Tak terasa, waktu sudah mendekati akhir dari ujian di pesantren ini. Santri-santri merasa senang karena sebentar lagi mereka akan menikmati waktu liburan di rumah. Maka tak heran, ketika lonceng berbunyi. Santri-santri langsung pergi berhamburan keluar kelas agar bisa terbebas dari pikiran pusing yang mereka terima sewaktu ujian.
Hari sebelum terakhir di Pondok Pesantren al-Insan. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Keadaan mulai sepi dikarenakan para santri sedang beristiratah di asramanya masing-masing. Nampak disana seorang ustadzah yang berjalan melewati jalanan sepi ini. Ia menunduk. Kedua tangannya mendekap koreksian yang ia taruh di dada. Matanya menatap kosong karena pikirannya sedang berpetualang gara-gara memikirkan kejadian di pagi tadi.
Seneng banget deh, mas Hendra bisa keras lagi itunya...
Batin ustadzah tercantik itu.
Tapi gara-gara apa yah mas Hendra kok bisa membuat kontolnya mengeras ? Padahal akhir-akhir ini mas Hendra ada di rumah... Mas Hendra juga jarang pergi keluar... Kalau gara-gara obat ya gak mungkin lah, kalau iya ? Kapan mas Hendra keluar rumah untuk berobat ?
Batin Haura berfikir.
Huftt tapi tetep nih... Mas Hendra masih belum bisa tahan lama buat muasin aku... Aku juga belum sempet nyicipin kontolnya di rahim aku... Kira-kira kalau bisa masuk, rasanya bakal puas gak yah ? Kira-kira mas Hendra bisa muasin aku kayak pak Karjo gak yah ? Atau minimal kayak V juga gapapa sih...
Batinnya lagi terus merenung.
“Terus sekarang, jadi gak yah ?” lirih Haura sambil senyum-senyum sendiri.
Saat wajahnya ia naikan, ia melihat gedung kosong yang masih dibangun oleh para kuli. Haura jadi malu-malu untuk mendatangi pejantannya lagi. Haruskah ia menemuinya untuk meminta jatah darinya ? Entah kenapa memikirkannya saja sudah membuat rahimnya bergetar. Ia jadi ingin dimasuki penisnya lagi. Ia pun membayangkan tubuh kekarnya yang sudah telanjang terhidang di depannya. Tanpa sadar lidah Haura keluar menjilati bibirnya yang kering. Ustadzah tercantik yang semakin binal itu semakin tak sabar untuk dipuasi oleh kuli tua itu.
“Semoga aja pak Karjo ada deh... Semoga aja pak Karjo gak sibuk buat muasin aku... Semoga aja pak Karjo gak kaya kemarin” lirih Haura saat terakhir kali menemuinya ia justru tidak diberi jatah oleh penis kekarnya. Jujur, Haura agak kecewa waktu itu. Dirinya yang ingin dipuasi oleh penis beneran malah dikasih penis mainan olehnya. Walau ukurannya sama tapi sensasinya berbeda. Ia ingin merasakan yang asli yang bisa mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Bahkan ia berjanji untuk mengeluarkan sisi binalnya agar pejantannya bisa puas saat menikmati tubuh telanjangnya.
“Assalamualaikum” Sapa Haura kepada para kuli yang bekerja.
Sontak suara lembutnya membuat kuli-kuli yang bekerja pada berhenti semua. Mereka semua bersatu untuk menatap keindahan Haura yang tidak ada duanya. Haura jadi malu saat ditatap oleh kuli-kuli itu sekaligus. Apalagi kuli itu pada bertelanjang dada. Kuli itu cuma mengenakan celana pendeknya sehingga memamerkan tubuh kekarnya yang membuat Haura berasa dimanjakan oleh penampakan tubuh mereka. Entah kenapa pikiran Haura yang masih kotor gara-gara belum dipuasi oleh suaminya berkata.
Andai aku bisa lebih berani... Aku jadi ingin dinikmati oleh mereka semua deh biar mereka pada semangat kerjanya hihihi...
Batin Haura malu-malu saat terbayang kontol-kontol mereka yang keluar berebutan masuk ke dalam rahimnya. Haura merasa kemaluannya sudah basah. Padahal cuma berdiri disekitar kuli, gimana nanti kalau dipuasi beneran oleh para kuli ?
“Eh ustadzah Haura ? Ada apa nih ?” tanya seorang kuli sambil menatap penampilan indah Haura. Kuli itu terpana. Kuli itu jadi bertanya-tanya.
Indah sekali bidadari yang ada di depan saya ini... Apa yang diinginkan oleh bidadari ini dari kami ? Apakah ia ingin dicintai ? Atau ingin disetubuhi ? Ah astaga... Kotor sudah pikiranku gara-gara kecantikannya... Pasti beruntung kalau saya bisa jadi suaminya !
Batin seorang kuli yang bertanya tadi.
“Maaf ganggu waktunya yah pak... Aku cuma mau nanya ? Pak Karjo ada ?” tanya Haura sambil tersenyum yang membuat para kuli itu ikut tersenyum tanpa sadar.
“Oh ada di ruangan sebelah ustadzah” jawab mereka semua kompak sambil menunjuk ke arah ruangan yang dimaksud.
“Wahhh makasih yah pak... Kalau gitu aku permisi dulu... Semangat yah kerjanya” ucap Haura tersenyum malu-malu sambil menyemangati mereka semua.
“Pastinya ustadzah... Duh disemangatin sama ustadzah paling cantik mah bikin saya makin semangat nih” ucap seorang kuli.
“Kalau tiap hari disemangatin terus sama ustadzah Haura mah... Besok juga udah jadi nih gedung” ucap seorang kuli yang membuat Haura tertawa.
“Hihihihi besok deh aku dateng lagi buat nyemangatin kalian” ucap Haura tertawa yang membuat kuli-kuli itu semakin bahagia.
“Ditunggu yah ustadzah” ucap seorang kuli yang membuat Haura tersenyum malu-malu.
“Gak janji yah” ucap Haura menggoda mereka sambil mengedipkan mata.
Sontak keadaan di gedung kosong itu menjadi riuh. Keadaan menjadi ramai yang membuat Haura buru-buru pergi menuju ruangan yang tadi mereka tunjuk. Haura geleng-geleng kepala. Ia merasa bahagia ketika kuli-kuli kekar seperti mereka bersorak karena menanti kehadirannya. Sepertinya benar apa kata pak Karjo kalau semua kuli yang ada disini sangat mengidolakan dirinya. Maka terbayang dibenaknya andai dirinya berani untuk menyerahkan tubuhnya kepada mereka. Pasti tangannya akan sibuk mengocoki penis-penis mereka. Mulutnya juga akan sibuk dalam menyeruput satu demi satu penis mereka. Sedangkan rahimnya sudah pasti milik pak Karjo sedangkan duburnya sudah pasti milik pak Dino. Membayangkan hal itu membuat ia merinding nikmat.
“Hihihih berani gak yah ?” lirih Haura membayangkan kebinalannya.
Tokkk... Tokkk... Tokkk...
“Assalamualaikum pak” ucap Haura saat mengetuk pintu.
“Walaikumsalam... Masuk” ucap seseorang yang suaranya dikenali olehnya.
Saat Haura memasuki ruangan itu. Ia terkejut karena pria tua yang sedang ia cari tinggal mengenakan celana dalamnya saja. Entah kenapa ia jadi merinding. Ia pun terbayang keseksian tubuhnya yang membuat birahinya bergetar.
“Kekekekek ohh ada tamu istimewa nih” ucap Kuli kekar itu yang langsung menaruh paculnya setelah mengaduk semen untuk menyemen dinding agar semakin rata.
“Pak... Wah udah ada pintunya aja nih” Ucap Haura yang seingatnya ruangan ini masih ditutupi oleh tirai kain.
“Kekekekek iya dong ustadzah... Biar nanti kalau kita bercinta lagi, kita cuma perlu menguncinya dari dalem... Jadi kita gak perlu khawatir kalau ada orang yang tiba-tiba masuk” ucap Karjo mendekat sambil mendekap dagu manisnya kemudian menatapi wajah cantiknya. Haura tersenyum, bahkan ia dengan berani menatap tatapan penuh nafsu dari kuli tua itu.
“Tapi kalau aku maunya diliatin mereka gimana ? Gak cuma diliatin tapi dipuasi juga oleh mereka” ucap Haura menggodanya yang membuat pak Karjo tertawa.
“Kekekekek ya kita buka aja pintunya lebar-lebar... Biar orang-orang yang ada disini bisa melihat keseksian tubuhnya yang lagi digenjot oleh saya... Mau ?” tanya Karjo sambil menajamkan pandangannya ke arah mata Haura.
“Hihihihi... Aku maunya sama bapak aja deh yang udah terbukti kepuasannya... Ibarat ojol pasti bapak udah aku kasih bintang lima deh” kata Haura yang membuat pak Karjo tertawa bahkan sampai pandangannya ia angkat ke langit-langut.
“Kalau gitu, apa review-nya ustadzah ?” ucap Karjo menantikan jawaban dari ustadzah binal itu.
“Kontol bapak gede banget, kontol bapak item banget, kontol bapak nafsuin banget... Aku sampe kelojotan pak” ucap Haura sambil malu-malu setelah mengucapkan kata-kata kotor itu.
“Kekekekek terus ?” tanya Karjo.
“Aku puas banget sama genjotan bapak... Genjotan bapak penuh tenaga bikin aku lemes gak berdaya” ucap Haura tersipu yang membuat Karjo tertawa puas.
“Lagi dong ustadzah... Biar kontol saya makin on nih” ucap Karjo sambil menunjukkan penisnya yang mulai mengeras dari balik celana dalamnya.
“Emang ada yang lebih baik dari pelayanan bapak ? Dengan tubuh kekar bapak yang memanjakan mata, dengan perut kotak-kotak bapak yang bikin aku tergoda, dengan penis indah bapak yang bikin aku tak berdaya... Aku rela menyerahkan semuanya agar diriku bisa menikmati pelayanan bapak” ucap Haura yang membuat Karjo puas mendengarnya.
“Kekekekek yakin, ustadzah rela menyerahkan semuanya ?” ucap Karjo sambil mengangkat dagu Haura lagi.
“Heem pak... Aku rela nyerahin seluruh hartaku agar bisa dinikmati bapak selama semalam” ucap Haura yang semakin bernafsu.
“Gak perlu ustadzah... Saya gak butuh hartamu... Yang saya butuhkan adalah memekmu” ucap Karjo yang entah kenapa menyentuh hati Haura. Haura pun hanya malu-malu saat ditatap seperti ini oleh pejantan tuanya.
“Bahkan tidak hanya semalam... Saya rela melakukannya dengan ikhlas selama seminggu beruntun untuk bisa memuasi tubuh indahmu... Jujur, siapa yang gak mau menikmati susu bulat ini ? Siapa yang gak mau menikmati keseksian tubuh ini ? Siapa yang gak mau menikmati keindahan wajah ini ? Mmmpphhh” desah Karjo setelah membelai payudaranya lalu merangsang pinggang rampingnya baru setelah itu mendekap bibirnya dengan bibir tuanya.
“Mmpphhh bapaakkk” desah Haura dengan manja.
“Saya rela melakukannya gratis karena tubuh ustadzah sangat layak untuk dipuasi oleh saya... Ustadzah gak perlu membayar malah seharusnya saya yang kudu membayar untuk menikmati keseksian tubuhmu ini” ucap Karjo setelah melepas cumbuannya sesaat baru setelah itu mencumbunya lagi.
.”Mmpphhh... Gak perlu pak... Mmpphh bapak kan jago dalam memuasi aku... Untuk bapak special... Bapak gak perlu membayar karena aku melakukannya bukan untuk harta tapi untuk kepuasan” ucap Haura yang membuat Karjo merinding mendengarnya.
“Oh yah ? Kekekekek... Kalau ada kuli lain yang ingin memuasimu gimana ustadzah ?” ucap Karjo semakin bernafsu setelah menghentikan cumbuannya lagi kemudian menatap wajahnya yang sungguh binal itu.
“Selama bisa memuasiku ya gapapa pak... Aku rela, asalkan dalam pengawasan bapak” Ucap Haura tersenyum malu-malu saat menikmati waktu berduanya dengan kuli tua itu.
“Kok dalam pengawasan saya sih ustadzah ? Kekekekek” tawa Karjo.
“Karena bapak yang lebih tau mereka... Bapak harus bertanggung jawab nanti kalau kuli itu gak bisa memuasiku” ucap Haura yang membuat Karjo tertawa puas.
“Caranya ?” tanya Karjo tersenyum.
“Bapak harus menyetubuhiku... Bapak harus menggenjot tubuhku... Bapak harus melayaniku... Pokoknya bapak gak boleh berhenti sebelum aku bilang berhenti” ucap Haura sambil membelai dada bidang Karjo karena saking gemasnya. Sepertinya Haura semakin hanyut setelah terbawa suasana oleh kata-kata kuli kekar itu. Bahkan tangannya sudah semakin berani dalam membelai ketelanjang kuli kekar itu.
“Kekekekek kapanpun itu... Berapa lamapun itu... Yakinlah, saya pasti akan selalu bisa memuasimu” ucap Karjo kembali mencumbu bibirnya.
“Mmpphh... Iyyah pak... Aku percaya kok karena memang bapak satu-satunya orang yang bisa memuasi nafsu besarku... Aku sayang bapak... Aku mau bapak memuasiku, membelai tubuhku dan melayaniku dengan penuh nafsu” ucap Haura yang semakin bernafsu hingga ia tak bisa mengontrol kalimat-kalimat mesum yang keluar dari lisannya.
“Kalau ustadzah bawa temen gimana ? Biar saya memuasi temen ustadzah juga” Ucap Karjo tiba-tiba yang membuat Haura tidak terima.
“Buat apa ? Emang aku belum cukup yah pak ?” tanya Haura sampai berhenti mencumbu bibir pejantannya.
“Kekekekek orang tadi aja ustadzah rela buat dipuasi kuli lain... Masa saya gak boleh buat memuasi ustadzah lain sih ?” ucap Karjo sambil tersenyum.
“Ya gak boleh lah... Ustadzah-ustadzah disini kan cantik ? Nanti kalau aku ditinggalin bapak gimana ? Karena nyantol sama ustadzah lain yang bisa bikin bapak puas daripada aku ?” ucap Haura merasa cemburu.
"Kekekekek tenang ustadzah... Secantik apapun mereka, sebohay apapun tubuh mereka... Tetap, ustadzah Haura adalah yang nomor satu bagi saya” ucap Karjo yang membuat amarah Haura pelan-pelan luluh setelah mendengar kalimatnya.
“Beneran ?” tanya Haura dengan nada ngambek.
“Iya ustadzah... Selama ustadzah bisa memuasi saya... Tentu saya akan jadikan ustadzah yang nomor satu bagi kontol saya” ucap Karjo yang membuat Haura tersenyum.
“Janji yah pak... Beneran ? Kalau gitu aku akan berusaha untuk lebih binal lagi deh biar bapak tetap betah sama aku disini” ucap Haura kembali mendekap bahu kekarnya.
“Pilihan yang bijak ustadzah... Justru karena kebinalanmu lah, saya selalu nafsu tiap kali melihatmu berjalan ke arahku” ucap Pak Karjo tersenyum.
“Makasih yah pak... Tolong kalau aku nanti belum binal jangan dimarahin... Ajarin aku yah pak... Biar aku bisa dipuasi terus oleh bapak” ucap Haura bermanja-manja dengan membelai puting hitamnya.
“Tenang ustadzah... Saya akan bersamamu semalaman hanya untuk mengajarimu apa itu kebinalan yang sesungguhnya” ucap Karjo kembali mencumbu bibirnya.
“Mmpphhh makasih yah pak... Itu yang bikin aku sayang sama bapak... Bapak selalu bisa ngertiin aku... Bapak selalu bisa muasin aku... Tolong jangan pergi yah pak... Tetap puasi aku sampai aku bisa binal sebinal-binalnya” ucap Haura yang membuat Karjo semakin bernafsu saat mendengar kalimatnya.
“Kekekek tenang ustadzah... Kontol saya selalu ada untuk memuasi memekmu” ucap Karjo tertawa menyadari Haura sudah menyerahkan dirinya untuk dipuasi olehnya.
“Iyyah pak makasih... Mmpphh” Haura pun mendorongkan bibirnya untuk mencumbu bibir pejantan tuanya.
Tiba-tiba pintu terbuka. Haura yang sedang menimati ciumannya dengan pak Karjo sontak terkejut. Reflek ia mendorong tubuhnya. Lalu bersikap seolah biasa saja sambil mengelap bibirnya yang terkena liur kuli tuanya.
Tapi apa boleh buat, pergerakan mata jauh lebih cepat dari pergerakan tubuh. Orang yang baru buka pintu sudah melihat semuanya. Tapi sikap Karjo hanya santai saja. Ia malah tersenyum sambil menegur kuli tua lainnya.
“Dasar pak Dino nih ganggu aja” ucap Pak Karjo menegur kuli tertua yang bekerja disini.
Sementara Haura hanya senyum-senyum saja. Ia hanya menatap ke tanah karena terlalu malu dengan aksi binalnya tadi.
“Maaf pak... Maaf... Gak nyangka ada ustadzah Haura disini” ucap Pak Dino bener-bener terkejut dengan kehadiran Haura di gedung ini. Ia yang baru saja datang dari luar pesantren tak menyadari kalau Haura datang kesini untuk meminta jatah ke pak Karjo.
“Gapapa pak... Mana notanya” ucap Pak Karjo mengambil nota itu lalu menyerahkannya langsung ke ustadzah Haura.
“Ini yah ustadzah... Tolong berikan ke suamimu itu... Terus sampaikan juga permintaan maaf saya karena baru saja menodai istri cantiknya” ucap Karjo yang hanya membuat Haura tersenyum malu saja.
“Gak perlu minta maaf pak... Aku kok yang minta dipuasi” Ucap Haura malu-malu yang membuat pak Dino hanya melongo saja.
“Yaudah kalau gitu saya mau lanjut kerja lagi... Itu yah pak bahannya” ucap pak Dino sambil menunjuk ke arah peralatan yang baru dibelinya.
“Siap pak” Ucap pak Karjo sambil tersenyum saat pak Dino menutup rapat pintunya.
“Maaf yah pak... Bapak sibuk yah ? Maaf aku malah ganggu” ucap Haura merasa tak enak.
“Kekekekek gapapa ustadzah... Anggap saja tadi waktu istirahat bagi saya” ucap Karjo tak mempermasalahkan.
“Hihihih kalau gitu aku pergi aja deh... Nanti sore tolong datang yah pak ke rumah” Ucap Haura berjalan menuju pintu lalu menolehkan wajahnya ke belakang untuk menatap pejantannya.
“Ke Rumah ?” tanya pak Karjo seolah paham maksud dan tujuan Haura.
“Pokoknya bapak harus bisa muasin aku nanti sore !” ucap Haura sambil mengedipkan mata untuk menggoda pejantannya.
“Tenang ustadzah... Sore itu waktu yang tepat... Setelah saya bekerja otomatis tubuh saya akan berada di kondisi yang prima... Itu waktu yang tepat untuk bercocok tanam dirahimmu” ucap Pak Karjo bersemangat yang membuat Haura tertawa malu.
“Hihihi semangat yah pak kerjanya” Ucap Haura yang hanya dijawab senyuman oleh pejantannya.
Haura sambil malu-malu pun keluar dari ruangan itu. Sontak para kuli yang melihatnya langsung menggodanya karena Haura begitu lama berduaan di ruangan itu. Beberapa dari mereka bahkan ada yang menuduh Haura baru saja melakukan adegan kencan dengan pak Karjo. Beberapa ada yang merasa iri. Beberapa malah ada yang mendoakan Haura agar langgeng dengan pak Karjo. Sontak Haura hanya tertawa saja. Ia sambil malu-malu berjalan keluar dari gedung yang sedang dibangun itu.
“Hihihi dasar mereka... Tapi kok kenapa aku sampai ngeluarin kata-kata kayak gitu yah ke pak Karjo ? lirih Haura saat teringat dirinya begitu bernafsu sampai memberikan review mesum kepada pak Karjo.
“Apa aku sudah beneran binal ? Bahkan aku sempat khawatir kalau pak Karjo ingin bercinta dengan ustadzah lain... Ah gak mungkin, Siapa juga ustadzah yang mau ? Kayaknya cuma aku aja deh yang paling binal di pesantren ini... Kayaknya cuma aku yang terang-terangan menyerahkan tubuhku pada pejantan gantengku... Hihihihi” tawa Haura dengan malu-malu.
Ia bergidik ngeri membayangkan dirinya yang sudah ada di tahap sebinal ini. Tapi mau bagaimana lagi ? Ia bersikap kayak gini hanya kepada pak Karjo seorang kok. Ia bahkan merasa malu tuk melakukan hal ini di depan V. Bahkan ia juga malu untuk melakukan hal kayak tadi di depan suaminya. Memang, hanyalah pak Karjo seorang yang bisa membuatnya tampil lepas kayak tadi. Tapi justru itu yang ia cari. Ia sudah terlanjur nyaman bersama pak Karjo. Ia sudah terlanjur nyaman hingga membuatnya bisa bebas mengobrolkan hal yang mesum-mesum kepadanya. Meskpun begitu, tetap ada rasa malu yang menahan kodratnya sebagai ustadzah pondok pesantren.
“Hihihih, jadi makin gak sabar deh... Oh yah aku harus dandan yang cantik nih sebelum pak Karjo dateng ke rumah... Suamiku ada janji muwajjah lagi dengan Iqbal kan yah, sore ini ?” Ucapnya saat teringat ucapan suaminya saat berjalan bersama menuju ruang kelas ketika menjadi pengawas di pagi tadi.
*-*-*-*
Sore hari di salah satu rumah yang berada di perumahan ustadz senior
Haura sedang duduk di kursi sambil menatap cermin yang ada di hadapannya. Ia tengah berias. Ia tengah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan pejantannya. Entah kenapa ia menjadi makin gugup. Dilihatnya jam yang ada di dinding rumahnya. Ia kembali berias. Tak lama kemudian ia kembali melihat ke arah jam dinding rumahnya. Ia merasa gelisah, jantungnya berdebar dengan kencang saat menyadari kalau pejantannya akan datang sebentar lagi.
Dengan hijab merah bercorak hitam yang membalut kepalanya. Dengan gamis panjang berwarna putih yang membungkus tubuh rampingnya. Dengan riasan tipis yang memperindah wajahnya dan dengan wewangian yang ia semprotkan ke tubuh indahnya. Haura terlihat sangat cantik. Ia seperti gadis muda yang telah siap berkencan dengan kekasihnya. Haura jadi malu sendiri. Padahal usianya sudah menginjak 25 tahun. Ia juga sudah menikah dan lelaki yang ia tunggu merupakan pria tua bertubuh kekar yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan. Tapi kenapa ia sampai berdandan seperti ini untuk menyambut kehadirannya ? Bahkan tadi saja saat suaminya kembali meminta izin untuk bermuwajjah bersama Iqbal, ia merasa senang sekali. Haura telah berubah. Ia sendiri merasakan perubahannya semenjak kehadiran pak Karjo di hidupnya.
Tokk... Tokkk... Tokkkk...
Haura tersenyum setelah mendengar ketukan pintu. Ia semakin tak sabar. Ia pun buru-buru berlari menuju pintu masuk untuk menyambut tamu istimewanya itu.
“Iyyahhh... Aku kesana” ucap Haura saat berlari mendekati pintu masuk.
Saat pintu dibuka. Nampak seorang pria tua yang mengenakan pakaian sederhana berupa kaus berlengan pendek bergambar banteng dengan corak merah yang ada disekitarnya. Sedangkan bawahannya hanya mengenakan celana kolor pendek yang itu pun masih memperlihatkan sikunya. Penampilannya itu berbanding terbalik dengan Haura yang mengenakan pakaian rapih.
Seketika kuli tua itu tersenyum. Apalagi saat ia menghirup aroma wangi yang berasal dari tubuh sang dewi. Kuli tua itu mendekat, lalu mendekap pinggang rampingnya untuk menatap wajah cantiknya.
“Hmmm wangi sekali dirimu ustadzah... Maaf saya cuma datang dengan pakaian apa adanya... Kekekekekek” kata Karjo tertawa.
“Hihihi gapapa pak... Aku malah suka... Karena yang terpenting dari bapak itu apa yang ada dibalik pakaian bapak” ucap Haura tersenyum sambil memberanikan diri menatap wajah pejantannya.
Kuli tua bernama Karjo itu tersenyum. Dinikmatinya wajah yang sangat indah itu. Pak Karjo semakin bernafsu. Tangannya pun tak sabar untuk membelai pipi mulusnya. Pak Karjo tertawa, tanpa menatap ke belakang, ia menutup rapat pintu rumah sang bidadari yang nampaknya sudah diperbaiki.
“Kekekeke... Maaf kalau dulu saya sempat merusak pintu rumahmu ustadzah” ucap Karjo teringat masa lalu.
“Gapapa pak... Itu masa lalu... Jangan dipikirin... Aku udah maafin semua sikap bapak ke aku kok” ucap Haura yang masih menikmati wajah pejantannya.
“Kekekekek... Kalau sekarang aku ingin merusak kealimanmu gapapa ? Saya ingin menodai ustadzah sepertimu lagi ustadzah” ucap Karjo sambil mengangkat wajah Haura kemudian mendekatkannya ke wajah buruknya.
“Gapapa pak... Kealimanku juga udah rusak kok... Kalau bapak mau rusak lagi gapapa... Aku pasrah pak selama bapak bisa memuasi aku” ucap Haura yang tampak pasrah pada pejantannya.
“Kekekek pilihan yang bijak ustadzah... Saya suka, karena yang terpenting dari ini semua adalah kepuasan... Bener kan ? Ustadzah sayang ?” ucap Pak Karjo sambil mendekatkan bibirnya untuk mencumbu bibir ustadzahnya.
“Mmpphhh bener pak... Mmpphhh bener banget” ucap Haura sambil mendekap kedua pinggang sang kuli.
Bibir Karjo bergerak maju. Bibirnya dengan beringas mencumbu dengan nafsu. Didorongnya bibir dari ustadzah pesantren itu. Pelan-pelan bibirnya membuka. Pelan-pelan bibirnya mengapit bibir atasnya itu. Lidahnya bergerak. Lidahnya keluar untuk membasahi bibir kering itu. Diluar dugaan Haura ikut bergabung. Dikala bibir atasnya dicumbu, ia membalas dengan mengapit bibir bawah kuli kekar itu. Dikala bibir atasnya dijilati oleh kuli tua itu maka lidahnya menjilati bibir bawah kuli tua itu. Haura mengapitnya, Haura menarik bibirnya ke arahnya. Haura memejam. Ia tampak menikmati cumbuannya dengan sang pacar.
Ya, rasanya memang seperti itu. Ia seperti sedang bercumbu dengan seorang lelaki yang ia anggap pacar. Pacar yang bisa menyenangkan hatinya. Pacar yang bisa melampiaskan nafsu besarnya. Kedua tangannya pun naik meraba dada sang kuli. Haura menggelitiki putingnya dari luar kaus banteng yang dikenakannya. Karjo tersenyum, ia paham kalau wanitanya ingin menikmati tubuh kekarnya. Sambil terus berciuman, ia pun menaikan kausnya untuk menelanjangi dirinya dihadapan ustadzah binal itu.
“Sebentar ustadzah” katanya melepas cumbuannya sambil melepas kaus bantengnya.
Nampak tubuh kekarnya terlihat. Tubuhnya yang berwarna gelap merangsang birahi ustadzah pesantren itu. Haura tersenyum malu. Ia begitu dimanjakan oleh kekarnya tubuh sang kuli. Ia dengan malu-malu menatap wajahnya. Ia membuka mulutnya untuk meminta izin kepadanya.
“Pakkk... Boleh aku pegang ?” tanya Haura yang gemas untuk menikmati tubuh kekarnya.
“Boleh ustadzah... Silahkan” ucap Karjo yang membuat Haura tersenyum senang.
Haura yang gemas langsung membelai perut kekarnya. Haura tersenyum merasakan betapa kerasnya perut kotak-kotak itu. Rabaannya pun naik hingga ke dada bidangnya. Haura kagum pada lebarnya dada bidang itu. Kedua tangannya pun menyebar ke kiri dan ke kanan. Kedua tangannya mengusap dadanya lalu berpindah ke putingnya. Haura menggelitikinya. Haura memainkan puting yang menggemaskan itu. Walau tubuhnya agak berkeringat. Walau tubuhnya mengeluarkan aroma yang menyengat. Hal itu justru membuat Haura semakin bernafsu. Ia jadi terangsang gara-gara aroma kejantanan yang berasal dari tubuh kekarnya.
“Ustadzah suka ?” tanya Karjo saat melihat betapa menikmatinya ustadzah pesantren itu saat membelai tubuhnya.
“Hihihi... Suka banget pak... Kekar banget sih tubuh bapak” ucap Haura malu-malu.
“Kekekek terima kasih ustadzah... Saya rela bekerja siang dan malam. Saya juga rela mengangkat beban berat saat bekerja hanya demi membentuk tubuh kekar ini ustadzah... Menurutmu, kenapa saya sampai rela melakukan pekerjaan berat ini ? Untuk siapa saya melakukan semua ini ?” tanya Karjo sambil menatap betinanya.
“Untuk aku kan pak ?” tanya Haura malu-malu.
“Tepatnya untuk memuaskan ustadzah binal sepertimu ustadzah... Silahkan jadikan saya fantasimu... Saya tau ustadzah sering membayangkan tubuh kekar saya kan ?” ucap Pak Karjo yang membuat Haura malu-malu.
“Hihihih menurut bapak ?” tanya Haura sambil mendekap dada kekarnya.
“Pasti iya ustadzah... Bukan cuma tubuh kekar saya... Tapi kontol perkasa saya juga kan ?” ucap Karjo yang membuat Haura merinding membayangkannya.
“Hihihi iya pak... Betul” ucap Haura malu-malu mengakui hal itu.
“Kekekekek... Kalau gitu lepas semuanya ustadzah... Telanjangi saya... Lalu puaskan nafsumu itu pada tubuh saya” ucap Karjo melebarkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan. Ia seolah pasrah membiarkan betinanya untuk menelanjangi dirinya.
“Hihihi beneran pak ? Makasih yah pak” ucap Haura tampak sumringah saat diizinkan melihat tubuh telanjangnya.
Sambil tersenyum malu-malu. Haura berjongkok sambil memegangi tepi celana kolor itu. Saat celana itu diturunkan, Haura mulai dapat melihat bulu jembutnya yang begitu semrawut. Haura tersipu. Saat celana kolor itu diturunkan lagi. Ia mulai melihat pangkal penisnya yang begitu keras. Haura deg-degan. Saat celana kolor itu semakin turun. Nampak setengah dari penisnya membuat mata Haura membuka lebar. Haura terpesona. Ia pun buru-buru memelorotkan seluruh celananya bahkan meminta pak Karjo mengangkat salah satu kakinya agar celana itu bisa terbebas seluruhnya.
“Bapak gak pake celana dalem yah ?” tanya Haura malu-malu saat memandangi penis hitam itu.
“Kekekek sengaja ustadzah, karena saya tahu... Pasti saya akan ditelanjangi olehmu” ucap Karjo yang membuat Haura tersenyum malu.
Haura mundur selangkah, matanya melihat dari atas ke bawah. Mula-mula ia menatap wajahnya, lalu tubuh kekarnya, lalu perut kotak-kotaknya lalu batang penisnya yang bentuknya mirip pentungan satpam itu. Haura benar-benar terpesona pada kesempurnaan tubuh yang dimiliki oleh kuli kekar itu. Haura jadi semakin bernafsu, ia benar-benar dimanjakan oleh tubuh kekar itu.
“Paaakkk... Aku boleh menikmati tubuh bapak kan ?” tanya Haura malu-malu sambil menatapi tubuh kekar itu.
“Kekekek boleh ustadzah” jawab Karjo sambil tersenyum.
“Aku boleh ? Sesuka aku ?” tanya Haura lagi memastikan.
“Silahkan ustadzah... Silahkan nikmati tubuh saya sepuasmu” ucap Karjo yang membuat Haura semakin bergairah saat mendengarnya.
Dengan malu-malu, Haura mendekati pejantannya. Haura tersenyum. Senyum malu-malunya membuat Karjo tertawa lepas. Karjo mengangguk, Haura melingkarkan lengannya ke leher pejantannya itu. Dinikmatinya wajah kuli tua itu oleh Haura. Entah kenapa, Haura tak terganggu oleh wajah buruknya itu. Sebagai wanita yang tengah bergairah. Wajah Karjo bukanlah sebuah masalah. Karena yang terpenting baginya adalah tubuh kekarnya.
“Paakkkk” panggil Haura sambil memejamkan mata lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang kuli.
Karjo paham, ia juga memejamkan mata untuk membalas perlakuan Haura yang ingin dicumbu olehnya.
“Mmpphh” desah mereka berdua dengan penuh gairah.
Mereka bercumbu. Bibir mereka beradu. Bibir mereka saling dorong dan bibir mereka saling berpagut. Lidah Karjo kembali bergerak untuk membuka mulut Haura, lidah itu menggeliat lincah bagai seekor belut yang keluar dari sarangnya. Lidah itu membuka gua diseberang. Lidahnya mulai menjelajah menjilati seisi rongga mulutnya. Ketika lidahnya bertemu dengan lidah di seberang. Lidah mereka beradu. Lidah mereka saling dorong. Lidah mereka saling tindih-tindihan secara bergantian. Awalnya lidah Haura menindihi lidah pejantannya. Lalu berganti menjadi lidah Karjo yang menindihi lidah betinanya. Lidah Karjo menggesek lidah betinanya. Mereka tampak menikmati percumbuannya ini. Liur mereka sampai menetes keluar membasahi gamis yang sedang Haura kenakan.
“Mmpphhh” desah Haura sambil melepas cumbuannya.
Seketika Karjo terkejut kenapa Haura buru-buru melapas cumbuannya. Namun saat wajahnya menatap wajah indahnya. Karjo malah tersenyum saat melihat betinanya sedang tersenyum melihatnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata. Haura dengan malu-malu mulai menundukan wajahnya. Wajahnya bergerak ke arah dada bidangnya. Karjo terkejut saat merasakan adanya gelitikan disana. Rupanya Haura sedang menjilatinya. Haura malu-malu menjilati dadanya itu. Karjo tersenyum. Nampaknya Haura sudah tergila-gila pada keperkasaan tubuhnya yang kekar.
“Aaahhhh... Aaahhhh... Geli banget ustadzah” desah Karjo sambil mengelusi sisi belakang kepalanya.
Haura hanya tersenyum. Dirinya semakin bergairah saat menjilati dadanya itu. Lidahnya mengarah ke arah putting kirinya. Haura bernafsu. Aroma kejantanan Karjo telah membuatnya semakin nafsu. Haura menjilati puting sebelah kanannya. Haura menggigitnya. Haura juga mengecupnya untuk menikmati puting pejantannya. Sontak Karjo mengerang nikmat. Karjo tersenyum puas sambil terus membelai kepala ustadzah pesantren itu.
Lagi, Haura berpindah ke puting satunya. Dikala ia menjilatinya, tangan kanannya menggelitiki puting kirinya. Tangan kirinya juga menikmati keperkasaan tubuh Karjo dengan membelai perut kekarnya.
“Aaahhhhh... Aaahhhh... Nikmat sekali ustadzah... Ayo lagi... Jangan malu” ucap Karjo yang membuat Haura hanya tersenyum saat menjilati tubuh pejantannya.
Haura sangat fokus saat menjilati tubuh kuli tua itu. Sedari tadi, ia tak mengucapkan sepatah katapun saat menikmati tubuh kekarnya. Ia juga melakukan hal yang sama saat ini. Lidahnya turun ke arah perut kekarnya. Tubuhnya pun menungging menuruti keinginan lidahnya itu. Dalam posisi menungging, Haura terus menjilatinya. Haura sudah seperti induk kucing yang memandikan anak-anaknya. Haura begitu menikmatinya. Ia pun kembali turun hingga ke arah penisnya.
“Aaahhhh.... Lembut sekali tanganmu ustadzahh... Ouuhhhhh... Mmmpphh yahh” desah Karjo saat penisnya di dekap oleh tangan lembut Haura.
“Hihihi ini loh pak yang paling aku tunggu” ucap Haura yang akhirnya berbicara saat memegangi tongkat saktinya.
Sambil malu-malu, ia memberanikan diri menatap pejantannya. Tangan kanannya terus membelai penis hitam itu. Tangan kananya bergerak maju lalu bergerak mundur. Lalu maju lagi lalu mundur lagi. Kulit penis Karjo pun tergesek. Karjo sampai merinding. Apalagi saat ia melakukannya sambil menatapi wajah tubuh Haura yang masih menungging.
Plaaakkkk !!!
Karjo menampar Haura dengan gemas.
“Aahhhh pakkk” desah Haura sambil terus mengocoki penis Karjo.
“Kekekek nakal yah ustadzah... Nih hukuman buatmu !” ucap Karjo kembali menamparnya.
Plaakkkk !!!
“Aaahhhhhh lagiii pakkkk !” ucap Haura yang malah bergairah saat bokongnya ditampar.
“Lagi ? Ini untukmu ustadzah !” ucap Karjo dengan gemas sambil menampar bokong Haura.
Plaaaakkkk !!!
“Uuuhhhhh bapaakkk” desah Haura semakin bergairah.
Sambil menungging Haura mulai menjilati ujung gundulnya. Lidahnya itu menyapu area disekitar lubang kencingnya. Haura pun berjongkok karena merasa lelah. Ia kembali mengocoknya. Lidahnya kembali ia keluarkan untuk menjilati ujung gundulnya. Dikala ujung gundulnya dijilat maka batang penisnya dikocoki oleh tangan lebut ustadzah tercantik itu. Haura begitu menikmatinya. Matanya bahkan sampai memejam yang membuat Karjo semakin blingsatan saat menatap wajah indahnya.
“Ssllrrpp mmpphh... Ssllrrpp mmpphhh” desah Haura saat menjilati ujung gundulnya.
Haura melepas cumbuannya. Ia pun menaikan pandangannya untuk menatap pejantannya. Nampak Haura tersenyum. Jemarinya terus mengocok-ngocok batang penis itu. Jemarinya bahkan menekan-nekan ujung gundulnya terutama lubang kencingnya yang membuat Karjo mengerang keenakan. Karjo juga tersenyum. Ia jadi semakin sayang pada ustadzah tercantik itu karena semakin lihai dalam memuasi penisnya.
“Nikmat gak pak ?” tanya Haura sambil tersenyum.
“Ouhhh... Ouuhhhh... Banget ustadzah... Nikmat banget rasanya” ucap Karjo sambil tersenyum bangga. Ia tampak bangga karena sudah menjadikan Haura sebinal ini.
“Hihihi kalau gitu aku mau sepong kontol bapak lagi boleh ?” ucap Haura malu-malu saat meminta izin kepada kuli tuanya.
“Silahkan ustadzah... Sepong kontol saya sepuasmu” jawab Karjo mengizinkannya.
Sambil malu-malu, Haura tersenyum lalu membuka mulutnya untuk mencaplok tepi gundulnya saja. Tangannya yang telah berada di batangnya terus dikocoki oleh tangan mulusnya. Karjo merinding hingga tubuhnya bergetar menahan sensasi yang tak terkira. Apalagi saat mulut Haura menyedot-nyedot ujung gundulnya.
Mulut Haura kembali membuka untuk menjilati lubang kencing kuli tuanya. Karjo gemetar. Penisnya sampai berkedut saat dirangsang oleh ustadzah pesantren itu.
“Aaahhhh ustadzahhh... Aahhhh nikmat sekali... Rasanya kayak mau keluar aja... Uhhh” desah Karjo yang keheranan dirinya merasa akan keluar padahal baru dijilati oleh lidah bidadari berhijab itu.
“Hihihi masa sih pak ? Jangan bercanda ah... Baru juga segini” ucap Haura yang tak mempercayainya.
“Aaahhhhh... Aahhhh... Serius ustadzah... Servismu makin lama makin ajib aja... Saya tadi hampir aja kecolongan kalau gak narik nafas” kata Karjo keheranan.
Ya ia heran kenapa dirinya bisa nyaris keluar padahal dirinya pernah menggenjot vagina Haura semalaman. Ia bingung, kenapa sekelas dirinya bisa kewalahan seperti ini. Tapi ia tersenyum kemudian karena sadar, Haura sudah semakin ahli dalam memainkan batang penisnya ini.
“Hihihih preeetttt !” ucap Haura sambil menjulurkan lidahnya tuk mengejek pejantannya. Karjo jadi gemas, ia pun bertekad untuk membalas sikap Haura ini saat menggempir kemaluannya nanti.
Haura kembali mencaplok penisnya. Bahkan ia meludahinya dulu agar penis itu semakin licin dikulum olehnya. Ia lekas menggerakan kepalanya tuk menjepit penis besar itu menggunakan bibirnya. Karjo semakin mendesah. Penis nya semakin terjepit di dalam mulut ustadzah pesantren itu.
Nafas Karjo perlahan sesak. Dadanya pun terasa berat saat dirinya merasakan adanya gelombang yang mengalir dari dalam. Penis nya semakin berkedut yang membuatnya sadar kalau dirinya bisa keluar sebentar lagi. Tapi ia ingin menikmati sepongan Haura lebih lama lagi. Ia mengatur nafasnya. Ia sekuat tenaga untuk bertahan dari serangan mulut Haura.
"Ahhhhhh.... Ahhhhhh... Ahhhh nikmat banget ustadzahhh... Uuuhh" Desah Karjo.
"Mmmmppphhhhh... Mmpphh iyyahh pak... Kontol bapak enak banget sih... Mmmmppphhhhh" Desah Haura terus merangsang pejantannya.
"Ahhhh.... Ahhhhhhhh... Iyahhh... Iyah ustadzah... Ayo terus" Desah Karjo sambil mengatur nafasnya.
Ssllrrppp... Sllreppp... Slllrrppp
Gairah birahi Haura semakin tak terkendali. Kulumannya lama-lama semakin menjadi. Kepalanya maju mundur dengan begitu cepat. Lidahnya juga bergerak di dalam sehingga Karjo semakin nikmat.
“Aaahhhh... Aahhhh... Ustadzahhh... Cukuppp... Cukupppppp” desah Karjo sambil menarik penisnya keluar secara paksa.
“Mmpphhh” desah Haura terkejut saat Karjo menarik penisnya. Namun saat ia mengangkat wajahnya. Ia malah tersenyum malu.
“Hah... Hah... Hah... Gila ! Binal sekali dirimu ustadzah... Udah tau kontol saya berkedut-kedut tapi masih saja dikulum terus” ucap Karjo terengah-engah dengan puas.
“Hihihih iya pak aku tahu... Tapi kontol bapak enak banget sih... Aku jadi gak bisa nahan diri” ucap Haura malu-malu.
“Dasar... Akan saya balas nanti yah !” ucap Karjo sesumbar untuk membuat ustadzah tercantik itu menjerit-jerit denga nikmat.
“Coba aja kalau bisa !” ucap Haura menjulurkan lidahnya lagi sambil berdiri menantang pejantannya.
“Dasar kamu yah” ucap Karjo gemas sehingga menggendong Haura yang membuat betinanya tertawa lepas.
“Hihihihi pakk... Aku mau dibawa kemana ?” tanya Haura saat dibawa oleh pejantannya.
“Diam kamu... Saya udah gak kuat pengen menggenjot tubuhmu !” ucap Karjo yang rupanya membawanya menuju dapur.
“Aaaahhh” desah Haura saat didudukkan di tepi meja makan.
“Hah... Hah... Hah... Berani banget yah ustadzah udah nantangin saya... Jangan nangis yah kalau nanti saya genjot tubuhmu dengan beringas !” ucap Karjo sambil menatap wajah indah Haura dengan gemas.
“Hihihihi bukttin aja kalau bisa... Aku malah penasaran gimana sih bapak kalau lagi nafsu-nafsunya” Ucap Haura yang malah menantang balik.
Sontak tapi ada ba-bi-bu lagi. Karjo lekas mencumbu bibirnya lagi sambil membuka paksa gamis lebar yang masih Haura kenakan.
“Mmpphhh pakkkk” desah Haura terkejut pada dorongan bibir Karjo yang begitu bernafsu.
Dikala bibir ustadzah tercantik itu di dorong. Tangan kekar Karjo membuka paksa gamis yang sedang Haura kenakan. Tali ikat yang ada di pinggangnya dilepas. Resleting yang ada di punggungnya juga diturunkan secara bebas. Ia tampak terburu-buru dalam menelanjangi tubuh betinanya. Bahkan ia menarik paksa gamis itu kebawah dan nyaris membuat gamis itu robek. Sadar kalau ia kesusahan saat membugilinya ketika akhwat cantik itu masih duduk di meja makan. Karjo menarik tubuh Haura kebawah. Kakinya sudah berpijak di lantai. Kini mereka saling berhadapan dalam bibir yang saling bercumbuan.
“Mmpphh... Mmpphhh ustadzah gak tau kalau saya lagi beringas ? Ustadzah lupa yah atas apa yang udah saya lakuin ke ustadzah dulu” ucap Karjo penuh nafsu.
“Iyya pak ? Emang bapak pernah beringas... Seingatku enggak tuh” ucap Haura menantang yang membuat Haura tersenyum.
“Dasar yah... Sepertinya ustadzah sudah menentukan pilihanmu yah ? Pilihan yang bijak ustadzah... Siap untuk saya habisi memekmu sampe ndower yah !” ucap Karjo berambisi untuk melebarkan kemaluan akhwat tercantik itu.
“Iyyahhh... Coba aja pak... Aku pasrah” jawab Haura yang semakin membaut Karjo gemas.
Gamis Haura langsung turun saat ditarik paksa oleh Karjo. Untungnya gamis itu tidak robek oleh kekuatan besar yang dimiliki oleh kuli tua itu. Haura terkejut tapi ia hanya tersenyum pada kekuatannya yang besar. Dalam sekejap Haura tinggal mengenakan dalaman di depan pejantannya. Sambil ditatap oleh matanya yang begitu bernafsu. Kedua payudara Haura yang masih tertutupi behanya diremas-remas oleh pejantannya. Remasannya begitu kuat. Bahkan rasanya seperti dicengkram oleh kekuatan besar dari tangan Karjo. Haura merem melek keenakan. Sepertinya ia sudah sadar pada kekuatan yang dimiliki oleh Karjo. Apakah Haura menyesal karena sudah menantangnya ? Sepertinya tidak, karena justru ia ingin disetubuhi oleh Karjo yang sedang on-on nya. Ia ingin merasakan kepasrahan lagi seperti di masa lalu ketika ia diperkosa olehnya.
“Siap untuk lemes ustadzah ?” ucap Karjo sambil mencengkram kuat buah dada Haura.
“Aaaaahhhhhh... Aaahhhh sakittt pakkk.... Mmphhhh heem” ucap Haura menatap Karjo sambil memberikan tatapan sangek saat menganggukan kepalanya.
“Kekekek... Baiklah, cepat balik badan... Saya udah gak sabar mau menggenjotmu sampai lemas” ucap Karjo sambil membalikan badan Haura.
Haura berbalik badan membelakanginya. Kedua tangannya bertumpu pada tepi meja makan menahan apa yang akan terjadi di belakang. Ia merasa behanya sudah dilepas oleh pejantannya. Celana dalamnya sudah diturunkan oleh pejantannya. Haura sudah bertelanjang bulat menyisakan hijabnya saja. Haura menghadap ke depan. Jantungnya terasa deg-degan. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa merasakan pentungan sakti yang ia sayangi itu.
“Mmpphhh” desah Haura terkejut saat penis hitam itu langsung berusaha menembus rahimnya. Karjo tidak pelan-pelan saat mendorong pinggulnya. Sebaliknya, Karjo langsung menusuk tajam rahim ustadzah pesantren itu selayaknya seorang pembunuh yang menikam korbannya dengan pisau dari belakang.
Bedanya pisau yang Karjo pegang adalah pisau penuh kenikmatan yang bisa membuat korbannya berteriak-teriak keenakan. Itulah yang terjadi pada Haura sekarang. Haura berteriak. Ia berteriak dengan keras. Ia merasakan vaginanya yang belum terlalu basah ditembus oleh batang penis Karjo yang berwarna hitam legam itu.
“Aaaahhhh pakkkkk” desah Haura terkejut.
Saat Karjo menusuknya, ia tidak lekas menarik penisnya untuk mendorongnya lagi. Tapi ia terus maju tanpa memperdulikan erangan yang Haura keluarkan. Tak peduli betapa sempitnya rahim itu, Karjo terus memajukan pinggulnya hingga setengah dari penisnya langsung masuk menembus rahim kehangatannya.
“Ouuhhh pakkk pellaannn... Pelannn... Ouhhhhh” desah Haura sambil memejam.
“Kekekekek jangan menyesal yah ustadzah... Kontol saya ini akan menjawab semua tantanganmu itu... Bersiaplah untuk terbang ke langit ke tujuh... Hennkgghhh !!!!” desah Karjo menahan nafasnya lalu mendorong pinggulnya hingga penisnya langsung tembus menusuk rahim Haura.
“Aaaaahhhhh bapaaaakkkkk” Jerit Haura mengejang.
Haura merasa aneh, padahal vagiannya baru ditusuk-tusuk tanpa sempat digenjot oleh pria tua itu. Tapi kenapa ia sudah merasa nikmat ? Kenapa juga dadanya terasa sesak ? dan kenapa juga ia merasakan bibir vaginanya berdenyut ? Inikah efek dari kehebatan penis pak Karjo ? Haura pun kagum. Ia sempat menolehkan wajah ke belakang untuk menatap wajah pejantan tua yang sangat beruntung itu.
“Kekekeke... Lihat ini ustadzah” ucap Karjo sambil menatap wajah betinanya yang sedang pasrah saat digenjot olehnya. Karjo menarik mundur pinggulnya hingga menyisakan ujung gundulnya saja. Baru setelah itu ia hempaskan seluruhnya yang langsung membuat penisnya mentok menyundul rahim Haura.
Jleeebbbb !
“Aaaahhhh pakkkkk” desah Haura sampai terdorong maju.
“Kekekekek lagi... Hennggkhhh !!!” desah Karjo menarik mundur pinggulnya lalu mengentakkan rahim Haura dengan sangat kuat.
Jleeebbb !!
“Aaahhh pakkk... Uhhhhhh” desah Haura takjub pada gaya mainnya.
Karjo bahkan tidak langsung menariknya lagi dikala ujung gundulnya sudah mentok. Ia justru mendorong pinggulnya terus dan terus hingga tubuh Haura semakin maju mendekati meja makan.
Baru Karjo menarik pinggulnya lagi kali ini sambil meraba-raba punggung mulus Haura yang sudah tidak tertutupi apa-apa. Rabaannya maju ke depan untuk membelai payudara besarnya. Haura merinding keenakan. Bibir bawahnya ia gigit. Matanya kian memejam. Ia begitu menikmati rangsangan pelan yang sedang pejantannya keenakan. Tapi tiba-tiba hentakan kuat yang ia terima di rahimnyaa membuat matanya terbuka lebar.
“Heennkkghhh !!!” hentak Karjo dengan penuh nafsu yang membuat Haura tiba-tiba merasakan orgasmenya datang menghampiri dirinya.
“Aaaaaaahhh bapaaakkkkkkk” desah Haura kelojotan saat orgasme yang ia tahan-tahan sejak pagi. Ia terkejut kenapa dirinya bisa keluar semudah ini ? Sehebat apa pak Karjo sehingga membuatnya sudah orgasme dalam waktu singkat ini ?
“Aaaaaaaahhhhhh bapaakkk.... Paakkk... Mmpphhhh” desah Haura terkejut karena Karjo masih mendorong pinggulnya kendati dirinya baru mendapatkan orgasmenya.
“Kekekekek enak ustadzah ?” tanya Karjo yang dijawab anggukan oleh bidadari tercantik itu.
“Tapi ini belum seberapa... Karena inti dari acara ini baru saja dimulai” ucap Karjo yang langsung menarik mundur pinggulnya lalu mendorongnya lagi dengan keras. Lagi Karjo mulai memaju mundurkan pinggulnya secara teratur. Pinggul Haura dihentak. Haura pun jadi berteriak. Ia tak menyangka Karjo langsung menggenjotnya tanpa sempat memberinya istirahat. Rahimnya yang semakin basah memudahkan penis itu untuk keluar masuk di dalam. Haura geleng-geleng kepala. Ia pun sempat bertanya pada diri sendiri. Inikah yang ia cari selama ini ?
“Aahhhh... Aahhh... Pakk... Ouuhh dalem bangetttt” desah Haura saat maju mundur menerima tusukan maut itu.
“Kekekek rasakan ini... Ini akibatnya karena sudah menantang nafsu saya ustadzah !” ucap Karjo yang semakin cepat menghentak-hentakkan pinggulnya hingga membuat tubuh Haura maju mundur dihadapan kuli tua itu.
Haura yang masih berdiri membelakangi sedang disetubuhi oleh kuli tua itu. Kedua payudaranya juga diremas dari belakang. Tubuh mereka yang sudah sama-sama telanjang memberikan warna kontras yang sangat membedakan. Haura yang berkulit putih dan mengenakan hijab tengah maju mundur digempur oleh pak Karjo. Sedangkan pak Karjo yang berkulit hitam berbadan kekar terus menyetubuhi akhwat tercantik itu. Karjo kian bernafsu karena merasakan nikmat yang amat sangat. Ia pun menampar-nampar bongkahan pantatnya yang mengakibatkan pemiliknya menjerit-jerit penuh kepuasan.
Plaakkk... Plaakkk... Plaakkk !
“Aaahhh pakkkk... Aahhhh sakittt... Aaaaahhhh” desah Haura yang seketika teringat oleh pemerkosaan yang ia alami dulu. Ia ingat rasanya saat digenjot dengan sekuat ini. Ia ingat rasanya saat disetubuhi dengan cara kasar seperti ini. Entah kenapa Haura menyukainya. Ia pun semakin bergairah kendati dirinya sudah satu kali mendapatkan orgasmenya.
“Kekekekek ingat gak dulu ustadzah... Sewaktu saya menyetubuhimu semalaman ? Saya juga menggenjotmu disini kan ?” tanya Karjo sambil terus menyetubuhinya. Haura reflek membuka mata. Ia ingat. Ya, ia ingat kalau ia pernah disetubuhi di ruangan ini saat malam hari.
“Aaahhhh... Aahhh... Iyyahh pakk... Aku ingat.... Ouhhh dalem bangeettt” desah Haura kewalahan mengimbangi nafsu kuli tua itu.
“Kekekekek... Saya jadi ingin mereplika lagi momen itu... Siap-siap untuk bernostalgia yah ustadzah... Hennkgghhh !” desah Karjo kembali memperkuat hujamannya yang membuat Haura terlepas dari pegangan Karjo. Ustadzah tercantik itu kembali menungging sambil bertumpu pada tepi meja makan.
“Aaahhhhh... Aahhhhhh... Ouhh pakkk... Lagiii... Aaahhhh” desah Haura yang tak berdaya.
Hujaman Karjo diperkuat. Pinggul itu mengantam pinggul Haura hingga membuatnya menjerit nikmat. Nampak tubuh Haura maju mundur secara teratur. Kedua payudaranya yang menggantung bebas pun bergondal-gandul. Berulang kali kepala Haura digeleng-gelengkan. Ia begitu terkejut pada nafsu besar Karjo yang begitu menakutkan.
“Aaahhhh... Aahhhh... Bapaakkkk... Aahhhh... Akuuu mauu kelluuaaarr” ucap Haura terheran-heran saat rahimnya kembali berkedut nikmat.
“Kekekekek... Masa baru sebentar udah mau crot dua kali sih ustadzah ?” tanya Karjo mengejeknya.
“Aaahhhh... Aahhhh... Gak tau pakkk... Mungkin aku terlalu nafsu ke bapak” ucap Haura malu-malu saat mengakui itu.
“Kekekekek kalau gitu lepaskan ustadzah... Lepaskan hasrat seksualmu itu... Keluarkan lagi cairan cintamu itu... Hennkgghh !” desah Karjo mempercepat hujamannya.
“Aaahhhh... Aahhhh... Iyahhh pak... Iyahhh” desah Haura keenakan.
Haura sudah berada di ambang batas. Kedua tangannya mencengkram tepi meja yang menjadi tumpuannya. Tiap kali pak Karjo menggenjot vaginanya. Kepala Haura ia geleng-gelengkan karena tak sanggup menahan kenikmatan yang ia berikan.
"Ahhhhh... Ahhhh... Ahhh paakkk... Aku gak kuattt lagiii !!! Ahhhhhhh"
“Kekekekek baiklah... Saya akan buat dirimu ngecrot lagi !” ucap Karjo berambisi.
Ia pun mencengkram pinggul Haura dengan kuat. Sodokannya pun semakin terasa nikmat. Ia menggempur lubang kemaluan Haura dengan dahsyat. Berulang kali ia memaju mundurkan pinggulnya tanpa ampun. Penis kekar itu terdorong semakin dalam. Penis kekar itu berulang kali menyundul rahim kenikmatan Haura. Penis kekar itu semakin licin saat dibanjiri oleh cairan cinta sang bidadari.
"Ouhhhh... Ouhhhhh... Ouhhhhh gimana ustadzahh... Dah siap !!!" Desah Karjo saat merasakan rahim Haura berkedut.
"Ahhhh.... Ahhhhhhh.... Sudahh pakkk... Akuu mau keluuarrr... Ahhhhhh" Desah Haura yang tak memiliki tenaga lagi.
Akhirnya dengan sekali tusukan yang mantap. Pak Karjo menancapkan penisnya hingga mentok menusuk rahim kenikmatan Haura. Haura melek. Lalu memejam. Ia membuka mulutnya merasakan kenikmatan selanjutnya yang tidak terduga.
"Aaakkuuu kelluaarrrrrr" Desah Haura dengan puas saat mendapatkan orgasme keduanya.
Crttttt crrtttt crttt !!!!
Tubuh Haura kembali kelojotan. Matanya merem melek keenakan. Tubuhnya bergidik nikmat saat meraskan hentakkan yang sangat kuat. Haura semakin lelah. Bahkan kepalanya ia tundukkan diatas meja makan itu karena tak memiliki tenaga lagi saat digempur habis-habisan oleh kuli tua itu.
“Uuuuhhhh” desah Karjo saat mencabut penisnya membiarkan Haura memilih duduk di kursi dekat meja makan itu sambil menaruh kepalanya diatas meja.
“Hah... Hah... Hah... Lemes banget” kata Haura terengah-engah. Sepertinya kaki dan tangannya tidak bisa ia gerakan. Rasanya sudah mau lepas. Tapi ia tersenyum karena bisa merasakan ketidakberdayaan ini.
“Ini ustadzah” Kata Karjo yang rupanya baru balik dari kulkas untuk mengisi energinya. Ia pun duduk di kursi di dekat Haura.
Nampak sebotol air dingin ditaruh oleh Karjo diatas meja makan. Haura reflek mengambilnya. Tapi Karjo menggelengkan kepala yang membuat Haura kebingungan.
Tiba-tiba Haura menenggak air itu. Ia meminumnya dengan rakus. Haura jadi iri dan ingin meminumnya juga. Tapi sepertinya kuli tua itu tidak mengizinkannya.
“Sini” kata Karjo meminta Haura mendekat.
Reflek tubuh ustadzah pesantren yang sudah telanjang itu mendekat karena kehausan. Tapi tiba-tiba Karjo menenggak air dingin itu lagi. Lalu wajahnya didekatkan ke Haura. Mulutnya yang penuh air itu tiba-tiba didekatkan ke mulut Haura. Haura paham, ia pun membuka mulutnya untuk menerima air yang Karjo berikan.
Ya, Haura meminumnya langsung dari mulut Karjo. Sungguh fantasi yang menyenangkan karena bisa meminum air dari mulut kuli tua itu langsung. Lagi, Karjo menenggak air mineral itu lalu memberikannya ke Haura. Haura dengan kehausan menelan semuanya tanpa berbekas. Karjo pun bertanya kepada akhwat cantik yang tengah berlutut di depannya itu.
“Lagi ?” tanya Karjo yang segera dijawab anggukan oleh Haura.
Karjo tersenyum, ia pun berdiri lalu menenggak minuman dingin itu lagi. Ia memberdirikan tubuh Haura. Dengan penuh nafsu, Karjo mentransfer air mineral itu ke mulut manis Haura. Setelah seluruh air itu habis di mulutnya. Karjo langsung mencumbu bibirnya. Ia sangat menikmati waktu berduanya dengan Haura. Tangannya juga meremas dada bulat itu. Karjo tersenyum. Karjo tertawa puas saat bermain-main dengan ustadzah binal yang ada di depannya.
“Mmmpphhh“ desah mereka saat cumbuan mereka terlepas.
Karjo tersenyum sambil menatap tajam mata Haura. Haura jadi malu-malu. Tapi ia terus memaksa hingga membuat wajahnya tersenyum tanpa sadar. Karjo tertawa. Ia kembali menghadiahi Haura kecupan baru bertanya sesuatu padanya.
“Ayo lanjut ustadzah... Saya belum keluar nih” ucap Karjo yang membuat Haura segera menyetujui.
“Yuk pak” ucap Haura yang membuat dirinya segera ditarik oleh Karjo menuju kamarnya.
“Aaaahhhhhhh“ desah Haura saat tubuhnya terhempas ke atas ranjang tidurnya.
Tubuh Haura langsung ditindihi. Tangan kekar itu langsung mencengkram jemari-jemarinya yang mungil. Lidahnya keluar untuk menjilati pipi sang dewi. Ia sangat bernafsu. Ia benar-benar bernafsu dalam menikmati keindahan yang ada pada tubuh sang bidadari.
“Kekekek... Saya masukin lagi yah” ucapnya sambil mengarahkan penisnya masuk ke liang senggama yang semakin basah itu.
“Mmpphh... Mmpphh... Iyahh pakk... Terserah bapak aja !” desah Haura yang keenakan saat dirangsang oleh pria kekar itu.
Haura yang tengah kelelahan hanya pasrah saja saat vaginanya kembali terselip oleh benda besar berwarna hitam itu. Saat pentungan itu masuk, Haura membuka matanya lebar-lebar tak percaya. Entah kenapa rasanya masih sama. Sensasi saat vaginanya dijebol oleh pejantan tua itu masih sama. Haura mengerang. Ia mendesah sepuas-puasnya saat vaginanya ditusuk oleh penis hitam itu.
"Ahhhhhhh pakkkkkkk" Desah Haura memejam sambil merasakan tusukan ternikmat yang pernah dirasakannya.
Jleebbbbbbbb !!!
Penis itu melesat masuk bagai sebuah tombak yang telah menusuk tajam korbannya. Haura sampai membuka matanya. Mulutnya ikut terbuka saat gada besi itu semakin dalam menusuk liang senggamanya.
"Ouhhhhhh.... Ouhhhhh pakkkkk" Haura sampai merasa sesak akibat kenikmatan tak terkira yang ia dapatkan darinya. Haura semakin berkeringat. Butir-butir keringat itu menggenangi tubuh indah Haura yang membuat nafsu pria tua itu semakin menggelora.
Plokkk... Plokkkk... Plokkkk !
Karjo yang sudah tak tahan pada keindahan tubuh sang dewi langsung menggempurnya. Pinggulnya terangkat naik turun. Saat ia melesatkan pinggulnya, Penisnya itu langsung menghantam pinggulnya sehingga menimbulkan suara yang merangsang gairah.
Haura memejam sambil merasakan tusukan nikmat itu. Tubuhnya yang sudah telanjang bulat tengah dijilati oleh lidah pria tua itu. Tusukan demi tusukan yang ia rasakan perlahan semakin mengencang saja. Tubuhnya yang tertindihi itu tak berdaya saat sedang digempur. Goyangan payudaranya tertahan. Dadanya terasa sesak. Haura hanya bisa mendesah merasakan genjotan pria tua itu tanpa bisa melakukan apa-apa. Setiap penis itu menggesek dinding vaginanya. Rasanya seperti mau gila saja. Haura seperti ingin membelai tubuh sang kuli. Rasanya seperti ingin menarik pinggul sang kuli. Ia tidak mau membiarkan kuli itu mencabut penisnya. Ia ingin terus digempur. Ia ingin penis hitam itu terus keluar masuk di dalam vagiannya. Haura heran pada sikapnya sekarang. Kenapa ia merasa senafsu ini ? Kenapa ia sangat menikmati persetubuhannya dengan sang kuli ? Ia kembali teringat di masa lalu saat diperkosa diruangan ini semalaman. Di tempat yang sama dengan rasa yang berbeda. Ya, rasanya jauh nikmat saat membiarkan pejantannya menikmati tubuhnya daripada melawan. Haura tersenyum diam-diam. Ia sangat menikmati persetubuhannya.
"Aahh... Aahhhh... Gimana ustadzah ? Ustadzah puas, kekekekeke" Bisiknya yang membuat Haura merinding mendengarnya.
“Aaahhhh... Aaahhhh... Iyyahh pakk... Iyyaaahhh” desah Haura dengan manja.
“Aaahhhh... Aaahhhh... Oh yah ustadzah... Mmpphh... Memang suamimu dimana ? Saya baru kepikiran sekarang soalnya” tawa pak Karjo sambil terus menggempur Haura sambil menjilati lehernya yang agak terbuka saat hijabnya berantakan.
“Aaahhhh... Aahhhh... Lagi belajar sama santri pakk... Aahhh terus” desah Haura sambil memeluk tubuh kekar sang kuli.
“Kekekekek oh yah ? Lalu bagaimana nanti kalau tiba-tiba suamimu pulang dan memergoki kita sedang seperti ini ?”
Seketika mata Haura membuka lebar. Ia mendadak ketakutan tapi dilain sisi gairah birahinya malah semakin menjadi-jadi. Apalagi saat tubuh Karjo menegak kemudian tangannya meremasi payudaranya. Apalagi saat pinggul Karjo semakin bergerak cepat yang membuat tubuhnya semakin terdorong maju mundur diatas ranjangnya.
“Aaahhhh... Aahhhh... Ituu... Bapak harus tanggung jawab pokoknya... Aku gak mau tau” ucap Haura pasrah.
“Kekekek tanggung jawab seperti apa ? Menikahimu ustadzah ?” ucap Karjo yang membuat Haura terkejut.
“Terserah bapak aja pokoknya” jawab Haura kurang jelas antara menerima atau tidak.
“Kekekekek... Tenang jangan dipikirkan... Biarkan kita menikmati persetubuhan kita sekarang” ucap Karjo tertawa saat mendengar jawaban Haura. Seketika ia membayangkan, mungkin Haura tidak mempermasalahkan andai dirinya menikahinya. Tapi Karjo menolak itu, karena yang ia inginkan sekarang adalah kepuasan dari bidadari tercantiknya.
“Iyyahhh pakkk... Aaaaaahhhh” desah Haura saat tusukan Karjo diperkeras. Ia terkejut. Karena lagi-lagi, ia merasakan adanya tanda-tanda orgasme di dalam tubuhnya. Apakah ia akan bergorgasme lagi ? Lagi ? Untuk yang kali ketiga ? Haura geleng-geleng kepala tak percaya. Tapi gempuran yang ia rasakan ini begitu nyata. Ia sungguh lemas tak berdaya kalau dipaksa untuk mendapatkan orgasme ketiganya.
“Kekekek puasnyaaa... Puasnyaaa... Hennkgghhh !!!” desah Karjo lebih kuat lagi.
“Aaahhhh bapaakkkkk” desah Haura keenakan.
Rasanya ingin mendesah lebih keras lagi. Mulutnya tak tahan untuk menahan tiap tusukan yang pak Karjo lakukan di vaginanya. Tangan Karjo bergerak naik membelai payudaranya. Belaiannya terus naik hingga sampai di lehernya. Haura agak tercekik tapi kemudiannya usapannya turun untuk membelai payudara mulusnya. Karjo benar-benar beruntung bisa menikmati ustadzah tercantik dengan body semulus ini. Karjo blingsatan, kedua tangannya pun turun untuk mencengkram pinggang Haura lagi.
“Kekekekek rasakan ini... Rasakan ini !” ucap Karjo mempercepat goyangannya hingga menghujam kemaluan Haura dengan kejam.
Plokkk plokkkk plokkkk !!!!
"Ahhh.... Ahhhhh... Ahhhh" Desah Haura tak tahan lagi.
Haura mendesah, Haura semakin bergairah. Dilihatnya lah wajah dari kuli tua yang sangat beruntung itu. Wajah kuli itu dipenuhi oleh nafsu yang amat besar. Inikah hukuman yang harus ia terima setelah menantangnya untuk menggempur dirinya ? Haura kapok. Ia sangat lemas. Ia pun pasrah membiarkan pejantannya menikmati tubuhnya.
“Ouhhh yahh... Ouuhhhh... Nikmat sekali ustadzahhh... Binal sekali wajahmu itu kekekekek” ejek Karjo saat melihat wajah sangek Haura.
Haura jadi malu. Kedua pipinya memerah. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Kenikmatan yang ia dapatkan ini sudah tak dapat ia tahan lagi. Berulang kali tubuhnya terdorong maju dan mundur. Berulang kali payudaranya bergoyang sesuai irama. Nafsu Haura ingin meledak. Dadanya semakin terasa sesak. Apalagi saat dorongan pinggul Karjo semakin terasa galak.
Plokkk plokkk plokkk plokkkk !!!
Suaranya terdengar keras. Tapi tidak sekeras desahannya yang tak kuasa menahan genjotannya.
"Pakkkk.... Ahhhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhh" Desah Haura tak kuat lagi. Matanya memejam. Dirinya tergerak pasrah. Ia begitu kelelahan dalam kenikmatan yang ia dapatkan ini.
"Ahhhh... Ahhhh.... Ahhhhhhh... Rasakan Ustadzah... Rasakan ini... !!!!"
Jleeebbbbbbbbb !!!
Pak Karjo membenamkan penis besarnya sedalam-dalamnya. Tubuh Haura terangkat. Matanya memejam. Karjo kembali menindihi tubuhnya untuk mencumbui bibirnya yang begitu menggodanya.
"Mmmmppppppphhhhhhhh !!!!"
Ccrrrrrrrtttt.... Crrrrrrrtttttt !!!
Vagina Haura telah banjir. Cairan cintanya menyemprot begitu banyak hingga cairan itu ada yang menetes keluar melalui sela-sela penis sang kuli. Tubuhnya menggelinjang. Matanya memejam merasakan nikmatnya orgasme di atas ranjang tidurnya bersama seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
"Mmppphhhh.... Mmpppphhhhh" Desahnya semakin mantap saat tangan Karjo dengan gemas meremasi payudara bulatnya.
Rasanya sangat mantap hingga membuat Haura ingin membiarkan momen ini berlangsung lebih lama lagi. Sepertinya Haura tak salah memilih orang dalam memuasi nafsu besarnya. Tak salah ia telah memilih pak Karjo untuk memuasi tubuhnya. Haura benar-benar kelojotan sekarang. Meski wajah kuli tua itu begitu jelek tapi harga yang didapatkan dari kekekaran tubuhnya benar-benar pas. Benar-benar harga yang setimpal untuk memuasi akhwat tercantik sepertinya.
“Mmpphhh... Masih kuat ? Saya belum crot loh” ucap Karjo yang membuat Haura tersadar.
Benar juga ! Pak Karjo belum mengeluarkan spermanya... Kenapa pak Karjo bisa sekuat ini ? Padahal aku udah lemes banget digempur olehnya sejak tadi !
Batin Haura terheran-heran.
“Kekekekek udah lemes yah ? Tapi maaf ustadzah... Saya ingin mengeluarkannya sekarang... Ayo ikut saya ke ruang tamu... Saya ingin merasakan goyanganmu lagi !”
“Aaahhh iyyahh pak” ucap Haura pasrah saat tubuhnya dibawa ke ruang tamu.
Akhwat tercantik yang sudah bertelanjang bulat dengan hijab yang berantakan itu dibawa oleh sang kuli kekar yang juga sudah bertelanjang bulat. Nampak rambutnya mulai keluar dari sela-sela hijabnya. Ia jadi semakin seksi. Karjo pun bernafsu untuk mencumbui bidadari favoritnya ini.
“Hijabnya mau dilepas aja ? Biar ustadzah makin bebas ?” ucap Karjo sambil membelai pipinya saat wajah mereka saling berhadapan.
“Heem pak” ucap Haura mengangguk sehingga dirinya benar-benar bertelanjang bulat tanpa adanya satu helai benangpun yang menutupi tubuhnya saat itu.
“Kekekekek...Mmpphh... Jadi makin sayang deh kalau punya pemuas nafsu kayak gini” ucap Karjo menghadiahi Haura cumbuan lagi.
“Hihihih makasih pak” jawab Haura malu-malu dengan lirih.
“Kekkekek ayo sini... Goyang kontol saya lagi !” ucap Karjo menampar bokongnya sesaat sebelum duduk diatas sofa panjang yang ada di ruang tamu itu.
“Aaahhhhh... Iyah pak” desah Haura dengan manja saat bokongnya tertampar. Ia pun pelan-pelan mulai duduk membelakangi sang kuli. Nampak dari pandangan Karjo punggung mulusnya. Karjo tertawa. Ia merasa puas pada bidadari yang sudah ia buat berorgasme tiga kali.
“Uuuhhhh mantapnyaaa” desah Karjo saat penisnya kembali dimasuki oleh vagina yang semakin basah itu.
“Aaahhh pakkk... Kerasss bangeetttt” desah Haura takjub karena penis hitam itu masih saja keras walau sudah membuatnya keluar tiga kali.
Seketika ia teringat pada janji yang ia ucapkan di siang tadi. Ia harus binal. Ia harus memuaskan pejantannya agar pejantannya itu bisa terus betah untuk memuasi tubuhnya. Haura pun menoleh tuk menatap pejantannya dengan tatapan sangek. Karjo tertawa. Ia pun menantikan goyangan maut dari wanita yang sudah bertelanjang bulat itu.
Pelan-pelan penis kekarnya semakin tertelan oleh rahim kehangatan Haura. Seketika tubuh Haura langsung menegak. Kedua payudaranya yang kencang langsung bergoyang. Pak Karjo benar-benar dimanjakan oleh mulusnya kulit bidadari tercantik itu.
"Kekekek... Ayo ustadzah... Tunjukan kebinalanmu... Goyang kontol saya sepuasmu" Ucap Karjo sambil menampar bokongnya.
Plaakkk !!
"Aahhh... Iyahh pakkk... Aahhh... Aaaahhh" Desah Haura dengan manja.
Haura memejam. Membayangkan dirinya tengah menunggangi penis kekar sang kuli membuatnya bernafsu lagi. Ia mulai menaik turunkan tubuhnya. Kedua tangannya ia biarkan tergantung di kanan kiri tubuhnya. Nampak berkali-kali penis itu menyundul rahimnya. Haura blingsatan. Rasanya benar-benar tak karuan. Haura sangat menikmati goyangannya ini hingga tak sadar tangan kirinya meremasi payudaranya sendiri.
"Aahhh... Aahhh... Aahhh bapaakkk... Enak bangettt... Aahhhh" Desah Haura tanpa sadar.
“Kekekek... Enak kan ustadzah kontol saya ? Ayo goyang lagi... Goyang sambil mendesah yang kuat” tawa pak Karjo sambil melihat reaksi Haura.
"Aahhh... Aaahhhh... Iyyaaahh" desah Haura terengah-engah yang membuat diri pak Karjo tersenyum puas.
Karjo tertawa. Ia tampak senang saat melihat hasil didikannya. Haura begitu terlena. Haura begitu terbuai oleh penis yang sedang digoyang olehnya. Tubuhnya yang telanjang semakin mengencang. Kedua payudaranya yang menggantung semakin menegak kencang. Haura benar-benar terangsang. Rasanya begitu memuaskan saat menunggangi penisnya dalam keadaan telanjang.
"Paakk... Paaakkkk" Desah Haura sambil menoleh ke belakang.
"Kekekek ada apa sayanggg ?" Panggil Karjo yang membuat wajah Haura memerah.
Haura tidak menjawab. Ia terus saya bergoyang. Nampaknya ia hanya ingin menatap wajahnya serta tubuh kekarnya supaya dirinya semakin bersemangat untuk bergoyang diatas tubuhnya.
"Mmpphh... Nikmat bangett pakkk... Mmpphh.... Iyaahhh... Aaaahhh" Desah Haura membelai tubuhnya sendiri untuk merasakan kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Disaat pinggulnya bergerak naik turun. Kedua tangannya membelai pinggang rampingnya sendiri. Rabaannya naik menuju kedua payudaranya sendiri. Haura meremasi dadanya. Haura memainkan putingnya. Haura benar-benar menikmati ketelanjangannya dengan penis kekar yang menancap di vaginanya.
"Aahhh... Aahhhh... Mantap sekali sayanggg... Boleh saya bantu ?" Ucap Karjo yang ingin membantu kebinalan Haura.
Haura hanya mengangguk. Maka tubuhnya ditarik oleh Karjo sehingga bersandar di dada bidangnya. Kedua tangan Karjo meremasi buah dadanya. Lalu bibir tua Karjo menciumi bibirnya. Kedua tangan Haura pun memegangi tangan kekarnya. Haura terus naik turun sambil dinikmati oleh kuli kekar itu.
"Mmpphh... Mmpphh" Desah mereka berdua penuh kepuasan.
"Terusss ustadzahh... Goyang yang kencang... Puaskan nafsumu... Tunjukan kebinalanmu... Jangan sia-siakan kesempatan ini untuk memuasi nafsumu... Desah tag keras... Rangsang birahimu itu !!" Ucap Pak Karjo selayaknya bung Tomo yang membakar birahi Haura.
"Aahhh... Aahhh... Iyyahh pakk... Mmpphh" Desah Haura kembali menegakkan tubuhnya.
"Mantapppp... Ayoo lagii... Goyang terusss ustadzahh !!!" Ucap Karjo sambil meremas bokong sekelnya.
"Aahhhh... Aahhh... Enak banget pakkk... Ahhhh" Desah Haura sambil bergoyang binal.
"Kekekekek... Ayo goyang ustadzah... Goyang yang mantapp" Ucap Karjo tak henti-hentinya menyemangati.
Mereka terus berpacu. Kemaluan mereka terus beradu. Mereka sangat fokus pada pergumulan kelamin mereka hingga tak sadar ada sepasang mata yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang itu terkejut melihat rekan kerjanya tampak menikmati goyangannya diatas penis sang kuli. Ia membeku di tempat. Ia pun bingung harus melakukan apa.
"Bapaaakkk.... Aahhhh"
Tubuhnya bergoyang naik turun dengan cepat. Desahannya terdengar lebih manja sehingga semakin merangsang birahi kuli tua itu. Bahkan kedua tangannya sampai meremasi payudaranya lagi. Nafsunya sudah berapi-api. Rasa kenikmatan yang menjalar di tubuhnya benar-benar memuaskan sang dewi.
Seketika Haura mengangkat tubuhnya hingga tersisa ujung gundulnya saja yang masuk di dalam vaginanya. Ia tidak langsung menurunkan tubuhnya. Sebaliknya pinggulnya malah bergoyang maju mundur. Ujung gundul itu tergesek oleh dinding vagina itu. Terkadang ia juga menggoyangnya dari kiri ke kanan. Haura mendesah. Ia benar-benar menikmati kebebasannya dalam memainkan penis besar itu.
"Ouhhh mantapnyaaa... Mantappnyaaa... Kekekek" Desah pak Karjo sambil melihati goyangan binal itu. Ia sangat puas. Bahkan ia merasa kalau tinggal menunggu waktu saja untuk menjemput orgasmenya.
"Aaahhhh... Aaahhhh... Aaahhhh" Desah Haura semakin binal. Matanya memejam sambil menatap langit-langit ruangan. Tubuh Haura yang agak mengejang membuat dadanya semakin terdorong maju ke depan. Sedangkan pinggulnya semakin menjorok ke belakang. Karjo menatap belahan bokongnya. Karjo sungguh puas. Ia tersenyum bahagia saat melihat keindahan yang Haura berikan.
Kekekekek... Padahal udah keluar tiga kali... Tapi masih bisa goyang sebinal ini... Emang bener-bener gede nih nafsunya... Sayang banget kalau body seindah ini cuma dipuasi satu orang... Lain kali saya harus mencari cara untuk mencabut rasa malu dari tubuhnya... Lain kali saya harus mengajarkan apa arti kebinalan yang sesungguhnya... Akan saya buat dirimu binal ustadzah... Akan saya jadikan tubuhmu pemuas nafsu para kuli disini... Kekekekek...
Batinnya sambil membayangkan segala cara untuk membinalkan ustadzah pesantren ini.
Kekekek sepertinya saya harus ambil alih disini deh...
Batin Karjo yang bersiap untuk menggoyang tubuh sang bidadari lagi.
"Aahhhh pakkk... Aahhh enakkk" Desah Haura yang masih bergerak naik turun. Tapi tiba-tiba dirinya terkejut saat merasakan dekapan tangan Karjo di kedua pinggangnya. Haura reflek menengok ke belakang. Ia melihat Karjo tersenyum sambil menatapnya.
"Bersiaplah untuk menjerit lagi ustadzah... Heennkkghh !" Desah Karjo sambil mengangkat sedikit tubuh rampingnya. Sementara pinggulnya dengan beringas bergerak naik turun menghajar rahim kehangatan itu.
"Aahhhh... Aahhh.... Aahhhh" Desah Haura dengan keras. Tubuhnya terlonjak-lonjak tak mampu menahan goyangan Karjo. Bahkan kedua payudaranya sampai mendal-mendul. Haura benar-benar kalah kalau sudah digempur dengan cara sebrutal ini.
"Aahhh gilaaa... Aahhhh.... Aaahhhhh" Desah Karjo semakin mempercepat hujamannya. Berulang kali penisnya keluar masuk vaginanya. Berulang kali penisnya menggesek dinding vaginanya. Berulang kali penisnya terjepit oleh jepitan vaginanya yang begitu sempit. Ia tak tahan lagi. Ia pun bertekad untuk menyudahinya disini.
"Rasakaannn iniii" Ucap Karjo menaikan pinggulnya hingga Haura meloncat ke atas.
"Aahhh bapaakkkk"
Masih belum berakhir. Karjo masih belum puas. Kuli tua itu mengarahkan cengkramannya ke payudara Haura. Kuli itu meremasnya. Kuli itu merasakan kekenyalan di payudaranya. Genjotannya pun semakin nikmat. Ustadzah tercantik itu pun sampai merinding hebat. Nampak Haura sampai menggigit bibir bawahnya. Ia begitu tak kuasa dalam menahan kekuatan yang dimiliki oleh kuli kekar itu saat menodai tubuhnya.
"Aahhh... Aahhh... Aahhhh... Ini diaaa... Ini diaaa... Ustadzaaahhh... Saya kelluuaarrrr !!" Desah Karjo dengan begitu puas.
Jleeebbbb !
"Aaaahhhh paaaaakkkk" Jerit Haura sampai merapatkan kakinya.
Pak Karjo menancapkan penisnya hingga mentok menusuk rahim kenikmatan Haura. Haura merem melek. Haura kelojotan setelah menyelesaikan persetubuhan terbinalnya.
Dengan segera, Pak Karjo mengangkat tubuh Haura hingga penisnya keluar kemudian meminta ustadzah pesantren itu tuk berjongkok di hadapan dirinya.
Crroottttt crrootttt crrooottt !!!!
"Ahhhhhhhhhhhhh"
Cairan sperma Pak Karjo keluar dengan begitu deras mengenai wajah dan sebagian dada bulatnya. Ia begitu puas. Ia bahkan sampai merem melek merasakan nikmatnya persetubuhan ini.
"Ahhhhh gillaaaaa.... Ahhhhhhh"
Pak Karjo tersenyum puas. Kedua lututnya sampai lemas. Berulang kali ia mengocok penisnya hingga tidak ada lagi sperma yang tersisa di dalam. Bahkan ketika sudah menyelesaikan tetes terakhirnya, Ia mengoleskan ujung gundulnya itu ke arah bibir Haura.
"Ayo bersihkan ustadzah... Hah... Hah.... Hah" Desah Karjo terengah-engah. Ia sampai berkeringat setelah menodai wajahnya yang terlihat alim itu.
"Iyyahh pakkk... Mmpphh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura saat menyepongnya.
Setelah tidak ada lagi sperma yang tersisa di dalam. Haura segera meletehkannya lalu menatap wajah pejantan tuanya. Ia terus menatapnya seolah meminta penilaian darinya. Haura mendadak gugup karena khawatir tidak bisa memuaskannya.
"Saya bangga padamu ustadzah... Saya suka akan kebinalan dirimu" Ucap pak Karjo yang entah kenapa membuat Haura senang.
"Hihihi makasih yah pak" Ucap Haura tersenyum malu-malu.
"Kekekek sama-sama ustadzah... Ini hadiah dari saya... Tolong jangan dielap dulu biar kulit ustadzah bisa menyatu dengan sperma saya... Saya yakin kulit ustadzah pasti akan lebih halus lagi nanti" Ucap Karjo yang membuat Haura tersenyum malu-malu.
Haura benar-benar puas. Pandangannya pun teralihkan pada kekarnya penis yang sudah membuatnya keluar tiga kali itu. Entah kenapa ia jadi semakin sayang pada kejantanannya yang telah membantunya mengeluarkan sisi binalnya.
Haura tersenyum.
"Ayo kita mandi dulu, ustadzah" Ajak Karjo sambil tersenyum.
“Yuk pak” jawab Haura dengan suka rela.
Mereka berdua pun berjalan bersama dalam keadaan telanjang bulat menuju kamar mandi. Tangan mereka saling bergandengan. Seseorang yang sedari tadi mengintipnya pun tak percaya.
“Ustadzah Haura ? Antum kenapa kayak gini ?” Lirih sang pengintip itu yang tidak lain adalah ustadzah Nada.
Nada bergidik ngeri. Padahal seingatnya dulu, Haura bahkan ketakutan saat didekati olehnya. Tapi kenapa Haura berubah 180o seperti ini ?
“Apa mungkin karena seringnya ia diperkosa makanya Haura sampai ketagihan ?” Lirihnya.
Seketika Nada teringat saat Pak Karjo menyetubuhinya berulang kali di rumahnya. Ia ingat betul rasanya. Genjotannya & nafsu buasnya. Nada menenggak ludah. Seketika ia terpikirkan sesuatu yang membuatnya bergidik ngeri.
“Kalau aku sampai keseringan disetubuhi olehnya, bisa-bisa aku bakalan kaya ustadzah Haura juga dong ? Astaghfirullah... Naudzubillah... Aku gak boleh lama-lama disini... Aku harus menjauhinya... Tapi gimana caranya aku pergi jauh darinya ?” ucap Nada yang langsung pergi berlari menjauhi rumah Haura.
“Pak Heri... Ya Pak Heri... Pak Heri mana yah ? Aku harus menemuinya... Aku harus memintanya untuk menyembunyikanku dari bapak kuli itu... Entah bagaimana caranya aku harus bersembunyi, bahkan bila aku harus tinggal di rumah kontrakannya lagi” ucap Nada yang begitu bertekad untuk menjauhi kuli tua itu.
Tapi kalau aku ke rumahnya, apa aku siap untuk disetubuhi lagi dengannya ?
Batin Nada yang sebenarnya ragu juga.
Gapapa lah, itu lebih baik daripada disetubuhi oleh kuli tua itu !
Batin Nada yang lebih memilih pak Heri dibandingkan pak Karjo.
*-*-*-*
Disaat yang sama, tak jauh dari rumah Haura.
“Benar apa yang kamu katakan pada istri saya itu ?”
“Naam ustadz... Ana jujur soal itu... Ada alasan kenapa ana sampai memukulnya waktu itu”
“Hmmm oke lah, kalau istri saya sudah berkata seperti itu kemungkinan kamu ini memang jujur... Tapi tetep, gak layak bagi seorang ustadz untuk memukul seorang santrinya... Jangan diulangi yah !” ucap pak Kiyai dengan tegas.
“Naam ustadz... Syukron” ucap V yang sangat berterima kasih karena sudah mengampuninya.
“Tapi ingat... Kamu sekarang sedang dalam masa percobaan... Kalau kamu melakukannya lagi, saya dengan tegas akan mengeluarkanmu dari pondok pesantren ini” ancam pak Kiyai.
“Naam ustadz... Ana gak akan melakukannya lagi... Sekali lagi, syukron” ucap V yang baru setelah itu diizinkan pergi dari rumah pak Kiyai.
V tersenyum. Ia sangat lega karena dirinya tidak jadi dikeluarkan dari pondok pesantren ini. Nampaknya speak-speak iblisnya ustadzah Rania berhasil dalam membujuk keputusan pak Kiyai. Ia merasa beruntung. Kalau dipikir-pikir semenjak keputusan pak Kiyai yang ingin mengeluarkannya, ia malah bisa bercinta dengan ustadzah-ustadzah pembesar pondok pesantren. Mulai dari Hanna & Haura yang keduanya merupakan ustadzah di bagian pengasuhan santri yang notabene merupakan ustadzah tersangar dan yang paling ditakuti di pondok pesantren ini. Lalu disusul kemudian dengan ustadzah Rania yang merupakan istri dari pak Kiyai. V merasa bahagia. Ia merasa kalau penisnya telah diberkati sehingga bisa memasuki rahim-rahim anget sang bidadari.
“Hehehe besok-besok lagi siapa yah ?” ucap V mupeng ingin merasakan rahim seorang ustadzah lagi.
Namun saat sedang berjalan pulang menuju asrama. Ia melihat seorang ustadzah yang berlari menjauh dari sebuah rumah.
“Eh itu ustadzah Nada yah ?” tanya V sambil memperhatikan bentuk fisiknya.
Dilihat dari bodynya, posturnya dan kaki jenjangnya. Tidak salah lagi, itu memang Nada. Tapi apa gerangan yang membuatnya berlari ?
Saat V semakin mendekat, ia menyadari kalau Nada baru saja berlari dari dalam rumah Haura. Ia melihat pintu rumah Haura agak sedikit terbuka. Ia juga melihat adanya sebuah sendal asing yang terparkir di depan rumahnya.
“Ustadzah Nada kenapa yah ?” tanyanya penasaran.
Alih-alih memeriksa rumah Haura untuk melihat keadaan di dalam. V malah memilih untuk pulang saja karena dirinya sudah terlalu lelah dalam menjalani kehidupan yang berat ini.
“Rupanya kegiatan di pesantren gak semudah yang kubayangkan dulu... Apalagi untuk melindungi ustadzah-ustadzah disini... Gak nyangka, rupanya sekelas Lutfi saja sampai berani menodai Nada... Begitu juga Salwa, omong-omong tentang Salwa... Gimana yah kabarnya ? Udah lama gak ketemu ama dia” ucap V yang tiba-tiba merindukan sosok santriwati tercantik itu.
“Ustaaadzzz” panggil seseorang yang membuat V menoleh ke kanan juga ke kiri.
“Eh antum, Salwa” ucap V tersenyum saat tiba-tiba melihat Salwa mendekat.
“Hah... Hah... Hah... Antum kemana aja ustadz... Kok dari kemarin gak keliatan ngawas sih ?” tanya Salwa khawatir.
“Hehe ana sakit Wa... Iya ana sakit” ucap V sedikit berbohong.
“Eh sakit ? Sakit kenapa ?” tanya Salwa yang semakin khawatir.
“Hehe biasa aja... Cuma pusing dikit... Oh yah, ngomong-ngomong tadi ana baru kepikiran antum loh, eh tau-taunya antum beneran dateng” ucap V mengalihkan topik pembicaraan.
“Hmmm bisa aja boongnya... Orang lagi dikhawatirin malah merubah topik” ucap Salwa menyadarinya.
“Hehe tapi beneran loh Wa... Tadi lagi kepikiran antum” ucap V yang membuat Salwa tersenyum saja.
“Oh iya ada apa yah, Wa ? Kok nyariin ana ?” tanya V penasaran.
“Hehehe anu... Kangen aja sih ustadz... Sama khawatirin antum juga kirain antum kenapa-kenapa” ucap Salwa sambil berjalan di sebelahnya.
“Hahaha tenang... Ana mah selalu gapapa kok... Ngomong-ngomong ujian antum gimana ? Bisa ?” tanya V sambil tersenyum saat bertanya kepadanya.
“Alhamdulillah ustadz... Tapi ana, kayaknya, bakalan nurun deh dari semester lalu” ucap Salwa sedih.
“Loh kok bisa, kenapa ?” Tanya V penasaran.
“Gapapa ustadz” jawab Salwa menunduk.
V pun menatap wajahnya. Wajah Salwa terlihat murung seolah sedang terpikirkan sesuatu. V pun merasa, apa jangan-jangan Salwa juga tahu kalau foto pettingnya waktu itu terdokumentasikan oleh seseorang ?
“Anu ustadz” ucap Salwa sambil menaikkan pandangannya menatap V.
“Iya ?” ucap V sambil menatap sang dewi.
“Soal hubungan kita itu... Sewaktu di taman itu... “
“Tenang, Foto kita gak bakalan tersebar kok” ucap V memotongnya yang membuat Salwa terkejut.
“Loh antum tau kalau waktu itu ada seseorang yang memfoto kita ?” tanya Salwa.
“Iya, tapi tenang saja Wa... ana udah menghapus semua foto kita... Semuanya aman” ucap V tersenyum yang membuat Salwa tersenyum senang.
“Beneran ustadz... Wah, syukurlah deh... Dari kemarin ana kepikiran itu terus loh ustadz sampai ganggu fokus ujian ana juga... Ternyata antum sudah menghapusnya yah ? Syukron yah ustadz” ucap Salwa begitu senangnya.
“Hahaha iya... Ana juga gak sengaja tau Wa, waktu nemunya... Makanya lain kali kalau mau nakal tau tempat yah... Orang di tempat umum malah ngajakin nakal” ucap V yang membuat Salwa tersenyum malu.
“Hehe, maaf ustadz... Ana waktu itu kan penasaran banget... Lagian antum juga waktu itu nafsu banget” ucap Salwa sambil malu-malu.
“Ya siapa juga yang gak nafsu buat genjot antum, Wa” ucap V malu-malu yang membuat Salwa tertawa.
“Hihihi dasar... Pokoknya besok sehabis ujian terakhir, ana tunggu antum di kelas yah” ucap Salwa sambil berlari menjauhi V.
“Besok di kelas ?” tanya V penasaran.
“Iya ustadz... Ana punya hadiah buat antum... Sekaligus kenang-kenangan dari ana biar antum keinget terus sama ana... Hihihih” ucap Salwa tersenyum sambil memiringkan kepalanya.
V tersenyum. Meski ia tak tahu apa yang dimaksud olehnya. Ia hanya menyetujuinya. Salwa pun pergi berlari setelah bertemu kangen sebentar dengan V.
“Hah... Ada-ada aja Salwa... Imut banget sih dia... Kira-kira hadiah apa yah yang bakal ia berikan ?” ucap V sambil menatap kepergian Salwa yang semakin jauh darinya.
Saat ia sedang melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menahan tangannya dari arah belakang. Sontak V menengok ke belakang. Rupanya ada pria tua yang sudah berdiri disana.
“Ada apa yah pak ?” tanya V sambil menarik lepas tangannya.
“Apa benar dengan ustadz Fikri ?” tanya pria itu.
“Ya, ada apa ?” tanya V lagi.
“Ada yang ingin saya bicarakan, ini tentang ustadzah Haura” ucap pria itu yang membuat V terkejut mendengarnya.
“Ustadzah Haura ? Maksudnya ? Apa hubungannya dengan saya ?” tanya V bermaksud mengelak.
“Wakakak... Gak usah takut pak ustadz... Saya bukannya mengancam, saya tau kok hubungan affair kalian” ucap pria tua berperut tambun itu yang membuat V heran.
“Maksudnya ?” tanya V kekeh mengelak.
“Saya pernah melihat pak ustadz sedang bersetubuh dengan ustadzah Haura di ruang kelas... Kalau gak salah waktunya sebelum ujian dimulai... Pak Ustadz inget gak ?” ucap pria tua itu sambil tersenyum. Seketika V teringat kalau ia pernah menyetubuhi Haura disaat dirinya sedang memasang daftar tempat duduk untuk para santri di ruang kelas.
“Apa yang bapak inginkan dari saya ?” ucap V to the point.
“Pak Karjo” ucap pria tua itu mengejutkan V.
“Tau kan, kalau kuli tua itu sering sekali meneror ustadzah disini ? Termasuk ustadzah Haura juga ? Kebetulan saya ada masalah dengannya dan saya tau, saya tidak bisa melakukan semua ini sendiri... Saya ingin mengajak pak ustadz bekerja sama, bagaimana ? Pak Ustadz tertarik ? Untuk menyingkirkannya ?” tanya pria tua yang mengenakan seragam kurir pengantar paket itu.
“Menyingkirkannya ?” tanya V tersenyum.
“Kebetulan tadi siang saya juga sudah merekrut seseorang yang mempunyai masalah dengannya... Sebenarnya bukan dengan pak Karjo sih tapi dengan santri yang juga bermasalah dengan saya” ucapnya.
“Lutfi maksudnya ?” tanya V tersenyum.
“Loh pak ustadz kenal ?” tanyanya tersenyum.
“Kebetulan saya juga ada masalah dengannya” Ucap V yang membuat pria tua itu tersenyum.
“Jadi, mau bekerja sama ?” tanya pria tua itu sambil menjulurkan tangannya.
“Oke” jawab V menerima jabatan tangannya.
“Deal yah... Nanti saya kabari lagi... Untuk sementara saya ingin memantau kondisi mereka lagi... Nanti kita cari waktu yang pas untuk menyingkirkan mereka” ucap pria tua itu tersenyum.
“Jangan lama-lama yah pak... Takutnya saya yang menghabiskan mereka sendirian” ucap V dengan penuh percaya diri.
Pria tua itu tersenyum. V juga tersenyum. Mereka berdua pun berpisah untuk menuju tujuannya masing-masing. Pria tua itu menuju mobilnya untuk pulang ke rumahnya sedangkan V menuju asramanya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Gak nyangka, dapet bantuan juga untuk menyingkirkan mereka berdua... Ngomong-ngomong, siapa yah namanya bapak tadi ? Kok bisa waktu itu melihat persetubuhanku dengan Haura... Dari mana juga ia tahu kalau Haura selama ini sering diganggu oleh kuli sialan itu” ucap V penasaran di tengah perjalanannya.
“Ah siapa yang peduli selama aku bisa menyingkirkan mereka berdua... Heh, berani sekali dia menganggu Haura... Berani sekali dia membuatku nyaris dikeluarkan... Sekarang waktunya bagiku tuk beraksi... Akan kusingkirkan mereka agar pesantren ini kembali damai seperti sedia kala... Siapa tau nanti aku bisa menikahi Haura, hahahah” tawa V mupeng.
“Hahaha nikah, dengan Haura ?” ucapnya sekali lagi membayangkan Haura bisa menjadi pengantinnya.
“Nikah ?” V hanya nyengir membayangkan hal itu beneran terjadi.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *