Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa kita sudah tiba di hari terakhir ujian pesantren. Terlihat wajah sumringah dari para santri karena sebentar lagi mereka semua bisa menikmati waktu liburan mereka di rumah. Tidak ada lagi raut wajah ketegangan di antara mereka. Tidak ada lagi raut wajah kecemasan di antara mereka. Mereka kompak bahagia karena memikirkan waktu libur yang akan segera tiba.
Teenggg... Tennggg... Teennggg !!!
Akhirnya lonceng berbunyi. Lonceng yang menandakan dimulainya waktu ujian terakhir di pondok pesantren ini. Terlihat para ustadz yang berjaga meminta para santri untuk cepat-cepat masuk. Terlihat para santri terburu-buru untuk memasuki ruangan kelasnya. Mereka semua tampak bahagia kecuali salah satu ustadzah yang menjadi pengawas ujian di salah satu ruang kelas.
Besok sudah waktunya libur yah ? Gak kerasa sepuluh hari lagi bulan puasa datang... Duh, mana aku masih punya utang lagi.
Batin salah seorang ustadzah tercantik yang menjadi pengawas ujian di pondok pesantren ini.
Untungnya tadi pagi sempet kebangun... Untungnya tadi pagi sempet inget kalau aku punya utang... Untungnya juga ada perbekalan mie instan di dapur... Bismillah deh, hari ini aku puasa untuk bayar utangku di bulan puasa tahun kemarin.
Batin Haura saat melihat tanggalan yang ada di ruangan kelasnya.
Duhhhh... Tapi kok rasanya berat yah... Mmpphh, gara-gara pak Karjo kemarin... Aku jadi ketagihan banget digenjot olehnya... Duh padahal masih pagi, kenapa godaan puasanya udah seberat ini... Aku sange banget deh pengen digenjot lagi.
Batin Haura yang resah ditengah ujian menahan nafsu yang dilaluinya.
Ia tak menyangka kalau sore kemarin menjadi persetubuhan terpuasnya setelah persetubuhannya semalaman. Ya, menurutnya. Persetubuhan kemarin menjadi persetubuhannya yang menurutnya paling puas sedangkan saat digenjot semalaman menjadi persetubuhan terpuasnya yang kedua. Ia tak menyangka akan sebinal itu, bahkan ia sampai menanggalkan hijabnya untuk bergoyang diatas penis kekarnya. Terbayang tubuh kekar itu. Terbayang kulit hitamnya. Terbayang ketelanjangannya saat membelai tubuh mulusnya. Ia jadi sangat mencintai pak Karjo. Ia jadi ingin membelai tubuh kekarnya lagi. Ia jadi ingin menjilati puting susunya lagi. Bahkan ia ingin menyepong penisnya lagi kendati sekarang ia sedang berpuasa menahan hawa nafsunya.
Astaghfirullah... Astaghfirullah... Cobaan apa lagi ini ? Kenapa aku gak bisa menahan diri ? Udah separah ini kah nafsuku ini ?
Batin Haura merasa gelisah. Ia pun duduk di kursi yang disediakan untuk guru untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
“Ah” desah Haura yang membuat beberapa ustadz dan santri yang ada di kelas menoleh kepadanya.
“Kenapa ustadzah ?” tanya seorang ustadz yang membuat Haura malu.
“Gapapa ustadz hehe... Kaki ana kepentok meja” kata Haura malu-malu yang membuat ustadz itu tertawa.
“Hahaha hati-hati makanya” ucap ustadz itu yang membuat Haura tersenyum malu.
Wajah Haura memerah. Sebenarnya, ia mendesah bukan karena kakinya kepentok kaki meja. Melainkan ia mendesah karena tak sengaja jemarinya menekan vaginanya dari luar roknya. Ia terkejut karena rasanya sangat nikmat. Ia juga terkejut karena vaginanya sudah sangat basah. Ia pun pura-pura menyibukkan diri dengan membaca buku demi mengurangi rasa malu yang menderanya.
Duhhhhh... Lama-lama kok makin sangek yah ? Ngomong-ngomong tadi, aku bohong gak batal kan yah ?
Batin Haura teringat kebohongannya.
*-*-*-*
BEBERAPA JAM KEMUDIAN
“Wahhh selamat yah V... Akhirnya antum bisa bertahan disini !” ucap Hanna saking bahagianya.
“Hehe makasih yah Han” jawab V tersenyum.
“Lihat kan... Apa ana bilang... Kalau pak Kiyai gak langsung memutuskan, tandanya beliau mau menimbang-nimbang kesalahan antum dulu... Selamat, jadikan itu pelecut untuk lebih bersemangat lagi mengajar disini” ucap ustadz Rafi sambil tersenyum.
“Hehe syukron ustadz... Gara-gara antum juga ana agak tenang... Terima kasih udah menenangkan ana waktu itu” ucap V kepada ustadz yang paling senior di kantor bagiannya.
V tengah duduk di mejanya dikerumuni oleh teman-teman sekantornya. Hanna yang sedang berdiri berada tepat di depan. Rafi yang sedang duduk berada tepat di sebelah kanannya. Saat wajahnya ia tolehkan ke sebelah kirinya. Terdapat seorang ustadzah yang senyumannya saja sudah membuat V merasa bahagia.
“Aku senang melihatmu bisa bertahan, V” ucap Haura singkat namun berefek tajam bagi kebahagiaan V.
“Sama, aku juga senang bisa melihat senyum indahmu lagi disini... Aku ingin melihat senyum itu terus... Aku ingin terus bahagia dengan melihat senyumanmu itu” ucap V yang membuat Haura tersipu.
Untungnya Hanna dan ustadz Rafi sudah kembali ke tempatnya masing-masing. V jadi bebas untuk mengeluarkan kalimat gombalannya untuk memuaskan nafsunya pada ustadzah tercantik itu. Mereka saling tatap cukup lama. Terutama V yang terpana pada kecantikan Haura.
“Jaga diri... Jangan buat aku khawatir lagi” ucap Haura kemudian yang berpaling untuk kembali menuju kursinya lagi.
“Tentu, Haura” jawab V tersenyum sambil melihat sisi belakang tubuh Haura terutama pinggulnya yang bergoyang dikala berjalan.
V menjilati tepi bibirnya sendiri. Entah kenapa ia jadi ingin merayakan keberhasilannya dengan menyetubuhi ustadzah tercantik itu lagi. Ia ingin memuasi nafsunya. Ia ingin melampiaskan semuanya hingga membuat ustadzah tercantik itu berteriak-berteriak.
“Aahhh bohay sekali bokongmu itu ustadzah... Andai aku suamimu, sudah pasti aku akan membuahi rahimmu di setiap jam kita bertemu... Rasanya tidak puas kalau melakukannya sehari sekali saja” lirih V yang terpana pada bokong sekelnya.
Haura sudah sampai di tempat duduknya. Ia termenung sesaat sambil menatap layar monitornya. Kebetulan disana ada laporan tentang pembangunan gedung yang rencananya akan jadi di awal tahun ajaran baru setelah liburan usai nanti. Entah kenapa tepat saat dirinya duduk di kursinya. Terdapat foto gallery yang berisi para kuli yang bekerja di dalam gedung baru itu. Dan yang membuat Haura lebih terkejut lagi adalah, terdapat foto pak Karjo yang tengah bertelanjang dada menyisakan celana pendeknya saja yang sedang mengaduk semen disana. Kendati wajahnya tidak terlihat jelas, tapi Haura dapat melihat jelas bentuk tubuhnya. Bentuk tubuh yang membuat Haura bernafsu. Bentuk tubuh yang membuat Haura jadi rindu. Bentuk tubuh yang membuat Haura jadi ingin bersetubuh.
Indahnya tubuhmu pak !
Batin Haura sambil menenggak ludah.
Mulut Haura sedikit terbuka. Nafasnya terasa sesak dan tanpa sadar tangannya ia gerakan untuk menyentuh layar monitornya. Ia tepat menyentuh dada bidangnya kemudian turun menyentuh perut kotak-kotaknya.
Buru-buru Haura menekan mouse-nya untuk memperbesar foto itu. Haura menengok ke kiri lalu ke kanan. Untungnya tidak ada orang di sebelah. Untungnya Hanna baru saja pergi untuk meminta izin ke kamar mandi. Haura jadi bebas menikmati foto setengah telanjang pejantannya. Pejantan yang selalu bisa memuasi tubuh polosnya.
Tanpa sadar Haura menaikan roknya. Tangan kirinya buru-buru ia masukan ke dalam celana dalamnya. Saat jemarinya menyentuh bibir vaginanya. Terasa kelembapannya disana. Haura memejam sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Ia jadi lebih bernafsu. Ia menekan jemarinya lebih keras lagi ke arah bibir vaginanya.
“Ouhhh pakkk... Ouhhhhh” lirih Haura dengan pelan.
Haura buru-buru menengok ke samping. Sepertinya tidak ada orang yang mendengar suaranya. Ia makin berani. Ia pun memasukan jemarinya ke dalam lubang vaginanya. Kenikmatan itu semakin terasa. Kenikmatan itu membuat Haura membuka mulutnya. Jemarinya ia keluar masukan. Jemarinya ia tekan-tekankan ke dinding vaginanya. Pinggul Haura bergoyang. Ia benar-benar tidak tahan pada godaan yang menimpanya.
“Oh yah kalian liburan nanti pada mau kemana ?”
Haura terkejut ketika mendengar suara Hanna yang rupanya baru saja kembali dari kamar mandi. Haura buru-buru merapihkan roknya. Haura buru-buru menutup laporan dokumen tentang gedung baru itu.
Untungnya Hanna berjalan ke arah deretan para ustadz. Haura jadi lega sesaat. Ia pun mengelus dadanya sambil terengah-engah menahan nafsunya.
Astaghfirullah... Hampir aja tadi ketahuan... Astaghfirullah, kenapa tadi rasanya enak banget yah ?
Batin Haura sambil menatap jemarinya yang basah.
Rasa mulutnya ingin mengulumnya tapi ia teringat kalau ia sedang berpuasa. Ia pun geleng-geleng kepala lalu mengelap jemarinya itu ke arah roknya.
Paakkk Karrjjoooo !!!
Batin Haura saat menyebut namanya. Ia merindukannya. Ia merindukan kejantanannya lagi.
Ia pun menjatuhkan kepala sambil membayangkan tubuh telanjangnya tengah berada di sampingnya.
Pasti bahagia yah kalau aku bisa tinggal serumah dengannya... Aku yakin aku akan terus telanjang untuk memanjakan matanya... Dia pasti puas, dia pasti akan semakin beringas saat menyetubuhi diriku, hihihih !
Batin Haura berpikiran mesum.
*-*-*-*
Sorenya Haura sedang berjalan-jalan untuk mencari bukaan untuk melepas rasa dahaganya dan rasa laparnya yang ia tahan selama seharian. Ia berjalan menuju kantin dengan memakai pakaian santainya. Meski demikian, ia tetap terlihat cantik. Bahkan lebih cantik karena memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Dengan hijab berwarna coklat yang membungkus kepala mungilnya. Dengan kaus panjang berwarna putih yang membalut tubuh rampingnya. Dengan celana training panjang berwarna hitam yang menutup kaki jenjangnya. Haura terlihat sempurna. Haura terlihat jauh dari sempurna. Alih-alih terlihat seperti seorang ustadzah. Haura justru terlihat seperti gadis muda berusia duapuluhan yang belum merasakan nikmatnya pernikahan. Wajahnya yang terlihat awet muda serta tubuhnya yang mungil seperti halnya para gadis remaja. Nampak para santri yang terpana saat melihat Haura yang tengah berjalan.
Kausnya yang agak kecil membuat lekuk pinggangnya terlihat. Trainingnya yang agak ketat membuat cetakan kakinya terlihat. Nampak dari depan tonjolan dadanya akibat dari kausnya yang begitu ketat. Haura sudah seperti seorang ustadzah jilboobs saja. Makin kesini, ia makin menuruti hawa nafsunya. Ia tak peduli dengan pandangan orang-orang yang melihatnya. Bahkan ia justru senang ketika ada santri-santri yang berjalan sambil melihat tonjolan ketat di dadanya. Nampak didikan pak Karjo telah berhasil. Ia jelas-jelas menuruti hawa nafsunya lagi tanpa peduli dengan rasa malunya lagi.
“Ustadz afwan... Beli gorengannya dua ribu yah... Sama es tehnya satu” ucap Haura saat tiba di kantin.
“Eh ustadzah Haura... Naam” ucap seorang ustadz bergigi tonggos namun memiliki tubuh kekar yang menjaga di kantin tersebut.
Saat Haura tengah memesan, terlihat mata ustadz itu tidak dapat dialihkan dari tonjolan indah yang ada di dadanya. Ustadz itu geleng-geleng kepala. Ia benar-benar di manjakan oleh keindahan yang ada pada tubuh ustadzah tercantik itu.
“Ini yah ustadzah... Anu buat apa ? Buka puasa kah ?” tanya ustadz itu mengajaknya mengobrol untuk menahan Haura sebentar di kantin.
“Hihihih naam ustadz... Buat bayar utang sih... Kan bentar lagi udah masuk bulan puasa lagi... Aaarrgghhhh pegel banget deh dari tadi nahan puasa hihih” ucap Haura mendesah sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
Alamak !!!
Batin ustadz itu ketika matanya mau keluar dari tempatnya. Nampak kaus Haura terangkat sehingga menampakkan perut ratanya dan pusar indahnya.
“Oh yah jadi semuanya berapa ?” tanya Haura sambil mengambal barang yang dibelinya. Tangan kanannya memegangi kresek berisi gorengan sedangkan tangan kirinya memegangi es teh yang berada di dalam gelas kemasan.
“Anuu... Mmpphhh... Lima ribu aja boleh deh ustadzah” ucap ustadz itu gagal fokus.
“Ohh aduhhh... Maaf ustadz boleh minta tolong gak ?” tanya Haura dengan manja.
“Eh apa yah ?” tanya ustadz itu penasaran.
“Dompet ana ada di saku training, ustadz... Boleh minta tolong ambilin ?” pinta Haura yang justru membuat ustadz kekar itu merinding.
Dompet ? Di saku training ?
Batin ustadz itu berpikiran mesum.
Kesempatan dong buat grepe-grepe bokongnya ?
Batin ustadz itu tersenyum mesum.
“Iya ustadzah akan ana ambilkan” ucap ustadz itu bersemangat dengan berpindah ke sisi belakang tubuh Haura.
Dengan sengaja pinggulnya ia dekatkan ke bokong sekelnya. Penisnya yang semakin mengeras itu menyundul bongkahan pantatnya meski mereka berdua masih sama-sama mengenakan celananya. Kedua tangan ustadz mesum itu berada di kanan kiri kedua paha Haura. Kedua tangannya menyentuh paha bagian luar ustadzah tercantik itu.
Gilaaaa beruntung banget ana dapet kesempatan ini ?
Batin ustadz itu deg-degan.
“Ada dimana ustadzah ? Kok ana gak nemu” tanya ustadz mesum itu.
“Agak sedikit ke bawah ustadz” ucap Haura yang membuat tangan ustadz mesum itu mengelus paha Haura ke bawah.
“Mana gak ada ?” tanya Ustadz mesum itu tersenyum puas.
“Mmpphhh... Agak ke atasan dikit ustadz” ucap Haura yang diam-diam merinding merasakan usapan tangannya.
“Ke atas ?” ucap ustadz itu yang langsung menaikan usapannya ke atas.
“Uuuhhhhhhh” desah Haura yang membuat ustadz itu merinding.
Gillaaa desahannya... Duhhh makin gak kuat... Duhhh piye iki ?
Batin ustadz itu kebingungan.
Diam-diam ustadz yang sudah kepalang tanggung itu menekan pinggulnya hingga mendorong pinggul Haura maju. Haura terkejut karena kakinya tiba-tiba terbentur dengan meja kasir di depan.
“Ehhh ustadz ada apa ?” tanya Haura kaget.
“Anu gapapa ustadzah... Abaikan... Ana lagi nyari dompet antum yang belum ketemu nih” ucap ustadz itu yang kembali menghentakkan pinggulnya maju.
“Aaahhhh ustadzzz” ucap Haura sambil menengok ke belakang.
“Mana sih yah kok gak ada ?” ucap ustadz itu sambil diam-diam memelorotkan celananya menampakkan penis hitamnya. Lalu tanpa menunggu lama, ia yang sudah kepalang nafsu langsung memelorotkan celana Haura yang membuat bidadari tercantik itu terkejut.
“Eeehhh ustaaadzz !!!” ucap Haura kaget melihat keberanian ustadz kekar itu.
“Maaf ustadzah... Maaaf banget... Ana udah gak kuat banget pengen ngecrot gara-gara body antum” ucap ustadz itu yang langsung mendekatkan ujung gundulnya menuju bibir vagina Haura.
“Eehhh ustadzz tunggu... Anaaa... Aahhhh... Aaahhhhh... Jangan dimasukin... Ana lagii” desah Haura yang ingin berkata kalau dirinya sedang berpuasa.
Untungnya ustadz itu mendengarkan ucapan Haura. Meski demikian, ia pun mengganti targetnya ke arah jepitan selangkangan Haura. Ia meminta Haura merapatkan kakinya kemudian menaruh penisnya tepat dibawah bibir vaginanya. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menghentakkan tubuhnya dengan kuat seperti sedang menyetubuhinya. Padahal penis bagian atasnya hanya menggesek bibir vaginanya. Kedua tangannya pun naik memegangi bokong montoknya.
“Ouuhhh nikmat banget ustadzaahh... Ouhhhh nikmat banget rasanyaaa” ucap Ustadz kekar itu sambil memaju mundurkan pinggulnya.
Haura yang masih memegangi kresek berisi gorengan serta es teh kemasan jadi kewalahan. Nafsunya yang tadi tertahan sejak pagi membuatnya tak bisa mengelak dan memilih untuk membiarkan ustadz yang baru memasuki tahun pertama itu menyetubuhi selangkangannya. Ya, selangkangannya tergesek. Bibir vaginanya semakin basah. Kedua payudaranya yang masih tertutupi bra serta kaus putihnya pun bergoyang-goyang dengan kencang.
“Ustaaadzz.... Ustaadzzz... Aahhhh... Aahhhh” desah Haura dengan manja merasakan gesekan di bibir vaginanya.
Tangan ustadz itu pun naik untuk menaikan kaus yang Haura kenakan. Ia juga menundukan tubuh Haura sehingga membuatnya menungging di depan pintu kasir kantin tersebut. Keadaan yang sedang sepi membuat ustadz itu semakin bebas untuk memuasi nafsunya. Haura terpaksa menaruh es teh dan gorengannya. Ia pun memegangi tepi meja kasir. Kedua payudaranya yang sudah keluar semakin bergoyang saat digempur habis-habisan oleh ustadz itu dari belakang.
“Ouhhh mulus sekali ustadzahhh punggungmu iniiiiii... Aaahhh gilaaaa... Aahhhhh mantappp sekali ustadzah” ucap ustadz mesum itu semakin memperkosa Haura.
“Aaahhh ustadzz pelaann... Pelaaannn... Aaahhhh kontol ustadz hampir masuk tau” ucap Haura terkejut karena bibir vaginanya hampir dimasuki ujung gundul penis ustadz itu. Ia tak mau puasanya batal. Ia ingin menjaganya karena sudah nanggung di sore hari.
“Aahhh maaf ustadzah... Habisnya enak bangett... Ouhhhh gillaaa lembap banget memek antum ustadzah” ucap ustadz itu sehingga semakin mempercepat hujamannya.
“Aahhh... Aahhhhh iyahhh... Ouhhhhhh” desah Haura yang membuat ustadz itu semakin bernafsu. Akibatnya ia tak mampu mengontrol nafasnya. Ustadz itu pun hampir keluar akibat terlalu bernafsu saat melakukan petting pada tubuh Haura.
“Aahhh maaf ustadzahh... Ana gak kuat lagi... Ana mau keluaaarrr” ucap ustadz itu menegakkan tubuh Haura lalu kedua tangannya meremasi dadanya dikala bibirnya ia majukan untuk mencumbu bibir Haura.
Namun Haura menolak cumbuannya. Alhasil ustadz itu hanya mampu mencumbui punggung mulusnya.
“Aaahhhh ustadzzz jangannn... Ahhh jangannn diremassss... Sakittt... Aahhhhh... Aaahhhhh” desah Haura dengan manja.
“Aaahhhh nikmatnyaa... Nikmatnyaaa... Mmppphhhhhhh” desah ustadz itu saat mementokan pinggulnya hingga penisnya masuk seluruhnya ke selangkangan Haura.
“Aaaahhhh ustadzzzz” desah Haura merinding merasakan cengkraman kuat di kedua payudarnya.
“Kellluuaaaarrrr !” teriak ustadz itu puas.
Crroottt... Crroottt... Crroottt !!!
Spermanya dengan deras menghantam meja kasir yang ada di depan mereka berdua. Tubuh ustadz itu kelojotan. Rasanya sangat puas bisa menikmati tubuh seorang ustadzah tercantik sepondok pesantren ini. Tangannya masih meremas dadanya dan pinggulnya semakin dibenamkan ke arah selangkangannya.
“Uuuuhhhh ustaaaddzzz” desah Haura merinding merasakan remasan ustadz itu.
Tiba-tiba ustadz mesum itu terjatuh dalam keadaan terduduk di lantai. Rupanya kedua kakinya melamas. Haura juga lemas sehingga membuatnya menungging bertumpu pada tepi meja kasir di depan. Nampak kedua payudaranya bak buah melon yang digantung indah. Buah melon itu siap dipetik. Melon itu siap dipanen setelah diremas-remas oleh para pejantan yang sudah memuasinya sejak lama.
“Maaa... Maaafff ustadzah... Ana khilaf... Tolong jangan laporin ana” ucap ustadz itu ketakutan setelah tersadarkan dari hawa nafsunya.
Haura yang masih terengah-engah dengan santai menaikan celana dalam serta celananya lagi. Ia juga memasukan payudaranya ke dalam branya juga kaus ketatnya.
“Huh dasar... Jangan diulangi lagi yah !” ucap Haura mengejutkan ustadz itu.
“Eh ustadzah gak marah ?” tanya ustadz itu yang padahal matanya sudah berkaca-kaca karena ketakutan.
“Untuk kali ana maafin antum... Untung ana lagi puasa... Jadinya ana sabar” ucap Haura yang membuat mulut ustadz itu menganga lebar.
“Beee... Beneran ustadzah ? Antum gak marah ke ana ?” tanya Ustadz itu sekali lagi.
“Iyyaa... Coba ana gak puasa... Mungkin gapapa deh ana izinin antum sekali buat masukin kontol antum ke rahim ana... Itung-itung buat muasin nafsu ana yang ketunda dari tadi hihihi” ucap Haura sambil tersenyum yang membuat ustadz itu terkejut dibuatnya.
“Oh yah, jadi berapa semua ustadz ? tanya Haura sambil mengeluarkan dompetnya dari sakunya.
“Antum gak usah bayar deh ustadzah... Semua gratis khusus ustadzah” ucap ustadz kekar itu yang membuat Haura tersenyum.
“Eh beneran, Makasih yah... Ustadz” ucap Haura tersenyum sambil membawa pergi gorengan serta es tehnya.
Ustadz itu masih duduk diam tak percaya dengan kebinalan Haura. Ia tak menyangka Haura semurah itu sehingga membuat birahinya berdenyut lagi.
“Oh yah ustadz... Tolong bersihin itu pejuh antum... Nanti ketahuan hihihi” ucap Haura berbalik tepat sebelum keluar dari pintu masuk.
“Naam ustadzah” ucap ustadz itu yang langsung menuruti perkatan Haura.
“Huftt dasar... Untung badannya kekar... Untungnya aku juga lagi nafsu-nafsunya... Gapapa deh bonus buat dia... Tapi kok, kenapa aku malah senafsu ini yah pas sedang berpuasa ?” ucap Haura yang masih belum puas dan justru semakin sangek karena belum diberikan kepuasan olehnya.
*-*-*-*
Sesampainya di rumah, Haura langsung bersiap-siap untuk berbuka dengan menyiapkan piring serta minuman yang disediakan diatas meja makannya. Saat wajahnya ia tolehkan ke arah jam dinding, ia pun membatin di dalam hati.
“Mas Hendra mana yah ? Katanya tadi olahraga tapi kok jam segini masih belum pulang ?” tanya Haura heran.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia sedang sendirian di dalam rumahnya dalam keadaan tubuh kotor setelah dinodai oleh ustadz bertubuh kekar tadi. Meski tubuhnya tidak terkena lelehan spermanya. Terasa bibir kemaluannya semakin basah setelah digesek oleh kejantanan penisnya. Ia tetap berusaha bertahan sekuat tenaga mengingat waktu buka tinggal sebentar lagi.
“Hmmmm kenapa yah ? Lama banget adzannya ? Mana udah gak nahan lagi” ucap Haura sambil memegangi kemaluannya.
Alih-alih tidak tahan lapar dan haus. Ia justru tidak tahan ingin bermasturbasi untuk meredakan gairah birahinya yang sudah meninggi sejak pagi. Bahkan minuman es teh serta gorengan lezat yang baru dibelinya tidak menggodanya sama sekali. Sebaliknya, ketika ia membayangkan tubuh kekar pak Karjo yang tiba-tiba datang, Itu justru menggetarkan birahinya. Ia geleng-geleng kepala membayangkan kebinalannya yang semakin menjadi. Ia ingin segera mendapatkan kepuasan. Berharap adzan segera datang kemudian ia bisa memainkan dildo yang pernah diberikan oleh pak Karjo.
Tokk... Tokk... Tokkkk...
Terdengar suara pintu diketuk.
“Hufftt mas Hendra baru pulang yah ? Mungkin kalau aku ngobrol sebentar dengannya bisa kali yah meredakan nafsuku sebentar” ucap Haura segera mendatanginya.
Tokkk... Tokk... Tokkkk....
“Iyyya sebentar” ucap Haura berlari mendekati pintu masuk.
Saat pintu terbuka, Haura segera mengangkat kepalanya untuk menyambut kedatangan suaminya. Namun saat ia melihatnya, rupanya bukan suaminya yang berdiri disana. Melainkan pria kekar berkulit hitam yang cuma mengenakan celana pendeknya saja yang berdiri disana.
“Pakkk Karjoo ?” ucap Haura terkejut.
“Kekekekek... Saya merindukanmu ustadzah” ucap pak Karjo memaksa dirinya masuk lalu menutup pintu itu dari dalam.
“Bappaakk ada apa pak ? Kok tiba-tiba kesini” tanya Haura yang masih tak mengira sambil memandangi bentuk tubuh tuanya yang menurutnya indah.
“Saya hanya merindukanmu ustadzah... Seperti yang saya bilang kemarin, saya belum puas... Menggenjotmu sekali saja rasanya masih belum puas... Saya ingin menggenjotmu lagi... Saya ingin memuaskan sisa birahi yang kemarin belum saya lampiaskan” ucap Karjo yang membuat Haura merinding.
“Tappii pakk... Akuuu lagii puasa... Nanti yahh tunggu adzan” ucap Haura yang ingin tapi terhalang oleh dirinya yang sedang berpuasa. Apalagi saat tiba-tiba kuli tua itu memelorotkan celananya. Nampak penis kekarnya menggoda matanya. Haura hanya bisa menenggak ludah untuk menikmati keindahan disana.
“Haihhh kelamaan ustadzah... Liat kontol saya ini.... Mana bisa kontol saya ini menahan diri hingga adzan berkumandang” ucap Karjo yang sudah bertelanjang bulat sambil mengocok penisnya.
“Tapii pak... Akuu, nanggung... Bentar lagi pakkk” ucap Haura bimbang.
“Sudahlah... Lagian puasa apa sih ? Batalkan saja... Lupakan puasamu... Puaskan nafsu saya sekarang” ucap Karjo sambil menarik tangan Haura kemudian menaruhnya di batang penisnya.
Haura pun diam sambil memandangi batang penis itu. Sungguh, ukurannya sangat besar sekali. Haura jadi ngap-ngapan, ia sangat ingin mengulumnya. Ia pun berfikir,
Ngulum doang kan gak nelen ya ? Gak batal kan yah ?
Batin Haura.
“Kekekkeke.... Liat ustadzah... Liat kontol saya ini... Ayo puaskan... Mainkan kontol saya sekarang” ucap Karjo sambil menggerakkan tangan Haura maju mundur untuk merangsang penisnya.
“Aaaaahhh... Aahhh... Yahhh seperti itu... Ayo kocok terus ustadzah... Ayo seperti itu” ucap Karjo yang membimbing Haura untuk mengocoki penisnya segera.
“Tapii pakk... Ini nanggung tauuu” ucap Haura meski ia merasa senang bisa membelai penis hitam ini lagi.
“Kekekkeke.... Kayaknya ustadzah butuh dirangsang dulu yah biar mau” ucap Karjo tertawa sambil memandangi wajah Haura.
“Makk... Makksudnyaa ?” tanya Haura ketakutan saat tiba-tiba bibir Karjo mendekat.
“Mmmpphhhh”
Karjo mencumbu bibir Haura. Tangan kanannya mendekap sisi kepala bagian belakangnya dan tangan kirinya meremas dada sebelah kanannya dengan kuat. Sontak tangan kanan Haura memegangi tangan kiri Karjo yang sedang mendekap susunya sedangkan tangan satunya lagi menahan dada bidangnya untuk menjauhkan dirinya yang sedang berpuasa dari cumbuan penuh nafsu dari pejantannya.
“Untukk apa berpuasa sekarang ustadzahh... Bulan puasa masih lama kok... Sekarang waktunya buatmu untuk memuaskan saya... Mmpphhh... Manisnya bibirmu ini... Mmpphhhh” desah Karjo sambil menghisap bibir Haura.
“Tappiii pakk... Mmmpphhh... Mmpphhhh” desah Haura saat menahan cumbuan kuli kekar itu.
“Tapi-tapi apa ? Sudah lupakan, fokuskan dirimu pada percumbuan yang sedang kita lakukan” ucap Karjo yang segera dipatuhi oleh Haura.
Bibir mereka bercumbu. Bibir mereka saling dorong dengan penuh nafsu. Dikala bibir Karjo membuka maka bibirnya itu langsung mengapit bibir bagian bawah Haura. Bibirnya ia hisap. Bibirnya ia terkam. Ia membumbuinya dengan remasan kuat di dada yang membuat tubuh pemiliknya meronta-ronta.
Haura yang sudah terangsang sejak pagi semakin terpuaskan oleh remasan penuh tenaga serta cumbuan penuh nafsu dari pejantan kesukaannya itu. Diam-diam Haura merinding. Diam-diam Haura bergairah. Diam-diam ia mulai menikmatinya meski dirinya tau kalau ia sedang berpuasa.
“Kekekekek... Mmpphhh... Mmpphhh” cumbu Karjo sambil mengangkat kaus yang Haura kenakan.
“Mmmpphh pakkkk... Aaahhhhh” cumbuan Haura terlepas saat kausnya diangkat naik melewati kepala mungilnya.
Karjo dalam sekejap juga menarik lepas bra ketatnya hingga membuat Haura sudah bertelanjang dada di hadapan pejantannya.
“Kekekekek... Ayo sini ustadzah” ucap Karjo mendorong tubuh Haura hingga terbaring diatas sofa panjang di ruang tamunya.
“Aaahhhhhh” desah Haura saat terjatuh di atas sofa panjang itu.
“Ngapain sih ustadzah di rumah masih pake baju... Tubuh indahmu itu harus dipamerkan... Buat semua orang tahu kalau ustadzah itu punya tubuh paling indah di pondok pesantren ini” ucap Karjo mencoba menanamkan bibit-bibit pembinalan pada otak Haura. Ia pun menarik lepas celana berikut celana dalam ustadzah tercantik itu yang membuat Haura sudah bertelanjang bulat di dalam rumahnya.
“Aaahhh tapii pakk... Masa di rumah juga” ucap Haura malu-malu saat ditelanjangi oleh pejantannya.
“Kekekekek... Justru di rumah itu wajib dan diluar rumah itu sunnah... Apalagi di tempat kerja saya... Ustadzah mau kan dikeroyok oleh para kuli ?” ucap Karjo yang membuat birahi Haura bergetar mendengarnya.
“Maa... Maauu pak” jawab Haura yang sedang terangsang-terangsangnya.
“Kekekekek mana mau kuli-kuli saya memuasimu kalau ustadzah itu masih malu-malu... Cepat tunjukan kebinalanmu... Puasi kontol saya sekarang !” ucap Karjo sambil menyodorkan penisnya ke mulut Haura.
“Mmmpphhh baik pak kalau gitu... Ssllrpp” ucap Haura melupakan semuanya karena di otaknya sekarang sedang membayangkan cara bagaimana untuk memuasi para kuli. Ia harus binal. Ia harus membinalkan dirinya. Ia bahkan lupa kalau dirinya sedang berpuasa.
“Aaahhh yahhh... Aahhh seperti itu ustadzahh... Aayooo” ucap Karjo membantu merangsang Haura dengan memasukan jemarinya ke liang senggamanya.
“Mmpphh pakkk... Mmpphhh” desah Haura semakin terangsang saat menikmati ta’jil yang Karjo berikan.
Haura terus mengulum penis itu. Kepalanya bergerak maju dan mundur. Pinggulnya terus bergoyang saat dirangsang oleh jemari hitam pejantannya. Haura sangat menikmati waktu ngabuburitnya bersama pejantan tuanya. Nafsu yang semakin besar membuat tubuhnya semakin mengejang. Karjo terpana oleh payudara bulatnya yang semakin kencang. Susu bulat itu terlihat tegak tanpa jatuh ke bawah. Saat tangannya yang tadi merangsang vagina Haura dipindahkan untuk meremasi dada bulatnya. Ia tertawa puas karena payudara itu sudah sangat kencang dan rasanya jadi semakin kenyal saat diremas olehnya.
“Mmpphh pakkk... Mmphh... Mmpphhh yahhh” desah Haura semakin binal.
Sambil tiduran, kepalanya bergerak dengan sendirinya. Lidahnya jadi liar dalam menjilati ujung gundulnya di dalam. Bibirnya menjepit penis hitam itu. Ia juga mulai menghisapnya. Bahkan kedua tangannya juga gak tinggal diam dengan meremasi batang penisnya.
Dikala ujung gundulnya Haura hisap maka batang penisnya Haura kocok dengan jemari mulusnya. Karjo tertawa. Karjo terpuaskan. Matanya merem melek keenakan. Bahkan tubuhnya mulai blingsatan.
“Kekekekek ayo ustadzah... Saya gak tahan lagi !” ucap Karjo memposisikan tubuh Haura dengan duduk disofa panjang itu. Tubuh mulusnya disandarkan pada sandaran sofa di belakang. Karjo pun datang dengan melebarkan kaki-kaki jenjangnya. Ustadzah tercantik itu hanya pasrah. Ia merasa menyerah. Kendati adzan akan berkumandang sebentar lagi. Sepertinya ia akan memilih untuk membatalkan puasanya saja.
“Rasakan ini ustadzah !!! Hennkgghhh !” desah Karjo yang langsung menusuk penisnya hingga mentok ke dalam rahim Haura.
“Aaaahhhh paaakkk” betapa nikmatnya apa yang Haura rasakan. Memang benar, tidak ada yang lebih nikmat saat disetubuhi ketika sedang nafsu-nafsunya. Meski saat ini ia baru disodok sekali. Rasanya sudah seperti disodok ribuan kali oleh pejantan yang sangat ia cintai.
Mata Karjo menatap tajam mata Haura. Haura dengan malu-malu menunduk tuk melihat pergerakan penis hitam yang tengah memborbardir vagiannya. Liang senggamanya yang sudah sangat basah memudahkan penis Karjo untuk merengsek masuk. Karjo langsung bergerak. Karjo langsung menggerakan pinggulnya maju mundur untuk memuasi ustadzah binal yang rela membatalkan puasanya untuk memuasi hawa nafsunya.
Jleebbbb !!!
“Aaahhhhhh” desah Haura melonglong panjang.
Jleeebbbb !!!
“Aaahhhh yahhh” desah Haura bergairah.
Jleeebbbbb !!!
“Aaahhh bapakkk dalemmm bangetttt” desah Haura puas.
Baru saat itu Karjo menggerakan pinggulnya dengan cepat. Pinggulnya memborbardir tubuh Haura hingga payudara kencangnya mendal-mendul saat terkena tusukan penisnya. Haura tak bisa berhenti mendesah. Haura tak bisa berhenti pasrah. Ia benar-benar merelakan tubuhnya asal bisa dipuasi oleh pejantannya.
Plokk... Plokkk... Plokkk !!!
Terdengar bunyi tubrukan pinggul diantara mereka berdua.
“Ouuhhh ini yang saya suka darimu ustadzah... Ini yang saya suka dari tubuh indahmu !” ucap Karjo saat menggenjot vaginanya.
"Aaahh.... Aahhhh... Apa paaakkk... Apa yang bapak suka dari tubuh aku ?" Desa Haura sambil menahan sodokannya.
“Saya paling suka saat menggenjot memekmu sambil ngeliatin goyangan susumu... Ayo goyang lebih kencang... Lebih kencang” ucap Karjo mempercepat hujamannya.
Plokkk... Plokkk.. Plokkk...
“Aahahhhh.... Aahhhhh... Aaahhhh” desah Haura sambil memegangi tepi sofa meski itu sulit. Ia butuh pegangan. Ia pun memegangi kedua tangan Karjo yang ada di kanan kiri pinggulnya.
Karjo mencengkram pinggul Haura. Lidahnya ia keluarkan sambil memandangi tubuh telanjang pemuas nafsunya. Karjo tertawa. Saat ia menaikan pandangannya tuk menatap wajah cantiknya. Nampak Haura memberikan ekspresi paling binal yang pernah Karjo lihat. Bibir Haura manyun-manyun. Ia seperti ingin dicumbu saat rahimnya ditubruk-tubruk oleh kuli tua itu. Karjo semakin puas. Ia pun menarik tubuh Haura untuk memintanya berganti gaya.
"Ayooo ustadzah... Kita ganti posisi" Ucap Karjo menarik tangan Haura untuk mengajaknya mendekati pintu keluar.
"Ehhhh pakkk mau kemana ?" Tanya Haura yang sedang lemas-lemasnya.
Seketika pintu rumahnya dibuka. Mata Haura membuka lebar. Ia panik, ia pun menoleh ke belakang sambil menatap wajah kuli tuanya yang sedang nafsu-nafsunya.
"Pakkk... Aku mau dibawa kemana pakk... Jangannn... Diluar banyak oranggg" Ucap Haura panik.
"Kekekeke tenang ustadzah... Katanya ustadzah mau binal ? Ustadzah harus memutus urat malumu itu... Sekarang nurut saja... Saya akan menggenjotmu sambil melihat pemandangan diluar sana" Ucap Karjo yang hendak membawa Haura keluar rumah menuju terasnya.
"Tapiii pakkk... Akuuu maluuuu" Ucap Haura kendati dirinya malah deg-degan karena khawatir akan ada orang yang melihatnya. Ia pun menahan tangannya di tepi-tepi pintu.
"Kekekek mau digenjot nungging disini dulu ? Boleh ustadzah... Rasakan ini, hennkgghhh !!!" Ucap Karjo yang langsung menghentakkan pinggulnya sekuat tenaga.
"Aaahhhhh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura kelepasan sebelum mulutnya ia paksa tutup dan matanya ia paksa memejam.
Saat Karjo menggenjot tubuhnya. Susu bulat Haura yang sedang menggantung itu langsung bergoyang gondal-gandul. Karjo memegangi pinggulnya. Karjo tertawa puas sambil membayangkan akan ada seseorang yang lewat dan melihat Kebinalannya. Karjo tak peduli lagi. Ia hanya ingin membinalkan Haura demi memenuhi tujuannya agar ustadzah tercantik itu bisa menjadi pemuas nafsu para kuli.
"Mmpphh... Mmpphh... Mmpphh" Desah Haura terus bertahan tanpa berani membuka mulutnya. Hentakan pinggul Karjo yang begitu terasa telah menggetarkan birahinya. Hentakan pinggul Karjo yang begitu bertenaga semakin merangsang hawa nafsunya. Haura memejamkan mata untuk menikmati kebinalannya. Saat matanya memejam rupanya ia semakin menikmati hujamannya. Ia semakin menikmati ketelanjangannya. Ia semakin menikmati sensasi nakalnya saat disetubuhi di ruangan terbuka.
"Ouhhhh.... Oouhhhh... Kenyal banget susumu ustadzah... Ouhhh puas bangettt rasanya menggenjotimu" Ucap Karjo saat kedua tangannya naik meremasi buah dadanya.
"Aaahhhh.... Mmpphh... Pakkk... Pakkk..." Desah Haura semakin gemas karena tak bisa mendesah padahal dirinya sangat ingin mendesah.
"Kekekek ada apa ustadzah... Ustadzah suka kan ?" Desah Karjo terus menggenjotnya sambil meremasi payudaranya.
"Aahhhhh... Iyahh pakk... Iyahhh... Akuuu sukaa... Aahhhh" Desah Haura tak tahan hingga akhirnya memilih untuk mendesah saja.
Untungnya suasana menjelang maghrib selalu sepi di sekitar perumahan kompleks yang ditinggali Haura. Haura jadi semakin menikmati kebinalannya dan Karjo jadi semakin nikmat saat mengajarkan kebinalan pada Haura.
"Ayooo ustadzah duduk sini" Ucap Karjo menarik lepas penisnya lalu membawa tubuh telanjang Haura menuju sofa yang ada di teras rumahnya.
Karjo mendudukkan tubuhnya. Haura pun diminta untuk duduk diatas pangkuannya. Haura tanpa rasa malu-malu lagi langsung naik diatas pangkuannya itu. Saat penis itu kembali dimasukan, Haura menjerit nikmat sambil memberikan reaksi sangek saat menatap wajah pejantannya.
"Kekekek... Giliranmu ustadzah... Ayo tunjukan kebinalanmu sekarang" Ucap Karjo sabil menatap wajah Haura.
"Aahhh iyyahh pakk... Aaahhh... Enakk bangett... Aahhh kontol bapak keras banget" Desah Haura saat bergoyang naik turun sambil mendekap bahu Karjo.
"Kekekek kurang ustadzah... Kurang binal... Kalau ustadzah seperti itu, gak ada kuli yang mau menyetubuhimu" Ucap Karjo berusaha merangsang Haura.
"Aahhh... Aahhh... Aku mesti gimana pakk ? Aku gak tau lagi... Tolong ajarin pakkk... Ajarin aku binalll... Akuu penasaran pakkk pengen dipuasi para kuli" Ucap Haura sambil terus naik turun diatas tunggangan Karjo.
"Kekekek remasi susumu itu... Tatap wajah saya dengan tatapan penuh nafsu... Lakukan variasi saat menggoyang kontol saya" Ucap Karjo memberikan perintah.
"Aahhhh.... Aahhhh.... Seperti ini pakkk ?" Desah Haura sambil meremasi buah dadanya saat naik turun diatas pangkuannya. Saat dadanya ikut diremas, Haura jadi semakin terangsang. Tanpa sadar, ia telah memberikan tatapan binal saat bergoyang di atasnya.
"Kekekek nah gitu ustadzah... Lagii... Lebih binal lagi... Remas susumu lebih kuat lagi..." Desah Karjo mengajari.
"Aahhhh iyahhh pakk... Iyyahhh... Kayakk gini kannn... Aahhh enakk bangettt" Desah Haura semakin menikmati kebinalannya.
"Kekekek lagiii... Lagiiii" Desah Karjo yang tak pernah puas saat melihat kebinalan Haura.
"Aahhh iyaahhh... Iyaahhh" Desah Haura sambil terus meremasi payudaranya.
Tanpa peduli keadaan di belakang. Tanpa peduli andai ada seseorang yang memergoki mereka. Haura terus bergoyang sambil meremasi kedua payudaranya. Tak cuma itu, ia pun mulai melakukan gerakan variasi dalam menggoyang penis kuli tuanya. Pinggulnya bergerak maju mundur. Pinggulnya lalu bergerak memutar. Pinggulnya kembali bergerak maju mundur sambil menatap wajah pejantannya. Haura semakin bernafsu. Ia tak tahan lagi. Ia pun mendekatkan kepalanya untuk mencumbu bibir pejantannya.
"Bapakkk mmpphh"
Karjo tersenyum. Dengan senang hati, ia menyambut cumbuan bidadarinya sambil memeluk tubuh telanjangnya lalu mendekatkannya ke arah dadanya. Dada mereka bersentuhan. Dada mereka bergesekan.
"Mmpphh... Mmpphh"
Ditengah pergumulan mereka yang semakin panas. Haura tak pernah puas dalam mengaduk-ngaduk penis pejantannya di dalam. Haura terus bergoyang. Bibirnya terus mengerang meski tertahan oleh bibir pejantannya yang tengah ia terjang.
Bibir Karjo didorong. Bibir Karjo disepong. Haura benar-benar melakukan tugasnya dengan baik dalam memuaskan pejantannya. Seperti janjinya yang ingin menjadi pemuas nafsu para kuli. Ia tengah belajar bersungguh-sungguh demi mewujudkan cita-citanya itu.
"Lagii ustadzah... Lagii... Mmpphh... Ingat ini baru saya... Kalau ustadzah mau memuaskan semua kuli, ustadzah harus lebih binal daripada ini" Ucap Karjo terus merangsang birahi Haura.
"Aahhh Iyah pakk... Iyyahhh... Aku pelan-pelan akan belajar dari bapakk... Mmpphhh" Desah Haura sambil mencumbu bibir Karjo dengan penuh nafsu.
"Kekekeke... Bagus ustadzah.... Saya puas" Ucap Karjo tersenyum setelah melepas cumbuannya. Ia pun menatap Haura dengan tatapan bangga. Haura jadi tersipu. Nafas mereka terengah-engah. Tapi mereka belum puas dalam menikmati pergumulan mereka.
"Masuk lagi yuk... Bentar lagi mau adzan... Biar ustadzah bisa langsung buka dengan pejuh anget saya kekekeke" Tawa Karjo yang membuat Haura semakin bergairah.
"Aku mauu pakk... Aku mau pejuh anget bapakkk" Ucap Haura yang kehausan.
"Sabar ustadzah... Sabar... Belum bedug loh kekekeke" Ucap Karjo yang hendak membawa Haura kembali ke dalam.
"Aahhh tapiii aku maunya sekaranggg" Desah Haura dengan manja yang membuat Karjo tak jadi berdiri untuk membawa bidadarinya ke dalam.
"Mmpphhhh... Jangan bikin saya gemes yah ustadzah... Saya kalau gemes akan meludahi mulutmu lohhh" Ucap Karjo yang langsung terkejut saat mendengar balasan Haura.
"Aahhh gapapa... Aku juga mau ludah bapakkk" Ucap Haura yang langsung membuka mulutnya.
"Kekekeke... Dasar binal !!! Cuhhhhh" Karjo meludahi mulut Haura dengan puas yang langsung ditelan olehnya.
"Aahhhh lagiii" Ucap Haura yang membuat Karjo semakin gemas.
"Kekekeke sabar... Saya akan memberikan sesuatu yang membuat ustadzah semakin puas" Ucap Karjo yang langsung menggendong Haura menuju ke dalam.
Mereka berdua kembali memasuki ruang tamu. Tubuh Haura yang semakin lemas diminta untuk menungging menghadap ke arah dinding. Karjo yang sudah tak tahan lagi langsung memasukan penisnya hingga setengahnya sudah masuk ke dalam.
"Kekekeke ustadzah minta digenjot kayak gimana ? Saya tinggal dorong aja nih biar ustadzah bisa merasakan kelezatan kontol saya lagi !!!" Kata Karjo tersenyum sambil memandangi punggung telanjang Haura.
"Aahhh terserah bapak... Senafsu bapak... Pokoknya yang bisa buat aku binal pak" Jawab Haura mengejutkan kuli tua itu.
"Kekekekeke sepertinya ustadzah memang ingin binal yah... Bisa dong kalau saya ganti nama ustadzah jadi Haura binal" Ucap Karjo melecehkan Haura.
"Hihihi aku suka panggilan itu pak... Aku suka kalau dipanggil Haura binal oleh bapak" Jawab Haura yang membuat Karjo semakin terangsang.
"Kekekeke dasar ustadzah Haura binal !!! Jangan nyesel yah kalau para kuli jadi bernafsu saat menyetubuhimu... Hennkghh !!" Desah Karjo menancapkan penisnya lagi.
"Aaaaahhh iyyahh... Aku malah suka pakk... Aaaahhh aku jadi gak sabar pengen digenjot oleh mereka semua" Ucap Haura yang semakin kesulitan untuk menahan kebinalannya.
"Kekekekek... Ouhhh... Ouhhh mantappnyaa... Saya juga gak sabar ustadzah untuk melihat aksi binalmu saat dikeroyok oleh mereka" Desah Karjo langsung menggerakan pinggulnya.
“Mmpppphhh” desah Haura sambil merapatkan bibirnya.
Haura terkejut merasakan Karjo langsung tancap gas selepas menerobos masuk vaginanya. Mulutnya ia rapatkan dan matanya ia pejamkan menahan tusukan demi tusukan yang pak Karjo layangkan.
"Kekekekek... Ouhhh sempit sekali memekmu... Padahal sudah puluhan kali kontol saya menjebol memekmu, kok bisa masih sempit gini ? Kekekekk" Kata Karjo puas saat menggenjot Haura dengan penuh tenaga.
"Ouhhhh bapaakkk.... Ouhhhh.... Gakkk tauuu paakkk... Mungkin kontol bapak yang kegedean makanyaaa rasanya memek aku sempit teruss... Ouhhhh" Desah Haura sambil menahan gempuran pejantannya dengan cara menekan dinding.
"Kekekeke bisa jadi ustadzah... Aaaahhh nikmatnyaaa... Aahhhh nikmatnyaaa" Desah Karjo saat menikmati genjotannya.
Tubuh Karjo sampai merinding saat merasakan tusukan mautnya. Jemarinya sampai gatal untuk menikmati ketelanjangan ustadzah tercantik itu. Mulanya ia mencengkram erat pinggang rampingnya. Jemarinya pun merasakan betapa mulusnya kulit putihnya. Ia jadi ketagihan. Jemarinya yang tadinya hanya mencengkrami pinggang rampingnya, perlahan mulai maju untuk mengusapi perut ratanya. Pinggulnya masih terus memborbardir pertahanan ustadzah cantik itu. Kenikmatan yang terus ia dapatkan membuat Karjo lekas meremasi payudara indahnya.
"Aaahhhh puassnyaaa... Aahhhh kenyal sekali susu kenyalmu ini ustadzaahhh" Desah Karjo sepuas-puasnya.
"Aaahhh bapakkk sakittt... Aahhhh yahhh... Aahhhh" Jerit Haura saat merasakan remasan kuat di payudaranya.
Haura kembali merinding merasakan rangsangan yang sedang pak Karjo berikan. Tusukan maut yang Karjo layangkan di vaginanya, serta remasan kuat yang Karjo layangkan di payudaranya, serta kata-kata kotor yang terus Karjo bisikan di telinganya membuat Haura mulai merasakan kembali gairah dari persetubuhan terlarangnya.
"Ahhhh... Ahhhh... Aahhh pakkkkkk"
"Kekekekekk... Nikmat bukan ustadzah ? Nikmat kan kontol seorang kuli seperti saya ? Kekekekekk"
"Aahhhh... Aahhhh.... Iyyahhh pakk... Aahhh lezaatt bangett... Teruss pakk... Terussss... Saya suka kontol kuli pakk... Saya suka kontol kuli kekar kayak bapak" Desah Haura saat tubuhnya semakin melonjak-lonjak. Bahkan payudaranua yang tergantung itu jadi semakin rajin bergoyang. Mulutnya yang tadi tertutup rapat jadi semakin rajin mendesah.
"Aahhhh... Aahhh... Aahhh ustadzah... Andai jadi, berapa kuli yang ustadzah minta untuk memuasi tubuhmu ?" Tanya Karjo di sela-sela genjotannya.
"Aahhhh... Aahhhh.... Limaaa pakk... Akuu butuh lima kuli pakk... Aahhhh aku butuh lima kuli yang senafsu bapakkk" Desah Haura jadi semakin bergairah saat membayangkan ada lima kuli yang menanti untuk memuasi dirinya.
"Aahhh... Aahhh.... Siapa aja ustadzah.... Siapa aja yang ustadzah mauuu untuk memuasi dirimu ?" Ucap Karjo sambil menggigit bibir bawahnya kemudian memperkuat hujamannya.
"Aahhhh... Aahhhh akuu mauuu... Paakkk... Eddiiii" Desah Haura menyebut pilihan pertamanya.
"Aahhhh pakkk Edii ? Kekekeke kuli kekar yang punya tatto di dada kirinya itu, ustadzah ? Yakin ? Dia rambutnya kriwil loh... Giginya juga bolong satu" Ucap Karjo tertawa saat mendengar pilihannya.
"Aahhh yakinn pakk... Justruuu ituu... Aahhh akuu ingin dipuasi oleh oranggg sepertinya... Aahhh... Aahhh... Paakkk kuat banget genjotan bapaakkkk" Desah Haura kewalahan.
"Kekekeke terus ?"
"Aahhh... Aahhh terusss akuu mauu ituu... Paak Syamsul... Iyahh aku mau pak Syamsul ikut gabung tuk memuasi aku paakkk" Desah Haura sambil membayangkan wajahnya.
"Kekekeke pak Syamsul yang rambutnya botak tengah tapi panjang di samping ? Pak Syamsul yang kepalanya jenong itu ?" Tanya Karjo menertawainya lagi.
"Aahhh iyyahhh pakkk... Aahhh... Aku pernah denger dia pengen genjot aku... Dia pernah bilang mau menghamili aku pakkk" Desah Haura yang membuat Karjo tertawa puas.
"Kekekeke lalu, siapa lagi ? Ustadzah Haura sayanggg ?"
"Aahhhh... Aahhh akuu mauu mereka pakk... Aahhh pakkk Tomii... Pakkk Krisss... Sama pakkk Johaannn pakk... Aahhh aahhh terusss... Terusss setubuhi akuu paaakk" Desah Haura semakin binal saat membayangkan mereka bertiga ada tengah mengerumuninya.
"Kekekeke mereka ? Tapi kontol mereka gak ada yang disunat loh ustadzah... Mereka kan gak seiman dengan ustadzah" Ucap Karjo gemas hingga menampar-nampar bokong Haura.
Plaaakkk... Plaakkk... Plaaakkkk....
"Aahhh... Iyyahhh... Aahhh justruuu ituuu... Aahhh aku penasaran pakk... Aku penasaran nyicipin kontol mereka yang gak disunat" Ucap Haura dengan binal.
"Kekekeke ustadzah siap dikeroyok oleh ketiga kontol yang gak disunat itu ? Ustadzah siap memeknya, anusnya sama mulutnya disumpal oleh ketiga kontol berkulup itu ?" Tanya Karjo puas.
"Aahhh... Aahhh siapp pakk... Akuu siapp bangettt... Akuu siappp dipejuhi oleh kontol-kontol mereka yang gak disunat pakkk" Ucap Haura semakin binal.
"Kekekeke baiklah ustadzah... Saya tandain dulu... Sekarang ustadzah harus fokus pada genjotan saya yah, karena saya jadi semakin geregetan gara-gara dengerin fantasimu... Rasakan ini ustadzah... Rasakan ini... Hennkgfhhh !!!" Desahnya sambil terus menggerayangi susu bulatnya.
"Aahhhh iyaahhh... Aahhh terusss pakk... Aaahhhhh" Desah Haura semakin bergairah. Tubuhnya terus terlonjak-lonjak saat menahan keperkasaan Karjo. Tangannya hanya mampu bertahan dengan memegangi dinding rumahnya. Kakinya hanya mampu bertahan agar tetap berdiri seiring lemasnya diri Haura saat ini. Payudaranya yang semakin kencang juga terus bertahan seiring kuatnya cengkraman Karjo di dadanya saat ini.
"Kekekekekek... Rasakan kontol saya ustadzah... Rasakan kontol saya ini !!!" Desah Karjo dengan penuh nafsu.
"Ahhh... Ahhh iyaahhh pakkk... Aahhh terusss... Ahhhhh" Desah Haura dengan binal.
Karjo terus menyetubuhi tubuh Haura yang sedang menungging itu. Kedua tangannya mengusapi punggung mulusnya. Usapannya naik hingga tiba di kedua bahu ustadzah cantik itu. Kemudian usapannya turun hingga tiba membelai pinggul ramping ustadzah manis itu. Setelah itu, Karjo terus menampar-nampar bokong nakal Haura hingga merubahnya menjadi warna kemerahan.
Plaaakk... Paakkk... Paakkk...
"Ahhh... Ahhhh... Iyahh pakkk.. Ahhhh perihhh" Desah Haura menjerit kecil.
"Kekekekek ustadzah nakal... Ustadzah binal... Ustadzah macam apa yang katanya puasa tapi sudah bikin kontol saya ketagihan tuk menikmati jepitan manja memekmu itu, ustadzah... Kekekekek" Tawa Karjo yang membuat telinga Haura panas.
"Aahhhh ituu akuu pakk... Ituu akuu... Ustadzah yang akan memuasimu pak.... Ustadzah yang akan memuasi para kuli... Aahhh... Aahhhh" Desah Haura semakin terangsang mendengar ejekan Karjo.
"Kekekekekek... Betul itu ustadzah... Ustadzah itu harus nakal... Ustadzah itu harus binal... Ustadzah itu harus bisa memuasi pejantannya seperti apa yang ustadzah lakukan sekarang" Desah Karjo dengan penuh nafsunya.
"Ahhh... Ahhh... Iyaahhh pakk... Aku akan patuh ke bapakk... Tolong ajari aku pakk... Tolong ajari aku biar lebih binal lagi... Aahhhh" Desah Haura yang semakin lepas kendali.
"Kekekekek pasti ustadzah... Pasti... Saya akan mengajarimu agar lebih binal lagi" Kata Karjo berbisik sambil meniup lehernya yang membuat Haura merinding merasakannya.
"Ahhhhh.... Ahhhh siaalll... Kontol saya udah gak tahannn... Ahhhh kontol saya mau muntahhh" Desah Karjo sudah tak tahan lagi.
"Aahhh sama paakkk... Aahhh akuu mauu keluaarr... Lagii pakk... Lagiii... Lebih keras lagiii" Ucap Haura sambil menoleh tuk menatap wajah pejantannya.
"Pastii sayanggg... Aahhh... Aahhh... Rasakan ini... Rasakan hukuman dari sayaa" Kata Karjo semakin mempercepat genjotannya.
Plokkk... Plokkkk... Plokkkk !!
"Aahhh iyaahhh... Ampunnn... Aammpunn... Aahhh bapaakkkk" Desah Haura sambil geleng-geleng kepala.
Suara benturan antar pinggul itu semakin terdengar keras. Karjo sudah sangat tak tahan dalam menggagahi ustadzah cantik ini. Dipandanginya penampakan polos Haura dari belakang. Diusapinya punggung mulus itu. Perpaduan antara kulit mulusnya serta sempitnya dinding vaginanya membuat Pak Karjo tak mampu menahannya lagi. Karjo mendesah. Tubuhnya terasa panas. Nafasnya terasa sesak dan lututnya mulai lemah saat gelombang itu nyaris keluar dari lubang kencingnya.
"Ahhhhhh... Ahhhh... Ahhh ustadzahhhh..."
Sama halnya dengan Karjo. Haura sudah tak tahan lagi setelah meluapkan seluruh hasrat seksualnya. Tusukan Karjo yang begitu bertenaga serta remasan kuat yang ia terima di dada membuat nafsunya semakin mendekati puncaknya.
"Aahhh... Aahhh.... Bapakkk... Bapaakkkk kelluaaarrr" Desah Haura yang lebih dulu mencapai klimaksnya.
Mata Haura merem melek. Tubuhnya sampai kelojotan. Walau ia sedang mendapatkan orgasme ternikmatnya, Karjo tidak berhenti dalam menyetubuhi dirinya. Alhasil Haura malah mendapatkan multi orgasme untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya.
"Aahhh bapaakkk... Aahhh... Aahhh... Lagiii... Keluar lagiii" Desah Haura keheranan.
"Kekekeke... Banjir banget ustadzah... Ouhhh yahh... Ouhhhh.... Aahhhh... Sekarang giliran saya ustadzah... Hennkgfhhh !!!" Kata Karjo lekas melepaskan penis itu dari dalam vagina Haura. Haura langsung terduduk lemas hingga membuat bidadari cantik itu pasrah saat penis Karjo mengarah tepat ke wajah cantiknya.
"Buka mulutnya ustadzah" Ucap Karjo yang kebetulan mendengar suara adzan berkumandang"
"Aahhh iyaahhh pakkk... Aaaaaa"
"Ahhhhhhhhhhhhhhh kelluuaarrrr !!!"
Crrootttt... Crroottttt... Croottttt !!!!
Penis Karjo menyemburkan spermanya tepat ke dalam mulut Haura. Ia menembakan air maninya tepat ke mulut seorang ustadzah yang sedang berpuasa itu. Tubuh Karjo sampai bergidik nikmat sementara matanya merem melek menahan kenikmatan yang sangat dahsyat. Tangan kanannya memegangi kepala Haura sementara tangan kirinya membetot penisnya untuk mengarahkannya ke mulut kecilnya.
"Aahhh telaann semua ustadzah... Telan sampai habiss... Jangan sampai ada yang tumpah ke bawah ustadzah" Ucap Karjo yang segera dituruti oleh Haura.
"Aahhh iyahh pakk... Aku akan menelannya"
Gleegg... Gleegg... Gleegg !
Telan Haura dengan sangat rakus. Dirinya yang sejak pagi harus menahan lapar dan haus akhirnya bisa berbuka dengan sesuatu yang manis-manis.
"Hah... Hah... Hah.... Akhirnyaaa... Keluar semua ustadzah kekekeke" Tawa Karjo sambil menaruh ujung gundulnya ke mulut Haura agar ustadzah tercantik yang semakin binal itu bisa menyeruputnya sampai tuntas.
"Mmpphh ini masih ada pakk.. Ssssllrrpp" Desah Haura yang membuat Karjo merinding merasakannya.
Setelah tetes terakhir berhasil diseruput oleh Haura. Karjo pun berjongkok sambil membelai kepala Haura yang masih tertutupi hijabnya. Ia tersenyum bangga. Ia pun menatap wajah pemuas nafsunya sambil mengucapkan sepatah kata untuknya.
"Selamat berbuka puasa ustadzah... Besok-besok akan saya usahakan untuk mengundang pak Edi, pak Syamsul, pak Tomi, pak Kris dan pak Johan... Gak usah khawatir saya akan menyiapkan semuanya sehingga ustadzah gak perlu khawatir ketahuan oleh orang lain" Ucap Karjo sambil membelai pipinya.
"Terima kasih yah pak... Bapak sampai repot-repot mengaturnya untuk memuaskan nafsuku" Ucap Haura malu-malu.
"Kekekeke... Terima kasih ?... Justru saya yang harusnya berterima kasih karena ustadzah sudah mau dibinali oleh saya" Ucap Karjo sambil mencumbu bibir tipisnya lagi.
"Mmpphhhh" Desah mereka dengan sangat puas.
Setelah puas bercumbu, mereka berdua segera menuju meja makan untuk menyantap gorengan serta es teh yang tadi Haura beli. Mereka saling mengobrol membicarakan betapa binalnya Haura sekarang. Haura tersipu. Hanya hanya tertawa saat dipuji binal oleh pejantannya. Lalu setelah itu mereka mandi wajib kemudian mereka melaksanakan ibadah maghrib di kamarnya yang mana Karjo bertindak sebagai imam dan Haura sebagai makmumnya. Setelah salam berakhir, Karjo menoleh ke belakang dan Haura langsung menjulurkan tangan untuk salim kepadanya.
"Kekekeke gitu dong baru ustadzah solehot" Puji Karjo yang membuat Haura tersipu.
"Oh yah, ustadzah mau makan nasi dulu ? Atau mau lanjut digenjot ? Saya belum puas loh ?" Ucap Karjo jadi bernafsu lagi gara-gara melihat kealiman wajah Haura yang sedang mengenakan mukena.
"Hihihi aku masih kenyang pak... Yaudah deh, aku mau digenjot bapak lagi" Ucap Haura malu-malu yang membuat Karjo tertawa puas.
Dengan nafsu besarnya, Haura segera ditindihi oleh Karjo di atas ranjang pribadinya. Saat bagian bawah mukena itu diangkat, rupanya Haura sudah tidak mengenakan apa-apa lagi. Karjo pun mengangkat sarungnya, kontol besarnya pun siap untuk menghujami betinanya lagi.
Jleeebbbb !!!
"Aahhh bapaaakkkk" Desah Haura dengan manja.
"Kekekek mantapnyaa... Mantapnyaa... Mmpphhhh" Desah Karjo yang langsung memeluk tubuh Haura hingga payudaranya terhimpit ke tubuh kekarnya. Bibir Haura yang menggoda membuat pak Karjo tergoda untuk mencumbunya. Pak Karjo mendorong bibirnya ke bibir Haura. Ia mempercepat gerakan pinggulnya untuk menumbuk-numbuk kemaluan Haura.
“Mmppphhhhh... Mmpppphhhhhhh” desah Haura tertahan.
“Mmppphhh... Mmpphhhh aahhhhhh... Ustadzahhhhhhh” desah pak Karjo dengan puas saat menikmati ronde keduanya. Ia pun melepas cumbuannya kemudian wajahnya menatap wajah sang ustadzah yang masih tertutupi oleh mukenanya.
"Indah sekali wajahmu ustadzah... Pasti kuli-kuli itu akan menjadi kuli paling beruntung karena bisa memuasi tubuhmu" Ucap Karjo sambil terus menaik turunkan pinggulnya menggenjot kemaluan Haura.
"Aahhh... Aahhh... Justru aku yang beruntung pak karena bisa dipuasi oleh orang-orang yang bernafsu tinggi seperti mereka" Jawab Haura yang membuat Karjo tertawa puas.
"Kekekeke betul ustadzah... Yukkk kita fokus bercinta, saya udah hampir keluar lagi gara-gara sempitnya memekmu ini" Ucap Karjo yang membuat Haura tersipu.
"Aahhh... Aahhhh sama pakk... Kalau gitu keluarin aja pak... Keluarin di rahim aku" Ucap Haura yang membuat Karjo tertawa lagi.
"Kekkeke baiklah... Sayangku" Ucap Karjo yang membuat Haura tersipu malu.
Genjotan Karjo dipercepat. Tusukannya diperkuat. Nafas mereka berat, Kemaluan mereka sama-sama berdenyut cepat. Karjo yang sudah menegakkan tubuhnya membuatnya dapat melihat pergerakan payudara Haura yang semakin indah.
Namun tiba-tiba.
“Dekkk... Mas pulaanngg" Ucap seseorang yang membuat Haura terkejut.
"Mas Hendra ? Paakkk... Itu suami aku pulang pakkk... Buruann... Jangan lama-lama pak" Ucap Haura panik.
"Kekekeke biarin ustadzah... Biarin suamimu tahu kalau ustadzah itu binal banget... Biarin pak Hendra tau kalau selama ini istrinya sering digenjot oleh kuli seperti saya" Ucap Karjo yang membuat Haura panik.
"Tapi pakk... Tapiiii... Mmpphhhh" Jawab Haura terpotong saat Karjo mempercepat hujamannya dan tubuhnya kembali dijatuhkan untuk mencumbu bibirnya.
Kemaluan mereka saling bertubrukan. Pinggul mereka bertemu. Semakin kencang, kencang dan kencang. Tubuh Haura bergejolak naik turun. Nafsunya sudah tinggi dan ia ingin menuntaskannya hingga berteriak ke puncak namun tertahan oleh cumbuan pejantannya.
“Mmpphh bapakkkkkkkk !!!!”
"Mmpphh ustadzah kelluaarrr"
Crrott... Ccrroott... Ccrroottt...
"Astaghfirullah, dekkk" Ucap Hendra dengan keras yang membuat pak Karjo serta Haura reflek menengok ke arah belakang, tepatnya ke pintu masuk kamarnya.
Leave a comment
Your email address will not be published. Required fields are marked *