Search

CHAPTER 46​ - PESTA TEH

CHAPTER 46​ - PESTA TEH

Siang hari pada pukul satu tepat.

“Gak kerasa yah udah tanggal 13 Maret aja... Gak kerasa ujian tiga hari lagi selesai... Habis itu pesantren libur... Habis itu liburan dimulai dan habis itu pernikahanku akan segera dilaksanakan... Tapi kok, kenapa aku masih gini-gini aja yah” ucap seorang ustadzah bertubuh montok sambil melihat ke arah kalender yang ada di kantor bagiannya.

Ia merenungi nasibnya yang berulang kali harus memuasi nafsu tukang sapu kelas yang sudah menodai duburnya. Bahkan untuk sekarang, tidak hanya tukang sapu yang sudah menodai duburnya. Ada ketiga santri mesum yang berulang kali telah melecehkannya entah melalui ucapan atau hanya melalui sentuhan fisik saja.

Apalagi tadi saat di ruang kelas, ia harus pasrah membiarkan ketiga santri mesum itu meraba-raba tubuhnya secara bergantian. Ia merinding saat bokong sekelnya dicengkram. Ia merinding saat punggung mulusnya dielus. Ia juga merinding saat kedua payudaranya diremas-remas oleh ketiga santri mesum itu secara bersamaan. Ia terpaksa mengalah karena tidak mau aksi mesum mereka diketahui oleh seluruh santri yang berada di ruang ujian tersebut. Ia juga tidak mau aksi mesum mereka diketahui oleh seorang ustadz yang menjadi pengawas di satu ruangan dengannya. Ia tidak mempunyai pilihan. Bahkan saat dipaksa mengulum penis mereka bertiga di toilet saat waktu istirahat berlangsung. Ia merinding saat mulutnya sampai dipenuhi oleh sperma-sperma mereka. Mulutnya sudah seperti penampung pejuh saja. Untungnya tetesannya tidak ada yang tumpah mengenai gamisnya. Ia hanya sempat berkumur-kumur sebelum ujian kembali berlangsung dan terpaksa mengawas santri-santrinya dalam keadaan nafas yang beraroma sperma.

“Hufftt... Mana koreksian juga belum selesai lagi... Apa aku harus ke asrama aja kali yah... Disini gak nyaman banget kalau harus ngerjain koreksian sendirian... Bukannya ngoreksi yang ada malah kepikiran kayak tadi” ucap Rachel sambil membawa koreksian yang ia masukan ke kantung plastik lalu mendekapnya di dada.

Ustadzah berkulit bening itu pun berjalan keluar dari kantor bagiannya untuk kembali pulang menuju kamar asramanya. Kebetulan cuaca saat itu sedang terik-teriknya. Tangan kanannya sampai ia angkat untuk menghalangi sinar mentari yang menyilaukan pandangannya. Apalagi pesantren sedang sepi-sepinya. Palingan hanya ada satu-dua santri yang berjalan sambil membawa piring kosong setelah menyantap jatah makan siangnya di dapur umum. Rachel mengusapi perutnya. Ia senang karena sudah makan siang di dapur guru setelah waktu dzuhur tadi. Ia bahagia karena bisa menyantap nasi dengan lauk tempe serta sayur nangka dengan sambal goreng yang merangsang nafsu makannya.

“Oh yah, ngomong-ngomong Nada dimana yah ? Dulu pas masih santri, kita suka makan bareng selepas waktu ujian kayak gini... Tapi setelah menjadi ustadzah dan ia menikah, aku jadi jarang banget makan bareng lagi dengannya... Ngomong-ngomong masalah dengan suaminya udah kelar belum yah ?” lirih Rachel berbicara sendiri agar tidak kesepian saat berjalan pulang.

Tak terasa ia sudah tiba di gedung kelas yang berarti sebentar lagi dirinya akan segera sampai di gedung asrama pengajar putri. Saat melihat ke arah jam tangannya. Rupanya waktu sudah berlalu sekitar 10 menit semenjak perjalanannya dari kantor bagiannya hingga ke gedung kelas ini. Pondok Pesantren Al-Insan memang besar. Pondok Pesantren ini juga luas. Santrinya pun banyak dan berasal dari berbagai daerah yang ada di negeri ini. Rachel pun bersyukur karena bisa menjadi bagian dari pondok pesantren ini.

“Ustadzah” ucap seseorang yang membuat Rachel menoleh ke belakang.

“Eh, naam” ucap Rachel untuk mencari tahu siapa santri yang sudah menyapanya di siang bolong ini.

Betapa terkejutnya ia saat melihat wajah dari santri yang ada di hadapannya. Ia sangat mengenali santri itu. Ia tahu betul siapa dia dan bagaimana sikapnya. Ia menatap tubuh kurusnya yang tinggal kulit pembungkus tulang. Tubuhnya begitu tinggi namun juga ceking. Santri itu tengah mengenakan kacamata dan rambutnya juga gondrong yang membuatnya semakin terlihat kurus di siang hari itu. Walaupun begitu, santri kurus itu merupakan jagoan basket.

Tapi tetap saja, karena santri itu telah membuat Rachel bergidik ngeri karena ia adalah salah satu dari ketiga santri yang sudah menodai mulutnya di waktu istirahat tadi. Bahkan seingatnya, cuma santri kurus ini yang belum menodai duburnya. Apakah saat ini sudah waktunya bagi duburnya untuk dimasuki penis hitamnya ?

“Rio ? Mau apa antum kemari ?” tanya Rachel sambil melangkah mundur.

“Hehe, cuma kebetulan lewat aja kok ustadzah... Kebetulan ana ngeliat antum disini... Ana jadi pengen nyapa deh” Ucap Rio sambil melangkah mendekat yang membuat ustadzah montok itu semakin ketakutan.

“Rio... Kenapa antum makin deket ? Jangan mendekat lagi Rio !” ucap Rachel merasa kalau santri yang tubuhnya mirip pemeran Ceking di film Ronaldowati itu mempunyai niatan buruk padanya.

“Wkwkwkw ada apa ustadzah ? Ana cuma jalan ke arah antum aja kok” ucap Rio sambil meraih tangan kanan ustadzahnya.

“Eh Rio... Jangan pegang-pegang !” ucap Rachel ingin melepaskannya namun tidak bisa.

“Waahhhh mulus banget tangan antum ustadzah... Tau gak ustadzah ? Dari tadi tuh ana pusing banget gara-gara mikirin ujian... Kayaknya bakalan banyak banget nih nilai ana yang jelek di ujian kali ini...” Bisik Rio di telinga Rachel sambil memeluknya tuk merasakan kemontokan tubuh ustadzahnya.

“Riiooooo !!!” Ucap Rachel merasa tak nyaman.

Ana butuh hiburan nih ustadzah... Kebetulan ana nemu ustadzah lagi lewat disini... Ana pengen banget kayak Bayu & Wahyu yang udah ngerasain jepitan anus antum... Ana belum sempat ngerasain loh, ustadzah... Boleh yah, ana masukin kontol ana ke dubur antum ?” tanya Rio yang membuat tubuh Rachel merinding disaat mendengarnya.

"Riooo !!! Apa yang ?"

Belum sempat Rachel menjawabnya, Rio sudah menyeret tubuh ustadzahnya menuju belakang gedung kelas. Sepertinya Rio ingin menikmati betinanya seorang diri tanpa ada gangguan dari warga pesantren lain. Saat ia tiba disana, ia melihat kalau gerbang menuju area persawahahan terbuka. Rio tersenyum saat kepikiran sebuah ide untuk menikmati kemontokan tubuh ustadzahnya.

“Ehhh Riooo... Antum mau bawa ustadzah kemana ? Riooo jawabb !!! Rioooo !!!” ucap Rachel panik saat tubuhnya diseret menuju area persawahan.

“Wkwkwkkw liat aja nanti ustadzah... Ana mau mandiin antum, pake pejuh orang-orang” Ucap Rio sambil tertawa.

"Makkss... Maksudnya ?" Ucap Rachel bergidik ngeri.

Seketika Rachel melihat ke sekitar. Disana terdapat petani-petani tua yang sedang bekerja di sawahnya. Apalagi sekarang sudah mendekati waktu istirahat bagi mereka. Rachel kembali menoleh ke arah yang Rio tuju. Benar seperti dugaannya, Rio tengah membawanya menuju gubuk yang biasa menjadi tempat istirahat para petani. Apakah dirinya akan menjadi penampung sperma bagi petani-petani itu ? Rachel menggelengkan kepala. Ia merasa jijik andai kejadian itu terjadi.

“Jangannn... Jangannn Riooo... Ustadzah gak mauu... Ustadzahh gak mauuu !” ucap Rachel berontak.

“Wkwkwk diem ustadzah.... Ustadzah mau manggil mereka yah ? Suara antum itu keras banget loh” ucap Rio yang membuat Rachel sadar. Para petani itu memang sedang bekerja tapi tidak ada yang sadar kalau dirinya sedang dibawa Rio menuju gubuk petani. Rachel jadi bingung. Apa yang harus ia lakukan agar bisa terbebas dari jeratan Rio ?

“Aaahhhhhh” desah Rachel saat didudukkan di gubuk area persawahan.

Ustadzah yang saat itu sedang mengenakan pakaian serba kecoklatan mulai dari hijab hingga ke gamisnya jadi ketakutan saat melihat wajah Rio yang begitu bernafsu ingin menelanjanginya.

Santri itu semakin bernafsu saat melihat wajah ustadzahnya yang dipenuhi oleh keringat akibat cuaca panas yang berada di sekitar area persawahan ini. Berulang kali Rachel menutupi tubuhnya dengan merapatkan blazer berwarna birunya. Tapi tak lama kemudian, sebuah tindakan tak terduga dari Rio mengejutkan ustadzah berbadan montok itu.

“Rioooo !!!” ucap Rachel heran saat melihat santrinya dengan berani melepas satu demi satu pakaiannya hingga bertelanjang bulat.

“Wkwkwkw kenapa ustadzah ? Ustadzah sangek yah pas liat ana telanjang ?” tanya Rio tidak tahu malu.

Alih-alih terangsang, Rachel malah semakin jijik melihat tubuh santrinya yang tidak ada indah-indahnya sama sekali. Rachel justru kasian pada tubuh kurus Rio dimana ia dapat melihat tulang rusuknya menonjol dari balik kulit dadanya. Tangannya kurus, bahkan kakinya juga kurus. Satu-satunya yang bisa mengalihkan perhatian Rachel hanyalah penis besarnya yang membuat ustadzah montok itu heran.

Kenapa bisa cuma kontolnya aja yang gede ? Sedangkan bagian tubuhnya yang lain pada kurus semua ? Apa jangan-jangan gizi yang ia makan pada masuk ke kontolnya aja ?

Batin Rachel yang sempat teralihkan sebelum tersadarkan saat kedua tangan kurus Rio mendekap bahunya.

"Ehhh Riooo !!!" Rachel terkejut melihat wajah jelek santrinya yang sudah sedekat ini dengan wajahnya. Apalagi tubuh santrinya itu sedang telanjang. Ia sadar kalau dirinya akan dinodai sebentar lagi.

"Wkwkwk wajah antum jadi semakin cantik pas ana ngeliatnya dengan jarak sedekat ini ustadzah... Duh jadi makin sangek nih... Ana jadi seberani ini gara-gara gak tahan ingin mencumbu bibir antum, ustadzah" Ucap Rio sambil membelai pipi mulus ustadzah.

"Riooo jangann... Lepasin ustadzah, Riooo... Lepasinnn" Ucap Rachel sambil mendorong tubuh Rio menjauh.

"Wkwkwkwk... Antum nakal yah, masa tangan antum berani megang puting ana" Ucap Rio yang membuat Rachel buru-buru menarik tangannya dari dada telanjang santrinya.

"Eh, maaf" Ucap Rachel panik.

"Wkwkwk gapapa ustadzah, jadi makin terangsang nih, ana... Ana mulai yah buat mencumbu bibir antum" Ucap Rio yang langsung menindihi tubuh ustadzahnya yang masih berpakaian lengkap dan terbaring di atas gubuk kayu itu.

"Mmpphh Riooo... Jangannnn" Desah Rachel saat bibirnya didorong.

Rio mencumbu bibir Rachel. Bibir ustadzahnya itu ditekan melalui dorongan bibirnya dengan penuh nafsu. Kedua tangannya berada di bahu kanan kirinya. Rachel jadi tidak bisa bangkit saat dipaksa menerima cumbuan dari santri kurus sepertinya.

Dikala bibirnya membuka, bibirnya langsung menjepit bibir ustadzahnya di bagian atas. Rio mengapit bibir Rachel untuk merasakan kenikmatan bibir tipisnya. Rio kemudian menghisapnya. Lidahnya juga bergerak dengan menjilati bibir ustadzahnya hingga semakin basah. Kendati tubuhnya daritadi didorong oleh tangan ustadzahnya. Ia tidak bergeming sedikitpun. Meski tubuhnya sangat kurus tapi nafsunya telah mengalahkan keinginan ustadzahnya yang tidak ingin dinodai oleh dirinya.

"Mmpphh manis banget bibir antum ustadzah... Mmpphh puas banget ana bisa ngerasain bibir antum" Desah Rio bernafsu.

"Mmpphh hentikan Rio... Hentikannn..." Desah Rachel terus berontak untuk menjauhkan tubuh telanjang santrinya dari tubuh indahnya.

Lidah Rio merengsek masuk menembus bibir ustadzahnya yang sedikit membuka saat mendesah tadi. Lidahnya dengan liar menjilati rongga mulut ustadzahnya. Deru nafas Rachel yang hangat semakin merangsang nafsunya. Aroma tubuh Rachel yang berkeringat juga semakin menambah sensasi birahinya. Rio semakin bergairah apalagi keberaniannya yang bertelanjang bulat di ruangan terbuka sambil menindihi tubuh ustadzahnya menjadi sensasi tersendiri bagi santri mesum sepertinya.

"Mmpphh ustadzaahh.. Bulatnya susumu ini... Mmpphh ana buka yah" Desah Rio terus mencumbunya sambil menurunkan resleting yang ada pada sisi depan gamisnya.

"Mmpphh jangannn" Desah Rachel sambil menahan tangan Rio.

Tapi semua terlambat karena resleting gamis itu sudah turun hingga memperlihatkan kulit bening dadanya serta kemegahan dua gunung kembarnya yang memanjakan mata santrinya.

"Wuidiihhh... Gede banget ustadzah" Ucap Rio terpana hingga menurunkan gamis Rachel melewati bahunya.

"Aaaahhh jangannn... Jangannn Riooo" Ucap Rachel saat gamisnya sudah turun sampai ke perutnya. Dadanya yang terbuka langsung disantap oleh Rio. Bibir Rio dengan rakus menyusu di dada bulat ustadzahnya. Rio sudah seperti bayi kurus yang kehausan saat menyusu di payudara ustadzahnya. Disaat kedua payudara Rachel di remas oleh tangannya. Mulutnya dengan beringas menyantap payudara sebelah kiri ustadzahnya. Dikenyotnya puting berwarna pink itu. Dihisapnya puting berwarna pink itu. Kemudian ia pindah dengan menyusu di payudara satunya. Dikala tangannya meremas susu ustadzahnya. Lidahnya keluar menjilati pentil berwarna pink itu. Lalu bibirnya mengapit pentil itu. Lalu mulutnya menghisap pentil itu dengan penuh nafsu. Rio tak bosan-bosannya dalam menikmati keindahan dada ustadzahnya yang montok sempurna. Bahkan saking gemasnya, ia sampai menggigit puting ustadzahnya hingga pemiliknya blingsatan merasakan sensasinya.

"Aaaahhhh Riooo... Aaaahhhh jangan digigit" Desah Rachel merinding merasakan sensasi liar ini.

"Mmpphh... Mmpphh... Ana nafsu banget ustadzah... Hah... Hah... Hah... Ana gak kuat lagi pengen genjot anus antum" Ucap Rio yang langsung memelorotkan gamis yang masih menyangkut di tubuh ustadzahnya.

"Aaaahhhh Riiooo jangannn... Jangan ditarikkk Riooo... Ustadzah gak pake apa-apa lagi dibalik gamis ini" Ucap Rachel yang masih memegang teguh kata-kata pak Udin sehingga tidak pernah lagi mengenakan dalaman belakangan ini.

"Akhirnya lepas semua" Ucap Rio tersenyum saat melihat ketelanjangan tubuh ustadzahnya.

"Rrriiooo" Jerit Rachel merasa malu saat tubuhnya yang semok itu sudah terhidang dihadapan santri bertubuh ceking itu. Apalagi ini di ruangan terbuka. Reflek Rachel menutupi tubuhnya karena takut akan ada petani disekitar sini yang melihat keindahan tubuhnya.

Jujur, walau ia tidak mau kalau ada petani yang melihat ketelanjangan tubuhnya. Tapi di dalam hatinya, ia menikmati sensasi liar ini. Sensasi dimana dirinya bertelanjang bulat di ruangan terbuka. Bagaimana kalau ada yang melihatnya beneran ? Memikirkan hal itu justru membuatnya jadi semakin bernafsu.

"Ayo sini ustadzah !" Ucap Rio menarik kaki ustadzahnya hingga terseret ke tepi gubuk kayu itu.

"Aaaahhhh mau apa lagi Rio ?" Ucap Rachel merinding tapi juga menikmati sensasi ini.

Rachel sudah turun dari gubuk. Ia sedang berdiri dalam posisi menungging membelakangi santrinya sambil memegangi tiang gubuk kayu yang ada di hadapannya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi pada tubuhnya setelah ini. Firasatnya diperkuat oleh remasan dan rabaan tangan Rio di bokong montoknya. Ia juga mulai merasakan adanya benda tumpul yang mengatuk-atuk lubang duburnya.

Rachel merinding, akankah lubang duburnya akan dimasuki oleh penis hitam santrinya dalam keadaan kering ? Bukannya itu akan terasa sakit ?

"Cuuhhhhh"

Untungnya ia mendengar suara Rio yang meludah ke arah penisnya. Sepertinya Rio paham betul kalau tidak mungkin baginya untuk memasukkan penisnya ke dalam lubang dubur Rachel yang begitu sempit. Mentok-mentok paling cuma bisa masuk ujung gundulnya saja.

"Uuuuhhhhh" Desah Rachel saat merasakan lubang duburnya dijejali oleh penis hitam itu.

"Uhhhhh rapet banget anus antum ustadzah... Uhhhh ana sampai gak bisa masukin gini" Ucap Rio geleng-geleng kepala tak percaya bahkan setelah ia meludahi penisnya, ia masih tidak bisa menjebol anus ustadzahnya.

"Aaahhh Rioooo sakitttt... Aaahhh... Aaahhh" Jerit Rachel tak kuasa menahan tusukannya.

"Uhhhhhh gillaaaa... Uhhhh baru mau masuk aja udah nikmat banget ustadzaahhhh... Mmmppphhh" Desah Rio memejam kemudian menampar bongkahan pantat Rachel dengan gemas.

Plaaakkk.. Plaakkkk...

"Aaaahhhh... Aaaawwww sakittr Riooo" Jerit Rachel merinding sambil memperkuat cengkramannya pada tiang kayu yang menjadi tumpuannya.

Rio tersenyum puas. Ditatapnya punggung ustadzahnya yang tidak tertutupi apa-apa. Dikala penisnya mentok baru masuk setengahnya, kedua tangannya mengusapi punggung ustadzahnya tuk merasakan kemulusannya. Tak jarang usapannya melebar hingga ke pinggang rampingnya. Tak jarang usapannya naik hingga ke bahu beningnya. Tak jarang usapannya turun hingga ke pinggulnya lalu naik lagi hingga ke bahunya. Ia melakukannya sambil menarik pelan-pelan penisnya sebelum menghujaminya dengan kuat. Ia kembali menarik penisnya lalu menghujaminya lagi dengan kuat. Tusukan penuh tenaga yang Rio lakukan membuat lubang dubur ustadzahnya lama-lama basah yang justru memudahkan penisnya untuk memasuki lubang duburnya seluruhnya. Rio kembali mengusap tubuh ustadzahnya tapi kali ini sambil mendekatkan wajahnya hingga bibirnya dapat mengecupi punggung mulusnya.

"Aaaahhhh... Aaahhh... Aaahhh Rioooo... Aaaahhhh" Desah Rachel merasakan hentakan demi hentakan yang Rio lakukan.

"Mmpphh... Mmpphh... Nikmat sekali ustadzaahh... Jadi ini yang Wahyu sama Bayu rasain yah ? Siaall beruntung banget mereka, nyesel juga waktu itu gagal nahan crot sewaktu di bangku taman dulu... Nyesel juga waktu itu gak buru-buru keluar ruangan ujian sehingga keduluan sama Wahyu... Hah... Tau gini rasanya, saya bakal mengusahakan lagi untuk terus menyodomi anus antum ustadzah" Ucap Rio semakin bernafsu di sela-sela cumbuannya dalam menikmati punggung ustadzahnya.

"Aaaahhhh... Aaahhhhhh... Mmmppphhh" Jerit Rachel semakin manja saat menahan rangsangan santrinya. Ia pun jadi bimbang, ia tengah merasakan kepuasan saat bertelanjang sambil dirangsang habis-habisan oleh santri mesumnya. Haruskah ia menjerit saja ? Tapi ada petani yang masih belum menyadari kehadirannya. Bagaimana nanti kalau ia menjerit lalu petani-petani itu pada sadar akan kehadirannya disini ? Bukankah nanti dirinya akan dikeroyok oleh semua petani yang ada disini ?

"Gimana ustadzah ? Ouhhhh ustadzah mulai menikmati sodokan kontol ana kan ?" Tanya Rio dengan pedenya yang mengejutkan ustadzahnya.

"Aaaahhhh.... Ituuu... Ittuuuu" Rachel benar-benar menikmatinya tapi ia enggan untuk mengakui semua itu kepada santri mesumnya. Namun kenikmatan yang telah mendera dirinya membuatnya tak bisa berbohong dihadapan santrinya.

"Wkwkwkwk sama ustadzah... Ana juga menikmati kenakalan kita saat ini... Ana gak pernah nyangka loh bisa telanjang bareng antum di deket gubuk sawah kayak gini... Ouhhhh jadi makin gak nahan nih buat nyodok anus antum sampai mentok ke dalem" Ucap Rio merasa bahagia membayangkan kenyataan yang didapatinya sekarang.

"Aaaahhhh... Tapii Rio jangan didorong lagi... Anus ustadzah udah gak muat buat nerima kontol antum, Rio" Desah Rachel yang membuat Rio merinding.

Ia tak pernah mendengar ucapan semesum itu dari seorang ustadzah selama enam tahunnya belajar di pondok pesantren ini. Alhasil ia semakin bernafsu, ia pun menghentakkan sisa penisnya dengan sekuat tenaga sehingga berhasil mementokan ujung gundulnya menembus dubur ustadzahnya.

"Heennkkgghh rasakan ini !!!" Desah Rio dengan penuh nafsu.

"Aaaaaaahhhhhhh Rioooo" Jerit Rachel dengan sangat keras yang tanpa disadarinya telah membuat beberapa petani menoleh ke arahnya.

Rio menyadari itu, terlihat beberapa petani mendekat ke arahnya. Rio tersenyum. Rencananya berjalan mulus untuk bisa menyetubuhi ustadzahnya sambil dilihati oleh petani-petani tua yang mupeng akan keberuntungannya.

Wkwkwkw lihat ini pakkk... Lihat saya yang bisa merasakan mulusnya ustadzah semontok ini...

Batin Rio semakin bersemangat.

Hah... Hah... Hah... Duhhh capekk banget... Padahal baru permulaan aja... Kenapa aku udah selemes ini ?

Batin Rachel terengah-engah.

"Ehhh" Ucap Rachel menengok ke belakang saat pinggul Rio mulai bergerak maju mundur secara stabil.

"Wkwkwk nikmat banget ustadzah... Terus liat sini ustadzah... Jangan liat kedepan lagi... Rasanya lebih nikmat pas menyetubuhi antum sambil menatap wajah cantik antum" Ucap Rio yang semakin bernafsu menyetubuhi anus ustadzahnya.

"Aaahhh... Aaaahhhh... Tapiii Riooo... Ustadzahh mmpphh... Mmpphh" Desah Rachel merem melek saat menatap santrinya.

"Wkwkwk keenakan yah ustadzah ? Aaahhh... Aaahhh ana puas banget ustadzahh... Uhhh menggairahkan sekali wajah sangek antum barusan" Desah Rio yang membuat Rachel merasa malu. Tapi tusukan Rio terlampau nikmat. Ia kembali menghadap ke depan sambil diam-diam menikmati genjotan santrinya.

Penis Rio keluar masuk menghujami liang dubur Rachel dengan cepat. Kedua tangannya juga bergerak naik untuk meremasi dua buah dada Rachel yang berbentuk bulat. Santri ceking itu sampai ikut memejam saat merasakan jepitan dubur Rachel yang begitu rapat.

Dikala genjotannya dipercepat. Maka remasan tangan di payudara ustadzahnya juga ia perkuat. Jemarinya berulang kali menjepit puting ustadzahnya lalu menariknya ke depan. Terkadang ia juga menekan puting ustadzahnya ke belakang sehingga pemiliknya blingsatan tak karuan. Wajahnya kembali mendekat untuk mencumbu punggung mulus ustadzahnya.

"Mmpphh mantapnyaaa... Mantapnyaaa" Desah Rio puas.

Tak bosan-bosannya ia dalam memainkan payudara bulat Rachel yang semakin kencang. Dikala pinggulnya menggenjot maka tangannya terus meremas susunya bagaikan meremas klakson yang berbunyi teot-teot. Pergumulan mereka semakin hot. Suara mereka bahkan bersatu dalam mengekspresikan kenikmatan yang sedang mereka dapatkan.

"Aaaahhhh... Aaaahhhh... Aaahhh Riooo" Desah Rachel menikmati persetubuhannya. Ia bahkan sampai geleng-geleng kepala lalu membatin di dalam hati.

Ahhh... Ahhhh... Aahhhh kenapa bisa senikmat ini... Kenapa aku sampai menikmati persetubuhan ini ? Apakah karena aku melakukannya di tempat terbuka seperti ini ? Bagaimana nanti kalau ada orang yang mengintip... Uhhhh pasti nikmat bangettt... Ayo Riooo diperkuat lagi... Tolonggg Riooo yang cepat !!!

Batin Rachel sambil memejam menikmati kepuasannya.

"Aaahhh.... Aaahhh... Ada apa ustadzah ? Pengen di colmek juga yah ? Nihhh rasain !!" Desah Rio sambil tersenyum setelah melihat ke sekitar.

"Aaahhh... Aaahhh.... Aahhh... Iyyahhh... Iyyahh" Desah Rachel memejam merasakan sentuhan jemari Rio di bibir vaginanya. Pinggulnya sampai bergoyang karena keenakan. Rachel benar-benar hanyut dalam rangsangan yang santrinya berikan.

"Wkwkwkw binal banget antum ustadzah... Sini, mendekat ke ana ustadzah" Ucap Rio dengan puas sambil menegakkan tubuh ustadzahnya. Tangan kirinya pun menolehkan wajah Rachel ke wajahnya. Bibirnya kemudian maju. Mereka kembali berciuman sambil menikmati persetubuhan yang semakin panas.

"Iyyahhh... Mmpphh... Mmpphh"

Mereka berdua saling berdiri dalam keadaan telanjang bulat dimana Rachel berada di depan membelakangi santrinya. Wajah Rachel menoleh ke kanan menerima cumbuan dari Rio. Bibir kemaluannya semakin basah setelah dirangsang oleh usapan tangan kanan Rio. Kedua payudaranya bergetar setelah duburnya dihujami oleh penis hitam milik Rio.

Pinggul Rio terus berpacu. Kedua payudara ustadzahnya mendal-mendul. Rio sangat menikmati cumbuan yang ia lakukan di bibir ustadzah montok itu.

“Mmpphh... Mmpphh... Nikmat sekali ustadzah... Mmpphh puas sekali rasanya bisa menyetubuhi antum di ruangan terbuka seperti ini” ucap Rio terus menggempur liang dubur ustadzahnya.

“Iyya Rio, mmpphh... Mmpphh” desah Rachel semakin menikmati rangsangan yang diberikan oleh santrinya.

Duhhh... Kenapa ini ? Kenapa aku semakin menikmati pelecehan Rio ? Mmpphhh nikmat bangettt... Mmpphhh teruss Riooo... Terussss !!!

Batin Rachel secara diam-diam karena tidak mau ia menunjukan sisi binalnya dihadapan santrinya.

Bukan tanpa alasan Rachel menikmati cumbuan dan genjotan yang diberikan oleh santrinya. Sedari tadi dirinya terus memejam. Ia seolah memasrahkan keadaan sekitar dengan berfokus pada genjotan yang ia terima di duburnya juga cumbuan yang ia terima di bibirnya. Apalagi gesekan tangan Rio tidak pernah berhenti dalam membasahi bibir vaginanya. Bibir vaginanya mulai berdenyut. Ia tahu kalau ia akan mendapatkan orgasmenya sebentar lagi.

Rachel geleng-geleng kepala sambil menerima cumbuan yang Rio berikan. Rasanya ia semakin binal. Ustadzah macam apa yang sampai telanjang di area persawahan sambil menerima cumbuan dan genjotan dari seorang santri kurus yang bahkan tidak ada tampan-tampannya sama sekali.

“Mmpphh Riooo... Mmpphhh ustadzahhh mauu keluaarr... Mmphhh terusss” ucap Rachel tanpa sadar karena terlanjur menikmati usapan jemari Rio di vaginanya.

“Wkwkwkwk ustadzah keenakan yah ?” tanya Rio sambil di sela-sela cumbuannya untuk menatap wajah ustadzahnya.

Di luar dugaan Rachel hanya mengangguk pelan sambil menerima cumbuan santrinya dengan pasrah. Jelas Rio semakin bernafsu. Ia pun tersenyum sambil mempercepat goyangan pinggulnya untuk memuasi dubur ustadzahnya.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Aaahhhh” jerit Rachel dengan manja saat menerima genjotan santrinya itu.

“Ouhhhh... Ouhhhhh terus ustadzahhh... Desah yang kerasss... Keluarkan semuanya ustadzahhh... Hennkgghhh !” desah Rio semakin mempercepat goyangannya. Tangan kanannya pun naik meremas payudaranya dengan kuat dan tangan kirinya turun untuk menekan klitorisnya hingga membuat pemiliknya keenakan menerima sodokan darinya.

“Aahhhh... Aahhhh... Iyahh Riooo... Teruss... Terusss... Aahhhh... Aahhhhh” desah ustadzah bertubuh montok itu.

Plokkkk.... Plokkkk.... Plokkkkk !

Terdengar suara tubrukan antar pinggul yang semakin dahsyat. Goyangan Rio semakin diperkuat. Pinggul mereka semakin terbentur keras ketika bertubrukan satu sama lain. Nafsu yang tak dapat mereka tahan membuat erangan mereka semakin terucap jelas.

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhhhhhh" Desah Rachel semakin keras.

“Ouhhh... Ouhhhh... Nikmat sekali ustadzah... Ayoo desah terus... Lebih keras ustadzah... Angkat lagi suaranya” desah Rio puas.

“Aahhhh... Ahhhhh... Ahhhhhhhh... Iyahhh Riooo... Aahhhh” desah Rachel tanpa sadar menuruti.

Dada Rachel terasa sesak. Liang vaginanya jadi terasa semakin gatal. Nafasnya terasa berat ditambah dengan lututnya yang semakin melemah membuat dirinya sadar kalau ia akan mendapatkan orgasmenya sebentar lagi.

"Ahhh... Aahhhhh.... Riooo, ustadzah udah gak kuat lagi... Ustadzahh mau keluarrrr" Desah Rachel yang sudah berada di puncak kenikmatannya.

“Wkwkwkw keluarkan ustadzah... Keluarkannn... Jangan ada yang ustadzah tahan lagi ! Hennkgghhh !!!” desah Rio semakin menekan klitoris ustadzahnya juga menggempur duburnya.

“Aaaahhhh... Aahhhh... Aaaahhhh”

Mereka berdua saling bercinta dengan penuh gairah. Keduanya sudah bercinta hingga mendekati batas maksimal. Khususnya Rachel. Kenikmatan yang ia rasakan sudah tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Ketika santrinya mempercepat gerakannya. Nafasnya sudah berat & tubuhnya juga sudah kelelahan. Ketika santrinya menghentakkan pinggulnya lebih dalam menembus duburnya, jemari tangannya juga menekan klitorisnya hingga membuat ustadzahnya tidak dapat menahan laju cairan cintanya yang sudah mencapai puncak.

“Rasakan ini ustadzahh !! Henkghhh !!!”

“Aahhhhhhhh Riooo... Ustadzah keluuaarrr !” desah Rachel mengejang hingga kedua payudaranya yang membusung itu semakin kencang.

Ccrrttt.... Ccrrtt... Ccrrtt !!!

Rachel mendapatkan orgasmenya. Matanya sampai tidak bisa ia buka karena mendapatkan orgasme ternikmatnya. Berulang kali tubuhnya sampai kelojotan saat mendapatkan orgasme di ruangan terbuka. Ruangan yang menjadi favorit Rachel sehingga membuatnya lebih mudah berorgasme dibandingkan di ruangan tertutup.

“Wkwkwkwk puas sekali yah ustadzah ? Coba buka mata antum terus lihat deh ke sekitar antum !” ucap Rio berbisik yang membuat Rachel penasaran kenapa Rio sampai memintanya melakukan itu.

Saat mata Rachel membuka, betapa terkejutnya ia karena ada sekitar 7 orang petani yang berdiri mengelilinginya sambil mengocok penis mereka. Rachel terkejut, ia pun menjerit kaget.

“Aaahhhh... Rio apa ini ? Kenapa ada banyak orang disini ?” tanya Rachel sambil menutupi keindahan tubuhnya sebisanya.

“Wkwkwk kok nanya ana ustadzah ? Kan ustadzah sendiri yang udah ngundang mereka” ucap Rio dengan gemas sambil membelai payudara ustadzahnya.

“Kok ustadzah ? Kapan ?” Ucap Rachel tak merasa.

“Hehe tadi ustadzah mendesah kenceng banget loh... Kami yang lagi bekerja jadi terpanggil kesini” Ucap salah seorang petani berusia tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya.

“Bener ustadzah... Pas kami semua kesini, saya gak nyangka ada ustadzah yang sering kami liat di pesantren malah lagi enak-enak bareng santrinya disini... Duh ngeliat susu ustadzah yang mendal-mendul bikin saya gak kuat buat nyoli nih” Ucap seorang petani bergigi bolong yang mengenakan topi jerami.

“Ngomong-ngomong tadi enak banget yah ustadzah ? Saya juga mau dong nak, gantian... Saya pengen genjot ustadzah montok ini juga” Ucap seorang petani yang bertelanjang dada menampakan otot kekarnya.

“Hehe saya juga dong nak... Gak sabar pengen ngerasain jepitan memeknya plus dengerin desahannya” Ucap seorang petani tua yang mengenakan pakaian lusuh.

“Saya duluan dong nak... Tadi saya yang pertama kali kesini loh” ucap Petani tua bertubuh tambun.

“Ehh saya duluan... Saya yang paling senior disini” ucap Petani tua lainnya yang mengaku paling tua. Saat Rachel melihatnya, sepertinya petani itu memang petani yang tertua terlihat dari kulit kurusnya yang tinggal kulit pembungkus tulang. Rachel malah teringat pada kakeknya di rumah yang mempunyai tubuh sekurus ini.

“Sudah-sudah jangan rebutan... Kita dengerin aja apa keputusan nak ganteng ini... Moga aja santri ini mau membagikan ustadzah montoknya ke kita” ucap Petani terakhir yang sudah bertelanjang bulat memamerkan penis bengkoknya.

Sontak Rachel merinding melihat banyak petani-petani berkulit keriput dan bertubuh gelap yang berebutan ingin menikmati tubuhnya. Rio yang melihat nafsu besar mereka hanya tersenyum saja. Ia pun dengan tenang memulai pembicaraan untuk mendapatkan jalan tengah dari permasalahan ini.

“Tenang pak... Tenang... Jadi gini aja deh... Saya tau kalian semua pasti bernafsu ingin menikmati ustadzah saya kan ?” tanya Rio yang segera dijawab oleh petani-petani itu.

“YA... Betul nak !”

“Tapi sebagai seorang santri, maaf saja... Saya gak bisa membiarkan ustadzah saya disetubuhi oleh kalian” ucap Rio yang membuat petani-petani itu kecewa. Rachel pun lega dirinya tidak menjadi santapan petani-petani tua itu. Iseng matanya menatap penis-penis mereka yang sudah keluar. Ia menenggak ludah membayangkan penis-penis hitam itu secara bergantian memasuki liang senggamanya.

“Akan tetapi, saya juga gak tega kalau kalian sampai terangsang gara-gara saya yang menggenjot ustadzah Rachel disini... Wkwkwkkw... Gini aja, saya kasih lima menit deh... Kalian boleh melakukan apa saja ke ustadzah Rachel... Nih ambil... Kalian boleh melakukan apa saja selain memasukan apapun, baik jemari kalian atau kontol-kontol kalian ke dalam memek ustadzah saya” ucap Rio mendorong Rachel ke arah kerumunan petani-petani tua itu.

“Ehh Riooo” ucap Rachel terkejut dengan keputusan santrinya.

“Hehe iya nak... Kami paham... Happp... Akhirnya, duh mulus banget kulitmu ustadzahh... Mmpphhh, jadi namamu Rachel yah... Indah sekali namamu, seindah tubuhmu ini” ucap seorang petani berambut putih yang langsung mencumbu bibir Rachel.

"Mmpphh" Rachel dapat merasakan aroma nafasnya yang bau. Ia jadi merasa tak nyaman tapi tidak mampu untuk melakukan apapun selain bertahan.

“Ehhh kok lu duluan sih... Sini giliran gue” kata petani bergigi bolong yang langsung merebut bibir Rachel untuk ia cumbui.

“Mmphhhh” desah Rachel sambil memejam saat dirinya juga merasakan aroma nafas dari petani tua itu.

“Gila susunya montok banget... Gak nyangka yah... Dibalik pakaian tertutupnya, ada onderdil segede ini... Ini kayaknya susu tergede yang pernah gue liat selama ini” ucap petani yang sudah bertelanjang dada yang menampakkan tubuh kekarnya. Petani itu langsung meremas payudaranya yang membuat pemiliknya menjerit dengan sekuat tenaga.

“Mmppphhhhh” desah Rachel tertahan saat menerima cumbuan dari petani bergigi bolong di bibirnya. Remasan petani kekar itu di payudaranya juga begitu terasa. Rachel pun sampai merinding dibuatnya.

“Kampret... Gantian lagi dong pak... Sini giliran gue” kata petani berambut putih tadi yang merebutnya lagi dari petani bergigi bolong.

“Mmpphhh” desah Rachel kembali merasakan cumbuan petani tua itu lagi. Lagi, bibirnya dicumbui oleh petani berambut putih itu. Liurnya sampai menetes karena bibirnya direbut paksa oleh petani tua itu dari petani bergigi bolong tadi.

“Susu satunya nganggur kan yah... Duhhh montoknyaa... Montok banget susumu ini ustadzah” ucap petani berpakaian lusuh yang langsung menyusu di payudara yang menganggur itu.

“Mmpphhhh pakkkk” desah Rachel saat merasakan putingnya digigt oleh petani miskin itu.

“ustadzahh, liat sini... Mmpphh” ucap petani tua berperut tambun yang merebut bibir Rachel dari petani berambut putih.

“Mmpphhh bapakkk... Mmpphhhh” desah Rachel dengan pasrah saat membiarkan petani gembrot itu mencumbu bibirnya.

“Sini giliran gue pak... Ayo ustadzah terima bibir saya ini... Mmpphhh” Ucap petani bertubuh paling kurus yang mengingatkan Rachel pada kakeknya di rumah. Petani itu mencumbu bibir Rachel dengan penuh nafsu. Bibirnya mendorong bibir Rachel. Rachel sampai kehabisan nafas saat menerima cumbuannya yang begitu beringas. Bahkan ia merasa kalau petani tertua itu meludahi mulutnya hingga membuatnya dapat merasakan aroma busuk dari ludah petani tertua itu.

“Hahaha kalian ini pada nafsuan amat... Mending disuruh gini aja” kata petani tua berpenis bengkok yang sudah bertelanjang bulat saat meminta Rachel berjongkok didepan kemaluannya. Penis bengkoknya itu langsung didekatkan ke wajah mulusnya. Petani tua itu memejam saat penisnya dengan tega menodai kecantikan wajahnya.

“Hahaha bener juga pak... Nih rasain penis saya juga ustadzah” ucap petani berambut putih yang langsung mengarahkan penisnya mengikuti petani berpenis bengkok itu.

“Mmpphhh... Mmphhh” Rachel merasa risih saat wajahnya digesek-gesek dengan penis petani-petani tua itu.

“Ayo tangannya ustadzah, sini !” Ucap petani bertubuh tambun yang meminta tangan kanan Rachel untuk membelai penisnya.

“Ayo sini juga ustadzah tangannya” ucap petani bertubuh kurus yang meminta tangan kiri Rachel untuk membelai penisnya.

“Ouuhh... Nikmatnyaa... Ouhhhh ayo masukin ustadzah” ucap petani berpenis bengkok yang langsung memasukan penisnya ke dalam mulut Rachel.

“Mmpphhh... Mmpphhh” desah Rachel saat merasakan aroma busuk dari penis bengkok itu.

“Anjiirrr dapet sepongannya juga lu... Nih ustadzah... Punya saya juga disepong dong” kata petani kekar yang ingin disepong juga.

“Hahahha siap nih ambil” kata petani berpenis bengkok itu menyerahkan mulut Rachel ke penis petani kekar itu.

“Mmphhhhh” desah Rachel saat mengulumnya. Ia terkejut karena penis yang baru saja ia kulum terasa sangat keras. Saat wajahnya dinaikan ia melihat tubuh petani tua itu yang begitu kekar.

Tau kalau ustadzah montok itu sedang menatapnya, petani kekar itu langsung blingsatan tak karuan saat menyodok mulutnya sambil menatap mata sayuknya.

“Ayo ustadzah nikmati kontol saya... Hennkgghh” kata petani kekar itu sambil memegangi kepala Rachel lalu menggerakan pinggulnya maju mundur untuk menggempur mulut ustadzah montok itu.

“Mmpphhh... Mmpphhhh... Aahhhhh” desah Rachel kewalahan. Apalagi saat tiba-tiba putingnya kembali digigit oleh seseorang.

Saat matanya mencoba mengintip, rupanya ada petani bergigi bolong yang dengan nafsunya tengah menyusu di payudara kanannya. Begitupula petani berpakaian lusuh yang ikut-ikutan menyusu di payudara satunya. Mereka berdua rela menungging hanya untuk menyusu di payudara semok itu.

“30 detik lagi” ucap Rio mengagetkan semua petani itu.

“Buset tinggal 30 detik lagi... Gantian pak... Giliran gue” kata Petani berpenis bengkok yang bernafsu ingin kembali menyetubuhi mulut Rachel.

“Nih ambil”

“Mmpphhhhhh” desah Rachel kewalahan saat mulutnya kembali dijejali penis berkepala bengkok itu.

Jleebbb... Jleebbbb... Jleebbb !

Petani berpenis bengkok itu dengan penuh nafsu menghujami mulut Rachel. Rachel kewalahan, ia juga merasa kesakitan saat pangkal kerongkongannya disodok-sodok oleh penis bengkok itu.

"Aahhhh gilaaa... Wahhh mantep banget mulutnya... Ouhhh yahh... Nih ambil" Desah petani berpenis bengkok itu puas lalu mengopernya ke temannya.

“Ayo berdiri ustadzah” kata petani berperut tambun yang langsung mengangkat tubuh telanjang Rachel agar berdiri tegak.

“Mmpphhhhhh” Rachel kembali dicumbu tapi ia tidak tahu siapa yang mencumbunya karena matanya tengah memejam.

“Mmpphhh” kembali, Rachel menerima cumbuan dari petani lainnya.

Secara terus menerus mulutnya dioper kesana kesini untuk menerima cumbuan dari petani-petani itu. Kedua payudaranya juga diremas. Ia tak berdaya dalam meladeni nafsu birahi ketujuh petani tua itu.

“Yakkk waktunya habis wkwkwkwk... Beneran nafsu deh kalian yah” ucap Rio tertawa melihat petani-petani itu dengan liar berebutan tubuh ustadzah montoknya.

“Hah... Hah... Hah... Sial udah habis aja” kata petani bertubuh kurus dan yang merupakan petani paling senior disini. Rupanya petani itulah yang mencumbu bibir Rachel terakhir.

Saat Rachel membuka matanya, ia sampai terkejut dibuatnya. Ia tak menyangka karena dirinya baru saja bercumbu dengan seorang kakek tua bertubuh kurus dengan penuh nafsu seperti tadi. Rachel terengah-engah. Ia juga heran.

Hah... Hah... Hah... Kenapa saat petani-petani tadi berlomba melecehkan tubuhku, aku malah menikmati perbuatan mereka itu ?

Batin Rachel tak menyangka.

“Ayo nungging disini ustadzah” kata Rio membawa Rachel ke atas gubuk kemudian menyuruhnya menungging diatas gubuk kayu itu.

“Oh yah, karena kalian bener-bener bernafsu saat menikmati ustadzah Rachel... Saya beri kalian hadiah deh... Kalian boleh melakukan apapun pada ustadzah saya disaat saya menggenjot duburnya lagi” ucap Rio yang membuat Rachel menoleh ke belakang untuk menatap santrinya. Rachel merinding tapi diam-diam juga penasaran ingin melakukannya lagi. Saat Rachel menengokkan wajahnya ke depan, ada petani tua yang paling senior bertubuh kurus yang langsung mendekatkan penisnya untuk menodai mulutnya.

“Beneran nak ? Kalau gitu, ayo makan ini ustadzah” kata petani bertubuh kurus itu secara tiba-tiba.

“Mmpphhhhh” desah Rachel yang terpaksa mengulum penis petani tua itu.

“Wkwkwkwk mantappp banget pak... Nih rasain juga kontol ana ustadzah... Hennkgghhh !!!” desah Rio mengambleskan penisnya menembus liang dubur ustadzahnya.

“Mmpphhh Riiooooo” desah Rachel merasakan tusukan penis santrinya.

“Aahhhhhh sempiittnnyyaa” desah Rio puas yang membuat ketujuh petani tadi terpana melihat ustadzah montok itu sudah dijejali penis di duburnya. Sisa keenam petani selain petani bertubuh kurus yang sedang menikmati mulut Rachel mendekat. Mereka semua terus beronani sambil menatap ketelanjangan tubuh Rachel yang sedang dinodai.

“Rioooo mmpphh” desah Rachel merasakan tusukan penis Rio yang semakin dalam di lubang duburnya.

“Ouhhh ustadzahhh... Suaramu itu loh hahahah, bikin kita sangek... Iya gak ?” tanya petani kurus itu kepada teman-temannya.

“Hahahha betul pak betul” ucap petani lain yang membuat Rachel merasa malu.

“Wkwkwk melihat kalian puas kayak gini bikin saya makin bernafsu aja nih... Kita mulai aja yah sekarang ? Oh yah pak... Bapak juga boleh menggenjot mulut ustadzah saya kok... Jangan malu” ucap Rio pada petani di depannya.

“Siap nak hehehe, saya gak mau kok... Buat apa malu untuk menggenjot tubuh ustadzah semontok ini... Rasakan ini ustadzah !” ucap petani itu saat memaju mundurkan pinggulnya.

“Mmpphh... Mmpphh” desah Rachel kewalahan menahan tusukan penis petani tertua itu.

“Ouhhh nikmatnyaa... Ouhhh sempitnya anus antum ustadzah” ucap Rio yang juga memulai menggerakan pinggulnya maju mundur di dubur ustadzah montok itu.

“Mmmpphhh... Ahhhh... Ahhhhh” desah Rachel terdorong maju mundur ketika santri kurus itu bergerak menghujami lubang anusnya.

“Wkwkwkwk gimana pakkk... Enak gak disepong sama seorang ustadzah ?” tanya Rio sambil menampar-nampar bokong Rachel dengan penuh nafsu.

Plaaakkk... Plaakkkk !

“Aahhh... Ahhhh... Banget nak.... Ouhhh puas banget rasanya disepong sama seorang ustadzah” kata petani bertubuh kurus itu sambil memejam yang membuat teman-temannya merasa iri pada keberuntungannya.

Ketika kedua tangan Rio memegangi pinggang ramping dari ustadzah bertubuh montok itu. ia dapat merasakan jepitan yang terasa seret-seret nikmat yang membuatnya sampai harus geleng-geleng kepala mengekspresikan kepuasannya. Ia pun menurunkan pandangannya untuk menatap punggung mulus ustadzahnya. Kedua tangannya dengan gemas mengusap punggung mulus itu. Pemiliknya jadi merinding. Mereka bertiga sama-sama merasakan kenikmatan yang tiada tanding.

“Mmpphhhh... Mmpphhh... Mmppphhh” desah Rachel tertahan sambil menahan tusukan penis petani kurus itu di mulutnya.

“Ouuhhhh ustadzahhhhhh... Ouuhhhhh” desah Petani kurus itu dengan keras ketika merasakan penisnya seperti di sedot-sedot oleh mulut ustadzahnya. Petani itu sampai merem melek, ia pun memegangi kepala ustadzahnya lalu mempercepat gerakan pinggulnya hingga membuat penisnya menusuk kerongkongan Rachel semakin dalam.

“Mmppphhh... Mmppphhhhh” Desah Rachel ketika tubuhnya terdorong maju mundur menerima sodokan dari santri kurus itu. Di lain sisi, ia juga berusaha menahan tusukan penis petani bertubuh kurus itu. Hentakan kuat dari belakang serta sodokan penuh tenaga dari depan membuatnya hanya bisa memejam membiarkan pejantannya menikmati tubuhnya. Dalam hati ia berharap semoga pelecehan ini bisa segera berakhir. Tapi di lain hati ia berharap bisa menikmati pelecehan ini lebih lama lagi. Ia tidak menyangka bahwa fantasinya yang ingin bersetubuh di tempat terbuka sambil dilihati oleh orang-orang terwujud di siang hari ini.

“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhh... Ahhhhh saya gak kuat !” kata petani kurus itu tiba-tiba.

“Wkwkwkkw udah mau keluar yah pak ? Keluarin aja... Keluarin semuanya terserah bapak dimana” ucap Rio tertawa yang membuat petani kurus itu bernafsu ingin mengeluarkannya.

"Iyyahhh nakkk... Iyyahh.... Ouhhh... Ouhhhh... Ouhhh rasakan ini ustadzah... Hennkgh !!!" Desah Petani tertua itu sambil membenamkan seluruh penisnya di mulut ustadzah cantik bertubuh montok itu.

Rio tersenyum puas, ia pun mengalah dengan menunda genjotannya agar ustadzahnya bisa menerima semprotan sperma petani tua itu di mulutnya.

"Mmpphh" Rachel memejam saat mulutnya dibanjiri oleh sperma busuk petani tua itu. Mulutnya sampi penuh sehingga beberapa tetes sperma petani itu keluar dari sela-sela mulutnya.

Petani bertubuh kurus itu pun puas lalu menarik lepas penisnya untuk menatapi wajah cantik Rachel yang baru ia genjoti.

"Ayo sini ustadzah... Balik badannya" Kata Rio menarik tubuh Rachel untuk berganti posisi.

"Mmpphh"

Rachel diposisikan berdiri diatas tubuh Rio yang terlentang diatas gubuk kayu itu. Rachel diminta untuk berbalik badan. Tubuh montoknya pun menghadap tubuh Rio yang terbaring di hadapannya.

Rachel yang tak kuat tuk menahan sperma petani itu akhirnya memuntahkannya hingga jatuh semua di payudara besarnya. Sontak Rio dan keenam petani yang melihatnya terpana pada seorang ustadzah yang baru saja memuntahkan sperma milik pria tua seperti petani bertubuh kurus tadi.

"Ayo ustadzah sini kocok kontol saya" Ucap petani tua berpakaian lusuh yang menarik tangan kanan Rachel.

"Saya juga dong ustadzah... Tolong kocok kontol saya sampai puas" Ucap seorang petani berambut putih yang minta dikocok menggunakan tangan kirinya.

"Wkwkwk ayo siapa lagi yang mau ? Sebelum saya mulai menggenjotnya lagi nih ?" Ucap Rio tertawa melihat nafsu besar petani-petani itu.

"Saya nak... Saya paling gemes sama susu gedemu ustadzah... Mmpphh" Desah petani bergigi bolong yang langsung mengulum pentilnya yang tidak terkena sperma petani tertua tadi.

"Saya juga dong" Kata petani bertubuh kekar yang meremas payudara satunya dengan kuat yang membuat pemiliknya semakin lemas.

"Aahhh bapaakkk... Aahhhh" Desah Rachel memejam sambil menggelengkan kepalanya.

Kedua tangannya pun sibuk mengocok penis-penis mereka. Tubuhnya pun merinding menahan remasan dan sapuan lidah dari petani-petani tua seperti mereka. Tubuhnya yang kian tegang membuat otot di duburnya semakin mencekik penis Rio yang tersumpal di dalamnya.

Wkwkwk... Ustadzah jadi makin binal aja nih... Nanti lah genjotnya, mau liat kebinalan ustadzah Rachel dulu...

Batin Rio yang hanya mengamatinya sambil menarik nafasnya dengan kuat agar cekikan liang dubur ustadzahnya tidak membuatnya keluar. Ia pun terus menonton sambil mengamati semuanya dari bawah.

Terlihat disana kedua tangan Rachel bergerak maju mundur mengocok penis petani berambut putih dan petani berbaju lusuh. Belaian lembut dari tangan ustadzah montok itu membuat keduanya merem melek keenakan. Kedua petani tua itu pun bersyukur pada kenikmatan yang sedang mereka dapatkan sekarang.

"Aahhh ustadzahh... Kocokanmu jago banget... Saya gak nyangka kalau ada seorang ustadzah yang jago ngocok kontol orang" Ucap petani berambut putih saat melecehkan kebinalan Rachel.

"Aahhh iyahh betul... Kontol saya udah kaya ditarik-tarik... Pasti ustadzah sering ngocok kontol orang yah ?" Tanya petani berbaju lusuh yang membuat Rachel semakin malu.

"Aahhh... Aahhh enggak kok" Kata Rachel tidak mengaku sambil menahan rangsangan petani bergigi bolong dan bertubuh kekar yang terus memainkan payudaranya.

"Wkwkwk bohong dia pak... Tadi pagi aja ustadzah Rachel ngocokin kontol saya sama kedua temen saya sampai crot di mulut" Ucap Rio membocorkan rahasia Rachel yang membuatnya jadi semakin malu.

"Ah yang bener ? Beneran itu ustadzah ?" Kata petani-petani itu tak menyangka.

"Aahhh... Aahhh iyyahh benerrrr" Jawab Rachel malu-malu yang membuat semua petani itu merinding mendengarnya.

"Gilaaa ternyata ustadzah cantik-cantik nakal juga yah !" Ucap petani bergigi bolong yang jadi semakin bernafsu menyusu di payudaranya.

"Sialll beruntung banget jadi santri-santrimu... Pasti mereka pada betah mondok gara-gara ustadzah.... Tau gini jadi pengen mondok deh biar bisa disepong terus tiap hari olehmu" Ucap petani bertubuh kekar yang semakin meremas buah dadanya dengan kuat.

"Aaahhhh... Aahhh sakittt pakkk" Jerit Rachel yang otomatis mencengkram kedua penis petani itu.

"Aahhh ustadzah... Kocok lagi dong... Ahhh sepong saya juga... Saya jadi pengen disepong kaya santrimu itu deh" Ucap petani berpakaian lusuh.

"Saya juga donggg... Kocokin sampai keluar kaya santrimu itu" Ucap petani berambut putih itu.

Desakan yang Rachel terima membuatnya tidak mempunyai pilihan selain menurutinya. Dengan malu-malu wajahnya menoleh ke arah penis petani berbaju lusuh untuk mengulumnya. Mulutnya pun membuka lalu melahap penis hitam itu dengan segera.

"Uuuuhhh iyyahh seperti itu ustadzah" Ucapnya senang.

Dikala tangan kanannya mengocok penis petani berambut putih maka tangan kanannya hanya memegangi penis petani berbaju lusuh karena mulutnya tampak sibuk mengulumnya disana.

Anehnya Rachel malah menikmati aksi binalnya. Membayangkan kalau ia melakukannya di ruangan terbuka membuatnya malah semakin bersemangat dalam mengulum penis hitam itu.

Berulang kali mulutnya ia dorongkan hingga nyaris mentok mengenai selangkangan petani itu. Hidungnya pun sudah menyentuh bulu jembut dari petani berbaju lusuh itu. Aroma keringat yang memuakkan justru menjadikan Rachel lebih bersemangat lagi dalam memuaskan fantasinya dalam mengulum penis petani itu di ruangan terbuka.

“Aahhhh... Ahhhh ustadzahhhh” desah petani itu tak tahan.

Kepala Rachel berputar secara vertikal. Akibatnya penis di dalam mulutnya jadi seperti diaduk-aduk oleh mulut ustadzah bertubuh semok itu. Lalu ia meletehkannya, lalu lidahnya ia keluarkan untuk menjilati ujung gundul dari penis tua itu. Lidah itu berayun-ayun mengusapi ujung gundulnya yang bentuknya mirip kepala jamur itu. Petani itu mendesah. Petani itu semakin bergairah. Ia tidak menyangka kalau ada ustadzah yang handal dalam mengulum penisnya dengan sangat lihai.

Saat petani itu menatap ke bawah, ustadzah montok yang sudah telanjang itu sedang memasukan ujung gundul penisnya ke dalam mulutnya. Terasa ustadzah montok itu menghisapnya dengan kuat. Petani itu jadi gelagapan. Terasa penisnya berdenyut kencang. Tubuhnya yang tua itu jadi merinding hebat.

"Aahhhh ustadzahhh... Aahhh... Aahhhh" Desah petani berpakaian lusuh itu nyaris keluar.

"Mmpphh... Mmpphh" Desah Rachel terus menghisapnya hingga pipinya empot-empotan.

Sontak kebinalan Rachel itu menarik perhatian petani-petani laen. Bahkan Rio sendiri terpana. Ia tersenyum bangga karena ustadzahnya sudah semakin binal dalam memuasi penis orang-orang.

"Aahhh... Aahhh... Aahhh ustadzahhh... Aahhhh kelluuaarrr" Desah petani berpakaian lusuh itu yang buru-buru mencabut penisnya lalu mengarahkannya ke wajah cantiknya.

"Mmpphh" Desah Rachel pasrah saat wajahnya dipejuhi oleh sperma petani miskin itu.

"Ouhhh gilaaa... Hah... Hah... Hah puas banget rasanya" Kata petani lusuh itu dengan puas.

"Ehhh kampret... Hati-hati dong hampir kena gue nih" Ucap petani bergigi bolong yang tadi sedang asyik-asyiknya menyusu di dada Rachel. Untungnya ia bisa menghindar sehingga wajahnya tidak terkena semprotan sperma temannya.

"Hahaha maaf Pak... Hah... Hah... Gak sengaja" Kata petani lusuh itu dengan lemas.

"Ayo hadap sini ustadzah" Kata petani berambut putih yang tidak memberikan waktu istirahat kepada Rachel. Ia pun memegangi kepala Rachel kemudian mengarahkannya ke penis besarnya yang sudah menanti memasuki rongga mulutnya.

"Mmpphhh" Desah Rachel saat mulutnya kembali dimasuki penis petani lain.

"Ouhhhh... Ouhhh... Mantapnyaaa... Mantapnyaaa" Desah petani itu bernafsu saat menyetubuhi mulut Rachel dengan kuat.

Maju mundur-maju mundur kepala Rachel di maju mundurkan untuk memuasi penisnya. Penisnya pun semakin lembap di dalam. Berulang kali ujung gundulnya sampai mentok menghantam pangkal kerongkongannya.

Tubuh Rachel yang agak menyamping ke arah petani berambut putih itu jadi kewalahan. Mulutnya gelagapan dalam meladeni nafsu birahi petani itu. Matanya memejam dan tubuhnya ia pasrahkan pada petani tua yang sangat beruntung itu.

“Aahhhh... Ahhhhh ustadzahhhh... Ahhhhh” desah petani itu saat menghujami mulut Rachel.

“Mmpphhh... Mmppphhhh” desah Rachel kewalahan.

Petani itu sudah seperti kerasukan saja. Ia tak memperdulikan keadaan Rachel yang kewalahan saat meladeni nafsunya. Ia terus memaju mundurkan pinggulnya hingga bulu jembutnya yang lebat mengenai hidung sang ustadzah. Terasa kehangatan dan kenikmatan bergabung menjadi satu. Ia tak habis pikir pada keberuntungannya di hari ini. Siapa yang menyangka coba dirinya bisa merasakan sensasi dalam menyenggamai mulut seorang ustadzah di tempat terbuka seperti ini.

“Mmpphhh... Mmpppphhhh” desah Rachel nyaris muntah saat menerima sodokan dari penis petani berambut putih itu.

Nampak petani lainnya terpukau pada kepasrahan Rachel saat dipaksa mengulum penis petani berambut putih itu. Mereka semua kompak membayangkan, andai mereka semua dapat menyetubuhi memek Rachel secara bergantian. Mereka semua tak dapat membayangkan bakal sebinal apa Rachel saat disetubuhi oleh mereka. Mereka pun menatap wajah Rachel yang tengah tak berdaya.

Nampak matanya memejam seolah menikmati dua penis yang sedang memasuki dua lubangnya secara bersamaan. Apalagi ditambah dengan rangsangan yang diberikan di kedua payudaranya. Mereka semua kompak menjilati bibirnya sendiri. Mereka semakin bernafsu dalam menanti gilirannya untuk dapat menikmati tubuh ustadzah montok ini.

"Aahhhh... Aahhh... Ustadzahhh saya mau keluarrr" Ucap petani berambut putih itu sambil menatap langit-langit. Ia merasa tidak kuat lagi. Ia pun ingin menodai wajah cantik Rachel menggunakan pejuh kotornya. Sialnya membayangkan hal itu malah membuatnya semakin tidak tahan lagi.

"Aahhhh... Ahhhhh ustadzahhh rasakan inii... Hennkkgghhh" Desah petani itu mementokan penisnya baru mencabutnya untuk menodai wajah cantiknya.

Crroott... Crooottt... Croott...

"Mmpphh"

Kembali wajah cantiknya dipenuhi oleh sperma-sperma petani tua itu. Bahkan saking penuhnya, rasanya hampir seluruh wajahnya diselimuti oleh sperma petani-petani tua itu. Bahkan Rachel dapat merasakan aroma menyengatnya yang membuatnya merasa mual.

Sebaliknya, petani berambut putih itu puas. Ia pun mundur dengan kepala tegak setelah berhasil menuntaskan birahinya.

"Wkwkwkwk gilaaa... Gillaaaa... Ayo selanjutnya" Kata Rio tertawa puas.

Petani bertubuh kekar serta petani bergigi bolong yang tadi merangsang payudara Rachel langsung berdiri. Mereka berdua kompak menyodorkan penisnya untuk dinikmati oleh Rachel.

"Ayo ustadzah mainkan !" Ucap kedua petani itu secara bersamaan.

"Mmpphh iyahh pak" Ucap Rachel dengan patuh.

Kedua tangannya kembali sibuk dalam mengocoki kedua penis petani-petani itu. Tangan kanannya mengocok penis hitam milik petani kekar sedangkan tangan kirinya mengocok penis hitam milik petani bergigi bolong. Kedua penis itu didekatkan ke arah payudaranya sehingga ujung gundul penis mereka mengenai puting payudaranya. Wajah Rachel yang bersimpuh sperma menatap petani kekar dengan penuh nafsu lalu wajahnya menoleh ke arah petani bergigi bolong yang sedang tersenyum. Sontak tatapan matanya membuat kedua petani itu bersemangat. Rachel juga semakin bersemangat. Entah kenapa ia merasa semakin binal saat memuasi penis-penis petani ini.

"Aahhhh.... Aahhhh" Desah Rachel dengan manja saat penis Rio yang berada di duburnya mulai bergerak.

"Wkwkwkk ana gak kuat lagi ustadzah... Ayo goyang kontol ana juga... Ana juga pengen dipuasi nih dengan goyangan ustadzah" Ucap Rio tak tahan ketika hanya diminta melihat saja.

"Aahhh... Aahhhh iyyahh Rio... Seperti ini ?" Ucap Rachel menaik turunkan tubuhnya sambil mengocok penis kedua petani itu.

Sontak Rachel jadi terlihat semakin binal. Wajahnya yang manis tak sebanding dengan goyangannya yang begitu erotis. Penis Rio terasa diaduk-aduk di dalam. Bahkan Rachel melakukannya sambil menaikan tubuhnya hingga tersisa ujung gundulnya saja yang masih masuk di duburnya. Lalu ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu mentok menghantam ujung duburnya. Rio sangat puas. Ia dengan santai menikmati goyangan ustadzahnya sambil menatap goyangan payudaranya yang begitu menggoda.

"Aahhh... Ahhhh... Riooo... Riooooo" Desah Rachel dengan manja sambil terus mengocok penis itu.

"Ahhhh... Aahhhh ada apa ustadzah ? Ustadzah keenakan yahh ?" Tanya Rio menyambut panggilan Rachel.

"Ahhhh... Aahhhh... Iyyahh.... Iyahhhh" Desah Rachel dengan binalnya yang membuat kedua petani itu tidak tahan lagi.

"Sini ustadzah lepasin" Ucap kedua petani itu secara bersamaan.

Petani kekar yang sudah tak tahan itu langsung mengocok penisnya sambil mendekatkan ujung gundulnya ke susu bulat Rachel yang begitu empuk. Nampak Rachel ngos-ngosan sambil menatap wajahnya. Nampak petani kekar itu tersenyum yang membuat Rachel menunduk malu. Petani bergigi bolong juga sama. Ia mengocok penisnya sambil mendorong ujung gundulnya ke arah payudara bulat Rachel. Ia mengocoknya sambil menatap wajah cantiknya yang terlihat semakin menggairahkan dengan noda sperma yang memenuhi wajahnya.

"Aahhhh... Aahhhh... Aahhhh" Desahan manjanya membuat kedua petani itu pusing tak karuan. Ia tidak mampu menahan kenikmatan ini lagi. Belum lagi dengan gesekan pelan yang ia terima di payudaranya saat menunggangi penis santri kurus itu. Kedua petani itu ngap-ngapan. Mereka tak kuasa untuk menahan diri lagi.

"Aahhhh... Ahhh... Ahhhh ustadzahhh... Saya gak kuat lagi" Ucap petani kekar itu.

"Aahhhh... Ahhhh saya juga... Ahhh saya mau keluarr ustadzahh" Desah petani bergigi bolong itu.

"Aahhh... Ahhhh keluarin aja pakk... Keluarin terserah bapak dimana" Ucap Rachel yang mengejutkan kedua petani itu. Bahkan Rio juga bahkan Rachel itu sendiri.

Rachel bingung kenapa ia jadi seterangsang ini. Tapi setelah melihat ke arah sekitar, ia jadi paham alasannya. Ia sangat puas bisa meluapkan fantasinya di tempat terbuka seperti ini.

"Aahhh... Aahhhh terima ini ustadzahhh.... Uhhhh kelluaarrr"

"Aahhhh... Ahhhh... Ahhh saya jugaa ustadzahhh... Hennkgghhh !!!"

Kedua petani itu secara bersamaan memuntahkan spermanya ke arah dada Rachel. Dada bulatnya itu pun ternodai oleh sperma-sperma mereka. Rachel merasa puas. Entah kenapa ia begitu puas saat kedua petani itu berhasil memuntahkan spermanya di tubuh indahnya.

"Ouhhhh... Ouhhh gilaaa... Binal banget" Kata petani kekar itu takjub.

"Ouhhh.... Ouhhhh mantapnyaaa... Beruntung banget saya bisa mejuhin akhwat sebinal dirimu ustadzah" Kata petani bergigi bolong itu puas.

Dipuji dengan pujian semesum itu membuat Rachel semakin tertantang untuk memuaskan penis seseorang lagi. Nampak dibawahnya Rio terpana melihat ketelanjangan dirinya yang semakin binal dalam memuasi penis seseorang. Rachel tersenyum malu. Ia pun terus menggoyang pinggulnya. Ia merasa puas saat orang-orang menatap dirinya yang sedang bertelanjang bulat menunggangi penis santrinya.

"Ayooo ustadzahhh... Lagiii... Goyang lagi ustadzahhh... Goyang yang binal" Ucap Rio sambil menampar bongkahan pantat ustadzahnya.

"Aahhhh iyahhh.... Iyyaahhh... Aahhhh... Aahhhh" Desah Rachel semakin bersemangat untuk memuaskan birahi santrinya.

Rachel melihat sekitar. Ia mencoba mencari tahu siapa petani yang belum menodai tubuhnya lagi.

Aahhhh... Aahhhh... Tinggal petani berkontol bengkok sama petani gemuk itu aja yah yang belum.... Ahhhh... Sama Rio ini... Tinggal dikit lagi... Tinggal 3 orang yang harus kutaklukan lagi...

Batin Rachel sambil menatap satu persatu petani yang sudah ia taklukan.

"Aaahhhhhhh"

Rachel terkejut saat tiba-tiba tubuhnya dibaringkan oleh Rio yang ingin berganti posisi. Nampak Rachel terbaring dibawah sedangkan Rio berada tepat di depan selangkangannya yang terbuka. Nampak santri mesum itu semakin bernafsu. Santri bertubuh ceking itupun tersenyum sambil menatap ustadzahnya.

"Ana gak kuat lagi ustadzah... Ana akhiri yah" Ucap Rio yang kembali menghentakkan pinggulnya untuk membelah dubur ustadzahnya.

"Aahhhh... Aahhhh.... Aahhhh" Desah Rachel dengan manja.

"Ehhh kita juga ikutan dong nak" Ucap Petani bertubuh tambun dan berpenis bengkok itu.

"Wkwkwk silahkan... Maaf kelupaan... Genjotannya tadi nikmat banget sih" Ucap Rio sambil terus menggenjotnya.

"Hahahah gapapa nak... Saya maklumi... Pokoknya saya gak tahan lagi... Nih ustadzah ayo" Ucap petani berpenis bengkok yang memasukan penisnya ke mulut Rachel.

"Ouhhh gilaaa... Hahaha... Gak nyangka tadi kulitnya yang masih bersih sekarang udah ternodai pejuh kayak gini... Gilaaa bener, gila pokoknya... Ustadzah jaman sekarang makin gilla aja" Ucap petani bertubuh tambun itu yang meminta dikocok ke arah susu bulatnya.

"Mmpphh... Mmpphh... Teruss... Mmpphh terusss Riooo" Desah Rachel yang lagi-lagi mengejutkan mereka bertiga.

"Wkwkwkwk siap ustadzah... Hennkgfhh" Desah Rio menuruti apa kata ustadzahnya. Ia mempercepat genjotannya hingga tubuh telanjang ustadzahnya semakin bergerak maju mundur dengan cepat.

Plokkk... Plokkk... Plokkk !!!

"Mmpphh... Iyahhh... Iyahhhh" Desah Rachel sambil mengulum penis bengkok itu.

Gilaaa.... Binal banget ustadzah montok satu ini... Bener-bener gak ada obatnya... Tapi kok santri ini terus-terusan main lewat belakang yah ? Apa jangan-jangan ustadzah ini masih perawan ? Ah gak mungkin... Gak mungkin ustadzah sebinal ini masih perawan...

Batin petani berpenis bengkok itu terpesona pada kebinalan Rachel.

Dikala genjotan Rio diperkuat, Rachel jadi kesulitan dalam menahan tusukan yang terasa begitu nikmat. Akibatnya ia merapatkan kedua bibirnya sehingga menjepit penis bengkok yang ada di mulutnya.

“Aahhhh Ustadzaahhhh” desah petani berpenis bengkok itu saat terbangun dari lamunannya ketika membayangkan kebinalan Rachel.

Ya, petani itu kaget pada rangsangan yang ia terima di penisnya. Rupanya ustadzah bertubuh montok itu tidak hanya merapatkan bibirnya tapi juga menghisap penis yang ada di mulutnya. Bagaikan vacuum cleaner, mulutnya itu hendak menyedot keluar cairan kental berwarna bening yang ada di dalam penisnya.

Ya, Rachel berusaha sebisa mungkin untuk mengeluarkan sperma dari petani berpenis bengkok itu. Ia terlampau lelah setelah meladeni lima orang petani plus satu santri mesum yang sedari tadi terus menodainya. Apalagi santrinya masih saja menyetubuhinya. Terasa tubuhnya dari tadi maju mundur sambil menghisap penis yang ada di mulutnya itu.

“Eh ustadzah... Kontol saya kok cuma dipegang... Dimainin juga dong” kata Petani berperut tambun.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Maaf pakk... Akuuu... Ummphh” desah Rachel meletehkan penis bengkok itu untuk mengulum penis tambun itu.

“Eh sialan gara-gara lu gue gak jadi disepong lagi kan !” kata petani berpenis bengkok itu kesal.

“Hahaha gantian dong pak” kata petani tambun itu tertawa.

“Mmpphhh sabar pakk... Aahhhh... Aahhhhh... Semua dapet kok” kata Rachel melepas penis petani tambun itu untuk kembali mengulum penis petani berpenis bengkok lagi.

“Aaahhhh... Aahhhh... Uuuhhh mantapnya ustadzahhh” katanya puas merasakan sepongan di penisnya.

Rio memegangi pinggul empuk Rachel sambil memperhatikan kebinalan ustadzahnya yang semakin menjadi. Ia tidak menyangka ustadzahnya mau mengulum penis kedua petani itu secara suka rela. Ia berfikir dalam hati. Padahal sebelumnya Rachel tidak sebinal ini. Apakah ia telah berhasil membangkitkan sisi binalnya ?

“Aahhhh... Ahhhh... Riooooo” desah Rachel merasakan tusukan yang semakin kuat hingga terpaksa melepas kuluman yang sedang ia lakukan.

“Wkwkwkwk mantap kan ustadzah ? Ustadzah suka kan dengan tusukan kontol ana ?” tanya Rio tersenyum sambil memandangi ustadzahnya yang bersimpuh sperma.

“Aahhhh... Ahhhh... Iyyaa... Mmpphh” desah Rachel kembali mengulum penisnya.

Kedua petani itu pun mendekatkan penisnya ke wajah Rachel. Rachel yang sudah bernafsu jadi tergoda untuk mengulum penis kedua petani itu secara bergantian. Awalnya ia mengulum penis bengkok itu lalu berganti menjadi mengulum penis tambun itu. Ia kembali mengulum penis bengkok itu sambil menahan genjotan Rio yang semakin cepat.

Nampak kedua payudaranya bergoyang indah. Kedua petani itu jadi gemas ingin meremasnya namun tidak jadi karena terlampau jijik karena sudah dipenuhi oleh sperma teman-temannya.

“Gilaa... Nikmat banget seponganmu ustadzahhh... Ouhhh saya sampai mau keluaar” ucap petani berpenis bengkok.

“Aaahhh saya juga nih ustadzah... Duhhh jilatin kontol saya donggg” ucap petani berperut tambun.

“Aahhhh... Aahhh... Seperti ini pak ?” tanya Rachel ditengah genjotan Rio. Diluar dugaan Rachel menuruti kata-katanya. Lidahnya ia keluarkan untuk menggelitiki lubang kencingnya. Lidahnya bahkan menyapu keseluruhan penis itu hingga membuat pemiliknya blingsatan tak karuan.

“Aahhhhhh gilaaa.... Aahhh iyyahh ustadzahh... Ouhhh saya gak tahan lagi”

“Wuihhh saya juga dong ustadzah... Saya mau dong dijilatin kontolnya” ucap petani berpenis bengkok itu mupeng.

“Iyahh pakkkk... Sllrrppp” ucap Rachel sambil menyeruput ujung gundulnya dulu lalu menjilati lubang kencingnya. Nampak kedua tangannya terus mengocoki penis mereka. Belaian lembut tangannya serta jilatan yang menggetarkan birahi mereka membuat kedua petani itu kalang kabut. Mereka tak tahan lagi. Mereka tak tahan akan kenikmatan yang sedang mereka dapatkan sekarang.

Nafas kedua petani itu semakin sesak. Kenikmatan yang begitu terasa tak mampu ditahan oleh mereka. Gelitikan lidah Rachel dalam menjilati lubang kencing mereka secara bergantian menjadi penyebab utamanya. Akhirnya, tak berselang lama. Kedua petani itu pun mendapatkan orgasmenya saat dikocoki oleh jemari lembut ustadzah bertubuh semok itu.

“Anjiirrr keluuaarrrr !!!” jerit petani berpenis bengkok itu puas.

“Aahhh saya jugggaa mantapppppp !!!” jerit petani berperut tambun.

Crooott... Croott... Crooottt !!!

Penis mereka menyemprot wajah Rachel secara bersamaan. Mata mereka merem melek juga secara bersamaan. Tubuh mereka bergetar merasakan orgasme ternikmat yang pernah mereka alami seumur hidup. Dikala mata mereka membuka, mereka mendapati wajah Rachel semakin penuh oleh pejuh mereka juga teman-teman sejawat mereka. Mereka berdua menggelengkan kepala tak percaya. Mereka merasa beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan untuk memejuhi seorang akhwat yang mempunyai kecantikan seperti Rachel.

“Uuuhhhh... Uhhhhh... Rioooo” desah Rachel yang tinggal menghadapi lawan terakhir.

“Wuiidiihh... Tubuh antum udah ternoda gini ustadzah... Kalau calon suami antum tahu... Pasti beliau langsung mikir-mikir lagi nih buat nikahin antum... wkwkwk" ucap Rio yang mengingatkan Rachel pada Adit yang merupakan calon suaminya.

Seketika Rachel jadi menyesal sudah membiarkan petani-petani tua seperti mereka menodai tubuhnya. Tapi apa boleh buat. Ia juga tak memiliki pilihan selain membiarkan ketujuh petani dan satu orang santri itu menikmati tubuhnya.

"Aahhhh... Aahhh... Aahhh Riooooo" Desah Rachel bertahan.

Berulang kali Rachel mencuci otaknya sendiri bahwa penyesalan di masa sekarang tidak ada gunanya. Ia pun memilih pasrah. Ia membiarkan santri mesumnya bertindak semaunya agar pergumulan ini bisa segera diakhiri.

Sambil menatap tubuh ustadzahnya yang ternoda, Rio memegangi pinggang ramping ustadzahnya sambil geleng-geleng tak percaya. Tubuh Rachel jadi semakin menggairahkan dengan noda sperma yang memenuhi tubuhnya, terutama wajah cantiknya. Ia pun mencoba memejam untuk menikmati tusukan penuh nikmat ini. Tak sadar mulutnya sampai terbuka merasakan jepitan demi jepitan yang sudah anus Rachel berikan pada penisnya. Rio pun mempercepat genjotannya.

“Aahhhhh Riooo... Ahhhhhh... Aahhhhhhh kenceng banget” desah Rachel memejam tak kuasa menahan dorongan penis hitam itu saat memasuki lubang anusnya. Seketika ia membuka matanya untuk menatap wajah dari lelaki beruntung yang sedang menikmati duburnya. Rachel agak mengernyitkan dahinya menyadari kalau dia adalah Rio si santri bertubuh ceking lah yang sedang beruntung itu. Padahal ia sudah mempunyai calon suami yang mempunyai wajah tampan dan tidak ada jeleknya sama sekali. Kenapa dirinya saat ini malah pasrah disetubuhi oleh Rio ?

Menyadari kalau ustadzahnya sedang melakukan kontak mata dengannya membuat Rio jadi semakin bernafsu. Ia mempercepat gerakannya. Dipandangnya kedua payudara yang sedang bergoyang seirama. Keindahannya yang sedang melambai-lambai membuat Rio jadi ingin mempercepat gerakannya. Dicengkramnya pinggang ramping ustadzahnya. Ia pun berambisi untuk melampiaskan seluruh hasrat nafsunya disini.

“Aahhhhh... Ahhhhh... Riooo iyyahhh... Iyyahhh... Lagiii” desah Rachel menggoda.

“Aahhhh... Ahhhh... Iyyahhh ustadzahhh... Aahhhh ana udah gak kuat lagi !” desah Rio yang menarik perhatian para petani untuk mendekat.

Rio sepertinya sudah di ambang batas. Ia tak mampu menahan jepitan serta keindahan yang terbentang di tubuh ustadzahnya. Ia ingin mengakhiri persetubuhannya disini. Hal itu lah yang dinanti para petani untuk melihat semprotan sperma yang akan dilakukan oleh seorang santri kepada ustadzahnya.

“Aahhhhhh Riioo... Iyyahhhhh... Ahhhhh Keluariinn, cepettt !!!” desah Rachel saat tubuhnya terdorong maju mundur makin cepat.

Pergerakan kedua payudara indah itu telah mengubah nafsu Rio menjadi berapi-api. Ia terus menghujami anus itu membiarkan payudara indah ustadzahnya bergerak dengan sendirinya. Ia pun menatap wajah cantik ustadzahnya. Nampak wajahnya yang telah bersimpuh sperma tengah memejam menahan hujaman penisnya yang begitu mantap memasuki lubang anus ustadzahnya. Saat pandangannya diturunkan, nampak kedua payudaranya yang lengket terkena sperma para petani bergoyang menggodanya. Puas sudah lah fantasinya yang ingin menodai tubuh ustadzahnya. Kini tinggal dirinya, tinggal dirinya saja yang belum menodai tubuh indah ustadzahnya.

“Aahhhh ustadzahhh... Ana gak kuat lagiii.... Ana gak kuat lagii ustadzahhhh !!!” kata Rio tidak kuat lagi.

“Aahhhh keluariinnn... Keluarinn aja Riooo !!” desah Rachel kelelahan.

“Hennkkgghhhh... Ahhhhhh !!!” Dicabutnya penis itu dari dalam lubang anus ustadzahnya setelah ia menancapkannya dalam-dalam.

Dengan cepat ia mendekati wajah dari bidadari itu untuk mengeluarkan spermanya disana.

“Aaahhhhhhh... Rioo... Mmpphh !!!” kata Rachel pasrah ketika wajahnya yang jelita itu kembali dinodai oleh sperma pejantannya lagi.

“Aahhhhhh ana keluuuaaarrr !!!”

Rio dengan puas mengeluarkan sperma kentalnya di wajah cantik dari ustadzah montoknya. Tubuhnya kelojotan. Rasanya sangat puas sekali setelah berhasil menyodomi anus ustadzahnya.

Crrooottt... Crrroooottt !!!

Muncratlah sperma kental yang Rio keluarkan di wajah cantik ustadzahnya. Nampak spermanya begitu kental. Sperma itu begitu sehat. Jumlahnya begitu banyak yang seluruhnya mendarat di wajah cantik ustadzahnya.

Nampak para petani yang melihatnya terpana melihat ustadzah yang mereka anggap binal itu ternodai oleh sperma santri mesumnya. Mereka semua tidak ada yang menyangka. Mereka pikir, kisah mesum antara seorang ustadzah dan santri hanya ada di cerita dewasa saja. Tapi sekarang, mereka telah menjadi saksi kalau memang ada ustadzah binal yang rela dinodai oleh santri mesumnya. Mereka pun kagum pada kebinalan Rachel yang sudah memuasi hasrat birahinya.

“Ahhhhhh puas banget ustadzahhh... Ouhhh gilaaa... Ouhhh mantappp banget” desah Rio setelah menyelesaikan tetes terakhir spermanya dengan mengoleskannya ke bibir seksi ustadzahnya. Setelah itu ia mundur untuk beristirahat dengan bersandar pada gubuk kayu di belakangnya. Ia sangat puas hingga nafasnya terengah-engah. Ia membiarkan ustadzahnya menjadi santapan para petani yang masih kagum pada kebinalannya.

Ada apa dengan aku ini ? Kenapa dari tadi aku menikmati perbuatan ini ? Kenapa aku begitu puas saat dinodai oleh orang-orang ini disini ?

Batin Rachel sambil memejam karena begitu kelelahan setelah meladeni nafsu kedelapan pejantannya yang bergantian menodai tubuhnya dengan sperma mereka.

Binal ? Ya, itu kata yang tepat untuknya. Kata yang menggamparkan sosoknya yang rela melayani tujuh orang petani plus satu orang santri. Kata yang menggamparkan sosoknya yang rela dipejuhi oleh tujuh orang petani plus satu orang santri. Kata yang sebenarnya tidak tepat sekali bagi pekerjaannya yang notabene merupakan seorang ustadzah pesantren.

Siapa aku ini ? Ustadzah macam apa yang rela dibeginiin ?

Batinnya lagi merenungi perbuatannya.

Memang sudah dari dulu ia suka sekali bertelanjang bulat di ruangan terbuka. Apakah ini akibat dari sikap eksibnya di masa lalu ? Inikah hukuman yang harus ia terima akibat dari sikap eksibnya di masa lalu ? Atau justru, ini merupakan hadiah baginya yang sudah lama ingin bersetubuh sambil dilihati oleh orang-orang ?

Mungkin jawabannya iya, ini hadiah untuknya. Hadiah yang telah membuatnya tersenyum setelah mendapatkan kepuasan dari ketujuh petani yang mengelilingi serta satu orang santri yang beristirahat di depannya.

“Nakkk... Kami boleh melakukannya lagi gak ?” kata petani bertubuh kurus yang merupakan petani tertua disini. Sepertinya ia sudah ngaceng lagi gara-gara menjadi petani pertama yang memuncratkan spermanya pada tubuh montok Rachel.

“Wkwkwk silahkan aja pak... Tapi ingat ! Jangan sentuh lubang memeknya sama lubang anusnya !” ucap Rio memberikan syarat untuk mereka.

"Wah beneran nih, boleh lagi ?" Kata petani berpenis bengkok bersemangat.

"Seriusan bisa menodai tubuhnya lagi ?" Kata petani bergigi bolong itu bernafsu. Petani-petani lain pun juga merespon ucapan Rio dengan penuh semangat. Mereka kembali bernafsu untuk memuntahkan seluruh spermanya pada tubuh ustadzah binal itu.

“Ehhh Riooo ?” tanya Rachel kaget dengan keputusan sepihak santrinya. Padahal ia ingin beristirahat tapi nampaknya keinginannya itu harus dibuang jauh karena para petani itu sudah bernafsu ingin menodainya lagi.

"Hehe siap nak... Asal bisa mejuhin lagi tubuhnya mah gapapa" Ucap seorang petani yang bersiap untuk menodai tubuh Rachel lagi.

“Aaahhh pakk jangannn... Pakkkk... Mmpphh... Mmpphhhh” desah Rachel pasrah.

Wajah Rachel dihadapkan ke kiri ketika penis bengkok petani itu memaksa masuk ke dalam mulutnya. Kedua tangannya pun dipaksa mengocoki penis petani berambut putih serta petani berpakaian lusuh. Sedangkan petani bergigi bolong sedang mengocoki penisnya ke arah pipi Rachel sambil menanti disepong karena mulutnya masih mengulum penis bengkok itu. Lalu petani bertubuh tambun tiba-tiba menduduki dada Rachel. Tak peduli dengan payudara Rachel yang dipenuhi sperma, Petani tambun itu memegangi dada Rachel lalu menghimpitnya ke arah penisnya yang ditaruh diantara kedua payudaranya. Petani itu bergerak maju mundur. Petani itu menyetubuhi payudara Rachel dengan penuh nafsu.

“Aaahhhh... Aahhhhh... Aaahhhhh” desah petani itu puas.

Tak ketinggalan sang petani tertua bergerak ke arah selangkangan Rachel yang terbuka. Penisnya itu pun ditaruh di bibir vaginanya. Petani tertua itu tersenyum.

“Ehh pak... Jangan main disitu.... Gak boleh tau !” kata petani lain memperingatkan.

“Hehehe yang gak boleh itu main di lubang memeknya... kalau di bibir memeknya boleh dong ?” kata Petani tertua itu yang langsung menggesek bibir vagina Rachel menggunakan penisnya.

“Ouuhhhh mantapppp” desah petani tertua itu.

“Mmpphhhh... Mmpphhh... Aahhhh... Aahhhh bapakkkk... Aahhhh” desah Rachel merinding merasakan bibir vaginanya digesek oleh penis tua itu.

“Ayo sini gantian ustadzah” ucap petani bergigi bolong yang akhirnya mendapatkan gilirannya.

Rachel terus dinodai. Tubuh montoknya terus dilecehkan oleh keenam petani itu.

“Wkwkwkwk ayo binalkan ustadzah Rachel pak... Tolong binalkan dia !” kata Rio tertawa melihat aksi ustadzahnya yang tak berdaya.

Tak sengaja matanya menatap ke arah kiri. Ia melihat adanya lembaran koreksian yang tadi di bawa oleh ustadzahnya.

“Eh ini” ucap Rio tersenyum.

Diam-diam ia membuka lembaran koreksian itu untuk mencari namanya. Benar rupanya, ini merupakan koreksian tadi. Iseng ia pun memberikan centang ke setiap nomor yang ada di lembaran jawabannya. Tanpa ragu ia langsung memberikan nilai seratus untuk ujiannya. Rio tersenyum, ia setidaknya mempunyai nilai seratus di ujiannya kali ini.

“Aahhhh kelluaaarrrr !!!” desah petani itu mengejutkan Rio.

“Loh udah pada keluar ? Wkwkwkkw” Tawa Rio melihat ustadzahnya yang kembali bersimpuh sperma hangat.

Satu per satu para petani itu melangkah mundur. Rio pun mendekat untuk melihat keadaan ustadzahnya.

“Luar biasa sekali tubuh antum ustadzah ! Ustadzah binal sekali !” ucap Rio takjub.

“Ehhh saya belum” kata petani kekar yang langsung mengangkat tubuh Rachel yang ia posisikan berdiri membelakangi.

“Paakkk aku capek pak... Akuu mau istirahat... Hah... Hah... Hah” katanya sambil memejam karena wajahnya sudah penuh oleh sperma orang-orang.

“Iya ustadzah... Habis ini ustadzah bisa istirahat kok” kata Petani kekar itu sambil memeluknya dari belakang. Penisnya ia selipkan disela-sela paha Rachel yang dihimpitkan. Penis itu pun muncul tepat di bawah bibir vaginanya.

“Aahhhhh... Aahhhh... Aahhh” desah Rachel saat penis hitam itu menggesek bibir vaginanya lagi.

“Aahhhh yahh... Ahhhh mantapnya.... Aahhhhh” desah petani kekar itu dengan kuat hingga kedua payudara Rachel bergoyang indah.

Tubuhnya yang bergerak maju mundur dengan cepat membuat beberapa sperma yang ada di tubuhnya jatuh mengenai gubuk kayu. Para petani terpana. Rio pun terpana melihat keadaan Rachel yang seolah sedang di doggy dari belakang. Padahal tidak, padahal penis petani itu tidak masuk ke dalam vaginanya.

Gerakannya pinggul petani itu semakin cepat. Kedua tangan Rachel memegangi tangan petani kekar itu yang ada di perutnya. Bahkan petani itu sedang meremas buah dadanya sekarang. Petani itu meluapkan nafsunya seolah ini merupakan persetubuhan terakhirnya dengan sang ustadzah. Tiap kali petani kekar itu menggenjot tubuhnya, bongkahan pantat Rachel pun tertubruk oleh pinggul petani itu hingga menimbulkan suara yang amat keras.

Plokkk... Plokk... Plokkk...

"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh ustadzah... Saya gak kuattt lagiii !!! Ahhhhhhh"

Petani kekar itu sudah diambang batas. Ia mencengkram pinggul Rachel dengan kuat. Sodokannya pun semakin terasa nikmat. Ia menggempur bibir kemaluan Rachel dengan dahsyat. Berulang kali Rachel menjerit menahan gesekan di bibir vaginanya. Penis kekar itu tergesek oleh bibir vagina Rachel yang semakin licin oleh cairan cintanya sendiri.

"Ouhhhh... Ouhhhhh... Ouhhhhh ustadzahhh !!!" Desah petani itu tidak sanggup lagi.

"Ahhhh.... Ahhhhhhh.... Sudahh pakkk... Akuu capekkk... Ahhhhhh" Desah Rachel yang tak memiliki tenaga lagi.

Akhirnya dengan sekali tusukan yang mantap. Petani kekar itu menancapkan penisnya hingga orang-orang yang ada di hadapan mereka mengira kalau Rachel mempunyai penis yang berwarna hitam. Padahal itu milik petani kekar itu. Petani kekar itu pun mengeluarkan spermanya yang membuat orang-orang dihadapannya menyingkir karena hampir terkena semburannya yang amat dahsyat.

Croott... Crroott... Crroottt...

Petani itu puas sekali bisa keluar untuk kedua kalinya sambil menggesekan penisnya di bibir vaginanya.

"Hahaha puas sekali saya ustadzah" Tawa petani kekar itu.

“Akhirnyaa... Akhirnyaa... Udah kan pak ? Eh” kata Rachel terkejut ketika kedua tangannya diangkat oleh petani kekar ke atas sehingga tubuh telanjangnya semakin terhidang dihadapan para petani nakal itu.

“Hah... Hah... Hah... Iya ustadzah... Semuanya udah... Tinggal ustadzah sendiri yang belum crot... Ayo temen-temen... Kita bantu ustadzah mendapatkan orgasmenya lagi” kata Petani kekar itu tersenyum yang segera dipahami oleh teman-teman petaninya.

“Ehhh apa ini pakkk... Pakkk Jangannn... Ahhh... Aahhhhh” desah Rachel merinding saat bibir vaginanya dirangsang oleh keenam petani sekaligus. Mereka berenam secara sukarela menyentuh bibir vagina Rachel. Mereka ada yang menekannya, ada yang menggeseknya, ada yang memainkan klitorisnya.

Sontak Rachel memejam keenakan sambil pinggulnya bergeal-geol menahan rangsangan petani itu. Kedua tangannya yang diangkat ke atas oleh petani kekar itu membuatnya tak berdaya. Ia hanya bisa pasrah saat vaginanya dimainkan oleh keenam petani itu.

“Gilaaa... Gilaaa... Mantappp sekali” kata Rio kagum melihat ustadzahnya dilecehkan seperti ini.

Rachel pun tidak tahan lagi. Ia tak sanggup menerima kenikmatan yang keenam petani ini berikan. Akhirnya saat klitorisnya ditekan oleh salah satu petani yang memainkan vaginanya. Ia mendapatkan orgasmenya dengan penuh nikmat.

“Aahhhhh kelluaaaarrrr” desah Rachel dengan sangat manja.

“Ehhh keluar... Ehh liat deh pada keluar” kata petani itu yang langsung menjauh untuk melihat orgasme yang dilakukan soerang ustadzahnya.

Crrrtt... Crrrtt.... Ccrrtttt...

Cairan cinta Rachel mengucur deras dari dalam lubang kencingnya. Disaat Rachel mengeluarkan cairan cintanya. Keenam petani itu justru mengantri sambil membuka mulutnya untuk menerima semburan dari cairan cinta Rachel. Para petani itu berebutan untuk melahap habis cairan cinta Rachel. Rio takjub. Petani kekar yang memegangi tangan Rachel ikut takjub. Mereka semua puas setelah menikmati keindahan Rachel secara bersama-sama.

“Aaahhhhhh” desah Rachel saat ditidurkan secara pelan-pelan diatas gubuk kayu itu. Ia sangat lelah. Ia juga sangat malu setelah dilecehkan berkali-kali oleh petani-petani itu. Ia merasa sudah tidak ada harga dirinya lagi. Ia merasa sangat malu sekali. Tapi setidaknya ia puas. Ia pun tertidur tak lama kemudian karena kelelahan setelah melayani mereka semua.

“Gilaa manis banget pejuhnya... Gak nyangka semprotan seorang akhwat bisa semanis ini” kata petani itu bercerita.

“Hahaha puas banget dah pokoknya... Makasih yah nak udah sharing ustadzahnya disini ?” kata petani lainnya kepada Rio.

“Ah gapapa pak... Justru saya yang berterima kasih sudah mengajarkan kebinalan pada ustadzah saya... Kapan-kapan kalau ada waktu saya bawa ustadzah Rachel kesini lagi yah ?” kata Rio tersenyum.

“Ohh harus itu... Wajib malahan hahahha” kata petani itu tertawa.

Mereka berdelapan pun tertawa setelah menikmati tubuh Rachel bersama-sama. Seorang petani yang rumahnya dekat dengan gubuk sawah pun membawakan termos berisi air panas serta beberapa cangkir dengan teh celup untuk menikmati pesta hari ini. Mereka semua sudah mengenakan celananya kembali. Mereka menyeduh teh panas sambil mengobrol-ngobrol untuk memulihkan tenaga yang terbuang setelah memuasi tubuh montok Rachel.


*-*-*-*


Pada saat yang sama di Pondok Pesantren al-Insan

Jam sudah menunjukan pukul dua siang. Bahkan jarum panjangnya sudah mendekati angka empat. Terik matahari perlahan mulai berkurang sehingga cuaca tidak lagi panas seperti tadi siang.

Nampak disana ada seorang ustadzah yang tengah kebingungan saat melangkahkan kakinya menuju suatu tempat. Wajahnya menunduk, ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia kemudian menaikan kepalanya hanya untuk melihat keadaan di langit sana. Ia kembali menunduk lalu tangannya ia angkat untuk melihat waktu yang ada di jam tangannya.

"Jadi gak yah ?" Tanyanya bimbang.

Ustadzah yang mendapatkan julukan body goals terbaik itu tengah kebingungan untuk menceritakan kisahnya pada ustadzah Haura atau tidak. Jujur, semenjak disetubuhi oleh pak Heri kemarin. Ia jadi ragu untuk menuruti keinginan suaminya itu. Tapi di lain sisi, ia masih mempercayai pak suami yang mengharuskan dirinya untuk memuasi pak Karjo dan Lutfi sekaligus. Daritadi sebenarnya ia sedang mencari Haura. Tapi gara-gara perkataan pak Heri kemarin, ia jadi bingung untuk mempercayai kata-kata suaminya atau selingkuhannya.

Kalau aku mempercayai kata-kata pak Heri, buat apa aku curhat ke ustadzah Haura tentang pak Karjo ? Tapi kalau aku mempercayai kata-kata mas Rendy, aku harus curhat ke ustadzah Haura supaya aku bisa bertahan dari nafsu birahi pak Karjo yang nampaknya akan sulit buatku untuk menahannya.

Batin Nada memikirkannya.

Seketika ia terbayang saat-saat dirinya disetubuhi oleh kuli kekar itu. Jujur, ia mengakuinya. Ia mengakui nafsu kuli itu yang begitu ingin menyetubuhinya. Andai saat itu tidak ada suaminya. Mungkin ia akan tetap hanyut oleh genjotan pinggulnya yang membuatnya serasa terbang ke angkasa.

Ia mengakui keperkasaan pak Karjo waktu itu. Tapi ia menolak untuk tunduk pada nafsunya yang menginginkan kepuasan dari kuli tua itu lagi. Ia tidak mau menyerahkan dirinya untuk dipuasi kuli kekar itu lagi. Ia hanya milik sang suami. Atau malah pak Heri ? Pokoknya ia tidak sudi untuk merelakan tubuhnya untuk dipuasi oleh bapak kuli itu lagi.

"Eh ustadzah Haura" Ucap Nada saat melihat Haura lewat di depannya.

"Eh antum, ustadzah Nada yah ? Ada apa ?" Tanya Haura tersenyum saat melihat Nada memanggilnya dan mendekat.

"Gapapa ustadzah... Mau jalan bareng aja... Antum mau ke kantor kan ?" Tanya Nada yang sudah tiba di dekatnya.

"Iyya nih... Antum juga yah ? Wah kalau gitu kita bisa bareng dong, kan satu arah" Ucap Haura tersenyum yang membuat Nada juga tersenyum.

Postur Nada yang lebih tinggi dari Haura membuatnya harus menunduk untuk menatap kecantikan wajahnya. Tapi sekarang ia jadi bingung. Apa yang harus diucapkan sekarang ? Masa di perjalanan ia cuma diem-dieman bersama ustadzah tercantik sepondok pesantren ini ?

"Antum apa kabar ?" Tanya Haura yang malah memulai pembicaraan.

"Alhamdulillah baik ustadzah... Ustadzah sendiri gimana ?" Tanya balik Nada.

"Alhamdulillah ana juga baik kok" Jawab Haura. Setelah itu keadaan menjadi hening kembali tanpa ada satupun suara sama sekali.

Duhhh cerita gak yah ? Padahal keadaannya pas lagi sepi gini.

Batin Nada sambil melihat sekitar.

Diam-diam ia melirik kembali wajah cantik Haura. Haura tidak menyadarinya. Wajah cantik itu tengah tersenyum yang membuat Nada mendadak ragu karena tidak enak untuk menceritakan hal itu sekarang. Ia takut untuk mengubah senyuman itu menjadi kesedihan. Ia takut kalau Haura malah teringat pada adegan pemerkosaan yang dulu pernah dialaminya.

"Eh ustadzah... Kenapa ?" Tanya Haura saat memergoki Nada terus menatapnya.

"Ehhh hihihi enggak ustadzah... Antum cantik banget sih... Jadi gak sadar udah natap antum terus" Ucap Nada mengelak yang membuat Haura tersenyum malu.

"Hihihi bisa aja... Antum yang lebih cantik kok ustadzah" Jawab Haura merendah.

"Tapi antum yang paling cantik loh disini... Mana mungkin ana bisa ngalahin antum" Ucap Nada sambil tersenyum menatap Haura.

"Hihihi ada-ada aja antum nih... Syukron yah, semua wanita itu cantik kok... Setiap wanita pasti cantik dengan pesona masing-masing" Ucap Haura tetap merendah sambil menatap Nada.

Nada pun tersenyum lalu kembali menatap ke depan untuk memutuskan pilihannya. Lagi, Nada membatin untuk mengatasi kebimbangannya untuk bercurhat atau tidak. Ia masih ragu. Kebimbangannya seolah tidak menemukan titik temu. Padahal ini merupakan kesempatan emas baginya untuk mengeluarkan uneg-unegnya. Tapi lidahnya malah kelu.

Duhh gimana yah ? Tinggal buka mulut aja susah banget sih.

Batin Nada yang sebenarnya jadi ingin curhat mumpung sedang berduaan bersama Haura.

"Anu ustadzah... Ana boleh nanya ?" Tanya Nada memberanikan diri.

"Mau nanya ? Nanya apa ?" Tanya Haura tersenyum.

"Anuu itu hehe... Soal masalah akhwat sih... Gapapa nanya disini ?" Tanya Nada ragu-ragu.

"Hihihi gapapa... Mumpung lagi sepi kan ?" Ucap Haura tersenyum kepada ustadzah yang lebih muda 3 tahun darinya.

"Sebenarnya ini soal urusan ranjang sih" Ucap Nada malu-malu yang membuat wajah Haura ikut memerah.

"Eh terus... Gimana ?" Tanya Haura yang malah terbayang persoalan yang enggak-enggak.

"Anuu... Antum pernah bercinta gak ? Sampai-sampai antum tuh kewalahan banget karena gak bisa ngimbangin nafsu suami ?" Tanya Nada malu-malu.

"Ehh soal itu" Entah kenapa Haura jadi malu-malu. Seketika ia malah teringat persetubuhannya dengan pak Karjo.

"Hihihi ya pernah lah ustadzah... Emangnya kenapa ? Antum lagi gak bisa ngimbangin nafsu suami antum yah ?" Tanya Haura malu-malu.

"Ehhh hihi iyya ustadzah" Jawab Nada malu-malu.

"Terus... Kenapa ? Apa yang ditanyain ?" Ucap Haura menjadi malu karena harus mengobrolkan sesuatu yang intim di jalan seperti ini.

"Anu itu sih hehe... Terus pas suami antum begitu... Antumnya gimana ?" Tanya Nada bingung untuk menyusun kata-katanya.

"Yaudah... Kita sebagai istri cuma bisa pasrah aja hihihi... Kok jadi bahas ini sih... Ana jadi malu tau" Ucap Haura malu-malu hingga giginya terlihat saat tersenyum.

"Ya soalnya kan hehe... Tadi kata antum gapapa... Ana tadi juga bingung tau mau ngomongin ini disini" Ucap Nada jadi malu sendiri dihadapan ustadzah tercantik itu.

"Hihihi kirain tadi mau bahas apa... Tapi kalau disini kan malu tau... Walau gak ada orang juga tapi rasanya gimana gitu hihihi..." Kata Haura senyum-senyum sendiri.

"Hihihi maaf yah ustadzah... Duh jadi malu deh udah ngobrolin hal kayak tadi" Ucap Nada tersipu.

"Gapapa kali... Ya palingan gitu aja ustadzah... Tinggal pasrah aja... Biarin suami antum menikmati keindahan tubuh antum... Kita sebagai istri emang tugasnya memuasi" Ucap Haura malu-malu.

"Hihihi iyya sih tapi gimana yah... Yaudah deh nanti aja yah ana nanya lagi boleh ?" Ucap Nada jadi malu.

"Hihihi naam ustadzah... Besok aja yah... Antum dateng ke rumah aja deh... Biar lebih enak pas ngobrolnya" Ucap Haura sambil tersenyum malu-malu.

"Hihihi naam ustadzah... Besok yah" Jawab Nada tersenyum.

"Iyya... Mampir aja... Rumah ana terbuka kok untuk antum" Jawab Haura dengan ramah.

Kebetulan mereka berdua sudah sampai di depan kantor bagian Administrasi. Nada pun pamit pada Haura untuk kembali ke kantor bagiannya. Walau ia sudah sempat bercerita. Tapi ia masih belum puas dengan jawaban yang Haura berikan. Entah kenapa ia ingin datang ke rumah Haura besok untuk meminta jawaban darinya.


*-*-*-*


Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Di kantor bagian pengasuhan, semua pengajar berada di tempat untuk mengerjakan koreksian yang semakin menumpuk. Maklum, tinggal tiga hari lagi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua koreksian. Kalau dalam waktu tiga hari koreksian belum diselesaikan, otomatis waktu libur pengajar yang bersangkutan akan ditunda sampai pengajar itu benar-benar menyelesaikan seluruh koreksiannya.

Nampak Haura, Hanna, V & Ustadz Rafi duduk di tempatnya masing-masing sambil mengamati lembaran koreksian yang berserakan di meja kerja masing-masing. Mereka tampak fokus demi menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu yang diberikan.

Namun diantara mereka berempat, Hanna & Haura sesekali saling melirik ke arah V karena mengkhawatirkan nasibnya yang akan diputuskan beberapa menit lagi. Mereka berdua sangat tahu kalau hari ini merupakan hari dimana keputusan pak Kiyai akan turun. Sebagai rekan kerja, mereka tidak mau kehilangan V apalagi kalau penyebab utamanya gara-gara santri nakal bernama Lutfi. Mereka tidak rela, terutama Hanna yang sudah berkali-kali diperkosa oleh Lutfi.

"Beneran Han... Antum gak bisa bantu apa-apa lagi ?" Bisik Haura kepada Hanna yang berada di sebelahnya.

"Iya Ra... Tadi pagi ana udah ngomong ke ustadzah Rania lagi... Tapi hasilnya nihil... Gak tau deh nanti... Tapi moga aja V gak jadi dikeluarin dari sini" Ucap Hanna penuh harap.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

"Assalamu'alaikum" Ucap orang tersebut yang segera dijawab oleh para pengajar.

"Walaikumsalam... Tafadhol akhi... Udkhul !" Ucap Rafi yang mempersilahkannya masuk.

Santri yang terlihat masih kecil itu pun masuk dengan malu-malu setelah dipersilahkan masuk oleh ustadz Rafi. Dengan segera ia menghadap ke arah Rafi lalu mengungkapkan keinginannya.

"Afwan ustadz... Ustadz Fikri mad'u ilal baiti pak Kiyai" Ucap santri itu mengabarkan kalau ustadz Fikri diminta datang ke rumah pak Kiyai.

"Mataa ?" Tanya Ustadz Rafi tentang waktunya.

"Al'an ustadz" Jawab santri itu sekarang.

Ustadz Rafi segera menatap ke arah V. V tanpa mengucapkan sepatah kata langsung berdiri mendekati santri itu.

"Syukron ya akhi... Tafadhol bil khuruj" Kata ustadz Rafi memperbolehkan santri itu pergi.

"Naam ustadz... Afwan" Jawab santri itu pergi bersama V di belakangnya.

Ketika V pergi. Hanna & Haura hanya bisa diam menatap. Kendati mulut mereka tertutup tapi hati mereka terus berdoa agar V bisa bertahan di pesantren ini.

Pintu kantor segera ditutup setelah mereka berdua keluar dari sini. Hanna & Haura hanya melenguh. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka berdua sangat khawatir. Terutama Haura yang baru saja bercinta dengannya di pagi hari.

Kendati pagi tadi ia mengakui kalau genjotan pak Karjo lebih terasa daripada genjotan V. Ia tetap ingin V bertahan disini. Kendati pagi tadi ia mengaku kalau ia lebih bernafsu pada tubuh kekar pak Karjo dibandingkan tubuh V. Ia tetap ingin V bertahan disini. Ia hanya tidak mau kehilangan seseorang yang sudah akrab dengannya. Apalagi kalau orang itu merupakan orang yang cukup penting di hidupnya.

Semoga kamu bisa bertahan disini, V !!!

Batin Haura sambil menatap pintu kantor yang sudah ditutup.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy