Search

CHAPTER 44​ - HARI SEBELUM ESOK

CHAPTER 44​ - HARI SEBELUM ESOK

Pagi hari di sebuah rumah yang berada di perumahan ustadz senior.

"Loh mas... Mau kemana ?" Tanya seorang ustadzah yang masih mengenakan daster seksinya menampilkan rambut pendeknya juga lekuk indahnya.

"Mas mau muwajjah lagi dek... Kasian santrinya mas" Ucap suami dari ustadzah tercantik itu sambil mengenakan sepatunya juga pakaian olahraganya.

"Muwajjah ? Kok gak bawa buku ? Malah kayak mau olahraga sih ?" Tanya ustadzah Haura heran.

"Hehe soalnya kan mas cuma ditanya-tanya aja... Lagian ini masih pagi dek... Baru jam setengah enam pagi... Masa mas harus pake kemeja sih ?" Ucap Hendra menjawab keraguan istrinya.

"Tapi kan... Aneh aja deh keliatannya... Hampir tiap pagi loh mas selalu pergi dengan outfit kayak gini... Emang beneran mau muwajjah ? Udah gak wajib loh di masa ujian kayak gini" Ucap Haura masih mencurigainya.

"Hehehe soalnya seperti yang udah mas bilang sebelumnya... Mas sering pergi keluar pesantren pas jam belajar-mengajar masih aktif... Jadinya mas gak enak dek kalau ada santri yang minta diajarin tapi mas malah mengabaikan" Ucap Hendra yang entah kenapa terlihat gugup.

"Santri ? Sama siapa sih ?" Tanya Haura penasaran.

"Iqbal dek" Jawab Hendra singkat.

"Iqbal ? Kemarin sama Iqbal juga ?"

"Iya dek... Dari kemarin sama Iqbal terus muwajjahnya"

"Yaudah deh kalau gitu... Jangan kesiangan yah pulangnya... Ntar gak sarapan lagi lohhh..." Ucap Haura teringat kemarin saat suaminya justru pulang hampir mendekati jam 7 sehingga tidak sempat menyantap sarapan yang sudah ia siapkan.

"Iyya dek... Mas usahain... Mas pergi dulu yah... Wassalamu'alaikum" Ucap Hendra pamit pergi.

"Walaikumsalam mas" Jawab Haura saat melihat pintu depan rumahnya ditutup rapat.

Haura pun berjalan mendekat ke arah jendela rumahnya untuk melihat kepergian suaminya. Ia merasa aneh kenapa suaminya selalu bersemangat tiap kali ber-muwajjah pagi bersama Iqbal. Padahal Iqbal itu kan santri terpintar, kenapa juga masih perlu muwajjah bersama suaminya.

"Aneh deh" Ucap Haura yang mempunyai firasat kepada suaminya. Sebagai seorang wanita, tentu ia sangat mempercayai firasatnya. Tapi ia masih tidak tahu kenapa ia sampai mempunyai firasat kepada kedekatan suaminya dengan santri terpintarnya.

"Tapi mungkin aja, Iqbal jadi yang terpintar karena rajin bertanya ke pengajarnya kali yah... Termasuk ke mas Hendra sekarang... Ya, semoga aja begitu" Ucap Haura tidak ingin mencurigai mereka lebih.

Haura pun berbalik arah menuju kamar tidurnya. Disana ia melihat sprei ranjangnya yang masih berantakan. Dengan perhatian ia membereskan sprei itu lalu melanjutkan kegiatannya yang tadi sempat tertunda setelah melihat suaminya hendak pergi keluar rumah.

“Duh numpuk gini sih bajunya... Gak nyangka aku udah pake baju sebanyak ini dalam seminggu” ucapnya sambil mengangkat satu demi satu pakaiannya yang baru ia setrika selepas shubuh tadi.

Menyadari ia berpakaian sebanyak ini karena sering berganti di tengah hari akibat terkena sperma orang-orang yang sudah menyetubuhinya, ia hanya bisa senyum-senyum saja. Ia membuka almari pakaiannya kemudian menaruh satu demi satu pakaiannya disana. Saat tangannya meraih gamis berwarna pink yang ia kenakan kemarin. Ia jadi teringat aksi binalnya saat mendatangi kuli tua favoritnya hanya untuk dipuaskan dengan sebuah mainan berbentuk penis yang keluar masuk di dalam vaginanya. Haura tersenyum malu. Lalu tangannya meraih pakaian lain berupa gamis berwarna hitam yang membuatnya teringat akan persetubuhannya dengan pak Dino di pagi hari. Haura jadi tersenyum lagi menyadari kebinalannya dalam melayani kuli-kuli tua favoritnya. Ia ingat betul bagaimana kedua lubangnya dimasuki oleh pak Dino secara bergantian. Saat tangannya meraih gamis lain berupa gamis berwarna hijau tua. Ia teringat akan puncak kebinalannya sehingga harus melayani dua orang kuli sekaligus dalam satu waktu. Ia ingat betul bagaimana lubang kemaluannya dan lubang anusnya sampai dijejali oleh penis pak Dino dan penis pak Karjo secara bersamaan. Ia ingat betul bagaimana pasrahnya dia saat dipuasi oleh penis mereka berdua. Membayangkan hal itu membuat Haura jadi rindu ingin dipuasi oleh mereka berdua lagi secara bersamaan. Saat gamis terakhir ia taruh di almari pakaiannya. Ia teringat kejadian lain. Kejadian yang membuatnya sampai senyum-senyum sendiri lagi.

“Gamis ini... Bukannya ini waktu itu yah ?” ucap Haura tersenyum sambil memandangi gamis berwarna putih yang ia dekap dengan tangan kanannya. Ia memejam sambil meletakkan gamis itu ke arah dadanya. Ia membayangkan kenangan yang sudah ia buat dengan gamis yang sedang ia dekap. Kenangan di malam itu ketika dirinya hanya bisa pasrah dilayani oleh pak Karjo semalaman.

“Mmmpphhh” desahnya sambil menekan bibir vaginanya dari luar daster yang dikenakannya. Ia mendesah. Ia merangsang vaginanya sendiri sambil membayangkan kejadian saat dirinya disetubuhi di kamar yang sedang ia tempati ini.

“Uuuhhhh pakkkk” ia kembali mendesah kali ini sambil meremasi payudaranya menggunakan tangan satunya saat dirinya terbayang kejadian selanjutnya saat disetubuhi di ruangan dapurnya dalam posisi berdiri membelakangi. Ia masih ingat kalau dirinya disetubuhi dalam keadaan wajah yang bersimpuh sperma akibat persetubuhan sebelumnya dengan kuli tua favoritnya.

Ia buru-buru menaruh gamis itu lalu membuka laci almari lainnya yang berisi pakaian-pakaian dalamnya. Disana ia mengambil sesuatu yang ia sembunyikan dari suami sahnya. Sebuah benda lonjong berwarna hitam yang bentuknya menyerupai penis seorang pria. Ya, ia mengambil hadiah yang diberikan oleh kuli tua favoritnya di hari kemarin. Lalu ia buru-buru duduk di tepi ranjang sambil mengangkat daster yang dikenakan olehnya. Tak tanggung-tanggung. Ia juga langsung melepaskan celana dalamnya hingga bibir kemaluannya nampak dihadapan matanya.

“Uhhhhh gedeee bangeett... Mmppphhh” desah Haura memejam saat mulai memasukan dildo itu ke dalam vaginanya. Ia melakukannya sambil membayangkan kejadian setelahnya, yakni saat dirinya dengan pasrah ditindihi oleh kuli tua itu dalam keadaan telanjang bulat dimana noda sperma di wajah dan payudaranya sudah mengering. Ia digempur habis-habisan di waktu dini hari itu.

“Mmmphhh bapaakkk... Mmpphhh... Kenapa bapak hebat banget sihh... Mmpphhh... Kenapa bapak udah bikin aku kayak gini... Uhhhh... Bapak tega yah udah bikin aku kerangsang terus tiap kali kepikiran bapak” ucap Haura sambil mengeluar-masukkan dildo itu ke dalam vaginanya.

Tangan kanannya memegangi dildo sambil menggerakannya keluar masuk. Tangan kirinya meremasi dadanya dari balik daster yang dikenakannya. Wajahnya terlihat bernafsu. Matanya memejam seolah menikmati aksi binalnya saat suaminya pergi ber-muwajjah bersama santri terpintarnya. Mulutnya membuka lebar. Ia benar-benar menikmati gesekan demi gesekan yang dildo itu lakukan di dalam vaginanya.

Merasa kalau daster yang dikenakannya hanya menganggu aksi binalnya. Haura pun mencopotnya. Haura membuang daster itu ke arah belakang sehingga membuatnya telanjang bulat di dalam kamarnya. Ia juga tidak mengenakan hijabnya. Ia murni bertelanjang bulat sambil bermasturbasi membayangkan penampakan kuli kekarnya yang sedang menyodok-nyodok lubang vaginanya.

“Aaahhhh lagiii pakkk... Lagiiii... Ouhhh dalemm bangettt... Mmpphhhh” desah Haura saking nafsunya saat mendorong dildo itu terlalu dalam hingga mengenai rahimnya. Matanya sampai merem melek keenakan. Ia kembali menariknya lalu mendorongnya lagi hingga membuat ustadzah tercantik itu menggigit bibir bawahnya sendiri.

“Uhhhhhh terusss pakkk... Teruusss... Puasi aku pakk... Aku butuh kontol bapakkk... Aahhhh iyahhh... Mmpphhh yang kerasss... Yangg kerasss pakkkk” desahnya dengan keras sambil mempercepat gerakan tangannya.

Kedua kakinya semakin dilebarkan di tepi ranjang tidurnya. Nafsunya sudah benar-benar menguasainya saat teringat persetubuhan termantapnya dengan kuli tua favoritnya. Lubang kemaluannya semakin basah di bawah sana. Akibatnya dildo itu semakin mudah dalam merengsek masuk menembus rahim kehangatannya.

“Bapaaakkk... Aahhhhh... Aaaahhhh... Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura saat mencabut dildo itu kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.

Haura dapat merasakan rasa asin dari dildo yang sudah terkontaminasi cairan cintanya sendiri. Berulang kali wajahnya maju mundur dalam mengulum dildo hitam itu. Tangan satunya juga tidak tinggal diam dengan menggeseki bibir kemaluannya agar tidak menganggur saat dildo itu sedang ia kulum.

“Mmpphh... Mmpphhhh... Iyyahhh pakkk... Mmpphhh aku suka kontol bapakk... Mmphhh tolonggg puasi aku pakkk... Puasi aku dengan kontol bapak yang gede ini” ucapnya sambil memasukan dildo itu lagi ke dalam vaginanya.

“Aaaahhhh yahhhhh... Terusss... Terusss pakkkk uhhhhhh” desah Haura yang semakin bernafsu dalam bermasturbasi sambil membayangkan kuli tua favoritnya.

Dildo yang ia gerakan bergerak semakin cepat. Dildo itu menggempur vaginanya sesuai dengan nafsu yang Haura miliki sekarang. Gerakannya sangat cepat. Akibatnya dada Haura jadi terasa sesak. Nafasnya terengah-engah. Tubuhnya mengejang saat gelombang orgasme nyaris ia dapatkan.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Paakkkk... Akuuu... Uhhhhh” desah Haura sampai manyun-manyun merasakan tusukan penuh nikmat dari penis mainannya.

“Aaahhhh... Aahhhh... Aahhhh bapaaakkkkkkk !!!!” desah Haura dengan mantap sambil membenamkan dildo itu sedalam-dalamnya di lubang rahimnya.

Crrrtt... Crrttt... Ccrrttt... !!!

Haura mencabut dildonya dengan cepat sehingga gelombang orgsmenya menyembur keluar dengan dahsyat.

“Kelluuuaaarrrr !!!” Jerit Haura dengan puas saat mendapatkan gelombang orgasmenya.

“Hah... Hah... Hah...” Haura ngos-ngosan saat matanya merem melek keenakan. Tubuhnya sampai kelojotan berulang kali merasakan sensasinya bermasturbasi sambil membayangkan tubuh kuli tua berbadan kekar itu. Haura merasa lega. Ia pelan-pelan membuka matanya dan melihat bayangan dirinya dari depan cermin yang terpasang di pintu almarinya. Cermin itu sangat besar hingga Haura dapat melihat seluruh keindahan tubuhnya serta kebinalan ekspresi wajahnya. Haura jadi merasa malu. Ia pun membaringkan tubuhnya sambil mendekap dildo itu di dadanya.

Astaghfirullah... Kok aku jadi binal banget yah ? Hah... Hah... Hah” ucap Haura yang masih terengah-engah.

Haura merasa heran kenapa ia jadi sebinal ini semenjak menghancurkan dinding pembatas antara dirinya dengan pak Karjo. Ia seolah sudah menuruti hawa nafsunya. Ia seolah sudah menjadi budak hawa nafsunya. Hampir tiap hari ketika teringat persetubuhannya dengan pak Karjo, ia selalu terangsang sendiri. Sebenarnya, sebesar inikah nafsu yang ia punya ? Maka gak heran kalau suaminya sampai tidak mampu memuaskannya. Bahkan andai ia menikah dengan lelaki yang sanggup menegakkan penisnya sekalipun. Ia pasti belum merasa puas karena otak dan tubuhnya sudah melekat pada pak Karjo. Di otaknya sudah tertanam kalau hanya pak Karjo seorang lah yang dapat memuaskan nafsu besarnya.

“Bapaakkk... Hah... Hah... Hah...” ucap Haura begitu merindukannya.

Kendati ia sudah mendapatkan orgasmenya. Rupanya ia masih belum puas. Ia masih merasa ada yang kurang kendati ia telah bermasturbasi dengan penis yang bentuknya menyerupai penis kuli tua favoritnya. Ia merasa kurang karena selagi dildo itu keluar masuk di dalam vaginanya tidak ada seseorang yang dapat mencumbunya. Tidak ada juga aroma lelaki yang dapat ia hirup untuk membangkitkan gairah birahinya. Ia jadi teringat kalau salah satu alasan kenapa ia sangat menyukai pak Karjo adalah aroma tubuhnya yang berkeringat setelah melakukan pekerjaan berat. Aroma keringat itulah yang membuat birahi Haura semakin bangkit. Apalagi ia merasa kalau dorongan dildo ini berbeda dengan dorongan pinggul pak Karjo yang biasanya lebih bertenaga. Itu juga salah satu alasan yang membuatnya menjadi ketagihan penisnya.

“Hah... Hah... Hah... Bapakkk emang hebat banget deh... Aku jadi kecanduan kontol bapakk kayak gini” ucapnya yang membuatnya malu sendiri karena tidak sepantasnya seorang ustadzah berbicara kotor seperti itu. Tapi apa boleh buat, ia juga sudah ternoda. Ia jadi ingin menodai tubuhnya lebih dengan kejantanan penis tua favoritnya.

“Uhhhhhhh” desah Haura sambil memasukan dildonya lagi.

Namun buru-buru ia mencabutnya meski belum sepuluh detik dildo itu berada di dalam vaginanya lagi.

"Enggak... Jangan dimasukin lagi... Aku butuh yang asli... Hah... Hah..." Ucap Haura yang masih butuh pemuas.

"Oh yah... Kalau tiap pagi mas Hendra pergi ber-muwajjah dengan Iqbal... Apa sebaiknya aku undang pak Karjo aja yah kesini pas mas Hendra lagi pergi ?" Ucap Haura terpikirkan ide.

"Ngomong-ngomong... Jam berapa yah biasanya pak Karjo kesini... Hah... Hah... Hah... ?" Ucap Haura masih terengah-engah.

Tiba-tiba . . .

"Assalamu'alaikum dek" Ucap suara seseorang yang ia kenal.

"Mas Hendra ?" Ucap Haura terkejut hingga buru-buru bangkit untuk mengenakan pakaiannya lagi.

Namun semua sudah terlambat karena seseorang sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.

"Adek ? Kok telanjang ?" Tanya Hendra terkejut.

"Anu mas... Hehehe" Ucap Haura hanya tertawa malu. Ia pun bergeser ke samping demi menutupi dildo berwarna hitam yang tadi ia gunakan.

"Huh dasar... Pakai baju gih... Siap-siap ngawas ujian" Ucap Hendra lalu buru-buru pergi meninggalkan istrinya sendiri di kamarnya.

Haura hanya mengangguk malu sambil menutupi tubuhnya sendiri. Ia merasa lega karena suaminya tidak sampai memarahinya. Tapi yang bikin ia heran. Baru kali ini ia bertemu dengan seorang lelaki yang tidak salah tingkah saat melihatnya. Padahal suaminya itu melihatnya dalam keadaan telanjang. Tapi raut wajahnya terkesan biasa saja.

Apa mungkin karena mas Hendra udah sering ngeliat aku telanjang kali yah ?

Batin Haura mencoba berfikir positif.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di tempat yang berbeda.

"Masa sih gak bisa ? Ayolah Ustadz... Ustadzah... Ustadz Fikri itu gak bersalah loh... Dia punya alasan kenapa dia sampai mukul si Lutfi" Ucap Hanna kepada Angga dan ustadzah Rania yang notabene merupakan calon suaminya dan calon ibu mertuanya.

"Masalahnya bukan disitu ustadzah... Kalau Abi sudah memutuskan... Ya sudah... Walaupun kami keluarganya, tetep kami masih susah untuk mengubah keputusan beliau" Ucap Angga menjawab permintaan calon istrinya.

"Iyya ustadzah... Bisa dibilang pak Kiyai itu keras kepala... Kadang kita aja cuma bisa nurut kalau pak Kiyai udah memutuskan sesuatu... Iyya gak ?" Ucap Rania kepada putra tirinya.

"Iyya umi... Bener... Jadi bukan bermaksud kita gak mau bantu... Kami juga tau kok si Lutfi itu orang nya gimana... Dia emang terkenal nakal disini... Tapi kalau gak ada bukti kalau ustadz Fikri memukulnya karena menemukan hape yang dibawa Lutfi, ya susah... Tapi kalau ada bukti, mungkin bisa deh kita bantu untuk membela ustadz Fikri" Ucap Angga menatap ibunya kemudian calon istrinya.

"Tapi masalahnya, kejadian itu udah dua harian loh... Kejadiannya kemarin sore terus kemarinnya lagi... Terus paginya ruang kelas dipake buat ujian... Mungkin hape yang dibanting sama ustadz Fikri udah dibuang ke tempat sampah kali" Ucap Hanna dengan nada sedih.

"Ya... Kalau begitu ya susah ustadzah... Maaf yah" Ucap Angga yang sebenarnya ngin membantu tapi memilih realistis karena ia sangat mengenal sifat ayahnya bagaimana.

"Yahhh" Ucap Hanna kecewa.

"Maaf yah ustadzah... Bukan bermaksud gak mau bantu... Tapi disini, kami sebagai keluarga tahu betul gimana pak Kiyai itu... Kalau pak Kiyai sudah memutuskan, maka mau gak mau, suka gak suka keputusannya itu harus dipatuhi... Jadi maafin ana yah gak bisa bantu" Ucap Rania merasa tidak enak.

"Maafin ana juga yah ustadzah... Sejujurnya, ana pengen banget ngusir Lutfi atau paling gak bisa membuat santri itu pergi dengan cara apapaun entah itu dengan cara meluluskannya atau mengeluarkannya... Tapi kita sebagai pengajar gak boleh bertindak dzolim seperti itu... Kalau gak ada bukti yang mengarah kalau Lutfi membawa hape sehingga ustadz Fikri sampai emosi kemudian memukulnya ya percuma... Sekali lagi maaf... Ana cuma bisa berdoa agar ustadz Fikri mendapatkan yang terbaik dari keputusan abi" Ucap Angga yang masih membuat Hanna kecewa.

"Iyya gapapa kok, Ustadz... Ustadzah... Terima kasih yah udah meluangkan waktu tuk menemui ana... Ana mau pulang dulu... Mau siap-siap ngawas soalnya... Wassalamu'aikum" Ucap Hanna berpamitan.

"Walaikumsalam... Sekali lagi... Maaf yah ustadzah" Ucap Angga merasa tidak enak.

Jawaban Hanna hanya tersenyum saat itu. Ustadzah pemilik senyum termanis itu pun pergi untuk kembali ke asrama pengajar putri untuk bersiap-siap menuju ruang kelasnya.

Sementara itu,

"Oh yah Angga... Kamu udah yakin untuk memilih Ustadzah Syifa daripada Ustadzah Hanna ?" Ucap Rania kepada putra tirinya.

"Iyya mi... Yakin... Angga lebih suka ustadzah Syifa daripada Hanna" Ucap Angga walau sebenarnya ia merasa tidak enak kepada calon istrinya sekarang.

"Terus cara kamu buat nolak Hanna gimana ? Sebentar lagi loh pernikahan kamu" Ucap Rania mengkhawatirkan Hanna.

"Loh katanya Umi yang bakal ngurus semuanya kalau Angga memilih ustadzah Syifa" Ucap Angga heran.

"Iyya... Maksudnya umi yang akan yakinin ustadzah Syifa biar mau... Tapi untuk urusan ustadzah Hanna itu loh" Ucap Rania yang membuat Angga bingung.

"Gak tau mi soal itu.... Angga masih belum kepikiran" Ucap Angga semakin merasa tidak enak pada calon istrinya.

"Huh susah nih kalau gini" Ucap Rania sambil menatap Hanna yang semakin jauh dari pandangan matanya.

"Iyya mi... Angga pusing" Ucap Angga yang juga sedang menatap Hanna dari kejauhan.

Sementara itu di perjalanan,

"Duh gimana ini ? Masa V sampai dikeluarin sih ? Yang bikin kesel tuh yah, kenapa sampai Lutfi yang membuat V dikeluarin ? Ihhh makin sebel deh sama santri nakal itu" Ucap Hanna gemas ingin menampar Lutfi.

"Tapi semoga aja bisa deh... Aku yakin pasti bisa bikin V bertahan disini... Setidaknya aku harus cari cara agar minimal hukuman yang V terima bisa dikurangi tanpa harus membuatnya dikeluarkan dari sini" Ucap Hanna bertekad.


*-*-*-*


BEBERAPA JAM KEMUDIAN DI TERAS GEDUNG KELAS

Ujian sedang berlangsung. Suasana di gedung kelas itu sungguh sunyi karena para santri sedang fokus menggarap pertanyaan demi pertanyaan yang berada di lembaran soal ujian tersebut. Pengawas ujian yang berjaga juga demikian, mata mereka begitu tajam dalam memperhatikan gerak-gerik para santri untuk meminimalisir hal curang yang kemungkinan dilakukan oleh para santri.

Sementara di luar, ustadz Angga sedang berjalan bersama seorang ustadzah berkulit bening, berparas menawan, serta berpostur aduhai. Lekukannya sungguh indah kendati ustadzah berhijab itu sedang mengenakan kemeja yang kebesaran. Tapi Angga dapat mengira-ngira lekukannya karena ia sudah pernah melihat isi dalaman dari ustadzah yang sangat ia kagumi kecantikannya. Bahkan karena ustadzah itu lah, Angga jadi bingung dalam memiliki pasangan halalnya di kemudian hari.

Hijab berwarna abu-abunya menambah kecantikan di wajahnya. Kemeja berwarna putihnya menutupi keindahan tubuhnya. Rok panjang bermotif kotak-kotak yang ia kenakan menyembunyikan keindahan kaki jenjangnya. Angga terpana, apalagi pada bentuk kakinya yang panjang. Ia sungguh ingin membelai paha mulusnya lagi lalu menaikan usapannya menuju selangkangan wanginya.

Uhhhh pasti mantep nih !

Batin Angga mulai mesum.

Namun keadaan yang tidak memungkinkan membuatnya harus kembali ke pekerjaannya dalam membagikan satu demi satu snack bersama ustadz-ustadz yang sudah terpilih untuk menjadi bagian konsumtor di kepanitiaan ujian.

“Ustadzah Syifa... Ana mau lanjut bagiin snack lagi yah... Terima kasih udah nemenin... Walau cuma ngobrol, gak tau kenapa ana udah seneng” ucap Angga yang membuat Syifa tertawa malu-malu.

“Hihihi iyya ustadz... Silahkan... Sama ana juga seneng kok” ucap Syifa tersenyum dengan anggun.

“Duhhh pagi-pagi malah disenyumin... Nanti kalau ana gak fokus gimana ustadzah ?” tanya Angga terpana.

“Hihihi makanya buruan bagiinnya... Biar bisa nemenin ana setelahnya” ucap Syifa bermanja-manja kepada lelaki yang ia cinta.

“Oke deh... Tapi nanti pas di temenin gak cuma ditemenin kan ? Boleh gak, ana icip-icip lagi ?” ucap Angga mupeng yang membuat Syifa tertawa.

“Hihihih dasar ih genit... Boleh kok” ucap Syifa malu-malu yang membuat Angga menenggak ludah tidak sabar.

“Duhh kalau gitu ana bakalan cepet deh... Jangan kemana-mana yah ! Ana tunggu nanti di tempat biasa” ucap Angga pergi berlari mengejar teman-teman bagian konsumtornya yang membuat Syifa tertawa tanpa sadar.

“Hihihihi dasar antum nih... Antum hebat deh... Gak tau kenapa, ana jadi bisa ngerasain jatuh cinta lagi ke seorang lelaki... Alhamdulillah deh, bisa normal lagi” ucap Syifa merasa lega.

Tapi bayang-bayang trauma terhadap hubungan masa lalunya kerap menghantui pikirannya. Ia takut dikecewakan oleh seorang lelaki lagi. Tapi melihat status Angga sebagai anak dari pak Kiyai dan juga ibunya yang merupakan teman satu kantornya dulu membuat Syifa merasa yakin.

“Mas Angga jelas berbeda dengan mas Fandi... Tapi masalahnya, mas Angga akan segera menikah sebentar lagi... Apa gak ada lelaki lain selain mas Angga yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta ? Masa sih lelaki yang seperti mas Angga cuma ada satu di dunia ini ? Apa aku harus keluar dari pesantren dulu yah, supaya bisa mencari lelaki yang pantas aku nikahi ? Eh enggak deh, justru kalau mau mencari suami itu di pesantren... Karena setidaknya, mereka lebih baik daripada mereka yang ada di luar pesantren” Ucap Syifa yang berbicara berdasarkan pengalamannya.

Saat ia berjalan menuju tempat biasa untuk menunggu Angga di taman dekat kantor bagiannya. Tiba-tiba dirinya menabrak seseorang yang berdiri tepat di hadapannya. Syifa terkejut, karena akibat dari tabrakannya itu membuatnya terbangun dari lamunan yang mengganggu pikirannya sejak lama.

“Ehhh maaf pakk... Maaf aku gak sengaajj . . . “ Syifa terdiam saat wajahnya ia naikan. Ia terkejut karena seseorang yang ia tabrak itu merupakan seorang lelaki tua berkulit keriput, bertubuh kurus dengan kacamata berlensa bening yang melekat di wajah jeleknya. Di tangannya ada sapu lantai yang sedang dipegang. Syifa mengenalinya. Lelaki tua itu merupakan lelaki yang sudah memperkosanya tempo hari di belakang gedung kelas.

“Pakk Prapptoo” ucap Syifa yang untungnya mengingat namanya.

“Hehehe seneng deh ustadzah, nama saya diingat” ucap pak Prapto tersenyum. Syifa ketakutan, Kakinya melangkah mundur tanpa sadar, namun lagi-lagi dirinya terhalangi oleh seseorang yang membuatnya menoleh ke belakang.

“Selamat pagi ustadzah... Huehuehue” ucap lelaki tua lain yang kini bertubuh tambun dengan kumis tebal yang melekat di wajah jeleknya.

“Pak Udin” ucap Syifa yang juga mengingat salah satu pemerkosanya yang melakukan aksinya bersama pak Prapto.

“Mmpphhhhh” desah Syifa tertahan saat tiba-tiba bokongnya diremas dengan sangat kuat oleh pak Udin dari belakang.

“Uhhhhh montoknya bokongmu ustadzah... Saya jadi gak sabar untuk menyetubuhimu lagi” ucap pak Udin yang membuat matanya membuka lebar.

“Apa ? Enggak ! Enggak pak... Aku gak mau !” ucap Syifa menggelengkan kepala menolak.

Dirinya yang masih berada di samping ruangan kelas membuatnya tak dapat berbicara keras-keras. Apalagi bokongnya sedang di remas. Ia pasti akan malu kalau ada seseorang yang memergokinya dilecehkan di samping ruangan kelas.

“Ssstttt... Tenang ustadzah... Kita berada di samping kelas loh” ucap pak Prapto menempelkan jemari telunjuknya ke bibir ustadzah cantik itu. Belum selesai, tangan satunya juga ia arahkan untuk meremas payudara sebelah kanannya dengan sangat kuat.

“Mmpphhh paakkkk” desah Syifa dengan manja.

Sontak Syifa mendesah tanpa sempat mengatur nafasnya. Desahannya sungguh manja yang membuat birahi kedua tukang sapu itu meninggi membayangkan segala kemungkinan kotor yang bisa dilakukan bersama ustadzah cantik ini.

“Lepaskkann pakk... Tolongg jangan melakukannya lagi... Aku gak mau pak... Aku gak mau melakukannya lagi...” Ucap Syifa sambil memegangi kedua tangan lelaki tua itu yang masih menjamah-jamah tubuh indahnya.

“Hehehe tenang ustadzah... Pak Udin ingin menunjukan sesuatu ke ustadzah” ucap pak Prapto yang membuat Syifa penasaran apa yang dimaksud oleh pria tua berbadan kurus itu.

“Lihat deh ustadzah... Indah bukan ?” Ucap pak Udin menunjukan hapenya yang membuat Syifa shock berat.

Astaghfirullah bapak... Apa maksud semua ini ? Hapus pak... Kenapa bapak punya video ini ?” ucap Syifa berhati-hati agar tidak didengar dengan santri yang berada di dalam ruangan kelas.

“Huehuehue... Mari berbicara di tempat lain ustadzah... Disini tempatnya kurang aman... Gimana kalau kita ke belakang gedung kelas lagi ?” Ucap pak Udin yang membuat Syifa memandang benci ke arahnya. Pak Udin pun meremas sekali lagi bokongnya kemudian melepasnya untuk memintanya bergerak mengikutinya.

“Ayo buruan... Kalau ustadzah gak mengikuti kita... Berarti ustadzah harus siap menanggung resikonya karena saya akan menyebarkan video mantap-mantap ini ke seluruh dunia... Saya yakin video ini akan viral karena ada seorang ustadzah cantik yang rela main ke belakang kelas untuk disetubuhi oleh tukang sapu seperti kita” Ucap pak Prapto terkekeh-kekeh. Ia juga meremas sekali lagi payudaranya kemudian meminta Syifa agar cepat mengikutinya.

“Mmpphhhh” desah Syifa merasakan remasan di dada dan bokongnya.

Sontak Syifa menenggak ludah. Ia pun menurut saja dengan berjalan di belakang langkah kaki mereka karena tidak mau rekaman aibnya tersebar luas di situs-situs dewasa yang ada di internet sekarang.

Sesampainya mereka di belakang gedung kelas. Pak Udin dengan nafsu langsung memegangi pinggang ramping Syifa yang membuat ustadzah bertubuh bening itu tidak merasa nyaman.

“Lepaskan pak” ucap Syifa sambil mendorong tubuh tambun itu menjauh.

“Huehuehue... Manis banget sih kamu ustadzah... Saya makin gak sabar... Udah lama saya gak mencicipi memek seorang ustadzah lagi” ucap pak Udin yang membuat Syifa semakin tidak nyaman.

Pak Prapto juga demikian. Dirinya yang terlanjur emosi pada ustadzah Syifa karena sudah dianggp merebut ustadz Angga dari tangan ustadzah Hanna ikut mendekap pinggang rampingnya. Kalau pak Udin ada di sisi kiri Syifa maka dirinya berada di sisi kanannya. Namun karena saking gemasnya tangan kiri pak Prapto langsung mendekap pipi ustadzah cantik itu lalu kemudian mencumbunya dengan penuh nafsu.

“Mmpphhh pakk... Hentikannnn” ucap Syifa sambil mendorong tubuh pak Prapto menggunakan tangan kanannya.

“Huehuehue... Saya juga mau dong” ucap pak Udin yang gentian mencengkram pipi Syifa untuk dapat mencumbu bibirnya.

“Mmpmphhh pakk... Paakkkk” bedanya cumbuan pak Udin lebih lama daripada pak Prapto. Pak Prapto lebih memilih mundur kemudian mengeluarkan hapenya untuk merekam ustadzah bertubuh bening itu yang sedang dicumbu secara paksa oleh rekan kerjanya.

“Mpphhh manisnya bibirmu ustadzah... Ouhhh puas sekali saya bisa mencumbu seorang ustadzah lagi” ucap Pak Udin mendekap tubuh ramping Syifa ke arahnya hingga perut mereka saling menempel meski terhalangi oleh pakaian yang masih mereka kenakan.

“Mphhh pakkk jangannn... Tolonggg jangann lagi pakkk” ucap Syifa sambil terus mendorong dada gemuk tukang sapu itu kendati usahanya terbilang percuma. Hal itu dikarenakan pak Udin sudah terlanjur bernafsu pada kecantikan ustadzah berkulit bening itu. Dikala tangannya mendekap kencang maka bibirnya menyosor dengan tajam.

Bibir tua tukang sapu itu dengan rakus menghujami bibir ustadzah berkulit bening itu dengan penuh nafsu. Dorongan yang terlampau kuat serta dekapan yang terlampau kencang di pinggangnya membuat Syifa tidak bisa mengelak kendati kepalanya sudah berusaha untuk ia alihkan dari bibir lelaki jelek itu. Apalagi saat pak Udin membuka mulutnya untuk mencaplok kedua bibir ustadzah Syifa sekaligus. Syifa jadi jijik karena dirinya mulai menghirup aroma busuk dari nafas tukang sapu berkumis tebal itu yang aromanya seperti aroma lelaki yang belum gosok gigi.

Tapi itu belum seberapa, karena tiba-tiba pak Udin melepaskan cumbuannya hanya untuk menatap wajahnya. Masalahnya desahan nafas tukang sapu itu yang hangat menerpa wajah cantiknya sekaligus mengenai hidung mancungnya. Otomatis Syifa semakin merasakan aroma busuk dari lelaki tua itu.

“Indah sekali wajahmu ustadzah... Ustadzah juga tinggi... Ustadzah selera saya banget pokoknya... Huehuehue” ucap pak Udin memuji kecantikan Syifa sebelum bibirnya kembali datang untuk menerkam bibir sang ustadzah.

“Mmpphh hentikannn... Mmpphhh pakkkk” desah Syifa terus berusaha menjauhkan tubuh tukang sapu itu dari tubuhnya.

Ia yang mempunyai tinggi sekitar 161 cm ditambah dengan sepatu haknya yang setinggi 2 cm membuat posturnya sekarang mencapai 163 cm. Postur yang cukup tinggi untuk seorang wanita yang hidup di negeri Indonesia. Pak Udin jadi semakin bernafsu pada keelokan ustadzah itu. Meski ia sudah mempunyai Rachel sebagai pelampiasan nafsunya. Tapi ia lebih bernafsu pada Syifa karena bersama Syifa dirinya jadi bisa menjebol kemaluannya menggunakan tombak saktinya.

Bibir bagian atas Syifa diemut. Ia juga dapat merasakan jilatan lidah tukang sapu itu yang sedang membasahi bibir atasnya. Tiba-tiba remasan kuat yang ia terima di dadanya membuat ustadzah berkulit bening itu merinding merasakan sensasinya. Rupanya pak Udin tidak tahan lagi sehingga tangan kirinya ikut bergabung dengan mencumbui payudara sebelah kanan Syifa.

Mereka pun terus bercumbu dalam posisi saling berhadap-hadapan. Pak Prapto mendekat agar dirinya dapat mengambil gambar yang pas dalam merekam aksi percumbuan yang sangat panas ini.

“Mmpphhh pakk... Mmphhh sudahhh pakk... Jangan lagiii... Tollongggg” Syifa yang sedang memejam tak menyadari apa yang sedang pak Prapto lakukan. Remasan terus menerus yang pak Udin layangkan di payudaranya dengan kuat membuatnya terpaksa memejam untuk menahan nafsu birahi tukang sapu itu. Kini tangan kanan pak Udin yang ikut bergabung. Tangannya itu mencengkram kuat bokong montoknya. Syifa jadi makin mendesah. Tangan kirinya berusaha menjauhkan tangan kanan pak Udin di bokongnya. Tapi lagi-lagi percuma, karena nafsu pak Udin sudah mengalahkan segalanya.

“Mmmuuaahhh... Giliranmu pak” ucap pak Udin melepas cumbuannya kemudian mendorong tubuh Syifa ke arah pak Prapto.

“Ini pegang pak” ucap pak Prapto mengoper hapenya ke pak Udin agar rekan kerjanya itu bisa merekam dirinya yang akan mencumbu pelakor yang sudah membuat ustadzah Hanna bersedih.

“Uhhhhhh” desah Syifa saat tubuhnya dihempaskan ke tembok kelas bagian belakang. Untungnya di balik tubuh Syifa yang sedang bersandar itu. Hanyalah sebuah gudang sedangkan ruangan kelas masih ada di sebelahnya lagi. Ia jadi lega karena suara desahannya masih cukup jauh dari tempat santri-santri ujian.

Mata Syifa memelas saat menatap wajah tukang sapu bertubuh kurus itu. Ia berharap pak Prapto bisa melepaskannya. Tapi semua percuma saat wajah jeleknya kian dekat untuk mencumbu bibirnya. Sontak Syifa memejam tak kuasa melihat buruknya wajah dari tukang sapu itu.

“Mmpphhhhhh” desah Syifa dengan manja yang semakin membangkitkan birahi pak Prapto.

Kedua tangan Syifa dicengkramnya lalu ditempelkan ke dinding yang berada di belakangnya. Tangannya itu di angkat di sisi kanan kiri tubuhnya. Tubuh Syifa jadi tak berdaya saat bibir pak Prapto dengan lugas merangsang bibirnya hingga lemas.

Pak Prapto memejam merasakan sentuhan manis dari bibir tipis ustadzah itu. Pak Prapto mendorong bibirnya. Ia menekan bibir ustadzah cantik itu menggunakan bibirnya sendiri. Tercium aroma nafas sang ustadzah yang membuat pak Prapto jadi semakin bergairah. Aroma nafasnya yang bikin nafsu membuat mulut lelaki tua itu membuka untuk mencaplok bibir bagian bawahnya.

“Mmpphh hentikannn... Hentikaannnnn” desah Syifa pasrah.

Kedua bibirnya sudah mengapit bibir bagian bawah Syifa. Pak Prapto pun dapat merasakan rasa manis dari liur yang berkumpul di bibir ustadzah cantik itu. Ia kemudian menghisapnya dengan kuat. Lalu lidahnya keluar untuk membasahi bibir bagian bawahnya. Lalu ia menghisapnya lagi. Lalu membuka mulutnya lagi untuk mencaplok bibir bagian atasnya. Ia benar-benar bernafsu sekarang. Matanya masih memejam karena hanyut dalam kenikmatan yang ia dapatkan dari bibir ustadzah cantik itu.

“Inilah akibatnya ustadzah karena sudah menjadi pelakor” ucap pak Prapto yang membuat Syifa membuka matanya lebar-lebar.

“Maksud bapak ?” ucap Syifa kebingungan karena belum menyadari apa yang tukang sapu itu maksud.

Masalahnya pak Prapto tidak langsung menjawabnya karena lidahnya dengan paksa sedang merengsek masuk ke dalam mulut ustadzah berkulit bening itu. Syifa yang tak siap setelah tadi berbicara harus pasrah saat lidah itu bergerak bebas di dalam rongga mulutnya.

Lidah pak Prapto menari-nari di dalam. Lidahnya dengan bahagia menjilati keseluruhan rongga yang ada di dalam mulut Syifa. Lidahnya kemudian menubruk lidah ustadzah cantik itu. Lidahnya mendorongnya. Lidahnya menggesek sisi bagian atas lidahnya. Lidahnya juga menekan-nekan lidah Syifa ke bawah. Lidahnya kemudian menarik paksa lidah Syifa hingga tak sadar Syifa menjulurkan lidahnya keluar.

“Mmpphhh... Maksud saya ? Ustadzah gak ngerasa udah jadi pelakor ?” ucap Pak Udin sambil mengulum lidah bidadari cantik itu.

Syifa tidak bisa menjawab karena lidahnya sedang dihisap sekuat-kuatnya oleh tukang sapu itu. Pak Prapto mengapit lidah Syifa dengan kuat. Mulutnya dengan rakus menghisap lidah Syifa dengan sangat nikmat. Berulang kali lidahnya merangsang lidah Syifa di dalam. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling siku. Lidah mereka saling sikat untuk dapat merasakan sensasi nikmat.

Syifa hanya bisa pasrah merasakan lidahnya babak belur setelah dipuasi oleh tukang sapu itu. Kedua tangannya yang masih dicengkram oleh pak Prapto berusaha terus ia gerakan. Kedua kakinya hanya bisa menghentak-hentakan tanah yang ia pijak. Syifa tidak sanggup melawan. Dirinya hanya bisa pasrah membiarkan pejantannya memuasi tubuh indahnya.

“Uuuuhhhhhhh” desah Syifa saat tangan pak Prapto melepas cengkramannya lalu berpindah dengan meremas dada besarnya. Usapan tangan pak Prapto kembali turun lalu bergerak naik lagi untuk meremas dada ustadzah pesantren itu dengan sangat kuat.

“Uhhhhhh pakkkkk” desah Syifa hingga merinding hebat. Lidahnya sendiri sudah keluar dari gua tukang sapu itu. Tapi bibirnya sedang dicumbui lagi olehnya. Bibirnya didorong oleh tukang sapu itu dikala dadanya terus-terusan diremas olehnya.

“Huehuehue... Dah makin jago kayaknya... Dengan siapa yah dia latihan selama ini ? Kok jago bener ?” lirih pak Udin penasaran mengomentari keahlian pak Prapto dalam mencumbu bibir Syifa.

“Meskipun ustadzah cantik... Tapi gak sepantasnya bagi ustadzah untuk merebut hati lelaki itu... Dia akan menikah, ada seorang ustadzah yang menantinya disana... Kenapa ustadzah tega sekali untuk merebut hati ustadz itu dari ustadzah Hanna ?” ucap Pak Prapto sambil menarik paksa kancing kemeja yang Syifa kenakan hingga seluruh kancingnya itu terjatuh berceceran di tanah.

Brreeettttt !

“Aaahhhhh bapakkkk” Ucap Syifa terkejut mengetahui kemeja favoritnya sudah dirusak oleh tukang sapu itu.

“Kenapa ustadzah ? Kenapa ustadzah tega ?” Ucap pak Prapto yang langsung menurunkan cup branya kemudian menghisap puting berwarna merah muda itu dengan penuh nafsu.

“Aaahhh pakkkk... Aaahhhhhh... Apaa maksud bapakkk ? Aku gak paham apa yang bapak ucapkan” jerit Syifa masih berkelit. Namun sebenarnya ia mulai memahami ke arah mana pembicaraan tukang sapu ini.

“Maksud saya ? Dikira saya gak tahu apa ? Bahkan tadi saja saya mendengar percakapan kalian... Pasti selama ini ustadzah menggodanya dengan keseksian tubuh ustadzah kan ? Mmpphhhh... Ssllrrppp” ucap pak Prapto lalu kembali mencumbu payudaranya juga menghisap putingnya dengan sangat kuat.

“Aaahhhhh ituuu... Ittuuuuuuuuu... Mmpphhhh” desah Syifa merinding hingga matanya memejam kemudian wajahnya ia angkat ke arah langit lepas.

Kenapa Pak Prapto bisa tahu ? Kenapa Pak Prapto tahu kedekatanku dengan ustadz Angga ? Apa ustadzah Hanna yang marah kemudian menyuruh pak Prapto melakukannya ? Enggak... Enggak mungkin... Aku tahu ustadzah Hanna gimana... Dia bukan orang jahat seperti yang di film-film... Apa mungkin pak Prapto tanggap dengan sendirinya setelah melihat ustadzah Hanna sedih melihat kedekatanku dengan ustadz Angga ?

Batin Syifa menggunakan feeling-nya.

“Apa ustadzah... Cepat ucapkan alasanmu... Sebelum saya menyerahkan tubuhmu ke pak Udin lagi” ucap pak Prapto yang membuat Syifa ketakutan.

Namun Syifa yang ketakutan membuat mulutnya tak bisa mengucapkan apa-apa. Ia hanya bisa mendesah saat payudaranya terus dikulum oleh pak Prapto dengan penuh nafsu.

“Ini pak... Lanjutkan !” ucap pak Prapto mengoper Syifa ke pak Udin lagi. Sama halnya dengan tubuh Syifa. Hape yang pak Udin pegang dioper balik ke pak Prapto lagi.

“Huehuehue... Siap pak... Akhirnya” Ucap pak Udin tersenyum dengan nafsunya sambil memandangi wajah cantik Syifa.

“Paakkk jangannn pakkk... Jangaannnn” Ucap Syifa ketakutan melihat wajah jeleknya.

“Huehuehue... Mmpphhh... Mantapnya susumu ustadzahh... Sllrrppp mpphhhh pentilmu juga... Ouhhh puasnya saya bisa ngeremes-remes susu indahmu lagi, ustadzah” ucap pak Udin sambil mencumbu payudara indah Syifa lalu menjilati putingnya hingga Syifa merinding merasakan jilatannya yang penuh nafsu.

“Mmpphh pakk... Mmphhh... Ouuuhhhh” desah Syifa merinding nikmat.

Dikala mulutnya terus mencumbui kedua payudaranya secara bergantian. Kedua tangannya bergerak ke arah bokong montoknya untuk menurunkan rok panjang yang dikenakannya.

“Aaahhhh bapaakkkkk...” Syifa terkejut saat roknya tiba-tiba dipelorotkan olehnya. Tangan Syifa yang hendak menahannya tidak sempat. Rok itu sudah turun hingga tiba di pergelangan mata kakinya.

“Huehuehue indahnyaaa” ucap pak Udin sambil menekan bibir vagina Syifa dari luar celana dalam yang dikenakannya.

“Uhhhhhhh bapaakkkk” desah Syifa hingga mendongakkan wajahnya ke langit. Desahannya yang mantap membuat pak Udin semakin bersemangat dalam menjilati dadanya sambil terus menekan-nekan celana dalamnya yang perlahan mulai dibanjiri cairan cintanya.

“Aahhhh... Aahhhhh... Pakkk hentikaann... Uhhhh... Mmpphhh pakkkk” desah Syifa menggelengkan kepala merasakan nikmat di vaginanya. Kendati ia sedang diperkosa. Ia tidak dapat membohongi diri kalau sejatinya ia mulia menikmati pemerkosaan yang dilakukan oleh dua tukang sapu itu.

“Huehuehue... Ustadzah mulai keenakan kan ? Coba sekarang nikmatilah jemari saya ini” ucap pak Udin sambil memasukan jemari telunjuk dan jemari tengah di tangan kanannya ke dalam celana dalam Syifa.

“Enggakk... Enggakk... Aaaahhhhhhhhhhh” desah Syifa dengan keras hingga kedua tangannya mencengkram seragam kerja yang masih pak Udin kenakan.

Desahannya sangat manja saat bibir vaginanya tersentuh oleh jemari gemuk tukang sapu itu. Apalagi saat jemari pak Udin perlahan mulai membelah liang senggamanya. Jemarinya itu mulai diselimuti oleh cairan cintanya yang lengket. Jemarinya pun bergerak keluar masuk setelah sebelumnya menggesek bibir vaginanya terlebih dahulu.

“Aaaahhhh... Aahhhh... Baapakk... Udahhh pakk... Uhhhhhh” desah Syifa memejam menahan kenikmatan yang ia dapatkan.

“Huehuehue udah apanya... Ustadzah sendiri keenakan juga kan ?” ucap pak Udin yang membuat wajah Syifa memerah malu.

Pak Prapto pun terus merekam sambil memperhatikan cara pak Udin dalam merangsang tubuh Syifa. Siapa tahu ia dapat ilmu baru untuk memuaskan ustadzah Hanna kapan-kapan.

Suara desahan Syifa membuat pak Udin tidak sanggup menahan diri lagi. Kedua tangannya langsung memelorotkan celana dalamnya. Dirinya langsung berjongkok kemudian mengeluarkan lidahnya untuk menjilati bibir vaginanya yang lembap.

“Aahhhh pakkk jangann dijilattt... Aahhh geliii... Aaahhh paaakkkk” desah Syifa yang mempunyai kelemahan saat vaginanya dijilat. Ia jadi teringat sensasi nikmat saat merasakan jilatan Salwa dan jilatan ustadzah Diah tempo hari. Jilatan yang membuatnya melayang ke angkasa. Itu jugalah yang ia rasakan saat vaginanya dijilati oleh lidah tukang sapu berkumis tebal itu.

Dari bawah pak Udin dapat melihat keindahan liang senggama itu. Lidahnya kembali ia julurkan untuk menoel-noel bibir vaginanya. Sontak Syifa merasa malu sekali mengetahui pak Udin menatapi vaginanya dengan jarak sedekat itu. Namun belum sempat ia mendorong kepala tukang sapu itu menjauh. Bibir vaginanya kembali dijilat. Bahkan jilatan lidah pak Udin itu sudah membelah liang senggamanya yang membuat Syifa merasakan efek seperti tersetrum dengan daya berkekuatan rendah.

“Aaahhhhh bappaaakkkk” jerit Syifa dengan manja.

Pak Udin hanya tertawa sambil terus menjilati vagina Syifa. Dengan rakus lidahnya itu keluar masuk di dalam vaginanya. Lidahnya juga menjilati tiap senti dinding vaginanya di dalam. Pak Udin seolah tidak mau meninggalkan satu sentipun dinding vaginanya yang tidak terjilati oleh lidah liarnya.

Kedua tangan pak Udin juga terus mengusap-ngusap paha mulusnya. Akibatnya Syifa makin terangsang. Ustadzah yang masih mengenakan hijab berwarna abu-abu serta kemeja berwarna putih yang sudah terbuka menampakan kedua payudaranya yang mengintip dari balik behanya itu semakin bernafsu. Sisi bagian bawahnya tidak tertutupi apa-apa lagi selain kaus kaki beserta sepatu berhak tingginya yang itu juga tertutupi oleh rok panjangnya juga celana dalamnya.

Syifa heran saat nafasnya semakin kencang. Libidonya meninggi. Pemerkosaan yang sedang dialaminya tiba-tiba berubah menjadi kepuasan saat dirangsang oleh tukang sapu itu.

Mmpphh... Mmphhhh... Kenapa aku jadi kerangsang gini sih ? Mmphhh lawan Syifaaa... Jangan turuti hawa nafsumu !

Batin Syifa keheranan.

Ditengah nafsu yang semakin mendekati puncak. Pak Udin kembali berdiri lalu membalikan tubuh Syifa hingga ustadzah berkulit bening itu menghadap ke dinding. Kedua tangannya bertumpu disana lalu tubuhnya agak sedikit diturunkan hingga posisinya mirip seperti orang yang agak menungging.

“Ehhh bapak ?” Ucap Syifa terkejut saat tiba-tiba bibir vaginanya tersentuh oleh ujung gundul penis pak Udin yang entah sejak kapan sudah dikeluarkan. Saat Syifa menoleh ke belakang. Rupanya pak Udin juga sedang mempreteli seragam kerjanya. Rupanya saat dirinya menungging pak Udin buru-buru menelanjangi dirinya sendiri.

“Huehuehue... Siap keenakan ustadzah ?” ucap Pak Udin yang sudah bertelanjang bulat sambil memegangi pinggul ramping Syifa.

“Pakkk jangann... Jang... Ouuhhhhh” desah Syifa saat penis hitam berkepala plontos itu dengan kuat mulai membelah liang senggamanya. Sontak Syifa memejam nikmat. Kedua tangannya sampai membuka dan menutup di belakang dinding gedung kelas itu. Apalagi pak Udin sedang mendorong pinggulnya dengan kencang. Vaginanya yang sudah basah otomatis memudahkan jalan tombak sakti itu untuk menusuk titik terdalam dari rahim kehangatannya.

“Aaahhhh nikmatnyaaaaa” desah Pak Udin memejam untuk menikmati penetrasi ternikmatnya.

Pak Prapto yang melihatnya jadi bernafsu terbukti dari penisnya yang mendorong celananya hingga menciptakan tonjolan disana. Karena tak tahan ia pun mengeluarkan penisnya sambil merekam aksi persetubuhan terpanas yang dilakukan oleh seorang ustadzah dan tukang sapu kelas.

“Pakkkk tunggguuuu” ucap Syifa saat penis hitam itu ditarik lagi secara perlahan. Tarikannya yang lembut membuat dinding vaginanya tergesek dengan sangat mantap. Lalu tiba-tiba pak Udin mendorongnya lagi hingga membuat Syifa merinding merasakan kenikmatannya. Ia jadi lupa kalau dirinya saat ini sedang diperkosa oleh tukang sapu itu. Dirinya yang mulai terbiasa merasakan penis seorang lelaki lagi membuatnya hanyut pada penetrasi yang dilakukan oleh tukang sapu itu.

Jlleeeebbbbb !!!

Tiba-tiba pak Udin menancapkan penisnya dengan kuat setelah sebelumnya menariknya dengan perlahan.

“Aaaahhhhhh” desah Syifa dengan manja.

Pak Udin kembali menariknya pelan lalu menusuk vagina sempit itu menggunakan tombak saktinya.

“Aaahhhh paakkkk dalemmm bangetttt.... Ouhhhh” desah Syifa merasakan betapa dalamnya penis itu menusuk vaginanya.

Setelah pak Udin merasa kalau vagina Syifa mulai longgar. Pinggulnya mulai bergerak secara stabil untuk memuaskan birahinya yang sedang tersalurkan dengan baik di rahim ustadzah cantik itu.

"Ouhhhhh... Ouhhhhh... Mantap sekali memekmu ustadzaahh... Mmpphhh... Mmpphhh yahhhh... Iyyaahhh" Desah pak Udin sambil memegangi pinggulnya memborbardir kemaluan Syifa dengan kecepatan sedang.

"Ahhhh... Aahhhh.... Pakkk... Jangannnn... Sudahhh pakk... Sudahhh" Desah Syifa sambil terdorong maju mundur.

Tangan pak Udin bergerak naik meraba punggung mulus Syifa dari balik kemeja yang masih ia kenakan. Kulit lembutnya membuat pak Udin semakin menikmati persetubuhan dengannya. Tangannya kembali turun ke arah pinggulnya sebelum naik lagi tuk meremas buah dadanya yang meloncat-loncat. Pak Udin menarik beha yang masih melekat disana ke bawah hingga payudara Syifa semakin bebas meloncat-loncat disana.

"Aahhhh.... Aahhhh... Aahhhh... Paakkkkkk mmpphhh" Desah Syifa memejam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Syifa merasa kalau penis pria tua itu semakin keras saja saat menggesek vaginanya. Ia juga merasa kalau penis pria tua itu semakin dalam saja saat menusuk vaginanya. Payudaranya yang agak terbebas bergerak semakin cepat. Hentakan tukang sapu itu terasa semakin kuat seiring nafsu buasnya yang perlahan semakin besar.

Tukang sapu yang sangat beruntung itu memelintir puting Syifa. Ia juga menariknya. Ia juga menekannya ketika pinggulnya terus maju mundur menghajar rahim ustadzah berkulit bening itu.

"Oouhhhhh... Mmmphhh... Mmpphh" Syifa teringat kalau dirinya saat ini sedang di setubuhi di belakang gedung kelas. Tangan kanannya pun reflek menutupi mulutnya agar tidak mendesah semakin keras.

Tapi masalahnya sodokan pak Udin justru semakin cepat yang membuat tubuhnya terhentak-hentak ke depan. Ia jadi ingin berteriak sekeras-kerasnya namun terhalang oleh keadaan. Akhirnya Syifa hanya bisa pasrah dalam menahan tusukan penis tukang sapu berbadan tambun itu yang semakin dalam menusuk vaginanya.

"Pakkkk... Mmpphhh... Mmpphhh" Desah Syifa kewalahan.

Pak Udin tersenyum puas sambil geleng-geleng kepala karena takjub akan sempitnya kemaluan seorang ustadzah. Maklum, meski sudah berkali-kali menyetubuhi anus ustadzah Rachel tapi baru kali dirinya merasakan jepitan kemaluan seorang ustadzah lagi setelah sekian lama. Nafsunya pun membesar membuat penisnya berdenyut-denyut di dalam.

"Gawwaaatttt... Mmpphhh" Desah pak Udin menusukkan pinggulnya kemudian buru-buru mencabutnya karena nyaris mendapatkan orgasmenya.

"Aaahhh paakkk" Desah Syifa dengan manja saat penis tukang sapu itu tercabut dari dalam vaginanya.

"Wooaahhh gilaa... Hah... Hah... Hah... Saya sampai nyaris keluar ustadzah... Huehuehue... Puas sekali saya ngerasain memekmu... Sekarang giliranmu lagi pak" Ucap pak Udin kembali mengopernya ke pak Prapto. Pak Udin dengan tanggap meraih hape yang pak Prapto berikan. Saat tubuh Syifa dioper ke pak Prapto. Syifa baru menyadari kalau selama ini dirinya direkam oleh sebuah hape. Namun energinya yang sudah banyak terkuras membuatnya hanya bisa mendesah dengan nafas yang terengah-engah.

"Uhhhhh" Desah Syifa saat tubuhnya dibalik sehingga punggungnya bersandar lagi ke tembok gedung kelas.

Saat Syifa menatap wajah pak Prapto. Ia terkejut karena ekspresi wajah tukang sapu itu terlihat serius. Tukang sapu berbadan kurus itu terlihat kesal saat menatap dirinya. Syifa jadi was-was kalau ditanya soal hubungannya dengan Angga lagi. Ia memilih membuang muka disaat salah satu kakinya diangkat oleh tukang sapu itu.

Pak Prapto masih berpakaian lengkap hanya saja penisnya sudah keluar dari dalam resleting celananya. Sambil mendekap kaki kanan Syifa menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya mengarahkan penisnya untuk masuk ke dalam vagina yang sudah sangat basah itu.

"Uhhhhhhhh" Desah Syifa memejam merasakan tusukan yang begitu nikmat dari tukang sapu itu.

"Katakan yang jujur ustadzah... Ustadzah yang lebih dulu menggoda ustadz Angga kan ?" Ucap Pak Prapto sebelum mulai menghentakkan pinggulnya. Tapi Syifa memilih diam. Ia hanya menunduk tak berani menatap wajah tukang sapu itu.

Jleeebbb !

"Uhhhh paaakkkk" Desah Syifa saat tiba-tiba penis pak Prapto melesat masuk. Namun setelah penisnya masuk, pak Prapto justru menarik penisnya lagi secara perlahan hingga gesekannya merangsang birahi Syifa. Pak Prapto terus menariknya hingga menyisakan ujung gundulnya saja yang ada di dalam.

"Gimana ? Ustadzah pelakor ?" Ucap pak Prapto yang lama-lama membuat Syifa tersinggung dengan penyebutan itu.

"Jangan pernah menyebut aku dengan sebutan itu lagi kalau bapak gak tau apa yang sebenarnya terjadi !" Ucap Syifa tiba-tiba menjadi berani.

Jleeebbbb !

"Uuuhhhhhhh" Desah Syifa hingga mendongakkan wajahnya ke langit lepas.

"Terus apa ? Jelaskan dong ustadzah... Biar saya gak salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa ustadzah belakangan ini jadi dekat dengannya ? Bahkan kemarin saya lihat ustadzah kok sampai pegang-pegangan tangan dengannya ?" Ucap pak Prapto sambil menarik penisnya lagi yang membuat Syifa merinding merasakan sensasinya.

"Uhhhhh iyyahh... Hah... Hah... Hah" Ucap Syifa terengah-engah sambil menatap wajah pak Prapto. Kendati wajah Syifa jadi terlihat menggairahkan. Tapi pak Prapto ingin menjaga nafsunya sebelum tahu cerita yang sebenarnya terjadi kenapa Syifa sampai berani merebut hati Angga dari Hanna.

"Ini bukan salahku... Ustadz Angga sendiri yang tiba-tiba mendekatiku pak... Aku tahu kalau ustadz Angga mau menikah... Tapi ia terus mendekatiku yang akhirnya bikin aku baper kepadanya, pak" Ucap Syifa menceritakan semuanya.

"Oh yah... Lalu, sudah berapa kali ustadzah bercinta dengannya ?" Ucap pak Prapto penasaran.

Syifa jadi menunduk karena ragu untuk menjawabnya. Karena seingatnya semenjak persetubuhannya pertama kali dengan Angga dan ustadzah Rania. Hampir tiap hari ia melakukan persetubuhan dengan Angga. Apalagi belakangan ini ketika pak Kiyai sedang pergi. Bahkan ustadzah Rania sampai ikut bergabung untuk memuasi Angga bersama-sama. Tak jarang juga dirinya hanya berciuman dengan ustadzah Rania demi memuaskan fantasi Angga. Syifa pun berfikir. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan tukang sapu ini ?

"Baik... Pertanyaannya saya ganti... Dalam 3 hari terakhir ini... Berapa kali ustadzah tidak bercinta dengan ustadz Angga ?" Kata pak Prapto yang mengejutkan Syifa.

Syifa mencoba mengingatnya. Ustadzah cantik yang sedang setengah telanjang itu dengan lemah hanya bisa menggelengkan kepala petanda kalau dirinya selalu bersetubuh dengan Angga selama 3 hari belakangan ini.

"Dasar pelakor !" Ucap Pak Prapto kesal sehingga dirinya langsung menghempaskan pinggulnya tuk menusuk rahim kehangatannya.

"Aahhhh pakkk... Tunggu pakkk... Uhhhhh" Desah Syifa terkejut karena meski pak Prapto sudah menusuk vaginanya menggunakan penisnya. Tapi pak Prapto masih terus mendorong pinggulnya seolah tukang sapu itu masih merasa belum cukup tuk menenggelamkan penisnya di rahim kehangatan ustadzah berkulit bening itu.

"Huehuehue... Hukum saja dia pak... Inget gak dulu ? Sebelum kita setubuhi, ustadzah cantik ini bisanya cuma main sama temen-temen ustadzahnya... Eh masa pas kita kenalin sama kontol langsung menggoda calon suami orang sih ? Bukannya itu keterlaluan pak ?" Ucap pak Udin memanas-manaskan.

Pak Prapto yang sedang emosi semakin kesal mendengar ucapan rekan kerjanya itu. Ia pun bertekad untuk melampiaskan seluruh nafsunya untuk memberikan pelajaran pada ustadzah berkulit bening ini.

"Bukann pakkk... Bukan seperti itu... Aku gak bermaksud menggoo... Uhhhhh" Ucap Syifa terpotong saat pak Prapto mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.

"Katakan itu nanti ustadzah... Setelah saya mengajarimu cara menggunakan memekmu dengan baik" Ucap pak Prapto yang masih kesal karena sudah membuat ustadzah Hanna jadi bersedih.

"Uhhh pakkk... Uhhhhh... Maaafff... Maaffkann akuu pakk... Tapi jujur, aku gak menggodanyaaaa aahhhh... Ahhhhh" Desah Syifa dengan keras akibat sodokan pak Prapto semakin kuat.

Pak Udin hanya tertawa melihat pak Prapto sudah mampu mengendalikan nafsunya dengan baik. Ia pun senang melihat ustadzah Syifa tak berdaya saat dihujami oleh penis pak Prapto.

Syifa mendesah. Syifa merintih. Syifa memejam menahan tiap tusukan yang pak Prapto lakukan di vaginanya. Ustadzah berkulit bening itu tak berdaya meladeni amarah dan nafsu yang tercampur menjadi satu di tubuh pak Prapto. Punggungnya terdorong-dorong ke dinding. Kedua tangannya memegangi bahu tukang sapu itu agar tidak terjatuh. Kakinya sampai bergetar saat dinding vaginanya tergesek dengan kuat akibat dorongan penis hitam itu.

"Aahhhh... Aahhhh... Rasakan ini ustadzaahhh... Ini akibatnya karena ustadzah berani menyakiti ustadzah Hanna... Hennkghhhh !!!" Desah pak Prapto mempercepat sodokannya.

"Ahhh... Aahhhh... Maaff pakk... Maafin akuuu... Aku gak bermaksud... Uhhhhhh" Desah Syifa dengan mantap.

"Ahhh.... Ahhh nikmatnyaaa... Nikmat sekali memekmu ustadzahh... Ouhhhh yahhhh" Desah pak Prapto dengan sangat puas merasakan genjotan di tubuhnya.

Sembari pinggulnya berpacu, kedua tangannya terus meremas-remas susu bulat itu. Pak Prapto kadang mencubitnya, kadang juga menariknya tapi ia lebih sering menekannya yang membuat Syifa menjerit penuh kenikmatan. Akibat terlalu bernafsu saat menyetubuhi kemaluan Syifa, pak Prapto merasa kalau penisnya mulai berdenyut pelan.

"Ahhhh siaallll" Ucap pak Prapto buru-buru mencabut penisnya lalu mengatur ulang nafasnya sehingga spermanya tidak jadi keluar.

Syifa langsung ambruk dalam keadaan berlutut ke tanah. Dirinya begitu kelelahan setelah dimasuki oleh dua penis yang berbeda dalam jarak waktu yang berdekatan. Kedua tangannya pun ikut ambruk memegangi tanah. Keringat di wajahnya terlihat begitu deras. Ia benar-benar lelah. Ia juga terengah-engah.

"Ustadzahh" Panggil pak Udin mengangkat tangan kiri Syifa.

"Ayo bangun" Ucap pak Prapto mengangkat tangan kanan Syifa.

Syifa terkejut karena rupanya mereka berdua sudah bertelanjang bulat di kanan kirinya. Penis hitam mereka juga sudah dipamerkan tepat di pipi kanan kirinya. Berulang kali penis mereka secara bergantian menyentuh pipinya. Pipi kirinya berulang kali dicium oleh penis pak Udin sedangkan pipi kanannya berulang kali dicium oleh penis pak Prapto. Seketika Syifa sadar akan tugas yang harus dilakukannya.

"Ayo emut kontol saya ustadzah" Pinta pak Udin tak sabar.

"Lakukan ustadzah... Tebus dosamu sekarang" Ucap pak Prapto sambil mengarahkan penisnya ke bibir Syifa. Syifa merasa risih ketika wajah cantiknya malah disodori oleh penis-penis keriput berukuran besar. Apalagi saat wajahnya ia naikan untuk menatap wajah-wajah mereka. Pak Udin sedang tersenyum mesum menanti penisnya dilayani oleh dirinya. Pak Prapto juga demikian. Wajahnya terlihat bernafsu kendati matanya masih menyimpan dendam padanya.

Syifa jadi takut. Kalau ia harus menerima hukuman akibat dirinya telah merebut Angga dari Hanna, ya gapapa. Syifa pasti akan legowo untuk menerimanya. Tapi untuk kasus ini, dirinya tidak benar-benar bersalah karena sejatinya Angga juga yang sudah membuatnya jatuh cinta sehingga dirinya tidak bisa menolak ajakan Angga yang selalu ingin bersetubuh dengannya hampir tiap hari.

"Sekarang ustadzah !" Bentak pak Prapto yang akhirnya membuat Syifa terpaksa mengangkat tangannya tuk mendekap batang penis mereka berdua.

Dalam perasaan terpaksa meski hati sangat tidak menyukainya. Kedua tangannya mulai mengocok-ngocok kedua penis tukang sapu itu secara bersamaan. Tangan kirinya mengocok penis pak Udin sedangkan tangan kanannya mengocok penis pak Prapto.

"Aahhhh... Aahhhh yang cepatt ustadzahh... Gunakan mulutmu juga" Ucap pak Prapto yang bertindak sebagai bos disini.

"Huehuehue... Saya juga dong ustadzah... Masukin kontol saya ke mulut ustadzah" Ucap pak Udin sambil menatap Syifa yang semakin terlihat menggairahkan dengan kemeja yang sudah terbuka serta beha yang menyangkut di bawah payudaranya.

"Iyya pak" Ucap Syifa dengan lirih karena begitu takut.

Pelan-pelan Syifa membuka mulutnya untuk mengulum penis pak Prapto terlebih dahulu. Penis yang dimiliki oleh tukang sapu bertubuh kurus itu di lahapnya. Mulutnya sudah memasukan ujung gundulnya. Secara perlahan mulutnya bergerak maju sehingga hampir setengah dari penis pak Prapto tertelah di mulutnya. Lalu mulutnya mundur lagi hingga menyisakan ujung gundulnya saja di dalam mulutnya. Lidahnya juga ikut bergerak dengan menggelitiki lubang kencingnya. Mulutnya kembali maju, kedua bibirnya menjepit penis itu. Lalu ia mundurkan mulutnya hingga kedua bibirnya menyapu kulit penis pak Prapto yang membuat tukang sapu itu merinding merasakan sensasinya.

Ia kemudian berpindah dengan mengulum penis pak Udin yang berada di tangan kirinya. Penis pak Udin yang terlihat lebih gemuk sesuai dengan proporsi tubuhnya yang tambun mulai ia masukan ke dalam mulutnya. Tangan kirinya masih mengocok penis pak Udin kendati mulutnya diisi oleh ujung gundulnya. Lalu kemudian Syifa meletehkannya lalu menempelkan tepi bibirnya di ujung gundul penis tukang sapu itu. Syifa seperti sedang mengecupnya. Namun tangan kirinya terus menerus mengocok batang penisnya hingga membuat Pak Udin merinding merasakan sensasinya. Lidah Syifa dijulurkan. Lidah itu menyentuh lubang kencing pak Udin. Lagi-lagi Syifa hanya membiarkan lidahnya menyentuh lubang kencingnya dikala tangan kirinya terus mengocok batang penisnya.

"Ahhhhh.... Ahhhhh... Nikmat sekali ustadzahh... Masukin donggg... Bikin gemes aja sihhh" Ucap pak Prapto yang ingin sekali dikulum oleh ustadzah berkulit bening itu.

"Iyyahh pakkk... Mmpphhh" Desah Syifa mulai memasukan penis pak Udin di dalam mulutnya. Tangan kanan Syifa berpindah dengan melepas penis pak Prapto. Kedua tangannya kini berada di paha kanan kiri pak Udin. Tanpa memeganginya, mulut Syifa bergerak maju mundur mengulum penis pak Udin. Setengah dari penisnya di kulum. Bahkan hampir 3/4 penisnya masuk ke dalam mulutnya. Pak Udin jadi blingsatan. Belum pernah ia dikulum oleh seorang ustadzah yang sangat bernafsu seperti ini. Pak Udin geregetan. Kedua tangannya pun memegangi kepala Syifa yang masih ditutupi hijabnya.

"Ouhhh... Ouuhhh... Ouhhhh... Sialan kamu yah ustadzah... Bikin saya gemes aja... Ahhhh... Nikmatnya mulutmu ustadzah... Uhhh... Uhhh yahhh" Desah pak Udin sambil memperkosa mulut Syifa dengan memaju-mundurkan pinggulnya.

"Mmpphhh pakkk... Mmpphhh" Desah Syifa tak kuasa menahan genjotan penis pak Udin di mulutnya.

"Uhhh... Uhhh... Lembap sekali mulutmu ustadzahh... Ahhh yahhh begituu... Uhhh gerakan lidahmu ustadzah... Sapu kontol saya dengan lidahmu itu" Desah pak Udin saat merasakan gelitikan lidah Syifa saat merangsang sisi penis bagian bawahnya.

"Mmpphhh... Mmpphhh... Pakkk" Desah Syifa kewalahan hingga tangan kanannya mulai menepuk-nepuk paha pak Udin.

Namun pak Udin mengabaikan. Nafsunya yang kian besar membuatnya terus menyodok-nyodok mulut Syifa dengan penuh nafsunya. Bahkan ia merasa kalau ujung gundulnya sudah mentok di ujung kerongkongannya. Berulang kali ustadzah cantik itu nyaris terbatuk karena tak kuasa menahan birahi pak Udin.

"Ahhh... Ahhhh... Ahhh iyyahhhhh" Desah pak Udin sambil membenamkan penisnya sedalam-dalamnya meski ia tahu kalau mulut kecil Syifa tidak akan muat untuk menelan seluruh penisnya. Setelah hampir 5 detik ia mendorong pinggulnya sambil menahan kepalanya agar tidak terdorong ke belakang. Pak Udin menarik lepas penisnya hingga Syifa dapat menghirup udara segar setelah diperkosa oleh pak Udin.

"Uhuukk... Uhhuk... Uhuukk" Syifa terbatuk-batuk hingga liurnya menetes jatuh membasahi tanah berpasir yang ada di bawahnya.

"Ayo ustadzah giliran saya" Ucap pak Prapto menarik tangan Syifa hingga ustadzah cantik itu menghadap ke arah penisnya.

"Uhhh pakkk tungguuu" Ucap Syifa saat mulutnya langsung dijejali oleh penis pak Prapto. Pak Prapto tak peduli. Pinggulnya terus mendorong mulut Syifa hingga ustadzah berkulit bening itu nyaris tersedak oleh dorongan penis tukang sapu bertubuh kurus itu.

Untungnya beberapa saat kemudian pak Prapto melonggarkan sodokannya. Ia tidak lagi menekan mulut Syifa dengan penisnya. Syifa yang masih kelelahan diminta untuk merangsang penisnya menggunakan mulutnya.

"Mmpphhh... Mmpphhh... Sslrrpp... Mmpphhh" Desah Syifa saat mulutnya bergerak maju mundur dengan sendirinya. Mulutnya itu sampai penuh saat mengulum penis pak Prapto. Perutnya terasa mual akibat dipaksa untuk menelan penis tukang sapu itu. Apalagi saat hidungnya mencium aroma busuk dari selangkangan mereka berdua. Mulutnya yang sudah penuh membuat liurnya terjatuh menetes ke tanah. Bahkan ada yang sampai menetes ke payudaranya yang sudah mulai mengencang akibat nafsunya yang sudah bangkit sedari tadi.

"Uhhhhh.... Ouhhhh... Uuaaaahhhh" Desah pak Prapto sambil menatap wajah Syifa. Ia begitu puas saat penisnya telah memenuhi mulut ustadzah pesantren itu. Memandang pakaian Syifa yang masih dikenakan namun sudah terbuka membuat Syifa semakin terlihat sedang diperkosa olehnya. Pak Prapto memenuhi fantasinya sehingga membuatnya tidak tahan untuk segera menggenjotnya lagi.

"Cukup ustadzah... Ayo berdiri" Ucap pak Prapto yang hanya dituruti oleh Syifa.

"Maafin aku pakk... Tolonggg... Sudahi semua ini... Maaf kalau perbuatanku sudah menyakiti ustadzah Hanna... Tapi aku bukan satu-satunya orang yang harus disalahkan pak" Ucap Syifa saat kemejanya sedang dilepas oleh pak Prapto.

Namun pak Prapto mengabaikan ucapan ustadzah cantik itu. Hatinya yang sudah di penuhi oleh dendam dan otaknya yang sudah di penuhi oleh nafsu membuatnya hanya ingin melampiaskan seluruh hasrat seksualnya pada ustadzah berkulit bening itu.

Dalam sekejap Syifa sudah ditelanjangi oleh pak Prapto. Pak Udin yang sudah mematikan rekaman hapenya sebelum memperkosa mulutnya tadi jadi menyesal. Penampakan tubuh Syifa yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab beserta kaus kaki dan sepatunya saja sungguh indah. Kulitnya yang bening itu menjadi alasan kenapa pak Udin sampai berkata seperti itu. Tubuh telanjangnya sudah seperti patung yang diukir oleh seorang seniman. Tubuhnya seperti pahatan seni yang sempurna. Tubuhnya begitu mulus. Tidak ada sama sekali lecet yang mencoreng keindahan tubuhnya. Pak Udin kian bernafsu. Ia tak tahan untuk menggenjot tubuhnya lagi dengan sepuas-puasnya.

"Pak Prapto... Giliran saya lagi yah buat genjotin ustadzahnya huehuehue" Ucap pak Udin mupeng.

"Silahkan pak... Pakai aja sepuas bapak" Ucap pak Prapto yang membuat Syifa sudah seperti barang saja yang bisa dipakai oleh orang-orang sesukanya.

"Huehuehue... Makasih yah pak... Tapi tolong rekamin lagi yah... Saya mau liat ulang diri saya yang akan menggenjot tubuh indahnya sepuas-puasnya.

"Siap pak... Tenang aja... Yang penting kita harus memberi pelajaran kepada ustadzah cantik ini biar kerjaannya gak godain ustadz lain" Ucap pak Prapto yang membuat Syifa merasa sedih.

"Pakkk... Tolonggg maafin aku pakkk... Tolong jangan tuduh aku seperti itu... Aku gak pernah menggodanya pak... Ustadz Angga sendiri yang memintaku untuk memuasinya" Ucap Syifa saat dibawa oleh pak Udin pergi.

Namun pak Prapto hanya diam sambil memandangi wajah Syifa yang kian jauh darinya. Tubuh telanjang Syifa sedang dibawa oleh pak Udin menuju bangunan kecil yang berdiri di belakang gedung kelas. Itu merupakan gudang yang biasanya ditempati oleh peralatan sapu baik yang baru ataupun yang sudah lama. Tapi untuk kali ini, gudang itu sudah disulap selayaknya ruangan yang sudah disiapkan untuk mengeksekusi seorang ustadzah. Sapu-sapu memang tertata rapih di sisi kiri arah bangunan dari pintu masuk. Namun tepat saat pak Udin membuka pintu, disana ada sebuah kasur yang nantinya akan jadi alas tidur bagi ustadzah Syifa yang sudah tak berdaya.

"Pakkk... Paaakkk... Maafkan akuu pakk... Paakkkk" Ucap Syifa dari jauh sambil memohon ke pak Prapto. Pak Prapto masih terdiam di tempat baru setelah itu dirinya datang mendekat setelah melihat ustadzah Syifa dibawa masuk ke dalam bangunan itu.

Kendati hatinya merasa berat karena tidak tega melihat wajah Syifa yang memelas. Tapi ia lebih tidak tega saat melihat ustadzah yang ia cinta bersedih. Pak Prapto mengepalkan tangannya. Ia telah membulatkan tekadnya untuk memenuhi lubang-lubang kenikmatan Syifa dengan spermanya.

Ini balasan karena sudah menyakiti ustadzah Hanna, ustadzah !

Batin Pak Prapto menunjukan alasannya kenapa ia sampai tega menodai ustadzah Syifa.

Pak Prapto dengan santai berjalan menuju arah bangunan kecil itu. Ia percaya diri kendati tidak mengenakan pakaian sama sekali. Setelah pintu terbuka, ia melihat Syifa yang sedang berdiri agak menunduk tengah kewalahan saat tubuhnya dihentak-hentakan oleh pak Udin dari belakang.

"Aahhhh pakk... Pakk... Ahhh... Aahhhh" Desah Syifa sambil geleng-geleng kepala.

Payudaranya yang besar melonjak-lonjak. Kulit mulusnya diraba-raba oleh tangan keriput pak Udin. Nampak tangan pak Udin mengusap pinggang rampingnya sambil memeganginya agar tidak terjatuh saat digenjot olehnya. Nampak wajah Syifa begitu menggairahkan. Wajahnya yang sange itu sedang menggigit bibir bawahnya tuk menahan genjotan pak Udin yang semakin kuat.

"Uhhhhhh... Ini pak... Lanjutkan" Ucap pak Udin yang langsung menyerahkan Syifa untuk disetubuhi.

"Terima kasih pak" Ucap pak Prapto sambil menyerahkan hapenya ke pak Udin.

"Hah... Hah... Hah gimana ? Dapet gambar yang bagus ?" Ucap pak Udin penasaran.

"Oh yah belum sempet ngerekam pak... Saya aja baru sampai" Ucap Pak Prapto yang membuat pak Udin kesal.

"Aihh dasar... Yaudah gapapa... Kita mulai lagi aja ngerekamnya sekarang... Huehuehue" Tawa pak Udin sambil memposisikan kamera sehingga dapat merekam aksi persetubuhan mereka nanti.

Pak Prapto sudah mengambil posisi di belakang Syifa dengan memegangi pinggulnya. Penisnya yang sudah mengeras itu ia gesek-gesekan ke arah bibir vagina Syifa hingga membuat bidadari cantik itu kewalahan menahan rangsangannya.

"Pakkk... Aahhhh... Aahhhh" Desah Syifa yang semakin bergairah saat birahinya dipermainkan oleh pak Prapto.

Pak Prapto hanya tersenyum saat melihat ekspresinya. Kemudian tanpa menunggu lama lagi pinggulnya ia dorong hingga penis itu menancap menembus lubang kenikmatannya.

"Aahhhh pakkkkkk" Syifa terkejut. Wajahnya ia tolehkan ke belakang. Ia tak mengira kalau pak Prapto malah menusuk lubang anusnya ketimbang lubang vaginanya.

"Ada apa ustadzah ? Ustadzah udah pernah melakukannya kan ? Jangan kaget" Ucap pak Prapto dengan tenang sambil menatap Syifa. Syifa benar-benar terkejut dengan kepribadian pak Prapto sekarang. Raut wajahnya itu sangat berbeda dari saat pertama kali menyetubuhinya. Wajah pak Prapto jadi lebih serius, bahkan genjotannya jauh lebih kuat dan tahan lama daripada sebelumnya.

"Mmpphhh" Desah Syifa saat pinggul pak Prapto ditariknya ke belakang.

"Waaaahhh... Nikmatnyaaa" Desah pak Prapto saat pertama kalinya melakukan anal sex.

Pinggulnya kemudian ia dorongkan lagi hingga penisnya perlahan mulai menjebol liang duburnya yang begitu sempit. Penis pak Prapto rasanya seperti sedang di pijit-pijit. Otot-otot yang ada di dubur Syifa mulai berkontraksi hingga penisnya terasa seperti dijepit-jepit.

"Pakkkk jangan disitu pakk... Itu gakk muattt... Uhhhhh... Jangan didorong lagi pakkk" Ucap Syifa memohon saat merasakan penis Pak Prapto semakin dalam memasuki duburnya.

"Aahhhh... Diam kamuuu... Ouhhhh ini merupakan konsekuensi dari perbuatanmu, tahu.... Uhhhhhhh" Desah pak Prapto mulai menarik pinggulnya lagi kemudian mendorongnya lagi. Ia menariknya lagi lalu mendorongnya lagi. Kendati penisnya tidak terlalu basah setelah cairan cinta yang berasal dari vagina Syifa mulai mengering. Tenaganya untuk mendorong penisnya lama-lama membuat dubur Syifa membuka. Apalagi Syifa terbiasa main belakang dengan dildo yang dimiliki ustadzah Diah. Sehingga membuat duburnya mudah beradaptasi saat penis pak Prapto memasuki duburnya.

Jleeebbb !!!

Penis pak Prapto sudah masuk 3/4-nya yang membuat mulut Syifa membuka. Baru kali ini duburnya dimasuki oleh penis asli sedalam ini. Syifa terkejut. Kedua tangannya pun memegangi tangan pak Prapto yang berada di pinggulnya. Ia nyaris terjatuh karena kakinya terasa lemas merasakan tusukan tukang sapu itu di duburnya.

Setelah pak Prapto mengatur nafasnya dan bersiap-siap. Pinggulnya mulai ia gerakan maju mundur untuk menusuk lubang dubur sang ustadzah.

“Aahhhhhh... Ahhhhhh... Ahhhh” desah Syifa menahan genjotannya.

“Aaaahhh nkmatnyaa... Ouhhh sempitnya... Saya gak nyangka anus seorang ustadzah bisa seenak ini” desah Pak Prapto keenakan.

Meski penisnya bisa bergerak keluar masuk di dalam tapi rasanya masih seret karena kurangnya pelumas yang ada di dubur ustadzah cantik itu. Namun hal itu tidak serta merta menghilangkan rasa nikmat yang ia rasakan. Sebaliknya kenikmatan itu makin terasa hingga membuat pinggulnya tak mau berhenti dalam menggenjoti anus sempit sang ustadzah.

"Ahhhhh... Ahhhhh rasakan kontol saya ustadzahhh... Rasakan hukuman dari saya" Ucap pak Prapto sembari menggenjot dubur Syifa.

"Ahhhh pakk... Aahhhh ampunn... Maafkan aku pakkk... Ahhh" Desah Syifa kesakitan merasakan tusukan pak Prapto.

Berulang kali tangan Pak Prapto mengusap punggungnya, kemudian naik meremas payudaranya. Pak Prapto pun menegakan tubuh sang ustadzah yang agak menungging sedari tadi. Bibirnya lekas mencumbui bahu sang ustadzah sembari tangannya meremas dengan puas bulatan yang menggoda disana.

"Hah... Hah... Hah... Gilaaa... Uhhh sempit bangettt... Mmpphhh"

Nafas pak Prapto terengah-engah saat penisnya berulang kali memasuki lubang anusnya. Gesekan nikmat yang menjepit penisnya membuat gairah birahinya mendekati puncak. Berulang kali tangannya meremas payudara itu lalu memelintir putingnya kemudian turun tuk meraba perut ratanya. Bahkan jemarinya juga hinggap di vaginanya membuat ustadzah bening itu gelisah merasakan rangsangan dari lubang bagian depan dan lubang bagian belakang.

Syifa ngap-ngapan merasakan tusukan di anusnya. Tapi kemudian wajahnya jadi keheranan saat melihat pak Udin mendekat lalu tiduran diatas kasur yang sedang ia pijak sekarang. Ya, tiba-tiba pak Udin tiduran tepat di bawahnya. Pak Udin hanya tersenyum mesum sambil melihat pergerakan payudara Syifa yang terlihat semakin indah dari bawah sana.

Himpitan yang begitu menantang dari lubang kotoran sang ustadzah membuat penisnya di dalam berdenyut kencang. Pak Prapto jadi heran kenapa dirinya bisa secepat ini merasakan adanya gelombang yang mengalir di dalam. Padahal ia sudah bisa mengatur nafasnya setelah berulang kali menyetubuhi ustadzah Hanna.

Namun kenikmatan yang semakin ia rasakan membuatnya terus memborbardir anus Syifa. Pak Prapto tak peduli lagi. Ia mempercepat gerakan pinggulnya. Gerakannya yang cepat membuat tubuh Syifa terhentak-hentak merasakan sodokannya.

"Ahhh pakk... Ahhhh hentikann pakk... Aahhhh ampuni akuuu... Uhhhh" Desah Syifa kewalahan.

“Uhhhhh... Uhhhhhh” sedangkan pak Prapto terus berfokus agar dirinya tidak kelepasan saat menyetubuhi anusnya. Ia berulang kali mengatur nafasnya. Ia ingin menghujami anus Syifa lebih lama lagi.

Ia menggerakan pinggulnya ke belakang kemudian mendorongnya ke depan. Ia tarik lagi terus dorong lagi. Tarik lagi terus dorong lagi. Sesekali ia menampar bokongnya dan mencengkram kuat payudaranya. Pak Prapto puas sekali tapi penisnya mulai berdenyut kencang. Ia jadi khawatir kalau sedikit gesekan saja akan membuat penisnya memuncratkan seisi spermanya. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ia punya, ia pun menancapkan penisnya sedalam-dalamnya hingga terbenam di dalam lubang anus itu.

"Uhhhhh ustadzahhh" Ucap pak Prapto sambil menghembuskan nafasnya sehingga dirinya aman dari orgasmenya.

"Aaahhhhhh" Desah Syifa terjatuh yang langsung disambut oleh pak Udin.

"Huehuehue... Akhirnya dateng juga... Udah saya tungguin daritadi soalnya" Ucap pak Udin tersenyum mesum sambil mendekap tubuh Syifa yang jatuh diatas pelukannya.

Syifa yang kelelahan hanya bisa pasrah membiarkan tubuh indahnya dipeluk oleh tukang sapu itu. Ia dibuat heran karena pak Prapto masih belum mengeluarkan spermanya kendati tusukannya begitu kuat saat menembus anusnya.

"Huehuehue" Tawa pak Udin sambil memegangi penisnya kemudian mengarahkannya ke lubang vagina Syifa.

"Ehhh pakkk... Jangannn... Jangannnn" Ucap Syifa terkejut saat pak Udin ingin ikut menyetubuhinya dikala penis pak Prapto masih berada di dalam anusnya.

"Huehuehue... Belum pernah ngerasain nikmatnya di DP pake kontol asli kan ? Kapan lagi ustadzah bisa mendapatkan kesempatan langka ini ? Siap-siap kami puasi yah ? Pak Prapto siap ?" Tanya pak Udin yang hanya dijawab anggukan meski pria tua bertubuh kurus itu masih kelelahan setelah menganal anus ustadzah Syifa.

"Tapiii pakkkk aku capekk... Akuuu mau istirahat duluu... Akuuu uhhhhhh" Desah Syifa memejam dikala kedua lubangnya dipenuhi oleh penis mereka berdua.

“Mantapppp rapetnyyaaa... Huehuehue” tawa pak Udin sambil memandangi ekspresi wajah Syifa yang kewalahan.

Penis pak Udin sudah masuk membelah liang senggama Syifa. Ia pun mendorong pinggulnya hingga penisnya semakin menancap di dalam. Ia masih belum puas. Ia kembali mendorongnya hingga penisnya benar-benar terbenam di dalam rongga vagina Syifa.

“Mmpphhhh... Mmpphhh pakkk” desah Syifa memejam merasakan dua lubangnya untuk pertama kalinya dipenuhi oleh penis asli seorang lelaki.

Penis pak Udin sudah ambles di dalam. Kepuasan dan kenikmatan yang mendera penisnya membuat ia segera memaju-mundurkan penisnya tuk memborbardir liang senggama Syifa. Tukang sapu bertubuh tambun itu menyetubuhi Syifa. Ia mengaduk-ngaduk rongga vagina Syifa dengan cepat. Kedua tangannya pun mendekap punggung Syifa hingga tubuh rampingnya terhimpit ke tubuh tambun pak Udin. Pak Udin dapat merasakan keempukan dadanya akibat himpitan dari dada besar Syifa. Ekspresi Syifa yang keenakan membuat bibirnya melekat untuk mencumbu bibirnya dengan penuh nikmat.

“Mmpphhh... Mpphhhh... Hentiikaannn pakkk... Mmpphhh” desah Syifa menahan cumbuan pak Udin yang semakin bernafsu dalam menikmati ketelanjangan dirinya.

Sedangkan pak Prapto yang masih beristirahat terpana melihat wajah cantik Syifa yang sedang dicumbui dengan nafsunya oleh rekan kerjanya. Ia geleng-geleng kepala sambil mengatur ulang nafasnya. Entah kenapa memakai seorang ustadzah dengan cara bersamaan seperti ini bisa membuatnya puas. Ia pun tak menyesal sudah mengajak pak Udin untuk membalaskan dendam Hanna untuk menyetubuhi Syifa.

Menyadari pak Udin semakin bernafsu dalam menyetubuhi Syifa membuat dirinya ingin kembali bergabung untuk bersama-sama menyetubuhi ustadzah berkulit bening ini. Kedua tangannya mencengkram pinggang mulusnya. Pinggulnya kembali ia gerakan sehingga penisnya semakin terbenam membelah liang anus bidadari berkulit bening ini.

“Mmmpphhh... Mmphhhh.... Mmpphhhh” desah Syifa tertahan saat merasakan duburnya dihujami oleh penis tukang sapu berbadan kurus itu lagi. Namun dekapan tangan pak Udin di punggungnya membuatnya tak bisa bergerak. Ia hanya bisa memejam sambil mengernyitkan dahinya menahan sensasi dipuasi oleh dua penis yang berbeda secara bersamaan,

“Ouhhhhh uhhhhh... Mmpphhhh... Manis sekali cumbuanmu ustadzah... Sayang sekali kalau tubuh seindah ini hanya dinikmati oleh satu kontol saja huehuehue... Pak Prapto !! Lihat tubuh indahnya pak... Bayangkan dengan tubuh seindah ini, Ia berani merebut hati seorang ustadz yang akan segera menikahi seorang ustadzah yang bapak sebutkan” ucap pak Udin sambil terus menghujami vagina Syifa.

“Aaahhh... Aahhhh bukan seperti itu pakkk... Aku gak pernah menggoda... Aku gak pernah melakukannn ittt... Aaahhhhh” desah Syifa terpotong saat hujaman penis pak Prapto semakin kuat mengobrak-ngabrik anusnya.

“Aaahhhh... Aaahhhh... Aahhhh... Dasar keterlaluan yah ustadzahh !! Mentang-mentang punya kulit bening ustadzah bisa seenak jidat merebut calon suami orang gitu ? Aaahhhh” desah pak Prapto yang semakin bernafsu setelah dirangsang oleh kata-kata pak Udin.

“Aaahhh... Aahhhh... Aku gakkk pernahhh gituu pakkk... Ouhhh cukuppp... Ouhhh hentikann pakkk... Aku gak kuaatt lagiii” desah Syifa ngap-ngapan menahan dua tusukan penis mereka yang keluar masuk secara bergantian.

“Huehuehue.... Ayo yang keras pak... Lebih cepat lagi... Ayo sama-sama kita lebarin lubang kenikmatannya... Ayo hujami lubangnya lebih kuat lagi !” ucap pak Udin semakin bernafsu setelah mendengar rintihan Syifa yang tak berdaya menerima hujamannya.

“Aahhh iyahhh pakk... Iyyahhh... Pastiii henkkghhhh !!!” desah Pak Prapto mempercepat hujamannya. Ia yang sedang emosi-emosinya pada Syifa namun juga bernafsu kepadanya tak kuasa untuk menahan birahinya lagi. Ia mendekap erat pinggul Syifa. Pinggulnya bergerak semakin cepat. Ia mendorong pinggul Syifa hingga bidadari berkulit bening itu terdorong maju mundur diatas tubuh rekan kerjanya.

“Aaaaaahhhhh paaakkkkk... Ahhh... Aahhhhh” desah Syifa keenakan.

“Aahhhhh... Aahhh ustadzahhh... Ouuhhh nikmatnyaaa !” kata pak Prapto bernafsu.

“Huehuehue terusss... Terusss... Jangan berhentii... Aahhhhh” desah Pak Udin terus menyemangati.

“Ouhhh pakkkk... Ouhhh dalemmm bangetttt” kata Syifa terdorong maju mundur. Pak Udin tertawa puas dan pak Prapto semakin menancapkan kejantanan penisnya.

Plokkk.... Plokkkk.... Plokkkk !!!

“Aahhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh baappaakkkkk !!!! Cukuppp pakk... Ouhhhh akuu capekkk” Syifa terus mendesah membalas kenikmatan yang sudah kedua tukang sapu itu berikan. Kedua penis itu secara bergantian menyodok dua lubangnya.

Dikala penis pak Udin merengsek masuk vaginanya. Maka penis pak Prapto yang keluar meninggalkan ujung gundulnya saja. Dikala penis pak Prapto yang masih menembus lubang duburnya maka giliran penis pak Udin yang keluar meninggalkan ujung gundulnya saja. Terus menerus mereka melakukan gerakan itu hingga Syifa sendiri mulai merasakan adanya denyutan di dekat lubang kencingnya.

Sama halnya dengan Syifa, Pak Prapto yang sedari tadi terus memaksa diri agar tidak mengeluarkan spermanya kendati ia hampir mendapatkannya sudah tidak mampu menahan diri lagi. Ia terlanjur kelepasan saat menikmati jepitan anusnya. Ia pun menatap keindahan tubuh Syifa dari belakang sambil mengusapi punggungnya pelan.

Begitu juga pak Udin yang kelewat nafsu saat merasakan nikmatnya jepitan kemaluan seorang ustadzah lagi. Ekspresi wajah Syifa yang kelewat sange menambah sensasi tersendiri yang membuat tukang sapu berkumis tebal itu tak sanggup menahan jepitan kemaluan Syifa yang begitu sempit. Pak Udin mempercepat hujamannya. Pak Prapto juga mempercepat hujamannya. Syifa sebagai korban hanya bisa pasrah sambil mencengkram bahu pak Udin saat gelombang orgasmenya akan segera keluar sebentar lagi.

“Aahhhhh... Aahhhh... Sayaa mauu keluuarr... Aahh” desah pak Prapto sambil menggigit bibir bawahnya menatap keindahan punggung Syifa.

“Aahhhh... Aahhhh sialll... Saya juga pakkk... Uhhhh kurang ajar sempit banget sihh memeknya” desah pak Udin merem melek keenakan.

“Aahhhh... Aahhhhh pakkk iyyahhh... Akuu juggaa” desah Syifa terkejut saat dirinya akan mendapatkan orgasmenya.

“Aahhh... Aahhhh saya gak kuat lagi... Saya gak kuat lagi... Rasakan ini ustadzah... Hennkkghh !!” desah pak Prapto menancapkan penisnya.

“Aahhhh... Aahhhh saya juga... Rasakan ini ustadzah ! Hennkkghhh !” desah pak Udin yang juga menancapkan penisnya.

“Aaahhh pakkk jangannnn... Uhhhh kelluuaaarrrrr !” Jerit Syifa dengan sangat mantap.

Akhirnya dengan satu tusukan yang mematikan. Mereka berdua menghentakan pinggulnya maju sedalam-dalamnya ke arah lubang kenikmatan ustadzah Syifa.

“Manntaaappppp... Saya keluuaarrrr !!!” desah pak Udin & pak Prapto nyaris bersamaan.

Crrootttt.... Crroottt... Crrooottttt !!!

Spermanya dengan deras langsung memenuhi rahim & juga anus kehangatannya. Tubuh pak Prapto tersentak-sentak nikmat. Tubuh pak Udin melonjak-lonjak merasakan kepuasannya saat memejuhi rahim seorang ustadzah. Begitu juga dengan ustadzah Syifa. Ustadzah cantik berkulit bening itu kelojotan saat kedua lubangnya dipenuhi oleh sperma kental yang dikeluarkan oleh mereka berdua. Sialnya ia juga mendapatkan orgasmenya sehingga rahimnya semakin penuh oleh campuran cairan cinta mereka berdua.

“Uhhhh paaakkkk” desah Syifa kelelahan setelah dipuasi oleh mereka berdua. Mengejutkannya ia juga merasa puas. Ia pun tak berdaya saat terhimpit diantara dua tukang sapu itu.

“Hah... Hah... Hah” ucap pak Prapto langsung menarik penisnya. Matanya masih merem melek tak percaya. Ia benar-benar puas setelah melampiaskan birahinya pada ustadzah berkulit bening itu.

“Hah... Hah... Hah... Mantapnyaa... Puas sekali saya ustadzah huehuehue” ucap Pak Udin sambil menidurkan tubuh Syifa disamping posisi tidurnya setelah lebih dulu mencabut batang penisnya dari rahim sempitnya.

“Hah... Hah... Hah” Tidak ada sepatah kata yang dikeluarkan oleh Syifa selain suara ngos-ngosan akibat rasa lelah yang mendera tubuhnya.

“Uhhhhhhh” Seketika Syifa bergidik nikmat saat kedua lubangnya mengeluarkan cairan sperma yang sangat banyak mengotori kasur yang sedang ia tempati itu. Pak Udin tersenyum puas. Pak Prapto juga. Ia sangat puas karena bisa memberikan pelajaran kepada ustadzah yang sudah membuat ustadzah Hanna kecewa.

Setelah kedua tukang sapu itu memuntahkan seisi spermanya ke lubang kenikmatan ustadzah Syifa. Tanpa mengucapkan sepatah kata, mereka berdua langsung pergi meninggalkan Syifa begitu saja. Syifa yang ngap-ngapan hanya merem melek saja menikmati sisa orgasme yang ia dapatkan. Bagai habis manis sepah dibuang. Syifa seperti barang yang sudah tak terpakai lagi saja. Dirinya ditinggal begitu saja setelah digunakan untuk memuasi nafsu mereka berdua. Syifa jadi sedih. Matanya berkaca-kaca setelah dituduh menggoda Angga lalu diperkosa begitu saja oleh kedua tukang sapu itu.

Pintu telah ditutup. Syifa dibiarkan merenungi perbuatannya dalam keadaan telanjang bulat di dalam.

Tenngggg... Tennggg... Tenngggg !!!

Lonceng telah berbunyi. Tandanya waktu ujian di jam pertama telah berakhir. Santri-santri dengan terpaksa mengumpulkan lembar jawaban ujiannya kendati masih banyak soal-soal yang belum terjawab oleh mereka.

Salah satu santriwati yang menyesali ujiannya kali ini adalah Salwa. Sebagai santriwati terpintar, seharusnya ia dengan mudah menjawab seluruh pertanyaan yang ada di lembaran soal tersebut. Tapi kenyataannya, ia tidak bisa. Tapi, ia tidak bisa menjawabnya bukan karena ia tidak mengetahui jawabannya. Hanya saja, ia tidak sempat menjawabnya karena waktunya terbuang percuma akibat terpikirkan ancaman yang diberikan oleh Iqbal melalui foto-foto persetubuhannya dengan seorang ustadz yang ia cinta.

Salwa kepikiran, kendati Iqbal sudah berjanji untuk menyimpan foto itu. Salwa masih khawatir kalau Iqbal nanti akan menyebarkannya. Ia tidak ingin berpisah dari pesantren yang sudah membesarkannya. Ia juga tidak mau menyeret ustadz yang ia cinta ke dalam skandal besar yang bisa menggemparkan seluruh warga pesantren.

Ya, walaupun ia benar-benar tidak bercinta kala itu. Tapi ia cukup senang karena bisa memperlihatkan keindahan tubuhnya pada ustadz tampan itu. Ia sungguh-sungguh mencintainya. Tapi, apakah cintanya bisa terbalas olehnya ?

“Ngomong-ngomong ustadz V kemana yah ? Kok belakangan ini gak keliatan ?” lirih Salwa saat berjalan menuju kelas sebelah yang seharusnya terdapat ustadz V yang mengawas disana.

Salwa kembali kepikiran. Apakah terjadi sesuatu dengan ustadz V sehingga dua hari belakangan ini dirinya tidak bisa menjadi pengawas ujian ?

“Ustadz V kemana sih ? Semoga ustadz baik-baik aja dimana pun antum berada” kata Salwa begitu merindukannya.

Karena ia tidak menemukannya, ia pun memutuskan untuk kembali ke asramanya untuk beristirahat sebentar. Lumayan juga waktu 30 menit ini ia gunakan untuk membaca ulang buku pelajaran sambil tiduran di dalam kamarnya.

Saat Salwa melewati segerombolan santri yang menempati ujian di gedung sebelah. Samar-samar dirinya mendengar pembicaraan dari mereka.

“Eh tadi pas ujian kalian denger sesuatu gak ?”

“Pas ujian ? Ente denger juga yah ? Ane denger suara desahan loh”

“Wah sama... Berarti beneran dong ada yang lagi dientot pas kita lagi ujian ?”

“Ah yang bener ? Masa iya sih ? Siapa juga yang main di jam segini... Lagian semua santri kan lagi pada ujian”

“Apa jangan-jangan ustadzah yang lagi main ?”

“Eh gak mungkin deh... Masa iya sih ?”

“Hahaha gak tau dah.... Kalau beneran iya... Jadi pengen ngeliat deh... Siapa sih wanita yang tadi mendesah pas kita ujian”

Salwa yang mendengarnya jadi risih. Ia hanya geleng-geleng kepala mendapati santri-santri itu begitu mesum sampai berpikiran seperti itu.

“Gak Iqbal gak mereka sama aja... Santri disini emang pada mesum semua... Dasar !” ucap Salwa dengan lirih sambil buru-buru melangkah pergi menjauhi mereka bertiga.

Tapi seketika dalam perjalanannya pulang, ia jadi kepikiran untuk menghadiahi sesuatu kepada ustadz V untuk berjaga-jaga andai dirinya nanti benar-benar dikeluarkan akibat foto yang Iqbal sebarkan. Setidaknya ia ingin memberikan kenang-kenangan kepada ustadz tampan itu sebagai hadiah rasa cintanya kepadanya. Tapi ia masih ragu, karena ia merasa belum siap untuk memberikan hadiah tersebut kepada ustadz tampan itu. Tapi secara pribadi, ia sangat ingin menghadiahinya juga sebagai hiburan karena sudah menyebabkan ustadz tampan itu terseret pada skandal yang ada di foto yang Iqbal simpan.

“Duhh... Gimana yah ? Pusing banget kalau udah masuk urusan soal cinta... Apa aku terlalu muda untuk jatuh cinta yah ? Sepertinya aku butuh saran dari seseorang untuk mengarahkan diriku sekarang” lirih Salwa sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari seseorang yang ia maksud.


*-*-*-*


BEBERAPA JAM KEMUDIAN

Sekitar pukul sebelas siang ketika ujian baru saja selesai. Hanna baru sempat pulang setelah berdiam diri sebentar di ruangan mengawasnya. Sejak pagi, ia masih kepikiran mengenai usahanya untuk menyelamatkan V dari ancaman pengeluaran. Sejak tadi otaknya terus bekerja untuk memikirkan cara, bagaimana untuk menjaga V agar bisa tetap menjadi ustadz disini. Terlebih, alasan pengeluarannya disebabkan oleh seorang santri yang sudah berulang kali memperkosanya. Hanna sungguh tidak terima. Ia sungguh tidak rela andai V benar-benar dikeluarkan akibat perbuatan santri bejat itu.

Dalam perjalanan pulang menuju kamar asramanya. Ustadzah yang saat itu mengenakan gamis berwarna biru langit yang dipadukan dengan rok panjang berwarna putih cerah. Tidak sengaja bertemu dengan seorang ustadz yang merupakan teman satu kantornya. Seorang ustadz yang juga ingin ia selamatkan dari ancaman pemecatan dari pondok pesantren ini.

"V... " Panggil Hanna setelah melihat ustadz yang mengenakan kemeja polos berwarna putih serta celana kain panjang berwarna hitam dengan dasi yang juga berwarna hitam di kerah kemejanya.

"Hanna ?" Ucap V saat melihat ustadzah yang mengenakan hijab berwarna abu-abu itu mendekat.

"V... Hah... Hah... Hah" Ucap Hanna terengah-engah setelah berlari mendekati V.

"Ada apa Han... Kok sampai ngos-ngosan gitu ?"

"Hehe... Anu... Maafin ana yah V... Tadi ana udah mencoba membujuk ustadzah Rania sama ustadz Angga... Tapi mereka ragu untuk mengubah keputusan pak Kiyai... Mereka merasa gak sanggup untuk melakukannya karena mereka tahu sikap pak Kiyai yang keras kepala" Ucap Hanna menyesal.

"Ohhh... Ya udah gapapa... Ana terharu antum sampai beneran bertindak sampai segitunya... Yaudah lah Han... Mungkin emang takdirnya ana bakalan dikeluarin dari sini" Ucap V pasrah.

"Ihhh tapi V... Antum gak pantes dikeluarin... Tindakan antum waktu itu udah tepat loh... Ana aja kalau nemuin Lutfi kayak gitu bakalan ana hajar juga" Ucap Hanna membela perbuatan V.

"Hahaha... Iyya terima kasih yah udah belain ana... Terima kasih juga yah udah mau bantu sampe repot-repot ke rumah pak Kiyai tadi" Ucap V tersenyum.

"Iyya V sama-sama... Tapi maaf yah... Maaf banget... Ana cuma bisa bantu sampai sini... Ana gak bisa bantu lebih jauh lagi" Ucap Hanna menyayangkan usahanya karena belum bisa membuahkan hasil seperti yang ia inginkan.

"Udah gapapa... Ana juga sadar kok atas tindakan ana waktu itu... Ana terlanjur emosi... Mungkin ini emang hukuman yang pantas buat ana" Ucap V pasrah.

"Ihhhh gak boleh bilang gitu... Ana yakin kok antum pasti bisa bertahan disini... Nanti ana cari cara lagi deh... Pokoknya ana gak rela kalau antum sampai dikeluarkan gara-gara dia" Ucap Hanna tersenyum mencoba menghiburnya.

"Iyya... Semoga bisa yah... Ana juga mau stay terus kok disini" Ucap V membalas senyuman Hanna.

Hanna jadi senang setelah tahu kalau V masih mempunyai keinginan untuk terus bertahan di pesantren ini.

Kebetulan, dikala mereka terus berjalan menikmati suasana siang di pesantren sambil mengobrol-ngobrol tentang keadaan masing-masing. Suasana di sekitar mereka semakin sepi. Hanya tersisa beberapa pengajar saja yang itu pun bisa dihitung dengan jari. Ujian yang selesai sebelum jam dua belas membuat hampir seluruh warga pesantren memanfaatkan waktu luang ini untuk beristirahat.

Mayoritas mereka semua ada di asrama masing-masing. Ada yang memilih tidur, ada yang memilih mencuci pakaian, ada juga yang memilih bersantai di dalam kamar sambil mengobrol-ngobrol bersama teman sekamarnya.

Hanna terus mengobrol membicarakan sesuatu disaat V berjalan di sebelahnya. Senyum manis Hanna saat berbicara membuat V terpana akan keindahannya. V jadi ikut tersenyum tanpa disadarinya. V merasa bahagia karena masih bisa melihat senyum indah Hanna meski ia tidak tahu apakah senyum ini merupakan senyum terakhir yang bisa ia lihat dari Hanna.

"Eh V... V... Malah ngelamun" Ucap Hanna sambil melambaikan tangan ke arah pandangan V untuk menyadarkannya.

"Eh hahaha... Duh jadi malu" Ucap V tersenyum.

"Huh capek-capek ngomong malah yang diajak ngomong ngelamun... Habis ngapain sih... Mikirin apa yah ?" Ucap Hanna sambil mendekap lembaran jawaban ujian santrinya yang ia peluk di dada.

"Hahaha... Engga... Anu cuma terpana aja tadi" Ucap V malu-malu saat mengobrol dengan Hanna.

"Terpana ?"

"Iyya Han... Karena senyummu"

"Ihh dasar... Malah gombal" Ucap Hanna jadi tersenyum malu-malu.

"Gak tau kenapa... Ana jadi ingin ngeliat senyummu terus Han... Sempat kepikiran juga soalnya... Jangan-jangan itu senyum terakhir yang bisa ana lihat dari antum" Ucap V yang membuat Hanna jadi sedih.

"Ihhhh dibilangin jangan bilang gitu lagi... Ana yakin pasti antum bisa bertahan disini V" Ucap Hanna berhenti melangkah sambil menatap V. Wajah V yang lebih tinggi dari wajahnya membuat Hanna harus mendongakkan kepalanya ke atas. Terlihat jelas dari matanya kalau Hanna sangat yakin V bisa bertahan disini. V jadi senang, ia pun menyentuh bahu kanan Hanna sambil tersenyum yang membuat Hanna jadi tersipu setelah melihat senyuman V dengan jarak sedekat itu.

"Iyya... Maaf yah udah bikin khawatir terus... Makasih buat dukungannya yang selalu memberi ana asa untuk tetap tinggal di pesantren ini" Ucap V sambil memindahkan tangan yang ada di bahu Hanna ke arah pipinya untuk membelai wajah mulusnya.

Sontak Hanna jadi malu-malu ketika diperlakukan seperti ini oleh ustadz tampan itu. Usahanya selama ini yang menginginkan V bertahan di pesantren ini seolah terbalas. Hanna senang karena setidaknya usahanya telah memberikan V asa untuk bertahan. V tidak lagi pasrah. V jadi ingin bertahan setelah melihat jerih payahnya yang sudah berbuat semampunya untuk mempertahankan V dari ancaman pengeluaran ini.

"Tapi andai kejadian itu beneran terjadi... Andai ana benar-benar dikeluarkan dari pesantren ini... Ana punya satu keinginan dari antum yang ingin ana wujudkan" Ucap V sambil mengusap-ngusap pipi mulus Hanna dengan lembut.

"Keinginan ? Dari ana ? Apa itu V ? Antum ingin ana melakukan apa ?" Ucap Hanna yang tampak sedih karena terbayang andai V beneran dikeluarkan dari pesantren ini.

V hanya tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna. Sontak mata Hanna semakin melebar. Kepalanya mundur sendiri tanpa sadar. Jantungnya kian berdebar.

Cupppp !!!

Tiba-tiba dahinya dikecup oleh ustadz tampan itu. Reflek Hanna memejam untuk menikmati kecupan penuh kasih sayang dari rekan kerjanya. Dahinya terasa hangat saat bibir V mendorong dahinya dengan lembut. Baru setelah itu V menarik wajahnya lagi yang membuat Hanna membuka matanya di hadapan ustadz tampan itu.

"Ana mau kita bercinta lagi... Boleh gak, kalau ana menyetubuhi antum sekali lagi..." Pinta V yang membuat Hanna terkejut mendengar permintaan ustadz tampan itu.

"Tapi V... Itu... Itu... Ana..." Hanna jadi tergagap akibat mendengar permintaan tidak terduga dari V. Terasa jantungnya berdebar semakin kencang. Hanna mendadak gugup tak beralasan.

"Antum ingat gak sewaktu kita melakukannya di rumah sakit waktu itu ?" Tanya V sambil tersenyum yang membuat wajah Hanna memerah teringat persetubuhannya. Hanna pun hanya mengangguk lemah sambil tertunduk malu saat teringat kejadian di waktu itu.

"Saat melihat senyum antum sekarang... Ana jadi kebayang tubuh indah antum sewaktu tidak berpakaian... Ana merindukan tubuh indah antum, Hanna... Ana merindukan tubuh antum yang berisi dan menggemaskan itu... Ana jadi ingin meremas susu antum lagi... Ana jadi ingin menggenjot memek sempit antum lagi... Boleh gak, kalau kita memadu kasih lagi... Setidaknya sekali sebelum ana dikeluarkan dari pesantren ini" Pinta V memohon sambil mengusap wajah indah Hanna yang begitu mempesona.

Sontak Hanna kebingungan untuk menjawab permintaan dari V. Kendati dirinya pernah disetubuhi oleh V di rumah sakit waktu itu. Ia saat ini sedang tidak ingin disetubuhi dikarenakan moodnya yang sedang buruk akibat memikirkan cara agar V bisa bertahan di pesantren ini. Tapi kini, orang yang ingin ia selamatkan malah memintanya untuk bercinta dengannya. Haruskah ia melayaninya ? Haruskah ia menyerahkan tubuhnya untuk menyenangkan hati rekan kerjanya ?

"Ayolah Han... Boleh yah... Ana rindu ingin mencumbu bibirmu lagi... Ana juga rindu ingin menyentuh tubuh montokmu lagi" Ucap V sambil memegangi pinggang Hanna yang membuat ustadzah cantik itu was-was andai ada seseorang yang melihatnya.

"Tapiii V... Jangan disini... Antum mau melakukannya dimana coba ? Nanti kalau kita ketahuan gimana coba ?" Ucap Hanna khawatir.

"Inget gak perkataan ana dulu setelah ana menyetubuhimu di rumah sakit waktu itu ?" Ucap V kali ini sambil meremas dada Hanna dari bawah yang membuat ustadzah cantik itu merinding merasakan remasannya yang kuat.

"Uuhhhh V... Jangan disini... Nanti diliatin orang bahaya tau" Ucap Hanna kesal V begitu tidak sabar untuk menjamah tubuhnya.

"Hahaha maaf... Habis tubuh antum indah banget sih... Ana makin gak sabar untuk menikmati tubuhmu, tau" Ucap V sambil tersenyum yang membuat Hanna makin tersipu.

"Gimana ? Antum inget ?" Tanya V sekali lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Hanna. Sambil tersenyum, V kemudian membuka mulutnya untuk mengingatkan ucapannya pada ustadzah pemilik senyum termanis itu.

"Di ruang kelas ? Gimana kalau kita bercinta di ruang kelas aja ? Mumpung sepi kan ?' ucap V yang membuat Hanna teringat ucapannya.

" Di ruang kelas ? Sekarang ?" Ucap Hanna deg-degan ketika V memintanya bercinta di tempat umum.

"Iyya Hanna... Ana ingin kita sama sekali tidak berpakaian... Ana ingin kita sama-sama telanjang sambil menikmati persetubuhan kita... Ana ingin menyetubuhi antum sebagaimana itu persetubuhan terakhir ana dengan antum... Ana akan melampiaskan semuanya... Ana ingin antum mengingat persetubuhan kita selamanya" Ucap V yang membuat Hanna merinding mendengarnya.

"Tubuh antum bagus... Ana suka tubuh antum yang sekarang karena keliatan jadi lebih berisi daripada sebelumnya... Ana jadi makin gak sabar untuk melihat ketelanjangan antum, Hanna" Ucap V terus merangsang Hanna menggunakan kata-katanya.

Perlahan nafsu Hanna jadi bangkit setelah mendengar SSI dari V. Sambil malu-malu, Hanna mengangkat wajahnya tuk menatap wajah tampan V. V jadi keliatan gagah setelah melontarkan kalimat SSI-nya kepadanya. Seketika pandangannya teralihkan pada selangkangan V. Hanna teringat penis besarnya yang sudah membuatnya berteriak-teriak saat digenjot olehnya. Diam-diam Hanna jadi ingin merasakannya lagi. Matanya pun tidak dapat ia alihkan dari tonjolan yang nampak dari celana yang V kenakan.

"Hannnn" Panggil V sambil mendekap dagu Hanna yang mirip lebah yang bergantung itu. Jemari V mengangkat dagu itu agar matanya dapat menatap mata indah Hanna. Nampak Hanna menatap V dengan tatapan sayuk. Nampak bibir Hanna terbuka sedikit mengeluarkan deru nafasnya yang hangat.

V hanya tersenyum yang membuat Hanna semakin hanyut dalam sikap V di siang hari ini. Tanpa mengucapkan sepatah kata, mata V memejam kemudian wajahnya mendekat ke arah wajah Hanna. Sontak Hanna ikut memejam sambil membiarkan bibirnya terbuka agar ustadz tampan itu bisa melampiaskan seluruh hasrat seksualnya kepadanya.

Cuuupppp !!!

Bibir mereka bertemu. Bibir mereka bersatu. Bibir mereka bertubrukan sambil melampiaskan nafsu yang sudah tidak tertahankan. Perlahan bibir V mendorong bibir Hanna. Wajah Hanna sampai terdorong ke belakang. V dapat merasakan deru nafas Hanna yang hangat menerpa wajahnya. V dapat menghirup aroma kewanitaan yang berasal dari tubuh Hanna. Kedua tangannya pun naik memegangi pinggang rampingnya. Lalu naik lagi menuju payudaranya. Lalu naik lagi menuju pipinya agar bibirnya bisa lebih kuat lagi dalam mendorong bibir Hanna.

Hanna terkejut karena dirinya menikmati cumbuan V yang begitu bertenaga. Kedua tangannya jadi memegangi dada V yang masih diselimuti kemejanya. Bibirnya sedikit ia buka. Bibir bawahnya langsung di jepit oleh bibir V yang bernafsu kepadanya. Bahkan V menarik bibir bawahnya ke arahnya. Hanna sampai membuka mata. Lalu tersipu saat V tersenyum setelah melepas cumbuannya. Ia begitu hanyut oleh cumbuan yang dilakukan oleh rekan kerjanya. Ia jadi ingin merasakannya lagi. Ia jadi ingin menikmati cumbuan V lagi.

"Yuk langsung ke kelas... Ana makin gak sabar untuk menikmati ketelanjangan antum, Hanna" Ucap V sambil menarik lengan Hanna yang membuat ustadzah montok itu tersenyum malu-malu oleh perbuatannya. Hanna hanya ikut saja saat tangannya ditarik. Diam-diam ia melihat sekitar. Ia merasa senang karena tidak ada seseorang yang berkeliaran di sekitarnya. Ia juga merasa lega karena tidak ada seseorang yang melihat percumbuannya dengan seorang ustadz yang satu kantor dengannya.

Mereka sudah memasuki gedung kelas. Mereka langsung naik ke lantai dua agar semakin aman. Mereka berdua juga memasuki kelas paling ujung agar merasa tenang supaya tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu persetubuhannya ini.

"Uuuhhhhh" Desah Hanna dengan manja saat tubuhnya didorong ke tembok oleh V. Kesepuluh jemarinya digenggam erat oleh V. Kedua lengannya di lekatkan ke tembok oleh V. Kedua matanya pun ditatap dengan begitu mesra oleh V. Hanna semakin hanyut. Diam-diam bibirnya sudah bersiap untuk kembali dicumbu oleh ustadz tampan itu.

"Mmpphh" Desah mereka berdua saat bibir mereka kembali bersentuhan.

V membuka mulutnya. Ia kembali menghujami bibir Hanna dengan mengapit bibir bawahnya. Dengan penuh gairah V menghisap bibir itu sambil menggerakkan lidahnya untuk membasahi bibir bawah ustadzah cantik itu. Hanna yang semakin hanyut dalam lautan birahi itu membalas cumbuan V dengan menjepit bibir atasnya. Kepasrahan yang ia rasakan saat tubuhnya tidak dapat ia gerakkan semakin menambah gairah birahi yang ia miliki.

"Mmpphh... Nikmat sekali bibirmu Han... Ana jadi senafsu ini dalam menikmati keseksian bibir antum" Ucap V di sela-sela cumbuannya.

"Mmpphh antum juga V... Terus lagiii... Mmpphh... Cium ana lagi V... Antum harus tanggung jawab udah bangkitin hawa nafsu ana" Desah Hanna yang membuat V tersenyum senang.

"Gak usah khawatir Hann... Ana akan memuasi antum... Ana akan melampiaskan seluruh hawa nafsu ana ke antum" Ucap V memperkuat cumbuannya hingga kepala Hanna semakin terbenam ke tembok yang ia sandari.

Lidah V mulai bergerak memasuki rongga mulut Hanna. Hanna dengan pasrah mempersilahkan lidah itu untuk masuk merangsang mulutnya. Lidah mereka bertemu. Lidah mereka saling menggeliat dengan penuh nafsu. Lidah mereka terus menggesek ketika bibir mereka masih bercumbu. V kembali mengatup mulutnya hingga lidahnya terjepit oleh bibirnya sendiri. Diluar dugaan Hanna juga mengatup bibirnya hingga bibir V terjepit di dalam mulut Hanna. V mendorong bibirnya lagi. Lidahnya di dalam terus menggesek-gesek ustadzah berhijab itu lagi. Mata mereka masih memejam dikala bibir mereka terus menghujam.

"Mmpphh nakal yah antum Hann... Ana mau narik lidah ana kok malah ditahan tadi" Ucap V setelah menarik lidahnya keluar dari mulut Hanna.

"Mmpphh lidah antum gak boleh pergi V... Lidah antum harus ada disini untuk mempertanggung jawabkan perbuatan antum ke ana" Ucap Hanna yang membuat V tersenyum senang.

"Tenang... Ana punya cara lain untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ana ke antum" Ucap V yang langsung meremas buah dada Hanna yang begitu bulat dan kencang.

"Uhhhhh V... Uhhhh pelannn... Mmpphh" Desah Hanna memejam dikala kedua tangannya menahan tangan V agar tidak terlalu kencang saat meremas buah dadanya.

"Uuhhhh empuknya susu antum Han... Ana gak nyangka ukurannya udah segede ini... Perasaan dulu gak segede ini deh" Ucap V sambil terus meremas payudara Hanna yang membuat ustadzah cantik itu tersenyum malu.

"Ana jadi penasaran deh... Gimana yah bentuknya sekarang" Ucap V sambil menarik tubuh Hanna ke pelukannya dikala tangan kanannya mencari-cari resleting yang ada di punggung gamisnya.

"Aahhhh... Masih sama kok V... Bentuknya gak berubah" Ucap Hanna malu-malu.

"Ana gak percaya Han... Pasti susumu makin besar... Ana jadi ingin meremasnya langsung sambil dengerin desahan antum" Ucap V bernafsu saat menurunkan gamis ustadzah cantik itu dengan paksa.

"V pelann... Jangan sampai gamis ana rusak V" Ucap Hanna protes pada nafsu besar V.

"Hahahha... Maaf Han... Tubuh antum makin berisi gini sih... Ana jadi gak bisa ngendaliin diri buat menikmati keindahan tubuh antum yang sekarang" Ucap V yang membuat Hanna tersenyum malu.

"Dasar ihhhh... Pokoknya jangan sampai rusak... Ana gak mau pusing pas pulangnya nanti... Pokoknya kalau gamis ana rusak... Antum harus ganti yang lebih bagus" Ucap Hanna protes.

"Bukannya lebih baik antum pulang sambil telanjang aja Han ? Soalnya antum lebih cantik kalau gak pake baju sama sekali loh" Ucap V yang membuat Hanna sebal sehingga ingin mencubit V.

"Enak aja... Emangnya ana ustadzah apaan ? Gak mau lah yah" Ucap Hanna kesal.

"Antum ustadzah terseksi... Yang punya body montok yang bikin ana bernafsu berulang kali" Ucap V membangkitkan gairah birahi Hanna saat mendengarnya.

"Dasar mesum... Kalau gitu buktiin nafsu antum sekarang ke ana" Ucap Hanna menantang karena dirinya sudah tidak sabar untuk dipuasi oleh kejantanan V.

"Siap ustadzah... Hahahah" Tawa V yang membuat Hanna tersipu dihadapan ustadz tampan itu.

Gamis Hanna sudah terlepas dari tubuhnya. Kini dada Hanna hanya ditutupi oleh beha berwarna putihnya saja. V tersenyum, ia buru-buru menarik lepas roknya hingga Hanna saat itu hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Hanna jadi semakin seksi saat sedang berbikini. Tubuh berisinya semakin kelihatan. Buah dadanya yang besar semakin menggairahkan. Paha montoknya yang aduhai semakin merangsang birahi V.

"Indah sekali tubuh antum Han... Ana semakin gemes tuk merangsang tubuh antum" Ucap V yang membuat Hanna merasa malu saat mendengarnya.

"Yaudah buruan... Daritadi cuma ngomong terus... Dasar" Ucap Hanna kesal karena V selalu menggodanya tanpa langsung bertindak untuk menjamah tubuhnya.

"Hahha sengaja biar antum makin geregetan" Ucap V yang langsung meremasi buah dadanya lagi.

"Uuuhhhhh V.... Mmpphh" Desah Hanna sangat puas. Memang benar apa yang sudah V katakan. Dirinya jadi semakin bergairah setelah di goda dengan kata-kata yang menjurus ke arah seksual. Kini, ia semakin merasa nikmat saat tangan nakal V menjamah tubuhnya.

Tubuh Hanna kembali disandarkan pada tembok di belakang. Payudara kirinya diremas oleh tangan kanan V. Perut ratanya diusap oleh tangan kiri V. Dadanya dikecup oleh bibir genit V. Hanna semakin bergairah merasakan rangsangan demi rangsangan yang sudah V berikan. Apalagi saat tangan kiri V semakin turun untuk membelai paha montoknya. Hanna merinding, ia mencoba membuka mata namun tidak bisa. Matanya hanya bisa memejam karena keenakan merasakan rangsangannya.

"Gimana ? Antum puas kan ?" Tanya V yang hanya dijawab anggukan oleh Hanna.

Ekspresi wajah Hanna yang keenakan membuat birahi V semakin membesar. Bibirnya kembali mendekat untuk mencumbu bibir manisnya. Kedua tangannya sudah berada di bongkahan pantatnya untuk meremas bulatan sekel itu dengan sangat kuat. Bibir V membuka untuk mencaplok bibir manis Hanna. Bibir Hanna membalas dengan mencaplok bibir V juga. Mereka berdua benar-benar berada di bawah pengaruh hawa nafsu. Mereka terus bercumbu. Memuaskan nafsu yang semakin tidak menentu. V bergairah begitupula Hanna yang semakin bergairah.

"Lepas kemeja ana Han... Telanjangi ana... Puasi ana dengan keindahan tubuh antum itu" Ucap V sebentar sebelum bibirnya kembali mencumbu bibir Hanna.

"Mmpphh... Mmpphh iyyah V" Ucap Hanna dengan patuh.

Dikala bibirnya dicumbu. Dikala matanya masih memejam. Kedua tangannya dengan lihai melepas satu demi satu kancing kemeja yang masih berada di tempatnya. Hanna juga melonggarkan dasi yang V kenakan. Nampak dada V yang berkulit bening terlihat di hadapan matanya. Hanna mencoba membuka matanya. Kulit bening V semakin merangsang birahinya. Hanna semakin bernafsu. Bahkan bibirnya jadi aktif dalam mencaplok bibir V.

"Mmpphhh" Desah V terkejut saat Hanna tiba-tiba agresif dengan membalikan tubuhnya.

Kini V yang bersandar pada tembok di belakang. Nampaknya Hanna sudah tidak kuat dalam mengendalikan hawa nafsunya lagi. Ia tidak tahan lagi setelah dirangsang habis-habisan oleh V. Sambil terus membuka kancing kemeja V. Hanna menjepit bibir V kemudian membuka matanya untuk menatap wajah V yang sedang tersenyum keenakan.

Hanna jadi malu. Tapi ia terus bercumbu seolah mengatakan kalau bernafsu ya seharusnya seperti ini. Bukannya hanya berkata-kata saja.

Setelah seluruh kancing kemeja V terlepas. Hanna buru-buru membuka kemeja itu kemudian meloloskannya dari tubuh bening V. Nampak V sudah bertelanjang dada menyisakan dasi yang melekat di lehernya saja. Hanna diam sesaat sambil menikmati ketelanjangan V. Tubuh beningnya benar-benar memanjakan mata Hanna. Hanna sampai diam terpaku sebelum suara V menyadarkannya dari lamunannya.

"Baru tau antum bisa sebinal ini, Han" Ucap V yang membuat Hanna merasa malu.

"Gara-gara antum tau V ! Ana juga gak sadar udah melakukan semua itu tadi" Ucap Hanna malu-malu sambil kembali mendekat untuk menurunkan resleting celana V.

"Hahaha bagus lah... Ana suka... Ana jadi semakin bernafsu kepadamu Han" Ucap V geregetan saat melihat ustadzah montok itu tengah memelorotkan celananya.

Celana V terlepas. Bahkan celana dalam V juga diloloskan oleh ustadzah berbadan montok itu. V tersenyun puas sambil bertelanjang bulat di hadapan Hanna. Penisnya yang sudah menegak menantang birahi Hanna di depan. Penisnya yang berukuran besar yang mempunyai otot-otot yang menjorok keluar itu dengan gagah berdiri tegak di hadapan ustadzah cantik itu.

"Gedeee banget V" Ucap Hanna tanpa sadar.

Ustadzah yang tinggal mengenakan bikini serta hijab dan alas kaki yang melekat di tubuhnya itu terpana. V hanya tersenyum sambil menarik tangan Hanna agar bisa mendekat. V menatap mata Hanna sambil tersenyum di hadapan wajahnya.

"Ini untuk memuasimu Han... Agar antum bisa teriak-teriak saat menerima sodokan ana nanti" Ucap V yang membuat Hanna menenggak ludah. Ustadzah cantik itu pun tak sabaran untuk merasakan genjotannya lagi yang pastinya akan sangat nikmat ketika menembus vaginanya.

"Ana boleehh ?" Ucap Hanna sambil membelai penis V menggunakan tangannya dikala matanya menatap mata V dengan tatapan sayuk.

"Boleh banget Han... Ayo mainkan" Ucap V tersenyum.

Hanna berjongkok. Kedua tangannya dengan lembut mendekap batang penis raksasa itu. Pelan-pelan Hanna mulai mengocoknya, ia pun mulai mencium aroma selangkangan V yang malah membuat birahinya semakin bangkit. Nafas Hanna memberat. Hidungnya mendengus. Tanpa sadar lidahnya ia julurkan untuk menjilati ujung gundul dari penis raksasa itu.

"Aaaaahhhh... Ouuuhhhhh... Uuhhhhhh... Nikmat sekali Han" Ucap V yang membuat Hanna tersenyum.

Hanna kembali menjilati ujung gundulnya. Lidah itu bergerak dengan pelan seolah sedang menggelitiki ujung gundulnya. Bahkan lidahnya mengincar area di sekitar lubang kencing V. V jadi merinding. V mengerang. Nafasnya ikut memberat merasakan rangsangan Hanna di ujung gundulnya.

"Hannaaa... Aaaahhhh... Aaahhh yaaahhh... Aahhh nikmatnyaaa" Desah V yang membuat Hanna semakin tertantang untuk memuaskan penis besar V.

Hanna membuka mulutnya lalu mendekatkan penis V ke arah mulutnya. Dengan lembut bibirnya kembali mengatup hingga ujung gundul V terjepit di dalam. V mengerang, ia merasakan kehangatan dan kelembapan di ujung gundulnya. Apalagi saat lidah Hanna ikut aktif dalam menggelitiki lubang kencing V. V jadi merinding merasakan kepuasan yang sudah Hanna berikan.

"Ouhhhh Hannaaa... Ouhhhh nikmatnyaahh" Desah V sambil menatap wajah ustadzah berbikini itu.

Hanna tersenyum mendengar suara desahan V. Ia jadi semakin tertantang hingga 1/4 dari penis besar V sudah di lahap olehnya. Tidak cuma di lahap bahkan mulutnya mulai bergerak maju mundur. Tangan kanannya juga berada di batang penisnya untuk mengocoknya dengan lembut. V keenakan. V menikmati rangsangannya. Ia berulang kali mengatur nafasnya agar tidak keluar duluan saat dinikmati oleh Hanna.

"Mmpphh... Mmpphh... Kontol antum keras banget sih V... Mmpphh" Desah Hanna bernafsu. V jadi merinding mendengar ustadzah cantik yang ia kenal alim menyebutkan kata kontol ketika sedang mengulum penisnya. V hanya geleng-geleng kepala. Ia jadi semakin menantikan aksi selanjutnya dari ustadzah berbadan montok satu ini.

Kedua tangan Hanna sudah menempel di paha bening V. Sambil memejam, kepalanya ia majukan hingga setengah dari penis V sudah di lahap olehnya. Kepalanya ia mundur kan lagi sebelum ia majukan lagi. Liurnya semakin banyak saat membalut penis besar V. Hanna keenakan. Ia ketagihan dalam mengulumnya meski lidahnya tidak merasakan rasa apapun saat mengulum penisnya. Namun sensasi nakal yang ia rasakan itulah yang membuatnya tidak bisa berhenti saat mengulum penis besar V.

Kedua tangannya yang gemas kembali mendekapnya. Tangan kirinya mendekap biji salaknya sedangkan tangan kanannya mengocok batang penisnya. Mulut Hanna kembali maju mundur. Hanna terus mengulumnya hingga penis V semakin besar dan menegak dengan kencang di hadapan matanya.

"Aaahhhh Hannnaa.... Aaahhhhh.... Aaahhhhh nikmat sekali seponganmu Han" Ucap V mengerang.

Terkadang Hanna memuntahkan penis itu dari mulutnya. Lalu melahapnya lagi. Ia memuntahkannya lagi namun terkadang lidahnya ia julurkan hingga menempel di ujung gundulnya. Lalu Hanna mengocoknya. Hanna mengocok penis V dikala lidahnya menempel di ujung gundulnya.

"Aaahhh... Aaahhhhh... Aahhhh nikmatnyaaa... Aahhhh" Desah V yang membuat Hanna tersenyum puas.

Nafsu yang sudah menggebu-gebu membuat Hanna tanpa sadar mengecup ujung gundul V. Lalu bibirnya membuka sehingga ujung gundul V kembali tertelan olehnya. V kewalahan merasakan kuluman penuh nafsu dari ustadzah cantik itu. Karena tak tahan lagi setelah berulang kali dirangsang olehnya, tangan kanannya tanpa sadar mendorong kepala Hanna sehingga wajah cantik ustadzah itu terbenam ke arah selangkangannya.

“Ouuhh yahhhh” desah V puas.

"Mmppphh" Desah Hanna memejam. Ia terkejut saat kepalanya tiba-tiba didorong oleh V. Namun ia tidak marah, Justru dirinya semakin bernafsu akibat mencium aroma kuat yang berasal dari selangkangan ustadz tampan itu.

“Hah... Hah... Hah... Ana gak kuat buat nahan diri lagi Han... Ana akan tunjukan, nafsu yang selama ini ana pendam ke antum” ucap V bertekad untuk melampiaskan semua nafsunya sekarang.

V melebarkan kaki selebar-lebarnya. Ia mendorong pinggulnya hingga penisnya semakin masuk ke dalam mulut Hanna. Ia juga mendorong kepala Hanna hingga wajah cantiknya semakin masuk ke arah selangkangannya. Sensasi itu. Kenikmatan itu. Kepuasan yang sedang ia rasakan sekarang. V jadi geleng-geleng kepala merasakan semuanya. Ia sungguh tak menyangka dirinya bisa mendapatkan kenikmatan seperti ini lagi. Sudah lama dirinya tidak merasakan mulut seorang ustadzah. Sudah lama dirinya tidak melampiaskan nafsunya pada seorang ustadzah. Kini Hanna sedang berjongkok dihadapannya. Ia sudah siap untuk menjadikan Hanna pelampiasan nafsunya.

"V... Mmpphh... Mmpphhh" Desah Hanna sambil menepuk-nepuk paha bening ustadz itu.

“Aahhhhhh... Ada apa Han ? Uhhhh nikmatnyaaaa” desah V tak peduli.

Kenikmatan yang ia dapatkan membuat tangannya tanpa sadar mendorong kepala Hanna ke belakang kemudian menariknya ke arah selangkangannya. Lagi, Ia mendorong kepala Hanna lalu membenamkannya ke selangkangannya lagi. Penis besarnya jadi tergesek oleh lidah lembap Hanna. Penis V jadi basah terkena liur Hanna. Ia yang sudah bertelanjang bulat semakin terpuaskan oleh kenikmatan oral yang dilakukan oleh rekan kerja sekantornya.

“Mmpphhh... Mmpphhhhhh”

Sama seperti saat mulutnya disetubuhi oleh pak Prapto. Hanna tidak merasa marah kali ini. Rangsangan dari V yang ia terima sebelumnya membuatnya justru ingin dinodai lebih kotor lagi. Hanna menikmati ketidakberdayaanya. Sensasi itu justru membuatnya ingin dipuasi lebih oleh V.

“Uhhh... Uuuhhhh... Mantap sekali mulutmu Han... Mulutmu rapet banget.... Uhhh gimana memekmu nanti Han ? Ana makin gak sabar pengen menggenjotmu deh” desah V dengan sangat puas.

Nafsunya yang semakin membesar membuat pinggul V bergerak memutar sehingga penisnya seolah seperti sedang mengaduk mulut Hanna. Ustadzah cantik yang tak berdaya itu jadi kewalahan dalam meladeni nafsu birahi rekan kerja sekantornya.

Lagi, kini V melakukan gerakan maju mundur menggempur pertahanan mulut Hanna. Ia seolah sedang menyetubuhinya. Kedua tangannya menahan sisi belakang kepala Hanna agar tidak terdorong ke belakang. Pinggulnya bergerak maju mundur. Penis itu terus menerus keluar masuk di dalam mulut Hanna. Penis itu jadi semakin lembap setelah terolesi liurnya yang hangat. V memejam keenakan. Ia merasa puas setelah menodainya. Ia telah menodai mulut manis seorang ustadzah yang biasanya hanya digunakan untuk mengatakan hal yang baik-baik saja.

“Aahhhh... Ahhhhh... Aahhhhhhh” desah V puas hingga geleng-geleng kepala..

“Mmpphh... Mmpphhh V... Mmpphhh” Hanna kewalahan hingga matanya terus memejam dan tangannya sampai memukul-mukul pahanya agar ustadz tampan itu berhenti menyiksa pangkal kerongkongannya.

Namun kenikmatan sedang menjalar di tubuh V. Ia terus menggempurnya seolah mengabaikan tanda dari Hanna untuk berhenti sesaat. Nafasnya perlahan kian berat dan ia mulai merasakan penisnya berdenyut di dalam mulut ustadzah cantik itu.

“Aaahhhhh bahayaaa.... Hannn... Ouhhh mulut antum kok nikmat banget sih... Ana sampe mau keluar gini !!!” desah V berulang kali mengatur nafasnya.

Hanna terkejut mendengar V sudah mau keluar setelah menggempur mulutnya. Pantas saja tadi lidahnya merasakan sesuatu yang asin yang rupanya berasal dari cairan precumnya. Hanna hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata tuk menahan birahi V yang semakin menjadi.

“Mmmpphhh” tiba-tiba penis V semakin terbenam di mulutnya. Hanna terkejut ketika penis V terus mendorong pangkal kerongkongannya seolah ingin memasukannya lebih ke dalam. Untungnya, baru setelah itu, V mencabut penisnya dari mulutnya. Hanna ngap-ngapan. Ia lega bisa menghirup udara bebas lagi setelah digempur habis-habisan oleh birahi V.

“Uhhuukk... Uhhuukkk... Uhhuukk” Hanna sampai terbatuk-batuk dalam keadaan menunduk ke lantai. V hanya tersenyum puas sambil membelai kepala mungil Hanna. Nampak penisnya semakin basah terkena liurnya. V puas, Ia kemudian mengajak Hanna berdiri sambil menyandarkan ustadzah cantik itu lagi ke dinding.

“Maaf Han... Ana terlalu bernafsu... Mulutmu enak banget sih buat ana setubuhi” ucap V yang membuat Hanna tersenyum malu.

“Dasar ihhh... Ana hampir keselek tau” ucap Hanna kesal.

“Hahaha iyya maaf... Sekarang deh, ana akan memberikan kenikmatan yang ana janjikan ke antum” Ucap V sambil mengangkat salah satu kaki Hanna.

“Ehhh sekarang ? Langsung ? Ana mau istirahat dulu V... Uhuukkk... Ana capek banget” ucap Hanna memohon.

“Maaf Han... Waktunya mepet banget... Udah mau dhuhur nih soalnya” Ucap V sambil mendekatkan batang penisnya yang sudah lembap ke arah bibir vagina Hanna melalui sela-sela celana dalam yang masih bidadari itu kenakan.

“V... V... Bentar duluu donggg... Ana mauuu uhhhhh” desah Hanna saat merasakan penis raksasa itu mulai membelah liang senggamanya yang sudah basah.

“Ouuhhhh mantap sekaliiiii.... Laggiii hennkkghhh !” ucap V sambil mendorong pinggulnya.

"Ahhhhhh V... Ahhhhhhh" Desah Hanna sambil membuka matanya menatap wajah V.

“Aahhh sempitnyaahh... Tuh kan rasanya lebih nikmat daripada waktu itu... Kenapa yah kok memek antum jadi lebih enak dengan tubuh semontok ini” Ucap V dengan puas sambil memperhatikannya lekuk tubuh Hanna yang semlohay. V kemudian menurunkan sedikit cup bra yang Hanna kenakan hingga putingnya mengintip. Hanna jadi terlihat lebih seksi. V jadi semakin bernafsu dalam melampiaskan seluruh hasrat birahinya pada ustadzah cantik itu.

"Tunggu... Tunggguuu duluuu V... Ahhh... Ahhhhh" Desah Hanna kelelahan ketika penis itu memaksa masuk.

Tiba-tiba . . . . .

Jleeebbbbb !!!

Dengan satu hentakan yang dahsyat. V langsung menghujami liang senggama Hanna dengan sangat mantap. Ia mendorong pinggulnya hingga ujung gundulnya terasa mentok mengenai rahim dari bidadari cantik itu.

"Aaaaaaaahhhhhhh" Desah mereka berdua bersamaan menikmati kenikmatan yang tak tertahankan.

Tangan kiri V sudah mendekap punggung mulusnya. Tangan kanannya pun membelai pipi mulusnya. Akhirnya, V dapat menancapkan batang penisnya lagi ke dalam rahim seorang ustadzah. Tak perlu menunggu lama, ia mulai menggerakan pinggulnya tuk merasakan jepitan yang begitu mantap dari otot-otot vaginanya yang menjepit batang kemaluannya.

"Ouhhhhh Haannnnn... Ouhhhhh sempitnyaaahhh... Ouhhh" Desah V sambil menatap mata Hanna dengan penuh nafsu.

"Ouhhh V... Ouhhh... Uhhhhhh" Desah Hanna merasakan sodokan penis V begitu dalam menyodok rahimnya.

V mulai menggerakan pinggulnya maju mundur secara stabil. Penis besarnya dengan perkasa mengaduk-ngaduk liang senggama Hanna secara merata. Selagi penisnya terus mengaduk-ngaduk rahim bidadari itu. Kedua tangannya tak tinggal diam dalam membelai ketelanjangan yang dialami oleh Hanna. Sesekali tangan kirinya masuk ke dalam celana dalamnya tuk meraba bokong montoknya. Ia meremasnya, ia mencengkramnya, ia menamparnya bahkan sesekali ia mendorongnya hingga penis miliknya semakin menusuk ke dalam.

"Ouhhhhh V... Ouhhh... Ouhhhhh" Desah Hanna saat menerima tusukan demi tusukan darinya.

“Aaahhhh... Aahhhh... Luar biasa sekali jepitan memekmu Han... Uhhhhh ana sampai puas banget kayak gini lohh” desah V yang tak sengaja menatap puting indah Hanna yang mengintip. Tergoda, V mendekatkan wajahnya untuk menjepit puting indah itu menggunakan bibirnya.

"Ahhhh... Jangan V... Ahhhh gelliii... Gelliii" Desah Hanna dengan manjanya.

V benar-benar puas saat menyusu sambil memasukan batang penisnya ke dalam rahim bidadari itu. Berulang kali mulutnya berpindah dari payudara kiri ke kanan. Ia melahap puting itu dengan sangat rakus. Sesekali ia menghisap puting itu hingga membuat pemiliknya merinding. Sesekali ia mengulumnya sambil memberikan jilatan yang membuat pemiliknya mengejang. Bahkan tak jarang karena saking bernafsunya ia sampai menggigit puting indah itu hingga membuat pemiliknya mengerang.

"Aahhhhh V" Desah Hanna memejam dengan manja.

Tubuh indah Hanna terantuk-antuk saat menerima sodokan dari V. Vaginanya terasa ngilu saat berulang kali ditusuk-tusuk tanpa ampun oleh V. Cengkraman di bokongnya juga terasa semakin kencang. Begitupula yang ia terima di payudara kanannya saat ustadz tampan itu meremas kuat dan menjilati putingnya.

Nafsu besar yang V miliki saat menyetubuhi Hanna membuat nafsu Hanna sendiri semakin naik tak terkendali. Rangsangan dan remasan V yang tak pernah berhenti dalam menggerayangi tubuhnya membuat Hanna pasrah dalam menyerahkan kemontokan tubuhnya. Hanna bahkan sampai menggigit bibir bawahnya sambil menatap wajah tampan V yang kian bernafsu dikala menyetubuhinya.

“V.... V.... Ouhhh... Ouhhh dalemmm bangetttt” desah Hanna malu-malu saat menikmati persetubuhan itu.

“Ada apa Hann ? Gimana ? Udah mulai kerasa kan kenikmatan yang ana janjikan ?” tanya V sambil tersenyum. Sambil malu-malu Hanna hanya mengangguk setuju. Rasa kenikmatan saat penis gagah V keluar masuk di dalam vaginanya membuat Hanna merasa puas. Ia pun memejam agar dapat fokus menikmat tusukan penisnya yang semakin dalam menembus vaginanya.

“Uuuuhhh... Uhhhh... Uhhhhhh” desah Hanna semakin kewalahan.

Namun, ketika sedang asyik-asyiknya menikmati sodokan penisnya. V malah mencabut penisnya yang membuat Hanna sontak membuka matanya.

“Ganti gaya yuk” ucap V yang segera dijawab anggukan oleh Hanna agar dirinya bisa segera ditusuk oleh kejantanan penis V lagi.

V segera menarik tubuh Hanna kemudian melepaskankan beha beserta celana dalam yang masih dikenakannya. Dalam sekejap Hanna sudah bertelanjang bulat. Tubuh montoknya itu pun dibaringkan diatas meja panjang yang berada di dalam ruang kelas itu. Nampak Hanna terengah-engah sambil menatap wajah V seolah dirinya ingin segera dimasuki batang penisnya lagi. Untungnya V peka. Ia mendekati ketelanjangan Hanna sambil membuka lebar kaki-kaki jenjangnya hingga bibir kemaluannya terbuka.

“Jujur ana udah gak tahan lagi Han... Ana akan mengakhirinya disini... ” ucap V tersenyum sambil mengarahkan penisnya ke lubang vagina Hanna.

Ana juga V... Ana juga mau keluar tadi... Tolongg bantu ana dapetin orgasme yah” ucap Hanna memohon.

“Tenang Hann... Kita pasti bisa dapet kepuasan bareng-bareng kok” ucap V yang langsung menghentakkan pinggulnya lagi.

“Uuuhhhh... Iyyahhh V” desah Hanna merasakan vaginanya kembali terisi penuh oleh penis raksasa V.

V langsung mencengkram pinggang ramping Hanna dengan kuat. Saat pinggulnya mulai bergerak. Kedua payudara Hanna ikut bergerak maju mundur mengikuti pergerakan pinggul V. Gesekan yang begitu nikmat kembali dirasakan mereka berdua. V mengerang sambil menatap pergerakan indah payudara Hanna. Sedangkan Hanna memejam saat merasakan hentakan yang dilakukan oleh V semakin kuat.

“Aahhhh... Aahhhh... Sempittnyyaa... Sempitnyyaa memek antum Hann... Ouhhh kerasa banget memek antum ngejepit kontol ana didalem” ucap V keenakan sambil menatap dada indah Hanna secara terus menerus.

“Aahhh... Aaahhhh... Kontol antum kali V yang kegedean... Uhhhh tolonggg pelannin dikit V... Uhhhh itu gakk muatt” desah Hanna kewalahan.

Suara desahan yang begitu menggairahkan dari ustadzah montok satu ini membuat V kian gemas untuk mencumbui bibirnya lagi. Tubuhnya ia turunkan. Tubuhnya yang bening itu langsung menindihi tubuh montok Hanna yang sudah bertelanjang bulat menyisakan hijab beserta alas kakinya saja.

"Mmpphh V !!!"

"Mmpphh manis sekali bibir antum Han... Ana sampai kecanduann... Mmpphh puasnya bisa mencumbu bibirmu lagi"

Cupppp !

Bibir Hanna dikecup. Bibir Hanna didorongnya dengan penuh nafsu. Tanpa ampun, V mencumbunya sambil tangannya membelai-belai payudara Hanna yang semakin membesar dibawah sana.

"Mmpphh... Mmppphhhh" Hanna mendesah saat dicumbui lagi oleh V. Namun untuk saat ini, Hanna merasa kalau cumbuannya terasa lebih agresif. Bahkan pergerakan kedua tangannya juga semakin agresif dalam meremasi kedua payudaranya.

"V... V... Mmppphhh" Desah Hanna tertahan cumbuannya.

V semakin bergairah saat mendengar desahan manja Hanna. Kedua tangannya dengan tergesa-gesa membelai kulit mulus Hanna dengan lembut. Awalnya dari pinggangnya lalu berpindah ke perutnya lalu pelan-pelan mulai mendaki kedua gunung kembar itu yang langsung diremasnya ketika sampai di puncak. Hanna merinding saat merasakan nafsu besar V. Ia heran, padahal sebelumnya saat di rumah sakit, V tidak senafsu ini. Tapi sekarang ? V benar-benar melampiaskan seluruh nafsunya kepadanya. V menyetubuhinya seolah tidak ada hari esok lagi baginya untuk menyetubuhinya. Setiap hentakkan yang pinggul V berikan membuat Hanna menjerit tak berdaya. Setiap hentakkan yang pinggul V berikan membuat Hanna mendesah keenakan. Apalagi dorongan bibirnya. Bibirnya terus didorongnya dengan penuh nafsu sehingga dirinya dapat merasakan deru nafasnya yang terdengar berat.

"Ahhhhh.... Ahhhhh.... V... Ahhhhh" Desah Hanna saat kedua tangan V dengan gemas terus meremasi payudaranya.

Darah Hanna berdesir. Matanya memejam. Mulutnya ia rapatkan sambil menahan rasa nikmat yang tidak tertahankan. Payudara kenyalnya terus diremas. Payudara montoknya terus dicengkram dengan sangat kuat. Remasan yang begitu bernafsu membuat Hanna sampai harus menahan tangan V di dadanya akibat rasa perih yang mulai ia rasakan.

Dikala pinggul V terus bergerak menghujami vaginanya. V masih saja memainkan payudara indah itu. Sepertinya ustadz tampan itu sudah tergila-gila dengan ukurannya yang semakin membesar. Ia terus saja meremasnya sambil mencumbui bibir tipis Hanna yang tergeletak pasrah dibawah tindihannya.

"Ouhhhh Hannaa.... Ouhhh indahnya tubuh antum ini... Ana suka... Ana jadi lebih bernafsu saat menikmati keindahan antum ini" Pujinya sambil terus memainkan kedua payudara Hanna.

"Mmpphhh V... Mmpphh.... Mmmphh yahhh... " Desah Hanna sambil memejam untuk menikmati percumbuan kali ini.

“Ouhhhh nikmatnyaaa... Sekarang kita akhiri yahhh” ucap V setelah puas mencumbui bibirnya. Tubuhnya kembali bangkit agar matanya dapat dimanjakan lagi oleh goyangan payudara indah Hanna yang berubah jadi kemerahan akibat remasan kuat yang baru diterimanya.

“Heennkkghhh !!!” Desahnya sambil memegangi paha mulus Hanna. Ustadz tampan itu langsung menghujami vaginanya tanpa ampun. Nampaknya ia tidak bisa lagi menahan rasa nikmat yang semakin kuat saat dinding vagina Hanna menjepit batang kemaluannya.

"Aahhhhh... Ahhhhhh" Desah Hanna terdorong maju mundur.

V terus mendesah sambil menatap tubuh indah Hanna yang sedang ia genjot. Ia pun geleng-geleng kepala tak menyangka dirinya bisa sepuas ini ketika menyetubuhinya di dalam ruangan kelas. Kedua tangannya pun berpindah menuju pinggul ramping itu. Ketika pinggulnya ia cengkram kuat, sodokannya pun ia percepat sehingga tubuh Hanna terhempas maju mundur tanpa ampun di bawah sana.

Plokkkk... Plokkk... Plokkk !!!

"Ahhhh V... Ahhhh... Ahhhhh" Desah Hanna dengan manja.

"Ahhhh Hannnn... Ahhh... Ahhh nikmat nyaaaa" Desah V puas.

Suara benturan antar kelamin itu semakin terdengar kuat. Begitu juga dengan suara desahan mereka yang menyatu bak sebuah paduan suara. Apalagi dengan ucapan-ucapan yang V katakan untuk merangsang tubuh indah Hanna.

"Ahhhh... Ahhh indahnya susu antum Hannn... Ouhhh rapetnya memek antum" Pujinya tidak kuat lagi.

"Ahhhh V iyyahhh... Iyyahhh teruussss..." Ucap Hanna meminta agar V mempercepat laju pinggulnya karena ia mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme yang mendekati lubang kencingnya.

"Hannn... Hannnn... Ahhhh... Ahhhh ana sudah gak kuat lagi" Katanya saat pinggulnya bergerak semakin cepat.

"V... Ahhh... Ahhh iyahhh V... Ahhhh ahhhh... Anaaa jugaa... Terusss genjot ana V" Ucap Hanna tanpa sadar saat hawa nafsunya mulai menguasai tubuhnya.

Nafsu yang sedang memuncak membuat V mempercepat sodokannya saat ia hampir mencapai klimaksnya.

Plokk... Plokk... Plokk....

Suara benturan antar pangkalan paha itu semakin terdengar kencang. V semakin tidak tahan saat dadanya terasa sesak. Akhirnya dengan satu hentakan yang mantap. Ia pun mendorong penisnya sampai mentok di ujung rahimnya.

"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhh... Ahhh Haannnnn... Terima ini !!! Hennkkgghhh !!!"

“Aaaahhh V... Iyyaaaahhhhhhh” Desah Hanna memejam saat vaginanya terisi oleh cairan kental ustadz tampan itu.

Crroottt... Crrooottt... Crroottt...

“Keelluuaarrrr” Jerit mereka bersamaan.

V mendesah. Begitupula juga dengan Hanna. V mencengkram kuat pinggul Hanna saat semprotan spermanya dengan dahsyat menyembur membasahi liang senggamanya. Kakinya sampai melemah. Nafasnya juga terengah-engah. Sedangkan Hanna melenguh pasrah menikmati kenikmatan yang tidak ada duanya.

Mereka berdua merem-melek penuh kepuasan. V sampai ambruk menindihi tubuh montok Hanna. Kedua tangannya tanpa sadar membelai payudara indahnya lagi. Bibirnya tanpa disuruh langsung mencumbui bibirnya lagi. Hanna menerima cumbuannya itu. Bibirnya membuka menerima bibir V yang semakin liar dalam mengapit bibirnya. Hanna melemas. Hanna benar-benar puas. Liang senggamanya telah penuh oleh campuran cairan cinta mereka berdua.

“Ouhhhh... Mmpphhhh” desah mereka berdua sambil menikmati cumbuan bibirnya.

Mereka pun memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil menikmati ketelanjangan masing-masing. Setelah energi mereka terkumpul sedikit, V mulai bangkit untuk menegakkan tubuhnya kembali. Nampak wajah Hanna yang begitu indah tanpa adanya sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Wajahnya jadi terlihat menggairahkan. Kedua payudaranya jadi membesar dikala tubuhnya semakin mengencang.

“Uhhhh” desah mereka berdua dikala V mencabut penisnya.

Nampak lelehan sperma V keluar begitu banyak dari rahim Hanna. V pun turun dari meja untuk berjalan ke sebelah sisi kepala Hanna.

“Tolong bersihkan Han” ucap V yang langsung dituruti oleh Hanna. Hanna mengulumnya. Hanna menjilatinya. Ustadzah montok itu melakukan tugas yang diberikan oleh V dengan baik.

“Ouuhhhhh puasnyaaa... Makasih yah Han... Sudah menuruti keinginan ana untuk bercinta lagi dengan antum” ucap V sambil membelai kepala Hanna dengan lembut. Hanna hanya tersenyum sambil merasakan kenyamanan yang sudah V berikan kepadanya.

“Huhhh... Sama-sama V... Tapi janji jangan bilang yang aneh-aneh lagi... Antum pasti bisa bertahan disini kok... Nanti ana akan coba lagi buat membujuk ustadzah Rania biar bisa bantu antum bertahan disini” ucap Hanna sambil tersenyum.

“Iyyahhh Han... Janji... Duhh senengnya... Udah dibantu antum terus dikasih kenikmatan dari jepitan memek antum lagi... Bahagianya ana” ucap V yang membuat Hanna tersipu malu.

“Huh dasar... Mumpung mood ana lagi bagus nih... Gara-gara antum udah bikin ana puas sih” ucap Hanna sambil malu-malu yang membuat V tertawa.

“Hahahah iyyah makasih yah Han” ucap V kembali mendekatkan wajahnya tuk mencumbui bibirnya lagi.

“Mmpphhh sama-sama V” desah Hanna dengan manjanya.

Mereka kembali bercumbu sambil menunggu waktu dhuhur tiba. Kedua tangan V membelai payudaranya untuk menikmati kekenyalan disana. Walau V merasa puas. Tapi masih ada satu hal yang menganggu pikirannya. Ia masih belum bertemu Haura. Ia sangat rindu ingin bertemu lagi dengannya. Setidaknya ia ingin mengobrol sekali saja sebelum dirinya benar-benar dikeluarkan. Apalagi besok merupakan hari terakhir baginya seperti yang sudah pak Kiyai janjikan.

Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy