Search

CHAPTER 40 - SEORANG USTADZAH & ALASANNYA

CHAPTER 40 - SEORANG USTADZAH & ALASANNYA

"Mmpphh"

Seseorang mendesah. Tubuhnya mulai bergerak setelah berjam-jam ia tertidur diatas terpal berwarna biru. Matanya membuka. Kelopak matanya agak bergetar. Perlahan demi perlahan bola matanya mulai terlihat.

Ia terbangun. Ia bangkit dalam posisi duduk menyamping. Tangan kirinya memegangi kepalanya. Tubuhnya linglung. Ia pun bingung kenapa dirinya bisa berada disini.

"Inn... Iniii dimmaana ? Jamm berappa inni ?" Ucapnya dengan suara lemah.

Ia melihat sekitar. Ia mencoba menerka-nerka apa yang membuatnya bisa terbangun di tempat seperti ini.

"Astaghfirullah" Ucapnya langsung menutupi ketelanjangan dirinya dengan sehelai kain yang ada di dekatnya.

Ia terkejut saat menyadari kalau dirinya sudah tidak berpakaian. Tidak ada sehelai benang pakaianpun yang menutupi tubuh polosnya. Hanya hijabnya saja yang masih melekat di tubuhnya. Itu pun sudah berantakan. Kainnya yang kekecilan tidak mampu menutupi buah dadanya yang besar. Belahannya terlihat. Wanita itu jadi terlihat menggairahkan. Wajahnya saja sudah cantik. Apalagi kalau tidak berpakaian seperti ini ?

Seketika seseorang datang mendekat dari arah pintu yang hanya ditutupi oleh kain yang menghubungkan ruangan disini dengan ruangan di sebelah. Wanita berhijab itu terkejut. Ia merapatkan kain tuk menutupi tubuhnya. Ia sangat malu ketika tiba-tiba terbangun dalam keadaan telanjang bulat di salah satu ruangan gedung yang belum jadi.

Matanya membuka saat melihat seorang pria kekar yang tinggal mengenakan celana pendek itu. Ia mulai mengingatnya. Ia mulai mengingat apa yang sudah terjadi pada tubuhnya sehingga ia bisa terbangun di tempat ini.

"Ustadzah... Udah bangun ?" Tanya pria tua berkulit gelap itu.

"Sudd... Suuddaahh pakk" Jawab Haura malu-malu. Ia menutupi tubuhnya erat dengan sehelai kain itu. Ia benar-benar malu sehingga menundukan wajahnya. Apalagi setelah teringat apa yang sudah pria tua itu lakukan padanya.

Benar juga... Duhh perutku !

Batin ustadzah tercantik itu sambil memegangi perutnya. Ia merasa mules. Bukan mules karena ingin membuang air besar. Pokoknya ia merasakan sesuatu yang tidak enak pada perutnya. Hal itu pun wajar mengingat apa yang sudah dilakukan oleh kuli tua itu pada lubang duburnya.

"Ini bajumu ustadzah... Ustadzah kedinginan kan ?" Tanya kuli tua itu sambil memberikan pakaian yang tadi dikenakan olehnya.

"Iyyy... Iyya pakkk... Makasih" Ucap Ustadzah itu sambil menerima pakaiannya kembali. Satu demi satu pakaian dalamnya dikenakan. Lalu gamisnya ia pakai lagi juga demikian dengan rok panjangnya.

"Sekkarangg jam berapa pak ?" Tanyanya dengan lirih sambil membenarkan hijabnya yang miring.

"Sekarang sudah jam setengah lima sore ustadzah" Jawabnya.

"Setengah lima sore ?" Tanyanya terkejut.

"Iya, ustadzah tertidur lama sekali... Saya kira ustadzah pingsan" Ucapnya mengkhawatirkan Haura.

"Enggak kok pak Dino... Pak Dino daritadi disini yah ? Jagain aku ?" Tanya Haura malu-malu.

"Iyya ustadzah... Saya takut kalau kehadiran ustadzah malah menghebohkan kuli-kuli yang lain... Pak Karjo juga bilang ke saya buat disini aja nemenin ustadzah" Ucap pak Dino.

"Oh yah... Pak Karjonya mana ?" Tanya Haura baru mengingatnya.

"Lagi bekerja ustadzah... Atau mungkin lagi keluar, saya kurang tau soalnya daritadi saya menemani ustadzah" Ucap pak Dino yang membuat Haura tersentuh.

"Hmm makasih kalau gitu" Ucap Haura.

"Eh makasih buat apa ustadzah ?" Tanya pak Dino keheranan.

"Ya buat jagain aku biar gak ketahuan sama pak kuli yang lain... Pak Karjo yang bilang ke bapak yah buat jagain aku ?" Tanya Haura tersenyum lemah.

"Iyya ustadzah... Pak Karjo yang bilang ke saya" Jawab pak Dino sambil memperhatikan wajah Haura.

"Makasih kalau gitu" Jawab Haura tersenyum sambil menundukan kepala. Haura tak menyangka kalau kuli kekar yang selalu bernafsu kepadanya masih bisa menjaga dirinya sehingga identitasnya tidak tersebar ke kuli bangunan yang lain. Ia agak tersentuh oleh sikapnya itu. Ia jadi teringat akan perkataan pak Karjo siang tadi.

Perihal sex itu simpel ustadzah... Yang penting kita sama-sama puas... Gak ada yang dirugikan dari persetubuhan kita kan ? Kalau ustadzah kurang puas, ustadzah tinggal minta ke saya untuk dicarikan kuli yang lain... Tinggal bilang ustadzah mau kuli yang mana nanti saya carikan tempat dan waktunya... Tenang saya akan menjadikan semuanya rahasia.

Haura tersenyum diam-diam karena senang pak Karjo tidak mempermalukan dirinya dihadapan kuli lain. Ia pun memegangi kata-kata pak Karjo itu. Ia pun berharap semoga pak Karjo menjadikan semua persetubuhannya itu sebagai rahasia diantara mereka bertiga.

Pak Dino yang sedari tadi menatapnya merasa kebingungan. Ia tak habis pikir seorang ustadzah secantik Haura mau-maunya dipuasi oleh kuli bangunan sepertinya. Ia jadi teringat akan rumor yang sudah menyebar di seluruh penjuru pesantren kalau ustadz Hendra tidak pernah bisa memuasi nafsu istrinya. Apalagi sewaktu dirinya dibujuk oleh pak Karjo, ia mendengar dari rekan kerjanya itu kalau ustadz Hendra saja sampai tidak bisa menegakan penisnya. Pak Dino jadi heran, separah apa sih keimpotenan ustadz Hendra sehingga ustadzah secantik Haura sampai meminta dipuasi oleh kuli sepertinya.

"Oh yah pak... Maaf aku mau permisi dulu yah... Aku mau bersih-bersih sambil menyiapkan makan malam buat ustadz Hendra" Ucap Haura izin pamit.

"Iyya ustadzah... Silahkan" Jawab pak Dino sambil terus memandangi keindahan tubuh Haura.

Ustadzah tercantik itu berjalan sambil berlenggak-lenggok membelakangi pak Dino. Pantatnya yang montok bergeal-geol. Pak Dino jadi tergoda dan ingin kembali menjebol. Namun melihat Haura berjalan kesusahan membuatnya jadi iba. Haura memang agak kesulitan tuk melangkah. Nafsu besar yang dimiliki oleh dua kuli itu membuatnya sampai harus menerima akibat ini.

"Ustadzah... Pelan-pelan" Ucap Pak Dino langsung mendekat saat melihat Haura nyaris jatuh saat melangkah.

"Makasih" Ucap Haura tersenyum lemah. Pak Dino jadi makin iba melihat wajah polos ustadzah tercantik itu.

"Anuu maaf soal siang tadi... Gara-gara saya ustadzah jadi kayak gini" Ucap pak Dino.

"Hehe gapapa pak... Lagipula kan aku yang minta" Jawab Haura mengejutkan pak Dino.

Jadi benar apa yang dikatakan pak Karjo waktu itu ? Jadi benar kalau ustadzah Haura mempunyai nafsu yang besar ?

Batin pak Dino yang masih tak mengira Haura merelakan tubuhnya untuk jadi pemuas nafsu kuli bangunan.

"Oh yah ustadzah... Saya mau nanya boleh ?" Tanya pak Karjo sambil membantu Haura mendekati pintu tirai yang terbuat dari kain itu.

"Iyya pak, ada apa ?" Tanya Haura dengan lirih.

"Ustadzah sudah yakin dengan keputusan ustadzah ?" Tanya pak Dino memastikan.

"Maksudnya ?" Tanya Haura belum ngeh.

"Ustadzah sudah yakin dengan memilih jalan hidup ustadzah sebagai pemuas nafsu kuli bangunan seperti saya dan teman-teman yang lain ?" Ucap pak Dino mengejutkan diri Haura.

Namun jawaban Haura hanya tersenyum manis sambil menatap pak Dino. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut manisnya. Pak Dino jadi bingung. Tapi ia tidak menekankan ustadzah tercantik itu untuk menjawab pertanyaannya. Haura pun pergi keluar dari pintu menuju ruangan sebelah. Untungnya kuli-kuli yang lain sudah pada pulang mengingat hari sudah semakin sore. Haura jadi semakin mudah untuk pergi dari tempat berkesan ini. Haura pun pulang meninggalkan pak Dino sendirian yang masih kebingungan.

Dari belakang pak Dino masih memperhatikan. Wajahnya ia geleng-gelengkan. Entah kenapa ia merasa tak rela melihat ustadzah tercantik seperti Haura rela menyerahkan tubuhnya agar dipuasi oleh kuli-kuli rendahan sepertinya. Kalau ia yang memuasi sih tak masalah tapi kalau yang memuaskannya adalah pak Karjo dan teman-temannya. Ia merasa tidak rela. Karena ia tahu betul bagaimana nafsunya mereka andai bisa menyetubuhi ustadzah bertubuh bening dan sesemlohay ustadzah Haura.

Sementara itu Haura masih berada di perjalanan pulang menuju rumahnya. Saat berjalan, ia mencoba berjalan sebiasa mungkin demi meminimalisir kecurigaan dari orang sekitar. Tentu, ia pasti akan malu sekali andai ada orang yang menyadari dengan cara berjalannya. Sudah pasti orang itu akan memikirkan hal yang tidak-tidak kepadanya. Ia pasti akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari mereka.

Seketika ia teringat akan pertanyaan pak Dino tadi. Ia pun terkejut kenapa pak Dino bisa tahu kalau ia sempat kepikiran untuk menyerahkan diri untuk dipuasi oleh kuli-kuli kekar seperti mereka. Jujur siang tadi dirinya memang sangat bernafsu. Tapi untuk sekarang, nafsunya telah dipuaskan oleh mereka dan pastinya ia akan pikir-pikir lagi apabila diminta oleh kuli kekar itu untuk memuasi dirinya lagi.

Seketika ia mendatangi tempat wudhu yang berada di dekat mushola untuk mampir sebentar. Ia pun menyalakan keran untuk membasuh wajahnya yang kelelahan. Setelah merasakan kesegaran dari air keran itu, ia mendatangi cermin untuk menatap bayangan dirinya.

Ia tersenyum. Ia memang cantik. Tubuhnya langsing. Kulitnya bening dan pokoknya pantaslah orang-orang sampai memberikan gelar kepadanya sebagai ustadzah tercantik sepondok pesantren ini. Ia pun berfikir sambil memandangi dirinya.

"Apakah aku pantas untuk menjadi pemuas nafsu bagi mereka ?" Ucapnya merenung.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di tempat yang berbeda. Seorang pekerja yang sehari-harinya bertugas membersihkan gedung kelas dengan menggunakan sapunya sedang berjalan sambil memikirkan sesuatu di kepalanya. Ia baru saja keluar dari salah satu gedung kelas untuk berpindah ke gedung kelas lain. Dalam perjalanannya itu, ia kepikiran mengenai persetubuhannya dengan ustadzah yang ia idolakan.

Ia tersenyum. Giginya yang tidak rata sampai terlihat saat itu. Ia masih tak menyangka dirinya bisa seberuntung itu dengan menyetubuhi salah seorang ustadzah tercantik bernama Hanna. Cita-citanya telah terwujud. Ia sangat bahagia bisa dijepit oleh rongga vagina miliknya.

"Aahhh nikmatnya memekmu ustadzah" Ucap tukang sapu itu tiap kali teringat goyangannya yang aduhai.

Dengan tubuh semontok itu, dengan pipi se-chubby itu dan dengan ekspresi wajah yang senafsu itu. Kemarin, dirinya habis-habisan saat bertahan dari goyangan Hanna yang sangat menakjubkan. Walau penisnya berulang kali berdenyat-denyut. Walau nafasnya berulang kali kembang kempis. Ia berhasil melalui ujian kenikmatan itu dengan memejuhi wajahnya dengan sangat puas.

Kedua kakinya sampai lemas saat itu. Ia sampai kesulitan tuk berdiri bahkan matanya saja kesulitan tuk membuka karena saking puasnya. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan sensasinya bercinta dengan seorang ustadzah. Ustadzah yang sehari-harinya terlihat alim itu tidak ada bedanya dengan lonte pinggiran jalan saat vaginanya dimasuki oleh batang penis kebanggaannya. Ia pun teringat desahannya yang menggairahkan. Ia jadi ingin memasukan batang penisnya lagi ke dalam lubang vaginanya.

"Tapi ngomong-ngomong apa bener yah kalau ustadz Angga sampai berselingkuh dengan ustadzah Syifa ?" Ucap pak Prapto penasaran.

Sebagai pejantan yang sudah mencicipi kedua lubang vaginanya. Ia sangat tahu betul kalau lubang vagina Hanna jauh lebih nikmat daripada milik Syifa. Tidak hanya karena ia berhasil menyetubuhinya lebih lama. Tapi ia memilih Hanna karena raut wajah Hanna terlihat lebih menggairahkan saat disetubuhi olehnya. Apalagi Hanna rela menyerahkan dirinya. Tidak ada pemaksaan. Yang ada hanya kepuasaan disaat bercinta.

"Heran deh... Kenapa ustadz Angga sampai memilih ustadzah Syifa daripada ustadzah Hanna... Padahal dilihat dari wajah aja jelas cantikan ustadzah Hanna" Ucap pak Prapto membayangkan raut wajah mereka berdua.

Kulit ustadzah Hanna memang terlihat lebih gelap daripada ustadzah Syifa. Kulit Syifa memang sangat bening. Apalagi kalau dlihat-lihat wajahnya mirip Larissa Chou yang agak kecina-cinaan itu. Sedangkan Hanna wajahnya lebih ke produk lokal. Tapi Hanna mempunyai senyum yang indah ditambah dengan kepribadiannya yang membuat pak Prapto jatuh cinta. Tidak hanya jatuh cinta malah, tapi juga jatuh nafsu. Sekali saja penis anda dijepit oleh vaginanya sudah pasti anda akan meminta lebih. Itulah yang diinginkan oleh pak Prapto sekarang.

Seketika saat dirinya tiba di sebuah taman yang berada di depan gedung kelas. Ia melihat bayang-bayang seseorang yang sedang duduk di bangku taman. Mereka berdua sedang duduk dalam posisi saling berhadapan. Jemari mereka bersentuhan. Wajah mereka sama-sama tersenyum saat dirinya memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Bukannya itu, ustadz Angga ? Ustadzah Syifa ?" Ucap pak Prapto saat mengenali mereka berdua.

Sekarang ia jadi semakin yakin kalau apa yang diduga oleh Hanna bukanlah dugaan saja. Sepertinya mereka memang mempunyai hubungan khusus. Mereka tidak seperti sedang mengobrolkan hal-hal umum. Terbukti dari seringnya tawa yang keluar dari mulut mereka. Bahkan jemari mereka kini saling mengait yang menguatkan dugaannya kalau ustadzah Syifa berniat untuk merebut ustadz Angga dari hati ustadzah Hanna.

"Kurang ajar !" Ucapnya lirih.

Walau hal ini bagus untuknya karena dirinya bisa mempunyai kesempatan untuk menikahi ustadzah yang ia suka. Tapi andai dirinya melihat Hanna kecewa karena calon suaminya direbut oleh ustadzah yang dikenalnya tentu akan menyakitkan hati pria tua sepertinya.

Ia pun menatap wajah cantik Syifa yang sedang menyeruput teh kemasan yang dibeli di kantin pesantren. Walau Syifa terlihat cantik saat itu. Dirinya jadi membencinya. Ia pun menyesal karena dulu sempat meminta maaf karena sudah menyetubuhinya tanpa izin. Seketika ia terpikirkan sebuah ide untuk membuat perhitungan dengan ustadzah berkulit bening itu. Ia pun melihat sekitar. Ia seperti sedang mencari seseorang.

"Pak Udin mana yah ?" Ucap pak Prapto sambil tersenyum.


*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul lima tepat. Di salah satu kawasan perumahan yang ditinggali oleh pengajar-pengajar senior. Terdapat seorang ustadz yang sedang berjalan pulang menuju rumahnya. Tidak seperti biasanya, ia tampak bahagia di sore hari ini.

Sambil berjalan, wajahnya tersenyum saat teringat perbincangan dengan wanita itu. Sambil berjalan, telapak tangannya ia usap saat teringat sentuhan lembut dari wanita itu. Ia mendesah. Ia sangat bersyukur karena bisa kenal dekat dengannya.

"Hah... Ustadzah Syifa" Ucap ustadz itu sambil mengingat wajah cantiknya.

Angga, seorang ustadz yang sebenarnya akan segera menikah dengan Hanna sedang dilanda ujian dengan datangnya wanita lain yang mencuri hatinya. Sambil berjalan ia membandingkan keindahan tubuh mereka berdua. Hanna memang cantik. Calon istrinya itu memang manis. Tapi, ustadzah Syifa lebih bening. Dari atas ke bawah semua adalah seleranya. Apalagi ia sudah pernah melihat dalaman dari ustadzah yang bertempat di bagian pengajaran itu. Ia sangat menyukai ukuran payudaranya. Ia sangat menyukai kekencangan payudaranya. Ia pun sangat bangga karena sudah melakukan test-drive kepada ustadzah Syifa yang sebenarnya berusia lebih tua darinya.

Secara keseluruhan ia sangat puas dengan servis ustadzah cantik itu. Jepitan vaginanya, suara desahannya dan kemulusan kulit tubuhnya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau dirinya bisa bercinta dengan ustadzah dengan tubuh sebening itu. Ya, mungkin ia sudah pernah bercinta dengan ibu tirinya yang warna kulitnya tak jauh berbeda dengan kulit bening ustadzah Syifa. Tapi untuk kasus ustadzah Syifa. Ia baru pertama kali itu menyetubuhinya. Ia masih tak percaya karena bisa bercinta dengan seorang ustadzah yang dulu sempat ia kagumi karena kemolekan tubuhnya.

Tak terasa ia sudah tiba di halaman depan rumahnya. Ia pun mencopot sepatunya kemudian menaruhnya di rak yang berada di dekat pintu masuk.

"Assalamu'alaikum" Ucapnya sambil mengetuk pintu rumahnya.

"Walaikumsalam" Jawab seorang wanita saat Angga membuka pintu masuk rumahnya.

"Umiii..." Ucap Angga sambil mencium punggung tangan ibunya.

"Baru pulang yah ? Gimana tadi ?" Tanya ustadzah Rania yang mengejutkan Angga.

"Eh gimana apanya mi ? Angga cuma baru jalan-jalan aja kok" Ucap Angga malu-malu.

"Hihihi gak usah boong... Umi tau kok kalau kamu tadi abis kencan sama ustadzah Syifa kan ? Umi ngeliat loh pas lewat tadi" Ucap Ranja yang membuat Angga tersipu.

"Heheheh umi nih... Tadi cuma ngobrol aja kok... Ya biasa lah urusan ujian mi" Ucap Angga malu-malu.

"Helehhh... Umi tau kali... Umi juga pernah muda walau sekarang masih muda juga sih hihihi... Keliatan kalau kamu gak cuma ngobrol dengannya... Pasti lagi PDKT juga kan ?" Ucap Rania menggodanya.

"Ihhh umiii... Tapi ya gitu deh hehehe" Ucap Angga malu-malu.

"Hihihi... Anak umi jadi gemesin deh kalau malu-malu gini" Ucap Rania mencubit pipi Angga kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.

"Hehe... Umiiii" Ucap Angga tersenyum sambil membalas pelukan ibunya.

"Oh yah mi... Abi mana ?" Ucap Angga tuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Abi dari siang keluar deh... Cuma gak tau kemana... Mungkin nanti malem baru pulang" Jawab Rania tersenyum.

"Keluar ? Naik mobil mi ?" Tanya Angga sekali lagi.

"Iyya naik mobil tadi" Jawab Rania sambil memperhatikan wajah anaknya.

"Jadi sekarang cuma kita berdua dong di rumah ?" Ucap Angga sambil memperhatikan lekuk indah ibunya yang berbeda beberapa tahun saja darinya.

"Hihihi kenapa emang ? Ada kesempatan gitu yah maksudnya ? Kamu mau nakalin umi lagi ?" Goda Rania yang membuat Angga tersipu.

"Hehehe bukan mi... Lagian, sejak kapan Angga nakalin umi... Yang ada umi kali yang nakalin Angga" Ucap Angga yang membuat Rania tertawa.

"Hihihi enak aja... Padahal kamu tuh yang udah bikin umi teriak-teriak gara-gara sodokan kamu" Ucap Rania yang membuat anak tirinya itu terkejut.

"Ehhh abiss sihhh... Umi sexy banget waktu itu... Ya jangan salahin Angga dong kalau Angga pengen genjot umi" Ucap Angga sambil sesekali menatap keseksian tubuh indah ibu tirinya.

"Hihihi habis anaknya umi ganteng banget sih... Kan umi jadi gak tahan buat godain kamu terus" Ucap Rania sambil mendekat kemudian memegangi kedua bahunya dari arah depan. Kedua matanya menatap mata putra tirinya. Wajahnya tersenyum saat mereka berdua sedang bertatap-tatapan.

"Tuh kan... Siapa yang gak pengen genjot umi coba kalau sikap umi kayak gini... Jangan salahin Angga yah nanti kalau Angga bikin umi teriak-teriak lagi" Ucap Angga sambil memegangi kedua pinggang ibu tirinya.

"Hihihi nantangin nih ? Mau dicoba ? Yang mendesah duluan kalah yah ?" Ucap Rania sambil membelai dada putranya.

"Boleh... Gak sekalian yang bakal crot duluan kalah ?" Ucap Angga sambil membelai pinggang Rania naik kemudian meremas dada bulatnya dengan penuh nafsu.

"Mmpphhh... Jangan lah... Kalau lomba siapa yang crot duluan umi bakal kalah... Mmmpphhh habis sodokan kamu mantep banget sih" Ucap Rania saat belaian tangannya turun menuju batang kejantanan putranya.

"Uhhhhhhhh nikmat banget belaian tangannya mi... Padahal baru dielus tapi kok Angga udah merinding gini" Ucap Angga tersenyum sambil menatap wajah cantik ibunya yang mirip orang Korea.

"Mmmpphhh sama nih... Padahal cuma baru diremes tapi kok umi sampe merinding gini yah ? Hihihi" Tawanya yang membuat Angga bergetar mendengar desahannya.

"Uuhhhhh ummmiii... Mau mulai kapan nih ? Titit Angga keburu tegak duluan" Ucap Angga menahan sekuat tenaga.

"Hihihi jangan ngomong titit dong sayang... Ngomongnya kontol... Kon.. Tol" Ucap Rania mempraktekan ucapannya melalui gerakan bibirnya saat menatap wajah putranya.

"Kon... Tol" Ucap Angga merinding melihat ibunya yang biasa terlihat alim di depan warga pesantren lain. Tapi dikala mereka sedang berdua. Ibunya itu tidaklah berbeda dengan wanita liar yang kerjaannya suka menggoda.

"Nah gitu dong sayang... Mulai sekarang umi mau buat aturan nih untuk kita" Ucap Rania sambil menggantungkan tangannya pada leher putranya. Bibirnya tersenyum. Ia menatap wajah Angga dengan penuh cinta.

"Aattt... Atturann apa mi ?" Ucap Angga jadi gugup saat digoda oleh ibu tirinya.

"Hihihi pokoknya disaat kita mau bercinta kayak sekarang... Mulai detik ini sampai seterusnya... Kamu gak boleh ngomong ke umi pake omongan sopan... Kamu harus bisa bikin umi bergairah... Terserah kamu mau ngomong pake kata-kata yang merendahkan umi gapapa asal gairah umi bisa bangkit sehingga umi makin nafsu ke kamu... Kamu boleh kok nyebut umi lonte, pecun atau apalah selama percintaan kita bisa semakin bergairah" Bisik Rania di telinga Angga yang membuat anak tirinya itu menenggak ludah saat mendengar aturan yang baru saja dibuat.

"Hihihi sejujurnya dari dulu tuh, umi pengen banget ngerasain percintaan yang bergairah... Umi pengen banget ngerasain nikmatnya bercinta disaat kita sedang nafsu-nafsunya... Umi rela di sebut lonte sama kamu... Umi rela disebut binal sama kamu... Umi rela disebut wanita murahan sama kamu asalkan itu bisa membuat umi bergairah saat bercinta dengan kamu" Lanjut Rania yang membuat Angga semakin bernafsu.

"Hihihi dan gak mungkin juga kan, umi melakukan hal itu dengan abimu ? Makanya, umi minta tolong ke kamu ? Kamu mau kan bantu umi, biar umi bisa ngerasain nikmatnya bercinta saat sedang nafsunya-nafsunya... Umi janji kok, pas umi lagi naikin tubuh kamu... Pasti umi bakal bergoyang senafsu-nafsunya kalau kamu ngatain umi pake kata-kata yang merendahkan umi" Ucap Rania kali ini sambil membuka kancing kemeja yang Angga kenakan.

Gleeggg !

Angga menenggak ludah.

"Gimana sayang ? Kamu sanggup kan muasin nafsu umi ? Apa perlu umi nyari ustadz laen yang ganteng yang bisa muasin fantasi umi ini" Ucap Rania yang sudah membuka seluruh kancing kemeja Angga kemudian membukanya ke kiri dan kanan.

"Gakk... Gakkk usahh mi... Angga sanggup kok buat muasin umi... Umi gak perlu nyari ustadz lain... Angga pasti sanggup kok mi" Ucap Angga merinding saat jemari tangan ibunya mulai mengusap dada beningnya. Bahkan puting susunya sedang ditoel-toel oleh jemari ibunya. Angga menenggak ludah. Ia tak mengira dengan rangsangan yang sedang dilakukan oleh ibu tirinya.

"Hihihi kalau ustadz gak boleh... Boleh gak umi nyari pak tukang aja yang kekar-kekar yang bisa muasin nafsu umi ?" Goda Rania lagi.

"Makk... Makksuddnya ? Umi mau nyari orang kayak tukang bangunan gitu ? Atau tukang bersih-bersih kelas gitu ?" Ucap Angga tak percaya.

"Hihihi abis selama ini Umi belum terlalu puas sih... Umi juga belum nemu orang yang bisa ngewujudin fantasi umi... Makanya kamu mau gak ?" Ucap Rania sambil menundukan wajahnya kemudian menjilati puting susu putranya.

"Mmpphhh... Mau bangett umii... Ummii juga jangan nekatt... Angga gak rela kalau umi dipake orang-orang rendahan kayak mereka" Ucap Angga semakin bernafsu.

"Hihihi kalau gitu buktikan sayanggg... Buktiin kalau kamu bisa jadi pemuas nafsu bagi umi" Ucap Rania kali ini sambil mencumbu puting putranya.

"Aaaahhhhh ummiii... Mmpphhhh... Ummi nakal bangettt sihhhh... Enak banget jilatan umi" Ucap Angga yang membuat Rania tersenyum saat menikmati puting susu putranya.

"Hihihi manis banget deh rasanya... Ayok kapan kamu mulai nakalin umi... Umi dah gak sabar buat ngerasain genjotan kammm... Mmpphh" Ucap Rania terpotong saat bibirnya disumpal oleh cumbuan penuh nafsu dari putra tirinya.

Angga sudah hanyut oleh nafsu birahinya, otaknya telah dikendalikan oleh pikiran kotor yang diciptakan oleh godaan ibu tirinya. Bibirnya dengan liar mendorong bibir ibunya. Kedua tangannya pun berulang kali naik turun tuk mengusap pinggang ramping ibunya.

"Mmpphh... Mmpphh" Desah mereka berdua.

Mereka berciuman, bibir mereka berubrukan dan lidah mereka saling bergesekan. Liur mereka sampai jatuh menetes dari sela-sela bibir mereka. Dengan penuh kepasrahan, Rania membiarkan anaknya itu membelai pinggangnya kemudian memainkan payudaranya. Bibirnya juga terus dicumbu tanpa pernah berhenti. Ia sampai memejam merasakan nikmatnya rangsangan yang telah Angga berikan padanya.

"Mmpphh ummii... Ummi nakal banget sih udah bikin Angga kayak gini... Ustadzah macam apa yang udah bikin anaknya kerangsang kayak gini" Ucap Angga di tengah percumbuannya.

"Mmpphh... Coba tebaakkk... Ustadzah macam apa yang bisa bikin kamu kayak gini ?" Ucap Rania saat dicumbu sambil membelai puting putranya menggunakan jemarinya.

"Mmpphh... Setau Angga cuma ustadzah binal mi... Cuma umi ustadzah paling binal yang pernah Angga temui" Ucap Angga bernafsu hingga mengatakan ibunya sendiri binal.

Bibir Angga semakin agresif dalam melumat bibir Rania, lidahnya turut aktif masuk ke dalam ingin bersilaturahmi. Tangannya dengan kasar mencengkram dan meremas payudaranya. Angga pun menurunkan gamis ibunya hingga gamis itu turun ke pinggangnya. Saat jemari Angga bergerak untuk melepaskan branya, ia pun tersadar kalau selama ini ibunya tidak mengenakan bra sama sekali. Angga pun tersenyum sambil kembali mencumbui bibir ibunya.

"Umiii nakal yahhh ? Umi sengaja mau godain Angga yahh... Umi kok gak pake beha !” kata Angga mulai menurunkan cumbuannya untuk mengincar dada ibunya.

"Aaahhh... Hihihi habis percuma juga pake beha, soalnya habis ini kan umi bakal ditelanjangin sama kamu" Ucap Rania keenakan saat merasakan cumbuan Angga di dadanya.

"Ouuhhh gituuu... Mmpphh... Jadi umi dah niat mau ngentot sama Angga yah ? Umi dah siap teriak emang saat Angga sodok nanti ?" Ucap Angga semakin bernafsu.

"Hihihi iyya sayang... Umi udah siap banget... Umi udah siap ngangkang di depan kamu sambil ngeliat kontol kamu keluar masuk ke dalam memeknya umi" Ucap Rania semakin binal merangsang birahi putranya.

“Mmpphh beneran ? sllrrpppp... Jangan salahin Angga yah kalau Angga kelewat nafsu pas genjot memeknya umi ? Jangan salahin Angga juga kalau Angga bakal genjot umi sampai mentok ke rahim umi" desah Angga membuka mulutnya untuk menghisap dan menjilati puting Rania.

“Uhhhhh sayaannggg !!!!” desah Rania bergairah.

Tangan kanan Angga meremas payudara kiri ibunya, bibirnya turun menghisap puting susunya. Rania menjadi geli akibat rasa nikmat yang ia rasakan. Rania yang sudah bernafsu menarik lepas kemeja yang Angga kenakan. Angga sudah bertelanjang dada. Tanpa menunggu lama, kedua tangannya langsung menurunkan resleting celana putranya kemudian melepaskan ikat pinggang yang terpasang di celananya.

"Mmpphh umii lepas dulu yah sayang" Ucap Rania meminta izin dulu.

"Iyyah mi... Mmpphh buruan... Angga udah gak sabar pengen telanjang di depan lonte kayak umi" Ucap Angga yang membuat Rania tersenyum puas.

"Hihihi sabar sayang... Lagian kamu kok tega banget sih nyebut umi lonte" Ucap Rania bergairah.

"Uhhhhh habisnya umi sih udah godain Angga sampai nafsu gini... Buruan mi kocok kontol Angga... Kocok Angga sepuas umi mi... Buruann aaaahhhhh" Desah Angga merasakan kocokan ibunya.

"Hihihi udah dikocok malah teriak... Keenakan yah sayang ?" Ucap Rania sambil berjongkok tepat di hadapan penis putranya. Rania dengan telaten terus mengocoknya. Rania tersenyum melihat penis putranya sudah mengeras dihadapan wajahnya.

"Aahhhh... Aaahhh... Iyyahh miii... Enak banget kocokannya umi... Uhhhh terusss" Desah Angga sambil berusaha menurunkan wajahnya tuk menatap apa yang dilakukan oleh ibunya.

Angga tersenyum saat menatap ibunya yang masih berhijab namun gamisnya sudah turun ke pinggangnya hingga memamerkan payudaranya. Sedangkan dirinya, sudah bertelanjang bulat. Penisnya yang sudah mengeras mengacung tegak dihadapan wajah ibunya.

“Hihihi... Makin gede aja sih kontolmu sayang” kata Rania sambil terus mengocoknya.

"Aaahhh... Aaahhhh abis umii sihh... Gimana kontol Angga gak gede kalau umi ngocoknya enak banget kayak gini" Ucap Angga terengah-engah menahan gairah birahinya.

"Hihihi Angga puas gak ngerasain kocokannya umi ?" Tanya Rania mempercepat kocokannya.

"Aaahhh... Aaahhh puas banget mii... Kocokan umi mantep banget" Ucap Angga mendesah.

"Hihihi tahan yah... Awas jangan crot duluan" Ucap Rania sambil membuka mulutnya.

"Ummiii... Umii mauu apa mii ? Uhhhhh... Uhhhhh" Desah Angga sambil menatap ke bawah.

Rania tidak menjawab. Namun wajahnya terus mendekat. Perlahan demi perlahan batang penis itu mulai masuk ke dalam rongga mulutnya. Angga sampai merinding merasakan sentuhan lembut dari lidah ibunya. Lidah ibunya itu membelai batang penisnya. Lidah ibunya itu menyapu sisi bawah dari penisnya. Angga benar-benar puas hingga kedua kakinya makin mengangkang membiarkan ibunya bertindak sesukanya.

Rania sedang berjongkok dihadapan penis putranya. Mulutnya mulai menganga memasukan penis kekar itu ke dalam mulutnya. Penis putranya yang dihiasi oleh urat-urat syaraf yang menonjol keluar membuat Rania semakin bergairah. Angga sampai merinding merasakan nikmatnya, penisnya terasa begitu hangat dan lembap ketika berada di dalam mulut manis ibunya. Terlebih saat Rania mulai menggerakan kepalanya maju mundur. Bibir Rania mengatup seakan tengah mencekik penis putranya. Lidahnya di dalam bergerak aktif bagai seekor ular yang ingin melilit mangsanya.

“Aahhhhhh Umiiiiii !!!... Uhhhhh mantep banget sepongan umiii” desah Angga berteriak.

Sesekali Rania melepas kulumannya hanya untuk menjilati lubang kencingnya. Tangannya masih aktif mengocok batang penisnya terutama saat lidahnya mulai bergerak untuk menjilati sisi bawah penis putranya. Kemudian ia kembali memasukan penis yang semakin mengeras itu ke dalam mulutnya.

“Ohhhh Umiiii... Terus sepong kontol Anggaaa umiii... Terusss !!!” kata Angga mendesah.

Ukuran penis Angga yang cukup besar masih bisa ditelan seluruhnya oleh ibunya. Angga pun sampai menggila tiap kali harus dikulum oleh nafsu buas ibunya. Ia pun melihat ke bawah. Ia menatap hidung ibunya yang bersentuhan dengan bulu jembutnya. Rania terlihat seperti membenamkan wajahnya demi mencaplok keseluruhan penis putranya. Angga pun menggelengkan kepalanya tak bisa menjelaskan kenikmatan yang sedang ia rasakan.

"Mmpphh nikmat hihihi" Ucap Rania saat melepaskan kulumannya kemudian kembali berdiri sambil menjilati tepi bibirnya di hadapan wajah putranya.

Angga hanya terengah-engah melihat kebinalan ibunya. Ia tak menyangka kalau ayahnya yang merupakan pak kiyai pondok pesantren bisa-bisanya menikahi ustadzah yang binal seperti ibunya.

"Aangggaaa" Panggil Rania dengan suara mendesah. Angga pun terbangun dari lamunannya. Ia menganga melihat ibunya mendekat kemudian mengecup sejenak bibirnya.

"Cuppp... Umii makin kerangsang nih gara-gara kontol kamu yang enak banget itu... Umi pengen digenjot lagi dong... Umi pengen ngerasain genjotan kamu yang mantep itu" Ucap Rania sambil memelorotkan gamisnya sendiri.

Gleeeggg !

Angga menganga lebar saat melihat kemulusan dari kulit bening ibunya. Sebagai lelaki yang sangat menyukai wanita berkulit bening. Ibunya merupakan contoh sempurna dari tipe wanita yang ia suka.

Tubuhnya ramping, kulitnya bening, kepala Angga sampai pusing melihat rupa dari keindahan tubuh ibunya. Saat ia melihat ke bawah, ia menenggak ludah ketika tubuh ibunya hanya tertutupi oleh celana dalam berwarna kuning.

"Hihihi cuma diliatin aja nih ? Katanya kamu mau bikin umi teriak-teriak ? Mana janjinya ?" Ucap Rania menantang dengan keadaan tubuh yang sudah telanjang.

"Ummii... Ummii... Kalau umi kayak gini terus bisa-bisa Angga bakal lemes nih genjotin umi tiap hari" Ucap Angga mendekat sambil memeluk tubuhnya kembali.

"Hihihi bagus dong... Umi jadi puas terus ngerasain nikmatnya genjotan Angga... Mmpphh" Desah Rania memejam saat bibir putranya kembali mendekat.

Angga sudah terlalu bernafsu hingga ia tak peduli lagi dengan Rania yang notabene adalah ibu tirinya. Ia telah menganggap ibunya itu sebagai boneka pemuas yang sudah membuatnya terangsang berulang kali. Dengan segera, Jemarinya memasuki celana dalam ibunya. Ia mengocok bibir vagina Rania secara terus menerus. Gerakannya pun konsisten. Ia menggerakan jemarinya naik lalu turun lalu naik lagi lalu turun lagi. Jemarinya tanpa bosan mengocok-ngocok kemaluan ibunya hingga membuatnya semakin basah oleh genangan cairan cintanya.

"Uhhhhh sayanggg... Mmpphh... Terusss sayanggg... Mmpphh" Desah Rania menikmati rangsangan putranya di rongga vaginanya.

Lagi, ia terus mengocok lubang kemaluan ibunya. Kali ini ia melakukannya dengan gerakan maju mundur. Berulang kali jemari telunjuknya itu menjebol masuk liang senggama ibunya. Awalnya ia mendorong jemarinya masuk lalu menarik jemarinya keluar. Lagi ia mendorong jemarinya masuk lalu mendorongnya keluar.

Ia melakukannya sambil mencupangi daerah bahu dan leher ibunya setelah melepas cumbuannya. Saking nafsunya, ia sampai tak sadar kalau ia telah meninggalkan bekas memerah disana. Rania semakin mendesah hingga mulutnya terbuka lebar. Ia begitu keenakan menikmati rangsangan yang sudah putranya berikan.

"Ummiii.... Angga gak tahan lagiiii" Ucap Angga sambil membawa tubuh telanjang ibunya ke dalam kamar pribadinya. Dengan segera ia mendorongnya hingga tubuh ibunya terbaring diatas ranjang tidurnya.

"Aaaahhhhhh" Desah Rania sambil tersenyum menatap putranya. Tanpa disuruh, ia melepas celana dalamnya sendiri kemudian mengangkangkan kakinya dihadapan putranya.

"Ayyooo Anggaaa... Umi udah gak tahan nih pengen digenjot kamu" Ucap Rania menggoda Angga dengan cara menggesek bibir vaginanya yang sudah basah.

"Uhhh umiii... Umiii binal banget sihhh... Angga jadi gak tahan lagi pengen genjot sekarang” ucap Angga sambil mendekat tuk mengarahkan penisnya di depan pintu masuk liang senggama ibunya.

“Mmpphhh... Baru kesentuh dikit aja umi udah merinding gini... Ayo sayang, memek umi makin gatel nih” ucap Rania yang membuat Angga semakin terkejut mendengar kebinalan ibunya.

“Iyya umii... Anggga sekarang hennkkghhh !!!” ucap Angga sambil memasukan penisnya membelah liang senggama ibunya.

“Uhhhh Annggaaa... Gede banggettt... Uhhhhh” desah Rania memejam sambil mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya.

“Uhhhh ummiii... Rapet banget memeknya umi... Angga jadi kesusahan buat masuk ke dalem” ucap Angga yang sudah memasukan setengah dari penisnya.

“Uhhhh Aangggaa terusss... Terusss” ucap Rania menyemangati putranya.

“Iyyaa umiii... Annggga akan henggkkhhh !” ucap Angga saat menarik penisnya sejenak kemudian menancapkannya sedalam-dalamnya.

“Aaahhhh Annggaaa... Enakkk bangettt” ucap Rania merinding menikmati tusukan putra tirinya.

Angga menarik pinggulnya pelan-pelan lalu mendorongnya sekuat tenaga. Ia memejam menikmati cekikan vagina ibunya yang masih saja sempit. Semakin ia mendorongnya, semakin nikmat lah apa yang dirasakan oleh penisnya. Rania tampak memejam dibawah sana. Ia begitu puas ketika batang penis anak tirinya bergerak masuk berpetualang di dalam vaginanya.

“Aaahhhh yahhhhh” kata Angga setelah menancapkan seluruhnya.

Angga pun menurunkan tubuhnya kemudian menaruh kedua tangannya di atas kasur yang berada di sebelah kanan kiri lengan ibunya. Kedua matanya menatap wajah cantik ibunya. Begitupula Rania yang menatap wajah putranya. Mereka berdua tengah tersenyum saat kelamin mereka telah bersatu. Sedikit demi sedikit Angga mulai menggerakan pinggulnya sambil menikmati keindahan wajah ibunya disana.

“Aaahhhh... Aaahhhh” desah mereka berdua keenakan.

Penis Angga dengan perlahan menusuk tajam liang senggama ibunya. Pergerakannya cenderung pelan. Namun nikmatnya begitu terasa karena ia cenderung menikmati tiap gesekan yang ia terima di penisnya. Apalagi liang senggama ibunya sudah sangat basah. Ditambah dengan himpitan dari rongga vagina itu membuat Angga mengerang penuh nikmat merasakan penisnya di cekik oleh liang vagina ibunya.

“Aahhhh... Aahhhh ummmiii”

“Aahhhh Aannggaa... Ahhhhh yahhhh... Ahhhhhh”

Angga tersenyum saat menatap wajah penuh nafsu ibunya, sedikit demi sedikit ia mulai mempercepat gerakan pinggulnya. Rasa nikmat yang semakin terasa membuatnya semakin tak tahan. Ia pun ambruk menindihi tubuh ibu tirinya. Bibir mereka kembali melekat. Tangan Rania memeluknya erat. Mereka bertempur dengan penuh nafsu setelah terbuai oleh hawa nafsu yang menjerat. Mereka tampak nekat tak peduli dengan hubungan mereka yang dekat.

“Ummiiii mmpphhh... Angga nafsu banget tiap kali menikmati tubuh umi... Anggga mpphh... Jadi pengen genjot tubuh umi terus mi” ucap Angga disela-sela cumbuannya.

“Mmpphhh Anggaa... Umi juga sayang... Terus genjot tubuh umi... Genjot yang kuat... Umi butuh nafsu Angga buat muasin fantasi umi” ucap Rania yang membuat Angga semakin bersemangat.

“Aaahhh iiyyahh umii... Uhhhh mpphh... Mantep banget cekikan memek umi” Ucap Angga sambil mencumbu bibir manis ibunya.

Mereka bercumbu, pinggul mereka bergerak, Rania dibombardir oleh beribu tusukan penis Angga yang begitu kuat. Rania terpesona ditengah percumbuannya. Ia ingin mendesah lagi tapi mulutnya terhalang oleh cumbuan Angga yang dibumbui oleh nafsu yang begitu kuat. Mulut mereka lama saling melekat. Mereka tak ingin melepas percumbuan mereka. Rania nyaris kehabisan nafas setelah dilumat oleh bibir tebal putranya.

“Mmpphhh... Angga nih yah... Uhhhhh... Nafsu banget nyiumin umi... Umi sampai kehabisan nafas tau” ucap Rania tersenyum ditengah percumbuannya.

“Mmpphhhh... Abisnya umi sih... Umi binal banget udah bikin Angga kelewat nafsu gini... Andai semua orang tahu kalau umi sebinal ini... Pasti umi udah digilir oleh orang-orang yang udah nafsu ke umi” ucap Angga karena saking nafsunya.

“Uhhhh... Uhhhhh... Pasti bakal mantep banget dong... Umi jadi pengen deh digilir mereka” ucap Rania mengejutkan Angga.

“Umiiii jangann donggg... Angga gak tega... Aahhhhh” desah Angga yang justru bernafsu mendengar kebinalan ibunya itu.

“Uhhh yang bener... Tapi kamuuu ahhhh... Jadi makin beringas gini... Pasti kamu nafsu yah denger umi pengen digilir ?” ucap Rania mengejutkan Angga lagi.

“Uhhhh... Uhhhhh kok umi tau ? Kalau umi masih nekat gini lama-lama Angga panggilin temen-temennya Angga yang nafsu ke umi loh” ucap Angga terbawa nafsu.

“Uhhhhh emang ada ? Emang ada yang nafsu ke umi ?” ucap Rania semakin bernafsu ditengah percakapan kotor mereka.

“Bannyaakkk... Apalagi kan umi cantik... Umi juga istrinya abi yang notabene pak Kiyai disini... Bahkan waktu Angga gak sengaja lewat... Angga pernah denger loh ada tukang yang pengen ngegangbang umi” ucap Angga yang semakin cepat menggenjot vagina ibunya.

“Aahhhh.... Aahhhhh.... Yang bener ? Uhhhh pasti mantep banget sayanggg... Kasih tau umi dong siapa... Umi pengennnnn” ucap Rania yang membuat Angga semakin bernafsu.

“Aahhhh... Aahhhh dibilangin jangannn... Umii nakal banget sihhh... Mpphhhh" ucap Angga kembali mencumbunya agar ibunya tidak lagi berbicara hal yang tidak-tidak yang dapat merangsang gairah birahinya.

“Mmpphhh Anggaaa” desah Rania dengan manja.

Setelah puas mencumbu ibunya dengan penuh nafsu. Ia sengaja melepaskan cumbuannya untuk berganti posisi. Ia kini terbaring diatas ranjang tidurnya. Sementara Ibunya naik ke pangkuan dirinya untuk bersiap-siap menggoyang penisnya.

“Udah siap sayang ?” kata Rania sambil menjilati bibirnya sendiri tuk merangsang birahi putranya.

“Siap Umi” jawab Angga terpana menatap keindahan tubuh ibunya dari bawah.

Angga memegangi pinggang ramping ibunya. Ibunya tersenyum sambil menggerakan pinggulnya bergoyang. Salah satu tangannya bertumpu di perut Angga. Kemudian ia mulai bergoyang ke kiri, belakang, kanan dan depan secara berurutan. Wanita berhijab itu mendesah merasakan vaginanya teraduk-aduk oleh torpedo besar putranya. Melihat wajah sayu ibunya membuat Angga blingsatan tak karuan. Penisnya juga tak tahan ketika diaduk-aduk oleh goyangan ibunya yang sangat mantap.

“Ahhhh enakkk banget sayanggg... Kontol kamu kenceng banget sih... Umi sampai gak kuat... Ahhhhhhh” desah Rania terus mengaduk-ngaduk penis putranya.

“Aahhh iyyahh Mi... Angga juga gak tahan ngerasain goyangan Umi” kata Angga memejam sambil mencengkram kuat pinggang ramping ibunya.

Akibat nafsu yang semakin hebat. Rania mulai menaik turunkan tubuhnya dengan cepat. Nafsunya yang semakin bergairah membuatnya semakin bersemangat dalam menikmati penis putranya. Rania melonjak-lonjak diatas pangkuan Angga. Kedua tangannya bahkan sampai meremasi payudaraya sendiri. Angga membuka mulutnya terpana akibat gerakan binal ibunya yang menggoda. Angga ingin ikut meremasnya tapi tangannya tak sampai. Akibatnya ia hanya mengelus-ngelus pinggang ibunya yang mulus sambil memeganginya agar tidak terjatuh.

“Uhhhh umiiii... Goyang terus umiii... Goyang yang binalll !” ucap Angga menyemangati ibunya.

“Uhhh iyahh sayanggg... Uhhh mantep banget kontol kamu” ucap Rania semakin bersemangat bergoyang.

Rania semakin bernafsu saat menggoyang penis putranya. Dikala ia naik, Angga dapat melihat ujung gundulnya yang nyaris terlepas dari dalam vagina dirinya. Dikala ia turun, Angga dapat merasa penisnya menancap begitu dalam disana. Angga blingsatan begitu pula Rania. Rania semakin binal dalam menggoyang tubuhnya. Erangannya semakin menggoda. Desahannya pun semakin mantap membuat gelombang orgasmenya terpanggil untuk mendekat.

“Ahhhh sayanggg... Umiii mau keluarrrr... Ahhh ahhhh”

“Ahhhh Angga juga Mi... Goyangan Umi hebat bangett... Angga gak kuatttt”

Rania naik turun semakin cepat, begitupula Angga turut menggerakan pinggulnya.

Atas-bawah , Atas-bawah, Atas-bawah. Angga memejamkan mata merasakan jepitan vagina ibunya yang semakin rapat. Angga tak kuat lagi. Ia terus menggerakan pinggulnya hingga tubuh ibunya terlonjak-lonjak diatas pangkuannya. Rania sudah seperti menunggangi kuda yang sangat liar.

“Aaahhhh... Aahhhhhh... Aaahhhh” desah Rania dengan manja.

Mendengar desahan ibunya yang menggoda membuat Angga tak kuat lagi. Penisnya sudah berdenyut. Nafasnya semakin sesak. Ia merasa kalau gelombang orgasme akan datang sebentar lagi. Ia mempercepat gerakannya. Akibatnya suara tubrukan antar pinggul merea terdengar semakin cepat.

Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!

“Aahhhh... Aahhhhhh” desah mereka berdua bersamaan.

Akhirnya sesuatu yang ia tunggu-tunggu pun tiba. Gelombang orgasme itu semakin mendekat. Angga pun menancapkan penisnya sedalam-dalamnya disaat kedua tangannya menarik pinggul ibunya ke bawah.

“Aahhhh Ummiiiii !!!!!” desah Angga terpuaskan.

“Aaahhhh Angggaa... Umiii jugaa... Mmpphhhh” desah Rania menyusul tak lama kemudian.

Crroottt... Crroott... Crrooottt !

Rania langsung ambruk menindihi tubuh putranya. Mata mereka sama-sama memejam Tubuh mereka berdua masih mengejang. Angga pun memeluk tubuh ibunya sambil mengeluarkan seluruh spermanya hingga tetes terakhir.

“Ouuhhh Umiiiii !!!” desah Angga sangat puas.

Dada mereka naik turun. Nafas mereka ngos-ngosan. Kenikmatan yang begitu puas membuat mereka tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Uhhh... Uhhhh... Umiiii... Angga puas banget”

“Mmpphh Umii juga sayanggg... Uhhh Umi sampai lemes gini”

Demi menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Angga kembali mencumbu ibunya. Mereka pun berciuman dengan penuh nafsu. Terkadang kedua tangan Angga bergerak ke arah bongkahan pantat ibunya tuk meremasnya dengan kuat. Alhasil Rania mengerang manja. Angga pun terpuaskan saat menikmati ketelanjangan ibunya di sore hari ini.

Uhhh gila banget sore ini... Makin kesini kok Umi makin binal aja sih ? Sejak kapan yah umi jadi sebinal ini ? Dan juga kenapa Umi sampai kepikiran ingin dinikmati orang lain ? Moga aja itu cuma kata-kata buat ngerangsang nafsu aku aja... Moga aja umi gak beneran pengen dinikmati orang lain. Batin Angga ditengah-tengah percumbuannya.


*-*-*-*


Keesokan paginya,

Haura, seorang ustadzah yang dijuluki oleh warga pesantren sebagai ustadzah tercantik sepondok pesantren itu sedang berada di dapurnya. Ia tengah menggoreng tempe yang merupakan lauk kesukaan suaminya. Ia tidak sedang mengenakan hijabnya kala itu. Ia hanya mengenakan daster sexy yang bahkan bawahannya berada di atas lutut. Dengan senang hati ia membiarkan suaminya melihat sebagian keindahan tubuhnya sejak tadi.

Dengan rambut pendeknya yang sebahu, dengan poninya yang ia biarkan turun hingga menutupi dahinya, dengan belahan dadanya yang mencuat dibalik daster sexynya, dengan mulusnya kulit paha yang sengaja ia tampilkan di hadapan suaminya.

Haura terlihat sangat menggoda di pagi hari itu. Kendati wajahnya sedang tidak tersenyum. Kendati ia sedang serius saat membalik tempe yang sedang ia goreng. Pancaran sinar yang berasal di wajahnya telah membuat kecantikannya tidak pernah luntur. Auranya yang berasal dari kecantikan wajahnya membuat ia selalu tampil cantik kapanpun dan dimanapun.

Setelah melihat tempe yang ia goreng agak berwarna keemasan. Ia langsung mengambil serok kemudian menyerok tempe dari wajan kemudian meniriskannya sejenak. Ia segera mematikan kompor lalu mengelap dahinya yang tertutupi rambutnya karena merasa gerah.

"Fiyuh akhirnya selesai juga" Kata Haura merasa lega.

Saat Haura berbalik badan guna berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian agar bisa segera berangkat mengawasi ujian di kelas. Tiba-tiba ada seseorang yang sudah berdiri disana. Haura lantas terkejut. Ustadzah tercantik itupun memegangi dadanya untuk menenangkan dirinya.

"Astaghfirullah... Mas" Ucap Haura tersenyum.

"Dek" Ucap orang itu yang tidak lain adalah suaminya sendiri.

"Ada apa mas ?" Tanya Haura saat melihat raut wajah suaminya. Ia merasa kalau suaminya ingin membicarakan sesuatu dengannya.

"Anuuu ituu dek" Ucap Hendra tanpa berani menatap istrinya.

"Hihihi mas kenapa sih ? Kok keliatan sedih gitu ?" Ucap Haura sambil tersenyum manis.

"Anu maaf yah... Waktu itu mas ngerasa kaya udah ngecewain adek" Ucap Hendra soal dirinya yang pergi begitu saja saat sedang dirangsang istrinya.

"Iyya mas... Aku maafin... Aku juga paham kok alasan mas" Ucap Haura yang mengejutkan suaminya. Hendra mengira istrinya itu akan ngambek atau apalah. Ia tak menduga kalau istrinya akan segera memaafkannya seperti ini.

"Tapii dekk... Adek gak marah kan sama mas ? Mas ngerasa udah jahat banget deh waktu itu" Ucap Hendra masih heran.

"Iyya mas gapapa... Justru adek yang harusnya minta maaf" Ucap Haura tiba-tiba memeluk suaminya.

"Dekk ? Kok adek minta maaf ?" Ucap suaminya makin heran.

"Gapapa mas... Adek pengen minta maaf aja... Mungkin adek udah menuntut lebih terlepas dari segala kekurangan yang mas miliki" Ucap Haura sedikit berbohong.

"Adekkk" Lirih Hendra sambil membalas pelukan istrinya.

Haura tersenyum dalam pelukan suaminya itu. Namun di dalam hati, ia meminta maaf untuk sedalam-dalamnya karena sudah rela menyerahkan dirinya kepada kuli-kuli bangunan disana. Sejujurnya ia merasa tidak enak pada suaminya. Tapi ia tidak mempunyai pilihan lagi saat itu. Ia pun menyesalinya dengan cara mempererat pelukannya ke arah suaminya.

"Makasih yah dek... Makasih udah memahami kekurangan mas" Ucap Hendra.

"Iyya mas... Sama-sama" Ucap Haura.

Hendra lantas mengecup kening istrinya yang masih tertutupi poni rambutnya. Baru setelah itu ia melepasnya kemudian meminta izin untuk berangkat terlebih dahulu.

"Mas ada kesibukan mendadak... Mas mau pergi dulu yah ?" Ucap Hendra.

"Kesibukan apa mas ?" Tanya Haura penasaran.

"Anu ada santri yang ingin belajar privat ke mas... Maklum hehe mas kan sering pergi soalnya, jadi mas ngerasa gak enak kalau ada santri yang mas biarin begitu aja padahal udah minta pelajaran ke mas" Ucap Hendra sambil sesekali melirik ke bawah.

"Anu, Iqbal yah mas ?" Ucap Haura mengejutkan suaminya.

"Loh kok tau ?" Ucap Hendra berdebar.

"Hihihi tau dong mas... Yaudah sana, bentar lagi ujiannya mau dimulai kan ? Adek juga mau siap-siap dulu... Masa jam setengah tujuh masih dasteran hihihi" Ucap Haura sambil tertawa.

"Iyya dek... Yaudah mas pergi dulu yah... Anu, adek makin keliatan cantik aja tiap hari" Ucap Hendra sempat memuji kecantikan istrinya sebelum pergi meninggalkannya.

"Hihi makasih" Ucap Haura mengecup punggung tangan suaminya dulu baru setelah itu pergi ke kamarnya setelah suaminya pergi terlebih dahulu.

Dengan segera ia memasuki kamar pribadinya. Karena terburu waktu ia langsung mempreteli pakaiannya. Satu demi satu pakaian yang melekat di tubuh indahnya terjatuh ke lantai. Ia sudah telanjang bulat. Tidak ada satupun pakaian yang menghalangi keindahan fisiknya.

Kulit mulusnya terlihat. Kulit beningnya terlihat. Kedua payudaranya yang kencang juga terlihat. Nampak lekukan pinggangnya yang berkelok bagaikan kelokan di sirkuit mandalika. Belum lagi dengan aura di wajahnya. Belum lagi dengan kerapihan di rambut sekitar kemaluannya.

Haura yang sedang telanjang bulat sudah seperti bidadari. Tubuhnya yang telanjang itu sudah seperti pahatan seni. Pantas saja banyak lelaki yang berlomba-lomba ingin menyetubuhinya. Pantas saja banyak lelaki yang berlomba-lomba ingin mendengar desahannya. Pantas saja banyak lelaki yang berlomba-lomba ingin memejuhi rahimnya.

Namun dari sekian lelaki yang ada di dunia ini. Ada satu lelaki beruntung yang sudah dipilih oleh bidadari itu. Seorang lelaki rendahan yang tiap harinya bekerja sebagai kuli bangunan. Seorang lelaki yang sudah menaklukan kealimannya dengan menggunakan keperkasaan penisnya. Seorang lelaki yang sudah berulang kali memperkosanya hingga membuat bidadari itu jatuh ke dalam pelukannya.

Memang tidak masuk akal. Tapi itulah yang terjadi sekarang. Hal itu, juga dibantu oleh kelemahan suaminya yang tidak bisa memuaskan nafsu besarnya dan hal itulah yang terjadi pada diri Haura sekarang.

Dengan wajah secantik ini. Dengan tubuh seindah ini dan dengan kulit semulus ini. Seharusnya suaminya akan lebih bernafsu tiap kali menyetubuhinya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Suaminya tidak bisa memuaskannya. Bahkan untuk menegakkan penisnya saja tak sanggup. Sungguh ada anomali yang tidak bisa dijelaskan saat ini. Hal itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh Haura.

Sambil bercermin. Ia sedang menghias wajahnya dengan menggunakan riasan tipis. Ia sudah mengenakan pakaiannya. Hijabnya juga sudah melekat di kepala mungilnya. Ia sungguh meminta maaf karena sudah memilih bercinta dengan seorang kuli bangunan daripada suaminya. Tapi ia juga tidak merasa menyesal karena ia merasa keputusannya tepat sehingga ia tidak perlu lagi gelisah tiap kali tubuhnya dilanda gairah birahi tinggi.

"Maafin adek yah mas" Ucap Haura sekali lagi sambil bercermin.

Ia tengah duduk sambil menatap ke arah cermin. Ia telah selesai berdandan. Ia terlihat semakin cantik dengan pakaian longgar serta hijab yang melekat di tubuh indahnya. Inilah Haura. Inilah penampilan seorang ustadzah. Penampilan yang membuatnya dijuluki sebagai ustadzah tercantik sepondok pesantren ini. Sebuah julukan yang membuatnya lebih percaya diri tiap kali tampil dihadapan warga pesantren lain.

Dengan hijab berwarna terang yang menutupi rambut sebahunya. Dengan gamis berwarna gelap yang menutupi tubuh indahnya. Dengan tas jinjing berwarna putih yang ia taruh di bahunya. Haura terlihat sangat cantik. Wajahnya terlihat cerah dan bibirnya berwarna merah.

Ia pun menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya agar ia bisa lebih wangi sehingga dirinya tidak perlu mandi dua kali. Haura memejam sambil menghirup aroma parfum yang ada di tubuhnya. Haura jadi lebih menyegarkan sekarang. Haura pun telah bersiap untuk berangkat ke ruang kelasnya.

Namun dalam perjalanannya menuju pintu keluar. Ia masih dihantui oleh rasa penyesalan kepada suaminya karena dirinya sudah terang-terangan berzina dengan dua orang kuli bangunan. Ia tidak merasa diperkosa. Justru ia yang meminta diperkosa agar kegelisahan birahinya bisa terpuaskan oleh mereka.

Sebagai seorang ustadzah yang sejak kecil di didik agar dekat dengan tuntunan ilmu agama. Haura sangat menyesal karena sudah melakukan perzinahan itu. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Bahkan sejujurnya ia ingin meminta kepuasan itu lagi andai gairah birahinya bangkit lagi.

Ia pun berhenti sejenak sambil membayangkan kejadian kemarin. Kejadian saat dua lubang kenikmatannya dipenuhi oleh penis-penis kuli bangunan seperti mereka. Ia pun memejam membayangkan dirinya yang tak berdaya saat dijejali penis mereka.

Alih-alih keluar. Ia malah duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Tangan kirinya berada di payudaranya sedangkan tangan kanannya mengangkat naik roknya kemudian menggesek pelan bibir vaginanya.

"Uhhhhh pakkkk" Desah Haura saat terbayang keperkasaan penis mereka.

Sebagai seorang ustadzah, ia heran kenapa dirinya begitu ketagihan oleh kejantanan penis seorang kuli bangunan. Padahal kuli itu berusia tua. Wajahnya tidak tampan. Warna kulit tubuhnya juga hitam legam. Namun proporsi tubuhnya kekar. Bahkan penisnya juga kekar. Ia membayangkan dirinya bisa menaiki penis itu kemudian menggoyangnya sambil menikmati keperkasaan tubuhnya.

"Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura.

Entah kenapa tubuhnya jadi mudah terangsang tiap kali membayangkan tubuh pak Karjo yang sedang telanjang. Ia jadi ingin membelai tubuh kekarnya. Ia jadi ingin membelai batang penisnya. Ia pun ingin merasakan sensasi ketidakberdayaan itu lagi. Ia ingin merasakan genjotan nya yang membuatnya terkapar tak berdaya.

"Pakkk Karjjooo" Desah Haura memejam sambil membuka mulutnya lebar.

Kini mulutnya yang ingin mengulum batang penis hitam itu. Ia ingin merasakan sensasi benda keras itu di mulutnya. Ia ingin merasakan aroma selangkangannya yang menyengat namun mengundang gairah. Ia jadi ingin telanjang dan memperlihatkan keindahan tubuhnya pada kuli kekar itu agar kuli itu semakin bernafsu saat sedang menyetubuhinya.

Payudaranya mengeras dari balik gamis yang dikenakannya. Bibir vaginanya jadi semakin basah akibat gesekan jemarinya disana. Ia heran kenapa dirinya jadi tidak bisa berhenti ketika merangsang dirinya sendiri. Ia pun sadar kalau dirinya sedang berada di fase nafsu-nafsunya. Tidak ada yang bisa membuatnya berhenti kecuali batang penis kekar yang bisa bertahan dari cekikan lubang vaginanya.

"Uhhhhhhh" Desah Haura sambil menyolok vaginanya menggunakan dua jemarinya.

Tiba-tiba.

Tokkk... Tokkk... Tokkk !

Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Haura terkejut. Otomatis Haura langsung menurunkan roknya kemudian membenahi gamisnya. Ia pun langsung bangkit berdiri sambil berusaha bersikap sebiasa mungkin. Ia jadi penasaran kepada tamu yang sudah datang ke rumahnya sepagi ini.

"Siapa yah itu ?" Ucap Haura yang masih terangsang akibat terbayang penis kekarnya.

Saat pintu dibuka sebagian. Haura terkejut saat melihat seorang pria yang sedang berdiri disana.

Pak Dino ? Mau apa beliau kesini ?

Batin Haura terkejut.

"Assalamu'alaikum ustadzah" Sapa pak Dino sopan.

"Walaikumsalam pak... Hmmm ada apa yah pak ?" Ucap Haura sambil membuka pintunya lebar.

Apa saya menganggu waktunya, ustadzah ?" Ucap pak Dino sopan.

"Enggak kok pak... Ada perlu apa yah ?" Ucap Haura memaksakan diri tuk senyum karena canggung. Ia merasa canggung karena teringat persetubuhannya dengan pak Dino kemarin.

"Hehe ada yang perlu saya omongin... Oh yah ustadz Hendra nya ada ?" Tanyanya lagi.

"Suamiku udah pergi duluan pak... Jadi tinggal aku sendiri disini" Ucap Haura malu-malu.

"Hehe kebetulan kalau gitu ustadzah" Ucap pak Dino yang membuat Haura penasaran.

"Kebetulan ? Oh yah, silahkan duduk dulu aja pak" Ucap Haura mempersilahkan tamunya untuk duduk.

"Iya ustadzah... Terima kasih" Ucap pak Dino.

Mereka berdua pun berjalan menuju sofa yang berada di teras rumah. Haura duduk terlebih dahulu baru diikuti oleh pak Dino yang duduk di hadapan ustadzah tercantik itu.

"Oh yah... Bapak mau minum apa ? Biar aku buatin sesuatu" Ucap Haura.

"Eh gak usah ustadzah... Saya cuma bertanya sebentar kok" Ucap pak Dino sambil melambaikan kedua tangannya.

"Udah gapapa pak... Aku sebagai tuan rumah justru gak enak kalau gak nyediain sesuatu buat bapak... Aku buatin teh hangat aja yah" Ucap Haura yang langsung ngeluyur masuk ke dalam.

"Ehhh gak usah ustadzah... Gak perlu" Ucap pak Dino percuma karena ustadzah cantik itu sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.

Selagi Haura masuk kedalam. Pak Dino langsung terdiam sambil mengeratkan kesepuluh jemarinya. Ia menunduk sambil memikirkan pertanyaan yang sudah ia siapkan untuk Haura. Ia pun sesekali melihat ke arah pintu masuk karena gelisah.

Ustadzah Haura !!!

Batinnya sambil meyakinkan diri untuk menanyakan hal ini kepada Haura.

"Maaf pak lama... Ini tehnya untuk bapak" Ucap Haura membawakan dua cangkir teh yang satu untuk dirinya dan satu lagi untuk tamu istimewanya.

"Terima kasih ustadzah" Ucap pak Dino yang langsung menyeruputnya.

"Gimana pak ? Kurang manis gak ?" Ucap Haura gelisah karena ia membuat tehnya terburu-buru.

"Aaahhh... Cukup kok ustadzah" Ucap pak Dino tersenyum sambil menaruh cangkir itu di atas meja.

"Alhamdulillah" Ucap Haura merasa senang. Haura pun menyeruput teh buatannya kemudian menaruh cangkirnya diatas meja.

"Oh yah... Tadi bapak mau ngomong apa yah ?"

"Hehe... Anu ustadzah... Soal kemarin"

Deggg !!

Jantung Haura rasanya seperti berhenti berdetak. Ia terkejut dengan kalimat yang terucap dari mulut tamunya.

"Makk... Maksudnya pak ?" Tanya Haura dengan canggung.

"Ya soal itu ustadzah... Soal keputusan ustadzah... Saya masih ingin mempertanyakan keputusan ustadzah... Apa ustadzah sudah yakin dengan jalan hidup ustadzah yang ingin jadi pemuas nafsu kuli bangunan seperti saya dan teman-teman lainnya ?" Ucap Pak Dino yang membuat Haura berdebar.

Haura pun melihat ke arah jalanan. Ia takut andai ada seseorang yang mendengar ucapan kuli tua itu.

"Ayo masuk ke dalam pak... Aku gak bisa jelasin disini... Aku takut kalau ada orang yang mendengar suara bapak" Ucap Haura berdiri sambil mengajak tamunya masuk.

Pak Dino pun menuruti. Dengan meninggalkan cangkir yang baru saja mereka seruput bersama. Mereka berdua memasuki rumah milik ustadzah tercantik di pondok pesantren ini.

Jantung Haura berdebar kencang. Ia pun menutup tirai sehingga keadaan di dalam rumahnya menjadi gelap. Baru setelah itu mereka berdua duduk di ruang tamu yang berada di dalam rumah Haura.

"Bapak nanya apa tadi ? Bisa bapak ulangi ?" Ucap Haura sambil duduk manis di hadapan kuli tua itu.

"Sama seperti kemarin sore ustadzah... Apa ustadzah sudah yakin untuk menjadi pemuas nafsu kuli bangunan seperti saya ? Saya cuma heran ustadzah... Kenapa ustadzah memilih jalan hidup seperti itu... Maksud saya... Ustadzah kan cantik... Fisik ustadzah sempurna... Sejujurnya saya gak rela melihat ustadzah disetubuhi oleh rekan-rekan saya karena saya tau betul betapa nafsunya mereka tiap kali membicarakan ustadzah" Ucap pak Dino yang tidak dijawab apa-apa oleh Haura. Ustadzah tercantik itu hanya menunduk. Ia seperti merenungi pertanyaan dari tamu tuanya itu.

"Masa hanya karena suami ustadzah... Ustadzah sampai merelakan diri untuk jadi pemuas nafsu bagi orang-orang bejat seperti mereka" Ucap pak Dino masih tak menyangka.

Haura hanya tersenyum lemah. Ustadzah tercantik itu mengangkat kepalanya sambil menatap wajah pria tua yang tidak ada tampan-tampannya sama sekali.

"Bapak yang bertanya tapi bapak yang menjawab sendiri... Jawabannya sudah terjawab di ucapan bapak tadi... Iya pak, aku sudah memilih untuk jadi seperti itu... Aku ingin jadi pemuas nafsu mereka pak" Ucap Haura mengejutkan pak Dino.

"Tapi kenapa ustadzah ? Kenapa ?" Ucap pak Dino tidak terima. Walau keputusannya itu menguntungkan dirinya. Tapi sebagai pria normal. Ia merasa tak rela kalau ustadzah berhijab sepertinya memilih jalan yang menyimpang seperti itu.

"Seperti yang bapak bilang tadi... Kalau bukan karena suamiku... Aku gak mungkin memilih jalan hidup seperti ini" Ucap Haura sambil tersenyum lemah. Ia pun kembali menunduk menatap meja yang ada hadapannya.

"Karena suami ustadzah ? Ustadz Hendra ?" Tanya pak Dino masih tak percaya.

"Iyya pak betul... Aku juga paham kok kenapa bapak sampai berkata seperti itu... Sejujurnya aku juga gak mau memilih jalan hidup seperti ini" Ucap Haura yang membuat pak Dino semakin bingung.

"Lalu kenapa ustadzah memilih jadi seperti ini ?"

"Seperti apa yang kubilang tadi pak... Bapak pasti paham sendiri kan ? Aku ini sudah menikah... Aku mempunyai suami tampan yang mempunyai kedudukan disini... Tapi pak, suamiku gak bisa memuasiku... Bapak sendiri tau kan rasanya kalau pasangan hidup bapak gak bisa memuaskan bapak ?" Ucap Haura yang membuat pak Dino terdiam.

"Dan yah... Aku paham banget kenapa bapak sampai bilang seperti itu... Bukan bermaksud sombong... Tapi seperti yang bapak bilang tadi... Aku memang cantik... Banyak orang yang bilang kalau penampilanku menarik... Bahkan dulu aku pernah denger kalau sebelum pak Kiyai menikahi ustadzah Rania... Pak Kiyai sempet mengincarku dulu sebelum ustadz Hendra lebih dahulu melamarku... Aku juga normal kali pak... Wanita mana juga yang rela untuk memilih jadi pemuas nafsu kuli-kuli bangunan seperti mereka" Ucap Haura tersenyum lemah.

"Lalu kenapa ustadzah memilih jadi seperti ini ?" Ucap pak Dino yang masih belum paham.

"Aku sudah memikirkannya matang-matang pak... Aku memilih tuk jadi seperti ini setelah proses panjang... Tentunya ini tidak mudah tapi aku sudah yakin dengan keputusanku pak... Aku ingin jadi pemuas nafsu mereka... Eh bukan... Aku ingin mereka menjadi pemuas nafsuku" Ucap Haura yang sekali lagi membuat pak Dino terdiam.

"Sudah sejak lama semenjak pak Karjo memperkosaku untuk pertama kalinya... Mungkin sudah sekian bulan... Aku sudah sering merasakan gaya mainnya yang kurasa cocok untuk memuaskan nafsuku... Jujur pak... Aku sudah frustasi dengan gaya main suamiku yang gak pernah bisa memuaskanku... Aku butuh kepuasan pak... Aku memilih pak Karjo dengan mempertimbangkan semuanya matang-matang... Bahkan sejujurnya semenjak kemarin... Aku jadi penasaran untuk bermain dengan pak kuli lainnya... Nafsuku besar pak... Aku gak mungkin memuaskannya sendiri... Aku butuh seseorang yang juga punya nafsu besar yang bisa menandingi nafsuku... Jawabannya kalau bukan pak Karjo ya beberapa orang yang nafsunya mengimbangi pak Karjo" Ucap Haura sambil tersenyum menatap kuli tua itu. Haura jadi malu-malu saat curhat tentang hawa nafsunya itu. Perlahan pak Dino jadi paham. Tapi ia masih tak rela melihat ustadzah yang ia kagumi disetubuhi oleh rekan-rekan kerjanya.

"Jadi sepeti itu yah ustadzah ?"

"Iya pak... Maaf kalau keputusanku sudah mengecewakan bapak... Aku sudah gak sanggup lagi hidup seperti ini... Aku butuh pemuas pak... Aku juga sudah berfikir berulang kali... Tiap kali aku bercermin... Aku selalu membayangkan kuli-kuli seperti mereka ada di sekitarku... Berulang kali aku berkata pada diriku sendiri... Apakah aku pantas untuk jadi pemuas nafsu seperti mereka ? Apakah pantas mereka jadi orang yang bisa memuasi hawa nafsuku ? Dan aku merasa ya... Mereka tepat... Mereka yang terbaik untuk memuasi nafsu besarku" Ucap Haura sambil tersenyum. Haura kembali menunduk karena malu sudah bercerita tentang hal pribadinya.

"Tapi ustadzah... Bukannya ada solusi lain ? Kenapa ustadzah gak mencari ustadz yang tampan aja yang bisa memuaskan ustadzah ?" Ucap pak Dino yang seketika membuat Haura teringat akan V. Mata Haura jadi membuka lebar karena terkejut. Wajahnya ia angkat. Ia kembali menunduk sambil tersenyum malu.

"Menurut bapak... Apa kata mereka kalau aku bersikap semurah ini dihadapan rekan-rekan ustadzku ? Aku pasti malu pak... Aku malu karena mereka akan memandang rendah diriku... Aku ini sudah punya nama pak disini... Aku udah jadi ustadzah yang terpandang disini... Sedangkan pak Karjo ? Dia dari dulu sudah memperkosaku... Bahkan kalau aku ingin bersetubuh dengan kuli lain, pak Karjo siap tuk menjadikannya rahasia... Setidaknya aku tidak perlu mempermalukan diriku sendiri dihadapan rekan-rekan kerjaku pak dengan pilihan hidupku sekarang" Ucap Haura yang tampak masuk akal bagi pak Dino.

Haura kembali menunduk sambil mengingat V. Ia teringat karena kemarin ia sempat menghindarinya. Sejujurnya, pilihan hidupnya sekarang lebih berat karena sosok V itu. Ia tahu betul bagaimana pandangan V terhadap pak Karjo. V pasti akan kecewa karena dirinya sudah memilih pak Karjo daripadanya. Sejujurnya Ia pribadi menyukai lelaki yang kekar seperti pak Karjo. Sedangkan tubuh V cenderung kurus. Apalagi yang ia butuhkan sekarang adalah pemuas nafsu. Kalau soal hati, tentu ia akan memilih V. Tapi kalau soal nafsu, ia akan memilih seorang pria yang mempunyai tubuh kekar serta kulit hitam legam yang bisa memuasi nafsunya.

"Ya baiklah ustadzah... Saya paham... Tapi kalau ada seorang kuli yang tiba-tiba ingin bercinta dengan ustadzah apa ustadzah akan nurut gitu aja ? Misal saya ingin bercinta dengan ustadzah sekarang... Apa ustadzah akan diam saja membiarkan kuli itu bertindak sesukanya ?" Ucap pak Dino mendekat karena ingin menakuti ustadzah tercantik itu.

"Kenapa gak bapak coba aja ?" Jawab Haura yang mengejutkan pak Dino lagi. Bukan ini yang ia inginkan tadi. Ia malah berharap Haura menolak kemudian akan merubah pola pikirnya. Namun jawaban Haura malah seperti ini. Sikapnya juga malu-malu. Sesekali Haura malah melirik dirinya yang membuat pak Dino merasa kalau Haura tengah menggodanya.

Pak Dino yang awalnya cuma mengetes kini terbawa nafsu. Pak Dino mendekat untuk duduk didekat Haura. Tangan kanannya pun ia naikan untuk meremas dada ustadzah tercantik itu.

"Mmpphh pakkk" Desah Haura dengan manja yang merasangsang gairah kuli itu.

Pak Dino menenggak ludah. Sepertinya Haura serius dengan keputusannya. Jemarinya memegangi dagu Haura kemudian menaikannya. Wajah mereka berhadapan. Mata mereka saling memandang.

"Ustadzah serius ? Ustadzah ingin jadi budak pak Karjo ?" Tanya pak Dino yang dijawab anggukan malu oleh ustadzah tercantik itu.

"Lalu kalau saya ? Apa ustadzah mau jadi budak nafsu saya... Saya pasti akan memuaskan nafsu besarmu ustadzah" Ucap pak Dino ingin mengetesnya lagi.

"Kenapa gak bapak coba aja ? Kalau bapak bisa memuasiku... Aku pasti dengan senang hati akan membuka pintu kamarku untuk bapak" Ucap Haura menggodanya dengan cara tersenyum malu sambil menatapnya.

Pak Dino menenggak ludah setelah mendengar jawabannya. Apalagi terlihat kalau kaki Haura tengah menggeliat. Ia pun merasa kalau vagina Haura sudah basah sehingga kakinya bergerak agar bibir vaginanya saling bergesekan.

"Dasar ustadzah yah ! Jangan menyesal dengan keputusanmu itu" Ucap pak Dino sambil mendekatkan wajahnya karena tidak tahan lagi.

"Gak akan pak... Mmpphh" Desah Haura saat bibirnya dicumbu oleh kuli tua itu.

Bibir mereka bertemu, bibir mereka saling melekat dengan jarak tubuh yang semakin dekat. Pak Dino mulai mendekap pinggang ramping Haura. Sementara Haura hanya bisa pasrah menerima setiap cumbuan yang diberikan oleh pria tua yang sehari-harinya bekerja sebagai kuli bangunan.

Haura melenguh manja mengeluarkan desahan yang membangkitkan gairah birahi pak Dino dalam mencumbunya. Haura hanya bertahan membiarkan kuli tua itu menghujani bibirnya dengan cumbuan dari bibir tuanya. Ciuman mereka yang semakin bernafsu membuat liur Haura perlahan menetes jatuh dari sela-sela bibirnya membasahi roknya. Bibir tipis sang ustadzah itu terus saja beradu menerima serangan bertubi-tubi dari bibir kencang kuli tua yang semakin agresif.

“Mmppphhhh ustadzahh... Apa ustadzah puas menerima cumbuan dari kuli tua seperti saya ? Cumbuan seperti inikah yang bisa memuaskan ustadzah selama ini ?” Ucap pak Dino disela-sela cumbuannya yang semakin bernafsu.

“Mmpphhh kurang pakkk... Bapak kurang nafsu... Dorong bibir aku pak... Buat aku gak berdaya seperti pak Karjo lakukan waktu itu” ucap Haura yang mengejutkan pak Dino.

Gini aja masih kurang ? Butuh senafsu apalagi saya tuk bisa memuasimu ustadzah ?

Batin pak Dino tak percaya.

Bibir tua pak Dino terbuka memagut bibir atas Haura yang terasa manis baginya. Lidahnya ia julurkan ketika memasuki rongga mulutnya. Lidah itu bergerak lincah bagai seekor belut yang berkelana memasuki lubang. Belut itu menggeliat kesana-sini. Belut itu merengsek masuk merangsang rongga mulut Haura dengan begitu agresif. Tak disangka belut itu bertemu dengan pasangannya. Mereka pun saling sapa di dalam. Mereka saling bergesekan, permukaan lidah mereka semakin basah akibat pertempuran dahsyat diantara keduanya. Kadang ujung dari lidah itu berbenturan kemudian saling menggesek kemudian setelah itu lidah pak Dino menarik keluar lidah Haura untuk membawanya ke dalam sarangnya.

“Mmpphh” desah Pak Dino dikala kedua bibirnya menjepit rapat lidah Haura yang semakin hanyut dalam buaian nafsu birahi.

Diam-diam Haura terpuaskan saat ada kuli tua yang datang untuk memuaskan birahinya yang tadi tengah menyerangnya. Cumbuan kuli tua itu mulai memuaskan nafsunya. Terutama permainan lidahnya yang membuat Haura hanyut dalam cumbuan yang diberikan oleh kuli tua itu.

Lama mereka berciuman, mereka semakin terangsang dengan kehangatan yang terjadi di dalam rumah sepi ini. Tangan pak Dino merengsek naik tuk mengusapi tonjolan indah yang berada di dada Haura. Rabaannya kadang naik kadang menuruni tonjolan itu hingga membuat pemiliknya mendesah nikmat merasakan usapan nakal di daerah terlarangnya.

“Aahhhhhhhh aahhhh Pakkkk” desah Haura disela-sela cumbuannya. Haura merasa geli ketika tangan nakal kuli itu begitu liar dalam meremasi bulatnya payudaranya.

Tangan nakal pak Dino kembali bergerak naik untuk menaiki tonjolan indah itu. Haura merinding, ia sampai memejamkan mata karena tak kuasa menahan nikmat yang sedang ia rasakan. Tak diduga, tangan itu akhirnya hinggap di daerah tersensitif Haura yang merupakan puting payudaranya.

“Aahhhhhhhh” desah Haura sambil membuka matanya terkejut. Ia semakin terangsang ketika putingnya terus ditekan-tekan dari luar gamis yang masih ia kenakan

Payudara kirinya diremas oleh tangan kanan pak Dino. Pak Dino jadi terpana sambil menatap wajah indah Haura yang sudah tak ia cumbui lagi. Terlihat diwajahnya kalau Haura sedang menikmati remasan kuat di buah dadanya. Nafasnya terasa berat hingga membuatnya kembali memejam membiarkan pak Dino memainkan dua buah dadanya yang terlampau besar.

“Aahhhhh paakkk.... Mmpphh... Ahhh ahhhh” desah Haura dengan manja.

Pak Dino geleng-geleng kepala melihat ekspresi ustadzah tercantik itu yang begitu terangsang hebat olehnya. Karena tak kuat, ia kembali mencumbuinya dan ia tak menduga kalau Haura malah membalas cumbuannya.

“Sllrrpppp... Mmpphh... Mmpphh” desah mereka berdua yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu.

Pak Dino mulai menurunkan resleting gamis yang tersembunyi di bagian belakang punggung Haura. Sedikit demi sedikit, kuli tua itu mulai melihat kulit beningnya yang tersembunyi di balik gamis yang dikenakannya. Sebuah bra berwarna putih juga mulai terlihat disana. Saat belahan dadanya mulai terlihat, pak Dino terkejut setelah melihat ukurannya yang sudah mengencang.

Ouhhh ustadzah... Dengan susu seindah ini, kenapa ustadzah mau-maunya jadi pemuas nafsu kuli bangunan seperti saya ?

Batin Pak Dino terheran.

Bulatannya besar, bentuknya terlihat kenyal membuat pak Dino tak sabar untuk menurunkan cup bra yang menghalangi setengah dari keindahan disana.

“Uhhhh indah sekali susumu ustadzah” kata pak Dino takjub saat melihat puting pinknya yang sudah mengacung tegak.

Haura jadi tersipu saat melihat reaksi wajah dari kuli kekar itu. Saat kuli tua berkulit hitam itu menurunkan kepalanya untuk menyusu disana. Ia buru-buru memejamkan mata untuk menahan sensasi nikmat yang akan ia terima disana.

“Uhhhhhhhhhhh” desah Haura dengan manja.

Benar saja. Rasanya sungguh nikmat. Haura mendesah manja merasakan hisapan dan jilatan yang pak Dino layangkan di payudaranya. Kuli itu mencaplok payudara sang ustadzah. Lidahnya bergerak liar dengan menjilati putingnya. Giginya pun ikut bermain dengan menggigitnya pelan. Haura mendesah, mengejang, merintih merasakan semua kenikmatan yang ia dapatkan dari pak Dino.

“Aahhhhhh pakkk... Ahhhhhhhh” desahnya tak kuasa menahan.

Pak Dino menghentikan rangsangannya di payudara Haura. Ia kemudian menatap kembali wajahnya yang terlihat bernafsu. Pak Dino tersenyum kemudian membisikan sesuatu yang membuat Haura tersipu ketika mendengarnya.

“Dengan tubuh seindah ini” ucapnya sambil meremas payudara Haura.

“Dengan wajah senafsu ini” ucapnya sambil membelai pipi mulus Haura.

“Dengan kepasrahan ustadzah lakukan untuk saya, Saya bisa menggenjotmu tiap hari ustadzah” ucap pak Dino penuh nafsu.

“Mmpphhh... Kenapa gak bapak buktikan aja ?” ucap Haura malah menantang yang membuat pak Dino menenggak ludah.

“Dasar yah... Jangan menyesal nanti !” ucap pak Dino dengan beringas sambil menelanjangi pakaian Haura.

“Uhhhhhh gakkk akan pak” ucap Haura terkejut ketika pak Dino terburu-buru dalam menelanjangi tubuhnya.

Haura diajak berdiri oleh kuli tua itu. Gamis berwarna hitamnya dipelorotkan. Bra berwarna putihnya dilempar jauh entah kemana. Rok panjangnya juga melorot jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Tak ketinggalan celana dalamnya yang juga berwarna putih lolos sehingga Haura sudah bertelanjang bulat dihadapan kuli tua itu.

Satu demi satu keindahan tubuh Haura terlihat. Haura hanya menunduk malu membiarkan kuli kekar itu menatapi ketelanjangannya. Haura jadi malu-malu. Apalagi saat tangan kanannya tiba-tiba dituntun oleh pak Dino menuju pusaka rahasianya.

Haura terkejut saat tangannya tiba-tiba menyentuh sesuatu yang besar dan keras dihadapannya. Lagi, ia kembali merasakan batang penis kekar yang bisa ia genggam setiap saat. Haura sampai menaikan wajahnya tuk menatap wajah pak Dino tak percaya. Pak Dino hanya tersenyum sambil mengangguk menatap Haura. Kuli itu melepaskan genggamannya membiarkan bidadari tercantik itu meraba-raba penisnya yang masih tersembunyi di balik celana kolornya.

“Bagaimana ustadzah ? Ustadzah suka kontol saya kan ?” tanya pak Dino penasaran. Haura yang sudah bertelanjang dada hanya mengangguk malu. Kedua tangannya pun terus membelai tonjolan gede itu.

Haura sudah tidak memikirkan apapun lagi saat ini. Dirinya yang sudah bernafsu sejak pagi ditambah dengan rangsangan yang diberikan oleh kuli tua itu saat mencumbunya tadi. Haura jadi penasaran dengan ukuran yang sedang ia pegang menggunakan telapak tangannya. Ia jadi teringat kalau kemarin dirinya tidak sempat melihat keperkasaan penis pak Dino karena disibukkan oleh kenikmatan yang didapatkan dari mereka berdua. Haura pun menatap wajah pak Dino sekali lagi karena tak percaya.

“Ustadzah mau lihat ? Buka aja gapapa kok” Ucap pak Dino mengizinkan Haura.

Glleeekkk !!!

Haura menenggak ludah merasa gugup. Ia dengan malu-malu menurunkan celana kolor yang pak Dino kenakan.

Nampaklah disana penis berukuran raksasa yang begitu gagah dan perkasa. Haura sampai membuka mulutnya tak percaya. Ukurannya besar, bentuknya panjang dengan urat-urat syaraf yang mengelilinginya. Warnanya sangat hitam dan ujung gundulnya juga nampak mempesona membuat Haura tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari benda yang membuatnya penasaran. Penis seorang kuli bangunan memang beda. Dibalik tubuh kekarnya yang menawan. Tersimpan penis raksasa yang membuatnya penasaran.

“Mainin aja ustadzah kalau penasaran” kata pak Dino yang membuat Haura menggerakan tangannya malu-malu. Haura hanya bisa diam sambil sesekali menghembuskan nafasnya yang berat. Matanya terkunci oleh benda berwarna hitam itu. Tangannya bergerak sedikit demi sedikit karena masih mengagumi bentuknya. Diam-diam Haura membandingkan ukuran pak Dino dengan ukuran pak Karjo. Menurutnya ukurannya hampir 11-12. Pantas saja kemarin ia sampai kewalahan saat kedua penis itu memasuki kedua lubang kenikmatannya secara bersamaan.

“Ayoo jangan malu ustadzah... Apa ustadzah ragu setelah melihat kontol saya ?” ucap pak Dino heran kenapa Haura masih terpana melihat ukuran penisnya.

“Enggak kok pak” ucap Haura sambil berjongkok hingga wajahnya berada tepat di hadapan penis kekar kuli itu.

Perlahan demi perlahan setelah Haura mengumpulkan keberanian, jemarinya mulai menggenggam batang penis itu dengan erat. Ia mulai merasakan betapa kerasnya penis yang mengacung tegak dihadapannya. Tanpa sadar Haura menggerakan jemarinya pelan, Haura mengocoknya membuat pak Dino mendesah pelan merasakan jemari halus ustadzah tercantik itu dalam merangsang kelaminnya.

“Ahhhhh.... Ahhhhhhh... Ahhhhhh” desah pak Dino membuat Haura semakin bergairah ketika melakukannya.

Besar banget... Keras banget... Kenapa kontol pak Dino bisa sekuat ini yah ? Kenapa juga kontol mas Hendra gak pernah bisa sekeras ini ?

Batin Haura yang masih keheranan dengan masalah yang menimpa suaminya. Memikirkan suaminya yang lemah membuat ia semakin kesal hingga ingin melampiaskannya lagi seperti hari kemarin.

Tanpa sadar kocokannya semakin kuat hingga membuat pak Dino kewalahan dalam menerima rangsangan dari bidadari tercantik sepondok pesantren ini.

Tak kuat, Pak Dino mengangkat kausnya hingga membuatnya bertelanjang bulat dihadapan Haura. Saat Haura menaikan wajahnya, ia terkesima oleh pemandangan yang nampak dihadapannya. Tidak seperti suaminya yang bertubuh agak gempal. Tubuh pak Dino sangat kekar bahkan lebih kekar daripada pak Karjo. Kulit tubuhnya juga lebih legam. Seketika ia teringat perkatan pak Karjo kalau pak Dino ini adalah kuli tertua, terhitam dan terkekar yang bekerja di pondok pesantren ini. Baru setelah mengingat perkataan pak Karjo, Haura baru tersadar kenapa batang penis pak Dino bisa sekeras ini. Membayangkan pria tua yang sedang ia rangsang adalah kuli terkekar membuat Haura semakin kehilangan akal sehatnya. Tanpa memperdulikan wajahnya yang buruk rupa. Haura jadi bersemangat dalam mengocok batang penisnya hingga membuat pak Dino semakin kewalahan menerima rangsangannya.

“Uhhhh... Uhhhhh... Ustadzahhh... Mmpphhh cukuppp dulu” ucap Pak Dino karena nyaris kelepasan. Ia geleng-geleng kepala karena baru dikocok saja sudah membuatnya nyaris keluar oleh belaian jemarinya.

Tubuh Haura diajaknya berdiri lagi. Saat mereka saling berdiri tanpa sehelai benangpun. Haura kembali dicium, matanya memejam, tangan pak Dino dengan liar membelai pinggang rampingnya yang membuat Haura mengerang keenakan.

Tanpa jeda, jemari pak Dino segera merangkak ke arah bibir vaginanya. Jemarinya menggesek bibir vaginanya. Sedikit demi sedikit vagina Haura semakin basah merasakan rangsangan dari kuli tua itu. Mulut Haura jadi terbuka membuat lidah pak Dino bebas berkeliaran di dalamnya. Haura telah terangsang. Tubuhnya semakin bernafsu. Ustadzah tercantik yang sehari-harinya biasa mengenakan pakaian longgar itu telah dikuasai oleh birahinya sendiri. Keseluruhan tubuhnya telah terungkap menampakan payudaranya yang semakin mengencang. Vaginanya semakin becek akibat perlakuan jemari kuli itu dalam merangsang bibir vaginanya. Haura mendesah, ia terus mengeluarkan suara desahannya yang menggoda.

“Ahhhhhh... Ahhhhhhh... Uhhhh bapaakkk” desahnya sambil menggoyangkan pinggulnya karena tidak tahan.

Pak Dino mulai berjongkok untuk menatap vagina Haura yang berada tepat dihadapan wajahnya. Pak Dino dapat melihat liang kewanitaan Haura yang berwarna merah muda. Haura jadi malu sehingga menutupi kemaluannya sendiri.

“Bapak jangan gitu ahhh... Ngeliatnya jangan gitu pak, aku malu” Ucap Haura menyadari tatapan mata pak Dino yang rakus akan keindahan vaginanya.

“Hehe tenang ustadzah... Jarang-jarang saya bisa ngeliat memek seorang ustadzah... Biarkan saya menikmati keindahan memekmu dulu... Saya janji, saya bakal memberikan kepuasan yang luar biasa kepadamu” Ucap pak Dino sambil menyingkirkan tangan Haura dengan lembut.

“Aahhhhhhhhhh” desah Haura dengan manja.

Sambil tersenyum pak Dino mendekatkan wajahnya. Lidahnya ia julurkan tuk menjilati bibir vaginanya. Haura akhirnya mendesah tak kuasa menahan nikmatnya. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembab tengah merangsang titik sensitifnya. Lidah pak Dino bergerak masuk menyusup ke dalam rongga vagina Haura. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina Haura. Haura jadi mendesah, mengerang dan merintih dengan penuh kenikmatan. Kedua tangannya jadi memegangi kepala pak Dino yang semakin terbenam di vaginanya.

“Ahhhh... Ahhhh pakkk... Cukuppp uhhhh” desah Haura yang tak sanggup menahan kenikmatan itu.

“Mmpphhh sllrrpp.... Gimana ustadzah ? Enak kan ?” tanya pak Dino disela-sela jilatan di vaginanya.

“Heemmm... Mmmpphhhhhh” ucap Haura menyetujui.

Tiba-tiba pak Dino berpindah ke arah belakang ustadzah tercantik itu. Haura jadi terkejut kenapa pak Dino berpindah ke arah belakangnya. Seketika tubuh mulusnya di dorong sehingga membuatnya menungging bertumpu pada sandaran sofa yang berada di hadapannya. Seketika ia merasakan lubang duburnya di ludahi. Haura langsung menengok ke belakang melihat apa yang sedang terjadi. Rupanya pak Dino sedang menjilati lubang duburnya. Bahkan jemarinya ikut bergerak dengan mengorek-ngorek lubang dubur Haura. Haura jadi memejam yang membuatnya tak dapat melakukan apa-apa selain mendesah kencang.

“Aahhhh... Ahhhh... Aaahhhhhh” desah Haura dengan manja.

Kedua tangannya mencengkram kuat bongkahan pantat mulus itu. Pak Dino melebarkan lubang duburnya. Ia kembali meludahinya kemudian menjilatinya dengan rakus. Haura jadi merinding merasakan rangsangan di lubang duburnya. Baru pertama kali ini dirinya dirangsang seperti ini. Anehnya ia menikmatinya. Ia menikmati rangsangan dari sebuah lubang yang dilarang untuk dimasuki saat sedang bercinta.

Puas setelah membasahi liang dubur ustadzah tercantik itu. Pak Dino mulai berdiri kemudian bersiap-siap dengan mengarahkan batang penis raksasanya di depan lubang kotoran yang masih sempit itu. Tanpa tahu apa yang sedang terjadi di belakang. Haura masih memejam merasakan belaian tangan pak Dino yang sedang meremasi bokongnya. Sesekali punggungnya juga diusap. Hal itu membuat Haura semakin bernafsu saat akan disodomi oleh kuli tua itu.

“Saya masukin yah ustadzah” Ucap pak Dino sambil melebarkan kaki Haura.

“Iyyahh pakkk... Mmppphh” desah Haura yang mengira pak Dino akan menusuk lubang vaginanya.

Namun, ia merasakan adanya dorongan di dekat lubang duburnya. Haura kembali terkejut dan menengok ke belakang. Saat ia menengok, ia merasakan dorongan pinggul dari kuli tua itu semakin kuat. Mata Haura membuka lebar. Ia tak mengira pak Dino akan menyodomi lubang kotorannya lagi.

“Paakkkkk jangannn lewat situ pakk... Uhhhhhh” desah Haura memejam.

“Kenapa ustadzah ? Bukannya kemarin sudah saya masuki ?” tanya pak Dino sambil terus menekan pinggulnya membelah liang dubur ustadzah tercantik itu.

“Tapii pakkk... Itu dosa... Bercinta lewat dubur gak boleh pakkk... Aahhhh sakittt” ucap Haura sambil menepuk-nepuk tangan pak Dino di pinggangnya.

“Hehehe bukannya bercinta lewat memek juga dosa ? Kita kan bukan pasangan sah ? Toh udah sama-sama dosa kenapa gak kita lanjut aja ? Bukannya ustadzah udah menyerahkan diri tuk dipuasi kuli bangunan seperti saya ?” ucap Haura terdiam.

“Tapiii pakkk... Uhhhh ini gak muattt... Sakitt pakkkk” ucap Haura merintih merasakan tusukan kuli tua itu.

“Yang sabar ustadzah... Nanti bakal enak kok... Hennkghhh !” desah pak Dino semakin membenamkan penisnya di dalam dubur ustadzah tercantik itu.

“Aaaahhhhhh dalemmm banggettttt ouhhhh” desah Haura sampai memanyunkan bibirnya karena tak kuasa bertahan.

Pak Dino tersenyum puas karena bisa memasukan penisnya ke dalam lubang dubur seorang ustadzah lagi. Apalagi suara jeritannya yang manja. Ditambah dengan keindahan yang terpampang dihadapannya. Sungguh kenikmatan yang tidak ada duanya. Saat ia menurunkan pandangannya. Ia melihat kalau ¾ dari penisnya sudah menancap di dalam duburnya. Pak Dino pun paham kalau Haura tengah kesulitan sekarang. Demi membantunya dalam beradaptasi dengan kegagahan penisnya di dalam. Pak Dino mengangkat tubuh Haura kemudian meremasi payudaranya dari belakang.

“Aaahhhh pakkk... Aahhhhhh” desah Haura merasakan usapan di payudaranya.

“Hehehe gak terlalu sakit lagi kan sekarang ? Maaf ustadzah mungkin perlu waktu... Tapi nanti gesekan kontol saya di anusmu pasti akan terasa nikmat” Ucap pak Dino sambil mengecupi punggung mulusnya.

“Ouhhh tapii pakk... Aahhhh perutku mualll pakkk... Perutku rasanya gak enakk... Uhhh” Keluhnya sambil menikmati usapan jemari pak Dino di dadanya.

“Maka dari itu ustadzah... Perlu waktu... Sekarang sabar dulu yah... Biarkan lubang dubur ustadzah beradaptasi dengan penis saya” ucap pak Dino sambil merangsang Haura.

“Aahhhh iyyahhh pakkk... Mmpphhhh” desahnya keenakan.

Setelah merasa kalau lubang dubur Haura agak membuka. Pak Dino mulai menggerakan pinggulnya tuk menyetubuhi tubuh mulus itu.

“Aaahhhh pakkk... Tungguu... Aahhhhhh” desah Haura merasakan gesekan di duburnya.

“Hehehe nikmatnyaaa... Sabar ustadzah... Mungkin kemarin gak terlalu sakit karena ustadzah sedang terangsang-terangsangnya... Tapi untuk sekarang karena kita baru mulai... Ada efek samping dari kenikmatan yang akan saya berikan” Ucap pak Dino sambil menyetubuhi anus ustadzah tercantik itu.

Penisnya terasa seret karena kurangnya pelumas yang ada di dalam. Namun bukan berarti pak Dino kehilangan rasa nikmat yang ia cari. Justru sebaliknya kenikmatan itu semakin terasa hingga membuat pinggul kuli tua itu tidak mau berhenti dalam menyetubuhi anus ustadzah tercantik itu.

“Uhhhh... Uhhhh... Uhhhh pakkkk”

Berulang kali pak Dino mengusap punggungnya, kemudian naik meremas payudaranya. Bibirnya lekas mencumbui bahu sang ustadzah sembari tangannya terus meremasi bulatan yang menggoda disana.

Nafasnya terengah-engah saat penisnya berulang kali memasuki lubang anusnya. Gesekan nikmat yang menjepit penisnya membuat birahinya semakin menjadi. Berulang kali tangannya meremasi payudara itu. Lalu memelintir putingnya kemudian turun meraba perut ratanya. Bahkan jemari di tangan kirinya ikut merangsang bibir vaginanya yang diluar dugaan membuat Haura semakin keenakan.

“Aahhhh... Aahhhh gimana sekarang ustadzah ? Enak ?” tanya pak Dino sambil terus menyetubuhinya.

“Aahhhh... Aahhhhh... Aahhh yahhh pakkk... Uhhhhhh” desah Haura memejam pasrah membiarkan pak tua itu bertindak sesukanya pada tubuhnya.

Pak Dino tersenyum. Tahu kalau Haura mulai menikmati sodokannya membuatnya mempercepat gerakan pinggulnya. Namun saat ia hendak menarik penisnya, ia terkejut karena penisnya seperti menancap disana. Jepitan duburnya sangat mantap membuat pak Dino geleng-geleng kepala sehingga membuatnya mengeluarkan sedikit tenaga yang membuat penisnya kembali bisa digerakan di dalam duburnya.

“Aahhhhh... Aahhhh... Aahhh bapakkk... Ouhhhh” desah Haura dengan lemas.

Tubuhnya yang tak bisa ia gerakan ditambah dengan dorongan penuh nafsu yang dilakukan oleh pinggul kuli tua itu membuat Haura tersenyum bahagia secara diam-diam. Fantasinya kembali terwujud. Fantasi saat dirinya tak berdaya saat disetubuhi oleh pria kekar kembal ia raih.

Apalagi pak Dino terus menggerakan pinggulnya maju mundur. Tubuh Haura ikut terdorong maju mundur. Pak Dino melepas pegangannya hingga membuat Haura kembali menungging bertumpu pada sandaran sofa empuk itu. Pak Dino menancapkan penisnya sedalam-dalamnya. Ia menggerakan pinggulnya ke belakang kemudian mendorongnya dengan kuat ke depan. Ia tarik lagi lalu mendorongnya lagi. Ia kembali menarik penisnya secara perlahan lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. Pak Dino melakukannya sambil meremas-remas bongkahan pantatnya.

Jepitan mantap yang dilakukan oleh dubur Haura membuat pak Dino tak kuasa menahannya lagi. Birahinya sudah memuncak. Ia pun mempercepat gerakan pinggulnya. Payudara Haura sampai bergoyang dibawah sana. Haura sampai menjerit mengeluarkan desahan yang semakin merangsang birahi kuli tua itu.

“Aahhhh... Aahhh... Aahhhhh” desah mereka berdua bersamaan.

“Ouhhhh saya gak kuat lagi ustadzah... Saya gak kuat lagii... Saya mauu keluarrr ustadzahh” ucap pak Dino saat merasakan penisnya sudah berdenyut.

“Aaahhhh tungguu pakk... Tungguu duluuu... Aku belummm... Aahhhhh” desah Haura menjerit manja.

Namun jepitan di lubang kotoran Haura terlampau nikmat. Pak Dino tak mampu menahan birahinya lagi. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Matanya memejam saat merasakan gelombang orgasmenya hampir mendekati puncak. Ia pun menancapkan penisnya hingga mentok ke dalam dubur ustadzah tercantik itu.

“Aaahhhhh ustadzahh... Saya kelluuaaarrrrr !!!” Desah pak Dino dengan puas.

“Paakkkkk aaaahhhhhh” desah Haura dengan manja.

Pak Dino merem melek keenakan. Tubuhnya sampai bergejolak berulang kali saat spermanya keluar mengotori lubang dubur ustadzah tercantik itu. Setelah puas, pak Dino melepaskan pegangannya pada pinggang ramping bidadari tercantik itu. Haura pun jatuh berlutut di depan sofa. Kedua lututnya berada di lantai sedangkan perut dan dadanya berada di atas sofa empuk itu. Haura masih ngos-ngosan setelah digempur habis-habisan. Tubuhnya berkeringat. Matanya memejam karena kelelahan.

Terlibat lubang duburnya membuka lebar yang merupakan tanda kalau ada penis sebesar itu yang baru memasuki anusnya. Nampak lelehan spermanya keluar dengan deras ke arah bawah melewati bibir vagina sang ustadzah.

Tiba-tiba Haura menungging. Lututnya tidak lagi menyentuh lantai namun perut dan dadanya masih menempel pada sofa empuknya. Jemari kanan Haura merengsek ke arah vaginanya. Jemari itu mulai menggeseknya. Jemari itu memainkan vaginanya karena belum mendapatkan orgasme dari kuli tua itu.

"Aaahhhhh... Belummm.... Masihhh belummm... Mmpphh... Lagii pakkk... Laagiii" Ucap Haura mengejutkan pak Dino.

Pak Dino terdiam dengan mulut menganga lebar. Sepertinya ia baru paham mengenai apa yang dikatakan pak Karjo mengenai nafsu besar ustadzah Haura. Ia juga baru paham kenapa Haura sampai ingin menjadi pemuas nafsu kuli bangunan. Orang suaminya saja tidak bisa menegakkan penisnya. Apalagi sampai memuaskan nafsu besarnya.

"Paakkkk aahhh... Lagiii pakkk... Akuu belumm puaaas... Uhhhh pakkk" Desah Haura yang masih terangsang hebat. Berulang kali ia menggesek vaginanya. Ia terus merabanya berharap agar pak Dino mau memasukan penisnya ke dalam vaginanya.

Pak Dino jadi bingung melihat keadaan Haura sekarang. Haruskah ia merasa kasihan melihat keadaan Haura yang sudah kecanduan penis kekarnya seperti ini. Atau, haruskah ia senang karena ia jadi bisa merasakan jepitan vaginanya lagi saat ini ?

"Pakkk tollongg akuu... Tollongg masukinn lagii pakkk... Aku belumm puasss... Akuuu butttuhh kontt... Aaahhhhh" Desah Haura terdorong maju saat penis kekar pak Dino kembali menghujaminya.

Pak Dino menegakan tubuh Haura kemudian mereka berjalan ke arah kamar Haura dalam keadaan penis yang masih menancap. Bahkan sesekali pak Dino mendorong pinggulnya hingga Haura hanya bisa mendesah pelan merasakan sodokannya.

"Aahhhh... Aaahhhhh"

Sesampainya di kamar. Pak Dino langsung mendorong tubuh Haura hingga terbaring pasrah diatas ranjang tidurnya. Tubuhnya sudah telanjang. Penampakannya sungguh menantang. Kedua kakinya agak mengangkang. Pak Dino langsung menindihinya kemudian menancapkan penisnya hingga menuju titik liang terdalam.

"Uuuhhhhhh" Desah Haura memejam keenakan.

Kedua tangan Haura dibentangkan ke samping. Jemari mereka saling terkait. Bibir mereka saling melekat.

"Sebesar apa nafsumu ustadzah sehingga tadi saja masih belum cukup ?" Ucap Pak Dino sebelum mencumbu bibirnya.

"Mmpphh... Kurangg pakkk... Tolonggg lebih kerasss lagiii... Aku butuhh kontol yang bisa membuatku gak berdaya" Ucap Haura sambil dicumbu.

"Gak berdaya ? Maksudmu seperti ini ?" Ucap Pak Dino sambil menaik turunkan pinggulnya. Penisnya jadi melaju cepat keluar masuk di vaginanya. Penis hitam itu memborbardir lubang kemaluan Haura. Warna kulit mereka yang kontras nampak bagaikan yin dan yang. Haura pun mendesah merasakan nafsu besar kuli tua itu.

"Mmmpphhh... Mmmpphhh... Iyyahhh seperti ini pakkk... Teruss... Terusss... Ouuhhh" Desah Haura memejam keenakan.

Haura terus disetubuhinya oleh kuli tua itu. Detik demi detik telah berlalu. Menit demi menit telah terlewati bahkan hampir satu jam sejak pertemuan mereka di pagi hari ini. Haura masih saja disetubuhi. Tubuh indah itu melonjak-lonjak menerima gempuran dari kuli tua berwajah jelek dan berkulit hitam legam.

"Aaahhh... Aaahhhhh... Aaaahhhh"

Pak Dino sudah menegakan tubuhnya. Dirinya takjub akan keindahan payudara Haura yang tengah bergoyang kencang saat menerima genjotannya. Haura terbaring tak berdaya di hadapannya. Matanya tengah memejam. Kedua tangannya mencengkram kuat sprei ranjang tidurnya. Hal ini lah yang ia cari selama ini. Ketidakberdayaannya ketika disetubuhi oleh pria kekar berkulit hitam. Seketika mereka berdua sudah mencapai puncaknya. Nafas mereka terengah-engah. Tubuh mereka sama-sama lemas. Mereka berdua sudah berada di ambang batas.

"Aahhh... Aahhh... Sebentar lagi ustadzah... Saya gak kuat lagi... Saya ingin keluar lagiii" Ucap pak Dino kewalahan.

"Aaaahhh... Aku juga pakkk... Akuu jugaaa.... Tolong lebih kerasss lagi pakk... Dorong terusss uhhhhhh" Desah Haura yang semakin bernafsu menerima sodokan kuli tua itu.

Haura, ustadzah tercantik sepondok pesantren ini tengah dipuasi oleh kuli tua berbadan kekar yang tengah bernafsu menggenjoti tubuhnya. Entah sampai kapan Haura akan hidup seperti ini. Mungkin, selamanya ia akan jadi pemuas nafsu seorang kuli bangunan. Atau mungkin, akan ada penyelamat yang menyelamatkannya dari jeratan nafsu birahi tinggi. Mungkin, mungkin saja. Hanya Haura yang mengetahuinya.

"Uhhhh... Uhhh... Uhhhh... Ustadzaahhh... Keluaaarrrr" Ucap pak Dino menancapkan penisnya sedalam-dalamnya.

"Aaahhhhh bapaaaakkkkk" Jerit Haura penuh kepuasan.

Crroott... Crroottt... Ccrroottt !!!

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy