlihat disana. Saat belahan dadanya mulai terlihat, Fandi terkejut setelah melihat ukurannya yang agak membesar.

Indahnya susumu dek !

Batin Fandi terkagum.

Bulatannya besar, bentuknya terlihat kenyal membuat Fandi tak sabar untuk menurunkan cup bra yang menghalangi setengah dari keindahan disana.

“Wow” kata Fandi takjub saat melihat puting pinknya yang sudah mengacung tegak.

Nisa pun tersipu melihat reaksi takjub Fandi. Saat lelaki yang pernah ia cinta itu menurunkan kepalanya untuk menyusu disana. Ia buru-buru memejamkan mata untuk menahan sensasi nikmat yang akan ia terima.

“Uhhhhhhhhhhh” desah Nisa dengan manja.

Nisa mendesah penuh nikmat merasakan hisapan dan jilatan yang Fandi layangkan di payudaranya. Fandi mencaplok payudara Nisa. Lidahnya bergerak liar dengan menjilati putingnya. Giginya pun ikut bermain dengan menggigitnya pelan. Nisa mendesah, mengejang, merintih merasakan semua kenikmatan yang ia dapatkan dari Fandi.

“Aahhhhhh masss... Ahhhhhhhh ahhhhhh” desahnya tak kuasa menahan.

Fandi pun menghentikan rangsangannya di payudara Nisa. Ia kemudian menatap kembali wajah Nisa yang terlihat kelelahan. Fandi tersenyum kemudian membisikan sesuatu yang membuat Nisa merasa malu ketika mendengarnya.

“Kamu terlihat makin cantik ketika rahasia tubuhmu terungkap... Aku buka yah gamismu ?” bisik Fandi yang membuat Nisa tersipu mendengarnya.

Fandi kemudian memegangi tangan Nisa untuk mengajaknya bangkit dalam posisi berlutut dihadapannya. Fandi pun menelanjangi Nisa hingga satu demi satu keindahan tubuh ibu dari satu anak itu terlihat. Nisa hanya terdiam malu membiarkan lelaki kurus itu menelanjangi dirinya. Gamis itu pun terjatuh hingga ke perutnya. Nampak kedua payudara Nisa yang tidak terlalu besar namun sangat sesuai dengan proporsi tubuhnya yang mungil nampak disana. Nisa pun terlihat malu-malu. Apalagi saat tangan kanannya tiba-tiba dituntun oleh Fandi menuju pusaka rahasianya.

Nisa melotot terkejut saat tangannya tiba-tiba menyentuh sesuatu yang besar dan keras dihadapannya. Fandi hanya tersenyum sambil mengangguk menatap Nisa. Fandi pun melepaskan genggamannya membiarkan bidadari bertubuh mungil itu meraba-raba penisnya yang masih tersembunyi di balik celana kolornya.

“Bagaimana menurutmu dek ? Punyaku gede kan ?” kata Fandi meminta pendapat. Nisa yang sudah bertelanjang dada hanya mengangguk kagum. Kedua tangannya pun terus membelai tonjolan gede itu.

Nisa sudah tidak memikirkan apapun lagi. Dirinya begitu penasaran dengan ukuran yang sedang ia pegang menggunakan telapak tangannya. Sekali lagi Nisa pun menatap wajah Fandi tak percaya dengan ukuran yang dimiliki oleh penisnya.

“Buka aja kalau penasaran” kata Fandi memberi aba-aba.

Glleeekkk !!!

Nisa pun menenggak ludah merasa gugup. Ia dengan malu-malu menurunkan celana kolor yang Fandi kenakan.

Nampaklah disana penis berukuran raksasa yang begitu gagah dan perkasa. Nisa sampai membuka mulutnya tak percaya. Ukurannya besar, panjang dengan urat-urat syaraf yang mengelilinginya. Ujung gundulnya juga nampak mempesona membuat Nisa tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari benda yang membuatnya penasaran.

“Pegang aja dek kalau penasaran” kata Fandi yang membuat Nisa menggerakan tangannya malu-malu. Nisa hanya bisa diam sambil sesekali menghembuskan nafasnya yang berat. Matanya terkunci oleh benda panjang itu. Tangannya bergerak sedikit demi sedikit karena masih ragu untuk melakukannya. Fandi pun tersenyum menyadarinya, ia menggerakan pinggulnya maju hingga wajah Nisa tak sengaja menyentuh penis besar Fandi.

“Ahhhhhh mantappnyaahh” desah Fandi saat ujung gundulnya menghantam wajah mulus Nisa.

“Akkk... Akkuu boleh . . . . .” tanya Nisa yang masih ragu untuk melakukannya.

“Boleh kok” jawab Fandi tersenyum.

Nisa menggenggamnya erat, ia pun mulai merasakan betapa kerasnya penis yang mengacung tegak dihadapannya. Tanpa sadar Nisa menggerakan jemarinya pelan, Nisa mengocoknya membuat Fandi mendesah pelan merasakan jemari halus Nisa dalam merangsang kelaminnya.

“Ahhhhh.... Ahhhhhhh... Ahhhhhh” desah Fandi membuat Nisa semakin bergairah ketika melakukannya.

Besar banget... Kenapa ukurannya bisa segede ini ? Perasaan dulu gak segini ?

Batin Nisa tak percaya. Tak sadar kocokannya semakin kuat hingga membuat Fandi kewalahan dalam menerima rangsangan dari bidadari mungilnya.

Fandi pun mengangkat kausnya hingga membuatnya bertelanjang bulat dihadapan Nisa. Nisa semakin terkesima oleh pemandangan yang nampak dihadapannya. Tidak seperti suaminya yang bertubuh gemuk. Tubuh Fandi terkesan kurus dengan kulit putihnya tanpa ada satu bulupun di dadanya. Tak seperti wajah suaminya yang dipenuhi oleh janggut tebal. Wajah Fandi terkesan lebih mulus dengan wajah yang lumayan tampan hanya saja tidak lagi terurus seperti dulu lagi. Rambut kemaluan Fandi juga tidak begitu lebat ditambah penisnya yang sudah mengacung tegak membuat Nisa semakin kehilangan akal sehatnya.

Fandi pun tersenyum mendekati Nisa kembali. Nisa pasrah ketika didekati oleh pria yang pernah dicintainya itu. Tubuh Nisa diajaknya berdiri. Nisa kembali dicium, mata Nisa memejam, tangan Fandi pun menurunkan sisa gamis yang menyangkut dipinggang ramping Nisa. Gamis itupun jatuh melewati kedua kaki rampingnya yang jenjang.

Tanpa jeda, tangan Fandi segera memasuki celana dalam Nisa yang juga berwarna putih. Jemarinya menggesek bibir vaginanya. Sedikit demi sedikit vagina Nisa pun basah merasakan rangsangan dari Fandi. Mulut Nisa jadi semakin terbuka membuat lidah Fandi bebas berkeliaran di dalamnya. Nisa telah terangsang. Tubuhnya semakin bernafsu. Ustadzah beranak satu yang sehari-hari biasa mengenakan pakaian longgar itu telah dikuasai oleh birahinya sendiri. Keseluruhan tubuhnya telah terungkap menampakan payudaranya yang semakin mengencang. Vaginanya semakin becek akibat perlakuan jemari Fandi dalam menggesek bibir vaginanya. Nisa mendesah, ia terus mengeluarkan suara desahannya yang menggoda.

“Ahhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhhhh” desahnya sambil menggoyangkan pinggulnya karena tidak tahan.

Fandi pun berjongkok untuk memelorotkan pertahanan terakhir yang menutupi vagina Nisa. Saat ia menurunkannya Fandi dapat melihat liang kewanitaan Nisa yang berwarna merah muda. Nisa pun malu sambil menutupi kemaluannya sendiri.

“Jangan diliat gitu ah mas... Aku malu !” kata Nisa menyadari tatapan mata Fandi yang begitu rakus akan keindahan vaginanya.

“Tenang dek, Aku janji akan memberikanmu kepuasan yang luar biasa” kata Fandi sambil menyingkirkan tangan Nisa dengan lembut.

“Aahhhhhhhhhh” desah Nisa dengan manja.

Lidah Fandi keluar berpetualang dalam menjilati bibir vagina Nisa. Nisa akhirnya mendesah tak kuasa menahan nikmatnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembab tengah merangsang titik sensitifnya. Lidah Fandi bergerak masuk menyusup ke dalam rongga vagina Nisa. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina Nisa. Nisa mendesah, mengerang, merintih dengan penuh nikmat. Kedua tangannya pun memegangi kepala Fandi yang semakin terbenam di vaginanya.

“Ahhhhhh ahhhhhhhhhhhhh massss” desah Nisa yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

“Mmpphhh sllrrpp.... Gimana dek ? Enak ?” tanya Fandi disela-sela jilatan di vagina Nisa.

“Heemmm... Mmmpphhhhhh” ucap Nisa menyetujui.

Fandi meludahi liang kewanitaan Nisa, kemudian ia kembali menjilatinya, jemarinya ikut bergerak dalam mengorek-ngorek lubang kemaluan Nisa. Nisa semakin terangsang yang membuatnya tak dapat melakukan apa-apa selain mendesah kencang.

“Aahhhh... Ahhhh... Aaahhhhhh” desah Nisa dengan manja.

Puas setelah membasahi liang senggama Nisa. Fandi pun bersiap-siap untuk menghujami liang senggamanya lagi. Ia melirik sejenak ke ruangan sebelah dimana Aldi masih tertidur disana. Kemudian Fandi pun memposisikan tubuh Nisa agar berbaring diatas tikar lantai lagi. Fandi mulai melebarkan kaki Nisa kemudian pinggulnya mendekat bersiap untuk mengarahkan penisnya agar dapat memasuki kembali lubang sempit yang pernah ia cicipi sebelumnya.

Nisa paham kalau lelaki kurus ini tengah bersiap-siap untuk menyetubuhi dirinya lagi. Nisa sempat ragu. Memang ia menikmati percumbuannya sedari tadi. Tapi kalau sampai bersetubuh lagi, rasanya sudah berlebihan. Ia pun menatap wajah Fandi berharap agar dirinya tidak sampai menyetubuhinya lagi.

“Masss... Jangannnn... Jangannn sampai masuk masss” pinta Nisa.

“Apa maksudmu dek ? Kita udah sejauh ini... Nikmati aja yah... Kamu pasti puas kok dek” kata Fandi yang jelas menolaknya.

Nafsu Fandi yang sudah menggebu-gebu membuatnya segera menggerakan pinggulnya untuk membenamkan penisnya masuk ke dalam vagina sempit Nisa.

“Aahhhhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Nisa ketika benda keras itu menusuk liang kenikmatannya.

Nisa dapat merasakan kalau benda sebesar itu telah masuk begitu dalam membelah liang senggamanya. Bahkan ia merasa kalau penis besar itu tengah menanduk-nanduk dinding rahimnya. Birahi Nisa pun bergetar. Kedua tangannya mengepal dan bibirnya sampai ia jepit untuk menahan kenikmatan yang sedang ia dapatkan.

“Ahhhhh ahhhhhh ahhhhh” desah Nisa ketika pinggul Fandi bergerak maju mundur menggesek dinding vaginanya yang sempit.

Nisa mendesah ketika menikmati perzinahan ini. Dalam posisi terlentang memejam ia dapat merasakan benda keras itu menusuk begitu dalam. Rasanya begitu nikmat membuat ia tak sadar lagi dengan perselingkuhan yang sedang ia lakukan bersama seorang lelaki yang pernah ia cinta.

Fandi tersenyum sambil menikmati keindahan tubuh Nisa yang sudah telanjang bulat. Nisa kala itu tinggal mengenakan hijab berwarna gelapnya saja. Fandi tersenyum, tatapan dari Fandi itu membuatnya semakin malu. Nisa pun sampai menutupi payudara seadanya karena tak sanggup dengan tatapan nakal yang diberikan oleh Fandi itu.

“Kamu cantik banget dek... Tubuhmu juga indah... Aku suka banget dengan kesempurnaan yang kamu punya... Jadi jangan ditutupi lagi yah” puji Fandi membuat jantung Nisa berdebar mendengarnya.

“Aahhhhhhh ahhhhhh” desah Nisa ketika Fandi tiba-tiba kembali menggerakan pinggulnya maju mundur.

Nisa mendesah begitupula Fandi juga mendesah. Payudara Nisa yang bergerak maju mundur semakin memperkuat hasrat Fandi untuk segera menuntaskannya. Gerakan payudaranya yang indah membuat Fandi tak tahan untuk segera meremasnya. Fandi meremas payudara bulat itu, ia pun mencengkramnya dengan kuat kadang ia juga mencubit putingnya dengan pelan untuk membuat birahi Nisa memuncak.

"Ouhhhh masss.... Enakkk ahhh... Ahhhhh" Desah Nisa.

Nisa menatap wajah Fandi dengan tatapan sayu dari arah bawah. Tusukannya yang semakin dalam lagi kuat membuat Nisa tak bisa berkata apapun lagi selain mendesah pasrah menerimanya.

Fandi mulai memegangi pinggul ramping Nisa agar bisa fokus untuk memuntahkan spermanya. Ia mulai mempercepat gerakan pinggulnya saat menyadari dirinya sudah berada di ambang batasnya.

Nisa juga demikian, Setiap gesekan yang ia terima di dinding vaginanya juga setiap remasan yang ia terima di payudaranya membuat bidadari bertubuh mungil itu tidak sanggup untuk menahan semuanya lagi.

“Aahhhhh ahhhhhhh masss.... Aahhh pellaannn.... Akuu mau keluuarr” kata Nisa mendesah.

“Aahhhh ahhhh iya gak usah khawatir dek... Keluarin aja... Aku juga mau keluar kokkk” kata Fandi tak sabar. Fandi malah semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuh Nisa sampai tersentak maju mundur dengan cepat. Suara tubrukan yang terdengar dari benturan antar pahanya pun semakin kencang.

Pllokkkk... Pllokkk... Pllokkk !!!

“Ahhh ahhhhhhhh” desah Haura yang semakin kencang.

“Ouhhhhh... Ouhhh dekkkk... Akuuu gakkk kuatttt lagiii... Rasakann inniii !!! Hennkkkghhh !!!” desah Fandi setelah menancapkan penisnya dengan mantap.

Tepat saat Fandi membenamkan penisnya hingga mentok ke ujung rahimnya. Sebuah gelombang dahsyat mengalir keluar dari dalam vagina Nisa hingga menyemprot batang penis Fandi yang masih menancap di vaginanya.

“Aahhhhhhhh akuuu keluaarrrrr !!!” desah Nisa begitu dahsyat hingga tubuhnya terangkat naik merasakan kepuasannya.

Tak ada bedanya dengan Nisa. Sebuah jepitan yang begitu kuat menghimpit ujung gundul dari batang penisnya membuat Fandi tidak sanggup menahannya lagi. Semprotan sperma dengan deras keluar membasahi liang kewanitaan Nisa. Fandi pun mencengram pinggang Nisa semakin kuat. Pinggulnya semakin ia benamkan ke dalam. Penis itu semakin menancap sambil mengeluarkan tetesan air mani yang sangat banyak.

“Aahhhhhhhh ahhhhhhhh” desah mereka berdua tak henti - hentinya ketika menikmati sisa - sisa orgasmenya.

Mereka berdua pun kewalahan setelah bersetubuh dengan begitu nikmat. Fandi ambruk menindihi tubuh ramping Nisa. Keringat dengan deras mewarnai tubuh indah mereka. Fandi masih tak percaya ia kembali bersetubuh dengan seorang wanita yang ia puja. Sedangkan Nisa tak percaya dirinya kembali berzina dengan seorang lelaki selain suaminya.

“Hah... Hah... Hah” desah mereka berdua kelelahan.

Anehnya untuk sekarang tidak ada lagi rasa penyesalan seperti sebelumnya. Rasa kejujuran yang sudah ia bawa ketika ia mengucapkan perasaan yang sebenarnya pada Fandi telah menghapus rasa penyesalan itu. Kini, yang tersisa hanyalah rasa kepuasan yang ada. Nisa begitu puas. Begitupula Fandi yang sedang menindihi tubuhnya.

“Dekkkk” ucap Fandi sambil membelai pipi Nisa.

“Iyya mas” jawab Nisa tersenyum lemah.

“Aku mencintaimu” ucap Fandi sambil mencumbui bibir Nisa.

“Aku juga mas... Mencintaimu mmmppphhhh” desah Nisa ketika kembali dicumbu oleh Fandi.

Mereka pun saling cumbu dalam menikmati sisa orgasme mereka yang sungguh nikmat. Setelah cukup lama mereka saling beradu bibir. Mereka pun menghentikan cumbuannya. Fandi mengangkat tubuhnya, ia melepaskan batang penisnya dari dalam liang senggama Nisa.

“Uhhhhhhh” nampak lelehan sperma mereka yang telah tercampur mengalir begitu deras membanjiri karpet kamar kosan Fandi. Fandi tersenyum melihat ekspresi wajah Nisa yang masih keenakan ketika disetubuhi olehnya.

“Ini dek... Elap yah kalau gak mau hamil” kata Fandi memberikan gulungan tisu toilet pada Nisa. Nisa pun tersipu malu dan langsung mengambil gulungan tisu itu untuk membersihkan noda sperma yang begitu banyak menggenangi rahimnya.

Kendati saat ini ia tidak begitu menyesali perbuatannya setelah mengkhianati suaminya. Masih ada satu hal yang membuat Nisa kebingungan hingga sekarang.

“Masss... Aku mau ngomong” kata Nisa membuat lelaki kurus yang masih bertelanjang bulat itupun menoleh.

“Ada apa dek ?” jawab Fandi mendekati Nisa untuk berlutut dihadapannya.

“Aku bingung mas” ucap Nisa.

“Bingung ? Kenapa ?” tanya Fandi.

“Kenapa sih ? Kalau kita tidak ditakdirkan untuk bersama... Kenapa ada perasaan yang membuat kita selalu ingin berdua ?” tanya Nisa mencoba untuk membuka kembali hatinya.

“Hahaha itu aku juga gak tau dek... Cinta memang aneh... Cinta itu rumit... Kita nikmati aja apa adanya sekarang” kata Fandi yang masih belum dipahami oleh Nisa.

“Terus ? Hubungan kita sekarang apa mas ?” tanya Nisa penasaran.

“Entahlah... Panggil aja aku suami keduamu” kata Fandi yang membuat Nisa tersenyum malu.

Nisa pun diajak berdiri lagi oleh Fandi. Nisa terkejut ketika menyadari rupanya penis Fandi masihlah berdiri tegak dibawah sana.

“Massss ?” kata Nisa tak percaya saat tak sengaja menyentuh penis Fandi.

“Kenapa dek ? Iya aku emang belum puas... Siapa juga yang bisa puas kalau melakukannya sekali denganmu” kata Fandi yang membuat Nisa merinding mendengarnya.

“Ehhh masss... Tungguuu... Istirahat duluuu mmppphhhh” desah Nisa saat kembali dicumbu olehnya.

Mereka berdua pun kembali bercumbu dalam posisi berdiri saling berpelukan. Dada mereka telah saling bersentuhan. Telapak tangan Fandi sudah menempel di punggung mulus Nisa. Ketika sedang asyik-asyiknya bercumbu sambil menikmati waktu berdua. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang memanggil mereka.

“Umiiii... Kok umi gak pake baju ? Kok om juga ?” kata Aldi yang terbangun membuat Fandi buru-buru melepas cumbuannya dari Nisa.

“Ehhh sayangggg” kata Nisa panik sambil menutupi ketelanjangan tubuhnya. Fandi juga panik. Ia pun buru-buru mengenakan celana kolornya kemudian bergegas menghampiri Aldi.

“Hehehe gapapa kok dek... Om cuma mau bantu Umi, biar nanti dek Aldi punya adek baru... Kan nanti Aldi jadi punya temen baru di rumah” kata Fandi beralasan.

“Adek baru ? Wahhhh makasih om baik” kata Aldi tersenyum senang.

Nisa yang juga sudah mengenakan gamisnya kembali buru-buru menghampiri putra kesayangannya.

“Hehehe sayang... Tapi nanti janji yah... Jangan bilang apa-apa ke abi... Ini rahasia kita berdua... Oke” kata Nisa mencoba meyakinkan putranya.

“Iya mi... Aku janji gak bakalan bilang abi” kata Aldi tersenyum polos.

Baik Nisa dan Fandi pun mendesah lega. Mereka saling bertatapan kemudian tertawa. Nisa yang kesal karena jantungnya nyaris copot segera memukul lengan Fandi.

“Dasar deh... Mandi wajib sana... Persiapan jumatan !” kata Nisa tegas.

“Tapi habis jumatan lagi yah” kata Fandi ketagihan.

“Ihhhhh ketagihan dasar !” kata Nisa mencubit Fandi. Fandi pun ngeluyur pergi menuju kamar mandi menyisakan Nisa saja dengan putra tersayangnya.

“Sayangggg... Janji yah jangan bilang abi ?” kata Nisa sekali lagi untuk memastikan. Aldi hanya tersenyum mengangguk. Nisa pun memeluk putranya dengan erat sambil memikirkan sesuatu di benaknya.

Bener gak yah keputusanku kali ini ?

Batin Nisa yang masih bimbang dengan keputusannya. Ia pun tak tahu menahu. Apakah keputusannya ini sudah tepat ? Atau justru akan menghancurkan kehidupannya secara perlahan.


*-*-*-*


Sore hari di depan salah satu asrama santriwati putri.

“Satu... Dua... Tiga... Empat... Satu !” ucap instrusktur senam itu di depan.

Para peserta senam itu mengikuti tiap gerakan yang dilakukan oleh instruktur tersebut. Dengan alunan musik yang didendangkan oleh sound system itu. Semua peserta tampak kompak mengikuti tiap ketukan dari alunan musik itu.

Tubuh mereka berkeringat. Tubuh mereka pun semakin bersemangat. Alih-alih kelelahan karena sudah mengikuti gerakan senam dari awal. Semua peserta senam itu justru semakin berapi-api dalam menggerakan tubuh mereka. Tubuh mereka terasa ringan. Otot-otot yang menghubungkan sendi mereka terasa lemas. Mereka semua tidak ada yang mau berhenti ketika memikirkan motivasi mereka saat mengikuti acara senam rutin di sore hari ini. Mereka semua ingin membentuk badan mereka. Mereka semua ingin memperindah tubuh mereka dengan mengikuti senam aerobik bersama.

Apalagi bagi mereka yang berdiri di sekitar ustadzah Nada. Rasanya tiap kali merasa lelah dan ingin menyerah untuk melanjutkan gerakan senam mereka, seketika ketika mereka menatap lekuk tubuh Nada, mereka tidak jadi menyerah karena termotivasi untuk membentuk tubuh mereka seperti yang dimiliki oleh ustadzah Nada.

Bagaimana tidak ? Dengan dibekali postur tinggi yang menjulang. Nada juga memiliki lekuk indah yang terpancar di pinggul rampingnya. Pinggulnya begitu aduhai. Belum lagi ketika menatap wajahnya yang sedang berkeringat. Nada nampak sexy juga dengan lelehan yang membasahi kaus berwarna merah mudanya.

Sore hari itu. Nada mengenakan pakaian yang agak ketat membungkus tubuh rampingnya. Celana training berwarna biru membungkus kaki jenjangnya. Nampak tonjolan payudaranya tak bisa ia sembunyikan lagi. Tonjolan itu begitu maju. Tonjolan itu begitu menggoda apalagi ketika Nada melakukan gerakan melompat.

Para santriwati yang melihatnya saja sudah gemas ingin memiliki payudara seperti ustadzah Nada. Tak dapat dibayangkan andai ada salah satu santri yang melihatnya. Sudah pasti mereka juga merasa gemas namun perbedaannya gemasnya mereka itu ingin meremas kedua payudara yang menggantung indah di dada ustadzah Nada.

Hijabnya yang berwarna hitam semakin lembap oleh keringat. Kendati hari sudah memasuki waktu sore tapi terik matahari masih saja terasa panas membakar kulit putihnya. Untungnya saja Nada mengenakan topinya. Ia pun berhasil menghindari cahaya UV yang ingin menyerang wajah beningnya.

Sudah menjadi kewajiban bagi Nada untuk menjaga keindahan tubuhnya. Ia pun rajin berolahraga salah satunya ya dengan mengikuti gerakan senam aerobik ini. Terkadang ia juga menjaga tubuhnya dengan berjogging mengelilingi pondok pesantren. Terkadang ia juga berjogging disekitar area luar pondok pesantren agar dirinya mendapatkan suasana baru.

Setelah acara senam berakhir. Nada pun berpamitan dengan santriwati lainnya. Nada tampak terburu-buru. Sebagai seorang istri, ia mempunyai kewajiban untuk mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Walaupun ia masih mempunyai rasa kecewa pada suaminya mengenai kebijakan yang diinginkan sang suami padanya, tapi ia tidak mau membiarkan suaminya kelaparan. Ia ingin menjadi seorang istri yang bertanggung jawab. Nada pun mempercepat langkah kakinya menuju rumah.

Dalam perjalanannya menuju rumah, Nada merasa tidak enak. Ia mempunyai firasat kalau ada hal buruk yang bakal terjadi padanya. Seketika ia pun teringat akan kejadian di waktu sebelumnya ketika ia juga baru saja pulang dari mengikuti senam.

Apa jangan-jangan orang itu datang lagi ?

Batin Nada gelisah.

Berulang kali wajahnya melihat ke sekitar dalam perjalanannya menuju rumah. Telinganya menjadi lebih sensitif. Tiap kali ia mendengar suara yang mencurigakan, ia langsung menolehkan wajahnya untuk mencari tahu apa yang membuat suara itu berbunyi. Bahkan hembusan angin pun sudah membuatnya ketakutan. Ia pun mempercepat langkah kakinya. Ia buru-buru pulang agar dirinya tidak lagi disergap secara tiba-tiba oleh kuli pengantar paket itu.

Ia sudah tiba di depan teras rumahnya. Kali ini, ia mencoba untuk memperhatikan sepasang sandal yang terparkir di depan rumahnya.

“Ini punya mas Rendy bukan yah ?” tanya Nada dengan lirih.

Nada agak lupa-lupa ingat. Ia pun tidak mau terlalu yakin seperti di waktu sebelumnya. Ia kapok karena sudah mempercayai sepasang sandal yang ia kira milik suaminya, padahal tidak.

Memang bentuknya agak mirip, karena itulah Nada bersikap lebih berhati-hati lagi ketika mulai memasuki rumahnya. Dipegangnya sapu ijug di tangan kanannya. Ia berjalan perlahan demi perlahan mendekati ruang tamu rumahnya. Tidak ada orang sama sekali memang, tapi ia tidak ingin lengah. Ia pun bersiap-siap untuk memukulkan sapu itu ke pria tua tak bersunat itu andai orang itu kembali datang untuk melecehkan dirinya.

Tiba-tiba dari arah belakang, tepatnya dari arah pintu masuk rumahnya terdengar suara gemuruh langkah kaki. Suara itu seperti suara langkah kaki seseorang yang sedang terburu-buru mendekati rumahnya. Siapa yah ?

Nada pun berbalik arah. Dirinya telah bersiap-siap untuk memukulkan sapu itu andai yang ia lihat adalah pria tua pengantar paket itu.

Brruukkkk !!!

Terdengar suara pintu yang dibuka secara paksa.

“Ustadzahhhhh !!!” ucap seseorang terburu-buru yang membuat Nada terkejut.

“Aaaahhhhh... Pak Heriiii... Mau apa lagi bapak kesini ?? Pergiii !!! Pergiii dari sini !” ucap Nada sambil memukulkan sapu itu.

“Ustadzahhh tenang ustadzahhh... Bentar saya cuma mau ngobrol... Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan” kata Pak Heri terlihat panik sambil berusaha menghindari pukulan sapu dari ustadzah cantik itu.

“Bohong... Aku gak percaya lagi dengan ucapan bapak... Cepattt pergiii.... Pergi dari siniii !!!” teriak Nada mengusirnya.

Beberapa kali pukulan sapu itu mengenai kaki dan pinggang pria tua itu. Pak Heri kesakitan. Tapi ia tidak mau menyerah dengan mencoba untuk menangkis sapu itu.

“Haaappppp” kata pak Heri berhasil menangkapnya. Nada pun terkejut. Ia berusaha menggerakan sapu itu tapi ia tidak bisa. Alhasil Nada melepaskan sapu itu kemudian berlari ke dalam untuk menghindari pria tua itu yang terlihat begitu agresif.

“Jangannn... Jangannn mendekatttt !!” teriak Nada panik.

“Ustadzah sebentar... Saya cuma mau ngomongin sesuatu ustadzah... Tolong dengarkan saya” kata pak Heri terus mengejar.

Sesuai dugaan, Nada telah memasuki ruangan dapurnya yang merupakan ruangan paling belakang di rumahnya. Nada pun mengambil sebilah pisau. Dengan berani ia mengacungkan pisau itu yang membuat pak Heri mengangkat kedua tangannya sambil berusaha menenangkannya.

“Cepat pergi dari sini pak... Atau aku gak akan segan untuk menusuk bapak dengan pisau ini !” kata Nada mengancam.

“Tenang ustadzah... Tenang... Saya cuma mau ngomong ke ustadzah... Tenang jangan banyak bergerak” kata pak Heri berkeringat.

Nada pun melihat ke kiri dan ke kanan sambil berusaha mencari celah agar bisa kabur dari kejaran pria tua tak bersunat itu.

“Ngomong ? Ngomong apa ? Kalau ada ngomongin dari situ... Jangan mendekat lagi dari jarak segini !” kata Nada semakin panik.

“Baikkk ustadzahhh... Baikkk... Tapi tolonggg dengarkan saya dulu... Ini soal ide ustadz Rendy tentang dua orang itu” kata Pak Heri yang membuat Nada seketika dilanda amarah.

“Tuhh kan... Sudah kuduga pasti bapak kan pelopornya ? Pasti bapak yang udah bikin mas Rendy kepikiran untuk melakukan hal itu ke aku kan ?” kata Nada terlihat murka.

“Tungggu ustadzah... Dengarkan saya dulu... Dengarkan ucapan saya sampai selesai” kata Pak Heri panik melihat Nada berusaha mendekat.

“Gakkk !! Aku gak perlu dengerin omongan lelaki jahat seperti bapak... Cepat pergiiiii !!! Aku gak mau liat bapak lagi disini !” kata Nada membabi buta melayangkan pisaunya ke pak Heri.

“Ustadzahhh... Tungguuu” kata Pak Heri sambil menghindar.

Keadaan memang tegang sehingga mereka sama-sama sulit untuk mengontrol diri masing-masing. Untunglah dikala Nada menusukkan pisaunya ke arah pak Heri. Pak Heri bisa menghindar dan membuat pisau dapur itu menancap di dinding rumahnya. Dengan gerakan lincah, pak Heri pun mendekap kedua tangan Nada dan menaruhnya di depan perut bidadari ramping itu. Pak Heri pun memegangi tubuh Nada dari belakang. Nada terlihat seperti dipeluknya dari belakang. Nada pun didudukan di salah satu sudut dapur rumahnya sambil meneteskan air mata karena ketakutan.

“Tenang ustadzahhh... Tenang duluuu... Saya gak ada niatan untuk menyakiti ustadzah sekarang... Saya cuma mau ngomongin hal itu sebentar... Tolong biarkan saya menjelaskan semuanya” kata pak Heri mencoba menenangkan Nada. Nada terlihat sesenggukan menangis. Ia pun menarik nafasnya mencoba tenang dan berusaha mendengarkan apa yang ingin pak Heri bicarakan.

“Ya, jujur saya akui... Saya yang udah mempengaruhi ustadz Rendy agar ustadz Rendy mau membolehkan saya untuk bersetubuh dengan ustadzah ketika suami ustadzah melihatnya... Ya saya akui... Itu memang perbuatan salah dan saya menyesalinya” kata Pak Heri tiba-tiba yang membuat ustadzah Nada terkejut.

“Tuh kan sudah aku duga... Tega banget bapak melakukan itu ke aku ? Tega banget bapak mau menghancurkan keluarga kecil aku ?” kata Nada kecewa mengetahui hal yang sebenarnya.

“Sebentar-sebentar ustadzah... Izinkan saya menyelesaikan penjelasan saya... Iya, saya memang salah karena sudah mempengaruhi otak ustadz Rendy agar mau mengizinkan ustadzah agar dinikmati oleh saya... Tapi jujur, saya bukan berniat untuk merusak keluarga ustadzah... Sebaliknya, saya bertindak seperti itu karena saya mencintai ustadzah... Saya ngebet ingin bersetubuh dengan ustadzah... Saya ingin memilikimu ustadzah... Bahkan untuk saat ini, saya tidak rela untuk membiarkan ustadzah disetubuhi oleh suami ustadzah sendiri... Inget kan kejadian di hari ulang tahun pernikahan kalian... Saya membawa ustadzah ke dalam kamar agar hanya saya saja yang bisa menyetubuhi ustadzah... Tidak ada orang lain... Hanya kita berdua” kata pak Heri yang membuat Nada terkejut. Nada pun bingung dengan ungkapan kejujuran yang tiba-tiba pak Heri ucapkan.

“Sekarang waktu kita gak banyak ustadzah... Tolong sekarang ustadzah ikut saya... Diluar sana ustadz Rendy sedang membawa dua orang yang pernah ia bicarakan ke sini... Saya sudah melihatnya sendiri ustadzah... Salah satu dari dua orang itu merupakan kuli bangunan dan satunya lagi merupakan santri... Tolong percaya ke saya ustadzah... Saya gak mau ustadzah mengalami hal buruk dengan menuruti hawa nafsu suami ustadzah... Tolong ikuti saya... Tolong biarkan saya untuk menebus semua kesalahan saya !” kata Pak Heri berusaha meyakinkan ustadzah Nada.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka.

“Sayanggg... Dekkkk... Adek dimana ? Tolong siapkan minuman untuk kedua tamu kita” kata suaminya dari kejauhan.

Dua orang tamu ? Jangan-jangan apa yang diucapkan pak Heri benar dong ?

Batin Nada panik.

“Cepat ustadzahhh... Gak ada waktu lagi... Ayo ikut saya... Kita bisa sama-sama pergi dari sini” kata pak Heri.

“Tapiii... Tapiii... Bapak gak bohong kan ?” tanya Nada masih ragu.

“Untuk apa saya bohong ustadzah ? Ayo cepat... Sebelum suami ustadzah tau kalau ustadzah ada disini !!!” kata pak Heri panik.

Tiba-tiba sapu yang tadi dijadikan senjaga oleh Nada terjatuh dan menimbulkan suara yang didengar sampai telinga Rendy.

“Ohhh adek di dapur yah ?” kata Rendy berjalan mendekat ke arah istrinya.

“Ustadzahhh... Tolongg percayai saya sekali aja !” kata pak Heri meyakinkan Nada dengan memegangi kedua bahunya. Ia pun menatap mata Nada untuk meyakinkan bidadari bertubuh sempurna itu. Nada pun masih bimbang dengan sesekali melihat ke sekitar.

Sementara itu Rendy tengah berjalan dengan santai mendekati ruangan dapur rumahnya. Nampak kedua tamu itu tengah berbincang yang membuat Rendy tersenyum dari kejauhan. Ia pun hampir mendekati dapur rumahnya. Saat ia sudah memasuki ruangan dapur itu. Ia terdiam disana. Wajahnya ia tolehkan ke sekitar. Tapi sejauh mata memandang, ia tak menemukan dimana lokasi istrinya berada.

“Hmmm tadi cuma angin yah ?” kata Rendy memberdirikan sapu itu kembali setelah melihat pintu ruangan belakangnya yang terbuka. Pintu itu mengarah langsung ke jemuran. Rendy pun kecewa. Ia mendekati kedua tamu itu untuk menjelaskan situasi yang terjadi saat ini.

Sementara itu, beberapa menit kemudian, di sebuah mobil berbentuk van yang mempunyai warna merah yang tengah bergerak mendekati pintu gerbang masuk pondok pesantren. Pria tua bertubuh tambun itu tengah mengendarai mobilnya secara berhati-hati. Sedangkan seorang ustadzah berhijab yang duduk disampingnya tampak tegang. Ia juga bingung dengan apa yang terjadi saat ini.

“Apa yang sebenarnya terjadi pak ? Tolong jelaskan semuanya ke aku... Aku mau dengar lagi !” kata Nada minta penjelasan.

“Iya ustadzah... Nanti setelah kita sampai disana... Saya akan menjelaskan semuanya” kata pak Heri dengan tenang setelah ia merasa lega berhasil menyelamatkan Nada dari hawa nafsu suami biadadari berhijab itu.

“Disana ? Emangnya kita mau kemana pak ?” tanya Nada penasaran.

“Ke rumah kontrakan saya... Kita akan tinggal disana malam ini” jawab pak Heri yang membuat Nada terkejut.

“Rumah ? Rumah bapak ?” tanya Nada terkejut.

Ia pun merenung sejenak memikirkan hanya ada mereka berdua disana. Seketika tubuhnya pun bergetar memikirkan apa yang bakal terjadi disana.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy