Sore harinya sekitar pukul empat tepat.
Di sebuah jalan setapak di dekat taman pesantren. Terdapat sepasang manusia yang sedang menikmati waktu berdua. Sambil malu-malu wajah mereka menunduk. Senyum penuh kebahagiaan terpampang di wajah menawan mereka. Mereka sedang berjalan bersama menyusuri jalan penuh kenangan setelah menikmati waktu berdua di taman pesantren.
"Cheelll... Kuliahmu gimana ? Apa gak keganggu kalau kita nikah nanti ?" Tanya Adit di sebelahnya.
"Kira-kira gak lah mas... Aku kan biasanya kuliah sore... Tapi nanti setelah kita nikah kayaknya aku bakal ambil kelas pagi aja... Kita gak lanjut disini kan ?" Tanya Rachel.
"Nah itu yang mesti kita diskusikan lagi chell... Masih mau ngajar disini ? Apa kita mau sama-sama berjuang dari awal aja dengan hidup di dunia luar ?" Ucap Adit masih bimbang.
"Hihihi kurang tau mas... Ya nanti pas liburan kita diskusikan lagi aja yah" Ucap Rachel sambil malu-malu.
"Iyya dek" Jawab Adit yang diam-diam sambil melirik ke arah tonjolan dada Rachel yang tertutupi gamis lebarnya.
Adit masih ingat betul kejadian di siang tadi. Kejadian yang membuatnya secara tak sengaja menatap buah dada calon istrinya yang ternyata sangat besar. Jujur sedari tadi dirinya masih ragu untuk menanyakan kejadian di siang tadi. Ia sangat malu. Tapi ia sangat penasaran mengenai alasan kenapa calon istrinya sampai melakukan perbuatan seperti tadi.
Tapi terlepas dari itu. Ia sangat menyukai bentuk payudaranya. Ia juga sangat menyukai warna kulitnya. Apalagi tubuh montoknya. Setelah Adit dapat melihat bentuk payudara Rachel tadi, ia jadi ingin melihat keseluruhan tubuh telanjangnya. Tapi bagaimana caranya ? Ia sangat ingin melihatnya sekarang ? Masa iya, ia tinggal meminta ke Rachel agar melepas bajunya ? Bagaimana kalau Rachel marah nanti ? Bagaimana kalau tadi Rachel memang tidak sengaja memperlihatkan bentuk payudaranya ?
Memikirkan hal itu membuat Adit pusing saja. Ia pun menatap kesepuluh jemarinya sambil menghitung sisa hari menjelang hari akadnya.
Duhhh kapan sih kita sahnya Chelll... Mas pengen banget genjotin kamu nihhh !!!
Batin Adit sambil melirik tubuh indah Rachel.
Sementara Rachel diam-diam mengingat kejadian di siang tadi. Kejadian ketika dirinya terjatuh saat sedang mengenakan celananya kembali ke arah tumpukan kardus bekas yang sudah tak terpakai.
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA
Bruukkk... Bruukkk... Bruukkk !
Adit lekas menoleh ke belakang ketika mendengar suara gaduh. Matanya membuka, ia heran kenapa tumpukan kardus bekas yang sengaja ia tumpuk di dekat kamar mandi tiba-tiba jatuh sendiri.
"Ada apa tuh ? Kenapa pada jatuh sendiri ?" Ucap Adit sambil menoleh ke belakang.
Ia heran dengan kejadian yang terjadi di kantor bagiannya. Padahal jarang sekali ada angin yang berhembus di dekat kamar mandinya. Apakah ada sesuatu yang sudah menyenggolnya ?
Perlahan demi perlahan Adit berjalan ke arah tumpukan kardus tersebut. Rachel yang ada di bagian bawah menjadi gugup karena calon suaminya semakin dekat ke arahnya. Rachel tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Apalagi dirinya sedang bertelanjang bulat tanpa sehelai benang pun kecuali hijab beserta celana ketatnya yang masih menyangkut di mata kakinya.
Duhhh jangan kesini dong mass... Plisss jangan kesiniii !
Batin Rachel penuh harap.
Namun harapannya kian sulit terwujud saat Adit kian mendekat ke arahnya. Dari sela-sela tumpukan kardus yang menindihinya, Rachel dapat melihat wajah Adit yang sedang keheranan menatap tumpukan kardus yang menumpuk tubuhnya.
Aduhhh gimana ini ? Jangan dongg masss.... Jangan kesiniii... Aku malu mas... Tolonggg jangan mendekat lagi !
Batin Rachel pasrah sambil menutup mata. Ia juga menahan nafasnya. Ia melakukan segala hal yang ia bisa agar dirinya tidak ketahuan oleh calon suaminya.
Satu demi satu kardus itu sedang diangkat oleh Adit. Jantung Rachel kian cepat berdebar. Akankah nasibnya berakhir seperti ini ? Apakah calon suaminya akan marah setelah tahu dirinya suka bertelanjang bulat di ruangan terbuka ?
"Lohhh" Ucap Adit yang membuat Rachel reflek membuka mata.
"Assalamu'alaikum" Ucap seorang ustadzah yang menyapa dari kejauhan.
"Waalaikumsalam ustadzah" Ucap Adit yang rupanya menyadari kalau ada tamu yang datang ke kantor bagiannya. Pelan-pelan ia berbalik badan sehingga menjauhi keberadaan Rachel sekarang.
Diam-diam Rachel mengelus dadanya yang begitu mulus. Suara Adit yang kian mengecil membuat Rachel merasa yakin kalau Adit semakin jauh darinya. Dengan waktu singkat, Rachel berusaha menyingkir dari tumpukan kardus tersebut. Ia juga melepaskan celananya yang sudah membuatnya nyaris ketahuan saat terjatuh tadi.
Jadilah Rachel bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Masih ada satu rintangan lagi baginya agar bisa lolos dari tempat yang mendebarkan ini.
"Gimana yah caranya pergi dari sini ?" Lirih Rachel saat sedang bertelanjang bulat.
Seketika ia menemukan sebuah pintu yang berada di sebelah kanannya. Sambil mengendap-ngendap dirinya berjalan menuju pintu itu.
Untungnya Adit masih asyik mengobrol dengan ustadzah tadi. Rachel berhasil membuka pintu. Ia pun menemukan jendela yang terbuka lebar di ruangan kecil itu.
Dengan sedikit modal nekat yang dimilikinya, Rachel meloncati jendela itu kemudian berlari kecil sambil melihat ke arah sekitar untuk melihat keadaan di luar sana. Bukan berarti keadaan di luar sedang sepi. Masih ada beberapa santri yang melangkah pergi. Tapi Rachel yang sudah kepepet terus berlari. Ia tak peduli andai ada salah satu santri yang memergokinya berlarian dalam keadaan telanjang bulat.
"Fiyyuhhh sampai juga di kelas" Ucap Rachel sambil melihat keadaan di luar.
Ia pun geleng-geleng kepala menyadari aksi nekatnya yang berlari dari gedung pengajaran ke gedung kelas ini. Padahal ada jarak sekitar 10 meter yang membentang. Tapi ia berhasil menaklukannya dengan cara berlari tanpa tertutupi satu helai benang pun.
Alih-alih langsung berpakaian, perasaan berdebar yang masih ia rasakan membuatnya melanjutkan aksi binalnya di siang hari ini. Rachel berjongkok sambil menyandar pada dinding. Kedua kakinya ia buka lebar. Jemari kanannya pun hinggap di bibir vaginanya sambil membayangkan kenakalannya di siang tadi.
"Mmmpphhh... Mmmpphhh" Desah Rachel bermasturbasi sambil mengingat kenakalannya tadi.
MASA SEKARANG
Fiyyuhhh... Untungnya tadi siang gak ketahuan.
Batin Rachel merasa lega.
Mereka berdua masih saja diam saat berjalan bersama menyusuri jalan setapak. Tidak ada sepatah katapun yang terucap. Mereka berdua masih terbayang kejadian di siang tadi. Yang satu membayangkan harapannya yang ingin segera melihat ketelanjangan calon istrinya. Yang satu lagi membayangkan kebinalannya saat bertelanjang bulat di kantor bagian calon suaminya.
Namun tanpa sepengetahuan mereka terdapat salah satu santri yang memperhatikan pergerakan mereka berdua. Khususnya ustadzah bertubuh montok yang sedang berjalan di sebelah ustadz tampan itu.
"Ustadzah Rachel... Ustadzah yang tadi lari-lari sambil telanjang kan ?" Ucap santri itu merasa yakin.
*-*-*-*
Malam harinya di salah satu rumah yang berada di perumahan ustadz senior. Terdapat seorang ustadzah yang sedang sibuk mengoreksi lembar jawaban santri-santrinya. Kacamata melekat di wajahnya. Secangkir kopi hangat telah tersedia di meja ruang tamu yang berada di teras rumahnya. Ya, ustadzah cantik itu sedang duduk di depan teras rumahnya untuk mengoreksi jawaban sambil memandangi pergerakan rekan ustadz/ustadzah yang berlalu lalang melewati rumahnya.
Karena haus, ia menyeduh secangkir kopi itu untuk menjaga matanya agar tetap membuka. Padahal jam baru menunjukkan pukul delapan kurang. Tapi ia sudah merasa kantuk. Kepalanya terasa berat. Mungkin karena dirinya sedang banyak pikiran yang membuatnya kesulitan untuk menyelesaikan satu lembar jawaban saja. Ya, sedari tadi ia tidak sanggup menyelesaikan satu lembar jawaban pun. Ia benar-benar membuang waktunya untuk melamun gara-gara terpikirkan persoalan di pagi tadi.
Persoalan gara-gara dirinya bertemu dengan pak Heri di kantor bagiannya. Ia masih ingat betul kejadian di pagi tadi saat dirinya bertemu dengan pria tua berperut tambun itu. Ia masih sangat kecewa pada perbuatan pria tua itu. Ia benar-benar sebal. Rasanya, andai waktu bisa diputar kembali sudah pasti dirinya akan menjauhkan suaminya dari pengaruh buruk kurir pengantar paket itu.
Ia merasa bodoh karena sempat mempercayai pendapat pria tua yang bahkan tidak menyunat penisnya itu. Ia juga merasa jijik karena sempat membiarkan penis tak bersunat itu keluar masuk di dalam vaginanya. Seketika ia memegangi vaginanya. Ia merinding. Ia menggelengkan kepala karena kesal padanya.
"Astaghfirullaaaah" Ucapnya sambil mengusap-ngusap kepalanya yang tertutupi hijabnya.
Rasanya seperti stres saja. Ujian yang sedang ia hadapi terasa amat sangat berat. Ia merasa kesulitan untuk menanggung semua beban ini sendirian.
"Aku masuk dulu aja deh... Di luar makin dingin" Ucap Nada sambil membereskan koreksiannya.
Hujan rintik-rintik menang sedang turun di luar sana. Tak heran hawa di sekitarnya menjadi dingin. Disaat seperti ini, ia butuh sekali kehangatan dari seseorang yang ia cinta. Masalahnya, apakah orang yang ia cinta peka dan memberikan kehangatan untuknya ?
Nada segera mencari orang yang ia cinta. Ia menemukannya. Orang itu sedang duduk di sofa ruang tamu sambil melihat ke arah televisi. Nampak di mejanya ada lembar koreksian juga. Sepertinya orang itu juga baru saja selesai mengoreksi lembar jawaban ujian.
Nada perlahan mendekat sambil melihat ke arah televisi. Rupanya ada pertandingan sepakbola antara Persija melawan Persik yang sedang di tonton oleh orang itu yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Nada semakin ragu kalau dirinya bisa mendapatkan kehangatan dari suaminya.
Tepat saat itu, Rendy tiba-tiba menoleh dan tersenyum dengan hangat.
"Dekkk... Siniiii" Ucap Rendy memanggilnya dengan lembut. Nada hanya tersenyum malu-malu sambil mendekat ke arah sisi samping suaminya.
"Kenapa nih kok mukanya sepet banget ?" Ucap Rendy sambil mendekap erat bahu istrinya sehingga tubuh Nada semakin mendekat ke arahnya. Reflek Nada langsung menjatuhkan kepalanya ke arah bahu ternyaman yang dimilikinya.
"Gapapa mas... Capek aja rasanya" Jawab Nada dengan lembut.
Rendy pun tersenyum kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut. Sontak Nada terkejut dengan perilaku suaminya. Diam-diam ia jadi senang dengan sikap yang ditunjukan oleh suaminya.
"Kecapekan ngerjain koreksian yah sayang ? Sama nih, mas juga capek ngerjain koreksian yang numpuk gini... Makanya jangan terlalu di forsir yah... Nanti adek malah sakit" Ucap Rendy dengan penuh perhatian yang membuat Nada tersenyum lemah.
"Iyya... Makasih yah mas... Mas juga, jangan sampai sakit loh" Ucap Nada tersenyum.
Rendy ikut tersenyum setelah melihat istrinya tersenyum. Wajah cantik istrinya yang menggemaskan membuat Rendy tak tahan ingin mengecup keningnya lagi.
"Pasti dek" Jawab Rendy yang membuat Nada reflek memeluk erat lengan kekar suaminya sambil memejam merasakan kenyamanan dari bahu suaminya.
Keadaan yang mulai hangat membuat Nada tiba-tiba ingin bercerita tentang kejadian di pagi tadi kepada suaminya. Dengan malu-malu wajahnya ia angkat tuk menatap wajah suaminya. Nada tersenyum tanpa sadar saat mata mereka bertemu. Nada kembali menjatuhkan kepalanya baru setelah itu dirinya bercerita tentang keluh kesahnya.
"Mas... Tadi pagi, di kantor... Adek ketemu pak Heri loh" Ucap Nada mengejutkan Rendy.
"Ehhh, terus gimana ? Ada kejadian apa ?"
"Tadi adek abis nangis mas... Setelah ketemu pak Heri" Ucap Nada dengan nada lemah.
"Eh kok bisa ? Gimana ceritanya dek ?" Ucap Rendy begitu khawatir yang membuat Nada merasa senang.
"Ya gitu mas... Adek ngerasa nyesel aja... Tiap kali ngeliat wajahnya, yang ada adek ngerasa berdosa karena udah ngebiarin pak Heri menyentuh tubuh adek... Adek gak rela kalau pak Heri sempet pernah bercinta dengan adek" Ucap Nada sambil mempererat pelukannya di lengan suaminya. Nada pun diam-diam melirik reaksi suaminya. Apakah suaminya tersindir dengan ucapan yang baru saja ia sebutkan ?
"Oalah terus pak Heri gak ngelakuin apa-apa ke adek kan ?" Ucap Rendy penasaran.
"Ya gak sih mas... Tapi pak Heri nya maksa adek supaya bisa ramah lagi ke dia... Padahal adek kan udah terlanjur kesel yah, ya mana mungkin adek bisa ramah lagi ke orang sepertinya... Apalagi kan gara-gara pak Heri, kita jadi agak jauhan kayak gini... Makanya adek nangis kejer tadi tiap kali teringat perbuatan jahatnya" Ucap Nada mencurahkan isi hatinya.
Rendy hanya tersenyum lalu mempererat pelukannya pada istrinya. Dekapan erat yang Rendy lakukan membuat Nada benar-benar nyaman di malam hari itu.
"Emang adek ngerasa kita jauh yah ?" Tanya Rendy kemudian.
"Ya kayaknya gitu sih, jujur gara-gara Mas pengen adek begitu... Adek jadi ngerasa pengen ngejauhin mas... Tapi di lain sisi, adek gak pengen jauh-jauh dari mas... Serba salah deh mas pokoknya yang adek rasain" Ucap Nada curhat.
"Loh kok sama... Mas juga rasanya gitu loh... Gara-gara permintaan mas, terkadang mas jadi gak enak sama adek, jadinya mas sungkan deh tiap kali pengen ngajak ngobrol adek" Ucap Rendy mengejutkan Nada.
"Oh yah ?"
"Iya dong... Padahal aslinya mas kan pengen deket-deket terus sama adek" Ucap Rendy kembali mempererat pelukannya. Nada jadi tersenyum diam-diam merasakan kehangatan yang Rendy berikan.
"Hmmm kalau gitu... Mas jangan minta adek ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi yah ?" Pinta Nada memohon setelah memberanikan diri.
"Aneh ? Aneh gimana dek ?"
"Ya gitu... Yang mas minta adek tuk melayani orang lain" Ucapnya malu-malu.
"Oalahhh... Adek ini" Ucap Rendy tersenyum sambil mengarahkan wajah istrinya sehingga mereka saling berhadapan.
Tiba-tiba wajah Rendy mendekat. Nada seketika tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Mendadak Nada gugup karena sudah lama dirinya tidak melakukan perbuatan seperti ini bersama suaminya.
Cupppp !!!
Benar saja, Rendy langsung mendekatkan bibirnya ke arah bibir istrinya. Rendy mendorong bibirnya secara perlahan ke arah bibir istrinya. Cumbuan penuh perasaan yang Rendy berikan membuat Nada perlahan memejam menikmati sentuhan bibir dari suaminya.
Bibir Rendy membuka. Bibirnya mengapit bibir bagian atas istrinya secara perlahan. Nada yang mulai hanyut oleh cumbuan suaminya juga ikut membuka mulutnya. Dikala bibir atasnya dikulum oleh bibir Rendy maka bibirnya membalas dengan mengulum bibir bawah suaminya. Dikala Rendy menghisap bibir bagian atas istrinya maka Nada menghisap bibir bagian bawah suaminya.
Mereka saling cumbu dalam menikmati kebersamaan di malam hari itu. Ketika hujan rintik-rintik di luar sana semakin deras. Hal itu membuat cumbuan mereka semakin terasa panas. Tubuh mereka kian dekat. Bahkan Rendy dapat merasakan betapa empuknya payudara istrinya yang menempel di dadanya.
Tiba-tiba Rendy melepas cumbuannya. Mata Nada pun membuka seolah dirinya tidak rela kehilangan kenikmatan yang sedang ia dapatkan. Liurnya pun masih melekat pada bibir suaminya. Rendy tersenyum. Nada ikut tersenyum sambil menundukan wajah karena malu.
"Mas mohon... Mas pengen banget ngeliat adek melayani dua orang itu... Tolong mas yah, adek mau yah ?" Ucap Rendy membuat Nada seperti tersambar petir di malam hari. Nada terkejut karena mengira suaminya sudah berubah tapi nyatanya belum.
Ditengah lamunannya yang dipenuhi ketidakpercayaan. Rendy kembali berbicara.
"Sejujurnya, mas juga pengen kita hidup seperti dulu lagi... Mas pengeeennn banget ngelakuin hal berdua lagi bareng adek... Mas kangen kita melakukannya berdua... Tapi, terkadang gara-gara mas punya fantasi kayak gini, mas suka ngelamun dan hasilnya hal itu sangat menganggu kehidupan mas... Mas janji deh setelah adek melayani mereka berdua... Mas gak akan kayak gini lagi... Tolong mas yah ? Tolong biar kita bisa ngelakuin hal kayak dulu lagi" Ucap Rendy memohon demi membujuk istrinya yang mempunyai tubuh sempurna.
Mendadak Nada jadi bingung. Ia merasa bimbang dengan apa yang harus ia lakukan setelah mendengar perkataan suaminya.
"Mas mau kita kayak dulu lagi ?" Tanya Nada yang hanya dijawab anggukan lalu berkata.
"Iya dek... Mas mau kita kayak dulu lagi" Jawab Rendy sambil tersenyum.
Nada kemudian menatap mata Rendy untuk memeriksanya. Tatapan mata Rendy terlihat begitu meyakinkan bagi Nada. Nada jadi merasa kalau suaminya sungguh-sungguh ingin merasakan momen seperti dulu lagi. Ia semakin bimbang. Apa benar kalau dirinya menuruti keinginan suaminya maka masalah ini akan segera selesai ?
Ditengah keraguan yang dirasakan oleh hatinya. Tiba-tiba bibir Rendy kembali mendekat lalu mencumbu bibirnya lagi dengan penuh mesra. Cumbuannya kali ini cenderung kuat. Rendy seolah ingin membuktikan perasaan cintanya kepadanya.
"Tolong yah dek... Tolongggg banget... Mas juga gak tahan harus kayak gini terus... Izinkan mas biar bisa ngeliat adek melayani mereka berdua, yah... Mas sayang banget sama adek... Mas pengen bermesraan lagi sama adek... Tolong... Tolong yah penuhi fantasi mas... Habis itu dah... Mas janji gak bakalan aneh-aneh lagi" Ucap Rendy terus membujuknya.
Nada dilema. Dalam hati tentu dirinya tidak ingin menodai keseksian tubuhnya lagi dengan melayani dua pria pilihan suaminya. Tapi di lain sisi dirinya ingin mengakhiri semua ini. Apalagi omongan suaminya terasa begitu meyakinkan. Tapi apa iya hanya ini jalan satu-satunya tuk mengakhiri semua perbuatan dosa ini ?
"Gimana sayang ?" Ucap Rendy sambil tersenyum penuh harap.
Setelah cukup lama berfikir, tiba-tiba kepala Nada bergerak naik-turun. Nada mengangguk lemah walau sebenarnya hatinya masih terasa berat. Ia pun tak tahu apakah pilihannya sudah tepat demi mengakhiri penderitaannya selama ini.
"Beneran dek ? Syukurlah... Kalau gitu besok malam mas akan undang mereka buat mampir kesini yah ? Mas akan mengatur waktu agar diri kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu... Baru setelah itu kita tentukan kapan waktunya agar adek bisa melayani mereka dengan segera" Ucap Rendy sumringah. Ia benar-benar bahagia setelah tahu istrinya mau menuruti fantasi terpendamnya.
Nada hanya terdiam di malam hari itu. Ia sudah menentukan pilihannya. Ia pun harus bersiap untuk menghadapi pilihannya. Seketika ia teringat kejadian di malam itu. Malam saat dua orang pilihan suaminya secara bergantian menyetubuhinya di depan kantor bagiannya.
Lutfi... Pak Karjo !
Batin Nada mengingat wajahnya. Seketika ia bergidik saat membayangkan gaya main mereka yang kasar. Ia ingat betul bagaimana nafsunya mereka berdua saat menggilir tubuhnya di malam hari itu.
Tubuh kurus santri itu yang berambut jarang terbayang di otaknya. Tubuh kekar kuli bangunan itu yang berkulit hitam terbayang di benaknya. Nada jadi merinding. Haruskah ia membatalkan keputusannya saja ?
Ustadzah Haura ?
Seketika Nada teringat pada ustadzah tercantik se-pondok pesantren ini. Ia teringat kalau selama ini Haura sudah sering diperkosa oleh kuli kekar itu. Ia jadi kepikiran untuk curhat kepadanya sembari meminta saran agar kuat saat digenjot oleh nafsu buas kuli kekar itu.
Eh tapi, Haruskah ?
Batin Nada ragu. Mendadak ia khawatir kalau pertanyaannya pada Haura malah akan membuatnya ilfeel karena dipaksa mengingat pemerkosaan yang dilakukan oleh kuli tua itu.
Nada jadi bingung. Ia pun terus menimbang keputusannya apakah ia akan bercurhat kepada Haura atau tidak.
*-*-*-*
Keesokan paginya.
Tidak seperti pengajar lainnya yang kebagian jadwal mengawas. Nisa, ustadzah berbadan mungil yang merupakan rekan kerja Rachel di kantor bagian penggerak bahasa tengah memasak bersama rekan-rekan ustadzahnya.
Ia dan rekan-rekan dari bagian konsumtor di kepanitian pelaksanaan ujian sedang memasak snack yang nantinya akan dibagikan untuk pengawas ujian di kelas.
Kendati jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Nisa masih belum mandi. Ia juga masih mengenakan kaus berlengan panjang berikut hijab simpel yang menutupi kepala mungilnya.
Walau dahinya berkeringat karena terkena hawa panas dari kompor yang ada di hadapannya. Kecantikan dari ustadzah beranak satu itu masih tetap ada. Nisa pun membalik gorengan itu. Ia lalu berpindah ke bagian adonan untuk membuat kue bersama rekan kerja ustadzahnya. Ia kembali lagi ke dekat wajan untuk membalik gorengan yang lainnya. Terkadang ia juga memberi perintah ke ustadzah lainnya untuk menjaga gorengan agar tidak gosong. Ia terlihat sibuk sekali hingga dirinya tidak sempat mengurusi dirinya sendiri.
"Ustadzah... Antum istirahat dulu... Biar ana aja yang jaga gorengan" Ucap seorang ustadzah yang merasa tidak enak pada Nisa.
"Udah gapapa... Biar ana aja ustadzah... Nanggung nih bentar lagi juga mau mateng" Ucap Nisa tetep kekeh ingin menjaga gorengan.
"Tapi antum dari pagi loh masak-masak sendiri... Kami yang baru dateng jadi gak enak kalau antum masih kerja aja di jam segini" Kata ustadzah muda itu mewakili teman-temannya.
Memang benar, kebetulan dapur yang berada di rumah Nisa berukuran cukup besar. Rumah Nisa pun di pilih untuk menjadi basecamp ustadzah konsumtor untuk memasak snack.
Terhitung selepas shubuh tadi. Nisa langsung bekerja dengan membuat adonan, meracik bumbu dan menyiapkan semua bahan masakan sebaik mungkin. Baru sekitar pukul enam atau setengah tujuh pagi, ustadzah-ustadzah lain mulai berdatangan untuk membantu pekerjaan ustadzah Nisa.
Sebagai ustadzah yang bertanggung jawab. Nisa tidak mau menunggu rekan-rekannya datang baru mulai bekerja. Kalau bisa, ia ingin menyelesaikan semuanya sendirian agar tugas rekan-rekannya semakin mudah sehingga tidak merepotkan tugas mereka.
Namun hal itu malah membuat rekan-rekannya merasa tidak enak. Rekan-rekannya merasa kalau mereka seolah memanfaatkan kerajinan Nisa. Oleh karena itulah mereka meminta Nisa untuk beristirahat agar mereka bisa menebus semua keringat yang sudah Nisa keluarkan untuk membuat semua snack ini.
"Hihihi yaudah sekali lagi aja deh... Habis itu baru ana istirahat" Ucap Nisa sambil meniriskan gorengan yang ia buat.
Sesuai janji, Nisa pun duduk sebentar sambil mengawasi pekerjaan rekan-rekannya. Sebagai ustadzah yang dikenal jago membuat kue. Nisa sudah langganan dipilih menjadi ketua konsumtor. Hampir tiap tahun, dirinya pasti dipilih untuk menjadi ketua konsumtor ketika ada acara yang digelar di dalam pesantren.
"Hah... Panasnya" Ucap Nisa sambil duduk beristirahat.
Tangan kanannya meraih tisu yang tersedia di meja kecil di sampingnya. Lalu ia mengelap wajahnya menggunakan tisu itu. Sambil mengibas-ngibaskan hijabnya tuk mengundang angin datang agar dapat menyejukan tubuhnya, ia mengambil hapenya tuk memeriksa pesan andai ada seseorang yang menghubunginya.
"Huuffttt... Panas banget yah hari ini ?" Ucap Nisa sambil membuka aplikasi WA-nya.
Saat matanya melihat urutan teratas dari daftar chatt yang ada di aplikasi WA-nya. Ia langsung tersenyum. Ia tak menduga kalau lelaki itu sudah mengiriminya pesan di pagi hari ini.
"Assalamu'alaikum dek"
"Walaikumsalam masss" Balas Nisa sambil tersenyum.
Tanpa menunggu lama, chatt dua puluh menit lalu yang baru ia baca itu langsung dibalas olehnya. Tak berselang lama juga, lelaki itu langsung membalas pesan dari Nisa.
"Apa kabarnya dek ?"
"Baik mas... Mas sendiri gimana ? Lagi dimana ?"
"Aku baik kok dek... Aku baru bangun tidur nih... Rasanya lemes banget"
"Ihhhh dasar pasti belum mandi juga !!! Bangunnya yang pagi dong mas biar ganteng !"
"Hehehe gapapa kali... Bangun jam segini juga udah ada yang suka kok"
"Yeeee siapa yang bilang ? Aku gak yah"
"Hahaha... Ada deh, dia wanita cantik yang udah bikin pagiku bersemangat"
"Heleh... Siapa coba ? Aku gak cantik loh"
"Hahaha yang itu tuh... Ustadzah pesantren yang kemaren-kemaren aku peluk pas tidur di kamarku" Balas Fandi yang membuat wajah Nisa memerah.
"Ihhhh yang mana ?" Balas Nisa menahan senyum.
"Aihhh yang itu loh dek... Ustadzah pesantren yang bawa anaknya ke kosanku... Terus anaknya janji ke abinya biar gak bilangin sesuatu kalau uminya baru bikin adek baru bareng aku" Balas Fandi yang membuat Nisa menahan tawa.
"Masss ihhhh... Jangan diungkit-ungkit lagi deh... Aku maluu tauu"
"Hahaha loh emang itu siapa ? Kamu yah ?"
"Ihhhh nyebelin"
"Hahaha coba aku mau liat wajahmu... Aku mau cek, bener gak sih kamu itu ustadzah yang kemarin aku genjot sebelum jumatan itu"
Nisa menahan senyumnya ketika selingkuhannya itu meminta dikirimi foto di pagi hari. Ia pun geleng-geleng kepala membayangkan cara yang dilakukan Fandi dalam meminta foto darinya.
Cekreekkk !!!
Sambil berekspresi sok cantik. Nisa menjepret dirinya sendiri. Ia pun memeriksa hasil jepretannya. Ia cukup puas tapi ia juga ragu.
"Kira-kira mas Fandi suka gak yah ngeliat aku pake baju sederhana kayak gini ?" Lirih Nisa sambil ngeliat ustadzah lainnya yang masih sibuk membuat snack di rumahnya.
"Ehh tunggu bentar" Ucap Nisa ngeluyur pergi menuju kamarnya sendiri.
Ia langsung membuka lemari untuk menggeledah pakaian yang tersimpan disana. Ia pun menemukan apa yang ia cari. Sebuah sweater rajut hangat telah ia ambil dari dalam lemari. Ia pun kembali berlari menuju meja riasnya. Ia mengusap sedikit keringat di wajahnya lalu meriasnya dengan menggunakan riasan setipis mungkin.
Tak lupa ia mengambil tripod kemudian menaruh hapenya disana. Nisa memasang timer. Nisa tersenyum sambil membuat ekspresi seimut mungkin di depan hapenya.
Cekreekkk !
Jepretan selanjutnya berhasil ia dapatkan. Kembali Nisa memeriksanya untuk melihat hasilnya.
"Nah gini baru bagus... Kirim ke mas Fandi ah" Ucap Nisa penuh harap. Ia pun penasaran bagaimana reaksi Fandi setelah melihat foto yang baru saja ia kirim.
Tak perlu menunggu lama. Sebuah pesan balasan dari Fandi langsung ia dapatkan. Entah kenapa jantung Nisa berdebar saat hendak membaca pesan dari pria kurus itu.
"Wahhh cantik banget dek... Nah iya nih bener... Ini ustadzah yang kemarin aku genjot... Duh ngeliat wajahmu yang cantik gini bikin aku sangek aja... Aku jadi pengen genjot kamu lagi deh... Aku kangen ekspresi wajahmu pas kena sodokanku waktu itu"
Nisa hanya tertawa saat membaca balasan pesan darinya. Ia geleng-geleng kepala saat mengetahui Fandi masih saja mesum padahal dirinya cuma mengirimkan foto biasa-biasa saja.
"Gimana kalau aku ngirim foto yang menggoda yah ?" Lirihnya.
Entah kenapa Nisa tertantang untuk menggoda teman masa kecilnya yang bertubuh kurus itu. Nisa pun berlari menuju pintu kamarnya. Ia kemudian menguncinya dari dalam. Ia membawa tripod yang ada di meja riasnya ke atas ranjang tidurnya. Satu demi satu pakaian yang Nisa kenakan dilepasnya. Pertama sweaternya lalu kaus berlengan panjangnya lalu training longgarnya. Tak lupa ia juga melepas seluruh pakaian dalamnya hingga membuatnya bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja.
Nisa mengangkangkan kedua kakinya. Vaginanya yang masih rapat itu terlihat. Nisa lalu mendekatkan vaginanya ke arah kamera hapenya. Nisa tersenyum malu-malu. Nisa kembali mengaktifkan timernya sambil berekspresi seimut mungkin.
Cekreekkk !!!
Nisa buru-buru memeriksa hasilnya. Nisa tersenyum. Ia sangat malu saat melihat fotonya yang terlihat binal. Namun, ia tetap mengirimkannya pada Fandi. Jantungnya semakin berdebar kencang menanti reaksi dari teman masa kecilnya tersebut.
Pesan kembali didapatkan. Nisa yang masih bertelanjang bulat buru-buru memeriksanya.
"Indah sekali tubuhmu dek... Duhhh aku jadi makin sangek nih... Aku sekarang lagi telanjang loh sambil nyoli pas ngeliat fotomu... Duhhh binal banget sih kamu dek... Aku jadi pengen genjot kamu lagi nihhh"
"Hihihi dasar mas Fandi" Ucap Nisa saat membaca balasan pesan dari Fandi.
"Sama mas... Aku juga nih... Gak tau kenapa kalau chattan sama mas bawaannya pengen nakal terus" Balas Nisa sambil menggesek pahanya yang tidak tertutupi apa-apa.
"Waduhhh... Jangan bilang kamu lagi telanjang juga yah sekarang ?"
"Hihihi iya... Itu kan tadi foto baru"
"Ehhh yang ini foto baru ? Yang kamu ngangkang ini ?" Balas Fandi terkejut.
"Iyyahhh masss... Itu foto baru" Balas Nisa melalui voice note.
Nisa tersenyum malu-malu. Ia kembali mendengar suara voice note nya yang agak mendesah.
"Duhhh dek... Suaramu itu lohhh... Ketemuan yukkk... Aku pengen genjot kamu nihhh... Apalagi kita udah lama gak ketemuan kan ?"
"Yuk mas... Mau dimana ?" Balas Nisa yang merindukan pria selingkuhannya.
"Nanti aku kesana aja... Kita ketemuan di gedung penerimaan tamu aja yah... Biar kamu gak repot-repot keluar pesantren" Balas Fandi mengejutkan Nisa.
"Ehh tapi... Disini mas ? Bahaya tau" Balas Nisa khawatir.
"Udah tenang aja dek... Nanti aku cari ruangan yang sepi... Mending sekarang kamu siap-siap dulu aja... Dandan yang cantik yah biar mas puas nanti pas genjotin kamu" Balas Fandi yang membuat Nisa tersenyum malu.
"Iyyah mas... Kabarin yah kalau udah sampai"
"Siyap sayang"
"Luv yu mas"
"Luv yu tu dek"
Percakapan pesan pun ditutup oleh Fandi. Nisa yang masih bertelanjang bulat menaruh hapenya di kasur lalu memandangi langit-langit kamarnya. Ia merenungi perbuatannya kali ini. Memang hubungannya dengan Fandi sudah terlalu jauh. Terhitung semenjak terakhir kali bertemu di kamar kosannya. Ia belum pernah bertemu lagi dengan pria kurus itu. Ia hanya sering menghubunginya melalui pesan chat. Tak jarang pula ia melakukan video call dengan pria bertubuh kurus itu. Tak jarang pula ia melakukan video call tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Bahkan pernah ia melakukannya sambil bertelanjang bulat setelah bersetubuh dengan suami sahnya.
Ia geleng-geleng kepala memikirkan sikapnya sekarang. Ia sudah semakin jauh dari cita-citanya sebagai istri sholehah. Tapi mau bagaimana lagi, sejak dulu ia memang lebih mencintai Fandi ketimbang suaminya sekarang. Bahkan ia sudah rela hamil hasil anak dari Fandi andai Fandi mau menghamilinya sekarang.
"Mas Fandi... Oh yah mending aku mandi dulu ah sekarang" Ucap Nisa sambil melepas hijabnya kemudian melilitkan handuk di tubuh mungilnya.
Untungnya kamar mandi rumahnya berada tak jauh dari kamar tidurnya. Ia pun bergegas memasuki kamar mandi sebelum diketahui oleh rekan-rekan ustadzahnya.
Sesampainya ia di kamar mandi. Ia langsung menyalakan shower sambil memejamkan mata. Basuhan air shower itu membasahi kepalanya. Rasanya memang segar. Tiba-tiba ia teringat pada keluarga kecilnya yang akhir-akhir ini jadi sering ia khianati.
"Dek Aldi... Abi... Maafin umi yah yang belum bisa menjadi ibu dan istri yang baik bagi kalian... Umi janji, nanti umi pasti bakal fokus lagi kok ke kalian... Sekarang umi minta izin untuk nakal lagi yah... Umi minta izin yah bi untuk menemui mas Fandi lagi" Lirih Nisa sambil membersihkan dirinya.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN
Nisa sudah selesai mandi dan sudah berpakaian cantik sekali. Di depan meja riasnya, Nisa terlihat bagai seorang permaisuri yang sedang disiapkan untuk menemui pangeran hati.
Entah kenapa Nisa menjadi gugup. Fakta kalau sebentar lagi dirinya akan menemui Fandi untuk berselingkuh menjadi alasannya. Padahal dirinya sudah menikah dan padahal juga dirinya sudah mempunyai anak. Ia juga bingung sendiri kenapa dirinya masih kepikiran untuk berselingkuh ketika dirinya sudah dikaruniai anak yang lucu.
Dengan kemeja panjang bermotif kotak-kotak yang ia kenakan. Ditambah dengan hijab berwarna coklat yang melilit kepala mungilnya. Ditambah dengan rok panjang bermotif garis-garis panjang yang menutupi kaki indahnya. Nisa sudah siap untuk menemui kekasih haramnya. Tapi ia terus diam sambil memandangi cermin di hadapannya.
Ia masih kepikiran tentang dosa yang akan didapatnya. Ia juga khawatir akan efek dari perselingkuhan yang dilaluinya dengan teman masa kecilnya.
"Tapi aku sudah sejauh ini dengan mas Fandi... Setidaknya aku ingin menjadikan pertemuanku dengan mas Fandi sebagai hiburan untuk mengusir penatku" Katanya sambil bersiap.
Ketika dirinya hendak berdiri dari kursi riasnya. Tiba-tiba ia mendapatkan balasan pesan.
"Eh mas Fandi ngirim chat lagi" Ucap Nisa sambil memeriksa hapenya.
"Dek aku udah sampai nih... Kamu dimana ?" Balas Fandi sambil mengirimkan bukti foto.
"Lohhh udah sampai aja ?" Lirih Nisa terkejut.
"Iya mas aku lagi di jalan kok... Bentar lagi bakal sampe" Balas Nisa terburu-buru.
"Loh udah dijalan... Hmmm kamu bawa masker gak dek ?" Balas Fandi mengejutkan Nisa.
"Eh masker ? Buat apa ?" Ucap Nisa sambil bergerak kesana-kemari mencari maskernya.
"Bawa kok mas" Balas Nisa setelah menemukan maskernya.
"Bagus deh... Aku tunggu yah dek... Aku di ruangan 110 di ujung... Disini sepi kok... Gedung lagi sepi semua untungnya" Balas Fandi yang membuat Nisa lega.
"Fiyyuhhh... Untungnya sekarang lagi ujian... Jadi gak banyak wali santri yang datang kesini" Ucap Nisa sambil keluar kamar.
Setelah keluar dari kamarnya. Buru-buru Nisa mendatangi rekan-rekannya di bagian konsumtor.
"Assalamu'alaikum ustadzah... Anu afwan yah... Ana ada urusan mendadak... Tolong urus sisanya yah" Ucap Nisa menitipkan urusan snack pada rekan-rekannya.
"Ohh naam ustadzah" Jawab beberapa ustadzah kompak.
"Oh iya... Ana nitip dek Aldi juga yah... Nanti kalau bangun tolong suapin, ini nasinya disini... Maaf yah ustadzah udah ngerepotin" Ucap Nisa.
"Gapapa kok ustadzah... Serahkan pada kami... Disini ada ustadzah Rahmah kok yang suka gemes sama anak kecil" Ucap salah seorang ustadzah.
"Hihihi buruan nikah makanya biar punya anak sendiri" Ucap ustadzah lain membully Rahmah.
"Yeeee dasar... Emang nikah bisa buru-buru... Nikah tuh butuh kesiapan tau" Jawab Rahmah tersipu.
"Hihihi betul yang dikatakan ustadzah Rahmah... Makanya siapin diri yah, siapa tau akhir-akhir ini ada yang udah merhatiin antum diam-diam loh" Goda Nisa yang membuat ustadzah ramai men'ciyye'kan Rahmah.
"Apa sih antum ini... Ciyya ciyye aja" Ucap Rahmah yang membuat semua ustadzah tertawa.
"Hihihi yaudah ana pergi dulu yah... Wassalamualaikum" Pamit Nisa.
"Walaikumsalam ustadzah" Jawab mereka kompak.
Nisa akhirnya berangkat dari rumahnya tuk menemui teman masa kecilnya yang sedang menunggunya di gedung penerimaan tamu. Berulang kali Nisa memegangi dadanya yang tidak terlampau besar tapi cukup ideal untuk seukuran tubuhnya yang mungil. Jantungnya berdebar begitu kencang. Entah kenapa rasanya seperti baru saja melakukan kesalahan. Ada perasaan bersalah disana tapi ada juga rasa penasaran karena tak sabar ingin bertemu dengannya.
Nisa telah melaju selangkah demi selangkah. Penampilannya yang menarik mengundang perhatian santri-santri yang diam-diam memperhatikannya dari dalam kelas. Untungnya sekarang masih waktunya ujian. Jadi dirinya jarang bertemu dengan warga pesantren lain dalam perjalanannya menuju gedung penerimaan tamu.
Tak terasa ia sudah tiba di gedung penerimaan tamu. Seketika matanya melirik ke arah ustadzah yang menjaga di kantor tersebut. Ketika ustadzah itu sedang masuk ke dalam. Buru-buru Nisa berlari sehingga kehadirannya tidak diketahui oleh ustadzah yang berjaga. Lagi-lagi jantungnya berdebar begitu kencang. Rasanya seperti ada penyesalan di hatinya. Tapi apa boleh buat. Ia sudah sampai disini. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain tetap maju tuk menemui pria kurus itu.
“Nah ini dia kamarnya” kata Nisa setelah melihat ruangan yang dijanjikan oleh Fandi.
Belum sempat Nisa masuk ke dalam. Tiba-tiba Fandi sudah keluar untuk menyambut kehadirannya disini.
“Sayanggg” ucap Fandi yang membuat Nisa tanpa sadar tersenyum.
“Maassss” ucap Nisa mendekat.
Fandi yang begitu merindukannya langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Nisa yang diam-diam juga merindukannya tidak mempunyai pilihan selain membalas pelukannya. Mereka saling berpelukan di teras gedung penerimaan tamu. Keadaan yang sepi membuat mereka menjadi lebih berani tuk mengekspresikan perasaan rindu mereka.
Kemudian wajah Fandi menatap wajah Nisa. Tangan kirinya ia angkat tuk membelai pipi mulusnya. Fandi tersenyum. Nisa pun tersipu malu saat ditatap sehangat itu oleh pria kurus itu.
“Cantiknya wajahmu dek” Puji Fandi yang membuat Nisa tersenyum malu-malu.
“Massss ihhhh” ucap Nisa sambil memukul dada Fandi dengan lemah karena malu.
“Hahaha... Bibir indah ini... Aku jadi gemes pengen nyium kamu... Boleh gak aku menciummu sekarang ?” ucap Fandi.
Nisa tidak menjawab apa-apa. Dirinya hanya mengangguk lemah yang membuat Fandi langsung mendekatkan bibirnya tuk mencumbu ustadzah beranak satu itu.
Cuuppp !
Bibir mereka bertemu. Bibir mereka saling melekat dengan jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas mereka yang hangat menerpa wajah pasangan. Tangan kanan Fandi mendorong punggung Nisa sehingga dada empuk ustadzah itu terhimpit ke dada kurusnya. Sementara tangan kirinya dengan penuh nafsu meremas bokong montoknya yang masih terhalangi oleh rok panjangnya.
Rangsangan yang dilakukan oleh Fandi di pagi hari ini membuat nafsu birahi Nisa bangkit. Tanpa sadar mulutnya membuka kemudian mengapit bibir bagian bawah Fandi. Fandi pun membalas dengan mengapit bibir bagian atas Nisa. Bibir mereka saling hisap. Nafsu mereka telah bersatu tuk memuaskan rindu akibat terlalu lama tidak bertemu.
“Mmpphhh massss” desah Nisa tanpa sadar akibat remasan yang begitu kuat di bokongnya.
“Mmpphhh desahanmu manja sekali dek... Aku jadi makin ingin menelanjangimu tuk melihat keindahanmu” desah Fandi yang membuat Nisa tersenyum.
Fandi yang semakin bernafsu mendorong tubuh Nisa hingga terhantam ke dinding bagian luar gedung penerimaan tamu. Jemari-jemari mereka saling melekat kemudian didorongnya hingga lengan-lengan Nisa ikut terhantam ke dinding di belakangnya. Fandi melepas cumbuannya sejenak tuk menatap keadaan Nisa dihadapannya. Wajah Nisa yang menunduk malu-malu membuat Fandi semakin gemas saja. Fandi pun menjulurkan lidahnya. Nisa ikut menjulurkan lidahnya hingga lidah mereka bertemu.
Lidah mereka saling bersentuhan di pagi hari itu. Nisa yang malu akhirnya tersenyum. Fandi ikut tersenyum saat menatap raut wajah menggemaskan dari ustadzah mungil itu. Lidah mereka bergesekan. Lidah mereka saling menggeliat. Lidah mereka saling dorong. Baru setelah itu Fandi membuka mulutnya tuk mengulum lidah bidadari itu.
“Mmpphhh...nikmatnya bisa mengulum lidahmu... Mmphh apalagi dengan dada seindah ini” ucap Fandi yang matanya teralihkan pada kemegahan dada sang bidadari.
Kedua tangannya pun berpindah tuk meremas dada Nisa sekuat-kuatnya. Sontak Nisa mengerang merasakan kenikmatan yang ia dapatkan. Wajahnya sampai memejam. Tubuhnya merinding merasakan kekuatan dari remasan Fandi yang didasari oleh hawa nafsu.
“Mmppphhh massss... Pelllannnn” ucap Nisa disela-sela cumbuannya.
“Hahaha maaf sayang... Aku gak tahan lagi ingin menikmatimu... Kita masuk dulu aja yah” ucap Fandi mengakhirinya dengan mendorong bibir Nisa sekuat-kuatnya.
“Mmmmuuaahhhh” Desah mereka berdua dengan puas.
Nisa pun menganggukan kepalanya secara perlahan. Sepertinya cumbuan barusan yang ia lakukan telah berhasil merangsang birahinya. Diam-diam ia jadi ingin segera dipuasi oleh pria selingkuhannya. Tapi di lain sisi ia tidak enak pada rekan ustadzahnya juga anak semata wayangnya yang belum bangun dan belum menyantap jatah sarapannya. Nisa merasa tidak enak karena sudah meninggalkan mereka demi menemui pria kurus ini.
“Oh iya dek... Kamu bawa maskernya kan ?” tanya Fandi tiba-tiba.
“Bawa kok mas... Kenapa ?” tanya Nisa penasaran.
“Dipake yah sekarang” ucap Fandi mengejutkan Nisa.
“Eh sekarang ?” ucap Nisa kebingungan.
“Iya dek... Pake aja... Takutnya mbok ada orang lain yang kesini kan, kalau kamu pake masker, orang-orang bisa gak tau kalau wanita cantik yang ada di sebelah aku itu kamu” ucap Fandi yang membuat Nisa ngangguk-ngangguk saja.
“Yaudah deh” ucap Nisa yang akhirnya mengenakan maskernya.
Mereka berdua telah memasuki kamar paling ujung di gedung penerimaan tamu. Mereka berdua pun duduk dalam posisi saling berhadapan. Nisa tampak malu-malu saat hendak disetubuhi oleh pria kurus itu. Sedangkan Fandi tersenyum melihat wajah cantik Nisa yang sebagian terhalangi oleh masker yang melekat disana. Melihat Nisa seperti ini membuat Fandi terbayang saja andai Nisa mengenakan cadar sekarang.
“Apa kabarmu sayang ?” tanya Fandi.
“Baik kok mas... Tadi kan mas udah nanya” jawab Nisa malu-malu.
“Hahaha benar juga tapi itu kan tadi... Duh ngeliat kamu pake masker gini bikin mas makin gugup deh” ucap Fandi mengejutkan Nisa.
“Eh kok gugup sih mas ?”
“Iyya dek... Rasanya kamu udah kaya pake cadar gitu... Kecantikanmu jadi nambah dan kesholehanmu otomatis nambah juga” puji Fandi yang membuat Nisa tersipu.
“Bisa aja sih mas... Padahal kan aku cuma pake masker” ucap Nisa senang.
“Aku senang sekali, kamu akhirnya mau menuruti keinginanku... Aku seneng banget bisa seakrab ini lagi denganmu dek” ucap Fandi yang membuat Nisa tersenyum.
“Mau gimana lagi mas... Aku juga bingung sih sebenarnya... Gak tau kenapa kok aku juga pengen deket lagi sama mas... Rasanya aku jadi kangen mas terus belakangan ini” ucap Nisa yang membuat Fandi tersenyum.
“Sama dek... Aku juga... Belakangan ini, aku kangen kamu terus... Terutama aku kangen pengen menggenjot tubuhmu lagi... Gak tau kenapa rasanya gak pernah puas kalau cuma menggenjot tubuhmu sekali aja” ucap Fandi yang membuat Nisa tersipu.
“Apasih mas... Jangan bilang gitu ah... mesum ih” ucap Nisa menunduk.
“Hahaha ini nih yang bikin aku gemes terus ke kamu... Kamu itu kayak malu-malu... Tapi kalau udah digenjot, kamu malah keliatan binal banget... Keliatan dari raut wajahmu yang begitu bernafsu” ucap Fandi yang membuat Nisa semakin malu.
“Massss ihhhhh” ucap Nisa sebal hingga mencubit lengan pria kurus itu.
“Hahaha tuh kan... Gimana mas gak gemes ? Kamu itu imut tapi dilain sisi kamu juga nafsuin... Kenapa sih ada makhluk seindah kamu di dunia ini ?” ucap Fandi terus menggoda ustadzah beranak satu itu.
“Apa sih mas... Banyak kali yang jauh lebih cantik dari aku” ucap Nisa merendah.
Iyya sayangg... Aku tahu... Aku juga sering bercinta dengan wanita lain yang jauh lebih cantik dari kamu kok !
Batin Fandi tersenyum.
“Enggak kok... Bagiku kamu yang tercantik... Kamu yang terseksi... Kamu yang paling binal keliatan dari ekspresi wajahmu itu” ucap Fandi yang membuat Nisa semakin malu mendengar pujian dari teman masa kecilnya itu.
“Makanya mas pengen genjot kamu sekarang... Mas boleh kan genjot kamu sekarang ?” ucap Fandi yang nampaknya tidak tahan lagi dengan sikap malu-malu ustadzah bertubuh mungil itu. Fandi sambil melepas satu demi satu kancing kemejanya menatap wajah Nisa dengan hangat.
“Tapi jangan lama-lama yah mas... Aku ada kesibukan soalnya... Anak aku juga belum makan di rumah” ucap Nisa berdiam pasrah sambil mengamati jemari Fandi yang telah membuka dua kancing teratas kemejanya. Nisa berdebar kencang. Waktu untuk bercinta dengannya semakin dekat.
“Jangan khawatir dek... Selama aku bisa menyetubuhimu, itu gak masalah kok buatku” ucap Fandi yang sudah melepas kemejanya hingga menampakan tubuhnya yang tinggal kulit pembungkus tulang. Lengannya sangat kecil. Rusuk di dadanya juga terlihat. Tapi hal itu tidak membuat Nisa merasa jijik. Hal itu karena dirinya sudah terlanjur nyaman pada teman masa kecilnya.
Fandi yang tidak sabaran langsung berdiri untuk menurunkan resleting celananya. Lalu setelah itu ia melepas haknya sehingga celana jeansnya itu melorot jatuh melewati kedua kaki kurusnya. Dalam sekejap Fandi sudah bertelanjang bulat dihadapan ustadzah bertubuh mungil itu.
Saat penis Fandi yang berukuran besar itu nampak dihadapannya. Nisa langsung tersenyum malu. Ia membayangkan kalau penis besar itulah yang sebentar lagi akan keluar masuk di dalam vaginanya. Nisa menaikan pandangannya ke arah wajah Fandi yang semakin dekat ke arahnya. Penis besar itu semakin dekat ke arah wajahnya. Kendati Nisa mengenakan maskernya, ia masih dapat menghirup aroma menyengat dari selangkangan pria kurus itu.
“Ayo mainin dek” ucap Fandi sambil mengusap kepala Nisa.
“Iya mas” ucap Nisa tersenyum sambil malu-malu mendekap batang penis itu.
“Uuuhhhhhhh” desah Fandi saat penisnya didekap menggunakan tangan kanan Nisa.
Ustadzah mungil itu dengan malu-malu mendekapnya. Matanya terfokus pada ujung gundul yang bentuknya seperti kepala jamur itu. Pelan-pelan tangan Nisa mulai bergerak maju lalu mundur. Tangannya bergerak maju lagi lalu mundur lagi. Ukurannya yang besar membuat Nisa kesulitan sehingga tangan kirinya ikut mendekap batang penis itu untuk bersama-sama mengocok ukurannya yang perlahan semakin membesar.
“Aahhhhh... Aaahhhhh dekkk... Mmpphhhhh” desah Fandi tersenyum sambil mengelus kepala mungil Nisa.
Nisa tersenyum dibalik maskernya sambil menatap raut wajah Fandi. Entah kenapa Nisa semakin gemas pada batang penis yang sedang ia remas. Dikala tangan kanannya mencengkram kuat batang penis Fandi maka telapak tangan kirinya mengusap-ngusap ujung gundulnya sehingga perlahan cairan precum Fandi mulai keluar membasahi telapak tangannya.
“Aaahhhhh.... Aaahhhhhhh” desah Fandi keenakan.
Lalu tangan kanannya berpindah dengan meremasi dua biji salaknya. Tangan kirinya juga berpindah dengan mengocoki batang penis itu. Nisa terkejut karena makin lama kok dekapan jemarinya semakin tidak muat saja. Ukuran batangnya semakin besar. Nisa jadi semakin gemas dalam mengocoki batang penis itu.
“Dekkk turunin maskernya... Terus masukin kontolku ke dalam mulutmu dek” ucap Fandi sambil memposisikan tubuh Nisa membelakangi pintu masuk yang berada di belakangnya.
“Iyyah masss... Mmpphhh” ucap Nisa manut saja.
“Uhhhhhhh hangatnnyaaaa” ucap Fandi merasakan sesuatu yang lembap dan hangat di ujung gundulnya.
Nisa yang sudah bernafsu membuka mulutnya kemudian mencaplok batang penis itu. Ukurannya yang besar membuat Nisa hanya sanggup memasukan ujung gundulnya saja. Kendati demikian, Fandi masih tetap merasakan kenikmatan darinya.
Lidah Nisa membantu dengan menggelitiki lubang kencing lelaki kurus itu. Bibir Nisa semakin merapat hingga ujung gundul penis raksasa itu semakin terjepit di dalam mulut mungil bidadari cantik itu.
Untungnya Nisa tidak kehabisan ide. Tangan kanannya pun mengocok batang penis itu dikala mulutnya masih tersumpal ujung gundulnya. Otomatis Fandi semakin keenakan saat dirangsang oleh ustadzah berbadan mungil itu.
“Mmpphhh aaaahhhh” desah Nisa setelah melepaskan penis itu dari dalam mulutnya.
Nisa masih mengocok batang penis Fandi. Lidahnya ia julurkan tuk menjilati lubang kencingnya. Fandi jadi merem melek merasakan kebinalan dari ustadzah mungil itu. Kemudian Nisa mengangkat penis itu dan lidahnya ia julurkan tuk menjilati sisi bagian bawah penis lelaki kurus itu.
“Ooouhhhh dekkk... Ouhhh mantap sekaliiii... Aahhhh nikmattt” desah Fandi keenakan.
Mendengar desahan yang Fandi ucapkan membuat Nisa semakin bersemangat. Kedua tangannya memegangi paha kurus Fandi. Mulutnya kembali mencaplok batang penis Fandi. Nisa memaju mundurkan mulutnya hingga perlahan demi perlahan penis itu semakin basah terkena liur bidadari berhijab itu.
Fandi geleng-geleng kepala merasakan kenikmatan yang ia dapatkan. Ia tak mengira, baru lewat mulut saja Fandi sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. Bagaimana nanti kalau dirinya kembali merasakan jepitan vaginanya ?
Membayangkan hal itu membuat Fandi semakin bernafsu. Kedua tangannya jadi bergerak memegangi kepala mungil ustadzah cantik itu. Perlahan demi perlahan pinggulnya mulai bergerak. Nisa terkejut saat tiba-tiba Fandi mulai agresif.
“Mmphhh masss.... Pelllaannnn” ucap Nisa kesulitan saat kerongkongannya berulang kali tersodok oleh batang penis pria kurus itu.
“Aahhhh... Aaahhhhh... Nikmat sekali dek... Uhhhhh nikmatnyaaa” ucap Fandi mengabaikan permintaan ustadzah itu.
Sambil terus menggerakan pinggulnya. Matanya melirik ke arah samping untuk memeriksa sesuatu. Ia tersenyum. Ia kembali melanjutkan sodokannya untuk menembus mulut mungil dari bidadari yang masih berpakaian lengkap itu.
“Mmpphhh... Mmpphhhhh” desah Nisa kewalahan saat penis itu terus berpacu menyodok kerongkongannya.
Perlahan demi perlahan pergerakan pinggul Fandi semakin cepat saja. Fandi yang semakin bernafsu mempercepat gerakan pinggulnya untuk menyetubuhi mulut mungil itu. Nampaknya ia lupa kalau yang sedang ia genjot sekarang adalah mulut Nisa. Soalnya mau bagaimana lagi ? Rasanya sungguh nikmat sekali. Fandi mempercepat genjotannya sehingga Nisa sampai harus menepuk-nepuk paha kurus Fandi untuk menyadarkannya.
“Maas... Maassss” ucap Nisa disela-sela sepongannya.
“Uhhhhh... Uhhhh maaf dek... Maaff... Hah... Hah” untungnya Fandi sadar dan berhenti menyodok mulut Nisa.
Nisa yang kewalahan hanya tersenyum sambil ngos-ngosan. Tubuhnya yang lemas itu diajak berdiri oleh Fandi.
“Kebiasaan !” ucap Nisa tersenyum sambil merangkulkan lengannya pada leher pria kurus itu.
“Maaf sayang... Habis kalau udah urusannya sama kamu... Bawaannya nafsu terus sih” ucap Fandi sambil merangkul pinggang ramping Nisa.
Cupppp !
Fandi mengecup bibir Nisa sebentar sebelum tangannya bergerak untuk membuka kancing kemejanya.
“Maskernya dipake lagi dek” pinta Fandi sambil membuka kancing kemeja Nisa.
“Ehhh iyyah mas” ucap Nisa menurut saja. Dirinya pun gugup saat sebentar lagi akan ditelanjangi oleh pria kurus itu.
Saat satu demi satu kancing kemejanya terbuka. Maka, sedikit demi sedikit kulit dadanya mulai terlihat. Nisa semakin gugup sambil sesekali melirik wajah Fandi tuk memeriksa reaksinya. Nampak Fandi begitu tak sabar tuk melihat keseluruhan dada Nisa yang begitu indah.
Belahan dada Nisa mulai terlihat. Beha berwarna putihnya juga mulai terlihat. Fandi tersenyum senang yang membuat Nisa menunduk malu melihat kebahagiaan teman lamanya itu.
Setelah seluruh kancing kemejanya dibuka. Fandi langsung menjembrengkannya ke kiri dan ke kanan hingga tubuh mungil itu nampak di hadapan matanya. Fandi tersenyum mesum sambil menjilati tepi bibirnya sendiri.
"Kenapa mas senyum-senyum gitu ?" Tanya Nisa malu-malu.
"Aku yakin pasti kamu tau jawabannya dek... Menurutmu apa lagi kalau bukan karena ini ?" Ucap Fandi sambil meremas dada Nisa yang masih tertutupi branya.
"Mmpphh... Karena dadaku mas ?" Tanya Nisa lagi sambil sedikit mendesah.
"Lebih tepatnya karena susu indahmu sayang... Susumu yang menggoda ini" Ucap Fandi sambil menurunkan cup bra itu kemudian menyeruputnya dengan lembut.
"Ssllrrppp" Seruput Fandi dengan mantap.
"Mmmpphh masssss" Desah Nisa dengan manja.
"Hahaha kenapa dek ? Enak kan ?" Tanya Fandi sambil menunduk ke arah dada ustadzah mungil itu.
"Iyyahhh masss... Geliii... Mmmpphh" Desah Nisa sekali lagi saat Fandi menyeruput puting susunya lagi.
"Hahaha suaramu itu loh bikin gak nahan" Ucap Fandi sambil meremas kuat dada bidadari berhijab itu.
"Uhhhh massss... Pelannnn" Desah Nisa sambil memegangi kedua tangan Fandi yang hinggap di dadanya.
"Tuhhh kannn... Gimana aku bisa tahan coba kalau kamu mendesahnya kayak gini" Ucap Fandi sambil menggelitiki puting Nisa.
"Uuhhh masss.... Uhhhh... Geliii maasss... Oouhhhh" Desah Nisa merinding keenakan.
"Hahaha... Cuupppp... Mmmpphh... Nafsuin banget sih kamu sayang" Ucap Fandi sambil mencumbu kulit dada Nisa kemudian meremas buah dadanya lagi.
"Aaahhhhh maasss... Aaaaahhhhhh" Desah Nisa penuh gairah.
"Hahaha... Aku lepas aja yah bajumu" Ucap Fandi karena tidak tahan lagi.
Nisa hanya mengangguk pasrah sambil memberikan ekspresi wajah yang membuat Fandi semakin terangsang.
Kemeja bermotif kotak-kotaknya sudah jatuh ke lantai kamar. Bra berwarna putih yang dikenakannya juga ikut jatuh ke lantai ruangan. Tanpa jeda, tangan Fandi segera menurunkan resleting yang ada di sisi belakang roknya. Rok yang Nisa kenakan juga ikut turun. Rok itu sudah turun melewati kedua kaki mungilnya.
Fandi tersenyum sambil mengamati keadaan tubuh Nisa yang kini tinggal mengenakan hijab dan celana dalamnya saja.
"Masss... Ngeliatnya jangan gitu ahhh" Ucap Nisa sambil menutupi ketelanjangannya sebisanya.
"Hahaha... Jangan ditutupi sayang... Biarin aja begini..." Ucap Fandi sambil membuka tangan Nisa hingga tidak menutupi keindahan tubuh polosnya.
"Nah gini kan cantik" Ucap Fandi saat mengamati keadaan ustadzah bermasker yang tinggal mengenakan hijab dan celana dalamnya saja.
Buah dada Nisa yang masih kencang sedang berdiri tegak tanpa jatuh ke bawah. Ukurannya cukup besar untuk seukuran tubuh mungilnya. Fandi terkekeh puas melihat keindahan tubuh Nisa.
"Aku mulai yah" Ucap Fandi sambil memasukan tangannya ke dalam celana dalam Nisa. Jemarinya menggesek bibir vaginanya. Sedikit demi sedikit vagina Nisa mulai basah terkena rangsangan dari Fandi.
"Aaaaahhhh maasssss" Desahan yang terucap membuat Fandi semakin bersemangat.
Fandi tertawa puas menyadari ustadzah sholehah yang sehari-harinya biasa mengenakan pakaian longgar itu telah takluk oleh rangsangan jemarinya. Apalagi kini, keseluruhan tubuhnya telah terungkap menampakan payudaranya yang semakin mengencang. Vaginanya juga semakin becek akibat perlakuan jemari Fandi dalam menggesek bibir vaginanya. Nisa mendesah, ia terus mengeluarkan suara desahannya yang menggoda.
“Ahhhhhh ahhhhhhh ahhhhhhhhh” desahnya sambil menggoyangkan pinggulnya karena tidak tahan.
"Hahahaha" Fandi pun berjongkok untuk memelorotkan pertahanan terakhir yang menutupi vagina Nisa. Saat ia menurunkannya, Fandi dapat melihat liang kewanitaan Nisa yang berwarna merah muda. Karena saking gemasnya, Fandi jadi tidak tahan dan akhirnya menjilat bibir vagina itu walau hanya sekali.
"Maasss.... Ouuhhhhh" Desah Nisa merinding merasakan sensasi itu.
"Hahaha indah sekali memekmu dek... Uhhh aku jadi gemes banget nih" Ucap Fandi sambil membuka vagina Nisa menggunakan jemarinya. Sontak Nisa malu saat Fandi ingin melihat kedalaman vaginanya.
"Massss... Jangannn gituu ahhhh" Rengek Nisa.
"Hahaha.... Kenapa dek ? Aku cuma penasaran aja kok, seberapa dalem sih lubang memekmu tuk menerima sodokan kontolku ?" Ucap Fandi dengan vulgar yang membuat wajah Nisa memerah.
"Ya tapi kan mas... Jangan diliatin kayak gitu lahhh... Aku malu banget tauuu" Ucap Nisa yang membuat Fandi semakin gemas.
"Hahaha... Maaf, maaf... Tapi tenang yah dek... Aku janji, aku akan memberikan kepuasan yang luar biasa kepadamu" Ucap Fandi sambil menjulurkan lidahnya dan mengarahkannya ke lubang kemaluan Nisa yang ia buka.
“Aahhhhhhhhhh” desah Nisa dengan manja.
Lidah Fandi kembali bergerak dalam menjilati bibir vagina Nisa. Nisa akhirnya mendesah tak kuasa menahan nikmatnya. Rasanya sudah seperti tersengat arus listrik yang pelan saja. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan lembab tengah merangsang titik sensitifnya. Lidah Fandi bergerak masuk menyusup ke dalam rongga vagina Nisa. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina Nisa. Nisa mendesah, tubuhnya mengejang, ia benar-benar menikmati jilatan nakal Fandi di kemaluannya. Kedua tangannya pun memegangi kepala Fandi yang semakin terbenam di vaginanya.
“Ahhhh... Massss... Jangan dalem-dalem... Ouhhhhh” desah Nisa keenakan.
“Mmpphhh sllrrpp.... Mmpphh nikmatnyaaa" Fandi terus menjilati sambil menyeruput lubang kemaluan ustadzah itu. Nisa semakin keenakan. Ia benar-benar puas saat dijilati oleh pria kurus itu.
Fandi meludahi liang kewanitaan Nisa, kemudian ia kembali menjilatinya, jemarinya ikut bergerak dalam mengorek-ngorek lubang kemaluan Nisa. Nisa semakin terangsang yang membuatnya tak dapat melakukan apa-apa selain mendesah kencang.
“Aahhhh... Ahhhh... Massss.... Uuuhhh” desah Nisa dengan manja.
"Hahaha... Nikmat sekali memekmu dekk... Uhhhh aku makin gak nahan nih... Balik badan sayang" Ucap Fandi setelah puas membasahi liang senggama bidadarinya.
Fandi kembali berdiri sambil mengocok batang penisnya yang semakin mengeras. Nisa yang sudah telanjang bulat menyisakan hijab dan maskernya saja diminta untuk membelakangi tubuh Fandi.
Dalam keadaan membelakangi itu. Nisa dapat merasakan benda tumpul yang tengah mengantuk-antuk bibir vaginanya. Nisa menoleh ke belakang dan mendapati kalau Fandi telah bersiap-siap tuk menyodok tubuhnya.
"Mmmpphhh massss" Desah Nisa sambil menoleh ke belakang.
"Siyyap sayang ? Uuhhhh" Ucap Fandi pelan-pelan mulai mendorong pinggulnya hingga ujung gundulnya semakin terbenam di dalam vagina Nisa.
"Aaaahhhh massss... Gede bangettt... Tungguuuu uuhhhhh" Ucap Nisa sampai terdorong maju karena tak kuasa menahan tusukan dari penis besar itu.
"Uhhhh rapetnya memekmu dekk... Uhhhh nikmat sekali jepitanmu" Desah Fandi sambil mencengkram kuat pinggul Nisa. Pinggulnya secara perlahan terus mendorong. Ujung gundulnya secara perlahan mulai membelah bibir vagina ustadzah mungil itu.
"Oouhhhh maaasssss... Akkuuu gakk kuaaatt" Desah Nisa heran kenapa penis kawan lamanya itu bisa sebesar ini.
"Uuhhhh tahan dikit lagi dekk... Aku akannn hennkkghhhh !!!" Ucap Fandi setelah menarik pinggulnya sesaat lalu menghantamkannya dengan kuat hingga tubuh polos Nisa terdorong ke depan.
"Aaahhhh massss"
Namun penisnya masih belum masuk seluruhnya. Fandi kembali mengulangi caranya. Pelan-pelan ia menarik penisnya lalu dengan sekuat tenaga ia menghantamkan pinggulnya sekuat-kuatnya.
"Hheennkkghh !"
"Aaahhhh" Nisa sampai maju selangkah akibat hentakan penuh nafsu dari pria kurus itu.
Untungnya Fandi mendekap erat pinggul bidadari itu. Nisa jadi tidak terjatuh. Nisa hanya kelelahan setelah dihentak habis-habisan oleh pria kurus itu.
"Ayoo maju dikit dek" Ucap Fandi sambil menolehkan kepalanya ke arah dinding yang ada di sampingnya.
Setelah dirasa pas. Fandi mulai menggerakan pinggulnya secara teratur. Awalnya pergerakannya cenderung pelan. Tapi Nisa sendiri sudah dapat merasakan gesekan yang merangsang dinding vaginanya. Lama-lama pergerakan pinggul Fandi semakin cepat. Pergerakannya juga semakin kuat. Nisa yang awalnya hanya terengah-engah mulai mendesah mengeluarkan suaranya yang manja. Tubuhnya yang sedari tadi diam mulai terdorong maju mundur terkena dampak dari pergerakan pinggul pria kurus itu.
"Massss... Aaahhhh... Aaahhhh"
Lubang senggama Nisa yang sudah basah memudahkan batang penis itu untuk melesat masuk ke dalam. Rahim Nisa kembali tersundul. Tubuhnya sampai bergetar menerima sensasi itu.
“Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhhh” Desah Nisa dengan manja.
Dalam posisi berdiri membelakangi, Nisa disetubuhi oleh selingkuhannya yang sedang memeluk erat pinggangnya agar tidak terjatuh. Nampak kedua payudaranya mendal-mendul menerima sodokan demi sodokan dari pria kurus itu. Mata Nisa sampai memejam. Ia sungguh tak kuat menerima sodokan yang terasa semakin mantab.
“Ouhhh dek... Rapet banget memekmu... Ouhhh aku puas banget” desahnya yang membuat Nisa merasa malu.
Sambil merapatkan bibirnya, Nisa hanya bisa pasrah menerima sodokan demi sodokan dari Fandi. Benturan antar pangkal paha yang terdengar keras menjadi lantunan musik yang melatar belakangi persetubuhan mereka yang semakin panas. Berulang kali tangan Fandi bergerak naik tuk mengelusi perut beserta dada kencangnya. Nafas Fandi semakin berat. Ia sangat menikmati persetubuhannya dengan seorang ustadzah yang merupakan teman masa kecilnya.
"Oouhhhh maaasss.... Maasssss... Aaahhhh.... Aaahhhh" Desah Nisa merasakan genjotan Fandi yang semakin kuat.
Sodokannya juga terasa sangat dalam. Nisa merasa kalau rahimnya sedari tadi telah ditusuk-tusuk oleh ujung gundul dari pria kurus itu. Dirinya yang kelelahan membuatnya nyaris terjatuh. Beruntung Fandi mendekap tubuh telanjang Nisa sehingga tidak terjatuh saat disetubuhi olehnya.
Ploookkkk... Plokkkk.... Plokkkk !!!
Suara benturan itu semakin keras. Persutubuhan yang mereka lakukan semakin memanas. Nampak Nisa sudah menungging sambil menaruh kedua tangannya pada pegangan tangan Fandi yang mendekap pinggangnya.
Payudara Nisa yang menggantung itu semakin bergoyang kencang seiring hentakan pinggul Fandi yang semakin keras. Nisa sampai geleng-geleng kepala meladeni nafsu buas Fandi saat menggenjot kemaluannya. Rasanya Nisa tidak kuat lagi. Ia benar-benar kelelahan saat digempur habis-habisan oleh penis kekar pria kurus itu.
“Aahhhhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhh” desah Nisa dengan begitu pasrah. Berulang kali bibirnya ingin ia buka tuk meminta Fandi agar memelankan sodokannya. Namun sodokan kencang yang ia terima membuatnya sulit untuk mengucapkan kata-kata.
“Aahhhhhh masss... Ahhh tunggu bentarrr... Ouhhhh ouhhhhh... Pellaann” hanya erangan dan desahan yang bisa Nisa ucapkan saat itu.
"Ada apa sayaanggg... Aaahhh... Aaahhhh... Kamu menikmatinya kan ?"
"Aaahhhh.... Aaahhhh masss... Tapiii... Ahhhh pellannn... Pellaann masss" Ucap Nisa yang membuat Fandi tertawa.
"Pelan kayak gini maksudnya ? Heennkghh !" Desah Fandi yang justru mempercepat sodokannya.
Plokkk.... Plokkk... Plokkk !!!
"Aaahhhhh... Aaaahhhhhh"
Desahan Nisa semakin keras. Sudah jelas kalau Fandi sedang nafsu-nafsunya saat menyetubuhi teman masa kecilnya. Nampaknya ia tak peduli dengan keadaan Nisa yang sedang terengah-engah. Dirinya hanya mementingkan birahinya yang masih belum mencapai batas.
"Aaahhhh masss tunggu sebentarrr... Akuu... Aakkuuuu"
"Kenapa sayangg ? Kenapaaa ? Ehhh..."
Fandi terkejut saat tiba-tiba penisnya basah terkena semburan cinta dari orgasme Nisa. Fandi tak menduga kalau Nisa diam-diam sudah mencapai klimaksnya. Fandi pun membiarkan Nisa menikmati orgasmenya walau masih menggerakan pinggulnya secara pelan.
"Aaahhhh... Massss aaaahhh... Akuuu keluuaarrrr" Desah Nisa dengan sangat nikmat hingga kepalanya ia angkat.
Tubuh mungil itu mengejang. Fandi dapat merasakannya melalui remasan yang ia lakukan di dada. Terasa payudara Nisa mengencang. Terasa ukuran buah dada Nisa membesar. Terasa puting susu Nisa menegang.
Mata Nisa sampai merem melek merasakan kepuasan yang ia dapatkan. Tubuhnya kelojotan. Apalagi saat Fandi masih menghujami vaginanya walaupun dengan kecepatan pelan.
"Aaahhhhh" Desah Nisa sambil jatuh menungging setelah Fandi melepaskan dekapannya.
Fandi tersenyum puas melihat Nisa kelojotan dibawah sana. Nampak vagina Nisa berdenyut sambil mengeluarkan cairan cintanya yang menetes jatuh ke arah selangkangannya.
Gilaaaa... Hahaha... Puas banget yah sayang ?
Batin Fandi saat melihat kebinalan teman masa kecilnya.
"Hah... Hah... Hah... Capek banget... Haduhhh... Hah" Desah Nisa terengah-engah setelah menerima gempuran Fandi.
"Gimana sayangg ?" Ucap Fandi datang sambil menidurkan tubuh Nisa dalam keadaan terlentang.
Nisa tersenyum malu saat memandang tubuh kurus Fandi yang sedang mengambil posisi di depan selangkangannya.
"Massss... Nantiii... Hah... Hah... Akuu capekk mas" Ucap Nisa yang tak kuat setelah mendapatkan orgasmenya.
"Hahaha... Tadi katanya mau cepetan... Kok aku percepat malah kamunya yang minta nanti-nantian" Ucap Fandi yang sudah mengangkangkan kedua kaki Nisa. Bahkan ujung gundulnya sudah menempel di pintu masuk liang kenikmatan ustadzah mungil itu.
"Tapiiii mass... Akuu... Akuu mmpphhh" Desah Nisa terkejut saat Fandi sudah kembali menancapkan penisnya.
"Kamu kenapa sayanggg ? Kamuuu keenakan yah ? Iya aku tau kok" Ucap Fandi sambil mendekap payudara kanan Nisa menggunakan tangan kirinya.
"Massss tunggguuu... Jangann gerakkk duluuu... Uuhhhhh... Uuhhhhh" Desah Nisa yang tak dengarkan oleh Fandi.
Siapa lelaki yang sanggup bertahan ketika ada ustadzah cantik yang sedang mengangkang di hadapannya ? Itu lah yang saat ini dirasakan oleh Fandi. Sebagai lelaki normal, ia tak sanggup membiarkan keindahan tubuh Nisa begitu saja. Ia ingin menikmatinya. Ia pun menggenjot vagina Nisa lagi dengan pelan. Apalagi ustadzah cantik itu baru saja mendapatkan orgasmenya. Buah dada Nisa masih mengencang. Ia sangat ingin memandangi buah dada Nisa yang sedang bergoyang saat tubuh indahnya ia hujam.
"Massss... Ouhhhh... Ouuhhh" Desah Nisa sambil memegangi kedua tangan Fandi yang mencengkram kuat pinggangnya.
"Ouhhhh nikmat sekali sayanggg... Ouhhhh mantap sekali jepitan memekmuuu" Desah Fandi sambil sesekali menengok ke arah kiri. Ia kembali memandangi wajah Nisa yang masih mengenakan masker. Tapi ia kembali melirik ke arah kiri kemudian tersenyum sambil memandangi ekspresi wajah Nisa yang tengah keenakan.
“Aahhhhh maaasss... Ahhhhhhhh” desah Nisa dengan manja saat batang penis itu terus menyodok-nyodok lubang kemaluannya yang sempit.
Dikala kedua tangan Fandi mencengkram kuat pinggang ramping Nisa. Pinggulnya dengan kuat langsung ia dorongkan. Namun lubang sempit yang Nisa punya sempat membuat Fandi kesulitan meski vagina itu baru saja mendapatkan orgasmenya. Fandi geleng-geleng kepala tak menyangka ustadzah yang sudah mempunyai anak satu itu masih mempunyai vagina sesempit ini. Entah apa rahasia yang Nisa punya. Apakah itu murni karunia dari Tuhan atau mungkin Nisa jago merawat vaginanya dengan menggunakan obat-obatan tertentu.
Entahlah, itu tak penting baginya karena ia sedang menikmati jepitan vagina Nisa dan juga keindahan payudaranya yang sedang bergoyang terkena hujaman penisnya.
"Hahaha... Puasnyaaa... Puasnyaaa" Tawa Fandi sambil memainkan birahi bidadari cantik itu.
Dikala ia memelankan hujamannya. Awalnya ia menarik pinggulnya perlahan kemudian menghantamkannya dengan kuat. Ia menariknya lagi kemudian menghantamkannya lagi. Ia terus menyodok-nyodok vagina bidadari itu hingga membuat tubuh Nisa terdorong-terdorong terkena hantaman pinggulnya.
“Aahhhhhh... Ahhhhhhh... Ahhhhhhh” desah Nisa memejam dengan manja. Matanya sudah tak sanggup ia buka karena tak tahan menahan hujaman penis Fandi yang sangat luar biasa. Ia hanya bisa pasrah membiarkan pria kurus itu menikmati tubuhnya. Ia benar-benar kewalahan meladeni nafsu buas Fandi di pagi hari ini.
“Uuuhhhhh maaaasssssss !!!” Nisa melonglong kuat saat merasakan dorongan penis Fandi yang begitu dalam mengenai rahimnya. Nampak wajah dari bidadari itu kelelahan. Ia pun membuka mata tuk menatap wajah Fandi dengan tatapan yang sayuk. Nampak matanya menjelaskan kalau dirinya sudah lelah dan ingin beristirahat terlebih dahulu. Namun Fandi tidak peka. Lagipula ia juga sedang nafsu-nafsunya, Fandi kembali menggerakan pinggulnya hingga tubuh dari bidadari itu bergerak maju mundur menerima sodokan darinya.
“Aahhhh... Ahhhh dekkk... Ouhhh dekkk... Mmmpphhhhh” desah Fandi sambil menatap wajah cantik Nisa. Penisnya yang besar sudah terjepit di dalam. Terasa dinding vagina Nisa seperti memijat-mijat batang penisnya. Fandi keenakan. Matanya kadang memejam. Ia pun menatap langit-langit agar dirinya bisa berfokus pada jepitan yang ia terima di batang penisnya.
“Aahhhh sayanggg... Ahhhhhh... Ahhhhhhhh” desahnya puas.
Nisa juga sesekali memejam menerima tusukan yang begitu mantab. Payudaranya bergoyang semakin cepat. Genjotan yang ia terima juga semakin kuat. Nampak mata Nisa berkedap-kedip merasa tusukan yang semakin nikmat. Mulutnya yang tadi menutup perlahan membuka. Kedua tangannya yang tadi memegangi tangan Fandi perlahan mulai mengepal.
Dengan kenikmatan yang semakin terasa. Nisa pun melampiaskannya dengan desahan demi desahan yang keluar dari mulutnya.
“Aahhhhhhh... Ahhhhhh.. Maasss.... Ahhh yahhh... Ahhhhhhhh Maassss !!!” desah Nisa dengan sangat manja.
Tangan Fandi berpindah dengan meremasi kedua payudaranya. Fandi tergiur oleh pergerakan kedua payudara itu yang seolah sedang menggodanya. Puting Nisa ditariknya, Puting Nisa dicubitnya. Puting Nisa ditekannya saat ia mempercepat gerakan tusukannya.
“Ouhhhh... Ouhhhh.... Mantappnyaahh... Ouhhh kenyalnya” desah Fandi sambil memainkan kedua payudara itu.
Hampir lima menit mereka bersetubuh dalam posisi itu. Keringat yang semakin deras ditambah dengan deru nafas yang semakin berat menandakan kalau Fandi sudah tidak sanggup berlama-lama menikmati keindahan tubuhnya.
"Ouuhhh dekkk.... Uhhhhh akuu dah gak kuat lagi dekkk... Akuuu mauu keluarrr" Ucap Fandi merasakan penisnya mulai berdenyut setelah dicekik oleh lubang sempit kemaluan Nisa.
“Aahhhh... Ahhhhhhh... Iyyahh massss... Keluuarinn ajaaa... Akuu pasraahh mass” jerit Nisa semakin mengepalkan jemarinya tuk menahan tusukan Fandi.
"Aaahhhh yang benerrr ? Aku boleh ngehamilin kamuu dekkk" Ucap Fandi semakin bernafsu saat mendengar desahan Ustadzah cantik itu.
"Aaahhhh... Aahhh iyyaahhh massss... Mmmpphhh boleehh" Ucap Nisa yang membuat Fandi merinding mendengarkannya.
Mendengar desahan Nisa yang terus saja merangsang birahinya membuat nafsu dari pria kurus itu tidak mampu ditahan lagi. Apalagi saat Nisa mengizinkannya untuk keluar di dalam rahimnya. Fandi semakin bersemangat. Ia mempercepat genjotannya hingga tubuh Nisa terlonjak-lonjak menerima genjotan kuatnya.
"Aaahhhh massss... Aaahhhh kuaattt bangettt... Aaaaahhhh"
"Ahhh... Ahhhh sayanggg... Sayanggg... Aku gakk kuat lagii... Ahhhh... Ahhhhh rasakan ini... Hennkkghh !!" Desah Fandi saat menancapkan penisnya sedalam-dalamnya di rahim Nisa. Fandi sampai bergidik nikmat. Ia benar-benar puas setelah menikmati keindahan tubuh ustadzah mungil itu.
"Aaaaahhhhhh" Desah Nisa dengan manja yang mengakhiri persetubuhan panasnya di pagi hari ini.
Crrooott... Crrooott... Crrooott !!!
Lutut Fandi melemas, kedua matanya kedap-kedip menahan nikmat. Baru kali ini, ia merasakan semprotan yang begitu mantap. Tubuhnya benar-benar kelojotan. Ia langsung menindihi tubuh Nisa sambil terengah-engah merasakan nikmatnya.
Nisa merem melek saat rahimnya diisi sperma oleh pria kurus itu. Tubuh Fandi yang ambruk langsung ia peluk menggunakan kedua tangannya. Dada Nisa terasa berat karena ditindihi oleh kepala lelaki bertubuh kurus itu.
"Dekkk... Hah... Hah... Hah" Ucap Fandi terengah-engah.
"Iyya masss... Hah... Hah... Hah" Ucap Nisa juga terengah-engah.
Kepuasan yang sama-sama mereka dapatkan membuat mulut mereka tak bisa membuka tuk mengeluarkan kata-kata. Hanya deru nafas mereka yang menjelaskan persetubuhan yang mereka dapatkan. Fandi tersenyum puas. Nisa tergeletak lemas. Mereka tidak tahu lagi untuk menjelaskan kenikmatan yang mereka dapatkan sekarang.
Hampir tujuh menit mereka terdiam dalam posisi seperti itu. Ketika Fandi mendapatkan energinya kembali. Ia mulai bangkit sambil tersenyum menatap wajah manis Nisa. Nisa pun menunduk karena malu saat ditatap seperti itu oleh pria kurus itu.
Fandi kembali menunduk. Tapi kali ini untuk melepaskan masker yang menghalangi sebagian keindahan wajah Nisa.
"Luar biasa sekali dirimu dek... Aku puas banget... Aku janji, aku gak akan pernah bosan tuk menikmati keindahan tubuhmu lagi dan lagi" Ucap Fandi sambil mengaitkan jemarinya pada jemari Nisa dikala bibirnya mendorong bibir Nisa dengan penuh nafsu.
"Mmpphhh... Aku juga mass... Mmpphhh akuuu jugaa puas banget" Ucap Nisa disela-sela cumbuannya.
Cukup lama mereka bercumbu sebelum Fandi melepasnya setelah merasa puas. Fandi pun mulai bangkit. Ia juga menarik lepas penisnya dari dalam vagina sempit Nisa. Nampak lelehan spermanya dengan deras membasahi lantai ruangan. Fandi tersenyum puas. Nisa hanya tersipu sambil memandangi lelehan sperma Fandi yang begitu banyak.
Kalau sebanyak ini, Bisa-bisa Aldi dapet adek baru beneran nih !
Batin Nisa sambil memandangi vaginanya yang dibanjiri lelehan sperma lelaki kurus itu.
"Ini sayang tisunya" Ucap Fandi memberikan tisu itu ke Nisa.
"Makasih mas"
Nisa dengan telaten membersihkan selangkangannya dari lelehan sperma lelaki kurus itu. Nisa tampak berhati-hati. Ia tidak ingin meninggalkan satu tetespun sperma yang membuatnya tidak nyaman saat berjalan pulang.
Setelah selesai, Nisa kembali berpakaian. Fandi juga kembali berpakaian sehingga mereka nampak tidak seperti pasangan yang baru saja melakukan perbuatan mesum.
"Aku pulang dulu yah mas... Maaf kalau aku buru-buru" Ucap Nisa sambil mengenakan maskernya kembali.
"Iyya gapapa sayang... Gak perlu minta maaf... Harusnya aku malah berterima kasih karena sudah diberi kenikmatan melalui ketelanjangmu "
"Hihihi gak masalah mas... Yaudah aku pulang dulu yah Wassalamualaikum" Ucap Nisa malu-malu.
"Walaikumsalam sayang" Jawab Fandi tersenyum.
Setelah Nisa benar-benar pergi dari ruangan ini. Fandi langsung berdiri lalu berjalan ke arah sisi kiri. Sesekali ia masih menengok ke arah pintu masuk khawatir Nisa akan kembali dan memergokinya melakukan sesuatu disini.
“Hahaha... Dapet juga” Ucap Fandi sambil mengambil sesuatu yang ia sembunyikan diatas lemari.
Fandi mengambil hape yang ia sembunyikan. Ia memeriksanya yang ternyata berisi rekaman persetubuhannya dengan Nisa tadi. Sambil tersenyum bahagia, ia memasukan video itu ke sebuah folder yang bernama Nisa. Rupanya selain Nisa, terdapat folder-folder lainnya termasuk folder Syifa yang didalamnya berisi rekaman video persetubuhannya dan juga foto-foto telanjangnya.
“Emang tambang emas di pesantren ini... Banyak banget ustadzah-ustadzah cantik yang bisa dijadiin konten... Kalau kayak gini kan jadi bisa buat thread baru... Pasti bakal rame nih threadnya... Aku yakin pasti bakal banyak yang penasaran sama daleman seorang ustadzah pesantren” ucap Fandi yang berniat menjadikan persetubuhannya dengan Nisa sebagai apdetan pertamanya.
“Hahaha kalau Nisa pake masker gini kan aman... Aku yakin pasti gak bakal ada yang ngira kalau itu adalah Nisa... Eh bentar... Fiyuh untungnya rekaman pas Nisa ngulum kontolku gak terlalu jelas... Aman lah... Pokoknya tinggal kasih tulisan No PK & No Quote aja biar thread baruku nanti tetap aman” ucap Fandi yang sudah sangat yakin dengan thread baru yang akan dibuatnya nanti.
“Hahaha dengan foto yang bikin penasaran kayak gini... Sudah pasti akan mengundang ribuan komentar yang penasaran akan wajah cantik Nisa yang tidak tertutupi masker” ucap Fandi lagi sambil memandangi foto Nisa yang baru saja ia edit.
“Ngomong-ngomong, kayaknya Nisa doang gak bakalan cukup nih” Ucap Fandi tersenyum.
Ia pun membuka salah satu folder. Ia pun memilih sebuah foto telanjang dari seorang ustadzah yang ia kenal kemudian mengirimnya secara langsung ke nomor ustadzah cantik itu.
“Halo sayang... Mau ketemuan ?” balas Fandi yang sangat yakin, pasti pesannya akan dibalas oleh ustadzah berkulit bening itu.
Benar saja. Dua centang biru segera ia dapatkan. Tanpa menunggu lama, ia dapat mengetahui kalau ustadzah cantik itu sedang mengetik.
*-*-*-*
Sore harinya, V sedang berjalan menyusuri jalan setapak sambil mengelap keringat yang memenuhi wajahnya. Ia menggunakan sapu tangan yang ia keluarkan dari sakunya untuk membersihkan keringat itu. Ia baru saja berolahraga hingga sekujur tubuhnya basah dibanjiri oleh air keringatnya.
Di tengah perjalanannya. Ia masih terpikirkan oleh ancaman foto yang berisi persetubuhannya dengan Salwa di taman pesantren waktu itu. Ia benar-benar dibuat penasaran oleh siapa pelaku yang sudah mengancamnya dengan menggunakan foto-foto itu.
Masalahnya, kalau foto itu tersebar. Bisa-bisa ada skandal besar yang tercipta di pesantren ini. Ia tidak mau Salwa sampai terseret oleh kasus yang bisa-bisa mengancam kariernya sebagai santriwati terbaik disini. Ia tidak dapat membayangkan betapa malunya Salwa andai foto-foto aib itu tersebar. Salwa pasti tertekan dan ia sangat mengkhawatirkan kesehatan mentalnya.
Anehnya, V lebih mengkhawatirkan keadaan Salwa daripada dirinya. Apalagi, ia merasa sudah memanfaatkan hati Salwa yang sangat mencintainya. Ia sangat tahu kalau Salwa begitu mencintainya sampai-sampai rela menyerahkan tubuhnya agar dinikmati olehnya. Tapi sebenarnya, V sendiri lebih menginginkan Haura daripada Salwa. Bahkan setelah ia mendapatkan kenikmatan dari Salwa. V masih menginginkan Haura agar dapat menjadi kekasih halalnya.
“Duhhh gimana yah kalau udah main hati begini ?” Ucap V bingung.
Ia tahu Salwa memang cantik. Ia bahkan sampai tergoda dan pernah menggoda Salwa juga demi mendapatkan keindahan tubuhnya. Tapi ia tidak ingin menikahinya. Ia lebih mencintai Haura daripada Salwa. Apalagi belakangan tubuh Haura keliatan lebih matang terlihat dari tonjolan bokongnya yang begitu menggoda. Ia pun membandingkan tubuh Salwa yang masih dalam tahap pengembangan. Tentu berbeda. Haura lebih menggoda. Tubuhnya sempurna. Wajahnya juga sempurna. Desahannya pun sempurna. Ia jadi merindukan sosoknya. Ia jadi ingin bercinta lagi dengannya. Apalagi sudah lama dirinya tidak mengobrol santai dengan Haura akibat kesibukan masing-masing di masa ujian ini.
“Ngomong-ngomong Haura udah gak diganggu sama kuli itu lagi kan yah ?” Lirih V mengkhawatirkannya. Ia sungguh tidak rela kalau ustadzah secantik Haura sampai disetubuhi oleh kuli tua sepertinya. Walau dirinya tidak rela, tapi ia merasa yakin kalau Haura setidaknya pernah disetubuhi sekali oleh kuli tua itu. Apalagi Haura sudah mengakuinya sendiri. Membayangkan hal itu pernah terjadi membuat V kesal saja.
Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang berasal dari dalam kelas. V yang penasaran mengikuti sumber suara tersebut. Suaranya seperti seorang santri yang ia kenal. Ia semakin yakin karena suara itu sempat menyebutkan dirinya ditengah pembicaraannya.
“Ya tenang aja pak... Semua sudah aman... Aku udah mindahin semua foto yang ada di kamera ke hape”
Foto ? Hape ?
Batin V semakin penasaran.
“Muwehehe iyya pak... Semua foto-foto tentang Salwa dan ustadz itu juga... Ah bapak mau juga ? Muwehehehe... Bukannya bapak udah dapat ustadzah Haura... Jatah Salwa buat aku aja lah pak muwehehehe” tawanya dengan nada yang khas.
Foto Salwa ? Haura ? Kurang ajar ! Siapa orang itu ?
Batin V semakin penasaran mengenai siapa identitas santri yang sedang mengobrol lewat hape itu.
V diam-diam mengendap ke arah jendela untuk memeriksa siapa santri itu. Terlihat disana ada santri berkepala plontos yang sedang mengobrol sambil melihat keadaan di luar. Seketika V mengenalnya. Itu adalah santri yang hampir ia tonjok saat di da'wah oleh Hanna di kantor bagiannya.
Jadi dia yang mengancamku dengan menggunakan foto itu ?
Batin V menduga.
Dia menginginkan Salwa juga ? Apa kamu gak tahu konsekuensi dari apa yang kamu ucapkan itu ?
Batin V dilanda amarah.
“Muwehehehe... Janji yah pak ? Bujuk ustadzah Haura biar mau saya enak-enakin juga... Muwehehe tenang... Aku gak akan maksa ustadzah Haura kok... Aku juga punya jatah ustadzah yang ingin aku nikmati lagi”
Oh kamu mau memperkosa Haura juga ? Oh jadi kamu selama ini punya ustadzah yang sering kamu nikmati ? Dasar santri kurang ajar !
Batin V semakin kesal pada santri berwajah jelek itu.
Siapa korban kemesuman santri ini ? Kalau sampai korbannya merupakan ustadzah yang aku kenal... Aku gak akan menahan diri lagi tuk menghajarmu sekarang !
Batin V bertekad.
“Muwehehe iyya pak tenang aja... Iya pak lain kali lagi yak... Tenang kalau bapak mau Salwa bisa aku atur nanti... Kita bisa sama-sama memakainya nanti... Kami seangkatan kok... Aku tahu betul gimana kepribadian Salwa dan jadwal kesehariannya... Iyak pak okey... Okey” ucap santri itu sebelum menutup telponnya.
Santri itu tertawa puas setelah menghubungi kuli kekar itu. Ia pun memandangi hapenya yang berisi bukti-bukti aib yang bisa ia gunakan untuk mengancam korbannya. Entah kenapa ia jadi menginginkan Salwa juga. Ia baru sadar belakangan ini kalau video rekaman yang berisi tiga wanita berhijab yang sedang lesbi itu ada Salwa juga di dalamnya. Ia jadi mempunyai alasan untuk memerawaninya. Ia pun geleng-geleng kepala karena tak sanggup membayangkan nikmatnya menyetubuhi santriwati perawan seperti Salwa.
“Muwehehe indahnya hidup... Besok malam bisa menikmati ustadzah Nada... Besoknya lagi ustadzah Hanna... Besoknya lagi bisa-bisa ustadzah Haura” Ucapnya dengan sangat lirih.
“Siapa yang nyangka hidupku akan dikelilingi oleh ustadzah-ustadzah sexy yang bisa aku setubuhi... Muwehehe... Indahnya hidddd...”
Brruuukkkkk !!!
Tiba-tiba Lutfi terkapar saat hendak keluar dari ruangan kelas.
Lutfi yang terkejut segera menatap sosok yang berdiri di sampingnya sambil memegangi pipinya yang kesakitan. Belum sempat Lutfi mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba tubuh kurusnya diberdirikan secara paksa. Lutfi yang terkejut manut saja. Ia langsung dihempaskan ke dinding hingga punggungnya terbentur dengan sangat keras.
Lutfi yang masih terkejut hanya diam sambil mencari tahu siapa lelaki yang berani memukulnya di sore hari ini. Saat Lutfi memperhatikan wajahnya, seketika matanya berkedut saat tahu kalau lelaki itu merupakan ustadz bagian pengasuhan yang tempo hari nyaris membogemnya di kantor bagiannya.
“Mana ?” kata V sambil merogoh saku Lutfi.
“Mana apa ustadz ?” tanya Lutfi ketakutan.
“MANA ?” ucap V mengeraskan suaranya. Namun berulangkali V merogoh sakunya, ia tidak menemukan sesuatu yang ia cari.
Tiba-tiba kerah Lutfi ditarik oleh V menuju ke dalam kelas. Lutfi diseret dalam keadaan tak berdaya oleh ustadz bagian pengasuhan itu.
“Antum nyari apa ustadz ? Kenapa antum mukul ana ?” tanya Lutfi berpura-pura tak bersalah.
Tapi V tidak menjawab. Ia terus saja menyeret Lutfi sambil memeriksa satu demi laci meja yang ada di dalam ruangan kelas itu. Lutfi jadi gugup saat menyadari kalau V sepertinya mengetahui apa yang ia sembunyikan disini.
Lutfi makin gugup saat V tiba-tiba menyeringai saat melongok ke arah salah satu laci meja. Lutfi berkeringat dingin. Sepertinya ia sudah pasrah pada nasib yang akan menimpanya nanti.
“Apa ini ?” Ucap V sambil mengambil sebuah hape yang disembunyikan di salah satu laci meja.
“Gak tau ustadz !” ucap Lutfi dengan nada yang tidak mengenakan.
“APA INI ?” Ucap V sekali lagi sambil mengeraskan suaranya.
“Haaa.... Haape ustadz” ucap Lutfi gugup.
“Punya siapa ini ?” ucap V sambil memeriksa hape itu yang rupanya tidak dikunci sama sekali. V memeriksa folder demi folder. Tak sengaja V menemukan folder yang ia cari. Ia menemukan video-video porno yang berasal dari timur dan barat. Ia juga menemukan dokumentasi foto-foto aibnya dengan Salwa. Ia terkejut saat menemukan rekaman lesbi seorang ustadzah. Tapi ia tidak sempat memeriksanya secara detail karena terburu-buru. Ia pun mencari rekaman seorang ustadzah yang katanya sering ia nikmati. Tapi berulang kali ia mencarinya. Ia tak menemukannya. Seketika ia terkejut saat menemukan foto Nada yang bersimpuh sperma di halaman depan kantor Administrasi.
Mungkinkah, ustadzah yang dimaksud itu Nada ?
Batin V murka.
Lutfi masih beruntung karena foto-foto Hanna yang berada di hapenya sudah dihapus semua oleh pak Prapto saat hapenya itu hilang. V jadi tidak mengetahui rahasia yang tersembunyi dibalik hubungan Lutfi dengan Hanna. Tapi, ia terlanjur marah setelah melihat Nada yang tak berdaya saat disetubuhi oleh Lutfi dan juga pria berkulit hitam yang tidak terlalu jelas di video itu.
“Apa ini ?” Ucap V kesal sehingga menghapus seluruh video porno tersebut.
“Gak usah sok gak tau lah ustadz... Ustadz juga pernah melakukannya dengan Salwa kan ?” ucap Lutfi berpura-pura kuat dengan membuka kartu truff-nya.
V hanya tersenyum, lalu tiba-tiba membanting hape itu hingga pecah berserakan di lantai ruangan kelas. Sontak Lutfi marah hingga matanya membuka begitu lebar. Ia sangat kesal karena hapenya dirusak oleh ustadz bagian pengasuhan tersebut.
“Maaf akhy... Waktu itu, Salwa yang mengajak ustadz untuk melakukannya... Lagipula, santri gak boleh bawa hape kan ? Apalagi sampai memperkosa seorang ustadzah” ucap V memperkuat cengkramannya di kerah Lutfi.
Lutfi hanya diam tak bisa berbuat apa-apa kendati dirinya sangat kesal. Diam-diam tangannya mengepal ingin menghajar ustadz tampan itu. Ia sangat kesal karena semua video yang bisa ia gunakan sebagai ancaman hilang berikut dengan koleksi video porno lainnya.
“Kurang ajar, ustadz ! Kenapa dibanting ? Itu hape mahal ustadz !” Ucap Lutfi spontan karena saking kesalnya.
“Mahal ? Lebih mahal mana harga diri seorang ustadzah dengan hape yang antum punya ?” ucap V sambil menghantam Lutfi kembali ke dinding.
“Kalau gitu lebih mahal mana harga diri seorang santriwati yang udah antum setubuhi dengan hape ana ?” Ucap Lutfi ngelunjak karena saking kesalnya.
Sontak V tersinggung dengan ucapan santri mesum itu. V sudah bersiap. Tangan kanannya mengepal kuat dikala tangan kirinya mencengkram kerah Lutfi.
“Dasar !” ucap V sambil meninju pipi Lutfi lagi dengan sangat kuat.
Brruuukkk !!!
Wajah Lutfi terdorong ke arah kiri saat terkena tinjuan ustadz tampan itu. V melepas cengkramanya. Kemudian ia meninju perut Lutfi yang membuat santri itu berteriak sekuat-kuatnya.
Brruukkk !!!!
“Aaaaarrghhhhhhh” Jerit Lutfi sambil berjongkok memegangi perutnya.
“Oh yah... Siapa orang yang tadi antum telpon itu ? Apa dia teman antum ? Apa kalian berdua bekerja sama untuk menodai ustadzah-ustadzah disini ?” ucap V sambil menarik kerah Lutfi lagi.
Lutfi terkejut saat tubuhnya diangkat hingga kembali berdiri dihadapan ustadz itu. Ia tak mengira kalau V sudah tahu saat dirinya tadi menelpon kuli itu untuk mengabarkan bahwa hasil jepretan Iqbal yang berisi aib persetubuhan V dengan Salwa sudah ia pindah semua ke hapenya.
Gawwaattt ! Jadi semua foto-foto itu juga hilang dong !
Batin Lutfi menyadarinya.
“JAWAB !” teriak V ke arah wajah Lutfi yang membuat santri itu ketakutan.
“Dari dulu ustadz udah gak suka kepribadian antum... Udah kasar dan rupanya antum juga doyan menodai ustadzah disini yah ? Ustadz gak terima untuk membiarkan santri seperti antum berkeliaran disini... Ustadz harus memberikan antum pelajaran dulu... Agar antum sadar kalau perbuatan seperti itu dilarang disini... Bukan cuma disini, tapi di dunia ini !” Ucap V sambil meninju perut Lutfi lagi.
Brruukkkk !!!
“Aaaarrghhhh ampunn ustadzz... Amppunnn” ucap Lutfi yang tidak mempunyai pilihan selain memelas.
“Ampun ? Ustadz yakin pasti ustadzah yang antum nodai juga berteriak ampun kan ? Apa antum mengampuninya ?” Ucapnya sambil meninju pipi Lutfi hingga terbentur ke lantai.
Brruukkkk !
Lutfi benar-benar tak berdaya saat ditinju berkali-kali oleh ustadz tampan itu. Menyadari kalau kerahnya tidak dicengkram lagi membuat Lutfi berkeinginan untuk lari. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Lutfi berlari sekuat tenaga menuju luar ruangan kelas.
“HEY TUNGGU !” Jerit V mengejarnya.
Teriakan V yang cenderung keras membuat beberapa santri dan warga pesantren lainnya yang ada di sekitar mereka menoleh tuk melihat apa yang sedang terjadi. Lutfi terhuyung-huyung dengan memasang raut wajah ketakutan. Karena saking takutnya, ia kehilagan keseimbangan dan terjatuh ke tanah. V langsung menyergapnya dan memegangi kerah Lutfi lagi.
“Ammpunnn ustadzz... Ampunnn”
Brruukkkk !
Pipi Lutfi kembali dihajar oleh V
Brruukkkk !
Sekali lagi pipi Lutfi kembali dihajar oleh V.
Hidung Lutfi sampai mengeluarkan darah. V benar-benar emosi saat menghajar seorang santri yang sudah menodai ustadzah disini.
Saat ia hendak meninju pipi Lutfi lagi. Tiba-tiba ada pergerakan langkah kaki yang datang dari arah kiri. V yang hendak meninjunya lagi jadi terhenti. Ia melihat ke kiri dan mendapati ada pria tua yang mengenakan gamis panjang berwarna putih. Nampak janggutnya yang juga berwarna putih. Pria tua itu mengenakan peci yang juga berwarna putih. Pria tua itu tampak marah. V jadi terdiam saat mengetahui siapa pria tua yang sedang datang menghampirinya.
V reflek menjauh dari Lutfi. V melihat sekitar. Ada banyak santri yang mengelilinginya sambil menjaga jarak. Seketika ia menyadari konsekuensi atas perbuatan yang baru saja ia lakoni.
“Kamu ustadz baru disini yah ? Kamu tahu kan hukuman memukul seorang santri ?” Ucap pria tua itu yang tidak lain adalah pak Kiyai Jamal.
“Tappii... Tappii ustadz... Dia... Ini...” ucap V jadi terbata-bata saat kepergok memukul santri.
“Ya, saya tau... Tapi senakal apapun santri, haram bagi seorang ustadz untuk menghukumnya dengan cara memukulnya... Sekarang ikut saya ke rumah” ucap pak Kiyai dengan tegas. V tampak pasrah sambil menggelengkan wajahnya tak percaya. Padahal saat pertama kali datang kesini dengan Adit. Ia sudah diwanti-wanit oleh pak Kiyai untuk tidak memukul seorang santri. Tapi mau bagaimana lagi ? Santri seperti lutfi memang harus dipukuli. Ia tidak begitu menyesal tapi ia begitu takut akan hukuman seperti apa yang mungkin ia dapatkan setelah memukul Lutfi.
“Akhy ! Sini... Bawa santri ini ke rumah sakit biar bisa dirawat” Ucap Pak Kiyai kepada salah seorang santri terdekat.
“Naam ustadz... Heh ayo bantu” ucap santri itu kepada teman-temannya.
Ia menatap Lutfi yang sedang ditolong oleh santri-santri itu. Ia kesal saat Lutfi tiba-tiba tersenyum sambil menatapnya. Tapi ia lebih kesal lagi saat menyadari hukuman yang kemungkinan besar akan didapatnya. Ia memang lega karena sudah menghajar Lutfi. Ia juga lega karena setidaknya ia bisa melindungi Salwa agar tidak dikeluarkan akibat skandal besarnya. Tapi ia merasa ketakutan andai dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan Haura. Ia benar-benar takut kalau hukuman yang mungkin di dapatnya adalah dikeluarkan dari pesantren ini.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *