"Siii... Siapaa kamuu ?" Ucap Nada terkejut ketika melihat ada orang asing di dalam kamarnya.
"Kekekekek... Perkenalkan ustadzah... Saya Karjo, saya merupakan satu dari dua orang yang diminta pak Ustadz untuk menghibur ustadzah yang kesepian" Ucapnya sambil menatap mesum ustadzah cantik itu.
"Duu... Duaa orang ?" Kata Nada hingga kedua matanya terbuka lebar.
Jangannn-jangann... Orang ini... Mas Rendy ??? Ucap Nada teringat akan ucapan suaminya.
Di tatapnya sekujur tubuh pria tua berbadan kekar itu. Dari wajahnya sudah tidak sedap di pandang. Kulit tubuhnya berwarna hitam pekat. Rambutnya saja sudah beruban yang membuatnya jadi ngeri membayangkan dia adalah salah satu dari dua orang yang diminta suaminya untuk menyetubuhi dirinya.
Kuli bangunan ?
Batin Nada teringat ucapan pak Heri kemarin sore.
Benar juga... Bukankah pak Heri bilang kalau dua orang itu merupakan kuli bangunan dan seorang santri ? Jadi dia ini... Kuli bangunan ?
Batin Nada merasa jijik membayangkan kalau orang rendahan sepertinya yang akan menyetubuhinya untuk memuaskan nafsu bejat suaminya.
Gakkk... Akuu gakk mauuu... Aku gakk mau membiarkan orang ini menyentuhkuu !!!
Batin Nada menggelengkan kepala hingga membuatnya melangkah mundur tanpa ia sadari. Pak Karjo pun pelan-pelan mendekat untuk mengejar bidadari cantik itu.
"Kekekekek... Ustadzah mau kemana ? Hayoo sini kita pemanasan dulu ? Pak Ustadz dah bilang kok kalau nanti ketemu ustadzah, saya boleh ngapa-ngapain ustadzah sesuka saya" Kata pak Karjo sambil membelai penisnya dari luar celana kolor yang ia kenakan.
"Enggakkk !!! Jangan coba-coba mendekat !!! Pokoknya jangann... Aku gak mauuu" Kata Nada panik.
"Kekekekek emangnya kenapa ustadzah ? Ustadzah pasti bakal puas kok kalau main bareng saya" Kata pak Karjo memberanikan diri tuk menyentuh kulit tangannya yang halus.
"Lepaskannn !!!" Jerit Nada melepaskan tangannya.
"Kekekekek suka nih yang cantik-cantik tapi galak... Pasti desahannya nyaring yah ustadzah" Katanya yang membuat Nada risih mendengarnya.
"Gak usah asal yahh kalau bicara !!! Pergi dari siniii... Cepatt keluarrr !!!" Teriak Nada saat tak sadar dirinya sudah terdesak hingga punggungnya menyentuh tembok rumahnya.
"Kekekekek gak usah galak-galak sayangg... Saya orangnya baik kok... Apalagi kalau ustadzah pasrah tinggal ngangkang aja di atas ranjang sana" Kata pak Karjo ketika tangan kirinya bertumpu pada tembok di sebelah kanan wajah Nada. Tangan kanannya pun menyentuh dagu Nada untuk mengarahkan wajah cantiknya agar tetap menatap matanya.
Nada pun tak nyaman ketika ditatap seperti itu oleh kuli kekar itu. Apalagi kuli itu sudah bau iler. Nampaknya kuli itu baru bangun dari tidurnya, berbanding terbalik dengan Nada yang sudah wangi setelah mandi di rumah pak Heri. Aroma tubuh Nada pun harum. Wajahnya pun sudah cerah yang membuat siapapun merasa segar ketika menatapnya.
Apalagi ketika mata Karjo perlahan mulai mengamati lekuk tubuh bidadari itu. Pertama dari wajahnya, tatapannya terus turun untuk menatap tonjolan indah yang begitu besar di dada ustadzah Nada. Apalagi saat kedua tangan pak Karjo mendekap pinggul ramping ustadzah cantik itu. Pak Karjo pun geleng-geleng kepala menyadari lekuk tubuhnya yang begitu menggiurkan.
Ini sih mantep banget... Emang sih, gak secantik ustadzah Haura... Tapi kalau tubuhnya seyahud ustadzah Nada... Siapa yang bisa nolak buat enggak ngentotin memeknya !
Ucap pak Karjo dalam hati. Ia pun tersenyum mesum membayangkan hal yang tidak-tidak pada ustadzah cantik dihadapannya.
"Lepaskaannn !!! Jangann pegang-pegang !!!" Teriak Nada merasa risih ketika pinggangnya disentuh oleh kuli kekar itu. Kedua tangannya pun reflek mendorong tangan kuli itu agar menjauh dari tubuhnya.
"Kekekekek ustadzah pagi ini gak ada kegiatan kan ? Saya soalnya mau boking ustadzah sampai dhuhur nanti... Saya gak sabar pengen denger suara desahanmu saat kontol saya menghujami memekmu" Bisiknya di telinga Nada yang membuat ustadzah cantik itu merinding.
"Enggakk... Akuu gakk mauu, lepaskaann !!!" Ucap Nada setelah mendorong tubuh pak Karjo menjauh. Karjo lengah, tubuhnya pun terdorong mundur. Saat itulah Nada berusaha berlari secepat mungkin menuju pintu keluar untuk mencari pertolongan.
"Kekekkee... Mau kemana ustadzah ?" Kata pak Karjo mengejar.
Nada terus berlari secepat mungkin. Kedua kakinya ia gerakan. Kedua tangannya ia ayunkan. Deru keringat pun mulai keluar dari dahi ustadzah cantik itu. Ia sesekali menoleh ke belakang untuk melihat jarak yang memisahkan mereka berdua.
Nada terkejut karena kuli kekar itu berlari dengan cepat hingga membuatnya sudah berada tepat di belakangnya. Nada pun ingin menjerit. Namun, belum sempat ustadzah berbadan semampai itu menjerit, mulutnya sudah terlebih dahulu dibekap oleh kuli kekar itu dari belakang.
"Mmmppphhhh" Desah Nada tertahan.
"Kekekekek tadi kan saya dah nanya ustadzah... Mau kemana ? Kok malah gak dijawab sih ?" Bisiknya di telinga kiri ustadzah Nada.
"Mmmppphhh... Mmppphhh" Ucapnya tertahan.
"Oh iya, bodohnya saya... Kan mulut ustadzah saya tutupi, gimana bisa ngomong kekekekek" Tawa pak Karjo. Tangan yang tadi mendekap mulutnya turun tuk memegangi pinggang ramping ustadzah itu. Sedangkan tangan satunya mulai naik untuk menyentuh sesuatu yang paling ingin ia sentuh saat ini. Yakni dua tonjolan indah yang tersembunyi di balik kaus longgar berwarna merah itu.
"Lepasskaann !!! Singkirkan tangan bapak dari tubuhku... Pergiii... Jangan sentuh aku !!!" Jeritnya yang hanya membuat pak Karjo tertawa.
"Kekekekek saya tanya apa malah di jawab apa... Yaudah saya ajak ustadzah ke kayangan aja yah... Saya akan mengembalikan bidadari secantik ustadzah ke kayangan dengan cara memberikan kepuasan dengan orgasme ternikmat yang gak pernah ustadzah bayangkan sebelumnya" Ucap pak Karjo yang membuat Nada merinding.
"Mmppphhh... Mmppphhh" Desah Nada tertahan ketika mulutnya ia sengaja katupkan agar tidak mengeluarkan suara yang membuat kuli tua itu senang. Ia terus saja mendesah saat tangan nakal kuli itu meremasi payudaranya dari belakang.
"Kekekekeke... Kenceng banget susunya ustadzah.... Susu binor emang kesukaan saya" Kata pak Karjo sambil terus melecehkan ustadzah cantik itu.
"Lepaskan tangannn bapakkk... Ouhhhh.... Ouuhhhhh" Desah Nada hingga tubuhnya merinding merasakan remasan yang begitu kuat dari pria kekar itu.
"Kekekekeke... Galak amat... Tapi kok saya suka yahhh" Kata pak Karjo sambil membawa Nada ke dekat dinding. Tanpa ampun ia pun membalikan tubuh semampainya kemudian mendorongnya hingga tubuh Nada terhempas ke dinding. Mereka berdua kini saling berhadapan. Lalu tanpa jeda, kedua tangannya kembali meremas kedua payudaranya hingga membuat bidadari cantik itu memejam hingga mendongakkan wajahnya ke atas.
"Aaaaaahhhhhhhh" Desah Nada dengan manja.
"Kekekekeke keenakan yah ustadzah ?" Ucap kuli kekar itu sambil menatap ekspresi wajah Nada yang menggairahkan.
Pak Karjo tanpa beristirahat terus meremasi kedua buah dada Nada. Nada terus mendesah. Matanya terus memejam dan mulutnya terbuka hingga pak Karjo gemas ingin mencumbui bibir tipis yang begitu menggoda itu.
"Kekekekek heran saya kenapa pak Ustadz sampai butuh saya buat muasin ustadzah... Apa jangan-jangan suami ustadzah impoten yah ?" Ejek pak Karjo yang entah kenapa membuat Nada marah.
"Jangann coba-coba mengejek suami saya yahhh... Aaaahhhhh" Desah Nada tak terima suaminya dihina oleh seorang kuli bangunan.
"Kekekekeke hebat juga ustadzah... Padahal pak ustadz udah jelas-jelas meminta saya buat muasin ustadzah... Kok bisa-bisanya ustadzah masih membelanya ? Apa jangan-jangan ustadzah gak tau tentang sifat asli pak Ustadz ? Pak Ustadz itu orang jahat loh, buktinya istri sendiri aja sampai dikasih orang lain biar dipuasi oleh mereka... Saya buktinya ustadzah... Saya yang kecipratan rejeki bisa ngegenjot memek ustadzah sebentar lagi kekekekek... Makin gak sabar saya buat denger jeritan manja ustadzah" Katanya sambil ngeremes payudara Nada dengan sangat kuat.
"Aaaahhhhhhhh bapaakkkk sakitt" Jerit Nada yang membuat pak Karjo tertawa.
Gemas dengan suara yang Nada keluarkan membuat pak Karjo pun akhirnya menarik tubuh Nada untuk memeluknya dengan erat.
"Mmppphhhhh"
Tangan kanan Karjo menarik tangan Nada. Tangan kirinya pun langsung memeluk punggung mulus bidadari itu. Tanpa jeda, bibirnya langsung mendekat untuk mencumbui bibir manis itu. Nada pun terkejut. Bibirnya ia coba untuk terus mengatup. Tapi sayang, remasan yang begitu kuat di bongkahan pantatnya membuat bidadari itu kembali berteriak di sela-sela cumbuan bibir yang ia terima.
"Mmppphhh... Ahhhhh... Ahhhhhh" Desah Nada yang membuat pak Karjo semakin bernafsu.
"Kekekekek sekelnya bokongmu ini... Sering olahraga yah ? Pasti enak nih ngegenjot ustadzah pas lagi tengkurep" Ucap Karjo di sela-sela cumbuannya.
Bibir Nada terdorong mundur. Kepalanya terus terhempas ke belakang hingga menyender ke arah dinding. Rasa nikmat yang menjalar di tubuh kuli kekar itu membuatnya sampai memperkuat remasannya di bokong ustadzah cantik itu. Dikala bibirnya ia buka, ia langsung mengulum bibir bawah Nada dengan penuh nafsu. Nada pun terus bertahan agar mulutnya tidak terbuka hingga membuat kuli kekar itu tidak memasukan lidahnya. Akan tetapi remasan di bokongnya membuat Nada gagal untuk mempertahankan mulutnya dari serangan kuli kekar itu.
"Aaaaaahhhhhhhh" Desah Nada dengan manja.
"Kekekekeke akhirnyaaa... Mmmppphhhh" Desah Karjo sambil memasukan lidahnya ke dalam mulut Nada. Lidah karjo pun bergerak masuk. Lidahnya menggeliat untuk mencari pasangannya di dalam. Terasa Nada dapat menghirup aroma nafas pak Karjo yang berbau busuk. Nada tak tahan, apalagi saat kedua tangan Karjo berpindah untuk meremasi dua payudara bulat milik ustadzah cantik itu lagi. Karjo meremasnya sambil mencumbui bibirnya. Tangan Nada pun bertahan dengan memegangi kedua tangan Karjo. Nada berharap tangannya mampu untuk menghalau niat buruk kuli kekar itu. Sayangnya tidak, Karjo justru semakin bernafsu hingga remasannya semakin kuat merangsang bidadari berhijab itu.
"Aaaahhhhh bapakkk... Sakitttt... Ahhhhh" Desah Nada di sela-sela cumbuannya.
Karjo mengapit lidah Nada kemudian menghisapnya kuat-kuat. Karjo pun begitu puas ketika mampu menikmati rangsangannya di tubuh si ustadzah berbadan sempurna. Nada pun menangis. Ia tak menduga dirinya akan ternoda oleh dua lekaki tua yang berbeda dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Air mata itu menetes. Nada pun berharap ada seseorang yang bisa menyingkirkan pria tua ini dari hadapannya.
Pakkkk... Heriiii... Ttolooongggg !!!
Batin Nada tanpa sadar.
Ya, hanya ada satu lelaki yang terlintas di pikirannya yang ia kira mampu untuk melawan kuli kekar itu. Ia pun memasrahkan diri berharap kuli tua tak bersunat itu mampu datang untuk menolong dirinya. Ia pun menangis. Ia terus menangis sambil mengharapkan kedatangan pahlawannya.
"Kekekekek... Puasnyaaa sayaahhhh" Ucap pak Karjo setelah melepas cumbuannya. Ia pun menatap wajah Nada dan mendapati ustadzah cantik itu sedang menangis.
"Kekekekek... Gak Haura gak ustadzah... Pasti awalnya nangis dulu... Baru nanti lama-lama bakal ketagihan juga kekekekek" Tawanya yang membuat Nada mengangkat wajahnya.
Haura ? Ustadzah Haura maksudnya ? Apa maksud perkataan kuli tua ini ?
Batin Nada merasa tidak enak.
Gak mungkin kan Ustadzah Haura mengalami hal yang serupa ?
Batin Nada berharap semoga ustadzah Haura jangan sampai ternoda oleh kebusukan kuli kekar ini.
"Apa maksud bapak ? Jangan asal bicara yah ! Aku bukan wanita yang bisa seenaknya bapak apa-apakan.... Pergi dari hadapanku ! Jangan harap bapak bisa bertemu denganku lagi !!!" Kata Nada dengan berani sambil menampar kuli kekar itu.
Plaaakkkkkk !!!
Wajah Karjo terhempas ke samping. Karjo pun memegangi pipinya sambil tersenyum menatap bidadari cantik itu.
"Kekekekekek... Jangan melewati batas yah ustadzah !!!!" Tawa pak Karjo sambil memegangi leher Nada yang membuat ustadzah cantik itu tercekik oleh dekapan pria tua sepertinya.
"Ekkkkkkk... Lepasskkkaann" Ucap Nada kesulitan untuk berbicara.
"Kekekekek tiap orang punya batas sabarnya... Kalau ustadzah melewati batas itu... Jangan harap saya akan melakukan hal yang baik-baik ke ustadzah nanti !!!" Kata Karjo masih terus mencekik ustadzah Nada.
"Lepassa... Lepasskaaa... " Kata Nada sambil memegangi tangan pak Karjo yang sedang mencekik lehernya.
Mata Nada berkunang-kunang. Ia kesulitan tuk bernafas hingga membuat pegangan tangannya melemah. Ia pun menatap wajah pak Karjo dengan tatapan penuh kebencian. Untungnya kakinya terus bergerak hingga tak sengaja menendang selangkangan kuli tua itu.
"Aaaaaahhhhhh" Jerit Karjo merasa sakit di batang kemaluannya.
"Uhhhukk... Uhhuukkk" Nada berhasil terlepas dari cengkraman pria bajingan itu. Walau tubuhnya masih lemah. Walau ia tak memiliki energi lebih untuk kabur darinya. Walau matanya masih kesulitan untuk memandang sekitar. Ia terus berlari menjauh menuju pintu keluar.
"Tunggguuuu... Jangan coba berani kabur yah ustadzah !!!" Teriak Karjo di belakang yang membuat Nada ketakutan.
"Jangannnn... Jangannn mendekat !!!" Kata Nada panik ketika berlari menjauhi kuli tua itu.
Nada berlari secepat mungkin. Tak peduli dengan keadaan tubuhnya. Tak peduli dengan keseimbangan tubuhnya. Ia terus saja berlari walau berulang kali dirinya nyaris terjatuh karena saking takutnya dikejar oleh pria tua tak berakhlak itu.
Untungnya Nada sudah memegangi gagang pintu rumahnya. Ia pun lekas membukanya kemudian meneriakan suara untuk meminta pertolongan dari seseorang di luar.
"Ttoollloonnggg" Jerit Nada pasrah.
Sialnya tangan pak Karjo sudah membekap mulutnya dari belakang. Tangan kanannya memegangi mulut Nada sedangkan tangan kirinya mendekap pinggang ramping Nada.
"Mmmppphhhh" Desahnya tertahan ketika mulutnya dibekap dari belakang.
"Gak usah bikin masalah yah ustadzah... Karena ustadzah sudah bikin saya kesal... Saya jamin ustadzah bakal ngangkang tiap kali berjalan nanti" Bisik Karjo di telinga kiri Nada.
"Aaahhhhhhh" Desahnya saat tubuh Nada dilempar ke belakang. Karjo pun bergegas untuk menerkam Nada dari atas.
Nada terbaring pasrah dalam posisi terlentang ketika tangan kekar Karjo memegangi kedua tangannya. Berulang kali Nada menggelengkan kepala meminta kuli tua itu untuk tidak menodainya.
"Tollloonngggg !!!!" Teriaknya sekali lagi.
"Diiaammmmm !" Sebuah dekapan kembali menyumbat mulut ustadzah cantik itu. Karjo yang sedang dirundung nafsu buru-buru memelorotkan celana ustadzah cantik itu.
"Mmmppphhhh... Enggakk... Enggaakkk" Desah Nada meminta untuk tidak diperkosa oleh kuli tua itu.
"Kekekekek... Mulut besar ustadzah nyaris membuat masalah... Coba ustadzah tenang dari tadi... Bisa jadi kita bakal menikmati semua ini bersama... Sekarang tanggung akibatnya karena sudah membuat saya marah !!!!" Ujar Karjo.
"Enggakkkk.... Toloonggg.... Jangannn lakukannn... Jangann" Nada terus berteriak sambil menangis di pagi hari itu.
Celana Nada sudah terlepas. Kakinya tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Pak Karjo pun tertawa puas hingga membuatnya menarik celana dalam Nada hingga celana dalam itu turun melewati kedua lututnya.
"Kekekekeke" Tawa Karjo sambil mengeluarkan batang penisnya.
"Mmpphhh... Mmmppphhhh" Desah Nada merinding ketika melihat keperkasaan batang penis berwarna hitam itu.
"Rasakan ini ustadzahhh... Hennkkkgghhhh !!!" Teriak pak Karjo bersiap-siap untuk menancapkan batang penisnya ke rahim kehangatan ustadzah Nada.
"Apa yang kamu lakukan !" Ucap seorang lelaki yang datang bersama wanita cantik ketika mendengar suara teriakan seseorang.
Karjo & Nada terkejut. Karjo pun segera mengangkat wajahnya untuk melihat siapa orang yang telah mengganggu waktu paginya.
"Ustadzah Haura" Kata Pak Karjo setelah melihat wanita berhijab yang sedang berdiri di belakang Ustadz tampan itu.
"Ustadzah Nada !!!" V terkejut saat melihat Nada sudah bottomless dibawah kuli tua itu. V pun langsung murka. Dikejarnya pria tua itu yang membuatnya mau tak mau melepaskan korban yang sedang terbaring pasrah di bawah sana.
"Haura jaga dia !!!" Teriak V pada Haura.
Pak Karjo yang sudah berdiri di belakang Nada langsung dipukulnya hingga terjatuh oleh V. Pak Karjo pun tersungkur sambil memegangi pipinya. Saat melihat Ustadz muda itu kembali mendekat. Pak Karjo langsung bangkit dan menendang perut V hingga membuatnya terpelanting ke belakang.
"Aaaahhhhh" Teriak V kesakitan.
"V !!! Kamu gapapa ?" Kata Haura khawatir.
"Aku gapapa... Jangan khawatirkan aku" Kata V duduk berlutut dengan satu kaki sambil memegangi perutnya.
"Kekekekek mau apa kalian menganggu waktu mantap-mantap saya... Anak muda macam kalian bisa apa ? Hahh !!!" Kata Karjo menantang. Ia pun kembali menyerang dengan mendekati V yang masih menahan perih di perutnya.
"Heh... Aku bisa apa ?" Kata V langsung menendang kaki Karjo hingga pria tua itu terjatuh ke samping.
Segera, sebelum kuli tua itu bangkit. V langsung berdiri untuk menendang kepalanya dengan keras.
Brruuukkkk !!!
Karjo langsung terpelanting ke belakang. V pun berniat untuk menginjak perut kotak-kotak Karjo untuk menghukumnya. Namun belum sempat V menginjaknya, kaki V yang sudah ia angkat dipegangi oleh kuli tua itu. Pak Karjo pun langsung bangkit kemudian menendang kaki satunya hingga membuat V terjatuh ke bawah.
"V !!!!" Jerit Haura yang khawatir melihat V tersakiti.
Seketika pandangan Karjo teralihkan oleh kecantikan Haura. Ia pun jadi bernafsu untuk menyetubuhi dua wanita itu sekaligus. Seketika pandangannya kembali teralihkan oleh ustadz muda yang terbaring di hadapannya.
"Dasar kecoak... Kerjaanmu menganggu saja !" Kata Karjo yang langsung menginjak perut V hingga membuat V kesakitan menahan bebannya.
"Aaaaaahhhhhhh" Jerit V.
"V !!!" Teriak Haura khawatir. Nada yang sudah kembali mengenakan celananya pun hanya diam sambil menahan air mata yang masih keluar di matanya.
"Kekekekek... Apa kabar ustadzah Haura... Kangen kontol saya ?" Katanya blak-blakan yang membuat wajah Nada menoleh menatap wajah cantik Haura. Haura pun jadi panik ketakutan. Ia pun melangkah mundur dengan sendirinya akibat trauma yang ia miliki tiap kali bertemu kuli kekar itu. Nada pun juga bergerak mundur dengan arah yang berbeda dengan Haura. Kalau Haura bergerak ke selatan maka Nada bergerak mundur ke barat.
"Apa maksud bapak ? Gak usah macam-macam ke aku... Pergiiii... Pergiii !!" Kata Haura sambil memegangi sebuah sapu yang entah ia dapat dari mana.
"Kekekekek... Belum puas kah kita bercinta semalaman waktu itu ?" Kata pak Karjo sambil berjalan santai mendekati Haura.
Nada pun tidak menjawab. Tubuhnya hanya bergetar menyadari kuli tua itu semakin dekat ke arahnya.
"Jangannn... Jangannn mendekattt !!!" Teriak Haura sambil menggerakan sapu itu untuk menghantam kuli tua itu.
"Kekekekek dasar ustadzah munafik !!! Ditusuk aja teriak-teriak minta nagih... Giliran diajak mantap-mantap sok pura-pura nolak... Cuihhhh" Ucapnya sambil meludah ke lantai.
Mata Haura bergetar menyadari kuli tua itu semakin dekat. Nada juga hanya bisa pasrah melihat kuli tua itu semakin mendekati Haura.
"Kenapa ustadzah ? Kenapa ustadzah diam aja ? Apa jangan-jangan ustadzah udah passrrrr.... " Belum sempat Karjo menyelesaikan kalimatnya. Ia sudah harus merasakan tendangan dari ustadz tampan di belakangnya.
"Aaarrgghhhh" Teriak Karjo mengerang kesakitan.
"Cihhh... Jangan lupa lawanmu disini" Kata V sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
"Argghhh... Sial, kekekekek... Masih hidup rupanya yah ?" Kata Karjo tertawa kecil menyadari kelengahannya.
Ketika Karjo hendak bangkit untuk kembali bertarung, dirinya kembali ditendang oleh V. Kali ini dadanya yang ditendang hingga membuat pak Karjo terpelanting ke belakang.
"Aarrgghhhh" Erang Karjo menahan sakit.
"Jangan lupa kita sedang bertarung... Gak usah sesantai itu lah... Meremehkanku yah ? Siap-siap untuk menerima akibatnya" Ucap V sambil menendang perut Karjo lagi.
Brruuukkkk !!!!
Tendang V di perutnya.
"Aarrgghhhhh" Jerit Karjo.
Brruukkkkk !!!
Tendang V lagi yang membuat tubuh Karjo berguling-guling ke belakang.
"Siaaalll !!!!" Ucap Karjo merasa kesal dirinya tidak diberi kesempatan untuk menghajar Ustadz muda itu.
Pak Karjo pun segera bangkit untuk membalas perbuatan V. Namun sebelum dirinya sempat membalas, samar-samar ia mendengar suara keramaian dari luar. Karjo pun langsung melihat keramaian itu dan menyadari kalau banyak Ustadz senior yang datang setelah mendengar keributan di rumah ustadzah Nada.
Panik, pak Karjo pun memilih untuk berlari melalui pintu depan menuju arah utara yang merupakan arah yang berseberangan dari datangnya keramaian.
"Apa ini... Ada apa ribut-ribut ?" Kata salah satu Ustadz senior yang datang ke rumah Nada.
"Anuu... Ada maling Ustadz" Kata Nada yang menjawabnya.
"Maling ?" Buru-buru mereka semua melihat ke arah pak Karjo. Dengan segera mereka semua pun berlari untuk mengejar orang yang diduga maling tersebut.
"Heyyy jangannn lariii... Malinggg !!!" Ucap orang-orang yang mengejar pak Karjo.
Keadaan pun menjadi tenang setelah kepergian pak Karjo. V pun yang masih merasakan sakit di perutnya berjalan mendekati mereka berdua. V pun memaksa senyum sambil memandangi dua bidadari itu.
"Kalian gapapa ?" Tanya V perhatian.
"Gapapa kok V" Kata Haura. "Gapapa ustadz" Jawab Nada.
V pun kemudian menatap Nada yang membuat ustadzah cantik itu menunduk malu.
"Tolong jangan bilang siapa-siapa yah ustadz... Ana malu... Ana gak mau orang lain tahu kalau ana nyaris diperkosa oleh kuli itu" Kata Nada mengungkap alasan kenapa ia lebih memilih menyebut Karjo sebagai maling daripada pemerkosa.
"Iyya tenang aja... Kami gak akan bilang kok... Iya gak ?" Tanya V sambil melirik Haura. Haura pun hanya menunduk malu yang membuat V teringat akan kata kuli kekar tadi.
"Oh iya Haura... Apa benar apa yang tadi bapak itu katakan ? Apa iya kamu pernah di .... " Kata V ragu untuk mengucapkannya.
Haura pun terdiam sambil menundukan wajahnya. Kemudian bidadari tercantik itupun mengangguk lemah yang membuat V & Nada shock mendengarnya.
"Jangan-jangan... Orang yang bikin kamu masuk rumah sakit tuh.... " Kata V sekali lagi yang hanya dijawab anggukan oleh Haura.
V pun jadi iba sekaligus marah. Haura yang teringat akan masa-masa kelamnya langsung menangis menutupi wajahnya. Nada pun terkejut rupanya ada ustadzah yang mengalami nasib buruk sepertinya. Nada pun menduga kalau nasib ustadzah Haura lebih buruk darinya.
"Sudah tenang aja... Itu masa lalu... Lagipula itu bukan kemauan kamu kan ?" Tanya V memeluk Haura.
"Ya iya lah... Mana mungkin aku mau diapa-apakan olehnya" Ucap Haura sambil menangis. V pun tersenyum iba sambil memperkuat dekapannya. Ia terus mengelus-ngelus punggung Haura untuk meredakan isak tangisnya.
“Masa lalu telah berlalu... Maaf yah selama ini aku gak tau kalau kamu menderita... Aku janji deh, setelah ini... Aku akan selalu menjagamu, agar orang tua itu tidak akan pernah lagi menyentuhmu” Ucap V yang memberikan sedikit ketenangan bagi Haura.
“Oh yah ustadzah” ucap Nada yang selama ini hanya diam karena bersimpati pada apa yang telah Haura rasakan.
“Untuk sementara ini... Boleh gak, ana tinggal bersama antum di rumah... Ana takut kalau orang itu kembali datang untuk melakukan hal yang enggak-enggak ke ana” ucap Nada.
“Antumm... Mau tinggal di rumah ana ?” tanya Haura mencoba memahami perkataan Nada. Nada pun hanya mengangguk lemah. Haura kemudian menatap V untuk meminta pendapat.
“Nah bagus tuh... Daripada kalian pada tinggal sendirian kan ?” ucap V memberikan pendapatnya. Haura kemudian menatap Nada. Nada pun senang akhirnya ia bisa tinggal bersama seseorang yang mengetahui masalahnya. Nada pun memeluk Haura dengan erat. Setidaknya bersama Haura, ia bisa bercurhat dengan bebas tanpa harus menutupi hal-hal yang bisa membuatnya merasa malu akibat insiden itu.
V pun tersenyum melihat mereka berpelukan. Tapi kemudian senyumnya hilang seiring pengakuan yang sudah Haura ucapkan tadi. Kedua tangan V mengepal, ia pun bertekad untuk membalas perbuatan pria tua itu.
Tunggu saja hingga waktunya tiba !
Batin V bertekad untuk membalasnya. Genderang perang sudah di tabuhkan. Dengan adanya bukti yang jelas, mau tak mau, ia harus bisa melakukan pembalasan pada pria tua yang sudah menyakiti bidadari secantik mereka berdua. Khususnya Haura yang sudah lama menderita akibat nafsu bejat kuli kekar itu.
Kurang ajar !
Batin V semakin kesal hingga tak sadar tangan kanannya meninju keramik lantai ruangan rumah Nada.
*-*-*-*
Jam sudah menunjukan pukul delapan lebih sepuluh menit tepat. Dikala semua santri berkeliling sambil mempelajari materi yang akan diujikan pada hari senin nanti. Ada salah satu santriwati yang terus berjalan sambil melihat ke arah sekitar. Matanya tidak berfokus pada buku yang sedang ia pegang. Sebaliknya, ia malah terlihat seperti sedang mencari seseorang. Wajahnya ia tolehkan sambil mencari-cari seorang ustadz yang mengenakan kemeja polos beserta dasi yang melingkar di lehernya. Tiap kali dirinya melihat seorang ustadz tinggi berkulit putih, santriwati itu pasti langsung datang mendekati. Ia terus menatap wajahnya untuk memeriksa, apakah ustadz itu merupakan ustadz yang sedang ia cari saat ini ?
“Kok gak ada yah ? Masa iya sih ustadz V gak ikut keliling” kata Salwa yang merupakan santriwati tingkat akhir yang memiliki kecantikan serta kecerdasan yang sempurna.
Selayaknya remaja yang tumbuh pada umumnya, Hatinya sedang berdebar tiap kali memikirkan ustadz tampan itu. Ya, Salwa sedang kasmaran. Hari-hari yang ia lalui pasti selalu memikirkan ustadz V. Hari-hari yang ia lalui telah dipenuhi oleh harapan untuk menikahi ustadz V. Ia pun selalu berandai-andai bahwa dirinya lah wanita yang tepat untuk dinikahi oleh ustadz V.
Memang tidak mengherankan ketika Salwa bisa mempunyai kepercayaan diri setinggi ini. Sebagai santriwati muda yang telah berusia 19 tahun. Ia dibekali oleh tubuh semampai plus kecantikan wajah yang sempurna. Ia juga merupakan wanita muda yang selalu merawat tubuhnya. Kulitnya pun halus, kulitnya juga bersih sempurna, aroma tubuhnya juga wangi. Apalagi selera berpakaiannya juga tinggi hingga membuatnya terlihat seperti seorang gadis sampul yang wajahnya selalu menghiasi cover depan majalah terkenal.
Di kala cuaca mulai memanas, Salwa sedang mengenakan kemeja berwarna putih berukuran longgar yang ia padukan dengan rok panjang berwarna abu-abu. Salwa terlihat cantik dengan hijab yang juga berwarna abu-abu yang telah melilit wajah mungilnya. Sebagai santriwati muda Salwa terlihat menggemaskan. Apalagi kalau bukan karena wajahnya yang begitu mungil.
“Kok gak ketemu-ketemu yah ?” ucap Salwa heran ketika dirinya tidak menemukan ustadz yang ia cari. Padahal sudah sejak pukul tujuh tadi. Dirinya selalu mencari ustadz tampan itu. Setiap seluk beluk pesantren sudah ia kelilingi. Tapi kok, kenapa dirinya masih belum menemukan ustadz tampan itu.
“Hahhh nyebelin deh... Apa jangan-jangan bukan jodoh kali yah” kata Salwa sambil beristirahat di sebuah taman. Salwa mulai pesimis, apalagi beberapa hari ini dirinya belum bertemu dengan ustadz tampan itu.
“Padahal aku sampai rela buat nyerahin tubuh dan mulut aku ke ustadz V... Apa masih kurang yah ? Apa iya aku harus nyerahin keperawanan aku juga ?” lirihnya memikirkan cara agar dirinya bisa menarik perhatian ustadz V.
“Hahhhh... Padahal banyak ustadz lain yang caper ke aku loh... Tapi ustadz V aja yang jarang-jarang buat nyaperin aku... Aneh deh emang dunia ini... Kenapa aku mesti ngejar-ngejar seorang ustadz yang gak pernah nyaperin aku... Sebel deh, tapi untung ganteng... Jadi gak sabar kalau aku bisa menikah dengannya” Salwa pun terus berbicara sendiri sambil membayangkan ketampanan ustadz itu.
Untungnya ia duduk di tempat yang cukup jauh dari santriwati lainnya yang berkumpul di taman ini. Suaranya pun tidak terdengar. Salwa pun memutuskan untuk beristirahat disitu sambil membaca buku pelajaran terlebih dahulu.
Tak berselang lama, ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Saat orang itu semakin dekat, Salwa pun dapat merasakan kehadirannya. Santriwati cantik itu pun menoleh untuk mencari tahu siapa seseorang yang tengah mendekatinya.
“Ehhh ustadzah Nisa... Assalamualaikum ustadzah” ucap Salwa langsung berdiri untuk menyambut kedatangan ustadzah bertubuh mungil itu.
“Walaikumsalam... Haahhh disini rupanya antum... Daritadi ustadzah udah nyari kemana-mana lohh !!” kata Nisa mesti menaikan wajahnya sedikit untuk menatap wajah Salwa yang lebih tinggi darinya.
“Hehehehe iya nih ustadzah... Ana habis keliling pesantren, sambil belajar juga... Ngomong-ngomong ada apa nyariin ana ustadzah ?” tanya Salwa penasaran.
“Hah... Hah... Sebentar kita duduk dulu yah” kata Nisa yang kelelahan.
“Hihihihi naam ustadzah... Sampai keringetan gitu deh” kata Salwa tertawa melihat salah satu ustadzah terdekatnya.
“Iyya nih... Jalan-jalan pake baju kaya gini bikin gerah juga tau... Apalagi matahari semakin tinggi... Makin gerah deh buat jalan-jalan keliling pesantren buat nyariin antum” kata Nisa berkeringat. Kendati wajahnya terlihat kelelahan, Nisa masihlah sangat cantik waktu itu. Wajahnya yang keibuan memiliki aura tersendiri. Salwa saja sampai terpesona saat melihatnya, untunglah rasa pesona yang ia miliki pada ustadzah Nisa tidaklah berlebihan. Ia pun berbeda dari ustadzah Syifa yang memiliki perasaan itu tiap kali melihat Salwa.
“Hihihii maaf ustadzah... Tapi antum tetep cantik kok” kata Salwa memuji Nisa sambil melihat penampakannya saat ini.
Dengan hijab berwarna abu-abunya. Dengan kemeja beserta rok yang memiliki warna selaras dengan hijabnya. Ia tampak anggun dengan blazer berwarna putih yang menutupi tubuh mungilnya. Nisa pun jadi terlihat elegan. Apalagi dengan senyum keibuan yang bisa membuat hati siapa saja merasa tenang.
“Hahhh kalau soal itu mah ustadzah harus akui... Hihihihi” Tawa Nisa ketika bercanda dengan teman masa kecilnya.
“Jadi gini nih Salwa... Ini buat antum” kata Nisa memberikan sebuah amplop pada santriwati cantik itu.
“Ehhh ini apa ? Kok tebel ?” tanya Salwa penasaran.
“Buka aja” kata Nisa tersenyum.
“Buka ?” Salwa pun makin penasaran. Dibukalah amplop yang ia terima dari ustadzah cantik itu. Alangkah terkejutnya ketika ia menemukan lembaran uang kertas berwarna merah berjumlah lima lembar darinya.
“Eehhh ini dari antum ? Buat ana ?” kata Salwa gak mengira.
“Bukan lah... Enak aja ! Buat apa coba ustadzah ngasih antum uang sebanyak ini” kata Nisa bercanda yang membuat Salwa tertawa.
“Hihihih terus dari siapa dong ?” kata Salwa kembali menutup amplop itu untuk menatap wajah cantik ustadzahnya.
“Dari dia” kata Nisa yang membuat Salwa tersenyum bahagia.
“Oh yah ? Kapan antum ketemunya ? Kok antum gak langsung ngasih kabar sih ?” kata Salwa bahagia.
“Hihihihi baru kemarin kok... Cuma ya karena antum susah dicari makanya baru ketemu sekarang” kata Nisa yang sekali lagi membuat Salwa tertawa.
“Hihihihi makasih yah ustadzah” jawab Salwa tersenyum cerah.
“Ohh iya Salwa... Katanya dalam beberapa hari ke depan, dia mau dateng kesini lagi sih... Cuma gak tau kapan tepatnya... Kalau antum nanti ketemu dengannya, tolong titipin salam ustadzah ke dia yah ?” pinta Nisa.
“Hihihihi ke mas Fandi ?” tanya Salwa memastikan.
“Bukan, tapi ke tiang jalanan di dekat gedung penerimaan tamu itu” jawab Nisa yang membuat Salwa tertawa.
“Hihihihi iya ustadzah, nanti ana sampein kok... Syukron yah” kata Salwa tersenyum manis. Nisa yang melihatnya pun jadi gemas ketika ada santriwati seimut Salwa tengah tersenyum di hadapannya.
“Yaudah... Silahkan dilanjutkan belajarnya yah... Ustadzah mau keliling lagi bentar” ucap Nisa pamit.
“Siap ustadzah... Doain yah, biar ana bisa lulus dari ujian ini” kata Salwa tersenyum.
“Hah, kalau santriwati secerdas antum mah pasti lulus... Emang mau jadi ustadzah ? Apa mau lanjut keluar pesantren nih rencananya ?” tanya Nisa sekali lagi sebelum pergi meninggalkan Salwa.
“Hihihihi maunya sih jadi ustadzah bagian pengasuhan santri... Tolong masukin ana ke bagian itu yah” pinta Salwa punya maksud tersembunyi.
“Hihihihi belajar yang giat dulu... Nanti kalau lulus baru deh ustadzah bantu sebisanya” ucap Nisa yang membuat Salwa tersenyum senang.
“Hihihih makasih ustadzah”
“Naam... Ana pergi yah... Wassalamualaikum” ucap Nisa melambaikan tangan.
“Walaikumsalam ustadzah” jawab Salwa membalas lambaian tangan itu.
Salwa pun tersenyum senang. Ia pun menatap amplop yang saat ini sedang ia pegang.
“Akhirnya uang jajanku dateng juga... Lumayan nih buat nraktir ustadz V... Moga aja nanti aku bisa dapet perhatiannya” Ucap Salwa penuh harap.
*-*-*-*
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh siang. Nisa yang baru saja berkeliling mengawasi setiap santri yang belajar mandiri mulai merasa kelelahan. Ia pun dengan santai berjalan menuju kantor bagiannya untuk mengistirahatkan kedua kakinya yang terasa lemas. Untungnya kantor bagiannya sudah berada tepat di hadapan matanya. Ustadzah yang sehari-hari bertugas sebagai ustadzah penggerak bahasa itu akhirnya sampai di teras kantor bagiannya. Ia pun buru-buru duduk di kursi teras kantornya sambil memegangi kedua lututnya yang rasanya sudah mau copot.
“Aduhhh pegel banget deh rasanya” kata Nisa dengan manja sambil memijit-mijit kaki mungilnya.
Ustadzah yang juga merupakan ibu dari satu anak itu pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu itu, ia juga meluruskan kakinya untuk menikmati pemandangan yang tersaji dari depan kantor bagiannya.
“Hahhhh paling enak emang duduk-duduk kaya gini sambil ngeliat santri-santri belajar... Apalagi kalau ada segelas es jeruk manis di cuaca sepanas ini” kata Nisa membayangkan hal-hal yang bisa ia lakukan saat ini.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka. Ustadzah cantik bertubuh mungil itupun menoleh untuk melihat siapa yang baru saja keluar dari dalam kantor bagiannya.
“Eh, ustadzah Rachel mau kemana ? Kok cantik amat !” ucap Nisa setelah melihat ustadzah bertubuh montok itu.
Dengan gamis berwarna hitam yang menutupi sekujur tubuhnya. Dengan hijab yang memiliki warna serupa yang menutupi rambut panjangnya. Dengan senyum manis yang terhias di wajahnya dan juga dengan keindahan tubuh semampainya yang montok berisi sempurna. Rachel tampak menggoda. Tema women in black yang menjadi gaya berpakaiannya telah membuat ustadzah Nisa merasa insecure.
Bayangkan saja, Hijab panjangnya yang menjulur indah di belakang punggungnya. Tubuh montok yang jauh lebih mantap lekukannya dibandingkan sirkuit mandalika. Kulit putih mulus yang warnanya kontras dengan warna pakaiannya. Lirikan mata yang menggoda ditambah dengan pantat yang membulat kencang beserta buah dada ranum menggiurkan yang mampu membuat setiap laki-laki kejang-kejang.
“Hihihihi ana mau keliling lagi ustadzah” jawab Rachel tersenyum manis.
Nisa pun makin insecure ketika melihat tonjolan besar yang terhidang di dada ustadzah montok itu. Apalagi tubuhnya yang tinggi semampai membuat Nisa kadang merasa iri dengan postur tubuhnya. Nisa pun kadang membayangkan andai dirinya bisa memiliki tubuh tinggi dan berisi sepertinya.
Tapi untungnya ia sudah menikah, jadi ia tidak begitu minder lagi karena suaminya toh tidak mempermasalahkan kecantikannya yang semakin berumur ini.
Suami yah ? Atau mas Fandi ?
Batin Nisa bimbang memikirkan ia berdandan selama ini untuk siapa. Untuk suaminya kah ? Atau untuk mantan tetangganya yang pernah ia cinta ? Kalau untuk suaminya, kenapa pula tadi pagi ia sampai mengirim foto outfit yang akan ia kenakan kepada Fandi ?
“Hah...” Desahnya dengan lemah.
“Ana pergi dulu yah ustadzah... Tolong jaga kantornya yah... Kayaknya gak ada orang lain lagi deh selain antum disini” kata Rachel tersenyum yang menyadarkan Nisa dari lamunannya.
“Ehhh beneran ? Iya deh... Jangan capek-capek yah, diluar panas !” kata Nisa.
Seketika langit yang tadi panas langsung ditutupi oleh awan berwarna biru. Nisa pun heran. Rachel hanya tersenyum sambil memandang ustadzah cantik itu.
“Gak mendung lagi kok hihihi” jawab Rachel yang membuat Nisa tersenyum di belakangnya. Rachel pun pergi meninggalkan Nisa sendiri di gedung kantornya.
“Hahhh sendirian yah di kantor” kata Nisa membayangkan dirinya pasti akan merasa bosan ketika tidak melakukan apa-apa di dalam kantor bagiannya.
Tiba-tiba ia mendapatkan notifikasi panggilan. Ia pun membuka hapenya dan menyadari kalau ada seseorang yang mengajaknya video call. Tanpa ragu, Nisa langsung masuk ke dalam kantornya kemudian mengangkatnya untuk mengisi waktu kekosongannya.
“Assalamualaikum mas” sapa Nisa ketika melihat seseorang di layar hapenya.
“Walaikumsalam dek” jawab pria itu yang membuat Nisa tersenyum senang.
*-*-*-*
Sementara itu Rachel terus berjalan sambil mengenakan blazer berwarna putihnya. Kedua tangannya memegangi buku yang ia taruh di dadanya. Rachel merasa gelisah karena sebetulnya ia sedang berjalan menuju kandang singa dimana ada seekor singa tua yang tengah menantinya disana.
Dalam perjalanannya menuju kandang singa itu, ustadzah yang mempunyai badan montok berisi itu terus saja ngedumel mengenai nasib yang harus ia terima saat ini.
“Hah... Lagi ? Kenapa aku harus menuruti perkataannya sih ?” desah Rachel yang tak kuasa menolak ketika ia menerima panggilan dari tukang sapu itu.
Temui saya di depan halaman kelas dan jangan mengenakan beha ataupun celana dalam sekalipun ! Oh yah, coba kenakan pakaian paling ketat yang ustadzah punya saat menemui saya disini !
Rachel pun mengingat pesan yang ia terima dari hapenya. Ia pun kembali membuka hape itu untuk memeriksa perintah yang ia dapatkan.
“Iya udah bener kok... Gak nyaman banget deh pake baju kaya gini” kata Rachel saat dirinya mulai berjalan disekitar santri-santri yang masih berkeliling. Rachel pun sadar ketika setiap mata dari santri itu mulai melirik untuk menatap keindahan tubuhnya. Bokongnya yang membulat itu membuat setiap santri merasa gemas ingin menamparnya. Tonjolan di dadanya saja sengaja ia tutupi dengan buku dengan harapan itu semua bisa mengurangi keseksian tubuhnya di pagi menjelang siang hari ini. Ia juga sengaja mengenakan blazernya agar lekukan tubuhnya tidak terlalu terlihat saat berjalan menuju tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.
“Kenapa juga nasibku masih gini-gini aja... Padahal sekarang pesantren lagi ujian... Berarti sebentar lagi waktu liburan akan datang... Berarti sebentar lagi waktu pernikahanku juga akan datang... Tapi kenapa aku masih pasrah menuruti kata-kata dari tukang sapu itu... Masa iya gak ada cara biar aku bisa bebas dari perintah tukang sapu berkumis itu !” kata Rachel khawatir memikirkan tanggal pernikahannya yang semakin dekat.
Tak terasa, ia telah tiba di tempat yang diminta oleh tukang sapu itu. Ia pun berjalan menuju teras kelas untuk berdiri di atas alas yang terbuat dari keramik itu. Sesekali, ustadzah montok berisi itu melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari orang itu. Rachel pun lama-lama jadi kesal karena pria tua itu urung juga datang untuk menemuinya disini.
"Ihhh mana sih pak Udin ? Nyebelin deh suka ngaret mulu" Lirih Rachel sambil membuka hapenya untuk mengabari tukang sapu berkumis itu kalau dirinya sudah tiba di halaman teras kelas.
Jemarinya telah menyentuh layar hapenya. Ia telah mengirim pesan itu kepadanya dan berharap tukang sapu itu segera menjawabnya dan menemuinya disini.
"Ihhhh paling gak suka deh kalau ngaret gini" Ucap Rachel kesal. Kedua tangannya semakin mempererat dekapan buku di dadanya. Ia kembali melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari orang tersebut.
Lima menit, sepuluh menit itu masih wajar. Tapi kalau udah setengah jam itu namanya minta dihajar. Rachel kesal sekali karena waktu setengah jamnya terbuang percuma hanya untuk berdiri diam mengamati santri-santri yang berlalu lalang sambil membaca buku di depannya. Kalau tau kejadiannya akan seperti ini, mending ia memilih tidur saja di kantor bagiannya untuk mengurangi rasa kantuk yang kini mulai mendera matanya.
Ia pun teringat kalau semalam dirinya baru saja tidur sekitar pukul dua pagi karena ia diminta oleh panitia ujian untuk membuat soal bahasa Inggris untuk santri kelas empat. Beberapa kali ustadzah montok itu menguap. Mulutnya terbuka lebar. Matanya ia kucek menggunakan tepi telapak tangannya. Ia pun melihat ke arah jam tangannya lagi dan mendapati jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih empat puluh menit.
"Dasar... Buang-buang waktu aja !" Ujar Rachel kesal menyadari dirinya sudah berdiri diam selama empat puluh menit penuh.
Sebal, Rachel pun memutuskan untuk pulang saja ke kantor bagiannya. Untungnya awan-awan biru masih menutupi langit cerah diatas sana. Cuacanya jadi tidak panas membuat Rachel merasa nyaman untuk pulang menuju kantornya.
Namun, baru setelah satu langkah sepatunya menyentuh tanah yang ada di halaman gedung kelas. Ia sudah merasakan adanya tangan yang memegangi bokong sekelnya. Ia juga merasakan adanya pelukan di pinggul rampingnya. Saat bidadari cantik itu menoleh ke belakang. Ia menyadari ada pria tua berkumis yang sedang tersenyum sambil menatap matanya.
"Huehuehue... Makin montok aja nih ustadzah" Ujar pak Udin yang membuat Rachel syok berat.
Bagaimana enggak syok ? Di depannya masih ada santri-santri yang berlalu lalang. Kok bisa-bisanya tukang sapu yang cuma mengenakan seragam kerjanya itu memeluk tubuhnya dan mendekap bokong sekelnya.
"Pakkkk, apa yang bapak lakukan ? Ada santri pak di depan, jangan kurang ajar gini deh !!" Ujar Rachel kesal.
"Huehuehue... Masa ? Kan gak ada yang lihat kesini ? Jadi gakpapa dong saya kangen-kangenan sama ustadzah" Kata pak Udin ngeyel. Pria tua itu malah makin berani dengan meremasi payudara kencangnya. Sontak Rachel makin panik, apalagi saat tak sengaja ia menjatuhkan buku-bukunya.
"Pakkk.... Lepasinnn... Lepasinn aku pakkk" Ujar Rachel memegangi tangan pak Udin kemudian memintanya untuk menjauhkan tangan kotor itu dari tubuh indahnya. Rachel pun melihat ke depan. Memang semua santri itu sedang melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satupun yang melihat ke arahnya. Tapi ya kalau tiba-tiba santri itu melihat ke arahnya gimana ? Untungnya juga suara bukunya yang terjatuh tidak menarik perhatian mereka yang sedang belajar di halaman kelas.
"Huehuehue... Mantappnyaaaa... Kencengnyaa... Oh yah, saya hampir lupa... Ustadzah gak make apa-apa kan di balik gamis ini ?" Tanya pak Udin pada bidadari peliharaannya.
"Mmpphhh... Mmpphhh... Enggakkk... Enggakkkk... Aku sudah turuti semua kemauan bapakkk... Jadi tolong hentikan sekarangg pakkkkk" Lirih Rachel ketika tangan kirinya menutupi mulutnya karena ia tak kuasa untuk menahan desahan yang tiba-tiba keluar dari mulut manisnya.
"Huehuehue... Yang bener ? Coba saya lihat yah ?" Ujarnya ketika kedua tangannya langsung turun kemudian mengangkat naik gamis panjangnya.
"Ehhh pakkkkkk" Sontak Rachel terkejut. Dirinya langsung melihat ke bawah. Lalu pandangannya ia naikan untuk melihat situasi di depan.
"Ohh iya, ustadzah gak pake celana dalam" Ujar Pak Udin saat melihat kemaluan ustadzah cantik itu yang terhidang di ruangan terbuka. Wajah ustadzah berbadan montok itu berubah jadi merah. Ia sangat malu ketika bagian intimnya terlihat di ruangan terbuka. Jantung Rachel berdebar semakin kencang. Ia begitu ketakutan andai ada santrinya yang melihatnya sedang dipermalukan oleh tukang sapu disini.
"Pakkk turuninnn... Jangannn gini ahhhh" Ucap Rachel manja. Kedua tangannya pun bergerak untuk menurunkan sisi gamis bagian bawahnya yang terangkat.
"Huehuehue... Enak aja... Biarin kenapa ?" Kata pak Udin cengengesan. Tangan kanannya pun mendekat ke arah selangkangan Rachel. Ustadzah montok itu pun terkejut ketika bibir vaginanya disentuh oleh jemari tangan pria tua itu di ruangan terbuka.
"Mmmpppphhhhh" Sontak Rachel memejamkan mata sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Ia nyaris saja berteriak ketika titik tersensitifnya disentuh oleh jemari pria tua itu. Pinggul Rachel pun bergoyang. Berulang kali pinggulnya ia dorongkan ke belakang yang membuat bokong sekelnya yang juga sudah tidak tertutupi apa-apa berulang kali meng-antuk-antuk tombak besar pak Udin.
"Huehuehue... Mantapnya... Udah basah aja sih ustadzah" Tawa Pak Udin senang sambil matanya melihat ke depan berharap ada salah satu santri yang melihatnya. Rachel yang tengah dirangsang terus saja memejam. Kenikmatan yang semakin kuat membuatnya sampai mendongakkan ke atas sambil memejamkan matanya.
"Pakkk... Mmmpppphhh... Mmmpphhhh" Desah Rachel dengan lirih berharap pria tua itu berhenti mempermalukannya disini.
Belum puas hanya dengan memamerkan pinggul indah milik ustadzah yang sedang mendesah itu. Pak Udin tiba-tiba menaikan gamisnya lebih tinggi lagi. Sontak ustadzah montok itu terkejut hingga membuka matanya. Untungnya gamis itu agak ketat di pinggangnya. Namun pak Udin tidak menyerah hingga memaksa gamis itu terangkat hingga ke dadanya.
"Pakkk" Jerit Rachel dengan lirih menyadari kemesuman pria tua ini. Kembali Rachel melihat ke depan untuk mengamati pergerakan setiap santri yang jaraknya cukup jauh itu. Tangan Rachel reflek menurunkan tangan pak Udin agar tidak menaikan gamisnya lagi. Akan tetapi, Pak Udin juga tidak menyerah. Mereka pun saling dorong-mendorong untuk memenangkan keinginannya masing-masing.
Sebagai lelaki, tentu pak Udin lebih kuat. Sebagian dari payudara Rachel sudah terlihat. Bahkan putingnya juga sudah mulai mengintip yang membuat bidadari cantik itu was-was andai ada santri yang menyadari perbuatan pria tua ini disini.
"Pakkk tollongg pakkk... Jangann lakukannn... Di depan masih banyak santri pakkk" Kata Rachel menjelaskan.
"Huehuehue... Justru itu ustadzah... Saya ingin ada orang lain yang menyadari kemesuman ustadzah yang suka gak pake dalaman" Ucap pak Udin yang membuat Rachel merinding.
"Apa maksud bapak ? Bapak yang nyuruh aku buat gak make daleman !! Itu bukan salahku pakk... Jadi tolong lepaskannn !!!" Ucap Rachel dengan lirih agar suaranya tidak didengar oleh semua santri itu.
"Huehuehue... Jujur ustadzah, saya suka banget sewaktu ustadzah main-main bareng santri bejat itu di belakang gedung kelas.... Ohhhhh andai ada santri lain yang ikutan sekarang... Akan saya izinkan orang itu untuk menjebol anus ustadzah biar makin lebar" Lanjutnya yang membuat Rachel bergidik ngeri membayangkan andai hal itu terjadi.
"Tolonggg pakkk... Jangan kaya gini... Aku gak mau disangka murahan oleh mereka pak... Aku ini ustadzah... Aku punya harga diri yang harus kujaga" Ujar Rachel ketakutan.
"Huehuehue jaga harga diri ? Kok masih suka telanjang sih ? Ini juga saya lagi bantu ustadzah biar bisa telanjang lagi kok malah nolak... Aneh deh ustadzah" Kata pak Udin menertawakan tubuh Rachel yang semakin terbuka. Pak Udin pun menurunkan resleting di belakang punggungnya hingga membuatnya lebih mudah untuk menaikan gamis ustadzah itu.
"Pakkkk jangannn... Akuu maluuu pakkk" Kata Rachel ketika gamisnya terangkat ke leher hingga kedua payudaranya menggantung bebas di dada ustadzah cantik itu
Pak Udin tersenyum sambil menatap dua buah pepaya yang tergantung bebas di hadapannya. Pria tua yang beruntung itu pun menjilati bibirnya yang kering. Kedua tangannya pun mendekat kemudian mencengkram kedua buah dada berukuran besar yang dimiliki oleh akhwat berhijab lebar itu dari belakang.
"Mmmppphhhh pakkkk" Jeritnya lirih.
"Huehuehue... Gedenya... Kencenggnyaaaa" Ujar Pak Udin sambil meremas payudara itu.
"Oouuhhhh.... Ouhhhhh pakkkk... Oouuuhhhhhh" Desah Rachel pasrah hingga matanya memejam. Kedua payudaranya di remas dengan kuatnya. Payudaranya dicengkram hingga bidadari cantik itu merinding merasakan kenikmatan yang tiada tanding.
Saat mata pak Udin melihat ke depan untuk melihat situasi di hadapannya. Ia jadi semakin kesal setelah melihat sikap yang diambil oleh semua santri itu.
Bodohnya mereka... Kenapa gak ada satupun yang lihat kesini sih ?
Batin pak Udin heran mendapati santri itu terlalu fokus pada bukunya sehingga mengabaikan keindahan yang sedang ia pertontonkan.
Pak Udin pun sengaja memperkuat remasannya berharap agar desahan yang Rachel keluarkan bisa menarik perhatian mereka.
"Mmmpphhh... Mmmppphhhh" Desah Rachel sengaja menutup mulutnya yang membuat Pak Udin tertawa.
"Huehuehue... Coba aja kalau masih bisa ustadzah" Ujar pak Udin memelintir puting Rachel hingga bidadari cantik itu semakin mengerang merasakan kenikmatannya.
"Mmmppphhhh... Mmmpphhh" Desah Rachel bertahan agar tidak bersuara.
"Huehuehue... Ini dia" Katanya tersenyum saat melihat ada salah satu santri yang hendak menoleh ke arahnya. Mendengar suara dari Pak Udin membuat ustadzah cantik itu menaikan pandangannya untuk melihat ke depan.
"Mmmppphhhh... Mmmppphhhh" Desah Rachel masih menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala berharap santri bertubuh kurus itu tidak jadi melihat kesini.
Pak Udin pun menaikan tensinya. Tangan kanannya turun membelai vagina bidadari cantik itu. Tangan kirinya tetap di dadanya dengan memperkuat cengkramannya.
"Ouuhhhhhhh" Desah Rachel nyaris kelepasan.
Jemari kanan pria tua itu terus menekan-nekan biji klitorisnya. Bidadari cantik itu jadi terus-terusan mendesah lemah. Tubuh montoknya bergoyang ke kanan juga ke kiri. Berulang kali pinggulnya ia mundurkan. Rasa nikmat yang ia terima di selangkangannya membuatnya tak sanggup untuk diam saja membiarkan pria tua itu melakukan sepuasnya.
"Pakkkk.... Mmmppphhhh" Desah Rachel ketika ia ingin mendesah kuat. Namun ia teringat kalau di depannya masih ada banyak santri yang berlalu lalang.
Alhasil Rachel memilih pasrah. Matanya ia pejamkan tak peduli andai semua santri itu melihat ke arahnya. Membayangkan semua santri itu sadar kemudian memandang keindahan tubuhnya membuat Rachel jadi semakin terangsang.
"Oouuuhhhhhhh" Desah Rachel tak kuat hanya diam.
"Huehuehue... Terus mendesah ustadzah.... Jangan ditahan... Keraskan desahanmu, panggil mereka dengan suara manjamu" Ujar pak Udin yang membuat Rachel ingin menuruti.
"Uhhhhh... Uhhhhhh" Desah Rachel membayangkan semua santri itu mendekat kemudian beronani sambil memandang tubuh polosnya.
Kenapa rasanya jadi enak gini... Kenapa aku jadi menikmati perbuatannya !!
Batin Rachel merasa heran saat fantasi terpendamnya nyaris terpenuhi.
Ustadzah cantik bertubuh montok berisi itu pun bimbang untuk memilih antara memuaskan fantasinya atau menjaga image-nya sebagai seorang ustadzah.
Dalam keadaan telanjang dengan gamisnya yang terangkat hingga ke lehernya. Bukankah ini kesempatan yang pas untuk mewujudkan fantasinya ? Kapan lagi ia bisa mempunyai kesempatan sebesar ini ? Apalagi ia merasa kalau liang senggamanya semakin basah ketika di rangsang sedemikian rupa oleh pria tua itu.
"Ahhh... Ahhhhh" Desah Rachel agak mengeraskan suaranya namun belum sempat terdengar oleh mereka.
Pak Udin pun kembali menaikan pandangannya untuk melihat situasi di depan.
Huehuehue... Mana yah santri tadi yang mau noleh ?
Batin pak Udin penasaran.
Namun saat ia menaikan pandangannya. Ia tak menemukan satu pun santri di hadapannya. Akan tetapi, ketika wajahnya ia tolehkan ke kiri. Tepatnya ke arah semak-semak yang jaraknya tak begitu jauh dari tempatnya berada. Ia menemukan ada salah satu santri yang ketahuan beronani dari balik semak itu. Pak Udin pun tersenyum. Saat wajahnya ia tolehkan ke kanan tepatnya ke arah pohon besar yang biasa menjadi tempat berteduh para santri. Ia menemukan ada santri lain yang beronani dari balik pohon itu.
"Huehuehue gitu dong" Ujar pak Udin terkekeh-kekeh.
"Ahhhh pakkkk... Ahhhh... Ahhhh" Desah Rachel tak kuasa menahannya lagi. Suara desahannya yang begitu manja membuat kedua santri itu semakin mempercepat gerakan mengocoknya.
"Huehuehue" Tawa pak Udin sambil membelai tubuh bidadari cantik itu.
Senang ketika ada dua santri yang merespon rangsangannya, membuat tangan pria tua itu semakin bersemangat untuk melecehkan kemaluan dari bidadari cantik itu. Jemari telunjuk tangannya telah masuk seperempatnya. Rachel terkejut ketika merasakan jemari nakal itu.
"Pakkk... Jangannn... Inget pak perjanjian kita !!" Ucap Rachel takut kehilangan keperawanannya.
"Huehuehue... Santai ustadzah... Saya profesional kok... Saya akan memuaskan ustadzah sampai puas" Ucapnya yang membuat wajah Rachel memerah malu.
Payudara besar itu dicengkramnya oleh pria tua itu. Jemarinya pun tak ketinggalan dengan memilin putingnya. Rasa puas yang Rachel keluarkan memuncak hingga membuat ustadzah montok itu berhenti melakukan perlawanan. Tak sadar Rachel kembali memejam yang membuat pria tua itu cekikikan.
"Huehuehue" Pria tua itu tertawa sambil menganggukan sedikit kepalanya.
Bukan tanpa alasan kenapa pria tua itu mengangguk sambil cekikikan sendiri. Masalahnya, di depannya ada salah satu santri yang memberanikan diri mendekat. Santri itu sudah mengeluarkan batang penisnya dari sela-sela resleting celananya. Pria tua itu meyakinkan santri itu untuk mendekat hingga santri itu pun manut-manut saja dengan perintahnya.
Tak lama kemudian santri yang tadi beronani di balik pohon besar itu ikut mendekat. Santri yang tadi beronani dari balik semak-semak itu juga ikut mendekat setelah melihat kedua temannya mendekat.
"Huehuehue.. Buka matamu ustadzah... Lihatlah kenikmatan yang sedang mereka rasakan" Ujar pak Udin yang segera dituruti oleh ustadzah cantik itu.
Betapa terkejutnya ia ketika di hadapannya ada tiga orang santri berusia 19 tahun yang semuanya sedang beronani sambil memandang dirinya.
"Aaahhhhh... Apa yang antum lakukan... Jangan lihat... Jangan lihatttt" Ujar Rachel berusaha memberontak namun tertahan oleh dekapan kuat pak Udin di tubuhnya.
"Ahhhh... Ahhhh ana cuma ngeliatin ustadzah aja kok.... Boleh kan ana nonton ustadzah dilecehkan bapak ini" Ujar santri yang tadi beronani dibalik pohon.
"Ahhhh... Ana juga ustadzah... Dari dulu ana udah nafsu banget sama body ustadzah yang montok... Ana gak nyangka rupanya bisa ngeliat ustadzah dilecehkan di tempat ini" Ujar santri yang pertama kali mendekat.
"Ahhhh... Ahhhh... Ana juga ustadzah... Dari dulu ana punya fantasi kalau ustadzah yang montok berisi dilecehkan oleh pria rendahan entah kuli bangunan atau satpam gitu lah... Gak kebayang kalau tubuh seindah ustadzah digenjot oleh bapak ini" Ujar santri terakhir yang tadi beronani dari balik semak-semak.
"Huehuehue... Kalian mau lihat saya menggenjotnya ?" Kata pak Udin yang membuat Rachel merinding mendengarnya.
"Mauuuu" Jawab ketiga santri itu kompak.
"Apa... Apa yang kalian lakukannn... Hentikannn pakkk... Hentikan" Ucap Rachel merasa malu sekali.
Walaupun begitu, sebenarnya ada perasaan aneh yang sedang Rachel alami saat ini. Ia merasa puas. Ada sensasi aneh yang membuat rangsangan tangan pak Udin semakin nikmat ketika sedang menjamah tubuhnya.
"Ahhhhhh... Aaaaahhhhhh" Desahnya dengan manja yang membuat ketiga santri itu semakin bernafsu.
"Ahhhh... Ustadzahhh... Ustadzahhh inget gak sewaktu kita main basket bareng" Ujar salah satu santri yang mengejutkan Rachel. Rachel pun membuka matanya untuk melihat siapa santri yang sedang beronani di depannya.
"Ahhhh.... Ahhhh... Ana masih inget ustadzah gimana susu ustadzah pas mendul-mendul waktu itu" Ujar santri lainnya.
"Ahhh... Ahhhh Iyah sejak saat itu... Kami bertiga selalu ngebayangin gimana yah rasanya bisa genjot memek ustadzah sambil menikmati pemandangan indah di dada ustadzah" Kata santri lainnya.
Rachel pun terengah-engah sambil memandangi mereka bertiga. Semakin lama ia menatap wajah santri itu. Ia pun semakin ingat bahwa ternyata ketiga santri itu adalah santri yang sama ketika mereka bermain basket bersama di waktu itu. (Baca: Chapter 9)
"Anntuummm... Rio... Wahyu... Bayuuu !!!” Ucap Rachel mengenali ketiga santri itu.
“Wkwkwkw benar sekali ustadzah... Ahhhh... Ahhhh... Ana Rio, salah satu dari ketiga santri yang waktu itu melawan ustadzah sendirian” kata Rio sang santri kurus bertubuh jangkung yang merupakan jagoan basket di pondok pesantren ini. Ia juga santri yang tadi beronani di balik semak-semak karena takut dirinya akan dimarahi oleh pria tua yang sedang menikmati payudara juga vagina ustadzah Rachel.
“Ahhhh.... Ahhhhhh... Iya ustadzah, ana Bayu... Ana salah satu fans berat antum yang berharap bisa ngentotin antum suatu hari nanti” kata Bayu yang terkenal blak-blakan yang membuat kedua temannya menegurnya. Bayu merupakan santri berkulit gelap dengan gigi maju yang tadi pertama kali mendekati Rachel.
“Ahhhhh... Ahhhh ana Wahyu ustadzah... Ana gak nyangka... Rupanya antum binal juga yah... Kemarin kita yang digoda, eh sekarang bapak ini yang digoda... Ustadzah sampai telanjang gini lagi... Uhhh body antum sempurna banget... Ana jadi gak tahan pengen ngewe bareng ustadzah” kata Wahyu si santri bertubuh gempal dengan janggut tebal yang tumbuh di dagunya.
Ketiga santri itu terus saja beronani sambil menatap tubuh polos Rachel yang sedang digrepe-grepe oleh pria tua itu.
“Ohhhh huehuehuehue... Jadi kalian yang waktu itu yah !” kata Pak Udin menertawakan kejadian waktu itu.
“Ehhh bapak tau ?” kata Rio terkejut.
“Emang bapak siapa sih ?” tanya Wahyu penasaran.
“Iya deh... Kok bisa bapak seberuntung ini ?” tanya Bayu heran.
“Kenalin saya Udin... Panggil saja saya pak Udin... Kalian Rio, Bayu & Wahyu yah ? Huehuehue... Kenalin, ini ustadzah Rachel... Ustadzah peliharaan saya” ujar pak Udin yang membuat ketiga santri itu terkejut.
Rachel juga terkejut ketika dirinya dipanggil peliharaan oleh pria tua itu. Marah ? Sebaliknya, Hawa nafsu yang telah menggebu-gebu membuatnya malah semakin terangsang oleh ucapannya itu. Apalagi ketika ketiga santri itu menatap tubuhnya dengan penuh nafsu. Rachel justru tertantang. Rasa narsistiknya yang ingin dilihat ditambah dengan fantasinya yang ingin bercinta sambil dilihat oleh semua santri laki-laki membuat hawa nafsunya semakin menjadi.
Liang senggamanya semakin basah. Akhwat berhijab itu pun semakin bebas mendesah. Nampak wajahnya semakin memerah. Tubuh ustadzah cantik itu pun mengencang. Payudara bulatnya juga mengencang. Puting payudaranya pun menegak membuat penis ketiga santri itu juga semakin menegak.
“Aahhhhh bapakkkk... Ahhhhh... Ahhhhh” desah Rachel saat kedua payudaranya tiba-tiba dicengkram kuat oleh pak Udin. Sontak ketiga santri itu semakin bernafsu. Apalagi saat tangan pak Udin tiba-tiba meloloskan gamis itu melewati kepala juga kedua tangan bidadari cantik itu.
Rachel sudah telanjang bulat di depan teras halaman gedung kelas. Hanya hijab berwarna hitamnya saja yang melekat menutupi kepalanya. Hanya sepatu beserta kaus kaki panjangnya yang menutup hingga ke lututnya. Hanya handshocknya saja yang menutup punggung tangan hingga ke sikunya. Rachel terlihat semakin menggoda. Apalagi dengan dua payudara yang menggantung sempurna.
“Huehuehue... Lihat sini yah kalian !” ujar pak Udin tiba-tiba memegangi kepala Rachel untuk mengarahkannya ke samping. Tiba-tiba bibirnya mendekat. Pria tua itu pun mencumbunya sambil memegangi payudara kiri Rachel menggunakan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menahan kepala Rachel agar tidak bergerak ketika dicumbu olehnya.
“Mmmpphhhh” desah Rachel dengan manja ketika tiba-tiba dicumbu oleh pria tua itu.
Ketiga santri yang dibiarkan melihat pemandangan indah itu terpana. Tangan mereka kompak mengocok penis mereka yang semakin tegak maksimal. Betapa menggairahkannya cumbuan mereka ketika pria tua itu menikmati bibir tipis milik ustadzah yang katanya sebentar lagi akan segera menikah.
Kedua bibir mereka bertemu. Kedua bibir itu terus melaju tanpa memperdulikan keadaan sekitar karena terlanjur bernafsu. Tak peduli dengan nafas pak Udin yang bau. Rachel pun membiarkan bibir tua itu terus mencumbu. Rachel sudah tak peduli lagi. Nafsunya sudah semakin tak terkendali. Yang ia inginkan hanyalah memanfaatkan momen ini untuk memuaskan fantasi yang telah lama ia pendam dalam hati.
Sesekali matanya pun membuka untuk melirik ketiga santri itu. Rachel pun sadar kalau mata ketiga santrinya sedang berapi-api menikmati keindahan tubuhnya yang sedang dilecehi. Rachel pun heran sendiri kenapa dirinya jadi seperti ini. Mungkinkah karena ia sudah menikmati ? Ataukah karena ia sudah tidak peduli lagi ? Tidak peduli dengan statusnya sebagai seorang ustadzah karena ia hanya ingin dipuasi.
“Mmpphhhh... Mmpphhh bapakkk... Bapakkkkk” desah Rachel sudah tidak tahu lagi dengan hawa nafsunya yang semakin menjadi.
“Huehuehue lihat kan kalian ? Ustadzahnya sudah menikmati nih” ucap Pak Udin tertawa puas.
“Wahhh iya hebat” kata Rio.
“Kok bapak bisa membuat ustadzah sangek gini ?” tanya Wahyu.
“Bapak pake obat perangsang yah ? Kok ustadzah bisa sangek gini ?” tanya Bayu curiga.
“Huehuehue perangsang ? Sorry yee... Saya murni membuat ustadzah sangek kaya gini... Sudah berbulan-bulan saya menyodomi pantatnya... Sudah berbulan-bulan saya menggrepe susunya... Sudah berbulan-bulan ustadzah kecanduan bibir saya... Pokoknya saya sudah berhasil membinalkan ustadzah... Saya tinggal menikmati hasilnya saja sekarang huehuehue” kata pak Udin dengan pedenya.
“Waahhhh kerreennnn !!” ucap ketiga santri itu sambil terus mengocok penisnya.
Rachel agak risih sebenarnya dengan ucapan sepihak dari pria tua itu. Ia jelas tidak mengakui kalau dirinya sudah takluk. Ia hanya ingin memanfaatkan momen ini. Ia hanya ingin memuaskan rasa fantasinya sendiri. Apalagi mumpung sudah seperti ini. Yaudahlah, pasrah aja. Kapan lagi bisa seperti ini ? Besok-besok baru enggak lagi. Pikirnya ketika membela dirinya kalau ia bukanlah ustadzah murahan yang bisa semena-mena dipakai oleh pria tua itu. Padahal mah sebaliknya, ia sudah takluk. Semua ucapan pria tua itu harus ia turuti entah secara pemaksaan atau pun tidak.
“Mmmppphhhh pakkk... Pakkkkkk” desah Rachel bergoyang ketika vaginanya kembali dirangsang oleh tangan pria tua itu.
“Ouhhhhh.... Ouhhhhh ustadzahhhh” desah Rio yang semakin terangsang melihat tubuh sempurna Rachel bergoyang hingga kedua payudaranya bergetar.
“Huehuehue... Ustadzah udah mau keluar yah... Memeknya makin basah nih” bisiknya yang membuat Rachel merasa malu.
Rachel pun tidak mau mengakui pertanyaan itu. Anehnya, keinginan hatinya selalu bertindak berbeda dengan pergerakan tubuhnya. Walau ia tadi bilang dalam hati kalau dirinya bukanlah ustadzah murahan yang bisa semena-mena diberlakukan oleh tukang sapu itu. Ketika bibir pak Udin berhenti mencumbunya, justrulah bibir Rachel yang bergerak untuk mencumbui bibir pria tua itu.
Sensasi aneh yang ia rasakan ketika tubuhnya dipuaskan membuatnya bertindak di luar akal sehatnya. Rachel telah terangsang hebat. Apalagi ketika gelombang dahsyat akan keluar dari dalam liang vaginanya.
“Mmpphhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Rachel berhenti bercumbu. Ia pun bisa menjerit sepuasnya. Apalagi ketika bibir pak Udin mengecupi bahu mulusnya. Permainan jari Pak Udin di puting susunya juga di liang senggamanya membuat ustadzah bertubuh montok itu tidak mampu untuk menahannya lagi.
“Pakkkk... Ahhhh... Ahhhh... Akuu mauu keluarrr” desah Rachel saat merasakan lututnya melemah. Nafasnya pun terasa sesak dan kedua payudaranya semakin menegak hingga tubuhnya terbentuk sempurna di halaman kelas itu.
“Mau keluar ? Mau keluar ?” ucap ketiga santri itu terkejut. Mereka saling memandang. Mereka keliatan bingung. Tetapi mereka juga merasa senang. Mereka bertiga pun bersiap-siap untuk menerima semprotan dahsyat yang keluar dari vagina ustadzahnya.
“Ahhhhh... Ahhhhh bapakkk.... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Rachel menggigit bibir bawahnya kemudian mengatupkan pahanya berulang kali ketika semprotan dahsyat itu keluar.
“Aaahhhhh... Akkuuuu... Keluuaarrrrrr !!!” desahnya dengan sangat puas.
Cccrrrtttt... Ccrrrtttt... Cccrrrttttt !!!!
Semburan dahsyat keluar dari dalam lubang kencing ustadzah itu. Ketiga santri yang masih mengenakan pakaian lengkap itu langsung berjongkok untuk menerima semprotan cairan cinta dari bidadari itu.
“Mmppphhh jadi gini rasanya semprotan memek ustadzah” kata Rio bernafsu.
“Eehhh gantian dong Rio... Giliran ana kapan” kata Bayu ingin meminum cairan cinta ustadzahnya.
“Hehhh giliran ana sekarang” kata Wahyu merebut giliran karena tak sabar ingin meminum cairan cinta itu.
Terlepas dari ketiga santri itu yang bernafsu ingin meminum cairan cinta ustadzahnya. Rachel sendiri tengah kelelahan. Tubuhnya begitu puas ketika fantasinya terpenuhi. Berulang kali tubuh bidadari itu kelojotan saat cairan cintanya keluar. Matanya merem melek tak karuan. Mulutnya pun terus membuka mengeluarkan desahan yang membuat keempat pria ini gemas ingin mencumbunya.
“Mmmppphhhhh” Pak Udin yang tidak tahan pun mencumbu bibir itu lagi.
Terasa deru nafas Rachel yang hangat menerpa mulut pria tua itu. Erangannya yang begitu manja membuat birahi pak Udin semakin tidak terkendali. Berulang kali tangannya yang mengganggur ia gunakan untuk mengurut batang penisnya yang masih bersembunyi di balik celana kainnya. Pak Udin gemas. Ustadzah Rachel pun puas. Tubuh ketiga santri itu memanas setelah melihat pertunjukan air mancur dari ustadzah favorit mereka.
“Mmmppphhh ahhhhhh” desah Rachel saat cumbuannya di lepas oleh pria tua itu. Ustadzah cantik itu pun dibiarkan istirahat terlebih dahulu oleh tukang sapu itu. Walaupun begitu, pak Udin terus saja memeluknya dari belakang sambil sesekali meremas payudaranya yang membuatnya geleng-geleng kepala.
Gileee... Gede banget nih susu !
Batin pak Udin terpana.
Melihat ketiga santri itu yang semakin bernafsu membuat pria tua itu terpikirkan suatu ide untuk memuaskan fantasinya.
“Huehuehue... Dengar kalian... Sebentar lagi saya akan menyodomi pantatnya lagi... Nanti saya akan membiarkan ustadzah Rachel mengulum penis kalian secara bergantian... Selama lima menit kalian harus bisa bertahan yah, bagi yang bisa melakukannya akan saya izinkan untuk menyodomi pantatnya setelah saya” ucap pak Udin yang membuat Rachel terkejut. Ketiga santri itu pun kegirangan puas.
“Tapiii pakk... Tapiiii” ucap Rachel tak terima.
“Sssstttt... Semua demi kamu ustadzah... Biar fantasi ustadzah terpuaskan !” Ucap pak Udin yang tiba-tiba membawa Rachel keluar dari gedung kelas.
“Eehhhh pakkk... Bapakk mau kemana ! Ini masih jam belajar ustadzah... Nanti banyak santri lewat” kata Rachel ketika dibawa oleh pria tua itu menuju taman yang letaknya berada di halaman gedung kelas.
Di taman itu terdapat kursi duduk yang biasa ditempati oleh santri untuk belajar. Di taman itu juga terdapat pepohonan yang membuat udara jadi tidak terlalu panas. Apalagi awan biru masih menutupi sinar matahari pagi. Cuacanya pun mendukung, membuat Rachel hanya bisa pasrah ketika dibawa oleh pria tua itu.
“Kita melakukannya disana yah... Biar ustadzah semakin puas sewaktu kita pakai” kata pak Udin yang disambut meriah oleh ketiga santri itu.
Rachel pun sudah menungging bertumpu pada meja taman. Tubuhnya yang kelelahan setelah mendapatkan orgasmenya membuatnya tak mampu melawan. Ia pun pasrah saja. Apalagi ketika tiba-tiba ia merasakan adanya benda tumpul yang mendekati anusnya.
“Ehhh pakkk... Disini ?... Jangann disini pak aku maluuuu... Nanti banyak santri yang lihat” kata Rachel malu-malu tapi mau.
“Wkwkkwk tenang ustadzah... Sekarang udah jam sebelas lebih kok... Semua santri sudah kembali ke asramanya... Tinggal kami bertiga aja yang ada disini menemani ustadzah” kata Bayu setelah melihat jam tangannya.
“Huehuehue... Dengerin tuh ustadzah... Cuihhhh” ucap pak Udin meludah ke arah anus Rachel.
“Aahhh... Ahhhhhhhh” desah Rachel saat merasakan jemari tengah pak Udin menusuk anusnya.
“Huehuehue lihat deh ekspresi ustadzah kalian... Udah gak sabar tuh, cepat tentukan urutannya... Siapa yang mau pertama kali diuji untuk bertahan lima menit disepong ustadzah” kata pak Udin yang keasikan mengorek-ngorek lubang anus ustadzah montok itu.
“Gimana kita nentuinnya ?” tanya Rio sambil melirik wajah ustadzahnya,
“Gila... Pasti ustadzah udah keenakan banget tuh... Mukanya nafsuin” kata Bayu yang tak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah cantik ustadzahnya.
“Hompimpa aja deh... Ana udah gak kuat pengen disepong mulutnya” kata Wahyu si janggut tebal.
Mereka bertiga kembali melirik ustadzahnya. Nampak wajah Rachel yang memejam sambil membuka mulutnya saat lubang anusnya diperbesar oleh pria tua itu. Mereka bertiga pun menenggak ludah tak sabar untuk merasakan sepongan dari ustadzah cantik itu.
“Hompimpa alaiyum gambreng... Mak ijah pake baju rombeng !” Ucap ketiga santri itu.
Beruntung, Rio lah yang mendapat giliran pertama. Santri bertubuh kurus dan jagoan basket itu berada di urutan satu. Selanjutnya Wahyu si santri berjanggut tebal dan terakhir Bayu si santri berkulit hitam dan mempunyai gigi maju.
Ketika Rio ingin mendekat untuk memasukan penisnya ke mulut ustadzahnya. Ia malah terdiam ketika melihat batang penis dari pria tua itu tengah mendekat tuk memasuki lubang sempitnya.
“Aahhhh bapakkkk... Ahhhhh” desah Rachel sambil mendorong tubuh pak Udin menjauh karena merasakan sakit di lubang kotorannya.
“Wuidihhhh... Lihat deh” kata Rio sambil mengocok penisnya lagi.
“Huehuehue... Lihat sini semuanya... Belajar yang banyak yahhh !” kata pak Udin bersemangat sambil memegangi bokong sekel bidadari montok itu. Pak Udin meremasnya kemudian mengusapnya naik hingga punggungnya kemudian meremasnya lagi.
“Aaaahhhhhhhhhh bapakkkkk” desah Rachel saat penis besar itu terus menghujam memasuki liang kotorannya.
“Aahhhhhh sempiittnnyyaa” desah Pak Udin puas yang membuat ketiga santri itu semakin bernafsu hingga membetot penis mereka masing-masing.
Cengkraman tangan Rachel diperkuat olehnya. Mata Rachel pun semakin memejam merasakan penetrasi yang menyakitkan dari pria tua itu. Walau ini bukan pertama kalinya. Penis besar itu selalu saja membuatnya tersiksa.
“Gillaaa... Mantep banget pakkk... Ohhhhhh... Ouhhhh” desah Bayu si santri berkulit gelap.
“Bapakkkk ahhhhhh” desah Rachel terus-terusan dengan manja.
“Ouhhh ustadzahhh... Suara antum itu loh bikin kita sangek” kata Rio bernafsu.
“Huehuehue... Akhirnya Hennnkkgghhh !!!” desahnya memaksa hingga ia langsung menjebol lubang pantat yang begitu sempit itu.
“Aaaahhhhhhhhhhh” desah Rachel hingga tubuhnya terdorong maju ke depan. Kedua payudaranya yang menggantung bebas itu pun bergetar. Membuat ketiga santri itu geleng-geleng kepala tak mempercayai keindahan yang terjadi di hadapan mereka.
“Mmmpphhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah Rachel terdorong maju mundur ketika pria tua itu bergerak menghujami lubang anusnya.
“Huehuehue mantaappnyyaa... Agak nunduk ustadzahhh... Biar Rio bisa mendapatkan gilirannya” ujar pak Udin yang dituruti saja oleh bidadari cantik itu.
“Ini ustadzahhh tolonggg yaa... Aahhhhhh” desah Rio puas ketika penisnya merasakan kehangatan dan kelembapan di mulut ustadzahnya.
“Gimana Rio rasanya ?” tanya Wahyu penasaran.
“Mantep gak Rio ?” tanya Bayu juga.
“Aahhhh... Ahhh gak ada duanya... Ini enak banget kalian harus coba !” kata Rio kehilangan kata-katanya.
“Huehuehue... Itu baru lubang mulutnya belum lubang anusnya loh !” Kata pak Udin yang masih berpakaian lengkap. Penisnya yang keluar dari lubang resletingnya sudah menancap di anus ustadzah itu. Ia pun membuka hapenya kemudian menyeting stopwatch yang ia taruh di meja taman itu.
“Sekarang kita mulai yahhh !” kata pak Udin kembali mendorong pinggulnya hingga tubuh Rachel tersentak maju. Otomatis penis Rio semakin menancap di mulut ustadzahnya yang membuat santri jangkung itu merinding puas.
“Aahhhhh... ahhhh ustadzahh” desah pak Udin sambil melihat langit cerah agar dirinya dapat berfokus menikmati jepitan anus Rachel yang menjepit batang penisnya.
Kedua tangannya pun memegangi pinggang ramping ustadzah montok itu. Pinggulnya terus mendorong maju mundur. Jepitan yang terasa seret-seret nikmat membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala mengekspresikan kepuasannya.
“Mmpphhhh... Mmpphhh... Mmppphhh” desah Rachel tertahan sambil memegangi paha Rio.
“Aahhhh inget ustadzahhh... Kalau lima menit Rio masih bisa bertahan... Maka Rio boleh menganal ustadzah loh setelah ini huehuehue” kata Pak Udin mengingatkan yang membuat Rachel pun sadar kalau dirinya harus melakukan sesuatu agar santri jangkung itu tidak mampu bertahan dari sepongan mulutnya.
“Ouuhhhh ustadzahhhhhh... Ouuhhhhh” desah Rio dengan keras ketika merasakan penisnya seperti di sedot-sedot oleh mulut ustadzahnya.
“Huehuehuehue... Mulai terasa enak yah ?” Ejek Pak Udin melihat Rio merem melek merasakan sedotan mantap dari mulut ustadzahnya.
“Mmppphhh... Mmppphhhhh” Desah Rachel ketika tubuhnya terdorong maju mundur menerima sodokan dari pria tua itu. Ia pun berusaha, agar jagoan basket itu tidak memasuki anusnya. Mulutnya terus menyedot-nyedot ujung gundul dari penis santrinya. Lidahnya di dalam juga bertindak hingga santri itu kewalahan menerima sepongan ustadzahnya.
“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhh... Ahhhhh ana gak kuat !” kata Rio yang membuat kedua temannya heran.
“Lohhh udah mau keluar aja ?” tanya Bayu.
“Ahhhh ana gak kuat lagi pokoknya... Sepongannya mantap !” kata Rio tak mampu bertahan lagi.
“Huehuehue” Pak Udin pun sengaja menghentikan sodokannya. Penisnya ia biarkan menancap di dalam sehingga Rachel semakin mudah untuk merangsang penis santri beruntung itu.
“Mmmpphhh... Mmmpphhh” desah Rachel memaju mundurkan mulutnya hingga penis santri itu mulai berdenyut-denyut di dalam mulutnya.
“Ohhhh ustadzahhh... Ustadzahhh... Aahhhh” desah Rio menggelinjang. Akhirnya setelah dua menit dihisap oleh mulut Rachel. Rio pun kalah dan mengeluarkan spermanya di dalam mulut ustadzahnya.
“Aahhhhhh ana keluaarrr... Hennkkghhh !!!” Nafsu yang menggebu membuat Rio mendorongkan pinggulnya hingga penis itu menyodok pangkal kerongkongan dari ustadzah cantik itu.
“Mmmppphhhhh” desah Rachel tertahan saat mulutnya dipenuhi oleh cairan sperma santrinya.
“Aahhh mantapppppp !!!” desah Rio merem melek merasakan kepuasan yang ia terima. Ia pun tak habis pikir. Dirinya bisa merasakan sepongan ustadzah Rachel ketika ustadzah favoritnya itu tengah telanjang di ruangan terbuka.
“Mmmpphhhhh ahhhh” desah Rachel saat penis Rio tercabut dari mulut kecilnya. Rachel pun langsung memuntahkan spermanya hingga cairan kental berwarna bening itu terbuang ke tanah yang sedang mereka pijak.
“Huehuehue... Selanjutnya !” kata Pak Udin tertawa melihat Rio gagal dalam ujiannya.
“Ana... Ana ustadzah” kata Wahyu si janggut tebal yang penasaran gimana rasanya di sepong oleh seorang ustadzah. Tanpa ragu, santri bertubuh gempal itu mendekatkan penisnya yang rupanya ukurannya hampir sama dengan proporsi tubuhnya, yakni gempal.
“Mmmmpppphhhhh” desah Rachel saat mulutnya langsung mengulum batang penis gemuk itu.
“Aahhhhh gillaaaa !!!” desah Wahyu heran kenapa rasanya bisa senikmat ini.
“Huehuehue... Udah makin menikmati nih ? Biarin aja dulu kali yah !” ujar Pak Udin saat memperhatikan mulut Rachel bergerak liar dalam mengulum batang penis itu. Ia pun tidak menggerakan pinggulnya. Ia hanya menonton sambil menarik nafas kuat agar penisnya yang sedang terjepit tidak keburu keluar merasakan sempitnya bokong ustadzah berhijab itu.
“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhh... Mulut antum enak banget... Ana gak nyangka rupanya antum sejago ini yah mainin kontol ana” puji Wahyu saat penisnya di hisap kuat-kuat oleh ustadzah montok itu.
Mendengar pujian dari santri itu membuat diri Rachel merasa malu. Anehnya, ia malah semakin bersemangat untuk mengeluarkan cairan sperma dari dalam lubang kencingnya. Kedua tangannya pun memegangi paha santrinya. Berulang kali mulutnya ia dorongkan hingga nyaris mentok mengenai selangkangan santrinya. Hidungnya pun sudah menyentuh bulu jembut dari santri gemuk itu. Aroma keringat yang memuakkan justru menjadikan Rachel lebih bersemangat lagi dalam memuaskan fantasinya dalam mengulum penis santrinya di ruangan terbuka.
“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhhh” desah Wahyu tak tahan.
Kepala Rachel ia putar-putar. Akibatnya penis di dalam mulutnya juga berputar mengikuti pergerakan kepala ustadzah cantik itu. Lidahnya terus menjilati ujung gundul dari penis gemuk itu. Lidah itu berayun-ayun mengusapi ujung gundulnya yang bentuknya mirip kepala jamur itu. Wahyu pun mendesah. Wahyu bergairah. Ia tidak menyangka ustadzahnya bisa mengulum penisnya dengan sangat lihai. Kedua tangannya yang gemas pun memegangi kepalanya. Gairah birahi yang semakin tidak terkendali membuatnya menggerakan pinggulnya sendiri untuk memborbardir mulut ustadzah cantik itu tanpa ampun.
“Aahhhh... Ahhhhh ustadzahhhh... Ahhhhh” desah Wahyu menghujami mulut Rachel.
“Huehuehue... Baguss... Iya seperti itu nak !” kata Pak Udin tertawa melihat semangat yang berapi-api dari wajah Wahyu.
“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Rachel kewalahan.
Wahyu sudah seperti kerasukan jin mesum. Tanpa ampun, penisnya menghujami rongga mulut ustadzahnya tanpa ampun. Pinggulnya bergerak naik turun. Kepalanya mencengkram kuat hijab yang dikenakan oleh ustadzahnya. Terasa kehangatan dan kenikmatan berubah menjadi satu. Apalagi ketika merasakan sensasi menyenggamai mulut ustadzahnya di tempat terbuka seperti ini. Saat ia melihat ke bawah. Ia mendapati punggung mulus bidadari cantik itu. Ia pun membayangkan keadaan payudaranya yang menggantung di bawah. Akan sangat sempurna andai dirinya bisa melihat keindahan payudara yang sedang bergoyang itu sekarang. Sialnya, membayangkan hal itu justru membuat nafsunya semakin naik.
“Huehuehue... Saya bantu yah nak !” kata pak Udin kembali menggerakan pinggulnya karena terbakar oleh semangat Wahyu dalam menyenggamai mulut ustadzahnya.
“Mmpphhh... Mmpppphhhh” desah Rachel kewalahan menerima sodokan dari depan dan juga belakang.
Rio dan Bayu yang kebagian cuma melihat terpukau oleh pertunjukan ustadzahnya di tempat terbuka seperti ini. Ia tak membayangkan bagaimana binalnya ustadzah Rachel ketika disetubuhi oleh mereka bersama. Mereka berdua pun menatap wajah cantik ustadzahnya. Nampak matanya yang memejam seolah menikmati dua penis yang sedang memasuki dua lubangnya membuat kedua santri itu bernafsu ingin menyetubuhinya sewaktu-waktu. Terutama Bayu si santri berkulit gelap dan bergigi tonggos yang belum mendapatkan jatah memasuki salah satu dari ketiga lubang kenikmatan itu.
“Huehuehue udah empat menit nih !” kata pak Udin terpukau oleh ketahanan fisik Wahyu yang mampu menyetubuhi mulut Rachel. Padahal pinggul Wahyu cukup aktif, tapi ia mampu bertahan dan memuaskan birahinya pada mulut ustadzahnya.
“Mmmppphhh... Mmppphhh” desah Rachel tertahan. Mulutnya semakin penuh saat penis gemuk itu keluar masuk menggesek lidahnya. Terkadang ia juga nyaris tersedak saat ujung gundul dari penis itu menyodok pangkal kerongkongannya. Akibatnya kedua tangan Rachel memperkuat cengkramannya pada paha santri gemuk berjanggut tebal itu.
Ehhh sebentar, udah empat menit ?
Batin Rachel menyadari. Kalau Wahyu berhasil melakukan misinya, bukankah itu berarti santri gemuk ini berkesempatan untuk menyodomi bokongnya ?
Rachel pun geleng-geleng kepala tak ingin membiarkan itu terjadi. Mulutnya kembali aktif bergerak. Kedua bibirnya ia rapatkan sehingga penis gemuk itu semakin terjepit di dalam.
“Aahhhhhh ustadzahhhhh” kata Wahyu yang langsung tak kuat akibat hisapan dari mulut ustadzahnya.
Ya, Rachel berusaha sebisa mungkin untuk mengeluarkan sperma dari penis santri gemuk itu. Bibirnya langsung menghisapnya. Mulutnya bekerja bagai vacuum cleaner untuk mengeluarkan cairan kental yang masih bersembunyi di dalam batang penis gemuk itu. Kadang mulutnya juga ia maju mundurkan. Tak peduli dengan batang penis hitam milik Udin yang masih keluar masuk di anusnya. Ia juga memaju mundurkan mulutnya hingga ia mulai merasakan penis dari santri gemuk itu berdenyut.
“Sialll mauuu keluuaarrr” kata Wahyu sambil melihat ke arah hape pria tua itu.
Sepuluh detik lagi padahal... Aku harus bisa bertahan !
Batin Wahyu yang begitu ingin menikmati jepitan mantap dari bokong ustadzahnya.
“Mmmpphhh... Mmmppphhhh” desah Rachel semakin cepat dalam memaju mundurkan mulutnya.
“Aahhhh ustadzahhh... Ahhhhh... Ahhhhhh !!!” desah Wahyu bernafsu.
Rio dan Bayu yang sedang menonton pun gugup. Sebagai seorang teman, mereka hanya bisa berharap semoga Wahyu bisa menyelesaikan misinya. Mereka juga berharap setidaknya ada satu dari mereka bertiga yang bisa menyodomi ustadzah cantik itu di siang hari ini.
“Aaaaahhhhh” desah Wahyu sambil melihat ke arah hape yang tergeletak di meja itu.
Empat detik lagi... Ayolahhh !!!
Batin Wahyu ingin bertahan.
“Mmpphhh... Mmmppphhhh” desah Rachel sambil terus menghisapnya dan lidahnya bergerak menggelititki ujung gundulnya.
“Huehuehue seru sekali peserta kedua ini” kata pak Udin terhibur oleh semangat Wahyu.
Nafas Wahyu sudah merasa sesak. Kenikmatan yang begitu menghujam tidak dapat ia pendam selamanya. Gelitikan lidah Rachel dalam menjilati lubang kencingnya menjadi penyebab ia tak mampu menahan diri lagi. Akhirnya, tak berselang lama. Wahyu pun mendapatkan orgasmenya saat membenampan penisnya di dalam mulut manis ustadzahnya.
“Siiaaallll keluuaarrrr !!!” jerit Wahyu kecewa. Kecewaannya semakin memuncak saat matanya memandang ke arah hape jadul itu.
Satu detik lagi padahal !!! Ungkapnya dalam hati.
Untungnya rasa gak bisa bohong. Semprotan spermanya yang begitu deras membuat matanya merem melek keenakan. Tubuhnya pun merinding. Ia bergidik nikmat membayangkan mulut ustadzahnya akan penuh oleh lelehan spermanya sendiri.
“Aahhhhhhhh mantaapppp !!!”
Benar saja. Saat Wahyu mencabut penis gemuknya. Ia mendapati sperma yang ia keluarkan begitu banyak. Rachel memuntahkan semuanya sehingga mulutnya semakin belepotan dan dipenuhi oleh bau pejuh.
“Huehuehue hebat sekali ustadzah... Saya puas melihat aksi ustadzah !” kata Pak Udin menaikan tubuh montoknya sedikit agar dirinya bisa meremasi payudaranya sambil menggenjot anusnya.
“Aahhhhh... Ahhhhh bapakkkk... Ahhhhhhh” desah Rachel merasakan penis itu begitu dalam saat menghujami anusnya. Lelehan sperma yang masih ada di dagunya menetes jatuh. Mata Rachel yang sedang memejam di tambah dengan goyangan payudara yang begitu indah membuat ketiga santri itu geleng-geleng kepala membayangkan betapa beruntungnya pria tua berkumis tebal itu.
“Pakkk ana juga mau pak !” kata Bayu yang belum mendapatkan gilirannya.
“Huehuehue... Masih ada satu lagi yah ? Coba duduk diatas meja aja deh biar nanti ustadzah yang mendekati kamu” kata pak Udin menyuruh Bayu mengambil posisi.
“Gini pak ?” kata Bayu si santri berkulit gelap dan bergigi tonggos.
“Nah iya gitu... Ngehadap sini ustadzah” ujar Pak Udin mengarahkan wajah Rachel ke arah selangkangan Bayu yang terbuka lebar.
Saat Rachel menatap wajah dari santri berkulit gelap itu. Ia menyadari betapa jeleknya santri itu dengan gigi tonggos yang terhias di mulutnya. Rachel pun bersumpah dalam hati untuk tidak membiarkan santri ini menghujami anusnya nanti.
“Ayo buruan ustadzah... Saya gak tahan !” kata Bayu memegangi kepala Rachel kemudian mengarahkannya ke penisnya yang sudah mengacung tegak.
“Mmmpppphhhhh” desah Rachel geleng-geleng kepala. Saat penis itu masuk ke dalam mulutnya. Ia menyadari kalau penis itu sangatlah besar. Mulutnya saja tak mampu untuk memasukan setengah dari penis berwarna hitam itu. Penis itu juga terlihat kekar dengan guratan syaraf yang mengelilinginya.
Bayu pun memegangi hijab bagian belakang ustadzah itu, kemudian membuatnya menaik turunkan kepalanya agar ia dapat merasakan sensasi nikmatnya disepong oleh mulut ustadzah cantik itu.
“Aahhhh... Aahhhhh gilaa... Ahhhhhh” desah Bayu memejam sambil membuka mulutnya.
“Huehuehue nafsu amat... Padahal waktu belum mulai” kata Pak Udin yang baru menyetel ulang waktunya. Saat itulah, pinggulnya mulai bergerak menyodok anus ustadzah montok itu sekali lagi.
“Uhhhhhhh... Uhhhhh sempitnya bokongmu ustadzahhh... Uhhhhhhh” desah Pak Udin puas sambil menikmati langit cerah di atas sana.
Pinggul pak Udin maju mundur secara teratur. Kedua tangannya memegangi pinggul rampingnya hingga ia bisa memaksimalkan dorongan pinggulnya ke anus ustadzah cantik itu. Tiap kali ujung gundulnya membelah liang kotoran itu. Ia bisa merasakan ujung gundulnya memijat rongga anus dari ustadzah cantik itu. Sensasi jepitan yang begitu terasa. Ditambah dengan mulusnya kulit yang sedang ia usap. Membuat pria tua berkumis itu menurunkan tubuhnya hingga kedua tangannya bisa membelai sekujur tubuh dari ustadzah cantik itu. Terutama payudaranya yang masih menggantung sempurna di bawah.
“Mmmpppphhh... Mmppphhhh” Hanya itulah suara yang bisa Rachel ucapkan sedari tadi. Mulutnya telah penuh. Ia pun tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun selain desahan yang tertahan di penis santri berkulit gelap itu.
Ia pun memejam pasrah. Ia membayangkan situasinya sekarang. Di bawah langit cerah, dimana dirinya berada di taman depan gedung kelas yang begitu terbuka. Dirinya yang sedang telanjang dikelilingi oleh keempat lelaki yang masih berpakaian lengkap. Ia hanya mengenakan hijab, sepatu, stocking panjang beserta handshocknya saja. Selain itu, keindahan tubuhnya terekspos dihadapan keempat lelaki itu.
Ia tak pernah merasa senikmat ini sebelumnya. Ia tak dapat membayangkan dirinya benar-benar akan dikelilingi oleh keempat laki-laki yang semuanya dapat menikmati keindahan tubuhnya yang sedang telanjang. Sesekali matanya melirik untuk melihat ketiga santri itu. Tatapan mereka begitu bernafsu. Tatapan mereka seolah ingin menyetubuhinya tanpa ampun. Ditambah dengan gesekan penis tua yang dilakukan oleh pak Udin di anusnya menambah gairah birahinya yang semakin menjadi.
Tubuhnya yang polos terdorong maju mundur. Kepalanya yang sedang didekap oleh santri bergigi tonggos itu dinaik turunkan tanpa ampun. Terkadang ia merasa kalau Bayu memaksa penisnya untuk masuk seluruhnya. Rachel pun kewalahan, hingga terkadang ia menepuk paha Bayu agar tidak memaksa penis sebesar itu masuk seluruhnya ke dalam mulut kecilnya.
Tiba-tiba terdengar suara getaran yang berasal dari hape yang tergeletak di atas meja itu. Bayu yang sedang duduk di sebelahnya mengambilnya kemudian tersenyum setelah melihat isi layar hape itu.
“Yesss.... Yesss... Lihat pak, ana berhasil !” kata Bayu senang. Pak Udin pun mengeceknya. Ia menyetujui keberhasilan santri berkulit gelap itu.
“Okelah... Sekarang biarkan saya berdua dulu yah... Kamu istrirahat dulu... Tenangkan pikiran biar nanti pas menyodok anusnya tidak langsung keluar karena terlalu bernafsu” kata Pak Udin memberi masukan.
“Ayo sini ustadzah berdiri” kata Pak Udin memaksa Rachel berdiri membelakanginya.
“Uhhhh Tungguuu pakk... Aku capekk.. Jangan langsunggg... Uhhhhhh” desah Rachel menggeleng kepala.
Ketiga santri itu pun duduk di kursi taman yang mengelilingi meja tadi. Nampak tubuh Rachel terdorong maju mundur dengan cepat. Kedua payudaranya pun bergetar dengan begitu kuat. Sodokan demi sodokan telah pak Udin lakukan. Rachel pun hanya bisa memejam sambil mengeluarkan sedikit suara agar tidak ada orang lain selain mereka berlima yang mengetahui perbuatan mesum mereka di taman ini.
“Aahhhhhhh... Ahhhh bapakkk... Pelannn pakkk.. Ahhhhhh” desah Rachel tak kuat.
Penis hitam berukuran raksasa itu tanpa ampun menghujami liang kotoran Rachel. Penis itu bergerak maju mundur. Penis itu pun terjepit diantara dua dinding anus yang begitu sempit. Tubuh Rachel yang agak sedikit menunduk dibelainya oleh tangan nakal pak Udin. Tangan itu awalnya memegangi pinggulnya. Kemudian tangannya naik membelai punggung mulusnya. Tangan itu juga terkadang meremasi payudaranya yang membuat ketiga santri itu puas melihat keindahan tubuh dari bidadari cantik itu.
“Aahhhh... Ahhhh... Jangann di cubit pakk... Ahhhh... Akuuu gakk kuattt” Desah Rachel dengan manja sambil menggelengkan kepala.
Putingnya yang berwarna merah muda dijepitnya menggunakan jemari pria tua itu. Lagi, kedua payudaranya di remas. Payudara itu dicengkramnya dengan kuat hingga membuat bidadari itu lemas. Rachel hanya bisa pasrah karena tak bisa melakukan perlawanan. Tubuhnya yang indah sempurna dipertontonkan kepada ketiga santri itu dengan begitu bebas.
Saat Rachel membuka matanya. Ia mendapati ketiga santri itu menatapnya dengan penuh nafsu. Mata Rachel pun menatap satu persatu dari wajah santrinya itu. Ditatapnya sedemikian rupa oleh Rachel membuat ketiga santri itu gemas ingin melakukan sesuatu padanya. Sayangnya, kedua dari santri itu sudah mengeluarkan isinya. Penisnya jadi tidak bertenaga yang mengakibatkan hanya Bayu sajalah yang gemas kemudian bergabung dengan mencumbui bibir manis dari ustadzah cantik itu.
“Mmmmppphhhhhh” desah Rachel dengan manja.
Tak peduli kalau mulut ustadzahnya masih bau sperma. Bayu yang sudah sangat bernafsu langsung mencumbunya dengan penuh nafsu. Bibirnya itu di dorong. Kedua insan itu pun memejam saat lidah mereka keluar saling menghujam. Lidah mereka saling menggeliat. Lidah Rachel pun di kulumnya saat kedua jemari mereka saling mengait agar tubuh Rachel tidak jatuh saat dihujami oleh pria tua itu.
“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Rachel terpuaskan oleh sensasi nikmat ini.
“Ahhhhh... Ahhhhh gilaaa” kata Pak Udin tak kuat lagi.
Jepitan yang begitu terasa membuat staminanya tidak mampu untuk menahan kenikmatan ini lagi. Pak Udin pun mempercepat genjotan pinggulnya. Tubuh Rachel semakin terdorong maju mundur dengan cepat. Pak Udin puas hingga nafasnya terasa sesak. Apalagi kedua lututnya telah melemas menandakan birahinya sudah mencapai puncak dan ingin diledakannya dengan segera.
“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhhh... Ahhhhh saya gak kuat lagiiii... Hennkkhghhhhh !!!” desahnya saat penis besarnya ditusukan dengan begitu dalam hingga mentok ke ujung dari anus itu.
Crrrooottt... Crrrooottt... Crrroootttt !!!
“Aahhhhh kellluuaarrrrr !!!!” desah pak Udin dengan puas. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya menggelinjang. Ia bergidik nikmat merasakan kepuasan yang tidak dapat ia jelaskan. Lelehan sperma itu keluar memenuhi anus dari biadari cantik itu. Rachel terkejut. Ia merasakan lubang anusnya semakin hangat setelah disemprot oleh cairan kental berwarna putih itu.
“Aahhhh saya puassss !!!” kata pak Udin saat mencabut penisnya. Langsung, lelehan sperma itu keluar mengotori tanah. Rachel pun bergidik saat cairan itu keluar dari dalam lubang anusnya. Pak Udin yang kelelahan menyerahkan semuanya pada Bayu yang mendapatkan tiket untuk menyodomi anus dari bidadari cantik itu.
“Ayo ustadzah... Ustadzah capek kan ? Ustadzah tiduran aja yah !” kata Bayu menggeletakan tubuh indah Rachel di atas meja kayu yang berbentuk panjang. Meja yang diperuntukan bagi 12 orang santri yang bisa duduk saling berhadapan itu menjadi saksi bisu perzinahan mereka saat ini. Rio, Wahyu dan pak Udin yang duduk di kursi samping meja itu pun terpana melihat keindahan tubuh Rachel yang terhidang didepannya.
Bayu pun tidak mau berlama-lama lagi. Ia menarik tubuh Rachel ke tepi meja agar dirinya bisa lebih mudah untuk menyetubuhinya.
Jjjlleebbbbb !!!
“Aaahhhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.
Penis hitam Bayu dengan mudah memasuki liang kotoran Rachel yang sudah licin terkena sperma pak Udin. Tanpa ragu, ia pun mendorong pinggulnya sambil memegangi pinggang ramping dari biadari montok itu.
Matanya pun memejam dan mulut majunya ia buka. Ia begitu menikmati jepitan demi jepitan yang sudah anus Rachel lakukan pada batang penisnya. Awalnya ia cuma bergerak dengan gigi satu. Tapi lama-lama ia mempercepat gerakannya. Ia pun sudah tiba di gigi empat. Kecepatannya sudah standar untuk bisa menikmati tubuh seindah Rachel dengan sempurna.
“Aahhhhh Bayyuuu... Ahhhhhh... Aahhhhhhh” desah Rachel memejam tak kuasa menahan penis hitam itu saat memasuki lubang anusnya. Seketika ia membuka matanya untuk menatap wajah dari lelaki beruntung yang sedang menikmati anusnya. Rachel agak mengernyitkan dahinya menyadari kalau Bayu si santri berkulit hitam lah yang sedang beruntung itu. Wajahnya berantakan. Rambutnya agak keriting. Giginya yang maju itu membuat Rachel bergidik ngeri.
Menyadari kalau ustadzahnya sedang melakukan kontak dengan matanya membuat Bayu semakin bernafsu. Ia mempercepat gerakannya. Dipandangnya kedua payudara yang sedang bergoyang seirama. Keindahannya yang sedang melambai-lambai membuat Bayu ingin mempercepat gerakannya. Tapi rasa gemas yang semakin melanda membuat tangannya itu mendekat untuk mendekap dua gunung kembar yang semakin mengencang itu.
“Aahhhhh... Ahhhhh... Bayuuuu jangann kerass kerasss” kata Rachel dengan manja.
Jemarinya pun menekan-nekan puting indah itu. Terkadang jemari Bayu mencubit dan menarik puting menggoda itu. Kadang jemarinya juga meremas-remas untuk memuaskan perasaan gemas yang melanda ketika melihat kedua payudara itu.
Kulit tubuh Rachel yang begitu bening sangat kontras dengan kulit tubuh Bayu yang begitu hitam pekat. Ketiga lelaki yang hanya bisa menonton aksi mereka pun iri melihat Bayu bisa seberuntung ini dalam menyenggamai ustadzah binal ini. Bahkan pak Udin pun merasa iri karena sudah mengeluarkan spermanya terlebih dahulu. Tapi ia puas bisa melihat Rachel disetubuhi oleh orang lain selain dirinya.
Huehuehue... Kenapa sih ini ? Kok bisa saya merasakan hal ini ? Apa cukcold yah ? Tapi ya masa cuckold ke orang yang bukan siapa-siapanya saya !
Batin pak Udin tertawa dalam hati sambil merekam aksi langka ini.
Bayu menurunkan tubuhnya. Mulutnya yang maju ia dekatkan untuk menyusu di payudara indah itu. Awalnya mulutnya mencumbui leher dari bidadari cantik itu. Kedua tangannya pun memebelai payudara indah yang begitu besar itu. Tak lupa pinggulnya terus aktif menghujami anus dari bidadari cantik berbody montok itu.
Mulut Bayu pun turun menjilati dada dari bidadari cantik itu. Lidahnya mulai menanjak. Tangan kirinya pun meremasi gunung yang sedang ditanjak oleh lidahnya itu. Nampak lidahnya menjilati putingnya. Rachel pun menggelinjang di bawah sana. Ia begitu puas oleh permainan bayu yang entah dipelajarinya dari mana.
“Aahhhhhh Bayuuuu... Ahhhh ustadzahhhh geliii Bayu.... Ouuhhhhh” desahnya saat mulut santrinya sudah hinggap di puting payudaranya.
Puting Rachel di kenyot. Puncak dari payudara indah itu disedot. Ia berpindah dari kiri ke kanan untuk menikmat sajian sempurna dari ustadzah alim yang sudah sering ia fantasikan sejak bermain basket bersama sewaktu itu.
Bayu pun kembali menegakan tubuhnya setelah puas menyusu di payudaranya. Kedua tangannya masih memegangi benda bulat yang sedang bergoyang itu. Sodokannya ia percepat hingga tak kuasa ia merasakan tanda-tanda dari keluarnya sperma sebentar lagi.
“Duhhhh udah gak nahan ustadzahhhh” kata Bayu memindahkan tangannya memegangi pinggang ustadzahnya.
“Aahhhhhh Baayyuuu... Ahhhhh... Ahhhhh pellaannnnn !!!” desah Rachel saat tubuhnya terdorong maju mundur dengan begitu cepat.
Pergerakan kedua payudara indah itu membuat nafsu Bayu semakin menjadi-jadi. Ia terus menghujami anus itu membiarkan payudara indah itu bergerak dengan sendirinya. Ia pun menatap wajah cantik ustadzahnya. Nampak Rachel yang masih mengenakan hijabnya sedang memejam menahan hujaman penisnya yang begitu mantap memasuki lubang anus ustadzahnya.
“Aahhhh ustadzahhh... Ana gak kuat lagiii.... Ana gak kuat lagii ustadzahhhh !!!” kata Bayu saat tanda-tanda dari keluarnya sperma itu semakin dekat.
“Hennkkgghhhh... Ahhhhhh !!!” Dicabutnya penis itu dari dalam lubang anus ustadzahnya setelah ia menancapkannya dalam-dalam.
Dengan cepat ia mendekati wajah dari bidadari itu untuk mengeluarkan spermanya disana.
“Aaahhhhhhh... Bayuuuu... Jangannnn !!!” kata Rachel yang tidak ingin wajahnya dipejuhi oleh sperma busuk berbau menyengat itu.
“Aahhhhhh ana keluuuaaarrr !!!” Telat, Bayu dengan puas mengeluarkan sperma kentalnya di wajah cantik dari bidadari itu.
Crrooottt... Crrroooottt !!!
Sperma itu begitu kental. Nampaknya sperma itu sudah lama menunggu giliran untuk dikeluarkan. Sperma Bayu begitu matang hingga semprotannya dengan sempurna mendarat di wajah cantik dari bidadari itu.
Bayu pun merinding nikmat. Ia begitu puas hingga tubuhnya tersentak-sentak saat lelehan sperma itu membasahi wajah cantik dari ustadzahnya. Setelah tetesan terakhir dari sperma itu keluar. Bayu dengan hati-hati turun dari meja itu untuk duduk di kursi yang berseberangan dari kedua temannya dan satu lelaki tua yang begitu puas dengan permainan Bayu yang begitu menggairahkan.
“Hah... Hahhh” desah Rachel terengah-engah. Dadanya naik turun seiring rasa lelahnya setelah dipuasi oleh keempat lelaki ini.
Rachel pun hanya bisa memejam. Tangan kanannya ia taruh di dahinya. Ia ingin beristirahat karena tubuhnya sangat sulit untuk ia gerakan lagi.
Tiba-tiba . . . .
“Eehhhh apa yang antum lakukan ?” kata Rachel menyadari payudaranya kembali disusu oleh Rio dan juga Wahyu.
“Hehehe sambil nunggu dhuhur ustadzah... Kami boleh nyusu kan... Nyusu doang kok” kata Wahyu yang gemas akan keindahan tubuh ustadzahnya. Ia pun menyusu di payudara kiri Rachel.
“Mmpphhh... Susu antum gede banget kenceng lagi... Jadi iri ana sama Bayu bisa ngerasain anusnya... Btw gimana rasanya Bay ?” tanya Rio bernafsu sambil menyusu di payudara kanan Rachel.
“Wkwkkwkw mantap dahhh... Kapan-kapan kita boleh melakukannya lagi yah ustadzah... Rasa anus ustadzah bikin nagih deh” kata Bayu yang masih terengah-engah hingga membuatnya hanya bisa melihat aksi kedua temannya.
“Tungggguuu... Uhhhhh... Uhhhhh” desah Rachel tak kuasa menahan birahinya.
“Huehuehue... Kalian masih mau lanjut yah ? Saya pergi dulu yah masih banyak pekerjaan” kata Pak Udin ingin pergi.
“Ehh tapi pak... Kami boleh melakukan apa saja kan ke ustadzah ?” kata Rio meminta izin.
“Huehuehue terserah kalian, asal jangan memerawani memeknya... Itu jatah saya nanti” kata pak Udin yang membuat Rachel merinding.
Jatah bapak ? Ucap Rachel dalam hati.
“Wkwkwkw siap pak” kata Rio yang berpindah kemudian mengarahkan penisnya ke vagina bidadari cantik itu.
“Eehhh bukannya gak boleh kan yah ?” kata Wahyu mengingatkan.
“Kan gak bolehnya cuma masukin... Kalau gesek-gesek aja gapapa dong” kata Rio yang disetujui oleh pak Udin. Pak Udin pun pergi meninggalkan ketiga santri & satu ustadzah itu yang sedang berpesta di meja taman yang sedang sepi itu.
“Aaahhhh” jerit Rachel dengan manja yang membuat pak Udin menoleh ke belakang.
“Huehuehue... Ustadzah dapet orgasme kedua yah ? Binal juga ketiga santri mesum itu” tawa Pak Udin meninggalkan mereka semua.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *