Search

CHAPTER 35 - UJIAN DI PESANTREN

CHAPTER 35 - UJIAN DI PESANTREN

Pagi hari di salah satu rumah yang berada di deretan perumahan ustadz senior. Terdengar suara pancuran air yang berasal dari shower kamar mandi. Suara itu bercampur dengan suara indah yang berasal dari senandung seorang wanita. Tidak hanya suaranya yang indah, karena di dalam kamar mandi itu. Terdapat siluet seorang wanita bertubuh indah dengan lekuk semampai yang sedang memejam di bawah pancuran air shower.

Butir-butir air itu terus berjatuhan membasahi kulit indah sang bidadari bertubuh bening. Kulit itu sungguh halus. Permukaannya mulus. Bahkan air itu langsung jatuh setelah menyenggol noda yang sedikit mengotori tubuh indahnya. Dengan rambut pendek sebahu yang ia punya. Bidadari cantik itu mengusap rambutnya ke belakang sambil mengangkat wajahnya sehingga guyuran air shower itu langsung jatuh mengenai wajah cantiknya.

Dirinya masih memejam saat tangan kanannya memegangi jaring-jaring mandi yang sudah terolesi sabun cair beraroma melati. Perut ratanya mulai diusap menggunakan jaring-jaring mandi itu. Kemudian tangannya bergerak naik untuk mengusapi dua payudara bulat yang sudah mengencang sempurna akibat hawa dingin yang berada di dalam kamar mandi itu. Tak lupa punggung mulusnya juga ia bersihkan sehingga satu demi satu noda yang melekat pada punggungnya mulai berjatuhan terkena bilasan air pancuran kamar mandi.

Pentil susunya mencuat. Pentil susunya mulai berdiri tegak. Aroma harum yang muncul dari tubuh bidadari itu mulai tercium. Seketika tangan bidadari itu mulai turun ke arah selangkangannya melewati rambut-rambut tipis yang berada di bagian atas bibir kemaluannya.

"Aaaahhhhhh"

Saat jaring-jaring mandi itu melewati bibir kemaluannya. Dirinya langsung mendesah nikmat akibat vaginanya tergesek secara tak sengaja oleh jaring-jaring mandi yang sedang ia pegang. Ia pun membuka matanya. Tak sengaja matanya menatap cermin yang ada di hadapan wajahnya. Wajah cantiknya terlihat disana. Bidadari itu pun tersenyum sambil membelai bayangan wajahnya yang berada di dalam pantulan cermin itu.

"Hey cantik, udah berapa hari kamu tinggal sendirian di rumah ? Kamu pasti sangat kesepian kan yah, Haura ?" Katanya saat berbicara sendiri dihadapan cermin itu.

Entah, bahkan dirinya sampai lupa. Sudah berapa hari dirinya ditinggal pergi oleh sang suami. Mungkin sudah lima hari, mungkin sudah tujuh hari atau mungkin malah lebih. Ia begitu kesepian di rumah. Bahkan ia sampai mengajak ngobrol cermin ketika sedang mandi membersihkan diri.

Ia pun teringat kalau banyak kejadian yang sudah ia alami semenjak ditinggal pergi oleh sang suami. Mulai dari pemerkosaan yang dilakukan oleh kuli bejat itu hingga munculnya benih-benih rasa yang dulu sempat ia miliki untuk ustadz tampan itu. Bahkan baru-baru ini dirinya sampai harus dirawat di rumah sakit setelah digempur habis-habisan oleh kuli bejat itu semalaman.

"Hah" Desahnya lemah sambil merasakan pancuran air shower di atasnya.

Gemericik air itu terus turun membasahi tubuh ayunya. Rasa dingin yang berasal dari guyuran air itu tidak ia pedulikan. Matanya kembali memejam dan pikirannya kosong. Dalam benaknya, ia masih memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh tubuhnya sekarang.

Apakah kepulangan suaminya ? Rasanya tidak, karena sejujurnya ia masih merasa kesal tiap kali dikecewakan oleh daya tahan tubuh suaminya ketika bercinta dengannya.

Apakah mungkin yang dicari oleh tubuhnya adalah kepuasan dalam bercinta ? Jika benar seperti itu jelas pak Karjo bisa memberikan segala kepuasan yang ia minta. Segala posisi sex pun pasti akan disanggupi oleh kuli kekar itu. Berapa jam pun pasti akan disanggupi oleh kuli kekar itu. Semalaman saja dirinya sanggup apalagi seminggu berturut-turut ? Tapi ia merasa kurang sreg dengan kuli kekar itu. Terutama, dengan cara kasar yang dilakukan oleh kuli itu kepadanya. Ia sangat tidak menyukainya. Walau terkadang, tidak bisa dipungkiri kalau dirinya mulai terbiasa dengan gaya kasar yang dilakukan oleh kuli itu ketika menyetubuhinya.

Ataukah mungkin yang diinginkan tubuhnya adalah gairah bercinta ketika dapat berbagi romansa dengan seorang pria tampan yang telah mencuri hatinya. Kalau memang seperti itu, jelas V lah satu-satunya pilihan yang ia punya untuk memuasi hasrat tubuhnya. Bahkan kemarin pagi, dirinya baru saja bercinta dengan ustadz tampan itu di dalam ruangan kelas. Apakah ia merasa puas ? Tentu puas. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya setelah bercinta dengannya.

Yaitu, rasa penyesalan sebagai seorang ustadzah karena telah membiarkan dirinya berzina dengan rekan kerjanya. Meskipun ia merasa puas setelah menerima genjotan darinya. Ia merasa kecewa pada diri sendiri karena membiarkan pria lain selain suaminya untuk bertindak sesukanya pada tubuhnya.

Anehnya, ia lebih menyesal setelah bercinta dengan V daripada dengan pak Karjo. Karena dengan pak Karjo, ia memang dipaksa untuk melakukan persetubuhan dengannya. Ia tak memiliki tenaga untuk melawan. Dirinya hanya bisa pasrah membiarkan penis berwarna hitam itu mengobok-ngobok vaginanya.

Tapi dengan V, ia jelas memiliki kesadaran. Tubuhnya tidak dipaksa tapi hatinya malah diam membiarkan. Ia seperti jatuh ke dalam jurang yang dipenuhi oleh hawa nafsu. Dirinya sangat pasrah membiarkan ustadz tampan itu mengeksploitasi tubuhnya. Hal itu yang membuatnya makin kecewa setelah bercinta dengan V daripada pak Karjo.

Lantas apakah lebih baik bercinta dengan pak Karjo daripada dengan ustadz V ?

Gak !!! Keduanya gak boleh... Aku harus bisa jaga diri untuk mas Hendra !

Batinnya mencoba tegas.

"Tapi masalahnya, mas Hendra . . . ." Lirihnya kecewa karena berulang kali gagal dipuaskan oleh penis suaminya.

Haura hanya bisa geleng-geleng kepala. Hal ini lah yang membuatnya berulang kali berzina dengan lelaki lain selain suaminya. Tangannya kemudian meraba-raba ke arah belakang untuk mencari keran untuk mematikan pancuran air shower. Setelah puas mandi selama setengah jam penuh. Ia bergegas mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang molek. Sambil bersenandung, ia mengeringkan tubuhnya hingga tidak ada satupun butir air yang tertinggal di kulit mulusnya.

Pintu kamar mandi telah dibuka. Haura pun keluar hanya dengan mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Aroma tubuhnya wangi. Penampilannya sangat sexy. Belahan dadanya sampai mengintip untuk melihat keadaan di pagi hari.

Haura mengusap rambut sebahunya ke belakang hingga percikan air yang masih tersisa di helai rambutnya jatuh bercucuran ke lantai rumahnya. Saat melewati meja makan yang berada di dekat dapur rumahnya. Ia berhenti sejenak sambil menatap ke arah meja makan itu. Ia teringat kejadian waktu itu, kejadian ketika dirinya disetubuhi oleh pak Karjo di ruangan ini. Ia masih ingat betul waktunya. Kejadiannya sebelum dirinya digempur habis-habisan semalaman oleh penis kekarnya.

"Astaghfirullah" Haura pun menggelengkan kepala untuk buru-buru melupakan kejadian itu.

Ia telah sampai di dalam kamar tidurnya. Setelah menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia bergegas melepas handuk yang melilit tubuhnya hingga membuatnya bertelanjang bulat di dalam kamarnya.

Sungguh, tidak ada yang bisa menandingi keindahan Haura ketika ustadzah cantik itu sudah bertelanjang bulat. Tubuhnya yang ramping. Ditambah dengan kulitnya yang putih bening. Belum lagi dengan keindahan dua buah dadanya yang menggantung sempurna. Apalagi dengan putingnya yang berwarna merah muda dan juga rambut-rambut halus yang tersisir rapih diatas bibir vaginanya. Haura bagaikan seorang dewi yang baru saja turun ke bumi.

Ia terlihat sangat menggairahkan. Apalagi ketika sedang membuka lemarinya. Tak sengaja tubuhnya menungging saat mengambil pakaian yang berada di sisi bawah lemarinya. Buah dadanya jadi semakin menggantung. Membuat siapapun yang melihatnya jadi ingin menghujaminya secepatnya.

"Hah... Hari ini masanya ujian yah... Bentar lagi udah masuk waktu liburan dong" Kata Haura sambil mengenakan dalamannya.

Beha berukuran 34C telah terpasang di dadanya. Celana dalam berwarna putih juga telah masuk ke selangkangannya. Ia kemudian berjinjit untuk mengambil rok panjang yang ia taruh di sisi atas lemarinya. Baru saja ia meraih rok yang akan ia kenakan. Ia teringat kalau dirinya sedang menggoreng ikan di dapur rumahnya.

"Astaghfirullah... Kok baru keinget sih" Kata Haura buru-buru berjalan menuju dapurnya hanya dengan mengenakan dalaman saja.

Haura terlihat sexy sekali ketika berjalan-jalan hanya dengan mengenakan bikini saja. Untungnya ia menggoreng ikan itu dengan menggunakan api rendah. Ikannya belum gosong. Ia pun membaliknya di saat yang tepat. Lalu, setelah ia membalik ikan tersebut. Ia bergegas kembali menuju kamarnya untuk mengenakan rok panjangnya.

Ia sudah berdiri di depan cermin besarnya sambil mengancingkan satu demi satu kancing kemejanya. Nambak belahan dadanya semakin tertutup saat Haura mengancingkan beberapa kancing di bagian atasnya. Setelah semua kancing kemejanya telah masuk ke tempatnya. Ia kembali membuka lemari untuk mengambil hijab pashmina untuk menyempurnakan penampilannya.

Haura tersenyum. Ia bahkan berkedip di depan cermin itu. Ia terlihat percaya diri. Ia pun bersiap untuk menjadi pengawas di hari ini.

"Oh iya ikannya" Kata Haura buru-buru ke dapur untuk mentiriskan ikan tersebut.

Saat ia melihat ke arah jam dindingnya. Rupanya waktu sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi.

"Aduh, gak ada waktu lagi nih... Makan nanti aja ah sewaktu jam istirahat" Kata Haura terburu-buru.

Ia pun kembali ke kamarnya untuk mengenakan parfum untuk menambah kepercayaan dirinya. Tak lupa, ia juga mengenakan make-up tipis sehingga dirinya terlihat semakin cantik di pagi hari ini.

"Hihihi mumpung ngawas ujian di kelas 6... Aku harus keliatan cantik biar makin pede di hadapan para santri" Kata Haura tersenyum.

Setelah semua persiapan telah siap. Haura pun berjalan keluar untuk duduk di depan teras rumahnya.

"Mana yah sepatuku" Kata Haura terburu-buru.

Setelah memakai sepatunya, ia pun berjalan dengan anggun menuju depan kantor pengajaran karena rencananya akan ada upacara pembukaan yang dipimpin langsung oleh pak kiyai Jamal. Selama Haura berjalan menuju depan gedung kantor pengajaran. Banyak santri terdiam menganga menatap keindahannya. Bahkan beberapa santri sampai lupa dengan materi yang sudah ia pelajari. Kecantikan Haura mengalahkan segalanya. Haura hanya senyum-senyum kecil saja sambil membalas setiap santri yang mengucapkan salam kepadanya.

"Naam Wa'laikumsalam... Ma'an najah akhi" Jawab Haura sambil mendoakan kesuksesan kepada santri yang menyapanya.

Haura jadi bahagia melihat keramahan yang ada pada setiap santrinya. Ia pun akhirnya sampai di depan gedung kantor pengajaran. Ia duduk sebentar di kursi teras yang berada di depan pintu masuk kantor bagian pengajaran.

"Hah... Akhirnya sampai juga... Baru aja mandi tapi kok udah keringetan aja sih" Kata Haura terlihat bersemangat saat melihat santri-santri yang berseliweran sambil belajar di hadapannya.

"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa seseorang yang membuat Haura menoleh.

"Walaikumsalam, eh antum... Iqbal" Jawab Haura sambil menatap santri tampan itu.

"Hehe naam ustadzah... Antum kaifa hal ?" Kata Iqbal menanyakan kabar ustadzahnya.

"Ana khoir akhi... Antum kaifa ? Antum udah siap untuk ujian kali ini ?" Tanya Haura sambil tersenyum.

"Bi du'aikum ustadzah... Ana siap" Jawab Iqbal meminta doa kepada ustadzahnya.

"Naam Iqbal... Ustadzah pasti do'ain antum... Lagipula ustadzah yakin pasti antum bisa kok ujiannya" Kata Haura menyemangati santri tampan itu.

"Naam ustadzah syukron" Jawab Iqbal tersenyum cerah.

Gak nyangka... Ustadzah berani mengkhianati ustadz Hendra. Batinnya saat teringat kejadian di ruang kelas kemarin.

Wajah Haura memang cantik. Tubuhnya bahkan sexy. Haura adalah yang terbaik dikalangan ustadzah yang berada di pondok pesantren ini. Tapi Iqbal merasa kesal padanya karena sudah berani mengkhianati cinta wali kelasnya.

Buat apa cantik... Tapi sifat kaya lonte... Ya masa terang-terangan bercinta di dalam ruangan kelas... Ustadzah macam apa itu ? Batin Iqbal sambil diam-diam melirik ustadzahnya.

"Oh yah... Ustadzah nanti ngawas di kelas mana ?" Tanya Iqbal.

"Ana di gedung Bosnia ruangan 103 akhi" Jawab Haura dengan ramah.

"Wah beneran ? Kok samaan" Jawab Iqbal terkejut.

"Oh yah ? Awas yah kalau nanti ketauan nyontek... Ustadzah cubit idungnya" Ucap Haura mengajak bercanda.

"Hehehe gak akan ustadzah... Yang ada ana dicontekin" Ucap Iqbal yang membuat Haura tertawa.

Gimana yah caranya untuk membalas perbuatan ustadzah Haura... Mau ana laporin ke ustadz Hendra tapi gak punya bukti... Paling benci ana, orang-orang yang kaya ustadzah Haura... Keliatan manis di depan tapi murahan pas di belakang... Kasian ustadz Hendra selama ini di selingkuhi. Batin Iqbal menatap wajah cantik ustadzahnya.

Tenggg !!! Tenggg !!!! Tenggg !!!!

"Eh udah bunyi tuh... Siap-siap sana... Nanti dimarahin ustadz loh" Kata Haura meminta Iqbal bersiap-siap untuk mengikuti upacara pembukaan.

"Naam ustadzah... Ana permisi dulu yah... Wassalamualaikum" Ucap Iqbal pamit pergi.

"Walaikumsalam... Naam akhi" Jawab Haura sambil menatap kepergian santri tampan itu.

Iqbal pun berjalan pergi meninggalkan ustadzah Haura sendiri. Diam-diam ia merubah raut wajahnya. Wajahnya tak lagi ceria seperti saat di hadapan ustadzah Haura.

Sementara Haura juga bersiap-siap untuk mengikuti upacara pembukaan di belakang para santri. Haura tersenyum cerah. Ia pun berdiri bersama ustadzah lainnya untuk bersama-sama menuju barisan belakang para santri.

"Wihhh antum cantik banget ustadzah" Ucap seorang ustadzah yang lebih junior dari Haura.

"Hihihi antum juga ustadzah" Jawab Haura merendah.

Saat semua santri telah berbaris rapih. Saat semua pengajar juga sudah berbaris rapih. Upacara pembukaan pun resmi dimulai. Pak Kiyai Jamal mulai berpidato untuk menyemangati para santri. Para pengajar pun diam untuk mendengar pidato itu dengan khidmat. Nampak Haura berdiri dengan tegap sambil menatap pak Kiyai dari kejauhan. Ia terlihat fokus sampai tak sadar kalau daritadi ada seseorang yang telah mengawasinya.

"Kekekekek... Makin hari makin cantik aja sih ustadzah satu ini... Jadi pengen bercocok tanam lagi deh" Ucapnya tertawa.

"Oh yah ? Ngomong-ngomong tadi ustadzah Haura abis ngobrol sama siapa yah ?" Ucapnya sambil melihat ke sekitar untuk mencari santri tadi.


*-*-*-*


Upacara pembukaan telah berakhir. Semua santri bergegas pergi menuju kelasnya masing-masing. Terlihat ada beberapa santri yang berjalan dengan santai menuju ruang kelas. Ada beberapa santri yang tampak tegang dalam perjalanan menuju ruang kelas. Ada juga beberapa santri yang menyempatkan waktunya untuk mengulang kembali materi yang pernah dipelajari kemarin.

Salwa salah satunya. Santriwati tercantik sepondok pesantren itu masih membolak-balikan buku catatannya untuk mengingat-ngingat kembali materi ujiannya. Wajahnya terlihat serius. Sebagai santriwati yang juga dikenal cerdas, la tak ingin ada satupun pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.

"Hmmm jadi begitu yah" Ucap Salwa saat berjalan sambil membaca ulang buku catatannya.

Tiba-tiba santri-santri yang ada di sekitarnya berlari. Salwa pun sadar dan buru-buru menutup buku catatannya. Wajahnya ia angkat untuk melihat ke kanan juga ke kiri.

"Ehhh ada ustadz di depan rupanya" Kata Salwa menyadari.

"Ayo semuanya !!! Cepat !!! Ujian akan segera di mulai !" Kata ustadz yang berjaga di ruang kelas.

"Iyya tau kok ustadz... Tauuu" Lirih Salwa sambil berlari kecil menuju ruang kelasnya.

Kakinya bergerak cepat. Tangannya juga berayun cepat. Terik mentari yang semakin tinggi membuat tubuh dari akhwat cantik itu mulai berkeringat. Padahal pagi tadi dirinya sudah mandi bersih. Ia bahkan sudah menyemprotkan wewangian demi mengharumkan tubuhnya. Namun keringat yang mulai muncul dari dalam pori-pori tubuhnya membuat santriwati itu merasa jengah. Ia tak nyaman. Tapi ia tetap berlari agar tidak dihukum oleh ustadz yang berjaga disana.

"Aduhhh" Kata Salwa saat menabrak seseorang. Dirinya terjatuh dalam posisi duduk. Buku-buku yang ia bawa berjatuhan. Ia pun mengangkat wajahnya untuk melihat siapa seseorang yang sedang berdiri di hadapannya.

"Kalau jalan pake mata dong... Jangan asal nabrak makanya" Kata orang itu yang membuat Salwa kesal.

"Idihhh... Siapa juga yang jalan ? Orang dari tadi ana lari kok" Kata Salwa beranjak berdiri sambil mengambil kembali buku-buku catatannya.

Saat Salwa hendak mengambil buku catatan terakhir yang terjatuh di tanah. Tiba-tiba bukunya ditendang oleh orang itu sehingga bukunya semakin menjauh dari jangkauan tangannya.

"Ihhhh Iqbal !!!" Kata Salwa kesal.

"Hahaha... Udah pinter yah sekarang... Udah bisa tunduk di hadapan ana" Kata Iqbal yang membuat Salwa semakin kesal.

"Dih... Sok-sokan" Kata Salwa segera memungut buku terakhir itu kemudian bergegas pergi menjauh dari santri tampan itu.

"Hahaha dasar... Ukhty penggoda !" Lirih Iqbal yang membuat Salwa kesal.

"Apa kata antum ? Penggoda ?" Kata Salwa lekas berbalik untuk menatap santri itu.

"Hahaha iya kan ? Kalau bukan penggoda, mana mungkin semua ustadz menyukai antum, Salwa ?" Kata Iqbal yang membuat Salwa gemas ingin menamparnya.

Tangan kanannya sudah mengepal. Ia sudah bersiap-siap untuk menampar wajah Iqbal yang terlihat semakin menyebalkan. Tapi tiba-tiba Salwa tersenyum lemah, ia pun menarik nafasnya untuk menenangkan dirinya. Iqbal pun heran dengan sikap santriwati cantik itu.

"Ohhh jadi gitu... Ana paham... Antum selama ini gangguin ana terus karena iri kan yah ?" Kata Salwa yang membuat Iqbal mendadak kesal dengan pernyataan itu.

"Apa kata antum ? Iri ?" Kata Iqbal.

Keadaan terbalik. Iqbal berada di kubu yang kesal dan berniat ingin menampar wajah santriwati cantik itu. Bahkan tangan kanannya sudah mengepal. Ia pun sudah menatap pipi wajah di sebelah kiri dari santriwati tercantik sepondok pesantren itu.

"Heyyy... Akhyy... Ukhty... Apa yang antum lakukan disana ?" Kata ustadz tadi saat memergoki mereka yang sedang berduaan.

"Hihihi maaf... Ana gak ada waktu buat ngurusin urusan antum... Antum ngira ana penggoda yah ? Makanya ana bisa dikenal oleh hampir seluruh ustadz yang ada di sini ? Gitu yah ? Maaf yah, tanpa menggoda mereka pun... Semua ustadz udah pasti kenal ana kali... Buktinya ya sekarang ini... Ana bukan antum yah yang butuh pencitraan supaya bisa di kenal oleh orang-orang... Lagipula siapa juga yang mau dikenal ? Orang ustadz-ustadz itu yang datang sendiri ke ana buat caper kok... Inget yah ? Dikira ana gak tau apa sifat asli antum ?" Kata Salwa dengan lirih.

"Apa maksud antum ?" Kata Iqbal terlihat kesal.

"Sekitar seminggu yang lalu atau malah lebih... Di kelas, selepas muwajjah pagi... Antum . . . ." Kata Salwa terpotong yang membuat mata Iqbal melebar.

"Akhy... Ukhty !!!" Ucap ustadz itu yang membuat Salwa & Iqbal menoleh.

"Hihihi... Nanti aja deh, Pengawas ujian antum ustadzah Diah yah ? Titip salam yah ke dia" Kata Salwa bergegas pergi meninggalkan Iqbal sendiri.

"Sial... Dimana dia saat itu ? Kenapa dia bisa tau rahasiaku" Lirih Iqbal sambil mengepalkan kedua tangannya. Iqbal pun geleng-geleng kepala. Ia bergegas pergi menuju gedung kelas yang berada di sebelah gedung kelas Salwa.

"Afwan ustadz... Tadi ana ditanyain sama Iqbal makanya ana telat" Kata Salwa beralasan.

"Iya gapapa... Tapi inget... Gak boleh ada hubungan di pesantren !" Kata ustadz itu dengan tegas.

"Ihhh maksud antum ? Ana sama Iqbal ? Gak yahhh" Kata Salwa merinding.

"Hahaha... Iya Salwa... Udah sana... Masuk ke kelas, ntar dicariin ustadz pengawas loh" Kata ustadz itu tersenyum.

"Iyya ustadz" Jawab Salwa tersenyum manis.

Ahhh... Cantiknya !

Batin ustadz itu senang.

Salwa lanjut berjalan menyusuri teras kelas sambil menenteng buku yang ia peluk di dada. Sudah budaya yang ada di pondok pesantren bahwa santri tidak membawa tas ke kelas. Salwa pun memeluk buku-buku catatannya hingga dirinya tiba di depan ruang ujiannya berada.

"Eh Salwa, ruang ujian antum disini yah ?" Kata seseorang mengejutkan Salwa.

"Iya ustadz... Eh ustadz" Kata Salwa terlihat senang saat melihat ustadz idolanya berdiri di sampingnya.

Tidak seperti tadi saat bersama Iqbal. Kali ini Salwa terlihat lebih feminim. Kedua kakinya merapat bahkan pelukannya pada buku di pererat. Salwa pun tersenyum malu-malu sambil memberanikan diri menatap ustadz tampan itu.

"Antum jadi pengawas disini juga ustadz ?" Tanya Salwa penuh harap.

"Enggak sih... Tapi ana jadi pengawas di ruangan sebelah, Salwa" Jawab V tersenyum.

"Hmmm kirain disini bareng ana" Jawab Salwa agak kecewa.

"Hahaha... Jangan lah... Nanti antum malah gak bisa ujian lohh" Ucap V bercanda yang membuat Salwa tertawa.

"Hihihi tau aja antum... Ana masuk dulu yah ustadz... Ana minta doa nya" Ucap Salwa sambil menaruh bukunya di sisi luar ruangan kelas.

"Naam Salwa... Ana yakin antum pasti bisa menjawab soalnya... Semangat yah" Ucap V tersenyum yang membuat Salwa semakin bersemangat untuk menjawab soal ujian.

"Aammiinn ustadz... Syukron yah... Afwan, wassalamualaikum" Ucap Salwa malu-malu.

"Walaikumsalam Salwa" Jawab V dengan ramah.

Salwa berjalan masuk ke dalam ruangan kelas. Segera setelah menemukan tempat duduknya. Ia meletakan bokong sekelnya diatas kursi duduk yang terbuat dari kayu. Kedua tangannya ia letakan di atas meja kecil yang hanya diperuntukan untuk satu orang saja.

Entah kenapa jantung Salwa jadi berdebar kencang. Padahal biasanya ia tak pernah seperti ini. Apakah karena tadi bertemu V ? Seorang ustadz tampan yang telah merenggut hatinya ? Salwa tersenyum malu-malu sambil menundukan wajahnya. Ia pun mengingat-ngingat masa itu ketika menatap senyum indahnya.

Seketika wajahnya menoleh ke arah jendela luar. Wajahnya kembali tersenyum saat melihat ustadz tampan itu masih disana dan meliriknya dari kejauhan.

Ustaaaddzzz !!!

Batin Salwa sambil tersenyum. Salwa jadi malu saat ustadz tampan itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Salwa pun menunduk sambil sesekali melirik diam-diam ke arah ustadz itu lagi.

Udah pergi yah ? Hihihi dimarahin kan jadinya... Makanya cepet masuk ke ruangan antum... Kasian tuh santri antum pada nunggu.

Batin Salwa cekikikan melihat V dimarahi oleh rekan ustadznya.


*-*-*-*


Ujian telah dimulai. Di salah satu ruang ujian yang berada di gedung sebelah. Terdapat seorang ustadzah bertubuh montok berkulit bening yang sedang memegangi beberapa lembar jawaban menggunakan tangan kirinya. Matanya mulai menghitung jumlah santri dalam satu deret meja ke belakang. Ia pun berdiri di barisan meja paling depan. Tangan kanannya memberikan lembaran itu kepada santri yang duduk paling depan. Ustadzah itu kemudian meminta santri di hadapannya untuk memberikan lembar jawaban itu ke belakang.

Lagi, ia berpindah ke deret sebelahnya. Total ada tiga deret bangku yang berada di ruang kelas ujian itu. Setelah semua lembar jawaban telah dibagikan. Giliran soal ujian yang akan ia bagikan ke seluruh santri yang berada di ruang ujiannya.

Agak repot memang, sebenarnya dalam satu ruang ujian terdapat tiga pengawas yang bertugas. Termasuk di ruangan satu ini. Tapi karena kedua pengawas itu berhalangan hadir karena ada suatu urusan. Jadilah ustadzah montok itu menjadi pengawas tunggal di ruangan ujian kali ini.

Hah... Nyita waktu banget kalau kaya gini... Bagiin lembar ujian sama soal aja udah motong waktu lima menit !

Batin Rachel sambil melihat ke arah jam tangannya.

Dengan hijab abu-abu yang menutupi rambut panjangnya. Dengan kacamata berlensa bening yang menghiasi wajah cantiknya. Dengan kemeja berwarna putih yang membalut tubuh empuknya. Serta rok panjang berwarna biru yang menutupi kaki jenjangnya. Rachel memasang wajah serius di ruang kelas ujian itu. Ia tidak ingin tersenyum, matanya menatap satu demi satu santri yang ada di hadapannya karena dirinya tidak ingin kecolongan andai ada salah satu santrinya yang berbuat curang.

Kendati demikian, Rachel masihlah terlihat cantik. Bahkan tubuh montoknya membuat semua santri yang ada di hadapannya merasa gemas ingin memeluknya. Terlebih dengan fakta bahwa dirinya sebentar lagi akan segera menikah membuat santri-santri itu kepikiran.

Apakah ustadzah Rachel masih perawan ? Kalau belum, andai aku yang menjadi orang pertama yang memerawani memeknya.

Batin mayoritas dari mereka saat menatap tubuh indah sang ustadzah.

Sepuluh menit telah berlalu semenjak dimulainya ujian di pagi hari itu. Rachel pun mulai bangkit dari kursinya setelah menulis beberapa catatan laporan ujian mengenai jumlah santri yang hadir dan sebagainya di sebuah buku catatan yang nantinya akan ia berikan kepada panitia ujian.

Rachel berjalan menuju sela-sela yang memisahkan deretan bangku nomor satu dan dua dari arah pintu masuk kelas. Rachel berjalan sambil menoleh ke kanan juga ke kiri. Rachel tampak serius membuat santri-santri itu gugup melihat keseriusan yang dimiliki oleh calon pengantin itu.

Setibanya di barisan paling belakang. Rachel pun berniat untuk kembali menuju barisan paling depan untuk berpindah ke jalan yang memisahkan deretan bangku nomor dua dan tiga dari pintu masuk kelas.

Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya. Ia terlebih dahulu merasakan adanya tamparan tangan yang mendarat di bokongnya. Rachel terkejut. Tubuhnya bahkan sampai tersentak kaget. Saat ia menolehkan wajahnya ke belakang. Ia lebih terkejut lagi setelah melihat siapa santri yang baru saja melakukannya.

Bayyuuuu !!! Batin Rachel saat teringat santri berkulit hitam dan bergigi tonggos yang tempo hari telah memasukkan batang penisnya ke dalam lubang duburnya.

Bayu hanya tersenyum setelah menampar bokong empuk itu. Bayu saat itu duduk di deretan bangku paling tengah di bagian paling belakang. Tak sengaja mata Rachel menatap ke arah deretan bangku nomor tiga yang letaknya berada di baris paling jauh dari pintu masuk. Disana ia melihat Rio terkekeh-kekeh setelah melihat temannya berhasil menampar bokong ustadzahnya.

Rachel merasa shock, perlahan ia mulai melangkah mundur tanpa mengeluarkan suara apapun. Saat dirinya sampai di deretan bangku paling belakang di barisan yang paling dekat dengan pintu masuk. Ia kembali merasakan tamparan. Bahkan tangan itu tidak hanya menamparnya, melainkan tangan itu juga meremas-remas bongkahan pantat dari luar rok panjang yang ia kenakan.

"Mmpphh" Rachel nyaris mendesah. Untungnya ia mampu menahan suaranya agar tidak terdengar keras.

Beberapa santri yang duduk di barisan nomor dua dari belakang hendak menoleh. Rachel jadi gugup. Kedua tangannya terus menutupi mulutnya dikala bokongnya terus diremas-remas oleh seseorang dari belakang.

Untungnya santri-santri itu tidak jadi menoleh ke belakang. Rachel jadi lega. Ia pun menolehkan wajahnya ke belakang untuk melihat siapa pelaku dari santri mesum yang telah melecehkan tubuhnya.

Wahhyuuuu !!! Batin Rachel saat menatap santri bertubuh gemuk dengan janggut tebal yang saat ini masih saja meremas bokongnya.

Rachel merasa malu. Wajahnya memerah. Ketika ia menoleh ke samping tuk menatap Bayu. Bayu sedang menahan tawa saat melihat ustadzahnya di lecehkan. Saat ia menoleh tuk menatap Rio, si santri bertubuh cungkring yang tempo hari berhasil menggesek vaginanya menggunakan batang penisnya juga sedang menertawai dirinya. Rachel pun menggerakan tangannya ke belakang untuk menghentikan aksi Wahyu yang terang-terangan berani melecehkan dirinya.

Rachel tidak bisa bersuara. Ia takut andai semua santri yang berada di ruangan ini tahu kalau dirinya sedang dilecehkan. Ia pun heran, kenapa ketiga santri mesum ini bisa berada di satu ruangan yang sama. Anehnya lagi, kenapa ketiga santri itu sama-sama berada di barisan paling belakang di setiap deret.

Rachel kembali menoleh ke belakang. Dirinya dengan melas menatap Wahyu sambil menggelengkan kepala. Ia benar-benar berharap agar Wahyu mau berhenti melecehkan tubuhnya di dalam ruangan kelas ini.

Wahyu sebenarnya mau berhenti, tapi ia sudah ketagihan akan keempukan yang dimiliki oleh bokong montok ustadzahnya. Tangan kanannya terus meremas-remas. Bahkan remasannya semakin kuat. Remasannya cenderung ke arah mencengkram. Rachel sampai kewalahan untuk menahan suara dari rangsangan yang begitu mantap dari santri gendutnya.

"Lepasinn, Wahyuuu !!!" Bisik Rachel dengan sangat lembut agar tidak didengar oleh santri lain.

"Wkwkwkw" Wahyu tertawa. Ia pun menghentikan remasannya kemudian mengambil selembar kertas dari saku celananya. Rachel merasa lega sesaat. Lalu ia dikejutkan oleh selembar kertas yang santrinya berikan kepadanya.

Buka semua kancing kemejanya... Terus turunin cup bra yang ustadzah pakai... Habis itu pelorotin rok panjang yang ustadzah pakai kalau gak. . . .

"Mmpphh"

Tiba-tiba ia merasakan adanya getaran dari arah vaginanya. Getaran itu terasa nikmat. Rasanya vaginanya seperti baru dirangsang oleh seseorang. Rachel langsung menundukan tubuhnya ketika kedua tangannya bertumpu pada lututnya. Rachel kemudian menoleh menatap Wahyu setelah membaca tulisan itu di dalam hati.

"Wkwkwkwk" Wahyu tertawa sambil menunjukan sesuatu ke ustadzahnya.

"Itu... Jangan-jangan ?" Lirih Rachel sambil mendesah menahan nikmat saat melihat sebuah remot yang dikeluarkan dari dalam saku celana santrinya.

"Wkwkwkwkwk" Tawa Wahyu sambil menuliskan sesuatu pada sobekan kertas lainnya.

Pak Udin.

Batin Rachel saat membaca tulisan itu. Ia merasa sebal setelah melihat senyum mesum yang ditunjukan oleh santrinya. Seketika ia teringat akan kejadian di pagi hari saat dirinya dalam perjalanan menuju ruangan ujian.

BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA

"Apa ini ?" Kata Rachel saat dirinya dicegat oleh pria tua yang sedang memegangi sapu lantai.

"Huehuehue... Apa aja boleh ustadzah" Tawa pak Udin yang membuat Rachel kesal.

"Ihhhh gak jelas... Udah deh, aku mau pergi pak" Kata Rachel merasa tak nyaman berada di dekat tukang sapu itu.

"Huehuehue tunggu sebentar lah ustadzah" Kata Pak Udin sambil memeluk tubuh empuk Rachel dari belakang kemudian meremasi susunya kemudian.

"Bapaakkk... Jangannn !!! Nanti keliatan orang !" Ujar Rachel dengan kesal.

"Huehuehue... Siapa yang mau liat ustadzah... Mereka semua lagi upacara disana kan ?" Ujar Pak Udin menertawai Rachel di sebuah pojokan lorong kelas didekat ruang ujian dimana Rachel akan mengawasi disana.

"Tapii pakkk... Ini gak sopan... Lepasin aku pakkk... Tolonggg" Lirih Rachel sambil mendesah.

"Huehuehue... Lebih gak sopan mana sama telanjang bulat di kelas, ustadzah ?" Kata pak Udin yang membuat Rachel terdiam.

"Sudah ku bilang pak... Jangan diungkit lagi... Urusan itu dengan ini beda pak... Aaahhh" Desah Rachel saat remasan tangan pria tua itu semakin kuat.

"Huehuehue mantapnya susumu... Sayang banget tapi gak bisa merawani memekmu" Ujar pak Udin menghentikan remasannya.

Rachel terengah-engah. Ia begitu kelelahan padahal buah dadanya cuma diremas oleh tangan kotor tukang sapu itu.

"Huehuehue... Pokoknya, saya mau ustadzah masukin benda ini ke dalam celana dalam ustadzah" Kata pak Udin menatap wajah cantik Rachel.

"Iya Pak... Nanti aku masukin" Kata Rachel menurut saja karena ingin cepat-cepat pergi dari jangkauan tukang sapu mesum itu. Ia tidak tahu kalau benda bulat yang sedang ia pegang itu memiliki dampak yang sangat kuat pada beberapa menit hidupnya kemudian. Seketika ia merasa gugup saat melihat kerumunan santri itu sudah bubar setelah upacara pembukaan selesai.

"Eittss... Saya maunya sekarang... Cepat angkat rok mbak terus posisikan benda bulat itu di depan memek legit mbak" Perintah pak Udin yang membuat Rachel terpaksa menurutinya.

"Baik Pak... Akan kulakukan" Jawab Rachel tergesa-gesa saat melihat santri-santri itu semakin dekat menuju gedung kelas.

Rachel buru-buru mengangkat roknya. Pak Udin tersenyum saat melihat kaki mulus Rachel yang begitu bening. Matanya langsung tergoda tapi ia mencoba sabar hingga celana dalamnya terlihat.

Indah sekaliiii !!! Sayang banget yang kaya gini masih perawan... Huehuehue... Perawanain aja kali yak. Batin pak Udin tergoda.

"Sudah pak" Kata Rachel setelah memasukan benda bulat seperti kelereng itu ke dalam celana dalamnya.

"Huehuehue... Bagus, jangan dilepas sampai waktu ujian berakhir di hari ini... Kalau ustadzah sampai berani melepasnya... Saya gak akan ragu lagi untuk menyebarkan foto wajah ustadzah yang belepotan sperma di ruangan kelas waktu itu" Ancam pak Udin sambil cengengesan yang membuat Rachel semakin kesal.

“Iya pak, gak akan” jawab Rachel terpaksa.

Pak Udin buru-buru pergi setelah mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Nampaknya masing-masing dari santri itu sudah sampai di ruangan ujiannya. Mereka terlihat bersemangat. Pak Udin pun tersenyum membayangkan kejadian apa yang bakal terjadi pada diri Rachel nanti.

MASA SEKARANG

Gak mungkin... Kenapa Wahyu punya remot yang membuat benda ini bergetar ? Mmmpphh !!

Batin Rachel saat merasakan getarannya semakin kuat yang membuatnya nyaris berteriak.

"Tunggu Wahyuuu... Tunggu... Iyya, ustadzah akan turuti tapi tolongg hentikan dulu" Lirih Rachel terpaksa yang membuat Wahyu menuruti.

Kebetulan santri yang duduk di depan Wahyu menoleh. Kebetulan saat itu vibrator yang ada di celana dalam Rachel berhenti bergetar.

"Ada apa akhy ?" Buru-buru Rachel berbicara yang membuat beberapa santri menoleh.

"Gak papa" Jawab santri itu. Semua santri yang tadi menoleh kembali melanjutkan ujiannya. Sementara Rio, Bayu & Wahyu hanya bisa menahan tawa melihat ustadzahnya berpura baik-baik saja.

Seketika Rachel kembali menegakan tubuhnya sambil menoleh ke arah Wahyu saat merasakan sentuhan di telapak tangannya.

Apa lagi ini ?

Batinnya terengah-engah saat melihat ada selembar kertas yang hendak diberikan oleh santri bertubuh tambun itu lagi. Diam-diam Rachel kembali mengambil lembaran kertas itu. Sambil melirik ke kiri dan ke kanan, ia pun memulai untuk membaca tulisan yang terkandung di dalamnya.

Buka sekarang, atau ana akan buat benda itu bergetar lagi.

Batin Rachel saat membacanya. Hatinya berdebar membayangkan dirinya harus telanjang disaat dirinya sedang mengawasi santri-santri yang sedang ujian. Rachel merasa gugup. Ia takut ketahuan. Ia memang suka bertelanjang di ruangan terbuka tapi tidak dengan banyak orang yang melihatnya. Ia takut tapi juga penasaran. Ia takut andai ada salah satu santri yang melaporkan aksinya yang membuatnya akan menanggung malu seumur hidup. Tapi ia juga penasaran karena hal itu merupakan bagian dari fantasi hidupnya.

Mmpphhh !!!

Batin Rachel saat kembali merasakan getaran kuat di bibir vaginanya. Untungnya Rachel masih sanggup menahan suaranya. Ia pun memelas saat menatap Wahyu sambil mengangguk setuju kalau dirinya akan segera melepas pakaiannya.

Wahyu tertawa. Ia pun mematikan remot itu tuk membiarkan ustadzahnya menelanjangi dirinya.

Wkwkwkw pasti mantap nih kalau beneran telanjang... Gak bisa bayangin dengan tubuh semontok itu, ustadzah Rachel rela telanjang biar bisa dilihat orang-orang... Kalau ada yang lihat gimana reaksinya yah ? Wkwkwkk.

Batin Wahyu saat membayangkannya. Ia pun jadi teringat sebuah momen saat dirinya diberi remot oleh tukang sapu itu.

BEBERAPA MENIT SEBELUMNYA

"Huehuehue... Itu dia, tiga bocah yang waktu itu" Kata pak Udin diam-diam menghampiri.

"Huehuehue... Kalian disini yah rupanya, daritadi saya cari-cari loh" Ujar pak Udin menghampiri.

"Ehh bapak yang waktu itu yah" Ucap Rio mengenalinya.

"Ehh bapak yang punya peliharaan ustadzaa... " Ucap Wahyu yang langsung dipotong oleh Bayu.

"Sssttt jangan keras-keras... Nanti kedengeran sama orang lain loh" Ucap Bayu sambil mentutup mulut Wahyu.

"Huehuehue... Benar sekali... Kalian masih inget aja rupanya... Huehuehue" Tawa pak Udin merasa bangga.

"Wkwkwk masih inget lah pak... Terima kasih banget pokoknya udah memberikan kesempatan emas ke saya waktu itu" Ucap Bayu si santri berkulit hitam yang mendapatkan kesempatan meng-anal pantat ustadzahnya.

"Yeee ente mah enak... Ane cuma kebagian gesek-gesek doang" Kata Rio merasa iri.

"Kalian masih mending... Ane loh, pengen ikutan gesek eh malah keburu ada orang lewat... Untungnya kita gak ketahuan waktu itu" Kata Wahyu merasa kesal karena belum mendapatkan giliran menikmati ustadzahnya.

"Wkwkkwkw belum rejekinya aja mah... Oh yah btw ada apa nih pak datengin kita ?" Ucap Rio si jagoan basket bertubuh cungkring.

"Huehuehue... Ini, silahkan siapa yang mau megang" Kata pak Udin memberikan sebuah remot kepada Rio.

"Eh apa ini ?" Tanya Rio yang membuat kedua temannya mendekat untuk melihat-lihat.

"Kalian pernah liat film bokep kan ? Khususnya yang dari Jepang ? Biasanya kan ada pemeran lakinya yang memegangi alat ini yang bisa membuat si wanita terangsang" Lirih pak Udin secara hati-hati.

"Ehh maksudnya ? Jangan-jangan ustadzah Rachel ?" Tanya Wahyu menduga.

"Betul sekali... Ada vibrator di dalam cd ustadzah Rachel" Kata pak Udin yang membuat ketiga penis santri itu kompak mengeras.

"Seriusan ?" Ucap Bayu tak percaya.

"Serius kok... Kalau gak percaya coba aja... Kalian ada di satu ruangan dengan ustadzah Rachel kan ?" Tanya pak Udin setelah kemarin sempat mengecek daftar tempat duduk di ruangan itu.

"Iya pak... Kami semua seruangan" Jawab Rio bersemangat.

"Kalau gitu tolong buat dia binal yah, huehuehue" Tawa pak Udin.

"Tapi pak... Boleh gak, kita memakainya lagi ?" Ucap Bayu penuh harap.

"Boleh kan kita genjot ustadzah Rachel lagi ?" Ucap Wahyu yang sudah sangat bernafsu.

"Silahkan buat sesuka kalian, tapi ingat . . . . " Kata pak Udin terpotong.

"Memeknya punya bapak kan ?" Sahut Rio yang membuat Pak Udin tertawa.

"Huehuehue.... Bener banget... Udah pinter yah kalian" Ucap pak Udin melangkah pergi melewati ketiga santri mesum itu.

"Eh iya pak... Bapak gak ikut gabung nih ?" Kata Wahyu yang membuat pak Udin menoleh menatap ketiga santri itu lagi.

"Saya ? Saya lagi pengen jajan memek nih, huehuehue" Tawa pak Udin yang membuat ketiga santri itu melongo.

"Jangan-jangan bapak punya peliharaan lain yah ?" Kata Rio bersemangat.

"Eh ? Soal itu ? Bukan urusan kalian lah yah... Huehuehue" Tawa pak Udin sambil pergi mengabaikan pertanyaan santri mesum itu.

Selepas kepergian pak Udin yang semakin menjauhi mereka. Ketiga santri mesum itu semakin bersemangat setelah mendengar perkataan pak Udin tadi.

"Gilaaa enak banget yah jadi pak Udin... Gak cuma ustadzah Rachel yang bisa ia genjot... Katanya aja dia pengen jajan memek di tempat laen... Kira-kira siapa yah yang jadi korban mesumnya selain ustadzah Rachel ?" Ucap Rio sambil berjalan bersama kedua temannya menuju ruangan ujian.

"Wkwkwk kalau ane sih ngarepnya ustadzah Haura... Bayangin kulit beningnya ternodai oleh tubuh pria tua itu" Kata Wahyu penuh harap.

"Wkkwkw boleh juga... Kalau ane sih ngarepnya ustadzah Nada... Tubuhnya yang sempurna dengan bulatnya susu yang ia punya pasti bakal cocok untuk dinodai oleh pria tua itu. " Kata Bayu mupeng.

"Wkwkwkw dasar kalian... Tapi boleh juga sih kalau ustadzah Haura, Ustadzah Nada dan Ustadzah Rachel bisa kita pake bareng... Kalau bosen tinggal kita tuker... Aaaahhh sial... Andai semua itu beneran kewujud" Kata Rio mupeng berat.

"Wkwkwk liat sekarang, siapa yang mupeng ? Oh yah btw untuk remot itu gimana kalau kita adain undian aja... Yang megang harus bisa binalin ustadzah Rachel... Kali aja pas udah binal kita bakalan dikasih ustadzah lainnya" Kata Bayu.

"Wahh ide bagus... Kita hompimpa aja gimana ? Yang beda sendiri, dia yang megang" Kata Wahyu memberi saran.

"Ide bagus... Ayo kita coba..." Kata Rio bersemangat.

"Hompimpa ala iyum gambreng... Mak ijah pake baju rombeng" Ucap ketiga santri itu kompak.

"Yessss ane yang megang" Kata Wahyu bersemangat. Kedua temannya tampak kecewa. Rio dengan berat hati memberikan remot itu kepada Wahyu.

MASA SEKARANG

Tangan Rachel gemetar saat jari-jarinya mendekat ke arah kancing kemejanya. Ia masih tak percaya kalau dirinya dipaksa untuk bertelanjang di tengah-tengah santri yang sedang menjalani ujian. Satu demi satu kancing itu mulai lepas dari tempatnya. Awalnya kancing paling atas terlebih dahulu yang terlepas. Disusul kemudian dengan dua, tiga dan empat kancing teratas kemeja berwarna putihnya.

Diam-diam Wahyu melirik tuk menatap aksi yang dilakukan oleh ustadzah bertubuh montok itu. Ia pun tersenyum mesum saat kulit dada beningnya mulai terlihat di hadapan matanya. Tak jauh berbeda dengan Wahyu, Bayu si santri berkulit gelap terus melirik ke arah pergerakan tangan ustadzah cantiknya. Dalam hati, ia masih ingin menyodomi dubur ustadzahnya lagi. Ia pun merindukan momen-momen nikmat itu saat spermanya dengan deras membanjiri liang dubur ustadzahnya. Sementara Rio yang berada di paling ujung tampak kesal karena aksi ustadzahnya tidak terlalu terlihat dengan jarak yang ia punya.

Akhirnya seluruh kancing kemeja yang Rachel kenakan telah terlepas. Nampak bra berwarna merah muda itu terlihat di hadapan mata Bayu, Wahyu & Rio. Ketiga santri itu langsung mupeng berat melihat kemegahan payudara yang ustadzahnya punya. Penis yang mereka punya langsung mengeras. Mereka kompak membayangkan andai penisnya secara bergiliran mampu menggesek-gesek dada ustadzahnya disela-sela dua payudara bulat yang ustadzahnya punya.

Gilaaaakkk... Susu segede itu udah diapain aja yah sama pak Udin... Bener-bener beruntung tuh tukang sapu itu ! Batin Wahyu merasa iri.

Njiirrr... Ane jadi pengen genjot anusnya lagi sambil ngeliatin pergerakan susu bulatnya... Pasti bakal crot maksimal nih ane kalau bisa ngerasain hal itu. Batin Bayu mupeng berat.

Sialan banget si Bayu... Kok bisa dia berkesempatan buat genjot anus ustadzah Rachel... Harusnya mah ane yang cocok... Ane kan cungkring sedangkan ustadzah Rachel montok abis... Pasti kalau punya anak bakal sempurna karena gak kekurusan apalagi kegendutan wkwkkwkw ! Mupeng Rio membayangkan yang tidak-tidak kepada ustadzah cantiknya.

Rachel dengan malu-malu menatap Wahyu untuk memintanya menyudahi aksinya. Rachel menatap mata santrinya dengan tatapan paling tulus. Ia tidak mampu melanjutkan aksinya karena merasa takut sekali. Namun reaksi dari Wahyu hanya menggelengkan kepala sambil menyodorkan remot yang sedang ia pegang. Rachel pun ikut menggelengkan kepala. Ia tidak mau untuk merasakan getaran itu lagi di dalam celana dalamnya.

Lakukan sekarang ! Batin Rachel saat membaca tulisan yang Wahyu berikan.

Tanpa menunggu lama, Kedua tangan Rachel langsung bergerak ke arah bokong montoknya. Kedua tangan itu terburu-buru dalam mencari resleting roknya. Saat ia menoleh menatap Wahyu, Wahyu kembali mengancamnya dengan sodoran remot yang santri gendut itu lakukan. Rachel hanya bisa memelas sambil menggelengkan kepala. Tak lama kemudian, roknya itu pun jatuh melewati kedua kaki jenjangnya.

Nampak Rio, Wahyu & Bayu puas melihat aksi binal ustadzahnya. Rio sedang menahan tawa di pojokan. Sementara Bayu karena terlalu gemas, tangannya mulai mendekat untuk meraba-raba bokong ustadzahnya dari luar celana dalam yang ia kenakan. Tak ada bedanya dengan Bayu, Wahyu juga mengikuti. Tubuhnya dalam posisi setengah berdiri sambil meremasi bongkahan pantat sebelah kiri ustadzahnya.

Mmppphhh... Mmpphh !!!

Batin Rachel sambil menutup kedua mulutnya.

Ia sedang mendesah dalam hati. Kedua matanya bahkan memejam karena tak kuasa menahan kenikmatan yang ia rasakan. Entah kenapa, ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya saat ini. Rasanya seperti fantasinya terpuaskan. Ia begitu puas tapi ia masih takut andai ada santri lain yang memergoki dirinya sedang dilecehkan oleh kedua santri mesumnya.

“Seru kan ustadzah” bisik Wahyu dengan sangat pelan di telinga ustadzahnya.

Rachel yang mendengarnya langsung menoleh, ia pun menggelengkan kepala sambil menatap santri mesum itu. Santri bertubuh gemuk itu tertawa kemudian menurunkan cup bra yang ustadzah punya hingga kedua payudaranya terlihat.

Mmmpphhhh !!!

Batin Rachel dalam hati.

Tidak cukup disitu, kedua santri itu dengan kompak sedang menggelitiki puting ustadzahnya menggunakan jemari telunjuknya. Otomatis Rachel hanya bisa memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Gesekan jemari itu sungguh merangsang birahinya. Apalagi di tengah keadaan yang membuat jantungnya semakin berdebar.

Aahhhh... Aahhhhh... Hentikan kaliannn... Tolonggg hentikannn !!!

Batin Rachel merasa was-was andai ada seseorang yang memergokinya.

Namun Wahyu dan Bayu masih saja menggelitiki puting ustadzahnya. Bahkan lidah mereka masing-masing tengah menjilati kedua pipi ustadzahnya. Tangan kiri Bayu sedang ada di bokong sebelah kanan ustadzahnya sedangkan tangan kanan Wahyu sedang berada di bokong sebelah kiri ustadzahnya. Kedua tangan mereka tampak sibuk meremasi bongkahan pantat yang sangat semok itu.

“Hadap sini ustadzah !” bisik Bayu yang membuat Rachel tak sengaja menoleh.

Di luar dugaan, Bayu langsung memasukan lidahnya ke dalam mulut ustadzahnya yang terbuka. Lidahnya pun berpetualang di dalam rongga mulut ustadzahnya. Rio yang hanya bisa melihat tampak terkesima saat ada santri berkulit hitam itu sedang mencumbui seorang ustadzah yang berkulit sangat bening. Rio pun mengeluarkan penisnya sambil mengocoki batang penisnya.

Dengan berhati-hati bibir Bayu menyentuh bibir ustadzahnya. Mulut Bayu terbuka untuk mengulum bibir atas ustadzahnya. Rachel pun merasa kalau dirinya sangat kotor sekali. Ia sedang berada di dalam ruangan ujian dalam keadaan pakaian yang setengah terbuka. Sementara di kanan kirinya terdapat kedua santrinya yang kompak melecehi tubuhnya.

Namun anehnya, ia tampak menikmati aksinya kali ini, apakah karena dirinya sudah terbiasa dengan pelecehan yang ia terima ? Tapi lagi-lagi rasa berdebar yang ada di hatinya membuatnya tak bisa tampil lepas dalam menikmati pelecehannya kali ini.

“Gantian ustadzah” bisik Wahyu yang kali ini mupeng ingin mencumbu bibir ustadzahnya.

Bibir mereka bertemu. Bibir Wahyu sedang mendorong bibir ustadzahnya. Bibir mereka sama-sama sedang menutup rapat. Namun kendati demikian rasanya masihlah sangat nikmat. Bayu pun tidak tinggal diam setelah selesai mencumbui bibir ustadzahnya. Bibirnya kini mengincar puting sebelah kanan ustadzahnya. Bibir itu membuka kemudian memasukan puting berwarna merah muda itu ke dalam mulutnya. Kedua bibirnya pun mengatup rapat yang membuat puting Rachel terasa terjepit oleh sensasi bibir santri berkulit hitam itu.

Namun dirinya tidak bisa melihat aksi nakal Bayu karena mulutnya sedang sibuk dicumbui oleh Wahyu si santri bertubuh gemuk dan berjanggut tebal itu.

Tak sengaja mulut Rachel terbuka. Tanpa menunggu lama, Wahyu memasukan lidahnya hingga lidahnya menubruk lidah ustadzahnya. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling silat. Lidah mereka saling sikut. Lidah mereka saling bergesekan dengan begitu puasnya. Liur Rachel sampai ada yang menetes jatuh mengenai payudara sebelah kirinya. Tangan Kanan Wahyu pun memasuki celana dalam Rachel untuk meremas langsung bongkahan pantat ustadzahnya. Demikian juga dengan Bayu yang tak menyia-nyiakan peluang untuk meraba-raba punggung mulus ustadzahnya.

Dirangsang oleh dua santri sekaligus di tengah keadaan yang sangat mendebarkan membuat nafsu birahi Rachel melesat naik. Lama-lama ia pasrah membiar kedua santrinya meraba-raba tubuh mulusnya. Tangan kanan Bayu mencengkram kuat payudara kiri Rachel yang sedang ia kulum. Sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang kiri ustadzahnya tuk merasakan sensasi kulit mulus yang ustadzahnya punya. Tangan kiri Wahyu juga sedang memilin puting sebelah kiri ustadzahnya. Tangan kananya masih asyik meremas-remas bokong sekel ustadzahnya sambil mengulum bibir tipis ustadzahnya.

Secara kompak mereka menghentikan aksi pelecehannya kepada ustadzah montoknya. Rachel pun terengah-engah sambil menatap Wahyu yang baru saja ia cium. Ia pun heran, kenapa tadi dirinya sampai hanyut dalam menikmati percumbuan santri gendut itu. Saat dirinya menoleh ke arah Bayu. Ia juga heran kenapa dirinya sampai hanyut ketika santri berkulit hitam itu menyusu di payudara sebelah kanannya. Tak sengaja matanya bertemu dengan mata Rio di kejauhan. Ia pun menurunkannya sedikit untuk melihat penis besar Rio yang sedang dikocoknya. Melihat aksi itu membuat Rachel merasa lebih liar lagi. Rasanya ia sudah menjadi wanita nakal yang menikmati pelecehan dari santri-santri mesumnya.

“Jongkok ustadzah !” bisik Wahyu yang langsung dituruti oleh Rachel tanpa sadar.

Saat ia menoleh ke kiri, ia mendapati penis gemuk itu sudah mencuat menantang dirinya. Penis itu memang gemuk tapi ukurannya tidak terlalu panjang. Saat ia menaikan pandangannya, ia melihat kalau Wahyu hanya mengangguk menyetujuinya. Seolah paham Rachel langsung memegangi penis santrinya kemudian mengocoknya secara perlahan.

Aaahhhh... Aaahhhhh... Nikmatnyyaaahh !!!

Batin Wahyu memejam.

Tak ingin kalah, Bayu juga menyodorkan penisnya yang berwarna sangat hitam. Saat Rachel menoleh, ia pun teringat akan penis besar ini yang tempo hari telah mengobrak-ngabrik liang duburnya. Dengan lembut tangan kanan Rachel membelai penis hitam itu. Perlahan ia pun mengocoknya yang membuat kedua santri itu memejam menikmati belaian lembut ustadzahnya.

Aahhhhh... Aaahhhh... Binal sekali ustadzah satu ini... Gak habis pikir ada ustadzah yang ngocokin kontol santrinya ketika ujian sedang berlangsung ! batin Bayu puas.

Rachel sedang mengocok kedua penis itu dalam keadaan kaki yang mengangkang lebar serta dua payudaranya yang terbuka. Rachel jadi semakin merasa nakal yang membuatnya tanpa ragu lagi mengocoki kedua santri itu. Rachel pun menggigit bibir bawahnya sambil sesekali menatap ujung gundul santri berkulit gelap itu. Kemudian ia menolehkan wajahnya tuk menatap ujung gundul penis yang berukuran gemuk itu. Rachel pun menaikan pandangannya dan menatap wajah Wahyu sedang menahan nikmat. Rachel kembali menolehkan wajahnya tuk menatap reaksi Bayu yang sedang keenakan di kocoki olehnya.

Ketika sedang asyik-asyiknya berjongkok sambil mengocoki kedua penis santrinya itu. Tiba-tiba Rachel kembali merasakan getaran di vaginanya. Otomatis dadanya langsung membusung. Pinggulnya ia mundurkan kemudian menoleh menatap Wahyu.

Jangannn... Jangannnn !!!

Batin Rachel sambil menggelengkan kepala.

Namun Wahyu dan Bayu hanya tertawa dalam hati. Bahkan kedua santri mesum itu sempat melakukan tos walau dengan kekuatan lemah agar suaranya tidak terdengar oleh santri lainnya.

Mmmpphhh... Mmpphhhh !!!

Rachel memejam saat getaran yang ia rasakan semakin menguat. Hasilnya, kedua tangannya juga semakin kuat dalam membetot batang penis kedua santri mesum itu. Wahyu ikut memejam sedangkan Bayu merusaha melek kendati matanya nyaris menutup saat tangan ustadzahnya semakin kuat dalam mengocok batang penisnya.

Mmmpphhh... Mmmpphhh... Matikannn Wahyuu... Matikkaannn !!!

Batin Rachel sambil berusaha menatap santri gendut itu.

Namun sialnya, Wahyu malah sedang asyik memejam merasakan kocokan kuat yang tak sengaja ustadzahnya lakukan. Getaran yang semakin kuat membuat pinggul Rachel bergerak maju. Pinggul itu maju-maju yang membuat Bayu semakin bernafsu. Ia pun melihat sekitar dan untungnya teman-teman sekelasnya tidak ada yang menyadari aksi binal ustadzahnya. Ia pun melirik wajah ustadzahnya yang rupanya sedang merem melek keenakan merasakan getaran dari frekuensi vibrator itu.

Njirrrr mukanya makin bikin sange aja... Aduhhh ahhh... Aaahhhhh !

Batin Bayu saat merasakan kocokan ustadzahnya yang semakin mantap.

Wahyu pelan-pelan mulai membuka matanya untuk menatap wajah indah ustadzahnya. Nampak Rachel yang tengah mengenakan kacamata terlihat semakin binal saja. Lihat saja pinggulnya tengah bergoyang karena tak kuasa menahan getaran yang semakin nikmat. Rachel seperti sedang melakukan gerakan woman on top saja. Pinggulnya maju mundur. Kedua buah dadanya juga semakin membesar. Tampaknya putingnya mencuat yang membuat Wahyu merasa gemas ingin mencumbuinya lagi.

Wahyu pun memberikan kode kepada Bayu untuk mundur sebentar. Bayu pun mengangguk menyetujui. Santri berkulit hitam itu kembali duduk di kursi ujiannya.

“Ayo sini ustadzah... Sepong kontol ana ! Ana udah gak kuat pengen genjot ustadzah nih !”

Bisik Wahyu dengan sangat pelan.

Wahyu pun melihat sekitar untuk memeriksa keadaan. Rachel yang sudah berjongkok menghadap ke arahnya langsung disodorkan oleh penis gemuknya. Rachel awalnya agak jijik saat penis gemuk yang sudah mengeluarkan sedikit cairan precum itu menubruk pipi mulusnya. Apalagi bau menyengat yang berasal dari kemaluan santri itu sungguh memuakkan dirinya. Namun dorongan demi dorongan yang pinggul Wahyu lakukan membuat Rachel terpaksa membuka mulutnya. Apalagi saat getaran vibrator itu kembali menyala setelah sempat mati saat Bayu mundur tadi.

Mmmpphhh.... Mmmpphhhhh !!

Batin Wahyu sambil mendengus pelan.

Ia memejam saat merasakan surga dunia pada mulut ustadzahnya. Rasanya sungguh nikmat apalagi saat ujung gundulnya tersapu oleh jilatan lidah ustadzahnya.

Mmmpphhhh... Mmmpphhhh !!!

Batin Rachel sambil memejam. Ustadzah montok berkacamata itu kewalahan saat bagian belakang kepalanya didorong oleh santri mesum itu. Penisnya yang tidak terlalu panjang langsung tertelan seluruhnya oleh mulut ustadzah cantik itu.

Hidung Rachel tertubruk oleh celana yang masih Wahyu kenakan. Kedua tangannya pun bertumpu pada paha yang masih terbalut oleh celana kain berukuran panjang itu.

Tanpa ampun Wahyu langsung memaju mundurkan kepala ustadzahnya ke arah selangkangan dirinya. Rachel pun tak berdaya saat mulutnya dipaksa mengulum batang penis santrinya itu. Apalagi getaran yang masih berkuasa membuat pinggul Rachel tak bisa diam dibawah sana. Pinggulnya terus bergoyang sambil menikmati kuluman penis Wahyu yang bergerak semakin cepat.

Mmpphhh... Mmpphhh... Mantap banget ustadzahhh mulut antum... Ouhhh nikmatnyyaa mulut seorang ustadzah !!!

Batin Wahyu merasa puas.

Bayu yang melihatnya dari belakang tampak menggelengkan kepala membayangkan kenikmatan yang sedang Wahyu dapatkan. Pikirnya Wahyu pasti sangat puas merasakan sepongan yahud ustadzahnya. Bayu kemudian mendekat untuk menurunkan kemeja yang ustadzahnya kenakan hingga jatuh ke arah siku lengannya. Bayu langsung mengocok penisnya setelah melihat ketelanjangan ustadzahnya yang semakin liar.

Uhhhh... Uhhhhh... Uhhhhhhh !!!

Wahyu mengerang dalam hatinya saat merasakan lidah ustadzahnya terus menerus merangsang penisnya di dalam. Lidah itu tampak sedang menjilati sisi bagian bawah penisnya. Wahyu pun merasa kalau penisnya sudah sangat lembap di dalam sana. Namun Wahyu pantang menyerah. Ia terus bergerak untuk menyetubuhi mulut ustadzahnya yang terlihat semakin menggairahkan dari atas sana.

Mmpphhh... Mmpphhhh... Matikann Wahyuuu... Tolonggg... Ustadzah gakk kuat lagiiiii.... Aaaahhhhhhhh !!!!

Batin Rachel saat penis Wahyu terlepas dari mulutnya.

Nampak penis itu sudah banjir terkena liur ustadzah cantik itu. Kendati ia sudah puas dikulum oleh mulut ustadzahnya. Tapi tangannya masih menekan tombol untuk menyalakan vibrator itu. Hasilnya Rachel masih bergoyang sambil meremasi payudaranya yang terlihat semakin membesar.

Wkwkwkwkw... Makin binal aja nih ustadzah ! Pasti pak Udin bakalan bangga !!!

Batin Wahyu saat menatap wajah ustadzahnya.

“Ustadzah ayok sini !” bisik Bayu tepat di depan telinga ustadzahnya.

Karena masih bernafsu akibat getaran vibrator itu. Rachel segera berbalik menuju meja milik Bayu si santri berkulit hitam itu.

Bayu yang sedang duduk di kursinya menghadap ke arah papan tulis langsung di dekati oleh Rachel. Entah kenapa rasanya penis Bayu terlihat semakin menggoda saja. Rachel seolah terhipnotis. Ia pun mendatangi penis itu untuk mengulumnya tanpa menunggu perintah lagi.

Mmmpphhhh !!!

Batin Bayu mendengus pelan. Ia tak menduga kalau ustdzahnya akan senafsu ini. Ketika mulut Rachel telah dimasuki oleh penis hitam itu. Rachel langsung menaik turunkan mulutnya untuk memuaskan hasratnya pada batang penis itu.

Wkwkwkwkw gilaaa... Terus ustadzah ! Tingkatkan kebinalanmu !!! Ayo sepong yang kuat !

Batin Wahyu tertawa sambil memperkuat getarannya.

Mmmppphhhhh !

Batin Rachel sambil memegangi vibrator itu dari luar celana dalamnya.

Getaran yang semakin kuat seolah menjadi pelecut semangat bagi Rachel untuk mengulum benda hitam yang sedang menegak itu. Mulut Rachel mengapit batang penisnya menggunakan bibir manisnya. Mulut yang biasa ia gunakan untuk berkata baik itu sedang ternodai oleh penis hitam itu.

Bayu jadi kewalahan. Sepongan mantap ustadzahnya sungguh nikmat. Bahkan batang penisnya sedang digenggam oleh tangan kanan ustadzahnya ketika ujung gundulnya dijilati oleh kemesuman ustadzahnya. Bayu sampai harus mencengkram kuat sisi pinggir kursinya untuk bertahan dari sepongan yahud ustadzah montok itu.

Gilaaa... Kalau dibiarkan gini lama-lama bisa crot duluan nih !!!

Batin Bayu mulai merasakan adanya tanda-tanda.

Kendati penis Bayu sangat kekar. Kendati penis Bayu sangat hitam dan cukup panjang. Namun mulut Rachel masih mampu untuk menelan bulat-bulat keseluruhan penis itu. Kendati sudah mentok Rachel tetap saja memaksanya hingga ujung gundulnya terus menerus menubruk pangkal kerongkongannya. Nampaknya getaran dari vibrator di celananya menjadi faktor utama kenapa Rachel bisa jadi senafsu itu.

Mmmpphhhh... Kenapa aku jadi kaya gini banget sih ? Kenapa aku gak bisa berhenti ? Kenapa aku malah menikmati semua ini !!!

Batin Rachel saat terus menerus mengulum batang penis itu.

Rachel pun mulai merasa kalau penis Bayu mulai berdenyut pelan. Nafas Bayu juga terlihat ngos-ngosan. Tapi mulut ustadzahnya tidak pernah puas untuk mengulum batang penis itu. Akibatnya Bayu mulai kewalahan. Ia pun memegangi hijab ustadzahnya sambil mendorong kepalanya kuat-kuat ke arah selangkangannya.

Keeellluuuaaarrrr !!!!

Batin Bayu dengan sangat puas.

Mmmpphhhh !!!!

Batin Rachel memejam saat rongga mulutnya dibanjiri oleh sperma santri berkulit hitam itu.

Crroott... Crroottt... Crrooottt !!!

Bayu memejamkan mata begitu pula Rachel. Bayu terus mendorong kepala Rachel hingga tetes terakhir spermanya keluar. Tubuh hitamnya kelojotan akibat sensasi liarnya saat dikulum oleh sang ustadzah ketika dirinya sedang melakukan ujian semester akhir yang menentukan kelulusan dirinya dari pondok pesantren ini.

Mmpphhhh... Mmpphhh !! batin Rachel saat getaran di vaginanya mulai terhenti.

Rachel merasa lelah. Ia perlahan melepaskan kulumannya dan menatap wajah Bayu dengan tatapannya yang sayuk. Rachel jelas belum puas karena dirinya belum mendapatkan orgasmenya. Tak sengaja mulutnya terbuka. Bayu terkejut saat melihat lelehan spermanya yang begitu banyak memenuhi rongga mulut ustadzahnya. Ia pun semakin terkejut saat tiba-tiba Rachel menelan habis semua sperma itu dalam sekali tengguk. Tak sengaja matanya menatap ke arah Rio. Rachel pun sadar kalau selama ini Rio terus menatapnya sambil mengocoki batang penisnya. Rachel hanya terengah-engah saat melihat lelehan sperma Rio yang hanya bisa membasahi lantai ruangan kelas.

Rachel kembali mundur kemudian membalikan badan menatap ke arah Wahyu. Tampak penis gemuk itu masih keluar dari dalam resleting celananya. Hawa nafsu yang masih berapi-api pada tubuh Rachel membuatnya ingin merasakan penis itu lagi. Wahyu tersenyum saat Rachel perlahan datang menghampiri. Ustadzah montok berkacamata itu tampak memohon pada santri gemuk itu untuk menyelamatkannya dari gairah birahi yang semakin menjadi.

“Wkwkwkwk” tawa Wahyu saat dirinya kembali menyalakan vibrator itu.

Mmmpphhhh !!!

Rachel kembali memejam sambil memajukan pinggulnya saat masih berjongkok menghadap santri gemuk itu. Dada Rachel semakim membusung. Wajahnya jadi semakin menggairahkan membuat diri Wahyu semakin tak sabar ingin menghujami anus ustadzah cantik itu.

Tiba-tiba dari arah luar terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Rupanya itu ustadzah Nisa, ustadz Angga dan seorang ustadz dari bagian konsumtor datang untuk membagikan snack kepada setiap pengajar yang kebagian jatah menjadi pengawas ujian.

Sontak Rachel panik. Dirinya masih setengah telanjang di dalam ruangan ujian ini. Wahyu saja langsung duduk kembali di kursinya begitupula Bayu.

Gawaattt !!!

Batin Rachel terburu-buru untuk mengenakan kemejanya kembali. Satu demi satu kancing kemeja itu mulai ia masukan kembali. Ia bahkan sampai lupa untuk menaikan kembali cup branya sehingga puting payudaranya sampai mencetak jelas dibalik kemeja yang sedang Rachel kenakan. Tubuhnya yang sedang mengencang membuat kemeja itu tampak kekecilan bagi tubuh montok sang ustadzah. Untungnya, ia berhasil menaikan kembali rok panjangnya sebelum rekan-rekan dari bagian konsumtor itu datang memasuki ruangan ujian.

Tampak ustadz Angga tersenyum sambil menatap ustadzah Rachel sambil menunjukan bagian snack untuk dirinya. Rachel hanya mengangguk paham kalau satu-satunya snack yang ada di meja guru itu hanyalah untuk dirinya.

Setelah itu ketiga pengajar di bagian konsumtor itu langsung keluar untuk membagikan snack di ruangan sebelah. Saat mereka bertiga keluar. Rachel tampak lega sambil menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan kelas. Wahyu pun tertawa apalagi saat melihat tonjolan indah yang tampak megah di dada sang ustadzah. Tonjolannya sungguh indah dengan satu tonjolan kecil yang berada di puncak tonjolan megah itu.

Rachel pun berniat untuk pergi menjauh setelah mendapatkan kesadarannya kembali. Tiba-tiba ia kembali merasakan getaran yang membuatnya nyaris terjatuh saat melangkah menuju kursi duduknya.

“Eh ustadzah gapapa” kata seorang santri yang kebetulan ada di sebelah Rachel.

“Hehehe ustadzah gapapa kok akhy” jawab Rachel agak mendesah yang membuat santri itu merinding mendengarnya. Apalagi secara tak sengaja matanya menatap ke arah tonjolan bulat di dada. Santri itu langsung menenggak ludah yang membuat pikirannya keruh membayangkan hal yang tidak-tidak pada diri ustadzahnya.

Rachel secara tertatih-tatih berjalan menuju kursinya. Namun getaran yang kembali ia rasakan membuatnya sampai harus memegangi meja santri di deretan bangku nomor tiga dari depan. Santri yang duduk di bangku itu pun terkejut saat melihat Rachel terengah-engah sambil mengeluarkan suara desahan yang amat sangat lemah. Lagi-lagi posisi Rachel yang sedang menungging membuat santri itu hanya bisa bengong melihat keindahan yang ada pada ustadzahnya.

Diam-diam Rachel merasa kesal dan melirik ke arah Wahyu. Ia masih terengah-engah. Hawa nafsu yang sempat padam akibat nyaris ketahuan oleh rekan-rekan konsumtor tadi perlahan mulai bangkit lagi.

“Mmmpphhhhh” desah Rachel yang kali ini lumayan keras.

Beberapa santri yang mendengarnya langsung menoleh. Rachel jadi berkeringat akibat menahan birahi yang semakin menjadi-jadi sejak tadi. Rachel berpura-pura kuat dan melanjutkan kembali tugasnya sebagai pengawas ujian. Ia pun berpura-pura kalau tidak terjadi apa-apa sejak tadi.

Kebetulan dirinya melihat ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukan pukul delapan tepat. Waktu pun hanya tersisa 30 menit lagi sebelum lonceng berbunyi menandakan kalau ujian telah berakhir.

“Semuanyaaahhhh... Kalauuu adahhh yangg udahh selesaiihhh... Bisa dikummpulinnn yahh... Hah... Di meja ustadzaahhhh” kata Rachel agak mendesah yang membuat semua santri di hadapannya merinding mendengar suaranya. Rachel semakin gugup. Sialnya kemeja putih yang ia kenakan semakin tembus pandang yang membuat beberapa santri sadar kalau dibalik kemeja itu, ustadzah Rachel sedang tidak mengenakan behanya.

Beberapa santri itu bahkan sampai tidak bisa fokus untuk melanjutkan ujiannya. Sesekali santri-santri yang sadar itu mencuri-curi pandang sambil melirik keindahan buah dada sang ustadzah yang begitu megah.

Wkwkwkwkkw kalau gini kan semakin sexy ustadzah... Ustadzah udah cantik pake hijab tapi kemejanya kok kaya ketat... Mana susunya keliatan lagi wkwkkwkw. Ucap Wahyu dalam hati. Lagi-lagi Wahyu menekan remot vibratornya yang membuat Rachel memejam sambil menahan dirinya.

Mmmpphhhhh... Wahyuuuu !!!!

Batin Rachel saat merasakan getaran itu begitu kuat.

Tubuh Rachel kelojotan. Matanya pun merem-merem nikmat sambil mengeluarkan desahan yang amat sangat lemah. Beberapa santri yang berada di dekatnya dengan jelas melihat kalau payudaranya itu sedang bergetar.

Dengan susah payah Rachel pun berjalan mendekati kursi duduknya. Kebetulan di luar kelas ada seorang ustadz yang lewat sehingga membuat Rachel segera memanggilnya.

“Ustadzzz !!!” panggil Rachel yang membuat ustadz itu berhenti sesaat.

“Iya ustadzah kenapa ?” tanya ustadz itu.

“Bisa tolong ustadzz... Mmpphhh... Ana mau ke kamar mandi sebentar... Bisa jagain kelas gak ? Pengawas yang lainnya gak bisa hadir soalnya” pinta Rachel sambil mendesah yang membuat ustadz itu sempat keheranan.

“Eh iya... Ustadzah gapapa kan ?” tanya ustadz itu khawatir.

Namun jawaban Rachel hanya mengangguk saja. Ia pun segera berlari menuju kamar mandi terdekat untuk membuang benda yang meresahkan dirinya sejak tadi.

“Kurang ajar pak Udin ! Jadi ini fungsi dari benda bulat itu ! Kenapa juga ia harus memberikan kuasa ke Wahyu untuk mengendalikan benda itu ?” Lirih Rachel merasa tak percaya.

Tapi sejujurnya, ia agak puas saat fantasinya terpuaskan tadi. Tapi ia khawatir kalau perbuatan mencurigakannya tadi akan membuat beberapa santrinya melaporkan tindakannya ke pak kiyai Jamal.

Moga aja gak ada yang ngeh dengan sikapku tadi !

Batin Rachel berharap.

Sesampainya di kamar mandi wanita. Ia buru-buru melepaskan roknya hingga kelupaan untuk mengunci pintu bilik kamar mandi. Tiba-tiba dari arah belakang, ia merasakan kalau pintu sedang dibuka. Celakanya ia cuma mengenakan celana dalamnya saja untuk bawahannya. Ia pun terkejut saat melihat siapa yang baru memasuki bilik kamar mandi itu.

“Wahyuuuu !!!” kata Rachel was-was.

“Wwkkwkwk... Ana sampai bela-belain ngarang ujian biar bisa ngejar ustadzah kesini loh” kata Wahyu yang langsung meremasi buah dada ustadzahnya dari belakang.

“Wahyuuu apa yang... Hentikann Wahyuuu... Mmpphhhhhhh !!!” desah Rachel merinding merasakan cengkraman yang kuat dari santri bertubuh gemuk itu.

“Wkwkwkkw mantap banget susumu ustadzah... Dari tadi ana pengen banget ngomentarin tubuh indah antum... Tapi disana susah karena ana gak mau aksi kita ketahuan oleh santri lainnya, ustadzah juga kan ?” kata Wahyu senang sambil meremasi buah dadanya dari belakang.

“Aaahhh... Aahhhhh tapi tolonggg Wahyuuu hentikann... Jangan lagiiii... Aaaahhhh” desah Rachel sepuasnya ketika remasan Wahyu terasa semakin kuat.

Tanpa ampun Wahyu membuka secara paksa kancing kemeja ustadzahnya. Beberapa kancing itu sampai ada yang jatuh ke lantai ruangan kamar mandi. Buah dadanya yang sudah terbuka sejak tadi kembali diremasnya. Putingnya yang mencuat langsung dipelintirnya. Wajahnya pun mendekat untuk mencumbui bibir ustadzahnya.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhhh” desah mereka berdua dengan penuh nafsu.

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling dorong dengan penuh nafsu. Lidah Wahyu dengan binal menjilati bibir ustadzahnya. Ia sangat puas karena diberi kebebasan untuk menikmati keindahan ustadzahnya.

Rachel hanya bisa memejam saat bibirnya kembali dinodai oleh santri mesum itu lagi. Birahi yang sempat tertunda tadi perlahan kembali bangkit lagi. Tubuhnya kembali mengencang terutama buah dadanya yang sedang diremas oleh Wahyu.

“Mmpphhh ustadzahhh... Ana udah gak tahan nih... Ana pengen ngentot ustadzah lagi , boleh yahhh ?” kata Wahyu melepaskan cumbuannya. Penisnya yang sudah keluar entah sejak kapan langsung diludahi oleh pemiliknya. Wahyu pun menurunkan sedikit celana dalam ustadzahnya hingga hanya lubang duburnya saja yang nampak di belakang sana.

“Ehhh Wahyuuu tungguu... Jangann duluu... Ustadzahhh aaaahhhhhhhh” desah Rachel saat lubang anus itu mulai dibelah oleh kejantanan penis Wahyu.

“Uhhhh rapetnya anus antum ustadzahh... Kontol ana sampe gak muat... Ana dorong lagi yahh... Hennkkghhh !!!!” desah Wahyu sekuat tenaga untuk memasukan batang penisnya.

“Aahhhhh Wahyuuuu... Aaahhhhhh” desah Rachel menggelengkan kepala saat penis itu semakin dalam menembus lubang duburnya.

“Wkwkwkwk jadi gini yah rasanya... Sial beruntung banget tuh pasti si Bayu” kata Wahyu sambil menggrepe-grepe tubuh ustadzahnya sambil beristirahat sebentar setelah berhasil membenamkan penisnya.

“Aahhhh... Ahhhhhhh Wahyuuu... Cukuppp... Ustadzah capek banget Wahyuuuu” kata Rachel merasa geli saat tangan kasar santri itu mengusapi perut mulusnya.

Wahyu tersenyum puas saat berhasil menggrepe perut rata ustadzahnya. Rabaannya perlahan naik untuk mengusapi dua payudara bulat itu. Karena gemas ia pun menarik putingnya. Ia juga mencubit pentilnya dan kadang memelintir putingnya yang hanya bisa membuat Rachel mendesah keenakan.

“Aahhhh... Aahhhh... Hentikannn Wahyuu... Aaahhhh” desah Rachel dengan manja.

Setelah cukup beristirahat. Pinggulnya kembali bergerak untuk merasakan jepitan ternikmat dari anus ustadzahnya. Terasa dinding anus itu menghimpit batang penisnya. Wahyu merinding. Dirinya yang sedang men-doggy ustadzahnya hanya bisa menggeleng kepala tuk mengekspresikan kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.

“Aahhhhh sempit banget ustadzahhh Anus antum... Ouhhhh nikmatnyaaaa !!!” desah Wahyu sambil terus menyodok anus ustadzah montok itu.

“Aahhh Wahyuuu... Cukuppp... Aahhhhh... Ustadzah capeekkkk !” desah Rachel tak sanggup lagi saat penis gemuk itu keluar masuk di dalam lubang duburnya. Apalagi pergerakan penis itu perlahan semakin cepat. Dirinya hanya bisa memejam sambil bertumpu pada dinding kamar mandi pada saat penis Wahyu menggempur duburnya dari arah belakang.

“Aahhh... Ahhhh iyahhh nikmatnyaahh... Aahhhhhh” desah Wahyu puas.

Sungguh puas sekali saat santri gemuk itu memegangi pinggul sang ustadzah sambil menggempur anusnya. Wahyu yang masih berpakaian lengkap berbanding terbalik dengan Rachel yang tinggal mengenakan celana dalamnya serta kemeja yang itupun sudah rusak kancingnya. Kemeja Rachel terbuka menampakan dua buah dadanya yang bergoyang saat menerima genjotan santri gemuknya.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ohhh yah, ana hampir lupa ustadzah wkwkkwkwkw” tawa Wahyu yang membuat Rachel menoleh untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Tiba-tiba vibrator itu kembali bergetar. Getarannya bahkan semakin kuat yang membuat wajahnya terangkat naik menatap langit-langit ruangan. Mulut Rachel terbuka mengeluarkan desahannya yang amat manja. Mendengar suara itu membuat Wahyu semakin mempercepat sodokannya.

“Aahhhhhh... Ahhhhh Wahyuuu hentikannn... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Rachel penuh nikmat.

Wahyu tertawa. Tangan kirinya naik tuk mencengkram payudaranya. Tangan kanannya memegangi remot untuk menekan tombol untuk mempercepat getarannya. Pinggulnya tak pernah lelah. Pinggul itu terus menggempur dubur sang ustadzah hingga suara tubrukan antar pinggul itu terdengar keras.

Plokkk... Plokkk... Plookkk !!!

“Aahhhh... Ahhhhh... Mantapnyaaahhh ustadzahhh... Anus antum... Susu antum... Desahan antum” Desah Wahyu dengan sangat puas.

“Aahhhhh iyahhh... Iyaahhh Wahyuuu... Cepatttt sudahhhii... Aahhhhhh” desah Rachel yang diam-diam mulai merasakan denyutan di vaginanya setelah merasakan getaran itu semakin kuat.

“Aahhhh iyahhh ustadzahhh... Ana juga gak kuat lagiii... Anus antum terlalu sempit ustadzah... Tubuh antum terlalu nikmat untuk dinodai... Aaahhhhh” desah Wahyu tak kuat lagi.

Kedua tangannya memegangi pinggul rampingnya. Tangan kanannya yang sedang memegangi remot tetap ikut memegangi pinggul rampingnya. Sodokan yang semakin kuat membuat tubuh ustadzah itu terhempas semakin kencang. Payudaranya bergoyang kencang. Suara desahannya juga terdengar kencang.

Tubuh montok itu tak berdaya setelah menerima genjotan dari santri gemuk itu. Butir-butir keringat mulai tumbuh dari pori-pori tubuhnya. Rachel tak berdaya. Matanya melemah. Deru nafasnya terasa sesak.

“Aahhhh... Ahhhh... Ustadzahhh... Ana mau keluuuar... Ahhh... Aaahhhhhhh” desah Wahyu.

“Aahhhhh iyahhh Wahyuu... Cepattt... Aahhhh ustadzahhh juggaaaa !!!” desah Rachel yang tak tahu lagi ketika nafsu telah menguasai.

“Aaahhhh... Ahhhhh... Ahhhh iyahhh ustadzahhh... Aannaa... Keluuaarrrr !!!!” hentak Wahyu hingga penisnya masuk seluruhnya di dalam dubur ustadzahnya.

“Aaaahhhhhh iyyaaahhhhhh” Tubuh Rachel terdorong maju. Matanya berkunang-kunang. Ia pun merem melek keenakan saat cairan cintanya mengucur deras membasahi vibrator beserta celana dalamnya.

Ketika lubang duburnya diisi oleh cairan kental santrinya. Maka liang senggamanya dibanjiri oleh cairan cintanya. Wahyu masih merem melek keenakan setelah berhasil menyodomi tubuh montok ustadzahnya. Tubuhnya kelojotan. Ia pun memeluk tubuhnya dari belakang sambil mengecup punggung mulusnya setelah menurunkan kemejanya sebagian.

Tidak ada yang lebih nikmat ketika dua insan yang baru bercinta menikmati sisa-sisa orgasmenya. Begitupula yang terjadi pada Wahyu & Rachel. Wahyu masih merem melek kepuasan sambil mengecupi punggung mulus ustadzahnya sedangkan Rachel masih terengah-engah setelah menikmati persetubuhan terlarangnya. Ia heran, kenapa orgasme tadi rasanya bisa senikmat itu. Apakah itu efek setelah dirinya bertelanjang di ruang ujian tadi ? Entahlah, intinya ia sudah lemas dan ingin menikmati masa-masa ini terlebih dahulu.

"Aahhhhh mantappp banget ustadzah... Terima kasih yah udah bikin ana sepuas ini wkwkwkwk" Ucap Wahyu sambil mencabut batang penis dari dalam dubur ustadzahnya.

"Hah... Hah... Hah" Rachel hanya tersengah-engah. Dirinya terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan itu. Apalagi saat lelehan sperma santrinya dengan deras mengucur keluar dari dalam duburnya melintasi kaki pahanya.

"Wkwkwk puas sekali rasanya saat ngeliat sperma sendiri keluar, ustadzah" Kata Wahyu sambil menampar bongkahan pantat ustadzahnya.

Plaaakkkk !!

"Aaawwww" Desah Rachel dengan manja.

Sebelum benar-benar pergi, Wahyu pun mengecup bongkahan pantat itu kemudian kembali menggrepe payudara indahnya sekali lagi karena terlalu gemas pada tubuh indahnya.

"Wwkwkkw ana mau pergi dulu ustadzah... Mau istirahat sama belajar pelajaran selanjutnya... Ustadzah siap-siap lagi yah nanti buat kita lecehi lagi... Makin gak sabar deh buat gilir ustadzah nanti" Kata Wahyu sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Rachel sendiri.

Pintu bilik telah di tutup kembali. Tersisa lah Rachel sendiri di dalam kamar mandi. Ia masih berposisi sama seperti tadi. Yakni dengan berdiri menumpukan tangan pada tembok sambil membelakangi. Andai ada seseorang yang masuk, sudah pasti orang itu bakal terkejut melihat ada seorang ustadzah yang menungging di depan pintu masuk kamar mandi.

"Hah... Apa yang kulakukan tadi ? Kenapa kok aku sempet menikmatinya tadi ?"

Lirih Rachel menyesal. Ia masih teringat betul bagaimana nafsunya ia saat mengulum batang penis Bayu yang berwarna hitam legam. Ia pun masih ingat bagaimana rasa spermanya saat memenuhi mulutnya. Ia pun tak percaya bahwa di pagi hari ini saja sudah ada dua lelaki yang telah memuntahkan spermanya ke arah tubuh indahnya.

"Hah... Mana nanti masih ada jam ujian lagi... Gimana yah soal nanti ?" Ucap Rachel khawatir saat menjadi pengawas di jam kedua nanti. Ia tidak mau menjadi pengawas sendiri lagi karena takut dirinya hanya akan jadi korban pelayanan nafsu dari ketiga santri mesum itu.

"Itu mah gampang nanti... Moga aja ada seorang ustadz nganggur yang mau mengisi tempat ustadz Arif & ustadz Anif" Lirihnya saat menyebut nama dari dua rekan ustadznya yang tidak bisa menemaninya mengawasi di pagi hari tadi.

"Hmmm masalahnya... Aku nanti pulangnya gimana ?" Ucap Rachel sambil menatap kemejanya yang rusak serta celana dalamnya yang dibanjiri cairan cintanya sendiri.


*-*-*-*


Sementara itu di sore hari.

Tidak seperti paginya yang dipusingkan oleh ujian. Santri-santri yang tinggal di pondok pesantren sedang berolahraga bersama untuk menyegarkan pikiran. Mayoritas santri putra memilih untuk berolahraga sepakbola. Beberapa ada yang memilih berolahraga basket. Sedangkan santri putri lebih memilih untuk berolahraga basket ataupun voli.

Kendati sekarang sudah memasuki masa-masa ujian. Pihak pesantren di mempermasalahkan apabila santrinya berolahraga. Hanya saja ketika jam sudah menunjukan pukul setengah lima tepat. Santri-santri itu sudah harus berhenti berolahraga demi mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian di hari setelahnya.

Memang waktu berolahraga lebih singkat tiga puluh menit daripada biasanya. Tapi hal itu tidak mengurangi keseruan ketika sedang melakukannya bersama. Misalnya seperti yang sedang terjadi di lapangan basket satu ini.

"Riooo umpan kemari !!!" Kata Bayu meminta bola.

"Ahhh maaf" Kata Rio yang gagal mengopernya sehingga bola berhasil di rebut oleh tim lawan.

Bayu berlari untuk mengejar lawan untuk merebut bola. Tapi sayangnya, lawan terlalu mahir dalam mengolah bola. Bahkan berulang kali Bayu sampai digocek karena pergerakan lawan yang terlampau lincah.

"Aihhhh" Kata santri itu saat bolanya kembali di rebut.

"Kerja bagus Rio" Kata Wahyu sebagai pemain bertahan.

Dengan postur jangkung yang ia punya. Rio mempunyai kelebihan untuk merebut bola menggunakan tangan panjangnya. Sebagai jagoan basket se-pondok pesantren. Rio tampil percaya diri. Ia mempunyai aura yang membuat lawan merasa terintimidasi ketika bertanding melawannya.

Akhirnya dengan satu lompatan yang mantap. Rio meloncat ke udara untuk menaruh bola di dalam keranjang.

Tenggg... Tenggg... Tenggg !!!

Tepat saat itu lonceng pun berbunyi. Rupanya jam sudah menunjukan pukul setengah 5 tepat. Tak terasa memang, tapi begitulah waktu ketika sedang dinikmati bersama. Semuanya berlalu begitu cepat. Hingga tak sadar waktu untuk berolahraga telah selesai.

Untuk menunjukan sportivitas. Tim yang dipimpin oleh Rio menjabat tangan lawan dan melakukan pelukan untuk menunjukan respek kepada lawan. Tim Rio memang menang. Tapi kemenangan yang sebenarnya diraih apabila kita mampu menekan ego dan membiarkan tim lawan juga senang karena mampu bertanding secara adil.

"Ya Terima kasih... Aihhhh dirimu juga mainn bagus kok" Jawab Rio merendah.

Tibalah saatnya bagi Rio untuk menemui kedua teman karibnya. Bayu & Wahyu langsung mendekat untuk menyelamati santri jangkung itu karena berhasil mencetak skor tertinggi.

"Wah keren banget ente yo... Bisa nyetak three points juga tadi" Puji Bayu merasa bangga.

"Aihhhh biasa aja... Cuma keberuntungan kok" Jawab Rio merendah.

"Wkwkkw ini baru temenku... Seperti biasa bro... Jadi top score" Kata Wahyu lekas memeluk sahabatnya.

"Hahaha buat apa jadi top score kalau gak bisa jebolin duburnya ustadzah Rachel" Jawab Rio menyindir Wahyu.

"Wkwkwkwk oh yah ? Emang beneran tadi ente main sama ustadzah Rachel di kamar mandi ?" Tanya Bayu yang masih belum memercayainya.

"Wkwkwk beneran kok... Saking nafsunya tadi, ane sampe ngerusak kancing kemejanya... Celana dalamnya aja sampe banjir gara-gara crot maksimal tadi" Ucap Wahyu dengan bangga.

"Oh yah ? Pantes tadi ustadzah Rachel kok ganti baju... Ternyata ente pelakunya yah ? Wkwkwkwk... Jadi iri ane" Kata Rio.

"Wkwkwkwk yang sabar aja bro... Kalau kemaren Bayu, terus tadi ane, berarti besok-besok gilirannya ente buat lebarin lubang duburnya" Kata Wahyu memberi semangat.

"Wkwkwkwk semoga aja... Jadi gak sabar" Jawab Rio tersenyum.

"Tapi sayang tadi yah gara-gara ada ustadz tambahan, kita jadi gak bisa muasin ustadzah lagi" Kata Wahyu menyayangkan.

"Wkwkkw bener banget... Tapi kalau emang udah rejeki pasti ustadzah Rachel akan kita lecehi lagi" Ucap Bayu merasa yakin.

Tak lama kemudian, seorang santri lainnya ikut mendekat untuk mengucapkan selamat kepada Rio.

"Eh, selamat yah... Bisa jadi top score terus tiap kali main" Ucapnya tersenyum.

"Eehhh ada si babang tamvan... Thanks bro... Beberapa murni kebetulan kok" Jawab Rio merendah.

"Wkwkwkw btw kenapa kok permainan ente gak kaya biasanya sih Bal ? Lagi kepikiran apa nih ?" Tanya Bayu kepada santri tampan itu.

"Ahh enggak kok... Murni gak beruntung aja... Dah yah ana mau pulang dulu" Kata Iqbal dengan sopan.

"Wkwkwk mau belajar lagi yah Bal ?" Saut Wahyu saat Iqbal sudah berjalan pulang.

Iqbal hanya menoleh sambil tersenyum kepada tiga santri itu. Mereka bertiga pun geleng-geleng kepala menyadari santri secerdas Iqbal saja masih mau belajar sedangkan diri mereka masih suka main-main dikala ujian berlangsung.

"Emang beda yah kelas dia dengan kelas kita" Kata Rio sambil menatap punggung Iqbal yang semakin jauh.

"Hahaha bedanya kita masih suka gak tau diri" Ucap Bayu tertawa.

"Waktu ujian aja, Sempet-sempetnya kita buat melecehkan ustadzah Rachel" Sahut Wahyu yang membuat kedua temannya tertawa bersama.

Sementara itu Iqbal,

Setelah puas berolahraga bersama teman seangkatannya. Iqbal buru-buru pergi menuju suatu tempat sambil melirik ke kiri juga ke kanan. Rasanya ia tidak mau ada satu pun orang yang mengikutinya. Ia jadi kepikiran mengenai omongan yang baru saja ia dengar dari seseorang di pagi tadi. Sebuah omongan mengenai ustadzah Haura yang baru-baru ini telah kepergok selingkuh olehnya. Sayang, ia tidak punya barang bukti untuk melaporkan skandal ini pada suaminya.

"Kira-kira apa yah yang mau orang itu omongkan ke aku ? Kenapa juga aku jadi kepikiran terus ? Padahal orang itu cuma ingin mengajakku bertemu untuk berbicara sedikit hal tentang 'ustadzah Haura' ?" Kata Iqbal penasaran.

Alih-alih menuju asrama, Iqbal justru melangkah menuju sebuah tempat dimana banyak bangunan penting berada. Gedung Administrasi, gedung Pengasuhan Santri dan juga gedung asrama yang belum jadi juga terdapat di area yang Iqbal kunjungi. Ia pun berjalan menuju gedung yang belum jadi.

"Eh bukannya itu. . . . " Kata Iqbal sebelum memasuki gedung belum jadi itu. Ia melihat seorang ustadzah yang masuk ke dalam mobil van yang biasa digunakan untuk mengantar paket.

"Ngapain ustadzah Nada masuk ke dalam situ yak ? Eh mobil itu kok pergi ke luar pesantren sih ?" Kata Iqbal heran. Tapi ia tak begitu memperdulikan. Ia pun melanjutkan perjalanannya untuk memasuki gedung belum jadi.

"Assalamu'alaikum... Pakkk" Sapa Iqbal sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

"Walaikumsalam... Kekekekek" Jawab seorang pria bertubuh kekar yang mempunyai kulit berwarna hitam.

"Dengan pak Karjo yah ?" Tanya Iqbal agak lupa-lupa ingat mengenai identitasnya.

"Kekekekek benar sekali... Kamu Iqbal kan ? Ayo sini agak menjauh" Kata Karjo membawanya ke tempat sepi.

"Ada apa pak ? Apa yang bapak mau bilang ke saya ?" Tanya Iqbal semakin penasaran.

"Kamu kenal ustadzah Haura yah ? Saya liat tadi pagi kamu cukup akrab saat mengobrol dengannya" Kata pak Karjo secara diam-diam.

"Iya pak... Saya cukup kenal, soalnya suaminya itu wali kelas saya" Jawab Iqbal agak berhati-hati.

"Ohhh jadi kamu itu anak didiknya ustadz Hendra yah ?" Tanya pak Karjo berbasa-basi.

"Iyah pak... Kenapa yah ?" Tanya Iqbal.

"Anu gini... Ini rahasia sih... Gak ada orang kan yah ?" Tanya pak Karjo sambil melihat ke kanan juga ke kiri.

"Gak ada kok... Hmmm gimana ? Kok rahasia ?" Tanya Iqbal semakin penasaran.

"Iya, soalnya kalau sampe orang-orang pesantren tau... Pasti semua orang bakal heboh mengenai skandal yang melibatkan ustadzah Haura" Kata Pak Karjo yang membuat Iqbal terkejut.

"Skandal ? Makk... Maksudnya ?" Tanya Iqbal berpura-pura tidak tahu. Karena ia juga ragu kalau skandal yang ada dipikirannya sama dengan apa yang kuli tua ini ucapkan.

"Iya... Kamu sudah tau belum kalau selama ini ustadzah Haura telah berselingkuh dengan rekan ustadznya ?" Ucap pak Karjo yang membuat santri itu terkejut.

"Ehhh bapak juga tau tentang kasus itu ?" Ucap Iqbal yang juga membuat pak Karjo terkejut.

"Loh kamu udah tau ?" Tanya pak Karjo.

"Sebenarnya kemarin saya memergokinya bercinta dengan seorang ustadz di dalam ruangan kelas... Saya kesal sekali pak pas melihatnya... Saya benci melihat ustadzah itu bersikap selayaknya lonte murahan" Kata Iqbal yang membuat pak Karjo tertawa.

"Kekekekek... Menurutmu ? Apa hukuman yang pas buat mereka ?" Tanya pak Karjo.

"Saya mau mereka berdua di keluarkan... Khususnya ustadzah Haura... Dengan wajahnya yang cantik, saya gak ngira kalau dia telah menggoda ustadz lain dan mengabaikan cinta suaminya kepadanya" Ucap Iqbal sedikit curhat.

"Kekekekek begitu kah ? Bagaimana kalau yang sebenarnya terjadi tuh, ustadzah Haura yang di goda oleh lelaki tampan itu ?" Ucap Pak Karjo.

"Eh maksudnya ? Ustadz itu yang menggoda ustadzah Haura gitu ?" Tanya Iqbal yang belum sempat ia pikirkan.

"Kekekekek pikir aja... Dengan wajah setampan itu, siapa yang tidak tertarik untuk bercinta dengannya ?" Kata Karjo berusaha meyakinkan santri itu.

"Hmmm iya juga sih" Kata Iqbal mulai terpengaruh.

"Lagipula, saya ragu kalau gak cuma ustadzah Haura yang selama ini telah ia goda... Saya yakin dengan pasti kalau ustadz itu pasti telah menggoda ustadzah Nada, ustadzah Hanna, ustadzah Syifa bahkan ustadzah Rachel juga" Ucap Karjo yang notabene baru saja menyebut calon-calon korbannya sendiri.

"Hah beneran ? Barusan saya liat ustadzah Nada pergi loh naik mobil yang biasa nganterin paket kesini... Apa jangan-jangan ustadz itu yang membawanya ?" Kata Iqbal yang membuat Karjo mengerutkan dahinya.

Hmmm jadi ustadzah Nada selama ini sering pergi keluar pesantren yah... Pantes aja akhir-akhir ini jarang keliatan... Sial, kalah langkah rupanya kekekekek. Batin Karjo.

"Bisa jadi... Coba liat ini kalau kamu masih ragu" Ucap Karjo sambil menyerahkan hapenya.

Iqbal pun melihat dengan seksama. Ia terkejut saat melihat Haura sedang digenjot oleh seorang ustadz di dalam ruangan kantor bagiannya. Ia pun dengan teliti memperhatikan wajah ustadz itu.

"Nah ustadz ini... Orang ini orang yang sama dengan orang yang menyetubuhi ustadzah Haura kemarin" Kata Iqbal dengan yakin.

"Lihat kan ? Apa saya bilang kekekekek" Tawa Karjo.

"Kita laporkan aja pak dengan video ini... Biar mereka kapok dan dikeluarkan dari sini" Kata Iqbal bersemangat.

"Kekekek jangan terburu-buru... Kamu itu anak didiknya ustadz Hendra kan ? Seperti yang saya bilang tadi kalau ini bukan sepenuhnya salah ustadzah Haura... Ustadzah Haura telah digoda... Kalau kamu berniat melaporkan mereka dengan menggunakan video ini, otomatis ustadzah Haura juga akan dikeluarkan... Kamu tahu bakal sesedih apa ustadz Hendra saat tahu kalau istrinya selama ini berselingkuh dibelakangnya ?" Ucap Karjo.

"Hmmm iya sih... Terus gimana pak ?" Tanya Iqbal kebingungan.

"Daripada menyingkirkan keduanya... Lebih baik kita singkirkan benalu yang telah membuat ustadzah Haura jadi seperti itu" Kata pak Karjo tersenyum.

"Maksudnya ?" Tanya Iqbal belum paham.

"Lihat baik-baik kesini" Ucap Pak Karjo sambil menunjukan sebuah foto seorang ustadz berwajah tampan yang diam-diam ia ambil.

"Dia benalunya ?" Tanya Iqbal.

"Ya, dialah yang membuat ustadzah Haura seperti ini... Dia lah yang membuat ustadzah Haura terpaksa mengkhianati cinta suaminya... Daripada membuat ustadz Hendra sedih dengan menunjukan skandal istrinya, lebih baik kita singkirkan saja orang mesum ini agar tidak banyak ustadzah lain yang terjebak perangkap mesumnya" Kata Karjo mencuci otak santri mesum itu.

"Hmm... Jadi dia yah yang membuat ustadzah Haura berselingkuh di belakang ustadz Hendra... Kurang ajar !" Kata Iqbal sambil mengepalkan tangannya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy