Search

CHAPTER 41 - GODAAN TAK DISENGAJA

CHAPTER 41 - GODAAN TAK DISENGAJA

Haura masih terkapar tak berdaya diatas ranjang tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Ia begitu lelah setelah digempur habis-habisan oleh kuli kekar yang sudah mengeluarkan spermanya dua kali didalam tubuhnya. Kedua lubang kenikmatannya sudah penuh oleh sperma kuli tua itu. Entah sudah berapa kali rahimnya dipenuhi oleh sperma orang-orang tua yang tidak bertanggung jawab sepertinya. Ia masih beruntung karena belum ada satupun sperma yang berhasil membuahi sel rahimnya.

"Hah... Hah... Hah" Desah Haura ngos-ngosan.

"Ustadzah tidak apa-apa kalau saya tinggal ? Saya mau lanjut kerja lagi soalnya, takut dicari pak Karjo dan yang lainnya" Ucap Pak Dino yang masih telanjang bulat diatas ranjang tidur Haura.

"Iyya pak silahkan... Terima kasih yah sudah mampir kesini tuk menemuiku... Terima kasih sudah memuasiku pak" Ucap Haura dengan nada mendesah yang membuat pak Dino geleng-geleng kepala melihat keseksiannya.

Ya, Haura masih telanjang menyisakan hijabnya saja. Dua buah dadanya yang bulat sempurna masih naik turun terkena deru nafasnya yang berat. Tubuh mulusnya menggoda. Andai pak Dino masih mempunyai tenaga, sudah pasti ia akan menggarapnya lagi dan lagi sampai suami bidadari tercantik itu pulang ke rumahnya.

Ketika pak Dino hendak turun dari ranjang tidur bidadari itu, Tiba-tiba Haura memanggilnya yang membuat kuli tua itu menoleh.

"Tunggu pak" Ucap Haura berusaha bangkit tuk mendekat ke arah kuli tua itu.

"Ada apa ustadzah ? Ehhh..." Ucap pak Dino terkejut.

Pak Dino yang sedang berlutut diatas ranjang tidur itu tiba-tiba dikejutkan oleh pergerakan Haura yang mendekat ke arah selangkangannya. Sambil menungging, Haura meraih penis kuli tua itu. Lidahnya keluar tuk membersihkan noda spermanya yang masih menetes dari lubang kencing kuli tua itu. Mulutnya kemudian mencaplok ujung gundulnya. Haura dengan rakus mengulum penis itu hingga membuat pemiliknya blingsatan tak karuan merasakan sensasinya.

"Uhhhh ustadzah" Desah pak Dino merinding.

"Uhhmm... Sudah pak... Sudah bersih... Hah... Hah" Ucap Haura sambil terengah-engah. Nampak sperma kuli kekar itu menetes dari sela-sela bibir manisnya. Haura tersenyum. Kemudian ia kembali jatuh dalam keadaan terlentang dalam posisi kaki yang agak membuka.

Pak Dino menganga lebar melihat vagina Haura yang terbuka itu. Ia menenggak ludah. Ia pun berterima kasih sekali lagi pada bidadari tercantik itu sebelum dirinya mengambil satu demi satu pakaiannya yang tertinggal di ruang tamu.

Jebreet !!!

Terdengar suara pintu tertutup dari arah depan rumahnya. Pak Dino sudah pergi meninggalkannya. Haura kemudian melepas hijabnya lalu menaruhnya di sisi samping posisi tidurnya.

"Hah... Hah... Capek banget... Hah" Ucap Haura sambil menaruh lengan mungilnya diatas dahi kepalanya.

Haura kecapekan. Matanya masih memejam nikmat. Rambutnya yang sebahu itu berantakan oleh keringat.

"Duhhh mana ada janji sama ustadzah Nada lagi... Istirahat dulu sebentar ah... Baru abis itu berangkat tuk menemuinya" Ucap Haura tertidur karena saking lelahnya.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di salah satu gedung kelas.

"Assalamu'alaikum, ustadz... Ustadzah Hauranya ada ?" Tanya seorang ustadzah berbadan sempurna setelah memasuki ruangan kelas.

"Walaikumsalam... Eh ustadzah Nada yah ? Anu, ustadzah Hauranya gak masuk loh us... Mungkin lagi sakit atau gimana... Gak izin soalnya" Ucap seorang ustadz yang kebagian jadwal mengawas dengan Haura.

"Ehh beneran ? Yahhhh" Ucap Nada agak kecewa.

"Emangnya ada apa ustadzah ? Nanti biar ana sampaikan kalau urgent banget ?" Ucap ustadz itu berniat membantu.

"Hihihi gak perlu ustadz... Syukron yah udah mau bantu... Tapi gak penting-penting amat sih... Yaudah, ana permisi yah... Wassalamualaikum" Ucap Nada dengan sopan.

"Naam ustadzah... Walaikumsalam" Ucap ustadz itu terpana. Selain karena mempunyai wajah yang cantik serta body yang sexy. Nada juga mempunyai tata krama yang baik terbukti dari keramahannya saat bertemu dengan ustadz tadi. Ustadz itu jadi terpesona oleh pesona ustadzah terseksi itu. Mendadak ia iri pada ustadz Rendy karena sudah mempersunting wanita yang sempurna seperti ustadzah Nada.

"Ehhh tapi ustadzah Haura juga sexy sih ? Entah kenapa akhir-akhir ini body-nya jadi lebih berisi... Wahhh ujian banget yah jadi ustadz disini ? Ustadzahnya cantik-cantik semua... Mana ana masih jomblo lagi" Kata ustadz itu.

Sementara itu,

"Duhhh ustadzah Haura kemana yah ? Katanya semalam minta anggaran buat bayar pekerja bangunan ?" Lirih Nada sambil berjalan menuju kantor bagiannya.

"Eh tapi kan, kalau gak salah awal bulan ini gajinya udah dibayar ? Terus sekarang, ustadzah Haura minta anggaran buat bayar apa dong ? Apa jangan-jangan buat bayar kebutuhan pekerja bangunan kali yah ?" Ucap Nada mencoba husnudzon.

Awalnya ia ingin mengajak Haura untuk berjalan bersama menuju kantor bagiannya. Mumpung sekarang lagi waktunya istirahat. Tapi berhubung Hauranya tidak ada, Nada terpaksa berjalan sendiri menuju kantor bagiannya yang berada di kantor administrasi.

Terhitung semenjak dirinya ditugaskan untuk menjadi pengawas ujian. Nada jadi jarang mengunjungi kantor bagiannya lagi. Tiap pagi, ia berada di kelas mengawasi santrinya ujian. Tiap siang ia langsung pulang ke rumah untuk mengoreksi lembaran ujian. Tiap sore sampai malam, terkadang ia mengoreksi lembaran ujian lagi dan terkadang juga ia mencoba menyadarkan suaminya agar bisa kembali berada di jalan yang benar.

Tidak mudah, semuanya berat. Tapi Nada berusaha bersabar agar dirinya bisa menikmati masa-masa di awal pernikahannya lagi.

"Semoga aja bisa... Ya harus bisa" Ucap Nada optimis.

Sesampainya ia di kantor bagiannya. Rupanya keadaan di kantornya sedang sepi. Tidak ada satupun ustadz atau ustadzah yang menjaga sama sekali. Mungkin karena sedang jam istirahat sehingga ustadz yang berjaga juga ingin beristirahat.

Nada dengan tenang berjalan menuju meja operator kemudian menarik uang sesuai dengan yang tertulis di nota.

"Okedeh... Semuanya beres... Sekarang tinggal nunggu ustadzah Haura datang" Ucap Nada yang memilih tinggal sesaat karena khawatir akan ada santri yang datang untuk mengambil paketnya atau sekedar membayar iuran SPP yang sudah telat.

Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara mobil berhenti. Haura yang mendengarnya langsung gugup. Apalagi ketika teringat kalau hari ini adalah hari Rabu. Hari dimana pak Heri datang untuk mengantarkan paket menuju kantor bagiannya.

"Duh... Gimana nih ? Mana gak ada ustadz lain lagi ?" Ucap Nada gelisah.

Semenjak kejadian di rumah pak Heri. Nada sama sekali belum pernah bertemu dengannya lagi. Sejujurnya ia selalu ingin menghindarinya. Karena itulah ia jarang datang ke kantor bagiannya. Tapi di hari ini, ketika ia mendatangi kantor bagiannya lagi. Ia malah dihadapkan dengan takdir untuk bertemu dengan pejantan yang sudah menggempur vaginanya berulang kali.

Berulang kali Nada melongok ke arah pintu masuk untuk mencari tahu siapa sopir yang akan mengantarkan paketnya kemari. Apakah pak Heri ? Atau malah sopir yang lain ? Berulang kali Nada berdoa semoga sopir yang datang kemari bukanlah pak Heri.

"Astaghfirullah" Ucap Nada saat melihat penampakan tubuh tambunnya.

Seketika Nada langsung mengenalinya kalau pria tua pengantar paket yang datang kemari adalah pak Heri. Nada buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia juga buru-buru mengambil secarik kertas dan sebatang pena kemudian berpura-pura sibuk menulis sesuatu disana.

Pak Heri yang sedang membawa selembar kertas berisi nota pengiriman barang langsung terdiam saat tahu kalau ustadzah yang sedang menjaga sekarang adalah ustadzah idamannya.

Pak Heri masih berdiri di tempat saat melihat pemandangan indah disana. Wajah cantik itu, pakaian yang melekat di tubuhnya, juga kenangan yang sudah mereka buat bersama. Ia masih ingat betul kenangan ketika dirinya menyantap semangkuk bakso bersamanya. Ia juga masih ingat betul disaat dirinya memijit tubuh telanjangnya yang berujung penusukan tongkat pusakanya di rahim kehangatannya yang nikmat.

Itu dulu, dulu disaat dirinya masih dekat dengan ustadzah terseksi itu. Tapi sekarang, dirinya jadi merasa canggung setelah melakukan kebodohannya di waktu itu. Ia merasa bodoh karena telah terlena oleh kedekatannya dengan ustadzah terseksi itu. Ia malah mendahulukan egonya padahal dirinya sedang dekat-dekatnya dengan ustadzah terseksi itu. Ia sangat menyesal karena telah melakukan pemaksaan dengannya. Kini nasi sudah menjadi bubur. Ia merasa canggung untuk bertemu dengan ustadzah yang ia idolakan lagi.

Nada heran kenapa pria tambun itu urung mendekat ke arahnya. Karena penasaran, wajahnya ia naikan dan kebetulan pak Heri juga sedang menatapnya dari kejauhan. Mata mereka bertemu. Wajah mereka kembali saling menatap. Pak Heri sangat bahagia bisa melihat wajah cantiknya lagi setelah sekian lama. Tapi Nada langsung membuang pandangannya. Ia seolah acuh. Ia kembali berpura-pura sibuk dengan menuliskan sesuatu di lembaran kertas kosong itu lagi.

Disaat Nada sedang menulis, Tiba-tiba lembaran kertas yang ada dihadapannya jadi gelap. Cahaya yang ada dihadapannya terhalang oleh tubuh tambun pria tua itu. Nada menaikan pandangannya. Mereka terdiam. Mereka jadi seperti orang asing yang baru saja bertemu. Mungkin, malah lebih buruk daripada itu.

"Anu maaf ustadzah... Ini notanya" Ucap Pak Heri tidak bisa berbasa-basi karena terlampau canggung.

"Iya" Jawab Nada singkat.

Nada berjalan menuju pintu keluar disusul oleh pak Heri di belakang. Selagi Nada berdiri di dekat pintu masuk kantornya. Pak Heri bolak-balik mengambil paket dari mobil ke kantor bagian administrasi.

Setelah semua paket sudah dimasukan ke dalam kantor administrasi. Nada segera menandatangani nota tersebut kemudian menyerahkannya kembali ke pak Heri.

"Ini" Ucap Nada tanpa menatap wajah pria tua itu.

Setelah pak Heri menerima nota itu kembali dari tangan lembut Nada. Dirinya langsung ditinggalkan oleh ustadzah terseksi itu yang sedang berjalan kembali ke meja operatornya.

Pak Heri hanya diam sambil menatap nota bekas tangan lembut ustadzah terseksi itu. Sekilas di benaknya, ada gambaran semua kenangan yang sudah ia buat bersama ustadzah Nada. Mulai dari pertemuan pertamanya hingga persetubuhan pertamanya. Pak Heri teringat wajah senyum Nada ketika sedang bercanda dengannya. Ia juga teringat wajah sangek Nada ketika sedang digenjot olehnya. Semua kenangan indah itu telah buyar gara-gara kesalahan kecil darinya. Kepercayaan yang sudah didapatnya susah-susah dari Nada terbuang percuma oleh keegoisannya yang buru-buru ingin memiliki Nada seutuhnya.

"Ustadzah" Ucap pak Heri sambil memegangi lengan Nada dari belakang.

Nada menoleh ke belakang saat lengan kirinya tertinggal akibat pegangan pria tambun itu. Pandangannya terfokuskan pada tangan pak Heri di lengannya. Kemudian berpindah ke arah wajahnya yang tidak ada tampan-tampannya sama sekali.

"Lepaskan" Ucap Nada dengan lirih.

"Ustadzah... Saya minta maaf... Maafkan saya ustadzah karena sudah melakukan hal itu di rumah saya" Ucap pak Heri memohon.

"Ya sudah aku maafkan... Sekarang lepaskan !" Ucap Nada dengan dingin.

"Tapi ustadzah... Saya masih menyesal... Saya masih gak enak dengan perasaan saya... Tolong maafkan saya ustadzah... Saya masih ingin dekat dengan ustadzah... Kita masih bisa ngobrol kayak dulu kan ?" Ucap pak Heri dengan wajah memelas.

"Gak tau" Ucap Nada dingin.

"Ustadzah... Kenapa ustadzah jadi kayak gini sih... Saya sudah menyesal... Saya sudah minta maaf... Tapi kenapa ustadzah masih dingin ke saya... Bahkan lebih dingin dari sebelum kita saling mengenal dulu" Ucap pak Heri memelas ke ustadzah terseksi itu.

"Kenapa ? Harusnya bapak tahu sendiri !!! Semua yang terjadi di kehidupan keluargaku gara-gara bapak !!! Suamiku jadi aneh gara-gara bapak !!! Kehidupan bahagiaku sebagai istri sirna gara-gara bapak !!! Aku masih sempet percaya ke bapak karena bapak katanya mau bertanggung jawab ke aku... Tapi nyatanya ? Bapak justru mencari-cari kesempatan tuk merebut aku dari suamiku... Apa jangan-jangan semua ini termasuk rencana bapak tuk memisahkan aku dari suamiku ? Sebejat-bejatnya suamiku, aku masih mencintainya karena dia adalah SUAMIKU !!! Suamiku sedang sakit pak... Aku harus menyadarkannya... Aku gak mau virus seperti bapak datang lagi tuk mengganggu keluarga aku... Lebih baik bapak pergi sekarang ! Lepaskan tanganku ! Atau aku akan teriak dan memanggil orang-orang karena bapak sudah megang tanganku tanpa izin !" Ucap Nada meluap-luap.

Ia benar-benar marah pada pria tua itu. Pria tua yang bahkan tak menyunat penisnya sama sekali. Wajah Nada terlihat marah. Pak Heri perlahan melepaskan tangannya. Terlihat air mata menetes jatuh membasahi wajah ayunya. Pak Heri sangat ingin menyeka air mata itu. Tapi semua percuma, karena air mata itu jatuh justru karena perbuatannya sendiri.

Tanpa sepatah kata, Nada bergegas pergi menjauhi pak Heri. Ia tidak lagi menuju meja operatornya. Ia malah pergi menuju kamar mandi yang ada di dalam kantornya. Disana ia menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar kecewa pada pak Heri karena sudah mengacaukan keluarga kecilnya. Tangisannya cukup keras, bahkan pak Heri saja samar-samar masih bisa mendengar suara tangisannya.

"Ustadzah" Ucap pak Heri saat mendengar suara tangisannya.

Pak Heri pun terduduk di kursi kosong yang tersedia di luar kantor administrasi. Pak Heri merenungi kata-kata yang terucap dari mulut Nada tadi. Pelan-pelan ia mulai memahami perasaan Nada sekarang. Nada pasti kecewa betul akibat rasa "cintanya" itu, Nada malah jadi menderita seperti ini.

"Maafkan saya ustadzah... Apa yang harus saya perbuat tuk mengembalikan kepercayaanmu lagi ?" Ucap pak Heri sambil mengusap kepalanya yang berambut jarang.

"Bertanggung jawab ?" Lirih pak Heri saat teringat ucapan Nada tadi.

"Ya tanggung jawab... Saya harus mempertanggung jawabkan perbuatanku dulu... Tapi caranya ?" Ucap pak Heri kebingungan.

Seketika dirinya melihat ke arah gedung yang sedang dibuat oleh pekerja disana. Ia memandangi kuli-kuli kekar yang bertelanjang dada disana. Ia jadi teringat kalau Nada diminta oleh suaminya untuk melayani salah satu kuli disana.

Pak Heri menatap benci ke arah gedung itu. Matanya mengunci salah satu kuli yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia pun diam sambil terus memandangi kuli itu. Tiba-tiba tangan kanannya mengepal kuat dan menghantam kursi kosong di sebelahnya.

"Persetan dengan memilikimu ustadzah... Yang jelas saya harus mengembalikan kepercayaanmu dulu... Setelah itu biar ustadzah yang menilai saya gimana" Ucap pak Heri sambil bangkit kemudian memasuki mobilnya lagi.


*-*-*-*


Siangnya setelah ujian tulis berakhir. Tepatnya sekitar pukul satu lebih satu menit. Keadaan langit tidak terlalu terang. Sebaliknya, langit sedang tertutupi oleh awan mendung dan sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Tapi itu hanya perkiraan saja, karena nyatanya hujan tidak kunjung turun. Beberapa saat kemudian awan mendung itu malah pergi digantikan dengan awan cerah yang masih menutupi terangnya sinar mentari.

Banyak santri, ustadz ataupun ustadzah yang bersyukur karena hujan tidak jadi turun. Jemuran yang mereka cuci di pagi tadi jadi aman-aman saja. Mereka pun kembali menikmati waktu santainya untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan belajarnya lagi tuk mengarungi ujian yang tersisa satu minggu lagi.

Namun, di sebuah gedung kelas di dekat gedung bagian pengajaran. Terdapat seorang pria tua berkumis tebal yang sedang terkekeh-kekeh sambil mengusapi kedua telapak tangannya. Wajahnya ia naikan tuk melihat keadaan langit cerah di atas sana. Kedua telapak tangannya ia tengadahkan. Tidak ada satupun tetes hujan yang mengenai telapak tangannya. Ia tersenyum senang. Apalagi cuaca sedang dingin-dinginnya akibat angin kencang yang tadi berhembus ketika awan mendung menguasai langit pesantren.

Kini hanya tersisa hawa dinginnya saja. Perlahan matahari mulai menyinari pondok pesantren lagi. Harapan tuk melakukan aksi mesumnya kembali muncul di otak keruhnya.

"Huehuehue... Bahkan langit pun ingin melihat aksimu ustadzah" Ucap pak Udin yang merupakan tukang sapu kelas yang beruntung setelah memergoki seorang ustadzah yang tengah telanjang di dalam ruangan kelas.

Ia tengah menanti ustadzah peliharaannya yang akan muncul dari dalam kelas sebentar lagi. Tadi, saat langit sedang mendung-mendungnya. Ia telah bertemu dengan Rachel dan memberikannya sebuah kemeja kecil berukuran S yang pastinya tidak akan muat untuk dikenakan oleh ustadzah bertubuh montok itu.

Ustadzah yang sebentar lagi akan menikah itu memang sedang sial-sialnya. Fantasinya yang suka bertelanjang di ruangan terbuka justru menjadikannya petaka sehingga harus selalu menuruti perkataan tukang sapu itu. Walau sebenarnya hal ini baik baginya sehingga dirinya jadi bisa mewujudkan fantasi liarnya. Tapi ia harus mempertaruhkan harga dirinya dengan menyerahkan lubang boolnya kepada tukang sapu itu.

Sementara itu di salah satu ruangan kelas,

"Ihhhh pak Udin gimana sih ? Masa minta aku pake kemeja kekecilan gini ?" Ucap Rachel di dalam kelas. Ia sebenarnya sudah berpakaian, tapi ia malas untuk keluar karena tidak ingin lekukan tubuhnya dilihat oleh tukang sapu yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Ia pun melihat ke arah tumpukan lembaran jawaban yang sudah ia koreksi sambil mengingat kejadian beberapa menit yang lalu sebelum dirinya diminta tuk mengenakan kemeja kekecilan itu.

BEBERAPA SAAT SEBELUMNYA

Langit agak gelap. Angin-angin berhembus kencang seolah ingin menerbangkan orang-orang yang ada di bawah. Rachel sedang berjalan menyusuri jalanan setapak di pesantren demi menuruti keinginan tukang sapu itu. Sambil berjalan, berulang kali ia melihat pesan yang didapatnya dari aplikasi WA-nya.

"Ihhhh apa-apaan sih pak Udin ini... Dah tau mau ujan tapi malah nyuruh ketemuan... Pasti tukang sapu itu mau nakalin aku lagi nih" Ucap Rachel suudzon pada perintah tukang sapu itu.

"Padahal aku lagi sibuk-sibuknya ngoreksi lembaran soal... Untungnya aku udah nyelesaiin satu mata pelajaran" Ucapnya lagi.

Anehnya beberapa saat kemudian langit tiba-tiba terang. Rachel langsung menaikan wajahnya tuk melihat keadaan langit sekarang. Ia heran kenapa langit tiba-tiba terang ? Padahal ia ingin hujan turun sederas-derasnya agar dirinya mempunyai alasan untuk tidak bertemu dengan pria tua berkumis tebal itu.

"Haduhhhh kenapa disaat seperti ini langit malah gak mendukungku sih ?" Ucapnya kesal. Ia pun terpaksa melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang diminta oleh tukang sapu itu. Untungnya tempat yang diminta oleh pak Udin berada di dekat kantor bagian pengajaran. Ia jadi membawa koreksi lembaran jawaban agar dirinya bisa sekalian mengumpulkannya ke sana.

Setibanya ia di salah satu gedung kelas yang berada di dekat bagian pengajaran. Wajah Rachel langsung telingak-telinguk mencari tukang sapu itu. Ia lagi-lagi kesal kepadanya. Padahal tukang sapu itu yang ingin bertemu dengannya tapi setibanya ia disana, malah dirinya yang seolah mencari tukang sapu itu.

Dalam hati ia ingin pergi saja dan meninggalkan tempat yang sedang ia pijak sekarang. Kalau lah bukan karena rekaman aib yang ada di hape pak Udin, sudah pasti Rachel tidak akan takut untuk mengingkari keinginan tukang sapu itu lagi.

"Huehuehue... Selamat siang ustadzah" Kata pak Udin yang tiba-tiba muncul dari arah belakang sambil melingkarkan lengannya ke pinggang ustadzah montok itu.

"Astaghfirullah, pak" Ucap Rachel terkejut merasakan sentuhan tukang sapu itu.

"Huehuehue... Makin imut aja nih pas kaget... Saya jadi makin nafsu buat genjot anusmu lagi" Ucap pak Udin sambil menatap mesum wajah indah Rachel dengan jarak yang sangat dekat.

"Paakkkkk" Ucap Rachel sambil mendorong tubuh tukang sapu itu.

"Huehuehue" Pak Udin hanya tertawa sambil mengamati penampakan tubuh indah Rachel dari atas ke bawah.

Sedangkan Rachel hanya berdiri diam sambil menatap risih wajah pak Udin yang seolah sedang menelanjanginya menggunakan kedua mata kotornya.

Rachel di siang itu sedang mengenakan gamis lebar berwarna abu-abu dengan hijab panjang dengan warna yang selaras. Hijabnya cukup panjang hingga menutupi dadanya yang besar. Sedangkan gamisnya juga cukup longgar sehingga tubuhnya yang montok itu tidak terbentuk dari balik gamisnya yang berwarna keabu-abuan. Sedangkan di dadanya ada lembaran soal yang ia dekap menggunakan kedua tangannya. Rachel terlihat cantik. Tubuhnya yang montok itu begitu menggoda. Pak Udin yang melihatnya sampai dibuat geleng-geleng kepala saja.

"Bapak mau apa sih ? Kalau gak ada mending aku pergi aja... Aku sibuk pak" Ucap Rachel kesal.

"Huehuehue... Ustadzah mau kemana emangnya ? Mending nyantai aja disini bareng saya" Ucap pak Udin yang gemas melihat ukuran dada Rachel yang masih saja besar meskipun tertutupi gamis longgarnya serta terhalangi lembaran soal yang didekapnya.

"Aku mau pergi pak ngumpulin koreksian... Abis itu aku mau ngoreksi mata pelajaran lain... Aku gak ada waktu buat nurutin kemauan bapak sekarang" Ucap Rachel semakin risih melihat tatapan mesum pak Udin.

"Huehuehue... Yaudah, saya juga gak mau lama-lama kok... Saya juga gak nahan pengen genjot anusmu lagi... Nih ganti baju pake baju ini... Abis itu temui saya lagi disini... Buruan !" Ucap pak Udin tidak sabaran.

Rachel tidak menjawab perintah itu. Ia hanya meraih baju itu lalu berjalan memasuki ruang kelas untuk mengganti baju disana.

MASA SEKARANG

"Huehuehue... Biasanya dari tahun-tahun sebelumnya kalau ada ustadzah yang mau ngumpulin koreksian pasti ke gedung itu... Eh yah, bukannya calon suaminya ada di gedung itu yah ? Jadi punya ide nih buat binalin ustadzah nanti" Ucap pak Udin sambil memandangi kantor bagian pengajaran.

"Hadeh... Tapi kok mana yah ? Ustadzaaahhh !!!" Panggil pak Udin.

Karena lama, pak Udin hendak mendatangi Rachel di dalam ruang kelas itu. Namun belum sempat pak Udin memasukinya, Rachel sudah lebih dahulu keluar dengan menampakan lekukan indahnya.

"Huehuehue... Gini dong mantep" Ujar pak Udin bahagia saat melihat keindahan lekuk ustadzah montok itu.

Rachel sambil malu-malu menutupi keindahan tubuhnya menggunakan lembaran soal yang ia bawa. Sikap malu-malunya itu justru menjadi bumerang baginya. Pak Udin jadi semakin bernafsu pada keseksiannya.

Lihat saja tubuhnya sekarang. Dengan hijab yang sama dengan yang ia kenakan tadi. Tubuhnya hanya terbalut kemeja coklat yang sangat ketat. Bulatan dadanya tercetak jelas. Lekukan pinggangnya juga terlihat jelas. Apalagi kemeja itu cukup tipis. Rachel jadi seperti ustadzah berhijab yang sedang telanjang. Terlihat putingnya mencuat dari balik kemeja tipisnya. Sedangkan bawahannya tidak lebih baik.

Rachel seperti sedang mengenakan legging berwarna hitam saja. Padahal ia mengenakan celana berbahan ketat. Saking ketatnya, nampak bibir vaginanya mencuat dari balik kemeja ketatnya. Rachel sangat malu sekali. Dirinya juga risih dengan pakaian pemberian tukang sapu itu. Belum lagi vaginanya jadi gatal akibat terhimpit oleh ketatnya celana yang sedang ia kenakan.

"Apa lagi pak ? Cepat, apa yang harus aku lakukan ? Aku gak mau lama-lama pake pakaian ini" Ucap Rachel tak tahan.

"Huehuehue... Simpel aja kok ustadzah... Tadi ustadzah mau kemana ?" Tanya pak Udin.

"Aku mau ke kantor bagian pengajaran pak... Aku mau ngumpulin koreksian" Jawab Rachel.

"Huehuehue kalau gitu lanjutkan aja ustadzah" Ucap pak Udin mengejutkan Rachel.

"Apa ?"

"Iya lanjutkan aja... Ustadzah mau ngumpulin koreksian kan ? Silahkan kumpulin aja" Ucap pak Udin yang diam-diam membuat Rachel senang.

"Udah nih gitu aja ?" Ucap Rachel tak mempercayainya.

"Iya mau gimana lagi ? Kan tadi saya bilang gak mau lama-lama" Ucap Pak Udin tersenyum mesum.

Rachel agak ragu sebenarnya. Ia masih tak menyangka kalau pak Udin mengajaknya kemari karena hanya ingin melihatnya mengenakan pakaian ketat ini. Ia tak menduga kalau pertemuannya akan secepat ini.

"Yaudah makasih kalau gitu pak udah mengizinkanku pergi... Aku mau ganti baju dulu" Kata Rachel langsung beranjak ke dalam ruang kelas tadi.

"Ehhh tunggu dulu, ustadzah mau kemana ?" Ucap pak Udin sambil memegangi tangan Rachel.

"Aku mau ke dalem pak... Aku mau ganti baju lagi"

"Ganti baju ? Buat apa ustadzah ? Pakai baju sekarang kalau mau ngumpulin koreksian !" Perintah pak Udin yang membuat Rachel rasanya seperti tersambar petir di siang hari.

"Pakek baju ini ? Ke kantor pengajaran ? Apa kata orang-orang pak kalau mereka tau pas ngeliat aku pakai baju kayak gini ?" Ucapnya. Ia sudah menduga pasti ada yang tidak beres dengan perintah tukang sapu itu.

"Huehuehue justru itu ustadzah... Saya pengen orang-orang tau betapa binalnya ustadzah selama ini... Cepat kesana atau saya akan meminta ustadzah kesana tanpa pakaian sama sekali !" Ancam pak Udin yang membuat Rachel ketakutan.

Rachel memaki dalam hati. Ia menganggap pak Udin sudah gila. Ia tak menyangka pak Udin tega membiarkannya ke kantor bagian suaminya dengan pakaian seketat ini. Ia jadi ragu untuk melangkah. Walau ia mempunyai fantasi ingin dilihat tapi kalau diliatnya dengan cara seperti ini ya sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Rachel ogah-ogahan. Tapi ia tahu betul bagaimana sikap pak Udin itu. Ia tak mau ditelanjangi. Ia tidak mau pergi ke kantor suaminya tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Mau jadi apa dirinya nanti kalau semua pengajar tau kalau dirinya sangat suka berjalan-jalan tanpa sehelai benang sama sekali.

"Gimana ? Ustadzah gak mau yah ? Yaudah saya lepas yah bajunya" Ucap pak Udin sambil mendekati tubuh ustadzah montok itu.

"Jjjaa... Janggannn... Baik aku akan melakukannya pak... Jangan permalukan aku lagi... Cukup ini aja pak !" Ucap Rachel terpaksa.

"Huehuehue... Kalau gitu lakukan... Oh yah jangan lupa goda mereka dengan keseksian tubuhmu yah" Ucap pak Udin tertawa melihat ustadzah Rachel tak berdaya. Saking gemasnya, pak Udin sampai menepuk bokong montok Rachel sekali.

Rachel tak menjawab sama sekali. Ia juga mengabaikan pelecehan yang ia terima di bokongnya tadi. Ia hanya pergi sambil memegangi lembaran soal yang ia taruh di dada. Seketika Rachel baru ingat. Untungnya ia membawa lembaran jawaban ujian ini. Ia jadi bisa menutupi keindahan dadanya walau hanya sementara saja.

"Huffttt moga aja kantor lagi sepi dan ustadz Adit juga gak ada disana" Ucap Rachel penuh harap.

"Huehuehue... Makin gak sabar nih ngeliat ekspresi calon suaminya gimana ? Pasti bakal mantep banget tuh calon suaminya pas ngeliat keseksian tubuh ustadzah Rachel... Huehuehue... Bakalan gimana yah reaksinya ?" Ucap pak Udin semakin menantikan aksi Rachel di dalam sana.

Sementara itu, Rachel sudah tiba di depan pintu masuk kantor bagian pengajaran. Jantungnya berdebar kencang karena khawatir akan ada seseorang yang sadar dengan pakaian yang ia kenakan. Sebelum masuk ke dalam, ia memejamkan mata terlebih dahulu untuk menguatkan hati dan mentalnya. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya dari mulutnya. Ia benar-benar takut andai ada seseorang yang sadar akan pakaiannya. Tapi membayangkan dirinya sedang berjalan-jalan dengan pakaian seketat dan setipis ini membuatnya gugup. Apalagi ini merupakan kantor bagian yang ditempati oleh calon suaminya. Apa yang akan dikatakan calon suaminya nanti saat melihat caranya dalam mengenakan pakaian ? Namun membayangkan hal itu malah membuatnya jadi semakin berdebar kencang.

Antara gugup dan takut. Rachel bingung tuk menjelaskan perasaannya sekarang. Ia tengah dilema dengan pilihan yang harus ia ambil. Dilain sisi ia tidak mau mempermalukan dirinya di hadapan calon suaminya. Tapi di lain sisi ia sangat tertantang untuk melakukannya dengan pakaian yang senekat ini.

"Huffttt... Tapi moga aja ustadz Aditnya gak ada" Ucap Rachel penuh harap.

Kaki kanannya mulai ia gerakan. Perlahan demi perlahan ustadzah bertubuh montok itu mulai memasuki kantor bagian pengajaran. Kedua tangannya mendekap erat lembaran koreksian yang ia taruh di dada. Sedangkan pandangannya menghadap ke bawah karena tak berani melihat keadaan sekitar.

Namun ia heran dengan suasana hening yang ada di sekitar. Kenapa tidak ada suara sama sekali ? Kenapa tidak ada suara obrolan sama sekali ? Karena penasaran Rachel mulai menaikan pandangannya pelan-pelan.

Benar saja, rupanya keadaan kantor sedang sepi. Tidak ada orang sama sekali. Perlahan Rachel mulai lega. Ia mengusap dadanya yang besar itu menggunakan telapak tangannya.

"Fiyyuhhh untungnya" Ucap Rachel lega.

Ia merasa tenang karena tidak ada orang yang bisa melihatnya memakai pakaian seketat ini. Ia jadi makin tertantang karena bisa mengekspresikan fantasinya di tempat yang biasanya ramai seperti disini.

Namun saat wajahnya ia alihkan pada salah satu sudut yang berada di dalam kantor bagian ini. Dirinya melihat seseorang yang sedang duduk menuliskan sesuatu di sana. Siluetnya tampk tidak asing. Wajahnya yang tampan. Kulitnya yang bening. Tidak salah lagi, itu.

"Mas Adit" Lirihnya semakin gugup.

Rupanya hanya ada Adit di kantor bagian ini. Adit terlihat sibuk sebagai ketua pelaksanaan ujian akhir tahun. Ia bertugas untuk mengawasi jalannya ujian. Ia yang bertugas memeriksa siapa saja pengajar yang sudah mengumpulkan koreksian ujian. Ia juga yang bertugas memeriksa kehadiran setiap pengawas ujian. Ia juga yang bertugas memeriksa jalannya ujian bagi para santri yang sedang sakit di rumah sakit terdekat.

Untungnya Adit masih belum menyadari kehadiran Rachel disini. Rachel jadi ragu untuk maju ke tempat calon suaminya itu. Terasa jantungnya semakin berdebar kencang. Terasa kakinya mendadak lemas dan ingin putar balik saja. Mau bagaimana lagi ? Ia dipaksa oleh tukang sapu itu untuk menemui Adit dengan pakaian senekat ini.

Gleegggg !

Rachel menenggak ludah. Ia benar-benar gugup dengan situasi yang tengah ia jalani saat ini. Dalam pikirannya ada dua pilihan yang harus segera ia ambil. Maju terus dan temui calon suaminya untuk lapor kalau dirinya sudah mengumpulkan salah satu dari mata pelajaran yang ia ajar. Atau lebih baik putar balik saja daripada calon suaminya tahu kalau ia berani mengenakan pakaian senekat ini.

Duhhh yang mana nih ? Mana kakiku gak bisa kugerakin lagi !!!

Batinnya karena saking gugupnya.

Ditengah kegugupannya itu. Tiba-tiba Adit menaikan wajahnya dan melihat kalau dirinya sedang melihatnya disini.

Gawwaatt !!!

Batinnya.

"Eh ustadzah Rachel... Silahkan ada yang bisa dibantu ?" Ucap Adit menggunakan dialog resmi.

"Hehe mas... Anu, aku mau ngumpulin koreksian" Ucap Rachel gugup sambil melangkah mendekatinya.

"Loh kamu udah ada yang selesai ? Cepet banget" Ucap Adit tak menyangka.

"Hehe emang yang lain belum pada ngumpulin yah mas ?" Jawab Rachel semakin gugup ketika mendekat ke arahnya.

"Iya loh kamu yang pertama... Hebat banget" Jawab Adit sambil tersenyum.

Adit masih belum sadar dengan pakaian yang sedang calon istrinya kenakan. Karena dari posisinya yang sedang duduk. Ia hanya melihat Rachel tengah mendekat dengan mengenakan kemeja coklat serta hijab abu-abunya. Dirinya tidak fokus ke arah bawahannya karena teralihkan oleh keindahan wajahnya. Dari depan ia juga tidak melihat kalau dada indah Rachel sudah tercetak dari balik kemeja ketatnya. Adit hanya senang karena calon istrinya tengah datang untuk mengunjungi dirinya.

"Mas lagi sendirian yah ?" Tanyanya malu-malu.

"Iyya mas... Kayaknya ustadz sama ustadzah yang lain lagi pada sibuk atau malah kecapekan hahaha... Kalau ustadzah Syifa sih katanya mau ke rumahnya pak Kiyai... Kurang tau yah ada urusan apa jadinya ya cuma mas aja yang jaga kantor sendiri" Jawab Adit tersenyum.

"Ohhh gitu... Mas sendiri kabarnya gimana ?" Ucap Rachel terus berbasa-basi karena tidak ingin dirinya menaruh lembaran koreksian karena hal itu bisa membuat Adit sadar dengan cara berpakaiannya.

"Mas baik kok... Kamu sendiri gimana cell ?" Tanya Adit.

"Alhamdulillah aku baik kok mas" Jawab Rachel memaksakan senyum. Sekalipun terpaksa, tetap saja keindahannya masih memancar dari wajah cantiknya. Adit jadi terpana. Ia sangat senang kalau ustadzah cantik yang berdiri di hadapannya ini merupakan calon istrinya nanti.

"Oh yah katanya mau ngumpulin koreksian ? Mas boleh liat dulu gak ? Mas mau meriksa lagi siapa tau ada satu lembar yang belum kamu koreksi... Mungkin luput apa gimana ?" Ucap Adit yang membuat Rachel gugup.

"Anuu... Iyya mas inniiii" Ucap Rachel kebingungan antara mau menyerahkan atau membiarkannya jadi penutup dadanya.

Melihat keraguan calon istrinya antara mau menyerahkan atau tidak justru membuatnya semakin gemas saja. Ia gemas pada calon istrinya yang terlihat malu-malu. Adit hanya tersenyum sambil memandangi keindahan wajah calon istrinya itu.

"Gimana ? Jadi gak ? Hahaha" Ucap Adit tertawa melihat sikap Rachel yang menurutnya imut.

"Jadi kok mas... Anuuu ini" Ucap Rachel langsung menaruhnya di atas meja calon suaminya.

"Bentar yah mas periksa dulu" Ucap Adit yang untungnya langsung melihat ke arah lembaran jawaban itu.

Rachel bernafas lega. Tapi dirinya jadi bingung sekarang. Haruskah ia menutupi cetakan payudaranya saja ? Atau haruskah ia bersikap biasa saja ? Kalau ia menutupi keindahan dadanya yang tercetak dari balik kemeja tipisnya. Sudah pasti hal itu akan menarik perhatian Adit dan membuatnya ketahuan kalau dirinya tidak mengenakan dalaman dan hanya mengenakan kemeja ketat saja. Ia yang sudah berbulan-bulan tidak mengenakan dalaman akibat larangan dari pak Udin tentu tidak mau hal itu terjadi. Tapi kalau dirinya bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Bisa-bisa calon suaminya itu langsung melihat keindahan rupa payudaranya yang tercetak jelas.

Serba salah memang. Rachel terus berpikir keras selagi Adit mengoreksi lembaran demi lembaran koreksian yang ia serahkan.

Duhhh gimana ini ? Aku harus gimana ?

Batin Rachel kebingungan.

Adit tersenyum setelah mengecek semua lembar jawaban yang di koreksi oleh calon istrinya. Ia tidak menduga kalau calon istrinya akan serajin ini. Ia pun menaikan wajahnya tuk menatap wajah cantiknya lagi. Namun belum sempat pandangannya sampai di wajah calon istrinya, pandangannya terhenti pada keindahan buah dada yang membusung indah disana.

Wajah Adit membeku. Jakunnya sampai bergerak. Ia menenggak ludah saat melihat kemegahan payudara Rachel yang tercetak jelas dari balik kemeja ketatnya. Ia memang sudah lama mengenal calon istrinya. Tapi baru kali ini dirinya melihat lekukan payudaranya secara langsung. Ia tak menduga kalau calon istrinya mempunyai payudara seindah dan semegah ini. Adit terpana. Ia terpukau pada keindahan yang dimiliki oleh calon istrinya. Tanpa sadar Adit menyentuh penisnya dari luar celana yang masih ia kenakan.

"Sudah mas ? Lengkap kan ? Jumlahnya pas ada 30 lembar kan ?" Tanya Rachel mengejutkan Adit.

"Ehhh iyyahhh... Iyaahh chell... Iyya bener ada 30" Jawab Adit gugup.

"Hihihi alhamdulillah... Mas sendiri gimana ? Mas kan juga dapet jadwal ngajar, udah nyelesaiin berapa koreksian nih ?" Tanya Rachel mengajaknya mengobrol.

"Ehh mas ?... Mas belum sama sekali chell... Mas masih sibuk ngurus ini soalnya" Ucap Adit sambil sesekali melirik ke arah cetakan payudara calon istrinya. Entah kenapa penisnya tiba-tiba mengeras. Ia pun kebingungan kenapa Rachel tiba-tiba mengenakan pakaian seketat ini. Adit memilih tuk memajukan kursinya. Ia menyembunyikan kedua kakinya di bawah meja agar tangannya bisa mengelusi penisnya yang mulai berontak.

"Huuuu gimana sih... Selesaiin juga dong mas... Nanti mas gak boleh pulang loh... Syarat pulang kan harus nyelesaiin semua koreksian dulu" Ucap Rachel tersenyum yang tanpa ia sadari semakin membangkitkan nafsu calon suaminya.

Duhhh senyumnya... Duh susunya... Duh kenapa jadi berdiri gini sih punyaku ?

Batin Adit sambil terus-terusan mengusapi penisnya.

Adit sedang dilanda dilema sekarang. Nafsunya kian besar setelah melihat cetakan payudara calon istrinya yang sangat menakjubkan. Rupanya, di balik pakaian longgar yang sering Rachel kenakan selama ini, tersimpan dua buah permata yang tak ternilai harganya. Dua permata itu menempel di dada. Ukurannya juga raksasa. Kini, ia baru melihat dua permata itu meski masih terhalangi oleh lapisan tipis dari kemeja yang Rachel kenakan.

Sebagai seorang ustadz, ia berusaha sekuat mungkin untuk mengendalikan hawa nafsunya. Apalagi ia adalah calon suami dari ustadzah berbadan montok yang berdiri di hadapannya. Tentu, ia tidak mau merusak calon istrinya sebelum akad tiba. Tapi ini susah sekali. Semakin ia menahannya, penisnya malah semakin membesar. Tanpa sadar ia semakin kencang mengelusnya hingga membuat penisnya jadi semakin besar.

Uhhhh... Uhhh... Rachelll... Uhhhhh !

Batin Adit sambil diam-diam mengelus penisnya.

Di lain sisi, Rachel terus berbicara untuk mengalihkan perhatian calon suaminya dengan harapan obrolannya itu bisa mengalihkan perhatian Adit agar tidak melihat bentuk badannya. Namun tanpa sepengetahuannya, hal itu malah membuat Adit jadi semakin lama memperhatikan tubuhnya. Sesekali Adit memang memandang wajah Rachel seolah ia sedang mendengarkan kisahnya. Tapi terkadang dirinya juga mencuri pandang ke arah lekukan payudaranya sambil mengelusi penisnya yang semakin keras.

"Hihihi jadi gitu mas... Menurut mas gimana ?" Tanya Rachel mengejtukan Adit.

"Ehhh maksudnya ? Anu gimana chell... Maaf mas lagi banyak pikiran" Ucap Adit terbangun dari lamunan indah saat membayangkan isi dari payudara indah disana.

"Ihhhh daritadi ngelamun nih ? Nyebelin deh orang lagi cerita" Ucap Rachel sambil menyilangkan tangan di dada. Masalahnya ia menaruh tangannya tepat di bawah payudara besarnya. Payudara besarnya seolah terangkat oleh silangan tangannya itu. Adit pun menenggak ludah. Ia semakin gelisah memandangi keindahan payudara calon istrinya yang sangat besar itu.

"Yaudah deh mas... Aku mau ngumpulin aja... Nih taruh dimana yah ?" Ucap Rachel sekali lagi yang mengejutkan calon suaminya.

"Ehhh anu... Disana chell... Kan ada loker tuh yang diurutin per kelas... Nanti cari aja kelasnya dimana terus taruh disana yah" Ucap Adit sambil berdiri kemudian menunjuk ke arah jam sebelas.

"Disana ?" Ucap Rachel menengok ke arah yang Adit tunjuk.

Saat Adit berdiri, ia baru sadar kalau calon istrinya itu tengah mengenakan celana yang super ketat. Bentuknya mirip legging. Ia jadi dapat melihat ukuran paha calon istrinya yang montok. Tanpa sadar ia mengelusi tonjolan di celananya lagi. Ia semakin tidak tahan. Apalagi saat pandangannya menangkap sesuatu yang janggal di selangkangan calon istrinya.

Racheelll... Kamuuu ? Kamuuu gak pake celana dalem juga yah ?

Batin Adit saat memandang cetakan vagina istrinya.

Gleeggg !

Adit menenggak ludah.

Baru kali ini dirinya melihat kemaluan seorang wanita walaupun dari cetakan celana ketatnya saja. Adit terus saja melihatnya. Untungnya calon istrinya sedang menengok ke arah loker yang ditunjukan olehnya. Ia jadi semakin bebas memandangi cetakan vagina istrinya. Ia jadi semakin bebas juga dalam mengelusi penisnya yang semakin mengeras.

Duhhhhh... Cheelll kamu seksi banget !!! Duhhh makin gak nahan nihhh... Keluarin gak yahhh ?

Batin Adit yang sangat ingin menurunkan resletingnya agar dirinya bisa semakin bebas mengocok penisnya yang sangat ingin keluar dari sarangnya.

Adit kembali menaikan wajahnya ke arah dada calon istrinya. Adit kembali menurunkan pandangannya tuk menatap cetakan vagina calon istrinya.

Duhhh cheelll susumu itu lohhh... Kenapa kamu pakai baju seketat ini sih ? Kenapa juga kamu gak pake daleman sih ? Kamu sengaja godain mas yah ? Cheelll kamu harus tanggung jawab... Mas jadi pengen nyoliin kamu lagi nih !!!

Batin Adit semakin bernafsu.

Ya, walaupun Adit seorang ustadz. Dirinya juga bernafsu tiap kali memandangi wajah calon istrinya. Terhitung sudah berkali-kali dirinya beronani sambil memandangi foto calon istrinya yang sedang tersenyum. Tak pernah ia membayangkan sebelumnya kalau calon istrinya akan datang kepadanya dengan pakaian seketat ini. Adit mempercepat elusannya. Ia sangat gemas pada ukuran payudaranya. Ia sangat ingin meremas buah dada itu sekarang. Tapi ia sangat malu untuk mengatakannya. Ia tidak mau image-nya sebagai seorang ustadz akan ternoda kalau ia sampai berbuat senaif itu.

Duhhhh cheellll... Kenapa gak telanjang sekalian sihhh... Mas jadi nafsu banget ke kamu tauuuu !

Batin Adit ingin sekali meremas payudaranya.

"Oh disana yah ? Yaudah aku kesana dulu yah mas" Ucap Rachel yang otomatis membuat Adit menjauhkan tangannya dari tonjolan yang ada di celananya. Ia juga bergeser ke arah tumpukan buku yang ia jejer di sebelah kiri posisinya. Tonjolan penisnya jadi tertutupi tumpukan buku tersebut. Ia dengan salah tingkah pun menjawab ucapan dari calon istrinya itu.

"Ohh iya cheell... Anu, mas anter yah" Ucap Adit yang hanya dijawab senyum manis oleh ustadzah berbadan montok itu.

Rachel berjalan di depan sedangkan Adit mengikutinya dari belakang. Saat Rachel melangkah, nampak bongkahan pantatnya bergeal-geol memanjakan mata calon suaminya itu. Berulang kali Adit menggelengkan kepala tak percaya. Ia juga melirik ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan. Karena tak sanggup lagi dan berhubung kantor sedang sepi. Adit dengan berani menurunkan resletingnya lalu mengeluarkan pentungannya sambil mengocok penisnya secara diam-diam di belakang Rachel.

Uhhhh... Uuhhhhh cheelll... Gara-gara kamu mas jadi sange gini... Uhhhh cheelll kapan sih kita nikahnya ? Mas udah lama pengen genjot memekmu, tau !!!

Batin Adit sambil mengocoki penisnya secara terang-terangan.

Penis Adit kian mengeras. Penis itu semakin membesar saja saat dicekik menggunakan genggaman tangannya. Matanya melotot ke arah bongkahan pantat Rachel. Kemudian naik sambil memperhatikan lekukan pinggulnya. Sungguh indah sekali. Calon istrinya itu seperti sedang telanjang saja. Ia dengan jelas dapat melihat lekukan tubuh calon istrinya. Ia jadi semakin bernafsu. Kocokannya semakin dipercepat. Nafasnya terengah-engah. Dadanya sampai naik turun akibat nafsu yang semakin menggebu.

"Disini yah mas ?" Ucap Rachel mengejutkan Adit sehingga dirinya langsung berbalik badan tuk menyembunyikan kehadiran ular kadutnya yang sudah keluar.

"Ehhh iyya chell disitu... Cari aja kan tiap loker ada nama kelasnya kan ? Nanti taruh sesuai kelas yang kamu ajar yah" Ucap Adit lega karena calon istrinya itu bertanya tanpa menatap ke arahnya.

"Ohhh gitu, mana yahhh ?" Ucap Rachel melihat satu demi satu loker mulai dari kiri atas sampai ke bawah. Tak sengaja Rachel jadi berposisi menungging saat itu. Adit menenggak ludah untuk kesekian kalinya. Melihat calon istrinya sedang menungging di hadapannya membuat ia semakin bernafsu. Ia pun mempercepat kocokannya bahkan ingin mendekatkan ujung gundulnya agar bisa menyentuh cetakan vagina calon istrinya.

Duhhh cheelll... Jadi kebayang pas kita main doggy nanti... Uhhhh pasti mantep banget... Mas jadi gak tahan nih... Mas pengen genjot kamuuu !

Batin Adit yang hanya berani mengatakannya dalam hati saja. Karena kesal, ia pun melampiaskannya dengan mempercepat kocokan penisnya.

Uhhhhh... Uhhhh... Andai kita udah sah cheelll... Mas pasti bakalan genjot kamu sekarang... Mas bakal dorong kamu ke loker... Terus mas pelorotin celana kamu... Terus bakal mas sodok memek kamu pake kontol ini cheelll... Uhhhh enaknya andai bisa megang pinggulmu sambil nyodok memekmu !

Batin Adit semakin bernafsu. Ia mempercepat kocokannya. Cairan precum-nya mulai keluar membasahi daerah sekitar lubang kencingnya.

"Duh mas... Kok posisinya dibawah banget sih ? Aku jadi kesusahan tau" Ucap Rachel semakin menungging sambil menggeal-geolkan bokong montoknya.

Duhhh cheelll... Nikmatnya goyangan kamu... Mas jadi gak sabar pengen ngerasain ulekan memekmu... Uhhhhh pasti mantep banget pas kontol mas di remes-remes pake dinding memekmu !

Batin Adit mempercepat kocokannya.

"Massss kok diem aja sih ? Ini kenapa tempatnya ada di bawah ?" Ucap Rachel mengeluh.

"Anuuu... Kan emang udah urutannya chel... Jadi ya gak sengaja dibawah gitu hehe" Ucap Adit lalu kembali fokus mengocok penisnya lagi.

Karena kesulitan, Rachel memundurkan langkahnya hingga tanpa sengaja cetakan vaginanya itu tercium oleh ujung gundul penis calon suaminya. Ya, ujung gundul penis Adit telah menyentuh celana ketat yang mencetak bibir kemaluan vagina Rachel. Rachel yang sadar kalau bokongnya telah menyentuh bagian tubuh Adit kembali memajukan langkah kakinya. Tapi ia tidak tahu kalau yang menyentuh bokongnya tadi adalah ujung gundul penis Adit.

Adit tidak rela, ia kembali mendekatkan penisnya hingga ujung gundulnya kembali menyentuh cetakan kemaluan calon istrinya. Walau tidak menyentuh banget hingga Rachel tak merasakan adanya gesekan di belakang, hal itu sudah cukup untuk memuaskan nafsu Adit. Adit merem melek sambil memandang ke arah depan dimana posisi Rachel yang tengah menungging di hadapannya.

Dikala tangan kirinya mengocok, tangan kanannya ia angkat kemudian mencengkram udara sambil membayangkan tangannya itu mencengkram bokong Rachel dengan keras.

Uhhhhh pasti bakal mantep banget kalau mas bisa remes bokongmu sekarang cheelll... Ouhhhh... Ouhhhh... Makin mantep aja nihhh... Uhhhh indahnya tubuhmu sayanggg !

Batin Adit yang hanya bisa mengungkapkan itu semua di dalam hatinya.

Nafas Adit kian berat. Ia benar-benar kewalahan saat beronani sambil memandangi lekukan tubuh Rachel yang seperti sedang telanjang itu. Penisnya jadi berdenyut. Ia jadi ingin memuntahkan spermanya ke arah celana ketat yang dikenakan oleh ustadzah montok itu.

"Udah mas" Ucap Rachel tiba-tiba bangkit berdiri yang membuat Adit langsung berbalik badan karena tak sempat memasukan penisnya yang sudah menegak maksimal.

"Ehhh udah yah... Berarti sekarang tinggal tanda tangan di meja lagi chel" Ucap Adit sambil membelakangi calon istrinya.

"Ohh di meja tadi yah mas ?" Ucap Rachel sambil tersenyum. Tapi ia heran, kenapa calon suaminya tidak menatapnya saat berbicara. Rachel berpikir mungkin calon suaminya itu malu-malu kepadanya. Apalagi Adit memang dikenal pemalu ketika bertemu dengan seorang ustadzah disini.

"Iyya chel di meja sini" Ucap Adit sambil melangkah kemudian langsung duduk di kursinya sehingga penisnya yang sudah keluar itu aman dari sepengetahuan calon istrinya.

"Anu... Aku tanda tangan dimana mas ?" Tanya Rachel kebingungan karena ada banyak sekali lembaran kertas berisi paraf yang berserakan di meja calon suaminya.

"Di sebelah sinn... Belum sempat Adit menuntaskan kalimatnya. Ia terdiam saat mengangkat wajahnya tuk menatap kecantikan bidadarinya.

Ia tak menduga kalau tiga kancing teratas yang ada pada kemeja calon istrinya sudah terlepas. Anehnya Rachel masih bersikap biasa saja. Adit pun bertanya-tanya. Apakah Rachel tak sadar kalau kancingnya ada yang terlepas ? Atau Rachel memang sengaja melakukannya tuk menggodanya ?

Gleeeggg !!

Adit lagi-lagi menenggak ludah saat melihat beningnya kulit dada calon istrinya. Belahan dadanya mulai terlihat. Bahkan setengah dari payudara kirinya mulai terlihat. Sedikit saja kemeja itu turun, ia bisa melihat puting sebelah kiri calon istrinya yang ia duga berwarna pink.

Adit kembali terangsang. Diam-diam tangannya pun bergerak untuk mengocok penisnya yang ia sembunyikan di bawah meja kerjanya.

"Dimana mas ?" Tanya Rachel sambil mencari-cari lembaran kertas yang harus ia tanda tangani. Ia pun tak sadar kalau calon suaminya sedari tadi terus mengintip putingnya yang juga nyaris mengintip tuk melihat keadaan dunia di luar sana.

"Ehhh... Disini... Iya disini" Ucap Adit langsung menemukan lembaran kertas itu.

"Ohhh iyya yah hihihi... Aku tanda tangani yah" Ucap Rachel menunduk tuk menandatangani lembaran kertas sebagai bukti dirinya sudah mengumpulkan salah satu koreksian ujiannya.

Masalahnya, saat ia sedang menunduk itu. Payudara sebelah kirinya meloncat keluar dari balik kemeja yang ia kenakan. Bahkan kancing keempat dan kelima dari atas kemejanya juga terlepas akibat buruknya kualitas bahan yang dikenakan oleh Rachel sekarang. Akibatnya kedua payudaranya itu menggantung bebas. Ia yang terbiasa bertelanjang bulat ketika tidak ada orang-orang disekitarnya jadi tidak merasa kalau kedua payudaranya itu sudah meloncat bebas. Adit yang menyadarinya langsung terkejut.

Alamak indahnyaaa !!!

Batin Adit yang langsung mengocok penisnya.

Gilaakkk susumu chel... Susumu sampai keluar gitu... Aduhhh itu susu apa pepaya... Kok gantung gitu sihhh... Mas jadi pengen ngeremes kuat-kuat tauu... Duhhh tega banget kamu chel... Udah bikin mas kejang-kejang kayak gini... Uhhhhh.... Uhhhhh !

Batin Adit mempercepat kocokannya.

Adit yang sedari tadi nyaris mendapatkan klimaksnya merasa tidak kuat lagi. Cukup sudah godaan yang dilakukan oleh calon istrinya sedari tadi. Ia ingin menumpahkan spermanya sekarang. Ia ingin melegakan dirinya yang tengah tersiksa dari godaan nafsu birahi bidadari berhijab itu. Tubuh Rachel terlalu indah untuk ia abaikan. Ia mempercepat kocokannya. Kedua lututnya pun mengejang. Nafasnya kian sesak. Ia pun tidak dapat menahan diri lagi.

Uhhhhh... Uhhhhh... Uhhhhh Racheeelll... Uhhhhh kurangg ajarrrr... Awas yah kalau kita udah halal... Mas bakal genjot kamu sepuas mas.... Uhhhhh sialll... Aahhhh... Mass kelluuaarrrr !!!!

Seketika tubuh Adit mengejang. Pinggulnya ia majukan saat spermanya dengan deras membasahi kolong meja di bawahnya.

"Heenkkghhh !!!!" Erang Adit tanpa ia tahan lagi.

"Sudah mas... Eh mas kenapa ?" Tanya Rachel yang khawatir saat melihat wajah Adit yang merem melek keenakan itu.

"Mass... Massss" Ucap Rachel sambil memegangi bahu Adit khawatir.

"Uhhhh... Gapapa chell... Mas cumaa... Aahhh... Gapapa" Ucap Adit sambil tersentak-sentak nikmat.

"Beneran mas ? Mas serem banget tau... Mata mas sampe putih semua" Ucap Rachel khawatir.

"Hah... Hah... Hah.... Gapapa kok... Aduhhh... Haduuhhh" Ucap Adit terengah-engah setelah mendapatkan orgasme ternikmatnya.

"Beneran mas ? Mas gapapa ?" Tanya Rachel sekali lagi khawatir.

"Iyya dekk... Aduhhhh... Nanti yah... Mas mau ke kamar mandi dulu... Wassalamualaikum" Ucap Adit seperti terburu-buru ngeluyur ke kamar mandi yang berada di dalam kantor bagiannya.

"Walaikumsalam... Duhhh mas Adit kenapa sih ? Kok tiba-tiba, ehhhhhh" Ucap Rachel tersadar saat sedang memegangi dadanya.

"Astaghfirullah... Jangan-jangan ?" Ucap Rachel sambil memasukan kedua payudaranya ke dalam kemejanya. Saat ia hendak mengancingkannya rupanya kancingnya sudah pada lepas. Hanya tersisa dua kancing saja yang itupun berada di dua terbawah.

Rachel dengan bergegas melangkah ke arah meja calon suaminya. Ia pun menunduk untuk melihat keadaan di bawah meja tersebut. Benar saja, rupanya ada bekas sperma disana. Rachel terkejut saat mengetahui calon suaminya beronani sambil memandangi keindahan payudaranya.

"Sejak kapan buah dadaku keluar ? Duhhhh mana diliat mas Adit lagi !!!" Ucap Rachel merasa malu sekali hingga wajahnya memerah.

Karena tidak bisa dikancingkan, Rachel sedari tadi hanya memegangi kemejanya agar buah dadanya tidak meloncat lagi keluar. Karena saking malunya, ia pun berlari menuju ke arah luar untuk menyembunyikan perasaannya sekarang. Namun belum sempat ia melewati pintu keluar, ada seorang pria yang menghalangi jalannya.

"Huehuehue... Suka banget saya ustadzah pas ustadzah godain calon suami ustadzah tadi" Ucap pak Udin terkekeh-kekeh.

"Baappp... Bappaakkk !!!" Ucap Rachel terkejut hingga tangannya tidak lagi memegangi kemejanya. Akibatnya susunya kembali tumpah dan terhidang secara bebas dihadapan mata tukang sapu itu.

"Huehuehue... Kasian sekali calon suamimu ustadzah... Dia pasti dilema karena ingin ngeremes susumu setelah melihat keindahan pepayamu... Huehuehue... Padahal kalau mau ngeremes mah tinggal ngeremes aja" Ucap pak Udin sambil mendekat yang membuat Rachel tanpa sadar melangkah mundur ke arah meja kerja calon suaminya.

"Bapakk mau apa disini ? Jangan bilang bapak mauuu ???" Ucap Rachel panik.

"Huehuehue mau apa ? Ya, saya mau genjot anusmu disini ustadzah... Daritadi saya juga nahan birahi ngeliat ustadzah godain calon suamimu... Uhhhhh pasti mantep banget kalau saya bisa menggenjotmu sambil melampiaskan kekesalan suamimu... Huehuehue... Saya jadi kebayang jadi calon suami ustadzah tadi... Izinkan saya membalaskan nafsu suamimu dengan menggenjot lubang duburmu yah ?" Ucap Pak Udin sambil tersenyum.

"Bapp... Bappakkk gilaa yahh ? Ini di kantor orang lain pak... Ada calon suamiku juga di kamar mandi ? Bapak mau melakukannya disini ?" Ucap Rachel terkejut.

"Huehuehue.... Justru itu ustadzah tantangannya... Ustadzah gak mau ketahuan kan ? Makanya saya mulai sekarang yah ? Saya juga gak sabar ingin ngeremes susumu yang gantung itu" Ucap pak Udin sambil memandangi buah dada Rachel yang sudah meloncat keluar.

"Astaghfirullah..." Ucap Rachel baru menyadarinya lagi. Wajahnya pun memerah. Akibat keseringan telanjang, ia jadi tak sadar kalau payudaranya sudah meloncat keluar. Ia pun ketakutan. Ia terus saja mundur hingga bokongnya menyentuh meja kerja calon suaminya.

"Huehuehue... Siap atau tidak saya akan menggenjotmu sekarang... Kita mulai dari bibirmu yahh" Ucap pak Udin memegangi kedua bahu Rachel lalu mendekatkan wajah tuanya ke wajah cantiknya.

"Pakkk jangannn... Janggann pakk... Pakkk mmpphhh" Desah Rachel sambil memejamkan mata.

Bibir Rachel dicumbu. Pipi mulusnya dibelai menggunakan tangan kanan tukang sapu itu. Tak ketinggalan tangan kiri pak Udin juga ikut berpartisipasi dengan meremas buah dada Rachel yang menggantung itu.

Pak Udin tersenyum. Dirinya sangat puas bisa mencumbu bidadari bertubuh montok itu lagi. Tercium aroma tubuh Rachel yang sangat wangi. Terdengar suara desahannya yang tertahan cumbuan penuh nafsunya. Terasa payudaranya yang montok sempurna begitu empuk. Rasanya juga kenyal-kenyil membuat pak Udin semakin bernafsu dalam meremasi payudara indah itu.

Pak Udin pun mengingat-ngingat saat calon suami Rachel yang tak berdaya saat memandangi keindahan tubuh calon istrinya. Calon suami Rachel itu hanya sanggup beronani tapi dirinya dengan bebasnya meluapkan hawa nafsunya pada tubuh bidadari bertubuh montok itu.

Pak Udin memperkuat dorongan bibirnya. Kepala Rachel terdorong ke belakang. Tangan kanan pak Udin reflek memegangi sisi bagian belakang kepalanya. Pak Udin terus mendorong bibirnya. Ia benar-benar meluapkan hawa nafsunya sekarang.

"Mmpphhh nikmat sekali ustadzah... Mmpphhh puas sekali saya melihat aksi binalmu tadi" Ucap pak Udin di sela-sela cumbuannya.

"Mmpphhh hentikan pakkk... Mmpphhh cukuppp... Mmpphhh lagipula aku tadi gak sengaja pak... Aku gak tau kalau buah dadaku keluar" Balas Rachel tak berdaya.

"Mmpphhh... Jangan bohong ustadzah... Mana ada ustadzah yang gak sadar kalau susunya keluar... Sudah pasti ustadzah sengaja menggodanya kan ? Sayangnya perbuatan itu juga menggoda saya sehingga saya ingin ngeremes susumu lebih kuat lagi" Ucap pak Udin yang tak percaya kalau Rachel tidak sadar saat buah dadanya keluar.

"Aaaahhhhh... Beneran pakkk.... Uhhmmm seriuusss.... Uuhhhh" Desahnya dengan nada yang sangat menggairahkan.

Rachel benar-benar kewalahan saat menerima cumbuan penuh nafsu dari tukang sapu itu. Apalagi saat payudaranya diremas dengan sangat kuat oleh tukang sapu itu. Matanya langsung memejam. Kepalanya nyaris terangkat. Deru nafasnya kian berat dan hembusan nafasnya terasa semakin hangat.

"Mmpphhh" Desah Rachel terkejut saat tiba-tiba pak Udin melepas cumbuan nya.

"Huehuehue... Gak salah juga saya beli baju bekas ini... Kancingnya gampang banget lepas" Ucap pak Udin yang langsung membuka kemeja yang Rachel kenakan secara paksa.

Breeeetttttt !!!

Seluruh kancing yang ada di kemeja Rachel terlepas semua. Kancing-kancing itu jatuh berserakan diatas lantai kantor bagian Pengajaran. Rachel terkejut apalagi saat bibir tukang sapu itu tiba-tiba turun tuk mengulum puting susunya.

"Aaahhhhhh" Desah Rachel dengan keras sebelum ia sadar kalau sekarang dirinya ada di kantor bagian calon suaminya. Ia juga teringat kalau calon suaminya masih ada di kantor ini. Calon suaminya tengah izin ke kamar mandi. Bagaimana nanti pas calon suaminya keluar kemudian melihatnya tengah dilecehkan oleh tukang sapu ini ?

Entah kenapa saat membayangkannya dirinya malah jadi semakin bernafsu. Jantungnya berdebar kencang. Ia benar-benar takut andai hal itu terjadi.

“Lepaskkan akuu paakkk... Lepasskannn !!!” kata Rachel sambil mendorong kepala pak Udin yang masih menyusu di payudaranya.

“Huehueue... Mantapnyaaa susumu ini... Mmmpphhh... Saya jadi gak tahan.... Saya mmpphhh” desahnya sambil terus menyusu juga meremas buah dada indah itu.

Tangan kiri pak Udin meremas payudara kanan Rachel sedangkan tangan kanannya berpindah tuk meremasi payudara sebelah kirinya. Bibir pak Udin mengunci puting sebelah kiri ustadzah cantik itu. Bibirnya menjepit kuat lalu ia hisap puting indah itu sekuat tenaga. Puas, ia langsung berpindah ke sebelah payudara kanannya. Awalnya ia cuma menjilatinya lalu berganti jadi mengulumnya lalu berganti lagi jadi menggigitnya pelan. Saat gigi pak Udin menjepit puting berwarna merah muda itu. Rachel mendesah nikmat. Matanya memejam kuat. Dirinya tak kuasa menahan kenikmatan yang semakin tak tertahankan.

"Uhhhhh.... Mmpphhh.... Mmpphhh" Desah Rachel tertahan dengan mengatup rapat mulutnya.

"Huehuehue... Keenakan juga kan ? Susumu makin keras loh ustadzah ? Ustadzah makin kerangsang yah setelah susumu saya hisap ?" Ucap pak Udin tersenyum.

"Mmpphhh... Mmpphhh enggakkk... Enggakkk yah pakkk... Uhhhhh" Desah Rachel berbohong.

Padahal ia benar-benar terangsang sekarang. Selain karena kenikmatan yang sedang pak Udin berikan, pikirannya yang membayangkan kalau calon suaminya akan segera keluar dan memergokinya tengah asyik dilecehkan oleh pak Udin membuat fantasinya kemana-mana.

"Huehuehue... Gak usah berbohong ustadzah ! Saya tau kok kalau ustadzah mulai menikmatinya" Ucap pak Udin saat melepaskan bibirnya dari pentil susunya. Lalu ia menatap wajah cantik Rachel untuk melihat keadaannya.

"Hah... Hah... Hah" Rachel hanya terengah-engah setelah mendapatkan seruputan nikmat di puting susunya. Wajahnya kelelahan. Namun bagi pak Udin wajah cantiknya itu terlihat menggairahkan.

"Huehuehue... Cantiknyaaa" Ucap pak Udin kembali mencumbunya.

Sebelum bibir pak Udin bertemu bibirnya kembali, Rachel masih sempat menutup rapat matanya sehingga ia tak perlu memandang wajah buruk rupa itu saat mendekat.

"Mmpphhh"

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling bertubrukan. Bibir Rachel didorongnya dengan penuh nafsu oleh pria tua itu. Tangan kanan pak Udin mendekap punggung mulus sang bidadari sedangkan tangan kirinya meremas bokong sekel sang dewi. Pak Udin sampai memejam tuk merasakan kenikmatan yang sedang ia dapatkan. Terbayang dalam benaknya wajah dari sang ustadzah. Nafsunya pun mendorong dirinya tuk membayangkan sensasi saat dirinya dengan bebas mencumbui seorang ustadzah yang baru saja menggoda calon suaminya. Ustadzah yang biasanya terkesan alim, berpakaian rapat dan menjaga dirinya kini sedang ia cumbui, remasi dan dekapi. Nafsunya pun meningkat hingga bibirnya kadang membuka tuk mencaplok bibir tipis dari ustadzah satu ini.

"Mmppphhh... Mmppphhh.. Sudahhh... Sudahhh pakkk.. Aku gak mau lagiiii" Desah Rachel bertahan dengan terus mendorong tubuh pria tua berkumis itu.

"Huehuehue... Mantapnyaahh... Gak ada bosen-bosennya saya kalau di suruh nyium bibirmu" Desahnya saat mencumbui bidadari itu.

Tangan kiri pak Udin berpindah dari meremasi bokongnya ke meremasi payudaranya. Benda berbentuk bulat dan berasa kenyal itu kembali ia remas hingga puas. Jemarinya dengan rakus memainkan payudara bulat itu. Sedangkan tangan kanannya pun turun dari mendekap punggungnya ke meremasi bokong sekelnya.

"Uuuuuhhhhhh" Desah Rachel merasakan sensasinya.

Lidahnya jadi semakin liar dalam memaksa masuk menjebol garis pertahanan yang dibuat oleh bibir Rachel. Rachel terus merapatkan bibirnya. Bidadari montok itu memejam menahan tiap rangsangan yang dilakukan oleh pria tua berkumis tebal itu.

Jemari pak Udin mencubit puting indah yang berwarna merah muda. Akibatnya Rachel jadi menjerit nikmat. Pak Udin puas saat mendengar jeritannya yang penuh dengan kemanjaan.

"Ahhh pakkk... Jangan... Jangannnn ouhhhhhh"

"Huehuehue... Jerit terus ustadzah... Teriak yang keras... Panggil suamimu agar tahu caranya menikmati tubuh indahmu" Ucap pak Udin yang membuat Rachel kembali teringat. Membayangkan dirinya tengah berada di dalam ambang bahaya andai suaminya keluar dari dalam kamar mandi membuatnya semakin berdebar saja.

Namun pak Udin tak henti-hentinya dalam menikmati keindahan ustadzah dihadapannya. Bokong Rachel diremas-remas. Payudaranya juga ikut diremas-remas. Bidadari itu pun merinding merasakan kenikmatan yang tak bisa ia jelaskan.

Ustadzah yang sebentar lagi akan menikah itu semakin ternoda oleh pelecehan yang dilakukan oleh tukang sapu itu. Apalagi saat teringat kejadian dengan calon suaminya tadi. Ia heran, sejak kapan payudaranya keluar dari dalam kemejanya ? Sejak kapan juga kancingnya terlepas sehingga payudaranya gampang keluar dari dalam kemejanya.

Saat dirinya membayangkan ekspresi wajah calon suaminya tadi membuat ia merasa kalau Adit sudah lama tau kalau dirinya tidak mengenakan dalaman saat mengenakan pakaian ketatnya.

Membayangkan hal itu membuatnya jadi semakin bernafsu. Ia pun memejam pasrah sambil mendorong tubuh tuanya dengan lemah karena sudah tak berdaya.

Tiba-tiba pak Udin melepaskan cumbuannya lalu memelorotkan celana yang Rachel kenakan. Rachel terkejut karena dirinya tidak menyadari hal itu. Celananya langsung turun sehingga memperlihatkan keindahan vaginanya yang berbulu jarang.

"Aaahhhh paaakkk" Ucap Rachel sambil berusaha menahan celananya.

Namun terlambat. Pak Udin sudah memelorotkan celana Rachel hingga melewati kedua lututnya. Paha mulusnya terlihat. Warnanya yang bening menyegarkan mata Pak Udin seketika. Pak Udin pun mendekatkan hidungnya untuk menghirup vagina Rachel yang beraroma perawan.

"Uhhhhh segernyaaa... Indah sekali memek perawanmu ini" Ucap Pak Udin sambil memandangi keindahan kemaluan Rachel.

"Aaahhh... Jangannn pakkk.... Jangannn di lihattt... Akkkuu malluu"

"Huehuehue.... Jadi tergoda saya buat genjot memekmu... Boleh kan ?" Katanya tersenyum sambil mengangkat wajahnya ke atas.

"Apa ? Jangaannn !!! Bapak udah janji untuk tidak menyentuh kemaluanku kan ?" Ucap Rachel panik.

"Huehuehue... Iya, becanda aja ustadzah" Ucap pak Udin yang langsung menjilati bibir vaginanya dengan lahap.

"Uhhhhh pakkk... Uhhhhh hentikannn... Uhhhhh" Desah Rachel memejam nikmat.

Dirinya yang masih berhijab namun memamerkan keindahan payudaranya sedang asyik dijilati kemaluannya oleh tukang sapu itu. Berulang kali tangan Rachel mendorong kepala pak Udin menjauh. Namun tukang sapu itu tidak mau mengalah. Bibir tukang sapu itu terus melaju mendorong bibir kemaluan ustadzah cantik itu. Lidahnya menjorok keluar. Lidahnya menjilati bibir kemaluannya dengan sangat lahap.

"Ahhh... Hentikann... Hentikannn" Kata Rachel kewalahan saat lidah pak Udin menjilat-jilat vaginanya.

"Uhmmm... Mmppphhh... Mmppphhh" Desah pak Udin tanpa memperdulikan ucapan Rachel. Ia terus menjilati vagina Rachel. Terkadang ia cuma menjilati tepinya tapi terkadang lidahnya juga masuk sehingga merasakan aroma yang agak amis di dalam. Tiap kali ia menjilatinya, ia terbayang kalau kemaluan yang sedang ia jilat itu masih perawan. Akibatnya nafsunya membesar. Ia jadi semakin beringas dalam menjilati vagina indah itu.

"Mmmpphhh mantapnya... Sekarang giliran yang satunya" Ucap pak Udin sambil meminta Rachel untuk berbalik badan kemudian menungging.

Lubang dubur yang berulang kali ia masuki itu langsung membuka. Ukurannya agak lebar karena sudah berulang kali dibobol olehnya juga santri-santri yang pernah ditemuinya.

Lidahnya itu langsung masuk ke dalam lubang duburnya. Awalnya ia menjilati tepinya dahulu. Lalu ia meludahi lubangnya lalu menjilatinya lagi. Rachel merinding hebat merasakan sensasinya. Apalagi saat jemari pak Udin turut aktif dalam melonggarkan lubang dubur ustadzah berbadan montok itu.

Setelah semua persiapan siap. Ia langsung berdiri kemudian memeluk tubuh montoknya dari belakang.

"Ayo ikut saya" Bisik pak Udin yang membuat Rachel kebingungan.

"Keee... Kemanaaa pak ?" Ucap Rachel bingung.

"Ayoo ikut aja !" Ucapnya sambil menarik tangan Rachel ke arah dalam kantor bagian pengajaran itu.

Rachel terkejut kalau tukang sapu itu berniat membawanya masuk ke dalam kantor calon suaminya itu. Saat wajahnya ia naikan, ia melihat kalau ada pintu kamar mandi disana.

Ituu ? Jangan-jangan ?

Batin Rachel mengira.

"Pakkk mauu kemana ? Disitu ada calon suamiku pakk... Calon suamiku ada di dalam !" Ucap Rachel panik. Kendati panik, ia tetap memelankan suaranya agar tidak didengar.

"Ssstttt... Diam" Ucap pak Udin memintanya agar tidak berisik.

Tiba-tiba Rachel diminta bertumpu di dinding di sebelah pintu masuk kamar mandi. Pak Udin yang ada di belakangnya memberikan gestur untuk diam. Ia pun meminta Rachel untuk fokus dengan suara yang sedang ia dengar.

Rachel heran dengan suara apa yang sedang pak Udin maksud. Namun saat dirinya fokus ke suara yang ada di dalam kamar mandi. Ia mendengar suara calon suaminya yang sedang mendesah sambil menyebut namanya.

"Aaahhhh... Aahhhh Rachelll" Desah Adit mengejutkan Rachel.

"Huehuehue... Dengerin calon suamimu yang lagi sangek tuh... Kasian banget dia gara-gara ustadzah menggodanya" Ucap pak Udin sambil meraba-raba pinggang mulusnya untuk merangsang tubuh setengah telanjangnya.

"Ttaaa... Tappiii" Ucap Rachel terputus.

Tapi aku gak tau loh mas... Mas lagi sangek yah ? Mas lagi beronani sambil bayangin susuku yah ?

Batin Rachel.

Terdengar juga suara keran kamar mandi yang sedang menyala. Sepertinya Adit sengaja menyalakan keran untuk mengurangi suara desahannya yang mungkin terucap. Pantas saja sedari tadi ia tak sadar kendati Rachel terus-terusan mendesah saat menerima rangsangan tukang sapu itu.

"Huehuehue... Lihat ini ustadz... Kalau ustadz sange... Kenapa gak kaya gini aja !" Ucap pak Udin mengeluarkan penisnya dari dalam celana seragamnya. Ia meludahinya dulu kemudian mengocoknya ke arah lubang dubur ustadzah montok itu.

"Ppaakkk... Janggg... Janggannn.... Jangann disiniii pakkk ?" Ucap Rachel panik sambil menoleh ke belakang. Wajahnya ia gelengkan. Ia tak mau suaranya bisa terdengar oleh calon suaminya.

"Uhhhhh... Uhhhhh Racheelll... Andai mas bisa menggenjotmu... Pasti mas akan menggenjotmu sekuat-kuat nya" Desah Adit samar-samar karena teredam oleh suara air keran.

Rachel terkejut mendengar desahan calon suaminya itu. Tapi ia lebih terkejut lagi saat ujung gundul penis pak Udin mulai terbenam ke dalam lubang duburnya.

“Aahhh paaakkk... Jangaannn” desahnya saat tepi duburnya sudah menyentuh ujung gundul dari penis pria tua itu.

"Huehuehue... Rasakan ini, heennkkgghhh !!"

Saat pak Udin mendorong sedikit pinggulnya. Nampak ujung gundulnya mulai membelah bibir dari dubur bidadari itu.

“Uuhhhh paakkk” desah Rachel saat merasakan kenikmatan dari tusukan penis pria tua itu.

Jelas penis itu tidak langsung masuk karena lubang dubur Rachel masih cukup sempit untuk langsung dimasuki. Penisnya baru masuk ujung gundulnya saja. Maka dari itu pak Udin menarik sedikit pinggulnya kemudian mendorongnya sekuat tenaga.

"Heennkkghhhh !!!"

"Aaahhhh Cheelll... Uhhh sempit banget lubangmu" Desah Adit di dalam yang mengejutkan mereka berdua. Pak Udin hanya terkekeh-kekeh. Sementara Rachel hanya memejam sambil berusaha menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.

Dalemm banget penisnya pak Udin... Uhhhh kenapa juga mas Adit tadi mendesahnya pas banget... Rasanya jadi kaya mas Adit yang sedang menyetubuhiku sekarang !

Batin Rachel dalam hati.

Akibat duburnya sering dimasuki oleh berbagai bentuk penis. Cukup dua hentakan saja bagi pak Udin untuk membenamkan keseluruhan penisnya di dubur sang bidadari. Pak Udin tersenyum. Kedua tangannya meremas-remas bongkahan pantat ustadzah itu dengan penuh nafsu.

"Huehuehue... Siap ustadzah untuk saya genjot lagi ?" Ucap pak Udin sambil menatap wajah Rachel yang sedang menoleh ke arahnya.

Rachel hanya menggelengkan kepala secara lemas. Namun bagi pak Udin, raut wajah itu terlihat begitu menggairahkan hingga pinggulnya langsung ia tarik sebelum menyodoknya dengan sangat kuat.

"Uhhhhhhh" Desah Rachel kelepasan saat tubuhnya terdorong maju.

"Huehuehue... Mantapnya... Lagiiii !!!" Ucap pak Udin menarik pinggulnya lagi lalu menghantamnya lagi.

"Uhhhhhhh pakkkk" Desah Rachel hingga merapatkan kedua kakinya.

"Belummmm... Sekali lagi, hennkkgghhh !!!" Desah pak Udin kali ini menariknya lalu menyodoknya sekuat tenaga. Baru setelah itu ia mulai melakukan gerakan maju mundur untuk melebarkan lubang dubur ustadzah cantik itu.

"Uhhhh paakkk... Uhhhhh... Uhhhhhhh" Desah Rachel dengan mata memelas sambil menggelengkan kepalanya.

"Aahhhh... Indahnya suara desahanmu... Aahhhh nikmatnya goyanganmu" Ucap Adit mengejutkan Rachel.

Sontak pak Udin menghentikan genjotannya sejenak. Ia tersenyum. Ia puas dengan suasana mendebarkan yang sedang ia rasakan.

Mas Adiittt !!!

Batin Rachel terkejut mendengar calon suaminya masih beronani sambil menyebut namanya. Ia tidak tahu kalau selama ini calon suaminya sering beronani sambil membayangkan dirinya. Namun anehnya, hal itu malah merangsang birahi ustadzah berbadan montok itu.

"Huehuehue" Tawanya sambil melanjutkan sodokan nikmatnya.

"Uhhhhh pakkkk" Desah Rachel saat tubuhnya terhentak ke depan.

Membayangkan dirinya yang bisa menggenjot anus Rachel ketimbang calon suaminya yang hanya bisa beronani membuat pak Udin terlihat lebih bernafsu lagi.

Pak Udin semakin menancapkan penisnya lebih dalam lagi yang membuat diri Rachel mengangkat kepalanya karena tak kuasa menahan besarnya penis yang sedang keluar masuk di dalam duburnya.

“Aahhhh sakkkittt.... Paaakkkkk” desah Rachel memejam.

“Ouhhhhh nikmattt sekaliii... Ohhh yahhhh” desah Pak Udin sambil terus mendorong pinggulnya sambil sesekali meremas bongkahan pantatnya dan mengelusi kulit mulusnya.

"Huehuehue... Mulus sekali kulitmu ustadzah... Rapet sekali lubang boolmu" desah pak Udin sambil memejam dan memajukan bibirnya.

Suara derasan air yang mengucur dari dalam kamar mandi saat memenuhi bak mandi itu masih cukup untuk meredam suara desahan pak Udin dan Rachel. Adit jadi tidak mendengar suara desahan mereka di luar. Sebaliknya, suara desahan Adit yang cukup keras juga nyaris tidak didengar oleh mereka. Tapi samar-samar suara desahan Adit masih bisa didengar oleh mereka berdua, khususnya Rachel yang berada di dekat pintu kamar mandi.

“Aahhhhh... Ahhhhhhhh” desah Rachel merasakan tusukan dari penis tua itu yang terasa semakin dalam menembus duburnya. Tubuh montoknya terdorong maju mundur berulang kali.

Pak Udin keenakan hingga tak dapat menjelaskan kenikmatan yang ia terima. Gesekan dinding anus Rachel yang sempit dan hangat benar-benar telah memuaskan gairah birahi nya.

“Udahhhh... Uhhhhh udaahhh jangann didorongg lagii.... Ahhhhh... Ahhhhhh” desah Rachel sambil memejam merasakan tusukan dari pria tua berkumis tebal itu.

Kepuasan yang tak terkira besarnya membuat pak Udin tak kuasa untuk menahan diri lagi. Tanpa membiarkan Rachel beristirahat, ia langsung menarik penisnya hingga ujung gundul dari penisnya itu nyaris keluar dari tepi duburnya. Kemudian tanpa ampun ia langsung membenamkannya hingga keseluruhan penisnya terlahap oleh lubang dubur Rachel.

“Uhhhhhhhhhhhhhhhh” desah Rachel merinding hebat.

Kembali ia menarik penisnya hingga ujung gundulnya itu nyaris keluar dari tepi duburnya. Nampak kulit dalam dari dinding dubur Rachel ikut tertarik keluar sebelum tiba-tiba pak Udin menghentakan pinggulnya lagi hingga tubuh Rachel kelojotan meladeni nafsu buasnya.

“Aahhhhhhhhh pakkkkkkk” desah Rachel melonglong panjang.

Tak pernah terpikiran olehnya bahwa dirinya akan disetubuhi oleh pak Udin didekat calon suami. Apalagi calon suaminya sedang mendesah saat beronani membayangkan dirinya. Tak pernah sama sekali dirinya berniat untuk menggoda calon suami. Ia ingin menjadi wanita yang sempurna di hadapan calon suami. Namun insiden saat payudaranya meloncat keluar tanpa sepengetahuannya tadi benar-benar membuatnya malu sekali. Rachel terus saja pasrah membiarkan pak Udin menyodok-nyodok lubang duburnya agar segera selesai dalam memuasi tubuhnya di dekat kamar mandi yang berisi calon suami.

“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah mereka berdua nyaris berbarengan.

Gerakannya semakin cepat saja. Gerakannya cenderung tak beraturan. Kadang pinggul pak Udin bergerak cepat tapi kadang pinggulnya bergerak secara perlahan. Saat gerakannya cepat, tubuh Rachel hampir terlontar-lontar menahan tusukan dari pria tua di belakangnya. Tangan Rachel sampai mencengkram kuat dinding yang menjadi tumpuan dirinya agar tidak menabrak terkena dorongan penuh nafsu dari tukang sapu itu.

Plokkk plokkk plokkkk !

“Ahhhh... Ahhhh pakkk... Ahhhh pelan pelan pakkk... Ahhhhh” desah Rachel dengan manja.

Pak Udin tak mendengarkannya. Ia malah mempercepat gerakan pinggulnya. Kedua tangannya juga memperkuat cengkramannya pada pinggang mulus itu. Akibatnya Rachel semakin mendesah keras merasakan tusukan yang begitu kuat.

“Aahhhh... Ahhh... Ahhhhh”

"Uhhhhh... Uhhhh mantapnyaaa... Aaaahhhhh"

Tiba-tiba pak Udin mencabut penisnya sebelum gelombang sperma sampai di lubang kencingnya. Rachel yang terkejut langsung melemas. kedua lututnya jatuh mengenai lantai ruangan yang sangat dingin. Celana ketatnya masih melekat di kedua mata kakinya. Celana itu masih saja disana tampa sempat dilepas oleh pemiliknya.

"Ayo hadap sini ustadzah... Huehuehue" Kata pak Udin sambil mengarahkan wajah Rachel ke arah selangkangannya.

Rachel yang kehabisan tenaga nurut saja saat dipaksa mengikuti keinginan pria tua itu. Tiba-tiba penis besar berbadan gemuk itu mengangguk-ngangguk tepat di hadapan wajahnya. Rachel terkejut. Ia juga merasa jijik menatap penis yang baru memasuki lubang duburnya. Rachel reflek memundurkan wajahnya ingin menjauhi benda berbentuk lonjong tersebut.

"Huehuehue... Gimana aromanya ustadzah ? Menggoda bukan ?" Katanya tanpa tahu malu. Ia pun melepaskan satu demi satu kancing seragamnya agar dirinya bisa lebih leluasa dalam menikmati keindahan tubuh bidadari itu. Ia juga melepaskan celananya agar dirinya bisa samaan dengan bidadari yang sedang berjongkok di hadapannya. Ketelanjangan di dekat kehadiran calon suami semakin menambah sensasi untuk menyetubuhi ustadzah satu ini.

"Buka mulutnya ustadzah... Nikmati kontol saya yang baru memasuki anusmu" Katanya sambil mendorong-dorong penisnya hingga ujung gundulnya menabrak bibir tipis ustadzah cantik itu.

"Mmpphh hentikan... Mmpphh jorokk tau pakkk" Ucap Rachel dengan lirih agar tidak didengar oleh calon suaminya yang masih asyik beronani.

Rachel merasa risih saat penis tua itu dengan bebas melecehi wajahnya. Rachel ingin sekali pergi tapi tubuhnya masih lemas setelah disetubuhi dengan cara barbar oleh pak Udin tadi. Tiba-tiba bibirnya didorong oleh penis besar itu.

"Uuuhhhh dikit lagi... Ahhhh yahhh mantappppp" Desah pak Udin puas.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Rachel saat mulutnya disumpal oleh ujung gundul penis itu yang semakin masuk ke dalam.

"Doronggg.... Dorongggg... Ahhhh" Desah pak Udin sambil mendorong pinggulnya sementara kedua tangannya menahan kepala Rachel hingga bidadari itu tidak bisa kabur dari penis besarnya.

"Mmmppphh... Mmppphhh" Desah Rachel memejam sambil menggelengkan kepala.

Rachel benar-benar kalut saat penis bekas duburnya itu sudah berada di dalam mulutnya. Membayangkan hal itu membuat perutnya menjadi mual. Ia ingin sekali memuntahkan penis besar itu di mulutnya namun pak Udin terus memaksakan masuk. Pak Udin sendiri merinding saat ujung gundulnya semakin masuk ke dalam mulut bidadari itu. Campuran liur yang mengenai ujung gundulnya semakin menambah kesan nikmat yang ia terima di pentungan miliknya.

"Ahhhh akhirnyaahhh masuk semuaaa" Kata pak Udin puas.

Rachel hanya memejam saat kerongkongannya disodok oleh ujung gundul dari penis besar itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhhh" Tanpa ampun pak Udin langsung memaju mundurkan pinggulnya ke arah mulut Rachel. Pak Udin tersenyum puas sambil memegangi kepala mungil Rachel. Penis itu pun semakin diselimuti oleh liur Rachel. Penis itu semakin berkilauan. Penis itu semakin licin yang membuatnya semakin cepat dalam keluar masuk di dalam mulut bidadari itu.

"Mmpphhh... Mpphhhh" Desah Rachel tak tahan dalam menahan aroma menyengat dari penis bekas dubur itu.

Beruntung bagi Rachel karena pak Udin segera menghentikan aksinya. Ia yang nyaris keluar saat menyodomi dubur ustadzah montok itu segera melepaskan penisnya dari mulut ustadzah berbadan montok itu.

"Ayo berdiri... Buruan saya gak kuat lagi" Kata pak Udin merasakan penisnya nyaris berdenyut kalau saja dirinya tidak segera mencabutnya dari mulut kecil Rachel.

Rachel dengan lemas dipaksa berdiri oleh pria tua berkumis tebal itu. Dirinya lagi-lagi diposisikan menungging membelakangi. Kemeja berwarna coklat yang melekat di tubuhnya ditarik paksa oleh tukang sapu itu. Jadilah Rachel bertelanjang bulat di dalam kantor bagian calon suaminya. Rachel pun mengerutkan dahinya saat tepi duburnya kembali tersentuh oleh penis besar itu.

"Oouuhhhh Rachelll... Nikmat sekali mulutmu tadiii... Ouhhhh izinkan mas menyodok memekmu lagi yah" Ucap Adit terdengar keras yang membuat Rachel terkejut.

Tiba-tiba,

"Ahh.... Ahhhhhhhh" Desah Rachel saat ujung gundul dari penis besar itu mulai menyelinap memasuki lubang duburnya.

"Huehuehue... Mantappp... Mantappp.... Biarkan saya yang mewakili calon suamimu untuk menyodok tubuh indahmu" Ucap pak Udin setelah mendengar suara desahan Adit di dalam kamar mandi.

"Ahhhh... Ahhh pakkkk... Tolong jangann lagi... Jangan disini pak nanti calon suamiku tau" Ucap Rachel menyadari kalau calon suaminya sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Bagaimana nanti kalau calon suaminya keluar dan melihat dirinya tengah disodomi oleh pria tua ini ?

"Huehue... Tenang... Calon suamimu aja masih asyik nyoli kok... Ustadzah tinggal menikmati aja yahhhh... Hennkkgghhh" Desahnya saat mendorong penis itu semakin masuk.

"Ahhhhhhhhh" Desah Rachel hingga ia mengangkat kepalanya naik menatap langit-langit kantor bagian ini.

Pak Udin tertawa puas saat menatap reaksi sange Rachel saat dihentak secara keras oleh dirinya. Wajah Rachel semakin terlihat bernafsu saat perlahan demi perlahan tubuh pak Udin mulai menggerakan pinggulnya pelan.

"Ahhhh... Ahhhh pakkk... Ouhhh.... Ouhhhhh" Desah Rachel yang membuat pak Udin bersemangat.

"Huehuehue... Asyiknyaaa... Ayo ustadzah... Teriak lagiii... Yang asyik teriaknya yah... Sampai didengar calon suamimu" Desah pak Udin sambil menarik pinggang ramping Rachel yang sudah tidak tertutupi apa-apa.

"Ahhh... Ahhhh... Ahhhh... Ahhh bapakkk... Aahhhhh" Desah Rachel tanpa sadar karena tak sanggup menahan volume suaranya.

Hentakan yang terlampau keras membuat Rachel menungging sambil membungkukan tubuhnya. Kedua tangannya hampir menyentuh lantai karena khawatir akan jatuh ke bawah. Untungnya kedua tangan pak Udin dengan sigap mendekap pinggang rampingnya. Ia juga dengan sigap memaju mundurkan pinggulnya hingga membuat bidadari itu kewalahan menerima sodokan demi sodokan dari pria tua berkumis tebal itu.

"Ouhhhh.... Ouhhhhh... Pakkk.... Ahhhhhh.... Sudahhh pakkk... Jangannn.... Ahhhh" Desah Rachel. Payudaranya yang menggantung itu bergerak maju mundur. Pahanya semakin memerah terkena koplokan dari pinggul pak Udin.

"Awww.... Awwww.... Ahhhhhhhh" Desah Rachel saat bongkahan pantatnya juga ditampar-tampar.

"Huehuehue... Teruss ustadzah... Mendesahhh yang nikmat donggg... Puasin semua nafsumu itu.... Jangan ada yang ditahan yah... Ajari calon suamimu biar kalau sange kerjaannya jangan nyoli terus... Huehuehue" Katanya tertawa saat menikmati jepitan anus Rachel.

Punggung mulus Rachel di elus. Bongkahan pantatnya juga di elus. Nafas pak Udin ngos-ngosan saat menikmati santapan lubang anus yang begitu legit. Penisnya terasa dijepit. Ia pun menatap langit-langit.

"Ayooo bangunnn ustadzaahhh... Iyyyaaahhh" Ucap pak Udin mengangkat tubuh Rachel hingga berdiri membelakangi.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhhh.... Mmppphhhhhh" Desah Rachel saat tiba-tiba payudaranya di remas oleh tukang sapu itu. Remasannya cenderung kuat. Rachel pun jadi mendesah hebat.

"Ouhhh nikmatnya anusmu ini ustadzah... Ouhhh susumu juga kenyel banget" Ucap pak Udin memelankan tusukannya kemudian menariknya perlahan sebelum menyodoknya dengan kuat.

Jlleeebbbb !!!

"Ahhhhhhhh" Desah Rachel merinding merasakan tusukan nikmat dari tukang sapu itu.

Penis besar itu dengan mudahnya keluar masuk di dalam anus Rachel karena sudah licin terkena campuran liurnya juga cairan dari dalam anus bidadari itu.

"Ouhhhhhh mantappnyahhhh" Desah pak Udin sampai merinding.

Pak Udin terus meremasi payudara ustadzah montok itu tuk memuaskan nafsu yang semakin menggebu. Jemarinya juga ikut andil dengan memelintir puting susu itu juga menekannya ke dalam sehingga membuat pemiliknya mendesah nikmat.

"Ouhhhh... Ouhhhhhh... Ouhhhh pakkkk... Ouhhhh sudahhh pakkk" Kata Rachel semakin berdebar. Ia sangat khawatir andai calon suaminya tiba-tiba keluar dari kamar mandi. Namun kenikmatan yang ia dapatkan membuat matanya memejam dan bibirnya maju merasakan penis itu semakin dalam merangsang gairah birahinya.

"Ahhhhh... Ahhhh... Mantappnyahh... Ouhhhh yahhhh" Desah pak Udin sambil mengecupi punggung mulus itu yang begitu halus. Pinggul Pak Udin bergerak semakin cepat. Goyangannya pun semakin hebat. Kadang ia putar penisnya secara vertikal menyamping. Kadang ia juga menancapkan penisnya terlebih dahulu lalu menariknya hingga nyaris terlepas lalu menghentaknya dengan kuat hingga bidadari itu tersentak.

"Ahhhhh... Ahhhhh... Ahhhh" Desah Rachel.

Salah satu tangan pak Udin turun untuk merangsang vaginanya yang sedari tadi menganggur. Tak terasa rupanya vaginanya sudah basah. Tangannya itu pun menggesek bibir vaginanya yang membuat pemiliknya semakin terangsang dengan kenikmatan yang ia dapatkan.

"Uhhhh pakkk... Uhhhhhh" Desah Rachel hingga pinggulnya bergoyang.

"Ahhhh dikitt lagii... Ahhh gak kuattt... Ahhhh mantapnyahhh" Desah pak Udin tak kuasa menahan birahi ini lagi.

"Ahhhh... Ahhhhhh... Ahhh pakkk cukupppp... Ahhhhh" Desah Rachel yang rupanya juga nyaris mendepatkan klimaksnya. Mata Rachel memejam. Kedua tangannya mengepal kuat saat tubuhnya didekap oleh tukang sapu itu dari belakang.

Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!

Hentakan demi hentakan telah pak Udin layangkan. Kepalanya sampai menggeleng-geleng tak kuasa menahan kenikmatan ini.

"Uhhhh... Uhhh... Uhhhhhh" Desahnya sambil memegangi payudara Rachel juga menggesek vaginanya. Pak Udin mempercepat gerakan pinggulnya. Gerakannya semakin cepat hingga suara plok plok plok itu semakin keras.

"Ahhhh... Ahhhh dikit lagi.... Ahhh iyahhhhhhhhhhh" Pak Udin dengan satu hentakan yang kuat menancapkan penisnya hingga mentok menyundul anus Rachel. Kenikmatan yang semakin kuat membuat tangannya menekan biji klitorisnya hingga membuat ustadzah montok itu juga mendapatkan klimaks dari persetubuhannya.

"Uhhhhhhhh" Rachel memejam hebat saat lagi-lagi liang duburnya disirami oleh cairan kental berwarna bening oleh tukang sapu itu.

Tubuh pak Udin mengejang. Matanya merem melek. Tubuhnya kelojotan hingga nyaris menubruk tubuh Rachel ke arah dinding. Tak lama kemudian giliran Rachel yang mendapatkan klimaksnya hingga semprotannya dengan deras membasahi dinding kantor bagian pengajaran itu.

Mereka berdua telah sama-sama puas. Khususnya pak Udin yang bisa menggenjot Rachel di dalam kantor bagian milik suaminya. Setelah energinya terkumpul kembali pak Udin pun mencabut penisnya hingga lelehannya dengan deras keluar mengalir melewati paha bagian dalam ustadzah termontok itu.

"Uhhhhhh" Desah Rachel merinding hebat. Ia tak menduga dirinya bisa puas disodomi hingga dirinya selelah ini. Perlahan demi perlahan kakinya melemas hingga membuatnya duduk berlutut di depan dinding yang baru ia sirami menggunakan cairan cintanya.

"Huehuehue... Liat kan ? Calon suami ustadzah aja masih betah di dalem... Jangan khawatir lagi ustadzah... Kita nikmati aja momen mendebarkan ini bersama" Tawa pak Udin sambil mengoleskan ujung gundulnya ke arah pipi ustadzah montok itu.

"Mmpphh" Ucap Rachel risih saat penis bekas anusnya itu dioleskan ke arah pipinya.

Rachel yang kelelahan pun bingung. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh calon suaminya di dalam ? Beronani ? Kenapa selama ini ? Apa mungkin karena ini ronde keduanya sehingga calon suaminya juga butuh waktu untuk menegakannya dulu baru setelah itu mengeluarkan spermanya lagi ? Rachel pun mencoba fokus untuk mendengar suara dari dalam kamar mandi.

Kreeekkkk !!!

Rachel terkejut ketika mendengar suara gagang pintu yang akan dibuka. Pak Udin juga demikian, untungnya terdengar suara lanjutan dari dalam.

"Oh iya dikunci... Huffttt puasnya bisa keluar dua kali" Ucap Adit yang baru setelah itu membuka kuncinya.

"Huehuehue... Saya duluan yah ustadzah" Ucap pak Udin ngeluyur pergi setelah memungut pakaiannya.

"Pakkk tungggguuu" Ucap Rachel dengan lirih. Dirinya juga ingin cepat pergi tapi tenaganya tidak ada lagi.

Tepat saat itu, pintu telah terbuka. Rachel terdiam ditempat karena bingung harus melakukan apa. Sebisa mungkin ia tidak bergerak demi mengurangi sedikitpun suara.

"Hah... Leganyaaa" Ucap Adit setelah keluar dari dalam kamar mandi.

Rachel yang terduduk dapat melihat Adit sedang berdiri di sampingnya. Jantungnya semakin berdebat karena dirinya sedang tidak berpakaian.

Duhhh gimana nih ? Jangan liat kesini mas... Plissss !

Batin Rachel pasrah.

Untungnya Adit langsung berjalan ke depan tanpa sempat melihat sekitar. Ia buru-buru kembali ke mejanya karena khawatir akan ada pengajar lain yang datang untuk mengumpulkan koreksiannya.

Fiiyyyuuhhhh !

Batin Rachel sambil mengelus dadanya.

Adit yang kian menjauh membuat Rachel buru-buru ingin mengenakan celananya lagi. Tapi apa daya, celana itu ketat sekali membuatnya kesulitan untuk mengenakannya kembali. Rachel pun berdiri sambil berusaha menaikan celananya.

"Lohhh... Rachel" Ucap Adit mengejutkan Rachel.

Jantung Rachel rasanya seperti berhenti berdetak. Tubuhnya membeku. Wajahnya ia naikan untuk melihat ke arah suara Adit berasal.

"Ini kan baju yang tadi Rachel pakai... Kok... Bisa ?" Ucap Adit setelah menemukan kemeja berwarna coklat yang tadi Rachel pakai.

Rachel kembali merasa lega. Rupanya bukan karena memergokinya, Adit sampai menyebut namanya. Ia pun kebingungan sekarang. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa pergi dari sini ? Di depan ada Adit dan dirinya tidak punya pakaian untuk menutupi keindahan tubuhnya.

Saat Rachel masih berusaha mengenakan celananya. Tiba-tiba ia terjatuh karena tersandung celananya sendiri. Sialnya ia terjatuh ke arah tumpukan kardus bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Muncul lah suara gaduh yang berasal dari kardus yang berjatuhan itu.

"Suara apa itu ?" Ucap Adit langsung melihat ke arah sumber suara.

Saat wajahnya melongok ke belakang, Adit langsung terdiam dan matanya membuka lebar.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy