Search

CHAPTER 45 -​ PERMINTAAN TERAKHIR

CHAPTER 45 -​ PERMINTAAN TERAKHIR

Pada pukul sebelas siang di Pondok Pesantren al-Insan.

"Aku kenapa yah ?" Tanya seorang ustadzah sambil memegangi dadanya.

Ia terus berjalan setelah menyelesaikan tugas mengawasnya di kelas. Namun belakangan perasaannya tidak enak terus. Ia heran, ia penasaran, ia jadi kepikiran sesuatu.

Apa jangan-jangan ini hukuman karena aku mulai menikmati perbuatan dosaku yah ?

Batin ustadzah tercantik itu.

Ia mulai merenung dalam perjalanan pulangnya ke rumah. Ia mengevaluasi dirinya sendiri. Ia teringat kalau pagi tadi saja dirinya sudah bermasturbasi sambil mengingat-ngingat persetubuhannya dulu dengan sang kuli. Entah kenapa hatinya terpanggil untuk memainkan dildo yang diberikan oleh pak Karjo. Entah kenapa belakangan ini dirinya mudah sekali terangsang sehingga membuatnya ingin selalu telanjang. Apakah dirinya sudah menjadi wanita jalang ? Pasti demikian, karena ia merasa selalu menuruti keinginan hawa nafsu. Ia merasa sudah menjadi wanita pemuas nafsu. Ia selalu bertindak sesuai dengan apa yang nafsunya kehendaki.

"Masih baru jam 11 yah ? Aku mau ke kantor dulu aja ah... Dah lama juga aku gak kesana" Ucap ustadzah tercantik bernama Haura.

Berhubung sudah memasuki masa ujian. Ia yang ditugaskan menjadi pengawas ujian jadi jarang berkunjung ke kantor bagiannya lagi. Memang sudah tidak wajib baginya untuk menetap di kantor bagiannya. Apalagi ia sudah mempunyai tempat yang bisa ia tinggali sendiri bersama sang suami. Ia juga mempunyai tugas sebagaimana pengajar lainnya yang harus menyelesaikan koreksiannya sebelum masa liburan tiba. Ia lebih memilih mengoreksi semua koreksiannya di rumah. Hal ini lah yang membedakan dirinya dengan pengajar lainnya. Dikala pengajar lainnya lebih nyaman dalam mengoreksi lembaran ujian di kantor bagiannya. Ia lebih nyaman melakukannya di rumah karena tentu rumahnya berbeda dengan asrama pengajar. Disana lebih tenang sehingga Haura sendiri lebih menyukai mengoreksi di rumah.

"Assalamu'alaikum" Ucap Haura setelah memasuki kantor bagiannya.

"Walaikumsalam... Eh ustadzah Haura... Tumben" Ucap seorang ustadz di dalam.

"Hihihi iyya nih ustadz Rafi... Lagi pengen kesini aja" Jawab Haura tersenyum manis. Rafi pun hanya tersenyum karena dirinya sedang sibuk mengoreksi lembaran ujiannya.

"Oh yah ustadzah... Dah tau kabar ustadz V belum" Ucap Rafi disela-sela mengoreksinya.

"Ustadz V ? Ada apa yah ?" Jawab Haura tampak tidak peduli.

"Loh belum tau ?" Ucap Rafi jadi terkejut.

"Eh emang ada apa ustadz ?" Jawab Haura yang perasaannya mendadak tidak enak setelah melihat ekspresi wajah ustadz Rafi.

"Ustadz V terancam dikeluarkan loh" Jawab Rafi yang membuat Haura kaget.

"Ehhhh dikeluarkan ?" Ucap Haura dengan keras.

"Iya... Sudah dua hari yang lalu beritanya... Tapi berhubung pak Kiyai lagi pergi, keputusan pastinya akan ditentukan besok" Ucap Rafi yang mengejutkan Haura.

Dikeluarkan ? Kok bisa sih ?

Batin Haura tidak menyangka.

Apa gara-gara ini yah perasaanku jadi gak enak ? Apalagi sudah berhari-hari aku mengabaikan dirinya... Sudah berhari-hari juga aku gak ngobrol lagi dengannya...

Batin Haura mendadak sedih. Ia seperti tidak menyangka saja. Seseorang yang pernah membuat hatinya jatuh cinta dan pernah membuatnya akrab seakrab-akrabnya itu mendadak terancam dikeluarkan.

"Oh yah ustadz ? Sekarang ustadz V dimana ?" Tanya Haura jadi ingin menemuinya.

"Kurang tau yah ustadzah... Tapi sih kayaknya sama ustadzah Hanna... Soalnya kemarin ustadzah Hanna berniat untuk membantunya supaya ustadz V bisa bertahan disini" Jawab Rafi.

Haura semakin tidak enak setelah tau kalau Hanna saja sampai berniat membantunya. Sebagai ustadzah yang pernah dekat dengannya, ia jadi tidak rela kalau sampai kehilangan rekan kerjanya. Ia jadi ingin menemuinya, setidaknya untuk mendengar alasan kenapa V sampai terancan dikeluarkan dari pesantren ini.

"Sama Hanna yah ustadz ? Yaudah makasih yah ustadz... Ana mau pamit dulu... Wassalamu'alaikum" Ucap Haura buru-buru pergi meninggalkan kantor bagiannya.


*-*-*-*


Beberapa menit kemudian,

"Hannaaa ? Haannn... Anti dimana Han ?" Ucap Haura sambil menengok ke kanan juga ke kiri.

Ia terlihat buru-buru. Ia bahkan sedikit berlari. Ia tak memperdulikan keringatnya yang bercucuran setelah disengat oleh sinar matahari yang panas. Cuaca di tengah hari memang sedang panas-panasnya. Tapi Haura terus berlari ditengah suasana pesantren yang sedang sepi.

"Ustadzah" Panggil seseorang yang sayangnya tidak didengar oleh Haura.

Haura terus berlari hingga mendekati gedung kelas yang berada di dekat asrama pengajar putri. Haura terengah-engah. Nafasnya memburu. Keringatnya bercucuran sehingga membuatnya menunduk seperti seseorang yang sedang melakukan gerakan rukuk.

"Hah... Hah... Hah... Dikit lagi... Kalau Hanna gak ada di kantor, seharusnya Hanna ada di kamar asramanya kan ?" Ucap Haura sambil menatap ke arah asrama wanita yang tinggal sedikit lagi. Jaraknya memang tinggal sedikit lagi. Tapi masih cukup jauh kalau harus melaluinya dengan berjalan kaki.

Tiba-tiba Haura mendengar suara yang berasal dari lantai dua gedung kelas. Haura heran siapa orang yang masih menetap di kelas pada jam segini ? Tapi ia tak memperdulikannya dan terus berlari menuju asrama pengajar putri.

Sementara itu,

"Ustadzah Hauraaa... Tungguuu" Ucap seorang ustadzah saat melihat Haura berlari.

Ustadzah cantik berpostur tinggi dan berparas aduhai itu berniat mengejarnya. Ia jadi ikut berlari sambil menyerukan namanya. Tapi disaat ia makin dekat dengan Haura, Tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi jalannya. Ustadzah cantik berbadan sempurna itu jadi berhenti saat melihat wajah dari seorang lelaki berperut tambun yang sedang menghalangi jalannya itu.

"Pak Heri ?" Ucap Nada dengan lirih.

"Ada urusan apa bapak disini ? Jangan menghalangi jalanku pak... Aku mau pergi" Ucap Nada memaksa diri dengan berlari ke arah belakang pak Heri.

"Tunggu ustadzah... Saya ingin mengobrol sebentar dengan ustadzah" Ucap pak Heri menahan tubuh Nada.

"Ada apa lagi pak ? Kenapa sih bapak terus mengganggu aku ?" Ucap Nada kesal sambil menatap ke arah Haura yang semakin jauh darinya. Nada jadi marah-marah sendiri. Padahal sekarang waktu yang pas menurutnya untuk curhat kepada ustadzah tercantik itu.

"Sebentar aja ustadzah... Tolong beri saya waktu... Ada yang ingin saya omongkan ke ustadzah" Ucap pria tua berperut tambun yang bahkan tidak menyunat penisnya itu.

Nada marah tapi ia berusaha mengendalikan amarahnya. Apalagi pria tua itu terlihat bersungguh-sungguh. Ia tahu, kalaupun ia berusaha menolak pasti pria tua itu akan terus memaksanya sampai bisa menuruti kemauannya. Nada mengalah, ia pun membiarkan pria tua itu berbicara dengannya.

"Kalau kita bicaranya di kantor gimana ustadzah ?" Pinta pak Heri.

"Kantor ? Kenapa gak disini aja ?" Jawab Nada heran.

"Ustadzah mau ? Nanti kalau dilihat orang-orang gak enak loh" Ucap pak Heri yang membuat Nada sadar kalau dirinya masih berada di lingkungan pesantren.

"Yaudah deh, kalau gitu"

Dengan berat hati, Nada pun berjalan di depan sementara pak Heri mengikutinya di belakang. Selama perjalanan ke kantor. Pak Heri terus memperhatikan penampilan indah sang ustadzah. Dari belakang, ia terpesona pada postur jangkung Nada yang lebih mirip seorang model daripada seorang ustadzah. Dengan hijab berwarna putih serta gamis panjang yang menutupi tubuh body goals-nya dari badan hingga ke kaki jenjangnya. Juga dengan blazer berwarna biru muda yang menambah pesona akan kecantikannya. Pak Heri hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Ia benar-benar tak menyangka ada wanita yang secantik dan seseksi Nada di dunia ini. Luar biasanya wanita seksi itu tidak pernah memamerkan keseksiannya. Melainkan keseksiannya tersembunyi di balik pakaian tertutupnya. Pak Heri masih saja terpana tiap kali melihat penampilan Nada. Nada memang luar biasa. Maka akan sangat disayangkan baginya kalau dirinya tidak bisa lagi akrab dengan ustadzah terseksi itu. Pokoknya amat sangat disayangkan. Ia pun sampai membatin di dalam hati.

Ini kesempatan terakhir saya untuk merebut kembali hatimu, ustadzah !!!

Batin pak Heri penuh harap.

Sesampainya di depan kantor bagian Administrasi. Tiba-tiba Nada berhenti melangkah lalu menengokkan wajahnya ke belakang. Ustadzah seksi itu sedang menatap pak Heri dalam posisi tubuh miring sehingga bokongnya tampak menonjol dari arah pak Heri menatap. Pak Heri terpana. Dengan kacamata yang melekat di wajah cantik Nada. Dengan posisi tubuh Nada yang agak miring saat menatap dirinya. Ia terpana pada tonjolan indah di dada Nada meski tertutupi blazer berwarna birunya. Ia juga terpana pada tonjolan indah di bokong Nada yang membuatnya gemas ingin menaboknya dan mencengkramnya sepuas-puasnya. Pak Heri sampai menjilati bibirnya sendiri. Ia jadi gemas pada akhwat seksi yang sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya itu.

"Paakkk... Paaakkk... Kita udah sampai... Apa yang ingin bapak bicarakan denganku ?" Ucap Nada membangunkan lamunan indah pak Heri. Untungnya saja Nada tidak sadar kalau pak Heri sedari tadi menatapnya dengan tatapan kotor.

"Ehh iyya... Udah sampai yah ? Yaudah kita duduk dulu ustadzah" Ucap pak Heri yang langsung mendudukan tubuhnya di kursi duduk yang terbuat dari stainless yang berada di teras kantor bagian Administrasi.

Nada sebenarnya agak kesal karena pak Heri tidak langsung mengungkapkan apa yang ingin di dibicarakan kepadanya. Tapi ia mencoba bersabar dengan menuruti perkataan pria tua berperut tambun itu.

"Cepat katakan pak... Aku gak ada waktu lagi" Ucap Nada sambil menyilangkan tangannya di dada.

"Saya melihatnya" Ucap pak Heri tiba-tiba.

"Maksudnya ?" Ucap Nada dibuat bingung.

"Saya melihatnya semalam" Ucap pak Heri sekali lagi yang membuat jantung Nada berdebar.

"Semalam ?" Ucap Nada berpura-pura tenang sambil berharap semoga apa yang ada di pikirannya berbeda dengan apa yang ada di pikiran pak Heri.

"Iyya... Saya melihatnya semalam saat ustadzah melayani mereka berdua" Ucap pak Heri yang membuat jantung Nada rasanya seperti berhenti berdetak.

"Terus ? Kenapa ? Bukan urusan bapak kan ?" Ucap Nada tiba-tiba kesal saat tahu pak Heri juga mengetahui perbuatannya semalam.

"TENTU URUSAN SAYA USTADZAH, KARENA SAYA GAK TERIMA MELIHAT USTADZAH DIPAKAI OLEH MEREKA !" Jawab pak Heri dengan tegas yang mengejutkan ustadzah seksi itu.

"URUSAN BAPAK ? INI TUBUH AKU PAK... AKU BERHAK MELAKUKAN APA YANG AKU MAU... KENAPA BAPAK MESTI IKUT-IKUTAN URUSANKU PAK ?" Ucap Nada ikut menjawab dengan tegas tapi tercengang dengan ucapan pak Heri selanjutnya.

"Memangnya itu yang ustadzah mau ? Enggak kan ?"

Nada hanya terdiam setelah mendengar ucapan kurir pengantar paket itu. Nada tanpa sadar terus menatap wajah kurir tua itu tanpa tahu harus menjawab apa.

"Ustadzah tau gak betapa sakitnya saya semalam saat melihat ustadzah dipakai oleh mereka ?" Ucap pak Heri lagi yang membuat Nada terus terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa.

"Jujur saya sakit hati ustadzah... Ustadzah itu seorang ustadzah... Ustadzah itu cantik, ustadzah juga baik... Saya tau banget ustadzah itu orangnya gimana karena saya sudah lama memperhatikan ustadzah secara diam-diam... Ustadzah gak berhak diperlakukan seperti itu oleh mereka, ustadzah berhak menerima perlakuan yang lebih pantas dari apa yang ustadzah terima semalam... Sebagai lelaki yang sangat mencintamu, jujur saya sakit hati melihat keadaan ustadzah semalam" Ucap pak Heri yang membuat hati Nada tersentuh. Sebagai seorang wanita, ia sangat kagum dengan jawaban dari pak Heri. Ia merasa dipedulikan olehnya. Ia juga mulai merasa dianggap lagi sebagai seorang wanita apalagi setelah teringat perlakuan suaminya yang lebih sering memperlakukannya selayaknya barang yang bisa digunakan siapa saja.

"Tapi ustadzah... Ada hal lain yang membuat saya lebih sakit hati saat melihat ustadzah semalam" Ucap pak Heri tanpa menatap wajah indah Nada. Pak Heri terlihat serius. Ia sangat bersungguh-sungguh saat mengucapkannya di hadapan wanita yang ia cinta.

"Apa itu pak ?" Jawab Nada tanpa sadar. Entah kenapa matanya sampai berkaca-kaca setelah mendengar ucapan dari kurir pengantar paket itu. Ucapannya sangat menyentuh hatinya. Jujur, hatinya kini lebih terbuka setelah mendengar ucapan dari kurir tua itu.

“Kenapa semalam ustadzah keliatan pasrah saat melayani mereka berdua ? Kenapa ustadzah gak ada keinginan untuk melawan supaya ustadzah tidak perlu melayani mereka berdua ? Jujur saya kecewa ustadzah, saya sampai kepikiran sesuatu saat menonton perbuatan ustadzah semalam” ucap pak Heri yang membuat Nada hanya terdiam menanti ucapan pak Heri selanjutnya.

“Apa ustadzah menikmati perbuatan semalam ? Apa jangan-jangan ustadzah gak melawan karena ustadzah menikmati perbuatan mereka saat mereka memuasi tubuh ustadzah secara bersama-sama ?” tanya pak Heri sambil menatap wajah indah Nada. Tatapan pak Heri terlihat serius. Terlihat di matanya kalau ia benar-benar kecewa dengan sikap Nada yang tidak ada penolakan saat disetubuhi oleh mereka berdua.

“Aku ? Mana ada pak... Mana mungkin aku menikmati perbuatan mereka pak ! Tidak ada ustadzah di dunia ini bahkan wanita yang mau melayani dua orang yang berbeda di waktu yang bersamaan disaat ada suami di sebelahnya ! Aku ini masih normal pak... Aku gak gila ! Aku masih waras pak... Aku juga sedih saat melihat suami aku justru menikmati perbuatan kedua orang itu kepadaku” ucap Nada sambil menyeka air matanya yang mulai keluar.

Pak Heri hanya tersenyum sambil menatap wajah indah Nada. Ia merasa lega karena setidaknya wanita yang ia cinta tidak benar-benar menikmati perbuatan mereka berdua. Ia senang karena Nada merasa terpaksa ketika melayani nafsu besar kedua orang suruhan suaminya itu.

“Terima kasih ustadzah... Maaf meragukanmu... Saya tahu, tidak mungkin wanita sealim dirimu mau melakukan perbuatan senista itu” ucap pak Heri mendekatkan tubuhnya lalu memeluk tubuh ramping ustadzah terseksi itu.

Nada yang sedang lemah dan butuh sandaran untuk meluapkan rasa sakit di hatinya akhirnya membalas pelukan kurir tua itu. Nada menangis di pelukan pak Heri. Nada meluapkan seluruh emosi yang tersimpan di hati. Ia merasa lega karena pak Heri telah membantunya dalam meluapkan semua beban yang tertahan di hati.

“Aku gak mungkin mau melakukan semua itu pak... Aku terpaksa melakukan itu karena mas Rendy yang memintanya... Tapi sebenarnya aku gak sanggup pak... Aku gak rela kalau orang-orang seperti mereka menyentuh tubuhku... Aku bener-bener gak mau disentuh oleh orang-orang seperti mereka pak... Hikss... Hiksss” ucap Nada menangis di pelukan pak Heri.

“Iyya iya... Saya tau... Ustadzah itu baik... Ustadzah itu cantik... Saya paham dengan perasaan ustadzah sekarang... Pasti semuanya berat bagimu, ustadzah... Sabar yah... Tenangg... Tenanggg yah, tenangkan hatimu sekarang” ucap pak Heri menenangkan Nada.

“Iyya pakk... Hiksss... Hiksss... Aku pengen banget hidup normal lagi... Aku gak sanggup menuruti semua keinginan suami aku pak... Aku capek kayak gini terus... Aku bosan harus menjalani kehidupan yang kayak gini terus... Aku gak sanggup lagi pak... Aku ingin semuanya cepet berakhir” ucap Nada terus menangis di pelukan kurir pengantar paket itu.

“Iyya pasti kok ustadzah... Segala sesuatu pasti ada ujungnya... Termasuk cobaan ustadzah saat ini... Maafkan saya yah yang sudah membuat ustadzah jadi seperti ini... Saya janji akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya di masa lalu” ucap pak Heri terus mengucapkan kata-kata penenang sambil mengusap punggung mulusnya hingga perlahan membuat Nada merasa nyaman.

Ketika Nada merasa tenang dan air matanya mulai mengering. Nada pun menarik diri dari pelukan kurir pengantar paket itu. Nada masih menyeka air matanya sambil sesekali sesenggukan setelah menangisi beban hidupnya. Tapi ia jadi merasa lega sekarang. Bebannya di hatinya sudah menghilang. Nada pun tersenyum dihadapan kurir tua itu.

“Makasih yah pak sudah menjadi sandaran untukku... Makasih yah pak sudah meminjamkan bahu bapak untukku” ucap Nada tersenyum yang membuat pak Heri ikut tersenyum.

“Sama-sama ustadzah... Ustadzah udah bisa senyum lagi kan ? Ngomong-ngomong, Mulai hari ini ustadzah sudah bisa hidup normal lagi kan ?” tanya pak Heri sambil tersenyum. Namun jawaban Nada hanya menggelengkan kepalanya.

“Belum pak... Mas Rendy bilang kalau aku harus melayani mereka sekali lagi” Ucap Nada sambil menunduk yang membuat pak Heri terkejut.

“Lagi ? Kok lagi ? Kenapa harus gitu ustadzah ? Bukannya semalam itu sudah ?” ucap pak Heri tidak menyangkanya.

“Entahlah pak... Aku juga gak tau... Tapi mas Rendy bilang kalau semalam itu cuma perkenalan aja... Besok baru perbuatan yang sebenarnya” Ucap Nada dengan nada lemas.

“Besok ? Mereka akan mengeroyok ustadzah lagi besok ?” Tanya pak Heri khawatir.

“Ya bukan besok juga... Maksudnya entah kapan pokoknya belum ditentukan kapan waktu pastinya pak... Aku gelisah terus tiap kali memikirkan itu” ucap Nada keliatan sedih.

Pak Heri yang menyadari kalau ustadzah secantik Nada akan diperkosa oleh kedua orang itu lagi membuatnya jadi tidak rela. Ia jadi semakin marah kepada ustadz Rendy. Ia benar-benar heran kepada fantasi anehnya itu. Ia tak habis pikir kenapa bisa Nada yang secantik ini diminta untuk melayani seorang kuli bangunan dan seorang santri bejat. Walau ia sendiri tahu kalau semua ini disebabkan oleh bujukannya di masa lalu. Tapi tetap saja. Pak Heri tidak terima. Ia juga merasa menyesal karena sudah membuat wanita yang ia cinta harus menjalani kehidupan yang sulit ini. Pak Heri pun berfikir, ia mencoba mencari cara untuk membujuk Nada agar tidak mau menuruti fantasi aneh suaminya lagi.

“Oh yah ustadzah... Saya mau mengucapkan sesuatu lagi boleh ?” ucap pak Heri yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Nada.

“Menurut pengalaman saya... Orang yang sudah akut seperti ustadz Rendy itu gak akan bisa puas dengan fantasi yang ia punya... Pasti, setelah fantasinya terwujud ia akan mencoba fantasi lainnya lagi dan itu bisa dilakukan secara terus menerus loh ustadzah" Ucap pak Heri yang membuat Nada terkejut.

“Kok gitu sih pak ?” ucap Nada khawatir.

“Iya... Ingat gak dulu sewaktu suamimu meminta saya untuk menyetubuhimu di hari anniversary pernikahan kalian ? Inget gak apa yang suamimu bilang waktu itu ?”

“Ehmm yang mana ya pak ?”

“Suamimu bilang kan ? Setelah ustadzah melayani saya maka semuanya udah ? Tapi, apa yang terjadi sekarang ?”

“Aku diminta melayani dua orang itu” jawab Nada dengan lemah.

“Ya... Benar seperti itu... Terus semalam, suamimu bilang kalau setelah ustadzah melayani mereka berdua maka semuanya selesai kan ? Gak ada lagi fantasi aneh dari suamimu kan ?”

“Iya pak”

“Terus kenapa suamimu meminta ustadzah untuk melayani mereka lagi ?” ucap pak Heri berusaha memancingnya.

“Entahlah pak... Mas Rendy bilang itu cuma perkenalan”

“Sekarang saya mau nanya ? Apa bedanya perkenalan dengan yang sebenernya ? Toh intinya sama, ustadzah harus melayani mereka sekaligus kan ?” ucap pak Heri yang hanya dijawab Nada dengan anggukan lemah.

“Percaya saya deh ustadzah... Bahkan setelah ustadzah melayani mereka lagi... Mungkin, mungkin loh yah dan semoga aja enggak... Mungkin ustadzah akan diminta untuk melayani orang lain lagi... Mungkin 3 orang sekaligus atau malah 4 orang sekaligus” Ucap pak Heri terus berusaha mencuci otak Nada.

“Eh masa sih pak ? Gak mungkin lah” ucap Nada merinding membayangkan hal itu terjadi.

“Terserah ustadzah saja... Saya sudah mewanti-wanti loh yahh... Inget alurnya aja... Alur yang sudah ustadzah jalani selama ini... Semuanya mirip kan ? Saya yakin setelah ustadzah menuruti kata-kata suamimu nanti, pasti ustadzah akan diminta untuk melayani orang lain lagi” ucap pak Heri terus berusaha meyakinkan Nada agar ustadzah idolanya itu tidak sampai dinodai oleh kedua lelaki bejat itu lagi.

Pak Heri menatap Nada. Nada terlihat berfikir. Pak Heri pun membatin di dalam hati.

Maafkan saya kalau saya asal bicara seperti ini ustadzah... Saya memang tidak tahu apakah suamimu akan menepati janjinya... Tapi saya hanya tidak rela kalau tubuh indahmu dinodai oleh lelaki bejat seperti mereka lagi... Saya tidak terima ustadzah... Karena bagi saya, ustadzah itu milik saya... Hanya saya yang bisa menyetubuhimu... Hanya kontol saya yang bisa dijepit oleh memek legitmu itu.

Nada mencoba merenungi diri. Memang benar polanya sama. Ia jadi ketakutan. Ia jadi enggan untuk disentuh oleh lelaki lain lagi.

“Saya hanya berniat membantu ustadzah... Jujur saya gak terima dengan ide gila suamimu itu... Walau awalnya memang dari saya tapi untuk melayani dua orang sekaligus dalam satu waktu itu keterlaluan... Ustadzah gak pantas mendapatkannya... Ustadzah berhak mendapatkan hal yang jauh lebih pantas lagi dari perbuatan semalam” ucap pak Heri yang yang pelan-pelan berhasil membuat Nada mempercayai kata-katanya.

“Tolong ustadzah... Sekali lagi tolong percayai saya... Saya janji gak akan mengecewakanmu lagi... Saya ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya ke ustadzah... Minimal saya akan berusaha melindungimu... Ya, saya akui saya memang mencintaimu ustadzah... Saya juga ingin memiliki dirimu, juga hatimu... Itu impian saya sejak lama... Saya ingin menjadikanmu istri saya... Saya tau ini gila karena ustadzah sendiri sudah menikah... Tapi saya sebagai lelaki gak akan rela kalau wanita yang saya cinta harus melayani dua orang bejat seperti mereka !” ucap pak Heri dengan tegas sambil menatap mata indah Nada. Tubuhnya juga mendekat ke posisi duduk Nada. Kedua tangannya juga mendekap tangan Nada dengan erat.

Nada terpana. Nada terpesona oleh keseriusan pak Heri yang ingin melindunginya. Ia melihat kedewasaannya pada diri pak Heri. Ia melihat kewibawaan pak Heri sebagai seorang lelaki.

Kesempataan ini pun dimanfaatkan oleh pak Heri dengan mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibirnya sesaat. Matanya memejam. Nada juga tanpa sadar memejam ketika bibir tipisnya dikecup oleh pria tua itu.

Ccuupppp !

Pak Heri mendorong bibir Nada dengan lembut. Ia mendorongnya lagi lalu membuka bibirnya untuk mencaplok bibir bagian atasnya. Nada tanpa sadar mencaplok bibir bagian bawah pak Heri. Nada saat ini sedang hanyut pada sikap pak Heri yang sudah meluluhkan hatinya. Ia sangat menikmati cumbuan yang pak Heri berikan. Entah kenapa hatinya menjadi tenang. Ia tak lagi khawatir setelah menerima sentuhan bibir dari kurir pengantar paket itu.

Tiba-tiba pak Heri menarik cumbuannya lagi yang membuat wajah Nada ikut tertarik ke arahnya. Nada merasa tidak rela kalau cumbuannya berakhir begitu saja. Nada membuka matanya kembali. Dihadapannya, pak Heri sedang tersenyum sambil menatap wajah indahnya.

“Tolong percaya kata-kata saya ustadzah... Saya mencintaimu... Saya gak akan mengkhianati atau mengecewakanmu lagi... Kalau nanti ustadzah kecewa dengan saya itu diluar kehendak saya... Tapi jauh di lubuk hati saya, saya benar-benar mencintaimu... Saya akan bersungguh-sungguh untuk menyelamatkanmu... Saya tidak ingin melihat ustadzah tersiksa lagi oleh keinginan gila suamimu itu... Sebagai lelaki, saya hanya ingin ustadzah bercinta dengan lelaki yang jantan yang tidak pernah membiarkan wanita yang dicintainya menderita” Ucap pak Heri sambil tersenyum menatap wanita yang dicintainya itu.

“Lelaki jantan ?” ucap Nada terpana pada karisma yang dimiliki oleh pak Heri.

“Ya, lelaki jantan... Lelaki yang hanya ingin bercinta dengan wanita yang ia punya... Bukannya malah membiarkan wanitanya dipakai oleh lelaki lain” Ucap pak Heri yang membuat Nada mengangguk setuju.

Nada semakin terpana pada tatapan kurir pengantar paket itu. Apalagi saat kurir itu tersenyum. Nada seolah hanyut oleh senyumannya yang penuh kebapakan itu. Tanpa sadar mulutnya pun membuka untuk menanyakan sesuatu kepadanya.

“Memang ada lelaki seperti itu pak ?” Tanya Nada berdebar.

“Tentu ada... Saya contohnya ustadzah” ucap pak Heri sambil mempererat dekapan tangannya di tangan mlus Nada.

Sontak Nada terkejut dan jantungnya semakin berdebar dengan cepat. Apalagi tatapan matanya menjelaskan kalau kurir itu sangat bersungguh-sungguh dalam mengucapkan kalimatnya.

Tiba-tiba pak Heri mengangkat dagu Nada dan berkata.

“Bolehkah lelaki jantan seperti saya mencumbu bibir indahmu lagi, ustadzah ?”

Nada yang sudah hanyut oleh buaian kata-kata pak Heri hanya mengangguk menyetujui. Pak Heri pun tersenyum lalu mendekatkan wajahnya untuk mencumbu bibir bidadari yang sangat ia cintai. Nada tanpa sadar juga mendekatkan wajahnya. Mereka saling memejam lalu melekatkan bibir mereka di teras gedung kantor administrasi.

“Mmpphhh” desah mereka berdua dengan penuh gairah.

Pak Heri mendorong bibir Nada dengan lembut. Bibirnya terus maju dalam memuasi bibir tipis milik ustadzah seksi itu. Cukup lama bibirnya melekat disana sambil mengingat semua peristiwa yang sudah ia alami bersama bidadari yang sangat ia cintai ini.

Pak Heri senang. Ia sangat bahagia karena di detik ini, bibirnya bisa mendekap bibir ustadzah seksi ini lagi. Ia membuka bibirnya. Ia memagut bibir bawah Nada. Ia menjepitnya dengan kuat lalu menarik bibir Nada ke arahnya. Nada sampai hanyut dalam cumbuan yang dilakukan oleh pria tambun itu.

“Manis sekali bibirmu ustadzah... Saya senang sekali bisa merasakan kelezatan bibirmu lagi” ucap pak Heri setelah melepaskan cumbuannya sambil menatap wajah indah Nada.

Nada hanya tersenyum malu mendengar pujian dari pria tua itu. Hatinya semakin senang. Ia heran kenapa jantungnya semakin berdegup kencang setelah mendengar pujian darinya.

“Ustadzah... Sini” ucap pak Heri meminta wajah Nada untuk mendekat lagi.

Bagai terhipnotis, Nada sendiri yang mendekat ke arahnya sehingga memasrahkan bibirnya untuk dicumbui lagi oleh kurir tua berperut tambun itu.

Ccuupppp !

Dalam posisi duduk menyamping. Nada memiringkan tubuhnya agar bibirnya semakin mudah dikecup oleh pria tua itu. Pak Heri juga demikian. Ia ingin menikmati cumbuan bibir Nada lebih lama lagi. Ia sengaja mendorong bibir Nada secara terus menerus tanpa ada keinginan untuk melepasnya. Ia ingin menikmati momen indah ini lebih lama lagi. Ia sangat bahagia. Ia pun bertekad agar esok pun dirinya masih bisa merasakan kelezatan bibir manis ini. Ia telah berjanji di dalam hati untuk bisa menuntaskan masalah yang menimpa ustadzah yang ia cintai ini.

“Mmphhh” tiba-tiba Nada melepaskan cumbuannya. Pak Heri terkejut. Perasaannya jadi tidak enak padahal dirinya sedang asyik-asyiknya menikmati bibir manis ustadzah seksi ini.

“Kita ke dalem aja yah pak... Disini rawan ketahuan” Ucap Nada menyadari kalau dirinya berada di teras kantor bagiannya.

“Ohh baik ustadzah” Jawab pak Heri senang menyadari kalau ustadzah seksi ini masih ingin dicumbu olehnya.

Nada bergegas masuk ke dalam kantor bagiannya. Pak Heri pun menyusul tak lama kemudian. Sebagai orang terakhir yang masuk ke dalam kantor, ia lalu menutup rapat pintu kantor itu lalu menguncinya dari dalam. Kemudian ia berjalan menuju arah Nada yang masih berdiri sambil menundukan wajahnya karena malu. Pak Heri tersenyum. Ia pun mendekap pinggang rampingnya yang membuat Nada pelan-pelan mengangkat wajahnya untuk menatap pejantannya.

“Ustadzah... Apapun yang sudah ustadzah lakukan ke saya... Saya akan tetap mencintaimu sebagaimana perasaan saya ketika pertama kali melihatmu” Ucap pak Heri terus menggombalinya sehingga Nada semakin hanyut ke dalam rayuan kurir pengantar paket itu.

Perlahan demi perlahan wajah Pak Heri kembali mendekat ke arah bibir manis Nada. Matanya sampai memejam begitu juga mata betinanya. Tak terasa bibir tuanya sedang menghujami bibir manis Nada. Tubuh mereka semakin dekat. Dada mereka saling bersentuhan dari luar pakaian yang masih mereka kenakan. Kedua tangan mereka saling mendekap punggung dari pasangan masing-masing. Sebuah sentuhan yang terasa di punggung mereka menambah kenikmatan dari percumbuan yang sedang mereka lakukan saat ini.

"Mmpphhh... Mmpphhh" Desah mereka berdua dengan nikmat hingga deru nafas mereka yang hangat menerpa wajah dari pasangan mereka.

Dikala bibir mereka saling melekat, nafas mereka juga saling mengikat, tangan pak Heri berpindah dari punggung Nada ke payudara besarnya dari luar gamis yang ia kenakan. Nada hanya pasrah membiarkan nafsu dari kurir tua itu dalam menikmati keindahan tubuhnya. Dikala mulut Nada terbuka, lidah pak Heri merayap masuk menjilati rongga mulutnya. Nada pun merapatkan bibirnya, ia menjepit lidah kurir tuanya dan menghisapnya kuat-kuat demi memuaskan nafsu pejantannya.

"Mmpphhh ustadzahhh... Mmpphhh ustadzah masih jago berciuman juga yah ternyata" Puji pak Heri yang membuat Nada malu.

Dikala bibirnya dihisap. Pak Heri justru membuka mulutnya lebar-lebar untuk mencaplok bibir manis Nada. Bibir dari Nada pun basah terkena liur dari pria tua itu. Dikala bibir Nada membuka, bibirnya langsung menyaplok bibir atas dari kurir tuanya itu. Pak Heri pun membalas dengan mengulum lidah dari bidadari cantik itu. Mereka berdua pun bercumbu dengan penuh nafsu. Mereka masih saja berciuman dalam menikmati waktu berdua mereka di dalam kantor bagian Administrasi.

"Mmpphhh ustadzaahh... Mmpphhh bibirmu manis banget... Saya jadi gak bisa berhenti untuk mencumbu bibirmu terus" Kata pak Heri bernafsu.

"Mmpphhh bibir bapak juga... Jantungku jadi berdebar kencang saat dicium oleh bapak... Maafin aku yah pak atas sikapku selama ini" ucap Nada yang membuat pak Heri tersenyum.

“Tak apa ustadzah... Saya bisa maklumi... Yang penting kita nikmati waktu kita sekarang ini dengan melampiaskan semua nafsu yang kita miliki” ucap pak Heri terus mencumbunya.

“Mmmpphhh iyyah pak... Makasih udah maafin aku... Mmpphhhh” desah Nada semakin bergairah.

Cumbuan mereka yang semakin mantap membuat tangan pak Heri semakin gemas dalam menikmati keindahan tubuh bidadari satu ini. Kedua tangannya pun bergerak naik merangsang tubuh bidadari seksi ini. Awalnya ia mendekap pinggang rampingnya lalu turun untuk meremasi bokong montoknya. Kembali tangannya bergerak naik merangsang pinggangnya sebelum akhirnya tiba di kedua gunung kembarnya. Disana ia meremasi payudara itu dengan sangat nikmat. Remasannya cenderung pelan tapi itu justru membuat betinanya semakin terangsang. Lalu remasannya diperkuat. Nada menjerit nikmat. Pak Heri hanya tersenyum saja sambil terus mencumbu bibir bidadari bertubuh seksi ini.

"Wakakaka susu antum makin gede aja nih kayaknya... Tubuh antum makin berisi deh" Kata Pak Heri melepas cumbuannya sesaat untuk menikmati keindahan wajah di hadapannya.

"Hihihi makasih yah pak... Sengaja, itu hadiah dari aku buat bapak... Supaya bapak bisa maafin aku yang udah ngecewain bapak waktu itu... Aku gak tau kalau sebenarnya, bapak lebih mencintaiku daripada suamiku... Gak tau kenapa aku merasakan hal itu pak... Sejujurnya, aku lebih menyukai sikap bapak yang tidak rela melihatku melayani mereka ketimbang suamiku yang justru membiarkanku dinikmati oleh mereka" Kata Nada sambil memandangi pejantan tuanya.

“Itu bukti cinta saya yang pertama padamu ustadzah... Untuk bukti keduanya, saya ingin memuasi tubuhmu lagi... Boleh kan ?” kata pak Heri sambil tersenyum yang hanya dijawab anggukan oleh ustadzah seksi itu.

"Boleh pak"

Tepat setelah mendengar jawaban dari betinanya, tangan pak Heri langsung bergerak dengan meremasi buah dada indah Nada. Ia meremasnya sambil menatap raut wajah Nada. Ia ingin menikmati ekspresi sangek Nada dikala buah dadanya diremas olehnya.

"Ahhhhh pakkk... Remasan bapakkk kuat banget sihhhh... Uhhhhhh... Uhhhh" Desah Nada tak kuasa mendesah merasakan cengkraman tangan pak Heri.

"Wakakakak abis susumu kenceng banget sih... Saya kan jadi gemes buat ngeremesnya" Kata pak Heri yang membuat Nada tersipu. Mereka pun kembali berciuman untuk memuaskan nafsu yang sudah lama terpendam.

"Mmpphhh... Mmmpphhhh" Desah mereka saat bercumbu.

Pak Heri sangat puas karena bisa menikmati keindahan bibir Nada sambil meremasi payudara bulatnya. Sementara Nada juga sangat puas ketika bisa meluapkan nafsunya pada seorang lelaki yang betul-betul mencintainya. Ia dapat merasakannya dari cumbuan bibirnya. Ia tahu betul kalau cumbuan pria tua ini tidak hanya berdasarkan nafsu semata. Melainkan ada rasa cinta yang pak Heri salurkan melalui cumbuan bibirnya.

Ditengah percumbuan yang sedang mereka lakukan. Tangan Pak Heri mulai melepaskan blazer yang Nada kenakan. Tak lama kemudian, tangannya meraba-raba punggung Nada untuk mencari resleting gamisnya.

"Mmpphhh"

Nada sadar kalau kurir tua ini berencana untuk membugili dirinya. Diam-diam Nada justru tersenyum kendati jantungnya semakin berdebar karena keindahan tubuhnya akan dilihat oleh lelaki berperut buncit itu lagi.

Resleting telah diturunkan. Pelan-pelan gamis berwarna putihnya juga ikut diturunkan. Pak Heri sampai berhenti bercumbu karena matanya terfokus pada beningnya kulit mulus Nada yang perlahan dapat terlihat oleh kedua matanya. Nada yang diam-diam memperhatikan raut wajah pak Heri hanya tersenyum. Ia merasa malu kalau auratnya akan dilihat oleh lelaki lain selain suaminya.

"Luuaarrrr biaszzaa ustadzah... Indah sekali kulitmu" Ucap pak Heri sambil meraba bahu mulus Nada yang mulai terlihat.

"Kulitmu mulus... Kulitmu sangat halus... Perasaan dulu gak semulus ini deh... Kenapa ustadzah belakangan jadi semakin cantik sih ?" Puji pak Heri sekali lagi untuk menyenangkan hati betinanya. Bagaikan suhu, ia seolah tahu cara bagaimana untuk menaklukan hati wanita yang sangat dicintainya.

"Berlebihan deh bapak... Dulu kulitku juga begini kok" Ucap Nada merendah.

"Ah iya juga... Apa gara-gara habis saya pijit yah makanya kulitmu jadi semulus ini" Ucap pak Heri mengingatkan Nada akan aksi pijit plus-plusnya yang ia lakukan di rumah kontrakannya.

"Hihihi bapaakkk" Ucap Nada jadi malu teringat persetubuhannya itu.

"Gemes banget deh saya... Makin gak sabar buat ngeremes susu indahmu lagi" Ucap pak Heri semakin bernafsu setelah melihat sikap malu-malu ustadzah berbadan sempurna itu.

Kini gamis yang Nada kenakan sudah semakin turun hingga melewati pinggang rampingnya. Nampak di hadapan mata pak Heri ada dua buah dada indah yang menonjol dari balik bra ketat berukuran 34C itu.

Sontak pak Heri reflek menjilati kedua bibirnya sendiri. Kedua tangannya semakin gemas untuk meremas dada bulat itu sepuas-puasnya.

“Uhhhhhh... Mppphhhh.... Paakkk !” desah Nada merasakan remasan penuh nafsu dari kurir tua itu.

"Wakakakak... Tuh kan gede banget susumu... Mana kenceng juga lagi... Pantes daritadi mata saya gak bisa berpaling dari tonjolan susu indahmu ini" Kata Pak Heri sambil meremas dan menekan puting itu.

"Uhhhhhh pakkk... Geliiii... Mmpphhh... Tapi perasaan ukurannya sama kok pakk... Mmpphh dari dulu ukurannya gak berubah" Kata Nada keenakan merasakan remasan pak Heri.

"Wakakakak emang iya yah ? Tapi sensasinya berbeda ustadzah... Saya lebih bernafsu saat menikmati susu kenyalmu sekarang... Apa karena ustadzah semakin cantik yah ?" Ucap pak Heri kembali menggombalinya sambil melepaskan cup bra yang Nada kenakan.

"Bapaakkk ihhhh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Nada hanya bisa memejam saat kedua putingnya digelitiki oleh kurir tua itu. Wajahnya juga memerah malu setelah digombali lagi oleh pria tua itu. Hal itu membuat Nada semakin yakin kalau pak Heri benar-benar mencintainya. Ya, ia sangat yakin terbukti dari usahanya yang selalu ingin membahagiakannya.

"Wakakakak... Enak yah ustadzah ?" Katanya sambil memainkan puting indah berwarna merah muda itu.

"Uhhhh pakkkk... Geliii... Iya pakkk... Mmpphh... Rasanya enak bangettt... Aku suka pakk... Akuu sukaaa" Kata Nada yang semakin terangsang ketika payudaranya dirangsang oleh kurir pengantar paket itu. Apalagi saat gamisnya semakin diturunkan oleh pejantannya. Nada kini sudah bertelanjang dada setelah gamisnya jatuh melewati kedua kaki jenjangnya. Nada kini tinggal mengenakan celana dalamnya saja selain hijab serta kaus kakinya.

"Ini yang paling saya suka darimu ustadzah... Mmpphh... Lekukmu sangat indah... Tubuhmu sangat menggoda... Saya selalu bernafsu tiap kali melihat ketelanjanganmu, ustadzah... Mmpphh" Desah pak Heri sambil mencumbui dada Nada. Kedua tangannya juga aktif dalam membelai kulit mulusnya. Berulang kali tangannya meraba-raba pinggang Nada. Berulang kali tangannya juga mengusap punggung mulusnya.

"Aahhhh... Aahhhh iyyahh pakkk... Aahhhhh... Aaahhh" Desah Nada dengan manja hingga kepalanya ia angkat menatap langit-langit ruangan.

Pak Heri semakin bersemangat mendengar jeritan manjanya. Berulang kali bibirnya mengecapi dada mulusnya. Lidahnya juga ikut dengan menjilati dada beningnya. Kadang bibirnya sampai naik hingga mengecupi puncak gunung kembarnya. Ia menghisapnya. Lidahnya juga ikut menggelitiki puting berwarna merah mudanya. Nada sampai kegelian. Ia sangat terangsang hingga matanya memejam dengan penuh nikmat. Ia dengan pasrah membiarkan kurir tua itu menikmati keindahan tubuhnya.

"Manis sekali tubuhmu ini ustadzah... Nikmat sekali ketelanjanganmu ini... Apa ustadzah suka kalau saya telanjangi seperti ini ?" Tanya pak Heri bernafsu. Kedua tangannya bahkan sampai masuk ke celana dalam Nada untuk meremasi bokong sekelnya.

"Aaaahhhh... Aaaahhhh... Iyyahh pakkk... Aahhh akuu sukaaaa" Desah Nada tanpa sadar.

Tubuhnya sampai merinding tiap kali tangan hitam kurir itu meremasi bokong sekelnya. Nada seperti terhipnotis. Tidak ada perlawanan sama sekali saat tubuhnya dirangsang sedemikian rupa oleh pria tua berwajah jelek ini. Sepertinya tubuh dan hatinya sudah ia serahkan pada pejantan tambunnya. Nada mengerang. Tubuhnya sudah telanjang saat celana dalamnya juga dilepaskan oleh pejantan tuanya.

"Ayo sekarang giliranmu ustadzah... Kontol saya sudah meronta-ronta ingin dipuasi oleh mulutmu" Ucap pak Heri saat menurunkan tubuh telanjang Nada hingga berlutut di hadapan dirinya.

"Mmpphh iyyahh pak" Jawab Nada patuh.

Ketika dirinya sudah berlutut di hadapan pejantanya. Tangannya dengan lembut meraba-raba tonjolan besar yang masih bersembunyi dibalik celana kainnya. Kurir tua yang masih mengenakan seragam kerjanya itu mengerang keenakan. Apalagi saat resleting celananya diturunkan dan penis berkulupnya ditarik keluar oleh ustadzah seksi yang sudah bertelanjang bulat di hadapan dirinya.

Iniii... Iniii... Sudah lama aku gak mainin kontolnya pak Heri... Kok kayaknya makin gede yahhh... Duh kulupnya kok jadi menggoda gini sih ?

Batin Nada sambil mengelus-ngelus penis pak Heri menggunakan tangan kanannya.

"Aaahhh... Aahhhh... Iya begitu ustadzah... Ahhh nikmat sekali kocokanmu ustadzah" Puji pak Heri keenakan.

Ketika tangannya terus membelai lembut penis tak bersunat itu, sesekali wajahnya ia naikan untuk memperhatikan reaksi pejantannya yang terus mengerang menahan kenikmatan yang didapatkannya.

Mendengar desahan pak Heri yang keluar terus menerus membuat birahi Nada semakin terangsang juga. Nada menjilati tepi bibirnya sendiri sambil memandangi kejantanan yang ada di hadapannya. Lama-lama matanya itu memejam, wajahnya kian mendekat sambil mulutnya ia buka secara perlahan. Pak Heri yang terus mengamatinya dari atas mulai paham kalau sebentar lagi dirinya akan merasakan kenikmatan yang amat sangat. Pak Heri mempersiapkan diri. Ia sudah memejam dikala penisnya dilahap oleh mulut ustadzah pesantren itu.

“Aaaaahhhhh ustadzahhh... Nikmatnyaaaa !!!” jerit pak Heri keenakan.

Rangsangan demi rangsangan yang sudah pak Heri berikan terutama saat tadi ketika tubuh telanjang Nada dinikmati habis-habisan oleh bibir pejantan tua itu membuat nafsunya tidak dapat ia kendalikan lagi. Apalagi pengalamannya saat terus-terusan diperkosa oleh tiga orang lelaki yang berbeda. Nada segera memainkan penis pak Heri di dalam mulutnya. Mulanya ia menjepit ujung kulupnya terlebih dahulu. Lalu lidahnya keluar untuk menggelitiki sedikit ujung gundulnya yang keluar. Nada melakukannya dengan penuh nafsu. Nada senang mendengar jeritan pejantannya. Ia merasa semakin ahli setelah diperkosa terus menerus oleh pejantannya itu.

“Aaahhhh... Aahhhhh nikmat sekaliii ustadzahhh... Uhhhh kontol saya makin anget loh kena sepongan ustadzah... Uhhhh mantapnyaaa” jerit pak Heri keenakan.

Pelan-pelan mulutnya ia majukan hingga ½ dari penis tak bersunat itu masuk ke dalam mulutnya. Kendati demikian, Nada merasa belum puas hingga memajukan mulutnya lagi. Ia melakukannya sambil mengocok batang penisnya yang berada di dekat pangkalnya. Jemari satunya tak tinggal diam dengan merangsang kantung kemihnya. Merasa belum puas dengan itu semua, Ia kembali memaksa menelan penis itu hingga ½ dari penis tak bersunatnya masuk di dalam mulutnya. Nada sampai memejam keenakan. Mulutnya sudah penuh, dirinya bagai seekor ular yang memaksa menelan mangsa yang akan dilahapnya.

“Aaahhhhh gilaaa... Aaahhhh ustadzahhh... Uuuuhhhhh” desah pak Heri merem melek saat pandangannya ia turunkan. Disana ada seorang ustadzah pesantren yang mulutnya sudah dipenuhi oleh penisnya. Pak Heri tersenyum sambil merem melek. Ia puas pada kebinalan ustadzah yang memiliki body goals terbaik itu.

“Mmpphhh... Mmpphhhh”

Mulut Nada yang penuh membuatnya tak bisa mengucapkan apapun saat menikmati penis tak bersunat itu. Pelan-pelan ia mulai mencium aroma selangkangannya dari tubuh pejantannya yang mulai berkeringat. Nada semakin bernafsu. Aromanya itu merangsang gairah birahinya yang semakin tak terkendali. Ia jadi mulai memaju mundurkan mulutnya. Mulutnya mengulum penis itu dengan kecepatan stabil. Awalnya memang pelan tapi lama-lama agak dipercepat.

Pak Heri mengerang dikala bibir ustadzah itu menyapu kulit penisnya. Belum dengan jilatan lidahnya yang merangsang penisnya di dalam. Pak Heri sampai memejam nikmat. Mulutnya sampai membuka selebar-lebarnya. Tangannya jadi gemas ingin memegangi kepalanya lalu menghentak-hentakkan pinggulnya. Tapi ia menahan diri agar ustadzah seksi itu bisa melakukannya sendiri. Ia ingin ustadzah seksi itu memainkan penisnya dengan puas tanpa adanya gangguan dari nafsu birahinya sendiri.

Saat mata pak Heri memaksa membuka. Ia melihat Nada sedang mengocok batang penisnya namun lidahnya ia julurkan untuk menyentuh ujung kulupnya. Terkadang Nada mengocoknya dengan sangat kuat hingga ujung gundulnya muncul lalu dijilati dan dikecupi oleh bibirnya. Terkadang penisnya ia angkat lalu lidah Nada menjilati sisi bagian bawahnya. Terkadang Nada memaju mundurkan mulutnya lagi sambil sesekali menjilati ujung kulupnya sebagaimana ia menjilati sebuah lollipop yang ia beli di pinggir jalan.

“Aaahhhh... Aahhhh nikmat sekali seponganmu ustadzahhh... Uhhhhh saya sampai merinding ngerasainnya” desah pak Heri sambil merem melek keenakan.

Pak Heri mengerang. Ia seperti tidak tahan lagi. Karena tidak kuat, pak Heri meminta Nada untuk berhenti agar dirinya tidak keluar duluan dalam menikmati keindahan tubuh telanjangnya yang sangat sempurna. Nada hanya tersenyum puas mendengar pujiannya. Alhasil ia melepas penisnya dari mulut manisnya lalu menaikan pandangannya untuk menatap pejantannya.

“Hah... Hah... Hah... Ayo berdiri ustadzah... Duhhh saya sampai ngos-ngosan gini... Gila banget seponganmu ustadzah” kata pak Heri yang membuat wajah Nada tersipu malu mendengar pujiannya.

“Masa sih pak ? Hehe” jawab Nada saat tubuhnya diangkat lalu diputarbalikan sehingga ia saat ini sedang memunggungi pejantan tuanya.

“Hah... Hah... Iya tau... Pokoknya saya puas banget... Saya jadi pengen menggenjotmu lagi ustadzah... Gak kuat saya pengen ngerasain jepitan memekmu !” ucap pak Heri semakin bernafsu yang membuatnya langsung memelorotkan celananya dan membuka seluruh kancing seragamnya tanpa melepasnya dari tubuh tambunnya.

“Uuuhhhh pakkkk... Mmpphhh... Mmpphhhh” desah Nada saat pinggang rampingnya dibelai dari belakang oleh kurir pengantar paket itu.

“Wakakakak... Lekukmu indah banget ustadzah... Saya jadi gak nahan pas ngeliat keseksian tubuhmu ini” Ucap pak Heri menggigit bibir bawahnya sendiri sambil penisnya ia dekatkan ke arah lubang kenikmatan ustadzah pesantren itu.

"Uuuhhhhhh pakkkkk... Iyyahhhh... Mmpphh” desah Nada sambil menoleh ke belakang saat merasakan ujung kulup penis pejantannya itu mulai mengetuk-ngetuk pintu masuk vaginanya. Nada merinding. Ia dapat membayangkan kenikmatan yang akan ia dapatkan dari sodokan penis yang tak disunat itu.

"Ouuhhhhh Sempitnyaaaa.... Uhhhhh rapet banget memekmu ustadzah... Aahhh mantapnya" Desah pak Heri saat pinggulnya ia dorong hingga ujung kulupnya mulai membelah liang senggama betinanya. Ia melakukannya sambil mencengkram kuat pinggang rampingnya. Wajahnya pun menatap wajah Nada yang tengah sangek saat masih menoleh ke arahnya.

"Aaahhhhh pakkk... Aaahhhhh" Jerit Nada sambil menahan dorongan pinggulnya dengan cara memegangi kedua tangan pejantannya yang ada di pinggangnya.

Mata Nada memejam dikala penis pak Heri semakin dalam saat menembus rahimnya. Sodokan yang pak Heri lakukan cenderung lambat hingga membuatnya semakin merasa nikmat. Kedua tangan pak Heri tidak hanya diam saat memegangi pinggul rampingnya. Kadang kedua tangannya itu meraba-raba punggung mulusnya lalu naik lagi hingga sampai di bahunya. Pak Heri menegakkan tubuh Nada hingga bibirnya dapat mengecup punggung mulusnya. Akibat saking nafsunya, lidahnya ikut keluar untuk menjilati keseksian tubuhnya. Aroma kewanitaan yang keluar dari tubuh ustadzah pesantren itu semakin menambah birahinya. Kedua tangannya pun berpindah ke depan dengan membelai lembut perut ratanya. Lalu naik untuk meraba kedua buah dada bulatnya. Lalu turun lagi. Lalu mendaki lagi hingga tiba di puncak gunung kembar itu. Disana pak Heri meremasnya, ia juga mencubit pentil berwarna merah mudanya, ia juga menekan-nekan putingnya lalu mencengkram kuat payudara indah itu hingga membuat pemiliknya menjerit sekeras-kerasnya.

“Aaahhhhhhh pakkkk... Aahhhhh bapakkkkkk... Ouhhhh.... Ouuhhhhhh” desah Nada keenakan merasakan remasan pak Heri di payudara kencangnya.

Saat merasa penisnya di dalam sudah beradaptasi dengan lubang sempit wanita berhijab yang sudah menjadi istri orang itu. Ia mulai menarik keluar penisnya tapi tidak benar-benar mencabut seluruhnya. Ia hanya menyisakan ujung gundulnya saja di dalam kemaluan bidadari cantiknya.

“Uuuuhhhh paaakkkk” Nada terkejut saat tiba-tiba pak Heri menghempaskan pinggulnya hingga rahimnya tersundul oleh ujung kulup pria tua itu.

Lagi, pak Heri melakukan hal yang sama dengan menarik penisnya secara perlahan hingga membuat Nada merinding hebat. Tiba-tiba, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Penis hitam raksasa yang tak disunat itu kembali dibenamkan olehnya kali ini lebih dalam lagi daripada sebelumnya yang membuat Nada sampai mengerang menaikan pandangannya ke langit-langit kantor bagiannya.

"Aaahhhhh bapakkkk... Dalemm bangett" Desah Nada merinding.

"Ouuhhhh puasss sekali saya, ustadzah... Uhhhhh mantap sekali jepitan memekmu" Ucap pak Heri yang hanya membuat Nada geleng-geleng kepala karena tak mempercayai keperkasaan pejantannya dalam menikmati ketelanjangan tubuhnya.

“Aahhh puassnyaa... Puas sekali saya bisa merasakan jepitan memekmu lagi ustadzah” desah pak Heri saat pinggulnya mulai stabil mengeluar masukan penisnya di dalam lubang vaginanya.

"Uhhhhh... Uuhhh... Uhhhhh... Iyyahh pakkk" Desah Nada di sela-sela sodokannya yang membuat Nada merasa hampir gila. Tak pernah ia segeregetan ini saat disetubuhi oleh seseorang. Nafsunya yang sudah semakin besar dimana tubuhnya mengejang hingga kedua payudaranya semakin mengencang. Tubuhnya sudah telanjang dan teriakan kepuasannya semakin lantang. Nada merasa bebas ketika berduaan dengannya hingga ia bisa merasakan kepuasan dari persetubuhannya dengan kurir tua yang sudah menaklukan kembali birahinya.

Pak Heri memperkuat gerakan pinggulnya hingga membuat tubuh Nada melonjak-lonjak ke depan dengan sangat cepat. Payudara Nada bergoyang maju mundur. Payudara Nada bergoyang mendal-mendul. Nada merinding saat punggungnya terus dicumbu oleh pria tua itu. Ia terus merinding dikala punggungnya terus dijilati bahkan diberikan bekas memerah akibat cumbuan pejantannya yang semakin bernafsu.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Aahhhh pakkkkk” desah Nada merasa tubuhnya seperti melayang merasakan kenikmatannya.

Mereka berdua terus asyik bersetubuh di dalam ruangan yang terkunci dari dalam. Tubuh Nada berdiri tegak dimana dibelakangnya ada pak Heri yang terus mencumbunya sambil mempercepat gerakan pinggulnya. Terlihat disana dada Nada bergoyang dengan sangat indah. Kedua tangan gemuk yang berwarna gelap itu tak ada habis-habisnya dalam membelai tubuh indah bidadari itu. Nada merinding. Nada merasakan kenikmatan yang tiada tanding. Ia benar-benar puas setelah dirangsang habis-habisan oleh pejantan tuanya itu.

“Aaaahhhhhh” desah Nada saat tubuhnya terjatuh ke lantai setelah pak Heri mendorongnya.

Nada kini menungging dimana kedua lututnya menyentuh lantai ruangan yang dingin. Telapak tangannya juga menyentuh lantai. Sementara payudara bulatnya dibiarkan menggantung indah dibawah sana. Nada pun menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia ketika pak Heri mulai menghentakkan pinggulnya lagi.

“Ouhhh yahhh... Ouuhh yahhh... Sekel sekali bokongmu ini ustadzaahh... Uhhh... Uuuhhh” desahnya sambil meraba bokong Nada kemudian menamparnya.

Plaakkk... Plaakkkk !!

“Aahhh... Aaahhh perihh pakk... Aaahhhh” Nada hanya bisa menjerit pasrah sambil menahan gesekan nikmat yang terasa di dalam rahim kehangatannya.

Plaaakkkk !

Bokong Nada kembali ditamparnya. Terlihat bokongnya sampai berubah menjadi warna kemerahan. Pak Heri tampak sangat bernafsu. Ia terus menghujami vaginanya sambil menampar-nampar bokong sekelnya.

“Aahhh... Aahhh... Aahhh mantappp sekalii... Aahhh gemes banget saya ustadzahhh” desah pak Heri menikmati santapan premiumnya.

Kedua tangannya kembali naik membelai pinggang rampingnya. Nada jadi geli apalagi saat tangan hitam pejantannya bergerak ke arah payudaranya. Nada merinding saat payudaranya kembali dicengkram olehnya. Pak Heri terus melakukannya sambil menghentak-hentakkan pinggulnya. Ia sungguh-sungguh bernafsu dalam menikmati tusukan ternikmat dari jepitan vagina Nada itu.

"Uhhhhhhh" Desah Nada tak kuat hingga tubuhnya terbaring dalam posisi tengkurap di lantai ruangan kantor bagiannya.

“Wakakaka... Aahhhh... Aahhhh... Yahhh uhhhh yahhhh” desah pak Heri saat menyetubuhinya sambil menatap punggung mulusnya.

Payudara Nada kegencet. Tubuh bagian depannya merasakan dingin dari sentuhan keramik di lantai kantornya. Kedua kakinya bahkan sampai terangkat dimana lututnya masih menempel di lantai ruangan. Berulang kali ia merasakan remasan di bokong sekelnya. Nada kewalahan. Ia benar-benar tak berdaya saat meladeni nafsu besar kurir pengantar paket itu.

“Uuuuhhhhh... Uuuuhhhhh” desah pak Heri memperlambat genjotannya namun ia semakin dalam saat menusuk rahim kehangatannya.

“Aaahhhh yahhh... Aahhh pakkkk” desah Nada saat tubuhnya terdorong ke lantai ruangan kantornya.

“Uuuhhh puas sekali saya ustadzaahh... Puas sekali saya bisa menyetubuhimu lagi... Rasanya saya ingin menyetubuhimu terus... Saya gak pernah bosan untuk menyenggamai memek rapetmu lagi” Bisik pak Heri sambil menurunkan tubuhnya hingga tubuh Nada semakin kegencet oleh berat badan pria tua itu.

“Aaahhh pakkk beraatt... Aahhhhhhh” desahnya saat diwaktu yang sama vaginanya kembali di gempur oleh tusukan penis tak bersunat itu.

Maju mundur maju mundur maju mundur. Penis pak Heri keluar masuk saat tubuhnya menindihi tubuh ramping ustadzah seksi itu. Ia benar-benar puas bahkan kedua tangannya sampai mendekap kedua tangan ustadzah itu lalu merenggangkannya di kanan kiri kepala ustadzah yang masih tertutupi hijabnya itu. Berulang kali bibirnya juga mencumbui punggung mulusnya. Berulang kali bibirnya juga mengincar tengkuk lehernya yang mulai terlihat akibat hijabnya yang semakin berantakan. Pak Heri puas. Ia benar-benar menikmati persetubuhannya di siang hari ini.

"Uuuuhhhhhhhh... Hah... Hah... Hah... Ayo ustadzah... Kita akhiri diatas meja itu " Ucap pak Heri mengangkat tubuh Nada lalu membaringkannya dalam posisi terlentang di atas meja bundar yang kebetulan tingginya sama dengan tinggi selangkangannya. Ia menarik tubuh Nada hingga ke tepi sehingga membuatnya tidak perlu berjinjit atau menekukkan lututnya karena tingginya sudah sangat pas dengan penis yang semakin basah itu.

“Hah... Hah... Hah... Pakkkk” desah Nada terengah-engah sambil menatap pak Heri dengan tatapan sayuk.

“Wakakak... Gimana ustadzah ? Ustadzah puas juga kan ? Hah... Hah... Hah” kata pak Heri terengah-engah sambil menatap dada Nada yang terlihat semakin besar diatas meja itu.

Nada hanya mengangguk pelan. Ia pun bersiap-siap untuk mengakhiri persetubuhan ternikmatnya ini dengan membiarkan pak Heri memasukan batang penisnya lagi ke dalam liang senggamanya.

“Uuuuhhhhhh” desah Nada saat penis itu langsung ambles akibat terlalu banyak dilumuri cairan cintanya.

"Aaahhhh mantappnyaaa... Anget banget kontol saya ustadzah... Hah... Hah... Hah... Tapi saya belum puas... Hennkghhh !!!" Desah pak Heri sekuat tenaga hingga penisnya semakin ambles di dalam kemaluan Nada.

“Ahhhh bapaakkk... Aaahhhhh" Desah Nada menggelengkan kepala saat penis raksasa itu semakin dalam menyundul rahim kehangatannya.

"Hahhhh... Nikmatnyaaaa" Ucap pak Heri tersenyum sambil menatap keindahan tubuh Nada. Ia sangat puas bisa membenamkan penisnya lagi di dalam rahim kehangatan Nada. Kedua tangannya pun turun untuk membelai lembut kedua payudaranya itu. Pak Heri benar-benar puas. Ia pun mulai menghentakkan pinggulnya lagi untuk memacu pinggulnya dalam menyenggamai ustadzah tercintanya.

“Aahhhh... Ahhhhhhh paakkk... Aaahhh... Dalemm bangett pakkk... Aahhhh” desah Nada saat tubuhnya bergerak maju mundur dihadapan kurir tua itu.

Pak Heri terus tersenyum sambil menatap keindahan tubuh Nada. Kedua tangannya mencengkram kuat pinggul rampingnya. Matanya dimanjakan pada pergerakan payudaranya yang seolah menghipnotis dirinya sehingga semakin bernafsu saat menyetubuhinya.

“Aahhhhh sempit banget ustadzahhh memekmu... Ouhhhh nikmatnyaaaa !!!” desah pak Heri sambil terus menyodok kemaluan ustadzah seksi itu.

“Aahhh pakkk... Iyyaahh... Aahhhhh... Terrusss pakkk !” desah Nada tanpa sadar saat merasakan kenikmatan yang tidak tertahankan. Apalagi pergerakan penis dirahimnya perlahan semakin cepat. Dirinya hanya bisa memejam sambil memegangi tangan pak Heri yang tengah mencengkram pinggulnya.

“Aahhh... Ahhhh iyahhh nikmatnyaahh... Aahhhhhh” desah pak Heri puas.

Rasanya sangat puas sekali saat kurir pengantar paket itu memegangi pinggul sang ustadzah sambil menggempur kemaluannya. Sedari tadi pak Heri yang sudah telanjang bulat menyisakan seragam kerjanya yang itupun tidak dikancing seluruhnya terus memaju mundurkan pinggulnya menikmati jepitan kemaluan sang ustadzah. Sama halnya dengan Nada yang tak berdaya diatas meja kantor bagiannya. Nada pasrah tak berdaya. Tubuhnya sudah ia relakan sehingga pak Heri semakin menikmati keindahan ketelanjangan ustadzah bertubuh sempurna itu. Nampak disana dua buah dadanya bergoyang dengan sangat indah. Goyangannya semakin cepat saat gerakan pinggul pak Heri dipercepat.

"Aahhhh... Aaahhh... Aahhhh iyahhhh... Iyyaaahhhh" Desah Nada dengan manjanya.

"Aaahhh... Aaahhh... Aaaahhhh... Gimana ustadzah ? Ustadzah puas kan ?" Tanya pak Heri sambil terus menggempur vaginanya.

"Aaahhh... Ahhhh... Iyahhh pakkk... Iyyahhh.... Aahhh... Aaahhhh" Jerit Nada semakin keras.

Menyadari ustadzahnya sudah kembali ia taklukan membuatnya jadi semakin bernafsu dalam menikmati persetubuhannya itu. Pinggulnya tak pernah lelah. Pinggul itu terus menggempur vagina sang ustadzah hingga suara tubrukan antar pinggul itu terdengar semakin keras.

Plokkk... Plokkk... Plookkk !!!

“Aahhhh... Ahhhhh... Mantapnyaaahhh ustadzahhh... memekmu... Susumu... Desahanmu... Aaahhhh bener-bener nafsuin ustadzah... Saya puas banget menggenjot memekmu ustadzah*”* Desah pak Heri dengan sangat puas yang membuat wajah Nada memerah malu.

"Aahhh... Aahhh... Aahhh terusss pakk... Terussss" Desah Nada yang akhirnya mulai merasakan adanya tanda-tanda gelombang orgasme yang semakin dekat.

“Aahhhh iyahhh ustadzahhh... Saya juga udah gak kuat lagiii... memekmu terlalu lezat ustadzah... Tubuhmu terlalu indah sampai-sampai saya gak kuat menahan diri lagi" Ucap pak Heri yang semakin cepat menggenjot tubuh Nada tuk melampiaskan nafsunya yang mendekati puncak.

Kedua tangannya memegangi pinggul rampingnya. Sodokan yang semakin kuat membuat tubuh ustadzah itu terhempas semakin kencang. Payudaranya bergoyang kencang. Suara desahannya juga terdengar kencang.

Tubuh sempurna itu tak berdaya setelah menerima genjotan dari kurir tak bersunat itu. Butir-butir keringat mulai keluar dari pori-pori tubuhnya. Nada tak berdaya. Matanya merem melek dan dadanya terasa sesak.

“Aahhhh... Ahhhh... Ustadzahhh... Saya mau keluuuar... Ahhh... Aaahhhhhhh” desah pak Heri.

“Aahhhhh iyahhh pakk... Cepattt... Aahhhh aku juggaaaa !!!” desah Nada yang blingsatan merasakan genjotannya.

“Aaahhhh... Ahhhhh... Ahhhh iyahhh ustadzahhh... Sayyaa... Keluuaarrrr !!!!” teriak pak Heri dengan sangat puas hingga penisnya ia masukkan seluruhnya di dalam liang kenikmatan Nada.

Ccrroott... Ccrroott... Ccrroott !!!

“Aaaahhhhhh iyyaaahhhhhh” Tubuh Nada terdorong maju. Matanya berkunang-kunang. Ia pun merem melek keenakan saat cairan cintanya mengucur deras membasahi penis yang menancap di vaginanya.

Begitupula pak Heri. Nafasnya terengah-engah. Tubuhnya kelojotan setelah menumpahkan seluruh cadangan spermanya yang lama tak ia keluarkan. Terhitung sudah berhari-hari semenjak persetubuhannya terakhir dengan Nada. Semenjak itu ia belum sama sekali mengeluarkan spermanya lagi. Pak Heri tersenyum, ia sangat yakin pasti vagina Nada akan dipenuhi oleh spermanya yang melimpah disana.

"Uuuhhhhh" Desah mereka berdua nyaris bersamaan saat pak Heri mencabut penisnya dari dalam vagina Nada.

Nampak lelehan spermanya dengan deras mengalir keluar dari dalam lubang kenikmatan Nada. Benar apa yang diduga olehnya. Spermanya keluar sangat banyak. Cairan kental berwarna putih itu berlomba-lomba keluar membasahi meja kantor bagian Administrasi itu. Pak Heri benar-benar puas. Ia pun mendekati Nada untuk membisikkan sesuatu kepadanya.

"Ini permintaan terakhir saya ustadzah... Tolong simpan kata-kata saya... Saya cuma minta agar ustadzah mempercayai kata-kata saya lagi... Tolong pegang kata-kata saya ustadzah... Yakinlah, saya pasti akan menyelamatkanmu dari fantasi gila suamimu itu" Ucap pak Heri dengan bersungguh-sungguh. Nada hanya mengangguk lemah setelah mendengar kata-katanya. Pak Heri hanya tersenyum lalu berjalan menjauhi Nada untuk mengambil pakaiannya lagi. Ia kembali mendekati Nada sambil mengenakan satu demi satu pakaiannya. Ia melihat penampakan tubuh telanjang Nada. Ia bertekad, ia pun bersumpah di dalam hati.

Suatu hari nanti, ustadzah pasti akan tahu berapa besarnya cinta saya padamu... Suatu hari nanti, saya yakin bahwa kita akan hidup bersama sebagai satu keluarga yang bahagia !

Batin pak Heri sambil memandangi kemaluan Nada yang dipenuhi spermanya. Ia sangat berharap kalau sperma itu akan berubah menjadi janin yang tumbuh di dalam rahim ustadzah seksi itu.

Pak Heri tersenyum.


*-*-*-*


Matahari sudah terbenam dan bulan mulai muncul untuk menerangi malam. Tak terasa waktu cepat berlalu ketika kita sedang berada di pondok pesantren. Kenapa bisa seperti ini ? Apakah karena kita menikmati waktu yang kita lalui disini ? Atau karena kita terlalu banyak melamun sehingga tak sadar waktu telah berjalan meninggalkan diri kita yang termenung memikirkan sesuatu ? Entahlah, pokoknya itu yang saat ini sedang dipikirkan oleh Salwa.

Salwa heran saat sedang melihat ke arah jam tangannya. Ia kaget karena jam tiba-tiba sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Padahal seingatnya ketika ia datang ke tempat ini, jam baru menunjukan pukul setengah delapan malam. Ia geleng-geleng kepala lalu membuka buku pelajarannya lagi untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mempelajari pelajaran yang akan diujikan besok.

Tapi berulang kali ia membacanya, ia merasa percuma. Ia kesulitan untuk menghafal materi pelajaran yang ada di bukunya. Fokusnya telah terbelah gara-gara masalah yang akhir-akhir ini selalu menghantuinya.

"Hahhh... Astaghfirullah" Ucap Salwa sambil menjatuhkan kepalanya ke meja taman yang ada di hadapannya.

Ia merasa lelah gara-gara memikirkan sesuatu yang tidak penting. Kadang ia merasa kesal sendiri. Kadang ia merasa jengkel kenapa dirinya masih terpikirkan masalah itu.

"Padahal Iqbal udah janji gak nyebarin... Tapi kok aku masih kepikiran aja sih ? Terus soal ustadz V gimana yah ? Duh udah lama banget gak ngeliat ustadz V akhir-akhir ini... Jadi khawatir deh, ustadz V gapapa kan yah ? Kok perasaanku jadi gak enak gini sih ?" Lirihnya sambil melihat ke arah langit malam.

Ia yang sedang duduk di salah satu kursi taman yang berada di pusat pesantren tengah termenung memandangi langit cerah berwarna gelap. Entah kenapa ia jadi tenang sambil melihat bulan yang bersinar di atas sana. Ia tersenyum. Ia pun menikmati waktu kesendiriannya dengan memandangi keindahan di langit sana.

"Hayooo... Ngelamun" Ucap seseorang yang mengejutkan Salwa.

"Astaghfirullah ustadzah" Ucap Salwa sambil memegangi dadanya.

"Hihihi kaget yah ? Afwan Salwa" Ucap seorang ustadzah yang tiba-tiba datang mendekatinya.

"Ihhh dasar ustadzah... Kalau ana jantungan gimana ?" Ucap Salwa sebal kepada ustadzah cantik bertubuh mungil itu.

"Hihihi iyya... Iya maaf... Habis sih malem-malem gini malah ngelamun... Nanti kesurupan loh... Lagian lagi mikirin apa sih ?" Ucap ustadzah cantik bernama Nisa itu yang kemudian duduk di salah satu kursi yang berada di hadapan Salwa.

"Hehe gak ada kok ustadzah" Ucap Salwa malu-malu di hadapan mantan tetangganya itu.

Salwa kala itu sedang mengenakan kemeja berwarna pink yang dipadukan dengan rok panjang berwarna biru. Ia tampak menggemaskan dengan tambahan hijab yang membuat wajahnya jadi keliatan lebih mungil. Apalagi senyum malu-malunya. Nisa pun jadi gemas sehingga ingin mencubit pipi santriwati tercantik itu.

"Gak ada gimana ? Keliatan banget loh kalau antum daritadi ngelamun" Ucap Nisa yang hanya membuat Salwa tertawa renyah. Santriwati tercantik itu masih malu-malu tapi tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu yang akhirnya membuatnya bertanya pada ustadzahnya itu.

"Hihihi ada deh ustadzah... Oh yah ana mau nanya boleh ustadzah ?" Tanya Salwa yang membuat Nisa penasaran.

"Mau nanya apa nih ?"

"Dulu pas sebelum antum menikah... Antum sempet kepikiran gak sih buat ngasih hadiah istimewa buat calon suami ustadzah waktu itu ?" Tanya Salwa yang justru membuat Nisa tersenyum.

"Ohhh jadi daritadi antum lagi mikirin hadiah buat seseorang nih ? Jadi antum udah ada seseorang di hati antum nih ?" Goda Nisa yang membuat Salwa tersipu malu.

"Ihhh bukan gituuu... Tapi gak salah juga sih hihihi" Tawa Salwa malu-malu.

"Ciyeeee... Jadi siapa nih lelaki beruntung yang bisa mencuri hati antum ?" Tanya Nisa penasaran.

"Hihihi... Dia ustadz disini, ustadzah" Ucap Salwa malu-malu.

"Ustadz disini ? Boleh bisikin namanya gak nih ?" Ucap Nisa jadi kepo sendiri.

"Hihihi jangan deh ustadzah... Belum pasti... Nanti kalau undangan udah kesebar baru deh boleh" Ucap Salwa tersenyum karena di benaknya ia terbayang pernikahannya dengan ustadz V.

"Hihihi iyya deh... Ana paham kok... Semoga beruntung yah dengan lelaki itu... Semoga bisa sampai nikah dan hidup bahagia sampai ke surga... Pasti beruntung banget deh ustadz itu bisa dicintai oleh seorang santriwati yang cantik dan terkenal kaya antum" Ucap Nisa yang membuat Salwa tersipu malu.

"Hihihi amiin deh... Tapi ana mah gak seberapa ustadzah... Apalagi ana masih merasa belum sesholehah itu untuk menjadi pendamping hidupnya" Ucap Salwa yang terkadang memikirkan dirinya yang tak pantas untuk menjadi pendamping dari lelaki yang sempurna seperti V. Ia merasa banyak dosa apalagi ketika teringat perzinahannya dengan ustadzah Syifa.

"Tenang Salwa... Mumpung masih ada waktu... Bisa kok kita memperbaiki diri... Memantaskan diri agar kita bisa hidup dengan lelaki yang kita cintai... Seperti ana dulu... Ana aja gak nyangka bisa nikah sama suami ana sekarang hihihi" Tawa Nisa malu-malu.

"Hihihi makasih yah ustadzah... Gara-gara antum, ana jadi punya harapan lagi deh supaya bisa nikah sama beliau hihihi" Tawa Salwa yang ikut membuat Nisa tertawa.

"Hihihi sama-sama Salwa... Ana seneng deh bisa bantu" Ucap Nisa tersenyum.

“Oh yah ngomong-ngomong antum tadi cuma mikirin hadiah untuk beliau nih ?” Tanya Nisa lagi.

“Hehehe gak juga sih ustadzah... Anu, ana juga kepikiran kalau nanti ana gak bisa bertemu lagi setelah ini” ucap Salwa mengejutkan Nisa.

“Loh kenapa ngomong gitu ? Apa karena antum khawatir tahun depan antum gak bisa jadi ustadzah disini ? Memangnya ustadz itu belum tau kalau antum mencintainya ? Eh gimana sih ? Ana masih belum paham deh alurnya” Ucap Nisa kebingungan yang malah membuat Salwa tertawa.

“Ya bisa jadi sih ustadzah... Ya itu juga, ana belum tahu kalau di tahun ajaran baru nanti ana masih ada disini apa enggak... Takutnya kalau engga kan ana jadi gak bisa bertemu lagi... Hihihi harusnya sih beliau udah tau kalau ana mencintainya tapi ana masih belum tau apakah beliau juga mencintai ana apa enggak” ucap Salwa dengan jujur yang membuat Nisa pelan-pelan paham.

Sebagai wanita yang pernah mengalami fase-fase itu membuatnya segera mendekat untuk menenangkan hati dari santriwati muda yang baru mengenal apa itu cinta. Nisa segera menasehatinya. Nisa juga segera menenangkannya sehingga santriwati cantik itu tidak perlu khawatir lagi soal masalah itu. Salwa akhirnya tersenyum setelah mendapat masukan dari ustadzah beranak satu itu.

“Makasih yah ustadzah... Ana gak tau kalau malam ini gak ketemu antum mungkin ana udah galau terus kali yak hihihihi” tawa Salwa dengan begitu renyah.

“Nah maka dari itu ustadzah... Mumpung ana masih disini... Ana pengen ngasih hadiah yang istimewa untuknya... Setidaknya dengan itu kan beliau jadi peka dan akhirnya mulai sadar kalau ana benar-benar mencintainya” kata Salwa tersenyum.

“Iya betul itu... Ana setuju... Kalau bisa antum malah harus ngasih hadiah yang gak mungkin diberikan oleh wanita lain... Hadiah yang langsung dari hati... Pokoknya yang spesial dari antum deh” Ucap Nisa yang membuat Salwa terpikirkan suatu hadiah.

“Hihihih naam ustadzah... Ana udah memikirkan hadiah untuknya kok... Makasih yah ustadzah udah menemani ana disini” Ucap Salwa sambil merapatkan kedua kakinya saat memikirkan hadiah yang ada di benaknya.

Naam Ustadzah... Makasih yah... Hihihi iya besok-besok lagi yah... Wassalamualaikum” Ucap Haura setelah berpisah dengan dua orang ustadzah tetangganya setelah melakukan jogging bersama di pagi hari.

Haura tersenyum sambil mengusap keringat yang ada di dahinya setelah melakukan jogging bersama rekan-rekan ustadzahnya mengelilingi pondok pesantren. Haura jadi merasa segar. Tubuhnya jadi terasa bugar setelah melakukan olahraga untuk menjaga keseksian tubuhnya.

Tapi setelah kedua temannya semakin jauh darinya. Ia mulai teringat kejadian semalam setelah menemui Hanna di asramanya. Ia jadi paham kalau alasan V dikeluarkan gara-gara memukul seorang santri. Tapi Hanna hanya mengatakan sampai disitu. Hanna tidak mengungkap siapa identitas santri yang membuat V jadi seperti ini.

“Dasar V... V !!!... Kenapa sih bisa sampai lepas kendali kayak gitu ? Apa gara-gara kepribadiannya bangkit yah ? Eh sebentar” Kata Haura seketika teringat perkataan ustadz Adit dulu.

Ustadz Adit memang menjelaskan kalau selama ini V mempunyai tiga kepribadian yang berbeda tapi anehnya kenapa belakangan ini V selalu menampakan kepribadiannya yang pemberani ? Haura merasa tidak pernah melihat kepribadian V yang pemalu lagi bahkan yang kejam juga jarang.

“Kenapa begitu yah ? Apa karena tidak pernah ada pemicu yang membuat kepribadiannya berubah ?” Kata Haura yang akhir-akhir ini memang kepikiran mengenai kepribadian V. Bahkan kemarin sore ia iseng menanyakan hal ini kepada ustadz Rafi. Anehnya ustadz Rafi bilang kalau V udah gak gugup lagi. Bahkan saat mengobrol dengannya selalu lancar meskipun saat tidak ada Haura di sekitarnya.

“Sebenarnya cara kerjanya gimana sih ? Seingatku V yang pemberani cuma muncul kalau ada aku ? Tapi kok dibelakangku seperti yang ustadz Rafi katakan kemarin, V masih bisa memunculkan kepribadian yang pemberaninya ? Kenapa V gak berubah menjadi kepribadian yang pemalunya ?” tanya Haura berfikir.

“Oh iya... Bahkan waktu itu, saat aku dan V menyelamatkan ustadzah Nada dari pemerkosaan pak Karjo... Kayaknya V gak ngalamin gejala pusing atau apalah yang membuat V berubah ke kepribadian yang lainnya... Seingatku V waktu itu masih di kepribadian pemberaninya ? Tapi kenapa waktu itu ia bisa bertarung dengannya ? Kenapa gak ada gejala yang bisa membuat kepribadiannya berubah ke kepribadian kejamnya ?” ucap Haura berfikir.

“Eh astaghfirullah... Kenapa belakangan ini aku sering banget curiga yah ? Kemarin aku nyurigain mas Hendra... Sekarang malah nyurigain V ? Hah... Kenapa sih aku jadi curigaan gini ?” ucapnya.

Tak berselang lama, tiba-tiba ia melihat V lewat yang membuatnya langsung mengejarnya untuk mendatanginya.

“V !!! Tunggu !” ucap Haura yang membuat V menoleh.

Tau kalau ada ustadzah yang ia cari-cari selama ini memanggilnya. V langsung tersenyum senang. Hatinya sangat senang saat melihat wanita yang ia cintai berlari ke arahnya.

“Haura ?” Ucap V sambil memperhatikan penampilan indahnya.

Haura nampak mempesona dengan hijab berwarna merah maroon yang melekat di kepalanya. Ditambah dengan jaket olahraga bermerk adidas yang dikenakannya. V samar-samar dapat melihat tonjolan dadanya yang tak bisa disembunyikan oleh pemiliknya. Kendati wajahnya tidak tersenyum saat itu. V masih dapat melihat keindahan wajahnya yang mempesona. Saat V menurunkan pandangannya sedikit, ia melihat celana training yang Haura kenakan agak ketat sehingga membuatnya dapat melihat lekuk kakinya yang ramping. Tapi untuk keseluruhan, Haura sangat sempurna. Penampilannya sungguh menawan yang membuat hati V merasa tertawan.

“Aku udah denger ceritanya V... Apa bener kamu bakal dikeluarin dari sini ?”tanya Haura.

“Mungkin” jawab V dengan santai seolah sudah memasrahkan semuanya.

“Ihhhh gimana sih ? Coba jelasin ke aku semuanya kenapa kamu bisa terancam dikeluarin dari sini !” ucap Haura memaksa V untuk menceritakan semuanya.

“Iya... Aku jelasin yah” ucap V menceritakan semuanya sambil berjalan berduaan bersamanya.

Disitulah Haura mulai paham kalau V terancam dikeluarkan akibat seorang santri yang bernama Lutfi. Dari apa yang didengarnya dari cerita V, Haura mulai paham kenapa V sampai bisa memukulnya. Siapapun pasti akan marah kalau menemukan seorang santri yang membawa hape dan ada video porno yang tersimpan di hape itu.

“Jadi karena itu yah ? Maaf belakangan ini aku jarang banget ketemu kamu... Aku jadi ingin bantu tapi aku gak tau harus bantu apa” ucap Haura merasa tidak enak pada V.

“Haha gak perlu bantu apa-apa Ra... Kehadiranmu disini udah cukup untuk membantuku kok” ucap V yang belum memuaskan keinginan Haura.

“Dasar ! Mana bisa V... Aku serius loh pengen bantu kamu biar gak dikeluarin dari sini” ucap Haura yang tidak ingin bercanda karena dirinya bersungguh-sungguh ingin membantu V.

“Iya gak perlu kok... Kalau kamu mau bantu, cukup dengan doa aja... Sisanya pasrahin sama tawakkal aja Ra... Pasti nanti ada jalan kok” ucap V yang membuat Haura tersenyum sedih.

“Maafin aku yah belakangan ini aku gak ada waktu buat kamu V... Aku terlalu sibuk bahkan aku sampai gak tahu kalau kamu terancam dikeluarkan dari sini” Ucap Haura masih merasa tidak enak.

“Ah gapapa kok Ra... Aku tahu kamu sibuk... Jadi aku gak bisa nyalahin kamu juga walau sebenarnya aku dari kemarin nyariiin kamu loh” ucap V yang membuat Haura tersenyum.

“Nyariin aku ? Ngapain nyariin aku ?” tanya Haura sambil terus berjalan di sebelah V.

“Pengen ngobrol-ngobrol aja Ra... Udah lama kan kita gak ngobrol ? Kangen aja rasanya” ucap V yang membuat Haura semakin tidak enak.

“Hehe iya udah lama... Aku aja sampai lupa kapan terakhir kali kita bisa ngobrol akrab kayak gini” ucap Haura beneran lupa.

“Sama Ra... Kita terlalu disibukkan dengan kesibukan masing-masing... Sampai-sampai kita gak ada waktu untuk menyempatkan diri bertemu... Sejujurnya aku merindukanmu Ra... Aku ingin . . . “ ucap V memberanikan diri dengan menyentuh tangan Haura.

Tapi Haura reflek menarik tangannya sambil memandang ke arah tangannya lalu ke wajah ustadz tampan itu.

“Ehh maaf Ra” ucap V menyadari kalau Haura tidak ingin disentuh oleh sembarang orang.

“Gak... Gapapa V... Aku cuma kaget aja” jawab Haura yang sebenarnya juga kebingungan. Ia bingung kenapa saat V hendak mendekap tangannya dirinya reflek menolak tapi kemarin-kemarin dirinya malah mendatangi pak Karjo untuk meminta kepuasan darinya. Haura pun menunduk malu dalam sisa perjalanannya disebelah V itu.

Tanpa disadari mereka berdua berjalan mendekati kantor bagiannya. Disana tiba-tiba V berhenti melangkah lalu menoleh ke arah wajah Haura. Haura jadi bingung sehingga ikut menghentikan langkah kakinya lalu menatap V yang sedang tersenyum saat menatapnya. Haura mendadak gugup apalagi saat kedua tangannya digenggam.

“Ehhh V... Apa ini ? Lepasin... Nanti diliat orang loh V” ucap Haura sambil menatap ustadz tampan yang sedang mengenakan kaus hitam berlengan pendek serta celana training panjang yang menutup seluruh kakinya.

“Maaf, tapi ada yang ingin aku katakan Ra... Aku gak tahu, ini mungkin pertemuan terakhir kita... Hari ini merupakan hari terakhir dimana keputusan nanti akan segera dibuat... Mungkin sore ini aku harus pergi atau malah pagi ini... Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Haura” ucap V yang mendadak membuat Haura menjadi sedih.

“Jangan bilang gitu ah V... Kamu pasti bisa stay disini kok... Apalagi kemarin Hanna bilang udah siap bantu... Aku percaya kamu pasti bisa bertahan disini kok” ucap Haura mencoba menyemangatinya.

“Hahaha semoga yah tapi aku pesimis Ra... Perasaanku bilang gitu soalnya” kata V yang membuat Haura semakin sedih.

“Ihhh kenapa bisa gitu ?”

“Soalnya kemarin siang Hanna bilang ke aku kalau calon suaminya dan calon ibu mertuanya aja gak yakin bisa merubah keputusan pak Kiyai... Katanya pak Kiyai itu keras kepala... Makanya aku tahu ini berat tapi aku ingin mengucapkan selamat tinggal kepadamu... Makasih yah atas semua kenangan yang udah kamu berikan untukku... Tolong jaga diri... Jangan sampai kamu kenapa-kenapa lagi” ucap V dengan tulus yang tanpa sadar membuat Haura menitikan air mata.

“V kenapa bilang gitu sih ! Aku gak rela kalau kamu pergi dari sini... Tolong jangan bilang gitu dong V... Aku jadi makin gak enak ke kamu loh karena belakangan ini aku gak nyempetin waktu buat kamu” ucap Haura sedih memikirkan dirinya harus kehilangan rekan kerjanya.

“Maaf... Ini berat tapi ini yang harus kita lakukan... Maaf kalau selama ini aku sering mengecewakanmu” ucap V jadi iba sehingga memeluk tubuh rampingnya untuk menenangkannya.

“Enggak V... Enggak... Maafin aku yah V... Justru aku yang seharusnya meminta maaf karena belakangan ini sikapku malah gak baik ke kamu... Aku ngerasa kayak udah ngejauhin kamu... Bahkan aku jarang ke kantor lagi... Aku juga baru tau kabarnya kemarin... Maaf kalau aku kayak gak peduli ke kamu” ucap Haura menangis di pelukan V.

“Enggak... Gapapa kok... Aku tahu kamu sibuk... Tapi kehadiranmu disini sudah cukup untuk menyenangkanku... Makasih yah udah hadir disini... Aku bahagia bisa melihat wajahmu lagi... Aku senang kamu masih dalam keadaan baik-baik saja selama ini” ucap V sambil mengusap punggung Haura yang membuat ustadzah tercantik itu makin menangis.

“Maaf V... Maafff udah ngejauhin kamu... Aku makin gak rela kalau kamu beneran dikeluarkan loh V” ucap Haura ditengah tangisannya saat dipeluk oleh V.

“Udah gapapa... Aku cuma dikeluarkan kok... Di luar kita masih bisa bertemu... Makasih yah... Makasih udah baik ke aku selama ini” ucap V terus mengeluarkan kalimat-kalimat penenang untuk meredakan tangisan Haura.

Setelah tangisan Haura mereda. V dengan tenang mengangkat wajah mungilnya hingga wajah cantiknya itu bisa ia nikmati seorang diri. V tersenyum lalu menyeka air matanya itu. V lalu diam sejenak untuk menikmati keindahan yang terlukis di wajahnya.

Ditatapnya seperti ini oleh seorang ustadz setampan V membuat Haura mendadak gugup sampai-sampai wajahnya ia palingkan ke samping. Haura mendadak malu. Wajahnya bahkan berubah menjadi sedikit kemerahan.

“Oh yah Haura... Ini permintaan terakhirku... Kamu bisa menurutinya gak ?” ucap V tiba-tiba yang membuat Haura reflek menoleh menatap ustadz tampannya itu.

“Apa itu V ? Apapun untukmu pasti akan kuturuti” ucap Haura bertekad untuk memberikan kenangan terindah yang terakhir kalinya untuk ustadz tampan itu. Ia ingin memberikan hadiah termanis untuk perpisahannya dengan ustadz tampannya. Kendati sebenarnya ia tidak ingin berpisah darinya dan ingin rekan kerjanya itu menetap disini.

V sambil tersenyum menatap wajah Haura. Ia pun membuka mulutnya sambil mengucapkan permintaannya yang membuat mata Haura membuka lebar karena saking terkejutnya.

“Aku ingin menyetubuhimu lagi... Aku ingin bercinta denganmu sepuas-puasnya untuk meredakan rasa rinduku belakangan ini... Kamu mau gak ? Merelakan tubuhmu untuk kunikmati ?” ucap V yang mengejutkan Haura.

Haura tak menduga kalau V akan berkata seperti itu kepadanya. Jujur ia tidak mau menyerahkan tubuhnya pada V. Ia sedang tidak bernafsu. Tapi menyadari kalau ini merupakan pertemuan terakhirnya membuatnya tidak tega kalau tidak mengabulkan keinginan rekan kerjanya itu.

“Taappp... Tappii aku... V” Ucap Haura kesulitan untuk menyetujui ajakan V.

“Ayolah Haura... Ini kesempatan terakhirku untuk menyetubuhimu... Sebentar lagi udah mau jam setengah tujuh loh... Kamu harus bersiap-siap ngawas kan ? Aku juga harus bersiap-siap menemui pak Kiyai lagi... Kita lakukan dengan segera yah, yang penting aku bisa merasakan jepitan memekmu lagi” ucap V terus mendesaknya yang membuat Haura tanpa sadar menganggukan kepalanya. V pun tersenyum setelah Haura menyetujui ajakannya. V kemudian menarik tangan Haura kemudian membawanya menuju kantor bagiannya karena ia akan mengeksekusinya dengan segera disana.

Dalam perjalanannya ke kantor. Haura merasa menyesal karena sudah menyetujui ajakan V. Karena sejujurnya ia sedang tidak bernafsu untuk disetubuhi oleh V. Ia sedang tidak bergairah apalagi otak dan pikirannya telah tercuci sehingga tidak ada seorangpun yang dapat memuasinya selain kuli bangunan itu. Makanya, ia merasa tidak enak pada V andai dirinya nanti tidak bisa menikmati sodokannya.

Tapi gapapa deh... Selama aku bisa membuatnya senang... Setidaknya aku bisa memberikan kenangan terindah untuknya...

Batin Haura setelah memasuki kantor bagiannya.

"Hauraaa" Ucap V sambil tersenyum saat memojokkan tubuh Haura ke pintu masuk kantor bagiannya. Haura mendadak gugup apalagi saat tubuh V perlahan semakin dekat ke arahnya.

"Terima kasih yah sudah mau mengabulkan keinginan terakhirku... Aku tidak tahu apakah nanti, aku bisa menikmati wajahmu yang indah ini lagi" Ucap V sambil membelai pipi mulus Haura.

"V !!!" Ucap Haura yang sebenarnya merasa tidak nyaman. Tapi ia mengalah dengan membiarkan rekan kerjanya itu membelai pipinya. Punggungnya sudah menabrak pintu masuk kantornya. Pinggang kanannya sudah didekap oleh tangan kiri V. Pelan-pelan Haura menaikan pandangannya. Ia semakin malu saat V menatapnya sambil tersenyum dengan mesum.

"Aku akan mencumbumu... Aku akan menikmatinya seakan itu percumbuan terakhirku" Ucap V yang langsung memejam kemudian memajukan bibirnya untuk mendorong bibir Haura dengan penuh nafsu.

"Mmpphhh" Desah Haura terkejut saat V benar-benar melakukan ucapannya.

V mendorong bibir Haura. Dorongannya terlampau kuat hingga kepala Haura sampai terbenam ke pintu kantornya. Ia benar-benar melampiaskan nafsunya pada bibir ustadzah tercantik itu. Ia benar-benar berfikir kalau setelah hari ini, dirinya tidak bisa lagi menikmati bibir manisnya yang sudah lama membuat mata para lelaki tergoda ingin mencumbunya.

Tangan kirinya yang tadi ada di pinggangnya bergerak naik. Tangan kanannya yang tadi ada di pipinya bergerak turun menuju bokongnya. Dikala tangan kirinya meremas dada bulatnya maka tangan kanannya dengan gemas meremas bokong sekelnya.

Seketika Haura merinding merasakan nafsu yang sedang V luapkan pada tubuhnya. Ia benar-benar terangsang sehingga dirinya tak sadar telah hanyut dalam buaian nafsu V. Bahkan dirinya tak sadar saat resleting jaketnya telah diturunkan. Ia juga tak sadar saat celana trainingnya juga diturunkan. Ia hanya menikmati cumbuan di bibirnya. Ia juga hanya menikmati usapan lembut di perut ratanya. Ia juga hanya menikmati belaian yang diterima di paha mulusnya.

"Aahhhh... Lembut sekali kulit mulusmu Haura... Mmpphhh... Aku jadi gak tahan deh pengen genjot memekmu lagi" Ucap V setelah melepas cumbuannya kemudian menatap wajah indahnya. Haura jadi malu setelah mendengar pujiannya itu.

"Mumpung tinggal sepuluh menit lagi nih... Aku percepat yah... Takutnya ustadz Rafi datang duluan, kan gak enak kalau kita lagi mantap-mantap diganggu" Ucap V sambil tersenyum yang langsung membalikan tubuh Haura hingga memunggunginya.

"Aahhhh V" ucap Haura yang sudah berdiri menungging dimana kedua tangannya bertumpu pada pintu masuk. Sesekali wajahnya ia palingkan ke arah jam dinding yang ada di sebelah kirinya. Haura berfikir, jam memang sudah menunjukan pukul 06.20 pagi. Apa cukup bagi V untuk melampiaskan semua nafsunya hanya dalam waktu 10 menit ? Haura merasa hanya ada dua kemungkinan yang bisa membuat V puas. Kemungkinan pertama V akan melanggar janjinya dan akan menyetubuhinya dalam waktu lebih dari sepuluh menit. Atau kemungkinan kedua, V akan menepati janjinya dan akan meluapkan semua nafsunya selama 10 menit dengan syarat ia akan menusuk vaginanya dengan kecepatan yang sangat cepat.

Gleeeggg !

Haura jadi menenggak ludah. Mau apapun kemungkinannya, vaginanya akan menjadi pelampiasan nafsu besar V yang sudah lama ia jauhi belakangan ini.

"Aaahhhh" Jerit Haura dengan manja saat celana dalamnya di pelorotkan. Haura terkejut karena V Memelorotkan celana dalamnya dengan tergesa-gesa bahkan nyaris merobeknya. V benar-benar sudah bernafsu. Bahkan Haura nyaris tidak mengenalnya saat itu karena nafsunya hampir menyerupai nafsu pak Karjo saat awal-awal memperkosanya dulu.

Dikala bibir V mendekat. Kedua tangannya dengan kuat meremas buah dadanya dari luar kaus yang masih Haura kenakan. Tangan kanannya berpindah untuk memegangi kepala Haura agar menoleh ke arahnya. Sedangkan tangan kirinya menetap di dada untuk meremasnya dengan sekuat tenaga. Haura sampai merinding, tak pernah V memuaskannya dengan nafsu sebesar ini. Apakah karena V berfikir kalau ini merupakan persetubuhan terakhirnya maka V meluapkan seluruh nafsunya sekarang ? Apa ini juga yang dirasakan pak Karjo ketika dulu memperkosanya ?

"Mmpphhh V"

Bibir V telah sampai di bibir Haura. Bibirnya kembali mendorong bibir tipis Haura hingga wajah dari ustadzah pesantren itu terdorong ke arah depan. Untungnya tangan kanan V menahannya. Ia jadi bisa melampiaskan nafsunya untuk menikmati kelezatan bibir Haura.

“Mmpphh... Mmpphh manis banget bibir mu, Ra” desah V di sela-sela cumbuannya.

Bibir mereka betubrukan. Bibir mereka saling mendorong untuk melampiaskan nafsu yang sudah tidak tertahankan. Mata mereka sampai memejam dikala bibir V terus mendorong dengan sangat kejam. Kepala V menerjang merasakan kenikmatan yang berasal dari bibir manis Haura.

"Mmpphhh" Mata Haura langsung membuka saat tiba-tiba ia merasakan adanya gesekan di bibir vaginanya. Haura terkejut apakah V akan menusuk vaginanya sekarang ? Sejak kapan penis V keluar dari sarangnya ? Haura tidak menyadarinya karena dirinya terlalu asyik menikmati dorongan bibir V di bibirnya.

"Mmpphhh" Haura terkejut ketika penis V dipaksakan masuk menembus rahim kehangatannya. Padahal vaginanya belum terlalu basah. Tapi penis besar itu terus memaksa masuk hingga setengah dari penisnya sudah menembus rahim kehangatannya.

"Ouuhhh... Sempitnya memekmu Haura... Ouhhhh mantep banget jepitan memekmu" Desah V sambil terus mencumbunya.

"Tapiii V... Tunggu... Jangann duluuu... Itu sakittt V... Jangan digerakinnnn !!!" Jerit Haura saat pinggul V memaksa bergerak untuk memborbardir lubang vaginanya.

"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh nikmat banget Hauraaa... Aaahhh" Desah V mengabaikan omongan Haura.

"Aaahhh V sakittt... Aaahhh... Aaahhh tunggu dulu V... Punyaku masih belum basah" Jerit Haura saat tubuhnya terlonjak-lonjak maju mundur.

Haura yang saat itu sedang menungging menghadap ke arah pintu sedang kewalahan meladeni nafsu besar V. Celana trainingnya sudah melorot hingga menyangkut di kedua lututnya. Celana dalamnya juga demikian. Sedangkan resleting jaketnya sudah terbuka menampakkan kaus pendek berwarna putihnya yang masih menutupi keindahan dadanya.

"Aaahhh nikmat bangetttt... Aaahhh... Aaahhh" Desah V mengerang dengan penuh nikmat.

Pinggulnya terus berpacu. Penisnya keluar masuk hingga terdengar suara tubrukan yang berasal dari pinggul mereka berdua. V memejam merasakan jepitan yang merangsang batang penisnya di dalam.

"Aahhhh V... Aahhhh kuatt bangettt... Aaahhh... Aahhhh" Desah Haura dengan manja menahan genjotan V di belakang.

Desahannya yang begitu merangsang membuat V tak tahan untuk meremasi kedua payudaranya lagi. Kedua tangannya menaikan kaus yang Haura kenakan. Kedua tangannya langsung menurunkan cup bra yang masih Haura kenakan. Tanpa jeda, kedua tangannya dengan gemas meremasi payudara bulat Haura yang sudah muncul ke permukaan. Ukurannya sangat kencang. Rasanya berbeda dibandingkan saat dulu ia meremasnya. Apakah karena sudah lama dirinya tidak meremasnya sehingga ia jadi lupa rasa dari kekenyalan payudara itu ?

"Aahhhh... Aaahhh... Aahhhh V... Aahhhh" Jerit Haura yang mulai menikmati sodokan penuh nafsu dari ustadz tampan itu. Sepertinya vaginanya mulai basah sehingga gesekan yang ia terima mulai terasa nikmat.

"Aaahhh... Aaahhh... Aaahhh... Gimana Haura ? Kamu menyukainya kan ? Kamu menyukai genjotanku kan ?" Desah V sambil terus menyetubuhinya.

Haura hanya mendesah tanpa sempat menjawabnya. Ia tidak sempat menjawabnya karena di benaknya ia sedang membandingkan bagaimana sodokan dari penis V dan juga penis pak Karjo. Sodokan penis V memang terasa nikmat. Tapi sodokan penis Karjo jauh lebih bertenaga. Kendati tubuhnya terlonjak-lonjak oleh sodokan pinggul V. Tapi ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan sodokan pak Karjo. Saat wajahnya berusaha ia tolehkan ke belakang. Disana ada wajah V yang sedang tersenyum saat terus-terusan menyetubuhinya. Haura kembali menolehkan wajahnya ke depan. Haura membatin. Ia mencoba membandingkan tubuh mereka berdua.

Aaahhh... Aaahhh.... Aaahhh... V memang tampan tapi tubuhnya tidak kekar seperti Pak Karjo... Jujur aku lebih menyukai penis pak Karjo V... Maaf, tapi aku lebih suka genjotannya dibandingkan genjotanmu !!!

Batin Haura di tengah-tengah persetubuhannya.

"Aaahhh... Ahhh... Aku percepat yahh" Ucap V menarik kedua tangannya dari payudara Haura kemudian memegangi pinggul rampingnya untuk mempercepat gerakan pinggulnya.

"Aaahhh... Aaahhh... Iyyaahhhh" Desah Haura terkejut saat V masih bisa mempercepat sodokannya.

“Aahh... Aahhh... Aahhh... Mantap sekali jepitanmu Haura... kulitmu juga mulus banget” desah V sambil menaikan jaket beserta kaus yang Haura kenakan kemudian menarik lepas kait branya hingga branya itu terjatuh ke lantai ruangan. Lalu V langsung mengusapi punggung mulusnya. Lalu usapannya turun menuju bongkahan pantatnya. Disana ia mencengkramnya dengan kuat. Ia juga menampar bokong sekel itu karena saking gemasnya. V terus menamparnya sambil menikmati genjotannya yang semakin ia percepat.

Plaaakkk... Plaakkk... Plaaakkk !

“Aaahhh... Aawww... Uhhhhh sakit V !” jerit Haura merasakan tusukan dan tamparan V di bokongnya.

“Aahhh... Aahhhh... Maaf Hauraa... Aku terlalu bernafsu... Aku terlalu gemas sehingga ingin menampar bokong mulusmu itu” desah V kembali menamparnya.

Plaaakkkk !!!

“Aaaaahhhhh” desah Haura merasakan perih di bokongnya.

Haura jadi ngap-ngapan dalam menahan genjotan V. Kedua susunya yang menggantung indah semakin mengencang. Payudara itu tampak seperti buah pepaya yang siap untuk dipetik. Buah dada itu terus saja bergoyang saat tubuh pemiliknya terguncang terkena hantaman penis V yang semakin bernafsu saat menyetubuhinya.

V memejam. Kedua tangannya fokus pada pinggul rampingnya yang sedang ia cengkram. Terasa jepitan vagina Haura semakin kencang. Penis V kejepit. Penis V terhimpit. V sampai geleng-geleng kepala membayangkan betapa sempitnya ustadzah tercantik yang sudah resmi menjadi istri orang itu. Padahal bukan kali ini dirinya menyetubuhi akhwat tercantik itu. Padahal suaminya juga sudah sering menikmati jepitan vagina ustadzah tercantik itu. Padahal kuli bangunan itu juga sudah pernah mencicipi vaginanya. Kenapa vagina Haura masih begitu sempit ? V hanya bisa geleng-geleng kepala lalu mempercepat gerakan pinggulnya untuk menikmati keindahan yang ada dihadapannya.

“Aahhhhh... Nikmatnyaa, Hauraa... Nikmat sekali memek rapetmu itu .... Ahhh nikmat banget jepitan memekmu Haura !” desah V melampiaskan nafsunya dengan memuji sempitnya liang senggama Haura.

“Aahhhh tunggu V... Ahhhhhh ahhhhh... Pellaannn” desah Haura karena dirinya tak kuasa menahan genjotan ustadz tampan itu. Apalagi saat dirinya merasakan penis besar V yang begitu keras dan besar terus-terusan mengoyak dinding vaginanya. Haura jadi semakin bernafsu. Ia pun mengakui kalau nafsu V dapat mengimbang nafsu besar pak Karjo saat sedang menyetubuhinya.

“Aahhhhhh nikmatnya memekmu Haura... Ahhhhh... Ahhhhhh mantapnyaaa !” desah V yang merasa beruntung karena bisa merasakan jepitan kemaluan ustadzah tercantik itu lagi.

“Aahhhh V... Ahhhhh... Ahhhhhh” Haura juga demikian. Kendati ia lebih menyukai genjotan pak Karjo. Tapi genjotan V di pagi hari ini tidak mengecewakannya. Ia diam-diam menikmati persetubuhannya. Diam-diam ia melebarkan kedua kakinya agar penis V semakin mudah saat keluar masuk di dalam vaginanya.

Tanpa membuang waktu V menambah kecepatannya dalam menghujami tubuh indah Haura yang membuat bidadari tercantik itu semakin mendesah saat lubang vaginanya tertancap semakin dalam oleh penis besar perkasanya.

“Aahhhhhhh V... V” desah Haura pasrah.

“Aahhh... Aahhhh... Gimana ? Kamu suka kan ?” tanya V yang kebetulan melihat wajah Haura menoleh ke arahnya. Haura hanya mengangguk pelan. Kali ini ia mengakui genjotan V yang semakin lama semakin nikmat.

Pinggul V terus bergerak maju mundur. Genjotan yang dilakukannya semakin cepat tanpa pernah mengendur. Tubuh Haura semakin terhempas menerima genjotan yang begitu dahsyat dari seorang ustadz yang sebentar lagi akan dikeluarkan. Haura merasa kalau liang senggamanya semakin basah. Ia diam-diam mulai merasakan adanya tanda-tanda orgasme yang akan segera datang.

“Aaahhh... Aahhh... V.... Aahhh akuu mauu keluuaarrr” desah Haura saat vaginanya mulai berdenyut pelan.

“Aaahhhh... Aahhhh tenang Hauraaa... Akuu jugaaa... Akuuu juga akan keluar Hauraa” desah V merasakan hal yang sama.

V benar-benar menikmati persetubuhannya di pagi hari ini. Ia terus menerus melancarkan serangan demi serangan untuk menaklukan birahi ustadzah tercantik ini. Ustadz tampan itu berulang kali melihat ke bawah untuk menatap punggung mulus Haura yang baru terlihat sebagian. Lekuk pinggangnya sungguh indah. Ia merasa beruntung bisa menikmati keindahan dari tubuh ustadzah tercantik ini. Karena gemas tangannya kembali merangsang punggung mulusnya hingga membuat pemiliknya merinding merasakan rangsangan dari V.

“Aahhhh V... V... Akuuuuuu” desah Haura terkejut dirinya malah semakin dekat dengan orgasme yang akan ia dapatkan.

“Aahhhh... Aahhhh... Aku juga Hauraa... Akuu jugaaa” desah V yang merasakan denyutan di penisnya.

Kenikmatan yang semakin tak tertahankan membuat V meningkatkan intensitas goyangannya. Dorongan pinggul yang V lesatkan ke dalam vagina Haura semakin cepat. Ia juga terampil dalam menusuk penis itu hingga mengenai titik terdalam dari lubang kenikmatan Haura. Penis itu dengan lihai bergerak maju mundur tanpa merasa lelah. Seolah berada di lingkungannya, penis itu tanpa ragu bergerak maju mundur tuk menggesek dinding vaginanya. Akibatnya, cairan cinta Haura semakin memenuhi rahimnya. Penis V semakin basah. Dinding vagina Haura juga semakin basah. Kenikmatan itu semakin terasa. Desahan mereka pun keluar dalam menikmati persetubuhan terlarang ini.

“Aaahhhh... Aahhhh... Aaaahhhh” desah mereka berdua secara bersamaan.

Nafsu mereka sudah berada di ubun-ubun. Tubuh akhwat tercantik itu semakin terhempas kuat setelah dihujami oleh penis seorang ustadz yang melampiaskan nafsunya padanya. Pergerakan indah yang ditampilkan oleh tubuh Haura membuat V semakin menikmati persetubuhannya.

Akhirnya, dengan satu hentakan yang sangat kuat. V mementokan ujung gundulnya hingga menyundul rahim kehangatan ustadzah tercantik sepondok pesantren itu.

“Aaahhh... Aahhhh... Hauraa.... Aahhh kelluuaarrr !!!” desah V yang langsung menggerakan kedua tangannya untuk meremasi payudara Haura.

“Aaahhhh V... Akuuu jugggaaa.... Mmpphhhh” desah Haura degan sangat puas ketika dirinya berhasil mendapatkan orgasmenya di pagi hari ini.

Crrootttt crrroottt crroootttt !!!!

"Haurraaa... Mmpphh !!!" V menjatuhkan kepalanya untuk mencumbu punggung mulusnya. Akibatnya Haura semakin merasakan nikmat saat mendapatkan orgasmenya dari ustadz tampan itu. Haura merinding nikmat. Matanya merem melek merasakan kepuasaan itu. Ia benar-benar tak menyangka dirinya akan sepuas ini hingga tubuhnya kelojotan saat cairan sperma V dengan deras mengisi rahim kehangatannya.

V benar-benar puas setelah berhasil menyetubuhinya. Rasa penasarannya telah terpuaskan. Rasa rindunya telah terbalaskan. Ia terus mencumbu punggung Haura untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya.

“Mmpphh... Puas sekali diriku, Ra... Aku puas sekali bisa memejuhi memekmu” ucap V terus merangsang Haura.

“Aahhh iyyahhh V... Ouhhhh... Uhhhhh” desah Haura merasakan rahimnya hangat setelah dipenuhi sperma V. Haura benar-benar puas. Ia hanya geleng-geleng kepala tak mempercayai V yang ternyata mempunyai nafsu besar juga.

“Eehhhhh V” ucap Haura terkejut saat tubuhnya digerakan oleh V menuju suatu tempat.

“Ayo tiduran Haura... Aku belum puas... Aku masih ingin memejuhi memekmu lagi” ucap V yang membuat Haura terkejut hingga matanya terbuka lebar.

“Aaaahhhhhh” desah Haura dengan pasrah saat tubuhnya dibaringkan diatas taplak meja yang terbuat dari kain yang baru saja V ambil setelah mencabut penisnya dari dalam vagina Haura.

Buru-buru V memelorotkan celana dan celana dalam Haura. Buru-buru ia melepaskan celana trainingnya sebelum penisnya kembali ia masukan sebelum spermanya keluar dari dalam rahimnya.

“Uuuuhhhh” desah Haura saat vaginanya kembali dimasuki oleh penis V. Tak hanya dimasuki, tapi V langsung menggerakan pinggulnya maju mundur secara teratur.

“Aaahhh... Ahhhh... Ahhhhh nikmat sekali memekmu, Ra... Ahhh... Lihat saja... Aku akan menghamilimu kali ini” ucap V mengejutkan Haura.

“Aahhhh... Aahhhh... Aahhh V jangannn” desah Haura saat vaginanya terus digempur oleh V.

Maju mundur maju mundur maju mundur. V terus menggempur vagina Haura tanpa pernah kendur. Ia membuka kausnya. Ia sudah bertelanjang sambil menikmati tubuh Haura yang sudah setengah telanjang. Ia menaikan kaus yang Haura kenakan. Kedua payudaranya semakin terlihat. Ia pun memperkuat sodokannya hingga kedua payudara itu bergoyang dengan sangat cepat.

V tidak tahan lagi. Tubuh Haura terlalu indah untuk ia nikmati sendiri. Nafasnya terengah-engah. Dengan satu hentakkan yang kuat, ia pun menyodokkan pinggulnya hingga mentok mengenai rahim Haura.

“Uhhhhh rasakan ini !!!” desah V dengan sangat mantap yang hanya dibalas dengan jeritan penuh kenikmatan dari Haura.

“Aaaaaaaahhhhhhh !!!”

V benar-benar puas. Ia pun ambruk sambil mencumbui bibir ustadzah tercantik itu. Tangan kirinya dengan nakal juga meremasi payudara kanan Haura. Haura kelelahan. Ia benar-benar tepar tak berdaya setelah digempur habis-habisan oleh V.

“Mmmpphhh... Mpphhh makasih banget Ra... Aku puas setelah menyetubuhimu... Terima kasih untuk semuanya... Aku mencintaimu... Haura” ucap V disela-sela cumbuannya yang tidak sempat dibalas oleh Haura karena bibirnya terus-terusan dicumbu oleh V.


*-*-*-*


Setelah energi mereka terkumpul kembali. V mulai bangkit lalu menarik keluar penisnya hingga lelehan spermanya dengan deras keluar membasahi taplak meja tersebut. Haura yang setengah duduk setengah tiduran terpana melihat banyaknya sperma yang keluar dari dalam vaginanya. Haura pun menatap V tak percaya. Ia kemudian bertanya kepadanya.

“V... Hah... Hah... Hah... Tadi kamu gak beneran kan ? Kamu gak sungguh-sungguh ingin menghamiliku kan ?” tanya Haura ngos-ngosan tak percaya.

V yang sedang berdiri dalam keadaan penis yang tergeletak lemas hanya tersenyum sambil memandangi keindahan Haura.

“Aku ?... Kalau kamu nanya ke aku, siapa sih lelaki di dunia ini yang tidak ingin menghamilimu ?” jawab V dengan santai yang membuat Haura merinding.

Kalau sperma V sebanyak ini... Bisa-bisa sih aku hamil beneran !

Batin Haura khawatir.

Ia masih saja memandangi V dengan tatapan tak percaya. Pria tampan yang dulu telah mengajaknya ke jurang perzinahan itu telah berhasil memuasinya lagi. Tidak hanya dengan kata-katanya saja. Tapi juga dengan nafsunya. Haura mengira kalau V tidak bisa senafsu ini. Tapi rupanya ia salah. V bisa memuaskannya hingga membuatnya benar-benar tak berdaya. Ia jadi terbayang pak Karjo. Tanpa sadar ia membandingkannya.

Mulai dari wajahnya jelas menang V. Lalu ke tubuhnya jelas menang pak Karjo. Lalu genjotannya yang penuh tenaga ? Mereka berdua hampir seimbang. Haura jadi bertanya-tanya, siapa yang terbaik diantara keduanya ?

Hah... Hah... Hah... Andai tubuhmu lebih kekar V... Aku pasti akan memilihmu

Batin Haura yang masih tetap memilih Karjo di hatinya. Kendati V lebih tampan dan tenaganya nyaris mengimbangi pak Karjo. Tapi ia mempunyai kelemahan di tubuhnya yang terlihat lebih kurus dibandingkan pria-pria pada umumnya.

Tubuh kekar pak Karjo lah alasan kenapa dirinya jatuh cinta pada keperkasaannya. Apalah kulit tubuhnya yang hitam. Pak Karjo jadi terlihat lebih perkasa. Itulah yang membuatnya jatuh cinta kepadanya. Tetapi bukan pada hatinya melainkan pada keperkasaan penisnya. Haura pun kembali terbaring sambil memejamkan mata untuk beristirahat sebentar karena tubuhnya terlalu lelah setelah digempur habis-habisan oleh V.

Sementara itu, V berjalan dalam keadaan telanjang bulat menuju kalender yang terpasang di dinding kantor bagiannya. Pandangannya terfokuskan pada hari ini di tanggal 13 Maret.

Benarkah ini hari terakhirku disini ?

Batin V tak rela.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy