Search

CHAPTER 39 - TITIK TERANG

CHAPTER 39 - TITIK TERANG

Pagi hari di salah satu rumah yang terletak perumahan ustadz senior. Tepatnya di bagian dapur rumah tersebut. Terdapat seorang ustadzah yang sedang memotong-motong bahan sayuran yang rencananya akan ia sulap menjadi semangkuk sup yang akan ia hidangkan untuk suami tercintanya. Dengan penuh kasih ia memotong sayuran tersebut menjadi beberapa bagian. Wortel berwarna oranye itu sudah terpotong. Kubis berwarna putih itu juga sudah terpotong. Ia pun berpindah ke wastafel untuk mencuci bahan sayuran lainnya berupa daun sawi dan masih banyak lagi.

Ia terlihat sibuk. Tapi wajahnya terlihat bahagia tiap kali memikirkan ia akan memasak ini untuk suaminya. Sementara sang suami sedang duduk di ruang tamu sambil menyeruput kopi pagi yang sudah dibuatkan oleh istri cantiknya. Ustadz berjanggut tebal itu tersenyum sambil menikmati suasana pagi bersama istri cantiknya.

“Aahhhhh senangnya bisa kembali ke rumah” kata ustadz itu sambil menyeruput kopi paginya lagi.

Sang istri yang sempat menoleh saat mendengar suaminya bergumam. Sang istri pun tersenyum melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh suaminya sekarang. Sebenarnya ia juga senang karena tidak harus sendiri lagi di rumah ini. Ia senang karena akan ada sosok yang melindunginya dari ancaman birahi yang diberikan oleh kuli kekar itu.

Haura namanya. Ustadzah tercantik yang dikenal oleh seluruh warga pondok pesantren. Tidak hanya namanya yang dikenal. Tapi kecantikan wajahnya juga dikenal. Bahkan keindahan lekuknya juga dikenal. Terlahir sebagai wanita yang mempunyai fisik indah berupa kulit bening serta buah dada besar yang menonjol kencang. Ia tampak bangga dengan keindahan tubuh yang ia punya. Ia jadi lebih percaya diri. Ia jadi lebih pede ketika melayani suami. Tapi ia jadi lebih takut, terutama ketika harus menghadapi pejantannya itu. Pejantan yang sudah berulang kali menjebol memek sempitnya. Pejantan yang sudah berulang kali tidur bersamanya. Pejantan yang sudah berulang kali memuntahkan lahar hangatnya di dalam liang senggamanya.

Haura bergidik ngeri tiap kali membayangkan kuli tua itu menyetubuhinya dengan cara kasar yang berujung kejam. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana kuli tua itu dengan penuh nafsu menyetubuhinya hingga dirinya hanya bisa pasrah melonjak-lonjak maju mundur menerima sodokan darinya.

Namun anehnya ia mulai terbiasa. Bahkan ia juga merindukan perlakukan kasar dari kuli tua itu. Ya ia tau, ia tak mungkin memohon meminta hal itu. Lagipula perasaan itu hanya muncul ketika dirinya sedang bernafsu. Tidak mungkin juga baginya untuk memohon dengan cara merendahkan diri di hadapan kuli tua bertubuh kekar itu.

“Hah... Maafin adek yah mas... Dibelakang mas, adek udah seringkali ternoda oleh mereka” ucap Haura terbayang wajah V dan juga Pak Karjo.

“Adek juga minta maaf karena gak bisa menjaga diri selama mas pergi ke luar kota... Adek tau kalau ini cobaan buat adek... Tapi nafsu adek juga gede mas... Kadang adek gak bisa nahan diri disaat mereka memperkosa adek” lirihnya sambil menatap suaminya dari kejauhan.

Ya walau ia terlahir mempunyai fisik yang indah. Tapi ia juga terlahir sebagai wanita yang mempunyai nafsu yang besar. Selama pernikahannya berlangsung, ia tak pernah puas tiap kali bercinta dengan suaminya. Sebaliknya, ia baru bisa puas ketika disetubuhi oleh V ataupun pak Karjo. Terutama pak Karjo yang membuatnya tak berdaya tiap kali menerima hujaman penis kekarnya.

Sial baginya, akibat terlalu lama membayangkan penis kuli tua itu. Dirinya jadi terlanjur bernafsu. Akibat terlalu lama merenungi penyesalannya ketika disetubuhi oleh pak Karjo, ia jadi teringat bagaimana penis besar itu menghujami vaginanya. Rasa tak berdayanya tiap kali disetubuhi oleh pak Karjo menjadi sensasi tersendiri baginya. Sialnya hal itulah yang mempengaruhi nafsunya. Sehingga di pagi hari ini, dirinya sudah terangsang hebat.

Haura melihat ke arah jam. Jam baru menunjukan pukul enam kurang sepuluh menit. Waktu masih sangat pagi. Tapi ia sudah ingin disetubuhi oleh kejantanan lelaki. Untungnya sekarang ada sang suami. Haruskah ia menggodanya ? Tapi ia tidak mau lagi dikecewakan oleh daya tahan penis suaminya yang lemah. Tapi ia sudah sangat bernafsu hingga ingin dimasuki oleh penis seseorang lagi.

Haura jadi bimbang untuk mencari seseorang yang bisa memuasi nafsunya. Padahal ada suaminya yang sudah lama tak ia temui. Tapi ia masih bingung untuk mencari seseorang yang bisa memuaskan birahinya.

Astaghfirullah... Sadar Haura ! Sadar ! Tolong jaga diri lagi ! Jangan terbuai oleh hawa nafsumu lagi ! Batin Haura mencoba menguasai diri.

Perlahan demi perlahan ia mendekati suaminya yang sedang terduduk di kursi ruang tamu. Ia berjalan sambil tersenyum malu-malu. Dengan hanya mengenakan kaus hitam berlengan panjang serta celana training longgar yang menutupi seluruh kakinya. Hijab simpel yang menutupi kepala mungilnya menambah keindahan yang dimiliki olehnya. Hijab simpel itu berwarna merah muda. Persis seperti nafsunya yang telah menggelora. Bagaikan pemudi yang mempunya semangat berapi-api. Begitulah dengan nafsu Haura yang ingin segera disetubuhi. Wajahnya tersenyum malu sambil memikirkan cara agar dirinya bisa dipuasi oleh sang suami.

“Maaasssss” Panggil Haura dengan manja.

“Iyyaaa dekkk” jawab Hendra setelah menyeruput kopi paginya. Suami berjanggut tebal itu menoleh ke arah kedatangan istrinya untuk menatap wajah cantiknya.

“Ayokk sini” ucap Haura mengajaknya berdiri kemudian merangkulkan kedua tangannya di belakang leher suaminya.

“Eehhh dekkk... Adek kenapa ?” tanya Hendra dengan wajah memerah saat melihat wajah jelita istrinya berada sedekat ini.

“Hihihi” Haura hanya tersenyum sambil memfokuskan diri menatap mata indah suaminya.

Hendra menenggak ludah. Ia sejenak melihat penampakan wajahnya. Wajah Haura benar-benar manis ditambah dengan senyum indah melalui bibirnya yang tipis. Belum lagi dengan pergerakan tangannya yang erotis. Dada Hendra jadi kembang kempis. Ia benar-benar terpukau oleh kecantikan wajah istrinya yang manis.

Seketika ia paham kalau istrinya sedang berusaha menggodanya. Ia juga tahu kalau istrinya mempunyai sikap pemalu. Ia jadi paham makanya istrinya tidak langsung menyebut keinginannya dan berusaha membuatnya paham kalau istrinya sedang ingin diberi nafkah batin olehnya.

“Adek tau kalau mas lagi capek kan ? Maaf yah semalam adek gak bisa melayani mas dengan baik... Padahal kemarin mas baru pulang, tapi adek belum sempat mijitin mas... Mas adek pijit yah” ucap Haura melayangkan serangan kepada suami tercintanya.

“Hmmmm boleh dek... Emang adek gak capek juga ? Nanti mas yang gantiin mijit yah ?” ucap suaminya. Ia jadi merinding saat wajahnya diterpa oleh nafas istrinya yang hangat.

“Hihihih boleh mas... Tapi adek duluan yah yang mijit mas” ucap Haura sambil menarik tubuh suaminya dan membawanya menuju ranjang pribadinya.

Melihat pergerakan istrinya yang malu-malu tapi agresif menjadi sensasi tersendiri bagi Hendra. Tubuhnya terus ditarik. Ia hanya bisa pasrah karena kebingungan dengan birahi Haura yang tiba-tiba bangkit.

Mungkin karena terlalu lama gak aku setubuhi kali yah ? Makanya Haura jadi senafsu ini ?

Batin Hendra dalam hati.

Sesampainya mereka di tepi ranjang tidur. Tiba-tiba tubuh Hendra didorongnya hingga terbaring diatas ranjang tidurnya. Saat terbaring itu, ia melihat istrinya tiba-tiba mengangkat kaus panjang yang dikenakannya. Dalam sekejap pusar mulusnya mulai terlihat. Perut ratanya juga mulai terlihat. Hendra jadi gugup. Sudah lama dirinya tidak melihat keindahan fisik istrinya.

“Dekkk apa yanggg ?” tanya Hendra gugup saat Haura juga sudah melepas kait bra yang dikenakannya. Nampak payudara kencangnya terlihat. Payudara itu berdiri kencang tanpa jatuh ke bawah. Hendra jadi terpesona melihat keindahannya.

“Mmpphhh kenapa mas ?” Tanya Haura sambil merangkak menaiki tubuh suaminya yang berada di bawahnya.

“Deeekkkkk” ucap Hendra merinding melihat godaan yang dilakukan oleh istrinya.

Tiba-tiba kaus yang dikenakan oleh Hendra diangkatnya. Puting kecoklatannya terlihat. Haura sambil tersenyum menggelitiki pentil suaminya untuk menaikan nafsu birahinya.

“Mmpphh enak mas ? Adek udah kangen mas loh... Adek kangen banget sama mas... Tau gak mas udah berapa lama adek gak diberi nafkah batin sama mas ? Sekarang adek menuntut jatah dari mas... Tolong puasi adek yah... Tolong bikin adek teriak-teriak pas ngerasain genjotan mas” ucap Haura dengan vulgar yang membuat Hendra terkejut. Tak pernah sebelumnya Haura memohon dengan cara sevulgar ini. Mungkinkah karena nafsunya yang sudah lama tak ia puasi ?

“Adek sayang mas... Adek cinta mas... Tolong puasi adek yah mas” ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya.

“Deeekkkkk mmppphhhh” desah Hendra sambil memejamkan mata.

Haura mengecup bibir tebal suaminya. Mulut Haura membuka guna memagut bibir tebal suaminya di bawah. Hendra hanya bisa pasrah saat melayani nafsu besar istrinya yang sedang meluap-luap. Ditengah pecumbuan itu, Tangan Haura juga aktif dalam menguspi dada bening suaminya. Mulanya ia memainkan pentil susunya. Lalu ia menusapi perut ratanya. Lalu ia menaikannya lagi tuk merangsang dada suaminya. Ia menurunkannya lagi hingga merangsang perut suaminya. Dadanya yang juga sudah terbuka saling bersentuhan. Terkadang Haura mengarahkan puting berwarna pinknya ke puting suaminya. Puting susu mereka bersentuhan. Puting susu mereka bergesekan menimbulkan sensasi tersendiri yang dirasakan oleh mereka berdua.

“Mmpphhh... Mmmpphhhh” desahan keluar dari mulut mereka berdua. Suasana di kamar menjadi hangat. Nafsu Haura benar-benar bangkit setelah sekian lama tidak bertemu suaminya. Ia pun bertekad untuk menebus semua dosanya. Walau terkadang ia masih terbayang akan kejantanan penis lelaki lain. Ia mencoba untuk menikmati kejantanan yang sudah ia punya. Nafas Haura kian berat saat merasakan birahinya semakin bergejolak di dalam dirinya.

Tiba-tiba cumbuannya turun merangsang leher suaminya. Lalu turun lagi hingga sampai di dada suaminya. Hendra hanya bisa mengerang merasakan pelayanan istrinya yang sedang dilanda nafsu birahi. Rasa geli, nikmat dan kepuasan semua menjadi satu dalam jilatan istrinya itu. Mulutnya jadi terbuka mengeluarkan erangan-erangan yang semakin membakar gairah istrinya.

Lima menit telah berlalu, Cumbuan yang terus Haura lakukan membuatnya semakin bernafsu. Kedua tangannya bergerak ke arah resleting celana suaminya. Haura merasa yakin saat ini kalau penis suaminya pasti sudah menegak maksimal. Ia sangat yakin karena sudah melakukan yang terbaik untuk merangsang gairah suaminya.

"Deekkk tunggu dekk... Tunggguu... " Ucap Hendra berdebar.

"Hihihi" Tawa Haura karena tidak sabar melihat penampakan penis suaminya.

Pasti sekarang bakal keras... Aku yakin banget... Apalagi sudah lama mas Hendra gak aku sentuh... Sekarang mas Hendra pasti bakal kerangsang olehku !

Batin Haura merasa yakin.

Saat Haura menarik lepas celana kain yang melekat di kaki suaminya. Giliran celana dalamnya yang menghalangi pemandangan penis itu. Saat Haura melihat ke arah selangkangan suaminya. Ia memiringkan wajahnya ke kiri. Ia merasa tidak yakin. Karena penis suaminya tidak terlihat menonjol dari balik celana dalam yang dikenakannya.

Gak mungkin punyanya mas Hendra gak berdiri ? Aku udah buka baju loh... Aku udah nyiumin tubuhnya loh !

Batin Haura sambil menarik lepas celana dalam suaminya.

Sedikit demi sedikit, Haura dapat melihat hutan lebat yang tersembunyi di dalamnya. Batang penisnya juga mulai terlihat. Ukurannya besar membuat Haura berpikir kalau ia sudah berhasil dalam merangsang suaminya. Ia jadi tak sabar hingga segera memelorotkan keseluruhan celana dalamnya.

"Deeekkk" Jerit Hendra saat ditelanjangi oleh istrinya.

Raut wajah bahagia yang mulanya ditunjukan oleh Haura perlahan berubah menjadi raut wajah kekecewaan. Lagi, penis itu masih belum berdiri. Padahal ia sudah melakukan yang terbaik untuk membuatnya berdiri.

Sebagai wanita yang mendapatkan gelar ustadzah tercantik sepondok pesantren, Haura merasa tersinggung saat melihat penis letoy ini. Bagaimana bisa penis suaminya tidak mau berdiri setelah ia rangsang sedari tadi ? Apakah suaminya tidak bernafsu kepadanya ?

Kenapa mas masih kayak gini ? Kapan kamu bisa sembuh mas ? Aku juga butuh kepuasan dari mas !!!

Batin Haura kecewa.

"Deekkkk" Ucap Hendra saat melihat raut wajah kekecewaan dari istrinya.

"Hihihi aku suka banget kontol mas... Punya mas gede... Aku suka" Ucap Haura berbohong agar tidak mengecewakan suaminya. Dengan segera Haura membelai penis itu kemudian mengocoknya naik turun. Ia tidak mau berputus asa. Ia yakin kalau nanti pasti penis suaminya bisa mengeras oleh rangsangannya.

"Anu... Maaf dekkk" Ucap Hendra yang tak begitu dipedulikan oleh Haura.

"Gapapa mass... Aku yang salah... Mungkin aku kurang bisa bikin mas puas" Ucap Haura sambil terus mengocoknya.

"Aaahhhh... Aaahhhh... Mungkin mas masih capek dekkk... Jadi mas belum bisa berdiri" Ucap Hendra menyesal.

"Udahhh gapapa masss... Aku gak mempermasalahkan kok" Ucap Haura terus berbohong sambil terus mengocok penis suaminya.

“Aahhhh cukuppp dekkk... Cukuppp uhhhh” pinta suaminya ingin Haura berhenti.

Kenapa gak berdiri-berdiri ? Kenapa gak mau berdiri ?

Batin Haura mempercepat kocokannya. Haura makin kesal. Ia hampir putus asa. Ia terus mengocoknya sambil berharap penis suaminya bisa berdiri.

"Aahhhh... Aahhhh cukupp aja dekk... Cukuppp... Mas gak tega ngeliat adek kayak gini... Mas mau istirahat dulu aja... Mungkin nanti bisa berdiri kok" Ucap Hendra bangkit dari posisi tidurnya kemudian mendorong tubuh istrinya sehingga Haura terpaksa berhenti mengocok kemaluan suaminya.

"Tapiii massss" Ucap Haura sambil menatap suaminya saat dirinya dicampakkan oleh suaminya.

"Maafff dekkk... Mas mau istirahat dulu... Mas juga harus ngawas ruang ujian juga... Maaf yah" Ucapnya dengan dingin sambil mengenakan celananya kembali.

Haura hanya terdiam sambil membelakangi posisi suaminya. Haura termenung. Ia merasa sedih oleh keputusan suaminya itu. Mungkin maksud suaminya baik agar penisnya bisa berdiri setelah tubuhnya beristirahat dengan cukup. Tapi bagi Haura, dirinya merasa terhina karena ditinggal pergi disaat lagi nafsu-nafsunya. Bahkan untuk merasakan tusukan penisnya saja tidak boleh. Haura menangis di pagi itu. Ia benar-benar kecewa setelah dipermalukan oleh keputusan suaminya.

Untungnya hanya ada mereka berdua di dalam ruangan kamarnya. Andai ada orang lain yang tahu, mungkin Haura akan semakin malu. Ia pun berjalan menuju arah pakaiannya untuk ia kenakan kembali. Walau lagi nafsu-nafsunya, ia terpaksa menahannya dan melanjutkan kembali kegiatannya tuk membuatkan sarapan untuk keluarga kecilnya.

"Tega banget kamu mas ! Kenapa mas sampai kayak gitu ? Aku paham kok kalau mas kesulitan buat negakin kontol mas... Tapi kenapa mas juga menolak pelayananku ? Apa aku kurang cantik ? Apa aku kurang menarik ? Kenapa dari dulu aku gak pernah bisa berdiriin punyamu mas ?" Lirih Haura dengan kecewa. Ia sampai membicarakan suaminya dari belakang karena tak sanggup memendam kekecewaannya.

Setelah Haura kembali berpakaian. Ia berjalan keluar dari kamarnya tuk kembali memasak di ruangan dapurnya. Kebetulan terdengar suara di teras depan rumahnya. Sepertinya suaminya ada disana. Sepertinya suaminya sedang menerima tamu yang berkunjung ke rumahnya.

Haura pun berjalan sambil menyeka air matanya dan berusaha bersikap biasa saja agar dirinya kelihatan tidak seperti orang yang baru menangis. Saat ia mengintip ke luar. Rupanya ada seorang santri disana. Sepertinya santri itu sedang bertanya perihal pelajaran kepada suaminya.

"Ituuu... Iqbal ?" Lirih Haura saat mengenali wajah santri tampan itu.


*-*-*-*


Pukul tujuh kurang lima belas menit. Haura sudah berangkat dari rumahnya menuju ruangan kelas untuk mengawasi ujian para santri. Ia masih ingat betul penolakan yang dilakukan oleh suaminya disaat dirinya ingin meminta jatah darinya.

Haura merasa dipermalukan. Dengan tubuh seindah ini, dirinya ditolak oleh suaminya untuk bercinta dengannya. Dengan tubuh seindah ini, dirinya tidak mampu untuk membuat penis suaminya berdiri. Ia kadang merenung memikirkan apa yang salah pada dirinya sehingga tidak mampu merangsang suaminya.

Padahal di luar sana, banyak sekali lelaki mulai dari santri, ustadz bahkan kuli bangunan sekalipun yang berlomba-lomba ingin bercinta dengannya. Haura pun berjalan sambil menyilangkan tangannya di dada. Ia merasa terganggu oleh sikap suaminya itu. Ia merasa kecewa. Hatinya merasa tersakiti tiap kali terpikirkan hal itu.

"Astaghfirullah... Astaghfirullah" Sebut Haura dengan lirih.

Tiap kali dirinya berjalan. Dirinya teringat terus oleh penolakan yang dilakukan suaminya. Jemari kanannya memegangi kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia masih tak habis pikir suaminya bisa melakukan hal itu kepadanya.

"Padahal udah beberapa hari suamiku gak aku sentuh... Padahal udah beberapa hari aku gak melayani suamiku... Padahal udah beberapa hari aku gak bertemu dengan suamiku... Tapi kenapa mas Hendra masih belum terangsang tiap kali aku sentuh ?" Lirih Haura heran.

"Capek yah ?" Katanya tak percaya saat teringat alasan suaminya. Menurutnya capek bukanlah alasan untuk seseorang sehingga tidak mampu menegakan penisnya. Lagipula ia sudah memahami dan memaklumi kekurangan suaminya. Tapi kenapa suaminya malah memintanya tuk berhenti ketika ia ingin melaju tuk memuaskan suaminya ? Apa memang benar dengan alasan kalau beristirahat sebentar, suaminya itu bisa menegakan penisnya lagi ?

Ia jadi teringat mengenai persetubuhannya semalaman dengan pak Karjo. Seorang kuli kekar yang berulang kali telah membuatnya puas. Terhitung sudah beberapa kali dirinya dipuasi olehnya. Termasuk di malam itu, ia sampai keluar berkali-kali ketika penis perkasanya keluar masuk berulang kali. Bahkan dengan tubuh selelah itu, pak Karjo masih bisa memuaskan dirinya. Bahkan ia sampai tertidur karena saking lelahnya disetubuhi oleh kuli kekar itu.

"Hah !!!" Desahnya menggelengkan kepala.

Memang benar disaat seperti ini, dirinya sangat membutuhkan seseorang yang perkasa seperti Pak Karjo. Seseorang yang bisa membuatnya puas. Seseorang yang bisa ia layani tanpa takut andai penisnya bakal loyo duluan. Masalahnya ia masih suka gengsi. Ia masih suka peduli dengan harga diri. Padahal di dalam hati, ia sangat menyukai sodokannya ini. Seketika ia merindukannya. Merindukan keperkasaannya dalam memuaskan dirinya.

"Haruskah ?" Ucap Haura bimbang.

"Haruskah aku menuruti kemauannya saja ?" Ucap Haura mulai goyah.

Sejujurnya ia sudah sangat lelah karena tidak bisa mendapatkan kepuasan dari suaminya. Ia sudah bosan. Ia menginginkan kepuasan yang sebenarnya.

Seketika ia melirik ke arah gedung yang belum jadi. Banyak kuli kekar yang sudah berlalu lalang disana. Memang tidak ada pak Karjo saat itu. Namun melihat keperkasaan tubuh mereka membuat Haura tergiur oleh kejantanannya.

"Hah... Astaghfirullah" Ucap Haura bimbang.

Ia pun menatap langit saat melanjutkan perjalanannya menuju ruangan kelas. Seketika ia teringat perkataan kuli itu saat disetubuhi olehnya.

Kekekek... Enak kan ustadzah ? Nikmat kan kontol saya ? Bayangin ustadzah ! Saat ini, kontol saya sedang menggesek-gesek memek rapetmu lagi... Memek yang seharusnya untuk suamimu sedang saya nodai... Payah sekali suamimu itu... Masa punya bidadari secantik ustadzah gak bisa memuasi... Kan kasihan ustadzah Haura sampai nyari bantuan kuli bangunan seperti saya agar bisa dipuasi... Kekekek !

"Sepertinya cuma pak Karjo yang mengerti aku... Kenapa omongannya bener banget yah ? Mas Hendra memang payah... Kenapa aku sampai memikirkan pak Karjo disaat aku ingin dipuasi ?" Lirih Haura berfikir.

"Hmmm bayangin yah ?" Ucapnya saat teringat perkataan kuli itu. Seketika ia berdiam di tempat. Matanya memejam. Ia membayangkan saat penis hitam itu sedang menggesek-gesek lubang kemaluannya lagi. Entah kenapa membayangkan hal itu saja sudah membuatnya merasa nikmat. Ia jadi bimbang. Ia merasa ingin tuk dipuasi oleh batang penis itu lagi. Tapi ia terlalu malu untuk tunduk kepada kuli tua itu. Ia masih merasa gengsi. Ia masih merasa sebagai ustadzah tercantik sepertinya, seharusnya ia bisa mendapatkan lelaki tampan yang selevel dengannya. Masalahnya, ia terlanjur menyukai penis kuli itu. Ia terlanjur menyukai kejantanan pria tua rendahan yang sudah berulang kali memuaskan birahinya.

Jangannn Hauraaa ! Jangannn ! Tolonggg jangann kayak gini !

Batin Haura sambil menggelengkan kepala. Ia pun membuka matanya kemudian melanjutkan perjalanannya sambil menundukan kepalanya.

Haura masih bimbang. Hatinya kian bergejolak. Ia masih belum menemukan titik terang tuk mengatasi hawa nafsunya. Seketika ia kembali berhenti kemudian menolehkan wajahnya ke belakang tuk melihat ke arah gedung yang belum jadi.

"Jangannn... Jangannn Hauraaa... Plisss jangannn" Ucapnya dengan lirih kendati dirinya sangat ingin menemui kuli tua itu lagi.

Haura pun melanjutkan perjalanannya. Ia jadi banyak berfikir saat itu. Ia tak menyangka, hanya karena persoalan nafsu saja dirinya bisa jadi sepusing ini. Seketika ia berandai-andai. Andai saat itu ia tidak menolak ajakan pak Karjo untuk bercinta dengannya. Tentu sekarang ia tak perlu malu lagi untuk meminta jatah darinya. Bahkan membayangkan saja andai nanti pak Karjo mengejeknya karena melihatnya keenakan digenjot padahal sebelumnya ia selalu menolak tiap kali diajak bercinta sudah membuatnya merasa malu sendiri.

"Hah !!!" Desahnya merasa pusing. Ia pun kembali berhenti sambil menatap langit diatas sana.

Tiba-tiba ketika sedang asyik-asyiknya melamun saat menatap kosong pergerakan awan diatasnya. Ada seseorang yang mengendap-ngendap kemudian memegangi kedua bahunya dari belakang.

"Heeeyyyy !!!" Ucapnya mengejutkannya.

"Astaghfirullah... Ihhhhhhh" Ucap Haura sampai meloncat karena saking terkejutnya. Saat wajahnya menoleh ke belakang. Ia merasa kesal kepadanya karena sudah membuat jantungnya nyaris copot.

"Hahaha... Kaget yah ?" Ucapnya tertawa.

"V !!! Gak lucu ah" Ucap Haura kesal.

"Hahaha maaf... Maaf... Habis daritadi ngelamun terus... Kenapa sih ?" Tanya V penasaran.

"Gapapa" Jawab Haura singkat sambil berjalan pergi meninggalkan V sendiri.

"Gapapa ? Pasti ada apa-apa nih... Gak kayak biasanya kamu ngelamun pagi-pagi" Ucap V berjalan mengikuti.

"Ihhh dibilang gapapa ya gapapa" Ucap Haura dengan kesal.

"Ehhh kamu kenapa sih Ra... Lagi badmood yah ?" Tanya V heran.

"Tuh tau... Dah ah V... Aku lagi mau sendiri.... Tolong jangan ikuti aku" Ucap Haura sebal.

"Ehhh kenapa lagi ini ? Bukannya kemaren suamimu dah pulang yah ? Kok sekarang malah marah-marah ? Apa jangan-jangan lagi marahan yah ?" Tanya V yang membuat Haura berhenti melangkah. V terkejut. Ia jadi ikut berhenti melangkah sambil menatap punggung Haura.

"Bukan urusanmu V... Tolong jangan bahas keluarga aku lagi... Aku lagi capek sekarang... Maaf yah... Aku duluan" Ucap Haura tanpa menolehkan wajahnya ke belakang.

V pun diam setelah melihat sikap Haura. V merasa sepertinya Haura memang sedang ada masalah dengan suaminya. V pun memilih menuruti permintaan ustadzah tercantik itu. Ia pun diam di tempat kemudian baru berjalan lagi setelah jarak yang memisahkan mereka cukup jauh.

"Haura kenapa yah ? Padahal aku mau curhat soal masalahku itu... Hmmm ngomong-ngomong Salwa mana yah ? Ia gapapa kan ?" Lirih V sambil melihat ke kanan juga ke kiri.


*-*-*-*


Beberapa saat kemudian sekitar pukul tujuh pagi kurang lima menit. Di salah satu halaman gedung kelas yang digunakan untuk ujian. Terdapat seorang santriwati yang duduk terdiam di kursi taman. Alih-alih membaca bukunya tuk persiapan ujian. Ia malah diam termenung sambil menatap kosong buku catatannya.

Ia masih teringat saat Iqbal melemparkan beberapa foto berisi aksi perzinahannya ke arah wajahnya. Ia jadi kepikiran terus. Ia jadi tidak bisa fokus. Ia pun mendesah sambil mengangkat wajahnya naik ke atas.

Maafin ana ustadz... Maafin ana udah nyeret antum ke masalah ini !

Batin Salwa menyesal.

Ia merasa takut kalau dikeluarkan dari pondok pesantren. Tapi ia lebih takut lagi karena sudah melibatkan ustadz yang ia suka ke dalam masalahnya. Dalam hati ia berharap andai foto aibnya tersebar. Cukup dirinya saja yang dikeluarkan sedangkan ustadz V tidak.

"Moga saja Iqbal memegang kata-katanya" Lirihnya sambil memikirkan santri tampan itu.

"Assalamu'alaikum... Salwa" Sapa seseorang mengejutkannya.

"Walaikumsalam... Eh antum" Jawab Salwa sambil memegangi dadanya yang berdebar.

"Hehe afwan... Ustadz bikin antum kaget yah ?" Ucapnya.

"Hehe iya ustadz... Ana agak kaget tadi" Jawab Salwa sambil menatap ustadz tampan itu.

"Hmmm ustadz perhatiin daritadi, kok antum kayak ngelamun yah ?" Tanyanya penasaran.

"Ehhh iya kah ? Ana gak ngelamun kok, ustadz" Jawab Salwa berbohong.

"Ehhh beneran ? Kirain ngelamun soalnya mata antum kaya bengong ngeliatin buku" Ucapnya mengomentari sikap santriwati cantik itu.

"Hehe enggak kok, ustadz" Ucap Salwa menjawab pertanyaan dari ustadz yang ia suka.

Seketika suasana jadi hening. Bukan karena Salwa sibuk membaca bukunya tuk mengulangi pelajarannya. Tapi mereka terdiam karena sama-sama ragu tuk bertanya mengenai persoalan yang sedang mereka rasakan. Sambil sesekali melirik, Salwa ragu tuk bertanya kepada ustadz tampan itu mengenai apakah beliau mendapat ancaman melalui foto aib mereka ? Begitupula V juga ragu tuk menceritakan kalau dirinya mendapat foto ancaman karena khawatir akan mengacaukan konsentrasi Salwa saat ujian.

Seketika V menyadari melalui tatapan mata Salwa yang terlihat agak sedih. Ia pun merasa bahwa ada yang tidak beres pada diri santriwati cantik ini.

"Hmmm Salwa, antum kenapa ?" Tanya V.

"Ehhh ana ? Ana gapapa kok" Jawab Salwa memaksakan senyum.

"Antum ada masalah yah ?" Tanya V yang membuat mata Salwa agak sedikit bergetar.

"Ehhh... Hehe ya ada sedikit... Tapi antum gak usah khawatir... Ana baik-baik aja kok" Ucap Salwa yang mengira V belum tahu kalau aksi perzinahannya di waktu itu membuat diri mereka terancam dikeluarkan dari pondok pesantren.

Salwa kenapa yah ? Kok keliatan aneh gitu sih ? Apa jangan-jangan, Salwa juga dapet ancaman melalui foto itu ?

Batin V mengira-ngira.

"Oh yaudah deh syukurlah... Jangan sampai kepikiran terus yah... Inget, antum kan lagi ujian... Jangan sampai masalah antum merusak konsentrasi belajar antum... Jangan sampai nilai antum anjlok gara-gara kepikiran masalah antum yah... Katanya mau jadi ustadzah disini ?" Ucap V menenangkan Salwa.

"Naam ustadz... Syukron yah... Ana jadi baikan setelah mendengar kata-kata antum" Ucap Salwa tersenyum.

"Nah gitu dong senyum... Kan antum jadi cantik" Puji V yang membuat Salwa tersenyum malu di hadapan lelaki yang ia suka.

"Hihihi makasih ustadz... Makasih udah bikin ana tersenyum lagi" Ucap Salwa bahagia.

"Sama-sama Salwa... Semangat yah... Jangan murung terus" Ucap V sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

"Iyya ustadz... Ana gak akan murung lagi... Ana akan... " Ucap Salwa terdiam saat tiba-tiba ustadz tampan itu mengecup kepalanya dari luar hijab yang dikenakannya.

Cuuuppppp !!!

"Semangat terus yah... Ustadz yakin... Antum pasti bisa melalui ujian ini sekaligus bisa jadi ustadzah di tahun ajaran berikutnya" Ucap V menyemangatinya sambil tersenyum menatap santriwati cantik itu.

Salwa tersenyum. Ia juga terharu saat merasakan perhatian dari ustadz tampan itu. Seketika air mata Salwa jatuh. Untungnya V sudah berbalik badan untuk kembali ke ruangannya. Salwa pun buru-buru menyekanya agar ustadz tampan itu tidak melihat air mata yang dikeluarkannya.

"Makasih banyak ustadz... Maafin ana juga karena udah nyeret antum ke masalah ana... Semoga kita bisa bertemu di tahun ajaran berikutnya sebagai sesama pengajar yah ustadz" Ucap Salwa sambil menyeka air matanya menggunakan tisu yang ia bawa.

Seketika lonceng berbunyi pertanda kalau waktu ujian telah dimulai. Sambil menyeka air matanya, Salwa pun berusaha bersikap biasa saja saat kembali ke ruangan kelasnya. Terlihat beberapa ustadz sudah berdiri untuk meminta santri-santri menuju ke ruangan ujiannya. Termasuk V yang ikut berdiri di depan teras kelas untuk membantu ustadz lain menertibkan para santri.

Salwa dengan malu-malu berjalan melewati V. Tak sengaja mata mereka bertemu. Salwa pun tersenyum semanis mungkin tuk berterima kasih karena sudah menenangkannya dan menyemangatinya di sela-sela cobaan yang dihadapinya.

V ikut tersenyum membalas senyum manis santriwati cantik itu. V jadi gemas. Ia pun termenung memikirkan masalah apa yang sedang Salwa hadapi saat ini.

Moga aja foto itu gak menyeret Salwa ke dalam bahaya... Kamu terlalu cantik tuk mengadapi masalah ini, Wa... Kamu fokus aja ke ujianmu... Biar aku yang akan menangkap penyebar foto itu.

Lirih V bertekad.

*-*-*-*


Tenggg... Tenggg... Teenggg !

Lonceng telah berbunyi. Tak terasa sudah saatnya bagi para santri untuk mengumpulkan kertas lembaran ujiannya. Waktu ujian telah berakhir. Mau tidak mau setiap santri harus mengumpulkannya sekarang atau para pengawas akan merebut paksa lembar jawaban ujian mereka.

Banyak sekali raut wajah santri yang kecewa karena tidak bisa menjawab soal ujian di hari ini. Ujian di hari ini memang sulit. Banyak sekali santri yang keluar ruangan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tapi banyak juga santri yang tertawa setelah menyadari kalau bukan hanya dirinya saja yang tidak bisa menjawab soal ujian tadi.

Sementara di salah satu ruangan kelas. Terdapat ustadzah yang sedang sibuk menata lembaran jawaban sesuai dengan nomor induk para santri. Satu demi satu lembaran jawaban yang ada di deretan meja telah dikumpulkan. Setelah semua lembaran terkumpul. Ustadzah tercantik itu pun hendak menaruhnya di meja guru.

"Sini biar ana aja ustadzah yang ngumpulin" Ucap seorang ustadz yang satu ruangan bersama ustadzah itu.

"Antum mau ngumpulin ke ruang panitia ?" Tanya ustadzah itu memastikan.

"Naam ustadzah... Biar ana aja... Antum capek kan ? Biar ana aja yah yang ngumpulin" Ucap ustadz itu yang membuat ustadzah tercantik itu tersenyum.

"Syukron yah ustadz kalau gitu... Kalau gitu ana pergi duluan yah... Gapapa kan ana tinggal ?" Tanya ustadzah itu.

"Gapapa kok ustadzah... Silahkan" Jawab ustadz itu tersenyum.

Baru beberapa langkah ustadzah itu menjauh dari meja guru, namanya sudah dipanggil lagi oleh ustadz itu.

"Ustadzah Haura... Ini hape antum ketinggalan" Ucapnya yang membuat ustadzah tercantik itu menoleh.

"Ohh iya... Duh kok sampai lupa gini sih yah... Syukron yah ustadz" Ucap Haura sambil menerima hape dari ustadz itu.

"Hahaha namanya lagi banyak pikiran yah... Gapapa kok ustadzah" Ucap ustadz itu tersenyum.

Baru setelah itu, Haura melangkah pergi untuk kembali pulang ke rumahnya. Satu demi satu ubin lantai telah ia pijak. Satu demi satu anak tangga telah ia injak. Dalam perjalanannya, ia kembali merenung soal kejadian di pagi tadi. Kejadian yang membuatnya merasa enggan tuk menemui suaminya lagi.

Sambil memeluk buku yang ia bawa di dada. Haura terus melangkah sambil menundukan kepalanya ke bawah. Saat itulah dirinya melewati beberapa santri yang masih menetap di teras kelas setelah menyelesaikan ujiannya.

Haura menggerakan matanya ke kiri dan ke kanan kendati masih menunduk. Haura pun merasa kalau banyak santri-santrinya yang sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Memang sudah biasa Haura selalu diperlakukan seperti itu oleh santri-santrinya. Namun teruntuk hari ini. Tatapan mereka malah membuatnya makin kesal. Bukan kesal ke santri-santrinya. Melainkan kesal kepada suaminya.

Lihat mas... Mereka aja pada tertarik padaku... Kenapa mas enggak ?

Batin Haura heran.

Terlebih penampilannya di hari ini terlihat lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya. Dengan gamis panjang berwarna hijau tua yang membungkus erat tubuh rampingnya. Dengan rok panjang dengan warna selaras yang menutupi keindahan kaki jenjangnya. Dengan hijab berwarna cream cerah yang menutupi keindahan rambut sebahunya. Semua pakaian yang melekat di tubuh indahnya semakin memperindah keindahan yang melekat pada dirinya.

Kendati ia cuma mengenakan riasan tipis di wajah cantiknya. Haura adalah Haura. Tanpa make-up pun, ia sudah terlihat cantik. Namun dengan make-up yang ia kenakan sekarang, ia jadi terlihat lebih menggoda. Terutama pada bibirnya yang berwarna kemerahan. Banyak sekali lelaki yang berharap bisa mengecup bibir indah itu dengan penuh nafsu.

Tak terasa ia telah sampai di depan gedung yang masih dibangun. Terdengar beberapa suara seperti orang memalu dari sana. Terdengar juga beberapa suara seperti semen yang sedang diaduk dengan tumpukan pasir dari sana. Terdengar juga beberapa suara orang yang berkomunikasi untuk membangun gedung baru ini agar terlihat lebih kokoh.

Entah kenapa Haura diam di tempat sambil melihat ke arah kuli yang sedang bekerja. Satu demi satu kuli yang berada di teras gedung itu ditatapnya olehnya. Ia seperti sedang mencari seseorang. Ia juga seperti sedang mencuci matanya saat melihat otot-otot kekar berwarna hitam yang dimiliki oleh kuli-kuli itu.

"Eh.... Ngapain sih aku kayak gini ?" Ucap Haura heran. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

Ia benar-benar malu pada diri sendiri karena sudah mencuci matanya menatap ke arah kuli-kuli bangunan itu. Jujur, ia menikmatinya. Melihat kekekaran tubuh dari kuli-kuli itu yang mempunyai dada bidang serta perut kotak-kotak telah memanjakan matanya. Apalagi rata-rata kuli disana sedang bertelanjang dada. Hal itulah yang membuat Haura sempat betah saat melihat keperkasaan mereka disana.

Namun lagi-lagi ia berhenti melangkah. Matanya kembali teralihkan oleh keperkasaan kuli-kuli disana. Nafsu birahinya yang sempat reda kembali bangkit setelah pikirannya keruh oleh bayangan kejantanan kuli-kuli itu.

Jujur, ia menginginkan kejantanan seorang kuli yang bisa memuaskan birahinya. Ia sedang membutuhkan penis perkasa yang dimiliki oleh pria kekar yang bisa memuaskan birahinya. Hanya itu yang ia butuhkan sekarang. Bukan hanya pria berwajah tampan yang bisa meluluhkan hatinya. Ia sedang dilanda nafsu. Ia sedang membutuhkan pria yang bisa melayani nafsunya.

"Kekekekek" Tawa seseorang dari belakang yang membuat Haura terkejut.

Suara itu ? Jangan-jangan !

Batin Haura sambil menoleh ke belakang.

Benar seperti yang ia duga. Di belakangnya terdapat seorang kuli tua berbadan kekar yang berjalan mendekat sambil tertawa. Kuli tua itu hanya mengenakan celana pendeknya. Tubuh kekar nya terhidang di depan mata Haura. Tubuhnya agak kotor terkena pasir dan debu di dalam gedung baru itu. Keringatnya juga banyak yang membuat kuli tua itu terlihat menggairahkan. Setidaknya itu yang dilihat oleh Haura saat melihat kedatangan kuli tua itu.

"Ada apa ustadzah ? Ustadzah mencari saya yah ?" Ucap kuli tua itu dengan pedenya sambil mencolek dagunya.

"Apaaa ? Enggg... Enggakk yahh... Buat apa aku nyariin bapak" Jawab Haura gugup saat kuli tua itu benar-benar datang menghampirinya.

"Kekekekek... Yang bener ? Dari tadi saya perhatikan dari jauh, ustadzah seperti sedang mencari seseorang di gedung ini... Ustadzah pasti mencari saya kan ? Ada apa ? Ustadzah mau minta jatah dari saya ?" Ucap pak Karjo yang membuat wajah Haura memerah malu.

"Apa ? Siapa yang bilang ? Enggak yahhh... Aku gak bilangg gituu " Ucap Haura mendadak ragu tuk meminta kepuasan darinya. Maklum, wajah kuli tua itu terlihat sangar di depan mata Haura. Haura jadi agak takut. Ia juga masih gengsi setelah sebelumnya ia selalu menolak ajakannya untuk bercinta dengannya. Namun aroma tubuh Pak Karjo yang berkeringat malah merangsang birahi ustadzah tercantik itu. Haura jadi bimbang, ia pun bingung haruskah ia menuruti keinginan nafsunya untuk meminta kepuasan dari kuli tua itu atau haruskah ia menuruti hatinya agar bisa bersabar dengan kelemahan suaminya ?

"Yakin ustadzah ? Tapi tubuh ustadzah mengatakan hal yang sebaliknya loh" Ucap pak Karjo saat tangan kirinya tiba-tiba membelai lembut payudaranya yang menonjol dari balik gamis yang dikenakannya.

"Bapaakkk... Jangannn pakkk... Uhhhhhh" Kata Haura diam-diam terangsang.

"Kekekekek lihat kan... Dengan susu sekenyal ini dan dengan bokong semontok ini, saya tau kalau ustadzah pasti sedang bernafsu... Coba saya tebak, pasti ustadzah gagal dipuasi oleh suami payahmu itu yah ?" Ucap Karjo sambil membelai payudara dan bokong ustadzah tercantik itu dengan lembut.

"Mmppphhh... Mmppphhh enggakk... Enggakk yahhh... Aaahhhh" Desah Haura keras kepala dengan tidak mau mengakui hal itu. Namun reaksi tubuhnya yang keenakan saat dirangsang oleh kuli tua itu membuat pak Karjo tertawa. Ia tak mengira kalau Haura masih saja menolak kendati tubuhnya sedang keenakan saat ia rangsang.

"Kekekekek... Ustadzah pengen disodok kontol saya kan ? Ustadzah pengen dipuasi oleh kejantanan saya kan ? Ustadzah udah siap lemes belum hari ini ? Saya jadi gak tahan setelah melihat kepura-puraan ustadzah saat saya rangsang... Kekekekek ayo ikut saya" Ucap pak Karjo tak tahan dengan menarik tangan ustadzah tercantik itu ke dalam gedung baru melalui pintu belakang.

"Bapak mau ngapain pakk ? Apa yang akan bapak lakukan ?" Ucap Haura berdebar.

"Kekekekek apa lagi ? Jelas saya akan memuasimu ustadzah... Saya akan membuatmu menjerit nikmat merasakan keperkasaan kontol saya" Ucap pak Karjo yang membuat Haura merinding. Anehnya ia justru menantikan aksi kejantanannya. Ia jadi tidak sabar tuk merasakan sodokan gada besi berwarna hitam itu lagi.

Haruskah ? Haruskah aku menurutinya saja agar diriku bisa mendapatkan kepuasan darinya ? Batin Haura dalam perjalanannya memasuki gedung kosong itu.

Mereka berdua telah memasuki salah satu ruangan secara diam-diam. Sekilas Haura tampak mengenali ruangan yang baru ia masuki. Ia melihat sekitar untuk mengingat-ngingat kembali dimana dirinya pernah melihat ruangan ini.

"Kekekekek inget gak ustadzah ? Disinilah saya menyetubuhimu waktu itu... Inget gak pintu tirai yang kita lewati tadi ? Ya persis seperti saat itu, ruangan ini masih belum diberi pintu... Kalau ustadzah nanti menjerit pasti banyak kuli yang akan mendatangi kita dan melihat persetubuhan kita yang pastinya akan sangat menggairahkan... Disinilah pula saya mengenalkan ustadzah dengan pak Dino... Kekekek" Tawanya yang membuat Haura baru ingat.

Mulut Haura mengaga sambil menatap kuli tua itu. Ya Haura mengingatnya. Disinilah ia merasakan persetubuhan yang amat mendebarkan antara menikmati sodokan kuli itu dan juga takut andai ada seseorang yang memergokinya. Apalagi sekarang masih jam kerja. Suasanya pun sama seperti waktu itu. Haura menenggak ludah. Ia tak mengira kalau kuli itu berniat untuk menyetubuhinya lagi di tempat seperti ini.

Pak Karjo melangkah mendekat. Haura yang terkejut melangkah mundur menjauhi kuli tua itu.

“Kekekek ada apa ustadzah ? Bukannya ustadzah kemari untuk meminta jatah dari saya ? Kenapa ustadzah malah mundur ?” tanya pak Karjo tersenyum.

“Kaa... Kataa siapa ? Aku gak bilang gitu” ucap Haura berdebar.

“Kekekekek ssssttt... Jangan keras-keras ustadzah... Nanti ada orang lain yang dengar loh” ucap Karjo yang membuat Haura reflek menutupi mulutnya.

Haura masih melangkah mundur. Hatinya masih bimbang tuk menuruti kemauan nafsunya atau kemauan hatinya. Gejolak batin yang Haura rasakan membuat dirinya merasa kebingungan. Di lain sisi dirinya sudah sangat terangsang setelah melihat keperkasaan tubuh pak Karjo. Di lain sisi ia masih mencoba untuk melindungi harga dirinya sebagai seorang ustadzah.

“Aaahhhhh” ucap Haura terkejut saat punggungnya sudah mengenai tembok. Haura bersyukur karena tempat dirinya bersandar sekarang adalah tembok yang belum di semen itu. Karena tepat di sebelah kirinya, terdapat tirai yang menutupi ruangan dimana ia berada sekarang dengan ruangan dimana banyak kuli yang bekerja disana. Haura gugup, namun saat wajahnya ia tolehkan ke depan tuk menatap kuli tua itu. Tiba-tiba kuli itu sudah mendekat dan mencumbu bibir manisnya sambil meremas payudaranya.

“Mmpphhhh mantap sekali bibirmu ustadzah... Mmmpphhh susumu juga” ucap pak Karjo disela-sela cumbuannya sambil meremas payudara bulat yang menonjol di dadanya.

Haura terkejut. Reflek kepalanya ia geleng-gelengkan saat bibir maju kuli tua itu terus mencumbui bibirnya. Haura merinding merasakan cumbuannya itu. Tubuhnya merasa takut tapi ia juga merasa nikmat saat tubuhnya yang tak berdaya dinodai oleh kuli tua itu lagi.

“Mmmpppphhhhhhh” Lagi, bibir kuli tua itu mendorong maju bibir manis sang ustadzah. Tanpa ampun bibirnya mendorong bibir itu hingga kepalanya terdorong ke belakang ke arah dinding yang masih berbentuk bata-bata itu.

Sementara tangan kiri kuli itu tanpa ampun meremasi payudaranya yang ranum. Bulatan itu begitu kencang dan tidak sanggup untuk ia genggam menggunakan tangannya. Pak Karjo jadi bertanya-tanya. Apakah payudaranya membesar ? Seingatnya cengkraman tangannya sudah cukup untuk meremasi satu payudara bulatnya.

“Mmppphhh ustadzahhh... Ouhhmmm... Manis bangetttt uhmmm” kata pak Karjo terus melumat bibir atas Haura dengan nafsu. Ia mengulum bibir atasnya. Kemudian berusaha memasukan lidahnya. Ia begitu puas setelah merasakan kelezatan dari mulut manis sang ustadzah. Jemarinya pun gemas tuk mengangkat naik gamis yang dikenakan oleh ustadzahnya.

“Mmpphhhh... Mmppphhh paaakkkkk” desah Haura dengan manja. Dalam hati, ia begitu puas merasakan cumbuan yang amat sangat nikmat ini. Cumbuan penuh nafsu yang pak Karjo berikan sangat sesuai dengan apa yang ia inginkan sekarang.

Saat gamis itu terangkat. Kuli itu dapat melihat perut putih mulusnya yang halus. Ia melirik kebawah sambil terus mencumbui bibir manis ustadzah itu. Tangan kirinya dengan penuh nafsu mengusap perut ratanya. Usapannya pun naik hingga meremas payudaranya dari balik gamis yang masih dikenakannya. Tampak bra ketatnya masih menghalangi jemari kuli itu tuk beraksi. Tapi hal itu tidak serta merta mengurangi rasa nikmatnya. Payudaranya sungguh kencang membuat pak Karjo tak dapat berhenti untuk melanjutkan remasannya untuk memuaskan ustadzah cantiknya.

“Mmpphhhh paaakkk... Uhhhhhhhhh” desah Haura tanpa sadar mendesah nikmat. Remasan yang ia terima membuat tubuhnya merinding. Ia sampai tidak sanggup menahan diri lagi saat diremas begitu kuat oleh tangan kekar kuli tua itu.

“Kekekekek... Gimana ustadzah ? Enak kan remasan saya ? Atau kurang puas ? Atau saya harus meremasnya lebih kuat lagi ?” ujar pak Karjo memperkuat cengkramannya yang membuat Haura memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

“Mmppphhhhhh... Hentikann pakkk ! Aaahhhhhhh !!! Tolonggg pak !” desah Haura keenakan. Beruntung ia buru-buru menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya. Andai ia tidak melakukannyap pasti desahannya akan semakin keras dan berpotensi mengundang kuli lain untuk hadir menikmati pelecehannya.

“Kekekekek nikmat sekali desahanmu ustadzah... Mmpphh... Emang beda yah suara desahan ustadzah... Dengerin ustadzah mendesah aja udah bikin saya langsung kerangsang” ucap pak Karjo sambil terus mencumbui bibir itu sambil meremasi payudara kencangnya.

“Paaakkkk... Paakkkk... Ouhhhh yahhh... Aahhhh” desah Haura tampak bimbang antara harus mendesah atau melawan.

Namun reaksi wajah Haura justru membuat pak Karjo semakin bernafsu. Ia pun menarik tubuh Haura mendekat agar tangan kanannya mampu mencengkram kuat bokong montoknya.

“Uhhhhhhhh” desah Haura kembali merinding.

Mulutnya yang agak terbuka itu dimanfaatkan oleh pak Karjo untuk memasukan lidahnya.

Lidahnya sudah berhasil memasuki mulut manis sang ustadzah. Lidahnya berkelana. Menjilati setiap sudut dari rongga mulut bidadari berhijab itu. Sedangkan Haura hanya bisa memejam sambil menikmati rangsangan yang sedang ia dapatkan. Rasanya sungguh berbeda saat ia mencumbui suaminya di pagi tadi. Sensasinya lebih terasa disini. Ia lebih puas melakukannya dengan kuli tua ini daripada sang suami.

Namun Haura sesekali berusaha tuk mendorong tubuh kuli tua itu menjauh. Ia melakukannya bukan tuk menjauhkan kuli itu darinya. Tapi ia melakukannya agar kuli itu semakin beringas sehingga ia dapat merasakan sensasi tak berdayanya ketika dinodai oleh kuli tua itu lagi.

“Kekekekek masih keras kepala aja yah ustadzah ? Apa perlu saya melakukannya lebih kasar lagi agar ustadzah bisa lebih puas lagi ?” ucap pak Karjo dengan terburu-buru menurunkan resleting yang berada di punggung bidadari itu. Resleting itu sudah turun membuat pak Karjo dengan paksa menurunkan gamis itu melewati bokong montoknya yang sangat berisi. Pak Karjo sampai harus meremasnya kembali karena tidak tahan akan kepadatan bokong indah disana.

“Aaahhhh paakkkkk” desah Haura dengan manja sehingga merangsang birahi kuli tua itu.

Saat itulah pak Karjo mendapatkan lidah Haura di mulutnya. Ia pun mengulum lidah itu. Ia menghisapnya dengan penuh nafsu. Haura sampai memejam dan mengernyitkan dahinya mendapati lidahnya dihisap begitu kuatnya. Pak Karjo pun menggiring lidah Haura agar memasuki mulutnya. Saat lidah mereka bertemu di dalam. Lidah itu saling menggeliat. Lidah itu saling melilit. Lidah itu saling menggesek tuk merangsang birahi masing-masing. Pak Karjo pun puas begitu juga dengan Haura diseberang.

Nafsunya sudah mengalahkan akal sehatnya. Rasa kesal yang juga memenuhi hatinya akibat dipermalukan oleh suaminya membuatnya menjadikan percumbuan ini sebagai pelampiasan rasa kekecewaannya. Kendati dirinya adalah seorang ustadzah dan lawan mainnya hanyalah seorang kuli bangunan. Rentang derajat yang membedakan mereka justru membuat Haura menjadi semakin bernafsu. Apalagi cumbuan kuli itu semakin beringas sehingga mampu membakar gairah birahinya yang sudah berapi-api.

Tubuh bagian atas Haura sudah tersingkap setelah gamis itu lolos melewati kaki-kaki jenjangnya. Nampak Haura tinggal mengenakan beha berwarna putihnya saja. Haura terlihat menggoda. Pak Karjo pun melepaskan cumbuannya agar dapat menikmati keindahan yang ada di hadapannya.

Reflek Haura menutupi tubuhnya sebisanya menggunakan kedua tangannya. Sikap malu-malunya justru membuat pak Karjo semakin gemas. Ia pun membelai lembut dagu Haura yang bagai lebah bergantung itu. Pak Karjo mengangkat dagu itu naik sehingga tepat ke arah wajah tuanya. Nampak tatapan matanya yang sayuk terhidang dihadapan kuli tua itu. pak Karjo tersenyum, ia pun membisikan kata-kata di telinga ustadzah tercantik itu.

“Menurutlah... Turuti apa yang saya pinta... Ustadzah butuh kepuasan ? Turuti kemauan saya... Kalau ustadzah nurut... Saya jamin ustadzah akan datang kesini lagi esok-esok hari untuk mencari saya lagi... Jujur saja, untuk sampai detik ini, ustadzah sudah puas kan ?” bisiknya yang dijawab anggukan lemah oleh ustadzah tercantik itu.

“Kekekek saya juga... Saya juga puas setelah menikmati keindahan bibirmu” ucap pak Karjo sambil mencumbunya lagi.

“Mmpphhhh” desah mereka saat bibir mereka saling mendorong.

Saat pak Karjo melepaskan cumbuannya. Terlihat wajah Haura terdorong maju yang menandakan ustadzah tercantik itu juga bernafsu ingin mencumbui bibir tuanya. Pak Karjo tersenyum, ia pun meminta Haura untuk berjongkok di hadapan dirinya.

Tampak sebelumnya pak Karjo melepaskan kait bra yang melekat di tubuh indahnya. Bra itu sudah terlepas. Celana yang pak Karjo kenakan juga terlepas. Haura sudah topless dihadapan selangkangan kuli tua itu. Nampak penis hitamnya menegak kencang dihadapan matanya. Haura jadi deg-degan. Ia tak menyangka penis itu akan terlihat sebesar ini dengan jarak sedekat ini.

“Mainkan ustadzah... Terserah mau ustadzah kocok atau ustadzah kulum... Saya menanti kebinalanmu ustadzah kekekekek” ucap pak Karjo menyerahkan semuanya pada Haura.

Pak Karjo diam menanti dalam keadaan telanjang bulat sambil menyilangkan lengannya di dada. Wajahnya menghadap ke bawah. Ia menantikan apa yang akan Haura lakukan di bawah sana.

Gleegggg !!!

Sambil menenggak ludah, kedua tangan Haura mulai memegang penis kekar berwarna hitam itu. Nafasnya semakin berat tiap kali matanya menatap tajam ujung gundul yang berbentuk seperti kepala jamur itu. Tubuhnya terasa semakin bergairah saat dirinya mengocok penis besar berwarna hitam itu. Saat ia menaikan pandangannya. Terlihat pak Karjo memejam keenakan. Tubuh kekarnya membuat birahinya semakin menjadi. Dirinya merasa gatal. Payudaranya sangat ingin ia remas. Bahkan vaginanya semakin becek dibawah sana yang membuatnya tak sadar mengeluarkan lidahnya yang ingin menjilati benda berwarna hitam itu.

Mmpphh... Kenapa aku jadi seterangsang ini sih ? Senafsu inikah aku ? Semurah inikah aku ? Kenapa aku jadi bernafsu ingin mengulum penis gede ini ? Batin Haura heran.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Iyyahhh ustadzah ouhhhhh”

Haura semakin bergairah saat kuli tua itu mendesah menikmati kocokan dirinya. Kedua tangannya menggenggam batang dari penis besar itu. Kemudian ujung ibu jari dari tangan kanannya menekan lubang kencing dari penis besar itu sementara sisi jemarinya memaju mundurkan penis itu yang membuat pak Karjo sampai merinding merasakan sensasi ternikmatnya.

“Ahhhh... Ahhhhh... Iyyahhhh seperti itu ustadzaahh... Kocok terus punya saya... Kocok terus kontol saya” katanya sambil mengusap kepala Haura yang membuatnya terasa nyaman.

“Mmpphhh... Mmppphhh” desahnya sambil terus mengocoki penis hitam itu.

Ustadzah tercantik itu terus memaju mundurkan penis itu menggunakan jemarinya. Karena tak kuat menahan gairah birahinya sendiri, Tangan kirinya ia tarik tuk meremasi payudaranya sendiri. Tangan kanannya berdiam di penis besar itu. Hawa nafsu yang semakin menjadi-jadi membuat Haura terfikirkan hal lain untuk memuaskan hasrat birahinya sendiri.

Walau sempat ragu, ia bertekad untuk melakukan perbuatan ini. Sambil malu-malu ia mendekatkan wajahnya ke arah ujung gundul dari penis itu. Ia pun mengecup ujung gundulnya menggunakan tepi bibirnya kemudian meludahinya menggunakan liurnya

“Cuhhhhhh”

“Ouhhhhhh... Iyahhh seperti itu ustadzah... Ahhh nikmat sekali kocokanmu” desah pak Karjo saat penisnya semakin licin oleh liur bidadari bercadar itu. Ia geleng-geleng kepala saat menurunkan pandangannya menatap ke bawah. Ia tertawa melihat Haura sedang mengecup penisnya sambil meremasi payudaranya sendiri.

Kekekek kasian sekali dirimu ustadzah harus menikah dengan suami yang lemah seperti ustadz Hendra itu ! Batin pak Karjo tertawa.

Tak peduli dengan banyaknya kuli yang bekerja di ruangan sebelah. Haura masih asyik mengocoki batang penis itu menggunakan kelembutan jemarinya. Tirai besar yang menutupi pintu masuk sudah cukup untuk menghalangi aksi mereka di dalam ruangan kosong ini. Pak Karjo jadi semakin leluasa dalam menikmati kocokan ustadzah tercantik yang sedang berjongkok di depan penisnya. Haura juga semakin leluasa tuk melampiaskan hawa nafsunya yang tinggi saat memainkan penis besar itu.

Haura jadi semakin bergairah saat memainkan penis besar itu. Tiba-tiba wajahnya kembali mendekat. Mulutnya perlahan ia buka. Pak Karjo tersenyum melihat apa yang hendak ustadzah tercantik itu lakukan pada penisnya. Haura memejam. Ia tampak tak menyesali keputusannya. Ia pun membatin sebelum mengulum penis besar itu.

Maafkan adek mas... Maafkan adek karena sudah memilih berzina dengan pak Karjo... Adek udah bosen mas diperlakukan seperti ini terus... Adek butuh pelampiasan nafsu mas... Adek butuh kontol besar yang bisa adek hisap sepuasnya... Adek butuh kontol besar yang bisa keluar masuk di rahim adek sepuasnya... Jangan salahkan adek mas... Ini semua gara-gara mas yang gak bisa muasin adek !

Batin Haura yang langsung mengulum penis besar itu.

“Uhhhhhhhhh” desah Karjo memejam.

“Mmpphhh... Mmmpppphhhhh” desah Haura ketika dirinya secara suka rela memasukan batang penis kuli itu ke dalam mulutnya. Ia pun tak habis pikir kenapa ia sampai mau menuruti keinginan hawa nafsunya. Namun saat penis itu terasa di lidahnya. Haura merasakan sensasi ternikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Memang lidahnya tidak merasakan rasa apapun dari batang penis yang sedang ia emut itu. Tidak ada rasa manis, pahit, kecut, asem. Rasanya hanya hambar, namun sensasi yang ia rasakan ketika mengemut batang penis seorang kuli bangunan itu benar-benar memuaskan birahinya. Alhasil, tanpa ia sadari. Haura memaju mundurkan mulutnya agar dirinya bisa melahap keseluruhan dari batang penis raksasa itu.

“Ouuhhh ustadzahhh.... Iyahhh seperti ituuu... Lebih dalem lagi ustadzah... Telan kontol saya” kata pak Karjo merangsang birahi Haura.

Entah belajar dari mana, Haura semakin agresif dalam memainkan penis besar itu menggunakan mulutnya. Instingnya sebagai seorang pemuas yang ia padukan dengan hawa nafsu yang semakin menggebu-gebu membuatnya semakin liar dalam mengulum batang penis milik kuli bangunan itu.

Terkadang, ia hanya menggenggam batang penis itu sedangkan lidahnya ia keluarkan untuk membasahi batang penisnya. Terkadang ia cuma menjilati lubang kencingnya saja. Terkadang ia cuma mengulum ujung gundulnya saja sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok batang penisnya yang tak sempat ia masukan ke dalam mulutnya.

Saat Haura sedang melakukan hal itu, reflek mulutnya menghisap ujung gundulnya saja yang membuat kuli tua itu blingsatan. Tangan kirinya pun tidak mau menganggur dengan meremas-remas payudara bulatnya. Tak jarang karena saking nafsunya, tetesan liurnya sampai menetes jatuh membasahi payudara bulatnya.

“Aaahhhh... Aahhhh... Kekekekek... Liat kan ustadzah ? Puas kan ustadzah bisa ngulum kontol saya ? Kontol saya ini keras loh gak kayak punya suamimu itu” ejek pak Karjo yang tak hiraukan sedikitpun oleh Haura.

Sungguh ironi memang melihat seorang ustadzah tercantik sepondok pesantren yang tidak bisa dipuasi oleh suaminya yang lemah syahwat memilih tuk mencari kepuasan kepada seorang kuli bangunan yang sudah berulang kali memperkosa dirinya. Rasa nikmat yang ia terima dari pemerkosannya dulu membuatnya mendatangi kuli bangunan itu. Kini ia sedang mengulum batang penisnya dengan penuh nafsu. Mengulumnya saja sudah membuat birahinya terpuaskan apalagi nanti saat disodok menggunakan penis yang sedang ia kulum itu.

Mmpphhh... Mmpppphhh... Semua ini gara-gara kamu mas... Gara-gara kamu adek kayak gini !

Batin Haura melampiaskan semua kekesalannya dengan mengulum batang penis itu.

Kedua insan yang sedang dilanda birahi tinggi itu tidak bisa lagi mengendalikan tubuhnya. Ketika nafsu sudah berkuasa, nafsu tidak akan pilih-pilih orang untuk bisa memuaskan dirinya. Hawa nafsu yang semakin menjadi membuat pak Karjo tak sadar sudah memegangi kepala mungil Haura menggunakan kedua tangannya. Tak lama setelah itu, Pak Karjo mulai menggerakan pinggulnya hingga membuat Ustadzah tercantik itu terkejut dengan apa yang terjadi.

“Tahan sebentar yah ustadzah... Kekekekek” kata pak Karjo yang sudah dikuasai hawa nafsu.

“Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura mengeluarkan suara manja sambil memejamkan mata saat batang penis itu perlahan demi perlahan mulai menyodok-nyodok kerongkongannya.

“Aahhhhh nikmatnyaaa... Ahhhhhh ustadzaahh... Aahhh ustadzahh” desah pak Karjo sambil memejam kemudian menaikan pandangannya tuk menatap langit-langit ruangan.

“Mmpphhhh bapaakkk... Mmppphhhhhhh” desah Haura tertahan saat penis raksasa itu semakin cepat dalam keluar masuk di dalam mulut kecilnya.

Pinggul pak Karjo bergerak memutar seolah sedang mengaduk-ngaduk mulut kecil Haura menggunakan gada besinya yang besar. Rasanya sangat nikmat, rasanya sangat memuaskan membuat pak Karjo semakin bernafsu ingin mendorongnya lebih dalam.

Kedua tangannya terus mendekap kepala mungil Haura yang masih tertutupi hijab lebarnya. Pinggulnya ia gerakan secara perlahan agar ia dapat merasakan kenikmatan yang memuaskan. Mulut pak Karjo sampai terbuka saat liur Haura semakin menutupi permukaan batang penisnya. Kenikmatan yang tidak dapat ia jelaskan membuat wajahnya terus ia naikan tuk menatap langit-langit ruangan. Pak Karjo tertawa. Pak Karjo puas merasakan kenikmatan ini. Penisnya terasa hangat di dalam. Penisnya terasa lembab di dalam membuat pak Karjo kehilangan kata-kata untuk menjelaskan kenikmatan yang sedang ia rasakan sekarang.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Mantapnyaahhh... Aahhh yahhh” desah pak Karjo puas.

“Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura sambil memegangi paha kuli tua itu agar sodokan penisnya tidak terlalu dalam menyundul pangkal kerongkongannya.

Alih-alih marah, Haura justru terpuaskan oleh ketidakberdayaan yang sedang dialaminya. Rasanya sungguh nikmat membuat Haura tanpa sadar meremasi payudaranya menggunakan salah satu tangannya.

Rasa nikmat yang semakin memuaskan membuat tangan kiri pak Karjo menahan sisi kepala bagian belakang bidadari berhijab itu. Gerakan pinggulnya dipercepat. Nampak ustadzah pesantren itu kewalahan hingga kedua tangannya bergerak untuk menepuk-nepuk paha pak Karjo untuk menghentikan aksi liarnya.

“Plaaakkk... Paaakkkkkk” desah Haura tertahan sambil memejamkan mata.

“Aahhhhhh ustadzahhh... Aahhhh mantappnyaaa... Ahhhhhhhh” desah pak Karjo puas sambil terus menyenggamai mulut kecil bidadari tercantik itu.

Nafsu kuli tua itu semakin membara. Pria tua yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan itu semakin mempercepat gerakan pinggulnya. Sisi bagian bawah batang penisnya semakin cepat dalam menggesek permukaan lidah Haura.

Kedua kakinya sampai bergetar merasakan kepuasan yang sedang ia rasakan. Tubuhnya sampai merinding dan nafasnya semakin sulit untuk ia atur. Dengan terburu-buru ia mendorong penisnya semakin dalam hingga mentok ke pangkal kerongkongan ustadzah tercantik itu.

“Uhhhhhh mantaaaapppppp” desah Karjo dengan puas sambil mendorong pinggulnya ke dalam mulut ustadzah tercantik itu.

“Mmpphhhh pakkk... Paakkkkk” desah Haura kewalahan sambil menepuk-nepuk paha kuli tua itu.

Dengan segera pak Karjo menarik keluar penisnya. Ia nyaris keluar. Untungnya ia tepat waktu dalam mencabut batang penisnya.

“Uhhuukkk... Uhhuukkk... Uhhuuk” Haura sampai terbatuk-batuk saat merasakan tusukan penuh kenikmatan yang pak Karjo berikan.

Nikmat ? ya Haura memang merasa nikmat. Kepuasan yang ia cari pun berhasil ia raih. Walau baru melalui kulumannya. Tapi Haura sudah puas. Dirinya sampai lemas sekarang. Ia terus terbatuk sambil memuntakan liurnya ke lantai ruangan yang masih berbentuk tanah.

“Kekekekek maaf ustadzah... Saya terlalu bernafsu” tawa pak Karjo sambil mengangkat tubuh Haura.

“Paakkkk” ucap Haura yang kelelahan dan meminta beirstirahat. Namun pak Karjo mengabaikan permohonan wajah dari ustadzah tercantik itu. Haura diberdirikan. Tubuhnya diarahkan menatap ke tembok ruangan. Dalam posisi berdiri membelakangi itu, Haura dalam keadaan lemas tak berdaya. Tiba-tiba rok yang masih dikenakannya dipelorotkan oleh kuli tua itu. Celana dalamnya juga demikian. Seketika Haura paham apa yang akan dilakukan oleh kuli tua itu.

“Uhhhhh” desah Haura saat bibir vaginanya yang sudah basah tersundul oleh ujung gundul penis hitam itu.

“Kekekekek terima kasih karena sudah menunjukan kebinalan ustadzah dalam memainkan penis saya... Sekarang giliran saya yang akan memuaskan ustadzah dengan keperkasaan penis saya” ucap pak Karjo sambil mencengkram kuat pinggul ramping Haura tuk bersiap-siap menyetubuhinya.

Aaahhhh akhirnyaa... Inikah yang kamu cari daritadi Haura ? Sensasi ini ? Kepuasan ini ? Bagimana kekarnya penis ini yang sebentar lagi akan menodai rahimmu lagi ?

Lihat ! Kenapa kamu gak bisa melakukannya mas ? Kenapa kamu gak bisa melakukannya seperti apa yang pak Karjo lakukan sekarang !

Batin Haura melampiaskan semuanya saat bersiap-siap disetubuhi oleh kuli tua itu.

“Sekaranggggg hennkkghhhh !!!!” desah pak Karjo yang langsung menancapkan batang penisnya hingga langsung masuk ke dalam rahim kehangatan itu.

“Aaaa...” untungnya Haura langsung menutupi mulutnya menggunakan salah satu tangannya. Tangan satunya ia gunakan tuk bertumpu pada dinding ruangan. Tusukan kuli tua itu benar-benar mantap. Haura sampai nyaris kelepasan berteriak. Ia pun menahan suaranya. Ia berusaha untuk tidak mengundang kehadiran kuli lain yang sedang bekerja di ruangan sebelah.

“Aaahhhh... Aahhhh... Aaahhhh” desah pak Karjo yang langsung menggerakan pinggulnya maju mundur. Penisnya yang sudah basah terkena liur dari ustadzah tercantik itu memudahkannya dalam memasukan keseluruhan penisnya di dalam. Terasa jepitan vagina Haura begitu kuat. Pak Karjo sampai membuka mulutnya tuk merasakan kenikmatan yang ia dapatkan.

“Mmpphhhh... Mmpphhh... Mmppphhh” desahnya tertahan.

Tusukan kuli itu sungguh sangat kuat. Rasanya jauh berbeda dengan apa yang dimiliki suaminya. Haura benar-benar puas. Tapi ia tidak menunjukan kepuasan itu kepada sang kuli karena ia tidak mau kuli tua itu mengejeknya karena keeanakan disetubuhi olehnya.

Tubuh Haura jadi bergoyang kencang. Tubuhnya bergerak maju mundur di dalam ruangan itu. Terdengar suara kuli yang sedang mengobrol di ruangan sebelah. Sedangkan dirinya tengah asyik bercinta dengan seorang kuli bangunan berusia tua itu. Anehnya Haura merasa puas. Apalagi saat ia melampiaskannya dengan memikirkan kelemahan suaminya.

“Aahhhhh... Aahhhhh... Aahhhhh” desah Haura dengan lirih. Ia benar-benar memikirkan penis suaminya. Bagaimana bisa dengan keindahan tubuh yang ia punya, penis itu masih belum bisa berdiri setelah ia rangsang berkali-kali. Sedangkan kuli tua dibelakangnya sudah mengeras bahkan hanya dengan kocokan tangannya saja. Kini penis kuli tua itu sedang keluar masuk di dalam. Haura jadi semakin terangsang. Ia benar-benar puas merasakan apa yang dirasakan oleh tubuhnya.

Aaahhhh... Aahhhhh... Nikmat sekaliii... Aahhhh ! Ucapnya dalam hati. Ustadzah tercantik itu hanya berani menunjukan kenikmatannya melalui ucapan dalam hatinya. Sedangkan mulutnya hanya bisa mendesah kecil saja. Ia tidak mau desahan suaranya membuat kuli tua itu semakin merendahkan dirinya.

“Kekekekek... Pasti sekarang ustadzah sedang melampiaskan kekecewaan ustadzah terhadap suamimu kan ? Ustadzah pasti sedang memaki suamimu karena tidak bisa memuaskanmu kan !” ucap Karjo yang membuat mata Haura membuka. Seketika ia menoleh ke belakang tanpa mengucapkan sepatah kata.

“Kekekekek lanjtukan saja ustadzah kalau itu bisa memuaskanmu... Tugas saya hanya menggenjot memekmu dan memenuhinya dengan sperma kental saya !” Ucap pak Karjo yang membuat Haura heran sekaligus merinding.

Disaat tubuhnya yang maju mundur terhempas kejantanan kuli tua itu. Ia heran kenapa pak Karjo bisa membaca pikirannya. Namun tiap kali ia melampiaskan kekecewaannya pada suaminya. Rasa tusukan penis itu memang terasa semakin nikmat. Akhirnya Haura pun melanjutkan pelampiasannya itu. Ia memikirkan kekecewaannya. Ia terus memarahi suaminya karena tidak bisa memuaskan dirinya.

“Aaahhhhh... Aahhhh... Aahhhh masssss” desah Haura keceplosan yang membuat pak Karjo tertawa.

Kekekekek... Payah yah suamimu, untuk memuasimu saja tak sanggup !

Ejek pak Karjo di dalam hati.

Puas menyetubuhinya dengan gaya anjing berdiri. Pak Karjo mencabut penisnya kemudian menarik tangan Haura ke arah terpal yang sudah tergelar diatas lantai tanah. Pak Karjo tiduran diatas terpal itu sedangkan Haura diminta untuk menunggangi penisnya. Seketika mata mereka bertemu. Haura merasa malu kendati dirinya menginginkan bergoyang diatas penis kekar itu.

“Kekekekek sekarang giliran ustadzah yah yang bergoyang !” ucap pak Karjo tersenyum.

"Seekk... Sekkarang ?" Ucap Haura masih ragu tuk menuruti permintaan kuli tua itu.

"Kekeke terus mau kapan ustadzah... Mumpung kontol saya masih tegang... Ustadzah gak usah malu-malu yah... Saya memaklumi ustadzah kok yang sampai kesini karena ingin dipuasi oleh saya" Ucap Pak Karjo tertawa.

Jujur dirinya sangat ingin bergoyang diatas penis hitam itu. Namun apabila ia melakukannya karena diminta olehnya. Haura jadi merasa malu.

"Kekekekek ayo sini turun gak usah malu" Pak Karjo menarik tangan Haura karena gemas Haura masih bersikap malu-malu dihadapannya.

Dalam keadaan tubuh bertelanjang bulat. Haura sudah terduduk diatas perut kekar kuli itu. Sambil melihat ke samping karena malu, tangan kanannya memegangi penis kuli tua itu kemudian mengarahkannya masuk ke dalam vaginanya.

"Uhhhh" Desah Haura saat bibir vaginanya tergesek oleh ujung gundul penis itu.

"Kekekekek ayo masukan... Masukan sekarang ustadzah" Ucap Karjo bersemangat.

"Mmmpphh" Haura memejam saat tubuhnya ia turunkan sehingga penis itu langsung menembus dinding rahimnya.

Tubuh Haura langsung menegak. Kedua payudaranya yang menggantung langsung bergoyang. Keindahan tubuhnya yang nampak di hadapan kuli tua itu benar-benar memanjakan matanya.

"Kekekek indah sekali ustadzah... Aaahhh... Ayooo terus goyanggg... Goyang yang kencang" Ucap pak Karjo menyemangati saat melihat goyangan ustadzah tercantik itu.

Haura merasa malu sekali saat melakukannya sambil menatap wajahnya. Wajah kuli itu yang bernafsu saat memandangi keindahan tubuhnya menjadi alasannya. Selebihnya, ia sangat menikmati tusukannya. Apalagi penis itu masih saja keras walau sudah berkali-kali menggempur vaginanya.

“Aahhhh... Aahhh... Aahhhhh” desah Haura sambil malu-malu.

“Kekekek... Enak kan ustadzah kontol saya ?” ejek pak Karjo sambil melihat reaksi Haura.

"Aahhh... Aaahhhh... Iyyaaahh" desah Haura terengah-engah yang membuat diri pak Karjo tertawa.

Sudah lama kuli itu menantikan aksi ini. Sudah berbulan-bulan lamanya sejak ia pertama kali menyetubuhinya. Baru kali ini ia merasa digoyang dengan penuh perasaan. Tak ada paksaan sama sekali. Ustadzah tercantik itu melakukannya sendiri. Tentu ia harus berterima kasih kepada ustadz Hendra. Andai suami ustadzah itu mampu memuaskan nafsu istrinya. Belum tentu ia akan dilayani oleh ustadzah tercantik itu sepenuh hati.

"Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh" Nampak Haura mulai tak malu lagi tuk mengekspresikan kenikmatannya di hadapan kuli itu. Kedua tangannya tergantung bebas di kanan kirinya namun tubuhnya masih saja naik turun merangsang penis besar itu. Wajahnya terlihat lemas. Wajahnya terlihat puas dalam mengaduk-ngaduk kejantanan penis itu.

"Kekekekek... Yang kencang ustadzahhhh... Gerak yang cepat... Puaskah nafsumu... Pikirkan suamimu yang tak bisa memuasimu... Kini ustadzah sudah punya saya... Ustadzah bebas bergoyang diatas kontol saya... Jangan disia-siakan kenikmatan ini ustadzah... Goyang lebih cepat... Desah yang keras... Remas susumu itu disaat bergoyang diatas kontol saya !!!" Ucap pak Karjo menyemangati.

"Iyyaaahhh... Aaahhhh... Aaahhhh... Aaaahh" Desah Haura menuruti perkataannya.

Tubuhnya bergoyang naik turun dengan cepat. Desahannya terdengar lebih manja sehingga semakin merangsang birahi kuli tua itu. Bahkan kedua tangannya sampai meremasi payudaranya. Nafsunya sudah sampai diubun-ubun. Rasa kenikmatan yang menjalar di tubuhnya benar-benar mengalahkan akal sehatnya.

Seketika Haura mengangkat tubuhnya hingga tersisa ujung gundulnya saja yang masuk di dalam vaginanya. Ia tidak langsung menurunkan tubuhnya. Sebaliknya pinggulnya malah bergoyang maju mundur. Ujung gundul itu tergesek oleh dinding vagina itu. Haura mendesah. Ia benar-benar menikmati kebebasannya dalam memainkan penis besar itu.

"Ouhhhh... Ouhhhh... Uhhhh" Desah pak Karjo sampai manyun-manyun dalam meladeni nafsu besar ustadzah tercantik itu. Pak Karjo tidak mau bermain-main lagi. Dirinya pun fokus mengatur pernafasannya agar tidak cepat keluar sambil memegangi pinggang ramping Haura agar tidak terjatuh saat bergoyang.

Uhhhh... Uhhhh enak sekali massss.... Uhhhh enak sekali kontolmu pakkk !!

Batin Haura sambil menggelitiki putingnya sendiri sebelum tubuhnya turun hingga penis itu menghantam dinding vaginanya.

"Aaaaaahhhhhh" Desah Haura dengan manja.

Untungnya posisi mereka sekarang cukup jauh dari pintu masuk yang terbuat dari tirai itu. Haura jadi agak bebas mendesah. Ia pun mengekspresikan semua kenikmatannya dengan bergoyang semakin nikmat.

"Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh" Desah Haura sambil memejam menatap langit-langit ruangan. Tubuh Haura yang agak mengejang membuat dadanya semakin terdorong maju ke depan. Payudara Haura bergoyang jadi semakin besar. Payudara itu pun bergoyang memanjakan mata pak Karjo. Karjo sungguh puas. Ia tersenyum cerah melihat keindahan yang diberikan oleh ustadzah tercantik itu.

Ouhhhh maassss.... Ouhhhh massss... Gara-gara kamu mas, adek jadi kayak gini... Ouhhhh enak bangettt... Ouhhhh enakkk bangettt !

Batin Haura semakin asyik bergoyang.

Gilaaaa ! Luar biasa sekali nafsunya... Gak nyangka dengan body seindah ini tapi punya nafsu yang segede ini... Sayangnya suaminya gak bisa memuaskannya... Boro-boro membuatnya puas... Buat ngacengin kontol aja gak bisa... Kekekek lucunya dunia ini !

Batin pak Karjo saat menikmati goyangan Haura yang semakin liar.

"Aaahhhh... Uhhhh paaakkk... Akuuu mauu keluaarrr... Aahhh" Desah Haura yang tidak kuat lagi.

"Kekekek akhirnya... Goyanglah sepuasmu ustadzah... Jangan ada yang ditahan... Terus goyang sepuasmu dan mendesah sekeras-kerasnya !" Ucap Pak Karjo yang agak berhati-hati karena goyangan Haura semakin berbahaya.

"Aahhh" Desah Pak Karjo mengatur nafasnya. Seorang kuli kekar sepertinya saja sampai harus berhati-hati agar tidak keluar duluan. Soalnya, tidak hanya goyangannya yang mematikan. Keindahan tubuh Haura juga berbahaya. Kecantikan wajahnya juga berbahaya. Bahkan suara desahannya saja sudah cukup untuk membuatnya kewalahan. Tapi kini pak Karjo menghadapi Keempat-empatnya sekaligus. Bukan hal yang mudah tapi ia terus bertahan agar ustadzah tercantik itu bisa puas saat bergoyang diatas penisnya.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Haura saat bergoyang maju mundur. Kini Haura bergoyang dengan arah yang berbeda. Tidak hanya naik turun. Tubuhnya agak ia tundukkan sehingga kedua tangannya bisa bertumpu pada perut kekar itu. Payudaranya jadi semakin menggantung. Desah nafasnya yang hangat jadi tercium oleh kuli kekar itu. Pinggulnya terus saja bergoyang hingga membuat pak Karjo sampai harus menggigit bibir bawahnya dengan rapat.

"Aaahhhh ustadzah... Nikmati sekali goyanganmu... Ouhhh kuat sekali jepitan memekmu" Desah pak Karjo bertahan.

"Aahhh iyyahh pakkk... Aaahhhh... Aaaaahhh" Desah Haura semakin berada di ambang batas.

Haura sudah tidak dapat berfikir jernih lagi. Gairah birahinya sudah berapi-api. Ia tak peduli lagi dengan siapa ia bercinta saat ini. Ia hanya ingin memuaskan birahinya agar bisa segera terpuasi. Haura kembali bergerak naik turun diatas pangkuan sang kuli.

“Ouhhh pakkkk.... Ouhhh... Ouhhhh” desah Haura semakin tidak tahan lagi.

“Aahhh... Ahhhh... ustadzahhh... Desahhh teruus ustadzahhh... yang kerasss !” kata pak Karjo menyemangati.

"Aaahhhh iyyahhh... Aaahhhhh” desah Haura sambil menegakan tubuhnya hingga kedua susunya semakin membusung di hadapan pak Karjo. Kedua tangannya bertumpu pada paha sang kuli. Tubuh Haura kembali bergoyang maju mundur. Penis itu diaduk-aduk hingga pemiliknya tidak kuat lagi.

“Aahhh.... Ahhh... Ahhh baappaakkkkk !!!!” Haura meraung-raung dalam mengaduk kejantanan penis kuli tua itu.

Haura terus bergoyang dengan penuh gairah. Desahan-desahannya terdengar semakin menggairahkan. Ia sudah melewati batas maksimal. Ia bergoyang semakin cepat. Pak Karjo kewalahan sampai harus mencengkram kuat terpal yang berwarna biru itu.

Jleeebbbb !!!

Tiba-tiba Haura menurunkan tubuhnya hingga penis itu semakin masuk menembus rahimnya.

"Aaaahhhh pakk... Akuu kelluaaarrrr" Desah Haura sambil memejam hingga kemudian tubuhnya ambruk diatas pelukan kuli tua itu.

Ccrrtt... Ccrrtt... Ccrrtt !!!

Akhirnya kepuasan yang ia cari-cari bisa ia dapati. Ia mendapatkannya dari penis sang kuli. Ia benar-benar puas hingga gelombang orgasmenya dengan cepat menerjang penis dari kuli tua itu yang masih menancap di dalam.

"Uhhhhh paaakkk" Desah Haura sambil memeluk tubuh Karjo dengan erat.

"Kekekek uhhhhh" Desah Karjo bertahan sehingga dirinya belum mendapatkan orgasme dari goyangan ustadzah tercantik itu.

Mata Haura merem melek keenakan. Tubuhnya mengejang. Dirinya tersentak-sentak setelah mendapatkan kenikmatan yang dahsyat.

Haura masih terengah-engah setelah mendapatkan kepuasan darinya. Tubuhnya berkeringat. Kulitnya yang bening itu sedang dipeluk oleh pria tua berkulit gelap yang masih belum mendapatkan orgasmenya.

Hah... Hah... Hah... Pak Karjo belum keluar ? Hebat banget... Itunya aja masih keras banget di dalem !

Batin Haura tak percaya.

"Aaahhhh puasnya saya ustadzah... Saya gak ngira sampai harus bertahan sekuat ini tuk meladeni kebinalanmu... Ustadzah gimana, puas ?" Tanya pak Karjo tersenyum.

"Hah... Hah... Hah... Iyyah pak" Jawab Haura malu-malu yang membuat Karjo tertawa.

"Kekekek... Dari dulu tuh saya udah tau loh ustadzah... Kalau ustadzah gak pernah puas saat bercinta dengan suamimu, iya kan ? Kekekek tenang aja ustadzah... Saya tuh gak bernafsu tuk memilikimu kok... Saya gak berniat tuk merebut ustadzah dari suamimu... Kita gak perlu tuk tinggal bersama-sama... Cuma, kalau ustadzah butuh kepuasan, ustadzah bisa datangi saya agar saya bisa memuasimu... Lihat, setelah ini ustadzah bisa pulang kok... Kalau ustadzah kurang puas, ustadzah tinggal minta saya tuk mencarikan kuli kekar lain yang bisa memuasimu... Disini ada pak Dahlan, ada pak Paidi, ada pak Said dan masih banyak kuli lain yang bernafsu ingin bercinta denganmu... Kalau ustadzah malu, ustadzah tinggal minta ke saya agar saya bisa mengatur tempat dan waktunya agar hubungan kalian tetap menjadi rahasia... Perihal sex itu simpel kok... Yang penting kita sama-sama puas... Gak ada yang dirugikan dari persetubuhan kita kan ?" Kata Pak Karjo yang membuat Haura mengangguk menyetujui.

"Kekekeke lihat kan ? Oh yah ustadzah... Sebenarnya sekarang, saya punya kejutan spesial untuk ustadzah" Ucap pak Karjo tersenyum sambil memeluk tubuh ramping bidadari itu.

"Hah... Hah... Kejutan ? Spesial ?" Tanya Haura terengah-engah sambil menatap kuli tua itu.

"Betul ustadzah... Kekekekek" Ucap Karjo mengangguk.

Tiba-tiba Haura merasakan adanya usapan di bokongnya. Tidak hanya itu, bahkan ia merasakan adanya benda tumpul yang sedang mengantuk-antuk lubang duburnya.

"Ehhh siapa ?" Ucap Haura panik.

"Kekekek... Saya tau kalau ustadzah pasti kurang puas kalau dilayani oleh satu kontol aja kan ? Makanya sekarang saya ajak kontol lain tuk memuasimu" Ucap pak Karjo yang membuat mata Haura membuka lebar.

"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapanya sambil menghentakan pinggulnya maju hingga menembus lubang dubur ustadzah tercantik itu.

"Pakkk... Diinnoo ? Uhhhhh" Desah Haura memejam saat dua lubang kenikmatan duniawinya di penuhi oleh penis kuli- kuli itu.

"Kekekeke saya gak kelamaan kan pak ?" Tanya pak Karjo kepada bawahannya yang paling senior itu.

"Aaahhhh enggak kok pak... Terima kasih sudah mengajak saya tuk memuasi nafsu ustadzah Haura" Ucap pak Dino sambil berusaha mementokan penis besarnya ke dalam lubung dubur sang ustadzah.

"Uhhh pakkk tungguuu... Gakk muattt pakkk... Uhhhhh" Ucap Haura memejam saat merasakan dinding duburnya dipaksa masuk oleh penis yang masih seret itu.

Nafas Haura jadi terasa sesak. Ia tak menduga kalau ada penis lain yang masuk ke lubang satunya.

"Kekekek... Maaf ustadzah, sebenarnya ini agak mendadak yah... Cuma tadi pas ngeliat ustadzah diam di depan gedung... Saya langsung manggil pak Dino terus memintanya tuk berjaga di luar pintu masuk ruangan ini... Makanya tadi persetubuhan kita aman kan ? Oh yah, ustadzah sendiri sudah tau kan kalau pak Dino itu salah satu fans terberatmu... Dari dulu ia tuh pengen ngerasain sempitnya anusmu... Terima kasih yah ustadzah sudah mengizinkan pak Dino... Tenang aja, pak Dino pasti akan membalasnya dengan memberikan kepuasan yang tak bisa ustadzah bayangkan" Ucap pak Karjo tertawa.

Haura membuka matanya lebar-lebar sambil menatap wajah pak Karjo tak percaya. Namun tarikan tiba-tiba dari penis pak Dino di duburnya membuat Haura memejam nikmat.

“Uhhhhhhh mantapnyaaa” desah pak Dino kembali menusuk dalam penisnya setelah sempat ia tarik sebentar.

“Aaahhhh pakkkkk” desah Haura kesakitan.

Penis tua berwarna hitam dan kekar itu masih seret-seretnya. Penis itu jadi susah tuk menembus lubang dubur ustadzah tercantik itu. Pak Dino tersenyum puas. Dirinya tak menyangka akhirnya kesempatan ini datang juga.

Sambil mengelus-ngelus pinggul ramping Haura dan juga bongkahan pantatnya. Pak Dino menarik penisnya mundur lalu menusuknya dengan kuat. Ia menariknya lagi kemudian menusuknya lagi. Ia terus melakukannya untuk melebarkan lubang dubur ustadzah tercantik itu.

“Uhhhh paakkkk” desah Haura sambil membuka mulutnya lebar-lebar.

“Kekekekek... Sini mendekat ustadzah... Mmpphhh” Ucap pak Karjo mengajaknya bercumbu.

Pak Karjo yang sedari tadi masih diam membiarkan pak Dino melebarkan dubur Haura mulai beraksi dengan mencumbui bibir ustadzah tercantik itu lagi. Tangan kanan pak Karjo menahan kepala bagian belakangnya. Bibirnya yang tebal itu mendorong bibir Haura dengan penuh nafsu. Dirinya yang belum mendapatkan orgasme semakin bernafsu. Saat merasakan kalau pak Dino mulai melakukan gerakan maju mundur di dubur sang ustadzah. Pak Karjo juga ikut melakukan gerakan maju mundur tuk memuaskan vagina sang ustadzah.

“Mmpphhh... Mmpphhh” desah pak Karjo dan Haura bersama.

“Aaahhhh... Aahhh rapetnya anusmu ustadzaahh... Aahhhh saya gak nyangka... Rupanya ustadzah binal juga yah ? Saya kira ustadzah tuh alim... Ternyata ustadzah tuh entotable juga !” ucap pak Dino merendahkan Haura yang anehnya membuat Haura semakin bergairah.

Kedua kuli itu bergantian dalam memasukan penisnya. Dikala pak Karjo menusuk vagina Haura maka pak Dino menarik penisnya dari lubang duburnya. Saat pak Karjo menarik penisnya giliran pak Dino yang menancapkan penisnya di dubur Haura. Gerakan itu diulangi terus menerus sehingga kedua kuli itu semakin bernafsu.

“Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura memejam.

Ia tak menyangka dirinya akan digenjot oleh dua kuli bangunan sekaligus dalam satu waktu. Ia juga tak menyangka kalau pak Dino berani melakukannya juga. Ia memang tahu kalau pak Dino juga bernafsu kepadanya. Tapi ia tak menyangka pak Dino berani mewujudkan nafsunya.

Pak Karjo agak kesulitan saat memasukan penisnya ketika ada orang lain yang memasukan penisnya ke dubur sang ustadzah. Pak Karjo pun memilih mengalah sekaligus untuk beristirahat sebentar setelah digoyang habis-habisan oleh kebinalan ustadzah tercantik itu.

“Silahkan pak... Saya serahkan ustadzah ke bapak” ucap pak Karjo tersenyum.

“Siap pak terima kasih” ucap pak Dino sambil mengangkat tubuh Haura hingga mereka sama-sama berdiri. Haura sedang berdiri membelakangi dalam keadaan telanjang bulat menyisakan hijab dan sepatunya saja. Sedangkan dibelakangnya ada pak Dino yang juga sudah bertelanjang bulat memamerkan kekekaran tubuhnya. Tubuhnya yang hitam itu membuat Haura bernafsu. Haura pun sempat menoleh ke belakang sejenak tuk menikmati keperkasaan tubuh kuli itu.

“Ustadzahhh... Apa kabarnya ?” ucap pak Dino sambil menghentakan penisnya ke dubur Haura dengan kuat.

Penis itu melesat masuk bagai sebuah tombak yang telah menusuk tajam korbannya. Haura sampai membuka matanya. Mulutnya ikut terbuka saat gada besi itu semakin dalam menusuk liang duburnya.

“Baa... Baaiikk pakkk... Aaahhhhhh” desah Haura keenakan.

“Ouhhhhh... Saya bolehkan menggenjot ustadzah seperti apa yang sudah pak Karjo lakukan” ucap pak Dino sambil mencumbui punggung mulusnya dulu tuk merangsang birahi Haura lagi.

"Ouhhhhhh.... Ouhhhhh bolehh kok pakkkkk... Uhhhhh" Haura merinding saat merasakan duburnya penuh dan punggungnya dirangsang oleh cumbuan kuli tua itu.

“Mmpphhh kalau gitu terima kasih ustadzah... Izinkan saya tuk memuasimu sekarang... Hennkghhh !!!” desah pak Dino mulai menggerakan pinggulnya.

“Aaahh... Aahhhh... Aahhh” desah Haura sampai merasa sesak akibat kenikmatan tak terduga yang ia dapatkan dari belakang. Haura berkeringat. Butir-butir keringat itu menggenangi tubuh indah Haura yang membuat nafsu pria tua itu semakin menggelora.

Sedikit demi sedikit pak Dino mulai menggerakan pinggulnya. Memang gerakannya lambat karena masih seret. Tapi saat dirinya mendorong pinggulnya maka ia langsung mendorongnya dengan kuat hingga pinggul mereka berbentur menimbulkan suara yang merangsang gairah.

“Uhhhhhhh”

Haura memejam sambil merasakan tusukan nikmat itu. Tusukan demi tusukan yang ia rasakan perlahan semakin mengencang saja. Tubuhnya yang berdiri membelakangi itu terdorong maju mundur. Payudaranya bergoyang. Tusukannya menendang-nendang. Haura terus mendesah merasakan genjotan kuli tua yang semakin bernafsu dibelakangnya. Disetubuhi di sebuah ruangan kosong dimana ada dua kuli yang sedang menikmati ketelanjangan tubuhnya. Sebagai seorang ustadzah tercantik yang sudah bersuami. Mungkin ini tidak masuk akal. Tapi ini lah yang terjadi. Tubuh mulus Haura sedang disetubuhi lewat belakang oleh kuli bangunan yang paling tua, paling hitam dan paling kekar itu. Apalagi pak Dino seorang duda. Sudah lama dirinya tidak bercinta dengan seorang wanita. Ia pun melampiaskan semua nafsunya itu dengan menghujami lubang dubur Haura.

“Aaahhhh... Aahhh... Aaahhh” desah Haura keenakan.

Kedua tangan Haura dipeganginya ke belakang. Dada Haura jadi membusung ke depan. Pak Dino mempercepat genjotannya hingga tubuh Haura terantuk-antuk ke depan. Melihat kebinalan yang dilakukan oleh Haura membuat pak Karjo kembali bergabung ke dalam pesta itu.

“Uhhhh... Uhhhhhhh” desah Haura membuka mata saat merasakan adanya kecupan di puting payudaranya. Rupanya pak Karjo sedang menyusu di dadanya. Haura jadi semakin bergairah. Ia hanya bisa memejam tuk memuaskan birahinya kepada dua kuli bangunan ini.

"Nikmat kan rasanya kontol pak Dino, kekekekeke" Bisiknya sambil menyusu yang hanya dijawab Haura dengan anggukan lemah penuh kepuasan.

Pak Karjo akhirnya mundur lagi setelah pak Dino ingin melampiaskan nafsunya. Kedua tangan pak Dino berpindah memegangi payudaranya. Sambil terus menyetubuhi, pak Dino mencengkram kuat payudara itu sambil sesekali menggelitiki putingnya. Haura jadi blingsatan merasakan kenikmatan yang menendang-nendang. Rasanya sungguh nikmat. Ia tak tahu kalau disetubuhi lewat dubur rasanya juga bisa senikmat ini.

“Uhhh nikmatnyaaa... Uhhh akhirnya saya bisa menganalmu ustadzah !” ucap pak Dino puas.

"Ahhhh.... Mmppphhhhh" Desah Haura kelelahan. Ia tak berdaya setelah dipuasi oleh dua kuli bangunan ini. Namun genjotan pak Dino tidak berhenti. Genjotannya malah semakin menjadi-jadi. Haura pun pasrah membiarkan pak Dino meluapkan birahinya pada keindahan tubuhnya.

“Uhhhhh... Uhhhh... Uhhhhh” pak Dino memejam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian mengopernya lagi kepada pak Karjo karena nyaris keluar duluan.

“Kekekek... Gak kuat yah pak ? Sini taruh diatas pangkuan saya” Ucap pak Karjo yang ingin kembali tiduran di atas terpal biru itu.

“Ini pakk... Awas” kata pak Dino berhati-hati menaruh Haura.

“Kekekek saya juga jadi penasaran gimana rasanya bokongnya... Saya masukin yah” kata pak Karjo menancapkan penisnya ke dubur ustadzah tercantik itu.

“Uuuuhhhhh” desah Haura memejam merasakan penis kekar lain yang memasuki duburnya.

Dalam posisi WOT membelakangi. Tubuh Haura dipaksa naik turun diatas pangkuan kuli kekar itu. Haura hanya bisa memejam saat lubang duburnya menggesek kulit penis kuli tua itu.

Tubuhnya naik turun. Kedua payudaranya bergondal-gandul. Raut wajahnya yang bernafsu membuat pak Dino juga ingin bergabung dalam kenikmatan itu. Tiba-tiba tubuh Haura didorongnya hingga terbaring diatas tubuh pak Karjo.

“Kekekekek... Sini ustadzah biar saya remas-remas lagi susumu ini” ucap pak Karjo meremasnya.

“Aaahhhh... Aahhhhhh... Paakkkkk Mmpphhh” desah Haura keenakan. Tak sengaja wajahnya menoleh ke samping. Saat itulah pak Karjo kembali mencumbu bibirnya dengan penuh nafsu.

Melihat kemesraan yang dilakukan oleh mereka berdua membuat pak Dino iri. Ia pun berniat tuk melampiaskannya dengan menghujami vaginanya. Penis itu didekatkannya ke bibir vagina Haura. Penis itu di dorongnya. Pak Dino pun menancapkan penisnya hingga terbenam di dalam rongga vagina Haura.

“Mmpphhhh... Mmpphhh” desah Haura memejam merasakan dua lubangnya kembali dipenuhi oleh penis-penis sang kuli.

Penis pak Dino sudah ambles di dalam. Rasa kehangatan dan kenikmatan yang mendera penisnya membuat ia segera mengeluar-masukan penisnya dengan cepat. Pak Dino menyetubuhi Haura. Ia mengaduk-ngaduk rongga vagina Haura dengan cepat. Haura terlihat mengernyitkan dahi saat menahan sodokan pak Dino. Namun mulutnya tetap diam karena sedang dicumbui oleh pak Karjo. Pak Dino terus menatap wajah Haura yang sedang asyik bercumbu dengan pak Karjo. Ia geleng-geleng kepala sambil ngos-ngosan. Jepitan vaginanya memang terasa nikmat. Tapi ia tak percaya kalau Haura ternyata sebinal ini di belakangnya. Ia pun tak menyesal sudah ikut membantu Haura dalam memuasi nafsunya. Ia mempercepat genjotannya. Ia menusuknya lebih dalam hingga Haura melepas cumbuannya tuk mendesah merasakah sodokannya yang mantap.

“Aaahhhh... Ahhhhhh pakkk... Nikmatttt” desah Haura keenakan.

“Kekekekek... Lihat pak Dino, lihat wajahnya yang nafsuin... Genjot lebih kuat pak... Genjot agar ustadzah bisa lebih puas lagi !” ucap pak Karjo menyemangati.

“Aaaahhh iyyahhh pakk... Pasti hennkghhh !!!” ucap pak Dino menahan nafasnya tuk mempercepat gerakan pinggulnya.

“Aaaahhhhh... Aaahhhh... Aahhh pakk” desah Haura keenakan merasakan sodokan kuli itu.

“Kekekek teruss... Terussss” ucap pak Karjo sambil ikut menyodok lubang anusnya.

Pak Dino yang tergila-gila oleh kesempurnaan tubuh Haura semakin tak kuat saat melihat ekspresi wajahnya. Ia mendekap erat pinggul ramping Haura. Pinggulnya bergerak semakin cepat. Ia mendorong pinggul Haura hingga bidadari cantik itu terdorong ke depan.

“Aaaaaahhhhh paaakkkkk” desah Haura keenakan.

“Aahhhhh... Aahhh ustadzahhh... Ouuhhh nikmatnyaaa !” kata pak Dino bernafsu.

“Ouhhh yahhh... Ouhhh pakkk” kata Haura terdorong maju mundur. Pak Karjo tertawa puas dan pak Dino semakin menancapkan lubang vaginanya.

Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!!” Haura meraung-raung membalas kenikmatan yang sudah kedua kuli itu berikan. Kedua penis itu secara bergantian menyodok dua lubangnya.

Pak Dino yang terlanjur bernafsu tidak mampu menahan birahinya lagi. Ia terlanjur kelepasan saat menikmati jepitan vaginanya. Ia pun menatap wajah Haura dengan tatapan penuh gairah.

“Aahhhhh... Aahhhh... Sayaa mauu keluuarr... Aahh” desah pak Dino sambil menggigit bibir bawahnya menatap keindahan yang ada di hadapannya.

“Aahhhh... Aahhhhh pakkk pelannn uhhhh” desah Haura terkejut saat genjotan pak Dino semakin cepat.

Akhirnya dengan satu tusukan yang mematikan. Ia menghentakan pinggulnya maju sedalam-dalamnya sambil menarik tubuh Haura ke arah selangkangannya.

“Aahhhhhhhh pakkkkkkk” desah Haura hingga kepalanya ia tegakkan menatap langit-langit ruangan.

“Manntaaappppp... Saya keluuaarrrr !!!”

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

Spermanya dengan deras langsung memenuhi rahim kehangatannya. Tubuh pak Dino tersentak-sentak nikmat. Dirinya tak percaya bisa memejuhi rahim ustadzah tercantik itu.

“Uhhhh paaakkkk” desah Haura memejam saat vaginanya terisi sperma kuli tua itu. Mengejutkannya ia juga mendapatkan orgasme keduanya. Ia benar-benar puas. Ia pun tak berdaya saat terlentang diantara dua kuli bangunan itu.

“Hah... Hah... Hah” ucap pak Dino langsung menarik penisnya. Matanya masih merem melek tak percaya. Ia benar-benar puas setelah melampiaskan birahinya pada ustadzah tercantik itu.

“Kekekekek... Pasti ustadzah keenakan sekali... Sekarang giliran saya yah... Daritadi saya kebagian nahan-nahan terus... Sekarang giliran saya tuk memuntahkan seluruh pejuh saya !” Ucap pak Karjo mendorong tubuh Haura hingga ustadzah tercantik itu tiduran dalam posisi tengkurap diatas terpal biru itu. Kedua payudaranya tergencet dibawah. Kedua tangannya berada di kanan kirinya. Wajahnya ia miringkan ke kiri. Nampak cairan sperma pak Dino mulai keluar membasahi terpal berwarna biru itu.

“Kekekekek... Rasakan ini ustadzah ! Hennkghh !!!” Ucap pak Karjo menancapkan penisnya sedalam-dalamnya ke arah lubang dubur Haura.

“Aaahhhhhh pakkkk” desah Haura memejam dengan lemas.

Dalam posisi tengkurap. Dirinya tak berdaya saat kuli tua itu berjongkok memegangi bongkahan pantatnya. Bongkahan pantatnya ditekan. Kuli itu bergerak maju mundur melebarkan lubang duburnya. Puting susu Haura tergesek bahan terpal yang kasar itu. Haura memejam keenakan. Kenikmatan yang ia rasakan benar-benar diluar dugaannya. Ia sampai tak berdaya sekarang. Ia benar-benar lemas sehingga tak mampu menggerakan tubuhnya.

“Kekekek ouhh yahhh... Ouhhh nikmatnyaaa” desah pak Karjo menikmati lubang duburnya.

Pinggul Pak Karjo terus maju tuk menggenjot tubuh mulus yang sedang ia sodomi. pak Karjo terus mengusapi bokongnya yang mulus. Lubang anusnya yang sempit itu di tebas. Hasilnya, ustadzah tercantik yang sudah bersuami itu merasa lemas. Penis pak Karjo terus merengsek masuk menembus liang dubur Haura hingga mentok. Haura tak kuasa lagi menahannya. Ia pun menjerit nikmat. Beruntung suaranya sudah lemah hingga tak sampai terdengar oleh kuli lain di seberang.

Pak Dino yang sudah crot tak percaya melihat kenikmatan yang sedang pak Karjo rasakan. Ia pun terus mengamatinya. Ia melihat keindahan tubuh Haura yang sedang dipuasi oleh penis pak Karjo.

“Uuuhhhh... Uuuhhhh... Ustadzahh... Uuuhhh” pak Karjo mendesah nikmat saat pinggulnya terus bergerak maju mundur menikmati keindahan tubuh polos ustadzah tercantik itu. Bibirnya sampai manyun-manyun. Penisnya terasa ngilu saat otot dubur Haura berkontraksi hingga membuat penis itu semakin terjepit di dalam lubang kotorannya. Tangan pak Karjo jadi gemas hingga jemarinya mencengkram kuat bokong montoknya yang membuat bidadari itu semakin menjerit nikmat.

“Ahhhhhhh... Aahhhhh... Cukupp pakkk... Akuu capeekk” desah Haura kelelahan.

“Ouhhh ustadzahh... Ouhh iiyahh... Tenang ustadzahh... Saya juga udah gak kuat lagi... Saya... Aaahhhhh” desah pak Karjo semakin mempercepat gerakan pinggulnya

“Aaahhh bapaakk”

Nafas pak Karjo sudah berat. Ia sudah tidak mampu bertahan lagi dari keindahan yang melekat pada diri Haura. Tangannya semakin keras dalam meremasi bokong montok itu. Bibirnya semakin manyun dalam menikmati sodokan penuh nafsu di duburnya itu.

Plokkk plokkk ppllookkk !!!

Pak Karjo tidak kuat lagi. Jepitannya semakin terasa nikmat. Sodokannya pun semakin kuat. Dengan satu kali hantaman, ia menancapkan penis saktinya hingga menembus lubang dubur ustadzah tercantik itu. Pak Karjo pun mendesah dengan penuh nikmat mengeluarkan cairan kental berwarna putihnya.

“Aahhhhh kelluuaarrrrrr !!!!” desah pak Karjo dengan keras.

Crroottt... Crrootttt... Crroootttt !!!

“Aaahhhhh pakkkkkkkkkk” Haura ikut berteriak saat penis itu semakin dalam saat memasuki lubang duburnya. Cairan sperma itu pun keluar membanjiri lubang duburnya. Haura merem melek tak percaya. Nafasnya terengah-engah. Ia begitu kelelahan setelah dipuasi oleh dua kuli bangunan sekaligus. Tubuh mulusnya berkeringat. Tubuh mulusnya ternoda. Tapi ia benar-benar puas. Sehingga tidak ada penyesalan yang tertinggal pada persetubuhannya sekarang.

Ustadzah tercantik itu mengantuk. Matanya kedap-kedip berulang kali. Ia jadi tidak kuat lagi. Matanya memejam. Senyumnya juga ikut mengembang. Ia pun tertidur di siang itu.

"Kekekek... Akhirnya saya keluar juga" Ucap pak Karjo berdiri setelah puas menjejali penisnya pada kedua lubang kenikmatan duniawinya. Nampak lelehan spermanya keluar dari dalam lubang dubur Haura. Pak Karjo tertawa sambil mengambil kembali pakaiannya kemudian melanjutkan pekerjaannya.

"Pakk... Saya boleh lagi ?" Ucap pak Dino masih merasa kurang.

Namun pak Karjo hanya menggelengkan kepala. Ia pun menepuk bahu Pak Dino kemudian memintanya tuk menatap ketelanjangan Haura.

"Lihat pak... Ustadzah kita tercinta sedang kelelahan... Dia juga baru saja memutuskan takdirnya... Kalau bapak mau bercinta dengannya lagi lebih baik nanti, kalau dia sudah bangun dan itupun kalau dia mengizinkannya... Susah bagi saya tuk menjinakan ustadzah liar ini... Mood hatinya suka gonti-ganti... Saya juga tidak mau kehilangan pilihannya lagi... Nanti aja yah pak... Bapak gak usah khawatir, pasti nanti kita bisa memakainya bersama lagi" Ucap pak Karjo tersenyum sambil menatap ketelanjangan ustadzah tercantik itu.

"Oh yah pak... Tolong tutupi... Bapak juga bisa disini temani dia... Jangan sampai dirinya keliatan oleh kuli-kuli lain" Ucap pak Karjo sambil memberikan sehelai kain panjang kepada pak Dino.

Pak Dino hanya mengangguk. Ia pun berjalan ke arah Haura kemudian menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan. Sambil duduk, ia menatap wajah Haura. Ia pun mengusap kepala Haura sambil berbisik pelan.

"Beneran ustadzah ? Ustadzah sudah memutuskan untuk menjadi pemuas nafsu kuli-kuli bangunan seperti kami ?" Lirih pak Dino tak percaya

 

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy