"Mmpphh"
Seseorang mengerang setelah terbangun dari tidur panjangnya. Matanya kedap-kedip. Dengan manja tubuhnya menggeliat untuk melancarkan peredaran darahnya. Pelan-pelan ia bangkit ke posisi duduknya. Matanya masih memejam karena saking kantuknya. Tangan kirinya mengucek-ngucek mata kirinya. Sesaat kemudian matanya membuka. Ia menyadari kalau keadaan spreinya berantakan.
"Jam berapa ini ?" Ucapnya dengan lemah sambil menoleh ke arah jam dinding yang ada di sebelah kanannya.
"Astaghfirullah kesiangan... Kok udah jam enam lewat aja sih ?" Ucapnya tak percaya.
Saat dirinya hendak turun dari ranjangnya. Seketika ia merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Ustadzah cantik itu menggigil. Ustadzah cantik itu memeluk tubuhnya sendiri.
"Astaghfirullah... Kok aku gak pake baju ?" Ucapnya terkejut.
Ustadzah itu lekas berdiri sambil membalikan tubuh telanjangnya. Ia terkejut setelah melihat pria tua bertubuh kekar yang sedang berbaring diatas ranjang tidurnya yang juga dalam keadaan telanjang bulat.
"Aaahhhhh" Reflek ustadzah tercantik itu menjerit. Tubuhnya bahkan sampai jatuh terduduk dalam posisi lutut tertekuk.
Untungnya pria tua itu tidak terbangun. Pria tua itu masih terlelap bahkan pria tua itu tidak bergerak dalam posisi tidurnya.
Seketika ustadzah bernama Haura itu teringat akan kejadian di malam sebelumnya. Wajahnya memerah malu. Ia ingat ketika pria tua itu berkata padanya kalau dirinya telah memperkosa kuli bangunan itu.
Haura sontak memegangi kemaluannya sendiri menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya pun menutupi payudara besarnya semampunya. Hijab yang dikenakannya masih terpasang. Ia buru-buru keluar agar bisa menjauh dari kuli kekar itu.
"Astaghfirullah apa yang aku lakukan semalam... Kenapa aku sampai berbuat sehina itu ?" Ucap Haura merasa malu.
Wajah cantiknya memerah. Ia baru menyadari kerendahan dirinya yang bisa-bisanya meminta kepuasan dari seorang kuli bangunan. Bahkan saat kuli itu telah memintanya tuk berhenti, dirinya tidak mau berhenti. Dirinya merasa nanggung untuk menikmati kejantanannya. Ustadzah tercantik itu malah terus bergoyang tuk memuaskan birahinya yang telah kekeringan.
Ya ia baru ingat kalau sejak kemarin siang, dirinya sudah bernafsu karena sudah lama tidak diberi nafkah batin oleh suaminya. Suaminya telah pergi meninggalkan. Walau hanya sementara, tapi Haura merasa kalau waktu itu sangatlah lama. Untungnya hari ini sang suami akan pulang. Ia pun berharap dirinya bisa menjaga diri dengan tidak merendahkan dirinya lagi.
Haura berjalan menuju pintu belakang untuk mengambil handuk yang ia jemur di jemuran. Ia mengambilnya, ia melilitkan handuk tersebut pada tubuhnya. ia pun melangkah pergi menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Saat ia melewati dapur, ia teringat kalau semalam dirinya sedang merebus daging untuk mengempukan daging tersebut. Saat ia tiba di depan kompor, ia sadar kalau dirinya sudah merebus daging itu semalaman. Bahkan gas yang ia gunakan di kompor itu sudah habis. Haura lega karena setidaknya kompornya tidak meledak akibat terlalu lama di gunakan.
"Astaghfirullah... Motornya !!!" Ucap Haura tersadar kalau kunci motor yang ia pinjam dari seorang rekan ustadzah masih menyangkut di motor tersebut. Haura buru-buru berlari dalam keadaan handuk yang melilit tubuh telanjangnya. Pelan-pelan ia membuka pintu tuk mengintip keadaan di luar. Ia lega motor yang ia pinjam masih terparkir di depan rumahnya. Ia pun memutuskan untuk segera mandi agar dirinya bisa menjauh dari kuli tua itu.
Pintu kamar mandi telah dibuka. Ia segera menaruh handuknya pada gantungan yang terpasang di pintu kamar mandi. Ia pun melepas hijabnya hingga dirinya bertelanjang bulat di dalam kamar mandi tersebut.
Air shower menyala. Mata Haura memejam tuk menikmati guyuran air tersebut. Rasanya sangat segar hingga dirinya melupakan kejadian semalam sejenak.
"Hah" Haura mendesah pelan. Matanya membuka tuk menatap bayangan dirinya pada cermin kamar mandi.
Wajah cantiknya terlihat tapi wajahnya sedang tidak tersenyum. Wajahnya terlihat sedih karena dirinya kembali gagal tuk menjaga harga dirinya sebagai seorang ustadzah. Bahkan harga dirinya sebagai seorang istri telah terenggut. Haura merasa rendah sekali di pagi itu. Ia benar-benar malu. Ia pun menyesali keputusannya semalam.
"Astaghfirullah... Kapan yah aku bisa berubah ?" Lirih Haura merenung sambil menyabuni tubuhnya menggunakan sabun cair beraroma melati.
Aroma sabun itu sangat harum. Haura merasa segar kembali hanya dengan aroma sabun tersebut. Matanya menatap kosong pergerakan tangannya yang tengah menyabuni tubuhnya. Pikirannya kemana-mana. Ia benar-benar keheranan pada dirinya sendiri.
"Apa sih yah sebenarnya yang salah ? Kenapa aku sampai semudah itu untuk berzina dengan orang itu ?" Lirihnya sambil mengevaluasi dirinya.
"Kayaknya semua bermula dari lamunanku di kelas kemarin deh... Andai aku gak ngebayangin mereka bersetubuh denganku... Tapi kan, aku kebayang hal itu gara-gara aku udah bernafsu... Nah itu dia masalahnya... Gak ada orang yang bisa memuaskan hawa nafsuku... Suamiku yang seharusnya sanggup malah pergi meninggalkanku... Bahkan saat suamiku di rumah, suamiku masih belum sanggup memuaskan hasrat birahiku... Kenapa yah aku dilahirkan dengan nafsu segede ini, sampai-sampai suamiku sendiri gak sanggup memuaskan diriku" Ucapnya merenung.
Lekuk tubuhnya sudah diselimuti oleh busa-busa yang berasal dari sabun tersebut. Perutnya juga, paha mulusnya juga, bahkan kedua payudaranya juga. Busa-busa itu telah membuat tubuh Haura menjadi semakin sexy.
Rambut pendek sebahunya sudah terolesi oleh sampo. Haura memejam sambil menggaruk-garuk kepalanya agar sampo itu merata di rambut pendeknya. Haura agak bersenandung yang merupakan kebiasaannya saat mandi.
Setelah selesai, Haura lekas membilas seluruh tubuhnya menggunakan air shower tersebut. Busa-busa yang ada pada tubuhnya jatuh tersiram guyuran air shower itu. Busa pada rambutnya juga sama. Tubuh indahnya yang sangat aduhai itu sudah bersih dari noda-noda yang ditinggalkan oleh pria tua itu semalam.
"Oh yah" Kata Haura teringat sesuatu.
Demi merawat sekaligus membersihkan rongga vaginanya. Tak lupa Haura sampai memberikan sabun khusus agar vaginanya bisa lebih seret dan lebih sempit tentunya.
Setelah membilas vaginanya dengan pancuran air shower. Haura mengeringkan tubuhnya dengan handuk sekaligus menuntaskan mandi wajibnya.
Setelah mandi pagi, dirinya langsung berlari memasuki kamarnya dimana ada predator seksual yang masih tertidur disana. Haura berdebar saat dirinya hendak memasuki kamar tidurnya. Ia mengintip sejenak dan rupanya kuli tua itu masih tertidur pulas. Bahkan kuli itu sampai mengorok. Ia pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil pakaian di almarinya.
"Duhhh mana yah bajuku ?" Ucapnya sambil sesekali melirik ke belakang.
Haura sudah melepas lilitan handuknya. Haura sudah kembali telanjang bulat bahkan sudah tidak mengenakan hijabnya. Haura benar-benar telanjang kali ini. Tubuhnya sangat wangi. Pinggangnya sangat ramping. Bongkahan pantatnya montok. Lekuk pinggangnya mantul bahkan hampir menyaingi lekukan sirkuit sentul. Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung bernafsu ingin menggahi akhwat tercantik itu.
"Nah ini dia" Ucapnya saat meraih pakaiannya.
Gamis panjangnya ia ambil, bra dan juga celana dalamnya sudah ia raih. Haura agak menungging untuk meraih hijabnya yang ia taruh di posisi bawah. Nampak payudara besarnya menggantung indah. Kedua payudara itu bak buah melon yang siap untuk dipetik. Posisi Haura sangat enak sekali untuk digenjot. Siapapun yang sedang berdiri dibelakangnya pasti merasa kalau Haura telah menggodanya dengan keseksian tubuh yang ia punya.
Seketika ia merasa adanya kehadiran seseorang di belakang. Mata Haura membuka lebar. Dirinya hendak bangkit untuk melihat ke arah belakang.
"Kekekekek"
Benar saja. Saat ia hendak menegakan tubuhnya kembali. Punggungnya ditahan oleh telapak tangan seseorang. Tiba-tiba pinggang rampingnya di cengkram. Ia pun merasa adanya benda tumpul yang sedang mengantuk-ngantuk pintu masuk vaginanya.
"Baaappp... Baappaakkk !!!" Kata Haura terkejut saat mengetahui kalau kuli bangunan itu sudah bangun.
"Kekekeke... Bangun-bangun langsung disodori bokong semok... Minta digenjot yah ustadzah ?" Ucapnya sambil mengusap-ngusap pinggang ramping Haura sambil menggesek-gesek bibir vaginanya.
"Enggakk... Enggakk pakkk... Tolong lepaskan... Lepaskannn akuu pakk... Jangan nodai aku laaggiii !!!" Ucap Haura panik. Haura yang sedang dalam kondisi sadar jelas menolak ketika kuli tua itu hendak menyetubuhinya kembali. Tubuhnya sedang tidak dalam penguasaan hawa nafsu. Ia dengan tegas menolak keinginan pria tua itu.
"Kekekek... Enak aja ! Ustadzah harus tanggung jawab yah karena sudah menggoda saya !" Ucapnya sambil sedikit melebarkan kaki Haura.
"Mmpphhh bapaakkk" Desah Haura menggelengkan kepala sambil menoleh ke belakang.
"Ahhhh nikmatnyaaa... Gak nyangka pagi-pagi udah bisa jajan memek lagi... Uhhhhh... Uhhhhh" Ucap pak Karjo sambil menggesek-gesek bibir senggama Haura.
"Aahhhh.... Aaahhhh... Hentikannn pakkkk... Jangannn lakukannn ini lagi padakuuu" Ucapnya dalam posisi menungging bertumpu pada pintu almari pakaian.
"Kekekek... Ustadzah baru mandi yah ? Tau gak ustadzah ? Saya tuh paling nafsu sama ustadzah yang baru aja mandi tau... Kekekek... Bayangin ustadzah, pas lagi wangi-wanginnya malah saya sodok... Uhhhh pasti bakal mantap banget tuhh" Ucap Karjo sambil terus menggesek bibir vagina Haura.
"Engggakkk... Enggakk mauuu pakkk... Tolonggg jangannn lagi pakkk... Aku khilaf semalam... Aku gak mau berzina lagi pakkk... Mmpphhh" Desah Haura yang pelan-pelan vaginanya mulai banjir terkena cairan cintanya sendiri.
"Kekekek baru mandi aja udah banjir gini... Saya mulai aja yah ustadzah... Siappp... Henkkgghhhh !!!" Ucap pak Karjo sambil menahan nafas dan mencengkram kuat pinggul rampingnya.
Dengan satu hentakan yang mantap, penis kekar berwarna hitam itu langsung menembus masuk membelah liang kehangatan sang ustadzah.
"Aaaaaaahhhhhh" Desah Haura dengan manja.
Haura tak menyangka kalau pagi-pagi dirinya sudah harus melayani nafsu buas kuli tua itu lagi. Ustadzah tercantik itu mendesah. Ustadzah tercantik itu mengerang saat rahimnya tersundul oleh ujung gundul penis besar itu.
"Kekekeke... Desahanmu itu loh ustadzah yang bikin saya gak bosen-bosen buat genjot tubuh indahmu... Ouhhh wanginya tubuhmu ustadzah... Kulitmu juga mulus... Gak ada yang ngalahin mantapnya bercinta dengan seorang wanita yang baru mandi membersihkan diri" Ucap Karjo sambil menggerayangi mulusnya kulit Haura.
"Oouhhhh... Ouhhhh... Ouhhh" Desah Haura maju mundur. Matanya memejam. Kedua payudaranya bergoyang. Kepalanya ia geleng-gelengkan. Kedua tangannya mencengkram kuat pintu almari pakaiannya.
"Kekekeke... Oh yahhh mantappnyaahh... Mantapp sekali memekmu ustadzah... Ouhhhhhh" Desah Karjo sepuasnya.
Kedua tangannya yang sangat hitam itu berulang kali maju mundur mengusapi punggung mulus sang ustadzah. Pinggulnya terus maju. Pinggulnya pantang mundur. Kuli tua itu geleng-geleng kepala merasa heran dengan rapatnya vagina yang sedang menjepit penisnya.
Gemas dengan kenikmatan yang ia dapatkan membuat kuli itu ikut menunduk agar kedua tangannya dapat meraih payudara yang sedang menggantung itu.
"Aaahhhhh ini dia yang kenyel-kenyel itu... Kekekeke" Tawa pak Karjo sambil meremasi payudaranya.
"Aaahhh... Aahhhh hentikannn... Cukuppp pakkk... Ouhhhh... Ouhhhh yahhh" Desah Haura dengan lemah.
Pak Karjo mengangkat tubuh Haura agar bisa berdiri membelakangi dirinya. Kuli itu terus menggempur tubuh sang ustadzah. Kedua tangannya semakin mencengkram payudara besarnya. Mulutnya pun mendekat untuk mencumbu bahu mulus ustadzah cantik itu.
"Aahhhh... Aahhhh... Aahhhh pakkkk... Hentikan pakkk.... Jangannn lagiii... Tolong pakkk... Aahhhh" Desah Haura tak berdaya.
"Kekekekek gak usah malu gitu ustadzah... Saya tau kalau ustadzah mulai menikmatinya kan ? Kontol saya sampai lembap banget loh ustadzah... Tubuh ustadzah juga makin kencang... Bukannya itu petanda kalau ustadzah mulai terangsang ?" Ucap pak Karjo terus menggempur vagina sempit itu.
"Aahhhh... Aahhhh... Aaahhhhh" Desah Haura mengabaikan pertanyaan itu.
Sejujurnya Haura memang mulai menikmati sodokan kuli tua itu. Tapi lagi-lagi dirinya enggan tuk mengakui kenikmatan yang diberikan oleh sang kuli. Ia sedang bertekad untuk tidak meminta kenikmatan dari kuli tua itu. Namun sodokannya yang ia rasakan malah semakin terasa. Penis itu semakin menggesek vaginanya. Penis itu dengan kejam keluar masuk vaginanya. Cara pak Karjo semakin barbar. Gerakan pinggulnya sangat kasar. Namun nafsu Haura malah membesar. Dirinya malah menikmati pemerkosaan yang dilakukan oleh kuli tua itu.
Aahhhh... Aahhhh... Kenapa aku gak bisa menolak kenikmatan ini lagi sih ? Ingat Haura... Ini haram... Jangan turuti hawa nafsumu !!!
Batin Haura berusaha bertahan.
"Kekekek... Kok gak dijawab ustadzah ? Apa ustadzah masih ragu yah antara udah terangsang apa belum ? Yaudah saya percepat aja yah... Siapa tau ustadzah bisa menjawabnya... Hennkkgghh" Desah Karjo memperkuat hantaman pinggulnya hingga tubuh Haura semakin maju menahan genjotan kuli itu.
“Aahhhhhh ahhhhhh ahhhh” desah Haura ditengah pergolakan batinnya. Tubuhnya sangat tahu kalau genjotan kuat Karjo amat terasa nikmat. Tapi hatinya terus memaksa diri untuk tidak menunjukan semua rasa nikmat itu dihadapan kuli kekar itu.
“Kekekek... Nikmatnyaa... Ouhhh sempitnya... Ahhhhhh” desah Pak Karjo keenakan.
Penisnya terasa seret kendati vagina Haura semakin membanjir dipenuhi cairan cintanya. Namun hal itu tidak serta merta menghilangkan rasa nikmat yang ia rasakan. Sebaliknya kenikmatan itu makin terasa hingga membuat pinggulnya tak mau berhenti dalam menggenjoti lubang sempit sang ustadzah.
Berulang kali tangan Pak Karjo mengusap pinggangnya, kemudian naik meremas payudaranya. Kuli itu kembali mencumbui bahu sang ustadzah sembari tangannya meremas dengan puas bulatan yang menggoda disana.
Nafasnya terengah-engah saat penisnya berulang kali memasuki lubang sempitnya. Gesekan nikmat yang menjepit penisnya membuat gairah birahinya menjadi-jadi. Berulang kali tangannya meremas payudara itu. Berulang kali tangannya memelintir putingnya yang maju itu. Tangannya kemudian turun meraba perut ratanya. Bahkan jemarinya juga hinggap di vaginanya untuk menekan biji klitorisnya yang membuat ustadzah tercantik itu gelisah merasakan rangsangan dari kuli yang sangat beruntung itu.
Himpitan yang begitu menantang dari lubang kemaluan sang ustadzah membuat penisnya di dalam berdenyut kencang. Pak Karjo heran kenapa dirinya bisa secepat ini merasakan adanya gelombang yang mengalir di dalam. Apakah karena fantasinya kepada sang ustadzah yang baru saja mandi di pagi hari ?
Pak Karjo tak peduli lagi. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Ia terkejut saat ia hendak menarik penisnya. Penis itu seperti menyangkut seolah tak ingin keluar dari lubang sempit itu.
“Kekekek... Kok bisa nyangkut gini ?” lirih Karjo tertawa menyadari betapa sempit & seretnya kemaluan sang ustadzah.
Pak Karjo berusaha. Ia menggerakan pinggulnya ke belakang kemudian mendorongnya ke depan. Ia tarik lagi terus dorong lagi. Tarik lagi terus dorong lagi. Sesekali ia menampar bokongnya dan mencengkram kuat payudaranya. Pak Karjo tak sanggup lagi. Birahinya sudah memuncak. Ia pun menancapkan penisnya sedalam-dalamnya hingga terbenam di dalam lubang vagina itu.
"Ahhh pakkk... Ahhhh... Aahhhh" Desah Haura merasakan genjotan kuli tua itu semakin nikmat. Mungkinkah karena efek sabun khusus yang membuat kemaluannya makin seret dah sempit ?
“Uhhhh.... Ustadzahh... Ustadzahh.. Ahhhh.... Ahhhhhhhhh saya...... UUUHHHHHHHHH !!!!!!” desah Pak Karjo dengan nikmatnya saat mendorong pinggulnya hingga tubuh Haura terhimpit ke pintu almarinya.
"Buruan ustadzah... Cepat hadap sini" Kata pak Karjo sembari mencabut penisnya.
"Mmmppphhhh" Desah Haura memejam saat kuli tua itu mulai mengarahkan penisnya ke arah wajah cantiknya.
"Aaaahhhhh... Kellluuaaarrrr !!!" Desah pak Karjo dengan sangat puas.
Ccrrooottt... Ccrrootttt... Ccrroottt !!!
Mata kuli tua itu merem melek penuh kepuasan. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Kaki-kakinya nyaris tak sanggup menompa tubuhnya. Ia bergidik nikmat. Ia merinding hebat merasakan puasnya bersenggama bersama seorang ustadzah di pagi hari.
"Hah... Hah... Hah" Haura terengah-engah dalam posisi duduk berlutut dihadapan penis tua itu. Wajahnya bersimpuh sperma. Dirinya begitu lemas. Ia belum merasa puas karena kuli tua itu lebih dahulu memuntahkan spermanya daripada dirinya.
"Kekekek... Maaf ustadzah, kayaknya ustadzah harus mandi lagi nih" Ucap Karjo berjongkok sambil menatap ketelanjangan Haura. Wajahnya jadi menggairahkan dengan banyaknya sperma disana. Pak Karjo menjilati bibirnya sendiri. Haura jadi risih kendati tubuhnya sangat ingin dipuasi lagi.
"Hah... Hah... Hah" Haura hanya bisa terengah-engah sambil menatap wajah jelek kuli tua itu.
Bahkan saat jemari kuli itu mendekat tuk mendekap dagunya, Haura hanya bisa berdiam pasrah karena tidak mempunyai tenaga tuk menolak.
"Saya belum mandi nih ustadzah... Mau mandi bareng ?" Tanya pak Karjo sambil menggerakan dagu Haura naik turun.
"Wahhh ustadzah ngangguk ? Kalau gitu ayok" Ucap Karjo tersenyum sambil menarik tangan Haura.
"Hah... Pakkk... Tunggguuu... Tunggu dulu pakk" Ucap Haura panik ketika dirinya ditarik menuju kamar mandi oleh kuli tua itu.
Pintu kamar mandi dibiarkan terbuka. Air shower telah menyala. Pak Karjo memposisikan tubuh Haura dalam keadaan menungging membelakangi. Kuli itu tanpa ragu langsung menancapkan kembali batang penisnya. Mereka berdua bercinta dalam pancuran air shower.
"Aahhhh... Aahhhh... Aahhhh"
Haura mengerang. Pak Karjo merasa menang. Pinggul mereka terus bertempur dalam menikmati persetubuhan terlarang. Haura kembali terangsang. Bahkan pak Karjo ikut terangsang.
Wajah Haura masih bersimpuh sperma. Pak Karjo masih menggenjot Haura dalam kecepatan yang sama.
"Kekekeke... Rasakan ini ustadzahhh !!! Hennkkghhh !!!!" Desah Karjo sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya.
"Aaaaahhhh kellluuaaarrrr" Desah Haura dengan sangat mantap.
Pak Karjo tersenyum puas. Ia pun menutup pintu kamar mandi untuk melanjutkan kebersamaannya dengan ustadzah tercantik itu. Tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua di dalam. Yang jelas dari arah dalam terdengar suara desahan yang amat sangat mantap dari ustadzah Haura.
"Aahhhh.... Aahhhhhh.... Aaahhhhh"
*-*-*-*
Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas pagi. Tak terasa ujian di hari ini sudah berakhir. Ada banyak raut wajah kekecewaan yang ditunjukan oleh para santri. Mayoritas mereka kecewa setelah membuka kembali buku catatannya. Mereka tak menemukan adanya kesamaan dari apa yang tertulis di buku catatannya. Mereka hanya bisa pasrah setelah sadar kalau mayoritas jawaban mereka salah.
Waktu kosong ini pun ingin dimanfaatkan dengan baik oleh mereka. Mereka semua ingin kembali ke asrama masing-masing untuk merehatkan pikirannya sejenak. Nampak santri-santri berlarian keluar dari dalam ruangan kelas. Tak terkecuali Iqbal, si santri tampan yang mempunyai kecerdasan pikiran.
Sebagai santri yang dipuja-puja oleh kebanyakan ustadzah. Dirinya tidak mempermasalahkan jawaban yang menjadi isiannya pada lembaran soal. Iqbal sudah merasa yakin kalau semua jawabannya pasti benar. Masalahnya, ada satu hal yang mengganjal pikirannya sekarang.
"Ustadzah Haura kemana yah ? Kenapa hari ini beliau tidak menjadi pengawas ujian ?" Ucap Iqbal dengan lirih.
Biasanya, salah satu dari tiga pengajar yang menjadi pengawas ujian di ruang kelasnya adalah ustadzah Haura. Seorang ustadzah yang juga merupakan istri dari wali kelasnya sendiri yakni ustadz Hendra. Dirinya bertanya-tanya, apakah terjadi sesuatu dengannya ? Atau ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa masuk kelas ?
Dalam perjalanannya pulang menuju asrama. Seketika Iqbal tersenyum saat melihat seseorang dari kejauhan. Sosok yang sebenarnya tak ia cari-cari belakangan ini. Namun karena perkataan orang itu di hari kemarin telah mengganggu pikirannya. Ia pun mendatanginya untuk membalas gangguan yang sudah orang itu berikan kepadanya.
Iqbal memilih menunggu di jalan sepi yang pasti dilalui oleh orang itu. Ia pun membuka buku catatannya. Ia tersenyum lega karena dirinya membawa foto hasil hunting kemarin.
Saat orang itu semakin dekat, tiba-tiba Iqbal berdiri yang membuat akhwat berhijab itu menaikan alisnya karena heran, mengapa santri tampan itu tiba-tiba menghalangi jalannya ?
"Mau apa lagi antum ?" Tanya Salwa jengah.
"Apa lagi ?" Kata Iqbal tersenyum sambil melempar beberapa lembaran foto ke arah wajah Salwa.
Salwa jelas memejamkan matanya saat foto-foto itu mengenai wajahnya. Santriwati berhijab itu tampak kesal dengan sikap yang Iqbal tunjukan padanya.
"Ihhh apaan sih gak jelas banget !" Kata Salwa kesal.
"Gak jelas ? Hahaha, Coba liat foto itu" Kata Iqbal sambil tertawa. Iqbal melihat ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan. Ia telah menemukan tempat sepi. Keputusannya dalam memilih tempat ini merupakan keputusan yang tepat baginya.
Saat Salwa menurunkan tubuhnya tuk mengambil salah satu dari foto itu. Salwa langsung terkejut. Matanya membuka lebar. Jantungnya berdebar kencang. Nafasnya jadi sesak. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat menggunakan kedua matanya.
"Enak yah kemarin ? Habis mantap-mantap dengan seorang ustadz... Ternyata gak cuma ana yang rusak, rupanya antum juga hahaha" Kata Iqbal menertawakan perbuatan Salwa.
"Daaa... Ddaarii mana antum dapet ini ? Kennnapa antum punya foto ini ?" Kata Salwa shock.
"Ana ada disana... Melihat antum melakukan perbuatan itu dengannya... Gimana ? Mantap gak, Salwa ?" Ucap Iqbal yang membuat kedua kaki Salwa lemas.
"Tttoo... Ttollonngg jangan bilang siapa-siapa Bal... Tolonggg rahasiain ini... Ana mohon Bal" Ucap Salwa memohon sambil berlutut di hadapan Iqbal.
"Hahahaha... Kok gitu... Mana sifat antum kemarin yang sok-sokan ngancem ana pake omongan antum itu... Ini ada buktinya loh, Wa... Sekali foto ini tersebar, rusak semua reputasi antum selama ini" Kata Iqbal sambil mengeluarkan foto lainnya kemudian menepukannya ke kepala Salwa.
"Tollonggg Ball... Jangannn... Jangannn sebar semua foto inii... Ana mohon bangett ball... Annaa gak mau dikeluarkan dari pesantren" Kata Salwa memohon. Dirinya terisak-isak. Matanya lembap dengan air matanya yang bercucuran.
"Hahaha... Entah kenapa kok ana suka yah dengan pemandangan ini... Sebenarnya niat ana tadi mau sebar semuanya sih... Tapi ana kasian juga lihat wajah melas antum itu... Dasar payah ! Gak tau diri ! Make sok-sokan ngancem lagi... Tau-taunya antum sama bejadnya dengan ana hahaha" Tawa Iqbal.
"Sama bejadnya ? Antum lebih bejad daripada ana, Bal !" Ucap Salwa tidak terima.
"Yakin ? Ini, ana dapet tambahan dari Lutfi" Ucap Iqbal mengeluarkan senjata lain.
"Hah" Kata Salwa shock berat.
"Gak cuma dengan ustadz... Bahkan ustadzah Syifa & ustadzah Diah juga jadi korban kebinalan antum... Pantes antum terkenal banget disini... Pasti gak cuma mereka kan yang udah dapet mantap-nantap dari antum... Dasar akhwat penggoda !" Ucap Iqbal tertawa.
Salwa shock berat. Ia tak menyangka kalau semua rahasianya bakal terkuak oleh seseorang yang paling ia benci. Tubuh Salwa bergetar. Ia sangat ketakutan. Ia pun menangis sejadi-jadinya dalam keadaan berlutut di hadapan santri tampan itu.
"Jadi, sekarang siapa yang lebih bejat, Salwa ?" Ucap Iqbal berlutut dalam keadaan satu kaki kemudian mengangkat dagu Salwa agar wajah cantiknya dapat ia tatap menggunakan matanya.
Salwa hanya menangis sambil menatap benci santri tampan itu. Iqbal hanya tertawa puas. Ia sangat puas karena bisa membuat Salwa bertekuk lutut dihadapannya.
"Nihhh ambil semuanya... Terserah mau antum apain nanti... Mau antum bakar kek.... Mau antum robek kek... Lagipula ana masih punya backupnya di kamera... Liat, masih kurang baik apa coba ana ini... Pokoknya jangan coba-coba menguak rahasia ana yah... Kalau rahasia ana bocor maka rahasia antum juga bocor... Tapi bedanya ana punya bukti tentang rahasia kebejatan antum selama ini sedangkan antum enggak... Hahahaha" Kata Iqbal yang membuat Salwa menangis.
"Makasih" Jawab Salwa karena rahasianya tidak jadi dibocorkan.
Iqbal pun pergi dalam keadaan bangga. Sedangkan Salwa terus menangis sambil mengais semua foto aibnya. Ia pun bingung bakal diapakan semua foto aibnya ini.
"Hahaha cepat atau lambat pasti foto aibmu itu bakal kusebar juga... Gak cuma dirimu kok yang bakal dikeluarkan nanti... Tapi juga dengan ustadz yang sudah merusak rumah tangga ustadz Hendra... Sekarang tinggal nyari pak Karjo nih... Ngomong-ngomong pak Karjo dimana yah ? Dari pagi kok gak keliatan" Ucap Iqbal penasaran.
SEMENTARA ITU DI TEMPAT YANG BERBEDA
Seorang ustadzah berjalan sambil memeluk buku yang ia bawa di dada. Ia juga baru saja pulang dari mengawasi ujian. Ustadzah cantik itu menunduk. Ustadzah itu berjalan sambil merenungi kejadian yang ia alami belakangan ini.
"Pagi ustadzah !!!" Ucap seseorang yang mengejutkannya.
"Ehh paggii pakk" Jawabnya terkejut.
Sejenak ustadzah cantik itu berdebar saat melihat tukang sapu itu menyapanya. Kemudian dirinya kembali tenang setelah melihat kalau tukang sapu itu bukanlah tukang sapu yang sedang ia pikirkan akhir-akhir ini.
Ustadzah bernama Hanna itu terus melaju setelah menjawab salam dari tukang sapu itu. Hanna mempercepat langkah kakinya. Ia pun mengusap dadanya perlahan untuk menenangkan jantungnya.
"Fiyyuhhh... Untung bukan pak Prapto... Tapi kenapa yah belakangan ini kok aku sering banget berzina dengannya ?" Lirih Hanna mengingat kejadian di rumah sakit itu.
Ia juga terkejut pada dirinya sendiri. Ia heran kenapa tangannya dengan berani sampai mengocok penisnya. Padahal pak Prapto sendiri tidak meminta. Justru dirinya yang tergoda oleh kejantanan penis itu. Begitu juga saat dirinya dipaksa mengulum batang penis itu kemarin. Ia tak merasa marah. Bahkan dirinya tidak merasa diperkosa. Ia justru menikmatinya saat penis kotor itu keluar masuk di dalam mulutnya.
"Hah astaghfirullah... Cobaan apa lagi ini ? Padahal aku mau menikah sebentar lagi" Ucap Hanna merenung.
Tiba-tiba dalam perjalanan pulangnya, Hanna melihat sesuatu yang membuat pijakan kakinya berhenti. Hanna terdiam membeku. Matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Mass... Anggaaa" Ucap Hanna dengan lirih.
Sekilas tidak ada yang salah dengan Angga saat itu. Ia tengah berjalan dengan seorang ustadzah yang berada di sampingnya. Namun saat Hanna menurunkan pandangannya sejenak. Ia melihat kalau tangan ustadzah itu sedang merangkul erat lengan calon suaminya.
"Kenapa ustadzah Syifa merangkul lengan mas Angga ? Kenapa juga wajah mereka tersenyum ?" Lirih Hanna sambil berkaca-kaca.
*-*-*-*

SORE HARINYA
"Ehh anti dari kemaren kemana aja ? Kok jadi jarang keliatan sih ?" Kata seorang ustadzah bertubuh montok.
"Hehe ana akhir-akhir ini emang sibuk banget Cell... Makanya ana jarang ngumpul lagi bareng anti" Ucap seorang ustadzah bertubuh indah yang sedang tersenyum cerah.
"Oalah pantesss... Emang sibuk apa sih Da ?" Tanya ustadzah bertubuh montok itu.
"Ada deh Cell... Rahasia hihihi" Tawa ustadzah bertubuh indah itu sambil menutupi mulutnya.
Nada & Rachel, dua sahabat yang sudah lama tak bertemu akibat kesibukannya masing-masing sebagai seorang ustadzah. Sebenarnya bukan karena kesibukannya sebagai ustadzah saja yang membuat mereka berdua jarang ketemu. Melainkan karena adanya gangguan dari predator seksual yang membuat mereka jarang bertemu.
Rachel akhir-akhir ini sering menghindar dari kejaran tukang sapu itu. Tidak hanya tukang sapu, kali ini ada tiga orang santri yang selalu membuntutinya untuk meminta jatah darinya. Berulang kali Rachel sampai harus mencari keramaian untuk menghindari niat mereka bertiga yang ingin menodai dirinya lagi.
Sedangkan Nada sang pemilik tubuh terindah. Dengan posturnya yang menjulang tinggi. Dengan wajahnya yang cantik jelita. Dengan kulitnya yang mulus sempurna. Ustadzah berkulit bening itu berulang kali justru menghindar dari kejaran suaminya sendiri.
Sungguh ironis, seorang laki-laki yang seharusnya melindunginya dari kejahatan laki-laki lain justru menjadi jalan pembuka bagi lelaki lain agar dapat menidurinya. Sudah tiga laki-laki selain suaminya yang sudah memperkosanya hingga dapat merasakan kelezatan jepitan vaginanya. Ia pun tidak tahu lagi andai dirinya sampai menuruti keinginan suaminya lagi. Mungkin akan lebih dari tiga lelaki yang sudah menidurinya hingga detik ini. Ironisnya lagi, seorang pejantan yang di awal menjadi pemerkosanya justru menjadi pelindung baginya sekarang.
Nada sangat bersyukur dengan kehadiran pria tambun itu. Setidaknya, ia bisa menghindar dari kejaran nafsu bejat suaminya walau dirinya harus menginap di rumah pria tambun itu.
"Hmm ngomong-ngomong anti mau kemana ? Kok rapih banget sih ?" Tanya Rachel heran.
"Hehe emang gak boleh yah... Kan emang lagi pengen jaga penampilan aja Cell" Jawab Nada.
"Ya gak biasa aja soalnya... Biasanya kalau sore kan kita cuma pake kaus santai gitu... Nah anti, udah kayak mau kencan aja hihihi... Wahhh iya, jangan-jangan anti mau keluar bareng mas suami yah ?" Goda Rachel.
"Hihihi iya... Ana mau keluar bareng mas suami" Jawab Nada berbohong. Jantung Nada jadi deg-degan andai sahabatnya itu tau kalau sebenarnya dirinya akan pergi bersama lelaki lain.
"Syukurlah... Kayaknya anti udah damai yah... Suami anti gak ada keinginan kayak gitu lagi kan ?" Tanya Rachel mempercayai jawaban Nada.
"Ehhh... Hehehe iya nih cell... Alhamdulillah" Jawab Nada baru ingat. Ia baru ingat kalau sahabatnya itu taunya dirinya masih marahan dengan suaminya. Ia jadi ingat dulu kalau dirinya sampai curhat ke ustadzah Nisa yang merupakan rekan satu bagian dari ustadzah Rachel. Ia ingat kalau dirinya sempat curhat karena tidak sanggup menuruti keinginan suaminya yang meminta dirinya agar bercinta dengan pak Heri, seorang kuli paket yang belakangan ini malah jadi sering tidur dengannya
Nada melihat ke kiri dan ke kanan karena merasa cemas. Sebenarnya ia sangat ingin sendiri karena dirinya hendak pergi bersama pak Heri. Kalau Rachel terus bersamanya, kapan dirinya bisa pergi bersama pak Heri ? Akhirnya Nada pun memberanikan diri untuk berkata kepada sahabatnya.
“Oh yah Cell, kamu gak sibuk apa sekarang ?” tanya Nada.
“Hmmm sebenernya ada sibuk sih Da... Mau ngoreksi hasil ujian tadi” jawab Rachel yang membuat Nada tersenyum.
“Kalau gitu koreksi aja Cell... Ana sebenernya mau berangkat kok heheh” ucap Nada malu-malu.
“Cieeee... Yaudah deh... Ana duluan yah Da... Wassalamualaikum” ucap Rachel pamit.
“Iya Cell... Walaikumsalam” jawab Nada tersenyum.
Tangan Nada melambai mengiringi kepergian Rachel. Nada jadi lega hingga dirinya mendesah pelan.
“Hah... Untungnya Rachel bisa pergi... Sekarang aku harus pergi ke titik keberangkatan nih” ucap Nada melirik ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu untuk melihat keadaan.
Setelah merasa tidak ada seorang pengajar yang ia kenal berada di sekitarnya. Nada buru-buru pergi menuju belakang gedung kelas. Ia menyelinap melalui gerbang pintu belakang yang biasa dilalui oleh ustadz senior menuju area persawahan.
“Eh itu dia” ucap Nada tersenyum saat melihat seseorang yang sedang duduk diatas motornya.
Saat Nada berjalan mendekatinya. Tiba-tiba orang yang sedang duduk itu menoleh ke belakang. Dirinya tersenyum dan Nada juga tersenyum.
“Selamat sore pak” sapa Nada dengan ramah.
“Sore... Eh ustadzah” jawab Pak Heri tersenyum cerah.
Nada jadi berdiri malu-malu dihadapan pria tambun itu. Tidak seperti sebelumnya. Rasanya ia jadi gugup akibat sering bertemu dengan pria paruh baya itu.
“Ustadzah apa kabar ?” tanya pria tua itu ramah.
“Ehh baik kok... Bapak juga baik kan ?” jawab Nada tersenyum.
“Kalau ustadzah baik... Berarti saya juga baik wakakakak” tawa pak Heri dengan nada khasnya.
“Hihihi alhamdulillah... Oh yah ? Kita mau kemana dulu pak ? Katanya bapak mau ngajak aku ke suatu tempat ?” tanya Nada.
“Hehehe mumpung belum terlalu sore... Kita ke café dulu yuk ?” ajak pak Heri mengejutkan Nada.
“Eh ? Aku ? ke café ? Nanti kalau aku ketahuan orang-orang pesantren gimana ?” tanya Nada khawatir.
“Tenang ustadzah... Saya akan ajak ustadzah ke tempat yang jauh dari sini” ucap pak Heri tersenyum menenangkan.
“Hmmm yaudah... Gapapa deh”jawab Nada tersenyum setelah melihat senyum pak Heri.
Nada pun duduk diatas motor yang ditunggangi oleh pak Heri. Pak Heri dengan tersenyum memberikan helm untuk menyembunyikan wajah cantik sang ustadzah.
“Yang erat yah ustadzah pegangannya... Takut ustadzah jatuh nanti... Wakakakak” tawa pak Heri ngarep.
“Iya pak... Aku bakal erat kok pegangannya” jawab Nada malu-malu.
Motor pun meluncur. Pak Heri senang karena di hari ini dirinya bisa menculik seorang ustadzah yang sudah mempunyai suami. Diam-diam pak Heri menatap ke layar spionnya. Terlihat wajah indah Nada disana. Pak Heri jadi teringat kejadian beberapa detik yang lalu saat dirinya melihat Nada datang mendekatinya.
Nada tampak cantik saat mengenakan gamis panjang berwarna coklat dengan bawahan gamis bermodel plisket. Hijab berwarna putihnya sangat cocok dengan keindahan rupa sang ustadzah. Raut wajahnya malu-malu ditambah senyumnya yang bikin segar. Sepertinya pak Heri tidak bisa tidur malam ini karena bakalan kepikiran keindahan wajah itu.
Luar biasa sekali penampilanmu ustadzah... Gak nyangka saya sudah sedekat ini dengan ustadzah. Batin pak Heri tersenyum lega.
Tiba-tiba Nada tersenyum menatapnya melalui kaca spion itu. Pak Heri ikut tersenyum. Pak Heri pun mengalihkan pandangannya karena malu.
Duhhh dikasih senyum gini aja udah bikin hati bergetar... Apalagi dikasih meki... Bisa-bisa kontol saya bergetar terus tiap hari... Wakakakak !!! Batin pak Heri tengah berbahagia.
Tak terasa mereka pun tiba di salah satu café yang berada di pusat kota. Nada turun terlebih dahulu tepat setelah motor terparkir. Baru setelah itu pak Heri turun sambil menaruh helmnya diatas kaca spion sebelah kanan.
“Sini biar saya yang naruh helmnya” ucap pak Heri dengan sopan.
“Ini pak... Makasih yah” jawab Nada senang dengan sikap pria tua itu.
Mereka berdua pun berjalan mencari meja kosong yang berada di café tersebut. Nada merasa lega saat berjalan di sebelah pria tua itu. Tidak ada orang di sekitar. Café saat itu cukup sepi. Bahkan Nada sampai diam membiarkan saat tangan pak Heri datang untuk mendekap tangannya. Wajah Nada memerah saat tangannya digenggam erat oleh pria tua itu. Diam-diam Nada pun melirik pak Heri.
“Nah kita disini aja yah... Deket sama jalan raya, kan jadi bisa ngeliat pemandangan wakakak” tawa pak Heri dengan canggung.
“Iya pak” jawab Nada tersenyum malu.
Pak Heri pun duduk di hadapan Nada. Pak Heri merasa canggung sekali ketika ada akhwat cantik yang sedang tersenyum dihadapannya. Dirinya yang tidak mempunyai banyak pengalaman dalam berkencan menjadi semakin canggung. Maklum, di usia yang sudah memasuki lima puluhan. Dirinya sudah lama sekali tidak berduaan dengan seorang wanita. Bahkan mantan istrinya dulu tidak secantik ini. Pak Heri jadi gugup. Berulang kali dirinya tersenyum tanpa suatu alasan yang jelas.
“Bapak kenapa sih senyum-senyum sendiri” kata Nada jadi canggung.
“Anu hehehe... Maaf ustadzah... Sejujurnya saya gak biasa dengan situasi kayak gini... Biasanya anak muda jaman sekarang kalau ke café ngapain yah ?” tanya pak Heri malu.
“Hihihih bapak... Kirain bapak udah nyiapin sesuatu disini... Rupanya bapak cuma pengen ngajak aku doang yah ? Ya palingan ngobrol, minum kopi sambil menikmati waktu bersama” kata Nada menjelaskan.
Oh yah minum kopi... Masa di café gak minum kopi sih ? batin pak Heri baru sadar.
“Kalau gitu... Ustadzah mau pesen kopi apa nih ?” tanya pak Heri.
“Terserah aja pak” jawab Nada tersenyum.
Waduhhh... Terserah ? Jawaban yang tidak terduga nih... Kira-kira apa yah yang ustadzah suka ? Batin pak Heri terkejut dengan jawaban Nada.
“Terserah tuh, merek kopi baru yah ustadzah ? Saya kok baru tau kalau ada kopi yang namanya terserah ?” ucap pak Heri yang membuat Nada tertawa.
“Hihihih maksudnya tuh ya terserah bapak aja mau mesen kopi apa... Kalau aku mintanya apa yang aku suka... Nanti kalau uang bapak gak cukup gimana ?” tanya Nada dengan ceria.
“Ohhhh tenang aja... Coba ustadzah liat menu aja deh... Nanti saya yang bayar kok” ucap Pak Heri dengan yakin.
“Beneran nih ? Serius yah ? Awas nyesel” kata Nada mewanti-wanti terlebih dahulu.
“Iya ustadzah... Silahkan pesan apapun yang ustadzah suka” kata pak Heri percaya diri.
“Kalau gitu aku pesen vanilla latte venti aja deh pak” ucap Nada sambil memberikan daftar menu ke pak Heri.
“Va... Vaanilla apa ? Susah amat namanya ustadzah... Berapa emang harganya ?” tanya pak Heri sambil melihat daftar harga. Seketika mata pak Heri terbuka lebar.
“Vanilla Latte Venti pak hihihi” tawa Nada.
Astaga ! Kok mahal-mahal amat yah harganya ? Batin pak Heri hingga berkeringat dingin.
Nada tersenyum sambil melihat ekspresi pak Heri. Ia sepertinya tahu tentang apa yang dirasakan oleh pria tua itu saat melihat harganya.
“Bingung milih kopi yang mana apa bingung setelah ngeliat harganya pak ? Hihihih” tawa Nada yang membuat wajah pak Heri memerah.
“Ehhh anuuu” jawab pak Heri sambil menggaruk-garuk rambutnya yang tipis. Pak Heri benar-benar malu. Ia pun bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
“Hihihihi lagian bapak milih café yang banyak warna hijaunya... Café yang banyak warna hijaunya kan emang mahal-mahal loh pak... Makanya tadi aku bilang terserah bapak aja hihihi” tawa Nada yang membuat pak Heri malu sekali.
“Hehe gitu yah ustadzah ? Saya kurang tau soalnya... Saya taunya disini sering ramai... Makanya saya pilih disini” ucap pak Heri yang membuat Nada terharu. Nada terharu karena sepertinya pak Heri ingin mencarikan tempat yang terbaik ketika ingin bertemu dengannya.
“Hihihi yaudah... Aku ngikut bapak aja deh... Bapak pesen apa nanti disamain deh” ucap Nada pengertian.
“Heheh maaf yah ustadzah... Hmmm air putih aja ada gak yah ?” ucap pak Heri yang lagi-lagi membuat Nada tertawa.
“Ya jangan air putih juga lah pak... Aku malu” ucap Nada terkejut mendengarnya.
“Hmmm sebentar... Nah ini aja deh... Freshly Brewed Coffee Short” ucap Pak Heri tampak kesulitan saat mengucapkannya.
“Yaudah deh aku ikut aja” ucap Nada tersenyum.
“Bentar yah saya pesankan dulu” ucap pak Heri menuju kasir.
Nada hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ia pun duduk menanti sambil membuka ponselnya.
“Ada-ada aja pak Heri... Hihihih lucu banget deh kalau inget tadi” ucap Nada sambil membalas chatt dari teman-temannya.
“Fiyuhhh... Untung aja ada menu yang harganya dibawah dua puluh ribu... Bakal tekor nih kalau saya sering kesini... Untungnya ustadzah orangnya pengertian... Duhhh udah cantik, manis, baik hati lagi... Jadi makin sayang deh” lirih pak Heri sambil diam-diam menoleh tuk melirik ustadzah cantik itu.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN
“Sllrrpppp... Hmmm seger” ucap Nada setelah menyeruput kopinya.
“Gimana ustadzah ? Enak kan ?” tanya pak Heri sambil mencoba kopinya juga.
“Enak banget pak... Menyegarkan pikiran gitu” ucap Nada sambil menyeruput kopinya lagi.
“Wakakakak syukur deh kalau ustadzah suka” ucap pak Heri lega.
“Hihihi oh yah emang bapak gak pernah ke café sebelumnya ?” Tanya Nada penasaran.
“Hmmm... Paling pernahnya ke warung kopi bareng mantan istri saya dulu” Jawab pak Heri sambil menyeruput kopinya lagi.
“Mantan ? Eh bapak udah pernah nikah ?” tanya Nada terkejut.
“Iya ustadzah... Tapi udah gak lagi... Udah jadi duda sekarang saya wakakakak” jawab pak Heri tertawa.
“Ehh maaf pak udah nanya gitu tadi” ucap Nada merasa tidak enak.
“Wakakak... Tenang itu udah lama banget kok... Saya aja udah lupa gimana wajah mantan istri saya dulu” ucap pak Heri.
“Hmmm emang kalau boleh tau... Bapak pisahnya kenapa ? Padahal bapak kan orang baik perasaan” ucap Nada semakin penasaran.
“Ya gitu deh ustadzah... Rumit... Saya sebenernya juga gak tau kenapa alasannya... Tiba-tiba istri saya pergi gitu aja... Denger-denger kata kenalannya, dia pergi bersama selingkuhannya” ucap pak Heri yang membuat Nada terkejut.
“Eehhh maaf lagi pak... Maaf... Bener deh... Maaf udah bikin bapak nginget kejadian itu lagi” ucap Nada menyesal.
“Wakakakak.... Tenang aja ustadzah... Bukan urusan saya lagi kok... Biarin aja wanita itu mau bertindak apa... Saya juga udah ikhlas” ucap pak Heri tersenyum untuk menenangkan Nada.
“Hmmm kok ada yang tega gitu sih ke bapak ?” lirih Nada heran.
“Wakakak... Biarin aja ustadzah... Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya... Liat aja sekarang... Saya jadi bisa deket sama wanita secantik ustadzah” ucap pak Heri yang membuat Nada tersenyum malu.
“Dasar... Bisa aja gombalnya” ucap Nada malu-malu.
“Oh yah... Ngomong-ngomong... Ustadzah suka lelaki yang kayak gimana ?” tanya pak Heri mengalihkan pembicaraan.
“Aku sih sukanya yang bertanggung jawab pak... Iya, pokoknya akhir-akhir ini aku lebih suka yang bertanggung jawab” ucap Nada tersenyum.
“Bukan yang ganteng nih ? Wakakakak” ucap pak Heri iseng.
“Ganteng mah nomor sekian pak... Wanita itu lebih suka laki-laki yang bertanggung jawab... Kalau udah bertanggung jawab nanti kan gantengnya bakal dateng sendiri hihihi” ucap Nada yang membuat hati pak Heri lega. Pak Heri lega karena dirinya bisa masuk ke kriteria yang Nada inginkan.
"Wakakak... Untungnya saya orangnya bertanggung jawab... Bisa dong saya masuk ke kriteria ustadzah" Ucap pak Heri mupeng.
"Hihihi bisa aja nih bapak... Aku gak nyangka kalau obrolan tadi muaranya kesini" Ucap Nada takjub.
"Wakakakak... Selain bertanggung jawab... Emangnya ustadzah suka laki-laki yang kaya gak ?" Tanya lagi pak Heri iseng.
"Hihihi siapa sih wanita yang gak suka laki-laki kaya... Tapi selama dia bisa menafkahi keluarganya itu udah cukup kok bagi aku... Gak perlu kaya-kaya banget... Yang ada malah jadi inceran cewek-cewek genit nanti hihihi" Jawab Nada sambil bercanda.
"Wakakakak bener banget... Untungnya saya masuk kriteria ustadzah semua... Bisa lah saya daftar jadi suami ustadzah" Tawa pak Heri mupeng.
"Hihihi ada-ada aja becandanya... Lagipula aku masih milik suami aku... Gak mungkin juga aku menikah dengan lelaki lain sekarang" Jawab Nada yang membuat pak Heri terdiam.
Tiba-tiba pak Heri melihat cincin yang masih melingkar di jemari Nada. Ia baru sadar kalau Nada memang akhwat yang setia. Tidak mungkin baginya untuk menikahinya kalau Nada masih menjadi istri dari ustadz bejat itu. Pak Heri jadi kepikiran sesuatu.
Gimana yah caranya agar ustadzah Nada bisa cerai dengan ustadz itu agar saya bisa menikahinya nanti ?
Batin pak Heri berfikir.
"Pakkk... Udah mau maghrib nih ? Apa gak sebaiknya kita pulang aja ?" Tanya Nada.
"Eh udah mau maghrib yah ?" Tanya pak Heri saat terbangun sambil melihat sekitar.
"Lagian kopinya juga udah habis kan ? Soalnya kopinya dikit banget sih hihihi" Tawa Nada.
"Hehehe maaf yah ustadzah... Modal saya pas-pasan... Yaudah kita pulang yuk" Ajak pak Heri.
"Yuk" Jawab Nada tersenyum.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan kafe tersebut untuk kembali ke rumah kontrakan pak Heri. Dalam perjalanan pulang pak Heri kembali berfikir. Ia merenungi sesuatu yang mengganjal pikirannya. Memang sudah beberapa hari ini Nada tinggal di rumahnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan Nada tidak lagi menolak ketika pak Heri ingin bercinta dengannya. Tapi dari jawaban Nada tadi, pak Heri merasa kalau Nada lebih menyukai hubungan tanpa status dengannya. Sepertinya Nada tidak ingin meninggalkan status dirinya sebagai istri dari ustadz Rendy.
Lagipula kami juga gak seiman... Apa jangan-jangan itu yah pertimbangan ustadzah Nada menjawab pertanyaan saya seperti tadi... Apa jangan-jangan ustadzah Nada berusaha menolak ajakan saya dengan halus ? Seharusnya ustadzah Nada udah paham kan kalau saya tuh serius ingin menikahinya.
Batin Pak Hari kepikiran.
Hmmm kayaknya iya deh... Mana ada wanita yang mau bertahan setelah disakiti berulang kali seperti itu... Pasti alasan ustadzah Nada berusaha terlihat setia di depan saya hanya karena ingin menolak ajakan saya untuk menikahinya... Hmm emang dalam kepercayaannya ustadzah Nada gak boleh yah nikah kalau gak seiman ? Ustadzah Nada kan seorang ustadzah... Pasti ustadzah Nada bakal memegang teguh kepercayaannya itu.... Hmmm kalau kayak gini, haruskah kami menyamakan iman kami ?
Batin pak Heri sambil melihat hijab yang Nada kenakan dari spion motornya. Ia membayangkan andai Nada tidak mengenakan hijabnya sekarang.
Sesampainya di rumah tepat setelah pak Heri memasukan motornya ke dalam. Pria tua itu mempersilahkan tamu istimewanya untuk masuk. Pak Heri bahkan sampai menjulurkan tangannya ke ustadzah cantik itu. Nada dengan senang hati meraih juluran tangan pak Heri. Mereka berdua pun masuk untuk duduk di ruang tamu pak Heri.
"Gimana tadi ustadzah Jalan-jalannya ?" Tanya pak Heri saat duduk di sebelah Nada.
"Seru kok pak... Udah lama aku gak di ajak jalan ke kota" Jawab Nada tersenyum.
"Hufttt untungnya... Saya sempet kepikiran tadi... Untungnya ustadzah senang setelah saya ajak Jalan-jalan meskipun tadi cuma bisa mesen kopi murah hehe" Ucap pak Heri malu.
"Hihihi lagian Bapak sih... Berani banget ngajak aku ke kafe itu" Ucap Nada sambil memandang pria tua yang sedang mengenakan kemeja itu.
"Wakakakak... Namanya juga awam soal urusan begituan... Selama ustadzah seneng... Saya mah ikut seneng aja" Ucap pak Heri sambil memperhatikan wajah cantik Nada.
Untungnya Nada sedang menunduk sehingga pak Heri bisa bebas memperhatikan keindahan wajah cantik itu. Tapi lagi-lagi pikiran soal itu menghantui diri pak Heri. Ia sangat ingin menikah dengan Nada. Ia tidak mau kalau hanya bisa menyetubuhinya saja. Pokoknya ia menginginkan adanya ikatan diantara mereka berdua. Apa benar karena masalah keimanan dirinya jadi tidak bisa menikahinya ?
"Oh yah ustadzah... Ngomong-ngomong apa pendapat ustadzah tentang pernikahan" Ucap pak Heri yang mengejutkan Nada.
"Ehhh kok bapak nanyain itu sih"
"Heheh cuma penasaran aja... Menurut ustadzah pernikahan itu seperti apa sih ?" Ucap pak Heri berusaha untuk membaca pola pikir Nada.
"Nikah yah ? Nikah itu ya semacam ikatan yang disepakati oleh sepasang manusia yang beriman untuk hidup bersama dan saling menyayangi dalam setiap jalan hidup yang dilewati" Jawab Nada sambil tersenyum. Sekilas jawaban Nada memang terlihat biasa-biasa saja. Namun ada satu kata yang membuat pak Heri merasa kurang sreg.
Beriman ?
Batin pak Heri.
"Hmmm ngomong-ngomong apa pendapat ustadzah soal pernikahan beda agama... Tadi saya baca koran soalnya sekarang lagi marak di Indonesia" Ucap pak Heri demi menutupi pertanyaan pribadinya.
"Wahhh... Kalau menurut kepercayaan saya ya itu kurang tepat... Kalau bisa yang seiman kenapa harus yang gak seiman" Jawab Nada yang membuat hati pak Heri terasa perih.
"Hmmm emang kenapa harus seiman sih ustadzah ? Apa karena terhalang restu orang tua ? Kan bisa nikah secara diam-diam ?" Tanya pak Heri sekali lagi.
"Tapi kan menurut kepercayaanku nikah harus dapet restu dari orang tua... Kalau nekat ya bisa-bisa malah kualat pak" Jawab Nada yang membuat hati pak Heri semakin perih.
"Hmmm gitu yah... Kalau misalnya nih... Di dunia ini hanya ada dua laki-laki yang tersisa... Laki-laki satu merupakan lelaki yang seiman dengan ustadzah tapi mempunyai sikap yang buruk sedangkan laki-laki dua merupakan lelaki yang enggak seiman tapi mempunyai hati yang baik... Ustadzah lebih baik nikah dengan siapa ?" Tanya pak Heri penuh harap.
"Laki-laki satu yang seiman yah pak ? Aku pilih laki-laki satu aja... Walau pasti hidupku bakal berat" Jawab Nada tanpa ragu yang mengejutkan pak Heri.
"Kok bisa ?" Ucap pak Heri reflek.
"Ya meski berat tapi kan aku butuh laki-laki yang bisa bimbing aku ke surga-Nya... Kalaupun aku dapet laki-laki yang gak bener... Mungkin itu ujian buat aku untuk merubahnya... Eh iya Iyah... Apa itu yah alesan aku dinikahi oleh mas Rendy... Mungkin ini cobaan buat aku untuk merubahnya... Wah iya baru kepikiran... Makasih yah pak, aku jadi kepikiran soal ini" Ucap Nada tersenyum tanpa mengetahui kalau hati pak Heri semakin tersakiti. Pria tua itu tidak menyangka dengan jawaban yang ustadzah cantik itu berikan.
Kenapa ustadzah malah lebih memilih suami yang bejat daripada suami yang baik hati ? Semuanya hanya karena seiman ? Kenapa ?
Batin pak Heri tidak menyangkanya.
"Tttaaa... Tappii kan... Ustadzah bisa hidup tenang di dunia kalau bisa menikah dengan laki-laki yang tidak seiman ?" Ucap pak Heri berusaha tuk menggoyahkan keyakinan Nada.
"Iya sih pak... Tapi kan dunia sementara... Semua akan bermuara ke akhirat... Menurut keyakinan aku... Setiap laki-laki yang mempunyai iman meski hanya sebiji sawi itu lebih baik daripada lelaki baik tapi tidak memiliki iman sama sekali... Hehehe maaf yah pak kalau tersinggung, ini menurut keyakinanku aja soalnya" Ucap Nada dengan bahasa sesopan mungkin.
"Karena iman itu ibarat tiket ke surga pak... Kalau kita gak punya tiketnya ya gimana kita bisa masuk ?" Lanjut Nada yang membuat pak Heri geleng-geleng kepala.
Pak Heri pun mengakui kalau Nada adalah ustadzah. Ustadzah yang memegang teguh imannya. Jalan untuk menikahinya akan sangat terjal dengan segala hal yang ia punya sekarang.
"Tappiii... Tappiiii saya mencintai ustadzah loh... Saya serius ingin nikah dengan ustadzah" Ucap pak Heri mengejutkan Nada.
"Ehh... Bapak mau menikahi aku ? Bapak serius" Ucap Nada terkejut.
"Jujur... Saya sangat mencintai ustadzah bahkan sejak lama... Coba ustadzah tanya pada diri sendiri... Ustadzah juga punya rasa ke saya kan ?" Ucap pak Heri penuh harap.
"Kalaupun ya... Kita gak akan mungkin bisa menikah pak... Karena aku udah punya prinsip untuk menikahi saudara seiman entah seburuk apapun dia, entah itu fisiknya atau sifatnya... Aku hanya mau menikah dengan saudara seiman" Ucap Nada yang membuat mata pak Heri berkaca-kaca.
"Tapi kenapa ? Kenapa ustadzah ?" Tanya pak Heri sampai berlutut dihadapan Nada yang masih terduduk.
"Bapak kenapa sih... Udah berdiri pak... Aku jadi gak enak... Aku udah jelasin kan tadi... Aku butuh tiket ke surga pak" Ucap Nada teguh.
"Mana bisa ustadzah ke surga hanya karena menikahi saudara seiman ? Apalagi ustadzah lebih memilih lelaki yang bejat seperti itu.
"Kan aku udah bilang pak tadi... Mungkin itu cobaan buatku tuk merubahnya... Mungkin satu-satunya cara agar aku bisa menolong suamiku ya dengan cara merubahnya... Kalau pun gak sanggup merubahnya maka semua kesabaran yang aku usahakan bakal jadi pahala yang pasti bakal jadi bekal aku ke surga... Lagian cepat atau lambat suami aku juga bakal masuk surga kok walau harus dibersihkan dulu di neraka" Ucap Nada menjelaskan.
"Kalau saya berpindah keyakinan apa bisa kita menikah ustadzah" Tanya pak Heri penuh harap.
"Hmmm mungkin" Jawab Nada singkat meski sambil memalingkan wajah.
"Bagus lah... Harapan itu masih ada" Ucap pak Heri tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Bapak kenapa sih, kenapa jadi kayak gini ? Bukannya bapak dulu janji buat nyadarin suami aku ?" Tanya Nada.
"Nyadarin ?" Tanya pak Heri heran.
"Bukannya bapak bilang mau bertanggung jawab dengan perlakuan bapak ke aku dulu ? Bapak janji akan merubah semuanya kembali seperti semula kan ? Salah satunya dengan mengembalikan pola pikir suami aku lagi kan ?" Ucap Nada yang membuat pak Heri terdiam.
Jadiii.... Jadiii inii yang ustadzah Nada pikirkan selama ini ? Semua agar ustadzah Nada bisa kembali ke pelukan suaminya ? Batin pak Heri tak percaya.
"Apa jangan-jangan bapak selama ini kepikiran untuk menikahiku ? Di tengah cobaan yang menimpa keluarga kecilku ? Aku kira omongan bapak selama ini becandaan... Tapi aku sudah menikah pak... Gak mungkin juga aku menikah dengan orang lain ditengah pernikahanku sekarang" Ucap Nada yang membuat pak Heri berasa seperti jatuh ke lubang jurang terdalam.
"Bercanda ? Bukannya kita sudah sering melakukan segala hal bersama ustadzah ? Kita juga sering tidur bersama... Bahkan ustadzah juga rela saya setubuhi saat itu... Bahkan saat di warung bakso itu... Ustadzah sampai mau disebut pacar oleh teman saya" Ucap pak Heri masih tak menyangka.
"Iya aku tau pak... Aku inget semuanya... Maaf, waktu itu aku emang lagi down banget... Aku benar-benar takut setelah diperkosa oleh dua orang itu... Aku juga inget kok pas kejadian di warung bakso itu... Sejujurnya ya, aku emang suka bapak... Aku suka sifat bapak... Bapak orangnya baik, bapak orangnya lucu dan bapak orangnya mau bertanggung jawab... Tapi untuk menikah dengan bapak... Sepertinya gak mungkin aku menikah dengan bapak... Pertama, karena aku sudah mempunyai suami... Kedua, aku punya prinsip yang harus aku jaga yaitu aku cuma mau menikah dengan seseorang yang seiman denganku.... Ketiga, orang tuaku pasti akan marah kalau aku sampai menikah dengan bapak yang notabene bukan saudara seiman" Ucap Nada dengan tegas.
Pak Heri tidak mempercayai apa yang ia dengar. Kedua kakinya lemas. Tubuhnya terasa lemah. Ia benar-benar shock dengan apa yang dengar.
"Maaf kalau selama ini sikap aku udah bikin harapan bapak untuk menikahiku tumbuh... Sejujurnya aku berterima kasih banget karena udah diberi tempat tinggal sehingga aku bisa terlindungi dari kejaran suamiku... Sejujurnya aku bingung banget gimana caranya agar aku bisa membalas kebaikan bapak... Makanya aku kadang nurut aja kalau bapak ingin ini ingin itu... Termasuk bapak yang ingin meniduriku... Aku tau ini salah tapi sejujurnya aku udah merasa nyaman dengan bapak jadinya aku gak mempermasalahkan hal itu... Tapi kalau bapak ingin meminta lebih salah satunya dengan menikahiku... Maaf, aku akan menolak pak... Aku gak bisa kalau menuruti keinginan bapak yang itu... kalau kehadiran aku disini hanya akan memperbesar keinginan bapak untuk menikahiku... Lebih baik aku pulang aja... Aku akan memperbaiki urusan keluargaku sendiri... Makasih juga yah pak untuk pencerahannya... Aku jadi sadar kalau mungkin ini ujian kesabaran bagiku untuk dapat menyadarkan pola pikir suamiku” kata Nada beranjak berdiri untuk pergi pulang ke pondok pesantren lagi.
“Tungguuu ustadzah” ucap Pak Heri ikut berdiri sambil menahan tangan Nada.
“Ada apa lagi pak ?” tanya Nada sambil menolehkan wajahnya ke belakang.
“Apa ustadzah ragu dengan cinta saya ? Apa ustadzah perlu bukti lebih agar ustadzah bisa percaya dengan cinta saya ?” kata pak Heri dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sudah bilang pak... Ini bukan soal pembuktian... Tapi ini soal prinsip hidup yang aku jalani... Aku ini seorang istri pak... Aku ini seorang ustadzah... Ya benar mungkin aku sudah ternoda tapi setidaknya biarkan aku menjaga prinsip hidupku pak” kata Nada melepaskan diri dari tangan pak Heri. Nada pun berjalan keluar menuju pintu keluar.
“Ustaddzaaahhh... Ustaadzaahh !” sebut pak Heri sambil mengejarnya.
“Eehhhh bapaakkkk !!!” kata Nada terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang.
“Saya tidak paham dengan apa yang ustadzah katakan... Tapi kalau ustadzah perlu bukti... Maka akan saya berikan” ucap pak Heri sambil menaikan tangannya tuk meremas payudara sang ustadzah.
“Baappaakkk... Mmpppphhhhh... Lepasskkaannn... Mpphhh” desah Nada sambil memejam.
“Saya mencintaimu ustadzah... Saya bahkan rela menjemputmu di pesantren agar ustadzah bisa tinggal bersama saya disini... Apa itu belum cukup ustadzah ?” Ucap pak Heri sambil meremas dua payudara bulat yang sangat kenyal.
“Aahhhhh... Aahhhhhh... Hentikannn pakkk... Hentiikannnn” desah Nada sambil memegangi kedua tangan pak Heri.
Dada Nada diremas. Jemari pak Heri mencengkram kuat tonjolan indah yang menyembul dari balik gamis yang Nada kenakan saat itu. Suara desahan Nada yang terucap membangkitkan gairah birahi pak Heri yang semakin menjadi. Desahan Nada sungguh manja. Desahannya sangat menggairahkan. Jemari pak Heri jadi lebih bersemangat dalam meremasi buah dada yang ukurannya menyerupai buah pepaya itu.
“Aahhhhh... Dari dulu saya sangat menyukai susumu ini ustadzahh... Susumu gede, susumu kenceng... Susumu kenyal-kenyil banget yang bikin saya gak nahan buat ngeremesin benda ini terus” ucap pak Heri dengan penuh nafsu.
“Aaahhhhh henntikannn pakk... Hentikannn... Aahhhhhhh” desah Nada memejam.
Tubuh Nada pun ditariknya kemudian disandarkan pada dinding rumah. Pintu yang tadi terbuka sudah pak Heri tutup. Kini wajah mereka saling berhadapan. Nampak wajah indah Nada dengan mata yang berkaca-kaca. Nampak wajah pak Heri yang sedang dilanda birahi tinggi. Pak Heri menjilati tepi bibirnya sendiri. Ia sangat bernafsu pada keindahan rupa yang dimiliki oleh ustadzah cantik itu.
“Indah sekali wajahmu ustadzah... Pipimu yang halus ini... Bibirmu yang manis ini... Ouhhh saya jadi gak nahan ingin menikmatinya lagi” ucap pak Heri sambil membelai wajah indah sang ustadzah.
“Pakkkk tolloongggg... Jangann lakukan ini pakkk... Aku gakkk mauuu... Aku gakkk mau kalau bapak memaksaku seperti ini... Akuuuu mmpphhhhh” desah Nada memejam saat bibir manisnya itu dicumbu oleh bibir pria tua itu.
Kekuatan yang dimiliki oleh pria tambun itu jelas tidak sebanding dengan kekuatan Nada. Nada pun hanya bisa memejam. Bibirnya dengan pasrah dipagut oleh bibir tebal kurir pengantar paket itu dengan penuh nafsu. Terasa hidung Nada geli saat tergesek oleh kumis yang dimiliki oleh kurir pengantar paket itu. Nada sampai mendengus pelan saat merasakan jepitan bibir kurir itu yang semakin bernafsu dalam memagutnya.
“Mmphhh ahhhh... Hah... Hah... Indah sekali wajahmu ustadzah ?” pujinya setelah melepas cumbuannya sejenak untuk menatap wajah cantik Nada dengan penuh nafsu.
“Hentiikann pakk... Aku udah bilang duluuu kannn... Kalau aku gak suka ketika ada orang yang... “ desah Nada terputus saat bibir itu kembali datang untuk mencumbu bibirnya.
Bibir mereka kembali bertemu untuk saling mengecup, saling mendorong dan saling bertubrukan. Pak Heri pun menggunakan lidahnya. Awalnya lidah pak Heri melakukannya dengan penuh kelembutan. Lidah Pak Heri perlahan keluar untuk menjilati bibir tipis sang ustadzah. Lidah pria tua itu pun bergerak mengoles bibir kering bidadarinya menggunakan liurnya.
Nada yang sedang diperkosa terus merapatkan bibirnya. Namun remasan kuat yang dilakukan oleh kurir itu pada payudaranya membuat mulutnya terbuka. Akibatnya, lidah mereka malah bertemu di dalam. Mereka pun saling menjilat, lidah mereka bertubrukan, lidah mereka saling menggesek menikmati rasa dari percumbuan yang semakin nikmat.
Walau sedang diperkosa, perlahan nafsu Nada mulai membara setelah nafas sang bidadari semakin berat. Dadanya sampai naik turun. Ia begitu menikmati percumbuannya dengan sang kurir. Kendati demikian sikap memaksa yang pak Heri lakukan membuatnya tak nyaman. Terkadang ia berontak untuk menghentikan nafsu birahi yang dimiliki oleh pak Heri.
Ya Nada memang sedang bernafsu. Cara pak Heri dalam merangsang birahinya jauh berbeda dengan cara suaminya. Nada pun mengakui dalam hati bahwa rangsangan yang kurir itu berikan pada payudaranya saja sudah cukup untuk membuat tubuhnya merinding. Apalagi dengan cara mencumbunya yang berada di tingkatan tertinggi. Namun ia menyayangkan sikap pak Heri yang begitu memaksanya dalam memuaskan nafsu birahinya. Seakan semua rangsangan yang pak Heri berikan tidak ada artinya lagi. Nada jadi marah. Ia pun berusaha mendorong pak Heri agar bisa menjauh darinya.
“Mmmpphhhh hentikkann pakkk... Akuuu mauu pulanggg... Aku gak mauuu melakukan ini pak !” ucap Nada berontak.
“Untuk apa ustadzah pulang... Mmmpphhh... Lebih baik ustadzah disini saja dengan saya... Saya janji akan memuaskan nafsu ustadzah... Saya mmmpphhh... Saya akan membuat ustadzah puas dengan semua sodokan kontol saya !” ucap pak Heri terus mencumbu sambil melecehkan ustadzah pemilik body goals itu.
“Henntikkann pakkk... Akuu gak mauu semmuua itu... Aku mauu pulangg pak... Akuu mauu pulang ke rumah !” Ucap Nada keukeuh di tengah-tengah cumbuannya.
“Kenapa ustadzah ? Apa kurang bukti saya ? Coba ini... Pegang ini ustadzah... Pegang punya saya ini” kata pak Heri sambil mengarahkan tangan Nada ke arah selangkangannya.
“Mmpphhhhh” desah Nada sambil membuka matanya lebar. Matanya pun melirik ke bawah tuk melihat ukuran batang penis raksasa yang berwarna sangat hitam itu. Ia pun terkejut sejak kapan batang penis itu sudah keluar dari sarangnya.
“Mmpphhhh... Ayo ustadzah... Kocok kontol saya... Ouhhh yahhh seperti itu ustadzah... Ouhhhhh” desah Pak Heri sambil membimbing tangan Nada agar mau membelai batangnya yang tak ia sunat.
“Mmpphhh hentikannn... Henntikkann pakkkk” desah Nada kembali memejam sambil menahan tangannya agar berhenti mengocok batang penis itu. Namun tangan pak Heri terus memaksanya sehingga tangannya terus bersentuhan dengan kulit batang penis berwarna hitam itu.
Tangan Nada dengan perlahan memaju mundurkan batang penis pria tambun itu. Dikala kocokannya maju. Jempolnya dipaksa menekan-nekan ujung kulup dimana lubang kencingnya berada. Reflek pak Heri mendesah pelan ditengah cumbuan yang masih mereka lakukan. Pak Heri pun membalas perlakuan jemari Nada dengan meremasi payudara berbentuk bulat sempurna itu. Karena gemas, ia buru-buru melepas satu demi satu kancingnya hingga empat kancing teratas gamis Nada telah terbuka. Tak perlu menunggu lama, pak Heri langsung menurunkan cup bra yang Nada kenakan.
“Mmmpphhh pakkkk” desah Nada terkejut kalau tubuh bagian atasnya sudah terbuka.
Tepat setelah pak Heri menurunkan cup bra yang ustadzah cantik itu kenakan, pria tua berperut tambun itu terkejut saat dirinya menatap bulat-bulat payudara yang dimiliki oleh bidadari berhijab itu. Ia terkejut karena ukuran dada Nada membesar. Bahkan saat ia kembali meremas payudara itu, caplokan tangan kanannya tak sanggup untuk meremas keseluruhan payudara bulat itu. Pak Heri hanya geleng-geleng kepala menyadari ukuran payudara Nada yang bisa membesar secepat itu.
“Indah sekali susumu ini ustadzahh... Hah... Hah... Saya jadi makin gemes tuk memainkan susumu ini” ucap Pak Heri sambil menekan puting payudara Nada.
“Pakkkk mmppphhhhhh” desah Nada yang juga tak kuasa saat puting payudaranya dimainkan oleh jemari kurir tua itu.
Mereka pun berhenti bercumbu. Terlihat tatapan mata mereka yang sayu seolah tak mau kehilangan kenikmatan yang sedang mereka rasakan. Terutama pak Heri yang terlihat dari kedua matanya kalau ia ingin melanjutkan aksi nikmatnya bersama ustadzah idolanya.
“Mmpphhh ustadzahh... Akhirnya saya bisa mainin ini lagi... Mmpphh susu ustadzah kok rasanya kenceng banget sih... Saya gak nahan” ucap pak Heri sambil meremasi payudara indah yang tergantung tepat di hadapan matanya.
“Mmpphhh hentikann pakkk... Aku sudah bilang kalau gak mau melakukannya sekaranggg... Aahhhh... Cukuppp pakkk... Akuuu aaaahhhhhh” jerit Nada sambil menahan tangan pak Heri. Ia terkejut saat puting payudaranya langsung di sosor oleh pria tua itu. Efeknya, Nada jadi semakin manja dalam mendesah mengekspresikan kenikmatan yang ia rasakan.
“Mmpppphhhh... Mmppphhh” desah Pak Heri saat merasakan kenikmatan ganda dari bibirnya saat mencumbu payudara besar itu serta rangsangan birahi melalui jeritan penuh kepuasan yang Nada berikan.
Bibir pak Heri jadi semakin rapat dalam mengapit puting yang sedang ia jepit. Lidahnya yang ada di dalam juga bergerak dengan menggelitiki puting indah yang berwarna merah muda. Pak Heri sungguh beruntung di sore hari itu. Sebenarnya di sore hari ini dirinya tidak merencanakan untuk menyetubuhi akhwat berhijab itu lagi. Namun keadaan justru memaksanya tuk membuktikan rasa cintanya kepadanya. Pak Heri bertekad untuk memberikan Nada kepuasan sebagai bukti cintanya kepadanya.
“Aahhhhh... Saya udah gak tahan lagi ustadzahhh... Saya pengen genjot memek ustadzah sekarang” ucap pak Heri terengah-engah yang membuat wajah Nada memerah.
Apa lagi ? tolongg pakk jangannn... Akuu gak mau melakukan ini pakkkk !!!
Batin Nada memohon.
Tali yang melingkar di pinggang Nada dilepas. Sisi bawah gamisnya yang panjang sudah ia angkat. Pak Heri tanpa ragu menurunkan celana dalam yang ustadzah cantik itu kenakan. Nampak penis besarnya bersinar ingin menyundul rahim kehangatan akhwat berhijab itu lagi. Pak Heri pun berniat untuk merangsang vaginanya terlebih dahulu. Namun saat mengetahui kalau vagina Nada sudah sangat basah membuatnya ingin segera menusukan batang penisnya. Pak Heri langsung mengangkat kaki kanan Nada dan bersiap untuk menancapkannya segera.
“Paakkkk akuuu mohhonn... Jangann... Aku gakk mauu pakkk” ucap Nada pasrah sambil menatap mata pak Heri.
“Hah... Hah... Hah... Ini bukti cinta saya padamu ustadzah... Hennkkgghhhh !!!” ucap pak Heri menghiraukan perkataan Nada sambil menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya.
“Aaaaahhhhhhhh” desah Nada menjerit manja.
Penis hitam yang tak ia sunat itu langsung masuk setengahnya. Walau baru setengahnya saja yang masuk ke dalam. Ia sudah dapat merasakan jepitannya yang sangat-sangat nikmat. Ujung kulupnya dijepit. Dinding vagina Nada begitu sempit. Kurir tua itu sampai memejam saat merasakan batang penisnya diapit. Rasa vaginanya begitu legit namun Nada hanya bisa menjerit karena ia merasakan sakit.
Penis itu dengan perkasa terus membuka jalan agar dapat menyundul rahimnya. Berulang kali pak Heri menggunakan cara tarik ulur agar bisa memasukan keseluruhan penisnya. Sesekali pak Heri menarik penisnya pelan kemudian menancapkannya dengan kuat. Lagi ia menariknya pelan kemudian mendorongnya dengan kuat. Pak Heri sampai terengah-engah saat merasakan nikmatnya jepitan vagina Nada. Nada sendiri tak berdaya. Ia hanya sanggup memejam menahan sodokan penis pria tua itu di rongga vaginanya.
Pak Heri dengan terburu-buru melepaskan kemeja yang masih ia kenakan. Kancingnya ia lepas. Ia melakukannya sambil menatap wajah Nada yang sedang tertunduk lemas. Namun nafsu yang sudah berkuasa membuat pak Heri hanya ingin memuaskannya segera. Setelah seluruh kancing kemejanya terlepas. Setelah perut tambunnya muncul ke permukaan. Pak Heri kembali melakukan penetrasinya untuk menancapkan batang penisnya sedalam-dalamnya.
“Heennkkgghhh !!!” desah pak Heri yang akhirnya bisa memasukan keseluruhan penisnya.
“Aaaahhhhh bapaaakkkk” Jerit Nada hingga menatap langit-langit ruangan.
Ustadzah berhijab yang masih mengenakan gamisnya itu kewalahan. Kancing gamisnya sudah terbuka bahkan bawahannya sudah terangkat naik. Nampak paha mulus Nada menggoda birahi pak Heri. Pak Heri mengusapnya pelan sambil mulai memaju mundurkan pinggulnya tuk mengoyak rahim kehangatan Nada.
“Aahhhh... Aahhhh... Aaahhhhh” desah Nada merem melek sambil membuka mulutnya sedikit.
Wajah Nada yang terlihat menggairahkan justru menambah birahi yang dimiliki oleh pak Heri. Pak Heri semakin bernafsu saat menatap wajah Nada. Ia pun berniat untuk mencumbui bibir indah itu lagi.
“Hah... Hah... Hah... Indah sekali wajahmu ustadzah... Saya jadi gak nahan pengen nyium bibir ustadzah lagi” ucapnya hingga wajah Nada dapat merasakan deru nafasnya yang hangat.
“Paaaak !!” ucap Nada menggelengkan kepala. Namun pak Heri sudah terlanjur nafsu. Ia pun mendekatkan bibirnya untuk kembali mencumbui bibir itu lagi.
Segera bibir tua itu mendekat. Kedua tangan Pak Heri berpindah dengan memegangi kedua tangan Nada sehingga tidak bisa digerakan. Kedua tangan Nada ditempelkan ke dinding. Bibirnya kembali mendekat. Bibir tuanya kembali mendorong bibir tipis Nada hingga wajah dari akhwat berhijab itu terbenam ke dinding ruangan tamunya.
“Mmmpphhhhhh” desah mereka berdua dengan penuh nafsu.
Bibir mereka bertemu. Deru nafas mereka bersatu. Mata mereka memejam dikala bibir mereka saling menghujam. Kepala Pak Heri menerjang merasakan kenikmatan yang berasal dari bibir manis Nada. Pinggulnya terus berpacu. Penisnya keluar masuk hingga terdengar suara percikan air dari dalam. Pak Heri memejam merasakan nikmatnya percumbuan yang ia lakukan serta jepitan yang merangsang batang penisnya di dalam.
Nada tak sengaja membuka mulutnya. Lidah kurir itu kembali bermain-main di dalam rongga mulutnya. Pak Heri jadi mendesah nikmat. Lidahnya berkeliaran di dalam mencari pasangannya. Saat ia telah menemukan pasangannya. Lidah mereka saling beradu. Lidah mereka saling menyerang. Lidah mereka saling membalas. Lidah mereka saling menggesek dan saling membasahi. Rongga mulut Nada jadi penuh oleh liur yang berkumpul disana.
Tangan kiri pak Heri yang gemas berpindah untuk meremasi payudara indah yang terbebas di hadapannya. Ukurannya sungguh kencang, berbeda saat dulu ketika awal-awal ia merasakan kekenyalannya. Nampaknya diam-diam Nada sudah sangat bernafsu oleh rangsangan yang pria berperut tambun itu berikan.
Tangan kirinya menggeser gamis yang Nada kenakan hingga keseluruhan payudaranya terlihat. Payudara sebelah kanan Nada jadi semakin bebas. Pak Heri langsung meremasnya tanpa memperdulikan erangan yang tertahan dari mulut manis Nada. Nada sedang mendesah begitupula pak Heri yang sedang mendesah. Namun desahan mereka berdua tertahan oleh cumbuan mereka yang semakin panas.
Nada menjadi bergairah begitu juga pak Heri. Nafsu kedua insan itu sudah mencapai puncak. Mereka hanya ingin melampiaskannya segera agar dapat merasakan kenikmatan yang tak dapat ia jelaskan. Tiba-tiba pak Heri membalikan tubuh Nada saat sedang asyik-asyiknya. Nada jadi berdiri membelakangi menghadap ke arah tembok ruangan. Kedua tangan pak Heri memegangi pinggul ramping Nada hingga dirinya dapat merasakan mulusnya kulit yang ustadzah cantik itu punya.
“Hah... Hah... Hah... Mantap sekali jepitanmu ustadzah... Saya jadi pengen masukin lagi” desah Pak Heri saat menatap sisi belakang tubuh Nada yang begitu menggoda.
Gamis yang Nada kenakan ia turunkan hingga punggung mulusnya terlihat. Pak Heri juga menaikan sisi bagian bawah gamisnya hingga bongkahan pantat sekel Nada terlihat. Pak Heri mengusap punggung mulus Nada terlebih dahulu sebelum mengelus bongkahan pantatnya. Pak Heri mencengkram bongkahan pantatnya. Pak Heri juga menampar bongkahan pantat Nada karena saking gemasnya. Pak Heri memuaskan nafsunya pada tubuh ustadzah cantik itu.
Plaakkk... Plaakkk... Plaakkk !
“Aawww.... Awwww... Sakiiittt pakkkk” jerit Nada saat pantatnya ditampar.
“Wakakakak... Desahan ustadzah bikin saya gak nahan aja... Saya masukin lagi yahhh !!!” ucap pak Heri bernafsu.
Nada deg-degan saat dirinya mendengar ucapan pria tua itu. Dirinya sebenarnya ingin menolak dan segera pergi dari tempat ini. Namun sodokan yang ia terima tadi membuat tubuhnya melemas. Ia jadi tidak punya tenaga untuk menghalau pergerakan pria berperut tambun itu.
“Akhirnya rasakan ini !!! Akhirnya saya bisa genjot memek sempit ini lagi... Hennkkghhh !!!” desahnya saat penis berukuran raksasa itu membelah nikmat liang senggama yang dimiliki oleh Nada.
“Pakkkkk ahhhhhh” jerit Nada saat batang penis raksasa itu langsung masuk menyundul rahimnya
Nafas Nada jadi sesak. Nampaknya vaginanya tak kuat untuk dimasuki keseluruhan batang penis itu lagi. Namun paksaan yang pak Heri lakukan membuat tubuhnya terhempas ke depan tiap kali kurir pengantar paket itu menghentakkan pinggulnya untuk menembus lubang dari kemaluan Nada.
“Pakkk hentikannn... cukupp pakkk ahhhhhh” desah Nada sambil geleng-geleng kepala.
“Hentikan kenapa ? Orang lagi enak-enak juga” desah Pak Heri menahan nafas untuk menghujami liang senggama itu lagi.
“Aaaahhhh bapakkkk” desah Nada saat penis itu kembali menubruk rahim kehangatannya.
Nada jadi terengah-engah dihadapan pak Heri. Kedua payudaranya yang menggantung indah semakin mengencang. Payudara itu tampak seperti buah pepaya yang siap untuk dipetik. Namun pak Heri tampak sabar dengan memegangi pinggang ramping dari bidadari itu terlebih dahulu. Ia lebih berfokus untuk merasakan jepitan vaginanya yang terasa nikmat.
Pak Heri mulai menggerakan pinggulnya maju mundur. Bidadari berhijab itu juga terdorong maju mundur. Cengkraman kuat yang ia lakukan di pinggang Nada juga jepitan nikmat yang ia rasakan di penisnya membuat semangat yang ia miliki itu tidak pernah kendur.
Pak Heri mempercepat gerakan penisnya. Akhirnya, ia bisa menikmati kenikmatan ini lagi. Kenikmatan dari sempitnya vagina seorang ustadzah pesantren. Ia tampak bangga karena belakangan ini dirinya jadi sering merasakan kelezatan vagina itu lagi.
“Aahhhhh... Akhirnya ustadzah... Aahhhhhh rapetnyaaa.... Ahhh nikmat banget jepitan memek ustadzah !” desah pak Heri saat menikmati rapatnya kemaluan Nada yang sangat menggairahkan.
“Aahhhh bapakkk... Ahhhhhh ahhhhh” desah Nada menggelengkan kepala tuk berusaha mengabaikan kenikmatan yang ia rasakan. Penis pak Heri yang begitu keras dan besar telah berhasil mengoyak dinding vagina Nada. Nada jadi semakin bernafsu. Walau ia harus menyembunyikannya karena tidak ingin menunjukannya dihadapan pak Heri.
Kedua insan yang tengah bernafsu itu semakin mengerang. Mulutnya terbuka lebar untuk mengeluarkan kata-kata untuk mengekpsresikan kenikmatan yang mereka dapatkan. Mata mereka pun sama-sama memejam agar dapat fokus menikmati gesekan antar kelamin yang terjadi di dalam rongga vagina Nada.
“Aahhhhhh nikmatnya memekmu ustadzah... Ahhhhh... Ahhhhhh mantapnyaaa !” desah pak Heri yang sungguh beruntung bisa sering merasakan jepitan kemaluan itu.
“Aahhhh bapakkkkkk... Ahhhhh... Ahhhhhh” Nada juga ikut mendesah. Kendati tubuhnya diam-diam menikmati persetubuhan ini. Tapi hatinya merasa kecewa karena pak Heri melakukannya tanpa izin darinya. Ia merasa dikecewakan oleh sikap pak Heri yang begitu bernafsu padanya. Ia hanya berharap agar kurir itu bisa segera mendapatkan orgasmenya agar dirinya bisa segera pulang dari tempat yang terkutuk ini. Ya, walaupun ia berhasil mendapatkan tempat berlindung akan tetapi dirinya jadi sering berzina dengan lelaki tua ini.
“Aahhhhhh gimana ustadzahh ? Ustadzah masih belum cukup bukti tentang cinta saya ini ?” desah pak Heri sambil terus menggempur vaginan Nada.
“Aahhhhh.... Ahhhhhh hentikann pakkk... Ini bukannn cintaaa pakkk... Ini namanya cuma nafssuuu pakkkk... Aaahhhhhh” desah Nada semakin cepat terhempas maju mundur.
“Nafsu ? Ini cinta namanya ustadzah... Cinta untuk memberikan kepuasan kepada ustadzah !” desah pak Heri ingin menuntaskannya segera.
Tanpa membuang waktu ia menambah kecepatan dalam menghujami tubuh Nada yang membuat bidadari cantik itu semakin mendesah saat lubang vaginanya tertancap semakin dalam oleh penis besar perkasanya.
“Aahhhhhhh pakkk... Pakkkkkk” desah Nada pasrah.
“Ahhhh enakkk kan ustadzah... Ahhhh nikmat kan kontol saya ?” ujar pak Heri yang membuat akhwat berhijab itu hanya bisa menggeleng pelan. Ia enggan untuk menyetujui ucapan kurir pengantar paket itu.
Maju mundur, maju mundur, maju mundur. Tubuh Nada semakin terhempas menerima persetubuhan yang begitu dahsyat oleh kurir pengantar paket itu. Liang senggama Nada jadi semakin basah. Ia pun tak kuasa untuk menahan diri lagi.
"Ouhhhhhh... Pakkkk.... Ahhhhhh" Desah Nada saat vaginanya mulai berdenyut pelan.
Pak Heri dengan puas menikmati tusukan demi tusukan yang ia lesatkan ke dalam vagina ustadzah cantiknya. Ia memejam, mulutnya terbuka lebar menikmati jepitan vagina Nada yang terasa seperti mencekik penisnya.
Dikala Pria tambun itu menarik kemaluannya mundur hingga sampai ke ujung kulup, ia menghantamkan pinggulnya sekuat tenaga hingga ujung kulup itu menyundul rahimnya. Diulanginya lagi perbuatan itu secara perlahan hingga tubuh Nada yang hanya menyisakan hijab, gamis terbuka serta kaus kakinya saja itu terhentak-hentak dengan sangat kuat.
“Paaakkkk... Ahhhhh... Ahhhhh” jerit Nada dengan manja.
Saat Pak Heri menatap sebagian wajah manis Nada yang tengah memejam pasrah. Tampak bidadari berhijab itu menggelengkan kepalanya meminta tuk segera mengakhirinya. Ia tak ingin diperkosa lebih lama lagi. Bidadari berhijab itu hanya ingin pulang dan kembali ke pelukan suaminya agar bisa segera menyadarkannya.
“Aahhhh pakkk... Sudah pakkk... Jangan lagiii... Aku mauu pullaannggg Ahhhhhh” desah Nada hingga menatap langit-langit ketika hentakan selanjutnya menghantam dinding rahimnya.
“Aahhhh nikmatnnyyaa.... Wakakakka... tenang ustadzah... Kebetulan saya udah gak kuat lagi kok !” kata pak Heri sambil menaikan sisi bawah gamis Nada hingga ke pinggang ramping sang ustadzah. Ia juga melebarkan sedikit selangkangan Nada hingga penisnya semakin mudah tuk menggempur rahim kehangatan Nada.
“Aahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Nada menggelengkan kepala.
Maju mundur maju mundur maju mundur. Payudara Nada yang berukuran besar terus bergoyang sesuai irama. Suara erangan yang terucap dari mulut Nada semakin meningkatkan gairah birahi kurir itu dalam menikmati tubuh indahnya.
“Ahhh nikmat sekali ustadzah... Tubuh ustadzah juga indah sekaliii... Saya jadi gak kuat lagiii” ucapnya sambil menahan nafasnya untuk menikmati persetubuhan pamungkas ini.
“Aahhhh sudahhh hentikannn pakkkkk” desah Nada menggelengkan kepala.
Pak Heri benar-benar menikmati persetubuhannya. Ia melancarkan serangan demi serangan untuk memastikan keseluruhan penisnya masuk membelah liang senggama itu. Lelaki tambun itu selalu melihat ke bawah tuk mengagumi bentuk tubuh dari akhwat berhijab itu dari belakang. Matanya dengan binar menelan seluruh keindahan yang terpahat di tubuhnya. Mulusnya kulit yang Nada punya membuat kedua tangannya kembali mengusapi punggung halus itu.
“Aahhhh pakkkk... Pakkkkkkk... Akuuuuuu” desah Nada terkejut dirinya akan segera mendapatkan kenikmatan itu.
“Hehehe saya juga ustadzah... Ahhhhh... Ahhhhh” desah pak Heri juga tidak kuat lagi.
Kenikmatan yang semakin tak tertahan membuat pak Heri meningkatkan intensitas goyangannya. Dorongan pinggul yang pak Heri lesatkan ke dalam vagina Nada semakin cepat. Ia juga terampil dalam menusuk penis itu hingga mengenai titik terdalam dari lubang kenikmatan Nada. Penis itu cenderung melesat tajam bagai seekor singa yang sedang mengejar mangsanya. Penis itu dengan lihai bergerak maju mundur tanpa lelah. Menggesek dinding vaginanya. Hingga cairan cinta yang berkumpul di dalam semakin banyak hingga membanjiri rahimnya. Akibat gesekan yang semakin cepat itu. Mereka berdua tak dapat menghindari tubrukan demi tubrukan dari selangkangan mereka saat bertemu.
Plokkk plokkk plokkk !
"Ahhh nikmatnyaaa... Ouhhh mantaappppp ahhhhhh" Desah pak Heri menikmati.
Kurir tua itu benar-benar puas kali ini. Ia sangat puas karena akhirnya dirinya bisa kembali menyetubuhi ustadzah pesantren yang sangat ia idam-idamkan sejak lama. Ia pun melampiaskannya dengan mempercepat sodokannya. Penampakan tubuh bagian belakang Nada yang sangat menggoda semakin menggairahkan persetubuhan terlarangnya. Ia pun menurunkan sedikit tubuhnya agar tangannya dapat mencengkram kuat payudara Nada.
“Aaahhhh bapakkkk” desah Nada saat payudaranya diremas.
Akhirnya pak Heri tidak mampu menahan birahinya lebih lama lagi. Jepitan yang terasa semakin nikmat menjadi jawabannya. Pak Heri tidak kuat. Padahal dirinya ingin menyetubuhinya lebih lama lagi. Ia pun merasakan dirinya sudah berada di ambang batas. Erangan demi erangan telah pak Heri keluarkan. Sodokan demi sodokan telah ia percepat hingga membuat kepala Nada terlonjak-lonjak seiring tusukan yang ia lesatkan di vaginanya.
“Aahhhh bapakkk... Ahhhhh” desah Nada terhempas maju mundur.
Sama seperti kurir itu. Nada tak mampu lagi untuk menahan kenikmatan ini. Tubuhnya lemas tak berdaya dan nafasnya mulai memberat seiring gesekan demi gesekan yang ia terima di dinding vaginanya.
Pria tua itu menahan nafasnya. Tubuhnya terfokuskan pada remasan pada payudara yang semakin membuatnya terangsang. Rasa nikmat yang ia dapatkan dari cekikan vaginanya membuat dirinya bergegas untuk mengakhiri semua ini.
"Ouhhhh ustadzahh.... Ouhhhh saya gak kuat lagiii... Ouhhhh yahhh saya mauu keluaarrrrr" Desahnya dengan lirih karena tak tahan lagi.
Sementara Nada tak merespon kata-kata itu. Ia hanya memejamkan mata sambil merapatkan mulutnya menggunakan tepi bibirnya. Tujuannya hanya satu. Ia tidak ingin menunjukan kalau ia menikmati persetubuhannya ini. Padahal sebaliknya. Diam-diam ia sangat menikmati sodokan yang amat sangat mantap ini.
"Mmpphhhh... Mmpphhhh" Desah Nada merasa dirinya akan segera keluar sebentar lagi. Wajahnya ia gelengkan. Tubuhnya hanya bisa pasrah membiarkan kurir tua itu bertindak sesukanya.
Nafsu mereka sudah berada di ubun-ubun. Tubuh akhwat berhijab itu semakin terhempas kuat setelah dihujami oleh penis pria tua bertubuh tambun. Pergerakan indah yang ditampilkan oleh tubuh Nada membuat pria tua itu mempercepat gerakannya tanpa ampun.
Akhirnya, dengan satu hentakan yang sangat kuat. Pria tua itu mementokan ujung kulupnya hingga menyundul rahim kehangatan ustadzah pesantren itu.
"Ahhh ahhhh ahhh ustadzahhh... Saya kelluuaaarrrr !!!" Desah pak Heri yang langsung menjatuhkan kepalanya untuk mencumbu punggung mulus Nada.
"Ahhhh ahhh bapakkk... Akuuu jugaaaa... Mmppphh" Desah Nada yang juga mendapatkan orgasmenya di sore itu.
Crrootttt crrroottt crroootttt !!!!
"Ustadzahhh... Mmpphh !!!" Pak Heri mencumbu punggung mulus Nada dengan sangat kuat hingga membuat ustadzah pesantren itu merinding nikmat. Matanya merem melek merasakan kepuasaan itu. Ia benar-benar tak menyangka dirinya akan sepuas ini hingga tubuhnya kelojotan saat cairan spermanya dengan deras mengisi rahim kehangatan Nada.
"Mmpphhh" Desah Nada tertahan oleh kedua bibirnya saat rahimnya tersiram oleh cairan sperma kurir pengantar paket itu. Sebuah orgasme dahsyat yang ia dapatkan tak lama kemudian semakin membuat tubuhnya kelojotan. Matanya merem melek. Nafasnya jadi tidak beraturan. Tubuhnya saja sampai terdorong maju saat dirinya ternoda oleh cairan sperma kurir pengantar paket itu.
Pak Heri puas. Nada juga diam-diam puas. Pak Heri terus mengusap punggung mulus Nada sambil membisikan kata di telinganya.
"Gimana ustadzah ? Ustadzah sangat puas kan ? Wakakak" Tanya pak Heri merasa bangga. Dirinya sangat puas dengan fantasinya. Dirinya sebagai kurir pengantar paket merasa beruntung karena bisa menyetubuhi seorang ustadzah pesantren.
Nada tidak menjawab pertanyaan itu karena dirinya masih lemas setelah mendapatkan orgasme ternikmatnya. Saking lelahnya, Nada sampai ambruk ke lantai ruangan. Penis pak Heri terlepas dari vaginanya. Saat Nada duduk berlutut membelakangi pria tua itu. Lelehan sperma yang memenuhi rahimnya keluar. lelehan sperma itu mengotori lantai ruangan rumah kontrakan pak Heri. Sambil terengah-engah, Nada pun menyandarkan tubuhnya pada dinding hingga wajahnya menatap pak Heri.
Pak Heri dengan bangga mendekat dengan menekuk satu kakinya di hadapan Nada. Ia tersenyum sambil menatap wajah Nada yang tampak menggairahkan. Pak Heri dengan percaya diri mengusap pipi mulus Nada.
"Gimana bukti cinta saya, ustadzah ?" Tanya pak Heri percaya diri.
Plaaakkkk !!! Tiba-tiba Nada menamparnya. Nada dengan marah menampar pipi pak Heri.
"Bukannya aku udah bilang waktu itu ? Kalau aku bakal marah kalau bapak melakukannya tanpa izinku ?" Kata Nada dengan nada tinggi.
Pak Heri terdiam sambil memegangi pipinya yang perih.
"Bukannya tadi aku bilang kalau aku mau pulang ke rumah aja ? Aku gak mau lagi lama-lama disini kalau hal itu malah bikin bapak ingin menikahiku... Aku gak mau menikah dengan bapak... Aku udah punya suami... Kalau bapak gak mau bantu menyadarkan suamiku... Maka aku yang akan menyadarkan suamiku sendiri" Ucap Nada lalu berdiri sambil menyeka air matanya.
Pak Heri hanya terdiam sambil menatap Nada. Bahkan saat Nada sedang membenahi gamisnya kembali, pak Heri tetap diam tak bisa bergerak.
Nada pun pergi keluar rumah sambil memesan ojek online meninggalkan pak Heri sendiri. Tak lama kemudian nampak ojek mobil yang sudah Nada pesan datang. Nada pun masuk ke mobil yang akan mengantarnya pulang ke pesantren.
Saat perjalanan pulang. Nada hanya diam sambil mengusap air matanya diam-diam. Ia begitu kecewa pada pak Heri karena sudah memaksanya tuk menuruti hawa nafsunya. Ia pun merenungi keputusannya untuk tinggal bersama pak Heri. Apakah itu sebuah blunder ? Nada pikir tidak. Karena setidaknya ia jadi dapat pencerahan untuk bisa menyadarkan suaminya melalui obrolan yang ia lakukan bersama pak Heri.
Sementara itu di rumah pak Heri.
"Siaalll... Siaallll !!! Kenapa tadi sampai terburu-buru untuk mengajaknya menikah... Bodohnya saya sampai melakukan itu kepadanya... Kayaknya saya terlalu percaya diri deh karena sudah merasa yakin telah menaklukan ustadzah Nada" Ucap pak Heri kecewa pada diri sendiri.
Ia lupa kalau Nada adalah ustadzah pesantren. Seorang ustadzah yang mempunyai iman kuat. Ustadzah yang tidak mudah tergoda hanya dengan batang penisnya saja. Ia sudah beruntung karena berulang kali telah merasakan jepitan vaginanya. Kini, ia jadi takut kalau dirinya tidak bisa bertemu lagi dengannya.
"Hah... Maafkan saya ustadzah... Maafkan kebodohan saya !" Ucap pak Heri benar-benar menyesal.
Ia pun jatuh berlutut sambil membayangkan wajah indah Nada yang sedang tersenyum cerah.
"Masih adakah kesempatan untuk saya agar bisa menikahimu, ustadzah ?" Ucap pak Heri penuh harap.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *