Search

CHAPTER 31 - DOMBA BERTARING SERIGALA

CHAPTER 31 - DOMBA BERTARING SERIGALA

Dua jam kemudian sekitar pukul satu siang. Nada sedang berjalan sendirian setelah menyantap jatah makan siangnya di dapur guru. Dalam perjalanannya yang entah kemana, ia memikirkan cara bagaimana caranya agar terhindar dari kejaran kuli kekar itu. Masih teringat dalam bayang-bayang kalau kuli itu pernah berkata kalau ia akan kembali mendatanginya malam ini. Ia pun ketakutan, ia kebingungan untuk dapat menghindar dari pertemuannya dengan kuli kekar itu.

"Nginep di rumah ustadzah Haura kayaknya bukan pilihan deh... Tadi aja ustadzah Haura ragu kalau rumahnya aman dari kejaran bapak itu" Ucapnya.

Bahkan tadi Haura juga berkata kalau sebetulnya ia ingin menginap di tempat lain agar bisa menghindari pertemuan dengan kuli kekar itu.

"Astaghfirullah... Kenapa sih ada orang sejahat itu ?" Ucapnya heran ketika melihat sikap kuli itu padanya.

Ia pun sampai di sebuah taman yang letaknya berada di depan gedung kelas. Ia ingin menyendiri. Ia ingin menenangkan pikiran agar dirinya bisa lebih mudah untuk memikirkan cara agar bisa keluar dari situasi ini.

"Ehhh ini eek burung yah ?" Ucap Nada saat hendak duduk di salah satu kursi di dekat meja panjang di taman itu. Ia melihat cairan kental berwarna putih yang tertinggal disana. Ia pun melihat ke atas untuk memeriksa adakah burung disana.

Ia pun berpindah untuk duduk di kursi yang berada di meja sebelah. Kedua lengannya ia taruh di atas meja panjang itu. Ia pun menghela nafasnya untuk menstabilkan pikirannya yang masih belum tenang.

"Oh yah... Pak Heri" Ucap Nada terpikirkan sebuah ide. Ia pun buru-buru membuka hapenya untuk mencari nomornya. Ia ingin meminta pak Heri untuk menjemputnya lagi agar malam nanti dirinya bisa tinggal di dalam rumahnya lagi.

"Apa perlu ku ajak ustadzah Haura sekalian ?" Ucapnya saat teringat nasib buruk ustadzah tercantik itu.

Nada kembali melanjutkan pencarian nomornya. Ia terus berharap, ia terus berdoa agar dirinya mempunyai kontak dari kurir pengantar paket itu.

"Nah ini dia nomornya" Kata Nada tak menyangka rupanya ia menemukan sebuah kontak bertuliskan Heri. Ia pun buru-buru menelponnya. Ia dengan sabar menantikan jawaban dari Pak Heri ketika mengangkat teleponnya.

Tuttt... Tuttt... Tuttt !!!

"Ayoo pakk... Angkat pakkk... Angkaattt" Kata Nada tak sabar. Untung terdengar suara hape terangkat di seberang sana.

“Halo pak Heri... Bapak dimana ?” Panggilnya saat menelpon pria tua tak bersunat itu.

“Ehhh, Bapak ? Antum gapapa ustadzah ? Kok manggil ana bapak ? Ana kan masih seumuran ama antum” katanya yang mengejutkan Nada.

"Ehh" Kata Nada heran.

Saat Nada memeriksa layar hapenya kembali. Ia menyadari kalau orang yang sedang ia telpon saat ini adalah ustadz Heri. Ustadz yang menjaga di bagian koperasi pelajar yang juga merupakan satu angkatan dengannya.

“Ehhh ustadz yah, afwan... Ana kira antum pak Heri... Rupanya ustadz Heri” kata Nada merasa malu.

“Hahahaha gapapa memang nama Heri pasaran kali yah” tawanya yang membuat Nada semakin malu.

“Hehehehe enggak juga kok... Afwan yah ustadz sekali lagi... Ana tutup yah... Afwan udah mengganggu waktu antum” kata Nada dengan wajah memerah.

“Gapapa Ustadzah, na’am... Silahkan” jawab ustadz Heri dengan ramah.

Telepon telah dimatikan. Nada pun menunduk dengan wajah yang sangat memerah. Ia merasa malu sekali menyadari kalau orang yang ia telpon bukanlah Heri yang ia cari. Ia pun memeriksa nomor kontaknya lagi. Benar saja, ia tak mempunyai nomornya. Ia pun bingung harus berbuat apa agar dirinya bisa menghubunginya sekarang.

“Hah... Masa iya sih harus nunggu hari Rabu lagi” kata Nada teringat kalau pak Heri biasa mengantar paketnya tiap hari Rabu. Selain hari itu, ia tak bisa memastikan kalau dirinya bisa bertemu dengannya.

“Duhhh gimana yah ?” katanya resah. Ia pun bangkit dari tempatnya untuk kembali ke kantor bagiannya.

“Moga aja siang ini ada kurir yang dateng nganterin paket... Dan semoga aja kurir itu tau nomornya pak Heri” ucap Nada dengan lirih.

Dalam perjalanannya menuju kantor bagiannya. Ustadzah yang mempunyai tubuh sempurna itu tengah mengenakan gamis berwarna hitam dengan blazer biru tosca yang melengkapi penampilannya. Nada terlihat anggun. Tubuhnya yang semampai itu semakin terlihat. Lekuk indahnya juga semakin terlihat. Gamisnya yang agak mengetat khususnya di bagian pinggulnya menjadi penyebab utamanya. Nada pun semakin cantik dengan tambahan kacamata serta hijab berwarna hitam yang melilit tubuhnya.

Nada bak seorang selebgram. Auranya jelas berbeda. Kemana pun ia melangkah pasti banyak orang yang bertanya-tanya mengenai statusnya. Ia begitu modis. Penampilannya sangat estetik. Teknik make-up nya pun terkesan maksmalis. Begitu juga pemilihan pakaiannya yang menarik perhatian setiap laki-laki yang melihatnya.

Nada sangat indah. Tubuhnya begitu menggoda. Bukan cuma karena lekukan di pinggulnya yang membuat mata laki-laki ternoda. Tapi juga karena tonjolan indah yang membesar di dada. Bahkan bokongnya yang membulat sempurna juga mulai menarik perhatian orang-orang. Entah ini salah pakaiannya yang mengecil atau mungkin karena salah tubuhnya yang terlalu berkembang akibat sering berolahraga dan juga karena sering diremas oleh orang beruntung itu.

Nada pun heran. Pria tua pengantar paket yang bahkan tak menyunat penisnya itu menjadi orang yang ingin ia temui saat ini. Padahal dulu, ia begitu membencinya. Ia sangat membencinya karena ia mengira pak Heri sudah merusak keutuhan rumah tangganya. Tapi sekarang, Ia justru mengira kalau pak Heri lah orang yang mampu menyelamatkan rumah tangganya. Setidaknya, ia mengira kalau pak Heri lah orang yang bisa menyelamatkan dirinya dari ancaman kuli bangunan berkulit hitam berbadan kekar yang telah menyerang dirinya tadi pagi.

Tak terasa ia sudah tiba di dekat kantor bagian administrasi. Dari kejauhan, ia sudah melihat gedung yang menjadi tempat ia bekerja di pondok pesantren ini. Nada dengan santai berjalan sambil menaruh tangannya di kedua sisi pinggulnya. Cuacanya mulai cerah ketika awan yang sedari tadi menaungi langit pesantren mulai menghilang. Sinar mentari yang begitu terik membuat Nada sampai harus mengangkat tangannya untuk menghalanginya agar tidak membakar wajahnya. Nada pun berjalan ke tepi dimana ada pepohonan yang melindungi kulitnya dari serangan sinar matahari itu.

Tepat di samping kirinya ada sebuah kursi beserta meja panjang yang biasa ditempati oleh para santri untuk beristirahat dan menikmati udara sejuk di pondok pesantren ini. Tempatnya begitu strategis karena berada di pusat pesantren ini. Tempatnya juga cukup nyaman karena dibawah pohon besar yang menghalangi panasnya sinar mentari. Di tempat itulah, ia melihat ada seorang santri yang mendekat ke arahnya.

“Assalamualaikum ustadzah” sapa santri itu mengejutkan Nada.

“Walaikumsalam akhi... Ada apa yah ?” tanya Nada dengan ramah.

“Afwan... Antum ngajar kelas enam B kan yah ? Ana temannya Iqbal” kata santri itu memperkenalkan diri.

“Iqbal ? ohhh Iqbal yang itu yah ?” Kata Nada mengingatnya. Iqbal merupakan jagoan kelas. Ia yang terpintar di seluruh angkatan kelas enam. Ia juga yang paling tampan. Bisa dibilang kalau Iqbal ini merupakan Salwa versi santri laki-laki.

“Iya ustadzah... Santri yang terkenal itu loh” kata santri itu menegaskan.

“Ohhh hehe iya ustadzah inget... Kenapa yah emang ?” tanya Nada dengan ramah.

“Tadi waktu ana belajar bareng Iqbal... Ana tanya-tanya tentang materi Faroidh... Materi yang mengajarkan ahli waris... Kata Iqbal, antum pengajar kelasnya kan ? Katanya sih kalau mau dapet ilmu yang lebih mantep bisa belajar langsung ke antum” kata santri itu yang membuat Nada malu.

“Ohhh hehehe naam... Ustadzah pengajarnya” kata Nada malu-malu.

“Kalau gitu... Malam ini antum ada waktu gak ? Ana ingin belajar langsung ke antum” kata santri itu.

“Ehhh malam ini... Aduh ustadzah ada waktu gak yah ?” pikir Nada padahal ia sudah berniat untuk menginap di rumah pak Heri andai ia sudah dapat nomor kurir pengantar paket itu.

“Ayolah ustadzah... Ujiannya hari senin soalnya... ana pengen dapet nilai yang bagus sewaktu ujian nanti” kata santri itu memohon.

“Hmmm senen yah ?” kata Nada berfikir sejenak.

Senen yah ? Berarti lusa... Aduh mepet banget sih jadwalnya... Kasian juga kalau santri ini dapat nilai jelek gara-gara aku nolak permintaannya... Lagipula ini tanggung jawabku juga sebagai seorang ustadzah.

Batinnya berfikir.

“Yaudah deh nanti ustadzah atur waktu lagi... Antum mau belajar dimana ?” tanya Nada.

“Disini juga gapapa kan ustadzah ? Kalau malam gak terlalu berangin... Pencahayaannya juga cukup kok” kata santri itu mengusulkan.

“Yaudah deh... Nanti ustadzah persiapkan dulu yah materinya” kata Nada tersenyum ketika ada santri yang membutuhkan ilmunya.

Naam ustadzah” kata santri itu hendak pergi.

“Ohhh iya afwan... Nama antum siapa yah ?” kata Nada yang tak pernah mengajar di kelasnya.

“Ohhh muwehehehehe... Nama ana Lutfi ustadzah” jawab santri berkepala plontos itu.

“Ohhh naam Lutfi... Nanti malam yah” jawab Nada tersenyum.

Naam ustadzah... Wassalamualaikum” jawab Santri itu kali ini benar-benar pergi.

“Walaikumsalam Lutfi” jawab Nada tersenyum manis.

Dikala Nada melanjutkan perjalanannya menuju kantor bagiannya. Santri itu pun berhenti sebentar sambil menoleh ke belakang untuk melihat penampakan ustadzah yang mempunyai body goals itu.

“Muwehehehe gilllaaa... Body-nya yahud banget... Gak sabar deh buat nunggu nanti malem... Oh yah harus kukabari juga pak tua itu biar bisa ikut seru-seruan malam ini” katanya sambil tersenyum memandangi pantat bulat sempurna yang dimiliki oleh ustadzah yang mempunyai body goals itu.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di dapur umum.

Dentingan suara piring berbunyi ketika sendok itu tak sengaja menghantam piring beling yang sedang ia pakai. Niatnya ia ingin menyendok nasi menggunakan sendok yang sedang ia pegang. Tapi ia malah mengantam piringnya terlebih dahulu.

Untungnya itu adalah suapan terakhir bagi akhwat cantik itu. Ia pun telah menyelesaikan jatah makan siangnya. Perutnya kenyang, ia pun berjalan menuju galon air yang telah disediakan oleh pihak dapur umum untuk meminumnya, melarutkan setiap makanan yang baru saja ia makan.

“Hah, segarnya !” katanya setelah menghabiskan segelas air yang telah ia minum.

Dalam keadaan perut kenyang. Santriwati cantik itu pun berjalan pulang menuju asramanya untuk beristirahat sebelum melanjutkan proses belajarnya di sore nanti. Ia pun melihat ke arah jam tangannya. Sudah mau hampir jam setengah dua rupanya. Agak telat baginya untuk menyantap jatah makan siangnya. Andai ia tadi telat sedikit saja ketika datang ke dapur umum. Bisa-bisa ia tidak kebagian nasi yang membuatnya mau tak mau harus membeli nasi di kantin atau harus menahan lapar seharian ini.

Selepas dhuhur tadi, waktunya terbuang percuma di dalam kamar asramanya hanya untuk memikirkan cara agar dirinya bisa menarik perhatian ustadz idolanya. Nampaknya pikirannya telah teracuni oleh ketampanan ustadz itu. Tiap detik yang ia lalui pasti selalu terpikirkan oleh ustadz itu. Apalagi sudah beberapa hari ini dirinya belum bertemu dengan ustadz idolanya itu.

“Hah... Antum lagi apa sekarang yah ?” katanya berbicara sendiri sambil membayangkan ustadz V.

Wajah tampannya terbayang di langit sana. Salwa pun tersenyum sambil terus berharap dirinya bisa bertemu dengannya sebentar lagi.

“Panjang umur” ucap santriwati cantik itu tersenyum ketika menemukan ustadz idolanya.

Buru-buru santriwati cantik itu mendekat. Namun belum sempat ia mendekat, langkahnya terhenti ketika dirinya melihat seseorang yang berjalan di belakangnya.

“Eh, siapa itu ?” katanya ketika melihat akhwat berhijab yang tiba-tiba berjalan mengikutinya.

V tengah berjalan membelakangi Salwa yang terus memperhatikannya dari kejauhan. Salwa pun terus mengikuti, ia mempunyai niat lain selain ingin memperhatikan V dari kejauhan. Entah kenapa hatinya merasa resah ketika melihat ustadz idolanya tengah berjalan bersama wanita lain. Salwa ingin marah. Ia pun penasaran siapa wanita yang bisa membuat ustadz V tersenyum ketika berjalan berdua bersamanya.

“Siapa sih wanita itu ?” ucapnya ingin menangis.

Wanita, apa yang bisa ia lakukan selain menangis ketika hatinya merasa tersakiti. Apalagi setelah dirinya mengingat apa yang sudah ia lakukan pada lelaki yang ia cinta. Salwa mengingat kejadian ketika ia rela bertelanjang bulat sambil mengulum batang penis ustadz tampan itu agar dirinya bisa mendapatkan perhatian darinya. Tapi apa yang terjadi setelahnya ? Ia tak pernah bertemu lagi dengan lelaki tampan itu. Sekalinya bertemu, eh ia malah melihatnya tengah berduaan dengan wanita lain.

“Apa jangan-jangan wanita itu pacarnya yah ? Atau malah calon istrinya ?” membayangkan hal itu membuat hati Salwa terasa lebih sakit lagi.

Salwa pun terus berjalan hingga melihat mereka berdua duduk di sebuah taman dalam keadaan saling berhadapan. Salwa cemberut. Hatinya semakin semrawut ketika melihat mereka berdua saling tersenyum dalam keadaan saling berhadapan. Mata mereka saling bertatapan. Senyum mereka saling tertukar. Bahkan kedua tangan mereka terlihat malu-malu ketika berada di atas meja bundar itu.

Salwa pun bergerak ke arah sisi lain agar dirinya bisa melihat wajah dari wanita yang bisa menarik perhatian ustadz V. Dari belakang sih, postur wanita itu sempurna. Walau mengenakan pakaian yang longgar. Salwa dapat mengira kalau wanita itu mempunyai pinggang ramping yang sangat menarik. Cara mengenakan hijabnya pun bagus. Bisa dibilang, wanita itu tau bagaimana cara untuk mengenakan hijab agar terlihat lebih menarik. Ia pun membayangkan pasti wanita itu mempunyai wajah cantik dengan kepribadian baik. Saat ia sudah berada di sisi lain, ia pun dapat melihat siapa wanita yang sedang bersama ustadz V.

“Ohhh ustadzah Haura... Pantes” ucap Salwa semakin insecure melihat kecantikan ustadzah itu.

“Eh bentar, ustadzah Haura kan udah menikah... Kenapa juga aku harus cemburu ? Apalagi mereka kan satu bagian di kantornya” kata Salwa mencoba berpikiran positif.

“Eh bentar, gimana kalau sebenarnya mereka sedang selingkuh ? Bisa aja kan ustadzah Haura tergoda oleh ketampanan ustadz V ?” kata Salwa kembali berpikiran negatif.

“Eh masa iya sih seorang ustadzah sampai tergoda selingkuh... Gak mungkin deh... Tapi kalau cowoknya kaya ustadz V, siapa juga wanita yang bisa nolak ?” kata Salwa terus berasumsi mengenai apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan disini.

“Eh, mungkin aja mereka berdua sedang ngobrolin masalah bagiannya... Tapi kenapa wajah mereka terlihat bahagia yah ? Mereka pasti sedang berkencan kan ?” kata Salwa merasa semakin tersakiti.

“Ayo Salwa... Coba berpikiran positif... Jangan suudzon mulu coba... Gak mungkin mereka sedang berkencan... Mereka pasti sedang ngobrolin masalah kantor bagiannya” kata Salwa terus berusaha berpikiran positif.

“Dah ah capek... Aku mau pulang aja... Semoga aja ustadz V gak selingkuh di belakang aku... Eh pacaran aja belum kenapa harus selingkuh... Kayaknya aku harus segera menarik perhatiannya deh, agar dirinya tidak perlu lagi berpaling ke wanita lain karena udah punya aku disini yang selalu menemani”

“Apa aku harus memberikannya sekarang yah ?” Kata Salwa sambil memegangi bibir vaginanya dari luar rok yang ia kenakan.

Sesampainya di kamar asramanya, tiba-tiba ada seorang temannya yang datang mendekati dirinya.

“Nih ada surat panggilan buat anti” kata temannya.

“Buat ana ? surat dari bagian apa yah ?” ucap Salwa sambil menerimanya.

“Dari kantor bagian penerimaan tamu... Cieee ada yang jenguk anti nih... Oleh-olehnya yah” kata temannya yang membuat Salwa tersenyum malu.


*-*-*-*


Di sebuah perumahan ustadz senior. Nampak ada seorang ustadzah cantik berkulit putih bening yang tengah berjalan menyusuri rumah demi rumah untuk mencari seseorang yang ingin ia temui. Ustadzah itu tengah mengenakan kemeja berwarna biru dengan hijab merah muda yang membuatnya terlihat lebih muda daripada usianya sekarang.

Ustadzah yang bertempat di bagian pengajaran itu memang tidak bisa dikatakan masih muda. Usianya sudah 28 tapi ia masih belum mempunyai sandaran untuk menaruh kepalanya ketika ia lelah. Ia belum menikah bukan karena tidak ada lelaki yang mau menikahinya. Sebaliknya, banyak lelaki mulai dari ustadz, pengusaha bahkan lelaki kaya lainnya yang berlomba ingin menjadikannya istri. Tapi semuanya ia tolak. Bukan karena dirinya merasa sok cantik dan menanti lelaki lain yang sempurna yang bisa dijadikannya suami. Ia hanya tidak menyukai laki-laki. Karena ia hanya menyukai wanita. Seseorang yang tidak mungkin menyakiti hatinya.

Bahkan tubuhnya yang tinggi berisi itu saja sudah menarik perhatian tiap santri yang ia temui. Wajahnya yang begitu polos seakan menjelaskan kalau Syifa adalah wanita malu-malu yang tidak berani melanggar perintah suami. Banyak yang mengira kalau Syifa ini adalah wanita penurut. Memang tidak salah sih, Tapi ia akan menjadi wanita yang lebih penurut lagi ketika ada wanita cantik yang meminta sesuatu padanya.

Ia pun saat ini tengah mencari wanita yang ingin ia temui. Ia ingin curhat padanya untuk menceritakan kejadian yang telah merenggut harga dirinya. Ia begitu kecewa. Ia begitu terluka ketika dirinya diperkosa oleh dua orang tukang sapu kelas.

Ia merinding tiap kali membayangkan dua orang rendahan itu menikmati jepitan vaginanya. Ia merinding tiap kali membayangkan dua orang itu tertawa dalam menikmati keindahan tubuhnya. Ia pun merinding tiap kali membayangkan bagaimana rasanya ketika penis kedua tukang sapu itu keluar masuk di dalam liang senggamanya.

Syifa, begitu lah ia dipanggil sehari-hari. Syifa hampir merasa putus asa ketika dirinya disetubuhi untuk kedua kalinya oleh laki-laki yang berbeda. Bahkan untuk persetubuhan keduanya saja ada dua orang lelaki yang bergantian menikmati liang senggamanya. Persetubuhan pertamanya dengan orang itu saja sudah membuatnya terluka. Apalagi dengan dua pria tua rendahan seperti mereka ?

“Ustadzah Rania... Ana mau curhat ke antum” katanya dalam perjalanan menemui istri dari pak kiyai itu.

Untungnya ia sudah tiba di depan pintu rumah ustadzah Rania. Syifa pun melangkah memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah itu. Jantungnya berdebar ketika membayangkan wajah cantik dari istri pak kiyai itu muncul untuk menyambut kedatangannya disini. Tangan kanannya ia gerakan untuk mengetuk pintu rumah itu. Sayangnya, ia ragu ketika membayangkan kalau pak Kiyailah yang muncul untuk membuka pintu rumah ini.

“Gimana yah kalau pak Kiyai yang keluar ? Aku harus bilang apa ke beliau ?” kata Syifa ragu.

Syifa pun melihat ke sekitar terlebih dahulu untuk melihat keadaan. Cuaca memang sedang panas-panasnya. Apalagi saat ini masih siang. Gimana kalau ustadzah Rania sedang bersitirahat di ranjang tidurnya ?

Syifa pun makin ragu. Tapi ia tak mampu lagi menunggu membiarkan hatinya terluka menahan pilu. Ia pun akhirnya mengetuk pintu. Ia pun berharap semoga saja orang yang membuka pintu ini adalah istri dari pak kiyai itu.

“Assalamualaikum” sapa Syifa saat mengetuk pintu itu.

Naam... Walaikumsalam” terdengar suara seorang wanita yang membuat hati Syifa merasa lega.

“Ehhh Antum” kata ustadzah Rania mengenali siapa wanita yang sedang bertamu di rumahnya.

Naam ustadzah... Antum sibuk gak ? Ana mau curhat” kata Syifa langsung to the point karena tak sanggup menahan diri.

“Hihihi enggak kok... Sini duduk dulu, mau curhat apa ?” kata Rania pada ustadzah berkulit bening itu.

Mereka berdua pun duduk di kursi teras rumah dalam keadaan saling berdekatan. Mereka duduk berjejeran. Syifa ada di kanan Rania sedangkan Rania ada di kiri Syifa. Kalau bukan karena kedekatan mereka, tidak mungkin mereka akan seberani ini dalam menentukan posisi duduk mereka ketika bercerita disini.

Syifa pun menatap wajah cantik Rania kemudian memperhatikan bagaimana penampilannya saat ini. Dengan gamis coklat yang membungkus tubuh rampingnya. Dengan hijab modis yang melilit kepala mungilnya. Dengan senyum indah yang membuat hatinya berdebar. Dengan bibir merah merona yang membuat imannya tergoda. Rania sangat mempesona, bahkan Syifa sampai gemas ingin mencium pipinya karena saking gemesnya.

“Gimana ? Katanya mau curhat kok malah ngelamun” kata Rania yang mengejutkan Syifa.

“Eh, hehehe... Habis antum cantik banget ustadzah... Ana kan jadi lupa kalau tadi mau curhat” kata Syifa yang membuat Rania malu.

“Ah masa.... Hihihi bisa aja deh antum ini” kata Rania sambil memukul pelan lengan Syifa.

“Beneran deh... Ana aja sampai gemes pengen nyubit pipi antum” kata Syifa hampir melupakan niatnya karena terpesona oleh kecantikan wanita berusia 31 tahun itu.

“Awas jangan mulai... Nanti ana tergoda antum yang lemes loh” kata Rania tersenyum yang membuat Syifa tersenyum malu.

“Ihhhh kapan... Ana gak gitu yah” jawab Syifa dengan wajah memerah.

“Kok lupa ? Kaya pas waktu itu kan antum yang lemes” kata Rania mengingatkan.

“Waktu itu ?” kata Syifa berfikir.

“Itu kan...” jawab Syifa tertahan ketika tangannya dipegang oleh Rania.

“Hayooo gak usah out of topic... Curhat dulu sini sayang... Nanti boleh deh kita ngobrol-ngobrol hal lain di dalam” kata Rania yang membuat Syifa tersenyum malu.

“Hihihi iyya ustadzah... Ana cuma mau cerita aja... Hmmmm gimana yah ? Antum, eh kita kan dulu pernah sama-sama kaya gitu... Tapi kayaknya antum kok udah gak kaya gitu lagi sih ?” kata Syifa bingung ingin memulai darimana agar dirinya bisa menceritakan kisah itu.

“Ohhh hihihihi... Panjang deh ceritanya... Intinya ya kalau kita mau berubah ya pasti kita bisa kok melakukannya... Memang kenapa nanya kaya gitu ? Antum ada lelaki yang disuka yah ?” tanya Rania penasaran.

“Hehehe enggak juga sih... Anu kemarin ada lelaki yang nyentuh ana... Cumaa . . . .” belum sempat Syifa menyelesaikan kalimatnya. Rania sudah terlebih dahulu memotongnya.

“Ehhh nyentuh antum ? Antum jangan-jangan . . . . “ kata Rania curiga kalau Syifa telah diperkosa.

“Cuma nyentuh kok ustadzah” kata Syifa buru-buru berbohong karena belum siap untuk menceritakan kisah yang sebenarnya ke istri dari pak kiyai itu.

“Huft kirain” kata Rania lega.

“Hehehe iya ustadzah... Pokoknya disentuh ama laki-laki aja kok rasanya udah bikin ana jijik gitu... Rasanya gimana yah ? Kaya kecewa, ya gak suka gitu deh” kata Syifa setelah menemukan tema yang agak menyerempet dengan kisah yang ia alami.

“Oalah begitu... Ya mau gimana lagi, kayaknya sejak kejadian itu antum kaya memendam trauma ke laki-laki yang bikin antum kepikiran kaya gitu” kata Rania mencoba menjelaskan.

“Trauma yah ustadzah ?” kata Syifa mengangguk-ngangguk merasa masuk akal.

“Iya... Coba pelan-pelan antum membiarkan masa lalu itu berlalu... Jangan dipendam terus... Jangan disimpan terus... Kita ini wanita loh... Mau gak mau kita pasti akan mempunyai keturunan... Ya gimana kita mau punya keturunan kalau gak menikah dengan seorang laki-laki” kata Rania menasehati.

“Tapi ustadzah... Ana masih gak rela kalau ada lelaki yang menjamah tubuh ana lagi... Laki-laki kan sama aja... Habis make terus pergi !” kata Syifa masih kesal dengan masa lalunya.

“Hihihihi enggak kok... Antum cuma belum ketemu sama laki-laki yang baik aja... Gak semua laki-laki jahat kok” kata Rania mencoba memahamkan ustadzah cantik itu.

“Ah masa ? Gak percaya ustadzah... Ana udah capek dibohongi laki-laki... Apalagi kalau laki-laki itu sampai maksa buat ngelakuin itu ke ana” kata Syifa teringat akan kejadian ketiga lelaki yang pernah menyetubuhi dirinya.

“Iya... Ana paham kok maksud antum... Ana paham dari cerita yang pernah antum ceritakan dulu” kata Rania yang membuat Syifa merasa tenang.

“Sabar yah... Maafin laki-laki yang udah melakukan hal itu ke antum... Sudah waktunya buat antum membuka hati... Antum udah memasuki usia matang untuk menikah loh... Kalau antum ragu apakah ia lelaki yang tepat, nanti bisa kok ana yang carikan buat antum” kata Rania mencoba menolong ustadzah yang pernah satu bagian dengannya dulu.

“Hah... Gak tau deh ustadzah... Ana capek... Kadang iri juga sih ngeliat temen-temen ana yang udah menikah... Bukan karena mereka menemukan laki-laki yang tepat... Ana iri karena mereka udah punya anak dan bisa bermain dengannya” kata Syifa yang membuat Rania tersenyum.

“Nah itu wajar... Itu normal... Setiap wanita pasti akan gemas dan ingin selalu bermain dengan buah hatinya... Begitu juga dengan antum... Jadi untuk sekarang mulai buka lembaran baru yah... Ana aja bisa kok menikah antum pasti juga dong” kata Rania terus memotivasinya.

“Iya sih... Tapi siapa yang cocok... Tiap kali ada lelaki yang dateng ke rumah.... Pasti mereka bilangnya ingin menikahi ana karena ana cantik... Ana gak suka kalau ada orang yang menikahi ana cuma karena ana cantik... Ana tau pasti mereka cuma mau menikmati tubuh ana aja... Kalau ana gak cantik lagi pasti ana ditinggal pergi oleh mereka” kata Syifa suudzon.

“Oh jadi begitu” kata Rania mulai memahami apa yang membuat Syifa jadi kaya gini.

“Gitu gimana ustadzah ?” kata Syifa bertanya.

Antum cuma gak suka dengan laki-laki yang maunya enak aja kan ?” kata Rania yang membuat Syifa terkejut.

“Iya ustadzah... Kok antum tau ?” tanya Syifa heran.

“Kata-kata antum tersirat dengan jelas gitu kok... Hihihihi gampang nanti ana carikan” kata Rania dengan pede.

“Eh emang antum tau darimana kalau misal laki-laki itu gak kaya gitu” tanya Syifa.

“Ada deh... Insting seorang wanita hihihihi” kata Rania yang membuat Syifa terkagum.

Ana juga ingin bertanggung jawab karena udah ngenalin hal kaya gini ke antum” kata Rania yang membuat Syifa tersenyum malu.

“Iya tuh... Ana masih inget sewaktu kita masih satu bagian di kantor pengajaran... Masa iya sewaktu malam-malam antum nyuruh ana pergi ke kantor... Ana yang masih baru-baru jadi ustadzah mah nurut-nurut aja... Apalagi waktu itu ana masih terluka banget gara-gara lelaki itu” kata Syifa yang membuat Rania tersenyum malu.

“Tau-taunya di kantor antum bilang ke ana... Kalau lelaki itu jahat, mending sama antum aja yang jelas-jelas tidak akan meyakiti” kata Syifa yang membuat Rania semakin malu.

Ana yang lagi kecewa banget akhirnya nurut aja... Apalagi pas tangan nakal antum tiba-tiba mainin payudara ana... Ana kaget banget tuh... Tapi antum bilang tenang aja terus antum nyuruh ana buat merem biar makin menikmati perbuatan antum... Terus antum pun melepas pakaian ana... Antum juga nyuci otak ana buat menjauhi laki-laki... Jadilah ana membenci laki-laki gara-gara antum” kata Syifa yang membuat Rania tertawa.

“Hihihihi maaf Syifa... Habis waktu itu antum imut banget sih... Pas juga waktu itu antum lagi kecewa ama laki-laki... Ya makanya ana yang gak tahan sama keimutan antum jadi pengen nyicipin tubuh antum deh” kata Rania tertawa sambil menutupi mulutnya.

“Ihhh dasar... Udah gitu antum malah nikah dengan pak kiyai lagi... Tau gak betapa kecewanya ana waktu itu... Antum yang ngajarin ana biar menjauhi laki-laki biar gak kecewa lagi, eh antum sendiri yang malah nikah ama laki-laki” kata Syifa mengenang masa lalunya.

“Hihihihi maaf... maaff” kata Rania tertawa dengan keras hingga air matanya keluar.

“Tapi ana cantik kan ?” kata Syifa bertanya pada Rania.

“Cantik kok... Susu antum juga gede... Memek antum juga manis” kata Rania yang mengejutkan Syifa.

“Ihhh udah nikah tapi omongannya masih kotor juga... Gak ada bedanya kaya dulu” kata Syifa dengan wajah memerah.

“Hihihih habis antum cantik banget sih... Jadi inget waktu dulu sewaktu kita sampai bela-belain gak ikut muwajjah cuma biar kita bisa berduaan di asrama” kata Rania tersenyum sambil mengenang masa lalu.

“Hihihihi... Iya waktu itu pas kita sama-sama telanjang di dalam kamar, antum nindihin tubuh ana... Terus antum mencumbu bibir ana... Waktu itu juga pertama kalinya itu kita . . . . “ kata Syifa malu untuk mengucapkan.

“Hihihihi gimana rasanya memek kita pas bergesekan... Enak kan ?” tanya Rania tertawa.

“Enak banget ustadzah... Jilatan antum juga... Ana kangen” kata Syifa terangsang ketika memikirkan semua masa lalu itu.

“Hihihih sejujurnya ana juga loh” kata Rania yang mengejutkan Syifa.

“Ehhh antum juga ? Jangan-jangan antum masih ?” kata Syifa tak menduga kalau Rania yang sekarang masihlah sama dengan yang dulu.

“Hihihi kita masuk ke dalem yuk... Mumpung cuma kita berdua aja yang ada disini” kata Rania setelah mengangguk menjawab pertanyaan dari Syifa.

"Kita berdua ?" Syifa pun tersenyum malu. Ia seolah paham tentang apa yang akan mereka lakukan sebentar lagi. Mereka berdua pun sama-sama masuk untuk mengenang masa lalu yang pernah mereka lakukan dulu.

Ketika pintu kembali ditutup, tiba-tiba mereka berdua langsung berhadapan kemudian tangan mereka saling memegangi pinggang pasangannya. Tangan Syifa mendekap pinggang ramping Rania dan tangan Rania memegangi pinggang ramping Syifa. Wajah mereka saling menatap. Senyum mereka saling terlempar. Syifa tampak malu ketika ditatap oleh wanita secantik Rania. Begitu juga dengan Rania ketika ditatap dengan hangat oleh ustadzah bening itu.

"Antum makin cantik aja sih Syifa... Apalagi senyum antum, manis banget deh" Puji Rania sambil memegangi dagu dari ustadzah cantik itu.

"Ah masa sih ? Antum loh... Merona banget bibirnya... Ana kan jadi gak tahan" Kata Syifa menundukan pandangan karena malu.

"Hihihi masa ? Tau gak tadi pagi pas ana lagi dandan, gak tau kenapa rasanya kok ana pengen banget make lipstik... Padahal hari ini ana gak ada rencana untuk kemana-mana... Tau-taunya ada ustadzah cantik yang datang kemari yang mau nyiumin bibir ana lagi" Kata Rania tersenyum.

"Kebalik kali... Lihat deh tangan antum... Siapa yang udah gemes pengen nyium ana ?" Tanya Syifa yang membuat Rania malu.

"Hihihi tau aja... Boleh kan ana nyium antum lagi ?" Tanya Rania yang hanya dijawab anggukan malu oleh ustadzah cantik itu.

Perlahan demi perlahan wajah Rania pun mendekat ke arah bibir dari bidadari cantik itu. Mata Syifa memejam begitu juga mata dari Rania. Tak terasa bibir manis dari Rania sudah menghujam bibir dari Syifa. Tubuh mereka semakin dekat. Dada mereka saling bersentuhan dari balik pakaian yang masih ia kenakan. Kedua tangan mereka saling mendekap punggung dari pasangan masing-masing. Sebuah sentuhan yang terasa di punggung mereka menambah kenikmatan dari percumbuan yang sedang mereka lakukan saat ini.

"Mmpphhh... Mmpphhh" Desah mereka berdua dengan manja hingga deru nafas mereka yang hangat menerpa wajah dari pasangan mereka.

Dikala bibir mereka saling melekat, nafas mereka juga saling mengikat, tangan ustadzah Rania pun berpindah dari punggung Syifa ke payudara bidadari berkulit bening itu dari luar kemeja yang ia kenakan. Syifa pasrah membiarkan nafsu dari istri pak kiyai itu dalam menikmati keindahan tubuhnya. Dikala mulut Syifa terbuka, lidah Ustadzah Rania merayap masuk menjilati rongga mulutnya. Syifa pun merapatkan bibirnya, ia menjepit lidah Rania dan menghisapnya kuat-kuat demi memuaskan nafsu birahinya.

"Mmpphhh ustadzahhh... Mmpphhh antum masih jago berciuman juga yah" Puji Syifa yang membuat Rania malu.

Dikala bibirnya dihisap. Rania justru membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyaplok bibir dari Syifa. Bibir dari Syifa pun basah terkena liur dari bidadari cantik itu. Dikala bibir Syifa membuka, bibirnya langsung menyaplok bibir atas dari Rania. Rania pun membalas dengan mengulum lidah dari bidadari cantik itu. Mereka berdua pun bercumbu dengan penuh nafsu. Mereka masih saja berciuman dalam perjalanan mereka menuju kamar dari ustadzah Rania.

"Mmpphhh antum... Mmpphhh bibir antum manis banget... Ana jadi gak tahan buat nyium antum terus" Kata Rania bernafsu.

"Mmpphhh bibir antum juga... Jantung ana jadi berdebar kencang saat dicium oleh ustadzah secantik antum" Puji Syifa yang membuat Rania tersenyum.

Mereka pun sama-sama telah memasuki kamar Rania. Kamar yang biasa ditempati oleh Rania beserta suaminya untuk beristirahat di malam hari. Mereka masih saja bercumbu hingga mereka tiba di tepi ranjang bidadari cantik itu.

Ustadzah Rania yang wajahnya seperti orang Korea langsung mendorong tubuh Syifa hingga terbaring diatas ranjang tidurnya. Tak lama kemudian Rania pun menyusul dengan menindihi tubuh dari ustadzah berkulit bening itu.

"Hihihihi susu antum makin gede aja nih kayaknya... Tubuh antum makin berisi deh" Kata Rania saat menindihi tubuh Syifa.

"Hihihi sengaja ustadzah... Biar antum makin puas pas mainin punya ana" Kata Syifa tersipu.

"Hihihi dasar ustadzah nakal... Kecantikan antum loh bikin ana gak tahan buat menikmati tubuh antum" Ujar Rania sambil membelai payudara Syifa.

"Ahhhhh ustadzahhh... Remasan antum kuat banget sihhhh... Uhhhhhh... Uhhhh" Desah Syifa tak kuasa mendesah merasakan cengkraman tangan Rania.

"Hihihi abis susu antum kenceng banget... Ana kan jadi gemes buat ngeremesnya" Kata Rania yang membuat Syifa tersipu. Mereka pun kembali berciuman untuk memuaskan nafsu yang telah lama terpendam.

Ditengah percumbuan yang sedang mereka lakukan. Tangan Rania mulai melepaskan satu demi satu kancing kemeja dari ustadzah berkulit bening itu. Syifa pun membiarkan sambil menikmati cumbuan dari seniornya itu. Syifa terus memejam merasakan remasan yang membuat tubuhnya menggelinjang.

Kini, semua kancing dari kemeja bidadari itu telah terlepas. Jemarinya langsung menurunkan cup bra itu dan dengan jail Rania memainkan puting merah muda Syifa dengan cara menggeseknya pelan.

“Uhhhhhh... Mppphhhh.... Ustadzahhh !” desah Syifa setelah terlepas dari cumbuan seniornya.

"Hihihi tuh kan gede banget susu antum... Kenceng lagi... Pantes banyak lelaki di luar sana yang ngantri buat halalin antum" Kata Rania sambil meremas dan memainkan puting itu.

"Uhhhhhh ustadzahhh... Geliiii... Mmpphhh... Tapi ana maunya nikah sama antum aja ustadzah" Kata Syifa mengejutkan Rania.

"Hihihi emang antum bisa muasin ana... Nafsu ana gede loh" Katanya sambil membelai puting indah berwarna merah muda itu terus.

"Uhhhh ustadzahhh... Geliii... Ana akan lakukan apa aja kok asal ana bisa nikah sama antum" Kata Syifa yang semakin terangsang ketika payudaranya dirangsang oleh istri dari pak kiyai itu.

"Hihihi beneran... Kalau gitu mau gak jilatin memek ana tiap pagi sampe sore ?" Ana paling suka loh kalau ada yang ngejilat memek ana... Suami ana aja sampe ketagihan loh" Kata Rania tampak malu-malu saat mengakui hal itu.

Bahkan Angga juga doyan loh hihihi. Tambah nya dalam hati.

"Ahhhh... Passtii mau banget ustadzahhh... Ana juga paling suka ngejilat memek orang" Kata Syifa yang semakin terangsang.

"Hihihi pas banget... Ana jadi gak sabar deh nungguin jilatan antum" Kata Rania yang gemas membuatnya langsung menyusu di payudara Syifa.

"Mmmppphh" Desah Syifa tak kuasa menahan kuluman bibir Rania di payudaranya.

“Hihihihi desahan antum menggoda banget sih... Ana jadi makin bersemangat deh” kata Rania terangsang.

Dikala payudara kiri Syifa dijilat, maka payudara kanannya di remasi oleh jemari Rania. Begitupula sebaliknya dikala payudara kanan Syifa dijilat maka payudara sisi kiri Syifa yang diremasi oleh tangan nakal Rania. Nafsu yang berkuasa di tubuh Syifa semakin memuncak dikala payudaranya terus saja dirangsang oleh istri dari pak kiyai itu.

Puas memainkan payudara Syifa, tangan Rania bergegas mencari resleting yang bertempat di belakang rok yang Syifa kenakan. Sedikit demi sedikit resleting itu semakin turun membuat Rania sesegera mungkin menarik roknya hingga membuat kaki jenjang Syifa terekspos.

Rok panjang Syifa sudah terlepas menampilkan kaki mulusnya beserta celana dalam berwarna putihnya. Rania pun kagum setelah sekian lama tidak memandang keindahan tubuh dari ustadzah cantik itu. Dengan penuh semangat ia kembali menundukan badan untuk menjilati payudara Syifa diikuti dengan jemarinya yang bergerak masuk ke dalam celana dalamnya.

“Aahhhhhhhhhhhh” desah Syifa menatap langit-langit kamar ketika liang kewanitaannya yang sudah basah disentuh oleh jemari mulus Rania. Terasa jemari Rania bergerak masuk menuju liang terdalam yang dimiliki olehnya. Pinggul Syifa sampai bergoyang ke kiri dan ke kanan tak kuasa menahan nikmatnya. Tubuhnya terangkat naik. Tubuhnya menggelinjang menerima rangsangan yang dilakukan oleh Rania di vaginanya.

“Aaahhhhhh ustadzahhhh” kata Syifa mendesah puas.

“Hihihi gimana ? Antum puas kan ?” kata ustadzah Rania yang dijawab anggukan oleh ustadzah Syifa.

Dengan lihai tangan ustadzah Rania bergerak naik lalu turun lalu naik lagi di dalam celana dalam ustadzah Syifa. Sesaat terdengar suara cipratan air yang berasal dari dalam liang kenikmatan tersebut. Ustadzah Rania tersenyum sambil menatap mata Syifa yang sayu. Ustadzah bagian pengajaran itu terlihat lemas dan pasrah dengan perbuatan yang dilakukan oleh seniornya.

“Ahhh ahhhhhhh... Nikmat ustadzah” jawab Syifa yang membuat Rania kembali mendekatkan wajahnya untuk mencumbui bibir santriwatinya.

"Beneran ? Bagus deh... Mmpphhh" Ucapnya sebelum mencumbu bibir Syifa lagi.

Bibir mereka berdua saling melekat, kadang bibir Rania memagut bibir atas Syifa kadang ia juga memagut bibir bawah Syifa. Nafsu yang semakin tak tertahankan membuat kedua payudaranya semakin mengencang. Kedua putingnya juga semakin menegak. Bibir kemaluannya pun semakin basah seiring rangsangan jemari Rania di bibir kemaluannya.

"Mmmppphhhhh" Desah Rania setelah melepas cumbuannya di bibir Syifa.

Rania pun bangkit untuk berlutut di hadapan ustadzah cantik itu. Syifa tampak terbaring lemas. Tatapannya sayuk. Tubuhnya menggairahkan ketika kemeja yang ia kenakan terbuka menampilkan kedua payudaranya yang menegak kencang.

Rania pun mulai menurunkan resleting gamis yang berada di punggungnya. Gamis itu perlahan turun. Rania pun berdiri dihadapan Syifa yang masih terbaring lemah. Syifa menenggak ludah ketika keindahan tubuh Rania kembali tersaji di hadapan dirinya. Payudara Rania juga besar. Bentuknya tidak jatuh cenderung kencang. Tubuhnya yang ramping ditambah dengan wajahnya yang cantik membuat nafsu birahi Syifa semakin menjadi-jadi. Ia pun tak sabar untuk menghabiskan waktu bersama istri cantik dari pak kiyai tersebut.

Gamis Rania sudah jatuh begitupula beha beserta celana dalamnya. Rania sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Rania kembali mendekat dan langsung menindihi tubuhnya. Tubuh telanjang mereka saling bersentuhan. Kedua payudara mereka saling tindih-tindihan. Terasa puting mereka bergesekan dan mereka berdua pun memejam saat liang senggama mereka bersatu menimbulkan efek sengatan listrik yang membuat tubuh mereka berdua tersentak nikmat.

"Uhhhhhh" Desah mereka berdua dengan manja.

Berulang kali bibir Rania mengecup wajah cantik dari ustadzah Syifa. Kadang pipinya. Kadang dagunya bahkan kadang bibirnya juga. Ia sangat menikmati ketelanjangannya bersama ustadzah Syifa. Rasanya bebas ketika bisa berduaan tanpa mengenakan pakaian ketika hanya ada mereka berdua disini.

"Ayo sekarang giliran antum... Antum bebas kok melakukan apapun ke ana" Kata Rania menggoda Syifa.

"Hihihi beneran ? Kalau gitu ana mulai yah" Kata Syifa yang langsung membalikan tubuh Rania.

"Ahhhhh... Agresif banget sih antum" Keluh Rania ketika melihat nafsu Syifa yang begitu kuat.

"Hihihi abis antum nakal banget... Udah gitu antum sexy lagi... Ana kan jadi gak sabar pengen gini" Kata Syifa mengeluarkan lidahnya untuk menjilati tubuh bening dari ustadzah cantik itu.

"Ahhhh Syifaaaa.... Geliii... Geliiii ahhhh" Desah Rania saat putingnya dijilati olehnya. Syifa dengan gemas meremasi dan mengecupi payudara mulus dari bidadari itu. Jilatanmya pun makin lama makin ke bawah. Jilatan Syifa sudah sampai di pusar perut Rania. Saat jilatan nya semakin turun. Ia merasakan aroma kewanitaan dari liang vagina Rania yang begitu menggoda.

"Akhirnya bisa jilat memek antum lagi" Kata Syifa malu-malu saat mengatakannya. Dengan lihai lidahnya pun keluar untuk menjilati liang sempit yang berada di selangkangan ustadzah Rania.

"Uhhhhhh Syifaaaa... Ahhhhh.... Ahhhh" Desah Rania dengan manja.

Ketika Nafsu sudah mengalahkan segalanya. Syifa terlihat seperti seekor kucing yang tengah kehausan sehingga meminum cairan cinta yang berada di antara selangkangan Rania. Kedua tangan Syifa melebarkan kaki dari Rania. Lidahnya terus bergerak. Lidahnya begitu aktif dalam menjilati lubang kencing dari bidadari itu. Lidahnya pun ia masukan ke dalam. Lidahnya membelah liang senggama dari sang ustadzah. Rania pun merinding, matanya memejam, Ia begitu kewalahan dalam meladeni nafsu dari Syifa ketika menjilati liang senggamanya.

Seperti apa yang sudah ia ucapkan sebelumnya, bahwa ia sangat menyukai apabila ada seseorang yang menjilati lubang vaginanya. Rania pun merinding merasakan kenikmatan ini. Tubuhnya menggelinjang. Kedua kakinya mengatup hingga kepala dari Syifa terjepit selangkangannya. Tubuhnya yang sudah bertelanjang bulat terangkat naik. Rania begitu puas. Ia tak dapat mengekspresikan kenikmatan yang ia dapatkan kecuali dengan desahan dari mulutnya.

“Aahhhh Syifaaa.... Ahhhhhhh... Ahhhhhh” desahnya menahan nikmat.

Lagi, lidah itu menyapu permukaan bibir vagina dari Rania. Kadang lidahnya nyelip memasuki liang kewanitaaannya. Rania pun geli, vaginanya sudah sangat basah, dan pinggulnya bergoyang-goyang ketika menahan titik sensitifnya dijilati seperti ini. Aroma kewanitaan yang terhirup dari dalam liang vagina Rania membuat Syifa semakin bersemangat. Ia pun membenamkan kepalanya hingga lidah itu terdorong masuk semakin dalam di liang kewanitaan Rania.

“Aaahhhhhhh Syiiffaaaa !!!” desah Rania dengan manja.

Syifa menggerakan lidahnya naik turun di dalam vagina Rania. Kadang ia melakukan gerakan memutar, kadang ia hanya mendorongnya keluar masuk. Rania pun bertahan sekuat mungkin, Kedua tangannya mencengkram sprei ranjang dengan sangat kuat. Matanya ia pejamkan. Bibir bawahnya ia gigit membuat Syifa semakin terangsang melihat ekspresi kenikmatan yang dilakukan oleh Rania. Syifa pun tersenyum, ia pun terpikirkan ide agar ustadzah Rania semakin puas saat diservis oleh mulutnya.

“Aaahhhhhhhhhhhhh” Jerit Rania dengan sangat puas ketika ia merasakan bahwa klitorisnya digigit oleh Syifa.

“Hah... Hah... Hah” desah Rania kelelahan. Nafasnya ngos-ngosan. Tubuhnya pun berkeringat setelah dirangsang sedemikian rupa oleh ustadzah Syifa.

“Hihihih liat kan... Siapa yang lemes sekarang” kata Syifa saat berlutut dihadapan Rania. Rania hanya tersenyum malu setelah mendengar ucapan dari juniornya itu. Dari bawah Rania pun melihat kalau Syifa sedang melepas kait branya. Melihat Syifa hanya mengenakan kemeja yang tak ia kancing beserta hijab yang melilit kepalanya saja membuat Rania semakin terangsang oleh kecantikan Syifa saat ini.

“Ustadzahh... Antum dah siap ?” kata Syifa tiba-tiba mendekatkan pinggulnya.

“Siappp ?” tanya Rania sambil melihat tubuh Syifa yang semakin dekat. Rania pun paham apa maksudnya. Dengan lemah, ia hanya mengangguk malu membiarkan Syifa menggesek vaginanya ke vagina dirinya.

“Uhhhhhhhh Syifaaaa” desahnya nikmat saat bibir vaginanya tergesek.

“Aahhhhh ustadzahhh... Nikmat banget memek antum” kata Syifa juga menikmatinya.

Mereka berdua merinding. Mereka berdua merasa geli. Walau mereka merasa geli tapi mereka juga merasa enak. Mereka berdua tanpa sadar menggesek-gesekan kemaluan mereka sambil memejamkan mata dan membuka lebar mulut mereka.

“Ahhhh ahhhhh ahhhh ahhhhhhhh” desahan demi desahan berbunyi tanpa henti dari mulut mereka berdua.

Vagina mereka semakin licin hingga cairan cinta mereka membasahi bibir kewanitaan pasangan masing-masing. Syifa mendorong tubuhnya hingga membuat liang kewanitaannya terbuka. Rania juga mendorong tubuhnya hingga mereka merasa kalau salah satu dari bibir vagina mereka memasuki liang senggama pasangannya masing-masing. Rasa nikmat itu pun menjalar memenuhi tubuh mereka, Mereka berdua tanpa sadar mempercepat gerakan pinggul mereka. Begitupula dengan Rania yang ada di bawah. Sambil menikmati gesekan yang ia terima dari Syifa. Kedua tangannya meremasi payudaranya sendiri hingga membuat Syifa yang berada di depan selangkangan Rania bernafsu melihat kebinalan istri dari pak kiyai itu.

Rasa nikmat yang semakin menjalar membuat Syifa memutuskan untuk menundukan tubuhnya. Kini mereka berdua kembali berpelukan. Bibir mereka pun melekat ketika puting mereka bersentuhan merangsang birahi mereka masing-masing. Hanya suara kecupan yang terdengar memenuhi ruangan kamar Rania. Sprei ranjang yang menjadi alas tidur mereka berantakan. Bibir kemaluan mereka pun semakin basah berceceran. Mereka benar-benar bernafsu hingga mereka mengabaikan situasi yang terjadi di sekitar mereka. Mereka tak sadar kalau sebenarnya ketika mereka memasuki ruangan ini tadi, mereka tidak menutup rapat pintunya. Seseorang yang saat ini berdiri di balik pintu itu pun terkejut melihat kemesuman yang dilakukan oleh dua wanita cantik ini di kamar tidur orang tuanya.

“Umi... Umi ngapain ?” katanya yang membuat kedua wanita cantik ini terkejut.

“Aahhhhhh... Ustadz Angga” kata Syifa yang mengenali ustadz Angga. Syifa pun buru-buru mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya.

“Anggaaa... Kapan kamu pulang !” kata Rania juga terkejut menyadari anak tirinya tau kalau ia sedang berzina dengan seorang ustadzah yang ia kenal.

“Barusan mi... Antum, ustadzah Syifa !!!” kata Angga baru melihatnya.

Syifa pun menunduk karena malu. Ia menyembunyikan wajahnya ketika kepergok oleh anak dari pak kiyai itu. Syifa pun takut andai perbuatannya dilaporkan ke pak kiyai. Saat Syifa menoleh menatap Rania. Ia terkejut karena Rania bersikap seperti biasa saja.

“Angga... Coba sini mendekat” kata Rania seperti mempunyai sebuah ide. Rania pun berbisik ke Syifa saat Angga sedang berjalan ke arahnya.

“Inget kan apa yang ana ucapkan tadi sewaktu kita duduk di teras rumah ?” bisik Rania.

“Maksudnya ? Yang mana ustadzah ?” tanya Syifa kebingungan.

“Hiihihi... Tentang lelaki baik & antum yang harus membuka hati untuk menerima laki-laki” bisiknya yang masih membuat Syifa kebingungan.

“Angga sayang, sini duduk di sebelah Umi” kata Rania dalam keadaan telanjang bulat mengajak anaknya untuk duduk di sebelahnya.

“Iya umi” kata Angga mupeng sambil melihat keindahan tubuh ibunya. Syifa yang ada di belakangnya heran kenapa Rania bisa sesantai itu. Saat mata Angga melirik ke arahnya. Wajahnya pun memerah malu hingga ia mempererat bantal yang sedang ia peluk.

“Umi habis ngewe sama ustadzah Syifa yah ?” kata Angga menduga. Wajah Rania & Syifa pun memerah malu. Syifa hanya menunduk dan Rania mengangguk.

“Hiihihihi tau aja kamu... Anak umi dah gede yah... Coba nanti jangan bilang-bilang ke abi yah !” kata Rania mencoba negosiasi.

“Iya mi... Angga gak akan bilang ke abi... Soalnya umi sexy banget... Angga jadi pengen lagi umi” kata Angga sambil melirik ke ibunya dan kadang melirik ke Syifa.

Rania yang menyadari pergerakan mata anaknya pun tersenyum. Ia menyentuh bahu Angga kemudian bertanya padanya.

“Angga lebih pengen sama siapa... Sama umi apa sama ustadzah Syifa” kata Rania yang membuat Syifa terkejut. Seketika ia mulai paham maksud dari Rania tentang lelaki baik dan membuka hatinya.

Jangan-jangan... Ustadzah Rania menyuruh aku untuk bercinta dengan ustadz Angga ? Batin Syifa menduga-duga.

“Hmmm Ustadzah Syifa, umi... Ustadzah Syifa sexy banget soalnya... Tubuhnya montok... Angga jadi pengen nyodok” kata Angga blak-blakan yang membuat wajah Syifa memerah malu.

“Hihihihi sudah umi duga... Angga boleh kok main bareng ustadzah Syifa... Tapi jangan bilang abi yah... Tapi umi juga mau ikutan deh... Kasihan nanti ustadzah Syifa kalau melayani nafsu gede kamu sendirian” kata Rania menggoda yang membuat Angga menenggak ludah.

“Hehehe umi tau aja kalau Angga suka nafsuan” kata Angga malu-malu.

“Hihihihi umi kan uminya Angga.... Pasti umi tau lah kesukaan anaknya... Umi buka celana kamu yah” kata Rania tiba-tiba menurunkan resleting celana Angga.

“Iya umi... Buruan umi... Angga udah gak sabar” kata Angga yang sudah bernafsu melihat keindahan dua ustadzah cantik yang tengah bertelanjang bulat.

“Hihihihi ustadzah Syifa... Sini dong bantuan jangan diem aja” kata Rania menyadarkan Syifa dari lamunannya.

“Ehhh iya ustadzah” kata Syifa malu-malu.

“Tolong bukakan yah ustadzah” kata Angga malu-malu pada ustadzah cantik itu.

“Naam ustadz” jawab Syifa canggung ketika diminta untuk membuka kancing kemejanya.

Angga kini duduk bersandar di atas ranjang tidur orang tuanya. Celana kain hitam yang dikenakannya pun sudah melorot ke lutut. Celana dalamnya juga sudah dipelorotkan oleh Rania, sehingga penis besarnya kini digenggam oleh jemari Rania dengan sangat lembut.

“Ouhhhh ummiiii” desahnya dengan puas.

Syifa yang tak tahu menahu apa yang sedang terjadi pun melirik ke arah Rania. Ia terkejut ketika melihat penis besar Angga yang sedang digenggam oleh Rania.

Guedeee banget !!!

Batin Syifa terpana.

Syifa menenggak ludah. Ia pun kembali membuka kancing kemeja Angga. Tak sadar rupanya Angga sedang menatap wajahnya. Syifa pun tertunduk malu. Ia tak menduga ketika Angga sedang tersenyum ketika menatapnya.

Antum cantik banget ustadzah... Tubuh antum juga montok... Ana suka” ucap Angga yang membuat wajah Rania memerah malu.

“Uhhhhhhhhh” Angga kembali mendesah hingga matanya terpejam. Syifa pun kembali menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya Rania sedang mengulum batang penisnya. Mulut Rania pun penuh oleh kejantanan penis anak tirinya itu. Syifa pun geleng-geleng kepala, saat ia telah melepas seluruh kancing kemeja Angga. Ia melebarkan kemeja itu. Dasi yang Angga pakai masih melekat di lehernya. Angga pun terlihat sexy membuat mata Syifa dan Rania seolah diberkati.

“Ustadzah... Tolong cium ana” kata Angga meminta izin dengan sopan.

Syifa awalnya kebingungan untuk menurutinya atau tidak. Tapi sikap Angga yang lemah lembut membuat Syifa akhirnya menuruti keinginannya itu. Syifa pun mendekatkan bibirnya. Angga yang sedang duduk diam pun dirangsang oleh kedua bidadari cantik itu hingga nafsu semakin berkumandang di tubuhnya.

“Mmmppphhhh ustadzzaahhh... Mmppphhh” desah Angga puas hingga tangannya langsung mendekap tubuh polos Syifa.

“Mmppphhh ustadzzz” desah Syifa manja.

Mata mereka pun memejam menikmati hujaman bibir yang begitu kejam. Entah kenapa Syifa mengikuti alur yang membuatnya menikmati percumbuannya dengan Angga. Percumbuan kali ini beda. Rasanya sungguh nikmat. Tidak ada pemaksaan. Tidak ada kekerasan. Syifa pun hanyut dalam percumbuan itu. Kedua tangannya bahkan hinggap di bahu bidang Angga saat bibirnya begitu aktif dalam menikmati bibir manis dari anak pak kiyai itu.

“Mmppphhhh... Mmppphhhhhh” desah Syifa bernafsu.

Rania yang masih mengulum penis itu tersenyum. Ia mengamati bagaimana Syifa menikmati percumbuannya dengan putra tirinya. Angga pun juga menikmati. Kedua tangannya bahkan sudah hinggap di payudara Syifa. Tangan Angga meremasnya. Tangan Angga mencubit putingnya. Syifa pun menggelinjang merasakan rangsangan yang begitu menggairahkan. Tanpa sadar Syifa pun menaiki perut Angga agar dirinya bisa semakin bebas dalam mencumbui bibir dari ustadz yang beruntung itu.

“Mmppphhh ustadzahh... Antum pencium yang handal yah... Antum pasti sering melakukannya” kata Angga yang membuat wajah Syifa memerah malu.

“Enggak juga kok ustadz... Ana gak sehebat itu” kata Syifa malu-malu.

“Hahahaha antum ini... Malu-malu tapi binal yah” puji Angga yang membuat wajah Syifa semakin memerah malu.

Angga tidak mungkin berkomentar seperti itu kalau tangan Syifa sedang tidak memeluk lehernya. Masalahnya Syifa yang saat ini sedang menduduki perutnya tengah memeluk leher Angga dengan erat. Bibirnya pun ia dorongkan untuk mencumbu bibir ustadz itu. Angga pun membalasnya. Ia bahkan membuka mulutnya hingga lidahnya ia julurkan. Syifa tanpa sadar langsung mengulumnya. Percumbuan mereka pun lama-lama semakin panas.

“Mmmpphhh... Mmppphhhh” desah mereka berdua saat berciuman.

Rania tersenyum melihat ke akraban yang terjalin diantara mereka. Ia pun cemburu karena merasa kehadirannya seolah terabaikan oleh cumbuan penuh nafsu dari ustadzah Syifa. Kesal, Rania pun melepas kulumannya kemudian berpindah dengan menaiki penis besar itu.

“Mmmppphhhhhhhh” desah Angga agak merintih. Syifa yang terkejut pun melepas cumbuannya. Ia merasa bersalah andai cumbuannya terlalu keras dan malah menyakiti Angga.

Antum kenapa ustadz ?” tanya Syifa khawatir.

“Enggga, ahhhhhh... Umiiiii... Memek umi rapet banget sih” kata Angga yang baru membuat Syifa sadar.

“Ohhh ustadzah yah... Kirain kenapa” kata Syifa ketika melihat Rania sedang memasukan penis Angga ke dalam vaginanya.

“Hihihihih lanjutkan aja... Ana udah gak tahan pengen ngerasain kontol Angga lagi” kata Rania mulai menaiki penis Angga dalam keadaan membelakanginya.

“Ouhhhhh ummiii... Ouhhhhh” desah Angga merasakan betapa sempitnya vagina yang tengah menjepit batang penisnya. Syifa pun hanya terdiam mengamati pergerakan penis Angga yang keluar masuk di dalam vagina Rania. Ia pun melirik Angga yang merem melek keenakan. Ia pun mendengar suara desahan Rania yang begitu menggairahkan. Rania tampak menikmati. Syifa diam-diam pun penasaran ingin merasakannya lain kali.

“Ustadzahhh... Ayo lagi” kata Angga menarik tangan Syifa mendekat hingga mereka berdua kembali bercumbu memuaskan nafsu.

“Mmmppphhhhhhh” Desah mereka dengan sangat puas.

Angga kali ini yang lebih aktif dalam mencumbui bibir Syifa. Mulut Angga mengulum bibir atas Syifa. Lidahnya ia keluarkan untuk menjilati bibir tipis Syifa. Lidahnya pun masuk berpetualang di dalam mulut Syifa. Syifa pun pasrah membiarkan lidah Angga bermain sepuasnya di dalam rongga mulutnya. Ia merasakan lidah Angga menggesek lidahnya. Matanya pun memejam. Syifa tampak puas kendati baru mencumbui bibirnya saja.

Sedangkan Angga terengah-engah ketika mulutnya mencumbu dan penisnya dijepit menggunakan vagina sempit ibunya. Ia begitu kewalahan hingga membuatnya mesti mengatur nafasnya agar spermanya tidak keluar duluan ketika dipuaskan oleh kedua ustadzah alim ini.

Tubuh Rania semakin cepat naik turun di dalam pangkuannya. Tubuh Rania bergoyang. Penis Angga bagai persneling mobil yang bebas Rania gerakan kemanapun ia suka. Rania menurunkan tubuhnya hingga penis Angga masuk begitu dalam. Saat Rania mengangkat tubuhnya, ujung gundul dari penis Angga nyaris terlepas. Saat Rania kembali menurunkan tubuhnya. Penis itu langsung ambles dan menembus ujung rahim dari kemaluan ibunya.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhh Anggaaaa” desah Rania saat merasakan lezatnya penis besar itu.

Rania pun melepas goyangannya. Ia pun menyuruh Syifa menungging agar dirinya juga mendapat kenikmatan dari penis besar putranya.

“Gak usah malu... Gak sakit kok” kata Rania tersenyum yang membuat Syifa mau gak mau menuruti ajakannya.

Syifa sudah menungging. Kedua payudaranya menggantung indah di bawah sana. Angga pun buru-buru melepas celananya kemudian menarik keluar dasinya dari lehernya. Ia yang sudah bernafsu memegangi pantat Syifa. Ia mengelusnya. Ia mengusapnya kemudian menamparnya dengan pelan.

“Aahhhhh ustadzz... Ustaddzzz” desah Syifa ketika dirangsang oleh Angga.

Angga pun menaikan kemeja yang masih menyangkut di tubuh Syifa. Punggung mulus Syifa pun terlihat. Angga kembali mengusapnya sebelum batang penisnya ia dekatkan untuk memasuki liang senggama ustadzah berkulit bening itu.

“Uhhhhhhh ustadzzzz” desah Syifa menahan nikmat saat penis besar itu mulai menggesek masuk dinding vaginanya.

Syifa sampai memejam. Mulutnya sampai ia buka lebar. Ia begitu menikmati sodokan penuh tenaga yang dilakukan oleh Angga pada vaginanya. Dalam sekejap penis itu langsung ambles memasuki liang senggamanya. Cairan cinta Rania menjadi penyebab utama kenapa penis Angga begitu mudah memasuki liang senggamanya.

“Ohhhh memek antum juga rapet banget ustadzahh... Ouhhhh nikmat banget jepitan memek antum” kata Angga walau sudah mentok tapi masih tetap mendorong penisnya hingga ujung gundulnya menyodok-nyodok dinding rahim dari bidadari itu.

“Aahhhh ustadzzz... Jangan didorong terus... Udah mentok ustadzzz... Ahhhh” Desah Syifa manja.

“Ahhhhh justru itu ustadzah... Ana mau menikmati jepitan memek antum... Ana kudu mendorongnya sampai mentok banget biar ustadzah juga bisa menikmati kontol ana” kata Angga yang membuat Syifa menggigit bibir bawahnya menahan nikmat.

Pelan tapi pasti, Angga mulai memaju mundurkan pinggulnya yang membuat tubuh Syifa terdorong maju mundur. Kedua payudaranya juga maju mundur. Bahkan deru nafasnya juga maju mundur. Nafas Syifa terengah-engah menahan laju penis besar Angga yang begitu bebas bergerak di dalam liang senggamanya. Angga juga kewalahan merasakan jepitan dari kemaluan ustadzah yang jarang dimasuki penis laki-laki. Angga pun memegangi pinggul Syifa. Agar penisnya semakin mudah dalam memuaskan birahi Syifa yang semakin memuncak.

“Aahhhhhh... Ahhhhh ustadzahhhhh” desah Angga puas.

“Uhhhh... Uhhhhhhh ustadz... Punya antum gede banget... Jangan keras-keras ustadz... Punya antum gak muat di memek ana” kata Syifa terangsang.

Dari keempat laki-laki yang pernah memasukan penisnya. Penis Angga lah yang mampu membuatnya menikmati persetubuhan ini. Angga melakukannya dengan lembut. Angga juga merupakan lelaki yang penurut. Apa yang diucapkan oleh Syifa segera dituruti oleh Angga. Bahkan saat ia meminta agar Angga memelankan sodokannya, Angga pun menurutinya. Disaat kecepatan sodokan Angga terasa pas. Syifa jadi semakin menikmati persetubuhan ini.

“Ahhhhh... Ahhh iyahhh seperti itu ustadz... Puasi ana dengan kecepatan seperti itu” kata Syifa semakin terangsang menikmati sodokan Angga.

Jadi ini maksud dari ustadzah Rania... Memang benar gak semua laki-laki sama... Ustadz Angga berbeda... Ia bisa memuaskan aku tanpa perlu menyakiti diriku.

Batinnya ditengah persetubuhan mereka yang semakin memanas.

Rania yang tidak ingin ketinggalan pesta segera bergabung setelah beristirahat sebentar. Ia memeluk tubuh putranya dari belakang sambil menggelitiki putingnya. Ia juga meminta Angga untuk menoleh ke arahnya agar ia bisa mencium bibir putranya dengan penuh nafsu.

“Mmmpphhh... Gimana Angga ? Enak gak memek ustadzah Syifa ?” tanya Rania di sela-sela cumbuannya.

“Mmpphhhh enak banget umi... Memek ustadzah Syifa rapet banget” jawabnya yang membuat Syifa semakin terangsang mendengar pujiannya.

Angga mencumbui bibir ibunya dikala pinggulnya terus maju mundur mengobrak-ngabrik liang senggama Syifa. Ia begitu puas ketika ada dua ustadzah cantik yang bisa ia nikmati seutuhnya. Lidahnya pun bergerak mengelilingi rongga mulut ibunya. Penisnya juga semakin dalam dalam mengobrak-ngabrik liang senggama Syifa. Syifa yang tidak kuat pun ambruk setelah Angga melepaskan tusukannya.

“Aahhhhhhhh” desah Syifa merem melek saat tengkurap di atas ranjang tidur Rania.

“Hihihihihi Angga sekarang tiduran aja... Umi udah mau keluar nih” kata Rania berkedip yang membuat Angga segera menurutinya. Angga pun berbaring dalam posisi terlentang di sebelah Syifa. Saat Angga berbaring itulah, Rania kembali menaiki penis Angga hingga Angga memejam merasakan jepitan dari vagina rapat ibunya.

“Ouuuhhhhhhhh ummiiiii” desah Angga puas.

Syifa yang menyadari kalau Angga ada di sebelahnya pun tersenyum. Tanpa sadar nafsunya menyuruhnya untuk mencumbui bibirnya. Mereka pun kembali bercumbu. Bibir mereka bersentuhan ditengah hujaman yang dilakukan oleh Rania pada penis putranya.

“Aahhhhh... Ahhhhh Angggaaa.... Ahhhhhh” desah Rania dengan manja sambil meremasi payudaranya sendiri.

“Ouhhhh Ummmiii... Mmpphhhh... Mmmppphhh” desah Angga setelah terlepas dari cumbuan Syifa. Kedua tangannya kini memegangi pinggul ibunya. Alhasil goyangan Rania pun semakin cepat membuat penis Angga terasa seperti di pijat-pijat.

“Ouhhhh Ummiiii” desah Angga dengan puas.

Syifa yang tidak mau menganggur tanpa diduga langsung menduduki wajah Angga. Kemaluannya berada tepat di atas mulut Angga. Angga dengan senang hati pun langsung menjilati vagina Syifa.

Syifa pun merinding merasakan jilatan Angga. Ia yang sedang berhadapan dengan Rania langsung mencumbui bibirnya. Kedua ustadzah cantik itu pun saling bercumbu. Mereka dengan penuh nafsu memuaskan hasrat mereka setelah kemaluan mereka dirangsang oleh ustadz yang beruntung itu.

Penis Angga semakin basah setelah dilumuri cairan cinta setelah dijepit oleh kemaluan ibunya. Lidahnya juga semakin basah setelah menjilati kemaluan Syifa yang semakin terangsang. Angga sungguh beruntung. Akhir-akhir ini kegalauannya karena tidak dapat bertemu dengan Hanna terbalaskan oleh kebinalan dua ustadzah yang sedang ia puasi menggunakan penisnya juga lidahnya.

“Mmmpphhhh... Mmpphhh... Aahhhhhh.... Anggaaa... Umiii gak kuat lagiiiii” desah Rania ketika akan mendapatkan orgasmenya.

Syifa semakin terangsang ketika melihat ekspresi wajah Rania yang begitu binal. Alhasil ia agak menundukan wajahnya untuk dapat menyusu di payudara Rania.

“Aahhhhh Syifaaa... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Rania tak kuasa menahannya lagi.

Nafas Rania terengah-engah. Dua bola bulat yang menggantung di dadanya itu semakin mengencang. Rania pun sudah sangat terangsang. Penis Angga begitu hebat. Sodokannya begitu kuat. Begitu juga dengan jilatan Syifa yang terasa nikmat.

“Aahhhhh... Ahhhh... Ummiii keluuaarrrrr” desah Rania dengan manja.

Cccrrttt.... Crrrttt... Ccrrttttt !!!

Cairan cinta membanjiri liang senggamanya. Penisnya yang masih menancap di dalam pun dibanjiri oleh cairan cinta ibunya. Rania sangat puas. Matanya merem melek keenakan. Nafasnya terengah-engah hingga membuatnya ambruk memeluk tubuh Syifa.

“Hah... Hah... Hah... Ana capek Syifa” kata Rania tersenyum.

“Hihihihi liat kan sekarang siapa yang lemes duluan ?” ejek Syifa yang membuat wajah Rania memerah malu.

Syifa pun bangkit dari posisinya. Angga dengan hati-hati pun menidurkan ibunya di sebelah dirinya. Kini, tinggalah Syifa yang belum mendapatkan orgasme darinya.

“Ayo tiduran ustadzah” kata Angga dengan sopan.

Syifa pun menuruti. Ia mengangguk malu-malu saat berbaring di sebelah Rania. Angga tersenyum saat melihat keindahan tubuh mereka berdua yang sudah ia nikmati. Ibunya sudah tepar tak berdaya. Kini tinggalah barang baru ini yang akan ia puasi sebentar lagi.

“Uhhhhh” desah Syifa saat merasakan ujung gundul dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.

Angga sudah mengambil posisi di depan selangkangan Syifa yang terbuka. Kedua tangannya memegangi paha tebal Syifa. Ia pun dengan pelan-pelan memasukan penisnya yang justru membuat Syifa semakin terangsang.

“Ouhhhhhh ustaddzzzzz” desah Syifa manja.

Gesekan demi gesekan yang Syifa rasakan saat penis Angga memasuki lubang kemaluannya membuat Syifa menggelinjang. Tubuhnya terangkat pelan. Matanya pun berkunang-kunang. Tak pernah ia senikmat ini dalam bercinta dengan seseorang. Bahkan rasanya lebih nikmat daripada menggunakan penis mainan ustadzah Diah.

Ada apa ini ? Kenapa rasanya berbeda ? Kenapa aku menyukai penis ustadz Angga ?

Batin Syifa heran.

Saat ia menatap wajah Angga. Anak dari pak kiyai itu tengah tersenyum menatap wajahnya. Wajah Syifa jadi memerah malu. Ia pun memalingkan muka ke arah Rania di sebelah.

“Gimana rasanya Syifa ? Enak kan kontol Angga ?” ucap Rania yang hanya dijawab anggukan pelan oleh Syifa.

Angga pun tersenyum mendengarnya. Kedua tangannya kembali mencengkram pinggang ramping ustadzah Syifa. Matanya ia pejamkan dan nafasnya ia tarik kuat-kuat. Pelan demi pelan pinggulnya mulai bergerak. Tubuh indah Syifa mulai terdorong maju mundur. Kedua payudaranya juga bergoyang seirama. Ekspresi wajah Syifa yang keenakan membuat Angga semakin terangsang memandang keindahan bidadari yang sedang ia senggamai.

“Ahhhh... Ahhhhh ustadzahhh... Ahhhhhh” desah Angga keenakan.

“Mmppphhh ustaddzz... Mmpphhhh.... Uhhhhhhh” desah Syifa hingga kedua tangannya mencengkram kuat sprei ranjangnya.

Syifa keenakan, Syifa sangat menikmati persetubuhannya kali ini. Penis Angga begitu menghujam hingga berulang kali ia merasakan ujung gundul dari penis itu terus menyundul-nyundul pangkal rahimnya. Sentuhan tangan Angga dalam membelai tubuhnya yang sudah telanjang sempurna juga menaikan birahi dari ustadzah yang sebelumnya hanya meyukai wanita ini. Kedua tangan Angga bergerak naik. Tidak hanya mengelus pinggangnya. Kedua tangan itu juga mengelus perutnya hingga meremas kedua payudaranya. Syifa pun merinding. Darahnya berdesir keseluruh tubuhnya. Kenikmatan yang ia dapatkan dari sodokan penis Angga ditambah dengan remasan yang ia terima di dada. Membuat bidadari cantik itu terus mendesah menerima rangsangan darinya.

“Aahhhhh... Ahhhhhh ustadzz... Ahhhhhhh iyahhh” desah Syifa pasrah.

Mendengar suara desahannya yang begitu manja membuat Angga mempercepat gerakan pinggulnya. Ia agak menahan nafasnya untuk memusatkan kekuatannya di batang penisnya. Alhasil dorongan pinggulnya semakin kuat. Tubuh polos Syifa terhentak maju mundur dengan cepat. Buah dadanya yang membulat sempurna juga bergerak dengan sangat cepat. Syifa kewalahan. Matanya ia pejamkan. Ia pun pasrah membiarkan Angga bertindak sepuasnya pada tubuhnya.

“Hihihihi keenakan yah Syifa” kata Rania yang mendekat dan mencumbu bibir Syifa.

“Ummiiii” lirih Angga menatap ibunya yang sedang mencumbu bibir Syifa.

Mereka berdua pun memejam. Mereka saling menikmati cumbuan mereka. Bibir mereka saling mendorong. Nafas mereka saling terhempas merasakan kenikmatan yang tiada batas. Tangan Rania pun merangsang payudara Syifa yang masih saja bergoyang. Jemari Rania memilin puting Syifa. Jemarinya kadang menekan-nekan yang membuat Syifa semakin kewalahan menerima rangsangan dari keluarga pak kiyai itu.

“Mmmpphhhh... Mmpphhhhh ustadzahhhhh.... Ahhhhhhh... Ahhhhhh” desah Syifa setelah melepas cumbuannya.

Angga tersenyum menyadari kalau dinding vagina Syifa tengah berdenyut. Alhasil ia mempercepat gerakan pinggulnya lagi. Kedua tangannya mencengkram kuat pinggulnya. Ia pun menarik nafas agar Syifa dapat mendapatkan orgasmenya melalui hujaman penisnya.

“Aahhhhhh... Ahhhhh ustadzzz... Ana kellluuaaarrrrrrr !!!” Jerit Syifa dengan puas.

Ccrrrttttt... Cccrrtttt... Ccrrrtttt !!

Uniknya Angga tidak mencabut penisnya. Ia malah menancapkan penisnya kuat-kuat hingga membuat Syifa semakin mengejang merasakan tusukan dari batang penis raksasa itu. Matanya merem melek. Tubuhnya terangkat naik. Tubuhnya sesekali mengejang merasakan kepuasan yang tidak dapat ia jelaskan.

“Aahhhhhhhhh” desah Syifa dengan manja.

Angga kembali mendorong penisnya hingga ujung gundulnya semakin menancap di liang senggama Syifa. Mulut Syifa terbuka dengan sangat lebar. Nafasnya naik turun tak beraturan. Ia begitu kelelahan setelah dirangsang sedemikian rupa oleh anak dari pak kiyai itu.

Antum puas kan ustadzah ?” Bisik Angga yang rupanya wajahnya semakin mendekat yang membuat Syifa mengangguk malu.

Naam ustadz... Shohih” kata Syifa menyetujui.

“Hahahaha... Sekarang giliran ana yah ustadzah” kata Angga langsung menyosor bibir tipis Syifa.

“Mmppphhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.

Angga sudah menindihi tubuh Syifa. Kedua tangan mereka saling mengait. Bibir mereka pun saling bersentuhan. Dikala kedua mata mereka memejam. Pinggul Angga kembali bergerak untuk menghujami liang kenikmatan Syifa yang sudah sangat basah. Lubang vagina Syifa sudah membanjir membuat mereka mampu mendengar suara bercak air ketika pinggul Angga bergerak mengobrak-ngabrik liang vagina Syifa.

Bibir mereka menyatu. Tubuh mereka sudah dikuasai oleh hawa nafsu. Angga tanpa ampun mencumbui bibir itu dan menghujami liang vagina itu. Sodokan pinggulnya lama-lama makin cepat. Terdengar bunyi benturan antar kelamin yang semakin keras. Angga sudah mengerahkan seluruh energinya. Ia mempercepat gerakannya agar bisa mengeluarkan cairan spermanya yang sudah tak mampu ia tahan lebih lama lagi.

“Mmpphhhhh... Mmppphhhhhh... Tubuh antum indah banget ustadzah... Ana suka banget sama memek antum yang masih rapet” bisik Angga bernafsu.

“Mmpphhh... Mmppphhh naam ustadz... Kontol antum juga... Antum udah bikin ana lemes kaya gini” kata Syifa disela-sela cumbuannya.

Angga tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Kenikmatan yang ia rasakan sudah hampir mencapai puncak. Pinggulnya memang masih bergerak. Nafasnya juga masih terengah-engah. Namun batang penisnya sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan cairan kentalnya dari dalam perut.

Angga melepas cumbuannya. Ia kembali menegakan tubuhnya untuk menikmati ketelanjangan Syifa di bawah sana. Nampak ekspresi wajah Syifa yang keenakan ketika menatap wajahnya menjadi sensasi tersendiri yang membuat Angga tidak kuat lagi. Kedua tangannya kembali mencengkram pinggang itu. Ia pun memaksimalkan sisa energinya untuk menghujami vagina itu.

“Aahhhhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhh ustadzzzzz !!!” Desah Syifa memejam.

“Aahhhhh ustadzahhh... Ahhhhhh... Ana keluuaarrrr !!!” desah Angga buru-buru menarik lepas penisnya kemudian mengarahkannya ke wajah cantik dari ustadzah binal itu.

Crrooootttt... Crrroootttt... Crrroootttt !!!

Lelehan sperma itu dengan rapih menghiasi wajah cantik dari Syifa. Cairan itu begitu kental. Lelehannya itu jatuh memanjang di sekitar pipi ke mata Syifa. Tidak cuma satu semprotan. Semprotan kedua pun menyusul hingga membasahi bibir dan hidung dari Syifa. Semprotan ketika kembali menyusul yang membasahi area pipi sebelah kanan ustadzah Syifa.

“Aahhhhh ustadzahhhh” kata Angga puas hingga membuatnya kembali terduduk menyandar pada sandaran ranjang di belakangnya.

Mereka bertiga sama-sama kelelahan. Khususnya Angga setelah memuaskan dua ustadzah binal yang kepergok telanjang di kamar orang tuanya. Ia memang sudah sering menggenjot ibu tirinya. Tapi ketika ia menggenjot vagina Syifa. Ia merasakan kepuasan yang tidak terkira. Ia pun jadi tidak sabar menanti kedatangan pengantin barunya.

Main sama ustadzah Syifa aja udah sepuas ini... Gimana nanti sama ustadzah Hanna.

Batinnya saat terengah-engah diatas ranjang itu.

Seketika Angga terkejut menatap ibunya mendekat kemudian menjilati lelehan sperma yang berada di wajah Syifa. Rania menjilati wajah Syifa hingga bersih, kemudian Rania dengan binal mengirimkan sperma itu ke mulut Syifa yang sedang terbuka.

“Telen yah” kata Rania yang segera dituruti.

Angga sampai geleng-geleng kepala. Ia pun memejamkan mata untuk berstirahat sambil bersandar menikmati waktu di siang hari ini.

“Ahhhhhh” Mulut Syifa sudah kosong. Syifa sudah menelan habis cairan sperma yang dikirimkan oleh Rania kepadanya.

“Gimana ? Puas kan ?” lirih Rania yang hanya dijawab anggukan oleh Syifa.

“Hihihihi liat kan... Antum cuma belum ketemu lelaki yang baik... Angga ini beda... Ia gak egois yang kerjanya cuma menikmati tubuh wanita terus pergi... Buktinya kita berdua aja dikasih kepuasan olehnya kan” kata Rania yang membuat Syifa mengangguk malu.

“Iya ustadzah” kata Syifa kecapekan.

“Hihihihi kalau gitu... Kenapa antum gak nikah aja sama Angga” kata Rania yang mengejutkan Syifa.

“Eehhhhhhh” jawab Syifa menatap wajah Rania.

“Hihihihi becanda... Orang Angga udah punya calon kok” kata Rania kembali mencumbu bibir Syifa.

“Dasar antum ngagetin aja” kata Syifa memejam membiarkan Rania mencumbui bibirnya dengan penuh nafsu.


*-*-*-*


Sore harinya sekitar pukul setengah empat. Syifa baru saja keluar dari rumah pak Kiyai setelah dirinya menikmati persetubuhan dengan keluarga dari pak kiyai tersebut. Ia tak menyangka kalau dirinya akan terlibat threesome dengan ustadzah Rania juga dengan ustadz Angga. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika dirinya bisa menikmati persetubuhan dengan seorang laki-laki. Sikap Angga penuh kelembutan. Ia tidak memaksa bahkan cenderung bertanggung jawab hingga membuat Syifa takluk oleh sikap dari anak pak kiyai itu.

Bahkan tadi setelah mereka bercinta. Mereka bertiga sempat ngobrol-ngobrol sebentar yang membuat dirinya makin akrab dengan anak dari pak kiyai itu. Bahkan dirinya kembali mengulum batang penisnya hingga keluar di rongga mulutnya.

Syifa tersenyum, padahal tadi niatnya ia ingin curhat mengenai pemerkosaan yang ia alami oleh kedua tukang sapu itu. Eh kok malah jadinya ia curhat ingin tobat.

Bagus deh... Emang bener apa kata ustadzah Rania... Mau gak mau pasti aku akan menikah juga... Aku juga pengen punya anak... Gak mungkin kan kalau aku kaya dulu terus, aku bisa punya anak.

Batin Syifa tersenyum.

Tak sengaja ia bertemu dengan seorang santriwati yang ia kagumi. Sudah lama juga dirinya tidak berjumpa dengannya. Lama gak keliatan kok wajahnya makin cantik aja yah, kok tubuhnya makin berisi aja yah. Syifa terkagum melihat tubuh santriwati itu yang semakin terbentuk tiap harinya.

Makin mantep aja nih Salwa hihihihi !

Batin Syifa terkagum.

“Ehhh Salwa... Anti mau kemana ?” tanya Syifa mengejutkan Salwa.

“Ehhh ustadzah... Anu, mau ke gedung penerimaan tamu” jawab Salwa.

“Oh ada yang jenguk anti nih ?” tanya Syifa dengan ramah.

“Hehehe naam ustadzah” jawab Salwa dengan canggung.

“Waahhh ustadzah ikut yah” kata Syifa yang sebenarnya membuat Salwa tidak nyaman. Namun karena tidak enak Salwa hanya mengangguk saja membiarkan Syifa bertindak semaunya.

Maklum, tiap kali Salwa bertemu dengan Syifa. Pasti Syifa seolah ingin meminta jatah darinya. Salwa pun jadi ketakutan. Ia pun memilih menjaga sikap dengan mengeluarkan ekspresi wajah dingin ketika ditanya olehnya.

Tak terasa mereka sudah tiba di depan gedung penerimaan tamu. Tampak di depan banyak wali santri yang sedang mengobrol dengan santri-santri yang ada di pondok pesantren ini. Wajah Salwa ia tolehkan ke kiri dan ke kanan untuk mencari orang itu.

“Ehhh emang siapa yang lagi jenguk anti ? Ayah ? Ibu ?” tanya Syifa penasaran.

“Bukan... Tapi Mas aku ustadzah” jawab Salwa yang membuat Syifa tersenyum.

Pas banget... Salwa aja udah cantik gini... Pasti mas-nya juga !!! Apakah semua ini kebetulan ? Jangan-jangan mas-nya Salwa ini jodoh aku ?

Batin Syifa menduga-duga. Mulai dari di rumah pak kiyai hingga dirinya berjalan kesini. Semuanya bercerita tentang perubahan dirinya untuk membuka hati pada seorang laki-laki.

“Dekkk Salwwaaaa !!!” panggil seseorang yang membuat kedua wanita berhijab itu menoleh.

“Maassss” jawab Salwa ketika melihat wajah dari mas-nya itu.

Syifa yang penasaran pun menoleh untuk mengetahui seberapa tampan kakak dari santriwati paling hitz di pondok pesantren ini.

Tak sengaja mata mereka melakukan kontak. Senyum yang tadi mengembang di wajah Syifa menghilang. Tubuhnya bergetar ketika dirinya melihat sosok dari lelaki itu lagi.

“Mas Fandiii” lirih Syifa terkejut.

Tanpa memperdulikan mereka berdua yang sedang berpelukan. Syifa pun pergi menjauh sambil meneteskan air matanya ketika teringat masa lalunya.

“Sebentar yah dek... Tunggu sini dulu” kata Fandi meminta izin untuk mengejar Syifa.

“Ehhh mas Fandi mau kemana ? Kok ngejar ustadzah sih ?” kata Salwa penasaran ketika melihatnya dari kejauhan.

“Syifa sebentar” kata Fandi sudah mendekap tangan Syifa.

“Lepaskan mas !” kata Syifa menarik tangannya merasa jijik ketika disentuh oleh orang itu lagi.

“Maaf soal itu... Aku tau kalau aku . . . .” kata Fandi terpotong.

“Lupakan mas... Aku gak peduli lagi dengan itu... Aku sudah lelah mendengar semua itu... Biarkan aku pergi... Aku gak mau berurusan lagi denganmu” kata Syifa muak.

“Tapi Fa... Tungguuuu... Aku masih mencintaimu” kata Fandi mengejutkan Syifa.

“Apa ? Mencintaiku ? Setelah apa yang udah mas lakukan padaku ? Aku tau mas... Aku gak sebodoh itu... Mas bilang cinta padaku karena itu cuma pelarian aja kan... Mas sebenarnya gak benar-benar mencintaiku kan ? Mas cuma mau nyari pelampiasan setelah ustadzah Nisa menikah dengan suaminya kan ?... Bodohnya aku tertipu oleh lelaki sepertimu mas... Dah lah aku mau pergi... Bahkan setelah semua pengorbananku padamu, mas masih memandang cintaku sebelah mata” kata Syifa terus memaksa untuk pergi menjauhi Fandi.

“Syifaa... Aku tau... Aku memang bodoh waktu itu... Aku masih labil... Aku masih bingung... Tapi aku tau, aku tak bisa melepaskan dirimu... Aku mencintaimu... Aku rindu ingin menikmati tubuhmu” kata Fandi blak-blakan yang membuat Syifa tanpa ragu menampar pipi dari lelaki itu.

Plaaakkkkk !!!!

Fandi terkejut. Untungnya posisi mereka cukup jauh dari keramaian di belakang

“Dasar buaya darat... Aku tau, selama ini mas bilang kaya gitu karena cuma ingin menikmati tubuh aku doang kan ? Tau gak mas... Gara-gara itu hidupku hancur... Gara-gara itu aku kecewa banget sama mas... Aku gak bisa tidur... Aku terus menangis gara-gara sifat kamu mas... Bahkan setelah aku menolak, mas masih maksa aku buat bersetubuh... Setan macam apa kamu mas !” kata Syifa mengeluarkan uneg-unegnya.

“Tapi Syifaaa” kata Fandi masih tidak rela kehilangan ustadzah secantik Syifa.

“Tapi apa ? Bukannya mas punya kontak cewek-cewek murahan itu... Kenapa gak main sama mereka aja... Aku tau mas... Bahkan aku liat dengan mata aku sendiri kalau mas pernah bercinta dengan anak kampus itu... Siapa namanya ? Vika ? Ah, Reficha Aulia siapa gitu... Aku masih inget mas... Main aja sama orang itu... Aku bersyukur ustadzah Nisa terselamatkan ketika menikah dengan suaminya... Aku gak bisa bayangin betapa kecewanya ustadzah Nisa andai menikah dengan mas” kata Syifa hingga matanya menangis menahan sakit di hatinya.

Fandi pun terdiam hingga wajahnya menunduk teringat semua itu.

“Gak usah sok melas mas... Aku tau sikap aslimu gimana ?” tegur Syifa yang membuat Fandi tiba-tiba tersenyum.

“Hehehe ternyata kamu sudah tau banyak yah... Gak cuma Vika kok... Bahkan banyak wanita lain yang pernah aku nikmati sebelumnya... Termasuk kamu... Ayolah... Aku rindu tubuhmu... Mari kita bercinta lagi !” kata Fandi menampakan sifat aslinya.

“Sudah kuduga kalau kamu bukan orang baik-baik mas... Aku capek... Tolong jangan ganggu aku ataupun ustadzah Nisa ataupun Salwa” kata Syifa pamit pergi.

Fandi hanya tersenyum sambil menatap keindahan tubuh Syifa dari belakang. Dengan bekal wajah tampan serta kemampuan akting yang baik. Mudah baginya untuk menipu setiap wanita yang ingin ia setubuhi. Bahkan ustadzah secantik Nisa saja telah berhasil ia tipu dengan akting bagusnya.

“Wkwkwkw... Untuk apa aku sampai melas-melas ke kamu kalau aku bisa mendapatkan wanita manapun yang aku suka... Apa aku harus mulai berakting lain lagi yah ? Lumayan siapa tau ada ustadzah cantik yang bisa aku goda” kata Fandi sambil melihat ke sekitar.

Saat ia berjalan mendekati Salwa. Ia menyadari kalau adek kecilnya itu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik lagi jelita. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu. Ia menenggak ludahnya sambil menatap keindahan tubuh Salwa yang begitu sempurna.

“Boleh juga dek Salwa nih” ucap Fandi terkekeh-kekeh. Ia tersenyum tapi ia juga terpikirkan sesuatu mengenai sekuntum bunga yang pernah ia temui di depan kamar kosnya. (Baca Chapter 8.2: Matahari & Bulan)

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy