Search

CHAPTER 4 - FITRI

CHAPTER 4 - FITRI

Selepas shubuh, banyak sekali santri, santriwati dan juga pengajar yang keluar mengenakan kaus longgar juga celana training panjang untuk berolahraga. Mereka bepergian ke beberapa lokasi di dalam pesantren. Santri putra yang umumnya menggemari olahraga futsal mengarah ke utara menuju lapangan futsal berada. Secara bergantian, mereka terbagi menjadi dua gelombang agar semuanya dapat menggunakan lapangan yang ada. Gelombang pertama akan bermain selama 15 menit baru setelahnya digantikan oleh gelombang kedua yang juga akan bermain selama 15 menit. Kebiasaan yang berlangsung sejak lama membuat santri lekas memahami peraturan tersebut. Karena itulah mayoritas dari mereka bergegas menuju lapangan futsal terlebih dahulu agar diri mereka termasuk dari dua gelombang yang bisa bermain di lapangan ini.

Bagi mereka yang terlambat hadir, bisa memainkan sepakbola di lapangan rumput yang berada tak jauh dari lapangan futsal berada. Jarak yang luas menuntut fisik yang prima agar bisa memainkan bola di lapangan yang lebar tersebut. Selain itu ada juga beberapa santri yang memainkan bola voli, takraw maupun basket di lapangan yang berbeda.

Berbeda dengan santri putra. Santriwati putri lebih menggemari olahraga basket dan juga olahraga kasti yang lapangannya dibangun di sisi yang berseberangan dari lapangan santri putra berada. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang terjadi. Kiyai Jamal sudah memikirkan segala kemungkinan secara matang. Karena itulah beliau telah membangun fasilitas lapangan yang nyaman untuk digunakan oleh santri - santrinya.

Tidak hanya santri, para pengajar juga bersemangat untuk berolahraga pagi. Di lapangan khusus pengajar, ada beberapa santriwati yang berkumpul untuk menonton aksi keren para ustadz yang sedang bermain basket. Tidak ada larangan memang bagi para santri atau santriwati untuk menonton para pengajar berolahraga. Umumnya alasan para santriwati ketika memutuskan untuk menonton para ustadz bermain adalah untuk mencuci mata. Ya santriwati juga butuh cuci mata untuk merefreskan pikirannya.

Lalu bagaimana dengan ustadzah ? Apakah ada santri yang menontonnya ? Jawabannya tentu tidak, karena umumnya mereka merasa malu apabila harus menonton para ustadzah bermain. Hanya beberapa santriwati saja yang hadir ikut menonton dan mendukung ustadzah yang mereka kenal bermain. Beberapa ustadzah memilih untuk bersepada keluar pondok untuk menikmati udara segar di pagi hari. Biasanya ustadzah barulah yang melakukan aktifitas ini. Beberapa ada yang bersantai di depan asrama mereka sambil mengobrol dengan rekan sesama ustadzah.

Waktu pagi memang waktu terindah yang mereka miliki selama di pondok. Suasananya bersahabat, menyegarkan pikiran sekaligus melepaskan stres yang mereka miliki selama mengajar di kelas.

Tak terkecuali bagi V yang lebih memilih berjogging mengelilingi pondok sambil melihat - lihat keadaan yang terjadi di sekitar. Nafasnya berat, jantungnya juga berdebar kencang. Ia berlari santai dengan penuh semangat menikmat keindahan yang terbentang di sekitar. Ia tersenyum melihat para santri yang berlalu lalang memenuhi jalanan di dalam pondok. Beberapa ada yang menyapanya membuat V tersenyum membalas sapaan mereka. Beberapa ada yang pura - pura tidak melihat karena malu untuk menyapa. V membiarkan santri tersebut, ia tidak mau menegurnya karena tidak ingin membuat santri itu tidak nyaman padanya.

Sebuah kaus berlengan pendek juga celana training panjang membalut tubuhnya yang dipenuhi dengan keringat. Sebuah kaus kaki berwarna putih menutupi kakinya yang tersembunyi di balik sepatu olahraganya. Ia merasa senang karena tubuhnya terasa lebih segar ketika sedang berolahraga. Saat melewati taman yang dipenuhi oleh bunga - bunga. Langkah V terhenti begitu melihat seseorang yang sedang berdiam diri disana.

“Bukankah itu ?” kata V dengan suara lirih.

Pelan - pelan ia berjogging mendekati sosok yang tengah melamun disana. Sebuah hijab berwarna putih, kaus longgar berlengan panjang bertuliskan Pondok Pesantren al-Insan juga dengan celana training panjang membungkus kakinya yang jenjang. Ia sedang duduk melamun menatap dedaunan yang tumbuh disamping bunga - bunga disekitarnya.

“Assalamualaikum ustadzah Haura !” sapa V.

Astaghfirullah V ! Walaikumsalam ihhhh.... Bikin kaget aja” kata Haura sambil memegangi dadanya.

“Hahahaha maaf yah ustadzah... Antum lagi apa ?” kata V tersenyum.

“Sok akrab deh... “ kata Haura tak dapat menyembunyikan senyumannya.

“Kok ngambek lagi sih... Iya deh... Maaf yah us” kata V menyadari kesalahannya kemarin.

Ia masih teringat ketika siang itu dirinya kembali mencumbui bidadari berhijab dihadapannya. Ia pun merasa setelah kejadian itu, Haura kembali mendiaminya karena marah setelah dirinya kembali mencumbu bidadari berhijab yang memiliki sejuta keindahan di wajah.

“Enggak kok” kata Haura kembali tersenyum, kali ini ia berusaha menyembunyikan senyumnya dengan berbalik badan memunggungi V yang berada di belakangnya.

“Beneran ? syukur deh gak marah lagi” kata V merasa lega.

Haura pun melirik ke belakang mencoba menatap V disana.

“Kenapa lega ? Bukannya suka bikin aku marah ?” kata Haura malu - malu.

“Ehhh enggak kok Ra... Sejak kapan aku suka bikin kamu marah” kata Haura.

“Tuh buktinya udah dua kali kamu mengulangi kesalahan yang sama... Bukannya aku udah pernah bilang untuk tidak melakukan hal itu lagi !” kata Haura menegur V.

Ehhh padahal aku udah minta izin waktu itu. . .

“Hehehhe maaf Ra... Abis kamu manis sih kemarin... Jadi aku gak bisa menahan diri untuk melakukannya” kata V membuat perasaan Haura berdebar.

“Ihhh apaan sih... Omongannya itu loh !” kata Haura kembali tersenyum mendengarkan pujian V.

“Hehehhe maaf Ra... Aku gak bisa nahan diri kalau berada di dekatmu” kata V.

“Helehhh... Bilang aja kalau aslinya suka modus... Pasti setiap ustadzah yang kamu temuin selalu kamu goda kan !” tegur Haura sambil melirik V yang masih berada di belakangnya.

V pun tertawa kecil di belakangnya yang membuat Haura yakin.

“Tuh kan akhirnya ketahuan... Dasar tukang mod . . . .” Haura berhenti saat berbicara ketika merasakan adanya pelukan yang ia terima dari seseorang di belakangnya.

“Engga kok Ra... Aku cuma melakukan itu padamu” bisik V sambil memeluk Haura dari belakang.

Haura terkejut, perasaannnya pun campur aduk, ia merasa senang tapi juga ketakutan andai ada seseorang yang melihatnya. Dilain sisi ia ingin menyudahi perbuatan V dalam memeluknya, tetapi dilain sisi ia begitu nyaman hingga tak ingin V melepaskan pelukannya darinya.

Sebuah kecupan berhasil mendarat di kepala Haura yang masih tertutupi hijabnya. Haura pun tersadar dari lamunannya. Ia pun menatap V dengan tatapan bengong tak percaya.

“Aku cuma melakukan ini padamu kok Ra... Serius deh !” kata V tersenyum sambil membalikan diri untuk kembali melanjutkan joggingnya.

Perasaan apa ini ?

Jantung Haura berdebar kencang setelah mendapatkan pelukan dari V. Saat melihat V sedang berlari menjauh darinya. Reflek mulut Haura terbuka kembali memanggilnya.

“V tunggu !” kata Haura yang membuat V menoleh menatap wajah cantik Haura yang sedang dilanda kebingungan. Kebetulan keadaan yang semakin siang membuat cahaya mentari bersinar menampakan wujudnya. Sinar itu jatuh tepat mengenai wajah V yang sedang menoleh menatapnya. Wajahnya terlihat bersinar terang mempesonakan mata Haura yang sedang terdiam dengan mulut terbuka.

“Ada apa Haura ?” tanya V kembali mendekat membuat Haura menggelengkan kepala menyadarkan diri dari lamunannya.

“Ehmmm waktu itu... Di malam itu... Aku sempet denger kalau kamu memanggilku dengan nama Fitri... Memang dia siapa ? Apa maksudnya ?” tanya Haura memberanikan diri.

“Ohh dia ?” Jawab V tersenyum yang membuat jantung Haura semakin berdebar.

“Ia cinta pertamaku !” kata V. Tanpa menunggu respon jawaban dari Haura. V kembali berpaling darinya melanjutkan joggingnya menikmati suasana indah di pagi hari. Haura hanya terdiam menatap V yang semakin jauh darinya. Haura bingung dengan perasaannya setelah mendengar jawaban dari V.

“Cinta pertama ? Jadi dia sudah melabuhkan cintanya pada seseorang yah ?” kata Haura merasa kecewa.

Astaghfirullah... Apa yang kamu pikirkan Haura... Bukankah itu baik ?” kata Haura.

“Sebentar ! Kenapa V memanggilku dengan nama Fitri ? Atau jangan - jangan yang dimaksud Fitri itu aku ? Cinta pertamanya ?" kata Haura tiba - tiba merasa senang.

“Ehhh kenapa aku senang ? Ihhh nyebelin deh !” kata Haura kesal pada dirinya sendiri.

Haura merasa bingung dengan perasaannya. Rasanya seperti remaja yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. Hatinya begitu bersemi oleh kehadiran seseorang yang telah memabukan dirinya. Ia pun memegangi dadanya. Terasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Perlahan perasannya pun membaik. Ia tak lagi kepikiran oleh kejadian yang terjadi semalam. Pagi itu, ia pun pulang menuju rumahnya dengan senyum lebar yang mengembang di wajah.

Saat berjalan melewati gedung bangunan yang belum jadi. Seseorang dari dalam gedung itu terkekeh - kekeh sambil menatap kecantikan bidadari yang baru saja lewat dihadapannya.

“Kekekekek.... Pagi - pagi udah senyum - senyum sendiri aja sih ustadzah... Jadi gak sabar deh buat ngecrotin mukanya yang manis itu” katanya tertawa dengan nadanya yang khas.


*-*-*-*


Tak terasa sebentar lagi, waktu sudah mendekati pukul enam pagi. V bergegas kembali ke dalam kamar agar tidak dimarahi oleh Adit lagi. Ia membuka sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu yang berada di samping pintu masuk kamarnya.

“Assalamualaikum” kata V sambil memasuki kamar asramanya.

“Walaikumsalam... Tumben ente tepat waktu V !” kata Fauzan yang baru saja selesai mandi.

“Hehehe.... Begg.... Begitulah” kata V terengah - engah sambil duduk di depan pintu almari pakaiannya. Terhitung beberapa hari telah berlalu semenjak dirinya memulai bekerja di pondok ini. Demi mengakrabkan diri V beserta rekan sekamarnya memutuskan untuk berbicara santai untuk menghilangkan rasa canggung di antara sesama.

V melihat sejenak. Fauzan sedang berganti pakaian bersiap - siap untuk mengenakan seragam mengajarnya, Wildan masih tertidur sambil memeluk guling setelah menyelesaikan shubuhannya. Nampaknya Wildan masih kelelahan setelah semalam dirinya berhasil menonton marathon episode drakor yang baru didownloadnya. V kembali melihat - lihat, tapi ia tak menemukan adanya Adit di dalam kamar.

“Oh iya... Adit... Adit dimana ?” tanya V.

“Adit ?” tanya Fauzan sambil melihat sekeliling. “Gak tau deh kayaknya lagi mandi” kata Fauzan.

Lagi mandi yah ?

V membaringkan tubuh diatas 'kasur lantai lipat' disamping Wildan. Tubuhnya terasa lelah setelah pagi tadi ia berolahraga mengelilingi pesantren. Kedua tangannya ia letakan dibawah kepala sebagai bantalan. Matanya perlahan memejam untuk mengistirahatkan diri sejenak karena kelelahan.

“Ehhh V kok malah tidur !” tegur Fauzan.

“Ehhh engg... Enggaa kok... Cuma tiduran aja gak tidur” jawab V terkejut membuatnya langsung duduk menghadap Fauzan.

“Tiduran apanya ! Buruan ganti... Ada jam ngajar kan nanti ?” tanya Fauzan.

“Iyy... Iyaa ada... “ kata V singkat.

“Yaudah buru... Mending bangunan si Wildan tuh” kata Fauzan yang sudah siap sambil menenteng buku materinya.

“Iya sebentar.... Nant... Nanntiii ana bangunin kok” kata V.

“Bener yah ? Langsung mandi dan stay di kantor yah ! Gak enak sama ustadzah Haura dll kalau telat” kata Fauzan begitu terburu - buru menuju bagian pengajaran untuk mengambil absen kelas.

“Kenapa sih si Fauzan buru - buru amat ?” kata V kembali membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya.

“Ustadzah Haura yah ? Fitri maksudnya ?” kata V tersenyum memejamkan matanya sambil membayangkan wajahnya.

BEBERAPA TAHUN YANG LALU

Fikri melangkah maju dibawah teriknya sinar mentari pagi. Ia menunduk dan terus menunduk tanpa pernah melihat ke arah depan. Ia begitu ketakutan tak siap menghadapi kerasnya kehidupan di dunia. Keringat dingin keluar membasahi tubuhnya. Berulang kali ia melihat ke arah genggaman tangannya. Genggaman tangannya menutup lalu membuka lalu menutup lagi kemudian membuka lagi. Rasanya seperti gemetar tapi ia terus mencoba, setidaknya itulah satu - satunya hal yang bisa ia lakukan untuk dirinya saat ini.

Sambil menggendong tas sekolah, ia berangkat menuju kelas yang berjarak beberapa ratus meter dari rumahnya. Keadaan jalan yang cukup ramai membuat ia lebih berhati - hati untuk menyeberanginya. Seringkali ia memanggil tukang becak atau penjual makanan ringan untuk membantunya menyeberang ke ujung jalan. Tak seperti murid lainnya yang tersenyum tiap kali berangkat sekolah. Wajah Fikri cenderung murung tak bersemangat tiap kali bertemu dengan teman - teman sekelas. Satu - satunya hal yang menyenangkan baginya saat bersekolah hanyalah ketika mendengar suara bel pertanda pulang sekolah berbunyi. Ia tidak pernah merasa nyaman di sekolah karena ia tidak memiliki seorang teman sama sekali.

Fikri akhirnya tiba di sebuah sekolah bertuliskan SD Harapan Bangsa. Ia berdiam sejenak sambil menenteng tas sekolah yang ada di punggungnya. Ia menarik nafasnya, merasa sedih dengan keadaan yang harus ia alami hingga saat ini.

Fikri merupakan satu dari sekian orang yang tidak beruntung di dunia karena terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Rumahnya terbuat dari kayu dan ayahnya hanyalah buruh pabrik yang berangkat di pagi hari dan pulang di larut malam. Hari demi hari dikala dirinya tidak bersekolah, ia selalu menemani ibunya berjualan bunga bersama sepupunya. Ia tinggal berempat bersama adiknya, ibunya dan juga ayahnya. Sebagai anak pertama, orang tuanya menaruh harapan tinggi kepadanya. Harapan untuk dapat merubah kondisi keluarga serta harapan agar kelak dirinya bisa melebihi apa yang sudah ayahnya berikan padanya.

Tapi kenyataannya ia kerap kali tidak percaya diri dengan kondisinya sendiri. Sebagai seseorang yang terlahir dari keluarga miskin ia sering kali merasa terasing dari teman sekelasnya. Beberapa ada yang sampai menjauhinya bahkan sampai ada yang berani membullynya.

Hal itulah yang sempat mematahkan semangat juangnya untuk hidup. Hal itulah yang membuat kepercayaan dirinya redup dan hal itulah yang membuatnya perlahan - lahan memiliki kepribadian tertutup. Semua hanya karena rasa takut untuk membuka diri akibat rasa trauma yang sering dialami ketika dirinya di bully.

Karena memiliki sifat introvert itulah Fikri seringkali bersedih dan menangis di dalam hati. Rasanya begitu berat karena tak memiliki teman untuk berbagi cerita, berbagi kebahagiaan bahkan berbagi kesedihan. Setiap hal yang ia lalui tiap hari hanya dapat ia pendam di dalam hati. Hati Fikri menjadi keras tak tahu bagaimana caranya untuk bersenang - senang. Tiap kali dirinya melewati lorong kelas, teman - teman sekolah selalu menjauh seperti membuka jalan untuknya. Beberapa ada yang memandangnya seolah dirinya ini berbeda dari mereka, beberapa bahkan ada yang menertawainya dan beberapa bahkan ada yang tak menatapnya seolah kehadirannya tak begitu penting bagi mereka.

Ketika Fikri melewati kantin sekolah, ia melihat beberapa murid yang tertawa dan bersenda gurau bersama teman mereka. Fikri tersenyum memandang mereka dari kejauhan. Akan tetapi ketika mereka menyadari kehadirannya. Mereka langsung pergi menjauh darinya. Fikri kembali menunduk bersedih meratapi kesedihannya.

Rasanya tak ada sama sekali teman sekolah yang ingin bermain dengannya. Mungkin mereka merasa takut karena tak pernah melihat dirinya tersenyum. Mungkin mereka takut karena mengira dirinya bukanlah orang yang ramah dalam bercengkrama dan mungkin mereka takut untuk memiliki seorang teman yang tak bisa bersenang - senang sepertinya.

Fikri memang bukan seorang murid yang cerdas, ia bukanlah murid yang pandai bergaul, ketrampilan olahraganya juga buruk lantas apa yang bisa dibanggakan apabila memiliki seorang teman sepertinya.

Ia melangkah menuju kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia pun duduk di kursi biasanya yang berada di pojok belakang ruangan. Jam pertama pelajaran belumlah dimulai, ia hanya berdiam diri tanpa melakukan hal apapun menanti hingga bel petanda masuk berbunyi.

Terkadang sambil mengisi waktu luang, Fikri mengambil pena dari dalam tasnya guna menuliskan sebuah kata - kata yang terlintas dalam selembar kertas dari buku catatannya. Disaat itulah tiba - tiba sebuah bola tenis melayang kencang mengenai kepalanya.

“Ahhhkkk aduh” kata Fikri sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.

“Hahahaha... maaf gak sengaja... Lagian kamu disitu sih ngalangin laju bola kan jadinya" Katanya tertawa.

Fikri menatap ke arah orang yang sedang berbicara padanya. Nama dia adalah Rizky Bagus Perkasa walau namanya ada kata bagusnya tetapi sikapnya tidak ada bagus - bagusnya sama sekali. Ia merupakan orang yang paling sering membully Fikri baik dari segi verbal maupun non verbal. Ia merupakan anak nakal yang berasal dari keluarga kaya raya. Sikapnya yang sering dimanja oleh orang tuanya membuatnya tumbuh menjadi anak nakal yang bertindak semaunya. Bahkan pihak sekolah pun tak bisa berbuat apa - apa karena adanya intervensi dari pihak keluarganya.

“Heh Fikri coba kembalikan bola itu kepadaku... Tapi bawanya pake mulut yah... Biar keliatan kaya anjing yang ada di tipi - tipi gitu... Hahahaha” katanya menertawai Fikri. Sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Fikri pun menatap benci ke arahnya.

“Pun... Punnya tangan kan ? Ammm... Ambil aja sendiri !” kata Fikri merasa kesal.

Rizky yang mendengar jawaban dari Fikri langsung tersulut emosi. Ia mempercepat langkahnya demi mendatangi Fikri untuk mencengkram kerah seragamnya. Ia mendorong Fikri dengan keras hingga punggung dan kepala bagian belakangnya terhantam ke tembok. Seisi kelas pun berteriak setelah melihat adanya perkelahian antara Fikri dengan Rizky.

"Ngomong aja gak lulus masih sok berani ngelawan ? Hahh !!!" Kata Rizky berteriak.

Tepat saat itu seseorang pun masuk ke dalam kelas berlari menuju ke arah mereka berdua.

“Rizky hentikan !” teriak gadis itu. Namun Rizky masih saja mencengkram kerah Fikri dengan keras.

“Akkhhhh” teriak Fikri.

“Rizky !!!” Teriaknya kali ini sambil menjewer telinganya dengan kuat.

“Ahhhhh beraninya kamm....” Katanya terhenti setelah melihat siapa yang telah menjewernya.

“Rizky ? Mau masuk ke ruang BP lagi ? Seperti biasa ?” kata gadis itu.

Rizky melepas cengkraman di kerahnya dan meninggalkan Fikri begitu saja dengan tatapan sinis seolah tidak rela tindakannya terputus begitu saja.

“Cihhh Ngomong aja gak becus... Awas aja nanti tunggu pembalasanku !” kata Rizky sambil pergi menjauh.

“Kamu gapapa kan ?” kata gadis itu mengkhawatirkan keadaan Fikri.

Fikri terdiam sejenak menatap wajah seseorang yang begitu peduli padanya. Wajahnya yang manis, dengan hijab yang menutupi kepala kecilnya, kulit putihnya yang bening. Ah Fikri terpana akan kecantikan gadis kecil itu yang telah membantunya.

“Fikri ?” tanya kembali gadis itu menyadarkan Fikri dari lamunannya.

“Ehhh iya... Ba... Baik kok” jawab Fikri tersenyum kaku.

“Hufttt Syukurlah !” kata gadis itu merasa lega. Tepat setelah itu bel sekolah pun berbunyi menandakan proses belajar mengajar akan segera di mulai. Buru - buru para siswa yang berada di kelas duduk di kursinya masing - masing. Saat guru memasuki kelas, sang ketua kelas pun berdiri untuk menyalami guru juga memimpin doa sebelum belajar.

Fikri tersenyum sambil menatap gadis tadi yang telah menyelamatkannya. Ia merupakan ketua kelas disini. Sosoknya sangat berpengaruh di kelas. Bahkan orang yang sok - sokan seperti Rizky saja sampai tak berani untuk melawan pengaruhnya. Gadis cantik itu bernama Fitri. Ya dia yang membuat jantung Fikri berdebar untuk pertama kalinya.

Proses belajar mengajar pun berlangsung, para siswa yang berada di kelas memperhatikan guru dengan seksama. Semuanya kecuali Fikri. Alih - alih memperhatikan guru, Fikri justru memperhatikan Fitri yang tempat duduknya berada satu kali lebih maju di samping kanannya. Fikri tersenyum sambil menuliskan kata - kata pada selembar kertas. Saat Fikri menoleh ia melihat sisi samping wajah Fitri yang sedang memperhatikan guru di depan kelas. Fikri kembali tersenyum untuk menyelesaikan tulisannya.

“Ssttt stttt” kata seseorang yang membuat Fikri menoleh.

Fikri menoleh, ia terkejut rupanya yang memanggilnya adalah Fitri, seorang ketua kelas yang telah membantunya tadi.

“Kamu gapapa kan ?” kata Fitri mengkhawatirkan Fikri.

“Iyyy... iyyaa” kata Fikri menjawabnya.

“Beneran ? tapi kata temen - temen kepalamu sempat terbentur cukup keras loh” kata Fitri sekali lagi.

“Iya aku... Akuu gapapa kok” kata Fikri senang.

"Nanti setelah istirahat ke ruang UKS aja yah ?" Kata Fitri memberikan saran.

"Ehh gak us... Gak usaah deh... Beneran gak usah" Kata Fikri terus menolak.

“Hmmm namamu siapa ?” kata Fitri tiba - tiba.

“Ehhhh kok... Kok kamu gak tahu namaku ?” tanya Fikri terkejut.

“Tau kok kan tadi aku udah manggil.. Cuma ngetes aja siapa tau kamu lupa ingatan hihiihi” kata Fitri tertawa yang menenangkan hati Fikri saat melihatnya.

“Hehe Aku... Aku... Fikri” kata Fikri tersenyum.

“Aku Fitri salam kenal yah” kata Fitri menjulurkan tangan padanya.

Fikri terkejut sekaligus senang saat ada seseorang yang mengajaknya berteman di tengah pelajaran yang sedang berlangsung. Tanpa ragu, Fikri meraih tangan Fitri dan menjabat tangannya sambil tersenyum.

“Yang dibelakang tolong diam jangan berisik !” kata Guru yang mengajar membuat Fikri dan Fitri terkejut. Buru - buru mereka berdua berpura - pura menulis membuat siswa lain tidak ada yang mencurigai mereka berdua.

“Hihihihi” tawa Fitri menatap Fikri. Fikri pun ikut tertawa melihat Fitri tertawa.

“Fit... Ini !” kata Fikri memberikan sobekan kertas pada Fitri.

Fitri pun menerima sobekan kertas itu kemudian membacanya diam - diam dari balik laci meja kelas. Fitri tertawa kemudian ia menyobek selembar kertas kemudian menuliskan sesuatu pada sobekan kertas itu baru setelah itu memberikannya pada Fikri.

“Ini” kata Fitri tersenyum.

“Iya tau kok... Nanti waktu istirahat aku tunggu di kantin yah” kata Fikri ketika membaca tulisan dari Fitri. Fikri tersenyum menatap Fitri, rupanya Fitri juga tersenyum menatap Fikri. Hati Fikri tertawa ketika merasakan adanya kehangatan dari seseorang.

Fikri pun menuliskan kata - kata lagi pada sobekan kertas untuk membalas tulisan yang telah Fitri berikan. Tanpa sepengetahuannya, Fitri pun terbatuk - batuk hingga mengeluarkan sapu tangan untuk menutupi mulutnya.

Fitri mengernyitkan dahi ketika melihat warna dari sapu tangan miliknya.

SEKARANG

“V ! V ! bangun ! Wildan juga ayo bangun udah jam berapa sekarang !” kata Adit tiba - tiba membangunkan Fikri dan Wildan yang sedang terbaring diatas Kasur masing - masing.

Mata V langsung terbuka begitupula mata Wildan yang berbaring disampingnya. Bagai orang yang kebingungan mereka berdua langsung duduk sambil melihat - lihat keadaan sekitar. Reflek mata mereka bergerak ke arah jam untuk mengetahui waktu sekarang.

“Loh udah jam tujuh kurang aja !” kata V dan juga Wildan nyaris bersamaan. Tanpa sempat mandi dan mengambil sarapan pagi. Mereka berdua langsung berganti pakaian agar tidak dimarahi oleh staff bagian pengajaran.


*-*-*-*


Sore hari di sebuah gedung kelas, seorang santriwati tengah berjalan menuju suatu tempat dengan perasaan gelisah. Berulang kali pandangannya menengok ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan. Kadang ia juga menoleh ke belakang khawatir akan ada seseorang yang sedang memergokinya kesini.

Maklum biasanya di jam seperti ini, para santri atau santriwati sedang berolahraga di lapangan atau bersantai - santai di asramanya masing - masing. Jarang bahkan tak pernah ada sekalipun santri yang berkeliaran di wilayah gedung kelas seperti dirinya.

Santriwati itu bernama Salwa Nabila Putri. Ia merupakan santriwati kelas akhir berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan dan kecerdasan yang luar biasa. Bukan rahasia umum lagi kalau dirinya merupakan santriwati favorit yang dicalonkan untuk mengabdi disini setelah lulus nanti. Posturnya tinggi jenjang, wajahnya manis dengan kulit putih bening yang bersih. Permukaan kulitnya mulus dengan hidung mancung yang menghiasi wajah indahnya.

Sore itu, ia mengenakan rok panjang berukuran lebar hingga menutupi mata kakinya. Tubuhnya yang ramping dibalut dengan kaus berlengan panjang longgar dan tak lupa sebuah hijab berwarna gelap menutupi rambut panjang indahnya.

Lorong demi lorong telah ia lewati, anak tangga demi anak tangga telah ia daki, tak terasa dirinya kini sudah berada di lantai tiga yang merupakan lantai tertinggi di gedung ini. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, semakin dekat lokasi yang akan ia tuju membuat dirinya semakin gugup. Jemarinya saling mengait. Bibirnya pun kering. Matanya tertuju pada sebuah pintu yang terbuka di sebuah kelas yang bertempat di ujung lorong lantai ini.

“Assalamualaikum ustadzah” sapa Salwa dengan ramah.

“Walaikumsalam... Eh Salwa datang juga akhirnya” kata seorang ustadzah cantik yang sudah cukup lama menunggunya.

Afwan ustadzah kalau lama... ana tadi ada sedikit urusan” kata Salwa dengan suaranya yang lembut.

“Iya gapapa... Ana udah senang kok melihat anti disini” kata Ustadzah Syifa, seorang ustadzah yang bertempat di bagian pengajaran.

Ustadzah Syifa mengenakan kemeja lembut dengan rok panjang yang menutupi kaki jenjangnya juga hijab longgar yang menutupi rambutnya hingga ke dada.

Salwa melangkahkan kakinya mundur secara tak sadar ketika melihat Ustadzah Syifa mendekat. Ustadzah Syifa hanya tersenyum saat melihat santriwatinya itu gugup. Dengan lembut kedua tangan Ustadzah Syifa hinggap di bahu kanan kiri Salwa. Wajah mereka begitu dekat namun Salwa enggan untuk menatap kecantikan wajah ustadzahnya. Ustadzah Syifa terus tersenyum saat menatap kecantikan wajah Salwa.

“Ada apa Salwa ? Kenapa Anti murung ?” kata Ustadzah Syifa perhatian.

“Engga ustadzah” kata Salwa masih tak berani mengangkat kepalanya.

Jemarinya ustadzah Syifa hinggap di dagu Salwa, kemudian dengan perlahan ia mengarahkan wajah manis Salwa agar mau menatapnya. Mereka saling bertatapan tapi sekali lagi Salwa memalingkan pandangannya.

Anti kenapa Salwa ? Gak biasanya anti begini ?” tanya Ustadzah Syifa merasa heran.

Salwa diam tak berani menggerakan bibirnya. Bibirnya bergetar ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia ragu. Hatinya begitu takut untuk mengucapkan hal itu karena khawatir perkataannya hanya akan mengecewakan ustadzahnya.

“Ini... “ Kata Salwa mulai memberanikan diri.

“Iya ?” jawab Ustadzah Syifa.

“Ini gak benar ustadzah... Perbuatan kita selama ini salah... Tolong sudahi semua ini” kata Salwa dengan mata yang berkaca - kaca.

“Salwa ? Kamu kenapa sih ? Ini bukan kali pertama kita melakukannya loh... Apa yang membuat anti begini ?” tanya Ustadzah Syifa heran.

“Entahlah ustadzah... Ana takut... Hati ana gelisah karena perasaan bersalah yang ana rasakan” kata Salwa kembali membuang mukanya ke bawah.

“Cup cup cup... Jangan khawatir sayang... Kamu gak akan dikeluarkan dari sini kok... Ada ustadzah disini” kata Ustadzah Syifa menenangkan sambil menghapus air mata yang jatuh membasahi wajah santriwatinya.

“Tapi us... Ana takut” kata Salwa.

“Tenang... Gak usah khawatir... Semua udah ustadzah urus... Ustadzah jamin posisi anti bakal aman sampai lulus nanti” kata Ustadzah Syifa menenangkan hati Salwa yang agak goyah.

“Beneran ?” tanya Salwa mulai memberanikan diri menatap wajah ustadzahnya.

“Pasti sayang... Anti tenang aja yah... Gak usah nangis... Mari kita nikmati dulu waktu yang ada” kata Ustadzah Syifa tersenyum.

Kemudian setelah itu wajah ustadzah Syifa mendekat mengarah ke bibir manis santriwatinya.

“Uhmmm.. Auuhmmm... Uhmmmm” desah mereka berdua tatkala Ustadzah Syifa mulai mencumbu bibir santriwatinya.

Bibir mereka saling melekat, Nafas mereka saling mengikat, Tangan ustadzah Syifa pun hinggap menyentuh payudara Salwa dari luar kaus yang dikenakannya. Salwa pasrah membiarkan nafsu ustadzahnya dalam menikmati keindahan tubuhnya. Dikala mulut Salwa terbuka, lidah Ustadzah Syifa merayap masuk menjilati rongga mulutnya. Salwa merapatkan bibirnya, menjepit lidah ustadzahnya dan menghisapnya kuat - kuat demi memuaskan nafsu birahi ustadzahnya yang sudah bersikap baik hati padanya selama ini.

“Auhmmm ustadzahhhh !!! uhmmmm uhhmmm” desah Salwa menerima rangsangan ustadzahnya.

Ustadzah Syifa tersenyum ditengah serangan bibirnya. Diam - diam tangan kanannya masuk menyelinap ke dalam kaus yang dikenakan oleh Salwa. Jemarinya menurunkan cup bra itu dan dengan jail ia memainkan puting merah muda Salwa dengan cara menggeseknya pelan.

“Uhmmmmmm ahhhhhh.... Ustadzahhh !” kata Salwa setelah melepas cumbuan ustadzahnya.

Anti cantik banget sih... Ustadzah jadi gak tahan deh buat nyium anti terus” kata ustadzah Syifa memujinya.

“Ahhh ahhhh geliii uss... geliiii !” kata Salwa ketika dua putingnya dipermainkan oleh jemari ustadzah Syifa.

Ustadzah Syifa menaikan kaus yang Salwa kenakan. Kulitnya begitu mulus, halus dan terurus membuat ustadzah Syifa begitu senang melihatnya. Wajahnya pun mendekat guna mengecupi perut rata santriwatinya.

“Cuppp cupppp cuppp” desah ustadzah Syifa mengecupi tubuh bagian depan Salwa.

“Ahhhhh usss.... Geliiii !” kata Salwa menahan erangannya.

Saat kecupannya tiba di dada Salwa. Ustadzah Syifa berhenti sejenak guna menatapi keindahannya. Payudara Salwa memang tidak besar tapi tidak pula kecil. Ukurannya pas untuk seukuran tubuh Salwa yang ramping. Lagipula Salwa masih muda, sudah pasti payudaranya juga sedang dalam masa pertumbuhan. Begitulah yang ustadzah Syifa pikirkan saat menatapi payudara mulus Salwa dengan kedua putingnya yang sudah mengacung tegak.

“Aahhhhhh ustadzahhhh !” desah Salwa ketika putingnya dijilati oleh ustadzah Syifa dengan penuh nafsu.

“Hihihihi desahan anti manis banget sih... Ustadzah jadi makin bersemangat deh” kata ustadzah Syifa.

Dikala payudara kiri Salwa dijilat, maka payudara kanannya di remasi oleh jemari ustadzah Syifa. Begitupula sebaliknya dikala payudara kanan Salwa dijilat maka payudara sisi kiri Salwa yang diremasi oleh tangan nakal ustadzahnya. Salwa pun lama - lama takluk ketika nafsu birahinya kembali berkuasa di tubuhnya.

Puas memainkan payudara Salwa, tangan ustadzah Syifa mencari resleting yang bertempat di belakang rok yang Salwa kenakan. Sedikit demi sedikit resleting itu semakin turun membuat rok yang dikenakannya pun jatuh memperlihatkan kaki jenjang Salwa yang terekspos.

Rok panjang Salwa sudah turun menampilkan kaki mulus Salwa beserta celana dalam berwarna putihnya. Ustadzah Syifa kagum akan keindahan tubuh yang dimiliki oleh santriwatinya. Dengan penuh semangat ia kembali menjilati payudara Salwa diikuti dengan jemarinya yang bergerak masuk ke dalam celana dalam santrinya.

“Aahhhhhhhhhhhh” desah Salwa menatap langit - langit kelas ketika liang kewanitaannya yang sudah basah disentuh oleh jemari mulus ustadzahnya. Terasa jemari ustadzah Syifa bergerak masuk menuju liang terdalam yang dimiliki oleh santriwatinya. Pinggul Salwa pun bergoyang ke kiri dan ke kanan tak kuasa menahan nikmatnya. Belum juga dengan hisapan dan gigitan pelan yang ustadzah Syifa layangkan ke arah payudaranya.

Salwa memejam, bibirnya mengatup rapat guna menahan semua kenikmatan yang menyerang dirinya sekarang.

“Aaahhhhhh ustadzahhhh” kata Salwa tak sanggup menahannya lagi.

“Hihihi anti suka kan ?” kata ustadzah Syifa yang dijawab anggukan oleh santriwatinya.

Secara berhati - hati tangan ustadzah Syifa bergerak naik lalu turun lalu naik lagi di dalam celana dalam santriwatinya. Sesaat Ustadzah Syifa merasakan adanya penghalang yang melindungi liang senggamanya. Ustadzah Syifa pun tersenyum mengetahui status santriwatinya yang masih perawan. Sesaat terdengar suara cipratan air yang berasal dari dalam liang kenikmatan tersebut. Ustadzah Syifa tersenyum sambil menatap mata Salwa yang sayu. Santriwatinya itu terlihat lemas dan pasrah dengan perbuatan yang dilakukan oleh ustadzahnya.

“Ahhh ahhhhhhh... Nikmat ustadzah” jawab Salwa yang membuat Ustadzah Syifa kembali mendekatkan wajahnya untuk mencumbui bibir santriwatinya.

Bibir mereka berdua saling melekat, kadang bibir ustadzah Syifa memagut bibir atas Salwa kadang ia juga memagut bibir bawah Salwa. Hembusan angin yang berasal dari luar membuat Salwa merinding kedinginan. Payudaranya mengeras dan putingnya semakin mengacung tegak disana.

“Sekarang giliran anti Salwa... Anti bebas mau meng-apa - apakan ustadzah sekarang” kata Ustadzah Syifa yang melihat Salwa telah takluk seutuhnya seperti biasanya.

“Uhhmmmmmm” desah ustadzah Syifa terkejut saat Salwa tiba - tiba sudah mencumbuinya. Tangan Salwa juga sudah ada di kemejanya mencari kancing - kancingnya untuk melepaskannya satu persatu.

Kecupan, sentuhan dan seluruh pagutan yang mereka berdua rasakan membuat mereka lupa akan status yang mereka miliki saat ini. Mereka lupa bahwa mereka hanyalah santriwati dan juga pengajar putri yang tinggal di pondok pesantren ini. Kini mereka sudah dikuasai oleh hawa nafsu yang semakin menggebu untuk memenuhi hasrat birahinya selalu.

Kancing kemeja ustadzah Syifa sudah terlepas seluruhnya. Salwa pun membukanya hingga dirinya dapat melihat bra berwarna pink yang menyembunyikan rupa dari payudaranya yang terlihat begitu besar. Ya ukurannya montok, kencang mirip seperti buah melon yang masih bergantung di pohonnya. Ukurannya yang memukau membuat Salwa tak sabar untuk segera memetiknya, meremasnya dan memainkan ujung dari payudara itu dengan cara mencubitnya keras.

“Gimana ? Anti suka kan punyanya ustadzah ?” kata ustadzah Syifa tampak bangga.

“Suka banget us... Punya antum besar...” kata Salwa seperti terhipnotis.

“Ahhhhhhhh” desah ustadzah Syifa dikala payudaranya diremas.

Cup branya pun diturunkan, lidah Salwa mendekat menjilati ujung putingnya yang berwarna merah muda. Kadang ia menggunakan giginya untuk menggigit pelan. Kadang ia memasukan seluruh payudara itu sebisanya ke dalam rongga mulut kecilnya. Akibatnya ustadzah Syifa pun mendesah keenakan menerima rangsangan dari santriwatinya.

Ustadzah Syifa yang sudah kepalang nafsu melepas kemejanya kemudian juga kait bra yang berada di punggungnya. Tangan ustadzah Syifa pun memeluk tubuh ramping Salwa dan menekan kepalanya agar terbenam semakin dalam ke belahan payudaranya.

“Ahhhh ahhhhhhhh sayangggg” desah ustadzah Syifa.

Saat ini Salwa hanya mengenakan hijab, kaus panjangnya sudah terangkat naik sedangkan celana dalamnya sudah turun menyangkut di lutut kanannya. Ia pun dipaksa menyusu di payudara ustadzahnya yang besar. Setelah puas ustadzah Syifa melepas hak di roknya hingga membuat dirinya bertelanjang bulat menyisakan hijab beserta stocking panjangnya saja.

Salwa terkesima melihat keberanian ustadzahnya, tapi ia lebih terkesima lagi oleh keindahan tubuh ustadzahnya yang begitu kencang dan montok.

“Ayo sayang... Anti juga dong” kata Ustadzah Syifa menarik keluar kaus panjangnya dan melepas celana dalamnya hingga lolos dari kaki jenjangnya.

Kini di dalam kelas yang berada di ujung lorong lantai 3 ini. Terdapat dua perempuan cantik yang mengenakan hijab tapi telanjang. Payudara mereka saling berhimpitan ketika berpelukan. Bibir mereka berdekatan ketika kembali berciuman dan kedua tangan mereka sama - sama mengusap sisi punggung mulus mereka. Kadang tangan mereka turun meremasi bongkahan pantat pasangan mereka yang kencang.

Nafsu sudah mengalahkan segalanya, Salwa tidak lagi menyesal seperti saat pertama kali datang kemari. Sebaliknya ustadzah Syifa semakin berhasrat untuk menikmati keindahan tubuh santriwatinya. Ustadzah Syifa pun berjongkok ketika tubuh indah Salwa terpojok hingga bersandar di sebuah dinding ruangan.

“Ustadzah mulai yah” kata Ustadzah Syifa memberi aba - aba.

“Aahhhhhhhh” desah Salwa memejamkan mata ketika vaginanya dijilati oleh oleh ustadzahnya dengan liar.

Lidah itu menyapu permukaan bibir vagina Salwa. Kadang Lidahnya nyelip memasuki liang kewanitaaannya. Salwa pun geli, merasa basah, dan pinggulnya bergoyang - goyang ketika menahan titik sensitifnya dijilati seperti ini. Aroma kewanitaan yang terhirup dari dalam liang vagina Salwa membuat ustadzah Syifa semakin bersemangat. Ia pun membenamkan kepalanya hingga lidah itu terdorong masuk semakin dalam di liang kewanitaan Salwa.

“Aahhhhhh ustadzahhhhh !” desah Salwa tak kuat lagi.

Ustadzah Syifa menggerakan lidahnya naik turun di dalam vagina Salwa. Kadang ia melakukan gerakan memutar, kadang ia hanya mendorongnya keluar masuk. Salwa pun bertahan sekuat mungkin, tangan kanannya menutupi mulutnya agar suara yang dihasilkan tak bisa terdengar oleh seseorang yang ada di luar gedung ini. Salwa memejamkan matanya, kemudian dengan sentuhan akhir, Ustadzah Syifa menggigit sebuah biji kecil yang menggantung disisi atas permukaan vagina Salwa.

“Aahhhhhhhhhhhhhhhh !” desah Salwa ketika kitorisnya digigit pelan.

Salwa ambruk karena kaki - kakinya tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya akibat rasa lemas yang menguasai dirinya. Nafas Salwa pun naik turun tak beraturan. Ia begitu kelelahan menerima rangsangan yang begitu luar biasa dari ustadzahnya.

“Sekarang giliran anti Wa... Ayo sini mendekat” kata ustadzah Syifa mengarahkan vaginanya ke wajah Salwa.

“Uhhhhh iyahhh uhhhh uhhhmmmmm” desah ustadzah Syifa sambil menutupi mulutnya dikala lidah Salwa mulai bergerak di dalam vaginanya.

Nikmat, enak dan puas. Setelah sekian lama, Ustadzah Syifa akhirnya bisa merasakan jilatan Salwa lagi. Ia agak lupa sejak kapan dirinya bisa melakukan perbuatan ini bersama Salwa. Ia merasa lega mengingat perjuangannya untuk dapat menaklukan birahi Salwa yang terkesan sulit. Bahkan tadi, ia nyaris saja kehilangan Salwa saat santriwati muda itu ingin berhenti melakukan perbuatan nista ini dengannya.

Ustadzah Syifa memejamkan matanya, menikmati jilatan Salwa yang begitu terasa menyentuh dinding vaginanya. Pinggul ustadzah Syifa bergerak naik turun guna memuaskan hasrat pribadinya. Saat ia memejam tiba - tiba dirinya teringat akan sosok seseorang yang membuatnya jadi seperti ini.

Ini semua gara - gara kamu mas !

“Ahhh ahhhhh... Sudah cukup Salwa.. Ustadzah gak kuat lagi” kata Ustadzah Syifa meminta Salwa untuk berhenti sejenak.

“Hahhh hahhhh hahhhh... Anti ini yah” kata Ustadzah Syifa tersenyum menatap wajah Salwa yang terlihat kelelahan.

“Ustadzah ? Apa yang... ?” kata Salwa terkejut saat melihat ustadzah Syifa mendekat.

“Apa ? Ini inti dari semuanya Salwa” jawab ustadzah Syifa dengan lembut.

Salwa bergerak mundur sambil menyeret bokong mulusnya di lantai. Tak terasa ia sudah berada di tepi menyandar pada dinding ruangan. Tangan ustadzah Syifa meminta Salwa untuk merenggangkan kakinya. Salwa menurut kemudian pinggul ustadzah Syifa mendekat hingga liang kewanitaan mereka yang sudah sama - sama basah semakin dekat.

“Ahhhhhhhhhhh” desah mereka berdua, Ketika vagina mereka saling bergesekan.

Ngilu tapi nikmat, geli tapi enak. Mereka berdua tanpa sadar menggesek - gesekan kemaluan mereka sambil memejamkan mata dan membuka lebar mulut mereka.

“Ahhhh ahhhhh ahhhh ahhhhhhhh” desahan demi desahan berbunyi tanpa henti dari dalam mulut mereka.

Vagina mereka semakin licin hingga cairan cinta mereka membasahi bibir kewanitaan pasangan masing - masing. Ustadzah Syifa mendorong tubuhnya hingga membuat liang kewanitaannya terbuka. Rasa nikmat itu pun menjalar memenuhi tubuhnya, Membuatnya mempercepat gerakan pinggulnya tanpa sadar. Begitupula dengan Salwa, ia menggerakan pinggulnya hingga payudara mereka berdua ikut bergoyang seirama dengan gerakan tubuh mereka yang naik turun tak beraturan.

Tujuh menit telah berlalu, Mereka berdua semakin hanyut dalam kenikmatan syahwat yang fana. Darah di dalam tubuh mereka berdesir hebat, membuat nafas mereka semakin berat. Tak terasa sebuah gelombang pun tiba di ujung lubang kencing masing - masing. Mereka berdua sama - sama merinding merasakan sesuatu yang akan meledak dari dalam diri.

“Uhhhh uhhhh uhhhhh” desah Salwa sambil memanyunkan bibirnya.

“Ahhh ahhhh anti merasakannya juga kan Wa ?” tanya Ustadzah Syifa.

“Iya us... Ana ahhhh ahhhhhhhh” desah Salwa sambil memejamkan matanya.

“Ahhhh iyaa... Kita keluarin bareng yah Wa” kata Ustadzah Syifa tak kuat lagi.

“Ahhhhh ahhhhhh ahhhhhhhh”

Tepat saat itu, sebuah cairan yang sudah tak mampu dibendung lagi keluar memuncrat dengan dahsyat mengenai tubuh masing - masing.

“Ahhhhhhhhhh” desah mereka berdua merasakan nikmatnya orgasme mereka.

Perut mereka sama - sama basah terkena cairan cinta pasangan mereka. Mereka berdua pun ambruk terlentang dengan posisi kaki yang saling menindih satu sama lain. Mereka memejamkan mata merasakan kepuasan yang baru saja mereka dapatkan. Nafas mereka saling berhembus saling beradu. Rasanya lega seperti baru saja menuntaskan hajat yang selama ini tertahan.

Setelah beberapa menit beristirahat. Ustadzah Syifa pun mendekat menindihi tubuh Salwa. Ia tersenyum memandangi kecantikan wajah santriwatinya.

“Terima kasih yah sudah datang kemari” kata Ustadzah Syifa lantas kembali mencumbui bibirnya dengan penuh nafsu.

Dua wanita berhijab yang sudah bertelanjang bulat itu saling menindih satu sama lain. Payudara mereka melekat erat, puting mereka saling bersentuhan begitu juga dengan liang kewanitaan mereka yang begitu basah akibat semprotan orgasme mereka yang dahsyat.

Sore itu di sebuah ruangan kelas, suara kecupan terdengar memenuhi ruangan. Saat ustadzah Syifa terus mencumbuinya. Tak sadar air mata penyesalan jatuh dari pelupuk mata Salwa. Ia kembali menyesal saat dirinya tak mampu menahan nafsu syahwat ustadzahnya ketika sedang melecehkan dirinya. Ia ingin berhenti tapi tidak tahu cara untuk terlepas dari bayang - bayang ustadzahnya.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

Salwa sudah rapih seperti semula. Setelah membilas cairan cinta di sekitar area selangkangannya, Ia pun berjalan pulang sambil menikmati keadaan sore di pondok pesantren ini. Suasanya memang ramai tapi entah kenapa ia merasakan sepi di hati. Suara bising yang ada disekitarnya tak mampu sampai ke dalam telinganya. Beban pikirannya berat karena masalah yang saat ini sedang menganggunya. Tak sadar ia pun tiba di sebuah taman penuh bunga yang biasa ia datangi di sore hari. Salwa tersenyum ketika menikmati keindahan yang ada di sekitarnya. Baginya, Cuma inilah satu - satunya terapi untuk memperbaiki moodnya setelah dipaksa untuk menuruti nafsu birahi ustadzahnya.

“Sudah dua tahun ana seperti ini ? Mau sampai kapan ana harus melakukan perbuatan buruk ini ?” Kata Salwa lirih.

Ia pun merenung sambil membayangkan masa depannya. Ia takut apabila nanti dirinya ketagihan untuk menuruti kelainan yang perlahan mulai menjangkiti dirinya. Ia memang bisa mengontrol diri. Tetapi apabila dibiarkan seperti ini, ia tak bisa menjamin kalau ia pun akan sama seperti ustadzah Syifa yang terang - terangan menyukai sesama wanita.

“Hahhh... Ana harus bagaimana ?” kata Salwa menghela nafasnya kemudian menangis sesenggukan sambil menutupi mulutnya setelah menyesali perbuatannya.

Seketika dirinya dikejutkan oleh tangan seseorang yang menyentuh bahunya. Buru - buru Salwa mengusap air matanya untuk melihat siapa orang itu.

“Ehhh ustadz hehe” kata Salwa saat melihatnya.

Antum kenapa ? Bukannya antum kelas enam yah ?” katanya setelah melihat papan nama khusus yang berada di kiri pakaiannya. Papan nama merupakan identitas untuk membedakan tingkatan kelas yang santri atau santriwati miliki disini. Setiap tingkatan kelas memiliki warna yang berbeda dan untuk santri senior atau santri kelas enam mereka memiliki papan nama khusus yang membuatnya terlihat lebih elegan daripada papan nama santri lainnya.

Ana gapapa kok hehehehe” kata Salwa memaksakan diri untuk tersenyum.

Ustadz itu pun duduk di samping Salwa membuat santriwati itu gugup sambil terus mengeringkan air matanya.

“Terkadang hidup memang berat yah ? Kadang apa yang kita impikan begitu sulit untuk diwujudkan tetapi apa yang tidak kita inginkan justru itu yang kita dapatkan ! Sabar aja yah ! ustadz memang gak tau masalah apa yang sedang antum rasakan... Tapi ustadz yakin suatu saat nanti masalah itu pasti akan teratasi dengan sendirinya” kata ustadz itu membuat Salwa tersenyum.

Naam ustadz... Syukron” kata Salwa tersenyum.

“Oh iya... Tunggu sebentar yah !” kata ustadz itu menjauh sejenak membuat Salwa penasaran melihatnya dari kejauhan.

“Ini buat antum” kata ustadz itu memberikan sekuntum bunga pada Salwa.

“Ini ?” kata Salwa terpesona oleh keindahan bunga yang diberikan oleh ustadznya.

“Ini namanya bunga Celandine... Antum tau maknanya ?” kata Ustadz itu tersenyum yang membuat Salwa ikut tersenyum padanya.

“Engga ustadz... Memang apa ?” tanya Salwa tersenyum.

Kebahagiaan yang akan datang... Simpan itu, ustadz yakin suatu hari nanti antum pasti akan mendapatkan kebahagiaan seperti apa yang antum impikan” kata Ustadz itu bergegas pergi menjauh dari Salwa.

Salwa tersenyum bahagia menerima kebaikan yang diberikan oleh ustadz itu. Ia juga terpesona oleh sikapnya yang menurutnya sangat jantan. Saat ia melihat ustadz itu semakin menjauh, reflek tubuhnya berlari mendekat mengejarnya.

“Ustadz tunggu” kata Salwa membuat ustadz itu bergegas menoleh menjawab panggilannya.

“Iya ?”

“Ehmmm terima kasih yah ustadz buat bunganya... Kalau boleh tau nama antum siapa ?” tanya Salwa.

“Nama ustadz ? Antum bisa panggil ustadz dengan ustadz V” kata V tersenyum.

“Iya ustadz... Kalau nama ana Salwa... Salam kenal yah ustadz” kata Salwa menganggukan kepalanya karena hormat padanya.

“Iya salam kenal yah” kata V dengan senang hati.

“Oh iya ustadz... Lain kali kalau ana punya masalah boleh curhat ke antum ? Antum dari bagian mana ?” tanya Salwa penasaran.

“Boleh kok silahkan... Ustadz dari bagian pengasuhan... Tau kan letaknya ?” kata V dengan ramah.

“Tau ustadz sekali lagi terima kasih yah” jawab Salwa dengan perasaan yang berdebar.

“Iya.. ustadz pamit dulu yah” kata V melambaikan tangan yang dibalas dengan lambaian tangan Salwa yang malu - malu. Saat V melangkahkan kakinya, tiba - tiba ia melihat ke arah kantung kresek yang sedang ia pegang.

“Sejak kapan ini disini ? Hmmm pasti orang itu yang membelinya” kata V bergegas kembali ke Salwa.

“Afwan Salwa... “ kata V kembali yang membuat Salwa tersenyum senang.

“Ehh ustadz... Iya kenapa ?” tanya Salwa penasaran.

“Ehmmm tadi di jalan ada temen ustadz yang ngasih ini... Antum suka gorengan gak ?” kata V tertawa malu.

“Gorengan ? Hihihi iya suka kok ustadz kenapa ?” jawab Salwa tertawa.

“Ini buat antum... Kebetulan ustadz kurang begitu suka gorengan” kata V memberikan kresek berisi jajanan gorengan tersebut.

“Wahhh beneran ? Terima kasih yah ustadz” kata Salwa tersenyum cerah.

“Iya sama - sama... Ustadz pamit yah Wassalamualaikum” kata V bergegas pergi meninggalkan Salwa di sini.

"Walaikumsalam"

Salwa tak bisa berhenti tersenyum sambil memandangi ustadz V yang perlahan semakin jauh darinya. Ia pun menatap bunga pemberian V juga gorengan yang berada di dalam kantung kresek yang ia pegang. Ia terus menatapnya sambil tersenyum penuh bahagia. Ia merasa bersyukur karena telah bertemu dengannya. Tetapi ada satu hal yang membuat Salwa heran pada dirinya sendiri.

“Kenapa jantung ana berdebar semakin kencang ?” kata Salwa tersenyum. Seketika siluet wajah V terbayang di langit pesantren ketika ia menatap ke atas.

Ustadz !!!

Salwa tersenyum.


*-*-*-*


Sore hari sekitar pukul setengah lima, V baru saja tiba di kantor pengasuhan. Saat ia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Matanya melirik ke dalam untuk melihat sekitar. Kursi yang biasa ditempati oleh rekan kerjanya kosong. Tak ada satupun orang yang terlihat di dalam. Langkah demi langkah ia lalui untuk menuju kursinya. Setelah sampai di tempat duduknya dan menjatuhkan bokongnya ke kursi, Terdengar suara langkah kaki yang berasal dari arah kamar mandi bagian dalam. Seorang wanita dengan kecantikan wajah yang sempurna berjalan keluar setelah menuntaskan hajatnya disana.

“Ehhh V kapan kamu kesini ?” tanyanya tersenyum.

“Haura... Baru aja kok” jawab V tersenyum.

Haura pun duduk di kursinya sambil tersenyum melanjutkan pekerjaannya. V melirik kemudian ikut tersenyum. Tak berselang lama Haura yang melirik dan memergoki V tengah tersenyum menatapnya.

“Hayoo ketauan lagi... Dasar ustadz satu ini gak bisa jaga pandangan yah !” kata Haura becanda.

“Hahaha bukan gitu Ra... Suka suudzon deh !” jawab V.

“Terus sekarang alasannya apa lagi coba ? Aku mau denger deh” kata Haura memberanikan diri menatap wajah V hingga membuatnya tersipu.

“Aduhh apa yah... Coba sebentar beri aku lima menit” kata V sambil tersenyum malu.

“Ahahahha lima menit ? Dikira ini kuis yah ? Dasar ustadz genit !” ejek Haura becanda yang kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Tak berselang lama Haura kembali melirik, namun V sedang tidak meliriknya. Haura pun menahan tawa sambil melanjutkan pekerjaannya. Dikala Haura fokus ke pekerjaannya, V pun melirik menatap keindahan wajah disana. Tepat sebelum Haura melirik, V langsung memalingkan wajah menatap ke arah layar monitor berpura - pura melanjutkan pekerjaannya. Haura tersenyum setelah kembali memergokinya.

“Dasar ustadz nyebelin” kata Haura dengan suara lirih sambil tersenyum.

Detik demi detik yang berlalu, terasa begitu indah bagi mereka berdua saat sedang bersama. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Haura dan juga V. Walau mulut mereka terkunci karena fokus menuntaskan proker bulanan dengan memasukan data yang dibutuhkan tetapi perasaan mereka begitu peduli. Tatkala melihat Haura penat, V datang untuk menceritakan lelucon untuknya. Sebaliknya saat melihat V berkeringat karena tidak adanya AC ruangan disana, Haura bergegas mengambil tisu yang ada di mejanya kemudian membawakannya ke V.

“Syukron yah Ra” kata V tersenyum.

“Iyaa” jawab Haura sambil membalikan badan menuju kembali ke mejanya. Walau bibirnya menahan senyum tapi hatinya begitu senang ketika dapat melihat senyum di wajah V untuknya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul lima sore. Mereka sama - sama kelelahan dan penat setelah memasukan beberapa data ke dalam file komputer. V pun melirik ke Haura dan kebetulan Haura lebih dulu meliriknya.

“Hayooo sekarang ketahuan siapa yang suka lirik - lirik” kata V yang membuat Haura tertawa.

“Ahahahha bukan gitu ihhh... Kebetulan aja yah” kata Haura menahan malu.

“Ahh masa ? Dasar ustadzah yang suka lirik - lirik” ejek V becanda.

“Ihhh itu kata - kata aku... Gak boleh dipake !” kata Haura sebal.

“Biarin.... Emang ada hak ciptanya ?” kata V.

“Ada ! Pokoknya ada !” kata Haura dengan wajah memerah menahan malu.

“Hahahhahaha” V pun tertawa membuat Haura berusaha kembali melirik untuk melihat tawa itu.

Hati Haura membaik hanya karena melihat tawa yang diberikan oleh V setelah mendengar kata - kata darinya. Haura pun tersenyum merasa senang karena telah melihatnya bahagia. Kebetulan saat itu, tiba - tiba ia teringat akan suatu hal yang menganggu pikirannya sejak pagi.

“Ehmmm V...” panggil Haura yang membuat V menoleh.

“Iya ada apa Haura ?” jawab V.

“Aku boleh tanya sesuatu gak ?” kata Haura yang membuat V semakin penasaran.

“Boleh aja kok... Memangnya apa yah ?” tanya V penasaran menatapnya. Haura jadi malu - malu ketika melihat V begitu fokus menatapnya. Ia pun merapatkan bibirnya untuk memberanikan diri untuk mengucapkan pertanyaan yang sudah ia buat di dalam hati.

“Boleh ceritakan beberapa hal mengenai Fitri ?” kata Haura yang membuat V terkejut. Melihat ekspresi wajah V berubah membuat Haura pun ragu V mau menjawabnya. Buru - buru ia mengganti pertanyaan takut membuat V tersinggung.

“Ehh kalau gak mau cerita juga gapapa kok hehehhe” kata Haura merasa tidak enak.

“Gapapa kok Ra... Aku mau cerita aja... Memangnya kalau boleh tau kenapa yah ? Kok bisa terbesit untuk menyakan dia ?” kata V tersenyum.

“Hehehehe enggak V... Soalnya waktu itu kamu sempet memanggilku dengan sebutan Fitri... Aku jadi penasaran apa yang membuatmu memanggilku dengan nama itu” kata Haura malu - malu.

“Oh hahahah... Iya soalnya kamu mirip dengannya Ra” kata V membuka mulutnya.

“Mirip ? Mirip gimana V ?” tanya Haura penasaran.

“Iya mirip... Dari bentuk wajahmu, matamu bahkan senyummu juga mirip dengannya” kata V membuat Haura terkejut.

“Hah beneran ?” tanya Haura tak menduga.

“Iya bener.... Waktu pertama kali melihatmu disini... Mulutku bergetar ketika terkejut melihat sosok dirinya disini... Aku kira itu dia... Tapi itu gak mungkin” kata V.

“Sampai bergetar ? kok bisa gitu ? Memang dia seperti apa orangnya ?” tanya Haura semakin penasaran.

“Dia baik, dia orangnya ceria, dia mengajariku banyak hal tentang kehidupan, dia yang selalu memotivasiku dikala aku terjatuh dan dia yang selalu ada di setiap kebahagiaan dan kesedihanku” kata V tersenyum sambil mengenang itu semua. Diam - diam Haura memperhatikan sambil mengernyitkan dahi dari kejauhan. Entah kenapa hatinya jadi sakit merasakan ada orang lain yang begitu berarti di hati V ketimbang dirinya.

“Begitukah ? Sudah berapa lama kalian saling kenal ?” tanya Haura.

“Kami selalu bersama sejak SD, SMP pun kami sekelas, Kami berpisah disaat jenjang SMA karena aku diminta untuk lanjut ke pondok oleh ayahku... Baru sewaktu kuliah kami kembali bertemu” kata V tersenyum.

“Ohhh begitu” kata Haura tiba - tiba terlihat lesu.

“Dia orangnya suka banget ngobrol... Kadang juga cerewet... Dia juga orangnya cerdas karena seringkali berada di ranking satu... Dia suka banget makan bakso... Dia selalu suka warna biru muda... Dia... Dia... Dia bla bla bla” V bercerita panjang lebar mengenai banyak kelebihan Fitri di matanya. Haura melenguh merasa tak sanggup untuk mendengarnya lagi. Apalagi V pernah bilang kalau Fitri merupakan cinta pertamanya. Haura heran, Haura terkejut dengan perasaan yang sedang ia rasakan.

Ada apa ini ? Kenapa aku merasa cemburu ?

Semakin ia mencoba tenang, hatinya semakin gundah karena tidak sanggup mendengar V bercerita mengenai kelebihan Fitri. Saat ia menatap V, Ia masih bercerita sambil tersenyum menatap kejauhan. Haura sakit hati bukan karena kecewa pada V melainkan pada diri sendiri. Ia pun menyesal karena telah menanyakan pertanyaan ini tapi ia lebih kesal lagi karena memiliki rasa cemburu pada seorang lelaki yang bukan suaminya.

“Begitu yah... Selamat yah... Dia pasti wanita yang baik...” tanya Haura.

“Iya terima kasih” kata V tersenyum.

“Ehmmm kalau boleh tau dia dimana sekarang ? Apa dia juga bekerja ?” tanya Haura.

“Bekerja ? Enggak” jawab V.

“Lalu ? Masih kuliah ?” tanya Haura.

“Enggak Ra” jawab V.

“Lalu ? Apa kabarnya sekarang ?” tanya Haura mulai heran.

“Entahlah... Aku tidak mengetahuinya” jawab V.

“Loh kok gitu sih... “ tanya Haura semakin heran.

V hanya tersenyum sambil sesekali tertawa mencoba mengenang masa lalu.

“V ?” tanya Haura ketika perasaanya mulai tidak enak.

“Ehhhh iya Ra ?” jawab V menatap Haura.

“Kamu gapapa kan ?” tanya Haura.

“Iya gapapa kok... Ehmm sebentar yah aku mau keluar sejenak mau mencari angin segar” kata V tiba - tiba bangkit dari kursi duduknya untuk menuju luar ruangan.

Haura merasa tidak enak, dalam hati pasti telah terjadi sesuatu dengannya.

Apa sekarang mereka lost contact ? Apa Fitri sudah lebih dulu menikah ? Batin Haura menduga - duga.

V melangkahkan kakinya hingga sampai di pintu masuk pengasuhan. Saat hendak melangkahkan kakinya keluar, ia kembali menoleh sambil menatap Haura dari kejauhan.

“Terima kasih yah Ra... Sudah bertanya tentangnya... Aku jadi sedikit nostalgia saat masih bersama dengannya... Dia orang yang baik... Sangat baik... Tapi sayang karena ia sudah terlebih dahulu meninggal” kata V tersenyum yang membuat Haura shock mendengarnya.

Mata Haura terbuka, tubuhnya bergetar dan ia pun menyesali pertanyaannya.

“V ?” sapanya lirih. V sudah lebih dahulu keluar dari ruangan. Haura pun menitikan air mata merasakan apa yang sedang V rasakan sekarang.

“Ia pasti sedih karena teringat kenangan dengannya... Apa yang sudah aku lakukan ?” kata Haura menyesal sambil menghapus air matanya.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy