"Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan ?" Ucap Pak Kiyai sambil meninggikan suaranya.
"Pondok pesantren itu, identik dengan pendidikan akhlak ! Apa yang baru kamu lakukan itu tidak mencerminkan akhlak yang baik sama sekali !"
"Sudah menjadi tradisi untuk menjaga kenyamanan setiap santri dalam belajar disini... Mereka itu datang kesini untuk belajar ! Kalau mereka melakukan kesalahan itu wajar ! Tapi bukan berarti harus kamu hajar ! Ada kalanya kita sebagai seorang ustadz harus berperan selayaknya orang tua bagi mereka... Semarah-marahnya kita ke mereka... Gak berhak kita melakukan pemukulan ke mereka... Mereka itu harus kamu ayomi... Mereka itu harus kamu jaga... Mereka itu harus kamu didik dengan pendidikan yang sesuai dengan apa yang ada di pesantren ini !" Ucap Pak Kiyai terus memarahi V saat mereka berdua berada di teras rumahnya.
V sedari tadi hanya menunduk mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Pak Kiyai. V tidak berani membantah. V tidak berani melawan kata-kata Kiyainya. Ia sangat tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia juga sangat tahu hukuman yang mungkin akan ia dapatkan.
Seketika ia terbayang saat dirinya sudah dikeluarkan dari pesantren ini. Tidak ada lagi mengajar. Tidak ada lagi pertemuan dengan Adit dan teman-teman sekamarnya. Tidak ada lagi senyum manis Hanna. Tidak ada lagi sikap lucu Salwa. Tidak ada lagi keindahan tubuh Nada dan yang pasti, tidak ada lagi kecantikan wajah Haura yang tentunya akan sangat ia rindukan.
Hauraaaa !
Batin V sambil mengingat-ngingat waktu yang sudah ia lalui bersama ustadzah tercantik itu.
Ia masih ingat betul sikap malu-malunya saat pertama kali bertemu dengannya. Ia terkejut, ia juga gugup. Ia benar-benar tak menyangka karena bisa bertemu dengan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan teman masa kecilnya. Teman yang telah membantunya untuk mengembalikan rasa kepercayaan dirinya. Teman yang sudah membantunya sehingga dirinya bisa berada disini saat ini.
Wajahnya, sikapnya juga keindahan tubuhnya. Semuanya sangat mirip dengan teman masa kecilnya itu. Ia sungguh ingin menikahi Haura. Ia sungguh ingin menjaga Haura. Ia sangat tidak rela kalau ustadzah tercantik itu kenapa-kenapa karena tidak ada dirinya yang menjaganya di sisinya.
Seketika ia jadi mengkhawatirikan Haura. Bagaimana nanti kalau kuli itu datang dan melakukan hal yang semena-mena lagi kepadanya. Bagaimana kalau Haura nanti meminta tolong kepadanya tapi dirinya tidak ada disana untuk membantunya. Tapi yang lebih buruk daripada itu. Bagaimana kalau dirinya tidak bisa melihat Haura lagi ?
V sangat ketakutan. Ia tidak ingin berpisah dari Haura. Ia ingin hidup di sampingnya sebagai kekasih halalnya. Tapi setelah kejadian ini. Ia jadi ragu untuk menjaga harapannya itu. Lagipula Haura sudah menikah. Haura sudah mempunyai suami. Dan dirinya tengah berada di ambang pemecatan dari statusnya sebagai ustadz pesantren.
V tidak tahu lagi. Dirinya merasa pusing. Ia pun menggelengkan kepala tuk menyadarkan dirinya.
"Dengar ustadz... Untungnya besok saya ada urusan mendadak yang membuat saya harus keluar kota selama 3 hari... Silahkan menikmati 3 hari terakhirmu disini... Silahkan manfaatkan waktu 3 hari ini untuk mengemas-ngemas barang-barangmu... Silahkan berpamitan dengan rekan-rekan ustadzmu... Tindakanmu itu sudah berlebihan... Pondok pesantren tidak akan memaafkan sikap seorang ustadz yang lebih mirip seorang preman" Ucap pak Kiyai mengakhiri ceramahnya di sore hari ini.
Setelah diizinkan pergi dari rumahnya oleh pak Kiyai. V jadi bingung harus melakukan apa. Ia merasa tidak enak badan. Rasanya ia tidak bersemangat untuk melakukan apa saja.
Andai waktu bisa diputar kembali, ia ingin kembali ke waktu dimana dirinya bertemu dengan Lutfi tadi. Alih-alih memaafkan Lutfi, ia ingin menghajar Lutfi di dalam kelas dimana tidak ada seorangpun yang tahu kalau dirinya sedang menghajar Lutfi habis-habisan. Tapi mau bagaimana lagi ? Nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak mempunyai pilihan selain menerima nasib akibat perbuatan yang sudah dilakukannya.
"Setidaknya kamu gak perlu dikeluarkan, Salwa..." Ucap V mencoba mencari sisi positif dari perbuatannya.
"Setidaknya antum gak perlu meladeni nafsu Lutfi lagi, Nada" Ucap V mencoba mengingat siapa saja ustadzah yang ia temukan di hape Lutfi.
Seingatnya hanya dua itu saja ustadzah yang bisa ia selamatkan kendati harus mengorbankan dirinya. Tetapi, ia masih khawatir setelah dirinya dikeluarkan. Ia khawatir kalau Lutfi kembali beraksi dengan menambah jumlah ustadzah yang akan menjadi korbannya.
"Huffttt !"
V tidak tahu lagi. Langit juga mulai gelap. Ia memilih kembali ke asramanya dalam keadaan kepala menunduk karena tak sanggup menahan beban pikiran yang berkumpul di kepalanya.
*-*-*-*
Keesokan harinya sekitar pukul 11
V sendirian di kantor setelah dibebaskan tugas menjadi pengawas ujian. Terhitung semenjak pagi tadi dirinya berdiam disini seorang diri. Rekan-rekannya sedang mengawasi ujian di kelas. Tapi dirinya terus saja disini sampai jam sebelas. Ia merasa bosan. Ia merasa kesepian. Ia benar-benar butuh seseorang yang dapat menghiburnya dari ujian hidup yang sedang menimpanya.
"Bener-bener gak mood sekarang... Males banget deh rasanya" Ucap V memikirkan kejadian kemarin sore.
Dari tadi ia hanya mengusap-ngusap layar hapenya. Dari tadi ia hanya membolak-balikan koreksian yang belum ia selesaikan. Dari tadi ia hanya memandangi pintu masuk sambil berharap seseorang datang untuk menemuinya.
Seketika wajahnya ia tolehkan ke arah kursi yang biasa di tempati oleh Haura. V bangkit kemudian duduk di dekat kursi kosong itu. Tangannya mengusap kursi yang biasa di tempati oleh ustadzah tercantik itu. Kursi itu sudah dingin. Ia benar-benar merindukan sosoknya yang biasa membuat paginya bersemangat.
"Kamu dimana sih sekarang ?" Ucap V yang sudah lama tidak melihat sosoknya. Padahal sebelum dirinya dikeluarkan, ia sangat ingin mengobrol dengannya. Setidaknya ia ingin melegakan hatinya dengan senyum indah yang nantinya akan Haura berikan.
"Huffttt"
V menghembuskan nafasnya. Ia kembali ke kursinya dengan sabar sambil menanti kehadiran Haura kesini.
Seketika pintu kantor terbuka. V menoleh kesana untuk mencari tahu siapa orang yang baru saja memasuki kantor bagiannya. Terdapat seorang ustadzah yang berdiri disana. Wajahnya tampak iba. Ustadzah itu segera berlari mendekati kursi V.
"V antum gapapa ?" Ucap ustadzah bertubuh montok itu yang tidak lain adalah Hanna. Hanna langsung datang memeluknya. Pelukan Hanna begitu erat. Sepertinya Hanna sudah dengar berita yang terjadi pada V.
"Hannn..." Ucap V tersenyum sambil membalas pelukan Hanna.
"Ana udah denger kabarnya... Tapi emang beneran antum bakal dikeluarkan ?" Ucap Hanna sambil menatap V tak percaya.
"Entahlah Han... Tapi kemungkinan besar begitu" Ucap V yang membuat air mata Hanna menetes tanpa sadar.
Tak berselang lama Rafi juga datang ke kantor bagiannya. Hanna yang menyadari kehadiran orang lain langsung menjauh dari V sambil mengusap air matanya.
"Itu beneran V ? Antum bakal dikeluarin ?" Tanya Rafi yang juga mengkhawatirkan rekan kerjanya.
"Hahaha mungkin... Bisa jadi ustadz" Ucap V tersenyum lemah.
"Ceritanya gimana sih V ? Kok bisa antum sampai terancam dikeluarin gitu ?" Tanya Hanna yang begitu penasaran. Rafi pun ikut mendekat untuk mendengar cerita yang sebenarnya terjadi.
V sambil tersenyum pasrah bercerita. Ia mulanya mendengar sebuah suara di dalam kelas. Setelah ia mendekat rupanya ada seorang santri yang menelpon disana. Ia berkata kalau dirinya terlanjur emosi. Apalagi saat menemukan banyaknya video dewasa di dalam hape itu. Ia menghajarnya namun naas ada pak Kiyai yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Jadi... Antum dikeluarkan gara-gara mukul santri yah ?" Ucap Hanna yang masih berkaca-kaca menyadari dirinya akan kehilangan rekan kerjanya.
"Hmmm kalau boleh tau... Siapa santri yang antum hajar itu ?" Tanya Rafi penasaran.
"Lutfi"
Seketika Hanna terkejut saat nama santri yang sering menyetubuhinya itu disebut. Ia tak menduga rupanya Lutfi yang sudah membuat V terancam dikeluarkan seperti ini.
"Oh santri itu... Dia emang bejat sih... Sampai sekarang suka heran kenapa santri sepertinya masih belum dikeluarkan" Ucap Rafi sebagai ustadz senior yang sangat mengetahui karakteristik Lutfi.
"Tteee... Terrus... Lutfinya gimana ? Apa dikeluarin juga ?" Tanya Hanna yang berharap setidaknya Lutfi juga harus dikeluarkan.
"Entahlah Han... Kayaknya engga deh"
"Loh kok enggak ? Kan dia bawa hape ? Kan di dalamnya ada video dewasa jugg..." Seketika Hanna terdiam saat teringat isi hape Lutfi. Tapi ia kemudian teringat kalau Pak Prapto sudah menghapus video persetubuhannya saat hape itu di temukan olehnya. Hanna jadi lega. Ia mengusap dadanya yang amat besar.
"Masalahnya karena terlanjur emosi... Ana banting hapenya dulu... Baru setelah itu ana menghajarnya... Taunya sih pak Kiyai cuma ngeliat ana ngehajar dia aja deh" Ucap V menyayangkan perbuatannya kemarin.
"Ihhh V... Gimana sih ?" Ucap Hanna kecewa. Tapi apa boleh buat. Ia lebih mengkhawatirkan V sekarang. Ia tidak rela kalau rekan kerjanya itu sampai dikeluarkan gara-gara menghajar santri mesum yang sudah sering memperkosanya.
"Sudah tenang aja... Ini masih terancam kan ? Belum pasti dikeluarkan kan ? Fakta kalau pak Kiyai gak langsung mengeluarkan antum berarti biasanya pak Kiyai masih menimbang-nimbang hukuman antum terlebih dahulu" Ucap Rafi berbicara mengenai pengalamannya disini.
"Eh masa ? Ana masih ada kesempatan bertahan dong ?" Ucap V sumringah.
"Pasti ada... Tenang aja... Apalagi pak Kiyai belum tau alasan antum memukulnya kan ?" Tanya Hanna ikut menyemangati.
"Iya sih... Kemarin ana cuma diem aja pas dengerin ceramahnya" Ucap V seperti melihat ada secercah cahaya di depan.
"Syukur deh... Nanti ana usahain bantu antum... Tenang aja" Ucap Hanna tersenyum sambil menatap V.
"Beneran ? Emang antum bisa bantu apa ?" Tanya V penasaran.
"Hahaha antum lupa yah kalau ustadzah Hanna kan calon mantu pak Kiyai... Channelnya banyak" Ucap Rafi mengingatkan.
"Ohh iya yah" Ucap V tersenyum yang membuat Hanna tersipu.
"Hihihi pokoknya tenang aja V... Jangan putus asa... Ana pasti bakal bantu kok... Ana gak rela kalau antum dikeluarkan gara-gara santri nakal itu" Ucap Hanna bertekad ingin menjaga V dari ancaman dikeluarkan.
"Makasih kalau begitu Han... Makasih juga ustadz... Ana gak tau kalau gak ada kalian... Mungkin ana bakal lemes terus seharian ini" Ucap V yang mulai bisa tersenyum lagi.
"Sama-sama" Ucap mereka berdua kompak.
Sebagai rekan kerja, Hanna dan Rafi terus berusaha menghibur V agar tidak putus asa menanti datangnya hukuman yang akan diputuskan. Kendati perasaannya mulai membalik. Ada satu hal yang masih mengganjal di hati V.
Haura... Kamu dimana ? Aku lagi butuh kamu sekarang.
Batin V yang masih belum melihat Haura.
*-*-*-*
Di saat yang sama.
"Antum kemana aja ustadzah kok sampai dua kali ghoib jadi pengawas ujian ?" Ucap seorang ustadz yang merupakan ketua panitia pelaksanaan ujian.
"Afwan ustadz... Ana sakit waktu itu... Jadi ana gak sempet hadir di ruang kelas" Ucap ustadzah itu tertunduk malu.
"Tapi kan bisa izin dulu ? Atau seenggaknya konfirmasi lah ke ustadzah lain bisa lewat WA atau paling gak pas sembuh bisa kesini buat lapor alasan kenapa kemarin gak bisa hadir" Ucap ustadz bernama Adit itu.
"Hehehe tapi ana bener-bener lupa ustadz... Ana juga sibuk banget karena waktu itu ana tinggal sendirian di rumah... Suami ana lagi pergi... Ana ngelakuin semua pekerjaan sendiri... Mungkin itu kali yah yang bikin ana drop" Ucap Ustadzah tercantik itu cemberut.
Adit yang awalnya ingin bersikap tegas langsung luluh oleh kecantikan ustadzah itu. Memang kecantikan Haura tidak ada duanya. Kendati Adit sebentar lagi akan segera menikah. Ia masih tetap tergoda oleh kecantikan ustadzah Haura yang sudah lama menjadi istri orang.
"Huffttt gimana yah ? Ana kemarin sempet dimarahin sama pak Kiyai loh gara-gara antum" Curhat Adit.
"Maaf ustadz... Lain kali janji deh... Ana gak bakal ghoib absen lagi... Serius ana bakal lebih rajin dan bakal jaga kesehatan juga" Ucap Haura tanpa sengaja bertindak imut dengan memanyunkan bibirnya sambil melekatkan kedua telapak tangannya yang ia angkat di depan dadanya seperti orang memohon.
Sontak pipi Adit memerah melihat keimutan Haura. Haura ini sudah cantik. Body-nya sexy. Lekuknya indah. Tonjolan dadanya menggoda. Adit jadi tidak bisa marah pada ustadzah tercantik sepondok pesantren ini. Apalagi saat Haura menggunakan gerakan imut tadi. Rasanya jantung Adit seperti ingin meledak saja. Jantungnya berdebar kencang. Ia sempat berharap kalau Rachel memiliki kecantikan seperti Haura.
Aneh, padahal Rachel sudah cantik. Tapi Adit masih berpikiran andai wajah Rachel secantik Haura. Hal ini menjelaskan bahwa kecantikan Haura jauh diatas rata-rata. Kecantikannya berada di tingkatan selanjutnya. Kecantikan yang membuat suaminya harusnya merasa beruntung karena bisa memilikinya.
"Yaudah deh... Ana maafin... Tapi lain kali jangan diulangi lagi yah !" Ucap Adit yang akhirnya hanya bisa menegurnya saja.
"Beneran... Yeayyy makasih ustadz... Makasih udah maafin ana... Ana janji bakal lebih rajin lagi deh" Ucap Haura mendekat sambil menaruh kedua tangannya di meja kerja Adit.
Seketika mata Adit reflek menatap dada Haura yang ternyata mempunyai dada yang besar juga. Rasanya seperti dejavu. Adit seperti pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya. Ia teringat kalau dirinya pernah melihat payudara Rachel di situasi seperti ini. Walau dada Haura tidak meloncat keluar. Tapi samar-samar Adit dapat mengira-ngira ukuran dadanya dari tonjolan di balik gamis lebarnya.
Adit geleng-geleng kepala. Padahal Haura sudah mengenakan gamis longgarnya. Tapi kok tonjolan dada Haura masih terlihat saja ? Sudah pasti karena ukurannya yang diatas rata-rata.
Lagi-lagi Adit geleng-geleng kepala. Tanpa sadar penisnya ia keluarkan dari balik resletingnya. Ia mengocok penisnya sambil menatap penampilan indah Haura sekarang.
Wajah cantik itu sedang tersenyum menatapnya. Hijab berwarna pink membalut kepala mungilnya. Gamisnya berwarna pink. Rok panjangnya juga berwarna pink. Bahkan Adit dapat melihat dengan jelas kalau lipstik yang Haura kenakan juga berwarna pink. Saat bibir Haura sedikit membuka. Bibir itu seolah menggodanya. Adit jadi diam terpana sambil mengocok penisnya. Ia membayangkan penisnya sedang keluar masuk di dalam mulut kecilnya.
Uhhhhh... Uhhhh... Beruntung banget kamu V... Uhhhhh !
Batin Adit sambil mengocok penisnya.
"Ustadz... Ustaaaddzz" Panggil Haura menyadarkan Adit.
"Eh iya ustadzah" Ucap Adit sampai meloncat kaget.
"Hihihi antum kenapa sih ustadz ? Tersepona yah ?" Ucap Haura tertawa melihat tingkah lucu Adit.
"Hehe mungkin" Jawab Adit yang membuat Haura semakin tertawa.
"Hihihi dasar ah... Yaudah ana pamit pulang dulu yah ustadz... Boleh kan ?" Izin Haura pamit.
"Kalau gak boleh gimana ?" Ucap Adit reflek berbicara.
"Kalau gak boleh ustadz mau apa ?" Ucap Haura sambil berekspresi seperti ini.
Sontak pikiran Adit kemana-mana setelah digoda oleh Haura. Haura pun tertawa setelah melihat ekspresi Adit yang salah tingkah. Akhirnya Adit mengizinkannya pulang. Haura pun geleng-geleng kepala kenapa tadi dirinya sampai berani menggodanya.
Habisnya ustadz Aditnya lucu sih... Jadi gemes pengen godain deh.
Batin Haura tanpa disadari kalau Adit masih beronani hingga saat ini.
"Uhhh ustadzaahhh... Uhhh... Uhhhh hennkkgghh kelluuaarrr !" Lirih Adit merasa lega setelah berhasil mendapatkan orgasmenya. Adit merasa kelelahan. Dirinya benar-benar puas. Sensasi beronani sambil membayangkan wajah Haura memang beda. Rasanya jauh lebih nikmat dan tentunya lebih menguras tenaga.
"Duhhh lemes bangett... Haduhhhh" Ucap Adit sambil geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Haura sedang berjalan pulang menuju rumahnya. Dirinya senyum-senyum sendiri sambil membayangkan sikap Adit tadi. Sebagai ustadzah tercantik, dirinya sudah biasa menemui ustadz yang salah tingkah seperti Adit. Jangan kan ustadz, santri aja sampai ada yang salah tingkah saat bertemu dengannya. Bahkan para pekerja seperti tukang sapu atau kurir pengantar paket pernah ada yang salah tingkah saat bertemu dengannya.
Tapi diantara pria-pria yang salah tingkah itu. Hanya ada satu pria beruntung yang diberi izin memasukkan batang penisnya ke dalam rahim kehangatan dirinya. Apakah hanya pak Karjo atau mungkin nanti akan ada tambahan kuli bangunan yang lain ? Entahlah, ia masih belum berani menambah pejantan lagi tuk memuaskan gairah seksnya. Cukup dengan pak Karjo atau mungkin juga dengan pak Dino.
Membayangkan keperkasaan dua kuli kekar itu membuat Haura senyum-senyum sendiri saja. Haura tanpa sadar membayangkan penampakan tubuh pak Karjo dan pak Dino yang tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Haura jadi gemas ingin mengusap perut kotak-kotak mereka. Haura jadi ingin bermanja-manja dengan membelai dada bidang mereka. Haura juga jadi ingin memeluk lengan kekar mereka sambil tentunya mengecup ujung gundul penis mereka.
Haura merinding membayangkan betapa binalnya ia sekarang. Sebagai ustadzah tercantik. Dirinya justru bernafsu pada seorang kuli bangunan bertubuh kekar dan berusia tua. Padahal wajah kuli-kuli itu tidak ada yang tampan. Tapi kuli-kuli itu mempunyai penis yang bisa membuatnya puas.
Bahkan ia sempat kepikiran untuk telanjang bulat sambil bergoyang manja dihadapan dua kuli kekar itu. Khususnya pak Karjo. Pria yang menyeretnya ke dunia yang memuaskan seperti ini. Ia ingin berterima kasih padanya. Ia merasa beruntung karena pria tua itu telah menghancurkan dinding pembatas yang membuatnya bisa bebas melampiaskan hawa nafsunya yang besar ini. Jujur ia ingin mencium batang penis itu. Ia ingin mengulumnya. Ia ingin memainkan batang penis itu di dalam mulutnya.
"Duhhh kok jadi nafsu gini sih" Ucap Haura tersipu malu.
Kendati pikirannya dipenuhi oleh pikiran-pikiran kotor. Tapi dirinya merasa malu untuk melakukan semua itu. Apalagi sampai bertelanjang bulat di hadapan mereka. Alih-alih menelanjangi diri, mungkin nanti ia lebih membiarkan pria-pria itu menelanjangi dirinya karena dirinya terlalu malu untuk melakukan semua ide-ide gila di otaknya.
"Duhhh Hauraaa... Nafsumu gede banget sihhh... Untungnya kamu udah nemu lelaki yang bisa meladeni nafsu besarmu" Ucap Haura dengan lirih.
"Duhh kok jadi pengen nyari pak Karjo yah ? Ke pak Karjo dulu ah" Ucap Haura sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sambil malu-malu Haura terus melangkah menuju gedung asrama yang masih dalam tahap pembangunan. Entah kenapa Haura jadi merinding membayangkan dirinya saat ini. Haura jadi geli sendiri. Ia tak henti-hentinya tersenyum karena sebentar lagi dirinya akan menemui pejantannya.
"Duhh jadi gak yah ? Kok aku jadi malu gini sih" Ucap Haura jadi grogi. Rasanya sudah seperti akan menemui kekasih hatinya. Haura jadi malu-malu. Bahkan ia sempat ragu karena terlalu malu untuk menemuinya.
Tak terasa ia sudah sampai di depan gedung yang belum jadi. Tapi masalahnya disana sedang ramai. Ada banyak kuli yang masih bekerja disana. Haura jadi kecewa karena kemungkinan besar dirinya tidak bisa dipuaskan oleh pak Karjo di tempat seperti ini.
"Duhhh terus aku gimana dong ? Lagi pengen" Ucap Haura dengan manjanya.
Untungnya saat Haura sedang melongok-longok ke dalam gedung baru itu. Tak sengaja matanya bertemu dengan mata kuli tua yang sedang ia cari. Haura tersenyum malu. Pak Karjo yang juga melihatnya dari kejauhan ikut tersenyum. Seketika pak Karjo melambaikan tangannya untuk meminta Haura kesana. Haura tertunduk malu. Ia pun berjalan mengikuti lambaian tangan Karjo yang sudah mengundangnya menuju surga kenikmatan yang tidak dapat ia jelaskan.
Haura berjalan sambil malu-malu ke arah pintu samping yang pernah ia masuki saat disetubuhi disini. Setelah ia masuk ke dalam gedung itu. Ia menemukan pak Karjo yang kembali melambaikan tangan agar dapat mengikutinya ke sebuah ruangan untuk bertemu dengannya.
Diam-diam Haura berjalan tanpa sepengetahuan kuli lainnya. Mereka berdua telah masuk ke dalam ruangan yang sama saat Haura disetubuhi oleh pak Karjo dan pak Dino tempo hari. Pak Karjo menutup rapat tirai kain yang menjadi pintu masuk ruangan ini. Ia kemudian menatap Haura yang sedang tersenyum malu-malu. Bahkan saking malunya, Haura tak berani mengangkat kepalanya tuk menatap wajah tua pejantannya.
"Apa kabar ustadzah ? Kekekekek" Tawa pak Karjo mengetahui Haura datang untuk menemuinya.
"Hehe baik pak" Ucap Haura tersipu malu.
"Ustadzah nyariin saya soalnya minta digenjot lagi yah ?" Ucap pak Karjo sambil mengangkat wajah indah Haura agar wajah cantik itu dapat ia nikmati seorang diri.
"Ihhh bapak... Enggak yah" Ucap Haura malu-malu.
"Ah yang bener ? Pasti ustadzah kesini pengen mainin kontol saya kan ?" Ucap Karjo sambil meremas penisnya dihadapan ustadzah tercantik itu.
"Ihhhh bapakkkk" Jerit Haura sambil reflek menutupi wajahnya. Entah kenapa Haura malu sekali melihat sikap Karjo tadi. Namun saat matanya mengintip ke arah selangkangan kuli itu. Ia jadi gemas ingin meremas benda berbentuk lonjong itu.
"Kekekek imut banget deh reaksimu tadi" Ucap Pak Karjo sambil membelai pipi mulusnya. Haura hanya tersenyum mendengar pujian kuli itu. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur. Tak terasa juga punggungnya sudah menyentuh dinding yang belum jadi itu. Reflek Haura membuang mukanya ke samping karena malu. Melihat sikap malu-malunya membuat Karjo semakin gemas ingin melahap keindahan bidadari tercantik itu.
“Luar biasa sekali kecantikanmu ustadzah... Baru membelai wajahmu aja udah membuat saya bernafsu” ucap pak Karjo tersenyum menatap ustadzah tercantik itu.
“Bapak sih pikirannya mesum terus... Wajar lah bapak dikit-dikit mesum ke aku” ucap Haura tersenyum malu-malu.
“Kekekekek masuk akal ustadzah... Tapi kan saya mesum ke ustadzah gara-gara ustadzah cantik sekali... Apalagi dengan tubuh seindah ini” ucap Pak Karjo sambil mengusap pinggang Haura naik kemudian turun lagi. Haura merinding sambil menggigit bibir bawahnya. Reaksi Haura barusan semakin merangsang birahi pak Karjo.
“Mmpphhh emang tubuh aku kenapa pak ?” tanya Haura penasaran akan jawaban kuli kekar itu.
“Tubuh ustadzah ? Bokong ustadzah montok... Pinggul ustadzah ramping... Susu ustadzah kenyal-kenyil... Kok masih nanya aja sih ustadzah ?” ucap pak Karjo sambil meremas bokong Haura lalu berpindah dengan mengusapi pinggang rampingnya lalu naik tuk meremasi buah dadanya.
“Mmpphhhh... Uhhhhhhh pakkkk” desah Haura memejam saat merasakan remasan kuli itu.
“Kekekekek tuh kan ? Gimana saya gak sangek ke ustadzah ! Ustadzahnya aja menggoda kek gini... Sayang banget sekarang saya gak bisa menggenjotimu” Ucap pak Karjo yang reflek membuat Haura kecewa.
“Yahhhhhhh... Kok gitu ?” ucap Haura tanpa sadar.
“Kekekek kontol saya lagi diistirahatin sekarang ustadzah... Jadi saya gak bisa menyetubuhimu siang ini” ucap Pak Karjo yang membuat Haura semakin kecewa.
“Terus ? Aku gimana ?” ucap Haura merengek sedih.
“Kekekek tenang ustadzah... Saya punya hadiah untuk ustadzah” ucap pak Karjo yang membuat Haura penasaran.
“Hadiah ? Apa itu ?” ucapnya langsung tersenyum karena saking senangnya. Selayaknya anak kecil. Mood Haura gampang sekali dinaikan kalau dirinya diberi hadiah kejutan.
“Inget gak dulu ustadzah sempat memberikan saya uang ? Kalau gak salah sewaktu saya datang ke rumah ustadzah untuk meminta anggaran ?” Ucap pak Karjo tersenyum.
“Eh kapan yah pak ?” tanya Haura lupa.
“Kekekek lama banget ustadzah... Pokoknya pas ustadzah masih belum tau sifat asli saya” Ucap pak Karjo yang membuat Haura menurunkan bibirnya.
“Emang sifat asli bapak gimana ?” tanya Haura berdebar menantikan jawaban kuli tuanya.
“Sifat asli saya ? Saya itu orangnya suka mesumin ustadzah... Saya orangnya gak bakalan puas kalau diminta bercinta denganmu sekali... Butuh minimal tiga kali bagi saya tuk puas menyetubuhimu... Ingat saat kita bercinta semalaman ? Itu momen yang paling bikin saya puas ustadzah... Saya ingin melakukan itu lagi... Saya ingin bercinta denganmu semalaman lagi... Kapan kita bisa melakukannya lagi ustadzah ?” ucap pak Karjo mendekatkan wajahnya sambil menatap mata Haura dengan berani. Sontak Haura tersenyum ditatap seperti ini oleh kuli kekar itu. Fantasinya juga kemana-mana saat diminta bersetubuh semalaman lagi dengannya.
“Nanti yah pak kalau suami aku pergi lagi... Gara-gara bapak bilang gitu... Aku jadi pengen lagi deh... Aku jadi nyesel dulu karena gak sempat menikmati genjotan bapak” ucap Haura malu-malu saat mengungkapkan isi hatinya.
“Kekekek salah sendiri sok-sokan nolak... Sekarang nyesel kan ?” ucap Karjo yang membuat Haura tersipu malu.
“Ya kan butuh proses pak... Aku perlu menimbang ini itu dulu supaya aku makin yakin dengan pilihanku” ucap Haura menunduk karena malu.
“Kekekekek sekarang gimana ? Udah mantep dengan pilihanmu ?” ucap pak Karjo mencengkram pipi Haura kemudian mengangkat wajahnya sehingga mata mereka kembali bertemu.
Haura hanya mengangguk malu. Pak Karjo tertawa karena dirinya bisa menaklukan ustadzah tercantik ini dengan kejantanannya.
“Ini hadiah dari saya karena ustadzah sudah memilih jalan kotor ini” ucap pak Karjo yang langsung menyambar bibir Haura dengan mulutnya.
“Mmpphhh... Bukan cuma kotor pak... Tapi juga penuh kepuasan” Desah Haura disela-sela cumbuannya. Pak Karjo tersenyum. Bibir Haura pun manyun-manyun.
Dengan penuh nafsu. Pak Karjo melesatkan bibirnya untuk mencumbui bibir betinanya. Sontak mata mereka memejam dikala bibir mereka saling menghujam. Kepala Karjo menerjang laksana seekor Elang yang sedang berburu mangsanya. Dikala bibir itu mendapatkan mangsanya. Bibir itu terus mendorongnya tuk memuaskan birahi yang sudah menguasainya. Haura juga demikian. Ia membuka mulutnya membiarkan lidah Karjo bermain-main di dalam rongga mulutnya. Karjo mendesah nikmat. Lidahnya berkeliaran di dalam mencari pasangannya. Saat telah menemukan pasangannya. Lidah mereka saling beradu. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling siku. Lidah mereka saling menggesek dan saling membasahi. Rongga mulut Haura yang semakin penuh membuat liur yang ada di dalam pun jatuh mengenai gamis longgar yang ia kenakan.
Tangan kiri Karjo yang gemas bergegas meremasi susu indah itu. Susunya sungguh kencang, Ukurannya juga lebih besar. Rasanya berbeda dari waktu-waktu sebelumnya disaat Haura belum takluk oleh kejantanannya.
Nampaknya nafsu Haura sudah bangkit. Hal itu membuat Karjo semakin bahagia akan kenikmatan yang sedang ia dapatkan. Tangan kirinya menaikan gamisnya. Gamis Haura mulai terangkat dan payudara sebelah kanannya mulai mengintip meski masih tertutupi beha berwarna putihnya. Perut ratanya terlihat. Kulit mulusnya terlihat. Karjo yang bernafsu langsung meremas susunya tanpa memperdulikan erangan yang keluar dari mulut Haura. Ustadzah tercantik itu mendesah namun terhalang cumbuan Karjo. Haura semakin bergairah begitu juga pak Karjo.
“Mmpphhh nikmat sekali bibirmu ustadzahhh... Mmpphhh saya puas sekali” desahnya disela-sela cumbuannya.
Haura hanya tersenyum mendengar desahan dari kuli kekar itu. Haura pun mengalah membiarkan pak Karjo berbuat sesukanya. Pak Karjo jadi terengah-engah. Remasan di dada Haura semakin diperkuat. Tangan kanannya ikut membantu dengan membelai perut rata Haura. Pak Karjo tak pernah lelah dalam menikmati keindahan yang ada pada tubuh Haura.
Mereka berdua semakin bernafsu bagai sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Mereka hanya ingin bercumbu untuk memuaskan gairah birahi yang semakin lama menguasai diri. Mereka selalu ingin bersama tuk menikmati keindahan yang ada pada tubuh mereka berdua. Mereka terus bercumbu, menikmati nafsu yang sudah terlepas tanpa mampu ditahan lagi oleh mereka berdua.
Haura sudah lepas kendali. Bidadari tercantik itu sudah pasrah membiarkan kuli kekar itu mencumbui bibirnya sepuasnya. Gamis yang dikenakannya juga sudah lecek terkena remasan tangan kekarnya. Haura terengah-engah. Deru nafasnya kian berat. Ia benar-benar menikmati percumbuannya dengan pria tua berkulit gelap dengan tubuh kekar yang sudah tidak tertutupi pakaiannya.
Ya sedari tadi Pak Karjo hanya mengenakan celana pendeknya. Nafsu Haura yang sudah tak terkendali membuat tangannya bergerak sendiri tuk meraba dada bidangnya. Usapan tangan Haura turun tuk merangsang perut kotak-kotaknya. Pak Karjo tersenyum, Ia pun membalas rangsangan Haura dengan meremas kedua payudaranya sekuat-kuatnya.
“Mmpphhh pakkk... Mmphhhh uhhhhh” desah Haura menikmat percumbuan terpanasnya.
Ketika sedang asyik-asyiknya bercumbu. Tiba-tiba Karjo menarik bibirnya hingga cumbuannya terlepas dari bibir Haura. Wajah Haura sampai tertarik ke arah wajah Karjo kendati cumbuannya sudah terlepas. Ia merasa tidak rela. Ia ingin menikmati dorongan bibir dari kuli kekar itu lagi. Haura pun membuka matanya. Ia menatap wajah Karjo dengan tatapan memelas.
“Kekekek... Itu hadiah dari saya ustadzah... Tapi itu bukan hadiah utama dari saya” ucap Pak Karjo yang membuat Haura heran. Padahal tadi ia sangat menikmati cumbuannya. Hadiah apa lagi yang lebih nikmat dari cumbuan tadi ?
“Lihat ini” ucap pak Karjo sambil membuka sebuah kotak yang berada di sebelah Haura.
Haura semakin penasaran. Saat kotak itu terbuka. Sontak Haura menutupi mulutnya karena saking terkejutnya.
“Ini hadiah buatmu ustadzah” ucap pak Karjo sambil menunjukan hadiahnya berupa dildo besar yang berwarna sangat hitam.
“App... Appaa ini pak ?” ucap Haura terbata-bata dengan benda lonjong yang berbentuk seperti penis itu.
“Ini namanya dildo ustadzah... Sebuah mainan berbentuk kontol yang saya beli yang ukurannya sudah saya sesuaikan dengan ukuran kontol saya sendiri... Ini buatmu” ucap pak Karjo memberikan dildo hitam itu ke Haura.
“Mainan ? Maininnya gimana pak ?” Ucap Haura dengan polosnya sambil membolak-balik dildo hitam itu. Saat Haura melihat bentuk dan ukurannya. Seketika ia menenggak ludah karena bernafsu saat melihat keindahannya. Bentuknya memang mirip penis pak Karjo. Hal itu lah yang membuat pikiran Haura kemana-mana saat melihat bentuknya.
“Itulah gunanya saya disini, ustadzah... Kekekekek” tawa pak Karjo yang langsung ingin mempraktekan caranya.
Haura tersenyum malu. Bidadari itu penasaran dengan mainan baru yang diberikan oleh kuli kekar itu.
“Pertama lepas rokmu yah ustadzah... Saya gak mau rok ustadzah basah nanti” ucap pak Karjo yang membuat Haura heran.
Basah ? Kenapa bisa basah ?
Batin Haura. Namun karena penasaran akhirnya ia menurut saja. Rok berwarna pinknya ia turunkan. Tapi menyadari ada pak Karjo di depannya membuat ia jadi malu-malu.
“Lepasin” Ucap Haura dengan manja yang membuat pak Karjo tertawa.
“Kekekekek okelah... Okelah” ucap pak Karjo bersemangat untuk menelanjangi bidadari itu.
Rok Haura terlepas. Pak Karjo juga sekalian menurunkan celana dalam yang Haura kenakan. Sambil berjongkok, Pak Karjo dapat melihat keindahan vagina Haura yang berada tepat dihadapan matanya.
“Indah sekali ustadzah... Sllrrppp” ucap pak Karjo sambil menyeruput vagina wangi itu.
“Uuhhhh pakkkk” desah Haura merinding merasakan seruputan nikmat dari kuli kekar itu.
Kuli kekar itu tersenyum sambil membuka vagina Haura untuk melihat keindahan di dalamnya. Tanpa jeda ia memasukan lidahnya tuk menggesek dinding vaginanya. Spontan Haura merinding merasakan jilatan lidah dari kuli kekar itu. Rangsangan Karjo berlanjut dengan meludahi lubang vagina itu. Lalu jemarinya ia masukan untuk mengorek-ngorek lubang surgawi ustadzah tercantik itu. Ia kembali menjilatnya lagi lalu memasukan jemarinya lagi. Ia menjilatnya lagi lalu meludahinya sebelum jemarinya kembali masuk untuk mengorek-ngorek lubang kenikmatan itu.
“Aaahhhh pakkk... Aahhhhhh” desah Haura sambil mengepal kuat tangannya tuk menahan rangsangan yang ia terima.
Desahan yang begitu manja membuat Karjo tertawa puas. Karjo kembali menjilati lubang vagina itu sebelum bibirnya merapat tuk menjepit bibir vaginanya yang berwarna merah muda.
“Ouhhh pakkkk hentikannn... Uhhhh geliii bangett pakk” ucap Haura sambil memegangi kepala Karjo.
“Mmpphhh nikmatnyanya bibir memekmu ustadzah... Mmphhhh manisnya” desah Karjo yang begitu menikmati kemaluan ustadzah berhijab itu.
Puas menjilatinya, Karjo mulai memegangi dildo berwarna hitam itu kemudian mendekatkannya ke lubang kenikmatan Haura.
“Kekekekek jadi gini loh ustadzah cara makenya” ucap Karjo sambil mendekatkan ujung gundul dildo itu ke arah pintu masuk liang keduniawian Haura.
“Uuhhhhh... Segitu ? Masuk pak ?” ucap Haura karena tak percaya benda sebesar itu bisa masuk ke dalam vaginanya.
“Kekekek ustadzah lupa yah ? Bentuk dildo ini sesuai dengan ukuran kontol saya ustadzah... Kalau kontol saya muat, pasti dildo ini juga muat” kata Karjo tersenyum sambil mendorong dildo itu masuk ke dalam vagina Haura.
“Ouuuhhh pakkkkkk” jerit Haura sambil memejam nikmat.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Karjo sebelumnya. Dildo hitam itu sungguh nikmat. Tusukannya begitu mantap membuat Haura hanya sanggup memejam menahan tusukan yang makin lama makin dalam menembus vaginanya.
Haura hanya bisa memejam sambil menggigit bibir bawahnya. Bahkan ia sampai menggigit hijabnya karena tak sanggup menahan tusukannya yang hampir mengenai rahimnya.
“Kekekekek mantap kan ustadzah ?” tanya Karjo mengangkat wajahnya tuk menatap reaksi wajah Haura.
“Dalemmm bangettt pakkk... Uhhhhhh” desah Haura tak kuasa menahannya lagi.
Karjo hanya tersenyum sambil menarik dildo itu lagi. Lalu ia mendorongnya lagi lalu menariknya lagi. Sontak Haura merem melek merasakan gesekan yang begitu nikmat di vaginanya. Haura benar-benar puas. Ia tak mengira mainan penis itu bisa memuaskan nafsunya yang amat sangat besar.
Pak Karjo tertawa kemudian menarik lepas yang membuat tubuh Haura kelojotan. Rasanya seperti ada yang hilang divaginanya. Matanya masih merem melek. Ia pun menatap wajah Karjo dengan tatapan yang sayuk.
“Kekekekek nikmat kan ustadzah ? Ustadzah capek yah... Sini sambil duduk saja” ucap Karjo meraih terpal biru kemudian meminta Haura untuk duduk diatasnya.
Haura yang terengah-engah manut saja. Ia duduk diatas terpal sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Kedua kakinya ia buka. Ia nampak menantikan tusukan selanjutnya yang membuat Karjo tertawa puas.
“Pengen ditusuk lagi yah ustadzah ?” tanya Karjo tertawa yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Haura.
“Kekekekek kalau gitu saya masukin yah ustadzah” kata Karjo sambil mendekatkan kembali dildo hitamnya.
“Uuuhhhhhhh” desah Haura memanyunkan bibirnya sambil menutup matanya.
Dildo hitam itu kembali masuk menembus vaginanya. Karjo sebagai orang yang mengendalikannya menggerakannya secara pelan-pelan. Akibatnya Haura semakin menikmati gesekan nikmat itu. Vaginanya semakin basah. Vaginanya semakin rapat sehingga dildo itu semakin terjepit di dalam.
Karjo tersenyum puas sambil berandai-andai kalau penisnya dapat menggantikan posisi dildo tersebut.
Pasti bakal mantep banget... Pasti bakal nafsu banget saya ustadzah !
Batin Karjo tersenyum puas.
Tangan kiri Karjo ia gerakan tuk mengangkat gamis indah Haura. Perut mulusnya terlihat. Gunung kembarnya juga terlihat. Buru-buru Karjo menurunkan cup branya sehingga puting susunya juga terlihat.
“Ini nih” ucap Karjo yang langsung menyusu disana.
“Aaahhh pakkk... Ouhhhhh” desah Haura keenakan dirangsang sedemikian rupa oleh kuli kekar itu.
Mulut Karjo tampak sibuk saat menyusu di puting itu. Bibirnya merapat menjepit puting indahnya. Bibirnya ia buka selebar-lebarnya untuk melahap keseluruhan payudara itu. Ia kembali menurunkan cumbuannya untuk dapat menjepit puting susunya saja. Giginya ikut bermain disana. Haura gelagapan. Ia benar-benar heran kenapa kuli itu sangat ahli dalam memuaskan birahinya.
“Kekekekek... Sudah yah ustadzah main-mainnya... Saya percepat sekarang” ucap Karjo melangkah mundur saat menjauh dari tubuh indah Haura.
Haura yang masih merem melek penasaran tentang apa lagi rencana yang akan dilakukan oleh Karjo. Tiba-tiba dildo yang menyumpal di vaginanya semakin cepat. Pergerakannya cenderung agresif. Haura seperti dihujami tusukan-tusukan kuat yang dilakukan oleh penis hitam Karjo. Tapi itu bukan penisnya, itu hanya penis yang ukuran dan bentuknya menyerupai penis kuli favoritnya.
“Pppaakkkk... Uhhhhh... Uhhhhh” desah Haura keenakan.
“Kekekekek... nikmat kan ustadzah ? Enak kan ustadzah ?” ucap Karjo yang sebenarnya sudah bernafsu tapi sekuat mungkin ia menahan diri untuk tidak menggunakan batang penisnya.
“Aaahhhhh iyyahhh... Iyyahhh pakkk... Aaaahhhhh” jerit Haura semakin nikmat.
Karjo mempercepat gerakan tangannya. Tangannya bergerak maju mundur dengan cepat. Sesekali ia melakukan gerakan memutar sehingga vagina Haura seperti diuleg-uleg oleh dildo hitam itu.
Kenikmatan yang semakin dahsyat membuat Haura semakin gemas ingin meremas sesuatu. Tangan kanannya pun meremas payudaranya. Sedangkan tangan kirinya mencengkram terpal biru yang menjadi alas duduknya. Haura semakin mengangkangkan kakinya. Bahkan pinggulnya bergerak sendiri karena tak tahan dengan kenikmatan yang ia dapatkan.
“Ouhhh pakkk... Ouhhhhh... Yangg cepettt pakkk... Ouhhhh akkuu mauu keluarrr” ucap Haura yang tidak kuat lagi setelah dirangsang habis-habisan oleh kuli kekar itu.
“Kekekekek siap ustadzah... Siyyap” Ucap Karjo menuruti permintaan ustadzah binal tersebut.
Dengan penuh nafsu Karjo menggerakan tangannya dengan cepat. Dildo itu mengebor vagina Haura dengan sangat kuat. Keluar-masuk, keluar-masuk, keluar-masuk. Haura gelagapan menahan tusukan dildo tersebut.
Nafasnya kian berat. Tubuhnya kian lemas saat vaginanya berulang kali ditusuk oleh keperkasaan dildo hitam itu.
“Aahhh... Aahhhh... Aahhhh... Paaakkkk” desah Haura tidak kuat lagi.
Karjo tersenyum mendapati tubuh Haura kian tegang. Kedua payudaranya mengencang. Ketelanjangannya semakin menantang. Tubuhnya sungguh matang. Desahannya juga lantang.
Akhirnya dengan satu tusukan yang mantap. Haura pun menjerit panjang merasakan orgasmenya yang didapatnya melalui tusukan dildo berwarna hitam tersebut.
“Aaahhhhh pakkkk... Keelllll... Mmmphhh” Jerit Haura tertahan saat bibirnya dicumbu oleh kuli tua itu lagi. Karjo menyumpal vagina itu hingga 3/4 dari dildo berukuran 10 cm itu masuk di dalam vaginanya. Nampak cipratan orgasme Haura keluar dari sela-sela lubang yang tidak tersumpal rapat oleh dildo itu.
Untungnya mulut Haura juga disumpal oleh cumbuan Karjo. Jeritannya jadi tidak terdengar oleh kuli lain. Haura bersyukur karena Karjo mencumbunya disaat yang tepat. Ia pun kelelahan. Matanya terus saja memejam menikmati sisa orgasme yang ia dapatkan.
“Mmmuuaaahhh” desah Karjo melepas cumbuannya. Ia pun menatap keadaan Haura yang tengah kelelahan. Matanya sayuk. Tubuhnya kelojotan. Terpal di sekitar area vaginanya juga basah kendati dildo itu masih menyumpal di dalamnya.
“Uuuhhhhhh” desah Haura saat Karjo menarik lepas dildo hitam tersebut.
Nampak cairan cinta Haura menyembur membasahi terpal berwarna biru itu. Haura sungguh puas. Dirinya pun memejam sambil menyandarkan diri pada dinding ruangan. Ia benar-benar kelelahan. Ia pun berterima kasih pada kuli kekar itu karena masih mau memuaskannya kendati tanpa menggunakan penisnya.
Kekekekek menggairahkan sekali tubuhmu Haura... Sayang sekali saya tidak bisa menggunakan kontol saya tuk menggenjoti tubuhmu... Maaf sebelumnya ustadzah... Ustadzah Nada sudah lebih dulu membokingnya malam ini... Maaf karena saya tidak menyetubuhimu sekarang... Tapi saya berjanji kalau saya akan menggenjot tubuh indahmu lagi suatu hari nanti !
Batin Karjo mengungkapkan alasannya kenapa ia tidak bisa menyetubuhi Haura sekarang.
Haura yang benar-benar kelelahan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya terengah-engah sambil memperlihatkan sebagian keindahan tubuhnya. Haura pun menurunkan lagi gamisnya. Ia menyembunyikan susunya sehingga Karjo semakin gemas untuk meremasnya.
“Sudah puas kan ustadzah ? Kalau gitu saya mau lanjut kerja lagi boleh yah ? Gapapa kan kalau saya tinggal disini ?” ucap Karjo meminta izin.
Jawaban Haura hanya mengangguk pelan saja. Sepertinya Haura memang benar-benar kelelahan. Karjo sambil tertawa menaruh dildo hitam itu diatas perut Haura. Karjo dengan santai berjalan keluar sambil menutup tirai kain itu secara hati-hati.
Mendapati Karjo sudah pergi meninggalkannya. Haura pun berusaha untuk mengenakan satu demi satu pakaiannya. Ia mengambil celana dalamnya kemudian mengenakannya kembali. Begitu juga dengan rok panjangnya. Lalu ia membenarkan behanya sebelum akhirnya ia menurukan gamis berwarna pinknya.
Karena masih kelelahan. Ia bersandar pada dinding bangunan itu sambil memeluk dildo hitam pemberian kuli kekar itu. Ia memejam. Ia tampak masih menikmati sisa orgasmenya. Ia geleng-geleng kepala merasakan kepuasannya. Ia sungguh heran pada pak Karjo yang selalu berhasil memuaskannya. Tapi ia heran lagi pada dirinya sendiri karena mendatangi tempat ini untuk minta dipuasi olehnya.
“Hachhimm... Hachhiimmm” tiba-tiba Haura bersin-bersin saat itu. Ia pun mengelap hidungnya. Ia begitu penasaran kenapa dirinya sampai bersin-bersin disini.
“Apa karena ada orang yang mencariku yah ?” ucap Haura teringat mitos tentang bersin.
“Ah gak mungkin, lagian siapa juga yang nyariin aku ? Tapi kok, perasaanku jadi gak enak yah” ucap Haura sambil memandangi tirai kain di pintu masuk ruangan.
*-*-*-*

Malam harinya, Nada terduduk diam di meja riasnya setelah mendandani dirinya sesuai dengan permintaan suaminya. Ia tidak menyangka kalau malam ini akhirnya datang juga. Malam dimana dirinya akan dipertemukan dengan dua pejantan yang nantinya akan memuasi dirinya.
Walau kemarin malam pertemuannya sempat tertunda karena Lutfi tidak bisa hadir. Malam ini, mereka berdua dipastikan hadir tuk menemui dirinya disini.
Nada memeluk dirinya sendiri. Dirinya bergidik jijik membayangkan akan ada dua lelaki yang akan menyentuhnya secara bersamaan. Tidak hanya menyentuhnya, tapi dua lelaki itu diminta untuk bercinta dengannya secara bergantian. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana vaginanya itu akan dimasuki oleh dua penis yang berbeda secara bergantian. Ia juga tidak dapat membayangkan akan ada dua lelaki berbeda yang bertelanjang bulat untuk berebut tubuh indahnya.
Sebagai seorang ustadzah yang terdidik dekat dengan ilmu agama. Hal itu merupakan sesuatu yang aneh baginya. Nada hanya geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir suaminya akan kepikiran untuk melakukan hal ini padanya.
“Hah... Mas janji kan akan menyudahi semuanya setelah adek menuruti kemauan mas ?” Lirih Nada sambil menatap cermin dihadapannya.
Sesuai permintaan suaminya. Nada di malam itu mengenakan mukena berwarna pink dengan motif bunga-bunga yang menutupi sisi atas tubuhnya dari kepala ke perut ratanya. Di dalamnya, ia masih mengenakan kemeja. Sedangkan bawahannya masih ada rok yang menutupi keindahan kaki jenjangnya.
Nada heran kenapa suaminya memintanya mengenakan mukena alih-alih hijab seperti biasa. Tapi ia tak begitu mempermasalahkan selama auratnya masih tertutupi oleh sesuatu.
Jelas Nada terlihat sangat cantik di malam hari itu. Menatapnya saja bagai menatap seorang makmum yang selalu menuruti kemauan imam. Nada terlihat lebih sholehah. Pancaran kecantikannya menawan. Tentu tidak ada yang dapat membayangkan kalau ustadzah pemilik body goals itu diminta oleh suaminya untuk melayani seorang kuli tua dan seorang santri bejat yang pastinya akan sangat bernafsu saat menatap wajahnya nanti.
“Dekkk Ayooo... Mereka udah di depan rumah tuh” ucap Rendy setelah membuka pintu kamarnya.
“Iya mas... Adek kesana” ucap Nada sambil malu-malu berdiri menuju ruang tamu rumahnya.
Saat Nada mendekati Rendy. Rendy semakin terpana menatapi keindahannya. Rendy semakin bernafsu melihat wanita secantik istrinya yang nantinya akan disetubuhi oleh kuli tua rendahan yang akan memborbardir vagina sempit istrinya.
“Cantik banget kamu dek” Puji Rendy saat Nada berjalan didekatnya.
“Makasih mas” Jawab Nada yang kebingungan antara harus senang atau sedih. Sebagai seorang istri pasti dirinya senang mendapat pujian dari suaminya. Masalahnya, ia berdandan secantik ini hanya untuk memuaskan nafsu pria lain yang bahkan ia tak mengenalnya dengan baik.
Nada duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Rendy pun mendekati pintu masuk untuk membukakan pintu untuk tamu-tamunya. Nada semakin gugup. Wajahnya ia beranikan untuk menatap pintu masuk. Saat pintu terbuka, nampak dua lelaki yang sudah bersiap untuk menyetubuhinya. Seketika Nada langsung membuang muka karena tidak sanggup menatap dua lelaki mesum yang pernah memakainya secara bergantian di teras kantor bagiannya.
Tenang Nada... Tenang... Hari ini cuma perkenalan doang kok... Malam ini cuma ngobrol-ngobrol aja kok !
Batin Nada menenangkan dirinya.
“Kekekekek... Selamat malam ustadzah” sapa pak Karjo sambil menatap wajah indah Nada.
“Malam pak” ucap Nada tertunduk malu.
“Assalamualaikum ustadzah” salam Lutfi yang membuat wajah Nada memerah.
“Walaikumsalam” jawab Nada semakin gugup.
“Hahaha selamat datang... Silahkan duduk dulu” ucap Rendy dengan sopan meminta tamunya untuk duduk.
Saat kedua tamu itu duduk. Mata mereka langsung jelalatan memandangi keindahan tubuh Nada. Sontak Nada tidak mempunyai pilihan lain selain menundukan wajah. Ia merasa tak nyaman pada pandangan kedua lelaki bejat itu.
“Mau minum apa nih pak ? akhy ?” ucap Rendy menawarkan tamunya.
“Apa saja pak... Yang penting mantab” jawab Pak Karjo sambil menatap wajah Nada.
“Ana ngikut aja ustadz” ucap Lutfi yang wajahnya agak sedikit bengkak setelah mengalami insiden di kemarin sore.
“Kalau gitu saya buatkan kopi aja yah” ucap Rendy tersenyum ramah.
“Biar adek aja mas yang buatin” ucap Nada berdiri dengan tanggap.
“Gak usah... Biar mas aja... Adek ngobrol-ngobrol aja yah bareng mereka” ucap Rendy yang membuat Nada kecewa. Nada kembali duduk yang membuat pak Karjo membuka mulutnya.
“Kekekek iya ustadzah... Ustadzah sini aja sama kita-kita... Ustadzah gak perlu takut... Kita gak akan gigit kok” Canda Pak Karjo yang tak bisa membuat Nada tertawa.
Saat Rendy pergi ke belakang. Lutfi yang gemas segera berpindah ke sisi samping Nada. Nada terkejut saat santrinya itu tiba-tiba menjadi agresif saat tidak ada suamsisinya sisinya.
“Antum apa kabar ustadzah ?” Ucap Lutfi sambil menatap wajah Nada dengan jarak yang sangat dekat sambil mengelusi paha mulusnya yang masih tertutupi roknya.
“Baaa... Baaikk... Ustadzah baik” jawab Nada ketakutan.
“Kekekek... Saya masih ingat kejadian di malam itu... Menatap wajah indahmu sedekat ini membuat saya ingin memejuhi wajahmu lagi” ucap pak Karjo yang juga ikut berpindah ke sisi samping Nada sambil mencengkram pipi mulusnya. Wajah Nada diangkatnya hingga menatap wajah kuli itu. Nada ketakutan saat menatap wajah jelek Karjo. Pak Karjo tersenyum, namun karena saking gemasnya ia mencumbu bibir Nada sekuat-kuatnya.
“Mmppphhhhhh” desah mereka bersamaan.
Lutfi tersenyum melihat nafsu kuli tua itu saat mencumbu bibir Nada. Kedua tangannya yang gemas berpindah dengan meremas kedua dada Nada sekuat-kuatnya.
“Mmpphhhhh” Nada merinding merasakan nafsu buas mereka yang bersatu saat mengagumi keindahan tubuhnya. Nada yang lemah tak berdaya tidak bisa melawan. Tapi ia berusaha sebisanya dengan mendorong tubuh kuli tua itu menjauh.
“Lepaskan pakkk... Suamiku udah bilang kalau malam ini cuma perkenalan... Bapak gak berhak mencumbui aku seperti ini” ucap Nada sambil mengelap bibirnya.
“Antum juga Lutfi... Hentikan” ucap Nada merasa risih pada remasan Lutfi di dadanya.
Untungnya tak lama kemudian Rendy datang yang membuat kedua lelaki bejat itu kembali ke sofa panjang yang berada di seberang posisi duduk Nada.
“Ini kopinya untuk kalian... Gimana ngobrolnya tadi ? Kalian bisa akrab kan ?” tanya Rendy tanpa mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Oh bisa dong... Saya terkejut karena ustadzah Nada mempunyai sikap yang ramah” ucap pak Karjo sambil menyeruput kopinya.
“Iya ustadz... Bahkan tadi ustadzah bilang gak sabar menantikan aksi kami saat memuasi tubuhnya nanti” ucap Lutfi menambahkan yang membuat Nada keheranan.
Kapan aku berbicara ramah dengannya ? Kapan aku menantikan aksi mereka ?
Batin Nada terkejut atas kebohongan mereka.
“Ann... Annu mas” ucap Nada ingin mengklarifikasi.
“Hahahaha ya begitulah istri saya... Istri saya itu ramah, cantik, sexy... Desahannya juga... Kalau kalian dengar pasti kalian akan ketagihan dan akan merangsang tubuhnya terus agar istri saya tak berhenti mendesah pas merasakan rangsangan kalian” ucap Rendy mengejutkan Nada.
“Wah beneran ? Makin gak sabar saya ustadz” ucap Karjo sambil mengelusi penisnya sendiri.
“Muwehehe masa sih ustadz... Boleh ana tes ?” Ucap Lutfi penasaran walau sebenarnya ia sudah tahu jawabannya karena sudah pernah mendengarnya.
“Oh boleh silahkan akhy” ucap Rendy kembali mengejutkan Nada.
“Tappii mass” ucap Nada ingin protes tapi suaminya meminta untuk tenang sehingga dirinya tidak bisa melakukan apa-apa selain diam.
Lutfi berpindah ke sisi samping tubuh Nada. Nada pun gugup menantikan apa yang akan dilakukan oleh santri mesum itu.
Tangan kanan Lutfi ditaruh diatas paha Nada. Tangan Lutfi bergerak naik secara perlahan. Tangan itu terus mengusapnya. Tangan itu telah tiba di perut ratanya. Nada berusaha sekuat mungkin tuk merapatkan bibirnya. Rabaan tangan Lutfi benar-benar merangsang birahinya. Ia merinding. Ia merasakan kenikmatan yang tiada tanding. Tangan kotor santri itu tiba di payudaranya. Lutfi dapat merasakan benda bulat yang sangat kencang di dada ustadzah berbadan sempurna itu. Lutfi tersenyum sambil menatap wajah ustadzahnya. Nada semakin gugup hingga menundukan wajahnya.
“Rasakan ini !” ucap Lutfi meremasnya dengan kuat.
“Ouuhhhhhhhhh.... Aaaahhhhhh... Aaahhhhh Lutfiiii” desah Nada mendesah sampai tiga kali.
Sontak desahan Nada membuat Rendy dan pak Karjo tertawa puas. Memang desahan Nada sangat-sangat menggairahkan. Lutfi ikut tertawa kemudian menghadiahi ustadzahnya dengan cumbuan di bibir secara singkat.
Bibir Nada dikecup oleh santri mesum itu. Santri berkepala plontos itu kembali ke tempat duduknya yang berada di samping pak Karjo. Wajah Nada memerah. Ia juga memegangi dadanya yang agak perih akibat remasan penuh nafsu dari santri mesumnya itu.
“Kekekekek oh yah ustadz... Karena ini pertemuan pertama kita... Boleh gak saya melihat daleman tubuh istri ustadz ?” ucap pak Karjo yang membuat Nada terkejut mendengarnya.
“Oh bapak ingin melihat istri saya telanjang yah ?” tanya Rendy menanggapi permintaan kuli tua itu.
“Iya ustadz... Kan kalau kita udah tau seluk beluknya.... Kita bakal memaksimalkan keindahan tubuh ustadzah untuk kita puasi bersama-sama” ucap Lutfi menambahkan.
“Hmmm ide bagus juga” jawab Rendy yang membuat Nada protes.
“Maasssss” rengek Nada tidak mau melakukannya.
“Itu ide bagus dek... Adek telanjang yah ?” pinta Rendy ke Nada yang membuat bidadari itu merasa lemas.
“Gak perlu telanjang bulat ustadzah... Ustadzah bisa lepas kemeja ustadzah sama roknya... Ustadzah boleh tetep make mukenanya kok... Yang penting selain itu ustadzah jangan pake apa-apa lagi” ucap pak Karjo yang penasaran melihat ustadzah Nada yang tinggal mengenakan mukena.
“Muweheheh... Pasti ustadzah bakal sexy banget nih... Duh kontol ana sampe ngaceng duluan nih” ucap Lutfi sambil memegangi penisnya yang membuat Rendy dan pak Karjo tertawa.
Nada tak bisa tertawa. Dirinya diminta telanjang dihadapan orang asing yang pernah memperkosa dirinya. Nada benar-benar tidak mau. Tapi suaminya disebelahnya terus memaksanya. Bahkan suaminya sampai memohon yang membuat Nada lama-lama luluh juga. Andai karena bukan suaminya, sudah pasti Nada tidak mau melakukan perbuatan ini.
Akhirnya Nada menurutinya. Sambil malu-malu Nada melepas satu demi satu kancing yang berada dibalik mukena longgarnya. Nada hanya menunduk saat kancing itu mulai terlepas satu persatu. Pak Karjo dan Lutfi yang melihatnya semakin tidak sabar. Mereka benar-benar tak dapat membayangkan keindahan Nada yang sudah telanjang menyisakan mukenanya saja.
Nada sudah melepas kemejanya. Lalu beha berwarna putihnya juga ikut terlepas. Pak Karjo dan Lutfi semakin penasaran. Apalagi samar-samar dirinya dapat melihat tonjolan indah yang berada di balik mukena itu.
Nada jadi terlihat sexy. Proporsi tubuhnya sungguh indah sekali. Ustadzah berbadan tinggi itu dengan malu-malu berdiri sambil memelorotkan roknya yang merupakan pertahanan terakhirnya.
Perlahan demi perlahan rok itu mulai turun menampakan sebagian kaki jenjangnya. Terlihat sesaat paha mulusnya. Pak Karjo sampai menjilati tepi bibirnya. Penis Lutfi semakin menegak. Bahkan ia ingin mengeluarkannya agar penisnya dapat ikut melihat keindahan tubuh Nada dihadapannya.
Nada pun melepas celana dalamnya. Nada sudah bertelanjang bulat menyisakan mukenanya saja. Nada kembali duduk di sofa panjang itu. Rendy yang berada di sofa pendek yang posisinya diantara tempat duduk mereka bertiga terpana. Mukena istrinya hanya dapat menutupi sebagian pahanya. Nampak lutut Nada terlihat. Kaki mulus itu benar-benar merangsang birahi mereka bertiga saat melihat keseksian sang ustadzah.
“Indah sekali ustadz... Kekekekek... Indah sekali istri ustadz... Uhhhh sexy banget” puji pak Karjo terpana.
“Muweheheh... Boleh angkat mukenanya gak ustadzah, biar kami bisa ngeliat susu indahmu” pinta Lutfi yang membuat Rendy segera memerintahkan Nada tuk menurutinya.
Dengan terpaksa Nada mengangkat mukenanya. Awalnya paha mulusnya terlihat memanjakan mata kedua lelaki bejat itu. Lalu perutnya namun pak Karjo dan Lutfi teralihkan oleh lubang vagina Nada yang tertutupi bulu jarang. Vagina itu berwarna pink. Lutfi dan Karjo sampai berdiri karena vagina itu terhalangi paha mulusnya.
“Kakinya dingangkangin dong ustadzah... Kekekekek”
Nada tidak mau melakukannya. Tapi Rendy memohon kepadanya. Nada akhirnya terpaksa menurutinya. Nada melebarkan kedua kakinya. Tangannya masih mengangkat mukenanya hingga hampir melewati gunung kembarnya. Saat Mukena itu melewati gunung kembarnya. Sontak Pak Karjo dan Lutfi terkagum-kagum pada keindahan tubuh Nada yang sangat sempurna.
Tidak salah kalau Nada dijuluki sebagai ustadzah pemilik body goals terbaik. Selain memiliki wajah yang cantik. Nada juga sering menjaga keindahan tubuhnya dengan rutin mengikuti kegiatan senam pagi dan sore. Tak heran tubuhnya bisa seindah ini.
Lihat saja lekukan pinggangnya. Lekukan itu bagaikan lekukan yang berada di sirkuit Mandalika. Dua payudara bulatnya juga terlihat kencang dan tidak jatuh ke bawah. Apalagi ditambah dengan mulusnya kulit indah Nada. Kulit Nada berwarna putih susu. Kulit Nada benar-benar membuat semua orang bernafsu. Tatkala Karjo dan Lutfi menurunkan pandangannya. Nampak penampakan serabi lempit yang membuat mereka berdua geregetan ingin menghisap vaginanya yang masih sempit.
“Kekekekek sempurna sekali tubuhmu ustadzah... Ouhhhh jadi gak sabar saya pengen genjot memekmu” ucap Pak Karjo dengan vulgar.
“Muweheheh ana juga ustadzah... Ana gak sabar pengen ngerasain jepitan memek antum sambil dengerin suara desahan antum... Pasti susu antum pas ana genjot bakal bergoyang gondal-gandul... Uhhhhh ana makin gak nahan ustadzah” Ucap Lutfi geregetan ingin menyetubuhinya sekarang.
Mendapati kalau pelanggannya benar-benar puas membuat Rendy ingin menghadiahi sesuatu kepada dua pelanggannya itu.
“Hahaha kalian puas yah ? Kalau gitu kalian boleh megang-megang juga kok” ucap Rendy mengejutkan Nada.
“Maassssss” ucap Nada mencoba mengingatkan Rendy kalau kegiatan di malam ini cuma perkenalan saja. Tapi bagaimana lagi ? Rendy juga sudah bernafsu. Ia pun ingin melihat istri cantiknya dilecehkan oleh kuli rendahan dan santri bejat seperti mereka berdua.
“Kekekeke serius ustadz ? Terima kasih yah” Ucap Karjo berpindah mendekati Nada. Nada buru-buru menurunkan mukenanya saat melihat pak Karjo mendekat.
“Ayo sini duduk dipangkuan saya” ucap pak Karjo sambil mengangkat tubuh Nada ke atas pangkuannya. Nada hanya berdiam pasrah karena ia sudah janji pada Rendy untuk tidak menolak semua keinginan mereka.
Saat Nada sudah dipangku oleh Karjo. Kedua tangan Karjo langsung menyelempangkan mukena Nada ke belakang bahu mulusnya. Tubuh indah Nada langsung tersingkap. Nada malu sekali. Namun remasan tiba-tiba yang diarahkan ke payudaranya membuat Nada mendesah nikmat merasakan sensasinya.
“Uuhhhhhh pakkkkk” Desah Nada yang membuat semua lelaki di ruangan itu merinding.
“Kekekekek mantapnya suara desahanmu ustadzah” Ucap pak Karjo semakin bersemangat dalam meremasi payudaranya.
Melihat Karjo secara bebas meremasi dada Nada membuat Lutfi juga berkeinginan untuk menikmati ketelanjangannya.
Tatapan wajah Nada benar-benar sayuk saat buah dadanya terus menerus diremas oleh kuli kekar itu. Remasan Karjo memang beda. Sebagai kuli kekar yang biasa melakukan pekerjaan kasar. Remasannya sangat bertenaga yang membuat Nada tidak bisa berkata-kata. Remasan kuli itu didasari oleh hawa Nafsu. Nada sampai merinding merasakan remasan nikmat itu. Belum lagi saat Lutfi bergabung untuk menikmati ketelanjangan dirinya.
Pak Karjo pun membagi wewenang atas tubuh Nada menjadi dua. Nada yang berada di pangkuannya sedang diremasi oleh mereka berdua. Payudara kirinya menjadi sasaran empuk oleh tangan kiri Karjo. Sedangkan payudara kanannya menjadi sasaran empuk bagi tangan kanan Lutfi. Terkadang Lutfi juga menggunakan mulutnya untuk memainkan payudara kanannya. Lutfi mencumbunya sedangkan tangannya turun tuk merangsang vagina yang menganggur itu. Jemarinya dengan lihai menggesek bibir vaginanya. Terkadang jemari telunjuknya keluar masuk. Terkadang jemarinya hanya menekan-nekan biji klitorisnya. Nada jadi blingsatan terkena rangsangan mereka. Belum lagi saat bibir Karjo mendekat untuk mencumbui bibir ustadzah bermukena itu.
“Mmpphhhhh” desah Nada dengan begitu manja.
Karjo mendorong bibir Nada. Dorongannya cukup kuat hingga kepala Nada terdorong ke arah dada Karjo yang menjadi sandarannya. Bibirnya pun membuka untuk mencaplok bibir atas Nada. Lidahnya dengan liar menjilati bibir bagian atasnya. Karjo menjilati bibir Nada. Ia membasahi bibir atas ustadzah seksi itu sebelum mulutnya kembali menutup tuk menjepit bibir tipis itu. Tak lupa Karjo meludahi mulut Nada yang membuat ustadzah sexy itu terkejut. Namun belum sempat ia memuntahkannya. Lidahnya sudah disambar oleh bibir kuli tua itu yang membuat ludahnya tertelan tanpa ia sadari. Bibir Nada dibawanya keluar oleh pak Karjo. Bibir Nada di kulum. Bibir Nada dihisapnya. Bibir Nada dijilatnya menggunakan lidah pak Karjo di dalam mulutnya. Lalu Pak Karjo melepaskankan kulumannya. Mereka sama-sama sedang menjulurkan lidahnya. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka beradu. Lidah mereka saling gesek dan lidah mereka saling melilit.
Nada terkejut dengan gaya permainan kuli tua itu. Tanpa disadari Nada terbawa oleh gaya mainnya yang sanggup membangkitkan nafsu birahinya. Walau ia tidak mau melakukannya dengannya. Tapi rangsangan yang begitu hebat membuatnya tanpa sadar menikmati permainannya.
Sementara payudaranya secara bergantian diremas dan dikulum oleh mulut Lutfi. Payudara kirinya terus diremasi oleh tangan kiri sang kuli. Putingnya dicubit. Puting Nada ditarik. Puting Nada juga ditekannya yang membuat Nada semakin blingsatan merasakannya.
Belum dengan jilatan lidah Lutfi di payudara kanannya. Berulang kali lidah Lutfi menjulur keluar untuk menjilati puting indah itu. Nada merasa geli. Jilatannya sangat merangsang nafsu birahi. Apalagi saat bibir Lutfi merapat hingga puting susunya terjepit bibir santri itu. Lutfi langsung menghisapnya. Lutfi menyeruputnya dengan kuat hingga membuat tubuh Nada melayang merasakan kepuasannya.
Kenikmatan yang ia dapatkan membuat kedua kakinya tanpa sadar ia lebarkan. Jemari Lutfi jadi semakin bebas dalam merangsang vagina sempit itu. Jemarinya terus menekan biji klitorisnya. Kadang Lutfi juga mencubitnya. Kadang Lutfi memasukan jemarinya hingga vagina Nada semakin basah di dalam sana.
Rendy yang melihatnya jadi geregetan. Ia sudah mengeluarkan penisnya. Sedari tadi ia terus mengocok sambil melihat istrinya dinodai oleh kebejatan dua lelaki mesum itu.
“Aahhhh... Aahhhh... Deekkkk... Ouhhhh” desah Rendy sambil menatap wajah Nada yang keenakan dirangsang oleh mereka berdua.
“Aaahhh nikmatnyaaa... Oh yah ustadz... Saya boleh nyusu di susu istri ustadz kan ?” ucap Karjo yang iri melihat Lutfi masih lahap menghisap susu Nada.
“Ohh pasti boleh pak... Silahkan” jawab Rendy sambil terus mengocok penisnya. Nada yang baru saja membuka matanya terkejut melihat suaminya sudah mengeluarkan batang penisnya. Nada benar-benar kecewa. Tapi hisapan bibir Karjo di payudara kirinya membuatnya kembali memejam menikmati sensasinya.
Nada sudah diletakan kembali diatas sofa panjang rumahnya. Karjo ada disisi kiri Nada dan Lutfi ada di sisi kanannya. Karjo dengan lahap menyusu di payudara kirinya. Lutfi sedari tadi masih terus menyusu di payudara kanannya sambil sibuk membasahi vagina ustadzahnya. Karjo pun ikut-ikutan. Tangannya membelai tubuh mulus Nada. Nada semakin blingsatan. Ia benar-benar kewalahan saat dua lelaki ini secara bersamaan menyusu di payudaranya.
“Aahhhhh... Aahhhhhh... Geliii... Aahhhhhh” desah Nada yang sudah seperti seorang ibu yang menyusukan kedua putranya yang kehausan. Dalam hati ia ingin sekali mendorong dua lelaki asing ini. Tapi ia teringat akan perintah suaminya. Ia jadi tidak punya pilihan selain membiarkan mereka berdua menyusu dengan begitu rakus di payudaranya.
“Mmppphhh nikmat sekali susumu ustadzahh... Mmpphhh” desah Karjo bernafsu.
“Mmpphh betul... Daritadi ana gak bisa berhenti menyusu disini ustadzah” ucap Lutfi juga bernafsu.
Tiba-tiba secara kompak cumbuan mereka naik menuruni bukit indah itu. Cumbuan mereka secara kompak merangsang dada mulus Nada. Lutfi kembali menaikan cumbuannya hingga mengenai leher ustadzahnya yang masih tertutupi mukenanya sebagian. Begitu juga dengan pak Karjo. Tapi ia memilih menurunkan jilatannya ke arah vagina sang ustadzah.
“Aaaaahhhhhhhhh” desah Nada saat vaginanya dijilati oleh pak Karjo.
Dikala lehernya dijilat oleh santrinya maka kemaluannya dijilat oleh kuli kekar itu. Nada blingsatan tak karuan menahan kenikmatan yang ia dapatkan. Berulang kali Lutfi mengecup leher ustadzahnya bahkan sampai meninggalkan bekas memerah disana. Sedangkan Karjo, tangannya membuka vagina manis itu lalu meludahinya. Lidahnya ia dekatkan untuk menjilatinya. Lalu lidahnya ia masukan untuk mengorek-ngorek dinding vaginanya. Nada geleng-geleng kepala merasakan nikmatnya. Tak pernah ia sepuas ini saat disetubuhi oleh seseorang. Dua lelaki itu secara kompak merangsang tubuh indah Nada. Nada mengerang. Tubuhnya mengejang. Payudaranya mengencang dan keindahannya semakin menantang.
Rendy semakin kuat dalam mengocok penisnya karena tidak tahan dengan keindahan yang ada di hadapannya.
“Ouhhh sayanggg... Ouhhhh... Mmpphhh” desah Rendy puas.
Diam-diam birahi Nada semakin bangkit saat dirangsang sedemikian rupa oleh dua pejantannya. Pak Karjo yang puas kemudian meminta Nada untuk merangsang penisnya.
“Ayo ustadzah... Sekarang giliran ustadzah untuk memuaskan saya” ucap Pak Karjo sambil mengeluarkan penisnya dari balik celana kolornya.
“Muwehehe ana juga ustadzah... Ayo kulum kontol ana” ucap Lutfi ikut-ikutan mengeluarkan penisnya di hadapan ustadzahnya.
Dalam keadaan ngos-ngosan. Nada menatap suaminya seolah meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Setelah suaminya mengangguk menyetujui. Nada langsung berlutut diantara dua penis itu. Kedua tangannya mencengkram masing-masing penis mereka. Tangan kanannya mendekap penis Lutfi dan tangan kirinya mendekap penis Karjo. Nada terkejut saat melihat penampakan penis besar mereka. Penis mereka sama-sama hitam dan ukurannya sama-sama besar. Penis Karjo masih lebih besar dibandingkan milik Lutfi. Namun keduanya sama-sama mempunyai otot-otot yang menjorok keluar memanjakan mata Nada.
Nada yang sebenarnya tidak mau, terpaksa menuruti keinginan suaminya itu. Lagipula nafsunya juga sudah bangkit membuatnya diam-diam penasaran tuk memainkan penis yang ukurannya sangat menggodanya.
“Aaahhhhhh nikmatnyaaaa” desah mereka berdua kompak saat penis mereka mulai dikocok.
Kedua tangan Nada tampak sibuk saat mengocoki kedua penis itu. Berulang kali wajahnya menoleh ke penis Karjo lalu ke penis Lutfi. Lalu ke penis Karjo lagi lalu ke penis Lutfi saat sedang mengocoknya. Karjo dan Lutfi tertawa puas melihat Nada yang seperti bingung ingin memuasi yang mana terlebih dahulu. Keduanya sama-sama menggoda. Keduanya membuat nafsu ustadzah terseksi itu semakin tergoda.
“Mmpphh... Mmpphhhh” desah Nada tampak bingung pada dirinya sendiri. Kendati ia tidak ingin melakukan ini. Tapi dirinya tidak bisa berhenti dalam merangsang benda lonjong ini. Apalagi ia sudah mempunyai janji pada sang suami. Ia harus menuruti segala permintaan tamu istimewanya ini.
Melihat betapa perkasanya penis yang sedang ia kocok itu membuat Nada lama-lama memejam sambil mendekatkan bibirnya ke arah penis yang ada di sebelah kirinya.
“Kekekek... Saya duluan nih kayaknya yang dapat enaknya” ucap Karjo melihat pergerakan mulut Nada.
Maafff... Maafkan dirimu ini Nada !
Batin Nada meminta maaf pada dirinya sendiri.
Nada langsung mencaplok ujung gundul dari penis kuli itu. Lutfi begitu iri saat melihat penis Karjo menjadi penis yang dikulum terlebih dahulu. Nampak Nada memaju mundurkan kepalanya mengulum ujung gundul penis itu. Lalu secara mengejutkan ia berpindah dengan mengulumi penis Lutfi. Lutfi blingsatan merasakan sensasinya. Lidahnya ikut bergerak dengan menggelitiki lubang kencing Lutfi. Lalu ia berpindah lagi dengan meludahi ujung gundulnya sebelum mulutnya kembali melahap benda hitam milik kuli itu hingga berhasil memasuki setengahnya.
Berulang kali Nada menyesal di dalam hati karena membiarkan mulutnya ternoda oleh penis-penis hitam mereka. Namun seketika ia tersadar kalau ini merupakan perbuatan sekali seumur hidupnya. Ia hanya diminta memuasi nafsu mereka berdua setelah itu sudah. Semua penderitaannya segera berakhir.
Benar juga... Harusnya aku cepat-cepat membuat mereka keluar biar aku bisa menyudahi semua ini !
Batin Nada saat lebih agresif dalam mengulum penis hitam itu.
“Ouhhh yahhh... Ouhhhh usatdazahh” desah Karjo saat melihat Nada jadi lebih binal dalam mengulum penisnya.
Tak lama ia berpindah dengan menjilati penis Lutfi. Lidahnya bagai sebuah sapu yang membasahi keseluruhan ujung gundul penis santrinya itu. Lalu penis itu ia masukan ke dalam mulutnya. Ia secara paksa mendorong dirinya sehingga penis itu semakin terlahap di dalam mulutnya.
“Aaahhhh ustadzaaahhh... Mantapnyaaahhh”
Lutfi blingsatan saat ustadzahnya melakukan deepthroat pada penisnya.
Nada berulangkali mencuci pikirannya. Ia jadi agresif seperti ini bukan karena dirinya bernafsu. Tapi karena dirinya ingin cepat-cepat menyudahi aksi binalnya ini. Maka tak mengapa ia melakukan hal seperti ini. Nada terus melahapnya sebelum Lutfi menarik penisnya keluar secara paksa karena tidak sanggup menahan kenikmatan itu lagi.
“Aaahhh cukuppp ustadzahh... Hah... Hah... Hah” ucap Lutfi ngos-ngosan. Dirinya tersenyum puas melihat kebinalan ustadzahnya dalam mengulum penisnya. Pikirnya pasti ustadzah sudah sangat bernafsu sehingga menjadi agresif seperti ini.
“Ustadz... Ana boleh menggenjotnya kan ?” pinta Lutfi yang kembali membuat Nada terkejut.
“Hahahah boleh-boleh... Ustadz juga gak tahan pengen ngeliat antum menggenjot istri ustadz” ucap Rendy yang membuat Nada lemas. Ia tak tahu kalau dirinya harus menggunakan kemaluannya tuk memuaskan dua pejantan ini. Ia kira hari ini cuma perkenalan aja. Ia begitu kecewa pada suaminya. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan santri bejatnya ini.
“Ayo tiduran ustadzah... Muwehehehe” ucap Lutfi tertawa puas. Kendati kemarin sore wajahnya baru saja dibogem mentah oleh ustadznya. Kendati perutnya juga mendapatkan bogem yang sama dari ustadz tampan itu. Ia tampak sehat-sehat saja. Sebagai santri nakal yang biasa berkelahi. Tentu hal seperti ini sudah seperti santapan makan siang baginya. Ia tidak merasakan sakit. Bahkan ia jadi lebih bernafsu untuk menyetubuhi ustadzah pemilik body goals terbaik.
Muwehehe maaf ustadzah... Maafkan ana kalau ustadzah akan ana jadikan pelampiasan gara-gara ustadz mesum itu !
Batin Nada setelah memposisikan Nada berbaring diatas sofa panjang itu.
Nada tampak ketakutan karena wajah Lutfi terlihat sangat bernafsu saat hendak menyetubuhinya. Penis gundulnya sudah menempel di bibir vaginanya. Tubuh Lutfi agak ia tundukan. Kedua tangannya pun mencengkram pinggang ramping ustadzahnya. Pelan-pelan Lutfi mendorong pinggulnya. Penisnya secara perlahan mulai membelah liang kewanitaan ustadzahnya. Nada mengerang. Lutfi tersenyum senang. Penis itu semakin menggesek masuk untuk memuskan birahi ustadzahnya.
“Aaaahhhh... Aaahhhhh” desah Lutfi mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan.
Mengejutkannya. Nada justru menikmati pergerakan yang sangat perlahan ini. Nada sampai memejam. Tangan kanannya sampai ia taruh diatas dahinya. Ia tidak mengira kalau Lutfi bisa selembut ini dalam menikmati keindahan tubuhnya.
Namun anggapannya itu hanya bertahan sebentar saja. Lama-lama penis Lutfi mulai bergerak cepat. Perubahan dari lambat ke cepat itu juga dilakukan secara tiba-tiba. Lutfi menatap wajah ustadzahnya. Lutfi tersenyum. Tangannya pun berpindah tuk meremasi payudaranya saat pinggulnya bergerak kencang hingga tubuh Nada terdorong maju mundur diatas sofa panjang itu.
“Luttfiii... Uhhhhh... Uhhhhh.... Pellannn Lutfiii” desah Nada dengan manja.
“Muwehehehe... Mana bisa ana pelan ustadzah... Dengan tubuh seindah ini... Harusnya ana menggenjot tubuh antum sekuat-kuatnya” ucap Lutfi menikmati ketelanjangan ustadzahnya.
“Tapiii Lutfiii... Aahhhh... Aaaahhhh” desah Nada menunjukan raut wajah yang menggairahkan.
Mata Nada memejam. Mulut Nada agak membuka. Suara desahannya yang manja membuat nafsu birahi Lutfi semakin tak tertahankan. Tangannya kembali memegangi pinggang rampingnya. Sodokannya dipercepat. Payudara Nada bergerak maju mundur mengikuti pergerakan tubuhnya.
“Kekekekek ikutan dong” kata pak Karjo yang ingin bergabung. Karjo langsung mendekatkan penisnya ke mulut Nada. Nada pun menerimanya. Mulutnya telah menjepit ujung gundul penis kuli itu.
“Aduhhh... Gak keliatan” ucap Rendy yang terhalang tubuh kekar Karjo. Karena penasaran. Dirinya pun berpindah ke spot lain sehingga bisa melihat pemandangan langka ini. Nada dengan pasrah terdorong maju mundur. Mulutnya juga sibuk mengulum penis kuli itu. Dadanya terus bergoyang. Ia tak dapat melakukan apa-apa selain membiarkan pejantannya memakai dirinya.
“Hennkkghhh ini pak... Giliran bapak” ucap Lutfi setelan menancapkan penisnya sedalam-dalamnya lalu mencabutnya keluar. Ia nyaris keluar karena saking nikmatnya. Ia pun menyerahkan ustadzahnya pada kuli tua itu untuk bergantian menikmati keindahannya.
“Kekekekek makasih nak... Ayo ustadzah... Nungging !” ucap Pak Karjo yang membuat Nada segera bangkit kendati tubuhnya terasa lemas. Nada sudah menungging diatas sofa panjang itu. Karjo yang gemas sempat menampar bokong itu sebelum penisnya ia masukan hingga membelah liang senggama Nada.
“Uuuhhhhhhhh” desah Nada manyun-manyun saat merasakan penis hitam itu masuk membelah vaginanya. Ukurannya yang besar membuat Nada ngos-ngosan menahannya. Nada langsung lemas. Ia nyaris terjatuh sebelum tangannya menahan beban tubuhnya sehingga ia masih bisa menungging diatas sofa panjangnya.
“Kekekekek sempitnyaaaa... Uhhhhh mantapnyaaaa” desah Karjo yang juga memulainya dengan perlahan.
Saat merasakan kalau lubang Vagina Nada sudah agak sedikit membuka. Tiba-tiba Karjo menambahkan kecepatannya. Karjo menariknya perlahan lalu mendorong pinggulnya sekuat-kuatnya. Ia menarik penisnya lagi lalu mendorong penisnya lagi.
Nada sampai terlonjak-lonjak saat menerima sodokan penuh tenaga dari kuli tua itu. Tubuh indahnya terhempas maju. Nada sampai membuka mulutnya lebar saat Karjo menusukan kejantanannya hingga menembus rahim kehangatannya.
“Aahhhhh... Aahhhhh” desah Nada dengan manja.
Rendy yang melihatnya semakin bernafsu. Istrinya yang masih mengenakan mukena itu terdorong maju mundur. Payudara istrinya yang besar itu menggantung. Ia sungguh gemas. Ia pun semakin mempercepat kocokannya.
“Muwehehehe binal sekali sih antum ustadzah” ucap Lutfi kembali mendekat tuk mencumbu bibir ustadzahnya.
Dikala Karjo mulai menggerakan pinggulnya maju mundur secara teratur. Lutfi duduk dihadapan Nada sambil mencumbui bibir ustadzahnya. Erangan demi erangan yang Nada ucapkan tertahan oleh cumbuan penuh nafsu santrinya itu.
Karjo berulang kali menampar-nampar bokong sekel ustadzah cantik itu. Karjo juga mengusapnya. Pinggulnya terus bergerak. Ia benar-benar menikmati jepitan vagina Nada yang membuat penisnya terasa dicekik oleh dinding vaginanya.
“Aahhhhh... Aahhhhh... Ouhhh nikmat sekali memekmu... Ouuhhhh mantapnya jepitanmu” desah Karjo mengekspresikan kepuasannya.
“Mmphhh... Bibir antum juga ustadzah... Mmpphhh” desah Lutfi sambil mengocok penisnya saat bibirnya terus mencumbu bibir ustadzahnya.
Nada benar-benar tak berdaya saat itu. Dirinya hanya diam membiarkan mereka berdua menikmati keindahan tubuhnya. Kedua payudaranya yang bergantung bergondal-gandul. Tubuh mulusnya yang sempurna diusapnya oleh tangan kasar kuli kekar itu. Berulang kali punggung Nada yang halus dielus. Berulang kali pantat Nada yang bohay dibelai. Berulang kali tubuhnya yang indah dinodai oleh nafsu-nafsu mereka yang tidak ada habisnya.
“Uuuhhhhhhh” desah Pak Karjo sambil mendorong pinggulnya hingga tubuh Nada terdorong maju, Lutfi terkejut hingga cumbuannya terlepas dan Nada terjatuh di pangkuannya. Lutfi menatap Karjo yang rupanya sudah memasukan keseluruhan penisnya yang besar di dalam rahim Nada. Lutfi geleng-geleng kepala. Rupanya penis sebesar Karjo masih bisa masuk seluruhnya ke dalam kemaluan ustadzahnya.
“Ayo ganti gaya ustadzah” ucap Karjo sambil menampar bokong Nada karena saking gemasnya.
“Aawwww” jerit Nada dengan manja.
Tanpa melepas penisnya, Karjo duduk disofa panjang itu dimana Nada secara perlahan duduk membelakangi kuli tua itu. Posisinya itu membuat Rendy dapat melihat keindahan tubuh Nada secara langsung. Rendy pun mengocok penisnya. Kocokannya semakin nikmat saat melihat penis hitam kuli itu yang terbenam di dalam vagina istrinya.
Nada yang kelelahan menatap wajah suaminya. Suaminya malah tidak menatapnya dan malah terpesona oleh perzinahan yang sedang ia lakukan dengan kuli tua itu. Nada geleng-geleng kepala. Ia merasa sedih tapi ia mencoba menuruti keinginan suaminya sambil berharap semoga suaminya bisa menepati janjinya.
“Uuuuuhhhhhh” desah Nada saat tiba-tiba Karjo menghentakan pinggulnya.
“Kekekekek kaget yah ustadzah ? Jangan ngelamun makanya” ucap Karjo sambil tertawa.
Nada merasa malu sekali mendengar ucapan kuli tua itu. Namun hentakan demi hentakan yang Karjo lakukan membuat tubuhnya terlonjak-lonjak naik turun diatas pangkuan kuli kekar itu. Diam-diam Nada menatap suaminya. Suaminya terlihat semakin bernafsu saat menatap keindahan tubuhnya. Nada kembali memejam. Ia tak sanggup melihat suaminya sekarang. Ia pun pasrah membiarkan Karjo menyodok-nyodok vaginanya hingga tubuhnya meloncat-loncat diatas pangkuannya.
“Mmpphhhh nikmatnyaaa... Mmpphhh mulus sekali kulitmu ustadzah” Ucap Karjo sambil mencumbu punggungnya.
“Aaaahhhh... Aaahhhh” Nada hanya mendesah kelelahan karena tidak mempunyai tenaga lagi. Genjotan Karjo terlalu kuat. Apalagi saat kedua tangan kekarnya ikut bergabung dalam membelai pinggang mulusnya. Nada pun merinding. Ia benar-benar kesulitan dalam menjelaskan kenikmatan yang ia dapatkan.
Sambil memegangi pinggangnya. Karjo mempercepat gerakan pinggulnya. Nada sampai teriak-teriak saat gerakan Karjo semakin dipercepat. Pergerakan payudaranya juga indah saat sedang meloncat-loncat.
“Aaahhhh... Aahhhh... Aahhhh pakkk... Aahhhh” desah Nada dengan begitu manja.
“Kekekeke ouhhh nikatnyaaa... Ouhhh puasnyaaa.... Ouuhhhhhh” desah Karjo semakin cepat memborbardir lubang kemaluan Nada.
Nada benar-benar tak berdaya di malam hari itu. Kenikmatan yang ia dapatkan bertubi-tubi membuat birahinya lama-lama semakin mendekati puncak kenikmatan. Ya, nafas Nada mulai terasa berat. Ia juga merasakan vaginanya berdenyut berulang kali. Kedua kakinya melemas dan ia merasakan adanya gelombang tsunami yang semakin mendekati lubang kencingnya.
Pak Karjo diam-diam tersenyum saat mengenali tanda yang Nada rasakan sekarang. Ia mempercepat gerakannya. Bahkan ia semakin dalam menusukan batang penisnya. Otomatis Nada semakin blingsatan. Saat sedang berada dipuncak-puncaknya. Tiba-tiba Karjo menekan tubuh Nada ke bawah. Mata Nada langsung membuka saat penis hitam itu semakin menancap di vaginanya.
“Uuuuhhhh pakkkkkkkk” desah Nada terkejut. Gelombang orgasme itu semakin dekat. Ia pun mengangkangkan kedua kakinya saat semburan itu keluar dari sela-sela lubang vaginanya yang tidak tersumpal penis besarnya.
“Kellluuuaaarrrrrr” jerit Nada dengan manja.
Crrtttt... Crrtttt... Crrtttt !
Nada merem melek saat orgasmenya ia dapatkan di malam hari itu. Tubuhnya kelojotan. Nafasnya terengah-engah. Tubuhnya semakin kejang saat mendapatkan kenikmatan yang begitu menendang-nendang. Nada langsung ambruk menyandar pada dada kuli kekar itu. Nada benar-benar kelelahan. Ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk bergerak.
“Hah... Hah... Hah” desah Nada terengah-engah. Saat matanya membuka sedikit. Tak sengaja ia menatap ekspresi suaminya. Suaminya benar-benar terpana saat gelombang orgasme itu keluar membasahi sofa rumahnya. Kendati penis itu masih menyumpal tapi tetap tak mampu menahan kuasa cairan cinta Nada yang ingin keluar dari dalam vaginanya.
“Kekekekek giliranmu lagi nak” ucap Karjo mengoper Nada ke Lutfi yang sedang duduk disebelahnya. Lutfi pun menelanjangi dirinya. Ia sudah bertelanjang bulat saat menerima Nada yang ia posisikan duduk dipangkuannya dalam keadaan saling berhadapan. Nada sangat malu sekali saat dirinya menatap wajah santrinya yang sudah bertelanjang bulat.
Penis santri itu kembali masuk ke dalam vaginanya. Tangannya memegangi pinggang ramping ustadzahnya. Wajahnya menatap wajah binal ustadzahnya yang sudah tak berdaya. Nada pun memegangi bahu Lutfi. Mereka saling tatap tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Antum binal banget ustadzah... Ana suka” ucap Lutfi mengejutkan Nada yang membuat wajah ustadzah itu memerah.
“Muwehehehe... Oh yah, Kenapa antum gak goyang aja ? Ana tau diam-diam antum pengen goyang kontol ana kan ?” ucap Lutfi tak tahu malu.
“Kata siapa ? Ustadzah gak pernah bilang gitu” ucap Nada yang masih terengah-engah.
“Muwehehe kalau ustadzah gak mau goyang berarti kita akan terus diposisi seperti ini sampai pagi” ucap Lutfi yang membuat Nada semakin lemas. Ia tidak mau berada di pelukan Lutfi sampai pagi. Ia juga tidak mau vaginanya lama-lama diisi oleh penis santrinya.
Terpaksa ia mulai menaikan pinggulnya lalu pelan-pelan menurunkannya hingga penis besar itu menggesek dinding vaginanya dengan mantap.
“Ouuhhhhh” desah Nada keenakan sendrii.
Nada kembali menaikan pinggulnya namun kali ini sampai penisnya terlepas dari jepitan vaginanya. Nada pelan-pelan menurunkan tubuhnya. Saat Nada mulai duduk diatas penis Lutfi yang menegak tinggi. Nampak ujung gundul penis itu mulai membelah bibir dari liang senggamanya lagi.
“Mmmhhhhh” desah mereka merasakan kenikmatan dari gesekan kelamin mereka berdua.
Penis itu belum masuk seluruhnya karena besarnya diameter dari penis santri bejat itu. Lutfi pun mempererat pegangannya pada pinggul ramping Nada. Wajahnya menatap wajah Nada yang sedang keenakan. Saat sadar wajahnya sedang ditatap oleh santrinya. Nada langsung membuang muka karena merasa malu pada perbuatannya. Lutfi pun mendorong tubuh Nada ke bawah hingga perlahan seluruh penis besar itu sudah kembali masuk ke dalam kemaluan ustadzahnya yang cantik sempurna.
“Ouuhhhh nikmmattnyyaaahhh memek antum ustadzah” desah Lutfi merinding hebat. Entah kenapa, jepitan yang Lutfi rasakan saat ini semakin rapat. Penisnya pun begitu sesak di dalam liang senggamanya. Ustadzah berbadan body goals itu juga merasakan hal yang sama dengan Lutfi. Entah kenapa penis itu semakin besar. Liang senggamanya pun semakin penuh oleh ukuran penis besarnya itu.
“Ayo gerak sendiri ustadzah... Cepat ! Ana udah nafsu banget nih dari tadi !” ujar Lutfi yang membuat Nada mau tak mau melakukan perintah itu.
Nada tau kalau satu-satunya cara untuk menghentikan aksi bejat santrinya ialah dengan memberikan orgasme padanya. Nada pun akhirnya terpaksa bergerak. Pinggulnya bergerak maju mundur terlebih dahulu. Kedua tangannya bertumpu pada bahu santri bejat itu. Nada pun memejam. Bibir bawahnya ia gigit karena tak kuasa menahan gesekan penis besar santri itu yang begitu mantap.
“Mmpphhhh... Mmppphhh” desah Nada merapatkan bibirnya karena tak ingin memberikan kepuasan lebih pada Lutfi.
“Ahhhh... Ahhhh seperti itu ustadzah... Iyahh benar... Lakukan ! Goyang lagi kontol ana ustadzah !” kata Lutfi puas memandang tubuh indah Nada yang hanya tertutupi mukenanya saja.
Nada terus bergoyang maju-mundur. Goyangannya sungguh nikmat membuat penis Lutfi terasa diaduk-aduk oleh lubang sempitnya. Berulang kali Lutfi sampai harus menahan nafasnya. Ia berhati-hati agar dirinya tidak keluar duluan dalam menikmati goyangan ustadzahnya.
“Mmpphhh... Mmpphhhh” suara erangan Nada yang begitu manja menambah kepuasan yang santrinya terima dari goyangannya kali ini.
Dikala Nada memejam menggoyangkan pinggulnya diatas pangkuan Lutfi. Lutfi pun melirik ke belakang Nada tuk memeriksa reaksi suami ustadzahnya. Lutfi tertawa dalam hati saat melihat wajah ustadznya itu.
Bodohnya ustadz itu... Punya istri seindah ini kok malah dikasih orang lain !
Batin Lutfi tertawa.
“Mmpphhh... Mmpphhh... Lutfiii... Ouhhhhh” desah Nada keenakan.
"Aahhh... Aahhhh... Antum keenakan yah ustadzah ?" Ucap Lutfi yang membuat wajah Nada memerah malu.
"Gakk yahhh... Kata siapa ? Mmpphhh" Desah Nada yang sedang asyik menggoyang penis santrinya.
“Aahhhhh... Ahhhh ustadzahh... Muwehehe... Gimana kalau antum tiap hari nyetor memek ke ana aja ? Biar antum bisa menikmati goyangan yang antum rasain sekarang” ujar Lutfi saat melihat Nada seolah menikmati goyangannya.
“Aahhhh... Ahhhh... Jangan kurang ajar yah Lutfi ! Ustadzah kayak gini karena punya alasan... Ustadzah melakukannya bukan karena ingin mencari kepuasan” jawab Nada dengan wajah memerah.
Lutfi hanya tertawa kemudian memegangi pinggang ramping Nada dengan erat. Pinggulnya mulai bergerak sendiri dengan sangat kuat. Kedua penghuni pondok pesantren itu semakin mendesah nikmat. Tubuh Nada yang melemah akhirnya jatuh ke pelukan Lutfi yang membuat santri itu langsung mencumbui puting payudaranya lagi.
“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Lutfi sambil menghujami tubuh indah Nada. Lutfi mulai bergerak. Ia yang tidak tahan langsung menghujami vagina ustadzahnya dengan penuh nafsu.
“Aahhh... Ahhhh Lutfiii... Hentikannn... Ahhhh” desahnya dengan manja.
Penis Lutfi mengobrak-ngabrik liang senggama Nada dengan liar. Penis itu keluar masuk. Payudara Nada ikut naik turun mengikuti sodokan yang Lutfi berikan padanya. Nafsu yang tadi terpuaskan kembali terpanggil saat menikmati persetubuhannya dengan santri bejatnya lagi.
“Aahhh ustadzahhh... Mmpphhhh” desah Lutfi menghentikan gerakan pinggulnya dengan mendorong tubuh Nada bawah. Ia juga mendekatkan wajah Nada ke wajahnya. Bibir mereka kembali bertemu. Mereka saling cumbu dengan penuh nafsu. Baru setelah itu Lutfi melepaskannya kemudian melihat ke belakang Nada untuk berbicara dengan ustadznya.
“Ustadz... Hah... Disini sempit banget... Ana boleh minjem kasur antum gak ?” ucap Lutfi meminta izin.
Kasur ?
Batin Nada.
“Oh boleh akhy boleh... Silahkan kamar kami ada di ruangan itu” ucap Rendy dengan suka rela menunjukan kamar pribadinya.
Karjo tertawa. Lutfi tersenyum puas. Ia dengan buru-buru menarik tangan Nada untuk menghabisinya di dalam kamar pribadinya.
“Kekekekek” tawa Karjo sambil menelanjangi dirinya. Ia pun ikut dibelakang Lutfi saat berjalan menuju ke kamar Nada. Rendy menyusul di belakang sambil membawa sebuah kursi.
"Aaaahhhhh" Desah Nada dengan lemah saat tubuh telanjangnya dibanting ke atas ranjang tidurnya.
"Muwehehe... Terima kasih ustadzah sudah mengizinkan ana menikmati keindahan tubuhmu" Ucap Lutfi sambil membuka kaki Nada sehingga vaginanya yang basah terlihat.
Nada benar-benar lelah. Ia terbaring pasrah diatas ranjang tidur yang berada di kamarnya. Kamar yang seharusnya hanya bisa dimasuki olehnya dan juga suami sahnya saja. Tapi kini kamar pribadinya tengah ramai. Ada banyak lelaki selain suaminya yang sudah bertelanjang bulat di dalam kamarnya.
Nada sudah mengangkang. Penis Lutfi pun datang untuk menembus liang kewanitaan ustadzahnya yang begitu menggiurkan. Pose Nada sungguh menantang. Lutfi tak ingin berlama-lama lagi dengan menancapkan batang pusakanya menuju liang terdalam.
"Aaaahhhhhhh"
Penis itu dengan mudah merengsek masuk menembus liang kenikmatan Nada. Lutfi memegangi pinggang Nada. Lutfi mempercepat gerakan pinggulnya karena ingin memuntaskannya sekarang.
"Aahhh... Aaahhh... Indah sekali tubuhmu ustadzah... Puas sekali ana bisa ngentotin antum" Desah santri itu penuh nafsu.
Karjo yang geregetan melihat aksi menggoda Nada akhirnya ikut bergabung. Kebetulan kepala Nada berada di tepi kasur. Karjo pun menarik tubuh Nada hingga kepalanya menggantung di ujung. Tanpa menunggu lama, Karjo mendekatkan penisnya ke mulut Nada. Nada telah mengulum penis hitam itu. Nada pun memejam. Hujaman Lutfi benar-benar kuat. Tubuhnya sampai terdorong maju ke depan. Akibatnya kerongkongan Nada tertusuk oleh penis Karjo yang berada di mulutnya.
Rendy semakin bernafsu sambil bertelanjang bulat mengocok penisnya diatas kursi yang ia bawa. Ia sambil duduk geregetan melihat kebinalan istrinya. Ia sungguh puas. Ia benar-benar puas melihat istri seksinya dilecehkan.
"Mmpphh.. Mmpphh pakkk" Desah Nada kesulitan karena mulutnya disumpal oleh penis Karjo. Apalagi penis itu tidak hanya diam. Penis itu juga bergerak maju mundur menggesek rongga mulutnya.
Nada kewalahan, apalagi saat Lutfi menambah kecepatannya.
"Aahhhh... Aahhh mantappp sekaliii tubuhmu ustadzaahhh... Ana ingin terus memuasi antum... Antum sexy banget... Antum nafsuin banget... Ana jadi pengen mejuhin memek antum ustadzah... Ouhhhhh" Desah Lutfi yang dari sudut pandangannya hanya dapat melihat ketelanjang tubuh Nada. Wajah Nada sedang jatuh di tepi ranjang tidur. Lutfi jadi berfokus pada tubuh indah Nada saja.
"Mmpphh... Lutfiii... Lutfiii" Desahnya dengan manja di sela-sela sodokan penis Karjo.
"Uuuhhh kalau tau antum tuh entotable dari dulu, udah ana genjot terus antum ustadzah... Ana bakalan genjot antum di kelas biar santri-santri lain pada tau kalau tubuh antum itu indah banget" Ucap Lutfi saking nafsunya.
Nada pun merinding mendengar fantasi santrinya itu. Ia benar-benar lelah. Ia benar-benar dipuaskan oleh nafsu besar kedua lelaki asing itu.
"Aaahhhhh sialll... Ngebayangin itu semua bikin ana gak kuat lagi ustadzah... Ana gak kuatt... Ana pengen keluaaarrr" Ucap Lutfi saat terhipnotis oleh keindahan goyangan payudara Nada.
"Mmpphh... Mmpphh" Desah Nada tertahan.
Lutfi ngos-ngosan. Nafasnya kian berat. Penisnya pun berdenyut pelan. Ia benar-benar akan menuntaskan birahinya sekarang. Kedua tangannya mencengkram kuat pinggulnya. Penisnya pun keluar masuk semakin cepat membuat payudara Nada bergerak semakin kencang.
Lutfi yang tadinya ingin memejuhi rahimnya berganti pikiran jadi ingin memejuhi susunya. Susunya itu benar-benar menggodanya. Ia pun tidak kuat lagi sehingga menancapkan penisnya lalu mencabutnya ke arah buah dada ustadzahnya.
"Aaahhhhhhh rasakan ini ustadzah !!!" Ucap Lutfi sambil mengocok penisnya di dada Nada.
Crroottt... Crroottt... Crroottt !
Lutfi akhirnya keluar membasahi payudara sebelah kanan ustadzahnya. Nada terkejut saat merasakan cairan hangat yang berkumpul di dadanya. Lutfi kelelahan. Ia dengan puas mengamati ketelanjangan tubuh ustadzahnya.
"Kekekek... Kayaknya giliran saya nih sekarang" Ucap Karjo tak sabar.
Karjo mendekati tubuh Nada kemudian tangan kirinya memeluk tubuh rampingnya. Tangan kanannya meremas payudara kiri Nada yang masih kering tanpa terkena sperma santri mesum itu.
Kemudian bibirnya mendekat untuk mencumbui bibir manisnya yang menggoda. Nada benar-benar dipuasi oleh nafsu birahi kuli tua itu.
"Mmphhh... Ouuuhh... Mmpphhhh" Desah mereka berdua menikmati cumbuannya.
Puas mencumbuinya, Karjo menegakan tubuhnya untuk kembali menggenjot tubuh indahnya. Karjo membuka kaki Nada lalu menarik pahanya agar tubuh Nada semakin mendekat ke arahnya. Lalu Karjo menatapi wajah Indah Nada. Karjo tersenyum mesum. Sedangkan Nada memalingkan wajahnya karena tak sanggup menatap wajah jeleknya.
"Kekekekek"
Karjo terkekeh-kekeh bisa melihat Nada sevulgar ini. Undangan yang Rendy berikan tak ingin ia sia-siakan. Ia pun bertekad untuk menaklukan Nada juga agar ustadzah seksi ini bisa ia setubuhi ratusan kali.
Tanpa membuang waktu ia kembali menggenjot tubuh Nada yang membuat ustadzah seksi itu semakin mendesah saat lubang vaginanya tertancap semakin dalam oleh penis hitam itu.
“Ahhhh ahhhhh ahhhhhhhh bapaaakkkk !!!!” teriak Nada saat hujaman Karjo semakin kuat.
“Kekekek yang keras ustadzahhh !!! Rasakan sodokanku !!! Puaskan nafsumu itu !” kata Karjo menyemangati.
“Ahhhh ahhhhh ahhhh” Nada tak sadar mendesah walau sebenarnya ia tidak mau melakukannya. Tapi karena penis besar Karjo yang terus menggenjot vaginanya membuat Nada tanpa sadar mengucapkan desahan yang semakin merangsang birahi kuli tua itu. Nada kewalahan. Ia terus-terusan pasrah membiarkan tubuh indahnya dinodai oleh penis kekar yang dipunyai oleh kuli tua itu.
Maju-mundur, maju-mundur, maju-mundur. Tubuh Nada terlihat indah dipandangan Karjo. Berulang kali lidah Karjo keluar menjilati bibirnya sendiri menatap keindahan dada Nada. Karjo pun mendekat, wajahnya ia turunkan untuk menyusu di putingnya lalu menghisapnya kuat-kuat yang membuat Nada kewalahan.
“Ahhhhh ahhhhhh ahhhh pakkkkk jangan digigitttt !!”
"Kekekekek maaf ustadzahhh... Saya udah nafsu banget ke ustadzah... Uhhhh jepitan memekmu rapet banget soalnya"
Karjo mulai tak kuat lagi, rasa nikmat yang dihasilkan sedari tadi mulai tak dapat ia kuasai. Penisnya semakin besar dan berdenyut-denyut di dalam. Karjo pun mempercepat hujamannya. Ia juga memperdalam tusukannya. Berulang kali penisnya terhisap masuk hingga tubuh Nada kelojotan menerima sodokannya.
“Kekekek puasnyaa... Puasnyaaa” kata Karjo menaikan pandangannya lalu memajukan pinggulnya. Penisnya semakin menusuk ke dalam. Bahkan Karjo dapat merasakan ujung dari rahim bidadari itu.
“Ahhhhh pakkkk ahhhhh ahhhhhh”
“Ouhhh ustadzahhhh.... Ouhhh yahhh ahhhh ahhh uhhhhhh” kata Karjo.
Penis Karjo semakin berdenyut, nafasnya turut memberat, tubuhnya bergetar merasakan gelombang nikmat yang akan segera keluar.
“Ahhhhh ahhhhhhh.... Iyahhhhh... Uhhhhhhhhh” Karjo menancapkan penisnya sedalam-dalamnya hingga mentok menyundul rahim Nada.
Bergegas ia mengeluarkan penisnya dari dalam lalu mengarahkannya dengan segera ke payudara kanannya yang masih kering.
"Ustadzaaahhh... Kelluuaaarrr !!!" Desah Pak Karjo diikuti oleh semprotan sperma yang membasahi payudara satunya.
“Uuuhhhhh” desah Nada terkejut saat payudara satunya juga disirami oleh lelehan sperma yang masih hangat dan bertekstur kental.
“Ahhhh ahhhh mantappnyaa.... Ouhhh yahhhh” desah Karjo mengocok-ngocok penisnya mengeluarkan seluruh spermanya hingga tetes terakhir. Karjo bergidik nikmat hingga matanya merem melek merasakan kepuasannya. Akhirnya tetes terakhir pun keluar. Karjo membuka matanya, ia terkejut melihat dada Nada dipenuhi oleh lelehan spermanya.
"Kekekekek... Puasnyaaaa" Desah Pak Karjo setelah berhasil memejuhi ustadzah pemilik body goals terbaik disini.
Nada tersengah-engah sambil memejamkan matanya karena kelelahan. Ustadzah pemilik body goals itu sudah dinodai sperma oleh dua lelaki ini. Saat matanya kembali membuka tuk menatap keadaan suaminya. Ia terkejut karena suaminya ternyata sudah mengeluarkan spermanya tapi suaminya itu mengeluarkannya di lantai.
Sungguh ironi ketika dua lelaki asing ini dengan bebas menyetubuhinya dan mengeluarkan sperma mereka di atas dada bulatnya. Tapi sebagai suaminya, Rendy hanya sanggup beronani kemudian mengeluarkan spermanya di lantai.
"Terima kasih sekali pak... Terima kasih akhy... Terima kasih telah datang kesini tuk memuaskan istri saya" Ucap Rendy yang langsung berdiri mendekati dua lelaki mesum itu.
"Kekekekek... Harusnya saya yang berterima kasih ustadz... Lagipula saya tadi belum mengeluarkan semua tenaga saya tuk memuasi istrimu itu" Ucap Karjo yang didengar oleh Nada.
Nada pun geleng-geleng kepala tak percaya. Mana mungkin Pak Karjo belum mengeluarkan seluruh tenaganya. Soalnya saja ia sudah kelelahan seperti ini. Ia sudah tak berdaya setelah disetubuhi oleh mereka berdua secara bergantian.
Dikala pak Karjo dan Lutfi pergi ke dapur untuk beristirahat. Rendy datang mendekati Nada yang sedang terbaring tak berdaya. Rendy tersenyum. Ia benar-benar bangga pada istrinya karena mau memuaskan fantasi terpendamnya.
"Makasih sayang" Ucap Rendy sambil mendekap tangan istrinya.
"Hah... Hah... Udah kan mas ? Mas janji gak bakal minta adek melakukan hal aneh lagi ?" Tanya Nada sambil memaksa senyum.
"Loh kok gitu ? Kan tadi baru perkenalan... Aksi yang sebenarnya belum loh sayang... Tadi denger kan ? Pak Karjo aja belum mengeluarkan seluruh tenaganya" Ucap Rendy tersenyum yang membuat Nada lemas saat mendengarnya.
"Ttappiii tadiii mass . . . ." Ucap Nada ingin menjelaskan kalau tadi sama saja dengan fantasi yang dimiliki oleh suaminya. Namun suaminya buru-buru memotong kalimatnya.
"Tenang dek... Gak usah dipikirin... Tadi mas suka banget deh pas adek digoyang mereka... Mas puas banget... Makasih yah... Mas sayang adek" Ucap Rendy sambil mengecup pipi istrinya.
Nada hanya berdiam pasrah. Bahkan dirinya tidak dapat tersenyum setelah mendapat kecupan dari suami tercintanya. Rendy pun pergi tuk menemani tamu-tamunya mengobrol meninggalkan Nada sendiri.
Setelah mendapatkan energinya kembali. Nada bangkit ke posisi duduk. Nada yang kelelahan melepaskan mukenanya. Ikatan rambutnya juga ia lepas lalu ia menggelengkan kepalanya membiarkan rambutnya itu tergerai indah.
Ia melihat dadanya yang bersimpuh sperma. Ia tahu kalau dengan tisu saja tidak cukup untuk membersihkan seluruh sperma ini. Terpaksa ia menggunakan mukenanya untuk mengelap seluruh sperma itu. Akhirnya sperma itu mengering. Ia pun memasukan mukena itu ke ember kosong yang kebetulan ada di dekat ranjang tidurnya.
Nada merenung. Dirinya geleng-geleng kepala tak percaya. Ia akhirnya benar-benar merasakan nafsu besar pak Karjo seperti apa. Tidak seperti dulu yang hampir seperti quickie. Kini, ia merasakan nafsu besar kuli tua itu mulai dari saat mencumbunya lalu menyetubuhinya. Ia pun memikirkan kata-kata yang terucap dari mulut Karjo tadi.
Lagipula saya tadi belum mengeluarkan semua tenaga saya tuk memuasi istrimu itu.
"Gitu aja masih belum menggunakan seluruh tenaganya ? Bakal jadi apa aku kalau pak Karjo menggunakan seluruh tenaganya ? Belum lagi dengan adanya Lutfi nanti ?" Ucap Nada mengkhawatirkan dirinya yang akan pingsan andai pak Karjo menyetubuhinya lagi.
"Ini gak boleh dibiarin... Aku harus cari cara biar aku gak bakal secapek ini lagi nanti" Ucap Nada yang masih terengah-engah.
Seketika ia teringat seseorang yang mungkin bisa membantunya. Seseorang yang tentunya mempunyai pengalaman tuk meladeni nafsu buas kuli kekar itu.
"Ustadzah Haura... Kayaknya aku emang harus curhat ke dia deh" Lirih Nada sambil mengkhawatirkan masa depannya.
Namun tanpa sepengetahuannya terdapat seseorang yang mengintip aksinya dari kaca luar jendela rumahnya. Pria tua berperut tambun itu tampak kesal. Ia benar-benar tak terima ustadzah yang ia cinta sampai lemas tak berdaya saat digagahi oleh dua lelaki itu.
"Bersabarlah ustadzah... Saya pasti akan membebaskanmu nanti" Lirihnya sambil melangkah pergi.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *