Search

CHAPTER 47​ - KEJUTAN TAK TERDUGA

CHAPTER 47​ - KEJUTAN TAK TERDUGA

"Syukron ya akhi udah nganterin" Ucap V pada santri yang ada di hadapannya.

"Naam ustadz... Afwan" Ucap santri itu pergi setelah mengantarkan ustadznya sampai ke depan area perumahan ustadz senior.

Kebetulan rumah pak Kiyai berada di area perumahan ustadz senior. Perumahan yang juga ditempati oleh Nada & Haura bersama suaminya. Perumahan ini juga dihuni oleh beberapa kerabat pak Kiyai juga pengajar-pengajar yang sudah menikah di pondok pesantren ini.

Dalam perjalanannya ke rumah pak Kiyai. V membatin saat melihat ada satu rumah kosong yang berada di sisi kanannya. V tersenyum, ia pun terpikirkan sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi andai dirinya dikeluarkan dari pesantren ini.

Itu seharusnya rumahku... Tapi dengan siapa yah aku tinggal nanti ? Haura, Hanna atau malah Salwa ?

Batin V mengurutkan daftar wanita yang ingin dinikahinya.

Atau mungkin bukan ketiganya.

Batinnya lagi saat teringat hukuman yang telah menantinya.

"Hah astaghfirullah... Menyebalkan... Kenapa juga yah waktu itu aku keburu emosi ? Coba aja waktu itu aku gak ngebanting hapenya dulu, mungkin aku masih punya bukti untuk mengeluarkan Lutfi dari pesantren ini... Gara-gara emosiku, sekarang malah aku yang dihukum ? Dunia memang aneh, kita tidak tahu siapa yang benar ataupun yang salah... Tapi bagi pihak yang benar biasanya malah yang dihukum" Lirihnya sambil menatap ke arah langit cerah yang mungkin bakalan menjadi pemandangan terakhir yang bisa ia nikmati di pesantren ini.

Tak terasa ia sudah tiba di depan rumah pak Kiyai. Seketika ia teringat dulu sewaktu pertama kali datang kesini. Ia bersama Adit datang ke rumahnya untuk diperkenalkan kepada pak Kiyai. V tersenyum, rupanya waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa banyak sudah kenangan yang ia buat di pondok pesantren ini.

Mulai dari pertemuannya dengan Haura dan diakhiri dengan persetubuhannya juga dengan Haura. Ia tersenyum puas karena setidaknya ia bisa mencicipi tiga orang ustadzah dan satu orang santriwati selama ia tinggal di pesantren ini. Terbayang ketika ia menyetubuhi Haura dengan penuh nafsu. Tubuh indah itu, wajah cantik itu, jepitan vaginanya itu. Haura memang spesial. Meski ia pernah bersetubuh dengan Hanna, Nada dan melakukan petting dengan Salwa. Tidak ada yang melebihi nikmatnya bersetubuh dengan Haura. Fakta bahwa Haura adalah ustadzah tercantik sepondok pesantren ini menjadi sensasi tersendiri bagi V. Rasanya puas sekali bisa memadu kasih dengannya. Apalagi kalau nanti Haura beneran hamil olehnya. Setidaknya, ia telah memberikan kado terindah bagi Haura sebelum kepergiannya dari pesantren ini.

"Sudah... Ayo kita akhiri disini" Kata V pasrah saat memajukan langkahnya mendekati pintu masuk.

Sesampainya ia di depan pintu masuk. Ia mendadak ragu karena hatinya tidak ingin pergi dari sini. Tapi apa boleh buat, sebagai lelaki ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi ia tidak benar-benar ingin pergi dari pesantren ini. Terutama karena Haura. Ia tidak ingin berpisah dengannya dan ingin hidup semati bersamanya.

"Hah... Yaudah lah... Siapa tau ada keajaiban" Ucap V memberanikan diri tuk mengetuk pintu.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"Assalamu'alaikum ustadz" Sapa V setelah mengetuk pintu.

Tapi, tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam. V tidak mendengar suara sama sekali yang membuatnya penasaran.

Apa gak ada orang yah ? Kok gak ada suara ?

Batinnya.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"Assalamu'alaikum ustadz... Afwan ini ana, ustadz Fikri" Ucap V sekali lagi setelah mengetuk pintu.

Detik demi detik waktu terus berjalan tapi kok tidak ada satupun orang yang memberikan jawaban. V pun curiga apa jangan-jangan beneran gak ada orang di dalam ? Tapi kalau gak ada, kenapa santri tadi berkata kalau ia dipanggil kesini ? Akhirnya, ia pun mencoba sekali lagi untuk mengetuk pintu rumah pak Kiyai.

Tokkk... Tokkk... Tokkk...

"Assalamu'alaikum" Ucap V untuk yang terakhir kalinya.

Seketika terdengar suara langkah kaki mendekat. V pun lega. Akhirnya ada seseorang yang mendengar salamnya. Kini rasa lega itu berubah menjadi rasa deg-degan. V mendadak gugup karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan pak Kiyai untuk menentukan masa depannya disini.

Kreekkk...

Bunyi gagang pintu diturunkan. Sedikit demi sedikit, pintu rumah pak Kiyai terbuka. V semakin gugup. Berulang kali ia menahan nafasnya. Nampak kaki orang itu terlihat. Kaki itu tertutupi oleh kaus kaki. V mengernyitkan dahinya saat menatap pakaian yang dikenakan oleh orang tersebut.

Siapa ini ? Masa pak Kiyai pake rok gamis ?

Batinnya heran. Ia pun buru-buru menaikan wajahnya. Betapa terkejutnya ia saat menatap wajah dari seseorang yang menerima kedatangannya disini.

"Walaikumsalam ustadz... Antum nyari siapa ?" Jawab orang itu dengan lembut sambil tersenyum.

"Usss... Ustadzahh ? Kok ustadzah ? Afwan, pak Kiyainya ada ?" Tanya V terkejut saat melihat wanita cantik yang ada di hadapannya.

"Hihihi naam ustadz... Pak Kiyai belum pulang, tadi beliau ngabarin ana kalau ada rapat mendadak makanya baru bisa pulang paling cepet besok... Oh yah silahkan duduk dulu ustadz" Ucap Ustadzah cantik bernama Rania itu dengan ramah.

"Naam ustadzah" Jawab V mendadak gugup karena terpukau pada kecantikan istri dari pak Kiyai itu.

Ia teringat dulu ketika pertama kali datang kesini. Berulang kali ia sampai tidak bisa menjaga pandangan saat ustadzah yang wajahnya mirip orang Korea itu keluar untuk menghidangkan minuman untuknya.

Kini, ustadzah cantik itu juga keluar untuk menyambut kedatangannya disini. Otomatis jantungnya berdegup kencang. Tak pernah ia segugup ini ketika bertemu dengan seorang wanita. Mana wanita itu terlihat cantik sekali lagi.

Lihat saja penampilannya sekarang, dengan hijab berwarna putih yang membalut kepala mungilnya. Serta kemeja yang agak longgar namun masih memperlihatkan tonjolan di dada. V sampai terpana saat melihat ukuran dada dari ustadzah berkulit bening itu. Ia tak habis pikir, rupanya ukuran payudara dari istrinya pak kiyai itu cukup gede juga. V terpana. Apalagi saat ia menurunkan pandangannya untuk melihat sisi bawah dari ustadzah cantik itu. Nampak rok berwarna gelap itu membalut kaki jenjangnya. Pinggul dari ustadzah cantik itu juga menggoda. Lekukannya aduhai. Bahkan dari samping, V sekilas mampu melihat bemper dari ustadzah cantik itu yang begitu maju. Bokongnya begitu semok. Rasanya ia jadi ingin menamparnya kemudian meremasnya sekuat tenaga.

Indah sekali rupamu ustadzah... Gak heran kalau antum jadi istri dari pak Kiyai disini...

Batin V geleng-geleng kepala saat melihatnya.

"Anu ada apa yah nyariin pak Kiyai, ustadz ?" Tanya Rania sambil menatap wajah V.

"Eh iya ustadzah... Tadi ada santri yang meminta ana datang kesini... Apa betul pak Kiyai yang memanggil ana kesini ?..." Ucap V malu-malu sampai tak berani menatap wajah indah Rania.

"Eh santri ? Masa sih ? Orang pak Kiyai aja belum pulang kok" Ucap Rania kebingungan.

"Maka dari itu ustadzah... Duh terus siapa dong ? Apa ana jangan-jangan dikerjain sama santri tadi yah ?" Ucap V suudzon yang membuat Rania tertawa.

"Hihihi masa sih ustadz ada santri jail kayak gitu ?" Tanya Rania tertawa hingga giginya terlihat.

"Hehe beneran loh ustadzah... Serius deh" Ucap V saat melihat tawanya yang menggemaskan.

Ah indah sekali tawamu itu ustadzah !

Batin V terpesona.

"Hihihi kasihan amat... Gak mungkin lah.. Emang menurut antum, kalau pak Kiyai beneran manggil antum kesini... Kira-kira gara-gara kenapa ?" Tanya Rania sambil tersenyum yang membuat hati V hanyut dalam aliran sungai yang membawanya menuju kebahagiaan.

"Ya paling soal keputusan nasib ana ustadzah" Ucap V menunduk karena teringat kembali nasibnya yang mungkin akan dikeluarkan.

"Oh... Soal pemukulan antum itu yah ?" Tanya Rania sambil tersenyum.

"Iyya ustadzah... Ana dari semalem gak bisa tidur gara-gara nungguin ini... Gak tau deh, ana pasrah aja soal ini" Ucap V tersenyum sambil menundukan wajah.

"Hihihi... Kalau antum sendiri... Antum maunya bertahan apa dikeluarkan ?" Tanya Rania penasaran.

"Ya bertahan lah ustadzah... Ana udah cukup lama disini... Ana gak mau berpisah dengan orang-orang yang tinggal di pesantren ini... Ana udah cukup akrab dengan mereka, ustadzah... Ana gak mau kehilangan mereka" Ucap V memikirkan ustadzah-ustadzah yang sudah pernah ia senggamai.

"Hihihi naam, ana paham kok maksud antum... Antum juga termasuk hebat yah meski baru beberapa bulan mengajar disini... Antum udah dikenal banyak orang... Terutama santriwati disini" Ucap Rania yang membuat V mendadak malu.

"Hehe biasa aja kok ustadzah... Ana cuma ngajar seperti biasa padahal" Ucap V merendah.

"Hihihi tau gak ustadzah... Sebenarnya banyak loh yang pengen ketemu sama antum disini ? Apalagi ustadzah-ustadzah disini" Ucap Rania mengejutkan V.

"Eh beneran ustadzah ? Ngapain mereka pengen ketemu ana ?" Tanya V penasaran.

"Ya penasaran aja... Antum itu orangnya gimana sih ? Kenapa antum bisa seterkenal ini ?" Ucap Rania sambil tersenyum lalu memiringkan sedikit kepalanya ke samping. Sontak V terpesona pada senyuman yang diberikan oleh Rania. Baru kali ini V dibuat berdebar oleh kecantikan seorang wanita yang lebih tua darinya.

"Masa sih ustadzah, ada ustadzah yang begitu ?" Tanya V dibuat bingung gara-gara menatap senyuman Rania tadi.

"Ada dong ustadz... Ana contohnya... Ana sampai minta santri tadi loh buat manggil antum kesini" Ucap Rania mengejutkan V.

"Ohh jadi yang manggil ana kesini tuh antum ?" Tanya V terkejut.

"Heem ustadz" Jawab Rania menganggukan kepala sambil tersenyum.

"Ohhh terus... Ada apa yah ustadzah ? Ada apa kok manggil ana kesini ?" Tanya V jadi bingung dengan panggilan yang diminta Rania kesini.

"Ana mau bantu antum... Ana mau nolongin antum supaya antum bisa bertahan disini" Ucap Rania yang membuat V sumringah.

"Beneran ustadzah ? Wah makasih banget" Ucap V girang mendengar ucapan dari istri pak Kiyai itu.

"Iyya, ustadz... Ana kasian sama ustadzah Hanna yang berulang kali datang kesini untuk meminta ana buat bantu antum supaya bisa bertahan disini... Sebenernya sih ana agak pesimis... Tapi pas tau kalau ustadz Fikri itu antum, ana jadi penasaran juga... Denger-denger antum ini jago muasin ustadzah-ustadzah disini yah ?" Ucap Rania sambil mengedipkan mata ke V.

"Ehhh siapa yang bilang ? Ustadzah Hanna bilang gitu yah ?" Tanya V terkejut.

"Loh kok nyebut ustadzah Hanna sih ? Hayoo... Pernah muasin ustadzah Hanna yah ?" Ucap Rania mengejutkan V.

"Ehhh itu... Itu... Gak kok ustadzah... Enggak" Ucap V mendadak gugup yang membuat Rania tertawa.

"Hihihi jadi beneran ? Wah, padahal tadi ana cuma asal nebak aja loh ustadz... Dari kemarin ana tuh suka nebak-nebak, ustadz Fikri pernah gak yah bercinta dengan seorang ustadzah selama disini ? Coba sekarang jujur deh sama ana... Antum pernah bercinta dengan seorang ustadzah kan ?" Tanya Rania sambil tersenyum yang membuat V mau tak mau menganggukkan kepalanya.

"Ohhh gitu... Dasar yah antum nih" Ucap Rania yang membuat V berkeringat dingin.

"Ehh tapi... Tapi... Tolong jangan bilang siapa-siapa yah ustadzah... Ana waktu itu khilaf" Ucap V takut kalau Rania yang awalnya hendak menolongnya malah akan membocorkan rahasianya.

“Hihihi gapapa kok ustadz... Ana paham... Semua orang juga pernah khilaf kali... Ana juga pernah bercinta kok dengan seorang ustadz disini... Bahkan ana pernah bercinta juga dengan seorang tukang sayur sewaktu tukang sayur itu berkeliling disini” ucap Rania mengejutkan V.

“Ehh serius ustadzah ?” tanya V tak menyangka. Ia tak menduga kalau istri dari pak Kiyai ini pernah bercinta dengan seorang penjual sayur yang akhirnya membuat pikirannya traveling kemana-mana. Bahkan ia tak sanggup membayangkannya. Pasti persetubuhan mereka akan begitu hot apabila beneran terjadi.

“Bahkan ana juga pernah bercinta dengan tukang sampah bertubuh kekar loh, sewaktu mereka itu berkeliling di sekitar sini” ucap Rania yang membuat V menenggak ludah.

“Ttuu... Tukang sampah ?” tanya V terkejut terheran-heran.

“Iya ustadz... Habis badan mereka kekar banget sih... Ana kan sampai tergoda... Sewaktu ana mempersilahkan mereka masuk... Ana sampai dibuat lemes loh hihihi” ucap Rania yang membuat V tanpa sadar mengelus-ngelus penisnya yang mulai mengeras.

“Eh mereka ?” tanya V baru ngeh.

“Iya ustadz, mereka ada dua orang... Kebayang gak ? Tubuh mereka itu kekar-kekar... Badannya item-item lagi hihihi... Berbanding jauh lah sama pak Kiyai yang udah gak sanggup muasin ana lagi... Awalnya sih kami cuma ngobrol-ngobrol aja sekalian mau berterima kasih ke mereka karena udah membersihkan sampah disini... Eh gak tau gimana kok obrolan kami tiba-tiba menjurus ke mesum... Alhasil mereka bernafsu terus ana di keroyok deh... Lemes banget tau rasanya... Tapi keseluruhan sih ana puas hihihi” tawa Rania saat membagikan kisahnya dihadapan V.

“Ituu... Itu beneran ustadzah... Ana baru tau kalau antum selama ini ternyata binal juga ?” tanya V takjub pada kebinalannya.

“Gak cuma binal kok ustadz... Tapi juga berpengalaman hihihi” tawanya malu-malu yang membuat V gemas.

Ustadzah Rania ini keliatan polos, sikapnya juga malu-malu tapi kok omongannya binal banget yah ?

Batin V terpana.

“Hihihih jadi gak usah malu ustadz... Ana maklumin kok kalau antum sampai khilaf gitu” ucap Rania sambil malu-malu setelah menceritakan pengalamannya tadi.

V jadi tidak bisa berfikir jernih gara-gara terbayang cerita yang Rania ucapkan tadi. Ditatapnya wajah cantik Rania yang polos. Ia tak habis pikir, apa iya Rania sungguh-sungguh pernah bercinta dengan tukang sampah perkasa di rumahnya. Bahkan tidak cuma satu tapi dua tukang sampah sekaligus !

Tapi kalau dipikir-pikir sih, kayaknya emang beneran deh. Apalagi kan ustadzah Rania selama ini cuma bisa bercinta dengan pak Kiyai yang sudah berumur. Sudah pasti ustadzah Rania mencari pelampiasan lain untuk memenuhi birahinya yang kehausan.

Busyeettt... Jadi beruntung banget mereka !

Batin V mupeng.

“Oh yah ustadz... Tapi untuk bantu antum supaya bisa bertahan disini... Ana gak bisa melakukannya sendirian loh... Ana perlu bantuan antum” ucap Rania yang menyadarkan V dari lamunannya.

“Eh iya ustadzah... Apa yang bisa ana bantu ?” tanya V.

Ana butuh keberanian ustadz... Ana juga butuh kekuatan untuk berbicara di depan pak Kiyai besok” ucap Rania.

“Maksudnya ? Ana bisa bantu dengan apa yah ?” Ucap V bingung dengan ucapan Rania yang cenderung muter-muter tidak to the point. Tapi V memakluminya karena wanita cenderung tidak berterus terang disaat berbicara dengan seseorang.

Ana tuh baru bisa berani sama punya kekuatan lebih kalau ada seseorang yang bisa memuasi ana dulu loh, ustadz” ucap Rania malu-malu yang membuat V menenggak ludah.

“Ehh maksudnya... Ana, antum ?” ucap V menangkap apa yang Rania inginkan sebagai syarat untuk membantunya agar tidak dikeluarkan dari pesantren ini.

“Hihihi, iya ustadz... Ana mau antum memuasi ana dulu... Baru habis itu ana bantu antum supaya tidak dikeluarkan dari sini" ucap Rania sambil malu-malu saat mengucapkan syarat yang diminta olehnya.

“Ini maksudnya, kita ? Begituan ?” ucap V tidak percaya saat dirinya malah ditawari bercinta dengannya. Bahkan saking tidak percayanya, ia sampai membuat ilustrasi dengan membuat lingkaran dari jemari telunjuk dan jempol di tangan kirinya lalu jemari telunjuk di tangan kanannya dimasukan ke lubang yang dibuat oleh tangan kirinya. Rania pun tertawa saat melihat ilustrasi yang jemari V berikan.

“Hihihih iyyah ustadz... Ana mau kita... NGENTOT” ucap Rania yang membuat V merinding saat mendengar ucapan dari istri pak Kiyai yang ia kira alim. Ia tak menduga, Rania malah mengajaknya bercinta yang tentunya tidak bisa ditolak olehnya.

“Kii... Kitaaa ?” ucap V masih terdiam tak mempercayainya. V semakin gugup saat Rania berdiri dari tempatnya lalu duduk di sebelahnya. V menenggak ludah, ia pun memberanikan diri menatap wajah dari ustadzah berkulit bening itu.

“Iyya ustadz... Ana serius... Ana tuh penasaran banget sama kejantanan antum... Apalagi sewaktu pertama kali ustadz kesini, ana tuh sejujurnya udah kesengsem loh sama antum... Inget gak sewaktu antum pertama kali kesini ? Sewaktu ana menghidangkan minuman ke antum... Ana tuh bertanya-tanya loh... Kapan yah bisa digenjot sama seorang ustadz yang ganteng kayak antum ?” ucap Rania sambil mengelus paha V yang membuat ustadz tampan itu tergoda oleh godaan yang Rania berikan.

“Beneran ustadzah ? Antum udah pengen digenjot ana semenjak pertama kali ana kesini ?” tanya V tak percaya.

“Iyya ustadz... Makanya, ana jadi sedih deh pas tau rupanya antum malah sering bercinta dengan ustadzah lain daripada ana... Padahal ana yang pertama kali antum temui loh disini, iya kan ? Kenapa antum gak buru-buru menanam benih di rahim ana, ustadz ?” tanya Rania sambil membuka satu demi satu kancing kemeja V lalu mengusap dada beningnya yang membuat V merinding merasakan usapannya.

“Habisnya... Ana gak tau ustadzah kalau antum ternyata sebinal ini ? Kalau tau dari dulu sih, ana . . . “ ucap V agak ragu untuk mengucapkannya.

Antum kenapa ustadz ? Ana mau denger deh” ucap Rania sambil tersenyum setelah membuka seluruh kancing kemeja V.

Ana bakal genjotin antum tiap hari ustadzah... Uuuhhhhh” desah V sambil memejam saat tangan Rania mencengkram penisnya dari luar celana yang ia kenakan.

“Hihihih kalau gitu ana bakal lemes terus dong tiap hari... Ana jadi penasaran deh sama sodokan antum... Beneran gak sih bisa bikin ana puas ?” Tanya Rania saat kedua tangannya meremas-remas penis V yang sudah mengeras.

“Aahhhh... Ahhhh... Pasti ustadzah... Pasti ana bakal bikin antum puas kok... Ouhhhh” desah V geli-geli nikmat.

“Hihihi masa sih ? Kalau gitu, buktikan dong ! Seorang lelaki tuh harus bisa buktiin kata-katanya, iya kan ?” ucap Rania saat memindahkan tangannya dari selangkangan V lalu naik membelai dada beningnya lalu naik lagi hingga mencengkram kedua pipinya dengan lembut. Sontak V merinding saat merasakan belaian tangannya di dadanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia rasakan. Ia merasa beruntung sudah diundang ke rumah yang ditinggali oleh bidadari bening ini.

“Pasti ustadzah... Kapan ana bisa membuktikannya ?” tanya V jadi geregetan setelah mendengar tantangan dari Rania.

“Sekarang ustadz” ucap Rania memejam sambil mendekatkan wajah V ke arah wajahnya.

V pun ikut memejam, tanpa ragu ia langsung mendekatkan bibirnya untuk mencumbu bibir dari ustadzah binal itu.

"Mmpphh" Desah mereka berdua saat menikmati cumbuan mereka yang begitu bergairah.

V yang sedari tadi terus digoda oleh Rania akhirnya tidak tahan lagi. Bibirnya langsung menyosor bibir Rania. Didorongnya bibir dari istri pak Kiyai itu. V dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat. V dapat merasakan kelezatan bibirnya yang nikmat. Apalagi saat kedua tangan Rania turun untuk membelai putingnya. V jadi merasakan geli-geli nikmat saat menikmati percumbuannya. V jadi semakin bernafsu. Ia pun memperkuat dorongannya untuk menikmati bibir tipis itu.

"Mmmpphh ustadz... Mmmpphh" Desah Rania dengan manja saat V mencumbu bibirnya dengan sekuat tenaga.

"Ada apa ustadzah ? Mmmpphh... Nikmat banget rasanya bibir antum... Mmmpphh rasanya jadi pengen dorong bibir antum terus, ustadzah" Desah V di sela-sela cumbuannya sambil menahan kepala Rania agar tidak terdorong ke belakang menggunakan kedua tangannya.

"Ana boleh buka celana antum gak ? Ana penasaran banget sama kontol antum, ustadz" Ucap Rania sambil terus memainkan putingnya saat menahan cumbuan V di bibirnya.

"Mmmpphh... Emang antum penasaran banget yah ustadzah ? Kalau kontol ana keluar, emang bakal diapain aja sama antum ?" Desah V semakin bergairah setelah mendengar kata-kata kotor dari Rania.

"Mmmpphh bakal ana kocok lah ustadz... Bakal ana emut juga... Kalau antum mau... Ana sanggup loh ngemut kontol antum selama dua jam penuh" Ucap Rania yang membuat V merinding mendengarnya.

"Dua jam ? Antum kayaknya suka banget yah ngemut kontol orang ? Mmpphh" Ucap V di sela-sela cumbuannya.

"Suka pake banget ustadz... Apalagi kalau badannya bagus... Sambil tiduran juga bakal ana emut terus kontol orang itu loh ustadz" Ucap Rania terus bercerita yang semakin merangsang birahi V.

"Oh yah ? Mmmpphh waktu antum melayani dua tukang sampah itu, antum ngemut kontol mereka berapa lama ?" Tanya V penasaran sambil terus mencumbunya.

"Mmpphh masing-masing 45 menit ustadz... Mmpphh, ana masih inget kejadiannya... Diatas ranjang, ana diapit sama mereka berdua di kanan kiri. Waktu ana ngemut kontol tukang sampah A eh tukang sampah B-nya malah nabokin bokong ana... Begitu juga sebaliknya tukang sampah A malah jilatin memek ana ustadz... Uuhhhhh nikmat banget rasanya" Desah Rania yang semakin merangsang V.

"Serius ustadzah ? Binal banget yah antum ternyata" Ucap V yang membuat Rania merasa malu.

"Hihihi habis enak banget sih... Gimana ? Boleh yah kontol antum ana keluarin" Ucap Rania yang langsung diizinkan oleh V.

"Hihihi makasih ustadz" Ucap Rania yang langsung menurunkan resleting V kemudian mengeluarkan ular kadut yang berwarna kemerahan itu.

"Uuuuhhhh ustadzah" Ucap V merinding saat penisnya dicengkram oleh Rania. Bahkan cumbuannya sampai terlepas hanya untuk melihat belaian tangan Rania di penisnya.

"Hihihi gede banget... Ana suka deh" Ucap Rania sambil tersenyum yang membuat V lagi-lagi terpana pada keindahan wajahnya.

Pelan-pelan Rania mulai menaik turunkan jemarinya pada penis V. Belaiannya cenderung lembut ditambah dengan kulit tangannya yang begitu halus. V jadi semakin menikmati kocokan tangan Rania di penisnya. Bahkan nafasnya sampai terengah-engah. Mulutnya sampai membuka lebar dan matanya tak kuasa untuk memejam saat menahan rangsangan tangan Rania di tongkat saktinya.

"Aahhhh... Aaahhhh... Nikmat banget kocokan antum ustadzah... Uhhhhh... Uhhhh" Desah V ngap-ngapan saat menahan belaian tangan Rania.

"Hihihi ini belum seberapa ustadz" Ucap Rania yang langsung menundukan tubuhnya kemudian mendekatkan penis itu ke arah mulutnya.

"Aauhhmm" Desah Rania saat mencaplok penis V.

"Uuuhhh mantepppnyaa... Anget banget rasanya ustadzah" Desah V dengan puas.

"Hihihi ustadz lebay ah... Baru juga dijepit belum diginiin" Ucap Rania sambil menaik turunkan kepalanya untuk mengulum penis milik ustadz tampan itu.

"Ouuhh... Ouhhh.... Ohhhhh.... Ustadzahh" Jerit V keenakan saat meladeni bibir Rania.

Dikala bibir Rania menjepit batang penis V. Lidahnya di dalam merangsang penis V dengan menjilati setiap sisi dari batang penis itu. Sesekali Rania juga meletehkannya hanya untuk meludahi ujung gundulnya sebelum memasukannya lagi ke dalam mulut mungilnya.

Kedua tangannya juga tidak diam saat mulutnya sibuk memuasi batang penis itu. Kalau tangan kanannya mengocok batang penisnya disaat mulutnya hanya memasukan ujung gundulnya saja. Maka tangan kirinya bertugas untuk menggelitiki biji salak nya yang menggantung dibawah.

Sesekali mulut Rania melakukan gerakan memutar sehingga penis V seolah diaduk-aduk oleh mulut Rania. Bahkan Rania juga menjilati ujung gundulnya saja terutama di area sekitar lubang kencingnya. Rania sudah seperti seorang profesional. Ia tahu betul di titik mana saja yang bisa membuat pejantannya terangsang. Tak heran V sampai kejang-kejang saat menahan sepongan mulut Rania pada penisnya.

"Ouhhhh ustadzahhh... Ouhhhh nikmat banget... Lagi ustadzahh... Lagi... Uhhhhh" Desah V merinding merasakan servis oral dari istri pak Kiyai itu.

“Hihihi gimana ustadz ? Enak gak ?” tanya Rania sambil menaikan pandangannya ketika tangannya terus mengocok batang penis V.

“Aaahhh... Aahhhh... Aahhhh... Enak banget ustadzah... Ouuhhhh sampai merinding jadinya” ucap V keenakan merasakan kocokan Rania.

“Hihihi kalau gitu, sllrrpp... sslrrppp” ucap Rania kembali menyeruput ujung gundul penis V.

“Ouuhhh ustadzaahhh... Ouhhhh... Ouuhhhhh” desah V mengerang keenakan. Ia begitu merinding merasakan kuluman Rania. Ustadz tampan itu sampai merapatkan bibirnya kemudian mengusap-ngusap kepala rania sehingga ustadzah berkulit bening itu pun merasa nyaman saat menikmati kejantanan penisnya.

“Mmpphhh... Cuppppp” ucap Rania menarik lepas mulutnya dari penis V lalu mengecup bibir ustadz tampan itu baru setelah itu tersenyum sambil menatap wajahnya. V hanya terdiam terpana setelah dipuasi sedemikian rupa oleh istri dari pak kiyai itu.

“Masuk yuk... Biar makin bebas melakukannya... Hihihihi” ucap Rania yang baru membuat V sadar kalau diri mereka masih berada di teras rumah.

“Iya ustadzah” jawab V manut.

Tanpa mengancingkan kemejanya kembali. Tanpa memasukan batang penisnya kembali. V berjalan dengan apa adanya saat memasuki rumah pak Kiyai. Nampak didepannya Rania berjalan untuk menuntunnya menuju tempat teraman di dalam rumahnya. Rania ingin menikmati batang barunya. Ia ingin memuaskan dan juga dipuaskan oleh batang penis itu. Apalagi V sudah lulus tes setelah tidak keluar ketika penisnya dikulum olehnya.

Hihihihi keras banget deh kontolnya... Jadi pengen nyepongin kontolnya lagi...

Batin ustadzah binal itu sambil matanya melirik ke arah batang penis ustadz tampan itu.

Setelah mereka berdua memasuki rumah. Rania kembali mencumbu bibir V sambil menarik lepas kemejanya. Nampak V sudah bertelanjang dada di depan pintu masuk rumah pak Kiyai. Dikala bibirnya dicumbu. Kedua putingnya terus dimainkan oleh Rania sehingga rasa geli-geli nikmat itu kembali dirasakan olehnya. Belum lagi ketika kedua tangannya turun untuk memelorotkan celananya. Nampak kait haknya sudah dilepas. Nampak pelan-pelan kedua tangan Rania menurunkan celana berikut celana dalamnya. Dalam sekejap V sudah bertelanjang bulat sambil terus dicumbui oleh ustadzah binal itu.

Kedua tangan V mendekap pinggang ramping Rania yang masih berpakaian. V memiringkan kepalanya agar bibirnya jadi lebih mudah untuk menerima dorongan bibir Rania yang semakin bernafsu kepadanya. Lagi, batang penis V kembali dikocok oleh tangan lembut Rania.

“Mmpphh... Mmpphhh ustadzahhh” desah V merinding merasakan kenikmatan di bibir juga batang penis yang sedang dikocok oleh Rania.

“Mmpphh... Makin gede aja nih kayaknya kontol antum... Mmpphhh, sebentar yah ustadz... Ana mau liat dulu” ucap Rania melepas cumbuannya hanya untuk melihat kejantanan penis V.

“Gimana ustadzah ?” tanya V percaya diri setelah melihat batang penisnya yang begitu besar dan keras di bawah sana.

Antum jadi keliatan seksi deh... Ana suka” ucap Rania tersenyum yang membuat V merasa bangga.

Rania langsung berjongkok dihadapan penis V yang mengacung tegak. Ditatapnya penis botak yang sungguh memanjakan mata ustadzah Rania. Sambil tersenyum, Rania memaju mundurkan batang penis itu. Ia menikmati keindahan dihadapannya. Sesekali Rania menaikan pandangan untuk melihat reaksi tamu istimewanya. Rupanya V sedang tersenyum yang membuat Rania pun ikut tersenyum tak lama kemudian.

Ana sepong lagi yah ustadz” ucap Rania yang hanya dijawab anggukan oleh V.

Pelan-pelan, Rania mulai mendekatkan wajahnya untuk mengulum batang penis itu lagi. Mulutnya membuka lalu memasukan ujung gundul penis itu yang bentuknya menyerupai kepala jamur. Dikala Rania mengulum ujungnya, lidahnya didalam merangsang lubang kencingnya yang membuat V merinding keenakan.

"Ahhhh ustadzah.... Ahhhh yahhhh" Desah V.

Rania tersenyum setelah mendengar lenguhan penuh kenikmatan dari ustadz tampan yang sedang ia kulum penisnya. Lenguhan itu membuat Rania jadi lebih bersemangat dalam menikmati kejantanan yang ada dihadapannya.

Ia pun semakin lihai, jemarinya mengocok batang penis V dikala mulutnya menempel di ujung gundulnya. Terasa cairan precum mulai keluar membasahi mulutnya. Rania mulai merasakan rasa asin di mulutnya. Ia pun melepas kulumannya sejenak hanya untuk menatap batang penis V yang semakin mengeras dihadapannya.

“Nikmat banget kontol antum ustadz” ucap Rania bernafsu yang membuatnya kembali menikmati kejantanan penis itu.

Rania mendekap penis itu lalu menjilati ujung gundulnya kemudian turun menjilati batang penisnya. Jilatannya yang terlampau nikmat membuat V sampai merinding hingga matanya memejam dan jemarinya mencengkram kuat kepala mungil ustadzahnya. Rania kembali menurunkan jilatannya sambil mengangkat batang penisnya. Nampak sisi bawah dari penis V dijilat olehnya. Jilatannya bahkan semakin liar hingga sampai ke kandung kemihnya. Baru setelah itu Rania kembali mencaplok ujung gundulnya sambil menjilatinya menggunakan lidahnya.

Rania memejam. Ia mulai memaju mundurkan kepalanya karena begitu bernafsu dalam menikmati kejantanan penis V. Walau ia tidak merasakan rasa apa-apa dari penis itu. Sensasi dalam mengulum penis seseorang menjadi kepuasan tersendiri baginya. Apalagi penis yang sedang ia kulum ini merupakan penis dari ustadz tampan yang akhir-akhir ini menjadi populer di pondok pesantren ini. Rania jadi semakin bernafsu. Bahkan ia sampai memaksa kepalanya untuk mengulum keseluruhan batang penis itu ke dalam mulutnya.

“Mmpphhh ustadzzz”

“Aaahhhh ustadzahhhh... Aaahhhhhh” desah V merinding merasakan sepongannya.

Puas memainkan batang penisnya. Rania pun menghentikan sepongannya lalu kembali berdiri menatap V. Rania tengah tersenyum tepat dihadapan V sambil membelai batang penisnya. Sontak V hanya merem melek saja sambil memegangi pinggang ramping dari ustadzah seksi itu.

“Sekarang giliran antum ustadz... Tolong puasi ana” ucap Rania pasrah merelakan tubuhnya diapa-apakan oleh V.

Naam ustadzah” ucap V langsung bergerak karena tak tahan ingin menikmati keindahan tubuh ustadzahnya. Wajahnya kembali mendekat lalu mencumbu bibir Rania dengan penuh nafsu.

“Mmmphhhh”

Kedua tangannya bergerak ke arah kemeja yang Rania kenakan untuk melepas satu demi satu kancing kemejanya. Nampak ia terburu-buru hingga salah satu dari kancing kemeja Rania sampai copot lalu jatuh ke lantai.

“Hah... Hah... Hah... Ana penasaran banget ustadzah... Ana penasaran sama ukuran susu antum... Tadi pas ana liat kok susu antum menonjol dari balik kemeja... Segede apa sih susu antum sebenarnya” ucap V setelah melepas seluruh kancing kemejanya lalu menarik lepas kait branya dengan penuh tenaga.

“Aaahhhh ustadzzz” Desah Rania dengan manja yang malah merangsang nafsu V sehingga lebih buas lagi.

“Waahhhh luar biasa ustadzah... Punya antum gede banget... Ana jadi gak tahan pengen nyusu disini” ucap V yang untuk pertama kalinya bernafsu pada seorang wanita yang lebih tua dari dirinya.

“Aaahhhh ustadzzzz” desah Rania saat merasakan gigitan ringan V saat menyusu di payudaranya. Bahkan V tidak hanya mengigitnya tapi juga memainkan lidahnya untuk membasahi putingnya yang berwarna merah muda.

“Ssllrrppp... Sllrrpppp... Sllrrppp” desah V saat menyeruput puting itu.

V mencium lalu menghisap puting susu Rania dengan penuh nafsu. Awalnya ia menyusu di payudara sebelah kirinya lalu berpindah ke payudara sebelah kanannya. Lagi, ia mengincar payudara sebelah kiri lagi sebelum ia berpindah ke sisi kanan lagi. V terus melancarkan serangan bertubi-tubi karena tak tahan lagi pada bentuk payudaranya yang tidak jatuh tapi kencang menghadap ke depan.

“Ustadzzz... Aahhhh... Ahhhh iyyahh... Terusss ustadzzz... Aaahhh” Desah Rania keenakan. Seketika ia terkejut saat roknya diangkat oleh V lalu celana dalamnya dimasuki oleh jemari V tatkala V mengincar lubang kenikmatannya

“Mmpphhh... Nikmat banget ustadzahh... Mmpphh puas banget rasanya bisa nyusu sambil ngobok-ngobok memek antum” ucap V bergairah saat merasakan kenikmatan double yang sedang didapatkannya.

“Aahhhh iyyahhh ustadz... Terusss... Terusss.... Aahhhhh” desah Rania merinding nikmat.

Terasa jemari tangan V masuk membelah liang senggamanya. Jemari itu mengorek-ngorek isi di dalamnya. Jemari itu menggelitiki dinding vaginanya yang membuat pemiliknya blingsatan tak karuan. Belum lagi saat payudaranya dijilat oleh lidah V. Lidah itu bermain-main dengan membasahi keseluruhan putingnya. Lalu mulutnya membuka hanya untuk mencaplok keseluruhan payudara itu walaupun ia tahu, ia tidak mungkin mampu memasukan keseluruhan payudara itu ke dalam mulutnya. Namun V sangat bernafsu sehingga melakukannya lagi di payudara satunya.

Ketika jemari kanannya mengobel-ngobel liang senggama Rania. Maka tangan kirinya mencengkram bokong sekelnya sehingga membuat pemiliknya geleng-geleng kepala karena tak mempercayai kenikmatan yang didapatkannya. Apalagi saat jempol V tengah menekan biji klitorisnya yang membuat Rania mengerang disaat payudaranya masih dijepit oleh mulut V dengan penuh nafsu.

“Aahhh ustaaadzz... Aaahhh... Aahhhh” desah Rania keenakan.

“Nikmat banget ustadzahh... Nikmat bangett... Ana jadi gak tahan pengen genjot memek antum sekarang” ucap V tak tahan lagi setelah melepas cumbuannya.

“Hah... Hah... Sama ustadz... Ana juga gak sabar pengen digenjot antum” ucap Rania yang terus menggodanya hingga membuat V tidak tahan lagi.

“Kalau gitu ana mulai yah” ucap V sambil mengangkat salah satu kaki Rania lalu menempelkannya ke pinggulnya.

“Iyya ustadz... Buruan” ucap Rania sambil melingkarkan tangannya ke belakang leher V.

Jleebbb !

“Uuuuhhhh usttaadzzz” Jerit Rania dengan nikmat karena penis itu begitu kesulitan untuk menjebol liang senggamanya. Rania merasa aneh, padahal tiap kali ia bercinta, lawan mainnya tidak terlalu kesulitan dalam memasukan batang penisnya ke dalam rahimnya. Tapi kenapa saat V yang melakukannya, ia malah kesulitan ? Apa jangan-jangan karena ukuran penis V yang terlampau besar dibandingkan ukuran lubang kenikmatannya ?

Rania merinding. Ia pun menenggak ludah karena tak sabar dengan tusukan selanjutnya yang akan V berikan.

“Uhhhhh sempit banget ustadzaahh... Coba ini... Hennkghhh !!!” desah V saat mendorong paksa pinggulnya namun baru memasuki setengahnya saja.

“Aaahhhh ustaadzz... Pelaannnn” desah Rania tanpa sadar.

“Hehe enak kan ustadzah... Tapi sebentar, kontol ana masih belum masuk semua... Ana dorong lagi yah... Hennkgghhh !!!”

“Kurang... Henngkkhhh !!!”

“Lagi... Hennkghhh !!!” desah V terus menerus mendorong pinggulnya hingga akhirnya baru bisa memasukan keseluruhan penisnya.

“Aahhhhhhhhhhh !!”

“Aaahhhh”

“Aaahhhh ustaaadzzz !!!” Jerit Rania berulang kali saat V terus menerus menggempur vaginanya menggunakan penis besarnya.

Rania sampai merasakan ngilu di vaginanya. Ia benar-benar merasa seperti dimasuki oleh penis seorang monster. Penis V rasanya seperti batang besi yang amat sangat keras. Rania geleng-geleng kepala. Betul-betul pengalaman yang tak dapat dilupakan olehnya.

“Ouhhhh... Ouuuhhh... Puas sekali ana ustadzah !” jerit V tersenyum sambil menatap wajah Rania yang kelelahan.

“Hah... Hah... Hah... Antum tega banget sih ustadz” ucap Rania sambil tersenyum malu.

“Hahaha... Ana harus tega supaya antum bisa merasakan kenikmatan yang lebih daripada ini” ucap V tersenyum sambil mengecup pelan bibirnya yang membuat Rania tersipu dengan sikap yang V tunjukkan.

V mendiamkan penisnya sejenak agar Rania pelan-pelan dapat beradaptasi dengan penis baru yang masuk ke dalam vaginanya. Sembari menunggu, V meremas-remas bongkahan pantat Rania sambil menikmati keindahan wajah yang ada di hadapannya. V terus menatap wajah indah Rania yang membuat Rania lama-lama merasa malu saat ditatap seperti itu oleh V. Rania tersenyum. Ia kemudian mengangkat wajahnya untuk berbicara dengan V.

“Ayo dong ustadz... Ana udah siap nih pengen digenjot lagi” ucap Rania mengejutkan V yang rupanya sudah tak sabar ingin digenjot olehnya.

“Hahaha iyya... Iya ustadzah” ucap V yang akhirnya mulai menggerakan pinggulnya lagi.

"Uuuuhhhh.... Uuuhhh" Desah Rania dikejutkan oleh gerakan pinggul V yang mulai menumbuk-numbuk vaginanya. Gerakannya cenderung pelan sehingga Rania dapat merasakan gesekan nikmat yang didapat di dinding vaginanya.

“Gimana ustadzah ? Mau dipercepat ? Apa kayak gini dulu” ucap V sambil menatap wajah Rania dengan jarak yang begitu dekat.

“Dipercepat dong ustadz... Yang kuat... Yang keras” ucap Rania mengejutkan V.

“Hahaha antum ini emang ustadzah binal yah... Kirain antum suka yang pelan-pelan dulu biar bisa beradaptasi... Rupanya antum ini ustadzah yang doyan hardcore yah ?” ucap V yang membuat Rania tersenyum malu.

“Iyya ustadz... Ana paling suka kalau digenjot sama orang yang bisa bikin ana puas... Ana paling suka direndahin... Ana paling suka disebut lonte atau apalah karena itu yang bikin ana bergairah saat digenjot sama seseoarang” ucap Rania mengejutkan V.

“Ohhh gitu yah... Kalau gitu, boleh gak ana nyebut antum sebagai lonte berhijab ?”

“Uuuhhh boleh ustadz... Boleh bangettt” ucap Rania bergairah apalagi sambil mendengar kalimat yang diucapkan oleh V.

“Ouuhhh gak nyangka banget ana... Beruntung banget ana bisa bercinta dengan seorang lonte berhijab seperti antum” ucap V tersenyum.

“Aahhh sama ustadz... Tapi tolong... Jangan ucapin kata sopan kayak gitu... Tolong bilang ngentot aja ustadz... Ana lebih puas kalau antum bilangnya begitu” ucap Rania yang membuat V geleng-geleng kepala tak percaya.

“Hahaha maaf ustadzah... Yaudah ana perkuat yah genjotan ana... Biar ana bisa puas saat ngentot dengan lonte rendahan kayak antum” ucap V yang membuat Rania merinding mendengarnya.

“Aahhh iyya ustadz... Tolonggg... Tolongg puasi ana... Jadikan ana apapun ustadz, budak juga gapapa... Asal ana bisa menikmati kontol antum terus” ucap Rania semakin terangsang setelah mendengar ucapan perendahan dari V.

“Aahhhh iyyah ustadzahh... Rasakan ini... Rasakan kontol ana ini !” ucap V terbawa suasana sehingga semakin bernafsu saat memuasi akhwat berhijab tersebut.

“Aahhh iyahhh... Iyyahhh ustadz” ucap Rania mendesah puas.

V mulai mempercepat gerakan pinggulnya sambil menikmati wajah Rania yang semakin terlihat binal setelah meminta kepuasan darinya. Gerakan penisnya semakin kencang, semakin cepat, semakin tajam dan semakin kuat saat keluar masuk di dalam vaginanya. Nafas V sampai berhembus mengenai wajah Rania. Begitu juga sebaliknya. Desahan Rania mengenai wajahnya. Rania bernafsu. Wajahnya itu tampak menggairahkan bagi V sehingga V mempercepat hujamannya menembus rahim Rania. Terlihat mata Rania merem melek keenakan, sedangkan bibirnya terbuka sedikit sehingga membuat V semakin gemas untuk menyetubuhi kemaluannya yang begitu rapat

"Ahhh ahhh ustadzzz.... Ouhhhh ustadzzz ahhhhhh" Desah Rania yang membuat V merinding.

"Ahhh ustadzah... Ouhhh sempittnyaaa... Sempit banget memek nistamu ini ustadzah" Desah V dengan puas.

“Aaahhh iyyahh ustadz... Aahhhh... Tolongg lebih keras lagii... Yangg kuat ustadzz” pinta Rania yang membuat V reflek menurutinya.

Dikala V mempercepat hujamannya. Ia terkejut saat tiba-tiba kepalanya ditarik oleh Rania ke arah bibirnya. Rupanya Rania ingin mencumbunya. V pun memejam saat bibirnya dilumat habis oleh Rania yang tak tahan lagi setelah digenjot habis-habisan oleh V.

“Mmpphhh... Mmphhh”

V menghela nafasnya sambil memejamkan mata saat menikmati bibir tipis Rania. V sampai bertanya-tanya, mimpi apa dia semalam sampai-sampai ia bisa menikmati persetubuhan ini dengan seorang ustadzah yang juga merupakan istri dari pak Kiyai. Padahal daritadi ia gelisah karena takut dirinya akan dikeluarkan dari pesantren ini. Tapi sekarang ? Alih-alih dirinya yang dikeluarkan mungkin malah pejuhnya yang akan dikeluarkan oleh ustadzah binal ini.

Ditengah rasa kepuasan saat bersetubuh juga bercumbu. Rania melepaskan cumbuannya dengan perlahan hingga ada liur yang melekat diantar bibir mereka. Liur itu seolah mengisyaratkan kalau bibir mereka tidak boleh berpisah. Bibir mereka harus selalu mendekat agar kepuasan bisa mereka dapat.

Pelan-pelan V mengurangi efek genjotannya karena terbuai oleh keindahan yang ada pada wajah Rania. Nampak Rania tersenyum. V jadi ikut tersenyum setelah melihat senyum indah Rania.

“Capek gak ustadz ? Biar ana yah sekarang yang goyang antum ?” pinta Rania yang membuat V segera menganggukan kepala.

“Ayo ustadz duduk di sofa... Capek kan berdiri terus dari tadi hihihi” tawa Rania yang seolah menghipnotis V sehingga ustadz tampan itu langsung duduk di sofa panjang yang berada di ruang tamu rumah pak Kiyai.

V pun duduk. Nampak penisnya mengacung tegak yang membuat mata Rania tersihir akan pesonanya. Pelan-pelan Rania memelorotkan roknya. V pun tak tahan sehingga ia mengocok penisnya sambil menanti langkah apa yang akan dilakukan oleh Rania setelah ini.

Ustadzah pesantren yang kini tinggal mengenakan kemeja yang tanpa dikancingkan itu mendekat ke arah V. Sambil malu-malu, istri dari pak Kiyai itu menaiki pangkuan V lalu tangan kirinya memegangi penis yang terlanjur menegak itu sambil pelan-pelan mengarahkannya ke lubang vaginanya. Rania pun menatap wajah V. V membalas tatapan Rania dengan memberikan reaksi keenakan saat ujung gundulnya digesek-gesek ke bibir vaginanya.

“Ustaaadzz... Antum puas gak ?” tanya Rania mengejutkan V.

“Aahhhh... Aaahhh puas banget ustadzah... Uuuhhh merinding ana jadinya” ucap V yang membuat Rania tertawa.

“Sama ustadz... Ana juga puas kok... Mmpphhh puas banget malah... Ana gak pernah sepuas ini saat bercinta sebelumnya.

“Aahhhhh ustadzahh... Bukan bercinta... Tapi ngentot” ucap V yang membuat Rania malu.

“Hihihihi betul ustadz... Ngentot” ucap Rania malu-malu sambil menurunkan tubuhnya melahap batang penis itu menggunakan liang senggamanya.

“Uuuuhhhh ustaaadzzzz” Desah Rania dengan manja saat dimasuki oleh penis perkasa itu lagi.

“Aaahhhhh ustadzaahhhh” desah V dengan puas saat kembali memasuki lubang senggamanya.

Rania dengan malu-malu menaruh kedua tangannya di bahu kanan kiri V. Sedikit demi sedikit Rania mulai mengangkat tubuhnya untuk menikmati aksi goyangannya diatas pangkuan V.

“Uuuhhh ustaaadzz... Gede banget sih kontol antum” desah Rania sambil menatap wajah V.

“Aaaahhhhhh... Sengaja ustadzah... Buat muasin lonte berhijab kayak antum” ucap V yang membuat Rania tersenyum penuh kepuasan.

Rania mempercepat gerakan pinggulnya setelah dilecehkan oleh V. Kadang ia mengangkat pinggulnya, ia mengangkatnya hingga ujung gundul penis itu nyaris terlepas dari dalam vaginanya. Saat ia menurunkan pinggulnya ia membiarkan penis itu menusuk hingga menyentuh rahimnya. Kenikmatan yang ia rasakan membuat Rania semakin bernafsu pada persetubuhan ini. Ia pun semakin bergairah. Ia ingin melampiaskan semua nafsu yang tertahan di dalam tubuhnya.

"Ahhhh ahhhh... Ahhh ustaadzz" Desah Rania sambil menaik turunkan tubuhnya sambil menggantungkan lengan di leher V.

"Ahhh ahhh ahhhh ustadzaahh... Mantaappp" Desah V sambil menatap wajah sangek Rania dihadapannya. Karena tak tahan, V memejamkan mata sambil mendekatkan bibirnya yang langsung disambut oleh Rania dengan cumbuan.

“Mmpphhh... Mmpphhh... Mmpphhh” Desah mereka berdua dikala bercumbu dan mengadu nafsu.

Nafsu yang sudah memuncak membuat mereka melupakan segala hal yang melekat pada diri mereka berdua. Rania tak peduli lagi dengan statusnya sebagai istri dari pak Kiyai. V tak peduli lagi dengan nasibnya yang terancam dikeluarkan dari pesantren ini. Mereka hanya peduli pada satu hal. Yakni pelampiasan nafsunya yang semakin dekat dengan pembebasan.

"Ahhhh ahhhh Ustaadzzz... Ana mauuu... Ahhhh Mmmpphh" Desah Rania disela-sela percumbuannya.

"Ahhhh iyyahh mmpphhh... Ana jugaa... Ana juga gak tahannn lagi ustadzahh" Desah V melepas cumbuannya.

Rania menegakkan tubuhnya hingga dadanya yang besar itu terpampang dihadapan wajah V. V sampai gemas saat menikmati goyangan pinggul Rania ditambah dengan goyangan payudaranya yang gondal-gandul dihadapan wajahnya. Kedua tangannya ia naikan untuk meremas dada bulat itu yang membuat Rania semakin bersemangat untuk bergoyang diatas pangkuannya.

"Ahhhh ustaaddzz... Ahhhh ahhhh ahhhh" Desah Rania.

"Ahhhh uustadzaahhh... Uuuhhh puas banget... Puas bangettt" Desah V sambil meremasi dada bulat itu.

Rania mempercepat goyangannya. Kadang ia naik turun kadang ia geser kanan lalu ke kiri kadang ia melakukan gerakan memutar kadang goyangannya cuma ia maju mundurkan. Gerakan tak beraturan yang Rania lakukan membuat penis V terasa seperti di aduk-aduk oleh liang senggamanya. V semakin tak tahan. Jemarinya memeluk erat tubuh Rania kemudian mendekatkannya sehingga dada Rania terdorong ke arah wajahnya.

“Mmpphhh ustadzaahhh... Ana kelluuaarrrr” desah V sambil menyusu di puting indah Rania

“Mmpphh iyyahhh ustaadzz.. Samaa... Ana jugaaaaa” desah Rania menyusul tak lama kemudian.

Crrotttt croottt croottt !!!

Rania memejam nikmat dikala vaginanya disirami oleh cairan cinta V. Ia juga menjerit nikmat dikala ia mendapatkan orgasmenya beberapa detik kemudian. Tubuh Rania mengejang, matanya merem melek penuh nikmat dan tubuhnya blingsatan merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Terlihat tubuh Rania kelojotan hingga terantuk-antuk di tubuh telanjang V. V juga sama, bibirnya terus menyeruput puting Rania sehingga pemiliknya semakin mendapatkan kenikmatan yang tidak terduga.

Mereka berdua lemas, mereka berdua puas dan mereka berdua tersenyum dengan gemas. Sambil memeluk tubuh polos V. Rania terengah-engah merasakan sisa-sisa orgasme ternikmatnya ini. Apalagi V masih betah menyusu di payudaranya. Semakin nikmatlah kepuasan yang Rania dapatkan. Rania tersenyum. Ia pun memasrahkan tubuhnya lalu membiarkan V melakukan sepuasnya pada tubuh telanjangnya.

Puas menyusu, kemeja yang Rania pakai dilepas oleh V. Pelan-pelan V mengangkat tubuh Rania sehingga penisnya terlepas dari dalam lubang vaginanya. Nampak lelehan spermanya keluar membasahi penisnya dan beberapa bulu jembutnya. Rania pun ditidurkan di sofa panjang yang ada disebelahnya. V ikut menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh telanjang Rania. V menikmati ketelanjangan Rania dengan menjilati tubuh beningnya dan mencumbui gunung kembarnya.

“Mmpphh gimana ustadzah ? Ustadzah udah punya keberanian belum buat bicara ke pak Kiyai ?” tanya V tersenyum sambil menjilati dada Rania dan tangannya meremasi buah dada yang satunya.

“Mmpphh udahh ustadzz... Mmpphhh” desah Rania keenakan.

“Kalau gitu makasih yah udah mau bantu... Makasih juga udah diberi kepuasan kayak gini... Jujur ana puas banget ustadzah... Antum juga binal banget... Gak nyangka ana” ucap V yang membuat Rania merasa malu.

“Hihihi sama-sama ustadz... Jujur ana juga puas kok... Makasih yah” ucap Rania yang membuat V tersenyum puas.

“Oh yah ustadz” ucap Rania saat dijilati dadanya oleh V.

“Ada apa ustadzah... Mmpphhh” kata V yang masih menikmati gunung kembar Rania. Jilatannya itu sudah sampai di puncak gunung kembarnya. Lidahnya merangsang susu kanan Rania dan gelitikan jemarinya merangsang susu kiri Rania.

“Sekarang udah masuk masa subur ana loh... Hihihi” ucap Rania dengan binal yang membuat V tersedak payudaranya.

Antum ? Masa subur ?” ucap V terkejut sambil menatap wajah indah Rania.

Rania hanya tersenyum malu. Ia pun mendekatkan wajah V untuk dapat merasakan cumbuannya lagi.

“Mmppphhh iyyah ustadz... Moga aja jadi yah” ucap Rania yang membuat V deg-degan membayangkan sesuatu yang tidak-tidak saat dicumbu oleh Rania.


*-*-*-*


Beberapa menit kemudian

"Aduh... Hampir aja jatoh" Ucap V yang kesulitan untuk melangkah karena kakinya terlalu lemas setelah memuasi istri dari pak Kiyai. Ia tak menyangka kalau dirinya bisa mendapatkan kesempatan langka ini. Kesempatan untuk bersenggama dengan istri dari pak Kiyai. Tapi ia agak menyesal karena tidak dari dulu dirinya mendatangi Rania untuk meminta jatah darinya. Lagipula ia masih penasaran dengan cerita dari Rania tadi.

"Emang beneran yah ustadzah Rania pernah bersetubuh dengan tukang sayur sama tukang sampah disini ?" Ucap V meragukannya.

"Soalnya selama aku disini... Gak pernah tuh ngeliat tukang sayur keliling apalagi tukang sampah" Ucap V dalam perjalanan pulangnya menuju asrama.

Ditengah perjalanan pulangnya. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. V telingak-telinguk. Wajahnya ia tolehkan kesana dan kesini untuk mencari sumber dari suara yang tidak asing itu.

"Eh Haura" Ucap V saat melihat ustadzah cantik yang berlari mendekatinya.

"Gimana ? Kamu gak jadi di keluarin kan ? Hah... Hah... " Tanya Haura khawatir akan nasib rekan kerjanya.

"Belum tau nih Ra" Jawab V yang malah merinding setelah mendengar hembusan nafas Haura yang seperti desahan.

"Loh kok gak tau ? Tadi itu apa dong ?" Tanya Haura heran.

"Iyya anu" Ucap V kebingungan untuk menjawab apa. Gak mungkin kan ia menjawab kalau tadi dirinya baru bercinta dengan Rania ?

"Tadi ustadz... Eh pak Kiyai cuma baru mengevaluasiku kok... Jadi beliau masih menimbang ini itu tentang kasus aku kemarin" Ucap V berbohong.

"Alhamdulillah... Jadi ada kesempatan kamu gak dikeluarin kan ?" Tanya Haura merasa sedikit lega.

"Ya semoga aja" Jawab V tersenyum yang membuat Haura juga tersenyum menatapnya.

"Dasar, bikin khawatir aja... Yaudah aku mau lanjut bersih-bersih dulu... Jangan sampai keluar loh yah" Ucap Haura tersenyum malu saat hendak kembali ke rumahnya.

"Iyya" Jawab V tersenyum sambil memandangi sisi punggung Haura yang semakin jauh darinya.

Senyum manisnya yang tadi menyapa membuat V selalu terngiang-ngiang akan keindahannya. Senyum manis itu seolah menghantui pikirannya sehingga ia selalu mengingat-ngingatnya di dalam pikirannya.

"Oh yah Haura" Panggil V saat teringat sesuatu.

"Eh, ada apa V ?" Tanya Haura sambil menolehkan wajahnya yang membuat V terpesona sesaat.

"Ehh itu... Hehe... Antum kalau beli sayur biasanya dimana yah ?" Tanya V.

"Sayur ?" Tanya Haura heran.

"Maksudnya antum kan selama ini masak sendiri ? Itu kalau beli bahan-bahannya dimana yah ?" Tanya V sekali lagi yang baru dipahami Haura.

"Ohh itu... Kan ada yang keliling V" Tanya Haura mengejutkan V.

"Eh ada orang keliling ?" Tanya V sekali lagi.

"Iyya biasanya tukang sayur itu setiap pagi jam enaman suka mangkal disekitar sini... Tapi gak tau deh akhir-akhir ini kenapa suka mangkal di depan rumah pak Kiyai" Ucap Haura mengejutkan V.

"Eh itu beneran ?" Tanya V lagi.

"Iya... Kenapa sih ? Kok nanyain tukang sayur" Tanya Haura heran.

"Eh gapapa kok hehe" Jawab V pikirannya traveling.

"Dasar... Aneh deh... Yaudah yah ana mau bersih-bersih lagi" Ucap Haura yang langsung bergegas menuju rumahnya.

V jadi merenung. Ia mengingat-ngingat cerita yang dikisahkan ustadzah Rania.

"Jadi itu beneran dong ?" Lirih V membayangkan hal yang tidak-tidak.

Tak berselang lama, lewat dua orang santri yang mengenakan kaus berlengan pendek serta celana training panjang yang sedang menarik sebuah gerobak berisi sampah-sampah yang diambilnya dari setiap tong sampah yang ada di penjuru pesantren.

Seketika V terdiam sambil mengamati tubuh mereka berdua yang kekar-kekar.

Ustadzah Rania ?

Batin V tak sengaja membayangkan wajah mereka yang awet tua tengah berada di sisi kanan kiri ustadzah Rania.


*-*-*-*


Keesokan harinya di pagi hari.

"Hah... Hah... Hah" Desah seorang ustadzah yang terengah-engah sambil menundukan tubuhnya seperti seseorang yang sedang melakukan gerakan rukuk.

Keringat yang ada di dahinya menetes jatuh mengenai tanah yang ada di bawahnya. Ia pun mengeluarkan sapu tangan yang ia simpan di saku celananya. Ia tersenyum. Ia pun bangkit berdiri setelah merasakan enteng di tubuhnya. Tubuhnya jadi terasa ringan. Ia merasa senang setelah melakukan lari pagi bersama teman-teman ustadzahnya.

"Hah segernya" Ucap ustadzah cantik itu saat berjalan pulang melewati beberapa orang santri yang masih belajar untuk menghadapi ujiannya yang tersisa dua hari lagi.

Namun tanpa disadari olehnya, beberapa santri itu kedapatan mencuri-curi pandang ke arah tubuh langsingnya yang hanya ditutupi oleh kaus ketat yang untungnya terlapisi oleh jaket sporty yang biasa dikenakan olehnya. Meski demikian, samar-samar mereka masih dapat melihat lekuk tubuhnya yang terbentuk akibat olahraga rutin yang biasa dilakukannya. Celana trainingnya juga, meski celana itu menutup rapat kaki jenjangnya. Semua santri itu masih dapat melihat lekukannya yang membuat mereka hanya bisa geleng-geleng kepala pada keindahan yang melekat di tubuhnya.

Sebagai seorang istri dari salah satu ustadz yang merupakan kerabat dari pak Kiyai. Ustadzah bernama lengkap Khansa Haura Dzakiyya Putri itu berkesempatan tinggal di perumahan ustadz senior. Perumahan yang berhak ditempati oleh kerabat-kerabat pak Kiyai juga oleh beberapa pengajar yang sudah menikah di pondok pesantren ini.

Haura pun sampai di depan rumahnya setelah berjalan sekitar 5 menit dari tempat terakhir ia berlari. Haura merasa lega setelah sampai. Ia pun buru-buru menjatuhkan bokongnya di tepi lantai teras sambil melepaskan sepatu sekaligus kaus kaki olahraganya. Sebagai pecinta kerapihan, Haura meletakkan sepatu itu di raknya sekaligus kaus kakinya yang ia masukan ke lubang sepatunya.

"Assalamu'alaikum, eh" Ucap Haura terkejut saat melihat rupanya ada seseorang selain suaminya yang berada di rumah.

"Walaikumsalam dek" Jawab suaminya dengan tenang.

"Afwan yah ustadzah... Ana mau pulang dulu... Wassalamualaikum" Ucap seorang santri tampan yang sudah membereskan buku-buku pelajarannya. Santri itu pun keluar dari rumah meninggalkan Hendra sendirian bersama istri cantiknya.

"Mass... Kok Iqbal sampai masuk sih ? Ini kan rumah kita... Ini privasi kita... Kan bisa belajarnya di teras rumah ?" Ucap Haura protes.

"Iya gapapa kali dek... Sekali-sekali aja kok" Ucap Hendra beralasan.

"Ihhhh sekali-kali gimana ? Gak etis tau namanya" Ucap Haura merasa kesal.

"Hahaha iyya maaf deh... Jangan marah-marah dong dek... Nanti cantiknya luntur loh" Ucap Hendra yang membuat Haura tak mampu menahan senyumnya.

"Ihhhh orang lagi marah malah digombalin... Ngeselin deh" Ucap Haura menyilangkan tangan di dada. Haura bahkan sampai membalikan badan karena malu akibat tersenyum disaat marah.

"Maaf dek... Habis mas kan gak kuat kalau liat amarahnya adek... Mending kan adek senyum aja, bener kan ? Biar makin cantik... Biar mas makin sayang sama adek" Gombal Hendra tuk kali kedua yang membuat Haura lama-lama luluh juga. Hendra bahkan memeluk Haura dari belakang yang membuat istrinya itu tidak sanggup marah lagi kepada suaminya.

"Terserah deh... Pokoknya jangan bawa orang lain masuk loh yah... Ini privasi kita sebagai pemilik rumah" Ucap Haura sambil tersenyum yang hanya dijawab anggukan kepala oleh suaminya.

"Siap bos" Ucap Hendra sambil mengecup pipi istri cantiknya.

"Makasih" Jawab Haura tersenyum sambil membelai tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.

"Duh keringetan gini... Mau mandi gak ? Yuk" Ucap Hendra setelah melihat ke arah jam dinding rumahnya.

"Dah mau jam setengah tujuh yah ? Yaudah deh yuk... Eh, mas mandi ? Adek juga ?" Tanya Haura baru sadar.

"Iya dek... Mau mandi bareng gak ? Udah lama kan kita gak mandi bareng ? Apa masih malu nih kayak dulu ?" Ucap Hendra teringat saat mandi bareng untuk pertama kalinya setelah menikah.

"Ngapain malu, orang sama suami sendiri" Ucap Haura malu-malu menyetujui.

"Asyikkkk bisa liat adek telanjang lagi dong" Ucap suaminya yang membuat Haura tersipu.

"Biasa aja kali... Yuk ah biar nanti ngawasnya gak telat" Ucap Haura malu-malu sambil menarik tangan suaminya.

"Aduhh tangan mas sampai ditarik-tarik gini... Ada yang gerah kayaknya... Pengen cepet-cepet mandi" Ucap Hendra terus menggoda istrinya yang membuat Haura sendiri gemas ingin mencubit lengannya.

Haura merasa bahagia karena bisa merasakan kemesraan lagi bersama suaminya. Entah kenapa belakangan ini, ia merasa kalau kehidupannya membaik dibandingkan sebelumnya. Ia jadi teringat kata yang diucapkan pak Karjo saat di gedung yang belum jadi itu.

Perihal seks itu simpel, yang penting kita sama-sama puas... Lagipula ustadzah gak perlu jadi milik saya kok... Ustadzah tetap menjadi milik ustadz Hendra... Tapi, kalau ustadzah butuh kepuasan maka datanglah ke saya supaya saya bisa memuasimu kapanpun dan dimanapun itu.

Seperti kata-kata itu. Haura tidak perlu bingung ketika suaminya tidak mampu lagi memuasinya. Ada pejantan tangguh yang siap memuasinya untuk melampiaskan nafsu birahinya tanpa perlu berpindah hati karena hatinya tetap ada untuk suaminya. Sebaliknya ketika ia ingin bermanja-manja, ada suaminya yang belakangan ini mulai kembali perhatian seperti awal-awal pernikahan. Suaminya tidak lagi cuek. Ia kembali merasakan perhatian dari suaminya. Meski suaminya masih mempunyai minus di penisnya. Ada penis hitam nan kekar di luar sana yang bisa memuaskannya kapanpun Haura memintanya.

Mereka berdua memasuki kamar mandi. Jaket sporty yang Haura kenakan tadi di lepas. Kaus ketat yang membungkus tubuhnya juga dilepas. Tak ketinggalan hijab serta celana trainingnya juga dilepas. Dalam sekejap ustadzah berambut pendek sebahu itu tinggal mengenakan pakaian dalam di hadapan suaminya. Haura jadi malu apalagi saat suaminya yang berwajah tampan dan berjanggut tebal itu juga mulai menelanjangi dirinya.

Tubuh Hendra yang agak gemuk itu mulai terlihat. Nampak perut buncitnya terlihat. Nampak paha gemuknya terlihat. Saat Hendra tinggal mengenakan celana dalam saja. Haura melihat ada sesuatu yang aneh pada penis halalnya. Haura melihat sesuatu yang tak biasa disana.

"Loh mas... Punya mas lagi berdiri yah ?" Tanya Haura tersenyum senang sambil menatap wajah suaminya.

"Masa sih ? Coba bukain dek" Ucap Hendra dengan manja yang membuat Haura malu-malu memelorotkan celana dalam suaminya itu.

Saat celana dalam itu diturunkan. Haura tersenyum senang. Ia langsung memegang tongkat halalnya lalu menatap wajah suaminya.

"Keras mas ? Kok bisa ?" Tanya Haura bahagia.

"Hehe mungkin karena ngeliat adek makin cantik makanya bisa sekeras ini" Ucap Hendra malu-malu.

"Ihhhh seriusan ? Mas gak make obat-obatan herbal atau apalah gitu ?" Tanya Haura penasaran.

"Enggak dek" Ucap Hendra sambil geleng-geleng kepala.

"Hihihi alhamdulillah... Adek kocok boleh ?" Tanya Haura gemas karena melihat tongkat halal suaminya.

"Ehhh tapi nanti kalau keluar duluan gimana ? Mas takut adek kecewa" Ucap Hendra yang sadar akan kekurangannya.

"Gapapa mas... Yang penting adek gemes mau mainin.... Boleh yah ?" Tanya Haura saat di kamar mandi itu.

"Yaudah gapapa... Tapi syaratnya adek harus telanjang juga... Mas mau ngeliat sesuatu yang udah dihalalkan buat mas" Ucap Hendra menggombal yang membuat Haura tersenyum senang.

"Bukain" Ucap Haura dengan manja sambil melebarkan kedua tangannya seolah pasrah.

"Dasar manja banget yah... Mas gigit baru tau rasa nih" Ucap Hendra yang membuat Haura tertawa.

"Hihihi mau dong digigit mas" Goda Haura yang membuat Hendra merinding mendengarnya.

"Mas gigit susunya nanti" Ucap Hendra sambil menoel hidung mancung istrinya.

Haura hanya tertawa. Ia yang sudah telanjang bulat langsung berjongkok untuk memainkan tongkat halalnya.

"Uhhhhh dekkk" Desah Hendra saat merasakan sentuhan lembut dari istri cantiknya.

"Keras banget ini mas... Ihhh beneran deh... Mas, ini keras" Kata Haura bahagia saat mengocok batang penisnya.

"Aaahhhh... Aahhhh... Iyya, tau adek... Uuuhhh enak banget dekkk... Uuhhhhh" Desah Hendra kegirangan.

"Hihihi adek jadi gemes deh sama kontol mas... Adek emut yah" Ucap Haura sambil membuka mulutnya.

"Iyya dek... Aaaahhh nikmatnyaaaa" Desah Hendra keenakan.

Haura mengulum batang penis itu. Bibirnya mengatup rapat batang penis yang sudah dihalalkan untuknya. Awalnya bibirnya hanya menjepit ujung gundulnya saja. Sementara tangan kanannya membetot batang penisnya lalu mengocoknya maju mundur secara teratur.

"Ouuhhh... Uhhhhh.... Uhhhhh dekkk" Desah Hendra blingsatan.

"Mmpphh nikmat banget mass... Mmpphh adekk sukaa... Mmpphh" Desah Haura puas saat memainkan penis halal suaminya.

"Uuuhhh iyyahh dekk... Lagii... Lagiii" Desah Hendra begitu puas. Matanya sampai memejam. Ia pun memikirkan kejadian itu.

"Mmpphh iyyahhh mass... Mmpphh enak banget mas... Adek suka" Goda Haura saat mengulum penisnya.

Kepalanya maju mundur secara teratur. Bibirnya konsisten dalam menjepit batang penis suaminya. Lidahnya di dalam berkeliaran menyapu setiap ujung gundul yang tersumpal di dalam mulutnya. Lidahnya menggelitiki area disekitar lubang kencingnya. Nampaknya Haura sudah paham setelah belajar berbulan-bulan kepada pak Karjo. Haura pun memejam. Ia nampak menikmati mainan barunya meski mainannya ini sudah dibeli sejak lama.

"Mmpphh massss" Desah Haura mulai memasukan penisnya lebih dalam lagi ke dalam mulutnya.

Haura menyantap setengah dari batang penis suaminya. Haura melakukannya tanpa bantuan kedua tangannya yang ada di kanan kiri paha suaminya. Dikala kedua tangannya menahan berat badannya pada paha suaminya. Mulutnya ia paksa maju hingga kerongkongannya terdorong oleh ujung gundul suaminya. Haura terus memaksanya. Ia benar-benar puas saat menikmati penis yang bentuknya gemuk itu.

"Mmpphh" Haura kemudian meletehkannya lalu memasukannya lagi ke dalam mulutnya. Ia meletehkannya lagi untuk mengocoknya sesaat. Lalu ia memasukannya lagi ke dalam mulutnya bahkan memaksanya hingga mentok ke dalam. Haura berhasil menelan keseluruhan penis dari suaminya itu.

"Aaaahhhh dekkk... Mmpphhh" Desah Hendra blingsatan.

Baru setelah itu Haura memuntahkannya kemudian menelannya lagi. Tapi ia terkejut karena tiba-tiba pinggul suaminya bergerak maju mundur di mulutnya.

“Mmpphh” Haura sadar bahwa suaminya tidak tahan setelah penisnya ia kulum habis-habisan.

"Ouuuhh... Nikmat banget dekk... Ouhh mantep banget mulutmu dek" Ucap Hendra yang tak tahan sehingga pinggulnya langsung bergerak menggenjot mulut istrinya.

“Mmpphh mas... Masss...” desah Haura terkejut saat mulutnya digenjot oleh penis keras suaminya.

"Iyya dekkk... Kenapaaa... Uhhhh... Uhhhh" Desah Hendra tak terlalu peduli karena ia sedang menikmati lubang mulut istrinya.

“Jangannn... Jangann lewat mulut maasss" Desah Haura sambil memejam.

Tapi Hendra tak peduli. Pinggulnya bergerak maju mundur. Penisnya di dalam bolak-balik secara teratur. Terasa gesekan dari rongga mulut istrinya merangsang kulit penisnya. Kulit penisnya itu semakin basah hingga memudahkannya untuk keluar masuk dengan begitu cepat.

"Mmpphh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura sambil menahan genjotan suaminya.

Genjotan suaminya yang awalnya pelan lama-lama semakin cepat. Gesekan yang dirasakan pun semakin nikmat. Terutama bagi Hendra. Baik Hendra maupun Haura sama-sama terengah-engah ditengah persetubuhan yang semakin mantap. Kepala Haura terdorong maju mundur. Pinggul Hendra berpacu tanpa pernah mengendur. Nampak wajah Haura kesulitan dalam menahan tusukan penis suaminya yang begitu tega.

Padahal Haura ingin mencicipi penis suaminya yang sedang mengeras. Vaginanya ingin dimasuki penis suaminya yang sedang mengeras. Ia ingin membandingkannya dengan penis V dan penis pak Karjo. Tapi nampaknya percuma, karena ia sadar. Ia tidak akan bisa mendapatkannya di pagi hari ini.

"Aahhh... Aahhh... Aahhh... Dekkk, mas mau keluar" Ucap Hendra mengejutkan Haura.

"Mmpphh... Mmpphh" Sepertinya perasaannya benar. Ia tidak bisa mendapatkan kenikmatan orgasme dari suaminya sekarang. Ia pun memilih memejam untuk memasrahkan semuanya pada genjotan suaminya.

"Ahhh... Aahhh... Mantapnyaa... Mantapnyahh... Ahhh... Aahhh" Desah Hendra memperkuat genjotannya.

"Mmpphh... Mmpphh... Iyahh mas... Mmmpphh" Desah Haura saat kepalanya terdorong maju mundur begitu cepat. Untungnya dekapan tangan suaminya diperkuat. Kepalanya jadi tidak terlalu terdorong ke belakang saat ditusuk oleh penis suaminya.

Maju mundur maju mundur maju mundur. Hendra memperkuat genjotannya sehingga meningkatkan intensitas birahinya. Hendra merem melek keenakan. Kepalanya ia geleng-gelengkan penuh kepuasan. Ia begitu menikmati jepitan mulut istrinya. Ia begitu menikmati desahan penuh kemanjaan dari istrinya.

"Aahhh... Aahhh... Mass gak kuat lagi... Mass hennkghhh !!" Desah Hendra mendorong penisnya hingga mentok ke dalam.

"Mmpphhh iyyahhh masss... Keluarin aja" Desah Haura kewalahan saat pangkal kerongkongannya ditusuk oleh penis suaminya.

"Ouhhh sini dek... Terima ini" Pinta Hendra saat mencabut penisnya yang hanya bisa membuat istrinya pasrah.

"Aahhh... Aahhh... Aahhhh deeekkk... Rasakan ini, iyyahhh kelluuaarrr" Desah Hendra mengarahkan penisnya ke wajah istrinya.

Crroott... Crroott... Crroott !!!

"Mmpphh" Desah Haura pasrah saat semburan demi semburan sperma suaminya mengotori wajah cantiknya.

Hendra lemas tapi juga puas. Haura lemas tapi masih belum puas. Hendra terengah-engah saat menatap wajah cantik istrinya yang bersimpuh sperma. Haura jadi semakin cantik. Hendra pun geleng-geleng kepala tak percaya. Ia sangat puas karena bisa memejuhi istri cantiknya dengan menggunakan sperma hangatnya.

"Maaf yah dek... Mas terlalu nafsu tadi ?" Ucap Hendra khawatir.

"Gapapa kok mas, Adek puas soalnya... Makasih yah" Ucap Haura berbohong agar tidak mengecewakan suaminya.

"Benar kah ? Syukurlah... Makasih yah udah muasin mas" Ucap Hendra sambil mengoles-ngoleskan ujung gundulnya ke wajah istrinya.

"Sama-sama mas" Ucap Haura tersenyum.

Mereka berdua pun mandi setelah itu. Mereka bergegas membersihkan diri untuk bersiap-siap menjadi pengawas ujian di kelas. Namun saat mereka mandi, terutama saat tubuh polos Haura disabuni oleh sang suami. Haura merasa gelisah karena belum mendapatkan kepuasan. Ia pun teringat seseorang. Seseorang yang bisa memberinya kepuasan. Terbayang tubuh kekarnya yang sudah telanjang. Terbayang penis kekarnya yang bisa membuatnya mengerang. Haura jadi merindukannya. Ia pun ingin dipuasi olehnya.

Pak Karjo... Pak, aku ingin dipuasi lagi oleh bapak... Tolong luangkan waktu bapak untuk aku yah pak !

Batin Haura yang begitu terangsang. Selain itu, Haura juga penasaran. Apa yang bisa membuat penis suaminya sekeras ini ?


*-*-*-*


Beberapa jam kemudian sekitar pukul sebelas siang.

Lagi, Hanna tidak langsung pulang setelah ujian berakhir di hari ini. Ia memilih untuk menetap di kelas kendati semua santri berikut rekan sesama pengawasnya sudah lebih dulu pulang ke asramanya masing-masing.

Hanna memilih untuk menyendiri sesaat. Akhir-akhir ini ia memang lebih suka menyendiri apalagi dengan kasus yang saat ini menimpa V. Ia merasa sedih, ia merasa gelisah tiap kali memikirkan masalah yang menimpa sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. Ia heran kenapa keputusan dari pak Kiyai masih belum turun sehingga membuatnya harus mengkhawatirkan nasib sahabatnya terus seperti ini.

“Tapi gapapa deh... Setidaknya ada harapan kalau V masih bisa bertahan disini” Lirihnya sambil menatap langit-langit kelas.

Dunia memang tidak adil. Itu yang terpikirkan oleh Hanna saat ini. Kenapa santri mesum yang sudah berulang kali memperkosanya itu masih saja bertahan disini ? Sedangkan sahabat sekaligus rekan kerjanya yang baru saja bergabung di kantor bagiannya malah terancam dikeluarkan dari sini.

Padahal V selalu bersikap baik padanya. Sebagai sahabat, Hanna merasa nyaman dibuatnya. Maka ia tak segan untuk merelakan tubuhnya seperti yang ia lakukan kemarin ketika V masih putus asa dengan hukuman yang menantinya. Hanna merasa puas, Hanna merasa nikmat saat tubuhnya digenjot oleh keperkasaan penis V. Ustadzah yang belakangan ini menjadi montok itu pun membatin. Semoga keputusan bisa segera keluar dan V bisa bertahan di pesantren ini.

“Loh ustadzah... Kok belum pulang ?” tanya seseorang yang mengejutkan Hanna.

“Eh astaghfirullah bapak ! Bikin kaget aja tau” ucap Hanna tersenyum sambil memegangi dadanya.

“Hehe maaf ustadzah... Saya boleh masuk gak ?” tanya pria tua bertubuh kurus yang sedang memegangi sapu itu.

“Boleh kok pak silahkan” jawab Hanna menegakkan tubuhnya sambil menatap ke arah tukang sapu yang sempat mencicipi keindahan tubuhnya.

“Ustadzah ada apa nih ? Tadi kok saya liatin malah ngelamun... Cantik-cantik gak boleh ngelamun loh ustadzah... Nanti kesurupan, kelas ini kan angker hehehe” ucap pak Prapto yang malah membuat Hanna merinding.

“Ihhhh jangan nakut-nakutin deh pak... Serem tau” ucap Hanna yang malah membuat pak Prapto tertawa.

“Hehe makanya jangan ngelamun... Kalau ada sesuatu mending curhat aja sama abang” ucap pak Prapto sambil menepuk dadanya dengan bangga.

“Hihihi abang ? gak cocok deh” ucap pak Prapto saat melihat fisik pria tua itu.

“Hehhh cocok kok... Saya kan masih muda... Mulus dan menggoda” ucap pak Prapto yang sontak membuat Hanna tertawa ngakak.

“Hihihihi ada-ada aja sih bapak... Aduh sampai sakit nih perut aku pak” ucap Hanna karena saking tertawanya.

“Nah gitu dong... Kalau ustadzah ketawa gitu kan saya jadi ikut seneng... Sebagai simpanan ustadzah, saya jadi lega deh ” Ucap pak Prapto yang kembali membuat Hanna tertawa.

“Ihhhh, simpanan apaan pak... Dikira duit apa pake disimpen-simpen segala” ucap Hanna tersenyum malu.

“Bukan lah, tapi Kekasih simpanan... Saya siap kok untuk membahagiakan ustadzah kapanpun ustadzah membutuhkan saya” ucap pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum senang.

“Makasih yah pak” ucap Hanna terharu pada niat baik pria tua itu.

“Oh yah boleh diceritain gak apa yang sebenarnya terjadi ?” ucap pak Prapto setelah menarik kursi lalu meletakkannya di sisi samping tempat duduk Hanna yang berada di meja guru.

“Tentang rekan kerja aku sih pak... Jadi gini. . . .” ucap Hanna menceritakan semuanya. Bahkan Hanna sampai bercerita kalau Lutfi adalah penyebabnya. Pak Prapto pun pelan-pelan paham kalau Hanna tidak ingin sahabatnya dikeluarkan gara-gara memukul Lutfi.

“Tapi ustadzah udah berusaha kan ? Ustadzah udah berusaha semampu ustadzah untuk menjaga sahabat ustadzah itu ?” ucap Pak Prapto menatap wajah Hanna untuk memberikan perhatian padanya.

“Udah kok pak... Sering malah, aku sampai bolak-balik ke rumah pak Kiyai supaya istri beliau bisa mengubah keputusan pak Kiyai” ucap Hanna senang pada sikap pria tua itu yang mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan.

“Yasudah... Ustadzah kan sudah berusaha, apapun nanti yang terjadi ustadzah gak boleh kecewa... Ustadzah harus legowo yah... Inget, usaha gak akan membohongi hasil kan ? Kita pasrahkan kepada yang maha kuasa, pasti kok, apapun hasilnya, itu adalah yang terbaik bagi ustadzah ataupun sahabat ustadzah itu” ucap pak Prapto yang sudah seperti pak ustadz saja ketika berceramah.

“Hihihi makasih yah pak... Aku jadi malu deh” ucap Hanna yang membuat pak Prapto heran.

“Eh malu kenapa ustadzah ?”

“Padahal aku sering denger kata-kata kayak gitu entah dari ceramah atau dari omongan para ustadzah... Tapi aku seolah lupa dan akhirnya diingetin lagi sama bapak... Iyya pak, apapun yang terjadi pasti itu yang terbaik untuk hidup kita kok” ucap Hanna tersenyum.

“Hehehe bagus deh ustadzah kalau ustadzah paham... Ngomong-ngomong tadi saya udah kaya seorang ustadz belum ? Udah pantes belum dipanggil pak ustadz Prapto ?” ucap Pak Prapto yang membuat Hanna tertawa.

“Hihihi pantes kok... Lebih pantes pokoknya dari abang Prapto” ucap Hanna tertawa yang juga membuat pak Prapto tertawa.

“Yahhh padahal saya lebih suka dipanggil abang sama ustadzah” ucap Pak Prapto sambil menggoda.

“Ehhh emangnya kenapaa pak ?” tanya Hanna tersenyum juga penasaran.

“Biar saya bisa manggil ustadzah itu dek, kan gimana gitu rasanya kalau saya bisa manggil ustadzah itu, dek Hanna” ucap Pak Prapto yang membuat Hanna merinding mendengarnya. Tapi ia tertawa tak lama kemudian.

“Hihihi ada-ada aja deh bapak ah... Aku kan anak pertama, gak ada tuh yang manggil aku dek selama ini” ucap Hanna tersenyum.

“Ada kok, kalau saya jadi suamimu nanti... Pasti saya akan memanggilmu dek, ustadzah” ucap Pak Prapto yang entah kenapa membuat jantung Hanna berdebar.

“Ehh suami ? Hihihi ada-ada aja deh bapak” ucap Hanna tertawa.

“Eh serius ustadzah... Andai saya bisa menikahi ustadzah... Saya pasti akan memanggilmu dek... Bukan ustadzah apalagi ucapan lainnya... Gak tau kenapa suka aja loh ustadzah” ucap Pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum.

“Tapi maaf yah pak... Aku sebentar lagi mau menikah... Coba aja seorang wanita bisa menikahi lebih dari satu lelaki... Mungkin lamaran bapak akan saya terima juga” ucap Hanna mengejutkan pak Prapto.

“Eh serius ustadzah ?” tanya pak Prapto sumringah.

“Iyya pak... Bapak orangnya asyik, bapak juga baik, bapak juga rela berkorban demi untuk menyelamatkan aku... Bapak keren deh menurut aku... Jujur, sikap bapak udah meluluhkan hatiku pak... Makasih yah untuk semua kebaikan bapak ke aku selama ini” ucap Hanna yang membuat pak Prapto tersenyum.

“Gapapa ustadzah... Itu bukan masalah... Bahkan kalau saya harus mengorbankan kaki saya... Saya pasti akan mengorbankannya demi ustadzah” ucap Pak Prapto yang membuat Hanna terharu.

“Makasih yah pak... Aku seneng bisa ketemu bapak disini” ucap Hanna yang entah kenapa jantungnya terasa berdebar saat berada disisinya.

Hanna merasakan adanya perbedaan antara kehadiran pak Prapto dan juga V. Meski keduanya pernah merasakan kelezatan tubuhnya. Hanna merasa kalau kehadiran V ya biasa saja. Selayaknya seseorang yang bertemu temannya. Jantungnya tidak berdegup dengan kencang. Berbeda ketika dirinya bertemu dengan pak Prapto. Jantungnya berdebar kencang. Rasanya seperti bertemu dengan seorang kekasih saja. Apa yang membuatnya bisa deg-degan seperti ini ? Hanna merenung, Hanna mencoba memutar waktu ke belakang. Apakah karena usahanya yang ingin menyelamatkannya dari pemerkosaan Lutfi dan pak Karjo ? Mungkin itu jawabannya. Hanna tersentuh pada usaha pak Prapto meski pak Prapto tahu kalau dirinya tidak mungkin bisa menang melawan mereka. Tapi pak Prapto tetap nekat dengan berusaha melaporkan kedua pria bejat itu meski harus berakhir dengan dirinya dirawat di rumah sakit.

Hanna terharu. Entah kenapa sejak saat itu ia tersentuh oleh sifat kejantanannya. Hanna bahkan tidak ragu lagi untuk mengatakan kalau ia jatuh cinta padanya. Aneh ? Ya, bagaimana bisa wanita yang mau menikah justru merasakan jatuh cinta kepada lelaki lain ? Tapi itu yang terjadi, bahkan saat ini. Entah kenapa ia ingin menyerahkan tubuhnya kepada penyelamat jiwanya lagi.

“Oh yah pak... Bapak habis ini sibuk ?” tanya Hanna mengejutkan pak Prapto.

“Ehh gak sih ? Saya sudah menyapu semua kelas... Ya saya gak sibuk... Ada apa yah ustadzah ?” tanya Pak Prapto penasaran.

“Mmpphhh kalau gak keberatan, aku mau minta tolong boleh ?” tanya Hanna yang semakin membuat pejantannya penasaran.

“Eh tolong apa ? Pasti boleh kok.... Apapun itu pasti saya akan membantumu ustadzah” jawab pak Prapto tersenyum.

“Hihihih kalau gitu... Aku mmpphh... Aku mau minta tolong pak... Aku butuh hiburan, bapak mau gak ngehibur aku” ucap Hanna sambil malu-malu tanpa berani menatap pejantannya.

“Ngehibur ?” ucap pak Prapto belum paham.

“Iyya bapak... Bapak tau kan maksudnya” ucap Hanna sambil berdiri kemudian beralih ke pangkuan pak Prapto.

“Maksudnya ?” tanya Pak Prapto khawatir kalau apa yang ada di benaknya berbeda dengan apa yang ada di pikiran Hanna.

“Ihhhh masa belum paham... Aku butuh hiburan pak... Aku butuh belaian bapak... Aku butuh bapak supaya aku gak kepikiran soal sahabatku lagi pak” ucap Hanna sambil tersenyum malu-malu lalu melepaskan satu demi satu kancing seragam tukang sapu itu.

“Ehhh maksudnya, ustadzah mau ? Ngentot ?” ucap pak Prapto yang membuat Hanna merinding mendengarnya.

“He’em pak... Aku mau itu” ucap Hanna yang sudah melepaskan seluruh kancing seragam pak Prapto lalu membelai kedua putingnya yang membuat pejantannya itu merinding nikmat.

Entah kenapa Hanna tiba-tiba kepikiran untuk menyerahkan tubuhnya. Fakta kalau sebentar lagi liburan akan segera datang plus dirinya yang akan segera menikah membuatnya kepikiran untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk bersama-sama dengan pria tua yang disukainya. Ia ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin mumpung dirinya masih single. Ia ingin menghabiskan waktu bersama pria tua yang telah mengorbankan hidupnya untuknya. Ia ingin membalas semua kebaikan itu. Ia juga ingin mendapatkan kenikmatan dari pejantan tuanya.

“Benarkah ustadzah ? Kalau ustadzah mau ? ya mana saya bisa nolak” ucap pak Prapto sambil merangkul pinggang ramping Hanna kemudian menikmati keindahan wajahnya.

Dengan gamis panjang bercorak yang menutupi seluruh tubuhnya mulai dari kaki hingga ke badannya. Serta hijab berwarna abu-abu yang membuat kepalanya tampak mungil dihadapan pejantannya. Penampilan Hanna sungguh memukau apalagi ketika senyumnya menyapa membuat pak Prapto tak bisa berkata-kata.

Tubuh Hanna begitu indah. Senyumannya begitu cerah. Wajahnya terlihat sumringah saat sedang menghabiskan waktu berdua bersama pejantannya. Pak Prapto sampai hanyut oleh senyuman wanita yang ia cinta. Ia tak menyangka bahwa perasaan cintanya akan terbalas. Ia pun menikmatinya dengan mengucapkan sepatah kata yang membuat Hanna menurutinya.

“Kalau gitu ustadzah, boleh gak saya mencumbu bibirmu sekarang ?” ucap pak Prapto tersenyum.

“Iyyah, boleh pak” jawab Hanna yang langsung membuat pak Prapto mencumbunya.

"Terima kasih ustadzah... Mmpphh" Desah pak Prapto saat mendorong bibir Hanna yang tengah duduk di pangkuannya.

Hanna yang masih berpakaian lengkap tampak pasrah saat dicumbu oleh bibir pejantan tuanya. Tubuh montoknya sudah berada di atas pangkuan pejantannya. Wajah mereka saling menatap. Tubuh mereka saling menghadap. Mereka saling berciuman tanpa ada kata yang sempat terucap. Mulut mereka saling hisap. Nafas mereka sampai pengap. Pak Prapto sangat puas hingga dorongan bibirnya ia perkuat.

"Mmpphh nikmat sekali bibirmu ini ustadzah... Mmpphh saya sangat merindukan rasa dari bibir manismu ini" Desah pak Prapto bernafsu.

"Mmpphh iyyah pakk... Sama, aku juga merindukan cumbuan bapakk... Mmpphh makasih sudah datang kesini untuk menciumku pak" Ucap Hanna di sela-sela cumbuannya.

"Bukan masalah ustadzah... Kapanpun, dimanapun, kalau ustadzah butuh saya... Panggil saja nama saya, ustadzah... Agar saya bisa datang lagi untuk memuasi dirimu" Ucap Prapto saat mendekatkan kembali kepalanya ke arah ustadzah montok itu.

"Mmpphh... Iyyahh pakkk... Makasih" Desah Hanna dengan manja.

Di luar dugaan bibir merah merekah sang ustadzah sudah terbuka untuk menyambut kehadiran bibir pemuas nafsunya itu. Bibir keduanya bertemu, keduanya saling menuntut, keduanya saling memuja dan keduanya saling berpadu. Lidah tua itu keluar untuk mengoleskan liurnya ke bibir ustadzah montok itu. Begitu pula sang ustadzah, lidah dari akhwat yang sebentar lagi akan menikah itu juga mengoleskan lidahnya ke arah bibir pejantan tuanya itu. Tanpa merasa jijik, Hanna mengayunkan lidahnya. Tanpa merasa jijik, Hanna menggoyangkan lidahnya. Tanpa merasa jijik, Hanna memainkan lidahnya untuk memuaskan pejantannya.

Sambil berciuman, tangan pak Prapto dengan gemas meraba-raba dada montok Hanna yang masih berpakaian lengkap. Buah dada sekel milik Hanna pun teremas. Pemiliknya jadi ingin menjerit keras. Namun tertahan oleh cumbuan pejantannya yang bergerak bebas. Pak Prapto puas. Ia makin meremas buah dada Hanna dengan begitu gemas.

"Mmpphh pakk... Mmpphh... Mmpphh sakitt" Desah Hanna merasakan sakit di payudaranya.

"Mmpphh iya kah ? Maaf ustadzah, saya gemes banget soalnya... Saya pelanin aja yah kalau gitu" Ucap pak Prapto yang kali ini meremasi dada Hanna dengan lembut.

Kali ini, jeritan yang Hanna keluarkan bukan karena rasa sakit yang ia terima. Melainkan dari rasa nikmat yang ia dapatkan dari cengkraman tangan pak Prapto yang cukup pelan.

Pak Prapto kemudian membelai dada Hanna dari luar gamisnya. Pak Prapto menekan puting Hanna dari luar gamisnya. Ia terus melakukannya sambil menikmati bibir yang terhidang di depan mulutnya. Mulut pak Prapto bergerak maju. Mulutnya mendekap bibir Hanna dengan penuh nafsu. Kadang bibirnya mengulum bibir atas Hanna. Kadang bibirnya mengulum bibir bawah Hanna. Kadang lidah mereka berdua saling keluar untuk melakukan gerakan pedang-pedangan. Bagai pendekar pedang, lidah mereka berdua saling bertempur. Lidah mereka saling menjilat. Lidah mereka saling bergesekan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Lagi, pak Prapto melakukannya sambil terus meremas dada bulat Hanna. Hanna menejrit, Hanna mengerang, Hanna semakin hanyut dalam buaian nafsu yang telah pak Prapto berikan.

"Hah... Hah... Hah... Gimana ustadzah ? Saya langsung coblos boleh ?" Ucap pak Prapto yang ingin buru-buru merasakan jepitan kemaluan ustadzahnya lagi.

"Boleh pak... Aku juga gak tahan daritadi" Ucap Hanna malu-malu yang membuat pak Prapto semakin bernafsu.

"Kalau gitu tolong berdiri sebentar ustadzah... Saya mau melorotin celana dalammu" Ucap pak Prapto yang langsung dituruti oleh Hanna. Saat celana dalamnya diturunkan, iseng pak Prapto meraba-raba bibir vagina Hanna untuk mengecek kelembapan air disana.

"Udah basah aja nih ustadzah hehehe" Ucap pak Prapto sambil nyengir.

"Hihihi habis gara-gara bapak sih tadi" Ucap Hanna malu-malu.

"Kok gara-gara saya sih ustadzah ? Saya kan cuma ngeremes susumu sambil nyiumin bibirmu" Ucap pak Prapto dengan gemas saat berbicara mesum dengan seorang ustadzah yang ia cinta.

"Justru itu... Aku kan jadi keenakan" Jawab Hanna malu-malu.

"Hehe... Itu belum seberapa ustadzah... Ayo pelan-pelan turunin tubuhnya... Masukin kontol saya ke dalam memekmu yah" Ucap pak Prapto yang entah sejak kapan ia telah mengeluarkan penisnya dari dalam resleting celananya.

"Mmpphh baik pak" Ucap Hanna patuh.

Ustadzah yang dari luar nampak masih berpakaian lengkap itu pelan-pelan menurunkan tubuhnya untuk memasukan batang penis perkasa itu ke dalam vaginanya. Kedua tangannya hinggap di kedua bahu pejantannya yang masih tertutupi seragamnya. Kendati seluruh kancingnya sudah terbuka, Hanna membiarkan pejantannya itu mengenakan seragamnya mengikuti dirinya yang masih mengenakan gamis lengkap beserta hijabnya.

"Uuuuhhhhhhh" Desah Hanna keenakan saat batang penis pak Prapto mulai membelah liang senggamanya.

"Mantaapppnyaaa" Desah pak Prapto dengan puas.

Dengan malu-malu, Hanna mulai naik turun diatas pangkuan pria tua itu. Wajah Hanna tersipu. Ditatapnya wajah pak Prapto dengan penuh nafsu. Pak Prapto pun membalas tatapan Hanna yang binal itu. Mereka berdua tersenyum. Mereka berdua tampak bahagia ketika kelamin mereka bisa kembali bersenggama.

"Puas sekali saya ustadzah... Aahhh... Ayoo... Ayoo goyang ustadzahh... Aahhhh" Desah Pak Prapto sambil memegangi pinggul rampingnya.

"Aaahhh... Aahhhh.... Iyyah pakk" Desah Hanna dengan lemah saat tubuhnya semakin cepat ia naik turunkan.

Sejujurnya Hanna merasa malu sekali ketika melakukan aksi goyangannya ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau ia sampai suka rela melakukan ini diatas pangkuan tukang sapu tua yang memiliki keberanian untuk menyelamatkannya.

Saat wajahnya menatap wajah pak Prapto. Rupanya pak Prapto tengah tersenyum sambil menatap wajah cantiknya. Hanna tersipu, ia pun memejamkan mata untuk menutupi rasa malunya itu.

“Aahhhh... Aahhh... Enakk pakk” desahnya lagi sambil malu-malu.

"Uhhhh... Uhhhh... Luar biasa sekali ustadzah goyanganmu" Puji pak Prapto yang membuat Hanna tersenyum malu.

Semakin lama Hanna naik turun diatas penisnya. Semakin besar pula nafsu yang dimiliki oleh ustadzah pesantren itu. Meski rasa malu masih mendera tubuhnya. Gairah birahinya justru menyemangatinya untuk terus bergoyang diatas pangkuannya.

Lama-lama vaginanya semakin lembap. Vaginanya semakin basah oleh kekarnya penis yang sedang menancap di dalam. Sedikit demi sedikit tanpa merasa malu lagi. Bidadari cantik itu mulai melakukan variasi goyangannya yang membuat penis pejantannya itu semakin tergoyang. Hanna memejam sambil tangannya membelai-belai puting pak Prapto. Rasanya sungguh nikmat membuat pinggulnya terus bergoyang secara horizontal. Awalnya bergerak ke kanan lalu ke depan terus ke kiri lalu ke belakang. Pinggulnya berputar tiga ratus enam puluh derajat tuk merangsang penis berwarna hitam legam itu.

"Aahhhh ustadzahhh... Ustadzah hebat banget sihhh... Goyangan ustadzah enak banget... Goyangan ustadzah nikmat banget" Puji pak Prapto yang membuat Hanna jadi bersemangat tuk memuaskan nafsu pria tua itu.

"Ahhh... Aahhh... Iyyahh pakkk... Aku juga... Kontol bapak juga enak banget" Desah Hanna semakin binal.

“Aahhh nikmatnyaa... Hebat sekali ustadzahh... Ayoo goyang terus... Goyang terusss ahhhhhh” desah pak Prapto keenakan sambil menatap ekspresi wajah sangek Hanna.

"Mmpphh iyyahh pakkk" Desah Hanna sambil mempercepat gerakan pinggulnya. Hanna jadi terlihat semakin binal. Gerakan naik turunnya semain cepat. Raut wajahnya yang semakin menggoda membuat tukang sapu tua itu semakin bernafsu kepadanya.

"Aaahhhh... Aahhhh... Aaaahhhhh" Desah pak Prapto geregetan hingga kedua tangannya meremas bokong sekelnya.

Desahan yang terucap dari mulut pak Prapto membuat Hanna semakin bergairah. Hanna jadi semakin bersemangat tuk menuntaskan semua hasratnya pada penis kekar itu. Ia mempercepat goyangannya. Ia juga semakin dalam saat membenamkan penisnya sehingga membuat dirinya semakin tidak tahan lagi.

“Aahhhh... Ahhhhh... bapaakk” desah Hanna.

Suara desahan itu semakin menggelora. Nafasnya terasa berat. Bidadari cantik yang masih mengenakan pakaian lengkap itu menatap wajah pria tua yang sedang duduk dibawah goyangannya.

Ditatapnya tubuh kurusnya. Ditatapnya wajah tuanya. Hanna heran, kenapa pria tua sepertinya masih sanggup bertahan di tengah goyangannya yang semakin mematikan.

"Aaahhh bapaaakkkk"

Dikala tubuh Hanna semakin panas. Dikala tubuhnya semakin bergairah. Ia mengangkat tubuhnya hingga ujung gundul dari penis itu menyentuh bibir vaginanya.

“Uhhhhhhhhhh” desahnya sambil memanyunkan bibirnya.

Jleeebbbbbbb !

“Paakkkkkkkkk.... Aahhhhhhhhh”

Hanna mendesah dengan puas ketika ia menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga penis itu langsung menyundul rahim kehangatannya. Kembali ia melakukan dengan cara yang sama. Hanna merasa ketagihan. Ustadzah itu terus mengaduk penis hitam yang dimiliki oleh tukang sapu itu. Kedua payudaranya yang bergoyang-goyang memanjakan mata pak Prapto yang semakin dipuaskan oleh goyangan indah dari tubuh ustadzah pesantren itu.

Gilaaa... Gillaaa... Padahal susu itu masih ketutup gamisnya... Kenapa goyangan susunya masih keliatan jelas ?

Batin pak Prapto terpana.

"Ustadzah... Uhhhhh... Saya remes yahh... Saya gemes banget soalnya sama susu ustadzah" Ucap pak Prapto yang membuat Hanna semakin bergairah.

"Aahhh iyyahh pakk... Yang kerasss... Ouuhhhh" Desah Hanna jadi semakin liar. Ia pun mempercepat goyangannya. Ia begitu menikmati keperkasaan penia tua yang sedang ia aduk di dalam.

Ahhhh... Aahhh... Sebentarrr lagiiii !!!

Batin Hanna tak kuat.

Hanna pun membuka matanya. Nafsu yang tidak bisa ia tahan membuat wajahnya reflek mendekat untuk mencumbu bibir pejantannya. Pak Prapto terkejut, tapi ia tidak menolak keinginan ustadzah semok itu. Bibir mereka kembali bercumbu. Bibir mereka berpagutan dengan penuh nafsu. Liur mereka sampai menetes sampai tak sadar bahwa gelombang orgasme yang mereka cari-cari semakin dekat.

"Mmpphh... Pakkk... Aku... Akuu mauu keluaarr pakk" Desah Hanna disela-sela cumbuannya.

"Keluarkan ustadzah... Keluarkan semuanyaaaaa" Desah Pak Prapto yang membuat Hanna menuruti kata-katanya.

Hanna semakin bergairah dalam melakukan goyangannya diatas pangkuan pejantannya. Desahannya semakin kencang dan terdengar begitu menggoda. Hanna tak kuat lagi. Ia mempercepat goyangannya lagi. Pak Prapto sampai kewalahan hingga tubuhnya menarik tubuh semok Hanna hingga dada mereka saling berdempetan saat menahan goyangan binal Hanna.

Tapi Hanna tidak kuat lagi. Ia pun melepaskan cairan cintanya saat bergoyang diatas pangkuan pejantannya.

"Ahhh... Aahhh pakk... Akuu kelluaaarrrr mmpphh" Desah Hanna sambil membenamkan tubuhnya ke selangkangan pak Prapto hingga penis pria tua itu semakin dalam menyundul rahim kehangatannya.

"Uhhhh ustadzah aaahhhh !!"

Crrtttt.... Crrrrttt... Crrttttt !!!

Mata Hanna merem melek penuh kepuasan. Tubuhnya tersentak berkali-kali. Tak pernah dirinya sepuas ini ketika disetubuhi oleh seorang lelaki. Tubuhnya sampai lemas tak berdaya. Ia sangat puas hingga matanya memejam tuk menikmati sisa orgasmenya yang terasa dahsyat.

Mata Hanna kembali ia buka. Ia pun melepaskan cumbuannya untuk menikmati wajah pejantan yang baru saja memuaskannya. Nampak wajah sangek Hanna. Pak Prapto pun terpana. Pak Prapto kembali menghadiahi Hanna sebuah kecupan karena berhasil menaikan birahinya di saat bergoyang diatas pangkuannya.

"Binal sekali dirimu ustadzah... Saya puas" Ucap pak Prapto setelah mencumbu bibirnya.

"Makasih pak... Hah... Hah... Hah" Desah Hanna ngos-ngosan.

"Kita akhiri sekarang yah... Saya udah gak kuat lagi soalnya" Ucap pak Prapto geregetan ingin memejuhi tubuh akhwat montok ini.

"Iyya pak silahkan... Aku pasrah pak" Ucap Hanna yang membuat Prapto semakin geregetan.

Hanna pun diminta berdiri oleh pak Prapto. Dengan buru-buru tukang sapu itu menelanjangi tubuhnya satu persatu. Dalam sekejap pak Prapto sudah bertelanjang bulat dihadapan betinanya.

Pak Prapto mendekat. Hanna pun malu-malu berdiam membiarkan pejantannya yang hendak menjamah tubuhnya.

"Ayo nungging ustadzah" Ucap pak Prapto yang langsung dituruti oleh Hanna.

Diangkatnya gamis lebar Hanna hingga ke pinggangnya. Nampak bokong sekelnya terlihat. Pak Prapto jadi gemas, ia pun menampar bokong sekel itu berkali-kali untuk melampiaskan nafsunya.

Plaaakkkk !!

"Aahhh pakkk"

Plaaakkkk !!

"Aahhh bapaakkk

Plaaakkkk !!

" Uuuhhhhhhh" Desah Hanna dengan manja.

"Hah... Hah... Hah... Maaf ustadzah... Saya gemes banget soalnya... Gak kuat saya karena bokong montokmu ini" Ucap pak Prapto terengah-engah.

"Gapapa pak... Mmpphh... Aku suka kok" Ucap Hanna yang membuat pak Prapto semakin gemas.

"Hehe dasar yah ustadzah... Jangan nyesel kalau nanti saya semakin bernafsu" Ucap pak Prapto menampar bokong Hanna sekali lagi hingga memerah.

Plaaakk !!!

"Aahhh bapaakkkk" Desah Hanna dengan manja.

Hanna yang sedang menungging sambil bertumpu pada tepian meja kelas nampak pasrah saat bokongnya berulang kali ditampari oleh tukang sapu itu. Entah kenapa Hanna jadi bergairah. Ia suka saat ditampari seperti ini oleh pejantan tuanya.

"Mmpphh" Desah Hanna saat vaginanya kembali dimasuki penis tua itu.

"Ouhhh nikmatnyaaa... Iyyaaahhh" Desah pak Prapto menarik keluar penisnya lagi.

"Uuuhhh pakkk" Desah Hanna saat liang senggamanya kembali dimasuki oleh penis hitam nan kekar itu.

"Ouhhhh nikmatnyaaaa" Desah pak Prapto puas sambil menampar bokong Hanna sekali lagi.

Plaaakk !!!

"Aahhh pakkk" Desah ustadzah montok itu dengan manja.

"Hah... Hah... Hah... Liar sekali dirimu ustadzah... Rasakan ini... Rasakan kontolku ini... Hennkgh !!!" Desah Pak Prapto menancapkan penisnya sedalam-dalam.

"Aahhh bbaappaakkk dalemm bangettt" Desah Hanna sampai menoleh ke belakang tuk menatap pejantan beruntung yang berhasil memasukan penisnya ke rahimnya.

"Aahhh... Aahhh... Aahhh mantappntmyaaa... Uhhhh" Desah pak Prapto yang langsung menggempurnya. Mereka bercinta. Desahan mereka sangat bergairah. Mereka sangat menikmati persetubuhan mereka tanpa sadar kalau ada sepasang mata yang mengamati mereka.

“Aahhhhh sempit banget memekmu ustadzahhh ... Ouhhhh nikmatnyaaaa !!!” desah pak Prapto sambil geleng-geleng kepala tak percaya.

“Aahhh bapaakk... Aahhhhh... iyyahh terusss !” desah Hanna semakin bergairah saat merasakan tusukan maut dari tukang sapu itu. Apalagi pergerakan penis itu perlahan semakin cepat. Dirinya hanya bisa memejam sambil bertumpu pada tepian meja sambil menahan gempuran pak Prapto yang semakin kuat.

Jleebbb... Jleebbb... Jleeebbb !!

Berulang kali penisnya ia ambleskan hingga mentok menyundul rahim betinanya. Pak Prapto gemas ia kembali menampar bokong Hanna hingga membuat ustadzah montok itu menjerit-jerit menahan tamparan pejantannya.

Plaakkk... Plaakkk... Plaakkk...

"Aahhh bapakk... Aahhh... Aahhh"

Jeritannya membawa pak Prapto menuju ke kayangan. Desahan Hanna sangat manja. Desahannya sangat merangsang gairah. Pak Prapto pun mengusapi bokong montok itu sambil matanya terpaku pada satu lubang yang masih menganggur.

Ahhh... Aahhh... Aahhh gara-gara ustadzah Syifa... Saya jadi pengen ngerasain jepitan anus lagi deh...

Batin pak Prapto. Ia sangat ingin tapi ia ragu kalau Hanna akan mengabulkan keinginannya itu. Alhasil ia hanya bisa menatapnya sambil terus menampar bongkahannya.

Plakkk... Plakkk... Plaakkk !!!

“Aahhhh... Ahhhhh... Bapaaakk... Bapaaakk" Desah Hanna semakin bergairah. Entah kenapa dirinya sangat suka untuk ditampari seperti ini. Entah kenapa tiap tamparan yang ia terima membuatnya jadi semakin bergairah. Hanna pun menoleh, ia menatap wajah pejantannya menggunakan tatapan sangek.

"Ayo buka ustadzah... Buka gamismu ini... Gamismu menghalangi keindahan tubuhmu aja !" Ucap pak Prapto sambil menegakkan tubuh Hanna lalu meminta Hanna mengangkat kedua tangannya. Gamisnya itu pun lolos melewati kedua tangannya. Behanya yang masih menempel juga segera ia lepas. Akhirnya Hanna bertelanjang bulat. Tangan nakal tukang sapu itu langsung meremasi susunya sambil membelai tubuh telanjangnya.

"Aahhh... Aahhhh... Iyaahh pakk... Aahhh nikmat" Desah Hanna yang sedang berdiri membelakangi.

"Mulus sekali tubuhmu ini ustadzah... Montok sekali susumu ini" Desah pak Prapto penuh nafsu.

"Aahhh... Aahhh... Aahhh" Desah Hanna saat tubuhnya kembali digenjot setelah tadi sempat beristirahat sebentar saat tubuhnya dibugili oleh lelakinya.

Nampak pak Prapto tidak kuat lagi. Kedua tangannya meremas payudaranya dengan sekuat tenaga. Sodokan juga ia perkuat membuat tubuh Hanna terhempas semakin kencang.

Tukang sapu itu semakin tak berdaya setelah menikmati ketelanjangan tubuh Hanna. Butir-butir keringat mulai tumbuh dari pori-pori kulitnya. Pak Prapto tak berdaya. Matanya melemah. Deru nafasnya terasa sesak.

“Aahhhh... Ahhhh... Ustadzahhh... Saya mau keluuuar... Ahhh... Aaahhhhhhh” desah pak Prapto tak tahan.

“Aahhhhh iyahhh pakkk... Keluarkan... Keluarkan dimana aja pak !!!” desah Hanna yang semakin lelah meladeni nafsu pejantannya.

“Aaahhhh... Ahhhhh... Ahhhh iyahhh ustadzahhh... Iyyahhh Keluuaarrrr !!!!” hentak pak Prapto hingga penisnya masuk seluruhnya di dalam kemaluan ustadzahnya.

“Iyyaaahhhhhh” Tubuh Hanna terdorong maju. Matanya berkunang-kunang. Buah dadanya tercengkram kuat saat rahimnya dipenuhi oleh sperma pejantannya.

Pak Prapto kelojotan. Ia sangat puas setelah menanam benih di rahim betinanya. Ia kembali menampar bokong montok itu. Ia juga meremasnya dan ia juga mencengkramnya.

"Uuuhhh puasnyaa" desah pak Prapto begitu puas.

"Makasih yah ustadzah... Saya puas banget" Kata pak Prapto tersenyum.

"Aaahhhh... Sama-sama pak... Aku juga" Jawab Hanna juga tersenyum.

Pak Prapto pun mengarahkan wajah Hanna ke belakang kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik ustadzah montok itu.

"Mmpphh" Cumbu mereka berdua tuk menikmati sisa persetubuhan mereka.

BEBERAPA MENIT KEMUDIAN

"Aku duluan yah pak... Hati-hati jangan sampai ketahuan" Kata Hanna berdebar setelah mengenakan pakaiannya kembali.

"Iyya ustadzah makasih yah buat memeknya" Ucap pak Prapto yang hanya dijawab senyuman karena ustadzah montok itu buru-buru pergi agar tidak kepergok oleh orang lain yang ada di sekitar sini.

"Ouhhh puasnyaaa... Ouhhh puas sekali saya" Kata pak Prapto terengah-engah. Ia pun baru mengenakan pakaiannya lagi. Ia nyaris terjatuh karena keseimbangannya berkurang setelah melampiaskan nafsunya pada rahim Hanna.

"Sudah puas pak ? Tadi pacarnya yah ?" Ucap seseorang yang mengejutkan Prapto.

"Eh siapa bapak ? Kok bapak bisa ada disini ?" Ucap Pak Prapto terkejut.

"Saya sudah lama membuntuti bapak... Saya gak nyangka kalau bapak kesini malah untuk bercinta dengan pacar bapak... Tenang, saya gak akan lapor... Saya juga punya pacar seorang ustadzah kok... Saya ingin ngobrol sesuatu ke bapak" Ucap orang misterius itu.

"Sesuatu ? Apa itu ?"

"Saya ingin bekerja sama dengan bapak... Ini ada hubungannya dengan pacar bapak" Ucap orang itu tersenyum. Seketika perasaan pak Prapto menjadi tidak enak apalagi saat orang itu menunjukan sesuatu di hapenya.


*-*-*-*


Jebreett !

Terdengar suara pintu ditutup. Nada dengan terburu-buru berjalan keluar dari rumahnya. Nampaknya ia telah membulatkan pilihannya. Ya, ia sangat yakin dengan keputusan yang sudah ia buat.

"Aku harus berbicara ke ustadzah Haura... Aku harus menceritakan pak Karjo kepadanya... Aku ingin tau caranya supaya aku bisa kuat bertahan dari gempurannya... Setidaknya aku ingin mencoba kata-kata mas Rendy... Ia akan menepati kata-katanya kan ?" Ucap Nada berjalan menuju rumah Haura.

Untungnya jarak antara rumah Haura dan rumah Nada tidak begitu jauh. Jarak rumah mereka hanya terpisah oleh 3 rumah saja. Dalam sekejap Nada pun sudah sampai di depan rumah Haura.

"Duh tapi gimana ngomongnya yah... Kok mendadak bingung sih" Lirih Nada kesulitan dalam menyusun kata-kata.

Ustadzah... Aku mau curhat... Ini tentang pak Karjo...

Batin Nada melatih dialognya.

Gak... Gak... Masa to the point sih ?

Batin Nada bimbang.

"Duh gimana cara bilangnya yah ?" Lirih Nada kebingungan.

Aahhh... Aaahhhh...

Seketika Nada mendengar suara yang samar-samar. Nada terkejut dari mana asal suara yang aneh itu ? Nada mencoba mengikuti, rupanya berasal dari dalam rumah Haura. Saat mata Nada mengintip, ia dikejutkan oleh pemandangan yang tidak ia duga.

Disana ada pria tua kekar yang wajahnya tak asing bagi Nada. Pria tua itu sedang duduk di sofa dan keadaannya sudah bertelanjang bulat menampakkan perut kekarnya serta dada bidangnya. Diatas pangkuannya ada seorang wanita cantik yang sudah bertelanjang bulat bahkan tanpa mengenakan hijabnya. Wajahnya juga tak asing bagi Nada. Anehnya wanita cantik itu tampak pasrah bahkan terkesan binal saat bergoyang diatas pangkuan pria kekar itu.

"Aahhh... Aahhh... Enakk bangett pakk... Aahhh"

"Kekekekek... Ayo goyang ustadzah... Goyang yang mantappp !!!"

Seketika mata Nada melebar. Ia tak mempercayai apa yang ia lihat dengan kedua matanya.

Tags:
Casbie Admin

Casbie Admin

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy