Sore hari sekitar pukul setengah enam tepat. Di sebuah perumahan ustadz senior di Pondok Pesantren al-Insan. Terdapat seorang ustadzah yang sibuk di depan meja riasnya. Dirinya terburu-buru dalam berdandan. Berulang kali wajahnya menatap cermin di depan. Berulang kali tangannya sibuk mengambil berbagai macam alat rias yang akan ia gunakan pada wajahnya.
Kini wajah cantiknya sudah terlihat. Sebenarnya ia sudah cantik tanpa perlu berdandan lagi. Tapi kini wajahnya semakin cantik saat bercermin di depan meja riasnya. Wajah ustadzah itu semakin glowing. Pipinya kemerahan. Bibirnya menggoda saat sedang mengecap. Bulu matanya semakin indah setelah ustadzah cantik itu menggunakan maskara.
Dengan tambahan hijab berwarna putih ivory & dengan gamis panjang bermotif bintik bunga-bunga kecil yang tersebar di seluruh gamis. Ustadzah tercantik sepondok pesantren itu jadi semakin cantik. Nampak pinggangnya begitu ramping. Nampak dadanya menonjol. Nampak bokongnya mencuat yang membuatnya merasa empuk ketika duduk dimana saja. Ia merasa siap untuk menyambut kedatangan suaminya sekarang.
Sebenarnya ia masih lelah setelah dari bangun tidur tadi sampai jam satu siang, dirinya dipaksa untuk melayani nafsu besar kuli tua itu. Seorang kuli yang semalam berhasil menidurinya. Kuli itu pun mengambil waktu tambahan agar dapat meniduri tubuh ustadzah tercantik itu lagi. Kuli itu tidak pernah puas dalam menyetubuhi ustadzah tercantik itu. Mungkin karena fantasinya benar-benar terwujud. Dirinya yang hanya seorang kuli bangunan berhasil menyetubuhi seorang ustadzah pesantren berkali-kali. Bahkan berulang kali dirinya berhasil memejuhi rahim kehangatannya. Kini tinggallah menunggu waktu agar sperma kuli tua itu bekerja di dalam rahimnya. Akankah jabang bayi itu muncul dari rahim sang ustadzah ? Kita lihat saja !
Haura tampak sedih sambil mengelusi perut ratanya. Ia benar-benar takut andai dirinya hamil hasil dari pemerkosaan yang dilakukan oleh kuli bejat itu.
“Semoga aja enggak... Aku gak boleh hamil hasil dari pemerkosaan kuli bejat itu... Gak boleh ! Pokoknya gak boleh !” lirih Haura dengan lemah.
Tokkk... Tokkk... Tokkk !!!
“Assalamualaikum”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berasal dari pintu masuk rumahnya. Haura tersenyum. Dirinya langsung mengenali suara yang tidak asing itu. Haura pun buru-buru bangkit dari kursinya untuk menyambut kedatangan tamu istimewanya. Tamu yang sebenarnya merupakan pemilik dari rumah yang ia tinggali saat ini.
“Walaikumsalam... Massss !!!” ucap Haura saking bahagianya. Ia langsung memeluk tubuh Hendra dengan erat karena sudah terlalu rindu dan ingin bermanja-manja lagi dengannya.
“Ehhhh dekk... Kayaknya ada yang kangen banget nih” Ucap Hendra sambil membalas pelukan Haura. Tangan kanannya hinggap di punggung Haura sedangkan tangan kirinya mengusap punggung bagian bawahnya. Tak lupa Hendra memberikan kecupan selamat datang yang membuat Haura semakin nyaman saat berada di pelukannya.
“Iyya tauuu... Mas lama banget sih perginya... Adek kan jadi kangen” ucap Haura dengan manja.
“Hahaha maaf yah dek... Mas sibuk banget soalnya... Jadi gak sempet pulang nemenin adek deh” ucap Hendra yang membuat Haura tersenyum cerah.
“Hihihi... Gapapa, adek paham kok mas... Oh yah mas... Sup daging yang mas minta kemarin udah adek siapin lohhhh” ucap Haura mengangkat wajahnya tuk menatap wajah suaminya.
“Oh yah ? Wahhhh istimewa banget... Mas jadi laper nih” ucap Hendra tersenyum.
“Hihihihi mau langsung makan gak ? Adek juga udah laper nih dari pagi belum makan” ucap Haura dengan manja.
“Ehhhh belum makan ? Emang adek ngapain aja ?” tanya Hendra heran.
“Hehehe adek terlalu sibuk ini itu mas” jawab Haura dengan suara merendah. Ia jelas tidak benar-benar sibuk di pagi tadi. Waktu berharganya justru dihabiskan untuk melayani nafsu buas dari kuli tua itu di pagi tadi. Dirinya jadi tidak mempunyai waktu untuk mengisi perutnya. Bahkan dirinya juga tidak bisa menjadi pengawas ujian gara-gara nafsu Karjo yang amat sangat besar.
“Huuuu harusnya ya nyempetin waktu buat makan juga dong... Yaudah mas juga mau makan sekarang deh” ucap Hendra yang membuat Haura tersenyum senang.
“Hihihih yukkk makan” kata Haura sambil menggandeng tangan suaminya. Suaminya itu tersenyum, seketika pandangannya teralihkan oleh sesuatu yang terparkir di depan halaman rumahnya.
“Oh yah dek... Ngomong-ngomong ini motor siapa ? Kok ada disini ?” tanya suaminya saat melihat motor asing yang terparkir di depan rumahnya.
“Ehh iya... Ini motor yang aku pinjem semalem deh mas... Lupa belum aku balikin hehehe” kata Haura yang seketika teringat kunci motor yang masih menggantung di tempatnya.
“Oalah yaudah kita makan dulu aja yah... Habis itu baru adek balikin” ucap suaminya.
“Iyya mas... Tapi sebentar yah... Mas masuk dulu aja... Kayaknya kuncinya masih nyangkut deh hehehe” kata Haura malu-malu.
"Masih nyangkut ? Dari semalem ?" Ucap Hendra sambil geleng-geleng kepala.
"Hehehe iyya mas"
"Hadehh... Yaudah deh... Mas tunggu di dalem yah"
"Iyya masss" Jawab Haura dengan wajah memerah. Ia benar-benar malu pada suaminya. Tapi ia jadi sedih ketika teringat kejadian yang sebenarnya terjadi semalam.
Sementara itu, Hendra sudah masuk ke dalam. Haura buru-buru pergi mendekati motor pinjamannya untuk mengambil kunci yang masih menggantung disana.
“Fiyyuhh... Untungnya kuncinya masih ada” kata Haura lega.
Seketika dari arah kanannya, datang seorang ustadzah yang ia kenal. Haura sambil tersenyum pun menyapanya.
“Assalamualaikum ustadzah” sapa Haura dengan ramah.
“Eh ustadzah, walaikumsalam” jawabnya tersenyum lemas.
“Ustadzah Nada darimana ? Kok wajah antum kayak capek banget sih ?” tanya Haura penasaran.
“Hehehe ada deh ustadzah... Iyya ana capek banget hari ini hehehe” ucap Nada dengan suara lemas.
“Ana mau istirahat dulu yah” lanjut Nada yang hanya membuat Haura mengangguk menyetujui.
“Ohhh iya ustadzah... Silahkan istirahat dulu” ucap Haura keheranan.
Nada pun telah pergi. Haura jadi semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada ustadzah pemilik body goals itu.
“Ustadzah Nada kenapa yah ? Kenapa juga gamisnya lecek gitu ?” Lirih Haura penasaran.
*-*-*-*
DI TEMPAT YANG BERBEDA
Seseorang tengah melangkah memasuki sebuah gedung kosong yang belum ditinggali sama sekali. Dirinya berjalan sambil menoleh ke kanan juga ke kiri. Ia begitu penasaran dengan sosok yang sedang ia cari-cari. Kenapa dari pagi dirinya kesulitan untuk bertemu dengannya ? Dimana sosok itu sekarang ? Apa sudah pulang ke rumah ? Apa masih bekerja di pesantren ?
“Nah itu dia !” kata santri tampan itu saat melihatnya.
“Assalamualaikum pak” sapa Iqbal kepada pria tua yang sedang ia cari-cari.
“Walaikumsalam... Kekekekek... Gimana ? Ada kabar apa ?” tanya kuli tua itu tertawa.
“Ini pak... Saya sudah dapet foto ustadz itu... Benar seperti apa yang bapak kira, ustadz itu ternyata tidak hanya pernah bercinta dengan ustadzah Haura... Bahkan di foto ini saya memergokinya sedang bercinta dengan seorang santriwati yang ada disini” ucap Iqbal mengejutkan Karjo.
“Kekekekek beneran ? Santriwati yang mana ?” tanya Karjo penasaran. Dalam hati ia jadi ingin menargetkan santriwati itu juga.
“Santriwati yang ada di hape Lutfi itu loh pak... Yang kemaren Lutfi kasih ke saya... Ini dia fotonya” jawab Iqbal.
“Ohhhh santriwati yang pernah threesome itu yak ? Kekekekek... Ternyata emang binal juga tuh santriwati... Siapa namanya ?” tanya Karjo penasaran. Seketika dirinya juga mupeng ingin menyetubuhi santriwati berwajah imut itu.
“Salwa pak namanya” jawab Iqbal tanpa mengetahui maksud hati kuli tua itu.
“Kekekekek Salwa yah ? Duh cantik-cantik kok lonte... Bukannya dia harus dihukum juga ?” kata Pak Karjo tuk menyembunyikan niatan sebenarnya.
“Betul pak... Dia juga harus dihukum... Dia harus dikeluarkan secepatnya dari sini !” kata Iqbal berapi-api.
“Kekekekek tenang aja... Sisanya biar saya yang urus... Terima kasih yah nak sudah mau bekerja sama dengan saya... Siap deh, akan saya balas orang-orang yang sudah mengecewakan wali kelasmu itu... Terutama ustadz bejat itu” kata pak Karjo tertawa.
“Hahaha siap pak... Terima kasih... Tolong sebarkan, saya serahkan sisanya ke bapak” kata Iqbal mempercayai sisanya ke kuli tua itu.
“Kekekek... Oh yah nak... Tadi saya sempat lihat kalau wali kelasmu baru aja pulang loh” ucap Pak Karjo tersenyum.
“Eh yang bener pak ?” ucap Iqbal tampak sumringah.
“Iyya nak... Kalau gak percaya coba aja nanti ke rumahnya... Kekekek pasti dia sudah pulang” kata Karjo yang membuat Iqbal menjadi bersemangat.
“Hahahha terima kasih yah pak atas kabar baiknya... Kalau bapak butuh bantuan lagi, saya siap kok buat bantu bapak lagi kok... Apalagi kalau berurusan dengan ustadz Hendra” kata Iqbal.
“Kekekekek tenang aja nak... Saya pasti akan menghubungimu lagi kalau butuh sesuatu... Terima kasih yah atas bantuannya” kata Karjo tertawa.
Iqbal pun pergi saat itu dari gedung kosong yang masih belum jadi. Wajahnya terlihat cerah. Dirinya tidak bisa berhenti tersenyum saat membayangkan wajah wali kelasnya. Ia jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Sementara Karjo masih tersenyum di gedung kosong itu sendirian sambil melihat satu demi satu foto hasil jepretan Iqbal. Ia tertawa puas. Wajahnya begitu fokus menatap keindahan wajah santriwati cantik itu.
“Kekekekek... Manisnyaa santriwati ini... Siapa namanya ? Salwa yah ? Makin lama ngeliat fotonya kok jadi makin nafsu aja... Pasti mantap kalau seseorang seperti saya bisa bercinta dengan akhwat kinyis-kinyis seperti dirinya... Apalagi susunya masih dalam tahap berkembang nih... Liat aja kalau saya berhasil menaklukannya... Pasti dirimu akan bersyukur padaku karena sudah memperbesar ukuran susumu itu... Kekekekekek” tawa Karjo sambil mengusapi penisnya yang mulai mengeras.
*-*-*-*
Keesokan harinya sekitar pukul setengah tujuh pagi.
Nada berada di rumah. Ia sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju ruangan kelas. Di sofa ruang tamunya, ia sedang membereskan lembar jawaban ujian yang berserakan di meja ruang tamu rumahnya. Sejak pagi dirinya sibuk mengoreksi lembaran jawaban yang berisi mata pelajaran yang ia ajarkan. Nampak hijab panjangnya yang menutupi hingga dadanya. Nampak gamis longgarnya yang menyembunyikan keindahan tubuhnya. Nampak kecantikan wajahnya yang sudah terhias oleh riasan tipis disana. Nada terlihat cantik. Ustadzah pemilik body goals itu sudah siap untuk menjadi pengawas ujian.
Ia berjalan menuju dapur rumahnya sambil membawa cangkir kotor yang tadi ia pakai untuk membuat kopi panas. Saat dirinya tiba di dapur, ia melihat suaminya sedang sibuk mencuci piring kotor. Nada tersenyum lemah. Ustadzah cantik itu pun datang mendekat sambil memegangi tangan kanan suaminya.
"Udah mas biarin... Biar adek aja" Ucap Nada tersenyum.
"Eh sayang... Udah gapapa... Mas tau, adek bakal jadi pengawas ujian kan... Mending adek berangkat sekarang aja... Biar gak telat" Ucap Rendy sambil tersenyum.
"Tapi masss... Ini kan tanggung jawab adek sebagai istri... Mas juga harus siap-siap kan ? Mas aja masih pake kaos gini lohh" Ucap Nada merasa bersalah.
"Hahaha... Justru itu, mas sengaja pakai kaos gini biar nanti pas nyuci, airnya gak nyiprat ke mana-mana" Jawab Rendy kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Rendy kembali menyuci termasuk cangkir yang baru saja Nada bawa.
"Mas tiap pagi gini terus yah ? Mas melakukan semuanya sendiri ?" Tanya Nada merasa bersalah.
"Haha ya gitu lah dek... Gak cuma piring, tapi baju juga... Tapi tenang aja... Mas gak pernah telat ke kelas kok buat jadi pengawas ujian" Jawab Rendy yang membuat Nada semakin merasa bersalah.
Nada jadi menyesal karena belakangan ini dirinya justru mangkir dari tugasnya sebagai seorang istri. Ia justru menginap di rumah seorang laki-laki yang bukan muhrimnya bahkan tidur bareng bersamanya.
"Maafin adek yah mas... Adek udah ninggalin mas sendirian" Ucap Nada dengan mata berkaca-kaca.
"Gapapa dek... Bukan masalah kok... Lagipula mas paham dengan apa yang adek rasakan... Mas tau banget perasaan adek... Makanya mas gak pernah marah ke adek" Ucap Rendy yang membuat Nada terharu.
"Kalau gitu... Boleh gak mas... Tolong, jangan lagi mas kayak gini ke adek... Adek udah capek mas menghindar terus... Adek pengen berduaan sama mas aja... Tolong mas jangan libatkan orang lain lagi di kehidupan cinta kita" Pinta Nada penuh harap.
Rendy hanya tersenyum saat mendengar permintaan istrinya itu. Kebetulan semua piring telah selesai ia cuci. Ia mengambil serbet untuk mengeringkan kedua tangannya. Nada hanya terdiam sambil sesekali menyeka air matanya. Tiba-tiba kedua bahunya dipegang oleh suaminya. Wajah cantiknya ditatap dengan begitu mesra oleh suaminya. Wajah Nada memerah. Ia pun menundukan wajahnya karena malu.
"Mas juga minta tolong yah dek... Sekalliiiii aja... Tolong wujudin fantasi mas yang itu" Ucap Rendy yang ingin sekali melihat istrinya disetubuhi oleh dua lelaki sekaligus.
Nada tercengang mengira suaminya sudah luluh dan mau menunda keinginan anehnya itu. Rupanya suaminya belum berubah. Rupanya suaminya masih ingin melihat dirinya dinodai oleh kuli tua itu dan santri bejatnya itu.
"Tapii masss... Tolong lah mas... Adek takuuttt... Adekkk gak mau kayak gitu lagi mass... Masa mas tega sih ke adek... Apalagi salah satunya kan pekerja bangunan... Entar kalau adek dikasarin gimana ?" Ucap Nada tuk membujuk suaminya.
"Loh kok tau kalau salah satunya pak kuli bangunan... Adek udah bertemu dengannya yah ?" Ucap Rendy yang membuat Nada baru ngeh. Nada lupa kalau suaminya belum tau kalau dirinya sudah dinodai oleh kedua laki-laki itu bahkan sebelum suaminya mengenalkannya padanya.
"Massss... Itu gak penting... Adek pengen hidup normal lagi mas... Adek pengin kita hidup bahagia hanya mas dan adek aja... Adek gak butuh orang lain... Adek cuma butuh mas... Cuma mas yang adek cintai selama ini mas... Inget kan waktu pertama kali kita bertemu waktu itu... Waktu itu hujan mas... Adek rencananya mau belajar ke rumahnya ustadzah Asty... Tapi adek malah kejebak hujan di depan kamar asrama mas... Kita jadi belajar bareng... Itu salah satu momen yang paling adek rindukan mas... Adek pengen kayak gitu lagi... Adek mau kita ngobrolin hal berdua lagi" Ucap Nada tersenyum sambil mengucurkan air mata.
"Deekkkk" Ucap Rendy sambil memeluknya.
Rendy memeluinya erat. Wajahnya tersenyum. Ia mengusap punggung istrinya untuk menenangkannya. Nada yang merasa nyaman malah menangis sejadi-jadinya. Rasanya sungguh nyaman saat dipeluk oleh suami sendiri. Ia jadi menyesal karena sempat berpihak ke pelukan lelaki lain yang bahkan lelaki itu bukan lelaki yang seiman dengannya. Walau terkadang keputusannya tidak salah juga karena hal itu demi melindungi harga dirinya sebagai seorang istri yang tidak ingin dinodai oleh kedua lelaki bejat itu.
"Sekalii aja... Habis itu mas janji gak bakal minta aneh-aneh lagi" Ucap Rendy yang membuat Nada merasa shock mendengarnya. Bahkan saking shock-nya, ia sampai melepas pelukannya kemudian menatap wajah suaminya tak percaya.
"Mas tau perasaan adek... Mas tau adek pasti merasa kesulitan... Mas masih sayang adek kok... Mas sayyaang banget... Mas juga cinta sama adek... Tapi tolong dek... Sekkalliii aja... Yaahhh ? Izinin mas melihat mereka berdua menyetubuhi adek" Ucap Rendy memohon.
Nada menangis. Ia tak menjawab permintaan itu dan memilih pergi untuk berangkat ke kelasnya. Sesekali Nada menyeka air matanya. Ia merasa tak kuat untuk mendengar permohonan aneh dari suaminya lagi.
Astaghfirullah.... Sampai kapan aku harus kayak gini ?
Batin Nada tak kuat lagi.
Nada sudah sampai di pintu keluar rumahnya. Sebelum dirinya keluar, ia menyempatkan diri tuk menolehkan wajah ke belakang tuk menatap suaminya. Terlihat suaminya hanya tersenyum disana. Nada pun membuka pintu kemudian pergi meninggalkan suaminya sendiri.
Kenapa kamu kayak gini sih mas ?
Batin Nada sambil menyeka air matanya.
*-*-*-*
Siang harinya sekitar pukul sebelas tepat.
Di salah satu gedung kelas yang digunakan untuk ujian kenaikan kelas. Keadaan kelas sudah sepi saat itu. Santri-santri yang mengikuti ujian sudah kembali ke asramanya masing-masing. Mungkin, tinggal beberapa panitia ujian saja yang masih bersantai di ruangan panitia yang letaknya ada di salah satu ruangan kelas. itu saja tinggal sedikit. Mungkin tersisa satu sampai dua orang saja.
Akan tetapi, di lantai tiga gedung kelas. Di salah satu ruangan yang dipakai untuk ujian. Terdapat seorang ustadzah yang masih berdiam disana. Dirinya tidak beranjak dari tempat duduknya kendati ujian sudah berakhir. Ia duduk sambil menyandarkan pipinya pada telapak tangannya. Sikunya ia letakan di atas meja sebagai sandaran. Ia termenung. Ia memikirkan kejadian yang terjadi di hari kemarin.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua yah ? Kenapa ustadzah Syifa sampai memegang erat lengan mas Angga ? Kenapa juga mereka berdua keliatan mesra banget ? Ihhh nyebelin dehhh" Ucap Hanna merasa sakit hati.
Ia tidak menyangka kalau calon suaminya bisa-bisanya terlihat mesra seperti itu dengan ustadzah lain yang ia kenal. Tidak hanya berjalan sambil mengobrol biasa. Bahkan lengan mereka saling terkait. Ia jadi menduga kalau calon suaminya itu sedang berselingkuh dengan ustadzah Syifa, seorang ustadzah cantik berkulit bening yang sudah memasuki usia matang. Hanna sangat mengenalnya karena dirinya sering bertemu dengan ustadzah Syifa yang kantornya berada di bagian pengajaran. Ia sangat mengenalnya. Ia memandang ustadzah Syifa sebagai ustadzah yang sangat dewasa. Ia pun memaklumi kedewasaannya karena ustadzah Syifa sendiri sudah berusia 28 tahun.
"Enggak... Aku gak boleh suudzon dulu... Mungkin aja mereka gak seperti apa yang aku bayangin sekarang" Kata Hanna mencoba husnudzon.
"Ehh tapi sikap mereka jelas keliatan banget deh... Gak mungkin mereka gak selingkuh... Apalagi dari wajah ustadzah Syifa pas kemarin, jelas kalau ustadzah Syifa keliatan bahagia banget... Kenapa sih ustadzah Syifa sampai setega itu merebut mas Angga dariku ?" Ucap Hanna sambil menjatuhkan kepalanya diatas meja.
Hanna terlihat pasrah saat itu. Hanna juga terlihat kesal. Hanna merasa marah karena calon kekasih halalnya direnggut oleh ustadzah Syifa.
"Dah ah capek banget... Pusing mikirin itu terus daritadi" Ucap Hanna mulai beranjak dari kursi duduknya.
Sambil membawa buku-buku yang ia peluk di dada. Ustadzah bertubuh montok dan pemilik senyum termanis itu pun pergi untuk pulang ke asramanya. Hanna masih menunduk menatap ubin-ubin lantai dalam perjalanan pulangnya. Walau tadi dirinya berkata capek, walau tadi dirinya merasa pusing karena memikirkan hal ini terus. Tapi dirinya malah tetap memikirkan hal tersebut. Hanna masih masih kesal karena calon suaminya terlihat bahagia saat dirangkul oleh ustadzah cantik itu.
"Kenapa sih mas Angga sampai tergoda juga ? Kalau mas Angganya cuek, segatel apapun ustadzah Syifa pas menggodanya juga gak akan mempan... Ihhh ngeselin banget deh pokoknya" Ucap Hanna sambil mengepalkan kedua tangannya karena gemas.
Saat dirinya hampir mendekat tangga untuk turun ke lantai dua. Tiba-tiba ia mendengar suara yang menyapanya dari samping.
"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa seseorang yang membuat Hanna menaikan wajahnya tuk mencari tahu siapa orang itu.
"Walaikumsalam... Ehhh bapak" Jawab Hanna.
"Ustadzah apa kabar nih ? Terima kasih yah sudah merawat dan menemani saya" Ucap seorang pria tua yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu kelas.
"Ehh pak Prapto... Bapak gak usah terima kasih... Justru aku yang seharusnya berterima kasih ke bapak" Ucap Hanna dengan wajah memerah saat menatap tukang sapu itu. Ketika ia berdiri di sampingnya, seketika dirinya malah teringat saat dirinya berzina dengan pria kurus itu. Hanna menenggak ludah, ia teringat bagaimana penis pria kurus itu keluar masuk di dalam mulutnya.
"Hehehe saya mah belum berbuat apa-apa ustadzah... Saya cuma baru bertindak eh malah dipukulin oleh mereka... Jadi saya gak berhak tuk menerima ucapan terima kasih dari ustadzah" Ucap Pak Prapto merendah.
"Oh iya... Bapak udah sehat ? Badan bapak udah gak sakit lagi kan ?" Kata Hanna baru teringat. Sekilas penampakan tubuh pak Prapto baik-baik saja. Wajah tuanya itu sedang mengenakan kacamata. Kulit keriputnya juga terlihat baik-baik saja. Pria tua itu sedang bekerja sambil mengenakan seragam kerjanya serta celana kain panjang yang tidak membungkus kaki kurusnya. Nampak gagang sapu berada di kedua tangannya. Pria tua itu terlihat bahagia saat sedang mengobrol dengan ustadzah yang ia suka.
"Saya ? Hehe saya sudah baik-baik aja kok ustadzah... Semua berkat perhatian ustadzah yang sudah menemani saya" Ucap Pak Prapto yang membuat wajah Hanna memerah.
Sekilas pak Prapto melihat gerak-gerik Hanna. Pak Prapto melihat adanya sesuatu yang tidak beres pada Hanna. Wajahnya juga tidak terlihat ceria. Wajah cantik Hanna sedang menunduk saat berbicara dengannya. Tapi bukan menunduk karena malu. Hanna terlihat menunduk seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hmmm ustadzah kenapa ?" Tanya pak Prapto mengejutkan Hanna.
"Ehhh ? Aku baik-baik aja kok... Beneran aku baik-baik aja" Ucap Hanna memaksakan senyum.
"Tapi saya melihatnya gak seperti itu loh ustadzah... Ustadzah seperti sedang menyembunyikan sesuatu... Apa jangan-jangan mereka melakukan sesuatu lagi ke ustadzah yah ?" Tanya pak Prapto curiga.
"Bukan kok pak... Bukan tentang mereka" Ucap Hanna masih memaksakan senyum.
"Terus tentang siapa ? Apa sebaiknya ustadzah cerita ke saya aja ? Siapa tahu saya bisa bantu ustadzah ?" Ucap Pak Prapto menawarkan diri.
Hanna jadi ingin menceritakan persoalan pribadinya. Tapi ia masih ragu. Tapi kalau ditahan-tahan dirinya juga tidak sanggup tuk menahan semua beban yang ia punya. Hanna jadi bimbang untuk menceritakan keluh kesahnya atau tidak.
"Ustadzah... Saya memang orang yang baru mengenal ustadzah... Tapi percaya deh... Saya pasti bisa menyembuhkan hati ustadzah... Ustadzah cerita yah... Biar ustadzah makin tenang.... Biar ustadzah gak lagi menyangga beban berat itu sendiri" Ucap Pak Prapto tersenyum sambil menatap wajah indah Hanna.
Senyum kebapakan yang diberikan oleh pak Prapto membuat Hanna luluh. Memang benar dirinya butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Tapi, apakah pak Prapto orang yang tepat ? Hanna memang sudah merasa nyaman dengannya. Hal itu lah yang membuatnya semakin luluh untuk menceritakan masalahnya pada pak Prapto.
"Yuk kita ke kelas sebelah biar bisa duduk" Ajak pak Prapto dengan sopan yang membuat Hanna akhirnya menurutinya.
Hanna berjalan di samping pak Prapto menuju ruangan kelas yang berada di dekat mereka. Ruangan itu juga dipakai untuk tempat ujian di pagi tadi. Letaknya berada di dekat tangga. Mereka pun sudah memasuki ruangan kelas itu.
Hanna duduk di bangku nomor dua menghadap ke depan. Sedangkan pak Prapto duduk di bangku paling depan menghadap ke belakang, ke arah posisi Hanna berada.
Pak Prapto tersenyum saat melihat keindahan rupa Hanna di depannya. Sungguh, menatap wajahnya saja sudah membuat hati pak Prapto nyaman. Rasanya sangat adem. Pak Prapto jadi ingin memiliki hati serta tubuh Hanna seutuhnya.
"Bapak kenal ustadz Angga ?" Ucap Hanna memulai curhatnya.
"Ustadz Angga ?" Tanya pak Prapto sambil memperhatikan lekuk tubuh Hanna.
Wajah Hanna memang terlihat lemah. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang mempunyai banyak pikiran. Kendati demikian, Hanna masihlah cantik. Wajah Hanna begitu manis. Senyumnya sangat indah membuat hati pak Prapto berbunga-bunga saat menatapnya.
Dengan kemeja berwarna kuning terang yang membungkus tubuh montoknya. Dengan rok panjang berwarna hitam yang menyembunyikan kaki jenjangnya. Dengan hijab berwarna gelap yang menutupi rambut panjangnya. Dengan kacamata berlensa bening yang memperindah bentuk wajahnya. Serta adanya blazer yang menyempurnakan penampilannya. Pak Prapto malah terpana saat menatap keindahan wajahnya. Mulutnya terbuka sedikit. Tatapannya kosong. Ia benar-benar hanyut oleh keindahan rupa yang dimiliki oleh sang ustadzah.
"Iyya... Ustadz yang akan jadi calon suamiku itu loh pak" Ucap Hanna membangunkan pak Prapto dari lamunannya.
"Ohh yah... Yang itu... Iya saya pernah lihat ustadzah" Jawab pak Prapto gelagapan. Ia pun berusaha tenang agar sikapnya tadi tidak diketahui oleh Hanna.
"Kemarin, saat aku pulang ngawas... Aku ngeliat calon suamiku berjalan berdua dengan seorang ustadzah pak" Ucap Hanna mengejutkan pak Prapto.
"Ehhhh jalan berdua ? Cuma berdua aja kan ustadzah ? Gak pake gerakan-gerakan laen ?" Tanya pak Prapto penasaran.
"Masalahnya kemarin aku ngeliat lengan calon suamiku dirangkul oleh ustadzah itu" Jawab Hanna dengan lirih.
"Dirangkul ? Ustadzah ngeliatnya dimana ? Kok berani banget sih ustadzah itu ?" Ucap pak Prapto terkejut.
"Iyya pak... Aku ngeliatnya di deket lorong kelas deket gedung sebelah... Aku kecewa banget pas ngeliatnya" Ucap Hanna sambil menutupi wajahnya yang mulai berlinangan air mata.
"Ehhh bentar-bentar... Ustadzah tenang dulu... Berarti ustadz Angga selingkuh dong ?" Tanya pak Prapto meminta kepastian dulu.
"Entahlah pak... Aku cuma ngeliat aja" Jawab Hanna sambil menyeka air matanya.
"Oalah jadi baru dugaan aja yah ? Ya mungkin ustadz Angganya gak seperti apa yang ustadzah kira kali... Mungkin aja si ustadzahnya kepeleset terus gak sengaja ngerangkul tangan ustadz Angga"
"Enggakkk pakkk... Ini jelas banget... Aku ngeliat sendiri kalau mereka jalan sambil gandengan tangan !!!" Ucap Hanna dengan suara meninggi yang mengejutkan pak Prapto.
Pak Prapto jadi terdiam sesaat setelah melihat kemarahan Hanna. Dirinya yang tadi percaya diri bisa menuntaskan masalah Hanna jadi terdiam. Ia kebingungan tuk bersikap apa. Ia baru tau kalau ustadzah Hanna bisa semarah ini.
"Maafff pakk... Tadi aku emosi... Aku kesel banget soalnya pas ngeliat mereka berduaan... Masa ustadz Angga gak bisa jaga diri sih ? Padahal kan pernikahan kami tinggal hitungan hari... Aku kecewa banget pokoknya... Kenapa juga ustadzah Syifa sampai tega merebut hati calon suamiku menjelang tanggal pernikahanku" Ucap Hanna sambil menyeka air matanya menggunakan tisu yang ia bawa.
Eh ustadzah Syifa ?
Batin pak Prapto seperti pernah mendengarnya. Ia sepertinya pernah menyebut nama itu. Tapi yang mana yah ? Pak Prapto jadi lupa-lupa ingat dengan pemilik nama ustadzah Syifa itu.
"Iya gapapa ustadzah... Saya tau banget gimana perasaan ustadzah... Kalau ustadzah mau nangis ya nangis aja... Gak usah ditahan, tangisan itu bisa melembutkan hati kok... Pasti ustadzah bisa tenang nanti" Ucap pak Prapto sambil mengelus lengan Hanna.
Hanna pun menuruti saran dari pak Prapto. Hanna menangis. Hanna menangis sejadi-jadinya tuk melembutkan hatinya yang terluka. Pak Prapto jadi tidak tega. Ia pun berpindah ke samping tempat duduk Hanna tuk mengusap punggungnya. Pak Prapto kemudian memeluknya. Hanna memeluk tubuh pria tua berbadan kurus itu. Berulang kali Pak Prapto mengucapkan kalimat tuk menenangkan diri Hanna. Tangannya terus mengusap punggungnya. Bahu seragam kerjanya pun basah terkena air mata sang ustadzah.
Sambil memeluk tubuh sang bidadari. Pak Prapto mencoba mengingat-ngingat seorang ustadzah yang mempunyai nama Syifa itu.
Jangan-jangan... Ustadzah Syifa itu ustadzah Syifa yang pernah saya setubuhi di belakang gedung kelas itu yah ? Apa itu ustadzah Syifa yang sama ? Ahhh kayaknya iya.
Batin pak Prapto baru teringat.
"Maaf ustadzah... Ustadzah Syifa yang ustadzah maksud itu, ustadzah yang pernah saya tanyakan dulu itu bukan ?" Ucap pak Prapto.
"Huhuhu... Iyya pak... Ustadzah Syifa yang itu... Tega banget sih dia merebut calon suami aku" Jawab Hanna yang membuat pak Prapto tersadar.
Batin pak Prapto kesal. Tukang sapu itu pun mempererat pelukannya pada Hanna. Ia jadi ikut kesal pada ustadzah Syifa yang membuatnya ingin membalas dendam.
Awas kamu yah berani menyakiti hati ustadzah Hanna !
Batin pak Prapto sambil memeluk erat tubuh sang ustadzah.
Hanna merasa baikan setelah dipeluk oleh pak Prapto. Perlahan hatinya mulai tenang. Ia tidak lagi semarah tadi. Ia pun tersenyum pada pak Prapto kendati matanya masih berkaca-kaca.
"Makasih yah pak udah mau dengerin keluh-kesahku... Maaf udah nyita waktu bapak" Ucap Hanna tersenyum sambil merangkulkan tangannya pada bahu pak Prapto.
"Tenang aja ustadzah... Ustadzah gak perlu banyak pikiran lagi... Ustadzah itu cantik... Ustadzah itu manis... Kalau ustadz Angga berani selingkuh atau tergoda oleh ustadzah Syifa, maka ustadzah Hanna berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari ustadz Angga" Ucap pak Prapto yang membuat wajah Hanna memerah.
"Tapii pakk... Kami hampir menikah... Aku juga udah sayang banget sama mas Angga... Aku pasti bakal sedih kalau gak jadi menikah dengannya" Kata Hanna kembali menunduk.
"Ustadzaahhh... Diangkat dong wajahnya... Ustadzah gak perlu khawatir dengan wajah secantik ini" Puji pak Prapto sambil menyentuh dagu Hanna. Pipi Hanna kembali memerah. Tatapan pak Prapto yang begitu mesra membuat jantung Hanna berdebar kencang. Hanna jadi tersenyum malu. Pandangannya ia lempar ke samping. Hanna begitu malu saat ditatap dengan begitu hangat oleh tukang sapu itu.
"Nah gitu dong senyum... Dengan senyum semanis ini... Dengan wajah seindah ini... Pasti akan banyak lelaki yang ngantri kok... Kayak saya salah satunya... Jujur, sudah dari dulu saya mencintai ustadzah" Ucap pak Prapto setelah menyentuh bibir dan mengelus pipi mulus Hanna.
Hanna terkejut saat mendengar pengakuan pak Prapto. Ia tak menyangka kalau pria tua itu diam-diam memendam perasaan kepadanya. Hanna terdiam setelah mendengar pengakuan yang tiba-tiba darinya.
"Ustadzaahhh" Panggil pak Prapto sambil menyentuh bibir tipis Hanna. Hanna pun menatap mata pak Prapto. Kedua insan yang terpaut usia cukup jauh itu saling menatap. Pak Prapto tersenyum. Hanna terdiam menatap senyum penuh kebapakan dari tukang sapu itu.
"Mungkin ini waktu yang pas bagi saya untuk mengungkapkan isi hati saya... Sejujurnya, sudah sejak lama saya memendam perasaan ini ke ustadzah... Dengan kecantikan wajah yang ustadzah punya... Ustadzah sudah menaklukan hati saya... Setiap senyuman yang ustadzah berikan selalu membuat saya bahagia... Apalagi setelah saya tau kebaikan ustadzah dalam merawat saya... Jujur, saya senang sekali setelah ustadzah dengan penuh kasih menjaga dan merawat saya... Apalagi saat ustadzah tiba-tiba mengocok kontol saya... Jujur hehehe.... " Ucap pak Prapto malu-malu.
Wajah Hanna jadi memerah saat mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh pak Prapto. Apalagi di akhir kalimatnya, pria tua itu menyinggung saat-saat dirinya khilaf sehingga tidak sadar telah mengocok batang penisnya. Hanna pun menunduk sambil memegangi kedua pipinya karena malu.
"Jujur... Saya makin menyukai ustadzah... Saya sampai kepikiran hari-hari ketika kita sudah bersama" Kata pak Prapto melanjutkan kalimatnya.
Hanna hanya terdiam mendengar kata-kata dari tukang sapu itu.
"Hehehe tapi tenang ustadzah... Saya juga sadar diri kok... Saya cuma seorang tukang sapu... Pastinya saya tidak pantas untuk memiliki ustadzah yang merupakan seorang ustadzah pesantren... Saya ikut senang kok saat tahu kalau calon suami ustadzah merupakan lelaki yang tampan... Ya walau agak menyakitkan juga sih sebenernya tuk menerima kenyataan... Selama ustadzah bahagia... Saya ikut bahagia kok... Tuk sekarang ustadzah jangan mikir-mikir aneh dulu yah... Itu kan baru dugaan ustadzah saja... Belum tentu calon suami ustadzah itu selingkuh... Saya yakin ustadz Angga gak selingkuh kok... Mana mungkin ada seorang laki-laki yang sudah mempunyai calon istri secantik ustadzah tapi malah berselingkuh" Ucap pak Prapto memberanikan diri dengan menatap mata Hanna. Sesekali tangan kanannya mengusap lengan Hanna hingga membuatnya nyaman. Sedangkan tangan kirinya mengusap pipi mulus Hanna sehingga ustadzah cantik itu hanyut dalam tindakan yang tukang sapu itu lakukan kepadanya.
Hanna masih terdiam tak bisa berkata-kata tuk membalas ucapan pak Prapto. Dirinya masih diam menatap pandangan pak Prapto yang begitu hangat saat menatapnya.
"Eh"
Tiba-tiba kedua bahu Hanna disentuh oleh pak Prapto. Hanna menoleh ke kiri dan ke kanan tuk melirik kedua tangan pria tua itu yang ada di bahunya. Saat Hanna menatap ke depan. Wajah pria tua itu semakin dekat. Ia dapat merasakan deru nafasnya yang hangat. Apalagi pak Prapto saat itu sedang penat. Sehingga membuat tubuhnya berkeringat. Aroma kejantanannya telah merangsang diri Hanna sehingga membuat nafsunya semakin kuat.
Tatapan Hanna terlihat malu-malu. Sikapnya juga terlihat malu-malu. Pak Prapto jadi gemas sehingga membuatnya ingin mencumbu. Dipegangnya dagu manis sang ustadzah. Ditatapnya bibir Hanna yang berwarna merah. Pak Prapto jadi menggak ludah, ia pun membasahi bibirnya sendiri menggunakan lidahnya. Sungguh, lezat sekali bibir manis milik ustadzah. Pak Prapto tidak tahan lagi. Ia pun mendekatkan wajahnya sehingga Hanna reflek memejamkan matanya.
"Ustadzaahhh... Mmmppphhh" Desah pak Prapto saat menempelkan bibirnya di bibir manis sang ustadzah.
Hanna terkejut pak Prapto berani mencumbunya. Namun cumbuan pak Prapto begitu mesra. Bibir pria tua itu mendorong bibirnya dengan lembut. Lama-lama Hanna jadi hanyut terbawa arus kenikmatan yang sedang tukang sapu itu berikan. Gelitikan dari kumis pria tua itu menambah kenikmatan yang sedang Hanna rasakan. Tubuhnya yang tadi kejang mendadak lemas. Hanna mulai pasrah. Pak Prapto pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah intensitas cumbuannya.
"Ustadzaahhh... Maniss sekaliii bibirmu... Mmmpphhh saya sangat bahagia karena bisa bercumbu denganmu ustadzah" Ucap pak Prapto di sela-sela cumbuannya.
"Mmmpphhh pakkkk.... Mmmpphhh... Mmmpphhh" Hanna hanya mendesah. Ia benar-benar menikmati cumbuan yang sedang pak Prapto berikan.
Tangan kiri Pak Prapto mendekap tubuh Hanna. Tubuh mereka semakin berdekatan. Dadanya dapat merasakan dada empuk sang ustadzah. Hanna yang masih mengenakan kemeja serta blazer yang membungkus tubuh montoknya semakin pasrah. Tangan kanan pak Prapto mendekat. Tangannya mendekap sisi belakang kepala Hanna agar bibirnya bisa semakin puas saat mendorong bibir sang ustadzah.
Bibir Hanna didorongnya dengan penuh nafsu. Bibir atasnya diapit oleh kedua bibir pria tua itu. Hanna dapat merasakan betapa nikmatnya cumbuan penuh kenikmatan yang sedang pak Prapto berikan. Terasa bibir atasnya diolesi oleh lidah pria tua itu di dalam. Diam-diam bibir bawah Hanna ikut mengapit bibir bawah pak Prapto. Kini tidak hanya pak Prapto yang sedang bercumbu. Mereka berdua sedang bercumbu. Hanna ikut bercumbu tuk melampiaskan semua kekecewaannya setelah melihat calon suaminya berduaan.
Ya rasa kesal itu sudah berubah menjadi hawa nafsu. Ia ingin melampiaskan semuanya sekarang pada pria tua itu. Hanna mulai aktif. Lidahnya ikut bermain dengan mengolesi bibir bagian bawah pria tua itu di dalam.
"Mmmpphhh... Mmmpphhh ustadzah" Desah pak Prapto puas.
Ouhhh mantapnyaaa... Mmmpphhh beruntungnya saya bisa merasakan kelezatan bibirmu... Ouhhh ustadzah... Walaupun kita tidak bisa bersama, selama kita bisa bercinta... Saya sudah puas kok... Saya ingin terus menikmati tubuh indahmu ini... Saya ingin memuaskan hasrat birahiku padamu... Saya ingin menanamkan benih spermaku di rahimmu... Selama saya bisa mempunyai anak darimu... Saya bisa bahagia ustadzahhh.
Batin pak Prapto dalam hati. Ia tidak berani mengucapkan semua kalimat itu terang-terangan. Ia tidak ingin kata-katanya merusak momen kenikmatan yang sedang ia rasakan. Ia pun menambah intensitas percumbuannya dengan mengirimkan tangannya tuk ikut bermain dalam menikmati keindahan tubuhnya.
"Mmmpphhh bapaakkk... Teegggaa sekkallii... Teggaaa sekkaliii kamu mas... Kenapa mas tega mendua dibelakangku ? Mmmpphhh" Desah Hanna di sela-sela cumbuannya tuk meluapkan semua kekesalannya.
"Mmmpphhh kalau itu bisa menenangkan hatimu... Luapkan aja semuanya ustadzah... Jangan ada yang ditahan... Keluarkan semua uneg-uneg yang ustadzah punya.... Mmmpphhh" Desah Pak Prapto sambil mengusapi punggungnya kemudian memegangi pinggang rampingnya.
"Mmppphhh iyyahh pakkk... Aku gak akan menahan diri lagi.... Aku ingin mengeluarkan semuanya biar mas Angga tahu betapa kecewanya aku saat melihat mereka berduaan" Desah Hanna sambil menghisap bibir bawah pak Prapto sekuat-kuatnya.
"Mmmpphhh ustadzahhh... Slllrpppp" Pak Prapto jadi ikut menghisap bibir Hanna tuk memuaskan percumbuan mereka yang semakin panas.
Pak Prapto tidak lagi mencumbu bibir atasnya. Mereka kini bergantian. Pak Prapto yang mencumbu bibir bagian bawah Hanna dan Hanna mencumbu bibir bagian atasnya.
Saat bibir mereka semakin basah. Mereka berdua jadi tidak malu lagi tuk mendesah. Ruangan kelas kosong itu sudah di penuhi oleh desahan-desahan yang terdengar menggairahkan. Tangan pak Prapto tidak tahan lagi. Ia meremas dada Hanna yang membuat ustadzah cantik itu mengerang tuk melampiaskan kenikmatannya.
"Mmmpphhh bapaakkk... Aaahhhh.... Aahhh... Ssllrpp... Mmpphhh" Desah Hanna memejam sambil menahan nikmat saat dadanya diremas.
"Uuuhhh ustadzaaahh... Saya suka sekali sekali pas mendengar suara desahanmu itu... Bisa tolong mendesah lagi ustadzahhh... Yang lebih nikmmattt... Yanngg kerasss... Bayangkan calon suamimu itu sedang mencium bibirnya" Ucap pak Prapto merangsang tubuh Hanna.
"Mmpphhh... Mmmpphhh.... Daassaarrr !!! Mmmmppphhh... Lelaki macam apa kamu masss... Teganya kamu melakukan itu di hadapanku !!!" Ucap Hanna semakin dilanda birahi tinggi.
"Ouhhh mantappnyaaa... Iyyaahhh ustadzahhh... Ouhhh binalnya dirimu" Ucap pak Prapto merinding saat dadanya diusap-usap oleh tangan mulus sang ustadzah. Hanna sepertinya semakin bernafsu di siang hari itu. Tidak peduli dengan siapa ia melakukannya. Ia ingin menuntaskannya sekarang.
Hanna bahkan sampai mengapit bibir bawah pak Prapto kemudian menarik bibir bawah itu menggunakan jepitan bibirnya. Pak Prapto membuka matanya. Ia memperhatikan bagaimana ustadzah cantik itu menjepit bibirnya. Terlihat tatapan Hanna menunduk ke arah bibir yang sedang ia jepit itu. Kemudian Hanna melepaskan jepitannya. Mereka berdua pun saling menatap diam.
Hanna jadi malu hingga wajahnya menunduk saat ditatap oleh pria tua itu. Sedangkan pak Prapto masih tak percaya dengan apa yang dirasakannya tadi. Merasakan godaan yang Hanna berikan membuat pria tua itu tidak tahan.
"Saya gak nyangka rupanya ustadzah bisa binal juga yahhh" Ungkap pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum malu.
"Hihihi habis bapak sih bikin aku kesel aja... Masa ngajak aku bayangin mas Angga berciuman dengan ustadzah Syifa... Aku kan jadi meluapkan semua kekecewaan itu pas mencium bapak" Ucap Hanna malu-malu.
"Hehehe... Ustadzah ini... Udah cantik, baik hati dan jago bikin saya kerangsang lagi... Saya jadi makin suka sama ustadzah yang keliatannya kalem tapi diam-diam binal juga... Saya jadi pengen deh ngerasain goyangannya ustadzah" Puji pak Prapto semakin berani setelah merasa berhasil menaklukan birahi Hanna.
"Bapak mau aku goyang ?" Ucap Hanna sambil tersenyum malu-malu yang membuat pak Prapto terdiam.
"Saayyy... Saayyyaa boleh ? Saayya bolehh merasakannya ustadzah ?" Tanya pak Prapto tak percaya.
Hanna hanya mengangguk malu. Sejujurnya ia begitu merindukan penis besar itu. Penis yang selama ini baru ia kocok dan ia kulum. Ia belum merasakan bagaimana keperkasaannya saat menyodok rahimnya. Enak kah ? Nikmat kah ? Hanna jadi penasaran. Membayangkan penampakan penisnya saja sudah mampu membuat Hanna jadi semakin bernafsu.
“Ustadzah... Kalau gitu ? Saya boleh mencium ustadzah lagi ?” kata pak Prapto bernafsu membayangkan dirinya bisa merasakan goyangan sang ustadzah.
Hanna yang masih dilanda kekecewaan itu hanya mengangguk malu. Setelah mendapatkan izin dari ustadzah cantik itu, Tubuh pak Prapto langsung bergerak. Wajahnya kian mendekat. Ia tak sabar untuk melumat bibir manis itu sambil menggrepe-grepe tubuh montoknya.
“Mmpphhhh ustadzahhhh” desah pak Prapto disela-sela cumbuannya.
“Mmpphhh paakkkk” desah Hanna dengan nikmat saat merasakan cumbuan sang pria tua.
Mendengar desahannya yang manja membuat nafsu pak Prapto semakin menjadi. Pak Prapto melumat bibir Hanna dengan penuh nafsu. Bibirnya membuka lebar kemudian memagut bibir atas sang bidadari. Hanna hanya mendengus pelan sambil menahan kenikmatan yang sedang tukang sapu itu berikan.
Hanna dapat merasakan bibir atasnya dihisap oleh pak Prapto dengan sangat kuat. Kadang bibir atasnya yang berada di dalam mulut pria tua itu dijilatnya menggunakan lidah tuanya. Hanna sampai kehabisan nafas saat menerima rangsangan darinya. Anehnya, Hanna malah menikmatinya. Cumbuan itu malah dapat menenangkan hatinya yang terluka.
Hanna hanyut. Dirinya membiarkan tukang sapu itu memainkan lidahnya di dalam mulutnya. Bidadari berhijab itu tidak sanggup lagi hanya diam membiarkan tukang sapu itu melakukan semuanya. Lidah Hanna ikut bergerak. Lidah mereka saling beradu di dalam. Kadang lidah pak Prapto dibiarkan menari-nari di dalam mulutnya. Kadang lidahnya sendiri yang menjilat-jilat lidah tukang sapu itu. sungguh ironis melihat ada ustadzah secantik Hanna yang rela berciuman dengan pria tua rendahan yang bekerja sebagai tukang sapu kelas. Tapi inilah yang terjadi. Buntut dari kekecewaannya pada calon suaminya. Hanna pun melampiaskan semua kekecewaan itu melalui cumbuan yang ia lakukan bersama pria tua itu.
“Mmpphhh... Gimana ustadzah ? Enak kan cumbuan saya ?” tanya pak Prapto sambil melumat bibir bawah Hanna.
“Mmpphhh... Mmpphhhhh” Hanna tidak menjawabnya sama sekali. Namun pergerakannya justru semakin aktif. Ia seperti menjawab pertanyaan tukang sapu itu melalui tindakan dalam melumat bibir tuanya.
Pak Prapto tersenyum senang. Ia sangat bahagia bisa menikmati waktu berduaan bersama seorang ustadzah pesantren. Ia tak mengira kalau dirinya mempunyai kesempatan untuk bercumbu dengan ustadzah alim itu. Tangannya jadi tidak tahan. Tangannya pun bergerak naik tuk menggerayangi dada Hanna yang masih tertutupi kemeja berwarna kuningnya. Disana pak Prapto dapat merasakan kekenyalan dari payudara yang dimiliki oleh ustadzah pesantren itu. Jemarinya bahkan sampai menekan-nekan salah satu dari puncak gunung kembar yang berdiri indah disana. Pak Prapto tak tahan lagi. Tangan satunya yang daritadi menganggur pun membuka satu persatu kancing kemeja Hanna.
“Mmpphhhh bapaakk... Mppphhhhh jangannn” ucap Hanna masih malu-malu hingga tangannya menahan tangan pak Prapto untuk tidak membuka kancing kemejanya.
“Mmpphhh kenapa ustadzah... Ustadzah akan makin sexy kok kalau saya lepas bajunya... Ustadzah juga makin bebas kan untuk meluapkan nafsu ustadzah... Saya buka aja yah... Biar saya bisa ngeliat susu montokmu itu... Saya gemes soalnya pengen nyusu disana” ucap pak Prapto membujuk diri Hanna hingga wajah ustadzah pesantren itu memerah.
Hanna menuruti setelah mendengar bujukan pria tua itu. Kendati dirinya sangat malu, ia pun melepaskan dekapan tangannya pada tangan pria tua itu. Satu demi satu kancing kemejanya terlepas. Nampak belahan dadanya yang masih terbungkus beha berwarna hitamnya terlihat. Wajah Hanna sangat memerah. Ia sangat malu membayangkan tubuh indahnya sudah terlihat. Ia pun melampiaskannya dengan mencumbu bibir dari pria tua itu lagi.
“Indahnya tubuhmu ustadzah... Mmpphhh... Saya jadi gemes banget pengen ngeremes susumu ini” ucap Pak Prapto saat matanya melirik ke keindahan tubuh Hanna. Hanna jadi malu saat mendengarnya. Wajahnya sangat merah. Ia pun tersenyum disela-sela cumbuannya bersama pria tua itu.
“Ustadzahhh... Saya boleh nyusu kan ? Saya gak kuat ustadzah... Ohhhh mulusnya susumu ini... Gak cuma indah... Gak cuma besar... Ternyata susu ustadzah mulus juga yah... Saya jadi makin bernafsu buat nyusu disini ustadzah” ucap pak Prapto tak tahan. Ia pun menurunkan cup bra-nya sambil memandangi keindahan disana.
“Heemmm... Boleehh pakk... Mmmpphhhh” desah Hanna memejam saat bibir pria tua itu langsung menjepit puting indahnya dengan sangat kuat. Tak cukup sampai di situ. Tangannya yang semakin gatal menggerayangi tubuh sang bidadari dengan liar. Perut ratanya di elus. Usapannya naik tuk meremas kedua payudaranya. Kemudian usapannya turun lagi lalu naik lagi. Kedua tangannya pun meremas susu indah itu ketika mulutnya bergantian menghisap kanan kiri puting indahnya.
“Aahhhhh... Aahhhhhh... Pakkk... Ouhhhh yaahhh” desah Hanna blingsatan.
Awalnya payudara sebelah kirinya yang dijepit menggunakan bibir tuanya. Kemudian lidahnya ikut bermain dengan mengolesi permukaan pentil itu. Lalu ia mengulumnya lagi lalu menjilatinya lagi. Puas, ia pun berpindah ke payudara satunya. Ia kembali melakukan hal yang sama dengan menjepit pentil indah itu baru kemudian ia menghisapnya dengan kuat yang membuat tubuh Hanna merinding merasakan nafsu besar pak Prapto.
“Ouuhhh mantappnyyahhh... Ouuhhh nikmattnnyyaahhhh” desah Pak Prapto puas.
“Mmpphhh pakkk... Aahhhhhh yahhhh... Lagiii pakkk... Laaggiiiii ahhhh” desah Hanna sambil membayangkan suaminya yang tengah berduaan bersama ustadzah Syifa. Rasanya jadi ingin membalas dendam. Ia pun meluapkan semuanya dengan perzinahan yang ia lakukan bersama tukang sapu itu.
“Ouhhhh sini ustadzahh... Tangannya sambil ngocok kontol saya” ucap pak Prapto membimbing tangan Hanna tuk mendekap penisnya yang sudah keluar entah sejak kapan.
Langsung tangan Hanna membetot kuat batang penis raksasa itu. Mulut pak Prapto sampai membuka. Ia tak mengira cengkraman tangan Hanna akan sekuat ini. Ia pun membalas perbuatan Hanna dengan mengulum pentil indah itu lagi. Ia juga merangsang payudara satunya dengan cara meremasnya kuat. Ketika tangan Hanna mulai bergerak naik turun merangsang penisnya. Ia jadi semakin kuat dalam mencumbu pentil itu dan meremas keindahan payudara yang semakin kencang itu.
“Mmpphhhh ustadzahh... Mppphhh terusss... Kocok kontol saya ustadzahhh... Yangg kencaannggg... Mmpphhhhh” desah pak Prapto sambil menjepit pentil indah sang ustadzah.
“Aaaaahhhh baappaakkkk... Aahhhhh... Aahhhhh nikmatnyaaahh... Aahhhh terusss pakkk... Emut lagi punyakuuu... Ouhhhhh yahhhhh... Mmmppphhhhh” desah Hanna dengan manja lagi-lagi sambil membayangkan calon suaminya yang sedang bersama.
Ia meluapkannya dengan nafsu berapi-api. Ia jadi mempercepat kocokannya pada penis tua pria tua itu. Penis hitamnya itu semakin besar. Hanna memperkuat cengkramannya kemudian menaik turunkannya dengan sangat kencang. Semakin kuat pak Prapto menghisap dan meremas payudaranya maka semakin kuatlah kocokan yang ia berikan pada penis hitam di bawah sana. Nampak wajah Hanna terlihat semakin menggairahkan. Mulut Hanna membuka. Dirinya sungguh bernafsu dalam menikmati perzinahannya dengan tukang sapu itu.
Mmpphhh masss Anggaaa... Mmpphhhh... Gara-gara kamu massss... Aku meluapkan semuanya ke pak Prapto... Kenapa kamu tega banget masss... Aahhhhhh.... Kenapa kamu tega mendua dibelakangku mas.... Uhhh nikmatnyyaaahhh.... Aahhhhhh !!!
Batin Hanna disela-sela perzinahannya dengan pak Prapto.
“Uhhhhh cukup ustadzahh... Tolongggg... Emut kontol saya ustadzah seperti waktu itu hehehe... Sayyaa... Hah... Hah... Hah” ucap pak Prapto terengah-engah setelah dikocok dengan begitu hebat oleh ustadzah pesantren itu. Terhitung sejak dirinya menyetubuhi Syifa. Dirinya mulai belajar teknik pernapasan agar tidak cepat keluar saat menyetubuhi seseorang. Ia pun mempraktekannya pada Hanna. Untungnya ia sanggup menahan birahinya walaupun berkali-kali dirinya nyaris keluar karena tidak sanggup menahan rangsangan Hanna.
“Ayo sini ustadzah” kata pak Prapto duduk diatas meja sambil melepas celana yang ia pakai.
Nampak penis hitam itu sudah terhidang dihadapan wajah Hanna yang duduk dihadapannya. Hanna masih duduk di kursi menatap ke depan. Pak Prapto duduk diatas meja menghadap ke belakang. Sambil malu-malu, Hanna kembali mendekap penis hitam itu kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.
“Aaahhhhh nikmattnyyaaa” desah Pak Prapto saat kemaluannya bersentuhan dengan rongga mulut Hanna yang lembap.
“Mmppphhh... Mmmppphhhh” desah Hanna sambil mengapit batang penis itu menggunakan bibirnya. Wajahnya naik turun ke arah selangkangan pak Prapto yang terbuka lebar. Lidahnya di dalam juga bergerak melilit batang penis hitam itu. Aroma selangkangannya yang menyengat justru menambah birahi Hanna dalam mengulum batang penisnya.
“Hah... Hah... Hah.... Aahhhhhh mantappnyyaaa” desah pak Prapto terengah-engah.
Ia pun membuka kancing seragamnya hingga membuatnya telanjang bulat dihadapan ustadzah cantik itu. Bulu jembutnya yang lebat berulang kali menggelitiki hidung Hanna. Namun gelitikan itu tidak mengganggu Hanna sama sekali. Wajahnya malah semakin terbenam. Ia berusaha memasukan keseluruhan penis itu ke dalam mulutnya. Meski Hanna merasa kalau ujung penis itu sudah menyodok pangkal kerongkongannya. Ia berusaha terus mengulumnya karena dibenaknya ia sedang memikirkan calon suaminya yang sedang berduaan bersama ustadzah Syifa.
Mmppphhhh... Mmpphhhhh... Mas Anggaaa !!! Ini akibatnya karena mas tega mengkhianatiku... Ouhhhh enak banget sih rasanya kontol ini... Mmpphhhh... Nikmat banget rasanya sampe aku gak bisa berhenti !
Batin Hanna saat mengulum penis itu.
“Aahhhh... Aahhhhh... Aahhhhhh ustadzahhhh !!!” desah pak Prapto sambil memegangi hijab Hanna.
Nampak Hanna hanya mengulum ujung gundulnya saja. Sementara batang penis itu ia kocoknya menggunakan tangan kanannya. Dikala batang penisnya ia kocok, maka ujung gundulnya ia hisap hingga terdengar suara seruputan disana. Jelas pak Prapto kewalahan dalam menahan amarah Hanna yang sedang dikecewakan oleh sikap calon suaminya.
Pak Prapto menurunkan pandangannya sedikit. Nampak wajah Hanna yang masih terhiasi dengan kacamata berlensa bening itu terus mengulum penisnya. Ia tidak mengira dibalik wajahnya yang polos tersimpan nafsu birahi terpendam yang amat besar. Ia sampai harus memegangi tepi meja tuk menahan penisnya yang sedang disedot-sedot menggunakan mulut kecilnya.
“Ohhh yahhh... Ouhhh ustadzahhh... Aaahhhhhh” desah pak Prapto sambil menaikan wajahnya ke atas.
Hanna sedang memegangi batang penis itu. Nampak penis hitam itu semakin lembap setelah terolesi oleh air liurnya. Dirinya tidak lagi mengulum penis itu. Ia sedang mengocoknya sambil menjilati sisi bagian bawah penis itu dengan penuh nafsu. Hanna sedang membungkus penis itu menggunakan liurnya. Ia menjilatnya seperti sedang menjilati sebatang lollipop besar. Hanna juga terengah-engah disana. Ia pun kembali mengulumnya kali ini dengan membenamkan wajahnya hingga bibirnya dapat menyentuh bulu jembut yang sangat lembap itu.
“Aaahhhhh ustadzaahhhhh !!!!” desah pak Prapto merinding.
"Mmpphhh... Ssllrpp... Mmpphhh" Hanna masih menghisap batang penis itu kendati keseluruhannya sudah terbenam di dalam mulutnya. Penis hitam pak Prapto terus tersedot-sedot. Cairan kental yang ada di dalamnya terus bergerak naik mendekati lubang kencingnya.
"Ahhhhh... Cukuppp ustadzah... Cukuppp" Kata pak Prapto tidak kuat lagi.
Untungnya Hanna menuruti apa yang dikatakan oleh pak Prapto. Ustadzah pesantren itu berhenti menyedot penisnya kemudian kembali duduk tegak sambil menyeka liurnya yang nyaris menetes dari tepi mulutnya.
"Hah... Hah... Hah... Hampir aja ustadzah... Bahaya sekali tadi... Hampir aja saya keluar duluan... Gak kuat kontol saya kalau disedot kayak tadi" Ucap pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum malu.
"Hehe maaf" Ucap Hanna malu-malu yang membuat pak Prapto semakin gemas.
"Gak usah minta maaf ustadzah... Justru saya bersyukur ustadzah mau menghisap kontol saya... Sekarang saya mau nyodok nih... Ustadzah bisa berdiri dulu gak ?" Ucap pak Prapto meminta Hanna berdiri.
"Sini ustadzah... Ke depan kelas aja... Kita cari tempat luas" Ucap pak Prapto lagi meminta Hanna berdiri di depan meja paling depan.
Hanna nurut saja mengikuti arahan pria tua itu. Tubuhnya agak menungging. Kedua tangannya bertumpu pada meja depan menghadap ke belakang kelas.
"Ouhhhh montoknya bokongmu ini ustadzahhh... Mmpphhh saya makin gak tahan nih kalau dikasih bokong semontok ini" Ucap pak Prapto sambil meraba-raba bokong Hanna yang masih tertutupi roknya.
"Bapaakkkk" Ucap Hanna dengan wajah memerah.
"Hehehe maaf ustadzah... Gak nahan soalnya... Saya gemes banget" Ucap pak Prapto tersenyum.
"Dasaarr !" Ucap Hanna tersenyum malu.
Pak Prapto masih cengengesan saat jemarinya menurunkan rok panjang yang menghalangi pemandangan itu. Pelan-pelan dirinya mulai memeloroti roknya. Nampak kulit bokongnya yang begitu mulus tanpa ada goresan sedikitpun. Melihatnya saja sudah membuat pak Prapto menenggak ludah. Ia pun melanjutkan aksinya. Rok itu akhirnya jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Tak cukup disitu, ia juga menurunkan celana dalamnya. Hanna sudah bottomless disana. Dibagian bawahnya ia tidak mengenakan apa-apa lagi selain kaus kaki dan sepatu pantofelnya. Ia juga melepas blazer yang Hann kenakan sehingga dibagian atasnya tinggal tersisa hijab, kacamata serta kemeja berwarna kuning yang sudah tidak ia kancing lagi.
"Akhirnyaaa... Kesempatan ini datang juga... Ouhhh gimana yah rasanya jepitan memekmu ustadzah" Ucap pak Prapto penasaran. Disamping itu, kedua tangannya terus-menerus mengelus bokong montoknya. Sesekali pria tua itu juga menamparnya yang membuat bokong Hanna memerah sambil mengeluarkan jerit-jerit nikmat.
"Ahhh.... Aahhhh... Bapaakkkk... Aaahhh" Ucap Hanna merasa seperti sedang dilecehkan. Tapi disini ia menikmatinya. Ia menganggap semua perzinahan ini sebagai obat penyembuh hatinya yang sedang terluka.
"Siapp... Siappp... Hehehe" Ucap pak Prapto mulai mendekatkan batang penisnya yang licin itu ke bibir vagina Hanna. Hanna jadi berdebar saat tahu akan ada penis baru yang akan dijepit menggunakan vaginanya. Ia pun membayangkan betapa hitam dan kekarnya penis itu saat sedang mengetuk-ngetuk bibir vaginanya. Ia pun memejam. Mulutnya membuka tuk merasakan sodokan yang akan tukang sapu itu lakukan.
Maassss... Maafff masss... Ini balasan dariikuu karena mas sudah memilih berduaan dengan ustadzah Syifa !
Batin Hanna sebelum kemaluannya disodok oleh pria tua itu.
"Hennkkgghhhh !!!!" Desah pria tua itu sambil menahan nafasnya. Pinggulnya langsung ia dorongkan. Batang penisnya langsung ia benamkan. Tubuh Hanna sampai terdorong maju ke depan. Tusukannya begitu kuat. Tusukannya begitu cepat hingga membuat mereka berdua menjerit nikmat.
"Aaaaaaahhhhhhh" Desah mereka berdua bersamaan.
Saat penis besar itu sudah masuk seluruhnya setelah dibantu oleh cairan cinta Hanna yang terlebih dahulu sudah membanjiri vaginanya. Pak Prapto bergegas tuk menggerakan pinggulnya merasakan jepitan memek yang luar biasa dari Hanna.
"Ouhhhhhh... Pakkkkk.... Mmpphhh" Desah Hanna mengejang karena tak kuasa menahan sodokan yang tiba-tiba dari pria tua itu.
Pak Prapto dengan perlahan menikmati tusukan demi tusukan yang ia lesatkan ke dalam vagina Hanna. Ia memejam, mulutnya terbuka lebar menikmati jepitan vagina Hanna yang seperti mencekik penisnya.
Ouhhhh gillaaaa rapettnyaaa !!! Meski sudah dinodai oleh penis Lutfi dan penis ustadz itu... Tapi kok memeknya masih rapet aja yahhh... Gilaaa kalau gak nahan nafas bisa langsung keluar nihh !
Batin pak Prapto sambil menggeleng-geleng kepala.
Dikala lelaki kurus itu menarik kemaluannya mundur hingga sampai ke ujung gundul, ia menghantamkan kembali pinggulnya sekuat tenaga hingga ujung gundul itu menyundul rahimnya. Diulanginya lagi perbuatan itu secara perlahan hingga tubuh Hanna yang hanya menyisakan hijab, kemeja terbuka, kaus kaki serta sepatu yang menjadi alas kakinya terhentak-hentak perlahan.
"Ouhhhh pakkk... Pelannn... Pelaannn... Aaaahhhhh" Desah Hanna terkejut. Hanna terkejut dengan cara pak Prapto saat menyetubuhinya. Ia tak menduga kalau gaya pak Prapto lebih barbar dari apa yang ia pikirkan sebelumnya. Ia terus merasakan rahimnya disodok-sodok dengan sangat kuat oleh penis hitam itu. Bahkan setelah rahimnya tersodok, penis hitam itu kembali ditarik oleh pemiliknya untuk dihantamkannya lagi ke arah rahimnya.
"Aaaahhhhh baaappaaakkk !!!!" Jerit Hanna dengan penuh nikmat.
Terbuai oleh kenikmatan yang begitu memabukan membuat tukang bersih-bersih itu langsung memborbardir rongga vagina Hanna. Tanpa ampun ia langsung mempercepat gerakan pinggulnya. Kedua tangannya berada di pinggul ramping sang ustadzah. Ia memeganginya agar ustadzah cantik itu tidak terpental jauh saat pinggulnya ia benamkan sedalam-dalamnya ke arah selangkangan Hanna.
"Ahhhh... Aahhhh... Nikmat sekalliii memekmu ustadzahhh.... Ouhhhh... Ouhhhh yahhhhh" Desah pak Prapto sambil menggenjot kemaluan Hanna dengan cepat.
"Aahhhh... Aahhhh... Bapakkkk... Aaaahhhhh... Tungguuu pakkk... Aaaahhhhh" Desah Hanna terkejut dengan gaya main pria tua itu. Ia tidak mengira kalau gaya persetubuhan pak Prapto cenderung primitif namun bisa memuaskan birahinya. Kendati pak Prapto terus menyetubuhi Hanna dengan cara barbar. Hanna dapat merasakan kepuasan disana. Ia sangat puas ketika penis hitam itu dengan cepat menyundul-nyundul rahim kehangatannya.
"Aahhhh... Manteppp sekaliii ustadzzaahhh... Ouhhhh nikmat sekaliii... Ahhhh jepitanmu kuat sekali ustadzah... Kontol saya sampai kecekek gini... Aahhhh" Desah pak Prapto sambil terus menggenjot Hanna dengan sangat kuat.
Tampaknya pak Prapto sudah tergila-gila pada lezatnya jepitan vagina Hanna. Ia tak pernah lelah dalam menyodok rahimnya. Ia tak pernah puas dalam menggenjot lubang kemaluannya. Tak ada sedikitpun pikiran baginya untuk menyudahi persetubuhan ini. Ia terus menggempurnya. Penisnya ia benamkan hingga seluruh penisnya masuk ke dalam. Ia tarik penisnya keluar hingga hanya ujung gundulnya saja yang masih menempel pada bibir vaginanya. Kembali ia menyodoknya. Tubuh Hanna jadi terdorong maju mundur.
Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Payudara Hanna yang berukuran besar terus bergoyang sesuai irama. Suara erangan yang keluar dari mulut Hanna menambah gairah birahi pak Prapto dalam menikmati tubuh indah itu. Sepertinya ia sudah belajar dari persetubuhannya dulu sehingga ia masih bisa bertahan kendati dirinya melakukannya dengan cara barbar.
"Ahhh... Aahhhh ustadzahhh... Ustadzahhh sukaaa kannn ? Ustadzahhh menikmati sodokan kontol saya kannn ?" Tanya pak Prapto di tengah-tengah genjotannya.
"Ahhhh... Aahhhh... Iyyahhh pakkk... Aahhhh... Akuuuu... Sukaaaa.... Aahhhh" Desah Hanna kewalahan.
Kedua tangan pak Prapto bergerak naik tuk menggerayangi pinggang mulus sang ustadzah. Ia benar-benar puas. Ia sangat menikmati persetubuhannya dengan seorang ustadzah yang ia suka.
Sementara Hanna terus merem melek menahan persetubuhan ini. Mulutnya tidak bisa menutup rapat. Nafas hangatnya terus keluar bergantian dengan jeritan penuh kenikmatan dari dalam mulutnya. Sungguh, dari sekian laki-laki yang pernah menyetubuhinya. Persetubuhan dengan pak Prapto lah yang benar-benar membekas di hatinya. Ia tak pernah sepuas ini. Ia tak pernah merasakan genjotan senikmat ini. Seketika ia lupa dengan semua masalah yang dialaminya. Fokusnya teralihkan pada kenikmatan yang sedang ia rasakan sekarang.
"Rasakaannnn inii... Hennkkghhh !!!" Desah pak Prapto saat membenamkan pinggulnya hingga ujung gundulnya mentok menabrak rahimnya.
"Uuhhhhh paaakkkkk" Desah Hanna saat tubuhnya terdorong maju. Mata Hanna merem melek penuh kepuasan. Cengkramannya memegang kuat meja kelas. Tubuhnya pun dipeluk dari belakang oleh pria tua itu.
"Uuhhhh hampir lagi ustadzahhh... Hampir saya kelepasan lagi... Ahhh mantapnya tubuh indahmu ini" Ucap pak Prapto memuji kelezatan vagina Hanna. Kedua tangannya pun maju tuk meremasi payudara itu. Pak Prapto semakin puas. Ia begitu menikmati waktu kebersamaannya bersama Hanna.
"Hah... Hah... Hah... Makasih pak" Ucap Hanna malu-malu sambil terengah-engah.
"Ustadzaahh... Tadi ustadzahhh bilang mauu goyang saya kannn ? Sekarang saya mau digoyang nih... Tolong goyang saya yah ustadzah" Pinta pak Prapto sambil meremasi payudaranya.
"Hah... Hah... Bapakkk... Gak istirahat dulu pak ? Aku capek banget nih... Bapak kok kuat banget sih udah goyang sekencang itu tapi belum keluar juga ?" Jawab Hanna heran.
"Hehehe maklum ustadzah... Saya gak mau terburu-buru tuk memejuhi ustadzah... Saya ingin menikmati momen kita lebih lama lagi ustadzah... Soal itu, saya mau di goyangnya sekarang ustadzah... Mumpung kontol saya lagi keras-kerasnya... Coba nih pegang... Ustadzah suka kan ngegoyang kontol sekeras ini ?" Ucap pak Prapto sambil menuntun tangan kanan Hanna ke arah penisnya. Sedangkan wajahnya mendekat ke wajah cantik Hanna. Ustadzah pesantren itu kembali dicumbu. Sedangkan penis tukang sapu itu kembali dikocok oleh ustadzah berhijab itu.
"Mmpphh... Mmpphhh... Suka banget pakkk... Aku pasti suka asalkan itu punyanya bapak" Jawab Hanna yang terlanjur cinta pada keperkasaan tukang sapu itu.
Setelah puas bercumbu. Hanna sambil malu-malu menarik penis pria tua itu sehingga pak Prapto yang sudah bertelanjang bulat dipaksa mengikuti langkah kaki Hanna yang membawanya ke sebuah meja.
Pak Prapto tersenyum senang melihat kebinalan Hanna. Ia tak pernah menduga kalau ustadzah berwajah kalem itu berani menarik penisnya tuk mengajaknya bercinta diatas salah satu meja di ruangan kelas itu.
"Silahkan bapak berbaring yah" Ucap Hanna yang langsung dituruti oleh pria tua itu.
Jantung pak Prapto berdebar melihat kebinalan ustadzah cantik itu yang akan menungganginya. Hanna tampak malu-malu saat menaiki tubuh tuanya. Kacamata Hanna masih melekat. Kemeja berwarna kuning itu masih nyantol di tubuh indahnya. Perlahan demi perlahan Hanna menurunkan tubuhnya. Penis kekar itu perlahan masuk membelah liang senggamanya. Pak Prapto memejam. Hanna ikut memejam. Proses penetrasi penis itu benar-benar merangsang kemaluan mereka berdua.
“Uhhhhhh” desah Hanna merasakan nikmatnya. Dengan malu-malu, Hanna mulai naik turun diatas pangkuan pria tua itu. Wajah Hanna yang tersenyum malu ditambah dengan pergerakan payudaranya yang gondal-gandul memanjakan mata pak Prapto.
Mata pria tua itu terfokuskan pada pergerakan payudara Hanna. Sambil memegangi pinggul rampingnya. Ia mulai menikmati goyangan Hanna yang begitu mantap.
"Aaahhh... Aahhhh.... Aaaahhhhh" Desah Hanna perlahan saat tubuhnya semakin cepat ia naik turunkan.
Hanna merasa malu sekali saat diminta melakukan goyangan ini. Tapi bagaimana lagi ! Ini sudah janji yang harus ia tepati. Mau bagaimana pun ia harus melakukan apa yang sudah mulutnya ucapkan. Demi mengurangi rasa malunya, ia hanya memejam sambil menaik turunkan tubunya dan mempercayakan pegangan pak Prapto agar tidak jatuh saat menggoyang penis kekar itu.
“Aahhhh... Aahhh... Aahhhhh” desahnya lagi sambil malu-malu.
"Uhhhh... Uhhhh... Luar biasa sekali ustadzah goyanganmu" Puji pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum malu. Hanna jadi tersenyum saat itu yang membuat pandangan pak Prapto semakin dimanjakan oleh keindahan wajahnya.
Semakin lama Hanna naik turun diatas penisnya. Semakin besar pula nafsu yang dimiliki oleh ustadzah pesantren itu. Meski tadi dirinya meminta istirahat tapi justru ia lah yang terlihat paling bersemangat. Dirinya tidak mampu menahan gairah birahinya setelah sebelumnya ia digenjot habis-habisan oleh tukang sapu itu.
Lama-lama vaginanya semakin lembap. Vaginanya semakin basah oleh kekarnya penis yang sedang menancap di dalam. Sedikit demi sedikit tanpa merasa malu lagi. Bidadari cantik itu bergoyang membuat penis yang sedang ada di dalam semakin tergoyang. Hanna memejam sambil bertumpu pada perut kurus pak Prapto. Rasanya sungguh nikmat membuat pinggulnya terus bergoyang secara horizontal. Awalnya bergerak ke kanan lalu ke depan terus ke kiri lalu ke belakang. Pinggulnya berputar tiga ratus enam puluh derajat tuk merangsang penis berwarna hitam legam itu.
"Aahhhh ustadzahhh... Ustadzah hebat banget sihhh... Goyangan ustadzah enak banget... Goyangan ustadzah nikmat banget" Puji pak Prapto yang membuat Hanna jadi bersemangat tuk memuaskan nafsu pria tua itu.
Seketika ia teringat kalau ia sampai berbuat seperti ini gara-gara perbuatan calon suaminya. Rasa kekesalan itu kembali muncul. Hal itu membuat Hanna meluapkan seluruhnya pada keperkasaan penis hitam itu.
Maasssss.... Maasssss... Pasti dibelakangku mas juga pernah bertindak seperti ini kan ? Pasti mas Angga juga pernah bercinta dengan ustadzah Syifa kan ? Aahhhh tega sekali kamu masss... Tega sekali kamu memilih dia daripada aku !
Batin Hanna semakin bernafsu.
“Aahhh nikmatnyaa... Hebat sekali ustadzahh... Ayoo goyang terus... Goyang terusss ahhhhhh” desah pak Prapto menahan kenikmatan.
Pria tua itu terkejut ketika Hanna tiba-tiba bergoyang semakin binal. Ustadzah pesantren itu semakin cepat dalam menaik turunkan tubuhnya. Ustadzah pesantren itu juga memasang raut wajah nakal yang membuat pria tua itu bernafsu kepadanya.
Aahhhhhh massss... Tega kamuu massss... Ini balasanku padamu... Aaahhh nikmat sekaliii... Aahhhh jangan salahkan aku kalau nanti aku sampai berselingkuh dengan pak Prapto... Ouhhhh nikmatnyaaa !
Batin Hanna semakin cepat bergoyang.
"Aaahhhh... Aahhhh... Aaaahhhhh" Desah pak Prapto gelagapan.
Desahan yang terucap dari mulut pak Prapto membuat Hanna semakin bergairah. Hanna jadi semakin bersemangat tuk menuntaskan semua hasratnya pada penis kekar itu. Ia mempercepat goyangannya. Ia juga semakin dalam saat membenamkan penisnya sehingga membuat Hanna semakin tidak tahan lagi.
“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Hanna.
Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang hanya mengenakan hijab serta kemeja terbuka itu menatap wajah pria tua yang sedang berbaring ditunggangi olehnya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa pria tua bertubuh kurus ini bisa memuaskan birahinya ? Kenapa pria tua berkurus ini bisa kuat dalam menahan goyangannya ? Membayangkan hal itu malah membuat diri Hanna tertantang. Ia pun menggunakan seluruh energinya tuk menuntaskan hasrat birahinya sekarang.
"Aaahhh bapaaakkkk"
Dikala tubuh Hanna semakin panas. Dikala tubuhnya semakin bergairah. Ia mengangkat tubuhnya hingga ujung gundul dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.
“Uhhhhhhhhhh” desahnya sambil memanyunkan bibirnya.
Jleeebbbbbbb !
“Paakkkkkkkkk.... Aahhhhhhhhh”
Hanna mendesah dengan puas ketika ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu langsung menyundul rahim kehangatannya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Hanna merasa ketagihan. Ustadzah itu terus mengaduk penis hitam yang dimiliki oleh tukang sapu itu. Kedua payudaranya yang bergoyang-goyang memanjakan mata pak Prapto yang semakin dipuaskan oleh goyangan indah dari tubuh ustadzah pesantren itu.
"Aahhhh ustadzaaahhh nikmat sekaliii... Aahhh pasti kalau ustadzah sudah menikah nanti, suami ustadzah bakal puas menerima goyangan dari ustadzah" Ucap pak Prapto yang tak sengaja mengingatkan kembali Hanna pada calon suaminya.
"Uhhhh... Uhhh... Uhhhhh" Hanna jadi semakin liar. Ia merasa hampir gila. Ia benar-benar tak menyangka pada keperkasaan penis tua ini. Ia pun kesal pada diri sendiri. Ia juga kesal tiap kali terbayang wajah calon suaminya.
Ahhhh... Aahhh... Sebentarrr lagiiii !!!
Batin Hanna tak kuat.
Mereka berdua saling bercinta dengan penuh gairah. Desahan-desahan mereka terdengar kencang. Terkhusus bagi Hanna yang sudah mendekati batas maksimal. Hanna jadi bergoyang semakin cepat. Pak Prapto pun kewalahan sampai harus mencengkram kuat tepi meja kelas tersebut.
"Ahhh... Aahhh pakk... Akuu kelluaaarrrr" Desah Hanna sambil membenamkan tubuhnya ke selangkangan pak Prapto hingga penis pria tua itu semakin dalam menyundul rahim kehangatannya.
"Uhhhh ustadzah aaahhhh !!"
Crrtttt.... Crrrrttt... Crrttttt !!!
Mata Hanna merem melek penuh kepuasan. Tubuhnya tersentak berkali-kali. Tak pernah dirinya sepuas ini ketika disetubuhi oleh seorang lelaki. Tubuhnya sampai lemas tak berdaya. Ia sangat puas hingga matanya memejam tuk menikmati sisa orgasmenya yang terasa dahsyat.
Hanna pun ambruk dalam pelukan pria tua itu. Hanna terengah-engah. Dadanya naik turun saat dipeluk oleh pria tua itu. Hanna berulang kali memejam setelah mendapatkan orgasme terdahsyatnya.
Sedangkan pak Prapto masih berbaring sambil merasakan guyuran air yang begitu deras menyirami batang penisnya. Ia merasa kalau saat ini rongga vagina Hanna sangat lembap. Ia pun terus berbaring sambil mengusapi punggungnya.
Luar biasa... Mantap sekali goyangannya... Untungnya saya masih kuat... Fiyuhh tinggal giliran saya nih tuk menuntaskan semuanya !
Batin pak Prapto yang merasa tinggal butuh goyangan sedikit kali lagi tuk mengeluarkan sperma kentalnya.
Dengan berhati-hati pak Prapto bangkit sambil memeluk tubuh Hanna. Ia melepas kemeja kuning yang masih dikenakan olehnya. Baru setelah itu, ia menaruh tubuh polos Hanna diatas meja yang tadi ia naiki. Nampak keindahan tubuh Hanna disana. Tubuh polos itu tidak tertutupi oleh apa-apa lagi. Payudara besarnya terlihat, pusarnya yang menggoda telah terlihat dan vaginanya yang lembap juga terlihat. Pak Prapto jadi menenggak ludah. Ia pun tak sabar untuk menyudahi persetubuhannya yang pertama dengan sang ustadzah.
"Paakkkk tungguuu" Ucap Hanna dengan lemah.
"Ada apa ustadzah ? Hah... Hah... Hah..." Tanya pak Prapto sambil terengah-engah. Penisnya saja sudah berdenyut saat ujung gundulnya tersentuh bibir vagina dari ustadzah pesantren itu.
"Biarkan aku istirahat dulu pakk... Aku capekkk... Hah... Hah" Ucap Hanna dengan lemah.
"Maaf ustadzah... Saya sudah gak kuat lagi soalnya... Saya pengen crot sekarang... Ustadzah siap-siap saya gempur lagi yah... Hennkghhhh !!!!" Desah pak Prapto yang langsung menancapkan penisnya.
"Aaahhhhhh" Desah Hanna saat penis besar itu langsung ambles ke dalam vaginanya.
Tanpa menunggu waktu, pak Prapto langsung mempercepat gerakan pinggulnya. Cara barbar yang tadi digunakan olehnya kembali ia gunakan sekarang. Sambil memegangi pinggang rampingnya, pak Prapto menggenjot rahim Hanna hingga tubuh polosnya terdorong maju mundur. Nampak gerakan payudaranya yang indah menggoda mata pak Prapto. Nampak raut wajahnya yang menggairahkan merangsang birahi pak Prapto. Pria tua bertubuh kurus itu jadi makin terangsang sehingga ia mempercepat gerakan pinggulnya.
"Ahhh pakkkk... Cukuppp pakkkk.... Aku capeeekkkk ahhhh ahhhh" Desah Hanna.
Namun pak Prapto benar-benar menikmati persetubuhannya. Ia melancarkan serangan demi serangan untuk memastikan keseluruhan penisnya masuk membelah liang senggama itu. Lelaki kurus itu selalu melihat ke bawah tuk mengagumi bentuk tubuh dari si cantik yang tengah terkapar tak berdaya. Matanya dengan binar menelan seluruh keindahan yang terpahat di tubuhnya. Juga gerakan dari buah dada Hanna yang berguncang seiring sodokan yang ia lesatkan di vaginanya.
Kendati pak Prapto bilang kalau ia sudah tidak kuat lagi. Namun ia tidaklah sebodoh itu yang begitu bernafsu hingga menyia-nyiakan barang bagus yang sedang ia pakai. Ia juga bukanlah orang yang terburu-buru dalam menikmati sesuatu. Ia pun mengatur nafasnya agar lebih lama dalam menikmati tubuhnya juga dalam menikmati jepitan vaginanya. Hanna jadi berteriak-teriak lagi dalam menahan sodokan penis besarnya.
"Ahhhhhh... Ahhhh... Pakkk... Sudaahhh... Ahhhh" Desah Hanna sembari memegangi tepi meja dengan erat.
Kenikmatan yang semakin tak tertahan membuat pak Prapto meningkatkan intensitas goyangannya. Dorongan pinggul yang pria tua itu lesatkan ke dalam vaginanya semakin cepat. Ia juga terampil dalam menusuk penis itu hingga mengenai titik terdalam dari lubang kenikmatan Hanna. Penis itu dengan lihai bergerak maju mundur tanpa lelah. Penis itu dengan lihat menggesek dinding vaginanya. Akibatnya cairan cinta yang berkumpul di dalam semakin banyak bahkan setelah Hanna mendapatkan orgasmenya.
"Ahhh nikmatnyaaa... Ouhhh mantaappppp ahhhhhh" Desah pak Prapto puas.
"Pakkk sudahh... Aahhhh... Aahhhh... Akuu capekkk pakkk" Desah Hanna semakin lelah.
Pak Prapto sangat puas karena akhirnya bisa menyetubuhi wanita yang sangat ia idam-iidamkan. Ia pun melampiaskannya dengan mempercepat sodokannya. Penampakan depan tubuh Hanna yang begitu indah semakin menggairahkan perzinahan ternikmatnya.
"Aahhhh ustadzahhh... Aahhhh saya gak kuattt lagiii ustadzahhh... Aahhhh"
Akhirnya pria tua itu mulai merasakan denyut pada penis besarnya. Erangan demi erangan telah pak Prapto keluarkan. Sodokan demi sodokan telah ia percepat sehingga kepala Hanna sampai terlonjak-lonjak saat menerima tusukan darinya.
"Ahhh ahhhh ahhh ustadzaahhh"
"Ahhhh ahhh pakkkk... Pelaannnn... Ahhhhhh"
Dengan satu hentakan yang mantap pak Prapto langsung membenamkan penisnya kemudian mencabutnya keluar ke arah wajah sang ustadzah. Ia pun memuntahkan spermanya dengan sangat banyak ke arah wajah cantik dari ustadzah pesantren itu.
Crrootttt crrroottt crroootttt !!!!
"Ustadzahhh Aaahhhh !!!"
Tubuh kurus pak Prapto mengejang setelah berhasil memejuhi wajah cantiknya. Entah kenapa pak Prapto memilih untuk memejuhi wajahnya alih-alih rahimnya. Sepertinya ia sangat ingin melihat wajah kalem itu terkotori oleh lelehan spermanya. Pipi Hanna ternodai oleh lelehan sperma itu. Dahinya juga bahkan kacamatanya juga. Pak Prapto nyaris ambruk diatas tubuh Hanna sebelum kedua tangannya memegangi tepi meja dibawahnya. Wajah lelah mereka berdua saling bertatapan saat itu. Wajah cantik Hanna begitu menggairahkan terutama dengan noda spermanya disana. Begitu juga dengan wajah pak Prapto yang kelelahan.
Rasa lelah yang sedari tadi melanda Hanna membuat ustadzah pesantren itu terlelap. Hanna tanpa sengaja tertidur dalam keadaan telanjang bulat diatas salah satu meja kelas. Pak Prapto yang juga kelelahan pun turun untuk duduk di bangku kosong. Tepat dihadapannya ada Tubuh Hanna yang terhidang disana. Hanna sudah tertidur tapi tubuhnya masih sangat menggairahkan yang membuat kepala pak Prapto hanya bisa bergeleng-geleng saja.
"Hah... Hah... Hah.... Terima kasih ustadzah... Saya gak nyangka kalau rasanya bisa senikmat ini" Ucap pak Prapto pada tubuh Hanna yang sudah terlelap. Perlahan ia pun bangkit untuk mengambil satu persatu pakaiannya kembali. Ia juga mengambil kemeja Hanna kemudian menutupi tubuh bidadari itu agar tidak kedinginan saat tertidur. Ia juga menutupi kaki Hanna menggunakan roknya. Nampak wajah Hanna tersenyum disana. Nampaknya Hanna sedang bermimpi indah setelah disetubuhi habis-habisan olehnya.
"Hmmm apa benar yang dikatakan oleh ustadzah tadi ? Apa iya ustadzah Syifa berniat tuk merebut ustadz Angga darinya ? Kalau iya kebangetan banget nih... Saya harus memeriksanya dulu dan kalau sampai benar, ustadzah Syifa harus menanggung akibatnya karena sudah membuat ustadzah Hanna bersedih" Ucapnya terengah-engah.
Seketika pak Prapto teringat akan rekan kerjanya yang bernama pak Udin. Pak Prapto pun tersenyum sambil menjaga tubuh Hanna hingga ustadzah cantik itu terbangun. Ia kepikiran sesuatu untuk menghukum ustadzah Syifa nanti.
*-*-*-*
Sore harinya di depan gedung pengasuhan santri. Terdapat seorang ustadz yang sedang berjalan menuju ke arah pintu masuk gedung itu. Dirinya kelelahan karena habis berolahraga. Nampak keringat membasahi tubuh kurusnya. Ustadz berwajah tampan itu pun terengah-engah dalam perjalanannya menuju kantor bagiannya. Seketika ia terdiam saat melihat sesuatu yang terpasang di pintu masuk kantor bagiannya.
"Ehh, apa ?"
Ustadz berwajah tampan itu mendekat secara perlahan-lahan. Semakin lama ia mendekatinya, semakin jelas pula apa yang terpasang di pintu masuk kantornya.
"Gak mungkin... Siapa yang melakukan ini ?" Ucapnya panik.
Buru-buru ia mencabut satu persatu foto itu dari pintu masuk kantornya. Ia juga melihat ke kanan juga ke kiri tuk melihat keadaan. Ia khawatir kalau ada seseorang yang menemukan foto aib ini.
"Kurang ajar ! Siapa yang telah melakukannya ? Untung saja foto ini tidak terlihat oleh Haura, Hanna ataupun ustadz Rafi... Kalau mereka tahu bisa bahaya... Bisa-bisa aku & Salwa mungkin akan dikeluarkan dari pesantren ini" Ucapnya sambil menyobek-nyobek lembaran foto itu kemudian membawanya ke suatu tempat di dekat gedung kantor bagiannya tuk membakarnya.
Ustadz itu pun resah sambil memandangi bara api yang sedang melahap foto-foto aibnya. Ia jadi penasaran, siapa orang yang telah memfoto aksi perzinahannya dengan Salwa di taman penuh bunga saat itu.
"Siapa orang itu ? Apakah orang itu berniat untuk menjatuhkanku ?" Ucapnya khawatir sambil meremas sisa foto yang belum ia bakar.
Sementara itu di kejauhan.
"Kekekekek... Rasakan itu, pusing kan ? Gelisah kan ?... Cepat atau lambat dirimu akan keluar dan saya bisa menguasai seluruh ustadzah di pesantren ini... Kekekekek !" Tawanya dengan nadanya yang khas.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *