Search

CHAPTER 29 - AIR KEBAHAGIAAN

CHAPTER 29 - AIR KEBAHAGIAAN

Dalam perjalanan mereka menuju rumah kontrakan pak Heri. Nada yang masih belum memahami kejadian yang sebenarnya terjadi terus bertanya pada kurir pengantar paket itu. Ia heran, ia tak habis pikir, ia pun penasaran dengan apa yang membuat pak Heri sampai kepikiran untuk mengacaukan keutuhan rumah tangganya waktu itu.

"Jadi gini ustadzah" Kata pak Heri setelah terus menerus ditekan oleh ustadzah berbadan body goals itu.

"Iya gimana ? Katakan yang sejujurnya pak, aku mau dengar" Kata Nada duduk di sebelah kursi pengemudi itu sambil mencoba mendengarkan alasan apa yang bakal kurir pengantar paket itu berikan.

"Sebenarnya sudah sejak lama saya memperhatikan kecantikan ustadzah... Mungkin tepatnya sejak pertama kali saya diminta untuk mengantar paket ke pondok pesantren... Saya itu langsung jatuh cinta ke ustadzah ketika pertama kali melihat ustadzah menerima paket dari saya... Memang banyak ustadzah yang cantik di pesantren ini... Tapi ustadzah berbeda... Hanya ustadzah yang bisa membuat jantung saya berdebar kencang" Kata pak Heri beralasan.

"Terus ? Itu bukan alasan kenapa bapak sampai mengacaukan pikiran suami saya" Kata Nada menjawabnya dengan dingin.

"Iya ustadzah... Biar saya selesaikan dulu cerita saya" Kata Pak Heri sambil fokus menyetir mobil.

"Ya, cepetan" Kata Nada lagi-lagi menjawabnya dengan dingin.

"Di kantor saya, ketika kami sedang ada waktu senggang... Saya dan kurir pengantar paket lainnya suka ngobrolin hal tentang apa aja yang terjadi di hari itu... Nah, biasanya tiap ada kurir yang mengantar paket ke pesantren, kurir itu pasti menceritakan tentang betapa cantiknya dan ramahnya ustadzah Nada... Mendengar setiap cerita yang mereka bicarakan membuat hati saya terdorong untuk ingin memiliki ustadzah" Kata pak Heri yang membuat Nada terkejut ketika pertama kali mendengarnya.

"Terus ?" Kata Nada dengan dingin sambil berusaha bersabar untuk mendengarkan keseluruhan cerita dari pak Heri.

"Iya gitu ustadzah... Terus sewaktu saya mendapatkan giliran untuk mengantar paket ke pondok pesantren lagi... Iseng lah saya bertanya tentang ustadzah ke ustadz Rendy... Awalnya sih cuma iseng ngobrolin hal apa aja tentang ustadzah ke pak ustadz gitu... Tapi sewaktu malamnya, melalui obrolan chat... Karena obrolan kami perlahan semakin mengarah ke hal yang berbau dewasa, saya pun iseng minta pak ustadz untuk memperlihatkan memek ustadzah ke saya... Kebetulan ustadzah juga udah tidur waktu itu... Eh saya gak duga rupanya pak ustadz beneran ngasih foto memek ustadzah ke saya... Saya pun langsung coli sambil lihat memek ustadzah waktu itu" Kata pak Heri mengingat kejadian sewaktu video call dengan suami dari ustadzah Nada waktu itu.

"Apa ? Mas Rendy pernah kaya gitu ke aku ?" Kata Nada dilanda amarah.

"Wakakak ya begitulah ustadzah..." Jawab pak Heri tertawa canggung.

"Kok bisa ? Suami aku ngirim foto gitu ?" Ucap Nada masih tak percaya.

"Bukan... Kami waktu itu video call" Kata pak Heri menjelaskan.

Nada pun terdiam tak bisa berkata-kata saat menyadari kejadian yang telah terjadi.

"Pokoknya, besoknya sewaktu saya bertemu lagi dengan pak ustadz, dia heran ke saya... Kenapa dirinya merasa puas sewaktu melihat ustadzah dilecehkan secara online oleh saya... Ya, saya bilang aja ke pak ustadz kalau ustadz itu punya gejala cuckold, dan setelah itulah saya mulai meyakinkan pak ustadz agar membolehkan saya untuk menyetubuhi keindahan tubuh ustadzah.... Ehhh dia langsung membolehkan... Setelah itu, ustadzah sendiri tahu deh, kejadian apa yang terjadi setelahnya" Kata pak Heri blak-blakan yang membuat Nada marah sekaligus bingung.

"Cuckold ? Lagipula, Itu bukan alasan kenapa bapak sampai merusak keutuhan rumah tangga aku... Itu bukan alasan yang mau aku dengar... Bapak cuma egois... Bapak cuma mentingin ego sendiri tanpa memikirkan apa konsekuensi yang bakal aku dapat setelah itu" Kata Nada merasa kesal hingga membuatnya hanya menoleh menatap kaca mobil.

Nada masih heran dengan cara berpikir kurir pengantar paket itu sampai bisa-bisanya kepikiran untuk mencuci otak suaminya agar mau mengizinkannya 'dipakai' oleh kurir pengantar paket yang bahkan tak menyunat penisnya itu.

"Iya ustadzah, cuckold... Kelainan seksual yang mana baru bisa memuaskan penderita kalau pasangan hidupnya disetubuhi oleh orang lain" Kata pak Heri yang membuat Nada tercengang.

"Iya saya tau ustadzah... Saya khilaf... Saya bener-bener ngebet waktu itu ingin menyetubuhi ustadzah... Saya sekarang sadar dengan akibatnya... Saya juga gak tau ustadzah kalau ustadz Rendy bakal kepikiran sampai se-over ini... Tolong maafkan saya... Dan izinkan saya untuk bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini" Kata pak Heri terlihat bersungguh-sungguh.

Namun Nada mengabaikan. Dirinya masih kesal dengan cara berfikir pak Heri. Ia begitu kecewa. Ia pun merenung. Ia mulai Mengingat-ngingat rentetan peristiwa yang terjadi sesuai dengan apa yang pak Heri bicarakan.

Ketika pak Heri terus mengoceh untuk bisa mendapatkan perhatian Nada lagi. Nada justru terpikirkan sesuatu yang membuatnya terkejut sekaligus heran.

Tunggu sebentar, kalau apa yang pak Heri katakan itu benar... Bukankah berarti pak Heri gak benar-benar mempengaruhi pikiran mas Rendy... Pak Heri cuma memotivasinya aja... Masa iya mas Rendy malah menikmati ketika pak Heri beronani sambil melihat kemaluan aku ?

Batin Nada heran.

Tanpa Nada sadari. Tiba-tiba mobil sudah berhenti di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar. Nada pun melihat sekitar dan mendapati dirinya sudah berada di tepi jalan kecil dimana masih banyak pepohonan yang tumbuh di halaman setiap rumah. Tidak ada gedung besar di sekitar. Tidak ada keramaian seperti di pusat kota. Sepertinya rumah kontrakan pak Heri berada di pinggiran ibukota. Suasananya pun tak jauh berbeda dengan pondok pesantren dimana ia tinggal selama ini. Bedanya sejauh mata memandang tidak ada sawah kehijauan yang membentang di sekitar.

"Kita sudah sampai ustadzah... Ayo turun" Kata pak Heri dengan sopan.

Nada tidak menjawab apa-apa. Ia hanya melihat sekitar sambil menuruti perkataan kurir pengantar paket itu. Seketika Nada melihat ke arah mobil yang baru saja ia naiki.

"Ini . . . . . " Kata Nada heran apa bisa mobil milik kantor dibawa pulang oleh pak Heri.

"Tenang ustadzah... Gapapa... Biar saya yang bertanggung jawab soal ini... Ustadzah mau mandi dulu ? Biar saya siapkan air panasnya nanti" Kata pak Heri yang dijawab anggukan oleh ustadzah cantik itu.

"Yasudah... Mari masuk dulu... Diluar dingin lohhh" Kata pak Heri saat menyadari waktu sudah mendekati maghrib.

Nada pun berjalan di depan. Pantatnya yang berlenggak-lenggok kembali menggoda nafsu pak Heri yang mengikuti di belakang.

Jangannn.... Jangannn... Nanti duluuu... Bukan itu niatku mengajak ustadzah kemari... Aku harus bisa mendapatkan kepercayaannya terlebih dulu.

Batin pak Heri bertekad untuk mendapatkan image baik dihadapan ustadzah berbadan body goals itu.


*-*-*-*


Di waktu yang sama.

Haura masih terbaring di ranjang rumah sakit sambil melihat sekitar. Tubuhnya masih lemah. Tapi ia merasa bosan karena tidak ada satupun teman yang menemani. Sebenarnya sebelum maghrib tadi ada ustadzah Hanna yang menemaninya sepanjang hari. Tapi sekarang, ustadzah Hanna sudah pulang kembali ke pondok pesantren karena mempunyai kepentingan pribadi.

Ia pun memiringkan tubuhnya ke kanan untuk melihat ke arah pintu keluar. Berulang kali matanya berkedip. Berulang kali bibirnya yang kering ia jilat. Ia merindukan seseorang. Akankah seseorang itu datang dan menemuinya disini.

"Hah.... Astaghfirullah... Kenapa cobaan ku kaya gini yah ?" Lirih Haura meratapi nasibnya.

Padahal sejak kecil hingga dirinya tumbuh dewasa di pondok pesantren ini. Ia merasa kalau dirinya merupakan wanita yang baik. Ia bukanlah wanita yang suka bertindak aneh-aneh. Tapi kenapa sampai ada orang jahat yang berusaha untuk terus memperkosanya. Bahkan orang itu tak ragu untuk menghamili dirinya. Ia kembali merenung memikirkan dosa apa yang membuatnya harus menanggung semua musibah yang menimpanya saat ini.

Ketika sedang merenung itu, Tiba-tiba dari arah pintu keluar. Muncul lah seseorang yang selama ini Haura nanti-nantikan. Lantas ustadzah berhijab yang masih mengenakan kemeja putihnya itupun bangkit ke posisi duduk. Seseorang yang Haura Nanti-nantikan itu tersenyum setelah melihat senyuman yang nampak di wajah indah Haura.

"Haura kamu udah sadar ?" Katanya senang.

"V, udah" Jawab Haura tersenyum manis.

V pun berjalan mendekat untuk duduk di sebelah Haura. Tak diduga, Haura yang sudah sangat merindukannya langsung memeluknya dengan erat. V terkejut, tapi lama-kelamaan ia pun membalas pelukan Haura sambil membelai lembut punggung mulusnya itu.

"Terima kasih yah V... Aku udah dengar... Katanya kamu kan yang udah bawa aku kesini pas aku pingsan kemarin... Kamu juga kan yang udah nemenin aku sampai bela-belain tidur disini buat nungguin aku" Kata Haura dipelukan ustadz tampan itu.

"Hahahha denger dari siapa ?... Lagipula itu wajar kan, siapapun pasti akan melakukan hal yang sama sebagai teman dekat" Kata V lebih memilih untuk berhati-hati dalam berbicara untuk menghindari perasaan Haura yang masih labil.

"Hihihi iyya V" Jawab Haura tersenyum bahagia ketika dipeluk olehnya.

Tiba-tiba suara pintu yang terbuka mengejutkan mereka berdua. Mereka pun buru-buru melepas pelukannya sebelum diketahui oleh orang lain yang ada disini.

"Ustadzah... Syukurlah udah bisa tersenyum lagi" Kata dokter Ani lega bisa melihat senyum indah bidadari tercantik itu lagi.

"Hehehe iyya bu dokter... Terima kasih udah merawat saya selama ini" Kata Haura tersenyum malu. V pun ikut tersenyum sambil melihat percakapan mereka berdua.

"Hihihi saya gak melakukan apa-apa kok... Itu karena tubuh ustadzah udah beristirahat dengan cukup... Lain kali jangan dipaksain lagi yah... Jangan memforsir tubuh ustadzah untuk melawan batas maksimal... Untuk sekarang istirahat yang cukup dulu yah entah itu disini atau bisa juga di rumah" Kata dokter Ani yang membuat Haura tersenyum.

"Ehhh rumah ? Saya boleh pulang dok ?" Kata Haura tersenyum.

"Iya boleh tapi jangan banyak aktifitas dulu yah... Kalau bisa besok jangan mulai ngajar dulu... Duduk aja di rumah biar tubuh ustadzah bisa beristirahat secara maksimal" Kata Dokter Ani tersenyum. Haura pun menoleh ke wajah V sambil tersenyum. V pun ikut tersenyum sambil menatap wajah indah Haura.

"Gimana ?" Tanya V dengan lembut.

"Aku mau pulang aja, lagipula besok kan pesantren udah libur untuk menyambut kedatangan ujian akhir semester" Jawab Haura tersenyum.

Dokter Ani pun segera melepas tali infus yang menancap di urat nadi bidadari tercantik itu. Setelah semua persiapan selesai. Dokter cantik itu pun pergi agar ustadzah cantik itu bisa menyiapkan dirinya sebelum beranjak pulang ke rumah ditemani oleh ustadz tampan yang dekat dengannya.

"Emang suami kamu udah pulang ? Terus nanti di rumah siapa yang jaga ?" Tanya V sambil duduk di sebelah Haura yang masih kesulitan untuk berdiri.

"Hehehe harusnya sih malam ini... Tapi katanya ada jadwal mendadak yang membuatnya baru bisa pulang dua hari lagi" Kata Haura.

"Ehhh kok gitu... Kapan beliau bilangnya ?" Tanya V.

"Tadi siang sih kebetulan nelpon" Jawab Haura tersenyum malu-malu.

"Terus, suamimu tau gak kalau kamu lagi sakit gini ?" Tanya V lagi.

"Enggak hehehe" Jawab Haura yang membuat V heran.

"Ehhh kok gitu... Gak dikabarin apa gimana ?" Tanya V.

"Orang gak nanya... Lagian aku juga gak mau ganggu kerja suami aku, V" Jawab Haura yang membuat V gemas.

"Hadehhh... Ada-ada aja... Terus malam ini mau sendiri ? Siapa dong yang nemenin" Tanya V.

"Antum ada waktu kosong kan ? Temenin aku yah... Biar ana gak repot-repot kalau butuh sesuatu" Ucap Haura malu-malu.

"Hmmmm ada maunya rupanya... Pantes gak ngabarin ke pak suami kalau lagi sakit... Ngomong-ngomong ana apa aku nih ?" Ucap V yang membuat Haura malu.

"V ihhhhh !!!" Kata Haura dengan manja.

"Hahaha yaudah... Iya gapapa aku temenin nanti... Terus pas tidur gimana ? Aku tidur seranjang ama kamu dong ?" Tanya V mupeng.

"Enak aja... Gak yah... Tidur di sofa lah !!!!" Jawab Haura malu hingga wajahnya memerah padam.

"Hahaha tapi aku gak bisa tidur kalau gak meluk guling loh" Kata V bermanja-manja dengan Haura.

"Ihhhh pengennya... Nanti aku kasih guling deh" Jawab Haura masih tersipu malu.

"Gak mau... Maunya guling yang bisa gerak" Kata V mupeng ingin meluk Haura.

"Aduhhhh duhhh... Aduhhh sakit" Jerit V saat pahanya dicubit.

"Rasainnnn... Lama-lama aku minta orang lain aja nih yang gak genit kalau nemenin" Kata Haura merajuk.

"Ehh iyya iya maaf... Kapok deh aku aja yah yang nemenin" Kata V sambil Ngusap-ngusap pahanya.

"Nah nurut gitu kan enak" Kata Haura tersenyum.

"Tapi nanti jangan mandi dulu yah... Tapi kalau maksa mandi biar aku aja yang mandiin... Gimana ?" Kata V sekali lagi yang membuat Haura tersipu malu.

"V !!!! Rasain nih !!!" Ucap Haura kali ini sambil mencubit lengan V untuk menghukum kemesumannya.

"Ampunnnn... Ammmpunnn" Kata V kesakitan.

"Hihihi biarin... Biar gak genit lagi ke aku" Ucap Haura tertawa cekikikan.

Walau berulang kali dicubit oleh bidadari itu. V tetap saja tersenyum sambil menatap wajahnya. Setelah itu mereka pun pulang bersama menuju rumah sambil diantar V menggunakan sepeda motor.

"Pegangan yang kuat yah... Awas jatuh" Kata V saat sudah menaiki motornya.

"Iyya hihihi" Jawab Haura tertawa. Haura pun memeluk erat tubuh V saat motor mulai melaju menuju rumahnya yang berada di pondok pesantren.


*-*-*-*


Di waktu yang sama di salah satu rumah kontrakan yang berada di pinggiran ibu kota. Nada baru saja membersihkan tubuhnya menggunakan air hangat yang sudah di siapkan oleh pria tua bertubuh tambun yang tinggal di rumah berukuran sedang ini. Saat itu Nada sedang mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk. Tubuhnya yang indah semampai terhidang di dalam kamar mandi yang sederhana itu. Dikala ia mengeringkan dadanya. Nampak payudara sebelah kirinya terangkat naik saat handuk itu diusapkan dari bawah ke atas. Saat Nada sedang mengeringkan paha ke selangkangannya. Nampak rambut kemaluannya yang tipis-tipis memperindah penampakan liang senggamanya yang berwarna merah muda. Kepalanya pun ia miringkan ke kiri dikala ia mengeringkan rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat.

Setelah tubuhnya telah kering sempurna. Ustadzah yang saat itu tidak mengenakan apa-apa mulai melilitkan handuk itu kembali ke tubuh jangkungnya yang mirip seorang model. Sangat disayangkan karena handuk itu terlalu kecil untuk menutupi keindahan tubuhnya. Kalaupun Nada menurunkan handuknya sedikit agar handuk itu bisa menutupi sebagian pahanya, otomatis kedua putingnya bakal terlihat. Kalaupun Nada menaikan handuknya sedikit agar keseluruhan payudaranya tertutupi, otomatis malah kemaluannya yang bakal terlihat. Serba salah memang. Karena menyulitkan, Nada pun memilih untuk berada di tengah-tengah saja.

Nada keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan handuk yang melilit tubuhnya. Untungnya handuk bagian atasnya bisa menutupi setengah dari payudaranya yang besar. Sedangkan handuk bagian bawahnya hanya bisa menutupi satu sentimeter di bawah bibir kemaluannya yang paling bawah.

Kamar mandi yang sederhana membuat Nada tidak bisa mencantolkan bajunya di balik pintu kamar mandi. Tidak ada satupun cantolan baju yang ada di dalam kamar mandi itu. Karena itu lah Nada meninggalkan keseluruhan pakaiannya di sebuah jemuran yang tersedia di sebelah luar pintu kamar mandi. Nada pun berniat untuk mengambil kembali kaus berlengan panjangnya beserta pakaiannya yang lain untuk ia kenakan kembali. Namun saat dirinya melihat ke arah jemuran. Ia menyadari kalau semua pakaiannya tidak ada disana.

"Lohhh kok gak ada ?" Kata Nada setelah menghampiri jemuran itu.

Nada melihat ke kiri dan ke kanan. Dirinya mencoba untuk mencari pakaiannya yang hilang yang seharusnya tergantung di jemuran ini. Ia pun bertanya-tanya dalam hati. Kenapa pakaiannya bisa hilang padahal ia menggantungnya di jemuran dalam rumah ?

"Pasti ini ulah pak Heri" Kata Nada tanpa ragu lagi.

Dengan segera Nada menghampiri pak Heri yang saat itu sedang berada di ruang makan untuk menunggu kedatangan bidadari itu. Saat Nada telah sampai di ruang makan, ia mendapati pak Heri sedang menata piring sambil menyiapkan satu centong nasi untuk dihidangkan padanya. Pak Heri pun tak tahu menahu kalau ada bidadari cantik yang hanya tertutupi sehelai handuk yang sedang berdiri diam di belakangnya.

"Pakkk" Panggil Nada dengan nada kesal.

"Iya ustadzaa... " Kata Pak Heri terputus ketika terpana oleh keseksian ustadzah Nada yang hanya tinggal mengenakan handuk saja. Rambut Nada yang panjang ia gerai begitu saja ke belakang. Putingnya yang berwarna kemerahmudaan nyaris mengintip dari balik handuk yang menutupi setengah dari payudaranya. Paha mulus Nada terhidang sempurna. Paha itu begitu besar. Paha itu terlihat kencang membuat pak Heri gemas ingin mengecupi paha indah itu. Begitu pula dengan kemolekan tubuhnya. Walau sudah tertutupi handuk, pak Heri dapat mengira-ngira bagaimana keindahan tubuh itu andai tidak tertutupi apa-apa. Ia mampu mengira bagaimana keindahan dari pinggul ustadzah cantik itu. Ia dapat mengira bagaimana perut ratanya yang selalu dijaga oleh ustadzah manis itu. Ia juga dapat mengira bagaimana kedua payudaranya yang menggantung indah yang selalu ia remas tiap kali bernafsu saat menyetubuhi dirinya. Kini sebuah boneka berbadan sempurna itu sudah berdiri dihadapannya. Penisnya yang tak disunat seketika mengeras. Ia langsung bernafsu hanya dengan tatapan pertama ketika melihat keseksian tubuhnya.

"Baju aku mana ?" Kata Nada tiba-tiba yang membangunkan pak Heri dari lamunannya.

"Ohh baju ustadzah... Saya cuci ustadzah... Besok pagi dah kering kok" Kata pak Heri yang membuat Nada tercengang.

"Ihhhh... Terus, aku pakai baju apa ?" Kata Nada terlihat kesal.

“Tenang ustadzah... Saya sudah menyiapkan kok... Saya tadi sengaja mencucinya karena pakaian ustadzah terlihat kotor" Kata pak Heri buru-buru mengklarifikasi sebelum Nada marah-marah lagi.

"Buruan mana ? Aku mau pake baju sekarang !!" Kata Nada tegas. Nampaknya Nada telah bertekad untuk tidak mengendurkan nada bicaranya agar ia mampu menjaga dirinya dari tatapan penuh nafsu yang pria tua tak bersunat itu lakukan padanya.

"Sini biar saya antar dulu" Kata pak Heri beranjak pergi menuju sebuah kamar. Nada pun tak membalas ucapan itu. Ia hanya berjalan di belakangnya dengan langkah pelan sambil berhati-hati agar handuk yang ia kenakan tidak jatuh melorot ke bawah.

Sesampainya di dalam kamar. Pak Heri terlihat sibuk membuka isi lemarinya untuk mencari pakaian yang cocok untuk Nada kenakan malam ini. Sementara Nada hanya berdiri diam sambil menatap kesal pria tua bertubuh tambun itu dari belakang.

Lama banget sih !

Batin Nada tak sabar. Matanya pun melihat sekitar untuk mengamati keadaan kamar yang biasa ditempati oleh pria tua bertubuh tambun itu. Hawa dingin yang berhembus di waktu maghrib itu membuat Nada menggigil kedinginan. Saat tangannya berusaha untuk mengusap-ngusap bahunya untuk mengurangi rasa dingin itu, Tiba-tiba handuk yang ia kenakan melorot jatuh.

Astaghfirullah !!

Batin Nada. Buru-buru ia mengenakan kembali handuk itu dengan melilitkannya di tubuhnya. Untungnya ia bisa memakainya kembali sebelum pak Heri berbalik badan untuk menyerahkan pakaian untuknya.

"Ini coba pakai ustadzah... Maaf saya cuma punya ini" Kata pak Heri memberikan kemeja putih berukuran XL dan juga hijab berwarna merah muda yang entah ia dapat dari mana.

"Terus celananya mana ?" Kata Nada heran kenapa dirinya tidak diberi celana ataupun dalaman.

"Hehehe gitu aja udah cukup kok... Kemeja saya ini panjang di bagian bawahnya... Tenang aja, memek ustadzah gak bakal keliatan" Kata pak Heri yang membuat Nada risih tiap kali pria tua itu berbicara frontal kepadanya.

"Yaudah buruan keluar... Aku mau ganti baju dulu" Kata Nada menyetujui.

Toh lagipula itu lebih baik daripada tidak berpakaian sama sekali. Ujar Nada dalam hati.

"Hehehe oke lah... Gak sabar saya ngeliat ustadzah pake baju saya... Pasti bakal sexy sekali" Kata pak Heri berfantasi.

"Udah ihhhh... Cepet keluarrrr !!!" Kata Nada mendorong tubuh tambun itu keluar.

Saat pria tua bertubuh tambun itu sudah keluar dari kamar. Nada segera menguncinya dari dalam kemudian melepas lilitan handuk yang menutupi sebagian keindahan tubuhnya.

"Hah... Pake baju ini nih ?" Kata Nada sambil melihat baju yang diberikan untuknya. Kedua tangannya menjembreng kemeja berwarna putih itu untuk melihat keadaannya.

"Bersih sih... Tapi kok keliatan tipis yah ?" Kata Nada saat melihatnya. Ia pun mendekatkan baju itu ke wajahnya untuk mencium aromanya.

"Syukurlah gak beraroma bapak-bapak... Kayaknya baju ini abis dicuci deh" Kata Nada menduga-duga.

Dalam keadaan bertelanjang bulat. Ustadzah berbadan body goals itu berjalan menuju almari pakaian untuk bercermin sambil mencoba kemeja berwarna putih itu. Kembali kemeja itu ia jembrengkan kemudian ia dekatkan ke tubuh sexynya.

"Syukurlah bajunya gak ketat" Kata Nada lega.

Ia pun mulai memasukan tubuh indahnya ke dalam kemeja berwarna putih itu. Tanpa menggunakan dalaman. Nada agak risih ketika langsung mengenakan pakaian tanpa harus mengenakan beha terlebih dahulu. Apalagi saat putingnya yang telah mengeras karena diakibatkan hawa dingin yang masuk melalui ventilasi udara kamar itu menggesek kain kemeja yang ia kenakan.

"Ihhh gak nyaman banget deh" Kata Nada memprotes.

Tapi mau bagaimana lagi. Daripada telanjang dan memperlihatkan tubuh indahnya ? Ia tak habis pikir andai kejadian itu terjadi. Ia tak dapat membayangkan bagaimana raut wajah penuh kesenangan yang diberikan oleh pak Heri andai semua itu terjadi.

Kemeja itu sudah membalut tubuh indahnya. Kedua lengannya pun telah masuk ke tempatnya. Kini, tibalah saatnya untuk mengancingkan satu demi satu kemeja berwarna putih itu. Saat Nada mulai mengancingkan kancing bagian atasnya, ia heran. Karena dirinya tidak menemukan satupun kancing disana.

"Ehhh kancing bagian atasnya udah pada copot yah ?" Kata Nada kesal. Ia pun bercermin untuk melihat keadaan kemeja bagian atasnya. Memang benar ternyata, bahwa tidak ada satupun kancing yang terpasang di bagian dua teratas kemejanya.

"Hahh... Pasti ulah pak Heri yang sengaja melakukannya" Kata Nada suudzon.

Untungnya ia merupakan akhwat berhijab. Ia pun segera mengenakan hijabnya untuk menutupi bagian dua kancing teratasnya yang terbuka. Hijab berwarna merah muda itu sudah terpasang di kepalanya. Saat Nada kembali bercermin untuk menatap keadaan dirinya. Ia merasa ada yang salah dengan penampilannya sekarang.

"Aneh deh keliatannya cuma pake baju sama berhijab kaya gini... Gak nyaman banget di liatnya kalau gak pake celana atau rok gitu" Kata Nada mengomentari penampilannya sendiri.

Nada pun berlenggak-lenggok untuk melihat penampilan sisi kanan, sisi kiri ataupun depan atau malah belakang tubuhnya. Nampak kemeja tipis itu memang menutupi tubuhnya. Namun penampakan kedua payudaranya dari balik kemeja berwarna putih yang ia kenakan mengganggu pandangan ustadzah berbadan body goals itu. Apalagi tonjolan payudaranya terlihat jelas diakibatkan dirinya yang tidak mengenakan beha. Apalagi saat puting itu mengintip dari sela-sela tipisnya bahan kemeja yang ia kenakan. Nada merasa malu sekali ketika diminta untuk mengenakan pakaian sesexy ini. Apalagi saat dirinya melihat ke bawah untuk memeriksa keadaannya. Nampak sisi bawah kemejanya hanya mampu menutupi sebagian dari pahanya saja. Kalau dikira-kira, mungkin sisi bawah kemeja itu berada di sekitar 10 cm diatas lutut yang membuat Nada ingin menarik-narik kembali kemejanya ke bawah agar liang senggamanya tidak terlihat ketika berjalan di dalam rumah kontrakan ini. Nada jadi tidak pede untuk menyantap makan malam bersama pria tua bertubuh tambun itu.

"Apa langsung tidur aja yah ?" Kata Nada bimbang untuk menemui pak Heri atau tidak.

Kruwek... Kruwek... Kruwek...

Namun suara perut yang sudah meronta-ronta memaksanya untuk menemui pria tua bertubuh tambun itu lagi.

"Yaudah deh makan aja lah" Kata Nada setelah memikirkannya matang-matang.

Setelah ustadzah bertubuh tinggi itu menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun mulai membuka pintu kamar pria tua itu. Ia pun berjalan secara hati-hati menuju ruang makan untuk menyantap masakan buatannya.

"Mmmpphhh... Moga aja payudara aku gak keliatan olehnya" Kata Nada khawatir payudaranya yang besar akan terlihat di hadapan pria tua bertubuh tambun itu.

"Assalamu'alaikum" Kata Nada saat memasuki ruang makan itu. Saat pak Heri menoleh, ia pun tersenyum sekaligus terpana akan keindahannya.

"Selamat malam ustadzah... Sudah saya duga, pasti kemeja itu sangat cocok buat ustadzah" Kata pak Heri memuji kemolekan tubuh Nada. Nada sempat tersipu. Tapi ia lebih ke malu akibat tatapan mata pak Heri yang seolah sedang menelanjangi keindahan tubuhnya.

Nada memilih untuk tidak menjawab apa-apa. Nada yang terlihat kebingungan ketika harus duduk dimana untungnya disadari oleh pria tua bertubuh tambun yang saat ini masih mengenakan seragam kerjanya.

"Duduk sini aja ustadzah, di depan saya" Kata pak Heri dengan sopan. Ia pun tersenyum sambil menatap wajah cantik ustadzah Nada. Nada sempat risih dipandangi seperti itu olehnya. Namun karena rasa lapar yang berlebihan membuatnya menuruti saja apa yang dikatakan oleh pria tua mesum itu.

"Maaf cuma seadanya... Ustadzah doyan kan ?" Katanya sambil mencuri-curi pandang ke arah kedua tonjolan indah yang agak terlihat di balik kemeja berwarna putih itu.

"Doyan kok pak... Aku orangnya gak macem-macem kalau soal urusan makan" Kata Nada.

Pak Heri pun memberikan sepiring nasi kepada akhwat cantik tersebut. Setelahnya ia memberikan sendok dan garpu. Setelah itu Nada dibiarkan memilih apa saja yang terhidang di atas meja makan rumah kontrakan pria tua bertubuh tambun tersebut.

"Ambil aja sepuasnya ustadzah... Mau tempe goreng ? Sambel ? Sayur asem ?" Kata pak Heri menawarkan.

"Iya Pak... Makasih makanannya" Kata Nada hanya mengambil satu buah tempe goreng kemudian satu sendok teh sambal beserta kerupuk yang merupakan menu wajib dikala makan.

"Hehehe lezat kan ustadzah ?" Kata pak Heri sambil melirik ke arah belahan Nada yang terlihat dari balik dua kancing teratasnya yang terbuka.

Indahnyaaa... Gedenyaaa susu montok itu !

Batin pak Heri terpukau. Ia bahkan nyaris ngences andai ia tidak menarik air liurnya kembali.

"Enak kok pak" Jawab Nada terlihat risih saat dirinya sadar kalau mata pak Heri terus saja menatapnya sedari tadi.

"Hehehe syukurlah... Susunya enak kan ?" Kata pak Heri keceplosan akibat terlalu lama memandang payudara indah Nada.

"Susu ?" Kata Nada heran.

"Ehh maksudnya sayur asemnya ustadzah" Kata pak Heri buru-buru mengoreksi ucapannya sebelum dicurigai oleh ustadzah cantik itu lagi.

"Sayurnya ? Iya, udah pas kok" Kata Nada sambil menyantap jatah makan malamnya lagi.

"Hehehe syukurlah" Kata pak Heri berhati-hati dalam mengucapkan kata-katanya.

Ketika matanya menatap ustadzah cantik yang hanya mengenakan kemeja transparan beserta hijab berwarna pinknya saja. Diam-diam tangan kanannya terus mengurut-ngurut batang penisnya sambil membayangkan dirinya dapat meremas-remas payudara besarnya yang bentuknya mirip buah pepaya itu. Volume payudaranya yang besar membuat bentuknya seperti sedang jatuh ke bawah. Namun kenyataannya ketika payudara itu sedang mengeras, ia dapat merasakan kekencangan payudaranya seperti punyanya seorang perawan.

Ohhh mantapppnyaaa... Tetap sesuai rencana Heri... Tetap sesuai rencanaaa.

Batin pak Heri sambil menghembuskan nafasnya saat kedua tangannya gemas ingin meremas kedua payudara itu.

Ingat rencanamu untuk menggenjot ustadzah Nada tanpa menggunakan paksaan... Sabarrr... Jangan paksa dia... Jangan buat dia gak nyaman karena nafsu besarmu Heri !!!

Batin pak Heri terus menahan diri.

Tapi gimana yah caranya biar ustadzah Nada mau menyerahkan tubuhnya ?

Batin pak Heri bingung juga. Karena perutnya sedang lapar, akhirnya ia lebih memilih untuk menyantap masakan buatannya itu dengan harapan akan ada ide datang di kepalanya ketika ia sedang menyantap jatah makan malamnya.

Suasana jadi hening. Hanya tersisa suara dentingan sendok saja saat terbentur ke arah piring beling tersebut. Nada bersikap acuh agar dirinya tidak diajak bicara oleh orang mesum itu. Sedangkan pak Heri canggung mengingat banyak perbuatan dosa yang sudah ia berikan pada ustadzah cantik itu. Selain itu, dirinya juga sedang memikirkan cara agar setidaknya di malam ini dirinya bisa menyetubuhi ustadzah cantik itu tanpa menggunakan pemaksaan.

Tapi ya gimana yah kalau gak pake cara pemerkosaan ?

Ungkap pak Heri dalam hati. Pikirannya pun buntu memikirkan sebuah cara agar dirinya bisa merasakan kue lapis legit yang terhidang di selangkangan ustadzah cantik itu. Ia juga ingin sekali memetik buah pepaya di dada Nada sambil menghisapi ujung pentilnya. Ia juga ingin membelai keseluruhan kulit mulusnya sambil mengecupi bibir tipisnya yang begitu menggoda. Ia jadi kepikiran mengenai berbagai gaya yang bakal dia lakukan ketika sedang menyetubuhi ustadzah cantik itu disana.

Gaya nungging itu wajib... Apalagi sambil ngaca di cermin... Gaya WOT boleh juga... Tapi lagi pengen ngegenjot sih daripada digenjot.

Ungkap pak Heri dalam hati sambil memandang tubuh indah bidadari cantik itu lagi.

Liat deh... Dengan tubuh semolek itu, sayang banget kalau gak digenjot sepuas hati... Bayangin ustadzah Nada lagi nungging dalam keadaan telanjang bulat terus kedua tangannya bertumpu di meja makan ini... Terus dibelakangnya, saya memegangi pinggul rampingnya sambil memasukan satu celup dua celup batang kontol saya yang berwarna gelap ini... Uhhhh apalagi waktu genjotnya make gigi tujuh sampai tubuhnya kedorong maju mundur... Apalagi sampai susunya itu mendal-mendul yang bikin tangan gemes buat ngeremes susu bulat kencang berwarna bening itu... Gak kebayang gimana raut wajahnya pas nerima sodokan kencang dari saya... Pasti ekspresinya bakal sangek banget tuh... Pasti bakal puas banget pas ngecrotin mukanya setelah berkali-kali menghujami memek rapetnya.

Kata pak Heri berandai-andai dalam hati.

Tiba-tiba Nada beranjak berdiri yang membuat pak Heri terkejut.

"Air minum dimana ?" Kata Nada yang rupanya sudah menyelesaikan jatah makan malamnya.

"Ohhh ada di itu... Apa namanya... Kulkas... Ya kulkas... Ambil aja sesuka ustadzah" Kata Pak Heri terbata-bata akibat pertanyaan yang ditujukan tiba-tiba oleh ustadzah sexy itu.

Nada langsung pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk merespon perkataan pria tua bertubuh tambun itu. Saat Nada melangkah menuju kulkas yang letaknya berada di sebelah belakang posisi duduk pak Heri itulah, pak Heri diam-diam menatap tuk melihat keindahan yang ada dari ustadzah Nada dari atas ke bawah.

"Luar biasa... Body udah dapet sexynya... Muka juga dapet cantiknya... Suara juga dapet manjanya... Memek juga dapet rapetnya... Apa yang kurang darimu ustadzah... Makin gak tahan saya buat ngegenjot memekmu malam ini" Lirih pak Heri terkagum-kagum.

Diam-diam ia kembali mengurut penisnya sambil memandang keindahan tamunya yang dipaksa menginap di rumah kontrakannya.

"Saya harus cari cara... Saya harus cari untuk membujuk ustadzah sexy satu ini" Lirihnya sekali lagi sambil mengurut batang penisnya yang tidak ia sunat itu.

Nada telah kembali sambil membawa sebotol minuman dingin berwarna kuning. Gelas kosongnya yang tersedia di meja ia isikan dengan sebotol minuman dingin itu. Ia langsung memenuhi gelas itu kemudian tanpa menunggu lama lagi, ia langsung menenggaknya hingga keseluruhan minuman itu habis tak tersisa.

"Ahhhh segarnya" Desah Nada dengan manja yang menarik minat pak Heri untuk melihatnya.

Saat pak Heri melirik ke arah Nada, tak sengaja matanya teralihkan pada sebuah botol yang terhidang di atas meja. Botol itu berdiri tepat di samping piring Nada. Saat pak Heri melihatnya, tiba-tiba matanya jadi terbuka lebar.

Tungguu... Botol itu !

Ungkap pak Heri dalam hati. Seketika mulutnya tersenyum. Ia pun buru-buru menghabiskan makanannya sebelum melihat reaksi yang terjadi dari tubuh ustadzah sexy itu.

"Ini minuman apa pak ? Kok aku baru pertama kali ngeliat merek ini" Kata Nada merasa segar namun penasaran dengan minuman rasa lemon yang baru saja ia minum.

"Ohhh ituu... Ituuu... Iya emang baru ustadzah... Itu merek baru... Saya juga pernah melihatnya di tivi" Kata pak Heri terbata-bata dalam menjelaskan. Ia pun kembali melanjutkan makan malamnya agar dirinya nanti bisa melayani ustadzah Nada secara maksimal.

Hmmm baru yah ? Pantes aja, di pesantren kan aku jarang nonton tivi.

Batin Nada saat menatap botol itu yang sedang ia pegang menggunakan tangan kanannya.

Suap demi suap sesendok nasi telah masuk ke dalam mulut pak Heri. Sesekali, ia melirik ustadzah Nada untuk melihat reaksi yang mungkin bakal terjadi sebentar lagi. Namun Nada hanyalah berdiam sambil sesekali meminum minuman itu lagi. Pak Heri pun tersenyum membayangkan bakal sekuat apa efek samping yang Nada rasakan setelah ustadzah cantik itu telah meminum dua per tiga dari sebotol minuman rasa lemon itu sendiri.

"Wakakakak... Ternyata gak perlu mikir-mikir caranya... Kalau udah rejeki ya pasti bakal terjadi... Makin gak sabar buat ngegenjot memek ustadzah satu ini" Lirih pak Heri sambil menguruti batang penisnya yang telah menegak maksimal.

Menit demi menit telah berlalu. Pak Heri akhirnya baru menyelesaikan makan malamnya. Nada yang sedari tadi diam sambil mencicipi gorengan yang tersedia di atas meja makan akhirnya mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Tubuh Nada terasa panas. Kedua puting payudaranya juga mengeras. Apalagi kedua payudaranya terasa gatal seolah ingin diremas.

"Mmmpphhh kenapa lagi ini ?" Desahnya sambil memegangi salah satu payudaranya. Celakanya, ketika tangan kanannya itu sedang mendekap payudara kirinya, ia justru semakin terangsang yang membuat tubuhnya semakin gelisah tak tentu arah.

"Wakakaka... Jadi udah mulai yah ?" Lirih pak Heri sambil melirik ke arah Nada. Pria tua itu tampak santai. Ia sedang mengelap bibir tebalnya menggunakan tisu yang tersedia diatas meja itu. Ia pun menenggak segelas air putih untuk melarutkan makanan yang baru saja masuk ke perutnya.

"Hehe ustadzah kenapa ? Ada yang bisa saya bantu ?" Kata pak Heri berpindah untuk duduk di sebelah ustadzah sexy itu.

"Apa yang bapak lakukan padaku ? Kenapa aku merasakan sesuatu yang sama seperti hari itu ?" Kata Nada mulai menyadari.

"Hari itu ? Yang mana yahhh ?" Kata pak Heri berpura-pura lupa.

"Ihhhh yang itu... Pas bapakkk... Mmppphhh" Nada keburu mendesah karena tak sanggup menahan gatal yang ia terima di liang senggamanya.

"Hehehe memek ustadzah gatel yah... Mana coba sini saya lihat" Kata pak Heri memberanikan diri dengan membelai lembut paha mulus ustadzah cantik itu kemudian tangannya bergerak naik hingga masuk ke dalam selangkangan sebelah kiri ustadzah cantik itu.

"Ehhh pakkk... Jangannn... Jangan dipegang gituuu... Mmppphhh... Pakkk jangannn" Kata Nada menolak dengan manja. Tiap gesekan yang ia terima dari telapak tangan pak Heri membuat nafsunya semakin menjadi-jadi. Kedua tangannya pun memegangi pak Heri. Namun bukan untuk menyingkirkannya. Tangan itu hanya mendekap tangan pak Heri karena sejatinya tubuhnya sangat ingin dibelai-belai oleh kurir pengantar paket bertubuh tambun itu.

"Wakakaka... Mulus banget kulit paha ustadzah... Pasti perawatannya mahal yah ? Beruntung nya saya bisa megang kulit seindah dan sebening ini" Ujar pak Heri mupeng. Berulang kali tangan nakal itu mengusap-ngusap paha montok sang ustadzah. Berulang kali pula tubuh Nada kegelian menahan rangsangan yang begitu memabukan baginya. Rangsangan itu begitu menggairahkan. Kemaluannya pun semakin gatal. Nampak cairan cintanya sudah membasahi kemeja bagian bawahnya saat tersentuh oleh pintu masuk menuju vagina rapat miliknya itu.

"Mmmppphhh pakkk... Mmppphhh jangann digituin pakkk...." Kata Nada dengan sisa-sisa harga dirinya. Tangan Nada berusaha mendorong. Ia tak mau mengalah dengan hawa nafsunya yang semakin membara.

"Wakakaka... Kaki ustadzah di ngangkangin aja biar saya makin mudah buat ngobok-ngobok memek ustadzah" Kata pak Heri tersenyum senang yang tak sadar langsung Nada turuti.

"Kenapa iniii... Ouhhh... Cepat katakan pakkk... Apa yang sudah bapak lakukan dengan tubuhkuuu.... Aaaahhhhhhhh" Desah Nada manja saat jemari nakal pak Heri sudah hinggap di bibir kemaluan ustadzah cantik itu.

"Wakakaka... Kok saya ? Orang ustadzah sendiri yang melakukannya kok" Kata pak Heri tertawa saat jemarinya dengan liar meluncur naik turun diatas vagina Nada yang semakin basah dibawah sana.

"Aku ? Akuuu ? Mmmppphhhh... Jangan becanda yah pak ! Kenapa juga aku yang membuat tubuhku jadi anehh ginii... Mmppphhh... Mmppphhh" Desah Nada tak tahan hingga pinggulnya bergoyang-goyang sendiri menerima sentuhan nakal dari pak Heri. Matanya pun sampai memejam bahkan bibirnya ia rapatkan untuk menahan kenikmatan yang ia dapatkan.

"Wakakakak... Gilaaa... Kok bisa sebanjir ini ustadzah ? Pasti udah terangsang banget yah ?" Kata pak Heri menertawakan cairan cinta ustadzah Nada.

"Ahhhhh... Ahhhhh... Jangan mengalihkan pembicaraan... Cepat jelas kannnn... Ahhhhh... Apa yang sudah bapak lakukan ke aku ??? Mmmpphhh" Desah Nada terus mendesah ketika bibir kemaluannya dipermainkan oleh pria tua yang beruntung itu.

"Wakakaka... Sebenarnya saya pas ngajak ustadzah kesini gak ada niatan sampai kaya gini lohhh... Saya cuma ingin melindungi ustadzah tapi pas ngeliat ustadzah cuma pake handuk doang... Kok saya jadi pengen ngentotin ustadzah lagi wakakakak" Tawa pak Heri kali ini sambil melepaskan satu demi satu kancing kemeja putih itu.

"Apa maksud bapakkk ? Mmppphhh jangann dilepaassss... Aku maluu pakkk... Jangannn di lepas kancingnya" Kata Nada berusaha menahan tangan pak Heri.

"Wakakakak... Ya pokoknya setelah saya ngeliat ustadzah cuma pake handuk doang... Saya dari tadi tuh mikir gimana yah caranya biar bisa ngegenjot memek ustadzah lagi... Ehhh tau-taunya ustadzah bawa botol ini dari dalam kulkas" Kata pak Heri yang membuat Nada terkejut. Pak Heri pun telah melepas seluruh kancing kemeja yang Nada kenakan hingga rupa dari kedua payudara itu sudah terlihat di hadapan matanya.

"Mmmppphhhh... Botolll ?" Kata Nada merasa malu sekali ketika auratnya di perlihatkan lagi di hadapan pak Heri. Kedua tangannya pun reflek menutupi kedua payudaranya beserta liang vaginanya sebisanya.

"Wakakakak... Sebenarnya saya udah lama beli botol ini dari orang itu... Udah sepaket sih sama obat perangsang yang saya bawa ke rumah sewaktu merayakan hari ulang tahun kalian... Saking lamanya saya sampai lupa kalau saya masih punya botol ini... Wakakaka... Terima kasih yah ustadzah sudah mengingatkan... Saya kan jadi bisa menikmati tubuh ustadzah lagi tanpa harus memaksa ustadzah tuk melakukannya" Kata pak Heri yang langsung menerkam payudara sebelah kiri Nada tanpa ampun.

"Ahhhhhhh.... Ahhhhhh bapakkkkkk" Kata Nada mendorong kepala pak Heri yang sedang menyusu di payudara kirinya tanpa ampun. Pak Heri sudah seperti bayi gede yang kehausan. Ia terus aja mengenyot-ngenyot puting yang berwarna kemerahmudaan itu. Alhasil, Nada jadi menahan geli. Tubuhnya merinding merasakan kenikmatan yang tiada tanding. Apalagi ketika tangan kanan pak Heri ikut meremas payudara kirinya sedangkan tangan kiri pak Heri meremas payudara kanannya.

"Mmmpphhh... Mmmpphhh... Nyammm nyammmm... Paling enak emang nyusu ke ustadzah wakakakka" Desah pak Heri menikmati waktu menyusunya di payudara ustadzah muda itu.

"Ahhhh bapakkkk.... Jangannn digigittt... Sakitttt pakkk... Aaaahhhh" Desah Nada hingga kepalanya ia dongak kan ke atas.

"Ouhhhh ustadzahhh... Kenapa susumu rasanya seenak ini... Susumu juga kenceng banget... Jadi gemes saya buat nyusu di susumu ini" Kata pak Heri bahagia.

"Ahhhh... Ahhhh jangannn digituin pakkk... Payudara aku sakittt... Ahhhhhh" Desah Nada menggeleng-geleng kepala. Jilatan yang pak Heri lakukan di putingnya membuat Nada sampai harus memejam merasakan kenikmatannya. Ya, Nada harus mengakuinya kalau setiap gerakan yang pak Heri lakukan di tubuhnya terasa nikmat. Tapi sebagai seorang ustadzah yang sudah mempunyai suami. Tidak seharusnya ia menikmati semua perzinahan ini. Nada pun merasa harus melawan. Kedua tangannya pun terus mendorong kepala pak Heri tuk menjauh sedangkan kepalanya ia geleng-gelengkan untuk menolak kenikmatan yang ia terima.

"Mmmpppphhhh" Desah Nada tertahan. Ia pun langsung membuka matanya saat merasakan bibirnya tiba-tiba di cumbu oleh pria tua itu.

Saat Nada menatap ke arah depan. Ia melihat pak Heri tengah memejam menikmati cumbuan yang ia lakukan di bibir tipisnya. Sebuah remasan yang ia terima di payudaranya membuat mulutnya tak sadar membuka. Apalagi saat jemari nakal pak Heri tengah memelintir pentil Nada yang membuat birahinya semakin memuncak.

"Mmmpppphhhhh... Akhirnya bisa nyium ustadzah lagi... Mmpphh akhirnya saya bisa ngeremes susu ustadzah lagi" Desah pak Heri mengekspresikan rasa puas yang ia terima

"Mmmppphhhh.... Mmmppphhhh" Sementara Nada hanya bisa pasrah saat merasakan cumbuan pak Heri yang semakin menjadi-jadi. Kepala Nada terdorong ke belakang. Payudaranya pun semakin mengeras menerima cengkraman yang begitu kuat disana.

"Mmpphhh puas sekali saya ustadzahhh... Mmmppphhhh... Ustadzah juga kan ? Jangan ditahan ustadzah... Saya tau kok kalau tubuh ustadzah sebenarnya sedang menikmati... Jangan dilawan, rileks aja dulu agar saya bisa membantu ustadzah lepas dari pengaruh efek samping minuman tadi wakakakaka" Tawa pak Heri di sela-sela cumbuannya.

Rileks ? Membiarkan aku di cumbu sama orang ini gitu ? Gak !! Jangan mau Nada... Jangan mau menuruti kata-katanya !!! Tapi kok, kenapa tiba-tiba tubuhku jadi menikmati gini.

Batin Nada kebingungan dengan pilihan apa yang harus ia ambil. Di lain sisi ia menikmati rangsangan pak Heri. Tapi, di lain sisi ia tidak mau menjadi seorang ustadzah murahan yang bisa diberlakukan apa saja oleh pak Heri. Tapi kalau payudaranya terus diremas-remas seperti ini. Tapi kalau bibirnya terus-terusan dicumbui seperti ini. Wanita mana yang bisa melawan apalagi kalau tubuhnya sudah dibawa pengaruh efek samping minuman perasa lemon ini.

"Mmmppphhhh" Desah mereka berdua bersamaan.

Pak Heri mencumbu bibir Nada dengan penuh nafsu. Matanya kembali memejam tuk memuaskan hasrat yang selama ini terpendam di dalam selangkangannya. Nada secara mengejutkan meladeninya. Nampaknya ia sudah pasrah. Ia tak sanggup untuk melawan gairah birahinya yang semakin menjadi. Nada ikut memejam. Bibirnya bertahan tiap kali bibir pak Heri mendorong bibirnya ke belakang. Nafsu pak Heri yang semakin membesar membuatnya tak segan untuk melakukan apa saja demi memuaskan hasrat birahinya.

"Mmmppphhhh" Desah Nada dengan manja. Pak Heri pun tersenyum menyadari perubahan sikap yang dilakukan oleh Nada. Tidak ada lagi perlawanan seperti tadi. Bahkan bibir ustadzah cantik itu menuruti pergerakan bibirnya yang semakin aktif menghujami bibir tipis ustadzah cantik itu.

Tubuh ramping Nada mulai dipeluk. Diangkatnya tubuh ramping bidadari itu hingga mereka berdua saling berdiri berhadap-hadapan. Kedua tangan pak Heri pun turun menuju bokong sekel bidadari sexy itu. Bokongnya di cengkram kuat. Payudaranya di remas dengan begitu dahsyat. Kedua tangan pak Heri aktif dalam merangsang sisi bagian depan dan belakang tubuh Nada. Ustadzah cantik itu terkejut saat meladeni nafsu besar dari pria tua itu. Ia pun mendesah kendati suaranya tertahan oleh cumbuan pria tua itu. Rasa gerah yang ia rasakan membuat pak Heri berniat untuk menelanjangi dirinya sendiri. Pak Heri mulai melepas satu demi satu kancing seragam kerjanya. Seragam itu pun dibiarkan menggantung tanpa ia kancing lagi. Tubuh gemuknya telah terlihat. Ia pun merasa semakin bebas dalam menggerayangi tubuh indah Nada ketika dirinya sudah bertelanjang dada dihadapan ustadzah cantik yang sudah memperlihatkan sebagian tubuh indahnya itu.

“Mmmppphhhhh... Mmmmppphhh... Mmmmppphhhhhh” desah mereka berdua saat bercumbu.

Lidah mereka saling keluar. Lidah mereka bertemu. Awalnya hanya saling bertubrukan kemudian lidah mereka jadi saling bergesek-gesekan. Pak Heri semakin bernafsu. Dipegangilah sisi samping dari wajah cantik itu. Kedua pipi Nada dipegang membuat bibir pak Heri semakin garang dalam mencumbui bibir manis itu. Wajah Nada nyaris terdorong ke belakang andai kepalanya tidak dipegangi oleh pria tua itu.

Sementara tangan kanannya memegangi sisi belakang kepala Nada. Tangan kirinya dengan terburu-buru menurunkan resleting celananya juga kait hak yang ada di sisi bagian atas resleting celananya. Dalam sekejap celananya sudah melorot ke bawah. Tangan kirinya pun langsung mengeluarkan batang penisnya yang langsung menyentuh kulit paha Nada yang membuat tubuh pria tua itu merinding keenakan.

"Mmmppphhhh mainkan ustadzahhh... Ustadzah boleh mainin kontol saya kok" Kata pak Heri saat tangan kirinya mendekap punggung mulus Nada ketika bibirnya terus mencumbu bibir tipis itu.

"Mmppphhh... Mmpphhh" Desah Nada semakin terangsang. Seketika matanya pun melirik ke bawah dan mendapati batang penis tak bersunat itu sudah mengeras di bawah sana. Mata Nada terbuka lebar. Ia terkejut tapi juga semakin terangsang setelah melihat penampakan indah dibawah sana.

Malu-malu Nada pun menggerakkan tangannya menuju batang penis raksasa itu. Nada pun kembali memejam untuk menikmati cumbuan yang pak Heri berikan untuknya.

Pak Heri tersenyum saat merasakan ujung kulupnya telah disentuh oleh ustadzah yang sedang terangsang hebat itu. Nada sepertinya benar-benar kewalahan. Ia tak mampu pagi melawan hasrat birahi yang semakin menguasai diri. Kedua payudaranya benar-benar mengeras. Liang senggamanya pun semakin basah meminta untuk dimasuki benda besar yang ukurannya seperti pentungan hitam milik pak satpam itu.

Dengan malu-malu tangan Nada membela penis pria tua berkepala botak itu. Jemarinya menekan-nekan lubang kencingnya yang tersembunyi di dalam kulup tebalnya. Kadang jemarinya juga membelai biji salaknya yang membuat kurir beruntung itu girang merasa senang.

"Mmpphhh... Mmppphhh benar seperti ustadzah... Puaskan hasratmu... Biarkan nalurimu bermain dengan kontol gede saya yang bebas ustadzah apa-apakan" Kata pak Heri merangsang birahi Nada.

"Mmpphhh... Mmppphhh" Kata Nada menggelengkan kepala karena malu. Dirinya benar-benar malu ketika tak mampu bertahan dari hawa nafsu itu. Apalagi setelah mendengar SSI pak Heri yang terus memintanya untuk memainkan penis besar berwarna hitam di bawah sana.

Mmpphhh... Mmpphhh... Maaaffff... Maafinn aku mas Rendy... Aku gak kuat lagi !

Batin Nada merasa menyesal. Walau suaminya sudah berkali-kali mendzolimi dirinya, tapi sebagai seorang istri sholehah ia masih mempunyai rasa penyesalan andai dirinya menodai janji suci yang telah mereka buat di pernikahan mereka dahulu.

Nada jadi semakin aktif setelah dirinya terus-terusan dicumbu oleh pria tua tak bersunat itu. Penis tuanya yang semakin mengeras di cengkramnya kemudian ia mengocoknya perlahan hingga pria tua itu semakin mendesah kegirangan.

"Mmppphhhhh... Ahhhhh... Enakkk ustadzah... Nah iya seperti itu... Terusss.... Terusssss" Desahnya puas.

Pak Heri membuka mulutnya, ia mengulum bibir bagian bawah Nada dengan penuh nafsu. Lidahnya keluar untuk menjilati bibir bawah Nada yang berada di dalam mulutnya. Rasa manis yang dihasilkan dari liurnya membuat Nada semakin hanyut dalam menikmati cumbuan yang pria paruh baya itu lakukan.

Nafas Nada yang hangat berhembus menerpa wajah pak Heri yang sedang dimabuk nafsu. Nada semakin takluk dalam kenikmatan yang ia rasakan saat pak Heri melumat bibirnya. Bibir merah muda Nada terbuka membiarkan lidah pak Heri masuk menjelajahi seisi ruang di dalamnya. Ketika lidah Nada keluar mulut pak Heri langsung melahapnya dan menghisapnya kuat-kuat. Liur sampai menetes keluar dari mulut mereka berdua karena saking nafsunya.

Nada cenderung pasif namun pak Heri terlampau aktif. Padahal tubuh Nada sedang terangsang-terangsangnya, tapi nafsu pak Heri yang memuncak membuatnya tak segan untuk melumat habis bibir tipis itu. Berkali-kali bibirnya naik hanya untuk memagut bibir bagian atas kadang bibir bagian bawah ustadzah cantik itu. Jilatan lidahnya keluar berulang kali tuk membasahi tiap senti bibir ustadzah cantik itu. Ketika lidahnya masuk ke dalam mulut Nada. Lidah mereka saling bergelut, saling menggeliat, saling melilit. Tangan kanannya naik menahan kepala Nada agar tidak terdorong ke belakang. Tak ada suara yang terucap melainkan desahan dan lenguhan yang mereka ucapkan ketika nafsu semakin bergairah.

Nafsu yang semakin memuncak ditambah dengan gejolak birahi yang ingin meledak membuat pak Heri segera melepas cumbuannya kemudian meminta ustadzah sexy bertubuh body goals itu berbalik badan untuk menungging bertumpu pada meja makan itu.

"Cepet balik badan ustadzah... Saya sudah gak tahan mau genjot memek ustadzah !" Kata pak Heri bernafsu.

"Ahhhhhhh" Ucap Nada dengan manja saat dipaksa berbalik badan olehnya. Seketika Nada mulai merasakan sentuhan dari benda keras yang sedang mengatuk-ngatuk bibir vaginanya. Tiap kali bibir vaginanya disundul oleh ujung kulup benda berwarna hitam itu. Nada selalu merinding membuatnya sampai harus menggigit bibir bawahnya tuk menahan semua kenikmatan yang ia rasakan.

"Tungguuu pakkk...jangann dimasukannn... Tolongg jangannn !!" Kata Nada sambil menggerakan tangannya ke belakang untuk menahan tubuh gemuk pak Heri mendekat.

Walaupun mulutnya berkata seperti itu tapi sebenarnya tubuhnya meminta hal yang sebaliknya. Tubuhnya meminta agar penis besar itu segera memasuki lubang vaginanya tuk merasakan kenikmatan yang ia inginkan dari tadi. Nada pun bingung kenapa ia sampai berkata seperti itu. Mungkin nalurinya sebagai seorang ustadzah membuatnya selalu ingin menjaga diri kendati tubuhnya ingin dibelai lebih.

"Wakakakakak... Jangan apa ustadzah ? Jangan lama-lama yah ? Ustadzah pengen buru-buru dimasukin kontol saya yah ?" Ucap pak Heri di belakang sana yang membuat wajah Nada memerah malu. Nada pun penasaran, kenapa pak Heri bisa tau keinginan hatinya yang sebenarnya ?

"Enggakkk... Enggakkk... Bukannya gituuu... Akuuu uhhhhhhh" Desah Nada memejam sambil merapatkan bibirnya ketika ujung kulup dari penis hitam itu masuk membelah liang senggamanya.

"Wakakaka.... Rapettttnyyaaa memek ustadzahhh.... Ouhhh paling suka saya ngerasain jepitan memeknya ustadzah" Ucap pak Heri puas.

"Tungguuu pakkk... Uhhhhhhh gedeee bangetttt... Aahhhhhhh" Desah Nada manja sambil memperkuat cengkramannya di tepi meja makan rumah pak Heri.

"Wakakakak saya cabut yahhh" Kata pak Heri mencabut penisnya membuat Nada reflek menolehkan wajahnya tuk menatap wajah pria tambun itu.

Pak Heri tertawa saat melihat raut wajah kebingungan ustadzah cantik yang tinggal mengenakan kemeja dan hijabnya saja. Ia pun membalas ekspresi wajah itu dengan meremasi bokong Nada kemudian mendekatkan kembali ujung kulupnya ke pintu masuk liang senggama itu.

"Wakakaka gimana ustadzah ? Mau dimasukin kaya gini ?" Kata pak Heri tiba-tiba langsung memasukan setengah dari penisnya yang membuat ustadzah cantik itu mendongakan kepalanya ke atas merasakan kepuasan yang terlintas.

"Aahhhhhhh" Desah nya manja.

"Atau mau saya cabut aja kaya gini ?" Kata pak Heri tiba-tiba menarik keluar penisnya lagi.

Otomatis Nada menolehkan wajahnya kembali ke belakang seolah ustadzah cantik itu tidak terima ketika rongga vaginanya kehilangan sesuatu yang mengisi seisi ruang disana sejak tadi.

"Apa saya masuk lagi ? Apa saya cabut lagi ? Hayoo yang mana ? Wakakakakak" Kata pak Heri memainkan birahi Nada ketika penis besarnya keluar masuk liang senggama Nada tanpa permisi.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhh pakkkk... Jangan digituinnn... Bapakkkk... Ahhhhh" Desah Nada gelisah.

"Wakakakak... Hayooo ustadzah pilih yang mana ? Saya tau ustadzah pengen kontol saya masuk menghujami memek ustadzah sampai mentok kan ?" Kata pak Heri tiba-tiba menusuk liang senggama itu hingga mentok di dalam.

"Uhhhhhh bapaaakkkkkk" Desah Nada hingga tubuh rampingnya terdorong maju.

"Atau ustadzah memilih untuk membiarkan memek ustadzah kosong gak ada yang mengisinya ?" Ucap pak Heri kembali menarik keluar batang penisnya yang sudah basah berlumuran cairan cinta ustadzah sexy itu.

"Hah... Hah... Hah" Desah Nada terengah-engah. Rangsangan yang baru saja pak Heri berikan membuatnya lelah kewalahan. Tubuhnya sudah berkeringat. Cairan cintanya semakin banyak mengisi dinding vaginanya. Belum lagi dengan usapan tangan pak Heri saat membelai punggung mulusnya. Nampak sisi kemeja bagian belakangnya diangkat naik hingga ke leher bidadari cantik itu. Pak Heri pun menundukan tubuhnya untuk mengecupi punggung mulus Nada sambil menanti jawaban yang akan ustadzah cantik itu berikan.

"Ahhhh... Bapakkkk... Ahhhhhh" Desah Nada merinding menahan geli.

"Wakakakakak... Gimana ? Apa keputusan ustadzah ? Mau saya genjot ? Atau ustadzah mau menjaga status ustadzah sebagai seorang ustadzah yang pintar menjaga diri ? Wakakakak" Kata pak Heri kali ini sambil memetik dua buah pepaya yang menggantung di dada Nada.

"Ahhhh.... Ahhhhh bapakkkk... Ahhhhh" Desah Nada tidak kuat lagi saat payudaranya diremas-remas oleh pria tua itu.

"Ayooo ustadzahhhh... Nih saya kasih contoh lagi yahhhh... Hennkkghhhhh !!!" Ucap pak Heri menahan nafas sambil memasukan kembali batang penisnya ke dalam kemaluan ustadzah alim itu.

"Aaaahhhhhh iyahhhhh... Seperti ituuuu.... Ouhhhhhhh" Desah Nada mulai lemas ketika dirinya semakin kehilangan akal sehatnya.

"Seperti ini ? Ustadzah mau saya genjot lagi memeknya ?" Kata pak Heri terkekeh-kekeh sambil terus mendorong masuk ujung kulupnya hingga membuat dinding vagina Nada merasa geli menerima gesekan yang begitu menggoda dari pria tua pengantar paket itu.

Ouhhhh... Ouhhh... Kenapa aku gak bisa melawan perasaan ini... Kenapa aku justru ingin dilecehkan oleh pria tua ini... Ouhhhh ada apa denganku ? Ada apa dengan tubuhku ?

Batin Nada merasa batinnya bergejolak antara mengiyakan tawaran pak Heri atau justru melawan tawaran itu untuk menjaga statusnya sebagai seorang ustadzah.

"Gimana ustadzahhhh... Hennkkghhhhh !!!" Kembali pak Heri menancapkan batang penis berwarna hitam itu hingga membuat ustadzah cantik itu berteriak menahan kenikmatan yang ia terima.

"Aaaaaahhhhhhhhhhhhh" Desah Nada memejam sambil menaikan kepalanya menatap langit-langit ruangan.

"Wakakakak.... Indahnya susumu ustadzah... Indahnya tubuh sexymu... Saya sampai bingung untuk menjelaskan kesempurnaan tubuhmu ustadzah... Mmpphhh... Mmpphhh" Ujarnya sambil mengecupi punggung ustadzah cantik itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Geliii pakkk... Ahhhhhh" Desah Nada masih belum bisa menjawabnya.

"Wakakakak... Dasar ustadzah... Alimnya kebangetan... Tinggal bilang ya aja susah banget... Saya itung sampai tiga yah kalau ustadzah gak ngejawab apa-apa berarti tandanya ustadzah setuju untuk saya genjot" Kata pak Heri yang membuat Nada terkejut dengan keputusan sepihak pria tua itu.

"Saattuuuuu !!!! Hennkkghhhh !!!!" Ucap pak Heri sambil menyodok liang senggama itu hingga mentok.

"Ahhhhhh bapaaakkkkkkk" Desah Nada kewalahan.

"Wakakakak... Hayooo saya kasih kesempatan buat ngejawab" Kata pak Heri menarik keluar batang penisnya lagi. Nampak penis berwarna hitam itu semakin basah berlumuran cairan cinta Nada yang membanjiri rongga vaginanya.

"Ituuu.... Ituuuu... Mmpphhhhh" Desah Nada merinding saat detik-detik batang penis itu menggesek dinding vaginanya ketika ditarik keluar oleh pak Heri.

"Wakakka gimana ? Kelamaan !!! Duaaaa, hennkkghhhhh !!!" Ucap pak Heri sambil memegangi pinggul ramping Nada. Sodokannya yang sangat kuat membuat tubuh Nada tersentak maju. Kedua payudaranya yang besar pun bergetar. Nada kembali memejam sambil membuka mulutnya mengeluarkan desahan yang begitu menggairahkan.

"Aaahhhhhhhhhhhh" Desah Nada panjang.

Lagi-lagi, tanpa menunggu lama pak Heri kembali menarik batang penisnya membuat Nada menolehkan wajahnya ke belakang merasa tidak rela dengan keputusan pria tua itu untuk menarik keluar penisnya dari dalam rongga vaginanya.

"Wakakaka gimana ustadzah ? Masa gak mau saya genjot sih ? Nanti susunya juga saya kenyot kok... Bahkan mulut ustadzah bakal saya kecup biar ustadzah semakin puas merasakan kejantanan saya" Kata pak Heri nampak bangga.

"Hah... Hah... Hah..." Desah Nada kelelahan. Rangsangan demi rangsangan yang ia terima rupanya telah merenggut tenaga yang Nada punya. Nada kehabisan tenaga. Nada bahkan tak sanggup lagi mengucapkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari pria tua itu.

"Wakakaka gimana ustadzah ? Kok malah diem... Saya tanya sekali lagi yahhhh... Ustadzah mau saya genjot kan ?" Kata pak Heri kali ini sambil menggelitiki puting indah Nada yang menggantung dibawah.

"Ahhhh... Ahhh... Gelii pakkk... Ahhhh ituuuu... Mmpphhhh" Desah Nada merapatkan bibirnya. Ia kalang kabut. Ia begitu gelisah merasakan kenikmatan yang ia terima. Haruskah ia kembali mengalah dengan memohon untuk disetubuhi oleh pria tua ini ? Haruskah ia meninggalkan harga dirinya sebagai seorang ustadzah ? Haruskah ia menuruti hawa nafsunya yang semakin menjadi-jadi ?

"Ya hah... Hah.... Hah" Kata Nada terengah-engah.

"Wakakaka... Apa ustadzah ? Saya gak dengar" Kata pak Heri tertawa.

"Ya... Tolonggg pakkk... Lakukan !!! Lakukan sesuatu padaku... Ouhhhhh" Desah Nada saat bibir vaginanya kembali tergesek oleh kulit tebal dari kulup pria tua itu.

"Wakakaka ustadzah mau saya genjot ?" Kata pak Heri tertawa puas.

"Hah.... Hah... Iya... Tolongg pakkk... Genjot akuuu... Genjot akuuuu" Kata Nada kehilangan akal sehatnya.

"Wakakaka... Genjot kaya gini ? Hennkkghhhhh !!" Desah pak Heri sambil memasukan setengah dari batang penisnya.

"Ahhhhhhh... Iyyahhh kaya gitu pakkk... Tolongg lagi... Masukan lagiii... Yang dalam pakkk... Aaaahhhhhh" Desah Nada saat pak Heri pelan-pelan semakin mendorong masuk batang penisnya.

"Wakakakaka bilang terus dong... Desah yang manja biar saya makin semangat" Kata pak Heri tertawa.

"Ahhhh tolongg pakkk... Doronggg lagiiii... Masukin lagiii kontol bapak sampe mentokkkk" Kata Nada merasa malu sendiri ketika mulutnya tak sadar mengucapkan kata-kata kotor itu.

"Wakakaka baik ustadzah... Siappp yahhhh" Kata pak Heri tiba-tiba menarik keluar batang penisnya yang membuat Nada kecewa. Namun tak lama kemudian, ketika pak Heri memegangi pinggul ramping Nada. Ketika pijakan kedua kalinya ia perkuat. Ketika penisnya sudah ia arahkan tepat agar memasuki liang senggama yang sudah sangat basah itu. Dengan satu tusukan yang mantap, pak Heri langsung menghujami liang keduniawian ustadzah cantik itu dengan sekuat tenaga.

“Hennkkgghhhhh” desahnya tertahan ketika ia langsung memasukan keseluruhan penisnya ke dalam lubang vagina Nada yang sudah sangat basah.

“Aaaahhhhhhhhhhhh” Nada pun mendesah manja saat dirinya merasakan penis hitam itu kembali memasuki liang senggamanya.

Tanpa menunggu lama pinggul Pak Heri langsung bergerak. Ia mulai menyodok-nyodok liang senggama Nada dengan kecepatan cepat.

“Aahhh... Ahhh... Ahhhh pakkkk” desah Nada merasa puas ketika dirinya mendapatkan apa yang ia mau.

“Hahaha enak kan ustadzah... Ustadzah suka kan pas kontol saya mengaduk-ngaduk memekmu ?” katanya yang membuat Nada semakin bergairah.

“Ahhh.... Ahhhhh.... Heem... Iyyah pak” jawab Nada mengangguk malu. Pak Heri pun tersenyum melihat reaksi penuh kejujuran dari ustadzah cantik itu.

“Hahahaha kalau gitu saya percepat yah” Kata pak Heri yang sudah tidak tahan setelah dari tadi memainkan birahi Nada.

Plokkk... Plokkkk... Plokkk !!!

“Ahhhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhh....” desah Nada terguncang hingga tubuhnya terdorong maju mundur.

Desahan demi desahan terus saja Nada ucapkan sambil memegangi tepi meja makan itu dengan kuat. Matanya sengaja ia pejam agar dirinya bisa fokus menikmati tusukan demi tusukan yang pria tua tak bersunat itu layangkan di dinding vaginanya.

Genjotan pak Heri pun semakin dipercepat. Akibatnya, payudara Nada sampai meloncat-loncat. Penisnya yang sangat kekar terus mengaduk-ngaduk liang senggama Nada dengan sangat kuat. Dari tadi, Nada tak henti-hentinya menjerit nikmat. Tubuhnya pun semakin terguncang saat mengikuti permainan pinggulnya yang sangat hebat.

"Ahhhh... Ahhhh bapakkk... Ahhhhh" Desah Nada kelabakan saat penis itu terus keluar masuk di dalam vaginanya.

Mata Nada terus memejam semenjak dimasuki oleh penis kekarnya. Mulut Nada terus terbuka semenjak dijejali oleh penis besarnya. Tubuh setengah telanjang Nada terus diusap oleh tangan kasarnya. Awalnya punggungnya yang dielus, lalu bongkahan pantatnya yang kini dielus. Bokongnya bahkan ditampar-tampar olehnya sebelum tangannya kembali memegangi pinggang ramping Nada.

“Awww... Awwww... Awww” Jerit Nada saat merasakan tamparannya di bokongnya.

Tak terasa genjotannya yang kian cepat membuat Nada tak mampu untuk bertahan lebih lama lagi. Begitupula pak Heri yang tak kuat merasakan jepitan ustadzah cantik itu yang terasa semakin nikmat. Ditengah sodokannya yang semakin kuat. Ditengah desahannya yang semakin manja. Pak Heri mendorong pinggulnya lebih dalam lagi hingga ujung kulupnya yang sangat pekat menyundul rahim kehangatan Nada.

“Aahhhh... Ahhhh... Ahhh bapakkkkkk !!!”

Buru-buru pak Heri menarik keluar batang penisnya karena khawatir dirinya akan keluar terlebih dahulu. Tak disangka tak diduga, saat batang penisnya keluar dari dalam liang senggama Nada. Sebuah semburan yang begitu dahsyat keluar dari dalam vagina Nada bagai keran air yang baru saja dibuka.

Ccrrrttttt... Ccrrrtttt... Ccrrtttt !!!

Terbayar sudah rasa gelisah yang Nada rasakan ketika digoda oleh rangsangan pria tua itu. Nada pun mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya langsung mengejang ketika rahimnya tersodok oleh batang penis raksasa itu.

Pak Heri yang menyadari kenyataan yang tengah terjadi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung berjongkok dan menerima semua semburan itu menggunakan mulutnya.

"Aaahhmmm... Aaahhmmmmmm" Desah pak Heri menerima semua semprotan itu menggunakan mulutnya.

"Ahhhh... Ahhhhh ouhhhhh bapakkk... Ahhhh" Desah Nada berulang kali mengatupkan pahanya karena tak kuat dengan kenikmatan yang ia dapat. Tepat setelah tetesan terakhir dari cairan cintanya keluar. Kedua lututnya langsung melemas hingga membuatnya duduk berlutut di sebelah meja makan itu.

"Ouhhhhh... Ouhhhhh" Desah Nada kelelahan namun puas. Ditengah rasa lelah yang mendera, ia dikejutkan oleh sentuhan bibir seseorang yang tiba-tiba ada di bibir tipisnya.

"Wakakaka... Mmmpphh... Mmppphhh" Ucap pak Heri langsung mencumbui bibir Nada yang tengah duduk berlutut dihadapannya. Pak Heri langsung memegangi kepala bagian belakangnya kemudian mendorong bibirnya untuk mencumbu bibir tipis itu.

"Mmmpppphhhh" Desah Nada terkejut saat dicumbui olehnya. Ia merasakan ada sesuatu yang asin yang pak Heri masukan ke mulutnya. Seketika Nada membuka matanya lebar-lebar. Ia pun menduga kalau pak Heri baru saja memasukan cairan cintanya ke dalam mulutnya.

"Mmppphhh enak kan ustadzah... Mmmpppphhhh tumben udah keluar secepat ini... Pasti udah sangek banget yah wakakaka" Kata pak Heri masih terus mencumbui bibir ustadzah cantik itu.

Nada merasa malu sekali mendengar ucapan pak Heri yang lagi-lagi benar tentangnya. Nada pun memilih bungkam dan menikmati percumbuan yang sedang ia lakukan bersama pria tua bertubuh tambun itu.

"Mmppphhh ahhhhhh" Pak Heri pun melepas cumbuannya setelah puas menikmati keindahan bidadari satu ini. Pak Heri pun menatap wajah Nada. Tatapannya yang penuh nafsu membuat Nada merasa malu. Nada pun menolehkan wajahnya ke samping. Ia membuang muka sambil berharap pria tua itu berhenti menatapnya seperti itu.

"Ustadzah emang cantik banget" Kata pak Heri terpesona yang membuat wajah Nada memerah menahan malu.

Nada pun terus diam ketika dirinya bingung harus berucap apa setelah dirinya mendapatkan kepuasan dari pria tua itu. Nada merasa malu apalagi setelah ia teringat akan ucapannya yang minta digenjot olehnya.

"Ustadzah" Panggil pak Heri sambil memegangi dagu Nada agar menatap wajahnya. Nampak ekspresi wajah Nada yang malu-malu membuat pak Heri semakin gemas untuk membenamkan penisnya lagi ke dalam liang senggamanya.

"Tau gak ustadzah... Saya belum keluar lohhh... Kita pindah ke kamar yah" Kata pak Heri kembali mencumbu bibir tipis itu lagi kemudian mengangkat tubuhnya kemudian menggendongnya menuju kamar tidurnya.

"Ehhh bapakkk... Pakkk" Kata Nada terkejut ketika tubuh jangkungnya di gendong depan oleh pria tua bertubuh tambun itu.

"Nah kita udah sampai ustadzah... Wakakakak" Kata pak Heri tiba-tiba melempar tubuh Nada ke atas ranjang tidurnya.

"Ahhhhhh" Jerit Nada dengan manja.

Pak Heri pun buru-buru membugili dirinya hingga membuatnya telanjang sempurna di dalam kamar tidurnya. Ia pun berjalan mendekat ke arah tubuh Nada yang sedang terbaring lemah. Dilemparnya seragam kemejanya yang baru ia buka ke belakang. Ia pun langsung memposisikan tubuhnya di depan selangkangan Nada yang terbuka bebas.

"Wakakaka... Sekarang giliran saya yang dapet crot yah" Kata pak Heri tersenyum. Kedua tangannya sudah memegangi paha kanan kiri Nada yang besar. Ditatapnya wajah ayu itu yang tengah kelelahan. Nampak Nada menggelengkan kepala karena tidak kuat lagi ketika harus melayani nafsu besar pria tua itu.

"Wakakaka gak lama kok... Soalnya saya mau langsung make kekuatan penuh buat genjot memek ustadzah yang lezat itu" Kata pak Heri menjilati bibirnya sendiri kemudian bersiap-siap untuk memasukan batang penisnya lagi.

"Tungguuu... Tungguuu" Kata Nada terengah-engah merasa masih belum siap untuk memuaskan nafsu pria tua itu lagi.

"Saya masukin yahhh... Heennkkkgghhh !!!!" Desahnya tertahan saat memasukan penisnya yang langsung masuk menyundul rahim kehangatan Nada.

"Aaaaaahhhhhhh !!!!" Desahnya tak mengira ia bakal digenjot lagi oleh pria tua ini.

Dicengkramnya pinggang ramping bidadari itu. Saat pinggul pak Heri bergerak, kedua payudara Nada turut bergerak maju mundur mengikuti pergerakan pinggul pak Heri. Gesekan yang begitu nikmat kembali dirasakan oleh mereka berdua. Khususnya pak Heri yang belum mendapatkan orgasmenya di malam hari ini.

"Mmpphhhh ahhhh... Mmpphhhh ahhhh" Desah Nada tertahan saat mulutnya ia rapatkan.

Suara desahan yang begitu menggairahkan dari ustadzah sexy ini membuat pak Heri kian gemas untuk mencumbuinya lagi. Diturunkan lah tubuh tambunnya. Tubuhnya yang gemuk itu langsung menindihi tubuh ramping Nada yang masih mengenakan kemeja berwarna putih yang sudah terbuka lebar dibawah sana.

Bibir Nada pun dikecup. Bibir Nada didorongnya dengan penuh nafsu. Tanpa ampun, pak Heri mencumbuinya sambil tangannya membelai-belai payudara Nada yang semakin membesar dibawah sana.

"Mmpphh... Mmppphhhh" Nada mendesah saat dicumbui lagi oleh pak Heri. Namun untuk saat ini, Nada merasa kalau cumbuannya terasa lebih agresif. Bahkan kedua tangannya dengan giat meremasi kedua payudaranya..

"Pakkk... Pakkk... Mmppphhh" Desah Nada tertahan.

Pak Heri semakin bergairah saat mendengar desahan manja Nada. Dengan terburu-buru ia langsung melebarkan kemeja Nada hingga hanya lengan tangannya saja yang tertutupi oleh kemeja berwarna putih itu. Nada pun heran kenapa pak Heri jadi senafsu ini. Ia pun memberanikan diri tuk menatap wajahnya yang masih terus mencumbuinya.

"Mmppphhh... Mmpphhhh pakkk... Kenapa bapak jadi senafsu ini sih ? Pelan-pelan pakkk... Aku masih capek" Ucap Nada yang benar-benar kelelahan setelah nafsunya dipermainkan oleh pria tua itu.

"Mmpphhhh... Mmppphhh siapa juga yang gak nafsu kalau ada ustadzah sexy yang sedang telanjang kaya kamu" Ucap Pak Heri di sela-sela cumbuannya yang membuat wajah Nada memerah malu. Nafsunya yang semakin memuncak membuatnya memperkuat cengkramannya di payudara ustadzah cantik itu.

"Ahhhhh.... Ahhhhh.... Pakkk... Ahhhhh" Desah Nada saat kedua tangan pak Heri dengan gemas meremasi payudaranya.

Darah Nada berdesir. Mata Nada memejam. Mulut Nada ia rapatkan sambil menahan rasa nikmat yang sangat menakjubkan. Payudaranya terus diremas. Payudaranya terus dicengkram dengan sangat kuat. Dorongan yang semakin mantap membuat Nada sampai harus mencengkram kuat ranjang sprei yang menjadi saksi bisu perzinahan mereka berdua.

Dikala pinggulnya yang terus bergerak menghujami vaginanya. Pak Heri terus memainkan payudara indah itu. Sepertinya pak Heri sudah tergila-gila ukurannya. Ia terus saja meremasnya sambil mencumbui bibir tipis Nada yang tergeletak pasrah dibawah tindihannya.

"Ouhhhh ustadzah.... Ouhhh indahnya tubuhmu ini" Pujinya sambil terus memainkan kedua payudara Nada.

"Ahhhh pakkk... Ahhhh.... Ahhhh yahhh... Mmmpphhh" Desah Nada sambil memejam untuk menikmati percumbuan kali ini.

Puas menikmati tubuh indah Nada. Pak Heri pun kembali bangkit agar dirinya bisa berfokus menikmati jepitan yang ia terima di batang penisnya.

"Hehehe sekarang kita mulai yahh... Hennkkghhh !!!" Desahnya sambil memegangi paha mulus Nada. Pria tua itu langsung menghujami vaginanya tanpa ampun. Nampaknya ia tidak bisa lagi menahan rasa nikmat yang semakin kuat saat dinding vagina Nada menjepit batang penisnya.

"Aahhhhh... Ahhhhhh" Desah Nada terdorong maju mundur.

Pak Heri terus mendesah sambil menatap tubuh indah Nada yang sedang ia genjot. Ia pun geleng-geleng kepala tak menyangka dirinya bisa sebebas ini ketika menyetubuhinya di dalam rumahnya sendiri. Kedua tangannya pun berpindah menuju pinggul ramping itu. Ketika pinggulnya ia cengkram kuat, sodokannya pun ia percepat sehingga tubuh Nada terhempas maju mundur tanpa ampun di bawah sana.

Plokkkk... Plokkk... Plokkk !!!

"Ahhhh bapakkkk... Ahhhh... Ahhhhh" Desah Nada dengan manja.

"Ahhhh ustadzahhh... Ahhh... Ahhh nikmat nyaaaa" Desah pak Heri puas.

Suara benturan antar kelamin itu semakin terdengar kuat. Begitu juga dengan suara desahan mereka yang menyatu bak sebuah paduan suara. Apalagi dengan erangan-erangan yang pak Heri ucapkan sambil memuji keindahan tubuh Nada.

"Ahh... Ahhhh indahnya susumu ustadzah... Ouhhh rapetnya memekmuu" Pujinya tidak kuat lagi.

"Ahhhh pakkkk pelannn pakkkk... Pelannn" Ucap Nada tak mampu mengimbangi nafsu besar pak Heri.

"Ustadzahhh... Ahhhh... Ahhhh saya sudah gak kuat lagi" Katanya saat pinggulnya bergerak semakin cepat.

"Pakkkk... Ahhh... Ahhh iyahhh pakkk... Ahhhh ahhhh... Jangan di dalammmmm" Ucap Nada saat merasakan penis pria tua itu berdenyut-denyut di dalam vaginanya.

Nafsu yang sedang memuncak membuat Pak Heri mempercepat genjotannya saat ia hampir mencapai klimaksnya.

Plokk... Plokk... Plokk....

Suara benturan antar pangkalan paha itu semakin terdengar kencang. Pak Heri semakin tidak tahan saat nafasnya terasa sesak. Akhirnya dengan satu hentakan yang mantap. Ia pun mendorong penisnya sebelum kemudian ia menariknya lalu mengarahkannya ke wajah cantik Nada.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhh... Ahhh ustadzahhhh... Terima ini !!! Hennkkgghhh !!!"

"Pakk tungguuu.... Pakkkk... Mmppphhhhhh" Desah Nada memejam saat penis tak bersunat itu sudah berada di depan wajahnya.

Crroottt... Crrooottt... Crroottt...

Wajah Nada pun bersimpuh sperma setelah pria tua itu memejuhi wajahnya dengan penuh nafsu. Terasa aroma kuat yang begitu menyengat terhirup melalui hidung mancung Nada. Pak Heri pun sampai merem melek merasakan kepuasan yang tak dapat ia bandingkan. Tubuhnya merinding hebat sebelum akhirnya pria tua itu jatuh menindihi tubuh ramping Nada.

"Ahhhh puasnyaaaaa" Desah pak Heri sebelum jatuh menindihi tubuhnya.

"Ahhhhhhhhh" Nada hanya mendesah ketika tubuhnya ditindihi olehnya. Ia pun benar-benar kelelahan di malam itu. Saat ia menatap ke arah jam dinding. Ia menyadari kalau jam baru menunjukan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Anehnya ia sudah sangat mengantuk. Ia pun akhirnya tertidur dengan segera sambil mengenakan masker yang terbuat dari air mani pria tua yang sehari-hari bekerja sebagai kurir pengantar paket itu.

"Wakakakak kecapekan yah ustadzah... Tidur dulu aja... Terima kasih yah sudah mengizinkan saya untuk menggenjot memek ustadzah lagi" Katanya sambil mengecup pipi Nada yang tidak terkena semprotan spermanya.

Dalam keadaan yang sama-sama bertelanjang bulat. Pak Heri pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh rampingnya yang ia tutupi dengan sehelai selimut untuk menghindari gigitan nyamuk nakal yang tergoda oleh kepolosan tubuh mereka berdua. Pak Heri pun merenung sejenak sambil memeluk tubuh indah itu.

"Tunggu sebentar yah ustadzah... Sebentar lagi, akan kuyakin kan dirimu agar mau menikah denganku" Lirih pak Heri sambil memegangi jari manis Nada sambil membayangkan akan ada cincin pernikahan yang melingkar yang ia berikan disana.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di sebuah perumahan ustadz senior.

“Assalamualaikum... Pesanannnya udah datang yah” kata V setelah mampir ke kantin sejenak untuk membeli makan malam untuk mereka berdua.

“Walaikumsalam... Terima kasih yah” jawab Haura tersenyum menyambut kedatangan V.

V pun menaruh satu kresek yang berisi dua bungkus nasi ayam yang Haura minta setibanya mereka tiba di dalam rumah ustadzah tercantik itu. Haura yang masih lemah duduk manis di kursi dekat meja makan rumahnya itu. Ia pun tersenyum sambil memperhatikan V yang sedang mengurusnya dengan sangat baik.

“Ini piringnya, ini sendoknya... Aku bukain yah nasi ayamnya” kata V memberikan perhatian pada ustadzah cantik itu.

“Na’am V... Makasih yah” kata Haura tersenyum.

Saat nasi ayam itu terbuka. Haura pun ikut membuka mulutnya karena terpukau oleh aroma yang terhirup di hidungnya. Apalagi penampilan nasi ayam itu menggoda nafsu makannya. Haura pun jadi semakin lapar membuat ia tak sabar untuk memakan nasi ayam yang baru saja V beli itu.

“Tapi bener nih gapapa makan nasi ayam ? Kamu kan baru sembuh, apa gak makan bubur aja ?” tanya V khawatir.

“Hihihihi aku kan baru sembuh... Bukannya orang yang baru sembuh nafsu makannya gede ?” kata Haura.

“Ehhh iya juga yah... Tapi yakin bisa abis segitu ?” tanya V sekali lagi.

“Yakin dong... Kenapa enggak ?” kata Haura bersiap-siap untuk menyantapnya. Ia bahkan sudah menaikan lengan kemeja berwarna putihnya setelah sebelumnya ia sudah mencuci tangannya terlebih dahulu.

“Ya kalau gak kan bisa aku makan juga” kata V mupeng ingin mendapatkan dua porsi untuk jatah makan malamnya kali ini.

“Enak aja... Aku juga kelaperan tau... Harusnya kamu tuh yang ngasih nasinya ke aku” kata Haura cemberut.

“Ehhh enak aja... Aku kan kurus, harus banyak makan biar bisa gemuk” kata V.

“Ihhhh aku kan juga kurus ya harus makan banyak juga dong !” kata Haura tertawa ketika asyik bercanda dengan ustadz tampan itu.

“Gak percaya ! Coba mana aku mau liat tubuhmu” kata V mupeng.

“Mulai deh... Aku usir yah !” kata Haura sebal ketika kemesuman V kambuh lagi.

“Hehehehe maaf... Namanya juga usaha” kata V yang nampaknya tak ragu lagi ketika bercanda yang berbau dewasa dengan Haura

“Usaha-usaha apanya ! Dasar orang mesum !” kata Haura langsung menyantap nasi ayam itu karena tak kuat menahan rasa laparnya.

“Tapi ngangenin kan ?” kata V yang juga memulai makan malamnya.

“Uhhukkk” Haura tersedak ketika mendengar ucapan dari V itu. Buru-buru Haura meminum air yang terhidang di samping piringnya itu.

“Ehhh kenapa ? Pelan-pelan dong makannya” kata V tidak tahu menahu kalau Haura terbatuk itu karena ucapannya.

“Dasar ! Padahal gara-gara kamu aku jadi keselek gini ! Mana ada ngangenin yang ada ngeselin !” kata Haura gemas ingin mencubit lengan ustadz tampan itu lagi.

“Hmmm boleh lah... Aku anggap itu sebagai pujian” kata V menyantap nasi ayamnya lagi.

“Heleh... Mana ada kata ngeselin jadi pujian” kata Haura kembali menyantap nasi ayamnya lagi.

“Hehehe bukannya orang ngeselin itu ngangenin ?” kata V yang membuat Haura sekali lagi tersedak.

“Uhhuukkk... Dasar ihhhh !!!” kata Haura gemas yang ingin mengetuk kepala V menggunakan sendok yang ia pegang.

“Eehhh ampun-ampun... Itu kan sendok buat makan bukan buat mentung” kata V menghindar.

“Biarin... Gini-gini juga bisa bikin kamu tepar loh... Mau coba aku pentung pake sendok ?” kata Haura kembali menyantap nasi ayam itu.

“Itu mah gak seberapa dengan pentungan yang aku punya... Pernah kan rasanya disodok pake pentungan aku” kata V sekali lagi yang nyaris membuat Haura tersedak. Haura pun hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia tak sanggup lagi meladeni obrolan V yang terus saja mengarah ke hal yang berbau dewasa.

Dasar orang mesum ngeselin ! Batinnya sambil tersenyum menatap V.

“Malam ini kamu tidur di sofa yah !” kata Haura tiba-tiba mengejutkan V.

“Ehhhh kok gitu... Tapi besok malam aku di ranjang yah” kata V kembali mupeng terus menggoda Haura.

“Ya gapapa” kata Haura tersenyum malu yang membuat V senang.

“Biar aku aja yang tidur di sofa besok” lanjutnya sambil tertawa yang membuat V kecewa.

“Yahhh... Apa gunanya tidur di ranjang kalau gak ada seorang ustadzah yang bisa di pegang” kata V menggoda Haura.

“Ohhhh jadi selama ini kalau tidur suka megangin ustadzah yah ? Coba sebutin ustadzah mana aja yang udah kamu pegang !” kata Haura yang membuat V kalut karena salah dalam menyusun kata-katanya.

“Eehhhh bukan gitu maksudnya aduhhh... Cuma kamu kok yang udah aku apa-apain selama ini” kata V yang membuat wajah Haura memerah malu.

“Ihhhh kata-katanya itu lohhhh” kata Haura malu sekali mendengar ucapan ustadz tampan itu.

“Hehehe tapi ya gimana yah... Tapi bener kan maksudnya” kata V ikut malu.

“Ihhh tapi ya jangan dibilang gitu juga... Aku kan malu” kata Haura sambil meminum air putih itu.

“Hehehe maaf-maaf aku salah... Duhhh jadi pengen kan” kata V pantang menyerah untuk terus menggoda Haura.

“Pengen apa ! Dasar ustadz mesum ! Ustadz playboy ! Ustadz macam apa yang kerjaannya godain ustadzah terus... Ihhh aneh deh” kata Haura tersenyum sambil menghabiskan jatah makan malamnya itu.

“Ehhh jangan gitu ah... Aku kan kaya gini cuma ke kamu doang” ucap V berbohong.

“Terserah... Pokoknya aku mau tidur habis ini... Capek ngobrol sama orang mesum terus !”

“Hehhhh tidur... Jama’ah dulu yuk !” ajak V.

“Ehhh iya udah waktu Isya yah ?” kata Haura sambil melihat jam yang rupanya sudah jam setengah delapan malam.

“Hehehhe abis itu kita malam sabtuan yah” kata V kembali mupeng.

“Malam Sabtuan ? Maksudnya ?” tanya Haura heran.

“Kan sekarang malam Sabtu... Kalau kemarin baru malam Jum’at... Pokoknya yang bisa mantap-mantap lah” kata V menggoda Haura terus.

“Ihhhhhhhhh gaak mau ! Aku capek” kata Haura merasa malu sekali dengan godaan V kepadanya.

“Hehehe yaudah besok aja yah pas udah sembuh” kata V.

“GAK JANJIII !!!” Kata Haura beranjak pergi menuju kamar mandi untuk bersiap-siap berjamaah dengan V.

V pun hanya tersenyum melihat kepergian Haura. Tapi kemudian senyumnya jadi hilang saat memikirkan apa yang membuat Haura tiba-tiba jadi drop kemarin.

Apa mungkin karena orang itu ?

*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Sebuah mobil berbentuk van datang memasuki pondok pesantren. Mobil itu pun berhenti di depan gedung administrasi yang biasa menerima berbagai macam paket dari para wali santri. Tak lama kemudian pintu pun terbuka, nampak seorang ustadzah yang mengenakan kaus berwarna pink berlengan panjang keluar dari dalam mobil berbentuk van itu.

“Gapapa nih ustadzah saya antar sampai sini aja ? Saya antar sampai depan rumah yah ?” ucap seseorang dari dalam mobil.

“Gak usah pak... Terima kasih udah nganterin aku... Cukup disini aja” kata ustadzah berbadan jangkung yang mempunyai body sempurna itu.

“Yasudah, saya izin pamit yah kalau gitu... Saya mau siap-siap ke kantor dulu” kata pak kurir pengantar paket itu yang hanya dijawab anggukan oleh ustadzah cantik berbadan sempurna itu.

Dengan perlahan Nada mulai berjalan pulang menuju rumahnya. Kedua tangannya ia silangkan di dada. Wajahnya terus saja menunduk saat teringat kejadian yang terjadi di kemarin hari. Kejadian yang membuatnya sampai harus memohon untuk digenjot oleh pria tak bersunat itu. Ia pun masih terbayang bagaimana rasanya ketika penis besar berwarna hitam itu mengaduk-ngaduk liang senggamanya tanpa ampun.

Nada pun menggeleng-geleng kepala tak percaya. Ia pun memegangi vaginanya dari luar celana training yang ia kenakan.

“Hah” hanya itu yang ia ucapkan di pagi hari itu. Ia heran, ia bingung, ia terus bertanya-tanya.

Jadi selama ini pak Heri memakai obat perangsang yah untuk membuatku memohon kepadanya ?

Batinnya baru menyadari.

Terus untuk kasus mas Rendy ? Kenapa sih ia jadi seperti itu ? Jadi mas Rendy emang dari dulu seperti itu ? Bukan karena terpengaruh omongan pak Heri ?

Batinnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya.

Nada pun merasa kecewa andai apa yang ia dengar dari pak Heri itu merupakan kenyataan yang benar-benar terjadi. Tak terasa ia pun sudah tiba di depan pintu rumahnya. Ia pun masuk untuk mandi dan bersiap-siap pergi untuk menjalani pertemuan dengan pengajar lainnya dalam menyiapkan ujian para santri sebagai panitia ujian pondok pesantren ini.

Hari ini memang hari Sabtu. Sedangkan ujian akan dimulai di hari Senin. Selama dua hari ini, santri pun diliburkan untuk belajar di kelas. Semau santri dibiarkan belajar dimanapun mereka mau asalkan tidak di dalam asrama masing-masing.

“Hah akhirnya sampai juga !” kata Nada merasa lega ketika dirinya kembali pulang ke rumah tersayangnya.

Ia pun melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari suaminya. Nampaknya suaminya sedang pergi, ia pun bergegas menuju kamarnya untuk bersiap-siap berganti pakaian. Saat pintu kamar terbuka, ia terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba berdiri disana sambil tersenyum menatap dirinya.

“Kekekekek... Maaf semalam saya tidur disini ustadzah... Kenalkan, saya salah satu dari dua orang yang diajak untuk menghibur ustadzah malam ini” katanya yang membuat mata Nada terbuka lebar.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy