Di malam yang gelap ketika rembulan bersinar terang. Terdengar sebuah suara yang bisa membuat orang-orang mendadak terangsang. Suara itu tidak terdengar keras. Sebaliknya, suara itu terdengar pelan diiringi dengan desahan serta lenguhan yang berasal dari seseorang.
Nampak di halaman teras gedung kantor bagian administrasi. Terdapat seorang ustadzah berhijab yang tengah naik turun di atas pangkuan seorang santri. Ustadzah itu tinggal mengenakan kemeja yang sudah terbuka semua. Hijab yang melilit kepala mungilnya juga sudah berantakan. Penampilan ustadzah itu sudah awut-awutan. Nampak bulatan payudaranya yang mengencang sedang diremas oleh santri berkepala plontos itu dari belakang. Putingnya yang mengacung tegak dipelintirnya hingga membuat tubuh ustadzah itu menggelinjang.
Tanpa ampun, santri itu terus menggempur kemaluan sang ustadzah hingga membuat akhwat berhijab itu mendesah tak karuan. Tubuhnya sudah melemah. Akhwat itu hanya bisa pasrah. Apalagi ketika merasakan penis yang menggempur vaginanya sedang berdenyut pelan.
“Ahh... Lutfiiii hentikannnnnn !” desah ustadzah itu menggelinjang.
“Muwehehhe enak kan ustadzah ? Terima ini genjotan ana !” kata Lutfi sambil memegangi pinggang ustadzahnya.
“Aaaaahhhhhhhhh” desah Nada saat tubuhnya naik turun di atas pangkuan santrinya.
Gerakan pinggul Lutfi semakin cepat saja. Gerakannya tak beraturan. Gerakannya cenderung brutal akibat nafsu buas yang semakin tak tertahankan. Nada terkejut oleh gaya main barbar dari santri bejatnya. Gerakannya yang sangat cepat membuat tubuh Nada terlontar-lontar ke atas menahan tusukan dari santrinya. Tangannya menahan tangan Lutfi di pinggangnya. Bibir bawahnya terus ia gigit. Ia pun merasakan adanya sesuatu yang mengalir di rongga vaginanya.
Plokkk plokkk plokkkk !
“Ahhhh... Ahhhh sakitttt... Ahhhh pelan Lutfiiii... Pelannn ahhhhh” desah Nada dengan manja.
“Muwehehhe... Mantap sekali ustadzah ! Ouhhhhhh” Desah Lutfi yang sangat puas.
Lutfi terus menggenjotnya tanpa ampun tanpa menahan diri lagi. Kedua tangannya semakin mencengkram kuat pinggang mulus itu. Hentakan pinggulnya juga semakin kuat. Desahan yang terucap dari mulut sang bidadari pun semakin keras.
“Aahhhh... Ahhh... Ahhhhh”
Akhirnya sesuatu yang Lutfi tunggu datang juga. Penisnya sudah tidak tahan. Gerakan barbarnya semakin tidak terkendali lagi. Mata Lutfi pun berkunang-kunang. Rasa nikmat yang semakin tak tertahankan membuatnya ingin memuntahkan spermanya segera.
“Ahhhh... Ahhhh... ahhhh ustadzahh anaa.... Anaaa.... Keluuuaarrrrrrr !!!” tiba-tiba Lutfi menghempaskan tubuh Nada ke selangkangannya yang membuat ustadzah cantik itu membuka mulutnya lebar merasakan rahimnya di sodok menggunakan ujung gundul penis santrinya.
“Aahhhhh Luttfffiiii !!!” Sodokan yang mantap itu juga berhasil membuatnya berorgasme. Mata Nada memejam. Tubuhnya menggelinjang merasakan puasnya digenjot di tempat yang rawan ketahuan seperti ini.
Ccrrooottt... Croott... Crroott !!!
“Aaahhh nikmatttnyaahhh... Ahhhhh” desah Lutfi merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat. Ia pun merinding merasakan kepuasan yang sangat dahsyat. Tubuhnya yang kurus itu berulang kali kelojotan hingga terhempas ke sandaran kursi yang ada di belakang. Ustadzah Nada juga demikian. Ustadzah pemilik body goals itu jatuh membelakangi tubuh Lutfi yang ada di belakangnya.
“Kekekekek gilaaa... Liat kalian ngentot bikin saya sangek aja !” kata Pak Karjo sambil menaruh hape Lutfi di meja yang berada di depan mereka berdua.
“Muwehehe... Kenapa bapak enggak coba aja ? Ustadzah Haura kan bisa lain kali... Lagipula bapak juga udah sering menggenjotnya kan ? Kapan lagi mau nyoba barang baru ?” kata Lutfi membujuk kuli kekar itu sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya.
“Kekekek betul juga katamu” kata pak Karjo mendekati Nada.
Nada yang masih memejam terengah-engah terkejut ketika tangan mulusnya tersentuh oleh kulit kasar kuli kekar itu. Matanya yang masih lemah membuka dan menyadari kalau kuli tua itu sedang tersenyum sambil menarik tubuhnya dari pangkuan santri bejatnya.
“Paakkkkk” ucap Nada agak mendesah meminta kuli tua itu tidak menodai tubuhnya.
“Kekekekek... Indah sekali tubuhmu ustadzah” kata Pak Karjo sambil mencengkram payudara sebelah kiri Nada menggunakan tangan kanannya.
Nada terlihat ketakutan ketika kuli tua itu tengah menatapnya dengan penuh nafsu. Mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan. Tangan kiri dari kuli kekar itu sudah hinggap di pinggangnya. Cengkraman yang ia terima di payudara kirinya juga semakin kuat. Nada sampai memejam dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan rangsangan yang sedang pak Karjo berikan.
Nada yang masih lemah tak berdaya tidak sanggup untuk menghalau pergerakan tangan kuli tua itu. Semua energinya sudah terkuras oleh genjotan nikmat yang dilakukan oleh santri bejatnya. Ustadzah cantik itu pun memejam saat merasakan lelehan sperma santri bejat itu keluar dari dalam liang senggamanya.
“Kekekekek... Enak kan rasanya dipejuhi ?” ejek pak Karjo menertawakan raut wajah Nada.
Tangan kiri pak Karjo yang tadi berada di pinggangnya perlahan naik membelai kulit mulus bidadari itu. Belaian yang Nada terima membuat ustadzah sexy itu menggelinjang merasakan sensasi itu. Pak Karjo sampai tersenyum mesum menatap ekspresi wajah Nada yang tengah sangek merasakan belaian tangannya. Tangan kirinya pun keluar dari dalam kemeja yang masih Nada kenakan. Tangan kirinya kini hinggap di pipi ustadzah cantik itu hingga membuat bibir Nada manyun di hadapan kuli tua berkulit hitam itu.
“Kekekekek... Keindahan tubuh ustadzah sangat sulit untuk saya biarkan... Jadi, sekarang giliran saya yah untuk memuaskan hasrat saya ke tubuh ustadzah ?” kata pak Karjo yang membuat wajah Nada ketakutan mendengar kalimatnya.
“Pakkk jangannnn... Jangannnnn” kata Nada menggelengkan kepala saat melihat wajah kuli tua itu mendekat. Mata Nada pun terbuka lebar saat wajah tuanya semakin dekat untuk mencumbui bibir tipisnya.
“Mmppphhhhhh” desahnya merinding saat bibir kuli tua itu berhasil mengenai bibrnya.
“Muwehehehe... Kali ini giliran saya yang ngerekam yah !” kata Lutfi dengan tanggap mengambil hapenya untuk merekam perzinahan yang terjadi oleh seorang ustadzah cantik dengan kuli tua bertubuh kekar.
“Lihat ini... Ada ustadzah sangek yang udah gak tahan lagi... Akhirnya ustadzah itu pun memanggil seorang kuli untuk memuaskan dirinya” ucap Lutfi menambahkan narasi saat merekam percumbuan terlarang ini.
“Mmpphhh... Pakkk... Mmppphhh hentikannnn !” kata Nada disela-sela cumbuannya sambil mendorong tubuh kekar pak Karjo menggunakan sisa tenaga yang ia punya.
“Kekekekek... Gitu dong ustadzah... Seorang ustadzah gak akan semudah itu untuk dinodai ! Terus tolak saya ustadzah... Tunjukan tekadmu untuk tidak mau dinodai oleh saya” kata pak Karjo yang justru menyemangati Nada agar dirinya semakin mendapatkan sensasi dalam memperkosa seorang ustadzah berhijab.
Pak Karjo kembali mendekatkan bibirnya. Kali ini, ia membuka mulutnya lebar-lebar. Ia pun mencaplok bibir tipis itu untuk memuaskan hasrat birahi yang baru saja terpanggil setelah menonton perzinahan sang santri dengan ustadzahnya. Lidahnya ikut keluar dengan menjilati bibir atas dari ustadzah pemilik body goals itu. Birahinya yang sudah amat tinggi membuat kuli tua itu semakin liar ketika mencumbui bibir tipis Nada. Ia pun berpindah dengan mencumbui bibir bagian bawah Nada. Bibirnya menjepit bibir bawah Nada. Lidahnya keluar tuk membasahi tepi bibir Nada. Lidah itu pun menjilati bibir tipis Nada sambil sesekali mendorongnya agar bisa memasuki rongga mulutnya.
“Ouhhhhhh ustadzah... Mmpphhhh... Mmmppphhhh” desah Pak Karjo dengan penuh nafsu.
“Mmppphhh... Mmpphhh... Mmpphhhhh” desah Nada bertahan sekuat tenaga.
Berulang kali Nada berusaha melepaskan diri dari dekapan nafsu kuli tua itu yang semakin beringas dalam mencumbui bibirnya. Nada terus saja menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya terus mendorongnya dengan harapan bisa terlepas dari cengkraman bibirnya. Namun semua usahanya jadi percuma karena nafsu pak Karjo sudah sangat besar hingga tak akan membiarkan mangsanya terlepas begitu saja.
“Aaahhhhhhh” desah Nada kelepasan.
Cengkraman kuat yang ia terima di payudaranya membuat mulut Nada sedikit terbuka. Lidah pak Karjo bergegas masuk setelah melihat kesempatan itu. Saat lidahnya masuk, ia langsung menjilati rongga mulutnya. Saat lidah mereka bertemu. Lidah pak Karjo langsung melilit lidah bidadari itu. Lidahnya juga ikut menggesek lidah bidadari itu. Lidahnya pun menubruk lidah dari bidadari manis itu. Ketika nafsu semakin berkuasa, lidah pak Karjo menekan lidah Nada ke bawah. Bibirnya pun tak tinggal diam dengan mendorong bibir Nada dengan kuat, hingga kepala dari bidadari itu semakin terdorong yang membuat tangan kiri pak Karjo bergerak untuk menahan kepala bagian belakang Nada.
Cuupppppp !!!
“Mmpphh ustadzah... Mmpphhh... Mmmpphhhh nikmat sekali bibirmu ini” desah Pak Karjo.
“Mmmpphhh ahhhhh... Mmpphhhh ahhhhhh” Nada hanya bisa mendesah tiap kali bibir kuli itu menghujami bibir tipisnya.
Suara desahan mereka membahana. Teras depan gedung administrasi itu telah berubah menjadi tempat prostitusi dimana kuli tua itu dengan bebas melecehkan ustadzah pemilik body goals itu. Seperti menang lotre, Kuli kekar itu sangat beruntung karena bisa menyicipi keindahan tubuhnya meskipun baru menggunakan bibir serta belaian tangannya saja.
Kekekekek... Mimpi apa dulu bisa dapet rejeki senikmat ini... Siapa yang nyangka coba disaat ini, saya bisa menikmati tubuh ustadzah binal yang tinggal mengenakan kemeja serta hijabnya saja. Ucapnya dalam hati disela-sela percumbuannya dengan ustadzah Nada.
Gairah birahi kuli tua itu semakin menggelora. Kuli tua itu semakin tidak tahan saat melihat tubuh ustadzah Nada yang sudah setengah telanjang. Rasanya ia ingin segera membenamkan penisnya, menjilati kulit mulusnya, kemudian mencumbu bibirnya sambil meremasi payudara itu dengan sangat puas.
“Mmmpphhhh... Mmuuahhhh” desah Pak Karjo dengan sangat gemas. Ia pun melepaskan cumbuannya sambil menatap wajah indah Nada. Nampak mata dari bidadari itu sembap ketika menyadari dirinya sedang dinodai oleh kuli tua itu lagi.
“Ustadzah udah gak sabar kan pengen ngerasain kejantanan saya ?” kata kuli tua itu yang membuat wajah ustadzah Nada ketakutan menyadari kuli itu serius ingin menodai rahimnya.
“Enggakkk... Enggakk... Tolongg jangannn pakk... Lepasin aku pakk... Tolonggg !!!” ucap Nada ketakutan saat berada di hadapan kuli itu.
“Kekekekek... Ayo ikut ustadzah !” kata Pak Karjo menarik tangan Nada dan membawanya menuju halaman gedung. Angin malam yang cukup kencang membuat kemeja yang Nada kenakan terbang menampakan sisi depan bagian tubuhnya yang begitu indah. Nada panik, tubuhnya sedang terbuka seperti ini. Berulang kali wajahnya menoleh ke kiri dan ke kanan khawatir andai ada orang lain yang memergokinya ternoda di tempat seperti ini.
“Pakkk... Jangannn pakkk... Nanti ada orang yang liat... PAkkk tolongg aku gak mauuuu !” kata Nada berusaha bertahan dengan tidak menuruti tarikan tangan kuli itu.
“Kekekekek gak usah khawatir... Kalaupun ada orang lain yang liat, nanti saya ajak aja biar orang itu bungkam karena dipersilahkan ngecrot di wajah ustadzah yang cantik lagi jelita” kata pak Karjo yang membuat Nada semakin pasrah menyadari situasi yang telah terjadi.
“Nah disini, ayo nunduk... Sepong kontol saya sekarang !” kata pak Karjo saat dirinya tiba di dekat jalanan yang biasa di lalui oleh penduduk pondok pesantren. Jarak jalanan itu dengan teras gedung administrasi memang tidak terlalu jauh. Mungkin sekitar tiga meter saja. Tapi kepuasan yang ia dapat ketika disepong oleh seorang ustadzah di ruangan terbuka menjadi sensasi tersendiri bagi dirinya.
“Mmpppphhhh... Pakkk... Mmppphhh” desah Nada saat kepalanya ditekan oleh Karjo hingga penis hitam itu melesat masuk menyodok kerongkongannya. Entah sejak kapan kuli tua itu sudah memelorotkan celana kolornya. Kuli itu tinggal mengenakan kaus polonya saja. Kuli itu pun menggelinjang merasakan kuluman ustadzah Nada yang tidak ada duanya.
“Ouhhh nikmattnnya seponganmu ustadzahh... Terusss... Dorongg yang dalemmm !” kata pak Karjo sambil mendorong kepala Nada hingga semakin terbenam di selangkangannya. Lutfi dari jauh menyeringai sambil merekam kepasrahan Nada yang dipaksa mengulum dalam keadaan setengah telanjang seperti itu.
“Mmppphhhhhh !!!!” desah Nada ketika matanya kembali berkaca-kaca.
Pinggul pak Karjo mulai bergerak maju mundur di dalam mulut ustadzah cantik itu. Pak Karjo pun memejam merasakan gesekan yang ia terima di sisi bawah penisnya melalui lidah ustadzah cantik itu yang begitu lembap. Tak sengaja, lidah itu seperti membelai batang penisnya yang berwarna hitam sempurna. Penis itu semakin basah. Penis itu semakin mengeras di dalam, hingga mulut Nada yang kecil hanya mampu menampung setengah dari ukurannya yang luar biasa. Kendati seperti itu, pak Karjo terus memaksa agar penisnya bisa memasuki keseluruhan mulut Nada. Kerongkongan Nada jadi tersodok. Kepala Nada jadi terhempas ke belakang. Untungnya tangan Karjo dengan sigap menahan sisi belakang kepala ustadzah cantik itu hingga membuat pemiliknya kewalahan menerima torpedo hitam yang berkepala seperti jamur itu.
“Mmppphhhh pakkk... Mmppphhhh” desah Nada sambil menepuk-nepuk paha tebal kuli itu.
“Kekekekek... Mantappp bangett ustadzahhh... Ouhhhh, saya jadi pengen nyodok terus ustadzahhh !!!” kata pak Karjo yang semakin membenamkan penisnya di dalam mulut Nada.
“Mmmppphhhh... Uhuukk... Uhhukkkk !” Nada sampai terbatuk-batuk saat menerima sodokan dari kuli tua itu.
Namun pak Karjo tidak berhenti. Ia terus membenamkan penis itu hingga baru beberapa saat kemudian, Karjo sengaja menarik keluar penisnya hingga liur yang terkumpul di dalam mulut Nada dimuntahkan membasahi tanah halaman gedung itu.
“Uhhuukk... Uhhukkk” ucap Nada tersungkur ke tanah dalam keadaan tangan bertumpu pada tanah tersebut.
“Kekekekek” tawa pak Karjo sambil memegangi penisnya yang licin teroleskan liur ustadzah cantik itu.
Nada tiba-tiba kembali diajak berdiri oleh kuli tua itu. Pinggang rampingnya di pegang oleh kedua tangan kekar kuli tua itu. Mereka pun saling berhadapan di bawah pancuran sinar rembulan. Tanpa jeda, pak Karjo kembali mencumbui bibir itu sambil menjatuhkan kemeja yang Nada kenakan ke bawah.
Bibir mereka kembali bersentuhan. Bibir mereka kembali bergesekan. Pak Karjo dengan penuh nafsu mendorong bibir tipis Nada sambil mengusapi permukaan kulit Nada yang begitu mulus. Kedua tangannya berpindah dari pinggang rampingnya menuju punggung mulusnya. Tangannya itu kembali bergerak dengan meremasi payudara Nada yang sudah terbuka sempurna. Ukuran payudara itu semakin membesar. Puting berwarna merah muda itu juga sudah berdiri dengan tegak. Pak Karjo pun menggelitiki pentil payudara itu yang membuat pemiliknya mendesah disela-sela percumbuan yang ia lakukan dengannya.
Nampak Nada berusaha menahan pergerakan tangan pak Karjo. Kepalanya pun ia mundurkan agar tidak merasakan cumbuan yang terus dilakukan oleh kuli kekar itu. Nada dapat merasakan aroma nafas yang begitu bau dari mulut kuli kekar itu. Nada merasa risih. Ia begitu jengah oleh aroma busuk yang muncul dari mulut pria tua itu.
“Aauuhhmmmm” desah Karjo saat menggigit puting indahnya.
“Aaahhhhh pakkkk... Jangannn pakkk” kata Nada sambil mendorong kepala Pak Karjo menjauh.
Pak Karjo begitu rakus kalau soal menyusu di payudara wanita berhijab. Mulut Karjo menjepit puting indah itu. Mulut Karjo pun menghisapnya. Mulut itu juga menggigit pelan payudara sebelah kiri Nada. Mulutnya pun berpindah ke payudara kanan Nada sementara tangan kanannya bergerak dengan meremasi payudara kirinya.
“Mmpphhh... Mmpphhhhh” Nampak Nada hanya bisa mendesah ketika sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Tubuh ustadzah berbadan body goals itu semakin mengencang. Tubuhnya semakin tercetak ketika sudah terangsang. Kedua payudaranya semakin kencang. Lekuk tubuhnya pun mirip sirkuit sepang. Banyak kelokan yang memperindah tubuhnya dikala sudah telanjang.
“Ouhhhhh pakkkkk” desah Nada memejam sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Kepalanya ia geleng-gelengkan saat lidah kuli itu menjilati pentilnya yang membuat pemiliknya merasa geli-geli nikmat.
Lutfi pun tertawa melihat kebinalan ustadzahnya ketika sedang dirangsang oleh seorang kuli tua sepertti pak Karjo.
“Muwehehehe dimasukin ke forum itu bakalan jadi hot thread ini !” kata Lutfi tertawa melihat pelecehan yang diterima oleh ustadzahnya.
“Mmuuaahhhhh... Ayo ustadzah... Balik badan ! Saya udah gak kuat lagi !” kata pak Karjo melepas cumbuannya kemudian membalik badan Nada yang sudah kelelahan menerima pelecehan oleh kedua lelaki bejat itu.
“Ehhh ppakkk tungguuu... Ahhhhh... Ahhhhhh” Nada mendesah sambil menegakan kepalanya ke atas. Tubuh kuli itu sudah berada di belakangnya tengah memeluknya. Tangan kuli itu merambat ke payudaranya untuk mencengkram kuat ukurannya. Nada jadi semakin lemas. Tenaganya sudah habis tak tersisa. Yang ia lakukan kini hanya bisa pasrah sambil berharap seseorang datang untuk menyelamatkannya.
Pakk Heriii cepattt pakkk... Ceppaattt tolongg aku !
Batin Nada memejam membiarkan tangan kuli itu menggerayangi ukuran payudaranya.
“Kekekekek kenceng banget susumu ini ustadzah... Ternyata 11 12 yah dengan susunya ustadzah Haura” puji Karjo yang membuat Nada semakin kesal mendengar rekan ustadzahnya kembali disebut.
“Ouuhhh pakk... Tolongggg jangan lagi-lagi menyebut nama ustadzahh Haura ! Jangan nodai ustadzah Haura lagi pakkkk uhhhhhh” desah Nada yang hanya membuat pak Karjo tertawa.
“Kekekeke oke... Tapi sebagai gantinya, ustadzah mau untuk menggantikan posisi dia untuk saya genjoti setiap hari ?” tanya pak Karjo sambil terus meremasi payudara indah Nada dari belakang.
“Ituuuu... Ituuuuu” kata Nada mendadak ragu.
“Kekekekek... Kalau ustadzah masih ragu, kenapa gak kita coba dulu ?” tanya pak Karjo yang mulai beraksi ketika tangan kanannya memegang penisnya untuk masuk membelah bibir vaginanya.
“Pakkk hentikannn pakkk... Aku gak mauuu.. Ouhhhhh... Ouhhhh” desah Nada dengan manja merasakan sentuhan ujung gundul kuli tua itu di bibir vaginanya.
“Kekekekek penantian panjang itu tiba juga akhirnya ustadzahh !” kata pak Karjo sambil mendorongkan pinggulnya hingga ujung gundul itu mulai membelah liang senggama Nada.
“Uuuhhhhhhhhh bapakkkkk !!!” desah Nada tak kuasa menahan sensasinya ketika dimasuki oleh penis seorang kuli.
“Kekekeke... Rapet banget memekmu ustadzahhh... Ouhhh jepitanmuuu... Ahhhhh gilaaa” kata pak Karjo kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan kepuasannya.
Tangan kiri pak Karjo masih berada di payudara kirinya. Tangan kanan pak Karjo sedang berada di pinggul rampingnya. Nampak penis tua itu terus mendorong masuk untuk membelah liang senggama ustadzah Nada. Ustadzah itu sampai memejam tuk merasakan nikmatnya pergesekan yang ia terima saat lubang kenikmatan duniawinya dibelah oleh penis kuli tua itu. Nampak payudara Nada semakin mengencang. Kendati ukurannya besar, payudara itu tidak jatuh ke bawah. Aksi mesum mereka pun tak disia-siakan oleh Lutfi untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Sedikit demi sedikit penis itu kian masuk membelah liang senggamanya. Awalnya cuma kepala penisnya saja. Namun dengan bantuan pelicin yang berasal dari liurnya, penis itu dengan segera terhisap ke dalam liang senggamanya.
Jlleeebbbbb !!!
“Aahhhhhhhhhhhh” desah mereka berdua dengan sangat keras. Suara mereka pun menggema dengan begitu kencang. Nampak tubuh mereka yang bersatu bagaikan lambang yin & yang. Yang satu putih & yang satu hitam. Perpaduan tak masuk akal itu membuat Lutfi hanya bisa menggelengkan kepala.
Gila... Beruntung banget pasti ustadzah Nada bisa disodok oleh bapak kuli itu ! ungkap Lutfi bernafsu saat melihat keindahan Nada yang telah dinodai oleh kuli rendahan itu. Dirinya yang terbiasa menonton genre blacked terpuaskan oleh pemandangan yang begitu indah di hadapannya.
Tubuh Nada pun agak menunduk saat kedua tangannya ditarik ke belakang oleh pak Karjo. Nampak kedua payudaranya yang menggantung dibiarkan begitu saja. Hijabnya yang berantakan membuat sebagian rambut menjulur keluar ke dahinya. Ketika kuli itu mulai menggerakan pinggulnya. Tubuh Nada mulai tersentak maju mundur diiringi dengan desahan-desahan kecil yang keluar dari mulut ustadzah sexy itu. Posisinya yang tengah menungging itu memungkinkan penis pak Karjo semakin dalam menancap di liang senggamanya.
“Ahhh... Ahhhhh... Ahhhh” desah Nada dengan lemas.
Karjo terpuaskan oleh erangan yang terucap dari mulut bidadari itu. Kuli tua itu saja sampai memejam tuk fokus menikmati jepitan yang semakin terasa mencekik batang penisnya. Sedikit demi sedikit Karjo mempercepat laju genjotannya. Sedikit demi sedikit Karjo mulai menarik nafasnya kemudian menghembuskannya segera. Nampak punggung mulus Nada yang terdorong maju mundur tersaji dihadapannya. Suara benturan yang berasal dari dua selangkangan mereka juga menambah sensasi dari kuli tua itu saat menyenggamai tubuh Nada di ruangan terbuka. Nampaknya ia terinspirasi dari persetubuhannya dengan Haura saat berada di dekat area persawahan waktu itu.
“Aahhhhh bapakkkk.. Ahhhh... Ahhhh” ucap Nada yang hanya bisa mendesah menerima sodokan dari kuli itu.
“Kekekekke puassnyya saya... Ahhhh... Ahhhh gilaaaa !” ucap pak Karjo sambil menggelengkan kepalanya saat menyetubuhi ustadzah cantik itu. Ia pun menarik tangan Nada ke belakang hingga bidadari itu semakin menegak menampakan kedua payudaranya yang bergoyang saat menerima sodokannya.
“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Nada semakin keras saat penis itu semakin dalam menusuk dinding rahimnya.
Ustadzah cantik itu semakin kehabisan tenaga saat penis kuli tua itu semakin kencang membombardir liang senggamanya. Berulang kali Nada memejam lalu melirik ke jalanan sekitar untuk mencari seseorang. Ia sedang menunggu orang itu. Ia sedang menunggu penyelamatnya yang dapat menendang si pemerkosa yang begitu senang dalam menikmati tubuhnya.
Pakkk Heriiii cepaattt datanglahhh !!!
Batin Nada penuh harap.
“Aahhhhhhhh.... Ahhhhhhh ustadzahhhh... Hennkkgghhhh !!!” kuli itu mempercepat sodokannya hingga tubuh Nada tersentak semakin maju mundur.
“Aahhhhhh bapakkkkk !!!” desah Nada mengerang tak peduli lagi andai ada santri lain atau ustadz lain yang memergokinya sedang diperkosa. Ia begitu tak kuasa dalam menahan genjotannya yang begitu luar biasa di dalam vaginanya.
Plokkkk... Plokkk... Plokkk !!!
Tangan Karjo berpindah ke bokong montok sang ustadzah. Ia mengusap kulit bokongnya yang halus. Kemudian rabaannya naik ke pinggang untuk merasakan betapa rampingnya tubuh dari ustadzah yang telah ternoda itu. Tubuh Nada terus bergerak maju mundur. Gerakan payudara itu pun menggoda birahi Karjo yang ingin meremasnya lagi.
“Aahhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhhhhh” desah Nada dengan manja.
Pak Karjo pun menarik pinggang Nada ke pelukannya. Nada pun dalam posisi setengah berdiri ketika tangan Karjo berpindah untuk meremas payudaranya. Nampak mulut Karjo berulang kali mengecupi punggung mulusnya yang membuat Nada menggelinjang merasakan sensasi itu.
“Aahhhh... ahhhh ustadzahhh... Saya gak kuat lagiii... Saya mau keluarr ustadzahhh !!!” ucap Karjo tiba-tiba ketika dirinya akan menyudahi persetubuhannya di malam ini. Menyadari pak Karjo melemah, Lutfi pun mendekat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari rekamannya kali ini.
“Aahhhh pakkk... Ahhhhh... Ahhhh” desah Nada saat merasakan genjotan kuli itu semakin cepat di vaginanya.
Kuli itu memperkuat cengkramannya di payudara Nada. Kuli itu mempercepat genjotannya di liang senggama Nada. Nada sampai menggigit bibir bawahnya. Ia begitu tak kuasa dalam menahan kekuatan yang dimiliki oleh kuli kekar itu saat menodai tubuhnya.
“Aahhhh ustadzahhh... Ahhhh keluuarrr... Sayyyaa keluuaarrrr !!!” ucap Karjo menancapkan penisnya hingga mentok ke dalam lalu buru-buru ia mengeluarkannya hingga tubuh ustadzah cantik itu jatuh berlutut membelakangi kuli tua itu. Dengan segera, pak Karjo mengarahkan penisnya ke wajah dari ustadzah cantik itu. Semprotan demi semprotan pun keluar yang mana mengenai wajahnya dan sebagian dari payudara bulatnya.
“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Nada memejamkan mata saat merasakan aroma yang begitu menyengat dari sperma kuli tua itu. Nada bergidik jijik. Ia tak mengira kalau kuli tua itu berminat untuk menodai wajah cantiknya.
“Aahhhh... Ahhhh saya puass bangett ustadzahhh... Uhhhhhhhh” desah pak Karjo hingga membuatnya merem melek merasakan kepuasan yang tak dapat ia jelaskan.
Satu tetes terakhir berhasil ia keluarkan. Ia pun mengoleskan ujung gundulnya ke pipi Nada sebelum dirinya meminta untuk dibersihkan dengan menggunakan mulutnya. Nada pun terpaksa mengulum benda menjijikan itu lagi sebelum pelecehannya berakhir di malam yang mengerikan ini.
“Kekekekek... Kasian ustadzah belum crot !” kata pak Karjo yang langsung mengincar vagina Nada kemudian mengobok-ngoboknya menggunakan jemarinya.
“Aahhhh... Ahhhh... Ahhhhhhhh” Nada pun berhasil mendapatkan orgasme keduanya. Ustadzah itu benar-benar lemas. Tubuhnya sudah bersimpuh sperma. Lelehan sperma dari kuli tua itu bertebaran di sekitar wajah dan dada indahnya. Nada hanya bisa berlutut di halaman gedung kantor bagiannya. Wajahnya menunduk. Ia benar-benar malu setelah dinodai oleh kedua lelaki itu.
“Kekekekek... Kamu dapet rekamannya kan nak ?” tanya Karjo pada Lutfi.
“Muweheheh dapet dong... HD loh hasilnya” ucap Lutfi sambil melirik Nada yang belum berani untuk mengangkat wajahnya.
“Kekekekek” tawa Karjo berjongkok sambil berjinjit dihadapan Nada sambil memegangi dagunya yang telah dipenuhi lelehan sperma dirinya. Wajah Nada pun terangkat naik yang rupanya sedang menangis sambil menatap benci ke kuli tua itu.
“Ini baru pemanasan ustadzah... Anggap lah ini perkenalan kita sebelum persetubuhan yang sebenarnya di hadapan suami ustadzah... Kekekek pasti suami ustadzah bakal puas banget tuh ngeliat istrinya dinodai oleh orang seperti saya !” kata pak Karjo yang membuat Nada semakin benci.
“Perrgiii pakkk !!! Tinggalkan aku sendiri !!!... Aku gak peduli apa yang bapak ucapkan ke aku !” kata Nada sambil mendorong tubuh pak Karjo hingga membuat kuli tua itu terjungkang ke belakang karena kaki-kakinya masih lemas setelah memejuhi akhwat berhijab itu.
“Kekekekek baiklah... Selamat menikmati malam ini ustadzah ! Semoga nanti malam ustadzah bisa memimpikan persetubuhan kita lagi” kata Pak Karjo beranjak pergi setelah mengenakan celananya kembali. Lutfi pun menyusul kemudian. Kini tinggal lah Nada yang sudah bertelanjang bulat di halaman gedung kantor bagiannya.
Sambil menangis, Nada pun mengambil kemejanya yang jatuh berserakan di tanah. Lalu, ia kembali berjalan menuju teras kantor bagiannya untuk mengambil celana longgarnya. Ia berjalan tertatih-tatih. Bahkan kakinya agak mengangkang setelah dua kali berturut-turut digagahi oleh dua lelaki bejat yang berbeda.
“Tega sekali... Kenapa orang itu sampai tega melakukan hal itu padaku ?” kata Nada sambil menangis.
Ia pun mengenakan kemejanya kembali beserta celana panjangnya tanpa sempat mengenakan dalaman terlebih dahulu. Ia pun mengusap noda sperma di wajahnya menggunakan tangannya kemudian mengelap tangannya ke kemeja yang ia kenakan. Hatinya tengah terluka. Ia hanya ingin sendiri untuk menangisi nasib buruknya di malam ini.
“Pakkk Heriiii !!! Bapakk dimana ?” sebut Nada saat menangisi nasibnya.
Kemejanya dibiarkan begitu saja tanpa ia kancing terlebih dahulu. Tubuhnya begitu lemah. Ia pun menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya. Detik demi detik yang berlalu, hanya ia isi dengan merenungi asal muasal dari semua masalah ini.
“Pak Heri, Mas Rendy !!” Ia pun menyebut dua orang yang telah membuatnya jadi seperti ini. Ia begitu membenci mereka berdua terutama Rendy, suaminya sendiri.
Ia sangat sadar kalau pak Heri adalah akar masalah dari penyimpangan seksual yang dimiliki oleh suaminya. Namun setidaknya, pak Heri sudah menyadari kesalahannya dan ingin bertanggung jawab atas tindakannya. Lalu bagaimana dengan suaminya ? Alih-alih menyudahi penyimpangan seksualnya, suaminya malah berniat menambah jumlah orang yang akan menodai dirinya selain suaminya sendiri. Masalahnya, kedua orang itu adalah santrinya sendiri dan satu lagi merupakan kuli rendahan yang berusia tua lagi berbadan kekar.
Ia pun tak tahu lagi kepada siapa dirinya dapat meminta bantuan selain pak Heri. Kalaupun ia meminta bantuan pada seseorang yang dekat dengannya seperti ustadzah Haura ataupun ustadz V. Ia tak yakin kalau mereka berdua dapat membantunya. Sebaliknya, ia malah khawatir masalah ini akan melebar yang mana malah membuat aibnya tersebar ke seluruh penjuru pondok pesantren.
“Aku harus gimana lagi sih buat nyadarin mas Rendy ?” lirih Nada saat menangisi nasibnya.
Tak lama kemudian, ia mendengar suara motor berhenti. Nada buru-buru mengangkat wajahnya untuk melihat siapa disana. Wajah Nada pun tersenyum saat melihat seseorang yang ia kenal datang. Sebaliknya, orang itu iba setelah melihat keadaan tubuh Nada yang sangat berantakan.
“Pakkkkk !” kata Nada bergegas menghampiri pria paruh baya itu untuk memeluknya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kurir pengantar paket itu pun membalas pelukan Nada. Ia pun melihat keadaan wajah Nada. Ia melihat sedikit lelehan sperma yang ada di balik kemeja yang Nada kenakan.
“Ustadzahhh... Ustadzah gapapa ? Siapa yang melakukan ini ke ustadzah ? Apa jangan-jangan, dua orang itu ?” lirih pak Heri begitu kesal.
“Sudah pak... Biarkan... Aku gak mau lagi berurusan dengan mereka... Terima kasih bapak sudah mau datang untuk menemuiku disini” kata Nada yang semakin erat memeluk tubuh tambun itu.
Pak Heri hanya diam sambil membenamkan kepala Nada ke arah dadanya. Ia pun mengusapi punggung mulusnya untuk meredakan kekhawatiran yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.
“Maaf” kata pak Heri.
Nada pun tersenyum dalam tangisannya. Ia memang tidak menjawab apa-apa. Tapi kata itu sudah cukup untuk mengobati hatinya setelah dinodai oleh dua orang lelaki bejat yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.
Maafin saya ustadzah... Saya gak ngira kalau perbuatan saya dulu malah mengakibatkan ustadzah jadi seperti ini. ucapnya dalam hati sambil membelai punggung bidadari itu.
“Oh yah, nanti ustadzah mau tidur dimana malam ini ? Ustadzah mau tidur di rumah saya lagi ?” tanya pak Heri sambil menatap wajah Nada yang masih dibanjiri air mata. Nada hanya mengangguk lemah dihadapan pria paruh baya itu.
Pak Heri dengan penuh kasih pun mengancingkan satu demi satu kancing kemeja yang ada pada ustadzah Nada kecuali satu kancing yang berada di dekat leher Nada. Pak Heri bahkan membenarkan sedikit hijab yang menutupi kepala mungilnya. Sikap yang pak Heri tunjukan membuat Nada tersentuh.
“Ini jangan lupa dipakai... Malam hari dingin loh ustadzah” kata Pak Heri memberikan jaket kulitnya pada ustadzah cantik itu.
Pak Heri pun memegangi tangan Nada untuk membawanya menuju motor yang dimilikinya.
“Awas hati-hati, Pegangan yang erat yah” kata pak Heri pada ustadzah cantik itu.
“Iyah pak” kata Nada sesenggukan sambil membenamkan kepalanya pada punggung kurir pengantar paket itu.
Dalam perjalanan menuju rumahnya. Samar-samar pak Heri mampu mendengar suara tangis yang masih Nada keluarkan. Pak Heri pun jadi kepikiran atas perbuatannya selama ini. Ia jadi menyesal karena sudah membangkitkan sisi cuckold yang dimiliki oleh suami Nada. Ia begitu kesal, ia pun ingin menebus kesalahannya dengan memperbaiki semuanya.
Tak terasa, mereka berdua sudah tiba di halaman depan rumah pak Heri. Setelah memasukan motornya ke dalam rumah kontrakannya. Pak Heri pun menatap Nada yang berwajah sembap. Pak Heri tersenyum lemah sambil melihat keadaannya.
“Ustadzah mau mandi dulu ? Saya siapkan air hangatnya yah ?” kata Pak Heri yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Nada.
“Yaudah ustadzah tunggu disini sebentar yah... Kalau ustadzah mau, nanti baju ustadzah taruh di ember ini biar nanti malam saya cuci agar besok pagi saya bisa mengeringkannya dengan segera.
“Iya pak makasih yah” kata Nada dengan nada lemah.
Setelah air siap. Nada pun memasuki kamar mandi itu sambil menelanjangi tubuhnya. Tubuh itu masihlah sangat sempurna. Pak Heri saja sampai kedapatan mengintip dari sela-sela pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. Namun buru-buru pak Heri alihkan karena dirinya mempunyai tugas lain untuk menyiapkan tempat tinggal sebaik-baiknya pada tamu istimewanya.
“Oh iya... Saya kan punya cemilan kue” kata pak Heri terpikirkan sebuah ide.
Ia pun menuju dapur untuk membuatkan segelas susu hangat untuk ustadzah cantik itu. Tak lupa ia mengeluarkan kue sari gandum yang ia taruh diatas piring ceper. Ia pun menyiapkan kedua cemilan itu diatas meja makan untuk menghibur hati seorang wanita yang ia cinta.
“Semoga aja ustadzah suka” kata pak Heri penuh harap.
Tak lama kemudian Nada pun keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya saja. Rambut panjangnya yang agak basah ia gerai begitu saja. Belahan payudaranya pun nampak yang membuat dada pak Heri kembang kempis menatap keindahannya. Nampak paha mulus Nada juga terhidang di hadapan kurir pengantar paket itu.
“Ini ustadzah... Saya siapkan cemilan” kata pak Heri malu-malu saat terpana oleh keindahan ustadzah pemilik body goals itu.
“Hehe makasih yah pak” jawab Nada dengan lemah.
Saat Nada duduk di kursi yang berada di dekat meja makan pak Heri. Nada malah terlihat melamun. Jemarinya tak bergerak sedikitpun untuk menyentuh kue sari gandum itu. Bahkan segelas susu hangatnya dibiarkan begitu saja. Pak Heri yang sadar pun mendekat sambil pelan-pelan menyentuh bahu ustadzah cantik itu.
“Ayo dimakan... Kok malah didiemin” kata pak Heri tersenyum sambil duduk di sebelah kursi yang ditempati Nada.
“Hehehe iya pak” jawab Nada sekenanya sambil mengemil roti sari gandum itu. Pak Heri jadi iba karena nampaknya Nada masih mengalami trauma atas cobaan yang sedang dideritanya.
“Sllrrppp” Nada menyeruput susu hangat itu. Nada menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi itu sambil memejam memikirkan semua masalah yang menimpanya.
“Pakkkk” Ucap Nada yang membuat pak Heri terkejut.
“Kenapa sih, kok ada laki-laki seperti mereka ?” tanya Nada setelah membuka mata lalu wajahnya ia tolehkan untuk menatap kurir pengantar paket itu.
“Maksudnya ?” tanya pak Heri belum paham.
“Kenapa ada laki-laki yang rela melihat istrinya dinodai ? Kenapa ada laki-laki yang hanya mementingkan nafsunya saja tanpa memperdulikan perasaan wanita yang ia sakiti ?” kata Nada menyinggung ketiga lelaki yang telah membuatnya kecewa.
“Ohhh itu... Itu karena dia laki-laki ustadzah” ucap pak Heri seadanya karena ia sempat kebingungan tuk menjawabnya.
“Maksudnya ?” tanya Nada setelah menyeruput susu hangat itu lagi.
“Seperti yang ustadzah tau... Cobaan terberat bagi setiap laki-laki ya wanita... Termasuk saya, mata saya telah terfitnah oleh kecantikan & keindahan tubuh ustadzah hingga saya sempat melakukan segala cara agar dapat memuaskan nafsu saya... Mungkin sama dengan apa yang dirasakan ustadz Rendy dan kedua lelaki itu... Mungkin karena pak ustadz sudah merasa bosan dengan gaya main sex yang gitu-gitu aja... Pak ustadz jadi mencoba untuk melakukan hal yang baru dalam memuaskan hasrat seksual yang dimilikinya... Salah satunya ya dengan cara cuckold itu” kata pak Heri menjelaskan pemahaman yang ia pahami sebisanya.
“Ohh jadi karena bosen yah pak ?” tanya Nada menunduk sambil memegangi gelas berisi susu hangat itu.
“Ya kurang lebih seperti itu... Tapi gak tau juga, karena saya gak benar-benar tau apa yang sebenarnya terjadi pada pak ustadz... Tapi kalau saya jadi pak ustadz, pastinya saya gak akan bosen kok” ucap Pak Heri mencoba menghiburnya yang membuat Nada tersenyum lemah.
“Makasih yah pak” kata Nada menyeruput susu hangat itu hingga habis.
“Maaf yah” kata pak Heri sekali lagi karena dirinya benar-benar menyesal telah membuat wanita yang ia cinta terluka seperti ini.
“Iya gapapa pak... Aku mau tidur aja deh... Pikiran aku capek, aku mau istirahat” kata Nada sambil memegangi kepalanya.
“Oh iya ustadzah... Saya sudah siapkan kamar buat ustadzah” kata pak Heri sambil mengantarkan Nada menuju kamarnya.
Nada telah sampai di kamar kurir pengantar paket itu. Ia pun berjalan menuju depan almari untuk mencari pakaian yang akan ia gunakan di malam ini.
“Aku boleh pake baju yang mana pak ?” tanya Nada setelah membuka lemari pakaian itu.
“Terserah ustadzah aja” jawab pak Heri yang hanya menunggunya di pintu masuk kamarnya. Pak Heri pun terkejut saat Nada tiba-tiba menurunkan handuk yang melilit tubuhnya. Nampak penampakan indah tubuh Nada dari belakang terlihat. Bokongnya begitu sekel. Pinggangnya begitu ramping dan kulit tubuhnya begitu bening.
Pak Heri sampai geleng-geleng kepala melihat kesempurnaan tubuh yang dimiliki oleh Nada.
Nada pun memilih mengenakan kemeja berwarna putih tipis untuk ia kenakan di malam itu. Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ranjang tidur pak Heri. Saat Nada membaringkan tubuhnya menyamping menghadap pak Heri. Kurir pengantar paket itu dapat melihat keseksian tubuhnya dari balik kemeja yang tak ia kancing itu. Bahkan Nada tidak mengenakan celana dalam sama sekali sehingga paha mulusnya itu terlihat menutupi lubang sempitnya.
Gleeeggggg !!!
Pak Heri sampai menenggak ludah. Ia pun tak kuasa untuk melihat kesempurnaan tubuh Nada yang membuatnya tergoda.
“Anu... Saya pergi ke sofa ruang tamu aja yah... Saya tidur disana aja” kata pak Heri gugup melihat kesempurnaan tubuh itu.
“Paaakkk” panggil Nada yang membuat pak Heri kembali berbalik badan menatap ustadzah sexy itu.
“Tolong temani aku” kata Nada yang masih kepikiran mengenai persetubuhan tadi.
“Saya ? Ustadzah minta tidur ditemani saya ? Saya boleh tidur disamping ustadzah ?” tanya pak Heri beberapa kali karena tak menyangka. Nada pun hanya mengangguk lemah. Pak Heri pun langsung meluncur untuk tiduran di samping tubuh ustadzah sexy itu.
“Beneran saya gapapa nih ustadzah ?” tanya pak Heri sekali lagi tuk memastikan.
“Iya pak... Temani aku dulu... Aku masih takut” kata Nada yang tengah berbaring menyamping membelakangi pak Heri.
Pak Heri pun menyelimuti tubuh mereka berdua. Dengan agak ragu-ragu, tangannya menyelinap untuk memeluk tubuh indah itu. Ia juga memberanikan diri untuk membelai lembut payudara indahnya. Namun tidak ada reaksi sedikitpun dari Nada. Pak Heri pun mengintip, rupanya Nada sudah terlelap karena saking capeknya. Pak Heri malah jadi iba. Ia pun mempererat pelukannya pada tubuh Nada sambil memikirkan cara untuk menghibur hati Nada yang telah terluka.
“Besok hari Minggu yah ? Apa yah yang harus saya lakukan untuk membuat ustadzah Nada tersenyum kembali ?” lirihnya sambil memainkan payudara indah itu.
“Mmppphhhh” desah Nada dalam tidurnya. Pak Heri sampai terkejut karena khawatir Nada akan terbangun. Karena terlanjur bernafsu, ia pun segera menelanjangi dirinya kemudian kembali berbaring di belakang tubuh Nada sambil menggesek-gesek pelan penisnya di belahan pantat Nada yang begitu aduhai.
“Uhhhhh... Uhhhhhhh” desah pak Heri saat tangan kanannya meremasi payudara Nada sedangkan tangan kirinya mengelus penisnya.
Penis itu sudah menyentuh kulit mulus Nada. Batangnya pun ia kocok secara terus menerus hingga tak sadar dirinya nyaris mendapatkan klimaksnya.
“Uhhhhh... Uhhhh ustadzahhhh... Mmppphhhhh” desah pak Heri mencengkram kuat payudara kanan Nada saat lelehan spermanya dengan deras menodai bongkahan pantat ustadzah cantik itu.
“Mmppphhhh” kembali Nada mendesah dalam tidurnya. Pak Heri agak takut andai Nada bangun dan memarahi dirinya. Untungnya Nada masih terlelap karena saking capeknya. Pak Heri pun bersyukur. Ia semakin mempererat pelukan di tubuh setengah telanjang Nada sambil mengecupi tengkuk lehernya dari balik rambut panjang yang ia kesampingkan.
“Saya mencintaimu ustadzah... Bertahanlah, saya pasti bisa membebaskan ustadzah dari semua masalah yang pernah saya buat” kata pak Heri sebelum dirinya benar-benar tertidur setelah puas memejuhi bokong mulus ustadzah sexy itu.
Kurir pengantar paket dan ustadzah sexy itu pun terlelap dalam balutan satu selimut yang sama. Kedua wajah mereka benar-benar tersenyum seolah mereka sedang memimpikan sesuatu yang sama.
“Ustadzah” ucap pak Heri mengigau dalam tidurnya.
*-*-*-*
Pagi hari di sebuah perumahan yang biasa ditempati oleh pengajar senior. Terdapat salah satu ustadzah yang sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju kantornya. Ustadzah itu berpenampilan sangat rapih. Kemeja berwarna putih berukuran longgar yang ia kenakan. Rok panjang berwarna cream yang menutupi keindahan kaki jenjangnya. Hijab lebar yang juga berwarna cream yang menutupi rambut sebahunya. Dengan sedikit riasan yang menghiasi wajah cantiknya. Dengan lipstik kemerahmudaan yang mempesonakan bibir tipisnya. Ustadzah itu tampak cantik sempurna. Ustadzah itu sedang duduk di kursi teras rumahnya saat sedang mengenakan kaus kaki untuk menutupi auratnya dari pandangan laki-laki bermata keranjang.
Ketika kaus kaki panjang itu sudah ia kenakan hingga menutupi sebagian lututnya. Ustadzah cantik itu pun bangkit dari kursi duduknya untuk berangkat menuju kantornya. Namun, baru ia melangkah menuju ujung keramik teras rumahnya. Tiba-tiba ada salah satu santri yang berdiri di depan halaman rumahnya.
"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa santri itu dengan ramah.
"Wakaikumsalam... Antum, ada apa ?" Tanya ustadzah cantik itu seperti lupa-lupa ingat. Ia seperti pernah melihatnya tapi ia lupa nama dari santri berpenampilan good looking itu.
"Heheh ustadzah Haura, afwan... Ustadz Hendranya udah pulang ?" Tanya santri itu.
"Ohh ustadz Hendranya belum pulang akhy... Antum siapa yah ? Afwan, ustadzah lupa nama antum" Tanya Haura seperti pernah melihat wajahnya.
"Ana Iqbal ustadzah... Santri kelas 6B" Jawab Iqbal yang membuat Haura merasa malu.
Ohh Iqbal ? Santri yang terkenal itu ? Pantes aja wajahnya akrab. Batin Haura merasa malu.
"Ohhh iya hehe afwan ustadzah lupa... Antum mau duduk sebentar, ada yang mau antum obrolkan ? Nanti biar ustadzah sampein ke ustadz Hendranya" ucap Haura seramah mungkin.
"Heheh gak usah ustadzah... Takut ganggu waktu antum... Ana cuma mau nanya-nanya pelajaran aja kok... Besok kan udah mulai ujian" Jawab Iqbal sambil menatap wajah Haura. Seketika Haura jadi tersipu ketika ditatap dengan hangat oleh santri tampan itu.
Ibarat Salwa, Iqbal adalah Salwanya santri di pondok pesantren ini. Hampir setiap kelebihan dunia telah ia miliki. Iqbal merupakan santri tingkat akhir berwajah tampan dan mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Ia juga merupakan anak dari direktur perusahaan kaya. Banyak dari santri & ustadzah yang mengidolakan dirinya.
Selain tampan, penampilan Iqbal juga selalu sedap dipandang. Rambutnya selalu di cukur rapih. Kemeja yang dikenakan selalu bersih. Senyumnya juga indah yang membuat hati setiap wanita yang melihatnya sampai cenat-cenut dibuatnya.
Haura pun sempat terfitnah oleh keindahan senyum yang diberikan oleh Iqbal. Untungnya, ia sempat menyadarkan diri terlebih dahulu sebelum dipergoki oleh santrinya itu.
"Yaudah kalau gitu... Ustadzah do'akan, semoga ujian antum lancar yah" Jawab Haura tersenyum yang juga dibalas senyuman oleh santri tampan itu.
"Terima kasih ustadzah... Kalau gitu ana permisi dulu yah... Wassalamualaikum" Ucap Iqbal tersenyum ramah sambil menundukan wajahnya.
"Walaikumsalam" Jawab Haura tersenyum sambil menatapi kepergian Iqbal di pagi hari.
"Anak-anak pesantren emang ganteng-ganteng yah" Ucap Haura tersenyum sambil mengingat-ngingat wajah tampan santri itu.
"Astaghfirullah... Cobaan apa lagi ini... Gak boleh... Gak boleh" Ucap Haura berusaha melupakan wajah tampan Iqbal karena takut dirinya terfitnah oleh ketampanan wajahnya.
Haura pun mulai berjalan menuju kantor bagiannya. Selama perjalanan, ia jadi teringat kembali oleh kasih sayang yang telah diberikan suaminya kepadanya. Terlepas dari kekurangan yang suaminya punya. Ia masih merasakan ketulusan cinta yang dimiliki oleh suaminya padanya.
"Andai penis mas Hendra bisa sedikit lebih keras... Andai mas Hendra gak disibukan dengan pekerjaannya... Mungkin aku gak akan mengalami dilema seperti ini" Lirihnya sambil terbayang wajah tampan rekan kerjanya.
Ya, akhir-akhir ini. Setelah dirinya berbaikan kembali dengan V. Ia kembali merasakan sesuatu yang sama ketika dirinya pertama kali bertemu dengannya. Padahal dulu, ia sempat membencinya sampai-sampai ia berusaha mengabaikan setiap obrolan dengannya. Eh ternyata, ketika dirinya jauh dari V. Ia malah dihadapkan dengan Kuli kekar yang menikmati setiap kesempatan dengan memperkosanya sepuasnya.
Serba salah memang. Ketika ia jauh dari V, justru dirinya malah dipaksa untuk melayani nafsu buas dari kuli tua itu. Namun, ketika dirinya dekat dengan V. Dirinya malah merasa baper dan berpotensi untuk jatuh ke dalam pelukan ustadz tampan itu.
Tak sengaja Haura malah membandingkan kedua lelaki yang sama-sama pernah mencicipi tubuhnya. Keduanya jelas berbeda. Dari wajah juga sudah keliatan. Dari gaya permainan juga berbeda. V cenderung lemah lembut dalam menaklukan hatinya sedangkan Karjo cenderung kasar yang membuatnya merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dalam hatinya, Haura rindu akan setiap kata-kata yang V ucapkan sehingga membuat dirinya menuruti apa saja yang V inginkan. Tapi yang membuatnya tak habis pikir. Diam-diam dirinya juga merindukan setiap sodokan kasar yang kuli tua itu lakukan dalam mengobrak-ngabrik kemaluannya.
"Kenapa aku sampai merindukan gaya permainan kuli kekar itu ?... Aneh deh" Lirihnya yang juga kebingungan dengan pola pikirnya.
Maklum, sejak kecil Haura biasa dididik oleh orang tuanya agar dapat mengenal tata krama. Ia pun tumbuh menjadi akhwat berhati lembut yang tak pernah dimarahi oleh siapapun. Ketika dirinya pertama kali diperkosa oleh kuli tua itu. Ia masih teringat betul bagaimana gesekan kulit dari penis tua itu merangsang dinding vaginanya. Kecepatannya begitu dahsyat. Sodokannya pun terlampau kuat yang membuatnya sampai maju mundur merasakan kejantanannya. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dari laki-laki manapun di dunia ini, bahkan V sekalipun.
"Astaghfirullah" Haura pun berusaha untuk melupakan pola pikirnya itu. Berulang kali, dirinya mencoba untuk menasehati diri untuk menjauhi setiap hal yang membuatnya mengkhianati cinta suaminya. Tidak hanya dari kuli tua itu. Tapi juga dari ustadz tampan itu.
Ketika sedang asyik merenung memikirkan setiap masalah yang dimiliki olehnya. Tiba-tiba ada sesosok tangan berwarna hitam yang terlihat kekar sedang menyentuh bahu dari ustadzah cantik itu. Sontak Haura terkejut. Wajahnya berbalik. Ia begitu ketakutan ketika melihat wajahnya.
"Astaghfirullah bapak" Kata Haura sambil memegangi dada besarnya.
"Heheh maaf ustadzah... Habis dari tadi saya sapa ustadzah gak nengok-nengok" Ucap kuli tua berkulit hitam itu.
"Hufftt kirain siapa... Pak Dino ada urusan apa emang manggil aku ?" Tanya Haura pada kuli kekar itu.
"Hehehe enggak ada sih... Cuma pengen nyapa aja... Ustadzah sibuk yah ?" Tanya Pak Dino saat melihat kegelisahan di raut wajah ustadzah cantik itu.
"Iya pak aduhhh maaf banget... Kalau bapak gak ada urusan penting, aku permisi dulu yah ?" Kata Haura pamit pergi.
"Oh iya ustadzah... Maaf ganggu" Ucap kuli tua itu sambil menatap punggung Haura yang semakin jauh.
"Hah" Pak Dino hanya mendesah lemah ketika dirinya begitu kecewa karena tidak dapat mengobrol dengannya. Ia pun memaklumi kesibukan Haura sebagai seorang ustadzah. Tapi setidaknya dari ekspresi wajahnya. Haura terlihat tidak begitu gembira. Bahkan wajahnya seperti risih ketika melihat ekspresi wajah dirinya. Pak Dino kecewa. Ia pun terus menatap bongkahan pantat Haura yang bergoyang ketika melangkah pergi menjauhinya. Diam-diam ia pun mengusap penisnya sambil membayangkan penis miliknya bisa keluar masuk di dalam lubang kotorannya.
Andai saja bisa. Batinnya sambil menatap bokong sekel Haura.
*-*-*-*
Beberapa jam kemudian. Para pengajar yang menjabat sebagai panitia pelaksanaan ujian tampak sibuk dalam mempersiapkan setiap gedung yang rencananya akan dijadikan tempat ujian kenaikan kelas para santri. Para ustadz ataupun ustadzah terlihat mondar-mandir sambil membawakan beberapa lembar kertas berisi denah tempat duduk para santri.
Diantaranya adalah ustadzah Syifa. Seorang ustadzah yang bertempat di bagian pengajaran. Sebagai ustadzah yang mendapatkan amanat di bagian pengajaran, ia terlihat sangat sibuk dengan mengecek satu persatu ruangan kelas. Matanya sangat fokus seolah ia tidak mau ada satupun ruangan kelas yang belum siap saat meladeni ujian para santri yang akan dimulai besok.
Setiap matanya menatapi meja kelas. Setiap matanya memperhatikan bangku kelas. Setiap matanya mengecek papan tulis kelas. Ia tidak mau ada satupun barang-barang kelas yang rusak yang nantinya malah akan menganggu kesiapan para santri yang akan mengalami ujian besok.
“Huft untungnya di gedung ini bagus-bagus semua kelasnya” kata Syifa setelah memperhatikan ruangan lantai 2 di gedung kelas ini.
Ia pun melihat ke arah jam tangannya. Rupanya sebentar lagi pukul sepuluh tepat. Wajahnya ia tolehkan ke arah langit lepas yang berada di sisi kanannya. Cuaca terik yang menghangatkan pondok pesantren membuat ustadzah cantik itu merasa kegerahan. Ia pun berencana untuk kembali ke kantor bagiannya untuk beristirahat sambil mengecek dokumen-dokumen ‘soal ujian’ para santri yang sudah dikirimkan kepadanya.
“Repot juga yah jadi wakil ketua panitia ujian” kata Syifa dalam perjalanan pulangnya.
Tidak hanya bertanggung jawab dalam mengecek kesiapan tempat ujian. Ia juga harus bertanggung jawab dalam mengecek kesiapan soal yang sudah dibuat oleh para pengajar masing-masing.
“Semoga ujian di tahun ini berjalan lancar... Amminn” lirihnya penuh harap.
“Aammmiinn” jawab seseorang di sebelah Syifa yang membuat ustadzah berwajah bening itu terkejut.
“Ehhh, antum ?” tanya Syifa malu-malu saat bertemu dengannya.
“Hehehe antum apa kabar ustadzah ? Makin cantik aja” pujinya saat memperhatikan penampilan ustadzah Syifa dengan gamis longgarnya.
“Antum ihhh... Ngomongnya gitu... Entar kedengeran ustadz lain tau” kata Syifa tersipu mendengar pujiannya.
“Hahaha biarin... Habis antum menggoda banget sih... Semenjak hari itu, kok kayaknya antum makin sexy aja nih” godanya sambil memperhatikan lekuk tubuh indah Syifa yang sudah pernah ia gagahi.
“Ustadzzzz... Jangan keras-keras ah ngomongnya” kata Syifa sambil menatap wajah tampan dari anak pak kiyai itu.
“Hahahaha antum apa kabar ?” tanya Angga sambil berjalan di sebelah Syifa.
“Ana baik kok ustadz... Ustadz sendiri gimana ?” tanya Syifa malu-malu.
“Kalau antum baik, pasti ana juga baik” jawab Angga tersenyum sambil menatap wajah indah Syifa.
“Ihhh apa hubungannya kabar ana sama kabar antum” kata Syifa menunduk sambil memeluk dokumen-dokumen yang ia bawa di dalam map.
“Ada dong... Semenjak kemaluan kita bersilaturahmi... Otomatis kita punya ikatan yang terhubung antara diriku dengan dirimu” kata Angga yang membuat Syifa merasa sangat malu sekali.
“Antum ada apa sih ? Jadi mesum gini... Entar dimarahin ustadzah Hanna loh ?” kata Syifa malu-malu sambil mengobrol pada ustadz tampan itu.
“Hahahaha gini... Ana kan kebagian jadi konsumtor yah di panitia ujian kali ini... Tapi ana masih bingung untuk jajanan apa yang nanti akan diberikan bagi setiap pengajar yang mengawas di setiap kelas... Mumpung antum wakil panitia disini... Ana mau ngajak antum keluar buat nyari tempat yang bisa menyiapkan jajanan untuk setiap pengawas ujian yang nantinya akan bertugas... Antum mau ? antum gak sibuk kan ?” ajak Angga yang membuat Syifa tersenyum malu.
“Ehhh ana nih ustadz ? Kapan ? Berapa orang nantinya yang pergi ?” tanya Syifa malu-malu.
“Siang ini... Cuma berdua aja... Ana sama antum” ucap Angga yang membuat Syifa malu-malu mau.
“Ihhh ustadz... Nanti ketauan ah... Bahaya” ucap Syifa yang khawatir tindakannya akan ketahuan oleh pengajar lain.
“Tenang... Nanti ana pinjem mobil abi kok... Jadi gak ada yang lihat” kata Angga yang membuat Syifa tersenyum manis di hadapan Angga.
“Hmmm kalau gitu, boleh deh ustadz” jawab Syifa sambil menatap laki-laki tampan itu. Entah kenapa hati Syifa berdebar saat diajak jalan-jalan oleh anak pak kiyai itu. Syifa pun heran, apa jangan-jangan Angga adalah lelaki yang ditakdirkan untuknya. Kalau ya, bagaimana nasib ustadzah Hanna yang merupakan calon pengantinnya ? Entahlah, itu bukan urusannya. Karena sebetulnya, untuk pertama kalinya, Syifa merasa nyaman saat mengobrol berdua dengan seorang laki-laki.
Ketika mereka nyaris keluar dari gedung kelas ini. Terdapat seorang pria tua yang tengah menyapu lantai memperhatikan pergerakan mereka berdua. Namun wajah pria tua berkumis tebal itu hanya memperhatikan wajah cantik dari ustadzah itu. Pria tua itu sampai geleng-geleng kepala. Ia pun memperhatikan tonjolan bokongnya yang melambai-lambai ketika berjalan menjauhi dirinya.
“Huehuehue... Pak Prapto mana yah ? Akhir-akhir ini kok jarang keliatan, Kangen pengen main threesome sama ustadzah itu lagi” kata pak Udin bernafsu.
*-*-*-*
Pada saat yang sama di gedung kelas yang berbeda.
“Fiyuh... Sampai juga di tempat perjuangan” kata ustadzah cantik itu sambil mengelap dahinya yang berkeringat.
Memang, wajar ustadzah cantik itu sampai menyebut gedung kelas ini sebagai tempat perjuangan. Selain karena tempatnya yang jauh karena letaknya berada di ujung pesantren ini. Gedung kelas ini merupakan salah satu gedung tertua yang berada di pondok pesantren ini. Sudah lama gedung ini menjadi saksi bisu setiap santri yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren ini.
Kendati tempatnya berada di ujung dan merupakan salah satu yang tertua. Nyatanya gedung kelas ini menjadi tempat favorit bagi para santri untuk belajar bebas disaat kelas sudah diliburkan demi menyiapkan pelaksanaan ujian. Nampak di halaman gedung kelas itu terdapat para santri yang berlalu lalang. Mereka semua berjalan sambil membaca buku pelajaran yang mereka pegang.
Sebelum ustadzah cantik itu bekerja, ia sempat menatap mereka semua agar dirinya makin bersemangat untuk menyiapkan ruangan ujian bagi semua santri-santrinya.
“Ruangan 101 ada dimana yah ?” katanya yang sempat bingung ketika wajahnya menoleh ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu.
Ustadzah tercantik se-pondok pesantren itu pun berjalan dengan pesona cerah yang dimiliki olehnya. Nampak setiap santri yang berada di dekat teras gedung kelas itu mencuri-curi pandang agar dapat melihat keindahan wajahnya. Untungnya ustadzah itu cuek saja, sehingga santri-santri itu semakin menikmati keindahan yang ada pada wajah cantiknya.
Kemeja berwarna putihnya memang tampak kebesaran. Dibalik kemeja longgar itu. Tersembunyi keindahan luar biasa yang membuat setiap laki-laki mupeng ingin menikmati keindahannya. Ia sengaja mengenakan kemeja kebesaran demi menyembunyikan ukuran buah dadanya yang berbentuk bulat sempurna. Ia juga mengenakan rok panjang berwarna cream yang menyembunyikan kekenyalan bongkahan pantatnya yang membuat setiap laki-laki merasa gemas ingin mencengkram dan menampar bokong itu sepuas-puasnya. Hijab lebar berwarna cream yang ia kenakan semakin memperindah wajahnya yang begitu jelita. Ia memang terlihat sempurna kendati dirinya sudah ada yang punya.
Haura adalah nama panggilannya. Ustadzah cantik yang juga memiliki akhlak yang baik itu sudah sampai di ruangan 101 yang berada di ujung gedung kelas itu. Sebelum ia memasuki ruangan kelas itu. Ia terlebih dahulu menempelkan denah tempat duduk di dekat pintu masuk. Setelah denah itu melekat sempurna disana. Ia langsung memasuki ruangan itu dan menuju meja terdekat untuk menempelkan lembaran kertas kecil berisi nama dari seorang santri yang nantinya akan duduk di meja ini disaat ujian berlangsung.
Satu demi satu Haura telah menempelkan lembaran kertas kecil itu dengan teliti. Ia begitu telaten dalam bekerja. Karena ia tidak mau setengah-setengah dalam melakukan setiap pekerjaannya. Apalagi, masih ada sembilan ruangan kelas lain di lantai satu gedung kelas ini.
“Hufttt masih banyak yah ternyata ?” kata Haura saat menatap lembaran kertas yang ia bawa.
Saat dirinya hendak keluar menuju ruangan 102 untuk melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang menghalangi pintu masuk itu.
“Ehh antum ?” kata Haura terkejut.
“Mau pake ana antum nih sekarang ?” jawabnya tersenyum yang membuat Haura juga tersenyum.
“Terserah aja deh maunya gimana” kata Haura sambil berjalan keluar setelah orang itu membukakan pintu keluar untuk ustadzah cantik itu.
“Ana antum aja deh... Biar lebih sopan dikit... Kan banyak santri juga disekitar sini” jawab ustadz itu sambil menatap kepergian Haura menuju kelas sebelah.
“Oke... Ana setuju aja” jawab Haura melirik sebentar sebelum menempelkan lembaran kertas besar berisi denah tempat duduk santri di ruangan pintu kelas sebelah.
“Masih banyak tugas antum ustadzah ?” tanya ustadz tampan itu sambil mendekati Haura yang tampak kesulitan menempelkan lembaran kertas itu.
“Ini juga baru mulai kok ustadz... Makasih yah” jawab Haura saat rekan kerjanya itu memegangi kertas yang ingin Haura tempelkan. Haura pun mencelupkan jemarinya ke lem kertas itu sebelum mengoleskannya pada lembaran kertas yang sedang ustadz tampan itu pegang.
“Kalau gini mah ribet ustadzah... Harusnya sebelum ditempelkan tuh dikasih lem dulu” kata V mengajarkan cara yang baik dan benar.
“Eh iya... Kok ana gak kepikiran yah” jawab Haura malu yang membuat V tersenyum.
“Dasar” kata V menjitak kepala Haura dengan lembut.
“Aduh sakitttt” kata Haura manja yang membuat V tersenyum senang meliat ekspresi wajahnya.
“Emang antum darimana ? Tugas antum udah selesai ?” tanya Haura pada V.
“Iya udah semua... Ana tadi nempelin kertas juga di lantai dua... Pas mau balik eh ngeliat ada bidadari disini... Mampir deh jadinya” kata V yang membuat Haura tersipu.
“Kebiasaan... Baru ketemu tapi udah mulai modusnya” jawab Haura yang membuat V tertawa.
“Hahaha habis... Siapa yang bisa nahan buat gak godain antum ustadzah ?” jawab V sambil membantu Haura menempelkan lembaran kertas kecil itu ke sudut meja kelas.
“Banyaakkk... Setiap ana ketemu santri... Gak ada tuh yang modus kaya antum” kata Haura tersenyum sambil tetap fokus menempelkan lembaran kertas kecil itu.
“Mereka sebenarnya ingin modus juga ustadzah... Tapi takut gak sopan... Coba mereka lebih tua, mungkin ustadzah udah dimodusin berkali-kali oleh semua santri yang antum temui” kata V yang membuat Haura tertawa.
“Hihihihi ya gak semua lah... Bisa-bisa ana capek juga denger mereka modusin ana terus” kata Haura sambil membayangkan andai itu terjadi.
“Hahaha iya juga” kata V tertawa.
Mereka berdua terus bekerja menempelkan semua lembaran kertas itu di setiap ruangan kelas yang ada di lantai satu gedung ini. setiap mereka selesai, mereka langsung berpindah ke gedung sebelah. Waktu pun berjalan cepat ketika mereka berdua bekerja bersama sambil mengobrolkan sesuatu. Tampak berulang kali Haura tertawa. Tampak berulang kali Haura tersenyum malu. V juga demikian. Wajahnya tampak senang ketika melihat wanita yang ia cinta bahagia setelah mendengar lawakannya.
Tak terasa, mereka sudah sampai di ruangan 107. Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas siang. Terik semakin terang membuat beberapa santri mulai meninggalkan halaman gedung kelas untuk kembali ke dekat asrama. Menurut aturan yang sudah dipahami oleh semua penghuni pondok pesantren. Setiap santri baru boleh kembali ke asramanya saat jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Para pengurus asrama yang terdiri dari kelas lima juga sudah berjaga di teras asrama demi mencegah santri-santri yang ingin pulang ke asrama terlebih dahulu. Aturan ini diberlakukan untuk mencegah adanya santri yang tertidur di kamar asrama ketika jam belajar bebas diberlakukan menjelang datangnya ujian kenaikan kelas.
“Hah capek... Udah jam berapa sekarang ustadz ?” Tanya Haura sambil mengelap dahinya yang berkeringat.
“Udah jam setengah sebelas aja nih... Gak kerasa yah” jawab V.
“Ehhh jam setengah sebelas ? Cepet amat yah” kata Haura yang merasa dirinya baru menikmati obrolan sebentar bersama ustadz V.
“Hahaha gak kebayang kalau antum ngerjain semua ini sendiri... Pasti antum baru sampe di ruangan 104” kata V yang membuat Haura tersenyum manis.
“Iya deh iya... Makasih udah bantuan ana” jawab Haura sambil duduk di salah satu bangku yang ada di ruangan kelas itu.
“Loh, mau istirahat dulu nih ?” tanya V yang melihat Haura sudah kelelahan.
“Hehehe iya ustadz... Ana udah capek” jawab Haura sambil mengipasi dirinya menggunakan lembaran kertas yang tersisa.
“Duh... Duh... Ada tuan putri kegerahan” kata V membantu dengan mengipasi Haura yang membuatnya merasa malu.
“Hihihihi antum gak usah ikutan ustadz... Ana gak enak jadinya” kata Haura tersenyum senang.
“Udah biarin... Sebagai seorang pangeran, ana harus memperlakukan tuan putri ana dengan baik dong” ucap V yang membuat Haura tertawa.
“Hihihih pangeran dari Hongkong ?” tawa Haura yang membuat V terpana.
“Kalau antum tuan putri dari Hongkong ya ana berarti pangeran dari Hongkong juga” kata V sambil terus mengipasi ustadzah cantik itu.
“Hihihihi ada-ada aja deh antum” kata Haura yang akhirnya membiarkan ustadz tampan itu mengipasi dirinya.
Hijab Haura yang berkibar saat dikipasi olehnya membuat V hanya bisa tersenyum sambil menatap wajahnya. Untungnya Haura sedang tidak menyadarinya. V pun terdiam saat hanyut oleh keindahan wajah dari bidadari cantik itu. Tiba-tiba Haura menolehkan wajahnya dan menyadari V dari tadi terus menatapnya.
“Eh ustadz sejak kapan antum ngelirik ana terus ?” kata Haura jadi malu menyadarinya,
“Eh maaf... Habis antum cantik banget sih... Ana kan jadi gak sadar ngelirik antum terus” kata V beralasan.
“Alesan... Antum emang sengaja kan melakukannya ?” kata Haura sambil melirik ke samping karena tak sanggup menatap wajah V yang terus menatap wajahnya.
“Hahahaha tuh tau” kata V sambil memegangi dagu Haura untuk menolehkan wajah cantiknya agar tetap di tatap olehnya. Saat wajah mereka berhadapan. Jantung Haura jadi berdebar kencang saat ada ustadz setampan dirinya yang terus menatap wajahnya. Apalagi wajahnya mulai tersenyum yang membuat Haura buru-buru menundukan wajahnya karena tak kuat ditatap seperti itu olehnya.
V pun berhenti mengipasi dirinya. Ia kemudian berpindah dengan duduk di sebelah ustadzah cantik itu. Haura terlihat gelisah. Tubuhnya begitu gugup. Diam-diam Haura tersenyum saat menatap ke bawah merasakan kehadiran V yang semakin dekat ke arah dirinya.
“Udah berapa lama kita gak berduaan seperti ini ustadzah ?” tanya V yang membuat Haura menoleh.
“Entah lah ustadz... Udah lama banget kayaknya” kata Haura malu-malu sambil melirik wajah tampan itu.
“Inget gak dulu waktu di taman bunga pas pertama kali kita berduaan ?” kata V mengajak nostalgia.
“Ohhh iya, pas malem-malem kan ? Pas ana baru selesai muwajjah bareng santriwati-santriwati ana ?” jawab Haura teringat hingga menciptakan momen itu lagi di benaknya.
“Waktu itu... Entah kenapa, ana langsung terpesona oleh kecantikan antum... Wajah antum keliatan cerah banget... Mungkin karena terkena pantulan sinar rembulan kali yah” jawab V semakin menggeser tubuhnya hinga mendekati tubuh Haura yang ada di sebelahnya.
“Hihihhi ada-ada aja deh antum... Mana ada lah” kata Haura merendah.
“Ana juga masih inget pas pertama kalinya ngerasain kecupan bibir antum... Bibir antum manis banget... Pas rasanya buat di kecup” kata V yang membuat Haura merasa malu.
“Dan ana juga masih inget pas pertama kalinya ditampar dengan sangat keras oleh antum” lanjut V yang membuat Haura tertawa.
“Hihihih maaf ustadz... Habis ana shock banget tiba-tiba antum ngecup bibir ana... Orang baru kenal masa udah berani cium-cium” kata Haura kembali menunduk karena teringat saat dirinya dicumbu oleh ustadz tampan itu.
“Hahahah kalau sekarang... udah gak shock lagi kan ?” kata V sambil memegangi dagu Haura untuk memposisikan wajahnya agar ditatap olehnya.
Haura terdiam ketika ditatap seperti itu oleh ustadz tampan itu. Mata V begitu tajam saat menatap dirinya. V seolah terlihat bersungguh-sungguh untuk membuktikan perasaan cintanya kepadanya. Jantung Haura jadi berdegup kencang. Ia pun merasa gugup ketika ditatap seperti itu oleh ustadz tampan itu.
“Anu... Ituuuu” jawab Haura terbata-bata ketika diberikan pertanyaan yang mengejutkan seperti itu.
V tersenyum. Ia pun melepaskan pegangannya pada dagu Haura. Kemudian dirinya berdiri untuk berpindah ke hadapan Haura yang masih duduk termenung di hadapannya. V memegangi kedua tangan Haura. Tubuhnya yang jangkung ia turunkan untuk mengecup punggung tangan itu.
Haura pun tersentuh oleh sikapnya. Ia jadi termenung membiarkan V melakukan aksinya dalam menggoda hatinya.
“Tau gak ustadzah ? Ana jadi rindu saat pertama kali kita melakukan perbuatan itu di dalam kantor bagian kita” kata V yang membuat jantung Haura berdebar kencang.
“Perbuatan... Itu ?” kata Haura dengan lirih.
“Iya... Ketika kita untuk pertama kalinya bersetubuh untuk menyatukan kemaluan kita di dalam rahim kehangatan antum” kata V yang membuat Haura sangat malu sekali untuk mendengarnya. Haura pun hanya terdiam ketika wajahnya berubah menjadi warna merah.
“Mumpung waktunya lagi pas... Ana pengen banget ngerasain jepitan memek antum lagi ustadzah... Boleh gak, Ana melakukannya lagi” kata V sambil mendekatkan kedua tangan Haura ke arah tonjolan celananya. Mata Haura terbuka lebar saat merasakan tonjolan yang begitu keras di balik celana kain yang V kenakan.
V pun tersenyum kemudian menurunkan resleting celananya hingga batang penisnya yang berukuran raksasa keluar dari dalam sarangnya. V pun melepas pegangan tangannya dari tangan Haura saat kedua tangan ustadzah cantik itu sudah bertenggar pada batang penisnya.
“Bee... Besaar banget ukuran antum !” kata Haura terpana merasakan kejantanan penis V.
“Hahaha antum tau kan ? Ini untuk antum... Buat memuaskan antum... Mau gak antum dipuaskan oleh batang kontol ana ?” kata V yang membuat Haura menenggak ludah saat mendengarnya.
“Gimana ?... Ayo sini pindah ustadzah” kata V mengajak Haura berdiri kemudian menariknya agar bisa berdiri di hadapannya agar dirinya bisa lebih mudah untuk menggoda ustadzah tercantik itu.
“V apa yangggg ?” kata Haura terkejut saat V melepaskan satu demi satu kancing kemejanya di hadapan Haura. Kulit dada V yang begitu bening mempesonakan mata Haura yang melihatnya. Haura pun buru-buru menundukan pandangannnya karena malu. Tapi yang ada dirinya malah menatap ukuran batang penis V yang membesar setelah menerima belaian lembut jemari lentiknya.
“Ustadzah liat sini” Ucap V sambil mengangkat wajah cantik Haura. Tepat saat itu, kemeja yang V kenakan jatuh ke lantai. Haura pun dapat menatap keadaan tubuh V yang sedang topless dihadapannya. Jantung Haura semakin berdebar saat pandangan mereka bertemu.
“Ana mencintai antum, Haura” ucap V sambil tersenyum yang membuat jantung Haura rasanya seperti ingin meledak. Tak lama kemudian, wajah V mendekat. Haura hanya terdiam sambil memejamkan matanya saat bibirnya dikecup oleh bibir V dengan lembut.
“Mmppphhhh” desah mereka berdua mendengus nikmat.
Tangan V mendekat untuk memeluk tubuh ramping Haura. Matanya ikut memejam untuk menikmati percumbuan yang sedang ia lakukan bersama wanita pujaannya. Tangan Haura otomatis semakin membetot penis V yang membuat ustadz tampan itu semakin menghujami bibir Haura.
“Mmmppphhh... Antum tau gak, dari kemarin ana merindukan momen-momen seperti ini loh... Momen ketika bibir kita bertemu dan mata kita saling menyapa” Ucap V melepaskan cumbuannya sejenak sebelum dirinya kembali mencumbu bibir manis itu. Saat V mengucapkan kalimat tadi, ia menatap mata Haura dengan serius yang membuat ustadzah cantik itu terpaku di dalam pelukannya.
“Mmppphhhh”
V pun semakin mempererat pelukannya hingga tubuh Haura menempel pada tubuh telanjangnya. Dengan lembut, V juga mengusap-ngusap punggung Haura hingga ustadzah cantik itu pun semakin terbenam dalam percumbuannya yang semakin panas.
Nafsu yang semakin tinggi membuat V terus menekan bibir Haura hingga tak sengaja bidadari cantik itu membuka mulutnya. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh V dengan memasukan lidahnya ke mulut wanita cantik itu.
“Mmppphhhh V !!!” desah Haura kesulitan saat lidah V bergerak semakin liar di dalam mulutnya. Nafsunya perlahan semakin bangkit ketika dicumbui oleh lelaki setampan V. Entah, kapan terakhir kali dirinya bisa bercumbu dengan seorang lelaki tampan sepertinya. Akhir-akhir ini, dirinya hanya menjadi pelampiasan nafsu buas seorang lelaki tua yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang kuli bangunan. Entah berapa kali bibir indahnya ternoda oleh kuli bejat itu. Kali ini, ia tampak menikmati percumbuannya. Tanpa sadar, ia terbawa arus yang membuatnya terjerumus ke jurang kemaksiatan yang begitu dalam.
“Mmmppphhh V” desah Haura memejam hingga tanpa sadar tangannya bergerak menggerayangi penis raksasa itu.
“Uhhmmmmm... Mmmpphhh ustadzahhh” desah V keenakan saat penisnya dikocok oleh tangan lembut Haura. Alhasil V membalas perbuatan Haura dengan mengusap punggung mulus itu kemudian turun untuk meremasi bongkahan pantat Haura yang masih tertutupi rok panjangnya.
“Mmpphhhh V !!!” desah Haura tanpa sadar saat menerima remasan darinya.
Mereka masih berdiri saling berhadapan di dekat pintu masuk ruangan kelas dimana masih banyak santri yang berkeliaran di halaman gedung kelas.
Tiba-tiba, V melepaskan cumbuannya sejenak hingga liur yang menempel diantara bibir mereka keluar seolah tak ingin lepas. V tersenyum yang membuat Haura sekali lagi terpana oleh ketampanan ustadz itu. Tanpa diduga, V melepaskan satu demi kancing kemeja yang sedang Haura kenakan membuat ustadzah cantik itu malu-malu menahan pergerakan tangan V.
“V jangan... Ana malu... Ini masih pagi V banyak santri juga di luar” kata V sambil menunduk.
“Ssttt tenang Haura... Semua aman... Ana udah gak tahan pengen ngeliat keindahan tubuh antum” ucap V sambil membuka tangan Haura hingga kemejanya tidak ada yang menahan lagi.
V pun melanjutkan usahanya untuk membuka keseluruhan kancing kemeja ustadzah cantik itu. Haura dengan malu-malu hanya menundukan wajah sambil sesekali menatap wajah tampan di hadapannya.
“Nah ini dia... Tubuh yang ana rindukan” ucap V tersenyum sambil melirik wajah Haura. Haura hanya tersipu di hadapan rekan kerjanya. Lagi-lagi sambil malu-malu Haura berusaha merapatkan kemejanya lagi.
“Kenapa ditutup lagi... Udah biarin, antum cantik kok kalau kaya gini” puji V sekali lagi yang membuat Haura terdiam membiarkan tangannya melebarkan tangan Haura.
Tiba-tiba tangan V kembali mendekat membuat Haura memejam mengira dirinya akan kembali dipeluk olehnya. Rupanya kedua tangan nakal itu hanya mengincar bokongnya. Haura pun sedikit mendesah ketika bongkahan pantatnya dimainkan oleh ustadz tampan itu. Seketika pergerakan tangan V naik ke atas menuju resleting roknya.
“Ehh V !” kata Haura terkejut saat V berusaha menurunkan roknya.
“Kenapa ?” tanya V tersenyum sambil mendekatkan bibirnya kembali.
“Mmmmpphhhh... Jangannnn V... Ini di kelas... Banyak orang yang liat nanti” kata Haura dag dig dug merasakan niatan V yang ingin menelanjanginya disini.
“Ssssttt tenang aja Haura... Ana akan jaga semuanya... Kalaupun ada yang liat, ana jamin akan membuat orang itu tidak bisa mengatakannya” kata V disela-sela cumbuannya.
Rok itu pun melorot menyisakan celana dalam berwarna putih yang menutupi goa keindahan yang Haura punya. Haura pun merasa malu ketika berdiri di hadapan lelaki tampan tanpa mengenakan bawahan. Paha mulusnya terlihat. Pahanya begitu bening yang membuat V gemas ingin mengusapi kulit indahnya.
“Mmppphhh V... Geliiii... Tangan antum jangan gitu ah” kata Haura merinding merasakan belaian lembut V di pahanya.
“Hahaha... Kalau gitu ana naik aja yah” kata V sambil terus mencumbu bibir itu dikala tangannya naik ke arah pinggang mulusnya lalu naik lagi hingga bertengger di kedua payudaranya.
“Mmppphhhhh V.... Ouhmmmmm” desah Haura merasakan remasan yang begitu kuat di payudaranya.
“Mmpphhh yahhh... Mmpphhh sudah lama ana gak ngerasain susu antum, ustadzah... Susu antum makin gede yah.... Susu antum makin kenceng” desah V menikmati buah dada bulat yang Haura punya.
“Mmmppphhhh itu kan gara-gara antum yang seringgg... Mpphhhh, mainin” kata Haura malu-malu saat menerima cumbuannya sambil diremasi payudaranya.
V pun menarik lepas behanya hingga puting kemerahmudaan Haura tersaji di hadapannya. V pun melepas cumbuannya agar dapat melihat keindahan di dada bidadari itu. Haura tersipu melihat tatapan V yang penuh nafsu. Wajahnya pun memerah ketika matanya di lirik oleh ustadz tampan itu.
“Kenapa ?” tanya Haura malu-malu saat ditatap olehnya.
“Puting antum... Indah banget” kata V sambil menggesek-gesek pentil kemerahmudaan Haura sambil terkadang menekannya hingga membuat pemiliknya mendesah keenakan.
“Aahhhhh... Ahhhh V jangan dimainin gitu ah” kata Haura merapatkan bibirnya merasakan rangsangan V di payudaranya.
V tersenyum. Kedua insan itu sudah sama-sama dalam keadaan setengah telanjang. V sudah bertelanjang dada namun masih mengenakan celana panjangnya. Sedangkan Haura sudah bertelanjang paha namun masih mengenakan kemejanya walaupun seluruh kancingnya sudah terbuka. Haura masih memejam keenakan saat putingnya digesek-gesek oleh jemari tangan V. V pun tertawa melihat ekspresi keenakan yang terdapat pada wajah ustadzah cantik itu.
“Antum duduk yah ustadzah” kata V sambil mendorong tubuh Haura hingga membuat ustadzah cantik itu berjongkok di hadapan penisnya yang sudah berdiri tegak.
Haura pun tersipu saat melihat ukuran penis itu yang tengah mengangguk-ngangguk dihadapannya.
“Ayo dimasukin ke mulut, Haura... Ana tau, pasti antum pengen mengulum kontol ana kan ?” ucap V yang membuat birahi Haura terangsang saat mendengar kata-katanya.
“Enggakk... Siapa bilang ?” kata Haura menggelengkan kepala kendati matanya masih terpaku pada ukuran penis raksasa V.
“Hahaha itu mata antum udah menjelaskan semuanya... Gak usah malu-malu Haura... Ayo dibuka yah mulutnya” kata V sambil mendekatkan penisnya hingga ujung gundulnya menyodok-nyodok bibir rapat Haura yang masih malu-malu untuk mengakuinya.
Haura pun menenggak ludah saat digoda oleh ujung gundul penis itu. Tak lama kemudian, bibir Haura dapat merasakan cairan precum yang mulai keluar dari lubang kencing ustadz tampan itu. Rasanya agak asin-asin gimana gitu. Aromanya pun menguat yang mengundang hawa birahi Haura untuk menuruti ajakan darinya.
“Nah iya gitu Haura... Yang lebar lagi” kata V tersenyum saat melihat Haura tergoda hingga pelan-pelan mulai membuka mulutnya.
Benar seperti yang sudah aku ucapkan tadi... V selalu membuat diriku tergoda hingga tubuhku bergerak dengan sendirinya mengikuti perintahnya.... Aku seperti tersihir... Aku gak bisa menolak ajakannya yang sangat menggoda. Batin Haura saat bibirnya malu-malu mulai mencaplok ujung gundulnya.
“Uhhhhhh iyyahhh Hauraa.... Ahhh nikmatnya bibir antum” desah V merinding saat ujung gundulnya terkena gesekan bibir ustadzah cantik itu.
Haura yang semakin tergoda memberanikan diri dengan menjilati lubang kencing V yang sudah berada di dalam mulutnya. V semakin merinding hingga matanya memejam menatap langit-langit ruangan. Ia tak menduga Haura semakin ahli dalam merangsang penisnya. Ia memang senang, tapi kesenangannya pelan-pelan hilang saat terpikirkan kalau pria tua itu yang pasti telah mengajari Haura cara seperti ini.
Kurang ajar kuli tua itu ! Batin V. Ia pun mencoba mengabaikan pikirannya agar dirinya dapat fokus menikmati sepongan mulut Haura di bawah sana.
Dikala mulut Haura berada di ujung gundul penis V. Tangannya justru tengah mengocoki batang penisnya yang berukuran besar, bertekstur keras dan mempunyai urat yang menonjol mengitarinya. Ustadzah cantik itu pun semakin terkejut saat merasakan betapa kerasnya penis kekar yang dimiliki oleh rekan kerja tampannya.
“Hauraa.... Bentarrrr duluuu... Uhhhhhh” desah V saat merasakan lidah Haura tengah menjilati ujung gundul miliknya. Haura tampak menikmati. Ia memang tak lagi mengulum. Ia terlihat seperti sedang menjilati ice cream yang sedang ia genggam.
Haura kembali memasuki batang penis itu ke mulutnya yang membuat V merinding merasakannya. Lidahnya secara liar bergerak melilit penis besar raksasa di dalam mulutnya. Lidahnya semakin ganas tatkala nafsunya memuncak dalam mengulum penis kekar rekan kerjanya. Bagaikan Anaconda yang sedang bertarung dengan seekor Bison. Lidah Haura terus melilit korbannya untuk bisa menaklukannya. Akibatnya V sampai kejang-kejang merasakan nikmatnya serangan Haura yang semakin ganas di dalam mulutnya.
“Aahhhh... Ahhhhhh Hauraaaa” desah V sambil memegangi kepala mungil Haura.
Haura melepas kulumannya kemudian mengocoknya pelan sambil memperhatikan reaksi ustadz itu. Haura tersenyum melihat ekspresi wajah V yang tampak keenakan menerima kuluman bibirnya. Haura pun bingung kenapa dirinya bisa reflek sejago itu ? Apakah karena dirinya terbiasa mengulum batang penis kuli kekar itu ? Tiba-tiba dirinya malah terbayang penis kekar berwarna hitam yang biasa memasuki liang senggamanya. Penis V memang tidak hitam tapi penis itu sudah mampu memberikannya kenikmatan yang tak bisa diberikan oleh suaminya. Haura pun menggelengkan kepala berusaha tuk mengabaikan pikirannya agar bisa fokus menikmati batang penis yang sedang ia genggam.
Dikala mulut Haura terbuka. Lidahnya bergerak liar dalam menjilati lubang kencingnya. Tangan mulusnya mencengkram kuat batang penis itu. Kemudian lidahnya bergerak menyusuri sisi bawahnya kemudian menjilati ujung gundulnya. Setelah puas bermain dengan lidahnya. Haura kembali memasukan batang penis itu ke dalam mulutnya lalu memajukan kepalanya lalu memundurkannya, memajukannya lagi lalu memundurkannya lagi.
“Ouhhhh Haurraaa.... Ouhhh nikmatnyaaa... Ahhhhh Hauuraaa...”
Haura tersenyum mendengar desahan V yang begitu menikmati servis mulutnya. Haura dengan penuh nafsu mendorong maju mulutnya hingga tepi kerongkongannya nyaris tersedak oleh ujung gundul penis V yang menyodok-nyodok sampai mentok di ujung mulutnya. Penis besar V memang hanya bisa memasuki - nya saja. Tapi Haura sangat ingin menelan bulat-bulat keseluruhan penis itu. Dirinya juga tidak tahu kenapa dirinya bisa senafsu itu ? Apakah karena dirinya sangat merindukan penis V ?
Haura terus memaksakan diri dengan mendorong mulutnya tapi semua percuma. Kapasitas mulut Haura yang kecil tak sebanding untuk menelan keseluruhan penis besar V yang semakin mengeras, panjang dan juga lembab terkena liur hangat Haura.
“Aaahhhh Haauurra.... Sejak kapan antum jadi sejago ini ? Kok ana baru tahu” kata V memuji ketrampilan ustadzah tercantik itu.
“Mmpphhh... Mmpphhhh... Entahlah V... Penis antum bikin ana makin nafsu soalnya” kata Haura yang semakin bernafsu hingga dirinya terhanyut dalam kenikmati birahi ini.
“Aahhhh bukan penis Haura... Tapi kontollll !!!” kata V meminta Haura berhenti mengulumnya kemudian mengajaknya berdiri untuk saling berhadapan.
“Mmppphhhh... Konnttooll ?” ucap Haura saat berada di depan wajah tampan V. Wajah Haura memerah ketika baru saja mengucapkan kata kotor itu. Tatapan mata V saat menatap wajahnya juga membuat Haura semakin tersipu.
“Iyya sayanggg... Mmpphhh” desah V sambil mengecup bibir manis itu lagi yang membuat Haura segera memejam menikmati kenikmatan bercumbu dengannya.
“Dah, ayo balik badan Haura” kata V yang segera dituruti oleh Haura.
Haura segera menungging sambil bertumpu pada dinding ruangan kelas. Saat wajahnya melirik ke belakang. Ia melihat V tengah melepas celana calam yang sedang ia kenakan. Haura pun paham mengenai niat apa yang sedang V rencakan disana. Apalagi tak lama kemudian ia mulai merasakan ujung gundul itu menyentuh bibir vaginanya. Haura pun menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berdebar kencang karena sebentar lagi akan ada ustadz yang memasukan batang penisnya ke dalam liang senggamanya.
“Ouhhhh... Bersiap yah, ustadzah sayang” kata V mengambil ancang-ancang. Kedua tangannya sudah memegangi paha Haura yang besar, kencang & mempunyai kulit halus yang begitu mulus.
Haura tak pernah membayangkan sebelumnya dirinya akan disetubuhi di ruangan kelas oleh seorang rekan kerjanya. Ia pun jadi ragu tapi ia juga mau. Apalagi dirinya sekarang berada di ruangan publik. Masih banyak santri-santri yang berkeliaran di ruangan kelas. Walau jaraknya tidak terlalu dekat tapi rasa takut yang begitu memuncak membuat jantungnya berdebar kencang khawatir akan ada salah satu santri yang melihatnya bersetubuh.
V juga demikian, akhirnya setelah sekian lama dirinya akan kembali memasukan batang penisnya ke rahim kehangatan Haura. Pinggulnya ia mundurkan sejenak, matanya menatap ke bawah guna mengarahkan torpedonya agar bisa masuk tepat sasaran. Saat V menaikan pandangannya. Ia bertemu dengan mata indah Haura yang sedang meliriknya. V jadi tersenyum saat menatap wajah indah itu.
“Ana mulai yah, ustadzah” kata V yang hanya dijawab anggukan oleh ustadzah cantik itu. Torpedo miliknya pun mulai maju melesat jauh membelah liang kenikmatan yang dimiliki oleh ustadzah berhijab itu.
“Uuuuhhhhhh !” desah mereka berdua nyaris bersamaan.
Tangan V memperkuat cengkramannya dalam memegangi pinggul ramping Haura. Haura yang tak kuat menahannya pun melebarkan kakinya. Hasilnya penis V semakin dalam saat menembus liang senggamanya. V juga mendorong pinggulnya semakin keras sehingga Haura juga mendesah dengan begitu keras.
Wajahnya yang cantik itu merintih, payudaranya yang bulat semakin kencang dan membesar. Wajahnya yang terangsang semakin memesonakan mata V yang tengah menatapnya. Ia pun menghentakan pinggulnya dengan keras hingga sebagian besar penis itu masuk hingga mentok menyundul rahimnya yang bergetar pelan.
“Ouhhhhh V !!!!” desah Haura dengan puas kendati ia tidak mengeraskan suaranya.
“Ahhhh... Ahhhh.... Hauraa... Antum makin cantik aja pas mendesah tadi” puji V sambil menatap wajah Haura yang masih menengok ke belakang. Haura pun jadi tersipu hingga wajahnya memerah padam.
Karena malu, Haura menolehkan wajahnya ke depan. V mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan. Terasa batang penis itu menggesek tiap senti dinding vagina Haura yang sedang berkedut nikmat. Haura hanya merintih membelakangi V sambil menahan kenikmatan yang ia rasakan.
“Uhhhhhh V... Punya antum gede bangettt... Itu gak muat V... Lepasinnn duluuu” kata Haura sambil menggelengkan kepala tak kuasa menahan gesekan penis V.
“Aahhhh muat kok sayanggg... Antum tahan sebentar yahhh... Ana mauuu... Henkkghhh !!!” desah V yang malah semakin menancapkannya hingga ujung gundulnya menyundul rahim kehangatan Haura.
“Aaahhhhhhhhh V.... Pelannn pelann duluuuu !” Ucap Haura terkejut.
“Hahaha maaf Hauraa... Ana terlalu bernafsu... Habis bokong antum sexy banget sih” bisik V sambil meremas-remas bongkahan pantat Haura.
Ia menggerakan pinggulnya sedikit demi sedikit tapi tetap saja Haura hanya bisa merintih menahan penetrasi V. V tampak menikmatinya dengan sesekali menaikan tangannya untuk mengusapi pinggang ramping Haura dari dalam kemeja yang masih dikenakannya. Rangsangannya pun semakin naik untuk meremasi payudara bulat besar yang menggantung disana. Bentuknya sangat indah. Ukurannya pun sungguh kencang yang membuat kedua tangan V betah bermain-main disana.
“Aaahhhh... Ahhhhhhh V... Aaaahhhhh” desah Haura merinding menikmati remasan tangan V di payudaranya.
Lama-lama V semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Tubuh menungging Haura terdorong maju mundur dihadapan V. Tubuh mereka tengah bersatu hingga semakin bernafsu menikmati persetubuhan terlarang mereka di ruangan kelas ini. Tubuh mulus Haura terhempas seiring dorongan yang V berikan padanya. Haura merasa bahwa rahimnya sedang ditubruk-tubruk oleh penis besar V yang marah. Rasanya sakit tapi juga terasa nikmat belum dengan remasan di dada yang sedang ia terima sekarang.
Perlahan tapi pasti tubuh Haura benar-benar menerima sodokan yang V berikan. V pun melepas cengkramannya di dada untuk berpindah kembali memegangi pinggul rampingnya. V berfokus untuk menerima jepitan vagina Haura yang begitu sempit. Dikala V mempercepat gerakan pinggulnya, semakin indahlah goyangan payudara Haura saat bergantung didepannya.
“Ana percepat yah ustadzah” kata V yang hanya dijawab anggukan oleh Haura.
“Aaaahhhh... Ahhhh... Aaaahhhh” desah Haura menikmati sodokan V dengan menggelengkan wajahnya.
Tangan V mencengkram kuat pinggul ramping Haura. Kemudian tubuhnya bergerak maju mundur semakin cepat. Keindahan tubuh yang Haura punya membuat tangan V gemas tak ingin membiarkannya begitu saja. Tangan V yang gatal kembali mengusapi perut rata Haura sebelum akhirnya kembali meremas dua payudara yang semakin bergerak indah disana. V benar-benar puas membuatnya semakin mempercepat genjotannya pada tubuh ramping wanita pujaannya.
“Ouhhh ouhhhhhh yahhhhhh Mmpphh mmpphh”
V menggelengkan kepalanya, ia memejamkan matanya menikmati persetubuhan yang sedang dilakukannya. Penisnya yang keluar masuk begitu nikmat saat terjepit oleh liang vagina Haura yang semakin sempit. Rasa nikmat yang ia terima ditambah dengan suara lenguhan yang memenuhi ruangan membuat gairah nafsunya semakin menjadi. V merasa tak kuat lagi menerima jepitan Haura dibawah sana.
Sama halnya dengan V, Haura juga demikian ketika dinding vaginanya tak kuasa lagi dalam menahan birahinya akibat selalu digesek oleh penis raksasa V. Tubuhnya yang mengejang menjadi petanda bahwa bidadari jelita itu semakin bernafsu menerima sodokan penis raksasa dari V.
V tinggal mengenakan celana panjangnya saja terus menggenjot-genjot tubuh ramping Haura yang tak berdaya saat dara jelita itu tinggal mengenakan hijab beserta kemejanya saja yang sudah terbuka seluruhnya.
V terus saja mendesah, demikian halnya dengan Haura juga mendesah. Haura yang tak kuat lagi pun menoleh ke belakang untuk menatap wajah tampannya. Mereka sama-sama saling pandang dalam menikmati puncak dari persetubuhan terlarang. Pinggul V semakin bergerak cepat mengaduk-ngaduk isi vagina Haura. Nafas mereka semakin tertukar dengan derunya yang semakin berat. Dikala keringat mulai berkumpul keluar membasahi tubuh indah masing-masing, nafsu birahi mereka yang selama ini tertahan saling berkumpul di ujung kelamin masing-masing. Mereka seolah telah bersiap untuk menikmati inti dari persetubuhan ini.
Tiba-tiba . . . .
“Eh, antum nanti ujian duduk di kelas mana ?” kata seorang santri yang membuat kedua pengajar ini terkejut.
“Kayaknya di ruangan 107 deh” kata santri lainnya yang membuat jantung kedua pengajar ini berdebar.
Namun V tidak mau menghentikan genjotannya. Karena dirinya sudah terlanjur bernafsu yang membuatnya semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
“Mmpphhh... Mmpphhh V hentikan... Ada santri” kata Haura takut ketahuan.
“Biarin ustadzah... Ini udah nanggung... Hennkkgghhh !!” desah V yang malah mempercepat gerakan pinggulnya.
“Aahhhh... Ahhhhhh” desah Haura dengan lirih sambil menutupi mulutnya karena takut ketahuan.
Rasa was-was yang ia terima ketika dirinya nyaris ketahuan membuat dirinya semakin menikmati persetubuhannya ini. Rasanya hampir sama ketika disetubuhi kuli tua itu di jalanan luar di dekat area persawahan. Bedanya saat itu tidak ada orang sama sekali. Sedangkan sekarang banyak santri-santri yang berkumpul untuk melihat denah tempat duduk yang baru saja Haura pasang.
“Aahhh... Ahhhhh ana mau keluarrr ustadzahhhh !” desah V ketika berada di ujung kenikmatannya.
Tubuh V mengejang begitu pula tubuh Haura. V semakin menghentakan tubuh Haura sambil berusaha memandang kecantikan wajah Haura yang semakin ayu ketika sedang disetubuhinya. Perpaduan ekspresi Haura yang bernafsu dan takut ketahuan membuat V semakin terangsang saja. Wajah Haura begitu menggairahkan ditambah dengan kenikmatan yang ia terima melalui dinding vaginanya.
“Ehhh itu suara apaan yah ?” kata salah satu santri.
“Eh Iqbal coba sini deh... Denger suara aneh gak ?” kata salah satu santri itu memanggil Iqbal.
Iqbal ? Santri yang itu ?
Batin Haura saat teringat santri tampan yang ia temui di pagi hari.
“Ada apa emangnya ?” kata Iqbal penasaran.
“Mmpphhh... Mmmpphhh... Mmppphh” desah Haura menahan birahinya saat sodokan V semakin cepat di belakang sana.
“Ahhhh ahhhh ahhh ehmmmm udah siap Haura.. ???” kata V semakin bernafsu.
“Ttuunggu V... Ttungguuu... Mmmppphhhh” desah Haura tak siap menerima serangan V yang begitu kuat dalam menerjang liang senggamanya.
“Aahhh ahhhh ahhhhh... Uuaahhhhhh !!!!” V menghentakan pinggulnya kuat-kuat menerjang tubuh ramping Haura hingga tubuhnya terdorong maju hingga nyaris melekat pada dinding ruangan kelas itu. Namun disaat yang bersamaan.
Tenggg... Tengggg... Tenggggg !!!
Suara lonceng berbunyi menandakan seluruh santri sudah harus kembali ke asrama masing-masing karena pengurus asrama akan mengadakan absen tepat pada pukul 11. Untungnya suara desahan V yang begitu kuat itu teredam oleh suara lonceng yang terdengar keras.
“Loh udah lonceng aja nih... Ayo buruan balik” kata Iqbal yang merupakan santri teladan. Ia dengan bijak pun menyuruh teman-temannya kembali ke asrama masing-masing.
“Yah padahal belum liat tempat ujianku dimana” kata salah satu teman Iqbal.
“Udah nanti aja pas waktu makan siang kan bisa” kata Iqbal yang akhirnya dituruti oleh temannya.
Sementara itu tubuh V mengejang merasakan orgasme ternikmat yang pernah dirasakannya. Tubuhnya mengejang saat cairan spermanya dengan deras membasahi liang senggama Haura. Bidadari tercantik itu pun menyusul tak lama kemudian. Mata mereka berdua merem melek tak beraturan. Kaki-kaki mereka melemas hingga nyaris ambruk ke lantai ruangan kelas.
Haura hanya bisa memejam sambil menggelengkan kepala saat tusukan kuat yang ia terima telah menggetarkan seluruh tubuhnya. Cairan cintanya dengan deras membasahi ujung gundul penis V yang masih tersangkut di dalam. Nampak penis besar itu menyumbat cairan cinta mereka hingga campuran cairan cinta itu untuk sementara berada di rahim kehangatannya.
Deru nafas mereka yang kelelahan telah membahana memenuhi ruangan kelas. Mereka saling mengatur nafas, mereka ngos-ngosan. Mereka kelelahan namun saling bertukar tersenyum setelah sama-sama puas akan persetubuhan yang mereka lakukan di siang hari ini.
“Terima kasih Haura... Akhirnya ana bisa genjotin memek antum lagi” ujar V yang membuat Haura malu.
“Ihhhh dasar... Dibilangin tadi ada santri kok... Untung lonceng pas lagi bunyi” kata Haura sebal ketika dirinya nyaris ketahuan.
“Hahaha ana udah tau itu kok... Makanya ana sengaja terus menggempur memek antum” kata V yang membuat Haura tersenyum tak mempercayainya.
“Preeettt boong” jawab Haura yang tersenyum kelelahan. V pun ikut tersenyum sebelum mengecup bibir manis Haura sebentar sebelum akhirnya ia mencabut batang penisnya. Nampak lelehan cairan cinta mereka berdua keluar membasahi lantai ruangan kelas. Haura pun memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar saat lelehan sperma itu mengalir keluar dari dalam vaginanya.
Tiba-tiba V menarik lepas kemeja Haura yang membuat bidadari itu terkejut. Tubuh Haura dibalikan. Tubuhnya didorongnya hingga menempel pada dinding kelas. Jemari mereka saling berkait. Mata mereka saling menatap. V pun tersenyum melihat keindahan yang berada di hadapan matanya.
“Mumpung nanggung gini... Kita lanjut sampai nunggu adzan dhuhur yah, gimana ?” bisik V ditelinga Haura yang membuatnya tercengang.
“Tapi V... Ana capek... Ana mau istirahat duluu... Tugas ana aja belum selesai buat nempelin kertas ini” kata Haura beralasan karena dirinya terlalu capek untuk melanjutkan persetubuhan ini.
“Hahaha yaudah satu ronde lagi... Habis itu ana bantu kok buat nyelesaiin tugas antum” kata V sambil memelorotkan celananya hingga mereka berdua sudah sama-sama bertelanjang bulat di dalam ruangan kelas.
“Tungguuu V... Tungguuu... Mmppphhhh” desah Haura yang tinggal mengenakan hijab beserta kaus kaki dan sepatunya saja saat salah satu kakinya diangkat oleh V kemudian liang senggamanya kembali dimasuki oleh penisnya yang kembali mengeras.
“Aaahhh nikmatnyyaa” desah V mendesah pelan.
“Aahhh... Tungguu... Ahhh... Aaahhh” desah Haura ketika pinggul V kembali menggenjot liang senggamanya. Mereka pun kembali bersetubuh sambil saling menikmati ketelanjangan pasangan masing-masing. V pun tersenyum menatap wajah Haura dan Haura malu-malu saat ditatap oleh V.
Namun tanpa sepengetahuan mereka ada salah satu santri yang mengintip aksi terlarang dua pengajar pesantren ini. Santri tampan itu mengintip sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak menduga kalau ternyata ustadzah Haura bisa berselingkuh dengan lelaki lain.
“Tega sekali ustadzah Haura mengkhianati ustadz Hendra” kata santri bernama Iqbal itu. Ia tak menyangka kalau Haura bisa mengkhianati cinta yang dimiliki oleh wali kelasnya.
*-*-*-*
Beberapa jam kemudian sekitar pukul setengah satu siang. Di sebuah bangunan yang masih dalam tahap pembangunan. Nampak seorang kuli kekar, berkulit hitam dan berwajah tua yang tengah bekerja mengaduk-ngaduk semen dengan sekop yang sedang ia pegang. Dalam pekerjaannya, ia terpikirkan mengenai kejadian yang baru saja terjadi di pagi tadi. Hatinya masih kecewa karena dirinya tidak mampu mengobrol sebentar dengannya.
Hah... Gimana yah caranya agar saya bisa makin akrab dengannya ? batin kuli tua bernama pak Dino itu.
Ia sadar mengenai statusnya yang hanya seorang kuli. Ia juga sadar akan status biadadari itu sebagai ustadzah tercantik di pondok pesantren ini. Namun hatinya tidak bisa bohong. Perasaannya tidak bisa bilang tidak kalau dirinya ingin bersetubuh dengannya. Ia pun bimbang memikirkan cara agar minimal penisnya bisa dikulum oleh bidadari secantik dia.
Ohhh Haura... Kapan dirimu mau merelekan tubuh indahmu itu ? Saya pengen menggenjotmu ustadzah ! Batin pak Dino sambil terbayang lenggokan indah dari bokong ustadzah cantik itu.
Tak sengaja saat dirinya menaikan pandangannya. Ia melihat seseorang yang ia kagumi sedang berjalan melewatinya. Ustadzah cantik itu sedang berjalan menuju arah kantor bagiannya. Ia pun terus menatapnya sambil berharap ustadzah cantik itu mau menoleh dan menyapa dirinya. Kendati jaraknya cukup jauh, pria tua itu terus berharap agar dapat disapa oleh ustadzah tercantik itu.
“Hah sudah saya duga... Mana mau ustadzah Haura menyapa pria rendahan seperti saya” lirih pak Dino merasa putus asa saat Haura hanya lewat saja dihadapannya.
Tiba-tiba pak Dino dikejutkan oleh tepukant tangan seseorang yang mengenai bahu kekarnya. Pak Dino pun kaget dan buru-buru menolehkan wajahnya ke belakang.
“Kekekekek... Cantik yah ustadzah Haura ?” ujar kuli kekar lainnya yang tidak lain adalah pak Karjo.
“Hehe iya pak Karjo... Emang cantik banget” kata Pak Dino berusaha menyembunyikan niatnya yang ingin menyetubuhi Haura.
“Kekekekek... Saya juga mengakui kecantikannya... Wajah itu, tubuh indah itu, dada bulatnya itu... Sllrrpp padahal saya sudah berulang kali menikmatinya, tapi kok saya selalu nagih ingin menyetubuhinya lagi dan lagi yah” kata pak Karjo tertawa yang membuat pak Dino terkaget-kaget.
“Ehh maksud bapak ?” tanya pak Dino heran.
“Kekekek beberapa hari lagi saya ingin menggenjot memek ustadzah Haura lagi... Saya tau, bapak dari dulu sudah mengidolakannya kan ? Bapak gemas ingin menggenjot pantatnya kan ? Saya beri bapak kesempatan, mau gak bapak ikut saya untuk menikmati ustadzah Haura ?” ajak pak Karjo yang membuat pak Dino tergoda.
“Emanggg bapakkk pernah melakukannya ? Jangan-jangan di tempat itu...” kata pak Dino teringat saat melihat siluet seorang wanita yang sedang disetubuhi dibalik tirai di salah satu ruangan di gedung ini.
“Ya... Itu saya dan ustadzah Haura kekekeke” kata pak Karjo membanggakan dirinya.
“Hah ? Gak mungkin” kata pak Dino masih tak percaya.
“Kekekek terserah bapak... Ini kesempatan emas bagi bapak untuk mewujudkan mimpi bapak... Jarang-jarang loh saya membagikan barang bagus seperti dia” kata pak Karjo terus membujuk pak Dino.
“Tapi pak... Nanti, ustadzah Haura bisa kecewa dan . . . . “ belum sempat pak Dino menyelesaikan kalimatnya, pak Karjo sudah terlebih dahulu memotongnya.
“Ssssttt... Dengerin sini, untuk mendapatkan barang bagus sepertinya, gak mungkin orang seperti kita melakukannya dengan cara biasa-biasa saja... Mau gak mau, kita harus menggunakan cara pemaksaan... Bayangin ? Emang ada wanita secantik dirinya yang mau dengan laki-laki seperti kita ?” kata pak Karjo yang membuat pak Dino mengangguk menyetujui.
“Pasti gak ada” kata pak Dino menggelengkan kepala sambil menunduk ke bawah.
“Betul sekali... Karena hal seperti itu memang tidak bisa diwujudkan selain dengan cara pemaksaan... Jadi bagaimana ? Kekekekek” kata pak Karjo terus merayu kuli paling kekar, tua dan hitam itu.
“Entahlah pak... Tapi saya masih tidak tega melakukannya pada ustadzah Haura” kata pak Dino yang masih bimbang dengan ajakan pak Karjo.
“Kekekek yasudah... Saya beri waktu tiga hari ini... Pikirkan matang-matang lalu kabari saya lagi... Saya tunggu keputusan bapak” kata pak Karjo sambil menatap pak Dino sebelum akhirnya pergi meninggalkannya sendiri.
“Hmmm pemaksaan yah ? Tapi haruskah ?” kata pak Dino mulai tergoda. Ia pun membayangkan dirinya mampu meng-anal ustadzah tercantik itu.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *