Search

CHAPTER 36 - PILIHAN

CHAPTER 36 - PILIHAN

Pagi hari di sebuah rumah sakit.

"Wah... Alhamdulillah, beneran nih pak Dokter ?" Tanya Hanna pada dokter yang menjaga.

"Iya ustadzah... Pak Praptonya sudah boleh pulang... Saya rasa, pak Prapto sudah bisa beristirahat di rumah sekarang" Ucap dokter itu dengan ramah.

"Syukurlah... Badan bapak udah gak sakit-sakit lagi kan ?" Tanya Hanna sambil menatap tukang sapu itu.

"Iya ustadzah... Masih pegel sih tapi udah mendingan lah yah... Udah gak terlalu ngilu lagi" Ucap pak Prapto sambil menatap wajah cantik Hanna.

"Hihihi... Alhamdulillah... Seneng banget deh liat bapak udah sehat lagi" Ucap Hanna dengan lega setelah beberapa hari sebelumnya, dirinya selalu menjaga pak Prapto agar tidak kesepian selama menjalani perawatan di rumah sakit.

Hanna pun menatap wajah pahlawannya. Wajah tua itu sedang tersenyum lemah. Hanna sampai ingin meneteskan air mata saat melihat keadaannya. Ia pun ingat betul kejadian yang membuat pak Prapto jadi seperti ini. Ia teringat, bagaimana kedua lelaki itu dengan tega menghajar pak Prapto hanya karena ingin melaporkan pemerkosaan yang dialami olehnya.

"Eh ustadzah... Ustadzah gapapa ? Kok nangis sih ?" Ujar pak Prapto saat melihat mata Hanna berkaca-kaca.

"Eh hihihi... Aku kenapa sih... Kok sampe nangis gini" Ucap Hanna malu sendiri sambil menyeka air matanya. Ia merasa bahagia karena pria tua itu bisa sehat kembali seperti semula.

"Yasudah... Kalau gitu saya tinggal dulu yah... Untuk infusnya kan sudah dilepas... Kalau bapak mau pulang tinggal pulang aja... Nanti tinggal konfirmasi aja sama staff yang berjaga di dekat pintu masuk" Kata dokter tersebut kepada Hanna dan pak Prapto.

"Iyya pak Dokter... Makasih yah udah ngerawat om saya" Ucap Hanna tersenyum.

"Sama-sama ustadzah" Jawab Dokter itu sambil tersenyum ramah. Dokter itu pun pergi setelah menjawab pertanyaan dari ustadzah cantik itu.

"Cupp... Cupp... Cupp... Ustadzah kenapa sih ? Kok jadi nangis gini ?" Kata pak Prapto sambil mengusap-ngusap punggung sang ustadzah.

"Hihihi gak tau nih pak... Aduh aku ini kenapa sih" Kata Hanna tersenyum sambil meneteskan air mata.

"Ustadzah ini... Saya gapapa kok... Jangan khawatir" Kata pak Prapto menenangkan.

"Ihhh siapa juga yang khawatir ? Orang aku ngerasa gak enak aja udah bikin bapak kayak gini" Kata Hanna yang membuat pak Prapto kecewa.

"Ohhh jadi daritadi nangis bukan ngawatirin saya rupanya" Kata pak Prapto cemberut.

"Hihihi iya dong... Jangan kepedean makanya" Kata Hanna menyeka air matanya sambil tersenyum manis.

Pak Prapto kembali tersenyum setelah sempat cemberut. Raut wajahnya mulai berubah setelah melihat senyum indah yang dikeluarkan oleh sang ustadzah.

"Hihihi nah gitu dong... Jangan cemberut-cemberut... Masa baru sembuh malah cemberut" Kata Hanna tersenyum kendati dirinya masih terisak-isak.

"Habis ustadzah nya sih bikin saya ngambek" Kata pak Prapto yang membuat Hanna tertawa.

"Hihihi udah tua kok malah ngambek... Malu dong pak" Ejek Hanna yang membuat pak Prapto kembali cemberut.

"Dasar nih ustadzah... Untung ustadzah cantik... Kan saya jadi gak bisa marah" Kata pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum malu.

"Hihihi bapak nih... Makasih yah kalau gitu" Kata Hanna mendekatkan tubuhnya untuk memeluk tubuh pria tua itu.

Pak Prapto terkejut ustadzah cantik itu kembali memeluk tubuhnya. Pak Prapto jadi senang sekaligus terangsang merasakan kehangatan yang diberikan oleh ustadzah montok itu. Belum lagi dengan keempukan dari dua buah dadanya yang sangat kenyal. Aroma kewanitaan yang tercium dari tubuh Hanna juga turut membangkitkan gairah birahinya. Ia jadi teringat kejadian ketika Hanna secara tak sadar mengocok batang penisnya. Rasa nikmat itu, sentuhan lembut dari jemari mulus itu, serta desahan yang keluar dari mulut manis itu. Tanpa sadar penis pak Prapto mengeras. Dirinya jadi terengah-engah saat dipeluk oleh tubuh empuk dari ustadzah cantik itu.

Hanna melepas pelukannya. Sambil tersenyum dirinya menatap wajah pak Prapto dengan penuh kasih. Ia merasa nyaman didekatnya. Apalagi, pak Prapto sudah mengetahui rahasianya sehingga dirinya semakin mudah untuk mencurahkan isi hatinya kepada tukang sapu itu.

"Bapak sehat-sehat terus yah... Bapak juga jangan ikut campur urusan aku lagi... Aku gak mau bapak kenapa-kenapa lagi soalnya" Kata Hanna dengan begitu khawatir.

"Hehehe iya ustadzah... Hehehe maaf" Kata pak Prapto tidak fokus. Pria tua itu masih hanyut dalam kenikmatan saat dipeluk olehnya tadi. Diam-diam tanpa sepengetahuan Hanna, pak Prapto berusaha untuk menurunkan kembali penisnya yang sudah menegak maksimal.

Aduhhh... Kenapa malah sangek gini sih ? Tapi beneran deh, kocokannya ustadzah Hanna waktu itu emang yahud banget.

Batin pak Prapto sambil mendorong-dorong penisnya agar kembali tiduran. Ia sangat malu kepada sang ustadzah andai dirinya ketahuan ngaceng didepan ustadzah pujaannya.

Duhhh... Kenapa gak mau turun sih ? Kenapa juga malah makin ngaceng sih ?

Batin pak Prapto kebingungan. Dirinya pun menurunkan pandangannya ke arah selangkangannya. Sambil sesekali melirik ustadzah Hanna, pak Prapto terus berusaha mendorong penisnya agar kemaluannya itu kembali tenang setelah terkotori oleh pemikiran mesumnya.

Aduhhhh... Ayooo lemes dongg... Lemesss... Kenapa kamu malah ngacengg ???

Batinnya sambil terus mendorong penisnya agar segera kembali ke posisi tiduran. Saat pak Prapto menaikan pandangannya tuk melirik Hanna. Ia terdiam setelah tahu kalau Hanna sedari tadi terus menatapnya.

"Eh ustadzah hehehe" Kata pak Prapto merasa malu.

"Bapak lagi ngapain ?" Kata Hanna heran.

"Anu itu... Anu" Kata pak Prapto kebingungan. Ia jadi gugup. Ia takut Hanna marah kepadanya karena dirinya sudah berpikiran mesum saat berada di sisinya.

"Itu... Kontol bapak lagi berdiri yah ?" Kata Hanna dengan polosnya yang membuat pak Prapto semakin bernafsu.

Apa ustadzah ? Kontol ? Denger ustadzah ngomong kontol kok jadi gimana gitu rasanya.

Batin pak Prapto merinding.

"Eh anu... Iya ustadzah... Hehehe" Kata pak Prapto malu-malu.

"Ihhh bapak mikirin apa sih ? Kok jadi tegak gitu ?" Kata Hanna sambil diam-diam melirik ukurannya.

"Hehehe anu itu ustadzah... Saya kepikiran waktu ustadzah lagi ngocokin kontol saya hehehe" Ucap pak Prapto malu-malu.

"Ihhh bapakk... Kenapa bapak malah kepikiran waktu itu sih ? Aku kan waktu itu khilaf pak" Kata Hanna dengan wajah memerah. Kendati demikian matanya sesekali malah melirik ukurannya yang semakin membesar.

"Hehehe habis waktu ustadzah meluk saya... Ustadzah meluknya kekencengan sih, dada saya kan jadi kejepit susunya ustadzah... Mana tubuh ustadzah juga wangi lagi hehehe" Kata pak Prapto malu-malu mengakui.

"Tapi kan pak... Itu gak ada hubungannya dengan kekhilafan aku waktu itu" Kata Hanna masih malu mengingat kejadian itu.

"Hehehe ada kok ustadzah... Buktinya saya jadi nafsu gini... Oh yah ustadzah... Saya mau minta tolong boleh ?" Kata pak Prapto yang semakin bernafsu.

"Emang apa pak ? Bapak mau minta tolong apa ke aku?" Ucap Hanna yang perlahan mulai terbawa suasana.

"Saya boleh ngocok di samping ustadzah gak ? Hehe maaf banget ustadzah... Habis saya udah gak kuat lagi ngeliat wajah cantik ustadzah... Rasanya saya jadi pengen ngecrotin muka ustadzah pake pejuh saya" Kata pak Prapto semakin mesum setelah terbawa suasana.

"Eh bapak... Bapak ngomong apa sih ?" Ucap Hanna dengan wajah memerah.

"Hehehe boleh yah ustadzah... Saya udah nafsu banget nih... Maaf sebelumnya, sekali aja deh... Saya yang ngocok sendiri tapi kalau ustadzah mau juga gapapa" Kata pak Prapto semakin berani.

Hanna terdiam sambil melirik ukuran penis tukang sapu itu yang semakin menegak. Membayangkan ukurannya yang besar membuat birahi Hanna perlahan mulai bangkit menguasai diri. Dirinya yang sedari tadi duduk di sebelah ranjang tidur pak Prapto semakin gelisah. Posisi duduknya jadi tidak nyaman. Lama-lama dirinya juga ingin melihat penis berwarna hitam itu lagi.

"Gimana ustadzah ? Boleh yah ? Sekali aja deh.... Hehe tolong ustadzah.... Boleh yah" Kata pak Prapto terus memohon.

Hanna masih bimbang. Namun mendengar permohonannya yang ingin beronani sambil menatap wajahnya malah membuat birahinya semakin ingin untuk mengiyakan.

Haruskah ? Haruskah aku membiarkan pak Prapto melakukannya ? Aduh... Kenapa aku malah pengen banget sih ? Batin Hanna bimbang.

"Gimana ustadzah ?" Kata pak Prapto sambil menuntun tangan Hanna ke arah selangkangannya.

"Astaghfirullah... Bapak" Kata Hanna sampai menyebut saat merasakan sesuatu yang amat keras tersembunyi dibalik celana pasien itu.

"Gimana ustadzah ? Kebayang gak kalau punya saya ini berhasil nembus ke dalam memek ustadzah.... Duh kok saya jadi mesum gini yah... Habis saya udah sangek banget ustadzah.... Boleh yah... Boleh ?" Kata pak Prapto terus memaksa karena tidak sanggup menahannya lagi.

Apalagi setelah melihat penampilan Hanna hari ini. Dengan hijab bergo berwarna hitam serta kacamata berlensa bening yang melekat di wajahnya. Hanna terlihat lebih manis daripada biasanya. Ketika Hanna tersenyum, jantung pak Prapto langsung berdebar kencang. Dampaknya sangat luar biasa bagi kesehatan jantung pak Prapto. Senyum Hanna adalah nyawa bagi pak Prapto. Senyum Hanna adalah obat bagi pak Prapto. Senyum Hanna lah yang telah membantunya sembuh dengan cepat sehingga bisa sehat kembali seperti semula.

Apalagi dengan kemeja ketat yang membungkus tubuh montoknya. Entah apa yang terjadi dengan kemeja yang ia kenakan. Padahal sebelumnya kemeja yang ia kenakan tidak sesesak ini. Namun akhir-akhir ini, tubuhnya jadi lebih berisi daripada sebelumnya. Payudaranya juga ikut membesar. Hal itu lah yang membuat pak Prapto jadi mudah terangsang ketika berada di dekatnya.

Hanna merenung sambil menatap selangkangan tukang sapu itu. Tonjolannya memang sangat besar. Bahkan celana itu saja sampai terlihat sempit saat dikenakan oleh pria tua bertubuh kurus itu.

Ketika sedang bingung-bingungnya. Dirinya malah terkejut saat pak Prapto dengan tidak sabaran menurunkan celananya segera. Penis itu langsung mencuat tinggi. Hanna terkejut. Wajahnya memerah namun dirinya jadi lebih bergairah.

"Astaghfirullah bapak" Sebut Hanna saking terkejutnya.

"Hehe maaf ustadzah... Saya udah gak kuat lagi... Ouhhh yahhh.... Ouhhh ustadzah.... Ouhhhh ustadzah kok bisa cantik gini sihhhh" Kata pak Prapto mengocok penisnya sambil menatap wajah sang ustadzah.

"Astaghfirullah bapakk... Apa yang bapak lakukan !!! Tutup lagi pak !" Kata Hanna merasa malu. Namun pandangannya sesekali melirik ke arah penis hitam itu. Dirinya penasaran. Dirinya sangat ingin menggenggam batang penis yang terlihat menggoda baginya.

"Hehehe maaf ustadzah... Saya udah gak nahan lagi... Habis ustadzah jawabnya lama banget sihhh" Kata pak Prapto masih terus mengocoknya.

"Tapi kann pakk... Akuu... Akuuu" Kata Hanna menundukan pandangannya sambil menutupi kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya.

"Aahhh... Ahhh... Jangan ditutupin dong ustadzah... Bentar aja... Saya ingin menikmati kecantikan wajah ustadzah... Ahhh... Ahhh" Desah pak Prapto sambil menurunkan tangan Hanna sehingga wajah cantiknya kembali terlihat.

Hanna terdiam. Wajahnya benar-benar merah saat pria tua itu dengan bebas mengocok penis sambil menikmati keindahan wajahnya. Wajah pria tua itu sedang keenakan. Hal itu lah yang membuat Hanna jadi semakin malu saat berada di samping pria tua itu.

"Ouuhhh mantappnyaahh... Aaahhh iyyahhh... Sebentar ustadzah" Desah pak Prapto saat bangkit sambil duduk di tepi ranjang tidurnya. Tepat di hadapan selangkangannya ada ustadzah cantik berkacamata itu yang terdiam pasrah. Penisnya berada tepat dihadapan wajah bidadari berhijab itu. Pak Prapto semakin bergairah. Nafasnya pun terengah-engah.

Hanna terdiam saat penis berwarna hitam itu sedang dikocok tepat di hadapan wajahnya. Aroma penisnya dengan kuat tercium oleh lubang hidungnya. Aroma kejantanan itu membuat birahi Hanna membesar. Hanna juga mulai terengah. Diam-diam lidahnya terus menjilati tepi bibirnya yang mengering.

"Ahhh... Ahhh ustadzah... Liat sini dong" Pinta pak Prapto hingga wajah cantik itu terangkat. Mereka berdua sedang berpandangan. Melihat wajah Hanna yang secantik ini berada tepat didekat batang penisnya membuat gairah birahinya semakin membesar. Nafsu birahi pak Prapto telah terbakar. Hawa panas mulai menyambar membuat pria tua itu semakin gerah saat berada di dekat ustadzah cantik itu.

"Baappp... Bapaaakkk" Ucap Hanna terkejut saat melihat pak Prapto melepaskan kausnya.

Pak Prapto telah bertelanjang dada sambil mengocok batang penisnya. Tubuh kurusnya sudah terlihat di hadapan Hanna. Kaki pria tua itu semakin melebar. Ia pun memuaskan hasratnya pada keindahan wajah yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.

"Heheheh maaf ustadzah... Saya udah nafsu banget nih... Ouhhh mantapnyah" Desah pak Prapto kali ini sambil menurunkan celananya. Jadilah pria tua itu telanjang bulat di hadapan Hanna yang masih berpakaian lengkap.

Sensasi telanjang di tempat umum bersama seorang ustadzah yang sangat ia idolakan membuat dirinya jadi semakin terangsang. Ia pun mendekatkan penisnya ke wajah Hanna. Ujung gundulnya pun menyentuh pipi mulus sang ustadzah. Kelembutan kulit itu membuat pak Prapto semakin terengah-engah dalam mengocok batang penisnya.

"Aahhhhh yahhh... Ahhhh... Aahhhh ustadzaaahhhh" Desah pak Prapto dengan sangat puas.

"Bapakk ihhhh jorok pakk... Jangan deket-deket" Ucap Hanna tanpa melakukan tindakan. Ya walau mulutnya berkata jangan tapi dirinya membiarkan penis itu menempel pada pipinya. Penis itu terasa hangat. Penis itu juga mulai mengeluarkan sedikit lendir yang perlahan membasahi wajahnya.

"Ahhhh mantappnyaaa" Desah pak Prapto saking puasnya.

Hanna diam-diam semakin terangsang saat dilecehi oleh pria tua ini. Tanpa sepengetahuan pak Prapto yang sedang asyik menodai wajahnya. Tangan kirinya mulai meremas payudaranya pelan. Bahkan tangan kanannya mulai mendorong-dorong vaginanya dari luar rok panjang yang dikenakannya.

"Ustadzaaahh... Bisa buka mulutnya sebentar gak ?" Pinta pak Prapto.

"Buka mulut ? Emangnya kenapppp . . . ." Belum sempat ia menuntaskan kalimatnya. Tiba-tiba batang penis berwarna hitam itu langsung masuk menyodok pangkal kerongkongannya.

"Ooouuhhhhh yahhhhh" Desah pak Prapto mendorong pinggulnya sedangkan tangan kanannya mendorong kepala Hanna sehingga wajah cantik ustadzah itu semakin terbenam ke arah selangkangannya.

"Mmppphh" Desah Hanna memejam. Ia terkejut pak Prapto jadi senafsu ini. Aroma kuat dari selangkangannya membuat ustadzah cantik justru semakin bernafsu saat dilecehkan oleh tukang sapu itu.

Pak Prapto melebarkan kakinya selebar-lebarnya. Ia mendorong pinggulnya hingga penisnya semakin masuk ke dalam mulut ustadzah cantiknya. Ia juga mendorong kepala Hanna hingga wajah cantiknya semakin masuk ke arah selangkangannya. Sensasi itu. Kenikmatan itu. Kepuasan yang sedang ia rasakan sekarang. Pak Prapto jadi geleng-geleng kepala merasakan semuanya. Ia tak menyangka dirinya bisa mendapatkan keberuntungan seperti ini. Mulutnya saja bahkan lebih nikmat daripada vagina ustadzah Syifa. Mungkin perasaan cintanya pada ustadzah Hanna lah yang membuatnya lebih terasa puas saat menikmati mulut Hanna daripada vagina Syifa.

"Bapaakkk... Mmpphh... Mmpphhh" Desah Hanna sambil menepuk-nepuk paha pria tua itu.

Pak Prapto tidak peduli. Sebenarnya bukan tidak peduli juga sih. Ia hanya merasa nanggung sehingga tangannya mencengkram hijab bergo itu sambil mengangkat naik kepalanya kemudian kembali membenamkannya. Lagi, ia mengangkat kepalanya lalu membenamkannya lagi. Penis pak Prapto jadi tergesek oleh lidah sang ustadzah. Penis pak Prapto jadi lembap terkena liur sang ustadzah. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat semakin terpuaskan oleh nikmatnya oral yang diberikan oleh mulut ustadzah cantik itu.

Anehnya, Hanna tidak merasa marah saat pak Prapto yang melakukannya. Dirinya memang sudah terangsang daritadi. Hal itu lah yang membuatnya malah semakin ingin dinodai lebih oleh tukang sapu itu. Apalagi fakta bahwa pak Prapto sudah membuatnya nyaman membuat tubuhnya justru ingin memberikan yang terbaik bagi kepuasan tukang sapu itu. Sepertinya dampak dari pemerkosaan yang terus-terusan ia alami turut mengubah cara pandangnya. Ia tak mempermasalahkan lagi andai ada seseorang yang menodai tubuhnya. Selama orang itu bisa membuatnya nyaman, ia tak merasa kalau dirinya sedang diperkosa.

"Uhhhh... Uhhhh... Mantap sekali ustadzah... Mulut ustadzah rapet banget sihhhh ouhhh yahhhh" Desah pak Prapto dengan sangat puas.

Pinggul pak Prapto bergerak memutar sehingga penisnya seperti sedang berpatroli di dalam mulut Hanna. Penis itu terus mengaduk mulut Hanna sehingga membuat ustadzah cantik itu kewalahan dalam meladeni nafsu birahi tukang sapu itu.

Puas, kini giliran pak Prapto yang maju mundur menggempur pertahanan mulut Hanna. Kedua tangan pak Prapto menahan sisi belakang kepala Hanna agar tidak terdorong ke belakang. Pinggulnya bergerak maju mundur. Penis itu terus menerus keluar masuk di dalam mulut Hanna. Penis itu jadi semakin lembap setelah terolesi liurnya yang hangat. Pak Prapto memejam. Dirinya merasakan kenikmatan dari servis oral yang dilakukan oleh mulut sang bidadari yang biasa digunakan untuk berkata hal yang baik-baik saja. Pak Prapto telah menodainya. Ia telah menodai mulut manis ustadzah menggunakan batang penisnya.

“Aahhhh... Ahhhhh... Aahhhhhhh” desah pak Prapto puas.

“Mmpphh... Mmpphhh pakkk... Mmpphhh” Hanna kewalahan. Matanya terus memejam dan tangannya terus memukul-mukul paha pak Prapto agar tukang sapu itu berhenti menyiksa pangkal kerongkongannya.

Namun kenikmatan sedang menjalar di tubuh pak Prapto. Ia terus menggempurnya. Nafasnya perlahan semakin berat dan ia mulai merasakan penisnya berdenyut di dalam mulut ustadzah cantik itu.

“Aaahhhhh gilaaa.... Ustadzahhh... Ouhhh mulut ustadzah kok nikmat banget sih... Saya sampe mau keluar ustadzah !!!” desah pak Prapto kewalahan.

Hanna terkejut mendengar pak Prapto sudah mau keluar setelah menggempur mulutnya. Hanna jadi panik. Ia takut andai pak Prapto memuntahkah lahar hangatnya di dalam mulutnya. Tapi ia juga tidak mau andai penis itu menodai wajah cantiknya menggunakan cairan spermanya. Ia tidak mau aroma penis itu dengan kuat menodai wajahnya, yang membuatnya merasa malu ketika berjalan pulang dari rumah sakit ini.

“Aaahhh... Aahhhh... Saya sudah gak kuat lagi ustadzahh... Saya mau keluaar... Saya mau keluuarrrr !!!” desah pak Prapto sambil mendorong kepala Hanna hingga semakin terbenam di selangkangannya.

Hanna terkejut. Wajahnya semakin dekat dengan selangkangan pria tua itu. Kendati demikian, pinggulnya masih saja bergerak menyodok rongga mulutnya. Hanna kewalahan, dirinya nyaris tersedak oleh nafsu birahi tukang sapu itu.

Tolonggg pakk... Keluarin di mulut aku aja... Jangan di muka pak ! Aku gak mau nanti orang-orang tau dari noda sperma bapak di wajah aku !

Batin Hanna yang hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hatinya karena mulutnya sudah tersumpal oleh kejantanan tukang sapu itu.

“Aahhhh... Ahhhhh iyyahh... Iyyahhh ustadzahhh... Ouhhh mantapnyyaa... Rasakannn !!! Hennkkghhhh !!!!” desah pak Prapto dengan sangat puas hingga kedua kakinya semakin melebar dan tangannya otomatis membenamkan wajah Hanna ke arah selangkangannya. Penisnya jadi semakin terbenam di rongga mulut Hanna. Ujung gundulnya langsung menyodok pangkal kerongkongan ustadzah cantik itu.

“Kelluuaarrrrr !!!!” desah pak Prapto mengiringi lelehan spermanya yang muncrat di dalam mulut Hanna.

“Mmpphh !!!!” desah Hanna memejam saat lelehan sperma itu mulai keluar menodai mulutnya.

Pak Prapto merem melek merasakan puasnya menodai mulut sang ustadzah. Tubuhnya tersentak nikmat. Dirinya sangat puas hingga tangannya tak sadar semakin membenamkan mulut sang ustadzah. Tubuh kurusnya bergejolak menikmati servis mulut yang dilakukan oleh ustadzah cantik itu. Ia merasa sangat beruntung karena sudah mampu menodai seorang ustadzah yang sangat ia idolakan kendati baru melalui mulutnya saja.

Sementara Hanna tak mengira kalau dirinya sampai dinodai oleh tukang sapu itu. Ia sangat terkejut tapi diam-diam ia juga menikmati sikap tak berdayanya saat dilecehkan oleh seseorang yang telah membuatnya nyaman. Alih-alih marah, Hanna justru senang karena dirinya merasa seperti sudah membalas budi kepada tukang sapu yang nyaris mengungkap kasus pemerkosaannya.

Lelehan sperma yang begitu banyak memaksa Hanna untuk menelannya sebagian. Hanna pun tak merasakan bagaimana rasa dari sperma pria tua itu. Ia langsung menelannya tanpa berfikir. Ia tidak sanggup untuk menampung semua sperma itu di mulutnya. Ia khawatir kalau ia menampungnya, sperma itu akan tumpah dan mengenai hijabnya atau kemejanya.

Pak Prapto masih dilanda kenikmatan orgasme yang sangat hebat. Matanya masih merem melek sambil menatap wajah Hanna yang masih tertunduk di selangkangannya. Tubuh tuanya langsung lemas. Rasanya seperti ia baru saja mentransfer seluruh energinya melalui penisnya ke mulut ustadzah cantik itu. Tubuh telanjangnya sangat puas. Lama kelamaan kesadarannya pun kembali yang membuatnya terkejut dirinya berani bertindak sejauh ini.

“Astaga ustadzahh... Maaf ustadzah... Saya kelewat nafsu !” ujar pak Prapto saat ustadzah cantik itu mulai melepas penisnya dari cengkraman mulutnya.

Saat wajah Hanna terangkat. Wajahnya jadi terlihat semakin menggairahkan dengan kacamata yang melengkapi keindahannya. Mata Hanna terlihat sayuk. Wajahnya terlihat lemas tak berdaya. Apalagi dengan lelehan sperma yang tumpah sebagian dari sela-sela mulut manisnya. Pak Prapto yang baru saja meminta maaf jadi terdiam. Ia sungguh takjub oleh keindahan yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.

Hanna hanya tersenyum lemah sambil mengambil tisu yang berada di meja kecil di samping ranjang tidur tukang sapu itu. Hanna pun memuntahkan sebagian sperma tukang sapu itu tepat di hadapan pemiliknya. Pak Prapto sampai bengong melihat seorang ustadzah dengan mulut yang dipenuhi oleh sperma miliknya. Hanna jadi terlihat binal yang membuat nafsu birahi tukang sapu itu terpuaskan.

“Hehehe gapapa pak... Ini salah aku juga kok yang udah buat bapak khilaf” kata Hanna malu-malu yang membuat pak Prapto gemas ingin menyetubuhi mulutnya lagi.

“Ehehehe tapii... Tapii... Anu maaf pokoknya yah ustadzah” ucap pak Prapto yang jadi canggung saat bersama ustadzah idolanya itu.

“Iyyah” ucap Hanna tersenyum canggung. Hanna kembali mengambil tisu lainnya untuk mengelap noda disekitar mulutnya. Ia pun menenggak sebotol air untuk membersihkan sisa sperma yang masih ada di dalam mulutnya.

Hanna jadi malu setelah sadar dirinya baru saja mengulum batang penis itu. Terlihat batang penisnya melemas. Penis itu layu bagaikan sekuntum bunga yang lama tidak disirami air. Hanna masih terdiam memandangi penis hitam itu. Ia masih tak menyangka kendati penis itu sudah lemas tapi ukurannya jauh lebih besar dari rata-rata yang dimiliki oleh seorang manusia.

“Anu aku permisi dulu yah pak... Mungkin siang ini atau sore bapak baru bisa pulang... Tuk sekarang, aku mau nyari mobil dulu yah buat nganterin bapak pulang... Anu, wassalamualaikum pak” ucap Hanna merasa canggung. Ia pun buru-buru pergi setelah mengucapkan salam kepada tukang sapu itu.

“Walaikumsalam ustadzah” jawab pak Prapto masih tak percaya dirinya bisa menyenggamai mulut ustadzah idolanya.

Pak Prapto kembali terbaring dalam keadaan telanjang bulat di atas ranjang tidurnya. Kedua telapak tangannya ia taruh dibawah kepalanya. Bulu ketiaknya yang lebat nampak disana. Pak Prapto masih termenung membayangkan kenikmatan tadi. Ia pun berfikir dalam hati.

Kalau mulutnya aja udah seenak itu, gimana rasa memeknya yah ?

Batin pak Prapto penasaran. Membayangkan hal itu malah membuat penisnya perlahan mengeras lagi. Ia pun bingung memikirkan cara untuk melemaskan batang penisnya lagi.


*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih sepuluh menit pagi. Di sebuah kelas terdapat seorang ustadzah yang duduk mengawasi santri-santrinya yang tengah hikmat mengerjakan soal-soal ujiannya. Tak terasa sudah memasuki hari kedua masa ujian. Ustadzah cantik itu merenung. Keheningan yang tercipta membuatnya tak sadar melamun memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya akhir-akhir ini.

Kenapa yah akhir-akhir ini aku jadi kepengen begituan lagi ?

Batinnya sambil memegangi selangkangannya diam-diam.

Apa karena mas Hendra yang jarang menemaniku belakangan ini ?

Batinnya memikirkan kesepian yang dilaluinya.

Berhari-hari sudah aku gak disentuh oleh suamiku... Tapi belakangan ini, kenapa jadi mereka yang sering menyetubuhiku ? Mas Hendra orang baik, tapi kalau ia jarang di sisiku ya gimana yah ? Aku kan seorang istri yang ingin dimanja oleh suami !

Batin Haura mengeluhkan nasibnya.

Belakangan gairah seksual Haura sedang tinggi setelah ditinggal sendiri oleh sang suami. Apalagi dengan adanya dua penis yang berbeda yang sudah keluar masuk di dalam rongga vaginanya. Masing-masing dari penis itu mempunyai pesonanya sendiri. Haura jadi ingin mencicipi salah satunya lagi. Entah milik siapa, ia hanya ingin merasakan nikmatnya bersetubuh lagi.

Astaghfirullah !!! Kenapa aku sampai kepikiran gitu sih !

Batin Haura menggelengkan kepalanya. Haura menepuk-nepuk kepalanya pelan tuk melupakan apa yang baru saja ia pikirkan. Sejak dulu, masalah seksual lah yang membuat Haura merasa kurang ketika berduaan bersama suami. Entah kapan terakhir kali dirinya dipuasi oleh sang suami. Pastinya sudah lama sekali hingga dirinya tidak ingat sama sekali.

Haura menyangga pipinya menggunakan telapak tangannya yang ia taruh di atas meja. Ia memandang ke arah luar kelas. Tak sadar dirinya terbayang akan dua sosok yang sudah menodai dirinya selama ini.

Pak Karjo, V !

Batin Hanna tanpa ia sadari.

Sosok kekar berkulit hitam itu memang berulang kali telah membuatnya puas. Cara barbar yang ia lakukan membuat tubuhnya tak berdaya saat dipuasi oleh kejantanan penisnya. Kekuatan yang ia punya membuatnya hanya sanggup mengerang merasakan gesekan penis itu di dalam rongga vaginanya. Ia masih ingat betul bagaimana kuli tua itu menyetubuhinya semalaman. Daya tahannya sangat luar biasa. Tanpa sadar ia memegangi vaginanya yang basah dari luar rok panjang yang dikenakannya.

Namun sosok tampan berkulit bening yang sudah mencuri hatinya juga berulang kali telah membuatnya puas. Beda dengan pak Karjo yang menggunakan cara barbar. Cara V cenderung lembut. Kata-kata yang diucapkannya juga membuat hatinya terperdaya. Ia jadi terdiam pasrah membiarkan ustadz tampan itu menyetubuhi vaginanya. Sikap tak berdayanya dalam membiarkan V mengobrak-ngabrik kemaluannya membuat dirinya merasa puas menikmati kejantanannya.

Mereka berdua memang mempunyai pesonanya sendiri. Tapi ia sangat ingin merasakan kejantanan salah satu dari keduanya lagi. Siapa itu ? Haura tidak peduli, dirinya sudah terlanjur bernafsu tapi ia sangat malu untuk mengakui itu. Sifat labilnya memang sering menyulitkan dirinya sendiri. Andai ia tidak labil, ia pasti sudah memilih seorang lelaki untuk memuasi nafsu birahinya yang tinggi.

Astaghfirullah... Kenapa aku jadi gini banget sih ? Kenapa aku jadi mudah kerangsang kayak gini ? Perasaan dulu aku gak kayak gini deh ?

Batin Haura merenung.

Ya, ia teringat awal mula dirinya jadi seperti ini sejak dirinya dicium oleh ustadz tampan itu di sebuah taman malam-malam. Gombalan yang dikeluarkan olehnya. Serta kepuasan ketika pertama kalinya bersentuhan dengan seorang lelaki selain suaminya. Nafas Haura jadi berat. Ia sungguh ingin menuntaskan birahinya karena tak sanggup menahan semuanya lagi.

Diam-diam Haura meremas payudaranya dari luar kemeja yang ia kenakan. Tangan satunya pun memegangi vaginanya dari luar rok yang ia kenakan. Wajah Haura terlihat gelisah. Ia diam-diam merangsang dirinya di hadapan santri-santrinya yang tengah menjalankan ujiannya.

Tanpa sepengetahuan dirinya ada seorang santri yang diam-diam selalu memperhatikannya. Santri tampan itu terkejut melihat ustadzah tercantik sepondok pesantren itu terangsang dengan menggerayangi tubuhnya sendiri.

Ustadzah Haura... Apa benar yang dikatakan pak Karjo kemarin sore ? Apa benar ustadzah Haura yang digoda oleh ustadz itu ? Atau justru ustadzah sendiri yang menggodanya sehingga ustadzah berani mengkhianati cinta ustadz Hendra ?

Batin santri itu curiga. Setelah melihat sikap Haura sekarang, ia jadi meragukan perkataan kuli itu kemarin sore. Ia merasa kalau Haura lah yang sudah menggoda ustadz tampan itu demi memuaskan nafsu birahinya yang amat sangat besar.


*-*-*-*


Tak terasa waktu ujian telah selesai. Santri-santri mulai berlarian untuk kembali ke asramanya masing-masing. Mereka tampak kelelahan setelah menyelesaikan dua mata pelajaran tiap harinya. Total sudah empat mata pelajaran yang diselesaikan oleh seluruh santri hingga detik ini. Mereka semua ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan proses belajarnya untuk ujian esok harinya.

Sama halnya dengan para santri. Para pengajar yang ditugaskan mengawas juga bersiap untuk kembali ke kamarnya masing-masing. Kendati mereka tidak menjalani ujian, tapi mereka juga manusia yang butuh istirahat. Mereka semua berjalan pulang untuk kembali ke asramanya masing-masing.

Haura salah satunya. Dengan hijab berwarna hijau yang membalut kepalanya. Dengan kemeja berwarna putih serta blazer yang selaras dengan warna hijabnya. Haura berjalan dengan perlahan sambil menundukan wajahnya. Ia memegangi buku-buku yang ia bawa dengan cara memeluknya di dada. Rok berbahan plisket yang juga berwarna hijau melengkapi penampilan indahnya di pagi hari ini. Haura terlihat cantik. Tapi ustadzah cantik itu sedang gelisah karena gairah birahinya belum sempat tertuntaskan. Rangsangan-rangsangan pelan yang dilakukannya tadi justru semakin menambah hasrat seksualnya. Hanya bercinta yang bisa mengatasi rasa gelisahnya sekarang. Tapi dengan siapa ? Suaminya saja belum pulang.

Tak sadar dirinya sudah berjalan di jalan setapak yang berada di dekat gedung kelas. Langkah kakinya gemulai. Wajahnya masih menunduk. Sikapnya terlihat malu-malu. Banyak santri yang diam-diam melirik keindahan tubuh Haura. Banyak ustadz yang diam-diam mencuri pandang menatap kecantikan wajah Haura. Banyak pekerja yang diam-diam bernafsu ingin menikmati jepitan kemaluan Haura.

Haura tak menyadarinya sekarang. Tapi ia merasa ada yang tidak beres disekitarnya sehingga dirinya menaikan wajahnya. Tak terduga banyak orang-orang yang sedang memperhatikan tubuhnya. Wajah Haura langsung memerah. Ia kembali menundukan wajahnya kemudian mempercepat langkah kakinya.

Ada yang aneh pada tubuhnya ketika orang-orang itu menatap dirinya. Ia merasa kalau orang-orang itu sedang bernafsu ingin menyetubuhinya. Haura jadi menenggak ludah. Dirinya yang sedang bernafsu jadi terpengaruh oleh otaknya yang sedang keruh memikirkan semua kebinalan itu. Kembali Haura menggelengkan kepala tuk melupakan apa yang baru saja dipikirkannya. Ia pun heran, kenapa ia jadi mudah bernafsu seperti ini ? Padahal biasanya ia tidak bertindak murahan seperti ini. Tapi ia lega, karena ia menunjukan semuanya hanya dalam pikirannya saja. Di luar itu, Haura masihlah ustadzah tercantik yang mempunyai wibawa sebagai seorang istri dari salah satu kerabat pondok pesantren.

"Eh, ustadzah" Ucap seseorang sambil menepuk kedua bahu Haura dari belakang.

"Astaghfirullah" Ucap Haura terkejut hingga tangan kirinya memegangi dadanya. Ia pun menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa orang itu.

"Hahaha kaget yah ? Maaf yah, Ra" Ucapnya yang membuat Haura sebal.

"Ihhhh... Kirain siapa... Ngagetin aja ! Jantungan tau, V !!!" Ucap Haura kesal.

"Hahaha lagian... Masih pagi gini udah ngelamun" Ucap V sambil berjalan di samping Haura.

"Siapa yang ngelamun ? Lagian juga udah siang nih" Ucap Haura sambil berjalan di sebelahnya.

"Hahaha iya deh percaya kok... Gimana tadi pas ngawas ?" Ucap V mengajaknya ngobrol.

"Ya gitu lah V... Biasa aja kaya hari-hari sebelumnya... Pagi bagiin soal terus diem ngeliatin mereka... Antum sendiri gimana pas ngawas tadi ?" Tanya balik Haura.

"Ya gitu lah... Pagi bagiin soal ujian... Terus ngeliatin mereka" Jawab V membuat Haura kesal.

"Ihhh tiru-tiru... Itu jawaban ana tau" Jawab Haura cemberut. Kendati demikian, wajahnya justru terlihat imut yang membuat V gemas ingin mencubitnya.

Untungnya masih banyak orang yang berjalan disekitar mereka. Andai hanya ada mereka berdua. Pasti V sudah nekat mencium pipinya karena tak tahan dengan keimutan wajah yang dimiliki oleh ustadzah tercantik itu.

Suasananya jadi hening saat itu. Haura yang masih menunduk pun heran kenapa V tidak berkata lagi tuk membalas ucapannya. Saat Haura menaikan pandangannya kemudian menoleh menatap wajahnya. Ia terkejut karena V dari tadi diam melirik wajahnya.

V jadi canggung setelah kepergok menatap wajahnya. V jadi senyum malu-malu kemudian membuang wajahnya ke samping.

"Kebiasaan... Dasar ustadz yang gak bisa jaga pandangan !" Kata Haura tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Aduh jadi malu... Habis antum cantik banget sih Ra... Sayang udah ada yang punya" Ucap V becanda yang membuat Haura tertawa.

"Eh, emang kalau misal ana belum ada yang punya kenapa ?" Ucap Haura penasaran.

"Ya pasti bakal jadi punya ana... Kenapa harus tanya sesuatu yang udah jelas gitu loh ?" Jawab V yang membuat Haura tertawa ngakak.

"Hihihi kepedean... Kaya ana mau aja sama antum" Ucap Haura sambil melirik wajahnya.

"Ya pasti mau lah... Emang kalau bukan sama ana siapa lagi ? Pak Karjo ?" Ucap V iseng.

Haura jadi diam setelah mendengar nama kuli itu disebut. Tidak hanya mulutnya yang diam. Bahkan langkah kakinya juga diam. Ia terdiam di tempat setelah mendengar nama kuli itu disebut oleh V.

"Eh Haura... Anu, maaf" Ucap V menyadari kalau sepertinya ia baru saja menyebut kata terlarang yang membuatnya trauma.

"Hehe gapapa kok V... Hmm nanti lagi yah... Ana mau pulang dulu, jalan kita beda kan ?" Ucap Haura saat melihat seorang ustadzah yang ia kenal berjalan di dekatnya.

"Hmm iya deh... Anu maaf yah tadi... Ana cuma iseng aja... Gak bermaksud bikin antum . . . . " Kata V menyesal.

"Iya gapapa kok... Permisi yah, wassalamu'alaikum" Ucap Haura sambil memaksa senyum.

"Walaikumsalam" Jawab V lemah. Ia pun diam menatap Haura yang berjalan menuju ustadzah Nisa.

"Haihhh kenapa malah kesebut nama itu yah tadi" Kata V menyesal.

Haura pun semakin jauh dari pandangan V. Ia terus menyesal sambil memikirkan sesuatu di benaknya.

"Semoga Haura baik-baik aja" Ucap V tampak khawatir.

Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju kamar asramanya yang berada di arah yang berlawanan dari jalan yang dituju oleh Haura.

Sesampainya ia di dekat sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga-bunga. V dikejutkan oleh suara seseorang yang seperti sedang memanggilnya. Wajah V telingak-telinguk mencari sumber suara itu. Ia menoleh ke kanan kemudian menoleh ke kiri. Ia juga menoleh ke belakang lalu menoleh lagi ke depan.

Rupanya suara itu berasal dari arah jam delapan yang membuat ustadz tampan itu berbalik badan untuk menanti orang itu mendekat.

"Ustaaaddzz... Hah... Hah... Hah" Ucapnya ngos-ngosan. Santriwati cantik itu menundukan wajahnya kemudian menaruh kedua tangannya pada tempurung lututnya. Ia kelelahan setelah berlari mengejar ustadz yang sedari tadi ia cari.

"Salwa... Antum kenapa lari-lari ?" Ucap V tersenyum sambil menatap santriwati cantik itu.

"Hah... Hah... Ana dari tadi ngejar antum tau... Habis keluar kelas ana langsung nyariin antum... Kirain antum masih di ruang sebelah... Rupanya antum udah pergi terus ana lari deh sampe nemu antum, eh rupanya ada disini" Ucap Salwa tersenyum sambil terengah-engah.

"Hahaha kasian banget... Ayo sini duduk dulu... Sambil istirahat sebentar" Ucap V perhatian sambil membawa santriwati cantik itu ke bangku taman yang berada di dekatnya.

"Iya ustadz... Makasih" Jawab Salwa tersenyum manis.

Mereka berdua menghampiri bangku taman yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat itu. V duduk terlebih dahulu kemudian meminta Salwa untuk duduk di dekatnya. Salwa terlihat malu-malu saat diminta duduk di sebelah ustadz tampan itu.

"Ayo sini duduk... Tadi kan habis lari-lari pasti capek kan ?" Ucap V sambil menatap santriwati cantik itu.

"Iyya ustadz, hehehe... Tapi ana bau keringet soalnya... Ana jadi malu ustadz" Ucap Salwa yang membuat V tertawa.

"Hahaha... Ada-ada aja nih antum... Gapapa kali, itu normal... Ana kasian soalnya liat antum keringetan gini" Ucap V terus meminta santriwati itu duduk di sebelahnya.

"Hihihi yaudah deh kalau antum maksa... Bener yah jangan nyesel tapi" Ucap Salwa yang akhirnya duduk sambil malu-malu di sebelah ustadz tampan itu.

Untungnya tempat dimana mereka duduk sekarang dilindungi oleh pohon besar yang membuat cahaya matahari terhalang oleh dahan-dahan yang menutupi posisi mereka berada. Angin sejuk juga bertiup. Bunga-bunga yang terbentang disana membuat mata mereka dimanjakan oleh keindahan pemandangan yang ada.

V melirik ke samping untuk melihat penampilan santriwati cantik itu. Selayaknya anak-anak muda jaman sekarang. Penampilan Salwa sangatlah menyegarkan. Dengan senyum malu-malunya yang terhias di wajah serta pakaian serba kebiruan yang menutupi tubuh indahnya. V jadi menenggak ludah saat melihat keindahan Salwa sekarang. Belum lagi dengan keringat yang masih membasahi wajahnya. Kemeja berwarna biru mudanya agak lembap. Hijab berwarna biru mudanya agak menceng setelah berlari melawan angin. V menurunkan pandangannya sedikit untuk melihat penampilan di sisi bawahnya. Rok panjangnya sangat cocok untuk menutupi kaki panjangnya. Salwa sungguh menggairahkan. Belum lagi dengan deru nafasnya yang sedang terengah-engah.

Tiba-tiba Salwa menaikan pandangannya yang membuat V buru-buru membuang mukanya. Saat V berpura-pura melihat sekitar. Diam-diam Salwa melirik tuk menatap penampilan seorang ustadz yang jauh-jauh hari sudah mencuri perhatiannya.

Dengan kemeja panjang berwarna putih serta dasi hitam yang melekat di kerahnya. V terlihat tampan dengan gaya rambutnya yang disisir ke belakang. Dengan celana panjang berwarna hitamnya. Lengkaplah penampilan V sebagai seorang ustadz. Jantung Salwa jadi berdegup kencang. Ia jadi ragu untuk mengobrolkan hal yang tadi terbesit di pikirannya.

Aduhhh... Ustadz V kok ganteng banget sih... Jadi gak yah ngomongnya sekarang ?

Batin Salwa ragu.

"Ehhemm... Oh yah Salwa... Tadi kenapa yah nyariin ustadz ?" Tanya V untuk mengurangi kecanggungannya.

"Eh, anu hehehe... Tadi ana pengen ngobrolin sesuatu tapi sekarang gak jadi aja deh" Kata Salwa tersenyum malu.

"Lohhh kok gak jadi sih, Wa ?" Tanya V heran.

"Hehehe gapapa ustadz" Ucap Salwa dengan wajah memerah.

Karena gugup, keringatnya yang tadi terbawa hembusan angin kembali keluar dari pori-pori kulitnya. Dahi Salwa berkeringat. Tangan kanannya memberikan gestur seolah sedang mengipasi dirinya. Salwa jadi heran kenapa hawanya jadi semakin panas ketika dirinya duduk di sebelah ustadz yang ia suka.

Salwa terkejut ketika tiba-tiba dahinya dielap oleh sapu tangan yang dibawa oleh V. Salwa melirik menatap wajahnya. V dengan perhatian sedang mengelap keringat di dahinya. Salwa jadi tersenyum malu. Bibirnya pun mengembang saat menerima perhatian dari ustadz tampan itu.

"Anu... Makasih ustadz" Ucap Salwa malu-malu.

"Iya sama-sama... Kasian wajah antum berkeringat gini... Emang hawanya panas banget yah, Wa ?" Tanya V heran padahal mereka sedang berada dibawah perlindungan pohon yang rindang.

"Iya nih ustadz... Kok tiba-tiba jadi panas gini yah ?" Ucap Salwa memegangi kerahnya kemudian mengibaskannya.

"Hahaha emang gak salah sih, Wa... Antum kan emang santriwati ter-panas" Ucap V malu-malu yang kurang dipahami oleh santriwati itu.

"Eh, maksudnya ustadz ?" Ucap Salwa tersenyum canggung.

"Hehehe... Antum kan emang santriwati ter-hot" Ucap V menggodanya*.*

"Ihhhh ustaaaddzzz" Jawab Salwa dengan manja. Wajahnya jadi memerah malu setelah mendengar ustadz idolanya baru saja menggodanya. Salwa pun memegangi kedua pipinya kemudian melirik tuk menatap wajah ustadz tampan itu.

"Hahaha maaf... Habis antum cantik banget sih... Apalagi . . . ." Ucap V berhenti yang membuat Salwa jadi tersenyum sambil memberanikan diri menatap lelaki tampan itu.

"Apalagi apa ? Apa hayoo ?" Giliran Salwa yang menggodanya sambil tersenyum menatapnya.

"Apalagi waktu itu... Pas antum . . . ." Ucap V sambil memperhatikan lekuk tubuh Salwa.

Salwa yang sadar kalau ustadz tampan itu sedang memperhatikan lekuk tubuhnya membuat santriwati cantik itu reflek menggerakan tangannya tuk menutupi tubuhnya sebisanya. Salwa reflek melakukannya kendati dirinya jadi tergoda untuk memberikan hal itu lagi kepada seorang ustadz yang ia cintai.

"Ihhhh ustaaaddzzz... Matanya nakal deh" Ucap Salwa malu-malu sambil cemberut imut.

"Hahaha habis antum sih, Wa... Ustadz jadi kebayang waktu itu pas antum ngulumin kemaluan ustadz" Ucap V terang-terangan yang membuat pipi Salwa memerah

"Antum pas itu keliatan hot banget... Kadang Ustadz suka kebayang andai antum ngelakuin hal itu lagi ke ustadz" Ucap V mupeng karena tak tahan dengan santriwati fresh yang sedang duduk di sebelahnya.

"Eh, masa ustadz ?" Ucap Salwa sambil menundukkan wajahnya.

"Iyya... Ustadz masih inget banget dengan keindahan tubuh yang antum punya... Antum telanjang sambil ngulumin kemaluan ustadz... Ustadz sampai kejang-kejang tau pas lidah antum bersihin kemaluan ustadz" Ucap V dengan sopan kendati ia sedang membicarakan hal-hal yang berbau mesum kepada santriwatinya.

"Hihihihi... Syukur deh kalau antum puas... Sebenarnya, tadi ana nyariin antum tuh mau minta tolong ke ustadz loh" Ucap Salwa memberanikan diri tuk mengungkapkan isi hatinya.

"Ehhh apa yah wa kalau ustadz boleh tau ?" Ucap V penasaran.

"Hehehe mumpung santri-santri sekarang kan sedang ada di asramanya nih... Jadi jarang banget ada santri yang jalan-jalan di sekitar sini" Ucap Salwa malu-malu sambil menggeser tubuhnya ke dekat V.

"Iyya ? Terus ?" Tanya V gugup.

"Tadinya ana tuh pengen minta tolongnya di kelas... Tapi antum keburu pergi... Jadi ana mau minta tolong disini aja gapapa yah, ustadz ?" Ucap Salwa sambil memegangi selangkangan V tiba-tiba.

"Ehh Salwa... Antum... Antum mau ngapain ?" Ucap V terkejut.

"Hihihihi... Anu, ana sempet ragu juga sih tadinya ustadz... Tapi mumpung waktunya pas, ana boleh minta tolong gak ?" Ucap Salwa sambil menurunkan resleting celana V.

"Salwaaaa ?" Ucap V deg-degan. Matanya pun melihat sendiri kalau resleting itu semakin turun. Celana dalamnya mulai terlihat. Tangan Salwa dengan malu-malu mengeluarkan batang penis V yang sudah mulai mengeras.

"Hihihi... Ana mau minta tolong buat ngilangin rasa pening di kepala ana ustadz... Ana dari tadi kepikiran terus gara-gara antum... Sejujurnya, ana juga kangen pengen ngulum punya antum lagi... Antum harus tanggung jawab loh yah udah bikin ana kaya gini" Ucap Salwa sambil mengocok batang penisnya.

"Aaaahhhh... Aaahhhh... Salwaaa... Antum kok... Uhhhhh" Desah V menerima kocokan tangan Salwa.

“Hihihih enak yah ustadz” tanya Salwa senang saat melihat raut wajah V yang sedang keenakan.

“Aaahhhh... Enak banget Salwa... Siapa yang ngajarin antum kaya gini ? Jemari antum kok kaya udah terampil gitu sih !” ucap V heran sambil terengah-engah.

“Hihihihi ada deh ustadz” jawab Salwa sambil mendekatkan wajahnya.

V yang melihat santriwati cantik itu mendekat langsung memejamkan matanya secara reflek. Salwa dengan malu-malu juga memejam sambil mendekatkan bibirnya hingga bibir tipisnya itu semakin dekat dengan bibir sang ustadz.

“Mmpphh” desah mereka berdua saat bibir mereka bertemu.

Bibir mereka telah melekat. Desahan nafas mereka juga saling mengikat. Wajah mereka begitu dekat. Tak sadar mereka berdua sudah bertindak nekat. Mereka tengah asyik berciuman di atas bangku taman pesantren tepatnya dibawah pohon besar yang melindungi diri mereka dari teriknya mentari yang semakin panas.

Tangan V reflek bergerak ke payudara Salwa dari luar kemeja yang ia kenakan. Salwa mengerang saat tangan nakal ustadznya menikmati keindahan tubuhnya. Dikala mulut V membuka, lidah santriwati itu merayap masuk tuk menjilati rongga mulutnya. V jadi merapatkan bibirnya kemudian menjepit lidah Salwa dan menghisapnya kuat-kuat demi memuaskan nafsu birahi santriwatinya.

“Mmpphhh Salwwaa... Mmpphh antum juga mahir berciuman yah rupanya” puji V yang membuat wajah Salwa memerah malu.

Dikala bibirnya dihisap. Salwa malah membuka mulutnya lebar-lebar untuk menyaplok bibir ustadznya. Bibir V basah terkena liur dari santriwati tercantik itu. Dikala bibir V membuka, bibirnya langsung menyaplok bibir atas Salwa. Salwa pun membalas dengan mengulum lidah dari ustadz tampan itu. Mereka berdua pun bercumbu dengan penuh nafsu. Mereka masih saja berciuman ditengah hembusan angin yang menyejukan diri mereka berdua.

"Mmpphhh Salwaaa... Mmpphhh bibir antum kok manis banget... Ustadz jadi gak tahan buat nyium antum terus" Kata V bernafsu.

"Mmpphhh bibir antum juga ustadz... Jantung ana jadi deg-degan pas dicium oleh ustadz seganteng antum" Puji Salwa yang membuat V tersenyum.

Tangan V yang sedari tadi terus meremas payudaranya perlahan mulai membuka kancing kemeja santriwatinya. Satu demi satu kancing kemeja Salwa terlepas dari tempatnya. V terus mencumbu santriwati tercantik itu. Dirinya terus mengerang sambil menahan nafas ketika jemari Salwa semakin liar dalam mengocok kejantanan penisnya.

Dalam sekejap kancing kemeja Salwa telah terlepas seluruhnya. V pun melepas cumbuannya sejenak untuk menatap keindahan tubuh yang Salwa punya. V terdiam membisu saat melihat betapa beningnya kulit mulus yang dipunyai oleh Salwa. Lekukan pinggangnya juga sempurna. Belahan dadanya yang masih tertutupi bra berukuran 32B itu membuat V semakin gemas.

“Hihihihi ada apa ustadz ? Kok diem ?” ucap Salwa malu-malu saat dipelototi oleh mata mesumnya.

“Luar biasa sekali tubuh antum, Wa... Tubuh antum indah banget... Ustadz boleh turunin beha antum gak ?” tanya V yang hanya dijawab anggukan malu-malu oleh santriwati cantik itu.

Sesaat setelah V menurunkan cup bra santriwatinya. Mulutnya dengan rakus langsung mencaplok ukuran payudaranya yang tidak terlalu besar namun proporsional dengan tubuh indah Salwa yang baru memasuki tahap berkembang. Ukurannya jelas berbeda dari punyanya Haura. Ukuran payudara Salwa lebih mungil namun tidak mengurangi kenikmatannya dalam menjilati kelezatan payudara santriwati cantik itu. Toh pikirnya nanti juga bakal besar apalagi Salwa baru berusia 19 tahun.

“Mmpphhh... Mmppphhhh ustaddzz... Mmpphhhh” desah Salwa merapatkan bibirnya khawatir andai ada seseorang yang mendengarnya.

“Mmpphhh manis banget susu antum, Wa... Ustadz jadi nafsu banget... Ouuhhhh pentil antum juga gemesin banget... Ustadz jadi pengen gigit deh” ucap V menggigit puting Salwa karena saking gemasnya.

“Aaaahhhhh ustaddzz... Jangan digigit... Ana geli ustadzzz !” ucap Salwa protes.

“Hahaha maaf Wa... Habis antum nafsuin banget sihhh... Ustadz jadi gak tahan buat menikmati keindahan yang sudah antum hidangkan buat ustadz” kata V kembali menjilati payudara itu sambil merangkulkan lengannya pada pinggang ramping Salwa.

Salwa yang masih duduk di sebelah V tampak kegelian. Matanya merem melek menahan kepuasan sambil sesekali menatap sekitar untuk memeriksa keadaan. Sungguh, jilatan itu membuat nafsu birahi Salwa tinggi. Ditambah dengan seseorang yang sedang merangsangnya adalah lelaki yang ia cinta, membuat Salwa semakin pasrah membiarkan ustadz tampan itu bertindak sesukanya.

V berpindah dari payudara kanan ke payudara kirinya. Puting di payudara kirinya di cumbu, putingnya disedot, putingnya digigit pelan sambil tangan satunya meremasi payudara santunya yang menganggur. V heran saat mengetahui payudara Salwa semakin kencang. Puting payudaranya juga semakin tegak menantang. Tubuh Salwa jadi kejang. V pun paham kalau santriwati cantiknya itu sedang sangat terangsang.

“Usttaaddzzz... Ana mau hisap punya antum lagi boleh ?” izin Salwa karena tidak tahan.

“Ehh sekarang Wa... Boleh kok... Boleh banget malah” ucap V mengizinkan.

Salwa pun beranjak berdiri ke arah posisi depan V. Sambil malu-malu Salwa melepas kait haknya hingga rok yang ia kenakan pun meluncur jatuh ke bawah. V terbuai dalam pesona yang dimiliki oleh Salwa. Santriwati berpostur tinggi itu sedang berdiri dalam keadaan kancing kemejanya yang terbuka serta cup branya yang sudah diturunkan sehingga dua buah payudaranya yang kencang terlihat di hadapannya. Belum lagi dengan mulusnya kulit paha yang Salwa punya. Kulit itu sungguh halus. Kulit itu sangat mulus. Membuat V hanya bisa terengah-engah melihat keseksian yang dimiliki oleh santriwati cantik itu.

Dengan gemulai Salwa tiba dihadapan selangkangan V yang terbuka. Tangan kiri Salwa mendekap batang penis V dengan malu-malu. Sambil tersenyum, Salwa memberanikan diri untuk mengecup ujung gundul penis itu terlebih dahulu. V jadi memejam saat merasakan sentuhan bibirnya pada ujung gundulnya. V jadi geleng-geleng kepala saat tahu kalau dicium olehnya saja sudah memberikan sensasi semantap ini.

“Hihihihi... Ana mulai yah ustadz” ucap Salwa malu-malu

Salwa membuka mulutnya kemudian memasukan ujung gundulnya serta seperempat dari batang penis raksasa yang V punya. Terasa kelembapan serta kehangatan yang berasal dari mulut Salwa. V memejam pasrah saat ujung gundulnya terkena sapuan lidah Salwa di dalam. Kedua tangan V sampai mencengkram kuat bangku taman yang sedang ia duduki. Tangan kanannya berpindah untuk mengusapi kepala bagian belakang santriwati cantiknya. Tangan kirinya membelai bahu Salwa hingga santriwati cantik itu merasa nyaman saat mengulum batang penisnya.

“Slrrpp... Mmpphh... Mmpphhhh” hanya desahan yang terucap ketika Salwa mengulum batang penisnya.

Salwa menghisap ujung gundulnya sejenak. Kemudian kedua bibirnya merapat lalu kepalanya ia naik turunkan untuk menikmati kelezatan dari batang penisnya yang sempurna. Penis V sangat besar. Aroma kejantanan yang berasal dari penisnya turut merangsang birahi Salwa untuk mengulumnya lebih nikmat lagi.

Tangan kanan Salwa mendekap batang penisnya. Salwa pun mengocoknya secara perlahan sedangkan mulutnya hanya mengulum ujung gundulnya saja. Kendati demikian, kepala Salwa terus bergerak naik turun sehingga tepi bibirnya yang lembap itu terus menyapu ujung gundul penis V yang semakin basah di bawah sana.

“Aaahhhhh... Aahhhh Salwaaa... Ouhhh nikmat sekali kuluman antum !” puji V terengah-engah.

Mendengar ustadznya sedang kepayahan dalam menahan gempuran oralnya membuat Salwa semakin senang. Ia pun mempercepat kocokannya sedangkan mulutnya semakin kuat dalam menghisap ujung gundulnya.

“Ouuhhhh Salwwa... Ouhhhhh... Ouhhh yahhhh... Pelannn Salwaaaa... Aahhhh mantapppnnyyaahhh" desah V kewalahan.

Salwa tersenyum saat mendengar desahannya. Salwa jadi semakin bersemangat dalam memuaskan birahi ustadz tampannya. Kedua tangan Salwa berpindah ke arah paha kanan kiri ustadznya. Sambil memejam Salwa berusaha mendorong kepalanya sendiri hingga penis itu semakin masuk ke dalam mulut kecilnya,

“Aaaahhhh Sallwwaaaa !!!” desah V dengan keras karena tidak tahan lagi. V tidak peduli karena dirinya sudah sangat bernafsu sejak tadi.

Salwa terus memaksa mulutnya untuk menelan bulat-bulat batang penis itu. Kini ¾ dari penis ustadznya sudah berada di dalam rongga mulutnya. Kendati ujung gundulnya sudah mentok mengenai pangkal kerongkongannya. Salwa terus memaksa hingga penis besar V semakin terlahap di dalam rongga mulutnya.

“Ouuhhhh... Ouhhhhhh” desah V memejam sambil geleng-geleng kepala.

Lagi, Salwa kembali memaksa dirinya hingga hidungnya terkena rambut kemaluan ustadznya. Setelah dirasa puas, Salwa pun melepas kulumannya kemudian menatap wajah ustadznya untuk memeriksa reaksinya. Jemari Salwa tidak tinggal diam. Jemari kanannya itu terus mengocok penis V. Salwa tersenyum saat menatap reaksi V.

“Hah... Hah... Hah... Antum mantap banget Wa... Ustadz sampai lemes gini deh” kata V kewalahan.

“Hihihihi maaf ustadz... Habis titit antum gede banget sih... Ana kan jadi tertantang” ujar Salwa sambil menarik celana V hingga turun melewati kedua kakinya.

V hanya diam pasrah saat Salwa menurunkan celananya. V masih terengah-engah. Ia tampak kepayahan setelah dipuaskan oleh kebinalan mulut santriwatinya.

Salwa berdiri kemudian menggeser lubang di celana dalamnya yang sebenarnya untuk kaki kanannya. Nampak bibir vagina Salwa yang sudah lembap terhidang dihadapan V. Salwa pun menduduki penis V. Penis itu terduduki tepat di belahan liang senggama Salwa. Sambil bergerak maju mundur, cairan cinta itu keluar membasahi sisi bagian bawah penis ustadznya.

“Ouuhhh yahhh... Ouuhhhh Salwaaa... Aahhh yahhhh” desah V saat kemaluannya digesek oleh liang senggama santriwatinya.

Kendati penis itu tidak sampai masuk ke lubang vaginanya. Kenikmatan yang ia rasakan tidak kalah dalam menikmati kesempitan lubang vaginanya. Salwa tersenyum malu-malu sambil bergoyang maju mundur di pangkuan ustadz tampannya. Kedua tangannya berada di belakang leher ustadznya. Salwa memberanikan diri tuk menatap ketampanan wajah ustadznya. Raut wajah V yang sedang bernafsu menahan gesekan dari kemaluan santriwatinya membuat Salwa jadi semakin bernafsu dalam menikmati kejantanan penis ustadznya.

“Mmpphhh... Gimana ustadz ? Antum puas gak ?” ucap Salwa malu-malu penuh harap.

“Aahhhh... Aahhhhh... ustadz puas banget Wa... Goyangan antum gak ada duanya... Padahal belum masuk... Tapi kok udah seenak ini sih ?” tanya V heran.

“Hihihihi maaf yah ustadz... Ana belum berani soalnya... Ana belum siap buat melepas keperawanan ana” ucap Salwa sambil tersenyum menatap wajah ustadznya.

“Aaahhhh gapapa Wa... Gini aja ustadz udah puas kok... Antum itu udah cantik, baik terus jago bikin ustadz kerangsang lagi” puji V yang membuat Salwa tersipu malu.

Tangan kanan Salwa turun tuk meraih kejantanan batang penis ustadznya. Ketika tubuhnya diangkat. Salwa pun berusaha mengarahkan ujung gundul penis itu ke arah tepian bibir vaginanya. Salwa memejam. Wajahnya terlihat sangek saat berusaha menggesek bibir vaginanya menggunakan batang penisnya.

V semakin terengah-engah dibawah sana. Kedua tangannya memegangi langsung pinggang Salwa agar tidak terjatuh saat menaiki pangkuannya. Nampak ujung gundul V terhisap ke dalam lubang kemaluannya. V pun terkejut sambil menatap Salwa.

“Hihihihi... Ana cuma penasaran aja ustadz gimana rasanya... Mmmpphh... Ternyata enak juga yah ustadz” ucap Salwa malu-malu yang hanya sanggup memasukan ujung gundulnya saja ke dalam lubang kemaluannya.

V hanya diam membuka mulutnya tuk mengeluarkan deru nafasnya yang terengah-engah. Dalam hati ia membatin kalau dirinya merasakan selaput dara yang masih melindungi liang senggama santriwatinya. V lega kalau Salwa masihlah seorang perawan. Namun membayangkan dirinya sedang bercinta dengan seorang perawan membuat dirinya semakin bernafsu saja.

Tanpa memasukannya lebih. Salwa bergerak naik turun secara berhati-hati agar tidak merobek selaput daranya. Dirangsang seperti itu oleh santriwatinya membuat V semakin gemas saja. Andai ia tidak mampu mengontrol birahinya. Ia pasti sudah mendorong tubuh Salwa hingga dirinya mampu menjadi orang pertama yang menjebol keperawanan Salwa. Tapi ia mencoba bersabar dengan menuruti apa yang santriwatinya inginkan darinya.

“Aahhhh... Ahhhh ustaaadzzz... Aahhhh... Aahhhhh” desah Salwa agak memiringkan tubuhnya ke samping karena tangan kanannya masih memegangi batang penis V agar tidak masuk terlalu dalam di liang senggamanya.

“Aaahhhh Salwaa... Ustadz gak tahan lagi nih... Ustadz petting antum dari belakang yah sekarang ?” kata V bernafsu.

“Ehhh gimana maksudnya ustadz ?” tanya Salwa penasaran.

“Aahhh susah jelasinnya Wa... Yang penting gak masuk ke memek antum kok” ucap V yang semakin bernafsu hingga tak sengaja mengucapkan kata kotor itu dihadapan santriwatinya.

“Hmmm yaudah deh” ucap Salwa menuruti.

Salwa pun berdiri membelakangi V di depan bangku taman yang tadi mereka duduki. V dengan terburu-buru menurunkan celana dalam yang Salwa kenakan hingga terlepas dari kaki jenjangnya. V ikut melepas celananya berikut celana dalamnya. Dengan perlahan V meminta Salwa untuk menundukan sisi bagian depan tubuhnya kemudian merapatkan kedua kakinya.

V pun menyelipkan kejantanan penisnya hingga terapit oleh selangkangan Salwa yang bersentuhan langsung dengan bibir vaginanya. Salwa yang sedang dalam posisi setengah menunduk pun paham dengan apa yang akan ustadznya lakukan.

“Siap yah Wa ?” tanya V yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Salwa.

Gigi telah berganti menjadi gigi satu. Pinggul V bergoyang. Jepitan yang ia rasakan masihlah sangat mantap akibat mulusnya kulit paha yang dimiliki oleh Salwa. Salwa juga demikian karena bibir vaginanya terangsang oleh gesekan penis ustadznya. Nampak payudara Salwa yang semakin kencang bergerak maju mundur kegirangan. Salwa pun memejam berusaha tuk menikmati gesekan yang sedang ustadznya lakukan.

“Aahhhhh... Aaahhhh... Gimana wa ? Antum juga keenakan kan ?” tanya V sambil mencengkram kuat pinggul ramping santriwatinya.

“Mmmpphhh... Mmpphhhh... Iyyahhh ustadzzz... Posisi gini juga enak banget ternyata” ucap Salwa memejam menikmati gesekan penis itu.

Lama-lama gerakan pinggul V semakin cepat saja. Tangannya juga tidak lagi berada di pinggul rampingnya. Tangan V dengan liar menggerayangi pantat mulus santriwatinya. Kadang V juga menamparnya. Kadang V juga mencengkramnya kuat yang membuat Salwa mengerang merasakan kepasrahan saat disetubuhi oleh seorang ustadz yang ia suka.

Tubuh mulus Salwa bergerak maju mundur semakin cepat. Salwa berulang kali sampai menutupi mulutnya tuk meminimalisir suara yang bisa terdengar oleh orang-orang sekitar. Rasa nikmat yang dirasa di bibir vaginanya membuat diri Salwa sampai bertanya-tanya.

Haruskah aku merelakan keperawananku sekarang ? Atau haruskah aku menunggu hingga malam pertamaku datang ?

Batin Salwa yang masih ragu untuk merelakan sesuatu yang paling berharga baginya.

Tiba-tiba diri Salwa ditegakan oleh V. V juga menarik kemeja yang masih Salwa kenakan ke belakang hingga menyangkut di kedua sikunya. V pun meminta Salwa untuk menolehkan wajahnya hingga mereka kembali bercumbu dengan penuh nafsu.

Salwa terlihat semakin menggairahkan sekarang. Dari depan, Salwa terlihat seperti sudah telanjang dengan hanya hijabnya saja yang melekat pada wajah mungilnya. Nampak penis V masih maju mundur menggesek bibir vagina Salwa. Bibir mereka juga sedang saling dorong. Mata mereka memejam tuk menikmati kepuasan yang tidak bisa ia jelaskan.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh... Salwaaaa... Ustadz udah mau keluar nih... Ustadz gak tahan lagiiii” ucap V di sela-sela cumbuannya.

“Mmpphhh... Ana juga ustaadzz... Keluarin aja... Yang cepaatt” pinta Salwa hingga membuat V mempercepat gerakan pinggulnya.

Mereka pun berbalik badan sehingga menghadap ke arah bangku taman. Salwa yang semakin lemas akhirnya ambruk dalam posisi menungging bertumpu pada bangku taman itu. V kembali menepuk bongkahan pantat Salwa kemudian mempercepat gerakan pinggulnya. Penis itu masih menggesek sisi luar bibir vaginanya. V pun semakin cepat dalam menghujami selangkangan Salwa yang sedang mengatup rapat.

“Ouhhhhh... Ouhhhhh... Iyyahhh... Salwaaa... Ahhhhhhh” desah V semakin cepat.

“Aahhhh ustaaaaddzzz... Aaaahhhhh ana gak kuat lagii... Aaahhhhhh anaaaa kelluuuaarrrrr !!!!” desah Salwa dengan sangat puas sebelum kedua tangannya reflek menutupi mulutnya.

V terkejut saat tiba-tiba penisnya tersirami oleh cairan cintanya. Dengan segera V menarik penisnya untuk melihat pemandangan langka ketika Salwa mendapatkan orgasmenya. V diam terpana sambil mengocok penisnya untuk menjaga hawa nafsunya yang telah memanas.

Nampak pinggul Salwa bergoyang saat cairan cintanya dengan deras membanjiri tanah yang menjadi pijakan mereka berdua. Salwa terengah-engah. Ia begitu puas saat mendapatkan orgasme dari seorang ustadz yang ia cintai.

“Hebat sekali Wa... Antum keluar banyak banget” kata V tak menyangka. Wajah Salwa pun memerah malu. Dirinya yang lemas hanya bisa nurut saat kemeja yang masih melekat di tubuhnya itu dilepas oleh ustadznya.

Jadilah Salwa telanjang bulat sekarang. Dirinya hanya mengenakan hijab beserta sepatu dan kaus kakinya saja. V pun menidurkan Salwa di atas bangku taman yang berbentuk panjang itu. V kembali mendekat ke arah selangkangan Salwa yang terbuka. Salwa dengan malu-malu tersenyum menatap V. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan sedekat ini dengan seorang ustadz yang sangat ia idolakan.

“Ustadzz segera akhiri aja yah... Ustadz juga udah mau keluar nih” kata V sambil mengocok penisnya kemudian menaruhnya di sela-sela bibir vagina Salwa yang semakin lembap. Dengan segera V memaju mundurkan tubuhnya sambil memegagi pinggang ramping Salwa yang sudah tergeletak tak berdaya. Penisnya yang besar itu terus menggesek vagina Salwa. Salwa semakin tak berdaya. Begitu juga V yang akhirnya sudah tidak kuat lagi.

“Aahhhh... Ahhhhh Salwaaa.... Ahhhhhh... Ustaaddzz kelluuaaarrr !!!” desah V dengan puas sambil mengocok penisnya tuk mengarahkan lubang kencingnya ke arah liang senggama Salwa.

“Mmmppphhhhh !” desah Salwa terkejut saat cairan sperma itu dengan deras membanjiri bibir vaginanya sendiri.

V tersentak nikmat hingga matanya merem melek penuh kepuasan. Salwa yang melihatnya hanya tersenyum senang. Ia senang karena bisa membuat ustadznya puas walau tanpa menggunakan jepitan vaginanya.

“Ouhhh Salwaa... Ouuhhhh” kata V ambruk yang kemudian menindihi tubuh santriwati cantiknya itu.

“Hihihi antum kok banyak sih keluarnya ustadz ?” kata Salwa sambil tersenyum dibawah tindihan V.

“Hah... Hah... Hah... Baru ngegesek memek antum aja udah sepuas ini, rasanya cadangan sperma ustadz jadi kosong sekarang” ucap V yang membuat Salwa tertawa.

“Terus kalau ana hamil gimana ustadz ?” tanya Salwa dengan polosnya.

“Tenang Wa... Sperma ustadz cuma sampai di pintu masuk memek antum kok... Belum bener-bener masuk ke dalam rahim antum” Ucap V menenangkan Salwa.

“Huh bener yah ? Kalau ana hamil ustadz harus tanggung jawab pokoknya” kata Salwa menegaskan.

Namun V tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum kemudian mencumbui bibir tipis Salwa dengan penuh nafsu. Mereka pun berciuman di atas bangku taman tanpa sadar kalau sedari tadi ada seseorang yang telah mengabadikan momen perzinahan mereka.

“Wah gak nyangka sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulai terlampaui... Ternyata ustadz itu juga mempunyai hubungan dengan Salwa yah ?” katanya tersenyum sambil memotret adegan panas mereka diam-diam.


*-*-*-*


Sore harinya selepas pulang dari kantor bagiannya. Haura masih merenung sambil mengingat kejadian di pagi menjelang siang tadi. Kejadian dimana dirinya sedang berjalan bersama V. Ia jadi heran kenapa timingnya bisa setepat itu yang sampai membuatnya terdiam tak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia pun mencoba untuk mengingatnya kembali sambil merenungi kejadian yang terjadi tadi.

BEBERAPA JAM SEBELUMNYA SETELAH PULANG MENGAWAS UJIAN

"Ya gitu lah V... Biasa aja kaya hari-hari sebelumnya... Pagi bagiin soal terus diem ngeliatin mereka... Antum sendiri gimana pas ngawas tadi ?" Tanya balik Haura.

"Ya gitu lah... Pagi bagiin soal ujian... Terus ngeliatin mereka" Jawab V membuat Haura kesal.

"Ihhh tiru-tiru... Itu jawaban ana tau" Jawab Haura cemberut. Kendati demikian, wajahnya justru terlihat imut yang membuat V gemas ingin mencubitnya.

Ihhh nyebelin banget deh nih orang... Dari dulu bawaannya bikin kesel terus... Tapi kok anehnya juga bikin kangen juga yah ?

Batin Haura memikirkan sikap V belakangan ini.

Seketika Haura tersadar kalau suasananya jadi hening saat itu. Haura jadi heran kenapa V tidak berkata lagi tuk membalas ucapannya. Saat dirinya menaikan pandangannya kemudian menoleh menatap wajahnya. Ia terkejut karena V dari tadi diam melirik wajahnya.

V jadi canggung setelah kepergok menatap wajahnya. V jadi senyum malu-malu kemudian membuang wajahnya ke samping.

"Kebiasaan... Dasar ustadz yang gak bisa jaga pandangan !" Kata Haura tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Aduh jadi malu... Habis antum cantik banget sih Ra... Sayang udah ada yang punya" Ucap V becanda yang membuat Haura tertawa.

"Eh, emang kalau misal ana belum ada yang punya kenapa ?" Ucap Haura penasaran.

Dasar ! Pasti bakalan gombal lagi nih ustadz ! Batin Haura tersenyum.

"Ya pasti bakal jadi punya ana... Kenapa harus tanya sesuatu yang udah jelas gitu loh ?" Jawab V yang membuat Haura tertawa ngakak.

Tuh kan dasar ! Udah ketebak pola antum, ustadz ! Dasar nyebelin ! Batin Haura tersenyum.

"Hihihi kepedean... Kaya ana mau aja sama antum" Ucap Haura sambil melirik wajahnya.

Pasti habis ini bakal ngegombal lagi deh... Emang nyebelin deh ustadz satu ini ! Hah... Kenapa yah akhir-akhir ini aku terus diuji oleh perzinahan yang dilakukan dengan mereka berdua secara bergantian... Kalau gak berselingkuh dengan V pasti aku dinodai oleh pak Karjo... V emang bikin bahagia sih tapi sejujurnya cara pak Karjo dalam melakukannya lebih membuatku puas... Cara pak Karjo emang lebih kejam tapi hal itu lah yang membuatku tak berdaya saat disetubuhi olehnya... Hmmm andai aku belum menikah ? Siapa yang kupilih yah ? V atau pak Karjo ? Batin Haura merenung,

". . . . . Pak Karjo ?" Ucap V iseng.

Haura jadi diam setelah mendengar nama kuli itu disebut. Tidak hanya mulutnya yang diam. Bahkan langkah kakinya juga diam. Ia terdiam di tempat setelah mendengar nama kuli itu disebut oleh V.

"Eh Haura... Anu, maaf" Ucap V menyadari kalau sepertinya ia baru saja menyebut kata terlarang yang membuatnya trauma.

"Hehe gapapa kok V... Hmm nanti lagi yah... Ana mau pulang dulu, jalan kita beda kan ?" Ucap Haura saat melihat seorang ustadzah yang ia kenal berjalan di dekatnya.

"Hmm iya deh... Anu maaf yah tadi... Ana cuma iseng aja... Gak bermaksud bikin antum . . . . " Kata V menyesal.

"Iya gapapa kok... Permisi yah, wassalamu'alaikum" Ucap Haura sambil memaksa senyum.

Dalam perjalanannya pulang menuju rumahnya. Ia pun terheran-heran kenapa waktunya bisa pas gitu. Kenapa tiba-tiba V menyebut nama pak Karjo ketika dirinya sedang bertanya di dalam hatinya ? Apakah itu jawaban yang tepat dari pertanyaan yang diungkapkan oleh hatinya tadi ?

MASA SEKARANG

Astaghfirullah... Sadar Haura... Kamu udah punya suami !!! Kenapa kamu masih mikirin lelaki lain sih ?” Lirih Haura kesal pada dirinya sendiri.

Lagi, ia menyesali sikap suaminya yang tidak bisa memuasi hasrat seksualnya. Kendati demikian, ia sangat merindukan kehadiran suaminya. Ia pun berharap suaminya bisa segera pulang agar dirinya bisa bergelayut manja sambil memeluk tubuh tambun suaminya sambil mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini tertahan di dalam hatinya.

Seketika hapenya berdering. Saat ia membaca nama kontak di layar hapenya. Wajahnya tersenyum tak percaya. Ia pun mengangkat telepon itu yang rupanya berasal dari suaminya sendiri.

“Iya walaikumsalam... Iyya mas... Hihihi gapapa kok... Eh beneran ? Mas pulang besok ? Syukurlah... Mas mau dimasakin apa besok ? Biar adek siapin bahannya sekarang nih... Beneran ? Yaudah adek tunggu yah besok” ucap Haura saat menelpon suaminya.

Haura tersenyum senang saat mengetahui besok adalah hari dimana dirinya bisa bertemu suaminya lagi.

Wajahnya yang indah telah menggoda seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya. Kuli tua bertubuh kekar dengan kulit yang sangat hitam itu semakin bimbang dengan keputusan yang harus ia ambil. Haruskah ia menuruti ajakan rekan kulinya itu ? Atau haruskah ia mengabaikannya saja dan menjaga kepercayaan yang sudah Haura berikan padanya. Akan tetapi semakin lama ia menatapnya, ia jadi semakin mupeng untuk menerima tawaran dari rekan kulinya itu.

Hmm besok batas hari terakhir yah ? Terima gak yah ?

Batinnya bimbang.


*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Haura baru saja pulang setelah meminjam motor dari rekan ustadzahnya. Haura masih bersemangat setelah mendapat kabar kalau besok dirinya akan segera bertemu dengan suaminya.

Di depan teras rumahnya. Haura membawa dua kantung kresek berisi bahan masakan yang baru saja dibelinya dari minimarket terdekat. Haura tak pernah merasa sesemangat ini sebelumnya. Ia pun menaruh kedua kantung kresek itu agar tangan kanannya bisa membuka pintu masuk rumahnya.

"Hah... Akhirnya sampai juga... Berhubung besok mas Hendra minta dimasakin sup daging... Aku harus ngerebus dagingnya dulu nih biar besok dagingnya gak kelas-keras amat" Ujarnya sambil berjalan menuju dapur rumahnya.

Tanpa sempat beristirahat. Haura langsung menyalakan kompor kemudian mencuci dagingnya terlebih dahulu sebelum memasukannya ke dalam panci. Ia memanaskan dagingnya menggunakan api kecil. Barulah setelah itu Haura beristirahat dengan duduk di sofa ruang tamu rumahnya.

"Akhirnya selesai juga" Ucapnya merasa lega.

Bidadari tercantik itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa empuk dibelakangnya. Matanya memejam. Dirinya mengantuk. Ia merasa lelah setelah menjalani jadwal padat selama seharian penuh.

"Hah" Suaranya agak mendesah. Ia tak menyangka kalau bersandar di sofa ruang tamu rumahnya bisa senyaman ini. Seketika ia kembali bangkit dalam posisi duduk tegak sambil melihat sekitar. Sekian tahun sudah ia menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Ia merasa kehidupannya sebagai ibu rumah tangga ada yang kurang. Ya, dia begitu merindukan adanya sosok anak yang bisa bermain-main dengannya.

Mungkin di saat-saat seperti ini, dirinya bisa bermain-main dengan sang buah hati sambil menanti sang suami pulang esok hari. Ia merasa pasti akan sangat bahagia andai dirinya sudah mempunyai anak. Tapi hal ini lah yang terjadi saat ini. Tidak ada buah hati. Tidak ada sang suami. Yang ada hanyalah perselingkuhan yang hampir ia lakukan tiap hari.

"Astaghfirullah aku" Ucapnya dengan lirih.

Ia jadi merenung memikirkan apa yang salah dengan dirinya sehingga ia harus menjalani kehidupan yang berat seperti ini.

"Apa gara-gara aku sering kali berzinah yah makanya aku belum diberi keturunan ? Tapi itu kan bukan sepenuhnya salahku... Kadang aku juga dipaksa... Tapi kadang aku juga pasrah sih membiarkan orang itu melakukan semaunya padaku" Lirih Haura memikirkan dosa-dosanya.

Ya, lagi-lagi dua lelaki itu lah yang tersirat di benaknya. Dua orang lelaki yang sebenarnya tidak punya hubungan kerabat sama sekali dengan dirinya atau suaminya. Dua orang lelaki yang sebenarnya haram untuk disentuh olehnya.

Masalahnya dua orang lelaki itu sudah sering menyentuh dirinya beberapa kali. Tidak hanya menyentuhnya bahkan juga bersetubuh dengannya.

"Hmmm iya sih aku yang salah kalau kayak gini... Kalau aku punya tekad kuat... Gak seharusnya juga aku membiarkan mereka melakukan hal seperti itu kepadaku" Ujarnya menyesali diri.

"Oh yah astaghfirullah... Kunci motornya masih nyangkut disana yah ?" Ujar Haura panik sambil buru-buru keluar untuk mengambil kembali kunci motornya.

Saat pintu dibuka. Tiba-tiba ada seseorang yang sudah berdiri disana. Haura jadi membeku. Lidahnya terbujur kelu. Sosok kekar itu tersenyum sambil menatap wajah cantiknya dengan penuh nafsu.

"Apa kabar ustadzah ? Sudah lama yah kita gak bertemu... Kekekekek" Tawanya yang membuat Haura reflek menutup pintunya.

Namun pak Karjo buru-buru menahan pintu itu menggunakan tangannya. Haura jadi panik. Ia segera berlari menuju titik terdalam rumahnya agar bisa terhindar dari kejaran kuli kekar itu.

"Aaaaahhhh... Bapaakkk... Jangannn... Jangannn" Ucap Haura panik saat tubuhnya tertangkap. Tangan kiri kuli kekar itu sudah memeluk Haura dari belakang. Sedangkan tangan kanannya mencengkram pipi Haura dari belakang. Bibir Haura jadi manyun saat itu. Ia mendadak takut saat sosok kekar yang berulangkali telah menghujami vaginanya datang untuk meminta jatah darinya.

"Kekekekek... Lama gak ketemu, kok ustadzah makin cantik aja nih... Ustadzah juga baru dandan yah ? Gitu dong baru namanya ustadzah... Yang siap sedia untuk melayani pejantannya ketika telah datang" Ucap Karjo tertawa saat terpana oleh kecantikan Haura.

"Kata siapa aku berdandan untuk bapak... Aku habis dari luar pak... Tolongg lepaskann... Jangan lagi pakk... Tolonggg" Ucap Haura ketakutan.

Meski dari pagi dirinya terbayang akan nikmatnya bercinta dengan pak Karjo. Namun kalau sudah berhadapan seperti ini ya Haura merinding juga. Apalagi setelah melihat wajahnya yang seperti orang mengantuk. Kulit hitamnya yang begitu legam serta kekarnya otot yang ia punya. Juga sikap kasarnya yang membuat Haura ketakutan. Haura pun memohon agar kuli tua itu tidak lagi menodai dirinya.

"Kekekek untuk siapa ustadzah berdandan itu gak penting loh ustadzah... Yang terpenting sekarang, akhirnya kita bisa menikmati malam ini berdua... Ustadzah siap ?" Ucap Pak Karjo yang membuat Haura merinding.

"Mmpphh"

Tiba-tiba bibir Karjo langsung menyosor bibir Haura dengan penuh nafsu. Mata Haura reflek memejam. Tubuhnya yang indah sedang digrepe oleh tangan kekar sang kuli bangunan.

Pak Karjo sangat puas karena dirinya bisa menikmati keindahan tubuh ustadzah tercantik itu lagi. Kedua tangannya dengan gemas meremasi dua payudara bulat yang dimilikinya. Tubuh Haura sampai merinding. Kuatnya remasan yang kuli itu berikan membuat darahnya sampai berdesir mengelilingi seluruh tubuhnya.

Belum lagi dengan dorongan bibirnya hingga kepala ustadzah tercantik itu terdorong ke belakang. Aroma nafasnya yang bau ikut tercium oleh indra penciuman ustadzah tercantik itu. Perut Haura jadi mual. Tapi ia tak berdaya saat tubuhnya sudah jatuh ke pelukan kuli kekar itu. Haura hanya bisa mengerang. Tubuhnya hanya bisa berontak untuk melawan nafsu birahi sang kuli yang semakin menjadi-jadi.

"Kekekekek... Mantappnyaaa bibir manismu ustadzah... Dari dulu saya selalu nagih untuk menciumi bibir ustadzah... Rasanya gimana gitu... Bikin nagih terus" Kata Karjo di sela-sela cumbuannya.

"Mmpphhh... Lepaskaaann... Lepaskkaann" Jerit Haura semampunya.

Outer blouse berwarna biru yang Haura kenakan semakin lecek terkena remasan kuli tua itu. Sisi hijab bagian bawahnya juga basah terkena tetesan liur mereka berdua. Berulang kali, bokongnya yang masih tertutupi celana panjang longgarnya tertubruk oleh dorongan pinggul yang dilakukan oleh kuli kekar itu.

"Kekekekek" Pak Karjo tertawa. Ia sangat puas dengan pemberontakan yang dilakukan oleh Haura saat sedang dilecehkan olehnya.

Pak Karjo menarik paksa *outer blouse-*nya hingga kancing itu lepas dan jatuh ke lantai ruangan. Lagi, tangan Karjo dengan penuh nafsu meremasi payudara ustadzah cantik itu. Tangan itu tidak hanya meremasnya tapi tangan itu juga mencengkram kuat kedua buah dadanya yang membuat Haura mendesah sambil menaikan pandangannya ke atas.

"Aaahhhhh bappaaakkkk" Jerit Haura tak tahan.

"Kekekekek... Hadap sini ustadzah" Ucap Pak Karjo sambil membalik badan ustadzah tercantik itu.

Kedua tangan Karjo langsung mendekap bokong sekel sang ustadzah. Haura lagi-lagi mendesah. Namun desahannya tertahan saat bibir tua itu kembali mencumbu bibirnya.

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling mendorong dengan penuh nafsu. Lidah Karjo dengan liar langsung menjilati tepi bibir Haura. Rasanya sangat nikmat hingga membuatnya tidak mampu menghentikan percumbuannya dengan Haura.

Berulang kali Haura mendorong tubuh kekar itu agar menjauh. Namun usahanya sia-sia. Haura bukanlah tandingan bagi kuli kekar itu. Yang ada usahanya malah membuat kuli itu semakin bersemangat untuk menodai tubuh indahnya.

“Mmpphh... Mmpphhh” desah mereka berdua saat menikmati percumbuan mereka.

Tangan Karjo buru-buru menurunkan resleting celana Haura. Ia segera memelorotkannya hingga celana dalamnya yang berwarna putih terlihat. Haura panik mendapati kuli tua itu hendak menelanjangi dirinya. Kedua tangannya yang sedari tadi berontak ingin menjauhkan tubuh kekar sang kuli darinya berpindah dengan memegangi celananya agar tidak terjatuh melewati kedua kaki jenjangnya.

“Paakkkkkk” desah Haura menggelengkan kepala di sela-sela percumbuannya.

“Kekekekek... Buka aja semuanya ustadzahh... Jangan ditahan !” ucap Karjo ketika tangan kanannya datang tuk mencengkram kuat payudara sebelah kirinya.

“Mmmppphhh” reflek Haura menjerit nikmat. Kedua tangannya tanpa sadar menahan tangan kanan itu agar berhenti mencengkram payudaranya. Otomatis tidak ada yang menahan celananya sekarang. Celana Haura langsung melorot jatuh. Karjo tertawa puas sambil kembali meremas-remas bongkahan pantatnya dari luar celana dalam yang masih ustadzah itu kenakan.

“Mmpphhh pakk... Mmpphhh... Mmpphhh” desah Haura memejam menatap langit-langit ruangan.

Pak Karjo tidak lagi mencumbu bibirnya. Bibirnya dengan gemas sedang mencumbui pipinya. Raut wajah Haura yang sedang memejam keenakan membuat pak Karjo semakin bernafsu. Haura sedang kewalahan sekarang. Remasan itu semakin terasa setelah dirinya hanya mengenakan celana dalam saja untuk menutupi sisi bawah tubuhnya.

“Kekekekek... Makin gak nahan saya kalau gini ustadzahh... Buruan balik badan ! Saya mau genjot ustadzah sekarang !” ujarnya yang membuat mata Haura langsung membuka lebar.

Tubuhnya dibalikan lagi oleh kuli kekar itu. Haura sedang berdiri membelakanginya. Punggungnya di dorong ke bawah sehingga memudahkan penis kuli tua itu untuk masuk ke dalam vaginanya.

Pak Karjo sudah mengeluarkan senjata andalannya. Gada besi berwarna hitam yang ukurannya menyerupai tongkat satpam itu sedang dipegangnya. Pak Karjo tertawa sambil mengarahkan penisnya ke arah pintu masuk bibir vaginanya.

“Paakk... Paakkkk” kata Haura panik sambil menggelengkan kepala. Hatinya jelas berkata kalau ia tidak boleh lagi terjebak dalam kenikmatan bercinta dengan kuli tua itu. Namun tubuhnya malah penasaran. Ia bahkan menginginkan agar kuli rendahan itu kembali menyundul rahim kehangatannya.

“Kekekekek... Rasakan ini ustadzah !!! Hennkgghhh !!!!” desahnya dengan sangat puas sambil mendorong pinggulnya hingga penisnya langsung menerobos masuk membelah liang kehangatan Haura.

“Baappaaakkkk... Aahhhhhhhh” Jerit Haura dengan sangat nikmat saat kuli tua itu kembali menerobos lubang kemaluannya.

Hanya dengan kaus berlengan panjang yang menutupi tubuh rampingnya. Serta celana dalam yang masih melekat di pinggul indahnya. Hijab berwarna beningnya membuat pak Karjo semakin bernafsu dalam menyetubuhi bidadari yang belum sepenuhnya telanjang. Kedua tangannya sudah memegangi pinggang ramping Haura. Haura terkejut terheran-heran kenapa tubuhnya bisa menikmati pemerkosaan ini. Penis itu sungguh keras. Penis itu sungguh kuat. Penis itu sungguh perkasa hingga baru satu tusukan saja sudah meruntuhkan kekuatan yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu. Haura lemas. Haura tak berdaya saat penis kekar kuli itu menerobos masuk garis pertahanannya.

“Kekekekek... Enak kan ustadzah ? Nikmat kan kontol saya ? Bayangin ustadzah ! Saat ini, kontol saya sedang menggesek-gesek memek rapetmu lagi... Memek yang seharusnya untuk suamimu itu sedang saya nodai... Payah sekali suamimu itu... Masa punya bidadari secantik ustadzah gak bisa memuasi... Kan kasihan ustadzah Haura sampai nyari bantuan kuli bangunan seperti saya agar bisa dipuasi... Kekekekek” ejek pak Karjo sambil menggenjot liang senggama Haura.

“Aahhhh... Aahhhhhhh... Diaammm pakkk... Gak usah menghina suamiku ! Bapak gak berhak menjelek-jelekan suamiku dihadapanku !” kata Haura kewalahan sambil disetubuhi oleh kuli tua itu. Tubuhnya bergerak maju mundur. Payudaranya yang masih tersembunyi juga bergerak maju mundur. Haura diam-diam menggigit bibir bawahnya untuk menahan genjotan yang semakin nikmat.

“Kekekekek... Siapa yang menghina ustadzah ? Saya cuma bicara fakta kok ! Lagipula, apa saya berbohong ? Ustadzah bener-bener puas kan saat disodok kontol saya ?” kata pak Karjo sambil mempercepat gerakan pinggulnya hingga ustadzah cantik itu kewalahan menahan sodokan penuh nafsu dari kuli tua itu.

“Aahhhhh... Aahhhhhh... Siapa yang puas ? Aku gakkk... Aku gakk akann puasss ! Bagaimana bisa aku puas kalau aku diperkosa oleh bapak !” kata Haura tegas.

“Kekekek oh yah ?” tawa pak Karjo sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

“Aaahhhhhh... Ahhhhhh.... Aaaaaahhhhh” jerit Haura semakin keras.

Haura tak berdaya dalam menahan nafsu birahi kuli tua itu. Genjotan kuli itu semakin kencang. Suara jeritannya jadi semakin lantang. Haura yang daritadi berontak jadi tidak sanggup melanjutkan pemberontakannya karena tenaganya lemas terkena sodokan penuh kepuasan yang dilakukan oleh pak Karjo.

Kedua tangan Karjo bergerak naik mengusapi punggung mulus sang bidadari. Kedua tangan itu masuk ke dalam kaus berlengan panjangnya. Haura jadi merinding. Kedua tangan itu terus naik hingga sampai di sisi belakang kait bra yang Haura kenakan. Kait bra itu sudah diliepas. Bra yang Haura kenakan terjatuh ke lantai. Akibatnya saat kuli tua itu mempercepat sodokannya. Kedua buah dada Haura yang hanya tertutupi kaus berlengan panjangnya terlihat semakin indah saat bergoyang dibalik itu semua.

“Aaahhhhhhh... Bapaaakkkkkkkk” desah Haura kewalahan.

“Kekekekek... Mantappnyya jepitan memekmu ustadzahhh... Ouuhhhhh” desah Karjo sambil memegangi pinggul rampingnya lagi.

Kedua tangan Haura memegangi kedua tangan Karjo. Genjotan yang semakin kencang membuat akhwat berhijab itu kepayahan dalam meladeni nafsu birahi kuli tua itu. Haura hanya bisa memejam saat penis itu semakin bernafsu dalam menghujami rahimnya dengan sangat kejam. Berulang kali rahim kehangatannya tersundul oleh ujung gundul kuli tua itu. Rasanya mantap betul. Diam-diam Haura mulai menikmati persetubuhannya dengan kuli tua itu.

Aaahhhh... Aahhhhh... Inikah yang kamu mau Haura ? Sodokan penuh nafsu yang dilakukan oleh pak tua itu ? Inikah yang kamu bayangkan dari tadi Haura ?

Batin Haura saat digenjot oleh kuli rendahan itu.

Ya... Ini yang ku mau... Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh mas Hendra kepadaku... Astaghfirulahh... Kenapa aku kayak gini lagi sih ? Tahan Haura !!! Jangan hanyut oleh kenikmatan palsu ini ! Kamu gak berhak dinodai oleh lelaki selain suamimu, Haura ! Tapiii... Tapiii... Astaghfirullahhh !!! Kenapa rasanya nikmat sekali ?

Batin Haura bimbang antara menikmati atau terus melawan.

Tiba-tiba pak Karjo melepas sodokannya yang membuat ustadzah tercantik itu jatuh berlutut membelakangi kuli tua itu. Saat benda tumpul itu lepas dari lubang vaginanya. Haura merasa adanya sesuatu yang hilang disana. Haura merasa tertekan. Ia begitu kesal karena saat lagi enak-enaknya, pak Karjo justru mencabutnya dari lubang kenikmatan yang ia punya.

“Kekekekek... Mantap banget kan ustadzah ? Gimana rasanya disodok oleh kuli seperti saya ?” kata pak Karjo mendatangi Haura dari arah depan.

“Pergiii pakk... Jangannn mendekattt lagiii !” kata Haura demi melindungi secuil harga dirinya. Kendati demikian, hatinya justru berkata kalau dirinya ingin dinikmati lagi oleh kuli tua itu.

“Kekekek... Pergi kemana ? Rongga mulutmu ? Kalau gitu ayo !” kata pak Karjo sambil menancapkan kejantanan penisnya ke dalam rongga mulut Haura.

“Mmpphhhh... Mmpmphhhh” desah Haura memejam saat penis besar yang sudah terbalut oleh cairan cintanya itu masuk menyodok pangkal kerongkongannya.

Kendari baru setengahnya saja yang masuk. Penis itu sudah mentok di dalam rongga mulutnya. Ukurannya yang besar memaksa Haura untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Terasa cairan asin itu mengenai lidahnya. Aroma selangkangannya yang kuat membuat perut Haura terasa mual. Namun kuli tua itu tidak akan membiarkan Haura melepaskan tongkat saktinya dari dalam mulutnya. Karjo mulai menggerakan pinggulnya. Penis besar itu mulai keluar masuk di dalam rongga mulut Haura.

“Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura sambil memejam karena tak kuasa menahan keperkasaan batang penis itu.

“Kekekekek... Ouhhh enakknyaa... Mantep sekali seponganmu ustadzahhh... Uhhhh” desah pak Karjo dengan sangat puas.

Kuli itu menurunkan pandangannya tuk menatap wajah cantik sang ustadzah. Melihat mulut Haura penuh oleh besarnya ukuran penisnya menjadi kepuasan tersendiri bagi kuli tua itu. Apalagi saat penisnya mulai bergerak masuk lalu ia keluarkan lagi lalu ia masukan lagi lalu ia keluarkan lagi. Sensasi itu jelas ada. Pak Karjo benar-benar puas karena dirinya bisa melakukan hal ini lagi kepada seorang ustadzah yang mempunyai kecantikan nomor satu sepondok pesantren ini.

“Aaaahhhh... Ayo baring di sofa ustadzah !” ucap Pak Karjo setelah cukup berstirahat dengan memasukan penisnya ke mulut Haura.

Haura yang lemas tak berdaya diangkatnya oleh pak Karjo kemudian ditidurkannya diatas sofa panjang yang biasa ia gunakan untuk menerima tamu yang datang ke rumahnya. Haura tiduran dalam posisi terlentang. Buah dadanya masih tertutupi kaus panjangnya. Namun Karjo dapat melihat tonjolan puting yang terlihat samar-samar dari kaus lengan panjang berwarna putih yang Haura kenakan.

“Kekekekek” tawa pak Karjo sambil menatap wajah Haura. Sambil tersenyum kuli tua itu menarik paksa celana dalam Haura hingga terlepas.

Tatapan Haura terlihat sayuk. Mungkin dirinya tak menyangka kalau ia sudah selemas ini setelah digempur habis-habisan oleh kuli tua itu. Saat bibir vaginanya kembali bersentuhan dengan ujung gundul penis itu. Haura sadar bahwa pria tua ini hendak menyetubuhi dirinya lagi. Haura reflek menatap wajah Karjo kemudian menggelengkan kepalanya. Namun jawaban pak Karjo hanya menganggukan kepala petanda kalau dirinya siap untuk menyetubuhi liang senggama akhwat berhijab itu lagi.

“Mmmppphhhhhh !!!!” desah Haura memejam saat penis itu kembali masuk ke dalam lubang vaginanya.

Tanpa ampun Karjo langsung mempercepat gerakan pinggulnya. Karjo melebarkan kedua kaki Haura kemudian agak menundukan tubuhnya agar dirinya bisa memegangi pinggang ramping Haura sambil menikmati kecantikan wajah yang ustadzah itu punya.

Namun Haura hanya bisa memejam sehingga pak Karjo tidak sanggup menatap keindahan mata yang Haura punya. Haura kewalahan. Ia jadi heran kenapa kuli tua ini mempunyai ketahanan tubuh yang sekuat ini.

Pak Karjo terpaku pada kecantikan wajah yang Haura punya bahkan salah satu tangannya sampai ia naikan untuk mengelus pipi mulus bidadari cantik itu. Sentuhannya membuat Haura membuka matanya. Namun genjotannya yang masih kuat membuat Haura kembali memejam tuk menahan gempuran kuli tua itu yang berpacu tanpa ampun.

“Indah sekali dirimu ustadzah... Dengan tubuh semolek ini, dengan wajah secantik ini dan dengan kekuatan yang saya punya... Bukankah akan cocok kalau kita bisa mempunyai anak bersama ustadzah ? Saya tau kok kalau belakangan ini pasti ustadzah menginginkan seorang anak kan ?” ucap pak Karjo yang membuat Haura reflek membuka matanya.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Dari mana bapak tauuu ? Aaahhhh” tanya Haura heran.

“Kekekek... Jelas saya tau ustadzah ! Saya bukan orang baru dalam dunia pernikahan... Saya sudah lama menikah... Anak saya juga sudah gede-gede di rumah... Ustadzah itu sudah cukup lama menikah kan ? Jelas ustadzah pasti merindukan sosok anak yang bisa ustadzah ajak main bersama... Kalau ustadz Hendra gak bisa memberikan anak ke ustadzah ? Gimana kalau saya saja ? Saya siap menghamili ustadzah tiap hari agar ustadzah bisa mempunyai anak nanti !” kata pak Karjo tersenyum sambil menatap wajah cantik Haura.

“Bapak gila yah ? Mana mau aku mempunyai anak dari bapak ! Aaahhhhh... Gak ! Pokoknya aku gak mau mengandung anak dari sperma bapak !” kata Haura dengan tegas. Namun genjotan yang Karjo berikan membuat ustadzah tercantik itu kewalahan menahan keperkasaannya.

“Kekekekek... Dasar keras kepala ! Udah dikasih saran malah nolak... Lagipula suka tidak suka saya pasti akan menghamili ustadzah kok nanti !” ujar pak Karjo mempercepat gerakan pinggulnya.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Aaahhhhhhh” desah Haura kewalahan.

Saat lagi mantap-mantapnya bercinta, lagi-lagi pak Karjo menghentikan gerakan pinggulnya yang membuat Haura membuka mata merasa keheranan. Ia begitu kesal pada kuli tua itu karena menghentikan genjotannya lagi disaat dirinya mulai menikmati.

“Kekekekek... Ayo pindah ke kamar ustadzah ! Disini sempit” ujar pak Karjo sambil menarik tangan Haura sehingga bidadari itu tertarik mengikuti langkah kaki kuli tua itu.

“Tungguu pak... Tungguuu” kata Haura dengan lemas sehingga tubuhnya tidak mampu menolak ajakan kuli tua itu.

Sesampainya di kamar Haura. Pak Karjo meloloskan kaus berlengan panjang yang Haura kenakan. Ustadzah tercantik itu sudah telanjang seutuhnya. Baru setelahnya pak Karjo yang menelanjangi dirinya sendiri. Ditatapnya tubuh kekar sang kuli. Haura terpana saat menatap otot-otot besarnya. Mau bagaimanapun, Haura adalah wanita biasa yang suka dengan seorang lelaki yang mempunyai tubuh kekar. Namun saat ia menaikan wajahnya ia kembali melihat wajah seorang pria tua yang tidak mempunyai ketampanan sama sekali.

Pak Karjo menarik tubuh Haura. Dirinya terlentang di atas kasur pribadi Haura sedangkan ustadzah tercantik itu dalam posisi tengkurap menindihi tubuh kekarnya.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh” desah pak Karjo sambil mencumbui bibir ustadzah cantik itu.

“Ustadzah suka kan dengan cara saya ? Ustadzah terpuaskan kan ? Kekekekek” ucap Karjo di sela-sela cumbuannya.

“Gak... Gak sama sekali pak !” ucap Haura keras kepala kendati sebenarnya ia ingin ditusuk lagi karena berulang kali kepuasannya tertahan saat sedang asyik-asyiknya digagahi.

“Kekekekek... Betul ! Saya juga belum puas ustadzah... Gimana kalau ustadzah menaiki kontol saya ? Saya tau pasti daritadi ustadzah kesal kan gara-gara saya mencabut genjotan saya pas ustadzah lagi asyik-asyiknya” ucap pak Karjo mengejutkan Haura.

Kenapa bapak bisa tau ? Apa jangan-jangan pak Karjo sengaja melakukannya ? Batin Haura tak percaya.

Haura sebenarnya agak gengsi tuk menuruti kemauan kuli tua itu. Makanya ia terlihat ragu kendati dirinya sangat mau menunggangi kejantanan penis itu. Pak Karjo melihatnya. Ia pun merangsang tubuh Haura dengan cara mengusapi ketelanjangan tubuhnya.

“Ouhhhhh... Uhhhh pakkk” desah Haura saat tubuh mulusnya dielus oleh pria tua itu.

“Gak usah malu-malu ustadzah... Saya tau kok kalau ustadzah mau ? Kekekeke” tawa pak Karjo yang membuat wajah Haura memerah.

Kendati sudah ketahuan, Haura tetap menjaga harga dirinya dengan enggan mematuhi perintah kuli tua itu. Pak Karjo tersenyum puas melihat tekad kuat yang dimiliki oleh ustadzah tercantik itu. Semakin kuat tekad yang Haura punya. Semakin kuat lah ambisi pak Karjo untuk meruntuhkan tekad yang Haura punyai itu.

Pak Karjo akhirnya bangkit dalam posisi setengah duduk untuk mengarahkan Haura untuk duduk diatas pangkuannya. Haura jadi punya alasan untuk menaiki tunggangan liar itu saat tubuh indahnya dipaksa oleh kuli tua itu.

Kekekekek... Makin greget aja kalau main sama ustadzah yang malu-malu tapi mau kek gini !

Batin pak Karjo puas.

Untuk merangsang sang ustadzah. Pak Karjo kembali menggoyang pinggulnya terlebih dahulu agar ustadzah tercantik itu semakin tergoda oleh kenikmatan yang diberikan oleh tongkat hidup berwarna hitam itu.

“Uhhhhhh” desah Haura merasakan nikmatnya. Dengan malu-malu, Haura mulai naik turun diatas pangkuan kuli tua itu.

Kekekek... Ya seperti itu ustadzah... Goyang terus... Goyang yang binal ustadzah ! batin Karjo saat menatap goyangan Haura yang malu-malu.

Haura merasa malu sekali saat dipaksa melakukan goyangan ini. Tapi bagaimana lagi ! Nafsunya juga sudah menjadi-jadi. Ia akhirnya mengabaikan reaksi kuli tua itu. Ia hanya memejam sambil menaik turunkan tubunya tuk memuaskan gairah birahinya sendiri.

“Aahhhh... Aahhh... Aahhhhh” desah Haura sambil malu-malu.

“Kekekek... Enak kan ustadzah kontol saya ?” ejek pak Karjo melihat reaksi Haura.

“Enggakk... Sudah kubilang enggak !” desah Haura terengah-engah. Kendati lisannya berkata tidak tapi tubuhnya terus naik turun tanpa diperintah oleh kuli tua itu.

Semakin lama Haura naik turun diatas penisnya. Semakin besar pula nafsu yang dimiliki oleh ustadzah tercantik itu. Meski daritadi lisannya berkata tidak. Meski daritadi ia berusaha untuk menjaga tekadnya. Dirinya tidak mampu untuk menahan gairah birahinya setelah sebelumnya ia digenjot habis-habisan oleh kuli tua itu.

Ya, Haura sudah tidak tahan lagi. Vaginanya semakin lembap. Vaginanya semakin basah oleh kekarnya penis yang sedang menancap di dalam. Sedikit demi sedikit tanpa merasa malu lagi. Bidadari cantik itu bergoyang membuat penis yang sedang ada di dalam semakin tergoyang. Haura memejam sambil bertumpu pada perut kekar pak Karjo. Rasanya sungguh nikmat membuat pinggulnya terus bergoyang secara horizontal. Awalnya bergerak ke kanan lalu ke depan terus ke kiri lalu ke belakang. Ia berputar tiga ratus enam puluh derajat tuk merangsang penis berwarna hitam legam itu.

“Kekekekek... Hebat sekali ustadzahh... Ayoo goyang terus... Goyang terusss ahhhhhh” desah pak Karjo tertawa puas.

Tawa yang terucap dari mulut pak Karjo membuat Haura kesal. Namun desahan yang keluar dari mulut kuli tua itu membuat Haura semakin bergairah. Haura mulai tak peduli dengan komentar kuli tua itu. Ia hanya ingin memuaskan nafsu birahinya. Ia terus bergoyang menikmati penis kekar yang sedang aduk-aduk di dalam.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Haura.

Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang hanya mengenakan hijab itu menatap wajah pria tua yang sedang berbaring ditunggangi olehnya dengan tatapan tak percaya. Ia terus menggenjot tubuh pak Karjo sambil memberikan tatapan heran. Payudaranya yang besar itu sudah mengencang. Payudaranya membusung menantang wajah pria tua itu yang sedang terpana.

Inikah yang kamu inginkan Haura ? Kepuasan dari nikmatnya bercinta dengan seorang pria ?

Batin Haura sambil memejam nikmat.

"Kekekekek... Sudah saya duga, pasti ustadzah diam-diam menikmati kontol saya kan ?" Ejek Karjo sambil menggigit bibir bawahnya saat menatap tubuh telanjang Haura yang sedang bergoyang.

Haura langsung melek saat mendenger ejekannya itu. Ia begitu tersinggung saat harga dirinya dijatuhkan oleh seorang kuli tua yang sudah berkali-kali memperkosa dirinya.

"Gakk... Gakkk mungkin pakkk... Ahhhh... Aahhhhh" Desah Haura sambil terus naik turun di atas selangkangannya.

"Kekekekek... Kalau gitu kenapa ustadzah gak diem aja ? Kenapa ustadzah malah ngegoyang terus ?" Tanya pak Karjo tersenyum.

Haura sendiri tidak menjawabnya. Ia terlalu gengsi untuk menjawab pertanyaan itu. Ia justru membuang muka ke samping sambil terus menggoyang batang penis Karjo yang terasa semakin nikmat.

Haura heran pada diri sendiri. Sebagai ustadzah pemilik wajah tercantik sepondok pesantren ini. Akan mudah baginya untuk mendapatkan kepuasan dari lelaki lain yang tentunya jauh lebih tampan dari pria yang sedang ia tunggangi ini. Masalahnya ia sudah terlanjur nyaman pada batang penis yang berulang kali telah menggesek dinding vaginanya. Ia juga puas pada keperkasaan penis itu yang tidak cepat keluar. Apa yang ia inginkan selama ini ada pada penis yang sedang ia tunggangi saat ini. Ia menyukainya walau harus dengan cara diam-diam.

Dikala tubuh Haura semakin panas. Dikala tubuhnya semakin bergairah. Ia mengangkat tubuhnya hingga ujung gundul dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.

“Uhhhhhhhhhh” desahnya sambil memanyunkan bibirnya.

Jleeebbbbbbb !

“Paakkkkkkkkk.... Aahhhhhhhhh”

Haura mendesah ketika ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu langsung menyundul rahim kehangatannya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Haura merasa ketagihan. Ustadzah itu terus mengaduk penis hitam yang dimiliki oleh kuli tua itu. Kedua payudaranya yang bergoyang-goyang memanjakan mata pak Karjo yang semakin dipuaskan oleh goyangan ustadzah tercantik itu.

“Kekekek... Terus ustadzah... Goyangkan pinggulmu... Aduk terus kontol saya... Puas kan hasratmu yang selama ini tertahan akibat ketidakbecusan suamimu selama ini" Ucap pak Karjo memotivasi.

"Uhhhh... Uhhh... Uhhhhh" Anehnya Haura justru menuruti. Ia merasa kesal pada diri sendiri. Ia kesal kenapa malah semakin terangsang setelah mendengar ucapan kuli tua ini.

Kebinalan yang Haura lakukan tepat di hadapan matanya membuat kuli tua itu tertawa puas. Ia tertawa terbahak-bahak menatap keindahan tubuh sang bidadari yang telah ternodai. Pak Karjo jadi gemas. Ia pun memegangi pinggul Haura sambil mengusapi kulit mulusnya sesaat.

“Ouhhhh ustadzahhhh... Ahhhh.... Iyyahhhhh goyang terussss... Lebihh keraasss... Lebihhh binallll”

“Aahhhh... Ahhhhhhh” kata Haura menurutinya tanpa sadar.

Haura sudah tidak dapat berfikir jernih lagi. Gairah birahinya sudah berapi-api. Ia tak peduli lagi dengan siapa ia bercinta saat ini. Ia hanya ingin memuaskan birahinya agar bisa segera terpuasi. Haura terus naik turun diatas pangkuan sang kuli.

Kulit tubuhnya yang berwarna putih dan kulit tubuh sang kuli yang berwarna hitam. Mereka bagaikan susu dan kopi. Mereka bagaikan lambang yin & yang. Warna kulit mereka sungguh kontras. Hal itu lah yang membuat mereka berdua semakin bergairah dalam menikmati persetubuhan yang terlarang.

“Ouhhh pakkkk.... Ouhhh... Ouhhhh” desah Haura sudah tidak tahan lagi.

“Aahhh... Ahhhh... ustadzahhh... Desahhh teruus ustadzahhh... yang kerasss !” kata pak Karjo menyemangati.

"Aaahhhh iyyahhh... Aaahhhhh” desah Haura sambil menegakan tubuhnya hingga kedua susunya semakin membusung di hadapan pak Karjo. Kedua tangannya bertumpu pada paha sang kuli. Tubuh Haura bergoyang maju mundur. Penis itu diaduk-aduk hingga pemiliknya tidak kuat lagi.

“Aahhh.... Ahhh... Ahhh baappaakkkkk !!!!” Haura meraung-raung dalam mengaduk kejantanan penis kuli tua itu.

Mereka berdua saling bercinta dengan penuh gairah. Desahan-desahan mereka terdengar. Keduanya sudah mendekati batas maksimal. Haura bergoyang semakin cepat. Pak Karjo kewalahan sampai harus mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya.

"Ahhh... Aahhh pakk... Akuu kelluaaarrrr" Desah Haura sambil membenamkan tubuhnya ke selangkangan pak Karjo hingga penis kuli itu semakin dalam menyundul rahim kehangatannya.

"Aaahhhhhh ustadzah saya jugaaa henkkgghh !!!" Desah Karjo menaikan pinggulnya hingga bidadari cantik itu terjatuh lemas menindihi tubuhnya.

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

"Aaaaaahhhhhhh" Desah mereka berdua secara bersamaan.

Mata Karjo merem melek penuh kepuasan. Tubuhnya tersentak berkali-kali. Tak pernah dirinya sepuas ini setelah dilayani oleh goyangan pinggul sang bidadari. Sama halnya dengan sang kuli, Haura juga tidak pernah merasakan orgasme sepuas ini. Tubuhnya sampai lemas tak berdaya. Ia sangat puas hingga matanya memejam tuk menikmati sisa orgasmenya yang terasa dahsyat.

"Mmpphhh" Karjo mencumbu Haura setelah puas digoyang oleh sang ustadzah. Karjo terkekeh-kekeh puas. Ia pun membisikan sesuatu ke telinga Haura yang membuat ustadzah tercantik itu merasa lemas.

"Tega sekali ustadzah sudah memperkosa saya... Kekekek... Ustadzah harus tanggung jawab loh yah" Lirih Karjo yang membuat Haura merasa malu karena sudah membuang harga dirinya demi kepuasan yang tidak ada duanya. Apakah ini setimpal ? Entahlah hanya Haura yang mengetahuinya.

Haura jadi mengantuk setelah itu. Tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Secara berhati-hati, pak Karjo mencabut penisnya hingga lelehan spermanya keluar dari dalam rongga vagina Haura. Pak Karjo menggeletakan tubuh Haura secara perlahan. Ia pun bangkit dalam posisi berlutut sambil menatap tubuh Haura yang hanya mengenakan hijab saja.

Pak Karjo tersenyum. Dirinya sangat puas. Penisnya perlahan mulai melemas. Ia menjilati bibirnya sendiri sambil membatin di dalam hati.

Kekekek... Lihatlah apa yang baru saja terjadi disini... Mantap kan ? Jadi, pilihan apa yang akan bapak pilih sekarang ?

Batin pak Karjo sambil melihat ke arah jendela luar yang agak terbuka. Pak Karjo tersenyum sambil menatap pria tua berkulit gelap dengan tubuh kekar yang berdiri disana.

Gimana ? Pak Dino ? Batin Karjo tersenyum.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy