Search

CHAPTER 3 - SURGA YANG DI RINDUKAN

CHAPTER 3 - SURGA YANG DI RINDUKAN

Pagi hari di sebuah lorong kelas, Hanna sedang berjalan sambil menenteng buku absen beserta materi yang akan ia ajarkan di pagi hari. Ia terlihat cantik dengan hijab berwarna kecoklatan yang melilit wajah kecilnya, Ia mengenakan seragam cerah yang selaras dengan warna hijabnya, pakaiannya longgar membuat Hanna terlihat semakin dewasa saat berjalan. Ia tersenyum, ia tampak bersemangat untuk memulai hari yang indah ini. Tanpa di duga dihadapannya tampak seorang lelaki yang berdiri sambil mengamati jam tangannya. Lelaki itu sedang berdiri di samping kelas yang akan diajarnya. Hanna berhenti seketika sambil tersenyum melihatnya. Langkahnya berubah menjadi malu - malu. Ia agak ragu untuk melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya yang berada di ujung lorong.

“Ustadzah Hanna” sapa lelaki itu saat melihat Hanna mendekat.

“Ustadz Angga” jawab Hanna mendekat malu - malu.

Antum apa kabar ? Baik kan ?” tanya Angga yang notabene merupakan calon suaminya kelak.

“Alhamdulillah ustadz... Antum juga kan ?” kata Hanna bertanya balik.

“Tentu baik kok... Nanti lagi yah udah waktunya ngajar... Gak enak kalau ngobrol sekarang... Semangat yah... Pertahankan terus senyum yang ada di wajah antum itu” kata Angga yang kemudian pergi memasuki kelas yang ia ajar.

Hanna hanya tersenyum setelah mendapatkan ucapan semangat pagi dari calon suaminya. Diam - diam ia pun mengintip ke dalam kelas untuk melihat calon suaminya mengajar.

“Assalamualaikum wr wb !” sapa Angga di dalam dengan suara yang lantang.

“Walaikumsalam wr wb !” jawab para santrinya juga dengan suara yang keras.

Hanna terkagum sesaat sampai bibirnya terbuka mendengar suara yang dipenuhi oleh semangat. Ia pun terbayang suatu hari nanti ketika dirinya sudah berkeluarga dengan Angga. Hanna tersenyum malu - malu sambil melangkahkan kakinya pergi. Ia berusaha mengatur ekspresinya agar tidak dikira orang gila karena tersenyum - senyum sendiri. Tapi semakin ia menahannya, ia justru semakin tersenyum membayangkan kebahagiaan yang belum pernah terjadi di dalam hidupnya.

“Ciyeee ciyeee senyum - senyum sendiri nih ustadzah” kata seseorang yang membuat Hanna terkejut.

“Eh pak Udin ngagetin aja” kata Hanna saat melihat lelaki tua yang bekerja sebagai tukang bersih - bersih itu menyapanya.

Sifat Hanna yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja membuat orang - orang mudah jatuh hati padanya. Mau itu ustadz senior, sebaya atau bahkan sampai tukang bersih - bersih sekali pun pasti akan disapa oleh Hanna tanpa melihat adanya perbedaan. Hal inilah yang membuat pak Udin sampai berani bercanda dengan bidadari berwajah manis ini.

“Nanti kesambet loh ustadzah kalau ngelamun sambil tersenyum gitu” kata Pak Udin.

“Ahahahaha enggak kok... Enggak” kata Hanna terus melangkah maju.

“Permisi yah pak ! Mau ngajar dulu !” kata Hanna dengan sopan.

“Iya ustadzah kalau udah selesai saya tunggu disini yah !” kata Pak Udin yang membuat Hanna tertawa.

“Duh duh ustadzah... Kamu manis banget sihh... Rasanya jadi ingin bercocok tanam deh” kata Pak Udin mulai menghalu.

Hanna memasuki kelas yang akan ia ajar. Kelas Enam C merupakan kelas terakhir yang berisikan santri senior yang sebentar lagi akan lulus dari pondok pesantren ini. Sebenarnya mengajar di kelas enam merupakan amanat berat yang harus dilakukan oleh Hanna. Kelas enam berisikan materi - materi berat yang sangat sulit untuk dijelaskan. Akan tetapi setelah mempertimbangkan prestasi Hanna di masa santriwati dahulu, pengajar di bagian pengajaran pun memberikan tugas berat ini pada Hanna yang dianggap sanggup untuk mengemban tugas ini.

Saat Hanna memasuki kelas, para santri reflek diam menanti ustadzah cantik ini memulai menyapa mereka.

“Assalamualaikum Wr Wb.” Sapa Hanna dengan penuh semangat.

“Walaikumsalam Wr Wb.” Jawab para santri yang juga ikut bersemangat. Beberapa santri yang tadi sempat tertidur langsung terbangun karena mendengar kerasnya jawaban salam tersebut. Hanna hanya tertawa melihat sikap lucu mereka yang terkejut saat terbangun.

Makanya di kelas jangan tidur !

Proses belajar mengajar pun dimulai. Dengan serius Hanna mengeluarkan seluruh suaranya. Ia berteriak, ia berusaha mendapatkan perhatian santrinya agar tidak tertidur ketika proses belajar mengajar berlangsung. Berulang kali dirinya bolak - balik dari meja guru ke papan tulis untuk menuliskan materi di sana. Berulang kali pula ia menghapus tulisan tersebut untuk menggantinya dengan tulisan yang baru karena saking banyaknya materi yang harus ia sampaikan di pagi hari ini.

Setelah semua materi selesai tertulis di papan tulis, ia mulai berkeliling untuk memeriksa tulisan santrinya. Hanna manggut - manggut, beberapa ada yang sudah selesai menulisnya dan beberapa ada yang baru setengah jalan. Beberapa dari mereka ada juga yang memiliki tulisan bagus dan jelek. Saat ia melangkah menuju barisan paling belakang, Hanna terkejut saat melihatnya tertidur dengan nyenyak. Hanna menggeleng - gelengkan kepalanya sambil mendekat. Beberapa santri yang duduk di sekitar santri yang tertidur itu bergegas membangunkannya. Namun santri itu masih tetap tertidur membuat Hanna pun jengkel kepadanya.

"Aaarrggggg sakittt" Kata santri itu sambil memegangi telinganya.

"Hahahahaha" Para santri lainnya yang melihatnya pun tertawa.

Hanna merasa puas ketika berhasil membangunkannya dengan cara menjewernya.

"Makanya jangan tidur yah dikelas !" Kata Hanna menasehatinya baik - baik. Hanna bergegas kembali ke depan papan tulis untuk melanjutkan materi yang akan ia ajar.

"Cihh... Ganggu aja" Kata santri itu lirih.

"Apa kamu bilang ? Ustadzah gak salah denger kan ?" Kata Hanna ketika mendengarnya.

"Gak ada ustadzah... Ana gak bilang apa - apa" Kata santri itu memasang ekspresi kesal.

"Berbicara di belakang orang lain itu gak sopan.... Jangan diulangi yah !" Kata Hanna dengan tegas.

Santri itu hanya mengangguk tanpa berani menatap wajah ustadzahnya karena kesal. Hanna pun kembali ke meja guru untuk melihat lanjutan materi yang harus ia ajar. Berulang kali ia mengusap dadanya agar bisa bersabar meladeni sikap santrinya yang mulai kurang ajar.

Lutfi Mahmudi namanya, ia merupakan santri tingkat akhir yang sudah dua kali tidak naik kelas. Sikapnya buruk karena sering kali melanggar disiplin yang ada di pondok. Berulang kali dirinya sering kepergok merokok, bersembunyi dikala muwajjah bahkan pernah di rumorkan membawa hape ke pondok. Tetapi tiap kali ada ustadz yang datang ke kamarnya untuk memeriksa, mereka selalu tak menemukan hape tersebut. Lutfi memiliki rambut yang cepak karena baru saja di gundul oleh ustadz Rafi karena ketahuan merokok. Gigi depannya maju. Tubuhnya tinggi mendekati kurus dan tahun ini, ia telah memasuki usia 20 tahun. Usia yang cukup tua tentunya untuk menjadi santri di pondok pesantren ini.

Saat melihat Hanna sudah pergi menjauh, Lutfi kembali menjatuhkan kepalanya diatas meja untuk kembali tertidur. Hanna melirik dari jauh, ia pun meminta para santri yang ada di dekatnya untuk membangunkannya. Mereka sudah berusaha tapi Lutfi tetap acuh tak memperdulikan.

"Ehh Lutfi ayo bangun... Ustadzah Hanna nanti marah loh" Kata salah satu santri yang duduk di sebelahnya.

"Biarin... Bodo amat... Ana ngantuk !" Kata Lutfi bersikap tak peduli.

Hanna menggelengkan kepalanya sambil melihatnya dari jauh.

"Lutfiiii !" Panggil Hanna dengan nada lirih.

"Lutffiiii !" Hanna mulai meningkatkan suaranya. Hanna menghela nafasnya setelah Lutfi mengabaikan sikap baiknya itu. Hanna naik pitam, ia mendekat ke papan tulis untuk mengambil penghapus yang ada di sana.

"Awas !" Kata Hanna meminta santri yang lainnya untuk menjauh dari Lutfi. Dengan kesal Hanna mulai melempar penghapus itu hingga tepat mengenai kepalanya. Santri lainnya tertawa ketika melihatnya terkena lemparan dari Hanna. Namun di luar dugaan reaksi dari Lutfi mengheningkan mereka semua.

"Aaaarggg sakit... Bangsat !" Kata Lutfi sambil memegangi kepalanya.

Para santri diam, Hanna juga diam. Mereka berdua menatap Lutfi sambil memberikan reaksi yang berbeda. Para santri pun ketakutan melihat ekspresi Hanna yang benar - benar marah. Apalagi Hanna kan ustadzah pengasuhan. Ia memiliki wewenang untuk mengeluarkan santri yang tidak memiliki etika baik disini.

"Lutfi... Setelah dhuhur nanti... Ustadzah tunggu di kantor pengasuhan" Kata Hanna dengan nada yang dipenuhi amarah.

"Cihhh... Ngerepotin aja" Kata Lutfi dengan nada sangat lirih sambil memegangi kepalanya yang sakit. Beruntung Hanna tak mendengarnya. Kelas pun menjadi tegang setelah kejadian itu. Mereka semua tidak ada yang mengantuk. Mereka fokus memperhatikan karena tidak mau membuat mood ustadzah Hanna menjadi semakin buruk.

Hanna menghela nafas agar dirinya bisa kembali fokus untuk melanjutkan materi yang harus ia berikan di pertemuan pagi ini.

Astaghfirullah ! Sabar Hanna !

Batin Hanna sambil menggelengkan kepalanya.


*-*-*-*


Di kantor bagian administrasi, Ustadzah Nada sedang bersama suaminya yakni Ustadz Rendy. Mereka berdua sedang menjaga kantor administrasi karena tidak memiliki jadwal mengajar di pagi hari. Terlihat di dinding jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi.

Nada sibuk mengetikan sesuatu di layar komputernya sedangkan suaminya yang ada di sampingnya terus melirik ke arahnya. Lidahnya ragu untuk mengucapkan sesuatu kepada istrinya yang mempunyai paras cantik jelita. Tidak hanya jelita, karena Nada juga memiliki tubuh yang sempurna. Postur tinggi, payudara tegak berdiri juga pinggul ramping yang menyedapkan mata yang melihatnya. Rendy merasa beruntung ketika berhasil menikahinya. Ia merasa telah mengalahkan para pesaingnya yang juga bertarung untuk mendapatkan hati Nada.

Kini hampir setahun setelah pernikahan yang sudah mereka lewati bersama. Rendy mempunyai uneg - uneg yang ingin dibicarakan dengan Nada. Sebenarnya ia sudah pernah membicarakannya, alhasil Nada hanya dibuat marah dengan kata - kata tak terduga yang diminta oleh suaminya. Sekarang dalam keadaan yang hanya ada mereka berdua, Rendy ingin kembali membicarakannya, tapi ia merasa ragu seolah dirinya sudah mengetahui jawaban apa yang akan diberikan oleh istrinya.

"Dek. . . . . " Sapa Rendy dengan lembut.

"Iya mas ada apa ?" Jawab Nada tanpa melihat ke arah suaminya karena terlalu sibuk menyelesaikan tugasnya.

"Lihat sini dong... Masa suami lagi ngomong, adek malah ngeliat ke arah lain sih ?" Kata Rendy.

"Hehe maaf mas... Ada apa sih ? Adek kan lagi sibuk" Kata Nada tersenyum sambil menatap suaminya meminta maaf.

"Iyaa.... Mas mau ngomong lagi ke kamu... Mengenai masalah itu" Kata Rendy membuat ekspresi wajah Nada berubah sekejap.

"Masalah itu ? Maksud mas ? Yang itu ?" Tanya Nada mengernyitkan dahinya.

"Iya dek... Tolong" Kata Rendy penuh harap.

"Berapa kali harus adek bilang mas... Adek gak mau melakukannya... Itu melanggar syariat mas... Itu dosa... Kenapa mas jadi seperti ini sih ?" Kata Nada dengan nada kesal.

"Iya mas tahu... Tapi tolong... Sekali aja... Mas cuma mau minta sekali setelah itu udah gak lagi" Kata Rendy terus memohon.

"Mas... Sadar.... Ade ini cuma milik antum mas... Kenapa mas tega melakukan hal itu ke adek sih ? Adek salah apa mas kenapa tiba - tiba mas minta itu ke adek ?" Kata Nada yang tiba - tiba matanya berkaca - kaca.

"Dek.... " Kata Rendy iba ketika melihat air mata jatuh membasahi wajah ayu istrinya. Tepat disaat yang sama terdengar suara mobil yang mengantarkan paket, surat dan kiriman uang dari para wali santri berhenti di depan kantor bagian administrasi.

"Maaf mas... Adek mau pergi sebentar" Kata Nada yang tiba - tiba ingin pergi menjauh dari suaminya.

"Ini ustadzah data paketnya... Loh... " Kata kuli pengantar paket itu terkejut melihat Nada pergi begitu saja darinya.

Kuli pengantar paket berusia limapuluuan, bertubuh tambun dan berkepala plontos itu heran bertanya - tanya sambil mendatangi Rendy yang ada di dalam. Ia menyerahkan selembar kertas berisi data paket yang diantarnya itu ke Rendy sambil menanyakan hal yang terjadi pada istrinya.

"Itu ustadzah Nada kenapa yah ? Kok gak kaya biasanya ?" Tanyanya.

"Biasa pak Heri..." Kata Ustadz Rendy mengambil kertas tersebut dan berjalan menuju luar untuk memeriksa paket tersebut.

"Tentang masalah itu ?" Tanya Pak Heri sambil membisikannya di telinga Rendy.

"Iya Pak... Kayaknya kita gak bisa ngejalanin rencana itu deh... Istri saya terus menolak" Kata Rendy dengan nada lirih.

"Loh jangan nyerah gitu dong ustadz... Kalau pak ustadz berusaha pasti bisa kok... Lagipula ustadz sudah terlanjur bilang gitu ke ustadzah Nada kan ? Wakakaka" Kata Pak Heri terkekeh - kekeh.

"Iya sih" Jawab Rendy lirih.

"Sabar aja pak ustadz... Ustadz pasti bisa kok untuk mewujudkan impian ustadz itu ke istri ustadz wakakakkaka" Kata Pak Heri tertawa mupeng.


*-*-*-*


Nada melangkahkan kakinya pergi tanpa pernah melihat ke depan. Ia pergi begitu saja membiarkan kakinya bergerak menuntunnya entah kemana. Sesekali, ia mengusap air matanya menggunakan sapu tangan pemberian suaminya dulu sewaktu pertama kali bertemu. Ia selalu menyimpannya, karena baginya sapu tangan ini adalah hal teristimewa yang dimilikinya. Ada kisah tersendiri yang membuatnya merasa sapu tangan ini sangatlah berarti baginya.

TIGA TAHUN YANG LALU

Hujan rintik - rintik turun membasahi bumi pesantren, di hari jum’at pagi disaat santri sedang menikmati hari liburnya. Beberapa ada yang berlari ketika mendapati hujan turun secara tiba - tiba. Mereka berlarian kesana - kesini untuk mencari tempat berteduh sambil membawa piring yang mereka gunakan sebagai penutup kepala. Waktu itu, memang sedang waktunya jam makan pagi. Jumlah piring yang tak sebanding membuat pondok pesantren membuat aturan agar masing - masing santri membawa piringnya masing - masing ketika hendak makan di dapur umum.

Hujan berlangsung begitu lama. Hujan yang turun semakin deras juga diikuti oleh kilatan petir yang menyilaukan langit mendung diiringi kerasnya suara yang menggelegar. Beberapa santri lebih memilih berdiam di suatu tempat untuk berteduh sambil menunggu kondisi hujan mereda.

Nada adalah salah satunya. Sebagai salah satu santriwati tingkat akhir, ia memiliki jadwal sibuk untuk mempersiapkan dirinya guna menghadapi ujian akhir yang akan diadakan sebentar lagi. Di tangan kanannya terdapat buku materi yang ia dekap di dada. Rencananya ia hendak pergi ke kamar salah satu ustadzah untuk menanyakan beberapa materi yang belum sempat ia pahami. Nada merupakan salah satu santriwati terpintar pada masanya. Ia merupakan santriwati favorit yang nilainya selalu berada di atas rata - rata. Rasa tamak pada ilmu yang dirasakan mendorongnya untuk belajar dan terus belajar agar bisa mendapatkan nilai yang sempurna dikala ujian.

Namun pagi ini, ia terjebak di depan asrama pengajar putra. Ia merasa bingung dengan cuaca buruk yang datang secara tiba - tiba. Asrama pengajar merupakan istilah yang digunakan pondok untuk menyebut kamar - kamar yang ditinggali oleh pengajar putra maupun putri yang sedang mengabdi atau sedang bekerja di pondok pesantren ini. Bentuknya lebih mirip rumah kos. Dimana tiap - tiap kamar dihuni oleh beberapa ustadz / ustadzah yang berbeda tergantung dengan pembagian kamar yang sudah dilakukan di awal. Asrama pengajar putra dan putri berada di tempat yang berbeda tapi berada di arah yang sama dari asrama santri. Oleh karena itulah, Nada yang sedang dalam perjalanan menuju asrama pengajar putri justru harus terjebak di depan asrama pengajar putra karena hujan yang turun secara tiba - tiba.

Nada merasa malu, beberapa kali matanya melirik ke kiri dan ke kanan untuk mengamati adakah ustadz yang melihatnya sekarang. Ia takut apabila dirinya dicurigai sedang menunggu seorang ustadz di depan kamar asramanya.

Kekhawatirannya timbul, ketika dari dalam kamar asrama tampak seorang ustadz muncul setelah membuka pintu kamarnya. Ustadz itu tampak kebingungan ketika menemukan adanya santriwati yang berdiri di depan pintu kamarnya.

Antum nunggu siapa ?” tanya ustadz itu.

“Hehe engga ustadz... Ana cuma berteduh dari hujan” jawab Nada sopan.

“Ohh begitu... Kalau gitu sini masuk ke teras aja daripada berdiri di sana bakal kehujanan juga kan ?” kata ustadz itu perhatian.

“Hehehe” Nada tampak bingung dengan sikap yang harus ia ambil, haruskah menuruti keinginan ustadz itu ? Atau tetap kekeh berdiri di depan halaman asrama ? Ia pun melirik ke bawah dan menemukan celana training longgar yang dikenakannya sudah sedikit basah terkena cipratan air hujan. Ia juga merasa kedinginan karena pakaiannya tak sanggup menahan hawa dingin yang telah menembus kaus longgar berlengan panjang miliknya.

Akhirnya dengan langkah malu - malu, Nada mengikuti arahan ustadz itu untuk duduk di teras kamar asramanya. Nada duduk di kursi itu sambil menundukan pandangannya karena malu. Ia melirik ke sekitar. Ia merasa beruntung karena tiap teras asrama dipisahkan oleh sekat yang membuat dirinya tertutupi dari kemungkinan pandangan ustadz lain yang bisa melihatnya disini.

Nada diam tak berbicara. Jantungnya berdebar kencang membayangkan dirinya sedang berduaan dengan seorang Ikhwan untuk pertama kalinya. Ia tahu dirinya terpaksa melakukannya karena sebuah keadaan. Tapi tetap saja, Nada merasa was-was membuatnya gelisah dengan kondisi yang sedang terjadi padanya di pagi hari ini.

Ana kayaknya pernah lihat antum, Kelas antum pernah ana masuki ?” tanya ustadz itu.

“Pernah ustadz... Antum ustadz Rendy kan ? Baru kemarin lusa antum mengisi kelas ana sebagai pengajar pengganti karena pengajar utamanya sedang ada halangan” jawab Nada tanpa berani menatap Rendy.

“Ohh begitu... Pantas saja wajah antum akrab... Nama antum siapa yah kalau boleh tau ?” tanya Rendy.

Ana Nada ustadz.... Nada Aulia Fahira” jawab Nada dengan perasaan malu - malu.

“Ohh Nada... Nada kedinginan gak ? Ana buatin teh yah ? Kebetulan di kamar ada stok teh banyak” kata Rendy meminta izin.

“Gak usah ustadz... Antum gak perlu buatin teh untuk ana” jawab Nada merasa tidak enak.

“Udah gapapa... Nada tunggu disini aja yah sebentar” kata Rendy bergegas masuk ke dalam kamarnya.

“Tappiii ustadz !” Nada terlambat. Rendy sudah memasuki kamarnya untuk membuatkan teh untuknya. Nada menghela nafasnya, tangannya mendarat di dada dan ia merasakan jantungnya berdebar semakin kencang. Ia pun mencoba berfikir positif. Setidaknya di bawah atap teras asrama pengajar putra, ia bisa membuka bukunya untuk belajar sedikit demi sedikit.

Tak berselang lama, sosok tampan yang tadi ditemuinya kembali menyapa dengan senyum malu - malu yang nampak di wajah. Ia menghidangkan dua cangkir teh hangat. Satu untuknya dan satu lagi untuk tamu tak terduganya.

“Terima kasih ustadz” kata Nada yang langsung meminumnya karena kedinginan.

“Gimana rasanya ? Kemanisan enggak ?” tanya Rendy.

“Hmmm enak ustadz... Cukup kok” kata Nada tersenyum.

“Syukurlah” jawab Rendy merasa lega.

Canggung, ya itulah yang terjadi di luar teras asrama ini. Suara rintik hujan yang semakin deras menjadi latar belakang musik yang mengisi pertemuan mereka berdua yang tak terduga. Nada menunduk malu sambil berpura - pura membaca buku karena canggung. Sedangkan Rendy hanya melihat sekitar tanpa berani menatap kecantikan wajah santriwatinya.

“Ehhem... Nada belajar apa ?” tanya Rendy untuk mengisi kecanggungannya.

“Ini ustadz... Ushul Fiqh” kata Nada tersenyum malu. Rendy terperangah seketika saat melihat senyum yang diberikan oleh santriwatinya itu. Rendy menghela nafas untuk mengatur ekspresi wajahnya.

“Ohh Ushul Fiqh... Mungkin boleh ditanyakan kalau ada yang belum Nada pahami” kata Rendy berbasa - basi.

Antum memang paham ?” tanya Nada.

“Ya paham dong... Gini - gini ana juga jadi pengajar Ushul Fiqh kok di kelas 6B putra” kata Rendy yang membuat Nada tertawa renyah.

“Ahahaha afwan ustadz... Kalau gitu boleh minta tolong jelasin yang ini” kata Nada menunjukan halaman buku yang belum ia pahami.

“Ohh ini... Jadi gini” kata Rendy menjelaskan tiap materi ke Nada hingga paham. Nada pun manggut - manggut. Sesekali ia menatap wajah Rendy sejenak sebelum kembali menatap buku. Ia pun membuka buku catatannya untuk menuliskan beberapa catatan yang baru saja dipahami darinya.

“Tunggu ustadz... Jangan cepet - cepet dong” kata Nada tertawa ketika menulis. Rendy tersenyum melihat ekspresi wajah Nada yang senang ketika dijelaskan olehnya.

Satu jam telah berlalu dan belum ada tanda - tanda hujan akan segera mereda. Nada juga sudah menuntaskan hajatnya. Ia rasa dirinya sudah menanyakan semua materi yang belum ia pahami. Kini kecanggungan kembali menguasai diri mereka berdua. Bingung antara harus mengobrol atau tidak. Kalau dibiarkan rasanya tidak enak. Kalau mengobrol ya ngobrolin apa ? Iseng Rendy pun bertanya - tanya mengenai kehidupan pribadi Nada secara mendalam.

Nada pun bercerita kalau dirinya berasal dari daerah Bogor. ia juga berasal dari keluarga yang mampu. ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia mempuanyai cita - cita untuk menjadi pengajar entah itu ustadzah, guru ataupun dosen setelah lulus dari pondok pesantren ini. Kemudian giliran Rendy lah yang menceritakan asal usul hidupnya. Dirinya berasal dari kota Semarang dan merupakan anak tunggal dari keluarga yang hidup serba kecukupan. Nada pun prihatin saat pertama kali mendengarnya. Apalagi ketika Rendy bercerita kalau selama ini hidupnya kesepian karena tidak memiliki saudara sejak kecil. Temannya pun sedikit dan ia juga memiliki kesulitan untuk memulai hubungan pertemanan dengan orang lain.

Obrolan mereka berdua semakin hangat ketika menyangkut persoalan pribadi masing - masing. Mereka berdua saling memotivasi dan menyemangati satu sama lain hingga sesaat mereka berdua lupa kalau mereka saat ini tak lebih dari seorang santriwati dan ustadz yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren yang sama.

“Uhhukk uhhukkk” Nada terbatuk - batuk membuat Rendy khawatir.

“Nada gapapa ?” tanya Rendy.

“Gapapa ustadz... hehehe” kata Nada yang juga menghirup ingusnya sendiri hingga tersenyum malu.

“Sebentar... Ini... Usap pakai ini” kata Rendy memberikan sapu tangan miliknya.

“Hehehe maaf yah ustadz... Jadi malu” kata Nada bergegas membersihkan cairan yang berasal dari hidungnya itu menggunakan sapu tangan pemberian Rendy.

Nada terlihat gelisah, posisi duduknya terlihat tidak nyaman seolah ingin beranjak dari tempat ia berada.

“Gapapa... Oh yah mau ana pinjamkan payung ? Mungkin Nada mau istirahat dulu di asrama ?” kata Rendy.

“Boleh ustadz... Aduh meler lagi” kata Nada merasa malu.

“Ini payungnya.... Untuk sapu tangannya dibawa Nada aja dulu yah... Itu sesuatu yang berharga bagi ana... Itu hadiah ulang tahun yang pernah ibu berikan dulu... Nanti kalau udah waktunya Nada baru boleh mengembalikan benda itu lagi” kata Rendy tersenyum.

“Kalau sudah waktunya ?” tanya Nada tak sengaja menatap senyum di wajah Rendy yang membuatnya bergegas menundukan pandangan karena malu.

“Hehehe Syukron yah ustadz atas bantuannya... Ana mau pulang dulu Wassalamualaikum” kata Nada berpamitan.

“Iya walaikumsalam” kata Rendy tak sadar tangannya melambaikan tangan untuk santriwatinya. Saat ia menengok ke arah meja yang tadi mereka gunakan. Ia menemukan adanya buku catatan yang Nada tinggalkan.

“Nada... !” panggil Rendy kembali yang membuat Nada menengok. Tatapannya menggoda hati Rendy seketika. Rendy pun diam sesaat ketika merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasanya aneh, entah itu kebahagiaan atau ketenangan. Pokoknya ia merasa nyaman ketika menatap keindahan wajah bidadari itu yang sedang berdiri dibawah rintikan air hujan.

“Ada apa ustadz ?” tanya Nada.

“Bukunya ketinggalan” Kata Rendy sambil mengangkat buku catatan milik Nada.

“Oh iya” kata Nada tersenyum yang kemudian berjalan mendekat sambil merasa malu.

“Jangan ditinggalin lagi yah... Kasian bukunya” kata Rendy pada Nada.

“Ahahahhaha enggak kok ustadz... Tadi ana lupa... Terima kasih yah... Sekali lagi wassalamualaikum” kata Nada dengan wajah memerah karena malu.

“Walaikumsalam... Jaga diri yah Nada” kata Rendy yang membuat jantung Nada berdebar.

“Iya ustadz” jawab Nada sekali lagi sambil memberikan senyum padanya.

Rendy tersenyum sambil terpana.

SATU TAHUN SETELAH KEJADIAN ITU

Nada sudah lulus dari pondok pesantren dengan predikat santriwati terbaik. Ia bersama sahabatnya yakni Rachel duduk berdampingan setelah mereka berdua diberi kesempatan untuk mengabdi di pondok pesantren ini. Mereka sedang berada di dalam aula pertemuan guna menghadiri acara pembukaan tahun ajaran baru. Acara ini merupakan acara wajib yang diselenggarakan oleh pondok setiap satu tahun sekali dan dilaksanakan tepat sebelum dimulainya tahun ajaran baru. Acara ini berisi pidato dari Kiyai pondok yang kemudian dilanjutkan dengan pembagian asrama dan jadwal mengajar bagi seluruh ustadz dan ustadzah yang ada di pondok pesantren ini. Karena dihadiri oleh seluruh ustadz dan ustadzah maka tempat duduk di dalam aula ini di bagi menjadi dua bagian. Sisi kanan ditempat oleh pengajar putri atau ustadzah sedangkan sisi kiri ditempati oleh pengajar putra atau ustadz. Jantung Nada dan Rachel berdebar menantikan kelas berapa saja yang akan mereka ajar dan dimanakah asrama yang akan mereka tempati. Mereka juga penasaran, mungkinkah mereka akan kebagian kantor bagian ? Karena tak semua pengajar mendapatkan kantor bagian tertentu. Hanya segelintir pengajar baru saja yang mempunyai skill tertentu yang akan ditempatkan di kantor bagian. Nada melirik sekitar, ia menemukan ustadzah Hanna duduk memperhatikan apa yang sedang Kiyai Jamal bicarakan. Dalam hati, Nada ingin seperti ustadzah Hanna yang dapat bagian di kantor bagian pengasuhan. Nada sangat ingin ditempatkan disana karena tempat itu merupakan bagian yang paling bergengsi di pondok pesantren ini. Ia merasa tertantang untuk mendisiplinkan seluruh santri menggunakan kemampuannya.

“.... Kantor bagian Pengasuhan Santri : Rafi Ahmad, Nayla Salma Nurkhalida, Khansa Haura Dzakiyya Putri dan Hanna Hanifah... Kantor bagian Penggerak Bahasa : Fauzan Azizan, Wahyu Dwi Putra, Khoirunnisa Najwa Jamila dan Rachel Olivia Putri” kata Kiyai Jamal membacakan daftar nama - nama penghuni kantor bagian.

“Hahhh ana jadi bagian penggerak bahasa Nad.... ” kata Rachel nyaris histeris karena saking senangnya.

“Wahhhh selamat yah Cel... Ikut seneng deh” kata Nada mendukungnya sebagai sahabat.

"Iya makasih yah... Semoga anti juga dapet !" Kata Rachel tersenyum bahagia.

“....Kantor bagian Administrasi : Rendy Irwan Saputra, Hadyan Ihza Mahdavikia, Shelly Andarista dan Nada Aulia Fahira” kata Kiyai Jamal melanjutkan pembacaan daftar nama - nama pengajar yang diamanati di kantor bagian.

“Nada ?” kata Rachel senang.

Ana jadi bagian administrasi Cel !!!” kata Nada bahagia.

“Selamat yah !” kata Rachel tersenyum. Nada pun ikut tersenyum, tak sengaja pandangannya teralihkan pada seseorang yang duduk di sebrang. Seorang lelaki yang tersenyum sambil memperhatikan pembicaraan Kiyai Jamal di depan.

“Ustadz Rendy...” kata Nada merasa senang bisa satu bagian bersamanya. Semenjak kejadian itu, hubungan mereka menjadi semakin dekat. Mereka sering bertegur sapa ketika bertemu di jalan atau di suatu tempat lainnya. Tentu mereka melakukannya secara diam - diam. Tak jarang Nada jadi sering mengunjungi kamar ustadz Rendy untuk menanyakan pelajaran. Rendy pun dengan senang hati menerima kehadirannya. Senang, bahagia dan bersyukur semua telah berkumpul menjadi satu di hati Nada. Entah kenapa ia memegangi dadanya sambil memejam. Ia merasa benih - benih cinta telah tumbuh di dalam hatinya untuknya.

Nada bersyukur, membuatnya tak sabar untuk menanti hari pertama bekerja di kantor bagian administrasi.

BEBERAPA HARI KEMUDIAN

Pagi itu di sebuah kantor administrasi. Nada mengenakan kemeja berlengan panjang yang ia padukan dengan blazer berwarna biru muda juga rok panjang yang memiliki warna selaras dan tidak ketat. Ia duduk diam mendengarkan. Disana terdapat dua sofa yang telah diatur berhadap - hadapan. Ditengahnya ada sebuah meja kaca yang memisahkan tempat duduk mereka berempat. Ya ada 4 orang staff bagian administrasi yang sedang berkumpul untuk membahas sebuah proker sekaligus mengospek pengajar baru yang telah diamanati tahun ini yakni Nada. Nada bersama Shelly duduk bersebelahan sementara dihadapannya terdapat Rendy dan Hadyan yang sedang menjelaskan proker sekaligus tugas apa saja yang harus dikerjakan oleh staff bagian administrasi.

Rendy sebagai ketua bagian Administrasi menjelaskan tiap detail tugas kepada Nada. Para staff lainnya yang sudah memiliki pengalaman tetap memperhatikan untuk mengingat kembali penjelasan yang sudah pernah mereka dengar di setiap awal tahun pelajaran baru di mulai.

Nada diam, mengamati sekaligus tersenyum saat menatap wajah tampan disana. Alih - alih mendengarkan, ia justru terpana akan pesona yang dimiliki oleh Rendy. Berulang kali Nada menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya kembali, ia berusaha fokus pada bagian baru yang telah diamanatkan padanya.

"Gimana ustadzah Nada ? Sudah paham semua ?" Tanya Rendy yang mengejutkan Nada.

Loh udah selesai ?

Sudd.. Sudah ustadz... Iya sudah" Kata Nada tergagap karena kaget.

"Baguslah kalau sudah paham mari kita akhiri pertemuan kita di pagi hari ini... Wassalamualaikum wr wb." Kata Rendy.

"Walaikumsalam wr wb." Jawab staff lainnya.

"Nada kita pergi ke kantin yuk" Kata Shelly.

"Hehehe sebentar ustadzah... Ana udah ada janji sama ustadz Rendy buat diajarin cara menerima santri yang mau bayar spp" Kata Nada menolak halus.

"Yeee itu gampang padahal tinggal buka programnya di komputer terus klik - klik beres deh" Kata Shelly yang merupakan senior Nada yang kira - kira satu tahun lebih tua darinya.

"Hahaha iya memang gitu... Tapi kan Nada belum tahu mana yang harus di klik" Kata Rendy membela Nada.

"Ciyeee ada yang ngebelain... Wah jangan - jangan... Kalian ini ?" Kata Shelly yang membuat raut wajah Nada memerah.

"Apasih Shelly... Dah sana jajan... Noh temenin ustadz Hadyan ngopi" Kata Rendy.

"Ihh ogah ah... Gak doyan ngopi" Kata Shelly.

"Jangan lupa kalau udah jadian undang - undang yah" Bisik Shelly ke telinga Nada.

"Ehhhh" Jawab Nada yang membuat Shelly tersenyum dan mengedip padanya.

"Dahhhh.... Kalau dah selesai temui ana di kantin yah... Kita juga harus mengakrabkan diri loh" Kata Shelly bergegas pergi dari kantor bagian administrasi.

Nada hanya tertawa mendengar ucapan dari Shelly. Rendy yang penasaran pun mendekat.

"Tadi si Shelly habis bisikin apa sih ?" Tanya Rendy penasaran.

"Ada deh ustadz... Rahasia wanita pokoknya ahahahah" Tawa Nada yang membuat Rendy cemberut.

"Pelit dasar" Kata Rendy yang membuat Nada semakin tertawa.

"Mau langsung diajarin sekarang ?" Tanya Rendy setelah puas menikmati tawa yang telah Nada berikan.

"Mauuuuuuu" Kata Nada bergegas mengikuti Rendy menuju komputer operator

"Jadi gini Nada... Setelah antum membuka file nya. Antum tinggal mencet ctrl + f untuk mencari nama santri yang sudah terdata disini... Kemudian lihat daftar nama bulannya disini ?" Kata Rendy menunjuk ke arah layar monitor.

"Iya ustadz" Jawab Nada tersenyum. Jantungnya berdebar ketika pria yang disukainya sedang berdiri dibelakangnya sambil mengajarinya sesuatu.

"Nanti klik tombol disini untuk menunjukan bahwa santri ini sudah membayarnya" Kata Rendy yang langsung dipahami oleh Nada.

"Ohhh gitu" Kata Nada meresponnya.

"Gimana ? Mudah kan ?" Kata Rendy tersenyum menatap Nada.

"Ahahaha mudah dong ustadz" Jawab Nada tertawa sambil menundukan pandangannya karena malu.

Kemudian mereka diam sesaat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rendy diam tepukau menatap keindahan wajah Nada. Sementara Nada berdiam menatap ke bawah karena malu.

"Ehhhemm ustadz ada lagi yang mau dijelasin ?" Kata Nada memberanikan diri menbuat Rendy terkejut dan malu.

"Ahhh hahahhahaa.... Enggak gak ada kok... Maaf" Kata Rendy yang kemudian memberikan jalan bagi Nada untuk pergi dari depan komputer operator.

"Hihihi makasih yah ustadz" Kata Nada bergegas pergi untuk menemui Shelly yang telah menunggunya di kantin.

"Makasih untuk apa ?" Tanya Rendy terkejut.

"Buat ngajarin yang tadi lah... Apa lagi ?" Kata Nada sambil tersenyum manis menatap Rendy.

"Ohh ya... Hehehe iyya juga yah... Sama - sama kalau gitu" Jawab Rendy merasa canggung dan malu.

"Kalau gitu ana permisi dulu yah... Wassalamualaikum" Kata Nada pamit undur diri sambil tersenyum.

Nada melangkah pergi membuka pintu kantor bagian untuk berjalan menuju kantin. Namun belum jauh ia melangkah, kembali ia mendengar suara Rendy memanggilnya.

"Walaikumsalam... Oh yah... Antum masih nyimpen sapu tangannya ?" Tanya Rendy tiba - tiba. Nada pun menoleh menatap wajah Rendy dalam posisi setengah membelakangi.

"Masih dong ustadz.... Mau diambil yah ?" Kata Nada sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku blazer yang dikenakannya.

"Engga kok... Cuma nanya aja... Tolong jaga baik - baik yah" Pinta Rendy menatap wajah Nada.

"Okey kalau itu yang antum mau... Ana akan jaga baik - baik benda ini" Kata Nada tersenyum yang kemudian pergi meninggalkan diri Rendy sendirian di dalam kantor bagian ini.

Terima kasih telah menjaganya selama ini... Nada !

Rendy tersenyum cerah sambil menatap tubuh bagian belakang Nada yang perlahan semakin pergi menjauh darinya. Ia pun berbalik arah kemudian mengangkat kepalan kedua tangannya naik karena senang. Diam - diam Nada menoleh ke arah Rendy. Nada tersenyum melihat sikap Rendy seperti itu.

"Ahahhaha ustadz Rendy ini... lucu banget sih !" Kata Nada tersenyum selama perjalannya ke kantin.

SATU TAHUN KEMUDIAN

Ada waktu dalam satu tahun penghitungan kalender bulan, pondok akan mengalami libur panjang. Dan itu terjadi di bulan puasa. Santri - santri, ustadz dan ustadzah yang mengabdi maupun yang bekerja di pondok ini akan diliburkan menyisakan beberapa saja yang dibutuhkan oleh pondok seperti santri kelas lima dan beberapa pengajar yang mendiami bagian penting lainnya seperti bagian pengajaran, pengasuhan maupun administrasi. Nada juga demikian, ia terkena dampak dari bagian yang sedang ia amanati. 45 hari jadwal libur yang dimilikinya berkurang menjadi setengahnya saja. Hal ini disebabkan karena pondok membutuhkan dirinya sebagai bagian administrasi. Maka apabila pengajar di bagian administrasi ingin libur mereka harus membagi shift menjadi dua bagian. Shift pertama akan mendapatkan jatah 23 hari libur di awal liburan terhitung mulai dari 10 hari sebelum Ramadhan hingga pertengahan Ramadhan berlangsung. Sementara shift dua baru bisa mendapatkan jatah libur setelah shift pertama menyelesaikan liburannya. Mereka baru bisa berlibur di sisa 22 hari yang mereka miliki. Nada termasuk pengajar yang memilih shift kedua. Walau memiliki hari yang lebih sedikit dari shift pertama setidaknya ia bisa merasakan yang namanya lebaran di kampung halaman daripada harus merayakan lebaran di pondok.

Pagi hari ketika Nada sedang berlibur di rumahnya, ia dikejutkan oleh datangnya suara yang berasal dari arah pintu masuk. Kebetulan, Nada sedang berada di dapur guna mencuci piring untuk membantu pekerjaan ibunya yang sedang memasak sarapan untuk anggota keluarga terkecil.

“Nada coba bukain pintunya” kata Ibu sambil mengaduk - ngaduk sup yang sedang ia buat.

“Iya bu” kata Nada sambil menyalakan keran untuk membersihkan tangannya yang terkena sabun.

Nada berjalan dari dapur menuju pintu masuk melewati ruang tamu, kebetulan disana ada ayah yang juga sedang berjalan ke arah yang sama untuk membukakan pintu bagi tamu yang sedang berkunjung ke rumah mereka.

“Biar ayah aja” kata Ayah memegangi gagang pintu masuk.

“Iya ayah” kata Nada hendak kembali ke dapur untuk membantu pekerjaan ibunya kembali. Saat melewati Ruang tamu, ia menemukan adek kecilnya yang sedang bermain sambil menonton acara kartun pagi. Nada tersenyum melihat tawa yang mengembang dari adek bungsu yang dimilikinya. Dalam hati, ia pun berharap kelak saat menikah nanti bisa mendapatkan buah hati yang mampu jadi penyejuk mata dan menentramkan hatinya kelak.

Pintu terbuka membuat Nada menengok penasaran siapa tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya pada jam delapan pagi.

Seorang pria, bertubuh tegap, tampan dan memiliki wajah yang akrab di pandangan Nada muncul didepan pintu rumahnya.

Hahhhh... Ustadz Rendy ?

Nada shock saat melihat seniornya itu berkunjung ke rumahnya. Buru - buru Nada bersembunyi ke dapur sambil memperhatikan diam - diam. Keperluan apa yang Rendy miliki sehingga membuatnya mau berkunjung ke rumahnya ?

Dari balik tembok, Nada mengintip kejadian yang terjadi di ruang tamu. Ayah dan Rendy tertawa, kemudian terlibat pembicaraan serius, Nada pun dapat melihat keseriusan dari mata Rendy yang terlihat tulus. Jantung Nada berdebar semakin kencang bertanya - tanya apa yang sebenarnya mereka bicarakan disana.

“Kamu mengenalnya nak ?” kata Ibu dari belakang tiba - tiba mengejutkan Nada.

“Ihhh Ibu kaget tauuu.... Jangan tiba - tiba dong nanyanya” kata Nada nyaris jantungan.

“Hahhaa kamu ini nak... Pinter yah milih calon menantu buat ibu” kata Ibu menggoda Nada.

“Ihh apaan sih bu... Aku kan gak tau apa yang ustadz Rendy mau disini” kata Nada dengan wajah memerah.

“Ohhh dia ustadz ? Kenalan kamu di pondok yah ? Makin sayang deh ibu sama kamu” kata Ibu yang membuat Nada tersenyum malu - malu,

“Ibu ihhhh !!!!” kata Nada kesal di goda oleh ibunya.

“Nadaaa !!! Sayangggg !” panggil Ayah yang membuat jantung Nada berdegup kencang.

“Tuh dipanggil Ayah... Kayaknya dugaan ibu benar deh” kata Ibu yang membuat Nada semakin gugup.

“Iya Ayah” kata Nada menjawab sopan panggilan ayahnya.

Nada melangkah dengan malu - malu ketika melewati adeknya yang masih menonton acara televisi pagi. Kemudian ia pun sampai di kursi ruang tamu tanpa berani mengangkat kepalanya karena malu.

“Sini duduk nak... Disamping ayah” kata Ayah membuat Nada menuruti permintaannya. Rendy tersenyum menatap kecantikan Nada di pagi hari. Meski berpenampilan sederhana tanpa adanya tambahan make up dan kosmetik lainnya. Nada sudah terlihat cantik dengan rok panjang lebar yang membalut kakinya juga kaus longgar yang ia beli di pondok pesantren. Tak lupa sebuah hijab berwarna merah muda yang memiliki warna selaras dengan pakaiannya melengkapi keindahan dari bidadari indah yang sedang duduk di hadapannya.

“Kamu mengenalnya kan nak ?” tanya Ayah.

“Kenal Ayah” jawab Nada lirih menundukan kepalanya.

“Alhamdulillah... Tadi Ayah udah sempat mengobrol dengan nak Rendy... Dari pembicaraan kita tadi, Sepertinya Nak Rendy serius ingin melamar kamu untuk menjadi kekasih hatinya... Secara pribadi, Ayah sih setuju apalagi dengan latar belakang yang dimiliki olehnya... Sekarang keputusannya ada pada kamu nak... Mau untuk menerima lamaran Rendy untuk menjadi istrinya kelak ?” tanya Ayah yang membuat jantung Nada terasa seperti berhenti berdetak.

Nada reflek mengangkat kepala menatap wajah Ayahnya. Tak sadar sebuah senyum kebahagiaan mengembang di wajahnya. Ia benar - benar bahagia, senang karena apa yang dirasakan oleh hatinya rupanya dirasakan pula oleh Rendy. Tapi karena saking gugupnya, lidah Nada sampai kelu tak dapat menjawab pertanyaan yang mudah itu.

“Itu... Ituuu.. Anuuuu” jawab Nada. Karena malu, Ia sampai tersenyum menundukan pandangannya. Sifat malu - malu yang Nada tunjukan membuat Rendy pun tersenyum gemas melihat ekspresi seorang wanita yang hendak dinikahinya.

“Hahahhaha kok malu - malu sih nak... Gimana kamu mau menerima lamaran nak Rendy ?” tanya Ayah kembali.

“Hehhee itu... Aku ikut Ayah aja” jawab Nada yang menandakan ia setuju untuk menerima lamaran Rendy menjadi kekasihnya.

Alhamdulillah anak ayah sudah besar yah... Baik saya akan menerima lamaran kamu untuk menikahi putri saya” kata Ayah menjabat tangan Rendy sebagai bukti terjadinya kesepakatan serah terima amanat.

“Alhamdulillah terima kasih yah pak” jawab Rendy ikut senang mendengarnya.

“Gak usah manggil pak... Mulai sekarang kamu bisa memanggil saya dengan sebutan ayah” kata Ayah.

“Hahhaha iya ayah... Terima kasih sudah menerima saya menjadi menantu ayah” kata Rendy tersenyum.

Nada masih belum bisa mengangkat kepalanya, ia hanya bisa menyembunyikan senyum yang tak tertahan di wajah. Ia merasa bersyukur, ia bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seorang lelaki yang ia cintai.

“Kalau gitu Ayah mau ke belakang dulu yah... Mau minta ibu buatkan tehnya dulu... Haduh mana sih ibu kok gak kesini - kesini” tanya Ayah gelisah karena merasa tidak enak dalam menyambut kedatangan calon menantunya.

“Ehhh gak usah yah... Sekarang kan bulan puasa” kata Rendy mengingatkan.

“Ehhh iya yah... Hahahha aduh jadi malu... Kalau gitu sebentar ayah mau ke belakang dulu” kata Ayah yang membuat Rendy dan Nada tertawa.

“Assalamualaikum” sapa Rendy ketika ayah sudah pergi ke dapur.

“Walaikumsalam” jawab Nada malu - malu.

“Hahahha antum lucu yah kalau malu - malu” kata Rendy begitu saja yang membuat Nada semakin malu.

“Ustadz ihhhh... Kok gak bilang - bilang kalau mau main ke rumah” kata Nada tersenyum malu.

“Kan mau buat kejutan untuk antum Nada... Sekaligus mau menunjukan perasaan ana yang sebenarnya ke antum... Juga mau membuktikan kalau hati ana ini tulus ingin menikahi antum tanpa menunjukan kata - kata dan murni dengan adanya tindakan” kata Rendy yang membuat Nada terharu lagi senang.

Rendy dan Nada mengobrol, mencoba untuk menyesuaikan diri untuk meredam rasa malu yang mereka miliki. Nada pun tertawa melihat sikap Rendy yang rupanya juga gugup seperti dirinya. Ditengah pembicaran itu, Rendy pun mulai bertanya dengan ekspresi wajah yang serius.

“Oh iya Nada... antum masih menyimpan sapu tangan yang pernah ana berikan dulu ?” tanya Rendy.

“Maksud antum ini ?” tanya Nada mengeluarkan sapu tangan itu dari saku roknya.

Antum membawanya ?” tanya Rendy dengan ekspresi senang.

“Iya dong... Ana selalu membawanya di saku... Kan antum yang minta untuk menjaganya” kata Nada malu - malu yang membuat Rendy semakin senang.

“Sebenarnya sejak hari itu dimana ana meminta antum untuk menjaga sapu tangan itu... Ana sudah memendam perasaan ini ke antum loh Nada.... Cuma ya itu... Ana terlalu malu untuk mengatakannya.... Ana juga takut kalau antum akan menolaknya... Makanya ana meminta antum untuk menjaga sapu tangan itu agar kelak saat waktunya tepat... Ana akan mengambilnya sebagai bukti dari ana kalau ana telah sukses untuk mewujudkan janji ana” kata Rendy yang membuat Nada terharu.

“Janji antum ?” tanya Nada penasaran.

“Iya janji kepada diri ana sendiri untuk melamar diri antum kelak untuk jadi istri ana” kata Rendy yang membuat jantung Nada berdebar kencang.

“Jadi antum mau mengambil kembali sapu tangan ini ?” kata Nada menunjukannya sambil tersipu malu.

“Tidak cuma sapu tangannya, tetapi juga pemilik hati dari sapu tangan yang sedang antum pegang” kata Rendy yang membuat Nada tersenyum malu mendengarnya.

“Ustadz ihhhh... Jago gombal juga yah ternyata” kata Nada cemberut manis.

“Wahhh wahh wahhh sepertinya kalian sudah gak malu - malu lagi yah” kata Ayah tiba - tiba yang mengejutkan mereka berdua.

“Hehehe bukan seperti itu ayah” kata Rendy malu - malu. Nada pun hanya diam sambil menyembunyikan senyum manisnya.

“Jadi kapan rencananya kamu mau menikahi anak saya ?” kata Ayah kembali bergabung setelah mendiskusikan hal ini dengan istrinya di dapur.

“Kalau bisa... Saya ingin menikahi Nada di bulan Syawwal nanti” kata Rendy yang membuat Nada terkejut.

“Bulll... Bullan Syawwal ? Beberapa minggu lagi dong ? Apa gak kecepetan ustadz ?” tanya Nada terkejut.

“Apa kecepetan ? Bukannya lebih cepat lebih baik ?” tanya Rendy.

“Iya betul... Itu gak kecepetan kok nak... Itu pas” kata Ayahnya mendukung.

“Iya seperti itu...” Kata Rendy tersenyum yang senyumannya masih terus terkenang di pikiran Nada sampai sekarang.

“Jadi gimana nak ? Kamu setuju ?” tanya ayahnya.

“He’em” jawab Nada tersenyum sambil mengangguk malu.

MASA SEKARANG

“Kenapa mas ? Kenapa mas tiba - tiba berubah seperti ini ? Kenapa mas tega sampai mau melakukan hal itu ke ana ?” kata Nada di tengah perjalannya entah kemana.

Suasana pondok yang sedang memasuki jam mengajar pagi. Membuat pondok terasa begitu sepi. Ia pun leluasa untuk menitikan air matanya yang tak mampu ia tahan. Ia berjalan, ia melangkah untuk mendamaikan hatinya yang terasa berat. Ia pun menatap langit biru diatas sana, Sebuah sapu tangan yang sangat berharga baginya kembali ia keluarkan guna mengusap air matanya.

Masa itu ? Masa indah dimana awal dirinya PDKT bersama Rendy kembali terbayang di pikirannya. Sifat polos Rendy yang begitu malu - malu dalam menunjukan rasa cintanya padanya membuat Nada merasa rindu. Ia rindu akan sosok Rendy yang dahulu.

“Rachel ! Ustadzah Nisa !” kata Nada teringat dua sosok yang sering membantunya di masa awal pernikahannya.

Ana harus datang ke bagian penggerak bahasa sekarang” kata Nada mempercepat langkah kakinya.


*-*-*-*


Tokk tokkk tokkk !

“Assalamualaikum” sapa Nada mengetuk pintu kantor bagian penggerak bahasa.

Walaikumsalam... Iya tunggu sebentar” kata seseorang dari dalam.

“Nada ? Anti kenapa ?” tanya Rachel saat melihat wajah Nada yang tampak sembap.

Nada bergegas memeluk sahabatnya. Ia pun menumpahkan seluruh rasa kecewa terhadap suaminya pada Rachel sahabatnya. Kebetulan di dalam tidak cuma ada Rachel, melainkan juga ada ustadzah Khoirunnisa atau yang akrab di panggil dengan ustadzah Nisa. Ustadzah Nisa merupakan ustadzah senior berusia 28 tahun. Ia sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia dua tahun. Ia telah menikah dan tinggal di asrama khusus bagi pengajar yang sudah menikah. Ya bagi pasangan pengajar yang sudah menikah, mereka akan diberikan asrama khusus yang tempatnya berada di dekat kompleks perumahan pengajar senior. Pengajar senior merupakan sebutan bagi beberapa kerabat Kiyai Jamal yang rata - rata berusia empat puluh sampai lima puluhan. Selain mereka, pengajar senior juga disematkan pada para pengajar yang sudah menikah dan bertempat tinggal di dalam pondok pesantren ini seperti pasangan Nada & Rendy dan juga pasangan Haura & Hendra.

Begitupula dengan Ustadzah Nisa disini, parasnya yang jelita, matanya yang indah ditambah dengan sifat keibuan yang ia miliki membuat beberapa ustadzah junior seperti Rachel dan Nada begitu bergantung pada nasihatnya. Apalagi tempat tinggal Nisa berada di sebelah Nada. Sama seperti asrama pada umumnya, tiap tempat tinggal hanya dipisahkan oleh dinding dan sekat. Bedanya ruangan di dalam asrama pasangan lebih luas daripada ruangan yang ada di dalam asrama pengajar maupun asrama santri.

“Nada ? Antum kenapa ?” tanya Nisa mendekati Nada yang terlihat sembap.

“Ustadzah... Huhuhuhuh” kata Nada merengek memeluk Nisa untuk meminta kenyamanan darinya. Rachel melihatnya sambil memasang ekspresi wajah iba. Ia begitu penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya.

“Nada cup cup cup.. Antum kenapa ? Kenapa antum nangis begini sih ?” kata Nisa memeluk tubuh Nada untuk menenangkannya.

Nada masih belum bisa berbicara. Nisa pun memeluknya, mengusap punggungnya juga menyebutkan berbagai kata penenang untuk meredakan air matanya yang masih jatuh membasahi wajahnya.

Ana lagi ditimpa cobaan us” kata Nada akhirnya mulai berbicara.

“Cobaan... Cobaan apa Nada ?” kata Nisa.

“Itu us... Ana berbeda pandangan dengan suami ana” kata Nada sesenggukan.

“Berbeda pandangan ? Kok bisa sampai nangis kejer gini sih ?” tanya Nisa penasaran.

“Iya us... Ini beda... Masalahnya berat pokoknya us... Ana gak bisa bilang” kata Nada berusaha menenangkan diri. Rachel pun hanya melihat. Ia tak bisa membantu karena dirinya belum memiliki pengalaman setelah menikah.

“Udah udah... Antum tenang dulu yah... Istighfar dulu... Mari sini duduk sebentar” kata Nisa mengajaknya duduk. Kebetulan di dalam kantor bagian penggerak bahasa hanya ada Nisa dan Rachel seorang. Ustadz Fauzan dan ustadz Wahyu yang juga satu bagian dengan mereka berdua sedang ada jam mengajar di kelas.

Nada pun duduk di kursi ruang tamu, begitupula dengan Nisa dan Rachel yang tampak khawatir dengan keadaan Nada dihadapannya. Sebagai seorang rekan kerja sekaligus teman, mereka berdua berniat untuk menolong Nada yang sedang membutuhkan bantuan seseorang.

“Jadi... Boleh diceritakan permasalahannya gimana ?” kata Nisa mulai berbicara dari hati ke hati.

“Ini sesuatu yang berat us... Ana gak yakin bisa bilang ini ke antum” kata Nada merasa bingung untuk menjelaskannya.

“Kalau anti gak mau bilang... Gimana kita bisa bantu Nada ?” tanya Rachel.

“Entahlah cel... Ana juga bingung” kata Nada.

“Sssttt Rachel jangan gitu... Beri dia waktu” kata Nisa.

“Gini aja... Antum gak perlu menceritakan semuanya ... Antum bisa cerita di bagian yang antum ingin cerita... Kalau ada sesuatu yang bersifat rahasia seperti aib dari keluarga yang ingin antum jaga.... Antum bisa merahasiakannya kok.” Kata Nisa memberi masukan.

“Anuuu. . . . . “ kata Nada masih bimbang harus memulainya dari mana.

“Ini soal hadiah pernikahan pertama kami us...” kata Nada memberanikan diri.

“Iya terus ?” kata Nisa penasaran. Rachel pun diam memasang telinganya.

“Mas Rendy mau aku . . . . . . . .” kata Nada berkata jujur mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi.

Astaghfirullah... Beneran ?” kata Nisa dan Rachel berucap nyaris berbarengan karena shock.

“Iya... Beneran” kata Nada dengan lirih.

DI DALAM KANTOR BAGIAN ADMINISTRASI

“Jadi semua paket sudah terdata yah pak !” kata Rendy setelah memeriksa semua paket yang dikirim oleh pak Heri.

“Iya pak ustadz sudah semua... Terima kasih” kata Pak Heri hendak pergi kembali menuju mobilnya.

“Oh yah ustadz mengenai masalah itu” kata Pak Heri berbalik menatap Rendy.

“Iya bagaimana ?” tanya Rendy.

“Pak ustadz masih mau mewujudkannya kan ?” kata Pak Heri kembali bertanya.

“Entahlah pak... Kalau istri saya tidak mau... Ya gimana lagi... Lebih baik jangan” kata Rendy pesimis.

“Loh kok berubah gitu... Jangan dong... Istri ustadz wajar menolak karena apa yang Ustadz Rendy inginkan itu sesuatu yang baru baginya... Coba ditekan terus... Paksa... Nanti pelan - pelan juga mau kok” kata Pak Heri terus memotivasi Rendy.

“Ya kita lihat aja nanti pak gimana akhirnya” kata Rendy tak bisa menjanjikan sesuatu.

“Wakakkaka... Semangat yah pak... Saya ikut mendoakan semoga pak Rendy bisa mewujudkan hal itu ke ustadzah Nada” kata Pak Heri terkekeh - kekeh kemudian pergi menaiki mobil pengantar paketnya.

“Iya” jawab Rendy agak ragu.

Rendy pun menatap pak Heri yang bergegas masuk ke dalam mobilnya, diam - diam ia pun memeriksa hape yang berisi foto pernikahan mereka berdua. Ia terlihat dilema dengan keputusan yang sudah ia buat. Antara mau tapi ragu. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia buat kedepannya.

“Maafkan ana... Nada... Sepertinya ana bukan suami yang baik buat antum” kata Rendy dengan nada lirih.

Sementara Pak Heri telah melajukan mobilnya sambil bersenandung senang. Ia menyalakan musik dari hapenya guna menikmati perjalanan pulang menuju kantornya.

“Ustadzah Nada ohh Ustadzah Nada... Sebentar lagi aku pasti bisa bercinta denganmu !” kata Pak Heri sambil menatap foto Nada yang sedang tertidur dalam keadaan setengah telanjang. Pak Heri sudah mencetaknya dan entah sudah berapa kali foto itu telah dinistakan olehnya dengan siraman sperma yang membasahi foto aib itu. Ia kembali memasukannya ke saku guna fokus menatap jalanan yang ada di hadapannya.


*-*-*-*


“Ya pokoknya gitu ustadzah... Ana juga bingung entah kenapa mas Rendy jadi begitu... Mohon doanya yah us semoga mas Rendy bisa diberi hidayah untuk kembali” kata Nada berkata pada Nisa.

“Iya Nada... Antum yang sabar yah... Kami pasti akan membantu antum lewat doa... Antum yang kuat yah... Pasti antum bisa melalui semua cobaan ini” kata Nisa memberikan semangat pada Nada.

Anti pasti bisa... Maaf kalau masalah ini ana gak bisa banyak membantu... Ana gak berpengalaman soalnya ahahahhaha.... Tapi yang ana tahu... Nada tuh orangnya kuat makanya ana yakin pasti anti bisa melalui semuanya” kata Rachel juga memberikan kekuatan pada Nada.

“Hehehe syukron yah buat masukannya... Iya ana akan berusaha kuat untuk melalui semua cobaan ini” kata Nada izin pamit. Nada pun pergi untuk kembali ke bagian administrasi.

Gludug gludug gludug !!!

“Ehhh itu suara gludug yah ? ana mau angkat jemuran dulu yah us” kata Rachel beranjak pulang ke asrama untuk mengangkat jemurannya.

Naam Rachel” kata Nisa sambil memeriksa hapenya saat menerima pesan masuk dari seseorang.

Senior... Tolong temui aku sekali aja... Kenapa kamu masih terus menghindar dariku ? Apa kamu membenciku ? dariku Komandan boom.

Kata Nisa setelah membaca pesan masuk tersebut. Buru - buru ia menghapus pesan yang sering ia dapatkan akhir - akhir ini dari seseorang yang mengaku sebagai Komandan boom.

“Komandan ? Kenapa dia muncul lagi sih ?” kata Nisa merasa risih.

Sementara itu di jemuran samping asrama pengajar putri. Rachel buru - buru berlari untuk mengangkat jemuran yang sudah ia cuci tadi pagi. Cuaca yang mendung membuat Rachel khawatir kalau hujan akan mengguyur pondok sebentar lagi.

Saat ia mengangkat satu demi satu pakaian yang telah dicucinya, ia menemukan sesuatu yang aneh pada salah satu pakaiannya.

“Ini ? Kemeja ini ? Kok tiba - tiba ada disini ?” kata Rachel bingung. Saat ia mencium aromanya, baunya pun tidak sedap membuat Rachel segera mengambilnya dan memasukannya ke dalam ember yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Nada mengernyitkan dahinya sambil mengangkat semua pakaian yang telah dicucinya.

“Kok kemeja ini bisa tiba - tiba disini sih ?” kata Rachel sambil merendam kemeja miliknya menggunakan pewangi untuk menghilangkan aroma busuk yang menyengat dari kemeja miliknya.

Sementara itu dari kejauhan tampak seorang pria paruh baya tertawa melihat ekspresi Rachel yang kebingungan disana. Ia pun memegangi sapu dan cikrak yang ada di sampingnya untuk melanjutkan tugasnya sebagai tukang bersih - bersih kelas.

“Huehuehuehueh” tawanya.


*-*-*-*


Sesuai dugaan, di siang harinya tampak langit yang sudah berubah jadi gelap menurunkan butiran hujan yang jatuh membasahi bumi pesantren. Hujannya memang tidak deras, tapi ketika seseorang berusaha berjalan dibawahnya tentu pakaian yang dikenakannya akan berubah jadi basah kuyup.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul dua siang. Tapi tidak ada tanda - tanda langit akan berubah jadi terang. Berang ? Mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh Lutfi di seberang. Kesalahan yang telah dibuatnya di kelas mengakibatkannya harus memenuhi panggilan Hanna ke kantor pengasuhan. Tadi pagi ia merasakan kantuk yang amat sangat karena malamnya, ia sengaja begadang demi memainkan hape yang sudah ia selundupkan di dalam almari pakaian.

"Hahhh merepotkan... Andai semalam aku gak ketagihan nonton filmnya Meguri" Kata Lutfi merasa menyesal. Bukan menyesal karena menonton film - filmnya melainkan ia menyesal karena waktu begadang itulah ia jadi mengantuk di pagi hari, membuatnya harus memenuhi panggilan ustadzah Hanna di siang harinya.

Karena tidak ingin mendapatkan masalah lagi, ia pun menerjang hujan menggunakan sisi bagian kepalanya yang tak berambut lagi. Rasanya segar ketika diguyur menggunakan air hujan yang langsung mengenai kulit kepalanya. Rasanya nyaman, tenang sekaligus menyenangkan. Tak berselang lama dirinya pun tiba di depan kantor bagian pengasuhan dalam keadaan basah tapi tidak kuyup - kuyup amat.

Tokkk tokk tokk !

"Assalamu'alaikum" Kata Lutfi mengetuk pintu.

"Walaikumsalam tunggu sebentar" Kata seseorang dari dalam.

Pintu terbuka menampilkan seorang ustadz yang tinggi, tampan dengan suaranya yang jantan. Lutfi kaget seketika saat melihatnya. Ia tak menduga bahwa ustadz yang sempat dilihatnya saat muwajjah malam kala itu merupakan ustadz dari bagian pengasuhan.

"Antum nyari siapa ?" Tanyanya yang membuat Lutfi gugup.

"Ustadzah Hanna ada ?" Tanya Lutfi.

"Ustadzah Hanna... Ada yang nyariin antum" Katanya.

"Siapa ustadz V ? Ohh suruh masuk aja kalau gitu" Kata Hanna saat melihat sosok Lutfi mengintip dari balik pintu masuk.

V membukakan pintu lebar - lebar untuknya sehingga Lutfi bisa masuk ke dalam. Tampak Haura juga ada di dalam mengetikan sesuatu di layar komputernya. Hanna yang duduk di sebelahnya pun menatap Lutfi dengan tatapan dingin.

V berjalan melintas di belakang Lutfi sambil melirik sejenak mengamati apa yang sebenarnya terjadi. V pun sampai di mejanya, sambil tetap mengawasi ia berpura - pura mengerjakan sesuatu di depan layar monitornya.

"Antum tahu kan kenapa antum bisa dipanggil kesini ?" Kata Hanna memasang ekspresi serius. Haura yang ada di sebelahnya mencoba untuk tidak memperdulikan. Sebagai ustadzah yang mempunyai banyak pengalaman, ia telah sering memarahi para santri/santriwati yang memiliki masalah dengannya.

"Tau ustadzah" Jawab Lutfi lirih.

"Bisa dijelaskan apa itu ?" Kata Hanna.

"Tidur di kelas" Kata Lutfi singkat.

"Lalu ?" Kata Hanna kembali bertanya.

"Tidak memperhatikan" Kata Lutfi menjawab seenaknya.

"Lalu ?" Tanya Hanna kembali.

"Lalu ? Apalagi ? Gak ada ustadzah" Jawab Lutfi.

"Lalu ?" Tanya Hanna sekali lagi.

"Lalu ? Apa sih ustadzah... Ana gak ngerasa ada sesuatu kesalahan lagi" Kata Lutfi.

"Antum gak sadar ? Apa pura - pura gak sadar ?" Kata Hanna ingin membuat Lutfi menyadari kesalahannya.

"Apa sih ustadzah... Jangan main kode - kodean lah... Ana gak paham apa yang ustadzah maksudkan" Kata Lutfi yang membuat Hanna kesal, telinga Haura pun panas saat mendengarnya sedangkan V terus diam mengawasinya.

"Itu kesalahan antum... Antum tidak bisa menjaga etika bahkan ketika di depan ustadzah... Sudah banyak catatan buruk yang antum miliki di pondok ini... Dua kali tidak naik kelas, Jarang mengikuti muwajjah, bahkan kami pernah menemukan sebuah komik yang sempat antum selundupkan di belakang asrama... Sampai kapan antum akan nakal terus seperti ini Lutfi !" Kata Hanna sambil menarik nafasnya karena tidak mau terbawa emosi.

“Kenapa sih ustadzah ? Ana kan cuma tidur dikelas ! Kenapa antum malah ngungkit masalah - masalah sebelumnya ?” kata Lutfi kesal.

Ana gak ngungkit Lutfi... Ana cuma mengingatkan antum ! Kalau antum itu punya banyak catatan kesalahan di pondok ini ! Ana gak minta apa - apa ke antum, melainkan biar antum cepat sadar dan tidak mengulangi kesalahan lagi... Kasian orangtua antum yang udah biayain antum di pondok ini Lutfi !” kata Hanna menarik nafasnya dalam - dalam mencoba untuk bersabar.

“Urusan orangtua ana yah urusan orangtua ana... Kenapa antum ikut - ikutan us !” kata Lutfi keras kepala. Dikala Hanna nyaris berputus asa ketika menghadapi Lutfi, Haura pun ikut bangkit dari kursinya karena tidak tahan mendengar sikap Lutfi yang seenaknya dihadapan rekan sesama ustadzah.

Antum bisa gak berbicara dengan lebih sopan lagi ?” kata Haura.

“Kenapa antum ikut - ikutan ? Ana akan berbicara sopan kalau antum memang pantas untuk disopani... Tapi kalau sikap antum begini... Ya ana juga males buat berbicara sopan ke antum” kata Lutfi yang membuat Haura semakin naik darah.

“Maksud antum ? Kami gak pantas untuk menerima sikap sopan dari antum ?” tanya Haura.

“Buu... Bukan seperti itu !” kata Lutfi yang panik saat melihat amarah di wajah Haura.

“Lalu apa ? Antum itu udah kelas enam... Antum itu santri senior disini... Harusnya sikap dan etika antum mencerminkan apa yang sudah antum pelajari selama di pondok... Tapi kenapa sikap antum seperti ini ? Apa aja yang sebenarnya sudah antum lakukan selama di pondok ?” kata Haura.

“Ustadzah Haura... Tenang ! Biarkan ana yang mengurusnya” kata Hanna yang ada disebelahnya.

“Tul... Ngapain juga antum ikut - ikutan... Ana gak punya urusan sama antum” kata Lutfi semakin menantang.

Haura diam, Haura mencoba menenangkan diri, Matanya memejam sambil menghela nafasnya tanpa henti. Ini sungguh berat, ia tak sanggup untuk menahan amarah yang sudah memenuhi hatinya. Ia kesal, tangannya pun gatal. Ia pun berdiri mendekati Lutfi kemudian mengayunkan telapak tangannya menuju pipi.

Plakkkkkkkkk !!!!!

Lutfi terkejut, begitupula dengan Hanna, V yang berada tak jauh darinya hanya diam mengamati.

“Jaga etika antum ketika berbicara didepan ustadzah !” kata Haura bergegas kembali menuju mejanya.

Lutfi marah, ia tak terima dengan tamparan keras yang ia rasakan di pipi. Ia melirik Hanna yang sedang lengah mencoba menenangkan Haura. Tangannya pun meraba - raba meja yang ada didepannya untuk mencari sesuatu yang bisa ia genggam. V mengernyitkan matanya ketika melihat perbuatan yang akan dilakukan oleh Lutfi.

“Apa yang mau antum lakukan ?” kata V yang tiba - tiba sudah ada di samping Lutfi sambil menahan tangannya yang sudah memegangi gunting. Hanna dan Haura terkejut saat melihat niatan buruk yang hendak dilakukan oleh Lutfi.

“Apa yang antum lakukan ? Antum mau menusuk ustadzah dari belakang ?” tanya Haura tak percaya. Lutfi hanya diam tanpa membalas jawaban dari Haura.

“Lepaskan sekarang.... ” kata V mencengkram lengan Lutfi semakin kuat.

“Ahhhhh sakit...” teriak Lutfi sambil memegang tangannya menggunakan tangan satunya.

“Lepaskan atau . . . . !!!” Lutfi bergegas melepaskan gunting itu dari tangannya sebelum V menyelesaikan kalimatnya. Lutfi merasakan sakit di tangannya. Rasanya darah yang mengalir ke tangannya terhambat oleh cengkraman V disana. Haura pun mundur ketakutan melihat tingkah laku santrinya yang sudah keterlaluan. Hanna juga demikian, ia berada disamping Haura karena sama - sama takut melihat ekspresi Lutfi yang tampak kesetanan.

V pun melepaskan cengkraman di tangan Lutfi. Tanpa pernah melihat wajahnya, V hendak kembali menuju mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya.

Tiba - tiba . . . . .

“Apa ?” kata V saat melihat Lutfi berlari mendekat ke arah Hanna dan Haura yang membuat mereka berdua berteriak.

“Aaarrgghhhhh sakiitttt !!” kata Lutfi saat tangan kirinya tertinggal dipegangi oleh V dari belakang. Tangan Lutfi dipelintir oleh V ke belakang punggungnya kemudian tangan satunya mendorong kepala Lutfi ke arah meja yang biasa ditempati oleh Haura hingga wajahnya itu terhantam ke meja dengan kuat.

“Aarrgghhhhhhh” teriak Lutfi.

Ana udah bilang kan untuk melepas benda tajam itu ? Atau antum mau mencobanya dulu biar antum tau gimana rasanya ditusuk pake benda itu ?” kata V.

“Hah ? Lepaskan ? Ana gak ada urusan sama antum ! Ana cuma mau memberikan pelajaran ke ustadzah sok - sokan yang ikut mencampuri urusan orang lain !” kata Lutfi yang membuat V kesal.

“Maksud antum ? SIAPA ? HAH !!!” tanya V dengan nada tinggi bersiap - siap melayangkan bogem mentahnya ke arah pipi Lutfi. Haura dari kejauhan melihat sikap V yang sepenuhnya berubah. Ia seperti baru pertama kali melihat ekspresi V seperti ini. Wajah memerah, mata melotot, urat - urat syarafnya pun menonjol keluar dari balik kulit putihnya. V sepenuhnya murka dikuasai oleh amarah yang melanda seluruh jiwa.

V . . . . . V . . . . . Tolong jangan lakukan !

Haura hanya bisa memohon dalam hati melihat sikap V yang bersiap - siap untuk meninju Lutfi yang sudah ditekannya ke atas meja kerjanya.

“Itu ustadzah Ha . . . . .”

Waktu terasa lambat bagi Haura yang menyaksikan tinju V bergerak semakin dekat dan cepat menuju ke arah pipi Lutfi.

“Ur . . . . .. “

Haura pun bergegas menuju ke arah V berusaha untuk menahan V agar tidak memukul santrinya.

“raaa” kata Lutfi menyelesaikan kalimatnya.

“TOLONGG JANGANN LAKUKAN USTADZ !!!” teriak Haura karena tidak sempat mendekati V yang sudah mengayunkan tinjunya.

V langsung diam menghentikannya ketika mendengar suara Haura. Lutfi yang sedari tadi tidak menyadari kalau V akan segera meninjunya terkejut saat matanya melirik ke arah V. Sebuah bogem mentah dengan jarak 7 cm nyaris mengenai pipinya. V yang kesal tetap melayangkan bogem mentah itu tapi tidak ke arah Lutfi melainkan ke arah sisi meja yang berada di samping kepala Lutfi berada.

Duaarrr !!!

Mata Lutfi meloncat nyaris keluar dari tempatnya. Ia dapat merasakan getaran kuat di meja itu ketika bogem V keluar menghantamnya. Ia merasa bersyukur wajahnya tidak menjadi korban kemurkaan V.

“Sudah ustadz... Biarkan Lutfi pergi ! Ana udah memaafkannya” kata Haura yang membuat V melepaskan nasib santri kurang ajar itu.

“Arrgghhhh” kata Lutfi memegangi lengannya yang terasa sakit setelah dipelintir sekian lama oleh V.

“Sudah antum cepat keluar dari sini... Besok - besok jangan diulangi lagi !” kata Hanna yang bingung mengucapkan apa lagi setelah melihat ekspresi wajah V yang terlihat begitu murka.

“Cihhhh merepotkan aja !” kata Lutfi menyeletuk sambil melangkah keluar dari ruangan kantor pengasuhan.

“Apa yang antum lakukan V ! Antum mau dikeluarkan ? Ada aturan tak tertulis di pondok ini untuk tidak menggunakan kekerasan ketika menghukum santri !” kata Haura mengingatkan.

Ana gak tahu aturan itu... Dan ana gak peduli kalau melihat santri itu bersikap kurang ajar lagi ke antum !” kata V berpaling kesal.

“V tolong ! V lihat sini... Ana sedang bicara ke antum !” kata Haura saat melihat V mengabaikannya dan memilih pergi untuk duduk ke meja kerjanya lagi.

V terlihat begitu emosi, nadanya meledak - ledak. Kepalanya terasa panas dan jemarinya terasa gatal untuk memberikan pelajaran pada santri kurang ajar itu. Mata V terlihat menatap tajam ke arah depan. Ia melanjutkan perjalanannya menuju kursinya untuk meraih sebotol air yang tersedia disamping monitor komputernya.

“Lihat sikap dia Haura... Dia udah gak ada etika lagi... Bahkan dia sudah memegangi gunting bersiap untuk menusuk antum dari belakang !” kata V ngotot tanpa menatap ke arah Haura.

Saat V menoleh, ia melihat tatapan mata Haura yang sudah berkaca - kaca. Perlahan hati V pun melunak dan tersadar dari lamunan emosi yang sudah menguasai diri. Haura berjalan mendekat ke arah V.

“Arrgghhhhhhh” rintih V dengan lirih.

“Tolong jangan lakukan hal itu lagi V... Aku gak mau kamu dikeluarkan dari sini... Aku ingin melihatmu lagi disini esok hari dan terus selamanya... Lihat, aku gapapa kok... Aku baik - baik aja... Jadi tolong jangan melakukan sesuatu yang kelewatan lagi yah !” bisik Haura di dekat V. Hanna yang berada di kejauhan tak mendengarkan percakapan mereka. Ia hanya iba melihat sikap Haura yang begitu peduli pada rekan kerja barunya.

“Maaf... Tapi syukurlah kamu gapapa Ra !” kata V sambil menepuk bahu Haura yang membuat Haura menangis sesenggukan.

Hujan di luar sana masih rintik - rintik berjatuhan. Derasnya nyaris sama dengan air mata yang sedang Haura keluarkan. Rasa kepedulian yang Haura tampakan membuat hati V senang ketika kehadirannya dibutuhkan. V pun ingin membalasnya, tapi sayang karena keberadaan Hanna yang ada di belakang membuatnya ragu untuk melakukan.

Suasananya pun hening hanya terdengar suara rintik hujan yang terdengar dari luar ruangan. Tidak ada satupun yang berbicara di dalam ruang pengasuhan. Mereka tampak sungkan untuk memulai sebuah obrolan. Mereka pun kembali ke meja masing - masing untuk menyelesaikan tugas bulanan. V melirik Haura sejenak, tampak ekspresi wajahnya masih shock dengan kejadian yang terjadi barusan.

“Ehmmm ana mau ke kamar mandi dulu yah” kata Hanna merasa canggung dengan suasana yang telah terjadi. Ia sedikit menyesal karena dialah yang sudah memanggil Lutfi kemari. Hanna merasa bersalah membuatnya ingin pergi untuk menyendiri sejenak hingga suasana hatinya kembali tenang seperti biasa.

Saat Hanna pergi, V bergegas mendekati Haura yang sedang termenung dalam lamunannya.

“Haura” kata V menyadarkan Haura.

“Eh iya V” jawab Haura memaksa senyum saat melihat V mendekat.

“Anu soal tadi... Terima kasih yah” kata V yang membuat Haura tersenyum.

“Terima kasih untuk apa V ?” tanya Haura.

“Itu... Kekhawatiranmu untuk memintaku tetap disini... Aku senang ketika ada orang - orang yang mau menerima kehadiranku” kata V.

“Ahahahha biasa aja kok V... Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku tadi V” kata Haura memberanikan diri menatap V.

Senyum itu !

“Iya sama - sama... Aku lega kalau kamu baik - baik aja” kata V tersenyum yang membuat Haura termenung.

Tiba - tiba Haura kembali tersadar ketika air mata yang masih jatuh di pipinya dihapus oleh jemari V yang hadir menyentuh wajahnya.

“Sudah jangan menangis lagi dong Ra... Gak usah khawatir... Aku ada disini untuk melindungimu selalu... Aku gak akan membiarkan siapapun datang mendekat untuk menyakitimu” kata V yang membuat Haura tersenyum lega.

“Apa sih antum V ! Lebay deh” kata Haura tersipu malu.

“Ohh sekarang mulai pake antum - ana lagi nih ?” kata V yang membuat Haura tertawa.

“Ahahahha bukan gitu ihhh... Tapi ya gitu aja deh” kata Haura bingung dengan kata - katanya.

Mereka berdua saling menatap menikmati rasa nyaman yang sudah mereka ciptakan. Mereka saling senyum menikmati keindahan yang ada di hadapan mereka. V memberanikan diri mendekap tangan Haura yang berada di atas meja kerjanya. Haura hanya tersenyum membiarkan tangan V hinggap mendekap tangan halusnya. V mengusapnya pelan sambil menatap kecantikan wajah Haura disana.

“Kamu sangat cantik Ra... Seperti namamu Haura yang berarti seorang wanita yang memiliki kulit putih bermata cantik... Parasmu mencerminkan itu semuanya Ra” kata V memuji Haura yang membuat Haura hanyut di dalam pujiannya.

“Benarkah ?” tanya Haura tersenyum.

“Iya benar... Selaput matamu sangatlah putih... Dan iris matamu sangatlah hitam... Aku suka dengan kejernihan yang dimiliki oleh matamu itu” puji V yang membuat Haura tersenyum malu.

Haura hanya menundukan pandangannya karena tak kuat menerima pujian yang jarang ia dapatkan dari suaminya. Senyumnya yang manis tak dapat ia tahan. Ia begitu senang hingga dirinya melupakan tekad yang sudah ia tanamkan untuk menjaga dirinya.

Jemari V mendekap dagu Haura untuk mengajaknya kembali bertatapan. Haura tersenyum begitupula V dihadapannya. Wajah mereka semakin dekat membuat kegugupan kembali melanda diri Haura.

“Bolehkah ?” kata V ketika wajah mereka berdua hanya terpisahkan oleh jarak 4 cm saja.

Haura mengangguk membuat V mendekatkan bibirnya untuk mencumbu bibir Haura. Mereka berdua memejamkan mata saat bibir mereka bersentuhan. Suara lenguhan nafas yang semakin berat menandakan hawa nafsu mereka yang sudah tak tertahan. V memagut bibir atas Haura yang membuat bidadari berhijab itu pasrah membuka mulutnya membiarkan V menikmati rasa manis dari bibirnya. Gantian kini Haura yang memagut bibir bawah V. Tangan V mendekap tubuh bagian belakang Haura sedangkan tangan satunya menahan kepala Haura agar tidak jatuh ke belakang. Haura hanyut dalam percumbuan yang sudah lama tak ia rasakan. Rasanya nikmat, ia sangat suka oleh sentuhan yang telah V berikan pada bibirnya.

V menjilati bibir Haura kemudian lidahnya bergerak masuk menjelajahi rongga mulut Haura. Saat lidah mereka bertemu, mereka saling beradu, saling melilit bahkan saling menjepit. Suara kecupan yang terdengar cukup keras seolah teredam oleh derasnya suara rintik hujan yang masih melanda di luar.

“Uhhmmm uhmmmahhh” desah mereka berdua menikmati percumbuan mereka.

V pun melepas cumbuannya sambil menatap mata Haura dari jarak yang cukup dekat. Haura ikut membuka mata, wajahnya memerah ketika berada di dekat V. Ia pun tersenyum malu sambil melempar pandangannya ke arah samping.

“Kamu memang sangat cantik Ra” puji V sekali lagi yang membuat Haura luluh mendengarnya.

“Dan... Aku juga mencintaimu” kata V sekali lagi sebelum dirinya kembali mendekat mencumbui bibir Haura lagi.

“Uhhmmmmmmmmm” desah mereka berdua.

Cinta ? Astaghfirullah mas Hendra !

Haura tiba - tiba tersadar atas perbuatannya. Kebetulan tak berselang lama terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah kamar mandi yang membuat V melepaskan cumbuannya segera. Ia pun berpura - pura untuk menanyakan sesuatu dari arah layar monitor Haura untuk menyembunyikan perbuatannya dengan Haura dibelakang Hanna.

“Kalian gapapa kan ?” kata Hanna yang masih khawatir rekannya itu masih terbawa suasana Lutfi tadi.

“Ahhh gapapa kok” kata V tersenyum yang membuat Hanna lega.

Tetapi ekspresi Haura berbeda, ia tampak menyesali perbuatannya tadi. Sekali lagi, ia kembali lengah dan membiarkan bibirnya dicumbui oleh V lagi.

Hahhhhh maafkan aku mas !


*-*-*-*


Sementara itu Lutfi sedang berjalan pulang ke asramanya sambil memegangi lengan tangannya yang masih terasa sakit. Mulutnya misuh - misuh karena tak terima atas perlakuan V terhadapnya.

“Siapa sih ustadz tadi ? Berani - beraninya dia memuntir tanganku !” kata Lutfi merasa kesal.

Tak terasa dirinya pun sampai di depan gedung baru yang masih belum jadi. Tampak seseorang dari kejauhan memanggilnya untuk mendekat.

“Nak sini... ” kata Seseorang yang menarik perhatian Lutfi untuk mendekat.

“Tanganmu kenapa... Kok keluar - keluar dari kantor pengasuhan malah megangin tangan sih ?” kata seseorang yang bertelanjang dada menampilkan otot tubuhnya yang kekar.

“Biasa pak... anak baik banyak aja cobaannya” kata Lutfi melirik ke arah ubi goreng yang sedang dimakan oleh pria itu.

“Mau ?” katanya menawarkan.

“Wahh boleh pak ?” tanya Lutfi.

“Ambil aja” katanya yang langsung diambil oleh Lutfi yang kebetulan memang lapar.

“Namamu siapa ?” tanyanya.

“Aku Lutfi pak” kata Lutfi sambil memakan ubi tersebut.

“Saya Karjo... Panggil aja pak Karjo” kata ketua dari kuli bangunan itu.

“Ohh oke pak salam kenal” kata Lutfi masih terus memakannya.

“Gimana enak ?” tanya kembali pak Karjo.

“Wah iya enak banget pak” jawab Lutfi yang kelaparan.

“Bagus... Sebenarnya saya punya sesuatu yang ingin saya lakukan denganmu” kata Karjo.

“Maksudnya ?” tanya Lutfi sambil menatap kuli bangunan berwajah jelek itu.

“Saya perhatikan belakangan ini... Kamu sering bermasalah dengan kantor bagian pengasuhan yah ?” tanya Karjo.

“Hmmm iyyahh... Kenapa memangnya ?” tanya Lutfi sambil terus memakan ubi goreng tersebut.

“Saya juga punya masalah dengan mereka... Mau bekerja sama untuk membalas dendam ?” tanya Karjo yang membuat Lutfi tertarik untuk pertama kalinya ketika mendengar perkataan pak Karjo.

“Balas dendam ? Dengan cara apa ?” tanya Lutfi menatap wajah pak Karjo.

“Dari dulu saya sangat kesal dengan Pak Hendra yang merupakan suami dari ustadzah Haura... Kok bisa - bisanya cowok gendut sepertinya bisa punya istri secantik ustadzah Haura... Saya ingin membalas dendam pada suaminya karena sudah bikin saya mupeng pada kecantikan istrinya” kata Pak Karjo ngomong ngasal karena terlanjur nafsu.

“Kebetulan... Kalau aku sih ke ustadzah Hanna... Karena dialah tanganku jadi sakit begini... Coba dia gak memanggilku ke kantor... Pasti tanganku akan baik - baik aja sekarang” kata Lutfi yang rupanya memiliki kesamaan dengan pak Karjo.

“Lalu gimana caranya kita membalas dendam ?” lanjut Lutfi.

“Kita akan memperkosa mereka tapi tidak sekaligus melainkan satu persatu.... Saya fokus ke Haura dan kamu fokus ke Hanna gimana ?” tanya Pak Karjo yang membuat Lutfi tersenyum senang,

“Boleh juga idenya muwehehehe” kata Lutfi tertawa jahat.

“Kekekkekekek” pak Karjo pun ikut tertawa dengan rencana jahat yang sudah mereka sepakati bersama.


*-*-*-*


Perlahan langit mulai berubah menjadi gelap. Tepat saat waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Haura sedang berada di kamar bersama suaminya seorang. Terhitung sejak siang menjelang sore tadi, Haura selalu kepikiran tentang kesalahan yang kembali ia buat. Ia menyesal karena jiwa dan raganya telah hanyut dalam buaian V ketika bersikap padanya. Sebuah pujian dan senyuman yang telah V berikan selalu meluluhkan hatinya. V selalu memberikannya kenyamanan, sesuatu yang saat ini jarang ia rasakan dari suaminya.

Sebagai istri yang baik, Haura menyesalkan perbuatannya karena telah membiarkan pria lain selain suaminya untuk menyentuh tubuhnya. Tak cuma sekali bahkan, tapi dua kali Haura telah membiarkan V untuk mencumbui bibirnya.

Penyesalan yang ia rasakan begitu menyesakan hati dan pikirannya. Rasanya Haura ingin menangis karena tak sanggup menahan beban dosa yang sedang ia tanggung di kedua bahunya. Ia ingin melakukan sesuatu guna menebus kesalahannya di masa lalu. Ia pun memandang wajah suaminya yang kelelahan. Sebuah ide pun muncul dalam benaknya agar dapat membahagiakan wajah suaminya.

"Massss" Kata Haura tersenyum sambil merangkul leher Hendra setelah berjalan mendekatinya. Wajah Hendra jelas memerah malu ketika melihat wajah jelita istrinya berada sedekat ini.

"Iyya dek.... Ada apa ?" Jawab Hendra gugup.

Hendra melihat sejenak penampakan istrinya. Wajah manis yang tengah tersenyum menatap matanya, rambut panjang sebahu yang tergerai di kiri kanan wajah cantiknya, daster pendek tipis yang tak mampu menyembunyikan kedua paha mulusnya. Ah Hendra pun paham bahwa istrinya sedang berusaha menggoda dirinya. Segala upaya pun dikerahkan oleh Haura untuk dapat menaikan syahwat suaminya. Salah satunya dengan menempelken keningnya ke kening suaminya. Wajah mereka berdua yang saling berdekatan ditambah dengan aroma kewanitaan yang berasal dari aroma tubuh Haura membuat nafas Hendra perlahan naik turun tak beraturan. Suara manis yang Haura keluarkan semakin membuat gairah Hendra menjadi - jadi.

“Adek tau kalau mas lagi capek... Mas mau adek pijit gak ?” kata Haura. Aroma nafasnya yang berhembus terhirup oleh hidung Hendra yang berada di hadapannya.

“Aduh dek... Iya mas sedikit capek... Omong - omong adek kenapa... Kok jadi begini ?” kata Hendra yang penasaran melihat perubahan sikap Haura.

“Adek gapapa kok mas... Cuma kangen mas aja sedari tadi” kata Haura perlahan mendorong tubuh Hendra hingga membuatnya terjatuh diatas ranjang pribadinya.

“Dekkk... Apa yang ?” kata Hendra menenggak ludah saat melihat istrinya tengah membuka kancing kemeja yang dikenakannya.

“Ada apa mas ?” kata Haura tersenyum sambil mengusap - ngusap dada suaminya menggunakan tangan mulusnya.

Gllleeekkkkk !!!

Hendra semakin menenggak ludah saat melihat istrinya tersenyum sambil memainkan putingnya yang berwarna kecoklatan.

“Adek kangen mas tau... Adek rindu ingin main bareng mas lagi” kata Haura perlahan mulai mendekatkan wajahnya.

“Dekkkk !!!” kata Hendra terlihat panik.

Wajah Haura yang tersenyum perlahan semakin mendekat ke wajahnya. Tanpa malu, Haura mengecup bibir tebal suaminya. Mulut Haura terbuka guna memagut bibir tebal suaminya dibawah. Hendra kewalahan saat menyadari istrinya begitu bernafsu dalam mencumbui bibirnya. Ditengah percumbuannya itu, Tangan Haura tak hanya diam. Tangannya turut aktif dalam mengusap tubuh bagian atas suaminya. Mulanya memainkan puting suaminya, baru kemudian bergerak turun mengusap perut tambunnya.

“Uhmmm uuhhmmmmm” desahan yang keluar dari mulut Haura semakin menghangatkan suasana di kamar. Nafsu Haura benar - benar bangkit setelah sekian lama tidak menggoda suaminya. Nafasnya berat ikut naik turun merasakan gelombang birahi yang semakin bergejolak di dalam tubuhnya.

Cumbuannya perlahan turun mulai dari merangsang leher suaminya kemudian semakin turun hingga mencumbui dada suaminya. Hendra hanya mengerang merasakan kenikmatan istrinya yang sedang dilanda nafsu birahi. Rasa geli, nikmat dan kehangatan yang ia rasakan membuat mulutnya terbuka mengeluarkan erangan - erangan yang semakin membakar gairah Haura.

10 menit berlalu, Sudah saatnya bagi Haura untuk membuka celana suaminya. Haura pun tersenyum ketika membayangkan bagaimana rupa penis suaminya setelah ia rangsang sekian lama. Haura tersenyum sambil menatap wajah suaminya yang terlihat panik dibawah sana.

“Adek buka yah mas !” kata Haura menggunakan suara imutnya.

“Dekk... Dekkk !!!!” kata Hendra dengan perasaan berdebar.

Resleting celana kainnya sudah Haura turunkan. Setelah melepas kait haknya, ia mulai menarik turun celana kain yang menyembunyikan kejantanan suaminya selama ini. Saat melihat celana dalam berwarna putih suaminya terlihat. Jantung Haura semakin berdebar kencang membayangkan rupa yang tersembunyi dibalik semuanya.

“Hihihihihi” kata Haura sambil menarik turun celana dalam suaminya. Sedikit demi sedikit, Haura dapat melihat bulu lebat yang tersembunyi di dalamnya. Batang penisnya juga semakin terlihat. Ukurannya yang besar membuat pikiran Haura senang karena merasa telah berhasil memuaskan suaminya. Namun saat celana dalam itu sudah terlepas seluruhnya, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Haura pun memegangi kelamin suaminya itu sambil berusaha mengocoknya pelan.

Loh kok gak mengeras !

“Ahhhhh dekkkk !” kata Hendra mendesah nikmat.

Haura kembali tersenyum mencoba untuk menyembunyikan kekecewaannya. Ia pun berpikiran positif mungkin ia belum merangsangnya dengan benar, lagipula dirinya juga masih berpakaian.

“Hehehe maaf yah mas... Adek belum begitu jago” kata Haura menyesal. Tangannya lantas membetot penis suaminya dengan kuat. Menariknya naik dan mendorongnya turun. Kembali genggaman tangannya bergerak naik kemudian turun. Terus ia ulangi sambil matanya fokus menatap benda letoy tersebut.

“Ahhhh dekkk... Ahhhhhhh ahhhhhh cukuppp hentikan.... Ahhhhhh” kata suaminya tak kuat menahan kocokan istrinya.

Ihhh kenapa gak keras - keras sih !

Lama kelamaan Haura merasa kesal karena penis suaminya tak kunjung mengeras, ia pun menarik nafasnya untuk menenangkan diri. Tanpa merasa putus asa, Haura mulai membuka daster tipis yang dikenakannya hingga tubuh mulus Haura terlihat didepan suaminya.

Hendra pun terpana, memang bukan kali pertama Hendra melihatnya. Tapi kecantikan wajah Haura yang sempurna ditambah dengan mulusnya kulit putih Haura plus dengan rampingnya tubuh Haura yang menyerupai biola sudah cukup untuk mempesonakan pandangan Hendra seketika.

“Sebentar yah mas” kata Haura ketika tangannya bergerak ke belakang guna mencari kait branya.

“Hahhhhh” mata Hendra nyaris meloncat keluar saat menatap ukuran buah dada istrinya yang tergolong sempurna. Memang tidak terlampau besar tapi juga tidak terlampau kecil. Tubuhnya yang ramping sesuai dengan bentuk payudaranya. Bulatnya sempurna, warna putingnya merah muda, juga dengan kekenyalan yang luar biasa ketika tubuhnya itu bergerak.

Hendra tak bisa bersuara ketika melihat rupa payudara itu mendal - mendul di hadapan matanya.

“Aahhhhhhhhhhh !!!” desah Hendra ketika sekali lagi istrinya mengocok penisnya sambil tersenyum menatapnya. Tubuh Haura yang sudah telanjang sempurna menyisakan celana dalamnya saja yang menutupi kemaluannya. Keseksian istrinya yang biasanya selalu mengenakan pakaian longgar juga hijab lebar itu membuat nafsu Hendra meledak hingga ke ubun - ubun.

“Ehhh tunggu dulu mas !” kata Haura panik saat merasakan penis suaminya kedat - kedut.

Buru - buru Haura melepas celana dalamnya, kemudian menaikan tubuhnya untuk memasukan penis itu ke dalam kemaluannya.

“Aahhhhhhhh dek... Ahhhh ahhhhhh” desar Hendra ketika merasakan kehangatan di penisnya.

“Masss.... Masss tungguu dulluuuu !” kata Haura panik sambil menaik turunkan tubuhnya.

“Aahhhh ahhhh dekkk... Mas udah gak kuat lagi” kata Hendra.

Apa ? Tunggu mas ! Punya mas aja belum mengeras !

Haura merasa heran dengan sikap suaminya. Ia tak merasakan apapun ketika berusaha menaik turunkan tubuhnya. Ia hanya merasakan benda kenyal yang masuk di dalam vaginanya. Ia tak merasakan suatu gesekan berarti walau ia sudah merangsangnya berkali - kali.

“Aahhhh dekkk dekkk.... Ahhhh ahhhhhhh !!!!”

“Tungguu masss !!!”

Crrootttt crrooottt crroootttt !!!

“Aaahhhhhhhhhhhhhhhh !!!!” desah Hendra panjang ketika mendapatkan klimaks setelah menerima rangsangan istrinya.

“Aahhhhhhh” kata Haura terkejut ketika vaginanya sudah disiram oleh cairan kental nan hangat dari suaminya. Haura pun ambruk menindihi tubuh tambun suaminya. Ia heran, ia tak bisa berkata - kata saat suaminya sudah menyudahi hubungan badan yang telah ia rencanakan.

“Ahh ahhhh... Terima kasih yah dek... Mas puas banget nih hehehe” kata Hendra sambil tersenyum memeluk istrinya.

“Iya mas.... Adek juga kok” kata Haura berbohong membiarkan suaminya memeluk tubuh telanjangnya.

Kenapa ?

Kenapa bisa keluar ?

Kenapa suamiku tidak bisa mengeraskan punyanya ?

Berbagai pertanyaan muncul di dalam hati Haura. Ia merasa gundah gulana memikirkan solusi dari kekurangan suaminya. Ia sudah berpikir tapi selalu tidak mendapatkan jawabannya. Ia pusing hingga membuatnya sedih karena tidak mendapatkan nafkah batin yang diminta dari suaminya.

“Mas... Adek mau ke kamar mandi dulu yah... Mau bersih - bersih dulu” kata Haura meminta izin.

“Iya dek... Mas besok aja yah... Mas capek banget nih hehehhe” kata Hendra yang lebih memilih tidur daripada menemani istrinya mandi wajib.

Haura pun bangkit melilitkan handuk lebar hingga menutupi tubuh rampingnya. Ia berjalan menuju kamar mandi sambil melamun membayangkan persetubuhannya tadi. Lagi - lagi ia tak bisa merasakan kepuasan dari suaminya. Ia merasa hampa seolah ia tidak melakukan apa - apa.

Ia pun tiba di depan pintu kamar mandi. Lilitan handuknya ia buka kemudian mencantolkannya di tempat yang telah tersedia dibalik pintu. Ia pun bercermin sambil menatap ketelanjangan tubuhnya. Ia berfikir sambil merenungi diri.

“Apa aku ini kurang cantik bagi mas Hendra sehingga aku tidak mampu untuk membangkitkan gairahnya ?”

“Atau mungkin tubuhku bukanlah selera suamiku ?” kata Haura sambil menatap keindahan tubuhnya. Ia mencoba meremas payudaranya kemudian memiringkan tubuhnya guna menatapnya dari samping.

“Apa yang salah dariku ? Apa kekuranganku selama ini ?” kata Haura bertanya - tanya.

Kemudian, ia mulai menyalakan shower hingga guyuran airnya mulai membasahi tubuhnya. Bulir - bulir air itu mulai mengalir menyapu rasa lelah serta beban pikiran yang telah mengganjal di dalam otaknya. Ia memejamkan mata guna merenungi semua kesalahannya.

“V !!!” katanya tiba - tiba saat teringat percumbuan yang ia lakukan di taman juga di dalam kantor pengasuhan saat itu.

Rasanya berbeda ketika V yang mencumbunya. Rasanya berbeda ketika V yang menyentuh tubuhnya. Rasanya sangatlah berbeda ketika V yang menyalurkan seluruh rasa cintanya padanya.

Malam itu Haura menyentuh bibirnya dibawah guyuran air shower . Tubuhnya haus akan sentuhan seorang pria. Tubuhnya haus akan pemberian cinta seseorang. Tubuhnya haus akan kebahagiaan yang sudah lama tak ia dapatkan. Malam itu Haura pun mandi sambil merindukan sosok V yang telah memberikan apa yang tak ia dapatkan selama ini.

“V... Aku merindukanmu !” kata Haura.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy