Siang hari di rumah sakit terdekat. Nampak seorang pria tua yang sudah kembali siuman setelah sebelumnya ia harus menanggung akibat dari perbuatannya dalam mencampuri urusan seorang ustadzah yang sangat ia cinta. Sekujur tubuhnya luka. Walau tidak terlalu parah, tapi luka itu sudah harus membuatnya berbaring selama beberapa hari. Beberapa balutan perban pun menghiasi tubuh kurusnya. Wajahnya terlihat lemah. Ia terus saja diam sambil menatapi langit-langit ruangan.
Ia tengah merenung. Ia membayangkan nasib yang saat ini sedang diderita oleh ustadzah idolanya yakni ustadzah Hanna. Ia pun geleng-geleng kepala membayangkan betapa kuatnya ustadzah Hanna dalam bertahan dari setiap derita yang di alaminya. Ia pun berfikir. Andai cobaan yang diderita oleh ustadzah Hanna dialami oleh dirinya. Sudah pasti ia akan stress dan suka mengurung diri di kamarnya seharian.
Tiba-tiba tangannya mengepal kuat. Ia begitu kecewa. Ia pun tak habis pikir ketika dirinya sudah berkorban demi melindungi ustadzah Hanna dari ancaman nafsu birahi laki-laki lain. Ia malah melihat sang ustadzah tengah bercinta dengan seorang ustadz tepat disamping dirinya dikala ia sedang terbaring lemah. Ia pun mengingat-ngingat setiap adegan yang dilihatnya pada sore hari itu. Ia masih ingat betul bagaimana mereka berdua bercinta dalam gaya berdiri saling berhadapan.
Jujur, penisnya sampai mengeras saat melihat persetubuhan yang begitu panas dari ustadzah Hanna. Tapi hatinya masih tidak rela karena baginya, ustadzah Hanna adalah miliknya seorang kendati ia masih ragu kalau Hanna mau menikah dengan seorang pria tua lemah sepertinya.
"Tapi wajar sih kalau ustadzah Hanna sampai tergoda oleh ustadz itu... Ustadzah Hanna kan juga manusia, apalagi yang menggodanya lelaki tampan sepertinya... Moga aja ustadz itu gak ada niatan buruk seperti santri bernama Lutfi itu" Lirih pak Prapto.
Kreekkk !!!!
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Pria tua itu pun melirik dengan lemah untuk melihat siapa seseorang disana. Matanya langsung terbuka lebar. Senyumnya pun merekah. Ia begitu bahagia saat melihat penampakan indah yang berada di pintu masuk kamar pasien.
"Ustadzah Hanna" Sapa pria tua itu yang hanya dibalas senyuman oleh ustadzah cantik itu.
"Hihihi bapak" Jawab Hanna sambil mendekati tukang sapu itu.
Hanna terlihat sangat cantik dengan hijab hitam yang melilit wajah mungilnya. Dengan senyum manis khas yang merekah. Hanna berjalan mendekat menuju ranjang yang ditempati oleh pria tua itu. Tak sengaja mata pak Prapto menatap tubuh montok dari ustadzah cantik itu. Pak Prapto tak menduga saat melihat dua tonjolan besar yang berada pada dada ustadzah cantik itu. Kaus berlengan panjang berwarna coklat yang Hanna kenakan terlihat tak mampu untuk menutupi kebesaran dua buah kelapanya. Untungnya Hanna mengenakan rok lebarnya. Andai Hanna mengenakan sesuatu yang ketat saat menutupi tubuh bagian bawahnya. Sudah pasti penis pak Prapto langsung tegak maksimal membayangkan keindahan yang ada pada diri ustadzah cantik itu.
Duhhh gede banget sih ustadzah susunya !
Batin pak Prapto hingga perlahan batang penis miliknya mulai mengeras.
“Bapak apa kabar ?” tanya Hanna setelah duduk disebelah tukang sapu itu.
“Saya baik kok ustadzah... Ustadzah sendiri gimana ?” tanya pak Prapto sambil mengamati lekuk tubuh Hanna yang begitu aduhai.
“Aku baik kok pak” jawab Hanna sambil tersenyum lemah.
Ditatapnya tubuh kurus tak berdaya yang dimiliki oleh pria tua itu. Hanna jadi tidak tega. Tapi ia sangat bersyukur karena pria tua sepertinya masih mau berjuang untuk mengungkap kasus pemerkosaan yang ia alami dari seorang santri bejatnya.
“Anu... Terima kasih yah pak... Bapak sampai kaya gini demi aku” kata Hanna sambil memegangi telapak tangan pria tua itu. Pak Prapto pun terkejut. Ditatapnya pergelangan tangan Hanna yang begitu mulus. Kendati kulit Hanna berwarna sawo matang. Tapi teksturnya begitu halus membuat dirinya merinding ketika pertama kali tangan lembutnya menyentuh kulit kasarnya.
“Hehehe itu bukan apa-apa kok ustadzah... Saya malah senang bisa berjuang melindungi ustadzah semampu saya” kata pak Prapto yang diam-diam memberanikan diri mempererat dekapan tangannya pada jemari ustadzah cantik itu.
Hanna hanya tersenyum iba sambil menatap wajah tua pria kurus itu. Kumis tebalnya semakin tebal saja. Tubuhnya pun berdekil karena sudah lama tidak mandi selama beberapa hari ini. Semakin lama ia melihatnya, Hanna jadi merasa kasihan. Ia pun terus mengobrol demi menemani pahlawannya yang saat ini tengah tak berdaya diatas ranjang tidur pasien.
“Oh yah bapak udah makan ?” tanya Hanna pada pria tua itu.
“Tadi pagi sih udah ustadzah... Ustadzah sendiri gimana ?” tanya balik pria tua itu.
“Alhamdulillah udah juga kok pak... Tadi makan pake sayur sop sama tahu goreng” kata Hanna tersenyum.
“Wuihh enak banget ustadzah... Saya malah makan pake ayam hehe” kata Pak Prapto yang membuat Hanna tertawa.
“Yeeee enakan bapak lah makannya enak-enak terus kan, pastinya ?” ucap ustadzah cantik itu.
“Iya sih ustadzah... Tapi bingung juga nanti pas udah sembuh saya bayarnya pake apa” kata pak Prapto yang menyadari kalau dirinya hanyalah pria single yang sangat miskin. Sebagai seorang jomblo tulen, ia merasa tidak memiliki uang yang cukup demi membayar perawatan yang diberikan oleh rumah sakit kepadanya.
“Tenang pak... Aku yang bayarin... Itung-itung buat balas budi aku karena bapak udah berusaha nyelametin aku” kata Hanna tersenyum yang membuat pak Prapto tersipu.
“Eh jadi gak enak saya malah ustadzah” kata pak Prapto.
“Eh kenapa gak enak ? Bapak kan udah kaya gini gara-gara aku... Justru aku yang gak enak karena gak membalas kebaikan pahlawan aku yang berjuang demi aku” kata Hanna yang membuat pak Prapto tersentuh.
“Eh, pahlawan ?” tanya pak Prapto.
“Iya pak... Bapak udah kaya superman.... Makasih yah udah berjuang demi aku... Makasih udah ngorbanin diri bapak demi aku” kata Hanna yang tiba-tiba mendekat kemudian memeluk tubuh lemah dari pria tua yang masih terbaring itu.
Pak Prapto pun semakin tersentuh oleh kebaikan Hanna. Namun saat dadanya menyentuh dada dari Hanna. Ia merasakan sesuatu yang empuk tengah mendorong dada kurusnya. Aroma kewanitaan yang keluar dari tubuh feminimnya. Ditambah dengan harumnya parfum yang dikenakan oleh ustadzah idolanya. Lama-lama penisnya mulai menegak saat membayangkan dirinya bisa mempunyai istri yang cantik secantik ustadzah Hanna.
Hanna pun melepas pelukannya. Ia kembali tersenyum sambil menatap pria tua itu.
“Anu ustadzah... Bisa tolong ambilkan air... Saya haus” kata pak Prapto gugup setelah mendapatkan pelukan mesra dari bidadari cantiknya.
“Eh air ? Oh ini yah pak... Awas pelan-pelan” kata Hanna sambil mengangkat kepala pak Prapto sedikit kemudian memegangi botol kemasan itu agar pak Prapto lebih mudah dalam menyedot air kemasan melalui sedotan yang telah dimasukan sebelumnya.
“Gimana ? Cukup belum pak ?” kata Hanna.
“Sudah, cukup kok ustadzah” kata pak Prapto kembali berbaring.
Diam-diam matanya kembali melirik tubuh montok bidadari itu. Ia kembali menenggak ludah saat melihat lekuk indahnya. Ia pun semakin mupeng ingin memiliki tubuh Hanna seutuhnya agar dirinya bisa menggenjoti tubuh berisinya kapanpun dan dimanapun mereka berada.
“Duh ustadzah” kata pak Prapto yang membuat Hanna khawatir.
“Eh bapak kenapa ? Apa perlu aku panggilin suster ?” kata Hanna saat melihat ekspresi wajah pria tua itu.
“Enggak usah... Anuu... Bisa tolong ambilin pispot di sana gak ?” kata Pak Prapto sambil menunjuk ke arah pojok ranjang tidurnya.
“Pispot ?” kata Hanna mencari-cari.
“Itu... Botol yang warnanya putih itu ustadzah” kata pak Prapto.
“Ohh ini... Botol apa emang ini pak ?” tanya Hanna saat memegangi botong kosong itu.
“Anu maaf kalau ustadzah gak keberatan... Bisa tolong sebentar... Saya mau kencing ustadzah” kata pak Prapto yang membuat wajah Hanna memerah.
“Ehh maksudnya ?” kata Hanna tersipu mendengar permintaan pria tua itu.
“Hehehe saya agak malu juga bilangnya... Tapi tolong turunkan celana saya... Terus masukin kontol saya ke dalam botol itu” kata pak Prapto yang malu-malu juga dalam memintanya.
“Ehhh... Kok aku pak ?” kata Hanna kebingungan. Ia pun menatap ke kiri dan ke kanan. Tidak ada seorang pun di ruangan ini selain dirinya dan pria tua itu. Ia pun berencana memanggil dokter. Tapi ia merasa kasihan karena sepertinya pak Prapto sudah tidak tahan ingin mengeluarkan air seninya.
“Tolong ustadzah... Maaf banget... Saya mau keluar” Kata pak Prapto yang akhirnya membuat Hanna terpaksa menurunkan celananya.
Saat celana pak Prapto sudah diturunkan. Batang penisnya yang besar itu langsung mencuat tinggi mengagetkan diri ustadzah Hanna.
“Astaghfirullah !!!” ucap Hanna spontan. Ia pun terus menatap batang penis itu yang ukurannya diatas rata-rata orang biasa.
Gedeee banggeetttt !!! Batin Hanna tak percaya.
“Ustadzahhhh !!!” kata pak Prapto tak tahan ingin keluar.
“Eh iyah pak” kata Hanna langsung memegangi batang penis itu kemudian menurunkannya sejenak hingga air seni itupun keluar mengucur deras ke dalam pispot yang juga sedang ia pegang.
Saat Hanna mendekap batang penisnya. Ia terkejut merasakan teksturnya yang begitu keras. Penis itu juga hangat. Penis itu berwarna hitam pekat. Dengan guratan otot yang menonjol keluar mengitarinya.
Kini giliran Hanna yang menenggak ludah saat memegangi kemaluan seorang pria tua yang sudah menyelematkannya. Hanna masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya. Penis itu sudah seperti gada besi berwarna hitam dengan ujung tumpul yang menggoda pandangan matanya.
“Aahhhh leganya... Terima kasih yah ustadzah” kata pak Prapto sampai bergidik saat tetes terakhir air kencingnya keluar.
Hanna dengan hati-hati menaruh kembali pispot yang hampir terisi penuh itu. Ia pun mengambil tisu untuk mengelap sisa air seni yang masih menetes di sekitar lubang kencing pria tua itu. Tangan kanannya kembali mendekap batang penisnya. Sementara tangan kirinya dengan telaten membersihkan ujung tumpul yang bentuknya seperti kepala jamur.
Saat Hanna sedang membersihkannya. Dirinya kembali tergoda oleh kejantanan yang dimiliki oleh pria tua itu. Diam-diam ia menjilati bibirnya sendiri. Matanya terus menatap bentuk indah yang dimiliki oleh kemaluan pria tua itu.
Pak Prapto yang sedari tadi terus berbaring tengah memperhatikan wajah Hanna yang tengah serius menatap penisnya. Membayangkan Hanna tengah tergoda oleh rupa batang penisnya membuat nafsunya semakin naik. Hasilnya, batang penisnya pun membesar dan semakin menggoda birahi Hanna yang pelan-pelan mulai naik menguasai dirinya.
“Aaaahhhhhhh” desah pak Prapto yang mengejutkan Hanna.
Hanna hanya menoleh menatap wajahnya. Ia kembali menatap batang penisnya yang lama-lama makin membesar itu.
Kok bisa segede ini sih ? Apa bisa muat kalau nanti masuk ke dalam kemaluan wanita ? batin Hanna sambil memperhatikan ukuran penis itu. Tanpa sadar jemarinya malah bergerak naik turun yang otomatis merangsang birahi pak Prapto. Pak Prapto pun tak menduga dengan pergerakan tangan ustadzah cantik itu. Karena tak kuat, ia malah memejam sambil mengeluarkan lenguhan demi lenguhan yang membuat birahi Hanna semakin menguasai.
“Ouhhhh ustadzahh... Apa yang sedanggg... Aaahhhhhhh” desah pak Prapto.
Mendengar suara lenguhan dari pria tua itu membuat nafsunya semakin menanjak. Diam-diam nafasnya mulai terasa berat. Dirinya terengah-engah sambil memperhatikan batang penis yang sedang ia kocok-kocok.
“Mmpppphh” lenguh Hanna tanpa sadar.
Entah apa yang membuat Hanna tergoda secara tiba-tiba pada batang penis tua yang sedang ia genggam. Perlahan, Hanna mengencangkan genggamannya pada batang penis itu. Ia pun mempercepat gerakan jemarinya yang membuat pria tua itu mengerang menikmati kocokan ustadzahnya.
“Aahhhhh ustadzahhhh... Enak banget... Ahhhhh” desah Pak Prapto sambil menahan nafas karena tak kuasa menerima kocokan ustadzah cantik itu.
Kenapa ini gede banget... Punyanya hampir mirip punya V... Tapi yang ini lebih hitam dibandingkan punya V.
Batin Hanna saat teringat persetubuhannya dengan ustadz tampan itu kemarin.
Dengan lihai Hanna menaik turunkan batang penis itu. Dikala jemari Hanna menaikan kocokannya. Nampak ujung gundul pria tua itu terbenam tertutupi oleh kulit penisnya. Dikala Hanna menurunkan kocokannya nampak ujung gundul penis itu semakin mencuat yang membuat pria tua itu kelabakan menerima sensasi yang ia terima.
Naik-turun, naik-turun, naik-turun.
“Aahhhhhh apa yang terjadi ustadzahh... Kenapa ustadzahh kaya gini... Ouhhhh... Uhhhh” desah pak Prapto yang kebingungan dengan perubahan sikap Hanna.
Tapi disisi lain, ia begitu menikmatinya. Rasanya seperti setengah impiannya telah menjadi kenyataan. Ia tak menduga kalau disisa hidupnya dirinya akan menerima handjob dari seorang ustadzah yang sangat ia idolakan.
Hanna pun mengabaikan apa yang sedang ia dengar. Dirinya begitu fokus dalam meladeni batang penis raksasa yang sedang ia cengkram. Hal itu membuat pak Prapto melenguh berulang-ulang.
Dengan gerakan yang sedikit demi sedikit semakin cepat. Hanna mengocok batang penis pak Prapto hingga ujung gundulnya semakin basah. Nampak cairan precum itu mulai keluar dari dalam lubang kencingnya.
“Uhhhhh... Uhhhhhh... Ustadzahhhh” desah Pak Prapto semakin memejam agar dirinya bisa fokus menikmati kocokan jemari lembutnya.
Dengan cekatan ia mengerakan jemarinya naik turun di batang kejantanan tukang sapu itu. Gerakan terus menerus yang dilakukan oleh Hanna makin lama makin cepat namun agak menanggung. Hanna seperti penasaran pada batang penis yang sedang ia genggam sehingga ia kadang mempercepat kocokannya tapi kadang juga memelankannya agar dirinya makin lama dalam mengocok kejantanan penis indah itu.
“Aahhhh ustadzahhh... Ahhhhh saya sedang diapakan ustadzahhh... Ouhhhh enakkk banget” desah pak Prapto yang semakin tak berdaya dibawah sana.
Mata pak Prapto terpejam, mulutnya terbuka ketika merasakan rangsangan dari tangan Hanna yang lembut. Seingatnya, ini merupakan kali pertama dirinya bisa merasakan kelembutan dari tangan seorang wanita yang sedang memainkan penisnya. Bahkan saat dirinya menyetubuhi ustadzah Syifa saja. Dirinya langsung menghujamkan penisnya tanpa sempat merasakan kelembutan tangan dari bidadari berkulit bening itu.
“Aahhhh ustadzahhh... Ahhhhhhh” Pak Prapto semakin menggila. Dirinya tidak kuasa untuk menahan gairah birahinya yang semakin memuncak.
“Hah... Hah” desah Hanna sambil terus mengocok batang penis raksasa itu.
Gedeee bangett... Kenapa makin lama, ukurannya makin gede aja sih ? Batin Hanna masih tak percaya pada kejantanan yang pak Prapto punya.
"Uhhh ustadzahh... Uhhhhh... Uhhhhh" Desah pak Prapto hingga matanya berkunang-kunang.
"Hah... Hah... Hah" Desah Hanna makin gemas dalam memainkan batang penis itu.
Nafas pak Prapto semakin berat saja. Nampak tubuhnya bergetar dan penisnya mulai berdenyut-denyut pelan menandakan dirinya sudah berada di ambang batas maksimal.
Hanna tanpa sadar terus menaik turunkan batang penis itu. Kadang jempolnya menetap di ujung gundul penis pak Prapto untuk menekan lubang kencingnya hingga pria tua itu semakin terangsang oleh kocokan tangan ustadzah berhijab itu.
"Ahhhh... Ahhhhh... Saya gak kuat lagi ustadzahh... Ouhhhhh" Desah pak Prapto sambil mencengkrami sprei ranjangnya.
"Hah... Hah... Hah" Hanna terengah-engah. Ia masih diam terpana menatap ujung gundul dari penis yang semakin basah.
Naik-turun, naik-turun, naik-turun.
Pak Prapto geleng-geleng kepala. Bibir bawahnya ia gigit saat gelombang dahsyat itu sudah berada di tepi ujung gundulnya.
"Uhhhh... Uhhh ustadzahh... Ahhhh... Saya keluuaarrrrr" Desah pak Prapto dengan mantap yang mengejutkan bidadari cantik itu.
"Aaaahhhh" Jerit Hanna terkejut saat lahar hangat kental berwarna bening itu mulai keluar membasahi jemari kanannya.
Sperma pak Prapto berulang kali menyembur membasahi tangan bidadari cantik itu. Hanna pun menghitung sekitar lima kali batang penis itu menyemburkan spermanya yang membasahi jemari kanannya.
Pria tua itu sampai merem melek keenakan. Tubuhnya kelojotan. Ia benar-benar puas kendati baru dirangsang oleh kocokan jemari ustadzah cantik itu.
"Ehhh apa yanggg... Pakkk... Maaff pakk... Aku khilaf... Aku gak sadar melakukannya... Bapak gapapa ?" Kata Hanna panik saat melihat pak Prapto terengah-engah.
"Hah... Hah... Hah... Gapapa kok ustadzah... Hehehe saya malah puas" Jawab pak Prapto dengan lemah yang membuat Hanna lega.
Pria tua itu pun mulai merasakan kantuk. Ia akhirnya meminta izin pada ustadzah Hanna untuk menutup matanya setelah diberi kenikmatan yang tak pernah ia bayangkan.
Sementara pak Prapto tertidur. Hanna mulai merenungi perbuatannya sambil menatap jemari kanannya yang bersimpuh sperma. Hanna mulai merasakan aroma yang kuat dari sperma pria tua itu. Ia pun heran. Kenapa dirinya langsung tergoda oleh penampakan penis pria tua itu ?
"Astaghfirullah... Kenapa sih aku sampai melakukan perbuatan itu ?" Lirih Hanna menyesal.
Ia pun merasa jijik pada lelehan sperma yang memenuhi telapak tangannya. Dengan buru-buru ia mengambil tisu menggunakan tangan kirinya. Ia langsung mengelap tangan kanannya kemudian membuang tisu itu ke tempat sampah yang berada di sudut ruangan.
Apa jangan-jangan ? Hal ini ada sangkut pautnya dengan pemerkosaan yang sering aku alami akhir-akhir ini ?
Batin Hanna merenung.
"Hah... Masa iya sih ? Pantes aja kemaren V gampang banget buat bujuk aku berzina... Astaghfirullah... Gak mungkin kan aku mulai kecanduan benda lonjong ini ?" Lirih Hanna ketakutan sambil melihat batang penis pak Prapto yang mulai melemas.
Ia pun buru-buru pulang sambil menggelengkan kepalanya berharap apa yang ia katakan tadi bukanlah apa yang sebenarnya terjadi.
"Semoga bukan... Inget Hanna... Kamu sebentar lagi mau menikah... Jaga dirimu... Jaga nama baikmu... Jangan sampai gara-gara semua ini... Namamu rusak dan kamu gak jadi menikah dengan ustadz Angga" Lirihnya saat berbicara sendiri menuju kamar asramanya.
Tanpa sadar ada sebuah mobil yang melintas di sampingnya yang mana sopir dari mobil itu menatap terus ke arah Hanna.
*-*-*-*
Loh itu ustadzah Hanna... Dari mana yah dia ?
Batinnya saat menyetir mobil dengan pelan.
"Oh yah ustadz... Emang nanti mau belanja barang dimana ?" Tanya ustadzah cantik itu yang membuat anak dari pak kiyai itu menoleh.
"Kita ke minimarket terdekat aja yah... Kita belanja barang yang dibutuhkan, nanti biar ustadzah Nisa yang buat semuanya" Kata ustadz Angga kepada ustadzah Syifa.
"Eh, ustadzah Nisa ?" Ucap Syifa agak risih ketika mendengar namanya.
"Iya ustadzah... Ustadzah Nisa kan ketua konsumtor... Nanti dia bersama ustadzah lainnya yang masak... Sementara ana dan ustadz lainnya bertugas untuk membungkus masakan itu ke dalam wadah yang nantinya diberikan ke setiap pengawas yang menjaga ruang ujian" Ucap Angga menjelaskan.
"Emang nanti apa aja yang bakal dikasih ke pengawas ruangan, ustadz ?" Tanya Syifa sambil melirik ke samping untuk menatap wajah tampan Angga.
"Ya macem-macem... Ada kue, gorengan, ya kaya jajanan dari tahun-tahun sebelumnya lah" Jawab Angga sambil menyetir secara berhati-hati.
"Oh gitu doang... Kalau gitu mah ana bisa semuanya ustadz" Kata Syifa menyombongkan diri untuk menunjukan bahwa dirinya lebih jago dari siapapun termasuk ustadzah Nisa.
"Hahaha... Ana tau ustadzah... Apalagi kalau soal urusan ranjang... Kayaknya antum udah jago banget deh" Kata Angga yang membuat Syifa malu.
"Ehh kalau itu mah" Jawab Syifa menunduk saat wajahnya memerah.
"Hahahaha cantik banget deh pas lagi malu-malu gitu" Kata Angga tertawa.
"Ihhh ustaaadzzz... Jangan diungkit lagi deh... Ana malu tauuu" Kata Syifa teringat persetubuhan threesome yang ia lakukan bersama Angga dan ibu tirinya.
"Hahaha iyya.. Iya maaf... Tapi gak janji yah" Kata Angga yang hanya dibalas senyuman oleh bidadari berkulit bening itu.
Tak terasa gedung minimarket itu sudah terlihat di depan mata mereka. Mereka pun sampai di tempat tujuan dengan selamat. Secara hati-hati, Angga memelankan laju mobil itu untuk memarkirkan nya di tempat parkir yang tersedia. Mobil pun telah terparkir dengan rapih. Syifa yang tak sabar untuk berbelanja dengan Angga lebih dulu keluar dari mobil.
"Ustadzah... Ambil satu trolly dulu yah... Ana mau nyari kertas daftar belanjaan dulu sebentar" Kata Angga sambil merogoh saku celananya.
"Iya ustadz... Serahkan semuanya ke ana... Hihihi" Jawab Syifa dengan bahagia.
Bidadari cantik itu pun pergi meninggalkan Angga yang masih duduk di kursi kemudi. Angga tersenyum bahagia saat melihat keindahan lekuk tubuh Syifa yang masih tertutupi gamis berukuran lebarnya.
"Indah sekali tubuhmu itu ustadzah... Apa iya, aku harus beralih hati ke Syifa alih-alih Hanna ?" Lirih Angga sambil menatap bokong montok ustadzah cantik itu. Seketika ia teringat kejadian semalam.
MALAM HARI KEMARIN
"Hah... Hah... Hah"
Angga tengah terengah-engah sambil menatap keindahan sisi belakang dari seorang wanita yang telah telanjang. Wanita itu sedang dalam posisi tengkurap. Tidak ada satupun kain yang menutupi tubuh beningnya. Kecuali hijab yang masih menutupi rambut panjangnya.
Angga pun mengurut penisnya yang sudah basah terkena cairan cinta wanita berhijab itu. Dirinya yang masih berlutut di atas ranjang tidurnya semakin bernafsu. Ia pun hendak melanjutkan persetubuhan panasnya dengan seorang wanita yang wajahnya mirip dengan orang-orang Korea.
"Umiii... Angga udah gak kuat lagii umi... Angga mau ngecrotin memek umi lagi" Kata Angga sambil menatap bokong montok ibu tirinya.
"Hah... Hah... Hah... Iyya Angga... Umi juga pengen ngerasain kontol Angga lagi... Ayo sini sayang... Genjot umi lagi... Umi udah mauuuu uuhhhhhhhh" Desah Rania tertahan saat tubuh mungilnya di tindihi oleh anak tersayangnya. Tidak hanya di tindihi, bahkan liang vaginanya saja sudah kembali dimasuki oleh batang penis raksasa yang dimiliki oleh putranya.
"Uhhhh Angggaaa... Iyyaahhh punya Angga kok gede banget sihhh" Ucap Rania yang masih tak percaya dengan ukuran penis itu.
"Uhhhhh rapet banget umiii... Angga suka banget sama ukuran memeknya umi" Desah Angga sambil mendorong-dorong pinggulnya hingga ujung gundul dari penisnya menyundul-nyundul rahim kehangatan milik ibunya.
"Ouhhhh Umiii... Liat sini donggg mmmpphhhh" Desah Angga mencumbu bibir ibunya.
"Mmppphh Anggaaa... Mmppphh... Mmppphh" Desah Rania memejam.
Mereka berdua menikmati percumbuan sekaligus persetubuhan yang semakin memanas. berulang kali pinggul Angga mulai bergerak secara perlahan. Pinggul Angga beberapa kali ditariknya kemudian dihempaskannya masuk. Kembali Angga menarik pinggulnya kemudian mendorongnya hingga ujung gundulnya semakin menyodok rahim kehangatan ibunya.
"Angggaaaaa... Mmppphh... Mmppphh" Desah Rania tak kuasa saat menahan hantaman pinggul putranya saat menerjang liang senggamanya.
Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!
Pinggul mereka bertemu. Kemaluan mereka telah bersatu. Mereka terus beradu dibawah aturan nafsu. Tubuh bening Rania telah berkeringat. Membuat diri Angga semakin bersemangat. Tangan kiri Angga memegangi dagu Rania sementara bibirnya terus menghujami bibir ibunya dengan penuh gairah.
Bibir Rania terdorong ke belakang. Ia begitu puas saat menerima cumbuan dari putranya saat sedang dalam keadaan telanjang. Bibir mereka bertemu. Angga mencumbu bibir atas ibunya terlebih dahulu. Bibirnya pun ia buka untuk mengulum bibir atas ibunya dengan penuh nafsu.
Rania pun memurutinya. Ia pasrah membiarkan putranya memuaskan hasrat birahinya kepadanya. Dari bawah, tangan Angga mulai menyelinap masuk untuk memegangi payudaranya yang tertindihi tubuh rampingnya. Rania pun mengerang saat buah dada bulatnya di remas. Angga pun meremasnya dengan begitu gemas. Syifa pun jadi cemas. Ia khawatir karena suaranya yang keras bisa membangunkan suaminya yang masih tertidur dengan pulas.
"Mmppphh... Mmppphh.... Mmpphhh Anggaaaa" Desah Syifa dengan puas.
"Uhhhh Umiii... Ouhhhh... Uhhhh mantap banget memek Umiii... Angga suka banget ummiii" Ucap Angga saat melepaskan cumbuannya.
Angga meletakan kepalanya diatas punggung mulus ibunya. Terkadang Angga sampai mencumbunya hingga meninggalkan bekas memerah disana. Rania kembali mendesah. Bahkan desahannya semakin keras akibat sodokan pinggul Angga yang semakin keras.
"Aaaahhhh.... Ahhhhh... Aaaahhhhh" Desah Rania tak kuasa menahannya lagi.
"Uhhhh Umiiii... Mmpphhh.... Uhhhhh yahhhh" Desah Angga sudah berada di ambang batas.
"Angggaaaa.... Umiii udah gak kuat lagi sayanggg... Umiii mau keluaarrrr" Desah Rania tak kuasa menahannya lagi.
"Ahhhh Angga juga Umiii... Angga pengen ngecrot... Angga pengen ngehamilin ummmiiii" Desah Angga sangat puas.
Akhirnya dengan satu hentakan yang mantap, Angga membenamkan pinggulnya hingga ujung gundul penisnya menghantam ujung rahim yang dimiliki oleh ibu cantiknya.
"Aaaahhhh keellluuaaarrr" Ucap mereka bersamaan.
Crrrooottt... Cccrrrootttt... Crrrootttt !!!
Mata mereka sama-sama merem melek keenakan. Tubuh Angga melemah. Nafasnya sangat berat hingga berulang kali anak dari pak kiyai itu kelojotan merasakan sensasinya bercinta dengan ibu tirinya di kamar pribadinya.
Begitu pula dengan Rania yang telah mendapatkan orgasme ternikmat. Bahkan ustadzah cantik itu sampai bermandi keringat. Kini ia merasa penat. Detak jantungnya pun bergerak semakin cepat.
"Hah... Hah... Hah" Desah Angga ngos-ngosan setelah kembali memejuhi rahim kehangatan ibunya. Ia sangat puas. Ia pun berbaring disamping ibunya yang masih dalam posisi tengkurap.
"Aduhhh... Angga capek banget umi... Umi selalu bikin Angga capek tiap kali genjotin memek umi" Kata Angga sambil menatap wajah ibunya yang tinggal mengenakan hijab saja.
"Hihihi maaf... Abis umi udah ketagihan kontol Angga sih, hihihi... Makasih yah sayang" Ucap Rania tersenyum manis yang membuat Angga tersipu.
"Ehh umi jangan senyum-senyum gitu deh... Nanti Angga pengen nambah lagi" Kata Angga yang membuat Rania tertawa.
"Hihihi jangan dong... Umi kan harus balik ke kamarnya Abi... Nanti kalau Abi nyariin Umi gimana ? Bahaya tau" Kata Rania tersenyum.
"Ya umi jangan godain Angga terus dong... Liat umi senyum aja udah bikin Angga ngaceng loh" Ucapnya sambil mengelus-ngelus batang penisnya.
"Nyalahin umi lagi... Padahal kan kamu sendiri yang ngelus-ngelus benda indah ini, hihihi" Kata Rania yang mengambil alih tangan Angga untuk mengocok penis putranya.
"Aaahhh Umiii... Ahhhh" Desah Angga malah keenakan.
"Hihihi malah keenakan, dasar ! Oh yah sayang... Ngomong-ngomong soal kemaren... Gimana rasanya bisa main bareng ustadzah Syifa waktu itu, seru kan ?" Ucap Rania sambil membelai penis besar Angga.
"Ahhhh seru banget Umiii... Angga waktu itu puas banget bisa genjot memek umi sama memek ustadzah Syifa" Desah Angga saat merasakan penisnya kembali menegak kencang.
"Hihihi menurut Angga, lebih cantikan mana ? Ustadzah Syifa apa ustadzah Hanna ? Kalau menurut umi sih ustadzah Syifa, soalnya udah bening, tubuh nya ramping terus kita bisa main bertiga sering-sering, hihihi" Ucap Rania mempercepat kocokan jemarinya.
"Ahhhh... Aaaahhhh... Umiii... Menurut Angga juga gitu mi, walau Angga belum pernah liat tubuhnya ustadzah Hanna... Tapi Angga udah terlanjur suka dengan keindahan tubuhnya ustadzah Syifa, ummiiii" Desah Angga yang semakin kewalahan menerima kocokan tangan ibunya.
"Hihihi kalau gitu besok kamu caper ke ustadzah Syifa aja... Nanti sisanya biar umi deh buat yakinin dia biar mau nikah sama anaknya umi," Ucap Rania tersenyum.
"Ahhhh... Ahhhh iyyahhh umi... Angga juga kangen pengen main bertiga lagiii... Ahhhhh" Desah Angga tak kuat lagi.
"Hihihi besok yah, caperin ustadzah Syifa... Umi juga kangen kok digenjot kamu sambil jilatin memeknya dia" Kata Rania bangkit untuk mengulum benda lonjong tersebut.
"Aaaahhhh umiiiii... Aaaaahhhhh" Desah Angga merasakan hangatnya mulut ibunya.
Akhirnya tak lama kemudian, ia kembali mendapatkan orgasmenya setelah cairan spermanya dengan deras membanjiri rongga mulut ibunya.
"Aaaahhhh Anggaaa keluaaarrrrr" Desah Angga dengan mantap.
"Mmmpphh" Desah Rania memejam saat lelehan sperma itu meluber hingga ada yang menetes keluar melalui sela-sela mulutnya.
Rania kembali berbaring disamping tubuh putranya. Angga yang terengah-engah menatap wajah ibunya yang semakin menggoda. Tiba-tiba Rania membuka mulutnya hingga lelehan spermanya terlihat di dalam rongga mulut itu.
Gleeeggggg !!!
Angga terkejut saat tiba-tiba Rania menelah seluruhnya. Angga pun jadi merinding. Tapi ia begitu puas saat melihat kebinalan ibunya yang semakin merajalela.
"Umi mau tidur di sini aja ah... Umi terlalu capek buat pindah" Kata Rania sambil memeluk tubuh polos putranya.
"Umiii... Apa beneran gapapa ?" Tanya Angga mengkhawatirkan andai bapaknya terbangun dan tidak mendapati adanya ibunya di sebelah nya.
"Biarin aja... Umi gak kuat buat nyium aroma tubuh bapakmu yang bau itu... Enakan sih disini bareng kamu... Hihihi sambil maenin ular kadut kamu" Kata Rania sambil membelai batang penis putranya lagi.
"Kalau gitu Angga boleh nyusu juga dong, mi ?" Kata Angga terpesona saat melihat ukuran buah dada ibunya yang menggantung bebas.
"Hihihi boleh sayang" Jawab Rania yang langsung membuat Angga menyedot-nyedot puting indah itu.
"Uhhhh... Uhhhhhh" Desah mereka berdua di atas ranjang yang telah ternoda itu.
MASA SEKARANG
"Aduhhh, Umiii... Umiii... Bikin aku sange aja deh" Kata Angga yang malah teringat kejadian indah semalam.
"Emang sih, ustadzah Syifa udah mencuri perhatian aku... Tapi gimana yah caranya buat batalin pernikahanku dengan ustadzah Hanna ?" Ucapnya bingung memikirkan persoalan itu.
"Ustaaaddzzz sini... Mumpung lagi sepi" Panggil Syifa yang mengejutkan Angga.
"Oh iya ustadzah, sebentar" Ucap Angga perlahan mulai mendekat.
Saat dirinya melihat senyum indah itu, semakin yakinlah Angga kalau dirinya akan memilih Syifa daripada Hanna untuk menjadi kekasih halalnya.
"Hmmm kita mau beli apa dulu ustadz ?" Tanya Syifa saat mereka berdua sedang berjalan bersebelahan.
"Pertama, gula pasir sama tepung terigu di sebelah mana yah ?" Tanya Angga sambil melihat sekitar.
"Terigu ?" Kata Syifa berjalan duluan.
"Ehh pelan-pelan dong ustadzah" Kata Angga yang sempat lengah sedikit sehingga tertinggal dari Syifa di belakang.
"Hihihi sini ustadz... Sini" Kata Syifa menggoda sambil berlari menjauhi Angga.
"Ustadzah... Jangan gitu ah, malu kaya anak kecil" Kata Angga yang malu-malu tapi tetap mengejar Syifa di belakang.
Mereka berdua pun tersenyum. Mereka berdua tertawa saat menikmati momen indah berdua. Alih-alih sedang berbelanja. Mereka malah terlihat seperti sedang berkencan ketika kebahagiaan sama-sama sedang mereka rasakan.
Nampak Syifa mengambil buah apel. Syifa pun menggoda Angga dengan memberikan apel tersebut kepada ustadz tampan itu. Tepat sebelum Angga mengambilnya, Syifa malah menarik tangannya lagi sambil tertawa menatap ustadz itu.
"Ustadzah... Awas yahhhh !!!!" Kata Angga tertawa sambil mengejar Syifa.
"Hihihi ampunnn" Ucap Syifa berlari sambil mendorong trolly.
Lalu . . .
"Ustadz... Ustadz... Liat sini deh" Kata Syifa sambil menutupi wajahnya dengan buah semangka yang sangat besar.
"Ciluukk... Ba" Ucap Syifa tertawa yang membuat Angga tertawa mengikutinya.
Mereka berdua terus saja bercanda sambil membeli barang-barang yang telah dicatat dalam lembaran kertas yang telah Angga bawa.
Akhirnya setelah puas berbelanja, mereka berdua kembali ke dalam mobil sambil membawa dua kantung kresek besar berisi bahan-bahan masakan untuk konsumsi pengawas ujian.
"Hah, akhirnya selesai juga" Kata Syifa tersenyum saat memasuki mobil.
"Hahahah seru juga yah tadi" Kata Angga sambil menatap Syifa.
"Seru banget ustadz... Ana dari tadi ketawa-ketawa terus" Ucap Syifa sambil mengelap keringat di dahinya.
Tepat saat itu, Angga terdiam sambil menatap wajah Syifa yang begitu indah. Ia pun berniat untuk mengungkapkan isi hatinya sekarang kepada ustadzah cantik itu. Namun bibirnya malah beku. Ujung lidahnya pun kelu. Seketika Angga ragu untuk mengungkapkan isi hatinya kepada bidadari itu.
"Ustadzah" Ucap Angga memberanikan diri.
"Iya ustadz" Jawab Syifa tersenyum sambil mengelap dahinya menggunakan sapu tangan yang ia bawa.
"Anu... Ana mau ngomong sesuatu boleh ?" Tanya Angga.
"Boleh kok... Ada apa yah ?" Jawab Syifa gugup. Ia pun menyudahi mengelap keringatnya untuk duduk manis menatap ustadz tampan itu.
"Hmmm sebenarnya, semenjak waktu itu... Ana tuh mencinnn. . . . "
Kriinggg... Krriinnggg... Krringgg !
Terdengar dering hape berbunyi.
"Ehh maaf ustadz... Sebentar yah... Haloo, Assalamu'alaikum" Ucap Syifa menjawab panggilan itu.
Hufffttt malah ada telpon ! Batin Angga semakin gugup. Angga pun terus menerus menatap Syifa yang tampak semakin asyik mengobrol dengan seseorang disana.
"Ustadzah... Ana jalanin mobilnya aja yah kalau gitu ?" Ucap Angga.
Syifa hanya mengangguk sambil tersenyum. Angga pun akhirnya melajukan mobilnya sambil memikirkan sesuatu untuk menata masa depannya.
"Ustadzah Hanna... Gimana yah ?" Ucapnya bingung memikirkan persoalan itu.
*-*-*-*
Sore hari di sebuah rumah yang berada di pinggiran ibu kota. Nampak ada wanita berhijab yang tengah sibuk bersih-bersih rumah untuk menyingkirkan debu yang berterbangan di dalam rumah kontrakan itu.
Wanita itu terlihat mengenakan pakaian sederhana. Ia terlihat mengenakan celana panjang berwarna biru dengan jaket hoodie berwarna pink serta hijab pashmina yang membalut kepala mungilnya.
Jaket hoodie yang dikenakan oleh wanita berhijab itu tampak kebesaran. Hijab yang ia kenakan juga dimasukan ke dalam kerah jaket hoodie yang ia kenakan. Ia sengaja mengenakan jaket itu karena sebenarnya dibalik itu semua, ia hanya mengenakan pakaian dalam tanpa tertutupi oleh sehelai kain apapun lagi.
Hal itu terpaksa ia lakukan karena dirinya sedang menginap di rumah kontrakan seseorang yang dirasa aman dari pantauan pria kekar itu. Ia pun mengenakan apa saja yang diberikan oleh pemilik rumah kontrakan itu. Masih teringat dalam ingatan mengenai kejadian buruk yang harus ia lalui semalam.
"Hahhhh" Desahnya saat terbayang dirinya harus melayani dua lelaki bejat itu.
Ia tak pernah menyangka kalau dirinya harus melayani nafsu buas dari salah satu santrinya yang telah menipunya. Ia tak mengira kalau permintaan belajar privat itu hanyalah umpan semata agar dirinya bisa berduaan dengan santri berkepala plontos itu.
Gleeegggg !!!
Ia pun teringat bagaimana rasanya penis itu saat keluar masuk di dalam vaginanya. Tidak hanya satu melainkan dua. Ya, kembali ia tak menyangka kalau ada orang lain yang bisa menikmati keindahan tubuhnya selain pak Heri & juga ustadz V.
Kekekekek !!!
Suara tawa itu begitu menghantuinya. Ia seperti mengalami trauma. Suara tawa itu terus menggema di dalam pikirannya seolah ia telah terkutuk oleh suara tawa kuli kekar itu.
Dengan perawakan tubuhnya yang kekar. Dirinya tak berdaya saat disetubuhi dari belakang oleh pria kekar berusia tua yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan. Air matanya masih lah menetes saat teringat persetubuhannya di malam hari itu. Dirinya merasa sedih. Ia pun buru-buru menghapus air matanya saat seseorang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
"Ustadzah Nada" Ucap pria berperut tambun itu.
"Eh pak Heri" Ucap Nada berpura-pura tersenyum sambil menatap pria bertubuh gempal itu.
"Udah cukup ustadzah... Saya jadi gak enak kalau ustadzah malah kerja kaya gini... Biar saya aja yang lanjutkan nanti" Kata pak Heri kepada ustadzah idolanya.
"Gapapa kali pak... Aku emang orangnya suka bersih-bersih... Aku gak nyaman tau kalau ada kotoran yang ada di sekitar rumah... Makanya aku tanggep buat bersihin rumah bapak" Kata Nada kepada pria paruh baya itu.
"Hehehe maaf deh ustadzah... Saya gak tau sih kalau ustadzah mau mampir ke rumah saya... Saya jadi gak sempet bersih-bersih deh" Kata pak Heri merasa tidak enak saat menyambut tamunya.
"Huuuu dasar... Makanya tiap hari tuh disapu lantainya yah pak... Ini aja banyak sarang laba-laba di setiap sudut ruangan" Kata Nada memarahi pak Heri.
"Wakakakak iyya maaf ustadzah... Lain kali saya bakal lebih rajin kok" Kata pak Heri yang justru tersenyum-senyum sendiri. Entah kenapa, rasanya ia seperti sedang diomeli oleh istri sendiri. Ia pun tak dapat membayangkan bagaimana bahagianya apabila mempunyai istri seindah dan secantik ustadzah Nada.
"Ehh malah senyum-senyum sendiri... Mending bantuin aku ambilin cikraknya pak" Kata Nada yang membuat pak Heri tersadar.
"Ehh iya ustadzah... Sebentar" Kata pak Heri lekas membantu pekerjaan bidadari pemilik tubuh body goals itu.
"Hah gini kan enak... Nyaman kan dilihatnya" Kata Nada sambil melihat ruangan tamu dari rumah kontrakan yang ditinggali pria gempal itu.
"Wakakakak... Makasih yah ustadzah... Jadi enak deh" Kata pak Heri malu-malu mengucapkan kalimat itu.
"Huuuu dasar" Jawab Nada tersenyum sambil mengelap dahinya.
"Oh yah, ustadzah tunggu sini yah... Saya mau buatin minuman dulu... Ustadzah kalau kepanasan bisa lepas jaket aja" Kata pak Heri mupeng.
"Enak aja... Terus aku disuruh pake daleman aja dong ? Ihhh ogah yah" Kata Nada dengan wajah memerah.
"Wakakaka sial, ternyata gak mau" Kata pak Heri tertawa iseng sambil sesekali melirik ustadzah Nada. Nada pun hanya ketawa-ketawa kecil saja melihat tingkah pria berperut tambun itu.
"Hah... Ada-ada aja sih pak Heri ini" Ucap Nada tersenyum melihat tingkahnya.
Nada pun melirik ke kiri dan ke kanan. Ia menaikan pandangannya untuk menatap langi-langit ruangan. Ia begitu nyaman saat sedang duduk di kursi ruang tamu rumah pria tua itu. Entah kenapa rasanya seperti sudah lama dirinya tinggal di rumah sederhana itu.
"Padahal juga baru kemaren kesininya... Hihihi" Lirih Nada saat membayangkan perasaannya. Entah kenapa ia menganggapnya lucu. Ia pun tak habis pikir saat teringat pertemuan pertama kalinya dengan pria tambun itu.
Berawal dari pemaksaan yang kurir pengantar paket itu lakukan. Ia kini menganggapnya sebagai seseorang yang paling ia butuhkan. Sebagaimana wanita yang butuh peneduh. Ia pun membutuhkan pak Heri untuk melindunginya dari ide gila suaminya.
"Ini ustadzah... Minumannya" Kata pak Heri mengejutkan Nada.
"Astaghfirullah bapak... Salam dulu kek... Aku kan jadi kaget" Kata Nada sambil memegangi dadanya.
"Hahaha maaf ustadzah... Saya gak punya salam resmi kaya ustadzah gitu" Ucap pak Heri yang baru membuat Nada teringat.
Oh iya... Pak Heri kan bukan sodara seiman.
Ucapnya dalam hati.
"Tapi ya ucapin apa kek... Permisi misalnya" Ucap Nada yang masih kesal oleh rasa terkejutnya.
"Wakakakak... Maaf ustadzah... Gak lagi deh" Kata pak Heri sambil menaruh gelas minuman itu ke atas meja yang ada di ruang tamu rumahnya.
"Ini... Ini bukan minuman itu kan ?" Kata Nada curiga kalau minuman ini diberi ramuan khusus itu.
"Wakakakak bukan ustadzah... Saya gak ada niatan seperti itu... Ini murni minuman biasa tanpa ada serbuk apapun" Ucap pak Heri sambil menatap cinta pada wanita pujaannya.
"Bener yah ? Aku minum nih" Ucap Nada yang langsung meminum hingga habis.
Gleggg... Gleggg.. Gleeeggg !
"Gimana ? Enak kan ustadzah ?" Ucap pak Heri penasaran dengan reaksi tamu istimewanya.
"Hmmm enak banget pak... Segerrr" Ucap Nada yang membuat pak Heri bahagia.
"Wakakakak kalau ustadzah seger... Saya juga seger dong" Ungkap pak Heri yang membuat Nada bingung.
"Seger apaan ? Bapak aja gak minum apa-apa loh" Ucap Nada heran.
"Wakakak emang sih... Tapi kan mata saya tetep seger setelah melihat kecantikan ustadzah" Ucapnya yang membuat raut wajah Nada memerah.
"Huft bisa aja deh bapak" Ucap Nada menunduk karena malu.
"Oh iya... Kita jalan-jalan keluar yuk... Kebetulan di sekitar sini ada warung bakso yang enak loh... Ustadzah laper kan ?" Ajak pak Heri.
"Laper banget pak... Apalagi dari pagi cuma dikasih makan mie instan" Sindir Nada yang membuat pak Heri malu.
"Hehehe maaf ustadzah... Harap maklum yah... Saya kan bukan orang kaya" Ucap pak Heri yang membuat Nada tertawa.
"Hihihi becanda aja kok pak... Jangan baper" Kata Nada reflek memeluk pak Heri untuk menenangkannya. Merasakan pelukan dari bidadari pujaannya membuat hati pak Heri jedag-jedug sendiri. Rasanya ingin meledak. Rasanya ia ingin mengabarkan pada dunia kalau dirinya saat ini sedang berbahagia.
"Tapi kalau saya bapernya karena saya cinta ke ustadzah boleh gak ?" Ucap pak Heri mupeng.
"Gak boleh" Jawab Nada tegas setelah melepas pelukannya.
"Dasar pelit amat" Ucap pak Heri cemberut yang malah membuat Nada tertawa.
"Hihihihi biarin" Ucap Nada tertawa lepas.
Setelah puas berduaan. Mereka pun bersiap-siap menuju warung bakso terdekat untuk mengisi perut mereka yang kelaparan seharian.
Nada masih mengenakan pakaian yang sama berupa hoodie berwarna pink serta celana panjang berwarna biru yang membalut tubuh sempurnanya. Tak lupa, hijab berwarna coklat juga terpasang untuk menutupi auratnya. Sementara pak Heri mengenakan kaus polo santai yang menampakan perut tambunnya. Celana kain panjang melengkapi penampilannya di sore hari yang indah.
Sebisa mungkin, pak Heri ingin terlihat tampan ketika sedang berjalan berdua bersama wanita pujaannya. Alih-alih cuma sekedar makan berdua. Pak Heri menganggapnya sebagai kencan berdua bersama wanita alim yang sehari-harinya bekerja sebagai ustadzah pondok pesantren.
Ia tak pernah membayangkan dalam seumur hidupnya ia bisa berduaan bersama ustadzah pemilik body goals sempurna ini. Bahkan semalam saja dirinya mampu tidur berdua dalam keadaan telanjang bersamanya.
Wakakakak indah banget yak hari ini... Mana langit cerah lagi... Jadi pengen gandeng tangannya deh.
Batin pak Heri saat tangannya bergerak perlahan untuk menyentuh jemari lembut ustadzah cantik itu.
"Ehhh bapak... Enak aja pegang-pegang" Ucap Nada buru-buru menarik tangannya saat merasakan sentuhan di ujung jemari tangannya.
"Wakakak... Gak sengaja ustadzah" Ucap pak Heri menyayangkan dirinya gagal menggaet tangan ustadzah cantik itu.
"Gak sengaja apaan ? Awas yah kalau berani pegang-pegang lagi... Malu tau banyak orang" Ucap Nada sambil melirik ke sekitar.
"Biarin aja kali ustadzah... Biar tau kalau ustadzah itu udah jadi miliknya saya" Ucap pak Heri dengan percaya diri.
"Heh... Sejak kapan ? Enak aja" Kata Nada.
"Sejak semalam... Saat kita tidur berdua wakakakak" Ucap pak Heri yang membuat Nada teringat hingga wajahnya memerah.
"Ehhh gak gitu yah... Walaupun semalam aku tidur di sebelah bapak bukan berarti aku jadi milik bapak" Ucap Nada sambil memegangi kedua pipinya karena malu.
"Wakakaka tau kok ustadzah... Cuma becanda aja... Ustadzah bikin saya gemes sih... Jadinya kan saya pengen godain ustadzah terus" Ucap pak Heri kali ini lebih berani dengan merangkul pinggang ramping Nada.
"Ehhh bapaaakkkkk" Jerit Nada dengan manja.
Mendengar suaranya yang agak mendesah membuat pak Heri semakin gemas saja saat menikmati waktu berdua bersamanya. Ia pun mempunyai firasat baik bahwa hari ini akan berjalan indah ketika melalui hari bersamanya.
"Oh yah pak" Ucap Nada saat berjalan malu-malu di sebelahnya. Kedua tangannya masih memegangi pipinya. Matanya pun masih menunduk karena tak berani menatap wajah tuanya. Maklum, dirinya yang sudah terdidik sejak dini membuatnya merasa tak nyaman saat berjalan berdua bersama seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
Kendati semalam dirinya yang meminta pak Heri untuk menemaninya tidur. Bukan berarti dirinya telah merelakan tubuhnya padanya. Ia hanya butuh penenang. Selayaknya ayah yang menjaga putrinya. Seperti itulah yang Nada rasakan saat melihat kedewasaan pak Heri saat menenangkannya setelah diperkosa oleh seorang kuli bangunan.
"Ada apa ustadzah ?" Tanya pak Heri menoleh.
"Mumpung kita di luar pesantren... Jangan panggil aku ustadzah lagi yah pak" Jawab Nada sambil malu-malu menatap pak Heri.
"Loh emangnya kenapa ustadzah ? Padahal saya lebih suka manggil ustadzah karena cocok banget dengan penampilan ustadzah" Ucap pak Heri sambil memperhatikan penampakan tubuh Nada yang begitu indah.
"Tapi kan pak... Aku yang malu kalau dipanggil ustadzah... Apalagi aku pakai baju kaya gini... Kalau aku di pesantren sih gapapa... Tapi kalau aku di luar pesantren kalau bisa jangan yah... Aku gak enak" Jawab Nada mengungkap alasannya.
"Hmmm yaudah deh... Emang ustadzah mau saya panggil apa ?" Tanya pak Heri pada ustadzah bertubuh jangkung itu.
"Hmmm apa yah ? Bapak ada saran ?" Jawab Nada yang juga kebingungan.
"Mau dipanggil dek ? Apa mbak ? Apa mau di panggil sayang ? Wakakakak" Ucap pak Heri mupeng.
"Enak aja manggil sayang... Panggil mbak aja deh pak... Gimana ?" Ucap Nada melirik pak Heri.
"Loh kok bukan dek aja ?" Tanya pak Heri penasaran.
"Hmmm soalnya kalau bapak manggil aku 'dek' sama aja kaya mas Rendy... Aku jadi keinget suami aku... Yang ada malah aku kesel sendiri dengernya" Ucap Nada yang masih kecewa pada suaminya.
"Hmmm berarti saya manggil ustadzah 'mbak' aja nih ?" Tanya pak Heri memastikan.
"Iya pak... Gapapa kan ?" Tanya Nada tak sengaja tersenyum yang membuat pak Heri bahagia.
"Gapapa banget kok mbak... Mbak Nada... Wakakaka masih cocok juga sih... Lagian kan mbak udah gede ya masa mau di panggil adek" Ucap pak Heri tertawa.
"Hihihi emang apanya yang udah gede ? Aku masih muda kali pak... Masih 22 tahun" Ucap Nada belum merasa gede.
"Susunya mbak yang gede... Jadi pengen ngenyot lagi deh" Bisik pak Heri yang membuat Nada merasa malu sekali.
"Bapakkk ihhhhh" Kata Nada gemas ingin mencubitnya. Untungnya pak Heri berlari terlebih dahulu. Mereka pun terlihat seperti seorang pasangan yang sedang bermain kejar-kejaran.
Tepat di trotoar samping jalan itu, banyak sekali orang-orang yang melihatnya baik itu pasangan pemuda-pemudi sampai orang paruh baya yang sedang menikmati waktu santainya. Bahkan para jomblowan & jomblowati yang sedang berusaha mencari pasangan merasa iri karena mereka berdua terlihat begitu mesra. Kendati demikian, masih banyak orang yang mengira kalau mereka hanyalah pasangan ayah & anak.
"Hah... Hah... Hah... Udah ah aku capek pak" Kata Nada menundukan tubuh sambil memegangi kedua lututnya karena kelelahan. Bidadari cantik itu terengah-engah. Ia merasa kesal karena gagal menangkap pak Heri dan menghukumnya karena sudah menggodanya menggunakan kata-kata yang berbau intim.
"Wakakaka... Maaf ustadzah... Sini duduk dulu" Ucap pak Heri yang kebetulan ada bangku panjang yang tersedia di trotoar samping jalan.
Saat Nada duduk di sebelah pak Heri. Pak Heri dengan perhatian mengelap keringat yang ada di dahi Nada menggunakan tisu yang ia bawa. Nada jadi tersentuh. Tak sengaja matanya melihat wajah pak Heri. Pak Heri terlihat dewasa saat sedang mengurusi dirinya. Seketika Nada jadi baper yang membuatnya bergegas menurunkan pandangannya karena malu.
"Ehh lagi dielap kok malah nunduk... Angkat lagi dong wajahnya mbak" Kata pak Heri pada bidadari cantik itu.
"Udah ah... Malu tau... Diliatin banyak orang tuh" Kata Nada saat wajahnya benar-benar memerah.
"Wakakakak... Biarin aja kali... Mereka ya mereka... Kita ya kita... Lagian nanggung tau, ini masih ada keringat sedikit di dahi sebelah kiri mbak" Ucap pak Heri yang akhirnya membuat Nada menuruti.
Nada semakin malu. Ia merasa tak tahan mendapatkan perhatian oleh pria paruh baya itu. Entah kenapa jantung Nada jadi berdegup kencang. Rasanya ada getaran yang telah melanda hatinya melalui sikap pria pengantar paket itu.
"Nah gini udah" Ucap pak Heri setelah mengelap seluruh keringat di wajah Nada.
Tak sengaja wajah mereka berhadapan. Mata mereka saling memandang. Mereka pun terpana oleh pesona yang ada pada wajah pasangan. Pak Heri terpesona oleh keindahan yang ada pada wajah ustadzah sexy itu sedangkan Nada terpesona oleh kedewasaan yang ada pada wajah pak Heri.
Nada pun tersenyum tanpa sadar. Dengan malu-malu Nada beranjak berdiri kemudian berjalan menjauhi pak Heri yang masih terduduk.
"Ayok pak buruan... Aku laper tau" Kata Nada yang masih tak dapat menyembunyikan senyumnya akibat perbuatan kurir pengantar paket itu.
"Eh mau ke warung bakso itu kan ?" Tanya pak Heri.
"Iyalah... Kan bapak tadi udah janji bakal nraktir aku" Kata Nada berbalik untuk menatap pak Heri.
"Tapi warungnya ada di arah sana loh ustadzah... Kalau arah yang ustadzah tuju ya balik ke rumah" Ucap pak Heri yang membuat Nada merasa malu.
"Ehh kesana yah ? Yaudah buruan" Kata Nada mendekati pak Heri kemudian menarik tangannya karena salah tingkah.
"Ehh bentar ustadzah... Eh maksudnya mbak" Kata Pak Heri saat tangannya ditarik oleh ustadzah cantik itu.
Mereka berdua pun berjalan bersama dengan kebahagiaan yang masih mereka sembunyikan di dalam hati mereka.
Kenapa aku deg-degan banget yah ? Aneh deh.
Batin Nada saat menarik tangan pria tua itu.
SESAMPAINYA DI WARUNG BAKSO
"Mbak mau pesen minuman apa ?" Tanya pak Heri pada bidadari cantik itu.
"Ehhh anu... Es jeruk aja pak" Kata Nada saat wajahnya ditatap oleh pria tua itu.
"Bakso nya dua sama es jeruknya dua yah mang" Kata pak Heri pada penjual bakso itu.
"Siap pak Heri" Kata mamang penjual bakso itu yang tampak sibuk melayani pembeli lainnya. Pak Heri yang sering jajan di warung bakso ini pun langsung dikenali kendati hanya lewat suaranya saja.
"Rame yah pak ?" Kata Nada untuk mengurangi kegugupannya.
"Wakakaka iya mbak... Emang warung bakso ini yang terenak di daerah sini... Tempatnya juga strategis di dekat alun-alun makanya banyak pasangan muda yang jajan disini.
"Ohhh gitu" Kata Nada yang semakin berdebar saat mendengar kata 'pasangan' dari mulut pria tua itu.
Tak lama kemudian, bakso dan minuman yang mereka pesan pun datang.
"Ini pesanannya pak dan wahhh siapa ini ? Pacarnya yah ?" Kata mamang penjual bakso itu saat melihat keindahan wajah Nada.
"Anuu..."
"Iya mang... Ini pacar saya... Kenalin yah wakakakka" Pak Heri pun lebih dulu menjawab yang membuat Nada hanya tersenyum malu.
"Wahh kok bisa ? Beruntung banget pak Heri punya pacar secantik mbak. . . . " Kata pak Heri pada Nada.
"Nada mang" Jawab Nada malu-malu yang membuat pak Heri bangga di sebelahnya.
"Dengan mbak Nada... Tenang aja mbak... Pak Heri ini orangnya baik kok... Dia kadang jadi temen curhat saya sewaktu saya ada masalah... Bisa dibilang pak Heri ini udah kaya sahabat saya sejak lama kendati ketemuannya cuma di warung bakso saya aja hahahah" Kata mamang tertawa.
"Wakakakak jangan bilang gitu ah mang... Saya jadi malu dengernya wakakakak" Tawa pak Heri. Nada pun hanya tersenyum malu mendengar pembicaraan kedua lelaki itu.
"Oh yah mbak... Tapi hati-hati juga yah... Soalnya pak Heri juga orangnya genit" Bisik mamang ke telinga Nada.
"Eh genit apanya" Kata pak Heri tidak terima saat mendengar bisikan mamang.
"Hihihi iya mang... Aku tau... Semalam aja pak Heri ngajak aku tidur berdua" Ucap Nada malu-malu yang membuat pak Heri juga tersipu.
"Ohhhh udah mulai diajarin nakal yah sama pak Heri... Emang kalian baru jadian berapa lama ?" Kata mamang curiga.
"Anuuuu" Jawab Nada ragu.
"Baru beberapa hari kok... Udah ah... Kami laper, kami mau makan dulu" Ucap pak Heri memotong pembicaraan karena tak ingin pacarnya diinterogasi lebih lanjut oleh mamang penjual bakso itu.
"Hihihihi" Nada pun hanya tertawa sambil mulai mencicipi kuah bakso tersebut.
"Heh dasar... Lagi diajak ngobrol malah berpaling.... Yaudah, karena saya sudah lama kenal pak Heri... Saya akan memberi kalian diskon gratis deh demi menyambut pacar barunya pak Heri" Ucap mamang penjual bakso itu sambil merangkul bahu pak Heri dan bahu Nada saat dirinya berada diantara keduanya.
"Wakakak beneran ?" Tanya pak Heri. Nada pun tersenyum sambil menatap wajah penjual bakso itu.
"Boleh asal saya dikasih senyuman oleh mbak Nada dulu" Ucap pak Heri sambil melirik Nada. Tanpa sadar Nada langsung tersenyum manis yang membuat mamang penjual bakso itu meleleh dibuatnya.
"Hihihihi" Nada pun tertawa sambil menutupi mulutnya saat melihat ekspresi wajah si mamang yang terlihat bahagia.
"Oke... Kalian berdua saya beri gratis tis" Kata si mamang yang membuat Nada merasa senang.
Saat mamang penjual bakso itu kembali ke tempatnya, pak Heri segera berbicara dengan Nada.
"Eh mbak... Kenapa di kasih senyum sih" Kata pak Heri terlihat cemburu.
"Hihihi kan biar dikasih gratis pak" Ucap Nada sambil tersenyum.
"Gratis sih gratis tapi setidaknya harus izin saya dulu dong sebagai pacarnya" Kata pak Heri yang terlalu hanyut oleh akting tak bernaskahnya itu.
"Hihihi apaan pacar" Kata Nada merasa malu.
"Lohh bukannya kita resmi berpacaran... Tadi aja sewaktu saya bilang ke mamang, mbak malah keliatan senang"
"Yeee apaan orang aku nganggap nya lucu aja" Kata Nada malu-malu mengakui. Ia pun menyeruput kuah baksonya demi mengurangi kegugupannya.
"Hah... Pokoknya mbak harus kasih saya senyuman juga kalau gak saya ngambek" Kata pak Heri yang membuat Nada hampir tersedak kuah bakso tersebut.
"Hihihi apaan sih pak sampe ngambek segala... Yaudah deh ini.. Senyummmm" Kata Nada tersenyum manis yang membuat pak Heri tersipu.
"Nah gitu dong... Gitu kan baru adil" Kata pak Heri malu-malu disebelah Nada. Nada pun hanya tertawa sambil menyantap semangkuk bakso itu bersama pak Heri di sebelahnya.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
"Gimana tadi baksonya ? Enak kan ?" Tanya pak Heri saat mereka sudah berada di depan rumah kontrakannya.
"Enak banget pak... Mana tadi di kasih bonus sama si mamang" Kata Nada tersenyum cerah.
"Lah iya... Ada maksud apa yah si mamang tiba-tiba ngasih satu porsi lagi ke mbak" Kata Pak Heri curiga.
"Hihihi emang dasarnya orang baik kali pak... Jangan suudzon dulu" Kata Nada tertawa.
"Masalahnya... Kenapa saya gak dikasih juga... Kenapa cuma mbak aja yang dikasih ?" Kata pak Heri cemburu.
"Hihihi biarin aja pak... Kalau bapak kan udah gendut... Nanti kalau makan dua porsi ya kapan kurusnya" Kata Nada yang membuat pak Heri merasa malu.
"Heh gendut-gendut gini ada yang suka loh" Kata pak Heri dengan PeDe.
"Loh siapa ? Aku enggak loh" Kata Nada cepat tanggap yang membuat pak Heri kesal.
"Hah... Baru aja saya mau bilang kalau mbak yang suka sama saya... Eh malah mbak dijawab duluan"
"Hihihi aku kan orangnya peka" Kata Nada tertawa.
"Iyya deh... Saya orangnya mah ngalah aja" Kata pak Heri yang sudah bahagia melihat kebahagiaan wajah Nada.
"Oh yah mbak... Mumpung kita udah di rumah... Saya boleh manggil mbak, ustadzah lagi gak ? Rasanya agak gimana gitu kalau manggilnya mbak... Lebih nyaman manggilnya ustadzah aja" Kata pak Heri.
"Hihihi kok bisa gitu sih pak ? Yaudah boleh kok pak" Kata Nada saat memasuki pintu rumah setelah dibukakan pintunya oleh pemilik rumahnya.
"Hah ustadzah Nada... Gini kan lebih nyaman manggilnya" Kata pak Heri sambil menutup pintu rumahnya dengan rapat.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Nada yang kelelahan langsung duduk di ruang tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tak diduga, pak Heri juga duduk di sebelahnya yang membuat Nada merasa gugup.
"Capek yah ustadzah... Sini saya pijat dulu" Kata pak Heri sambil memijit lengan Nada yang membuat Nada merasa tak nyaman.
"Ehh gak usah pak... Aku jadi gak enak kalau bapak kaya gini" Kata Nada sambil memegangi tangan pak Heri yang tengah memijit tangannya.
"Dah biarin... Tamu kan harus dihormati, gitu kan ustadzah ? Justru saya yang gak enak kalau ustadzah merasa gak nyaman pas tinggal dirumah saya" Kata pak Heri memaksa memijit tangan Nada sambil menatap wajahnya.
"Ihh bapak" Kata Nada yang tak bisa mengelak. Karena sejujurnya ia juga merasa nyaman saat menerima pijitan dari tangan pria tua itu. Lengannya merasa nyaman. Rasa lelah yang tadi dialaminya pun hilang setelah menerima pijatan itu.
"Mana lagi yang pegel ustadzah ?" Kata pak Heri menawarkan jasa pijatnya.
"Kalau bapak mijit kaki aku gapapa ? Kaki aku pegel banget soalnya" Kata Nada sambil malu-malu.
"Ohhh gapapa banget ustadzah... Sini ustadzah senderan aja di tepi sofa... Sini kakinya diselonjorin diatas paha saya" Kata pak Heri menawarkan.
Dengan malu-malu Nada menuruti permintaan kurir itu. Nada pun menaikan celananya hingga kaki mulus Nada yang begitu bening terlihat di pangkuan pak Heri.
"Mmpphhh" Desah Nada saat kakinya dipijit oleh pak Heri.
"Terlalu kuat yah ustadzah ?" Tanya pak Heri khawatir.
"Cukup kok pak... Pas... Rasanya enak" Ucap Nada malu-malu sambil tersenyum.
Pak Heri pun ikut tersenyum sambil terus memijit kaki mulus ustadzah berhijab itu.
"Ternyata bener yah yang dibilang sama mamang tadi" Kata Nada tiba-tiba sambil menikmati pijitan pak Heri.
"Eh yang mana ?" Tanya pak Heri sambil memijit kaki Nada.
"Kalau bapak tuh sebenarnya orang baik" Kata Nada yang membuat pak Heri tersipu malu.
"Cuma ya kadang mesumnya kebangetan... Gak heran bapak sampe kepikiran gitu pas awal-awal dulu kita bertemu" Ucap Nada sambil mengingat perbuatan pak Heri saat pertama kali menyetubuhinya.
"Eh wakakak... Maaf ustadzah soal itu" Kata pak Heri sambil terus memijit mesra kaki Nada.
"Iya gapapa kok pak... Aku udah maafin" Kata Nada tersenyum yang membuat hati pak Heri merasa lega.
"Maaf yah ustadzah... Tenang aja kok... Saya bakal bertanggung jawab dan mengembalikan semuanya seperti semula" Kata pak Heri sambil menatap wajah Nada yang tengah tersenyum padanya.
"Tolong yah pak" Kata Nada.
Pak Heri hanya tersenyum. Tapi ia khawatir setelah dirinya bertanggung jawab, Nada malah meninggalkannya dan memilih kembali bersama suaminya.
Gak mungkin... Pasti ustadzah Nada tidak akan mau untuk tinggal kembali bersama ustadz mesum itu.
Batin pak Heri merasa yakin.
"Sudah cukup pak... Terima kasih" Kata Nada merasa cukup.
"Beneran nih ? Ada lagi gak yang pegel ?" Tanya pak Heri.
"Punggung aku agak pegel sih pak... Kayaknya gara-gara sering bungkuk pas nyapu tadi" Kata Nada teringat saat bersih-bersih rumah pak Heri.
"Oh kalau gitu ustadzah berbaring di kasur aja yah... Biar ustadzah lebih nyaman saat saya pijat" Kata pak Heri menyarankan.
"Hmm boleh deh" Kata Nada tersenyum.
Mereka berdua pun berjalan menuju ranjang tidur yang mereka tempati bersama semalam. Tanpa disuruh, Nada langsung berbaring tengkurap. Pak Heri pun berhenti sejenak sambil terpikirkan sesuatu. Seketika wajahnya memerah.
"Oh yah ustadzah... Maaf nih... Kalau ustadzah pengen dipijit punggungnya, jaketnya bisa dibuka gak ? Soalnya kan mau saya oleskan balsem juga" Kata pak Heri yang membuat wajah Nada memerah.
"Eh tapi pak... Aku kan gak pake apa-apa dibalik ini" Kata Nada langsung bangkit dalam posisi duduk menatap pak Heri.
"Hehe tapi kan ustadzah masih pake dalaman... Saya janji gak mesum deh... Saya cuma fokus mijit punggung ustadzah" Kata pak Heri walaupun ia tak yakin bisa melakukannya.
"Hmmm bener yah ? Aku pengen dipijit banget soalnya" Kata Nada yang benar-benar merasakan pegel di punggungnya.
"Iya ustadzah... Saya akan berusaha" Kata pak Heri yang mulai ngap-ngapan saat melihat Nada menaikan jaketnya.
Perut rata Nada terungkap. Kulit beningnya pun mulai terlihat. Saat jaket itu sudah terlepas dari tubuh rampingnya, pak Heri dapat melihat belahan dadanya yang begitu dalam yang masih tertutupi bra berwarna merahnya.
Gileeee indah banget bodynya !!! Kalau kaya gini sih mana saya tahan !!!
Batin pak Heri mulai bernafsu.
Nada saat itu tengah duduk manis diatas ranjang menatap pak Heri. Pak Heri pun hanya berdiri diam saat dihidangkan oleh penampakan sisi depan tubuh Nada yang sangat mengagumkan.
"Pakk... Jangan mulai deh... Kok bapak ngeliatnya gitu ?" Kata Nada sambil menutupi tubuhnya sebisanya menggunakan tangan kosongnya.
"Ehh maaf... Maaf ustadzah... Saya teralihkan tadi" Kata pak Heri sambil menggelengkan kepala. Nada pun mulai mengambil posisi untuk tiduran tengkurap di atas ranjang pak Heri.
"Oh yah ustadzah... Bisa lepas celana juga gak ?" Tanya pak Heri yang membuat Nada kembali bangkit menoleh pak Heri.
"Kok celana juga sih pak... Kan cuma punggung aku yang pegel" Kata Nada sambil menutupi payudaranya yang masih tertutupi bra ketatnya.
"Hehe soalnya... Syaraf yang menghubungkan punggung ke paha jadi satu ustadzah... Makanya selagi punggung ustadzah dipijat... Saya juga akan langsung memijat paha ustadzah biar bisa maksimal" Kata pak Heri berbicara asal karena sudah terlanjur bernafsu.
"Hmmm gitu yah ? Yaudah deh.... Tapi aku malu pak" Kata Nada ragu.
"Tenang ustadzah... Lagipula kan ustadzah tengkurap... Saya cuma melihat punggung ustadzah kok" Kata pak Heri meyakinkan.
"Bener yah ? Awas aja macem-macem lagi" Kata Nada dengan wajah memerah.
"Iya ustadzah" Kata pak Heri dengan yakin yang membuat Nada percaya saja.
Nada dengan polos menurunkan celana panjang yang ia kenakan. Sedikit demi sedikit paha mulusnya mulai terlihat. Kaki beningnya yang begitu jenjang menggoda mata pak Heri seketika. Apalagi celana dalamnya yang juga berwarna merah memanjakan mata pak Heri saat melihatnya.
Nada pun kembali duduk menatap pak Heri. Nada terlihat malu-malu sambil menutupi bagian intimnya menggunakan tangan seadanya. Ekspresi wajah Nada pun membuat pak Heri gemas. Andai saja ia tak bersabar. Sudah pasti ia langsung menerkamnya dan memuaskan nafsu birahinya padanya.
"Silahkan tiduran ustadzah" Kata pak Heri menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan hawa nafsunya sesaat.
Nada yang hanya tinggal mengenakan hijab beserta bikini sexy-nya terlihat semakin menggoda. Bahkan dari samping saja, pak Heri mampu melihat ukuran payudara Nada yang besar tengah tergencet oleh tubuhnya yang sedang terbaring pasrah.
Indah sekali tubuhmu ustadzah... Sllrrpp !!
Batin pak Heri nyaris ngiler saat melihat keindahan tubuh itu.
Perlahan demi perlahan pak Heri mulai mendekati tubuh polos Nada yang sudah setengah telanjang. Semakin ia mendekati tubuhnya, ia semakin geleng-geleng tak percaya bahwa dirinya mendapatkan kesempatan untuk memijit tubuhnya.
"Uuhhhhhhh" Desah Nada dengan manja saat punggungnya mulai dipijit oleh pak Heri.
"Gimana ustadzah ? Terlalu keras gak ?" Tanya pak Heri sambil menahan nafsunya yang semakin memuncak.
"Cukup pakkk... Ini enakk... Ahhhhh" Desah Nada sambil memejam menikmati pijitan tangannya.
Kedua jempol pak Heri secara bersamaan menekan punggung mulus bidadari itu. Tak lama kemudian, sisa 8 jari yang pak Heri miliki menyentuh sisi samping tubuh indah Nada. Secara perlahan pak Heri mendorong tangannya hingga sampai ke tengkuk leher Nada.
"Uhhhhh pakkk" Desahnya menikmati.
Mendengar suara desahan Nada yang begitu manja ditambah dengan penampakan punggungnya yang begitu menggoda membuat pak Heri terus menerus geleng-geleng kepada. Ia tak tahan lagi. Rasanya ia ingin menerkam tubuh indahnya saja demi memuaskan nafsunya.
Diam-diam ia pun mengurut penisnya tanpa sepengetahuan Nada yang tengah keenakan.
Kembali kedua tangan pak Heri turun sambil terus menekan punggung tubuhnya hingga sampai di dekat bongkahan pantatnya. Iseng pak Heri meremas-remas bongkahan pantatnya yang masih tertutupi celana dalamnya sebagian.
"Mmmpphh... Mmpphhhhh" Desah Nada yang mengira kalau pijitan nya itu masih lah bagian untuk meredakan pegal di punggungnya. Padahal pak Heri hanya iseng saja. Ia begitu gemas oleh penampakan bongkahan pantat itu yang begitu aduhai.
Kembali pak Heri mendorong tangannya naik kemudian menurunkannya lagi. Punggung Nada terus ditekan naik turun yang membuat bidadari itu keenakan. Diam-diam pak Heri melepaskan kausnya beserta celana panjangnya. Bahkan, ia tak ragu untuk melepas celana dalamnya hingga dirinya sudah telanjang bulat tanpa sepengetahuan Nada yang masih tengkurap.
"Uhhhhhh bapaaakkk... Enak banget pijitannya pak" Kata Nada merinding saat tangan pak Heri menekan-nekan pinggul tubuhnya.
Saya juga enak banget ustadzah bisa ngelus tubuh sesexy ini.
Batin pak Heri mupeng.
Nampak batang penisnya mengeras, rasanya ia ingin menggesekan batang penisnya ke selangkangan Nada yang semakin membuka.
Tiba-tiba Nada merasakan sesuatu yang basah di punggungnya. Ia pun hendak berbalik namun tertahan oleh dorongan tangan pak Heri yang memintanya untuk tidak bergerak.
"Ehh bapak ngasih aku apa pak ? Kok rasanya licin gini ?" Tanya Nada dengan polosnya.
"Ini minyak telon ustadzah... Nanti efeknya bagus buat tulang ustadzah sewaktu saya memijatnya" Ucap pak Heri berbohong.
"Eh beneran ? Beneran loh yah, aku percaya sama bapak nih" Kata Nada yang mulai curiga.
"Tenang ustadzah... Saya pasti bakal bikin ustadzah puas kok" Kata pak Heri kembali memijit tubuh polos Nada.
"Uhhhhhh... Uhhhhhh paaakkkk" Desah Nada semakin menikmati pijatannya.
Sebuah lotion yang pak Heri oleskan menambah sensasi nikmat saat jemarinya menggesek tubuh mulus Nada. Tubuh polos di hadapannya itu terlihat semakin kinclong. Pak Heri jadi semakin gemas untuk menekan-nekan tubuh mulus itu.
"Maaf ustadzah... Saya lepas yah celana dalamnya" Kata pak Heri yang membuat Nada bertanya-tanya.
"Ehh pak apa maksudnya ?" Kata Nada hendak berbalik namun kembali ditahan oleh Pak Heri.
"Tenang ustadzah... Saya mau ngolesin minyak telon juga ke pantat ustadzah... Gapapa kan ? Saya orangnya perfeksionis soalnya... Jadi gak mau setengah-setengah sewaktu mijitin ustadzah" Kata pak Heri dengan yakin yang membuat Nada menurut saja.
"Tapi ini bagian dari pijit kan pak ?" Tanya Nada ragu.
"Iya ustadzah... Ini kalau saya mijit bagian ini... Pinggul ustadzah akan jadi semakin enak... Ustadzah gak pegel-pegel lagi di bagian sini" Kata pak Heri sambil memegang pinggang Nada.
Mendengar penjelasannya yang begitu yakin membuat Nada menurut saja. Celana dalam Nada pun diturunkan. Nada sudah bottomless dihadapan pak Heri yang sudah telanjang bulat.
"Saya mulai lagi yah ustadzah... Ustadzah merem aja biar ustadzah makin rileks" Kata pak Heri.
"Iya pak sudah" Jawab Nada dengan polosnya.
Kembali pak Heri memulai untuk memijit tubuh indahnya. Kali ini bukan tangannya yang memijit tubuhnya melainkan batang penisnya yang maju untuk memijit tubuh mulus itu.
"Uhhhhhh" Desah Nada saat merasakan adanya tekanan di punggungnya oleh sesuatu yang keras.
Nada pun memejam nikmat. Mulutnya sampai mendesah saat merasakan benda itu memijit tubuhnya dengan begitu kuat.
"Mmpphhhh" Desah pak Heri diam-diam.
Wakakakakak.. Nikmat banget mijit tubuh ustadzah pake kontol saya !!!
Batin pak Heri puas saat batang penisnya yang berkulup menekan punggung Nada dengan begitu kuat. Perlahan demi perlahan pijatannya pun turun hingga mendekati bongkahan pantatnya. Diam-diam pak Heri pun menaruh penisnya di sela-sela bongkahan pantat Nada.
"Uhhhh pakkk... Uhhhh... Ini bener kan ? Kok posisinya agak janggal sih disitu" Kata Nada curiga namun ia tidak membuka mata.
"Aahhhh... Tenang ustadzah... Ini bener kok" Kata pak Heri berbohong saat penisnya menggesek-gesek sela-sela pantat Nada yang menggoda.
Bongkahan pantatnya yang licin menambah kesan nikmat yang pak Heri terima. Karena gemas kedua tangan pak Heri kembali bergerak untuk memijit pinggang mulus Nada. Bahkan pijatannya bergerak naik hingga hampir menyentuh lembah yang berada di dekat gunung kembar Nada.
"Ahhhh.... Aaahhhh pakkk" Desah Nada lengah.
Untungnya Nada terlanjur hanyut dalam pijitan yang ia terima. Andai ia sadar, ia pasti akan heran dengan sesuatu yang saat ini sedang menggesek sela-sela pantatnya. Orang kedua tangannya saat ini sedang memijat pinggangnya, terus apa yang saat ini ada di belahan pantatnya ?
Karena tak tahan, pak Heri dengan berani menaruh penisnya ke selangkangan Nada yang terbuka. Bahkan ujung kulupnya sampai menyundul bibir vaginanya. Pak Heri pun tersenyum saat menyundul pintu masuk menuju liang kenikmatan duniawinya itu.
Wakakakak udah basah aja ustadzah.
Batinnya tersenyum.
"Uhhhh pakkk... Uhhhh jangannnn" Desah Nada menahan geli.
Namun pak Heri mengabaikan. Bahkan dengan berani ia mendorong pinggulnya hingga ujung kulupnya perlahan membelah vaginanya.
"Ehhh bapakkk... Apa yang bapak lakukan ?" Tanya Nada menoleh ke belakang. Nada pun terkejut kalau rupanya pak Heri sudah telanjang bulat. Seketika matanya melirik ke arah dua tangan pak Heri.
Mata Nada pun membuka lebar. Ia pun sadar mengenai apa yang saat ini sedang membelah liang senggamanya.
"Ssstttt tenang ustadzah... Saya bisa jelaskan... Ustadzah tenang aja dulu... Saya tau ustadzah juga menikmatinya kan ?" Ucap pak Heri sambil mengangkat perut Nada hingga pinggulnya semakin menungging ke arah pak Hari.
"Ahhhhh tapii pakkk... Akuuu... Uhhhhhh" Desah Nada memejam saat penis itu semakin masuk membelah vaginanya.
Kini pak Heri dengan berani menggerayangi tubuh sexy Nada. Punggung mulusnya di elus. Pinggang rampingnya juga di elus. Bahkan payudaranya yang kegencet juga dielus saat tangannya menyelinap masuk tuk memainkan buah dada itu.
"Ahhhh pakkk... Jangannn.... Jangannnn" Desah Nada kendati tubuhnya sedang keenakan.
Sebagai ustadzah pesantren, ia sangat tahu kalau saat ini tubuhnya sedang dilecehkan oleh kurir pengantar paket itu. Tetapi, sebagai wanita biasa. Dirinya juga menikmati setiap gesekan yang pak Heri lakukan pada tubuh mulusnya. Apalagi pinggul kurir tambun itu mulai bergerak. Dinding vaginanya di sentak. Ia pun jadi sungkan untuk berontak. Karena ia tahu siapa yang saat ini sedang bersamanya.
Sebetulnya Nada mulai tersentuh oleh setiap perlakuan pak Heri semenjak diri mereka berjalan menuju warung bakso itu. Nada bahkan sudah tak merasa risih lagi. Ia pun sedang bimbang antara memberontak atau menikmati saja pijatan plus-plus yang sedang pak Heri berikan padanya.
"Maaf ustadzah... Saya gak kuat lagi... Saya pengenn hennkkghhh !!!" Desah pak Heri saat menarik pinggulnya perlahan kemudian mendorongnya hingga mentok.
"Aaahhhhhh pakkk" Desah Nada hingga kepalanya terangkat.
"Lagiiii !! Hennkkgghh !!!" Desah pak Heri menahan nafas saat pinggulnya kembali ia tarik hingga ujung kulupnya nyaris keluar kemudian mendorongnya hingga mentok.
"Aaaahhhhhhh" Desah Nada dengan manja.
Baru setelah itu pak Heri menghujami vaginanya dengan teratur. Tanpa ampun pak Heri menaik turunkan pinggulnya hingga tubuh Nada semakin terbenam di atas ranjang tidur kurir pengantar paket itu.
"Ahhhh... Aahhhh maaf ustadzah.... Tubuh ustadzah sexy bangettt... Saya jadi gak tahan pengen genjot memek ustadzah lagi" Desah pak Heri di sela-sela sodokannya.
"Tapiii pakkk... Ahhhhh.... Aaahhhhh" Saking kuatnya sodokan yang pak Heri lakukan. Nada jadi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kedua tangannya bahkan sampai mencengkram kuat sprei ranjangnya saat dorongan pinggul pak Heri semakin kuat saja.
Tidak cukup hanya dengan genjotan. Kedua tangan pak Heri kembali mengusap-ngusap punggung mulus Nada. Kedua tangannya pun berpindah dengan memegangi punggung tangan Nada. Kedua tangan Nada di rentangkannya baru setelah itu tubuh pak Heri turun hingga perut tambunnya bersentuhan dengan punggung mulusnya.
"Cupp... Cuppp... Cupppp" Pak Heri dengan gemas mencumbui punggung mulus Nada. Nada sampai merinding. Ia benar-benar terangsang oleh cara pak Heri dalam menaklukan tubuhnya.
"Pakkk.... Ahhhh... Ahhhhhhh" Desah Nada semakin kewalahan saat liang vaginanya semakin basah.
Kedua tangan pak Heri mengaitkan jemarinya dengan jemari tangan Nada. Ia pun mempercepat hujamannya. Wajah Nada yang sedang menoleh ke samping langsung disosornya menggunakan bibir tebalnya.
"Mmmppphhhhh" Desah mereka saat berciuman.
Bibir Nada didorongnya dengan kuat. Nada sampai kesulitan untuk bernafas karena pak Heri tak memberinya kesempatan untuk membuka mulutnya. Nada pun pasrah karena tenaganya tak sanggup untuk melawan tenaga pak Heri yang sedang melonjak-lonjak.
Bibir pak Heri membuka untuk mengapit bibir manis Nada. Bibir atas Nada di kulum. Lidahnya pun bergerak dengan mengolesi bibir tipis Nada yang berada di dalam mulutnya. Pak Heri sampai menghisapnya dengan kuat yang perlahan semakin membangkitkan nafsu birahi mereka berdua.
"Mmppphhh pakkkkk" Desah Nada di sela-sela percumbuannya.
Selagi pinggulnya masih menghujami vaginanya. Lidah pak Heri bergerak untuk masuk ke dalam mulut bidadari cantik itu. Nada pun terkejut saat lidah pak Heri bergerak dengan begitu liar di dalam mulutnya. Tak satupun tempat di dalam rongga mulut Nada yang tak dijilati oleh lidah pak Heri. Langit-langit mulut Nada di jilatnya. Gigi samping Nada di jilatnya. Tak lupa lidah Nada juga di jilatnya dengan penuh nafsu oleh pria berperut tambun itu.
"Ouhhh ustadzahh... Ustadzah kok bikin saya sangek terus sih... Kontol saya sampai gak bisa berhenti buat genjotin memek ustadzah... Lidah saya aja sampai lupa caranya buat berhenti menjilati mulut manis ustadzah" Desah pak Heri di sela-sela cumbuannya.
"Mmpphh.. Mmpphh" Desah Nada yang hanya bisa memejam merasakan nafsu buas dari pria tua itu.
Puas mencumbui bibirnya pak Heri pun melepaskan cumbuannya sekaligus menghentikan genjotannya. Pak Heri merasa lega karena dirinya tidak jadi keluar duluan akibat terlalu menikmati persetubuhan indahnya.
"Ahhhhh nyaris aja... Wakakakak... Gimana ustadzah ? Ustadzah menikmatinya kan ?" Tanya pak Heri terengah-engah.
"Mmpphh hah... Hah... Apa yang bapak lakukan ? Bapak memberi aku minuman itu lagi yah ?" Tanya Nada heran dirinya bisa menikmati persetubuhannya kali ini.
"Wakakakak enggak kok ustadzah... Itu murni dari usaha saya sendiri... Ustadzah sebetulnya udah terangsang semenjak saya memijit punggung ustadzah kan ?" Ucap pak Heri yang masih menindihi tubuhnya.
"Ituuu... " Ucap Nada heran kenapa pak Heri bisa tau waktu dirinya mulai terangsang oleh perlakuan nakalnya.
"Wakakakak... Saya paham ustadzah... Memek ustadzah aja tadi udah sebasah itu... Sekarang ganti gaya ustadzah... Saya yang tiduran... Ustadzah yang goyang" Kata pak Heri yang anehnya dituruti oleh ustadzah cantik itu.
Dikala pak Heri tidur terlentang diatas ranjang tidurnya. Nada dengan malu-malu mulai menunggangi pangkuan pria tua itu. Nada yang tinggal mengenakan hijab beserta behanya saja semakin menggoda pak Heri yang melihatnya dari bawah.
Saat kemaluan mereka kembali bertemu, mereka sama-sama dapat merasakan kepuasan yang tak dapat dijelaskan.
"Aaaahhhhh" Desah mereka berdua bersamaan.
"Wakakaka ayo ustadzah... Mulai digoyang... Goyang yang enak ustadzah" Kata pak Heri menyemangati.
"Mmpphh... Mmpphh" Desah Nada malu-malu sambil menatap wajah pak Heri yang merem melek keenakan. Kedua tangannya pun bertumpu pada perut tambunnya. Rasa nikmat yang tak terkira membuat Nada tanpa sadar mempercepat goyangannya.
"Aaahhh... Aahhhh iyahh ustadzah... Seperti itu... Lebih keras lagi ustadzahh... Yang dalam masukin kontol sayanya" Ucap pak Heri keenakan.
"Ahhh iyyahhh pakkk... Ahhhhh" Desah Nada naik turun diatas pangkuan pak Heri. Dadanya yang masih terbungkus bra berwarna merah itu bergetar. Nada sampai geleng-geleng kepala merasakan kenikmatannya.
"Wakakakak... Gimana rasanya kontol saya ustadzah ? Enak kan ? Ahhh... Ahhhh" Desah pak Heri merasakan goyangannya.
"Ahhhh... Ahhhh enak banget pakkk... Enak banget rasanya kontol bapak" Kata Nada keceplosan karena saking nikmatnya.
"Wakakakaka... Kalau gitu bisa dilepas behanya ustadzah... Saya gemes soalnya liat yang masih ketutup kaya gitu" Ucap pak Heri mupeng membayangkan tubuh polos Nada.
"Ahhhh... Ahhhh... Dilepas pak ? Kayak gini ?" Kata Nada yang menurutinya hingga behanya terlepas memperlihatkan keindahan susu bulatnya yang sempurna.
"Ouhhh buletnya susu ustadzah... Saya kangen banget pengen ngemut pentilnya... Ustadzah sambil goyang, ngeremes susu sendiri dong" Pinta pak Butet pada ustadzah cantik itu.
"Ahhhh.... Aahhhhh... Kayak gini pak" Kata Nada sambil meremasi payudaranya sendiri.
"Ahhhh iyahhh seperti itu... Ouhhhh binal banget ustadzah satu ini... Yang keras ustadzah goyangannya... Ahhhh iyahh begitu" Desah pak Heri saat mengajari Nada binal.
"Ahhh iyahhh pakkk... Ahhhh... Aaahhhhh" Desah Nada kali ini sambil memelintir putingnya sendiri.
Nada yang sedang terangsang berat menurut saja apa yang pak Heri perintahkan. Anehnya, tiap kali ia menurutinya. Ia malah semakin terangsang karena ia merasa nakal saat sedang menunggangi kemaluan seorang lelaki tua yang bukan muhrimnya.
Mmpphh... Kenapa sih ini ? Padahal aku lagi gak diberi minuman itu... Kenapa aku malah semakin terangsang saat bercinta dengannya ?
Batin Nada masih malu-malu untuk mengungkapkan kepuasan yang sedang ia rasakan. Saat ia menurunkan pandangannya ke wajah pak Heri. Ia pun menyadari kalau pak Heri sedang menatapnya dengan penuh cinta. Ia dapat merasakan ketulusan pak Heri saat sedang digoyang olehnya. Anehnya semakin lama ia menatap mata tulus itu. Ia malah semakin ingin memberikan yang terbaik demi memuaskan nafsu pria berperut tambun itu.
"Indah sekali matamu ustadzah... Saya suka" Puji pak Heri tiba-tiba yang membuat Nada tersentuh.
Ya wanita memang sangat suka ketika ada yang memuji matanya. Kendati saat itu dirinya sedang telanjang bulat. Pak Heri masih bisa berfokus pada wajahnya terutama keindahan matanya. Entah kenapa jantung Nada semakin berdebar. Lama-lama ia pun luluh sehingga melepaskan semua batasan yang selama ini menghalanginya saat berduaan bersama pak Heri.
Pakkk Heriii... Mmpphh... Mmppphhh !!!
Desah Nada dalam hati saat melihat wajah pak Heri yang kebapakan. Dalam hati ia sangat ingin membalas semua pujian yang pak Heri berikan dengan pujian yang keluar dari mulut manisnya. Tapi ia masih terlalu malu untuk mengungkapkannya. Ia pun hanya bisa mendesah sambil menikmati tusukan yang semakin dalam saat menghujam rahimnya.
"Ahhhh... Ahhhh bapaaakkkk !!!" Desah Nada kewalahan.
Aneh. Tubuh Nada terasa aneh ketika dirinya merasa akan ada gelombang dahsyat yang akan keluar melalui lubang kencingnya. Apakah ini pertanda dari puncak persetubuhannya dengan pak Heri ? Nada pun tak dapat menahannya lagi hingga pinggulnya bergerak maju mundur secara teratur. Bahkan ia juga melakukan gerakan memutar mulai dari kanan, mundur, kiri maju. Kembali ia melakukannya dengan arah yang sama sehingga penis pak Heri terasa diaduk-aduk di dalam rongga vagina Nada.
"Ahhh... Aahhhh nikmat banget ustadzahh... Ouhhh mantap banget... Ustadzah bisa binal juga ternyata wakakakak" Tawa pak Heri yang justru semakin membuat Nada binal karena merasa tertantang.
Ahhh... Aahhhh... Kontol bapak juga enak bangett... Aku jadi pengen goyang terus pakkk... Ahhhh... Aahhhh.
Desah Nada di dalam hatinya. Ia sangat ingin mengucapkan itu tapi ia merasa malu untuk mengungkapkannya. Nada pun hanya memejam sambil mengatupkan bibirnya menahan kenikmatan yang ia terima.
Naik-turun, naik-turun, naik-turun.
Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur.
Pinggul Nada terus bergoyang untuk memuaskan penis pak Heri yang sedang berada di dalam. Nafsu yang semakin memuncak membuat tubuh Nada semakin kencang. Pak Heri pun terpana saat melihat ukuran payudara Nada yang semakin besar saja.
"Ahhhh... Aahhhh pakkk... Akuu gakk kuatt lagiii... Aku mau pipis pakkk... Ahhhhh" Desah Nada yang tak kuasa menahannya lagi.
"Ahhh terus ustadzah... Jangan ditahan... Goyang terusss... Yang kencang !!!" Desah pak Heri menyemangati.
"Ahhhh iyahhh pakk... Ahhh... Ahhhhh iniii ennaaakkkkk" Desah Nada akhirnya berani mengungkapkannya kendati hanya dengan satu kata.
Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!
"Ahhh bapakkk... Ahhhh... Aahhhhh" Desah Nada tak kuat lagi.
Akhirnya setelah Nada membenamkan tubuhnya hingga penis itu semakin menancap di dalam. Cairan cinta yang selama ini tertahan akhirnya keluar juga.
"Aaaahhhhh keluuaaarrrr !!!" Jerit Nada sepuas-puasnya saat cairan cinta itu dengan deras menyirami ujung kulup dari penis tua tak bersunat itu.
"Wakakakak... Binal sekali dirimu ustadzah !!!" Puji pak Heri saat melihat mata Nada merem melek keenakan hingga tubuh mulusnya kelojotan setelah mengguyuri batang penisnya menggunakan cairan cintanya.
Nada pun ambruk ke dalam pelukan pria tua itu. Dengan sigap pak Heri langsung memeluk tubuh rampingnya. Bibirnya juga mencium bibir Nada yang diluar dugaan dibalas oleh ustadzah cantik itu.
"Mmuuaaahhh" Ucap mereka berdua saat mengakhiri cumbuannya.
"Manisnya bibir ustadzah" Puji pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.
"Ustadzah juga sexy banget... Desahannya itu loh bikin saya gak nahan... Siapa yang ngajarin ustadzah jadi binal gini ?" Tanya pak Heri yang membuat Nada memukul pelan dada pria tua berperut tambun itu.
"Akuu maluu tauu... Jangan bilang gitu ah... Bapak tuh yang harus tanggung jawab bikin aku kaya gini" Kata Nada sebal pak Heri berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Wakakakak... Siap ustadzah... Saya pasti bakal bikin ustadzah lebih binal lagi daripada ini... Cuppp" Ucap pak Heri bertekad sambil mengecup tepi bibir Nada.
Tubuh Nada pun digeletakan diatas ranjang tidurnya. Kini giliran pak Heri yang beraksi dengan mengambil posisi di depan selangkangan Nada yang terbuka.
"Siapp siap yah ustadzah... Hennkkgghh !!!" Tanpa ampun pak Heri menancapkan penisnya hingga mentok ke dalam.
"Aahhhhh iyyaaahhhhh" Desah Nada dengan sangat puas saat penis itu langsung bergerak keluar masuk vaginanya. Nampaknya pak Heri sudah tidak tahan lagi. Ia ingin mengakhiri persetubuhannya dengan memuaskan hasratnya pada tubuh indah Nada yang berhasil ia taklukan.
Wakakakak... Ustadzah ini masih malu-malu buat ngungkapin perasaannya saat saya setubuhi... Besok-besok saya harus bisa membuatnya lebih binal lagi !!!
Batin pak Heri bertekad.
Pak Heri memegangi pinggang rampingnya. Pandangannya pun terkunci pada pergerakan payudara Nada yang bergoyang cepat. Wajah Nada pun terlihat menggairahkan. Nada sedang memejam sambil menggigit bibir bawahnya menahan hujaman yang semakin kencang. Tangannya pun berpindah dengan meremasi payudaranya. Karena gemas ia kembali mengambil lotion yang ada di samping Nada kemudian mengoleskannya secara merata di perut dan kedua payudaranya.
"Ahhhh... Aahhhhh pelannn pakkk... Pelaannnn" Desah Nada tak kuat.
"Wakakakak... Nikmatnyaaa... Nikmatnyaa memekmu ustadzah" Desah pak Heri sambil meremasi payudara indah Nada.
Tiga menit kemudian. Pak Heri mulai merasakan rasa sesak di dada. Tubuhnya pun bergetar. Kedua lututnya melemah yang membuatnya sadar kalau dirinya sudah berada di ambang batasnya. Hal ini membuat Pak Heri meluapkan sisa tenaganya dengan menggempur rahim kehangatan Nada. Alhasil Nada semakin tersentak. Nada hanya bisa pasrah saat tubuhnya terdorong maju mundur terkena genjotan pak Heri.
"Pakkk... Aaaaaahhhhhhh.... Aaahhhh" Desah Nada dengan manja.
Pak Heri terengah-engah sambil menurunkan pandangannya ke arah tubuh Nada yang sudah tidak ditutupi apa-apa. Goyangan buah dadanya yang menggoda ditambah keindahan tubuhnya yang body goals sempurna semakin memuaskan birahinya. Pak Heri mencengkram pinggang ramping Nada kemudian mempercepat gerakannya hingga tak lama kemudian ia mulai mendapatkan hasilnya.
"Ahhhh... Ahhh... Saya kelluuaarr ustadzahh !!!" Jerit pak Heri sambil menarik penisnya kemudian mengarahkannya ke wajahnya.
"Terima ini ustadzah !!"
"Mmpphh" Desah Nada pasrah sambil memejamkan matanya.
Croott... Croot... Croot !!!
Tubuh tambunnya kelojotan. Matanya memejam saat lelehan spermanya dengan deras membasahi wajah ayu Nada. Wajah ayu Nada pun dipenuhi oleh lelehan sperma pria tua itu. Nada terengah-engah. Pak Heri juga terengah-engah. Pak Heri pun ambruk di sebelah tubuh Nada setelah merasakan kepuasan setelah menyetubuhi ustadzah idolanya.
"Hah... Hah... Hah... Saya capek banget ustadzah"
"Hah... Hah... Hah... Aku juga pak" Desah Nada yang masih memejam karena kelopak matanya telah di penuhi sperma pria tua itu.
Pak Heri dengan tanggap mengambil tisu untuk membersihkan wajah Nada. Namun belum sempat ia menyeka wajahnya. Ia terlebih dahulu terpana oleh keindahan wajah Nada yang terlihat menggairahkan. Nada memang cantik. Tetapi dengan sperma yang menghiasi wajahnya membuat Nada terlihat semakin cantik saja.
Seketika ia teringat kalau dirinya baru saja membohongi Nada dengan menyetubuhi dirinya kembali. Ia pun ketakutan andai Nada kembali marah dan membuatnya dijauhi kembali oleh bidadari cantiknya
"Maaf ustadzah... Maaf tadi saya udah gak tahan lagi... Saya udah terlanjur nafsu untuk menyetubuhi ustadzah karena gak kuat dengan keindahan tubuh ustadzah" Ucapnya sambil menyeka wajah Nada.
Nada yang masih terengah-engah hanya menoleh menatap wajah pak Heri. Pak Heri pun jadi gugup saat ada wanita berhijab telanjang yang masih mengangkang tiba-tiba menatap wajahnya.
Seketika Nada tersenyum yang membuat pak Heri penasaran.
"Iya pak gapapa... Aku udah ngeh kok kalau bapak pasti bakal kayak gini lagi... Hah, harusnya aku inget-inget betul perkataannya si mamang tadi... Gak heran kenapa mamang sampai bilang gitu... Dasar bapak mesum" Ucap Nada yang membuat pak Heri malu.
"Wakakak habis ustadzah indah banget sih... Saya kan jadi gak tahan... Terus ustadzah gak marah kan ?" Tanya pak Heri memastikan.
"Enggak kok pak... Tapi lain kali lagi kalau bapak maksa aku atau diam-diam melakukan hal ini lagi kepadaku tanpa seizin aku... Aku bakal marah besar ke bapak" Ancam Nada yang membuat pak Heri ketakutan sekaligus lega.
Fiyuhh untungnya ustadzah gak marah.
Batinnya sambil melirik penampakan Nada yang masih telanjang bulat.
Huftt dasar pak Heri nih !!!
Batinnya tersenyum saat memikirkannya. Ia pun heran pada diri sendiri. Rasanya jauh berbeda ketika ia disetubuhi olehnya sekarang daripada saat disetubuhinya dahulu. Sekarang ia tidak merasa marah. Hatinya tidak kesal setelah wajah cantiknya dipejuhi oleh sperma kotornya. Sebaliknya, ia begitu senang karena bisa bercinta dengan seseorang yang telah bersikap baik padanya.
Mereka berdua kembali berbaring saling bersebelahan. Mereka sama-sama telanjang dan sama-sama menatap langit-langit ruangan. Pak Heri sekali-kali melirik untuk menatap keindahan dada Nada yang menjulang tinggi.
Tak sengaja mata mereka bertemu. Nada hanya tersenyum malu-malu saat memergoki pak Heri selama ini menatapnya.
"Oh yah ustadzah" Kata pak Heri mendekat dengan berbaring menyamping menghadap ke Nada.
"Iyya pak kenapa ?" Tanya Nada gugup. Apalagi saat tangan pak Heri tiba-tiba sudah hinggap di perutnya dan tengah meraba-raba kulit mulusnya.
"Ada satu hal yang selama ini saya pikirkan ustadzah... Ini tentang hari besok" Kata pak Heri.
"Maksudnya pak ?" Tanya Nada belum paham.
"Besok kan hari Senin... Saya otomatis masuk kerja... Ustadzah mau saya tinggal di rumah atau balik ke pesantren lagi ? Gak mungkin kan saya ajak ustadzah ke kantor juga" Tanya pak Heri yang membuat Nada kepikiran.
"Besok yah pak... Besok santri-santri udah mulai ujian juga sih... Apa aku pulang ke pesantren aja ?" Tanya Nada meminta saran.
"Tapi saya gak rela kalau misal mereka kembali datang dan menodai ustadzah" Kata pak Heri mendekatkan wajahnya tuk menatap wajah cantiknya.
"Aku juga gak mau kali pak... Tapi aku juga punya tanggung jawab disana... Kalaupun aku disini... Aku pasti bakal bosan karena gak punya kegiatan" Kata Nada menahan geli saat tangan pak Heri iseng memainkan puting payudaranya.
"Terus gimana ustadzah ? Saya mencintai ustadzah... Saya gak rela kalau ada orang lain yang menodai ustadzah dengan kontol-kontol mereka !!!" Kata pak Heri kesal sendiri membayangkan wanita pujaannya diperkosa pria lain.
"Hihihi bapak" Kata Nada malah tertawa yang membuat pak Heri heran.
"Ustadzah kenapa ketawa ? Saya lagi serius loh ustadzah" Kata pak Heri.
"Makasih yah pak... Aku ketawa aja, aku masih keinget dulu kalau bapak tuh orang yang paling aku benci... Tapi sekarang, orang yang aku benci ternyata mengungkapkan perasaannya ke aku... Lucu kan pak ? Hihihi" Tawa Nada yang membuat emosi pak Heri perlahan menurun.
"Dasar ustadzah... Lagi dikhawatirin malah bikin saya gemas aja" Kata pak Heri semakin meremas buah dada Nada dan sesekali memeluk tubuh telanjangnya.
"Hihihi bapak geli ahhh... Udah jangan" Kata Nada sambil tertawa.
"Jadi gimana ?... Buat hari esok... Ustadzah mau disini aja ? Apa pulang ke pesantren ?" Tanya pak Heri sekali lagi.
Nada hanya tersenyum lemah. Ia pun mulai membuka mulutnya sambil memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling bertatapan dalam posisi berbaring miring.
"Aku . . . . . "
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *