Search

CHAPTER 32 - DATANGLAH !

CHAPTER 32 - DATANGLAH !

"Kenapa ? Kenapa dari setiap lelaki yang ada di dunia ini, aku harus bertemu dengan orang itu lagi ?" Lirih Syifa masih tak percaya dirinya kembali bertemu dengan lelaki itu.

Masih teringat betul dalam bayangnya ketika dirinya ditipu dengan raut wajah polos itu. Ia masih tak mengira kalau lelaki yang ia kira baik ternyata memiliki sifat perangai yang sangat buruk. Ia pun teringat ketika Fandi yang sudah jelas-jelas kepergok berselingkuh dengan anak mahasiswi itu masih saja memintanya untuk bersetubuh dengannya. Padahal waktu itu dirinya sudah sangat percaya hingga merelakan keperawanannya. Ketika ia menolak, Fandi justru memaksanya yang membuatnya semakin trauma untuk berhubungan dengan seorang laki-laki.

"Tega sekali kamu mas !" Kata Syifa menitihkan air mata saat terbayang dirinya diperkosa oleh Fandi di masa lalu.

Satu hal yang tak habis pikir lagi. Kenapa ia mempunyai adek secantik dan seindah Salwa ? Seorang santriwati yang telah ia nodai dengan bibit-bibit lesbi. Dan juga kenapa dirinya baru mengetahui statusnya akhir-akhir ini ? Kenapa dari dulu dirinya tidak mengetahui kalau Salwa mempunyai kakak sebejat Fandi ?

Memikirkan hal itu membuat Syifa memiliki rasa benci pada Salwa kendati Salwa tidak mempunyai kesalahan padanya. Ia selalu membenci segala hal yang berhubungan dengan Fandi. Termasuk pada Nisa, seseorang yang pernah menjalin hubungan dengan Fandi.

"Astaghfirullah" Ucap Syifa sampai menyebut karena dirinya tak kuasa menahan kebencian kepada lelaki itu.

Dalam perjalanan pulang menuju asramanya. Bidadari cantik berkulit bening itu terus menerus menggelengkan kepala. Ia juga mengusap dadanya untuk menenangkan hatinya yang masih terguncang atas pertemuan mendadak dengan lelaki itu.

Tiba-tiba di depannya muncul orang lain yang saat ini masuk dalam daftar seseorang yang ia benci. Seorang ustadzah bertubuh mungil yang sudah menjadi istri dan mempunyai seorang anak berjenis kelamin laki-laki.

"Assalamu'alaikum ustadzah Syifa... Antum dari mana ?" Tanya ustadzah bertubuh mungil itu.

"Walaikumsalam ustadzah Nisa... Ana dari gedung penerimaan tamu" Jawab Syifa yang membuat wajah Nisa sumringah.

"Wahh beneran ? Tadi antum ketemu tamu laki-laki yang... Aduhh gimana yah jelasinnya ?" Tanya Nisa merasa malu karena takut ditanya dari mana ia mengenal laki-laki itu.

"Ohh Mas Fandi yah ? Ada kok" Jawab Syifa tiba-tiba mengejutkan Nisa.

"Ehh iya, hehehe... Kok antum kenal ?" Tanya Nisa heran.

"Kebetulan tadi ana ketemu Salwa ustadzah... Terus ngobrol sebentar" Jawab Syifa yang membuat Nisa paham kenapa Syifa sampai mengenalnya.

"Ohh ada Salwa juga yah disana ? Yaudah ana duluan yah ustadzah" Kata Nisa terlihat antusias.

Syifa yang belum sempat menjawab langsung ditinggal pergi oleh ustadzah mungil itu. Syifa pun heran kenapa Nisa masih saja berhubungan dengan lelaki bejat itu.

"Gak mungkin kan ustadzah Nisa masuk ke dalam perangkap tipu dayanya mas Fandi ?" Kata Syifa sambil menatap kepergian Nisa yang terus berlari menuju gedung penerimaan tamu.


*-*-*-*


Sementara itu di salah satu kamar yang berada di gedung penerimaan tamu.

"Gak nyangka adeknya mas udah gede aja... Gimana belajarnya di pesantren dek ?" Tanya Fandi sambil menatap wajah cantik adeknya.

"Gampang kok mas... Aku bisa memahami semua pelajarannya dengan mudah" Jawab Salwa tersenyum sambil memakan nasi pecel yang dibelikan oleh Fandi untuknya.

"Oh yah ? Ngomong-ngomong kok tumben nih... Muka adek keliatan bahagia banget ? Apa jangan-jangan di pesantren kamu udah punya pacar yah ?" Kata Fandi tiba-tiba yang membuat Salwa tersedak.

"Uhhukkk... Uhhuukk" Salwa terbatuk-batuk yang membuat Fandi tersenyum.

"Oh jadi gitu... Di pesantren di suruh belajar biar makin pinter malah nyari pacar... Mas tau kok kamu itu cantik... Tapi kalau ada laki-laki yang ngajak kamu pacaran ya jangan diterima" Kata Fandi menggoda yang membuat Salwa senyum-senyum malu.

"Ehhh bukan gitu mas... Aku gak pernah pacaran kok... Tadi aku tuh batuk gara-gara mas ngajak ngobrol mulu" Kata Salwa dengan raut wajah memerah.

"Ah yang bener... Muka adek sampai merah gitu tuh... Pasti gara-gara ketauan mas yah ?" Tanya Fandi yang membuat Salwa semakin tersipu.

"Ihhh mas apaan deh... Dari tadi nanyanya cowok-cowok melulu" Ucap Salwa sebal.

"Hahaha maklum, mas kan penasaran apa bener adek tuh udah bener-bener gede... Coba mas tanya lagi... Ada gak laki-laki yang adek suka di pesantren ini ?" Tanya Fandi yang membuat Salwa tersipu malu.

"Ya ada lah" Kata Salwa malu-malu mengakui.

"Wah tuh kan ? Emang bener ternyata adeknya mas udah gede... Siapa tuh lelaki yang beruntung itu ?" Tanya Fandi kembali menggodanya.

"Ada deh... Kepo amat sih" Jawab Salwa yang membuat Fandi tertawa.

Dua kakak beradik itu terlihat bahagia ketika menikmati waktu bersama. Banyak hal yang mereka obrolkan termasuk tentang masalah Salwa yang sudah menjadi dewasa. Fandi sebagai kakak pun menasehati agar adeknya cukup berfokus pada pelajaran saja. Salwa mengangguk menyetujui. Ia sangat senang ketika mendengar nasehat dari kakak tersayangnya. Fandi juga terlihat senang, terutama saat menatap keindahan tubuh Salwa yang semakin terbentuk sempurna.

Fandi pun menyadari adanya dua tonjolan yang muncul dari balik pakaian yang Salwa kenakan. Ia juga menatap wajahnya. Ia juga melirik lekuk tubuhnya dari balik pakaian longgar yang adeknya kenakan. Sebagai lelaki dewasa yang sudah berpengalaman dalam proses perlendiran. Ia pun memprediksi kalau adeknya ini akan tumbuh menjadi wanita cantik yang memiliki tubuh sempurna dengan tonjolan dada yang sangat menggiurkan. Sebelumnya, ia tak pernah membayangkan kalau adek cantiknya ini akan masuk ke dalam daftar wanita yang ingin ia setubuhi. Tetapi dengan pertemuannya kali ini, ia semakin yakin bahwa adeknya telah menjadi wanita nomor satu dari daftar orang-orang yang ingin ia hamili.

Tengggg... Tenggg... Tenggg !!!

Tak terasa lonceng sudah berbunyi. Para ustadz & ustadzah yang menjaga di bagian penerimaan tamu pun mulai beraksi dengan menertibkan para santri yang masih ada di gedung ini untuk kembali ke asrama masing-masing. Sudah waktunya bagi para santri untuk bersiap-siap ke masjid. Semua santri yang ada disini pun paham. Termasuk Salwa yang baru saja menghabiskan nasi pecel itu.

"Mas... Aku pulang duluan yah" Kata Salwa pamit.

"Iyya dek... Hati-hati yah... Yang semangat belajarnya... Sini coba mas mau... Mmmuuaahhh" Kata Fandi dengan gemas hingga mencium pipi Salwa.

"Ihhh mas jangan gitu ah... Aku udah gede tau" Kata Salwa malu.

"Hahaha terus mas gak boleh nyium gitu ? Mas kan kangen kamu dek" Kata Fandi memanfaatkan statusnya sebagai kakak untuk mencium wajah bidadari itu.

"Ihhh gak boleh lah... Cari pacar sana biar bisa nyium sepuasnya" Jawab Salwa yang sebenarnya senang saja dirinya mendapat kasih sayang dari kakaknya.

"Huuu pelit... Mas kan maunya yang halal" Kata Fandi yang membuat Salwa tertawa.

"Hihihi kalau gitu cari istri sana" Jawab Salwa tersenyum riang.

"Hahaha yaudah sana pulang nanti dimarahi ustadzah loh" Kata Fandi yang membuat Salwa pun buru-buru pergi tuk kembali ke asramanya.

"Hihihi iya mas... Aku duluan yah... Wassalamualaikum" Kata Salwa sambil mencium punggung tangan kakaknya lalu pergi.

"Walaikumsalam dek" Jawab Fandi sambil menatap kepergian adeknya. Ia pun tersenyum sambil membayangkan saat bibirnya mampu mengecup pipi mulusnya. Ia begitu girang. Ia pun tak sabar untuk mencium bagian lain dari wajah adeknya.

"Sekarang-sekarang pipinya dulu yah dek... Besok-besok mas boleh nyium bibir adek kan ?" Lirihnya sambil membayangkan dirinya mampu menyetubuhi adeknya.

Fandi pun menatap penampakan Salwa dari belakang. Pikirannya seketika dipenuhi oleh ide-ide kotor untuk menyetubuhi adek cantiknya itu.

"Hehehe kayaknya main gaya WOT dari belakang boleh nih... Genjot gaya nungging apalagi" Kata Fandi semakin bernafsu untuk menyetubuhi adek kandungnya. Ia pun segera balik pulang menuju kosnya untuk beristirahat sambil memikirkan cara agar dirinya bisa menyetubuhi adeknya suatu hari nanti.

Saat Fandi berniat untuk kembali ke kosnya. Saat dirinya di perjalanan menuju motornya. Pandangannya malah teralihkan oleh salah satu ustadzah yang sedang menertibkan para santri untuk meninggalkan gedung penerimaan tamu ini.

"Ehh boleh juga nih ustadzah itu... Mantep juga bodynya... SSI dulu ahh" Kata Fandi malah menghampiri seorang ustadzah yang membuat dirinya tergoda.

"Mmm ustadzah... Maaf mau nanya ?" Kata Fandi setelah mendekati ustadzah itu.

"Iya mas... Ada apa ?" Tanya ustadzah cantik itu dengan ramah, ia pun tak tahu kalau sebenarnya dirinya telah masuk ke daftar incaran yang dimiliki oleh lelaki bejat itu.


*-*-*-*


Tak diduga, dalam perjalanan pulang menuju asramanya. Salwa bertemu dengan ustadzah Nisa yang tampak kecewa ketika melihat santriwati cantik itu telah meninggalkan gedung penerimaan tamu. Pikirnya, Fandi pasti juga telah pulang yang membuatnya gagal bertemu dengan mantan tetangganya itu.

"Ehh Salwa, mas Fandi dah pulang yah ?" Tanya Nisa pada santriwati cantik itu.

"Iya ustadzah... Ada apa yah kok nyariin mas Fandi ?" Tanya Salwa yang membuat ustadzah mungil itu kebingungan dalam menjawab pertanyaannya.

"Anu itu... Ustadzah pernah punya utang waktu itu" Jawab Nisa berbohong yang membuat Salwa tertawa.

"Yahhh hihihi... Tapi kayaknya mas Fandi dah pulang deh setelah denger lonceng tadi" Jawab Salwa yang kini berjalan berdua bersama ustadzah mungil itu.

"Hmm yaudah deh... Oh yah tadi disana ngobrolin apa aja sama mas Fandi ?" Tanya Nisa berharap kalau namanya disebut dalam obrolan Salwa bersama kakak tampannya.

"Ya biasa sih ustadzah... Nanya pelajaran, kegiatan ana, ya kaya biasa gitu deh" Kata Salwa tersenyum yang membuat Nisa agak kecewa.

"Gitu aja nih ? Gak ngobrolin ustadzah ?" Kata Nisa iseng.

"Hihihi ya gak lah ustadzah... Masa iya ana sama mas Fandi ngobrolin ustadzah" Jawab Salwa yang dikira bercandaan.

"Hihihi gitu yah" Jawab Nisa berpura-pura tersenyum padahal hatinya merasa kecewa.

"Oh yah ustadzah... Tau gak ? Masa tadi ana kan ke gedung penerimaan tamu bareng ustadzah Syifa nih" Ucap Salwa bercerita.

"Eh ustadzah Syifa ? Terus ?" Tanya Nisa penasaran.

"Iya pas mas Fandi ngeliat ustadzah Syifa... Ustadzah Syifa langsung pergi kabur gitu deh... Yang lebih aneh lagi mas Fandi langsung ngejar dia... Ana jadi curiga deh sama mereka berdua... Cuma ya tadi gak sempet nanya karena gak enak aja buat nanyanya" Kata Salwa yang membuat Nisa semakin kecewa.

Mas Fandi ? Sama ustadzah Syifa ? Pantes aja tadi ustadzah Syifa kenal sama mas Fandi... Apa jangan-jangan mereka punya suatu hubungan ?

Batin Nisa menduga-duga.

Membayangkan hal itu membuat hati Nisa merasa cemburu. Entah kenapa dirinya tak suka kalau Fandi dekat dengan wanita lain.

Ihhh... Kenapa hatiku sakit yah pas bayangin mereka punya hubungan ?

Batin Nisa saat berjalan berdua bersama santriwati cantik itu.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di sebuah rumah sakit terdekat.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh belas lebih sepuluh menit. Langit saat itu sudah mulai berubah menjadi warna oranye. Para santri yang tadi sempat menemani kawannya yang sakit sudah pada pergi menuju masjid untuk persiapan shalat maghrib.

Namun di lorong rumah sakit itu. Terdapat seorang ustadzah bertubuh montok yang baru saja tiba untuk menjenguk kenalannya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ustadzah itu tengah mengenakan kemeja longgar dengan motif kotak-kotak yang ia padukan dengan rok panjang serta blazer lebar yang tidak membentuk tubuh berisinya. Sebuah hijab berwarna coklat cerah melengkapi penampilan indahnya di sore hari ini.

Ustadzah itu berjalan dengan rasa kekhawatiran di dada. Ia memikirkan orang itu. Seseorang yang akan ia jenguk. Ia masih teringat dengan jelas pengeroyokan yang dilakukan oleh dua lelaki bejat itu kepada pria tua berbadan kurus itu.

"Tega sekali mereka" Lirihnya iba saat membayangkan tukang sapu itu menjadi korban pengeroyokan karena hendak melaporkan aksi kedua lelaki itu yang telah memperkosa dirinya.

"Ini juga salahku... Andai aku bisa menjaga diri lebih... Sudah pasti hidupku akan damai-damai saja... Pak Prapto juga gak perlu sampai dipukuli seperti itu oleh kedua orang itu" Kata Hanna. Ustadzah yang memiliki senyum termanis sepondok pesantren ini.

Hanna telah tiba di ruangan pak Prapto berada. Saat ia membuka pintu, ia tersenyum lemah menyadari pak Prapto masih belum sadarkan diri. Sudah beberapa hari ini pak Prapto pingsan karena kesehatannya melemah. Hanna pun memaklumi kekuatan fisik yang dimiliki oleh pria tua ini. Ia hanya berharap agar pak Prapto bisa sehat kembali agar dirinya bisa berterima kasih atas usahanya dalam membela dirinya.

"Pakkk... Kan waktu itu udah aku bilang biar gak ikut mencampuri urusan hidup aku... Lihat kan sekarang... Kalau kaya gini kan aku juga yang jadi gak enak ke bapak" Kata Hanna sambil memegangi telapak tangan pria tua yang sudah berkeriput itu.

"Coba waktu itu bapak nurut... Bapak pasti gak perlu menderita seperti ini, pak" Kata Hanna merasa iba.

Ia terus saja membelai tangan pria tua itu sambil menatap wajahnya. Lama-lama air mata Hanna menetes juga tiap kali teringat kebaikannya. Hanna pun ingat kalau dirinya sudah sering mengobrol dengan pria tua itu. Hanna pun sudah merasa, kalau dirinya mempunyai ikatan dengannya. Sebuah ikatan kekeluargaan yang membuatnya tak terima andai ada seseorang yang menyakiti pria tua itu.

"Makasih yah pak udah mau bantu aku... Padahal bapak sendiri tau, kalau bapak gak akan sanggup untuk melawan kedua orang itu... Tapi demi aku, bapak rela berjuang menanggung resiko ini demi membebaskan aku dari kebejatan dua orang itu"

Hanna pun mendekatkan tangan tua itu ke wajahnya. Hanna mengecup punggung tangannya kemudian tersenyum sambil mendoakan kesembuhan untuk pria tua itu.

Tiba-tiba dari arah belakang ia mendengar suara pintu terbuka. Hanna yang terkejut segera melepaskan dekapannya pada lelaki tua itu. Wajahnya yang cantik ia tolehkan ke belakang. Ia pun penasaran, siapa seseorang yang baru saja memasuki ruangan kamar yang hanya terdapat pak Prapto di dalamnya.

"Sudah ana duga antum disini yah ustadzah" Katanya menatap Hanna.

"Ehhh ustadz... Antum ada keperluan apa disini ?" Tanya Hanna pada rekan kerja tampannya.

"Gak ada apa-apa ustadzah... Ana cuma penasaran... Dari kemarin antum tuh jarang banget keliatan... Kata ustadz Rafi, antum lagi nemenin kenalan di rumah sakit... Makanya ana mau ikut jenguk... Sekalian pengen tau juga kabar dari antum" Kata V mendekat ke arah Hanna.

"Hihihi makasih yah ustadz" Jawab Hanna tersenyum.

"Oh yah... Ana boleh ikut duduk ?" Kata V mengambil kursi kosong kemudian mendekatkan nya ke arah Hanna.

"Boleh kok ustadz" Kata Hanna agak menjauhkan sedikit untuk menjaga jarak dengan ustadz tampan tersebut.

"Hmmm jadi beliau... Siapa bapak ini kalau boleh tau ustadzah ?" Tanya V setelah melihat penampakan pak Prapto yang tengah terbaring lemah.

"Ehhh iniii..." Kata Hanna kebingungan untuk menjawabnya. Sebenarnya ia bisa saja menjawab jujur kalau orang ini adalah tukang sapu yang biasa bekerja di gedung kelas. Tapi, kalau nanti V kembali bertanya mengenai hubungan apa yang ia miliki dengan pria tua ini. Ia pasti akan semakin bingung untuk menjawabnya.

"Ini paman ana, ustadz" Jawab Hanna karena terdesak.

"Ohhh paman antum... Tapi kok kayaknya ana pernah melihatnya yah ?" Tanya V sekali lagi yang membuat jantung Hanna berdegup kencang.

"Ehhhh anu itu... Hehehe..." Jawab Hanna kembali kebingungan hingga membuatnya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Beliau tinggal di sekitar sini yah ? Apa gimana ?" Tanya V sekali lagi yang tak sengaja memberi petunjuk bagi Hanna untuk menjawabnya.

"Hehehe iya ustadz... Rumahnya disekitar sini... Makanya pas tau kabar beliau sakit... Ana langsung kesini buat menemaninya" Kata Hanna merasa lega dirinya mempunyai alasan yang masuk akal.

"Ngomong-ngomong beliau sakit apa ustadzah ? Kok banyak anggota tubuhnya yang diperban ?" Tanya V sekali lagi yang membuat Hanna kebingungan untuk menjawabnya.

"Hehehe kalau itu... Anuuu.... Mmppphh... Begal.. Iya ada begal ustadz" Jawab Hanna ala kadarnya untuk menghindari kecurigaan V.

"Ehh ada begal disekitar sini ? Tuh kan, Hati-hati yah ustadzah... Jangan keluar malem-malem... Bahaya" Kata V perhatian.

"Hehehe tapi kan kita emang gak boleh keluar malem ustadz... Kita kan harus menemani santri muwajjah... Apalagi sekarang udah masuk masa ujian" Kata Hanna yang baru membuat V teringat.

"Ohhh iya yah hehehe" Jawab V malu.

"Huuuuu... Tuh kan... Ketahuan sekarang siapa yang sering keluar malem... Antum nakal yah" Ucap Hanna tertawa yang membuat V malu-malu karena sudah kepergok.

"Gak sering kok... Cuma ngumpul bareng temen sekamar aja... Paling cuma ngopi" Kata V mengakui.

"Hihihihi dasar... Keluar buat ngopi apa buat nyari cewek cantik" Kata Hanna menggoda V yang membuat ustadz tampan itu tersipu.

"Hahaha... Buat apa nyari cewek cantik diluar kalau stok disini udah melimpah... Gak cuma cantik, baik, terjaga lagi" Kata V yang membuat Hanna tersipu sekaligus terpikirkan kata-kata terakhir yang V ucapkan.

Terjaga yah ?

Batinnya menyadari kalau dirinya sudah menjadi ustadzah yang ternoda.

"Apalagi antum... Pasti beruntung calon suami antum bisa punya calon istri seindah antum" Puji V sambil melirik wajah Hanna yang membuat ustadzah cantik itu tersenyum manis.

"Ustadz ahhh... Gombal" Kata Hanna malu-malu mendengarnya.

"Kok gombal sih ustadzah... Padahal ana kan cuma jujur... Antum juga orangnya baik, cerdas... Apalagi senyum antum itu... Coba liat sini" Kata V sambil memegangi dagu Hanna kemudian mengarahkan wajahnya untuk menatapnya.

Hanna tersenyum manis. Wajahnya tersipu. Pipinya memerah. Kendati wajahnya tengah menatap rekan kerja tampannya, namun matanya malah melirik ke samping karena tak sanggup menatap wajah tampannya.

"Cantiknyaaa" Puji V yang membuat Hanna menaikan pandangan untuk menatap wajah V. Hanna tak menduga kalau V rupanya tengah tersenyum padanya. Hanna pun membuang muka karena malu. Sikap menggemaskan yang Hanna tunjukan membuat ustadz tampan itu geregetan ingin mencubit pipinya.

"Ustadddzz aahhhhh... Jangan gitu deh... Ana malu tau" Kata Hanna dengan nada agak mendesah karena tak biasa diperlakukan dengan cara seperti itu.

"Hahaha maaf... Maaf... Habis antum manis banget sih... Ana jadi gak tahan buat godain antum" Kata V terus menggodanya yang membuat Hanna hanya tersenyum malu tanpa berani menatap wajahnya.

"Ihhhh dasar... Ana laporin ustadz Angga loh kalau ada ustadz yang suka godain ana" Kata Hanna sambil menahan senyum.

"Ohhh... Mau main lapor-laporan yah... Laporin aja coba... Ana mau tau responnya gimana ?" Kata V sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna.

"Hihihihi ustaddzzz... Ahhhh... Jangan deh... Dasar ustadz genit" Kata Hanna malu-malu sambil tertawa di hadapan V.

"Hahahahaha... Antum dari tadi bikin ana gemes terus sih" Kata V sambil menatap wajah Hanna.

"Hihihihi masa ? Dari lahir kali ana ditakdirkan jadi wanita yang gemesin" Kata Hanna semakin tersipu di dalam ruangan itu.

"Hahaha ana tau itu... Tapi antum gak cuma gemesin loh" Kata V semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna.

"Ihhhh ustaddzzz... Emang apa lagi coba ?" Kata Hanna sambil menahan tubuh V agar tidak mendekat sambil memberanikan diri menatap wajah tampannya.

"Tapi juga nafsuin" Ucap V yang membuat wajah Hanna memerah malu.

"Ihhhh ustadz ngomong apaan deh ?" Tanya Hanna tersipu.

"Ya ngomong gitu... Kalau ustadzah itu gemesin, sekaligus nafsuin... Ana jadi inget pas kita berciuman di kantor bagian kita" Ucap V dengan jarak sedekat ini yang membuat Hanna mampu menghirup aroma nafas V yang begitu hangat.

"Hehehe waktu itu yah ?" Ucap Hanna sambil memundurkan wajahnya karena merasa tak nyaman.

"Iyya... Sejujurnya, sejak pertama kali kita bertemu di waktu itu... Ana tuh iri banget sama calon suami antum karena bisa menggenjot tubuh semontok antum" Ucap V yang membuat Hanna merinding mendengar ucapannya.

"Tau gak betapa kecewanya ana pas tau, ternyata antum udah diboking oleh calon suami antum" Kata V yang membuat Hanna tersenyum malu.

"Emang gimana ?' tanya Hanna saat jantungnya berdegup kencang.

"Rasanya tuh... Mmpphhh gemes banget... Ana jadi pengen... Mmppphhh" Desah V karena tak tahan. Ia pun mencumbu Hanna yang membuat ustadzah cantik itu terkejut.

"Mmpphhhh ustaddzzz... Apa yang antumm... Mmpphhh” desah Hanna terkejut menerima cumbuan tiba-tiba dari lelaki tampan itu.

“Mmpphhh bukannya ana sudah bilang ustadzah ? Antum itu nafsuin... Ana udah gak tahan banget pengen menikmati bibir antum” kata V tak sanggup menahan diri lagi.

“Tapi ustadzz... Mmpphhh... Jangan disinii... Nanti kalau paman ana sadar gimana ?" Ucap Hanna di sela-sela cumbuannya.

"Biarin aja ustadzah... Biar paman antum tau... Kalau antum itu orangnya gemesin banget... Ana aja sampe gak tahan pengen mencium antum" Kata V yang sudah terlanjur bernafsu.

"Mmppphhh ustaddzzz" Desah Hanna memejam pasrah.

"Tau gak ustadzah... Dari dulu, ana udah ketagihan banget menciumi bibir antum... Mmppphhh" Desah V sambil mendorong bibirnya ke bibir Hanna.

"Mmpphhhh ustadzzz... Ana juga... Sebetulnya ana semakin penasaran semenjak antum mencumbu bibir ana waktu itu... Ana pengen melakukannya lagi... Tapi ana malu buat bilangnya ustadz... Apalagi waktu itu antum deket banget sama ustadzah Haura" Kata Hanna malu-malu mengakui.

Ustadzah pemilik senyum termanis itu bernafsu setelah dari tadi dirinya digoda oleh ustadz tampan itu. Dengan modal ketampanan yang ustadz itu punya. Dengan modal kedekatan yang ustadz itu punya. Dengan modal ketepatan waktu yang pas yang ustadz itu punya. Ustadz tampan itu dengan mudah membuat Hanna pasrah dalam menerima cumbuannya.

"Ayo berdiri ustadzah" Kata V yang sudah semakin bernafsu hingga membuat Hanna manut saja menuruti perkataan ustadz tampan itu.

Untungnya ruangan dimana pak Prapto berada terdapat di ujung lorong rumah sakit ini. Sehingga sedikit dokter yang berlalu lalang di dekat pintu masuk ruangan ini. Di ruangan ini juga hanya terdapat pak Prapto saja. Hal ini membuat V semakin bebas dalam mencumbu ustadzah montok ini.

“Ustaaddzzzz” Desah Hanna dengan manja.

Dengan penuh nafsu. V mendorong tubuh Hanna hingga mentok ke dinding rumah sakit. Punggung Hanna sudah menyentuh dinding rumah sakit. Kendati demikian, dorongan bibir V masih saja kuat hingga kepala Hanna terus saja terdorong ke belakang.

"Mmmpphhh bibir antum manis banget ustadzah... Mmpphhhh ana suka banget bisa mencumbu antum sebebas ini" Desah V di sela-sela cumbuannya.

"Mmpphhhh... Ana sebetulnya juga ustadz... Antum nafsu banget sih... Ana jadi gak berdaya buat menuruti nafsu gede antum" Kata Hanna terengah-engah.

Bibir V mendorong bibir bidadari cantik itu dengan penuh nafsu. Bibirnya dengan liar mendorong bibir tipis Hanna ke belakang. Ustadzah berbadan montok itu sampai kewalahan. Ia hanya bisa bertahan membiarkan ustadz tampan itu menikmati bibirnya sepuasnya.

"Mmpphhhh ustaddzzz" Desah Hanna dengan manja.

Mendengar suara desahan yang menggoda itu membuat V segera membuka mulutnya untuk mengeluarkan lidahnya. Ia dengan penuh kepuasan langsung menjilati bibir tipis Hanna yang begitu mempesona. Rasa bibir itu sungguh manis dengan liur yang ia oleskan ke tepi. Puas menjilatinya, mulut V kembali membuka untuk mencaplok bibir atas Hanna. V mengulum bibir itu, terkadang ia juga menyedot bibir tipis itu, terkadang ia hanya membasahi bibir manis itu menggunakan liurnya hingga lidah Hanna dapat merasakan nikmatnya liur V yang telah memenuhi rongga mulutnya.

Anehnya, tidak ada rasa jijik sedikitpun pada Hanna saat liur V memenuhi rongga mulutnya. Rasa nikmat yang mendera tubuhnya membuatnya semakin rileks hingga membiarkan bibir ustadz itu memuasi hawa nafsunya.

"Mmpphhh ustadzahhhh... Tubuh antum empuk bangettt... Pasti susu antum gede yah" Rangsangnya saat kedua tangannya sudah hinggap memegangi pinggang ramping Hanna.

"Mmpphhh ustaddzzz... Jangan ngomongin itu ahhh... Ana maluuu tauuu... Mmpphhhh... Antum aja deh yang nilai sendiri nanti" Kata Hanna di sela-sela cumbuannya.

Pipi ustadzah montok itu memerah. Kedua tangannya pun pasrah membiarkan kedua tangan V menggerayangi tubuhnya.

Dikala V mencumbui mulutnya. Kedua tangannya menggerayangi tubuh empuk itu dari bawah ke atas. Mulanya ia hanya memegangi pinggang ramping Hanna. Lama-lama tangannya mulai meremasi payudaranya. V terkejut karena ukuran buah dada Hanna sungguh besar. Teksturnya juga kencang. Membuat V semakin terangsang dalam meremasi buah dada yang bentuknya bulat sempurna.

Di sisi lain, Hanna merasa puas saat menerima rangsangan tangan V. Ia bahkan sampai memejam seolah dirinya hanyut dalam belaian yang membuatnya berasa terbang ke kayangan.

V memang ahli dalam memainkan birahi setiap wanita yang ia temui. Alih-alih menggunakan pemaksaan dalam menaklukan mereka. Ia lebih memilih santai dengan menaklukan perasaannya terlebih dulu. Ia selalu membuat wanita yang ingin ia gagahi terangsang hingga membuatnya tak bisa menolak godaan yang ia lakukan setelahnya. Bahkan sekarang, mereka berdua sedang memejam agar semakin menikmati percumbuan mereka yang semakin panas.

"Mmpphhhh ustadzzz... " Desah Hanna menyadari kalau kancing kemejanya sedang dibuka oleh V.

"Mmpphhhh gapapa ustadzah... Ana akan buat antum puas... Antum tenang aja yah... Nikmati aja apa yang akan ana berikan ke antum" Bisik V di tengah percumbuannya yang membuat Hanna menuruti saja apa yang ustadz itu minta.

Satu demi satu kancing kemeja Hanna telah terlepas. Bra berukuran 34C berwarna putih itu mulai terlihat dibalik kemeja yang terbuka. Wajah Hanna memerah menyadari dadanya terbuka dihadapan ustadz tampan itu.

V pun mengapit bibir bawah Hanna kemudian menariknya mundur secara perlahan sambil membuka matanya. Hanna juga membuka matanya. Saat V melepaskan jepitan di bibir Hanna, ustadz tampan itu tersenyum sambil menatap keindahan tubuh Hanna yang terhidang di depannya.

"Indah sekali tubuh antum, ustadzah" Ucap V yang membuat Hanna tersipu malu.

"Hihihihi makasih ustadz" Kata Hanna berusaha merapatkan kembali kemejanya karena tak kuat ditatap seperti itu oleh ustadz tampan itu.

"Ehh gak usah... Jangan ditutupi lagi... Sebaliknya ana buka yah beha antum" Kata V yang membuat jantung Hanna berdebar kencang.

Hanna sambil malu-malu menganggukan kepala. V tanpa ragu segera menurunkan cup bra itu. Saat beha yang Hanna kenakan telah turun. Nampak susu gedenya tumpah yang membuat ustadz tampan itu terperangah akan ukurannya yang luar biasa.

"Gede banget punya antum ustadzah" Kata V terpana.

"Hihihi masa sih ?" Ucap Hanna malu-malu ketika melihat ekspresi wajah V.

"Iyyahhh... Ini mahhh... Aahhhh boleh yah ana remes ?" Kata V gemas ingin memainkan benda indah tersebut.

"Boleh ustadz" Jawab Hanna dengan manja.

Tanpa ragu, V langsung mencengkram kuat payudara indah itu. Hanna sampai memejamkan mata saat darah yang berada di dalam tubuhnya berdesir mengitari seluruh tubuhnya. Mulut Hanna sampai membuka. Aroma nafasnya yang hangat menerpa wajah V yang membuat ustadz tampan itu semakin bernafsu. V pun kembali mendekatkan wajahnya untuk mengapit bibir itu lagi.

"Ustadzaahhh... Mmpphhhh" Desah V saat mencumbunya.

"Iyyahhh ustadzzz... Mmpphhhh" Desah Hanna dengan puas.

Mereka benar-benar hanyut ketika bibir mereka kembali melekat satu sama lain. Bahkan kedua tangan Hanna sudah berada di pundak V. Saking nafsunya, V bahkan sampai menggigit bibir bawah Hanna ketika kedua tangannya menggelitiki puting indahnya.

“Mmpphhh ustaaddzzz” desah Hanna merasakan tangan nakal V di payudaranya.

Untuk kali ini, tidak hanya V yang terlampau aktif dalam mencumbui bibir Hanna. Bahkan Hanna sudah berani menggigit bibir V akibat nuansa yang sudah tercipta diantara mereka berdua. Nafsunya telah menggebu, ia pun semakin bernafsu untuk terus mencumbu, ia tak peduli lagi dengan siapa dirinya sedang menikmati bibir itu.

Hanna sudah bergairah. Ia pun menikmati bibir ustadz tampan itu sambil mendesah. Hawa panas yang ada di ruangan rumah sakit itu membuatnya semakin gerah.

Hanna sendiri sampai terkejut kenapa dirinya bisa senafsu ini. Ketika sedang asyik-asyiknya bercumbu. Tak lama kemudian, V melepas cumbuannya secara perlahan hingga ada liur yang melekat diantara bibir keduanya. Liur itu terus menyatu seolah tidak mau berpisah dari percumbuan yang sedang dilakukan mereka berdua.

"Mmpphhhh... Ahhh ustadzah" Panggil V setelah puas mencumbui bibir indah itu.

Hanna membuka mata setelah mendengar panggilannya. Saat mata Hanna terbuka, ia menemukan V sedang tersenyum menatapnya. Wajah Hanna berubah menjadi merah ketika menatap senyum manisnya disana. Seolah terbuai oleh ketampanan wajah V. Hanna tetap diam disana menatap keindahan wajah V dengan tatapannya yang sayu.

"Wajah seindah ini, bibir selembut ini dan tubuh semontok ini... Beruntung banget ana bisa menikmati keindahan tubuh antum, ustadzah" Ujar V yang membuat Hanna tertunduk malu.

"Hihihi makasih ustadz" Jawab Hanna malu-malu.

"Apa benar tubuh seindah ini disiapkan untuk ana ?" Kata V yang membuat Hanna semakin tersenyum malu.

"Hihihi mungkin aja ustadz" Jawab Hanna malu-malu tanpa berani menatap wajah tampan itu.

"Oh yah ? Kalau gitu... Ana bolehkan menurunkan rok panjang antum" Ujar V sambil membuka kancing kemejanya.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu. Pandangan Hanna justru teralihkan oleh beningnya kulit dada V yang terhidang di depan matanya. V memang tidak kekar, tapi tubuhnya sempurna untuk seukuran postur jenjangnya. Kedua jemari Hanna bergerak dengan sendirinya untuk memelintir puting V. V hanya tersenyum. Ia membiarkan ustadzah cantik itu bermain-main dengan kedua putingnya.

"Ahhh ustadzahhh... Geliiii" Kata V tersenyum yang membuat Hanna juga tersenyum.

"Hihihi masa ustadz ?" Jawab Hanna yang malah menantang dengan menekan puting V dan mencubitnya pelan.

"Ahhhh ustadzahhh... Awas antum yah... Ana bikin teriak-teriak puas nih nanti" Ujar V yang membuat Hanna tertawa.

"Hihihi siapa takut ?" Tantang Hanna yang membuat V semakin gemas.

Kedua tangan V bergegas pindah ke belakang rok yang Hanna kenakan. Setelah ia menemukan resleting roknya. Buru-buru V menurunkan resleting itu berikut rok yang menghalangi keindahan kaki jenjangnya. Paha mulus Hanna telah terlihat. Ukuran pahanya sungguh tebal membuat V gemas hingga mengusap-ngusap permukaan paha itu yang ternyata sangat halus.

“Lembut banget sih kulit paha antum” ujar V sambil menatap Hanna.

“Hihihii kan biar antum nyaman pas ngelus-ngelusnya” goda Hanna yang membuat V semakin terpana.

“Gitu yah... Ana jadi gemes pengen jilatin memek antum” ujar V yang membuat wajah Hanna memerah malu mendengar kata kotor itu.

“Aaahhhhh” Hanna menjerit pelan saat celana dalamnya juga dipelorotkan oleh V.

Hanna mengangkat kedua kakinya bergantian saat tangan V membantunya untuk meloloskan celana itu melewati kaki jenjangnya.

Hanna pun berdiri pasrah dalam keadaan kemeja terbuka tanpa mengenakan bawahan apapun. Kaki Hanna hanya tertutupi stocking panjangnya saja berikut sepatu yang menjadi alas kakinya. Sedangkan blazernya juga sudah ia lepaskan sehingga Hanna terlihat semakin menggoda di depan V.

“Indah sekali ustadzah” puji V sekali lagi yang membuat Hanna berdiri malu-malu di hadapannya.

“Hihihi ustadz ahhh... Kebiasaan suka bikin ana malu terus” kata Hanna sambil menutupi payudaranya dengan tangan seadanya.

“Ehhh dibilangin jangan ditutupin... Dada antum udah indah tau... Dada antum bulat banget... Tahu aja kalah” kata V yang membuat Hanna tertawa.

“Habis sih dinganggurin terus... Ya ana tutupi lah” kata Hanna menggoda.

“Ohhh minta gak dinganggurin... Maaf deh... Habis mulut ana gatel pengen muji keindahan antum terus” kata V yang membuat Hanna hanya tertawa bahagia di dalam kamar rumah sakit tersebut.

V tiba-tiba berjongkok dihadapan selangkangan Hanna yang terbuka. Hanna pun menurunkan pandangannya untuk melihat apa yang sedang V lakukan. Wajah Hanna memerah saat mengetahui tatapan V begitu liar saat memandangi kemaluannya. Apalagi kedua tangan V sudah tiba di kanan kiri kemaluan Hanna. Jemari V pun membuka vagina Hanna yang membuat ustadzah bertubuh montok itu menahan malu.

“Ustadzz... Jangan diliatin gitu ihhhh” ucapnya malu.

“Hahahah memek ustadzah merah banget deh... Pasti masih seger” kata V sambil mendekatkan hidungnya untuk menghirup aroma kemaluannya.

"Hmmm wangi lagi" Sambungnya.

“Ustaadzzz” kata Hanna gak nyaman melihat sikap V.

“Hahaha maaf... Habis aroma memek antum menggairahkan banget sih” kata V menaikan pandangannya untuk menatap wajah Hanna disana.

Hanna menjadi sebal karena V selalu saja membuatnya menahan malu. Ketika lidah V mendekat tuk menjilat bibir vaginanya. Tiba-tiba mata Hanna memejam. Kedua tangannya pun memegangi dinding yang ada di belakangnya. Wajah Hanna ia dongakkan naik. Mulutnya pun terbuka mengeluarkan desahan yang amat sangat menggairahkan.

“Aahhhhhh ustadzzz” desah Hanna menahan nikmat.

Hanna terkejut merasakan sapuan lidah V saat menjilati vaginanya. Vagina V begitu liar disana. Lidah itu menjilati bibir vaginanya terlebih dahulu. Lalu lidah itu membelah masuk vagina itu hingga membuatnya dapat merasakan cairan cinta Hanna yang begitu lezat.

Pinggul Hanna bergoyang-goyang menahan rasa nikmat itu. Kedua payudaranya semakin mengencang karena hawa nafsunya semakin tinggi. Tangan kiri Hanna menutupi mulutnya sedangkan tangan kanannya menahan kepala V agar tidak terlalu dalam saat memasukan lidahnya.

“Mmppphhh... Mmppphhhh” desah Hanna menahan suaranya.

Ia sadar kalau saat ini dirinya berada di ruangan publik. Ia pun takut andai desahannya terdengar oleh orang-orang di luar, orang-orang itu malah datang seolah terundang oleh suaranya yang menggoda. Berulang kali tubuh Hanna tersentak nikmat. Jilatan lidah V di vaginanya begitu lezat. Hanna hanya mampu menggelengkan kepala karena tak sanggup menahan rangsangannya yang sungguh kuat.

“Mmpphhhhh ustaaadzzzz” jerit Hanna tertahan.

V seolah mengabaikan suara Hanna yang meronta-ronta menerima rangsangannya. Lidah itu bergerak dengan rakus. Lidahnya menggeliat masuk secara terus menerus. V dapat merasakan rasa asin dari dalam vagina Hanna. Aroma liang senggamanya sungguh menggoda. Nafsu birahi V semakin tergoda.

Ia sudah berlutut. Kedua tangannya memegangi bongkahan pantat Hanna yang begitu halus. Awalnya ia usap-usap terlebih dahulu. Baru setelah itu tangannya seolah menahannya agar pinggul Hanna tidak terdorong ke belakang ketika lidahnya berusaha masuk menuju titik terdalam vaginanya.

“Aahhhhhh ustaadddzzz” jerit Hanna cukup keras hingga membuat jantungnya berdebar kencang khawatir akan ada seseorang yang mendengar desahannya.

Untungnya tidak ada seseorang pun yang masuk setelah mendengar teriakan Hanna itu. V pun sudah berdiri sambil menurunkan celananya hingga batang penisnya terlihat di hadapan Hanna untuk pertama kalinya.

“Hah... Hah... Hah” Hanna yang terengah-engah terperangah saat melihat batang penisnya yang begitu megah.

Penis V terlihat panjang. Penis V terlihat tegak menantang. Hanna pun menaikan pandangannya untuk menatap keadaan V yang sedang setengah telanjang.

Hawa nafsu Hanna semakin menjadi. Ia tergoda oleh penampakan tubuh V yang begitu sexy. Baru pertama kali ini dirinya melihat lelaki tampan yang nyaris tidak berpakaian. V hanya mengenakan kemejanya saja. Itupun tidak ia kancing sama sekali.

Hanna pun merasa malu, apalagi saat tubuh V mendekat untuk memegangi tubuhnya.

“Ustadzahhh” ucap V sambil tersenyum.

“Angkat wajah antum... Ana mau liat senyum manis antum lagi” ucap V yang membuat Hanna malu-malu mengangkat wajahnya. V kembali tersenyum saat melihat senyum di wajah Hanna yang begitu indah.

Kedua tangannya menyelinap masuk untuk memegangi kulit pinggangnya langsung. Tangan kirinya pun ia gerakan untuk menuntun tangan Hanna ke arah penisnya. Hanna tampak malu-malu tapi mau saat menyentuh penis besar itu. Hanna sampai geleng-geleng kepala saat merasakan penis itu begitu keras yang membuatnya merinding membayangkan penis itu masuk ke dalam liang senggamanya.

Antum boleh mainin kontol ana ustadzah... Soalnya ana juga mau mainin memek antum sama susu antum” bisik V di telinganya yang membuat ustadzah cantik itu merinding.

“Ustttaaddzzzz” ucap Hanna tersenyum malu.

Hanna merinding saat payudara kirinya tersentuh oleh telapak tangan kanan V. Nafasnya semakin berat saat merasakan bibir vaginanya dibelai oleh tangan kiri V. Alhasil jemarinya mulai mengurut batang penis itu. Nafsu Hanna pun memuncak saat merasakan belaian tangan V di tubuh indahnya.

“Ahhhh... Ahhhhhh... Nikmat sekali kocokan antum ustadzah” ujar V tersenyum.

“Mmpphhh... Mmpphhh ustadddzz... Remasan tangan antum juga kerasa nikmat... Apalagi usapan jemari antum di memek ana” kata Hanna terbawa suasana hingga ikut mengucapkan kata kotor itu.

“Hahahah... Terus ustadzah... Kocok lagi... Yang kencang” kata V berbisik sambil memandang wajah indah itu.

“Hihihih antum juga... Remas yang kencang... Masukin ke dalam” kata Hanna dengan malu-malu yang membuat V semakin bernafsu.

“Dasar antum nakal yah... Ana jadi gak tahan kan... Mmmpphhhhh !” desah V kembali mencumbu bibir itu.

“Mmpphhh ustaaddzzz” ujar Hanna dengan manja.

Bibir mereka kembali bertemu. Mata mereka sama-sama memejam. Kali ini V menggunakan tenaganya untuk mendorong bibir tipis Hanna kebelakang. Bibir V terus mendorong bibir tipis Hanna itu dengan penuh nafsu. Jemari tangan V semakin kencang dalam meremasi payudara Hanna hingga membuatnya menggelinjang. Sementara jemari di tangan kirinya bergerak masuk untuk menembus liang terdalam yang terdapat di vagina Hanna.

“Mmpphhhh... Mmpphhhh ustaaddzzz” desah Hanna tak kuat menahan rangsangan V.

Dikala Hanna membuka mulutnya secara sukarela. Lidah V langsung bergerak berkeliaran di dalam rongga mulutnya. Lidah mereka pun bertemu. Awalnya saling bertubrukan kemudian berlanjut saling bergesekan. Bagai dua ular yang tengah bergelut. Mereka saling melilit kemudian menjepit. Liur yang berkumpul di dalam mulut mereka pun penuh hingga ada beberapa yang menetes jatuh keluar membasahi lantai.

V pun membuka mata saat menyadari jemarinya telah mentok ke dinding rahim bidadari itu. Setelah itu ia kembali memejam untuk menikmati kocokan tangan Hanna yang terasa aduhai.

Hmmm ternyata ustadzah Hanna udah gak perawan yah ! Siapa yah yang sudah merebutnya ? Calon suaminya kah ?

Batin V sedikit kecewa. Namun ia tak mempermasalahkan soal itu karena yang terpenting baginya adalah menikmati keindahan tubuhnya yang sempurna.

“Mmppphhhhh ustaddzaahhh” V mengerang merasakan kocokan Hanna yang begitu nikmat. Jemari tangan Hanna dengan lembut merangsang penisnya. Jemari tangannya begitu lihai membuat V semakin khawatir andai dirinya keluar terlebih dahulu.

“Mmpphhh ustadzzahh... Cukuppp” kata V sambil melepas cumbuannya kemudian memegangi pinggang Hanna lagi.

“Mmppphhh” desah Hanna kembali menatap wajah V.

“Luar biasa sekali kocokan antum... Kok kayaknya jago banget... Belajar dari mana ?” tanya V yang membuat wajah Hanna tersipu malu.

“Hihihih orang cuma bergerak maju mundur aja kok ustadz” kata Hanna malu-malu setelah mendengar pujian dari lelaki tampan itu.

Tiba-tiba jemari tangan V menyentuh dagunya. Jemari itu dengan lembut mengangkat wajah Hanna. Hanna pun berdebar menanti apa yang ingin dikatakan oleh rekan kerjanya itu.

Ana mau menggenjot antum... Boleh gak ana ngerasain jepitan memek antum yang katanya sempit itu” ucap V yang membuat Hanna tersenyum malu.

“Hihihih kata siapa ustadz ?” kata Hanna malu-malu. Jantungnya juga berdebar khawatir V telah mengetahui skandalnya dengan santri bejat itu.

“Kata jemari ana yang tadi masuk” kata V yang membuat Hanna tertawa.

“Hihihihi kirain... Boleh kok ustadz... Ana juga penasaran mau ngerasain keperkasaan punya antum” kata Hanna malu-malu sambil melihat batang penis V.

“Oh yah ? Kalau gitu siap-siap yah... Tahan suaranya jangan sampai berteriak” ucap V sambil menatap wajah Hanna yang membuat ustadzah cantik itu hanya mengangguk tersenyum sambil menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

Tangan kanan V mulai mengangkat kaki kiri Hanna. Tangan kirinya memegangi penisnya untuk mengarahkannya ke lubang sempit yang sangat membuat V penasaran. Saat ujung gundulnya telah menyentuh bibir dari kemaluan ustadzah itu. V langsung melenguh kenikmatan yang membuat Hanna tertawa.

“Kenapa nih senyum-senyum ?” lirih V sambil melirik Hanna.

“Gapapa ustadz” jawab Hanna malu-malu. Jantung Hanna telah berdebar kencang menantikan detik-detik masuknya penis itu ke dalam goa kenikmatannya.

“Mmmmpppphhhhhhh” Desah Hanna tertahan.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Akhirnya V kesampean juga dalam bersilaturahmi ke selangkangan ustadzah Hanna. Liang senggamanya yang sudah sangat basah membuat batang penisnya dengan mudah melangkah masuk ke dalam liang senggama itu. Walau terkadang ukurannya yang kebesaran masih membuat V harus mendorong pinggulnya agar bisa mentok menyundul rahimnya.

“Uhhhhh ustadzahhhh... Rapet banget sih jepitan memekmu” ucap V menahan nikmat yang membuat Hanna hanya tersenyum pelan menahan sodokan yang amat sangat dalam.

“Mmpphh ustaddzz... Pelan-pelan ustaddzzz... Punya antum kegedean” kata Hanna tak kuasa menahan sodokan itu.

“Hahaha masa iya ? Kan biar mantep ustadzah” kata V sambil menatap Hanna yang masih berdiri menyender di dinding ruangan rumah sakit itu.

Perlahan demi perlahan V mulai menggerakan pinggulnya. V pun memejam nikmat merasakan kulit penisnya tergesek oleh dinding vagina Hanna yang tengah menjepit rapat. Hanna juga demikian, mulutnya sampai terbuka lebar merasakan batang penis itu berpetualang menyusuri titik terdalam liang senggamanya.

Berulang kali V sampai mementokan ujung gundulnya hingga bertemu dengan dinding rahim kehangatan Hanna. Bahkan saat penisnya sudah mentok, V masih tetap mendorongnya yang membuat dinding rahim Hanna terdorong ke belakang menimbulkan sensasi nikmat yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

“Ouhhhh ustadzaaahh... Ouhhhh memek antum” desah V puas.

“Mmpphhh ustadzzz... Mmmppphhh” desah Hanna kesulitan menahan suaranya ketika pergerakan batang penis itu semakin cepat.

Dikala tangan kanan V memegangi paha tebal Hanna. Tangan kirinya hinggap di payudara kanan Hanna sambil memainkan puting indah itu. Mata mereka saling bertatapan untuk menikmati keindahan yang terhias di wajah pasangan. V menatap wajah Hanna dengan tatapan sayuk. Hanna juga menatap wajah V dengan tatapan penuh nafsu.

Nafsu yang semakin terpicu membuat nafas kedua insan itu semakin memburu. Tangan kiri V berpindah untuk mengusapi pipi mulus Hanna. Pipi kanan Hanna di belainya dengan lembut. Bahkan ujung jemarinya ikut bermain dengan menarik turun bibir bagian bawah Hanna ke bawah. Tak jarang jemari telunjuknya ia masukan ke dalam mulut itu yang langsup di hisapnya oleh ustadzah berbadan berisi itu.

Kembali, wajahnya mendekat untuk menikmati bibir indah yang membuatnya tak bisa menolak ketika disodorkan bibir itu kepadanya.

“Mmmppphhhhh” desah mereka berdua dikala bercumbu.

Bibir mereka saling mendorong. Bibir mereka saling membuka untuk saling mengapit bibir satu sama lain. Tangan kiri V sudah hinggap di punggungnya untuk mengusapi punggung mulus itu. Sementara tangan kanannya terus membelai paha mulusnya ketika pergerakan pinggulnya semakin cepat.

Plokkk... Plokkkk... Plokkk !!!

Tanpa ampun, V menggerakan pinggulnya dengan sangat cepat. Selangkangan mereka bahkan saling bertubrukan. Membuat gesekan yang mereka terima di kemaluan masing-masing semakin terasa nikmat.

Suara desahan mereka yang semakin menggelora tertahan oleh percumbuan mereka yang semakin panas. V tengah memilin bibir atas Hanna. Hanna pun tampak bernafsu dengan memilin bibir bawah V. Nampak liur mereka sampai menetes hingga membasahi payudara Hanna yang tidak terjaga.

Nafsu mereka semakin menggebu. Suara desahan mereka semakin terdengar syahdu. Genjotan demi genjotan yang V lakukan pada vagina Hanna semakin menuju akhir dari rangkaian nafsu yang terjadi kepada dua pengajar pondok pesantren itu.

Penis V mulai berdenyut. Kedua pasangan yang sebaya itu mulai terengah-engah tak mampu mengimbangi nafsu mereka dalam menikmati keindahan tubuh lawannya. Terasa kedua kaki V mulai melemah begitupula kaki kiri Hanna yang dibiarkan berdiri sendiri.

“Oh yah... Pasien yang berada di ruangan 17A gimana ?”

“Oh, kalau gak salah namanya bapak Prapto yah ? dia sedang dalam proses membaik kok... Bu Dokter mau memeriksanya ?”

Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara dua orang yang sedang mengobrol menuju ruangan ini. Suara langkah kaki mereka semakin terdengar kencang membuat kedua insan yang sedang bercinta di dalam ruangan ini kalang kabut menyadari situasi ini.

“Mmpphhh... Ustaddzzz... Udah, itu ada dokter mau kesini !” kata Hanna panik.

“Mmpphhh ustadzah... Nanggung... Ini mau keluar kok... Ustadzah juga kan ?” kata V yang malah mempercepat gerakan pinggulnya.

“Tapiii ustaddzz... Tapiii mmpphhhhh... Nanti ketahuan” kata Hanna merasa panik.

“Yaudah gapapa biarin... Paling mereka juga memaklumi kok... Kita kan masih muda” kata V seolah acuh karena sudah terlanjur di ujung nafsu persetubuhannya dengan ustadzah itu.

“Ustaddzzz ihhh... Mmpphhhhh” desah Hanna merasa sebal tapi juga berdebar.

Entah kenapa rasa deg-degan yang bercampur dengan nafsu yang terus berkumandang menimbulkan sensasi tersendiri bagi diri Hanna. Hanna pun tak mau tahu. Ia sudah pasrah. Ia hanya ingin segera keluar agar bisa lepas dari situasi yang sangat mendebarkan ini.

“Ahhhh... Ahhhh ustadzahhh... Ana mau keluaarrr !” kata V akhirnya.

“Mmpphhh ustaddzz... Buruan... Ana juga soalnya... Ana gak mau ketahuan” kata Hanna deg-degan.

“Ahhh iyahh ustadzahh... Ana pol-polan yah !” kata V semakin menghujam dinding rahim itu sembari menambah kecepatannya.

“Aahhhh... Ahhhhhh... Mmppphhhh” desah Hanna mendongak ke atas sambil menutupi mulutnya untuk menahan suara yang terucap.

“Ouhhh akhirnyaa... Ouhhh akirnya ustadzahh... Ana mau keluaarr... Ana keluarinn di dalem yah !” kata V yang sudah bernafsu.

“Nah disini ruangannya bu dokter !” kata salah satu staff rumah sakit itu ketika sudah berdiri di depan pintu masuk ruangan pak Prapto.

“Ehhh ustadzz jangannn... Nanti ana hamil ustaaadddzzz... Ustadzzz itu dokternyaaa !!” lirih Hanna ketakutan tapi juga berdebar. Ia pun pasrah andai kepergok oleh dua orang staff rumah sakit itu.

“Tenang... Ana akan bertanggung jawab kok... Hennnkkgghhhh !!!” desah V menahan nafas sambil membenamkan ujung gundulnya hingga menyundul rahim kehangatan Hanna.

“Uhhhhhh... Mmppphhhh” Untungnya V langsung mendekatkan wajahnya untuk mencumbu kembali bibir indah itu. Desahan Hanna jadi tertahan begitupula desahan dari V. Ketika ujung gundulnya mentok, cairan spermanya dengan deras membanjiri liang senggama ustadzah cantik itu. Tubuh V sampai tersentak nikmat. Matanya terus ia pejamkan sambil mendorong bibir manis Hanna dengan penuh nafsu.

Sama dengan V, Ia terkejut ketika cairan sperma ustadz tampan itu membanjiri liang senggamanya. Rasa nikmat yang begitu mendera membuatnya menyusul dengan semprotan nikmat yang menambah volume cairan di liang senggamanya. Cairan cintanya bercampur dengan lelehan sperma V. Hanna pun kewalahan, ia sampai memeluk tubuh V untuk menahan kenikmatan yang sulit untuk ia jelaskan.

“Mmmppphhhhhhhh” desah mereka berdua dengan puas.

“Ehhh sebentar... Catatan perawatan pasiennya mana yah ?” kata bu dokter itu heran.

“Apa ? ketinggalan yah bu ?” kata staff yang menemani dokter itu.

“Yaudah kita balik dulu yah untuk mengambil catatan itu” kata dokter itu yang suaranya terdengar hingga ke dalam ruangan pasien.

Cumbuan mereka terhenti setelah mereka menyadari kepergian dua staff rumah sakit tersebut. Mereka pun saling menukar senyum. Mereka benar-benar malu ketika mampu bercinta hingga mengeluarkan cairan cinta mereka di rahim kehangatan Hanna. Terutama Hanna, ia agak sebal karena sudah membuatnya berdebar ketika dua orang staff itu nyaris memergoki dirinya.

“Dibilang tadi ada orang lain ihhhhh” kata Hanna sambil memukul pelan dada V.

“Hahaha tapi seru kan bikin deg-degan” kata V yang membuat Hanna hanya mengangguk menyetujui.

Saat V menarik lepas batang penisnya. Campuran cairan cinta mereka langsung keluar membasahi lantai ruangan. Hanna sampai memejam nikmat merasakan persetubuhan ini. Rasanya lebih nikmat ketika melakukannya dengan V daripada dengan santri bejat itu. Hanna benar-benar puas. Tubuhnya terasa enteng walau nafasnya masih berat setelah saling berolahraga memacu pinggul mereka masing-masing.

Tak lama kemudian terdengar suara Adzan. Mereka pun menyadari kalau sekarang sudah memasuki waktu maghrib. Benar saja, saat mereka menatap ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan pukul enam sore.

“Buruan ustadzah pakai bajunya lagi” kata V khawatir membayangkan dua orang staff rumah sakit itu bakal kembali untuk memeriksa pasien di ruangan ini.

“Iya ustadz ini lagi cepet kok” kata Hanna kesulitan untuk mengenakan behanya.

“Udah gak usah pake... Nanti aja makenya di kamar” kata V merebut beha dan celana dalam yang masih tergeletak di lantai ruangan itu.

“Ihhh ustaddzz... Tapi kan !” kata Hanna dengan wajah memerah.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang dari luar.

“Tuh dokternya dah balik... Buruan !” kata V yang sudah berpakaian lengkap.

Hanna dengan panik manut saja mengancingkan kancing kemejanya satu persatu. Nampak tonjolan di dadanya semakin indah membuat V masih saja terpana kendati baru saja memainkannya. Setelah itu ia mengenakan kembali roknya kemudian buru-buru mengenakan blazernya kembali. Untungnya saja blazer itu mampu menutupi tonjolan putingnya yang agak transparan dari balik kemeja tipis yang Hanna kenakan.

“Yuk keluar !” kata V sambil menggandeng tangan Hanna.

“Ihhh bentar ustadzz... Belum siap” kata Hanna yang masih belum mengancingkan kancing teratas kemejanya.

Kedua pengajar pondok pesantren itu dengan terburu-buru keluar dari ruangan pria tua itu. Tanpa sepengetahuan mereka, nampak tangan dari pria tua itu bergerak lemah. Sebuah tonjolan tinggi pun muncul dari balik celana yang pria tua itu kenakan.

Sementara itu di luar ruangan.

Tepat saat mereka berdua keluar dari ruangan pak Prapto. Mereka berpapasan dengan dua staff rumah sakit itu.

“Permisi, kami pulang duluan yah... Sudah maghrib... Tolong titip pak Prapto yah” kata V dengan mendadak ketika tak sengaja berpapasan dengannya.

“Siap ustadz” jawab bu dokter itu.

Mereka berdua masih bergandengan tangan tanpa sadar. Hanna pun menepuk punggung tangan V dengan tangan satunya untuk mengingatkan ustadz itu kalau mereka sekarang sudah berada di lorong rumah sakit.

“Lepas ustadz... Nanti keliatan orang !” kata Hanna deg-degan.

“Ehh iya” kata V malu-malu.

“Gimana tadi ? Puas kan ?” tanya V tiba-tiba yang membuat wajah Hanna memerah.

“Ihhhh bikin deg-degan aja tadi... Tapi hehe iya kok... Puas” jawab Hanna malu-malu.

Mereka berdua pun berjalan pulang dengan senyum lebar yang memancar di wajah.

“Ustadz... Jangan lupa nanti mandi wajib dulu loh !” kata Hanna dengan lirih.

“Hahahaha iya dong... Antum juga loh, eh apa mau mandi bareng ?” ujar V sambil melirik Hanna.

“Heh, enak aja ! Gak lah !” kata Hanna sebal sambil tersenyum malu.

“Ngomong-ngomong antum jadi keliatan sexy kalau gak pake dalaman kaya gini” bisik V yang membuat Hanna teringat.

“Ehh iya... Pakaian dalam ana mana ustadz ?” ucap Hanna dengan wajah memerah.

“Nih !” tiba-tiba V menyerahkannya ketika mereka berdua berada di lorong keramaian di mana banyak pasien dan dokter berlalu-lalang.

“Ihhhhhh !” kata Hanna merasa malu sekali sambil buru-buru mengambil pakaian dalamnya itu. Karena kesal ia mencubit pinggang V dengan sangat kuat.

“Aahhhhh sakit !” jerit V kesakitan.

“Biarin, orang lagi banyak orang kok ngasihnya sekarang !” kata Hanna yang membuat V senyum-senyum saja.

"Hehehe habisnya, tadi kan buru-buru minta" Kata V.

"Huh dasar" Jawab Hanna kesal namun senang.

“Besok-besok lagi yah... di ruang kelas” bisik V yang membuat wajah Hanna memerah padam.

“Hehh... Malah ketagihan, Dasar !” jawab Hanna tersipu sambil mempercepat langkah kakinya.


*-*-*-*


Malam semakin larut. Sinar rembulan telah muncul menandakan kalau kegelapan telah berkuasa menggantikan terangnya cahaya. Di salah satu rumah yang berada di perumahan ustadz senior. Nampak seorang ustadzah yang baru saja keluar dari rumahnya untuk bersiap-siap mengajarkan materi pada salah satu santri yang memintanya belajar privat dengannya.

“Assamualaikum ustadzah” sapanya ketika bertemu ustadzah lain yang lebih senior darinya.

“Walaikumsalam, na'am ustadzah” jawab ustadzah itu ketika mendapatkan salam dari ustadzah pemilik body goals terbaik.

Wajahnya tersenyum. Dengan hijab cerah berwarna putih susu, ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju kursi taman yang berada tepat di depan kantor bagiannya. Dengan kemeja longgar berwarna merah muda. Dengan celana panjang berwarna putih terang yang tidak mencetak kaki jenjangnya. Ustadzah berpostur jangkung dengan tubuh ramping itu terlihat mempesona. Bahkan wajahnya saja sudah mampu menandingi keindahan sinar rembulan yang bersinar terang.

Di bahu kirinya ia membawa tas jinjing berisi buku-buku materi yang rencananya akan ia ajarkan pada santri berkepala plontos itu.

Dalam perjalanannya, berulang kali ustadzah bernama lengkap Nada Aulia Fahira itu melihat ke arah layar hapenya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia sedang menunggu panggilan dari seseorang. Hatinya pun resah. Bahkan tadi saja saat dirinya di rumah bersama suaminya, ia tak pernah sekalipun mengajak ngobrol suaminya. Ia sedang mendiamkannya agar suatu hari nanti, suaminya bisa sadar kalau dirinya sangat tidak menyukai perbuatan suaminya.

“Mana yah ? Apa jangan-jangan pak Doni belum ketemu pak Heri ?” lirihnya sambil terbayang kejadian yang terjadi di siang tadi.

SIANG SEKITAR PUKUL 13.30.

Di dalam kantor bagian administrasi. Nada tengah berdiri menanti kehadian pria tua yang sedang ia cari-cari. Wajahnya menoleh ke kanan juga ke kiri. Tiap kali terdengar suara mobil berhenti. Ia langsung melongok keluar untuk mencari tahu, apakah supir dari mobil itu adalah pak Heri ?

“Yah, rupanya hari ini jadwalnya pak Doni yah ?” ujar Nada setelah melihat kurir pengantar paket itu keluar.

“Gapapa deh... Kali aja pak Doni ketemu pak Heri di kantornya” kata Nada mendekati kurir yang seumuran ayahnya itu.

“Assalamualaikum pak Doni” ucap Nada padanya.

“Walaikumsalam... Ehh ustadzah Nada... Ada apa yah ?” kata pak Doni dag dig dug ada ustadzah cantik yang menyapa juga mendatanginya.

“Hehehe maaf mau nanya... Di kantor ada pak Heri gak ?” tanya Nada.

“pak Heri ? kayaknya ada sih, Cuma lagi mengantar paket ke tempat lain deh” kata pak Doni menjelaskan.

“Ohh gitu... Oh yah nanti kalau ketemu pak Heri tolong sampein yah... Kalau aku pengen ngobrol dengannya” kata Nada yang membuat pak Doni iri.

“Wahh ngobrolin apa nih ? Kok saya gak di ajak” kata pak Doni yang diam-diam juga mengidolakan Nada.

“Hihihihi ada kok pak... Ini tentang masalah paket yang pak Heri kirimkan... Kayaknya ada yang salah alamat deh” kata Nada beralasan.

“Oalah kirain” kata pak Doni yang membuat Nada tertawa.

“Oh iya pak... Ini nomor aku... Nanti kasih ke pak Heri yah” kata Nada menyerahkan selembar kertas pada kurir pengantar paket itu yang usianya berbeda dua puluh tahun lebih tua dari pada Nada.

“Ohh iya ustadzah... Ngomong-ngomong saya boleh nyimpen nomor ustadzah juga kan ?” kata pak Doni mupeng.

“Hihihi boleh aja pak... Siapa tau bapak butuh ... Asal jangan dipake buat iseng” kata Nada mewanti-wanti.

“Siap deh ustadzah... Nanti saya sampein” kata pak Doni.

“Makasih pak” jawab Nada tersenyum manis.

MASA SEKARANG

“Hmmm Kok sampe sekarang belum ada panggilan masuk dari pak Heri yah ? Apa jangan-jangan pak Doni belum ketemu pak Heri ?” lirih Nada sambil mengamati layar hapenya.

“Ustadzah... Assalamualaikum” sapa seseorang yang mengejutkan Nada.

“Eh, ustadzah Hanna walaikumsalam” jawab Nada saat melihat ustadzah yang bertempat di bagian pengasuhan itu mendekat.

Antum mau ke arah mana ? Ana mau jalan bareng boleh ? Kalau jalan sendirian bikin bosen soalnya hihihi”

“Hihihi iya, boleh kok, sini ustadzah... Ana mau ke arah kantor bagian ana” ucap Nada ketika mengobrol dengan ustadzah berbadan montok itu.

“Ehh mau muwajjah disana ?” tanya Hanna yang tengah mengenakan gamis longgarnya.

Na’am ustadzah... Tepatnya sih di bangku taman yang ada di depan kantor ana” jawab Nada tersenyum ramah.

“Oalah iya... Emang sih disitu nyaman banget buat belajar” kata Hanna tersenyum manis.

“Hihihi iya betul... Oh yah, antum kok kayaknya keliatan bahagia banget... Habis dapet kiriman uang jajan yah hihihi” kata Nada mengajak bercanda.

“Ehh bukan kok... Emang keliatan yah ?” jawab Hanna tersenyum malu-malu.

“Iya ustadzah... Wajah antum cerah banget gak kaya biasanya” puji Nada yang membuat Hanna tersipu.

“Mungkin karena kebanyakan wudhu kali” kata Hanna yang membuat Nada tertawa. Hanna pun tersipu, sebenarnya sudah semenjak lama dirinya menaruh hati pada ustadz V. Semenjak keseringan mengobrol di kantor, benih-benih perasaan itu pun mulai muncul. Apalagi dirinya nyaris saja diajak makan berdua di luar waktu itu.

Ketika sore tadi, pas dirinya diajak bercinta dengan V. Hanna langsung mengangguk setuju. Ia ingin membalas kekecewaan V waktu itu ketika dirinya tidak mampu menepati janjinya pada ustadz tampan itu untuk menghadiri acara makan malam berdua dengannya.

“Hihihihi pantes aja... Antum juga keliatan cantik banget” kata Nada memujinya.

“Hihihi bisa aja antum... Oh yah ? Bukannya sekarang muwajjah kelas udah diliburkan ? Antum di depan kantor administrasi mau jaga apa mau ngajarin seseorang ?” kata Hanna pada Nada.

“Ohh iya... Tadi ada santri yang minta diajarin ustadzah” ucap Nada.

“Oh yah ?” ucap Hanna.

“Iya ustadzah... Sebenarnya sih ana kasian aja... Soalnya waktu ujiannya hari senen besok” kata Nada.

“Oalah lusa yah ? Jadi sekarang mau malmingan sama santri itu dong ? Hihihi... Siapa namanya ? Siapa tau ana kenal” kata Hanna penasaran.

“Namanya itu Lu . . . .” belum sempat Nada menuntasksan kalimatnya. Mereka berdua menoleh ketika ada ustadzah lainnya yang memanggilnya.

“Ustadzah Hanna” panggil ustadzah cantik itu dari kejauhan.

“Eh ustadzah Haura” kata Hanna tersenyum.

“Oh yah ustadzah... Antum mau ke kantor adm kan yah ? ana duluan yah... Jalan kita berbeda soalnya” kata Hanna tersenyum.

Na'am ustadzah” jawab Nada ramah.

“Wassalamualaikum... Ma’an najah yah ustadzah !” kata Hanna mengucapkan good luck pada ustadzah cantik itu.

Nanjah ma’an ustadzah” jawab Nada yang berarti kita pasti bisa sukses bersama.

“Hah bentar lagi” kata Nada deg-degan menyadari dirinya akan mengajar private seorang santri yang bernama Lutfi.

Saat tiba di depan kantor administrasi, Nada melihat ada seorang santri yang tengah membolak-balikan buku di sebuah bangku taman yang berada di bawah pohon tebal itu. Nada tersenyum. Ia bangga pada santrinya setelah melihat kesungguhannya dalam belajar. Nada pun berjalan mendekatinya untuk mengajarinya sekaligus mengisi waktu malming dengan hal yang lebih bermanfaat.

"Assalamu'alaikum" Sapa Nada dengan lembut.

"Walaikumsalam... Eh ustadzah... Ana udah nunggu daritadi loh" Kata Lutfi yang membuat Nada semakin tersenyum.

"Eh afwan... Ustadzah tadi ada kesibukan di rumah... Jadi maafin ustadzah yah kalau agak terlambat" Kata Nada sambil duduk di kursi panjang itu dalam posisi berhadapan dengan Lutfi.

"Muwehehe... Gapapa ustadzah... Ustadzah kan juga punya kehidupan yang harus antum jalani" Kata Lutfi terlihat ramah.

"Yap betul" Jawab Nada tersenyum.

Gileee senyumnya manis banget... Body nya tinggi lagi... Bakal mantep nih kalau digenjot di posisi nungging.

Batinnya cekikikan sambil menatap tonjolan indah yang berada di dada Nada.

"Gimana ? Boleh kita mulai belajar nya ? Mana sini yang belum antum pahami ?" Kata Nada mengajari santri tingkat akhir itu sambil tersenyum.

"Yang ini ustadzah" Kata Lutfi sambil menunjuk sebuah halaman di bukunya.

Nada pun mulai mengajari santri itu dengan serius. Kendati demikian, ia selalu tersenyum dalam mengajarkan materi itu kepadanya. Lutfi dengan serius juga memperhatikan apa yang diberikan oleh ustadzah nya. Bukan materi yang dimaksudkan oleh Lutfi. Melainkan keindahan wajah yang sedang diberikan oleh ustadzah bertubuh body goals itu kepadanya.

Cantik banget sih ustadzah satu ini... Jadi gak nahan pengen nyium bibirnya.

Batin Lutfi gelisah sambil mengelus-ngelus penisnya yang mulai mengeras.

Apalagi suaranya yang terdengar bagai anak kecil membuat Lutfi semakin tidak tahan lagi. Kebetulan, saat Nada sedang menjelaskan materi itu sambil menuliskannya pada sebuah buku. Lutfi diam-diam memperhatikan tonjolan dada Nada yang ditaruh diatas meja panjang itu.

Wehhh... Itu susunya ustadzah keberatan apa yah ? Kok sampe ditaruh diatas meja ?

Ucapnya dalam hati.

Diam-diam jemari Lutfi mendekat karena ingin merasakan kemulusan kulit Nada. Ia pun berpura-pura menunjuk sebuah tulisan yang berada di dekat jemari Nada.

"Ini maksudnya apa ustadzah" Kata Lutfi menunjuk sesuatu hingga tak sengaja tangannya menyentuh kulit tangan Nada. Nada agak terkejut saat tersentuh kulit santri itu. Tapi ia tidak mencurigainya lebih. Pikirnya mungkin santrinya ini terlalu bersemangat hingga tak sengaja bersentuhan dengannya.

Gileee halus bangett... Makin gak nahan buat genjot belakang sambil ngusap-ngusap kulit punggungnya.

Batin Lutfi mupeng.

"Gitu Lutfi... Paham ?" Kata Nada yang mengejutkan Lutfi karena penjelasan yang ustadzah cantik itu berikan terlewatkan olehnya.

"Ohh... Ohh... Iya paham ustadzah" Kata Lutfi berpura-pura.

"Terus untuk menentukan ahli waris kalau kita punya dua anak laki-laki dan satu perempuan gimana ustadzah ? Gimana cara ngitungnya ?" Kata Lutfi bertanya untuk memberikan soal padanya.

"Ohhh kalau gitu... Jadi begini yah... Aduh susah nih ngejelasinnya... Ustadzah boleh pindah ke samping antum ?" Ucap Nada yang tentu tidak di sia-siakan oleh santri bejat itu.

"Ohh boleh ustadzah" Jawab Lutfi antusias.

Kebeneran banget pindah kesini... Muwehehehe. Batinnya.

Saat Nada telah duduk di samping santri bejat itu. Lutfi dapat menghirup aroma parfum yang begitu kuat dari tubuh ustadzah cantik itu. Nada sangat wangi. Ditambah dengan pikiran kotor yang telah menguasai diri. Lutfi jadi semakin bernafsu untuk merangkul pinggang sang bidadari.

Alih-alih memperhatikan apa yang sedang Nada jelaskan. Lutfi malah memperhatikan tonjolan dada yang tersembunyi di balik kemeja longgar yang Nada kenakan. Lutfi menurunkan pandangannya ke arah selangkangan ustadzahnya yang agak sedikit terbuka.

Muwehehehe... Disitu yah memeknya ? Makin gak nahan deh... Gimana yah rasa jepitan memeknya ?

Batin Lutfi semakin mupeng pada bidadari cantik tersebut. Nampak tonjolan celananya semakin kelihatan. Apalagi Lutfi tidak mengenakan celana dalam karena semua celana dalamnya kotor terkena lelehan spermanya sendiri.

Lutfi pun pura-pura mendekat ke arah wajah Nada dengan dalih melihat apa yang sedang ustadzahnya jelaskan. Nada sadar, ia pun merasa tak nyaman dalam usaha Lutfi seolah tengah mengendus-ngendus dirinya.

"Gimana Lutfi... Antum udah paham ?" Tanya Nada sambil menjauh sedikit karena tidak merasa nyaman.

"Muwehehehe... Paham kok... Ngomong-ngomong antum kok wangi banget yah ustadzah" Tanya Lutfi yang mengejutkan Nada.

"Ehhh antum... Hehe makasih" Jawab Nada semakin tidak nyaman dengan pertanyaan itu.

"Antum pake parfum apa sih ? Antum juga kok keliatan cantik banget hari ini" Kata Lutfi sambil mendekatkan tubuhnya kendati Nada tadi sudah berusaha bergerak menjauhi santri bejat itu.

"Lutfiii... Antum kenapa nanyanya gitu ? Antum bikin ustadzah gak nyaman deh" Kata Nada sambil terus memggeser tubuhnya hingga membuatnya sudah berada di tepi kursi panjang itu.

"Muwehehehe... Habis antum sexy banget... Tubuh antum keliatan ramping... Pasti memek antum wangi yah ustadzah" Kata Lutfi sambil merangkulkan tangannya ke pinggang bidadari itu.

"Lutfiii, kok antum ngomongnya kotor gitu sih ? Siapa yang ngajarin ? Dan jangan asal pegang-pegang yah Lutfi !" Ucap Nada marah sambil berusaha melepaskan tangan Lutfi di pinggangnya.

"Muwehehehe... Siapa yang ngajarin ? Inget gak ustadzah, apa yang udah ustadz Rendy bilang ke antum ?" Ucap Lutfi yang membuat Nada terkejut kenapa santri itu membawa nama suaminya.

"Tentang dua orang yang diminta untuk memuaskan antum" Ucapnya yang membuat Nada merinding mendengarnya.

“Maksud antum ? Jangan-jangan antum itu ?” tanya Nada semakin ketakutan.

"Muwehehe... Kalau ustadzah nanya siapa yang udah ngajarin ana ? Mungkin pak tua item bertubuh kekar yang menjadi jawaban dari apa yang antum ucapkan tadi... Ana makin gak sabar deh ustadzah, buat ngegenjot memek antum nanti" Ucap Lutfi yang membuat Nada membuka matanya lebar-lebar.

Tanpa ampun, Lutfi langsung mendekatkan bibirnya untuk mencumbui bibir manis ustadzahnya.

Mmpphh ustadzah... Sllrrppp... Ouhhhh” desah Lutfi saat mencumbu bibir ustadzahnya. Untungnya keadaan disekitar sangatlah sepi karena para santri lebih memilih belajar di kelas karena banyak pengajar yang berkeliling disana.

Nada berusaha menjauhi mulut santri yang beraroma busuk itu. Bibir Lutfi yang tebal menggesek tepi bibir ustadzahnya. Tubuh Lutfi yang mendekati kurus menghimpit tubuh ustadzahnya. Tangan kanannya memeluk erat tubuh ustadzahnya, tangan itu mendekap tubuhnya sekaligus meraba punggung mulusnya yang masih beralaskan kemeja berwarna merah mudanya.

“Mmmpphhhh... Lutffiiiii !!!” Nada berusaha berteriak tapi mulutnya tertutupi oleh mulut santrinya yang sedang bernafsu. Ustadzah cantik berbadan body goals itu tidak menyerah. Tubuh rampingnya terus berontak walau tau ia akan kesulitan untuk menghadapi nafsu besar santrinya. Lutfi tak tinggal diam. Tangan satunya yang menganggur ia arahkan untuk meremas payudara Nada dari luar. Remasannya terlampau kuat membuat pemiliknya mendesah nikmat. Jemari Lutfi mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang Nada kenakan. Nada tak tinggal diam, tangannya berusaha menahan tangan santrinya disela-sela cumbuan yang ia terima. Tapi semua percuma. Beberapa kancing itu sudah terlepas, menampilkan dada mulus Nada yang masih tertutupi oleh bra ketatnya.

“Mmmpphhh mantep banget bibir antum ustadzah... Coba ana tau dari dulu kalau suami antum membutuhkan bantuan ana buat muasin antum... Pasti ana udah berulang kali menikmati tubuh antum dan menyimpan sperma ana di dalam rahim kehangatan antum” kata Lutfi tersenyum senang saat mencumbui bibir ustadzahnya.

“Mmpphh... Lutfiiiii.... Tolong ampuni ustadzahh... Mmpphhh... lepaskan ustadzah Lutfiii” desah Nada dengan pasrah saat tubuhnya di dekap dengan kuat oleh tangan santri bejat itu

“Muwehehehe... Na’am ustadzah... Ana bakal lepas antum... Lepas kemeja antum maksudnya” tawa Lutfi yang membuat mata Nada melebar karena panik.

Nada melepas paksa kemeja yang membalut tubuh ramping Nada. Namun Nada sekuat tenaga tak ingin kemejanya terlepas di ruangan terbuka seperti ini. Sesekali matanya melirik ke kanan juga ke kiri khawatir akan ada orang yang melihatnya. Tapi tidak ada satupun orang disekitar. Lutfi yang kesulitan akhirnya hanya menarik beha yang ustadzahnya kenakan. Lutfi pun melepas cumbuan di bibirnya kemudian berpindah untuk mencumbui dua buah dada bulat yang menggantung di dada Nada.

“Ouhhh gillaa susu antum ustadzahh... Slllrppp... Mmpphhh” desah Lutfi saat mulai mengenyot puting indah itu.

“Lutffiii Mmmpphhh” desah Nada memejam merasakan hisapan yang begitu kuat dari mulut santri bejatnya.

Lutfi dengan rakus mengenyoti dua payudara bulat yang menggantung bebas di dalam kemeja Nada. Ukurannya sungguh besar sesuai dengan proporsi tubuhnya yang jangkung. Seketika Lutfi terbayang akan salah satu aktris porno yang sering kali ia lihat di hapenya.

Mmpphh... Sllrrppp... Gilaaa mantep banget... 11-12 sama Stacy Cruz lah yah ! Ucapnya dalam hati saat menyusu di payudara ustadzahnya.

Lidah Lutfi keluar menjilati puting kiri ustadzahnya. Lidahnya bergerak semakin ganas dengan berpindah dari kiri ke kanan merasakan kelezatan putingnya. Setelah puas giliran mulutnya yang bekerja dengan mencaplok susu gede manis milik bidadari berhijab itu. Lutfi menggigitnya pelan, menyedotnya ringan kemudian mencumbunya nikmat bagai seorang bayi yang begitu kehausan.

“Aahhhhhh Lutffiii... Jangannn !!! Jangan digituin Lutfiii ahhhh !” desah Nada berusaha melawan dengan mendorong kepala santri bejatnya itu.

Nada sampai menegakkan kepalanya ke atas merasakan jilatan Lutfi yang begitu nikmat. Nada sudah berusaha melawan tapi dirinya begitu lemas karena tenaganya sudah disedot habis oleh mulut Lutfi melalui perantara payudaranya.

“Hmmm ustadzahhh... Desahan antum juga menggoda banget sih... Ana sampai merinding pas denger suara desahan antum” ucap Lutfi setelah puas menyusu di payudara ustadzahnya. Tangan kanannya pun mencengkram pipi chubby Nada. Bibir Nada jadi manyun di hadapan santri bejatnya. Nada begitu benci oleh senyumannya yang baginya sangat memuakkan. Ia tak mengira kalau santri bejat itu memanfaatkan dirinya dengan berpura-pura meminta belajar privat dengannya.

Lutfi pun kembali mencumbui bibir itu untuk menikmati santapan mewahnya.

“Mmmpphhh yahhh ouhhh ustadzah sayanggg... Ouhhhh” desah Lutfi menikmati bibir manisnya.

“Lutffiii hentikannn !” kata Nada berusaha menolak. Menyadari nafsunya sudah berada di ubun-ubun, Lutfi pun meminta sesuatu pada ustadzah berbadan sempurna itu.

“Cepat berjongkok di bawah ustadzah sebelum ada orang lain yang datang !” perintah Lutfi dengan paksa.

Nada terpaksa berjongkok saat tubuhnya dipaksa turun dari kursi panjang itu ke lantai keramik yang berada di sebelah bangku taman itu. Kini Nada sudah berada dihadapan selangkangan Lutfi yang terbuka. Lutfi pun membuka resleting celananya. Sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Ia memperlihatkan batang penisnya yang begitu besar di hadapan wajah ustadzahnya.

Lutfi sungguh puas sekali bisa memperlihatkan batang penis besarnya dihadapan wajah cantik ustadzahnya. Melakukan hal ini saja sudah memberikan sensasi padanya. Penis gemuk itu tengah mengangguk-ngangguk dihadapan wajah Nada. Nada jadi terkejut. Ia juga merasa jijik dengan aroma selangkangannya yang begitu kuat dan juga menyengat. Nada sampai memundurkan wajahnya untuk menjauhi benda bulat dengan ujung gundul yang berbentuk seperti lontong itu.

“Muwehehe gimana kontol ana ? Menggoda kan, ustadzah ?” kata santri bejat itu tanpa tahu malu. Lutfi pun melepaskan satu demi satu kancing kemejanya agar dirinya lebih leluasa dalam menikmati servis mulut ustadzahnya. Nada tampak jengah mendengar ucapan dari santri bejat itu.

"Buka mulutnya ustadzah... Ana udah gak tahan pengen ngerasain sepongan mulut antum" Katanya sambil mendorong-dorong kepala Nada hingga ujung gundulnya menabrak pipi mulus ustadzahnya.

"Ahhh mulusnya... Ahhhh mantappp muwehehe" Katanya tertawa.

Nada merasa risih saat penis busuk itu dengan bebas melecehi wajahnya. Nada ingin pergi tapi dorongan tangan Lutfi di belakang kepalanya membuatnya semakin sulit untuk mewujudkan keinginannya. Tiba-tiba bibirnya didorong oleh penis besar itu.

"Ini diiaaa... Ahhhh yahhh mantappppp" Desah Lutfi puas.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Nada saat mulutnya disumpal oleh ujung gundul penis besar itu.

"Masukin ustadzahhh.... Lebihh dalammm... Ahhhh" Desah Lutfi sambil mendorong pinggulnya sementara kedua tangannya menahan kepala Nada hingga bidadari itu tidak bisa kabur dari penis besarnya.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Nada memejam.

Lutfi merinding saat ujung gundulnya semakin masuk ke dalam mulut bidadari itu. Campuran air liur yang mengenai ujung gundulnya semakin menambah kesan nikmat yang ia terima pada pentungan miliknya.

"Ahhhh akhirnyaahhh masuk semuaaa" Kata Lutfi sambil mendorong kepala Nada ke arah selangkangannya.

Nada pun memejam saat kerongkongannya disodok oleh ujung gundul dari penis besar itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh" Tanpa ampun Lutfi langsung memaju mundurkan pinggulnya ke arah mulut Nada. Lutfi tersenyum puas sambil memegangi kepala mungil ustadzah sexy itu. Penis itu semakin diselimuti oleh liur Nada. Penis itu semakin berkilauan. Penis itu semakin licin yang membuatnya semakin cepat dalam keluar masuk di dalam mulut bidadari itu.

Lutfi geleng-geleng kepala merasakan nikmatnya sepongan ustadzahnya di ruangan terbuka seperti ini. Nada yang tengah berjongkok itu kewalahan. Lelehan liurnya ada yang menetes dan menodai buah dadanya yang terbebas di bawah sana.

"Ahhhh berdiri cepat... Buruan, ana udah gak kuat lagi ustadzah" Kata Lutfi merasakan penisnya nyaris berdenyut kalau saja dirinya tidak segera mencabutnya dari mulut kecil Nada.

Nada dengan lemas dipaksa berdiri oleh santri berkepala plontos itu. Dirinya diposisikan menungging membelakangi. Kedua tangannya memegangi meja panjang di taman itu. Nada agak mengerutkan dahinya saat celananya dipelorotkan kemudian bibir vaginanya kembali tersentuh oleh penis besar itu.

"Ahh.... Ahhhhhhhh Lutfiiiii" Desah Nada kaget saat ujung gundul dari penis besar itu mulai menyelinap memasuki bibir vaginanya.

"Muwehehe... Mantappp... Mantappp.... Jadi semikmat ini yah rasanya memek antum ? Sensasinya memek ustadzah binor emang beda !" Kata Lutfi ketika tangan kanannya mengarahkan penisnya masuk sementara tangan kirinya mendekap bokong bulat Nada yang tengah menungging.

"Ahhhh... Ahhh Tolonggg Lutfiii... Hentiikannn... Ampuni ustadzahhh Lutfii... Tolong jangan lakuin ini" Kata Nada berusaha terus memohon meminta belas kasihan pada santri bejatnya.

"Muwehehe... Tenang ustadzah... Ana bakal memberikan kepuasan kok... Ustadzah tinggal tahan aja yahhhh... Hennkkgghhh" Desahnya saat mendorong penis itu semakin masuk.

"Uhhhhhhhhhh" Desah Nada hingga ia mengangkat kepalanya naik menatap langit cerah berwarna gelap diatas sana.

Andai ada orang lain yang melihatnya. Sudah pasti orang itu akan ikut bergabung untuk menonton aksi Nada yang tengah menungging pasrah dengan keadaan kemeja yang terbuka serta celana panjangnya yang menyangkut di kedua lututnya. Wajah sangek Nada saat dihentak secara keras oleh santri bejat itu menambah kepuasan bagi siapapun yang melihatnya. Wajah Nada semakin terlihat menggairahkan saat pinggul santri bejat itu mulai bergerak secara perlahan.

"Ahhhh... Ahhhh Lutfiii... Ouhhh.... Ouhhhhh" Desah Nada sambil memandang jalanan sepi di depan yang membuat santri bejat itu bersemangat.

"Muwehehe... Mantappnyaa... Ayo ustadzah... Teriak lagiii... Yang manja yah teriaknya" Desah Lutfi sambil memegangi pinggang ramping Nada yang sudah tidak tertutupi apa-apa.

"Ahhh... Ahhhh... Ahhhh... Ahhh Lutfiii... Aahhhhh" Desahan manja Nada itu semakin membakar api birahi Lutfi.

Tubuh Nada terdorong maju mundur sambil memegangi tepi meja panjang di taman itu. Mulutnya sesekali mendesah terbuka dan sesekali merapat untuk menahan kenikmatan yang ia rasakan. Kedua tangan Lutfi pun berpindah dengan mengusapi kulit mulus Nada yang membangkitkan nafsu birahi pemiliknya. Lutfi menaikan kemeja yang masih Nada kenakan hingga punggung mulusnya semakin terlihat. Lutfi pun menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan vagina Nada begitu kuat menjepit penisnya.

"Ouhhhh.... Ouhhhhh... Lutfiii.... Ahhhhhh.... Cukupp Lutfiii... Ustadzahh capek.... Ahhhh" Desah Nada. Payudaranya yang menggantung itu bergerak maju mundur. Pahanya semakin memerah terkena koplokan dari pinggul Santri bejat itu.

“Muwehehe yang sabar ustadzah... Ini baru permulaan kok” tawa Lutfi yang membuat Nada semakin sebal mendengarnya.

"Awww.... Awwww.... Ahhhhhhhh" Desah Nada saat bongkahan pantatnya ditampar-tampar.

"Muwehehe... Teruss ustadzah... Mendesahhh yang nikmat donggg... Jangan ada yang ditahan... Keluarkan semua nafsu birahi antum !" Katanya tertawa saat menikmati jepitan vagina Nada.

Punggung mulus Nada di elus. Bongkahan pantatnya juga di elus. Nafas Lutfi ngos-ngosan saat menikmati santapan daging mentah yang begitu legit. Penisnya terasa dijepit. Ia pun menatap langit.

"Muwehehe... Gak nyangka bisa ngewe sama ustadzah sesexy antum" Katanya sangat bersyukur bisa diberikan nikmat berupa persetubuhan dengan ustadzah berhijab yang memiliki body goals sempurna.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhhh.... Mmppphhhhhh" Desah Nada merapatkan bibirnya saat tiba-tiba Lutfi mencabut penisnya. Lubang senggamanya yang sedari tadi penuh kini telah kosong setelah ditinggali penguasanya.

“Muwehehehe... Kita pindah yah ustadzah” kata Lutfi mendorong tubuh Nada ke arah gedung kantor administrasi yang merupakan kantor bagian dari ustadzah berbadan sempurna itu.

“Ehhhh Lutfiii... Mau kemana ?” kata Nada sambil menutupi payudaranya yang terbuka dan juga vaginanya di bawah sana. Angin malam yang berhembus membuat ustadzah cantik itu kedinginan. Putingnya semakin menegak karena tak kuasa dengan hawa dingin yang menusuk tajam itu.

Mereka berdua telah sampai di teras gedung bagian administrasi. Lutfi pun melepas celana panjang serta celana dalam yang menyangkut di kaki jenjang bidadari indah itu. Dari belakang, Lutfi memeluk pinggangnya. Ia mengecupi punggungnya kemudian meremasi payudaranya.

“Mmpphhh indah sekali tubuh antum ustadazah” kata Lutfi yang tingginya hanya sampai hidung dari ustadzah jenjang itu.

“Tolong Lutfiii... Lepaskan ustadzah... Jangan nodai ustadzah lebih dari ini Lutfiii... Mmppphh” kata Nada terus memohon pada santri bejatnya itu.

Tapi Lutfi jelas mengabaikan. Fokusnya teralihkan pada keindahan tubuh Nada yang kini tinggal mengenakan kemeja beserta hijabnya saja. Lutfi pun duduk di salah satu kursi kosong yang terbuat dari kayu di teras gedung ADM itu.

“Ayo duduk sini ustadzah” kata Lutfi tersenyum sambil meminta ustadzah cantik itu untuk duduk diatas pangkuannya.

Nada mau tak mau pun menuruti kemauan santrinya itu. Wajahnya cemberut. Namun penampakan tubuhnya yang terbuka benar-benar menggairahkan nafsu birahi Lutfi.

Saat Nada mulai duduk diatas penis Lutfi yang menegak tinggi. Nampak ujung gundul penis itu mulai membelah bibir dari liang senggamanya.

“Mmmhhhhh” desah mereka merasakan kenikmatan dari gesekan kelamin mereka berdua.

Penis itu belum masuk seluruhnya karena besarnya diameter dari penis santri bejat itu. Lutfi pun memegangi pinggul ramping Nada. Wajahnya menatap wajah Nada yang tengah saling berhadapan. Nada membuang muka saat ditatap seperti itu oleh santri bejatnya. Lutfi pun mendorong tubuh Nada ke bawah hingga perlahan seluruh penis besar itu sudah kembali masuk ke dalam kemaluan ustadzahnya yang cantik sempurna.

“Ouuhhhh nikmmattnyyaaahhh memek antum ustadzah” desah Lutfi merinding hebat. Entah kenapa, jepitan yang Lutfi rasakan saat ini semakin rapat. Penisnya pun begitu sesak di dalam liang senggamanya. Ustadzah berbadan body goals itu juga merasakan hal yang sama dengan Lutfi. Entah kenapa penis itu semakin besar. Liang senggamanya pun semakin penuh oleh ukuran penis besarnya itu.

“Ayo gerak sendiri ustadzah... Cepat ! Sebelum ada orang lain yang datang !” ujar Lutfi yang membuat Nada mau tak mau melakukan perintah itu.

Nada tau kalau satu-satunya cara untuk menghentikan aksi bejat santrinya ialah dengan memberikan orgasme padanya. Nada pun akhirnya terpaksa bergerak. Pinggulnya bergerak maju mundur. Kedua tangannya bertumpu pada bahu santri bejat itu. Nada pun memejam. Bibir bawahnya ia gigit karena tak kuasa menahan gesekan penis besar santri itu yang begitu dahsyat.

“Mmpphhhh... Mmppphhh” desah Nada merapatkan bibirnya karena tak ingin memberikan kepuasan lebih pada Lutfi.

“Ahhhh... Ahhhh seperti itu ustadzah... Iyahh benar... Lakukan ! Goyang lagi kontol ana ustadzah !” kata Lutfi puas memandang tubuh indah Nada yang hanya tertutupi kemejanya yang terbuka.

Nada terus bergoyang maju-mundur. Goyangannya sungguh nikmat membuat penis Lutfi terasa diaduk-aduk oleh lubang sempitnya. Berulang kali Lutfi sampai harus menahan nafasnya. Ia berhati-hati agar dirinya tidak keluar duluan dalam menikmati goyangannya.

“Mmpphhh... Mmpphhhh” suara erangan Nada yang begitu manja menambah kepuasan yang Lutfi terima dari goyangannya kali ini.

Dikala Nada memejam menggoyangkan pinggulnya diatas pangkuan Lutfi. Lutfi pun melirik ke belakang Nada kemudian tersenyum menatapnya. Lutfi memintanya untuk diam kemudian dirinya kembali fokus untuk menikmati pergerakan pinggul ustadzahnya.

“Aahhhhh... Ahhhh ustadzahh... Binal sekali goyangan antum... Pasti antum jarang dikasih kepuasan sama suami antum yah ?” ejek Lutfi saat melihat Nada seolah menikmati goyangannya.

“Aahhhh... Ahhhh... Jangan asal bicara yah Lutfi ! Ini gak ada urusannya dengan urusan ranjang keluarga ustadzah” jawab Nada dengan wajah memerah.

Lutfi kemudian memegangi pinggang ramping Nada dengan erat. Pinggulnya mulai bergerak sendiri dengan sangat kuat. Kedua penghuni pondok pesantren itu semakin mendesah nikmat. Tubuh Nada yang melemah akhirnya jatuh ke pelukan Lutfi yang membuat santri itu langsung mencumbui puting payudaranya lagi.

“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Lutfi sambil menghujami tubuh indah Nada.

“Aahhh... Ahhhh Lutfiii... Hentikannn... Ahhhh” desahnya dengan manja.

Penis Lutfi mengobrak-ngabrik liang senggama Nada dengan liar. Penis itu keluar masuk. Payudara Nada ikut naik turun mengikuti sodokan yang Lutfi berikan padanya. Gairah birahi yang semakin menjadi membuat Lutfi meminta ustadzahnya untuk berbalik badan agar dirinya bisa mengakhiri persetubuhan yang sangat panas ini.

Saat Nada membalikan tubuhnya, betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria tua berbadan kekar yang tengah duduk di salah satu kursi kosong yang berada di teras gedung kantor bagiannya.

“Aahhhhh . . . .” Untungnya Pria tua kekar itu tanggap dengan membekap mulut Nada. Pria tua itu tersenyum sambil membisikan sesuatu di telinga ustadzah cantik itu.

“Tenang ustadzah... Saya cuma mau melihat persetubuhan kalian kok... Kekekekek” bisiknya yang terdengar oleh Lutfi.

“Lohhh gak ikut gabung pak ?” kata santri itu sambil melihat keadaan tubuh pak Karjo yang terlihat segar bugar. Tubuhnya yang sehat itu membuatnya tidak gampang sakit dan tidak mudah lelah. Tubuh pak Karjo sudah seperti Gatotkaca saja. Otot kawat tulang besi. Nafsunya bejat yang bikin semua wanita lari.

“Kekekek... Saya ada urusan dengan ustadzah lain besok ? Nikmati aja ustadzah Nada sendirian... Saya mau genjot ustadzah Haura besok !” katanya sambil memandang wajah Nada yang membuat ustadzah itu ketakutan.

“Jangannn coba sentuh ustadzah Haura lagi yah pak !” kata Nada marah melihat rekan ustadzahnya hendak disetubuhi lagi oleh kuli kekar ini.

“Kekekek urus saja urusanmu dengan santrimu itu... Saya sudah berniat, tidak ada yang bisa menghentikannya kalau saya sudah menentukan niat saya !” kata Pak Karjo yang sudah bertekad.

Kekekekek gara-gara kemarin liat ustadzah Haura jadi gak nafsu lagi sama ustadzah laen... Emang ustadzah Haura gak ada obat... Kerjaannya bikin sangek terus !

Batin pak Karjo sambil tertawa memandang Nada.

“Urusanku ? Urusanku juga urusan ustadzah Haa... Ahhhh” desah Nada terpotong saat pinggul Lutfi kembali bergerak menghujami vagina Nada.

“Kekekekek... Momen yang pas nak !” puji pak Karjo pada Lutfi.

“Muwehehe... Tolong dong pak rekam tubuh indah ustadzah pake hape ini” kata Lutfi sambil memberikan hapenya.

Pak Karjo yang kebetulan tidak ada urusan dengan Nada langsung merekamnya. Pak Karjo pun tertawa melihat keindahan tubuh Nada yang terhempas naik turun di atas pangkuan santrinya.

“Aahhhh Luttfiiii.... Ahhhhhhh... Sakittt” desah Nada memejam tak kuasa menahan hujaman penis itu yang begitu kuat.

“Ouhhhhh nikmattt sekaliii... Ohhh yahhhh” desahnya sambil terus mendorong pinggulnya sambil sesekali meremas payudaranya sebelum berpindah kembali ke pinggang ramping ustadzahnya.

“Aahhhh hentikannn Lutfiii... Ahhhhhh” desah Nada sambil geleng-geleng kepala berusaha menghindari rekaman yang kuli kekar itu arahkan padanya.

“Ouhhhh enakkkk... Ouhhhh manttaapppp banget memek antum ustadzah... Uhhhhh” desah Lutfi saat memperkuat hujamannya hingga tubuh Nada semakin terhempas cepat. Pak Karjo pun tertawa sambil memundurkan dirinya. Ia berusaha mencari sudut yang pas agar keseluruhan tubuh Nada bisa terlihat sempurna.

“Kekekekek... Kampret, kalau kaya gini saya jadi pengen genjot dia juga !” kata Pak Karjo yang tiba-tiba mupeng ingin menikmati seperti yang sedang Lutfi lakukan.

Kemeja yang Nada kenakan lama-lama jatuh menuruni lengan mulusnya. Alhasil tubuh Nada semakin terlihat menggoda. Getaran payudaranya yang sungguh menakjubkan membuat pak Karjo tidak fokus dalam merekam persetubuhan mereka karena ia sedang meremasi batang penisnya sendiri.

“Ouhhhhh... Hennkkkkkk... Ouhhhh Hennkkkkkkggg” desah Lutfi yang kadang memelankan sodokannya hanya untuk mendorong pinggulnya agar bisa menyundul rahim kehangatan ustadzah cantik itu. Terkadang tangannya yang sedang memegangi pinggul Nada berulang kali mendorongnya ke bawah hingga Nada hanya bisa memejam merasakan tusukan yang begitu memuaskan.

“Aahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Nada merasakan tusukan dari penis besar itu yang terasa semakin dalam menembus rahimnya. Tubuh ramping Nada sesekali terdorong maju mundur berulang kali mengikuti pergerakan tangan Lutfi di pinggang rampingnya.

Lutfi sampai geleng-geleng kepala merasakan jepitan kemaluan Nada yang lebih nikmat dari jepitan kemaluan Hanna.

Mungkin karena barang baru kali yah... Coba udah jadi bekas, bakal gak nikmat lagi muwehehhe.

Batinnya saat pinggulnya kembali bergerak menghempaskan tubuh indah Nada di pangkuannya.

“Udahhhh... Uhhhhh jangann didorongg lagii Lutfiii.... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Nada sambil memejam merasakan tusukan dari santri berkepala plontos itu.

Kenikmatan yang tak terkira lezatnya membuat Lutfi tak kuasa untuk menahannya lagi. Ia ingin mengakhirinya. Tanpa memberikan Nada waktu istirahat, ia langsung mengangkat tubuh Nada hingga ujung gundul dari penisnya itu nyaris keluar dari bibir vaginanya. Kemudian tanpa ampun ia langsung membenamkannya hingga penisnya mentok menyundul rahimnya.

“Uhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Nada merinding hebat.

Kembali ia mengangkat tubuh Nada hingga ujung gundulnya itu nyaris keluar dari bibir vaginanya. Nampak kulit dalam dari dinding vagina Nada ikut tertarik keluar sebelum tiba-tiba dirinya menghentakan pinggulnya sambil mendorong tubuh Nada ke bawah hingga ustadzah sexy itu kelojotan meladeni nafsu buasnya.

“Aahhhhhhhhh Lutfiiiii” desah Nada melonglong panjang.

Nada tak pernah membayangkan dirinya akan disetubuhi di ruangan terbuka seperti ini. Apalagi oleh santrinya sendiri. Apalagi ada seorang kuli yang tengah tertawa merekam aksi binalnya. Nada sangat malu sekali. Ia pun hampir menangis menyadari dirinya sudah ternoda sebanyak ini.

“Aahhh Lutfiii... Tolongg hentikannn !!!” desah Nada memelas.

Akhirnya, Nada hanya bisa pasrah menangis merasakan sodokan demi sodokan yang membuat santri botak dibelakangnya itu mendesah kegirangan merasakan kenikmatan dalam menyetubuhi seorang ustadzah sexy berbadan sempurna.

“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah pak Lutfi memejam.

Nada terus menerus menggelengkan kepalanya. Ia memejamkan mata tak mau melihat ekspresi wajah kuli kekar itu yang tertawa melihat kepasrahan dirinya. Ia pun merapatkan bibirnya. Seketika ia teringat akan satu-satunya seseorang yang bisa menolongnya.

Pakk Heriiii... Tolong kesiniiii... Tolongg aku pakkk !!!

Batin Nada saat terhempas naik turun di atas santri bejatnya itu. Tiba-tiba terdengar suara dering hape yang membuat kedua lelaki bejat itu terkejut.

“Ehhh suara telpon dari mana itu ?” kata Lutfi yang tak menghentikan genjotannya.

“Dah biarin aja... Gak usah diladenin... Orang lagi panas-panasnya ini” kata Pak Karjo.

“Muwehehehe benar juga !” kata Lutfi mengabaikan suara itu.

Pak Heriii ? Batin Nada menyadari kalau itu suara dering hapenya. Wajahnya pun teralihkan pada celana longgar yang tergeletak di dekat pintu masuk gedung kantor bagiannya.

Pakkk... Datanglah !! Cepat kesini pakk... Tolong aku !!! Batin Nada yang hanya bisa mengiriminya telepati sambil menahan genjotan dari Lutfi.

Gerakan pinggul Lutfi semakin cepat saja. Gerakannya tak beraturan. Gerakannya cenderung brutal akibat nafsu buas yang semakin tak tertahankan. Nada terkejut oleh gaya main barbar dari santri bejatnya ini. Gerakannya yang sangat cepat membuat tubuh Nada terlontar-lontar ke atas menahan tusukan dari santrinya ini. Tangannya menahan tangan Lutfi di pinggangnya. Bibir bawahnya terus ia gigit. Ia pun merasakan adanya sesuatu yang mengalir di rongga vaginanya.

Plokkk plokkk plokkkk !

“Ahhhh... Ahhhh sakitttt... Ahhhh pelan Lutfiiii... Pelannn ahhhhh” desah Nada dengan manja.

“Muwehehhe... Mantapnya ustadzah !” Desah Lutfi yang sangat puas.

Lutfi terus menggenjotnya tanpa ampun tanpa menahan diri lagi. Kedua tangannya semakin mencengkram kuat pinggang mulus itu. Hentakan pinggulnya juga semakin kuat. Desahan yang terucap dari mulut sang bidadari pun semakin keras.

“Aahhhh... Ahhh... Ahhhhh”

Akhirnya sesuatu yang Lutfi tunggu datang juga. Penisnya sudah berdenyut pelan. Gerakan barbarnya semakin tidak terkendali lagi. Mata Lutfi pun berkunang-kunang. Rasa nikmat yang semakin tak tertahankan membuatnya ingin memuntahkan spermanya segera.

“Ahhhh... Ahhhh... ahhhh ustadzahh anaa.... Anaaa.... Keluuuaarrrrrrr !!!” tiba-tiba Lutfi menghempaskan tubuh Nada ke selangkangannya yang membuat ustadzah cantik itu membuka mulutnya lebar merasakan rahimnya di sodok menggunakan ujung gundul penis santrinya.

“Aahhhhh Luttfffiiii !!!” Sodokan yang mantap itu juga berhasil membuatnya berorgasme. Mata Nada memejam. Tubuhnya menggelinjang merasakan puasnya digenjot di tempat yang rawan ketahuan seperti ini.

Ccrrooottt... Croott... Crroott !!!

“Aaahhh nikmatttnyaahhh... Ahhhhh” desah Lutfi merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat. Ia pun merinding merasakan kepuasan yang sangat dahsyat. Tubuhnya yang kurus itu berulang kali kelojotan hingga terhempas ke sandaran kursi yang ada di belakangnya. Ustadzah Nada juga demikian. Ustadzah pemilik body goals itu jatuh membelakangi tubuh Lutfi yang ada di belakangnya.

“Kekekekek gilaaa... Liat persetubuhan kalian bikin saya sangek aja !” kata Pak Karjo sambil menaruh hape Lutfi di meja yang berada di depan mereka berdua.

“Muwehehe... Kenapa bapak enggak coba aja ? Untuk ustadzah Haura kan bisa lain kali... Lagipula bapak juga udah sering menggenjotnya kan ? Kapan lagi mau nyoba barang baru ?” kata Lutfi membujuk kuli kekar itu sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya.

“Kekekek betul juga” kata pak Karjo mendekati Nada.

Nada yang masih memejam terengah-engah terkejut melihat pak Karjo mendekat. Matanya yang masih lemah itu ia buka saat merasakan sentuhan kulit kasar dari pria tua berkulit gelap yang sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan santri bejat itu.

Nada dengan lemah menatap mata pak Karjo yang terlihat begitu tajam. Tangan kuli itu sudah hinggap di pinggang. Tangan satunya pun sedang meremasi payudaranya. Nada sama sekali tidak bisa melawan karena semua energinya sudah terkuras oleh genjotan dahsyat yang dilakukan oleh santri bejatnya.

“Ustadzah... Sekarang giliran saya yah ?” kata pak Karjo saat sedang berdiri saling berhadapan dengan ustadzah pemilik body goals itu.

Mata Nada pun terbuka lebar saat wajah tuanya mendekat untuk mencumbui bibirnya.

“Mmppphhhhhh” desahnya merinding saat lelehan sperma Lutfi keluar dari dalam liang senggamanya.


*-*-*-*


Sementara itu di tempat yang jauh dari pondok pesantren berada.

“Mana nih ? Katanya ustadzah Nada minta ditelpon saya ?” kata pria berperut tambun yang sedang menikmati semangkuk popmie yang baru saja ia beli. Ia sesekali melirik hapenya menunggu balasan panggilan dari ustadzah cantik itu.

“Ssllrrppp !!” Seruputnya saat memakan popmie rasa ayam bawang itu.

“Hmmm apa jangan-jangan terjadi sesuatu padanya yah ?” kata pria tua tak bersunat itu ketika tiba-tiba perasaannya tidak enak.

Ia pun buru-buru menghabiskan popmie-nya. Kemudian ia pergi menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor beserta jaket kulitnya. Ia pun menaiki motornya kemudian bergegas pergi menuju pondok pesantren.

“Kenapa rasanya makin gak enak yah ? Ustadzah ? Ustadzah baik-baik aja kan disana ?” ucapnya ditengah perjalanan menuju pondok pesantren itu.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy